Anda di halaman 1dari 12

HAK ASASI MANUSIA DALAM PERSPEKTIF BANGSA INDONESIA DI ERA GLOBAL

Disusun oleh : Cintamy Fitriyani Widyasari (21060110141050)

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2010 / 2011

BAB I PENDAHULUAN
A. Hak Asasi Manusia
Hak Asasi Manusia adalah seperangkat hak Yang melekat pada hakikat dan keberadaan Manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Kuasa dan merupakan Anugerah-Nya Yang Wajib dihormati, dijunjung dan dilindungi Dibuat Tinggi Negara, Hukum, Pemerintah dan Orang terkait masih berlangsung, demi kehormatan Serta perlindungan Harkat dan martabat Manusia (Pasal 1 Angka 1 UU No 39 Tahun 1999 Tentang HAM dan UU No 26 Tahun 2000 Tentang Pengadilan HAM). Pembagian Bidang, Jenis dan Macam Hak Asasi Manusia Dunia : 1. Hak asasi pribadi / personal Right - Hak kebebasan untuk bergerak, bepergian dan berpindah-pindah tempat - Hak kebebasan mengeluarkan atau menyatakan pendapat - Hak kebebasan memilih dan aktif di organisasi atau perkumpulan - Hak kebebasan untuk memilih, memeluk, dan menjalankan agama dan kepercayaan yang diyakini masing-masing 2. Hak asasi politik / Political Right - Hak untuk memilih dan dipilih dalam suatu pemilihan - Hak ikut serta dalam kegiatan pemerintahan - Hak membuat dan mendirikan parpol / partai politik dan organisasi politik lainnya - Hak untuk membuat dan mengajukan suatu usulan petisi 3. Hak azasi hukum / Legal Equality Right - Hak mendapatkan perlakuan yang sama dalam hukum dan

pemerintahan - Hak untuk menjadi pegawai negeri sipil / pns

- Hak mendapat layanan dan perlindungan hokum 4. Hak azasi Ekonomi / Property Rigths - Hak kebebasan melakukan kegiatan jual beli - Hak kebebasan mengadakan perjanjian kontrak - Hak kebebasan menyelenggarakan sewa-menyewa, hutang-piutang, dll - Hak kebebasan untuk memiliki susuatu - Hak memiliki dan mendapatkan pekerjaan yang layak 5. Hak Asasi Peradilan / Procedural Rights - Hak mendapat pembelaan hukum di pengadilan - Hak persamaan atas perlakuan penggeledahan, penangkapan,

penahanan dan penyelidikan di mata hukum. 6. Hak asasi sosial budaya / Social Culture Right - Hak menentukan, memilih dan mendapatkan pendidikan - Hak mendapatkan pengajaran - Hak untuk mengembangkan budaya yang sesuai dengan bakat dan minat

B. Pengertian Perspektif
Perspektif merupakan suatu kumpulan asumsi maupun keyakinan tentang sesuatu hal, dengan perspektif orang akan memandang sesuatu hal berdasarkan cara-cara tertentu, dan cara-cara tersebut berhubungan dengan asumsi dasar yang menjadi dasarinya, unsur-unsur pembentuknya dan ruang lingkup apa yang dipandangnya. Perspektif membimbing setiap orang untuk menentukan bagian yang relevan dengan fenomena yang terpilih dari konsep-konsep tertentu untuk dipandang secara rasional. Secara ringkas dapat disimpulkan bahwa perspektif adalah kerangka kerja konseptual, sekumpulan asumsi, nilai, gagasan yang mempengaruhi

perspektif manusia sehingga menghasilkan tindakan dalam suatu konteks situasi tertentu.

C. Era Global
Menurut asal katanya, kata "globalisasi" diambil dari kata global, yang maknanya ialah universal. Achmad Suparman menyatakan Globalisasi adalah suatu proses menjadikan sesuatu (benda atau perilaku) sebagai ciri dari setiap individu di dunia ini tanpa dibatasi oleh wilayah Globalisasi belum memiliki definisi yang mapan, kecuali sekedar definisi kerja (working definition), sehingga bergantung dari sisi mana orang melihatnya. Ada yang memandangnya sebagai suatu proses sosial, atau proses sejarah, atau proses alamiah yang akan membawa seluruh bangsa dan negara di dunia makin terikat satu sama lain, mewujudkan satu tatanan kehidupan baru atau kesatuan ko eksistensi dengan menyingkirkan batas batas geografis, ekonomi dan budaya masyarakat.

