Anda di halaman 1dari 114

BAB I Dasar Akuntansi Pajak

Pengertian Akuntansi Akuntansi merupakan seni pencatatan, pengelompokkan, dan pengikhtisaran menurut cara yang berarti dan dinyatakan dalam nilai uang. Pengertian Pajak Pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan UU (yang dapat dipaksakan) dengan tidak mendapat jasa-timbal (kontraprestasi), yang langsung dapat ditunjukan dan yang digunakan untuk membayar pengeluaran umum Unsur-unsur Definisi: 1. Pajak adalah suatu iuran atau kewajiban menyerahkan sebagian kekayaan (pendapatan) kepada negara 2. Penyerahan itu bersifat wajib. Bagaimana jika tidak dilakukan? hutang itu dapat dipaksakan dengan kekerasan seperi surat paksa dan sita 3. Perpindahan/ penyerahan itu berdasarkan UU/ Peraturan / Norma yang dibuat oleh Pemerintah yang berlaku umum. 4. Tidak ada kontraprestasi Langsung dari Pemerintah (Pemungut iuran) Prinsip Akuntansi Pajak Prinsip yang terdapat dalam akuntansi pajak adalah sebagai berikut: 1. Kesatuan Akuntansi Pada prinsip ini, maka: (1) Perusahaan dianggap satu kesatuan ekonomi yang terpisah dengan pihak-pihak yang berkepentingan dengan sumber-sumber perusahaan. 2. Kesinambungan Prinsip ini mengatakan bahwa suatu entitas ekonomi diasumsikan akan terus menerus melanjutkan usahanya dan tidak akan dibubarkan. 3. Harga Pertukaran Obyektif

Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

Transaksi keuangan harus dinyatakan dengan nilai uang. Obyektif berarti sebagai berikut: (a) tidak dipengaruhi oleh adanya hubungan istimewa, (b) dapat diuji oleh pihak independen, (c) tidak terdapat transfer pricing, (d) tidak ada mark-up, tidak ada KKN, dan sebagainya. 4. Konsistensi Prinsip ini mengatakan bahwa penggunaan metode dalam pembukuan tidak bokeh berubah-ubah. Misalkan: (a) penentuan tahun buku, (b) perhitungan penyusutan, (c) perhitungan persediaan, (d) pengakuan nilai kurs valuta asing Jenis Laporan Keuangan Laporan keuangan menggambarkan dampak keuangan dari transaksi dan peristiwa, yang diklasifikasikan dalam beberapa kelompok besar menurut karakteristiknya. Laporan keuangan (setidaknya) terdiri atas: 1. Laporan Laba / Rugi Merupakan suatu ikhtisar yang menyajikan Pendapatan dan Beban perusahaan. 2. Laporan Perubahan Modal Merupakan ikhtisar yang menyajikan Modal perusahaan beserta perubahannya 3. Neraca Neraca adalah daftar Harta, Utang dan Modal perusahaan pada suatu periode. Persamaan Akuntansi Pajak Pemahaman terhadap persamaan akuntansi pajak adalah hal yang sangat penting sekali karena semua proses akuntansi semuanya berangkat dari konsep ini. 1. Perusahaan Tidak Memiliki Utang Apabila perusahaan tidak memiliki kewajiban (utang), maka seluruh aktiva (harta) perusahaan akan menjadi hak pemilik, maka konsep dasarnya adalah: AKTIVA = MODAL

Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

Contoh : AKTIVA Kas Perlengkapan 500.000 300.000 800.000 MODAL Modal Tuan Yadi 800.000 800.000

2. Perusahaan Memiliki Utang Apabila perusahaan memiliki utang untuk usahanya, maka konsep dasar akuntansinya berkembang seperti di bawah ini: HARTA = MODAL + UTANG Contoh : AKTIVA Kas Perlengkapan 700.000 300.000 1.000.000 MODAL UTANG Modal Tuan Yadi Utang Usaha 800.000 200.000 1.000.000

3. Pengaruh Pendapatan dan Biaya Perusahaan misalkan memperoleh pendapatan dari usahanya, dan perusahaan pun memiliki biaya (beban) atas usahanya, maka pengaruh pada persamaan akuntansinya adalah: AKTIVA Kas 765.000 Perlengkapan 300.000 1.150.000 BIAYA B. Gaji 85.000 MODAL Modal Tn. Yadi 800.000 UTANG Utang PENDAPATAN

Pendapatan Sewa Usaha 200.000 150.000 1.150.000

Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

Saldo Normal Saldo normal merupakan hal penting yang harus dimengerti dalam akuntansi AKTIVA BIAYA Bertambah (+) = DEBET (D) Berkurang (-) = KREDIT (K) Siklus akuntansi Siklus dalam akuntansi merupakan tahapan pekerjaan yang harus dilakukan dari awal hingga akhirnya menghasilkan laporan keuangan. Dibawah ini adalah siklus akuntansi yang harus dilewati dalam bidang akuntansi: MODAL UTANG PENDAPATAN Bertambah (+) = KREDIT (K) Berkurang (-) = DEBET (D)

Bukti Transaksi

JURNAL

BUKU BESAR

LAPORAN KEUANGAN

NERACA SALDO

Jurnal Seperti yang telah dibahas pada bab sebelumnya, bahwa: o Aktiva & Biaya o Modal, Utang & Pendapatan : (+) Debet : (+) Kredit (-) Kredit (-) Debet

Konsep diatas digunakan dalam tahap penjurnalan, misalkan ada contoh soal seperti dibawah ini, Transaksi Keuangan CV. Yurina Suryadin Wulandari (Servis Mobil) 1 Jan, Tn. Ahmad menyetorkan uangnya sebagai modal sebesar Rp 125.000.000, dimasukkan pada rekening kas sebesar Rp 25.000.000, dan pada rekening bank sebesar Rp 100.000.000 2 Jan, 4 Jan, 14 Jan, Membeli peralatan servis sebesar Rp 30.000.000 Meminjam uang kepada bank sebesar Rp 80.000.000 dan dimasukkan Menerima pendapatan servis sebesar Rp 1.650.000

pada rekening bank

Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

18 Jan,

Tn. Ahmad mengambil uang yang ada pada bank untuk membayar biaya

kuliah anaknya sebesar Rp 3.000.000 Dengan melihat transaksi di atas, maka jurnal yang dibuat adalah sebagai berikut: Tanggal 1 Jan 2007 Uraian Kas Bank Modal Tn. Ahmad (Modal awal Tn. Ahmad) Peralatan Servis Kas (membeli peralatan servis) Bank Utang Bank (meminjam uang pada bank) Kas Pendapatan Servis (pendapatan servis) Prive Bank Debet (Rp) 25.000.000 100.000.000 Kredit (Rp) 125.000.000 3.000.000 3.000.000 80.000.000 80.000.000 1.650.000 1.650.000 3.000.000 3.000.000

2 Jan 2007

4 Jan 2007

14 Jan 2007 18 Jan 2007

Buku Besar Setelah pencatatan transaksi dilakukan ke dalam jurnal (penjurnalan), maka tahap berikutnya adalah memindahkan ayat-ayat jurnal tadi ke akun-akun, proses ini dinamakan pemindahbukuan atau dalam bahasa akuntansinya disebut Posting ke buku besar. Buku besar adalah kumpulan atas transaksi-transaksi dari akunakun yang sejenis. Dibawah ini diperlihatkan cara-cara pemindahbukuan (posting)

Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

Jurnal Tanggal 1 Mei 2006 Uraian Biaya Gaji Kas (pembayaran biaya gaji) Debet (Rp) 2.500.000 Kredit (Rp) 2.500.000

Buku Besar Akun Biaya Gaji Tanggal 1 Mei Uraian Debet 2.500.000 Kredit Saldo Debet Kredit 2.500.000

Akun Kas Tanggal 1 Mei 10 Mei Uraian Debet 6.000.000 Kredit 2.500.000 Saldo Kredit 2.500.000 3.500.000 Debet

Neraca Saldo Bagaimana caranya agar anda yakin bahwa anda tidak membuat kesalahan dalam melakukan posting ke kolom debit dan kredit buku besar? Caranya adalah dengan membuat Neraca Saldo. Seperti yang kita ketahui bersama setiap buku besar pastilah memiliki saldo akhir dari setiap akunnya, angka atau saldo akhir inilah yang kita masukkan ke dalam neraca saldo. Dibawah ini adalah cara memasukkan angka-angka dari buku besar ke neraca saldo sekaligus contoh bentuk atau form standar Neraca Saldo:

Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

Buku Besar Akun Kas Tgl Uraian Debet 25.000.000 3.000.000 1.650.000 530.000 PT. XXX Neraca Saldo 31 Desember 2006 Kas Piutang Usaha ........ Utang ..... Modal Tn ..... Pendapatan ..... Biaya ... Rp xxx Rp YYY Harus Sama Rp YYY Rp 23.120.000 Rp xxx Rp xxx Rp xxx Rp xxx Rp xxx Isi tanggal akhir periode Kredit Saldo Debet Kredit 25.000.000 22.000.000 23.650.000 23.120.000 Isi nama perusahaan

1 Jan Modal awal 2 Jan Beli Peralatan 14 Jan Pendapatan 20 Jan Listrik & Telp Neraca Saldo

Laporan Keuangan Dibawah ini akan dijelaskan 3 laporan yang secara umum akan disajikan pada pemakai laporan. 1. Laporan Laba Rugi Laporan laba rugi merupakan laporan yang akan menyajikan posisi keuangan dalam hal laba atau rugi nya. Dalam laporan ini, terdapat 2 (dua) pos yang akan disajikan yaitu pos Pendapatan dan Beban

Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

PT. XXX Laporan Laba Rugi 31 Desember 2006 PENDAPATAN: Pendapatan Usaha Pendapatan ........ Total Pendapatan BEBAN: B. Gaji Beban ... Total Beban LABA (RUGI) BERSIH Jika Rugi, tambahkan tanda kurung 2. Laporan Perubahan Modal Rp xxx Rp xxx (+) Rp xxx Rp xxx (+)

Isi nama perusahaan

Isi tanggal akhir periode

Rp XXX

Rp XXX (-) Rp XXX

Laporan Perubahan Modal (LPM) merupakan laporan yang akan menyajikan posisi modal akhir yang kita miliki. PT. XXX Laporan Perubahan Modal 31 Desember 2006 Modal Awal Penambahan Modal Laba (Rugi) Usaha Prive Modal Akhir Rp xxx Rp xxx Rp xxx (+) Rp XXX Rp XXX (-) Rp XXX Isi tanggal akhir periode Isi nama perusahaan

Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

3.

Neraca

Neraca merupakan tahap terakhir dari laporan keuangan yang menjelaskan posisi keuangan perusahaan dilihat dari pos Aktiva/Harta, Utang dan Modal. Untuk mengisi neraca ini, maka kita berpatokan pada Neraca Saldo yang telah disusun sebelumnya, akan tetapi untuk pos Pendapatan dan Beban tidak dicantumkan (dihapuskan). Tuliskan semua akun-akun yang berada pada pos Aktiva, Utang dan Modal (modal akhir yang telah disusun sebelumnya pada laporan perubahan modal) PT. XXX Neraca Per 31 Desember 2006 Aktiva Lancar Kas Rp xxx Bank Rp xxx Piutang Rp xxx ........ Rp xxx (+) Total Aktiva Lancar Aktiva Tetap Tanah Rp xxx Bangunan Rp xxx Akm. Peny. Mesin (Rp xxx) (+) Total Aktiva Tetap TOTAL AKTIVA Utang Utang Usaha Utang .... Rp xxx Rp xxx (+) Rp YYY

Rp XXX

Rp XXX (+) Rp YYY

TOTAL UTANG Modal Modal (Akhir) Rp xxx

TOTAL MODAL

Rp YYY

INGAT!!! Total AKTIVA harus sama dengan UTANG + MODAL

Pajak Penghasilan Pasal 21


Pengertian Pajak Penghasilan 21
Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

PPh 21 adalah Pajak atas penghasilan yang dikenakan atas penghasilan berupa gaji, upah, honorarium, tunjangan dan pembayaran lain dengan nama dan bentuk apapun yang diterima oleh wajib pajak orang pribadi dalam negeri sehubungan dengan pekerjaan atau jabatan jasa dan kegiatan

Wajib Pajak Pph Pasal 21 Pejabat negara, NPS, Pegawai Pegawai Tetap Pegawai dengan status WP luar negeri Pegawai Lepas Penerima Pensiun Penerima Honorarium Penerima Upah Bukan Wajib Pajak PPh Pasal 21 Pejabat perwakilan diplomatik dan konsulat atau pejabat lain dari negara asing Pejabat perwakilan organisasi internasional sebagaimana dimaksud dalam keputusan Mentri Keuangan No. 611/KMK.04/1994 sepanjang bukan warga negara Indonesia dan tidak menjalankan usaha atau pekerjaan lain Pemotong Pajak Pph 21 Pemberi kerja baik orang pribadi, badan, BUT baik induk maupun cabang Bendaharawan pemerintah pusat/daerah, Instansi, Departemen, KBRI, dll Dana Pensiun, PT. TASPEN, ASTEK, JAMSOSTEK,THT BUMN/ BUMD Yayasan, lembaga, kepanitiaan, asosiasi, organisasi Bukan Pemotong PPh 21/26 Perwakilan Diplomatik seperti kedutaan besar negara sahabat Badan / Organisasi Internasional seperti organisasi PBB Objek Pajak PPh 21/26 Penghasilan Teratur Penghasilan Tidak Teratur berupa jasa produksi, tantiem,THR, bonus dll Upah harian, mingguan, satuan & borongan Premi asuransi yang dibayar pemberi kerja Uang tebusan pensiun, Pesangon THT, dll Honorarium dengan nama dan bentuk apapun Imbalan dengan nama dan bentuk apapun Penghasilan natura yang diberikan oleh bukan wajib pajak Tidak Termasuk Penghasilan Pembayaran oleh perusahaan asuransi
Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

Penerimaan dalam bentuk Natura Iuran pensiun & THT yang dibayar pemberi kerja Natura yang diberikan oleh pemerintah Kenikmatan Pajak yang ditanggung pemberi kerja

Pengurang Penghasilan yg diperbolehkan 1. Biaya Jabatan , khusus untuk Pegawai Tetap: - Tanpa melihat memiliki jabatan atau tidak - Besarnya 5% dari Penghasilan Bruto maksimum setahun atau Rp 500.000 sebulan 2. Iuran Pensiun dan THT - Yang dibayar pegawai - Yayasan dana pensiun yang di setujui menteri keuangan - Jumlahnya tidak dibatasi

Rp 6.000.000

3. Biaya Pensiun Khusus untuk penerima pensiun berkala atau bulanan Besarnya 5% dari uang pensiun maksimum Rp 2.400.000 setahun atau Rp 200.000 sebulan 4. Penghasilan Tidak kena Pajak ( PTKP) - Menurut keadaan wajib pajak tanggal 1 januari /awal tahun, khusunya WPDN - Keadaan pada saat datang ke Indonesia khusus WNA TARIF PAJAK WP Pribadi WP Badan TariF Pasal 17 UU PPh dikenakan atas: Penghasilan Kena Pajak (PKP) dari : 1. Pegawai tetap 2. Penerima pensiun berkala 3. Pegawai tidak tetap 4. Pemagang, calon pegawai 5. Kegiatan Multilevel marketing

PPh psl 21 = PKP x Tarif pasal 17 UU PPh Penghasilan Bruto dari : 1. Honorarium, Bea siswa, uang saku, hadiah penghargaan, komisi, dll. 2. Honorarium anggota dewan komisaris/ pengawas tidak merangkap peg. Tetap 3. Jasa produksi, tantiem, bonus yang diterima mantan pegawai 4. Penarikan dana pensiun iuran pasti 5. Pembayaran lain : pemain musik, olahragawan dll PPh psl 21 = Penghasilan bruto x Tarif pasal 17 UU PPh
Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

Tarif 15% dikenakan atas Tenaga Ahli Dengan Norma Perhitungan 50% Penghasilan bruto yang dibayarkan kpd : 1. Pengacara 2. Akuntan 3. Arsitek 4. Dokter 5. Konsultan, notaris 6. Penilai, aktuaris

PPh psl 21 = (Penghasilan brutox50%) x 15% Tarif 5 % dikenakan atas 1. Upah harian 2. Upah mingguan 3. Upah satuan 4. Upah borongan Jika upah yg diterima sehari diatas Rp 150.000 sehari dan tidak lebih dari Rp 1.320.000 sebulan dan tidak dibayarkan secara bulanan PPh psl 21 = (Penghasilan bruto sehari Rp 150.000) x 5%

Tarif PPh psl 21 yang bersifat FINAL


1. Atas uang pesangon, uang tebusan pensiun, THT yang dibayar sekaligus. Dengan ketentuan : Penghasilan bruto < Rp 25.000.000 Rp 25 juta s/d Rp 50 juta Rp 50 juta s/d Rp 100 juta Rp 100 juta s/d Rp 200 juta > Rp 200 juta Tarif Tidak dipotong pajak 5% 10% 15% 25%

2. Atas komisi yang diterima atau diperoleh petugas dinas luar asuransi & petugas penjaja barang dagangan, sepanjang petugas tersebut bukan pegawai tetap PPh psl 21 = penghasilan bruto x 10 % 3. Atas penghasilan bruto berupa honorarium yang diterima oleh pejabat negara, PNS, anggota TNI/Polri yang sumber dananya berasal dari keuntungan negara/daerah kecuali yang dibayarkan kepada PNS gol Iid ke bawah dan anggota TNI/Polri yang berpangkat Lettu ke bawah atau Ajun Inspektur Tingkat satu kebawah PPh psl 21 = penghasilan bruto x 15 % Menghitung PKP (WNI) 1. Bekerja sejak awal tahun ( Jan - Des ) Penghasilan bruto /bulan Rp XXX Biaya-biaya yg diperkenankanRp XXX Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

Penghasilan Neto PTKP PKP

Rp XXX x 12 Rp XXX Rp XXX

2. Bekerja pada tahun berjalan ( Sep - Des ) Penghasilan bruto /bulan Rp XXX Biaya-biaya yg diperkenankanRp XXX Penghasilan Neto Rp XXX x 4 PTKP Rp XXX PKP Rp XXX Menghitung penghasilan neto tidak perlu disetahunkan 3. Berhenti bekerja karena Pensiun Perhitungan sama dengan poin 2 4. Berhenti karena meninggal sebelum tahun pajak berakhir meninggal Agustus ) Penghasilan bruto /bulan Rp XXX Biaya-biaya yg diperkenankanRp XXX Penghasilan Neto Rp XXX x 12 PTKP Rp XXX PKP Rp XXX ( misal

Menghitung PKP ( WNA ) tinggal lebih dari 183 hari di Indonesia 1. Bekerja Sejaka awal tahun ( Jan - Des ) Penghasilan bruto /bulan Rp XXX Biaya-biaya yg diperkenankanRp XXX Penghasilan Neto PTKP PKP

Rp XXX x 12 Rp XXX Rp XXX

2. Bekerja tidak setahun penuh ( Sep-Des ) Penghasilan bruto /bulan Rp XXX Biaya-biaya yg diperkenankanRp XXX Penghasilan Neto PTKP PKP

Rp XXX x 12 Rp XXX Rp XXX

3. Berhenti bekerja karena meninggalkan Indonesia Penghasilan bruto /bulan Rp XXX Biaya-biaya yg diperkenankanRp XXX Penghasilan Neto Rp XXX x 12 PTKP Rp XXX Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

PKP

Rp XXX

Menghitung PPh Pasal 21 (WNA) Untuk WNA yang tinggal kurang dari 183 hari diperkenanakan PPh Pasal 26, tarif 20% dari penghasilan bruto

Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

CONTOH MENGHITUNG PPh PASAL 21


PPh 21 untuk pegawai tetap 1. Hasan bekerja pada perusahaan PT ABC dengan gaji sebulan Rp 3.500.000. PT ABC masuk program jamsostek, premi asuransi kecelakan kerja dan premi asuransi kematian ditanggung oleh pemberi kerja setiap bulan masing-masing 0.24% dan 1%. Disamping itu pemberikerja juga menanggung iuran pensiun yang dibayarkan ke yayasan dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh Menkeu dan iuran JHT masingmasing sebesar 5% dan 3% sedangkan ditanggung Hasan masing-masing 5% dan 2%, semua dihitung dari gaji. Hasan menikah dan mempunyai 1 anak PPh 21 untuk pegawai tetap karyawati 2. Yolanda status menikah blm mempunyai anak adalah karyawati PT Mustika dengan gaji Rp 5.500.000,- sebulan. PT Mustika setiap bulan membayar JKK 0.24% dan JKM 1% untuk karyawannya. Disamping itu PT Mustika membayar Iuran pensiun 5% dan iuran JHT 3% untuk karyawannya sedangkan Yolanda membayar iuran pensiun 5% dan JHT 2%, semua dihitung dari gaji. Suami Yolanda bekerja di PT. Aman 3. Dina status menikah mempunyai 3 anak adalah karyawati PT Maju dengan gaji Rp 3.000.000,- sebulan. PT Maju setiap bulan membayar JKK 0.24% dan JKM 1% untuk karyawannya. Disamping itu PT Mustika membayar Iuran pensiun 5% dan iuran JHT 3% untuk karyawannya sedangkan Yolanda membayar iuran pensiun 5% dan JHT 2%, semua dihitung dari gaji. Berdasarkan surat keterangan dari Pemda setempat, suami Dina tidak mempunyai penghasilan dan masih mempunyai tanggungan seorang ibu yang sudah tua serta tidak berpenghasilan. PPh 21 untuk Pegawai Tetap yang memperoleh uang lembur 4. Tn Yunus status menikah mempunyai 3 anak adalah karyawati PT Jaya dengan gaji Rp 3.000.000,- sebulan. PT Jaya setiap bulan membayar JKK 0.24% dan JKM 1% untuk karyawannya. Disamping itu PT Mustika membayar Iuran pensiun 5% dan iuran JHT 3% untuk karyawannya sedangkan Tn Yunus menanggung iuran pensiun 5% dan JHT 2%, semua dihitung dari gaji. Untuk bulan Mei 2006 di saping gaji juga memperoleh uang lembur sebesar Rp 500.000,PPh 21 untuk Pegawai Tetap yang gajinya dibayar mingguan dan harian 5. Mulyana status menikah dan mempunyai 2 orang anak, Mulyana karyawan CV. Anugrah dengan gaji mingguan sebesar Rp 2.500.000,-. setiap bulan CV. Anugrah membayar JKK 0.24% dan JKM 1% untuk karyawannya. Disamping itu CV. Anugrah membayar Iuran pensiun 5% dan iuran JHT 3% untuk karyawannya sedangkan Mulyana menanggung iuran pensiun 5% dan JHT 2%, semua dihitung dari gaji. 6. Fina status belum menikah, karyawati PT. Makmur dengan gaji harian sebesar Rp 200.000,-. setiap bulan PT. Makmur membayar JKK 0.24% dan JKM 1% untuk karyawannya. Disamping itu PT. Makmur membayar

Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

Iuran pensiun 5% dan iuran JHT 3% untuk karyawannya sedangkan Fina menanggung iuran pensiun 5% dan JHT 2%, semua dihitung dari gaji. Pegawai Tetap yang PPh 21nya ditanggung pemberi kerja 7. Iwan status menikah dan mempunyai 3 orang anak, Iwan karyawan PT Lestari dengan gaji sebulan sebesar Rp 5.000.000,-. PPh ditanggung oleh pemberi kerja. Setiap bulan PT. Lestari membayar JKK 0.24% dan JKM 1% untuk karyawannya. Disamping itu PT. Lestari membayar Iuran pensiun 5% dan iuran JHT 3% untuk karyawannya sedangkan Iwan menanggung iuran pensiun 5% dan JHT 2%, semua dihitung dari gaji. PPh 21 untuk Pegawai Tetap yang memperoleh tunjangan pajak dan tunjangan lainnya 8. Raka status menikah dan mempunyai 1 orang anak, Raka karyawan PT Husada dengan gaji sebulan sebesar Rp 5.000.000,-. Dan tunjangan PPh 21 sebesar 2.5% dari gaji. Setiap bulan PT. Husada membayar JKK 0.24% dan JKM 1% untuk karyawannya. Disamping itu PT. Husada membayar Iuran pensiun 5% dan iuran JHT 3% untuk karyawannya sedangkan raka menanggung iuran pensiun 5% dan JHT 2%, semua dihitung dari gaji. 9. Gono status menikah dan mempunyai 2 orang anak, Gono karyawan PT Karya dengan gaji sebulan sebesar Rp 5.000.000,- Disamping itu juga menerima tunjangan beras Rp 250.000,- dan tunjangan transportasi Rp 350.000,-. Setiap bulan PT. Karya membayar JKK 0.24% dan JKM 1% untuk karyawannya. Disamping itu PT. Karya membayar Iuran pensiun 5% dan iuran JHT 3% untuk karyawannya sedangkan Gono menanggung iuran pensiun 5% dan JHT 2%, semua dihitung dari gaji.

