1

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1. Latar belakang
Konstruksi ialan raya sebagai sarana transportasi adalah merupakan unsur yang sangat
penting dalam usaha meningkatkan kehidupan manusia untuk mencapai
keseiahteraannya. Dalam kehidupan kita sehari-hari sebagai mahluk sosial manusia
tidak dapat hidup tanpa bantuan orang lain,maka dengan adanya prasarana ialan
ini,maka hubungan antara suatu kawasan dengan kawasan yang lain dalam suatu daratan
akan terialin dengan baik. Sarana yang dimaksud ini adalah sarana penghubung yang
melalui darat,laut, dan udara. Dari ketiga sarana tersebut,akan ditiniau prasarana yang
melalui darat.
Dalam perencaan geometrik termasuk iuga perencanaan tebal perkerasaan ialan,karena
dimensi dari perkerasan merupakan bagian dari perencanaan geometrik sebagai suatu
perencanaan ialan seutuhnya.
Oleh sebab itu keberadaan ialan raya dikota samarinda peranannya sangat penting
karena selain sebagai penuniang ialan perekonomian masyarakat,ialan iuga dapat
mempermudah iangkauan kedaerah-daerah terpencil (desa) yang merupakan ialan sentra
produksi pertanian perdagangan dan lain-lain.
Dengan beberapa alasan tersebut maka dilakukan perencanaan ialan pada ruas ialan
daerah loa bahu guna memperbaiki geometrik ialan yang tidak memenuhi persyaratan.
Bertambahnya iumlah dan kualitas kendaraan dan berkembangnya pengetahuan tentang
kelakuan pengendara serta meningkatkan iumlah kecelakaan,menuntut perencanaan
2

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

geometrik supaya memberikan pelayanan maksimum dengan keadaan bahaya minimum
dan biaya yang minimum iuga.
1.2. Permasalahan
Bagaimana merencanakan geometrik ialan di daerah loa bahu agar memperoleh
ialan yang sesuai dengan Iungsi dan kelas ialannya?
Bagaimana merencanakan tebal perkerasaan ialan yang dibutuhkan untuk
membuat ialan tersebut?
1.3. Batasan masalah
Agar pembahasan tidak keluar dari tuiuan yang telah ditetapkan,maka dilakukan
beberapa batasan yang hanya meliputi :
Perencanaan geometrik ialan
Penentuan medan
Perencanaan alinyemen horizontal dan vertika
Perhitungan volume galian dan timbunan
1.4. Maksud dan tuiuan
Adapun maksud dari perencanaan ialan pada ruas di daerah loa bahu diantaranya :
Merencanakan geometrik ialan sesuai persyaratan yang berlaku.
Dari maksud yang tersebut diatas,pada ruas ialan di daerah loa bahu bertuiuan
diantaranya :
Melayani pengguna ialan secara aman,nyaman,lancer dan ekonomis.
Memperlancar kegiatan usaha di daerah tersebu
3

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

BAB 2
DASAR TEORI
2.1. Uraian umum
2.1.1. DeIinisi umum ( surveying)
Pengukuran merupakan suatu proses menentukan suatu posisi suatu obyek atau titik-
titik di bumi, khususnya dipermukaan bumi. Posisi ini berarti posisisi horizontal
(koordinat berupa x,y) dan posisi vertical (ketinggian atau elevasi). Dimana Ilmu Ukur
Tanah disebut iuga 'SURVEYING¨.
Dalam praktek dilapangan ukur tanah ini meliputi :
Pengukuran iarak
Pengukuran sudut dan arah
Pengukuran beda tinggi
Pengukuran topograIi
Pengukuran/perhitungan luaspermukaan tanah

Kegunaan dari pengukuran ilmu ukur tanah ini adalah untuk pengukuran data Iisik yang
akan diolah dan digunakan meniadi suatu gambar peta.




4

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

Dalam pekeriaan ukur tanah ini meliputi dua macam :
Pekeriaan lapangan (Field work) yaitu pengukuran dilapangan untuk
mendapatkan data Iisik dari tempat-tempat tertentu pada permukaan bumi
Pekeriaan kantor (OIIice work) yaitu perhitungan dan pengelolan data yang
diperoleh untuk pembuatan peta-peta serta evaluasi dan pengambilan keputussan
untuk mengambil langkah-langkah selaniutnya.

Dari uraian tersebut diatas dapat disimpulkan tuiuan dan kegunaan ilmu ukur tanah.:
Menentukan bentuk sembarang untuk bentuk-bentuk yang berbeda dipermukaan
bumi
Menentukan letak ketinggian sesuatu yang berbeda diatas atau dibawah sesuatu
yang dimana sebagai titk nol (0.000) untuk pengambilan titik nol ini dilakukan
pengamatan tinggi permukaan air laut pasang surut selama satu bulan,kemudian
diambil rata-ratanya yaitu pengamatan dari bulan purnama ke bulan purnama
berikutnya.
Menentukn paniang dan kedudukan dari suatu garis yang terdapat pada
permukaan bumi yang merupakan batas dari suatu area tertentu.
Menentukan bentuk atau reliI permukaan tanah serta luasanya.
Menentukan batas-batas dari suatu areal tanah dari suatu wilayah tertentu
Sebagai dasar perencanaan dalam pekeriaan konstruksi dalam bidang teknik
arsitek seperti pembuatan ialan raya,iembatan,bangunan gedung,bangunan
irigasi,pembukaan ialan transmigrasi dan sebagainya.
3

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

Permukaan bumi dengan luas yang relatiI kecil merupakan bidang datar nivo,sehingga
kita mengambil beberapa anggapan pentingnya berhubungan dengan permukaan bumi :
Garis antara dua titik pada permukaan bumi adalah suatu garis lurus,sedangkan
sebenarnya dalah suatu garis lengkung
Arah unting-unting pada berbagai tempat adalah seiaiar sedangkan sebenarnya
membentuk sudut(menuiu pusat bumi)
Bidang datar adalah permukaan bumi yang tegak lurus dengan unting-unting
Sudut-sudut antara dua garis pada bidang datar/nivo adalah sudut datar.

Dengan suatu peta dapat dilihat siapa saia dengan nyata dan tepat pada suatu
medan,keadaan lapangan baik tegak maupun mendatar serta apa saia yang terdapat
diatasnya antara lain :
Lekuk-lekuk tanah.
Punggung tanah.
Sungai-sungai.
Bukit-bukit.
Pelana-pelana.
Batas-batas desa, sawah, hutan, perkebunan, ialan raya, bangunan dan
sebagainya.


6

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

Peralatan yang digunakan didalam survey pengukuran dilapangan antara lain :
Theodolit sokkia
Kaki statiI
Rambu ukur
Kompas
Meteran
Patok
Paku
Palu
Unting-unting
Payung
Buku dan alat tulis

Dalam lapangan ini penulis mengkhususkan pembahasannya dalam alat ukur Theodolite
serta cara pengolahan data/menghitung dari suatu data hasil pengukuran dengan
menggunakan alat ukur theodolite.
Theodolite adalah instrument / alat yang dirancang untuk pengukuran sudut yaitu sudut
mendatar yang dinamakan dengan sudut horizontal dan sudut tegak yang dinamakan
dengan sudut vertical. Dimana sudut sudut tersebut berperan dalam penentuan iarak
mendatar dan iarak tegak diantara dua buah titik lapangan.

7

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

- KONSTRUKSI THEODOLITE






Konstruksi instrument theodolite ini secara mendasar dibagimeniadi 3 bagian, lihat
gambar di bawah ini :
1.Bagian Bawah, terdiri dari pelat dasar dengan tiga sekrup penyetel yang menyanggah
suatu tabung sumbu dan pelat mendatar berbentuk lingkaran. Pada tepi lingkaran ini
dibuat pengunci limbus.
2.Bagian Tengah, terdiri dari suatu sumbu yang dimasukkan ke dalam tabung dan
diletakkan pada bagian bawah. Sumbu ini adalah sumbu tegak lurus kesatu. Diatas
sumbu kesatu diletakkan lagi suatu plat yang berbentuk lingkaran yang berbentuk
lingkaran yang mempunyai iari iari plat pada bagian bawah. Pada dua tempat di tepi
lingkaran dibuat alat pembaca nonius. Di atas plat nonius ini ditempatkan 2 kaki yang
meniadi penyanggah sumbu mendatar atau sumbu kedua dan sutu nivo tabung
diletakkan untuk membuat sumbu kesatu tegak lurus.
8

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

Lingkaran dibuat dari kaca dengan garis garis pembagian skala dan angka digoreskan
di permukaannya. Garis garis tersebut sangat tipis dan lebih ielas taiam bila
dibandingkan hasil goresan pada logam. Lingkaran dibagi dalam deraiat sexagesimal
yaitu suatu lingkaran penuh dibagi dalam 360° atau dalam grades senticimal yaitu satu
lingkaran penuh dibagi dalam 400 g.
3.Bagian Atas, terdiri dari sumbu kedua yang diletakkan diatas kaki penyanggah sumbu
kedua. Pada sumbu kedua diletakkan suatu teropong yang mempunyai diaIragma dan
dengan demikian mempunyai garis bidik. Pada sumbu ini pula diletakkan plat yang
berbentuk lingkaran tegak sama seperti plat lingkaran mendatar.
- SISTEM SUMBU / POROS PADA THEODOLITE








9

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

- SYARAT - SYARAT THEODOLITE
Syarat syarat utama yang harus dipenuhi alat theodolite sehingga siap dipergunakan
untuk pengukuran yang benar adalah sbb :
1.Sumbu kesatu benar benar tegak / vertical.
2.Sumbu Kedua haarus benar benar mendatar.
3.Garis bidik harus tegak lurus sumbu kedua / mendatar.
4.Tidak adanya salah indeks pada lingkaran kesatu.
- MACAM - MACAM THEODOLIT
Dari konstruksi dan cara pengukuran, dikenal 3 macam theodolite :
1.Theodolite Reiterasi
Pada theodolite reiterasi, plat lingkaran skala (horizontal) meniadi satu dengan plat
lingkaran nonius dan tabung sumbu pada kiap.
Sehingga lingkaran mendatar bersiIat tetap. Pada ienis ini terdapat sekrup pengunci plat
nonius.



10

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

2.Theodolite Repetisi
Pada theodolite repetisi, plat lingkarn skala mendatar ditempatkan sedemikian rupa,
sehingga plat ini dapat berputar sendiri dengan tabung poros sebagai sumbu putar.
Pada ienis ini terdapat sekrup pengunci lingkaran mendatar dan sekrup nonius.




3. Theodolite Elektro Optis
Dari konstruksi mekanis sistem susunan lingkaran sudutnya antara theodolite optis
dengan theodolite elektro optis sama. Akan tetapi mikroskop pada pembacaan skala
lingkaran tidak menggunakan system lensa dan prisma lagi, melainkan menggunkan
system sensor. Sensor ini bekeria sebagai elektro optis model (alat penerima gelombang
elektromagnetis). Hasil pertama system analogdan kemudian harus ditransIer ke system
angka digital. Proses penghitungan secara otomatis akan ditampilkan pada layer (LCD)
dalam angka decimal.


11

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ





- Pengoperasian theodolite
Penyiapan Alat Theodolite
Cara keria penyiapan alat theodolita antara lain :
1.Kendurkan sekrup pengunci perpaniangan
2.Tinggikan setinggi dada
3.Kencangkan sekrup pengunci perpaniangan
4.Buat kaki statiI berbentuk segitiga sama sisi
5.Kuatkan (iniak) pedal kaki statiI
6.Atur kembali ketinggian statiI sehingga tribar plat mendatar
7.Letakkan theodolite di tribar plat
8.Kencangkan sekrup pengunci centering ke theodolite
9.Atur (levelkan) nivo kotak sehingga sumbu kesatu benar-benar tegak / vertical dengan
menggerakkan secara beraturan sekrup pendatar / kiap di tiga sisi alat ukur tersebut.
10.Atur (levelkan) nivo tabung sehingga sumbu kedua benar-benar mendatar dengan
menggerakkan secara beraturan sekrup pendatar / kiap di tiga sisi alat ukur tersebut.
11.Posisikan theodolite dengan mengendurkan sekrup pengunci centering kemudian
12

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

geser kekiri atau kekanan sehingga tepat pada tengah-tengah titi ikat (BM), dilihat dari
centering optic.
12.Lakukan penguiian kedudukan garis bidik dengan bantuan tanda T pada dinding.
13.Periksa kembali ketepatan nilai index pada system skala lingkaran dengan
melakukan pembacaan sudut biasa dan sudut luar biasa untuk mengetahui nilai kesalaha
index tersebut.








Theodolite SOKKIA TM20E pandangan dari belakang


13

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

Keterangan :
1. .Tombol micrometer 13. Sekrup koreksi Nivo tabung
2. Sekrup penggerak halus vertical 14. ReIlektor cahaya
3. Sekrup pengunci penggerak vertical 15. Tanda ketinggian alat
4. Sekrup pengunci penggerak horizontal 16. Slot peniepit
5. Sekrup penggerak halus horizontal 17. Sekrup pengunci Nivo Tabung Telescop
6. Sekrup pendatar Nivo 18. Nivo Tabung Telescop
7. Plat dasar 19. Pemantul cahaya penglihatan Nivo
8. Pengunci limbus 20. Visir Collimator
9. Sekrup pengunci nonius 21. Lensa micrometer
10.Sekrup penggerak halus nonius 22. Ring Iocus benang diaIragma
11.Ring pengatur posisi horizontal 23. Lensa okuler
12. Nivo tabung 24. Ring Iocus okuler







14

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ













Theodolite SOKKIA TM1A pandangan dari samping kanan



13

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ










Theodolite SOKKIA TM1A pandangan dari samping kiri
2.1.2. Poligon
Pengertian Poligon
Poligon adalah pengukuran rangkaian segi banyak,yang bertuiuan untuk menetapkan
koordinat dari titik-titik sudut yang diukur.
Yang diukur adalah:
Paniang sisi segi banyak
Besar sudut-sudutnya
16

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

P 1
P 2
P 3
P 4
B 3 B 1
B 2
Guna pengukuran polygon:
Untuk membuat kerangka dari PETA
Pengukuran titik tetap dalam kota
Pengukuran-pengukuran rencana ialan/kereta
Pengukuran-pengukuran rencana saluran air
Bentuk pengukuran polygon ada 2 macam, yaitu :
Polygon terbuka
Polygon tertutup

Macam-Macam Polygon
- Polygon Terbuka
Polygon terbuka adalah polygon dimana titik pertama tidak sama dengan titik yang
terakhir (tidak ketemu antara titik pertama dan titik terakhir). Polygon ini biasa
digunakan untuk pengukuran trase ialan, saluran drainase,pengairan (irigasi)dan lain
sebagainyayang kesemuanya dilakukan secara memaniang dan dengan iarak yang cukup
iauh.






17

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

P 1
P 2
P 3
P 4
P 5
B 1
B 2
P 6
P 7
P 8
B 3
B 4
B 5
B 6
B 7
B 8
Dimana:
P1 ÷ titik awal pengukuran
P5 ÷ titik akhir pengukuran
P2,P3,P4,.,Pn ÷ titik-titik pengukuran
B1,B2,B3,..Bn ÷ sudut pengukuran (sudut horizontal)

- Polygon Tertutup
Polygon tertutup adalah polygon dimana titik yang pertama sama dengan titik yang
terakhir (titiknya kembali ketitik awal). Polygon tertutup terutama sekali digunakan
untuk kerangka peta, penentuan batas,/garis batas, penentuan luas daerah, dll.










18

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

Dimana:
P1 ÷ titik awal dan titik akhir pengukuran
B ÷ sudut-sudut dalam pengukuran

2.1.3. Dynamic cone penetrometer (dcp)
DCP (Dvnamic Cone Penetrometer) ini bertuiuan untuk mencari kekuatan tanah atau
daya dukung tanah dengan mencari nilai CBR (California Bearing Ratio) di lapangan.
Alat DCP Dvnamic Cone Penetration) ini digunakan untuk menentukan atau menguii
nilai CBR California Bearing Ratio) tanah dasar di lapangan. Penguiian ini dilakukan
sebagai Qualitv Control terhadap perkerasan pembuatan ialan.
Penetrometer kerucut dinamis (DCP) dikembangkan pada awalnya untuk menentukan
proIil kekuatan perkerasan Ileksibel, namun kemudian iuga digunakan iuga untuk
menentukan kekuatan tanah. Uii DCP telah digunakan untuk mengukur nilai CBR di
mana material yang diuii tidak bisa digali untuk lubang uii (test pit). Alat ini digunakan
untuk mengetahui kekuatan material di bawah permukaan, dan dapat mengukur
kekuatan tanah dengan nilai CBR yang berkisar di antara 1 sampai 100. Alat ini dapat
digunakan untuk memperoleh data, yang nantinya akan dikorelasikan dengan nilai CBR.
Alat DCP terdiri dari kerucut bersedut 60
o
dan berdiameter 20 mm yang dipasang
diuiung batang baia berdiameter 16 mm Penggelinciran pemukul dengan berat 8 kg
(17,6 lb) dan tinggi iatuh 57,5 cm (22,6¨) di atas batang mengakibatkan kerucut
berpenetrasi ke dalam tanah. Dua orang dibutuhkan untuk mengoperasikan alat ini, satu
mengoperasikan DCP, yang lain mencatat penetrasi kerucut. Dalam melakukan uii
19

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

DCP, alat ditahan vertikal, kerucut diletakkan di atas tanah sampai bagian dasarnya (sisi
yang rata) sama dengan permukaan tanah, dan pembacaan penetrasi nol dimulai pada
kedudukan ini.
Penguiian dimulai dengan menaikkan pemukul setinggi 57,5 cm dan melepaskannya
hingga membentur baia penahan di bawahnya. Penguiian dilakukan 1,2, 3, 5, 10, 15
atau 20, kali pemukulan dan penetrasi kerucut minimum 25 mm telah diperoleh. Pada
tahap ini, kedalaman penetrasi (ke nilai mendekati 5 mm) dan iumlah pukulannya
dicatat. Proses ini diulang sampai kedalaman penetrasi mencapai kedalaman yang
dikehendaki atau 99 cm (39 in), mana yang tercapai lebih dulu.
Terdapat dua tipe pemukul yang digunakan untuk uii DCP, pertama standar pemukul
yang beratnya 8 kg (17,6 lb) dan yang kedua 4,6 kg (10,1 lb). Pemukul yang lebih
ringan ini menyebabkan penetrasi yang dihasilkan setengah dari pemukul 8 kg. Untuk
alasan ini, iumlah pukulan rata-rata yang ditentukan dari pemukul 4,6 kg harus
dikalikan 2 dalam menghitung nilai indeks DCP. Pemukul yang ringan digunakan untuk
penguiian pada tanah-tanah lunak, yaitu untuk tanah yang nilai CBR-nya kurang dari
10.





