Anda di halaman 1dari 12

TUGAS MAKALAH

RADIOKIMIA
ACARA

APLIKASI ANALISIS PENGENCERAN ISOTOP DI BIDANG BIOKIMIA

Disusun Oleh :

Nama Nim Jurusan Prodi Semester Asisten Tanggal

: : : : : : :

Nurhafifah 010800222 Teknokimia Nuklir Teknokimia Nuklir IV (Empat) Maria Christina P.,S.ST 4 Juli 2011

BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR YOGYAKARTA 2011

EVALUASI FOSFAT ALAM SEBAGAI SUMBER HARA P PADA POLA TANAM PADI-KEDELAI-KACANG HIJAU
ABSTRAK
EVALUASI FOSFAT ALAM SEBAGAI SUMBER HARA P PADA POLA TANAM PADI-KEDELAI-KACANG HIJAU. Telah dilakukan satu seri percobaan pemupukan P dengan sistem pot pada pola tanam padi - kedelai - kacang hijau dengan menggunakan tanah jenis Podsolik merah kuning asal Batumerta Sumatra Selatan. Tiga takaran FA dari tiga sumber fosfat alam (FA) dan dua takaran TSP sebagai pembanding, dicoba dalam penelitian ini. Percobaan dilaksanakan dalam rancangan acak lengkap dengan empat ulangan. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa pemupukan dengan FA dapat menaikkan produksi bahan kering tanaman dan, serapan P-total. Pada kedelai dan kacang hijau kenaikannya dapat mencapai 3 kali kontrol. Sumbangan P berasal dari P-FA atau TSP yang ditentukan dengan tnenggunakan metode pengenceran isotop 12P, dalam tanaman berkisar antara 26,8 % hingga 89,4 % bergantung pada sumber dan takaran FA. Keefisienan penggunaan FA berkisar antara 0,15 % sampai 1,66 %, pada TSP 1,78 % sampai 20,0 %. Meningkatkan takaran dan sisa pupuk pada seri tanam sebelumnya akan menurunkan keefisienan penggunaan pupuk oleh tanaman berikutnya (padi > kedelai > kacang hijau).

ABSTRACT
EVALUATION OF PHOSPHATE ROCK AS A P-SOURCE IN THE CROPPING SYSTEM OF UPLAND RICE - SOYBEAN - MUNGBEAN. A seri of pot fertilizer experiments has been carried out in the cropping system of upland rice - soybean - mungbean by using Red Yellow Podsolic soil from Batumerta, South Sumatra. Three phosphate rock (PR) with 3 different sizes and 2 levels of TSP were used as a check and were applied in this study. The results showed that fertilization with PR could increase weight of dry plant, % total-P, and total-P uptake. The contrubution of P-derived frotn PR and TSP was determined using the dilution method 32P isotope. The values for P-derived from PR or TSP ranged from 26.8 % to 89.4 %. The efiiciency of PR was from 0.15 % to 1.66 %, and for TSP it ranged from 1.78 % to 20.0 %. Increasing the levels of P-fertilizer either PR or TSP will decrease the P efficiency, where the order for plants are : eflficiency of P upland rice > soybean > mungbean.

PENDAHULUAN
Fosfor (P) adalah unsur hara utama dibutuhkan tanaman bersamaNitrogen (N) dan Kalium (K). Untuk menopang pertumbuhan tanaman sehingga memberikan hasil maksimum, maka dalam lahan harus tersedia hara yang cukup, terutama N, P, dan K.

