Anda di halaman 1dari 10

Ilmu Sosial Dan Budaya Dasar

BAB I PENDAHULUAN Wayang Orang merupakan bentuk perwujudan dari wayang kulit yang diperagakan oleh manusia. Jadi kesenian wayang orang ini merupakan refleksi dari wayang kulit. Bedanya, wayang orang ini bisa bergerak dan berdialog sendiri. Fungsi dan pementasan Wayang Orang, disamping sebagai tontonan biasa kadang-kadang juga digunakan untuk memenuhi nadzar. Sebagaimana dalam wayang kulit, lakon yang biasa dibawakan dalam Wayang Orang juga bersumber dari Babad Purwa yaitu Mahabarata dan Ramayana. Kesenian Wayang Orang yang hidup dewasa ini pada dasarnya terdiri dari dua aliran yaitu gaya Surakarta dan gaya Yogyakarta. Perbedaan yang ada di antara dua aliran terdapat terutama pada intonasi dialog, tan, dan kostum. Dialog dalam Wayang Orang gaya Surakarta lebih bersifat realis sesuai dengan tingkatan emosi dan suasana yang terjadi, dan intonasinya agak bervariasi. Dalam Wayang Orang gaya Yogyakarta dialog distilisasinya sedemikian rupa dan mempunyai pola yang monoton. Hampir semua group Wayang Orang yang dijumpai menggunakan dialog gaya Surakarta. Jika toh ada perbedaan, perbedaan tersebut hanya terdapat pada tarian atau kadangkadang pada kostum. Untuk menyelenggarakan pertunjukan wayang orang secara lengkap, biasanya dibutuhkan pendukung sebanyak 35 orang, yang terdiri dan: (1) 20 orang sebagai pemain (terdiri dari pria dan wanita); (2) 12 orang sebagai penabuh gamelan merangkap wiraswara; (3) 2 orang sebagai waranggana; (4) 1 orang sebagai dalang. Dalam pertunjukan Wayang Orang, fungsi dalang yang juga merupakan sutradara tidak seluas seperti pada wayang kulit. Dalang wayang orang bertindak sebagai pengatur perpindahan adegan, yang ditandai dengan suara suluk atau monolog. Dalam dialog yang diucapkan oleh pemain, sedikit sekali campur tangan dalang. Dalang hanya memberikan petunjuk-petunjuk

1|Page

Ilmu Sosial Dan Budaya Dasar

garis besar saja. Selanjutnya pemain sendiri yang harus berimprovisasi dengan dialognya sesuai dengan alur ceritera yang telah diberikan oleh sang dalang. Pola kostum dan make up Wayang Orang disesuaikan dengan bentuk (patron) wayang kulit, sehingga pola tersebut tidak pernah kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Pertunjukan Wayang Orang menggunakan konsep pementasan panggung yang bersifat realistis. Setiap gerak dari pemain dilakukan dengan tarian, baik ketika masuk panggung, keluar panggung, perang ataupun yang lain-lain. Gamelan yang dipergunakan seperti juga dalam wayang kulit adalah pelog dan slendro dan bila tidak lengkap biasanya dipakai yang slendro saja. Lama pertunjukan wayang orang biasanya sekitar 7 atau 8 jam untuk satu lakon, biasanya dilakukan pada malam hari. Pertunjukan pada siang hari jarang sekali dilakukan. Sebelum pertunjukan di mulai sering ditampilkan pra-tontonan berupa atraksi tari-tarian yang disebut ekstra, yang tidak ada hubungannya dengan lakon utama. A. Latar Belakang Observasi Observasi ini dilakukan berdasarkan pertimbangan berikut : 1. Mahasiswa perlu mengenal lebih dalam budaya budaya asli Indonesia 2. Mahasiswa perlu melihat secara langsung bentuk kegiatan budaya yang dilakukan di lingkungannya 3. Serta bagaimana mahasiswa dapat memahami makna, tujuan serta fungsi dari pelaksanaan kegiatan kebudayaan tersebut Dengan demikian, wawasan mahasiswa mengenai kebudayaan dapat meningkat dan diharapkan dapat meningkatkan rasa kecintaan mahasiswa terhadap budaya tersebut.

