Anda di halaman 1dari 78

ESP-Environmental Support Programme Danida

Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS)

Rencana Pembangunan Padang Bay City di Sumatera Barat

Kajian Lingkungan Hidup Strategis Padang

Pengarah : H. Syamsul Arief Rivai Direktur Jendral Bina Pembangunan Daerah

Penanggung Jawab : Sjofan Bakar Direktur Fasilitasi Penataan Ruang dan Lingkungan Hidup

Penyusun : Diah Indrajati . Anton Suharsono . Suhardi Suryadi . Sudar Dwi Atmanto . Burhanuddin . Adi Wiyana

Kerja Sama Pemerintah Kota Padang di Sumatera Barat Dengan Proyek ESP 1 Output 3A, SubComponent KLHS Padang Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah Departemen Dalam Negeri.

Jakarta, Desember 2007

Kata Sambutan
Puji dan Syukur kita ucapkan Kehadirat Allah SWT atas segala limpahan Rahmat dan KaruniaNya, sehingga pelaksanaan Kegiatan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS), terhadap rencana Pembangunan Padang Bay City (PBC) dapat berjalan dengan baik dan lancar. Atas nama Pemerintah Kota Padang, kami mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah khususnya kepada Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah Departemen Dalam Negeri Republik Indonesia dan Kementerian Lingkungan Hidup yang telah memfasilitasi dan menetapkan Kota Padang untuk kegiatan Proyek ESP I Output 3A , Sub-Component KLHS Padang yaitu melakukan Kajian Lingkungan Hidup Strategis terhadap rencana Pembangunan PBC. Seperti kita ketahui bersama bahwa rencana pembangunan PBC (PBC) merupakan mega proyek yang sangat besar, tentunya kegiatan ini akan sulit terwujud apabila semua komponen dan stakeholders yang ada tidak memiliki pandangan dan visi yang sama dalam mendorong terealisasinya rencana ini. Rencana Pembangunan Padang Bay City pada intinya mempunyai maksud dan tujuan antara lain mempercepat pertumbuhan pembangunan infrastruktur kota pada kawasan pesisir pantai Padang, menjadikan Padang Bay City sebagai salah satu Land Mark Kota Padang yang merupakan pintu gerbang dan tujuan wisata Sumatera Barat. Hal ini diharapkan akan mampu menjadi lokomotif pergerakan ekonomi riil serta penyediaan lapangan kerja baru, selain itu juga sebagai salah satu upaya prefentif penanganan resiko bencana gempa dan tsunami (Vertical Mitigation) bagi masyarakat di wilayah pesisir Pantai Padang. Studi ini tentunya juga merupakan sebuah sosialisasi yang sangat bernilai dalam menggali partisipasi masyarakat serta implikasinya terhadap lingkungan sekitar rencana pembangunan Padang Bay City (PBC). Akhirnya kami atas nama Pemerintah Kota Padang sangat bersyukur dan berterima kasih atas dilakukannya kajian ini. Kami berharap, hasil kajian ini dapat dijadikan referensi sebagai tindak lanjut dalam pengambilan keputusan yang lebih teknis terhadap rencana Pembangunan Padang Bay City (PBC) kedepan.

Walikota Padang

Drs. FAUZI BAHAR, M.Si

Kata Pengantar

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Penyampaian gagasan rencana pembangunan Padang Bay City (PBC) merupakan tahap awal penjabaran rencana penataan kawasan pantai Padang yang telah diwacanakan di dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Kota Padang. Untuk memperoleh gambaran tentang kelengkapan unsur perencanaan, dicoba untuk menerapkan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) sebagai instrumen, dengan harapan dapat memberikan masukan untuk proses pengambilan keputusan dan pembuatan rencana pembangunan Padang Bay City (PBC) yang akan mencakup reklamasi serta pembuatan marina di muara Sungai Batang Arau dan restorasi bangunan gudang di kawasan kota lama. Kompleksitas interaksi antara keberadaan penduduk atau pemukiman , kegiatan ekonomi dan rencana pembangunan PBC memerlukan suatu kajian yang lebih komprehensif dan strategik, untuk

Kajian Lingkungan Hidup Strategis Padang

meningkatkan kepedulian serta kesadaran terhadap masalah dan data terkait dampak lingkungan yang potensial muncul, dan memberi kesempatan terjadinya dialog antar lembaga tentang isu - isu tersebut, dengan harapan diperoleh suatu rencana pembangunan yang terinformasi dengan benar (well-informed) dan partisipatif. Hal ini tidak mungkin dicapai hanya dengan AMDAL, rencana PBC memerlukan kajian yang lebih maju dari AMDAL, yaitu pendekatan KLHS atau Strategic Environmental Assessment (SEA). KLHS ini merupakan studi pendahuluan (pilot study) yang akan bermanfaat bukan saja bagi Pemerintah Kota Padang, namun juga bagi Pemerintah Pusat, karena pembelajaran yang diperoleh selama proses fasilitasi PBC telah memberikan kontribusi pemikiran di dalam proses penyusunan kerangka kebijakan KLHS di tingkat nasional. Diharapkan laporan ini dapat mendukung kedua tujuan tersebut. KLHS semestinya bersifat dinamis dan terus disempurnakan dangan data dan informasi baru. Indikasi berhasil atau gagal studi pilot ini akan dapat dilihat dari apakah ada tidak lanjut sesudah proyek empat bulan ini berakhir di akhir Nopember 2007. Bantuan teknis selama empat bulan ini lebih bersifat advisory, memberikan wacana dan pembelajaran bersama tentang pendekatan baru KLHS, sehingga akhir kerja bersama empat bulan menjadi awal dari kerja Pemerintah dan Pemerintah Daerah untuk menindak lanjutinya menjadi suatu rencana kerja terintegrasi. Selanjutnya, masih banyak aplikasi lain dari KLHS yang perlu dipertimbangkan untuk Pemerintah Propinsi, Kabupaten, dan Kota, misalnya, untuk revisi tata ruang, rencana pembangunan pesisir, rencana pengelolaan daerah aliran sungai, RPJM dan kemungmungkinan pada saat alokasi APBD. Apresiasi kami kepada Sdr. Walikota Padang beserta jajarannya atas kerjasama selama ini, juga kepada Kementerian Lingkungan Hidup, dan Pemerintah Kerajaan Denmark yang memungkinkan pilot ini terlaksana, serta peran Tim Kecil KLHS PBC yang dibentuk oleh Sdr. Walikota Padang telah menjadi motor kegiatan penyusunan KLHS ini. Semoga pembelajaran dari KLHS~PBC ini dapat bermanfaat dan digunakan dalam menangani isu-isu pembangunan lainnya ke depan.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah, Departemen dalam Negeri

H. SYAMSUL A. RIVAI

Kajian Lingkungan Hidup Strategis Padang

Kajian Lingkungan Hidup Strategis Padang

Daftar isi

Kata Sambutan .................................................................................................................. 1 Kata Pengantar .................................................................................................................. 1 Daftar Kata Teknis dan Singkatan.......................................................................................... 5 Ringkasan Eksekutif ............................................................................................................ 8 Pendahuluan ...................................................................................................................... 8 Institusi KLHS ................................................................................................................. 8 Pemahaman tentang KLHS ................................................................................................ 8 Metode KLHS .................................................................................................................. 9 Hasil KLHS ...................................................................................................................... 9 Pendahuluan ..................................................................................................................... 12 KLHS - Antara Konsep dan Praktek ....................................................................................... 13 3. Maksud, Tujuan dan Hasil yg Diharapkan ........................................................................... 16 3.1 Maksud .................................................................................................................. 16 3.2 Tujuan ................................................................................................................... 16 3.3 Hasil Laporan yang Diharapan .................................................................................... 16 3.4 Lingkup Bahasan ..................................................................................................... 17

4. Metode Kajian dan Format Laporan ................................................................................... 17 4.1 Pengumpulan Data ................................................................................................... 17 A. Data Sekunder .................................................................................................... 17 Data Primer................................................................................................................. 18 4.2 Evaluasi Lingkungan .................................................................................................. 20 I. Interpretasi............................................................................................................ 20

II. Overlay ................................................................................................................. 20 III. Bagan ................................................................................................................... 20 4.3 Sarana prasarana pelaksanaan KLHS ........................................................................... 22 4.4 Jadwal Pelakasanaan dan Tahapan Kegiatan ................................................................. 22 4.5 Format dan Fungsi Laporan ........................................................................................ 24 5. Tinjauan Kebijakan Pembangunan Kota dan Kawasan Pantai ................................................ 26 5.1 Landasan Hukum dan Peraturan yang Berkaitan ............................................................ 26 5.2 Rencana Pembangunan Jangka Panjang ....................................................................... 27 5.3 Rencana Pembangunan Jangka Menengah .................................................................... 29 5.4 Rencana Tata Ruang Wilayah Kota dan Rencana Detail Ruang Kota ................................... 31 5.5 Rencana Unsur Kota ................................................................................................. 32 5.6 Gagasan Rencana Reklamasi Padang Bay City............................................................. 36 6. Rona Lingkungan Hidup dan Permasalahannya .................................................................... 40 6.1 Rona Lingkungan Wilayah Kota .................................................................................... 40 Lingkungan Fisik Alami .................................................................................................. 40 Lingkungan Sosekbud ................................................................................................... 44

Kajian Lingkungan Hidup Strategis Padang

6.2 Rona Lingkungan Kawasan Pantai ............................................................................... 48 A. Lingkungan Fisik Alami ............................................................................................ 48 6.3 Permasalahan Lingkungan dan Perairan Laut................................................................. 51 7. Penilaian Implikasi Pembangunan PBC Melalui Kajian Strategis .............................................. 53 7.1 Komponen Kegiatan yang Potensial Merubah Lingkungan ................................................ 53 7.2 Komponen Lingkungan yang Potensial Terkena Dampak Pembangunan PBC ....................... 54 7.3 Matriks Penilaian Implikasi Lingkungan Untuk KLHS Padang Bay City ............................... 55

7.4 Implikasi Kegiatan Strategis Terhadap Komponen Lingkungan Hidup ................................. 58 7.5 Persepsi Masyarakat................................................................................................ 59 7.6 Isu Pokok (Strategis) dari Penilaian Dampak Lingkungan dari Pembangunan PBC ................ 64 8. Menuju Mitigasi dari Masalah Pokok Lingkungan .................................................................. 65 8.1 Mitigasi Dampak Terhadap Keberadaan Padang Bay City ................................................. 66 8.2 Mitigasi Dampak Akibat Kegiatan Padang Bay City........................................................... 67 8.3 Alternatif untuk PBC ................................................................................................. 71

9. Kesimpulan dan Saran Tindak .......................................................................................... 71 9.1 Kesimpulan ............................................................................................................. 71 9.2 Pelajaran dari Pengalaman ~ Lessons Learned ............................................................... 72 9.3 Saran Tindak ........................................................................................................... 73 Daftar Pustaka .................................................................................................................. 75

Daftar Kata Teknis dan Singkatan


Adat Adat istiadat AMDAL Badan Balai BANGDA Customary Law Norms of customary law Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Environmental Impact Assessment) Agency Institute Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah / Directorate General for Regional Development, Ministry of Home Affairs Badan Perencanaan Pembangunan Nasional / National Planning Agency Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Regional Planning Board) Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Regional Agency for Environmental Management) Head of District Daerah Aliran Sungai / watershed, river basin Critical Environmental Pressure Point(s) Departemen Dalam Negeri (Ministry of Home Affairs, MOHA)

BAPPENAS BAPPEDA BAPEDALDA

Bupati DAS CEPP DEPDAGRI

Kajian Lingkungan Hidup Strategis Padang

DG Dinas Dit DitJen DirJen EA EIA FGD GIS GPS Kabupaten Kecamatan Kepmen Keppres KLHS Masyarakat Menteri LSM MDG NGO NRMdf

Directorate General Public Service Delivery Institution Directorate Directorate General Direktorat Jenderal / Director General Executing Agency Environmental Impact Assessment / AMDAL Focus Group Discussion / Wacana dengan Golongan Tertentu Geographic Information System / Sistem Informasi Geografis Global Positioning System / Sistem Penentu Posisi Global District Sub-District Keputusan Menteri (Ministerial Decision) Kaputusan Presiden (Presidential Decision) Kajian Lingkungan Hidup Strategis / Strategic Environmental Assessment the People / the Community Minister Lembaya Swadaya Masyarakat / NGO Millennium Development Goal Non-Government Organization Natural Resource Management in A Decentralized Framework / Pengelolaan Sumber Daya Alam dalam kerangka desentralisasi (Proyek Dirjen Bina Bangda - ADB) Padang Bay City Pemerintah Kota / City of Padang Government Peraturan Daerah Peraturan Pemerintah (Government Regulation) (Balai) Pengelolaan Sumber Daya Air / Water Resource Management (agency) Centre (national) Regional (Province, District) relations Centre Rencana Strategis / Strategic Plan Rencana Strategis Daerah / Strategic Regional Plan

PBC Pemerintah Kota Perda PP PSDA pusat-daerah pusat Renstra Renstrada

Kajian Lingkungan Hidup Strategis Padang

RPJM RPJP RTRWD RTRWN SDA SEA SENRA Sub-dit Tim KLHS

Rencana Pembangunan Jangka Waktu Menengah / Medium Term Development Plan Rencana Pembangunan Jangka Waktu Panjang / Long-term Development Plan Rencana Tata Ruang Wilayah Daerah / Regional Spatial Plan Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional / National Spatial Plan Sumber Daya Alam / Natural Resources Strategic Environmental Assessment / Kajian Lingkungan Hidup Strategis - KLHS Strategic Environmental and Natural Resource Assessment Sub-direktorat / Sub-Directorate Tim dibentuk SK Wali Kota untuk pengelolaan KLHS PBC / Team formed by the Mayor to manage SEA for PBC Tim dibentuk Sekretariat Daerah untuk Aktif Implementasi KLHS PBC / Team formed by the Regional Sekretariat to actively implement SEA for PBC Terms of Reference / kerangka acuan Tugas Pokok dan Fungsi / Main Duties and Functions of a government institution Upaya Pengelolaan Lingkungan Upaya Pemantauan Lingkungan Udang-Udang / Act of Parliament

Tim Kecil KLHS

ToR Tupoksi UKL UPL UU

Kajian Lingkungan Hidup Strategis Padang

Ringkasan Eksekutif Pendahuluan


Menyimak peristiwa penting di dalam sejarah kota-kota pesisir di Indonesia, kota Padang mempersiapkan rencana pembangunan jangka panjang sebagai kota pantai utama di kawasan pantai Barat Sumatera. Salah satu wacana yang sedang ditempuh adalah menyusun rencana pengembangan kawasan pantai Padang melalui teknik reklamasi yang akan dilakukan dengan pendekatan kemitraan dengan swasta. Mempertimbangkan dampak penting yang potensial terjadi yang tak dapat dihindarkan dari mega proyek itu, beberapa pengamat mengkhawatirkan manfaat proyek tersebut. Menyadari hal ini, maka pada bulan Mei 2007, pemerintah daerah kota Padang berkonsultasi kepada Direktorat Tata Ruang dan Lingkungan, Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah (Dirjen Bina Bangda) pada Departemen Dalam Negeri untuk meminta pendapat dan masukan lebih lanjut. Pada saat itu disetujui bahwa rencana untuk membangun PBC akan menjadi subyek KLHS sehingga lewat identifikasi dan pengukuran beberapa titik tekanan lingkungan penting, termasuk di dalamnya persepsi para pemangku kepentingan akan dapat memberikan informasi yang lebih baik dan mendalam menyangkut rencana ini. Dirjen Bina Bangda dan Pemerintah Daerah Kota Padang telah bekerjasama selama empat bulan terakhir ini, untuk meletakkan dasar dari proses Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) untuk meneruskan sampai didapatkan persetujuan untuk rencana pembangunan Padang Bay City (PBC). Dengan demikian, kebutuhan akan dorongan permintaan dari pemerintah daerah kota Padang akan tercapai, sementara itu berbagai pengalaman dari proyek pilot ini akan menjadi muatan dalam pekerjaan pembentukan kerangka aturan kerja pada Dirjen Bina Bangda dan Kementrian Lingkungan Hidup.

Institusi KLHS
Suatu langkah awal yang penting adalah masalah kelembagaan, sebagai contoh adalah pembentukan Tim Kecil KLHS yang bekerja dengan dinamis di lingkungan Pemerintah Kota Padang. Tiga orang konsultan Dirjen Bina Bangda bekerja secara langsung dengan Tim tersebut. Tim juga menentukan tempat rapat reguler dan daerah kerja. Pada tahap awal penyusunan KLHS ini, pendekatan yang disarankan Tim Kecil, yakni fasilitasi yang diberikan oleh Tim Kecil adalah bentuk pendekatan yang paling sesuai penyusunan KLHS. Namun untuk selanjutnya perlu dipikirkan bentuk kelembagaan yang lebih terstruktur.

Pemahaman tentang KLHS


Salah satu tantangan yang paling besar (seperti berupa kasus yang terjadi dimanapun di Indonesia saat KLHS diperkenalkan) adalah penyampaian konsep dan cara kerja KLHS, selalu disama-artikan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). Memang benar, ada beberapa istilah dalam KLHS dapat juga ditemukan dalam AMDAL. Pesan yang paling penting adalah, bahwa AMDAL merupakan kajian kelayakan lingkungan yang dikaitkan perizinan; tanpa AMDAL suatu proyek besar tidak dapat dilaksanakan (tidak dapat disangkal lagi, suatu saat di masa mendatang berbagai komponen proyek PBC akan harus diserahkan kepada AMDAL) ini adalah salah satu instrument (alat) pembuat keputusan (decision making). Sementara itu, KLHS adalah suatu alat bantu perumusan keputusan (decision aiding), untuk meningkatkan pengetahuan mengenai suatu rencana (atau program atau aturan kerja) tentang dampak lingkungan yang besar dan penting, melihat pada legitimasi sosial melalui pengikatan dengan berbagai unsur stakeholders dan memerlukan dialog yang terus menerus. Hal ini juga memerlukan diskusi mendalam antara pemerintah dengan investor karena kelayakan akan mempengaruhi penentuan keputusan suatu proyek, berhenti atau dilanjutkan. KLHS juga melihat pada isu-isu lingkungan secara kumulatif dan lintas bidang yang belum dijangkau oleh AMDAL untuk proyek-proyek individual. Semua itu dapat menjadi kontribusi kepada AMDAL dengan menyediakan masukan untuk spesifikasi teknis yang sesuai dan untuk informasi selama fase

Kajian Lingkungan Hidup Strategis Padang

penentuan lingkup kajian (scoping). Hal penting lain adalah KLHS dapat menarik minat para investor yang perduli lingkungan atau green investor .

Metode KLHS
Pendekatan KLHS di Padang terdiri dari beberapa langkah, seperti di bawah ini. Identifikasi dari isu PBC, yaitu berupa hasil pertemuan antara Pemerintah Kota dan Dirjen Bina Bangsa. Penyaringan (Screening). Suatu jawaban langsung terhadap pertanyaan Apakah sebuah KLHS itu dibenarkan? Kompleksitas, lintas bidang dan efek-efek kumulatif dari PBC sangat kuat mendebatkan sebuah KLHS. Penentuan luas kajian (Scoping). Sebuah pengamatan awal akan dampak lingkungan sebagai topik diskusi dengan Tim Kecil. Keputusan yang pasti tentang daerah di bawah naungan PBC, misalnya saja sebuah proyek reklamasi, pembangunan sebuah marina yang berbatasan pada sungai Batang Arau dekat dengan mulut sungai tersebut dan restorasi gedung-gedung tua yang berada di sepanjang sungai untuk kepentingan komersil, semua bagian dari sebuah rencana yang terintegrasi belum lagi didapatkan formulasinya. Penilaian Partisipatif Dampak Lingkungan dari Rencana Pembangunan PBC. Menilai dampak lingkungan yang potensial dari PBC dilihat dari dua sudut.

Pertama, analisa tim terhadap berbagai bentuk data, seperti misalnya peta-peta tua dan terkini, foto-foto tua dan terkini, dan dokumen-dokumen pembangunan untuk Pemerintah Kota,
sebagaimana juga sektor individual. Susunan dari variabel-variabel lingkungan dicatat dan diprioritaskan.

Kedua, hasil-hasil tersebut kemudian dimodifikasi menurut persepsi pihak yang berkepentingan (stakeholders) untuk membuat satu daftar isu-isu pokok lingkungan untuk diskusi lebih lanjut dengan para pemegang saham. Persepsi dari para pemegang saham dinilai melalui sebuah survei dari 10 orang pemegang saham kunci, wawancara secara individu dan Diskusi Kelompok Terfokus (Focus Group Discussion) dengan pakar dari universitas dan lembaga non pemerintah (NGO), sebagaimana juga data sekunder seperti kumpulan dari kliping surat kabar.

Hasil KLHS
Hasil pendekatan ini adalah untuk mengidentifikasi isu-isu utama lingkungan seperti di bawah ini untuk dipecahkan untuk rencana pembangunan PBC. Karena KLHS adalah suatu proses yang dinamis, iteratif dan partisipatif, maka daftar berikut ini dapat dimodifikasi sebagai bentuk hasil dari dialog lintas pemangku kegiatan dan Pemerintah Kota. REKLAMASI PANTAI Abrasi Pantai. Data benthic diperlukan untuk membentuk sebuah model untuk menilai bentuk yang berbeda-beda dan kondisi-kondisi lain dari PBC pada daerah pesisir pantai yang terkikis dan bertambah. Analisa dari peta dan foto-foto tua mengindikasikan erosi pada pantai. PBC secara parsial bertumpang tindih dengan area yang terkikis tersebut. Drainase, Sanitasi dan Banjir. Potensi gangguan drainase di ujung kota (sebagian dapat ditanggulangi dalam pembuatan spesifikasi pembangunan; lihat dibawah) dengan implikasi untuk sanitasi serta lebih memungkinkan banjir. Lagi pula, PBC akan memperpanjang alur Batang Arau dan dengan begitu berpeluang meningkatkan sedimentasi di ujung sungai serta kemungkinan terjadinya banjir. Kebutuhan Air. PBC akan mengkonsumsi air dalam jumlah yang besar. Apakah PDAM memiliki kemampuan untuk menyediakannya? Jika misalnya pemenuhan kebutuhan air ini dengan cara mengeksploitasi air tanah (lewat sumur baru), akibat besarnya kebutuhan air itu tentu memiliki resiko lain, misalnya menurunnya tingkat muka air tanah sehingga akan mempercepat masukknya air laut (saline intrusion). Lalu Lintas. Kegiatan di dalam areal PBC akan meningkatkan volume lalu lintas kendaraan; karena itu harus sejak dini dipertimbangkan rencana peningkatan kapasitas jalan dan pola transportasi di kawasan pantai sebagai bagian dari sistem transportasi kota Padang.

Kajian Lingkungan Hidup Strategis Padang

Kekayaan Bentang Budaya. Memelihara keselarasan bentang alam dengan bentang budaya kawasan Muaro. Perpaduan kawasan kota lama Padang dengan ekosistem hutan pada daerah Gunung Padang gedung-gedung tua dan dengan aktor-aktor ekonomis yang ada, semuanya membentuk suatu keanggunan dimana PBC harus memperhitungkan secara arsitektual. Tentu saja, nilai ini akan bervariasi tergantung daripada persepsi turis lokal dan luar negeri. Kompetisi Ekonomi. Salah satu dari pertimbangan Pemerintah Kota adalah pusat-pusat jasa perdagangan yang baru yang akan beroperasi di PBC potensial mengalahkan usahausaha dari toko-toko kecil yang sudah lama ada. Terlepas dari pemberian kompensasi kepada mereka yang daerah usahanya secara langsung bertumpang tindih dengan PBC, sangat sulit untuk meyakini apa yang akan menjadi hasilnya. Hal ini akan bergantung kepada skala dari toko-toko PBC dan apakah banyak atau tidak pengunjung ke landmark (tanda pengenal) PBC. MARINA DI MUARA Pencemaran Sungai. Pencemaran sungai Batang Arau yang akan dijadikan marina mengancam rencana ini. Pemilik yacht tidak begitu menghawatirkan keruhnya air sungai, namun tentu tidak terhadap suspensi sampah domestik di air. Pemindahan Usaha Kapal dan Penduduk Muara. Menurut peraturannya, suatu area yang diklasifikasikan sebagai marina tidak dapat digunakan untuk aktifitas lain. Para nelayan, penumpang kapal feri dan kapal-kapal kargo akan diminta pindah. Keprihatinan para nelayan adalah bahwa daerah yang diusulkan sebagai pengganti tidak memiliki fasilitas untuk pendinginan dan transportasi untuk tangkapan mereka. Perlu ditambahkan bahwa sebagian dari masalah lingkungan hidup baik internal maupun external terkait dengan PBC dapat ditanggulangi bahkan sejak awal fase pembuatan spesifikasi bangunan. Permasalahan internal mencakup pentingnya aspek kedalaman tiang pancang konstruksi, ciri-ciri pertanahan, drainase dikaji dan dibuat spesifikasi bangunan yang dapat bertahan pada kondisi tersebut. Sedangkan aspek eksternal adalah semua faktor di luar PBC seperti abrasi pantai, dan pemindahan penduduk. Kedua aspek ini harus dapat dievaluasi oleh proses AMDAL. Arahan Mitigasi Meskipun penekanan utama KLHS adalah penilaian, beberapa upaya-upaya mitigasi dampak, baik upaya pencegahan maupun penanggulangan gangguan lingkungan dan atau kerugian lingkungan perlu pula dipikirkan secara mendalam. Memang bagian dari penentuan apakah sebuah parameter merupakan suatu pengukuran strategis adalah derajat dimana suatu kelonggaran itu memungkinkan dan efektif biayanya. Keringanan meliputi skenario yang berbeda-beda dengan dampak yang bervariasi pula, seperti misalnya daerah asal untuk PBC lebih ke arah utara atas daerah pesisir pantai, atau suatu struktur reklamasi yang lebih sederhana. Kesimpulan A. Hal-Hal yang Telah Dipelajari dari Pengalaman Implementasi KLHS Hal-hal berikut ini timbul dari implementasi KLHS untuk PBC: Pengumpulan data instansional dan penelusuran materi laporan-laporan studi yang penting yang selama ini dilakukan oleh Pemerintah Kota Padang memberi informasi yang sangat bernilai, namun belum banyak didayagunakan. Salah satu manfaat dari KLHS adalah mengumpulkan data yang relevan dalam satu tempat, dalam hal ini Tim Kecil data (database) dapat di akses kapan saja isu PBC akan dibicarakan dan untuk merespon keprihatinan publik. Kunci dari kesuksesan KLHS adalah rasa memiliki pada orang-orang yang mengimplementasikannya. Akan lebih baik jika KLHS menjadi dorongan permintaan pada kasus PBC. Jika daerah merasakan keharusan itu datangnya dari Pemerintah Pusat, maka akan ada resiko bahwa hal itu akan diserahkan pada perusahaan konsultan yang menghasilkan keabsahan sosial semata. Kunci dari kesuksesan Tim Kecil bergantung pada keaktifan dan kompetensi teknis anggotanya. Dialog KLHS diharapkan dapat mengurangi konfrontasi yang telah terjadi antara pemerintah dengan pemangku kepentingan terkait PBC.

10

Kajian Lingkungan Hidup Strategis Padang

Tantangan awal dari upaya pelaksanaan KLHS adalah membedakannya dengan AMDAL atau proses kelayakan serupa. B. Rekomendasi Dinamika dan Iterasi KLHS. Jika laporan KLHS sudah diselesaikan, maka segera disusun dokumen akhirnya. Saat ini KLHS bermaksud melakukan pemutakhiran kondisi ekonomi dan bagaimanan persepsi masyarakat. Data-data lain yang belum ada seperti misalnya data benthic (yang surveinya sedang dilaksanakan oleh GTZ untuk Proyek Sistem Peringatan Dini Tsunami) dan hasil pemodelan desain PBC dapat terus melengkapi dokumen KLHS PBC itu sendiri. Sehingga batasan dari laporan akhir KLHS ini adalah hingga tersedianya versi data-clip, dan terus dapat diperbaharui dan ditambahkan seiring dengan proses PBC itu dan ketersedian data-data baru. Dialog antara eksekutif dan legislatif. Kesempatan sudah terlihat dalam dikusi KLHS, khususnya untuk PBC dan dalam aplikasi yang lebih luas, seperti RPJM, RTRWP, APBD, pembentukan daerah baru melalui penggantian daerah lama, perencanaan spatial pesisir dan rencana pengelolaan daerah aliran sungai. Dialog antar pemangku kepentingan (stakeholders). FGD harus dilakukan antar pemangku kepentingan, dialog kerja sama juga dilakukan antar pemangku kepentingan. Hal ini termasuk juga kesiapan dokumen KLHS untuk diakses oleh public, dengan tim kecil menjadi tempat penjelasan untuk informasi PBC KLHS. Peranan Tim Kecil Pada Tahap Selanjutnya. Tim Kecil harus memelihara dan mengatur dialog Masyarakat dengan dunia usaha, mengumpulkan informasi baru dan memperbaharui data laporan KLHS. Mereka juga memiliki fungsi pelatihan dan atau sosialisasi yang secara potensial penting. Pendanaan KLHS. Sebuah tanda dari komitmen pemerintah daerah kota Padang terhadap KLHS bahwa tidak ada pendanaan pendukung yang diminta dari Dirjen Bina Bangda. Tetapi di masa mendatang alokasi rencana keuangan harus dibuat. Terminologi KLHS. Salah satu halangan dalam memahami KLHS untuk mereka yang baru mengenal pertama kali mungkin adalah istilah di dalamnya. Tidak ada alasan mengapa istilah tersebut tidak dapat disebut dengan sesuatu yang lebih dikenal oleh pemerintah daerah dan komuniti selama prinsip dasarnya sama. Salah satu nama yang diusulkan adalah Penilaian Partisipatif dari Implikasi Lingkungan (PPIL) dari suatu rencana, program atau aturan kerja. Kerjasama Pusat Daerah yang Produktif. Kerjasama antara Dirjen Bina Bangda dengan PemKo Padang selama ini sangat berguna satu sama lain, dan dapat dilanjutkan, bahkan mungkin dikembangkan berdasarkan KLHS yang pelaksanaannya berdasarkan kebutuhan baik di Padang ataupun di seluruh Propinsi Sumatra Barat. KLHS telah memberikan masukan yang bernilai untuk menyempurnakan kebijakan, rencana dan program yang akan mendukung gagasan PBC, dalam hal lain ia juga telah membagi pengalaman untuk mereka yang berada pada tingkat nasional yang bekerja untuk kerangka kerja KLHS. Tidak dapat disangkal lagi sebuah buku pedoman untuk para praktisi KLHS akan sangat dihargai oleh orang-orang yang ingin menjalankan KLHS di daerah-daerah mereka sendiri.

