Human Rights Watch

Desember 2003, Vol. 15, No. 10 (C)

ACEH DIBAWAH DARURAT MILITER:
DI DALAM PERANG RAHASIA
Daftar Istilah Pendahuluan Konteks Kekerasan yang Terjadi Sekarang: Perang Panjang di Aceh Hidup di bawah Darurat Militer Meningkatnya Kehadiran di Desa Menjadikan Anak-Anak Muda Sipil Sebagai Sasaran Pelanggaran Hak Asasi Manusia dan Hukum Kemanusiaan Pembunuhan Diluar Hukum (Extrajudicial Killings) Pembunuhan Kilat (Summary Killings) Selama Operasi Sweeping Penculikan yang Membawa Pada Kematian Penghilangan Secara Paksa (Forced Disappearances) Siksaan Fisik Penahanan Secara Sewenang-wenang dan Ketiadaan Proses Pengusutan Pembatasan Kebebasan Bergerak Pemerasan dan Pembatasan Terhadap Aktifitas Ekonomi Kembalinya Jaga Malam: Tugas Wajib Jaga Malam Pengungsian dan Perampokan Pertanggungjawaban Rekomendasi Untuk Pemerintah dan Pasukan Tentara Indonesia Untuk Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Untuk “Kuartet” (Amerika Serikat, Uni Eropa, Jepang, Bank Dunia) Untuk Pemerintah Malaysia Untuk ASEAN Untuk Negara-Negara, seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Australia, yang menyediakan bantuan atau latihan militer kepada Indonesia Lampiran 2 3 8 15 17 18 20 20 21 27 28 29 34 37 41 43 46 49 51 51 52 53 53 53 54 55

NOTE: This is an unofficial translation of the text of the HRW report by Kontras (http://www.kontras.org), the Commission for Disappearances and Victims of Violence; an Indonesian human rights NGO based in Jakarta. Please see the English language version for exact wording or confirmation of footnotes and other details. Laporan HRW ini tidak secara resmi dan diterjemahkan oleh Kontras (http://www.kontras.org), Kommissi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan; salah satu LSM HAM di Jakarta. Silakan membaca edisi di dalam Bahasa Inggris untuk susunan kata tepat, atau untuk konfirmasi catatan dibawah halaman majalah atau perincian yang lain.

Daftar Istilah
Ambil malam DOM Ambil malam adalah dimana seseorang dibawa dari rumahnya di waktu malam, seringkali oleh orang tak dikenal. Daerah Operasi Militer adalah sebuah penandaan yang diberikan kepada Aceh selama operasi anti-pemberontak yang dilaksanakan dari tahun 1990 s.d 1998. Gerakan Aceh merdeka. Ini adalah nama biasa dari gerakan separatis bersenjata yang dimulai tahun 1976 Bawah Kendali Operasi, penunjukan pasukan tambahan dari luar Aceh dan ditempatkan dibawah komando lokal Tugas wajib jaga malam Kartu Tanda Penduduk Merah Putih, atau kartu identitas merah dan putih yang disyaratkan bagi orang-orang Aceh dibawah darurat militer. Komando Daerah Militer Komando Distrik Militer Komando Rayon Militer Komando Resort Militer Komando Strategis Angkatan Darat Polisi Daerah Polisi Resort Polisi Sektor Tentara Nasional Indonesia

GAM BKO Jaga Malam KTP Merah Putih

Kodam Kodim Koramil Korem Kostrad Polda Polres Polsek TNI

Pendahuluan
Jika Kamu Lari, Kamu ditembak. Jika Kamu tidak lari, Kamu dipukuli.1 —Laki-laki Aceh berusia 20 tahun Perang tersembunyi sudah mengamuk di Aceh sejak bulan Mei 2003, ketika Presiden Indonesia Megawati Soekarnoputri mengumumkan Darurat Militer di propinsi tersebut. Laporan ini mencoba untuk menyampaikan beberapa kenyataan pada perang tersebut: eksekusi diluar hukum (extrajudicial execution), penghilangan secara terpaksa (forced dissapearence), pemukulan (beating), penangkapan dan penahanan secara sewenang-wenang (arbitrarily arrest and detention), dan pembatasan atas kebebasan bergerak. Di dalam banyak peristiwa yang dideskripsikan kepada Human Right Watch, pasukan keamanan Indonesia – militer dan polisi – secara rutin terutama mengambil jalan kekerasan terhadap laki-laki muda Aceh yang diberhentikan untuk ditanyai. Para saksi mengatakan kepada Human Right Watch mengenai pembunuhan para penduduk sipil saat terjadi “sweepings” di desadesa, sebagian ditanyai atau ditahan, beberapa lainnya melarikan diri karena takut dianiyaia. Seorang laki-laki mendeskripsikan kematian seorang laki-laki bernama Jamal: “Dia masih muda, masih duapuluh tahunan. Pada awalnya Saya hanya melihat tiga orang tentara tetapi kemudian yang lainnya bergabung. Saya melihat salah satu dari tentara tersebut memborgol pergelangan kaki lakilaki ini, lalu kemudian tentara lainnya memegang kakinya dan mengayunkannya menghantam sebuah pohon. Tentara tersebut melakukannya beberapa kali sehingga kepala laki-laki tersebut membentur pohon tersebut. Otaknya terburai keluar dari kepalanya, sampai akhirnya dia meninggal. Lalu mayatnya diletakkan di jalan dan tentara lainnya menembak beberapa kali kepada mayat tersebut.”2 Indonesia telah menempatkan kabut rahasia di sekeliling Aceh, propinisi berpenduduk empat juta orang yang terletak di ujung paling utara pulau Sumatra, sebagaimana negara ini mengadakan perang terhadap Gerakan Aceh Merdeka atau GAM. Dalam banyak usaha yang sukses untuk mengontrol informasi, Indonesia telah melarang organisasi hak asasi manusia internasional dan bahkan organisasi kemanusiaan untuk memasuki Aceh dan organisasi berita internsional untuk bergerak banyak diluar Ibukota propinsi, Banda Aceh. Dengan alasan ini, Human Right Watch berangkat ke Malaysia, dimana ribuan orang-orang Aceh mencari perlindungan sesudah menantang bahaya dan perjalanan yang mahal dari zona perang Aceh. Human Rights Watch juga prihatin akan memburuknya kondisi material dan ekonomi yang dapat menandai (bahkan mencerminkan) krisis kemanusiaan, sesuatu yang Human
1 2

Wawancara Human Right Watch (nama disembunyikan), Malaysia, 27 Oktobert 2003.

Wawancara Human Right Watch dengan laki-laki berusia empat puluhan (nama disembunyikan), Malaysia, 23 Oktober 2003.

3

Human Rights Watch, Vol. 15, No. 10 (C)

