Anda di halaman 1dari 7

Bahan Kuliah ketiga MERUMUSKAN DAN MENGEMBANGKAN VISI DAN MISI

Visi dan misi adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan, sebagaimana pendapat Lonnie Helgeson yang menyebut bahwa kalau misi menggambarkan kehendak organisasi, maka visi lebih jauh lagi, yaitu menjelaskan bagaimana rupa yang seharusnya dari suatu organisasi kalau ia berjalan dengan baik. Misi belum menjelaskan bagaimana rupa organisasi itu kalau sudah berhasil. Inilah tugas visi. (Salusu, 2005 : 129). Dicontohkan, seorang arsitek akan memberi tahu kepada pemilik bangunan, melalui desainnya, rupa dan penampilan dari bangunan itu kalau dikerjakan dengan baik. Ia tidak sekedar menggambar bangunan itu, tetapi memperlihatkan kekokohan dan kesatuan yang mutlak serta memberi harapan yang menyenangkan bagi pemiliknya. Itulah visi, visi keberhasilan yang biasanya dipersiapkan sedikit lebih lama dibandingkan dengan waktu yang dipakai untuk merumuskan misi (Salusu, 2005 : 129). Peran visi yang paling penting dalam kehidupan organisasi adalah untuk memberikan fokus kepada energi manusia. Visi adalah refleksi dari kepercayaan dan asumsi dasar kita mengenai sifat alamiah manusia. Teknologi, ekonomi, ilmu pengetahuan, politik, seni dan etika. Visi adalah pernyataan mengenai tujuan, mengenai akhir dari usaha kita ; karenanya visi berorientasi pada masa depan dan direalisasikan dalam jangka waktu yang berbeda serta dapat bertahan selama bertahun-tahun dan membuat kita memfokuskan masa depan (Kouzes, 2004 : 137). Visi akan memberikan kekuatan positif dan memberikan arah kepada seluruh anggota organisasi untuk melangkah. Visi dapat mensugesti, memberikan inspirasi dan memotivasi kepada seluruh anggota organisasi apa saja (Irmin, 2004 : 2). oleh karena itu seorang manajer harus sering dan berani membuat visi, kapan saja dalam situasi

Untuk menggambarkan visi keberhasilan, diperlukan keberanian melihat ke depan karena masa depan selalu penuh dengan tantangan. Selain itu juga dituntut kerja keras untuk menterjemahkan visi itu dalam bentuk yang nyata dan menanggulangi berbagai rintangan yang dapat menghambat direalisasikannya (Salusu, 2005 : 130). Visi tidak direalisasikan secara ajaib dalam waktu secepat kilat. Visi datang sebagian, dari memberi perhatian pada apa yang berada tepat di depan kita. Itulah mengapa, seperti yang telah diamati oleh seorang antropolog budaya Jennifer James, keahlian yang paling dibutuhkan dalam memahami masa depan adalah kesedian untuk melihatnya dan melihatnya dalam suatu perspektif (Kouzes, 2004 : 127). Sebelum memulai menulis pernyataan mengenai visi, lihatlah ke masa lalu Anda untuk mendapatkan pesan-pesan kunci mengenai arah yang telah Anda pilih dan masa depan yang Anda inginkan sebagaimana latihan garis kehidupan yang dikembangkan oleh Herb Shepard dan Jack Hawley (Kouzes, 2004 : 138), yaitu Lihat ke belakang ke masa lalu Anda dan cacat kejadian-kejadian penting dalamkehidupan Anda----titik-titik balik yang telah memberikan pengaruh pada arauh yang telah Anda ambil. Mulailah sejauh yang dapat Anda ingat dan berhenti pada masa kini. Secara singkat catat kejadian-kejadian kunci dalam hidup Anda yang mencerminkan titik balik atau pengalaman-pengalaman belajar yang penting. Untuk setiap kejadian, tuliskan satu atau dua buah kata yang mengidentifikasi pengalaman tersebut. Lalu lihat kembali dan tinjau setiap kejadian puncak, buat sedikit catatan mengenai mengapa setiap kejadian tersebut merupakan titik yang tinggi bagi Anda, serta analisis catatan Anda, tema dominan apa yang muncul?, pola seperti apa yang terlihat? Kepribadian penting apa yang menguat? Apa yang dikatakan tema-tema pada pola ini mengenai apa yang kemungkinan besar dianggap menarik oleh Anda pribadi di masa depan.

