Anda di halaman 1dari 7

Suara-Suara Bunga

Bunga, itulah salah satu perlambang alam yang cukup banyak digunakan sekaligus dibicarakan. Bagi pengagum dan pelayan cinta, bunga adalah lambang cinta yang mengagumkan. Buktinya, di banyak kesempatan bunga digunakan sebagai wakil-wakil cinta yang menggetarkan. Remaja yang mau menemui kekasihnya, sahabat yang mau menjenguk keluarga di rumah sakit, ucapan selamat sekaligus duka cita, mengungkapkan rasa cinta pada keluarga yang sudah terlebih dahulu meninggal, bahkan sampai sarana upacara di tradisi tertentu, menggunakan bunga sebagai alat cinta. Bagi petani lain lagi, bunga juga memendam rasa rindu. Sebab, bunga adalah tanda-tanda awal akan datangnya hasil yang ditunggu-tunggu. Setelah bunganya lenyap, buahnya muncul kemudian. Dan dari buah terakhir inilah, seluruh tetesan keringat kerja keras akan dibayar oleh kehidupan dan semesta. Bunga bank lain lagi, ia tidak saja menjadi motif bagi pemilik uang untuk rajin menyimpan, juga menjadi penggerak mesin-mesin perekonomian. Dari bunga banklah, sebagian lebih aktiva masyarakat bergerak dari wilayah kurang produktif ke wilayah-wilayah produktif. Bunga-bunga kehidupan lain lagi. Setiap bentuk manusia yang berjalan di jalan-jalan kejujujuran, ketulusan dan keikhlasan disebut sebagai bunga kehidupan. Sehingga orang tua manapun yang memiliki putera-puteri yang jujur, tulus dan ikhlas seperti sudah menghasilkan bunga-bunga kehidupan. Mirip dengan bunga yang sebenarnya, ia tidak saja indah dan sedap dipandang, melainkan juga menebar bau wangi di mana-mana. Entah kebetulan, entah ada kesengajaan, segala sesuatu yang bercahaya di alam semesta dari matahari, bulan sampai dengan bintang - ada unsur-unsurnya yang serupa dengan bunga. Bentuknya yang bundar, ada bintik-bintik terang di sekitarnya, ada titik pusat dari mana cahaya berasal, menarik perhatian dan yang paling penting mewakili keindahan. Sehingga dalam totalitas, kalau betul pendapat yang mengatakan jika Pencipta seorang penari, maka ciptaannya adalah sebentuk tarianNya. Dengan demikian, bunga rupanya lebih dari sekedar lambang keindahan yang menebar bau wangi. Ia juga pembawa suara-suara makna. Kalau hal-hal yang paling sepele saja di semesta membawa makna, apalagi bunga yang amat berguna dan diperhatikan dari berbagai segi. Pasti ada rangkaian makna di sana. Dibimbing oleh suara-suara kejernihan, ada bagian-bagian tangan di dalam yang mencoba membuka kelopak-kelopak bunga. Untuk apa lagi, kalau bukan merajut makna dari sana. Rupanya, hampir semua bunga menengadah ke atas. Entah itu mencari cahaya, entah karena sebab lain yang jelas, seperti ada makna di balik kesukaan bunga menengadah ke atas. Kedua, setelah menengadah ke atas, setiap bunga memiliki titik pusat. Dari titik pusat inilah, semuanya bermula sekaligus berakhir. Bunga tumbuh dan mekar dari sana. Bunga kemudian layu dan mati, juga dimulai dari titik pusat yang sama. Ketiga, dari pohon apapun bunga itu berasal. Semua bunga mudah sekali dikaitkan dengan satu hal: keindahan! Dan terakhir, setelah selesai melakukan tugas-tugas keindahan, dengan ikhlasnya bunga melakukan tugas berikutnya: mempersubur Ibunya. Bercermin dari sini, bunga ternyata bersuara. Ia wakil dari serangkaian makna. Mari dimulai dengan muka bunga yang hampir selalu menengadah ke atas. Dalam bahasa lain, bunga