11

Kajian Lingkungan Hidup Strategis Padang

Pendahuluan
Kota Padang serta Propinsi Sumatera Barat mempunyai peran penting dalam sejarah Republik Indonesia dari perjuangan untuk kemerdekaan, wawasan untuk pembangunan negara serta modernisasi perkotaan dengan memperhatikan lingkungan. Dewasa ini, Kota Padang punya visi pembangunan pesisir, antara lain reklamasi pantai dengan Padang Bay City (PBC). Colombijn Freek (1994) di dalam disertasinya, Paco-Paco (Kota) Padang menjelaskan hasil penelaahannya tentang pertumbuhan dan perkembangan kota Padang dari tinjauan sejarah politik dan ekonomi sejak awal abad ke 17 hingga tahun 1906. Diskripsi tersebut mengutarakan bahwa kota Padang tumbuh dan berkembang dari permukiman komunitas nelayan dan pedagang hasil bumi dan hasil tambang (emas). Pada bagian lain dijelaskan juga hal yang berkaitan dengan perencanaan kota dan pembangunan infrastruktur. Perkembangan jumlah dan sebaran penduduk yang berlangsung setelah masa kemerdekaan membawa implikasi terhadap perkembangan fisik kota, terutama ke arah utara dan timur. Sedangkan di bagian selatan dan barat terbentang Gunung Padang dan perairan laut yang merupakan kendala fisik bagi pengembangan kota. Pemerintah dan masyarakat menghadapi beberapa masalah di dalam penerapan rencana pembangunan kota sehingga masih relatif banyak bagian-bagian kota yang terbangun belum sesuai dengan peruntukan tanah yang ditetapkan di dalam rencana kota. Pengembangan ruang kota berdasarkan fungsi masing-masing kawasan pengembangan terus diupayakan oleh pemerintah, diantaranya pengembangan kawasan Pantai Padang. Baik di dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP), Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) maupun Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) telah dinyatakan bahwa kawasan Pantai Padang akan dikembangkan sebagai kawasan wisata terpadu. Agar tidak membebani anggaran belanja pembangunan daerah (APBD) maka pengembangan kawasan ini akan dilaksanakan melalui pendekatan Public Participation Partnership (PPP). Ditinjau dari aspek cultural landscape (warisan budaya kota ~ bentang budaya) dan natural landscape (geomorfologi kawasan pantai) maka kawasan pantai ini tergolong prime land yang memiliki nilai ruang yang sangat baik. Untuk itu perlu dilakukan pengenalan/ promosi potensi-potensi pengembangan kawasan pantai ini. Untuk menyusun dan mempersiapkan bahan-bahan promosi dimaksud, perlu dilakukan kajian-kajian yang memikirkan prinsip pembangunan ekonomi, Sosial dan Lingkungan Hidup, yang semua terpadu menjadi prinsip pembangunan berkelanjutan. Penataan kembali kawasan pantai melalui pendekatan reklamasi selain menuntut investasi finansial yang besar juga memerlukan dukungan teknologi tinggi sehingga potensial menimbulkan dampak besar dan penting. Kajian dampak penataan pantai hendaknya jangan bertumpu semata-mata pada kajian AMDAL yang merupakan bagian dari perizinan. Pada proses penyusunan Kerangka Acuan AMDAL, pendekatan untuk pelingkupan (scoping) materi kajian dan wilayah kajian selalu dihadang oleh dana yang terbatas, waktu yang terbatas dan jumlah personil yang terbatas sehingga hasil kajiannya selalu tidak efektif. Selain itu, metoda pendugaan dampak lingkungan selalu terfokus pada kegiatan-kegiatan yang tercantum di dalam diskripsi proyek. Untuk mengkaji lebih dini implikasi sesuatu keputusan sebelum penyusunan AMDAL, sering dilakukan kajian yang sifatnya terbuka, yakni Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS). Kini beberapa negara sering menyusun KLHS sebagai salah satu instrumen untuk mengkaji secara sistematis implikasi penerapan kebijakan, rencana dan program pembangunan tata ruang dan atau sektor terhadap lingkungan hidup agar diperoleh gambaran kegiatan strategis yang harus dipenuhi agar gagasan pembangunan mencapai sasaran pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Mengacu kepada penjelasan di atas, maka dapat dikatakan bahwa KLHS bukan kajian yang ditujukan untuk menyetujui dan atau menolak suatu rencana proyek, bukan kajian AMDAL dan bukan bagian dari proses perizinan, tapi dokumen kajian lingkungan yang secara kontinu dimutakhirkan dan dijabarkan agar sahih sebagai arahan kegiatan lanjutan yang lebih operasional. Terbatasnya informasi dan argumentasi serta pentingnya strategi pemanfaatan kawasan pantai Padang pada masa yang akan datang mendorong Pemerintah Kota melakukan konsultasi ke berbagai pihak, termasuk ke Departemen Dalam Negeri dan Kementerian Lingkungan Hidup. Konsultasi dimaksud menyarankan dilakukannya penyusunan KLHS untuk gagasan penataan Kawasan Pantai Padang. KLHS Gagasan Penataan Kawasan Teluk Padang dilaksanakan atas kesepakatan Walikota Padang, Kementerian Lingkungan Hidup dan Departemen Dalam Negeri dan DANIDA.

12

Kajian Lingkungan Hidup Strategis Padang

KLHS - Antara Konsep dan Praktek


Tantangan. Penyampaian konsep dan praktek KLHS menghadapi dua tantangan. Pertama, persepsi keliru bahwa KLHS semacam Analisa Dampak Lingkungan (AMDAL). Kedua, karena belum diatur oleh kebijakan, dan belum ada pedoman atau aturan main resmi, KLHS meragukan tentang apa harus dikerjakan, apa yang harus diamati dan dikaji. Sebenarnya, KLHS di atur oleh prinsipnya yang terlihat dibawah bukan satu daftar umum tentang apa yang harus diamati. Pengamatan dan kajian diputuskan oleh pelaksana KLHS, berikut keterangan lebih lengkap. Pertama, perlu dirumuskan definisi negative sebab sering kali beberapa orang yang pertama kali mendengar istilah KLHS menduga itu sejenis AMDAL yang akan memperlambat proses pembangunan karena (dianggap) menambah birokrasi dan biaya evaluasi kelayakan. Sedangkan sesungguhnya, KLHS Bukan evaluasi daerah dari pusat ~ KLHS PBC demand-driven (melainkan berdasarkan permintaan dan kebutuhan daerah) Bukan AMDAL ~ Tidak ada kaitan dengan AMDAL Proyek maupun program dulu untuk AMDAL Regional Bukan proses perizinan atau kelayakan ~ hasilnya tidak meresmikan apapun Bukan ancaman pembangunan daerah ~ KLHS menjamin pembangunan daerah karena sebagai safeguard, merangsang pertimbangan masalah lingkungan baik oleh pemerintah maupun masyarakat dan begitu menyempurnakan proses pembuatan rencana, program atau kebijakan Bukan mekanis mengambil keputusan langsung (decision-making) ~ sedangkan memberdayakan proses pemngambilan keputusan kebijakan, program atau rencana (decisionaiding)

Wilayah KLHS biasanya jauh lebih luas daripada AMDAL yang pada umumnya focus pada proyek. Oleh karena itu, KLHS dapat mempertimbangkan aspek, 1. Lintas wilayah 2. Lintas sektoral 3. Dampak akumulatif 4. Dampak sampai jauh

13

Kajian Lingkungan Hidup Strategis Padang

Kedua, prinsip prinsip KLHS adalah kekuatannya, yang membuatnya adaptif dan tepat tujuan. Kajian Lingkungan Hidup Strategis, KLHS (Strategic Environmental Assessment, SEA), adalah suatu proses kajian yang sistematis dan partisipatif untuk mengevaluasi konsekwensi suatu kebijakan, rencana atau program yang ada dampak lingkungan. Kalau sempat menilai dampak lingkungan dari yang ada kaitan dengan implementasi kebijakan (K), rencana (R) atau program (P) baru, dan hasilnya dibahas bersama oleh semua pihak yang berkepentingan, maka K, R atau P tersebut akan lebih efektif dan lebih mungkin dihormati masyarakat. Berdasarkan keterpaduan antara penilaian dampak lingkungan menurut data yang tersedia dan observasi di lapangan, dengan pertimbangan persepsi masyarakat tentang kebijakan program atau rencana baru, dihasilkan suatu daftar variable atau parameter yang pokok atau strategis. Oleh karena itu, KLHS mempunyai legitimasi sosial. Terus disempurnakan sampai diserahkan kepada kelembagaan yang menyiapkan kebijakan, program atau rencana baru. Sesuai dengan keanekaan instrumen kajian pengelolaan lingkungan, banyak negara telah menerapkan KLHS, namun dalam implementasinya di banyak negara itu, pendekatan yang digunakan amat beragam, bahkan namanya pun tidak selalu sama. Ada KLHS yang hanya mempertimbangkan aspek lingkungan, ada yang mencakupi berbagai aspek ekonomi, dan ada yang diantaranya. Ada sistim KLHS yang wajib, ada yang sukarela. Ada yang lebih kuantitatif, ada yang lebih deskriptif. Jangka waktu pelaksanaan bisa dari tiga hari sampai dengan tiga tahun. Belum ada suatu definisi dan praktek standar KLHS, baik diluar negeri, maupun di Indonesia. Di Indonesia pula, akhir tiga tahun ini ada uji coba KLHS dengan pola yang beraneka ragam, yaitu, Di Nangroe Aceh Darussalam (NAD), 2005 SENRA (Bappenas dengan CIDA) untuk Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi dari Dampak Tsunami, 2006 CEPP (Bappenas dengan UNDP) identifikasi tekanan lingkungan yang kritis. 2006 Penataan ruang sungai dimana padat Galian C di Kreung Aceh. 2007 Proyek ESP di Ciayumajakuning (KLH dengan Danida) untuk rencana pengelolaan daerah aliran sungai lintas Kabupaten/Kota (Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan) yang bersumber di Gunung Ciremai. 2006 Proyek NRMdf di Propinsi Kalimantan Timur (Dirjen Bina Bangda dengan ADB) menilai alternatif tata ruang, versi propinsi dan versi Departemen Kehutanan.

Pada Proyek ESP 1 (2007) dan 2 (2008 - 2013), Kementrian Lingkungan Hidup (KLH) lagi mengkaji kebijakan yang tepat untuk mendukung KLHS di Indonesia tanpa membekukan daya adaptasinya dan relevansinya untuk daerah. Bappenas menyusun pedoman untuk persiapan RPJM. Prinsip KLHS. United Nation Environmental Programme (UNEP) 2006 menjelaskan beberapa ciri yang diharapkan dari proses penyusunan KLHS. Ciri-ciri yang berikut menunjukkan daya adaptif dari KLHS, penyesuaian dengan kebutuhan serta aspek partisipasi pihak yang berkepentingan. 1. Lingkup materi dan wilayah kajian dapat disesuaikan dengan kebutuhan 2. Tingkat kedalaman kajian dapat disesuaikan dengan tujuan yang akan dicapai 3. Didasarkan pada prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan 4. Bersifat komprehensif 5. Relevan untuk perumusan keputusan 6. Dapat diintegrasikan ke dalam berbagai produk kebijakan 7. Seluruh stakeholders dapat berpartisipasi di dalam kajian 8. Pembiayaan sangat efektif Menurut International Association for Impact Assessment (IAIA 2002), prinsip prinsip dasar dari pelaksanaan KLHS adalah yang berikut (lihat Box 1),

14

Kajian Lingkungan Hidup Strategis Padang

1. Focussed ~ terfokus, terarah ke tujuan, yaitu, evaluasi atau pembuatan kebijakan, rencanca atau program baru 2. Integrated ~ terpadu, mencakupi baik pengamatan parameter maupun aspek ekonomi yang terkait 3. Accountable ~ akuntabel melalui proses yang transparan 4. Participative ~ partisipatif, melibatkan lebih banyak pemangku kepentingan (stakeholders) 5. Iterative ~ kajian di-ulangi terus berdasarkan informasi dan data baru 6. Sustainability-led ~ diarahkan sasaran berkelanjutan

Definisi KLHS. Suatu definisi KLHS yang cukup terkenal dari Sadler dan Verhem (1996 cit. Adiwibowo 2007) adalah, KLHS adalah proses sistematis untuk menjamin bahwa konsekuensi atau dampak lingkungan yang timbul akibat suatu usulan kebijakan, rencana, atau program telah dipertimbangkan dan dievaluasi sedini mungkin dalam proses pengambilan keputusan, paralel dengan pertimbangan sosial dan ekonomi. Untuk rencana pembangunan PBC, definsi KLHS disesuaikan dengan tujuan sebagai berikut, KLHS adalah proses sistematis untuk menjamin bahwa dampak lingkungan yang timbul akibat pembangunan PBC, telah dipertimbangkan dan dievaluasi sedini mungkin dalam proses pengambilan keputusan tentang pembuatan rencana resmi pembangunan PBC, paralel dengan pertimbangan sosial dan ekonomi. Ada lima komponen dari proses KLHS untuk rencana pembangunan PBC. 1. Pengamatan variabel lingkungan hidup terkait dengan kemungkinan dampak dari PBC, serta usulan mitigasinya (sustainability-driven) 2. Pertimbangan persepsi masyarakat (accountable) 3. Keterpaduan antara 1 dan 2 untuk memperoleh penilaian masalah strategis ttg dampak potensil dari pembangunan PBC (integrated) 4. Menginformasikan proses pembuatan rencana resmi untuk pembangunan PBC cukup lama sebelumnya. 5. Disempurnakan terus berdasarkan data dan informasi baru (iterative)

Manfaat Lain dari KLHS. Kebijakan pembangunan dan atau pemanfaatan sumber daya alam yang didukung dengan KLHS yang melibatkan masyarakat akan menjadi bahan pertimbangan positif dari green investor (investor perduli lingkungan). KLHS dapat mendukung AMDAL dengan menyediakan data pada fase perlingkupan. Proses membuat rancangan spesifikasi bangunan PBC juga dimantapkan oleh hasil KLHS. Di bagian lain, penyusunan KLHS untuk menguji rumusan kebijakan merupakan bukti bahwa Pemerintah (Pusat, Kabupaten dan atau Kota) perduli terhadap perlindungan lingkungan hidup.

15

Kajian Lingkungan Hidup Strategis Padang

3.

Maksud, Tujuan dan Hasil yg Diharapkan

3.1

Maksud

Maksud kegiatan adalah menyusun suatu KLHS sebagai untuk memantapkan proses pembuatan rencana pembangunan PBC. Pelaksanaan KLHS dimaksud dilakukan secara bersama-sama oleh Tim Studi (terdiri dari tiga konsultan Dirjen Bina Bangda) bersama Tim Kecil yang mewakili Pemerintah Kota Padang.

3.2

Tujuan
melakukan identifikasi keselarasan rumusan kebijakan penataan Pantai Kota Padang dengan kebijakan sektor terkait lainnya baik dalam jangka panjang maupun jangka menengah. melakukan identifikasi rona lingkungan terutama di sekitar lokasi rencana penataan pantai; menelusuri kebutuhan-kebutuhan program dan rencana kegiatan yang perlu dilakukan sebagai upaya mitigasi yang diisyaratkan harus dilakukan apabila gagasan penataan pantai akan dilanjutkan ke tingkat kajian kelayakan ekonomi, kelayakan teknik dan atau kelayakan lingkungan serta AMDAL.

Tujuan utama penyusunan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) ini adalah:

Kegunaan hasil KLHS yang dilaksanakan secara bersama adalah diperolehnya laporan yang dapat digunakan oleh berbagai pihak, baik Pemerintah Kota, Dunia Usaha dan Unsur Masyarakat sebagai alat bantu untuk mengarahkan kegiatan lanjutan. Selanjutnya, KLHS dapat berguna sebagai rambu rambu untuk menyusun rencana resmi pembangunan PBC. Dengan demikian diharapkan bahwa polemik dan opini tentang dampak PBC dapat dijawab menurut kajian objektip berdasarkan fakta dan data yg ada. Selain itu, diharapkan pula bahwa proses dialog KLHS antar pihak yang berkepentingan akan menciptakan suasana yang lebih serasi sebab tujuan penyusunan KLHS bukan untuk menyetujui atau tidak kelayakan PBC tetapi lebih mengutamakan kegunaanya, yakni untuk meningkatkan pengetahuan dan keterlibatkan masyarakat didalam pembahasan rencana PBC. Pada tahap selanjutnya, apabila Pemerintah Kota Padang bersama mitra akan menyusun rancangan bangunan (design specifications) PBC, maka rancangan dimaksud akan lebih realistis karena sudah mempertimbangkan informasi dari hasil KLHS. Dengan demikian, proses pelingkupan (scoping) AMDAL akan lebih cermat dan cepat karena sebagian informasi lingkungan sudah dikaji oleh KLHS.

3.3

Hasil Laporan yang Diharapan

Sesuai dengan maksud, tujuan dan kegunaan, maka hasil yang diharapkan dari kajian ini adalah laporan kajian yang bersifat clip file yakni laporan yang terbuka untuk dimutakhirkan oleh Pemerintah Kota Padang. Pemutakhiran dimaksud boleh jadi karena: adanya kekurangan data (gap) pada saat penyusunan KLHS ini, misalnya, hasil dari survey benthic yang akan dikerjakan oleh German Indonesia Cooperation for Tsunami Early Warning System (GITEWS), karena adanya assumsi yang salah pada saat melalukan penelusuran implikasi lingkungan, dan penambahan informasi karena beberapa rekomendasi KLHS ini telah direalisasi serta, KLHS ini dikembangkan untuk mengkaji isu pokok lain.

16

Kajian Lingkungan Hidup Strategis Padang

3.4

Lingkup Bahasan

Sebagaimana diketahui, gagasan penataan PBC disampaikan oleh Pimpinan Pemerintah Kota Padang sebagai respons atas makin menurunnya daya dukung dan daya tampung lingkungan pantai di sekitar Purus dan Muaro. Sementara itu, di dalam dokumen-dokumen rencana pembangunan kota Padang telah diisyaratkan bahwa pengembangan Kawasan Pantai Padang diarahkan sebagai kawasan wisata terpadu yang dibangun melalui pendekatan kerjasama Pemerintah Kota dengan dunia usaha/ swasta. Dengan demikian, lingkup bahasan di dalam kajian ini mencakup 3 hal, yakni: 1. Penelusuran rumusan kebijakan, rencana, program (KRP) pengembangan tata ruang dan sektor-sektor baik jangka panjang dan jangka menengah serta rumusan program-program pembangunan bagian-bagian kota, terutama yang berkaitan dengan lokasi kawasan PBC. 2. Penelusuran rona lingkungan fisik alami, sosial ekonomi dan sosial budaya, terutama disekitar kawasan PBC. 3. Perumusan assumsi proyek (level kegiatan setelah program), apabila kegiatan fisik penataan Pantai Padang dilaksanakan, yakni kegiatan reklamasi pantai. 4. Penilaian implikasi terhadap lingkungan hidup.

4. Metode Kajian dan Format Laporan


4.1
A. I.

Pengumpulan Data
Data Sekunder Data Instansionil dan Publikasi

Sebagai suatu kajian tentang implikasi kebijakan, perencanaan dan program, maka kajian ini didasarkan pada data dan informasi serta publikasi. Data dan informasi yang diperlukan diperoleh dari instansi-instansi di lingkungan Pemerintah Kota Padang, antara lain: 1. Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) 2004-2020. Pemerintah Kota Padang. 2. Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2004-2008. Pemerintah Kota Padang. 3. Padang Dalam Angka Tahun 2005. Kerjasama BAPPEDA Kota Padang dengan Badan Pusat Statistik Kota Padang. 4. Laporan Status Lingkungan Hidup Daerah (SLHD) Kota Padang Tahun 2006. 5. Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Padang 2004-2013. 6. Zonasi Wilayah Pesisir dan Laut Kota Padang. 7. Rencana Strategis Pengelolaan Wilayah Pesisir Kota Padang. 8. Opini Publik Rencana Pembangunan PBC, Klipping Surat Kabar. 9. Keputusan Walikota Madya Kepala Daerah Tingkat II Padang nomor 03 Tahun 1998 tentang Penetapan Bangunan Cagar Budaya dan Kawasan Bersejarah Di Kotamadya Padang. 10. Panduan Rancangan Kawasan dan Bangunan Di Kota Lama Padang. Salah satu publikasi yang digunakan di dalam kajian ini adalah Paco-Paco (Kota) Padang, Sejarah sebuah kota di Indonesia pada abad ke 20 dan penggunaan ruang kota yang disusun oleh Freek Colombijn yang diterbitkan oleh Penerbit Ombang, Yogyakarta tahun 2006.

17

Kajian Lingkungan Hidup Strategis Padang

II.

Peta-peta, gambar dan foto lama

Untuk lebih memahami perubahan garis pantai Padang dan pola penggunaan kawasan pantai (terutama kawasan kota lama), Tim Studi mengupayakan peta-peta lama, baik yang ada di lingkungan Pemerintah Kota Padang maupun dari sumber lain. Guna menjelaskan posisi rencana Padang bay City dalam kaitan dengan kota Padang, maka diusahakan peta paling detil yang ada. Untuk kota Padang ternyata hanya ada peta rupabumi skala 1:50.000. Peta ini sudah cukup berumur karena berasal dari pemotretan udara tahun 1970an dan dipublikasikan pada awal 1980an. Peta-peta lain yang lebih awal dari tahun 1970an coba dicari di Internet. Dari sebuah situs di Belanda http://maps.kit.nl/apps/search dijumpai sejumlah besar koleksi peta tua yang memiliki skala dan tingkat kedetilan yang berbeda-beda. Dari koleksi itu diputuskan untuk membeli peta Padang dari dua tahun yang berbeda (1893 dan 1945), masingmasing dengan skala yang cukup detil (1:40.000 dan 1:5.000). Kedua peta ini terbukti dapat memberikan gambaran sejarah yang dapat dipertanggung jawabkan tentang dinamika Pantai Padang. Selanjutnya pasca tahun 1970an gambaran detil tentang bagaimana kondisi kota Padang saat ini didapatkan dari Citra Ikonos dipindai pada tahun 2005 yang dipinjamkan oleh Bappeda Kota Padang untuk study ini. Guna melihat apa yang terjadi di Pantai Padang dari tahun 1970an hingga tahun 2005, digunakan dua buah citra satelit Landsat (resolusi 30 meter) yang masing-masing bertahun 1990 dan 2000. Kedua citra ini diunduh dari Situs NASA. Menyangkut rencana Kota Padang, data / peta dikumpulkan dari beberapa sumber, antara lain dari Dinas Tata Ruang dan Tata Bangunan Kota Padang, Dinas Kelautan dan Perikanan, Bappeda Kota Padang dan dari Kantor Penanaman Modal dan Investasi Kota Padang. Peta-peta dan keterangan ini diterima dalam berbagai format sehingga untuk dapat mengintegrasikannya dengan data-data yang lain yang telah dikelola dengan GIS masih membutuhkan proses konversi dan perbaikan georeferensi yang memakan waktu cukup lama. Data-data yang kini telah memiliki referensi geografis ini selanjutnya dikelola dengan GIS dengan perangkat lunak ArcGIS 9.2. Selanjutnya basis data ini dapat digunakan secara lebih mudah untuk berbagai keperluan perencanaan pembangunan di Kota Padang di masa yang akan datang, termasuk melanjutkan Kajian Lingkungan Hidup Strategis. Data pendukung lainnya juga ditemui dalam bentuk foto-foto tua. Paling tidak ada 2 situs yang memiliki sejumlah koleksi foto tua yang diambil di kota Padang yang sudah puluhan bahkan lebih dari seratus tahun lalu. Situs itu antara lain adalah : http://home.iae.nl/users/arcengel/NedIndie/photos.htm#website http://www.geheugenvannederland.nl/index_en.html Sumber data lain yang perlu dieksplorasi adalah Arsip Kota Padang. Namun karena gempa, kantor dan arsip yang dahulunya terletak di lantai 4 gedung Walikota Baru dipindahkan untuk sementara waktu sambil menunggu selesainya perbaikan. Hal ini menyulitkan proses pencarian arsip yang diperlukan.

Data Primer I. Observasi Lapangan

Untuk lebih memahami kondisi wilayah kajian, Tim Studi melakukan observasi lingkungan ke beberapa lokasi, yakni: kawasan PBC (muara sungai Batang Arau hingga muara Banjir Kanal), Kawasan Kota Lama Muaro dan Gunung Padang, Air Manis dan Sungai Pisang, Bungus dan Teluk Bayur, lokasi penambangan batu di Indarung, lokasi pintu air Batang Arau dengan saluran pengendali banjir. Parameter yang diamati, terutama adalah keadaan topografi, pola penggunaan tanah dan bangunan, keadaan tata air, kualitas fisik lingkungan permukiman dan tampilan bangunan lama yang ditetapkan sebagai bangunan yang dipugar.

18

Kajian Lingkungan Hidup Strategis Padang

II.

Kajian Peta

Untuk mencari tahu tentang abrasi dan sedimentasi pantai, dicari peta pantai dari tahun-tahun sebelumnya lalu di overlay. Peta ditemukan di kelembagaan tertentu dan di internet. Kajian peta diperbandingkan dengan hasil studi ombak dan foto udara dari perguruan tinggi. Selanjutnya, masyarakat yang lama tinggal di pantai diwawancarai tentang ingatan mereka mengenai abrasi pantai. III. Wawancara dan Kuesioner

Tim Studi melakukan wawancara dengan beberapa orang responden, antara lain petugas di Pelabuhan/ dermaga Batang Arau, pengelola rumah makan di kawasan pantai, nelayan di kawasan pantai Purus dan peneliti/ dosen perguruan tinggi di Kota Padang. Tim Studi dibantu oleh Tim Surveyor terdiri dari lima orang untuk menangani pengumpulan data primer melalui kuisioner. Metoda pengumpulan data adalah sebagai berikut: Parameter dan Pengambilan Sampel Pengambilan data primer komponen sosial ekonomi budaya dan kemasyarakatan dilakukan melalui metode survey (kuisioner), observasi atau pengamatan dan wawancara mendalam (in-depth interview). Untuk metode penyebaran kuisioner dilakukan dengan metode cluster random sampling. Parameter komponen sosial ekonomi dan budaya yang dikumpulkan meliputi : Tingkat pekerjaan, status pekerjaan dan lapangan usaha Pola interaksi dan mobilitas masyarakat di lokasi rencana kegiatan Nilai-nilai dan norma-norma yang berkembang dan berlaku dalam masyarakat. Persepsi sikap masyarakat terkait dengan kegiatan yang akan dilakukan baik pada tahap konstruksi maupun pasca konstruksi. Harapan dan kekhawatiran masyarakat terhadap rencana kegiatan yang akan dilakukan. Analisis Sampel dan Data Data yang didapat lewat kuisioner, ditabulasi dan dianalisa dengan memunculkan persentase sehingga ditemukan nilai-nilai secara keseluruhan. Evaluasi data didasarkan atas kecenderungan persepsi serta substansi tanggapan masyarakat yang berkembang terhadap rencana kegiatan. Kemudian dilakukan analisis secara deskriptif agar diperoleh nilai komparatif.

Lokasi Survei Lokasi penyebaran kuisioner dilakukan di Kelurahan Batang Arau, Kelurahan Bukit Gado-Gado (Kecamatan padang Selatan) dan Kelurahan Berok Nipah, Kelurahan Belakang Tangsi Kelurahan Olo, Kelurahan Purus (Kecamatan Padang Barat). Quota atau jumlah responden pada masing-masing kelompok masyarakat akan berbeda, Misalnya quota untuk nelayan akan relatif lebih besar / lebih banyak dibandingkan kapal wisatawan. Berdasarkan asumsi diatas responden dijaring berdasarkan karakteristik dan mempertimbangkan tingkat standar deviasi populasinya. Adapun pengelompokan responden tersebut adalah : Nelayan Pedagang (PKL, warung jajanan) dan pengada jasa Buruh Bongkar Muat Pelabuhan Pemilik Gudang/gedung tua Petani/pekerja di Bukit Gado-Gado Gunung Padang Wisatawan (Nusantara dan Mancanegara) Kapal Wisata/Pesiar Kapal Penumpang Tokoh Masyarakat sekitar lokasi kegiatan (alim ulama, cerdik pandai, pemuda).

19

Kajian Lingkungan Hidup Strategis Padang

Tim Survey juga melakukan wawancara mendalam dengan responden di Kelurahan Batang Arau, Kelurahan Bukit Gado-Gado (Kecamatan Padang Selatan) dan Kelurahan Berok Nipah, Kelurahan Belakang Tangsi Kelurahan Olo, Kelurahan Purus (Kecamatan Padang Barat). Wawancara juga dilakukan terhadap nelayan, wisatawan dan pedagang/pengada jasa. IV. Diskusi Terbatas pada Kelompok Khusus (Focus Group Discussion, FGD)

Untuk lebih memaknai keanekaragaman pendapat tentang gagasan penataan kawasan pantai Padang, Pemerintah Kota Padang memfasilitasi penyelenggaraan diskusi terbatas. Diskusi tersebut dilaksanakan pada tanggal 2 Oktober 2006. Penyelenggaraan diskusi terbatas berlangsung sesuai dengan susunan acara yang telah disusun. Masing-masing peserta yang hadir, selain menyampaikan pokok-pokok pikiran dan atau pendapat juga mempersiapkan penjelasan tertulis (on call paper). Jumlah peserta diskusi terbatas mencapai 90% dari peserta yang diundang.

