Anda di halaman 1dari 30

I.

JARINGAN TELEKOMUNIKASI

Perbedaan jarak yang jauh bisa ditempuh dengan waktu sekecil mungkin dengan cara merubah semua bentuk informasi yang ingin disampaikan oleh manusia kepada yang lainnya menjadi bentuk gelombang elektromagnetik. Gelombang elektromagnetik memang dapat bergerak dengan kecepatan yang sangat tinggi, yakni di ruang hampa adalah seratus ribu km per detik. Jaringan telekomunikasi adalah segenap perangkat telekomunikasi yang dapat menghubungkan pemakainya (umumnya manusia) dengan pemakai lain, sehingga kedua pemakai tersebut dapat saling bertukar informasi (dengan cara bicara, menulis, menggambar atau mengetik) pada saat itu juga. Dari uraian sebelum ini, jelas bahwa jaringan telekomunikasi tediri dari tiga bagian utama, yakni perangkat transmisi, perangkat penyambungan (switching) dan terminal. Perangkat transmisi bertugas menyampaikan informasi dari satu tempat ke tempat lain (bisa dekat, bisa jauh). Media transmisi bisa berupa kabel, serat optik maupun udara, tergantung jarak dari tempat-tempat yang akan dihubungkannya serta tergantung pada berapa banyak tempat yang akan saling dihubungkan. Perangkat penyambungan bertugas agar pemakai dapat menghubungi pemakai lain sesuai seperti yang diinginkannya. Perangkat penyambungan disebut masih menggunakan sistem manual bila diperlukan seorang operator yang bertugas menyambungkan pemakai dengan pamakai lain yang diingininya. Terminal adalah peralatan yang bertugas merubah sinyal informasi asli (suara manusia atau lainnya) menjadi sinyal elektrik atau elektromagnetik atau cahaya Ini perlu dilakukan karena perangkat transmisi yang mampu menyampaikan informasi tersebut dari satu tempat ke tempat lain yang umumnya tidak dekat dalam waktu cepat memang mempersyaratkan agar sinyal informasi diubah menjadi sinyal listrik (untuk dilewatkan kabel) atau menjadi sinyal elektromagnetik (untuk dilewatkan udara) atau menjadi sinyal cahaya (untuk dilewatkan serat optik).

Perangkat dan media transmisi sebagai penghubung antara perangkat penyambungan dengan terminal disebut sebagai jaringan lokal. Untuk sistem analog, biasanya berupa jaringan kabel lokal yang menyediakan transmisi kanal telepon analog 4 KHz untuk setiap saluran pelanggan. Untuk ISDN biasanya berupa kabel serat optik. Perangkat dan media transmisi sebagai penghubung antara perangkat penyambungan dengan perangkat penyambungan di tempat lain disebut jaringan penghubung atau jaringan interlokal. Jaringan penghubung biasanya berupa jaringan radio gelombang mikro komunikasi satelit atau kabel serat optik.

Perangkat penyambungan disebut juga sebagai sentral. Karena jenis komunikasi yang paling awal yang dilayani sentral adalah komunikasi telepon maka selanjutnya kita sebut sentral telepon. Tetapi, seperti pada bab selanjutnya, saat ini sentral telepon juga dimanfaatkan untuk komunikasi bukan telepon. Tugas Sentral Seperti sudah dikatakan sebelumnya, sentral merupakan pusat kegiatan penyambungan telepon, tentunya sudah terbayang betapa berat tugasnya. Kenapa demikian ? Secara ringkas tugas sentral adalah sebagai berikut: a. Jika ada seorang pelanggan yang mengangkat handset pesawat teleponnya (disebut off hook), sentral harus tahu. Pada sentral yang masih menggunakan Sistem Sambungan Tangan (SST) (= Sentral Manual) dalam keadaan ini haruslah ada suatu tanda, yang biasanya berupa hidupnya satu lampu atau bell berbunyi, sehingga operator mengetahui kalau ada seseorang yang ingin dihubungkan dengan orang lain. Pada sentral yang menggunakan Sistem Sambungan Otomatis (atau sering disingkat SSO), dalam hal ini sentral harus secara otomatis mengetahui adanya seorang pelanggan yang ingin dihubungkan dengan pelanggan lainnya. Seandainya ada saluran yang bebas, maka sentral akan memberikan nada pilih (dialing tone), sebaliknya sentral akan memberikan nada sibuk (busy tone), jika semua saluran sedang dipakai atau sentral tidak bisa melayani saat itu. Patut diketahui, bahwa sentral telepon memang tak dapat menyambungkan seluruh pelanggan secara bersamaan. Berapa besar seharusnya fasilitas penyambungan telepon yang dimiliki oleh sentral akan dipelajari lebih lanjut pada bab-bab berikutnya. Jadi jelas sekali bahwa pemakaian telepon untuk hal-hal yang kurang penting merugikan pelanggan lain sekalipun untuk itu dikenai pembayaran masing-masing. b. Tugas sentral selanjutnya tentu saja berusaha mengetahui pada pelanggan manakah si pelanggan yang mengangkat handset-nya tadi ingin dihubungkan. Pada sentral SSI, saat ini akan terjadi pembicaraan/dialog antara operator dengan pelanggan yang ingin dihubungkan tadi pelanggan ini kemudian memberikan informasi mengenai nomor telepon yang ingin dihubunginya. Pada sentral SSO, sentral mengetahui nomor telepon yang ingin dihubungi setelah menerima informasi dari pelanggan yang dihubungkan tadi. Informasi ini berupa pulsa-pulsa jika pesawat telepon pelanggan tadi menggunakan decadic pulse system. Bila pesawat telepon pelanggan tadi menggunakan push button system dengan DTMF maka sentral akan menerima informasi berupa serangkaian sinyal dengan frekuensi tertentu. c. Selanjutnya tentu saja sentral harus mengetahui bagaimanakah kondisi saluran. Jika si pelanggan yang akan dihubungi sedang bicara (atau sedang mengangkat handsetnya), maka pelanggan yang ingin memanggil harus diberitahu. Pada sentral SST,operator akan memberitahu secara langsung pada pelanggan yang ingin menghubungi. Pada sentral SSO, sentral akan memberi informasi berupa busy tone.

d. Jika pelanggan yang akan dipanggil sedang bicara, selesailah tugas sentral untuk sementara. Si pelanggan yang pertama tadi mengangkat handset-nya, segera meletakkan pesawatnya kembali. e. Jika pelanggan yang akan dipanggil sedang bicara, tugas sentral selanjutnya tentu saja harus memberitahu pada pelanggan yang akan dihubungi, bahwa dia akan dihubungi orang lain. Pelanggan yang akan dihubungi ini segera menerima ringing tone, ringing current ini akan menyebabkan bell pesawatnya akan berbunyi. Sebaliknya pelanggan pertama akan menerima ring-back tone,dengan demikian pelanggan ini mengetahui bahwa pelanggan yang akan dihubunginya ternyata tidak sedang bicara. f. Setelah pelanggan yang akan dihubungi mendengar bell dan mengangkat pesawatnya, ringing current dan ring-back tone harus berhenti. Ini merupakan tugas sentral selanjutnya yang senantiasa harus mengetes apakah pelanggan yang akan dipanggil sudah mengangkat pesawatnya atau belum. Seandainya pelanggan yang dipanggil ini tidak juga mengangkat pesawatnya dalam suatu waktu tertentu (biasanya sekitar 20-30 detik), sentral harus menghentikan ringing dan ring-back tone. Pada pelanggan yang ingin menghubungi kemudian diberikan nada sibuk. g. Seandainya pelangga yang sudah dipanggil sudah mengangkat pesawatnya, maka terjadilah hubungan antara pelanggan yang ingin menghubungi dengan yang ingin dihubunginya. Saat ini sentral harus mengunci saluran dan fasilitas sentral yang digunakan kedua pasangan pembicaraan ini. h. Bila telah terjadi hubungan antara kedua pelanggan ini, sentral harus memberi informasi pada meter dari pelanggan yang mula-mula ingi menghubungi agar segera bekerja. Aktifitas pengukuran pulsa bicara ini tergantung jarak,lama dan waktu bicara. Pada sentral SPC pengukuran dilakukan secara software. Catatan : Bila pesawat telepon dilengkapi fasilitas handsfree, maka pelanggan pemanggil tidak perlu mengangkat handset berulang-ulang. Proses pemanggilan dimulai dengan menekan tombol handfree kemudian click setelah mendapat dial tone.

