Anda di halaman 1dari 3

ASPEK MITIGASI BENCANA DAN PERUBAHAN IKLIM DALAM PEDOMAN PENYUSUNAN RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI

Komponen yang kurang efektif dalam pedoman penyusunan RTRW Provinsi adalah belum dikajinya secara spesifik aspek mitigasi baik itu mitigasi kebencanaan maupun mitigasi perubahan iklim dalam penyusunan RTRW Provinsi. Aspek mitigasi bencana dalam pedoman penyusunan RTRWP yang direkomendasikan masih terbatas pada tahapan pencegahan (prevention) karena substansinya yang tidak spesifik dan sifatnya yang tidak aplikatif. Hal ini dapat dilihat dalam prosedur pengumpulan data dan analisisnya yang tidak spesifik dan tegas dalam pengimplementasian integrasi mitigasi bencana di

dalampedomanpenyusunan RTRWP. Seperti yang tercantum dalam Bab 1 tentang kedudukan Permen PU No 21/PRT/M/2007 yang hanya menjadi masukan bagi pedoman RTRWP dan Bab 3 tentang proses penyusunan RTRW Provinsi sub bab pengumpulan, pengolahan dan analisis data yang menyebutkan bahwa data primer ataupun sekunder yang dibutuhkan sekurang-kurangnya meliputi peta masukan untuk analisis kebencanaan dan karakteristik fisik wilayah yang meliputi potensi rawa n bencana alam.

Keduaaspektersebutmengindikasikan bahwa pendekatan yang digunakan dalam mitigasi kebencanaan dalam tata ruang adalah voluntari sehingga seolah-seolah perencana diberi kebebasan apakah akan melakukan kajian kebencanaan dalam batas yang minimal atau secara komprehensif. RTRW sebagai panduan penataan ruang yang mengatur secara teknis perencanaan ruang seharusnya lebih spesifik dalam melakukan pengaturan dan pengontrolan perencanaan mitigasi bencana karena perencanaan tata ruang dan wilayah yang tidak tepat akan mengakibatkan kerugian besar baik korban jiwa maupun infrastruktur akibat bencana. Semakin meningkatnya frekuensi dan ragam dari bencana serta kompleksitas permasalahan yang ditimbulkan oleh bencana menuntut semakin kuatnya integrasi mitigasi bencana ke dalam tata ruang khususnya RTRW Provinsi karena dalam RTRW Provinsi diatur tentang struktur ruang dan pola ruang yang juga tergantung pada potensi bencana yang akan timbul. Dengan adanya panduan yang lebih spesifik memungkinankan pemetaan secara spesifik sehingga dapat dilakukan penataan ruang yang berkelanjutan. Pedoman penyusunan RTRW Provinsi seharusnya mencantumkan secara detail komponen -komponen apa saja yang harus dianalisis dalam penataan ruang yang berbasis mitigasi bencana geologi baik itu gempa

1

banjir dan longsor atau minimal memberikan rujukan yang bersifat wajib seperti Peraturan Menteri PU No 21 Tahun 2007 dan Peraturan Menteri Dalam Negeri No 33 tahun 2006 tentang pedoman umum mitigasi benc ana sebagai pedoman yang wajib dilakukan dalam mitigasi bencana. letusan gunung berapi. Dengan memasukan aspek mitigasi perubahan iklim dalam RTRW provinsi diharapkan penetapan pola ruang wilayah akan lebih terarah dan berkelanjutan. Secara umum kajian tentang mitigasi perubahan iklim dalam perencanaan tata ruang sudah tercantum dalam RTRW Nasional namun akan lebih efektif lagi jika dicantumkan dalam RTRW Provinsi karena mitigasi perubahan iklim sangat erat kaitannya dengan kawasan hutan yang merupakan bagian integral dari ruang (BPPHP. 2 . Selain mitigasi kebencanaan. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa aspek mitigasi bencana dan perubahan iklim harus diintegrasikan dalam RTRW Provinsi secara tegasdandalamkomposisi yang proporsional. Kawasan hutan merupakan bagian yang terintegrasi dengan pola ruang wilayah yang mencakup kawasan lindung dan konservasi sehingga penting untuk mengkaji mitigasi perubahan iklim dalam pedoman penyusunan RTRW Provinsi (Permen PU No 15 Tahun 2009). RTRWP hingga RTRWK (Wikantiyoso. tsunami. Dengan ditentukannya komponen komponen yang wajib dikaji dalam mitigasi bencana maka pendekatan yang seharusnya diaplikasikan dalam integrasi mitigasi bencana dalam tata ruang adalah tegas dan mengikat (law enforcement) mengingat bencana adalah sesuatu yang keberadaannya sulit untuk diprediksi sehingga penting untuk menerapkan prinsip kehati-hatian dalam menghadapi bencana. Kajian mitigasi perubahan iklim sangat penting karena perubahan iklim sering dikaitkan sebagai faktor pemicu bencanabencana yang terjadi. 2010). mitigasi tentang perubahan iklim juga belum dikaji secara spesifik dalam pedoman penyusunan RTRW Provinsi. Upaya mitigasi perubahan iklim yang dapat dilakukan dalam konteks perencanaan tata ruang dan wilayah provinsi adalah penetapan kawasan hutan yang proporsional dengan kawasan budidaya sebagai penyeimbang antara emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dari kawasan budidaya dengan cara mendorong perwujudan penetapan kawasan konservasi sebanyak 30% dari luas daerah aliran sungai seperti yang tercantum dalam UU No 26 tahun 2007 pasal 17 ayat 5. sehin gga dapat diwujudkan rencana yang responsif dan antisipatif terhadap aspek kebencanaan karena implementasi antisipasi dan mitigasi bencana harus dilakukan mulai dari dokumen penataan ruang dari RTRWN. 2010).bumi.

pdf Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No 15 Tahun 2009 Tentang Pedoman Penyusunan Rencana Tata Ruang dan Wilayah Provinsi. 2 (1) : 18 -29 3 . Media Release : www.2010. Local Wisdom Vol.. Prosiding : Seminar Dampak Perubahan Peruntukkan dan Fungsi Kawasan Hutan.pdf . Media Release : www.Media Release:www..org/./Permendagri%20332006_Pedoman%20Umum%20Mitigasi%20Bencana..2010../ UU_No26_2007_Tentang_Penataan_Ruang.gitews.net/. Mitigasi Bencana Di Perkotaan : Adaptasi atau Antisipasi Perencanaan dan Perancangan Kota (Potensi Kearifan Lokal Dalam Perencanaan dan Perancangan Kota untuk Upaya Mitigasi Bencana).. Media Release : http://bpphp12.Mirip Undang-Undang Republik Indonesia No 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang.penataanruang./permen.p df Wikantiyoso.dephut. R.penataanruang./permen15-2009.net Peraturan Menteri Dalam Negeri No 33 Tahun 2006 Tentang Pedoman Umum Mitigasi Bencana..net/taru /upload/.DAFTAR PUSTAKA Balai Pemantauan Pemanfaatan Hutan Produksi..