Rights Watch dan organisasi lainnya sudah peringatkan sejak berbulan-bulan yang lalu. Informasi yang bersifat anekdot dari kesaksian pengungsi, cerita pers dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang bocor keluar secara sporadis dari propinsi tersebut mengesankan bahwa ribuan penduduk Aceh telah dipaksa meninggalkan rumah mereka untuk melarikan diri dari konflik yang ada atau untuk mencari makanan dan tempat berlindung. Penduduk yang tetap tinggal di rumah mereka menjadi sasaran kekurangan bahan pangan, air dan sanitasi, dan mogoknya pelayanan dasar seperti pelayanan kesehatan dan pendidikan.3 Karena laporan ini disiapkan dari beberapa wawancara diluar Aceh, maka tidak dapat melukiskan gambaran menyeluruh tentang konflik senjata ini. Tetapi mungkin fakta yang paling menganggu dalam penelitian kami adalah cerita pelanggaran hak asasi manusia yang serius dan nampak sistematis sejak dimulainya Darurat Militer tidak terbuka. Semua orang-orang Aceh yang diwawancarai oleh Human Right Watch mempunyai cerita mengenai pelanggaran tersebut untuk disampaikan. Banyak dari mereka adalah korban. Secara tidak biasanya, banyak dari mereka menyaksikan penyiksaan terhadap yang lainnya – dalam beberapa kasus pembunuhan, atau pemukulan.4 Diluar fakta bahwa pada awal Juni Kepala Staff Militer Jendral Ryamizard Ryacudu menerima pihak manapun untuk meninjau operasi di Aceh,5 propinsi tersebut hampir seluruhnya tetap tertutup untuk orang luar. Pemerintah Indonesia sudah melarang diplomat, pengamat internasional yang independen, dan LSM internasional di bidang hak asasi manusia untuk memasuki Aceh dan menganjurkan badan kemanusiaan PBB dan LSM kemanusiaan luar negeri untuk pergi. Pekerja LSM Indonesia yang mencoba memonitor situasi tersebut telah diancam tahanan oleh polisi. Bahkan sesi pelatihan Komisi Hak Asasi Manusia National di Banda Aceh dihentikan oleh polisi atas perintah penyelenggara darurat militer pada 20 Oktober. Pihak yang berwenang mengatakan bahwa komisi tersebut tidak memberitahukan mereka mengenai acara tersebut yang disangkal oleh organisasi tersebut. Petugas kepolisian berada di antara para peserta dalam sesi pelatihan tersebut.6 Pemerintah Indonesia telah sangat sukse membatasi arus informasi dari propinsi tersebut. Sebagaimana laporan Human Rights Watch terkini yang didokumentasikan, pembatasan tersebut telah menjaga media dibawah pengawasan yang ketat.7 Untuk mengecilkan laporan mereka mengenai situasi tersebut, beberapa LSM telah terdaftar sebagai tersangka simpatisan GAM, suatu penandaan yang diperingatkan petugas
Lihat secara umum pada Human Right Watch , “Aceh dibawah Darurat Militer: Larangan yang Tidak Perlu dan Berbahaya terhadap Akses Kemanusiaan Internasional,” Makalah Ringkas Human Rights Watch, September 2003. Kerahasiaan dan intimidasi yang menyertai pelanggaran hak asasi manusia yang paling serius secara umum menyulitkan pengumpulan kesaksian saksi. “Badan Hak Asasi Pemerintah Berencana Mengadakan Penyelidikan di Propinsi Aceh” The Jakarta Post, 5 Juni 2003.
6 7 5 4 3

“POLRI Melanggar Hak dalam Sesi Komisi di Propinsi Aceh”, Agence France-Presse, 2 Oktober 2003.

Human Rights Watch, “Aceh dibawah Darurat Militer; Memberangus Para Kurir,” Sebuah Laporan Human Right Watch, vol 15, No. 9 (c ), November 2003.

Human Rights Watch, Vol. 15, No. 10 (C)

4

kepolisan dapat membawa kepada hukuman mati atas alasan subversi.8 Segel yang serapat-rapatnya sudah ditempatkan Indonesia pada desa-desa dan pegunungan di Aceh menimbulkan ketakutan bahwa pasukan militer di kedua belah pihak percaya bahwa, seperti di masa lalu, mereka bisa melakukan pelanggaran yang kebal hukum. Tujuan Indonesia yang jelas adalah untuk menyembunyikan tindakan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan pasukan keamanan lainnya. Hal ini pada akhirnya telah menyembunyikan tingkat kematian dan luka-luka sipil dan militer. Sementara masyarakat Indonesia dan opini Internasional (sebagaimana dalam putaran terkahir pertempuran dengan GAM di Aceh) yang bisa jadi mendukung prinsip-prinsip integritas wilayah Indonesia, ketika berhadapan dengan gafik biaya kemanusiaan akibat perang yang hampir seluruhnya pasti tidak dapat dimenangkan dalam medan perang, maka opini tentang perang bisa jadi mulai berubah. Kebanyakan yang dideskripsikan oleh para pengungsi kepada Human Rights Watch konsisten dengan sejarah panjang prilaku pelanggaran oleh pasukan keamanan Indonesia di Aceh. Taktik militer yang terkini di Aceh dikombinasikan dengan jumah serdadu baru yang disebarkan di propinsi tersebut memastikan meningkatnya kontak antara kekuatan keamanan dengan penduduk sipil, yang dapat menjelaskan beberapa pelanggaran yang terjadi. Terlebih penting lagi adalah lingkungan yang diciptakan oleh pejabat senior militer, yang sudah bersumpah untuk ‘menumpas’ GAM dalam kerangka waktu yang diumumkan.9 “Hal ini sudah ditambahkan untuk menekan tentara dan pejabat di lapangan untuk memenuhi misi mereka dan menghancurkan mereka yang dipercaya menjadi anggota atau pendukung GAM. Tekanan-tekanan ini bertindak seperti minyak yang disiram ke api diantara pasukan bersenjata yang mencerminkan persepsi yang di pegang secara nasional bahwa orang-orang Aceh adalah ‘bajingan’, penduduk yang separatis. Keyakinan bahwa semua orang Aceh mendukung GAM, meskipun tidak ditemukan, meliputi cara berpikir militer Indonesia dan diterjemahkan di lapangan dalam bentuk penggunaan kekuatan secara tidak pandang bulu terhadap penduduk sipil, terutama terhadap para pemuda.’ Komentar yang dikeluarkan oleh Brigadir Polisi Jenderal Gulliansyah, Kepala Operasi Penegakan Hukum, pada tanggal 3 Desember 2003 adalah contoh mengerikan jenis ceramah yang membakar yang dapat membawa kepada pelanggaran dan kegagalan pasukan militer untuk membedakan antara pejuang GAM dan orang-orang sipil, “Jika perlu tembak di tempat semua orang yang mengibarkan bendera GAM ini. Siapapun yang mengibarkan bendera tersebut pasti anggota GAM.”10

“Para Pendukung GAM Dapat Terancam Hukuman Mati,” The Straits Times, 4 Juni 2003, “Jika ada Bukti, Aktivis dan simpatisan GAM akan ditangkap,” detik.com, 21 May 2003. Raja Ismail dan Abdussalam Muhamad Dell, dua orang anggota organisasi hak asasi manusia di Aceh Timur yang disebut Pos Bantuan Hukum dan HAM, PB-HAM, menghilang dalam minggu-minggu sebelum Darurat Militer. Tubuh Raja Ismail ditemukan dua hari kemudian. Lihat Amnesty International, “Indonesia Melindungi Para Pelindung; Para Pembela Hak Asasi Manusia dan Pekerja Kemanusiaan di Nanggroe Aceh Darussalam,” 3 Juni 2003. “Putaran Terakhir Pembicaraan untuk Mencegah Perang di Aceh,“ Laksamananet, 20 April 2003; Matthew Moore, “Indonesia Mengatakan akan Menghancurkan Para Pemberontak.” The Age, 5 Nopember 2003.
10 9

8

“NAD: Tembak di Tempat Bagi Pengibar Bendera GAM,” Kompas, 4 Desember 2003.

5

Human Rights Watch, Vol. 15, No. 10 (C)

