Anda di halaman 1dari 22

1.

Latar Belakang Latar belakang adanya perawatan keluarga ini diawali dengan adanya kirsus keperawatan tahun 1950 yang diadakan oleh Rumah Sakit PMI Bogor yang kemudian kursus tersebut berkembang sampai kepada kursus Perawatan Keluarga. Pengertian Perawatan keluarga adalah perawatan yang dilakukan oleh anggota keluarga itu sendiri dengan menggunakan alat-alat yang ada di lingkungan keluarga itu dan sederhana tetapi hasilnya memuaskan. 2. Dasar Perawatan Keluarga a. Mengapa Diperlukan PK? 1. Pada umumnya mereka yang sakit senang bila ia berada di rumah di tangah keluarga daripada berbaring di RS dan dirawat oleh orang yang belum dikenal. 2. Demi untuk menghemat waktu, tenaga dan biaya transportasi. 3. Dirawat oleh orang lain di sebuah kamar dapat mempengaruhi keadaan si sakit sehingga mempengaruhi penyembuhannya. 4. Untuk meningkatkan kemandirian orang sakit dan keluargnya secara optimal. b. Siapa Yang Melakukan PK? 1. Pada dasarnya siapa saja dapat melakukan tugas PK asal sebelumnya diberi pengetahuan (berupa pendidikan PK) dan dilatih secukupnya. 2. Sejak tahun 1950 PMI telah menyelenggarakan pendidikan latihan PK. c. Sifat pribadi yang tepat untuk menerima pendidikan PK adalah: 1. Mempunyai sifat kasih sayang yang tulus. 2. Menaruh minat dan memiliki rasa kemanusiaan yang dalam. 3. Ingin belajar dan berbakat dalam bidang perawatan. d. Sikap dan Perilaku yang perlu dimiliki oleh pelaku PK 1. Berperikemanusiaan yang jelas tampak dan sikap kesediaan untuk menolong yang akan memberi kesan tetang kepribadiannya. 2. Bertanggungjawab, sifat ini harus tampak dari segala tindakan pelaku pk yang senantiasa berpedoman pada apa yang ia telah pelajari antara lain tidak akan melakukan tindakan yang merugikan si sakit maupun angggota keluraga yang lain. 3. Selalu mengutamakan kebutuhan si sakit. 4. Selalu bersikap terbuka terhadap tindakan yang akan dilakukan terhadap si sakit sera menerangkan/mendidik kelurga lain misalnya bagaimana hidup sehat d. Prinsip kerja seorang pelaku PK 1. Sikap yang baik seorang pelaku PK penting untuk memberi kesan baik tentang kepribadian. 2. Menunjukkan memampuan kerja denga tenang, cepat dan tanpa ragu-ragu.

3. Mempunyai sikap yang ramah, selalu tersenyum, bersedia untuk mendengar dan mampu untuk menenangkan si sakit. 4. Berpirlah sebelum bertindak/bekerja. 5. Jagalah kebersihan lingkungan dan ruangan si sakit, tetapi perlu juga memperhatikan diri sendiri. 6. Catat selalu hasil pengamatan dan perawatan yang telah diberi secara pendek, lengkap dan jelas. 7. Usahakan agar tidak menambah penderitaan si sakit. 8. Jangan bertindak menyimpang dari peraturan dan perintah dokter/petugas kesehatan dan jangan keliru memberi obat. 9. Jika dianggap perlu untuk merujuk si sakit ke puskesmas/RS diperlukan persiapan antara lain pakaian bersih dan alat toilet si sakit dan kemungkinan harus dihubungi petugas yang mengurus angkutan/ambulans. 10. Bila ada sesuatu yang perlu dirahasiakan janganlah disampaikan langsung si sakit. e. Peralatan yang diperlukan 1. Perawatan yang dilakukan di rumah membutuhkan peralatan. Kita tidak boleh memaksakan untuk membeli peralatan seperti yang ada di RS. Dengan peralatan yang ada dan sederhana dapatlah kita menolong si sakit dengan cukup memuaskan. 2. Perlengkapan kamar tidur. 3. Tempat penyimpanan obat-obatan. f. Penerapan 1. Sebagai individu : Perlu mempersiapkan diri agar mampu dan mau melakukan PK untuk siapa saja yang membutuhkan. 2. Sebagai anggota masyarakat : Menjelaskan kepada anggota masyarakat pentingnya PK. Dapat juga mengordinir disediakannya peralatan PK agar masyarakat sekitar dapat menggunakan secara bersama. 3. Di lingkungan organisasi PMI : Turut berpartisipasi pada Tim PK PMI dalam kegiatan pelayanan sosialnya PMI misalnya untuk panti jompo. 4. Pada saat bencana : Turut berpartisipasi pada Tim PK PMI dalam kegiatan di tempat penampungan sementara/pengungsian. 3. Kesehatan Dasar Keluarga a. Kebersihan Diri 1. Kebersihan diri merupakan factor penting dalam usaha pemeliharaan kesehatan, agar kita selalu dapat hidup sehat. 2. Menjaga kebersihan diri berarti juga menjaga kesehatan umum. 3. Cara menjaga kebersihan diri :
y

Mandi setiap hari secara teratur

y y y y y

Tangan harus dicuci sebelum menyiapkan makanan dan minuman, sebelum makan, sesudah buang air besar atau buang air kecil. Kuku digunting pendek dan bersih. Kaki perlu dirawat dengan baik dan teratur. Sikat gigi setiap habis makan. Pakaian perlu diganti setiap habis mandi dengan pakaian yang sudah dicuci bersih dengan sabun, dijemur dan disetrika.

b. Kebersihan lingkungan 1. Kebersihan lingkungan adalah suatu usaha menjaga lingkungan bersih, dan sehat sehingga dapat mencegah penularan penyakit 2. Penularan penyakit terjadi bila ada hubungan anatara 3 mata rantai, yaitu: sumber penyakit, perantara penyakit dan orang yang lemah/peka terhadap serangan penyakit. 3. Usaha meningkatkan kebersihan lingkungan dapat dilakukan bersama masyarakat dengan mengusahakan untuk memutuskan hubungan mata rantai tersebut agar tidak akan terjadi penularan. 4. Kebersihan lingkungan dapat dicapai dengan:
y y y y y y

Rumah harus sehat dan terpelihara. Hewan peliharaan tidak berkeliaran di dalam rumah atau ditempat anak bermain terutama hewan yang berkutu Sediakan tempat sampah yang tertutup dan buang sampah ditempatnya Jaga kebersihan sumber air, MCK dan lingkungannya Hindari genangan air/air hujan di sekitar rumah Air limbah usahakan lancer alirannya.

