Anda di halaman 1dari 11

Identitas Pasien

y y y y y y y

Nama pasien No. Med Rec Alamat Umur Jenis kelamin Tanggal masuk Tanggal keluar

: An.B : 683976 : Bobos RT 03/08 : 2 Tahun 4 Bulan : Perempuan : 18 maret 2011 jam 11.30 : 21 maret 2011

Anamnesa

Keluhan Utama Keluhan Tambahan

: Demam : Batuk, keluar bintik merah dikulit

Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien datang dengan keluhan demam sejak 5 hari SMRS. Demam dirasakan tidak terlalu tinggi, sepanjang hari, demam sempat turun tetapi naik lagi. Demam juga disertai dengan keluhan batuk yang juga dirasakan sejak 5 hari SMRS. Timbul ruam merah sejak 4 hari SMRS, ruam timbul pertama kali di bagian leher lalu menjalar keseluruh tubuh. Pasien sempat berobat ke bidan dan diberi obat tetapi gejala tidak mereda. Buang air besar dan buang air kecil pasien normal. Riwayat imunisasi tidak lengkap. Riwayat Penyakit Dahulu :

Pasien belum pernah mengalami sakit demam dengan gejala seperti ini.

Riwayat Penyakit Keluarga : Belum pernah ada keluarga yang memiliki keluhan demam dengan ruam seperti ini.Teman-

teman dan lingkungan sekitar pasien juga tidak ada yang memiliki keluhan serupa.

Pemeriksaan Fisik

Keadaan Umum Kesadaran

: Tampak sakit sedang : Compos Mentis

Berat Badan Vital Sign

: 13 Kg : Suhu : 37,6 oC RR HR : 44 x/menit : 145x/menit

Kepala Mata Hidung Mulut Leher Thorax Cor Pulmo Abdomen

: Normocephal : CA ( -/- ) SI ( -/- ) : NCH (-) : Sianosis (-) : tampak ruam kemerahan : Retraksi (-) : BJ I-BJ II reguler, bising (-) : VBS ( +/+ ) Rhonki ( -/- ) Wheezing ( -/- ) : Inspeksi Perkusi Palpasi : Tampak datar : Timpani dikeempat kuadran abdomen : Dinding perut supel, tidak ada nyeri tekan dan nyeri lepas Auskultasi : Bising usus (+), normal.

Ekstremitas

: Akral hangat, sianosis (-) ikterik (-)

Pemeriksaan Laboratorium

Tanggal 18 maret 2011 :  Pemeriksaan Darah


y y y y y y y y y y

Leukosit Eritrosit Hemoglobin Hematokrit MCV MCH MCHC RDW PLT MPV

: 3,8 L 103/mm3 : 4,15 106/mm3 : 11,6 g/dl : 32,8 % : 29 L m3 : 27,9 pq : 35,3 g/dl : 14,6 % : 156 10 3/mm3 : 7,1 m3

y y

PCT PDW

: .100% : 14,2%

 Pemeriksaan Darah Tanggal 21 maret 2011


y y y y y y y y y y y y

Leukosit Eritrosit Hemoglobin Hematokrit MCV MCH MCHC RDW PLT MPV PCT PDW

: 8,1 L 103/mm3 : 3,73 L 106/mm3 : 9,4 g/dl : 28,6 % : 77 m3 : 25,1 pq : 32,8 g/dl : 14,6 % : 236.000/mm3 : 7,7 m3 : 0,181 % : 12,5 %

Diagnosis Morbili

Terapi
y IVFD KAEN 1B 8 gtt/menit (makro) y Cosyr 3 x y Isoprinosin 3 x cth y Vitamin A 200.000 IU y Salicyl Talk y Paracetamol 4 x cth