BERBAGAI JENIS SENTRAL


5.1 Sentral-sentral otomat analog SPC
5.1.1 Pendahuluan
Dua jenis sentral yang akan kita bahas dalam bab ini : Sentral BTM-10C dan PRX-205. Kedua jenis sentral ini kita pilih untuk dipelajari, sebagai contoh dari sentral telepon SPC-Analog semielektronis. Dengan mengambil sampel sistem switching PRX-205 (yang dipasang di Jakarta sekitar tahun 1974) dan BTM-10C (yang dipasang di Bandung sekitar 1974), diharapkan mahasiswa dapat mengambil kesimpulan yang dapat dijadikan untuk memahami suatu sistem switching SPC-Analog pada umunya. Dua jenis sentral tersebut adalah : a. BTM-10C Metaconta merupakan nama dagang sistem telepon semi elektronis yang dipasarkan ITT. Sistem ini termasuk keluarga sistem SPC. Sistem BTM-10C bisa digunakan sebagai sentral lokal dan interlokal. Pada sistem BTM-10C yang berukuran sedang, jumlah saluran pelanggan maksimum = 20.000, dan jumlah saluran trunk maksimum = 2.560. Saluran-saluran pelanggan dan saluran trunk dikelompokkan dalam bentuk modul. Satu modul dapat melayani 2048 saluran pelanggan dan 256 saluran trunk. Sistem BTM-10C merupakan sistem BTM yang terdiri atas 10 modul, sehingga terbatas dapat melayani sampai 20.480 saluran pelanggan dan 2.560 saluran trunk. b. PRX 205 PRX 205 termasuk dalam keluarga sistem SPC.Adapun PRX 205 itu merupakan singkatan dari : P = Processor Controller R = Reed Relay X = Exchange 2 = Local Subscriber Switching (2 kawat) 0 = General Purpose 5 = Processor dengan word sepanjang 16 bit, cycle time = 2 mikrodetik dan kapasitas untuk melayani lalu lintas telepon sampai dengan 1000 Erlang (untuk Sentral Tandem).

Jaringan switching dengan PRX (sama halnya dengan jaringan switching sistem BTM-10C) menggunakan mini red relay yang dapat menyambungkan kontak dengan kecepatan tinggi dan disusun dalam bentuk switching matriks (crosspoint). Bagian terbesar dari rangkaian Junctor dan trunk terdiri dari komponen elektronis ditambah dengan reed relay untuk tujuan signalling. Karena itu sistem ini disebut juga sistem semi elektronis.

5.1.2 Jaringan switching BTM-10C


Sebuah sentral BTM-10C terdiri dari 10 modul langganan/trunk dan sebuah model lain, yang digunakan untuk keperluan signalling. Terpisah dengan sebelas modul tersebut, terdapat pusat pengolah (processor) yang berupa suatu komputer Bell 1600. Untuk menjembatani model langganan/trunk/signalling dengan pusat pengolah terdapat suatu peripheral modul. Jaringan switching BTM-10C terdiri dari switch mekanis berupa reed relay. Pada prinsipnya, jaringan switching (switching network) BTM-10C terdiri atas 3 kelompok: Konsentrator, distributor dan ekspantor.

Pada jaringan switching sistem BTM-10C terdapat 5 macam unit yang berfungsi sebagai tempat monitor operasi yang berlangsung dalam jaringan switching. Unit-unit tersebut adalah LIC (Line Circuit), OJC (Originating junctor circuit), TJC (Terminating Junctor Circuit), ITC (Incoming Trunk Circuit), dan OTC (Outgoing Trunk Circuit). Setiap modul terdiri dari 32 bidang konsentrator (LCP) yang disusun horizontal. Pada tiap LCP terdapat 4 switch dengan 16 inlet, sehingga 1 LCP dapat melayani 4 x 16 = 64 LIC yang dihubungkan dengan langganan. Jadi LCP memberikan konsentrasi 4 : 1. Setiap modul juga terdapat 16 bidang distributor (L x P) yang disusun vertikal. L x P mempunyai perbandingan 2 : 1. Setengah inlet L x P dihubungkan dengan OJC dan setengahnya lagi dengan TJC. Selain LXP, distribusi juga dilaksanakan oleh JDP dan JTP. Setiap modul dilengkapi 8 JDP dan 8 JTP. Pembicaraan melalui trunk (dari atau menuju pelanggan di sentral lain) dilewatkan bidang ekspantor (TEP) dan konsentrator TCP. Pada gambar diberikan contoh diagram trunking 5 buah modul (10.240 langganan) sentral lokal BTM-10C. Line Circuit (LIC)\ Pada LIC terdapat 3 macam tester: a. Line tester (LTR) Bertugas mengamati titik pengetes-an pada LIC dan dikerjakan secara siklis terhadap semua LIC. b. Network tester (NTR) dan Mixed tester (MTR) Mengamati titik pengetesan pada unit junctor (OJC, TJC, ITC dan OTC). Bekerjanya hanya kalau mendapat instruksi dari Processor. Originating junctor (OJC) Fungsi utama OJC : Mencatu saluran pelanggan yang dipanggil Mengirim nada sibuk (busy tone) Mengawasi bagian yang dipanggil

Terminating Junctor (TJC) Fungsi utama TJC : Mengirim ringing tone dan arus ringing Mendeteksi jawaban dari pelanggan yang dipanggil Menghentikan pengiriman ringing tone dan arus ringing Mengawasi langganan yang dipanggil Incoming Trunk (ITC) Fungsi utama ITC : Mendeteksi panggilan masuk (dari sentral lain) Menghubungkan diri dengan MFR ataupun unit penerima dekadis Mengirim signalling ke sentral lain Outgoing Trunk (OTC) Fungsi utama OTC : Menduduki incoming trunk sentral lawan Mempunyai hubungan juga dengan unit pengirim multi frekuensi ataupun pengirim pulsa dekadis Membubarkan incoming trunk sentral lawan Pool Modul Pada modul signalling (= pool modul) terdapat DFR, PSR, CBR, OMF, POR, PTR, PAD, SLD dan lain-lain : 1. Poor register (POR) Merupakan interface antara processor dengan : - PTR (= Signalling pool tester) - FAD (= Fast Driver) - SLD (= Slow driver) 2. Pool tester (PTR) Unit PTR mempunyai tugas : - Mengamati keadaan loop PBR, DPR, dan CBR - Mengawasi signalling PBR - Mendeteksi sinyal dalam unit OMF dan TMF - Menentukan keadaan sibuk atau bebas dari PBR, DPR, OMF dan TMF 3. Fast Driver (FAD) Bertugas mengerjakan unit pengirim OMF dan unit penerima TMF. Waktu kerja = 15 mikrodetik. 4. Slow Driver (LSD) Bertugas mengerjakan rele-rele yang ada dalam unit DPR, PSR, CBR dan decadic receiver unit (DRU). Waktu kerja SLD sesuai dengan waktu kerja rele. Jadi tugas SLD adalah : - Melaksanakan penyambungan rangkaian jembatan untuk melayani transmisi pulsa-pulsa suara - Melaksanakan pengiriman atau penghentian pengiriman nada pilih - Membubarkan DPR, PSR, atau CBR 5. DPR (Dial Pulse Receiver) - Menerima pulsa-pulsa dial - Mengirim dan menghentikan pengiriman beberapa macam nada

6. PSR (Pushbutton Signal Receiver) - Menerima digit dari pesawat tombol-tekan - Mengirim dan menghentikan pengiriman beberapa nada Inter processor link Inter processor link (IPL) merupakan saluran yang menjadi penghubung antar processor A dan B. Identifikasi jaringan diberikan dalam bilangan biner yang disusun oktal. Identifikasi antara LIC dan OJC misalnya digambarkan dengan simbol X dan Y. LIC mempunyai identitas: X10 X9 X8 X7 X6 X5 X4 X3 X2 X1 X0 = 211 = 2048 OJC mempunyai identitas : Y6 Y5 Y4 Y3 Y2 Y1 Y0 = 27 = 128

