P. 1
Aceh Dibawah Darurat Militer

Aceh Dibawah Darurat Militer

|Views: 323|Likes:
Dipublikasikan oleh Erdin Guyferd

More info:

Published by: Erdin Guyferd on Jul 11, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/08/2013

pdf

text

original

Sections

  • Daftar Istilah
  • Pendahuluan
  • Konteks Kekerasan yang Terjadi Sekarang: Perang Panjang di Aceh
  • Hidup di bawah Darurat Militer
  • Meningkatnya Kehadiran di Desa
  • Menjadikan Anak-Anak Muda Sipil Sebagai Sasaran
  • Pelanggaran Hak Asasi Manusia dan Hukum Kemanusiaan
  • Pembunuhan Diluar Hukum (Extrajudicial Killings)
  • Pembunuhan Kilat (Summary Killings) Selama Operasi Sweeping
  • Penculikan yang Membawa Pada Kematian
  • Penghilangan Secara Paksa (Forced Disappearances)
  • Siksaan Fisik
  • Penahanan Secara Sewenang-wenang dan Ketiadaan Proses Pengusutan
  • Pembatasan Kebebasan Bergerak
  • Pemerasan dan Pembatasan Terhadap Aktifitas Ekonomi
  • Kembalinya Jaga Malam: Tugas Wajib Jaga Malam
  • Pengungsian dan Perampokan
  • Pertanggungjawaban
  • Rekomendasi
  • Untuk Pemerintah dan Pasukan Tentara Indonesia
  • Untuk Gerakan Aceh Merdeka (GAM)
  • Untuk Pemerintah Malaysia
  • Untuk ASEAN
  • Lampiran

Human Rights Watch

Desember 2003, Vol. 15, No. 10 (C)

ACEH DIBAWAH DARURAT MILITER:
DI DALAM PERANG RAHASIA
Daftar Istilah Pendahuluan Konteks Kekerasan yang Terjadi Sekarang: Perang Panjang di Aceh Hidup di bawah Darurat Militer Meningkatnya Kehadiran di Desa Menjadikan Anak-Anak Muda Sipil Sebagai Sasaran Pelanggaran Hak Asasi Manusia dan Hukum Kemanusiaan Pembunuhan Diluar Hukum (Extrajudicial Killings) Pembunuhan Kilat (Summary Killings) Selama Operasi Sweeping Penculikan yang Membawa Pada Kematian Penghilangan Secara Paksa (Forced Disappearances) Siksaan Fisik Penahanan Secara Sewenang-wenang dan Ketiadaan Proses Pengusutan Pembatasan Kebebasan Bergerak Pemerasan dan Pembatasan Terhadap Aktifitas Ekonomi Kembalinya Jaga Malam: Tugas Wajib Jaga Malam Pengungsian dan Perampokan Pertanggungjawaban Rekomendasi Untuk Pemerintah dan Pasukan Tentara Indonesia Untuk Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Untuk “Kuartet” (Amerika Serikat, Uni Eropa, Jepang, Bank Dunia) Untuk Pemerintah Malaysia Untuk ASEAN Untuk Negara-Negara, seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Australia, yang menyediakan bantuan atau latihan militer kepada Indonesia Lampiran 2 3 8 15 17 18 20 20 21 27 28 29 34 37 41 43 46 49 51 51 52 53 53 53 54 55

NOTE: This is an unofficial translation of the text of the HRW report by Kontras (http://www.kontras.org), the Commission for Disappearances and Victims of Violence; an Indonesian human rights NGO based in Jakarta. Please see the English language version for exact wording or confirmation of footnotes and other details. Laporan HRW ini tidak secara resmi dan diterjemahkan oleh Kontras (http://www.kontras.org), Kommissi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan; salah satu LSM HAM di Jakarta. Silakan membaca edisi di dalam Bahasa Inggris untuk susunan kata tepat, atau untuk konfirmasi catatan dibawah halaman majalah atau perincian yang lain.

Daftar Istilah
Ambil malam DOM Ambil malam adalah dimana seseorang dibawa dari rumahnya di waktu malam, seringkali oleh orang tak dikenal. Daerah Operasi Militer adalah sebuah penandaan yang diberikan kepada Aceh selama operasi anti-pemberontak yang dilaksanakan dari tahun 1990 s.d 1998. Gerakan Aceh merdeka. Ini adalah nama biasa dari gerakan separatis bersenjata yang dimulai tahun 1976 Bawah Kendali Operasi, penunjukan pasukan tambahan dari luar Aceh dan ditempatkan dibawah komando lokal Tugas wajib jaga malam Kartu Tanda Penduduk Merah Putih, atau kartu identitas merah dan putih yang disyaratkan bagi orang-orang Aceh dibawah darurat militer. Komando Daerah Militer Komando Distrik Militer Komando Rayon Militer Komando Resort Militer Komando Strategis Angkatan Darat Polisi Daerah Polisi Resort Polisi Sektor Tentara Nasional Indonesia

GAM BKO Jaga Malam KTP Merah Putih

Kodam Kodim Koramil Korem Kostrad Polda Polres Polsek TNI

Pendahuluan
Jika Kamu Lari, Kamu ditembak. Jika Kamu tidak lari, Kamu dipukuli.1 —Laki-laki Aceh berusia 20 tahun Perang tersembunyi sudah mengamuk di Aceh sejak bulan Mei 2003, ketika Presiden Indonesia Megawati Soekarnoputri mengumumkan Darurat Militer di propinsi tersebut. Laporan ini mencoba untuk menyampaikan beberapa kenyataan pada perang tersebut: eksekusi diluar hukum (extrajudicial execution), penghilangan secara terpaksa (forced dissapearence), pemukulan (beating), penangkapan dan penahanan secara sewenang-wenang (arbitrarily arrest and detention), dan pembatasan atas kebebasan bergerak. Di dalam banyak peristiwa yang dideskripsikan kepada Human Right Watch, pasukan keamanan Indonesia – militer dan polisi – secara rutin terutama mengambil jalan kekerasan terhadap laki-laki muda Aceh yang diberhentikan untuk ditanyai. Para saksi mengatakan kepada Human Right Watch mengenai pembunuhan para penduduk sipil saat terjadi “sweepings” di desadesa, sebagian ditanyai atau ditahan, beberapa lainnya melarikan diri karena takut dianiyaia. Seorang laki-laki mendeskripsikan kematian seorang laki-laki bernama Jamal: “Dia masih muda, masih duapuluh tahunan. Pada awalnya Saya hanya melihat tiga orang tentara tetapi kemudian yang lainnya bergabung. Saya melihat salah satu dari tentara tersebut memborgol pergelangan kaki lakilaki ini, lalu kemudian tentara lainnya memegang kakinya dan mengayunkannya menghantam sebuah pohon. Tentara tersebut melakukannya beberapa kali sehingga kepala laki-laki tersebut membentur pohon tersebut. Otaknya terburai keluar dari kepalanya, sampai akhirnya dia meninggal. Lalu mayatnya diletakkan di jalan dan tentara lainnya menembak beberapa kali kepada mayat tersebut.”2 Indonesia telah menempatkan kabut rahasia di sekeliling Aceh, propinisi berpenduduk empat juta orang yang terletak di ujung paling utara pulau Sumatra, sebagaimana negara ini mengadakan perang terhadap Gerakan Aceh Merdeka atau GAM. Dalam banyak usaha yang sukses untuk mengontrol informasi, Indonesia telah melarang organisasi hak asasi manusia internasional dan bahkan organisasi kemanusiaan untuk memasuki Aceh dan organisasi berita internsional untuk bergerak banyak diluar Ibukota propinsi, Banda Aceh. Dengan alasan ini, Human Right Watch berangkat ke Malaysia, dimana ribuan orang-orang Aceh mencari perlindungan sesudah menantang bahaya dan perjalanan yang mahal dari zona perang Aceh. Human Rights Watch juga prihatin akan memburuknya kondisi material dan ekonomi yang dapat menandai (bahkan mencerminkan) krisis kemanusiaan, sesuatu yang Human
1 2

Wawancara Human Right Watch (nama disembunyikan), Malaysia, 27 Oktobert 2003.

Wawancara Human Right Watch dengan laki-laki berusia empat puluhan (nama disembunyikan), Malaysia, 23 Oktober 2003.

3

Human Rights Watch, Vol. 15, No. 10 (C)

Rights Watch dan organisasi lainnya sudah peringatkan sejak berbulan-bulan yang lalu. Informasi yang bersifat anekdot dari kesaksian pengungsi, cerita pers dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang bocor keluar secara sporadis dari propinsi tersebut mengesankan bahwa ribuan penduduk Aceh telah dipaksa meninggalkan rumah mereka untuk melarikan diri dari konflik yang ada atau untuk mencari makanan dan tempat berlindung. Penduduk yang tetap tinggal di rumah mereka menjadi sasaran kekurangan bahan pangan, air dan sanitasi, dan mogoknya pelayanan dasar seperti pelayanan kesehatan dan pendidikan.3 Karena laporan ini disiapkan dari beberapa wawancara diluar Aceh, maka tidak dapat melukiskan gambaran menyeluruh tentang konflik senjata ini. Tetapi mungkin fakta yang paling menganggu dalam penelitian kami adalah cerita pelanggaran hak asasi manusia yang serius dan nampak sistematis sejak dimulainya Darurat Militer tidak terbuka. Semua orang-orang Aceh yang diwawancarai oleh Human Right Watch mempunyai cerita mengenai pelanggaran tersebut untuk disampaikan. Banyak dari mereka adalah korban. Secara tidak biasanya, banyak dari mereka menyaksikan penyiksaan terhadap yang lainnya – dalam beberapa kasus pembunuhan, atau pemukulan.4 Diluar fakta bahwa pada awal Juni Kepala Staff Militer Jendral Ryamizard Ryacudu menerima pihak manapun untuk meninjau operasi di Aceh,5 propinsi tersebut hampir seluruhnya tetap tertutup untuk orang luar. Pemerintah Indonesia sudah melarang diplomat, pengamat internasional yang independen, dan LSM internasional di bidang hak asasi manusia untuk memasuki Aceh dan menganjurkan badan kemanusiaan PBB dan LSM kemanusiaan luar negeri untuk pergi. Pekerja LSM Indonesia yang mencoba memonitor situasi tersebut telah diancam tahanan oleh polisi. Bahkan sesi pelatihan Komisi Hak Asasi Manusia National di Banda Aceh dihentikan oleh polisi atas perintah penyelenggara darurat militer pada 20 Oktober. Pihak yang berwenang mengatakan bahwa komisi tersebut tidak memberitahukan mereka mengenai acara tersebut yang disangkal oleh organisasi tersebut. Petugas kepolisian berada di antara para peserta dalam sesi pelatihan tersebut.6 Pemerintah Indonesia telah sangat sukse membatasi arus informasi dari propinsi tersebut. Sebagaimana laporan Human Rights Watch terkini yang didokumentasikan, pembatasan tersebut telah menjaga media dibawah pengawasan yang ketat.7 Untuk mengecilkan laporan mereka mengenai situasi tersebut, beberapa LSM telah terdaftar sebagai tersangka simpatisan GAM, suatu penandaan yang diperingatkan petugas
Lihat secara umum pada Human Right Watch , “Aceh dibawah Darurat Militer: Larangan yang Tidak Perlu dan Berbahaya terhadap Akses Kemanusiaan Internasional,” Makalah Ringkas Human Rights Watch, September 2003. Kerahasiaan dan intimidasi yang menyertai pelanggaran hak asasi manusia yang paling serius secara umum menyulitkan pengumpulan kesaksian saksi. “Badan Hak Asasi Pemerintah Berencana Mengadakan Penyelidikan di Propinsi Aceh” The Jakarta Post, 5 Juni 2003.
6 7 5 4 3

“POLRI Melanggar Hak dalam Sesi Komisi di Propinsi Aceh”, Agence France-Presse, 2 Oktober 2003.

Human Rights Watch, “Aceh dibawah Darurat Militer; Memberangus Para Kurir,” Sebuah Laporan Human Right Watch, vol 15, No. 9 (c ), November 2003.

Human Rights Watch, Vol. 15, No. 10 (C)

4

kepolisan dapat membawa kepada hukuman mati atas alasan subversi.8 Segel yang serapat-rapatnya sudah ditempatkan Indonesia pada desa-desa dan pegunungan di Aceh menimbulkan ketakutan bahwa pasukan militer di kedua belah pihak percaya bahwa, seperti di masa lalu, mereka bisa melakukan pelanggaran yang kebal hukum. Tujuan Indonesia yang jelas adalah untuk menyembunyikan tindakan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan pasukan keamanan lainnya. Hal ini pada akhirnya telah menyembunyikan tingkat kematian dan luka-luka sipil dan militer. Sementara masyarakat Indonesia dan opini Internasional (sebagaimana dalam putaran terkahir pertempuran dengan GAM di Aceh) yang bisa jadi mendukung prinsip-prinsip integritas wilayah Indonesia, ketika berhadapan dengan gafik biaya kemanusiaan akibat perang yang hampir seluruhnya pasti tidak dapat dimenangkan dalam medan perang, maka opini tentang perang bisa jadi mulai berubah. Kebanyakan yang dideskripsikan oleh para pengungsi kepada Human Rights Watch konsisten dengan sejarah panjang prilaku pelanggaran oleh pasukan keamanan Indonesia di Aceh. Taktik militer yang terkini di Aceh dikombinasikan dengan jumah serdadu baru yang disebarkan di propinsi tersebut memastikan meningkatnya kontak antara kekuatan keamanan dengan penduduk sipil, yang dapat menjelaskan beberapa pelanggaran yang terjadi. Terlebih penting lagi adalah lingkungan yang diciptakan oleh pejabat senior militer, yang sudah bersumpah untuk ‘menumpas’ GAM dalam kerangka waktu yang diumumkan.9 “Hal ini sudah ditambahkan untuk menekan tentara dan pejabat di lapangan untuk memenuhi misi mereka dan menghancurkan mereka yang dipercaya menjadi anggota atau pendukung GAM. Tekanan-tekanan ini bertindak seperti minyak yang disiram ke api diantara pasukan bersenjata yang mencerminkan persepsi yang di pegang secara nasional bahwa orang-orang Aceh adalah ‘bajingan’, penduduk yang separatis. Keyakinan bahwa semua orang Aceh mendukung GAM, meskipun tidak ditemukan, meliputi cara berpikir militer Indonesia dan diterjemahkan di lapangan dalam bentuk penggunaan kekuatan secara tidak pandang bulu terhadap penduduk sipil, terutama terhadap para pemuda.’ Komentar yang dikeluarkan oleh Brigadir Polisi Jenderal Gulliansyah, Kepala Operasi Penegakan Hukum, pada tanggal 3 Desember 2003 adalah contoh mengerikan jenis ceramah yang membakar yang dapat membawa kepada pelanggaran dan kegagalan pasukan militer untuk membedakan antara pejuang GAM dan orang-orang sipil, “Jika perlu tembak di tempat semua orang yang mengibarkan bendera GAM ini. Siapapun yang mengibarkan bendera tersebut pasti anggota GAM.”10

“Para Pendukung GAM Dapat Terancam Hukuman Mati,” The Straits Times, 4 Juni 2003, “Jika ada Bukti, Aktivis dan simpatisan GAM akan ditangkap,” detik.com, 21 May 2003. Raja Ismail dan Abdussalam Muhamad Dell, dua orang anggota organisasi hak asasi manusia di Aceh Timur yang disebut Pos Bantuan Hukum dan HAM, PB-HAM, menghilang dalam minggu-minggu sebelum Darurat Militer. Tubuh Raja Ismail ditemukan dua hari kemudian. Lihat Amnesty International, “Indonesia Melindungi Para Pelindung; Para Pembela Hak Asasi Manusia dan Pekerja Kemanusiaan di Nanggroe Aceh Darussalam,” 3 Juni 2003. “Putaran Terakhir Pembicaraan untuk Mencegah Perang di Aceh,“ Laksamananet, 20 April 2003; Matthew Moore, “Indonesia Mengatakan akan Menghancurkan Para Pemberontak.” The Age, 5 Nopember 2003.
10 9

8

“NAD: Tembak di Tempat Bagi Pengibar Bendera GAM,” Kompas, 4 Desember 2003.

5

Human Rights Watch, Vol. 15, No. 10 (C)

Pendekatan militer yang dilakukan Jakarta. Uni Eropa. Banyak dari mereka sudah berada disana sejak Darurat Militer dimulai. 10 (C) 6 . seperti badan PBB yang terkait. Sekitar delapanpuluh lima wawancara dengan orang-orang Aceh dilakukan di bulan Oktober dan November 2003. Vol. Sebagaimana di masa lalu. Hal ini penting bagi kesejahteraan masyarakat Aceh bahwa organisasi yang tidak memihak. selain membangun proses yang dipercaya untuk menghapuskan. beberapa diantaranya datang hanya beberapa hari atau minggu sebelum diwawancara. Kesaksian dari para pengungsi ini melukiskan contoh yang mewakili kehidupan penduduk sipil tertentu dibawah darurat militer. informasi yang terdapat didalam laporan ini mungkin hanya merepresentasikan puncak gunung es yang berbahaya dan menakutkan saja dari kenyataan yang sebenarnya. Human Rights Watch menghimbau agar tekanan yang seberatberatnya ditempatkan pada Indonesia untuk menghentikan pelanggaran hak di Aceh merajalela dan memastikan kesejahteraan dan keselamatan penduduk sipil. TNI khususnya menargetkan penduduk di kelompok usia ini di Aceh sebagai yang paling mungkin terlibat dalam aktifitas GAM. mendisiplinkan dan mengusut mereka yang melakukan pelangguran (rekomendasi lebih lanjut terdapat di halaman 42 dan 43) dan membolehkan akses yang segera dan tanpa kekangan ke Aceh untuk pengamat independen dan tidak berpihak serta badan-badan kemanusiaan. Gagalnya Kerangka Perjanjian Genjatan Senjata terhadap Permusuhan (the Cessation of Hostilities Franework Agreement atau COHA) memberi pukulan yang serius bagi harapan akan akhir sebuah negosiasi menjadi pelanggaran hak asasi secara besar-besaran di Aceh. Wawancara di Malaysia dilakukan terutama dengan laki-laki Aceh berusia antara delapan belas sampai dengan tigapuluh lima tahun. dapat menyediakan bantuan yang diperlukan. Sedangkan untuk komunitas internasional. ditujukan kepada Indonesia. Sebuah Catatan mengenai Para Narasumber Human Rights Watch pergi ke Malaysia untuk mewawancarai individu yang meninggalkan Aceh karena pertempuran yang terjadi. No. tetapi malah menghasilkan gelombang baru pelanggaran terhadap hak asasi manusia. Jepang dan Bank Dunia) yang terlibat di dalam perundingan damai antara Indonesia dan GAM. adalah sederhana: ambil semua langkah yang mungkin untuk memastikan bahwa aparat keamanan bertindak secara profesional dan menghargai hak asasi manusia dan hukum kemanusiaan. baik internasional maupun lokal. Komunitas Internasional seharusnya membuat akses pada prioritas tertinggi. Human Rights Watch hanya mampu mewawancarai sembilan Human Rights Watch. Hal ini selanjutnya terlihat pada mayoritas pengungsi yang datang di Malasysia sejak dimulainya perang pada bulan Mei 2003. khususnya “kuartet” (Amerika Serikat. mempunyai akses dan mampu untuk melaporkan kepada umum mengenai situasi disana. Rekomendasi utama laporan ini.Karena larangan terhadap akses. 15. bukannya membawa akhir bagi konflik. Hanya dengan begitu maka pelanggaran hak asasi manusia dapat dideteksi dan organisasi kemanusiaan.

UNHCR. Meskipun demikian. Tetapi. desa asal mereka dan lokasi mereka di Malaysia. aktivis mahasiswa. karena Human Rights Watch tidak mempunyai akses di Aceh. Sebuah catatan dalam hal pelanggaran GAM: Human Rights Watch prihatin terhadap penyiksaan yang dilakukan oleh GAM.” Sebuah Laporan Human Righat Watch. Tetapi sebelum pemerintah Indonesia membuka Aceh untuk pengamat independen. Human Rights Watch mengakui bahwa kurangnya kesaksian tidak secara perlu berarti bahwa tidak ada penyiksaan yang dilakukan. Human Rights Watch juga mewawancarai pimpinan komunitas masyarakat Aceh. Para peneliti Human Rights Watch tidak bisa mewawancarai mereka yang paling beresiko terkena kekerasan oleh GAM. No. “Ringkasan Statistik Pendaftaran Berdasarkan Asal Etnis. atau mereka yang dicurigai menolong militer. 13. dengan Profil Demografis. seperti etnis Jawa. vol. informasi mengenai kemungkinan penyiksaan yang dilakukan GAM akan sulit diperoleh.12 Orang-orang semacam itu lebih cenderung melarikan diri ke bagian lain dari propinsi tersebut atau menyebar ke daerah lain di Indonesia daripada pergi ke Malaysia. para pengungsi yang diwawancarai di Malaysia tidak melaporkan kasus semacam itu. Human Rights Watch menghimbau GAM untuk bertindak sesuai dengan hukum kemanusiaan internasional. Vol.11 Banyak wawancara dilakukan tanpa penterjemah dalam Bahasa Indonesia.” JuliSeptember. No. Secara khusus. dan staf di kantor United Nations High Commissioner for Refuges di Malaysia yang dianggap representatif. Agustus 2001. Kurangnya akses terhadap para pengamat independen membuat mustahil unuk mengetahui seberapa mewakilinya laporan ini. 10 (C) . 15. 12 11 7 Human Rights Watch.perempuan dewasa dan seorang anak perempuan dari Aceh. GAM mempunyai catatan panjang tentang prilaku menyiksa di Aceh. “Indonesia: Perang di Aceh. laporan ini tidak berisi informasi semacam itu. Komisi Hak Asasi Manusia Malaysia. 2003. Dikarenakan resiko tindakan balas dendam. perwakilan LSM Malaysia. GAM tidak seharusnya melakukan tindakan yang menempatkan orang sipil dalam resiko khusus. Laporan ini hampir seluruhnya terdiri dari kesaksian tangan-pertama yang meliputi banyak kabupaten di Aceh dan keseluruhan periode darurat Militer. 4 (c). Human Rights Watch secara konsisten bertanya kepada mereka yang diwawancarai seandainya mereka pernah menyaksikan atau menjadi korban penyiksaan GAM. akademisi. seperti penculikan atau penyitaan kartu identitas untuk dipergunakan oleh pejuang GAM. Kami sudah menghilangkan nama-nama para narasumber dari Aceh. Lihat Human Rights Watch. selebihnya dilakukan dengan penterjemah bahasa Aceh. Figur ini mencerminkan dua belas persen pendaftar baru di UNHCR adalah perempuan selama September 2003.

