Anda di halaman 1dari 20

SKROFULODERMA

Krishna Vidya Amelia 20050310099

Definisi
Skrofuloderma tuberculosis kutis murni sekunder yang timbul akibat penjalaran perkontinuitatum dari jaringan atau organ di bawah kulit yang telah terserang penyakit tuberculosis. Sinonim : Tuberculosis cutis colliquativa

Etiologi
Penyebab utamanya adalah Mycobacterium tuberculosis, berbentuk batang, ukuran 2-4 x 0,3-15 mikron, tahan asam, tidak bergerak, tidak membentuk spora, bersifat aerob dan suhu optimal pertumbuhan 37C. Selain M. tuberculosis, M. bovis juga dapat menyebabkan terjadinya skrofuloderma. Penularan : Tuberkulosis kulit dapat ditularkan melalui inhalasi, ingesti dan inokulasi langsung pada kulit dari sumber infeksi. Selain manusia, sumber infeksi dari kuman tuberculosis adalah anjing, kera atau kucing.

Epidemiologi
Penyakit ini dapat terjadi di belahan dunia manapun, terutama di negaranegara berkembang dan negara tropis. Di rumah sakit Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) skrofuloderma merupakan bentuk yang tersering ditemukan sekitar 84%, dan tuberkulosis kutis verukosa sekitar 13%, bentuk-bentuk lainnya jarang ditemukan. Skrofuloderma biasanya pada anak-anak dan dewasa muda , namun dapat terjadi pada semua umur.

Klasifikasi
1. Tuberkulosis sejati a. primer : - Tuberkulosis chancre - Tuberkulosis miliar b. sekunder : - Lupus vulgaris (tb luposa kutis) - Tuberkulosis kutis verukosa (warty tuberculosis, vernica necrogenika) - Skrofuloderma - Tuberkulosis kutis orifisialis Tuberkulid a. papular : - Tuberkulid papulonekrotik - Likhen skrofulosorum b. nodular : - Eritema induratum (penyakit Bazin)

2.

Faktor Predisposisi
Musim/iklim : Penyebaran lebih mudah pada musim penghujan Kebersihan : frekuensi lebih tinggi pada sanitasi yang kurang baik Gizi : gizi kurang akan menyebabkan penyakit lebih mudah meluas dan lebih berat.

Patogenesis
Skrofuloderma berasal dari proses tuberculosis jaringan di bawah kulit, yang paling sering berasal dari tuberculosis kelenjar getah bening di daerah leher. Mula-mula tidak nyeri, makin lama makin membesar, melunak menjadi abses dan kulit diatasnya berwarna merah kebiruan. Abses dapat pecah, terbentuk fistule dan keluar cairan agak encer berwarna putih kekuningan, tidak berbau. Dapat terjadi abses lain di dekat fistule tersebut dan terjadi fistel baru, sehingga terbentuk jembatan kulit (skin bridge) diantara dua fistel tersebut.

Pemeriksaan Kulit
Predileksi : terutama pada tempat-tempat yang banyak ditemukan kelenjar getah bening superfisial seperti leher, ketiak, dan lipatan paha. Efloresensi : ulkus bentuk oval, pinggir meninggi, tepi tidak rata, dinding menggaung, dasar kotor, sekret mukopurulen, tidak berbau. Daerah sekitar ulkus tampak livide dan ditemukan jembatan-jembatan kulit.