5.1.3 Jaringan Switching PRX


Jaringan switching PRX terdiri dari : a. Switch block Ada 2 jenis, yaitu LB (Line link Block) dan TB (Trunk link Block) b. Telephony unit Terdiri atas dua bidang : Unit Junctor dan Unit Signalling a. Line Link Block (LB) Digunakan mini reed relay yang mempunyai kecepatan pengontakan tinggi dan disusun dalam bentuk crosspoint Lalu lintas telepon masuk (originating dikonsentrasikan oleh LB ke AJ). Lalu lintas keluar (terminating) dari BJ dikirim oleh LB ke sentral lawan. Pada LB ada 3 kelompok switch, yaitu kelompok switch A, B dan C. Ada 3 jenis LB : a. LB 1 Tiap rak LB 1 terdapat 2 blok LB 1 Digunakan untuk traffic rendah atau sedang faktor reduksi = 8; jadi untuk 1024 pelanggan hanya disediakan juctor (AJ dan BJ) sebanyak 128. b. LB 2 Tiap rak LB 2 terdiri dari 3 blok LB 2 digunakan untuk traffic tinggi. Faktor reduksi = 2, jadi untuk 768 pelanggan disediakan junctor (AJ dan BJ) sebanyak 384. Traffic sekitar 0,1 Erlang dianggap rendah sementara traffic lebih dari 0,25 Erlang (untuk setiap saluran rata-rata) dianggap tinggi. Dengan penyusunan seperti LB1 dan PB2, diharapkan P1 = 0,99 (kemungkinan tanpa waktu tunggu terhadap nada pilih),P2 = 0,01 (kemungkinan buntu (congestion) bagi panggilan keluar. Pada Gambar disajikan diagram lengkap LB2 (yang memiliki 156 inlet dan 128 outlet).

Jadi satu blok LB2 terdiri dari : - 64 switch A : 4/4 - 32 switch B : 8/4 - 16 switch C : 8/8 Sebagai gambaran agar cara kerjanya dapat dipahami diberikan contoh hubungan antar inlet no 2 dengan outlet no 61. b. Trunk Link Block (TB) Trunk link block (TB) terdiri dari 6 (enam) tahap switching yang disebut tahap switching D, E, F, F, E, dan D. Keenam tahap switching ini dibagi menjadi tahap TB-A (D,E,F) dan tahap TB-B (F,E,D). Terhadap 3 macam TB dengan dimensi switch yang berlainan seperti ditunjukkan pada tabel di bawah ini : Struktur TB sistem PBX Jenis TB TB1 TB2 TB3 Faktor Reduksi 2 2 2 Switch D 4/8 8/16 8/16 Switch E 4/4 4/4 6/8 Switch F 4/4 4/4 4/4

Satu blok TB1 terdiri dari : - 16 switch D : 4/8 - 32 switch E : 4/4 - 32 switch F : 4/4 c. Telephony unit Pada sembarang sentral diperlukan rangkaian yang dapat membangkitkan dan mendeteksi sinyal-sinyal yang digunakan oleh sambungan dan saluran di saat mendirikan panggilan. Dalam sistem switch PRX rangkaian ini disebut sebagai Telephony Unit (sering disingkat sebagai unit saja). Untuk melaksanakan pengaturannya, Unit melakukan komunikasi dengan CPU melalui control channel (CCH). Komunikasi diselenggarakan dengan bantuan tester (TR) dan driver (DR) sebagai berikut: - Informasi yang berasal dari saluran dipindahkan ke CPU oleh tester, karena tester selalu mengamati tiap titik pengamatan pada unit (selang waktu 125 milidetik) - Sinyal-sinyal yang berasal dari unit merupakan jawaban langsung dari unit terhadap perintah yang diberikan CPU. Perintah CPU diterima unit melalui titik penggerak (driver). Kemudian tergantung kepada sinyal yang akan dibangkitkan, kritis terhadap waktu ataukah tidak, sehingga yang digunakan adalah Fast Driver (FD) atau Slow Driver (SD).

Untuk dapat menyesuaikan diri dengan skema signalling dan kebutuhan pencatuan arus saluran yang bermacam-macam digunakan dewasa ini, PRX membuat banyak unit khusus. Namun, pada dasarnya unit ini terdiri dari sekumpulan rangkaian yang banyak kesamaannya. Telephony Unit dibagi menjadi: 1. Junctor Semua jenis junctor umumnya: - Berada dalam rangkaian selama berlangsungnya percakapan - Speech path lewat melalui junctor, karena itu junctor mempunyai dua kutub, kutub ke saluran dan kutub ke sentral Terdapat 4 kelas junctor: - AJ, digunakan ke asal saluran langganan - BJ, digunakan ke akhir saluran langganan - IT, digunakan sebagai incoming trunk - OT, digunakan sebagai outgoing trunk Signalling antara dua saluran tidak melalui jalur TB tetapi seluruhnya disalurkan melalui CPU. 2. Unit Pengirim/Penerima signalling Unit Pengirim dan Unit Penerima digunakan untuk melayani skema signalling yang tidak dapat dilayani sendiri oleh unit Junctor. Unit Pengirim atau Unit Penerima selalu bekerja sama dengan unit junctor, tidak dapat berfungsi sendiri. Jenis signalling yang dilayani adalah: - Keytone signalling - Signalling antar register (MFC) - Sistem signalling DC (coinbox) Unit Pengirim atau Unit Penerima hanya bekerja menerima dan menyalurkan informasi nomor. Setelah penerimaan atau pengiriman nomor selesai, unit dibebaskan. Oleh sebab itu, jumlah unit signalling lebih kecil dibandingkan dengan jumlah unit junctor. Terdapat 3 kelas unit signalling: 1. RKT (Receiver keytone) Digunakan untuk melayani panggilan yang berasal dari pesawat tombol tekan. 2. RMF (Receiver MFC) 3. SMF (Sender MFC) Unit RMF dan SMF digunakan melayani inter register signalling. SKT Sender key tone (SKT) berfungsi untuk mengirimkan keytone signalling. Unit SKT merupakan unit dengan kutub tunggal. Interface dari SKT adalah: - Telephony : trunk link block (TB) - Pengontrol : A. Tester (TR) Digunakan untuk mengamati status SKT B. Fast Driver (FD) Digunakan untuk melaksanakan kerja berupa pengontrolan frekuensi f1....f8 melalui titik kerja masing-masing.

SMF dan RMF Sender multi frequency (SMF) dan Receiver Multi frequency (RMF) digunakan untuk melayani signalling MFC. SMF mempunyai kesanggupan mengirim dan menerima sinyal MFC dengan frekuensi radio. Sesuai dengan prinsip MFC, maka SMF mengirimkan forward signal dan RMF kemudian menerima backward signal. Fungsi SMF dan RMF adalah : - Mengirimkan sinyal MFC (dua dari enam frekuensi) - Mendeteksi sinyal MFC yang diterima - Decoding sinyal MFC yang diterima Interface dari SMF dan RMF adalah : - Telephony : trunk link block (TB) - Pengontrol : tester (TR) Fast driver (FD) - Tambahan : unit oscillator Tester digunakan untuk mengamati 6 titik pengetesan. Fast driver digunakan untuk mengontrol pengiriman dari frekuensi-frekuensi f0...f5. SMF menggunakan unit oscillator untuk forward sinyal dan RMF menggunakan unit oscillator untuk backward sinyal (lihat tabel). d. Interface Interface terdiri dari unit-unit yang bertindak sebagai perantara CPU (Processor) yang bekerja sangat cepat dan jaringan switching yang bekerja lambat. Terdiri dari unit-unit : 1. Tester (TR) Tester bertugas mendeteksi perubahan yang terjadi pada unit yang berada dalam jaringan switching. Perubahan tegangan pada titik pengetesan (tester point) menunjukkan adanya perubahan status jaringan switching. Terdapat 2 macam tester, yaitu : - Tester yang mendeteksi perunahan keadaan pada line circuit (LC) - Tester yang mendeteksi perunahan keadaan pada unit AJ/BJ, IT/OT dan sender/receiver. Perbedaan tester ini didasarkan pada waktu pengamatan yang dilakukan. Pengamatan terhadap LC waktunya lebih kecil dibanding dengan pengamatan yang dibutuhkan pada unit junctor. 2. Driver (DR) Terdiri dari Slow driver (SD) dan Fast driver (FD). Slow driver mempunyai tugas mengerjakan atau membubarkan relay yang terdapat pada unit AJ/BJ, IT/OT dan S/R. Sedangkan Fast driver mempunyai tugas mengerjakan rangkaian elektronis pada junctor. 3. Marker (MR) Pada dasarnya cara kerja Marker sama dengan cara kerja Slow driver. Bedanya, Marker harus mngerjakan 3 atau 4 relay berurutan, sedangkan Slow driver hanya mengerjakan 1 relay. Marker tersebut adalah:

A. Marker TB-A dan TB-B yang berfungsi mengerjakan 3 relay pada trunk link block (TB) B. Marker LB yang berfungsi mengerjakan 3 relay pada line link block (LB) dan 1 relay LC. Marker dan Driver terbatas kemampuannya untuk mengontrol kerja relay. Slow driver mempunyai kemampuan untuk melayani maksimum 8192 tester point. Satu marker LB mempunyai kemampuan melayani 4096 LC dan satu Marker TB mempunyai kemampuan melayani 1024 saluran trunk. Forward dan Backward frequency Fast driver command F1 F2 F3 F4 F5 F6 Frequency index f0 f1 f2 f3 f4 f5 OUMF (Hz) 1380 1500 1600 1740 1860 1980 OUMB (Hz) 1140 1020 900 780 660 540

5.2 Sentral Digital 5.2.1 Blok diagram struktur dasar sistem EWSD Sentral digital EWSD dikembangkan oleh Siemens A.G. berdasarkan teknik stored program control, yang salah satu ciri khas dari teknik ini berupa pengendalian secara tidak langsung pada peralatan penyambungannya. Peralatan penyambungan ini pada EWSD berupa modul yang sepenuhnya terdiri dari rangkaian elektronik. Dengan demikian sinyal pembicaraan yang di dalam sentral EWSD telah diubah menjadi pulsa-pulsa PCM 8 bit dapat disalurkan baik dengan cara space switch maupun time switch. Selain peralatan penyambungan, sistem hardware yang lain dan sistem software pada EWSD juga berupa modul-modul. Adapun peralatan sentral EWSD pada dasarnya terdiri dari tiga bagian utama yaitu: Line/Trunk Group (LTG), Switching network (SN) dan Coordination processor (CP). LTG merupakan interface antara sentral dan saluran-saluran yang menjadi lingkungannya, SN merupakan jaringan kontak penyambungan peralatan dan CP berfungsi sebagai pusat pengaturan yang disentralisasikan yang menjadi tugas mikro processor yang terdapat pada masing-masing unit fungsional. 5.2.2 Line /trunk group EWSD a. Fungsi Sebagai interface antara saluran-saluran yang terhubungkan ke sentral dengan bagianbagian penyambungan yaitu switching network, LTG mempunyai fungsi utama: 1. Menerima dan mengolah line signalling dan register signalling

2. 3. 4. 5.

Mengirim line signalling dan register signalling Mengirim audible tone Menerima command dari coordination processor Mengirim dan menerima message dari LTG yang lain diwakili oleh Group processornya masing-masing 6. Menyesuaikan kondisi saluran terhadap 8 Mbit Highway 7. Memberikan catu daya ke saluran 8. Mengubah sinyal analog dari saluran analog menjadi sinyal digital , dan sebaliknya 9. Mendeteksi adanya kesalahan pada LTG 10. Mengadakan cross office check, yaitu pendeteksian terhadap kesalahan di SN 11. Mengirim informasi kesalahan ke coordination processor 12. Mengadakan test rutin 13. Menyekat secara otomatis kanal yang rusak 14. Memberi indikasi modul-modul yang aktif atau tidak 15. Mengirim hasil pengukuran lalu lintas ke coordination processor 16. Mengadakan test pada trunk circuit dan subscriber line circuit dengan automatic test equipment (ATE) dan subscriber line circuit measuring system (SU-LIM) Fungsi 1 sampai 16 merupakan fungsi-fungsi yang pengaturannya dilakukan oleh Group processor yang ada pada masing-masing LTG. b. Unit-unit fungsional dan tipt-tipe LTG Unit fungsional yang membangun LTG terdiri dari : - Group Processor (GP) - Group Switch (GS) atau Speech Multiplexer (SPMX) - Link Interface unit (LIU) - Signalling Unit (SU) - Line Trunk Unit (LTU) LTU dapat berupa subscriber line circuit (SLC) untuk pesawat pelanggan analog, trunk circuit (TC) untuk trunk analog dan digital interface unit (DIU) untuk sistem transmisi PCM. (-) Group Processor (GP) Perincian tugas GPA adalah sebagai berikut : - Mengatur prosedur signalling dan mengadaptasikan informasi signalling yang datang dari luar ke dalam standar internal sistem sentral - Mengatur SLC dan LTG - Mengatur waktu operasi pada saat hubungan percakapan dibangun hingga selesai ,misalnya saja untuk pengawasan, metering dan sebagainya - Mengatur dan memproses pertukaran data dengan CP - Memonitor setiap port yang dihubungkan ke LTG dengan scanning Dengan dilakukannya pemrosesan pendahuluan atas informasi tersebut di atas maka jumlah data yang harus dipertukarkan antara CP dengan LTG menjadi berkurang. Demikian pula jumlah data yang menjadi beban CP. Kendala CP meningkat

(-) Line /trunk unit (LTU) LTU berfungsi untuk menyesuaikan saluran pesawat pelanggan atau trunk dengan LTG pada sebuah LTU dapat dihubungkan: - 32 saluran pesawat telepon analog atau - 32 pesawat telepon digital atau - 16 trunk analog dengan loop signalling atau - 12 trunk analog dengan pulse signalling (-) Digital Interface Unit (DIU) DIU berfungsi sebagai penghubung sentral EWSD dengan sistem transmisi PCM yang berupa 24 PCM dan penerima sinyal push button (-) Group Switch (GS) GS merupakan non blocking time switch yang ini merupakan penghubung antara unitunit fungsional yang ada pada LTG. GS dilengkapi dengan konsentrator yang dapat menkonsentrasikan 256 saluran pesawat pelanggan dengan perbandingan 2:1 dan dilengkapi juga dengan penyambung untuk conference call. (-) Speech Multiplexe (SPMX) SPMX juga merupakan non blocking time switch yang menghubungkan unit-unit fungsional yang ada di LTG, tetapi apabila LTG digunakan sebagai interface terhadap trunk. SPMX juga berlaku sebagai multiplexer dan sekaligus demultiplexer dari 4 buah PCM 30 atau 5 buah PCM 24 ke dalam 8 Mbit Highway. (-) Link Interface Unit (LIU)

IV KONSEP SENTRAL TELEPON


Sentral telepon berfungsi menghubungkan pelanggan satu dengan pelanggan lainnya (call set up). Selain itu sentral juga mempunyai tugas lain, misalnya mencatat data pembicaraan, melakukan perhitungan pulsa bicaraserta ugas-tugas lainnya. Semula sentral telepon hanya digunakan untuk komunikasi bicara, dalam hal ini pemakai menggunakan pesawat telapon. Ini terjadi karena saluran dan sistem transmisi yang dihubungkan sentral telepon denga terminalnya semula hanyalah kanal analog 4 KHz. Tetapi kemudian terminal lain seperti faksimili dan teleprinter juga bisa memanfaatkan sentral telepon, asalkan disesuaikan dan ditambah rangkaian yang menyebabkan transmisi sinyal masih dalam batas kemampuan kanal analog 4 KHz. Transmisi data menggunakan komputer juga dapat memanfaatkan kanal analog telepon ini. Agar transmisi data dapat dilakukan via kanal analog telepon ini digunakan Modem untuk menyesuaikannya. Tetapi dengan sistem demikian memiliki keterbatasan pada kecepatan transmisi data. Inilah salah satu sebab timbulnya ISDN. Pada sentral ISDN yang pada dasarnya merupakan pengembangan dari sentral telepon digital, transmisi dari sentral ke terminalnya tidak hanya disediakan untuk kemampuan transmisi sinyal bicara. Transmisi data dengan demikian bisa dilakukan dengan kecepatan tinggi.