Aceh Diselubungi oleh Darah (Jakarta: Pustaka as-Kautsar. tidak bisa mencari uang. Human Rights Watch. Situasi sekarang lebih dari DOM. Akar Pemberontakan Warga Aceh 1989-92 Lithace: Cornell Univeristy. 1995. Malaysia. Mei 2000. Lihat Human Right Watch. dan struktur komando yang secara relatif terorganisir dengan baik. mencatat 871 orang terbunuh secara seketika oleh tentara. Selalu begitu selama DOM. Lebih dari 500 orang lainnya terdaftar sebagai “orang hilang” dan tidak pernah ditemukan. tidak bisa dibandingkan dengan sekarang.” Sebuah Laporan Human Righst Watch. DOM masih ringan. “Indonesia. Vol. Perang di Aceh. Maret 2002. Human Rights Watch. No. Kami bisa mendapat pekerjaan. “Indonesia: Panduduk Sipi Menjadi Target di Aceh. 62-63. 13. Betapapun baru empat tahun terakhir ini mereka sudah membangun pangkalan penting yang terkenal. dan 387 orang hilang yang kemudian pada akhirnya ditemukan meninggal. telah dan seterusnya menjadi penting.” Makalah Ringkas Human Rights Watch.15 Hampir semua perkiraan LSM setidaknya berjumlah dua kali lebih besar. 1998). Agustus 2001. status resmi militer di Aceh sejak tahun 1990 sampai dengan 1998. 15. 23 Oktober 2003. meskipun operasi dan penyiksaan berlanjut sampai sesudah DOM berakhir. sebagian sehubungan dengan sumber daya gas dan minya. Sebagai tambahan. belasan ribu orang Aceh dipenjara dan disiksa di dalam Wawancara Human Rights (nama disembunyikan).Konteks Kekerasan yang Terjadi Sekarang: Perang Panjang di Aceh Kami tidak bisa hidup. pergi kemanapun kami mau.” Sebuah Laporan Human Rights Watch. Sekitar seribu orang Aceh dari masyarakat sipil terbunuh dalam tiga tahun pertama operasi tersebut. 14 15 13 Tim Kell. mencai kerja. tetapi spur lain yang penting untuk gerakan kemerdekaan telah menjadi kegagalan pemerintahan paska Soeharto untuk memusatkan pelanggaran hak asasi manusia di masa lalu. disiapkan oleh pemerintah propinsi di akhir tahun 1998. Sayed Mudhahar Ahmad dan Yarmen Dinamika. Sesudah DOM selesai sempat ada setahun dimana segalanya berlangsung lebih baik. Dari bulan Juli 2001 sampai saat operasi darurat militer membuat mereka harus bertahan. 10 (C) 8 . Para pendiri GAM menekankan perampasan kekayaan dan sumber alam Aceh oleh penduduk baru “Orang Jawa-Indonesia” atas nama pembangunan dan kebutuhan untuk merebut kembali kejayaan masa lalu Aceh. hal. Penghitungan korban yang paling konservatif. fase terburuk DOM. “Indonesia: Pertanggungjawaban Terhadap Kejahatan Kemanusiaan di Aceh. sumber persenjataan tetap. 106. —Laki-laki Aceh usia 30 tahun13 GAM sudah ada sejak para pendirinya mendeklarasikan kemerdekaannya dari Jakarta pada tahun 1976.14 Keluhan ekonomi. no 1 (c). Tetapi kini keadaan sudah kembali mengerikan. dengan kehadiran terkuat khususnya di enam dari kebupaten yang terbanyak penduduknya dan tersejahtera. Al-Chaidar. Human Rights Watch. vol. 4 (c). sampai akhirnya pemerintahan Soeharto menyatakan Aceh sebagai “Daerah Operasi Militer” atau DOM dan menyusun salah satu kampanye kontra-pemberontak terbesar yang terlihat sejak tahun 1960. no. DOM adalah singkatan dari Daerah Operasi Militer. vol 12. GAM menjalankan pengawasan terhadap bagian yang luas di Aceh. Apa yang disebut sebagai peride Daerah Operasi Militer dimulai pada tahun 1990 sesudah GAM menyusun serangkaian penyerangan terhadap pos polisi dan militer untuk merampas amunisi dan lusinan senjata otomatis. hal.

Di awal tahun 1999. Sadar Rencong I. empat elemen kunci berkumpul bersama untuk memfasilitasi perkembangan yang cepat dari gerakan kemerdekaan: sebuah organisasi gerilya bersenjata. tetapi rekomendasi mengenai pengusutan diabaikan. dengan 102 kasus yang tercatat oleh tim pemerintahan lokal. No. Tidak ada yang terjadi dari sana. Bagaimanapun. Sejak awal 1999. Komandan TNI. hal ini bisa membuat pemutusan dengan masa lalu yang menentukan. mengumumkan bahwa warga Timor Timur akan diberikan kesempatan untuk memilih antara pemberian otonomi dan memisahkan diri dari Indonesia. membuka dialog dengan pihak-pihak yang terkait dengan konflik. meskipun dalam tingkat intensitas yang lebih rendah daripada dalam periode 1990-1993. 15.kamp militer. panitia khusus di DPR untuk Aceh membuat serangkaian rekomendasi untuk presiden baru. Pada bulan Agustus 1998. Tampaknya setiap orang Aceh di daerah yang terpukul paling berat dapat menyebutkan anggota keluarga mereka yang menjadi target utama langsung dari pelanggaran hak asasi manusia. Seandainya. Penyiksaan terus berlangsung sampai DOM berakhir di tahun 1998. dan perkosaan menurut laporan menyebarluas. pada titik ini. sosok-sosok kunci dalam hirarkis DOM berlanjut untuk menduduki posisi-posisi yang berpengaruh di seluruh Indonesia. Rekomendasi-rekomendasi tersebut menghasilkan perubahan dalam rancangan undang-undang tentang otonomi.J. Beberapa orang di Jakarta sepertinya memahami derajat kemarahan terhadap pelanggaran selama era DOM sudah merubah dinamika politik di Aceh: GAM sekarang mempunyai jauh lebih banyak pendukung yang mau menerima mereka daripada yang sebelumnya mereka punya. Komisi Hak Asasi Manusia Indonesia menyarankan untuk dibentuknya Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi khusus untuk Aceh. Vol. Abdurrahman Wahid. 10 (C) . termasuk membangun kembali fasilitas yang dihancurkan. Jendral Wiranto. Di bulan Desember 1999. Operasi militer dibawah serangkaian kode-kode nama – Wibawa 99. Dalam hitungan hari. dinamika politik di propinsi tersebut mengalami perubahan genting lainnya. B. Daripada pengusutan malah terjadi peningkatan dalam jenis-jenis kejahatan hak asasi manusia yang menandai periode DOM. yang menerima tanggung jawab kepresidenan ketika Soeharto turun di tahun 1998. pemerintah Indonesia sudah bergerak untuk menyelidiki dan mengusut para pejabat atas peran mereka dalam pelanggaran tersebut. sebuah kongres yang dibentuk oleh seluruh mahasiswa Aceh meminta sebuah referendum kemerdekaan untuk dilaksanakan di Aceh. Yang keempat adalah serangkaian kesalahan di Jakarta. secara resmi meminta maaf kepada masyarakat Aceh atas perbuatan yang keterlaluan selama era DOM. sebuah gerakan politik pro-kemerdekaan yang mulai timbul dan mobilisasi penduduk secara besar-besaran yang mencari saluran-saluran untuk mengekspresikan kefrustasian mereka terhadap Jakarta atas kegagalannya mengatasi pelanggaran masa lalu. Habibie. dan Cinta Meunasah I dan II – 9 Human Rights Watch. Di bulan Agustus 1999. memberikan propinsi tersebut lebih banyak otonomi. dan secepatnya mengusut mereka yang bertanggungjawab atas pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan selama periode DOM. II dan II. Pengunduran diri Soeharto di tahun 1998 menciptakan harapan di sepanjang Aceh bahwa keadilan akan dilakukan.

Jeda tersebut diperbaharui dua kali. 15. dalam menjadi menengahi perundingan antara GAM dan pemerintah Indonesia. International Herald Tribune. kadang melalui penculikan dan sejenis pendidikan kembali untuk pejabat-pejabat pemerintah daerah. yang sukses. BBC World News. mulai bergerak diluar penyerangan sporadis terhadap polisi dan tentara untuk menyiapkan sebuah pemerintahan alternatif. terdiri dari baik GAM maupun perwakilan pemerintah. dengan ketidaksenangan militer Indonesia.”16 Di pertengahan tahun 2000 datanglah organisasi yang berlandaskan resolusi konflik dari Geneva. Pada bulan-bulan pertama ‘jeda’ tersebut. No. serangan oleh GAM kepada militer dan polisi juga meningkat. Jumlah pasukan dinaikan dalam usaha sistematis yang ditujukan kepada kubu dan markas GAM yang dicurigai. yang kemudian berganti nama menjadi Pusat Dialog Kemanusiaan (the Centre for Humanitarian Dialogue atau HDC) kedalam situasi tersebut. menteri pertahanan Indonesia dan komandan TNI mengumumkan operasi militer baru melawan GAM. dan mengadakan kembali dewan sesepuh desa yang sudah ada sebelum Aceh bergabung dengan Republik Indonesia. HDC menghasilkan suatu “jeda kemanusiaan” dalam konflik tersebut. dan kepergian militia pro-Indonesia dari timur sampai barat Timor menyediakan sumber persenjataan baru yang utama. Pada bulan Juli 1999. suatu gencatan senjata yang bukan sungguhan. Menitikan air matanya di Aceh dia mengumumkan. Di bulan Mei 2000. 29 Agustus 2003. Sejalan dengan meningkatnya kekerasah dari pihak Indonesia. yang melihatnya sebagai cara GAM untuk mengkonsolidasikan kontrolnya terhadap daerah pedesaan. “saat pemimpin perempuan kalian memimpin negara ini. Aceh Timur dan Aceh Selatan. Saya tidak akan mengizinkan satu tetes pun darah manusia menyentuh tanah kalian. 10 (C) 10 . tetapi usaha dasar untuk menjaga pembicaraan antara pihak-pihak terkait terus berlanjut. Di saat yang sama. membangun kemarahan orang-orang yang meningkat. Aceh barat. untuk mendiskusikan masalah keamanan dan kekerasan selama ‘jeda’ tersebut. GAM secara berangsur-angsur mengambil alih kebanyakan fungsi-fungsi pemerintah yang dimulai dari Kabupaten Pidie dan berangsur berpindah jauh kedalam Aceh Utara. “Perang Kecil untuk Menyokong Penilaian”. dengan 16 “Penduduk Desa Aceh Menemukan Pemakaman Masal”. tanpa diduga sebelumnya oleh orang-orang. 30 Juli 1000. Julia Suryakusuma. Henri Dunant Centre. Mereka melakukannya dengan mengganti kepala-kepala desa. GAM. kandidat presiden Megawati Soekarnoputri menjanjikan bahwa jika dia terpilih maka dia akan berusaha kerasa untuk mengakhiri komflik yang sudah berjalan begitu lama. GAM mampu untuk menghasilkan pemasukan yang penting dalam “pajak perang” dari perseorangan dan bisnis. Pada tanggal 9 Maret 2001. Kadang melalui persuasi. Nama yang diberikan kepada usaha perdamaian berubah dari ‘jeda kemanusiaan’ menjadi ‘penundaan kekerasan’ lalu menjadi ‘perdamaian melalui dialog”.membawa kepada jumlah serdadu lebih besar dan seluruh desa dihukum sebagai pembalasan dendam atas serangan GAM. panitia dibentuk di Aceh. Vol. Sebagai bagian dari perjanjian berkenaan dengan ‘jeda’ tersebut. jenjang dasar dinas pemerintah Indonesia. kekerasan menurun dengan tajam. Human Rights Watch.

dan pada mulanya membawa pengurangan kekerasan. Uni Eropa. Palang Merah Indonesia melaporkan bahwa mereka menemukan delapanpuluh dua mayat di minggu pertama. Komisi Hak Asasi Manusia Indonesia. termasuk dua orang bocah berusia dibawah empat belas tahun. menegaskan bahwa anak-anak tersebut berada diantara korban pembunuhan extra-judicial di Aceh. 15.” The Jakarta Post. meskipun organisasi tersebut mengatakan bahwa hal tersebut tidak dapat 17 “Badan Hak Asasi akan Memeriksa Laporan Pemakaman Masal di Aceh Minggu Depan. Presiden Megawati menandatangani Keputusan Presiden nomor 28. Vol. “Badan Hak Asasi Menegaskan Pembunuhan atas Warga Sipil Tanpa Nama di Bireuen.17 Jumlah pasti korban-korban sipil sulit untuk ditetapkan mesipun semua pihak mengesankan bahwa korban sipil dan pejuang (GAM) sangat besar. meskipun para penduduk lokal menolaknya. (“kuartet”).banyak tuduhan dari organisasi lokal atas nama penududuk sipil yang terbunuh selama proses tersebut. Baik perkiraan pemerintah maupun GAM tidak dapat diandalkan (misalnya jumlah orang sipil yang hilang yang berasal dari pemerintah hanya terbatas pegawai pemerintah saja) dan LSM di lapangan. Indonesia dan GAM menandatangani Perjanjian Kerangka Gencatan Senjata atas Permusuhan (the Cessation of Hostilities Framework Agreement atau COHA). Ini adalah harapan terakhir yang terbaik untuk perdamaian di Aceh. Semua korban memakai pakaian sipil. Pada bulan Desember 2003. dengan perantara HDC.” Agence FrancePresse. 14 Juni 2003. Sesudah penangkapan terhadap empat juru runding GAM dan runtuhnya parit-terakhir (last-ditch) pembicaraan damai di Tokyo. Meskipun COHA tidak menunujukan perbedaan yang mendasar. dan dibawah tekanan dari Amerika Serikat. tapi membuka pintu terhadap lebih banyak perundingan yang dilakukan dalam pengawasan internasional. Dalam satu kasus yang dilaporkan dengan baik dari hari-hari pertama Darurat Militer. 11 Human Rights Watch. mengakui bahwa mereka tidak mampu untuk mengumpulkan data di lapangan secara efektif. Militer mengatakan semua korban adalah anggota atau mata-mata GAM. dan TNI serta dinas keamanan Indonesia lainnya menggembar-gemborkan untuk ‘menumpas’ GAM dalam periode tersebut meskipun banyak pengamat menyangsikannya. meskipun mereka tidak menyalahkan secara umum. tanggal 19 Mei 2003. Indonesia berkeras bahwa GAM tidak mengakui tuduhan hendak merebut kemerdakaan dan menuduh GAM menggunakan COHA untuk membangun kembali kekuatan bersenjatanya dan meluaskan basis politiknya. 20 Juni 2003. Komnas HAM. yang memberi wewenang kepada pasukan kemanan Indonesia untuk melancarkan operasi militer besar-besaran melawan GAM. 10 (C) . Muninggar Sri Sraswati. sesudah kunjungannya pada bulan Juni ke propinsi tersebut. Meskipun begitu hanya terdapat sedikit kemajuan terhadap penyelesaian konflik secara politis. dan 151 mayat di akhir minggu ketiga. pada tanggal 21 Mei para tentara membunuh tujuh orang. Keputusan tersebut menempatkan Aceh dibawah Darurat Militer selama enam bulan. Jepang dan Bank Dunia. No. seperti organisasi terhormat seeperti Kontras cabang Aceh. Segera terdapat tuduhan berkaitan dengan kekerasan terhadap hak asasi manusia oleh TNI. GAM menuduh bahwa Indonesia tidak berunding dengan niat baik.

Taufiqurrahaman.” Agence France-Presse. “Makalah Ringkas tentang Aceh: Propinsi Aceh. “Indonesia Melancarkan Kampanye Aceh Melawan Pemberontak. Perkiraan Kontras Aceh pada tanggal 18 Agustus menempatkan jumlah yang kurang lebih sama yaitu 329 warga sipil terbunuh. 11 Juni 2003. juru bicara militer melaporkan bahwa setidaknya 395 orang sipil telah terbunuh sejak dimulainya Darurat Militer. 19 dan jumlah korban lebih jauh dari dua pusat perkotaan tersebut kemungkinan lebih tinggi. dan tujuhpuluh delapan sipil menjadi korban penghilangan secara paksa.100 anggota GAM telah terbunuh di bulan Oktober. “Komnas HAM Hendak Menyelidiki Pelanggaran-Pelanggaran di Aceh. “Perang Indonesia dengan Para Separatis Memakan 1. 10 (C) 12 . dan Aceh Besar. Aceh Timur (70) dan Aceh Selatan (45). 20 Meskipun tim komisi ad-hoc dapat bertemu dengan lebih dari seratus orang saksi mata dalam misi kedua mereka selama lima hari di bulan agustus. kebanyakan dari mereka adalah para pemuda dengan luka tembak. 21 M. pelecehan seksual. 18 Human Rights Watch. Meskipun tidak ada kasus dimana korban diganggu oleh pelaku.” Reuters. penguasa darusat militer membatasi gerakan tim sama sekali. “Pertanyaan sesunggunya adalah berapa banyak dari orang-orang tersebut yang dideskripsikan sebagai pemberontak pada kenyataannya adalah GAM.” September 2003. “Deutsche Presse-Agentur. 19“Permintaan Suplai Tambahan di Aceh” British Broadcasting Corporation. BBC memberitakan bahwa dalam minggu pertama operasi. 21 Di bulan November. 3 Juni 2003. perkosaan dan pemindahan (displacement) secara paksa. dan juga anggota GAM yang mungkin terbunuh diluar pertempuran dalam pelanggaran hukum kemanusiaan. 23 22 Memperhatikan ketidaksesuaian antara anggota GAM yang berdasarkan laporan terbunuh (1. Tidak ada laporan yang dikeluarkan. Komnas HAM mengatakan bahwa di awal bulan Juni mereka akan meneyelidiki lebih dari dua puluh kasus tentang pelanggaran hak yang diduga keras terjadi selama dua minggu pertama operasi militer di propinsi tersebut.23 18 “Palang Merah Indonesia Mengatakan Memindahkan 151 Mayat di Aceh. termasuk pembunuhan. “Pelanggaran Hak Asasi di Aceh Dapat Membawa Intervensi PBB. Di sekitar Lhokseumawe jumlah tersebut dilaporkan sebanyak enam orang per hari. kamar mayat rumah sakit utama Banda Aceh menerima rata-rata tiga mayat per hari. 2003. begitu juga 315 warga sipil disiksa atau dipukuli. Kebanyakan perkirakan mencatat secara khusus tingginya korban sipil di Aceh Utara dan Aceh Timur. 5 September 2003. May 26.” Reuters. Vol. dari 319 kematian warga sipil yang dilaporkan oleh polisi pada tanggal 3 September 2003.” The Jakarta Post. Pemerintah Indonesia melaporkan bahwa sekitar 1. Sidney Jones dari Kelompok Krisis Internasional (Inetrnational Crisis Group) telah mencatat. Bireun. Kontras Aceh menemukan bahwa banyak warga sipil menjadi korban selama operasi militer di Indonesia dalam pencarian para gerilyawan. tetapi dalam pernyataan secara umum komisi tersebut mengatakan bahwa pembunuhan. Perang Kotor yang Tidak Terungkap. dan tergantung dari sumber dan bentuk penyiksaan. No. Aceh Selatan. 26 May 2003. Pencapaian yang Tidak Jelas. 22 Pemerintah Indonesia menyalahkan GAM atas korban-korban tersebut. LSM tersebut menekankan bahwa jumlah sebenarnya kemungkinan lebih besar karena adanya keterbatasan pelaporan dan investigasi. Human Rights Watch prihatin baik kepada mereka yang diklasifikasikan sebagai GAM namum ternyata orang sipil. perkosaan dan pemindahan secara paksa dan penculikan masih tetap merajalela. 20 Tertiani ZB Simanjuntak. 15.18 Dalam indikasi lain tentang tingginya jumlah korban awal.” The Jakarta Post. Sebagai contoh. 23 Agustus 2003.” Ahmad Pathoni. pelecehan seksual.600 Korban. 213 kasus penangkapan dan penahanan secara sewenang-wenang.100) dan senjata yang ditemukan (485). Dean Yates. Lihat “319 warga sipil terbunuh dalam Kekacuan Aceh di Indonesia. korban sipil terbesar berasal dari Aceh Utara (110). Kontras Aceh.menegaskan bahwa mereka semua non-pejuang.

