P. 1
kerja proyek

kerja proyek

|Views: 5,107|Likes:
Dipublikasikan oleh ''Soni Putra Natanegara''
kerja proyek
kerja proyek

More info:

Published by: ''Soni Putra Natanegara'' on Jul 06, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/17/2013

pdf

text

original

Jalan raya merupakan jalur jalur diatas permukaan bumi yang sengaja dibuat oleh

manusia dengan bentuk, ukuran ukuran dan konstruksinya sehingga dapat digunakan

untuk menyalurkan lalu lintas orang, hewan dan kendaraan kendaraan yang

mengangkut barang barang dari tempat yang satu ketempat yang lainnya dengan

mudah dan cepat.

Jalan raya sebagai sarana pembangunan dalam membantu pembangunan wilayah adalah

penting. Oleh karena itu pemerintah mengupayakan pembangunan jalan raya dengan

lancar, efisien dan ekonomis.

Untuk perencanaan jalan raya yang baik, bentuk geometriknya harus ditetapkan

sedemikian rupa sehingga jalan yang bersangkutan dapat memberikan pelayanan yang

optimal kepada lalu lintas sesuai dengan fungsinya, sebab tujuan akhir dari perencanaan

geometrik ini adalah menghasilkan infrastruktur yang aman, efisiensi pelayanan arus

lalu lintas dan memaksimalkan ratio tingkat penggunaan biaya juga memberikan rasa

aman dan nyaman kepada pengguna jalan.

22

KERJA PROYEK

SONY NOVIANSYAH

REKAYASA JALAN & JEMBATAN 08643004

Klasifikasi Jalan

Pada umumnya jalan raya dapat dikelompokkan dalam klasifikasi menurut fungsinya,

dimana pereturan ini mencakup tiga golongan penting, yaitu :

1) Jalan Arteri ( Utama )

Jalan raya utama adalah jalan yang melayani angkutan utama, dengan ciri- ciri

perjalanan jarak jauh, kecepatan rata- rata tinggi dan jumlah jalan masuk dibatasi secara

efisien. Dalam komposisi lalu lintasnya tidak terdapat kendaraan lambat dan kendaraan

tak bermotor. Jalan raya dalam kelas ini merupakan jalanjalan raya berjalur banyak

dengan konstruksi perkerasan dari jenis yang terbaik.

2) Jalan Kolektor ( Sekunder )

Jalan kolektor adalah jalan raya yang melayani angkutan pengumpulan/ pembagian

dengan ciri- ciri perjalanan jarak sedang, kecepatan rata- rata sedang dan jumlah jalan

masuk dibatasi.

Berdasarkan komposisi dan sifat lalu lintasnya dibagi dalam tiga kelas jalan, yaitu :

a) Kelas II A

Merupakan jalan raya sekunder dua jalur atau lebih dengan konstruksi permukaan

jalan dari lapisan aspal beton atau yang setara.

b) Kelas II B

Merupakan jalan raya sekunder dua jalur dengan konstruksi permukaan jalan dari

penetrasi berganda atau yang setara dimana dalam komposisi lalu lintasnya terdapat

kendaraan lambat dan kendaraan tak bermotor.

23

KERJA PROYEK

SONY NOVIANSYAH

REKAYASA JALAN & JEMBATAN 08643004

c) Kelas II C

Merupakan jalan raya sekunder dua jalur denan konstruksi permukaan jalan dari

penetrasi tunggal, dimana dalam komposisi lalu lintasnya terdapat kendaraan

bermotor lambat dan kendaraan tak bermotor.

3) Jalan Lokal ( Penghubung )

Jalan penghubung adalah jalan yang melayani angkutan setempat dengan ciri-ciri

perjalanan yang dekat, kecepatan rata- rata rendah dan jumlah jalan masuk tidak

dibatasi.