D. HAM di Indonesia pada era global saat ini


Era globalisasi, era dimana kebebasan telah menjadi dasar yang digunakan manusia dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Setiap orang sudah memiliki kebebasan mutlak dalam bertindak, berbicara dan

berpartisipasi di era serba moderen ini. Derajat telah disamaratakan tanpa diskriminasi dan perbedaan. Jenis kelamin tidak lagi menjadi tembok untuk berkembang. Warna kulit telah diabaikan di setiap komunikasi. Hak dan kewajiban telah bersatu menjadi bagian dari setiap masyarakat. Namun demikian tidak semua orang mempraktekkan hal-hal tersebut dalam setiap aktivitasnya. Terlihat masih banyak penyimpangan dan perselisihan yang diakibatkan oleh gender, dikotomi warna kulit, materi, sehingga tidak heran bullying terjadi di banyak tempat. Padahal tanpa

mendesegregasikan perbedaan tersebut, akan sangat merugikan keharmonisan antar masyarakat. Apalagi sampai menghubungkan ke masalah genetik.Dan lagi sadarkah mereka bahwa telah mutlak setiap manusia memiliki Hak Asasi Manusia? Namun, terkadang di abad ke 21 ini semua seperti serba salah.Rakyat di berikan Bantuan Langsung Tunai (BLT) malah menjadikannya sebagai ajang meminta-minta. Busway dengan tujuan utama untuk mengatasi masalah transportasi malah menjadi tempat pelecehan seksual. Bahkan demo-demo yang diwarnai aksi brutal terus bergejolak di setiap depan kantor pemerintah. Apakah semua itu bisa dikatakan hak mereka? Kadangkala alasan-alasan yang dilontarkan oleh pelaku kejahatan tertuju kepada Hak Asasi Manusia itu sendiri. Seenaknya para mahasiswa berkata itu hak saya untuk berbicara dalam aksi demo yang kebanyakan bukan berbicara melainkan aksi anarkis yang merugikan masyarakat umum. Begitu juga BLT, mereka yang menggunakannya sebagai ajang memintaminta memberikan alasan: itu hak kami menggunakannya untuk apa. Padahal jelas BLT bukan ajang pemberian uang, tapi modal agar mereka bisa membuka usaha untuk menunjang kehidupannya.

BAB II PERMASALAHAN
Dari kasus yang disebutkan dalam HAM di Indonesia pada era global saat ini yang terdapat pada bab 1 merupakan contoh simpel penyalahgunaan HAM yang sekarang banyak terjadi di kehidupan nyata. Mereka menggunakan Hak Asasi sebagai tameng alasan untuk melakukan perbuatan yang mereka anggap benar namun kenyataannya jelas-jelas salah. Memang, arti dasar dari Hak Asasi Manusia itu sendiri adalah hak yang melekat pada diri setiap manusia sejak awal dilahirkan yang berlaku seumur hidup dan tidak dapat diganggu gugat siapa pun. Namun bukan berarti Hak asasi berada di puncak dari segala-galanya. Masih banyak nilai-nilai yang harus diperhatikan dalam bertindak, bukan hanya beralaskan Hak asasi saja. Namun disini, masih terdapat banyak penyalahgunaan hak asasi dalam beberapa tindakan yang bertentangan dengan norma-norma dan peraturan yang berlaku di masyarakat. Demo salah satunya. Hak untuk berpendapat sangat berkaitan dengan delinkuensi ini. Dalam suatu negara yg menganut sistem demokrasi adalah hal yg wajar jika ada rakyat dan massa masyarakat yg melakukan demonstrasi Namun Demonstrasi yg terjadi di negara kita sangat jauh berbeda dengan demonstrasi yg di lakukan oleh masyarakat negara lainya, Karena selalu berakhir dengan anarkis dan berkembang menjadi Kerusuhan, Pengerusakan, Penganiayaan dan Penjarahan Namun saat ini kuantitasnya sudah agak jauh berkurang, Semua ini bisa terjadi karena Wadah yg resmi tidak aspiratif, Tidak adanya ketegasan dari aparat penegak hukum, Di mana-mana masih terjadi ketidakadilan dan masih banyak taraf hidup hidup masyarakat yg di bawah kemiskinan, Umumnya sekarang jika ada terjadi masalah demon adalah demon dalam rangka pilkada Sekarang ini melakukan demonstrasi sudah di anggap sebagai mata pencaharian atau pekerjaan oleh sebagian masyarakat, Karena sudah ada pihak dan orang yg mengkodinir mereka, Setiap saat mereka telah siap untuk di sewakan