Setelah

visi

lahir,

hal

yang

tidak

kalah

pentingnya

adalah

mengkomunikasikan visi, khususnya kepada pihak-pihak yang terkait termasuk kepada personil atau orang yang baru saja masuk ke dalam organisasi. Agar setiap orang dalam organisasi memahami cita-cita perusahaan maka dipandang perlu Visi tersebut dibuat secara tertulis. Visi tertulis inilah yang dikenal sebagai Mission Statment atau pernytaan misi (Agustinus : 1996 :39). Selanjutnya, untuk membumikan visi diperlukan perumusan misi. Secara khusus Kotler menyebut bahwa misi dapat disebut sebagai suatu pernyataan tentang tujuan organisasi yang diekspresikan dalam produk dan dan pelayanan yang dapat ditawarkan, kebutuhan yang dapat ditanggulangi, kelompok masyarakat yang dilayani, nilai-nilai yang dapat diperoleh, serta aspirasi dan citacita di masa depan (Salusu, 2005 : 121). Berdasarkan pendapat di atas, terdapat 5 unsur penting yang tidak dapat diabaikan dalam merumuskan misi suatu organisasi, yaitu : produk apa atau pelayanan apa yang ditawarkan, apakah produk atau pelayanan yang ditawarkan itu dapat dan mampu memenuhi kebutuhan tertentu yang memang diperlukan dan bahkan dicari karena belum tersedia selama ini, misi harus secara tegas menyatakan publik mana yang akan dilayani, bagaimana kualitas barang atau pelayanan yang hendak ditawarkan? Serta aspirasi yang yang diinginkan di masa yang akan datang (Salusu, 2005 : 122). Sementara itu, Richard Y. Chang (2002 : 26) menyebut bahwa misi adalah pernyataan mengapa tim Anda ada dan lingkupnya luas, dan untuk merencanakan pernyataan misi dapat mengikuti langkah-langkah rencana pernyataan misi, yaitu : melakukan sumbang saran gagasan, menganalisis gagasan, membuat draf pernyataan misi, memfinalkan dan membuat komitmen terhadap pernyataan misi. Lain halnya dengan James D. Ericson, Presiden Direktur dan CEO Northwestern Mutual Life dalam sampul buku Misi dan Visi karya Patricia Jones dan Larry Kahanar (1999) yang menyatakan bahwa pernyataan misi bagi kami

adalah tradisi yang bagus sekali dan ini benar-benar membimbing perusahaan, ini memberikan perekat yang hebat yang menyatukan segala-galanya dan benar-benar kami tujuan. Secara khusus diakui bahwa diakui bahwa merumuskan misi dalah merupakan pekerjaan yang berat. Oleh sebab itu, beberapa pedoman ditawarkan olek Bryson (Salusu, 2005 : 125) untuk dimanfaatkan dalam usaha yang serius untuk menyusu misi suatu organisasi. Misi hendaknya dirumuskan oleh suatu kelompok dan bukan oleh satu orang. Sebelum kelompok mulai bekerja, sebuah formulir yang memuat pertanyaan pokok untuk dijawab. Pertanyaan yang dimaksud adalah : Siapakah kita? Secara umum, apakah kebutuhan-kebuthan sosial dan politik mendasar yang perlu kita isi, atau apakah masalah-masalah soaial dan politik mendasar yang harus diberi perhatian? Secara umum, apakah yang akan kita perbuat dalam mengantisipasi dan dalam memberi jawabanterhadap kebutuhan dan masalah-masalah tersebut? Apakah gerangan respon kita terhadap pihak-pihak yang berkepenyingan dengan ortganisasi kita? Apakah falsafah kita dan nilai-nilai hakiki kita? Apakah yang membuat kita khas dan unik?. Menyimak pertanyaan diatas yang sangat mendasar, maka kelompok perumus misi harus terdiri atas para pemikir tingkat tinggi dalam organisasi. Adapun langkah-langkah dalam proses perumusan misi menurut Salusu (2005 : 126-127) adalah : Tunjuklah satu orang yang bertanggungjawab untukmengumpulkan semua pesan, hasrat,keinginan, baik formal maupun informal yang dihadapi organisasi. Kelompok membuat analisasi mengenai semua pihak yang terkait dengan organisasi tersebut. Sesudah analiasis pihak-pihak yang terkait rampung maka tiap anggota mengisi formulir dengan rumusan masing-masing. Apa yang dirumuskan kelompok tadi harus sudah berbentuk rencana misi. Kalau pernyataan misi sudah disepakati, pernyataan ini harus dipegang teguh dan dipergunakan sebagai acuan dan petunjuk dalam mengidentifikasi isu-isu stratejik, merumuskan strategi yang efektif, menyiapkan visi keberhasilan, dan sesungguhnya juga dapat memecahkan konflik diantara anggota kelompok. Segera