Fosfat alam (FA) merupakan sumber utama untuk pembuatan pupuk P (seperti pupuk TSP, SP-36 dan lain sebagainya). Menurut COOK et al. (1), ada tiga tipe deposit FA di dunia yaitu : berasal dari gunung berapi, guano, dan sedimen. Deposit sedimen merupakan tipe FA yang banyak ditemukan (82 %). Produksi konsentrat FA di dunia sampai saat ini berkisar antara 130 - 150 ton setiap tahun. Di Indonesia banyak ditemukan deposit F A anttara lain di Cilacap, Bojonegoro, Lumajang, Cirebon, dan Ciawi. Dari hasil analisis kandungan P2O5 berkisar antara 17 % - 28 %, dan berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai sumber hara P tanaman secara langsung tanpa mengubah bentuk kimiawinya (2). Penggunaan FA secara langsung sebagai pupuk dari segi ekonomi acapkali lebih menguntungkan, dibanding dengan pemakaian pupuk kimiawi (buatan). Pada saat ini penggunaan FA secara langsung sebagai sumber unsur hara P, untuk tanaman tahunan, atau untuk tanaman semusim, sudah mulai banyak digunakan. Menurut RASJID dkk. (3)pemupukan dengan FA dapat menaikkan produksi bahan kering dan serapan P-total tanaman jagung sampai 2 dari hasil yang diperoleh tanaman tanpa pemupukan. Sumbangan P berasal dari FA pada tanaman jagung antara 25,5 % - 32,4 %, dan keefisienannya berkisar antara 2,31 % sampai 3,39 %. Lahan di Indonesia yang digunakan pertanian lahan kering sebagian besar tergolong bereaksi masam, dengan daya fiksasi P kuat, sehingga ketersediaan sedimen. Deposit sedimen merupakan tipe FA yang banyak P untuk tanaman menjadi berkurang (4). Keadaan ini akan bertambah karena pengaruh iklim di daerah tropik yang kuat dapat menurunkan ketersediaan ,P secara alami sehingga penimbunan P yang diakibatkan pemupukan menjadi rendah. Untuk menguji pendayagunakan BA sebagai sumber hara P pada satu pola tanam, telah>'dilakukan percobaan pola pergiliran tanaman. Tujuan percobaan untuk mendapatkan informasi tentang pemakaian FA sebagai sumber P pada pola tanam padi - kedelai - kaeang hijau. Parameter yang diamati meliputi bobot keringtanaman yang dihasilkan, kadar (%) P-total, sumbangan (%) P berasal dari beberapa macam FA dan TSP, serta efisiensi penggunaan P-FA dan P-TSP oleh tanaman. Untuk mengetahui sumbangan (%) yang berasal dari FA dalam tanaman dan keefisienannya dipakai teknik radioisotop (5). Untuk menghitung sumbangan P berasal dari FA dalam tanaman digunakan metode tidak langsung (indirect methods) seperti yang dilakukan oleh ZAPATA dan AXMANN (6). Metode ini digunakan karena bila FA ditandai dengan "P, maka FA ini akan mengalami perubahan kimiawi, sehingga tidak dapat dianggap sebagai FA lagi.

BAHAN DAN METODE


Percobaan dilakukan dengaii kantong plastik hitam di ruinah kaca bidang Pertanian, PAIR BATAN. Tiga kg dari Batumerta, Sumatra Selatan, yang sudah diayak halus (2 mm) dimasukkan ke dalam wadah plastik liitain. Sebelum percobaan, contoh tanah diambil secara

