Anda di halaman 1dari 10

APA ITU PEMBEDAAN ROH?

Sampai pada suatu saat, matanya sedikit terbuka Kita akan memulai permenungan ini dengan melihat apa yang dialami oleh Ignatius pada masa penyembuhannya di Loyola, sebagaimana selanjutnya dicatat oleh Luis Goncalves da Camara dalam Autobiografi. Pengalaman ini adalah titik balik dalam hidup Ignatius. Sebelumnya, hidupnya diarahkan terutama untuk mengejar kemashyuran dengan kemahiran permainan senjata dan keksatriaan. Setelah pengalaman ini, Ignatius membaktikan hidupnya untuk pengabdian kepada Raja Abadi dan memulai peziarahan kekudusannya, hal mana akan menjadi inspirasi bagi banyak orang, bahkan sampai sekarang. Kita akan membaca kisah pengalaman ini dengan hati-hati dan penuh perhatian, dengan memperhatikan pola pikiran dan perasaan yang ada di dalamnya, dan semuanya ini akan menyingkapkan pengalaman rohani Ignatius dalam peristiwa penting yang mengawali peziarahan rohaninya. Pengalaman inilah yang menjadi dasar ajarannya tentang pembedaan roh. Setelah terluka dalam perang melawan tentara Perancis di Pamplona, Ignatius kembali ke tempat asalnya, Loyola. Dia menjalani dua operasi pada kakinya. Kondisi kesehatannya bagus, kecuali bahwa dia tidak bisa berdiri dan karenanya hanya bisa berbaring di ranjangnya sambil menunggu proses penyembuhan selesai. Untuk mengisi waktu, dia meminta buku bacaan untuk dibaca. Sebagaimana kegemarannya waktu itu, dia meminta buku-buku tentang kisah-kisah keksatriaan. Namun, di rumah tidak tersedia buku-buku semacam itu. Oleh karena itu, sebagai pengganti, dia diberi dua bacaan rohani: Hidup Kristus (Vita Christi) dan Bunga Rampai Para Kudus (Flos Sanctorum). Karena tidak ada pilihan lain, dengan agak ogah-ogahan , dia mulai membacanya. Perlahan-lahan dia mulai tertarik dengan bacaan-bacaan itu. Berikut ini adalah uraian dalam Autobiografi tentang apa yang dialami oleh Ignatius pada saat itu. Tekanan pada angan-angan dan pikiran sangat jelas di sini. Ia membaca buku-buku itu berulang kali dan mulai tertarik sedikit pada apa yang tertulis di situ. Selesai membaca, kadang-kadang ia berhenti untuk memikirkan kembali apa yang telah dibacanya. Lain kali ia berpikir lagi mengenai hal-hal duniawi, yang biasanya dipikirkannya. Di antara sekian hal duniawi yang muncul di benaknya, ada satu yang sangat memikat perhatiannya. Ia dapat melamunkan selama dua atau tiga atau bahkan empat jam mengenai hal itu, tanpa merasakannya. Ia mengkhayalkan apa yang akan dilakukan dalam pengabdian kepada seorang puteri: bagaimana ia akan sampai pada negeri di mana putri itu tinggal; sebutan dan kata-kata mana yang akan dipakainya; tindakan-tindakan besar apa yang akan dilakukan untuknya. Ia begitu tenggelam dalam khayalan itu, ia sama sekali tidak berpikir betapa mustahil melakukan itu; sebab putri itu bukan dari kalangan bangsawan biasa, bukan condesa, bukan duquesa, tetapi jauh lebih tinggi daripada semua itu. Dari uraian ini dapat kita lihat bahwa pengalaman Ignatius ini merupakan pengalaman tentang pikiran yang terus berkembang dan intensif tentang hal-hal duniawi. Selama pikiran itu berlangsung, kemampuan lain dalam diri Ignatius tentu juga aktif. Kita dapat melihat perasaan mulai aktif di sini: halhal duniawi sedemikian kuat menguasai hatinya. Selain perasaan, imajinasi juga berperan sangat penting. Kita bisa menganalisa elemen-elemen lain yang berperan dalam pengalaman ini. Ignatius secara sederhana hanya mengatakan bahwa ia sedemikian tenggelam dalam khayalan itu sehingga tidak lagi

