Anda di halaman 1dari 18

HUKUM PERDATA INTERNASIONAL 13

PENGAKUAN DAN PELAKSANAAN PUTUSAN PENGADILAN ASING DI INDONESIA Pengertian Pengakuan dan Pelaksanaan Putusan Asing Pelaksanaan Putusan Asing di Indonesia

MUQADDIMAH
Pelaksanaan keputusan forum asing di dalam suatu negara merupakan masalah mendasar dalam penggunaan forum asing sebagai forum penyelesaian sengketa. keputusan forum asing dapat sama sekali kehilangan kapasitas dan manfaatnya jika ternyata obyek eksekusi keputusan itu tidak terdapat di negara tempat keputusan itu diambil, atau jika obyek putusan itu terdapat di negara dimana keputusan itu tidak dapat diakui dan di laksanakan

PENGAKUAN DAN PELAKSANAAN PUTUSAN PERADILAN ASING


KEPUTUSAN BADAN PERADILAN ASING TIDAK DAPAT DILAKSANAKAN DI WILAYAH NEGARA LAINNYA. HAL INI SEBAGAI KONSEKUENSI LOGIS DARI DITERIMANYA PRINSIP KEDAULATAN NEGARA SEBAGAI PRINSIP UTAMA DALAM TATA PERGAULAN MASYARAKAT INTERNASIONAL.

PUTUSAN FORUM ASING DAPAT DILAKSANAKAN DI NEGARA LAIN JIKA TELAH DIAKUI OLEH NEGARA TERSEBUT. PENGAKUAN TERSEBUT DAPAT DI PEROLEH: 1. PERJANJIAN BILATERAL 2. PERJANJIAN INTERNASIONAL YANG MENGATUR TENTANG HAL DI ATAS. SECARA PRINSIP, PELAKSANAAN PUTUSAN ASING BERGANTUNG PADA PENGAKUAN DARI NEGARA YANG BERSANGKUTAN

PENGERTIAN PENGAKUAN DAN PELAKSANAAN


A. PENGAKUAN Berarti Badan Peradilan Tidak Melakukan Sesuatu. Pengakuan Berkiatan Dengan Keputusan Declaratoir B. PELAKSANAAN Berarti peradilan harus melakukan sesuatuseperti memanggil,menegur, , menyita, eksekusi. Pelaksanaan ini berkaitan dengan putusan yang sifatnya comdemnatoir

Pasal 436 Rv ( Reglement op de Burgerlijke Rechtbordering) menetukan bahwa: 1. Putusan luar negeri tidak bisa dieksekudi di Indonesia 2. Perkara-perkara demikian itu dapat diajukan lagi dan diputuskan oleh badan-badan peradilan indonesia 3. Putusan luar negeri dapat di laksanakan hanya setelah memperoleh fiat eksekusi dalam bentuk yang telah ditentukan dalam Pasal 235 Rv, yang telah diperoleh oleh pemenang dalam pengadilan negeri indonesia. 4. Untuk mendapatkan fiat eksekusi, tidak perlu diadakan pengulangan peradilan

PENGAKUAN DAN PELAKSANAAN PUTUSAN ASING MENURUT KONVENSI DEN HAAG 1966
A. RUANG LINGKUP KONVENSI 1. SEBATAS PERDATA DAN DAGANG 2. BUKAN KEPUTUSAN PROVISIONIL ATAU KONSEVATOIR 3. BUKAN PUTUSAN TERKAIT HUKUM KELUARGA 4. BUKAN PUTUSAN SOAL KEPAILITAN

B. PENGAKUAN DAN PELAKSANAAN DAPAT DITERIMA. Pengakuan dan pelaksanaan putusan asing hendaknya diberikan jika sudah terpenuhi beberapa persyaratan penjatuhan putusan tersebut. Pertama, terpenuhi kompetensinya, kedua, putusan itu telah memiliki kekuatan yang pasti. Menurut ketentuan umum putusan itu hendaknya telah enforceable di negara asal

Suatu putusan dianggap memenuhi kompetensi jika putusan tersebut telah dibuat oleh pengadilan dan hakim yang memang berwenang untuk memutus perkara tersebut. Suatu pengadilan dianggap berwenang jika: 1. Tergugat, pada saat dimulainya perkara mempunyai habitual residence, seat, place of incorporation, principal place of business di negara tempat putusan itu diambil. 2. Tergugat, saat gugatan diajukan, memiliki usaha komersial, kator cabang, industri dan hal-hal lain yang berkaitan dg usaha komersial itu di negara tempat gugatan diajukan dan temapt putusan itu diambil

3. Tuntutan mengenai benda tidak bergerak diajukan ditempat benda itu berada (lex situs). 4. Perbuatan PMH diajukan di tempat terjadinya PMH (lex loci delicti) 5. Pilihan forum secara tegas baik untuk sengketa yang telah terjadi atau akan terjadi 6. Pihak tergugat telah mengajukan pembelaan terhadap pokok perkara tanpa mengajukan keberatan terhadap kompetensi peradilan bersangkutan