4.2 Evaluasi Lingkungan


I. Interpretasi Data Dasar

Untuk memperoleh pemahaman dan menggambarkan rona lingkungan hidup dilakukan pendekatan interpretasi data dasar. Pendekatan ini dilakukan untuk data yang diperoleh dari instansi yang berwenang, antara lain data statistic kependudukan, data hasil pemantauan kualitas fisik kimia air sungai Batang Arau. II. Overlay Peta

Untuk menjelaskan gejala perubahan rona lingkungan suatu lokasi dan atau implikasi suatu kegiatan terhadap komponen lingkungan dilakukan dengan cara penumpang tindihan/ overlay peta tematik. Misalnya, setelah melakukan intervensi penyetaraan skala terhadap peta Topografi yang tahun pemetaannya berbeda, maka dapat dilakukan penumpang tindihan, sehingga diperoleh pemahaman tentang pergeseran garis pantai pada kurun waktu tertentu. III. Bagan Alir Variabel Lingkungan serta Interaksinya

Untuk memperoleh gambaran tentang hubungan keterkaitan suatu variable dengan variable lain digunakan bagan alir. Selanjutnya untuk memperoleh pemahaman tentang hubungan kausatif suatu komponen rencana kegiatan terhadap suatu komponen lingkungan hidup, digunakan matriks interaksi lingkungan. Dengan demikian dapat ditelaah komponen lingkungan dan komponen kegiatan yang tergolong strategis yang perlu mendapat perhatian secara mendalam agar dapat dipikirkan cara optimasi dan atau mitigasinya.

20

Kajian Lingkungan Hidup Strategis Padang

Rencana Kegiatan Reklamasi Padang City.

Tipologi Kegiatan :

Identifikasi
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

Lingkungan

Implikasi

Monitoring dan valuasi

Bay

1. PraKonstruksi 2. Konstruksi 3. Pasca Konstruksi

Morfologi Pantai Morfologi Muara Sungai Hidrodinamika Laut Abrasi dan Akresi Sampah padat Kualitas Air Batang Arau Kualitas Air Laut Kerusakan Lokasi Quarry Biologi

Penilaian
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Lingkungan

Implikasi

1 Monitoring Penyempurnaan KRP ttg PBC

Informasi :
Kondisi lingkungan di lokasi proyek dan sekitarnya

Kualitas air laut Kuantitas air permukaan Morfologi pantai Pola arus Abrasi dan sedimentasi Mangrove Biota laut Kesempatan kerja Estetika lingkungan

2 Evaluasi Hasil Monitoring 3. Pemutakhiran KLHS PBC

Tipologi Lingkungan :
Lingkungan sekitar proyek : 1. 2. 3. 4. 5. Hidrodinamika Perairan laut Pemukiman Penduduk Kawasan wisata pantai G. Padang dan Sungai Batang Arau Kota Lama

9.

10. Flora Darat

Mitigasi Dampak Lingkungan :

Desk Study

11. Fauna Darat 12. Biota Laut 13. Sosekbud 14. Perekonomian Kota 15. Persepsi Masyarakat

1. 2. 3. 4. 5. 6.

Persepsi Masyarakat ttg PBC Keresahan Sosial Gangguan Thdp Biota Laut Kecemburuan Sosial Ketertiban dan Keamanan Kesempatan Kerja & Berusaha

Penelaahan Dokumen: RPJP, RPJM, RTRW, SLHD, Padang Dalam Angka, Renstra Pesisir Dokumen Perencanaan Padang Bay City

10. Sanitasi lingkungan 11. Persepsi masyarakat

16. Kesempatan Kerja & 12. Kamtibmas Berusaha Identifikasi Implikasi Gagasan Penilaian Implikasi Lingkungan 13. Transportasi darat Reklamasi Padang Bay Cityl : Berdasarkan Matriks Interaksi 17. Kegiatan Wisata Pantai Lingkungan. 14. Transportasi laut Penelaahan RPJP,18. Pendapatan Masyarakat RPJM, RTRW & Dokumen Lainnya. Interaksi Dengan Tim Teknis sekitar 15. Kegiatan 19. Kesehatan Masyarakat (rapat dan brainstorming) Klipping Surat Kabar 16. Muka tanah 20. Kamtibmas Konsultasi dan diskusi pakar, Kick Off KLHS PBC 21. Estetika Lingkungan pemrakarsa, instansi yang bertanggung jawab dan Observasi Lingkungan Sanitasi Lingkungan masyarakat yang berkepentingan 22.

7. Abrasi dan Akresi Akibat Menggali Konsep Mitigasi : Reklamasi

8. Pencemaran Batang Arau Diskusi Pendekatan Mitigasi 9. Keselarasan Naturan & Cultural Landscape Merumuskan Solusi untuk mitigasi Dampak Mengintegrasikan rumusan mitigasi dampak ke dalam format Program, Rencana dan Kebijakan..

Konsultasi dan diskusi Keresahan Sosial 23. pakar, pemrakarsa, instansi 24. Penguasaan yang bertanggung jawab dan masyarakat yang Pemilikan Tanah berkepentingan

Penilaian Isi Kuisioner dan

21

Kajian Lingkungan Hidup Strategis Padang

4.3

Sarana prasarana pelaksanaan KLHS

Sebagaimana dikemukakan pada bagian awal laporan ini, bahwa KLHS PBC disusun melalui kerjasama Direktorat Jenderal Pembangunan Daerah, Kementerian Lingkungan Hidup dan Pemerintah Kota Padang. Untuk mendukung penyelenggaraan KLHS, Walikota Padang membentuk dua (2) Tim Kerja. Tim Kerja I terdiri atas pimpinan Satuan Kerja Perangkat Daerah Kota Padang yang dipimpin oleh Sekretaris Daerah. Tim Kerja II merupakan gabungan tenaga ahli di lingkungan Kantor Walikota Padang yang dipimpin Asisten Kesejahteraan dan Pembangunan dan Sektretaris Tim Kepala Bagian Penanaman Modal Dan Kerja Sama. Untuk mendukung pelaksanaan KLHS, Pemerintah Kota Padang menyediakan ruang kerja bagi Tim Kerja dan Konsultan di Kompleks Dinas Pemadam Kebakaran Kota Padang.

4.4

Jadwal Pelakasanaan dan Tahapan Kegiatan

Jadwal dan Perjalanan di Padang Studi KLHS ini dilaksanakan dalam periode empat bulan. Kunjungan ke Padang dilakukan Tim Studi dua kali dalam sebulan untuk bekerja bersama dengan Tim Kecil, sedangkan waktu selama di Jakarta dipergunakan untuk penulisan KLHS, selain juga menjalankan tugas lain seperti memberikan masukkan untuk Tim Pembuatan Kebijakan untuk KLHS, pertemuan ESP lainnya, pencarian dan pengumpulan data lewat Internet serta pengolahan/analisa data untuk KLHS. Pekerjaan Tim Studi khusus untuk KLHS PBC adalah dua bulan, mencakupi satu minggu penuh (minggu ke-8) untuk menulis laporan akhir. Kegiatan dan tahapan KLHS terlihat pada Lampiran 13. Jadwal penyelesaian laporan akhir terpaksa diundur hingga bulan Desember sebab Team Leader dari Tim Studi sakit selama tiga minggu. Tahapan Kegiatan Tahapan kegiatan adalah sebagai berikut (digambarkan didalam bagan alir di halaman berikut), Perkenalan Masalah. Pemerintah Kota Padang menyampaikan ke Dirjen Bina Bangda visi pembangunan PBC serta proyek lain di wilayah pesisir seperti pengembangan marina, pembuatan terowongan, perlebaran jalan pantai / sunset road, dan reklamasi pelabuhan Teluk Bayur. Diakui bahwa tidak semua masyarakat menyetujui PBC. Dirjen Bina Bangda mengusulkan KLHS sebagai pendekatan yang tepat untuk menjawab permasalahan menyangkut PBC. Usulan Dirjen Bina Bangda disambut dengan baik oleh PemKo Padang. Intinya KLHS di Padang didasarkan pada keperluan daerah (demand-driven), didukung sepenuhnya oleh PemKo Padang dan tidak bersifat proyek dari pusat. Penapisan atau Penyaringan (Screening). Kompleksitas dari lingkup PBC di Kota Padang, efek kumulatif dan lintas sectoral sampai jauh dari lokasi menunjukkan tepatnya pelaksanaan KLHS. Perlingkupan (Scoping). Survey awal di daerah PBC serta pikiran Pemerintah Kota tentang obyek pembangunan yang terkait menunjukkan ruang lingkup KLHS yang mencakupi baik reklamasi pantai dengan PBC, maupun marina yang akan di kembangkan dan restorasi gedung lama dengan tujuan ekonomis yang berdekatan dengan Batang Arau yang akan dijadikan marina. Tidak ada waktu untuk mencakupi pembangunan lain di daerah pesisir Kota Padang. Tim KLHS dan Tim Kecil KLHS. Tim KLHS dibentuk oleh Wali Kota, lalu pada pertengahan bulan pertama (dari rencana empat bulan), Tim Kecil yang terdiri dari 15 orang yang berasal dari berbagai dinas dan instansi di PemKo Padang dan Propinsi Sumatera Barat terbentuk. Sosialisai Internal. Kegiatan pertama kerja sama dengan Pemerintah Kota adalah upaya menerangkan apa itu KLHS pada mitra kerja, lebih lebih meyakinkan mitra bahwa ini bukan semacam AMDAL. Bukan studi kelayakan sedangkan upaya meningkatkan pengetahuan tentang dampak lingkungan yang potensial bahaya cukup lama sebelum ada rencana resmi dan merangsang wacana dengan pihak yang berkepentingan yang berdasarkan fakta bukan opini atau polemik. Revisi Informasi Sekunder dan Memperoleh Data Primer (peta, data, foto serta hasil survey dan focus group discussion (FGD) serta wawancara per orangan). Presentasi Hasil Kerja antar Anggota Tim Kecil dan Tim Studi dari Dirjen Bina Bangda.

22

Kajian Lingkungan Hidup Strategis Padang

Pembuatan draft final report, mengundang komentar dari berbagai pihak. Final Report dalam bentuk jilid dan clip file siap utk ditambah dengan informasi baru dan terus disempurnakan sampai rencana resmi pembangunan PBC selesai. Dipakai sebagai referensi pada waktu wacana antara pihak yang berkepentingan. Tindak Lanjut sampai rencana pembangunan PBC sudah diresmikan. Update dari laporan KLHS dengan informasi baru yang terkait.

23

Kajian Lingkungan Hidup Strategis Padang

Bagan alir yang berikut menggambarkan esensi dari proses KLHS yang tersebut diatas.

PERKENALAN isu isu lingkungan dari visi pembangunan PBC yang mau dijadikan rencana resmi

PEMBUATAN RENCANA RESMI PEMBANGUNA N PBC

I N F O R M A S I

PENAPISAN Penentuan relevansi PBC untuk KLHS

PELINGKUPAN Identifikasi lokasi untuk KLHS serta isu-isu lingkungan yang pokok

Laporan KLHS

PELAKSANAAN Tim Kecil bersama Tim Bangda

Laporan KLHS

B A R U

Wacana antara pihak yang berkepentingan mulai dengan Focus Group Discussion (FGD) ~ Pembahasan lebih berdasarkan fakta daripada opini dan polemik

Kajian Data Primer dan Sekunder ~ menentukan variable lingkungan yang strategis

Tindak Lanjut

Laporan KLHS Jilid


dan ClipFile ~ Bulan Ke-4

Identifikasi Parameter Strategis Keterpaduan antara kajian data primer/sekunder dan persepsi pihak yang berkepentingan 4.5 Format dan Fungsi Laporan

Laporan KLHS terdiri dari tiga bagian. Laporan utama KLHS ini terdiri dari tujuh bab, 11 lampiran dan satu narasi gambar sebagai kumpulan foto dan peta ilustrasi. Bagian 1: Laporan Utama Bab 1: Pendahuluan, konsep dasar KLHS dan tujuan KLHS dibahas. Bagain terakhirnya tentang landasan hukum. Bab 2: Metode pelaksanaan KLHS untuk PBC, mancakup pengumpulan data dan informasi sampai kajiannya. Bab 3: Meninjau Kesesuaian rencana PBC dengan kebijakan pemerintah. Bab 4: Terdiri dari konteks lingkungan hidup, yang mencakup rona lingkungan kota, dan rona lingkungan pantai.

24

Kajian Lingkungan Hidup Strategis Padang

Bab 5: Mencakup penilaian implikasi lingkungan dari pembangunan PBC melalui kajian strategis terdiri dari keterpaduan antara pengamatan lingkungan dan persepsi masyarakat untuk mengidentifikasikan isu strategis yang perlu ditindak lanjuti. Bab 6: Membahas Beberapa masalah pokok serta usulan mitigasi. Bab 7: Kesimpulan, pelajaran dari pengalaman (lessons learned) dan rekomendasi tindak lanjut hingga pembuatan rencana resmi untuk pembangunan PBC. Bagian 2: Lampiran Lampiran 1: terdiri dari daftar semua dokumen dan data yang diperoleh selama KLHS. Disediakan pula soft copy untuk di-GIS-kan di Lampiran 2, yaitu, di CD. Lampiran 2: Kuesioner survei persepsi pihak yang berkepentingan (stakeholders) Lampiran 3: Tabel-tabel rangkuman hasil survei. Lampiran 4: Tabel-tabel rangkuman hasil survei (lanjutan). Lampiran 5: Beberapa data tentang rona lingkungan kota Lampiran 6: Daftar anggota Tim KLHS. Lampiran 7: Daftar anggota Tim Kecil KLHS yang dibentuk oleh Pemerintah Kota Padang. Lampiran 8: Daftar narasumber untuk Focus Group Discussion (FGD). Lampiran 9: Kajian yang dikemukakan oleh narasumber. Lampiran 10: Notulensi FGD. Lampiran 11: Usulan kegiatan tindak lanjut KLHS sampai rencana pembangunan PBC diresmikan. Bagian 3: Narasi Gambar Tujuan Narasi Gambar adalah untuk mendampingi teks dari laporan utama KLHS. Peta dan foto di-anotasi kira2 dalam urutan isu didalam laporan utama. Tiga bagian yang tersebut diatas sebagai masukkan untuk presentasi final di Padang pada tanggal 03 Desember 2007.

Semua data dan dokumen yang tersebut disediakan dalam bentuk softcopy di CD.

25

Kajian Lingkungan Hidup Strategis Padang

5. Tinjauan Kebijakan Pembangunan Kota dan Kawasan Pantai


5.1 Landasan Hukum dan Peraturan yang Berkaitan

Kegiatan penataan Pantai Padang merupakan kegiatan yang bersifat lintas sektor yang berdampak terhadap masyarakat dan lingkungan hidup. Beberapa peraturan perundang-undangan yang perlu sebagai bahan pertimbangan antara lain adalah: Undang-undang: 1. Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1956 Tentang Pembentukan Daerah Otonom Kota Besar Dalam Lingkungan Daerah Propinsi Sumatera Tengah (Lembaran Negara Tahun 1956 Nomor 20); 2. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria; 3. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya; digunakan sebagai acuan pengelolaan sumberdaya alam hayati (Mangrove dan satwa); 4. Undang-undang Nomor 21 Tahun 1992 tentang Pelayaran; digunakan sebagai acuan kegiatan transportasi laut; 5. Undang-undang Nomor 06 Tahun 1996 tentang Perairan Indonesia; digunakan sebagai acuan pengelolaan perairan; 6. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup; digunakan sebagai acuan pengelolaan lingkungan; 7. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999 Tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat Dengan Pemerintah Daerah. 8. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 Tentang Bangunan Gedung. 9. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 Tentang Keuangan Negara. 10. Undang-undang Nomor 07 Tahun 2003 tentang Sumber Daya Air; digunakan sebagai acuan pengelolaan sumber daya air; 11. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah; digunakan sebagai acuan Kewenangan Pemerintah Kota; 12. Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang; digunakan sebagai acuan penataan ruang.

Peraturan Pemerintah 1. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran dan Perusakan Laut; digunakan sebagai acuan pengelolaan lingkungan perairan laut 2. Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara; digunakan sebagai acuan pengelolaan kualitas udara 3. Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Angkutan Di Perairan; digunakan sebagai acuan transportasi laut bahan reklamasi 4. Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengendalian Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air; digunakan sebagai acuan pengelolaan kualitas air 5. Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2004 Tentang Penatagunaan Tanah; sebagai acuan pemanfaatan tanah hasil reklamasi.

26

Kajian Lingkungan Hidup Strategis Padang

6. Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2005 tentang Perlindungan Sumber-Sumber Air dan Pencemaran Lingkungan; digunakan sebagai acuan pengelolaan kualitas air dan pengelolaan lingkungan. 7. Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2005 Tentang Peraturan Pelaksanaan Bangunan Gedung. 8. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 Tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Provinsi Sebagai Daerah Otonom.

5.2

Rencana Pembangunan Jangka Panjang

Dalam rangka pelaksanaan Undang-undang nomor 25 tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional dan pelaksanaan kewenangan Daerah sebagaimana diatur di dalam Peraturan Pemerintah nomor 25 tahun 2000, Pemerintah Kota Padang telah menyusun dan menetapkan Peraturan Daerah Kota Padang nomor 18 tahun 2004 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Kota Padang Tahun 2004 2020. Selanjutnya pada tanggal 3 Agustus tahun 2004 Dewan Perwakilan Daerah Kota Padang menetapkan Keputusan nomor 16/II-DPRD/2004 tentang Persetujuan penetapan Peraturan Daerah Kota Padang tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Kota Padang Tahun 2004 2020. RPJP tersebut telah dijabarkan ke format Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) yang digunakan sebagai acuan penyusunan Rencana Pembangunan Tahunan. Di dalam dokumen RPJP tersebut ditegaskan bahwa tantangan kota Padang dalam jangka pendek adalah meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang didukung oleh transformasi sosial . Selanjutnya tantangan jangka menengah adalah transformasi sosial sejalan dengan pertumbuhan ekonomi sehingga berlangsung akumulasi kesejahteraan yang berkelanjutan. Pada bab 3 dokumen RPJP dimuat rumusan visi Kota Pandang, yaitu: terwujudnya masyarakat madani yang berbasis industri, perdagangan dan jasa yang unggul dan berdaya saing tinggi dalam kehidupan perkotaan yang tertib dan teratur. Agar seluruh unsur stakeholders kota mendapat gambaran dan pemahaman yang sama, kata kunci di dalam rumusan visi tersebut dijelaskan secara lugas. Kata-kata kunci dimaksud adalah : (a) madani, (b) masyarakat madani sejahtera, (c) industri perdagangan dan jasa, (d) berdaya saing tinggi, (e) kehidupan perkotaan dan (d) perkotaan yang tertib dan teratur.

Visi Untuk mendapat gambaran yang lebih jelas tentang sasaran pembangunan, maka Visi pembangunan jangka panjang dijabarkan menjadi 9 (sembilan) rumusan misi, yaitu: 1. meningkatkan pemahaman terhadap adat dan agama dan pengamalan nilai-nilainya dalam kehidupan bermasyarakat ke arah komunitas kota yang perduli. 2. meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pembangunan sektor permukiman, pendidikan dan kesehatan ke arah pemberdayaan masyarakat. 3. meningkatkan produktifitas sektor-sektor perekonomian melalui formalisasi usaha dan profesionalisme ke arah pengelolaan usaha yang berdaya saing. 4. membangun jejaring usaha melalui pengembangan sistem informasi dan komunikasi untuk peningkatan akses dan interaksi ke arah persaingan global. 5. menata ruang dan meningkatkan prasarana dan sarana melalui pendekatan pembangunan berbasis kawasan ke arah keseimbangan pembangunan. 6. membangun kehidupan perkotaan yang tertib dan teratur melalui penegakan supremasi hukum ke arah aplikasi teknologi dengan sistem kontrol lingkungan; 7. meningkatkan kapasitas aparatur dan kewibawaan pemerintah melalui pembinaan pendidikan dan pelatihan ke arah keandalan dan pelayanan; 8. meningkatkan kapasitas wakil-wakil rakyat melalui berbagai forum sebagai pembentuk wacana pembangunan ke arah penguatan peran serta publik;

27

Kajian Lingkungan Hidup Strategis Padang

9. meningkatkan pengendalian pemanfaatan sumber daya alam ke arah aplikasi konsep pembangunan yang terpadu, berkeseimbangan dan berkelanjutan.

Selanjutnya, pemerintah merumuskan tujuan dan sasaran pembangunan kota Padang. Secara spesifik, rumusan tujuan dan sasaran pembangunan kota Padang adalah sebagai berikut: Tujuan Pembangunan: 1. meningkatkan kapasitas sumberdaya manusia dimulai dari pemahaman dan pengalaman tentang adat dan agama sebagai landasan etika dan moral pembangunan yang didukung oleh pembangunan permukiman, pendidikan dan kesehatan ke arah sumberdaya manusia yang berkualitas dan berdaya. 2. meningkatkan produktivitas sektor-sektor perekonomian yang dimulai dari formalisasi usaha dan professionalisme dalam pengelolaan usaha sebagai landasan untuk bertahan dalam persaingan global dan bermitra ke arah akses dan interaksi global melalui sistem informasi dan komunikasi. 3. meningkatkan prasarana dan sarana dimulai dari penataan ruang dengan konsep pembangunan kawasan sebagai landasan bagi keseimbangan dan keberlanjutan pembangunan antar kawasan ke arah kehidupan perkotaan yang tertib dan teratur melalui aplikasi sistem lingkungan. 4. meningkatkan kapasitas aparatur pemerintah yang dimulai dari rekayasa ulang sistem dan menata kembali kelembagaan sebagai landasan pelayanan prima ke arah keandalan aparatur dan peningkatan kewibawaan pemerintah melalui pembinaan, pendidikan dan pelatihan serta pengembangan; 5. meningkatkan kapasitas wakil-wakil rakyat yang dimulai dari interaksi dalam berbagai forum pembentuk wacana pembangunan sebagai landasan untuk menyerap aspirasi dan mengakomodasi dalam rancangan produk hukum ke arah penguatan peranserta publik dalam proses pembangunan. Sasaran Pembangunan 1. kemiskinan dalam arti luas yang menyangkut aspek fisik dan mental makin berkurang sehingga berbagai faktor ikutannya dapat diatasi. 2. pengangguran semakin berkurang melalui perluasan kesempatan berusaha dan bekerja sehingga berbagai faktor ikutannya dapat diatasi; 3. ketimpangan dalam distribusi kekayaan antar kelas ekonomi dapat dikurangi melalui regulasi sehingga berbagai faktor ikutannya dapat diatasi.

Rekomendasi kebijakan jangka panjang memuat uraian tentang perspektif kota masa depan, kawasan pembangunan (meliputi kawasan Barat, Kawasan Timur, Kawasan Utara dan Kawasan Selatan), sektor unggulan, strategi dan prioritas pembangunan, agenda pembangunan daerah dan indikator keberhasilan pembangunan. Tentang perspektif kota masa depan, dijelaskan bahwa wujud kota Padang masa depan dicirikan oleh kota modern, nyaman dan aman karena pemerintah berwibawa, dunia usaha produktif dan komunitas yang perduli. Dalam konteks ini berkembang beberapa pusat pertumbuhan ekonomi dan pelayanan sosial yang baru sebagai landasan bagi peningkatan kesejahteraan rakyat yang berkeseimbangan dan berkelanjutan.

Tentang kawasan pembangunan, dijelaskan bahwa kriteria penetapan kawasan adalah kesamaan karakteristik, potensi pertumbuhan dan kesatuan teritorialnya. Kriteria penetapan tersebut juga mempertimbangkan tiga kategori kawasan, pertama kawasan pusat, peralihan dan pinggiran ke dua kawasan darat dan laut, ke tiga kawasan maju dengan konsep konversi dan preservasi sebab pemanfaatan ruang intensitas tinggi dan kawasan tertinggal dengan konsep reservasi dan konservasi sebab intensitas pemanfaatan ruang yang rendah.

28

Kajian Lingkungan Hidup Strategis Padang

Kawasan Barat meliputi Kecamatan Padang Timur, Kecamatan Padang Barat, Kecamatan Padang Utara dan Kecamatan Padang Selatan merupakan pusat utama pertumbuhan ekonomi dan pelayanan sosial kota Padang. Pantai Padang merupakan bagian dari kawasan ini. Tentang pengembangan Pantai Padang dan kawasan sekitarnya diarahkan, sebagai berikut: 1. Kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil dikembangkan dengan kebijakan khusus termasuk kawasan Gunung Padang. 2. Kawasan ini memiliki potensi besar sebagai kawasan wisata marina atau ekonomi bahari seperti pelabuhan Muara, Pantai Padang dan Pantai Manih. 3. Kerjasama dengan investor adalah pilihan yang tepat namun kepastian tentang pola penggunaan tanah harus diupayakan, seperti pengalihan, pemilikan, penyewaan, penyertaan modal, penyerahan ke pemerintah melalui konsep konsolidasi atau kombinasinya. 4. Pemerintah bersikap reaktif dan proaktif serta antisipatif terhadap pemanfaatan tanah sesuai dengan rencana tata ruang wilayah karena pembentukan wajah kota sangat bergantung kepada pengaturan dan pengendalian pemanfaatan ruang tersebut.

Bila ditelaah lebih dalam, ternyata pengembangan Kawasan Pantai Padang tidak termasuk sebagai Prioritas Pembangunan Kawasan, tetapi dijelaskan pada sub bab lintas kawasan dan lintas sektor . Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pengembangan kawasan Gunung Padang, Muaro dan Pantai Padang tergolong sebagai kawasan potensial untuk dikembangkan. Untuk itu dicoba mengidentifikasi bagian lain RPJP yakni sub bab tentang Agenda Pembangunan Daerah. Pada bagian diisyaratkan perlunya disusun Program Induk sektor-sektor unggulan dan tata ruang serta program induk pengelolaan lingkungan hidup. Sehubungan dengan itu, pertanyaan lanjutan Kajian Lingkungan Hidup Strategis PBC adalah: bagaimana rumusan-rumusan program induk yang terkait dengan pengembangan kawasan sekitar Pantai Padang. Program Induk yang relevan mengakomodasi pengembangan Pantai Padang Gunung Padang Muaro adalah: Program Induk Peningkatan Kapasitas Ekonomi Kawasan Program Induk Penataan Ruang, Wilayah dan Kawasan Program Induk Pembangunan Kota Modern

5.3

Rencana Pembangunan Jangka Menengah

Peraturan Daerah Kota Padang nomor 19tahun 2004 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) disetujui oleh DPRD Kota Padang tanggal 3 Agustus tahun 2004 melalui penetapan Keputusan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Padang nomor 17/II-DPRD/2004 tentang Persetujuan Penetapan Peraturan Daerah Kota Padang tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kota Padang Tahun 2004-2008. Rumusan visi kota Padang di dalam RPJM adalah : Terwujudnya kota Padang sebagai pusat perekonomian dan pintu gerbang perdagangan terpenting di Indonesia Bagian Barat Tahun 2008. Selanjutnya dijelaskan pengertian dan pemahaman kata-kata kunci rumusan visi tersebut, yakni (a) pusat perekonomian (b) pintu gerbang perdagangan. Untuk mewujudkan visi tersebut, dipilih 15 misi, yaitu: 1. mengembangkan wilayah pinggiran menjadi pusat-pusat kegiatan ekonomi (kota kecil satelit) untuk meningkatkan optimasi penggunaan sumber daya; 2. menyediakan sarana dan prasarana pendukung kegiatan perekonomian dan permukiman yang dapat mendukung fungsi kota; 3. mengembangkan potensi sumberdaya alam yang dimiliki secara optimal; 1. menyelenggarakan pemrintahan kota dengan menggunakan prinsip Good Governance dan Clean Government. 2. mendorong perekonomian kota dengan memperkuat basis kegiatan ekonomi rakyat; 3. revitalisasi sumber-sumber keuangan Daerah;

29

Kajian Lingkungan Hidup Strategis Padang

4. membuka akses melalui peningkatan peran pelabuhan Teluk Bayur, Bandara Ketaping dan terminal Bingkuang sebesar-besarnya bagi peningkatan ekonomi rakyat; 5. membangun suasana kehidupan beragama yang damai dengan mengacu kepada Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. 6. membuka akses yang sama bagi setiap warga, laki-laki dan perempuan untuk aktif berperanserta dalam siklus dan proses pembangunan kota. 7. mengembangkan dan mendayagunakan potensi wisata dengan tetap mempertahankan identitas kota Padang sebagai kota perdagangan dan pendidikan dalam koridor Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. 8. membangun iklim investasi yang sehat bagi peningkatan perekonomian kota secara keseluruhan; 9. membangun kesadaran warga kota terhadap hukum yang berlaku dan penegakan hukum bersangkutan. 10. mengurangi potensi rawan bencana di kota Padang; 11. menciptakan kota Padang yang berwawasan lingkunan; 12. mendayagunakan dan meningkatkan kapasitas aparatur pemerintah kota secara tepat. Untuk mendapat pemahaman yang lebih utuh, elemen-elemen tiap rumusan misi tersebut dijelaskan satu persatu. Misi yang relevan dengan isu PBC adalah misi no 3, yakni perlunya mengembangkan potensi sumberdaya alam yang dimiliki secara optimal. Pada halaman 25 dijelaskan bahwa ....... Kota Padang sebagai kota pesisir mempunyai potensi pengembangan wisata bahari sebagai unggulan. Pengembangan wisata bahari tersebut dapat dipadukan dengan pengembangan kota tua Padang Lama yang menyimpan sejarah permulaan kota Padang. Untuk itu dapat dikembangkan produk wisata terpadu yang merupakan kesatuan wisata Pantai Padang Kawasan Padang Lama Kawasan Gunung Padang Kawasan Pantai Air Manis. Kawasan Batang Arau dapat menjadi marina yang menghubungkan pulau pulau kecil di wilayah kota Padang dan Kabupaten Pesisir Selatan dan Kabupaten Pariaman. Selain itu jaringan jalan susur pantai juga perlu dikembangkan untuk menghubungkan kawasan dengan Bandar Ketaping. Untuk mendukung kawasan wisata terpadu tersebut perlu didukung dengan pengembangan sarana dan jasa pendukung wisata dan penciptaan kondisi lingkungan kota yang ramah dan nyaman. Pada bagian berikut akan ditelaah uraian Rekomendasi Kebijakan RPJM. Rekomendasi kebijakan yang berkaitan dengan pengembangan kawasan PBC dan Gunung Padang adalah Sub Bidang Kepariwisataan, Penanaman Modal dan Penataan Ruang. Hal itu dijelaskan sbb: 1. Sub Bidang Kepariwisataan Salah satu tujuan pengembangan kepariwisataan kota Padang adalah : menjadikan Padang sebagai pintu gerbang kepariwisataan wilayah Barat. Sasaran pengembangan kepariwisataan antara lain adalah (a) berkembangnya kawasan wisata pesisir terpadu sebagai andalan untuk menarik wisatawan ke kota Padang, (b) meningkatnya investasi swasta di sektor pariwisata. Untuk memenuhi sasaran tersebut maka Dinas Pariwisata merumuskan indikasi program kegiatan, antara lain: Perencanaan Kawasan Wisata Terpadu Unggulan kota Padang, kajian kerjasama pengembangan kawasan, Revisi Rencana Induk Pariwisata kota Padang dan objek wisata dengan pihak swasta. 2. Sub Bidang Penanaman Modal Salah satu sasaran sektor penanaman modal di kota Padang adalah menggali potensi sumber-sumber penerimaan penanaman modal daerah secara intensifikasi dan ekstensifikasi. Untuk mencapai sasaran tersebut maka indikasi program yang akan dikaji lebih dalam adalah penggalian sumber-sumber penanaman modal yang baru, melakukan analisis penanaman modal daerah dan asing. 3. Sub Bidang Penataan Ruang Di dalam dokumen RPJM dijelaskan bahwa di dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Padang telah dikaji arahan pusat-pusat pelayanan. Salah satu pusat pelayanan adalah Gunung Padang. Selain itu ditatapkan 4 sentra pengembangan kota dan 18 kawasan prioritas

30

Kajian Lingkungan Hidup Strategis Padang

pengembangan. Kawasan Wisata Terpadu Gunung Padang dan kawasan sepanjang pantai termasuk di antara lokasi sentra pengembangan pusat kota. Dalam rangka kajian keterkaitan gagasan Pembangunan PBC dengan rumusan RPJP dan RPJM, perlu pula diidentifikasi penjabaran indikasi program tersebut ke rencana kerja masing-masing Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di lingkungan Pemerintah Kota Padang. Data dan informasi tersebut sangat diperlukan dalam proses evaluasi implikasi gagasan pembangunan terhadap lingkungan hidup.