berpikir tentang betapa mustahilnya hal itu. Sudah terlihat ada sesuatu yang salah sebenarnya dalam pengalaman ini. Hal kedua berasal dari buku-buku yang dibacanya. Bergantian dengan yang pertama, pikiran ini juga cukup menyita perhatian dan pikiran Ignatius. Kali ini Ignatius mulai berpikir untuk mencontoh hidup para kudus dengan gairah yang luar biasa. Sekali lagi tekanan pada pikiran sangat jelas di sini: Bagaimanapun juga, Tuhan membantunya, dengan mendatangkan pikiran lain sesudah itu, yang timbul dari apa yang dibacanya. Apabila membaca tentang kehidupan Tuhan kita dan para santo, ia mulai berefleksi dan berpikir begini: Bagaimana, kalau aku melakukan apa yang dilakukan St. Fransiskus, atau yang dilakukan St. Dominikus? Begitulah ia berefleksi mengenai banyak hal yang dirasa baik. Ia selalu membayangkan hal-hal yang sulit dan berat, tetapi bila dibayangkan ia selalu merasa mudah untuk melaksanakannya. Seluruh pikirannya yang selalu dikatakan pada dirinya sendiri tidak lain daripada: St. Dominikus melakukan itu, jadi aku harus melakukannya juga; St. Fransiskus melakukan itu, jadi aku harus melakukannya juga. Pikiran seperti itu bertahan cukup lama. Lalu ia sibuk dengan hal-hal lain. Kemudian muncul lagi pikiran duniawi seperti yang disebut di atas, dan hal itu pun berlangsung lama. Hal-hal suci, pikiran untuk hidup seperti para kudus, juga berlarut-larut menjadi perhatian pikirannya. Tekanan pada pikiran sangat jelas dalam penggunaan kata-kata seperti berefleksi , berpikir , membayangkan , dan semacamnya. Selanjutnya, ketika melanjutkan uraiannya tentang pengalaman rohaninya, Ignatius dengan jelas memberi suatu kualitas tertentu kepada dua pikiran itu, yang satu suci, yang satu duniawi: Pikiran yang begitu berbeda datang silih berganti, dan itu berjalan terus cukup lama. Ia selalu dikuasai oleh pikiran yang muncul, entah pikiran mengenai tindakan duniawi yang ingin dilakukannya, entah pikiran lain mengenai Allah yang muncul di benaknya. Sampai pikiran-pikiran itu ditinggalkannya karena capai, lalu ia mencari sesuatu yang lain. Ada perubahan di sini. Sebelumnya, meskipun Ignatius sudah menyebutkan elemen perasaan dan imajinasi, tekanannya adalah pada aspek pikiran, yang terbagi dalam dua hal. Di sini, meskipun pikiran tetap berperan penting, perasaan mulai muncul ke permukaan dan selanjutnya panggung disiapkan untuk suatu momen rahmat yang akan mengubah segala hal dalam hidup Ignatius: Ia mengalami perbedaan ini: Bila berpikir mengenai hal-hal duniawi, ia memang senang sekali, tetapi kalau berhenti, karena capai, ia merasa kering dan tidak puas. Sebaliknya, bila berpikir mau pergi ke Yerusalem tanpa sepatu, dan hanya makan sayuran, dan menjalankan semua hal lain yang berat, yang dilihatnya pernah dilakukan oleh para santo, ia merasa terhibur. Bahkan tidak hanya pada saat ia sedang dalam pikiran itu, tetapi juga saat-saat kemudian, bila pikiran itu telah ditinggalkannya, ia tetap merasa puas dan gembira. Dua pikiran tetap ada, tetapi kali ini Ignatius mulai memperhatikan perasaan yang muncul bersamaan dengan dua pikiran itu. Penggunaan kata-kata seperti senang , kering , tidak puas , terhibur , puas , dan gembira membuat hal ini semakin jelas. Pada level pikiran, ada suatu kesamaan dalam hal keduanya: baik yang suci maupun yang duniawi sama menariknya dan bisa menguasai pikiran Ignatius selama berjam-jam. Perbedaannya hanya pada objek yang dipikirkan, apakah suci atau duniawi. Oleh karena itu, persamaan keduanya adalah: keduanya sama dalam hal waktu berlangsungnya dan juga sama menariknya.