komposit dan kemudian dianalisis kandungan N, P, C-organik dan pH. Hasil analisis disajikan pada Tabel 1. Percobaan dilaksanakan dalam rancangan acak lengkap (RAL) dengan perlakuan seperti dicantuinkan pada Tabel 2, diberikan pada seri taiiam padi, kedelai, dan kacang hijau. Pemupukan dasar dengan takaran 300 ing urea dan 150 mg KCl untuk setiap pot, dan setiap seri tanam, diberikan pada saat tanam dengan cara tabur aduk sedalam 5 cm. Pada setiap pot dari setiap seri tanam ditumbuhkan 2 biji tanaman. Pemberian larutan isotop KH 2 32PO4 dilakukan antara 1-2 minggu sebelum tanam sebanyak 225 n.Ci/15 ml/pot. Isotop diberikan dengan cara meneteskan sekikit demi sedikit sainbil diaduk rata dengan tanah. Jadwal pelaksanaan percobaan disajikan pada Tabel 3.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Pada Tabel 4, disajikan bobot kering (BK) tanaman padi, kedelai dan kacang hijau, yang dipanen masing-masing pada umur 47, 45, dan 40 hari setelah tanam. Pada seri tanam padi, pengaruh pemupukan P, dengan FA atau dengan TSP, tidak sama dalam meningkatkan BK tanaman terutama pemupukan dengan FA-3 dan dan FA-4 dibandingkan dengan kontrol (8,80 g/pot). Pada umumnya BK tanaman padi gogo yang diberi FA maupun TSP atau gabungan keduanya lnenunjukkan nilai yang lebih tinggi daripada kontrol. Perbedaan yang nyata terhadap kontrol hanya ditemukan pada beberapa perlakuan. Hal yang sama ditemukan untuk kedelai dan kacang hijau. Berdasarkan data BK padi gogo ini dapat diketahui bahwa pada FA-1 dan FA-2 memberikan P yang lebih tersedia digunakan padi gogo dibanding FA-3 dan FA-4. Peningkatan BK hanya ditemukan pada pemupukan menggunakan FA1(MAIDAH-1 = 11,25 g) dan FA-2 (MAIDAH-2 = 11,08 g) dan TSP-b = 10,37 g yang berbeda nyata dengan BK kontrol, sedangkan pemupukan dengan FA-3 (Lamongan = 9,49 g), FA-4 (Bojonegoro = 9,53 g) serta dengan TSP-a (10 kg P/ha = 8,67 g) walaupun tidak berbeda nyata dengan kontrol, tetapi untuk FA-3 dan FA-4 nilai BK masih di atas nilai kontrol. Peningkatan takaran pupuk P juga tidak semua pupuk melihatkan pengaruh nyata. Keadaan ini dapat dijelaskan dengan hasil analisis nilai P-tanah (Tabel 1), menunjukkan bahwa kandungan P-tanah termasuk moderat (7), sehingga masih cukup tersedia untuk dapat digunakan tanaman. Pada seri kedelai dan kacang hijau tampak bahwa antar jenis FA yang digunakan sudah tidak berbeda kemampuannya untuk meningkatkan BK tanaman, dan juga tidak tampak perbedaan antara FA denganTSP. Mungkin untuk tanaman kedelai P-tersedia dari FA atau TSP secara sendiri-sendiri maupun gabungan adalah lebih banyak daripada tanaman padi gogo. Hal ini diduga karena selain FA, TSP atau FA + TSP yang digunakan oleh kedelai masih ada P-tersedia dari FA, TSP atau FA + TSP yang diberikan pada tanaman sebelumnya. Berat bahan kering tanaman yang dihasilkan dari perlakuan pemupukan P baik dalain bentuk FA atau TSP meningkat sangat nyata hampir mencapai tiga kali lipat jika dibandingkan dengan tanaman kontrol. (BK tanaman kontrol = 3,17 g, kacang hijau 1,90 g). Sedangkan pemupukan antar FA, tidak begitu jelas perbedaannya. Peningkatan BK ini dimungkinkan karena tersedianya hara dalam tanah yang bisa diambil tanaman. Khusus hara P, dapat diprediksi bahwa dengan dua-