20

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

SpesiIikasi alat :
Konus : Baia yang diperkeras O 20 mm
Sudut kemiringan 60º
Penumbuk : Berat 8 kg
Tinggi iatuh 575 mm
Mistar : 100 cm
Stang penetrasi : O 16 mm







Gambar 2.2. Alat DCP



21

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

Keterangan :
1. Pemegang 5. Stang Penetrasi
2. Penumbuk 6. Konus
3. Stang Penghantar 7. Mistar Skala Penetrasi
4. Kepala Penumbuk 8. Mur Pengatur Skala Mistar
2.1.4. DeIinisi ialan raya
Jalan raya merupakan ialur ialur diatas permukaan bumi yang sengaia dibuat oleh
manusia dengan bentuk, ukuran ukuran dan konstruksinya sehingga dapat digunakan
untuk menyalurkan lalu lintas orang, hewan dan kendaraan kendaraan yang
mengangkut barang barang dari tempat yang satu ketempat yang lainnya dengan
mudah dan cepat.
Jalan raya sebagai sarana pembangunan dalam membantu pembangunan wilayah adalah
penting. Oleh karena itu pemerintah mengupayakan pembangunan ialan raya dengan
lancar, eIisien dan ekonomis.
Untuk perencanaan ialan raya yang baik, bentuk geometriknya harus ditetapkan
sedemikian rupa sehingga ialan yang bersangkutan dapat memberikan pelayanan yang
optimal kepada lalu lintas sesuai dengan Iungsinya, sebab tuiuan akhir dari perencanaan
geometrik ini adalah menghasilkan inIrastruktur yang aman, eIisiensi pelayanan arus
lalu lintas dan memaksimalkan ratio tingkat penggunaan biaya iuga memberikan rasa
aman dan nyaman kepada pengguna ialan.


22

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

Klasifikasi 1alan
Pada umumnya ialan raya dapat dikelompokkan dalam klasiIikasi menurut Iungsinya,
dimana pereturan ini mencakup tiga golongan penting, yaitu :
1)1alan Arteri ( Utama )
Jalan raya utama adalah ialan yang melayani angkutan utama, dengan ciri- ciri
perialanan iarak iauh, kecepatan rata- rata tinggi dan iumlah ialan masuk dibatasi secara
eIisien. Dalam komposisi lalu lintasnya tidak terdapat kendaraan lambat dan kendaraan
tak bermotor. Jalan raya dalam kelas ini merupakan ialanialan raya berialur banyak
dengan konstruksi perkerasan dari ienis yang terbaik.
)1alan Kolektor ( Sekunder )
Jalan kolektor adalah ialan raya yang melayani angkutan pengumpulan/ pembagian
dengan ciri- ciri perialanan iarak sedang, kecepatan rata- rata sedang dan iumlah ialan
masuk dibatasi.
Berdasarkan komposisi dan siIat lalu lintasnya dibagi dalam tiga kelas ialan, yaitu :
a) Kelas II A
Merupakan ialan raya sekunder dua ialur atau lebih dengan konstruksi permukaan
ialan dari lapisan aspal beton atau yang setara.
b) Kelas II B
Merupakan ialan raya sekunder dua ialur dengan konstruksi permukaan ialan dari
penetrasi berganda atau yang setara dimana dalam komposisi lalu lintasnya terdapat
kendaraan lambat dan kendaraan tak bermotor.
23

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

c) Kelas II C
Merupakan ialan raya sekunder dua ialur denan konstruksi permukaan ialan dari
penetrasi tunggal, dimana dalam komposisi lalu lintasnya terdapat kendaraan
bermotor lambat dan kendaraan tak bermotor.
)1alan Lokal ( Penghubung )
Jalan penghubung adalah ialan yang melayani angkutan setempat dengan ciri-ciri
perialanan yang dekat, kecepatan rata- rata rendah dan iumlah ialan masuk tidak
dibatasi.
Adapun tabel klasiIikasi ialan raya adalah sebagai berikut :
KlasiIikasi Jalan
Jalan Raya Utama Jalan Raya Sekunder Jalan penghubung
I II A II B II C III
KlasiIikasi Medan D B G D B G D B G D B G D B G
Lalu Lintas Harian
Rata-rata (smp)
~ 20. 000 6.000 - 20.000 1500 - 8000
· 2000

-
Kecepatan Rencana
(km/iam) Lebar
120 100 80 100 80 60 80 60 40 60 40 30 60 40 30
Daerah Penguasaan
min.(m) Lebar
60 60 60 40 40 40 30 30 30 30 30 30 20 20 20
Perkerasan (m) Minimum 2(2X3.75) 2x3.5 atau 2(2x3.5) 2 x 3.50 2 x 3.0 3.50 6.00
Lebar Median
minimum (m)
2 1.5 - - -
Lebar Bahu (m) 3.5 3 3 3 2.5 2.5 3 2.5 2.5 2.5 1.5 1.0 3.50 6.00
24

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

Lereng Melintang
Perkerasan
2 ° 2 ° 2 ° 3 ° 4 °
Lereng Melintang
Bahu
4 ° 4 ° 6 ° 6 ° 6 °
Jenis Lapisan
Permukaan Jalan
Aspal beton (hotmix) Aspal Beton
Penetrasi
berganda/setaraI
Paling tiggi penetrasi
tunggal
Paling tinggi
pelebaran ialan
Miring tikungan
maksimum
10 ° 10 ° 10 ° 10 ° 10 °
Jari- iari lengkung
minimum (m)
560 350 210 350 210 115 210 115 50 210 115 50 115 50 30
Landai Maksimum

3° 5° 6° 4° 6° 7° 5° 7° 8° 6° 8° 10° 6° 8° 10°
Tabel 2.1. Tabel KlasiIikasi Jalan Raya
Sumber : Peraturan Perencanaan Geometrik Jalan Raya, Dept. PU
a. 'olume Lalu Lintas
Volume lalu lintas menyatakan iumlah kendaraan yang melintasi satu titik
pengamatan dalam satu satuan waktu. Untuk mendapatkan volume lalu lintas tersebut,
dikenal dua ienis Lalu Lintas Harian Rata-rata, yaitu :
- Lalu Lintas Harian Rata- rata (LHR)
Jumlah kendaraan yang diperoleh selama pengamatan dengan lamanya pengamatan.
- Lalu Lintas Harian Rata- rata Tahunan (LHRT)
Jumlah lalu lintas kendaraan yang melewati satu ialur selama 24 iam dan diperoleh
dari data satu tahun penuh.
23

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

Pada umumnya lalu lintas pada ialan raya terdiri dari berbagai ienis kendaraan,
baik kendaraan cepat, kendaraan lambat, kendaraan berat, kendaraan ringan, maupun
kendaraan tak bermotor. Dalam hubungannya dengan kapasitas ialan, maka iumlah
kendaraan bermotor yang melewati satu titik dalam satu satuan waktu
mengakibatkan adanya pengaruh / perubahan terhadap arus lalu lintas.Pengaruh ini
diperhitungkan dengan membandingkannya terhadap |engaruh dari suatu mobil
penumpang dalam hal ini dipakai sebagai satuan dan disebut Satuan Mobil Penumpang (
Smp ).
Untuk menilai setiap kendaraan ke dalam satuan mobil penumpang ( Smp ), bagi ialan di
daerah datar digunakan koeIisien di bawah ini :
Sepeda ÷ 0, 5
Mobil Penumpang ÷ 1
Truk Ringan ( berat kotor · 5 ton ) ÷ 2
Truk sedang ~ 5 ton ÷ 2, 5
Bus ÷ 3
Truk Berat ~ 10 ton ÷ 3



26

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

Di daerah perbukitan dan pegunungan, koeIisien untuk kendaraan bermotor di atas dapat
dinaikkan, sedangkan untuk kendaraan tak bermotor tak perlu dihitung. Jalan dibagi
dalam kelas yang penetapannya kecuali didasarkan pada Iungsinya iuga
dipertimbangkan pada besarnya volume serta siIat lalu lintas yang diharapkan akan
menggunakan ialan yang bersangkutan.
-. aktor yang Mempengaruhi Perencanaan Geometrik 1alan
Untuk perencanaan ialan raya yang baik, bentuk geometriknya harus ditetapkan
sedemikian rupa sehingga ialan yang bersangkutan dapat memberkan pelayanan
yang optimal kepada lalu lintas, sebab tuiuan akhir dari perencanaan geometrik ini
adalah tersedianya ialan yang memerikan rasa aman dan nyaman kepada pengguna ialan.
Dalam merencanakan suatu konstruksi ialan raya banyak Iactor yang meniadi dasar atau
pertimbangan sebelum direncanakannya suatu ialan. Factor itu antara lain :
- Kendaraan Rencana
Dilihat dari bentuk, ukuran dan daya dari kendaraan - kendaran yang
menggunakan ialan, kendaraan- kendaraan tersebut dapat dikelompokkan.
Ukuran kendaraan- kendaraan rencana adalah ukuran terbesar yang mewakili
kelompoknya. Ukuran lebar kendaraan akan mempengaruhi lebar ialur yang
dbituhkan. SiIat membelok kendaraan akan mempengaruhi perencanaan tikungan. Daya
kendaraan akan mempengaruhi tingkat kelandaian yang dipilih, dan tinggi tempat
duduk ( iok ) akan mempengaruhi iarak pandang pengemudi.

27

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

Kendaraan yang akan digunakan sebagai dasar perencanaan geometric
disesuaikan dengan Iungsi ialan dan ienis kendaraan yang dominan menggunakan ialan
tersebut. Pertimbangan biaya iuga ikut menentukan kendaraan yang dipilih.
- Kecepatan Rencana Lalu Lintas
Kecepatan rencana merupakan Iactor utama dalam perencanaan suatu geometric
ialan. Kecepatan yaitu besaran yang menuniukkan iarak yang ditempuh kendaraan dibagi
waktu tempuh.
Kecepatan rencana adalah kecepatan yang dipilih untuk keperluan perencanaan setiap
bagian ialan raya seperti tikungan, kemiringan ialan, iarak pandang dll. Kecepatan
maksimum dimana kendaraan dapat berialan dengan aman dan keamanan itu sepenuhnya
tergantung dari bentuk ialan, kecepatan rencana haruslah sesua dengan tipe ialan dan
keadaan medan. Suatu ialan yang ada di daerah datar tentu saia memiliki design speed
yang
lebih tinggi dibandingkan pada daerah pegunungan atau daerah perbukitan.
Adapun Iaktor - Iaktor yang mempengaruhi kecepatan rencana tergantung pada :
A. Topografi ( Medan )
Untuk perencanaan geometric ialan raya, keadaan medan memberikan batasan
kecepatan terhadap kecepatan rencana sesuai dengan medan perencanaan (
datar, bukit, dan gunung ).


28

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

B. Sifat dan tingkat penggunaan daerah
Kecepatan rencana untuk ialan- ialan arteri lebih tinggi dibandingkan ialan
kolektor. Adanya taniakan yang cukup curam dapat mengurangi laiu kecepatan dan
bila tenaga tariknya tidak cukup, maka berat kendaraan ( muatan ) harus dikurangi,
yang berarti mengurangi kapasitas angkut dan mendatangkan medan yang landai.
Perencanaan geometrik merupakan bagian dari suatu perencanaan konstruksi ialan,
yang meliputi rancangan pola arah dan visualisasi dimensi nyata dari suatu trase
ialan beserta bagian bagiannya, disesuaikan dengan persyaratan parameter
pengendara, kendaraan dan lalu lintas.
Melalui perencanaan geometrik, diusahakan untuk dapat menciptakan hubungan
yang serasi antara Iactor Iactor yang berkaitan dengan parameter diatas, sehingga
akan dihasilkan suatu eIisiensi, keamanan serta kenyamanan yang paling optimal
dalam batas batas pertimbangan toleransi yang masih dianggap layak.
Perencanaan geometrik secara umum menyangkut aspek aspek perencanaan
elemen ialan seperti lebar ialan, tikungan, kelandaian ialan dan iarak pandangan serta
kombinasi dari bagian bagian tersebut, baik untuk suatu ruas ialan, maupun untuk
perlintasan diantara dua lebih ruas ruas ialan.
Perencanaan ulang geometrik ialan merupakan suatu perencanaan ulang rute dari
ruas suatu ialan yang telah ada secara lengkap, menyangkut beberapa komponen
ialan yang dirancang berdasarkan kelengkapan data dasar berupa hasil survey
lapangan, kemudian dianalisis berdasarkan acuan persyaratan geometrik yang
berlaku. Analisis yang dilakukan diantaranya :
29

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

1. Pengukuran ulang ruas ialan daerah loa bahu
2. Perencanaan ulang alinyemen.
3. Perhitungan galian dan timbunan.

C. Bagian--agian 1alan
Penampang melintang ialan merupakan potongan melintang tegak lurus sumbu ialan.
Pada potongan melintang ialan dapat terlihat bagian-bagian ialan yang utama dapat di
kelompokkan sebagai berikut :
A. Daerah manIaat ialan ( DAMAJA )
Daerah manIaat ( DAMAJA ) adalah suatu ruas sepaniang ialan yang dibatasi oleh
lebar, tinggi dan kedalaman ruangbebas tertentu yang dimanIaatkan untuk kontruksi
ialan. Daerah manIaat ialan meliputi :
Badan ialan : ialur lalu lintas,laiur lalu lintas, bahu ialan
Saluran tepi ialan
Ambang pengaman ialan
Trotoar
Median
B. Daerah Milik Jalan ( DAMIJA )
Daerah milik ialan merupakan ruang sepaniang ialan yang di batasi oleh lebar dan tinggi
tertetu yang dikuasai oleh Pembina ialan denga suatu hak tertentu. Biasanya pada iarak
tiap 1 Km dipasang pato DMJ berwarna kuning.
30

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

Seialur tanah tertetu di luar daerah manIaat ialan tetapi di dalam daerah milik ialan
dimaksudakan untuk memenuhi persyaratan keluesan keamanan pengguna ialan antara
lain untuk keperluan pelebaran daerah manIaat ialan di kemudian hari.
C. Daerah Pengawasan Jalan ( DAWASJA )
Daerah pengawasa ialan adalah seialur tanah tartentu yang terletak di luar daerah milik
ialan, yang pengunaanya diawasi oleh Pembina ialan, dengan maksud agar tidak
menggenggu pandangan pengemuda dan kontruksi bangunan ialan, dalam hal tidak
cukup luasnya daerh milik ialan










Gambar 2.3.Penampang melintang ialan
31

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

D. Penampang melintang Jalan
Penampang melintang ialan adalah potongan ialan tegak lurus sumbunya ( as ialan ).
Penampang melintang terdiri atas bagian bagian sebagai berikut :
1alur lalu lintas
Jalur lalu lintas yaitu bagian ialan yang digunakan untuk lalu lintas kendaraan yang
secara Iisik berupa perkerasan ialan. Jalur lalu lintas terdiri dari beberapa laiur
kendaraan. Laiur kendaraan yaitu bagian dari ialur lalu lintas yang khusus dipergunakan
untuk dilewati oleh satu rangkaian kendaraan roda empat atau lebih dalam satu arah.
Jadi iumlah laiur dalam 2 arah adalah 2 dan pada umumnya disebut sebagai ialan 2 laiur
2 arah. Laiur lalu lintas untuk 1 arah minimal terdiri dari 1 laiur lalu lintas.
1. Lebar laiur lalu lintas
Lebar laiur lalu lintas merupakan bagian yang paling menentukan lebar melintang
ialan secara keseluruhan. Besarnya laiur lalu lintas hanya dapat ditentukan dengan
pengamatan langsung di lapangan karena :
a. Lintasan kendaraan yang satu tidak mungkin akan dapat diikuti oleh lintasan
kendaraan lain dengan tepat.
b. Laiur lalu lintas tidak mungkin tepat sama dengan lebar kendaraan maksimum.
Lintasan kendaraan tak mungkin tetap dibuat seiaiar sumbu laiur lalu lintas,
karena kendaraan selama bergerak akan mengalami gaya gaya semping seperti
tidak ratanya permukaan, gaya sentriIugal di tikungan, dan gaya angin akibat
kendaraan lain yang menyiap. Lebar kendaraan penumpang pada umumnya
bervariasi antara 1,50 m 1,75 m. bina marga mengambil lebar rencana untuk
mobil penumpang adalah 1,70 m dan 2,50 m untuk kendaraan truk / bis /
32

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

semitrailer. Lebar laiur lalu lintas merupakan lebar kendaraan ditambah dengan
ruang bebas antara kendaraan yang besarnya sangat ditentukan keamanan dan
kenyamanan yang diharapkan. Jalan dipergunakan untuk lalu lintas dengan
kecepatan tinggi, membutuhkan ruang bebas untuk menyiap yang lebih besar
dibanding dengan ialan untuk kecepatan rendah.
Pada ialan local ( kecepatan rendah ) lebar ialan minimum 5,50 m ( 2 × 2,75 m )
cukup memadai untuk ialan 2 laiur dengan 2 arah. Debgan pertimbangan arah
biaya yang tersedia, lebar 5 meter pun masih diperkenankan. Jalan arteri yang
direncanakan untuk kecepatan tinggi, mempunyai lebar laiur lalu lintas lebih
besar dari 3,25 m sebaiknya 3,50 m.
2. Jumlah laiur lalu lintas
Banyaknya laiur yang dibutuhkan sangat tergantung dari volume lalu lintas yang
akan memakai ialan tersebut dengan tingkat pelayanan ialan yang diharapkan.
3. Kemiringan melintang laiur lalu lintas
Kemiringan laiur lalu lintas di ialan lurus dipergunakan terutama untuk kebutuhan
drainase ialan. Air yang iatu di atas permukaan ialan supaya cepat dialirkan ke
saluran saluran pembuangan. Kemiringan melintang bervariasi antara 1,5 ° - 3 °,
untuk ienis lapisan permukaan dengan mempergunakan bahan pengikat seperti aspal
atau semen.
Sedangkan untuk ialan dengan lapis permukaan belum mempergunakan bahan
pengikat seperti ialan berkerikil, kemiringan melintang dibuat 5 °. Kemiringan
melintang laiur lalu lintas di tikungan dibuat untuk kebutuhan keseimbangan gaya
sentriIugal yang bekeria, disamping kebutuhan akan drainase.
33

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

Median atau jalur tepian
Bagian ialan yang secara Iisik memisahkan dua ialur lalu lintas yang berlawanan arah,
guna memungkinkan kendaraan bergerak cepat dan aman. Jadi, median adalah ialur
yang terletak ditengah ialan untuk membagi ialan dalam masing-masing arah. Median
ialan berIungsi antara lain :
1. Memisahkan dua aliran lalu lintas yang berlainan
2. Tempat prasarana pekeriaan sementara
3. Pemberhentian darurat
4. Cadangan laiur
5. Mengurangi silau dari lampu ialanan pada malam hari dari arah berlawanan

Bahu jalan
Bahu ialan adalah bagian ialan yang berdampingan di tepi ialur lalu lintas, dan harus
diperkeras, berIungsi untuk laiur lalu lintas darurat, ruang bebas samping dan
penyangga perkerasan terhadap beban lalu lintas, memberikan kelegaan pada
pengemudi sehingga dapat meningkatkan kapasitas ialan yang bersangkutan.
Berdasarkan tipe perkerasannya bahu ialan dibedakan meniadi dua, yaitu bahu yang
tidak diperkeras dan bahu yang diperkeras. Sedangkan bahu ialan dilihat dari letaknya
terhadap arus lalu lintas, maka dibedakan meniadi dua yaitu bahu kiri/bahu luar dan
bahu kanan/bahu dalam. Lebar bahu ialan bervariasi yaitu antara 0,5 m 2,5 m.