Adapun tabel klasifikasi jalan raya adalah sebagai berikut :

Klasifikasi Jalan

Jalan Raya Utama

Jalan Raya Sekunder

Jalan penghubung

I

II A

II B

II C

III

Klasifikasi Medan

D

B

G

D

B

G

D

B

G

D

B

G

D

B

G

Lalu Lintas Harian

Rata-rata (smp)

> 20. 000

6.000 - 20.000

1500 - 8000

< 2000

-

Kecepatan Rencana

(km/jam) Lebar

120

100

80

100

80

60

80

60

40

60

40

30

60

40

30

Daerah Penguasaan

min.(m) Lebar

60

60

60

40

40

40

30

30

30

30

30

30

20

20

20

Perkerasan (m)

Minimum 2(2X3.75) 2x3.5 atau 2(2x3.5)

2 x 3.50

2 x 3.0

3.50

6.00

Lebar Median

minimum (m)

2

1.5

-

-

-

Lebar Bahu (m)

3.5

3

3

3

2.5 2.5

3

2.5

2.5

2.5

1.5

1.0

3.50

6.00

24

KERJA PROYEK

SONY NOVIANSYAH

REKAYASA JALAN & JEMBATAN 08643004

Lereng Melintang

Perkerasan

2 %

2 %

2 %

3 %

4 %

Lereng Melintang

Bahu

4 %

4 %

6 %

6 %

6 %

Jenis

Lapisan

Permukaan Jalan

Aspal beton (hotmix)

Aspal Beton

Penetrasi

berganda/setaraf

Paling tiggi penetrasi

tunggal

Paling tinggi

pelebaran jalan

Miring

tikungan

maksimum

10 %

10 %

10 %

10 %

10 %

Jari- jari lengkung

minimum (m)

560

350 210 350 210 115 210

115

50

210

115

50

115

50

30

Landai Maksimum

3%

5%

6%

4%

6% 7%

5%

7%

8%

6% 8% 10%

6%

8%

10%

Tabel 2.1. Tabel Klasifikasi Jalan Raya

Sumber : Peraturan Perencanaan Geometrik Jalan Raya, Dept. PU

a. Volume Lalu Lintas

Volume lalu lintas menyatakan jumlah kendaraan yang melintasi satu titik

pengamatan dalam satu satuan waktu. Untuk mendapatkan volume lalu lintas tersebut,

dikenal dua jenis Lalu Lintas Harian Rata-rata, yaitu :

- Lalu Lintas Harian Rata- rata (LHR)

Jumlah kendaraan yang diperoleh selama pengamatan dengan lamanya pengamatan.

- Lalu Lintas Harian Rata- rata Tahunan (LHRT)

Jumlah lalu lintas kendaraan yang melewati satu jalur selama 24 jam dan diperoleh

dari data satu tahun penuh.

25

KERJA PROYEK

SONY NOVIANSYAH

REKAYASA JALAN & JEMBATAN 08643004

Pada umumnya lalu lintas pada jalan raya terdiri dari berbagai jenis kendaraan,

baik kendaraan cepat, kendaraan lambat, kendaraan berat, kendaraan ringan, maupun

kendaraan tak bermotor. Dalam hubungannya dengan kapasitas jalan, maka jumlah

kendaraan bermotor yang melewati satu titik dalam satu satuan waktu

mengakibatkan adanya pengaruh / perubahan terhadap arus lalu lintas.Pengaruh ini

diperhitungkan dengan membandingkannya terhadap [engaruh dari suatu mobil

penumpang dalam hal ini dipakai sebagai satuan dan disebut Satuan Mobil Penumpang (

Smp ).