Prognosis Quo Ad Vitam Quo ad Functionam : ad bonam : dubia ad bonam

Follow Up Tanggal keluhan 18/03/2011 KU : demam KT : batuk, keluar bintik merah di kulit K/U : tampak sakit sedang Kesadaran : compos mentis VS T=37,6 oC ; RR=44 x/menit ; HR=145 x /menit Kepala : normocephal Mata : CA (-/- ) SI (-/-) Hidung : NCH (-) Leher : tampak ruam kemerahan, pembesaran KGB (-) Mulut : sianosis (-) Thoraks : retraksi (-) Pulmo : VBS (+/+) Rh (+/+) Wh (+/+) Cor : BJ I-II murni reguler, M(-), G(-) Abdomen : datar, supel, BU (+) Ekstremitas : akral hangat, S (-), O (-) D/ morbili 19/03/2011 KU : batuk KT : bintik-bintik merah di seluruh tubuh K/U : tampak sakit sedang Kesadaran : compos mentis VS T=37,4oC ; RR=45 x/menit ; HR=142 x /menit Kepala : normocephal Mata : CA (-/- ) SI (-/-) Hidung : NCH (-) Leher : tampak ruam kemerahan, pembesaran KGB (-) Mulut : sianosis (-) Thoraks : retraksi (-) Pulmo : VBS (+/+) Rh (+/+) Wh (+/+) Cor : BJ I-II murni reguler, M(-), G(-) Abdomen : datar, supel, BU (+) Ekstremitas : akral hangat, S (-), O (-) D/ morbili 20/03/2011 KU : batuk KT : demam K/U : tampak sakit sedang Kesadaran : compos mentis VS T=37,3oC ; RR=44 x/menit ; HR=140 x /menit Kepala : normocephal Mata : CA (-/- ) SI (-/-) terapi Th/ IVFD KAEN 1B 8gtt/menit (makro) Coxyr 3 x Isoprinosin 3 x cth Vitamin A 200.000 IU Salicyl Talk Paracetamol 4 x cth

Th/ IVFD KAEN 1B 8gtt/menit (makro) Coxyr 3 x Isoprinosin 3 x cth Vitamin A 200.000 IU Salicyl Talk

Th/ IVFD KAEN 1B 8gtt/menit (makro) Coxyr 3 x Isoprinosin 3 x cth Vitamin A 200.000 IU Salicyl Talk

Hidung : NCH (-) Leher : tampak ruam kemerahan, pembesaran KGB (-) Mulut : sianosis (-) Thoraks : retraksi (-) Pulmo : VBS (+/+) Rh (+/+) Wh (+/+) Cor : BJ I-II murni reguler, M(-), G(-) Abdomen : datar, supel, BU (+) Ekstremitas : akral hangat, S (-), O (-) D/ morbili 21/03/2011 KU : batuk KT : K/U : tampak sakit ringan Kesadaran : compos mentis VS T=36,6 oC ; RR=46 x/menit ; HR=148 x /menit Kepala : normocephal Mata : CA (-/- ) SI (-/-) Hidung : NCH (-) Leher : tampak ruam kemerahan, pembesaran KGB (-) Mulut : sianosis (-) Thoraks : retraksi (-) Pulmo : VBS (+/+) Rh (+/+) Wh (+/+) Cor : BJ I-II murni reguler, M(-), G(-) Abdomen : datar, supel, BU (+) Ekstremitas : akral hangat, S (-), O (-) D/ morbili

Th/ IVFD KAEN 1B 8gtt/menit (makro) Coxyr 3 x Isoprinosin 3 x cth Vitamin A 200.000 IU Salicyl Talk (boleh pulang)

Dasar diagnosis Berdasarkan anamnesa (alloanamnesa terhadap orang tua pasien) orang tua pasien , mengatakan bahwa pasien mengalami demam dan batuk sejak 5 hari SMRS, demam dan batuk juga diikuti dengan timbulnya bintik kemerahan sejak 4 hari SMRS yang awalnya timbul dari leher ke seluruh tubuh, pada pemeriksaan fisik didapatkan suhu pasien berada dalam keadaan subfebris dan tampak ruam kemerahan dileher sampai keseluruh tubuh, bercak koplik pada mukosa buccal tidak dapat dilihat karena anak tidak kooperatif. Riwayat imunisasi pada anak tidak jelas karena ibu pasien mengaku tidak mengetahui jenis imunisasi apa saja yang telah diberikan ke pasien. Berdasarkan hal tersebut pasien diduga menderita morbili.