tiga kali pemupukan P, maka mungkin sudah mulai cukup tersedia untuk tanaman berikutnya. Hasil analisis kadar (%) P-total dan serapan P tanaman disajikan pada Tabel 5. Pada tanaman padi terdapat perbedaan kadar P-total antara tanaman yang tidak dipupuk dengan yang dipupuk P. Pemupukan P, dapat meninggikan kadar P-total tanaman (0,213 % 0,257 %) dibanding dengan kadar P tanaman kontrol (0,189 %). Bila dilihat pada serapan Ptanaman, secara umum pemupukan P akan meningkatkan serapan P-tanaman dan berbeda nyata dibanding dengan serapan P tanaman kontrol. Kadar P-total tanaman kedelai dan kacang hijau juga dipengaruhi oleh pemupukan P. Kadar P tanaman kontrol (kedelai = 0,201 %, kacang hijau 0,170 %). Apabila mendapat pemupukan P baik dalam bentuk FA atau TSP atau gabungan keduanya akan meningkat (kedelai antara 0,205 % sampai 0,259 %, kacang hijau antara 0,212 hingga 0,252 %). Hal yang serupa ditemukan juga pada serapan P-tanaman pada kedelai atau kacang hijau. Serapan P-tanaman yang tidak dipupuk P (kedelai = 6,401 P/pot), kacang hijau = 3,343 mg P/pot). Sedangkan pada tanamanyang dipupuk P dalam bentuk FA atau TSP ataupun gabungan keduanya akan meningkat dan berbeda nyata dengan kontrol (kedelai antara 16,110 mg P sampai 27,499 mg P dan kacang hijau antara 8,742 hingga 14,524 mg P untuk setiap pot). Peningkatan takaran P karena pemberian FA, tidak mempengaruhi kadar P-total, tetapi serapan P-tanaman, terutama seri tanam kacang hijau dapat menaikkan serapan P-total sejalan dengan meningkatnya bobot kering tanaman. Seperti yang telah diungkapkan pada bahan dan metode, radioisotop 32P diberikan ke dalam tanah sebelum pemupukan dan dilakukan 1-2 minggu sebelum tanam. Hal ini untuk mencapai keadaan keseimbangan bagi 32P di dalain tanah, dan agar 32P tercampur sehomogen tnungkin dengan tanah. ZAPATA dan AXMANN (6), mengasumsikan bahwa pada tanaman yang tidak dipupuk FA, TSP atau gabungan keduanya, sumber P hanyalah P-tanah yang sudah ditandai dengan 32P. Sedangkan tanaman yang dipupuk P, sumber P adalah dari P-tanah yang sudah ditandai dan P-pupuk. Ini berarti pada tanatnan yang dipupuk P, siunber P-tanah yang sudah ditandai akan terencerkan, sehingga penyerapan Ptanah bertanda 32P menjadi lebih rendah daripada tanaman yang tidak dipupuk P. Ini akan terlihat dengan lebih tingginya kandungan 32P dalam tanaman yang tidak dipupuk, yang dinyatakan dalam cacahan per menit (cpm) dibanding dengan tanaman yang menerima pupuk P. Data mengenai cacahan ini disajikan pada Tabel 6. Berdasarkan data cpm yang diperoleh, persentase P-berasal dari FA atau TSP dapat ditentukan. Pada seri tanam padi, sumbangan P berasal dari FA-1, FA-2, FA-4, dan TSP dalam tanaman berkisar antara 80,59 % - 89,38 %, sedangkan dari FA-3 (Lamongan) antara 39 % - 57 %.Hal ini menunjukkan bahwa ketersediaan P untuk tanaman yang diserap dari FA-3 lebih rendah dibanding dengan FA-1, FA-2, FA-4 dan TSP. Pada seri tanam kedelai, sumbangan P berasal dari pupuk FA dan +TSP berkisar antara 34,63%- 60,94 % dan dari TSP antara 65,79 % - 84,43 %. Pada seri tanam kacang hijau, sumbangan P dari FA dan +TSP, berkisar antara 26,84 % hingga 75,56 %. Pada seri tanaman kedelai dan kacang hijau, tampak bahwa peningkatan pemberian takaran P akan meningkatkan sumbangan P yang berasal dari pupuk dalam tanaman. Hal ini menunjukkan bahwa bertambahnya kandungan P-pupuk dalam tanaman yang disebabkan oleh residu pemupukan tanaman sebelumnya tetapi tidak tersedia untuk tanaman

berikutnya. Atau mungkin juga P berasal dari pupuk yangbaru diberikan (FA atau TSP) lebih mudah tersedia untuk tanaman dibandingkan P yang ada dalam tanah. Diduga P yang ada dalam tanah terikat dalam bentuk senyawayang tidak dapat diserap oleh tanaman. Setelah diketahui sumbangan P berasal dari FA atau TSP dalam tanaman, maka dapat dihitung serapan P berasal dari FA atau TSP dalam tanaman. Pada Tabel 7 disajikan serapan P pupuk berasal dari FA ataupun TSP, dan keefisienan penggunaannya oleh tanaman. Pada umumnya serapan P berasal dari FA-1 dan FA-2 dan TSPb rata-rata lebih tinggi dari FA-3 dan FA-4 dan TSP-a, dalam tanaman padi, kedelai, dan kacang hijau. Meningkatkan takaran pempukan P, pada FA-3 dan FA-4 serta TSP, dapat menaikkan serapan P dari pupuk dalam tanaman, sedangkan pada FA-1 dan FA-2 tidak jelas pengaruhnya. Hal ini menunjukkan bahwa ketersediaan hara P untuk tanaman dalam bentuk FA-1 dan FA-2 dan TSP lebih baik dan stabil dibanding dengan FA-3 dan FA-4. Baru pada seri tanam kacang hijau terlihat balnva menambah takaran pemupukan P, serapan P-pupuk dalam tanaman akan meningkat pula, sedangkan pada pemupukan TSP, serapan P-pupuk malah menurun. Ini menunjukkan residu pemupukan TSP lebih tersedia dibanding FA. Pada efisiensi penggunaan FAdan TSP, umumnya memperlihatkan balivva menambah takaran pemupukan akan menurunkan keefisienan penggunaan pupuk tersebut oleh tanaman. Efisiensi penggunaan FA berkisar antara 0,44 % hingga 1,66 % pada padi, 0,26 % 1,02 % oleh kedelai, dan 0,17 - 0,55 oleh kacang hijau. Sedangkan efisiensi penggunaan TSP jauh lebih tinggi dibanding FA, pada tanaman padi antara 7,65 % -10,27 %, pada tanaman kedelai 6,86 % - 12,08 % dan pada kacang hijau 0,59 % - 1,34 %.

