Anda di halaman 1dari 5

I. PENDAHULUAN A.

LATAR BELAKANG

Pemanenan kayu merupakan suatu kegiatan produksi di mana kayu bulat (log) dihasilkan dari penebang an pohon hutan yang sudah dalam kondisi masak tebang. Pemanenan kayu betapapun dilaksanakan secara hati-hati, namun kerusakan terhadap vegetasi dan tanah yang timbul tidak mungkin dapat dihindari sepehuhnya. Tingkat kerusakan yang timbul dipengaruhi oleh metode pemanenan kayu yang diterapkan. Kerusakan akibat pemanenan kayu yang dilaksanakan di hutan alam tropika di Asia dan Pasifik lebih tinggi di banding di wilayah lain di dunia (Putz et. a., 2000). Pemanenan kayu yang dilaksanakan selama ini bersifat konvensional di mana pemanenan kayu dilaksanakan tanpa perencanaan yang baik, teknik pelaksanaan yang buruk dan lemahny a pengawasan yang menyebabkan kerusakan lingkungan hutan (Elias 1997; Dykstra, D.P. and R. Heinrich, 1996). Menurut Durst dan Enters (2001) masalah kerusakan hutan telah menjadi isu politik yang penting di tingkat internasional karena h utan tropis termasuk hutan tropis Indonesia telah diakui sebagai paru-paru dunia yang mampu menjaga ekosistem bumi dari kemerosotan lingkungan. Pemanenan kayu yang ramah lingkungan ( Reduced Impact Timber Harvesting/RITH) yang menjadi indikator yang paling penting dalam pengelolaan hutan yang lestari . Indikator tersebut dibuktikan oleh kondisi

kerusakan tegakan tinggal yang rendah berupa tersedianya tegakan tinggal dari jenis komersial yang cukup dan sehat. Hasil penelitian Pinard et.al., 1995; Sularso, 1996; Elias, 1998 menunjukkan bahwa metode pemanenan

kayu yang berdampak rendah mampu mengurangi kerusakan ekosistem hutan alam produksi. Pemanenan kayu berwawasan lingkungan ini dilaksanakan dengan pemanenan kayu yang terencana, pelaksanaan pemanenan yang terkendali dan pengawasan yang ketat selama kegiatan pemanenan kayu. Selain itu, dalam rangka kebijakan pengelolaan hutan yang lestari, dipandang perlu untuk mengurangi dampak kerusakan lingkungan (vegetasi dan tanah) serta pengaruhnya terhadap flora dan fauna lainnya dalam rangka menjamin terpeliharanya sumberdaya hutan (Muhdi, 2008). Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pemanenan kayu dengan sistem Reduced Impact Logging (RIL) memberikan dampak yang lebih rendah dibandingkan dengan teknik pemanenan kayu konvensional. Keong, et. al. (2006) menyatakan bahwa di Malaysia kerusakan serius pada tegakan tinggal terjadi akibat pemanenan kayu CL yakni sebesar 27 % - 36 %, sedangkan dengan RIL sebesar 12,3 %. Muhdi, el, al. (2006) mendapatkan hasil bahwa tingkat kerusakan tegakan tinggal yang disebabkan oleh pemanenan kayu konvensional (Conventional Logging/CL) berkisar antara
28-45%, dimana kemsakan yang paling wing dilemukan adalah kemsakan

berat (sekitar 80%). Pemanenan kayu merupakan suatu kegiatan produksi di mana kayu bulat dan hasil hutan lainnya sebagai hasilnya. Pemanenan hasil hutan betapapun hati-hatinya dilaksanakan, namun kerusakan terhadap vegetasi dan tanah yang timbul tidak mungkin dapat dihindari sepehuhnya.

Penebangan di hutan alam tropika di Asia dan Pasifik lebih tinggi di banding di wilayah lain (Putz et. al., 2000).

Namun, Suparna (2006) menyatakan bahwa pemanenan

kayu

berdampak rendah (Reduced Impact LogginglRIL) sulit diadopsi secara baik di hutan alam tropika Indonesia diantaranya adalah diperlukan data yang akurat terutama dalam pembuatan peta kontur dan sebaran pohon. Hal ini dikarenakan peta tersebut sebagai dasar bagi perencanaan dan selama operasi pemanenan kayu berdampak rendah yang efektif.