5.4

Rencana Tata Ruang Wilayah Kota dan Rencana Detail Ruang Kota

Saat ini acuan perencanaan fisik kota yang digunakan oleh pemerintah bersama masyarakat kota Padang adalah Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Padang tahun 2004 2013 yang disusun tahun 2003. RTRW tersebut sebagai lanjutan Rencana Induk Kota (RIK) Kota Padang 1983/1984 2003/2004. Di dalam laporan perencanaan tata ruang dikemukakan bahwa visi perencanaan ruang Kota Padang 2013 atau tata ruang kota Padang yang hendak dituju sampai tahun 2013 adalah : Terwujudnya struktur dan pola pemanfaatan ruang kota pesisir yang modern dan berbudaya. Visi tersebut merupakan respons penjabaran atas visi pengembangan kota Padang 2020, yakni : Terwujudnya masyarakat madani yang sejahtera berbasis perdagangan dan jasa yang berdaya-saing tinggi dalam kehidupan perkotaan yang tertib dan teratur. Untuk mencapai visi ruang kota Padang 2013 telah disusun strategi pokok penataan ruang sbb: 1. Memanfaatkan ruang daratan, lautan dan udara untuk semua aktifitas yang memberikan nilai tambah yang positif bagi Pembangunan Kota Padang. 2. Memanfaatkan morfologi kota (perairan/laut, daratan datar dan pegunungan) sebagai potensi dalam pengembangan kawasan budidaya dan kawasan lindung. 3. Mengembangkan pemanfaatan ruang kota untuk mendukung berlang-sungnya berbagai kegiatan sesuai dengan fungsi utama Kota Padang sebagai Pusat Kegiatan Perdagangan dan Jasa, Pusat Kegiatan Industrri, Pusat Kegiatan Pariwisata dan Pusat Kegiatan Transportasi Regional. 4. Mengarahkan pengembangan kegiatan permukiman (terutama ke arah Utara dan Timur) untuk mengurangi tekanan perkembangan fisik dan arus lalu-lintas di dan ke Kawasan Pusat Kota. 5. Mengembangkan kawasan yang tergolong kawasan transisi perkembangan (koridor dan sisi luar Padang By-Pass) untuk kegiatan perdagangan, jasa, industri, permukiman, perkantoran, olahraga, pendidikan dan prasarana transportasi. 6. Mengembangkan kawasan perkantoran Pemerintahan Kota di Kawasan Air Pacah untuk mengurangi arus pergerakkan menuju ke Kawasan Pusat Kota dan sekaligus mempermudah akses penduduk untuk memperoleh pelayanan di satu kawasan. 7. Mengembangkan jaringan jalan baru untuk mengurangi beban Jalan Arteri Padang Bukittinggi dan sekaligus mengoptimalkan Jalan Padang By-Pass. Pengembangan jalan baru diutama-kan adalah Jalan Sepanjang Pantai (Teluk BayurNipah/MuaroPasir Jambak Ketaping) dan Jalan Lingkar Luar (Bandar BuatLimau ManisGunung SarikAir PacahLubuk MinturunBy-Pass). 8. Menjadikan sektor transportasi sebagai sektor unggulan melalui pengintegrasian moda transportasi yang ada (pelayanan Pelabuhan Laut Teluk Bayur, Pelabuhan Muaro, Terminal Regional Bingkuang dan Bandara Ketaping yang didukung oleh prasarana dan sarana transportasi darat dan laut), sehingga menghasilkan nilai tambah bagi perkembangan kota. 9. Mengembangkan sektor pariwisata sebagai sektor unggulan melalui pengembangan secara terencana Kawasan Wisata Terpadu Gunung Padang dan Kawasan Wisata Sungai Pisang serta mendorong pengembangan Pasar Raya & Eks-Terminal Lintas Andalas menjadi Kawasan Pusat Niaga (CBD) yang terkait dengan pengembangan wisata belanja dan wisata budaya. 10. Mengembangkan kawasan pesisir sepanjang pantai menjadi kawasan komersial dengan menggunakan konsep water-front city, sehingga dapat menjadi ciri khas Kota Padang dimasa depan dan sekaligus memberikan nilai tambah bagi pembangunan kota.

31

Kajian Lingkungan Hidup Strategis Padang

11. Mengembangkan Kawasan Limau Manis sekitar Kampus UNAND sebagai kawasan pendidikan, penelitian dan pelatihan yang memiliki skala pelayanan regional. Sedangkan kawasan pendidikan tinggi lainnya yang sudah ada dikembangkan dengan pendekatan intensifikasi lahan. Di dalam RTRW tersebut, arahan pengembangan pusat kegiatan Pelabuhan Muaro dan Gunung Padang dirumuskan sebagai berikut, Pelabuhan Muaro Pelabuhan Muaro diarahkan sebagai untuk pelayanan lingkup lokal dan antar-pulau (interinsuler). Kapal penumpang, kapal barang dan kapal pesiar (yacht) dengan kapasitas terbatas akan menggunakan pelabuhan ini sebagai tempat bersandar dan pemberangkatan. Untuk pelayaran angkutan penumpang dari/ke Pulau Mentawai, terutama angkutan wisata, diharapkan semua aktifitasnya dapat dilakukan dari Pelabuhan Muaro sehingga interaksi antara Kota Padang dengan Kabupaten Kepulauan Mentawai dapat dilihat sebagai suatu jaringan pelayanan transportasi yang terintegrasi dengan pelayanan pariwisata. Ke depan juga diharapkan dikembangkannya jaringan pelayaran wisata ke Carocok, Painan dan Pariaman, sehingga wisatawan memiliki alternatif lain untuk mengunjungi obyek-obyek wisata yang terdapat di Kabupaten Pesisir Selatan dan Kabupaten Padang Pariaman. Kawasan Wisata Terpadu Gunung Padang Pengembangan kawasan dilakukan dalam rangka mendukung salah-satu fungsi utama Kota Padang yaitu sebagai Pusat Kegiatan Pariwisata. Pengembangan kawasan ini ditunjang oleh keberadaan Kota Tua, Jembatan Siti Nurbaya, Pantai Air Manis, Bukit Malin Kundang, Muaro dan Pantai Padang. Sehubungan dengan itu pengembangan kawasan ini perlu mempertimbangkan hal berikut: 1. Perencanaan kawasan dilakukan oleh Pemerintah Kota Padang atau bersama-sama dengan pihak swasta. 2. Pelaksanaan dan pembiayaan pembangunan kawasan dilakukan oleh Pemerintah Kota Padang, pihak Swasta atau kerjasama antara Pemerintah Kota Padang dengan pihak Swasta. 3. Pengelolaan, pemeliharaan dan pengembangan kawasan dilakukan oleh Pemerintah Kota Padang, pihak Swasta atau kerjasama antara Pemerintah Kota Padang dengan pihak Swasta. Pola atau sistem pengembangan kawasan dilakukan dalam bentuk kerjasama pembangunan yang saling menguntungkan (joint venture, share-holders, BOT, BOO, dll) antara Pemerintah dengan pihak Swasta.

5.5
A.

Rencana Unsur Kota


Rencana Strategis Pengelolaan Wilayah Pesisir Kota Padang

Rencana Strategis Pengelolaan (Renstra) Wilayah Pesisir Kota Padang tahun 2004 2009 telah ditetapkan dengan Keputusan Walikota Padang nomor 485 Tahun 2004. Renstra Wilayah Pesisir merupakan salah satu pedoman bagi stakeholders di wilayah kota Padang dalam melaksanakan tugas pokoknya masing-masing. Beberapa bahaya lingkungan pesisir yang beraspek Geologi terutama adalah (a) sedimentasi, (b) gerakan tanah (c) banjir, (d) abrasi (e) akresi (f) intrusi air laut (g) gempa dan (h) tsunami. Berdasarkan hasil identifikasi isu dan permasalahan kawasan pesisir ada beberapa isu prioritas, yaitu: Jumlah penduduk kawasan pesisir yang relatif besar; Potensi kelautan dan perikanan belum terinventarisir dan termanfaatkan secara optimal; Potensi objek wisata belum dikelola secara optimal; Berkembangnya kegiatan pariwisata bahari; Berlangsungnya degradasi lingkungan; Penangapan ikan tanpa izin;

32

Kajian Lingkungan Hidup Strategis Padang

Terbatasnya armada penangkapan ikan dan rendahnya penerapan teknologi; Belum tersusunnya RTRW Perairan Laut; Belum terbentuknya kelembagaan pengelolaan pesisir dan laut; Pergeseran paradigma pengelolaan pesisir dan laut; Terbukanya pasar lokal, regional dan internasional; Penerapan Undang-undang Pemerintahan Daerah; Peningkatan status Pelabuhan Perikanan Nusantara Bungus (PPNB) menjadi PPS Bungus; Belum seluruh adanya Rencana Pengambangan Pariwisata Terpadu; Wilayah pesisir menjadi tempat pembuangan limbah instansi dan rumah tangga. Kordinasi kerja yang lemah; Terbatasnya sarana dan prasarana wilayah di kawasan pesisir; Konflik kewenangan dalam pemanfaatan pesisir makin tajam. Berdasarkan analisis SWOT dilaksanakan Tim Studi yang tersebut diatas (Strengths/Keunggulan Weaknesses/Kelemahan Opportunities/Kesempatan - Threats/ Ancaman) yang dilakukan dapat dirumuskan kebijakan strategis pengelolaan kawasan pesisir Kota Padang, yaitu: Meningkatkan pemanfaatan sumberdaya pesisir dan laut secara berkelanjutan untuk meraih peluang pasar. Memberdayakan masyarakat pesisir dalam pemanfaatan dan pengelolaan wilayah pesisir. Meningkatkan kualitas ekosistem pesisir dan laut Meningkatkan sarana dan prasarana serta teknologi. Memanfaatkan sumberdaya kelautan dan perikanan secara optimal, efisien berkelanjutan.Melibatkan seluruh stakeholders dalam perencanaan, pemanfaatan pengelolaan sumberdaya kelautan dan perikanan. Membuat tata ruang pengelolaan dan pemanfaatan wilayah pesisir dan laut. Menyiapkan peraturan perundang-undangan dan kelembagaan pengelolaan dan pemanfaatan wilayah pesisir dan laut. Tiap-tiap rumusan kebijakan di atas telah dijabarkan ke dalam rumusan sasaran, indikator dan strategi. Selanjutnya dirumuskan pula program strategis pengelolaan wilayah pesisir, mencakup 37 program strategis. Program strategis tersebut dibedakan atas tiga kategori, yakni jangka panjang, jangka menengah dan jangka pendek. Pada bagian akhir ditegaskan bahwa implementasi program strategis tersebut perlu didukung oleh Rencana Zonasi, Rencana Pengelolaan dan Rencana Aksi. B. Bangunan Cagar Budaya dan Kawasan Bersejarah. dan dan

Kota Padang merupakan salah satu kota yang memiliki warisan budaya berupa arsitektur bangunan yang khas yang tidak ditemukan di kota lain. Sebagai tindak lanjut Undang-undang nomor 5 tahun 1992 tentang Cagar Budaya, pemerintah Kota Padang menetapkan Keputusan Walikota Padang nomor 3 tahun 1998 tentang Penetapan bangunan cagar budaya dan kawasan bersejarah dikota Padang. Berdasarkan keputusan tersebut, 74 bangunan lama bersejarah ditetapkan sebagai bangunan yang harus dilindungi dari kepunahan. Untuk keperluan operasional dan pelayanan perizinan dalam rangka pengelolaan kawasan bersejarah dan bangunan yang dilindungi, Pemerintah Kota mempersiapkan Panduan Rancang Kawasan dan Bangunan Bersejarah, sebagai berikut, a. Memberi arahan dalam melakukan rekonsolidasi karakter tapak (setting) maupun visual terhadap kawasan dan bangunan-bangunan tua bersejarah yang telah mengalami perubahan dan berdampak terhadap penghilangan ciri/karakter serta penurunan kualitas.

33

Kajian Lingkungan Hidup Strategis Padang

b. Memberi arahan dalam pengendalian fisik dengan cara rehabilitasi dan rekonstruksi tata letak (prospective guideline) maupun penampilan wajah bangunan (performance guideline) pada kawasan dan bangunan-bangunan tua bersejarah sebagai akibat pengaruh tuntutan kebutuhan baru (internal) maupun tuntutan fungsi sekitarnya (eksternal). Sasaran penerapan Panduan Rancang Kawasan adalah: a. Mengembalikan potensi warisan kota (urban heritage) yang dimiliki kota Padang, meliputi segi sosio-kultural, sosio-ekonomi dan segi fisik lingkungan.

b. Mengembalikan dan meningkatkan vitalitas kawasan dan bangunan-bangunan bersejarah agar lebih bernilai dan berdaya guna. c. Panduan dalam melakukan kegiatan pemugaran terhadap kawasan dan bangunanbangunan tua bersejarah di kota Padang.

d. Panduan dalam pengendalian bangunan-bangunan baru yang menjadi bagian kelompok bangunan tua bersejarah maupun bangunan sekitar yang menjadi bagian dalam kelompok penzoningannya. Program pembangunan dan pengembangan kawasan bersejarah beorientasi pada program pembangunan sektor-sektor utama kota yang secara langsung atau tidak langsung mempunyai keterkaitan dengan kawasan kota lama Padang. Kebijaksanaan dalam pengendalian perkembangan kota tua dilakukan dengan: Menetapkan aturan pemanfaatan lahan dan batasan-batasan pembangunan fisik bangunan. Mengkonsolidasi karakteristik visual secara esensial kawasan dan bangunan-bangunan lama bersejarah melalui tata ruang dan tata bangunan agar dapat mempertahankan dan meningkatkan vitalitas yang ada. Pengendalian perkembangan kota Padang difokuskan pada kawasan yang cenderung mengalami perkembangan yang pesat, kawasan yang ditinggalkan (peremajaan kota) dan kawasan yang mempunyai nilai khusus. Ketetapan tersebut disusun dalam dokumen perencanaan yaitu : RTRW, RDRTK,RTRK, dan RTBL. Untuk pengendalian perkembangan kawasan yang mempunyai karakteristik khusus yang menuntut pengendalian perkembangan yang khusus pula, perlu disusun Panduan pemanfaataan ruang dan bangunan di kawasan kota lama yang bertujuan untuk mengendalikan perkembangan kawasan tersebut. Pembangunan di kawasan terbangun dilindungi (Conservation area) yang memiliki bangunanbangunan lama bersejarah perlu dipandu oleh rancangan khusus berupa Panduan rancang bangunan yang kontekslamal dengan makna tempat. Dengan demikian kawasan-kawasan kota yang memiliki nilai sejarah dapat dipertahankan karakteristik visualnya, namun tetap mengakomodasi kepentingan saat ini dan mendatang. Upaya konservasi kawasan dan bangunan-bangunan lama bersejarah akan ditindaklanjuti dengan peraturan daerah (Perda). Beberapa kebijakan kota yang berkaitan dengan kawasan kota Lama Padang adalah sebagai berikut: Mengembangkan dan melestarikan bangunan atau kelompok bangunan lama bersejarah di kawasan kota lama maupun kawasan pusat kota yang memiliki nilai historis penting bagi kota Padang, seperti Kawasan Pasa Gadang, Kawasan Batang Arau, komplek militer (kawasan ganting), kawasan sekitar jalan Gereja, komplek Militer jalan Samudera, Kawasan Benteng Gunung Padang, kawasan gedung Balai kota, jalan Sudirman (sekitar SMU I), Komplek stasiun kereta api jalan stasiun, Kawasan sekitar simpang haru dan kawasan lainnya yang memiliki bangunan tunggal maupun berkelompok. Dalam bidang transportasi, mendorong usaha pembangunan dan perluasan dermaga Pelabuhan Teluk Bayur dan Rencana Pelabuhan Marina (Batang Arau), melalui peningkatan koordinasi dengan instansi pemerintah dan masyarakat dalam pembebasan dan penyediaan tanah.

34

Kajian Lingkungan Hidup Strategis Padang

Pengembangan jalan arteri primer di sepanjang pantai barat di masa mendatang, sejalan dengan pengembangan Bandara Ketaping. Menetapkan dan mengembangkan kawasan Bukit Putus dan Gado-gado di Kecamatan Padang Selatan, Kelurahan Batang Arau sebagai kawasan hutan kota. Mengembangkan Pelabuhan Teluk Bayur di Kecamatan Padang Selatan sesuai dengan Rencana Induk Pengembangan yang telah ditetapkan. Memindahkan Pelabuhan laut interinsuler Muaro ke Teluk Bayur, Pelabuhan ferry ke Bungus, dan selanjutnya menata kembali pelabuhan Muaro menjadi pusat pelayanan wisata bahari. Sejak tahun 2001 Pemerintah Kota dan masyarakat telah melakukan berbagai kegiatan, terutama kegiatan-kegiatan yang bersifat: Peremajaan kota lama (revitalisasi) bagian-bagian kota yang berpotensi untuk menunjang kegiatan pariwisata alam dan sejarah. Tahun 2002 telah dilakukan rehabilitasi terhadap 16 bangunan lama bersejarah di jalan Pasar Hilir, Kelurahan Pasa Padang, Kecamatan Padang Selatan. Kegiatan ini merupakan percontohan (pilot project) untuk rehabilitasi selanjutnya. Pengembangan jembatan Siti Nurbaya sebagai akses menuju kawasan wisata Gunung Padang. Revitalisasi dan pembersihan sungai Batang Arau untuk menunjang kegiatan wisata bahari Kegiatan budaya yang ada, khususnya bagi komunitas masyarakat di kawasan-kawasan lama guna menunjang kegiatan wisata kota. Rehabilitasi beberapa bangunan lama bersejarah dan perbaikan jalan menuju tempat-tempat penting di kota lama. Pengembangan jalur pejalan kaki dengan pembuatan trotoar di tempat-tempat penting di kawasan kota lama. Sosialisasi kepada masyarakat untuk lebih memperhatikan dan peduli terhadap kawasan dan bangunan lama bersejarah melalui upaya-upaya pelestarian. Revitalisasi kawasan dan bangunan bersejarah lainnya yang belum tersentuh oleh perencanaan kota seperti: komplek militer (kawasan ganting), kawasan sekitar jalan Gereja, komplek Militer jalan Samudera, kawasan Benteng Gunung Padang, kawasan gedung Balai kota, jalan Sudirman (sekitar SMU I) dan kawasan lainnya yang memiliki bangunan tunggal maupun berkelompok. Pemasangan Tanda (Pening) terhadap bangunan-bangunan lama bersejarah yang perlu dilindungi yang berfungsi informasi bagi pemilik, pemakai maupun masyarakat luas. Rencana Peraturan Daerah berkaitan dengan perlindungan benda cagar budaya yang dapat berupa kawasan, lahan, bangunan berkelompok, bangunan-bangunan tunggal baik di kawasan kolonial maupun tradisional. Rencana revisi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) tahun 2003-2013 yang mempertegas kawasan-kawasan lama kota Padang sebagai kawasan bersejarah yang perlu dilindungi. Kawasan Kota Lama di bagi menjadi 9 (sembilan) blok perencanaan; salah satu blok (Blok 1) bersisian dengan lokasi rencana reklamasi, yakni antara jalan Samudera (Pantai Padang), jalan Hayam Wuruk dan jalan Robert Wolter Mongisidi. Blok ini memiliki luas 5.23 Ha dan luas parcel 2.2 Ha beberapa potensi yang dimiliki oleh blok-1 antara lain: Blok berada di kawasan wisata Pantai Padang, Memiliki 5 bangunan tua bersejarah, Memiliki sejarah tentang militer di kota Padang, Aksesibilitas sangat baik dari darat maupun laut, Kedekatan jarak dengan berbagai fasilitas kota.

35

Kajian Lingkungan Hidup Strategis Padang

Panduan Rancang Kawasan sudah membuat identifikasi intensitas pemanfaatan ruang (KDB dan KLB), peruntukan tanah, sirkulasi, ketinggian bangunan, prasarana dan utilitas. Sehubungan dengan itu, kajian reklamasi Pantai Padang perlu mempertimbangkan ketentuan-ketentuan pengelolaan bangunan yang dilindungi.

5.6

Gagasan Rencana Reklamasi Padang Bay City

1. Perencanaan Reklamasi Pantai Padang Gagasan reklamasi pantai Padang pada dasarnya merupakan respons pendayagunaan sebagian kawasan pantai Padang yang di dalam RTRW Kota Padang digolongkan sebagai kawasan prioritas, sedangkan dalam konteks sistem pusat pengembangan, diskenariokan sebagai Pusat Kegiatan Utama. Sebagaimana asumsi perencanaan tata ruang kawasan Gunung Padang, maka pembangunan reklamasi pantai Padang telah mempertimbangkan asumsi tersebut, yaitu: (a) perencanaan kawasan ini dilakukan oleh pemerintah kota atau bersama-sama dengan pihak swasta, (b) pelaksanaan dan pembiayaan pembangunan kawasan dilakukan dengan pendekatan PPP (Public Participation Partnership) oleh mitra swasta. Dalam hal ini Hak Pengelolaan atas tanah hasil reklamasi diterbitkan Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Kota Padang. (c) pengelolaan, pemeliharaan dan pengembangan kawasan dilakukan pihak Swasta bersama pemerintah kota, dan (d) pola atau sistem pengembangan kawasan dilakukan dalam bentuk kerjasama pembangunan yang saling menguntungkan (joint venture, share-holders, BOT, BOO, dll) antara pemerintah kota dengan mitra Swasta. Sejak tahun 2006 yang lalu, gagasan reklamasi pantai Padang telah direspons oleh mitra swasta, di antaranya PT Pacific Prestress Indonesia, Jakarta (telah melakukan kajian awal teknik reklamasi di lokasi pantai Padang) dan PT Graha Surya Mutiara, Jakarta (telah melakukan kajian Pra Studi Kelayakan untuk proposal PBC). Pada bagian berikut disampaikan kesimpulan masing-masing kajian. 2. Perencanaan Proyek Reklamasi Pantai Padang Lingkup kegiatan perencanaan yang dilakukan oleh PT Pacific Prestress Indonesia adalah sbb: Melakukan survey kelautan, khususnya bathimetri dan hidrografi, meliputi pengukuran kedalaman laut sekitar lokasi, pengukuran pasang surut, pengukuran arus, pengumpulan data gelombang, curah hujan, kecepatan angin dan data lain yang relevan. Melakukan penyelidikan tanah berupa pengeboran tanah, Standard Penetration Test, pengambilan contoh tanah asli, pengujian contoh tanah di laboratorium, melakukan pembahasan atas hasil uji laboratoriu. Meninjau kondisi kegempaan di lokasi rencana reklamasi mengacu ke pedoman yang berlaku. Melakukan analisis gelombang, berupa tinggi gelombang, panjang gelombang, kecepatan gelombang, tinggi run up gelombang, analisis kepecahan gelombang dan aspek lain yang berhubungan dengan penentuan dimensi sistem pemecah gelombang dan penahan tanah reklamasi. Melakukan perencanaan sistem pemecah gelombang/ penahan tanah reklamasi, berupa usulan beberapa alternatif sistem pemecah gelombang/ penahan tanah, dimensi sistem yang diusulkan serta stabilitas sistem penahan tanah tersebut, baik pada kondisi normal maupun pada kondisi gempa. Melakukan perhitungan struktur penahan tanah, untuk menentukan komponen-komponen struktur penahan tanah agar layak digunakan baik pada kondisi normal maupun pada kondisi gempa, serta ekonomis pada tingkat yang wajar sesuai kondisi alam yang dihadapi. Menyampaikan kesimpulan dan memberi rekomendasi berdasarkan semua hasil survey dan analisis. Kesimpulan dan rekomendasi yang disampaikan tim perencana adalah sebagai berikut: Berdasarkan data dari BMG untuk periode 15 tahun terakhir (1991-2005) pantai Padang mempunyai perilaku gelombang yang tinggi. Tinggi gelombang maksimum di atas 2,5 m

36

Kajian Lingkungan Hidup Strategis Padang

terjadi pada bulan Maret, Juni, Juli, September dan Januari, sedangkan puncak tertinggi gelombang terjadi pada bulan Januari, yaitu sebesar 3,02 m. Secara umum arah gelombang yang terjadi menunjukkan pada arah Barat Daya (SW) sampai Barat (W). Untuk analisis panjang gelombang dan cepat rambat gelombang yang dilakukan melalui pendekatan umum terhadap nilai periode di perairan laut dalam, telah diperoleh: Pada perairan laut dalam: Lo = 46,30 m; Co = 8,50 m/det Pada kedalaman 6 m: L1 = 36,10 m; C1 = 6,63 m/det Berdasarkan parameter-parameter di atas, dapat dianalisis perkiraan tinggi gelombang pada perairan pantai Padang di kedalaman 6 m adalah setinggi 2 m. Berdasarkan hasil penyelidikan tanah, secara umum dilokasi perairan dengan kedalama 6 m (ditempat rencana reklamasi) ditemukan lapisan tanah lempung kelanauan (silty clay) yang sangat lunak hingga konsistensi menengah, sampai akhir pengeboran pada kedalaman sekitar 30 m dibawah permukaan tanah setempat. Pantai Padang merupakan daerah rawan gempa yang berhubungan langsung dengan Samudera Indonesia. Berdasarkan pedoman perencanaan ketahanan gempa Pd M-XX-2004, kota Padang termasuk di dalam wilayah kegempaan dengan klasifikasi yang paling berat, wilayah kegempaan I. Untuk mengantisipasi resiko gempa di dalam perencanaan reklamasi, digunakan besaran percepatan puncak batuan dasar yang sesuai dengan Pd M-XX-2004 untuk perencanaan jembatan dan bangunan air pada wilayah gempa I dengan percepatan gempa diambil sebesar 0,53g. Berdasarkan kondisi kelautan dan Geoteknik di lokasi rencana reklamasi, telah diusulkan 3 alternatif struktur bangunan penahan tanah reklamasi, yaitu : tanggul batu alam/ blok beton (alternatif 1), tanggul tetrapod (alternatif 2), dan tanggul vertical dari sheetpile (alternatif 3). Berdasarkan hasil analisis gelombang khususnya run-up gelombang, diperoleh elevasi dan tinggi rencana (H) tanggul pada Alternatif 1 dan 2 sebagai berikut: Alternatif 1 (menggunakan batu) Elevasi tanggul = 5,70 m; tinggi tanggul= 11,70 m Alternatif 2 (tetrapod) Elevasi tanggul = 4,90 m; tinggi tanggul= 10,90 m

Berdasarkan pertimbangan berbagai faktor dan mempertimbangkan pula elevasi eksisting garis pantai dan jalan tepi pantai yang ada, serta hasil perhitungan run-up gelombang berdasarkan tinggi gelombang yang ada, maka tinggi elevasi reklamasi di dalam perencanaan ditetapkan pada elevasi +4,50 LWS. Dengan mengacu pada tinggi elevasi reklamasi + 4,50 LWS, dan berdasarkan kontur dasar laut yang didapat dari survey bathimetri, maka telah dihitung suatu perkiraan volume tanah untuk reklamasi, sebesar 2.346.600 m3. Namun demikian, karena karakteristik lapisan dasar laut yang sangat kompresible, maka diperkirakan dapat terjadi penurunan tanah hingga mencapai 2,5 2,8 meter akibat tekanan tanah reklamasi. Bila penurunan ini diperhitungkan, maka volume tanah yang dipergunakan untuk reklamasi hingga mencapai elevasi +4,50 LWS (setelah dipadatkan) diperkirakan akan menjadi 3.168.000 m3. Untuk mempercepat proses konsolidasi tanah dasar laut yang menurut hasil analisis penurunan tanah pada Laporan Penyelidikan Tanah akan memerlukan setidaknya waktu 8 tahun untuk mencapai derajad konsolidasi 90%, maka dapat dipakai cara percepatan proses konslidasi tanah dengan memasang (vertical drain) dan menggunakan surcharge/ pre loading. Hasil analisis stabilitas struktur penahan tanah menunjukkan bahwa baik tipe struktur tanggul maupun sheet pile adalah aman terhadap gelincir tanah akibat kondisi tekanan tanah normal (FK > 1,25). Namun akibat gaya gempa, faktor keamanan gelincir menjadi < 1, yang berarti tidak aman, baik untuk tipe struktur tanggul (FK = 0,34, Alternatif 1 dan 2) maupun untuk struktur sheet pile (FK = 0,51, Alternatif 3). Hal ini terutama disebkan oleh gaya gempa yang sangat besar pada Wilayah Gempa I dengan percepatan gempa sebesar 0,53g, dan juga oleh karakteristik lapisan tanah dasar yang lunak.