4. Pelaksanaan Perawatan Merawat orang sakit di rumah a. Mencuci Tangan 1. Suatu keharusan bagi setiap perawat termasuk pelaku PK yang dilakukan:
y y y y

Sebelum dan sesudah merawat orang sakit Sebelum menyiapkan makanan dan minuman Sesudah memegang barang-barang kotor dan memegang binatang Sesudah buang air besar (b.a.b) atau buang air kecil (b.a.k)

2. Tujuan
y y y y

Membersihkan tangan dari segala kotoran Menjaga kesehatan pelaku Mencegah penularan penyakit Melatih suatu kebiasaan yang baik

b. Memakai Celemek

1. Celemek adalah bentuk pakaian untuk menutup pakaian pelaku PK waktu menolong merawat si sakit, tanpa mengganggu gerak si pelaku. 2. Tujuan:
y y

Melindungi pakaian pelaku dari kotoran Mencegah penularan penyakit

4. Mengukur Auhu a. Mengukur suhu Alat untuk mengukur suhu disebut termometer. Menurut skalanya ada 2 macam, yaitu: termometer celcius (lazim dipakai di Indonesia) dan termometer Fahrenheit (lazim dipakai di Amerika) 1. Bagian dari termometer
y y y y

Tabung gas panjang, berbentuk persegi gepeng bundar atau persegi Pipa gelas tempat turun naik air raksa Skala yang menunjukkan derajat suhu Reservoir tempat air raksa

2. Tujuan
y y y y

Mengetahui suhu badan si sakit Mengetahui adanya kelainan pada tubuh Mengetahui perkembangan penyakit Sebagai salah satu penyokong dalam membantu dokter dalam menentukan diagnosa

3. Tempat dan cara pengukuran suhu 3.1. Ketiak


y y y y y

y y y

Cuci tangan Siapkan termometer Beritahu si sakit Keringkan ketiak dengan handuk/waslap Tempatkan pangkal termometer di tengah ketiak di minta si sakit menjepitnya 1015 menit, tangan yang lain membantu menekan bagian lengan yang menjepit termometer Setelah 10-15 menit termometer dikeluarkan, dibaca sampai di mana naiknya air raksa dan dicatat. Termometer dibersihkan, lalu disimpan Cuci tangan

3.2. Dubur
y

Pengukuran suhu di dubur dilakukan:

- Pada bayi, anak, orang sakit parah - Pada keadaan tertentu, misalnya:patah lengan,bagian ketiak di balut - Atas petunjuk dokter
y

Pengukuran suhu di dibibir tidak boleh dilakukan pada:

- Orang sakit yang luka pada daerah dubur - Orang sakit yang berpenyakit kelamin
y

Pelaksanaan :

Cuci tangan Siapkan termometer dan minyak kelapa/vaselin Beritahu si sakit Miringkan si sakit,bebaskan pakaian yang menutupi bokong Kaki yang sebelah atas ditekuk kearah perut Oleskan pangkal termometer dengan minyak kela[a/vaselin untuk memudahkan memasukkan ke dalam anus. Hati-hati bila ada wasir 7. Pisahkan bokong si sakit agar dubur terlihat, lalu pangkal termometer di masukkan 8. Pegang termometer selama berada dalam anus selama 3 menit 9. Keluarka termometer, baca dan catat di buku catatan harian 10. Termometer dibersihkan lalu disimpan 11. Cuci tangan 1. 2. 3. 4. 5. 6. 3.3. Mulut
y y

Dilakukan pada orang sakit bila pada kedua tempat di atas tidak memungkinkan pemasangan thermometer. Pengukuran suhu di mulut tidak boleh dilakukan pada:

- Orang sakit yang tidak sadar atau gelisah - Orang yang berpenyakit milit,batuk pilek atau sesak nafas - Bayi/anak yang masih kecil
y

Pelaksanaan :

Cuci tangan Siapkan termometer Beritahu si sakit Si sakit diminta untuk membuka mulut Letakkan pangkal termometer di bawah lidah agak ke samping, di minta si sakit untuk menutup mulut dan bernafas melalui hidung 6. Setelah 3 menit keluarkan termometer, baca dan catat di buku catatan harian 7. Termometer dibersihkan lalu disimpan 8. Cuci tangan 1. 2. 3. 4. 5.

5. Menghitung Denyut Nadi Menghitung denyut nadi adalah sama penting dengan mengukur suhu. Denyut nadi menjadi lebih cepat bila berada dalam ketakutan, gelisah, demam dan sesudah gerak badan a. Denyut nadi dapat diraba pada : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Leher Bagian muka telinga Dekat ujung tulang selangkang Sisi dalam dari lengan atas Lipatan paha Pergelangan tangan Denyut bayi sampai umur 1 tahun dapat diraba di ubun-ubun

b. Tujuan mengukur denyut nadi 1. 2. 3. 4. Mengetahui keadaan umum si sakit Mengetahui keadaan jantung Mengikuti perkembangan jalannya penyakit Membantu menentukan diagnosa

c. Jumlah denyut nadi rata-rata permenit 1. 2. 3. 4. 5. 6. Bayi baru lahir : + 130 - 160 Bayi : + 110 - 130 Anak umur 4-7 tahun : + 80 - 120 Anak umur lebih 7 tahun : + 80 - 90 Pria dewasa : + 60 - 80 Wanita lebih banyak antara 10-15 denyutan.