Tetapi dua hal itu menjadi sangat berbeda ketika menyentuh level perasaan. Di sini ada perbedaan mendasar yang oleh Ignatius dideskripsikannya menurut urutan waktu munculnya perasaan itu: selama (pikiran berlangsung) dan setelah (pikiran selesai). Selama pikiran berlangsung, memang tidak ada perbedaan perasaan yang signifikan; kedua pikiran disertai dengan perasaan welcome , suatu perasaan senang, gembira, menyenangkan. Namun sesudah itu, reaksi perasaan tidak lagi sama. Ketika Ignatius berhenti memikirkan hal-hal duniawi, dia merasa kering dan tidak puas. Tetapi setelah berpikir untuk meniru hidup para kudus, rasa senang tetap bertahan, bahkan dilanjutkannya dengan puas dan gembira. Selanjutnya, inilah momen rahmat yang terjadi: Akan tetapi ia tidak memperhatikan hal itu dan juga tidak menyempatkan diri untuk mempertimbangkan perbedaan itu. Sampai pada suatu saat matanya sedikit terbuka, dan ia mulai merasa heran akan perbedaan itu dan mengadakan refleksi tentang hal itu. Ia mulai menyadari berdasarkan pengalaman bahwa dari pikiran yang satu ia menjadi murung, dan dari yang lain gembira. Sedikit demi sedikit ia mulai menyadari perbedaan roh-roh yang menggerakkannya: satu dari setan, yang lain dari Allah. Sulit untuk menggambarkan betapa kuatnya daya rohani yang termuat dalam frase singkat ini: matanya sedikit terbuka . Mulai saat itulah Ignatius melangkah menuju wilayah rohani yang sama sekali baru. Sebelumnya, perasaan yang kontras, yang berhubungan dengan dua pikiran yang juga kontras, telah dialami oleh Ignatius, tetapi dia tidak menyadarinya. Kali ini, pikiran dan perasaan itu masih juga berlangsung, tetapi mata batinnya telah terbuka sedikit, sehingga dia sekarang menyadari pola pikiran dan perasaan yang berbeda-beda dalam hatinya itu. Persis pada saat itulah, yaitu saat Ignatius menyadari adanya perbedaan perasaan atas pengalaman rohani dalam hatinya, ajarannya tentang pembedaan roh lahir. Ajaran ini muncul langsung dari pengalaman pribadinya dan dari pengalaman berahmat masa penyembuhannya. Itulah sebabnya kita memulai pembahasan tentang pembedaan roh ini dari sini; Ini adalah awal yang sangat penting, segalanya berawal dari sini. Namun, Ignatius tidak puas hanya dengan kesadaran saja, betapapun pentingnya hal ini. Setelah menyadarinya, Ignatius mulai menimbang-nimbang perbedaan-perbedaan yang disadarinya itu, dan mengadakan refleksi tentang hal itu . Refleksi ini membuat ia mulai menyadari berdasarkan pengalaman dan sedikit demi sedikit ia mulai menyadari makna perbedaan-perbedaan itu. Dia semakin dapat memahami perbedaan roh-roh yang menggerakkannya, entah dari roh buruk atau dari Allah. Ignatius menyadari bahwa pola perasaan tertentu biasanya menyertai pikiran-pikiran tertentu. Perasaan yang berbeda-beda yang dia perhatikan setelah pikiran selesai adalah objek refleksi. Dia menyimpulkan bahwa jika pikiran tentang sesuatu (duniawi) menyebabkan perasaan senang yang berakhir dengan rasa sedih, maka sesuatu itu bukanlah tindakan Allah, melainkan roh buruk. Sebaliknya, jika pikiran tentang sesuatu yang lain (hal-hal suci) menyebabkan perasaan senang yang berlangsung lama, bahkan setelah pikiran itu selesai, maka sesuatu itu memuat suatu rasa tentang tindakan Allah dalam hatinya. Dalam perjalanan selanjutnya, Ignatius dengan setia mengambil tindakan berdasarkan pengertiannya ini. Kesadaran dan pengertian ini membuatnya menerima pikiran-pikiran suci sebagai yang datang dari Allah, dan menolak pikiran-pikiran duniawi sebagai yang datang dari roh buruk. Dengan murah hati, dia memulai hidup barunya berdasarkan pikiran-pikiran yang diyakininya berasal dari Allah.

Dia pergi ke Manresa, dan mulai (bukan tanpa kecerobohan) meniru hidup para kudus. Dia berziarah ke Yerusalem; arah hidupnya sungguh sama sekali baru. Ini adalah proses rohani yang dialami oleh Ignatius selama masa penyembuhannya di Loyola. Proses ini memuat tiga langkah: sadar (becoming aware), memahami (understanding), dan mengambil tindakan (taking action): menerima atau menolak. Pengalaman Ignatius ini sangat berpengaruh dalam perjalanan hidup Ignatius bahkan juga dalam hidup Gereja sampai sekarang. Hal ini membuktikan bahwa sebenarnya kita telah sampai pada hal yang sangat penting dalam hidup Ignatius dan dalam hidup rohani pada umumnya. Apa yang terjadi jika matanya tidak sedikit terbuka ? Apa yang terjadi jika Ignatius tidak mengadakan refleksi tentang kesadaran barunya, dan tidak mengambil tindakan berdasarkan itu, dan mengikuti pikiran duniawi yang pada saat yang sama juga menguasainya? Selanjutnya, pertanyaan bagi kita, apa yang akan terjadi dalam hidup kita