2|Page

Ilmu Sosial Dan Budaya Dasar

B. Tujuan Observasi Adapun tujuan diadakannya observasi ini adalah : 1. Menumbuhkan kecintaan pada budaya asli Indonesia 2. Mengetahui seluk beluk kegiatan kegiatan budaya yang dilakukan di masyarakat 3. Mengetahui fungsi dan pelaksanaan kegiatan budaya 4. Sebagai sarana refreshing C. Waktu dan Tempat Pelaksanaan Observasi Kegiatan Observasi ini dilakukan pada : Hari Waktu Tempat : Sabtu : Pukul 20.00 00.00 WIB : Taman Budaya Raden Gedung Ki Nartosabdho Komplek TBRS Jl.Sriwijaya No.29 Semarang D. Objek Observasi Kegiatan yang menjadi objek observasi penulis adalah Pagelaran Wayang Orang dengan Lakon Arjuno Tigas yang didalangi oleh Pak Kristanto Tanggal : 11 Mei 2011

3|Page

Ilmu Sosial Dan Budaya Dasar

BAB II HASIL OBSERVASI Wayang Orang Ngesti Pandowo merupakan salah satu ikon budaya Kota Semarang. Dulu, ada unen-unen belum keSemarang kalau belum melihat pementasan Ngesti. Kelompok kesenian wayang orang ini mengalami masa kejayaan mulai pertengahan 1950-an hingga dekade 1980-an, terutama ketika masih menempati Gedung GRIS di Jl Pemuda. Sesudah digusur dari GRIS pada 1996, kelompok itu kian surut. Kini, Ngesti Pandowo masih menggelar pementasan rutin di Gedung Ki Narto Sabdho, kompleks Taman Budaya Raden Saleh, Semarang, tiap Sabtu malam. Walaupun dengan penonton yang bisa dibilang jari tangan. Ngesti Pandowo didirikan pada tanggal 1-7 tahun 1937. Selain melakukan Pagelaran Wayang orang seperti ini, wujud Ngesti Pandowo sendiri dalam menjalankan visinya mengenalkan seni budaya pada masyarakat juga dengan mengadakan berbagai acara seperti musikalisasi puisi, pentas teater, motivator kepada anak muda tentang semangat hidup. Ngesti Pandowo ini juga memberikan eksempatan bagi siapa saja yang berminat untuk bergabung dalam kelompok ini karena mengingat makin tuanya para senior-senior yang ada dan juga sebagai salah satu cara untuk melakuan regenerasi karena klo tidak melakukan hal demikian maka lama kelamaan warisan budaya Wayang Orang ini akan hilang dengan sendirinya karena ketidak adanya para penerus. Anggota Ngesti Pandowo sendiri mencakup karyawan, mahasiswa, rektor, pelajar,bahkan para pejabat pejabat Negara seperti bapak walikota semarang sekarang, bapak sutiyoso juga sering menyempatkan waktunya untuk bermain bersama anggota-anggota Ngesti Pandowo yang lain.sekarang yang menjadi kendala pada Nesti Pandowo adalah pencarian pemain-pemain muda khususnya pada peran pemain wanitanya.