KESIMPULAN
Dari hasil percobaan yang dilakukan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: 1. Fosfat Alam (FA) dapat digunakan sebagai sumber P pada pola tanam padi - kedelai kacang hijau, karena produksi bahan kering (BK) yang dihasilkan meningkat dibanding dengan tanaman kontrol (tanpa P). Pada seri tanam padi, kenaikan BK belum merata. Akan tetapi pada seri tanam kedelai dan kacang hijau, BK yang dihasilkan dapat mencapai 3 kali dari tanaman kontrol (kedelai = 3,17 g dan k hijau = 1,90 g). 2. Pemupukan dengan FA atau TSP, dapat meningkatkankadar (%) P-total tanaman padi, kedelai dan kacang hijau. Kadar P-total padi, kedelai, kacang hijau sebelum dipupuk P < 0,20 %, dan setelah dipupuk > 0,21 %. Sedangkan serapan P-total, berpola sama dengan BK tanaman, di mana pemupukan FA atau TSP akan meningkatkan serapan P-total tanaman. 3. Sumbangan P berasal dari FA dalam tanaman padi (FA- 1,2, 4) dan TSP berkisar antara 80,6 % sampai 89,4 %, sedangkan FA-3 lebih rendah yaitu 39 % - 54 %. Pada seri tanam kedelai dan kacang hijau sumbangan P berasal dari FA atau TSP antara 26,8 % hingga 84,4 %. Umumnya menaikkan takaran P baik dalam bentuk FA maupun TSP,

akan menaikkan pula sumbangan P dari FA atau TSP dalam tanaman. Serapan P berasal dari FA atau TSP dalam tanaman polanya sama dengan serapan P-total tanaman. 4. Efisiensi penggunaan FA pada seri tanam padi antara 0,44 % - 1,66 %, pada kedelai antara 0,26 % - 1,02 % dan pada kacang hijau 0,15 % - 0,55 %, terlihat ada pengaruh penambahan takaran pupuk P yang akan menurunkan keefisienannya. Di samping itu pangaruh sisa pemupukan dari tanaman sebelumnya, juga dapat menurunkan keefisienan penggunaan pupuk P oleh tanaman (padi > kedelai > kacang hijau).

DAFTAR PUSTAKA
1. COOK, P.J., BANERJEE, D.M., and SOUTHGATE, P.N., The phosphorus resources of Asia and Oceania. Phosphorus Requirements for Sustainable Agriculture in Asia and Oceania, IRRI (1989) 89. 2. RASJID, H., SISWORO, E.L., dan SISWORO, W.H., "Penggunaan fosfat alam sebagai pupuk P pada budidaya padi sawah", Ris. Pert. Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi, 9 - 1 0 Januari 1996, PAIR, BATAN, Jakarta (1996) 111. 3. RASJID, H., SISWORO, E.L., dan SISWORO, W.H., "Keefisienan fosfat alam sebagai pupuk P pada tanaman jagung", Ris. Pert. Ilmiah Penelitian dan Pengembangan Aplikasi Isotop dan Radiasi PAIR, BATAN, Jakarta, 18 - 19 Februari (1997) 95. 4. PROBET, M.E., Mineral Nutrition of Legumes on Tropical and subtropical Soil, CSIRO, Australia (1978) 169. 5. IAJEA, Standard Laboratory Method for Soil, Plant, Fertilizer Material from Field Experiment, 1AEA, Vienna(1968). 6. ZAPATA, F., and AXMANN, H., "Use radiotracers (MP or 32P) for the agronomic evaluation of phosphate rock sources", Joint FAO/IAEA Division. Soil fertility, Irrigation and Crop Production Section, IAEA, Vienna (1994). 7. STAF PUSAT PENELITIAN TANAH, Term of Reference. Survei Kapabilitas Tanah, Pusat Penelitian Tanah, Dep. Pertanian (1983).

LAMPIRAN

10