jasanya bagi pihak atau orang yg memerlukannya, Maju tak gentar membela yang benar, Kalau sekarang Maju tak gentar membela yang bayar, Contoh kasusnya adalah demon pemindahan lokasi Money Changers di bandara, Banyak peserta demon di tanya sama wartawan apa arti dari Money Changers, Semua geleng kepala dan menjawab tidak tahu artinya Kalau dahulu orang melakukan demonstrasi tujuanya adalah sangat mulia, Untuk merubah segala sesuatu menjadi lebih baik bagi masyarakat banyak, Kalau sekarang lebih bernuansa politik dan kepentingan serta memaksa kehendak dari pada lainya, Memang ada sebagian masyarakat yg melakukan demonstrasi dengan tujuan yg murni, Namun oleh oknum dan orang2 yg ada di sekitar demon, Mempergunakan kesempatan tersebut untuk melakukan Kerusuhan, Keributan, Pengerusakan dan berakhir dengan penjarahan

BAB III PEMBAHASAN


Dalam hal berdemo yang kerap kali terjadi di Indonesia ini, yang seharusnya menjadi salah satu wujud masyarakat dalam menggunakan hak untuk berpendapat justru malah menjadi penyalahgunaan HAM dan menggangu hak pribadi orang lain dengan tindak anarkis dan kebrutalan para pendemo. Memang dalam UU No. 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia pasal 25 dijelaskan bahwa Setiap orang berhak untuk menyampaikan pendapat di muka umum, termasuk hak untuk mogok sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Namun bukan berarti pasal tersebut dijadikan tameng dalam berdemo dengan melakukan anarkiesma dan kebrutalan. Padahal jelas disebutkan dalam Undang-Undang Dasar 1945 pasal 28 j ayat 1 bahwa, setiap orang wajib menghormati HAM orang lain dalam tertib kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Yang kemudian diperjelas lagi pada ayat 2 Di dalam menjalankan hak dan kebebasannya, setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan dengan undang-undang deengan maksud semata-mata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral, nilai agama, keamanan, dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis Menhankam/Pangab Jenderal TNI Wiranto mengatakan unjuk rasa atau demonstrasi tidak dilarang atau dicegah asalkan mengacu kepada UU tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum (KMPDU) yang sudah disahkan pemerintah. Individu atau kelompok tidak dilarang melakukan unjuk rasa atau demonstrasi, ujar Wiranto, tetapi pelaksanaannya harus sesuai dengan UU KMPDU agar tidak merugikan individu atau masyarakat lain.

Menurut Jenderal Wiranto, dengan disahkannya UU KMPDU, maka cara melaksanakan unjuk rasa sudah diatur. ''Artinya, semua masyarakat dan aparat keamanan harus menghormati UU itu,'' tambahnya. Pangab mengatakan jika semua memahami dan menyadari bahwa UU itu harus dihormati maka sebagai bangsa yang saat ini sudah menuju ke satu kebebasan yang bertanggung jawab, demokratisasi yang lebih sehat tentu harus melaksanakan penyampaian tuntutan dan pendapat secara sehat tanpa mengganggu kebebasan orang lain. Bagi aparat keamanan sendiri, jelasnya, bila pelaksanaan unjuk rasa atau demonstrasi itu melanggar UU maka mereka akan bertindak agar tidak merugikan masyarakat lain. Mensesneg Akbar Tanjung di tempat yang sama secara terpisah