Umumnya kecepatan denyut nadi meningkat bila suhu badan meningkat. Tiap kenaikan suhu 1 derajat C, denyut nadi akan bertambah 10-15 denyutan. d. Pelaksanaan 1. Cuci tangan 2. Beritahu si sakit 3. Si sakit duduk atau berbaring, lengan dikendurkan dengan ibu jari di sebelah atas. Cari nadinya dengan 3 jari si pelaku dipergelangan tangan si sakit kea rah ibu jari si sakit diantara urat-urat 4. Hitung denyut nadi selama menit, hasilnya dikalikan 2 dan dicatat dalam buku catatan harian 6. Menghitung Pernafasan Satu kali pernafasan adalah 1 kali menarik nafas dan 1 kali mengeluarkan nafas a. Tujuan menghitung pernafasan :

1. Membantu menentukan diagnosa 2. Mengetahui keadaan umum si sakit b. Pelaksanaan 1. Dihitung segera setelah menghitung denyut nadi. Jangan diberitahu si sakit akan dihitung pernafasannya dengan pergelangan si sakit tetap dipegang seolah-olah masih menghitung denyut nadi 2. Diperhatikan apakah kedua sisi dada bergerak seirama, apakah terlihat adanya kesukaran dalam bernafas 3. Hitung pernafasan selama menit dan hasilnya dikali 2, catat dalam buku catatan harian c. Jumlah pernafasan permenit 1. 2. 3. 4. 5. 6. Bayi baru lahir : 30-60 Anak umur 1 tahun : 25-30 Anak umur 2 tahun : 20-25 Anak umur 15 tahun : 18 -20 Pria dewasa : 16-18 Wanita dewasa : 18-20

d . Perbandingan jumlah pernafasan dengan denyut nadi adalah 1: 4 7. Penataan Tempat Tidur Orang Sakit a. Maksud dan tujuan 1. Mempercepat penyembuhan 2. Mencegah penyakit bertambah parah 3. Memperkecil bahaya penularan b. Syarat tempat tidur si sakit 1. 2. 3. 4. Panjang tempat tidur harus sepadan dengan panjang badan si sakit Ditempatkan pada bagian kamar yang tak banyak kena hembusan angin Terhindar dari cahaya yang menyilaukan, bau yang merangsang dan keributan Barang tenun (seprei,sarung bantal dsab) hendaknya diganti paling sedikit 2 kali seminggu, kecuali bila basah atau kotor maka harus segera diganti.

c. Peralatan 1. 2. 3. 4. Tempat tidur + kasur + bantal Kain seprei + sarung bantal Kain perlak + kain alas perlak Selimut

8. Perawatan Sehari-hari di Rumah

1. Menolong si sakit B.A.B / B.A.K di atas tempat tidur Di Indonesia biasanya orang sakit selama masih dapat berjalan akan berusaha untuk pergi ke kamar kecil untuk B.A.B / B.A.K. sebenarnya hal ini tidak dibenarkan karena si sakit membuang tenaga yang ia perlukan untuk melawan penyakitnya. Perlu diketahui, bahwa antara orang sakit pria dan wanita cara menolongnya berbeda.
y

Wanita : alat kelamin bagian luar dan dalam dihubungkan oleh sebuah saluran yang sangat pendek jaraknya, sehingga sangat mudah terkena infeksi. Untuk b.a.b dan b.a.k menggunakan sebuah tempat yang disebut pasu najis. Pria : untuk b.a.b dan b.a.k dapat hanya menggunakan sebuah labuh kemih, semacam botol.

a. Peralatan 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Pasu najis beserta tutupnya Labu kemih untuk pria Bamboo/botol berisi air Kertas toilet Alas bokong (perlak beserta alasnya) Bel Bangku kecil untuk pasu najis Handuk, sabun, bedak Air untuk mencuci bokong

2. Menyeka / memandikan si sakit di tempat tidur a. Tujuan 1. 2. 3. 4. 5. Memberikan perasaan enak dan segar kepada si sakit Membersihkan kotoran yang melekat pada tubuhnya Membantu memperlancar peredaran darah Melatih otot-otot secara aktif dan pasif Mencegah terjadinya lecet

b. Peralatan 2 baskom (untuk menyabun + membilas) Air hangat dalam cerek dan air dingin dalam ember + gayung 2 waslap + 2 handuk besar 1 ember yang agak besar untuk menampung air Sabun mandi dalam tempatnya, talk dan kamfer spiritus,alat bersolek, alat cukur dan sisir 6. Pakaian si sakit yang bersih 7. Tempat/keranjang untuk pakaian kotor 8. Bila perlu disediakan lbu kemih dan pasu najis, botol berisi air untuk cebok 1. 2. 3. 4. 5. 3. Mencuci rambut si sakit di tempat tidur

a. Tujuan 1. Memberikan perasaan segar dan senang kepada si sakit 2. Menghilangkan kotoran yang melekat pada kepala si sakit 3. Agar rambut tetap bersih, rapi dan terpelihara b. Peralatan : 1. Baki yang berisi sisir, 1 handuk, 1 waslap, shampo, alas(handuk + perlak 2. Talak plastik yang dapat diganti dengan pelepah pisang/sebuah perlak yang digulung 3. Ember berisi air hangat kuku, gayung bermulut lancip/kobokan 4. Ember kosong 5. Kain pel 6. Cadangan air panas dalam cerek dan air dingin dalam ember 7. Alat pengering rambut atau kipas 9 . Merubah Posisi Tidur Orang Sakit Seorang pelaku PK harus pandai menolong si sakit duduk , berbalik, merubah posisi tidurnya, mengangkatnya, menolong turun / naik tempat tidur dengan cara teratur. Merubah sikap tidur si sakit adalah hal yang sangat penting, karena dapat menghindari : 1. 2. 3. 4. Bahaya lecet pada tubuh Ketegangan pada sendi-sendi Bahaya timbulnya cacat Memperbaiki peredaran darah