4|Page

Ilmu Sosial Dan Budaya Dasar

Kelompok Ngesti Pandowo ini dikelola oleh para anggota-anggota ini sendiri bukan berada di naungan Pemerintah. Meski tidak di pegang oleh pemerintah secara langsung tetapi Pemerintah Kota Semarang tidak terus lepas tangan terhadap kesenian yang berjalan sejak tahun 96 ini. Pemerintah juga sering memnerikan sumbangan-sumbsnga, bahkan gedung yang di gunakan sehari-hari ini pun pemberian dari Pemerintah, dulu sebelum pindah pagelaran Wayang Orang ini berada diJalan Pemuda tepatnya yang sekarng dibangun gedung Paragon,selain fasilitas seperti gedung Pemerintah juga menyediakan fasilitas seperti bebas listrik,pajak. Selain dari pemerintah pendapatan yang di dapat dari kelompok Ngesti Pandowo ini yaitu dari penjualan tiket, dan biasanya mendapat undangan sewa keluar seperti acara syukuran,ngantenan dan lain-lain. Visi Misi Ngesti Pandowo dalam mengadakan pagelaran wayang kulit ini yaitu untuk meningkatkan kesukaan terhadap jagat pewayangan kepada masyarakat terutama kawula muda melalui pagelaran wayang yang rutin diadakan setiap malam minggu di Taman Budaya Raden Saleh ini. Pagelaran wayang seperti ini pertama kalinya diadakan pada tahun 98. Pada setiap pagelaran wayang yang diadakan, pemilihan dalang yang akan pentas tidaklah sembarangan. Tidak semua orang bisa pentas dalam pagelaran ini. Para dalang yang ingin pentas dengan teater lingkar haruslah memiliki ketrampilan tangan yang bagus, yaitu dengan dilihatnya cara sang dalang dalam membawakan cerita yang akan disuguhkannya. Kecerdasan seorang dalang bisa terlihat melalui ketrampilan tangan ini. Ngesti Pandowo lebih mengoptimalkan pengadaan pagelaran wayang dalam mengemban visi misinya dikarenakan wayang merupakan puncak seni budaya bangsa Indonesia yang paling menonjol di antara banyak karya budaya lainnya. Namun dewasa ini banyak masyarakat terutama kalangan muda menghiraukan seni budaya tersebut. Bahkan banyak pula kalangan muda yang sama sekali tidak mengetahui dunia pewayangan. Sangat disayangkan sekali hal tersebut terjadi. Padahal dalam seni budaya wayang banyak mengandung pitutur atau amanah yang sangat berguna dalam kehidupan ini. Karena itulah, Ngesti Pandowo ingin sekali mengenalkan

5|Page

Ilmu Sosial Dan Budaya Dasar

kembali dunia pewayangan ini kepada masyarakat. Ngesti Pandowo ingin seperti yang dilakukan para wali dahulu dalam memberikan dakwahdakwahnya kepada masyarakat jawa yaitu melalui seni budaya wayang kulit ini, karena melalui seni budaya wayang kulit ini telah memberikan banyak pesan / amanah mengenai kehidupan kita. Dalam pagelaran wayang orang yang berjudul Arjuno Tigas ini menceritakan kisah Harjuno yang di penggal kepalanya oleh begoyitmo yang menyamar menjadi gatotkaca yang tujuan kedatanganya mau meminta bibit tanaman taman Madu Gondo srikandi yang tidak terima kejadian inipun marah dan mencari gatotkaca lantaran kesalah pahaman anatara srikandi dan gatotkaca karena begoyitmo menyamar menjadi gatotkaca.setelah permasalahan selesai akhirnya srikandi tahu kalo yang membunuh harjuno begoyitmo. Cerita ini dibagi dalam beberapa babak. Yaitu prolog, konflik, out, goro-goro, dan terakhir adalah penyelesaian masalah. Berikut adalah uraian jalan ceritanya:
1. MADUKORO

Harjuno beserta istrinya menerima kedatangan Begoyitmo yang menyamar menjadi Gatotkaca, yang kedatanganya bertujuan mau meminta bibit tanaman yang berada di taman Madu Gondo.Gatotkaca pun diantarkan masuk taman belakang Mungko. 2. TAMAN Disini Harjuno menceritakan semua isi pepetan yang ada, sampe-sampe harjuno terlena dan di tigas lehernya sampe putus sehingga meninggal terus ditinggal pergi, Tidak lama kemudian datanglah Sembodro komplit mengerumuni jasat Harjuno, tidak lama kemudian datanglah Srikandi dan Patih-patihnya menyusul.