37

Kajian Lingkungan Hidup Strategis Padang

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa alternatif 1,2 dan 3 strktur penahan tanah adalah tidak aman terhadap kondisi gempa di Pantai Padang. Bila alternatif-alternatif ini akan digunakan, maka perlu ada sebagian area hasil reklamasi selebar 100-150 m dari struktur tepi penahan tanah (tergantung tipe strukturnya) yang harus dikosongkan dari semua kegiatan manusia (baik fungsional maupun rekreasi) kecuali untuk kepeluan penghijauan. Hal ini akan membuat usaha reklamasi pantai Padang menjadi tidak efektif. Oleh sebab itu, telah diusulkan suatu tipe struktur yang lain, yaitu stuktur penahan tanah yang menggunakan kumpulan tiang Bor yang dilaksanakan hingga kedalaman tanah padat/keras (N SPT > 40), yang selanjutnya disebut alternatif 4. Bila altenatif 4 ini yang dipilih maka tipe struktur ini relatif aman terhadap gempa, namun kendalanya adalah biaya yang mahal, karena disamping harus dilaksanakan hingga kedalaman tanah padat/keras (panjang lebih kurang 48 meter) tiang Bor ini harus pula mempunyai ukuran/dimensi yang besar (diameter minimal 1,50 m dengan casing pipa baja) agar dapat menahan gaya dalam yang besar baik berupa momen lentur, aksial ataupun geser.

3. Perencanaan Proyek Padang Bay City Di dalam latar belakang Proposal PBC antara lain dikemukakan bahwa kebijakan yang memberikan kemudahan di bidang investasi mendapat respons dari investor untuk membangun kawasan Pantai Padang. Mengacu ke kondisi dan permasalahan kota serta kebijakan pembangunan yang berkelanjutan, maka harus dilakukan kajian dan perencanaan yang terpadu lagi, sehingga dapat diambil keputusan tentang rencana pembangunan PBC. Maksud dan tujuan pembangunan PBC pada intinya adalah: Mewujudkan visi dan misi kota Padang sebagai Pusat Perekonomian dan Pintu Gerbang Perdagangan Terpenting di Indonesia Bagian Barat. Mempercepat pertumbuhan pembangunan fasilitas sarana dan prasarana kota Padang. Meningkatkan pertumbuhan ekonomi kota Padang yang ditunjang dari sektor investasi swasta. Sebagai salah satu upaya prefentif penanganan resiko bencana gempa dan tsunami (vertical mitigation). Sasaran pembangunan PBC adalah sebagai berikut: Mewujudkan rencana pembangunan kawasan wisata terpadu yang terintegrasi dengan rencana pembangunan kawasan Gunung Padang (Siti Nurbaya) dan pengembangan Air Manis. Pemanfaatan ruang Kawasan PBC meliputi kegiatan jasa dan perdagangan (hotel, mall, plaza, convention hall dan ruko) dan selanjutnya akan berfungsi sebagai fasilitas penjunjang pariwisata. Menjadikan PBC sebagai salah satu land mark kota Padang sekaligus sebagai pintu gerbang dan tujuan wisata Sumatera Barat. Sebagai lokomotif pergerakan ekonomi riil serta memberikan multiplier effect terhadap penyediaan lapangan kerja baru; pencerahan terhadap perkembangan industri rumah tangga seperti meningkatnya produksi kerajinan, makanan khas serta berkembangnya sektor-sektor penunjang pariwisata dan perdagangan lainnya. Meningkatnya pendapatan perkapita masyarakat dan Pendapatan Asli Daerah; Tersedianya lokasi atau kawasan bagi masyarakat di wilayah pesisir pantai Padang sebagai tempat evakuasi penanggulangan bencana gempa dan tsunami. Reklamasi PBC akan menghasilkan tanah hasil reklamasi seluas 33 Ha, yang terbagi atas 3 (tiga) sub Kawasan : Sub Kawasan I, luas 13 Ha yang akan diperuntukkan sebagai kawasan perdagangan dan komersil bisnis, berupa Mall, Hotel, Plaza dan Ruko.

38

Kajian Lingkungan Hidup Strategis Padang

Sub Kawasan II, luas 9 Ha, diperuntukkan untuk berbagai fasilitas kota, misalnya gedung serba guna, mesjid, taman dan fasilitas ruang terbuka hijau. Sub Kawasan III, luas kawasan 11 Ha, yang akan diperuntukan sebagai kawasan wisata, baik wisata pantai maupun niaga dengan menyediakan fasilitas pendukung seperti dermaga maupun fasilitas rekreasi pantai lainnya. Pada bab 3 ini telah diupayakan menelusuri Rencana Pembangunan Jangka Panjang, Rencana Pembangunan Jangka Menengah, Rencana Tata Ruang Wilayah dan Rencana-Rencana Sektoral. Dapat dikatakan bahwa relatif besar kesenjangan (gap) antara rumusan kebijakan jangka panjang (policy) Penataan Pantai dengan Padang dengan Rencana Jangka Menengah Pembangunan Kota Padang, demikian pula dengan indikasi program yang dimuat di dalam Rencana Tata Ruang Wilayah. Kemungkinan besar Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) lain di lingkungan Pemerintah Kota sudah menjabarkan RPJP dan/ atau RPJM ke dokumen-dokumen spesifik yang berkesesuaian (compatible) dengan proyek reklamasi pantai padang tetapi belum disampaikan ke Bappeda dan atau Walikota. Hal itu akan dicek silang (cross check) dengan respons SKPD terhadap kebijakan penataan Pantai Padang.

39

Kajian Lingkungan Hidup Strategis Padang

6. Rona Lingkungan Hidup dan Permasalahannya

6.1 Rona Lingkungan Wilayah Kota


(Lihat Lampiran 05 untuk tambahan data dari Rona Lingkungan)

Lingkungan Fisik Alami

1. Geologi Dari perspektif zonasi jalur tektonik Kepulauan Sunda, Van Bemmelen (1949) membagi pulau Sumatera dan Samudera Indonesia (dengan arah Barat Laut Tenggara) atas 8 zona. Dataran aluvial Padang (lanjutan dataran rendah Bengkulu) terletak pada zona V, yang tertutup oleh endapan Tertier Tengah dan batuan vulkanis formasi andesit tua. Pada beberapa tempat tersingkap intrusi batolit granit, granodiorit dan diorit intra miosin yang disebut oleh Tobler dengan istilah Hoch Barisan (high Barisan). Hasil orientasi peta Geologi lembar Padang (Kastowo dan Gerald W. Leo, 1996) dan peta Geologi lembar Painan dan Bagian Timur Laut Lembar Muara Siberut (HMD. Rosidi, S. Tjokrosapoetro dan B. Pendowo, 1976), menunjukan wilayah rencana kegiatan (Gunung Padang Air Manis Teluk Bayur) disusun oleh batuan berikut: Endapan permukaan aluvium (Qal) terdiri dari lanau, butiran, pasir dan kerikil Batuan berupa aliran yang tidak teruraikan (QTau) yang berasal dari hasil rombakan andesit gunung api Batuan berupa tufa kristal (QTt) yang juga merupakan produk gunung api

2. Geomorfologi Verstappen (1973) di dalam A Geomorphological reconnaisance of Sumatera and Adjacent island (Indonesia) membuat skets geomorfologi dataran alluvial Padang yang dolengkapi dengan peta 1 : 125.000. Dataran rendah alluvial Padang yang memanjang ke arah Barat Laut merupakan dataran yang relatif sempit dan makin runcing di ujungnya. Di kawasan pantai terbentuk bentang alam perbukitan rendah andesit tua yang membuat struktur batuan pantai mejadi tidak teratur yang diselingi beberapa tanjung dan teluk-teluk kecil. Di sebelah Utara, perbukitan rendah ini dibatasi oleh eskarpmen yang terbentuk akibat pengaruh patahan pegunungan Bukit Barisan. Di kawasan antara kota Padang dengan lokasi fabrik semen Indarung diidentifikasi beberapa patahan yang sangat mempengaruhi pola aliran sungai. Endapan lumpur vulkanis dalam jumlah sangat banyak mengisi lembah yang seolah-olah membentuk endapan kipas (alluvial fan).

3. Iklim Curah Hujan. Rezim curah hujan suatu Daerah Aliran Sungai (DAS) akan mempengaruhi kontinuitas aliran air permukaan, dalam hal ini aliran sungai Batang Arau. Jumlah hari hujan dan besaran curah hujan, tutupan vegetasi dan kemiringan lereng di kawasan hulu sungai akan mempengaruhi volumen bahan-bahan endapan yang akan diangkut ke muara sungai. Curah hujan tahunan selama 5 tahun terakhir (1992-1996) berfluktuasi antara 1.675,2 mm sampai 2.229 mm, dan rata-rata curah hujan adalah 306 mm/tahun dengan jumlah hari hujan rata-rata 159 hari per tahun. Jumlah hari hujan per tahun di Kota Padang cukup banyak dengan tidak ada bulan kering. Curah hujan ini disebabkan oleh iklim musim, musin pancaroba dan hujan konveksi (hujan lokal). Musim pancaroba jatuh pada bulanbulan Maret dan April. Keadaan ini dipengaruhi oleh peredaran matahari yang menyebabkan terjadinya Daerah Konfergensi Antar Tropik (DKAT).

40

Kajian Lingkungan Hidup Strategis Padang

Tipe iklim seperti ini menurut metode Schmidt dan Fergusson (1951) adalah tipe A (basah) yang menggambarkan bulan basah > 9 bulan dalam setahunnya. Suhu. Data hasil pengamatan pada tujuh stasiun curah hujan menjelaskan suhu udara minimum terjadi pada bulan Juli yaitu 220C. Kelembaban berkisar antara 75% hungga 84%. Arah angin pada bulan Januari hingga April dan Juni hingga Desember adalah ke arah Barat, hanya bulan Mei adalah ke arah Barat Daya. Kecepatan angin rata-rata antara 01 hingga 03 knot dengan rata-rata 1,25 knot. Kecepatan terbesar mencapai 25 knot, dengan rata-rata 15,08 knot. Rata-rata penyinaran matahari maksimum terjadi pada bulan Mei yaitu 81 dan minimum pada bulan September / Oktober yaitu 30. Angin. Kecepatan angin rata-rata di Kota Padang berkisar antara 1 2 knot per jam. Ini menunjukkan bahwa angin di Kota Padang bergerak relatif lambat dan sesekali terjadi angin kecang (20 knot per jam), dengan arah angin yang selalu menuju Barat atau Barat Daya, artinya dari arah Samudera Indonesia. Data ini dapat digunakan untuk melengkapi penyusunan rencana kegiatan yang akan berlangsung di kawasan pantai dan perairan laut.

4. Pola Pengaliran Sungai Sungai utama di Kota Padang umumnya mengalir dari arah Timur ke Barat serta bermuara di Samudera Indonesia, yaitu Batang Kuranji, Batang Arau, Batang Anai, Bandar Bekali dan Air Dingin mempunyai air yang mengalir sepanjang tahun, sedangkan anak-anak sungai di sekitarnya umumnya sebagai sungai tadah hujan. Aliran sungai permukaan ini umumnya berasal dari curah hujan di daerah pegunungan atau daratan.

Debit sungai yang melewati Kota Padang dapat dilihat sebagai berikut:
Tabel 1. Debit Sungai No 1 2 3 4 5 6 Nama Sungai Batang Kandis Batang Air Dingin Batang Kuranji Batang Arau Batang Air Timbulun Sungai Pisang Debit (l/detik) *) 7,5 93 20 2,95 *)

Sumber : Dinas PU pengairan Kota Padang Keterangan : *) data tidak tersedia

Kawasan tangkapan air (catchment area) pada Tahura Dr. Moh. Hatta dibagian Utara yakni sungai Lubuk Paraku dan di sebelah Selatan yakni sungai Balang. Hampir seluruh sungai/batang yang terdapat di Kota Padang mempunyai hulu sungai di kawasan lindung dan daerah penyangga seperti ditunjukan pada tabel berikut ini.
Tabel 2. Nama sungai yang berhulu dikawasan lindung dan daerah yang dilalui No 1 Nama Kawasan Lindung Tahura Dr. Mohammad Hulu Sungai Batang Arau Kecamatan Yang Dilalui Lubuk Kilangan, Pauh, Koto Tangah, Padang

41

Kajian Lingkungan Hidup Strategis Padang

Hatta

Batang Kuranji Batang Anai Batang Air Dingin

Utara, Lubuk Begalung, Nanggalo, Kuranji

Cagar Alam Barisan I/Reg. No. 6

Batang Arau Batang Kuranji Batang Anai Batang Air Dingin

Lubuk Kilangan, Pauh, Bungus Teluk Kabung, Padang Utara, Padang Selatan, Padang Barat

Suaka Alam Arau Hilir/Reg. No. 10

Batang Arau Batang Kuranji Batang Anai Batang Air Dingin

Lubuk Kilangan, Koto Tangah, Kuranji, Padang Utara, Lubuk Begalung

4 5 6

Sempadan Pantai Sempadan Sungai Hutan Mangrove

----------------------

Bungus Teluk Kabung ---------------

Sumber : Dinas PU Kota Padang, Dinas Kehutanan & Data Sekunder. Batang Arau adalah sungai yang mau dijadikan marina di muaranya.

Sedangkan di daerah penyangga, terdapat beberapa sungai yang melaluinya antara lain: Batang Arau, Batang Kuranji, Bandar Bakali, Batang Air Dingin, Batang Timbalun, Sungai Pisang. Berdasarkan hasil pemantauan BPLHD yang dilaksanakan terhadap kualitas air Batang Arau yang ditinjau dari parameter fisik, kimia dan biologi dapat ditarik beberapa keseimpulan: Kualitas air pada bagian hulu (Lubuk Peraku dan Batang Sikayan) dapat dikategorikan sebagai air kelas I dan dapat digunakan sebagai air baku air minum. Kualitas air bagian tengah, menunjukan terjadinya peningkatan konsenterasi polutan pada semua konstituen yang diamati dan menyebabkan terjadinya penurunan kualitas air. Untuk konstituen TTS, BOD, COD, NH3 dan NO3 sudah berada pada klasifikasi pencemar air kelas III, bahkan H2S dan deterjen sudah masuk dalam kategori kelas IV. Kualitas air di bagian hilir semakin menurun seiring meningkatnya konsenterasi polutan baru yaitu minyak. Termasuk air kelas IV. Disamping itu laju sedimentasi di bagian hilir cenderung meningkat dan menunjukan angka tertinggi di Muara yaitu mencapai 103,16 ton/hari.

5. Kualitas Air Laut Penurunan kualitas air sungai dan pembuangan langsung berbagai jenis limbah cair dan padat mengakibatkan penurunan kualitas air laut. Beberapa kegiatan instansional yang beroperasi di pantai, antara lain pelabuhan Teluk Bayur, pelabuhan Bungus dan Muara, Depot Pertamina dan Pasar tradisional Gaung dan Bungus, Tempat Pelelangan Ikan (TPI) dan industri Pabrik Kayu Lapis/Polywood (sekarang sudah tutup) serta daerah wisata muara, Air Manis, Gaung, dan Bungus mempengaruhi penurunan kualitas air laut. Penurunan kualitas perairan pantai tampak dari beberapa parameter TSS telah melampaui nilai ambang baku mutu air laut. Beberapa lokasi di sepanjang perairan pantai Kota Padang merupakan tempat bermuaranya sungai-sungai utama. Sebagian besar sungai tersebut tampak telah mengalami penurunan kualitas baik oleh bahan pencemar atau juga oleh TSS dari daerah DASnya. Nilai TSS dan TDS mencapai lebih 1000 ppm. Di muara sungai Batang Kandis pernah mencapai 5400 mg/l pada tahun 2002 (Bapedalda Kota Padang 2003), sedangkan baku mutu air untuk parameter ini adalah 1000 ppm.

42

Kajian Lingkungan Hidup Strategis Padang

Secara visual, warna air laut yang berdampingan dengan pantai telah berubah menjadi keruh. Kekeruhan dan penurunan kualitas tersebut terjadi di sekitar mulut muara sungai yang ada, kemudian menyebar ke perairan laut sekitarnya. Penyebab penurunan kualitas tersebut berasal dari sungai dan berbagai aktivitas manusia di daerah sempadan sepajang perairan pantai ini seperti pelabuhan, industri polywood, Depot Pertamina, TPI dan parawisata, serta juga adanya masukan dari aktivitas budidya ikan, pemukiman dan pasar. Kemudian juga berasal dari buangan limbah kapal dagang yang berlabuh di Muara Padang dan Teluk Bayur. (Informasi dari nelayan setempat), Hal ini ditunjukkan oleh sebagian besar parameter limbah cair dari beberapa kegiatan di atas melebihi nilai ambang (Tabel 3).
Tabel 3. Kualitas Air Laut/Perairan Pantai Kota Padang (2006) Parameter yang Diamati Lokasi Nitrogen (ppm) Suhu (oC) Salinitas (%) TSS (ppm) TDS (ppm) pH BOD (ppm) COD (ppm) NH3 NH2 NO3 Miny ak/ lema k

Muara Penjalinan

26,00

2,83

*)

*)

6,57

0,64

24,55

2,16

ttd

*)

Purus

27,5

3,33

377,3

46,50

7,67

0,67

10,96

0,51

0,21

0,08

24

Air Manis

24,3

3,48

379,2

44,60

7,9

1,67

16,61

ttd

ttd

0,09

32

Teluk Bayur

29,6

3,24

28.27

7,4

1,2

53,92

0,01

0,01

0,11

14

Bungus Nilai Baku Mutu Kep-02/MenKLH/1988

28

3,32 Alami (1,0 %)

232,2

48,90

8,0

1,28

15,11

ttd

0,14

0,04

12

Alami

< 80

<23

6,5-8,5

< 40

< 80

<1

Nihil

*)

Nihil

Sumber : Bapedalda Provinsi Sumatera Barat 2006 Keterangan : *) Data tidak tersedia

Tabel 4. Faktor Fisika dan Kimia Perairan Pantai (2006) Strata No Parameter I 1 2 3 4 5 pH Salinitas o/oo Turbiditas (NTU) Temperatur oC Titik Transparansi (m) 7.64 22.8 3.70 31.4 2.9 II 7.43 29.4 1.05 31.20 3.40 III 7.29 33.00 5.00 31.5 na* IV 7.46 34.00 0.49 31.70 6.70 Diperbolehkan 69 Alami >30 Alami >3 Diinginkan 6,5-8,5 Alami <5 alami >5 BMAL

43

Kajian Lingkungan Hidup Strategis Padang

6 7 8 9 10

O2 terlarut (ppm) CO2 bebas (ppm) BOD5 (ppm) N Total (ppm) PO4 (ppm)

6.48 4.70 2.07 4.22 4.40

7.09 3.00 0.8 4.74 0.20

5.80 10.00 2.58 4.75 0.33

7.12 8.00 2.00 6.33 2.62

>4 <80 <45 *) *)

>6 <40 <25 *) *)

Sumber Strata I Strata II Strata III Strata IV BMAL

: data penelitian biologi 2006 = Muara sungai = Pantai tidak bervegetasi = Pantai bervegetasi = Laut yang tidak terpengaruh oleh pantai (zona oceanik) = Baku mutu air laut berdasarkan Kep-02/MENKLH/I/1998

Keterangan : *) Data tidak tersedia

Kedalaman sampai dasar perairan 0,87 m

Lingkungan Sosekbud 1. Kependudukan Berdasarkan sensus yang dilakukan 2003, penduduk Kota Padang tahun 2003 berjumlah 765.450, sedangkan jumlah penduduk tahun 2005 berjumlah 801.488, berarti laju pertumbuhan Kota Padang selama 3 tahun terakhir (2003-2005) adalah sebesar 1,03 %. Berdasarkan data tahun 2003, diproyeksikan pada tahun 2006 jumlah penduduk menjadi 815.078 jiwa dan tahun 2007 menjadi 832.208 jiwa (Tabel SDM 19.1). Jumlah penduduk Kota Padang berdasarkan hasil mutasi penduduk pada tahun 2000 sebesar 724.435 jiwa, sedangkan menurut BPS sebanyak 713.242 jiwa yang tersebar pada 11 wilayah kecamatan. Pada tahun 2005 jumlah penduduk Kota Padang sebanyak 762.572 jiwa (laporan mutasi) dan menurut BPS 801.488 jiwa.

Jumlah penduduk menurut kecamatan adalah sbb:


Tabel 5. Perkembangan Jumlah, Persebaran dan Laju Pertumbuhan Penduduk Kota Padang Menurut BPS dan Kecamatan Tahun 2000-2005 (jiwa) NO 1 KECAMATAN Padang Utara 2000 66.891 2001 67.388 2002 68.896 2003 69.479 2004 71.256 2005 72.770 LPP (%) 0.72

44

Kajian Lingkungan Hidup Strategis Padang

2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

Padang Selatan Padang Timur Padang Barat Koto Tangah Nanggalo Kuranji Pauh Lubuk Kilangan Lubuk Begalung Bungus Teluk Kabung

54.671 80.632 59.913 120.604 51.154 96.432 40.975 38.739 83.585 19.646

55.651 81.613 60.886 121.555 51.910 97.494 41.215 38.518 84.372 20.181

56.295 83.038 61.693 124.181 52.674 99.292 42.188 39.882 86.055 20.227

57.342 79.413 56.980 141.638 53.171 105.370 47.956 38.743 93.203 22.154

58.780 81.427 58.420 145.193 54.516 108.209 49.163 39.700 95.539 22.717

59.988 83.160 59.600 147.800 55.683 110.206 51.206 40.500 97.500 23.075

0,33 0,90 0,01 1,34 0,65 0,40 2,91 2,81 1,00 2,19

Jumlah

713.242

720.783

734.421

765.450

784.740

801.488

1,03

Sumber : BPS Kota Padang Tahun 2006

Pertambahan penduduk terjadi di hampir semua daerah kecamatan. Sementara pertambahan tertinggi terdapat di daerah Koto Tangah yaitu 2.607 jiwa selama setahun terakhir (2005-2006) atau sebesar 1,76 %. Kemudian diikuti oleh Kecamatan Kuranji sebesar 2.117 jiwa (1,92 %) dan Kecamatan Pauh sebesar 2.043 (3,99 %). Penduduk Kota Padang diperkirakan masih akan mempunyai laju pertumbuhan yang cukup tinggi, baik akibat kelahiran maupun masih relatif besarnya arus migrasi masuk ke Kota Padang. Laju pertumbuhan penduduk yang semula bergerak pada angka 2,36 % akan mulai menurun menjadi 2,12 % (menurut perkiraan BPS 2003-2010).

2. Ekonomi Kota Produk Domestik Bruto (PDRB) Kota Padang menurut harga konstan pada tahun 2004 tumbuh sekitar 5,89 % dan tahun 2005 tumbuh sekita 5,29 %. Sedangkan dalam tahun yang sama perkembangan ekonomi Propinsi Sumatera Barat naik sekitar 5,46 % dan 5,53 %. Perkembangan yang cukup signifikan ini didorong oleh hasil-hasil yang dicapai dalam seluruh sektor usaha perekonomian terutama sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor industri pengolahan, sektor keuangan, persewaan dan jasa-jasa. Berdasarkan angka dari BPS, Produk Domestik Bruto (PDRB) Kota Padang pada tahun 2005 telah mencapai Rp. 12.768,67 Milyar, sedangkan menurut harga konstan tahun 2000 adalah sebesar Rp. 9.057,63 Milyar. Jika dibandingkan dengan PDRB menurut harga konstan ini pada tahun 2004, sebesar Rp. 8.653,17 Milyar, terlihat bahwa pertumbuhan ekonomi Kota Padang tahun 2005 rata-rata naik sekitar 5,49 % per tahun. Struktur perekonomian daerah sampai tahun 2004 dan 2005 masih didominasi oleh empat sektor utama yaitu sektor industri dan pengolahan, sektor perdagangan,hotel dan restoran; sektor pengangkutan dan komunikasi serta sektor jasa-jasa dengan kontribusi dari sektor-sektor tersebut melebihi 75 % dari total PDRB, dimana peranan sektor industri dan pengolahan dalam tahun 2005 sebesar 16,77 %, sektor perdagangan, hotel dan restoran sebesar 21,93 %, sektor pengangkutan dan komunikasi 24,48 % dan sektor jasa-jasa sebesar 15,50 %. PDRB per kapita atas dasar harga berlaku (ADHB) juga terjadi peningkatan dimana pada tahun 2004 berkisar Rp.12,605.628,83 meningkat menjadi Rp.13.722.346,91 pada tahun 2004 atau terjadi peningkatan lebih kurang sebesar 10,38 % (Rp.1.116.718,08). Secara riil (ADHB), peningkatan perkapita tersebut hanya sebesar 3,54 % atau sebesar Rp.1.277.724,- dimana pada tahun 2004 hanya sebesar Rp.3.609.244,05 maka pada tahun 2005 menjadi Rp.3.736.968,05. Kontribusi terbesar dalam peningkatan PDRB kota Padang tahun 2005 ini, seperti juga pada tahun-tahun sebelumnya adalah di sektor pengangkutan dan komunikasi yaitu sebesar 3.230,97 juta rupiah atau sebesar 31,24 %, atau secara riilnya hanya sebesar 584,93 juta rupiah atau sebesar 20,77 %.

45

Kajian Lingkungan Hidup Strategis Padang

Tabel 6. Perkembangan PDRB Kota Padang (2001 2006 Berdasarkan Harga Konstan Tahun 2000 (Rp. Milyar) Lapangan Usaha Pertanian Pertambangan Industri pengolahan Listrik, air dan gas Bangunan Perd.hotel dan restoran Pengangkutan dan kom. Keuangan dan persewaan Jasa-jasa PDRB 2001 390,18 122,43 1.322,00 123,90 305,46 1.640,84 1.640,47 542,14 1.268,62 7.353,09 1002 407,40 125,00 1.392,43 132,98 318,51 1.727,93 1.758,36 561,64 1.318,94 7.742,46 2003 426,29 126,69 1.423,30 143,98 332,87 1.802,83 1.947,90 591,22 1.377,32 8.171,84 2004 446,45 131,09 1.470,14 145,94 351,11 1.887,27 2.148,31 646,28 1.426,55 8.653,17 2005 468,13 136,58 1.519,53 152,11 375,17 1.986,56 2.217,49 707,51 1.494,63 9.057,63 2006 463,05 132,30 1.486.487 154.03 372,33 2.586,48 2.240,58 711.582 1.472,30 9.601.153

Sumber : BPS Kota Padang Tahun 2006

Tabel 7. Perkembangan PDRB Per Kapita Penduduk Kota Padang, 2000 2006 PDRB Kota Padang Tahun H. Berlaku (Rp. Juta) 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 7.065.100 8.038.700 9.266.700 10.312.730 11.507.491 12.758.665 14.378.000 H. Konstan (Rp. Juta) 7.065.100 7.353.090 7.742.460 8.171.840 8.653.170 9.057.692 9.601.153 677.000 695.100 712.700 730.500 750.700 771.459 801.488 Jumlah Penduduk H. Berlaku (Rp.) 10.431.886 11.564.810 13.002.243 14.117.166 15.329.014 16.538.358 17.939.133 PDRB Perkapita H. Konstan (Rp.) 10.431.886 10.578.463 10.863.558 11.186.642 11.526.812 11.740.989 11.979.160

Sumber : KUA APBD Kota Padang 2007

3. Sistem Kekerabatan Hubungan kekerabatan orang Minangkabau berpola kepada garis keturunan ibu dimana seseorang digolongkan ke dalam keluarga (suku) ibu. Dalam perkembangan selanjutnya kaum wanita mendapatkan kedudukan yang penting dalam kaumnya.