a. Meminggirkan atau menengahkan si sakit Meminggirkan adalah menggeser si sakit dari tengah ke pinggir tempat tidur, sedangkan menengahkan adalah menggeser si sakit dari pinggir ke tengah tempat tidur. b. Memiringkan si sakit Memiringkan adalah membentuk posisi si sakit menjadiposisi miring. Untuk memiringkan si sakit ke kanan, maka dilakukan dari arah saebaliknya/berlawanan. Begitu juga jika memiringkan posisi si sakit dari arah kiri. c. Memindahkan si sakit Bila sakit seorang dewasa yang gemuk, maka untuk mengangkatnya sebaiknya dilakukan berdua atau bertiga. Jangan coba melakukan sendiri, karena akibatnya mungkin si sakit merasa lebih sakit atau mungkn terjatuh. d. Menolong si sakit turun dari tempat tidur, berjalan ke kursi dan kembali ke tempat tidur. Bila si sakit yang telah berbaring lama di atas tempat tidur mulai sembuh, maka dokter akan memerintahkan agar ia didudukkan. Mula-mula duduk dipinggir tempat tidur dengan kaki yang diayun-ayunkan, kemudia di atas kursi dalam ruangan si sakit. Peristiwa ini merupakan hal yang menggembirakan bagi si sakit, sehingga ia akan

memberikan bantuaanya. Tetapi si sakit kecewa bila mulai duduk atau berjalan, merasa psing, kaki berat dan lemas. Oleh sebab itu, hal ini perlu dilakukan secara bertahap. Peralatan 1. 2. 3. 4. 5. Kursi yang memakai sandaran untuk lengan Bantal untuk menopang punggungnya Selimut Sandal yang ringan Bila perlu dingklik/kursi pendek dan bel

9. Penyajian Makanan dan Pemberian Obat a. Penyajian makanan kepada pasien Makanan berguna untuk memberikan zat-zat makanan yang cukup utnuk memelihara kesehatan, memulihkannya bila sakit, menghasilkan tenaga untuk melaksanakan berbagai kegiatan pertumbuhan dan perkembangan jiwa serta raga. b. Cara menyajikan makanan 1. Makanan disajikan di atas sebuah baki yang berisi alas supaya rapi. Di atas baki ada piring, sendok dan garpu, gelas yang berisi air minm dengan tatakan dan tutupnya dan serbet/lap. 2. Cocokkan makanan sesuai dengan pantangan, rasa disesuaikan denga selera sejauh tidak bertentangan dengan pantangan. 3. Makanan dijaga agar tidak dihinggapi lalat 4. Piring jangan di isi penuh, karena dapat mengurangi selera makan si sakit. 5. Sayuran dan lauk pauk diletakkan terpisah dalam piring kecil diatur secara baik dengan sedikit variasi. 6. Sedapat mungkin makanan disajikan dalam keadaan hangat. 7. Waktu makan ditentukan 8. Agar menarik diberi jambangan kecil dan diberi bunga, kepada anak-anak diberi mainan. 9. Bila dapat makan sendiri, digunakan meja kecil yang diberi alas 10. Selesai makan, baki dan isinya diangkat dan dibawah keluar kamar. c Beberapa jenis makanan khusus 1. 2. 3. 4. 5. Makanan lunak untuk orang panas atau sakit mulut/tenggorokan Makanan untuk orang diare Makanan rendah lemak untuk orang sakit kuning Makanan rendah garam untuk orang sakit busung/uderma Makanan tanpa gula untuk orang sakit kencing manis

11. Pemberian Obat Kepada Orang sakit a. Tujuan 1. Mempercepat penyembuhan 2. Mengurangi penderitaan

b. Bentuk obat 1. 2. 3. 4. 5. 6. Pil Tablet Kapsul Salep Obat cair Puyer/serbuk

c. Etiket/label
y y

Biasanya diletakkan pada botol, dus, kantong plastik, dsb yang memberi petunjuk tentang pemakain obat Warna etiket :

1) Etiket putih : merupakan obat dalam (untuk diminum) 2) Etiket biru : merupakan obat luar (tidak boleh ditelan) 3) Etiket hitam dan biasanya bergambar tengkorak: merupakan obat berbahaya (obat keras atau racun) 12. Perawatan Bayi a. Kondisi bayi 1. Nadi : Kurang lebih 140 denyutan permenit pada waktu lahir 2. Pernafasan : Kurang lebih 33 40 gerakan permenit 3. B.a.b : 3 4 kali dalam waktu 24 jam pada bulan pertama. Warnanya hitam dan agak lengket, akan berubah menjadi lembek kekuning-kuningan bila si bayi mulai menetek 4. Berat badan : Seorang bayi rata-rata mempunyai berat badan sekitar 3 kg waktu lahir. Dalam waktu beberapa hari ia akan kehilangan berat sampai 300 gram, tapi dalam waktu 2 minggu diharapkan berat badannya akan kembali seperti pada waktu dilahirkan. 5. Kulit : Pada waktu lahir, biasanya kulit bayi diliputi lemak putih kekuningkuningan, warna kulitnya merah muda 6. Penglihatan : Baru mampu pada awal bulan ke 2 7. Pendengaran : Baru mampu pada awal bulan ke 4 8. Tidur : Pada bulan pertama bayi tidur 18 22 jam sehari, kalau basah atau haus/lapar ia akan bangun dan menangis b. Makanan Makanan yang terbaik adalah ASI yang akan membuat bayi tumbuh baik dan sehat. Bila ASI kurang, maka dokter akan menambah dengan susu buatan yang cocok c. Pemeriksaan Pada usia 2 minggu bayi sebaiknya dibawa ke dokter atau bidan untuk diperiksa berat badannya dan apakah keadaan pusarnya baik. Juga untuk menerima nasihat mengenai pertumbuhan bayi, kekebalan dan makanan tambahan. d. Memandikan Bayi