mengemukakan Presiden Habibie sudah menandatangani UU tersebut pada tanggal 23 Oktober 1998 menjadi UU No.9/1998. ''UU itu berlaku efektif sejak ditandatangani,'' jelasnya. Pada bagian lain, Pangab mengimbau agar anggota DPR membantu mensosialisasi UU tersebut ke seluruh lapisan masyarakat. ''Terutama bagi mereka yang masih menyenangi cara-cara demonstrasi agar dapat memahami dan menerapkannya di lapangan,'' tegasnya. Pemahaman itu, tuturnya, bertujuan agar tidak timbul salah pengertian antara pengunjuk rasa dan aparat keamanan yang menertibkannya. Jadi bukan menghambat dan bukan melarang. ''Aparat keamanan hadir di lapangan bukan melarang dan bukan menghambat, melainkan mengatur dan mengawasi agar demonstrasi berjalan tertib dan demonstran tidak mengganggu kegiatan masyarakat lainnya,'' katanya. Berdemo sebenarnya merupakan salah satu hak pribadi setiap orang asalkan taat dan patuh dengan peraturan yang berlaku. Bukannya menjadi pendemo yang indisipliner. Menghindari perbuatan anarkis yang merugikan masyarakat umum salah satunya. Karena meski mereka beralasan kami memiliki hak berpendapat tetapi

mereka melupakan sesuatu yang lebih penting dari itu. Yaitu menganggu hak pribadi masyarakat umum disebabkan perbuatan brutal mereka. Disini yang harus digarisbawahi adalah minimnya sosialisasi dan pengetahuan dasar para penyalahguna hak tersebut dalam menjalani kehidupan nyata. Mereka seenaknya menjadikan Hak Asasi sebagai tameng penyelewengan mereka. Karena sebenarnya hak bukan satu-satunya alasan dalam setiap tindakan. Namun norma, peraturan, hak orang lain juga harus dipertimbangkan.

BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan
Hak Asasi Manusia adalah seperangkat hak Yang melekat pada hakikat dan keberadaan Manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Kuasa dan merupakan Anugerah-Nya Yang Wajib dihormati, dijunjung dan dilindungi. Ada banyak Hak yang dimiliki setiap orang. Salah satu contoh ialah Demo. Demo merupakan salah satu wujud penyampaian hak pribadi setiap orang untuk menyatakan pendapat maupun menyampaikan aspirasinya. Namun hal itu tetaplah harus mengikuti aturan UU yang berlaku, dan bukan malah menjadikan demo sebagai ajang penganiayaan ataupun aksi brutal lainya. Untuk itulah dalam menghadapi dan mengatasi para demonstran di Indonesia, dibutuhkan unit yang bertanggungjawab yang tidak lain adalah pihak kepolisian. Sehingga segala kegiatan demonstrasi bisa berjalan baik sesuai dengan tujuannya. Meskipun begitu tidak sepantasnya juga pihak kepolisian melakukan tindak kekerasan terhadap para demonstran, kecuali memang benar-benar diperlukan.

B. Saran
Setiap kita ingin menuntut suatu hak maka haruslah kita melaksanakan kewajiban juga, yaitu menghormati hak milik orang lain.

DAFTAR PUSTAKA
[ 1 ] Davidson, Scott. 1994. Hak Asasi Manusia. Jakarta : Penerbit PT Pustaka Utama Grafiti [ 2 ] Dr. Firmanzar. 2007.Globalisasi : Sebuah Proses Dialektika Sistemik. Jakarta :The Ary Suta Center [ 3 ] Kosasih, Ahmad. 2003. HAM dalam Perspektif Islam.Jakarta : Salemba [ 4 ] Pudjiarto, St. Harum. 1993. Hak Asasi Manusia di Indonesia. Yogyakarta : Penerbitan Universitas Atmajaya Yogyakarta. [ 5 ] Prof. Dr. Muladi, SH. 2002. Hak Asasi Manusia, Politik dan Sistem Peradilan Pidana. Semarang. : Badan Penerbit Universitas Diponegoro Semarang