“Tugas kami adalah untuk menghancurkan kemampuan militer GAM. 24 Diluar sifat dasar terpadu operasi.” Wawancara dengan Ryamizard Ryacudu. Kepala TNI Ryamizard Ryacudu menyatakan dalam sebuah wawancara. Banyak dari November 2003. meskipun mereka dikenal dengan reputasi buruk karena keterlibatan mereka dalam pelanggaran hak asasi manusia sepanjang kepulauan ini. Kostrad dapat dikenali melalui baret hijau mereka dan sebagai pasukan tentara khusus TNI. agama. 2 Juni 2003. Tetapi sejauh ini sejak propinsi tersebut tertutup dari pengamat internasional independen. “Tidak Ada Daerah yang Bisa Melepaskan Diri: Time Asia. pendidikan – hal-hal tersebut bukanlah masalah militer Indonesia. No. diperkirakan 28. yang cenderung lebih terlibat dalam operasi militer. Vol. Kesatuan tempur yang kuat dari kekuatan militer Indonesia telah disebar di Aceh. Dalam kampanye militer tebesar militer Indonesia sejak penyerbuan ke Timor Timur. efektifitas dan kekuasaan programprogram non-militer akan sulit untuk dinilai. Operasi terpadu ini disusun sebagai usaha untuk memenangkan perang dengan GAM sekaligus memenangkan hati dan pikiran penduduk lokal. 15. meskipun hanya dengan satu kesaksian saksi mata. sering bekerja bersama-sama dengan unit militer.24 Suatu ukuran dari peran utama operasi militer dalam operasi terpadu ini adalah luasnya cakupan upaya militer. kesaksian yang dikumpulkan dalam laporan ini memperjelas bahwa operasi militer lah yang mempunyai pengaruh terhebat terhadap penduduk sipil. 10 (C) .000 polisi (kebanyakan dari mereka menjalankan fungsi paramiliter) telah disebarkan propinsi tersebut untuk berperang melawan sekitar 5. April 1999. yang mengenakan baret merah. sub-regional (Korem) dan regional (Kodam). adalah spesialis dalam pengumpulan intelijen dan operasi khusus dan dianggap sebagai kebanggan pasukan tentara. Unit “non-organik” dikirim dari bagian lain Indonesia termasuk battalion infantri dari propinsi lainnya.000 senjata. Kopassus. kabupaten (Kodim).25 Pasukan polisi termasuk polisi lokal. fokus yang berlebihan telah ditempatkan pada operasi militer. Brimob. Malaysia. Unit tentara termasuk ‘organik’ atau kekuatan berbasis lokal tingkatan kelurahan (Koramil). pada tingkatan kecamatan (polsek) dan propinsi (Polda) dan unit brigadir mobil polisi paramiliter. dan pemerintah daerah. “Militer Indonesian dan Militia Sipil di Timor Timur” Backgounder Human Rights Watch. Lihat Human Rights Watch. atau “pasukan khusus”. 25 13 Human Rights Watch. Penyelenggara Darurat Militer di Aceh. TNI akan menempatkan bukti bahwa korban tersebut adalah anggota GAM. Beberapa orang Aceh di Malaysia menyatakan bahwa sesudah membunuh seorang warga sipil. 26 Oktober 2003. Tetapi usaha apapun yang bisa dilakukan pemerintah Indonesia untuk membatasi kengerian perang bagi penduduk sipil.Pengenaan darurat militer berarti bahwa semua instrumen pemerintah sekarang berada di bawah kontrol militer. yang menurut pemerintah Indonesia termasuk komponen-komponen militer. penegakan hukum kemanusiaan. kesejahteraan sosial. mengawasi semua aspek dari operasi ‘terpadu’ Indonesia di Aceh.000 pasukan dan 12. Wawancara Human Rights Watch dengan seorang laki-laki berusia empat puluh-an (nama disembunyikan).000 pemberontak GAM dengan 2. Mayor Jenderal Endang Suwarya. persoalan keadian. otonomi. sebagaimana juga kekuatan Kostrad dan Kopassus untuk membantu pengumpulan operasi dan intelijen.

Angkatan laut. pertempuran jalanan. Human Rights Watch. 15. kapal-kapal tempur dan helikopter. udara dan marinir Indonesia juga sudah memainkan peran dalam kampanye melalui penyerbaran kapal-kapal perang. Tapol. Korem Teuku Umar di Banda Aceh dan Korem Lilawangsa di Lhokseumawe. Marinir dan Kopassus. Aceh mempunyai dua Korem.26 Meskipun konflik dapat mengambil tempat dimanapun. Bulletin Online 159. strategi penyergapan dan teknik-teknik tembak-untuk-bunuh. Brigadir Jendral Goerge Toisutta tersebut pada bulan November sebagai komandan operasi militer dibawah Darurat Militer untuk TNI di Aceh. termasuk Kostrad. 26 “Kopassus BErsiap Menumpas Pemberontak Aceh. barisan terdepan perburuan GAM adalah pegunungan dan hutan. No. pertempuran di daerah hunian. Desa-desa dalam atau dipinggir daerah-daerah ini secara khusus cenderung terjebak didalam peperangan mereka. Sebagai tambahan. Satuang tugas menurut laporan telah dilatih oleh Kopassus dalam peperangan anti-gerilya. atau Kodam. 10 (C) 14 . Kodam Iskandar Muda dikepalai oleh Mayor Jenderal Endang Suwaryo. yang menjadi bagian dari komando yang lebih luas yang berpusat di propinsi tetangga Sumatera Utara. untuk Aceh. menggantikan Mayor Jendral Bambang Darmono.” The Jakarta Post. satuan tugas Rajawali beroperasi di unit pasukan peleton yang dibentuk dari pasukan yang berasal dari cabang dan wilayah yang berbeda.mereka telah dikirim dari luar Aceh untuk membantu operasi (dikenal sebagai BKO atau Bawah Kendali Operasi. yang juga sekarang menjadi penyelenggara Darurat Militer. pasukan pembentu yang penting) Pada tahun 2002 penguasa militer menciptakan komando regional baru. Vol. kapal amfibi. tank-tank. September 2000. pasukan terjun payung. 17 April 2001.

Dua orang yang berada dalam bus ditahan: satu di Alue Ie Puteh di Aceh Utara. 15 Human Rights Watch. Pada hari dimana (presiden) Megawati 27 28 “TNI Berencana untuk Menyusun Ulang Penyebaran Pasukan di Aceh. tetapi mereka pada dasarnya personil yang ramah dan bersahabat.” The Jakarta Post. Sebagaimanya yang dikatakan bekas aktifis mahasiswa. Air mata kami semua sudah kering.28 Dimulainya kampanye militer Indonesia di Aceh dalam bulan Mei ditandai dengan pertunjukan kekuatan besar-besaran. yang kembali ke Aceh dari Malaysia pada bulan Maret ketika the COHA diberlakukan. Wawancara Human Right Watch dengan laki-laki berusia empat puluh dua tahun (nama disembunyikan). di Langsa (Aceh Timur)… Saya menelepon rumah tanggal 5 Oktober dan pos TNI yang berada di dekat rumah Saya sudah bertambah dari satu pos menjadi tiga pos – kami berada dekat pegunungan. tahun 1998. Penjelasan atas kampanye tersebut diterangkan sebelum pernyataan resmi Darurat Militer. seorang laki-laki duapuluh lima-an. Vol. Seorang laki-laki berusia dua puluh lima tahun. 26 Juli 2003.000 polisi yang bertugas “menumpas” GAM. kartu identitas. yang lainnya. Saya pergi dari Aceh ke Medan dengan minibus. Pada saat itu Saya sedang berada di Kecamatan Samalanga. Saya berharap untuk menetap selama enam bulan. No.27 Kami tidak menangis. —Laki-laki Aceh berusia empat puluh tahun. tetapi sesudah tiga bulan. Saya pulang ke rumah secara sukarela. kepada Human Rights Watch: Sudah jelas apa yang akan terjadi. Bom sonik dan peragaan udara oleh Angkatan Udara Indonesia memang jadi sekedar untuk pertunjukan. tetapi mereka juga menggambar-gemborkan penyebaran sekitar 28. darurat militer datang. dengan militer Indonesia memamerkan pasukan dan perlengkapan terbaik mereka didepan pers dunia. 10 (C) .000 pasukan dan 12. Kami bahkan tidak bisa menangis lagi dengan trauma yang kami alami hari ini. —Juru bicara untuk administrator daurat militer Kolonel Ditya Soedarsono. Kabupaten Bireun. 5 November 2003. menggambarkan usahanya untuk meninggalkan propinsi tersebut: Saya datang kesini (Malaysia) ketika segalanya pertama kali meledak. tujuan. Bis Saya harus menunggu dua puluh menit untuk lewatnya iring-iringan truk tentara sebanyak tigapuluh lima truk. setiap hari di Aceh. Malaysia. 15.Hidup di bawah Darurat Militer Harus dimengerti bahwa para pejabat kami berprilaku cukup agresif di mata umum. yang meninggalkan Aceh dua minggu sebelum darurat militer dimulai. menuju ke Barat… Pada tempat pemeriksaan mereka memeriksa tas-tas. Keadaan hanya sedikit aman selama periode tersebut. Bulan Maret 2003. Sudah terdapat banyak TNI.

pemeriksaan dokumen. militer membawa artileri berat dalam posisi untuk menyerang basis pemberontak.” Associated Press.mengumumkan darurat militer secara resmi… TNI datang ke Aceh. lebih dari 21. No. yang dimaksudkan untuk mengurangi korban sipil. Orang bilang di Samalaga terdapat tiga buah tank. 24 Oktober 2003.30 Hari-hari sesudah pernyataan Darurat Militer. Saya sedang menanm padi. Saya bisa mendengarkannya dari desa Saya. TNI datang mencari GAM. Banyak yang sudah diancam. intensifikasi operasi intelejen. 28 Oktober 2003. Saya tidak bisa tinggal di Aceh lagi. termasuk unit-unit yang lebih kecil disebarkan dalam pencarian kepemimpinan GAM yang kebanyakan tidak sukses. Begitu banyak hal yang telah terjadi. 32 31 Dean Yates. 29 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia dua puluh lima tahun (nama disembunyikan). (datang_ dari laut. Mereka yang dari laut (datang) dari laut. Perlengkapan untuk Memerangi Pemberontak Aceh. Teman-teman Saya dipukuli oleh militer. 10 (C) 16 . 26 May. Enam jet tempur lewat di atas kepala Saya. 26 May 2003.32 Pada akhir Juli. Vol. Bahkan pembicara-pembicara Indonesia sering menggunakan istilah bahasa inggris “sweepings”.000 orang sipil meninggalkan rumah-rumah mereka. “Indonesia Melancarkan Aceh Kampanye Melawan Pemberontak. 30 “Indonesia Memindahkan Pasukan. Traumanya terlalu banyak. bertanya-tanya seandainya Saya akan hidup atau mati. Human Rights Watch.31 Operasi termasuk patroli yang luas dan ‘penyapuan’ (sweeping). Tapi kami katakan kepada mereka bahwa tidak ada GAM disana – yang mati hanyalah sapisapi dan ayam-ayam.29 Seorang laki-laki dari Aceh Tengah yang tiba di Malaysia di awal Agustus mengatakan pada Human Rights Watch: Saya meninggalkan Aceh karena terdapat pertempuran dan tembakan senjata setiap hari antara TNI dan GAM di segala penjuru Aceh. dan meningkatkan operasi di waktu malam. taktik yang dirancang untuk mengindentifikasikan separatis atau pendukung mereka melalui pencarian kendaraan. Malaysia. Pagi berikutnya terdengar suara peluru dan ledakan. 15. pejabat militer mengumumkan beberapa perubahan terhadap strategi tersebut. dan pencarian secara sistematis dari satu desa sesudah desa lainnya. 2003. lebih banyak patroli kerjasama militer dan polisi untuk membatasi gerakan para pejuang GAM.” Reuters. kendaraan amphibi. Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki limapuluh tujuh tahun (nama disembunyikan). mereka yang dari laut. peluru-peluru di sawah.

Dari hari pertama sudah ada perasaan baru. Malaysia.34 Seorang laki-laki yang meninggalkan Aceh pada 5 Oktober menjelaskan: Saya meninggalkan Aceh karena kemanan menurun. ketika mereka membangun pos di desa. Sebagaimana seorang perempuan yang tiba di Pidie pada tanggal 25 Oktober menjelaskan: Konflik ada disana. TNI mencari GAM. karena kami trauma. 10 (C) . No. satu kelompok. Vol. kami dipukuli. sekitar tiga puluh tentara. kemudian mereka turun kebawah selama dua hari untuk mengambil makanan dan beristirahat. sebelum naik ke atas lagi. 17 Human Rights Watch. jika GAM tidak ditemukan mereka menyerang penduduk. Pasukan keamanan tinggal disana sekarang. 26 Oktober 2003. TNI akan sering masuk desa. dengan pos-pos militer setiap dua kilometer. khususnya jika desa tersebut berada di tepi peguningan seperti desa kami. Beberapa narasumber menjelaskan bahwa padahal kesatuan-kesatuan tentara sebelumnya hanya datang ke desa sekali seminggu. istri dan keluarga Saya sudah mengatakan pada Saya untuk pergi… Mereka (TNI) “suka-suka tembak”. tidak peduli kami melakukan sesuatu yang salah atau tidak. Teman-teman kami sekarat akibat konflik. di dalam semua dusun kecil. 34 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh lima tahun (nama disembunyikan). Biasanya mereka akan menghabiskan waktu satu minggu di pegunungan.. 27 Oktober 2003. 33 Wawancara Human Right Watch dengan perempuan berusia tigapuluh-an (nama disembunyikan). Mereka membangun pos-pos tepat di desa-desa. Malaysia. Mereka membunuh kami seperti semut. kontak antara orang sipil dan militer sekarang adalah kejadian sehari-hari. Hampir semua orang yang diwawancarai oleh Human Right Watch berbicara tentang pos-pos keamanan baru yang didirikan oleh TNI dan Brimob sejak dimulainya Darurat Militer. sampai sebulan yang lalu.Meningkatnya Kehadiran di Desa Gelombang pasukan tidak hanya untuk operasi tempur melawan pasukan GAM di pegunungan dan hutan. Seorang laki-laki berusia dua puluh lima tahun yang meninggalkan Aceh Selatan satu minggu sesudah Darurat Militer mulai menjelaskan: Dari hari pertama darurat militer. 15. Saya rasa Rajawali. Tentara-tentara tersebut takut pergi ke pegunungan. Jika kami tidak tahu dimana GAM.”33 Pelanggaran hak asasi manusia yang meningkat tajam sejak darurat militer dimulai bisa jadi sebagian disumbangkan dari meningkatnya kontak sehari-hari antara tentara dan penduduk desa. Meningkatnya kehadiran di desa-desa nampaknya bertujuan untuk membatasi dukungan materi dan moral dari penduduk lokal untuk GAM dan kemampuan GAM untuk mengambil pengungsi di desa-desa dan mengikutsertakan mereka dalam pengerahan.

Seorang laki-laki yang masih muda di Aceh akan dipandang dengan kecurigaan dan beresiko. Tetapi para pemuda yang tetap berada di desa seringkali dijadikan sasaran sebagai tersangka simpatisan GAM. Wawancara Human Rights Watch (nama disembunyikan). Vol. 39 Human Rights Watch. Kantornya ada di desa Saya. sudah belasan kali. Malaysia. senjata-senjata dan amunisi. 28 Oktober 2003. TNI mencurigai semua laki-laki muda sebagai GAM. dan informasi mengenai pemuda manapun yang meninggalkan desa. mereka datang hanya untuk membunuh kami. 10 (C) 18 . 38 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia dua puluh tahun (nama disembunyikan). “Dimana para lelaki?” Saya tidak berani tinggal di rumah. tetapi keluarga saya bilang jangan.Saya dipukuli dua kali… Tidak ada GAM di desa Saya sejak Darurat Militer dimulai. Saya mau pulang ke rumah untuk liburan. 28 Oktober 2003. Dalam beberapa kasus pencarian rumah-ke-rumah disertai dengan kekerasan secara fisik. Malaysia. 37 Seorang laki-laki berusia tigapuluh lima tahun yang tiba di Malaysia bulan Oktober dari Peuruelak. ke Eropa. Mereka tidak mengamankan Aceh. No. Seorang laki-laki muda memperkirakan bahwa pasukan keamanan sudah mendatangi rumahnya lima kali sebelum dia meninggalkan propinsi tersebut menyerangnya setiap kali. Mereka bertanya.35 Menjadikan Anak-Anak Muda Sipil Sebagai Sasaran TNI pernah pergi ke Amerika. Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia tigapuluh lima tahun (nama disembunyikan). Malaysia. 26 Oktober 2003. Mereka bilang. tetapi hanya sejak darurat militer dimulai. 36 37 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki Aceh berusia delapan belas tahun (nama disembunyikan). Aceh Timur menjelaskan: Dibawah darurat militer rumah seringkali dikunjungi. Malaysia. 15. Malaysia. “Saya orang biasa!” Mereka memukul dan menendang. Setiap hari di Aceh Saya harus melapor pada kantor TNI sehingga mereka bisa memeriksa bahwa saya tidak pergi dan bergabung dengan GAM. 36 —Perempuan Aceh berusia tigapuluh tahun Taktik pasukan kemanan Indonesia yang biasa adalah pencarian rumah-ke rumah terhadap anggota GAM. Mereka datang seminggu tiga kali. 38 Seorang laki-laki yang meninggalkan Aceh Utara ke Malaysia pada bulan Juni memberitahukan Human Rights Watch: Di Aceh. Dugaan sebelumnya adalah bahwa pemuda yang meninggalkan desa bergabung dengan GAM. 26 Oktober 2003. 23 Oktober 2003. ke Thailand dan berkata mereka mengamankan Aceh. “Kamu GAM!” Saya bilang pada mereka.39 35 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia dua puluh satu tahun (nama disembunyikan).

Setiap hari ada perang antara GAM dan TNI. Malaysia. sekitar dua puluh tentara.41 40 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia sembilan belas tahun (nama disembunyikan). Mereka memulainya jam 5 pagi. Saya sedang berada dekat kedai kopi. 9 Oktober 2003. karena akan ada operasi di pegunungan. karena orang-orang yang tinggal di sekitar pos komando militer tingkat kecamatan tidak dipaksa untuk bergabung. 23 Oktober 2003. sebelumnya mereka membangunkan kami melalui kepala desa dengan menggunakan mikrophon. Mereka datang ke desa. Tentara tersebut berasal dari Rajwali. orang tua Saya tinggal di Pidie. Mereka berasal dari usia sekolah sampai usia tiga puluh enam tahun. Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia empat puluh tahun (nama disembunyikan). 10 (C) . Vol. Jika TNI tidak menemukan GAM kami. semua anak muda pergi ke Banda Aceh. beberapa dari mereka menderita luka dalam. Saya seorang laki-laki jadi Saya dicurigai menjadi GAM. Dua kelompok lainnya tidak dipukuli. Sesaudah itu. 15.40 Seorang laki-laki dari Pidie memberitahukan Human Rights Watch tentang an assault oleh anggota satuan tugas Rajawali terhadap penduduk yang paling muda di desa: Kurang dari seminggu sesudah (Hari Kemerdekaan Indonesia) setiap orang diberitahukan untuk berkumpul di meunasah (tempat sembahyang). Akhirnya anak-anak muda tersebut diperbolehkan untuk pulang ke ruamh. diserang sebagai GAM. Mereka tidak menemukan GAM maka mereka memukul Saya. satuan tugas Rajawali datang ke desa… Tanggal 17 Agustus (Hari Kemerdekaan Indonesia) TNI memasuki desa mencari GAM. tetapi beberapa orang tua pingsan karena apa yang terjadi kepada anak-anak mereka. Malaysia. Saya mendengar mereka bertanya pada anak-anak muda tersebut mengenai GAM dan memukul mereka. Medan dan Kuala Lumpur. tetapi sepuluh orang harus pergi ke rumah sakit. perempuan dan anak-anak muda. satu perusahaan. No. Sekitar jam 8 malam. Lebih dari seratus orang disana dari desa-desa (nama dihilangkan) di semua Kecamatan Mila.Seorang laki-laki lain memberitahukan Human Rights Watch kenapa dia datang ke Malaysia: Seluruh keluarga Saya tetap tinggal. orang-orang. Batalion 113. Kami dipisahkan antara laki-laki. Kelompok anak muda sekitar tiga puluh orang. Saya anak satu-satunya. Mereka kemudian memaksa orang-orang untuk bergabung dalam perayaan Hari Kemerdekaan. 41 19 Human Rights Watch. Ada sekitar empat puluh tentara. dan mereka dibawa ke lapangan sekolah di sebebelah.

Pelanggaran Hak Asasi Manusia dan Hukum Kemanusiaan Pasukan Indonesia dan GAM di Aceh terikat oleh hukum kemanusiaan internasional (juga dikenal sebagai hukum perang). 44 45 43 42 Wawancara HumanRights Watch (nama disembunyikan ). penyiksaan. Vol. No. Jika tidak ada kami tidak bisa tidur. Hukum internasional hak asasi manusia berlaku selama konflik bersenjata internal. Meskipun Indonesia bukan bagian dari Protokol II. —Laki-laki Aceh berusia delapan belas tahun. setiap saksi mata pembunuhan semacam itu di Aceh memberitahukan Human Rights Watch bahwa Indonesia menjadi bagian dari Konvensi Geneva tahun 1958. bahkan selama keadaan darurat (state of emergency). Terbunuhnya para pejuang dalam pertempuran dianggap sebagai pembunuhan yang sah secara hukum dibawah hukum kemanusiaan internasional. Konflik di Aceh dianggap sebagai konflik bersenjata non-internasional (internal). Human Rights Watch. Suatu eksekusi extra-judicial (atau eksekusi kilat) adalah pembunuhan yang tidak sah menurut hukum dan disengaja atas seseorang oleh alat negara. 10 (C) 20 . penyembelihan. pengambilan sandera. Malaysia. pada khususnya perlakuan penghinaan dan penurunan martabat. penghilangan secara paksa.43 Pembunuhan Diluar Hukum (Extrajudicial Killings) Kami terbiasa mendengarkan suara tembakan. untuk dimana hukum yang diterapkan termasuk pasal 3 dalam empat konvensi Geneva pada tahun 1949 dan hukum adat perang. penghukukan tanpa peradilan yang adil. 28 Oktober 1992. dan pembatasan yang tidak perlu terhadap kebebasan bergerak.42 Pasal 3 yang lazim disediakan untuk perlakuan berperikemanusiaan terhadap orang sipil dan mereka yang tidak ikut ambil bagian secara aktif dalam permusuhan (termasuk penangkapan anggota pasukan senjata lawan). Ini termasuk pelarangan eksekusi (extrajudicial executions). 15. pasukan kemanan Indonesia sudah melakukan eksekusi extra judicial yang tidak diketahui jumlahnya terhadap orang sipil yang tidak bersenjata di Aceh. Meskipun Indonesia bukan bagian dari Konvenan Internasional mengenai Hal-Hak Sipil dan Politik dan perjanjian hak asasi manusia yang penting lainnya. dan eksekusi kilat. Yang selamanya dilarang adalah pembunuhan. banyak –kalau tidak bisa dibilang semua-pernyataannya merefleksikan hukum adat perang.45 Sementara pembunuhan extra-judicial terhadap siapapun – tidak perduli orang sipil atau pejuang– adalah pelanggaran serius terhdap hukum internasional. hak mendasar yang ditemukan didalamnya dinyatakan sebagai bagian dari hukum adat internasional. perlakuan kejam dan penyiksaaan. Hak hidup dan kebebasan yang mendasar tidak boleh dilanggar. upon. penangkapan dan penahanan secara sewenang-wenang. Juga tersedia adalah Protokol Tambahan kedua tahun 1977 pada Konvensi Kovensi (Protokol II).44 Sejak dimulainya Darurat Militer. Yang juga dilarang adalah tindakan atau ancaman kekerasan terhadap penduduk sipil yang menyebarkan terror atau pemindahan penduduk sipil secara paksa tanpa keperluan militer. Aturan dasar hukum kemanusiaan adalah bahwa penduduk sipil serta secara perseorangan tidak boleh menjadi sasaran penyerangan. kebiadaban terhadap martabat seseorang.