4.1 Berbagai konsep penyambungan


Jenis sentral telepon dapat dibagi beberapa jenis tergantung dari cara membaginya : a. Berdasar proses penyambungan : - Manual (Sistem Sambungan Tangan) - Otomatis (Sistem Sambungan Otomatis) b. Berdasar cara pengontrolan : - Direct Controlled System (Sistem Pengontrolan Langsung) - Indirest Controlled System (Sistem Pengontrolan Tdak Langsung) c. Berdasar jenis komponen utama : - Elektronik - Semi elektronik - Full elektronik d. Berdasar program pengontrolan : - Wire Logic (Non SPC) - Stored Programmed Controller (SPC) e. Berdasar jenis sinyal informasi pada peralatan penyambungan : - Analog - Digital f. Berdasar sistem transmisi lokal : - Fixed Telephone (kabel) - Mobile Telephone (radio) g. Berdasar kebutuhan pribadi : - Private Branch Exchange (PBX) - Exchange (biasa)

h. Berdasar jenis sistem pengontrolan : - SXS (Step by step) - Marker System - Komputer i. Berdasar jenis alat penyambungan : - Switch Board (manual) - Selektor - Crossbar switch - Crosspoint (relay) switch - Memory (digital) switch j. Berdasar band/kanal yang bisa dilayani : - Sentral telegraf (50 band/kanal) - Sentral telepon (4 Hz/kanal) - Sentral ISDN Narrow band (64 Kbps/kanal) - Sentral ISDN Broadband (>64 Kbps/kanal)

4.2 Sentral manual


Kerugian : penyambungan lambat, terbuka kemungkinan pilih kasih, tidak terjamin kerahasiaan pembicaraan. Keuntungan : biaya (pengadaan, operasi dan maintenance) untuk kapasitas kecil relative murah. Bagian system : - switch board (papan sambung) - operator desk (meja operator) a. Papan sambung, terbuat dari : 1. Potongan logam (paling kuno) atau 2. Plug disetiap Cross Point Jack di operator desk atau 3. Switch (relay-nya ada di operator desk) b. Operator desk, terdiri dari : 1. Matriks lampu yang menunjukkan posisi/nomor pelanggan Contoh : kapasitas 1000 SS, terdapat 110 lampu 10 lampu ratusan (I s/d O) 100 lampu puluhan (vertikal) dan satuan horizontal 2. Peralatan signalling (dari/ke operator ke/dari pelanggan) 3. Telepon operator 4. Peralatan penghubung ke/dari sental otomat

4.3 Sentral dengan sistem pengontrolan langsung (direct controlled system)


Pulsa-pulsa nomor langganan (atau sinyal DTMF) yang diberikan pesawat telepon langsung menggerakkan alat-alat penyambungan di sentral. Disebut pula : step-by-step system. Contoh sentral : EMD

4.3.1 Proses Abone angkat pesawat : PS mencari GSI yang bebas. Bila PS mendapat GSI yang bebas maka dialling tone (nada pilih) akan diberikan pada abone. Sebaliknya bila tak mendapat GSI yang bebas, busy tone (nada sibuk) akan diberika pada abone. Abone memilih (memutar) nomor/digit pertama (ini tentu saja bila abone mandapatka nada pilih, bila yang dapat oleh abone adalah busy tone , abone harus meletakkan handset-nya). Bila digit pertama telah diputar, maka GSI akan menyetelkan diri sesuai dengan nomor yang dipilih, lalu jalan bebas mencari GSII yang bebas. Bila didapatka GSII yang bebas, abone tidak diberikan lagi nada pilih, tetapi bila tidak mendapatkan saluran GSII yang bebas, maka abone diberi nada sibuk. Setelah abone memutar digit pertama, bila mendapat nada sibuk harus meletakkan pesawatnya. Sebaliknya bila mendapat nada saluran bebas (di GSII), maka: Abone memilih digit kedua: GSII menyetelkan diri dengan noor yang dipilih lalu jalan bebas mencari FS yang bebas. Bila mendapat saluran di FS yang bebas, pada abone tidak diberikan nada pilih. Tetapi bila tak ada yang bebas, akan diberikan nada sibuk. Demikian seterusnya 4.3.2 Susunan Hubungan

4.3.3 E M D Selektro dengan alat penggerak motor dan memakai logam mulia di kontaknya sendiri yaitu, silver palladium

Prinsip kerja EMD (mekanis)

Selanjutnya perhatikan gambar. Pada gambar itu bisa kita lihat gambar sebuah EMD secara lengkap. Kontak Zr dan Hr adalah kontak mekanis : - Hr : tutup pada waktu wiper berada pada tiap-tiap permulaan dekade - Zr : tutup pada waktu wiper berada pada tiap-tiap pertengahan dekade

Jadi : - pulsa pertama harus membawa pada Hr I pada saat permulaan,wiper memang sudah berada di Hr 1. - pulsa kedua membawa (menggerakkan) wiper ke Hr 2 Waktu jatuh rele V lambat sedemikian hingga selama serie pulsa rele V kerja terus

Contoh sentral yang menggunakan sistem EMD : Sistem FG.a EMD (Siemens) Macam gerakan : 1. Seleksi dekadis 2. Controlled steping (seleksi satuan) 3. Jalan bebas (hunting)

Prinsip kerja : - Seleksi satuan dimultiple setelah seleksi dekade selesai - Rele U (tak tergambar) kerja setelah dekadis selesai - Posisi M1 dan m2 seperti pada gambar dimana dekade yang dipilih adalah - Dekade genap - Ht kontak mekanis yang tutup bila wiper pada posisi nomor dekade genap Pada Ht (atau dekade) genap : Y kerja ((-) Y-Hr-V-ground) Pulsa pertama: E verja V kerja (U tutup) Y k jatuh hanya M yang dilalui arus... jalan 1 step m1 dan m2 pindah M2 juga dilalui arus-berhenti Pulsa pertama berakhir : E jatuh D verja Pulsa ketiga = pulsa kesatu Pulsa keempat = pulsa kedua 4.3.4 Prinsip Penggrendelan Pada jalan bebas (free hunting) : bila didapat saluran yang bebas, wiper akan berhenti pada step yang bebas tersebut untuk menduduki dan menggrendel step tersebut tak dapat dipakai/diduduki oleh selektor/wiper dari selektor lainnya. Yang sedang jalam bebas mentest titik/step tersebut

Pada gambar yang di bawah, terlihat bahwa rele P tak dapat kerja, karena pada titik tersebut (yang ditest) tegangan sudah jauh berkurang.

MDF : Main Distribution Frame Terdiri dari dua rele : R dan T Rele R : Menstart LF dan menggrendel langganan yang sibuk tersebut terhadap pendudukan/panggilan yang datang (dari FS) Rele T : Membebaskan saluran pembicaraan dari batere dan tanah dan mengakhiri sinyal start kepada LF. Control set yang tadi dibebaskan (di-start) oleh rele R. Cara kerja : A. Panggilan keluar (outgoing call) Langganan angkat pesawat R kerja R1 : memberi sinyal start pada LF-CS CS kemudian menstart LF Sekaligus menggrendel terhadap datangnya panggilan/rele F di FS yang mengetes pada kontak tersebut/kawatnya (tidak dapat kerja, karena tidak mendapatkan ground) R2 : memberi tegangan kepada medan multiple dari LF sebagai tanda bahwa LSC tersebutlah yang dicari (di-test) oleh LF yang dikerjakan oleh CS tadi. Bila LF tersebut berhasil mendapatkan step ini rele T akan kerja, akibatnya : t1 : memeberi start circuit, t2 dan t3 membebaskan saluran pembicaraan (kawat a dan b) dari tegangan dan tanah. Rele R tetap kerja (holding) lewat kumpran R yang seri dengan rele T B. Panggilan datang (incoming call) FS yang memanggil SLC tersebut memberikan tegangan pada C1, berarti mengetes apakah SLC tersebut bebas atau tidak (ada tanah atau tidak). Bila bebas, FS memberikan tanah pada C2, sehingga R dan T kerja. R1 mencegah SLC diduduki oleh FS yang lainnya. R2 : memberi tegangan yang rendah di C sehingga tak dapat disusuki oleh sembarang LF yang kebetulan lewat di step tersebut. t1 : mencegah diberikannya sinyal start pada CS t2 dan t3 : membebaskan saluran pembicaraan dari tanah dan tegangan (batere)