Untuk menilai setiap kendaraan ke dalam satuan mobil penumpang ( Smp ), bagi jalan di

daerah datar digunakan koefisien di bawah ini :

Sepeda

= 0, 5

Mobil Penumpang

= 1

Truk Ringan ( berat kotor < 5 ton )

= 2

Truk sedang > 5 ton

= 2, 5

Bus

= 3

Truk Berat > 10 ton

= 3

26

KERJA PROYEK

SONY NOVIANSYAH

REKAYASA JALAN & JEMBATAN 08643004

Di daerah perbukitan dan pegunungan, koefisien untuk kendaraan bermotor di atas dapat

dinaikkan, sedangkan untuk kendaraan tak bermotor tak perlu dihitung. Jalan dibagi

dalam kelas yang penetapannya kecuali didasarkan pada fungsinya juga

dipertimbangkan pada besarnya volume serta sifat lalu lintas yang diharapkan akan

menggunakan jalan yang bersangkutan.

b. Faktor yang Mempengaruhi Perencanaan Geometrik Jalan

Untuk perencanaan jalan raya yang baik, bentuk geometriknya harus ditetapkan

sedemikian rupa sehingga jalan yang bersangkutan dapat memberkan pelayanan

yang optimal kepada lalu lintas, sebab tujuan akhir dari perencanaan geometrik ini

adalah tersedianya jalan yang memerikan rasa aman dan nyaman kepada pengguna jalan.

Dalam merencanakan suatu konstruksi jalan raya banyak factor yang menjadi dasar atau

pertimbangan sebelum direncanakannya suatu jalan. Factor itu antara lain :

- Kendaraan Rencana

Dilihat dari bentuk, ukuran dan daya dari kendaraan - kendaran yang

menggunakan jalan, kendaraan- kendaraan tersebut dapat dikelompokkan.

Ukuran kendaraan- kendaraan rencana adalah ukuran terbesar yang mewakili

kelompoknya. Ukuran lebar kendaraan akan mempengaruhi lebar jalur yang

dbituhkan. Sifat membelok kendaraan akan mempengaruhi perencanaan tikungan. Daya

kendaraan akan mempengaruhi tingkat kelandaian yang dipilih, dan tinggi tempat

duduk ( jok ) akan mempengaruhi jarak pandang pengemudi.

27

KERJA PROYEK

SONY NOVIANSYAH

REKAYASA JALAN & JEMBATAN 08643004

Kendaraan yang akan digunakan sebagai dasar perencanaan geometric

disesuaikan dengan fungsi jalan dan jenis kendaraan yang dominan menggunakan jalan

tersebut. Pertimbangan biaya juga ikut menentukan kendaraan yang dipilih.

- Kecepatan Rencana Lalu Lintas

Kecepatan rencana merupakan factor utama dalam perencanaan suatu geometric

jalan. Kecepatan yaitu besaran yang menunjukkan jarak yang ditempuh kendaraan dibagi

waktu tempuh.

Kecepatan rencana adalah kecepatan yang dipilih untuk keperluan perencanaan setiap

bagian jalan raya seperti tikungan, kemiringan jalan, jarak pandang dll. Kecepatan

maksimum dimana kendaraan dapat berjalan dengan aman dan keamanan itu sepenuhnya

tergantung dari bentuk jalan, kecepatan rencana haruslah sesua dengan tipe jalan dan

keadaan medan. Suatu jalan yang ada di daerah datar tentu saja memiliki design speed

yang

lebih tinggi dibandingkan pada daerah pegunungan atau daerah perbukitan.

Adapun faktor - faktor yang mempengaruhi kecepatan rencana tergantung pada :

A. Topografi ( Medan )

Untuk perencanaan geometric jalan raya, keadaan medan memberikan batasan

kecepatan terhadap kecepatan rencana sesuai dengan medan perencanaan (

datar, bukit, dan gunung ).

28

KERJA PROYEK

SONY NOVIANSYAH

REKAYASA JALAN & JEMBATAN 08643004

B. Sifat dan tingkat penggunaan daerah

Kecepatan rencana untuk jalan- jalan arteri lebih tinggi dibandingkan jalan

kolektor. Adanya tanjakan yang cukup curam dapat mengurangi laju kecepatan dan

bila tenaga tariknya tidak cukup, maka berat kendaraan ( muatan ) harus dikurangi,

yang berarti mengurangi kapasitas angkut dan mendatangkan medan yang landai.