Hal ini selanjutnya terlihat pada mayoritas pengungsi yang datang di Malasysia sejak dimulainya perang pada bulan Mei 2003. TNI khususnya menargetkan penduduk di kelompok usia ini di Aceh sebagai yang paling mungkin terlibat dalam aktifitas GAM. dapat menyediakan bantuan yang diperlukan. adalah sederhana: ambil semua langkah yang mungkin untuk memastikan bahwa aparat keamanan bertindak secara profesional dan menghargai hak asasi manusia dan hukum kemanusiaan. Human Rights Watch hanya mampu mewawancarai sembilan Human Rights Watch. seperti badan PBB yang terkait. Sedangkan untuk komunitas internasional. Vol. informasi yang terdapat didalam laporan ini mungkin hanya merepresentasikan puncak gunung es yang berbahaya dan menakutkan saja dari kenyataan yang sebenarnya. Wawancara di Malaysia dilakukan terutama dengan laki-laki Aceh berusia antara delapan belas sampai dengan tigapuluh lima tahun. baik internasional maupun lokal. mendisiplinkan dan mengusut mereka yang melakukan pelangguran (rekomendasi lebih lanjut terdapat di halaman 42 dan 43) dan membolehkan akses yang segera dan tanpa kekangan ke Aceh untuk pengamat independen dan tidak berpihak serta badan-badan kemanusiaan. mempunyai akses dan mampu untuk melaporkan kepada umum mengenai situasi disana. 15.Karena larangan terhadap akses. Uni Eropa. khususnya “kuartet” (Amerika Serikat. Banyak dari mereka sudah berada disana sejak Darurat Militer dimulai. Rekomendasi utama laporan ini. Gagalnya Kerangka Perjanjian Genjatan Senjata terhadap Permusuhan (the Cessation of Hostilities Franework Agreement atau COHA) memberi pukulan yang serius bagi harapan akan akhir sebuah negosiasi menjadi pelanggaran hak asasi secara besar-besaran di Aceh. tetapi malah menghasilkan gelombang baru pelanggaran terhadap hak asasi manusia. ditujukan kepada Indonesia. Pendekatan militer yang dilakukan Jakarta. Human Rights Watch menghimbau agar tekanan yang seberatberatnya ditempatkan pada Indonesia untuk menghentikan pelanggaran hak di Aceh merajalela dan memastikan kesejahteraan dan keselamatan penduduk sipil. Sebuah Catatan mengenai Para Narasumber Human Rights Watch pergi ke Malaysia untuk mewawancarai individu yang meninggalkan Aceh karena pertempuran yang terjadi. bukannya membawa akhir bagi konflik. Jepang dan Bank Dunia) yang terlibat di dalam perundingan damai antara Indonesia dan GAM. Sebagaimana di masa lalu. selain membangun proses yang dipercaya untuk menghapuskan. beberapa diantaranya datang hanya beberapa hari atau minggu sebelum diwawancara. Komunitas Internasional seharusnya membuat akses pada prioritas tertinggi. 10 (C) 6 . Kesaksian dari para pengungsi ini melukiskan contoh yang mewakili kehidupan penduduk sipil tertentu dibawah darurat militer. Hanya dengan begitu maka pelanggaran hak asasi manusia dapat dideteksi dan organisasi kemanusiaan. Hal ini penting bagi kesejahteraan masyarakat Aceh bahwa organisasi yang tidak memihak. Sekitar delapanpuluh lima wawancara dengan orang-orang Aceh dilakukan di bulan Oktober dan November 2003. No.

Sebuah catatan dalam hal pelanggaran GAM: Human Rights Watch prihatin terhadap penyiksaan yang dilakukan oleh GAM.12 Orang-orang semacam itu lebih cenderung melarikan diri ke bagian lain dari propinsi tersebut atau menyebar ke daerah lain di Indonesia daripada pergi ke Malaysia. informasi mengenai kemungkinan penyiksaan yang dilakukan GAM akan sulit diperoleh. Vol. 10 (C) . Kami sudah menghilangkan nama-nama para narasumber dari Aceh. GAM mempunyai catatan panjang tentang prilaku menyiksa di Aceh. aktivis mahasiswa. Secara khusus. laporan ini tidak berisi informasi semacam itu. Figur ini mencerminkan dua belas persen pendaftar baru di UNHCR adalah perempuan selama September 2003. Human Rights Watch menghimbau GAM untuk bertindak sesuai dengan hukum kemanusiaan internasional. selebihnya dilakukan dengan penterjemah bahasa Aceh. karena Human Rights Watch tidak mempunyai akses di Aceh.” JuliSeptember. akademisi. dengan Profil Demografis. GAM tidak seharusnya melakukan tindakan yang menempatkan orang sipil dalam resiko khusus. No. “Indonesia: Perang di Aceh. para pengungsi yang diwawancarai di Malaysia tidak melaporkan kasus semacam itu. Human Rights Watch mengakui bahwa kurangnya kesaksian tidak secara perlu berarti bahwa tidak ada penyiksaan yang dilakukan. UNHCR. atau mereka yang dicurigai menolong militer. 4 (c). Agustus 2001. Dikarenakan resiko tindakan balas dendam. vol. perwakilan LSM Malaysia. Kurangnya akses terhadap para pengamat independen membuat mustahil unuk mengetahui seberapa mewakilinya laporan ini. Para peneliti Human Rights Watch tidak bisa mewawancarai mereka yang paling beresiko terkena kekerasan oleh GAM. Human Rights Watch secara konsisten bertanya kepada mereka yang diwawancarai seandainya mereka pernah menyaksikan atau menjadi korban penyiksaan GAM. Lihat Human Rights Watch. Tetapi sebelum pemerintah Indonesia membuka Aceh untuk pengamat independen. 13. seperti etnis Jawa. desa asal mereka dan lokasi mereka di Malaysia. “Ringkasan Statistik Pendaftaran Berdasarkan Asal Etnis.11 Banyak wawancara dilakukan tanpa penterjemah dalam Bahasa Indonesia. 2003. 15. Laporan ini hampir seluruhnya terdiri dari kesaksian tangan-pertama yang meliputi banyak kabupaten di Aceh dan keseluruhan periode darurat Militer. Meskipun demikian.perempuan dewasa dan seorang anak perempuan dari Aceh.” Sebuah Laporan Human Righat Watch. 12 11 7 Human Rights Watch. dan staf di kantor United Nations High Commissioner for Refuges di Malaysia yang dianggap representatif. Tetapi. Komisi Hak Asasi Manusia Malaysia. Human Rights Watch juga mewawancarai pimpinan komunitas masyarakat Aceh. seperti penculikan atau penyitaan kartu identitas untuk dipergunakan oleh pejuang GAM. No.

Kami bisa mendapat pekerjaan. Dari bulan Juli 2001 sampai saat operasi darurat militer membuat mereka harus bertahan. Agustus 2001. Para pendiri GAM menekankan perampasan kekayaan dan sumber alam Aceh oleh penduduk baru “Orang Jawa-Indonesia” atas nama pembangunan dan kebutuhan untuk merebut kembali kejayaan masa lalu Aceh. Sayed Mudhahar Ahmad dan Yarmen Dinamika. 1998). Mei 2000. Al-Chaidar. Tetapi kini keadaan sudah kembali mengerikan. “Indonesia: Panduduk Sipi Menjadi Target di Aceh. tidak bisa mencari uang. 4 (c). dengan kehadiran terkuat khususnya di enam dari kebupaten yang terbanyak penduduknya dan tersejahtera. GAM menjalankan pengawasan terhadap bagian yang luas di Aceh. belasan ribu orang Aceh dipenjara dan disiksa di dalam Wawancara Human Rights (nama disembunyikan).” Sebuah Laporan Human Righst Watch. 62-63. Maret 2002. Vol. pergi kemanapun kami mau. disiapkan oleh pemerintah propinsi di akhir tahun 1998. no. 1995. “Indonesia. mencai kerja. Betapapun baru empat tahun terakhir ini mereka sudah membangun pangkalan penting yang terkenal. fase terburuk DOM. Perang di Aceh. —Laki-laki Aceh usia 30 tahun13 GAM sudah ada sejak para pendirinya mendeklarasikan kemerdekaannya dari Jakarta pada tahun 1976. No. Sebagai tambahan.15 Hampir semua perkiraan LSM setidaknya berjumlah dua kali lebih besar. telah dan seterusnya menjadi penting. sampai akhirnya pemerintahan Soeharto menyatakan Aceh sebagai “Daerah Operasi Militer” atau DOM dan menyusun salah satu kampanye kontra-pemberontak terbesar yang terlihat sejak tahun 1960. 13. Malaysia. hal. DOM masih ringan. Human Rights Watch. Situasi sekarang lebih dari DOM. Lihat Human Right Watch.” Makalah Ringkas Human Rights Watch. 10 (C) 8 . Sekitar seribu orang Aceh dari masyarakat sipil terbunuh dalam tiga tahun pertama operasi tersebut. tetapi spur lain yang penting untuk gerakan kemerdekaan telah menjadi kegagalan pemerintahan paska Soeharto untuk memusatkan pelanggaran hak asasi manusia di masa lalu. vol. 23 Oktober 2003. Aceh Diselubungi oleh Darah (Jakarta: Pustaka as-Kautsar. Penghitungan korban yang paling konservatif. “Indonesia: Pertanggungjawaban Terhadap Kejahatan Kemanusiaan di Aceh. Lebih dari 500 orang lainnya terdaftar sebagai “orang hilang” dan tidak pernah ditemukan. Human Rights Watch. dan struktur komando yang secara relatif terorganisir dengan baik. no 1 (c). Human Rights Watch. vol 12. Akar Pemberontakan Warga Aceh 1989-92 Lithace: Cornell Univeristy. 106. sebagian sehubungan dengan sumber daya gas dan minya. 14 15 13 Tim Kell. DOM adalah singkatan dari Daerah Operasi Militer. Selalu begitu selama DOM.” Sebuah Laporan Human Rights Watch. mencatat 871 orang terbunuh secara seketika oleh tentara. tidak bisa dibandingkan dengan sekarang. meskipun operasi dan penyiksaan berlanjut sampai sesudah DOM berakhir.Konteks Kekerasan yang Terjadi Sekarang: Perang Panjang di Aceh Kami tidak bisa hidup.14 Keluhan ekonomi. status resmi militer di Aceh sejak tahun 1990 sampai dengan 1998. dan 387 orang hilang yang kemudian pada akhirnya ditemukan meninggal. sumber persenjataan tetap. 15. Sesudah DOM selesai sempat ada setahun dimana segalanya berlangsung lebih baik. Apa yang disebut sebagai peride Daerah Operasi Militer dimulai pada tahun 1990 sesudah GAM menyusun serangkaian penyerangan terhadap pos polisi dan militer untuk merampas amunisi dan lusinan senjata otomatis. hal.