13. 25 Mei 2003. Jika Saya menabrak ayam dengan mobil Saya maka Saya harus membayar.” Lihat Human Rights Watch. 10 (C) . diikuti oleh pemukulan. Tiga orang lainnya menyaksikan tentara menembak ke arah orang sipil yang tidak membawa pada kematian secara langsung.49 Seorang laki-laki Aceh dari Lhokseumawe. No. meskipun demikian mereka yang diwawancarai seringkali menyatakan dengan percaya diri bahwa tetangga atau kenalan mereka bukan anggota GAM. Hal ini konsisten dengan temuan seorang jurnalis Australia yang mengunjungi lima desa dimana terdapat penembakan-penembakan dalam minggu pertama darurat militer. tidak bersenjata. 47 48 Protokol II. Para keluarga boleh jadi diberatuhkan sesudahnya oleh para tentara untuk mengambil dan memindahkan tubuh korban untuk dikuburkan. kematian mempunyai pola. Nampaknya terdapat dua jenis ekesekusi yang baru-baru ini terlihat mengambil tempat di Aceh. Wawancara Human Rights Watch (nama disembunyikan). Selama pembersihan ini laki-laki dipilih and ditembak. Laporan Human Rights Watch vol. 28 Oktober 2003. Jenis pertama secara khas terjadi ketika pasukan memasuki desa selama periode yang disebut sebagai “operasi sweepinga”.48 Pembunuhan diluar hukum lainnya terjadi ketika pasukan keamanan mengambil seseorang untuk ditahan – dan mayat mereka kemudian ditemukan atau mereka tidak pernah terdengar lagi. 49 21 Human Rights Watch. tujuh orang secara langsung menyaksikan eksekuso kilat (summary execution) atas orang sipil oleh pasukan keamanan Indonesia sejak dimulainya darurat militer. pasal 13. secara khusus melarang “tindakan atau perlakuan kekerasan yang tujuan utamanya adalah untuk menyebarkan teror diantara penduudk sipil. sebelum pembatasan media diperketat: “Interogasi. Pakaian seseorang sama sekali tidak berhubungan dengan keanggotaan mereka.” Mathew Moore. “Di Aceh. No.47 Jenis kedua pembunuhan yang terlihat adalah tembakan kepada orang sipil saat pasukan keamanan Indonesia meninggalkan tempat. serta tidak ada usaha untuk menyembunyikan eksekusi tersebut.46 Dari delapan puluh lima orang Aceh yang diwawancarai Human Rights Watch di Malaysia. Tiga orang lainnya menemukan mayat orang sipil (dalam dua kasus adalah anggota keluarga mereka sendiri) yang kurang lebih dekat dengan operasi militer. kemudian eksekusi kilat.korban bukanlah anggita GAM. dan berpakaian sipil pada saat hukuman mati dilakukan. “Indonesia: Perang di Aceh”.4 (c). Vol. Sifat dasar yang umum dan disengaja dari pembunuhan semacam ini memberi kesan bahwa mereka mencoba mengirimkan peringatan untuk menghalangi penduduk desa untuk mendukung GAM. Pembunuhan Kilat (Summary Killings) Selama Operasi Sweeping Hidup tidak mempunyai nilai disana. adalah pola yang muncul dalam serangan militer Indonesia terhadap pemberontak Aceh. meskipun angota-anggotanya memakai pakaian sipil ketika berada di daerah sipil. Tetapi hidup seseorang –siapa yang membayarnya? —Laki-laki Aceh berusia delapan belas tahun. Aceh Utara menceritakan suatu peristiwa di bulan Mei: 46 Para pejuang GAM pada umumnya mengenakan seragam. Beberapa orang lainnya menggambarkan penculikan oleh TNI berakhir dengan kematian. Agustus 2001. 15.” The Age (Australia).

tetapi Saya melihat tubuh mereka langsung sesudahnya. Mereka tidak mengancam para penduduk desa. Tiga orang tentara. Tentara yang menembaknya kemudian mengatakan kepada para penduduk desa disana untuk mengambil tubuhnya kembali ke desa. Seakan-akan lengannya berubah menjadi daging mentah. Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh lima tahun (nama disembunyikan). bulan Mei. Seorang yang dibawa pergi sudah tua. Mereka tidak peduli siapa yang mereka beritahukan. Malaysia. Namanya Jamal. sampai dia mati. Mereka sedang memeriksa siapa laki-laki tersebut kepada orang-orang. Para tentara di desa kami (nama disembunyikan). GAM semuanya ada di pegunungan. Mereka bertanya kepada setiap orang. Namanya adalah Ibrahim dan dia berusia limapuluh lima tahun. Mereka menyeret laki-laki ini sepanjang jalan. di awal dua puluh-an. umur tujuh belas tahun. tetapi para tentara tersebut selalu ada di desa mencari-cari GAM. No. Begitulah dalam tujuh hari tersebut… Dua orang ditembak di rumah mereka dan seorang dibawa pergi oleh Brimob pada tengah hari. Para tentara berkata bahwa dia adalah tersangka GAM.51 50 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia empatpuluh tahun (nama disembunyikan). Saya melihat salah satu dari tentara tersebut memborgol pergelangan laki-laki ini. Saya berada sekitar dua puluh meter dari sana.Pada awal darurat militer. Saya sedang berada di rumah. Vol. Mereka bertanya kepada Saya. Pada awalnya Saya hanya melihat tiga tentara tetapi kemudian yang lainnya berganung. Saya melihat tiga puluh petugas Brimob disana. 26 Oktober 2003. apa pekerjaannya? Mereka memeriksa namanya kepada orang-orang. Dia masih muda. saat itu pagi-pagi sekali. Mereka kemudian bertanya siapa yang terlibat dalam GAM. Pada hari ke-empat. Istri dari laki-laki pertama mengatakan bahwa mereka masuk dan bertanya pada suaminya apakah dia GAM. Lalu mereka menembaknya. 15. Yang kedua kurang lebih sama ceritanya. Tentara tersebut melakukannya beberapa kali sehingga kepada laki-laki tersebut membentur pohon. setidaknya lima puluh tahun. 51 Human Rights Watch.50 Seorang berusia duapuluh lima tahun yang meninggalkan Aceh Selatan satu minggu sesudah darurat militer memberitahukan Human Rights watch mengenai minggu pertama darurat militer: Pada tujuh hari itu mereka terus membunuh orang-orang tak bersalah. “Kamu tahu siapa laki-laki ini?” Jika Kamu berkata kau tidak tahu siapa dia Kamu dipukul. Malaysia. Otaknya keluar dari kepala laki-laki terebut. Tubuhnya dihancurkan. Mereka orang biasa. pukul 3 sore. 10 (C) 22 . Dan lalu mayatnya diletakan di atas tanah dan tentara lainnya menembak beberapa kali kepada mayat tersebut. “Kamu tahu siapa laki-laki ini?” Saya bilang “Ya”. dan kemudian tentara lainnya memegang kakinya dan mengayunkannya ke arah pohon.dia Yusuf. 23 Oktober 2003.

Ada beberapa jenis tentara disana. Tentara lainnya lalu menembaknya di kepala dan lagi di bagian kanan atas tubuhnya dengan senapannya.Seorang laki-laki di usia duapuluh-an memberitahukan Human Rights Watch mengenai eksekusi kakak laki-lakinya seminggu sesudah pernyataan darurat militer: Kakak Saya – dia hanya orang biasa – ditembak. Jam 6 pagi. Seorang tentara memanggilnya dan menanyakan sesuatu kepadanya. 15. dia tidak bersenjata. dia bangun untuk mengambil wudhu sebelum sembahyang. Kakak Saya ditembak di rumah kami. Tidak ada satu pun jadi mereka menembak warga kampung akhirnya. Mungkin jawabannya salah. tetapi pada akhirnya tidak ada GAM. sekitar duapuluh tahun-an. dia hanyalah orang biasa. Para tentara kemudian pergi. Dia keluar dan mereka segera menembaknya. Malaysia. Kamu tidak bisa keluar kemanapun. Saya meninggalkan Aceh pagi berikutnya. Dari jam 6 pagi sampai 6 sore Kamu tidak bisa keluar. 53 23 Human Rights Watch. 31 Oktober 2003. di belakang mereka Saya tidak tahu. sekitar duapuluh orang tentara yang terlihat. Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia dua puluh tahun *nama disembunyikan).52 Seorang laki-laki dari Peureulak. Kakak Saya berumur tiga puluh lima tahun. Saya tidak mendengarnya. Kakak Saya ditembak ketika dia sedang mengumpulkan rumput untuk sapi jam 6 pagi dua bulan yang lalu. Waktu itu pagi hari dengan sweepings GAM sebagai alasannya. ada kejadian.53 Seorang laki-laki berusia duapuluh lima tahun yang juga dari Peureulak di Aceh Timur bercerita tentang penembakan kakak laki-lakinya pada akhir Juli: Sejak darurat militer dimulai segalanya menjadi panas. Begitu tentara tersebut selesai menembak dia memerintahkan penduduk kampung untuk menguburkan tubuh tersebut. beberapa dari daerah sana dan beberapa dari luar. Hanya ketika mereka pergi saya baru bisa melakukannya. Saya berada sekitar seratus meter jauhnya. Mereka mencari-cari GAM. Saya melihatnya melalui jendela. Mereka bertanya kepada penduduk di kampung. Laki-laki itu bukan GAM. Tentara-tentara datang ke kampung mencari GAM. Vol. 10 (C) . Ada seorang laki-laki. pergi untuk mencari GAM di tempat lain. Peureulak. menggambarkan pembunuhan di bulan Agustus: Sekitar dua bulan yang lalu (nama dihilangkan). Saya sedang di rumah Saya. Aceh Timur. Saya segera bangun. TNI memasuki kampung. Ada lebih dari limapuluh orang. No. Saya melihatnya sendiri. dan dia mempunyai istri dan dua orang anak. Saya mau membawa tubuhnya kedalam tetapi Saya tidak bisa. tetapi GAM tidak ada disana. 26 Oktober 2003. Malaysia. sebuah M16. Kakak saya sedang 52 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki di usia duapuluhan (nama disembunyikan).

khususnya laki-laki muda. dan anggota GAM diminta menyerahkan diri. (Kejadian) ini sekitar dua bulan sesudah darurat militer. Orang-orang ditendang dan ditinju. 31 Oktober 2003.30. jam 9 pagi.55 Human Rights Watch mempelajari empat peristiwa ketika tentara Indonesia menembak laki-laki muda yang sedang berlari ke sawah atau hutan untuk menyembunyikan diri dari tentara selama operasi sweeping. sampai jam 11. 15. Anak laki-lakinya datang ke rumah Saya dan bilang. Sesudah para tentara pergi Kami menguburkan mayat mereka. 55 Human Rights Watch. tetapi saksi 54 Wawancara Human rights Watch dengan laki-laki berusia tigapuluh lima tahun (nama disembunyikan). Saya ada di rumah. Anak laki-lakinya bilang bahwa dia melihat tiga tentara dengan samaran datang untuk melihat tubuhnya jam 6. Tiga jam kemudian. Saya rasa mereka semua dari Kodim tetapi Saya tidak yakin. lari dan bersembunyi ketika tentara memasuki desa mereka. Malaysia. Kami tidak diperbolehkan mendekati mayat-mayat tersebut.54 Human Rights Watch juga diberitahu mengenai dua peristiwa yang mana para penghuni dikumpulkan bersama untuk ditanyai dan membawa pada kematian. dia kakak Saya. Dua orang dibunuh.” “Kuburkan dia!” Lalu mereka kembali ke kota. 10 (C) 24 . Mereka menanyai kami tentang GAM. Orang-orang diberitahu untuk berkumpul oleh TNI. Vol. Kami (berjumlah) sekitar 300 orang. banyak penduduk desa. Apakah mereka berusaha melarikan diri semata-mata karena mereka takut diperlakukan tidak semestinya atau karena mereka anggota GAM tidak jelas. Mereka bertanya. sesudah dua jam. 28 Oktober 2003. No. menggambarkan pembunuhan dua laki-laki yang tidak bersenjata dalam pakaian sipil: Pukul 5 di pagi hari TNI datang dan mengepung kampung. meskipun mereka bukan dari kampung kami. Sesudah mereka keluar dari hutan mereka mengumpulkan semua orang. “Bapak ditembak orang tak dikenal” Dia ditembak sekali di kepalanya dan sekali lagi di sebelah kirinya. di Aceh Utara. Seorang tentara menembak mereka berdua dengan M16. dekat kandang. Karena tingginya tingkat ketakutan di Aceh terhadap pasukan keamanan Indonesia. Dia memakai seragam hijau dan topi hijau. dua belas tentara keluar dari hutan di dekat sana. Saya tidak tahu nama mereka karena mereka dari kampung lain. Malysia.mengumpulkan rumput untuk sapi. Saya berada jauh dari lapangan tersebut (dua puluh lima meter). Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia dua puluh tahun (nama disembunyikan). Sesudah itu kami ditanyai. Saya sedang di sekolah ketika kami diperintahkan untuk berkumpul di lapangan sepak bolah dekat pantai. Ada sekitar lima puluh orang. “Siapa dia? Kalian tahu dia? Apakah dia GAM?” “Bukan. Mereka menahan kami disana selama empat jam. Seorang berusia dua puluh tahun dari desa di pinggir Lhokseumawe. Saksi menggambarkan kepada Human Rights Watch bagaimana beberapa laki-laki ini ditembak ketika berusaha melarikan diri.

Kopassus. Dia bukan GAM. Jika kamu tidak lari Kamu dipukuli… Seorang laki-laki bernama Simus. Aceh Timur. Wawancara Human Rights dengan laki-laki berusia empatpuluh tahun (nama disembunyikan). tiga strip lebih mengindikasikan prajurit kelas pertama. sekitar waktu sembahyang. Dia ditembak. Mereka menembaknya di pinggul – Saya hanya berada lima meter darinya. Saya sedang ada di rumah Saya dan Saya mendengar suara tembakan. Sesudah itu Saya pergi. Malaysia. Dia bangun dan terus berlari. satu bulan sebelum dia tiba di Malaysia: Jika Kamu lari Kamu ditembak.30 pagi atau sekitarnya. tetapi Saya lihat ketika keluarganya membawa mayatnya pergi. dan kami berlima bersembunyi di 56 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia dua puluh tahun (nama disembunyikan) Malaysia. Sesudahnya delapan orang tentara membawanya ke pos TNI di desa itu.56 Seorang laki-laki yang tiba di Malaysia pada akhir bulan Mei mengggambarkan seorang laki-laki ditembak ketika melarikan diri: Saat itu lima hari sesudah darurat militer dimulai. jadi Saya pergi keluar. Saya rasa dari Jakarta. sekitar jam 9 pagi. menggambarkan suatu peristiwa yang terjadi akhir September.57 Tidak semua penembakan membawa pada kematian. 57 58 Meskipun terdapat variasi pasukan keamanan yang luas dan lencana yang hadir di Aceh. 28 Oktober 2003. Saya tidak melihatnya saat dia meninggal. No. di desa (nama dihilangkan). 25 Human Rights Watch. juga menggambarkan kematian lain hari tersebut: Seorang berusaha lari ketika kami pertama kali diberitahu untuk berkumpul.58 Kami berlima lari melalui sawah menuju hutan. Sesudahnya dia dibawa ke pos untuk ditanya oleh TNI. Mereka tiba khusus untuk darurat militer. ditembak dari jarak tigapuluh meter. Sesudah dua malam TNI membunuhnya di pos mereka. yang menggambarkan (di atas) pembunuhan dua orang laki-laki sesudah para penduduk desa dikumpulkan. Mereka tentara non-organik. Saya takut hal semacam itu akan terjadi kepada Saya. Saya melihat seorang laki-laki berlari ke sawah. dia dari desa ini. Dia berusia sekitar tigapuluh tahun. Segera sesudahnya seorang tentara menembak kakinya. Saya melihat mereka mempunyai tiga strip merah.sekitar jam 6. Tentara dengan menyamar datang dalam beberapa kendaraan: Kostrad. usia dua puluh tiga tahun. Mereka menggunakan topi biru. Vol. Laki-laki berusia dua puluh tahun dari desa di pinggir Lhokseumawe. . 15. 31 Oktober 2003. Seorang laki-laki berusia duapuluh tahun dari Peureulak. Brimob. 10 (C) . kaki kananya. di Aceh Utara. tetapi mereka mencurigainya sebagai GAM.menggambarkan tampak sebagai lak-laki yang tidak bersenjata dan mengenakan pakaian sipil. sehingga dia tidak bisa lari lagi dan dia terjatuh.

mungkin Kostrad. seorang laki-laki memberitahu Human Rights Watch: Satu-satunya alasan Saya pergi adalah bahwa tidak ada jaminan keselamatan disana. Militer bertindak diluar sasaran operasinya. Mungkin TNI terlihat terlalu siap. Malaysia. Penduduk Aceh menjadi semakin terpolarisasi.hutan selama tiga jam. emosi mereka dikeluarkan kepada orang sipil. untuk ekonominya. sehingga orang-orang ketakutan. Vol. Tentara pergi keatas ke hutan. hasil dari tingkat kekerasan terhadap penduduk sipil di Aceh ini sepertinya menghasilkan efek yang berlawanan dari apa yang militer nyatakan dari strategi operasi terpadu. Human Rights Watch. Mereka melakukan sweepings. tabib itu mengeluarkan pelurunya. Lalu kami kembali –TNI sudah kembali ke kota. Saya sedang di desa di Perureulak. dia mencoba bergabung dengan GAM hanya saja dicegah oleh keluarganya (termasuk kakaknya yang melawan GAM): Orang tua Saya dipukul pada 17 Agustus 2002 (Hari Kemerdekaan Indonesia). Mereka mencari GAM. Saya baik-baik saja. Jika tidak ada GAM. Mereka meyakinkan Saya untuk menyumbang dengan cara lain untuk Aceh. 28 Oktober 2003. 27 Oktober 2993. Jadi Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh tahun (nama disembunyikan). Kami sedang duduk.bukan karena kami bersalah tetapi hanya ketakutan. No. dan dipaksa untuk bernyanyi. ditelanjangi. Malaysia. Saya hanya bersembunyi di pinggir hutan. Saya tidak lari. Sebagai contoh ada penembakan di awal bulan ini (Oktober). 10 (C) 26 . Seorang laki-laki berusia delapan belas tahun menjelaskan banwa sesudah dipukuli dan melihat orang tuanya diperlakukan tidak semestinya. Tingkat pelanggaran hak asasi manusia yang serius di propinsi tesebut serta kekebalan hukum yang menyertainya mendorong orang-orang memihak kepada GAM. Kekerasan terhadap orang sipil sudah melewati batas.60 Apakah dengan sengaja atau sewenang-wenang. ketika mereka kembali. Tetapi bagaimanapun peluru –itu menjadi trauma. 60 59 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh lima tahun (nama disembunyikan). minum kopi. 15.59 Dalam peristiwa yang sama di Aceh Timur di awal bulan Oktober. Mereka mengosongkan tempat peluru mereka –kira-kira berapa ya. Itulah kenapa orang-orang bergabung dengan GAM –untuk balas dendam. datang ke desa. Saya mencoba bergabung saat berusia enambelas tahun tetapi kakak dan orang tua saya mencegah Saya. dua dari mereka. penghilangan. inspeksi yang disertai “hukum militer”: pemukulan. Dia takut pergi ke rumah sakit jadi kami bawa dia ke tabib tradisional yang bekerja dengan pusat kesehatan. tidak ada orang yang terkena. Mereka mulai menembak. empat puluh tembakan? Mereka dari battalion non-organik dari Jawa. Orang-orang mulai berlarian.

Saya melihat mayatnya. Ketika dia berada di Aceh dia menyaksikan tentara TNI menculik seorang anak laki-laki berusia lima belas tahun: Saat itu tanggal 4 September sekitar jam 10 pagi.pada akhinya Saya hanya berdoa untuk kebebasan… Jika Kamu dipukuli tidak kah Kamu merasa butuh membalas dendam?”61 Masalah yang mendasar terletak pada kurangnya pertanggungjawaban di semua tingkat. Saya mau pulang. dia benar-benar panik. membuat identifikasi menjadi sulit. Mereka tentara non-organik dan berbicara dalam bahasa Indonesia dengan logat Jawa. anak laki-laki. “Kamu pasti mau memberikan ikan ini kepada GAM. Dia anak kecil. 28 Oktober 2003. yang lainnya tinggal di pasar.62 Dalam beberapa kasus mayat dibuang jauh dari rumah korban. Jawabannya tidak jelas. Tujuh tentara. Ada sekitar limabelas orang tentara TNI disana. Selama dua hari kami tidak tahu dimana anak itu berada. yang meninggalkan rumahnya di Banda Aceh sehari sebelum darurat militer. Dia pergi ke pasar untuk membeli ikan untuk ibunya. Seorang laki-laki berusia tigapuluh delapan tahun. Ada luka tembak di dahinya. bekas-bekas merah siksaan. untuk membeli buah. Malaysia. Dia diancam dengan senjata. memeriksanya karena dia membeli ikan. Dia masih usia sekolah. 15. dan tubuhnya dipenuhi bekas-bekas merah. “Tidak. TNI menghentikannya. Tujuh orang tentara memberhentikan seorang anak. mungkin sekitar limabelas tahun. Jadi tentara tersebut membawanya dan melemparkannya ke truk militer. menjelaskan bagaimana keluarganya menemukan mayat adik lelakinya: 61 Wawancara Human Rights Watch dengan seorang laki-laki berusia delapan belas tahun (nama disembunyikan). Bagian belakang kepalanya semuanya hancur. Pasar Ulee Glee. Penculikan yang Membawa Pada Kematian Pembunuhan lain terjadi diluar penglihatan para saksi. Tentara tersebut berkata. Seorang tentara berkata kepadanya. 29 Oktober 2003. Tujuh tentara tersebut mengenakan seragam samaran TNI. 27 Human Rights Watch. Seorang laki-laki Aceh yang sudah tinggal di Malaysia selama lima tahun kembali ke Aceh di bulan Agustus selama beberapa minggu untuk mengunjungi ayahnya yang sakit. Malaysia. No. Hanya satu. Kekebalan hukum tingkat tinggi yang ditingkatkan oleh selubung rahasia yang menyelubungi daerah konflik.” TNI menuduhnya dan mengancamnya.” Sesudah itu anak laki-laki tu benar-benar ketakutan. kamu mau memberikannya kepada GAM? Darimana kamu dapatkan ikan ini?” Anak itu menjawab. 62 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh lima tahun (nama disembunyikan). “Banyak ikannya. Kemudian mayat anak itu muncul dipinggir jalan. Saya berhenti di jalan di pasar. Saya mau memberikannya kepada ibu Saya. Vol. 10 (C) . tentara di lapangan yang melakukan tindak kekerasan dan pemerasan dengan hanya sedikit rasa takut akan dihukum.