Di daerah panas bayi dimandikan pagi dan sore, di daerah pegunungan cukup sekali sehari misalnya sore saja. Sebaiknya waktu mandi ditentukan, agar tidak seorangpun dapat mengganggu pelaksanaan tugas ini. Peralatan Satu buah handuk Dua buah waslap Ember / baskom berisi air hangat kuku Pakaian untuk ganti Sabun Bedak Alkohol, iodinepovidon dan kasa untuk komprse (untuk bayi yang belum lepas tali pusarnya)

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

http://ksrgarut.blogspot.com/2010/02/perawatan-keluarga-pk.html Sebelum kita bahas tenteng Dapur Umum ( DU ) PMI terlebih dahulu kita harus ketahui sebab-sebab kita harus mendirikan Dapur.Dapur Umum didirikan apabila terjadi bencana yang dapat mengakibatkan: 1. Mengakibatkan penderitaan manusia 2. Mengganggu aktivitas 3. Menimbulkan kerusakan harta benda , alam beserta lingkungannya 4. Menghambat roda pembangunan Karena terjadi bencana tersebut maka PMI akan melaksanakan Penanggulangan Korban Bencana yang bertujuan untuk: 1. Meringankan penderitaan 2. Mengatasi Kebutuhan Primer * Perlindungan *Sandang *Pangan *Papan * Kesehatan Supaya terpenuhinya kebutuhan tersebut terutama dibidang pangan maka PMI mendirikan DAPUR UMUM yang bertujuan : 1. Menyediakan makanan sederhana & layak , higienis , cukup bergizi 2. Dapat didistribusikan dalam waktu yang cepat dan tepat Dalam 1 tim DU Terdiri dari anggota yaitu:

KETUA REGU * Mengatur pembagian tugas anggota , membimbing dan bertanggungjawab atas kelancaran tugas pelaksanaan dapur umum * Bertanggung jawab secara langsung pada ketua tim Pengurus Cabang melalui ketua kelompok bila ada WAKIL KETUA REGU * Mewakili ketua regu bila ketua berhalangan * Bertanggungjawab atas pelayanan makanan & memelihara ketertiban serta kebersihan lingkungan wilayah kerja PENANGGUNGJAWAB TATA USAHA * Membuat daftar nama , alamat rumah , tanggal lahir , jenis kelamin dan pekerjaan korban bencanaAdministrasi penerima / pengeluaran bahan keperluan dapur umumdan peralatan / perlengkapan * Melaksanakan pembukuan keuanganPembuatan / menyusun laporan PENANGGUNGJAWAB PERALATAN / PERLENGKAPAN * Menyiapkan dan melengkapi peralatan DU * Pengadaan bahan untuk keperluan DU * Mengatur penyimpanan logistik bahan kebutuhan dan perlengkapan DU * Membuat daftar inventaris peralatan & perlengkapan * Bertanggungjawab penerimaan dan pengeluaran logistik PENANGGUNGJAWAB MEMASAK * Mengelola bahan masakan hingga siap didistribusikan * Memelihara ketepatan waktu makanDengan bantuan tenaga lokal menentukan menu makanan setiap hari sesuai selera yang membutuhkan ( para korban ) PETUGAS PENDISTRIBUSIAN * Melaksanakan pembagian makan sesuai jumlah dengan cara yang baik dan tertib PERALATAN & PERLENGKAPAN DU Penyelenggaraan dapur umum dapat melayani korban ratusan atau ribuan orang dalam waktu yang tepat serta memenuhi gizi standar. Untuk melayani s/d 500 orang diperlukan 1 ( satu ) unit peralatan DU yang terdiri dari :

PERALATAN POKOK * Langseng ukuran 25 kg...................2 bh * Drum air ukuran 50 liter................2 bh * Panci ukuran besar .........................2 bh * Wajan ukuran besar ........................2 bh * Serok .................................................1 bh * Susuk Wajan .....................................2 bh * Sendok Nasi ......................................2 bh * Sendok Sayur ....................................2 bh * Tempat nasi ......................................2 bh * Ceret/Teko besar ..............................3 bh * Baskom besar ....................................3 bh * Baskom kecil .....................................3 bh PERALATAN PENUNJANG * Ember plastik pakai tutup............... 2 bh * Ember plastik biasa .......................... 3 bh * Gayung air dari plastik ..................... 2 bh * Cobek batu ......................................... 2 bh * Pisau dapu .......................................... 3 bh * Golok ................................................... 1 bh * Talenan .............................................. 2 bh * Ayakan ............................................... 2 bh * Drum air sedang .............................. 1 bh * Meja ................................................... 2 bh * Tikar .................................................. 5 bh * Tampah ............................................. 1 bh * Tempat sampah ............................... 2 bh * Pembungkus nasi dan air minum secukupnya LOKASI Lokasi untuk Du diupayakan : * Letak dapur umum supaya dekat dengan posko dan mudah dicapai/dikunjungi korban * Higienis lingkungan cukup memadai * Aman dari bencana * Dekat dengan transportasi umum * Dekat dengan sumber air * Bangunan darurat kuat seperti Rumah atau Tenda regu / tenda peleton