tercipta seperti mau memberikan sebuah pertanda : celebration of vertica. Sebuah perayaan ke atas! Serupa dengan setiap perayaan seperti ulang tahun, peresmian, lebaran, natal sampai dengan tahun baru, bunga juga melakukan perayaan. Bedanya, kalau perayaan seperti tahun baru sebagian lebih adalah perayaan horizontal (lengkap dengan pestanya), bunga sepenuhnya melakukan perayaan ke atas. Seperti mengingatkan kepada seluruh ciptaan lainnya, ke atas itulah perjalanan seluruh hidup bergerak dan berjalan. Setelah perayaan ke atas, bunga juga membawa makna tentang titik pusat. Mirip dengan pendapat seorang pejalan kaki di dunia kejernihan : step back to the center, you will set yourself free. Begitu melangkah kembali ke pusat, siapa saja akan memasuki wilayahwilayah kebebasan. Makna tentang pusat memang masih amat terbuka. Ada yang menyebut dari mana kita datang sebelum lahir, dan kemana kita pergi setelah mati. Ada yang menyebut dengan Pencipta. Ada yang memberi judul kebenaran. Ada yang mengkaitkan dengan kata mengalir. Dan tentu saja masih ada lagi yang lain. Pusat ini memang teramat sulit untuk diabsolutkan. Lebih mudah bila dibiarkan terbuka, dan tugas masing-masing untuk menemukan wajahnya. Tentang keindahan, bunga seperti memberikan peringatan, untuk itulah guna setiap kehidupan. Kehidupan manapun (dari pohon, binatang sampai dengan manusia) memiliki daya guna yang maksimal bila sampai di sebuah titik yang bernama keindahan. Sebutlah tokoh-tokoh besar yang manapun. Dari Nelson Mandela, Kim Dae Jung, Mahatir Muhammad sampai dengan Dalai Lama. Semuanya indah dan sedap dipandang sekaligus didengar. Dan yang paling indah, ketika tugas-tugas keindahan selesai dilakukan, bunga rela layu, mati dan melakukan tugas-tugas berikutnya yakni mempersubur sang Ibu. Untuk kemudian berputar lagi bersama-sama irama-irama keikhlasan. Adakah telinga-telinga kepekaan yang tergetar mendengar suara-suara bunga?

Kepemimpinan Part 1
Dalam landasan kepemimpinan Sri Rama, memberikan ajaran landasan kepemimpinan kepada adiknya Sang Beratha, yang disebut dengan Asta Berata, delapan landasan untuk pijakan sebagai seorang pemimpin, yaitu : 1. Indra Berata : Seorang pemimpin hendaknya mengikuti sifat-sifat Sang Hyang Indra sebagai dewanya hujan, dimana sumber kemakmuran adalah air, mampu menghidupi manusia, binatang dan tumbuhan. Jadi yang dimaksud adalah kepemimpinan itu agar memperjuangkan kesejahteraan/kemakmuran masyarakatnya.

2. Yama Berata : Seorang pemimpin hendaknya mengikuti sifat-sifat Sang Hyang Yama yaitu mengatur tegaknya Darma demi keadilan yang menjatuhkan hukuman menurut kesalahan yang diperbuat dan benar-benar secara obyektif tanpa pandang bulu, siapapun orangnya. 3. Surya Berata : Seorang pemimpin hendaknya memberi penerangan secara menyeluruh kepada masyarakat dengan tidak memandang derajat dan pilih kasih serta selalu memberikan spirit yang membangun kepada semua rakyatnya. 4. Candra Berata : Seorang pemimpin hendaknya selalu memperlihatkan wajahnya yang tenang dan berseri-seri kepada masyarakat, sehingga rakyat penuh simpatik melihat pemimpinnya sangat dihormati dapat mendidik mental masyarakatnya dan membangun hal-hal positif seperti tempat-tempat rekreasi yang bisa menyenangkan hati masyarakatnya. 5. Bayu Berata : Seorang pemimpin hendaknya mengetahui atau bisa menyelidiki keadaan dan kehendak masyarakat secara keseluruhan, oleh karenanya pemimpin harus mengingat gerakan angin, dimana ada tekanan yang rendah kesanalah angin bertiup membawa kesegaran dan kenyamanan, yang mana juga supaya pemimpin memperkuat badan keamanannya sehingga tidak dianggap lemah dalam mempertahankan negaranya. 6. Kuwera Berata : Seorang pemimpin hendaknya tahu mempergunakan dana/uang negara seefisien mungkin dan seproduktif mungkin agar jangan terjadi pemborosan-pemborosan yang kurang bermanfaat dan harus mengutamakan kebutuhan yang primer serta benar-benar jujur sehingga tidak ada kolusi, korupsi, dan nepotisme. 7. Baruna Berata : Seorang pemimpin hendaknya berusaha melenyapkan segala penyakit masyarakat, seperti : kekacauan politik, ekonomi, ketertiban sosial di masyarakat sehingga bisa terwujud sutreptening negara. 8. Agni Berata : Seorang pemimpin hendaknya memiliki sifat-sifat ksatria, pemberani dalam menghadapi segala rintangan dan senantiasa sanggup untuk bisa membakar semangat rakyat dalam mengadakan pembangunan baik material maupun spiritual dan juga pembangunan baik dalam rohani maupun jasmani.