Komandan TNI. dinamika politik di propinsi tersebut mengalami perubahan genting lainnya. B. Di bulan Agustus 1999. No. Jendral Wiranto. pada titik ini. Di awal tahun 1999.J. empat elemen kunci berkumpul bersama untuk memfasilitasi perkembangan yang cepat dari gerakan kemerdekaan: sebuah organisasi gerilya bersenjata. 10 (C) . Abdurrahman Wahid. Tampaknya setiap orang Aceh di daerah yang terpukul paling berat dapat menyebutkan anggota keluarga mereka yang menjadi target utama langsung dari pelanggaran hak asasi manusia. Beberapa orang di Jakarta sepertinya memahami derajat kemarahan terhadap pelanggaran selama era DOM sudah merubah dinamika politik di Aceh: GAM sekarang mempunyai jauh lebih banyak pendukung yang mau menerima mereka daripada yang sebelumnya mereka punya. Penyiksaan terus berlangsung sampai DOM berakhir di tahun 1998. Tidak ada yang terjadi dari sana. Sejak awal 1999. memberikan propinsi tersebut lebih banyak otonomi. termasuk membangun kembali fasilitas yang dihancurkan. Pengunduran diri Soeharto di tahun 1998 menciptakan harapan di sepanjang Aceh bahwa keadilan akan dilakukan. Bagaimanapun. Habibie. Dalam hitungan hari. Rekomendasi-rekomendasi tersebut menghasilkan perubahan dalam rancangan undang-undang tentang otonomi. sebuah gerakan politik pro-kemerdekaan yang mulai timbul dan mobilisasi penduduk secara besar-besaran yang mencari saluran-saluran untuk mengekspresikan kefrustasian mereka terhadap Jakarta atas kegagalannya mengatasi pelanggaran masa lalu. dan secepatnya mengusut mereka yang bertanggungjawab atas pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan selama periode DOM. dan perkosaan menurut laporan menyebarluas. tetapi rekomendasi mengenai pengusutan diabaikan. pemerintah Indonesia sudah bergerak untuk menyelidiki dan mengusut para pejabat atas peran mereka dalam pelanggaran tersebut. secara resmi meminta maaf kepada masyarakat Aceh atas perbuatan yang keterlaluan selama era DOM. Daripada pengusutan malah terjadi peningkatan dalam jenis-jenis kejahatan hak asasi manusia yang menandai periode DOM. membuka dialog dengan pihak-pihak yang terkait dengan konflik. Sadar Rencong I. yang menerima tanggung jawab kepresidenan ketika Soeharto turun di tahun 1998. Vol. meskipun dalam tingkat intensitas yang lebih rendah daripada dalam periode 1990-1993. panitia khusus di DPR untuk Aceh membuat serangkaian rekomendasi untuk presiden baru. mengumumkan bahwa warga Timor Timur akan diberikan kesempatan untuk memilih antara pemberian otonomi dan memisahkan diri dari Indonesia. sebuah kongres yang dibentuk oleh seluruh mahasiswa Aceh meminta sebuah referendum kemerdekaan untuk dilaksanakan di Aceh. dengan 102 kasus yang tercatat oleh tim pemerintahan lokal. Komisi Hak Asasi Manusia Indonesia menyarankan untuk dibentuknya Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi khusus untuk Aceh. hal ini bisa membuat pemutusan dengan masa lalu yang menentukan. Operasi militer dibawah serangkaian kode-kode nama – Wibawa 99. Seandainya. Yang keempat adalah serangkaian kesalahan di Jakarta. sosok-sosok kunci dalam hirarkis DOM berlanjut untuk menduduki posisi-posisi yang berpengaruh di seluruh Indonesia.kamp militer. Di bulan Desember 1999. 15. dan Cinta Meunasah I dan II – 9 Human Rights Watch. II dan II. Pada bulan Agustus 1998.

dengan ketidaksenangan militer Indonesia. GAM mampu untuk menghasilkan pemasukan yang penting dalam “pajak perang” dari perseorangan dan bisnis. Jumlah pasukan dinaikan dalam usaha sistematis yang ditujukan kepada kubu dan markas GAM yang dicurigai. Kadang melalui persuasi. dalam menjadi menengahi perundingan antara GAM dan pemerintah Indonesia. “saat pemimpin perempuan kalian memimpin negara ini. Nama yang diberikan kepada usaha perdamaian berubah dari ‘jeda kemanusiaan’ menjadi ‘penundaan kekerasan’ lalu menjadi ‘perdamaian melalui dialog”. Pada tanggal 9 Maret 2001. Julia Suryakusuma. 15. 30 Juli 1000. tetapi usaha dasar untuk menjaga pembicaraan antara pihak-pihak terkait terus berlanjut. Human Rights Watch. HDC menghasilkan suatu “jeda kemanusiaan” dalam konflik tersebut. dengan 16 “Penduduk Desa Aceh Menemukan Pemakaman Masal”. dan kepergian militia pro-Indonesia dari timur sampai barat Timor menyediakan sumber persenjataan baru yang utama. untuk mendiskusikan masalah keamanan dan kekerasan selama ‘jeda’ tersebut. terdiri dari baik GAM maupun perwakilan pemerintah. Vol. kandidat presiden Megawati Soekarnoputri menjanjikan bahwa jika dia terpilih maka dia akan berusaha kerasa untuk mengakhiri komflik yang sudah berjalan begitu lama. dan mengadakan kembali dewan sesepuh desa yang sudah ada sebelum Aceh bergabung dengan Republik Indonesia. Henri Dunant Centre. Mereka melakukannya dengan mengganti kepala-kepala desa. jenjang dasar dinas pemerintah Indonesia. Aceh Timur dan Aceh Selatan. kekerasan menurun dengan tajam. 10 (C) 10 .”16 Di pertengahan tahun 2000 datanglah organisasi yang berlandaskan resolusi konflik dari Geneva. membangun kemarahan orang-orang yang meningkat. “Perang Kecil untuk Menyokong Penilaian”. yang melihatnya sebagai cara GAM untuk mengkonsolidasikan kontrolnya terhadap daerah pedesaan. 29 Agustus 2003. Sejalan dengan meningkatnya kekerasah dari pihak Indonesia. suatu gencatan senjata yang bukan sungguhan. Pada bulan-bulan pertama ‘jeda’ tersebut. Aceh barat. GAM secara berangsur-angsur mengambil alih kebanyakan fungsi-fungsi pemerintah yang dimulai dari Kabupaten Pidie dan berangsur berpindah jauh kedalam Aceh Utara. Di bulan Mei 2000. Di saat yang sama. No. Pada bulan Juli 1999. GAM. Sebagai bagian dari perjanjian berkenaan dengan ‘jeda’ tersebut. yang kemudian berganti nama menjadi Pusat Dialog Kemanusiaan (the Centre for Humanitarian Dialogue atau HDC) kedalam situasi tersebut. panitia dibentuk di Aceh.membawa kepada jumlah serdadu lebih besar dan seluruh desa dihukum sebagai pembalasan dendam atas serangan GAM. tanpa diduga sebelumnya oleh orang-orang. serangan oleh GAM kepada militer dan polisi juga meningkat. Menitikan air matanya di Aceh dia mengumumkan. menteri pertahanan Indonesia dan komandan TNI mengumumkan operasi militer baru melawan GAM. BBC World News. kadang melalui penculikan dan sejenis pendidikan kembali untuk pejabat-pejabat pemerintah daerah. International Herald Tribune. Saya tidak akan mengizinkan satu tetes pun darah manusia menyentuh tanah kalian. mulai bergerak diluar penyerangan sporadis terhadap polisi dan tentara untuk menyiapkan sebuah pemerintahan alternatif. yang sukses. Jeda tersebut diperbaharui dua kali.

