Anda di halaman 1dari 8

OSPEK (orientasi study dan pengenalan kampus) adalah suatu kegiatan yang bertujuan untuk mempersiapkan mahasiswa baru

untuk dapat mengikuti perkuliahan dengan baik (terutama untuk membentuk paradigma yang akademis, sehingga tidak hanya bicara tentang gossip dan asumsi saja) dan mengenalkan kampus yang mereka tempati seperti apa. Surat Edaran DIRJEN DIKTI No. 5/1995. Dalam surat edaran tersebut menyatakan dengan jelas bahwa kegiatan ospek haruslah bersifat akademis dan mendidik, dan tidak boleh mengandung unsur kekerasan dalam bentuk apapun. Sehingga segala kegiatan ospek yang berbau perpeloncoan tidak boleh dilakukan. MENDIKNAS bambang sudibyo menegaskan pelarangan perpeloncoan itu, Menurut Mendiknas, kekerasan tidak hanya bertentangan dengan hak asasi manusia, tetapi juga menafikan tujuan mulia pendidikan untuk membentuk generasi muda dan pemimpin bangsa yang cerdas, intelektual, emosional, dan spiritual. Satrio mencontohkan pemberian tugas yang kelewat banyak dan aneh, pemberian hukuman fisik, atau perlakuan kasar seperti membentak, mencaci maki mahasiswa baru, sama sekali tidak dibenarkan. Dia menjelaskan, pengenalan kampus atau Ospek bukan hal yang wajib dilakukan. Papalia, (2004) menyatakan bahwa perpeloncoan adalah perilaku agresif yang disengaja dan berulang untuk menyerang target atau korban, yang secara khusus adalah seseorang yang lemah, mudah diejek dan tidak bisa membela diri. Ada 5 kategori perilaku perpeloncoan tersebut, yaitu : 1. Kontak Fisik Langsung Perilaku yang termasuk dalam kategori ini adalah memukul, mendorong, menggigit, menjambak, menendang, mengunci seseorang dalam ruangan, mencubit, mencakar, juga termasuk memeras dan merusak barang-barang yang dimiliki orang lain 2. Kontak Verbal Langsung Perilaku yang termasuk dalam kategori ini adalah seperti mengancam, mempermalukan, merendahkan, mengganggu, memberi panggilan nama (name-calling), sarkasme, merendahkan (put-downs),

mencela/mengejek, mengintimidasi, memaki, menyebarkan gosip. (termasuk membentak) 3. Perilaku non-verbal langsung Perilaku yang termasuk dalam kategori ini adalah seperti melihat dengan sinis, menjulurkan lidah, menampilkan ekspresi muka yang merendahkan, mengejek, atau mengancam; biasanya disertai oleh perpeloncoan fisik atau verbal. 4. Perilaku non-verbal tidak langsung Perilaku yang termasuk dalam kategori ini adalah seperti mendiamkan seseorang, memanipulasi persahabatan sehingga menjadi retak, sengaja mengucilkan atau mengabaikan, mengirimkan surat kaleng. 5. Pelecehan seksual Perilaku yang termasuk dalam kategori ini adalah perilaku-perilaku yang dapat dikategorikan sebagai perilaku agresi fisik dan bisa juga verbal. Ospek yang dilakukan dalam bentuk kegiatan akademik seperti pengenalan kampus ditegaskan dalam Surat Edaran (SE) Dirjen Dikti. Kegiatan akademik yang dimaksudkan di situ adalah kegiatan yang bersifat mendidik dan memberi manfaat. Misalnya, pengenalan kampus, pengenalan dosen, staf dan tenaga pengajar lainnya. Juga pengenalan cara kuliah yang baik. Semuanya harus dikemas tanpa ada unsur perpeloncoan. Depdiknas sudah menyatakan bahwa Ospek dengan semangat perpeloncoan sudah dihapus dengan SE Dirjen Dikti Nomor 5/1995. SE itu juga mengharuskan ospek dilakukan dengan lebih lunak dan dikoordinasikan di bawah Pembantu Rektor (Purek) III di tingkat universitas, dan Pembantu Dekan (Pudek) III di tingkat fakultas atau jurusan. DAMPAK DARI KEGIATAN PERPELONCOAN Perpeloncoan Hancurkan Kecerdasan Emosional Sebenarnya tradisi perpeloncoan tidak ada sangkut-pautnya dengan pendidikan. Yang terjadi, kekeliruan interpretasi, sehingga seolah-olah perpeloncoan bagian dari pendidikan. Celakanya, kalangan pemangku kebijakan selalu lamban berpikir dan belajar dari kesalahan atau kekeliruan interpretasi tersebut.