4.4 Sentral sistem pengontrolan tak langsung (indirect controlled system)


Sistem dipakai untuk mendapatkan : - Pengelompokkan/penggroupan yang sesuai dari network/jaringan - Pengontrolan bagian-bagian alat-alat penyambung yang memang tidak dapat dipakai secara langsung pengontrolannya Seperti kita sudah kita ketahui, sistem pengontrolan langsung haruslah dekadis, tetapi pada sistem pengontrolan tak langsung dapat dekadis maupun tidak. Contoh : Sistem pengontrolan tak langsung dekadis Alat switching-nya dekadis, tetapi network : seri (bukan bintang maupun mata jala)

Dalam wilayah tersebut, sistem penomoran tertutup nomor langganan tetap sama dipanggil dari manapun (dari sentral yang sama maupun dari langganan yang diluar sentralnya) Pada prinsipnya pulsa-pulsa yang diterima dari pesawat langganan diterima dulu oleh suatu alat yang disebut register, dan register inilah yang memimpin/menyelenggarakan penyambungan selanjutnya. Dalam sistem register ini dapat diadakan perubahan-perubahan sehingga tak perlu dekadis

Kebaikan sistem register : - dapat dekadis maupun tidak - interdigit time tak perlu terlalu lebar - waiting time tak terlalu lama - routing lebih mudah Kejelekannya : - rangkaian lebih ruwet, jadi lebi mahal - bila rusak banyak yang dirugikan - kapasitas tambah perlu register baru

adanya delay

Pada gambar diatas : jika langganan pada sentral 7 memanggil 41327 maka register memanggil dengan 6541327. Tetapi jika yang memanggil sentral 4, nomor 1327. Pengontrolan langsung : langganan nomor 41327 (suatu langganan yang terletak di sentral 4) dipanggil, baik oleh langganan dar sentral 4 taupun oleh pelanggan di sentral 5, 6 atau 7 tetap sama, yaitu dengan nomor 41327. Karena peralatan switching adalah dekadis, maka harus ada register yang dapat menambahkan atau mengurangi nomor-nomor yang perlu untuk pengontrolan alat switching tersebut. Nomor 41327 : dipanggil dengan nomor 63333 oleh register sentral 6 nomor tersebut akan ditambah menjadi 541327. Bila dipanggil 7411 oleh register sentral 7, nomor tersebut akan ditambah menjadi 6541327. Bila dipanggil dari nomor yang terletak dalam sentral 4 oleh sentral 4, nomor tersebut dikurangi menjadi 1327. Contoh lain : Sistem pengontrolan tidak langsung dan tidak dekadis (alat switching tidak dekadis) Misal : 500 point selektor (AGF)

Sistem pengontrolan tak langsung, dengan marker pribadi Contoh : M-sistem dari Siemens (pakai EMD)

Disebut juga quasi direct controlled system, karena penyambungan langsung setelh pulsa-pulsa dating Rel SA : - nada pilih - arus catu - pengulang impuls Pulsa pertama masuk Rel SA- minta ES backward impuls memberikan informasi bahwa ES sudah siap- pengeluaran pulsa untuk GSI

Saluran pertama dari dekade (jurusan) yang dipilih ditandai (di marker)-mulai dari sisni dipilih dan jalan bebas mencari saluran yang bebas bila didapatkan saluran yang bebasselektor berhenti (releP di ES). Marker tingkat demi tingkat Contoh : sistem crossbar switch

4.5 Sistem SPC


Sistem-sistem yang kita pelajari pada sub-bab sebelumnya ini semuanya merupakan sistem yang dinamakan Wired Program Logic , artinya program-pogram penyambungan dilaksanakan dari sudah terbuat dalam perkawatannya (wiring-nya). Sekarang perhatian dunia ilmu pengetahuan memang sedang tertarik pada perkembangan ilmu komputer. Hampir di semua bidang agaknya sedang demam komputer. Pemanfaatan komputer dalam sistem sambungan telepon sudah lama dirintis, dan kemudian terciptalah suatu sistem yang dinamakan SPC. Pada sistem SPC program diberikan cara software. Jadi keseluruhan programnya disimpan di CCU (Central Control Unit). Demikian juga mengenai penyimpanan, perubahab ataupun penambahan program, kesemuanya dilakukan dengan cara software (jadi berlawanan dengan wired program controlled) Keterangan gambar : a. Periphery terdiri atas : - SLC (untuk memonitor loop) - Switching Network (jaringan penyambungan, yang tak banyak bedanya dengan sistem biasa) - Service set (yang berfungsi menerima dan mengirim inform yang dipilih - Connecting set (sambungan ke sentral lain) b. Interface berfungsi : - Memberi informasi untuk keperluan control kepada processor dan juga menerima perintah dari processor untuk periphery. Penyesuaian antara periphery dengan CCU dalam soal : - Kecepatan - Tegangan/arus - Posisi di periphery didekadekan untuk processor dan sebagainya

Pada sistem SPC terdapat dua jenis : a. Sentral SPC analog Switching network menggunakan konsep analog, jadi sinyal bicara masih dalam bentuk analog. Switching network analog dapat berupa matriks crosspoint yang di setiap crosspoint terdapat rele atau SCR. Contoh sentral SPC analog adalah sentral BTM-10C dan sentral PRX b. Sentral SPC digital Digunakan switching network digital, contoh sentral EWSD. Switching digital sering disebut sebagai PCM-switching karena sinyal informasi diubah menjadi PCM sebelum dilakukan proses switching. Switching digital sering disebut pula memory switching karena proses switching dilakukan dengan cara switch address dan memory.

4.6 Switching Digital


Seperti telah dipelajari di depan, maka teknik yang paling dikenal untuk modulasi digital adalah PCM, maka switching digital sering disebut juga PCM-switching. Bila teknik PCM dipakai untuk transmisi, sekaligus untuk switching-nya, maka dikatakan : Integrated Digital Communication Network (Integrated Switching and Transmission-IST) Switching dalam PCM dikenal ada dua macam, yaitu : - Time switch - Space switch Time Switch Perhatikan gambar di bawah ini

Jadi misalkan ada empat time slot yang letaknya terhadap waktu adalah berurut. Pada gambar, karena sinyal dianggap berjalan ke kanan, maka urutan time slot dari kanan ke kiri adalah untuk time slot berada pada t1, t2, t3 dan t4. Dalam time switch, setelah menjadi jaringan switching, maka urutan ini bias berubah pada contoh: urutan menjadi (dimulai yang didepan = kanan): time slot ke 4, 2, 1 dan 3. Tetapi untuk time slot ini : Highway-nya tetap. Space Switch Perhatikan gambar di bawah. Berbeda dengan time switch, maka pada teknik switching digital ini, justru yang berubah adalah Highway-nya, sementara time slot-nya tidak berubah.

Struktur jaringan bisa : 1. Langsung tanpa konsentrator 2. Time Slot tertentu 3. Time slot kirim = Time slot terima Network bisa : o space time- space o time space time