CONTOH DAFTAR MENU Hari 1 Pagi : Nasi, Tempe goreng, Urap Siang : Nasi, Ungkep daging/tahu, Sayur lodeh, Pepaya Malam : Nasi , Rempeyek, Tumis kangkung, Pisang Hari 2 Pagi : Nasi, Dadar telor, Sambel tomat Siang : Nasi, Rendang, Tumis sawi, Pisang Malam : Nasi , Sambel Goreng, Tempe/Teri, Jeruk

Makna Syahadataini, Rukun, Syarat, Konsekuensi, dan Yang Membatalkannya


2007-11-26 00:00:00 Oleh: Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah bin Fauzan Kalimat "Laa ilaaha illallah" telah ditafsiri dengan beberapa penafsiran yang batil, antara lain: [1]. "Laa ilaaha illallah" artinya: "Tidak ada sesembahan kecuali Allah", Ini adalah batil, karena maknanya: Sesungguhnya setiap yang disembah, baik yang hak maupun yang batil, itu adalah Allah. [2]. "Laa ilaaha illallah" artinya: "Tidak ada pencipta selain Allah" . Ini adalah sebagian dari arti kalimat tersebut. Akan tetapi bukan ini yang dimaksud, karena arti ini hanya mengakui tauhid rububiyah saja, dan itu belum cukup. [3]. "Laa ilaaha illallah" artinya: "Tidak ada hakim (penentu hukum) selain Allah". Ini juga sebagian dari makna kalimat " ". Tapi bukan itu yang dimaksud, karena makna tersebut belum cukup Semua tafsiran di atas adalah batil atau kurang. Kami peringatkan di sini karena tafsir-tafsir itu ada dalam kitab-kitab yang banyak beredar. Sedangkan tafsir yang benar menurut salaf dan para muhaqqiq (ulama peneliti), tidak ada sesembahan yang hak selain Allah) seperti tersebut di atas. [B]. Makna Syahadat "Anna Muhammadan Rasulullah" Yaitu mengakui secara lahir batin bahwa beliau adalah hamba Allah dan RasulNya yang diutus kepada manusia secara keseluruhan, serta mengamalkan konsekuensinya: menta'ati perintahnya, membenarkan ucapannya, menjauhi larangannya, dan tidak menyembah Allah kecuali dengan apa yang disyari'atkan.

KEDUA: RUKUN SYAHADATAIN [A]. Rukun "Laa ilaaha illallah" Laa ilaaha illallah mempunyai dua rukun: An-Nafyu atau peniadaan: "Laa ilaha" membatalkan syirik dengan segala bentuknya dan mewajibkan kekafiran terhadap segala apa yang disembah selain Allah. Al-Itsbat (penetapan): "illallah" menetapkan bahwa tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah dan mewajibkan pengamalan sesuai dengan konsekuensinya. Makna dua rukun ini banyak disebut dalam ayat Al-Qur'an, seperti firman Allah Subhanahu wa Ta'ala "Artinya : Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beri-man kepada Allah, makasesungguhnya ia telah berpegang kepa-da buhul tali yang amat kuat ..." [Al-Baqarah: 256] Firman Allah, "siapa yang ingkar kepada thaghut" itu adalah makna dari "Laa ilaha" rukun yang pertama. Sedangkan firman Allah, "dan beriman kepada Allah" adalah makna dari rukun kedua, "illallah". Begitu pula firman Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada Nabi Ibrahim alaihis salam : "Artinya : Sesungguhnya aku berlepas diri terhadap apa yang kamu sembah, tetapi (aku menyembah) Tuhan yang menjadikanku ...". [Az-Zukhruf: 26-27] Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala , "Sesungguhnya aku berlepas diri" ini adalah makna nafyu (peniadaan) dalam rukun pertama. Sedangkan perkataan, "Tetapi (aku menyembah) Tuhan yang menjadikanku", adalah makna itsbat (penetapan) pada rukun kedua. [B]. Rukun Syahadat "Muhammad Rasulullah" Syahadat ini juga mempunyai dua rukun, yaitu kalimat "'abduhu wa rasuluh " hamba dan utusanNya). Dua rukun ini menafikan ifrath (berlebih-lebihan) dan tafrith (meremehkan) pada hak Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau adalah hamba dan rasulNya. Beliau adalah makhluk yang paling sempurna dalam dua sifat yang mulia ini, di sini artinya hamba yang menyembah. Maksudnya, beliau adalah manusia yang diciptakan dari bahan yang sama dengan bahan ciptaan manusia lainnya. Juga berlaku atasnya apa yang berlaku atas orang lain. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala : "Artinya : Katakanlah: 'Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, ...'." [AlKahfi : 110] Beliau hanya memberikan hak ubudiyah kepada Allah dengan sebenar-benarnya, dan karenanya Allah Subhanahu wa Ta'ala memujinya: "Artinya : Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hambaNya." [Az-Zumar: 36] "Artinya : Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al-Kitab (Al-