34

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

Trotoar
Trotoar adalah ialur peialan kaki yang terletak pada DAMIJA, diberi lapisan
permukaan, diberi elevasi yang lebih tinggi dari permukaan perkerasan, dan umumnya
seiaiar dengan ialur lalu lintas kendaraan. Perlu atau tidaknya trotoar disediakan sangat
tergantung dari volume pedestrian dan volume lalu lintas pemakaian ialan tersebut.
Lebar trotoar yang dibutuhkan ditentukan oleh volume peialan kaki, tingkat pelayanan
peialan kaki yang diinginkan, dan Iungsi ialan. Untuk lebar 1,5 m 3,0 m merupakan
nilai yang umum dipergunakan.
Drainase
Suatu saluran yang berIungsi untuk menampung dan mengalirkan air huian, limpasan
dari permukaan ialan dan daerah sekitarnya. Pada umumnya bentuk drainase berupa
trapezium, atau empat persegi paniang. Untuk daerah perkotaan, dimana daerah
pembebasan ialan sudah sangat terbatas, maka saluran samping dapat dibuat empat
persegi paniang dari konstruksi beton dan ditempatkan di bawah trotoar.

Talud/ kemiringan Lereng
Bagian tepi perkerasan yang diberi kemiringan, untuk menyalurkan air kesaluran tepi.
Atau dapat iuga berarti lereng kiri kanan ialan dari suatu perbukitan, yang dipotong
untuk pembentukan ialan. Kemiringan lereng pada umumnya dibuat 2H : 1V, tetapi
untuk tanah tanah yang mudah longsor talud ialan harus dibuat sesuai dengan
besarnya landai yang aman, yang diperoleh dari nilai kestabilan lereng. Berdasarkan
keadaan tanah pada lokasi ialan tersebut, mungkin saia dibuat broniong, tembok
penahan tanah, lereng bertingkat ( berm ) ataupun hanya ditutupi rumput saia.
33

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

Kere-
Merupakan penoniolan atau peninggian tepi perkerasan atau bahu ialan, yang terutama
dimaksudkan untuk keperluan-keperluan drainase, mencegah keluarnya kendaraan dari
tipe perkerasan, dan memberikan ketegasan tepi kendaraan. Pada umumnya kereb
digunakan pada ialan-ilan di daerah perkotaan. Berdasarkan Iungsinya kereb dibedakan
meniadi, kereb peninggi, kereb penghalang, kereb berparit, dan kereb penghalang
berparit.
2.2. Uraian khusus
2.2.1. Pengukuran topograIi
TopograIi merupakan penielasan secara tertulis tentang lapangan secara detail dan
lengkap baik gambar ialan, batas kampung, hutan sampai tinggi rendahnya permukaan
tanah. Pengukuran topograIi merupakan pengukuran yang dilakukan guna
menggambarkan secara detail dan lengkap tentang kondisi lapangan.
Salah satu unsur penting dalam peta topograIi adalah inIormasi tentang koordinat dan
tinggi suatu tempat terhadap ruiukan tertentu. Untuk menyaiikan variasi ketinggian
suatu tempat pada peta topograIi umumnya digunakan garis kontur. Garis kontur
merupakan garis yang menghubungkan titik titik dengan ketinggian yang sama besar.
Pengukuran dilakukan menggunakan %eodolite atau alat penyipat ruang karena dapat
mengukur sudut arah kedua titik atau lebih dan sudut curaman terhadap bidang yang
horizontal pada titik pembacaan, sehingga akan didapat tiap tiap titik suatu sudut
horizontal dan vertikal.
36

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

Selain menuniukkan ketinggian permukaan tanah,garis kontur iuga dapat digunakan
untuk :
a. Menentukan potongan memaniang (proIile,longitudinal sections) antar dua tempat.
b. Menghitung luas dan volume suatu daerah atau pekeriaan.
c. Menentukan route/trace dengan kelandaian tertentu.
d. Menentukan kemungkinan dua titik dilapangan dan sama tinggi.
Adapun metode yang biasa dipakai adalah metode polygon, dimana pada KP I ini
mengkhususkan pada metode polygon terbuka. Metode polygon merupakan salah satu
cara penentuan posisi horizontal (x,y) titik-titik dilapangan, yaitu titik satu dengan titik
lainnya dihubungkan secara berurutan dan titik-titik ini saling terikat satu sama lainnya.
Pengukuran dilakukan menggunakan %eodolite atau alat penyipat ruang karena dapat
mengukur sudut arah kedua titik atau lebih dan sudut curaman terhadap bidang yang
horizontal pada titik pembacaan, sehingga akan didapat tiap tiap titik suatu sudut
horizontal dan vertical.
Dalam survey ukur tanah ada beberapa parameter yang diukur, dimana data-data ini
merupakan dasar utama untuk proses penyelesaian selaniutnya, yaitu :
a. Jarak
b. Ketinggian
c. Sudut
d. Keterangan

37

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

Adapun rumus rumus yang digunakan dalam menghitung data hasil pengukuran
diantaranya :
- Azimut
Azimut atau sudut iurusan adalah sudut yang diukur searah iarum iam dari sembarang
meridian acuan. Dalam pengukuran tanah, azimuth biasanya diukur dari utara.

´ )
´ ) º > ÷
º · ÷ +
º ±
¦
¦
'
+
+

'

=
180
180
:
180
tan

Dimana

8ebelumnva
iuru8an Sudut
ber8anku vang titik
pada pengukuran Sudur
imut

- Jarak miring
´ ) 100 BB B miring Jarak =
Dimana :
BA ÷ Bacaan benang atas
BB ÷ Bacaan benang bawah



38

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

- Jarak datar
7
2
sin miring Jarak datar Jarak =
Dimana :
0 ÷ Bacaan sudut vertical
- Beda tinggi
B% datar Jarak alat % tinggi Beda
¦
¦
'
+

'

¦
'
+

'

+ =
¬ tan
1
.
Dimana :
0 ÷ Bacaan sudut vertical
BT ÷ Bacaan benang tengah
- Koordinat
- Koordinat X
8ebelumnva titik pada oordinat oordinat + =
tan ber8angku titik pada imut Sin datar Jarak =
- Koordinat Y
8ebelumnva titik pada oordinat oordinat + =
tan ber8angku titik pada imut Co8 datar Jarak =
- Elevasi

tinggi Beda 8ebelumnva titik pada Eleva8i Eleva8i + =
39

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

2.2.2. Perencanaan alinyemen
Dalam perencanaan ialan raya harus direncanakan sedemikian rupa sehingga ialan raya
itu dapat memberikan pelayanan optimum kepada pemakai ialan sesuai dengan
Iungsinya.
Perencanaan alinyemen adalah perencanaan untuk mendimensi suatu route ialan secara
nyata sesuai dengan tuntutan dan siIat siIat lalu lintas. Dalam merencanakan
alinyemen ialan harus memperhatikan dan mempertimbangkan Iactor Iactor yang
mempengaruhi, meliputi : keadaan Iisik dan IotograIi daerah, data lalu lintas, keamanan,
analisa ekonomi dan sebagainya.
A. Kondisi Fisik dan TopograIi
Kondisi Iisik dan topograIi daerah sangat mempengaruhi penetapan alinyemen,
kelandaian dan iarak. Pada daerah yang curam akan lebih menyulitkan dibandingkan
dengan daerah datar karena akan menimbulkan pekeriaan tanah.
B. Kondisi lalu lintas
Kondisi lalu lintas mempunyai pengaruh ditiniau dari volume lalu lintas dan
kecepatannya.
a. Volume lalu lintas
Volume lalu lintas mempunyai pengaruh langsung pada kelas ialan.
b. Kecepatan
Selain volume lalu lintas, kecepatan iuga mempunyai pengaruh dalam
perencanaan ialan. Didalam rekayasa ialan raya kecepatan dibagi tiga, yaitu :
40

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

1. Kecepatan rencana
Kecepatan rencana merupakan kecepatan yang dipilih untuk kecepatan
merencanakan dan mengkorelasikan bentuk bentuk setiap bagian ialan raya, seperti
tikungan, kemiringan, iarak pandang dan sebagainya tergantung pada keamanan
ialannya kendaraan.
Penetapan kecepatan rencana tergantung pada kelas ialan dan keadaan topograIi
suatu daerah. Ketentuan kecepatan rencana menurut Bina Marga sebagai berikut :
Kelas
Jalan
Keadaan
Medan
Kecepatan Rencana
(km/iam)
I


IIA


IIB


IIC


III
D
B
G
D
B
G
D
B
G
D
B
G
D
B
G
120
100
80
100
80
60
80
60
40
60
40
30
60
40
30
Tabel 2.2. Kecepatan rencana

41

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

Golongan Medan Lereng Melintang
Datar (D)
Perbukitan (B)
Pegunungan (G)
0° - 9,9°
10° - 24,9°
> 25°
Tabel 2.3. Kemiringan lereng melintang
2. Kecepatan ialan
Kecepata ialan merupakan kecepatan kendaraan pada suatu ruas ialan tertentu
merupakan pembagian iarak yang ditempuh dibagi dengan waktu tempuh.
Digunakan untuk mengetahui kecepatan rata rata kecepatan yang melalui suatu
ruas ialan yang akan digunakan untuk meneliti kondisi ialan tersebut hasilnya untuk
mengetahui kapasitas ialan pengaruh lalu lintas terhadap lingkungan.
3. Kecepatan batas
Kecepatan batas merupakan batas kecepatan yang diiiinkan oleh pemerintah untuk
suatu ialur ialan tertentu.





42

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

2.2.2.1. Alinyemen horizontal
Alinyemen horizontal merupakan proyeksi sumbu ialan pada bidang horizontal.
Alinyemen horizontal disebut iuga dengan gambar situasi ialan atau trase ialan.
1. Gaya sentriIugal
Apabila suatu kendaraan berialan pada suatu tikungan akan mengalami gaya setriIugal
besar dan kecepatan gaya yang teriadi menentukan bentuk lintasan kendaraan yang
bersangkutan dengan kecepatan rencana yang telah ditentukan dapat ditentukan
besarnya iari iari minimum tikungan sehingga kendaraan aman melewatinya.

´ ) E
J
R
+
=
127
2
min

Dimana :
V ÷ Kecepata rencana (km/iam)
E ÷ Kemiringan ialan maksimum pada tikungan (°)
F ÷ KoeIisien gesekan antar roda kendaraan dengan
permukaan ialan.



43

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ







Gambar 2.4. KoeIisien gesekan (F)
2. Spiral Circle Spiral (SCS)
Lengkung yang terdiri dari lingkaran (circle) dengan bagian peralihan (spiral) untuk
menghubungkan dengan bagian lurus (tangent)






Gambar 2.5. Lengkung Spiral Circle Spiral
44

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

Lengkung TS SC adalah lengkung peralihan berbentuk spiral (clothoid) yang
menghubungkan bagian lurus dengan radius tak terhingga diawal spiral (kiri TS) dengan
bagian lingkaran dengan radius Rc ÷ diakhir spiral (kanan SC). Titik TS adalah titik
peralihan dari bagian lurus kebagian berbentuk spiral dan titik SC adalah titik peralihan
bagian spiral kebagian lingkaran.
Rumus perhitungan :




R ÷ ditentukan dulu berdasarkan R minimum serta kondisi lapangan, kemudian lihat
table (lampiran I) untuk menentukan Ls, dengan Ls dan R yang ada maka p, k dan 7
dapat dicari dengan menggunakan table (lampiran II).
Kontrol :
%8 t
meter c
8i Supereleva E
ik m kecepa Perubaan C
C
e J
C R
J
8
2 . 3
20 . 2
3 det / 4 , 0 tan
.
727 , 2
.
022 , 0 min . 1
3
·
>
=
= =
=


´ )
8
R c
8 c t
R
Co8
p R
E8
k tg P R %8
7
6
2 1
2
360
1
2
2
1
2
1
=

=
+ =

+
=
+ + =
43

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

3. Spiral Spiral (SS)
Lengkung spiral spiral adalah lengkung tanpa busur lingkaran sehingga titik SC
berimpit dengan CS.







Gambar 2.6. Lengkung Spiral Spiral
Rumus perhitungan :





´ )
%8 8 ontrol
R
Co8
p R
E8
k tg p R %8
tabel iat
8 k k
8 p P
R
8
8 atau
R 8
8
8
2 2 :
2
1
2
1
. *
. *
648 , 28 90
2
1
·

+
=
+ + =
)
`
¦
=
=
= =
=
7 6 7
7
46

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

dihitung dulu secara analitis, kemudian dihitung 8 7 dan harga p dan k dilihat pada
table (lampiran III) pada baris yang sesuai dengan . 8 7
4. Full Circle (FC)
Tidak semua lengkung dapat dibuat berbentuk lengkung/busur lingkaran sederhana,
hanya lengkung dengan radius besar yang diperbolehkan.
Kecepatan Rencana
(km/iam)
Radius Minimum
(m)
120
100
80
60
50
40
30
2000
1500
1100
700
440
300
180
Tabel 2.4. Radius minimum untuk Iull circle



47

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ






Gambar 2.7. Lengkung Full Circle
Rumus perhitungan :



Bagian lurus dari ialan (dikiri TC atau dikanan CT) dinamakan bagian tangent.
Peralihan dari bentuk tangent kebentuk lingkaran dinamakan titik TC dan titik peralihan
dari busur lingkaran kebentuk lurus dinamakan titik CT.
5. Diagram superelevasi
Diagram superelevasi merupakan suatu diagram yang memperlihatkan paniang yang
diperlukan untuk merubah kemiringan melintang dari keadaan normal sampai
superelevasi yang teriadi pada setiap bagian tikungan.
Superelevasi penuh adalah kemiringan maksimum yang harus dicapai pada suatu
tikungan tergantung dari kecepatan rencana yang digunakan (table Barnet).
R
tg % E
tg R %
=
=
=
180
2
1
.
2
1
.
6
48

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

Untuk merubah penampang melintang dari normal sampai ke superelevasi penuh ada
tiga macam cara :
1. Perubahan dengan as ialan sebagai sumbu putar.
2. Perubahan dengan tepi luar ialan sebagai sumbu putar.
3. Perubahan dengan tepi dalam ialan sebagai sumbu putar.




Gambar 2.8. Diagram superelevasi S C S





Gambar 2.9. Diagram superelevasi S S


49

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ





Gambar 2.10. Diagram superelevasi F C










Gambar 2.11. perubahan kemiringan melintang

30

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

6. Pelebaran perkerasan pada tikungan
Kendaraan yang bergerak dari ialan lurus menuiu tikungan, seringkali tidak dapat
mempertahankan lintasannya pada laiur yang disediakan, disebabkan :
1. Pada waktu membelok yang diberi belokan pertama kali hanya roda depan, sehingga
lintasan roda belakang agak keluar ialur (oII tracking).
2. Jeiak lintasan kendaraan tidak lagi berimpit, karena bemper depan dan belakang
kendaraan mempunyai lintasan yang berbeda antara roda depan dan roda belakang.
3. Pengemudi akan mengalami kesukaran dalam mempertahankan lintasannya untuk
tetap pada laiur ialannya, terutama pada tikungan tikungan yang taiam atau pada
kecepatan yang tinggi.
Untuk menghindari hal tersebut maka, pada tikungan yang taiam perlu dilakukan
pelebaran perkerasan pada tikungan.
Elemen elemen dari pelebaran tikungan terdiri dari :
1. OII tracking (U)
Dalam merencanakan geometri ialan antar kota, Bina Marga memperhitungkan
lebar B dengan mengambil posisi kritis kendaraan yaitu pada saat roda depan
kendaraan pertama kali dibelokkan dan tiniauan dilakukan untuk laiur sebelah
dalam.
Rw ÷ radius lengkung terluar dari lintasan kendaraan pada lengkung horizontal
untuk ialur sebelah dalam
31

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

Ri ÷ radius lengkung terdalam dari lintasan kendaraan pada lengkung
horizontal untuk laiur sebelah dalam. Besarnya Ri dipengaruhi oleh iarak
gandar kendaraan (P)
B ÷ Rw Ri
´ ´ )
2
2
p Rw b Ri + = +
´ ) ´ )
2 2
p B Ri Rw + + =
Ri ÷ Rw B
Rw ¹ B ¹ b ÷ ´ ´ )
2 2
p Rw +
B ÷ Rw ¹ b - ´ ´ )
2 2
p Rw +
Rc ÷ radius lengkung untuk lintasan luar roda depan yang besarnya
dipengaruhi oleh sudut u.
Rc diasumsikan sama dengan b Ri
2
1
+
Rc
2
÷ (Ri ¹
2
1
)
2
¹ (p ¹ A)
2


´ ) ´ )
´ ) ´ ´ )
´ ´ ) ´ ) b p p Rc Ri
p Rc b Ri
p Rc b Ri
2
1
2
1
2
1
2 2 2
2 2
2 2
2
+ + =
+ = +
+ = +

32

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ


´ ) ¦ ´ )
´ ) ¦ ´ )
2
2
2 2
2
2
2 2
2
1
2
1
p b p Rc B
p b p Rc Rw
+ + + + =
+ + + =

U ÷ B b
P ÷ iarak antara gandar ÷ 6,50 m
A ÷ toniolan depan kendaraan ÷ 1,5 m
b ÷ lebar kendaraan ÷ 2,5 m
Sehingga :
B ¦ ´ ) 25 , 1 64 64 25 , 1 64
2
2
2
+ + + = Rc Rc
Rc ÷ radius laiur sebelah dalam -
2
1
lebar perkerasan ¹ b
2
1

2. Kesukaran dalam mengemudi (Z)
AASHTO mengemukakan bahwa tambahan lebar perkerasan ditikungan sebagai
akibat dari kesukaran dalam mengemudi, merupakan Iungsi dari kecepatan
kendaraan dan radius laiur sebelah dalam.

Dimana :
V ÷ kecepatan (km/iam)
R ÷ radius lengkung (m)
R
J
Z
105 , 0
=
33

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

Kebebasan samping yang ada dikiri dan kanan ialan, tetap harus dipertahankan
demi untuk keamanan dan tingkat pelayanan ialan. Kebebasan samping (C)
sebesar 0,50m; 1,00m dan 1,25m cukup memadai untuk ialan dengan lebar laiur
6,00m; 7,00m dan 7,50m.
Dari gambar 2.8 dapat dilihat :
B ÷ lebar kendaraan rencana
B ÷ lebar perkerasan yang ditempati satu kendaraan di tikungan pada laiur
sebelah dalam
U ÷ B b
Sedangkan ukuran rencana truk adalah :
C ÷ lebar kebebasan samping dikiri dan kanan kendaraan
Z ÷ lebar tambahan akibat kesukaran mengemudi di tikungan
Bn ÷ lebar total perkerasan pada bagian lurus
Bt ÷ lebar total perkerasan ditikungan
n ÷ iumlah laiur
Bt ÷ n (B¹C)¹Z
b ÷ tambahan lebar perkerasan ditikungan
b ÷ Bt Bn
34

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ










Gambar 2.12. Pelebaran perkerasan pada tikungan

7. Jarak pandang
Jarak pandang merupakan suatu iarak yang diperlukan oleh pengemudi, sehingga iika
melihat suatu halangan pengemudi dapat melakukan antisipasi untuk menghindari
halangan secara aman.