setekah rumusan akhir dicapai dan dikukuhkan, misi itu harus dimasyarakatkan kedapa semua anggota organisasi ditempatkan sebagai bagian penting dalam berbagai dokumen organisasi. Sementara itu Knauf (1991) dalam Salusu (2005) menyebut bahwa misi yang semula terdiri dari satu halaman, diringkaskan dalam satu dua kalimat atau satu pragraf, realistik dalam artian sejauhmana kemampuan organisasi mengantisipasi sumber keuangan dan sumber daya manusia. Contoh dari suatu misi yang singkat adalah dari Asosiasi Jantung Amerika (The American Heart Association) yang itu to reduce disability and death from cardiovascular diseases and stroke. Setiap kata dalam pernyataannya mengandung makna yang penting. Penyempurnaan dilakukan setiap 4-5 tahun sekali, misalnya perubahan terakhir yang dilakukan ialah dengan menambahkan kata stroke untuk memebrikan tekanan yang berarti, sungguhpun diketahui bahwa istilah stroke sudah termasuk dalam penyakit kardiovaskuler (Salusu, 2005 : 128). Sementara itu, Agustinus (1996 : 39) menulis bahwa suatu pernyataan misi yang baik adalah bagian penting untuk dapat membuat, mengaplikasi dan mengevaluasi strategi. Sedangkan John A Pearce II dan Richard B. Robinson, JR (1997 : 34) menyatakan bahwa Misi suatu perusahaan adalah tujuan (purpose) yang membedakannya dengan perusahaan-perusahaan lain yang sejenis dan mengidentifikasi cakupan operasionalnya. Secara ringkas, misi menguraikan produk, pasar, dan bidang teknologi yang digarap perusahaan yang mencerminkan nilai dan prioritas dari para pengambil keputusan strategiknya. Sebagai contoh, pada tahun 1991, Lee HunHee, ketua (chairman) baru Group Samsung , membarui misi perusahaan dengan mencapkan ciri manajemennya sendiri di Samsung. Segera, Samsung memisahkan Chonju Paper Manufacturing dan Shinsegae Departement Store dari operasioperasi lainnya. Tindakan penciutan korporasi ini mencerminkan perubahan filosofi manajemen yang mendukung spesialisasi, dan karenanya mengubah arah dan cakupan organisasi John A Pearce II dan Richard B. Robinson, JR (1997 : 34)

Demikian halnya dengan Irmin (2004 : 3) menyebut bahwa misi adalah merupakan pernyataan bisnis organisasi yang menjelaskan kegunaan dan alasan keberadaan organisasi. Misi juga menggambarkan apa yang telah ditetapkan. Sementara itu, misi perusahaan menurut Patricia Jones dan Larry Kahaner (1999) adalah manifesto : ini mmemberikan garis besar dalam pengertian spesifik yang kita usahakan untuk dicapai, dan bagaimana kita bermaksud merealisasikan sasaran perusahaan kita. Tidak ada dokumen laporan tahunan lainnya, demikian pula siaran pers, artikel berita,atau pernyataan dari dewan direksi yang mengungkapkan lebih banyak tentang nilai-nilai dan etika dibandingkan dengan pernyataan misi. Ini adalah peta untuk jalan raya Pernyataan misi perusahaan adalah alat yang paling kuat yang dimiliki perusahaan untuk melaksanaan perubahan. Cara yang paling efektif untuk memastikan semua karyawan entah dari perusahaan global atau usaha kecil, bisa memahami tujuan organisasi adalah dengan menulis pernyataan misi yang tidak meninggalkan keraguan apapun dalam pikiran apa saja, tulis Patricia Jones dan larry Kahaber dalam sampul buku Misi dan Visi 50 Perusahaan Terkenal di Dunia Patricia Jones dan Larry Kahaner (1999) Berdasarkan beberapa pendapat di atas, tampak bahwa baik visi maupun misi keduanya adalah merupakan domain keputusan stratejik. Sebagai domain penting, visi dan misi harus dibuat oleh pemikir tingkat tinggi yang tegabung dalam satu tim perumus. Hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah perumusan visi dan misi harus direncanakan dan melalui beberapa tahapan sebelum dirumuskan sebagai visi dan misi keberhasilan.sedang diklakukan oleh organisasi, serta misi mampu mewujudkan mimpi atau visi yang

DAFTAR PUSTAKA Agustinus, Manajemen Strategik, pengantar proses berpikir strategik, Jakarta: Binarupa Aksara, 1996 Kouzes, Posner, Leadership the Challenge, Jakarta: Erlangga, 1996 Patricia Jones dan Larry Kahaner. Misi dan Visi 50 Perusahaan Terkenal Dunia. Batam Center : Interaksara, 1999 Irmin Soejitno dan Abdul Rochim, Modal Dasar Manajer Tangguh. 2002 John A Pearce II and Richard B. Robinson, JR, Manajemen Strategik, formulasi, implementasi dan pengendalian, Jakarta: Binarupa Aksara, jilid II, 1997 Richard Y. Chang. Membangun Tim Dinamis. Jakarta : PPM, 2002 Salusu, J, Pengambilan Keputusan stratejik untuk organisasi publik dan organisasi non profit, Jakarta: Gramedia, cet VIII, 2005