Qur'an) ..."[Al-Kahfi: 1] "Artinya : Mahasuci Allah, yang telah memperjalankan hambaNya pada suatu malam dari AlMasjidil Haram ..." [Al-Isra': 1] Sedangkan rasul artinya, orang yang diutus kepada seluruh manusia dengan misi dakwah kepada Allah sebagai basyir (pemberi kabar gembira) dan nadzir (pemberi peringatan). Persaksian untuk Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dengan dua sifat ini meniadakan ifrath dan tafrith pada hak Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Karena banyak orang yang mengaku umatnya lalu melebihkan haknya atau mengkultuskannya hingga mengangkatnya di atas martabat sebagai hamba hingga kepada martabat ibadah (penyembahan) untuknya selain dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Mereka ber-istighatsah (minta pertolongan) kepada beliau, dari selain Allah. Juga meminta kepada beliau apa yang tidak sanggup melakukannya selain Allah, seperti memenuhi hajat dan menghilangkan kesulitan. Tetapi di pihak lain sebagian orang mengingkari kerasulannya atau mengurangi haknya, sehingga ia bergantung kepada pendapat-pendapat yang menyalahi ajarannya, serta memaksakan diri dalam mena'wilkan hadits-hadits dan hukumhukumnya. KETIGA: SYARAT-SYARAT SYAHADATAIN [A]. Syarat-syarat "Laa ilaha illallah" Bersaksi dengan laa ilaaha illallah harus dengan tujuh syarat. Tanpa syarat-syarat itu syahadat tidak akan bermanfaat bagi yang mengucapkannya. Secara global tujuh syarat itu adalah: 1. 'Ilmu, yang menafikan jahl (kebodohan). 2. Yaqin (yakin), yang menafikan syak (keraguan). 3. Qabul (menerima), yang menafikan radd (penolakan). 4. Inqiyad (patuh), yang menafikan tark (meninggalkan). 5. Ikhlash, yang menafikan syirik. 6. Shidq (jujur), yang menafikan kadzib (dusta). 7. Mahabbah (kecintaan), yang menafikan baghdha' (kebencian). Adapun rinciannya adalah sebagai berikut: Syarat Pertama: 'Ilmu (Mengetahui). Artinya memahami makna dan maksudnya. Mengetahui apa yang ditiadakan dan apa yang ditetapkan, yang menafikan ketidaktahuannya dengan hal tersebut. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: "Artinya :... Akan tetapi (orang yang dapat memberi syafa`at ialah) orang yang mengakui yang hak (tauhid) dan mereka meyakini (nya). [Az-Zukhruf : 86] Maksudnya orang yang bersaksi dengan laa ilaaha illallah, dan memahami dengan hatinya apa

yang diikrarkan oleh lisannya. Seandainya ia mengucapkannya, tetapi tidak mengerti apa maknanya, maka persaksian itu tidak sah dan tidak berguna. Syarat Kedua: Yaqin (yakin). Orang yang mengikrarkannya harus meyakini kandungan sya-hadat itu. Manakala ia meragukannya maka sia-sia belaka persaksian itu. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: "Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya kemudian mereka tidak ragu-ragu ..." [Al-Hujurat : 15] Kalau ia ragu maka ia menjadi munafik. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Artinya : Siapa yang engkau temui di balik tembok (kebon) ini, yang menyaksikan bahwa tiada ilah selain Allah dengan hati yang meyakininya, maka berilah kabar gembira dengan (balasan) Surga." [HR. Al-Bukhari] Maka siapa yang hatinya tidak meyakininya, ia tidak berhak masuk Surga. Syarat Ketiga: Qabul (menerima). Menerima kandungan dan konsekuensi dari syahadat; menyem-bah Allah semata dan meninggalkan ibadah kepada selainNya. Siapa yang mengucapkan, tetapi tidak menerima dan menta'ati, maka ia termasuk orang-orang yang difirmankan Allah: "Artinya : Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: 'Laa ilaaha illallah' (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah) mereka menyombongkan diri. dan mereka berkata: "Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami karena seorang penyair gila?" [Ash-Shafat: 35-36] Ini seperti halnya penyembah kuburan dewasa ini. Mereka mengikrarkan laa ilaaha illallah, tetapi tidak mau meninggalkan penyembahan terhadap kuburan. Dengan demikian berarti mereka belum me-nerima makna laa ilaaha illallah. Syarat Keempat: Inqiyaad (Tunduk dan Patuh dengan kandungan Makna Syahadat). Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: "Artinya : Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh." [Luqman : 22 Al-'Urwatul-wutsqa adalah laa ilaaha illallah. Dan makna yuslim wajhahu adalah yanqadu (patuh, pasrah).

Syarat Kelima: Shidq (jujur). Yaitu mengucapkan kalimat ini dan hatinya juga membenarkan-nya. Manakala lisannya mengucapkan, tetapi hatinya mendustakan, maka ia adalah munafik dan pendusta. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: "Artinya : Di antara manusia ada yang mengatakan: 'Kami beriman kepa-da Allah dan Hari kemudian', padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, pada hal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta." [Al-Baqarah: 8-10] Syarat Keenam: Ikhlas. Yaitu membersihkan amal dari segala debu-debu syirik, dengan jalan tidak mengucapkannya karena mengingkari isi dunia, riya' atau sum'ah. Dalam hadits 'Itban, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Artinya : Sesungguhnya Allah mengharamkan atas Neraka orang yang mengucapkan laa ilaaha illalah karena menginginkan ridha Allah." [HR. Al-Bukhari dan Muslim] Syarat Ketujuh: Mahabbah (Kecintaan). Maksudnya mencintai kalimat ini serta isinya, juga mencintai orang-orang yang mengamalkan konsekuensinya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: "Artinya : Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah." [Al-Baqarah: 165] Maka ahli tauhid mencintai Allah dengan cinta yang tulus bersih. Sedangkan ahli syirik mencintai Allah dan mencintai yang lainnya. Hal ini sangat bertentangan dengan isi kandungan laa ilaaha illallah. [B]. Syarat Syahadat "Anna Muhammadan Rasulullah" 1. Mengakui kerasulannya dan meyakininya di dalam hati. 2. Mengucapkan dan mengikrarkan dengan lisan. 3. Mengikutinya dengan mengamalkan ajaran kebenaran yang telah dibawanya serta meninggalkan kebatilan yang telah dicegahnya. 4. Membenarkan segala apa yang dikabarkan dari hal-hal yang gha-ib, baik yang sudah lewat maupun yang akan datang. 5. Mencintainya melebihi cintanya kepada dirinya sendiri, harta, anak, orangtua serta seluruh umat manusia. 6. Mendahulukan sabdanya atas segala pendapat dan ucapan orang lain serta mengamalkan sunnahnya.