33

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

a. Jarak pandang henti (Jh)
Jh ÷ Jht ¹Jhr
Dimana :
Jht ÷ iarak tanggap yang ditempuh kendaraan seiak pengemudi melihat
halangan sampai menginiak rem.
Jhr ÷ Jarak diperlukan untuk menghentikan kendaraan mulai dari
pengemudi menginiak rem sampai kendaraan berhenti.
g
Jr
%
Jr
J
2
6 , 3
6 , 3
2
¦
'
+

'

+ =
Dimana :
Vr ÷ kecepatan rencana (km/iam)
T ÷ waktu tanggap (ditetapkan 2,5 detik)
g ÷ graIitasi (9,8 m/s
2
)
F ÷ koeIisien gesek ban dengan permukaan ialan

Jr
% Jr J
254
. 278 , 0
2
+ =



36

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

b. Jarak pandang mendahului (Jd)





A ÷ kendaraan yang mendahului
B ÷ kendaraan yang berlawanan arah
C ÷ kendaraan yang didahului kendaraan A
Jd ÷ d1¹d2¹d3¹d4
d1 ÷ iarak yang ditempuh selama mendahului
d2 ÷ iarak yang ditempuh sampai kembali ke laiur semula
d3 ÷ iarak antara kendaraan yang mendahului dengan kendaraan yang
berlawanan setelah proses mendahui selesai
d4 ÷ iarak yang ditempuh oleh kendaraan yang berlawanan
Dimana :
d1 ÷ ¦
'
+

'

+
2
278 , 0
1
1
a%
m Jr %
37

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

d2 ÷ 0,278 Vr T
2

T
1
÷ 2,12 ¹ 0,026 Vr
T
2
÷ waktu dilaiur lawan
÷ 6,56 ¹ 0,048 Vr
a ÷ percepatan rata rata (km/iam/detik)
÷ 2,052 ¹ 0,0036 Vr
m ÷ perbedaan kecepatan kendaraan yang mendahului dengan kendaraan
yang didahului
÷ 10 15 km/iam
d3 ÷ - 30m untuk Vr ÷ 50 65 km/iam
- 55m untuk Vr ÷ 65 80 km/iam
- 75m untuk Vr ÷ 80 95 km/iam
- 90m untuk Vr ÷ 95 110 km/iam
d4 ÷ 2
3
2
d



38

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

8. Jarak bebas samping pada tikungan






Jh ~ Lt
¦
'
+

'

+ ¦
'
+

'

=

65 , 28
2
65 , 28
1
R
J
Sin
t J
R
J
Co8 R E






Jh · Lt
¦
'
+

'

=

65 , 28
1
R
J
Co8 R E
39

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

2.2.2.2. Alinyemen vertikal
Alinement vertikal adalah garis potong yang dibentuk oleh bidang vertical melalui
sumbu ialan. ProIil ini menggambarkan tinggi rendahnya ialan terhadap muka yanah
asli, sehingga memberikan gambaran terhadap kemampuan kendaraan naik atau turun
dan bermuatan penuh.
Pada alinyemen vertical bagian yang kritis adalah pada bagian lereng, dimana
kemampuan kendaraan dalam keadaan pendakian dipengaruhi oleh paniang kritis,
landai dan besarya kelandaian. Maka berbeda dengan alinyemen horizontal, disini tidak
hanya pada bagian lengkung, tetapi penting lurus yang pada umumnya merupakan suatu
kelandaian.
1. Macam macam lengkung vertical
Lengkung vertical ada dua macam, yaitu :
a. Lengkung vertical cekung, yaitu lengkung dimana titik perpotongan antara kedua
tangent berada dibawah permukaan ialan.
b. Lengkung vertical cembung, yaitu lengkung dimana titik perpotongan antara kedua
tangent berada diatas permukaan ialan.
Lengkung vertical cembung


½ LV ½ LV

60

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ


½ LV
½ LV

Gambar 2. 13 Lengkung Vertikal Cembung

b. Lengkung vertical cekung




½ LV ½ LV



½ LV ½ LV
Gambar 2.14 Lengkung Vertikal Cekung
61

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

Pada lengkung vertical cembung yang mempunyai tanda ( ¹ ) pada
persamaannya dan lengkung vertical cekung yang mempunyai tanda ( - ) pada
persamaannya. Hal yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut :
a. Pada alinyemen vertical tidak selalu dibuat lengkungan dengan iarak pandangan
menyiap, tergantung pada medan, klasiIikasi ialan, dan biaya.
b. Dalam menentukan harga A ÷ G1 G2 terdapat 2 cara dalam penggunannya, yaitu :
- Bila ° ikut serta dihitung maka rumus yang dipergunakan adalah seperti di atas.
- Bila ° sudah dimasukkan dalam rumus, maka rumus meniadi :



2.2.3. Control overlaping
Pada setiap tikungan yang sudah di rencanakan, maka iangan sampai teriadi
overlapping. Karena iika hal ini teriadi maka tikungan tersebut meniadi tidak aman
untuk di gunakan sesuai kecepatan rencana. Syarat supaya tidak teriadi overlapping :
ìn ~ 3 detik x Vr.
Di mana : ìn ÷ Daerah tangent ( meter )
Vr ÷ Kecepatan rencana




C
1
Ŵ C
2

v ƹ
62

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ









Gambar 2.15. Jenis lengkung vertikal
Vr ÷ 50 km/iam ÷ 13.89 m/detik
Syarat overlapping a` ~ a, dimana a ÷ 3 x V detik
÷ 3x 13.89 ÷ 41.67 m
Bila d
1
÷ d
a-1
TS
1
~ 41.67 m (aman)
d
2
÷ ST
1
iembatan
1
~ 41.67 m (aman)
d
3
÷ iembatan
1
TS
2
~ 41.67m (aman)
d
4
÷ ST
2
Jembatan
2
~ 41.67m (aman)
d
5
÷ iembatan
2
TS
3
~ 41.67 m (aman)
d
6
÷ ST
3
TS
4
~41.67m (aman)
d
7
÷ ST
4
B ~41.67m (aman)



63

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

2.2.4. Perencanaan tebal perkerasaan lentur
Secara umum konstruksi perkerasan lentur terdiri dari lapisan-lapisan yang
diletakkan pada tanah dasar. Lapisan-lapisan tersebut berIungsi untuk menerima
beban lalu lintas dan menyebarkannya ke lapisan di bawahnya. Konstruksi
perkerasan terdiri dari empat lapisan seperti yang terlihat pada gambar 2.16

lapisan permukaan (surIace)


lapisan pondasi atas (base)


lapisan pondasi bawah (subbase)


lapisan dasar (subgrade)


Gambar 2.16 Lapisan-lapisan Konstruksi Perkerasan

Adapun untuk perhitungannya perlu istilah-istilah sebagai berikut :
A. Lalu Lintas
1. Lalu lintas harian rata-rata (LHR)
Lalu lintas harian rata-rata (LHR) setiap ienis kendaraan ditentukan pada awal umur
rencana, yang di hitung untuk dua arah pada ialan tanpa median atau masing-masing
arah pada ialan dengan median.
Lalu lintas harian rata-rata permulaan (LHR
P
)
LHR
P
÷ LHR
s
x ( 1 ¹ i
2
)
n
1....................

Lalu lintas harian rata-rata akhir (LHR
A
)
LHR
A
÷ LHR
P
x ( 1 ¹ i
2
)
n
2....................

64

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

2. Rumus-rumus Lintas ekivalen
Lintas Ekivalen Permulaan (LEP)
EP ÷ _R
Pi
C E
......................

Lintas Ekivalen Akhir (LEA)
E ÷ R
i
C E
......................

Lintas Ekivalen Tengah (LET)
E% ÷
......................

Lintas Ekivalen Rencana (LER)
ER ÷ E% p
...........................


p ÷
............................


Dimana : i
1
÷ pertumbuhan lalu lintas masa konstruksi
i
2
÷ pertumbuhan lalu lintas masa layanan
J ÷ ienis kendaraan
n1 ÷ masa konstruksi
n2 ÷ umur rencana
C ÷ koeIisien distribusi kendaraan
E ÷ angka ekivalen beban sumbu kendaraan
63

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

3. KoeIisien Distribusi Kendaraan
KoeIisien distribusi kendaraan ( c ) untuk kendaraan ringan dan berat yang lewat
pada ialur rencana ditentukan menurut daItar di bawah ini :
Jumlah Laiur
Kendaraan ringan *) Kendaraan berat **)
1 arah 2 arah 1 arah 2 arah
1 Laiur 1.00 1.00 1.00 1.00
2 Laiur 0.60 0.50 0.70 0.50
3 Laiur 0.40 0.40 0.50 0.475
4 Laiur - 0.30 - 0.45
5 Laiur - 0.25 - 0.425
6 Laiur - 0.20 - 0.40
*) berat total · 5 ton , misal : mobil penumpang, pick up, mobil hantaran
**) berat total ~ton misal : bus, truk, traktor, semitrailer, trailer
Table 2.6. KoeIisien Distribusi Kendaraan
Sumber . Petuniuk Perencanaan %ebal Perkera8an entur Jalan Rava Dengan
Metode nali8a omponen SBI 2.3.26.1987. alaman 9
4. Angka Ekuivalen (E) Sumbu Kendaraan
Angka Ekivalen (E) masing-masing golongan beban umum (setiap kendaraan)
ditentukan menurut rumus aItar sebagai berikut :
E.Sumbu %unggal ÷ ... 8)

E.Sumbu %unggal ÷ ... 9)
66

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

Beban Sumbu Angka Ekivalen
Kg Lb Sumbu Tunggal Sumbu Ganda
1000 2205 0.00002 -
2000 4409 0.0036 0.0003
3000 6614 0.0183 0.0016
4000 8818 0.0577 0.0050
5000 11023 0.1410 0.0121
6000 13228 0.2923 0.0251
7000 15432 0.5415 0.0466
8000 17367 0.9238 0.0794
8160 18000 1.0000 0.0860
9000 19841 1.4798 0.1273
10000 22046 2.2555 0.1940
11000 24251 3.3022 0.2840
12000 26455 4.6770 0.4022
13000 28660 6.4419 0.5540
14000 30864 8.6647 0.7452
15000 33069 11.4184 0.9820
16000 35276 14.7815 1.2172
Sumber. Petuniuk Perencanaan %ebal Perkera8an entur Jalan Rava Dengan
Metode nali8a omponen SBI 2.3.26.1987. alaman 10
Table 2.7. Angka Ekivalen (E) Sumbu Kendaraan


67

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

5. Daya Dukung tanah Dasar (DDT dan CBR)
Daya dukung tanah dasar (DDT) ditetapkan berdasarkan graIik koreksi DDT dan
CBR.











Gambar 2.16. graIik korelasi CBR dan DDT




68

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

6. Faktor Regional (FR)
Faktor regional iuga bisa di sebut Iactor koreksi sehubungan dengan perbedaan
konsisi tertentu. Kondisi-kondisi yang dimaksud antara lain keadaan lapangan dan
iklim yang dapat mempengaruhi keadaan pembebanan daya dukung tanah dan
perkerasan. Dengan demikian dalam penentuan tebal perkerasan ini Faktor
Regional hanya di pengaruhi bentuk alinyemen (Kelandaian dan Tikungan).
Tabel 2.8. Prosentase kendaraan berat dan yang berhenti serta iklim Kelandaian
Kelandaian I (·6°) Kelandaian II (6-10°) Kelandaian III (~10°)
° Kendaraan berat ° Kendaraan berat ° Kendaraan berat
< 30 ° ~ 30 ° < 30 ° ~ 30 ° < 30 ° ~ 30 °
Iklim I
· 900 mm/tahun
0.5 1.0-1.5 1.0 1.5-2.0 1.5 2.0-2.5
Iklim I
> 900 mm/tahun
1.5 2.0-2.5 2.0 2.5-3.0 2.5 2.0-3.5
Sumber. Petuniuk Perencanaan %ebal Perkera8an entur Jalan Rava Dengan Metode
nali8a omponen SBI 2.3.26.1987
7. Indeks Permukaan (IP)
Indeks permukaan ini menyatakan nilai dari pada kerataan / kehalusan serta
kekokohan permukaan yang bertalian dengan tingkat pelayanan bagi lalu lintas
yang lewat.


69

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

Adapun beberapa nilai IP beserta artinya adalah sebagai berikut :
IP ÷ 1.0 : adalah menyatakan permukaan ialan dalam keadaan rusak berat
sehingga sangat mengganggu lalu lintas kendaraan.
IP ÷ 1.5 : adalah tingkat pelayanan rendah yang masih mungkin (ialan tidak
terputus)
IP ÷ 2.0 : adalah tingkat pelayanan rendah bagi ialan yang mantap.
IP ÷ 2.5 : adalah menyatakan permukaan ialan masih cukup stabil dan baik.
Tabel 2.9. Indeks permukaan Pada Akhir Umur Rencana ( IPt)
LER ÷ Lintas Ekivalen Rencana KlasiIikasi Jalan
Lokal Kolektor Arteri Tol
· 10 1.0-1.5 1.5 1.5-2.0 -
10 -100 1.5 1.5-2.0 2.0 -
100-1000 1.5-2.0 2.0 2.0-2.5 -
~1000 - 2.0-2.5 2.5 2.5
*) LER dalam satuan angka ekivalen 8,16 ton beban sumbu tunggal
Sumber. Petuniuk Perencanaan %ebal Perkera8an entur Jalan Rava Dengan
Metode nali8a omponen SBI 2.3.26.1987. alaman 1
Dalam menentukan indeks permukaan pada awal umur renana (IPo) perlu diperhatikan
ienis lapis permukaan ialan (kerataan/kehalusan serta kekokohan) pada awal umur
rencana menurut daItar di bawah ini :

70

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

Jenis Lapisa Permukaan Ipo Roughness (mm/km)
Laston

Lasbutag

HRA

Burda
Burtu
Lapen

Latasburn
Buras
Latasir
Jalan Tanah
Jalan Kerikil
~ 4
3,9 3,5
3,9 3,5
3,4- -3,0
3,9 - 3,5
3,4 3,0
3,9 3,5
3,4 3,0
3,4 3,0
2,9 2,5
2,9 2,5
2,9 2,5
2,9 2,5
·2,4
·2,4
· 1000
~ 1000
· 2000
~ 2000
· 2000
~ 2000
· 2000
~ 2000
· 3000
~ 3000



Tabel 2.10. Indeks Permukaan Pada Awal Umur Rencana (IPo)
Sumber. Petuniuk Perencanaan %ebal Perkera8an entur Jalan Rava Dengan Metode
nali8a omponen SBI 2.3.26.1987

8. KoeIisien kekuatan relative (a)
KoeIisien kekuatan relative (a) masing-masing bahan dan kegunaan sebagai lapis
permukaan pondasi bawah, ditentukan secara korelasi sesuai nilai Mar8all %e8t (untuk
bahan dengan aspal), kuat tekan untuk (bahan yang distabilisasikan dengan semen atau
kapur) atau CBR (untuk bahan lapis pondasi atau pondasi bawah).
71

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

KoeIisien
Kekuatan Kekuatan Bahan Jenis Bahan
RelatiI
a1 a2 a3 MS Kt CBR
(Kg) Kg/cm2 (°)
0,40 744
0,35 590
0,32 454 LASTON
0,30 340
0,35 744
0,31 590
0,28 454 Asbuton
0,26 340
0,30 340 Hot Rolled Asphalt
0,26 340 Aspal macadan
0,25 LAPEN (mekanis)
0,20 LAPEN (manual)
0,28
0,26 LASTON ATAS
0,24
0,23 LAPEN (mekanis)
0,19 LAPEN (manual)
0,15 22 Stabilitas tanah dengan kapur
0,13 18
0,15 22 Stabilitas tanah dengan semen
0,13 18
72

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

0,14 100 Pondasi Macadam (Basah)
0,12 60 Pondasi Macadam (Kering)
0,14 100 Batu Pecah (Kelas A )
0,13 80 Batu Pecah (Kelas B )
0,12 60 Batu Pecah (Kelas C )
0,13 70 Sirtu / Pitrun (Kelas A)
0,12 50 Sirtu / Pitrun (Kelas B)
0,11 30 Sirtu / Pitrun (Kelas C)
0,10 20 Tanah/ Lempung Kepasiran
Tabel 2.11. KoeIisien Kekuatan RelatiI
Sumber. Petuniuk Perencanaan %ebal Perkera8an entur Jalan Rava Dengan
Metode nali8a omponen SBI 2.3.26.1987
9. Batas batas minimum tebal perkerasan
. Lapis Permukaan

ITP
Tebal
Minimum
(cm)

Bahan
·,3,00
3,00 6,70
6, 1 7,49
7,50 9,99
~10,00

5
7,5
7,5
10
Lapis pelindung/BURAS,BURTU,BURDA
LAPEN/aspal macadam,HRA,asbuton,LASTON
LAPEN/aspal macadam,HRA,asbuton,LASTON
Lapis pelindung/BURAS,BURTU,BURDA
LASTON
Tabel 2.12. Tabel Lapisan Permukaan


73

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

2. Lapis Pondasi
ITP Tebal Bahan
Minimum
(cm)
·3,00 15 Batu Pecah, Stabilitas tanah dengan semen,
Stabilitas tanah dengan kapur
3,00 - 7,49 20 Batu Pecah,Stabilitas tanah dengan semen,
Stabilitas tanah dengan kapur
10 LASTON ATAS
7,50 - 9,99 20*) Batu Pecah, Stabilitas tanah dengan semen,
Stabilitas tanah dengan kapur, pondasi macadam
15 LASTON ATAS
10,0 - 12,24 20 Batu Pecah, Stabilitas tanah dengan semen,
Stabilitas tanah dengan kapur, pondasi macadam
LAPEN, LASTON ATAS
~12,25 25 Batu Pecah, Stabilitas tanah dengan semen,
Stabilitas tanah dengan kapur, pondasi macadam
LAPEN, LASTON ATAS

*) Batas 20 cm tersebut dapat diturunkan meniadi 15 cm bila untuk pondasi bawah
digunakan materrial berbutir kasar.



74

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ


2.2.5. Perencanaan galian dan timbunan
Perencanaan pekeriaan tanah ini dibagi meniadi 2 bagian,yaitu:
1. Perencanaan galian(cut)
2. Perencanaan timbunan( Iill)
Kedua macam perencanaan pekeriaan tersebut kita buat untuk mendapatkan apa yang
kita sebut dengan kata 'ialan dasar¨ atau road bed.dasar ialan ini adalah bagian diatas
dimana bagian lapisan tanah dasar sub grade) yang terletak diatas dasar ialan baik itu
dibangun diatas suatu timbunan dan galian.melihat pada pekeriaan tanah ini adalah
sebagai dasar pembuatan tanah.
1. Galian
Galian adalah pekeriaan menggali tanah untuk keperluan badan ialan yang bertuiuan
untuk mendapatkan desain atau bentuk badan ialan yang sesuai dengan elevasi yang
direncanakan.
Pada perencanaan pekeriaan galian tanah ini diambil dari data long section dilokasi
ialan.dan untuk menghitung volume pada perencanaan galian ini digunakan program
LDD 2009.
Penggalian harus segera dilakukan setelah pengupasan permukaan atas tanah asli.iika
dimungkinkan,kadar air tanah harus dipertahankan.kadar air optimum biasanya adalah
kadar air tanah pada kedalaman 1 m dibawah permukaan tanah(dalam rentang 2
°)selama musim panas
73

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

Jika tanah asli galian akan digunakan sebagai bahan timbunan ditempat lain ,maka perlu
diperhatikan catatan pentin g berikut ini:
4 Jika permukaan tanah terlalu basah( kadar air lebih besar dari kadar air
optimum ),maka tanah meniadi plastis dan bahkan hamper cair.
4 Jika tanha terlalu kering ,tanah dapat retak-retak dan mudah hamcur.
4 Contoh tanah iika diremas dengan tangan,harus tetap dapat bersatu dalam
satu gumpalan.kalau tnah kohesiI terurai ketika genggaman tangan terbuka
berarti ,tanah terlalu kering.tanah non kohesiI akan selalu terurai.
Pada setiap pekeriaan galian,tempat galian harus diusahakan dalam keadaan kering
(tidak air tergenang)apapun keadaan cuacanya..oleh karena itu,sebelum penggalian
dilakukan perlu disiapkan system drainasenya.
2. Timbunan
Timbunan adalah pekeriaan menguruk tanah untuk keperluan badan ialan yang
bertuiuaan untuk mendapatkan desain atau bentuk badan ialan yang sesuai dengan
elevasi yang direncanakan.
Pada perencanaan pekeriaan timbunan tanah ini diambil dari data long section dilokasi
ialan loa bahu.dan untuk menghitung volume pada perencanaan timbunan menggunakan
program LDD 2009.
Timbunan ini dibagi 3 ienis yaitu timbunan biasa,timbunan pilihan,dan timbunan
pilihan diatas tanah rawa.timbunan pilihan akan digunakan sebagai penopang (capping
layer)untuk meningkatkan daya dukung tanah dasar.iuga digunakan didaerah saluran air
dan lokasi serupa.dimana bahan plastis sulit dipadatkan dengan baik.timbunan pilihan
dapat iuga dipakai untuk stabilitas lereng atau pekeriaan timbunan iika diperlukan
76

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

lereng yang lebih curam karena keterbatasan ruangan dan untuk pekeriaan timbunan
lainnya dimana kekeuatan timbunan adalah Iactor yang kritis.timbunan pilihan diatas
rawa akan digunakan untuk melintasi daerah yang rendah dan selalu tergenang oleh air.
Pekeriaan yang tidak termasuk bahan timbunan yaitu bahan yang dipasang sebagai
landasan untuk pipa dan saluran beton,maupun drainase yang dipakai untuk drainase
bawah permukaan atau mencegah hayutnya partikel halus tanah akibat proses
penyaringan.