Skrofuloderma di regio clavicular

Skrofuloderma di Inguinal & Leher

Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan bakteriologi


 

pemeriksaan sediaan langsung menggunakan pewarnaan Ziehl Neelsen kemudian dilihat secara mikroskopik. Dikatakan BTA positif jika pada pemeriksaan terdapat batang-batang merah Pemeriksaan dengan biakan digunakan perbenihan Lowenstein Jensen pada suhu 37C Pemeriksaan dengan binatang percobaan dipakai marmot, dan biasanya percobaan tersebut memerlukan waktu 8 minggu Pemeriksaan dengan percobaan biokimia salah satunya tes niasin

Pemeriksaan darah tepi, hitung jenis, laju endap darah, dan kimia darah Pemeriksaan histopatologi Proses tuberkulosis dimulai pada lapisan kutis dalam dengan nekrosis kaseosa dan pembentukan ruang yang terisi dengan debris yang menjadi cair, dinding dibentuk oleh jaringan granulasi tuberkulosa. Akhirnya terjadi pembentukan sinus yang menuju kepermukaan. Ulkus mungkin timbul dengan proliferasi papilomatosa.

Diagnosis Banding
Tergantung lokalisasi 1. Leher : Aktinomikosis, Furunkulosis 2. Ketiak : Hidradenitis supurativa/Apokrinitis/ Hidradenitis Axillaris 3. Lipat paha : Limfopatia venereum

1. Aktinomikosis Untuk Skrofuloderma di regio leher, actinomikosis dapat merupakan DD. Aktinomikosis biasanya menimbulkan deformitas atau benjolan dengan beberapa muara fistel produktif. 2. Hidradenitis supurativa Jika skrofuloderma terdapat di daerah ketiak dibedakan dengan hidradenitis supurativa yakni infeksi oleh Piokokus pada kelenjar apokrin. Penyakit tersebut bersifat akut dan disertai dengan tanda radang akut yang jelas, terdapat gejala konstitusi dan leukositosis. Hidradenitis supurativa biasanya menimbulkan sikatriks sehingga terjadi tarikan yang berakibat retraksi ketiak.

3. Limfogranuloma venereum Skrofuloderma pada lipatan paha bisa mirip dengan limfogranuloma venereum (LGV). Perbedaan yang penting adalah pada LGV terdapat riwayat kontak seksual pada anamnesis disertai gejala konsitusi (demam, malese, artralgia) dan terdapat kelima tanda radang akut. Lokalisasi pada LGV adalah kelenjar getah bening inguinal medial, sedangkan pada skrofuloderma menyerang getah bening inguinal lateral dan femoral. Pada LGV tes frei positif, pada skrofuloderma tes tuberculin positif.

Penatalaksanaan
Pengobatan tuberkulosis kutis pada prinsipnya sama dengan pengobatan tuberkulosis paru, yaitu menggunakan kombinasi beberapa obat dan diberikan dalam jangka waktu tertentu. Sesuai rekomendasi WHO, untuk kasus tuberkulosis kutis pengobatan yang diberikan dimasukkan dalam kategori III (2HRZ 6HE, 2HRZ4HR, 2HRZ4H3R3)

Terapi
INH 5-10 mg/kgBB/hr Etambutol 25 mg/kgBB/hr 15 mg/kgBB/hr Inj. Streptomisin 25 mg/kgBB/hr max 400 mg/hr utk 2 bln pertama utk bln selanjutnya selama 90 hr

Kriteria penyembuhan pada skrofuloderma ialah semua fistel dan ulkus telah menutup, seluruh kelenjar getah bening mengecil (kurang dari 1 cm dan berkonsistensi keras), dan sikatriks yang semula eritematosa menjadi tidak eritema lagi. LED dapat dipakai sebagai pegangan untuk menilai penyembuhan pada penyakit tuberculosis. Pengobatan topical pada pasien tuberculosis kutis tidak sepenting pengobatan sistemik. Jika basah, kompres dengan kalium permanganate 1/50.000. Jika kering diberikan salep antibiotic.

Terapi pembedahan berupa eksisi dapat dilakukan. Terapi pembedahan pada skrofuloderma biasanya diindikasikan untuk kasus : - terapi dengan antituberkulosis gagal - penderita skrofuloderma disertai penurunan kekebalan tubuh - penderita skrofuloderma berulang - penderita skrofuloderma dengan penyakit yang berat.

Prognosis
Umumnya baik