46

Kajian Lingkungan Hidup Strategis Padang

Kesatuan terkecil masyarakat disebut keluarga, gabungan beberapa keluarga yang sama disebut kaum atau paruik (perut). Kumpulan paruik membentuk suku dan kumpulan suku menjadi kampuang. Suku merupakan suatu kesatuan homogen dipimpin oleh kepala suku (penghulu andiko). Penghulu berkuasa dan bertanggung jawab terhadap segala sesuatu berkenaan dengan kepentingan suku dan anggota suku. Dalam kehidupan berkerabat seperti aktifitas gotong royong dan tolong menolong pada suatu upacara perkawinan dan kematian meski didasarkan kepada tradisi atau adat yang turun temurun, akan tetapi lebih didominasi oleh pengaruh Islam. Di samping itu, agama lainnya yang telah berkembang secara harmonis dan berdampingan dengan agama Islam pada wilayah rencana kegiatan diantaranya Kristen (Khatolik dan Protestan) dan Budha (terutama di wilayah Kelurahan Batang Arau). 4. Adat Istiadat Sistem kemasyarakatan di Minangkabau berdasarkan atas 2 aturan yang disebut dengan sistem kelarasan yaitu: Kelarasan Koto Piliang, susunan Datuk Katumanggungan, bersifat otokrasi. Segala sesuatu yang dilaksanakan datang dari atas Penghulu Pucuk. Penghulu Pucuk sebelumnya bermusyawarah dengan Penghulu Suku, kalau sudah sepakat baru dilaksanakan oleh anak kemenakan. Dikenal dengan istilah Bajanjang naiak batanggo turun. Sedangkan Kelarasan Bodi Chaniago, susunan Datuk Parpatih Nan Sabatang aturannya lebih bersifat demokratis. Segala sesuatu yang dilaksanakan datang dari anak kemenakan dan dimusyawarahkan secara bersama. Setiap anggota masyarakat mempunyai hak yang sama dalam musyawarah ini. Dikenal dengan istilah Duduk sama rendah tegak sama tinggi. Norma atau tatanan yang tetap berlaku di wilayah kehidupan masyarakat terutama kesopanan, menghormati tamu atau saling menghargai. Namun, implementasi falsafat Minangkabau adat basandi syarat, syarak basandi kitabullah merupakan tatanan lebih dominan. 5. Kepemilikan Tanah Status kepemilikan tanah bagi masyarakat Minangkabau umumnya dan Kota Padang khususnya adalah tanah milik masyarakat adat (tanah kaum) yang disebut tanah ulayat yang diwariskan secara turun temurun. Tapi dalam perkembangannya saat ini kepemilikan lahan masyarakat sudah banyak milik pribadi (Sertifikat Hak Milik) yang diperoleh melalui jual beli. Namun sebagian kecil ada juga masyarakat yang menempat tanah negara (eigendom/erfacht) bekas kepemilikan Kolonial Belanda. Sampai sekarang belum jelas penetapan pemilikan hutan mangrove dan sempadan pantai yang terdapat di Kota Padang. Di satu pihak masyarakat merasa lokasi yang berdekatan dengan tanah kaumnya dan meyakini bahwa kawasan tersebut termasuk tanah kaum mereka. Di lain pihak, Dinas Kehutanan mengatakan bahwa semua lahan hutan mangrove adalah tanah negara dan termasuk hutan yang dilindungi. Titik temu kedua pendapat ini belum ada. 6 . Penggunaan Tanah Pola penggunaan tanah kota Padang adalah sbb:
Tabel 8. Penggunaan Tanah di Kota Padang Luas No. Penggunaan Lahan Ha 1 2 3 4 Hutan lahan kering primer Hutan lahan kering Skunder Hutan mangrove sekunder Hutan rawa sekunder 18.972.4 14.872.1 % 27.30 21.40 -

47

Kajian Lingkungan Hidup Strategis Padang

5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15

Perkebunan Pemukiman Pertambangan Pertanian Lahan Kering Pertanian lahan kering campur Rawa Sawah Semak / belukar Tanah terbuka Transmigrasi Tubuh Air Total 2006

556.0 7.158.1 347.5 20.202.5 5.226.1 1.570.6 486.5 104.2 69.496.0

0.80 10.30 0.50 29.05 7.50 2.30 0.70 2.20 100.00

6.2
A. 1

Rona Lingkungan Kawasan Pantai


Lingkungan Fisik Alami Geomorfologi Pantai

Kawasan Pantai Padang dibedakan atas 2 tipe pantai, yakni pantai landai berpasir, terdapat di Purus hingga ke Pariaman dan pantai terjal dengan areal pantai sempit yakni pantai Batang Arau hingga Bungus Teluk Kabung. Pantai landai berpasir dibedakan atas 3 tipe, yaitu: Pasir Coklat Keabu-abuan. Merupakan bahan yang paling umum ditemukan, tersebar di sekitar Pantai Padang (mulai Muara Jambak hingga ke pantai Gunung Padang). Pasir Putih Kecoklatan. Tersebar di pantai Bungus Teluk Kabung, di lokasi wisata pantai Carlos dan pantai Carolin. Pasir Putih. Terdiri atas bahan organik pecahan cangkang biota laut/ kerang. Terdapat di pantai pulau-pulau kecil, pulau Sikuai, pulau Sironjong, pulau Sawo dan pulau Air. Pantai Terjal Berbatu, dibedakan atas 2 tipe, yaitu: Pantai Berbatu di Air Manis (selatan Kota Padang), di Selatan Teluk Bungus dan sekitar pantai sungai Pisang. Pantai Terjal, sebagaimana di Gunung Padang, Teluk Buo, Ujung Nibung dan sebelah Selatan Teluk Bayur. Masalah umum pantai Padang adalah abrasi pantai yang telah berlangsung sejak 70 tahun yang lalu (DKP 2005). Faktor penyebab abrasi adalah variabilitas arus laut yang melalui celah pulau-pulau kecil dan gelombang laut yang ekstrim dari samudera Hindia. Lokasi pantai yang terkena abrasi terutama adalah pantai Tabing, Ulak Karang, Purus dan Air Tawar. Pembangunan krib dan penahan gelombang laut ditujukan untuk mencegah abrasi pantai. Sedangkan, sedimentasi berlangsung di muara-muara sungai di teluk Bungus, Sungai Pisang dan Batang Arau.

48

Kajian Lingkungan Hidup Strategis Padang

Oceanologi

Dari laporan akhir studi ANDAL Perbaikan Sungai Anai Kandis (2001) diketahui perairan laut Pantai Padang memiliki sifat atau tipe pasang surut berupa Harian Ganda atau Semi-Diurnal Type of Tide berdasarkan nilai F sebesar 0,42 yang berarti lebih kecil dari 0,50. Artinya, dalam 1 (satu) hari terjadi 2 (dua) kali air tinggi (pasang) dan 2 (dua) kali air rendah (surut) yang beraturan. Faktor tunggang air, yaitu suatu perbedaan air tinggi dan air rendah, rata-rata pada saat pasang purnama adalah 42,0 Gm dan saat pasang mati sebesar 10,00 Gm. Fenomena ini menunjukka, amplitudo air tinggi dan air rendah sebesar 42,00 10,00 Gm terhadap duduk rendah rata-rata air laut. Arus Pasang Surut. Dari laporan PT. Rayakonsult (1991) diketahui, akibat pengaruh faktor angin permukaan dan pasang surut di daerah sekitar pantai, arus pasang surut di pantai Padang bergerak dari Selatan ke Utara dengan kecepatan rata-rata 0,40 m/detik. Berdasarkan data sekunder dari PERUMPEL II, dapat diketahui bahwa gerakan naik turun permukaan air laut selama 24 jam memperlihatkan terjadinya 2 kali pasang naik dan 2 kali pasang surut, lazim disebut pasang surut harian ganda. Kekuatan Arus. Berdasarkan data sekunder hasil pengamatan di Tanjung Cindakir dan Tanjung Sadan sebelah Utara dan Selatan Teluk Kabung yang dilaporkan pada tanggal 29 April 1987, memberikan hasil kecepatan arus air yang relatif kecil, dengan kecepatan tertinggi 0,04 m/detik dengan arah arus dominan Barat Daya. Hasil pengamatan tim PSLH Universitas Andalas pada tanggal 17 Februari 1996 di sekitar daerah pesisir pantai muara; Batang Muar dan Batang Air Dingin, dan disekitar daerah pulau Sao dan Gosong Gabuo berturut-turut memberikan hasil kecepatan air 0,30 dan 0,32 m/detik dengan arah dominan Barat. Bathimetri. Bathimetri wilayah perairan sepanjang pantai Barat Kota Padang bersifat landai, dengan faktor lereng 0,10 0,80%. Kedalaman laut rata-rata setelah jarak 1,00 km dari pantai mencapai 5,00 m. 3 Penggunaan Tanah Pantai

Kawasan Budidaya dan Wisata. Penggunaan tanah sekitar trase pembangunan ruas jalan baru Nipah teluk Bayur ( 7,100 km) diantaranya berupa pemukiman (seluas 62,50 ha atau 10,57%), kebun campuran (452,00 ha atau 76,48%) dan lainnya atau lahan kosong berupa semak belukar atau pemanfaatan lainnya seperti daerah wisata (73,22 ha atau 12,39%). Di antara penggunaan tanah tersebut, termasuk tanah kosong atau semak belukar yang terdapat di daerah Gunung Padang (Kelurahan Batang Arau), dan areal pemakaman etnis Tionghoa, yang sebagian pemakaman tersebut telah dipindahkan Daerah Perluasan Pelabuhan Teluk Bayur. Daerah Perluasan Pelabuhan Teluk Bayur yang terintegrasi dengan trase rencana kegiatan adalah keberadaan wilayah administratif Kelurahan Teluk Bayur. Daerah Perluasan Pelabuhan merupakan suatu segmen daerah lahan yang dicadangkan untuk pengembangan kebutuhan pelabuhan di masa datang sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku.

B. 1

Lingkungan Sosekbud Penguasaan dan Pemilikan Tanah

Penguasaan lahan di wilayah rencana kegiatan diantaranya telah berupa hak kepemilikan (terutama di wilayah Kelurahan Batang Arau). Namun, penguasaan yang dominan (seperti pada wilayah Kelurahan Bukit Gado-gado, Air Manis dan Kelurahan Teluk Bayur) masih berada di bawah wewenang seorang Kepala Kaum atau Kepala Adat dan bersifat komunal. Sementara itu, Kepala Keluarga pada suatu Rumah Tangga atau personil dari suatu suku hanya memiliki hak mengusahakan atau mengolah. Perlu dihubungi tujuh suku itu di Gunung Padang (informasi dari peserta presentasi 03 Desember 2007). 2 Perekonomian Masyarakat

49

Kajian Lingkungan Hidup Strategis Padang

Masyarakat sekitar pesisir pantai Kota Padang umumnya berprofesi sebagai nelayan baik dengan menggunakan bagan, perahu maupun pukat tepi. Disamping itu ada yang berprofesi sebagai pedagang, pengada jasa terutama di lokasi wisata sepanjang pesisir pantai. Tingkat penghasilan para nelayan tergantung kepada musim dan keadaan cuaca, begitu juga dengan para pedagang dan pangada jasa tergantung tingkat kunjungan wisatawan baik lokal, nusantara maupun mancanegara. Dengan tingkat penghasilan yang sangat terbatas maka banyak dari mereka yang belum punya tempat tinggal sendiri dan hidup pada pemukiman kumuh/ slum area atau yang sedikit mampu menyewa rumah petak. 3 Kawasan Kota Tua

Penggunaan tanah dan bangunan Kawasan kota tua terdiri atas gedung-gedung peninggalan kolonial Belanda yang masih berdiri kokoh di sepanjang Batang Arau. Pelabuhan ini pernah menjadi pelabuhan penting hingga abad ke 19. Agak ke timur dari kota tua ini terdapat Pasar Gadang dan Pasar Batipuah, bekas pasar yang sekarang menjadi gudang-gudang penyimpanan rempah-rempah dan bahan bangunan. Arah ke barat merupakan kawasan pecinan (Chinatown) yang dikenal sebagai kawasan pondok. Di dalam kawasan ini terdapat klenteng tua bergaya arsitektur China Selatan, masih berfungsi dan berusia lebih dari 200 tahun. Disepanjang Jalan Batang Arau bangunan tua sudah banyak berubah fungsi dan bentuk, saat ini ada yang dipakai sebagai show room, kantor-kantor swasta, gudang, toko dan hotel. 4 Komunitas Nelayan

Komunitas nelayan di pantai Padang dibedakan atas intensitas kegiatannya, yakni nelayan penuh dan nelayan sambilan. Selain criteria tersebut, penggolongan kelompok nelayan dapat juga dilakukan berdasarkan besaran perahu yang mereka gunakan, misalnya kelompok nelayan Long Boat dan Kelompok Nelayan boat kecil. Tabel berikut menggambarkan jumlah dan persebaran komunitas nelayan.
Tabel 9. Jumlah Nelayan Menurut Kecamatan di Kota Padang, 2006 No. 1 2 3 4 5 6 Kecamatan Bungus Teluk Kabung Lubuk Begalung # Padang Selatan # Padang Barat Padang Utara Koto Tangah Tahun 2006 2005 2004 2003 2002 Nelayan Penuh 1316 1133 1442 338 232 1219 5680 5787 5787 5791 5795 Nelayan Sambilan 55 95 91 94 75 89 499 450 450 573 573 Total 1371 1228 1533 432 307 1308 6179 6237 6237 6343 6368

Sumber : Dinas Perikanan dan KelautanKota Padang

50

Kajian Lingkungan Hidup Strategis Padang

# Lokasi PBC

6.3
1

Permasalahan Lingkungan dan Perairan Laut


Masalah Pemanfaatan Ruang Kota a b c Perubahan penggunaan tanah pertanian ke penggunaan tanah permukiman kota. Pembangunan yang tidak memenuhi ketentuan sempadan bangunan dan juga tidak sesuai dengan peruntukan tanah yang telah ditetapkan pemerintah. Penggunaan tanah di kawasan sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) di Kota Padang yang dapat mengganggu fungsi ekologis DAS tersebut sehingga berdampak terhadap kawasan pemukiman di hilirnya. Batasan kepemilikan lahan yang masih banyak kurang jelas.

Masalah-masalah lingkungan utama yang dihadapi masyarakat dan pemerintah kota Padang adalah:

d 2

Banjir dan Genangan Air Sebagai dataran alluvial, di bagian-bagian kota banyak ditemukan kantung-kantung permukiman yang dulunya merupakan daerah perairan / rawa / wet land, tetapi kemudian ditimbun dan dijadikan kawasan permukiman dan jasa perdagangan tanpa dilengkapi dengan prasarana tata air yang memadai. Akibatnya pada musim hujan lokasi-lokasi ini menjadi tempat genangan air. Selain itu makin menurunnya kapasitas tampung badan air dan saluran mengakibatkan limpasan air hujan ke luar dari badan air. Dua gejala tersebut mengakibatkan banjir dan genangan air. Titik rawan banjir masih wilayah Koto Tangah seperti di kelurahan Anak Air, Simpang Kalumpang, Pasir Jambak dan Kp. Jambak Lubuk Buaya. Rata-rata ketinggian air di lokasi banjir berkisar antara 0 - 1 m. Disamping itu wilayah yang rawan banjir adalah Kecamatan Padang Selatan seperti Jondul Rawang dan Koto Kaciak dengan ketinggian genangan 0 60 cm.

3 Longsor Bahaya longsor yang terdapat di kawasan Gunung Padang dan Bukit Gaung berskala sedang dan tinggi. Kawasan yang memiliki tingkat bahaya longsor lahan yang tinggi di kawasan Gunung Padang adalah lereng kaki Gunung Padang yaitu Kelurahan Batang Arau, Seberang Padang, Mata Air, Rawang, Teluk Bayur dan Air Manis. Sedangkan di Bukit Gaung adalah lereng kaki Bukit Gaung yaitu Kelurahan Gates. 4. Abrasi Pantai Gejala abrasi pantai yang telah berlangsung sejak lama dan mengakibatkan kerusakan pantai sehingga dapat mengancam pemukiman penduduk yang berdomisili di sekitar kawasan pantai, terutama di pesisir pantai Purus, Ulak Karang, Pasir Air Tawar, Perupuk Tabing serta Pasie Nan Tigo. 5 Pencemaran Air Pencemaran air akibat berbagai kegiatan industri, lingkungan pemukiman, pasar dan berbagai kegiatan lain yang membuang limbah cair yang belum memenuhi baku mutu lingkungan. Beberapa sungai di daerah ini telah dijadikan sebagai tempat pembuangan limbah cair dari kegiatan industri tanpa melalui pengolahan terlebih dahulu. Muara sungai Batang Arau telah mengalami penurunan kualitas lingkungan, baik akibat pencemaran maupun pengendapan. 6 Pembuangan Limbah Domestik Pantai dan sungai masih dijadikan tempat pembuangan berbagai limbah domestik yang berasal dari masyarakat yang belum mengerti akan arti penting dari kebersihan lingkungan. Semua kegiatan-kegiatan ini cenderung mengalami peningkatan setiap tahunnya. 7 Degradasi Ekosistem Pantai

51

Kajian Lingkungan Hidup Strategis Padang

Degradasi ekosistem pesisir dan pantai, baik akibat pencemaran yang diangkut oleh berbagai sungai maupun akibat perusakan lingkungan, terutama perusakan ekosistem mangrove, terumbu karang dan penggunaan potas untuk menangkap ikan. 8 Gempa Bumi dan Tsunami Gempa bumi dan tsunami, yang sesungguhnya merupakan gejala alam, tetapi karena berakibat pada kerugian harta benda, lingkungan dan nyawa senjadi masalah sosial yang dihadapi oleh masyarakat. 9 Fasilitasi Lingkungan KesehatanTerbatasnya fasilitas lingkungan, terutama fasilitas pelayanan kesehatan.

10 Penyandang Masalah Sosial Makin meningkatnya permasalahan sosial dalam bentuk peningkatan jumlah anak-anak terlantar, gepeng (gelandangan dan penggemis) dan mulai menggejalanya fenomena anak jalanan yang pada tingkat selanjutnya akan berakibat pada terjadinya masalah keamanan dan ketertiban umum. Disamping itu masih maraknya terjadi penyakit masyarakat seperti prostitusi dan penggunaan bahan narkotik.

52

Kajian Lingkungan Hidup Strategis Padang

7. Penilaian Implikasi Pembangunan PBC Melalui Kajian Strategis


7.1 Komponen Kegiatan yang Potensial Merubah Lingkungan
Reklamasi PBC merupakan gagasan untuk meningkatkan intensitas pemanfaatan ruang melalui penerapan teknologi yang memerlukan investasi besar. Intervensi teknologi terhadap bentang alam di lokasi rencana akan mengakibatkan perubahan fisik lingkungan dan pada tingkat selanjutnya perubahan lingkungan tersebut akan menimbulkan akibat lanjutan terhadap komponen lingkungan lain. s Atas dasar pertimbangan tersebut, maka perlu dikaji secara cermat pertimbangan-pertimbangan pengambilan keputusan tiap-tiap kegiatan yang akan menjadi rangkaian kegiatan reklamasi tersebut secara hirarkhi, sejak tahap Proyek Program Rencana Kebijakan. Apabila kegiatan reklamasi sebagai kegiatan proyek fisik yang mencakup tahap perencanaan, prakonstruksi, tahap konstruksi dan tahap operasi/ Pasca Konstruksi, maka perlu ditelaah rumusan pemikiran yang menjadi dasar pemilihan opsi reklamasi tersebut pada tataran program. Dengan perkataan lain, perlu ditelaah program-program apa saja yang perlu dilaksanakan paralel dengan reklamasi agar dapat dilakukan mitigasi dan optimasi. Di tingkat yang lebih tinggi perlu ditelusuri pokok-pokok pikiran perencanaan tahunan yang menjadi landasan program-program. Demikian pula bagaimana rumusan kebijakan agar dapat dijamin kesinambungan Rencana Program - Proyek dari tahun ke tahun. Secara normatif dari penelusuran kajian yang dilakukan oleh PT Pasific Prestress Indonesia, dan PT Graha Surya Mutiara, dapat dilakukan pelingkupan kegiatan reklamasi PBC yang potensial menimbulkan perubahan lingkungan. Kegiatan tersebut, adalah sebagai berikut: A. Tahap Perencanaan 1 2 3 4 5 6 Penyelenggaraan Survey dan Studi Tematik Sosialisasi Rencana Pembangunan Pengukuran dan Pemetaan Areal Kerja Penetapan Lokasi Areal Kerja Reklamasi Penyusunan General Concept/Detail Design/Detail Engineering Reklamasi Konsultasi Publik

B. Tahap Pra-Konstruksi 1. Perambuan Areal Kerja 2. Mobilisasi Peralatan Berat 3. Rekrutment Tenaga Kerja 4. Penambangan Batu di lokasi Quary 5. Penambangan Pasir Laut 6. Pengangkutan Batu Material Reklamasi\

C. Tahap Konstruksi 1. Pengerukan Muara Batang Arau 2. Konstruksi Tanggul dan Penahan gelombang laut 3. Pemasangan Geotextile dan Vertical Drain 4. Pengisian Pasir Bahan Reklamasi 5. Aktivitas Buruh Konstruksi

53

Kajian Lingkungan Hidup Strategis Padang

6. Proses Settlement/Ripening 7. Pembongkaran Peralatan Berat

D. Tahap Pasca-Konstruksi 1. Penyusunan RDTR Areal Reklamasi/UDGL 2. Penyusunan General Concept/Detail Design/ Detail Engineering Infrastruktur 3. Proses Land Register/Hak Pengelolaan 4. Pembangunan Sarana dan Prasarana 5. Penyediaan Air Bersih dan Listrik 6. Pemasaran Tanah Hasil Reklamasi 7. Pembangunan di atas Tanah Hasil Reklamasi 8. Pekerjaan Lansekap 9. Kegiatan Perkotaan 10. Kegiatan Perawatan Tanggul dan Penahan gelombang laut

7.2 Komponen Lingkungan yang Potensial Terkena Dampak Pembangunan PBC


Daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup bukan tidak terbatas. Status Lingkungan Hidup Daerah (SLHD) Kota Padang Tahun 2006 menggambarkan neraca lingkungan hidup masing-masing kecamatan, termasuk kecamatan sepanjang pantai Padang. Tata letak kota Padang di daerah dataran alluvial maka mudah dipahami bahwa dataran pantai ini merupakan zona pengendapan sistem sungai yang bermuara di pantai Padang. Salah satu adalah endapan dan pencemaran yang berlangsung di muara sungai Batang Arau. Berdasarkan pelingkupan kajian lingkungan hidup strategis yang dilakukan dapat dirumuskan komponen lingkungan hidup yang potensial berubah. Komponen tersebut adalah: A. Lingkungan Fisik Kimia 1. Morfologi Pantai 2. Morfologi Muara Sungai 3. Hidrodinamika Laut 4. Penurunan Muka Tanah 5. Pola Aliran Air Permukaan 6. Banjir dan Genangan Air 7. Kualitas Air Permukaan 8. Kualitas Air Laut 9. Kualitas Udara 10. Kebisingan

B. Lingkungan Hayati 1. Flora Darat 2. Fauna Darat 3. Biota Laut

54

Kajian Lingkungan Hidup Strategis Padang

C. Lingkungan Sosekbud 1. Kepadatan Penduduk 2. Persepsi Masyarakat 3. Keresahan Sosial 4. Kohesi Masyarakat 5. Kecemburuan Sosial 6. Ketertiban dan Keamanan 7. Kesempatan Kerja dan Berusaha 8. Penggunaan Tanah Pantai 9. Estetika Lingkungan 10. Perekonomian Kota 11. Pendapatan Masyarakat 12. Pendapatan Asli Daerah 13. Wisata Bahari 14. Sanitasi Lingkungan 15. Kesehatan Masyarakat

7.3

Matriks Penilaian Implikasi Lingkungan Untuk KLHS Padang Bay City

Interaksi komponen rencana kegiatan reklamasi dengan komponen lingkungan hidup yang potensial terkena dampak ditelusuri melalui matariks interaksi berikut dibawah. Dasarnya menentukan variabel pokok yang perlu dikaji lebih lanjut serta sebagai topik untuk dialog dengan masyarakat adalah keterpaduan dari hasil teknis, persepsi Pemerintah Kota serta pihak yang berkepentingan. Dengan mempertimbangkan pentingnya komponen lingkungan bagi kehidupan dan besaran dampak serta kumulasi dampak perlu dikaji lebih mendalam implikasi kegiatan yang tergolong strategis yang potensial menimbulkan dampak penting.

55

Kajian Lingkungan Hidup Strategis Padang

Matriks 2. Penilaian Implikasi Lingkungan Untuk KLHS Padang Bay City


Komponen Kegiatan No Komponen Lingkungan TATA RUANG 1. 2. Transportasi Darat Transportasi Laut FISIK KIMIA 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Kualitas Udara Kebisingan Kualitas Air Laut Kuantitas Air Permukaan (Banjir) Morfologi Pantai Pola Arus Abrasi & Sedimentasi Sampah Padat Penurunan Muka Tanah BIOLOGI -# -# # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # Tahap Pra Konstruksi Rekru tmen Tena ga Kerja Tahap Konstruksi Keberad aan Tanggul Pantai/ Breakw ater Tahap Pasca Konstruksi

Penanga nan Perizinan

Penetapa n Lokasi Proyek

Mobilisasi Alat & Bahan

Penguru gan/ Reklama si

Pembangu nan Tanggul/ Breakwate r

Aktivita s Buruh Konstru ksi

Setlemen t Lahan Reklamas i

Demobili-sasi Peralatan

56

Kajian Lingkungan Hidup Strategis Padang

1. 3. 2.

Flora Darat Fauna Darat Biota Laut SOSEKBUD KESEHATAN MASYARAKAT

# # # #

# # # #

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12.

Pendapatan Asli Daerah (PAD) Persepsi Masyarakat Kepadatan Penduduk Kesempatan Kerja dan Berusaha Kegiatan Pariwisata Pendapatan Masyarakat Kesehatan Masyarakat Kamtibmas Kesehatan & Keselamatan Buruh Estetika Lingkungan Sanitasi Lingkungan Keresahan Sosial

# # # # # # # # # # # # # # # # -# # # # # # #

57

Kajian Lingkungan Hidup Strategis Padang

7.4

Implikasi Kegiatan Strategis Terhadap Komponen Lingkungan Hidup

Fokus kajian konsekwensi rencana kegiatan PBC terhadap lingkungan hidup yang tergolong strategis adalah sbb:

Rencana Kegiatan Tahap Perencanaan 1. Sosialisasi Rencana Pembangunan

Konsekwensi Terhadap Lingkungan Hidup

Sosialisasi rencana PBC akan menimbulkan beranekaragam opini publik; ada kelompok yang optimis mendapat peluang manfaat dan ada juga kelompok masyarakat yang merasa akan tersingkir.

2.

Konsultasi Publik

Konsultasi publik yang diselenggarakan dalam tahap perencanaan akan memberi kejelasan tentang lingkup proyek PBC sehingga masyarakat mendapat kesempatan untuk mengutarakan pendapat dan selanjutnya mempersiapkan penyesuaian cara hidupnya dengan perubahan lingkungan yang akan berlangsung.

Tahap Pra Konstruksi 3. Quary Penambangan Batu di Lokasi Penambangan batu gunung untuk bahan penahan gelombang laut dan tanggul akan menimbulkan perubahan bentang alam mikro di sekitar lokasi penambangan dan selanjutnya mempengaruhi komponen lingkungan lain.

4. Penambangan Pasir Laut

Penambangan pasir laut dalam jumlah besar dalam waktu yang relative singkat akan menimbulkan perubahan dasar laut yang diikuti pergerakan endapan dasar laut untuk mencari keseimbangan. Apabila pemilihan lokasi dan cara penambangan tidak cermat potensial akan mengakibatkan abrasi di dekat lokasi penambangan. Pemilihan lokasi panambangan perlu didukung dengan simulasi model.

Tahap Konstruksi 5. Pengerukan Muara Batang Arau Pengerukan dasar muara Batang Arau akan menimbulkan percepatan transportasi sedimen dasar sungai di bagian tengah aliran sungai ke hilir sungai yang potensial menimbulkan dampak lanjutan terhadap bangun-bangunan sungai. Batas dalam pengerukan muara sungai harus didukung dengan simulasi model arus sungai dengan data tingkat kedalaman penerukan yang bervariasi.

6. Konstruksi tanggul dan Penahan gelombang laut

Konstruksi tanggul dan penahan gelombang laut akan menjadi penghambat hempasan gelombang laut dan akan menghalangi arus laut sehingga potensial mengubah hidrodinamika sekitar perairan PBC.

7. Aktivitas Buruh Konstruksi

Tenaga kerja selama tahap konstruksi reklamasi akan membentuk komunitas tersendiri dan akan berinteraksi dengan masyarakat sekitarnya. Akomodasi buruh bangunan akan menghasilkan limbah padat dan limbah cair yang harus dikelola. 58

Kajian Lingkungan Hidup Strategis Padang

Tahap Pasca Konstruksi 8. Pembangunan sarana dan prasarana Pembangunan sarana dan prasarana di atas tanah hasil reklamasi akan memberi manfaat bagi masyarakat, dunia usaha dan pemerintah yang akan membawa manfaat bagi semua unsur stakeholders.

9. Penyediaan air bersih dan listrik

Perlu dijamin bahwa penyediaan air bersih dan enerji listrik untuk mendukung kegiatan diatas tanah hasil reklamasi tidak mengurangi alokasi untuk masyarakat umum di pantai lama.

10.Pemasaran tanah hasil reklamasi

Pemasaran tanah hasil reklamasi akan menimbulkan harapan positif bagi kelompok pengusaha calon pembeli/penyewa, dan akan menimbulkan keresahan kelompok masyarakat yang mendapat kerugian.

11.Pembangunan di atas tanah hasil reklamasi

Pembangunan gedung di atas tanah hasil reklamasi akan memberi manfaat bagi semua unsur stakeholders. Pemanfaatan bangunan untuk berbagai aktifitas terutama permukiman, jasa perdagangan, rekreasi dan wisata bahari.