Wawancara Human Rights dengan seorang laki-laki berusia enampuluh lima tahun (nama disembunyikan). Kontras Aceh. mayat tersebut akan dibawa ke rumah sakit atau klinik dan istilah yang digunakan oleh keluarga korban adalah saudara yang hilang.65 Di Aceh. dianiyai atau dibunuh. dalam beberapa kasus anggota keluarga atau tetangga dapat mengindentifikasikan mereka. 29 Oktober 2003. Malaysia. Dalam kasuskasus lainnya mereka tidak pernah terlihat lagi. 5 November 2003. meskipun mereka mewaspadai bahwa pelarangan terhadap monitoring menandakan bahwa perkiraan tersebut bisa jadi lebih rendah. Sementara aktor non-negara tidak bisa secara teknis melakukan “penghilangan”. Perang Kotor yang Tidak Terungkap. Dua hari kemudian mayatnya ditemukan di sawah. Vol. Saya memperoleh informasi ini dari keluarga Saya ketika Saya menelepon rumah. “Makalah Ringkas tentang Aceh: Propinsi Aceh. Sementara dalam banyak kasus para pelaku digambarkan sebagai orang tak dikenal. 15. menutupinya dengan pakaian.66 Seorang laki-laki berusia duapuluh tiga tahun dari Bireun menjelaskan: 63 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia tigapuluh delapan tahun (nama disembunyikan). No. Jika mayat tersebut dapat diidentifikasi maka akan dibawa ke keluarganya.63 Penghilangan Secara Paksa (Forced Disappearances) Selama tahun-tahun panjang konflik di Aceh. Dia ditahan dari rumahnya oleh TNI. di depan istrinya. Orang yang ditahan dengan cara demikian seringkali disiksa. GAM mempunyai sejarah melaksanakan penculikan. dan dibawa ke Koramil. penghilangan secara paksa seringkali terjadi sesudah pasukan kemanan atau orang-orang bersenjata tak dikenal mengunjungi sebuah ruamh di malam hari dan membawa korban pergi dengan kendaraan.” September 2003. Malaysia. 64 “Penghilangan” terjadi ketika penguasa menahan seseorang secara diam-diam dan tanpa pemberitahuan serta menyangkal bahwa orang tersebut dalam penahanan mereka. Praktek ini secara pouler digambarkan sebagai ambil malam. 65 66 Human Rights Watch. Sebagaimana hal itu didefinisikan dibawah hukum internasional. 10 (C) 28 . Seorang laki-laki dari daerah pesisir di Pidie menjelaskan bahwa ketika warga menemukan mayat mengapung di tepian pantai mereka memanggil Palang Merah Indoensia untuk mengevakuasinya. Seringkali mayat mereka yang “hilang” ditemukan di pinggir jalan atau di sawah berhari-hari atau berminggu-minggu kemudian. Jika tidak. Dia membawa mayatnya secara diam-diam ke rumahnya. (Nama dihilangkan) berumur duapuluh enam tahun. dan pembunuhan kilat. tanggal 27 Agustus 2003. dan di pagi hari dia pergi dan menemui Palang Merah Indonesia di rumah sakit untuk mengambil mayat tersebut dengan ambulans.Adik lelaki Saya terbunuh dua bulan lalu di Aceh Utara. Seorang saudara yang tinggal di desa dimana mayatnya ditinggalkan menemukannya dan mengenalinya. keduanya untuk tebusan dan alasan politik. pasukan keamanan Indonesia telah seringkali tersangkut “penghilangan”64 Organisasi kemanusiaan Indonesia Kontras cabang Aceh melaporkan bahwa dari tanggal 19 Mei sampai dengan 18 Agustus terdapat tujuhpuluh delapan penghilangan secara paksa orang sipil.

31 Oktober 2003. 10 (C) . Saya tidak tahu lagi dimana dia. Tiarma Siboro.” Associated Press. Saya pergi keluar ke pinggir lapangan dan menonton tiga truk tentara masuk ke desa.70 67 Satu strip merah sepertinya berhubungan dengan tingkat jabatan prajurit. “Komandan di Aceh Menyangkal Tuduhan Penyiksaan.67 Seorang laki-laki dari Pidie memberitahu Human Rights Watch: Saat itu lima hari sesudah darurat militer dimulai. satu persatu. tentara Saya menghantam tersangka di wajahnya. “Pengadilan Aceh akan Mengadili 7 prajurit. Vol. sehingga Saya bangun dan melihat melalui jendela. Seluruh kejadian itu hanya memakan waktu mungkin sekitar tiga pluh menit. Saya berada di rumah sebelahnya. Malaysia. Kami tidak tahu siapa mereka. 69 70 29 Human Rights Watch. Itu tidak masalah. 15.” The Jakarta Post. Mereka mengenakan samaran. 28 Oktober 2003. Selama dia mampu berfungsi sesudah ditanyai. 68 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh tahun (nama disembunyikan). ada Kopassus dan beberapa memakai topi hijau. Mereka membawa delapan orang malam itu. No. dan mereka yang melanggar peraturan pertempuran (rule of engagement) ini akan harus berhadapan dengan Saya. Commander Operasi Militer di Aceh.Situasi sekarang sangat menyeramkan. Lely Djuhari. 3 June 2003. 2 June 200369 Sebagai contoh. Setiap orang di desa yang dicurigai dibawa pergi di malam hari… Saya melihat seorang laki-laki dibawa pergi dari rumahnya hanya mengenakan pakaian dalam dan dimasukan kedalam truk. Rumah Saya sangat dekat dengan ruamhnya. November 2003. —Mayor Jendral Bambang Damono. Malaysia.68 Siksaan Fisik Tidak ada bedanya jika mereka anggota GAM atau bukan: tidak satupun dari tentara Saya yang berhak memukul mereka… Tentara Saya datang ke Aceh untuk melindungi orang sipil. Lalu Saya dengar seseorang menanyakan pada teman Saya (nama disembunyikan) mengenai kartu identitasnya. bulan Agustus. Sampai saat ini dia tidak pernah kembali. Wawancara Human Rights Watch (nama disembunyikan). dan beberapa dari mereka mempunyai strip merah. Saat itu ada bermacam-macam tentara. Saat itu sekitar jam 5 pagi dan Saya mendengar ketukan yang keras di pintu. Mereka adalah tentara yang baru saja tiba di Aceh untuk darurat militer ini. Mereka membawanya ke dalam truk TNI dan membawanya ke pos TNI. Jika itu adalah siksaan berat yang menyebabkan seseorang menjadi cacat… itu adalah tidak-tidak. 2 November 2003. Kejadiannya sekitar dua bulan yang lalu. —Mayor Jendral Bambang Darmono. Saya melihat sekitar limabelas tentara TNI membawanya dari rumahnya. semuanya laki-laki. Delapan orang tersebut tidak pernah terlihat lagi sejak saat itu – kami tidak tahu apa yang terjadi kepada mereka.

mengindikasikan ketidaksabaran atau ketakutan terhadap sasaran yang suka dipahami dan kegagalan untuk membedakan antara orang sipil dan oposisi bersenjata. Banyak orangorang Aceh yang dianiyai kami minta bicara untuk menjelaskan apakah mereka melakukan atau tidak sesuatu yang salah atau tak salah. Kamu akan dipukuli sampai mati.71 Dalam beberapa instansi. Suatu waktu seluruh orang didalam satu area berkumpul bersama. Korban seringkali digambarkan diinterogasi dengan tuduhan “Kamu adalah GAM!” atau pertanyaan “Siapa yang GAM? Dimana GAM?” Sering kekerasan ini terjadi selama operasi sweepings di desa-desa. dari beberapa desa. 10 (C) 30 . Jika Kami sedang duduk-duduk seperti ini di Aceh. Jika Kamu tidak mau berlatih. Banyak kekearan ditujuan kepada orang sipil nampak diimaksudkan untuk mengidentifikasi anggota dan pendukung GAM. 15. Dalam kasus-kasus lainnya kekerasan nampak menjadi sangat sewenang-wenang. No. Dua kali ini terjadi.30 pagi sampai dengan jam 2 sore. Seorang laki-laki yang tiba bulan Oktober dari Pidie menggambarkan peristiwa dimana TNI dan Brimob mengumpulkan dan menyerang penghuni. perempuan. Vol. anak-anak. tujuhpuluh dua orang dibawa ke rumah sakit umum di Sigli. tua dan muda. berdasarkan tegangnya tingkah dan kecurigaan tentara dan petugas polisi. Saat mereka membolehkan kami beristirahat. atau untuk mengirim peringatan kepada penduduk desa. Setiap orang harus berlatih. kakek berusia sembilan puluh tahun. Hal ini terjadi dari jam 9. kekerasan terhadap orang sipil terjadi hanya sebelum atau sesudah operasi militer di daerah GAM. dua diantaranya membawa pada kematian: Kami dipukuli secara terus menerus. Mereka memerintahan orang-orang untuk tiarap dan memukul dada dan 71 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh enam tahun (nama disembunyikan). Pertama kali tanggal 13 Juni 2003. Mereka bermalam disana tetapi kami semua dilepaskan kemudian. Brimob akan bertanya kepada kami. bersalah atau tidak Saya dihajar. Malaysia. jika Kami bilang “tidak” Kami mendapatkannya. 26 Oktober 2003. Mereka mengumpulkan 300 orang dari satu daerah pemukiman tersebut –ada tiga atau empat desa. Seorang laki-laki yang meninggalkan Aceh bulan Agustus menjelaskan: Jika Saya tinggal di Aceh. “Apakah ada GAM?” Jika kami bilang “Ya” Kami mendapatkannya [pukulan]. Sesudahnya kami dibariskan dan diperintahkan untuk melakukan latihan (melakukan lari di tempat). seperti selama pencarian rumah-ke-rumah atau ketika para penghuni diperintahkan untuk berkumpul di tempat tertentu.Banyak orang-orang Aceh yang diwawancarai oleh Human Rights Watch menggambarkan tindakan kekerasan yang dilakukan pasukan keamanan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Menjawab “Saya tidak tahu” dan Kami mendapatkannya juga. Artinya kami mati. Human Rights Watch.

menanyai mereka. usia 21 tahun.” Tidak ada satupun. tetapi Saya tdiak bisa melihat kepada mereka secara langsung. “Separatis Perang Indonesia Menuntut Para Pemuda. kami semua orang biasa. GAM sudah pergi ke tempat lain. angkat tangan. Mereka memukuli badan Saya dengan senjata mereka. 31 Mei 2003. Angkatan Laut. mereka berduabelas. dan Muhammad Ali. Lima orang pemilik toko lainnya adalah (nama dihilangkan). Kami dikumpulkan di pos penjagaan terdekat oleh para tentara. usia 32 tahun. mungkin karena mereka bertubuh besar. barisan perempuan GAM.73 Seorang berusia empatpuluh tahun dari Pidie yang tiba di Malaysia bulan Oktober sesudah dua bulan di Medan menggambarkan peristiwa dalam minggu-minggu sebelum dia meninggalkan Aceh: Jam sepuluh pada suatu malam Kami semua pemilik toko diberitahukan untuk mematikan semua lampu. Umar Bin Usman. 15.: Kopassus. sementara tujuh orang perempuan dituduh sebagai inong balee. Mereka bilang itu karena Kami mempunyai radio untuk berkomunikasi dengan GAM. dan kami semua dipukuli. dan memukul mereka dengan uujung senapan. Paddock. Brimob. jadi kami lakukan. Rajawali dari Jawa. dan menendang kami. Orang-orang ini adalah BKO. Saya hanya berada empat meter dari mereka yang terbunuh. Malaysia. Wawancara human Rights Watch dengan laki-laki berusia empatpuluh tahun (nama disembunyikan). Kami berduapuluh termasuk para pelanggan yang kebetulan berada disana. Mereka bilang. 5 Nopember 2003. Mereka bukan GAM. dan dipaksa untuk telanjang.” Los Angeles Times. Laporan media telah memerinci peristiwa yang sama yang mana sekelompok besar laki-laki dan perempuan ditanyai dan dipukuli dan satu atau dua orang laki-laki dipisahkan dan ditembak. gigi mereka dijotos oleh tentara Kostrad.72 Laki-laki tersebut melaporkan bahwa tiga minggu kemudian operasi bersama TNIBrimob yang lain membariskan para laki-laki. tetapi itu tidak ada. Hari berikutnya kami dipukuli karena mematikan lampu! Enam pemilik toko dipukul. 10 (C) . Mereka menghancurkan kuku jempol Saya dengan kakatua – lihat? Mereka menaruh jempol jari kaki Saya dibawah bangku dan menekannya ke bawah – yang ini sudah tumbuh kembali. No. 74 31 Human Rights Watch. Dua orang yang meninggal diinjak di dada dan leher. Rajawali. dan Saya meninggalkan Aceh sepuluh hari kemudian. Para tentara adalah campuran. Dua oranng meninggal di tempat. 20 Oktober 2003. Mereka semua memukul kami seakan-akan kami kerbau air. Vol. Mayat mereka dikembalikan kepada keluarga mereka dan dikuburkan. Malam itu kami membiarkan lampu menyala. Mereka terlihat sebagai GAM. Lihat Richard C. Rajawali yang melakukannya.74 72 73 Wawancara Human Rights Watch (nama disembunyikan). “Siapapun yang GAM.muka mereka. kami berenam semuanya dipukuli. Hal ini berlangsung dari jam 5 sampai jam 7 malam. Paling banyak Kamu cuma bisa melirik lama.

memang ada!” Sesudah dua jam Saya dibebaskan. 10 (C) 32 . Lalu mereka menyiramkan air kepada Saya untuk membangunkan Saya dan Saya ditendang lagi. dan celana panjang seragam. mengambil barangbarang Saya dan pergi hari itu juga. 15. Banyak orang dipukuli hari itu. dan dua marinir berdiri di atas tangan Saya sementara seorang menginjak leher Saya. Mereka bertanya kepada Saya. Mereka tidak melihat pertanda apapun dari GAM. Orang-orang yang memukul Saya adalah marinir. Mereka selalu menaruh kami orang biasa di depan. Mereka membuat Saya tiarap.” “Memberi makan kepada GAM?” “Tidak. Hanya berusaha mencari makan. termasuk Saya. 75 Human Rights Watch. Saya baru saja kembali dari laut dalam kapal ikan Saya.” Mereka tidak peduli. sementara teman Saya dari kapal yang sama dipukuli diluar rumah.Seorang laki-laki berusia duapuluh dua tahun dari Pidie menggambarkan peristiwa dari awal September dimana orang sipil dipaksa untuk mengambil bagian dalam operasi militer: Suatu waktu pada jam 4 pagi. No. dua puluh orang dikumpulkan bersama (oleh TNI) dan dipecah dalam empat kelompok. Saya baru tiba di pantai ketika beberapa marinir bertanya pada Saya. lalu kembali ke Pidie. Saya dibawah ke sebuah rumah kosong.75 Seorang laki-laki berusia duapuluh delapan tahun yang tiba di akhir Agustus dari Aceh Timur menggambarkan konsekuensi ditangkap tanpa KTP Merah Putih (lihat dibawah). 29 Oktober 2003. Mereka dibawa ke pegunungan untuk mencari GAM. mereka bertiga. Sesudah dua malam mereka kembali. Tujuh hari kemudian Saya pergi ke Banda Aceh untuk mendapatkan paspor. tapi mengenakan kaos hijau bertuliskan Marinir di punggung. Peristiwa ini juga mengilustrasikan kombinasi pemerasan dan kekerasan yang sudah menjadi hal biasa di jalanan dan toko-toko di Aceh: Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh dua tahun (nama disembunyikan). Saya tidak ingat berapa kali. sekitar jam 8 pagi. Vol. dan sesudah mereka kembali TNI memukuli banyak orang. Saya beritahukan mereka begitu tetapi mereka bilang. “Kamu darimana?” “Dari laut. Mereka tidak berseragam. Malaysia. “Siapa di desa yang GAM?” Mereka mencoba memaksa Saya untuk mengindentifikasi mereka. tetapi tidak ada seorang pun yang dapat Saya beritahukan kepada mereka. Mereka melakukannya sampai Saya pingsan. mencari ikan. “Ya. Saya bahkan tidak bisa menjawab pertanyaan mereka lagi.

Saya hanya bicara dengan keluarga Saya lewat telepon dan adik Saya masih belum baik. “Siapa yang menulis ini di jalan?” Saya bilang. Mereka berduabelas.” Di jalan terdapat tulisan yang bilang. 15. dan tentara sedang memeriksa. Saya sedang duduk di kedai kopi dengan teman Saya. 31 Oktober 2003. Saat itu sudah senja hari. Saat itu 28 Agustus. Saya duga untuk mencari senjata. Vol.Saya melihat seorang teman Saya dipukul. “Saya tidak tahu. Ketika dia jatuh mereka menendangnya di punggung. Dia satu-satunya yang tidak membawanya. Ketika mereka masuk adik Saya sedang duduk di lantai menonton TV. Malysia. Rp 500. Dia hanya mempunyai Rp 100.. dan mungkin lima orang terlibat memukulnya. karena dia berdarah dari luka dikepalanya. Dia bilang mereka bertanya apakah dia GAM dan dia bilang bukan. Saya lari dan bersembunyi di dalam hutan. Lalu mereka meminta uang darinya.000. Ada sekitar tigabelas tentara. Ketika mereka tiba mereka bertanya pada Saya. Ketika kami membawanya ke rumah dia masih pusing-pusing. Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh tiga tahun (nama disembunyikan). 10 (C) .77 Seorang laki-laki dari Bireun yang meninggalkan Aceh ke Malaysia di pertengahan Oktober memberitahu Human Rights Watch: Bulan Mei jam 8 pagi di desa dekat rumah Saya. 31 Oktober 2003. “TNI tolong jangan pernah berada di Aceh 76 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh delapan tahun (nama disembunyikan). dan mereka menendangnya tiga kali di kaki. Saya melihat hal ini terjadi kepada teman Saya dan Saya pergi pagi berikutnya jam 7. Mereka datang jam 9 pagi. ketika orang-orang sedang berebelanja. Dia dipukul di kepala dia terjatuh. dan lalu mereka pergi membeli makanan. Mungkin mereka pikir dia GAM. adik Saya dan Saya. mengambil satu juta rupiah (US$120) dari bawah kasur. dan dia diperintahkan untuk duduk di pantai. 77 33 Human Rights Watch. Sekitar jam 9 malam. dan Brimob datang dari pos mereka di desa sebelah ke toko untuk membeli makanan. No. seperti sedang mabuk. dengan dua truk. Ketika Saya melihat mereka datang. TNI datang. Mereka masuk ke toko dan menanyakan KTP setiap orang. Mereka memukul adik laki-laki Saya. mematahkannya. Ada kami bertiga di rumah – ibu saya. Malaysia. sekitar jam lima.76 Kekerasan juga terjadi selama pencarian di rumah. Dia lupa membawa KTPnya. dalam usaha yang nampak untuk mengitimidasi atau memperoleh informasi. Mereka membiarkannya bangun.000 (US$ 60). dan dia berikan kepada mereka. Mereka merampok rumah. Kami membawa adik Saya ke dokter dan ke dukun patah. Seorang laki-laki berusia duapuluh tiga tahun dari Bireun menggambarkan apa yang terjadi bulan September: Brimob pernah datang ke rumah Saya. Kami sekelompok membawanya dengan truk ke Rumah Sakit Simpang Ulim. kami membawanya pulang.