PPh 21 untuk Pegawai Tetap yang memperoleh penghasilan natura atau kenikmatan lainnya 10. Dono status belum menikah karyawan PT Bahari dengan gaji sebulan sebesar Rp 2.500.000,-. Disamping itu juga menerima beras 10 kg (harga pasar Rp 3.500,-/kg) dan kendaraan dinas (setara dengan Rp 650.000,-). Setiap bulan PT. Bahari membayar JKK 0.24% dan JKM 1% untuk karyawannya. Disamping itu PT. Bahari membayar Iuran pensiun 5% dan iuran JHT 3% untuk karyawannya sedangkan Dono menanggung iuran pensiun 5% dan JHT 2%, semua dihitung dari gaji. PPh 21 untuk Pegawai Tetap yang memperoleh penghasilan natura atau kenikmatan lainnya dari Bukan Wajib Pajak 11. Roy status menikah dan mempunyai 1 orang anak, Roy adalah WNI yang bekerja pada kedutaan Australia di Indonesia dengan gaji sebulan sebesar Rp 9.000.000,-. Disamping itu juga menerima beras 45 kg dan gula 20 kg. Untuk menentukan nilai uang dari beras dan gula dihitung berdasarkan harga pasar yaitu untuk beras Rp 4.500,-/kg dan 5.500,-/kg. PPh 21 untuk Pegawai Tetap yang memperoleh uang rapel

Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

12. Danar status menikah blm mempunyai anak adalah karyawan PT Adiguna dengan gaji Rp 4.000.000,- sebulan. PT Adiguna setiap bulan membayar JKK 0.24% dan JKM 1% untuk karyawannya. Disamping itu PT Adiguna membayar Iuran pensiun 5% dan iuran JHT 3% untuk karyawannya sedangkan Danar membayar iuran pensiun 5% dan JHT 2%, semua dihitung dari gaji. Pada tanggal 1 Mei 2006 Danar menerima kenaikan gaji menjadi Rp 5.000.000,- sebulan berlaku surut sejak Januari 2006. Dengan adanya kenaikan gaji yang berlaku surut tersebut Danar menerima uang rapel Rp 5.000.000,- yang merupakan pembayaran gaji untuk bulan Januari April 2006. PPh 21 untuk Pegawai yang kewajiban subjektifnya sbg subjek pajak dalam negeri sudah ada sejak awal tahun takwim tetapi baru bekerja pada pertengah tahun 13. Husni status menikah blm mempunyai anak adalah karyawan PT Arta sejak 1 September 2006 dengan gaji Rp 5.500.000,- sebulan. PT Arta setiap bulan membayar JKK 0.24% dan JKM 1% untuk karyawannya. Disamping itu PT Arta membayar Iuran pensiun 5% dan iuran JHT 3% untuk karyawannya sedangkan Husni membayar iuran pensiun 5% dan JHT 2%, semua dihitung dari gaji. PPh 21 untuk Pegawai yang kewajiban subjektifnya sbg subjek pajak dalam negeri dimulai seteleh permulaan tahun pajak atau berakhir dalam tahun pajak 14. William status menikah dan mempunyai 3 orang anak, William adalah warga negara Amerika yang datang dan mulai bekerja pada 1 Mei 2005, berdasarkan kontrak dengan PT. Tirta ia bekerja di Indonesia sampai April 2006. Selama tahun 2005 ia menerima gaji perbulan Rp 9.000.000,PPh 21 terhadap pernghasilan berupa : jasa produksi, tentiem, gratifikasi, THR, Bonus, Premi dan sejenisnya yang sifatnya tidak tetap 15. Bowo status menikah blm mempunyai anak adalah karyawan PT Mahameru dengan gaji Rp 5.000.000,- sebulan. PT Mahameru setiap bulan membayar JKK 0.24% dan JKM 1% untuk karyawannya. Disamping itu PT Mahameru membayar Iuran pensiun 5% dan iuran JHT 3% untuk karyawannya sedangkan Bowo membayar iuran pensiun 5% dan JHT 2%, semua dihitung dari gaji. Dalam tahun 2005 Bowo menerima bonus sebesar Rp 10.000.000,16. Nn. Silvi status adalah karyawan PT Abadi dengan gaji Rp 5.000.000,sebulan. PT Abadi setiap bulan membayar JKK 0.24% dan JKM 1% untuk karyawannya. Disamping itu PT Abadi membayar Iuran pensiun 5% dan iuran JHT 3% untuk karyawannya sedangkan Nn. Silvi membayar iuran pensiun 5% dan JHT 2%, semua dihitung dari gaji. Pada bulan November 2006 Silvi menerima THR sebesar Rp 10.000.000,-

PPh 21 atas penghasilan yang diperoleh dalam mata uang asing

Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

17. Christin status menikah mempunyai 1 anak adalah karyawati PT. Angkasa memperoleh Gaji sebesar US $ 6.000 sebulan. Kurs yang berlaku saat itu berdasarkan keputusan Menkeu adalah Rp 10.000,-/ US $ PPh 21 terhadap penghasilan pegawai yang dipindahkan tugasnya dalam tahun pajak berjalan 18. Arya status menikah blm mempunyai anak adalah karyawan PT Adi Buana. Sejak 1 April 2006 dipindahkan tugaskan darikantor Pusat Surabaya ke kantor cabang di Malang. Untuk itu gaji yang diperoleh juga naik dari Rp 4.000.000 menjadi Rp 5.000.000,- sebulan. PT Adi Buana setiap bulan membayar JKK 0.24% dan JKM 1% untuk karyawannya. Disamping itu PT Adi Buana membayar Iuran pensiun 5% dan iuran JHT 3% untuk karyawannya sedangkan Arya membayar iuran pensiun 5% dan JHT 2%, semua dihitung dari gaji. PPh 21 untuk pegawai tidak tetap, calon pegawai atau pemagang 19. Jodi status menikah belum mempunyai anak bekerja pada PT. Mulia sebagai calon pegawai. Gaji sebulan adalah Rp 3.000.000,PPh 21 untuk penerima pensiun 20. Gilang status menikah dan mempunyai 4 orang anak (2 diantaranya telah lulus sarjana dan telah bekerja) adalah karyawan PT Karya. Sejak 1 April 2005 memasuki masa pensiun dan menerima uang pensiun Rp 4.000.000,- sebulan. Sebelumnya ia memperoleh gaji Rp 8.000.000,sebulan. Disamping itu juga menerima tunjangan beras Rp 250.000,Setiap bulan PT. Karya membayar JKK 0.24% dan JKM 1% untuk karyawannya. Disamping itu PT. Karya membayar Iuran pensiun 5% dan iuran JHT 10% untuk karyawannya sedangkan Gilang menanggung iuran pensiun 5% dan JHT 0%, semua dihitung dari gaji. PPh 21 untuk pengambilan dana pensiun oleh peserta pensiun 21. Anton status menikah mempunyai 1 anak adalah karyawan PT Budi Luhur dengan gaji Rp 6.000.000,- sebulan. PT Budi Luhur setiap bulan membayar JKK 0.24% dan JKM 1% untuk karyawannya. Disamping itu PT Budi Luhur membayar Iuran pensiun 5% dan iuran JHT 3% untuk karyawannya sedangkan Anton membayar iuran pensiun 5% dan JHT 2%, semua dihitung dari gaji. Bulan Mei 2006 Anton memerlukan biaya untuk perbaikan rumahnya maka ia mengambil iuran dana pensiun yang telah sibayar sendiri sebesar Rp 25.000.000,- Kemudian bulan September 2006 untuk biaya sekolah anaknya ia menarik lagi dana sebesar Rp 20.000.000,-. Kemudia bulan nopember 2006 untuk keperluan lain ia menarik lagi dana sebesar Rp 35.000.000,PPh 21 untuk upah harian, mingguan dan borongan 22. Tio status menikah dan belum mempunyai anak pada bulan maret 2006 bekerja selama 10 hari pada PT. Mentari, menerima upah sebesar Rp 200.000,- per hari

Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

23.

Candra status belum menikah adalah seorang perakit komputer pada suatu perusahaan elektronik. Upah yang dibayar berdasarkan atas jumlah unit/satuan yang diselesaikan yaitu Rp 60.000,- per unit komputer dan dibayarkan tiap minggu. Dalam waktu 1 minggu (5 hari kerja) dihasilkan sebanyak 15 komputer dengan upah total Rp 900.000,Arya mengerjakan dekorasi sebuah rumah dengan upah borongan sebesar Rp 1.000.000 pekerja diselesaikan dalam 2 hari. Arya menikah dan mempunyai 1 anak.

24.

25. Santo menikah mempunyai 1 anak bekerja pada perusahaan tekstil dengan dasar upah harian yang dibayarkan bulanan. Dalam bulan Nopember 2006 Santo hanya bekerja 20 hari kerja dan upah sehari adalah Rp 200.000,PPh 21 atas penghasilan lainnya yg menjadi objek PPh 21 26. Drs. Wayan adalah seorang konsultan pajak yang memberikan jasanya kepada PT. Mulia dengan honor Rp 60.000.000,27. Rusman, MSc adalah seorang komisaris di PT Rajasa yang bukan pegawai tetap. Dalam bulan Desember 2006 ia menerima honorarium sebesar Rp 150.000.000 28. Ir Rusdi adalah seorang arsitek pada bulan Januari 2006 menerima honorarium sebesar Rp 30.000.000 dari PT Waskita sebagai imbalan jasa teknik yang dilakukan. (norma penghitungan penghasilan neto untuk arsitek adalah 40%) 29. Irwan adalah seorang petugas dinas luar asuransi yang bukan pegawai tetap dari PT Asuransi Jiwa Damai. Pada bulan Januari 2005 menerima komisi sebesar Rp 4.000.000 30. Bayu SH, bekerja pada PT Mangga. Pada 1 Januari 2006 telah berhenti bekerja dari PT Mangga karena pensiun. Pada bulan Maret 2005 ia menerima jasa produksi tahun 2004 dari PT mangga sebesar Rp 80.000.000 31. Angelique Wijaya adalah seorang petenis profesional yang bertempat tinggal di Indonesia, ia menjuarai turnamen tenis Indonesia Open & memperoleh hadiah sebesar Rp 60.000.000 32. Radityo seorang dosen UG, status menikah dan mempunyai 3 anak. Mulai Pebruari 2006 mendapat tugas belajar S2 dari pihak kampus dengan beasiswa sebesar Rp 6.000.000,- sebulan 33. Dewi pegawai baru PT. Maju. Sebelum diangkat sebagai pegawai tetap Dewi harus melewati tahap sebagai karyawan magang dan memperoleh uang saku harian sebesar Rp 200.000,-

Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

34.

Sari adalah seorang ibu rumah tangga yang mempunyai 2 orang anak. Ia mempunyai kegiatan multilevel marketing dari produk yang dikeluarkan oleh CNI. Pada bulan Pebruari 2006 ia memperoleh penghasilan sebesar Rp 6.000.000,-

AKUNTANSI PAJAK (Rekonsiliasi Fiskal)


A. Latar Belakang Rekonsiliasi Fiskal Rekonsiliasi fiskal dilakukan oleh WP karena terdapat perbedaan perhitungan khususnya laba menurut akuntansi (komersial) dengan menurut perpajakan (fiskal). B. Teknik Rekonsiliasi Fiskal Teknik rekonsiliasi fiskal dilakukan sebagai berikut: 1. Jika penghasilan diakui menurut akuntansi komersial tetapi tidak diakui dilakukan dengan mengurangkan sejumlah menurut fiskal, rekonsilasi

penghasilan tersebut dari penghasilan menurut akuntansi komersial, yang berarti mengurangi laba menurut akuntansi komersial dan sebaliknya 2. Jika suatu biaya/pengeluaran diakui menurut akuntansi tetapi tidak diakui sebagai pengurangan menurut fiskal, rekonsiliasi dilakukan dengan mengurangkan sejumlah biaya/pengurangan tersebut dari biaya menurut akuntansi komersial yang berarti menambah laba menurut akuntansi komersial dan sebaliknya 3. 4. Perbedaan dimasukan sebagi koreksi positif apabla : Perbedaan bertambah menurut fiskal Biaya/pengeluaran berkurang menurut fiskal Perbedaan dimasukan sebagai koreksi negatif apabila : Pendapatan berkurang menurut fiskal Biaya/pengeluran bertambah menurut fiscal

Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

C. Kasus 1 WP Badan (Rekonsiliasi Fiskal) PT. Perdana yang didirikan pada tahun 1999 merupakan WP yang bergerak dalam bidang usaha sendiri 1. a. b. 01.444.555.1.541.000 c. Yogyakarta CondongCatur/Yogyakarta 55281 d. e. Perdana, MM f. Yogyakarta g. 864892, Kantor : 0274-524591 h. Terbatas) i. Pembukuan : Dasar Akrual, menggunakan bahasa Indonesia, Komputer, mata uang Rupiah, cara penilaian persedian dengan menggukan FIFO, metode penyusutan dengan menggunakan garis lurus, metode amortisasi dengan menggunakan garis lurus. 2. Kegiatan Usaha Pada tahun 2002, PT.Perdana memperoleh penghasilan dari dalam negeri dan dari luar negeri. Laporan Laba Rugi (komersial) pada tahun 2002 adalah sebagai berikut : Klasifikasi badan : PT (Perseroan Nomor telepon : Rumah : 0274Alamat rumah : Jl. Swakarya No.5 Jenis usaha Nama Pimpinan : Industri : Drs. Akbar Alamat kedudukan : Jl. Kenari No.49 Data WP: Nama WP NPWP : PT. Perdana :

Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

PT.Perdana Laporan Laba Rugi Periode yang berakhir 31 Desember 2002 Usaha dalam negeri : Penjualan Retur penjualan Potonga Rp.20.002.654.000,(Rp.954.852.000,-) (Rp.545.987.000,-) Rp.18.504.815.000,(Rp.14.654.879.000,-) Rp.3.849.936.000,Rp.1.551.900.000,Rp.23.958.000,Rp.53.465.000,Rp.16.825.000,Rp.36.783.000,Rp.297.285.000,Rp.53.726.000,Rp.60.000.000,Rp.65.798.000,Rp.237.465.000,Rp.12.132.000,Rp.197.958.000,Rp.105.654.000,-

n penjualan Penjualan Neto Harga Pokok Penjualan Laba Bruto Biaya Usaha : Gaji, Upah, THR, Tunjangan lain Alat tulis dan biaya kantor Biaya perjalan dinas listrik dan telepon makan karyawan iklan/promosi dan Bea Materai n PPh Pasal 25 representasi royalty Biaya Biaya Biaya PBB Angsura Biaya Biaya Biaya

konsumsi/perjamuan Biaya sewa


Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

Biaya

kerugian piutang penyusutan

Biaya Biaya

Rp.150.520.000,Rp.285.123.000,Rp.3.148.592.000,Rp.701.344.000,Rp.25.000.000,Rp.25.000.000,Rp.50.000.000,Rp.751.344.000,-

lain-lain Total biaya usaha Laba usaha Penghasilan di luar usaha : Dividen Sewa Total penghasilan luar usaha Laba bersih (penghasilan neto) dalam negeri Usaha di luar negeri : Laba usaha dari Negara Canada obligasi dari Bunga Negara

Rp.200.000.000,-

Rp.50.000.000,-

Singapura Total penghasilan dari luar negeri Jumlah laba (penghasilan neto) Informasi yang digunakan sebagai

Rp.250.000.000,Rp.1.001.344.000,-

dasar

penyesuaian

perhitungan laba rugi fiskal: a.Didalam gaji, upah, tunjangan hari raya (THR) dan tunjangan lain terdapat pengeluaran untuk pembelian beras yang dibagikan kepada karyawan sebesar Rp.20.365.000,- dan biaya pengobatan karyawa senilai Rp.5.100.000,b. Dalam biaya lain-lain terdapat biaya rekreasi karyawan Rp.2.652.000,c.Dalam biaya perjalanan dinas terdapat bukti-bukti pendukung atas nama keluarga pemegang saham sebesar Rp.596.000,-

Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

d.

Pengeluaran berupa biaya representasi sebesar Rp.65.798.000,-

tidak didukung dengan bukti pengeluarna eksternal e.Piutang yang benar-benar tidak tertagih dan telah memenuhii syarat untuk diakui sebagai piutang tak dapat ditagih menurut perpajakan dalam tahun 2002 sebesar Rp.60.5000.000,f. Dalam biaya promosi terdapat sumbangan yang tidak ada hubungannya dengan kegiatan utama perusahaan sebesar Rp.12.754.000,g. Perusahaan mempunyai aktiva tetap sebagai berikut: Mesin produksi dibeli pada tanggal 1 Januari 1999 seharga Kendaraan dibeli pada tanggal 1 Januari 2000 seharga Komputer dibeli pada tanggal 5 Maret 2002 seharga Rp.500.000.000,Rp.400.000.000,Rp.300.000.000,Inventaris dibeli pada tanggal 10 Januari 1999 seharga Bangunan permanen selesai dibangun dan siap digunakan pada Rp.200.000.000,tanggal 1 Januari 1999 senilai Rp.600.000.000,Mesin produksi, kendaraan, komputer, dan inventaris merupakan akitiva berwujud kelompok II dan disusut dengan metode garis lurus h. Dalam penjualan tidak dimasukan penjualan kepada karyawan sebesar Rp.20.000.000,- yang penagihannya melalui pemotongan gaji setiap bulan i. Penghasilan sewa (dalam penghasilan luar usaha) sebesar Rp.25.000.000,- terdiri dari sewa bangunan senilai Rp.5.000.000,- sewa atas peralatan pabrik dildalam bangunan tersebut senilai Rp.12.000.000,dan sewa atas kendaraan senilai Rp.8.000.000,-. Penghasilan sewa ini diterima dari PT.Putra Surya yang beralamat Jl.Mayjen Sutoyo 30 Yogyakarta, NPWP : 01.166.552.2.541.000. Sewa tersebut diterima setiap tahun untuk jangka waktu beberapa tahun

Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

j. Dividen sebesar Rp.25.000.000,- merupakan dividen kas atas penyertaan saham pada PT.Ananda yang beralamat Jl.Lojajar 28 Yogyakarta, NPWP: 01.337.882.1.541.000 a. beralamat Jl.Hayam Wuruk Informasi lain yang digunakan sebagai dasar pengisian SPT PT.Perdana selama tahun 2002 No.157 Yogyakarta, NPWP: Tahunan PPh adalah: telah menjual hasil produksinya kepada PT.Telkom Yogyakarta yang 02.118.722.1.541.000. Penjualan tersebut senilai Rp.11.000.000.000,(harga ini termasuk PPN 10%) b. PT.Perdana (Importir yang mempunyai API) mengimpor sebagaian bahan baku untuk proses produksi dari Nagayo, dengan harga faktur $.40.000,-. PT.Perdana membayar biayabiaya sebagai berikut: biaya angkut dan biaya asuransi selama perjalanan antar daerah pabean masing-masing sebesar $.3.000,- dan $.7.000,- bea masuk sebesar 5% dari CIF dan bea masuk tambahan sebesar 20% dari CIF. Kurs menurut Menteri Keuangan adalah $1.00 = Rp.10.000,-. PT.Perdana membayar bea masuk dan PPh Pasal 21 impor kepada Dirjen Bea dan Cukai Tanjung Priok yang beralamat Jl.Pelabuhan No.202 Tanjung Priok Jakarta Utara, NPWP : 03.455.232.2.021.000 c. negeri (Canada) adalah tarif pajak 40% d. Singapura sebesar 25% e. Total angsuran PPh Pasal 25 dalam tahun 2002 sebesar Rp.60.000.000,- dibayarkan setiap bulan dengan angsuran yang sama dari bulan Maret sampai dengan bulan Desember 2002 f. Rp.100.000.000,3. No. Nama NPWP Data Pemegang Saham Jenis Saham
Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak
lem bar Nominal

Tarif pajak atas laba usaha diluar Tarif pajak atas bunga obligasi di

Sisa kerugian tahun 1999 sebesar

Per

Lembar 1. 2. 3. PT.Ananda Yunianto Akbar Perdana 4. a. b. c. 01.333.222.1.541.00 0 04.111.444.2.541.00 0 04.222.555.1.541.00 0 Saham Biasa Saham Biasa Saham Biasa Lain-lain Pada tanggal 25 Juli 2002, perusahaan menerima bantuan dari Perusahaan membagi dividen sebesar Rp.500,- per lembar kepada PT.Perdana membagi bonus kepada pegawai teladan I (Drs. pemerintahan senilai Rp.30.000.000,pemegang saham biasa Hakim Kurniawan) dan II (Dra.Monalisa Mulyono) masing-masing sebesar Rp.5.000.000,- dan Rp.3.000.000,d. 5. a. b. PT.Perdana akan menyampaikan SPT Tahunan PPh tahun 2002 Diminta : Susunlah rekonsiliasi fiskal sebagai persiapan menyusun SPT Tahunan PPh !!! laporan laba rugi fiskal !! pada tanggal 31 Maret 2003 100.000 50.000 75.000 Rp.9000,Rp.9.000,Rp.9.000,-

Sistem perpajakan yang lama ternyata sudah tidak sesuai dengan tingkat kehidupan sosial ekonomi masyarakat Indonesia, baik dari segi kegotong-royongan maupun perkembangan pembangunan nasional yang telah dicapai. Disamping itu, sistem perpajakan yang lama tersebut belum dapat menggerakkan peran semua lapisan Subyek Pajak yang besar peranannya dalam menghasilkan penerimaan dalam negeri yang sangat diperlukan guna mewujudkan kelangsungan maupun peningkatan pembangunan nasional. Pajak merupakan penghasilan negara yang berasal dari rakyat dan merupakan sumber terpenting yang memberikan penghasilan kepada negara. Penghasilan tersebut digunakan untuk membiayai kepentingan umum mencakup kepentingan pribadi individu seperti: kesehatan, pendidikan dan kesejahteran . Adanya kepentingan masyarakat tersebut menimbulkan pungutan pajak sehingga pajak adalah senyawa dengan kepentingan umum. Pajak mengurangi penghasilan kekayaan individu akan
Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

tetapi sebaliknya, perolehan pajak merupakan penghasilan masyarakat yang kemudian dikembalikan lagi kepada masyarakat melalui pembangunan-pembangunan yang pada akhirnya dikembalikan lagi kepada seluruh masyarakat. Dalam pungutan pajak, terdapat pihak-pihak (orang maupun badan) yang dikenakan pajak atau disebut sebagai Subyek Pajak sedangkan segala sesuatu yang akan dikenakan pajak disebut sebagai Obyek Pajak. Penentuan Subyak dan Obyek Pajak dilihat dari jenis pajak yang dipungut seperti: Pajak Penghasilan (PPh), Pajak Pertambahan Nilai (PPN), Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPn BM) serta Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). PAJAK PENGHASILAN Pengertian PPh termasuk dalam kategori pajak subyektif yang berarti bahwa pajak dikenakan karena ada subyeknya yakni WP telah memenuhi kriteria yang telah ditetapkan dalam peraturan perpajakan. Terdapat penegasan bahwa apabila tidak ada Subyek Pajaknya, maka jelas tidak dapat dikenakan Pph (Suandy, E., 2002: 47) Subyek Pajak dari Pajak Penghasilan Secara umum pengertian Subyek Pajak adalah siapa yang dikenakan pajak. Secara praktik yang termasuk dalam pengertian Subyek Pajak meliputi: 1) orang pribadi; 2) warisan yang belum dibagi sebagai satu kesatuan; 3) Badan serta 4) Bentuk Usaha Tetap (BUT). Subyek Pajak tersebut adalah sebagai berikut(Suandy, E., 2002: 47-49): a. Orang Pribadi Kedudukan orang pribadi sebagai Subyek Pajak dapat bertempat tinggal atau berada di Indonesia maupun diluar Indonesia. Orang pribadi tidak melihat batasan umur dan jenjang sosial ekonomi, dalam arti berlaku sama untuk semua (non discrimination). b. Warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan menggantikan yang berhak Dalam hal warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan merupakan Subyek Pajak pengganti, menggantikan orang yang berhak yaitu ahli waris. Penunjukan warisan tersebut dimaksudkan agar pengenaan pajak atas penghasilan yang berasal dari warisan tersebut tetap dapat dilaksanakan dan demikian juga dengan tindakan penagihan selanjutnya. c. Badan

Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

Badan terdiri dari PT, CV, Perseroan lainnya seperti; BUMN/ BUMD dengan nama dan bentuk apapun, Firma, Kongsi, Koperasi, dana pensiun, persekutuan, perkumpulan, yayasan, organisasi massa, organisasi sosial politik atau organisasi yang sejenis, lembaga serta bentuk badan lainnya termasuk lembaga reksadana. d. Bentuk Usaha Tetap (BUT) Bentuk Usaha Tetap (BUT) adalah bentuk usaha yang dipergunakan oleh orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia atau berada di Indonesia tidak lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan, atau badan yang tidak didirikan atau tidak bertempat kedudukan di Indonesia untuk menjalankan usaha atau melakukan kegiatan di Indonesia. BUT dapat berupa: 1. tempat kedudukan manajemen 2. cabang perusahaan; 3. kantor perwakilan; 4. gedung kantor; 5. pabrik; 6. bengkel; 7. pertambangan dan penggalian sumber alam, wilayah kerja, pengeboran yang digunakan untuk eksplorasi pertambangan; 8. perikanan, peternakan, pertanian atau perkebunan; 9. proyek konstruksi, instalasi, atau proyek perakitan; 10. pemberian jasa dalam bentuk apapun oleh pegawai atau orang lain sepanjang dilakukan lebih dari 60 (enam puluh) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan, 11. orang atau badan yang bertindak selaku agen yang kedudukannya tidak bebas; 12. agen atau pegawai dari perusahaan asuransi yang tidak didirikan atau tidak bertempat kedudukan di Indonesia yang menerima premi asuransi atau menanggung risiko di Indonesia. Jenis Subyek Pajak Sebagaimana telah ditetapkan dalam Pasal 2 ayat 1 No. 17 UU Pph Th. 2000, Subyek Pajak dalam PPh terdiri dari 2 (dua) jenis yaitu : 1. Subyek Pajak dalam negeri; 2. Subyek Pajak luar negeri.

Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

Perbedaan kedua jenis Subyek Pajak tersebut menyangkut perlakuan pajaknya, seperti tarif dan pengenaan jenis penghasilan. Kedua jenis Subyek Pajak tesebut dapat diuraikan sebagai berikut: 1. Subyek Pajak dalam Negeri Subyek Pajak dalam negeri adalah Subyek Pajak yang secara fisik memang berada atau bertempat tinggal atau bertempat kedudukan di Indonesia. Secara praktis ini dapat dilihat dalam ketentuan berikut: a. Orang pribadi yang bertempat tinggal di Indonesia atau orang pribadi yang berada di Indonesia lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan atau orang pribadi yang dalam suatu tahun pajak berada di Indonesia dan mempunyai niat untuk bertempat tinggal di Indonesia. Jangka waktu 12 (dua belas) bulan tersebut bukanlah harus dimulai dari bulan Januari atau awal tahun pajak, akan tetapi bisa jadi sesudahnya. Disamping itu, juga tidak harus secara berturut-turut 183 (seratus delapan puluh tiga) hari tinggal di Indonesia, minimum bisa jadi secara tidak kontinu sepanjang jumlahnya memenuhi 183 hari selama 12 bulan; b. Badan yang didirikan atau bertempat kedudukan di Indonesia; c. Warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan menggantikan yang berhak; 2. Subyek Pajak Luar Negeri terdiri dari: 2. 1. Subyek Pajak orang pribadi Orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia atau berada di Indonesia tidak lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan yang a) menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui Bentuk Usaha Tetap di Indonesia. b) menerima atau memperoleh penghasilan dari Indonesia bukan dari menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui Bentuk Usaha Tetap di Indonesia. 2. 2. Subyek Pajak badan Badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia yang a) menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui Bentuk Usaha Tetap di Indonesia.

Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

b) menerima atau memperoleh penghasilan dari Indonesia bukan dari menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui Bentuk Usaha Tetap di Indonesia. Subyek Pajak dalam negeri menjadi Wajib Pajak apabila telah menerima atau memperoleh penghasilan. Sedangkan Subyek Pajak luar negeri sekaligus menjadi Wajib Pajak, sehubungan dengan penghasilan yang diterima dari sumber penghasilan di Indonesia atau diperoleh melalui Bentuk Usaha Tetap di Indonesia. Dengan kata lain, Wajib Pajak adalah orang pribadi atau yang telah memenuhi kewajiban subyektif dan obyektif. Perbedaan antara Wajib Pajak dalam negeri dan Wajib Pajak luar negeri, antara lain adalah: Wajib Pajak dalam negeri Pajak dikenakan atas penghasilan baik yang diterima atau pajak diperoleh dari Indonesia dan dari luar Indonesia Dikenakan berdasarkan penghasilan netto Tarif pajak yang digunakan adalah tarif umum (Tarif UU PPh pasal 17) Wajib menyampaikan SPT Pajak Wajib Pajak luar negeri dikenakan hanya atas

penghasilan yang berasal dari sumber penghasilan di Indonesia. Dikenakan pajak berdasarkan penghasilan bruto Tarif pajak yang digunakan adalah tarif sepadan (Tarif UU PPh pasal 26). Tidak wajib menyampaikan SPT.

Saat Mulai dan Berakhirnya Kewajiban Pajak Subyektif MULAI Subyek Pajak Dalam Negeri Orang Subyek Pribadi: Saat dilahirkan Saat berada di Indonesia bertempat tinggal di Indonesia Subyek Pajak Dalam Negeri Badan: di Indonesia Subyek Pajak Luar Negeri melalui BUT: Pribadi: atau Saat meninggal Saat meninggalkan Indonesia untuk selama-lamanya Subyek Pajak Dalam Negeri Badan: kedudukan di Indonesia Subyek Pajak Luar Negeri melalui BUT: BERAKHIR Pajak Dalam Negeri Orang

Saat didirikan atau bertempat kedudukan Saat dibubarkan atau tidak lagi bertempat

Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

Subyek Pajak luar negeri melalui BUT Saat menjalankan usaha atau

Subyek Pajak luar negeri tidak melalui BUT. Saat tidak lagi menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui BUT di Indonesia.

melakukan kegiatan melalui BUT di Indonesia Saat menerima atau memperoleh penghasilan dari Indonesia

Saat

tidak

lagi

menerima

atau dari

memperoleh Indonesia. Warisan Belum Terbagi:

penghasilan

Warisan Belum Terbagi:

Saat timbulnya warisan yang belum terbagi Saat warisan telah selesai dibagikan

Pengecualian Sebagai Subyek Pajak Yang tidak termasuk Subyek Pajak adalah: 1. Badan perwakilan negara asing. 2. Pejabat perwakilan diplomatik dan konsulat atau pejabat lain negara asing,demikian juga dengan orang-orang yang diperbantukan kepada mereka yang bekerja pada dan bertempat tinggal bersama-sama, dengan persyaratan: Bukan warga negara Indonesia serta tidak menerima atau memperoleh Negara yang bersangkutan memberikan perlakuan timbal balik. penghasilan lain di luar jabatannya selama di Indonesia. 3. Organisasi-organisasi Internasional yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan dengan syarat tidak menjalankan usaha atau melakukan kegiatan lain yang dapat memberikan penghasilan di Indonesia. 4. Pejabat-pejabat perwakilan organisasi Internasional yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan dengan syarat tidak sebagai WNI serta tidak menjalankan usaha atau melakukan kegiatan atau pekerjaan lain yang dapat memberikan penghasilan di Indonesia. Mengenai organisasi-organisasi Internasional yang tidak termasuk sebagai Subyek Pajak sebagai mana disebut dalam butir 3 diatas, telah ditetapkan daftar organisasi dimaksud melalui keputusan Menteri Keuangan No. ST. 4/ KMK. 04 / 2000. Obyek Pajak Dari Pajak Penghasilan Obyek Pajak adalah penghasilan, yaitu setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak, baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar
Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

Indonesia, yang dapat dipakai untuk konsumsi atau menambah kekayaan Wajib Pajak yang bersangkutan, dengan nama dan bentuk apapun Penghasilan Yang Termasuk Sebagai Obyek Pajak Penghasilan Yang termasuk dalam pengertian penghasilan adalah: 1. Penggantian atau imbalan berkenaan dengan pekerjaan atau jasa yang diterima atau diperoleh termasuk: gaji, upah, honorarium, tantiem, komisi, bonus, gratifikasi, uang pensiun, atau imbalan dalam bentuk lainnya, kecuali ditentukan lain dalam Undang-Undang. a. Gaji adalah imbalan berupa uang yang diterima oleh seorang pegawai dari pemberi kerja setiap akhir suatu masa, baiasanya satu bulan yang diterima secara teratur dan biasanya jumlahnya tidak berubah dalam jangka waktu tertentu. Contoh: gaji bulanan PNS, pegawai swasta maupun TNI/ POLRI. b. Upah adalah imbalan yang diberikan kepada karyawan oleh majikan setiap akhir suatu masa yang perhitungannya berdasarkan upah sehari dari jumlah hari kerja. Contoh: upah yang diberikan kepada karyawan toko, perusahaan pabrikasi maupun pada perusahaan jasa c. Uang lembur adalah imbalan yang diberikan kepada karyawan karena melakukan tugas dan pekerjaan diluar jam kerja atau melebihi jam kerja biasa (overtime). Uang lembur dapat berwujud kelebihan tarif dari tarif gaji dan upah. Contoh: uang lembur yang diberikan kepada karyawan perusahaan setelah bekerja pada hari libur, atau overtime d. Tunjangan adalah penerimaan yang merupakan tambahan diatas gaji dan upah yang biasa dibayarkan pada saat diterimanya gaji atau upah dengan mempertimbangkan keluarga, jabatan, tempat kerja, keahlian dan keadaan ekonomi. Besarnya tunjangan adalah berubah-ubah. Contoh: Tunjangan Hari Raya, Tunjangan Hari Tua (THT) maupun Tunjangan Transportasi e. Komisi adalah pembayaran yang diberikan kepada pihak yang berhubungan dengan penjualan barang atau jasa diluar gaji. Contoh: Komisi yang diberikan kepada para salesman. f. Bonus merupakan pemberian dalam bentuk uang, barang berharga atau kenikmatan dengan cuma-cuma kepada semua karyawan atau karyawan tertentu serta pimpinan untuk meningkatkan partisipasi dalam pelaksanaan kegiatan usaha. Contoh: Bonus yang diberikan kepada para pialang atas kinerja yang telah dikontribusikan

Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

g. Gratifikasi adalah pembayaran yang diberikan kepada pimpinan atau anggota komisaris sebagai tambahan atas imbalan yang diterima secara teratur karena dianggap telah melaksanakan fungsinya dengan baik. Contoh: gratifikasi yang diberikan kepada pimpinan pasca peralihan kepemilikan/ pemecahan usaha h. Uang pensiun adalah pembayaran yang dilakukan oleh majikan atau lembaga pensiun kepada bekas karyawan yang telah purna tugas. Contoh: pensiun yang diberikan kepada PNS, TNI/ POLRI. i. Tantieme adalah pemberian dalam bentuk uang, barang berharga atau kenikmatan dengan cuma-cuma kepada semua karyawan atau karyawan tertentu dan pimpinan jika perusahaan memperoleh keuntungan. Contoh: tantieme yang diberikan pada akhir tahun kepada manajemen perusahaan pertambangan. 2. Hadiah dari undian, pekerjan atau kegiatan dan penghargaan. 3. Laba Usaha. 4. Keuntungan karena penjualan atau karena pengalihan harta termasuk: a. Keuntungan karena penjualan atau karena pengalihan harta kepada perseroan, persekutuan dan badan lainnya sebagai pengganti saham atau penyertaan modal. b. Keuntungan yang diperoleh perseroan, persekutuan dan badan lainnya karena pengalihan harta kepada pemegang saham, sekutu, atau anggota. c. Keuntungan karena likuidasi, penggabungan, peleburan, pemekaran, pemecahan, atau pengambilalihan usaha. Keuntungan karena pengalihan harta berupa hibah, bantuan atau sumbangan kecuali diberikan kepada keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat, dan badan keagamaan atau badan pendidikan atau badan sosial atau pengusaha kecil termasuk koperasi yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan, sepanjang tidak ada hubungan dengan usaha, pekerjaan, kepemilikan, atau penguasaan antara pihak-pihak yang bersangkutan. 5. Penerimaan kembali pembayaran pajak yang telah dibebankan sebagai biaya. 6. Bunga termasuk premium, diskonto dan imbalan lain karena jaminan pengembalian utang. 7. Dividen dengan nama dan bentuk apapun termasuk dividen dari perusahaan asuransi kepada pemegang polis, dan pembagian Sisa Hasil Usaha (SHU) koperasi. 8. Royalti 9. Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunan harta.
Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

10. Penerimaan atau perolehan pembayaran berkala. 11. Keuntungan karena pembebasan utang, kecuali sampai dengan jumlah tertentu yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah (PP). 12. Keuntungan karena selisih kurs mata uang asing. 13. Selisih lebih karena penilaian kembali aktiva. 14. Premi asuransi. 15. Iuran yang diterima atau diperoleh perkumpulan dari anggotanya yang terdiri dari Wajib Pajak yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas. 16. Tambahan kekayaan netto yang berasal dari penghasilan yang belum di kenakan pajak. Penghasilan tersebut dapat di kelompokkan menjadi: 1. Penghasilan dari pekerjaan dalam hubungan kerja dan pekerjaan bebas, seperti; gaji, honorarium, penghasilan dari praktik dokter, notaris, aktuaris, akuntan, pengacara, dan sebagainya. 2. Penghasilan dari usaha atau kegiatan. 3. Penghasilan dari modal atau penggunaan harta, seperti: sewa, bunga, dividen, royalti, keuntungan dari penjualan harta yang tidak digunakan, dan sebagainya. 4. Penghasilan lain-lain, yaitu penghasilan yang tidak dapat diklasifikasikan ke dalam salah satu dari tiga kelompok penghasilan di atas, seperti: a. Keuntungan karena pembebasan utang. b. Keuntungan karena selisih kurs mata uang asing. c. Selisih lebih karena penilaian kembali aktiva. d. Hadiah undian. Bagi Wajib Pajak dalam negeri yang menjadi Obyek Pajak adalah penghasilan baik yang berasal dari Indonesia maupun yang berasal dari luar Indonesia. Sedangkan bagi Wajib Pajak Luar Negeri yang menjadi Obyek Pajak hanya penghasilan yang berasal dari Indonesia saja. Penghasilan Yang Tidak Termasuk Sebagai Obyek Pajak Penghasilan Tidak termasuk sebagai Obyek Pajak adalah: 1. a. Bantuan atau sumbangan, termasuk zakat yang diterima oleh badan amil zakat atau lembaga amil zakat yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah dan para penerima zakat yang berhak.

Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

b. Harta hibahan yang diterima oleh keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat dan oleh badan keagamaan atau badan pendidikan atau badan sosial atau pengusaha kecil, termasuk koperasi yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan, sepanjang tidak ada hubungan dengan usaha, pekerjaan, penguasaan antara pihak-pihak yang bersangkutan. 2. 3. 4. Warisan Harta temasuk setoran tunai yang diterima oleh badan sebagai pengganti saham atau penyertaan modal. Penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang diterima atau diperoleh dalam bentuk natura dan atau kenikmatan dari Wajib Pajak atau Pemerintahan. 5. Pembayaran dari perusahaan asuransi kepada orang pribadi sehubungan dengan asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan, asuransi jiwa, asuransi dwiguna, dan asuransi beasiswa. 6. Dividen atau bagian laba yang diterima atau diperoleh Perseroan Terbatas sebagai Wajib Pajak dalam negeri, koperasi, BUMN atau BUMD dari penyertaan modal pada badan usaha yang didirikan dan bertempat kedudukan di Indonesia dengan syarat: a. b. Dividen berasal dari cadangan laba yang ditahan. Bagi Perseroan Terbatas, BUMN dan BUMD yang menerima dividen paling rendah 25% (dua puluh lima persen) dari jumlah modal yang disetor dan harus menpunyai usaha aktif diluar kepemilikan saham tersebut. 7. Iuran yang diterima atau diperoleh dana pensiunan yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan, baik yang dibayar oleh pemberi kerja maupun pegawai. 8. Penghasilan dari modal yang ditanamkan oleh dana pensiun sebagaimana dimaksud pada angka 7, dalam bidang-bidang tertentu yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan. 9. Bagian laba yang diterima atau diperoleh anggota dari Perseroan Komanditer (CV) yang modalnya tidak terbagi atas saham-saham, peresekutuan, perkumpulan, firma dan kongsi. 10. Bunga obligasi yang diterima atau diperoleh perusahaan reksadana selama 5 (lima) tahun pertama sejak pendirian perusahaan atau pendirian izin usaha. 11. Penghasilan yang diterima atau diperoleh perusahan modal ventura berupa bagian laba dari badan pasangan usaha yang didirikan dan menjalankan usaha atau kegiatan di Indonesia, dengan syarat badan pasangan usaha tersebut: kepemilikan atau

Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

a. Merupakan perusahaan kecil, menengah, atau yang menjalankan kegiatan dalam sektor-sektor usaha yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan, dan b. Sahamnya tidak diperdagangkan di bursa efek di Indonesia.

Pengurangan yang diperkenankan dari Penghasilan Bruto (Pasal 6 UU PPh) 1. Biaya untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan, termasuk biaya pembelian bahan, biaya berkenaan dengan pekerjaan atau jasa, termasuk upah, gaji, honorarium, bonus, gratifikasi, dan tunjangan yang diberikan dalam bentuk uang, bunga, sewa, royalti, biaya perjalanan, biaya pengolahan limbah, premi asuransi, biaya administrasi, dan pajak, kecuali Pajak Penghasilan. 2. Penyusutan atas pengeluaran untuk memperoleh harta berwujud dan amortisasi atas pengeluaran untuk memperoleh hak dan atas biaya lain yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun. 3. Iuran kepada dana pensiun yang pendiriaanya telah disahkan oleh Menteri Keuangan. 4. Kerugian karena penjualan atau pengalihan harta yang dimiliki dan digunakan dalam perusahaan atau yang dimiliki untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan. 5. Kerugian dari selisih kurs mata uang asing. 6. Biaya penelitian dan pengembangan perusahaan yang dilakukan di Indonesia. 7. Biaya bea siswa, magang, dan penelitian. 8. Kompensasi kerugian tahun-tahun sebelumnya dalam 5 (lima) tahun. 9. Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP), khusus bagi WP dalam negeri orang pribadi. 10. Piutang yang nyata-nyata tidak dapat tertagih dengan syarat: a. telah dibebankan sebagai biaya dalam laporan keuangan komersial. b. telah diserahkan perkara penagihannya kepada Pengadilan Negeri atau Badan Urusan Piutang Negara dan Lelang Negara (BUPLN) c. telah dipublikasikan dalam penerbitan umum atau khusus d. menyerahkan daftarnya kepada Direktorat Jenderal Pajak. 11. Pembentukan atau pemupukan dana cadangan barupa cadangan piutang tak tertagih untuk usaha bank dan sewa guna usaha dengan hak opsi, cadangan untuk

Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

usaha asuransi, dan cadangan biaya reklamasi untuk usaha pertambangan, yang ketentuan dan syarat-syaratnya ditetapkan dengan keputusan Menteri Keuangan. 12. Premi asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan, asuransi jiwa, asuransi dwiguna, dan asuransi bea siswa yang dibayar oleh pemberi kreja dan premi asuransi tersebut dihitung sebagai penghasilan bagi Wajib Pajak orang pribadi (pekerja) yang bersangkutan. 13. Penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang diberikan dalam bentuk natura atau kenikmatan : a. b. di daerah tertentu (mis : daerah terpencil), dan berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan, yang ditetapkan dengan

keputusan Menteri Keuangan. Pengurangan yang tidak boleh dikurangkan dari Penghasilan Bruto (Pasal 9 UU PPh) 1. Pembagian laba dengan nama dan dalam bentuk apapun seperti dividen, termasuk dividen yang dibayarkan oleh perusahaan asuransi kepada pemegang polis dan pembagian SHU koperasi. 2. Biaya yang dibebankan atau dikeluarkan untuk kepentingan pribadi pemegang saham, sekutu, dan atau anggota. 3. Premi asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan, asuransi jiwa, asuransi dwiguna, dan asuransi beasiswa, yang dibayar oleh WP orang pribadi, kecuali jika dibayar oleh pemberi kerja dan premi tersebut dihitung sebagai penghasilan bagi WP ybs, 4. Penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang diberikan dalam benruk natura dan kenikmatan, kecuali penyediaan makanan dan minuman untuk seluruh pegawai secara bersama-sama ditempat usaha serta pemberian natura didaerah terpencil. 5. Jumlah yang melebihi kewajaran yang dibayarkan kepada pemegang saham atau pihak yang mempunyai hubungan istimewa. 6. PPh dan sanksi administrasi berkenaan dengan UU dibidang perpajakan dll DASAR PENGENAAN PAJAK DAN CARA MENGHITUNG PENGHASILAN KENA PAJAK (PKP)

Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

PKP WP BADAN = penghasilan neto = penghasilan bruto biaya yang diperkenankan UU PPh

PKP WP ORANG PRIBADI = PENGHASILAN NETTO PTKP = (Penghasilan Bruto biaya yang diperkenankan UU PPh) PTKP atau = ( Penghasilan Bruto x % Norma Penghitungan) - PTKP NORMA PENGHITUNGAN PENGHASILAN NETTO Wajib Pajak Orang Pribadi, syarat : 1. Peredaran Bruto Kurang dari Rp. 600.000.000,00 pertahun. 2. Mengajukan permohonan dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan pertama dari tahun buku. 3. Menyelenggarakan pencatatan. PPh Pasal 17 UU Th. 2000, mengemukakan bahwasanya tarif yang dikenakan terhadap penghasilan semakin meningkat seiring dengan meningkatnya penghasilan. Lapisan Penghasilan Kena Pajak tersebut sbb: Bagi WP Orang Pribadi Penghasilan 0 - Rp. 25 Juta Rp. 25 Juta s/ d Rp. 50 Juta Rp. 50 Juta s/ d Rp. 100 Juta Rp. 100 Juta s/ d Rp. 200 Juta Rp. 200 Juta keatas Bagi WP Badan dan BUT Penghasilan 0 - Rp. 50 Juta Rp. 50 Juta s/ d Rp. 100 Juta Rp. 100 Juta keatas Tarif Pajak (Sesuai UU Pph Th. 2000) 10% 15% 30% Tarif Pajak 5% 10% 15% 25% 35%

Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP)


Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) berdasarkan pasal 7 ayat 1 Undang-undang nomor 7 tahun 1983 sebagaimana yang telah diubah terakhir kali dengan Undangundang nomor 17 tahun 2000 tentang Pajak penghasilan, ditegaskan bahwa: orang pribadi sebagai Wajib Pajak diberikan pengurangan berupa Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) yang besarnya: Setahun Untuk diri wajib pajak Tambahan untuk wajib pajak yang kawin Tambahan untuk setiap anggota keluarga sedarah dan semenda dalam garis keturunan lurus, serta anak angkat yang menjadi tanggungan WP Tambahan bagi istri bekerja yang pekerjaannya tidak ada hubungannya dengan pekerjaan suami CARA MENGHITUNG PAJAK PAJAK PENGHASILAN WP ORANG PRIBADI = Penghasilan kena pajak x tarif pajak = (Penghasilan netto PTKP) x tarif pajak = ((Penghasilan bruto- biaya yang diperkenankan UU PPh)-PTKP) x tarif pajak Pajak Penghasilan WP Badan = Penghasilan kena pajak x tarif pajak = Penghasilan netto x tarif pajak = (Penghasilan bruto- biaya yang diperkenankan UU PPh) x tarif pajak Rp 12.000000,00 Rp 1.000.000,00 Rp 13.200000,00 Rp 1.200.000,00 Rp 1.200.000,00 Sebulan Rp 1.100.000,00 Rp Rp 100.000,00 100.000,00

Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

CONTOH SOAL KASUS PPH UMUM


PT. Ramaraya memiliki data yang diperoleh dari data laporan laba rugi selama tahun 2005 sebagai berikut: Penghasilan Penjualan bruto Retur penjualan Potongan penjualan Harga pokok penjualan: Persediaan awal Pembelian Retur pembelian Potongan pembelian Ongkos angkut pembelian Persediaan akhir Rp. 2.500.000.000,3.000.000,12.000.000,100.000.000,800.000.000,15.000.000,5.000.000,10.000.000,40.000.000,100.000.000,15.000.000,10.000.000,5.000.000,8.000.000,2.000.000,2.000.000,1.000.000,2.000.000,3.000.000,5.000.000,10.000.000,1.000.000,5.000.000,500.000,150.000.000,500.000,2.000.000,1.000.000,10.000.000,-

Rp.

Biaya Operasi: Biaya gaji pegawai dan buruh Rp. Biaya kerugian piutang Biaya pengolahan limbah Biaya pelatihan dan pemagangan karyawan Biaya pajak Biaya pemeliharaan kendaraan Biaya sumbangan bencana tsunami Biaya asuransi kecelakaan Biaya kompensasi kerugian tahun sebelumnya Biaya seragam karyawan Biaya perekayasaan untuk temuan produk baru Biaya pengurukan tanah untuk pabrik Biaya pemasangan papan iklan Biaya gaji konsultan sistem Biaya bantuan kepada badan amil zakat Penghasilan dan Beban lain-lain : Penghasilan dividen Rp. Penghasilan dari pembagian SHU koperasi Bunga deposito dari Bank BNI46 Beban bunga dari denda pajak penghasilan Penghasilan dari modal ventura

Keterangan : 1) Biaya kerugian piutang Rp. 15.000.000,- yang memenuhi syarat perpajakan sebesar Rp. 10.000.000,2) Biaya pajak terdiri dari PBB Rp. 5.000.000,Pajak penghasilan 2.000.000,Retribusi 1.000.000,Total Rp. 8.000.000,3) Biaya pemeliharaan kendaraan Rp. 2.000.000,- termasuk Rp. 500.000,- digunakan untuk kendaraan pribadi direksi 4) Biaya asuransi kecelakaanRp. 1.000.000,- termasuk Rp. 200.000,- dibayar sendiri oleh Wajib Pajak
Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

5) Biaya kompensasi kerugian tahun sebelumnya sebesar Rp. 2.000.000,- dengan nilai kerugian Rp. 500.000,- telah berjalan pada tahun ke-6 6) Penghasilan dividen sebesar Rp. 150.000.000,- termasuk didalamnya Rp. 50.000.000,- merupakan bentuk penyertaan dari kepemilikan modal sebesar 30% dari perusahaan lain. 7) Biaya gaji konsultan sistem Rp. 5.000.000,- apabila dinilai dengan nilai pasar yang wajar gaji yang seharusnya dibayar adalah sebesar Rp. 3.000.000,Diminta: Berdasar data tersebut ditas, hitunglah besarnya pajak yang harus dibayar oleh PT. Ramaraya pada tahun 2005

JAWABAN SOAL KASUS PPH UMUM


Penghasilan Penjualan bruto Retur penjualan Potongan penjualan Penjualan Netto Harga pokok penjualan: Persediaan awal Pembelian Rp. Retur pembelian ( Potongan pembelian ( Ongkos angkut pembelian Jumlah Pembelian Harga Pokok Barang tersedia Persediaan akhir Harga Pokok Penjualan Laba kotor Rp. 2.500.000.000,3.000.000,12.000.000,Rp. 2.485.000.000,-

Rp. 100.000.000,800.000.000,15.000.000,-) 5.000.000,-) 10.000.000,Rp. 790.000.000,Rp. 890.000.000,(Rp. 40.000.000,-) Rp. 850.000.000,Rp. 1.635.000.000,100.000.000,10.000.000,10.000.000,5.000.000,7.000.000,1.500.000,2.000.000,800.000,1.500.000,3.000.000,5.000.000,10.000.000,3.000.000,500.000,(Rp. Rp.