Selamat Hari Raya Galungan, Nyepi & Kuningan

Om Suastiastu, Rahajeng nyanggra rahina Galungan, Kuningan, miwah Nyepi Tahun Baru C aka 1927, Dumogi ngemanggihin kerahayuan miwah kerahajengan saking Ida Sanghyang Widhi Wasa.. Semoga Ida Sanghyang Widhi Wasa senantiasa memberkati dan menyertai langkah kita, Semoga damai di hati, damai di dunia, dan damai selalu.. Om Santih Santih Santih Om

Kepemimpinan Part 2

Dalam landasan keprabuan Majapahit yang terkenal dengan Mahapatihnya, Gajah Mada mengajarkan 18 (delapan belas) landasan ilmu pengetahuan kepemimpinan yang disebut dengan Asta Dasa Pramiteng Prabu, yaitu : 1. Wijaya : Seorang pemimpin hendaknya mempunyai pikiran yang tenang, sabar, dan bijaksana serta tidak cepat panik dalam menghadapi suatu persoalan, masalah. 2. Mantri Wira : Seorang pemimpin hendaknya berani membela kebenaran yang universal dan bukan kebenaran yang subyektif atau kebenaran pribadi, kelompok, atau golongan. 3. Natangguan : Seorang pemimpin hendaknya mendapat kepercayaan rakyat dan dalam tata laksana kepemimpinan harus berdasarkan ajaran berpikir yang baik, berkata yang baik dan berbuat baik serta dapat menunjukkan hasil-hasil kepemimpinannya secara obyektif. 4. Satya Bhakti Prabu : Seorang pemimpin hendaknya taat pada atasan dengan maksud pemimpin yang baik tidak hanya bisa memerintah saja, tetapi harus juga bisa diperintah atau dipimpin dalam arti bersedia diangkat sebagai pemimpin dan juga bersedia untuk dipimpin. 5. Wagmiwak : Seorang pemimpin hendaknya pandai berbicara dan pandai mengemukakan buah pikiran serta bisa membangkitkan semangat rakyat, bertutur kata yang sopan santun, ramah tamah, baik dan menarik. Hal ini sangat diperlukan karena setiap pembicaraan pemimpin akan selalu menjadi contoh dan mendapat sorotan orang banyak. 6. Wicaksaneng Naya : Seorang pemimpin tidak perlu terlalu banyak memikirkan hal-hal yang belum perlu sama sekali dipikirkan sehingga tidak akan memberatkan pelaksanaan program yang sudah ada. 7. Sarjana Upasama : Seorang pemimpin hendaknya rendah hati jangan merasa diri super dan sombong karena kedudukannya sebagai pemimpin, oleh karena sehabis memimpin agar tetap bisa dihormati orang. 8. Dirotsaha : Seorang pemimpin hendaknya rajin dan tekun bekerja dan dapat mengkonsentrasikan pikirannya kepada daya, karsa dan cipta dalam menunaikan tugas-tugasnya sebagai abdi masyarakat atau abdi negara. 9. Tansatresna : Seorang pemimpin hendaknya tidak mengikat diri dan memihak kepada salah satu golongan atau aliran. Pemimpin harus berada dan dapat mengatasi masing-masing golongan atau aliran sehingga pemimpin itu benar-benar merupakan pemersatu dari semua golongan atau aliran. 10. Masihi Samasta Bhuana : Seorang pemimpin hendaknya menyayangi alam semesta beserta isinya dan mempunyai rasa tanggung jawab, berperikemanusiaan yang tebal dan dalam, sehingga pemimpin akan dapat