Saya bukan. Mungkin sekitar seratus orang. Dia mengikat tangan Saya dibelakang punggung dan memukul Saya langsung karena Saya tidak memberitahunya dimana GAM berada. Salah satu dari mereka menghentikan Saya di jalan. 15. Saya melarikan diri ke Malaysia. “GAM Masih Kuat. 24 Oktober 2003 Anggota Batalion Siliwangi yang dituduh dan dibebaskan di pengadilan militer karena pemukulan di Dewantara. 9 Nopember 2003. 20 Oktober 2003. Saya bilang.” 4 Desember 2003.” Sinar Harapan. Sesudahnya tiga tentara memukul Saya. satu yang khusus untuk darurat militer.016 kasus kepada kantor kejaksaan. Mereka menanyakan KTP Saya. Mereka juga mengambil cincin dan uang Saya. Setidaknya 500 ditemukan bersalah dan dijatuhi hukuman. “Bukan. Kantor penerangan TNI melaporkan bahwa sampai tanggal 4 Desember. Pendengaran Saya rusak dari saat mereka menembakan senjata mereka ke udara.” dan lalu Saya dipukuli. Malaysia. Wawancara Human Rights dengan laki-laki beruisa duapuluh tiga tahun (nama disembunyikan). Tujuh kali.” Laksamana. di depan dan belakang. 80 79 Human Rights Watch. No. Itu adalah Batallion Siliwangi yang biasanya berlokasi di Pos Peudada. 10 (C) 34 . Saya tidak tahu apa yang akan terjadi suatu hari jka Saya tidak bisa lari lagi. Bukan pos yang biasa. 1. Ada banyak tentara di jalan. Saya dibawa ke rumah sakit oleh orangorang di desa. Mereka membuka baju dan celana panjang Saya dan mengikat tangan Saya dibelakang punggung dengan tali.lagi. Mereka benar-benar dekat dengan Saya.” Dia bilang.79 Penahanan Secara Sewenang-wenang dan Ketiadaan Proses Pengusutan Banyak dari mereka yang tertangkap karena dicurigai kenggotaan atau dukungannya terhadap GAM sepertinya diadili atas tuduhan makar.338 Anggota Pemberontak GAM Ditahan. Saya sedang sendirian di jalan menuju ke toko. Aceh Utara. Muka Saya berdarah.80 78 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia tigapuluh dua tahun (nama disembunyikan). Saya hanya punya mereka yang tidak melakukan kesalahan yang tinggal untuk dipukul. Sekitar sepuluh orang dipukuli tetapi Saya satu-satunya yang diikat. tanggal 30 Agustus. “PDMD Tentukan Amnesti Anggota GAM. Mungkin sekitar jam 10 pagi. Mereka pergi sekitar jam 10. Dalam pernyataan awal militer mengatakan bahwa mereka sudak membebaskan 145 tersangka karena kurangnya bukti.net. termasuk 912 pejuang dan 416 pendukungnya.” Belasan tentara lalu menembakan senapan mereka ke udara. memeriksanya dan lalu berkata bahwa Saya GAM. “1. Malaysia.” Sesudah ini terjadi. Pusat Penerangan TNI. “120 Napi GAM akan dipindahkan ke Jawa” Serambi.78 Seorang laki-laki dari Aceh Timur memberitahu Human Rigths Watch: Saat itu dua hari sesudah darurat militer dimulai. Dia menendang Saya di dada. Penguasa militer sudah memasukkan 1. Ketika dia sedang memukuli Saya. Saya tidak melakukan kesalahan apapun. 13 November 2003. 4 desember 2003. Saya bilang. “Semua orang yang sudah melakukan kesalahan sudah melarikan diri. daan 561 sudah dijatuhi vonis. Vol. Saya tidak tahu kenapa.338 anggota GAM ditahan. “Kenapa Kamu memukuli Saya.

menghadiri beberapa pertemuan. 7 Desember 2003. No. Perang koto yang Tidak Terungkap. dalam propinis dengan beberapa pengadilan yang bekerja. 26 Oktober 2003. dan bahwa pengadilan selama 1 jam tersebut terjadi tanpa pengacara pembela atau saksi dan menghasilkan hukuman paling banyak lima tahun.81 Seorang anggota Lembaga Bantuan Hukum di Aceh melaporkan banyak orang yang ditahan yang mereka wakili menyatakan bahwa mereka tidak lebih daripada membelikan kopi untuk pemberontak. Wawancara Human Rights Watch dengan seorang laki-laki berusia delapan belas tahun (nama disembunyikan). Mereka datang dengan truk berisi tigapuluh lima orang. hanya orang biasa. Malysia. Kontras juga melaporkan bahwa sampai dengan tanggal 18 Agustus terdapat 213 kasus penangkapan dan penahanan secara sewenang-wenang. 20 Oktober 2003.” September 2003.” Associated Press. Mereka juga melaporkan bahwa delapan puluh klien mereka menderita penyiksaan selama ditanyai dalam penanganan militer atau polisi. Sampai sekarang tidak ada tanda-tanda dia akan dibebaskan. Mereka membawanya jam 8 pagi. menimbulkan perhatian kepada proses pembelaannya.Organisasi non-pemerintah Kontras sudah melaporkan bahwa banyak dari mereka yang ditahan telah dituduh dengan tuduhan makar. atau membantu menguburkan tersangka pengacau. Propinsi Aceh. 22 November 2003.” Press Release. Kontras. “5 Bulan Darurat Militer. Kontras Aceh. “Komandan Aceh menyangkal tuduhan penyiksaan. seorang laki-laki berusia delapan belas tahun dari Aceh Besar memberitahukan Human Rights Watch: Pada bulan September Brimob datang ke desa dan mengambil seseorang.” Associated Press. dan diperkirakan bahwa sampai bulan Oktober hanya seratus orang yang mampu memperoleh bantuan hukum. Dia seorang tetangga dan Saya melihatnya. Vol. 84 35 Human Rights Watch. Tidak diketahui 81 Suatu penangkapan atau penahanan adalah sewenang-wenang ketika dilakukan oleh penguasa negara tanpa dasar hukum yang sepatutnya dan untuk melakukan hal tersebut.84 Lajunya langkah dan tingginya jumlah kasus.82 Dalam wawancara di rumah tahanan. Saya tidak tahu kenapa –mungkin mereka mendapatkan suatu informasi dari seseorang. Dia berusia tigapuluh lima tahun dan mempunyai dua orang anak yang masih muda. Berhasil Ciptakan Ketergantungan Sipil pada Militer. para terdakwa mengatakan kepada seorang jurnalis bahwa mereka mengalami penyiksaan selama interogasi. Orang ini adalah orang biasa –tidak kaya atau miskin. “Makalah Ringkas tentang Aceh. Pengacara bantuan hukum dalam artikel tersebut memperkirakan bahwa 40 persen terdakwa tidak mempunyai akses ke pengacara. Mereka membawanya ke Kodim di Jambu Tape. 15. 83 82 “Tersangka Pemberontak Indoneisa Memberitahukan Teror di Rumah Tahanan. Dia ditutup matanya dan tangannya diikat. tetapi tidak mengeluarkan surat perintah. 10 (C) .83 Mereka yang diwawancarai menggambarkan banyak kasus dimana polisi atau TNI secara tiba-tiba datang dan membawa pergi seseorang atau beberapa orang. Sebagai tambahan kasus yang dikutip diatas.

“Dia tidak ada disini. “Suamimu ada disini?” Saya bilang. 86 Human Rights Watch. Dia meminta lebih tetapi tidak ada uang lagi. Seorang perempuan dari Aceh Selatan mengatakan bahwa dia ditahan bulan Oktober oleh militer. tidak diperbolehkan untuk membuat makanan yang enak. sampai sekarang. beberapa laki-laki.sampai tingkatan apa tahanan diproses sehubungan dengan hukum. dan menahannya tanpa tuduhan di Koramil lokal. perempuan. Vol. Malaysia. No. Didalam kijang tersebut. tetapi masih ada yang lainnya di luar rumah. 10 (C) 36 . kurangnya informasi dan waktu tambahan yang disediakan oleh kerangka hukum darurat militer. Ketika mereka menangkapnya mereka membawanya ke Samalanga. Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia tigapuluh tujuh tahun (nama disembunyikan). Komandan militer memberitahu istri Saya bahwa jika Saya kembali ke desa hari berikutnya dia akan dilepaskan… Dia benar-benar tidak tahu apa salah yang sudah dia lakukan. tidak ada peristiwa apapun. Saya hanya orang dusun biasa. mereka hanya datang dan menangkapnya… Ketika mereka menangkapnya Saya ada di kebun Sebelum Saya kembali ke desa Saya mendengar apa yang telah terjadi jadi Saya tidak kembali. Saya membayar sepuluh juta rupiah (US$1200) sebelum akhirnya mereka membiarkan Saya bebas… kepada kepala Koramil. Dua tentara tersebut mengetuk pintu “buka pintu!” Keduanya membawa senjata. kami dibawa ke Koramil. Ada tigapuluh sembilan tentara dan Brimob dari Jakarta.85 Seorang laki-laki lain memberitahu Human Rights watch mengenai penangkapan istrinya bulan September: TNI menangkap istri Saya tanpa alasan apapun… Sekitar jam 8 pagi. kepada Komandan operasi Aceh Selatan… Di Koramil terdapat banyak orang dari desa. (nama disembunyikan).86 85 Wawancara Human Right Watch dengan perempuan berusaia tigapuluh tahun. Saya tidak tahu dimana dia. Saya sudah tidur. 26 Oktober 2003. Beberapa hari tidak ada nasi. Malaysia. Dia memberitahukan Human Rights Watch: Sekitar jam 10 malam. Jam 10 pagi Kami mendapatkan nasi dan ikan. 15. Mereka bertanya kepada Saya.” Saya bukan GAM. Salah satu teman saya ada didalam bersama dengan tujuh anaknya. malam hari kadang-kadang nasi. Keluarga saya sudah memberikan delapan juta rupiah (US$940) kepada Komandan polisi militer di Bireun.” Mereka membawa Saya langsung ke Koramil dengan kijang. sekitar 300 orang. jam 3 sore nasi. anak-anak perempuan. dua orang tentara datang ke rumah Saya dengan senjata. Para tentara tersebut berkata pada kami. “GAM tidak bisa diberikan sesuatu yang baik. Beberapa dari mereka sangat kecil dan juga seorang laki-laki tua yang sedang sangat sakit. 5 Nopember 2003.

Sebagai orang yang hanya bisa mendapatkan kartu di daerah tempat tinggalnya.87 Sementara hal ini bisa jadi adalah motif yang utama. atau diambil oleh GAM atau pasukan keamanan Indonesia. Betapapun. 29 May.” 4 Desember 2003. persyaratan kartu identitas baru mempunyai pengaruh yang berarti terhadap orang-orang Aceh yang kartunya sudah hilang. “KTP sementara Aceh berlaku 1 Juli. Komandan militer Mayor Jendral Endang Suwarya mengumumkan bahwa KTP baru akan dikeluarkan karena begitu banyak yang sudah dicuri oleh GAM. motif lainnya yang penting adalah untuk memaksa semua orang Aceh untuk datang sendiri ke depan petugas. “Tujuhpuluh pesen penduduk yang harus memiliki kartu identitas sudah mempunyai kartu merah putih di tangan mereka. “Persyaratan KTP Baru Menambah Lebih Banyak Penderitaan Bagi Rakyat Aceh.com. Pada akhir Juli kepala sebuah Kabupaten memperkirakan bahawa hanya 60% dari penghuni yang mempunyai kartu baru dan bahwa dia tidak akan bisa menyelesaikan pekerjaannya pada akhir bulan tersebut tanpa bantuan dari polisi dan militer. “1. Vol. Tujuan dari dikenalkannya KTP merah-putih adalah untuk memisahkan orang sipil dengan anggota GAM. seperti yang terjadi di Timor Timur 1999. “Makalah Ringkas mengenai Perkembangan Terkini di Propinsi Nangroe Aceh Darusslam (NAD periode: 19 Mei-10 Agustus 2003. Itu adalah warna bendera Indonesia. GAM biasanya menggunakan strategi dengan merampas KTP orang sipil untuk membingungkan TNI dan polisi (Polri). Tertini ZB Simanjuntak. sampai batas akhir penutupan. Mereka yang tidak mempunyai KTP baru menjadi target kekerasan secara khusus dan harus membatasi gerakan mereka secara berarti. tidak pernah mendapatkannya. Pengeluaran kartu identitas tidak bertentangan dengan hukum internasional.” Pada tanggal 4 Desember.” detik.338 Anggota Pemberiontak GAM ditahan. tertinggal.89 Pernyataan Menteri Luar Negeri menjelaskan bahwa tertanggal 10 Agustus. siapapun yang berada diluar daerahnya ketika persyaratan baru diterapkan menghadapi resiko saat bepergian kembali ke rumah. 89 90 37 Human Rights Watch.” The Jakarta Post. 15. 2003. Dimaksudkan untuk menegakkan kesetiaan kepada negara Indonesia. dan dibatasi untuk apa yang penting dan sebanding. Dalam prakteknya. Mereka yang tidak datang lalu dianggap sebagai anggota GAM.Pembatasan Kebebasan Bergerak Sembilan hari sesudah darurat militer dimulai.90 87 88 Nur Raihan. Darpada kartu identitas Indonesia biasa yang diwajibkan seara nasional. bukan normanya. penduduk Aceh sekarang diwajibkan untuk memperoleh kartu merah dan putih khusus. simbol tersebut kemudian lebih dikaitkan dengan kondisi penindasan. setiap batasan harus menjadi pengecualian. 10 (C) . Meskipun mereka membutuhkan KTP baru untuk bergerak secara bebas. 28 Juli 2003. No. Departemen Luar Negeri. ABRI mengumumkan bahwa 95 persen penduduk Aceh sudah memenuhi persyaratan untuk mempunyai kartu identitas baru. Pusat penerangan TNI. pembatasan kebebasan bergerak apapun oleh pemerintah untuk alasan kemanan harus mempunyai dasar hukum yang jelas. Kartu Tanda Penduduk merah putih. memungkinkan mereka melalui sweepings tanpa terdeteksi. banyak orang-orang Aceh masih belum menerima kartu-kartu mereka sampai kini.88 Batas akhir untuk mempunyainya ditentukan tanggal 31 Juli. disusul dengan inspeksi besar dan operasi penegakan yang dimulai 1 Agustus.

Setiap hari terasa menakutkan. yang sudah lama tinggal di Malaysia tetapi kembalikan ke Aceh di August. dan kepala kabupaten. kepala kepolisian. 28 Oktober 2003. Butuh tiga hari sebelum Saya mendapatkan KTP Saya. 15.” 93 91 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh lima tahun-an (nama disembunyikan). Human Rights Watch. Saya menghabiskan dua bulan (di Banda Aceh).Seorang laki-laki menggambarkan sulitnya mendapatkan kartu ketika dia sudah meninggalkan desa tempat tinggalnya ke ibukota Banda Aceh untuk alasan keamanan: Dengan tanpa KTP Saya takut keluar. Saya dapatkan dari kantor polisi di Singli.000 (U. Malaysia. Kami datang kesana untuk mendapatkan KTP dengan semua dokumen. dalam satu kasus Rp 50. Saya mau pergi ke Malaysia tetapi Saya tidak bisa. Saya pergi ke Medan dan Malaysia. Wawancara Human Rights Watch dengan seorang laki-laki berusia duapuluh lima tahun (nama disembunyikan). Jika Kamu tidak dapat menyanyikannya dia memerintahkanmu untuk berdiri di lapangan. “Hormat kepada matahari sampai Kamu bisa menyanyikan lagu kebangsaanmu. ke kepala kecamatan dahulu. kembali lagi ke kepala kecamatan.S. membutuhkan izin pendahuluan dari kepala desa. 10 (C) 38 .$6) kepada kepala kecamatan untuk mendapatkan kartu dengan untuk pergi. dia memerintahkan Kami untuk menyanyikan Indonesia Raya (Lagu Kebangsaan). Malaysia.91 Proses mendapatkan identitas baru sulit. Kepala desa Saya ikut bersama Saya. Tuntutan untuk menyuap adalah rutin. dan tanda tangan dari komandan Koramil. menjelaskan prosesnya: Saya melihat bahwa jika Kamu tidak mendapatkan KTP Kamu tidak akan bisa aman. Beberapa orang menggambarkan bahwa mereka membayar lebih untuk mendapatkan kartu mereka. Di kantor Polisi. lalu ke polisi.92 Seorang perempuan dari Pidie memberitahukan Human Rights Watch: Di awal bulan ini saya mendapat KTP Saya. Surat kuasa dari kepala desa. Akhirnya Saya mendapatkan KTP melalui KTP keluarga kakak laki-laki Saya. No. Sebelumnya Saya takut meninggalkan rumah. Tetapi proses mendapatkan KTP Merah Putih sangat sulit.S. Kamu harus pergi ke kantor kepala kecamatan setelah Kamu difoto. Malaysia. Saya harus membayar Rp 25.$24). 93 92 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki duapuluh tahun (nama disembunyikan). dalam kasus yang lain Rp 200. 6 November 2003. Seorang laki-laki dari Pidie. karena Kamu harus datang sendiri untuk menandatanganinya. Pidie.000 (US$3). Dia bilang. Vol.000 (U. Jika Kamu tidak datang. 29 Oktober 2003. KTPmu tidak akan dikeluarkan. Dengan KTP Saya bisa pergi ke Medan dengan bis umum.

diduga karena tidak mempunyai kartu atau karena alasan lainnya seperti mempunyai nama atau wajah yang sesuai (atau memiliki persamaan) dengan satu dalam daftar yang dimiliki tempat pemeriksaan.Beberapa peristiwa penyerangan fisik digambarkan kepada Human Rights Watch berkaitan dengan kartu identitas merah putih. “Komnas HAM akan Menyelidiki Pelanggaran Aceh. di Langsa di Aceh Timur. teman seorang saksi yang berusia dua puluh tahun dipukuli: Di lapangan tersebut teman Saya dipukuli. menandai seseorang sebagai orang Aceh dan menjadi sasaran penangkapan. begitu seseorang menyebrangi perbatasan menuju ke propinsi tetangga Sumatera Utara. atau di perbatasan-perbatasan antar kabupaten seperti antara Aceh Utara dan Aceh Timur. Penahanan semacam ini secara khas terjadi di tempat pemeriksaan di perbatasan dengan Sumatera Utara. penganiayaan atau pemerasan.” The Jakarta Post. setiap orang keluar. Vol. Ketika dia bangun dari mulutnya keluar darah. Tertiani ZB Simanjuntak. Aceh Utara. 10 (C) . KTP merah putih menjadi suatu kekurangan. TNI mencari GAM. Ada beberapa laporan operasi sweepings terhadap orang-orang Aceh di propinsi Sumatera Utara dan Riau. 3 Juni 2003. Semua bis harus berhenti. Bagaimanapun. Lebih dari sepuluh orang melaporkan bahwa ada lakilaki muda dikeluarkan dari bis yang mereka naiki. “Saya meninggalkannya di rumah.” “Tidak. 15. Malaysia. No. Banyak orang yang tinggal dengan teman atau sanak saudaranya di Medan. dan hampir semuanya menggambarkan pemeriksaan yang berulangulang terhadap kartu merah putih. Kamu GAM!” Mereka menendangnya di perut dan dia terjatuh. siapa yang bukan.94 Nampak sulit meninggalkan Aceh tanpa kartu merah putih. atau bersembunyi di hutan sampai mereka bisa menemukan jalan untuk pergi ke Malaysia. 31 Oktober 2003. Selama salah satu peristiwa yang sudah disebutkan di atas mana TNI memaksa penduduk desa untuk berkumpul dan membunuh tiga orang di desa dekat Lhokseumawe. enam orang tersangka GAM di 94 Wawancara Human Rights Watch dengan seorang laki-laki berusia duapuluh tahun (nama disembunyikan). Dia bilang. Kesalahannya adalah tidak membawa KTPnya bersamanya. Sesudah itu enam orang diambil. mereka ingin tahu siapa yang GAM. 95 39 Human Rights Watch. KTP diminta. Mayoritas orang-orang Aceh yang diwawancarai oleh Human Rights watch meninggalkan Aceh dengan bis ke Sumatera Utara. Mereka menanyakan KTPnya. Melihat KTP. juga di perbatasan dengan Medan.95 Seorang laki-laki dari Bireun memberitahu Human Rights Watch mengenai perjalannya keluar dari Aceh: Saya sedang berada dalam bis umum ke Medan. Ada pemeriksaan di Peureulak. di Alue Ie Puteh.

“Itu nama orang GAM. Malaysia. durian. 29 Oktober. meminta tolong agar dibebaskan karena Saya mau kembali ke Medan secepatnya… Saya menunggu bis lagi dan langsung pergi ke Medan. Jika Saya tidak melakukannya. bahwa nomor itu hanyalah nomor telepon Saya. Mereka bertanya kepada Saya untuk menyatakan bahwa Saya adalah GAM. (yang datang) khusus untuk darurat militer. Kamu GAM. yang kembali ke Aceh dari Malaysia di bulan Agustus.Peureulak. rokok. 2003 97 98 Human Rights Watch. ada sampah.96 Seorang laki-laki yang tiba di Malaysia bulan Juni memberitahukan Human Rights Watch mengenai peristiwa yang terjadi di bisnya saat perjalanan dari Aceh Utara ke Medan: Saat itu malam sudah sangat larut. Paha Saya ditendang. Kami sudah tiba di Aceh Timur. Dua orang tersebut tidak pernah kembali ke dalam bis. Saya menunggu di Medan lima hari. Tiga polisi masuk dan membuka baju dan celana panjang saya. Sangat menjijikan. Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh lima tahun (nama disembunyikan). Mereka orang-orang Aceh. 28 Oktober 2003. Saya melihat dua orang dibawa ke belakang oleh lima orang tentara TNI. Dia menunjuk… Sesudahnya mereka membebaskan Saya… Saya menangis. AJ-47s. Di perbatasan terdapat banyak pasukan keamanan… Ada tiga bus dan sekitar limabelas orang ditangkap. ketika mereka memeriksa KTP Saya. meraka bilang mereka akan menembak Saya. Sesudahnya saya diperintahkan untuk membersihkan isi ruangan. 26 Oktober 2003. Kenapa? Karena mereka melihat nomor telepon di dompet Saya. Sesudah itu mereka mulai memukul Saya karena Saya tidak mau mengakuinya. Mereka polisi tapi BKO. Mereka memaksa saya untuk membersihkan daerah tersebut. Malaysia. Saya di tahan di ruangan tersebut selama satu jam. Saya membeli tiket pesawat dan pergi langsung kembali ke Malaysia. Vol. Ada tempat penahanan. Saya tidak tahu kemana mereka dibawa. Saya tidak tahu dimana mereka. tidak terlalu dekat juga. Tidak jauh. Sesudahnya setiap orang kembali ke dalam bis. Semuanya orang Aceh. Ada pos TNI dan semuanya diminta turun dari bis dan berbaris. Lalu mereka membawa Saya ke sebuah kamar kecil. Tiga kali Saya ditendang.97 Seorang laki-laki dari Pidie. Wawancara Human Right Watch dengan laki-laki Aceh berusia duapuluh tahun (nama disembunyikan).” Ada lima orang polisi.98 96 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia empatluluh tahun (nama disembunyikan). 15. Saya kemudian mendengar suara tembakan. semuanya laki-laki. Satu persatu dipanggil untuk memeriksa kartu identitas kita. Mereka bertiga bersenjata. memberitahu Human Rights Watch: Saya sedang berada di perbatasan dan bis berhenti untuk pemeriksaan KTP. Dia bilang kepada Saya. di tubuh Saya dua kali. Saya keluar dari bis dan bis pergi tanpa saya. Saya dipukul di wajah sekali. No. semua laki-laki. Malaysia. Saya pergi langsung ke Medan. 10 (C) 40 .

siapapun yang terlihat menuju kesana dianggap entah sebagai GAM.”100 Karena pasukan GAM terutama berada di daerah pegunungan. 10 (C) . 15. Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh dua tahun (nama disembunyikan). 28 Oktober 2003. “Ada pos-pos di desa. Jika kami melakukannya. Vol. Hampir semua warga yang diwawancarai mencatat bahwa penghuni desa mereka dilarang pergi ke kebun mereka. atau sebagai pendukung mereka yang membawakan nasi atau kebutuhan lainnya untuk separatis bersenjata tersebut. pemerasan.laksamana. Kami takut tembakan. dan kami tidak diperbolehkan pergi ke bukit-bukit. ke kebun kami. kami akan dikira GAM dan mereka akan menembak kami. 29 Oktober 2003. Gubernur Abdullah Puteh mencatat. Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia delapan belas tahun (nama disembunyikan). Dia disiksa disana –ditusuk dengan pisau. Bahari. Dia tidak mengakuinya. Banyak orang Aceh mengeluh bahwa ketakukan akan kekerasan atau larangan-larangan terhadap mobilitas telah secara serius mempengaruhi kemampuan mereka untuk menyambung hidup. No. Laki-laki ini. Di bulan Oktober.” Puteh mengutip data terkini yang menunjukan bahwa 40 persen penduduk tinggal dibawah garis kemiskinan. menanam sayur-sayuran atau singkong. Kecamatan Labuhan Haji. Seorang laki-laki berusia duapuluh enam tahun dari Aceh Selatan melaporkan: Tanggal 23 Jumi ada seorang laki-laki mencari makanan didekat desa (nama dihilangkan). jadi kami tidak berani pergi kesana. menebang pohon untuk membangun rumah. 101 100 41 Human Rights Watch.”101 Hal ini bukanlah ancaman main-main. Kami diperingatkan: “Jika Kalian pergi ke tasa Kami tidak bisa bilang apa yang akan terjadi. Pegunungan tersebut dikepung oleh TNI. Seorang laki-laki berusia delapanbelas tahun yang tiba tanggal 11 September dari Aceh Besar memberitahukan Human Rights Watch: Orang-orang tidak bisa pergi ke pegunungan. yang seringkali berada bukit diatas desa. Ekonomi kami membeku. dan rasa takut yang terbangun baik terhadap kekerasan saat bepergian untuk membeli atau menjual barang-barang secara hebat telah memperburuk masalah tersebut. Kalian harus bertanggung jawab atas diri kalian sendiri.net/vnews. Seorang laki-laki memberitahukan Human Rights watch. “Angka pengangguran dan kemiskinan disebabkan konflik di Aceh mengkhawatirkan. Malaysia. dan 99 “Waspadai kemiskinan dan pengangguran di Aceh.” Laksamana. http://www.Pemerasan dan Pembatasan Terhadap Aktifitas Ekonomi Situasi ekonomi dibawah darurat militer memburuk secara cepat.cfm?ncat=35&news_id=6246 (diakses 4 Desember 2003).99 Perang telah nenyebabkan ekonomi berjalan tertatih-tatih tetapi pengawasan yang luas terhadap gerakan. Kami tidak bisa mencari makan. 29 Oktober 2003. dan ditanya apakah dia GAM. naik ke atas ke bukit ke kebun sayurannya tetapi ditahan oleh Brimob dan dibawa ke pos brimob di Labuhan Haji.