Biaya Operasi: Biaya gaji pegawai dan buruh Rp. Biaya kerugian piutang Biaya pengolahan limbah Biaya pelatihan dan pemagangan karyawan Biaya pajak Biaya pemeliharaan kendaraan Biaya sumbangan bencana tsunami Biaya asuransi kecelakaan Biaya kompensasi kerugian tahun sebelumnya Biaya seragam karyawan Biaya perekayasaan untuk temuan produk baru Biaya pengurukan tanah untuk pabrik Biaya gaji konsultan sistem Biaya bantuan kepada badan amil zakat Total Biaya Operasi 1.593.000.000,-) Laba Operasi 42.000.000,Penghasilan dan Beban lain-lain :
Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

Penghasilan dividen 100.000.000,PKP 142.000.000,Pajak Penghasilan 10% X Rp. 50.000.000,15% X Rp. 50.000.000,30% X Rp. 42.000.000,Total PPh Setahun Total PPh Sebulan

Rp. = = = = = Rp. 5.000.000,Rp. 7.500.000,Rp. 12.600.000,Rp. 25.100.000,Rp. 2.092.000,-

TUGAS SISWA SOAL KASUS PPH UMUM Rahmadi bergerak dalam usaha perdagangan meubel dengan alamat Toko tempat usaha serta rumah di Jl. Ikan Tengiri No. 112 Malang. Rahmadi
Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

berstatus kawin dengan 2 orang anak dan ke dua orang tuanya yang tinggal serumah dengan Rahmadi adalah pensiunan pegawai Bank BNI 46. Istri Rahmadi adalah seorang karyawati sebuah perusahaan swasta di Malang. Anak kedua Rahmadi lahir pada Tgl. 10 Januari 2007 Data-data keuangan dan penghasilan dalam tahun 2007 adalah sebagai berikut: 1. Penghasilan dari usaha: a. Penjualan bruto Rp. 1.500.000.000,b. Retur penjualan 30.000.000,c. Persediaan awal 150.000.000,d. Pembelian 800.000.000,e. Biaya langsung pembelian 25.000.000,f. Persediaan akhir 90.000.000,2. Biaya Operasional: a. Gaji dan Upah Rp. b. Biaya perjalanan untuk perusahaan c. Biaya iklan dan reklame d. Bunga pinjaman e. Sewa kantor dan gudang f. Kerugian piutang tak tertagih g. Biaya pemeliharaan kantor h. Biaya listrik, telpon dan air i. Biaya pemeliharaan kendaraan j. Biaya pakaian seragam satpam k. Biaya alat-alat kantor l. Biaya makan dan minum karyawan m. Penyusutan aktiva tetap n. Premi asuransi untuk perusahaan o. Biaya entertainment p. Biaya lain-lain q. Pembayaran pajak Rincian pembayaran pajak: Kekurangan PPh Th. 2006 PBB Pajak Kendaraan Bermotor Retribusi sampah Pajak Iklan Total Rp. 145.000.000,30.000.000,15.000.000,20.000.000,24.000.000,22.000.000,25.000.000,70.000.000,18.000.000,2.000.000,100.000.000,10.000.000,100.000.000,10.000.000,17.500.000,85.000.000,16.000.000,12.700.000,1.300.000,1.100.000,700.000,200.000,16.000.000,-

Rp.

3. Selain biaya-biaya tersebut diatas masih terdapat pembayaran lain sbb: a. Komisi penjaja barang Rp. 5.500.000,b. Jasa pengacara Tn. Budi Santoso SH 10.000.000,c. Upah tenaga harian lepas dalam tahun 2007 36.000.000,d. Pesangon mantan pegawai dengan nama Abdullah 40.000.000,Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

4. Penghasilan diluar usaha pokok: a. Pembagian laba sebagai anggota koperasi Rp. b. Bunga deposito dari Hongkong Bank di Jakarta c. Dividen dari PT. Sejahtera d. Bunga deposito dari Hongkong Bank di Hongkong (tarif pajak di Hongkong sebesar 25%) 5. Penghasilan Istri Tn Alex: a. Penghasilan Netto sebagai karyawati b. Bunga deposito c. PPh yang dipotong 375.000,d. Hadiah undian e. PPh yang dipungut 1.250.000,Rp.

20.000.000,25.000.000,40.000.000,80.000.000,-

8.100.000,2.500.000,5.000.000,-

6. Bunga pinjaman (angka 4 biaya operasional) a. Pinjaman pada PT. ABC (1% @ Rp. 1.000.000.000,-) 10.000.000,b. Pinjaman kepada koperasi (2% @ Rp. 250.000.000,-) 5.000.000,c. Pinjaman kepada pihak ketiga lainnya (10% @ 35.000.000,-) 3.500.000,d. Sanksi keterlambatan pembayaran 1.500.000,7. Dalam biaya perjalanan untuk perusahaan termasuk negeri, isteri dan anaknya sebesar Rp. 3.000.000,-

Rp.

biaya fiskal keluar

8. Terhadap piutang tak tertagih, wajib pajak telah melaksanakan penagihannya sesuai dengan ketentuan yang ada sehingga WP membebankan sebagai biaya 9. Dalam biaya entertainment yang ada daftar nominatifnya dan dokumennya sebesar Rp. 10.500.000,10. Biaya pemeliharaan kendaraan termasuk biaya kendaraan Rahmadi sebesar Rp. 3.000.000,11. Pembayaran pajak dalam tahun 2007: PPh pasal 25 PPh pasal 23 PPh pasal 22 Rp. 30.000.000,9.000.000,2.500.000,-

12. Biaya alat-alat kantor (angka 11 pada biaya operasional) termasuk: a. Pembelian mobil Rp. 60.000.000,b. Pembelian 1 sepeda motor 16.000.000,c. Pembelian meubel 5.000.000,Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

13. Biaya lain-lain sebesar Rp. 85.000.000,- tidak ada penjelasan dari wajib pajak 14. WP dalam melakukan penyusutan aktiva dengan menggunakan metode garis lurus untuk bangunan dan saldo menurun untuk golongan non bangunan. Berikut daftar aktiva perusahaan

AKUNTANSI SUMBER DANA 1. GIRO


DEFINISI
Simpanan dari pihak ketiga kepada bank yang penarikannya dilakukan setiap saat dengan menggunakan cek, surat perintah pembayaran lainnya atau dengan pemindahbukuan

TRANSAKSI GIRO
Dapat dilakukan dari peristiwa setoran nasabah baik tunai maupun kliring, setoran dari transfer, pemindahbukuan karena kliring atau transfer, penarikan tunai atau kliring penambahan karena jasa giro dan bunga dsb.

TRANSAKSI PEMBUKAAN REKENING GIRO DAN PENYETORAN SETORAN TUNAI Ny. Diony calon nasabah Bank DKI ingin membuka rekening giro pada Cabang Jakarta dengan melakukan setoran tunai sebagai setoran awal rekening gironya sebesar Rp 100.000.000,00 dan biaya administrasi untuk buku cek sebesar Rp 50.000,00 D: Kas K:Giro Ny. Diony K:Persediaan buku cek Rp. 100.050.000,00 Rp. 100.000.000,00 Rp. 50.000,00

SETORAN KLIRING Ny. Diony menyerahkan cek giro Bank BNI sebesar Rp 10.000.000,00 untuk disetorkan pada rekening gironya di Bank DKI. D: Bank Indonesia -giro K: Warkat Kliring Pada waktu kliring berhasil D: Warkat Kliring K: Giro Ny. Diony PENYETORAN MELALUI TRANSFER Rp. 10.000.000,00 Rp. 10.000.000,00 Rp 10.000.000,00 Rp 10.000.000,00

Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

Ny. Diony menerima transfer dari Ibu Endang nasabah Bank BCA sebesar Rp 5.000.000,00 D: Giro BCA K: Giro Ny. Diony PENARIKAN GIRO Rp 5.000.000,00 Rp 5.000.000,00

PENARIKAN TUNAI Ny. Diony menarik selembar cek untuk dibayarkan secara tunai oleh Bank DKI sebesar Rp 15.000.000,00 D : Giro Ny. Diony K : Kas PENARIKAN KLIRING Rp. 15.000.000,00 Rp. 15.000.000,00

Ny. Diony menerbitkan cek sebesar Rp 4.000.000,00 diberikan kepada

temannya Nn. Early seorang nasabah Bank Permata

D : Giro Ny. Diony K : Bank Indonesia - giro PENARIKAN DENGAN AMANAT

Rp 4.000.000,00 Rp 4.000.000,00

Ny. Diony memerintahkan Bank DKI untuk mendebet rekening gironya sebesar Rp 2.000.000,00 untuk dipindahbukukan ke dalam rekening Ny. Ira pada Bank DKI Cabang Depok.

D : Giro Ny. Diony K : RAK * Cabang Jakarta


*) Rekening Antar Kantor

Rp 2.000.000,00 Rp 2.000.000,00

JASA GIRO DASAR PERHITUNGAN JASA GIRO

Saldo Terendah Saldo Rata-rata Saldo Harian Saldo Mengambang


PENDAPATAN JASA GIRO
Ny. Diony dalam Bulan September 2006 memperoleh jasa giro sebesar Rp 500.000,00

Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

D : Jasa Giro K : Giro Ny. Diony

Rp 500.000,00 Rp 500.000,00

Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

2. TABUNGAN
DEFINISI Simpanan masyarakat yang penarikannya dapat dilakukan oleh si penabung sewaktu-waktu dikehendaki. PEMBUKAAN DAN PENYETORAN TABUNGAN SETORAN TUNAI Ny. Endang pada tanggal 1 September 2006 hendak membuka tabungan di Bank DKI Cabang Jakarta. Setoran pertamanya Rp 500.000 tunai D : Kas K : Tabungan Ny. Endang Rp 500.000,00 Rp 500.000,00

Pada tanggal 4 September 2006, Ny. Endang kembali menyetor untuk rekening tabungannya dengan menyerahkan selembar cek Rp 4.500.000,00 dari Ny. Ira nasabah Bank DKI Jakarta. Pada hari yang sama ia juga mendapat transfer dari rekannya melalui Bank DKI Cabang Kalimalang sebesar Rp 7.000.000 D : Giro Ny. Ira D : RAK Cabang Kalimalang K : Tabungan Ny. Endang PENYETORAN ANTAR CABANG Ny Endang melakukan setoran dari Bank DKI Cabang Salemba sebesar Rp. 500.000 D : RAK Cab. Salemba K : Tabungan Ny. Endang PENARIKAN TUNAI Ny. Endang menarik dana tabungannya secara tunai di Bank DKI Jakarta sebesar Rp 200.000,00 D : Tabungan Ny. Endang
Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

Rp 4.500.000,00 Rp 7.000.000,00 Rp 11.500.000,00

Rp Rp

500.000,00 500.000,00

Rp 200.000,00

K : Kas Rp 200.000,00 PENARIKAN MELALUI ATM Ny. Endang menarik dananya melalui ATM sebesar Rp. 100.000,D : Tabungan Ny. Endang K : Kas ATM

Rp. Rp.

100.000,00 100.000,00

PENARIKAN ANTAR CABANG Reciprocal Account Ny. Endang menarik rekening tabunggannya di Bank DKI Cabang Kelapa Dua sebesar Rp 1.500.000,00 tunai. Pencatatan pada Cabang Kelapa Dua : D : RAK Cabang Jakarta Rp 1.500.000,00 K : Kas Rp 1.500.000,00 Pencatatan pada Cabang Jakarta (penerbit) D : Tabungan Ny. Endang Rp 1.500.000,00 K : RAK Cabang Kelapa Dua Rp 1.500.000,00

PERHITUNGAN BUNGA
Ny. Endang pada Bulan September 2006 mendapatkan bunga tabungan sebesar Rp 100.000,00

D : Biaya bunga tabungan K : Tabungan Ny. Endang PENUTUPAN REKENING

Rp 100.000,00 Rp 100.000,00

Penutupan rekening nasabah harus dilakukan pada cabang penerbit. Ny. Endang pada Bulan Oktober 2006 mengambil seluruh dananya sebesar Rp 10.800.000,00 dan sekaligus menutup rekening tabungannya D : Tabungan Ny. Endang K : Kas Rp 10.800.000,00 Rp 10.800.000,00

Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

2.1. TABUNGAN KARTU SMART


DEFINISI
Tabungan yang mempunyai kartu dimana pada kartu tabungan tersebut diberikan suatu processor (chips) untuk menyimpan data transaksi nasabah.

MANFAAT

Alat pembayaran di toko-toko (Point of Sale) Alat untuk memperoleh diskon Pengganti uang tunai

PENGOPERASIAN TABUNGAN SMART SECARA ON-LINE

PEMBUKAAN DAN PENYETORAN

Nn. Early membuka rekening Tabungan Kartu Smart secara tunai dengan setoran awal Rp 1.000.000,00 dan beban kartu sebesar Rp 15.000,00

D : Kas K : Tabungan Nn. Early K : Persediaan Kartu Tabungan

Rp 1.015.000,00 Rp 1.000.000,00 Rp 15.000,00

Pada saat kartu diberikan ke nasabah, chips sudah mencatat nilai sebesar Rp 1.000.000,00

PENGGUNAAN KARTU SMART PADA MERCHANT Nn. Early berbelanja di salah satu pusat perbelanjaan yang menerima Kartu Smart dari bank bersangkutan sebesar Rp 300.000,00 D : Tabungan Nn. Early K : Giro Merchant Rp 300.000,00 Rp 300.000,00

PENGOPERASIAN TABUNGAN SMART SECARA OFF-LINE

PEMBUKAAN DAN PENYETORAN Nn. Early membuka rekening Tabungan Kartu Smart secara tunai dengan setoran awal Rp 1.000.000,00 dan beban kartu sebesar Rp 15.000,00 D : Kas Rp 1.015.000,00 K : Tabungan Nn. Early Rp 1.000.000,00
Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

K : Persediaan Kartu Tabungan Rp 15.000,00 Pada saat kartu diberikan ke nasabah, chips belum mencatat nilai sebesar Rp 1.000.000,00, untuk itu harus dilakukan proses download terlebih dahulu. TRANSAKSI DOWNLOAD KEDALAM CHIPS Nn. Early melakukan proses download kedalam chips sebesar 400.000,00 D : Tabungan Nn. Early K : Tabungan Kartu Chips Rp 400.000,00 Rp 400.000,00 Rp

Rekening Tabungan dalam pembukuan bank tetap berjumlah Rp 1.000.000,00 terpecah pada rekening semula Rp 600.000,00 dan pada kartu chips Rp 400.000,00

PENGGUNAAN KARTU SMART PADA MERCHANT


Nn. Early berbelanja di salah satu pusat perbelanjaan yang menerima Kartu Smart dari bank bersangkutan sebesar Rp 300.000,00

D : Tabungan Kartu Chips K : Giro Merchant

Rp 300.000,00 Rp 300.000,00

Rekening Tabungan dalam pembukuan bank kini berjumlah Rp 700.000,00 terpecah pada rekening semula Rp 600.000,00 dan pada kartu chips Rp 100.000,00 PENARIKAN TUNAI MELALUI ATM TARIK TUNAI DENGAN CHIPS Nn. Early menarik uang tunai melalui ATM dari Chips sebesar 50.000,00 D : Tabungan Kartu Chips K : Kas Rp 50.000,00 Rp 50.000,00 Rp Rp

TARIK TUNAI DENGAN MAGNETIC STRIPE (MS) Nn. Early menarik uang tunai melalui ATM dengan MS sebesar 50.000,00 D : Tabungan Nn. Early K : Kas Rp 50.000,00 Rp 50.000,00

Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

3. DEPOSITO
DEFINISI Simpanan masyarakat yang penarikannya dapat dilakukan setelah jangka waktu yang telah disetujui berakhir. TRANSAKSI DEPOSITO Ny. Ira melakukan setoran tunai untuk pembukaan rekening Deposito berjangka 6 bulan sebesar Rp 20.000.000,D : Kas K : Deposito 6 bulan Ny Ira PERHITUNGAN BUNGA DEPOSITO Rp. 20.000.000,00 Rp. 20.000.000,00

Bank akan memberikan bunga 12% pa dengan perhitungan ( 20.000.000 x 12% ) / 12 bulan maka bunga yang akan diterima adalah Rp 200.000 per bulan D : Biaya Bunga Depo K : Bunga YMH dibayar Depo Rp. 200.000,00 Rp. 200.000,00

Pada saat bunga di ambil tunai D : Bunga YMH dibayar Depo K : Kas Rp. 200.000,00 Rp. 200.000,00

Atau Pada saat bunga dipindahkan ke rekening tabungan D : Bunga YMH dibayar Depo Rp. 200.000,00 K : Tabungan Ny Ira Rp. 200.000,00 PENCAIRAN DEPOSITO YANG BELUM JATUH WAKTU Ny. Diony mempunyai deposito Rp 50.000.000,- bunga 19 % pa untuk jangka 1 tahun, ternyata hendak dicairkan setelah jatuh tempo bulan ke 3, maka Ny. Diony akan di kenakan penalty Rp. 625.000,D : Deposito Ny. Diony
Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

Rp. 50.000.000,00

K : Pendapatan op lain-lain K : Kas

Rp. 625.000,00 Rp. 49.375.000,00

4. TRAVELLERS CHEQUES
DEFINISI Warkat berharga atas nama yang diterbitkan oleh suatu bank yang pencairannya dapat dilakukan kapan saja, dimana saja, dan hanya oleh orang yang memiliki dan namanya tercantum diatas TC tersebut. TC merupakan sumber dana yang paling murah atau tidak berbunga. PENERBITAN TC Nn. Early nasabah Bank Muamalat Jakarta hendak membeli Travellers cheques atas beban rekening gironya, sebanyak 20 lembar @ Rp 100.000,00 D : Giro Nn. Early K : TC Rupiah Rp. 2.000.000,00 Rp. 2.000.000,00

PENCAIRAN TC Nn. Early mencairkan TC pada Bank Muamalat Cabang Padang sebanyak 3 lembar secara tunai Pada Cab. Padang D : RAK- Jakarta K : Kas Pada Cab. Jakarta D : TC Rupiah K : RAK Padang Rp 300.000,00 Rp 300.000,00 Rp 300.000,00 Rp 300.000,00

PENJUALAN TC OLEH AGEN Penjualan kepada agen, Bank akan memberikan potongan yang akan dibebankan kepada Biaya Komisi. D : Kas K : Biaya komisi K : TC Rupiah Rp. 3.000.000,00 Rp. 60.000,00 Rp. 2.940.000,00

Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

5. REKENING TITIPAN PAYMENT POINT


DEFINISI Pembayaran dari masyarakat yang ditujukan untuk keuntungan pihak tertentu seperti, rekening listrik PLN, rekening telepon dari Telkom, uang sekolah suatu Universitas, pajak televisi dsb.

Bank Bukopin Senen menerima sebundel rekening tagihan listrik PLN bernilai Rp 30.000.000,00 untuk tagihan pelanggan periode September 20XX K : Rek. Adm Rupiah Warkat Rek. PLN yang Diterima..Rp 30.000.000,00

Pada akhir hari jumlah pembayaran pelanggan PLN yang diterima mencapai jumlah sebesar Rp 5.000.000,00 diterima secara tunai D : Rek. Adm Rupiah Warkat Rek. PLN yang Diterima..Rp 5.000.000,00 D : Kas K : Giro Rekening PLN Rp 5.000.000,00 Rp 5.000.000,00

6. DANA SETORAN NAIK HAJI

Nn. Early menyetorkan dana ongkos haji sebesar Rp 15.000.000,00 tunai di Bank Muamalat. Setoran tersebut ditujukan untuk keuntungan rekening giro C.V Padang Arafah sebagai pengelola haji D : Kas K : Dana Setoran Naik Haji D : Dana Setoran Naik Haji K : Giro CV Arafat Rp 15.000.000,00 Rp 15.000.000,00 Rp 15.000.000,00 Rp 15.000.000,00

Ny. Endang membuka rekening tabungan haji di Bank BNI Syariah sebesar Rp 500.000,00 D : Kas K : Tabungan Naik Haji Ny. Endang Rp 500.000,00 Rp 500.000,00

Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

Ny. Endang yang telah memiliki tabungan naik haji sebesar Rp 30.000.000,00 datang hendak mencairkan dan menyetor dana tersebut kepada C.V Padang Masyar, pengelola perjalanan haji D : Tabungan Naik Haji Ny. Endang K : Giro C.V Padang Masyar Rp 30.000.000,00 Rp 30.000.000,00

Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

Akuntansi : SURAT BERHARGA YANG DITERBITKAN


Akuntansi untuk Penerbitan SBPU dapat dibedakan antara penerbitan, penjualan dan pelunasan SBPU. Rekening SBPU yang diterbitkan merupakan rekning hutang atau dana bank yang selalu bersaldo kredit sepanjang surat berharga masih outstanding.

Penerbitan Seorang nasabah Bank Omega membuat surat pngakuan hutangatas pinjaman yang telah diterima sebesar Rp 80 juta beserta bunga Rp 20 jutaatau secara keseluruhan sebesar Rp 100 juta dengan suku bunga 14% setahun jangka waktu 6 bulan, kemudian pada hari yang sama dijual oleh Bank Omega ke BI dan dibebankan diskonto 13.5% setahun. Oleh Bank Omega transaksi ini akan dicatat D : Surat berharga K : Debitur K : Pendapatan Bunga Debitur yang diterima dimuka SBPU dijual ke BI diskonto 13.5%/tahun: (Penjualan) D : BI Giro D : Diskonto SBPU yan belum diamortisasi K : Surat berharga SBPU Rp 93.250.000 Rp 6.750.000 Rp 100.000.000 Rp 100.000.000 Rp 80.000.000 Rp 20.000.000

Diskonto SBPU tersebut akan dialokasikan setiap bulannya kedalam rekening biaya dengan jurnal sbb: D: Biaya diskonto SBPU K: Diskonto SBPU Yang belum diamortisasi Pelunasan Pada saat jatuh tempo setelah amortisasi diskonto bulan terakhir dan SBPU dilunasi oleh Bank Omega dan oleh nasabah yang menerbitkan surat pengakuan hutang tersebut , oleh Bank Omega dicatat sbb: D: D: Surat berharga SBPU Kas/Giro Nasabah Rp 100.000.000 Rp 100.000.000 Rp 1.250.000 Rp 1.250.000

Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

K: K:

Surat berharga BI-Giro

Rp 100.000.000 Rp 100.000.000

8. PINJAMAN YANG DITERIMA (YDT)

PINJAMAN DARI BANK LAIN Bank Gunadarma memutuskan untuk meminjam dana dari Bank DKI sebesar Rp. 3 milyar dengan jangka waktu 5 tahun. Suku bunga yang dikenakan oleh Bank DKI adalah 15% pa dan dana yang diterima oleh Bank Gunadarma akan di simpan dalam bentuk Giro pada Bank DKI . D : Bank Lain Giro K : Pinj YDT Bank Rp. 3.000.000.000.00 Rp. 3.000.000.000,00

Pembayaran bunga pinjaman akan dikurangi langsung dari Giro Bank Gunadarma di Bank DKI senilai bunga yang harus dibayar oleh pihak Bank Gunadarma D : Biaya bunga (Pinj-bank) K : Bank Lain Giro (Aktiva) Rp. 45.000.000,00 Rp. 45.000.000,00

TWO STEP LOAN Pinjaman yang diterima dari suatu lembaga di luar negeri yang disalurkan melalui pemerintah sebelum diterima oleh bank pelaksana. Bank Gunadarma mendapat pinjaman melalui pemerintah RI dari Bank of Japan sebesar Rp 12 Milyar D : Bank Indonesia Giro K : Pinjaman yang Diterima TSL Rp 12.000.000.000,00 Rp 12.000.000.000,00

TRANSAKSI OBLIGASI Bank Gunadarma menerbitkan 100 lembar obligasi dengan @ Rp. 1.000.000,- suku bunga 12%pa. D : Kas K : Hutang obligasi Rp. 100.000.000,00 Rp. 100.000.000,00

Setiap tanggal jatuh bunga tiap bulan, Bank Gunadarma harus menyisihkan bunga sebesar 1% atau 1 juta dan ditempatkan pada
Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

rekening titipan sampai pemegang obligasi menjual kembali kepada bank. D : Biaya Bunga Obligasi K : Hutang bunga obligasi Rp. 1.000.000,00 Rp. 1.000.000,00

Bila Tn Dennis pemegang obligasi, yang juga nasabah Bank Gunadarma Pusat hendak mencairkan 10 lembar obligasinya setelah melewati tanggal jatuh bunga maka jurnalnya adalah . D : Hutang Bunga Obligasi D : Hutang Obligasi K : Giro Tn Dennis Rp. 1.000.000,00 Rp. 10.000.000,00 Rp. 11.000.000,00

PINJAMAN UNTUK PEMBIAYAAN BERSAMA Bank Gunadarma ingin membiayai sebuah proyek sebesar Rp 300 M, untuk memenuhi kebutuhan dana ini telah bersedia dua bank lain yaitu Bank BNI dan Bank BCA dengan masing-masing sumbangan modal Rp 100 M.
D : Bank BCA Giro D : Bank BNI Giro K : Pinjaman yg Diterima Pembiayaan Bersama Rp 100.000.000.000,00 Rp 100.000.000.000,00 Rp 200.000.000.000,00

Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

9. KEWAJIBAN LAIN-LAIN

PENDAPATAN YANG DITERIMA DIMUKA Contoh : pendapatan sewa jangka panjang yang diterima dimuka, uang kontrak pemberian jangka panjang, dll Bank Gunadarma menempatkan dananya pada Bank Permata dalam bentuk sertifikat berjangka yang bunganya diterima dimuka sebesar Rp 200 juta, suku bunga 14,4% pa dengan jangka waktu 6 bulan.
D : Bank Permata Sertifikat Berjangka K : Bunga Sertifikat Berjangka yang Diterima Dimuka K : Bank Indonesia Rp 200.000.000,00 Rp 14.400.000,00 Rp 185.600.000,00

Setiap bulannya Bank Gunadarma mencatat alokasi pendapatan bunga yang diterima dimuka tersebut. D : Bunga Sertifikat Berjangka YDD 2.400.000,00 K : Pendapatan Bunga Sertifikat Berjangka 2.400.000,00 Rp Rp

SELISIH HUTANG PAJAK Bank Gunadarma membebankan hutang pajak terlalu besar Rp 8 jt D : Hutang Pajak Penghasilan 8.000.000,00 K : Biaya Pajak Penghasilan 8.000.000,00 Rp Rp

BIAYA YANG MASIH HARUS DIBAYAR Adalah pos-pos kewajiban lainnya yang tidak dapat dikelompokkan kedalam sumber dana biaya yang masih harus dibayar, contoh : biaya bunga simpanan berjangka yang dihitung setiap tanggal jatuh waktu.

Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

10. PINJAMAN SUBORDINASI


DEFINISI Pinjaman yang diperoleh berdasarkan suatu perjanjian antara bank dengan pihak lain yang hanya dapat dilunasi apabila bank telah memenuhi persyaratan tertentu. Bank Gunadarma menerima pinj. subordinasi sebesar Rp 500 juta D : Bank Indonesia Giro Rp 500.000.000,00 K : Pinjaman Subordinasi Rp 500.000.000,00 Bunga 12% pa, perhitungan Bunga Tahun Pertama : D : Biaya Bunga Pinj. Subordinasi Rp 60.000.000,00 K : Bunga yang Masih Harus Dibayar Rp 60.000.000,00 Pinjaman Subordinasi dilunasi Rp 200.000.000,00 D : Pinjaman Subordinasi Rp 200.000.000,00 K : Bank Lain Giro Rp 200.000.000,00

11. MODAL PINJAMAN


DEFINISI Pinjaman yang didukung dengan menggunakan instrumen yang disebut capital notes, loan stock atau warkat lain yang dipersamakan dengan itu, dan mempunyai sifat modal sendiri CIRI-CIRI MODAL PINJAMAN

Tidak dijamin oleh bank penerbit (issuer) dan sifatnya dipersamakan dengan modal (subordinated) serta telah dibayar penuh Tidak dapat dilunasi atau ditarik atas inisiatif pemilik (pemegang capital notes) Mempunyai kedudukan yang sama dengan modal dalam hal jumlah kerugian bank melebihi laba ditahan dan cadangan-cadangan yang termasuk modal inti, mesikipun bank belum dilikuidasi Pembayaran bunga dapat ditangguhkan apabila bank dalam keadaan rugi atau labanya tidak mencukupi untuk membayar bunga tersebut

Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

12. MODAL BANK


DEFINISI Hak pemilik bank kepada bank yang bersangkutan, yang merupakan modal awal pada saat pendirian bank yang jumlahnya telah ditetapkan dalam suatu ketentuan atau pendirian bank KOMPONEN MODAL BANK Terdiri antara lain dari modal saham yang ditempatkan dan disetor, modal sumbangan, laba ditahan-dengan tujuan, laba ditahan-tanpa tujuan, penilaian kembali aktiva tetap, dan modal sumbangan (modal donasi)

Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

AKUNTANSI PENANAMAN DANA BANK


Penanaman dana bank meliputi penanaman dana dalam alat likuid atau kas, penanaman dana pada lembaga keuangan, penanaman dana dalam bentuk perkreditan dan penanaman dana dalam akativa tetap. Tujuan dan apenanaman dana adalah untuk memperoleh (menciptakan) pendapatan bank melalui penciptaan aktiva produktif yang menghasilkan. Jenis penanaman dana antara lain: remise atau pengiriman uang antar cabang dalam bentuk suatu bank, penanaman pada bank lain dalam bentuk giro, deposito berjangka , call money, deposito deposits on call, surat berharga, serta penanaman dana dalam bentuk kredit.

1. PENANAMAN DANA ALAT LIKUID ATAU KAS (KAS DAN BANK)

Dalam penanaman dana kas untuk tujuan operasional harus diperhatikan dasar kebutuhan dana rata-rata uang tunai setiap hari. Sedangkan penenaman dana kas ke bank lain harus memperhatikan syarat minimum yang harus dipelihara oleh bank (5% dari dana masyarakat yang dimiliki oleh bank), sehingga terjada likuiditasnya. Tujuan penanaman uang kas Untuk kegiatan operasional Untuk memelihara likuiditas Untuk menghindari terjadinya over/underliquid Untuk memanfaatkan kelebihan dana Pendapatan

1.1 REMISE Adalah : pengiriman uang secara fisik dari satu bank ke bank lain atau dari satu cabang ke cabang lain. Akuntansi remise:
Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

a. Saat pengiriman uang pisik ke cabang D: RAK- Cabang K: Kas b. Saat menerima uang pisik dari cabang D: Kas K: RAK- Cabang 1.2. Penanaman Alat Likuit dalam Rekening Bank Lain Akuntansi penanaman pada bank lain: 1. Saat penanaman D: Bank lain-deposito D: Bank lain- Call money K: BI- Giro Kasus: Bank Mega Jakarta membeli deposito berjangka Bank ABC sebesar Rp 200.000.000 suku bunga 24% setahun, jangka waktu 3 bulan. Selain itu Bank Mega menempatkan sebagian dananya pada bank XYZ Jakarta untuk call money sebesar Rp 400.000.000 dengan suku bunga 30% setahun, dana dapat ditarik sewaktu-waktu. Bank Mega juga juga menempatkan uangnya pada bank RST Jakarta dalam bentuk deposits on call sebesar Rp 450.000.000 suku bunga 26% setahun jangka waktu 2 bulan. Pembayaran kepada lembaga keuangan tersebut di atas dilakukan atas beban rekening giro bank Mega- Jakarta pada Bank Indonesia.
D: Bank lain deposito berjangka Rekening Bank ABC- Jakarta D: Bank lain - Call money-Rekening Bank XYZ D: Bbank Lain Deposits on Call-rekening Bank RST Jakarta K: Bank Indonesia Giro Rp 200.000.000 Rp 400.000.000 Rp 450.000.000 Rp 1.050.000.000

2. Saat penerimaan bunga: D: Bank lain-deposito K: pendapatan bunga-deposito


D: Bank lain-giro- Rekening Bank ABC D: Bank lain-giro- Rekening Bank XYZ D: Bank lain-giro- Rekening Bank RST K: pendapatan bunga-penempatan deposito berjangka K: pendapatan bunga-penempatan Call money K: pendapatan bunga-penempatan Deposits on Call Rp Rp Rp Rp Rp Rp 4.000.000 10.000.000 9.750.000 4.000.000 10.000.000 9.750.000

Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

2. SURAT BERHARGA Penanaman uang dalam bentuk surat berharga bersifat sementara dan untuk dijual kembali saat diproyeksikan adanya keuntungan dari surat berharga tersebut Kreteria : Mempunyai pasar yang dapat diperjual belikan segera Untuk dijual segera bila ada kebutuhan dana Tidak dimaksudkan untuk menguasai perusahaan lain Jenis Jenis Surat Berharga Saham Wesel Obligasi Sekuritas kredit Surat berharga lain yang lazim diperdagangkan di pasar uang dan pasar modal

Akuntansi Surat berharga : Pembelian Kasus: Pada tanggal 31 Juli Bank Mega membeli selembar obligasi PT Jasa marga yang berjangka waktu 10 tahun dengan nilai nominal 10 juta pada kurs sebesar 98% dan suku bunga sebesar 15% setahun dibayarkan setiap tanggal 1 Juni dan 1 Desember. D: Surat Berharga Obligasi D: Pendapatan Bunga Obligasi K: Pendapatan Premi Obligasi Yang ditangguhkan K:Kas Pembayaran bunga tanggal 1 Desember D:Kas K:Pendapatan Bunga Obligasi Rp Rp 750.000 750.000 Rp 10.000.000 Rp 250.000 Rp 200.000 Rp 10.050.000

Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

Pada tanggal 31 Desember obligasi harus disajikan di neraca dan diamortisasi dari pendapatan yang ditangguhkan. D: Pendapatan Premi Obligasi yang ditangguhkan K: Pendapatan Premi Obligasi Penjualan Surat berharga yang hendak dijual memiliki harga pokok yang dapat dihitung dengan metode FIFO atau metode rata (terutama apabila terdapat lebih dari satu macam surat berharga obligasi atau portfolio. Kasus : Obligasi Jasa Marga tersebut dijual setelah 8 bulamn dimiliki atau pada tanggal 1 Maret dengan harga 101, Pencataan untuk pengalokasian terakhir premi obligasi dengan ayat jurnal : D: Pendapatan Premi yang ditangguhkan K: Pendapatan premi obligasi Rp 3.333 Rp 3.333 Rp Rp 10.000 10.000

Pencatatan penjualan obligasi dicatat dengan ayat jurnal sebagai berikut: D: Kas D: Pendapatan Premi Obligasi Yang ditangguhkan K: Pendapatan premi obligasi K: Surat berharga Obligasi K: Pendapatan Bunga Obligasi K: Keuntungan dari Penjualan surat berharga Penilaian Penilaian Surat Berharga Pasar Uang Kasus: Bank Omega membeli Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dengan nominal Rp 500 juta dengan suku bunga 12% setahun. Bunga SBI diterima di muka dan jangka waktu selama 2 bulan. Pembayaran dilakukan atas beban rekening giro pada Bank Indonesia. Saat pembelian : D: Surat berharga SBI
Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

Rp 10.475.000 Rp 186.667 Rp 186.667 Rp 10.000.000 Rp 375.000 Rp 100.000

Rp 500.000.000

K: Pedapatan bunga SBI yang belum diamortisasi K: BI- Giro

Rp 10.000.000 Rp 490.000.000

Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

Pada akhir bulan pertama setelah pembelian pengalokasian pendapatan bunga SBI sbb:

SBI

dilakukan

D: Pendapatan Bunga SBI yang belum diamortisasi Rp 5.000.000 K: Pendapatan Bunga SBI Rp 5.000.000 Penyajian SBI dalam Neraca setelah akhir bulan pertama: D: BI-Giro Rp 500.000.000 D: Pendapatan Bunga SBI yang belum diamortisasi Rp 5.000.000 K: Surat berharga SBI Rp 500.000.000 K: Pendapatan bunga SBI Rp 5.000.000 Penilaian Terhadap surat berharga yang dimiliki dalam bentuk portfolio harus dinilai berdasarkan harga riil: 1. Sebesar harga perolehan (cost)
2. Sebesar harga terendah antara cost dan market (COMWIL). Apabila terjadi selisih harga diakui sebagai kerugian penurunan nilai SB. dengan mengkredit perkiraan surat berharga yang bersangkutan Penyisihan untuk penurunan nilai surat berharga. Kasus: Bank Omega memiliki portfolio surat berharga sebesar harga perolehan Rp 125.000.000dan kemudian setealh dilakukan penilaian harga pasar bernilai Rp 115.000.000, maka kerugian ini akan dibukukan dengan ayat jurnal sbb:

D: Biaya Kerugian Penurunan Nilai surat berharga K: Penyisihan untuk Penurunan nilai surat berharga

Rp 10.000.000 Rp 10.000.000

Sehingga nialai surat berharga setelah penurunan nilai adalah sbb: Surat berharga Rp 125.000.000 Dikurangi: Penyisihan untuk penurunan nilai suara berharga Rp 10.000.0000 Surat berharga, bersih Rp 115.000.000 4. KREDIT YANG DIBERIKAN Aktiva produktif yang sangat diandalkan oleh bank yang menghasilkan pendapatan besar adalah debitur/kredit. Akuntansi untuk kredit ini harus dilakukan dengan cermat agar mampu memberikan informasi yang efektif kepada manajemen
Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

Jenis kredit yang diberikan oleh bank a. Kredit Investasi b. Kredit Modal Kerja c. Kredit Profesi, dsb. Jangka waktu kredit: a. Kredit jangka pendek b. Kredit jangka panjang Akuntansi Kredit meliputi: Akuntansi kredit meliputi beberapa prosedur: a. Persetujuan dan pemberian pagu kredit b. Penarikan cek oleh nasabah/debitur c. Pembebanan bunga pada debitur d. Pelunasan pokok e. Wanprestasi pembayaran f. Penilaian debitur pada neraca a. Persetujuan Dan Pemberian Pagu Kredit Saat persetujuan kredit dicatat: K: Rek.Admin rupiah-kredit yg disetujui Kasus: Bank OmegaJakarta telah menyetujui pemberian kredit investasi kepada PT Pizzaria sebesar Rp 250.000.000 untuk rencana expansi usaha dengan suku bunga sebesar Rp 1.500.000, biaya materai dan lainnya Rp 50.000, biaya notariat pada notary Andi sebesar Rp 5.000.000 dibebankan dan dibayar lansung oleh calon nasabah pada bank Omega-Jakarta. Oleh Bank Jakarta komitmen ini dicata: K: Rek. Administrasi-Kredit yang telah disetujui Sedangkan untuk perhitungan provisi kredit dicatat: D: Giro debitur K: Pendapatan provisi kredit D: Giro-Rekening PT Pizaria K: Pendapatan Provisi Kredit K: Persediaan Formulir Berharga K Giro Rekening Tn Andi
Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

Rp 250.000.000

Rp Rp Rp Rp

6.550.000 1.500.000 50.000 5.000.000

Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

b. Saat Penarikan Kredit Oleh Debitur Setiap terjadi penarikan oleh debitur dibukukan dalam rekening efektif D: Debitur K: BI Giro Kasus : PT Pizzaria menarik selembar cek debitur yang telah disetujui sebesar Rp 35.000.000 kepada Pt MNA, kemudian cek disetorkan ke Bank Omega Jakarta untuk keuntungan PT MNA, nasabah Bank ABC Jakarta melalui kliring. Oleh Bank Omega Jakata dibukukan: D: Debitur-Rekening PT Pizzaria K: Bank Indonesia-Giro Dan dicatat pada rek. Administratif : D: Rek. Adm.rupiah kredit yg disetujui Rp 35.000.000 Rp 35.000.000 Rp 35.000.000

c. Perhitungan Bunga Kredit Besarnya bunga dihitung dari lamanya hari outstanding kredit . Pengakuan pendapatan bunga dilakukan: 1. Accrual basis (saat jatuh tempo) D: Debitur tunggakn bunga K: Pendapatan bunga debitur 2. Cash basis (saat penerimaan): bila debitur merupakan nonperforming loan: D: Rek.Admin-tunggakan bunga debitur Kasus: Sampai akhir bulan PT Pizzaria tidak melakukan mutasi lagi. Maka pencatan bunganya sbb (bunga 28%/tahun) : 1. Accrual basis (saat jatuh tempo) D: Debitur Tunggakan Bunga- Rekening PT Pizzaria K: Pendapatan Bunga Debitur 2. Cash basis (saat penerimaan) D: Rek.Admin-tunggakan bunga debitur Rp 816.667 Rp 816.667 Rp 816.667

Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

d. Pelunasan bunga 1. Accrual basis D: BI Giro K: Debitur tunggakan bunga 2. Cash basis D: BI Giro K: Pendapatan bunga-debitur 3. Rekening administratif dicatat: K: Rek.admin-debitur tunggakan bunga Pelunasan pokok pinjaman. Pada saat pelunasan kredit dicatat: D: Kas K: Debitur- rek.debitur Koletibilitas meliputi: Lancar(standar) Kurang lancar (sub-standar) Diragukan (doubtful) Macet (uncollectible) e. Wanprestasi Nasabah Debitur Bila terjadi wanpestasi dalam pelunasan pokok, maka pencatatnya harus dipisah kan dari debitur yang masih aktif D: Debitur tunggakan pokok K: Debitur Rek. debitur Praktek kredit yang berjalan saat ini harus membeda-bedakan berdasarkan kolektibilitasnya. Kolektibilitas terdiri dari : 1. Lancar : bila nasabah ybs tidak pernah melakukan penunggakan (bayar tepat waktu). 2. kurang lacar : nasabah telah menungggak pelunasan bunga atau pokok pinjaman (<dari 6 bulan) 3. diragukan : nasabah telah menungggak pelunasan bunga atau pokok pinjaman >dari 6 bulan) 4. macet.: diragukan : nasabah telah tidak mampu lagi melunasi kewajibannya baik bunga ataupun pokok.

Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

Tujuannya untuk memberikan informasi kepada manajemen dalam mengambil keputusan g. Penilaian Debitur Pada Neraca Penilaian debitur pada neraca dilakukan atas dasar kolektibilitas debitur yang outstanding Penyisihan dibebankan ke ikhtisar laba-rugi dalam rek.Biaya penyisihan debitur diragukan D: Biaya debitur ragu K: Penyisihan debitur diragukan KasusSaldo debitur Bank Omega Jakarta sebesar Rp 20.000.000.000 terdiri dari : Kolektibilitas I Kolektibilitas II Penyisihan debitur ragu-ragu : Kolektibilitas I Kolektibilitas II = 1% (Rp 18.000.000.000*50%) = Rp 90.000.000 = 5% (Rp 2.000.000.000*50%) = Rp 50.000.000 Rp 18.000.000.000 Rp 2.000.000.000

Besarnya penyisihan debitur: D: Biaya Debitur ragu K: Penyisihan Debitur diragukan Rp 140.000.000 Rp 140.000.000

Dengan demikian rekening debitur disajikan dineraca : Debitur (pokok) Penyisihan Debitur Ragu Bersih
. Kebijakan Dividen Kebijakan dividen menyangkut tentang penggunaan laba yang menjadi hak para pemegang saham. Pada dasarnya laba tersebut bisa dibagi sebagai dividen atau ditahan untuk diinvestasikan kembali. Perusahaan bisa membagi dividen dalam bentuk uang tunai atau dalam bentuk saham (stock dividend).

Rp 20.000.000.000 Rp 140.000.000 Rp 19.860.000.000

Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

Kebijakan dividen masih merupakan masalah yang mengundang perdebatan karena ada beberapa pendapat mengenai dividen. Pertama, pendapat yang mengatakan dividen dibagi sebesar-besarnya (dividend relevant); Kedua, kebijakan dividen tidak relevan; dan ketiga perusahaan membagi dividen sekecil mungkin. Kelompok pertama berpendapat bahwa harga saham dipengaruhi oleh dividen yang dibayarkan. Apabila n = , maka harga saham (Po) dapat dirumuskan sebagai berikut Po = t=1 dimana: Po Dt Ke t = = = = harga saham dividen yang diharapkan pada periode t tingkat diskonto/tingkat hasil yang diharapkan periode waktu (1 + Ke)t Dt

Berdasarkan pada persamaan di atas, harga saham ditentukan oleh aliran kas yang akan diterima pemegang saham dalam bentuk dividen dan tingkat hasil yang diharapkan. Pendapat ini berasumsi bahwa hanya dividen yang dapat diterima sebagai penghasilan langsung dari perusahaan sehingga dividen merupakan dasar penilaian terhadap harga saham. Dividen merupakan arus kas yang diharapkan setiap periode pada masa yang akan datang. Jika perusahaan mampu meningkatkan pembayaran dividen karena peningkatan laba, maka harga saham akan naik. Jadi, kenaikan harga saham tersebut pada dasarnya adalah sebagai akibat dari kenaikan dari laba. Pemberian dividen dimungkinkan hanya apabila perusahaan memperoleh keuntungan, namun tidak menutup kemungkinan perusahaan tetap membagi dividen meskipun perusahaan menderita kerugian (Jensen, 1986). Bird in the hand Theory dari Lintner (1962), Gordon (1963), dan Bhattacharya (1979) menjelaskan bahwa investor menyukai dividen yang tinggi karena dividen yang diterima seperti burung di tangan yang risikonya lebih kecil atau mengurangi ketidakpastian dibandingkan dengan dividen yang tidak dibagikan. Kelompok ini berpendapat bahwa peningkatan dividen akan meningkatkan harga saham yang selanjutnya berdampak terhadap nilai perusahaan. Kebijakan dividen relevan dapat berarti juga, bahwa pembayaran dividen dapat menurunkan nilai perusahaan. Pemikiran ini didasari adanya pajak dividen yang lebih
Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

tinggi dari pada pajak capital gain. Juga tidak benar

kalau perusahaan

harus

membagikan semua laba sebagai dividen, hanya karena perusahaan harus membagikan dividen sebesar-besarnya. Laba dibenarkan untuk ditahan jika dana tersebut bisa diinvestasikan dan menghasilkan tingkat keuntungan yang lebih besar dari biaya modalnya (memberi net present value positif), dengan harapan dividen di masa yang akan datang akan naik sebagai hasil dari investasi yang dilakukan. Harapan investor untuk memperoleh dividen secepatnya dapat direalisasikan dengan kesediaannya untuk membayar harga atas saham perusahaan dengan lebih tinggi. Pada pasar modal sempurna dan efisien, investor dapat setiap saat menjual atau menginvestasikan kembali dividen yang diterima, sehingga untuk jangka panjang dividen tetap memberikan suatu pendapatan yang tidak berbeda dengan dividen yang tidak dibagikan tapi diinvestasikan oleh perusahaan. Kelompok kedua menganggap dividen tidak relevan (the irrelevant of dividend). Modigliani&Miller (1961) mengatakan bahwa kebijakan dividen tidak mempunyai pengaruh terhadap harga saham perusahaan. Nilai perusahaan hanya ditentukan oleh kemampuan menghasilkan laba, bukan pada pembagian laba perusahaan untuk dividen atau sebagai laba ditahan. Selanjutnya dikatakan bahwa perusahaan bisa saja membagikan dividen yang besar ataupun kecil, asalkan dimungkinkan menutup kekurangan dana dari sumber eksternal. Jadi yang penting adalah apakah investasi yang tersedia diharapkan akan memberikan net present value yang positif, tidak perduli apakah dana yang digunakan diperoleh dengan menahan laba ataukah dari luar perusahaan dengan menerbitkan saham baru. Dampak dari pilihan keputusan tersebut sama saja terhadap nilai perusahaan. Jadi keputusan dividen adalah tidak relevan (the irrelevant of dividend). Kelompok ketiga berpendapat agar dividen dibagi sekecil-kecilnya. Pendapat sebelumnya mengatakan bahwa dividen tidak relevan mendasarkan diri atas pemikiran bahwa membagikan dividen dan menggantikan dengan menerbitkan saham baru mempunyai dampak yang sama terhadap harga saham. Sayangnya analisis tersebut mengabaikan adanya biaya penerbitan saham baru/biaya emisi (flotation cost). Biaya yang ditimbulkan akibat menerbitkan saham baru adalah fee untuk underwriter, biaya notaris, akuntan, konsultan hukum pendaftaran saham dan lain sebagainya yang berkisar antara 2% sampai 4%. Dengan adanya biaya-biaya tersebut, berarti sebagian kekayaan pemegang saham diberikan kepada berbagai pihak sebagai flotation cost. Jadi bila perusahaan memiliki dana untuk investasi mengapa dana tersebut dibagikan sebagai dividen?, sehingga menimbulkan biaya flotation. Oleh sebab itu, mereka beranggapan dividen sebaiknya dibagi sekecil-kecilnya, sejauh dana tersebut dapat
Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

digunakan untuk investasi yang menguntungkan atau memberi NPV positif. Rozeff (1982) dan Easterbrook (1984) menyatakan ada keyakinan bahwa semakin banyak dividen yang ingin dibayarkan oleh perusahaan, semakin besar kemungkinan berkurangnya laba ditahan. Akibatnya, perusahaan harus mencari biaya eksternal untuk melakukan investasi baru. Namun biaya penerbitan sumber pembiayaan ekternal menjadi mahal karena adanya flotation cost. Akibatnya pembayaran dividen menjadi mahal karena meningkatnya kebutuhan untuk menambah modal eksternal yang lebih mahal. Pendapat dividen dibagi sekecil-kecilnya tampaknya bertentangan dengan pendapat Glen et al (1995) mengenai pembagian dividen di negara-negara berkembang. Mereka mengatakan bahwa perusahaan di negara berkembang secara rata-rata melakukan kebijakan pembayaran dividen dengan payout ratio sebesar dua pertiga dari perusahaan-perusahaan di negara maju. Perusahaan di negara berkembang lebih mementingkan kebijakan dividen berdasarkan payout ratio dibandingkan dengan besaran-besaran moneternya. Kebijakan dividen residual yaitu, kebijakan dimana dividen yang dibayarkan sama dengan laba aktual dikurangi dengan laba yang ditahan untuk membiayai investasi perusahaa. Pengambilan keputusan atas rasio pembagian dividen didasarkan pada: 1) menentukan anggaran modal optimum 2) menentukan modal yang dibutuhkan untuk membiayai investasi tersebut 3) menggunakan laba ditahan untuk memenuhi komponen penyertaan modal (ekuitas) 4) membayar dividen hanya jika lebih banyak yang tersedia dari pada yang dibutuhkan untuk anggaran modal (investasi). Dasar dari kebijakan dividen residual adalah kenyataan investor lebih menginginkan perusahaan menahan dan menginvestasikan kembali laba dari pada membagikan dalam bentuk dividen. Karena investasi laba tersebut dapat menghasilkan keuntungan kembali bagi investor atau pemegang saham. Menurut Clientele theory, dividend puzzle (perdebatan) disebabkan oleh adanya investor yang berbeda baik dilihat dari segi usia investor, kelompok investor, dan golongan. Perbedaan tersebut telah menimbulkan preferensi yang berbeda terhadap tinggi rendahnya dividen yang akan mereka terima. Investor individual dengan usia lanjut dan penghasilannya hanya tergantung dari dividen mungkin lebih menyukai dividend payout yang tinggi. Akan tetapi investor dengan penghasilan tinggi akan lebih menyukai dividend payout rendah.
Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

