Anda di halaman 1dari 13

DESATYA ROSSA AMYGHA

DEFINSI
SSNHL didefinisikan sebagai kehilangan pendengaran minimal 30 dB dalam 3 frekuensi berurutan dalam audiogram nada standar murni selama 3 hari atau kurang.. Usia rata-rata di mana SSNHL terjadi adalah 50 sampai 60 tahun, dan tidak ada perbedaan antara pria dan wanita. Kebanyakan kasus unilateral, dengan hanya 5% bilateral. Kondisi ini bisa ringan, sedang, atau berat sampai sangat berat dan dapat mempengaruhi frekuensi tinggi, rendah, atau semua frekuensi. Tinnitus terjadi pada sekitar 80% dari pasien, dan dengan vertigo sekitar 30%. Serta 80% dari pasien melaporkan rasa kepenuhan di telinga.

Kehilangan pendengaran genetika dapat hadir pada saat kelahiran (bawaan) atau mungkin dalam masa kanak-kanak atau dewasa. Sekitar 50% dari gangguan pendengaran genetik dan kongenital bersifat akuisita. Kehilangan pendengaran genetik dapat muncul sebagai sebuah penyakit atau sebagai bagian dari sebuah sindrom. Sekitar 70% dari gangguan pendengaran genetik merupakan nonsyndromic dan sekitar 30% adalah syndromic.

ETIOLOGI
Ada beberapa kemungkinan penyebab SSNHL, termasuk infeksi virus atau berbagai bakteri. Virus misalnya mumps, varicella-zoster, Epstein-Barr, dan virus lainnya. Meningitis bacterial mempengaruhi sampai 35% dari pasien. Penyebab infeksi lain yang mungkin bisa meliputi meningitis oleh jamur, otosyphilis, dan human immunodeficiency virus. Gangguan pembuluh darah juga dapat menyebabkan SNHL, termasuk aterosklerosis dan hipotensi. SSNHL dapat lebih sering ditemukan pada pasien diabetes dan dengan tigkat yang lebih parah. Yang penting namun kurang dipahami penyebab SSNHL adalah gangguan telinga bagian oleh karena sistem imun (autoimun).

ETIOLOGI

Secara Genetik Osteogenesis imperfecta Leopard syndrome (multiple lentigines) Otosclerosis Robinson type ectodermal dysplasia Cockayne syndrome Bjorn pili torti and deafness syndrome Multiple synostosis syndrome Hunter syndrome Taybi oto-palato-digital syndrome Hereditary nephritis Mohr syndrome Hurler syndrome Waardenburg syndrome Kartagener syndrome Fronto-metaphyseal dysplasia syndrome Morquio syndrome Trisomy 13 S Multiple lentigines syndrome Treacher Collins syndrome Stickler syndrome

ETIOLOGI

Sejak Lahir Kasus pada bayi Rubella syndrome Congenital atresia of the external auditory canal Congenital cytomegalovirus Congenital perilymphatic fistula Fetal methyl mercury effects Fetal iodine deficiency effects Meningitis Penyakit gondok Campak Infeksi Telinga Akut (otitis media) Scarlet fever Penyakit yang disebabkan karena infeksi tenggorokan klasifikasi grup A beta-hemolytic streptococcal bacteria. Gejalanya disertai Radang Tenggorokan, Demam, ruam pada dada dan leher, lidah berwarna seperti strawberi, pusing, menggigil dan nyeri pada otot

ANAMNESA
Setelah kehilangan pendengaran diidentifikasi, anamnesis lengkap harus dilakukan mencakup kehamilan, perinatal, postnatal, dan sejarah keluarga. Masalah medis atau kelainan morfologi dari telinga, wajah, atau sistem organ lainnya mungkin, berkaitan dengan gangguan pendengaran bisa membantu klinisi untuk mencocokkan dengan syndrom syndrom tertentu.

PEMERIKSAAN FISIK
Diagnosis tuli mendadak ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan THT, audiologi, laboratorium serta pemeriksaan penunjang lain. Anamnesis yang teliti mengenai proses terjadinya ketulian, gejala yang menyertai serta faktor predisposisi penting untuk mengarahkan diagnosis. Pemeriksaan fisik termasuk tekanan darah sangat diperlukan. Pada pemeriksaan otoskopi tidak dijumpai kelainan pada telinga yang sakit. Pada pemeriksaan audiologi didapatkan:
Tes Garpu tala: Rinne positif, Weber lateralisasi ke telinga yang sehat, Schwabach memendek. Kesan: tuli sensorineural. Audiometri nada murni: tuli sensorineural derajat ringan sampai sangat berat.

PEMERIKSAAN FISIK
Tuli Konduksi Tes Pendengaran Tuli Sensori Neural Tidak dengar huruf lunak Dengar huruf desis Tes Bisik Dengar huruf lunak Tidak dengar huruf desis Normal Batas Atas Menurun Naik Batas Bawah Normal Negatif Tes Rinne Positif, false positif / false negatif Lateralisasi ke sisi sakit Tes Weber Lateralisasi ke sisi sehat Memanjang Tes Schwabach Memendek

PEMERIKSAAN FISIK
JENIS Tes Bisik RHINE Webber Swabach

SNHL

Dengar huruf lunak Tidak dengar huruf desis

Positif

Lateralisasi ke telinga yang sehat

Memendek

CHL

Tidak dengar huruf lunak, Dengar huruf desis

Negatif

Lateralisasi ke telinga yang sakit

Memanjang

PEMERIKSAAN FISIK
Kelainan banyak sistem telah dikaitkan dengan gangguan pendengaran syndromic, termasuk sebagai berikut:
Kraniofasial malformasi Kelainan gigi Kelainan mata Kerusakan ginjal Kelainan jantung Disfungsi endokrin Disfungsi neurologis Abnormalitas skeletal Kelainan integumen Penyakit metabolik Kelainan kromosom

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Serangkaian tes laboratorium rutin tidak dianjurkan dalam evaluasi pasien dengan gangguan pendengaran. Suatu penilaian rasional rasio biaya-manfaat dan kecurigaan dokter terhadap penyakit tertentu menentukan pilihan studi laboratorium yang perlu dilakukan. Tes yang dapat dilakukan antara lain:
Pengujian genetik Complete blood count Kimia darah Gula darah BUN / kreatinin fungsi thyroid Urinalisis Fluorescent penyerapan antibodi treponemal (FTA-ABS) Imunoglobulin M (IgM) tes untuk toksoplasmosis, rubella, sitomegalovirus, virus herpes, dan autoimun, misalnya, tingkat sedimentasi eritrosit (ESR), antibodi antinuclear (ANA), faktor rheumatoid (RF). CT Scan, MRI dan USG

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Audiometry Tympanometry Acoustic reflex threshold measurement Otoacoustic emissions (OAE)