jika mata batin kita tidak cukup terbuka dalam hidup sehari-hari? Pengalaman awal Ignatius tentang pembedaan roh ini dengan jelas memberi pemahaman tentang pentingnya mengenali gerak-gerak batin di dalam hati kita. Pengalaman ini juga mengungkapkan manfaat yang akan kita temukan dalam ajaran praktis Ignatius tentang pembedaan roh. Kita melihat pengalaman Ignatius pada masa penyembuhannya di Loyola karena pengalaman ini memberikan konteks ajaran Ignatius tentang pembedaan roh, dan sekaligus merupakan pengantar yang baik untuk judul pedoman-pedoman yang dia berikan. Pada awal pedoman yang dia berikan, dia dengan sangat singkat meringkas pengalamannya di Loyola yang sebelumnya telah kita lihat itu. Dalam terang pengalaman di Loyola itulah pedoman ini bisa kita pahami dan menjadi sangat kaya. Judul Ajarannya Ignatius memulai ajarannya tentang pembedaan roh dengan pengantar yang sangat padat: Pedoman-pedoman ini diberikan supaya dapat merasa dan mengenal (sampai batas tertentu) berbagai gerak yang timbul dalam jiwa: yang baik untuk diterima, yang buruk dibuang. Pedomanpedoman berikut ini lebih sesuai untuk minggu pertama. Tulisan yang padat ini memuat beberapa elemen dari pembedaan roh dan harus dilihat dengan sangat hati-hati. Tulisan itu dibuat berdasarkan pola rangkap tiga yang telah kita temukan sebelumnya dalam pengalaman Ignatius dalam masa penyembuhannya di Loyola. Pola rangkap tiga ini akan menjadi sangat penting dalam pembahasan kita selanjutnya. Kata pertama dalam judul menggambarkan jenis tulisan yang dibuat oleh Ignatius. Ignatius mendeskripsikan ajarannya tentang pembedaan roh sebagai suatu kumpulan pedoman-pedoman. Jadi Ignatius tidak membuat suatu traktat rohani sebagaimana pernah dibuat sebelumnya oleh Fransiskus dari Sales, Yohanes dari Salib, dll. Ada dua alasan mengapa Ignatius membuat demikian: pertama, untuk mengajar kita tentang elemen-elemen yang termuat dalam pembedaan roh, dan, kedua, untuk memberikan norma-norma praktis tentang apa yang mesti dibuat berdasarkan ajaran itu. Ini adalah pedoman ringkas tentang realitas-realitas dalam pembedaan roh yang berisi pedoman-pedoman tentang bagaimana memperlakukan realitas-realitas itu. Oleh karena itu, aturan ini lebih bersifat praktis daripada spekulatif. Itulah sebabnya Ignatius menyebutnya kumpulan pedoman-pedoman (a set of rules). Dalam pedoman ini, sebagaimana juga diandaikan dalam kerangka keseluruhan Latihan Rohani, Ignatius mengandaikan bahwa pedoman-pedoman ini dibicarakan dengan orang yang cukup memahami

isi dari pedoman-pedoman ini. Dalam praktek, pedoman-pedoman ini sebaiknya dijelaskan oleh seseorang yang lebih tahu kepada orang lain dengan disposisi rohani tertentu sebagaimana dijelaskan dalam pedoman. Dengan demikian, orang yang bersangkutan diharapkan dapat memperoleh manfaat dari pedoman ini, terutama untuk belajar memberi respon terhadap pengalaman rohani tertentu. Dengan bantuan keduanya (pedoman Ignatius dan orang yang menjelaskannya dengan tepat), orang diharapkan dapat sungguh terbantu dan semakin mampu memberi makna kepada pengalaman rohaninya sendiri, dan dengan demikian juga semakin menjalani hidup sesuai dengan kehendak Allah. Inilah tujuan pembedaan roh. Ignatius memberI catatan bahwa empat belas pedoman ini akan membantu sampai batas tertentu dalam pembedaan roh. Hal ini menyatakan bahwa pembedaan roh pada akhirnya adalah seni. Empat belas pedoman yang ditulis oleh Ignatius tidak dimaksudkan untuk menyatakan segalanya tentang pembedaan roh. Penafsiran atas sampai batas tertentu ini bervariasi. Ada yang mengatakan bahwa ini menunjuk pada pedoman pembedaan roh minggu kedua. Untuk kita, cukuplah untuk mengetahui bahwa empat belas pedoman ini, dengan segala kekayaannya, tidak mengatakan segalanya tentang pembedaan roh. Meskipun demikian, pada kenyataannya, dalam hal pembedaan roh, pedoman-pedoman ini adalah yang paling praktis dalam seluruh tradisi Kristiani. Dengan cara yang unik dan karena Ignatius membuatnya dalam bentuk pedoman, empat belas pedoman ini menjadi sumbangan yang sangat bernilai untuk membantu membuat penafsiran rohani atas gerak-gerak batin dalam hati kita. Pola rangkap tiga Pada permulaan pedoman-pedoman yang ditulisnya, Ignatius menguraikan tiga langkah kunci dalam pembedaan roh. Hal ini mencerminkan pengalamannya sendiri pada masa penyembuhannya di Loyola ketika untuk pertama kalinya dia secara aktif sadar akan pembedaan roh. Kita bisa merumuskan tiga langkah itu dengan kata kerja yang digunakan oleh Ignatius: merasa-menyadari (become aware), mengenali-memahami (understand), menerima / menolak (accept / reject). Dengan demikian