6|Page

Ilmu Sosial Dan Budaya Dasar

3. SEBAN Gatotkaca(Begoyitmo yang menyamar menjadi Gatotkaca) dengan Srikandi beserta patih terjadi perang Bandar, Begoyitmo menantang terus pergi. Lalu Srikandi beserta Patih bergegas menuju Dworowati. 4. SEBAN DWORO WATI Pertemuan goro-goro, Setelah selesai datangnya Prabu Kresno beserta kerabat yang maksut kedatanganya mau membangun candi sapto renggo, Datanglah Srikandibeserta patih dan menceritakan kejadiannya dan mereka berencana menyusup ke Swargo Bandang dengan cara Merubah wajahnya Srikandi menjadi ronggeng dengan nama Rerantam Sari. Dan para penabuh gamelanya adalah anak-anak dan Punokawan. Selanjutnya mereka pergi ke Swargo Bandang. 5. SWARGO BANDANG Prabu Gundo Kumono komplit beserta kerabatnya menerima kedatangan Begoyitmo yang membawa kepala Harjuno yang mau diserahkan kepadanya. Dewi Pusporini pun dipanggil untuk menerima kepala Harjuno. Sang Dewi meminta ijin untuk melihat dan dipersilahkan. Datanglah rombongan ronggeng lengkap dengan tarian masuk kedalam Swargo Bandang, kemudian dating di taman dan sang Ratu pun Masuk.

7|Page

Ilmu Sosial Dan Budaya Dasar

6. TAMAN Dewi pusporini menderita. . . Datanglah Srikandi yang menyamar menjadi Rerantam Sari . . .Kemudian meminta kepada Dewa supaya seketika itu juga Harjuno sehat. Lalu Srikandi yang menyamar menjadi Rerantam Sari tadi berubah wujud lagi menjadi Srikandikemudian Gundo Kumono lengkap dengan Harjuno bergegas pergi.

7. MARGI Prabu Kresno- Werkudoro lengkap beserta Harjuno terang . . . gyo memuji Anoman kebelakang pulang . . .Gundo kumono dengan Anoman jadi perang dan terus berlanjut ke Krato.

8|Page

Ilmu Sosial Dan Budaya Dasar

BAB III PENUTUP A. KESIMPULAN Dari hasil observasi yang dilakukan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : 1. Kegiatan ini bertujuan untuk melestarikan kebudayaan-kebudayaan warisan nenek moyang kita untuk terus dijaga karena ini merupakan kebudayaan asli Indonesia. 2. Tidak semua ekesenian-kesenian yang menjadi symbol bangsa kita di pegang langsung/d bawahi pihak pemerintah. 3. Pagelaran ini rutin dilaksanakan setiam hari sabtu/malam minggu dengan judul/ lakon yang berbeda-beda juga. 4. Pagelaran Wayang kulit ini diadakan sejak tanggal 12 Desember 1991
5. Dalang yang membawakan lakon wayang, memiliki kriteria

tertentu sehingga pagelaran yang dilakukan dapat menghasilkan pertunjukan apik dan enak dilihat. 6. Kegiatan ini dilaksanakan pada malam jumat kliwon karena disesuaikan dengan salah satu fungsi wayang yaitu sebagai media pitutur (wekdal sabda) dimana menurut pandangan orang jawa malam jumat kliwon merupakan waktu yang tepat untuk melakukan kegiatan tersebut B. SARAN 1. Kita harus melestarikan budaya asli yang kita miliki karena budaya tersebut adalah suatu identitas pribadi kita dan menjadi kebanggaan kita sebagai bangsa Indonesia
2. Mari kita menonton wayang kulit karena

dengan menonton

wayang kulit, selain memperoleh hiburan, menonton wayang dapat memberikan filosofi filosofi hidup serta wejangan lainnya.

9|Page

Ilmu Sosial Dan Budaya Dasar

LAMPIRAN

10 | P a g e