77

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

BAB 3
DATA LAPANGAN
3.1. Deskripsi proyek
Lokasi Keria Proyek 1 ini berada di ialan daerah Loa Bahu Samarinda Kalimantan
Timur.
Lokasi pengukuran : Ruas ialan daerah loa bahu
Paniang ialan : 3500 m.
Cirri geograIis : sudah ada ialan.
Awal proyek : BM 1 / STA 0¹000
Akhir proyek : STA 0¹000 STA 2¹000

3.2. Motode keria
Langkah keria dalam melakukan pengukuran :
1. Menentukan titik awal pengukuran (P1), Menandai titik awal tersebut dengan
menancapkan paku sebagai patok,
2. Mendirikan lalu setel pesawat theodolite,




78

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

3. Mengukur tinggi pesawat
4. Memposisikan kompas pada theodolite ke arah utara magnetis, set sudut horizontal
pada 00°0000, kemudian arahkan searah iarum iam ke titik kedua (P2) dengan
iarak yang telah ditentukan, tandai titik kedua dengan menancapkan paku.





5. Mengarahkan alat ke titik P1, kemudian membaca benang atas, benang tengah,
benang bawah, sudut vertical,dan sudut horizontal dan tinggi alat.










BT
BB
BA
TITIK
P1
t
79

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

5. Mengarahkan alat kedetail-detai yang akan diambil, detail yang pertama diambil
yaitu sebelah kanan alat kemudian beralih kesebelah kiri alat.
5. Memindahkan alat ketitik P1, kemudian mengarahkan alat ketitik BM dan
mengenolkan Sudut horizontal.
5. Mengarahkan alat ketitik P2, kemudian membaca sudut horisonta, sudut vertical,
benang atas,benang tengah, dan benang vertical.
5. Mengarahkan alat kedetail-detail yang akan diukur, detail pertama yang akan
diambil yaitu sebelah kanan kemudian kesebelah kiri.
5. Mengulangi langkah-langkah diatas sampai pengukuran selesai.
Berikut ini adalah cara membaca rambu ukur dilapangan, dimana BA(benang atas) ÷
2,28 , BT(benang tengah) ÷ 2 , BB(benang bawah) ÷ 1.72
Cara perhitungan mencari benang tengah (BT)
BT ÷
BA+BB
2

÷
2,28+1.72
2

÷ 2




80

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

Langkah keria dalam melakukan penguiian DCP dilapangan :
Menentukan lokasi penguiian
Menyiapkan satu set alat uii DCP
Satu set alat uii DCP diletakkan secara vertikal terhadap permukaan tanah pada
awal STA lokasi penguiian, kemudian beban penumbuk sebesar 8 kg dipasang
pada alat DCP tersebut
Sebelum melakukan penumbukan maka penurunan pada uiung batang penetrasi
alat tersebut dibaca
Penumbukan dilakukan dengan cara meniatuhkan beban secara bebas, setelah itu
penurunan yang teriadi dibaca, hal ini dilakukan untuk mengetahui kedalaman
batang penetrasi setelah dilakukan penumbukan ( langkah ini dilakukan berulang
kali )

Langkah pada 5 dihentikan apabila :
- Batang penetrasi telah mencapai kedalaman 1.000 mm pada tanah dasar
8ubgrade )
- Tidak teriadi penurunan secara signiIikan setelah dilakukan 3 kali penumbukan
terakhir secara berturut turut.
- Alat uii DCP dikeluarkan dari tanah dasar dengan cara memukulkan beban
keatas, dan dibersihkan dari tanah yang melekat pada alat tersebut
- Penguiian dilaniutkan hingga STA akhir pada lokasi penguiian.





81

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

3.3. data perencanaan pekeriaan

1. perkerasaan jalan raya
Data :
Fungsi Jalan : Kolektor
Daerah : Dalam Kota
Tipe ialan : 2 / 2 UD
Daerah medan : Bukit
Curah Huian : 420.6 mm/thn
Umur Rencana : 10 tahun
Umur perencanaan & pelaksanaan : 1 tahun
Pertumbuhan Lalu-lintas (i) : 9 °
Pertumbuhan Lalu-lintas (i) selama UR : 10 °






82

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

CBR titik :
% P

% P
NO S% BR

NO S% BR
1 0+000 2.86

35 1+100 1.22
2 0+025 2.02

36 1+125 1.80
3 0+050 1.67

37 1+150 1.90
4 0+075 4.72

38 1+175 1.53
5 0+100 3.12

39 1+200 2.32
6 0+125 2.15

40 1+225 2.65
7 0+150 2.06

41 1+250 4.59
8 0+175 2.17

42 1+275 2.73
9 0+200 3.02

43 1+300 3.72
10 0+225 3.41

44 1+325 3.89
11 0+250 3.23

45 1+350 2.60
12 0+275 3.61

46 1+375 1.28
13 0+300 2.20

47 1+400 1.85
14 0+325 3.52

48 1+425 4.10
15 0+350 2.44

49 1+450 2.60
16 0+375 2.83

50 1+475 3.98
17 0+400 2.78

51 1+500 4.25
18 0+425 2.20

52 1+525 2.33
19 0+450 2.96

53 1+550 5.60
20 0+475 2.05

54 1+575 2.64
21 0+550 5.89

55 1+600 3.65
22 0+575 4.73

56 1+625 5.07
23 0+675 5.13

57 1+650 4.20
24 0+700 5.73

58 1+675 2.84
25 0+725 5.19

59 1+700 4.38
26 0+775 3.87

60 1+725 3.65
27 0+800 4.87

61 1+750 3.54
28 0+825 1.71

62 1+775 4.28
29 0+850 3.92

63 1+800 1.51
30 0+975 2.50

64 1+825 1.20
31 1+100 1.78

65 1+850 2.91
32 1+025 1.05

66 1+875 3.20
33 1+050 2.91

67 1+950 2.97
34 1+075 3.49

68 1+975 3.34


69 2+000 2.17




83

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

2. Perencanaan Bahan--ahan Perkerasan
Lapisan Permukaan : Laston, MS 744
Lapisan Pondasi Atas : Batu Pecah (CBR 100°)
Lapisan Pondasi bawah : Sirtu klas B (CBR 50°)
3. Perhitungan Nilai CBR
Dari hasil perhitungan CBR titik diatas , maka dapat dilaniutkan untuk perhitungan
CBR segment sebagai berikut :
CBR segment ÷ CBR
rata rata
- ( CBR maks CBR min )


R
Di mana R :
R ÷ konstanta yang besarnya tergantung daari iumlah titik penguiian dalam 1
segment
Jumlah titik penguiian Nilai R
2 1.41
3 1.91
4 2.24
5 2.48
6 2.67
7 2.83
8 2.96
9 3.08
> 10 3.18

84

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

Perhitungan CBR Segmen
CBR segmen ÷ ˕˔˞ roˮo -roˮo -
(CBR mux-CBRmIn)
R

÷ ŷ,ŵŵ -
(5,89-1,05)
3,18

÷ 1,58

DDT (Daya dukung tanah)
CBR segmen 1,58 DDT ÷ 2,4 ( didapat dari graIik)

4. Lalu Lintas Harian rata-rata (LHR)
- Data lalu lintas
Sepeda motor ÷ 267 Kendaraan/Hari
Mobil penumpang ÷ 77 Kendaraan/Hari
Truk 2 as 13 ton ÷ 90 Kendaraan/Hari

- Data lalu lintas awal umur rencana ( tahun )
i÷ 9 ° n÷1
Sepeda motor ÷ 267(1¹0,09)
1
÷ 291
Mobil penumpang ÷ 77 (1¹0,09)
1
÷ 83,93
Truk 2 as 13 ton ÷ 90 (1¹0,09)
1
÷ 98,1




83

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

- Data lalu lintas akhir umur rencana ( tahun)
Ii÷ 10° n÷10
Sepeda motor ÷ 267 (1¹0,1)
10
÷ 692,53
Mobil penumpang ÷ 77 (1¹0,1)
10
÷ 199,72
Truk 2 as 13 ton ÷ 90 (1¹0,1)
10
÷ 233,43

- Dikonversikan ke satuan SMP (satuan mo-il penumpang)
Sepeda motor ÷ 692,53 x 1 ÷ 692,53
Mobil penumpang ÷ 199,72 x 1 ÷ 199,72
Truk 2 as 13 ton ÷ 233,43 x 3 ÷ 700,29 ¹
1592,54 SMP
Jalan yan digunakan adalah ialan kelas II B,Iungsi sekunder (1.500-8.000) LHR dalam
SMP.
Lebar ialan 6 m Bahu ialan 1,5 m
Kecepatan rencana maksimum untuk ialan kelas II B pada kondisi berbukit adalah 60
km/iam.
Lereng melintang untuk medan perbukitan dari 10°-24,9°.
Kelandaian maksimum untuk ialan kelas II B,dengan medan berbukit adalah 7°
(perhatikan paniang kritis setiap kelandaian).
Daerah pengawasan ialan 15 m.
KlasiIikasi ialan kolektor 2 laiur 2 arah.

86

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

5. Perkerasan lentur
- Data perkerasan
Lapis permukaan ÷ Laston (mss 744)
Lapis pondasi atas ÷ Batu pecah (kelas A)
Lapis pondasi bawah ÷ Sirtu (kelas B)
- CBR Segmen
CBR segmen ÷ ˕˔˞ roˮo -roˮo -
(CBR mux-CBRmIn)
R

÷ ŷ,ŵŵ -
(5,89-1,05)
3,18

÷ 1,58
- DDT (Daya dukung tanah)
CBR segmen 1,58 DDT ÷ 2,4 ( didapat dari graIik)
- LEP ÷ _ LHR × C × E
C untuk ialan 2 laiur 2 arah
Kendaraan ringan ÷ 0,50
Kendaraan berat ÷ 0,50


87

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

- Mencari nilai E
Sepeda motor ÷ 0,0002
Mobil penumpang ÷ 0,0004
Truk 2 as 13 ton ÷ 1,0648

- LEP ÷ _ LHR × C × E
Sepeda motor ÷ 291×0,5×0,0002 ÷ 0,0291
Mobil penumpang ÷ 83,93×0,5×0,0004 ÷ 0,0168
Truk 2 as 13 ton ÷ 98,1×0,5×1,0648 ÷ 52,2284 ¹
52,2743
- LHR akhir umur rencana
Sepeda motor ÷ 692,53
Mobil penumpang ÷ 199,72
Truk 2 as 13 ton ÷ 233,43



88

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

- LEA ÷ _ LHR akhir × C × E
Sepeda motor ÷ 692,53×0,50×0,0002 ÷ 0,0693
Mobil penumpang ÷ 199,72×0,50×0,0004 ÷ 0,3994
Truk 2 as 13 ton ÷ 233,43×0,50×1,0648 ÷ 124,2781 ¹
124,7468
LET ÷
+
2

÷
124,7468+52,2743
2

÷ 88,51

LER ÷ I˗ˠ ×
0mu¡ Rcncunu
10

÷ 88,Źŵ ×
10
10

÷ 88,51 89

Ipt 1.5-2.0 2,0
Kolektor


89

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

Ipo Laston 3.9 - 3.5
Roughness > 1000

- Faktor regional
° Kendaraan berat ÷
98,1
83,93+291
× ŵŴŴ%
÷ 26,16 °
Kelandaian ialan 3 °
Curah huian ÷ 420,6 mm/tahun
Faktor regional ÷ 0.5
Ipo 3.9-3.5 ITP ÷ 8.3
Ipt 2

- KoeIisien kekuatan relative
Laston (mss 744) ÷ a
1
÷ 0,40
Batu pecah (kelas A) ÷ a
2
÷ 0,14
Sirtu (kelas B) ÷ a
3
÷ 0,12

90

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

ITP ÷ a
1
.D
1
¹a
2
.D
2
¹a
3
.D
3
D dimasukan tebal minimum
ITP ÷ 8.3 D
1
minimum ÷ 7,5
D
2
minimum ÷ 20
Dihitung D
3
(tebal lapis pondasi bawah)
ITP ÷ a
1
.D
1
¹a
2
.D
2
¹a
3
.D
3
8.3 ÷ 0,40×7,5¹0,14×20¹0,12×D
3
8.3 ÷ 5,8 ¹ 0,12 D
3
D
3
÷
2.5.
0,12
÷ 20.83 22.5 cm






Gambar 3.1. Tebal Perkerasan hasil perhitungan

91

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

3.4. Data pengukuran
1ÞSW 1araeL 8acaan 8enana SuduL verLlkal
SuduL
PorlzonLal
1lnaal ALas 1enaah 8awah o ƌ ƍ o ƌ ƍ
AlaL
Þ1 u
1Ŧ486 CA1 2Ŧ28 2 1Ŧ72 89 24 10 193 16 40
1Ŧ486 CA2 2Ŧ13 2 1Ŧ87 89 46 30 13 16 40
1Ŧ486 CA3 2Ŧ26 2 1Ŧ74 90 10 10 13 16 40
1Ŧ486 Þ2 1Ŧ73 1Ŧ3 1Ŧ23 89 36 40 283 17 20

Þ2 Þ1
1Ŧ43 C81 2Ŧ16 2Ŧ1 2Ŧ04 88 39 20 262 42 40
1Ŧ43 C82 2Ŧ334 2Ŧ1 1Ŧ846 90 30 40 262 42 40
1Ŧ43 C83 1Ŧ348 1Ŧ3 1Ŧ432 90 37 40 82 42 40
1Ŧ43 C84 1Ŧ733 1Ŧ3 1Ŧ247 90 28 30 82 42 40
1Ŧ43 Þ3 1Ŧ73 1Ŧ3 1Ŧ23 89 30 30 173 34 30

Þ3 Þ2
1Ŧ473 CC1 1Ŧ373 1Ŧ3 1Ŧ423 91 48 0 269 2 40
1Ŧ473 CC2 1Ŧ781 1Ŧ3 1Ŧ219 90 34 10 269 2 40
1Ŧ473 CC3 1Ŧ348 1Ŧ3 1Ŧ432 91 33 40 89 2 40
1Ŧ473 CC4 1Ŧ772 1Ŧ3 1Ŧ228 90 30 10 89 2 40
1Ŧ473 Þ4 1Ŧ23 1 0Ŧ73 89 33 10 142 34 10

Þ4 Þ3
1Ŧ31 Cu1 1Ŧ764 1Ŧ7 1Ŧ636 92 30 20 94 11 30
1Ŧ31 Cu2 1Ŧ963 1Ŧ7 1Ŧ437 90 40 40 94 11 30
1Ŧ31 Cu3 1Ŧ264 1Ŧ2 1Ŧ136 92 31 30 274 11 30
1Ŧ31 Cu4 1Ŧ433 1Ŧ2 0Ŧ947 90 36 20 274 11 30
1Ŧ31 S1 3Ŧ01 4Ŧ93 4Ŧ89 86 13 30 187 20 40
1Ŧ31 S2 3Ŧ09 3 2Ŧ91 98 8 30 123 2 40
1Ŧ31 S3 4Ŧ313 4Ŧ43 4Ŧ383 87 43 30 242 32 10
1Ŧ31 S4 4Ŧ33 4Ŧ43 4Ŧ33 84 7 0 200 37 30
1Ŧ31 S3 1Ŧ69 1Ŧ6 1Ŧ31 92 6 10 260 29 10
1Ŧ31 S6 3Ŧ033 4Ŧ93 4Ŧ843 87 8 10 234 23 20
1Ŧ31 S7 3Ŧ133 3 2Ŧ867 89 33 30 233 30 20
1Ŧ31 S8 3Ŧ61 3Ŧ3 3Ŧ39 89 30 10 173 12 20
1Ŧ31 Þ3 3Ŧ93 3Ŧ7 3Ŧ43 87 49 30 233 2 40

92

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

Þ3 Þ4
1Ŧ433 CL1 2Ŧ03 2 1Ŧ97 94 31 20 263 21 20
1Ŧ433 CL2 2Ŧ234 2 1Ŧ746 91 10 10 263 21 20
1Ŧ433 CL3 1Ŧ433 1Ŧ4 1Ŧ343 90 23 20 83 21 20
1Ŧ433 CL4 2Ŧ313 2Ŧ2 2Ŧ087 90 21 20 83 21 20
1Ŧ433 CL3 2Ŧ437 2Ŧ2 1Ŧ943 90 43 40 83 21 20
1Ŧ433 Þ6 2Ŧ23 2 1Ŧ73 89 47 0 183 14 20

Þ6 Þ3
1Ŧ44 Þ7 1Ŧ83 1Ŧ6 1Ŧ33 89 43 40 181 20 0
1Ŧ44 Cl1 2Ŧ27 2Ŧ1 1Ŧ93 89 41 0 269 47 20
1Ŧ44 Cl2 2Ŧ33 2Ŧ1 1Ŧ83 89 30 30 269 47 20
1Ŧ44 Cl3 2Ŧ27 2Ŧ2 2Ŧ13 89 33 0 89 47 20
1Ŧ44 Cl4 2Ŧ433 2Ŧ2 1Ŧ947 89 32 10 89 47 20

Þ7 Þ6
1Ŧ473 CC1 1Ŧ993 1Ŧ93 1Ŧ863 88 31 30 92 41 0
1Ŧ473 CC2 2Ŧ233 2 1Ŧ747 89 30 30 92 41 0
1Ŧ473 CC3 1Ŧ4 1Ŧ3 1Ŧ2 91 39 20 272 41 0
1Ŧ473 CC4 1Ŧ634 1Ŧ4 1Ŧ146 90 40 10 272 41 0
1Ŧ473 Þ8 3Ŧ23 3 2Ŧ73 87 31 40 180 3 30

Þ8 Þ7
1Ŧ48 CP1 2Ŧ373 2Ŧ3 2Ŧ423 88 36 0 273 30 0
1Ŧ48 CP2 2Ŧ231 2 1Ŧ749 90 30 30 273 30 0
1Ŧ48 CP3 1Ŧ713 1Ŧ6 1Ŧ483 88 49 30 93 30 0
1Ŧ48 CP4 1Ŧ87 1Ŧ6 1Ŧ33 89 20 10 93 30 0
1Ŧ48 Þ9 2Ŧ73 2Ŧ3 2Ŧ23 88 37 30 177 43 0