Tradisi perpeloncoan bisa berdampak pada hancurnya kecerdasan emosional seseorang. Padahal kecerdasan emosional lebih penting daripada kecerdasan intelektual. Demikian diungkapkan pakar pendidikan, Prof Dr Winarno Surakhmad dan Dosen Child Development pada Tabor Teacher College Australia, Lucia Indrakusuma. Mantan Rektor Universitas Negeri Jakarta (UNJ) itu menegaskan, kekeliruan interpretasi atas konsep pendidikan di kampus yang masih menerapkan perpeloncoan dengan kekerasan, mengakibatkan distorsi. Pembentukan sikap kepribadian melalui benih balas-membalas tentu saja bisa berujung pada dendam. Winarno mengatakan heran sebab pembelajaran dengan cara bergembira ria justru tidak dilihat sebagai metode yang baik. *Bentuk Agresi* Sementara itu, Lucia Indrakusuma mengatakan, pelonco, disebut juga pelecehan, dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah bullying, adalah suatu bentuk agresi yang dilakukan oleh seseorang yang berada di posisi kuat dengan menekan yang lemah. Hubungan ini tidak sehat karena tiadanya respek dalam relasi tersebut. Lucia menyebutkan, dampak dari perpeloncoan sangat tidak produktif. "Dampaknya sangat merusak kecerdasan emosional (EQ, /emotional quotient/) siswa, sehingga konsep diri korban menjadi terpuruk, kehormatan diri tercabik-cabik. Dampak berikutnya, korban bisa trauma, takut ke kampus, gangguan mental jangka panjang, hingga yang paling fatal, hilangnya nyawa. Padahal kecerdasan EQ dua kali lebih penting daripada kecerdasan intelektual,". Senada dengan itu, psikolog dari Universitas Indonesia Shinto B Adelaar, Selasa, mengatakan, suasana kekerasan dalam pendidikan akan memicu munculnya kekerasan ketika orang itu terjun ke masyarakat. "Kekerasan itu ibarat rantai yang akan terus berlanjut. Orang yang mengalami kekerasan akan menjadi pelaku kekerasan. Bayangkan bagaimana kalau seorang calon pemimpin dididik dengan kekerasan, maka setelah menjadi pemimpin tentu dia akan memimpin dengan cara kekerasan,". Dikatakan, budaya kekerasan dalam menyelesaikan persoalan tidak cocok lagi dilakukan di era demokrasi. Selain itu, orang yang terbiasa dengan kekerasan cenderung mengatur orang juga dengan kekerasan. (yahoogroups) ANALISIS HUKUM

Dalam pelaksanaan ospek di universitas trunojoyo sangatlah jelas telah tidak sesuai dengan rule/aturan-aturan yang telah ada (inkonstitisional), dan melanggar hak-hak asasi manusia. Aturan-aturan yang dilanggar antara lain: Undang-Undang Dasar 1945 1. Pasal 28B ayat 2 (setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang, serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi); Dalam undang-undang no 39 tahun 1999 tentang HAM pasal 1 point 5 mendefinisikan anak adalah manusia yang berusia dibawah 18 tahun dan belum menikah; 2. Pasal 28E ayat 2 (setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran, dan sikap sesuai dengan hati nuraninya); 3. Pasal 28 G ayat 1 (setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat, dan harta benda yang dibawah kekuasaaanya, serta berhak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi); 4. Pasal 28J ayat 1 (setiap orang wajib menghormati hak asasi manusia orang lain dalam tertib kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara). Undang-Undang No. 39 tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia 1. Pasal 1 point 1 (Hak Asasi Manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai mahkluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara, hukum, Pemerintah, dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia); 2. Pasal 3 ayat 1 (Setiap orang dilahirkan bebas dengan harkat dan martabat manusia yang sama dan sederajat serta dikaruniai akal dan hati murni untuk hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara dalam semangat persaudaraan); 3. Pasal 3 ayat 3 (Setiap orang berhak atas perlindungan hak asasi manusia dan kebebasan dasar manusia, tanpa diskriminasi);

4. Pasal 4 (Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kebebasan pribadi, pikiran dan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi dan persamaan dihadapan hukum, dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun dan oleh siapapun); 5. Pasal 9 ayat 2 (Setiap orang berhak tenteram, aman, damai, bahagia, sejahtera lahir dan batin); 6. Pasal 11 (Setiap orang berhak atas pemenuhan kebutuhan dasarnya untuk tumbuh dan berkembang secara layak); 7. Pasal 12 (Setiap orang berhak atas perlindungan bagi pengembangan pribadinya, untuk memperoleh pendidikan, mencerdaskan dirinya, dan meningkatkan kualitas hidupnya agar menjadi manusia yang beriman, bertaqwa, bertanggung jawab, berakhlak mulia, bahagia, dan sejahtera sesuai dengan hak asasi manusia); 8. Pasal 29 ayat 1 (Setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat, dan hak miliknya); 9. Pasal 30 (Setiap orang berhak atas rasa aman dan tenteram serta perlindungan terhadap ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu); 10. Pasal 33 ayat 1 (Setiap orang berhak untuk bebas dari penyiksaan, penghukuman atau perlakuan yang kejam, tidak manusiawi, merendahkan derajat dan martabat kemanusiaannya); 11. Pasal 67 (Setiap orang yang ada diwilayah negara Republik Indonesia wajib patuh pada peraturan perundang-undangan, hukum tak tertulis, dan hukum internasional mengenai hak asasi manusia yang telah diterima oleh negara Republik Indonesia); 12. Pasal 69 ayat 1 (Setiap orang wajib menghormati hak asasi manusia orang lain, moral, etika, dan tata tertib kehidupan bermasyarakat, bebangsa, dan bernegara); 13. Pasal 74 (Tidak satu ketentuanpun dalam Undang-undang ini boleh diartikan bahwa Pemerintah, partai, golongan atau pihak manapun dibenarkan mengurangi, merusak, atau menghapuskan hak asasi manusia atau kebebasan dasar yang diatur dalam Undang-undang ini).

Apabila terjadi suatu penganiayaan/kekerasan fisik maka telah diatur dalam KUHP (Kitab Undang-undang Hukum Pidana)------[berarti mempunyai konsekuensi pidana] Pasal 351 Ayat 1. Penganiayaan diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan. Ayat 2. Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat, yang bersalah diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun; Ayat 3. Jika mengakibatkan mati, diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun; Ayat 4. Dengan penganiayaan disamakan sengaja merusak kesehatan. Pasal 352 Penganiayaan yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau pencarian, diancam, sebagai penganiayaan ringan, dengan pidana penjara paling lama tiga bulan. Dari berbagai dasar hukum diatas tentunya sudah kita lihat bahwa penugasan-penugasan yang irrasional, tidak mendidik dan tidak akademis minimal telah merendahkan harkat dan martabat kemanusiaanya, belum lagi apabila terjadi kekerasan fisik, maka jelaslah bahwa hal tersebut melanggar hak-hak asasi manusia. Apabila dalam kegiatan ospek masih mengenal dan menjalankan perpeloncoan(termasuk bentakan) kepada mahasiswa baru, maka akan ber-imbas tidak baik untuk perkembangan ESQ mereka, lantas mau jadi apa generasi mahasiswa Diambil dari http://zamzami-zone.blogspot.com/2008/11/hati-hati-panitia-ospek-bisa-dipidana.html

Kekerasan dalam Mabim Akan Dibawa ke Jalur Hukum

Laporan oleh: Anton Sumantri [Unpad.ac.id, 15/08] Sekarang sudah bukan zamannya lagi Masa Bimbingan Mahasiswa (Mabim) dengan kekerasan. Kini para senior tidak bisa semena-mena melakukan praktekpraktek kekerasan baik secara verbal maupun nonverbal kepada mahasiswa baru (maba) dalam mabim. Pasalnya tindak kekerasan yang berpotensi pelanggaran hukum telah diatur oleh Undang-undang. Hal ini disampaikan Kepala Kepolisian Resort (Kapolres) Sumedang, Jawa Barat, Ajun Komisari Besar Polisi (AKBP) Akhmad Wiyagus saat menjadi pembicara Diskusi Publik Praktik Tindak Kekerasan dalam Mabim. Acara yang diprakarsai Bidang Kemahasiswaan Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik (FISIP) Unpad, tersebut digelar di Gd. D Lt.2 FISIP, Unpad Kampus Jatinangor, Jumat (14/08). Dalam acara tersebut, tampak hadir Pembantu Dekan Bidang Kemahasiswaan FISIP Unpad, Dr. Soni A. Lukmanulhaqim, Drs. M.Si., beserta jajarannya. Perhelatan yang dipandu dosen FISIP Unpad, Asep Rukmana tersebut sengaja diadakan untuk membekali para mahasiswa yang menjadi panitia mabim di FISIP Unpad. Terbukti, acara tersebut telah dilakukan setiap tahun sebelum penyelenggaraan mabim. Sebuah tindakan yang mengandung unsur kekerasan sebagaimana yang tercantum dalam pasal 351 sampai 358 tentang penganiayaan akan ditindak secara hukum. Meskipun hal tersebut dilakukan dalam Mabim, tutur Kapolres Sumedang. Berdasarkan hal tersebut, para senior yang tergabung dalam kepanitiaan mabim di suatu institusi pendidikan tinggi harus meninggalkan budaya kekerasan. Tindak kekerasan tidak hanya berbentuk kontak fisik belaka, namun sebuah bentakan disertai ancaman juga dapat diajukan menjadi delik aduan dan dijerat hukum. Nampaknya dengan peraturan dan Undang-undang yang mengatur hal ini, para senior harus berpikir ulang untuk melakukannya. Kekerasan dalam arti disiplin memang merupakan salah satu cara membentuk karakter. Namun bukan berarti segala tindakan kekerasan dihalalkan. Ada aturan mainnya, salah satunya ya Undang-undang tadi, paparnya. Dalam konteks tindakan pendisiplinan, lanjut Kapolres Sumedang, panitia harus menargetkan tidak ada tindakan kekerasan atau tidak ada yang celaka atau terluka dalam mabim. Proses ini juga melatih kemampuan manajerial para senior. Jadi, dalam mabim, tidak hanya maba yang belajar namun juga panitia. tegas Kapolres Sumedang. Kepada para panitia mabim, AKBP. Akhmad Wiyagus berpesan, pembentukan karakter dan pengenalan kampus tidak berarti disertai tindakan kekerasan, baik fisik maupun non fisik. Transparansi kegiatan juga berlaku untuk semua, tidak hanya transparan ketika melaporkan kegiatan kepada pihak Dekanat atau Rektorat, namun juga kepada para maba. Menurutnya, peserta pengenalan kampus harus mengetahui dengan jelas rangkaian acara sehingga tidak menimbulkan kekagetan (shock) pada maba.

POSMO di FISIP Pembantu Dekan Bidang Kemahasiswaan FISIP Unpad, Dr. Soni A. Lukmanulhaqim, Drs. M.Si., mengatakan, Diskusi Publik tersebut adalah bukti FISIP Unpad menanggapi Surat Edaran Rektor Unpad dan amanah Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional (Dirjen Dikti Depdiknas) mengenai Proses Pengenalan Kampus tanpa Tindak Kekerasan. Berpijak pada Surat Edaran Rektor dan Dikti, kami mengadakan diskusi publik ini. Hal ini juga menjadi sebuah bukti komitmen FISIP Unpad dalam mengubah paradigma dalam pengenalan kampus. Acara ini diadakan setiap tahun sebelum penyelenggaran masa pengenalan kampus dan telah menginjak tahun yang ketiga papar Dr. Soni A. Lukmanulhaqim, Drs. M.Si. Menurut pengakuannya, PMB yang dilakukan FISIP Unpad dengan tajuk Program Orientasi Studi & Manajemen Organisasi (POSMO) tidak memberikan kesempatan kepada oknum untuk melakukan tindakan kekerasan kepada maba. Tidak ada kekerasan dalam POSMO. Sesuai dengan namanya, POSMO tidak hanya mengenalkan universitas sebagai sistem kepada mahasiswa baru. Di sini (POSMO), mahasiswa baru juga distimuli untuk menemukan softskill-nya. Kemampuan manajerial dan berorganisasi mahasiswa baru coba dirangsang melalui POSMO. pungkas Pembantu Dekan Bidang Kemahasiswaan FISIP Unpad tersebut. Mabim bukanlah ajang balas dendam mahasiswa lama kepada mahasiswa baru seperti yang mereka alami ketika menjadi mahasiswa baru. Budaya yang salah ini harus dihilangkan dan digantikan dengan budaya pengenalan kampus yang lebih santun dan berpendidikan. (eh)*