Lalu Saya ketakutan karena adanya tempat pemeriksaan di jalan oleh TNI dan Brimob… Saat Saya menyetir kendaraan mereka menghentikan Saya untuk meminta uang atau makanan. ini ada lima”.104 Seorang nelayan berusia duapuluh tahun dari Aceh Utara yang tiba dua minggu yang lalu menjelaskan: Ada pos-pos setiap limapuluh meter di beberapa tempat. Jika Kita keluar dari kapal yang pertama adalah pergi ke pos marinir dan melapor disana.mereka tidak akan menerimanya. Milisi tersebut dilatih tahun 1999 oleh TNI dan Polri. tetapi mayat tersebut dikirim ke rumahnya. laporan aktifitas milisi di beberapa kabupaten. 25 Oktober 2003.102 Seorang berusa tigapuluh tahun yang tiba dari Aceh Tengah segera setelah darurat militer dimulai berkata: Hidup Saya sangat berat. 104 103 102 Human Rights Watch.dia dibunuh. truk-truk mereka diambil. Malaysia. Saya melihat mayatnya di rumahnya. No. 15. Saya tidak tahu dimana ditemukannya. Wawancara Human Rights Watch (nama disembunyikan). Saya tidak mau memberikan mereka Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh enam tahun (nama disembunyikan). Mayat mereka tidak pernah dikembalikan. telah meningkat tahun-tahun terakhir ini. Banyak orang Aceh yang menghilang. Jika Kamu tidak memberikannya kepada mereka. 10 (C) 42 . Malaysia. Saya melakukan perjalanan terakhir Saya bulan Juli. khususnya dmana imigran Jawa berada. 26 Oktober 2003. tetapi mereka tidak mengaku. Meskipun kelompokkelompok yang berkaitan dengan militer berkeliaran setidaknya sejak tahun 1990. Saya bekerja sebagai supir minibus di jalan raya. 26 Oktober 2003.103 Seorang supir lainnya dari Bireun mengulang cerita bahayanya bepergian di jalan: Saya menjual ikan di Takengon. Tetapi Saya harus berhenti pergi kesana karena Saya takut kepada milisi. Saya sudah memberikan satu kepada mereka jadi Saya bilang tidak. di Aceh Selatan. Jika Kamu tidak mempunyai uang dan mencoba menawar – “Saya tidak punya sepuluh. Tetapi baru-baru ini dua orang penjual ikan lainnya yang Saya kenal menghilang: Rusli di bulan Oktober dan Azhari di bulan September. Wawancara Human Rights Watch dengan seorang laki-laki berusia tigapuluh tahun (nama disembunyikan). Vol. di daerah kecamatan. Dua orang lainnya ditahan pada waktu yang sama dan juga ditusuk. lalu kembali ke pos marinir ketika kami kembali untuk mengambil KTP kembali… Pernah ketika Saya sedang merawat ayam jantan Saya untuk sabung ayam. Kamu tidak bisa tawar menawar dengan mereka. Mereka meminta lagi. tentara datang dan memintanya. dan memberikan KTP. Lalu kami pergi ke Lhokseumawe untuk menjual ikan Kami harus melapor disana. Malysia. Sebelumnya tidak ada masalah. Kamu dipukuli. Jika mereka bilang sepuluh maka harus sepuluh.

5 Nopember 2003. kan? Saya katakan pada tiga anak laki-laki Saya untuk ikut pergi (nama disembunyikan). kepada polisi pada upacara bulan Juli107 Secara historis. “Jika Kamu tidak memberikannya kepada kami. Dia dari pos lokal. bermarkas di Koramil. 106 107 105 Wawancara Human Rights Watch (nama disembunyikan). malam ini Kamu akan dibunuh. Lalu dia mengancam Saya – “Kalau Kamu tidak memberikannya kepada Saya. 31 Oktober 2003. Tetapi kalau diminta. Batalion Sriwijaya 141. partisipasi masyarakat semakin dibutuhkan karena kurangnya personil keamanan. Saya memberikannya kepadanya. Kopassus datang jam 11 pagi.satu lagi. mereka akan meminta uang. menyiksa dan bahkan membunuh warga lainnya. Vol.” Karena Saya takut. militer memaksa 108 43 Human Rights Watch. No.” Saya seharusnya bisa pergi haji ke Mekkah duapuluh lima kali sekarang. maka diberikan… Saya tidak tahan lagi. Mereka hendak pindah ke pos BKO yang lain dan meminta ‘uang pindah’.108 Beberapa Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh tahun (nama disembunyikan). Mereka bilang. 2 Juli 2003. “Presiden Menyetujui ‘Penjaga’ Sipil’. bilang pada mereka.”106 Kembalinya Jaga Malam: Tugas Wajib Jaga Malam Kami seharusnya mempertimbangkan untuk memberikan penghargaan yang sepantasnya kepada tuntutan masyarakat untuk diperbolehkan membela diri dan barang-barang mereka sendiri. Tahun 1981. mereka akan mengambil kalian.” Saya pergi sesudah dua hari –mereka memberi Saya waktu tiga hari. baik sebagai tameng manusia dan juga menggunakan orang sipil untuk menekan perlawanan para pejuang. TNI biasa menggunakan taktik semacam “pagar betis” di Timor Timur dengam menaruh orang sipil diantara tentara dan gerilya. The Jakarta Post. Saya memiliki penggilingan beras. Setiap hari TNI meminta 450 kilogram. Malaysia. Dia bertanya apa yang mereka inginkan dan Saya beritahukan: tujuh juta rupiah dalam tiga hari. 15. mereka berempat di dalam Taft – seperti Pajero tapi lebih kecil. yang kebanyakan orang Jawa. “Jika Aku tidak ada disini.105 Seorang laki-laki yang memiliki bisnis penggilingan beras melaporkan: Membuka jalan untuk hidup di Aceh itu sulit. Malaysia. “Sebaiknya kamu pergi saja. Sesudah mereka pergi Saya pergi ke teman Saya di kedai kopi di depan rumah Saya. militer Indonesia melaksanakan operasai yang disebut kampanye “pagar betis” di Timor Timur. Dia bilang pada Saya. Saya akan menembakmu. Saat itu tanggal 8 atau 9 Oktober. Jika Kamu mencoba membuka usaha. Mereka BKP. —Presiden Megawati. Fabiola Desy Unidjaya dan Tiarma Siboro. 10 (C) . Saya dimintai tujuh juta rupiah (US$825) dan diberitahukan bahwa jika Saya tidak memilikinya dalam tiga hari Saya tidak akan selamat. Dalam usahanya untuk memaksa keluar para pejuang yang bertahan dari persembunyiannya. khususnya mereka yang tinggal di daerah konflik… Dalam menghadapi orang sipil yang bersenjata yang memerat.

operasi ditujuan untuk merangsang keberanian masyarakat lokal untuk berjuang melawan GAM. contoh partisipasi orang sipil yang paling luas dalam pertahan yang dilaporkan adalah tugas wajib jaga malam tanpa senjata. Seorang laki-laki berusia duapuluh tahun dari Pidie yang tiba di Malaysia tanggal 14 Oktober menggambarkan ketika tentara mengadakan tugas jaga malam di desanya: Jaga malam dimulai sesudah darurat militer. kesaksian yang dikumpulkan di Malaysia menunjukan bahwa pasukan keamanan memakai ancaman dan penggunaan kekerasan untuk memaksa penduduk lakilaki di desa untuk bergantian menjaga desa. sekitar 1. dibawah DOM. begitu juga kesadaran mereka akan hak dan kewajiban mereka. Republik Indonesia. “Makalah Ringkas tentang Perkembangan Terakhir di Propinsi Nangroe Aceh Darussalam (NAD)”. strategi dari peride DOM yang dihidupkan kembali segera sesudah darurat militer dimulai. Menurut pernyataan pemerintah mengenai kemajuan darurat militer: Penjagaan lingkungan telah meningkat di desa dari 0% sampai dengan 70%.Polkam. 17 September 2003. No. Kami berempat dipukuli kalau tertidur. “Warga Sipil Terlibat Secara langsung Dalam Perburuan Pemberontak GAM “. 15. 111 109 Human Rights Watch.111 Biarpun demikian. The Jakarta Post. Vol. . Sebelumnya. periode: 19 Mei -10 Agustus 2003. Sebagai contoh. Semua perhatian dan kewaspadaan ini datang dari masyarakat secara spontan. bahkan laki-laki tua. Semua laki-laki diatas lima belas tahun harus berjaga. dalam tiga waktu yang berbeda. sekitar sebulan kemudian. www.” Pernyataan Pemerintah Indonesia. empat orang setiap kalinya. Departemen Luar Negeri. Nani Farida. orang sipil untuk berjalan berbaris dari setengah garis pertahanan pulau terebut menuju ke pusatnya.110 Pernyataan lain yang dikeluarkan oleh Kementerian Luar Negeri menegaskan: Dalam rangka menciptakan situasi yang aman dan teratur di (Aceh). Militer mengikutinya dari belakang.109 Seorang laki-laki memberitahukan Human Rights Watch tentang penduduk desa yang dibawa ke hutan untuk mencari GAM. dan kesetiaan rakyat Aceh kepada Negara Kesatuan Indonesia semakin menguat. menggunakan mereka sebagai tameng manusia terhadap para pejuang yang bertahan. tetapi tidak jelas seberapa sering taktik ini digunakan dibawah darurat militer. Kami harus melakukannya tiga kali seminggu. 10 (C) 44 . laki-laki tua tidak pernah melakukan tugas jaga. Beberapa perkembangan yang positif sudah dicapai seperti misalnya beberapa pos sudah dibuat oleh penduduk lokal yang juga berfungsi sebagai Pos Informasi.go. 110“Evaluasi Pemerintah Terhadap Operasi Khusus di Aceh.id. Komandan Kodim Aceh Besar mengatakan bahwa militer hanya menyediakan sokongan terhadap inisiatif warga desa itu sendiri.000 penduduk desa dari Kecamatan Leupung di Aceh Besar dilaporkan terlibat didalam perburuan pemberontak GAM di hutan dekat sana.media baru-baru ini melaporkan penggunaan orang sipil dalam operasi militer di Aceh. 15 Agustus 2003. Dalam wawancara dengan Human Rights Watch. Kami juga biasa melakukannya dibawah DOM.

113 Tugas wajib jaga malam adalah aspek tambahan dari kehidupan yang semakin tidak dapat dipertahankan lagi bagi laki-laki Aceh. Wawancara Human Rights dengan perempuan berusia tigapuluh tahun (nama disembunyikan). di pagi hari kami harus melakuka gotong royong. menempatkan mereka dalam resiko pembalasan dendam dari kedua belah pihak. Selama darurat militer sulit sekali mencai makanan. Kami harus melakukannya mungkin dua hari setiap minggunya. Seorang dari dua orang yang menggambarkan tugas wajib tersebut menjelaskan: “di malam hari kami jaga malam. Sementara jaga malam bisa menaruh orang sipil di tingkat resiko yang sama seperti keterlibatan langsung dalam operasi militer atau dipaksa untuk bergabung dengan militia.Kami tidak berkeliling tetapi tinggal di sekitar pos jaga. 26 Oktober 2003. Vol. Malaysia. Malaysia. Dia mengatakan kepada Human Rights Watch: Suami Saya dipukuli oleh TNI bulan Agustus saat dia jaga malam. itu juga menaruh orang sipil di seputar antara GAM dan TNI. No. Malaysia. Dan.” Wawancara Human Rights Watch dengan lakilaki berusia tigapuluh tahun (nama disembunyikan). 26 Oktober 2003. 24 Oktober 2003. Tetapi kalau kami memberitahukan GAM. Sekarang selalu seperti ini. Atau kami diperintahkan untuk membawa tiang pohon kelapa sawit ke atas bukit.114 Dua orang Aceh yang diwawancarai oleh Human Rights Watch juga mengeluh mengenai pemaksaan tenaga kerja. 10 (C) . Kadang-kadang ketika mereka pergi. seperti membangun pos tingkat desa baru. meninggalkan propinsi tersebut di pertengahan Oktober. Malaysia. di Aceh Timur. GAM meminta kami untuk memberitahukan mereka apa yang TNI dan Brimob lakukan. 115 114 113 112 45 Human Rights Watch. Saya harus pergi (dari Aceh) untuk mendapatkan uang dan makanan. lalu mereka kembali lagi dan kami harus membangunnya lagi. tetapi kami harus membangun pos-pos di desa lain. Suami Saya lalu sakit jadi tidak bisa pergi dan mencari makan. Mereka tidak berkata kami seharusnya menjaga –jaga malam saja! Mereka tidak berkata menjaga ini atau itu. seperti yang dikatakan seorang laki-laki berusia tigapuluh tahun yang tiba dari Aceh Tengah segera sesudah darurat militer dimulai: Polisi dan Brimob datang ke desa dan mengatakan pada orang-orang untuk menjaganya. Wawancara Human Rights dengan laki-laki berusia tigapuluh tahun (nama disembunyikan). tidak ada perubahan. 26 Oktober 2003. kami pasti akan diculik dan diancam.112 Seorang perempuan dari Peureulak. membangun pos-pos dan kamp baru. kami harus merubuhkan pos. 15.115 Wawancara Human Rights Watch dengan seorang laki-laki berusia duapuluh dua tahun (nama disembunyikan). Dia desa Saya mereka hanya mengambil alih sebuah rumah kosong.

154”. Protokol II.Pengungsian dan Perampokan Sejak dimulainya darurat militer. “Makalah Ringkas mengenai Perkembangan Terkini di Propinsi Nangroe Aceh Dasrussalam (NAD). “Orang Aceh Pergi karena Serangan Udara” The Jakarta Post. diadopsi bulan September 1998 oleh Majelis Umum PBB. “Jesuit Refugee Service: Berita JRS No.” Prinsip-Prinsip Pedoman tentang Orang Terlantar (prinsip pedoman). yang memperhatikan cerminan hukum internastional menyatakan bahwa “pengungsian penduduk sipil tidak boleh dilakukan dengan alasan yang berkaitan dengan konflik kecuali berkaitan dengan keamanan warga sipil atau tuntutan militer yang sangat penting. “Laporan OCHA Mengenai Gabungan Situasi No. Periode: 19 Mei-10 Agustus 2003”. Vol. 4 (c ).119 Seorang laki-laki berusia duapuluh tahun yang tiba di Pidie menggambarkan bagaimana beberapa orang di desanya meningalkan TNI. E/CN. No. Sebagai contoh. Pihak-pihak yang berkonflik harusnya tidak memerintahan pemindahan penududuk kecuali dengan alasan yang serius berkaitan dengan keamanan orang sipil yang terlibat. Dulu Suku nonAceh juga lebih banyak diintimidasi agar meninggalkan Aceh oleh GAM. Lihat Human Rights Watch.13. Para penghuni dilaporkan diperintahkan oleh militer untuk ditampung di dua kamp di sekitar Kecamatan Dewantara dan Muara Batu. Vol. No.” 17 Nopember 2003. “Perang di Aceh. dan menyatakan kumpulan standar internasional yang mengatur perlakuan terhadap orang-orang terlantar. 142.117 Seandainya tindakan tersebut harus dilakukan.” Laporan Human Rights watch. belasan ribu orang sipil telah dipaksa oleh pertempuran atau diperintahkan oleh pemerintah Indonesia atau pasukan keamanan untuk meninggalkan rumah dan desa mereka. Departemen Luar Negeri.000 orang di Aceh Utara dilaporkan meninggalkan rumah mereka karena Angkatan Udara Indonesia membom posisi pemberontak di Pantai Pisang di Kecamatan Nisam yang banyak pegunungannya. Meskipun bukan instrumen yang mengikat. 17. 14 Nopember 2003. Konvensi Geneva. Laporan Perwakilan Sekretaris Jendral tentang Orang-Orang Terlantarl.116 Penampungan massa atau pengungsian orang sipil yang hanya untuk meniadakan basis sosial untuk pasukan lawan dilarang oleh hukum kemanusiaan internasional. di awal Juli sekitar 10. mencerminkan hukum kemanusiaan internasional sebagai juga hukum hak asasi manusia. 10 (C) 46 .” Human Rights Watch Press Backgrounder.2. 119 118 117 116 Human Rights Watch. atau ada alasan militer yang sangat penting untuk tindakan tersebut. pasal.4/2003/95/Add. Prinsip pedomaan ini didasarkan pada hukum internasional yang tentunya mengikat negara-negara seperti halnya beberapa kelompok pemberontak. Republik Indonesia. Mei 2000. Kemungkinan prilaku yang sama terjadi di bawah Darurat Militer tetapi kurangnya akses membuat sulit untuk menunjukannya. Agustus 2001: Human Rights Watch. semua tindakan yang mungkin seharusnya diambil untuk memastikan bahwa tempat dimana mereka akan ditampung menawarkan kondisi tempat berlindung yang memuaskan. 15. Perkiraan resmi jatuh dari lebih dari duapuluh ribu orang terlantar di sebelas kabupaten di bulan Agustus menjadi hanya sepuluh ribu orang terlantar di enam kabupaten pada pertengahan November. dan mereka yang berwenang dan berada di komunitas internasional. 1 Juli 2003. Lebih dari seratus ribu orang dipindahkan di beberapa titik tertentu sejak dimulainya darurat militer. Kantor PBB untuk Koordinasi Masalah Kemanusiaan (OCHA). 15 Februari 2002.000 orang Jawa di Sumatera Barat yang meninggalkan Aceh. Sampai tahun 2001 ada sekitar 50. jadi jumlahnya turun-naik dari minggu ke minggu. “Warga Sipil Indonesia Dijadikan Target di Aceh.118 Banyak pengungsidapat kembali ke tempat asalnya sesudah periode yang cukup singkat. higenis. sehat dan menyediakan nutrisi. sementara yang lainnya ditangkapi dan diangkut pergi: A’An Suryana.

121 Di akhir Juli.122 Sebagaimana digambarkan dalam “Aceh dibawah Darurat Militer: Pelarangan yang Tidak Perlu dan Berbahaya Terhadap Akses Kemanusiaan Internasioal.000 untuk mengembalikan barang-brang kami kembali. Kami tidak diberitahukan alasannya. “Sekarang mengungsi!” Saya rasa mereka dari Pos BKO Siliwangi. mengakui bahwa tentara secara paksa menelantarkan warga sipil dan meminta maaf atas perampokan tersebut: Dengan beberapa pertimbangan. Jendral Endiartono Sutarto. (semua) dicuri saat kami melarikan diri.” terdapat kelanjutan untuk memperhatikan kurangnya akses ke makanan.” The Jakata Post. Saya tidak mau orang-orang berkorban sebanyak itu. Orang-orang di desa ketakutan. empat buah tank datang ke desa. 26 Juli 2003. Ketika Kami pulang ke rumah semua barang-barang kami tidak ada. Tiarma Siboro. dan pendidikan Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh dua tahun (nama disembunyikan). kepala staf ABRI. 15. 29 Oktober 2003. sekitar empatpuluh kilometer jauhnya. Pengadilan darurat militer dilakukan pada tanggal 22 Juli terhadap dua orang prajurit yang dituduh mencuri uang kontan dan perhiasan dari rumah seorang tersangka pemberontak separatis di Aceh Utara. Ayam. hidup didalam tenda. dimana ada sebuah kamp orang terlantar di lapangan disana. kambing. 26 Oktober 2003.120 Seorang perempuan dari Aceh Utara menggambarkan perampokan yang terjadi ketika para penduduk dipindahkan: Saya melarikan diri ke kamp pengungsi. Kami kembali ke rumah kami untuk mengambil barang-barang yang paling penting. Mereka pergi kesana karena ada panggilan dari mesjid untuk berkumpul disana. Kami menghabiskan waktu limabelas hari disana. dan yang lainnya melarikan diri ke Sigli. 121 122 120 Wawancara Human Rights Watch (nama disembunyikan). Kami mempunyai satu jam untuk mengemas barang kami. 47 Human Rights Watch. Human Rights Watch tidak tahu mengenai hasilnya. Kami diberitahukan oleh tentara. Beberapa orang membayar. No. Vol. sarana kesehatan. lalu tiga truk datang untuk membawa kami ke Sigli. dan beberapa orang melarikan diri ke pegunungan.Suatu pagi hari. kami (TNI) memaksa orang-orang untuk meninggalkan rumah mereka dan mengungsi sementara para tentara berusaha menyingkirkan para pemberontak yang seringkali mencoba berbaur dengan orang sipil di desa mereka… Bahkan jika para pengungsi tinggal di kamp selama tiga atau empat hari saja. Malaysia. tetapi Saya terlalu ketakutan. Saya meminta maaf karenanya. Sesudahnya kami dikirim kembali ke rumah dengan truk. Malaysia. mereka menemukan rumah mereka dirampok ketika mereka kembali ke rumah mereka. dibawa oleh tentara yang lalu meminta uang Rp 300. “Kepala TNI Menawarkan Permintaan Maaf Kepada Rakyat Aceh. 10 (C) . Orang-orang di pegunungan kembali ke rumah setelah kami pulang.

bagi orang-orang terlantar di Aceh. air. 5 Oktober 2003. Sampai bulan Oktober 2003.124 Penolakan Indonesia terhadap akses badan-badan kemanusiaan internasional dan LSM membuat penilaian secara lengkap mustahil. fasilitas kesehatan yang tersedia. pemerintah Indonesia melaporkan empat puluh tujuh kematian yang berkaitan dnegan kesehatan di kamp. Jesuit Refugee Rervice dan sumber-sumber media Indonesia sudah menyoroti laporan mengenai fasilitas sanitasi dan air yang memprihatinkan. 10 (C) 48 . kekurangan gizi dan keluhan kulit diantara para penduduk tersebut. No.123 Pertempuran antara militer Indonesia dan GAM sebagaimana larangan untuk bergerak. 15. Satkorlak NAD. Vol. Bagaimanapun. “Berita JSR No.125 Human Rights Watch.” 1 Agustus 2003. Informasi awal mengindikasikan bahwa pertempuran telah memaksa ribuan warga sipil keluar dari rumahnya. “Kematian Orang-Orang Terlantar di Aceh” (diproses dan diperiksa oleh Organisasi Migrasi Internasional Banda Aceh). listrik. 124 125 123 Jesuit Refugee Service. komunikasi. Human Rights Watch. September 2003. telah mengganggu hidup dan mata pencaharaian warga sipil dengan terpotongnya suplai makanan. dan sarana kesehatan bagi ribuan orang. Gambaran menyeluruh dari sedikit informasi yang tersedia adalah bahwa penududuk Aceh menghadapi kekurangan jasa dan persediaan dasar. Kondisi tersebut diperburuk bagi mereka yang telah dipaksa untuk meninggalkan rumah mereka.. informsai ini mustahil untuk di verifikasi atau diinterpretasikan tanpa mengetahui lebih banyak mengenai tingkat kehidupan total penduduk. 137. “Aceh dibawah Darurat Militer: Pelarangan yang Tidak Perlu dan Berbahaya atas Akses Kemanusiaan Internasional. sekolah.” Makalah Ringkas Human Rights Watch. dan informasi dasar lainnya.