Dalam teori kebijakan dividen yang penting diperhatikan adalah apakah perubahan rasio pembayaran dividen akan mempengaruhi nilai perusahaan? Dalam dunia tanpa pajak atau biaya transaksi tidak ada, Modigliani&Miller (1961) mengatakan bahwa kebijakan dividen tidak mempengaruhi nilai perusahaan. Dalam dunia tanpa pajak pemegang saham bersikap sama saja apakah mereka menerima arus kas sebagai dividen, atau sebagai keuntungan modal, jika kas disimpan sebagai laba ditahan. Sedangkan perusahaan dapat memilih untuk membayar dividen dari kelebihan arus kas dari operasi dan tetap menjalankan investasi yang direncanakan. Karena dana ekstra yang diperlukan dapat diperoleh dengan menerbitkan saham baru tanpa biaya penerbitan. Nilai perusahaan tidak tergantung pada kebijakan dividen, karena semua investasi yang menguntungkan dapat dilaksanakan tanpa memperhatikan pembayaran dividen. Dunia tanpa pajak tidak realistis karena dalam prakteknya unsur pajak akan selalu mengikuti setiap kebijakan yang diambil. Jika diasumsikan ada tiga tarif pajak yang berbeda, yaitu pajak perusahaan proporsional (Tc), pajak penghasilan pribadi (Tp), dan pajak atas keuntungan modal (Tg). Sepanjang tarif pajak pribadi untuk penghasilan yang diterima dalam bentuk dividen lebih besar daripada tarif pajak penghasilan pribadi atas keuntungan modal (Tp > Tg), maka pemegang saham akan lebih menyukai perusahaan tidak membayar dividen. Mereka akan lebih untung jika dana tetap pada perusahaan atau dibayar melalui pembelian kembali saham yang beredar. Dengan cara tersebut, harga saham perlembar akan lebih tinggi daripada perusahaan membayar dividen. Pemegang saham yang memerlukan dana tunai dapat menjual sebagian saham. Dengan demikian, mereka membayar pajak atas keuntungan modal yang lebih rendah dari pada menerima dividen. Konsisten dengan pendapat Brennan (1970) dalam Park&Evans (2004) mengatakan bahwa kebijakan dividend pay out tinggi, harga saham rendah sebab dividen selalu dikenakan pajak yang lebih tinggi dari pada capital gains. Paralel dengan Modigliani&Miller (1961) Litzenberger&Ramaswamy (1982) mengatakan, bahwa selama dividen memiliki tarif pajak yang tinggi bagi investor dibandingkan dengan capital gain, maka tingginya dividen menjadikan tingginya expected personal tax liabilities, sehingga investor mensyaratkan tingginya expected return sebelum pajak. Jadi menurut mereka apapun kebijakan dividen yang dipilih tidak ada pengaruhnya terhadap harga saham. Farrar&Selwany (1967) dan Brennan (1970) menganalisis keputusan investasi pada saham dikaitkan dengan pajak dalam kerangka kerja pasar equilibrium. Intinya

Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

adalah pemegang saham memaksimumkan penghasilan sesudah pajak. Mereka mempunyai dua pilihan untuk mencapai tujuan tersebut. Membeli saham perusahaan yang tidak berhutang (all equity firm) dan meminjam untuk kebutuhan pribadi. Atau, mereka membeli saham perusahaan yang memiliki hutang. Dengan pilihan yang manapun mereka memiliki risiko yang sama. Pada pilihan pertama, jumlah pinjaman pribadi versus jumlah pinjaman perusahaan yang diinginkan. Jika perusahaan membayar semua arus kasnya sebagai dividen, maka penghasilan sebelum pajak pemegang saham adalah dividen yang diterima dikurangi bunga atas pinjaman yang diambil untuk membeli saham. Pada pilihan kedua, bentuk pembayaran yang dipilih perusahaan. Perusahaan dapat membayar laba sebagai dividen atau dapat menahan laba dan membiarkan pemegang saham mengambil pendapatan mereka dalam keuntungan modal (capital gain). Apabila perusahaan memutuskan tidak membayar dividen, dan jika diasumsikan bahwa semua capital gain segera dinikmati oleh pemodal dan terkena tarif pajak capital gain, maka penghasilan sesudah pajak akan lebih besar dari pada bila perusahaan tidak membayar dividen sama sekali. Namun harus diingat skenario di atas berlaku pada pajak capital gain (Tp > Tg). Dalam keadaan ada pajak pribadi dan pajak perusahaan, dividen tidak disukai hampir semua pemegang saham yang membayar pajak, atau pemegang saham bersikap sama apakah berupa dividen atau capital gain. Namun mengapa perusahaan tetap membayar dividen secara teratur dan merata. Rozeff (1982) menganggap bahwa dividen tampaknya memiliki informasi (informational content of dividend) atau sebagai isyarat akan prospek perusahaan. Apabila perusahaan meningkatkan pembayaran dividen, mungkin diartikan oleh pemodal sebagai sinyal harapan manajemen tentang akan membaiknya kinerja perusahaan di masa yang akan datang. Dengan demikian manajemen enggan mengurangi dividen, apabila dianggap sebagai memburuknya kinerja perusahaan di masa yang akan datang. Masih menurut Rozeff (1982) dan Easterbrook (1984), dividen dapat digunakan untuk mengurangi equity agency cost. David (1995) mengemukakan beberapa alasan mengapa dividen tetap dibagikan meskipun pada saat yang sama perusahaan memiliki kesempatan investasi yang menarik, dan perusahaan mendanai perusahaan dari sumber eksternal. Pertama, pembayaran dividen kas merupakan suatu yang lazim. Artinya kegagalan melakukan pembayaran dividen dapat dianggap suatu aib yang memalukan. Selain itu pembayaran dividen dapat memberikan sinyal tentang masa depan perusahaan Kedua, dividen menyajikan sales point bagi
Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

sepanjang

pajak dividen lebih tinggi dari

investment banking, karena beberapa investor institusional hanya akan membeli saham perusahaan yang membayar dividen. Ketiga, shareholders sering minta dividen, walaupun perusahaan memiliki kesempatan untuk melakukan investasi kembali dari seluruh dana yang mungkin cukup besar. Keempat, ada suatu keyakinan yang tersebar luas, bahwa pembayaran dividen akan mengakibatkan harga saham yang lebih tinggi. Sejalan dengan pendapat Pearce (1988) bahwa stabilitas earnings dan dividen sering memberi kontribusi positif kepada harga pasar saham perusahaan. Selanjutnya Lintner (1956) memberikan alasan rasional bahwa perusahaan enggan untuk menurunkan dividen. Karena jika perusahaan menurunkan dividen, akan dianggap sebagai sinyal yang buruk dan dianggap perusahaan memiliki risiko yang tinggi dan prospek yang kurang menguntungkan. Ross (1978, 1980), dan Miller&Rock (1985), menunjukkan bahwa dalam kondisi informasi yang tidak seimbang (asymmetric information) para manajer dapat menggunakan strategi dalam kebijakan dividen untuk menangkal isu-isu yang tidak diharapkan oleh perusahaan di masa yang akan datang. Jadi, dalam kebijakan dividen ini dapat terjadi suatu keadaan di mana besarnya dana sebagai keuntungan yang ditahan menjadi semakin berkurang. Padahal dana tersebut tidak dapat secara bebas dinaikan dan diturunkan, harus disesuaikan dengan kebutuhan pendanaan perusahaan. Selain pendanaan internal perusahaan, maka pengaruh dividen juga akan mengurangi keleluasaan perusahaan untuk memperbesar dana dari luar yang akan mempengaruhi struktur modal perusahaan. Bhattacharya (1979) mengembangkan suatu model sinyal (signal model), bahwa tingginya dividen yang dibagikan menunjukkan tingginya performance perusahaan. Pada kondisi informasi tidak seimbang (disparity) tinggi antara manajer dan investor, perusahaan akan memberikan sinyal dengan membayar dividen yang tinggi. Aharony&Swary (1980) melakukan penelitian dengan sangat hati-hati untuk memisahkan pengumuman dividen dan laba perusahaan pada waktu yang berbeda. Walaupun pengumuman perubahan dividen didahului oleh pengumuman perubahan laba, tetapi terdapat reaksi pasar yang kuat pada signal dividen. Apabila dividen berkurang, rata-rata penurunan harga saham adalah 3,76% dan apabila dividen naik, harga saham naik sebesar 0,72%. Penemuan ini mendukung hipotesis bahwa perubahan dividen mengandung informasi mengenai perubahan dalam penafsiran manajemen terhadap prospek perusahaan pada masa mendatang. Charest (1978) mengembangkan penelitian dengan menggunakan data return harian, menemukan
Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

bahwa pengumuman meningkatnya dividen telah menimbulkan excess return sekitar 1%. Aspek lain dari kebijakan dividen adalah dividen saham (stock dividend) pemecahan saham (stock splits) dan pembelian kembali saham (stock repurchase). Dividen saham dibayar dalam bentuk saham tambahan, bukan dalam bentuk kas, dan hanya berupa pemindahan pembukuan dari pos laba ditahan ke pos modal. Sebaliknya dalam pemecahan saham tidak terjadi perubahan dalam pos modal, namun jumlah saham biasa yang bertambah. Sebagai contoh dalam pemecahan dua untuk satu, pemegang saham menerima dua saham untuk setiap saham yang dipegang sebelumnya. Jadi nilai buku persaham dibagi dua, demikian juga nilai pari atau nilai yang dicantumkan pada saham akan berubah. Pembelian kembali saham merupakan satu dari kebijakan dividen yang dilakukan perusahaan. Pembelian kembali saham menyebabkan kenaikan harga saham sehingga pemegang saham hanya terkena pajak dengan tarif pajak atas keuntungan modal/ Capital gain dibanding dengan dividen kas yang terkena tarif pajak dividen biasa. Kebijakan pembelian kembali saham perusahaan pada umumnya terjadi pada situasi dimana perusahaan memiliki persediaan kas yang cukup besar untuk membeli kembali saham perusahaan. Selain itu bisa juga karena perusahaan menyimpulkan bahwa struktur modal perusahaan memiliki ekuitas yang terlalu besar, sehingga perusahaan melakukan pinjaman untuk membeli kembali saham perusahaan. Perusahaan dengan dana yang besar dan tidak mempunyai peluang investasi yang menguntungkan, maka perusahaan dapat melakukan kebijakan dividen melalui pembelian kembali saham perusahaan. Kebijakan ini dapat mengurangi jumlah saham beredar sehingga laba perlembar saham akan meningkat, yang akan berdampak terhadap kenaikan harga saham di pasar modal. Studi yang dilakukan Fama et al (1969) menemukan perubahan harga saham yang tidak berarti pada kekayaan pemegang saham pada bulan terjadinya pemecahan, tetapi dari subsampel perusahaan yang melakukan pemecahan saham dan menaikan dividen, ditemukan kenaikan kekayaan pemegang saham dalam bulan berikutnya sesudah pemecahan. Konsisten dengan temuan Grinblatt et al (1984), ditemukan terdapat kenaikan return akibat pengumuman pemecahan saham yang cukup berarti. Asquith&Mullins (1984) meneliti dampak dividen terhadap kemakmuran pemegang saham mengacu pada penelitian Aharony&Swary (1980). Penelitian tersebut menghasilkan suatu kesimpulan bahwa memulai pembayaran dividen (Initiating dividend) meningkatkan kemakmuran pemegang saham. Sejalan dengan penelitian yang di lakukan di Indonesia Muslikh (1995), menemukan bahwa ada
Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

pengaruh yang signifikan kebijakan dividen terhadap harga saham perusahaan public di Indonesia. Maka manfaat pembayaran dividen kepada investor harus dijaga keseimbangannya dengan manfaat atas pendapatan yang ditahan yang digunakan sebagai sumber pembiayaan internal. Ada dua rasio yang sering digunakan untuk memproksi kebijakan dividen suatu perusahaan yaitu dividend payout ratio, dan dividend yield. Dividend payout ratio diukur sebagai dividen yang dibayarkan dibagi dengan laba yang tersedia bagi pemegang saham. Menurut Glen et al (1995) bahwa perusahaan di Negara berkembang lebih mementingkan dividend pay out ratio dari pada besaran moneternya. Sedangkan dividend yield adalah persentase dividen terhadap harga saham periode sebelumnya yang dapat dijadikan proksi sebagai besaran moneternya.

2.1.5.4 Interaksi Keputusan Investasi, Keputusan Pendanaan, dan Kebijakan Dividen

Interaksi keputusan investasi dengan keputusan pendanaan menyangkut analisis terhadap profitabilitas investasi apabila dibiayai tidak 100% modal sendiri. Dengan adanya pajak dan ketidaksempurnaan pasar modal, maka sumber pendanaan proyek yang berbeda akan membawa dampak terhadap profitabilitas suatu investasi. Ada dua metode yang dapat digunakan untuk mengkaitkan keputusan investasi dan keputusan pendanaan. Pertama adalah menggunakan biaya modal rata-rata tertimbang. Metode ini mendasarkan pada pemikiran bahwa dana yang dipergunakan untuk membiayai suatu proyek mempunyai biaya yang berbeda-beda. Suatu proyek dinilai menguntungkan apabila memberikan tingkat hasil pengembalian lebih besar dari biaya rata-rata dana yang dipergunakan. Teori tersebut didukung hasil penelitian yang dilakukan Fama dan French (1999), bahwa tingkat pengembalian (return) yang diperoleh perusahaan merupakan informasi tentang corporate earning, kebijakan investasi, dan kebijakan pendanaan di masa lalu. Metode kedua adalah adjusted net present value (APV). APV memulai analisis dan menaksir base case NPV dari proyek. Base case NPV adalah NPV pada saat proyek diasumsikan dibiayai 100% modal sendiri. Selanjutnya baru dihitung dampak keputusan pendanaan. Keputusan pendanaan dapat memberi dampak positif ataupun negatif. Jadi, APV merupakan penjumlahan antara base case NPV dan dampak keputusan pendanaan dari luar.

Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

Menurut theory Fisherian, keputusan investasi dan keputusan pendanaan dilakukan secara terpisah. Namun dengan adanya informasi asimetri, pemisahan tersebut tidak dapat bertahan lebih lama, investor luar tidak dapat melihat langsung prilaku manajemen dalam membuat keputusan investasi. Sebagai gantinya, mereka mencoba untuk menginvestigasi prilaku manajer melalui sisi lain yaitu keputusan pendanaan. Menurut pecking order theory perusahaan memilih menggunakan metode pendanaan yang mempunyai biaya transaksi yang paling rendah. Kebutuhan pendanaan untuk investasi jangka panjang akan dimulai dengan sumber dana internal perusahaan berupa laba ditahan yang sudah siap pakai dan memiliki biaya transaksi yang paling rendah. Bila sumber ini tidak mencukupi, maka pilihan kedua adalah sumber dana eksternal yang akan dimulai dengan dana pinjaman. Dan apabila sumber dana pinjaman belum juga mencukupi, maka penerbitan saham baru merupakan alternatif terakhir. Menurut Myers (1984); dan Myers&Majluf (1984), dengan asumsi bahwa profitabilitas relatif konstan, teori pecking order memperkirakan bahwa good investment memiliki efek positif terhadap keputusan pendanaan. Hasil penelitian yang konsisten dengan pecking order theory dilakukan oleh Titman&Wessel (1985), Baskin (1989), Theis&Klock (1992) yang memperlihatkan bahwa rasio hutang berhubungan terbalik dengan kemampulabaan perusahaan. Temuan ini menjelaskan bahwa perusahaan yang memiliki kemampulabaan yang tinggi, lebih banyak menggunakan dana internal atau memiliki hutang yang rendah. Green et al (1993) melakukan penelitian secara empiris untuk membuktikan hubungan antara kebijakan dividen, keputusan investasi dan pendanaan di Irlandia. Hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa kebijakan dividen bukan merupakan kebijakan yang memanfaatkan sisa dana setelah keputusan investasi dan pendanaan dilakukan oleh perusahaan. Namun kebijakan dividen merupakan suatu kebijakan yang dilakukan secara bersama-sama dengan kebijakan investasi dan pendanaan. Sehingga ketiga keputusan keuangan tersebut merupakan suatu hubungan yang simultan. Jensen et al (1992), menjelaskan bahwa perusahaan akan menetapkan tingkat dividen yang membuat manajer dapat membiayai investasi perusahaan dengan dana internal. Bila kebijakan dividen sesuai dengan perkiraan manajemen dari kesempatan investasi di masa yang akan datang, maka perusahaan dapat mempertahankan dividen yang stabil dan memperoleh pendanaan ekuitas yang dibutuhkan melalui sumber internal.

Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

Berbeda dengan balance theory, teori yang mengatakan bahwa pendanaan dilakukan berdasarkan struktur modal optimal, yaitu struktur modal dengan menyeimbangkan keuntungan dari penghematan pajak atas penggunaan hutang terhadap biaya kebangkrutan. Balance theory memprediksi suatu hubungan variabilitas pendapatan dengan penggunaan hutang. Teori tersebut menyatakan, pada perusahaan dengan risiko bisnis rendah menggunakan hutang lebih banyak, dan menggunakan sedikit hutang pada risiko bisnis yang tinggi. Jadi pada kondisi yang rendah ketidakpastiannya, dampak keputusan pendanaan pada pertumbuhan akan positif, dan pada kondisi yang tidak pasti dampak keputusan pendanaan pada pertumbuhan negatif. Balancing model of agency cost, menjelaskan tentang pengaruh leverage terhadap kebijakan dividen. Model ini menjelaskan adanya trade off antara agency cost of equity dan agency cost of debt (Megginson, 1997). Kebijakan leverage mempengaruhi kebijakan dividen dengan hubungan negatif. Perusahaan dengan tingkat leverage tinggi (agency cost of debt tinggi) akan mengurangi agency cost of debt dengan mengurangi hutang sehingga untuk membiayai investasinya menggunakan dana internal. Pemegang saham akan merelakan aliran kas internal yang sebelumnya digunakan untuk membayar dividen dialihkan untuk membiayai investasi sehingga agency cost of equity akan meningkat sejalan dengan menurunnya agency cost of debt. Fama (1978), menyatakan bahwa keputusan investasi merupakan keputusan yang berdiri sendiri. Namun Baskin (1989), dan Mbodja&Mukherjee (1994), menemukan adanya ketergantungan antara keputusan investasi dengan keputusan pendanaan dan atau kebijakan dividen. Hal tersebut konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Indari (1996) di Indonesia yang menemukan bahwa keputusan investasi tidak berdiri sendiri, akan tetapi ada keterkaitan antara satu keputusan dan keputusan yang lainnya. Temuan ini menjelaskan keputusan investasi merupakan keputusan dominan yang akan mempengaruhi keputusan yang lainnya seperti pendanaan, dan dividen. Ketiga keputusan keuangan yang dilakukan perusahaan menggambarkan beragamnya ukuran keputusan keuangan (investasi, pendanaan, dan dividen) memungkinkan beberapa peneliti menggunakan beragam rasio sebagai proksi keputusan keuangan. Pendekatan yang digunakan beberapa peneliti sebagain besar menggunakan ukuran rasio dalam bentuk ukuran rasio tunggal (single ratio), akan tetapi sebagian peneliti lain menggunakan pengukuran komposit (composite measures), dengan menggabungkan beberapa rasio menjadi satu indeks.

Pajak sebagai sumber utama penerimaan negera sangat perlu ditingkatkan sehingga pembangunan nasional dapat dilaksanakan dengan kemampuan sendiri
Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

berdasarkan prinsip kemandirian. Peningkatan kesadaran masyarakat dibidang perpajakan harus ditunjang dengan iklim yang mendukung peningkatan peran aktif masyarakat serta pemahaman akan hak dan kewajiban dalam melaksanakan peraturan Perundang-Undangan Perpajakan. Peran serta masyarakat Wajib Pajak dalam memenuhi kewajiban kewajiban pembayaran pajak berdasarkan ketentuan perpajakan sangat diharapkan. Namun, tunggakan pajak sebagai akibat tidak dilunasinya utang pajak sebagaimana mestinya.

2.1.1.1 Pengertian Pajak Pajak merupakan penerimaan negara yang paling utama dan paling besar hal untuk itu pajak merupakan hal yang paling penting dalam meningkatkan pembangunan nasional. Dibawah ini merupakan definisi pajak sebagai berikut: Menurut Waluyo dan Wirawan B. Ilyas dalam buku Perpajakan Indonesia Pengertian pajak adalah sebagai berikut ini : Pajak adalah iuran kepada Negara (yang dapat dipaksakan) yang terutang oleh wajib membayarnya menurut peraturan-peraturan, dengan tidak mendapat prestasi-kembali, yang langsung ditunjuk, dan yang gunanya adalah untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran umum berhubungan dengan tugas Negara untuk menyelengarakan pemerintahan. (2003:4) Sedangkan menurut Rochmat Soemitro dalam buku Dasar-dasar Hukum Pajak dan Pajak Pendapatan Pengetian Pajak adalah sebagai berikut : Pajak adalah iuran rakyat kepada kas Negara berdasarkan undangundang (yang dapat dipaksakan) dengan tidak mendapat jasa imbal (kontraprestasi) yang langsung dapat ditunjukkan dan yang digunakan untuk membayar pengeluaran umum. (2003:5) Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri yang melekat pada pengertian pajak :
Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

1.

Pajak dipungut berdasrkan Undang-Undang serta aturan pelaksanaanya yang bersifatnya dapat dipaksakan

2.

Dalam pembayaran pajak tidak dapat ditunjukkan adanya kontraprestasi individual oleh pemerintah

3.

Pajak dipungut oleh Negara baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah

4.

Pajak diperuntukkan bagi pengeluaran-pengeluaran pemerintah, yang bila dari pemasukkannya masih terdapat surplus, dipergunakan untuk

membiayai public invesment. 5. Pajak dapat pula mempunyai tujuan lain selain budgeter, yaitu mengatur.

Selanjutnya hasil pemungutan pajak ini pada waktunya akan dipergunakan untuk membiayai pengeluaran-pengerluaran rutin dan sisanya (surplus) dapat dipergunakan untuk membiayai investasi-investasi pemerintah. Pendapatan pemerintah selain dari pajak adalah kekayaan alam, hasil perusahaan-perusahaan negara (BUMN), retribusi, denda, dan sebagainya.

2.1.1.2 Fungsi Pajak Fungsi pajak tidak terlepas dari tujuan pajak, sementara tujuan pajak tidak terlepas dari tujuan negara. Dengan demikian, tujuan pajak itu harus diselaraskan dengan tujuan negara yang menjadi landasan tujuan pemerintah. Tujuan pemerintah baik tujuan pajak maupun tujuan negara semua berakar pada tujuan masyarakat. Tujuan masyarakat inilah yang menjadi falsafah bangsa dan negara. Oleh karena itu tujuan dan fungsi pajak tidak terlepas dari tujuandan fungsi negara yang mendasarinya.

Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

Berdasarkan pengertian-pengertian dan ciri-ciri yang dijelaskan, terlihat pemerintah yang memungut pajak semata-mata hanya untuk mengisi kas negara. Namun tidak demikian, karena pemungutan pajak mempunyai fungsi sebagai berikut: Terdapat dua fungsi pajak, yaitu fungsi budgetair (sumber keuangan negara) dan fungsi regulerend (mengatur). 1. Fungsi budgetair (sumber keuangan negara) Fungsi budgetair yang dikemukakan oleh Siti Resmi, dalam buku Perpajakan Teori dan Kasus adalah sebagai berikut : Pajak mepunyai fungsi budgetair artinya pajak merupakan salah satu penerimaan untuk membiayai pengeluaran baik rutin maupun pembangunan, sebagai sumber keuangan negara, pemerintah berupaya memasukkan uang sebanyak-banyaknya untuk kas negara. (2003:2) Sedangkan fungsi budgetair yang dikemukakan oleh Mardiasmo, dalam buku Perpajakan adalah sebagai berikut : Pajak sebagai sumber dana bagi pemerinta untuk membiayai

pengeluaran-pengeluarannya. (2001:2) Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa pajak sebagai salah satu sumber penerimaan negara dengan mengukur sampai sejauh mana kepatuhan masyarakat dalam membayar pajak yang hasilnya digunakan untuk membiayai pengeluaran negara. 2. Fungsi regulerend (mengatur) Fungsi regulerend yang dikemukakan oleh Siti Resmi, dalam buku Perpajakan Teori dan Kasus adalah sebagai berikut :

Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

Fungsi regulerend yaitu fungsi yang digunakan sebagai alat untuk mengatur masyarakat, baik dibidang ekonomi, sosial maupun polotik dengan tujuan tertentu. (2003:3) Sedangkan fungsi regulerend yang dikemukakan oleh Mardiasmo, dalam buku Perpajakan adalah sebagai berikut : Pajak sebagai alat untuk mengatur atau melaksanakan kebijaksanaan pemerintah dalam bidang sosial dan ekonomi. Contoh : 1. Pajak yang tinggi dikenakan terhadap minuman keras untuk mengurangi konsumsi minuman keras. 2. Pajak yang tinggi dikenakan terhadap barang-barang mewah untuk mengurangi gaya hidup konsumtif. 3. Tarif pajak untuk ekspor sebesar 0%, untuk mendorong ekspor produk Indonesia dipasaran dunia. (2001:2) Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa pajak digunakan sebagai alat untuk mengatur dan mengarahkan masyarakat ke arah yang dikehendaki oleh pemerintah. Oleh karena itu fungsi mengatur sangat erat hubungannya dengan pemerintah untuk mengatur penerimaan pajaknya agar dapat digunakan secara efisien untuk menciptakan kesejahteraan masyarakat.