B. PERMASALAHAN

Kerugian yang ditimbulkan akibat penyaradan dengan system mekanis (traktor) berupa kerusakan vegetasi hutan dan kerusakan fisik tanah. Dampak fisik pada tanah hutan akibat penyaradan secara mekanis adalah terjadinya kerusakan vegetasi yang bias menimpa dari semua tingkat permudaan . Hal ini didukung oleh penelitian Elias (200 2) mendapatkan hasil bahwa tingkat kerusakan tegakan tinggal yang disebabkan oleh pemanenan kayu CL dan RIL sangat signifikan, di mana kerusakan akibar CL berkisar antara 28-45%, dimana kerusakan yang paling sering ditemukan adalah kerusakan berat (sekitar 80%). Penggunaan system kabel dalam penyaradan dianggap sebagai system yang lebih efisien dan bias mengurangi dampak negative yang selama ini disebabkan oleh penyaradan secara mekanis dengan

menggunakan alat

berat bulldozer traktor. Perencanaan pembiayaan

pemanenan yang ekonomis dan minimisasi dampak penyaradan merupakan salah satu komponen dari perencanaan laba secara konprehensif. Oleh karena itu, adalah perlu untuk mendisain alat yang lebih murah dengan potensi daya yang mampu menyarad kayu dengan ukuran yang ditentukan.

Pemilihan model mesin monokabel yang sesuai sangat diperlukan dengan mempertimbangkan aspek biaya pembuatan, berat alat, kecepatan tarik, daya, dan dinamika alat yang sesuai dengan kondisi area penyaradan kayu.
C. TUJUAN PENELITIAN

Tujuan penelitian pertimbangan teknis perancangan mesin sarad kayu monokabel dan dampaknya penggunaannya terhadap kerusakan tegakan tinggal, adalah: 1) Mendapatkan pertimbangan rasional dalam menghasilkan mesin

monokable yang rekomendasif dalam pemanenan kayu hutan alami produksi, 2) Mendapatkan gambaran kondisi lapangan yang bagaimana yang bias digunakan penyaradan secara monokabel, 3) Menentukan tingkat efisiensi penggunaan alat sarad monokabel dari berbagai alternat ive yang dirancang, 4) Mendapatkan informasi tingkat dampak kerusakan hutan akibat dari penggunaan alat sarad system monokabel,
D. HASIL YANG DIHARAPKAN

Hasil

yang

diharapkan

dari

penelitian

pertimbangan

teknis

perancangan mesin sarad kayu monokabel dan dampa knya penggunaannya terhadap kerusakan tegakan tinggal ini adalah: 1) Model/performa mesin sarad monokabel yang direkomendasikan secara ekonomis dan ekologis, 2) Kondisi hutan yang sesuai dengan penggunaan mesin sarad monokabel yang direkomendasikan secara ekonomis dan ekologis, 3) Kapasitas mesin sarad monokabel yang direkomendasikan secara ekonomis dan ekologis, 4) Komposisi kerusakan hutan akibat dari penggunaan alat sarad system monokabel.

DAFTAR PUSTAKA

Elias. 2002. Reduced-Impact Logging. Book I & 2. IPB Press. Bogor. 2006. Financial analysis of RIL Implementation in the forest concession area of PT Suka Jaya Makmur, West Kalimantan and it's future

implementation option. Proceeding in the ITTO - MoF Regional Workshop on RiL implemenfation in Indonesia with Reference to AsiaPacific Region: Review and Experiences, held in Bogor, Indonesia, February 15 -16,2006 Keong,G.B.,Shaari,A.A.N. , dan Ahmad, 2. 2006. Thelogfisher-Its development and application in a new gound -based reduced impact logging system in Peninsular, Malaysia. Proceeding in the ITTO - MoF Regional Workshop on RIL implementation in Indonesia with Reference to Asia Pacific Region: Review and Experiences, held in Bogor, Indonesia, February 15 -16, 2006. Muhdi, 2008. Dampak Pemanenan Kayu dengan Sistem Reduced Impact Logging Terhadap Pemadatan Tanah di Kalimantan Barat . RIMBA Kalimantan Fakultas Kehutanan Unmul, Juni 2008, hlm. 42 45. ISSN 1412-2014. Vol. 13, No.1. Muhdi dan Elias. 2004. Dampak Teknik Pemanenan Kayu Terhadap Tingkat Keferbukaan Tanah di Kalimantan Barat. Jumal Ilmiah AGISOL, Vol3 (I) :27-34. Put& RE, Piuard, Wk, and Tay, J. 2000. Lessons Learned from

lmplementation of Reduced lmpact Logging in Hilly Terrain in Sabah, Malaysia. International Forestry Revies 2 (1): 33- 10). Suparna, 2006. Why RIL is not Easily Adopted in Indonesia. Bulefin APHl No. 14 (2), Maret 2006.