Pada kasus ini pasien tidak terlihat mengalami komplikasi. Pada pasien tidak terlihat pola pernafasan yang cepat dan sesak walaupun pasien mangalami batuk. Selain itu BAB pasien juga normal tidak mencret. Dan juga tidak terjadi penurunan kesadaran ataupun kejang pada pasien. Dari telinga pasien tidak terlihat adanya sekret yang keluar dan pasien tidak mengeluhkan telinga sakit. Hal ini menunjukkan tidak adanya kemungkinan

bronkhopneumoni, enteritis, ensefalitis dan otitis media yang merupakan komplikasi dari campak. Dari hasil lab darah menunjukkan hasil jumlah leukosit yang meningkat yang menunjukkan infeksi bukan disebabkan dari bakteri melainkan disebabkan oleh virus. Berdasarkan hal tersebut pasien dapat didiagnosis menderita morbili. Pada anamnesa tersebut memiliki kekurangan data yang dapat lebih menunjang data pasien ke arah morbili. Keluarnya ruam apakah pada saat demam tinggi, apakah mata anak merah dan terdapat tahi mata, apakah anak diare atau muntah.

Dasar pengobatan Anak dimasukkan ke kamar isolasi untuk menghindari kemungkinan penularan ke pasien lain. Pasien di pasang infus untuk menjaga kecukupan cairan, cairan infus yang digunakan adalah KAEN 1B. Alasan diberikannya jenis infus tersebut karena anak tidak mengalami dehidrasi selain itu pasien juga demam dan status elektrolit pasien belum diketahui. Diberikan 13 tetes disesuaikan dengan kebutuhan cairan pasien. Untuk obat-obatan pasien diberikan :  Paracetamol untuk meredakan demam Dosis paracetamol adalah 10-15mg/kgBB/hari 6H, sediaan sirup paracetamol 120 mg/5ml. Dosis yang digunakan disesuaikan oleh berat badan pasien (13 kg) yaitu 130 195mg/kgBB/hari, sehingga dosis paracetamol adalah 4 x cth  Cosry digunakan untuk meringankan batuk dan pilek Dosis yang digunakan adalah 3 x cth  Isoprinosin digunakan sebagai antivirus Dosis isoprinosin pada anak adalah 50-100mg/kgBB/hari 4-6H.

Dosis disesuaikan dengan berat badan pasien (13kg) yaitu 650-1300mg/kgBB/hari, sehingga dosis isoprinosin adalah 4 x cth  Vitamin A 200.000 IU Diberikan dengan tujuan untuk mengurangi mortalitas dan morbiditas pada campak. Dosis yang diberikan disesuaikan dengan usia pasien, pasien berumur 2 tahun 4 bulan oleh sebab itu dosis yang diberikan adalah 200.000 IU  Salicyl Talk Digunakan untuk merawat kulit yang gatal dan mencegah biang keringat.

Pembahasan
Definisi Campak adalah penyakit akut yang disebabkan oleh infeksi virus yang sangat menular dan umumnya menyerang anak-anak. Campak memiliki gejala khas yaitu terdiri dari 3 stadium yang masing-masing memiliki ciri khusus : Stadium masa tunas, berlangsung kira-kira 10-12 hari 1. Stadium prodromal, berlangsung 2-4 hari dengan gejala batuk dan pilek yang meningkat dan ditemukan enantema pada mukosa pipi (bercak koplik), faring dan peradangan mukosa konjungtiva. 2. Stadium erupsi, dengan keluarnya ruam yang berathan selama 5-6 hari. Timbul ruam mulai dari belakang telinga menyebar ke muka, badan, lengan dan kaki. Ruam timbul didahului dengan suhu tubuh yang meningkat. 3. Stadium konvalesens, setelah 3 hari ruam berangsur menjadi kehitaman dan mengelupas, yang akan hilang setelah 1-2 minggu.