Þ9 Þ8
1Ŧ48 Cl1 2Ŧ333 2Ŧ3 2Ŧ243 90 33 0 268 42 0
1Ŧ48 Cl2 2Ŧ37 2Ŧ3 2Ŧ03 90 30 10 268 42 0
1Ŧ48 Cl3 1Ŧ3 1Ŧ23 1Ŧ2 90 26 20 88 42 0
1Ŧ48 Cl4 1Ŧ31 1Ŧ23 0Ŧ99 90 43 10 88 42 0
1Ŧ48 Þ10 3Ŧ86 3Ŧ6 3Ŧ34 83 44 40 181 26 40

Þ10 Þ9
1Ŧ42 C!1 3Ŧ378 3Ŧ33 3Ŧ322 81 22 30 271 33 30
1Ŧ42 C!2 3Ŧ61 3Ŧ33 3Ŧ09 90 30 30 271 33 30
1Ŧ42 C!3 1Ŧ223 1Ŧ2 1Ŧ173 90 10 20 91 33 30
1Ŧ42 C!4 1Ŧ43 1Ŧ13 0Ŧ87 87 34 20 91 33 30
93

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

1Ŧ42 Þ11 1Ŧ23 1 0Ŧ73 90 8 30 176 31 40

Þ11 Þ10
1Ŧ46 Ck1 2Ŧ033 2 1Ŧ963 102 48 40 272 47 30
1Ŧ46 Ck2 2Ŧ27 2 1Ŧ73 97 20 10 272 47 30
1Ŧ46 Ck3 1Ŧ383 1Ŧ33 1Ŧ317 89 2 30 92 47 30
1Ŧ46 Ck4 1Ŧ76 1Ŧ3 1Ŧ24 83 14 30 92 47 30
1Ŧ46 Þ12 1Ŧ13 0Ŧ9 0Ŧ63 87 33 10 187 8 30

Þ12 Þ11
1Ŧ42 CL1 2Ŧ4 2Ŧ33 2Ŧ3 100 3 20 234 12 40
1Ŧ42 CL2 2Ŧ61 2Ŧ33 2Ŧ09 94 20 40 234 12 40
1Ŧ42 CL3 1Ŧ63 1Ŧ6 1Ŧ33 91 30 20 74 12 40
1Ŧ42 CL4 1Ŧ86 1Ŧ6 1Ŧ34 83 40 30 74 12 40
1Ŧ42 Þ13 2Ŧ03 1Ŧ8 1Ŧ33 89 43 0 137 29 10

Þ13 Þ12
1Ŧ47 CM1 1Ŧ91 1Ŧ8 1Ŧ69 100 23 30 270 29 0
1Ŧ47 CM2 2Ŧ06 1Ŧ8 1Ŧ34 94 30 30 270 29 0
1Ŧ47 CM3 1Ŧ482 1Ŧ43 1Ŧ418 87 2 30 90 29 0
1Ŧ47 CM4 1Ŧ36 1Ŧ1 0Ŧ84 87 10 10 90 29 0
1Ŧ47 SÞ1 2Ŧ323 2Ŧ2 2Ŧ073 91 22 40 167 32 30
1Ŧ47 SÞ2 2Ŧ36 2Ŧ4 2Ŧ24 91 18 30 172 10 30
1Ŧ47 181 1Ŧ39 1Ŧ4 1Ŧ21 91 3 10 137 38 40
1Ŧ47 Þ14 1Ŧ23 1 0Ŧ73 94 29 40 183 10 10

Þ14 Þ13
1Ŧ42 Cn1 1Ŧ363 1Ŧ3 1Ŧ433 91 14 30 273 33 20
1Ŧ42 Cn2 1Ŧ76 1Ŧ3 1Ŧ24 91 27 20 273 33 20
1Ŧ42 Cn3 1Ŧ348 1Ŧ3 1Ŧ432 87 43 0 93 33 20
1Ŧ42 Cn4 1Ŧ733 1Ŧ3 1Ŧ243 90 43 10 93 33 20
1Ŧ42 Þ13 1Ŧ73 1Ŧ3 1Ŧ23 90 49 30 174 27 40

181 Þ13
1Ŧ343 A1 2Ŧ933 2Ŧ8 2Ŧ663 80 33 30 33 30 20
1Ŧ343 A2 3Ŧ033 2Ŧ8 2Ŧ343 84 30 30 33 30 20
1Ŧ343 A3 2Ŧ033 2 1Ŧ943 98 33 10 213 30 20
1Ŧ343 A4 2Ŧ236 2 1Ŧ744 91 33 10 213 30 20
1Ŧ343 182 1Ŧ23 1 0Ŧ73 90 13 30 129 9 20

182 181
94

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

1Ŧ49 183 1Ŧ23 1 0Ŧ73 90 37 20 186 32 40
1Ŧ49 81 1Ŧ03 1 0Ŧ93 80 24 40 101 8 0
1Ŧ49 82 1Ŧ26 1 0Ŧ74 88 0 10 101 8 0
1Ŧ49 83 2Ŧ013 2 1Ŧ987 98 8 10 281 8 0
1Ŧ49 84 2Ŧ233 2 1Ŧ743 90 30 30 281 8 0

183 182
1Ŧ42 C1 1Ŧ283 1Ŧ2 1Ŧ113 82 48 40 80 16 40
C2 1Ŧ43 1Ŧ2 0Ŧ93 83 33 20 80 16 40
C3 2Ŧ198 2Ŧ1 2Ŧ002 98 20 30 260 16 40
C4 2Ŧ36 2Ŧ1 1Ŧ84 93 23 10 260 16 40

Þ13 Þ14
1Ŧ403 CC1 1Ŧ78 1Ŧ7 1Ŧ62 89 32 40 269 3 30
1Ŧ403 C02 1Ŧ933 1Ŧ7 1Ŧ443 90 1 10 269 3 30
1Ŧ403 C03 1Ŧ033 1 0Ŧ947 92 1 10 89 3 30
1Ŧ403 C04 1Ŧ233 1 0Ŧ743 91 20 20 89 3 30
1Ŧ403 Þ16 1Ŧ23 1 0Ŧ73 90 13 20 179 6 40

Þ16 Þ13
1Ŧ393 CÞ1 1Ŧ34 1Ŧ3 1Ŧ46 94 13 20 274 24 20
1Ŧ393 CÞ2 1Ŧ733 1Ŧ3 1Ŧ243 90 33 30 274 24 20
1Ŧ393 CÞ3 1Ŧ024 1 0Ŧ976 93 44 0 94 24 20
1Ŧ393 CÞ4 1Ŧ26 1 0Ŧ74 90 1 30 94 24 20
1Ŧ393 Þ17 1Ŧ23 1 0Ŧ73 90 27 0 180 30 10

Þ17 Þ16
1Ŧ42 CC1 1Ŧ732 1Ŧ7 1Ŧ668 91 7 10 263 23 30
1Ŧ42 CC2 1Ŧ93 1Ŧ7 1Ŧ43 90 21 20 263 23 30
1Ŧ42 CC3 1Ŧ233 1Ŧ2 1Ŧ143 91 17 30 83 23 30
1Ŧ42 CC4 1Ŧ433 1Ŧ2 0Ŧ943 90 16 20 83 23 30
1Ŧ42 Þ18 1Ŧ23 1 0Ŧ73 89 42 30 179 13 20

Þ18 Þ17
1Ŧ38 C81 0Ŧ68 0Ŧ6 0Ŧ32 92 34 30 274 20 10
1Ŧ38 C82 0Ŧ833 0Ŧ6 0Ŧ343 91 13 40 274 20 10
1Ŧ38 C83 1Ŧ044 1 0Ŧ936 84 32 30 94 20 10
1Ŧ38 C84 1Ŧ23 1 0Ŧ73 88 29 10 94 20 10
1Ŧ38 Þ19 1Ŧ23 1 0Ŧ73 90 49 40 182 34 0

Þ19 Þ18
93

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

1Ŧ39 CS1 1Ŧ38 1Ŧ3 1Ŧ42 91 18 20 280 31 30
1Ŧ39 CS2 1Ŧ76 1Ŧ3 1Ŧ24 90 34 20 280 31 30
1Ŧ39 CS3 1Ŧ287 1Ŧ2 1Ŧ113 92 6 30 100 31 30
1Ŧ39 CS4 1Ŧ43 1Ŧ2 0Ŧ93 90 46 20 100 31 30
1Ŧ39 Þ20 1Ŧ23 1 0Ŧ73 90 23 30 194 26 10

Þ20 Þ19
1Ŧ403 C11 1Ŧ438 1Ŧ4 1Ŧ362 88 48 40 262 38 20
1Ŧ403 C12 1Ŧ63 1Ŧ4 1Ŧ13 89 37 20 262 38 20
1Ŧ403 C13 1Ŧ048 1 0Ŧ932 91 6 40 82 38 20
1Ŧ403 C14 1Ŧ233 1 0Ŧ743 90 2 20 82 38 20
1Ŧ403 Þ21 1Ŧ23 1 0Ŧ73 87 34 30 169 34 40

Þ21 Þ20
1Ŧ433 Cu1 1Ŧ823 1Ŧ8 1Ŧ777 101 34 0 223 43 0
1Ŧ433 Cu2 2Ŧ03 1Ŧ8 1Ŧ33 91 34 40 223 43 0
1Ŧ433 Cu3 1Ŧ043 1 0Ŧ933 79 39 30 43 43 0
1Ŧ433 Cu4 1Ŧ233 1 0Ŧ743 87 40 10 43 43 0
1Ŧ433 Þ22 1Ŧ33 1Ŧ3 1Ŧ03 90 43 30 128 38 40

Þ22 Þ21
1Ŧ36 Cv1 2Ŧ6 2Ŧ38 2Ŧ36 93 37 0 288 3 30
1Ŧ36 Cv2 2Ŧ73 2Ŧ3 2Ŧ23 90 38 40 288 3 30
1Ŧ36 Cv3 1Ŧ33 1Ŧ3 1Ŧ23 82 37 30 108 3 30
1Ŧ36 Cv4 1Ŧ33 1Ŧ3 1Ŧ03 88 23 10 108 3 30
1Ŧ36 Þ23 1Ŧ23 1 0Ŧ73 90 12 10 202 26 10

Þ23 Þ22
1Ŧ36 CW1 1Ŧ99 1Ŧ93 1Ŧ91 98 39 10 262 23 30
1Ŧ36 CW2 2Ŧ203 1Ŧ93 1Ŧ693 91 26 40 262 23 30
1Ŧ36 CW3 0Ŧ79 0Ŧ73 0Ŧ71 79 29 40 82 23 30
1Ŧ36 CW4 1 0Ŧ73 0Ŧ3 88 2 20 82 23 30
1Ŧ36 Þ24 0Ŧ83 0Ŧ6 0Ŧ33 91 13 30 141 29 40

Þ24 Þ23
1Ŧ33 Cx1 1Ŧ14 1Ŧ1 1Ŧ06 106 30 0 271 33 20
1Ŧ33 Cx2 1Ŧ33 1Ŧ1 0Ŧ83 92 46 30 271 33 20
1Ŧ33 Cx3 0Ŧ933 0Ŧ9 0Ŧ863 91 13 10 91 33 20
1Ŧ33 Cx4 1Ŧ13 0Ŧ9 0Ŧ63 89 49 10 91 33 20
1Ŧ33 Þ23 1Ŧ73 1Ŧ3 1Ŧ23 90 3 0 180 26 10

96

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

Þ23 Þ24
1Ŧ33 CWA1 2Ŧ038 2 1Ŧ962 101 23 0 267 22 30
1Ŧ33 CWA2 2Ŧ23 2 1Ŧ73 92 11 20 267 22 30
1Ŧ33 CWA3 0Ŧ913 0Ŧ83 0Ŧ783 92 21 20 87 22 30
1Ŧ33 CWA4 1Ŧ1 0Ŧ83 0Ŧ6 90 12 30 87 22 30
1Ŧ33 Þ26 1Ŧ743 1Ŧ3 1Ŧ233 90 47 30 149 36 0

Þ26 Þ23
1Ŧ373 C?1 1Ŧ33 1Ŧ23 1Ŧ17 90 9 10 89 1 0
1Ŧ373 C?2 1Ŧ303 1Ŧ23 0Ŧ993 90 7 40 89 1 0
1Ŧ373 C?3 0Ŧ3 0Ŧ43 0Ŧ4 84 37 0 269 1 0
1Ŧ373 C?4 0Ŧ7 0Ŧ43 0Ŧ2 88 32 10 269 1 0
1Ŧ373 Þ27 1Ŧ33 1Ŧ3 1Ŧ03 89 30 30 177 21 30

Þ27 Þ26
1Ŧ4 CZ1 3Ŧ903 3Ŧ8 3Ŧ693 83 36 0 308 47 20
1Ŧ4 CZ2 4Ŧ03 3Ŧ8 3Ŧ33 88 14 10 308 47 20
1Ŧ4 CZ3 0Ŧ81 0Ŧ7 0Ŧ39 89 40 20 128 47 20
1Ŧ4 CZ4 0Ŧ933 0Ŧ7 0Ŧ443 89 44 30 128 47 20
1Ŧ4 Þ28 3Ŧ23 3 2Ŧ73 88 18 10 246 47 60

Þ28 Þ27
1Ŧ403 uA1 2Ŧ02 1Ŧ93 1Ŧ88 91 30 30 280 3 30
1Ŧ403 uA2 2Ŧ21 1Ŧ93 1Ŧ69 90 36 10 280 3 30
1Ŧ403 uA3 2Ŧ22 2Ŧ13 2Ŧ08 87 7 30 100 3 30
1Ŧ403 uA4 2Ŧ41 2Ŧ13 1Ŧ89 89 21 30 100 3 30
1Ŧ403 Þ29 1Ŧ4 1Ŧ13 0Ŧ9 90 33 0 190 3 40

Þ29 Þ28
1Ŧ4 u81 1Ŧ43 1Ŧ4 1Ŧ33 93 38 0 86 39 30
1Ŧ4 u82 1Ŧ63 1Ŧ4 1Ŧ13 90 36 40 86 39 30
1Ŧ4 u83 1Ŧ313 1Ŧ23 1Ŧ183 93 48 20 266 39 30
1Ŧ4 u84 1Ŧ31 1Ŧ23 0Ŧ99 91 2 10 266 39 30
1Ŧ4 Þ30 1Ŧ23 1 0Ŧ73 88 33 10 182 12 30

Þ30 Þ29
1Ŧ43 uC1 3Ŧ433 3Ŧ4 3Ŧ363 86 17 10 278 32 30
1Ŧ43 uC2 3Ŧ63 3Ŧ4 3Ŧ13 89 31 20 278 32 30
1Ŧ43 uC3 0Ŧ34 0Ŧ3 0Ŧ26 86 13 0 98 32 30
1Ŧ43 uC4 0Ŧ36 0Ŧ3 0Ŧ04 89 12 0 98 32 30
1Ŧ43 Þ31 2Ŧ33 2Ŧ1 1Ŧ83 83 49 40 192 11 0
97

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ


Þ31 Þ30
1Ŧ4 uu1 0Ŧ63 0Ŧ63 0Ŧ61 79 30 30 267 19 20
1Ŧ4 uu2 0Ŧ89 0Ŧ63 0Ŧ37 94 12 0 267 19 20
1Ŧ4 uu3 2Ŧ183 2Ŧ13 2Ŧ113 79 8 30 87 19 20
1Ŧ4 uu4 2Ŧ41 2Ŧ13 1Ŧ89 87 23 10 87 19 20
1Ŧ4 Þ32 1Ŧ73 1Ŧ3 1Ŧ23 94 44 20 172 27 40

Þ32 Þ31
1Ŧ44 uL1 2Ŧ09 1Ŧ9 1Ŧ71 93 22 20 274 33 30
1Ŧ44 uL2 2Ŧ16 1Ŧ9 1Ŧ64 92 37 40 274 33 30
1Ŧ44 uL3 2Ŧ303 2Ŧ2 2Ŧ093 83 36 40 94 33 30
1Ŧ44 uL4 2Ŧ46 2Ŧ2 1Ŧ94 86 27 0 94 33 30
1Ŧ44 Þ33 1Ŧ83 1Ŧ6 1Ŧ33 84 33 20 186 13 30

Þ33 Þ32
1Ŧ39 ul1 0Ŧ843 0Ŧ8 0Ŧ737 92 37 30 38 14 40
1Ŧ39 ul2 1Ŧ06 0Ŧ8 0Ŧ34 89 37 40 38 14 40
1Ŧ39 ul3 0Ŧ92 0Ŧ8 0Ŧ68 104 23 20 238 14 40
1Ŧ39 ul4 1Ŧ06 0Ŧ8 0Ŧ34 96 27 40 238 14 40
1Ŧ39 Þ34 1Ŧ33 1Ŧ1 0Ŧ83 89 3 0 103 39 20

Þ34 Þ33
1Ŧ38 uC1 1Ŧ23 1Ŧ2 1Ŧ17 107 4 20 236 40 30
1Ŧ38 uC2 1Ŧ46 1Ŧ2 0Ŧ94 94 32 0 236 40 30
1Ŧ38 uC3 1Ŧ337 1Ŧ3 1Ŧ263 88 29 10 76 40 30
1Ŧ38 uC4 1Ŧ36 1Ŧ3 1Ŧ04 89 44 30 76 40 30
1Ŧ38 Þ33 1Ŧ93 1Ŧ7 1Ŧ43 91 16 0 164 43 10

Þ33 Þ34
1Ŧ393 uLA1 2Ŧ433 2Ŧ1 1Ŧ747 90 1 0 281 32 40
1Ŧ393 uLA2 2Ŧ333 2Ŧ1 1Ŧ843 94 2 10 281 32 40
1Ŧ393 uLA3 2Ŧ71 2Ŧ6 2Ŧ49 63 38 0 101 32 40
1Ŧ393 uLA4 2Ŧ86 2Ŧ6 2Ŧ34 79 1 10 101 32 40
1Ŧ393 Þ36 2Ŧ23 2 1Ŧ73 92 42 0 204 21 20

Þ36 Þ33
1Ŧ41 ulA1 1Ŧ63 1Ŧ3 1Ŧ37 96 36 0 271 17 0
1Ŧ41 ulA2 1Ŧ76 1Ŧ3 1Ŧ24 94 1 0 271 17 0
1Ŧ41 ulA3 1Ŧ92 1Ŧ83 1Ŧ78 79 49 20 91 17 0
1Ŧ41 ulA4 2Ŧ11 1Ŧ83 1Ŧ39 87 8 40 91 17 0
98

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

1Ŧ41 Þ37 1Ŧ33 1Ŧ3 1Ŧ03 90 19 20 181 39 0

Þ37 Þ36
1Ŧ473 uCA1 2Ŧ1 2 1Ŧ9 89 32 10 269 43 30
1Ŧ473 uCA2 2Ŧ26 2 1Ŧ74 90 34 30 269 43 30
1Ŧ473 uCA3 1Ŧ883 1Ŧ8 1Ŧ713 79 38 0 89 43 30
1Ŧ473 uCA4 2Ŧ06 1Ŧ8 1Ŧ34 86 41 20 89 43 30
1Ŧ473 Þ38 2Ŧ73 2Ŧ3 2Ŧ23 90 2 0 180 13 10