Perencanaan geometrik merupakan bagian dari suatu perencanaan konstruksi jalan,

yang meliputi rancangan pola arah dan visualisasi dimensi nyata dari suatu trase

jalan beserta bagian bagiannya, disesuaikan dengan persyaratan parameter

pengendara, kendaraan dan lalu lintas.

Melalui perencanaan geometrik, diusahakan untuk dapat menciptakan hubungan

yang serasi antara factor factor yang berkaitan dengan parameter diatas, sehingga

akan dihasilkan suatu efisiensi, keamanan serta kenyamanan yang paling optimal

dalam batas batas pertimbangan toleransi yang masih dianggap layak.

Perencanaan geometrik secara umum menyangkut aspek aspek perencanaan

elemen jalan seperti lebar jalan, tikungan, kelandaian jalan dan jarak pandangan serta

kombinasi dari bagian bagian tersebut, baik untuk suatu ruas jalan, maupun untuk

perlintasan diantara dua lebih ruas ruas jalan.

Perencanaan ulang geometrik jalan merupakan suatu perencanaan ulang rute dari

ruas suatu jalan yang telah ada secara lengkap, menyangkut beberapa komponen

jalan yang dirancang berdasarkan kelengkapan data dasar berupa hasil survey

lapangan, kemudian dianalisis berdasarkan acuan persyaratan geometrik yang

berlaku. Analisis yang dilakukan diantaranya :

29

KERJA PROYEK

SONY NOVIANSYAH

REKAYASA JALAN & JEMBATAN 08643004

1. Pengukuran ulang ruas jalan daerah loa bahu

2. Perencanaan ulang alinyemen.

3. Perhitungan galian dan timbunan.

C. Bagian-bagian Jalan

Penampang melintang jalan merupakan potongan melintang tegak lurus sumbu jalan.

Pada potongan melintang jalan dapat terlihat bagian-bagian jalan yang utama dapat di

kelompokkan sebagai berikut :

A. Daerah manfaat jalan ( DAMAJA )

Daerah manfaat ( DAMAJA ) adalah suatu ruas sepanjang jalan yang dibatasi oleh

lebar, tinggi dan kedalaman ruangbebas tertentu yang dimanfaatkan untuk kontruksi

jalan. Daerah manfaat jalan meliputi :

Badan jalan : jalur lalu lintas,lajur lalu lintas, bahu jalan

Saluran tepi jalan

Ambang pengaman jalan

Trotoar

Median

B. Daerah Milik Jalan ( DAMIJA )

Daerah milik jalan merupakan ruang sepanjang jalan yang di batasi oleh lebar dan tinggi

tertetu yang dikuasai oleh Pembina jalan denga suatu hak tertentu. Biasanya pada jarak

tiap 1 Km dipasang pato DMJ berwarna kuning.

30

KERJPREK

I

REK

JL

JE

Sejlt

tertetilr daerah manfaat jalan tetapi di dalam daerah mili jalan

dimaksudakan untuk memenuhi persyaratan keluesan keamanan pengguna jalan antara

lain untuk keperluan pelebaran daerah manfaat jalan di kemudian hari

C aerah Pengawasan Jalan ( DAWASJA )

Daerah pengawasa jalan adalah sejalur tanah tartentu yang terletak di luar daerah milik

jalan, yang pengunaanya diawasi oleh Pembina jalan, dengan maksud agar tidak

menggenggu pandangan pengemuda dan kontruksi bangunan jalan, dalam hal tidak

cukup luasnya daerh milik jalan

Gambar 2.3.Penampang melintang jalan

31

KERJA PROYEK

SONY NOVIANSYAH

REKAYASA JALAN & JEMBATAN 08643004

D. Penampang melintang Jalan

Penampang melintang jalan adalah potongan jalan tegak lurus sumbunya ( as jalan ).

Penampang melintang terdiri atas bagian bagian sebagai berikut :

Jalur lalu lintas

Jalur lalu lintas yaitu bagian jalan yang digunakan untuk lalu lintas kendaraan yang

secara fisik berupa perkerasan jalan. Jalur lalu lintas terdiri dari beberapa lajur

kendaraan. Lajur kendaraan yaitu bagian dari jalur lalu lintas yang khusus dipergunakan

untuk dilewati oleh satu rangkaian kendaraan roda empat atau lebih dalam satu arah.