Jepang dan Bank Dunia. Komisi Hak Asasi Manusia Indonesia. (“kuartet”). Baik perkiraan pemerintah maupun GAM tidak dapat diandalkan (misalnya jumlah orang sipil yang hilang yang berasal dari pemerintah hanya terbatas pegawai pemerintah saja) dan LSM di lapangan. mengakui bahwa mereka tidak mampu untuk mengumpulkan data di lapangan secara efektif. Muninggar Sri Sraswati. meskipun para penduduk lokal menolaknya. Sesudah penangkapan terhadap empat juru runding GAM dan runtuhnya parit-terakhir (last-ditch) pembicaraan damai di Tokyo. No. dan dibawah tekanan dari Amerika Serikat. tanggal 19 Mei 2003. Segera terdapat tuduhan berkaitan dengan kekerasan terhadap hak asasi manusia oleh TNI. GAM menuduh bahwa Indonesia tidak berunding dengan niat baik. Militer mengatakan semua korban adalah anggota atau mata-mata GAM.17 Jumlah pasti korban-korban sipil sulit untuk ditetapkan mesipun semua pihak mengesankan bahwa korban sipil dan pejuang (GAM) sangat besar. 10 (C) . Vol. 14 Juni 2003. Indonesia berkeras bahwa GAM tidak mengakui tuduhan hendak merebut kemerdakaan dan menuduh GAM menggunakan COHA untuk membangun kembali kekuatan bersenjatanya dan meluaskan basis politiknya. dan TNI serta dinas keamanan Indonesia lainnya menggembar-gemborkan untuk ‘menumpas’ GAM dalam periode tersebut meskipun banyak pengamat menyangsikannya. meskipun organisasi tersebut mengatakan bahwa hal tersebut tidak dapat 17 “Badan Hak Asasi akan Memeriksa Laporan Pemakaman Masal di Aceh Minggu Depan. 20 Juni 2003. meskipun mereka tidak menyalahkan secara umum. Pada bulan Desember 2003.banyak tuduhan dari organisasi lokal atas nama penududuk sipil yang terbunuh selama proses tersebut. Meskipun COHA tidak menunujukan perbedaan yang mendasar. Uni Eropa. dan 151 mayat di akhir minggu ketiga. termasuk dua orang bocah berusia dibawah empat belas tahun. “Badan Hak Asasi Menegaskan Pembunuhan atas Warga Sipil Tanpa Nama di Bireuen. dan pada mulanya membawa pengurangan kekerasan. seperti organisasi terhormat seeperti Kontras cabang Aceh. Komnas HAM. tapi membuka pintu terhadap lebih banyak perundingan yang dilakukan dalam pengawasan internasional. Palang Merah Indonesia melaporkan bahwa mereka menemukan delapanpuluh dua mayat di minggu pertama. menegaskan bahwa anak-anak tersebut berada diantara korban pembunuhan extra-judicial di Aceh. 15.” Agence FrancePresse. Meskipun begitu hanya terdapat sedikit kemajuan terhadap penyelesaian konflik secara politis. dengan perantara HDC.” The Jakarta Post. Presiden Megawati menandatangani Keputusan Presiden nomor 28. Indonesia dan GAM menandatangani Perjanjian Kerangka Gencatan Senjata atas Permusuhan (the Cessation of Hostilities Framework Agreement atau COHA). Dalam satu kasus yang dilaporkan dengan baik dari hari-hari pertama Darurat Militer. yang memberi wewenang kepada pasukan kemanan Indonesia untuk melancarkan operasi militer besar-besaran melawan GAM. sesudah kunjungannya pada bulan Juni ke propinsi tersebut. 11 Human Rights Watch. Ini adalah harapan terakhir yang terbaik untuk perdamaian di Aceh. pada tanggal 21 Mei para tentara membunuh tujuh orang. Semua korban memakai pakaian sipil. Keputusan tersebut menempatkan Aceh dibawah Darurat Militer selama enam bulan.

penguasa darusat militer membatasi gerakan tim sama sekali. BBC memberitakan bahwa dalam minggu pertama operasi. “Pertanyaan sesunggunya adalah berapa banyak dari orang-orang tersebut yang dideskripsikan sebagai pemberontak pada kenyataannya adalah GAM. “Komnas HAM Hendak Menyelidiki Pelanggaran-Pelanggaran di Aceh. Pemerintah Indonesia melaporkan bahwa sekitar 1. “Perang Indonesia dengan Para Separatis Memakan 1.” Reuters. 5 September 2003. Di sekitar Lhokseumawe jumlah tersebut dilaporkan sebanyak enam orang per hari. 3 Juni 2003. 23 22 Memperhatikan ketidaksesuaian antara anggota GAM yang berdasarkan laporan terbunuh (1. Perang Kotor yang Tidak Terungkap. Vol. 21 M. “Pelanggaran Hak Asasi di Aceh Dapat Membawa Intervensi PBB. LSM tersebut menekankan bahwa jumlah sebenarnya kemungkinan lebih besar karena adanya keterbatasan pelaporan dan investigasi. 15. “Makalah Ringkas tentang Aceh: Propinsi Aceh.” Ahmad Pathoni. 11 Juni 2003.100 anggota GAM telah terbunuh di bulan Oktober. Sebagai contoh. 22 Pemerintah Indonesia menyalahkan GAM atas korban-korban tersebut. 19 dan jumlah korban lebih jauh dari dua pusat perkotaan tersebut kemungkinan lebih tinggi. 2003. termasuk pembunuhan. pelecehan seksual. Kebanyakan perkirakan mencatat secara khusus tingginya korban sipil di Aceh Utara dan Aceh Timur. “Indonesia Melancarkan Kampanye Aceh Melawan Pemberontak. perkosaan dan pemindahan (displacement) secara paksa.” The Jakarta Post. 21 Di bulan November.18 Dalam indikasi lain tentang tingginya jumlah korban awal. 20 Tertiani ZB Simanjuntak. tetapi dalam pernyataan secara umum komisi tersebut mengatakan bahwa pembunuhan. No.100) dan senjata yang ditemukan (485). Dean Yates. 213 kasus penangkapan dan penahanan secara sewenang-wenang. 10 (C) 12 . juru bicara militer melaporkan bahwa setidaknya 395 orang sipil telah terbunuh sejak dimulainya Darurat Militer. Aceh Timur (70) dan Aceh Selatan (45). 18 Human Rights Watch. Komnas HAM mengatakan bahwa di awal bulan Juni mereka akan meneyelidiki lebih dari dua puluh kasus tentang pelanggaran hak yang diduga keras terjadi selama dua minggu pertama operasi militer di propinsi tersebut. May 26.menegaskan bahwa mereka semua non-pejuang.” September 2003. Aceh Selatan. “Deutsche Presse-Agentur. 26 May 2003. pelecehan seksual.” Reuters. Bireun. Kontras Aceh. Sidney Jones dari Kelompok Krisis Internasional (Inetrnational Crisis Group) telah mencatat. Pencapaian yang Tidak Jelas. Meskipun tidak ada kasus dimana korban diganggu oleh pelaku. Lihat “319 warga sipil terbunuh dalam Kekacuan Aceh di Indonesia.” Agence France-Presse. Human Rights Watch prihatin baik kepada mereka yang diklasifikasikan sebagai GAM namum ternyata orang sipil. dan juga anggota GAM yang mungkin terbunuh diluar pertempuran dalam pelanggaran hukum kemanusiaan. kamar mayat rumah sakit utama Banda Aceh menerima rata-rata tiga mayat per hari. dan Aceh Besar. Tidak ada laporan yang dikeluarkan. dan tergantung dari sumber dan bentuk penyiksaan. Perkiraan Kontras Aceh pada tanggal 18 Agustus menempatkan jumlah yang kurang lebih sama yaitu 329 warga sipil terbunuh. dan tujuhpuluh delapan sipil menjadi korban penghilangan secara paksa. dari 319 kematian warga sipil yang dilaporkan oleh polisi pada tanggal 3 September 2003. korban sipil terbesar berasal dari Aceh Utara (110). begitu juga 315 warga sipil disiksa atau dipukuli. Taufiqurrahaman.600 Korban.” The Jakarta Post. 23 Agustus 2003.23 18 “Palang Merah Indonesia Mengatakan Memindahkan 151 Mayat di Aceh. kebanyakan dari mereka adalah para pemuda dengan luka tembak. Kontras Aceh menemukan bahwa banyak warga sipil menjadi korban selama operasi militer di Indonesia dalam pencarian para gerilyawan. 19“Permintaan Suplai Tambahan di Aceh” British Broadcasting Corporation. perkosaan dan pemindahan secara paksa dan penculikan masih tetap merajalela. 20 Meskipun tim komisi ad-hoc dapat bertemu dengan lebih dari seratus orang saksi mata dalam misi kedua mereka selama lima hari di bulan agustus.