Þ38 Þ37
1Ŧ42 uP1 1Ŧ93 1Ŧ7 1Ŧ43 89 24 0 279 31 20
1Ŧ42 uP3 2Ŧ743 2Ŧ6 2Ŧ433 89 17 0 99 31 20
1Ŧ42 uP4 2Ŧ86 2Ŧ6 2Ŧ34 90 0 20 99 31 20
1Ŧ42 Þ39 2Ŧ13 1Ŧ9 1Ŧ63 90 30 0 201 47 20

Þ39 Þ38
1Ŧ43 ul1 2Ŧ9 2Ŧ8 2Ŧ7 86 3 0 276 33 0
1Ŧ43 ul2 3Ŧ06 2Ŧ8 2Ŧ34 88 23 10 276 33 0
1Ŧ43 ul3 2Ŧ033 2 1Ŧ963 90 30 20 96 33 0
1Ŧ43 ul4 2Ŧ23 2 1Ŧ73 90 8 0 96 33 0
1Ŧ43 Þ40 1Ŧ23 1 0Ŧ73 90 31 40 182 7 0

Þ40 Þ39
1Ŧ126 u!1 1Ŧ126 1 0Ŧ874 90 7 30 273 47 10
1Ŧ126 u!2 1Ŧ26 1 0Ŧ74 90 1 40 273 47 10
1Ŧ126 u!3 2Ŧ184 2Ŧ13 2Ŧ116 90 33 10 93 47 10
1Ŧ126 u!4 2Ŧ41 2Ŧ13 1Ŧ89 90 3 30 93 47 10
1Ŧ126 Þ41 1Ŧ73 1Ŧ3 1Ŧ23 90 2 30 180 16 30

Þ41 Þ40
1Ŧ42 uk1 1Ŧ786 1Ŧ73 1Ŧ714 90 6 30 269 23 10
1Ŧ42 uk2 2Ŧ01 1Ŧ73 1Ŧ49 90 8 10 269 23 10
1Ŧ42 uk3 1Ŧ48 1Ŧ43 1Ŧ42 90 1 0 89 23 10
1Ŧ42 uk4 1Ŧ7 1Ŧ43 1Ŧ2 90 7 20 89 23 10
1Ŧ42 Þ42 1Ŧ33 1Ŧ3 1Ŧ03 90 1 0 179 3 40

Þ42 Þ41
1Ŧ37 uL1 2Ŧ272 2Ŧ23 2Ŧ228 91 23 30 270 33 10
1Ŧ37 uL2 2Ŧ31 2Ŧ23 1Ŧ99 90 7 10 270 33 10
1Ŧ37 uL3 1Ŧ332 1Ŧ3 1Ŧ468 91 7 0 90 33 10
1Ŧ37 uL4 1Ŧ76 1Ŧ3 1Ŧ24 90 14 40 90 33 10
99

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

1Ŧ37 Þ43 1Ŧ33 1Ŧ1 0Ŧ83 90 7 40 180 44 40

Þ43 Þ42
1Ŧ38 uM1 2Ŧ273 2Ŧ23 2Ŧ227 88 3 30 237 23 30
1Ŧ38 uM2 2Ŧ3 2Ŧ23 2 90 0 20 237 23 30
1Ŧ38 uM3 2Ŧ043 2 1Ŧ933 90 13 10 37 23 30
1Ŧ38 uM4 2Ŧ26 2 1Ŧ74 90 13 20 37 23 30
1Ŧ38 Þ44 2Ŧ93 2Ŧ7 2Ŧ43 88 12 10 179 32 30

Þ44 Þ43
1Ŧ403 un1 2Ŧ229 2Ŧ2 2Ŧ171 90 27 20 270 40 40
1Ŧ403 un2 2Ŧ43 2Ŧ2 1Ŧ93 90 12 0 270 40 40
1Ŧ403 un3 1Ŧ887 1Ŧ83 1Ŧ813 90 30 40 90 40 40
1Ŧ403 un4 2Ŧ11 1Ŧ83 1Ŧ39 90 11 10 90 40 40
1Ŧ403 Þ43 1Ŧ63 1Ŧ4 1Ŧ13 89 31 30 180 38 30

Þ43 Þ44
1Ŧ42 uC1 2Ŧ023 2 1Ŧ973 91 34 20 267 37 20
1Ŧ42 uC2 2Ŧ26 2 1Ŧ74 90 20 10 267 37 20
1Ŧ42 uC3 1Ŧ373 1Ŧ3 1Ŧ423 89 31 30 87 37 20
1Ŧ42 uC4 1Ŧ73 1Ŧ3 1Ŧ23 90 2 10 87 37 20
1Ŧ42 Þ46 1Ŧ33 1Ŧ3 1Ŧ03 89 20 40 179 28 20

Þ46 Þ43
1Ŧ33 uÞ1 2Ŧ03 2 1Ŧ97 91 21 30 271 33 40
1Ŧ33 uÞ2 2Ŧ26 2 1Ŧ74 90 16 0 271 33 40
1Ŧ33 uÞ3 1Ŧ382 1Ŧ33 1Ŧ318 91 41 0 91 33 40
1Ŧ33 uÞ4 1Ŧ8 1Ŧ33 1Ŧ3 90 20 10 91 33 40
1Ŧ33 Þ47 1Ŧ33 1Ŧ3 1Ŧ03 89 34 20 179 26 30

Þ47 Þ46
1Ŧ33 uC1 2Ŧ073 2Ŧ03 2Ŧ027 90 47 40 267 32 30
1Ŧ33 uC2 2Ŧ3 2Ŧ03 1Ŧ8 90 12 10 267 32 30
1Ŧ33 uC3 1Ŧ802 1Ŧ7 1Ŧ398 91 39 30 87 32 30
1Ŧ33 uC4 1Ŧ96 1Ŧ7 1Ŧ44 90 42 40 87 32 30
1Ŧ33 Þ48 1Ŧ23 1 0Ŧ73 89 34 30 173 41 20

Þ48 Þ47
1Ŧ413 u81 1Ŧ433 1Ŧ3 1Ŧ147 91 27 30 266 32 30
1Ŧ413 u82 1Ŧ33 1Ŧ3 1Ŧ03 90 34 0 266 32 30
1Ŧ413 u83 0Ŧ738 0Ŧ7 0Ŧ662 84 32 30 86 32 30
100

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

1Ŧ413 u84 0Ŧ96 0Ŧ7 0Ŧ44 88 2 40 86 32 30
1Ŧ413 Þ49 1Ŧ23 1 0Ŧ73 87 38 40 167 14 0

Þ49 Þ48
1Ŧ44 uS1 3Ŧ36 3Ŧ3 3Ŧ24 92 37 0 272 46 30
1Ŧ44 uS2 3Ŧ33 3Ŧ3 3Ŧ03 91 2 30 272 46 30
1Ŧ44 uS3 1Ŧ81 1Ŧ7 1Ŧ39 72 30 20 92 46 30
1Ŧ44 uS4 1Ŧ96 1Ŧ7 1Ŧ44 82 44 10 92 46 30
1Ŧ44 Þ30 1Ŧ43 1Ŧ2 0Ŧ93 90 43 30 184 47 30

Þ30 Þ49
1Ŧ44 u11 2Ŧ033 2 1Ŧ963 100 4 40 269 7 20
1Ŧ44 u12 2Ŧ23 2 1Ŧ73 91 37 0 269 7 20
1Ŧ44 u13 1Ŧ09 1Ŧ03 1Ŧ01 82 28 0 89 7 20
1Ŧ44 u14 1Ŧ3 1Ŧ03 0Ŧ8 86 31 30 89 7 20
1Ŧ44 Þ31 1Ŧ63 1Ŧ4 1Ŧ13 91 4 10 189 42 40

Þ31 Þ30
1Ŧ483 uu1 1Ŧ133 1Ŧ1 1Ŧ063 91 33 20 294 29 10
1Ŧ483 uu2 1Ŧ33 1Ŧ1 0Ŧ83 90 38 0 294 29 10
1Ŧ483 uu3 1Ŧ028 1 0Ŧ972 83 7 20 114 29 10
1Ŧ483 uu4 1Ŧ26 1 0Ŧ74 86 12 10 114 29 10
1Ŧ483 Þ32 1Ŧ33 1Ŧ1 0Ŧ83 89 20 40 211 38 30

Þ32 Þ31
1Ŧ44 uv1 1Ŧ62 1Ŧ6 1Ŧ38 94 0 40 263 20 10
1Ŧ44 uv2 1Ŧ83 1Ŧ6 1Ŧ33 90 33 0 263 20 10
1Ŧ44 uv3 1Ŧ233 1Ŧ13 1Ŧ063 87 30 0 83 20 10
1Ŧ44 uv4 1Ŧ4 1Ŧ13 0Ŧ9 89 1 10 83 20 10
1Ŧ44 Þ33 1Ŧ43 1Ŧ2 0Ŧ93 90 34 30 162 33 0

Þ33 Þ32
1Ŧ48 uW1 1Ŧ923 1Ŧ9 1Ŧ873 92 41 20 239 2 20
1Ŧ48 uW2 2Ŧ13 1Ŧ9 1Ŧ63 90 23 0 239 2 20
1Ŧ48 uW3 1Ŧ393 1Ŧ33 1Ŧ307 91 19 40 79 2 20
1Ŧ48 uW4 1Ŧ61 1Ŧ33 1Ŧ09 90 21 20 79 2 20
1Ŧ48 Þ34 1Ŧ33 1Ŧ1 0Ŧ83 90 9 40 168 34 0

Þ34 Þ33
1Ŧ48 ux1 1Ŧ628 1Ŧ6 1Ŧ372 96 23 20 263 49 30
1Ŧ48 ux2 1Ŧ83 1Ŧ6 1Ŧ33 90 37 10 263 49 30
101

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

1Ŧ48 ux3 2Ŧ933 2Ŧ8 2Ŧ667 88 7 30 83 49 30
1Ŧ48 ux4 3Ŧ03 2Ŧ8 2Ŧ33 89 17 0 83 49 30
1Ŧ48 Þ33 1Ŧ33 1Ŧ3 1Ŧ03 87 32 30 168 44 20

Þ33 Þ34
1Ŧ48 u?1 3Ŧ362 3Ŧ3 3Ŧ438 88 33 10 271 13 0
1Ŧ48 u?2 3Ŧ73 3Ŧ3 3Ŧ23 89 30 0 271 13 0
1Ŧ48 u?3 2Ŧ23 2Ŧ2 2Ŧ13 96 6 40 91 13 0
1Ŧ48 u?4 2Ŧ46 2Ŧ2 1Ŧ94 92 3 10 91 13 0
1Ŧ48 Þ36 1Ŧ63 1Ŧ4 1Ŧ13 84 32 40 181 38 10

Þ36 Þ33
1Ŧ47 uZ1 1Ŧ118 1Ŧ1 1Ŧ082 93 36 30 263 0 10
1Ŧ47 uZ2 1Ŧ33 1Ŧ1 0Ŧ83 94 3 10 263 0 10
1Ŧ47 uZ3 2Ŧ288 2Ŧ26 2Ŧ232 93 30 30 83 0 10
1Ŧ47 uZ4 2Ŧ31 2Ŧ23 1Ŧ99 89 32 0 83 0 10
1Ŧ47 Þ37 1Ŧ743 1Ŧ3 1Ŧ233 88 33 0 176 22 30

Þ37 Þ36
1Ŧ49 LA1 1Ŧ273 1Ŧ23 1Ŧ223 94 20 40 261 33 20
1Ŧ49 LA2 1Ŧ3 1Ŧ23 1 94 1 10 261 33 20
1Ŧ49 LA3 1Ŧ81 1Ŧ73 1Ŧ69 88 33 0 81 33 20
1Ŧ49 LA4 2Ŧ01 1Ŧ73 1Ŧ49 94 23 30 81 33 20
1Ŧ49 Þ38 1Ŧ63 1Ŧ4 1Ŧ13 91 11 20 172 37 30

Þ38 Þ37
1Ŧ483 L81 3Ŧ22 3Ŧ1 2Ŧ98 99 40 20 266 32 10
1Ŧ483 L82 3Ŧ33 3Ŧ1 2Ŧ83 94 48 40 266 32 10
1Ŧ483 L83 1Ŧ03 1 0Ŧ97 97 23 30 86 32 10
1Ŧ483 L84 1Ŧ26 1 0Ŧ74 94 12 0 86 32 10
1Ŧ483 Þ39 0Ŧ63 0Ŧ4 0Ŧ13 89 33 40 173 4 40

Þ39 Þ38
1Ŧ47 LC1 3Ŧ633 3Ŧ6 3Ŧ343 84 7 30 288 4 40
1Ŧ47 LC2 3Ŧ83 3Ŧ6 3Ŧ33 89 8 0 288 4 40
1Ŧ47 LC3 2Ŧ093 2Ŧ03 2Ŧ003 89 33 40 108 4 40
1Ŧ47 LC4 2Ŧ3 2Ŧ03 1Ŧ8 94 38 10 108 4 40
1Ŧ47 Þ60 1Ŧ03 0Ŧ8 0Ŧ33 86 33 40 183 13 0

Þ60 Þ39
1Ŧ48 Lu1 1Ŧ418 1Ŧ4 1Ŧ382 90 34 0 269 34 0
102

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

1Ŧ48 Lu2 1Ŧ63 1Ŧ4 1Ŧ13 92 2 10 269 34 0
1Ŧ48 Lu3 3Ŧ093 3 2Ŧ903 92 26 0 89 34 0
1Ŧ48 Lu4 3Ŧ26 3 2Ŧ74 92 17 30 89 34 0
1Ŧ48 Þ61 1Ŧ83 1Ŧ6 1Ŧ33 90 36 30 163 43 20

Þ61 Þ60
1Ŧ42 Ll1 2Ŧ06 2 1Ŧ94 101 24 30 269 33 30
1Ŧ42 Ll2 2Ŧ23 2 1Ŧ73 93 13 10 269 33 30
1Ŧ42 Ll3 1Ŧ833 1Ŧ8 1Ŧ743 93 10 40 89 33 30
1Ŧ42 Ll3 2Ŧ06 1Ŧ8 1Ŧ34 96 2 0 89 33 30
1Ŧ42 Þ62 1Ŧ13 0Ŧ9 0Ŧ63 86 39 20 161 39 30

Þ62 Þ61
1Ŧ43 LC1 2Ŧ778 2Ŧ73 2Ŧ722 80 26 0 239 30 20
1Ŧ43 LC2 3 2Ŧ73 2Ŧ3 94 33 10 239 30 20
1Ŧ43 LC3 2Ŧ31 2Ŧ43 2Ŧ39 93 33 20 79 30 20
1Ŧ43 LC4 2Ŧ71 2Ŧ43 2Ŧ19 97 0 10 79 30 20
1Ŧ43 Þ63 0Ŧ63 0Ŧ4 0Ŧ13 83 33 40 170 43 30

Þ63 Þ62
1Ŧ36 LP1 1Ŧ332 1Ŧ3 1Ŧ468 93 48 30 300 28 0
1Ŧ36 LP2 1Ŧ73 1Ŧ3 1Ŧ23 96 13 30 300 28 0
1Ŧ36 LP3 1Ŧ77 1Ŧ73 1Ŧ73 78 40 30 120 28 0
1Ŧ36 LP4 2Ŧ01 1Ŧ73 1Ŧ49 94 14 0 120 28 0
1Ŧ36 Þ64 1Ŧ93 1Ŧ7 1Ŧ43 87 7 10 234 23 30

Þ64 Þ63
1Ŧ31 Ll1 1Ŧ243 1Ŧ2 1Ŧ133 77 32 40 98 31 0
1Ŧ31 Ll2 1Ŧ43 1Ŧ2 0Ŧ93 87 28 0 98 31 0
1Ŧ31 Ll3 1Ŧ126 1Ŧ1 1Ŧ074 92 36 30 278 31 0
1Ŧ31 Ll4 1Ŧ33 1Ŧ1 0Ŧ83 93 9 20 278 31 0
1Ŧ31 Þ63 2Ŧ03 1Ŧ8 1Ŧ33 91 26 30 212 43 10

Þ63 Þ64
1Ŧ32 L!1 1Ŧ824 1Ŧ8 1Ŧ776 90 7 0 94 37 40
1Ŧ32 L!2 2Ŧ03 1Ŧ8 1Ŧ33 89 20 0 94 37 40
1Ŧ32 L!3 1Ŧ183 1Ŧ13 1Ŧ113 98 47 20 274 37 40
1Ŧ32 L!4 1Ŧ4 1Ŧ13 0Ŧ9 93 31 30 274 37 40
1Ŧ32 Þ66 1Ŧ93 1Ŧ7 1Ŧ43 87 36 30 197 1 30
1Ŧ32 Þ8 1Ŧ282 1Ŧ2 1Ŧ118 89 44 0 32 26 0
1Ŧ32 MS1 1Ŧ313 1Ŧ2 1Ŧ083 89 44 30 31 2 10
103

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

1Ŧ32 MS2 1Ŧ263 1Ŧ2 1Ŧ133 89 47 30 33 22 20

Þ66 Þ63
1Ŧ483 Lk1 0Ŧ473 0Ŧ43 0Ŧ423 79 36 0 268 38 40
1Ŧ483 Lk2 0Ŧ7 0Ŧ43 0Ŧ2 91 4 10 268 38 40
1Ŧ483 Lk3 1Ŧ233 1Ŧ2 1Ŧ143 76 18 40 88 38 40
1Ŧ483 Lk4 1Ŧ46 1Ŧ2 0Ŧ94 84 1 30 88 38 40
1Ŧ483 Þ67 1Ŧ73 1Ŧ3 1Ŧ23 86 2 20 173 17 0

Þ67 Þ66
1Ŧ493 LL1 1Ŧ723 1Ŧ7 1Ŧ677 91 13 0 264 37 0
1Ŧ493 LL2 1Ŧ93 1Ŧ7 1Ŧ43 93 12 40 264 37 0
1Ŧ493 LL3 1Ŧ328 1Ŧ3 1Ŧ272 92 23 0 84 37 0
1Ŧ493 LL4 1Ŧ36 1Ŧ3 1Ŧ04 92 3 10 84 37 0
1Ŧ493 Þ68 3Ŧ93 3Ŧ7 3Ŧ43 89 23 40 180 47 30

Þ68 Þ67
1Ŧ44 LM1 1Ŧ242 1Ŧ2 1Ŧ138 86 16 20 283 30 10
1Ŧ44 LM2 1Ŧ43 1Ŧ2 0Ŧ93 92 34 40 283 30 10
1Ŧ44 LM3 1Ŧ383 1Ŧ33 1Ŧ313 92 49 0 103 30 10
1Ŧ44 LM4 1Ŧ8 1Ŧ33 1Ŧ3 97 12 40 103 30 10
1Ŧ44 Þ69 1Ŧ33 1Ŧ3 1Ŧ03 87 36 40 197 20 40

Þ69 Þ68
1Ŧ33 Ln1 1Ŧ433 1Ŧ4 1Ŧ363 98 29 0 261 33 10
1Ŧ33 Ln2 1Ŧ63 1Ŧ4 1Ŧ13 94 4 30 261 33 10
1Ŧ33 Ln3 1Ŧ933 1Ŧ9 1Ŧ863 93 12 20 81 33 10
1Ŧ33 Ln4 2Ŧ16 1Ŧ9 1Ŧ64 96 16 40 81 33 10
1Ŧ33 Þ70 0Ŧ83 0Ŧ6 0Ŧ33 82 48 20 170 47 0