menimbulkan keinginan untuk lebih banyak bekerja demi kesejahteraan masyarakat. 11. Sih Samasta Bhuana : Seorang pemimpin hendaknya dicintai oleh rakyat dari semua golongan dan lapisan masyarakat baik di dalam maupun di luar negeri. 12. Nagara Sineng Pratidnya : Seorang pemimpin hendaknya harus selalu mengutamakan kepentingan negara daripada kepentingan pribadi, keluarag, kelompok atau golongannya. 13. Dibya Cita : Seorang pemimpin hendaknya toleran terhadap pendapat orang lain dan tidak boleh tersinggung atau dengan lapang ada harus bisa menerima masukan serta pemimpin harus punya pandangan yang luas. 14. Sumantri : Seorang pemimpin hendaknya tegas dan jujur, dimana ketegasan dan kejujuran seorang pemimpin akan menambah kewibawaan dan kesimpatikannya. 15. Nayaken Musuh : Seorang pemimpin hendaknya dapat menguasai musuh baik dari dalam negeri atau luar negeri, maupun musuh yang berada di dalam dirinya sendiri yang sangat amat berat akan ditaklukkan seperti sad ripu, sapta timira dan sad atatayi. 16. Ambeg Paramartha : Seorang pemimpin hendaknya dapat mengutamakan/mendahulukan hal-hal yang lebih penting atau mendahulukan kepentingan primer. 17. Waspada Purbawisesa : Seorang pemimpin hendaknya harus selalu mengadakan koreksi terhadap dirinya sendiri secara obyektif, dimana seorang pemimpin tidak dibenarkan berbohong untuk mengampuni kesalahannya sendiri. 18. Prasaja : Seorang pemimpin hendaknya senang hidup yang sederhana dan tidak silau pada kemewahan yang bersifat materialistis, tetapi lebih mengutamakan keagungan budi pekerti dan untuk kebahagiaan orang lain.

Kepemimpinan Part 3
Dalam landasan kepemimpinan Arjuna Sastrabahu, yang dikenal dengan landasan Panca Sthiti Darmeng Prabu, yang artinya 5 (lima) posisi dan fungsi sebagai pemimpin, antara lain :

1. Ing Arsa Asung Tulada : Jika pemimpin itu berada di hadapan anak buahnya, maka pemimpin itu berfungsi sebagai pendidik, yaitu memberikan doktrin-doktrin, ajaran-ajaran yang berisikan contoh-contoh yang baik dalam perjuangan. Dengan kata lain, jika pemimpin itu berada di hadapan anak buahnya berfungsi sebagai guru, dimana anak buahnya sebagai siswa atau muridnya. 2. Ing Madya Amangun Karsa : Jika pemimpin itu berada di tengah-tengah anak buahnya, dimana seorang pemimpin hendaknya dapat menggugah semangat anak buahnya dan dapat memanfaatkan dengan tepat di bidang pembangunan untuk keperluan masyarakat, bangsa, dan negara. 3. Tut Wuri Handayani : Jika pemimpin itu berada di belakang anak buahnya, dimana pemimpin itu berfungsi sebagai pengontrol anak buahnya bukan sebagai pengadu domba anak buahnya. 4. Maju Tanpa Bala : Jika pemimpin yang telah sukses dalam posisi melaksanakan nomor 1, 2, dan 3 diatas, maka akhirnya pemimpin itu harus berani maju tanpa bala ( tanpa kekuatan ) yang nyata untuk berani berdiri tegak sendiri menghadapi apapun yang akan terjadi. 5. Sakti Tanpa Aji : Jika pemimpin yang telah sukses dalam melaksanakan poin nomor 1, 2, 3, dan 4 diatas, maka pemimpin yang demikian itulah dapat dikatakan yang sakti tanpa bersandar pada balasan dan tidak memerlukan penghargaan atas hasil kemampuannya atau balas jasa terhadap hasil dirinya sendiri.