Tetapi usaha apapun yang bisa dilakukan pemerintah Indonesia untuk membatasi kengerian perang bagi penduduk sipil. kesejahteraan sosial. yang cenderung lebih terlibat dalam operasi militer. Banyak dari November 2003. Vol. 2 Juni 2003. 10 (C) .” Wawancara dengan Ryamizard Ryacudu. Kesatuan tempur yang kuat dari kekuatan militer Indonesia telah disebar di Aceh. “Militer Indonesian dan Militia Sipil di Timor Timur” Backgounder Human Rights Watch. Dalam kampanye militer tebesar militer Indonesia sejak penyerbuan ke Timor Timur. Mayor Jenderal Endang Suwarya. dan pemerintah daerah.000 senjata. Lihat Human Rights Watch. “Tidak Ada Daerah yang Bisa Melepaskan Diri: Time Asia. Tetapi sejauh ini sejak propinsi tersebut tertutup dari pengamat internasional independen. otonomi. April 1999. Operasi terpadu ini disusun sebagai usaha untuk memenangkan perang dengan GAM sekaligus memenangkan hati dan pikiran penduduk lokal. kesaksian yang dikumpulkan dalam laporan ini memperjelas bahwa operasi militer lah yang mempunyai pengaruh terhebat terhadap penduduk sipil. kabupaten (Kodim). 15. Kepala TNI Ryamizard Ryacudu menyatakan dalam sebuah wawancara. 26 Oktober 2003.25 Pasukan polisi termasuk polisi lokal. penegakan hukum kemanusiaan. meskipun mereka dikenal dengan reputasi buruk karena keterlibatan mereka dalam pelanggaran hak asasi manusia sepanjang kepulauan ini. Kopassus. “Tugas kami adalah untuk menghancurkan kemampuan militer GAM. Unit tentara termasuk ‘organik’ atau kekuatan berbasis lokal tingkatan kelurahan (Koramil). sebagaimana juga kekuatan Kostrad dan Kopassus untuk membantu pengumpulan operasi dan intelijen.24 Suatu ukuran dari peran utama operasi militer dalam operasi terpadu ini adalah luasnya cakupan upaya militer. Penyelenggara Darurat Militer di Aceh. Unit “non-organik” dikirim dari bagian lain Indonesia termasuk battalion infantri dari propinsi lainnya.000 pemberontak GAM dengan 2. efektifitas dan kekuasaan programprogram non-militer akan sulit untuk dinilai. pada tingkatan kecamatan (polsek) dan propinsi (Polda) dan unit brigadir mobil polisi paramiliter.Pengenaan darurat militer berarti bahwa semua instrumen pemerintah sekarang berada di bawah kontrol militer. yang mengenakan baret merah. yang menurut pemerintah Indonesia termasuk komponen-komponen militer. persoalan keadian. diperkirakan 28. Brimob. 24 Diluar sifat dasar terpadu operasi. Wawancara Human Rights Watch dengan seorang laki-laki berusia empat puluh-an (nama disembunyikan). TNI akan menempatkan bukti bahwa korban tersebut adalah anggota GAM. sering bekerja bersama-sama dengan unit militer. Beberapa orang Aceh di Malaysia menyatakan bahwa sesudah membunuh seorang warga sipil. 25 13 Human Rights Watch. meskipun hanya dengan satu kesaksian saksi mata. fokus yang berlebihan telah ditempatkan pada operasi militer. No. adalah spesialis dalam pengumpulan intelijen dan operasi khusus dan dianggap sebagai kebanggan pasukan tentara.000 polisi (kebanyakan dari mereka menjalankan fungsi paramiliter) telah disebarkan propinsi tersebut untuk berperang melawan sekitar 5. mengawasi semua aspek dari operasi ‘terpadu’ Indonesia di Aceh. Kostrad dapat dikenali melalui baret hijau mereka dan sebagai pasukan tentara khusus TNI. sub-regional (Korem) dan regional (Kodam). atau “pasukan khusus”. Malaysia.000 pasukan dan 12. agama. pendidikan – hal-hal tersebut bukanlah masalah militer Indonesia.

Bulletin Online 159. kapal amfibi. atau Kodam. untuk Aceh. yang menjadi bagian dari komando yang lebih luas yang berpusat di propinsi tetangga Sumatera Utara. strategi penyergapan dan teknik-teknik tembak-untuk-bunuh. 10 (C) 14 . Human Rights Watch. menggantikan Mayor Jendral Bambang Darmono. udara dan marinir Indonesia juga sudah memainkan peran dalam kampanye melalui penyerbaran kapal-kapal perang.mereka telah dikirim dari luar Aceh untuk membantu operasi (dikenal sebagai BKO atau Bawah Kendali Operasi. tank-tank. Satuang tugas menurut laporan telah dilatih oleh Kopassus dalam peperangan anti-gerilya. 17 April 2001. pasukan terjun payung. kapal-kapal tempur dan helikopter. pertempuran di daerah hunian. pasukan pembentu yang penting) Pada tahun 2002 penguasa militer menciptakan komando regional baru. 26 “Kopassus BErsiap Menumpas Pemberontak Aceh. barisan terdepan perburuan GAM adalah pegunungan dan hutan. Tapol. Brigadir Jendral Goerge Toisutta tersebut pada bulan November sebagai komandan operasi militer dibawah Darurat Militer untuk TNI di Aceh. Angkatan laut. Korem Teuku Umar di Banda Aceh dan Korem Lilawangsa di Lhokseumawe. No.26 Meskipun konflik dapat mengambil tempat dimanapun. pertempuran jalanan. Desa-desa dalam atau dipinggir daerah-daerah ini secara khusus cenderung terjebak didalam peperangan mereka. Sebagai tambahan. Marinir dan Kopassus. termasuk Kostrad. Aceh mempunyai dua Korem. September 2000. Kodam Iskandar Muda dikepalai oleh Mayor Jenderal Endang Suwaryo. satuan tugas Rajawali beroperasi di unit pasukan peleton yang dibentuk dari pasukan yang berasal dari cabang dan wilayah yang berbeda. 15.” The Jakarta Post. yang juga sekarang menjadi penyelenggara Darurat Militer. Vol.