PERENCANAAN SENTRAL
a. Tujuan
Tujuan switching Plan adalah untuk menstandarkan features. Fungsi dan interface yang harus dipenuhi oleh sentral telepon digital sesuai rekomendasi ITU-T Rec Q500 s/d Q554

b. Fungsi-fungsi Dasar
Secara garis besar, fungsi-fungsi yang harus diselenggarakan oleh sentral telepon digital adalah : - Menyelenggarakan fungsi switching - Menyelenggarakan fungsi control - Menyelenggarakan fungsi sinyaling internal - Menyelenggarakan fungsi operasi dan pemeliharaan - Menyelenggarakan interface transmisi dan sinyaling

c. Persyaratan Dasar
1. Persyaratan Umum - Catuan Catuan sentral telepon digital harus menggunakan system tidak terputus (Uninterruptable) dengan tegangan 48 VDC. Tahanan kutub positif terhadap tanah tidak boleh lebih dari 5 Ohm. - Fungsi-fungsi sinyaling Fungsi-fungsi sinyaling harus memenuhi persyaratan seperti yang disebut dalam signalling plan. - Tones dan standard recorded announcement Tones dan standard recorded announcement yang dipergunakan, dijelaskan tabel - Alarm Sentral telepon digital harus dilengkapi alarm untuk kondisi-kondisi gangguan yang penting. Alarm dapat ditentukan prioritasnya sesuai dengan tingkat gangguan yang terjadi. - Proteksi over voltage Seluruh interface yang tersambung keluar harus dilindungi dari kemungkinan adanya over voltage yang dapat mengganggu fungsi sentral telepon 2. Persyaratan umum pada setiap hirarki sentral telepon a. Sentral Telepon Lokal - Dapat berfungsi sebagai call supervision point untuk hubungan outgoing nasional dan sisi nasional dari hubungan outgoing international - Dapat berfungsi sebagai zoning point untuk hubungan outgoing nasional - Dapat berfungsi sebagai Charging point untuk hubungan outgoing nasional - Catuan untuk pelanggan : Freeding bridge untuk pelanggan analog adalah 2 x 400 Ohm pada tegangan sentral -48 VDC Pelanggan ISDN Catuan untuk digital section dan perangkat terminal (bila mungkin) didapat secara remote dan sentral telepon (sebagai salah satu fungsi dari

antarmuka VI). Fungsi Remote Power Feeding ini adalah salah satu merupakan fungsi tambahan. - Remote S witching Unit (RSU) Pada setiap sentral telepon harus disediakan suatu kemampuan pemrosesan dan penyambungan dalam suatu populasi yang terpisah, disebut Remote Switching Unit (RSU). RSU terdiri dari jalur pelanggan dan suatu unit switching yang dapat menyediakan pemrosesan panggilan sendiri dan mempunyai kemampuan yang terbatas untuk mengadakan hubungan ke sentral lawan. Traffic di route melalui sentral induk. Kemampuan pengontrolan keadaan darurat harus disediakan. b. Sentral Telepon Transit Lokal Tidak ada fungsi-fungsi tambahan yang dipersyaratkan pada sentral telepon local. Bila sentral jenis ini berfungsi sebagai sentral combined local/local transit maka harus dapat juga menyelenggarakan seluruh fungsi sentral telepon lokal c. Sentral Transit Tidak ada fungsi-fungsi tambahan yang dipersyaratkan untuk sentral transi t pada jaringan SLJJ, misalnya PC, SC dan TC, kecuali bila sentral tersebut berlaku sebagai sentral combined local/local transit. Dalam keadaan ini maka sentral dimaksud harus dapat juga menyelenggarakan seluruh fungsi sentral telepon local. d. Sentral Telepon bergerak (Mobile Exchanges) Pelayanan telepon radio bergerak memungkinkan pelanggan telepon bergerak mempunyai kemampuan mengakses ke jaringan telepon public dan pelanggan telepon bergerak lainnya.

d. Sentral Telepon Digital di Indonesia


1. Interface a. Interface untuk pelanggan non ISDN: Interface Z, V2 dan V3 yang memenuhi Rec. ITU-T G.703, G.704 dan G.705 sesuai dengan ec ITU-T Q.512 b. Interface untuk pelanggan ISDN: Interface V1, V3 dan V4 yang memenuhi Rec. ITU-T G.708, G.704 dan G.705 sesuai dengan Rec. ITU-T Q.512 c. Interface dengan sentral telepon lain : Interface A dan C d. Interface untuk OMC 2. Kemampuan sentral a. Kemampuan kapasitas processor Kapasitas pemrosesan sentral SPC haruss memadai untuk menunjukkan criteria untuk kerja traffic di bawah beban nominal dan pada beban tinggi, tanpa tergantung pada eksekusi fungsi administrasi dan fungsi pemeliharaan (misalnya pengukuran traffic). Kapasitas processor harus mampu menangani volume traffic yang ada. b. Kemampuan mendukung operasi & pemeliharaan b.1 Kemampuan operasi : 1. Kemampuan modifikasi dan perluasan

Sistem harus dapat menerima penambahan hardware dan software atau modifikasi hardware/software tanpa mengakibatkan penyelaan yang berarti terhadap pelayanan yang tengah berlangsung 2. Kemampuan penyelenggaraan pelayanan Sistem harus memiliki cara yang efisien untuk menyelenggarakan, memodifikasi pembubaran dan pengetesan pada jalur pelanggan, jalur trunk, dan pelayanan penunjang kepada pelanggan memiliki kemampuan perekaman akurat yang dapat disimpan oleh system. 3. Kemampuan roting dan zoning Sistem harus mempunyai cara yang efisien untuk menyelenggarakan, merubah dan mengetes informasi pemrosesan panggilan seperti translasi dan informasi routing. Untuk routing dan zoning harus mempunyai kemampuan sebagai berikut: a. Analisis digit untuk routing dan zoning (1) Pengenalan digit 1-9. 0 dan kode 11-15 (2) Analisa hingga 12 digit b. Penseleksian rute outgoing tergantung dari: (1) Digit yang dianalisa (2) Penandaan internal dari indikasi awal atau eksternal originating (SS7) (3) Hari dan jam (4) Kategori pembicaraan dan kelas pelanggan (5) Fasilitas dari rute (analog/digital) (6) Kondisi network (blocking sesaat pada keadaan emergency) (7) Mempunyai lebih dari 8 overflow (8) Pengecekan destinasi yang sah, tergantung pada fasilitas pelanggan, (missal blocking untuk panggilan outgoing SLDD dan/atau panggilan ISD) c. Penseleksian sirkit dalam suatu rute (1) Dengan sembarang titik awal untuk sirkit outgoing (2) Pada seleksi sistematis sirkit bothway untuk meminimisasi pendudukan ganda d. Penanganan digit terdial (1) Kemampuan penyimpanan sedikitnya 16 digit termasuk prefik (2) Translasi kode untuk abbreviated dialing ke nomor sebenarnya (3) Translasi nomor terdial ke nomor lain (4) Merubah nomor terdial dengan translasi, penambahan atau pembatalan hingga 8 digit (5) Pengiriman digit dengan titik awal dari 1 hingga 16 digit e. Kemampouan zoning (1) Hasil zoning setelah analisa 1-8 digit (2) 128 jenis zone yang berbeda (3) Evaluasi tarif yang bergantung pada destinasi (digit terdial) hari dan waktu (4) Pengenalan destinasi free of charge (5)

3. Kemampuan penanganan traffic dan pengukuran Sistem harus mampu memonitor perubahab aliran traffic yang terdeteksi dari: (a) Pengukuran rutin pada banyak titik pada jaringan saat pendudukan perangkat destinasi panggilan, traffic overflow, waktu tunggu dan call carried. (b) Indikator kondisi abnormal misalnya overflow yang berlebih (c) Laporan-laporan eksternal Kemampuan pengukuran untuk kerja. Sentral telepon lebih terperinci dapat dilihat pada Annex 2. b.2 Kemampuan pemeliharaan (hardware & software) 1. Kemampuan pendeteksian gangguan Pendeteksian gangguan dilakukan secara otomatis dengan kombinasi pengawasan yang terus menerus dan test rutin otomatis yang sesuai. Sistem harus mempunyai pendeteksian gangguan yang built in. 2. Kemampuan penentuan lokasi gangguan. System harus mempunyai kemampuan yang memadai untuk penentuan lokasi gangguan. Gangguan hardware dapat ditentukan lokasinya secara presisi hingga tingkat modul untuk semua gangguan. System harus dapat merekam gangguan software, sehingga dapat dilakukan off line analysis dengan reproduksi peristiwa terjadinya gangguan. 3. Kemampuan pengisolasian dari perangkat terganggu. Pengisolasian dari suatu gangguan hardware secara otomatis harus disediakan sehingga tidak mempengaruhi bagian yang tidak rusak. 4. Kemampuan menunjang penyelesaian gangguan. Fungsi penunjang yang sesuai harus disediakan untuk penyelesaian gangguan yang cepat dan mudah. 5. Kemampuan penunjukan alarm. Fungsi alarm yang memadai harus disediakan tergantung dari sebab gangguan yang terjadi seperti print out, alarm visual, dan alarm bunyi. 7. Kemampuan perekaman kejadian gangguan. Untuk kepentingan administrasi perekaman peristiwa terjadinya gangguan (history file) harus tersedia. c. Kemampuan rekonfigurasi Rekonfigurasi yang dimaksud berupa terjaminnya fungsi semua unit pelayanan atau kemampuan pengembalian kondisi menjadi normal kembali. a. Rekonfigurasi dari peralatan yang terganggu harus tidak menyela pelayanan panggilan yang sedang berlangsung b. Bila terjadi gangguan software/hardware yag menyebabkan jatuhnya processor, system harus dapat melakukan recovery secara otomatis. d. Software Fungsi-fungsi sentral dijalankan melalui jalinan yang erat antara perangkat keras dan perangkat lunak. Software dapat dibagi menjadi : - perangkat lunak sentral - perangkat lunak penunjang

Kebutuhan dasar Secara umum, perangkat lunak harus : - Bersifat modular sehingga dapat menerima fungsi-fungsi baru dan dapat dilakukan penambahan modul-modul perangkat lunak tambahan secara mudah. - Bersifat aman dan tahan dala mengatasi kondisi akibat gangguan perangkat lunak dan perangkat keras yang dapat mempengaruhi perangkat lunaknya. Untuk itu antar muka antar modul-modul perangkat lunak dan antar muka antar perangkat keras dan perangkat lunak harus dilengkapi pengetesan dan pengecekan keabsahan program dan data saat transfer. - Dilengkapi dengan program bantu pendiagnosaan untuk menunjang pendeteksian gangguan perangkat lunak. - Dilengkapi program-program untuk recovery secara otomatis untuk melangsungkan kembali operasi system setelah gangguan perangkat lunak. Perangkat Lunak Sentral Sistem perangkat lunak digunakan untuk menjalankan proses-proses pada sentral telepon. Kode-kode sumber perangkat lunak sentral harus ditulis dalam bahasa pemrograman tingkat tinggi. Untuk bagian perangkat lunak sentral yan mempunyai waktu kritis yang tinggi (seperti prosedur recovery) atau yang berorientasi ke perangkat keras (hardware oriented) harus ditulis dalam bahasa assembler. Perangkat Lunak Penunjang Untuk kepentingan pengembangan, pembuatan, pengetesan dan pemeliharaan perangkat lunak sentral diperlukan alat Bantu. Seperangkat alat Bantu ini disebut perangkat lunak penunjang dan secara normal harus dapat dijalankan pada computer komersial saat proses produksi perangkat lunak. Perangkat lunak penunjang harus disediakan dalam bahasa pemrograman tingkat tinggi Dokumentasi Perangkat Lunak Source code seperti halnya machine code untuk perangkat lunak yang dibuat memerlukan dokumentasi yang cermat untuk kepentingan dokumentasi fungsi atau penambahan fungsinya. Secara khusus, modifikasiperangkat lunak dan penambahan perangkat lunak harus didokumentasikan secara benar sehingga isinya sama dengan perangkat lunak yang dimasukkan ke dalam sentral. Upgrading Perangkat Lunak Perangkat lunak sentral harus mempunyai versi yang sama dan stabil untuk jangka waktu yang cukup lama. Upgrading perangkat lunak hanya bila sentral tidak dapat menerima servis baru, upgrading diusahakan untuk tidak sering dilakukan. Jumlah dari isi modul perangkat lunak harus sama untuk kategori dan fungsi sentral yang sama. e. Feature untuk pelanggan yang dimiliki sentral (tidak mutlak) 1. Pelayanan penujang 1. Abbreviated dialling Seorang pelanggan dapat memutar nomor dengan kode singkat yang dirubah secara otomatis ketika hubungan tersambung ke nomor lokal atau nasional yang diinginkan. Nomor kode dapat digunakan pelanggan individual maupun suatu group pelanggan.

2. Call forwarding to any number. Pemindahan panggilan secara otomatis ke nomor lain pada suatu waktu tertentu yang dapat dilakukan sesuai dengan permintaan staf pemeliharaan atau pelanggan itu sendiri melalui prosedur pemutaran nomor tertentu. 3. Fixed destination call immediate & time out Suatu hubungan diselenggarakan tanpa memutar nomor melalui jaringan telepon. Fasiitas ini terdiri dari dua jenis, yaitu hot line tanpa tunda dan hot line dengan tunda. 4. Subscriber Priority System harus menyediakan fasilitas prioritas. Saat kondisi darurat pada network system dapat diset sesuai klasifikasi tiap pelanggan untuk menunjukan kelas prioritas suatu pelanggan bagi panggilan originating. 5. Absent subscriber service with diversion Sesuai permintaan pelanggan, panggilan yang dilakukan pada periode tertentu akan ditransfer ke operator, atau ke pesawat terjawab otomatis atau nada pemberitahuan khusus. 6. Call Waiting Pemanggil yang masuk ke saluran yang sedang dipakai akan diberikan tanda penungguan panggilan sehingga pemanggil mempunyai kesempatan berkomunikasi. Pelanggan yang dipanggil dapat memilih untuk menyela pembicaraan yang sedang berlangsung dan menerima panggilan yang baru datang atau meneruskanpembicaraannya dan memutuskan pembicaraan baru yang datang. 7. Three parity service System harus mempunyai fasilitas konferensi yang dikontrol operator maupun konferensi yang dikontrol pelanggan. 8. Do not disturb Suatu panggilan ke nomor pelanggan secara otomatis ditransfer ke peralatan penjawab panggilan, pelanggan dapat meminta pelayanan ini dengan prosedur pemutaran khusus. 9. Identification of the calling subscriber Identifikasi pelanggan yang dipanggil pada jaringan local maupun SLJJ. 10. Tall free Pemanggil akan dibebaskan dari biaya percakapan oleh karena permintaan pelanggan yang dipanggil. Biaya dibebankan kepada pelanggan yang memiliki fasilitas terebut secara otomatis tanpa bantuan operator. Pelayanan lainnya mungkin diimplementasikan, serta harus dijelaskan secara jelas. 2. Pelayanan bantuan operator Meskipun fasilitas nomer otomatis sudah diterapkan hingga panggilan international, pelayanan yang dioperasikan secara manual masih diperlukan yaitu dengan bantuan operator, |khususnya untuk hubungan panggilan yang tak dapat dicapai dengan pemutaran langsung. Yang termasuk dalam pelayanan ini adalah pelayanan complain, informasi nomor telepon, call booking, informasi tagihan dan bantuan operator 3. Pelayanan telepon berbayar

Sistem harus mempunyai kemampuan menyediakan pelayanan telepon umum maupun telepon yang disewakan untuk coin tunggal maupun multicoin. Peralatan dapat menangani panggilan lokal maupun jarak jauh. Panggilan special service dilayani tanpa memasukkan coin (panggilan bebas bea). Penggunaan credit card untuk panggilan berbayar sedang dalam study. 4. Pelayanan ISDN Karena jaringan telepon Indonesia akan menuju jaringan ISDN di masa yang akan datang, system harus mempunyai kemampuan untuk menyediakan fasilitas ISDN secara ekonomis dalam hal penambahan software maupun hardware. Tabel : Karakteristik tones sentral telepon Indonesia No 1 2 3 4 5 Tones Dial tone Ringing tone Busy tone Frequency 425 Hz + 25 Hz 425 Hz + 25 Hz 425 Hz + 25 Hz Candence Continous 1 second on 2 second off 0,5 second on 0,5 second off 0,25 second on Tone period 330 ms on 30 ms off 330 ms on 30 ms off 330 ms on 30 ms off Silent period 1000 ms off 0,5 second on 0,5 second off 0,5 second on 1,0 second off 2 second on 0,5 second off 200 ms on 200 ms off 200 ms on 200 ms off Level -9 + 2,5 dBmo -9 + 2,5 dBmo -9 + 2,5 dBmo -9 + 2,5 dBmo -9 + 2,5 dBmo

Congestion 425 Hz + 25 Hz Special Information 950 Hz + 50 Hz tone 1400 Hz + 50 Hz 1800 Hz + 50 Hz

Trunk offering

425 Hz + 25 Hz

-9 + 2,5 dBmo

7 8

Number tone Payphone tone

obtainable 425 Hz + 25 Hz recognition f1 1200 Hz + 1,5 % f2 800 Hz + 1,5 %

-9 + 2,5 dBmo -9 + 2,5 dBmo

Anda mungkin juga menyukai