Þ70 Þ69
1Ŧ44 LC1 2Ŧ02 1Ŧ98 1Ŧ94 80 33 30 237 23 40
1Ŧ44 LC2 2Ŧ23 2 1Ŧ73 98 36 40 237 23 40
1Ŧ44 LC3 1Ŧ738 1Ŧ7 1Ŧ662 89 38 0 77 23 40
1Ŧ44 LC4 1Ŧ96 1Ŧ7 1Ŧ44 94 33 30 77 23 40
1Ŧ44 Þ71 1Ŧ23 1 0Ŧ73 83 16 20 133 3 20

Þ71 Þ70
1Ŧ473 LÞ1 2Ŧ063 2 1Ŧ933 93 18 0 239 30 0
1Ŧ473 LÞ2 2Ŧ23 2 1Ŧ73 98 44 30 239 30 0
1Ŧ473 LÞ3 1Ŧ18 1Ŧ13 1Ŧ12 96 47 30 79 30 0
104

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

1Ŧ473 LÞ4 1Ŧ4 1Ŧ13 0Ŧ9 97 9 20 79 30 0

Þ8 Þ63
1Ŧ46 Þ82 1Ŧ83 1Ŧ6 1Ŧ33 94 31 20 246 39 40

Þ82 Þ8 0
1Ŧ3 Þ8C1 2Ŧ3 2Ŧ13 2 94 33 40 246 14 20
1Ŧ3 Þ8C3 2Ŧ403 2Ŧ13 1Ŧ893 90 14 20 246 14 20
1Ŧ3 Þ8C2 1Ŧ23 1Ŧ2 1Ŧ13 83 44 40 66 14 20
1Ŧ3 Þ8C4 1Ŧ43 1Ŧ2 0Ŧ93 87 23 10 66 14 20
1Ŧ3 Þ83 3Ŧ83 3Ŧ6 3Ŧ33 84 33 30 139 18 20

Þ83 Þ82
1Ŧ42 Þ8nC1 2Ŧ44 2Ŧ36 2Ŧ28 90 1 20 232 13 20
1Ŧ42 Þ8nC3 2Ŧ603 2Ŧ33 2Ŧ093 88 20 10 232 13 20
1Ŧ42 Þ8nC2 1Ŧ19 1Ŧ13 1Ŧ11 90 34 30 72 13 20
1Ŧ42 Þ8nC4 1Ŧ4 1Ŧ13 0Ŧ9 88 12 30 72 13 20










103

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

BAB 4
PEMBAHASAN
4.1. Pengukuran
Data pengukuran diperoleh langsung dari lapangan, karena pengukuran dilakukan
langsung ke lapangan.
Perhitungan :
Diketahui ÷ P1 ÷ X ÷ 500 t. alat ÷ 1,486 m
Y ÷ 500
Z ÷ 500
CA1 ÷ BA ÷ 2,280 V ÷ 89°24`10¨
BT ÷ 2 u ÷ 193.16°
BB ÷ 1.720 u
12
÷ 193.16°
CA2 ÷ BA ÷ 2.13 V ÷ 89°46`30¨
BT ÷ 2.2 H ÷ 13°16,40¨
BB ÷ 1.87






106

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

Ditanya ÷ Jarak miring P1 ÷ CA1
- Jarak datar miring P1 ÷ CA1
- Beda tinggi CA1
- Koordinat CA1
- Elevasi CA1

Penyelesaian ÷ - u
23
÷

÷ ´ ) 180 16 . 13 16 . 193 ± +
÷ 26.32°
- J. miring P1÷CA1 ÷ ´ ) 100 BB B
÷ (2.28 1.72)x100
÷ 56 m
- J. datar P1÷CA1 ÷ 7
2
sin miring Jarak
÷ 50 x Sin
2
89°24`10¨
÷ 55.99 m



º ±
¦
¦
'
+
+

'

180
tan 8ebelumnva
iuru8an Sudut
ber8anku vang titik
pada pengukuran Sudur
107

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

8ebelumnva ttk pd oor + .
- Beda tinggi CA1 ÷
÷
÷ 0.0696 m
- Koordinat CA1



Koordinat X ÷
÷ 500 ¹ (-12,86)
÷ 487.14 m



Koordinat Y ÷
÷ 500 ¹ (-54,49)
÷ 445,51 m


8ebelumnva ttk pd oor + .
´ )
m
Co8
ber8angku titik pada imut Co8 datar Jarak
49 , 54
28 , 193 99 , 55
tan
=
=
=
´ )
86 , 12
28 , 193 99 , 55
tan
=
=
=
Sin
ber8angku titik pada imut Sin datar Jarak
B% datar Jarak alat %
¦
¦
'
+

'

¦
'
+

'

+
¬ tan
1
.
2
" 10 24 89 tan
1
99 , 55 486 , 1
¦
¦
'
+

'

¦
'
+

'

+
108

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

tinggi Beda 8ebelumnva ttk pd Eleva8i + - Elevasi CA1 ÷
÷ 100 ¹ (0.07)
÷ 107 m
Semua data yang diperoleh dihitung dengan cara yang sama menggunakan bantuan
soItware MicrosoIt Excel. Semua data yang diolah kemudian digambar kontur dan
situasinya menggunakan bantuan soItware Autodesk Land Development 2009.
4.2. Perhitungan sudut
Perhitungan sudut menggunakan SoItwert LDD, tetapi pada laporan ini saya lampirkan
perhitungan sudut menggunakan sistem koordinat (x,y). Dimana hasil antara SoItware
LDD dan sistem koordinat hasilnya pasti sama. Karena hasil gambar dari LDD inilah
yang kemudian dihitung menggunakan sistem koordinat. Berikut ini adalah contoh
perhitungan sudut.
u
1
÷ tan
9-6.09
17,74-9

÷ 18.45°
u
2
÷ tan
1.73
2

÷ 40.85°
A ÷ u
1
¹ u
2

÷ 18.45° ¹ 40,85°
÷ 59.30°
109

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

Sudut tikungan selaniutnya di tampilkan dalam tabel :
tikungan sudut
1 59,30°
2 44,15°
3 68,74°
4 31,44°

4.3. Perencanaan alinyemen
4.3.1. Alinyemen horizontal
- Kecepatan rencana
Kelas ialan : kelas II B
Kondisi medan : Bukit
Kecepatan Rencana (Vr) : 60 km/iam
- iari-iari minimum tikungan
Diket : V ÷ 60 km/iam
E ÷ 10° ÷ 0,099
F ÷ 0.153
Dit : ? ......
min
= R
110

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ


Jawab :


Perhitungan tikungan
- Perhitungan tikungan I (Spiral Circle Spiral ) STA 0 ¹ 914
o
30 . 59
1
=
R ÷ 120 m Ls ÷ 70 m
V ÷ 60 km/iam e ÷ 0.099

p ÷ 1.6961
R ÷ 120 m 8 7 ÷ 16.71
k ÷ 34.901

Ts ÷ ( R ¹ P ) tg k +
2
1

÷ ( 120 ¹ 1.6961 ) tg 17 . 104 901 . 34 30 . 59
2
1
= + m
´ )
´ )
m
E
J
R
04 . 112
153 . 0 099 . 0 127
60
127
2
2
min
=
+
=
+
=
111

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

Es ÷ R
p R

+
2
1
cos

÷ 120
30 . 59
2
1
cos
6961 . 1 120

+

÷ 20.03 m

8 7 2 1 =
÷ 59.30 - 2 x 16.71 ÷ 25.88 °

Lc ÷ R 6 2
360
1

÷ m 18 . 54 120 14 . 3 2
360
88 . 25
=

Lt ÷ Lc ¹ (2 x Ls)
÷ 54.18 ¹ (2 x 70) ÷ 194.18 m



112

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

Kontrol :
m

C
e J
C R
J
8
50 . 58
4 . 0
099 . 0 60
727 . 2
4 . 0 120
60
022 . 0
727 . 2 022 . 0 . 1
3
3
min
= =
=


2. Lc ~ 20 m
54.18 m ~ 20m (OK)

3. Lt · 2 Ts
126.95 · 2 x 64
194.18 m · 208.35 m (OK)

Untuk perhitungan tikungan yang lain menggunakan cara seperti perhitungan diatas.
Hasil perhitungan tikungan selaniutnya ditabelkan seperti dibawah ini :




113

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

TIKUNGAN
STA

S-C-S
2
S-C-S
3
S-C-S
4
S-C-S
+ 94 + 257 + 443 + 678
Klas IIB IIB IIB IIB
Medan Bukit Bukit Bukit Bukit
A 59.30 44,15 68,74 31,44
R min (m) 120 120 80 120
R (m) 120 120 80 180
ls (m)

70 70 60 70
E 0,099 0,099 0,1 0,099
' (km/jam) 60 60 50 60
P 1,6961 1.6961 1,8564 1,1333
K 34,9013 34,9013 29,8596 34,9566
Os 16,71 16,71 21,486 11,141
Ts (m) 104,17 84,26 85,84 85,94
Es (m) 20,03 11,32 19,17 8,17
A (m) 25,88 10,73 25,77 9,16
Lc (m) 54,18 22,46 35,96 28,76
Lt (m) 194,18 162,46 155,96 168,76
Kontrol

- Ls min OK 58,50 58,50 51,85 25,50
- Lc > 2 m OK 54,18 22,46 35,96 28,76
- Lt < 2Ts OK 194,18 162,46 155,96 168,76


114

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

Diagram superelevasi




I II III IV
Gambar 4.1. Diagram Superelevasi
Penampang melintang pada masing-masing keadaan :

(1)

(2)

(3)

(4)
Gambar 4.2 Perubahan penampang melintang dari bentuk normal meniadi
bentuk superelevasi penuh.
C
2Ʒ 2Ʒ


10Ʒ
10Ʒ


113

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

Pelebaran pada tikungan
- Tikungan I (STA 0 ¹ 914)
R ÷ 120 m
n ÷ 2
b ÷ 2,5 m
Vr ÷ 60 km/iam
Lebar perkerasan ÷ 6 m
Rc ÷ R - kendaraan lebar a8an per lebar
2
1
ker
2
1
+
÷ 120 - ´ ) ´ ) m 25 . 118 5 . 2
2
1
6
2
1
= +
B ÷ ´ ) 25 . 1 64 64 25 . 1 64
2
2
2
+ + + RC RC
÷ ´ ) 25 . 1 64 25 . 118 64 25 , 1 64 25 . 118
2
2
2
+ + +
÷ 2.76 m



116

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

Z ÷
R
Jr 105 . 0

÷
´ )
120
60 105 . 0

÷ 0.57 m
Bt ÷ ´ ) Z C B n + +
÷ 2 ( 2.76 ¹ 1.25 ) ¹ 0.57 ÷ 6.9 m
Bn Bt b =
÷ 6.9 - 6 ÷ 0.9 m
Jadi pelebaran pada tikungan I ÷ 0.9 m
Untuk perhitungan pelebaran tikungan yang lain menggunakan cara seperti perhitungan
diatas. Hasil perhitungan pelebaran tikungan selaniutnya dapat dilihat pada tabel
dibawah ini :
TIKUNGAN STA b (m)
1 0¹914 0.9
2 1¹257 0.9
3 1¹443 1.19
4 1¹678 0.9

117

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

Jarak pandang henti (Jh)
Jh ÷ 0,278 Vr x T ¹

Jr
254
2

÷ 0,278 x 60 x 2,5 ¹
153 , 0 254
60
2

÷ 134.33 m

Jarak pandang mendahului (Jd)
T1 ÷ 2,12 ¹ 0,026 x Vr
÷ 2,12 ¹ 0,026 x 60
÷ 3.68
T2 ÷ 6,56 ¹ 0,048 x Vr
÷ 6,56 ¹ 0,048 x 60
÷ 9.44
a ÷ 2,052 ¹ 0,0036 x Vr
÷ 2,052 ¹ 0,0036 x 60
÷ 2.27
m ÷ 15 km/iam
118

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

d1 ÷ 0,278 x T1 ¦
'
+

'

+
2
1 a%
m Jr
÷ 0,278 x 3,68 ¦
'
+

'

+
2
68 , 3 27 , 2
15 60


÷ 50.30 m
d2 ÷ 0,278 x Vr x T2
÷ 0,278 x 60 x 9.44
÷ 157.45 m
d3 ÷ 55 m

d4 ÷ 2/3 x d2
÷ 2/3 x 154.45
÷ 102.96 m
Jd ÷ d1 ¹ d2 ¹ d3 ¹ d4
÷ 50.30 ¹157.45 ¹ 55 ¹ 102.96
÷ 365.71 m


119

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ












4.3.2. Alinyemen vertikal
Dalam perhitungan alinyemen vertical yang pertama perlu dilakukan adalah
perhitungan persentasi kelandaian baik taniakan maupun turunan. Setelah itu lalu
dilakukan perhitungan untuk lengkung vertical, baik itu lengkung vertical cembung
atau cekung.


30Ŧ30 m
137Ŧ43 m
33 m
102Ŧ96
!dƹ363Ŧ71 m
120

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

1. Perhitungan persentase kelandaian sebagai berikut :
a. Kelandaian STA 0¹000 s/d STA 0¹300
Diket :
Elevasi rencana STA 0¹000 ÷ 100
Elevasi rencana STA 0¹300 ÷ 100
Elevasi rencana STA 0¹500 ÷ 106
Jarak antara STA 0¹000 s/d STA 0¹300 ÷ 300
Jarak antara STA 0¹300 s/d STA 0¹500 ÷ 200

Penyelesaian kelandaian antara STA 0¹000 s/d STA 0¹300 :
° kemiringan : (selisih elevasi/iarak) x 100 °
: ( (100 100)/300 ) x 100°
: 0 °
Penyelesaian kelandaian antara STA 0¹300 s/d STA 0¹500 :
° kemiringan : (selisih elevasi/iarak) x 100 °
: ( (100 106)/200 ) x 100°
: 3 °

121

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

Tabel 4.4 Persentase Kelandaian
No.
STA Elevasi Jarak STA Kelandaian
°
Keterangan
Awal Akhir Awal Akhir Awal Akhir
1 0¹500 0¹600 106 103 100 3 Turunan
2 0¹600 1¹250 103 103 650 0 Datar
3 1¹250 1¹450 103 107 200 2 Taniakan
1 1¹450 1¹650 107 103 200 2 Turunan
2 1¹650 2¹000 103 103 350 0 Datar

b. Perhitungan Alinyemen Vertikal
1. STA. 0 ¹ 300 (Lengkung Cekung)







0.00 °
3.00 °
Ev
Lv
122

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

A ÷
2 1
g g
÷ 3 3 0 =
Lv ÷ 35 m ÷ GraIik
Ev ÷
800
v

÷ m

131 . 0
800
35 3
=
X
1
÷ 10 m ÷ Y
1
÷ m
v

0429 , 0 10
35 200
3
200
2 2
= = X

X
2
÷ 5 m ÷Y
2
÷ m
v

0107 , 0 5
35 200
3
200
2 2
= = X
PPV ÷ STA.0 ¹ 300
PLV ÷ STA 0 ¹ 300 Lv/2 ÷ STA 0 ¹ 300 35/2 ÷ STA 0 ¹ 282.5
PTV ÷ STA 0 ¹ 300 ¹ Lv/2 ÷ STA 0 ¹ 300 ¹ 35/2 ÷ STA 0 ¹ 317.5




123

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

2. STA. 0¹500 (Lengkung Cembung)







A ÷
2 1
g g
÷ 6 ) 3 ( 3 =
Lv ÷ 35m ÷ GraIik
Ev ÷
800
v

÷ m

2625 , 0
800
35 6
=
X
1
÷ 10m ÷ Y
1
÷ m
v

0857 , 0 10
35 200
6
200
2 2
= = X
X
2
÷ 5m ÷ Y
1
÷ m
v

0214 , 0 5
35 200
6
200
2 2
= = X
3.00 ° 3.00 °
Ev
Lv
124

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

PPV ÷ STA 0¹500
PLV ÷ STA 0 ¹ 500 Lv/2 ÷ STA 0 ¹ 500 35/2 ÷ STA 0 ¹ 482,5
PTV ÷ STA 0 ¹ 500 ¹ Lv/2 ÷ STA 0 ¹ 500 ¹ 35/2 ÷ STA 0 ¹ 517,5
STA Keadaan q 1 q 2 A Ev Lv PLV PTV
0¹300 Cekung 0 3 3 0,131 35 0¹282,5 0¹317,5
0¹500 Cembung 3 3 6 0.02625 35 0¹482,5 0¹517,5
0¹600 Cekung 3 0 3 0,131 35 0¹582,5 0¹617,5
1¹250 Cekung 0 2 2 0,0875 35 1¹232,5 1¹267,5
1¹450 Cembung 2 2 4 0,175 30 1¹435 1¹465
1¹650 Cekung 2 0 2 0,131 35 1¹632,5 1¹667,5

4.4. Perhitungan galian dan timbunan
Perhitungan galian dan timbunan dilakukan dengan menggunakan program LDD 2009.





123

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

BAB 5
PENUTUP
5.1. KESIMPULAN
Dari seluruh rangkaian perencanaan geometrik pada ruas ialan didaerah Loa Bahu
Samarinda STA.0¹000 s/d STA.2¹000, dapat disimpulkan sebagai berikut :
- Perencanaan geometrik ialan merupakan bagian perencanaan ialan yang dititik
beratkan pada bagian perencanaan bentuk Iisik.
- Kelas ialan yang digunakan adalah kelas II B dengan kecepatan rencana 60
km/iam.
- Pada perhitungan alinyemen horisontal terdapat empat tikungan yang dimana pada
semua tikungan tersebut dihitung menggunakan S-C-S
- Pada perhitungan alinyemen vertical diperoleh 4 perbedaan kelandaian, dimana :
Perbedaan kelandaian I berupa cekung
Perbedaan kelandaian II dengan cembung
Perbedaan kelandaian III berupa cekung
Perbedaan kelandaian IV berupa cekung
Perbedaan kelandain V berupa cembung
Perbedaan kelandaian VI berupa cekung




126

KERIA PR0YEK S0NY N0vIANSYAB
REKAYASA IALAN & IENBATAN Ŵ8źŸŷŴŴŸ

- Pada perhitungan galian dan timbunan diperoleh :
- Galian ÷ 13304,296 m
3

- Timbunan ÷ 13123,502 m
3
- Pelebaran tikungan :
Pada tikungan I 0,9 m
Pada tikungan II 0,9 m
Pada tikungan III 1,19 m
Pada tikungan IV 0,9 m
- Jarak pandang henti (Jh) diperoleh 134,33m.
- Jarak pandang mendahului (Jd) diperoleh 365,71 m.
5.2. SARAN
- Sebelum perencanaan proyek dimulai sebaiknya melakukan studi kelayakan
terlebih dahulu,agar proyek pembuatan ialan dapat bermanIaat dengan baik bagi
pengguna ialan tersebut.
- Dari hasil penguiian yang dilakukan dapat diketahui bahwa nilai CBR dari hasil
Penguiian DCP adalah sebesar 1,58°, sedangkan persyaratannya adalah 6 °
sehingga tanah tersebut tidak baik untuk diiadikan sebagai tanah dasar lapis
perkerasan, iadi diperlukan perbaikan tanah dasar.
- Dalam perencanaan galian dan timbunan,sebaiknya volume timbunan tidak lebih
besar dari volume galian,agar tanah volume galian dapat memenuhi kebutuhan
volume timbunan,sehingga lebih ekonomis.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful