Anda di halaman 1dari 13

Sungai Bawah Tanah & Cara Eksplorasinya

Oleh : GILANG FIRMANDA 111.080.230

LABORATORIUM GEOLOGI TEKNIK & HIDROGEOLOGI JURUSAN TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN YOGYAKARTA 2011

Gilang Firmanda, e-mail : gf_dariel@plasa.co.id or gilangfirmankaslahnagi@yahoo.co.id CP : 085 22 88 11 9 13

Page 1

1. Pengaruh Siklus Hidrologi dan Morfologi Terhadap Pembentukkan Sungai Bawah Tanah.
Di bumi terdapat kira-kira sejumlah 1,3-1,4 Milyard km3 air yang terdiri dari 97,5 % air laut, 1,75 % berbentuk es dan 0,73% berada di daratan sebagai air sungai, air danau, air tanah dan sebagainya. Hanya 0,001% berbentuk uap di udara. Air di bumi ini mengulangi terus menerus sirkulasi penguapan, presipitasi dan pengaliran keluar (outflow). Air menguap ke udara dari permukaan tanah dan laut, berubah menjadi awan sesudah melalui beberapa proses dan kemudian jatuh sebagai hujan atau salju ke permukaan laut atau daratan. Sebelum tiba ke permukaan bumi sebagian langsung menguap ke udara dan sebagian tiba ke permukaan bumi. Tidak semua bagian hujan yang jatuh ke permukaan bumi mencapai permukaan tanah. Sebagian akan tertahan oleh tumbuh-tumbuhan dimana sebagian akan menguap dan sebagian lagi akan jatuh atau mengalir melalui dahan-dahan ke permukaan tanah. Sebagian air hujan yang tiba ke permukaan tanah akan masuk ke dalam tanah (infiltrasi). Bagian yang lain merupakan kelebihan akan mengisi lekuk - lekuk permukaan tanah, kemudian mengalir ke daerah-daerah yang rendah, masuk ke sungai-sungai dan akhirnya ke laut. Tidak semua butir air yang mengalir akan tiba ke laut, dalam perjalanan ke laut sebagian akan menguap dan kembali ke udara. Sebagian air yang masuk ke dalam tanah keluar kembali segera ke sungai - sungai (disebut aliran intra = interflow). Tetapi sebagian besar akan tersimpan sebagai air tanah (groundwaterr) yang akan keluar sedikit demi sedikit dalam jangka waktu yang lama ke permukaan tanah di daerah-daerah yang rendah (disebut groundwater runoff = limpasan air tanah). Jadi, sungai itu mengumpulkan 3 jenis limpasan, yakni limpasan permukaan (surface runoff), aliran intra (interflow) dan limpasan air tanah (groundwater runoff) yang akhirnya akan mengalir ke laut. Sirkulasi yang kontinu antara air laut dan air daratan berlangsung terus. Sirkulasi air ini disebut siklus hidrologi (hydrological cycle). Sirkulasi air ini dipengaruhi oleh kondisi meteorologi (suhu, tekanan, atmosfer, angin, dan lainlain) dan kondisi topografi, tetapi kondisi meteorologi adalah faktor-faktor yang menentukan.

Gilang Firmanda, e-mail : gf_dariel@plasa.co.id or gilangfirmankaslahnagi@yahoo.co.id CP : 085 22 88 11 9 13

Page 2

Sebagian komponen utama pembentuk air tanah adalah air hujan yang meresap ke dalam recharge area dan sebagian tersimpan di daerah resapan air serta sebagian lagi keluar secara alamiah di daerah discharge area. Batuan secara umum dapat dibedakan secara hidrologi menjadi material lepas dan material kompak yang mempunyai porositas dan pereabilitas yang berbeda beda serta memiliki sifat sifat keairan yang berbeda pula. Batuan juga dapat diklasifikasikan lagi kedalam beberapa jenis lagi, yaitu : Akuifer adalah batuan lepas yang berukuran batu pasir atau lebih kasar serta batuan padu yang memiliki celahan. Akuiklud adalah batuan yang dapat menyimpan air tanah tetapi tidak dapat meluluskannya dalam jumlah yang berarti (batuan berbutir lempung dapat bertindak sebagai akuiklud). Akuitar adalah batuan yang dapat menyimpan airtanah tapi kurang dapat meluluskannya. Akuifug adalah batuan yang tidak bercelah, yang tidak dapat menyimpan ataupun meluluskan air tanah (batuan beku yang tidak bercelah bertindak sebagai akuifug).

Air merupakan sumberdaya alam yang terbatas menurut waktu dan tempat. Pengolahan dan pelestariannya merupakan hal yang mutlak perlu dilakukan. Airtanah adalah

Gilang Firmanda, e-mail : gf_dariel@plasa.co.id or gilangfirmankaslahnagi@yahoo.co.id CP : 085 22 88 11 9 13

Page 3

salah satu sumber air yang karena kualitas dan kuantitasnya cukup potensial untuk dikembangkan guna memenuhi kebutuhan dasar mahluk hidup. Airtanah merupakan salah satu komponen dalam peredaran air di bumi yang dikenal sebagai siklus hidrologi. Dengan demikian airtanah adalah salah satu sumberdaya alam yang dapat diperbaharui, tetapi hal ini tidak berarti sumberdaya ini dapat dieksploitasi tanpa batas. Eksploitasi airtanah yang tidak terkontrol dapat mengakibatkan dampak negatif terhadap keseimbangan alam itu sendiri. Pengembangan sumber airtanah harus berdasar pada konsep pengawetan, yaitu memanfaatkan airtanah secara optimal, mencegah pemborosan dengan menjaga skala prioritas pemakaian dan menjaga kelestarian alam. Air bawah tanah didaerah karst (batu gamping), mempunyai sistim hidrologi yang berbeda dengan daerah non karstik. Hal ini berhubungan dengan sifat fisik-kimia batu gamping. Batu gamping bersifat porous, dan langsung meluluskan air hujan yang jatuh dipermukaan tanah melewati rekahan-rekahan pelapisan batuan vertikal dan horisontal. Sehingga tidak memungkinkan terdapatnya air di permukaan. Kemudian air yang mengalir dibawah permukaan akan terakumulasi dalam suatu pola aliran tertentu sebagaimana layaknya sungai permukaan, dengan melewati lorong-lorong gua menjadi sungai bawah tanah. Dan setiap musim kemarau tiba, timbul masalah kekurangan air karena hilangnya sungai permukaan melalui rekahan-rekahan berupa gua yang tersebar diseluruh kawasan. Karena sifat batuan karbonat yang mempunyai banyak rongga percelahan dan mudah larut dalam air, maka sistem drainase permukaan tidak berkembang dan lebih didominasi oleh sistem drainase bawah permukaan. Sebagai contoh adalah sistem pergoaan yang kadangkadang berair dan dikenal sebagai sungai bawah tanah. Secara definitif, air pada sungai bawah tanah di daerah karst boleh disebut sebagai airtanah merujuk definisi airtanah oleh Todd (1980) bahwa airtanah merupakan air yang mengisi celah atau pori-pori/rongga antar batuan dan bersifat dinamis. Sedangkan, air bawah tanah karst juga merupakan air yang mengisi batuan/percelahan yang banyak terdapat pada kawasan ini, walaupun karakteristiknya sangat berbeda dibandingkan dengan karakteristik airtanah pada kawasan lain.

2. Akuifer Karst
Akuifer dapat diartikan sebagai suatu formasi geologi yang mampu menyimpan dan mengalirkan airtanah dalam jumlah yang cukup pada kondisi hidraulik gradien tertentu
Gilang Firmanda, e-mail : gf_dariel@plasa.co.id or gilangfirmankaslahnagi@yahoo.co.id CP : 085 22 88 11 9 13 Page 4

(Acworth, 2001). Cukup artinya adalah mampu mensuplai suatu sumur ataupun mata air pada suatu periode tertentu. Jika formasi karst dapat menyimpan dan mengalirkannya sehingga sebuah sumur atau mataair mempunyai debit air yang cukup signifikan, maka formasi karst tersebut disebut sebagai suatu akuifer. Selanjutnya, dua hal ekstrim pada akuifer karst adalah adanya sistem conduit dan diffuse yang hampir tidak terdapat pada akuifer jenis lain (White, 1988). Ada kalanya suatu formasi karst didominasi oleh sistem conduit dan ada kalanya pula tidak terdapat lorong-lorong conduit tetapi lebih berkembang sistem diffuse, sehingga hanya mempunyai pengaruh yang sangat kecil terhadap sirkulasi airtanah karst. Tetapi, pada umumnya suatu daerah karst yang berkembang baik mempunyai kombinasi dua element tersebut. Gambar 2.3 menunjukkan sistem conduit, diffuse, dan campuran pada formasi karst. Selain itu menurut Gillison (1996) terdapat satu lagi sistem drainase di daerah karst yaitu sistem rekahan (fissure).

3. Peranan Aliran yang Bersifat Lambat (Diffuse Flow) dan Bukit Karst.
Seperti yang dijelaskan oleh White (1993), Ford and Williams (1992), Smart and Hobbes (1986) dan juga Gillieson (1996), secara umum komponen aliran karst dibedakan menjadi 2 tipe aliran, yaitu: aliran conduit and aliran diffuse. Aliran diffuse mengisi sungai bawah tanah secara seragam dan perlahanlahan melalui retakanretakan yang berukuran 103
Gilang Firmanda, e-mail : gf_dariel@plasa.co.id or gilangfirmankaslahnagi@yahoo.co.id CP : 085 22 88 11 9 13 Page 5

10 mm (Bonacci, 1990) sebagai aliran infiltrasi dari zone simpanannya di permukaan bukit karst. Sebagai ilustrasi, aliran tipe ini menetes atau merembes pada ornamen gua. Kemudian, aliran conduit bergerak dengan cepat dari permukaan menuju Sungai bawah tanah melalui loronglorong yang besar berukuran 102104 mm atau lebih, atau sering disebut sebagai saluran terbuka. Akibatnya, jika ada masukan aliran yang besar melalui pelorongan ini, maka air di sungai bawah tanah akan cepat naik dan semua pencemar dapat ikut masuk ke sungai bawah tanah. Gambar 4 mengilustrasikan dua jenis aliran ini.

Dalam ilmu hidrologi, aliran dasar dikenal sebagai baseflow atau aliran andalan dan berperan penting sebagai satusatunya komponen penyedia air (debit) saat kemarau. Situasi yang sama berlangsung di akuifer karst, dimana aliran diffuse sebagai aliran dasar mempunyai peranan yang sangat penting, sehingga sungai bawah tanah tidak pernah kering saat kemarau. Sebagai contoh pada puncak kemarau (AgustusSeptember), dimana tidak ada hujan sama sekali dan tidak ada masukan aliran dari permukaan yang mengimbuh sungai bawah tanah, debit di sungai bawah tanah Bribin masih tinggi (1600 lt/dt), yaitu semuanya diimbuh oleh aliran diffuse ini. Merujuk kepada Haryono (2001), permukaan dari bukitbukit karst berperan sebagai reservoir utama air di kawasan karst, dan sebaliknya tidak ada zone untuk menyimpan aliran conduit karena geraknya yang sangat cepat dan segera mengalir ke laut. Dalam istilah ilmu karst, zone permukaan bukit karst ini disebut sebagai zone epikarst, yaitu lapisan dimana terdapat konsentrasi air hasil infiltrasi air hujan. Menurut Klimchouk (1997), epikarstic zone atau dikenal juga sebagai subcutaneous zone adalah zone teratas yang tersingkap dari batuan karst yang memiliki permeabilitas dan porositas karena proses pelebaran celah adalah paling tinggi dibanding lapisanlapisan yang lain, sehingga berperan sebagai media penyimpan yang

Gilang Firmanda, e-mail : gf_dariel@plasa.co.id or gilangfirmankaslahnagi@yahoo.co.id CP : 085 22 88 11 9 13

Page 6

baik. Zone ini berkontribusi sebagai penyedia aliran andalan di sungai bawah tanah bahkan pada periode kekeringan yang panjang.

4. Pengaruh penambangan Batugamping kapur pada sungai bawah tanah.


Merujuk pada teori hidrologi karst dan kenyataan lapangan tentang banyaknya penambangan pada daerah tangkapan sistem sungai bawah tanah seperti contohnya pada daerah Bribin, maka akan dapat terjadi kemungkinankemungkinan sebagai berikut: 1. Akan terjadi degradasi jumlah air yang tersimpan sebagai komponen sungai Bribin karena hilangnya bukit karst. Sebagai suatu akuifer yang sangat berpotensi, bukitbukit karst (conical hills) pada zone epikarst berperan sangat penting sebagai reservoir utama kawasan ini. Sungai bawah tanah dengan sistemnya hanya berperan sebagai media pengumpul dan pengatus (drainage) yang menerima tetesan dan rembesan air dari simpanan air zone epikarst melalui rekahan (cavities). Dapat dibayangkan, berapa jumlah kehilangan simpanan air yang akan timbul jika 1 (satu) buah bukit karst sebagai suatu media penyimpan utama air ditebas untuk keperluan penambangan. 2. Akan terjadi perubahan perilaku waktu tunda terhadap hujan puncak pada puncak debit mata air maupun sungai bawah tanah. Air yang tertampung di bukit karst pada zone epikarst akan teratus perlahanlahan melalui celahcelah vadose, rekahan, dan selanjutnya mengisi aliran bawah tanah yang terus berkembang menjadi sungai bawah tanah. Oleh karena itu, mata air ataupun sungai bawah akan mempunyai waktu tunda setelah kejadian hujan selama beberapa saat dengan kualitas kimia air yang relatif baik. Berkurangnya zona epikarst pada permukaan bukit gamping akan merubah perilaku pengisian komponen diffuse yang menjadi komponen air andalan pada saat musim kemarau. Sebaliknya, waktu tunda puncak banjir bisa menjadi lebih cepat setelah kejadian hujan karena rusaknya fungsi regulator pada permukaan bukit karst. 3. Akan ada perubahan komposisi aliran dasar (diffuse flow) dibanding aliran total. Jika permukaan bukit karst ditambang, maka proporsi aliran dasar terhadap aliran total sungai otomatis akan berkurang. Hal ini akan meningkatkan agresivitas
Gilang Firmanda, e-mail : gf_dariel@plasa.co.id or gilangfirmankaslahnagi@yahoo.co.id CP : 085 22 88 11 9 13 Page 7

airtanah terutama pada saat musim hujan, sehingga proses pelarutan akan menjadi semakin cepat, perkembangan loronglorong pada akuifer karst akan semakin cepat, dan pelebaran lorong sungai bawah tanah akan semakin cepat. Akibatnya, fungsi akuifer karst sebagai penahan air sebelum dilepaskan menuju sungai bawah tanah akan berkurang, sehingga akan lebih sulit mempertahankan jumlah debit andalan saat musim kemarau (Adji, 2005). Berdasarkan teori epikarst, penambangan bukit gamping akan mengurangi jumlah simpanan air diffuse, dan sebaliknya akan meningkatkan aliran conduit saat banjir. Dampak yang sangat tidak diharapkan adalah bertambahnya persentese aliran conduit saat musim hujan (banjir) tetapi berkurangnya persentase aliran diffuse saat musim kemarau. 4. Adanya degradasi atau kemungkinan pencemaran kualitas air. Salah satu hal yang paling dikhawatirkan adalah karena posisi penambangan adalah tepat diatas daerah tangkapan sungai bawah tanah. Hal ini akan memicu pencemaran jika penambangan bukit karst memotong vertical cavities atau lorong vertikal sebagai penghubung zona permukaan dan sungai bawah tanah. Dengan kata lain, jika aktivitas penambangan menemukan luweng atau lorong vertikal saat menambang, maka tidak akan ada lagi filter atau saringan yang dapat menahan berbagai macam polutan dari permukaan (limbah, pemupukan, sampah, dll) untuk sampai ke sungai bawah tanah, karena zona epikarst di atasnya sudah habis ditambang. Sumber pencemar yang sangat mungkin diantaranya adalah limbah domestik yang dibuang di luweng, sampah, dan pestisida atau pupuk yang digunakan untuk keperluan pertanian yang banyak sekali dijumpai di sekitar luweng. Hal ini dalam kurun waktu yang panjang bahkan mungkin singkat, jika tidak dikendalikan akan mencemari dan menurunkan kualitas air di sungai bawah tanah. Sebagai tambahan informasi, bahan pencemar lain yang mungkin masuk ke sungai bawah tanah adalah pupuk dan pestisida sebagai akibat aktivitas pertanian di permukaan karst. 5. Lebih jauh lagi, terungkap pula bahwa ekosistem karst khususnya karst Gunung Sewu melalui siklus hidrologi yang ada didalamnya juga mempunyai peran terhadap penyerapan karbon, pengkonsumsi karbon dan penyeimbang siklus karbon yang dapat mereduksi efek rumah kaca dan pemnasan global yang terjadi. Hasil perhitungan sementara menunjukkan bahwa jumlah karbon aktif yang dimakan oleh proses karstifikasi di Gunung Sewu selama setahun adalah berjumlah sekitar 72.000 ton gas karbondioksida (Haryono, et al, 2009). Tentu saja ini merupakan jumlah yang sangat
Gilang Firmanda, e-mail : gf_dariel@plasa.co.id or gilangfirmankaslahnagi@yahoo.co.id CP : 085 22 88 11 9 13

Page 8

besar. Belum lagi jika kita menghitung jumlah karbon pasif berupa mineral kalsit (CaCO3) yang disimpan dalam bentuk blok batu gamping atau bukitbukit karst yang jumlahnya mungkin milyaran ton. Sekali kita menambang bukit gamping, dan mulai membakarnya, maka berapa banyak gas karbondioksida yang dilepaskan ke udara dan berpotensi terhadap efek rumah kaca dan pemanasan global?

5. Teknik survey dan eksplorasi.

Seperti sudah dikemukakan pada bahasan-bahasan sebelumnya, masalah utama survey airtanah di karst adalah terutama pada sistem dimana aliran conduit sudah berkembang dengan baik. Pada kondisi conduit ini, loronglorong solusional yang dominan menyebabkan sulitnya mengevaluasi kondisi batas akuifer secara tegas, mengevaluasi kondisi aliran (turbulent), serta keberadaan tipe akuifer yang bersifat heterogen-anisotropis. Sementara itu, pada akuifer karst yang belum begitu berkembang dengan tipe akuifer bebas (tidak tertekan) yang dapat memiliki beberapa sistem cekungan airtanah dan hubungan antar sungai bawah tanah yang masih mungkin dicari secara sederhana (satu sungai bawah tanah keluar pada satu mataair), maka survey sederhana yang dapat dilakukan adalah dengan membuat flownet atau peta kontur airtanah yang kemudian dapat dicari batas cekungan airtanahnya (groundwater divide) serta dengan menggunakan pelacakan metode tracing (tracer test) baik itu dengan larutan atau radioaktif. Tracer test ini akan dibahas secara khusus pada bahasan selanjutnya. Sedangkan pada akuifer tertekan, batas cekungan airtanah masih mungkin didefinisikan dengan menggunakan pemetaan kontur dan aliran airtanah, sementara tracer test sulit dilakukan karena lamanya waktu tunggu. Pada kondisi ini tracer test yang mungkin digunakan adalah dengan metode isotop (Ford and Williams, 1992). Penggunaan teknologi Remote Sensing (RS) dengan batuan Sistem Informasi Geografis (SIG) untuk penyelidikan airtanah termasuk pada kuifer karst akan memberikan pemetaan yang efektif terhadap kenampakan di permukaan bumi yang kondusif terhadap distribusi dan potensi airtanah pada suatu wilayah (Sander, 1996). Selanjutnya dikatakan pula bahwa integrasi dari RS and SIG akan menyediakan pengetahuan yang lebih baik secara spasial mengenai sumberdaya airtanah karena kemampuan SIG untuk menampilannya secara spasial dan akurat dari banyak data dengan sumber berbeda.

Gilang Firmanda, e-mail : gf_dariel@plasa.co.id or gilangfirmankaslahnagi@yahoo.co.id CP : 085 22 88 11 9 13

Page 9

Beberapa penelitian dengan bantuan teknologi RS dan SIG diantaranya oleh Parizek (1976) dalam Ford and Williams (1992) menggunakan pendekatan kelurusan (lineament) dan retakan (fracture) untuk mendelineasi sistem sungai bawah tanah di batuan karbonat. Hasil penelitian seperti yang disajikan pada Gambar 2.15 menggunakan pendekatan pola-pola kelurusan dan perpotongannya untuk menentukan posisi mata air dan lokasi yang tepat untuk membuat sumur. Selain itu, foto udara infra merah thermal juga sering digunakan untuk menentukan lokasi keluarnya sungai bawah tanah berupa mata air di laut. Prinsip kerjanya adalah adanya perbedaan suhu yang mencolok antara suhu sungai bawah tanah dan suhu airlaut. Selanjutnya, investigasi pada akuifer karst dapat dibantu dengan metode geofisika. Metode geofisika ini mensyaratkan adanya variasi vertikal dan horisontal dari sifat fisik perlapisan batuan di bawah permukaan bumi. Jika ada ketidak selarasan (discontinuities) sifat fisik perlapisan batuan, logikanya pasti terdapat perbedaan geologi. Metode geofisika yang paling sering digunakan untuk mengevaluasi kondisi hidrologi akuifer karst adalah metode resistivity. Metode ini mempunyai prinsip bahwa arus listrik yang dialirkan ke bawah permukaan bumi akan terpengaruh oleh nilai tahanan jenis batuan (resistivity) yang bervariasi menurut pori-pori batuan, sifat dan karakteristiknya termasuk yang ada pada akuifer karst. Ford and Williams (1992) mengatakan bahwa metode resistivity ini telah terbukti untuk dapat mendeskripsikan variasi vertikal dari akuifer karst karena metode ini dapat membedakan adanya batuan karbonat yang kompak, yang jenuh air, maupun yang tidak. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa terkadang metode ini meleset untuk dapat secara presisi menentukan lokasi yang mengandung airtanah karst dalam jumlah yang cukup. Selanjutnya, Loke (2000) menjelaskan tentang teknik inverse imaging 2-dimensi yang mampu digunakan untuk menentukan keberadaan goa karst dan kemungkinan terdapatnya sumberdaya air didalamnya, seperti yang disajikan pada Gambar 2.16.

Gilang Firmanda, e-mail : gf_dariel@plasa.co.id or gilangfirmankaslahnagi@yahoo.co.id CP : 085 22 88 11 9 13 Page 10

Akhir-akhir ini telah banyak metode geofisika lain yang dapat digunakan untuk mengevaluasi potensi hidrologi di akuifer karst seperti yang disajikan pada Tabel 2.4.

Gilang Firmanda, e-mail : gf_dariel@plasa.co.id or gilangfirmankaslahnagi@yahoo.co.id CP : 085 22 88 11 9 13 Page 11

Penggunaan analisis lobang bor selain untuk menentukan perlapisan dan sifat batuan selain dengan menggunakan sensor seperti yang disajikan pada Tabel 2.4. juga dapat diamati tanpa sensor secara langsung untuk memperoleh datadata, diantaranya lokasi/kedalaman dimana sutau akuifer karst mempunyai nilai permeabilitas yang tinggi serta koefisien simpanan dari akuifer karst yanr terukur. Selain itu, borehole recharge test atau uji lobang bor dengan memasok air ke dalam lobang dapat digunakan untuk menentukan nilai permeabilitas (K) dari suatu segmen tertentu dari akuifer karst. Sementara itu, uji pompa lobang bor (pumping test) juga dapat dilakukan di akuifer karst walaupun mempunyai keterbatasanketerbatasan tertentu.

6. Teknik Pelacakan Airtanah Karst (Water Tracing).

Teknik water tracing dikenal secara luas sebagai salah satu metode yang dapat dipertanggung jawabkan untuk mencari hubungan antar goa atau sistem sungai bawah tanah di akuifer karst. Hal ini dilakukan oleh MacDonalds and Partners (1983) untuk melacak sistem sungai bawah tanah di karst Gunung Sewu, Yogyakarta. Hasil pelacakan tersebut sampai sekarang masing digunakan oleh pihak pihak yang berkepentingan terhadap pengembangan sumberdaya air karst di wilayah tersebut. Teknik ini secara sederhana adalah memasukkan atau menuang sesuatu pada aliran air di swallow hole atau sungai yang akan masuk ke goa, atau ponor/sinkhole dan kemudian menghadang atau
Gilang Firmanda, e-mail : gf_dariel@plasa.co.id or gilangfirmankaslahnagi@yahoo.co.id CP : 085 22 88 11 9 13 Page 12

menjemput pada suatu lokasi yang diperkirakan mempunyai hubungan dengan titik awal kita menuang tracer tadi. Jika tracer yang kita tuang tertangkap secara fisik ataupun dengan alat pengukur yang lain maka dapat dipastikan bahwa ada hubungan antara titik pertama tempat kita menuang tracer dengan titik kedua tempat kita mencegat tracer tersebut. Jankowski (2001) membagi bahan pelacakan menjadi tiga yaitu tracers, kimia & pewarna (dye), serta radioaktiv. Prinsip ketiga jenis bahan pelacakan ini dalah sama yaitu memasukkan bahan pelacak pada sebagaian sistem aliranyang diperkirakan pada akuifer karst dan melakukan monitoring pada titik output atau keluaran dari sistem tersebut. Karena sifat aliran di akuifer karst yang cepat, terutama pada conduit serta adanya kemungkinan kebocoran atau rumitnya jaringan sistem karst bawah tanah, maka untuk identifikasi daerah tangkapan dan keluaran pada sistem akuifer karst, tracer haruslah mempunyai syarat-syarat seperti berikut ini : Tidak beracun Larut di air Dapat dilakukan dengan jumlah yang tidak terlalu banyak Resisten (tidak merubah reaksi kimia di air) Tidak dapat terserap oleh batuan Tidak terpengaruh reaksi pertukaran ion Murah Mudah dianalisis

Gilang Firmanda, e-mail : gf_dariel@plasa.co.id or gilangfirmankaslahnagi@yahoo.co.id CP : 085 22 88 11 9 13 Page 13