12.Kegiatan perkotaan

Kegiatan perkotaan di kawasan reklamasi akan meningkatkan lokasi PBC dengan berbagai lokasi pusat kegiatan di bagian-bagian kota Padang.

13.Kegiatan perawatan tanggul dan penahan gelombang laut

Sangat menentukan umur bangunan reklamasi.

14.Abrasi pantai

Abrasi potencial terjadi karena adanya bentang alam baru yang diciptakan dengan cara reklamasi.

Bila matriks interaksi di atas serta rencana kegiatan yang strategis berdampak terhadap lingkungan ditelaah lebih dalam, akan dapat diketahui bahwa akumulasi dampak lingkungan terutama adalah: Persepsi masyarakat tentang rencana pembangunan PBC. Keresahan sosial pada kelompok-kelompok masyarakat yang beranekaragam, sesuai dengan tipologi komunitas, tingkat pendidikan, jenis kegiatan/profesi. Gangguan terhadap biota air laut. Kecemburuan sosial masyarakat. Ketertiban dan keamanan. Kesempatan kerja dan kesempatan berusaha. Pendapatan Asli Daerah.

7.5

Persepsi Masyarakat

Peninjauan dan pengamatan teknis dari variabel terkait dengan dampak lingkungan adalah sebagian saja dari pendekatan KLHS. Perlu dipertimbangkan pula persepsi dari masyarakat sebagai pihak yang berkepentingan serta peneliti lokal. Oleh karena ini, survei stakeholder dilaksanakan dan
59

Kajian Lingkungan Hidup Strategis Padang

diselenggarakan suatu diskusi terbatas dengan perguruan tinggi dan LSM. Hasilnya berikut. Persepsi masyarakat diperoleh juga dari wawancara individu, pembacaan klipping surat kabar dan pada waktu berdialog dengan Tim Kecil. A. Survei Stakeholder (Pihak yang Berkepentingan) Matriks interaksi menunjukan interaksi komponen kegiatan reklamasi menunjukkan indikasi tiap komponen kegiatan reklamasi, sejak tahap perencanaan hingga tahap pemanfaatan tanah hasil reklamasi mempunyai interaksi dengan persepsi masyarakat. Persepsi sangat dipengaruhi oleh cara penyampaian informasi kepada masyarakat. Informasi hasil kuisioner (September 2007 responden di kawasan pantai Padang) memberikan gambaran persepsi masyarakat. Rangkuman dari survei terlihat di Lampiran 04. Ada beberapa tabel yang berikut yang menarik sebagai indikator persepsi masyarakat terhadap PBC dan wilayahnya. Tabel 10 memperlihatkan persentasi stakeholder yang tidak setuju dengan PBC dibawah 10%, namun sekitar 58% tidak tahu apakah setujuh atau tidak. Kesadaran umum tentang PBC rendah. Waktu ditanyakan apa yang paling mengawatirkan, jawaban stakeholder adalah penurunan pendapatan (39.3%), menyusul resiko munculnya konflik sosial (21.4%). 10.7% mengkhawirkan kemacetan lalu lintas (Tabel 11). Tabel 12 menunjukkan bahwa banyak responden tidak punya harapan dari PBC (47.3%). Namun 52.7% mengharapkan kesempatan kerja atau usaha akan meningkat kalau ada PBC. Kebisingan paling dikhawatirkan dari fase konstruksi (60.7%). Kemacetan juga dikhawatirkan (35.7%) Tabel 13). Di Tabel 14 terlihat bahwa semua responden mengakui kondisi disekitar tempat tinggalnya cukup sehat (45.5%) atau sehat (54.6%). Masyarakat yang menghargai lingkungan seperti ini, tentu tidak memiliki alasan yang kuat untuk berkeinginan pindah ataupun dipindahkan ke tempat lain. Kesadaran terhadap kondisi Batang Arau terlihat pada Tabel 15 tentang prioritas Wisata Bahari di Kota Padang. Mayoritas menunjukkan kebersihan Sungai Batang Arau sebagai prioritas (55.6%).

Table 10. Persepsi Masyarakat Terhadap Rencana Pembangunan Padang Bay City (N = 55)

klasifikasi responden Tanggapan masyarakat Nelay an Setuju Tidak Setuju Ragu-Ragu Setuju dengan persyaratan Tidak Tahu JUMLAH Jasa Wisata wan wisat awan Buruh bongka r muat Pemilik Gudan Tua Kapal Penum pang -

Jumlah

Petani /kebun Gn. Padang 2 -

Masyarak at Sekitar Lokasi 2 5

Kapal wisata wan 4 5

7,27 9,09

14

25,45

2 10

5 5

6 6

4 4

6 6

1 3

4 12

4 4

32 55

58,18 100

Sumber : Data Primer (kuesioner), Padang Bay City, 2007

60

Kajian Lingkungan Hidup Strategis Padang

Tabel 11. Kekhawatiran Responden Tentang Pembangunan Rencana Kegiatan ( N = 28)

Jumlah Bentuk kekhawatiran Angka Munculnya konflik Sosial Penurunan Pendapatan Masalah Keamanan dan Ketertiban Terganggunya Aktifitas Usaha Penurunan Kualitas Lingkungan Menambah Kemacetan Lalu Lintas Jumlah Persentase

6 11 4 2 2 3 28

21,43 39,29 14,28 7,14 7,14 10,71 100

Sumber : Data Primer (kuesioner), Padang Bay City, 2007


Tabel 12. Harapan Responden Tentang Pembangunan Rencana Kegiatan ( N = 55)

Jumlah harapan responden Angka Membuka Peluang Kerja Membuka Peluang Usaha Meningkatkan Usaha yang Telah Ada Membuka Peluang Usaha dan kerja sekaligus Menambah Daya Tarik dan Sarana Kota Tidak ada jawaban Jumlah 9 10 10 Persentase 16,36 18,18 18,18

26 55

47,27 100

Sumber : Data Primer (kuesioner), Padang Bay City, 2007 61

Kajian Lingkungan Hidup Strategis Padang

Tabel 13. Kegiatan Reklamasi Padang Bay yang Mengganggu Masyarakat Sekitar ( N = 28)

Jumlah Bentuk kekhawatiran Angka Kebisingan Polusi Udara Banjir Kemacetan Lalu Lintas Intrusi Air Laut Hasil Tangkapan Ikan Nelayan Terganggunya Aktifitas Usaha Masyarakat Jumlah 17 10 1 Persentase 60,71 35,72 3,57

28

100

Sumber : Data Primer (kuesioner), Padang Bay City, 2007

Tabel 14. Kondisi Lingkungan Sekitar Tempat Tinggal (N = 55) jumlah kondisi lingkungan Tidak Sehat Kurang Sehat Cukup Sehat Sehat Angka 25 30 Persentase 45,45 54,55

Sumber : Data Primer (kuesioner), Padang Bay City, 2007

62

Kajian Lingkungan Hidup Strategis Padang

Tabel 15. Prioritas Penanganan Kegiatan Wisata Bahari di Kota Padang (N = 36)

Jumlah Prioritas Angka Kebersihan dan Keindahan Sungai Batang Arau Pengembangan Resort Gunung Padang Reklamasi PBC Pembenahan Sarana dan Prasarana Wisata Bahari Memperbanyak Event Atraksi Wisata Bahari Menggalakkan Promosi Wisata Bahari Memberdayakan Stakeholder dlm Pelayanan Wisata Jumlah 20 Persentase 55,56

13

36,11

8,33

36

100

Sumber : Data Primer (kuesioner), Padang Bay City, 2007

Kliping Surat Kabar Kliping surat kabar tentang PBC menunjukkan aspek emosi dan opini dari suara pro dan kontra. Sedangkan, proses KLHS dapat menghindari emosi, sebab pertemuan dan wacana KLHS tidak ditujukan untuk pengambilan keputusan resmi. Tujuan KLHS supaya semua pihak yang berkepentingan dapat meningkatkan pengetahuan terhadap PBC. A. Hasil dari Diskusi Kelompok Terbatas (Focus Group Discussion, FGD) FGD dianggap sangat bermanfaat bagi proses KLHS. Daftar narasumber disertakan pada Lampiran 08. Setiap narasumber diminta menulis dua halaman tentang PBC dipandang dari keahliannya masing-masing. Informasi dari tulisan dan pembahasan digunakan dalam kajian KLHS ini disajikan pada Lampiran 09. Kesimpulan pokok dari narasumber tersebut diringkaskan sebagai berikut, PBC akan meningkatan abrasi pantai. Resiko banjir meningkat karena otomatis Batang Arau diperpanjang oleh sisi selatan PBC. Masalah transportasi dan kemacetan akan meningkat. Memerlukan ruang (space) untuk usaha kecil dan menengah. Tidak sesuai dengan penataan ruang kota. Tanah ulayat dan kearifan lokal agar dipertimbangkan dan dihormati. Polusi laut dari masa konstruksi, termasuk mengganggu biota. Muara sulit dikelola dengan baik, apalagi kalau menjadi marina. Konflik sosial dan kriminalitas bisa meningkat dimana masyarakat kehilangan sumber nafkah.
63

Kajian Lingkungan Hidup Strategis Padang

Kompensasi (uang, bukan uang; persiapan fasilitasi baru buat nelayan). PBC menjadi enklave orang elit dan asing. Perlu forum wacana antara pihak yang berkepentingan tentang rencana pembangunan PBC.

7.6 Isu Pokok Pembangunan PBC

(Strategis)

dari

Penilaian

Dampak

Lingkungan

dari

Berdasarkan keterpaduan antara hasil pengamatan dan peninjauan lingkungan serta hasil dari persepsi masyarakat (survei pihak yang berkepentingan, FGD, diskusi Tim Kecil serta wawancara individu) diajukan isu isu lingkungan yang berikut yang paling pokok untuk ditangani lebih lanjut. Dapat dirobah sesuai dengan perobahan informasi atau persepsi sampai ada rencana resmi pembangunan PBC. REKLAMASI PANTAI Abrasi Pantai. Data benthic diperlukan untuk membentuk sebuah model untuk menilai bentuk yang berbeda-beda dan kondisi-kondisi lain dari PBC pada daerah pesisir pantai yang tergesek dan bertambah. Analisa dari peta dan foto-foto tua mengindikasikan erosi pada pantai. PBC secara parsial bertumpang tindih dengan area yang terkikis tersebut. Drainase, Sanitasi dan Banjir. Potensi gangguan drainase di ujung kota (sebagian dapat ditanggulangi dalam pembuatan spesifikasi pembangunan; lihat dibawah) dengan implikasi untuk sanitasi serta lebih memungkinkan banjir. Lagi pula, PBC akan memperpanjang Batang Arau dan begitu meningkatkan sedimentasi di ujung sungai serta meningkatan lemungkinan banjir. Permintaan Air. PBC dapat sebagai pemakai air yang besar. Apakah PDAM bisa menyuplainya? Kalau ada eksploitasi sumur baru ada resiko permintaan air itu yang begitu besar akan menurunkan tingkat permukaan air dan merangsang masukknya air laut (saline intrusion). Lalu Lintas. Kegiatan di dalam areal PBC akan membangkitkan volume lalu lintas; karena itu harus sejak dini dipertimbangkan rencana peningkatan kapasitas jalan dan pola transportasi di kawasan pantai sebagai bagian dari sistem transportasi kota Padang. Bentang Budaya. Memelihara keselarasan bentang alam dengan bentang budaya kawasan Muaro. Perpaduan kawasan kota lama Padang, gedung-gedung tua dengan ekosistem hutan pada daerah Gunung Padang dan dengan aktor-aktor ekonomis yang ada, semuanya membentuk suatu keanggunan dimana PBC harus memperhitungkannya secara matang sehingga keberadaanya secara arsitektual tidak merusak, melainkan menambahkan nilai positif. Tentu saja, nilai ini akan bervariasi tergantung daripada persepsi turis lokal dan luar negeri. Kompetisi Ekonomi. Salah satu dari pertimbangan Pemerintah Kota adalah pusat-pusat jasa perdagangan yang baru yang akan beroperasi di PBC potensial mengalahkan usahausaha dari toko-toko kecil yang sudah lama ada. Terlepas dari pemberian kompensasi kepada mereka yang daerah usahanya secara langsung bertumpang tindih dengan PBC, sangat sulit untuk meyakini apa yang akan menjadi hasilnya. Hal ini akan bergantung kepada skala dari toko-toko PBC dan apakah banyak atau tidak pengunjung ke landmark (tanda pengenal) PBC. MARINA DI MUARA Pencemaran Sungai. Pencemaran sungai Batang Arau yang akan dijadikan marina mengancam rencana ini. Pemilik yacht tidak begitu menghawatirkan keruhnya air sungai, namun tentu tidak terhadap suspensi sampah domestik di air. Pemindahan Usaha Kapal dan Penduduk Muara. Menurut peraturannya, suatu area yang diklasifikasikan sebagai marina tidak dapat digunakan untuk aktifitas lain. Para nelayan, penumpang kapal feri dan kapal-kapal kargo akan diminta pindah. Keprihatinan para nelayan adalah bahwa daerah yang diusulkan sebagai pengganti tidak memiliki fasilitas untuk pendinginan dan transportasi untuk tangkapan mereka.
64

Kajian Lingkungan Hidup Strategis Padang

Perlu ditambahkan bahwa sebagian dari masalah lingkungan hidup baik internal maupun external terkait dengan PBC dapat ditanggulangi bahkan sejak awal fase pembuatan spesifikasi bangunan. Permasalahan internal mencakup pentingnya aspek kedalaman tiang pancang konstruksi, ciri2 pertanahan, drainase dikaji dan dibuat spesifikasi bangunan yang dapat bertahan pada kondisi tersebut. Sedangkan aspek eksternal adalah semua faktor di luar PBC seperti abrasi pantai, dan pemindahan penduduk. Kedua aspek ini harus dapat dievaluasi oleh proses AMDAL.

8.

Menuju Mitigasi dari Masalah Pokok Lingkungan

Pada Bab 5 tentang Penilaian Implikasi Lingkungan dengan dua cara, yakni dengan cara (a) telaah matriks interaksi untuk mengatehui hubungan interaksi antara komponen kegiatan reklamasi dengan komponen lingkungan hidup dan (b) telaah daftar periksa (checklist). Sebagian besar materi diskusi terbatas yang bersifat fokus yang berlangsung tanggal 2 Oktober 2007 memperbincangkan dampak strategis yang bersifat hipotetik sebagaimana ditelaah pada bab V tersebut. Beberapa isu yang terpapar di dalam dialog Focus Group Discussion antara lain adalah: Gagasan reklamasi dekat muara Batang Arau seluas 33 ha akan memerlukan volume timbunan yang sangat besar (4 juta m3) dan investasi yang sangat besar; secara ekonomis belum sesuai bagi kota Padang. Dari sudut pandang tata ruang dan ekonomi kota, PBC dapat dikembangkan menjadi suatu konsep kota baru di pantai, sebagai pusat kegiatan bisnis dan rekreasi khusus. Mengingat besarnya investasi, kelayakan dan kepatutan rencana reklamasi PBC perlu dianalisis dan dinilai, termasuk analisis kebutuhan tentang permintaan hunian mewah dan analisis potensi rekreasi bahari. Reklamasi pantai bukan solusi atas permasalahan di sekitar Muaro (untuk mengatasi abrasi pantai, pencemaran lingkungan, penataan pelabuhan marina dan penataan bangunan PKL. Perlu dikaji permasalahan yang akan timbul, (banjir, kerusakan tata air dan kelangkaan air tawar, konflik sosial, kerusakan ekosistem laut dan ekonomi nelayan, abrasi pantai). Tujuh pertanyaan tentang PBC, meliputi keterkaitan reklamasi pantai dengan masalah aktual kota Padang, keterkaitan rencana PBC dengan sistem perencanaan aktual kota Padang, konsistensi program investasi masyarakat, dampak lingkungan reklamasi dsb. Perlu keterbukaan informasi yang melatarbelakangi gagasan perencanaan PBC agar tidak rancu dengan pemahaman masyarakat yang berfikir untuk pindah dari kawasan pantai agar terhindar dari serangan tsunami. KLHS hendaknya mencakup isu pengurangan resiko bencana, meliputi komponen ancaman bahaya, komponen kerentanan wilayah kota. Rencana pembangunan PBC akan menimbulkan dampak terhadap transportasi kota, karena lokasi ini akan menjadi tempat tujuan dan tempat pemberangkatan. Perencanaan PBC perlu didukung dengan kajian hukum tanah karena terhadap tanah hasil reklamasi agar terkait dengan pendaftaran tanah, administrasi pertanahan dan hak atas tanah. Pembangunan PBC akan memberikan pengaruh yang sangat besar, baik positif maupun negatif. Karena itu perlu dikaji dampak terhadap perekonomian, kelayakan teknis, dampak terhadap biota, aspek kelembagaan dan peran serta masyarakat. Rangkuman dialog tersebut pada dasarnya mendekati lingkup materi bahasan bab V, tentang Penilaian Implikasi Lingkungan. Sehubungan dengan itu, akan sangat bermanfaat bila dilakukan kajian mitigasi dampak lingkungan akibat reklamasi PBC, yang nantinya akan dapat digunakan
65

Kajian Lingkungan Hidup Strategis Padang

sebagai bahan konsultasi dengan kelompok masyarakat/ stakeholders. Kajian mitigasi dampak disajikan pada bagian berikut ini.

8.1

Mitigasi Dampak Terhadap Keberadaan Padang Bay City

Di antara banyak faktor, ada 2 faktor yang bersifat resiko yang akan sangat mempengaruhi keberadaan hasil reklamasi PBC, yaitu (a) kualitas air dan akumulasi sedimen di muara sungai Batang Arau dan (b) Intensitas gempa bumi yang potensial berlanjut dengan tsunami. Keterkaitan faktor-faktor ini dengan PBC sangat berbeda. Di satu sisi, pengaruh kualitas Batang Arau terhadap reklamasi PBC dapat dikendalikan oleh masyarakat dan pemerintah Kota Padang sedangkan pengaruh gempa dan tsunami bersifat given yang kemungkinan (kementakan) nya belum dapat diramalkan. Dengan perkataan lain dapat dikatakan bahwa pemerintah beserta masyarakat mampu memulihkan kualitas badan air Batang Arau, dan kegiatan itu sekaligus memberikan dukungan terhadap keberadaan hasil reklamasi PBC; sedangkan terhadap kemungkinan gempa dan tusnami, yang dapat dilakukan adalah menyesuaikan teknologi reklamasi dan kualitas bangun-bangunan reklamasi dengan daya rusak gempa dan tsunami. Pada bagian berikut dijelaskan kerangka mitigasi faktor yang mempengaruhi reklamasi PBC.

A. Pemeliharaan dan Perbaikan Sungai Batang Arau Batang Arau, salah satu dari enam sungai besar di kota Padang, mengalir dari hulunya di Gunung Bolak, mengalir ke arah pantai Padang sepanjang 30, 6 km melalui tiga (3) kecamatan, yakni Kecamatan Lubuk Kilangan, Kecamatan Lubuk Begalung dan Kecamatan Padang Selatan. (Laporan Penelitian Kualitas Perairan Sungai Batang Arau 2006). Pemerintah Kota Padang menetapkan lima belas (15) titik pemantauan kualitas air sungai ini, masing-masing lima (5) titik di bagian hulu, tengah dan hilir. Hasil pemantauan kualitas air Batang Arau menjelaskan hal sebagai berikut: Kualitas air di bagian hulu sungai (lokasi Lubuk Peraku) dan Batang Sikayan Rasak Bunga (titik 2) pada dasarnya masih memenuhi standar sebagai air baku; tetapi setelah bergabung dengan sungai Karang Putih (anak sungai Batang Arau) kualitas air sungai berubah karena muatan suspensi bahan padat (Total Suspendid Solid). Yang bersumber dari limbah pemecahan batu untuk Pabrik Semen Indarung (Bapedalda, 2006). Kualitas air di bagian tengah (titik pemantauan 6 sd 10). Titik Pemantauan 10 berada di lokasi sebelum jembatan Pulau Air, yang merupakan cabang aliran Batang Arau, yang pertama mengalir ke Bandar Berkali dan aliran ke dua ke arah Muara Padang. Hasil pemantauan di titik 10 memberikan indikasi bahwa kandungan deterjen, NH3 dan NO3 sangat tinggi. Kualitas air di bagian hilir (titik pemantauan 11 sd 15). Bahan pencemar di bagian hilir meliputi limbah domestik (limbah cair dan sampah padat), limbah minyak, limbah instansional (dari rumah sakit. Titik pemantauan 15 (di bawah jembatan Siti Nurbaya) merupakan representasi kumulasi bahan pencemar yang larut dan atau mengendap di muara Batang Arau. Tingkat cemaran minyak dan SO4 sangat tinggi. Selain itu sebaran sampah padat yang sangat mengganggu estetika muara sungai pada waktu pasang surut air. Laporan Pemantauan Kualitas Air Sungai Batang Arau sudah merumuskan rekomendasi perbaikan kualitas air. Melengkapi rekomendasi tersebut, pada bagian berikut dicoba untuk menyampaikan kerangka mitigasi terhadap sungai Batang Arau : Pemerintah Kota Padang perlu membenahi aliran sungai Batang Arau yang mengalami pendangkalan terutama mulai dari titik bawah pintu air (Pulau Air) sampai titik Muara (Kelurahan Nipah). Untuk mencegah masuknya sampah ke dalam badan air sungai perlu disediakan fasilitas penampungan sampak pada kantung-kantung permukiman sepanjang sisi sungai dan
66

Kajian Lingkungan Hidup Strategis Padang

sekaligus menyelenggarakan pembinaan masyarakat untuk turut mencegah masuknya sampak ke badan sungai. Untuk mencegah limbah cair ke dalam badan air perlu dikaji secara cermat peranserta masyarakat dan dunia usaha serta instansi pemerintah kota melakukan pemeliharaan kualitas air Batang Arau. Salah satu instrumen yang perlu disiapkan adalah penetapan Keputusan Walikota Padang tentang Peruntukan Sungai dan Baku Mutu Air Sungai serta Baku Mutu Limbah Cair yang diizinkan masuk ke badan sungai. Pemerintah Kota Padang perlu melengkapi jaringan sanitasi bagian-bagian kota termasuk instalasi pengolahan limbah domestik komunal dan atau semi komunal sebelum limbah masuk ke badan air sungai Batang Arau. Termasuk dalam mitigasi ini pencegahan bahanbahan sedimen yang bersumber dari pemecahan batu untuk keperluan bahan baku semen Padang. Pemerintah Kota perlu mengendalikan tutupan vegetasi (land cover) di dalam DAS Batang Arau agar Aliran Dasar sungai tetap stabil. B. Mitigasi Bencana Kajian Awal Perencanaan Reklamasi Pantai Padang yang dilakukan oleh PT Pacific Prestress Indonesia (2006) telah mengakomodasikan kondisi kegempaan di lokasi rencana reklamasi, dengan mengacu ke dua instrumen, yakni Pedoman Perencanaan Beban Gempa Untuk Jembatan Pd M-XX-2004 dan Standar Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Bangunan Gedung SNI 03-1726-2002. Di dalam kajian perencanaan reklamasi tersebut juga sudah dilakukan identifikasi tata letak kota Padang di dalam Peta Wilayah Gempa dan sekaligus dikaitkan dengan perbedaan koefisien percepatan puncak batuan dasar versi Pd M-XX-2004 dan versi SNI 03-1726-2002. Selain itu, dilakukan juga analisis gaya gempa untuk struktur penahan tanah. Mitigasi bencana gempa dan kemungkinan berlangsungnya tsunami perlu dilakukan lebih teliti terhadap variabel yang relevan dengan koefisien yang bervariasi. Hasil analisis kegempaan dan pencegahan tsunami ini disosialisasikan kepada masyarakat secara berkala tetapi berkelanjutan seperti lagi dilaksanakan oleh Proyek GITEWS. Tetap dipertanyakan, apakah masyarakat akan lari atau menetap di pantai sesudah alarm tsunami dibunyikan walaupun telah diberitahukan sebelumnya bahwa gedung moderen itu tahan tsunami dan dapat dijadikan tempat mereka menyelamatkan diri?

8.2 Mitigasi Dampak Akibat Kegiatan Padang Bay City


A. Persepsi umum tentang rencana pembangunan Padang Bay City Sejak gagasan tentang reklamasi pantai Padang diungkapkan oleh Pemerintah Kota, muncul beranekaragam persepsi kelompok masyarakat. Klipping surat kabar lokal Sumatera Barat tentang gagasan reklamasi PBC (bulan Juli 2006 s/d bulan Juni 2007) yang ditelaah oleh Bagian Penanaman Modal dan Kerjasama Kantor Walikota Padang menggambarkan pemahaman dan respons masyarakat tentang gagasan tersebut. Keputusan Walikota Padang menangguhkan rencana PBC dalam waktu yang tidak ditentukan yang disampaikan melalui surat nomor 050.434/PMK/IV/2007 tanggal 27 April 2007 merupakan keputusan yang arif, karena dengan demikian semua unsur stakeholders kota Padang memperoleh kesempatan untuk lebih memahami konsep reklamasi pantai yang sesuai dengan tipologi kota dan atau pantai Padang. Persepsi adalah pengetahuan intuitif langsung terhadap sesuatu data indrawi atau gambaran/image yang akan mempengaruhi keputusan.

B. Upaya yang perlu dilakukan oleh Pemerintah antara lain: Mengintegrasikan rencana reklamasi Pantai Padang/PBC ke dalam rumusan kebijakan pembangunan kota dan pengembangan pantai Padang baik di dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Panjang maupun Rencana Pembangunan Jangka Menengah. Meningkatkan intensitas peranserta masyarakat di dalam proses perencanaan tata ruang bagian-bagian kota (dalam hal ini penataan Pantai Padang) dan perencanaan sektor
67

Kajian Lingkungan Hidup Strategis Padang

(misalnya perencanaan zonasi pesisir pantai, rencana peningkatan kapasitas jalan, restorasi sungai dll). Masing-masing Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang terkait dengan reklamasi pantai menyelenggarakan pendataan dan kajian tematik untuk mendukung konsep penataan pantai Padang, termasuk pemutakhiran kajian Zonasi Wilayah Pesisir Pantai Padang. Masing-masing SKPD yang terkait dengan penataan pantai menjabarkan komponen rencana tata ruang reklamasi pantai PBC ke Rencana Teknik Ruang Kota Kawasan Pantai dan Rencana Unsur Kawasan Pantai (sarana dan prasarana lingkungan). Menyelenggarakan diskusi terbatas yang bersifat fokus (Focus Group Discussion) secara berkala tentang pengembangan kawasan pantai bagi komunitas yang strategis, antara lain Komunitas Peneliti/Dosen, Guru SD hingga SLTA, Pengelola jasa wisata, komunitas nelayan dan komunitas lain yang berkepentingan. Mengintegrasikan data dan informasi yang berasal dari berbagai sumber ke dalam dokumen KLHS PBC. Secara sinergis, penyiapan konsep mitigasi dampak terhadap persepsi masyarakat dapat dilakukan oleh Bappeda, Dinas Tata Ruang dan Bangunan, Dinas Permukiman dan Prasarana Wilayah, Dinas Pariwisata, Dinas Perhubungan, Dinas Kelautan dan Perikanan, Dinas Kebersihan dan Pertamanan, Dinas Pendidikan, Bagian Hukum, Bagian Pertanahan, Bagian Pembangunan, Bagian Perkonomian, Bagian Sosial, Bagian Penanaman Modal dan Kerja Sama. C. Keresahan Sosial Kelompok Masyarakat Keresahan sosial berbagai kelompok masyarakat merupakan tindak lanjut persepsi yang tidak setuju tentang rencana reklamasi. Apabila persepsi masyarakat yang tidak setuju tentang reklamasi dapat dikurangi maka dari waktu ke waktu potensi keresahan masyarakat akan makin menurun. D. Penambangan Batu Gunung dan Pasir/Tanah Urug Baik hasil kajian yang dilakukan oleh PT Pacific Presetress Indonesia maupun PT Graha Surya Mutiara tidak menjelaskan jumlah batu gunung yang diperlukan untuk konstruksi reklamasi. Hasil kajian PBC (PT Graha Surya Mutiara) menyebutkan bahwa tanah bahan reklamasi yang diperlukan untuk mencapai ketinggian +4,50 LWS adalah 2.346.600 m. Karena lapisan dasar laut yang compressible maka akan berlangsung subsidence antara 2,5 hingga 2,8 m. Kalau penurunan tanah itu diperhitungkan maka diperlukan tanah urug sebanyak 3.168.000 m2. Penambangan bahan galian golongan C sejumlah kebutuhan di atas dalam waktu yang relatif singkat akan menimbulkan dapak penting terhadap ekosistem sekitar lokasi penambangan. Sesungguhnya prosedur penambangan dan mitigasi dampak panambangan galian C sudah dikaji di dalam AMDAL/UKL dan UPL tiap lokasi tambang yang memiliki izin panambangan. Karena itu, upaya mitigasi yang dapat dilakukan adalah menetapkan kuota terhadap lokasi-lokasi penambangan tanah urug (bahan galian golongan C) agar tidak bertumpu pada satu lokasi tetapi pada beberapa lokasi yang masih memenuhi kelayakan ongkos transport baik melalui angkutan darat dan atau angkutan laut. Konsep mitigasi dampak penambangan ini perlu dikaji secara cermat oleh Dinas Perindustrian, Perdagangan, Pertambangan dan Energi Kota Padang. E. Abrasi dan Akresi Pantai Penempatan bangun-bangunan pantai yang tidak sesuai dengan arus dan gelombang laut akan mengakibatkan abrasi di satu lokasi dan sedimentasi di lokasi lain. Abrasi dan akresi merupakan dua gejala alam yang berlangsung bersamaan di lokasi yang berbeda. Abrasi yang selama ini berlangsung di beberapa lokasi pantai Padang adalah akibat perubahan iklim. Aliran angin yang berlangsung pada musim Barat ( bulan November sampai dengan Maret) dan akhir musim Timur (bulan September sampai dengan Oktober) tergolong cepat yakni antara 5 sampai 44 knot (Laporan Zonasi Perairan Laut Kota Padang, 2005) mengakibatkan gelombang laut yang besar. Pembangunan penahan gelombang laut dan tanggul yang relatif besar/ luas akan mengakibatkan perubahan arus laut dan kemungkinan akan mengakibatkan abrasi di sekitar lokasi reklamasi dan mengendapkan hasil kikisan di tempat lain.
68

Kajian Lingkungan Hidup Strategis Padang

Upaya mitigasi dapat dilakukan dengan dua (2) pendekatan, yaitu (a) mitigasi perubahan hidrodinamika laut melalui pendekatan perencanaan reklamasi dan (b) pembangunan shore protection/penahan gelombang laut di pantai yang potensial mengalami abrasi. Mitigasi perubahan hidrodinamika laut pada tahap perencanaan reklamasi perlu dilakukan melalui kajian hidrodinamika dan pemodelan hidrodinamika sebelum dan setelah reklamasi untuk masingmasing musim dan besaran variabel arus yang berbeda. Model yang telah dikalibrasi dapat digunakan sebagai pertimbangan untuk memilih alternatif bentuk rencana reklamasi PBC. F. Implikasi bangunan kontemporer terhadap bentang alam kota lama Bentang Budaya. Pembangunan bangunan-bangunan dengan intensitas tinggi di atas tanah hasil reklamasi akan mewujudkan bentang alam buatan yang baru. Baik bangunan vertikal di atas tanah hasil reklamasi maupun dermaga marina di muara sungai Batang Arau potensial tidak berkesesuaian dengan kawasan kota lama Muaro yang tergolong sebagai kawasan pemugaran. Nelayan dan Kapal Usaha Lainnya. Selain itu, pembangunan dermaga marina di muara sungai Batang Arau menuntut pola pengelolaan usaha secara formal yang potensial akan menyisihkan kapal/perahu nelayan karena nelayan kurang mampu membayar ongkos tambat pada dermaga baru. Selanjutnya, bagi wisatawan asing, nelayan kecil sebagai obyek wisata yang menarik. Zonasi. Upaya mitigasi yang perlu dilakukan oleh Pemerintah Kota Padang (dikordinasikan oleh Dinas Tata Ruang dan Bangunan beserta Bappeda) adalah menyusun Kajian Urban Design dan Urban Design Guideline (UDGL) Kawasan Reklamasi PBC dan Kawasan Kota Lama dalam satu kawasan perencanaan. Kajian UDGL tersebut diintegrasikan dengan Zoning Regulation Kawasan PBC dan sekaligus menjadi masukan terhadap Zoning Regulation Kawasan Kota Lama. Kajian UDGL dimaksud hendaknya dilakukan melalui proses kordinasi instansi terkait dan partisipasi masyarakat dan selanjutnya ditetapkan dengan Keputusan Walikota agar pada gilirannya nanti menjadi acuan penerbitan Fatwa Rencana Kota, Izin Mendirikan Bangunan dan Izin Membangun Prasarana. Mungkin melewati pendekatan spasial tersebut, muara dapat dizonasi untuk akomodir baik yacht maupun nelayan, kapal bongkar muat dan penumpang, walaupun dalam jumlah relatif kecil. Sebenarnya, pemanfaatan muara oleh kapal bongkar muat dan penumpang sudah berkurang. Tabel 16 menunjukkan penurunan jumlah kapal di muara dari tahun 2003 s/d 2006; di Tabel 17 hasil serupa tapi dalam tonasi. Tabel 18 memperlihatkan data untuk kapal bongkar muat dan penumpang. Kapal penumpang yang mengalami penurunan yang paling drastis. (Statistik tersebut tidak mencakupi nelayan kecil dan menengah). Dengan penurunan kegiatan kapal di muara menunjukkan peluang untuk suatu solusi zonasi untuk marina dan guna lain yang relative kecil.
Tabel 16. Kapal Kunjungan di Muara Sungai Batang Arau dan Pelabuhan Teluk Bayur Tipe Kapal Domestik dan Asing di Teluk Bayur Kapal Kunjungan Muara 2003 1445 2004 1430 2005 1671 2006 1841 + +/21.5%

1412

1404

1314

1049

25.7%

Berdasarkan data Pelindo, 2007

Tabel 17. Tonase Kapal Kunjungan di Muara Sungai Batang Arau dan Pelabuhan Teluk Bayur Tipe Kapal Domestik dan Asing di Teluk Bayur Kapal Kunjungan Muara 2003 10 300 248 2004 11 314 941 2005 11 117 117 2006 11 193 888 + +/8.0%

130 437

123 242

128 587

101 121

22.5% 69

Kajian Lingkungan Hidup Strategis Padang

Berdasarkan data Pelindo, 2007

Tabel 18. Kunjungan Kapal Bongkar Muat dan Penumpang di Muara Sungai Batang Arau Tipe Kapal CARGO Bongkar Muat PENUMPANG 2003 40 845 2004 43 009 2005 35 011 2006 38 562 + +/9.4%

55 108

49 946

36 665

22 421

59%

Berdasarkan data Pelindo, 2007 Mutu Air Muara. Satu faktor lain yang sebagai risiko pembangunan marina adalah mutu air terutama limbah domestik dari hulu serta sedimentasi yang harus dikruk secara periodik. Pemilik yacht sering tidak mentolerir kekotoran air. Mitigasinya adalah keterpaduan program kesadaran masyarakat di hulu, alternatif praktis utk pembuangan sampah serta pengawasan sepadan sungai. G. Gangguan terhadap Biota Air Muara Sungai dan Perairan Laut Gangguan terhadap biota laut mulai berlangsung sejak tahap bongkar muat batu dan bahan reklamasi di lokasi hingga kegiatan-kegiatan yang berlangsung sepanjang masa di atas tanah hasil reklamasi. Konsep mitigasi perlu disiapkan agar keanekaragaman biota laut (baik flora maupun fauna laut serta mikro organisma) tidak menurun. Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Padang perlu melakukan kajian tematik sebagai bahan masukan untuk menyesuaikan ketentuan pengaturan perlindungan biota yang dimuat di Keputusan Walikota Padang nomor 185 Tahun 2004 tentang Rencana Strategis Pengelolaan Wilayah Pesisir Kota Padang. Di dalam konsep zonasi wilayah pesisir dan laut kota Padang, estuary Muaro tergolong sebagai Zona Preservasi dan bagian dalam Muaro (lokasi tambat perahu) sebagai Zona Rehabilitasi. Gangguan terhadap biota laut pada masa konstruksi akan berlangsung dalam jangka waktu yang idak terlalu lama. Tetapi gangguan pada masa operasi akan berlangsung sepanjang masa selama kegiatan perkotaan berlangsung di atas tanah hasil reklamasi. Sehubungan dengan itu, mitigasi yang harus dilakukan adalah mempersiapkan ketentuan pengendalian dan pengawasan terhadap masuknya tiap limbah kegiatan ke perairan laut. Pemerintah harus mampu mencegah masuknya bahan pencemar dari muara sungai Batang Arau dan limbah dari keluaran saluran sanitasi dan sanitasi ex kawasan reklamasi. Pembangunan instalasi pengolahan air limbah secara komunal dan pemberlakuan baku mutu air limbah merupakan upaya mitigasi yang harus dilakukan. Selain itu, pemantauan hasil mitigasi harus dilakukan agar keanekaragaman biota air laut lestari. H. Kecemburuan Sosial Kelompok Masyarakat Tertentu Kegiatan yang potensial menimbulkan kecemburuan sosial antara lain adalah rekrutment tenaga kerja (baik tahap konstruksi maupun tanah operasi), pengisian tanah reklamasi (pihak yang kalah tender), aktifitas buruh konstruksi dan pembangunan di atas tanah hasil reklamasi dan aktifitas perkotaan yang akan berlangsung di dalam kawasan reklamasi. Upaya mitigasi yang perlu dirumuskan dengan cermat antara lain adalah (a) keterbukaan informasi dan pembinaan agar masyarakat di sekitar lokasi reklamasi mampu mengambil keputusan tentang strategi hidupnya sehubungan dengan akan berlangsungnya reklamasi, (b) keterbukaan informasi tentang peluang kesempatan kerja dan kesempatan berusaha, (c) Keberpihakan kontraktor kepada masyarakat sekitar lokasi untuk memberi kesempatan kerja sesuai dengan kualifikasi yang sesuai. Untuk keperluan itu Pemerintah Kota Padang perlu melakukan kajian tematik yang selanjutnya dirumuskan menjadi kebijakan Walikota tentang keterbukaan informasi dan peluang kerja/berusaha. I. Ketenteraman dan Ketertiban

Sesungguhnya, gejala sosial di bidang ketenteraman dan ketertiban merupakan konsekuensi aktifitas perkotaan yang berkembang secara evolusi. Di dalam konteks reklamasi pantai, gejala tersebut akan berlangsung sejak tahap awal konstruksi hingga tahap operasi (sepanjang masa kegiatan operasi).
70

Kajian Lingkungan Hidup Strategis Padang

Sehubungan dengan potensi dampak terhadap ketertiban dan keamanan, maka perangkat Kecamatan perlu mempersiapkan konsep mitigasi dampak ketenteraman dan ketertiban, baik pada masa konstruksi PBC maupun pasca konstruksi. Konsep mitigasi dimaksud hendaknya mengakomodir peranserta masyarakat. J. Implikasi kegiatan terhadap peningkatan volume lalu lintas

Sejak tahap konstruksi hingga tahap operasi/pasca konstruksi, kawasan PBC akan menjadi tempat tujuan dan sekaligus tempat pemberangkatan (origin dan destination). Dengan perkataan lain PBC menjadi salah satu bagian kota yang akan menjadi sumber bangkitan lalu lintas. Mitigasi dampak hipotetik pembangunan PBC harus dikaji sejak dini, diawali dengan pelaksanaan kajian volume dan kepadatan lalu lintas pada masa sebelum pembangunan dan kajian volume dan kepadatan lalu lintas setelah PBC beroperasi. Dengan demikian dapat disusun rencana dan program peningkatan kapasitas jalan, program manajemen lalu lintas yang antara lain meliputi pengaturan sirkulasi dan pemasangan rambu lalu lintas. Untuk menjamin tersusunnya rumusan rencana kegiatan (plan) dan program tahunan, maka perlu dirumuskan kebijakan Jangka Panjang dan jangka menengah Pemerintah Kota Padang di bidang lalu lintas dan pembangunan jaringan jalan. Apabila kerangka mitigasi ini telah diintegrasikan ke dalam rumusan kebijakan Walikota Padang tentang rencana pembangunan jangka menengah dan dijabarkan ke dalam rencana tata ruang dan program-program sektor, maka perlu dilakukan pemantauan implementasinya agar dapat dievaluasi tepat atau tidaknya sasaran mitigasi dampak.

8.3

Alternatif untuk PBC

Ada beberapa alternatif untuk mengurangi dampak lingkungan dari pembangunan PBC. Sementara Pemerintah Kota Padang sudah memutuskan lokasi dan skala PBC, namun suatu kajian dampak lingkungan perlu mempertimbangkan alternatif. Secara singkat alternatif adalah sebagai berikut, Skala PBC diperkecil supaya mengurangi dampak ekonomi dan lingkungan, misalnya, tidak mencakup Gunung Padang. Lokasi di utara dari lokasi PBC sekarang. Rencana awal, PBC akan dibangun di utara lokasi sekarang sebagai waterfront city. Air laut tidak mengalami tingkat pencemaran sampah seperti yang ditemukan di Batang Arau, demikian juga akses lalu lintas lebih lancar. Namun, lokasi ini tidak berdekatan dengan sumberdaya lainnya seperti Gunung Padang dan Kota Tua. Air Manis dan Pulau Pisang. Diseberang Gunung Padang menuju selatan ada lokasi Air Manis yang di depannya ada Pulau Pisang yang secara alamiah berfungsi sebagai penahan daerah ini dari ombak besar. Lokasi indah, dekat dengan permukiman kota tapi tidak nampak dari kota. Air laut lebih bersih lagi dibandingkan pilihan nomor 1 dan nomor 2 diatas.

9. Kesimpulan dan Saran Tindak


9.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil kajian yang diuraikan pada bab IV dan V dapat disimpulkan bahwa sesungguhnya di dalam Rencana Jangka Panjang Pembangunan (RPJP) Kota Padang telah dirumuskan bahwa optimasi pemanfaatan ruang kawasan pantai akan dilakukan secara terpadu melalui pendekatan kemitraan Pemerintah Kota dengan Dunia Usaha. Kebijakan tersebut belum dijabarkan ke bentuk rencana tata ruang yang lebih operasional dan rencana-rencana sektor/rencana unsur kota yang berkesesuaian (compatible) dengan kebutuhan reklamasi pantai. Apabila kebijakan penataan pantai dengan cara reklamasi dijabarkan ke tingkat rencana, tentu pada tingkat selanjutnya yakni di dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) perlu dijabarkan rumusan rencana tata ruang dan atau rencana sektor tersebut ke rumusan tingkat program. Bila rumusan program tahunan yang berkaitan dengan gagasan reklamasi tersebut disusun, tentu akan dapat diketahui langkah-langkah untuk mencegah dan atau menanggulangi gangguan reklamasi dan sekaligus langkah-langkah untuk mengembangkan manfaat yang diperoleh.
71

Kajian Lingkungan Hidup Strategis Padang

Di antara berbagai kegiatan penting yang diperlukan, dapat disimpulkan beberapa hasil penilaian implikasi lingkungan yang perlu dicermati dan ditindaklanjuti, yaitu: Membuka peluang kepada masyarakat yang berkepentingan (wakil masyarakat di kawasan PBC untuk turut berpartisipasi di dalam proses perencanaan makro, baik di bidang perencanaan tata ruang maupun rencana sektor serta kajian resiko penataan pantai. Untuk itu perlu dirumuskan kebijakan sosialisasi, keterbukaan informasi perencanaan dan peranserta masyarakat di bidang perencanaan tata ruang dan lingkungan. Penambangan batu, pasir laut dan atau tanah urug untuk keperluan reklamasi potensial menimbulkan masalah lingkungan, baik di lokasi penambangan maupun pada proses pengangkutan ke lokasi reklamasi. Sesungguhnya Pemerintah telah menetapkan prosedur dan mekanisme perizinan penambangan bahan galian Golongan C. Tetapi walaupun demikian perlu dikaji secara cermat dan disosialisasikan kepada masyarakat bahwa penambangan dan pengangkutan bahan-bahan sudah dikaji secara mendalam sehingga dampaknya dapat dicegah dan atau diminimalkan. Pengerukan muara sungai batang Arau merupakan bagian dari penataan PBC. Laporan pemantauan memang menjelaskan proses pendangkalan dan pencemaran badan air sungai ini. Rencana pengerukan muara sungai Batang Arau harus dikaji secara cermat. Perlu dipertimbangkan untuk melakukan kajian model hidrodinamika muara sungai ini dengan skenario pengerukan yang bervariasi agar dapat dipahami perilaku pengendapan sungai ini. Salah satu komponen lingkungan yang sangat mempengaruhi keberhasilan pemanfaatan tanah hasil reklamasi adalah tanggul dan penahan gelombang laut yang akan dibangun akan merupakan bentang alam buatan di perairan pantai yang nantinya akan merubah pola arus dan gelombang ke arah pantai. Karena itu perlu dianalisis secara cermat dan mendalam pola arus dan gelombang sebelum dan setelah konstruksi tanggul reklamasi. Pemanfaatan tanah di atas hasil reklamasi tentunya mengarah pada peruntukan ruang komersil dengan intensitas tinggi, sedangkan kawasan Muaro digolongkan sebagai kawasan kota lama yang dilindung. Selain itu kawasan gunung Padang merupakan warisan alam (natural heritage) yang unik. Karena itu perlu dikaji pendekatan yang dapat menjamin keberlanjutan masing-masing unsur lingkungan tersebut. Tanah hasil reklamasi yang diciptakan dengan teknologi tinggi dan investasi besar akan dimanfaatkan oleh berbagai pihak untuk berbagai keperluan. Pemerintah Kota Padang dapat memperoleh hak pengelolaan atas tanah hasil reklamasi. Untuk mendukung aspek legalitas tanah hasil reklamasi tersebut, perlu dipersiapkan kajian peraturan perundangan yang mengatur tata cara reklamasi dan pemanfaatan tanah hasil reklamasi oleh privat, korporat, masyarakat umum/publik dan pemerintah.

9.2 Pelajaran dari Pengalaman ~ Lessons Learned


Ada beberapa pelajaran dari pengalaman pelaksanaan KLHS di Padang, sebagai berikut: (i) Data Tersebar. Banyak informasi hasil kajian di Padang yang ada kaitan dengan PBC tapi tersebar. KLHS memberikan kesempatan untuk mengumpul data dan dokumen di satu tempat. Kalau tidak didukung dan fasilitasi Tim Kecil akan jauh lebih sulit memperoleh informasi tersebut. KLHS memfasilitasi tukar menukar informasi lingkungan antar kelembagaan. (ii) Kebutuhan Lokal. KLHS dihargai oleh daerah kalau dilaksanakan berdasarkan kebutuhan daerah (demand-driven). Oleh karena itu, ada rasa memiliki. Mitra lokal bersemangat mendukung proses KLHS. Belum tentu akan begitu kalau ada kebijakan nasional yang menginstruksikan pelaksanaan KLHS. Risikonya, KLHS akan di-konsultan-kan ataupun direkayasa. Pada akhirnya kemungkinan diperlukan kebijakan nasional, tapi kalau terlalu cepat dikeluarkan akan mengganggu inisiatif dan inovasi dalam uji coba KLHS untuk berbagai tujuan. (iii) Pimpinan Aktif. Keberhasilan Tim Kecil tergantung pada pimpinan aktif dan anggota yang menguasai bidangnya. Tidak harus sering ketemu tapi rencana dan pengarahan kerja mesti tegas.
72

Kajian Lingkungan Hidup Strategis Padang

(iv) Keserasian Wacana Antar Pihak. KLHS membuat lebih serasi dan damai wacana antara Pemerintah Kota dan pihak lain yang berkepentingan. (v) Bukan AMDAL. Tantangan awal dari upaya pelaksanaan KLHS adalah membedakannya dengan AMDAL atau proses kelayakan serupa. Tidak mudah.

9.3 Saran Tindak


Sebagaimana dikemukakan pada bagian pendahuluan laporan ini, bahwa salah satu pertimbangan penyusunan Kajian Lingkungan Hidup Strategis ini adalah untuk memberikan gambaran secara sistematik faktor-faktor yang strategis, yang berkaitan dengan kebijakan, rencana dan program reklamasi. Disadari pula bahwa penyusunan KLHS ini dihadang oleh beberapa kendala, baik karena terbatasnya data dan informasi maupun terbatasnya metoda yang dapat diterapkan. Sehubungan dengan itu perlu disampaikan beberapa saran tindak, yaitu: 1. KLHS Dinamis Perlu dipertimbangkan untuk memutakhirkan hasil KLHS ini dengan data dan informasi yang lebih lengkap dan lebih akurat, misalnya hasil survey benthic yang akan dilaksanakan Proyek Tsunami Early Warning System. Dengan data itu bisa membuat modelling dampak PBC terhadap abrasi dan sedimentasi. Seandainya gagasan reklamasi PBC dimasukkan ke dalam proses Evaluasi Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Padang dan Adendum Rencana Pembangunan Jangka Panjang Kota Padang, maka upaya itu perlu dicatatkan ke dalam KLHS ini. Itulah satu contoh lain sebabnya dokumen KLHS ini disusun dengan pendekatan clip file ([:]) yang dapat dimutakhirkan, yakni KLHS sebagai satu dokumen dinamis dan hidup yang dapat disempurnakan terus sebagai masukkan utk pembuatan rencana pembangunan PBC. 2. Wacana antara Eksekutif dan Legislatif Perlu dipertimbangkan untuk menggunakan hasil KLHS ini sebagai bahan diskusi terbatas antara pihak Eksekutif dengan Legislatif (Komisi C DPRD) Kota Padang sebagai upaya lanjutan dialog yang terhenti selama ini. Apabila ternyata ada kesepahaman di antara Eksekutif dengan Legislatif, maka perlu diterapkan beberapa hasil kajian ini, yakni mengintegrasikan rumusan-rumusan kebijakan dan rumusan perencanaan serta rumusan program yang relevan ke dalam kerangka RPJP, RTRW, APBD, RPJM Kota Padang, disamping itu rencana daerah aliran sungai dan rencana pembangunan pesisir kota. 3. Memperluas Dialog dengan Pihak yang Berkepentingan Perlu memperluas dialog kepada pihak yang berkepentingan lain, pertama melalui Focus Group Discussion, lalu pada acara yang mencakupi semua pihak. Dalam rangka mengadakan wacana antara pihak yang berkentingan, lama lama bisa membuat jaringan informasi supaya lebih mudah bagi informasi (sharing information). Sebaiknya mengajak pihak yang berkepentingan lebih lebih perguruan tinggi untuk berikan kopi kajian, studi dan laporan kepada Tim Kecil sebagai clearing house untuk informasi terkait dengan KLHS PBC, yang dapat dilihat pula oleh masyarakat. Hal hal seperti ini meningkatkan saling percaya (mutual trust) antara masyarakat dan Pemerintah Kota.

4. Peran Tim Kecil Tim Kecil punya peran pokok pada tahap lanjutan, antara lain, I. II. III. IV. Pengelolaan Clip File Mengadakan dialog serasi dengan masyarakat Pengelolaan data dan informasi KLHS, termasuk ketersediaan informasi itu buat yang tertarik lebih tahu tentang PBC Mewakili upaya KLHS (makin lama, makin banyak orang dan kelembagaan akan belajar ke Padang untuk lebih tahu tentang kegunaan KLHS).
73

Kajian Lingkungan Hidup Strategis Padang

5. Dana Buat Proses KLHS Lebih Lanjut Demi komitmen Pemerintah Kota untuk mulai KLHS, Pemerintah Kota mencari dana walaupun belum ada proyek. Namun, untuk jangka waktu panjang, kegiatan KLHS PBC (dan KLHS lainnya) perlu ada anggaran. 6. Nama KLHS Nama kelembagaan atau pendekatan membawa nuansa tujuannya atau hubungannya dengan faktor lain. Kata strategis dan kajian mungking membawa konotasi mungkin membuat orang yang pertama dengar isitlah KLHS mengambil keputusan bahwa alat ini terutama untuk kepentingan petinggi. Nama KLHS dapat dirobah sesuai kebutuhan local, misalnya, Penilaian Partisipatif untuk Implikasi Lingkungan (PPIL) dari rencana, program atau kebijakan. Hal ini penting sebab Pemerintah Kota suda ada rencana unutk sosialisasi KLHS. 7. Kerjasama Daerah dengan Departemen untuk Perkembangan KLHS Sebaiknya ada komunikasi praktis dan dinamis antara pusat dan daerah tentang perkembangan KLHS. Pengalaman daerah perlu dikaji oleh Departemen yang memirkan pembuatan kebijakan KLHS agar supaya relevan untuk keadaan dan tantangan di daerah. Selanjutnya, mungkin KLH dapat menyebarluaskan studi kasus dari KLHS yang disebarluaskan ke Kota dan Kabupaten, menuju suatu buku saku / pegangan KLHS (SEA Handbook for Indonesia). Disamping itu, daerah diberikan kesempatan untuk memberikan masukan berdasarkan pengalaman.

74

Kajian Lingkungan Hidup Strategis Padang

Daftar Pustaka
Adiwibowo, Soeryo (2007) Gagasan & arah kebijakan kajian lingkungan hidup strategis. Naskah kebijakan, Proyek ESP 1, Departemen Lingkungan Hidup. Ahmed,K, Mercier,J.R., and Verheem,R. (2005) Strategic Environmental Assessment - Concept and Practice. World Bank, Environment Strategy, No.14, June 2005. Bapedalda (2007) Laporan Status Lingkungan Hidup Daerah (SHLD) Kota Padang Tahun 2006. Bapedalda, Kota Padang. Bapedalda (2006) Data Non Fisik Program Adipura 2006/2007. Bapedalda, Pemerintah Kota Padang. Bapedalda (2006) Penelitian Kualitas Perairan Sungai Batang Arau. Bapedalda dan Pusat Penelitian Kependudukan dan Lingkungan Hidup, Universitas Negeri Padang. Bappeda (2006) Zonasi Wilayah Pesisir dan Laut Kota Padang. Bappeda, MCRMP Componen A, Regional 3 Sumatera. Sumatera Barat, 2006. Bappeda (2004) Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Padang 2004-2013. Bappeda, Kota Padang. Bappenas (2006) Critical Environmental Pressure Points (CEPP) from Rehabilitationan and Reconstruction in Post-tsunami Nanggroe Aceh Darussalam. CEPPP Project. Bennett, C.P.A. (2006) Strategic Environmental Assessment (SEA) for Post-tsunami Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) - Opportunities for Demand-driven Applications. Tim SEA, Support for Local Government and Sustainable Recovery Project (GTZ Bapedalda), NAD, 06 June 2006. Bennett, C.P.A (2006) Strategic Environmental Assessment (SEA) for Management of the Aceh River Basin ~ Focus on Galian C River Quarrying. Tim SEA, Support for Local Government and Sustainable Recovery Project (GTZ Bapedalda), NAD, 06 June 2006. Bennett, C.P.A. (2005) Strategic Environmental and Natural Resource Assessment (SENRA) to Guide Implementation of Reconstruction and Rehabilitation in post-Tsunami Nanggroe Aceh Darussalam Facilitated by the Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) - Scoping for SENRA Preparation and Implementation. CIDA, Canadian International Development Agency, 08 July 2005. BPS, Badan Pusat Statistik (2006) Padang Dalam Angka Tahun 2005. BPS, kerja sama dengan BAPPEDA Kota Padang. BPS, Badan Pusat Statistik (2005) Padang Dalam Angka Tahun 2004. BPS, kerja sama dengan BAPPEDA Kota Padang. Cities Alliance (2006) Guide to City Development Strategies Improving Urban Performance. Cities Alliance, June 2006. Dalal-Clayton,B. & Sadler,B. (2005) Strategic Environmental Assessment - A Sourcebook and Reference Guide to International Experience. Earthscan. Dalal-Clayton,B. & Sadler,B. (1998) Strategic Environmental Assessment: A Rapidly Evolving Approach. IIED Working Paper, ISBN 1 904035 33 7. DEAT, Department of Environmental Affairs and Tourism (2000) Strategic Environmental Assessment in South Africa. DEAT, February 2000. DKP dan SAHATI (2005) Pemetaan Potensi Perikanan Kota Padang. Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kota Padang dengan Yayasan Hayati Lestari (SAHATI), 2005. DKP, Dinas Kelautan dan Perikanan (2004) Rencana Strategis Pengelolaan Wilayah Pesisir Kota Padang. DKP dan SAHATI (2004) Rencana Pengelolaan (Management Plan) Pesisir dan Laut Sungai Pisang. Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kota Padang dengan Yayasan Hayati Lestari (SAHATI), December 2004. Dinas TRTB, Dinas Tata Ruang dan Tata Bangunan (2002) Panduan Rancangan Kawasan dan Bangunan Di Kota Lama Padang. Pemerintah Kota Padang, Dinas TRTB.
75

Kajian Lingkungan Hidup Strategis Padang

DfID, Department for International Development (2004) Contribution of the environment and natural resources to pro-poor growth: a checklist examining these issues within a poverty reduction strategy. DfID, October 2004. EPA, Environmental Protection Agency (2006) SEA of Water and Environmental Sanitation - A Practical Guide. EPA, Republic of Ghana, October 2006. EU, European Union (2001) Assessment of the effects of certain plans and programs on the environment. Directive 2001/42/EC of the Eurpean Parliament and the Council of 27 June 2001. IAIA, International Association for Impact Assessment (2002) Strategic Environmental Assessment Performance Criteria. IAIA, Special Publications Series No.1. Icon Consultants Ltd (2001) SEA and Integration of the Environment into Strategic DecisionMaking. European Commission Contract, No. B4-3040/99/136634/MAR/B4 Murugesu Pushparajah (2005) Coastal Protection and Spatial Planning in Indonesia. FAO, Food and Agricultural Organisation of the United Nations, Mission Report, May 2005. OECD, Organisation for Economic Co-Operation and Development (1993) OECD Core Set Of Indicators for Environmental Performance Reviews. OECD, Environment Monograph N 83, A synthesis report by the Group on the State of the Environment, Paris, 1993. Pemerintah Kota Padang (2007) Opini Publik Rencana Pembangunan PBC. Bagian Penanaman Modal dan Kerjasama, Klipping Surat Kabar. Pemerintah Kota Padang (2007) Proposal Padang Bay City. Pemerintah Kota Padang, Bagian Penanaman Modal dan Kerjasama. Pemerintah Kota Padang (2004) Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) 2004-2020. Pemerintah Kota Padang. Pemerintah Kota Padang (2004) Rencana Pembangunan Jangka Menegah (RPJM) 2004-2008. Pemerintah Kota Padang. Pillai,P. and Mercier,J.R. () Learning from First-Generation Strategic Environmental Assessments Supported by the World Bank. World Bank. PT. Pacific Prestress Indonesia (2006) Laporan Perencanaan Reklamasi Pantai Padang Sumatera Barat. PT Pacific Prestress Indonesia. UNEP (1999) Conceptual Framework and Planning Guidelines for Integrated Coastal Area and River Management. Mediterranean Priority Action Plan. Walikotamadya (1998) Penetapan Bangunan Cagar Budaya dan Kawasan Bersejarah di Kotamadya Padang. Keputusan Walikotamadya, Kota Padang.

76