Epidemiologi Wabah terjadi pada anak yang rentan terhadap campak, yaitu di daerah dengan populasi balita banyak mengidap gizi buruk dan daya tahan tubuh yang lemah. Kejadian luar biasa campak lebih sering terjadi di daerah pedesaan terutama daerah yang sulit dijangkau oleh pelayanan kesehatan, khususnya program imunisasi. Didaerah perkotaan khusus, kasus campak tidak terlalu terlihat, kecuali dari laporan rumah sakit. Hal ini tidak berarti bahwa daerah urban terlepas dari campak. Daerah urban yang kumuh dan padat merupakan daerah rawan terhadap penyakit yang sangat menular seperti campak.

Etiologi Virus campak termasuk golongan paramyxovirus.Virus campak berada di sekret nasofaring dan didalam darah, minimal selama masa tunas dan dalam waktu yang singkat sesudah timbulnya ruam

Patogenesis Penularannya sangat efektif, dan terjadi secara droplet melalui udara, sejal 1-2 hari sebelum timbul gejala klinis sampai 4 hari sebelum timbul ruam. Virus masuk kedalam limfatik lokal, bebas maupun berhubungan dengan sel mononuklear, kemudian mencapai kelenjar getah bening regional. Virus memperbanyak diri dengan sangat perlahan dan dimulailah penyerangan ke sel jaringan limforetikuler seperti limfa. Sel mononuklear yang terinfeksi menyebabkan terbentuknya sel raksasa berinti banyak (sel Warthin), sedangan limfosit-T yang rentan terhadap infeksi, turut aktif membelah. 5-6 hari setelah infeksi awal, terbentuklah fokus infeksi yaitu ketika virus masuk ke dalam pembuluh darah dan menyebar ke permukaan epitel orofaring, konjungtiva, saluran nafas, kulit, kandung kemih dan usus. Pada hari 9-10, fokus infeksi yang berada di epitel saluran nafas dan konjungtiva, akan menyebabkan nekrosis pada satu sampai dua lapis sel, dan dalam jumlah banyak virus banyak masuk kembali ke pembuluh darah dan menimbulkan manifestasi klinis dari sistem saluran nafas yang diawali dengan batuk pilek disertai selaput konjungtiva yang tampak merah. Respon imun yang terjadi ialah proses peradangan epitel pada sistem saluran pernafasan diikuti dengan manifestasi klinis demam tinggi, anak tampak sakit berat dan tampak suatu ulserasi kecil pada mukosa pipi yang disebut bercak koplik yang merupakan tanda patognomonik. Selanjutnya daya tahan tubuh menurun. Sebagai akibat respons delayed

hypersensitivity terhadap antigen virus, muncul ruam makulopapuler pada hari ke-14 sesudah awal infeksi dan pada saat itu antibodi humoral dapat dideteksi pada kulit. Fokus infeksi tidak menyebar jauh ke pembuluh darah. Daerah yang nekrotik di nasofaring dan saluran pernafasan memberikan kesempatan infeksi bakteri sekunder berupa bronkhopneumonia, otitis media, enteritis dan ensefalitis. Dalam keadaan tertentu pneumoni juga dapat terjadi, selain itu campak dapat menyebabkan gizi kurang.