Vol. 10 Juni 2003. “Prajurit Dibebaskan atas Penyerangan di Aceh. “12 Prajurit Menghadapi Sidang Karena Menyiksa Orang Sipil di Aceh. 20 Juli 2003.127 Bulan Juli. 131 130 129 Oktober 2003.cfm?ncat=45&news_id=6152 (diakses 4 Desember 2003).” The Jakarta Post. Aceh Utara. tuntutan yang selektif.129 Mereka dibebaskan meskipun jurubicara militer mengatakan mereka teap akan menerima hukuman kedisiplinan yang mencakup dari peringatan keras sampai dengan tiga minggu penjara. Pengadilan memerintahkan tiga tentara tersebut diberhentikan dan menghukum mereka antara dua setengah sampai tiga setengah tahun penjara.Pertanggungjawaban Tidak seperti dalam operasi di masa lalu di Aceh. Tetapi perintah-perintah Saya dan para komandan pasukan bersenjata lainnya jelas: jangan membunuh orang sipil. Sebagaimana dalam banyak kasus yang dilaporkan dalam laporan ini. Jika Saya mengirimkan sesorang keluar untuk membeli pisang goreng dan orang tersebut tertangkan karena mencurinya. pengadilan militer menjatuhkan hukuman kepada enam tentara dari Batalion Infrantri 144 lima bulan penjara karena pemukulan warga desa di Kabupaten Bireun pada 27 Mei. Aceh Utara. hukuman ringan. 10 http://www.net/vnews. Di bulan Juni.net. 20 September 2003. “Saya tidak akan mengambil tanggungjawab atas semua perintah yang Saya berikan.” Laksamana. 9 Juni 2003. Mereka tidak dikenai tuduhan karena menembak mati seorang laki-laki bernama Abubakar dalam peristiwa yang sama. No. haruskan Saya juga 49 Human Rights Watch. dan rendahnya tingkat tuduhan-tuduhan tersebut memperlihatkan kurangnya keseriusan dalam menghukum atau menghalangi kejahatan oleh anggota pasukan bersenjata. Bagaimanapun.” The Jakarta Post.” BBC News Online. 131 Tidak ada tuduhan pembunuhan yang membawa kematian para warga sipil selama operasi militer ini. Dibawah hukum darurat militer teretuduh mendapat hukuman maksimum duabelas tahun. “12 Prajurit Diadili karena Memukul Warga Desa di Aceh. meskipun salah seorang terdakwa mengakui pembunuhan tersebut.net. korban bersaksi di pengadilan bahwa mereka diserang karena tidak tahu lokasi para pemberontak separatis. 15. duabelas tentara dari Jawa Barat base Batalion Siliwangi dibawa ke pengadilan militer. menemukan tiga orang tentara bersalah atas pemerkosaan empat orang perempuan. Tiarma Siboro. Kepala TNI memberitahu majalah Time. “Prajurit dihukum dalam kasus perkosaan di Aceh.128 Pada bulan September. pada 30 Agustus 2003.130 Persidangan adalah pengecualian yang disambut baik untuk kekebalan hukum yang hampir seluruh TNI menikmatinya.” Associated Press. 127 128 126 “Tiga prajurit dalam Sidang Mengakui Menyerang Penduduk Desa. “Indonesia Mendakwa Tentara atas Pelanggaran di Aceh. 5 Juni 2003 “Prajurit Dipenjara Karena Perkosaan di Aceh. 10 (C) .laksamana. dikenai tuduhan atas pemukulan dua orang penduduk desa di Kecamatan Dewantara. Indonesia telah mengambil beberapa langkah meminta pertangungjawaban tentaranya dalam kejahatan yang terjadi di Aceh. 25 September 2003.” The Jakarta Post.” Associated Press.126 Para tentara tersebut dikenai tuduhan melanggar pasal 351 dan 55 dalam Undang-Undang Kejahatan tentang penyerangan terhadap orang sipil dan ayat 103 dalam undnag-undang kejahatan militer mengenai pelanggaran disiplin militer. atau mencuri uang untuk membelinya. pengadilan militer di Ljokseumawe. “Tentara Didakwa atas Pelanggaran Hak Asasi.” Laksamana. 19 Juli 2003.

No. Vol. 132 Human Rights Watch. 2 Juni 2003. 15. seorang pejabat militer Indonesia tertinggi yang pernah diadili dan dinyatakan bersalah melakukan pelanggaran hak asasi manusia di Indonesia. Damiri dipromosikan sebagai Asisisten Operasi untuk Kepala Staf Umum. Lihat. Damiri juga dituduh atas kejahatan terhadap kemanusiaan oleh pengadilan PBB di Timor Timur. pangadilan ad-hoc Jakarta tentang Timor Timur menyatakan Jendral Damiri bersalah atas kejahatan terhadap kemanusiaan dengan atrocities yang dilakukan di Timor Timur tahun 1999.Sebagai tambahan. Pada 5 Agustus 2003. “Aceh dibawah Darurat Militer: Dapatkah Orang-Orang ini Dipercayai untuk Mengusut Perang ini?” Makalah Ringkas Human Rights. Kasus-kasus lainnya telah didokumentasikan oleh Human Rights Watch. dimana dia terlibat dalam mengarahkan operasi militer di propinsi Aceh selama bulan-bulan pertama darurat militer.132 dihukum?” Wawancara dengan Ryamizard Ryacudu. Diluar tuduhan atas dirinya. “Tidak ada daerah yang melepaskan diri. Oktober 2003.” Time Asia. beberapa orang yang bertanggungjawab dalam kampanye militer di Aceh telah didakwa atau disangkutkan dalam pelanggaran hak asasi manusia yang serius. 10 (C) 50 . Salah seorang yang paling terkenal karena nama buruk yang disandangnya adalah Mayor Jendral Adam Rachmat Damiri. sebagaimana yang sudah didokumentasikan sebelumnya oleh Human Rights Watch.

yang menempatkan pelarangan yang tidak perlu terhadap akses untuk PBB. 3. Organisasi hak asasi manusia dan jurnalis seharusnya mempunyai akses tanpa kekangan ke propinsi tersebut. Bergerak secepat mungkin untuk mengembalikan pemerintahan Aceh kepada pengawasan sipil yang bertanggungjawab. 10 (C) . 5. Menghormati kebebasan pers dan memperbolehkan peliputan konflik senjata secara penuh dan independen. 4. 6. 2. 9. 8. Meyakinkan bahwa semua pasukan beroperasi dibawah aturan pertempuran yang konsisten dengan hukum kemanusiaan internasional. penyiksaan dan penganiayaan lainnya. Mendisiplinkan dan/atau mengusut semua petugas secara semestinya. di semua tingkatan. dan memperbolehkan para tahanan untuk memberikan petisi peninjauan kembali terhadap penahanan mereka tanpa 51 Human Rights Watch. termasuk eksekusi diluar hukum. Menahan semua tahanan hanya di tempat penahanan yang secara resmi dikenali. 15. Vol. perkosaan dan kekerasan seksual. Segera menyediakan kepada semua tahanan akses yang teratur kepada anggota keluarga dan pengacaranya. 7. lembaga swadaya masyarakat (LSM). Secara penuh menyelidiki pernyataan tanpa bukti (allegations) terhadap pelanggaran hukum kemanusiaan dan hak asasi manusia internasional. jurnalis dan orang asing di Aceh. pasukan bersenjata dan personil polisi yang tersangkut dalam pelanggaran. Semua pejuang seharusnya dilatih dan diberi pelajaran mengenai perlakuan yang sepantasnya terhadap warga sipil dan non-pejuang. termasuk pejuang yang tertangkap. pastikan bahwa ICRC mempunyai akses yang bebas dan tanpa kekangan untuk menjalankan pekerjaannya.43/2003. penghilangan secara paksa. No. Mengizinkan badan-badan kemanusiaan untuk menyampaikan bantuan secara langsung kepada penduduk yang membutuhkan. Memastikan bahwa semua komandan yang disebarkan di Aceh. badan-badan internasional. sudah menerima latihan dasar mengenai prinsip-prinsip dasar hukum kemanusiaan. daripada mensyaratkan badanbadan tersebut untuk mengirimkan bantuannya melalui badan-badan resmi Indonesia. khususnya perlindungan warga sipil dan non-pejuang. perampokan dan pemerasan. Menyusul keputusan Indonesia yang disambut baik untuk memperbolehkan ICRC datang ke Aceh.Rekomendasi Untuk Pemerintah dan Pasukan Tentara Indonesia 1. Memberitahukan semua tahanan segera dasar penangkapan dan tuduhan apapun terhadap mereka. Segera mencabut Keputusan Presiden No. Memperbolehkan Komisi Hak Asasi Manusia Nasional untuk menjalankan investigasi yang bebas dari intimidasi atau campur tangan oleh penguasa darurat militer. Mengambil semua langkah yang diperlukan untuk memastikan bahwa pasukan militer dan polisi Indonesia sepenuhnya bertindak sesuai dengan hukum kemanusiaan dan hak asasi manusia. Segera dan tanpa syarat menghapuskan larangan pengumpulan dan pelaporan berita secara langsung dari Aceh oleh media Indonesia dan asing.

Mengakui pelaksanaan hak asasi semua orang yang ditahan dan/atau dituduh melakukan kejahatan. Membuat figur yang diperbarui secara teratur untuk umum mengenai jumlah orang yang dituduh dan ditangkap dalam kejahatan yang berkenaan dengan keamanan di Aceh. No. 11. atau keamanan berkaitan dengan fungsi-fungsi. dan alasannya serta lokasi penahanan. Memelihara kelangsungan pendaftaran yang akurat nama-nama tahanan dan tempat penahanan mereka dan membuat pendaftaran semacam ini siap tersedia untuk keluarga tahanan. termasuk praktek tugas wajib jaga malam untuk laki-laki dan anak laki-laki. seperti penyitaan kartu identitas. adanya penundaan. penganiyaan dan penahanan tanpa surat perintah atas kebebasan bergerak. Bertentangan dengan praktek di Indonesia kini. 2. 13. Memastikan bahwa semua komandan. Untuk Gerakan Aceh Merdeka (GAM) 1. Vol. Mengundang mekanisme PBB yang berasngkutan untuk mengunjungi Aceh. Setiap personil yang diindikasikan seharusnya dipindahkan dari tugas aktif mereka sampai penyelesaian proses persidangan mereka. Mengakhiri praktek penggunaan orang sipil di militer. 10 (C) 52 . menerima latihan dasar mengenai prinsip-prinsip dasar hukum kemanusiaan. Menyatakan kepada umum komitmen GAM untuk mentaati hukum kemanusiaan internasional. Memastikan bahwa semua pasukan mentaati hukum kemanusiaan internasional. Menghormati pelarangan hukum kemanusiaan internasional mengenai pengungsian orang-orang sipil yang menyatakan bahwa pengungsian semacam itu seharusnya hanya terjadi dengan alasan kemanan warga sipil atau adanya tuntututan militer yang alasannya sangat penting sekali. Memberitahukan keluarga tahanan mengenai penahanan mereka. Segera menghapuskan –dari semua peran sehubungan dengan konflik di Aceh – semua personel militer Indonesia yang sudah didakwa atau diindikasikan atas pelanggaran hak asasi manusia atau hukum kemanusiaan atau kepada mereka yang terdapat bukti melakukan penganiyaan semacam itu. 14. termasuk penangkapan secara sewenang-wenang. Mengakhiri persyaratan kartu identitas khusus untuk penduduk Aceh sepanjang pemerintah tidak dapat memastikan bahwa kartu semacam ini tidak akan terus menghasilkan penyiksaan terhadap penduduk lokal. Prioritas seharusnya diberikan kepada Pelapor Khusus mengenai Esksekusi diluar hukum. 12. Diharapkan menghentikan pengambilan tindakan yang menempatkan orang sipil dalam resiko khusus. penasehat hukum dan orang-orang yang secara hukum berkepentingan. 15. pejabat yang dituduh atas tuduhan serius seharusnya mulai untuk menjalankan hukuman mereka dengan segera dan dikenai pemecatan secara administrasi dari pasukan tentara. Summary or Arbitrary Execution) dan perwakilan dari Badan Pekerja Penghilangan Secara paksa atau tidak sukarela (Working Group on Enforced or Involuntary Dissapearances). pembunuhan kilat atau yang sewenang-wenang dan (Special Rapporteur on Extrajudicial. khususnya Human Rights Watch. dengan informasi mengenai sifat dasar kejahatan yang mungkin dan tempat penahanan mereka. paramiliter. 15. di semua tingkatan.10.

2. Jepang dan Uni Eropa seharusnya secara bersama menindak lanjuti pernyataan mereka di bulan November 2003 yang mengekspresikan “keprihatinan terhadap perpanjangan keadaan darurat militer di Aceh” dan mendorong Idonesia “untuk menjalankan aktifitasnya dengan kemungkinan pengaruh yang paling minimum terhadap kesejahteraan masyarakat Aceh dan dalam pendekatan yang mengikutsertakan bantuan kemanusian. No. harus menyertakan dialog mengenai pelanggaran hak asasi manusia di Aceh. Mengajukan kondisi di Aceh dalam semua pertemuan dengan penguasa Indonesia dan tetap menuntut dibukanya akses diplomatik yang teratur ke Aceh. termasuk dua orang jurnalis yang saat ini dalam penahanan GAM. Tidak ada orang Aceh yang seharusnya dikembalikan secara paksa ke Indonesia selama keamanan mereka beresiko di Aceh. Meneruskan desakan terhadap Indonesia untuk membuka Aceh kepada LSM internasional. Sehubungan dengan partisipasi Thailand dan Philipina dalam memonitor COHA. jurnalis dan badan-badan internasional. dan pemindahan secara paksa. 53 Human Rights Watch. ASEAN seharusnya menekankan perlunya keterlibatan dalam kehadiran monitoring internasional di Aceh. penculikan. 3.” Secara bersama dan indvidual ketiganya harus menekan pemerintah Indonesia untuk mentaati hukum kemanusiaan dan hak asasi manusia di Aceh. termasuk pejuang yang tertangkap. Semua keputusan bantuan. Amerika Serikat. 15. Untuk “Kuartet” (Amerika Serikat.perlindungan warga sipil dan non-pejuang. 3. 10 (C) . termasuk eksekusi kilat. seperti yang dipinjamkan Bank Dunia. terutama kepada orang-orang yang terlantar karena konflik. Bank Dunia) 1. perbaikan lembaga-lembaga sipil dan menegakkan hukum. penyiksaan. ASEAN dan anggota-anggotanya seharusnya menggunakan kewenangan regional mereka dan meminta Indonesia untuk menghargai kewajiban internasionalnya dalam konflik di Aceh. Melepaskan semua tawanan yang ditahan dalam pelanggaran hal asasi manusia. Mengambil tindakan-tindakan untuk memastikan bahwa mekanisme yang dapat diselenggarakan dilaksanakan untuk memastikan bahwa anggota pasukan secara perseorangan bertanggungjawab terhadap pelanggaran. Uni Eropa. Orang-orang Aceh di Malaysia seharusnya diberikan perlindungan dan bantuan sepenuhnya. Vol. Untuk ASEAN 1. Untuk Pemerintah Malaysia 1. Semua pejuang seharusnya dilatih dan diberi pelajaran mengenai perlakuan yang sepantasnya terhadap warga sipil dan non-pejuang. sebagaimana yang berkenaan dengan korupsi dan reformasi yang tercatat dalam Strategi Bantuan Negara untuk Indonesia (Country Assistance Strategy for Indonesia) yang dikeluarkan tanggal 3 Desember. Jepang. Termasuk mendesak badan-badan kemanusiaan yang tidak berpihak agar mampu menyediakan bantuan kepada penduduk.

Inggris. Negaranegara yang sudah menyediakan bantuan Militer kepada Indonesia terebut. Vol. perlengkapan lainnya. Menempatkan tindakan yang efektif untuk memonitor dan memastikan pertanggungjawaban dalam penyalahgunaan senjata atau bantuan lainnya.Untuk Negara-Negara. mempunyai tanggungjawab khusus untuk memastikan bahwa bantuan tersebut tidak digunakan untuk menyumbang pelanggaran hak asasi manusia. 10 (C) 54 . termasuk senjata. dan jika perlu menyediakan bentuk lain akses untuk memfasilitasi monitoring yang efektif dan berguna sampai akhir. seperti Amerika Serikat. 15. seperti Kopassus atau Brimob. dan latihan. 2. yang menyediakan bantuan atau latihan militer kepada Indonesia 1. Human Rights Watch. No. dan Australia. Sehubungan dengan perhatian terhadap pelangggaran serius dalam kampanye Indonesia di Aceh. Menjatuhkan persyaratan yang ketat terhadap penggunaan senjata atau bantuan militer lainnya. Apapun ketentuan Amerika Serikat atas latihan atau bantuan militer kepada pasukan bersenjata Indonesia harus disyaratkan terhadap perkembangan yang jelas dalam mengadili militer dan polisi yang bertanggungjawab dalam pelanggaran hak asasi manusia. dan harus tidak ditujukan kepada cabang dan unit yang diketahui sebagai pelanggar hak asasi manusia. negara-negara penyuplai senjata seharusnya mempertimbangkan penundaan transfer senjata kepada Indonesia. sesuai dengan standar-standar hukum hak asasi manusia dan kemanusiaan internasional. 4. Indonesia mempunyai tugas wajib untuk menjaga dan menawarkan pemeriksaan terhadap dokumen-dokumen yang dibutuhkan untuk menunjukan bagaimana negara ini sudah menggunakan perlengkapan yang disuplai asing. Latihan teroris harus secara hati-hati dirancang untuk tidak mengurangi keefektifan pelarangan yang sudah ada. 3.

Aceh Under Martial Law: Can These Men Be Trusted to Prosecute This War? (Aceh dibawah Darurat Militer: Dapatkan Orang-Orang ini dipercayai untuk Mengadili Perang ini?) Makalah Ringkas Human Rights Watch.Lampiran Untuk informasi terkini lebih lanjut mengenai perang di Aceh silahkan lihat rangkaian laporan dan makalah ringkas Human Rights Watch berikut ini. Vol. September 2003 3. 2. 1. 15. 10 (C) . Memberangus Kurir. Aceh Under Martial Law: Muzzling the Messengers: Attacks and Restrictions on the Media (Aceh dibawah Darurat Militer. Oktober 2003 4. Serangan dan Pelarangan terhadap Media) Sebuah Laporan Human Rights Watch. No. Aceh Under Martial Law: Human Rights Under Fire (Aceh dibawah Darurat Militer: Hak Asasi Manusia diserang) Sebuah Makalah Ringkas Human Rights Watch Juni 2003. Nopember 2003 55 Human Rights Watch. Aceh Under Martial Law: Unnecessary and Dangerous Restrictions on International Humanitarian Access (Aceh dibawah Darurat Militer: Pelarangan yang Tidak Perlu dan Berbahaya terhadap Akses Kemanusiaan Internasional) Makalah Ringkas Human Rights Watch.

Vol. associate director. John Sifton.org Listserv address: To subscribe to the list. Saman Zia-Zarifi is deputy director. Liz Weiss is coordinator. United Nations representative. Michele Alexander. finance director. The staff includes Kenneth Roth. Jonathan Fanton is the chair of the board. We enlist the public and the international community to support the cause of human rights for all. Rory Mungoven. human resources director. and Tej Thapa are researchers.Human Rights Watch Asia Division Human Rights Watch is dedicated to protecting the human rights of people around the world. Sara Colm and Mickey Spiegel are senior researchers. to uphold political freedom and to protect people from inhumane conduct in wartime. Steve Crawshaw. Web Site Address: http://www. Thomas Kellogg is Orville Schell Fellow. executive director. Its Asia division was established in 1985 to monitor and promote the observance of internationally recognized human rights in Asia. Meg Davis. Bernstein is the founding chair.com. and Ami Evangelista is associate. No. Carroll Bogert. Brussels office director. 15. to prevent discrimination. Allison Adoradio. Maria Pignataro Nielsen. Robert L. Charmain Mohamed. Barbara Guglielmo. Lotte Leicht. Joanne Leedom-Ackerman is Chairperson of the advisory committee. operations director. London office director. development director. We challenge governments and those holding power to end abusive practices and respect international human rights law. Human Rights Watch. advocacy director. Meenakshi Ganguly. We investigate and expose human rights violations and hold abusers accountable. program director.email-publisher. send a blank e-mail message to hrw-news-asia-subscribe@topica. legal and policy director.hrw. Wilder Tayler. and Joanna Weschler. Ali Hasan. We stand with victims and activists to bring offenders to justice. 10 (C) 56 . Brad Adams is executive director. Iain Levine.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->