B. PENGAKUAN DAN PELAKSANAAN DAPAT DITOLAK Penolakan pengakuan dan pelaksanaan putusan asing dapat dialakukan dalam hal:
1. Jika manifestly incompatible (bertentangan nyata)dengan orde public negara tempat putusan dilaksanakn 2. Bertentangan dengan due process law, misalnya tergugat tidak diberi kesempatan selayaknya untuk mengatur pembelaannya atau jika putusan itu diperoleh faud

3. Jika pihak-pihak yang sama atas fakta-fakta yang sama dan untuk tujuan yang-tujuan sama terdapat: a. perkara yang sedang berlangsung di hadapan pengadilan negara yang diminta memberi pengakuan, dan perkara itulah yang lebih dahulu diajukan b. Telah ada keputusam di negara yang akan diminta memberi pengakuan c. Telah terdapat putusan pengadilan negara lain yang dapat diminta memberi pengakuan dan pelaksanaan.

C. PENOLAKAN OLEH TERGUGAT Pemohonan pengakuan dan pelaksanaan putusan asing dapat ditolak oleh pihak yang kalah (tergugat) dalam hal putusan tersebut hanya di dasarkan salah satu atau lebih dari ground of jurisdiction berikut: 1. Harta benda tergugat berada di negara pmberi keputusan. Kecuali, gugatan diajukan untuk menentukan hak milik atau bezit atas benda tersebut, atau karena hal lain berkenaan dengan benda itu. Benda itu merupakan jaminan untuk utang yang dijadikan pokok perkara

2. Kewarganegaraan tergugat 3. Domisili, habitual residence pihak penggugat berada di negara pemberi keputusan 4. Fakta bahwa penggugat menjalankan bisnis di wilayah negara pemberi keputusan, kecuali jika tuntutan itu disebabkan karena bisnis itu 5. Tuntutan disampaikan pada waktu tergugat berada (untuk sementara) di negara pemberi keputusan 6. Suatu pencatatan sepihak dari forum oleh penggugat, terutama dalam suatu faktur.

KONVENSI DEN HAAG 2005 MENGENAI PERJANJIAN PILIHAN FORUM [THE HAGUES CONVENTION ON THE CHOICE OF COURT AGREEMENTS OF 2005]

DUA ALASAN MENGAPA KONVENSI DI ATAS LAHIR


Pertama adalah bahwa dewasa ini banyak pengadilan di berbagai negara di dunia memiliki pandangan berbeda mengenai status putusan pengadilan asing. Tidak sedikit pengadilan yang bahkan menolak untuk melaksanakan putusan asing tersebut dengan berbagai alasan. Kedua adalah bahwa banyak pula pengadilan di berbagai negara yang tidak menghargai keberadaan klausul pilihan forum yang dipilih dan disepakati para pihak.

Prinsip Dasar
1. badan peradilan atau lembaga enyelesaian sengketa yang dipilih para pihak dalam suatu kesepakatan pilihan forum-lah yang memiliki jurisdiksi untuk menyelesaikan sengketa (Pasal 5); 2. Apabila terdapat perjanjian mengenai pilihan suatu forum, maka forum lainnya yang tidak dipilih oleh para pihak tidak memiliki jurisdiksi dan karenanya harus menolak untuk menyelesaikan sengketa yang diserahkan kepadanya (Pasal 6); 3. putusan yang dikeluarkan oleh badan peradilan yang dipilih oleh para pihak harus diakui dan dilaksanakan di pengadilan di negara anggota Konvensi (Pasal 8).

PEMBATASAN PELAKSANAAN PUTUSAN


1. Putusan badan peradilan asing tidak dapat di laksanakan apabila putusan tersebut bertentangan dengan keteriban umum di negara di mana putusan tersebut dimintakan eksekusinya. 2. Konvensi membolehkan pula suatu pengadilan untuk menolak pelaksanaan suatu putusan badan peradilan yang memberikan atau mengabulkan suatu tuntutan ganti rugi yang tidak sesuai dengan kerugian yang nyata diderita oleh suatu pihak

3. Konvensi juga membolehkan suatu pengadilan untuk tidak melaksanakan suatu putusan apabila ternyata terbukti bahwa salah satu pihak tidak menerima pemberitahuan persidangan atau apabila suatu pihak ternyata tidak memiliki kapasitas atau kecakapan untuk menandatangani suatu perjanjian 4. Alasan lain yang diberikan Konvensi untuk tidak dilaksanakannya suatu putusan adalah apabila perjanjian yang di dalamnya ada pilihan forum tersebut ternyata batal ( null and void ) berdasarkan hukum dari negara di mana pengadilan tersebut dipilih.