Manifestasi klinis dan diagnosis

Diagnosis campak biasanya dapat dibuat berdasarkan kelompok gejala klinis yang sangat barkaitan, yaitu koriza dan mata meradang disertai batuk dan demam tinggi dalam beberapa hari, diikuti dengan timbulnya ruam yang memiliki ciri khas, yaitu diawali dari belakang telinga kemudian menyebar ke muka, dada, tubuh, lengan dan kaki bersamaan dengan meningkatnya suhu tubuh dan selanjutnya mengalami hiperpigmentasi dan mengelupas.

Pada stadium prodromal dapat ditemukan enantema di mukosa pipi yang merupakan tanda patognomonis campak (bercak koplik). Campak yang manifestasinya tidak khas disebut campak atipikal. Diagnosis bandingnya adalah rubela, demam skarlaktina, ruam akibat obat-obatan, eksantema subitum dan infeksi stafilokokus.

Pengobatan

Pasien campak tanpa komplikasi dapat berobat jalan.Anak harus diberikan cukup cairan dan kalori, sedangkan pengobatan bersifat simtomatik, dengan pemberian antipiretik, antitusif, ekspektoran, dan antikonvulsan bila diperlukan. Sedangkan dengan komplikasi pasien perlu dirawat inap. Di rumah sakit pasien campak dirawat dibangsal isolasi, diperlukan perbaikan keadaan umum dengan memperbaiki kebutuhan cairan dan diet yang memadai. Vitamin A 50.000 IU (jika umur anak < 6 bulan), 100.000 IU (6-11 bulan) atau 200.000 (12 bulan hingga 5 tahun) oral diberikan satu kali, apabila terdapat malnutrisi dilanjutkan 1500 IU tiap hari. Perawatan mata untuk konjungtivitis ringan dengan cairan mata yang jernih, tidak perlu pengobatan. Jika mata bernanah, bersihkan mata dengan kain katun yang telah direbus dalam air mendidih, atau lap bersih yang direndam dalam air bersih. Oleskan salep mata kloramfenikol/tetrasiklin, 3 kali sehari selama 7 hari. Perawatan mulut, jaga kebersihan mulut dengan memberi obat kumur antiseptik bila pasien dapat berkumur. Edukasi orang tua untuk membawa anaknya kembali dalam waktu dua hari untuk melihat luka pada mulut dan sakit mata anak sembuh, atau apabila terdapat tanda bahaya. Apabila terdapat komplikasi, maka dilakukan pengobatan untuk mengatasi komplikasi yang timbul, yaitu : a) Bronkhopneumonia Diberikan antibiotik ampisilin 100 mg/kgBB/hari dalam 4 dosis intravena

dikombinasikan dengan kloramfenikol 75 mg/kgBB/hari intravena dalam 4 dosis, sampai gejala sesak berkurang dan pasien dapat minum obat per oral. Antibiotik diberikan sampai tiga hari demam reda. Apabila dicurigai infeksi spesifik, maka uji tuberkulin dilakukan setelah anak sehat kembali (3-4 minggu kemudian) oleh karena uji tuberkulin biasanya negatif (anergi) pada saat anak menderita campak.

b) Enteritis Ditandai dengan kesadaran menurun dan kejang.Pada keadaan berat anak mudah jatuh dalam keadaan dehidrasi. Pemberian cairan intravena dapat dipertimbangkan apabila terdapat enteritis dan dehidrasi. c) Otitis media Disebabkan karena infeksi sekunder, sehingga perlu diberikan antibiotik kotrimoksazolsulfametoksazol (TMP 4mg/kgBB/hari dibagi dalam 2 dosis). d) Ensefalopati Reduksi jumlah pemberian cairan hingga kebutuhan untuk mengurangi edema otak, di samping pemberian kortikosteroid. Perlu dilakukan koreksi elektrolit dan gangguan gas darah.

Pencegahan Pencegahan campak dilakukan dengan pemberian imunisasi aktif pada bayi berumur 9 bulan atau lebih. Dosis baku minimal vaksin campak sebanyak 0,5 ml diberikan secara subkutan.