Anda di halaman 1dari 6

Perkembangan ilmu dan teknologi kedokteran dalam bidang imunologi yang diikuti dengan perkembangan terapi khususnya imunoterapi

atau imunomodulasi mengakibatkan perlunya upaya untuk memantau kompetensi sistem imun agar respons imun yang diharapkan berlangsung secara tepat. Uji kompetensi imunologik sebenarnya sangat kompleks, karena kompetensi imunologik harus dievaluasi mulai dari organ tempat sel berdiferensiasi dan selnya sendiri secara kuantitatif, maupun secara kualitatif menguji kemampuan sel-sel tersebut untuk melakukan fungsinya, termasuk kemampuannya untuk meneruskan sinyal dari permukaan sel ke nukleus, dan kemampuan transkripsi hingga menghasilkan produk yang diperlukan untuk berlangsungnya respons imun yang tepat. Uji Respon Imun Non-Spesifik Uji respons imun non-spesifik menggambarkan respons tubuh terhadap zat asing secara non-spesifik. Pada umunya fagosit yang terdiri atas makrofag/monosit dan sel-sel polimorfonuklear (PMN) memegang peranan penting sebagai sel efektor dalam respons imun non-spesifik. Ciri imunitas non-spesifik adalah sel-sel efektor mempunyai keterbatasan dalam membedakan satu mikroba dengan mikroba lain dan sifatnya stereotip, yaitu fungsinya terhadap berbagai jenis mikroorganisme selalu sama. Gangguan respon simun non-spesifik dapat digolongkan dalam: 1) gangguan kuantitatif yang ditandai dengan jumlah sel PMN di bawah jumlah normal; 2) gangguan kualitatif pada sel PMN yang ditandai dengan gangguan berbagai fungsi efektor. Berdasarkan hal itu, maka test laboratoriumuntuk menguji respons imun non-spesifik digolongkan dalam: 1. Uji Kuantitatif Menghitung jumlah dan menghitung jenis leukosit dalam darah tepi.

Makrofag/monosit dalam sirkulasi dapat ditentukan dengan menggunakan pewarnaan NSE dan dilihat di bawah mikroskop atau menggunakan antibodi monoklonal terhadap CD14 yang berlabel fluorokrom dan kemudian jumlah sel yang berwarna fluorokrom diukur dengan teknik flowsitometri. 2. Uji Kualitatif  Uji Fungsi Leukosit Indikasi untuk melakukan uji fungsi leukosit adalah untuk mengevaluasi dan memantau pasien yang diduga menderita defisiensi imunologik seluler atau menunjukkan gejala infeksi yang tidak lazim. a. Pengukuran kemampuan fagositosis dan metabolisme oksidatif Prinsip : mengukur jumlah partikel yang difagositosis oleh neutrofil setelah inkubasi selama waktu tertentu. Pengukuran partikel yang difagositosis dapat

dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya menghitung proporsi neutrofil yang mengandung flowsitometri. b. Kemampuan sintesis dan sekresi sitokin Prinsip : leukosit normal mampu memproduksi berbagai sitokin atau monokin apabila dirangsang secara tepat, sehingga pengukuran kadar sitokin dalam serum atau sitokin intraseluler dapat digunakan untuk mengevaluasi fungsi leukosit. Beberapa jenis sitokin yang diproduksi oleh PMN adalah IL-1, IL-6, GM-CSF, dan TNF. Contoh uji : bioassay, metode ELISA atau RIA partikeldi bawah mikroskop, atau dengan menggunakan

Uji Respon Imun Spesifik Uji respon imun spesifik dilakukan apabila ada indikasi defisiensi atau disfungsi limfosit ynag merupakan latar belakang kelainan imunopatologik. Uji Respon Seluler 1. Uji Kuantitatif

Mengukur jumlah limfosit termasuk subsetnya.

Antibodi monoklonal

Petanda permukaan

Diukur dengan teknik flowsitometri

2.

Uji Kualitatif Uji kualitatif mengevaluasi fungsi limfosit T maupun B  Uji Proliferasi limfosit Mengukur fraksi fase-S dari siklus sel setelah distimulasi. Fraksi Fase-S merupakan ukuran banyaknya sel yang mensintesis DNA. Kemampuan sel untuk mensintesis DNA setelah distimulasi merupakan ukuran untuk fungsi sel tersebut.  Uji kemampuan produksi sitokin Metode ELISA dan teknik PCR untuk mengukur kadar mRNA sitokin yang dihasilkan oleh kultur limfosit . akhir-akhir ini diperkenalkan metode yang dapat mengukur produksi sitokin oleh sel individual secara kuantitatif melalui teknik pewarnaan sitokin intraseluler yang kemudian diidentifikasi dan dianalisis dengan teknik flowsitometri.

 Uji fungsi sitotoksisitas Uji fungsi sitotoksisitaspada umumnya dilakukan dengan Cr-release assay, yang mengukur fungsi CTL dan NK melalui lisis target yang dilabel radioisotope. Namun, saat ini telah dikembangkan metode yang leboih sederhana dan tidak memerlukan zat radioaktif. Salah satu diantaranya adalah mengukur granzyme dan atau perforin intraseluler dengan flowsitometri LDH release assay atau mengukur granzyme yang dilepaskan oleh sel T-sitotoksik dengan cara Granzyme B Elispot assay. Prinsip dari test ini adalah menginkubasikan sel efektor spesifik antigen dengan sel sasaran yang telah diinkubasi dengan antigen spesifik (target) yang akan merangsang sel efektor untuk menjadi aktif dan mensekresikan granzyme atau IFN-

Uji Respon Humoral Produk utama limfosit B adalah imunoglobulin sehingga kadar imunoglobulin setelah stimulasi merupakan penanda atau parameter imunokompetensi limfosit B.

Imunodefisiensi primer yang paling sering terjadi adalah defisiensi produksi antibodi, yang bervariasi mulai dari tidak ada sel B dan atau imunoglobulin serum sama sekali. Pengukuran kadar imunoglobulin Respon imun humoral umunya diuji dengan menilai fungsi produksi imunoglobulin yang menggambarkan kemampuan fungsional limfosit B. Kemampuan produksi imunoglobulin dapat diukur dengan menggunakan titer isohemaglutinin yang merupakan natural antibody atau menentukan titer antibodi lain yang umunya terdapat pada hampir setiap orang, misalnya anti-streptolisin O. Gangguan respon imun humoral juga dapat diuji in vivo dengan mengukur kadar antibodi dalam darah setelah dirangsang dengan antigen tertentu, misalnya dengan menggunakan vaksin.

TUMOR Definisi ` Sel tubuh yang bersifat abnormal dan berdiferensiasi dengan sangat cepat ` Berasal dari tumere bahasa Latin, yang berarti "bengkak ` Pertumbuhan jaringan biologis yang tidak normal ` Pembesaran ukuran jaringan atau organ secara abnormal Karakteristik Sel tumor berdiferensiasi dengan sangat cepat

Tumor ganas tidak akan membatasi dirisampai batas jaringan melainkan akan masuk ke organ dan pembuluh Tipe tumor

Imunodiagnosis Sel Tumor 1. Deteksi imunologik dari antigen spesifik sel tumor a. Deteksi dari Protein Myeloma yang diproduksi oleh Plasma Sel Tumor b. Deteksi dari -Fetoprotein (AFP) c. Antigen Carcinoembryonic (CEA) d. Deteksi dengan Antigen Prostat-Spesifik (PSA)

2. Pengujian dari inang respon imun terhadap tumor

Pengujian tumor marker dapat dilakukan melalui dua cara seperti kondisi tubuh dan deteksi imunologi berdasarkan tumor marker. Tumor marker dapat digolongkan dalam dua kelompok, yaitu: Cancer-specific markers Contohnya: CEA, CA19-9, CA125. Tissue-specific markers Contohnya: PSA, beta-HCG-(Human chorionic gonadotropin), AFP-(Alphafetoprotein), AFP-L3 - (a lectin-reactive AFP) and Thyroglobulin.

Tumor specific marker memiliki sifat antigenitas yang lemah secara umum dengan keragaman yang berbeda baik dari segi kuantitas maupun kualitas.

Dalam beberapa tahun terakhir, penggunaan monoclonal antibodies mampu meningkatkan dengan baik proses spesifikasi imunodiagnosis dari tumor specific marker tersebut. Deteksi Tumor Marker a. Deteksi dari Protein Myeloma yang Diproduksi oleh Plasma Sel Tumor Konsentrasi tinggi yang tidak normal pada serum monoklonal Ig isotipe tertentu atau kehadiran rantai ringan Ig (protein Bence-Jones) dalam sampel urin merupakan indikasi adanya plasma sel tumor b. Deteksi dari -Fetoprotein (AFP) Konsentrasi AFP (500-1000 ng/mL) merupakan indikasi umum akan hadirnya kanker hati. AFP merupakan protein mayor yang ada di dalam serum fetal c. Deteksi Antigen Carcinoembryonic (CEA) Apabila konsentrasi CEA dalam darah mencapai 2,5ng/mL merupakan indikasi adanya sel tumor CEA merupakan glikoprotein yang dihasilkan secara normal sel dalam aliran saluran gastrointestinal (bagian kolon) d. Deteksi Antigen Prostat-Spesifik (PSA) Kadar PSA yang mencapai 8-10ng/mL dalam darah dapat menjadi indikasi kanker prostat.

Perbedaan Jenis-Jenis Penanda Ganas Tumor

Penanda Ganas Serologik Berdasarkan sifat dan fungsinya dikelompokkan : 1. Penanda respon penderita Tanda-tanda

Penanda Ganas Seluler Penanda tumor

Penanda Ganas Molekuler tumor kelainan gen molekuler gen atau dapat biologi

seluler Penanda

meliputi bentuk sel, penanda adalah permukaan sel, kinetik sel mutasi kelainan struktur dideteksi

yang

peradangan serta

dengan

sebagai akibat adanya tumor khromosom seperti C-reaktif protein Imunophenotyping

(misal molekuler (mutasi gen p53, pada BRCA, dll).

(CRP), Alfa feto protein leukemia, index proliferasi, (AFP) dan Gamma Glutami philadelphia Trandferase (Gamma GT). 2. Penanda pertumbuhan dan kerusakan sel Substansi yang dihasilkan oleh sel yang mengalami kehancuran misalnya Laktat Dehidrogenase (LDH), dll). chromosom,

Cytckerin, Cyfra 211. 3. Penanda diferensiasi Substansi yang dalam

keadaan normal diproduksi oleh sel atau jaringan asal tumor, termasuk

diantaranya berbagai enzim serta hormon. Dapat

menentukan asal dan jenis tumor. Beberapa contoh

penanda tumor ini adalah PSA, CEA, CA123, CA153, HCG. 4. Penanda proliferasi Menggambarkan intensitas pembelahan jumlah sel sel baru tiap yaitu yang satuan contoh

dihasilkan waktu.

Beberapa

golongan ini adalah Ki 67 dan TPS.