pola rangkap tiga dalam pembedaan roh adalah: MENYADARI MEMAHAMI MENGAMBIL TINDAKAN (MENERIMA / MENOLAK) SADAR: upaya untuk memperhatikan, menyadari apa yang terjadi dalam pengalaman batin kita, gerak-gerak batin dalam hati dan pikiran kita; MEMAHAMI: refleksi atas gerak-gerak batin itu, yang bertujuan mengenali mana yang dari Allah dan mana yang bukan; MENGAMBIL TINDAKAN: menerima, artinya, hidup berdasarkan apa yang kita kenali sebagai yang berasal dari Allah, atau menolak, artinya, menyingkirkan dari hidup kita apa yang kita kenali sebagai yang bukan berasal dari Allah. Tiga langkah ini selalu diandaikan dalam penjelasan Ignatius tentang pembedaan roh. Oleh karena itu, kita perlu terbiasa dengan tiga langkah ini. Selanjutnya, kita akan membahas masing-masing secara lebih rinci. MENYADARI (BE AWARE) Dalam pengalaman Ignatius, ini adalah momen ketika matanya sedikit terbuka . Momen ini menggambarkan transisi yang sangat penting dari suatu situasi rohani tertentu ke situasi rohani yang lain. Dalam situasi yang pertama, gerak pikiran dan perasaan nyata terjadi dan memberi dampak pada

arah perjalanan rohani seseorang, tetapi tidak disadari. Dalam situasi yang kedua, gerak batin ini juga nyata terjadi dan memberi dampak, tetapi orang sungguh menyadarinya secara aktif. Orang-orang yang berada dalam situasi kedua inilah yang merupakan orang-orang yang matanya sedikit terbuka dan sungguh memperhatikan pengalaman rohani-batiniah mereka. Tanpa transisi ini, pembedaan roh tidak mungkin; menjadi sadar adalah pintu gerbang menuju pembedaan roh. Kesadaran ini tidak bisa diandaikan begitu saja. Seberapa sadarkah kita akan pengalaman rohanibatiniah kita sendiri? Seberapa jauh kita sungguh terbiasa menyadarinya? Seberapa sering dalam sehari kita membawanya ke permukaan? Apakah kita sungguh pernah secara sadar sejenak berhenti dan menyadari apa yang bergerak dalam hati kita? Pertanyaan-pertanyaan itu adalah pertanyaanpertanyaan penting dalam hidup rohani, dan tidak perlu diberi tekanan secara berlebihan. Ignatius menekankan pentingnya hal ini sebagai awal pedoman pembedaan roh yang dibuatnya. Agustinus, ketika melihat lagi karangannya, Confessiones, yang dibuat ketika matanya sedikit terbuka , menulis demikian: Engkau ada di dalam, dan aku di luar (You were within, and I was without) . Engkau memanggil, berteriak, dan menembus ketulianku. Engkau berkilat, bercahaya, dan Engkau menyirnakan kebutaanku. Dengan melihat lagi pengalamannya, Agustinus sadar bahwa Tuhan selalu aktif dalam dirinya, dalam hatinya, dalam dunia batinnya, dan bahwa dia sendiri selalu berada di luar , selalu melihat keluar , diam di dunia di luar dirinya, dan tidak sadar akan karya Allah di dalam dirinya. Agustinus menggunakan dua metafor energi untuk menggambarkan tindakan Allah dalam dirinya itu. Tuhan memanggil , bahkan berteriak dalam dirinya; Tuhan berkilat dan bercahaya dalam dirinya. Suara Tuhan berteriak dengan sangat kuat dalam pendengaran rohani-batiniahnya; Cahaya Tuhan bersinar dengan cemerlang dalam penglihatan rohani-batiniahnya. Tetapi, sebelum momen rahmat itu datang, Agustinus tidak mendengar-Nya, tidak melihat-Nya, tidak sadar akan karya Allah dalam dirinya itu: Engkau ada di dalam, dan aku di luar (You were within, and I was without). Terlalu sering lingkungan di sekitar kita hidup di luar (live without), tidak sadar akan karya ilahi di dalam (within). Kita sendiri lebih sering menemukan kesadaran kita terfokus ke luar , kurang sadar akan apa yang terjadi di dalam . Inilah ajaran Ignasian tentang pembedaan roh yang pertama dan paling mendasar: menjadi sadar, terus mencoba untuk cukup berada di dalam sehingga gerak batin dalam hati menjadi nyata dalam kesadaran kita. Pentingnya menjadi sadar secara rohani Perhatian akan kesadaran membawa kita pada suatu pertanyaan mendasar tentang pembedaan roh dan hidup rohani pada umumnya: mengapa begitu sulit membangun kesadaran rohani? Mengapa kita cenderung tidak menyadari gerak batin yang terjadi dalam hati kita? Mengapa, seringkali, kita cenderung secara spontan lebih memperhatikan apa yang ada di luar daripada yang di dalam, sedemikian sehingga, jika tidak secara jelas mengupayakan untuk menghidupi apa yang di dalam itu, kita tidak bisa mendapatkan kesadaran rohani? Hal ini sangat penting bagi kita, yang ingin sungguh hidup dengan prinsip pembedaan roh, karena kesadaran rohani adalah pintu masuk yang sangat penting menuju hal-hal lain dalam pembedaan roh. Jawaban akan pertanyaan di atas akan semakin memperdalam pemahaman kita tentang pentingnya kesadaran rohani dan apa saja yang perlu disertakan dalam mengupayakannya.