KEEMPAT: KONSKUENSI SYAHADATAIN [A]. Konsekuensi "Laa ilaha illallah" Yaitu meninggalkan ibadah kepada selain Allah dari segala ma-cam yang dipertuhankan sebagai keharusan dari peniadaan laa ilaaha illallah . Dan beribadah kepada Allah semata tanpa syirik sedikit pun, sebagai keharusan dari penetapan illallah. Banyak orang yang mengikrarkan tetapi melanggar konsekuensinya. Sehingga mereka menetapkan ketuhanan yang sudah dinafikan, baik berupa para makhluk, kuburan, pepohonan, bebatuan serta para thaghut lainnya. Mereka berkeyakinan bahwa tauhid adalah bid'ah. Mereka menolak para da'i yang mengajak kepada tauhid dan mencela orang yang beribadah hanya kepada Allah semata. [B]. Konsekuensi Syahadat "Muhammad Rasulullah" Yaitu mentaatinya, membenarkannya, meninggalkan apa yang dilarangnya, mencukupkan diri dengan mengamalkan sunnahnya, dan meninggalkan yang lain dari hal-hal bid'ah dan muhdatsat (baru), serta mendahulukan sabdanya di atas segala pendapat orang. KELIMA: YANG MEMBATALKAN SYAHADATAIN Yaitu hal-hal yang membatalkan Islam, karena dua kalimat syahadat itulah yang membuat seseorang masuk dalam Islam. Mengucap-kan keduanya adalah pengakuan terhadap kandungannya dan konsisten mengamalkan konsekuensinya berupa segala macam syi'ar-syi'ar Islam. Jika ia menyalahi ketentuan ini, berarti ia telah membatalkan perjanjian yang telah diikrarkannya ketika mengucapkan dua kalimat syahadat tersebut. Yang membatalkan Islam itu banyak sekali. Para fuqaha' dalam kitab-kitab fiqih telah menulis bab khusus yang diberi judul "Bab Riddah (kemurtadan)". Dan yang terpenting adalah sepuluh hal, yaitu: Syirik dalam beribadah kepada Allah. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: "Artinya : Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendakiNya." [An-Nisa': 48] "Artinya : ... Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya Surga, dan tempatnya ialah Neraka, tidaklah ada bagi orangorang zalim itu seorang penolong pun." [Al-Ma'idah: 72] Termasuk di dalamnya yaitu menyembelih karena selain Allah, misalnya untuk kuburan yang dikeramatkan atau untuk jin dan lain-lain. Orang yang menjadikan antara dia dan Allah perantara-perantara. Ia berdo'a kepada mereka, meminta syafa'at kepada mereka dan bertawakkal kepada mereka. Orang seperti ini kafir secara ijma'. Orang yang tidak mau mengkafirkan orang-orang musyrik dan orang yang masih ragu terhadap kekufuran mereka atau mem-benarkan madzhab mereka, dia itu kafir. Orang yang meyakini bahwa selain petunjuk Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam lebih sempurna

dari petunjuk beliau, atau hukum yang lain lebih baik dari hukum beliau. Seperti orang-orang yang mengutamakan hukum para thaghut di atas hukum Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam , mengutamakan hukum atau perundang-undangan manusia di atas hukum Islam, maka dia kafir. Siapa yang membenci sesuatu dari ajaran yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sekali pun ia juga mengamalkannya, maka ia kafir. Siapa yang menghina sesuatu dari agama Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam atau pahala maupun siksanya, maka ia kafir. Hal ini ditunjukkan oleh firman Allah Subhanahu wa Ta'ala : "Artinya : Katakanlah: 'Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya dan Rasul-Nya kamu selalu berolokolok?' Tidak usah kamu minta ma`af, karena kamu kafir sesudah beriman." [At-Taubah: 65-66] Sihir, di antaranya sharf dan 'athf (barangkali yang dimaksud adalah amalan yang bisa membuat suami benci kepada istrinya atau membuat wanita cinta kepadanya/pelet). Barangsiapa melakukan atau meridhainya, maka ia kafir. Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala : "Artinya : ... sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada se-orangpun sebelum mengatakan: 'Sesungguhnya kami hanya co-baan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir'."[AlBaqarah: 102] Mendukung kaum musyrikin dan menolong mereka dalam memusuhi umat Islam. Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala : "Artinya : Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim." [Al-Ma'idah: 51] Siapa yang meyakini bahwa sebagian manusia ada yang boleh keluar dari syari'at Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam , seperti halnya Nabi Hidhir boleh keluar dari syariat Nabi Musa alaihis salam, maka ia kafir. Sebagaimana yang diyakini oleh ghulat sufiyah (sufi yang berlebihan/ melampaui batas) bahwa mereka dapat mencapai suatu derajat atau tingkatan yang tidak membutuhkan untuk mengikuti ajaran Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam . Berpaling dari agama Allah, tidak mempelajarinya dan tidak pula mengamalkannya. Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala : "Artinya : Dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayatayat Tuhannya, kemudian ia berpaling daripadanya? Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa." [As-Sajadah: 22] Syaikh Muhammad At-Tamimy berkata: "Tidak ada bedanya dalam hal yang membatalkan syahadat ini antara orang yang bercanda, yang serius (bersungguh-sungguh) maupun yang takut, kecuali orang yang dipaksa. Dan semuanya adalah bahaya yang paling besar serta yang paling sering terjadi. Maka setiap muslim wajib berhati-hati dan mengkhawatirkan dirinya serta mohon perlindungan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dari hal-hal yang bisa mendatangkan murka

Allah dan siksaNya yang pedih." [Disalin dari kitab At-Tauhid Lish Shaffil Awwal Al-Ali, Edisi Indonesia Kitab Tauhid 1, Penulis Syaikh Dr Shalih bin Fauzan bin Abdullah bin Fauzan, Penerjemah Agus Hasan Bashori Lc, Penerbit Darul Haq]