Jadi jumlah lajur dalam 2 arah adalah 2 dan pada umumnya disebut sebagai jalan 2 lajur

2 arah. Lajur lalu lintas untuk 1 arah minimal terdiri dari 1 lajur lalu lintas.

1. Lebar lajur lalu lintas

Lebar lajur lalu lintas merupakan bagian yang paling menentukan lebar melintang

jalan secara keseluruhan. Besarnya lajur lalu lintas hanya dapat ditentukan dengan

pengamatan langsung di lapangan karena :

a. Lintasan kendaraan yang satu tidak mungkin akan dapat diikuti oleh lintasan

kendaraan lain dengan tepat.

b. Lajur lalu lintas tidak mungkin tepat sama dengan lebar kendaraan maksimum.

Lintasan kendaraan tak mungkin tetap dibuat sejajar sumbu lajur lalu lintas,

karena kendaraan selama bergerak akan mengalami gaya gaya semping seperti

tidak ratanya permukaan, gaya sentrifugal di tikungan, dan gaya angin akibat

kendaraan lain yang menyiap. Lebar kendaraan penumpang pada umumnya

bervariasi antara 1,50 m 1,75 m. bina marga mengambil lebar rencana untuk

mobil penumpang adalah 1,70 m dan 2,50 m untuk kendaraan truk / bis /

32

KERJA PROYEK

SONY NOVIANSYAH

REKAYASA JALAN & JEMBATAN 08643004

semitrailer. Lebar lajur lalu lintas merupakan lebar kendaraan ditambah dengan

ruang bebas antara kendaraan yang besarnya sangat ditentukan keamanan dan

kenyamanan yang diharapkan. Jalan dipergunakan untuk lalu lintas dengan

kecepatan tinggi, membutuhkan ruang bebas untuk menyiap yang lebih besar

dibanding dengan jalan untuk kecepatan rendah.

Pada jalan local ( kecepatan rendah ) lebar jalan minimum 5,50 m ( 2 × 2,75 m )

cukup memadai untuk jalan 2 lajur dengan 2 arah. Debgan pertimbangan arah

biaya yang tersedia, lebar 5 meter pun masih diperkenankan. Jalan arteri yang

direncanakan untuk kecepatan tinggi, mempunyai lebar lajur lalu lintas lebih

besar dari 3,25 m sebaiknya 3,50 m.

2. Jumlah lajur lalu lintas

Banyaknya lajur yang dibutuhkan sangat tergantung dari volume lalu lintas yang

akan memakai jalan tersebut dengan tingkat pelayanan jalan yang diharapkan.

3. Kemiringan melintang lajur lalu lintas

Kemiringan lajur lalu lintas di jalan lurus dipergunakan terutama untuk kebutuhan

drainase jalan. Air yang jatu di atas permukaan jalan supaya cepat dialirkan ke

saluran saluran pembuangan. Kemiringan melintang bervariasi antara 1,5 % - 3 %,

untuk jenis lapisan permukaan dengan mempergunakan bahan pengikat seperti aspal

atau semen.

Sedangkan untuk jalan dengan lapis permukaan belum mempergunakan bahan

pengikat seperti jalan berkerikil, kemiringan melintang dibuat 5 %. Kemiringan

melintang lajur lalu lintas di tikungan dibuat untuk kebutuhan keseimbangan gaya

sentrifugal yang bekerja, disamping kebutuhan akan drainase.