Untuk mendekati hal ini, penting untuk memperhatikan juga banyak dimensi kemanusiaan yang melekat dalam diri seseorang yang ingin mengupayakan kesadaran rohani ini. A first consideration is the simple need for instruction in the area of discernment. Apa yang ditegaskan oleh Yohanes Cassianus, seorang penulis dari abad kelima, tentang upaya-upaya yang harus dibuat dalam hidup rohani juga dalam arti tertentu berlaku dalam gerak-gerak batin dalam hati dan kesadaran atasnya: Meskipun apa yang menyebabkan gairah ini, setelah dijelaskan oleh para pendahulu, dengan segera dikenali oleh semua, namun, sebelum itu sungguh dinyatakan, meskipun kita semua dirugikan karenanya dan ini ada dalam diri semua orang, tidak ada yang mengetahuinya. Hal yang sama juga berlaku dalam dunia batin dan gerak perasaan kita, juga pikiran-pikiran yang menyebabkannya atau yang darinya perasaan itu muncul. Ini semua terjadi dalam diri kita semua. Kita semua terpengaruh olehnya. Tetapi tanpa ajaran yang jelas tentang hal ini, kita cenderung hanya mengetahuinya secara umum dan samar-samar saja. Karena kita tidak tahu apa yang kita cari di dalam , maka kita juga sulit untuk menjadi sungguh sadar . Ini adalah suatu kebutuhan yang ditemukan oleh Ignatius dengan kejelasan praktis yang unik dalam pedoman pembedaan roh-nya. Alasan lain dikemukakan oleh ajaran Tomistik tentang perbedaan antara apa yang memberikan kesenangan pada level indera dan apa yang memberikan kesenangan pada level akal budi. Objek-objek inderawi lebih terlihat, bisa disentuh, dan jauh tampak berbeda dari diri kita sendiri daripada objekobjek pikiran dan hal-hal rohani. Oleh karena itu, jelas bahwa kita akan jauh lebih mudah mengarahkan perhatian kita ke luar, kepada apa yang bisa ditangkap oleh indera kita, karena mengarahkan perhatian kita kepada dunia yang tidak kelihatan di dalam jauh lebih sulit. Jules Toner, dalam membahas kesadaran rohani, menyebut faktor lain yang menyebabkan kita sulit untuk mengarahkan perhatian kita ke dalam : akibat dari kedosaan manusia, tipuan roh buruk, kesulitan dalam mengatur kekuatan perhatian kita yang cenderung mengembara tanpa tujuan, merespon semua rangsangan. Dan, Meskipun kita telah mengarahkan perhatian kita pada gerak-gerak batin dan pikiran kita, gerakgerak itu sendiri ada banyak macamnya dan begitu cepat bergerak, begitu rumit dan saling terhubung dalam perubahan yang cepat, sehingga persepsi yang tepat akan gerakan tertentu dalam perubahan itu begitu sulit dicapai, kecuali dalam kasus-kasus yang tidak biasa atau gerak batin yang berlarut-larut. Adakah dari kita yang tidak mengalami kebenaran hal di atas? Memang tidak mudah untuk menguraikan dan mengenali begitu banyaknya hal yang berkecamuk dalam kehidupan afektif dan reflektif kita. Banyaknya gerakan batin, begitu cepatnya gerakan itu berubah, dan tingkat-tingkat kesadaran yang bervariasi membuat kesadaran menjadi sungguh sulit. Itulah sebabnya, kesadaran tidak bisa diandaikan begitu saja, melainkan harus secara jelas dan tegas diusahakan dan diberi waktu. Berkurangnya kesadaran juga merupakan pengaruh dari budaya modern dewasa ini. Ungkapan Thoreau yang menyatakan bahwa dunia hidup terlalu cepat sungguh nyata bagi kita bahkan lebih cepat dewasa ini. Perangkat elektronik yang dirancang untuk mengisi ruang-ruang hening dalam hidup kita kini semakin berkembang: tv portable, handphone, internet, dan semacamnya. Pandangan dunia yang sekular semakin mempertanyakan kebenaran-kebenaran iman dan realitas-realitas rohani dalam dunia batin kita. Oleh karena itu, pentingnya memperhatikan bisikan-bisikan rohani yang berbeda-beda dalam hati kita juga begitu saja diabaikan. Sementara faktor-faktor modern itu semakin menyulitkan kita untuk menyadari pentingnya kesadaran rohani, faktor-faktor itu sendiri sebenarnya merupakan kompensasi dan konsekuensi dari