2.1.1.3 Subjek dan Objek Pajak 1. Subjek Pajak Subjek pajak diartikan sebagai orang yang dituju oleh Undang-undang untuk dikenakan pajak. Menurut Waluyo yang ditulis dalam buku Perpajakan Indonesia pengertian subjek pajak sebagai berikut: Subjek pemungutan pajak, yaitu: a. Orang Pribadi Orang Pribadi sebagai subjek pajak dapat bertempat tinggal atau berada di Indonesia maupun diluar Indonesia. b. Warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan
Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

Menggantikan yang berhak warisan yang belum terbagi dimaksud merupakan subjek pajak pengganti menggantikan mereka yang berhak yaitu sebagai ahli waris. c. Badan Badan adalah sekumpulan orang atau modal yang merupakan kesatuan baik yang melakukan usaha maupun tidak melakukan usaha yang meliputi PT,CV, Perseroan lainnya, serta BUMS dan bentuk usaha apapun. d. Bentuk Usaha Tetap Bentuk usaha tetap adalah bentuk usaha yang dipergunakan orang pribadi yang bertempat tinggal di Indonesia atau berada diluar Indonesia tidak lebih 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan, atau badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat dari kedudukan di Indonesia untuk menjalankan usaha atau melakukan kegiatan di Indonesia. (2007:57) Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa subjek pajak merupakan sebuah satuan dari masyarakat yang terdiri dari orang pribadi, warisan yang belum terbagi, badan, serta bentuk usaha tetap yang ada. 2. Objek Pajak Objek pajak dapat diartikan sebagai sasaran pengenaan pajak dan dasar untuk menghitung pajak terutang. Menurut Waluyo yang ditulis dalam buku Perpajakan Indonesia yang merupakan objek pajak adalah sebagai berikut ini: Objek pemungutan pajak, yaitu: 1. Penghasilan; 2. Laba usaha; 3. Hadiah dari undian atau pekerjaan; 4. Keuntungan karena penjualan atau karena pengalihan harta; dan 5. Deviden. (2007:66) Berdasarkan teori diatas disebutkan bahwa objek pajak merupakan sasaran pengenaan pajak dan dasar untuk menghitung pajak terutang, yang berupa penghasilan, laba usaha, hadiah dari undian, keuntungan karena penjualan, serta deviden.

2.1.1.4 Syarat Pemungutan Pajak

Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

Pemungutan pajak yang dilakukan oleh pemerintah tidak semata-mata untuk keperluan pemerintah disatu pihak, tetapi demi kepentingan rakyat banyak karena pajak merupakan pungutan yang dilakukan oleh pemerintah tanpa adanya kontra prestasi langsung kepada masyarakat secara individual dan tidak memandang jumlah yang diberikan masyarakat kepada pemerintah. Pungutan pajak yang dilakukan pemerintah, dilaksanakan sedemikian rupa agar tidak merugikan masyarakat. Oleh karena itu diperlukan syarat-syarat yang khusus untuk melakukannya agar seimbang antara masyarakat dan pemerintah sehingga tidak ada pihak yang dirugikan. Adapun syarat-syarat pemungutan pajak seperti yang ditulis oleh Mardiasmo dalam buku Perpajakan adalah sebagai berikut : Asas pemungutan pajak tidak menimbulkan hambatan atau perlawanan, maka pemungut pajak harus memenuhi syarat sebagai berikut : 1. Pemungut pajak harus adil (syarat keadilan) Sesuai dengan tujuan hukum, yajni mencapai keadilan, undang-undang dan pelaksanaan pemungutan harus adil. Adil dalam perundangundangan diantaranya mengenakan pajak secara unun dan merata, serta disesuaikan dengan kemampuan masing-masing. sedang adil dalam pelaksanaannya yakni dengan memberikan hak bagi wajib pajak untuk mengajukan keberatan, penundaan dalam pembayaran dan mengajukan banding kepada Majelis Pertimbangan Pajak. 2. Pemungutan pajak harus berdasarkan undang-undang (Syarat Yuridis) Di Indonesia pajak diatur dalam UUD 1945 pasal 23. Hal ini memberikan jaminan hukum untuk menyatakan keadilan, baik bagi negara maupun warganya. 3. Tidak mengganggu perekonomian (Syarat Ekonomis) Pemungutan tidak boleh mengganggu kelancaran kegiatan produksi maupun perdagangan, sehingga tidak menimbulkan kelesuan perekonomian masyarakat. 4. Pemungutan pajak harus efisien (Syarat Finansiil) Sesuai fungsi budgetair, biaya pemungutan pajak harus dapat ditekan sehingga lebih rendah dari hasil pemungutannya. 5. Sistem pemungutan pajak harus sederhana Sistem pemungutan sederhana harus memudahkan dan mendorong masyarakat dalam memenuhi kewajiban perpajakannya. Syarat ini telah dipenuhi oleh undang-undang perpajakan yang baru. (2001:2)

Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

Sedangkan syarat-syarat pemungutan pajak yang dikemukakan oleh Erly Suandy, dalam buku Hukum Pajak adalah sebagai berikut : Syarat-syarat pemungutan pajak : 1. Equality Pembebanan pajak diantara subjek pajak hendaknya seimbang dengan kemampuannya, yaitu seimbang dengan penghasilan yang dinikmatinya dibawah perlindungan pemerintah. Dalam hal equality ini tidak diperbolehkan suatu negara mengadakan diskriminasi diantara sesama Wajib Pajak. Dalam keadaan yang sama Wajib Pajak harus diperlakukan sama dan dalam keadaan berbeda Wajib Pajak harus dilakukan berbeda. 2. Certainty Pajak yang harus dibayar oleh Wajib Pajak harus jelas dan tidak mengenal kompromi (not arbitrary). Dalam syarat ini kepastian hukum yang diutamakan adalah mengenai subjek pajak, objek pajak, tarif pajak, dan ketentuan mengenai pembayarannya. 3. Convenience Of Payment Pajak hendaknya dipungut pada saat yang paling baik bagi Wajib Pajak, yaitu saat sedekat-dekatnya dengan saat diterimanya penghasilan/keuntungan yang dikenakan pajak. 4. Economic Of Collections Pemungutan pajak hendaknya dilakukan sehemat mungkin, jangan sampai biaya pemungutan pajak lebih besar dari penerimaan pajak itu sendiri. Karena tidak ada artinya pemungutan pajak kalau biaya yang dikeluarkan lebih besar dari penerimaan pajak yang akan diperoleh. (2000:19) Berdasarkan kedua pendapat tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa dalam pemungutan pajak haruslah memenuhi syarat yang telah ditetapkan agar dapat tercapai suatu hal yang berkesinambungan antara Wajib Pajak dan penagih pajak serta untuk menghindari hambatan dan perlawanan dari Wajib Pajak, karena Wajib Pajak merasa dirugikan oleh fiskus.

2.1.1.5 Pengelompokan Pajak

Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

Bedasarkan pengertian-pengertian diatas, pajak yang dipungut oleh negara Indonesia beraneka ragam. Menurut kemampuan daya beli masyarakat masyarakat saja sudah berbeda, karena daya beli masyarakat Indonesia berbeda-beda atau bervariasi. Ada yang penghasilannya tinggi sehingga daya beli masyarakat pun tinggi, ada yang daya belinya rendah karena penghasilannya rendah dan ada pula yang penghasilannya menengah sehingga daya belinya tercukupi. Hal-hal tersebut dilakukan untuk memudahkan pemahaman masyarakat tentang jenis pajak. Misalnya jenis pajak apa yang harus masyarakat bayar dan berapa jumlahnya. Oleh karena itu, untuk mempermudah pemahaman tentang pembagian jenis pajak, pajak harus dikelompokkan. Pajak dapat dikelompokan menjadi beberapa jenis dilihat dari berbagai segi, misalnya dilihat dari segi golongan, pembagian berdasarkan wewenang yang memungut dan pembagian pajak menurut sifatnya. 1. Berdasarkan Golongannya Pengelompokan pajak menurut golongannya seperti yang ditulis oleh Mardiasmo dalam buku Perpajakan adalah sebagai berikut : Menurut golongannya : a. Pajak langsung, yaitu pajak yang harus dipikul sendiri oleh Wajib Pajak dan tidak dapat dibebankan atau dilimpahkan kepada orang lain. b. Pajak tidak langsung, yaitu pajak yang pada akhirnya dapat dibebankan atau dilimpahkan kepada orang lain. (2002:5) Sedangkan pengelompokan pajak menurut golongannya seperti yang ditulis oleh Siti Resmi dalam buku Perpajakan Teori dan Kasus adalah sebagai berikut: Menurut golongannya : a. Pajak langsung adalah pajak yang bebannya harus ditanggung sendiri oleh Wajib Pajak yang bersangkutan dan tidak dapat dialihkan kepada pihak lain.

Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

b. Pajak tidak langsung adalah pajak yang bebannya dapat dialihkan atau digeserkan kepada pihak lain sehingga sering disebut juga sebagai pajak tidak langsung. (2000:28) Dari dua pengertian diatastersebut, penulis dapat menyimpulkan bahwa pembagian pajak menurut golongannya dapat dikelompokan menjadi dua, yaitu pajak langsung dan pajak tidak langsung. Pajak langsung merupakan pajak yang secara ekonomis tidak dapat dilimpahkan kepada orang lain dengan kata lain harus dipikul sendiri oleh Wajib Pajak yang bersangkutan. Sedangkan pengertian pajak tidak langsung merupakan pajak yang secara ekonomis dapat dilimpahkan atau dibebankan kepada orang lain. 2. Berdasarkan sifatnya Pengelompokan pajak menurut sifatnya seperti yang ditulis oleh Mardiasmo dalam buku Perpajakan adalah sebagai berikut : Menurut sifatnya : a. Pajak Subjektif, yaitu pajak yang berpangkal atau berdasarkan pada subjeknya, dalam arti memperhatikan keadaan diri Wajib Pajak. b. Pajak Objektif, yaitu pajak yang berpangkal pada objeknya, tanpa memperhatikan keadaan diri Wajib Pajak. (2002:6) Sedangkan pengelompokan pajak menurut sifatnya seperti yang ditulis oleh Siti Resmi dalam buku Perpajakan Teori dan Kasus adalah sebagai berikut: Menurut sifatnya : a. Pajak subjektif adalah pajak yang memperlihatkan kondisi atau keadaan Wajib Pajak dalam menentukan pajaknya harus ada alasan-alasan yang subjektif yang berhubungan erat dengan keadaan materialnya yaitu gaya pikul. b. Pajak objektif adalah pajak yang pada awalnya memperlihatkan objek yang menyebabkan timbulnya kewajiban membayar, kemudian baru dicari subjeknya baik orang pribadi maupun badan. (2000:28) Dari kedua pengertian tersebut, penulis menyimpulkan bahwa

pengelompokan pajak menurut sifatnya dapat digolongkan menjadi pajak subjektif


Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

dan pajak objektif. Pajak subjektif yaitu tarif pajak ditentukan berdasarkan nilai dari objek pajak tersebut. Contih : Bea Materai untuk surat berharga yang mempunyai harga nominal Rp. 900.000,- tidak akan sama dengan surat berharga yang mempunyai harga nominal Rp.2.000.000,3. Berdasarkan lembaga pemungut Pengelompokan pajak menurut pemungutannya seperti yang ditulis oleh Mardiasmo dalam buku Perpajakan adalah sebagai berikut : Menurut lembaga pemungutannya : a. Pajak Pusat, yaitu pajak yang dipungut oleh pemerintah pusat dan digunakan untuk membiayai rumah tangga negara. b. Pajak Daerah, yaitu pajak yang dipungut oleh Pemerintah Daerah dan digunakan untuk membiayai rumah tangga daerah. Pajak Daerah terdiri atas : Pajak Provinsi Pajak Kabupaten/Kota. (2002:6) Sedangkan pengelompokan pajak menurut lembaga pemungutannya seperti yang ditulis oleh Siti Resmi dalam buku Perpajakan Teori dan Kasus adalah sebagai berikut: Menurut lembaga pemungutannya : a. Pajak pusat atau pajak negara adalah pajak yang wewenang pemungutannya dilakukan oleh Departemen Keuangan melalui Direktorat Jenderal Pajak. b. Pajak daerah adalah pajak yang wewenang pemungutannya ada pada pemerintah daerah yang pelaksanaannya dilakukan oleh Dinas Pendapatan Daerah. (2000:28) Dengan adanya pengelompokan pajak, para Wajib Pajak dengan mudah dapat mengidentifikasi jenis pajak apa yang harus mereka bayar, dan akan mempermudah proses penagihan pajak oleh Fiskus.

2.1.1.6 Tarif Pajak

Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

Pungutan pajak yang dilakukan pemerintah, dilaksanakan sedemikian rupa agar tidak merugikan masyarakat. Oleh karena itu diperlukan Tarif pajak agar pemungutan pajak seimbang antara masyarakat dan pemerintah sehingga tidak ada pihak yang dirugikan dan tidak terjadi kesalahan. Tarif pajak yang dikemukakan oleh Waluyo dan Wirawan B. Ilyas, dalam buku Perpajakan Indonesia adalah sebagai berikut : Ada empat macam tarif pajak : 1. Tafif sebanding/proporsional Tarif berupa persentase yang tetap, terhadap berapapun jumlah yang dikenai pajak sehingga besarnya pajak yang terutang proporsional terhadap besarnya nilai yang dikenai pajak. 2. Tarif tetap Tarif berupa jumlah yang tetap (sama) terhadap berapapun jumlah yang dikenai pajak sehingga besarnya pajak yang terutang tetap. 3. Tarif progresif Persentase tarif yang digunakan semakin besar bila jumlah yang dikenai pajak semakin besar. Lapisan Penagihan Kena Pajak dalam pasal 17 UU PPh tahun 2000 : 4. Tarif Degresif Persentase tarif yang digunakan semakin kecil bila jumlah yang dikenai pajak semakin besar. (2003:16) Sedangkan tarif pajak yang dikemukakan oleh Ely Suhayati dan Siti Kurnia, dalam buku Pengantar Perpajakan adalah sebagai berikut : Dalam berbagai literatur perpajakan dikenal empat macam tarif, yaitu: 1. Tarif Tetap Tarif tetap adalah tarif yang jumlah pajaknya dalam satuan rupiah (Indonesia), bersifat tetap walaupun objek pajaknya jumlahnya berbeda-beda. 2. Tarif Proporsional Tarif proporsional adalah tarif yang prosentasenya tetap walaupun jumlah objek pajaknya berubah-ubah. Jika jumlah yang dijadikan dasar perhitungan berubah maka jumlah uang yang harus dibayar juga semakin besar jumlah yang dijadikan dasar, semakin besar pula jumlah utang pajak, tetapi kenaikan ini diperoleh dengan persentase yang sama. 3. Tarif Progresif Tarif progresif adalah tarif yang makin tinggi objek pajaknya, makin tinggi pula prosentase tarif pajaknya. Tarif ini digunakan terutama ditujukan kepada pajak-pajak subyektif.
Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

4. Tarif Dregresif Tarif dregresif adalah tarif yang persentasenya makin menurun apabila jumlah yang dijadikan dasar perhitungan naik. Apabila objek pajaknya makin tinggi, maka makin rendah tarifnya. (2006:34) Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa dengan adanya tarif pajak, para Wajib Pajak dengan mudah dapat menghitung seberapa besar pajak yang harus Wajib Pajak bayar dan akan mempermudah proses penagihan pajak oleh Fiskus.

2.1.1.7 Sistem Pemungutan Pajak Sistem pemungutan pajak yang dikemukakan oleh Siti Resmi, dalam buku Perpajakan Teori dan Kasus adalah sebagai berikut : Dalam memungut pajak dikenal beberapa sistem pemungutan, yaitu official assesment system, self assesment system, with holding system, yaitu: 1. Official Assesment Sysem adalah suatu sistem pemungutan pajak yang memberi kewenangan aparatur perpajakan untuk menentukan sendiri jumlah pajak yang terutang setiap tahunnya sesuai dengan ketentuan undang-undang perpajakan yang berlaku. 2. Self Assesment System adalah suatu sistem pemungutan pajak yang memberi kewenangan Wajib Pajak untuk menentukan sendiri jumlah pajak yang terutang setiap tahunnya sesuai dengan ketentuan undangundang perpajakan yang berlaku. Dalam sistem ini Wajib Pajak diberi kepercayaan untuk : a. Menghitung sendiri pajak yang terutang; b. Memperhitungkan sendiri pajak yang terutang; c. Membayar sendiri jumlah pajak yang terutang; d. Melaporkan sendiri jumlah pajak yang terutang; dan e. Mempertanggungjawabkan pajak yang terutang. 3. With Holding System adalah suatu sistem pemungutan pajak yang memberi wewenang kepada pihak ketiga yang ditunjuk untuk menentukan besarnya pajak yang terutang oleh Wajib Pajak sesuai dengan ketentuan undang-undang perpajakkan yang berlaku. (2003:10) Berdasarkan teori diatas dapat ditentukan bahwa sistem pemungutan pajak yang digunakan oleh negara Indonesia adalah sistem pemungutan pajak self assesment system

Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

dimana Wajib Pajak diberikan kewajiban sendiri untuk menghitung, membayar dan melaporkan sendiri pajak terutangnya kepada Kantor Pelayanan Pajak.

2.1.2

Modernisasi Administrasi Perpajakan

2.1.2.1 Sejarah Modernsisasi Administrasi Perpajakan Sesuai dengan perkembangan kondisi lingkungan dan dunia usaha yang selalu berubah, Direktorat Jenderal Pajak merasa perlu untuk menyesuaikan dan

menyempurnakan struktur organisasinya. Selama ini struktur organisasi Direktorat Jenderal Pajak didasarkan pada jenis pajak. Dengan struktur organisasi seperti ini pelaksanaan tugas di lapangan seringkali menimbulkan ketidakefisienan yang mengakibatkan pelayanan dan pengawasan tidak optimal. Selama beberapa tahun terakhir, Direktorat Jenderal Pajak telah melakukan beberapa reformasi perpajakan dan modernisasi sistem administrasi perpajakan yang mengacu pada cetak biru. Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Besar/Large Taxpayers Office (LTO) dan Kantor Pelayanan Pajak Wajib Besar dibentuk dengan menerapkan sistem administrasi perpajakan modern berlandaskan case management. Pola dan sistem di LTO itu akan direplikasikan pada seluruh kantor di Kanwil Direktorat Jenderal Pajak Jakarta Khusus dan Kanwil Direktorat Jenderal Pajak Jakarta Pusat, 1 KPP Madya pada Kanwil Jakarta Pusat. Dan pada Januari 2005, 1 KPP Pratama juga telah dioperasikan dengan sistem yang modern juga. Disamping pembentukan kantor dan penerapan sistem modern, modernisasi lebih lanjut ditandai dengan penerapan teknologi informasi terkini dalam pelayanan
Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

perpajakan seperti, on line payment, e-SPT, e-filling, e-registration dan sistem informasi Direktorat Jenderal Pajak. Seiring dengan itu, Direktorat Jenderal Pajak juga melakukan kampanye sadar dan peduli pajak, pengembangan bank data dan Single Identification Number serta langkah-langkah lainnya yang sedang dan terus dikembangkan. Program modernsasi sistem administrasi ini dilakukan untuk mencapai empat sasaran utama. Pertama, optimalisasi penerimaan yang berkeadilan yaitu perluasan tax base, minimalisasi tax grup dan stimulus fiskal. Kedua, peningkatkan kepatuhan sukarela yaitu melalui pemberian pelayanan prima dan penegakkan hukum yang konsisten. Ketiga, efisiensi administrasi, yaitu penerapan sistem dan administrasi yang handal dan pemanfaatan teknologi tepat guna. Terakhir, terbentuknya citra yang baik dan kepercayaan masyarakat yang tinggi yaitu kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang profesional, budaya organisasi yang kondusif dan pelaksanaan good governance. Direktorat Jenderal Pajak sebagai organisasi yang terkait dengan seluruh sektor kehidupan masyarakat, menyadari sepenuhnya tanpa improvisasi di bidang teknologi informasi, dinamika bisnis tidak akan mampu diantisipasi. Lebih jelasnya, pemanfaatan teknologi informasi secara tepat mampu mendukung program transparansi dan keterbukaan, dimana kemungkinan terjadinya KKN, termasuk didalamnya

penyalahgunaan kekuasaan dapat diminimalisasi.

2.1.2.2 Pengertian Modernisasi Administrasi Perpajakan Administrasi perpajakan berperan penting dalam sistem perpajakan disuatu negara. Suatu negara dapat dengan sukses mencapai sasaran yang diharapkan dalam menghasilkan penerimaan pajak yang optimal karena administrasi perpajakannya mampu dengan efektif melaksanakan sistem perpajakan disuatu negara yang dipilih.

Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

Pengertian modernisasi administrasi perpajakan menurut Djazoeli Sadhani dalam buku Menuju Good Governance Melalui Modernisasi Pajak adalah sebagai berikut: Modernisasi administrasi perpajakan adalah suatu proses reformasi pembaharuan dalam bidang administrasi pajak yang dilakukan secara komprehensif, meliputi aspek teknologi informasi yaitu perangkat lunak, perangkat keras, dan sumber daya manusia dengan tujuan mencapai tingkat kepatuhan perpajakan yang tinggi, kepercayaan terhadap administrasi perpajakan dan tercapainya produktivitas kinerja aparat perpajakan yang tinggi, sehingga diharapkan dapat mengurangi praktek Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN). (2005:60) Sedangkan pengertian modernisasi menurut Indra Ismawan dalam buku Reformasi Perpajakan adalah sebagai berikut : Modernisasi administrasi perpajakan adalah suatu proses reformasi pembaharuan dalam bidang administrasi perpajakan yang dilakukan warga komprehensif, meliputi aspek teknologi informasi yaitu perangkat lunak, perangkat keras dan sumber daya manusia. (2001:81) Aspek-aspek tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. Aspek Teknologi Infomasi Aspek teknologi informasi yaitu proses pembaharuan dibidang teknologi informasi yang berkaitan dengan sistem pelayanan administrasi perpajakan misalnya dengan adanya e-system, e-registration, e-SPT, serta e-Filling. a. e-System Perpajakan Guna mendukung berjalannya modernisasi perpajakan dan dalam rangka peningkatan pelayanan kepada masyarakat maupun Wajib Pajak, terus

dikembangkan pemanfaatan dan penerapan e-system terkait dengan perpajakan. Hal ini dimaksudkan agar semua proses kerja dan pelayanan perpajakan berjalan dengan baik, lancar, cepat, dan akurat. Menurut Liberti Pandiangan dalam buku Modernisasi dan Reformasi Pelayanan Perpajakan terpadat beberapa e-

Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

System yang dapat dimanfaatkan masyarakat atau Wajib Pajak, adalah sebagai berikut: e-Registration, e-SPT, e-Filling, e-Payment. (2007:34) b. e-Registration Masyarakat yang akan mendaftar sebagai Wajib Pajak, jika tidak ada waktu, atau sedang berada di tempat atau daerah lain, atau mungkin malas, tetap dapat melaksanakan pendaftaran tersebut dengan baik tanpa harus datang ke KPP. Cukup berada di rumah atau di kantor atau warung internet, kapan pun, dimana pun, atau oleh siapa pun, yakni fasilitas e-Registration. Menurut Liberti Pandiangan dalam buku Modernisasi dan Reformasi Pelayanan Perpajakan pengetian eregistration adalah sebagai berikut : e-Registration adalah sistem pendaftaran, perubahan data Wajib Pajak dan atau pengukuhan maupun pencabutan pengukuhan Pengusaha Kena Pajak melalui sistem yang terhubung langsung secara online dengan Direktorat Jenderal Pajak. (2007:34) Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa e-registration merupakan sebuah alat pembaharuan modernsisasi guna mendukung terlaksananya modernisasi administrasi perpajakan dalam hal sistem teknologi informasi yang digunakan oleh Direktorat Jenderal Pajak.

c. e-SPT e-SPT merupakan sebuah alat pembaharuan modernisasi yang dapat diakses melalui kompunter atau dalam bentuk digital ke KPP.

Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

Menurut Liberti Pandiangan dalam buku Modernisasi dan Reformasi Pelayanan Perpajakan pengertian e-SPT sebagai berikut : e-SPT adalah penyampaian SPT dalam bentuk digital ke KPP secara elektronik atau dengan menggunakan media computer. (2007:35) Serta yang dapat diaplikasikannya adalah laporan SPT Masa PPh, SPT Tahunan PPh, dan SPT masa PPN. Maka sesuai dengan jenis SPT-nya makan ada e-SPT PPh, e-SPT PPN. d. e-Filling Menurut Liberti Pandiangan dalam buku Modernisasi dan Reformasi Pelayanan dan Perpajakan pengertian e-Filiing adalah sebagai berikut : e-Filling adalah suatu cara penyampaian SPT yang dilakukan melalui sistem online dan real time. (2007:38) Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa e-Filling merupakan bentuk modernisasi administrasi perpajakan yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pajak yang berfungsi untuk penyampaian SPT yang dapat dilakukan secara online dan real time.

2.