33

KERJA PROYEK

SONY NOVIANSYAH

REKAYASA JALAN & JEMBATAN 08643004

Median atau jalur tepian

Bagian jalan yang secara fisik memisahkan dua jalur lalu lintas yang berlawanan arah,

guna memungkinkan kendaraan bergerak cepat dan aman. Jadi, median adalah jalur

yang terletak ditengah jalan untuk membagi jalan dalam masing-masing arah. Median

jalan berfungsi antara lain :

1. Memisahkan dua aliran lalu lintas yang berlainan

2. Tempat prasarana pekerjaan sementara

3. Pemberhentian darurat

4. Cadangan lajur

5. Mengurangi silau dari lampu jalanan pada malam hari dari arah berlawanan

Bahu jalan

Bahu jalan adalah bagian jalan yang berdampingan di tepi jalur lalu lintas, dan harus

diperkeras, berfungsi untuk lajur lalu lintas darurat, ruang bebas samping dan

penyangga perkerasan terhadap beban lalu lintas, memberikan kelegaan pada

pengemudi sehingga dapat meningkatkan kapasitas jalan yang bersangkutan.

Berdasarkan tipe perkerasannya bahu jalan dibedakan menjadi dua, yaitu bahu yang

tidak diperkeras dan bahu yang diperkeras. Sedangkan bahu jalan dilihat dari letaknya

terhadap arus lalu lintas, maka dibedakan menjadi dua yaitu bahu kiri/bahu luar dan

bahu kanan/bahu dalam. Lebar bahu jalan bervariasi yaitu antara 0,5 m 2,5 m.

34

KERJA PROYEK

SONY NOVIANSYAH

REKAYASA JALAN & JEMBATAN 08643004

Trotoar

Trotoar adalah jalur pejalan kaki yang terletak pada DAMIJA, diberi lapisan

permukaan, diberi elevasi yang lebih tinggi dari permukaan perkerasan, dan umumnya

sejajar dengan jalur lalu lintas kendaraan. Perlu atau tidaknya trotoar disediakan sangat

tergantung dari volume pedestrian dan volume lalu lintas pemakaian jalan tersebut.

Lebar trotoar yang dibutuhkan ditentukan oleh volume pejalan kaki, tingkat pelayanan

pejalan kaki yang diinginkan, dan fungsi jalan. Untuk lebar 1,5 m 3,0 m merupakan

nilai yang umum dipergunakan.

Drainase

Suatu saluran yang berfungsi untuk menampung dan mengalirkan air hujan, limpasan

dari permukaan jalan dan daerah sekitarnya. Pada umumnya bentuk drainase berupa

trapezium, atau empat persegi panjang. Untuk daerah perkotaan, dimana daerah

pembebasan jalan sudah sangat terbatas, maka saluran samping dapat dibuat empat

persegi panjang dari konstruksi beton dan ditempatkan di bawah trotoar.

Talud/ kemiringan Lereng

Bagian tepi perkerasan yang diberi kemiringan, untuk menyalurkan air kesaluran tepi.

Atau dapat juga berarti lereng kiri kanan jalan dari suatu perbukitan, yang dipotong

untuk pembentukan jalan. Kemiringan lereng pada umumnya dibuat 2H : 1V, tetapi

untuk tanah tanah yang mudah longsor talud jalan harus dibuat sesuai dengan

besarnya landai yang aman, yang diperoleh dari nilai kestabilan lereng. Berdasarkan

keadaan tanah pada lokasi jalan tersebut, mungkin saja dibuat bronjong, tembok

penahan tanah, lereng bertingkat ( berm ) ataupun hanya ditutupi rumput saja.

35

KERJA PROYEK

SONY NOVIANSYAH

REKAYASA JALAN & JEMBATAN 08643004

Kereb

Merupakan penonjolan atau peninggian tepi perkerasan atau bahu jalan, yang terutama

dimaksudkan untuk keperluan-keperluan drainase, mencegah keluarnya kendaraan dari

tipe perkerasan, dan memberikan ketegasan tepi kendaraan. Pada umumnya kereb

digunakan pada jalan-jlan di daerah perkotaan. Berdasarkan fungsinya kereb dibedakan

menjadi, kereb peninggi, kereb penghalang, kereb berparit, dan kereb penghalang

berparit.

2.2.

Uraian khusus

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->