resistensi untuk menghidupi apa yang ada di dalam . Blaise Pascal menyelidiki resistensi ini dalam karyanya tentang pengalihan, dalam mana kita menemukan ungkapan klasiknya: Aku telah sering mengatakan bahwa satu-satunya hal yang menyebabkan manusia tidak bahagia adalah bahwa manusia tidak tahu bagaimana berdiam dengan tenang dalam kamarnya. Pengalihan, sebagaimana dijelaskan oleh Pascal, secara esensial adalah suatu pelarian dari keterbatasan kita. Karena secara sadar menghidupi apa yang ada di dalam itu penting untuk mengenali keterbatasan manusiawi, maka jauh lebih mudah, meskipun pada akhirnya tidak memuaskan, untuk hidup di luar , mengalihkan kesadaran kita kepada yang lahiriah. Teknologi modern menawarkan cara-cara baru untuk melatih taktik klasik pengalihan ini. Pada zaman ini, kita sungguh telah menjadi orang-orang yang ahli dalam pengalihan, virtuosi of diversion . Harus diakui bahwa menghidupi apa yang ada di dalam itu memang berarti menghadapi keterbatasan manusiawi kita sendiri. Secara ontologis kita memang terbatas sebagai suatu pengada yang tergantung pada pengada lain dan sungguh terbatas. Teologi biblis yang tertulis dalam Kejadian 3 mengindikasikan bahwa kita membawa suatu luka masa lalu yang berdampak pada keseluruhan kemanusiaan kita. Luka itu secara psikologis terakumulasi selama bertahun-tahun dalam sejarah hidup pribadi kita dan karenanya menjadi semakin sulit untuk ditatap. Meskipun kita tahu akan belas kasih Allah, kelemahan moral tetaplah tidak nyaman, dan hal yang sama juga berlaku dalam hidup rohani kita. Ini memang sesuatu yang tidak mudah, bahkan kalau kita sudah memahami dan menerimanya. Ketika kita menambahkan faktor lain di atas pada resistensi mendalam ini: our need for instruction in spiritual awareness, tidak tercerapnya gerak-gerak batin beserta kerumitan dan kecepatannya, kita dapa memahami secara jelas kekuatan daya tarik untuk mengalihkan kesadaran kita ke luar, dan mengapa kita cenderung untuk melakukan pengalihan. Hanya jika kita belajar dari pengalaman tentang kebenaran bahwa ada suatu sinar yang bercahaya dalam kegelapan (Yoh 1:5), dan bahwa menghidupi apa yang ada di dalam adalah di atas segalanya untuk menemukan kehadiran, cinta, dan penyembuhan personal dari Penyelamat kita, resistensi ini akan mulai berkurang. Suatu kesadaran rohani yang lebih khusus Pertanyaan pokok tetap belum terjawab. Kehidupan batin kita sangat kaya dan kompleks, dan ada beberapa tingkatan gerak-gerak batin dalam dunia batin kita. Oleh karena itu, penting untuk melihat hal ini secara lebih rinci, yaitu tentang jenis-jenis gerakan batin yang menurut Ignatius penting untuk disadari. Pemahaman yang tepat tentang objek pembedaan roh adalah kunci dalam pembedaan roh sehingga proses ini sungguh-sungguh merupakan pembedaan roh. Ketika Ignatius membahas tentang pertemuan harian antara pemberi retret dan retretan dalam Latihan Rohani, dia menulis bahwa orang yang memberi retret tidak bermaksud bertanya-tanya atau mengerti tentang pikiran pribadi dan dosa-dosa yang berlatih, namun sangatlah bermanfaat bila dia selalu dengan setia diberitahu tentang macam-macam hasutan dan pikiran-pikiran yang ditimbulkan oleh roh-roh yang berbeda-beda . Hal ini sedikit menjawab pertanyaan kita. Daniel Gil menulis: Anotasi ketujuhbelas membedakan dengan jelas pikiran-pikiran yang ada pada wilayah kesadaran psikologis ( pikiran pribadi ) dari yang berhubungan dengan kesadaran moral ( dosa ) dan dari yang berkaitan dengan kesadaran rohani ( macam-macam hasutan dan pikiran-pikiran yang ditimbulkan oleh roh-roh yang berbeda-beda ).