Aspek Sumber Daya Manusia Aspek Sumber daya manusia yaitu proses pembaharuan yang dilakukan oleh pihak Direktorat Jenderal Pajak mencakup keahlian fiskus dalam menghitung pajak Wajib Pajak serta pemahaman tentang pajak yang lebih baik daripada yang dahulu serta melakukan seleksi pegawai yang ketat guna mendapatkan sumber daya manusia

Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

yang berkualitas, dan penempatan aparat perpajakan sesuai kapasitasnya, dan adanya pelatihan dan pengembangan kepribadian serta perubahan pada Struktur Organisasi pada setiap Kantor Pelayanan Pajak. 3. Aspek Perangkat Keras dan Perangkat Lunak Aspek perangkat keras merupakan suatu proses pembaharuan yang meliputi dalam hal penyediaan sarana dan prasana yang memadai, sedangkan perankat lunak merupakan proses pembaharuan meliputi struktur organisasi, kelembagaan, serta penyempurnaan dan penyederhanaan sistem operasi agar lebih efektif dan efisien. Menurut Carlos A.Silvani seperti yang dikutip oleh Ely Suhayati dan Siti Kurnia Rahayu dalam Modul Pengantar Perpajakan menyebutkan bahwa administrasi perpajakan dikatakan efektif bila mampu mengatasi masalah-masalah seperti: 1. Wajib Pajak yang tidak terdaftar (unregistered taxpayers) Dengan administrasi pajak yang efektif akan mampu mendeteksi akan menindak dengan menerapkan sanksi tegas bagi masyarakat yang telah memenuhi ketentuan menjadi Wajib Pajak tapi belum terdaftar. Penambahan jumlah Wajib Pajak secara signifikan akan meningkatkan jumlah penerimaan pajak. 2. Wajib Pajak yang tidak menyampaikan Surat Pemberithauan (SPT) Administrasi perpajakan efektif akan dapat mengetahui penyebab Wajib Pajak tidak menyampaikan SPT melalui pemeriksaan pajak. 3. Penyelundup pajak (tax evaders) Penyelundup pajak yaitu Wajib Pajak yang melaporkan pajak lebih kecil dari uamg seharusnya menurut ketentuan perundang-undangan akan lebih terdeteksi dengan dukungan adanya bank data tentang Wajib Pajak dan seluruh aktivitas usahanya sangat diperlukan. 4. Penunggak pajak (delinquent payers) Upaya pencairan tunggakan pajak dilakukan melalui pelaksaan tindakan penagihan secra intensif dalam set administrasi pajak yang belih baik akan lebih efektif melaksanakan upaya tersebut. (2006:23) Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa modernisasi perangkat lunak disini berarti suatu perbaikan dalam hal struktur organisasi, kelembagaan, serta

penyempurnaan dan penyederhanaan sistem operasi agar lebih efektif dan efisien.
Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

Untuk modernisasi perangkat keras yaitu dalam hal penyediaan sarana dan prasana yang memadai sedangkan untuk modernisasi sumber daya manusia yaitu dalam hal penyiapan sumber daya manusia yang berkualitas dan profesional yang dilakukan dengan cara seleksi pegawai yang ketat, penempatan aparat perpajakan sesuai kapasitasnya, dan adanya pelatihan dan program pengembangan self capaity.

2.1.2.3 Konsep dan Tujuan Modernisasi Sistem Administrasi Perpajakan Untuk mendukung modernsisasi administrasi perpajakan tidak akan terlepas dari tujuan dan konsep modernisasi administrasi perpajakan itu sendiri itu sendiri. Konsep dan Tujuan modernisasi menurut Liberti Pandiangan dalam buku Modernisasi dan Reformasi Pelayanan Perpajakan adalah sebagai berikut: 1. Konsep Modernisasi Administrasi Perpajakan Konsep Modernisasi administrasi perpajakan yang dilakukan pada dasarnya meliputi: a. Restrukturisasi organisasi, konsepnya yaitu : 1. debirokratisasi; 2. struktur organisasi berbasis fungsi terkait dengan perpajakan; 3. dilakukan pemisahan antara fungsi pemeriksaan dengan fungsi keberatan; 4. lebih efisien dan customer orientid. b. Penyempurnaan proses bisnis melalui pemanfaatan dengan fungsi keberatan, konsepnya yaitu: 1. berbasis teknologi informasi dan informasi; 2. efisien dan customer orientid; 3. sederhana dan mudah dimengerti; serta 4. adanya built-in control. c. Penyempurnaan manajemen sumber daya manusia, konsepnya yaitu: 1. berbasis kompetensi; 2. optimalisasi teknologi komunikasi dan informasi; 3. customer drive;, serta 4. continous improvement. 2. Tujuan Modernisasi Administrasi Perpajakan Tujuan modernisasi administrasi perpajakan yaitu untuk menjawab latar belakang dilakukannya modernisasi perpajakan, yaitu: a. tercapainya tingkat kepatuhan wajib pajak (tax compliance) yang tinggi;
Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

b. tercapainya tingkat kepercayaan (trust) terhadap adminisrtasi perpajakan yang tinggi; dan c. tercapainya tingkat produktivitas pegawai pajak yang tinggi. (2008:7) Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa konsep dan tujuan modernisasi adminitrasi perpajakan merupakan perbaikan untuk memperbaiki sistem yang sudah ada dengan tujuan agar tercapainya tingkat kepatuhan Wajib Pajak, tingkat kepercayan Wajib Pajak, serta tercapainya tingkat produktivitas pegawai pajak yang tinggi.

2.1.3

Kinerja Direktorat Jenderal Pajak Kinerja Direktorat Jenderal Pajak pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama

Bandung Karees merupakan sebuah bukti pelayanan prima yang dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Pajak kepada Wajib Pajak guna tercapainya tujuan penerimaan pajak dan meningkatnya kepatuhan Wajib Pajak.

2.1.3.1 Pengertian Kinerja Direktorat Jenderal Pajak Kinerja Ditjen pajak merupakan unsur penting dalam suatu bidang perpajakan dimana sebuah kinerja harus menunjukkan etika yang baik dalam melalukan setiap tindakan yang ada. Wajib Pajak akan patuh membayar pajak jika kinerja Ditjen Pajak/Fiskus sangat baik untuk itu kinerja Ditjen pajak harus transparan atau dapat dilihat langsung oleh Wajib Pajak. Menurut Indra Ismawan dalam buku Reformasi Perpajakan pengertian Kinerja Direktorat Jenderal Pajak adalah sebagai berikut :
Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

Reformasi Perpajakan 2000 seyogyanya tidak hanya diukur dalam level perundangan. Aspek struktruralnya juga harus sempurna harus dilihat yaitu Penyempurnaan kinerja Dirjen Pajak kalau penyempurnaan kinerja pajak banyak mempengaruhi berbagai aspek, maka peran pajak harus dipertimbangankan dan dimasukkan kedalam setiap kebijakan pemerintah. (2001:82)

Sedangkan Menurut Indra Ismawan dalam buku Reformasi Perpajakan pengertian Kinerja Jenderal Pajak adalah sebagai berikut : Kinerja Direktorat Jenderal Pajak adalah pelayanan atau kinerja yang harus meningkatkan efisiensi sekaligus menegakkan profesionalisme serta integritas aparat dalam menegakkan peraturan pajak. (2001:85) Berdasarkan pengertian-pengertian diatas Kinerja Ditjen Pajak merupakan sebuah pelayanan yang diberikan oleh Ditjen Pajak guna meningkatkan pelayanan efisiensi sekaligus menegakkan profesionalisme kerja, dan integritas aparat dalam menegakkan peraturan pajak.

2.1.3.2 Peningkatan Pelayanan Direktorat Jenderal Pajak Pada dasarnya, sarana dan prasarana, pola kerja, dan pada pelayanan di setiap Kantor Pelayanan Pajak adalah sama. Yang membedakannya hanya pada Wajib Pajak yang dikelola. Adapun fasilitas pelayanan perpajakan yang disediakan oleh Ditjen Pajak dan diterapkan pada semua Kantor Pelayanan Pajak yang ada di Indonesia walaupun

Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

belum semua merata yang siap dimanfaatkan oleh masyarakat atau Wajib Pajak seirama dengan modernisasi adalah sebagaimana berikut:

1. Tempat Pelayanan Terpadu (TPT) Menurut Liberti Pandiangan dalam buku Modernisasi dan Reformasi Pelayanan Perpajakan adalah sebagai berikut : Tempat pelayan terpadu adalah tempat pelayanan perpajakan yang terintegrasi di Kantor Pelayanan Pajak dengan menggunakan sistem komputer dan bertujuan untuk memudahkan pengawasan terhadap proses pelayanan yang diberikan kepada Wajib Pajak. (2008:27) Pelayanan di Tempat pelayanan terpadu diberikan sesuai dengan jam kerja di Kantor pelayanan pajak, dan tetap melayani penerimaan surat dan atau laporan pada jam istirahat. Petugas di Tempat pelayanan perpadu ditunjuk oleh Kepala Kantor dengan memerhatikan kecakapan petugas dan beban kerja yang ada. Setiap petugas diberi login dan passwrod tersendiri, dan password hanya digunakan oleh setiap petugas Tempat pelayanan terpadu yang bersangkutan. 2. Account Representative (AR) Salah satu ciri khas dari Kantor pelayanan pajak adalah adanya Account Representative (AR), menurut Liberti Pandiangan dalam buku Modernisasi dan Reformasi Pelayanan Perpajakan adalah sebagai berikut: Account Representative adalah seorang petugas perpajakan yang melaksanakan tugas-tugas pengawasan terhadap pelaksanaan kewajiban Wajib Pajak dan melayani penyelesaian hak Wajib Pajak, dan bertugas

Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

untuk tugas konsultasi, jika Wajib Pajak memerlukan informasi atau hal lainya terkait pelaksanaan hak dan kewajiban perpajakannya. (2008:27) Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan Account Representative merupakan jembatan atau mediator antara Wajib Pajak dengan Kantor Pelayanan Pajak dan bertugas disetiap Seksi Pengawasan dan Konsultasi. Menurut Liberti Pandiangan dalam buku Modernisasi dan Reformasi Pelayanan Perpajakan tugas Account Representative adalah sebagai berikut: 1. Melakukan pengawasan terhadap kepatuhan perpajakan Wajib Pajak melalui pemanfaatan data dan sistem Administrasi perpajakan terpadu (SAPT) atau sistem informasi Ditjen Pajak (SIDJP). 2. Bimbingan atau himbauan dan konsultasi teknik perpajakan kepada Wajib Pajak 3. Analisis kinerja Wajib Pajak, rekonsiliasi data Wajib Pajak dalam rangka intensifikasi 4. Memonitor penyelesaian pemeriksaan pajak dan proses keberatan 5. Melakukan evaluasi hasil banding berdasarkan ketentuan yang berlaku 6. Membantu Wajib Pajak dalam memperoleh penegasan dan konfirmasi masalah perpajakan 7. Melakukan pemutakhiran data Wajib Pajak dan membuat company profile 8. Menginformasi ketentuan perpajakan terbaru kepada Wajib Pajak 9. Menyelesaikan permohonan surat keterangan yang diperlukan oleh Wajib Pajak. (2008:28) 3. Help Desk Kebingunan dan kesulitan yang kadang-kadang dialami oleh masyarakat bila berhubungan dengan suatu kantor pajak termasuk instansi pemerintah, hal itu dikarena informasi yang minim, dan tidak mudah memperoleh informasi yang terkait dengan urusan atau keperluan perpajakan yang disediakan. Untuk mengantisipasi ini Ditjen pajak memberikan suatu kemudahan yaitu dengan membuat help desk yang berlokasi di lobby gedung Kantor pelayanan pajak atau di Tempat pelayanan terpadu. Menurut Liberti Pandiangan dalam buku Modernisasi dan Reformasi Pelayanan Perpajakan pengertian help desk adalah sebagai berikut:

Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

Help Desk adalah sebuah fasilitas pelayanan Ditjen Pajak yang memberikan pengetahuan dan informasi perpajakan yang menyangkut peraturan pajak yang komprehensif dan terkini, dikompilasi sesuai standar Q&A, flowchart, dan penjelasan singkat mengenai perpajakan. (2008:29) Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan help desk merupakan fasilitas informasi pelayanan perpajakan menyangkut peraturan pajak yang komprehensif dan terkini. 4. Complain Center Complain center yang tersedia di Kantor Pusat Ditjen Pajak dan Kantor Wilayah merupakan bentuk keterbukaan Ditjen Pajak untuk perbaikan atas pelaksanaan tugas, terutama pelayanan kepada Wajib Pajak. Menurut Liberti Pandiangan dalam buku Modernsasi dan Reformasi Pelayanan Perpajakan pengertian complain center adalah sebagai berikut: Complain center adalah sebuah fasilitas pelayanan perpajakan yand diberikan oleh Ditjen Pajak yang berfungsi menampung keluhan-keluhan Wajib Pajak yang terdaftar di Kantor pelayanan pajak di wilayah kerjanya. (2008:30) Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan complain center merupakan tempat untuk pengaduan Wajib Pajak yang berisi mengenai keluhan-keluhan Wajib Pajak tentang masalah perpajakan. 5. Call Center Call center merupakan bentuk fasilitas lain yang dapat dimanfaatkan oleh Wajib Pajak, menurut Liberti Pandiangan dalam buku Modernisasi dan Reformasi Pelayanan Perpajakan pengertian call center sebagai berikut: Call center adalah sebuah fasilitas pelayanan yand diberikan Ditjen Pajak yang berfungsi meyangkut pelayanan dan penanganan complaint Wajib Pajak.
Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

(2008:31) Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan call center merupakan sebuah fasilitas tentang pelayanan yang diberikan oleh Ditjen pajak mengenai dan menampung keluhan Wajib pajak dan penanganan complaint Wajib Pajak.

2.1.3.3 Meningkatkan efisiensi, profesionalisme kerja, dan integritas aparat perpajakan Dalam upaya peningkatan efisiensi, profesionalisme kerja, dan integritas aparat perpajakan dilakukan beberapa langkah-langkah untuk mendukung meningkatkan efisiensi, profesionalisme kerja, dan integritas aparat perpajakan. Menurut Indra Ismawan dalam buku Reformasi Perpajakan, langkahlangkah untuk meningkatkan efisiensi, profesionalime, dan integritas aparat perpajakan adalah sebagai berikut: 1. Peningkatan pengawasan internal untuk mendeteksi secara dini berbagai kasus penyimpangan sehubungan dengan pelaksanaan tugas. 2. Memperbaiki sistem dan prosedur yang mengarah pada sistem yang mempermudah pelayanan dan mendorong efektivitas dalam pelaksanaan pengawasannya. 3. Menerapkan sistem reward and punnishment dalam pelaksanaan tugas 4. Melibatkan masyrakat luas dalam mekanisme pengawasan terhadap aparat perpajakan 5. Perbaikan kinerja Ditjen Pajak juga terkait dengan koordinasi dengan pihak-pihak lain. (2001:85) Karena pajak banyak mempengaruhi dan dipengaruhi oleh berbagai aspek, maka peran pajak harus dipertimbangkan dan dimasukkan ke dalam setiap kebijakan pemerintah. sebagai contohnya, kebijakan dibidang perbankan seharusnya

mempertimbangkan aspek perpajakan. Begitu pula kebijakan di bidang perdangan dan perindustrian. Tentu saja, semua kebijakan itu seyogyanya diwadahi dalam satu koordinasi antarinstansi adalah memberlakukan sistem tax clearance pada instansiPerpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

instansi diluar Ditjen Pajak untuk kegiatan-kegiatan yang ada kaitannya dengan perpajakan.

2.1.4

Hubungan Modernisasi Administrasi Perpajakan dan Kinerja Direktorat Jenderal Pajak Dalam meningkatkan penerimaan negara, pemerintah melakukan beberapa

kebijakan yaitu menurut Dirjen Pajak Depkeu, Machfud Sidiq yang dikemukakan oleh Indra Ismawan dalam buku Reformasi Perpajakan kebijakan-kebijakannya adalah : 1. Mendorong kepatuhan sukarela 2. Melakukan pendekatan terpadu dalam proses penerimaan pajak 3. Reformasi perpajakan secara berkesinambungan. (2001:82) Prinsip administrasi perpajakan yang diterima secara luas menyebabkan bahwa tujuan yang ingin dicapai adalah kepatuhan sukarela merupakan tulang punggung sistem Self assessment system dimana Wajib Pajak bertangungjawab menetapkan sendiri kewajiban pajaknya dan kemudian secara akurat dan tepat waktu membayar dan melaporkan pajaknya tersebut.

Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Djazoeli Sadhani dalam buku Menuju Good Governance Melalui Modernisasi Pajak tentang administrasi perpajakan adalah sebagai berikut: Modernisasi administrasi perpajakan adalah suatu proses reformasi pembaharuan dalam bidang administrasi pajak yang dilakukan secara komprehensif, meliputi aspek teknologi informasi yaitu perangkat lunak, perangkat keras, dan sumber daya manusia dengan tujuan mencapai tingkat kepatuhan perpajakan yang tinggi, kepercayaan terhadap
Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

administrasi perpajakan dan tercapainya produktivitas kinerja aparat perpajakan yang tinggi, sehingga diharapkan dapat mengurangi praktek Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN). (2005:60) Menurut Indra Ismawan dalam buku Reformasi Perpajakan pengertian Kinerja Jenderal Pajak adalah sebagai berikut : Kinerja Direktorat Jenderal Pajak adalah pelayanan atau kinerja yang harus meningkatkan efiesiensi sekaligus menegakkan profesionalisme serta integritas aparat dalam menegakkan peraturan pajak. (2001:85) Sedangkan menurut Indra Ismawan dalam buku Reformasi Perpajakan, adalah sebagai berikut : Modernisasi Administrasi perpajakan dianggap berhasil apabila tercapai suatu keseimbangan antara kinerja terhadap Wajib Pajak, penerapan hukum dan peraturan pajak. Administrasi pajak dapat mengkonsentrasikan sumber dayanya dalam mengidentifikasi informasi yang berhubungan dengan wajib pajak yang gagal memenuhi kewajiban pajak. (2001:85) Dari uraian diatas, untuk mewujudkan dan tercapainya tujuan modernisasi administrasi perpajakan dan dianggap berhasil apabila tingkat kepatuhan wajib pajak dan tercapainya produktivitas kinerja aparat perpajakan yang tinggi sehingga terciptanya suatu keseimbangan antara Wajib Pajak terhadap kinerja aparat Perpajakan.

2.2

Kerangka Pemikiran Suatu negara pada umumnya bertujuan untuk mensejahterakan rakyatnya, salah

satu cara yang dilakukan pemerintah Indonesia untuk mencapai tujuan tersebut adalah dengan dilakukannya pembiayaan pembangunan diberbagai sektor kehidupan dan sumber utama pembiayaan pembangunan tersebut adalah berasal dari pajak.

Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

Menurut Waluyo dan Wirawan B. Ilyas dalam buku Perpajakan Indonesia Pengertian pajak adalah sebagai berikut ini : Pajak adalah iuran kepada Negara (yang dapat dipaksakan) yang terutang oleh wajib membayarnya menurut peraturan-peraturan, dengan tidak mendapat prestasi-kembali, yang langsung ditunjuk, dan yang gunanya adalah untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran umum berhubungan dengan tugas Negara untuk menyelengarakan pemerintahan. (2003:4) Sedangkan menurut Rochmat Soemitro, dalam buku Dasar-dasar Hukum Pajak dan Pajak Pendapatan Pengetian Pajak adalah sebagai berikut : Pajak adalah iuran rakyat kepada kas Negara berdasarkan undangundang (yang dapat dipaksakan) dengan tidak mendapat jasa imbal (kontraprestasi) yang langsung dapat ditunjukkan dan yang digunakan untuk membayar pengeluaran umum. (2003:5)

Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri yang melekat pada pengertian pajak : 1. Pajak dipungut berdasrkan Undang-Undang serta aturan pelaksanaanya yang bersifatnya dapat dipaksakan 2. Dalam pembayaran pajak tidak dapat ditunjukkan adanya kontraprestasi individual oleh pemerintah 3. Pajak dipungut oleh Negara baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah 4. Pajak diperuntukkan bagi pengeluaran-pengeluaran pemerintah, yang bila dari pemasukkannya masih terdapat surplus, dipergunakan untuk

membiayai public invesment.


Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

5.

Pajak dapat pula mempunyai tujuan lain selain budgeter, yaitu mengatur.

Masyarakat yang merasa menjadi Wajib Pajak akan membayarkan pajaknya kepada Kantor Pelayanan Pajak. Kantor Pelayanan Pajak merupakan tempat dimana Wajib Pajak akan membayarkan langsung pajaknya sendiri kepada fiskus/pegawai pajak yang berada pada kantor tersebut. Sebelum adanya Reformasi perpajakan yang dulu masih menganut system offisial assesment system dimana fiskus yang aktif dalam menghitung, melaporkan, dan menyetorkan jumlah pajaknya. Setelah adanya reformasi perpajakan maka system perpajakan diubah menjadi self assesment system dimana Wajib Pajak aktif dalam menghitung, menyetor, dan melaporkan penyetoran pajak tersebut kepada Direktorat Jenderal Pajak melalui Kantor Pelayanan Pajak.

Modernisasi administrasi perpajakan dilakukan karena penerimaan pajak pada awal reformasi perpajakan (tahun 1983), penerimaan negara masih dibawah 20% setiap tahunnya, hal tersebut dapat dilihat melalui APBN. Tetapi dengan adanya modernisasi perpajakan penerimaan negara meningkat secara signifikan dan dari 20% menjadi 75% setiap tahunnya walaupun hal tersebut masih jauh dari apa yang sudah dianggarkan oleh negara melalui APBN. Pengertian modernisasi administrasi perpajakan menurut Djazoeli Sadhani dalam bukuMenuju Good Governance Melalui Modernisasi Pajak adalah sebagai berikut: Modernisasi administrasi perpajakan adalah suatu proses reformasi pembaharuan dalam bidang administrasi pajak yang dilakukan secara komprehensif, meliputi aspek teknologi informasi yaitu perangkat lunak, perangkat keras, dan sumber daya manusia dengan tujuan mencapai tingkat kepatuhan perpajakan yang tinggi, kepercayaan terhadap administrasi perpajakan dan tercapainya produktivitas kinerja aparat perpajakan yang tinggi, sehingga diharapkan dapat mengurangi praktek Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN). (2005:60)
Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

Sedangkan pengertian modernisasi adminisrasi perpajakan menurut Indra Ismawan dalam buku Reformasi Perpajakan adalah sebagai berikut : Modernisasi administrasi perpajakan adalah suatu proses reformasi pembaharuan dalam bidang administrasi perpajakan yang dilakukan warga komprehensif, meliputi aspek teknologi informasi yaitu perangkat lunak, perangkat keras dan sumber daya manusia. (2001:81) Modernisasi administrasi dilakukan bertujuan untuk membuat Kantor Pelayanan Pajak menjadi baru, baru disini diartikan sebagai adanya perubahan dari kantor pelayanan pajak lama menjadi baru. Dimana kantor unit yang baru melayani Wajib Pajak dengan kondisi nyaman dan aman. Perbedaan Kantor pelayanan pajak lama sangat kontras dengan Kantor pelayanan pajak yang baru dimana perbedaan tersebut dengan gedung yang kotor dan tidak rapih. Kantor pelayanan pajak yang baru sudah diberikan penambahan misalnya berupa ruang kerja terbuka sebagai wujud keterbukaan, front office yang standar ditempat pelayanan terpadu/TPT sebagai aplikasi one stop service perpajakan, tersedianya alat-alat melayani bantu di lobby seperti help desk yang siap melayani informasi perpajakan dengan touch screen dan lainnya. Sedangkan Menurut Indra Ismawan dalam buku Reformasi Perpajakan pengertian Kinerja Jenderal Pajak adalah sebagai berikut : Kinerja Direktorat Jenderal Pajak adalah pelayanan atau kinerja yang harus meningkatkan efiesiensi sekaligus menegakkan profesionalisme serta integritas aparat dalam menegakkan peraturan pajak. (2001:85) Selain itu untuk melayani Wajib pajak secara khusus dan mendalam diantaranya hak dan kewajiban perpajakan, maka Ditjen Pajak menugaskan pegawai yang ditunjuk sebagai account representative (AR) yang telah mengikuti pendidikan khusus dan

Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

pelatihan secara khusus untuk pelayanan penuh dan prima. Account Representative adalah petugas pajak yang melayani secara khusus dan melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan kewajiban oleh Wajib Pajak dan melayani penyelesaian hak Wajib Pajak Selain itu apabila masyarakat atau Wajib Pajak merasakan pelayanan yang diberikan oleh pihak kantor pelayanan pajak masih kurang baik atau optimal dan tidak sesuai dengan standarisasi pelayanan Wajib Pajak dapat menyampaikan pengaduan melalui Complain Center yang telah tersedia. Complain center berfungsi untuk menampung keluhan-keluhan Wajib Pajak yang terdaftar di kantor pelayanan pajak diwilayah kerjanya. Ini merupakan bentuk keterbukaan Direktorat Jenderal Pajak untuk perbaikan atas pelaksanaan tugas, terutama pelayanan kepada Wajib Pajak. Banyak sarana dan prasarana maupun sistem informasi yang baru yang telah disediakan oleh Direktorat Jenderal Pajak agar kualitas pelayanan kepada masyarakat lebih baik. Dan yang paling utama adalah perubahan perilaku pegawai yang berdasarkan prinsip budaya kerja dan profesional dengan rambu-rambu kode etik pegawai, yang siap untuk melayani Wajib Pajak menjadi lebih baik. Hal tersebut dimaksudkan agar Wajib Pajak terasa nyaman dan merasa terajak untuk melaporkan pajaknya kembali kepada kantor pelayanan pajak pada bulan-bulan berikutnya. Jika profesionalime kerja Direktorat Jenderal Pajak sesuai dengan kode etik pegawai dan meningkat dengan baik maka Wajib Pajak akan merasa terajak kembali untuk kembali menyetorkan dan melaporkan pajaknya kembali. Kinerja Direktorat Jenderal Pajak dapat dinilai jika profesionalisme kerja Direktorat Jenderal Pajak dapat dijalankan dengan baik, meningkatkan efisien kerja dan waktu yang ada untuk membenahi pekerjaan yang ada serta meningkatkan integritas aparat dalam menegakkan peraturan pajak.

Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak

Jika semua itu tercapai maka dapat diharapkan Wajib Pajak akan menjadi patuh dan taat bahkan sukarela dalam membayar pajaknya. Sehingga penerimaan pajak yang didapat oleh Kantor pelayanan pajak tersebut meningkat sehingga hasil penerimaan pajak dapat optimal.

Perpajakan Bab 1. Dasar Akuntansi Pajak