Dia melanjutkan: Hasutan dan pikiran-pikiran inilah yang mesti dikenali sebagai baik atau buruk. Hal ini dengan jelas dibedakan dari dosa atau pikiran-pikiran yang muncul dari si retretan sendiri. Pembedaan tentang tiga jenis kesadaran ini sangat penting. Tiga jenis kesadaran ini saling berhubungan satu sama lain, dan ketiganya merupakan kesadaran batiniah, namun berbeda satu dengan yang lain. Fokus pembedaan roh Ignasian adalah kesadaran roh -ani. Skema di bawah ini menggambarkan tiga bentuk kesadaran itu: JENIS-JENIS KESADARAN BATINIAH KESADARAN PSIKOLOGIS KESADARAN MORAL KESADARAN ROHANI Setiap dari kita memberi respon terhadap lingkungan sekitar dengan perasaan yang berbeda-beda. Jika kita sungguh penuh perhatian, kita menjadi semakin mampu untuk memperhatikan respon-respon perasaan ini dalam beragam situasi dalam hidup kita. Dengan demikian kita mendapatkan pengenalan yang semakin dalam tentang pola-pola emosi kita, kekuatan dan pergulatan perasaan kita. Jenis pertama adalah kesadaran psikologis. Kesadaran ini didekati secara professional dalam proses konseling. Selain itu, kita juga bisa mendapatkannya dari hal-hal lain: tanggapan dari teman-teman, upaya kita sendiri untuk memperhatikan perasaan kita dalam pengalaman sehari-hari, refleksi atas interaksi kita dengan orang lain, dan hal-hal semacamnya. Dengan demikian kita akan menemukan bahwa dalam situasi-situasi tertentu, perasaan kita juga terbiasa bereaksi secara tertentu: marah atau takut, merasa lebih atau kurang aman, bersemangat atau lesu, dan kita juga cenderung bertindak berdasarkan perasaan itu. Kesadaran akan pola-pola psikologis kita sendiri ini dan penyebab-penyebabnya membawa kita pada kejelasan dan kebebasan dalam membuat pilihan-pilihan emosional yang sehat, dengan gairah yang lebih besar dalam tugas-tugas keseharian kita. Kesadaran psikologis semacam itu jelas merupakan kekayaan yang sangat berharga untuk hidup. Meskipun demikian, ini bukanlah kesadaran yang dimaksud oleh Ignatius dalam pedomanpedoman pembedaan rohnya. Jenis kesadaran batin kedua mulai berkaitan dengan dunia batin kita yang membuat kita dapat menangkap kualitas moral hidup kita. Seberapa setiakah tindakan, kata-kata, pilihan-pilihan, dan relasi kita dengan orang lain dengan nasihat-nasihat Injil Kristus? Apakah kita hidup berdasarkan Kotbah di Bukit, perintah baru, deskripsi Paulus tentang kualitas cinta? Ini adalah kesadaran moral yang kita usahakan setiap kita akan memulai Ekaristi, ketika kita melakukan pengakuan dosa, atau kapan saja kita menatapkan hidup kita dengan sabda Allah. Kesadaran ini lahir dari cinta akan Kristus yang merindukan untuk hidup dalam kesatuan dengan hidup dan ajaran-Nya. Kesadaran moral ini juga sangat penting dalam hidup rohani: tanpanya, bagian kunci akan hilang dalam segala hasrat tulus untuk mencintai Tuhan dan hidup sebagai pengikut-Nya. Tetapi ini juga bukan kesadaran yang dimaksud oleh Ignatius dalam pembedaan roh. Pembedaan roh lebih terfokus pada jenis kesadaran ketiga, yaitu kesadaran rohani. Konsep tentang kesadaran psikologis dan moral mungkin cukup familiar bagi kita, namun tidak demikian halnya dengan kesadaran rohani. Dalam bagian ini, kita akan membahas kesadaran rohani secara umum. Penjelasan lebih lanjut akan semakin jelas dalam pembahasan tentang masing-masing pedoman. Untuk mendapat pengertian tentang kesadaran rohani ini, kita akan kembali melihat pengalaman Ignatius dalam masa

penyembuhannya di Loyola. Pengalaman ini akan menunjukkan kekhasan kesadaran rohani dibandingkan dengan kesadaran psikologis dan moral yang telah dijelaskan sebelumnya. Ketika merefleksikan dua rencana hidupnya, Ignatius mengalami dua macam gerakan batin yang berbeda. Pikiran tentang satu hal (duniawi) membuatnya merasa kering dan tidak puas ; sedangkan pikiran tentang hal lain (suci) membuatnya merasa puas dan gembira . Tidak puas atau gembira adalah suatu pengalaman psikologis-afektif. Jelas dalam tulisannya bahwa ini tentu tidak hanya terbatas pada level psikologis saja. Ignatius sadar bahwa pola afektif yang berulang-ulang ini secara langsung berkaitan dengan hidupnya sebagai seorang Kristiani dan mengandung pesan tentang arah hidup dalam mana Tuhan memimpinnya. Secara esensial ada suatu dimensi religious dalam kesadaran ini; kesadaran ini mengandaikan adanya iman Kristiani dan suatu pemahaman Kristiani tentang Allah yang bekerja dalam bermacam-macam faktor yang mempengaruhi hidup batin manusia. Ignatius sadar akan gerakangerakan ini tidak begitu saja sebagai suatu indikasi akan kondisi psikologisnya tetapi sebagai penanda tentang manakah dari kedua hal ini yang akan membawanya semakin dekat atau semakin jauh dari kehendak Allah. Oleh karena itu, pengalaman Ignatius ini mengajarkan kepadanya bahwa dari banyak gerakan dalam hati, ada gerakan-gerakan tertentu yang memiliki makna khusus bagi hidup iman kita dan pencarian kita akan kehendak Allah. Inilah fokus dari kesadaran rohani, salah satu kesadaran batin yang menaruh perhatian pada gerak-gerak batin beserta pikiran-pikiran, yang berdampak pada hidup iman kita dan pencarian kita akan kehendak Allah. Bagi orang yang beriman kepada Yesus Kristus, jelas bahwa kesadaran rohani ini lebih dari sekadar kesadaran psikologis saja.