tahun 1998. Saya pulang ke rumah secara sukarela. darurat militer datang.Hidup di bawah Darurat Militer Harus dimengerti bahwa para pejabat kami berprilaku cukup agresif di mata umum. kartu identitas. di Langsa (Aceh Timur)… Saya menelepon rumah tanggal 5 Oktober dan pos TNI yang berada di dekat rumah Saya sudah bertambah dari satu pos menjadi tiga pos – kami berada dekat pegunungan. tetapi mereka juga menggambar-gemborkan penyebaran sekitar 28. seorang laki-laki duapuluh lima-an. 15 Human Rights Watch. Wawancara Human Right Watch dengan laki-laki berusia empat puluh dua tahun (nama disembunyikan).28 Dimulainya kampanye militer Indonesia di Aceh dalam bulan Mei ditandai dengan pertunjukan kekuatan besar-besaran. Seorang laki-laki berusia dua puluh lima tahun. menuju ke Barat… Pada tempat pemeriksaan mereka memeriksa tas-tas. menggambarkan usahanya untuk meninggalkan propinsi tersebut: Saya datang kesini (Malaysia) ketika segalanya pertama kali meledak. 5 November 2003. 15. tetapi mereka pada dasarnya personil yang ramah dan bersahabat. tetapi sesudah tiga bulan. dengan militer Indonesia memamerkan pasukan dan perlengkapan terbaik mereka didepan pers dunia. yang lainnya. —Juru bicara untuk administrator daurat militer Kolonel Ditya Soedarsono. Kami bahkan tidak bisa menangis lagi dengan trauma yang kami alami hari ini.000 pasukan dan 12. yang meninggalkan Aceh dua minggu sebelum darurat militer dimulai. Dua orang yang berada dalam bus ditahan: satu di Alue Ie Puteh di Aceh Utara. Vol. 26 Juli 2003. No.27 Kami tidak menangis. yang kembali ke Aceh dari Malaysia pada bulan Maret ketika the COHA diberlakukan. Pada saat itu Saya sedang berada di Kecamatan Samalanga. Saya berharap untuk menetap selama enam bulan.” The Jakarta Post. 10 (C) . Penjelasan atas kampanye tersebut diterangkan sebelum pernyataan resmi Darurat Militer. Saya pergi dari Aceh ke Medan dengan minibus. Keadaan hanya sedikit aman selama periode tersebut. Pada hari dimana (presiden) Megawati 27 28 “TNI Berencana untuk Menyusun Ulang Penyebaran Pasukan di Aceh. Kabupaten Bireun. setiap hari di Aceh. Bis Saya harus menunggu dua puluh menit untuk lewatnya iring-iringan truk tentara sebanyak tigapuluh lima truk. Bulan Maret 2003. kepada Human Rights Watch: Sudah jelas apa yang akan terjadi. —Laki-laki Aceh berusia empat puluh tahun. Air mata kami semua sudah kering. Malaysia. Sudah terdapat banyak TNI.000 polisi yang bertugas “menumpas” GAM. Bom sonik dan peragaan udara oleh Angkatan Udara Indonesia memang jadi sekedar untuk pertunjukan. tujuan. Sebagaimanya yang dikatakan bekas aktifis mahasiswa.

lebih dari 21. dan pencarian secara sistematis dari satu desa sesudah desa lainnya. intensifikasi operasi intelejen. TNI datang mencari GAM. Mereka yang dari laut (datang) dari laut.” Reuters. Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki limapuluh tujuh tahun (nama disembunyikan).32 Pada akhir Juli.30 Hari-hari sesudah pernyataan Darurat Militer. Vol. No. Orang bilang di Samalaga terdapat tiga buah tank. Human Rights Watch. kendaraan amphibi. 24 Oktober 2003. 28 Oktober 2003.mengumumkan darurat militer secara resmi… TNI datang ke Aceh. pejabat militer mengumumkan beberapa perubahan terhadap strategi tersebut.31 Operasi termasuk patroli yang luas dan ‘penyapuan’ (sweeping). Saya tidak bisa tinggal di Aceh lagi. mereka yang dari laut. militer membawa artileri berat dalam posisi untuk menyerang basis pemberontak. 2003. yang dimaksudkan untuk mengurangi korban sipil. “Indonesia Melancarkan Aceh Kampanye Melawan Pemberontak. Banyak yang sudah diancam. bertanya-tanya seandainya Saya akan hidup atau mati. 26 May. 32 31 Dean Yates. 29 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia dua puluh lima tahun (nama disembunyikan). (datang_ dari laut. lebih banyak patroli kerjasama militer dan polisi untuk membatasi gerakan para pejuang GAM. Malaysia. Saya sedang menanm padi. Begitu banyak hal yang telah terjadi. Enam jet tempur lewat di atas kepala Saya. peluru-peluru di sawah. Saya bisa mendengarkannya dari desa Saya. Pagi berikutnya terdengar suara peluru dan ledakan.000 orang sipil meninggalkan rumah-rumah mereka. pemeriksaan dokumen. termasuk unit-unit yang lebih kecil disebarkan dalam pencarian kepemimpinan GAM yang kebanyakan tidak sukses. taktik yang dirancang untuk mengindentifikasikan separatis atau pendukung mereka melalui pencarian kendaraan. Perlengkapan untuk Memerangi Pemberontak Aceh. Teman-teman Saya dipukuli oleh militer. Bahkan pembicara-pembicara Indonesia sering menggunakan istilah bahasa inggris “sweepings”. 26 May 2003. Tapi kami katakan kepada mereka bahwa tidak ada GAM disana – yang mati hanyalah sapisapi dan ayam-ayam.29 Seorang laki-laki dari Aceh Tengah yang tiba di Malaysia di awal Agustus mengatakan pada Human Rights Watch: Saya meninggalkan Aceh karena terdapat pertempuran dan tembakan senjata setiap hari antara TNI dan GAM di segala penjuru Aceh. 15.” Associated Press. 30 “Indonesia Memindahkan Pasukan. Traumanya terlalu banyak. dan meningkatkan operasi di waktu malam. 10 (C) 16 .

kami dipukuli.Meningkatnya Kehadiran di Desa Gelombang pasukan tidak hanya untuk operasi tempur melawan pasukan GAM di pegunungan dan hutan. Meningkatnya kehadiran di desa-desa nampaknya bertujuan untuk membatasi dukungan materi dan moral dari penduduk lokal untuk GAM dan kemampuan GAM untuk mengambil pengungsi di desa-desa dan mengikutsertakan mereka dalam pengerahan. karena kami trauma. No. Tentara-tentara tersebut takut pergi ke pegunungan. Hampir semua orang yang diwawancarai oleh Human Right Watch berbicara tentang pos-pos keamanan baru yang didirikan oleh TNI dan Brimob sejak dimulainya Darurat Militer. satu kelompok. sekitar tiga puluh tentara. 17 Human Rights Watch. TNI mencari GAM. Malaysia. 27 Oktober 2003. kontak antara orang sipil dan militer sekarang adalah kejadian sehari-hari. kemudian mereka turun kebawah selama dua hari untuk mengambil makanan dan beristirahat. Vol. 26 Oktober 2003. 33 Wawancara Human Right Watch dengan perempuan berusia tigapuluh-an (nama disembunyikan).34 Seorang laki-laki yang meninggalkan Aceh pada 5 Oktober menjelaskan: Saya meninggalkan Aceh karena kemanan menurun. ketika mereka membangun pos di desa. Sebagaimana seorang perempuan yang tiba di Pidie pada tanggal 25 Oktober menjelaskan: Konflik ada disana. di dalam semua dusun kecil. Mereka membunuh kami seperti semut. dengan pos-pos militer setiap dua kilometer. 15. TNI akan sering masuk desa. khususnya jika desa tersebut berada di tepi peguningan seperti desa kami. Jika kami tidak tahu dimana GAM. tidak peduli kami melakukan sesuatu yang salah atau tidak. Dari hari pertama sudah ada perasaan baru. Beberapa narasumber menjelaskan bahwa padahal kesatuan-kesatuan tentara sebelumnya hanya datang ke desa sekali seminggu.”33 Pelanggaran hak asasi manusia yang meningkat tajam sejak darurat militer dimulai bisa jadi sebagian disumbangkan dari meningkatnya kontak sehari-hari antara tentara dan penduduk desa. Mereka membangun pos-pos tepat di desa-desa. jika GAM tidak ditemukan mereka menyerang penduduk. sebelum naik ke atas lagi. Teman-teman kami sekarat akibat konflik. sampai sebulan yang lalu. Pasukan keamanan tinggal disana sekarang. 10 (C) .. Biasanya mereka akan menghabiskan waktu satu minggu di pegunungan. Seorang laki-laki berusia dua puluh lima tahun yang meninggalkan Aceh Selatan satu minggu sesudah Darurat Militer mulai menjelaskan: Dari hari pertama darurat militer. istri dan keluarga Saya sudah mengatakan pada Saya untuk pergi… Mereka (TNI) “suka-suka tembak”. Saya rasa Rajawali. Malaysia. 34 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh lima tahun (nama disembunyikan).

Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia tigapuluh lima tahun (nama disembunyikan). Aceh Timur menjelaskan: Dibawah darurat militer rumah seringkali dikunjungi. Dugaan sebelumnya adalah bahwa pemuda yang meninggalkan desa bergabung dengan GAM. Malaysia. “Dimana para lelaki?” Saya tidak berani tinggal di rumah. 28 Oktober 2003. 39 Human Rights Watch. TNI mencurigai semua laki-laki muda sebagai GAM. Dalam beberapa kasus pencarian rumah-ke-rumah disertai dengan kekerasan secara fisik. Malaysia. Kantornya ada di desa Saya. 38 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia dua puluh tahun (nama disembunyikan). Mereka bilang. tetapi hanya sejak darurat militer dimulai. ke Thailand dan berkata mereka mengamankan Aceh.39 35 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia dua puluh satu tahun (nama disembunyikan). Malaysia. tetapi keluarga saya bilang jangan. 26 Oktober 2003. No. Mereka bertanya. Malaysia. 28 Oktober 2003. 38 Seorang laki-laki yang meninggalkan Aceh Utara ke Malaysia pada bulan Juni memberitahukan Human Rights Watch: Di Aceh. ke Eropa. “Kamu GAM!” Saya bilang pada mereka. Malaysia. dan informasi mengenai pemuda manapun yang meninggalkan desa. 26 Oktober 2003. Saya mau pulang ke rumah untuk liburan. 36 37 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki Aceh berusia delapan belas tahun (nama disembunyikan). Setiap hari di Aceh Saya harus melapor pada kantor TNI sehingga mereka bisa memeriksa bahwa saya tidak pergi dan bergabung dengan GAM. “Saya orang biasa!” Mereka memukul dan menendang. Wawancara Human Rights Watch (nama disembunyikan). senjata-senjata dan amunisi. Mereka datang seminggu tiga kali. 37 Seorang laki-laki berusia tigapuluh lima tahun yang tiba di Malaysia bulan Oktober dari Peuruelak.Saya dipukuli dua kali… Tidak ada GAM di desa Saya sejak Darurat Militer dimulai. sudah belasan kali. 15. Mereka tidak mengamankan Aceh. Seorang laki-laki yang masih muda di Aceh akan dipandang dengan kecurigaan dan beresiko.35 Menjadikan Anak-Anak Muda Sipil Sebagai Sasaran TNI pernah pergi ke Amerika. Seorang laki-laki muda memperkirakan bahwa pasukan keamanan sudah mendatangi rumahnya lima kali sebelum dia meninggalkan propinsi tersebut menyerangnya setiap kali. 36 —Perempuan Aceh berusia tigapuluh tahun Taktik pasukan kemanan Indonesia yang biasa adalah pencarian rumah-ke rumah terhadap anggota GAM. Vol. 10 (C) 18 . mereka datang hanya untuk membunuh kami. 23 Oktober 2003. Tetapi para pemuda yang tetap berada di desa seringkali dijadikan sasaran sebagai tersangka simpatisan GAM.

Seorang laki-laki lain memberitahukan Human Rights Watch kenapa dia datang ke Malaysia: Seluruh keluarga Saya tetap tinggal. 9 Oktober 2003. Mereka berasal dari usia sekolah sampai usia tiga puluh enam tahun. orang-orang. beberapa dari mereka menderita luka dalam. Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia empat puluh tahun (nama disembunyikan). Saya mendengar mereka bertanya pada anak-anak muda tersebut mengenai GAM dan memukul mereka. semua anak muda pergi ke Banda Aceh. Akhirnya anak-anak muda tersebut diperbolehkan untuk pulang ke ruamh. tetapi beberapa orang tua pingsan karena apa yang terjadi kepada anak-anak mereka. 10 (C) . Mereka datang ke desa. 41 19 Human Rights Watch. Saya anak satu-satunya. satuan tugas Rajawali datang ke desa… Tanggal 17 Agustus (Hari Kemerdekaan Indonesia) TNI memasuki desa mencari GAM. Malaysia. dan mereka dibawa ke lapangan sekolah di sebebelah. 23 Oktober 2003. Mereka tidak menemukan GAM maka mereka memukul Saya. Batalion 113. Tentara tersebut berasal dari Rajwali. Saya seorang laki-laki jadi Saya dicurigai menjadi GAM. diserang sebagai GAM. Vol. sekitar dua puluh tentara. Medan dan Kuala Lumpur. Sesaudah itu. Saya sedang berada dekat kedai kopi. No. Malaysia. Mereka kemudian memaksa orang-orang untuk bergabung dalam perayaan Hari Kemerdekaan. Kami dipisahkan antara laki-laki. 15. karena orang-orang yang tinggal di sekitar pos komando militer tingkat kecamatan tidak dipaksa untuk bergabung. orang tua Saya tinggal di Pidie.40 Seorang laki-laki dari Pidie memberitahukan Human Rights Watch tentang an assault oleh anggota satuan tugas Rajawali terhadap penduduk yang paling muda di desa: Kurang dari seminggu sesudah (Hari Kemerdekaan Indonesia) setiap orang diberitahukan untuk berkumpul di meunasah (tempat sembahyang). Setiap hari ada perang antara GAM dan TNI. tetapi sepuluh orang harus pergi ke rumah sakit. perempuan dan anak-anak muda.41 40 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia sembilan belas tahun (nama disembunyikan). satu perusahaan. Kelompok anak muda sekitar tiga puluh orang. Sekitar jam 8 malam. Ada sekitar empat puluh tentara. karena akan ada operasi di pegunungan. Dua kelompok lainnya tidak dipukuli. sebelumnya mereka membangunkan kami melalui kepala desa dengan menggunakan mikrophon. Jika TNI tidak menemukan GAM kami. Mereka memulainya jam 5 pagi. Lebih dari seratus orang disana dari desa-desa (nama dihilangkan) di semua Kecamatan Mila.

kebiadaban terhadap martabat seseorang. penyembelihan. Aturan dasar hukum kemanusiaan adalah bahwa penduduk sipil serta secara perseorangan tidak boleh menjadi sasaran penyerangan. 28 Oktober 1992. setiap saksi mata pembunuhan semacam itu di Aceh memberitahukan Human Rights Watch bahwa Indonesia menjadi bagian dari Konvensi Geneva tahun 1958. Yang selamanya dilarang adalah pembunuhan. dan pembatasan yang tidak perlu terhadap kebebasan bergerak. 44 45 43 42 Wawancara HumanRights Watch (nama disembunyikan ). 15. penghilangan secara paksa. —Laki-laki Aceh berusia delapan belas tahun. Juga tersedia adalah Protokol Tambahan kedua tahun 1977 pada Konvensi Kovensi (Protokol II). No. bahkan selama keadaan darurat (state of emergency). 10 (C) 20 . Jika tidak ada kami tidak bisa tidur. Malaysia. untuk dimana hukum yang diterapkan termasuk pasal 3 dalam empat konvensi Geneva pada tahun 1949 dan hukum adat perang. penyiksaan.42 Pasal 3 yang lazim disediakan untuk perlakuan berperikemanusiaan terhadap orang sipil dan mereka yang tidak ikut ambil bagian secara aktif dalam permusuhan (termasuk penangkapan anggota pasukan senjata lawan). banyak –kalau tidak bisa dibilang semua-pernyataannya merefleksikan hukum adat perang.44 Sejak dimulainya Darurat Militer. Vol. upon. hak mendasar yang ditemukan didalamnya dinyatakan sebagai bagian dari hukum adat internasional. penangkapan dan penahanan secara sewenang-wenang.45 Sementara pembunuhan extra-judicial terhadap siapapun – tidak perduli orang sipil atau pejuang– adalah pelanggaran serius terhdap hukum internasional.Pelanggaran Hak Asasi Manusia dan Hukum Kemanusiaan Pasukan Indonesia dan GAM di Aceh terikat oleh hukum kemanusiaan internasional (juga dikenal sebagai hukum perang). Human Rights Watch. dan eksekusi kilat. pada khususnya perlakuan penghinaan dan penurunan martabat. penghukukan tanpa peradilan yang adil. Terbunuhnya para pejuang dalam pertempuran dianggap sebagai pembunuhan yang sah secara hukum dibawah hukum kemanusiaan internasional. perlakuan kejam dan penyiksaaan. pasukan kemanan Indonesia sudah melakukan eksekusi extra judicial yang tidak diketahui jumlahnya terhadap orang sipil yang tidak bersenjata di Aceh. Yang juga dilarang adalah tindakan atau ancaman kekerasan terhadap penduduk sipil yang menyebarkan terror atau pemindahan penduduk sipil secara paksa tanpa keperluan militer. pengambilan sandera.43 Pembunuhan Diluar Hukum (Extrajudicial Killings) Kami terbiasa mendengarkan suara tembakan. Suatu eksekusi extra-judicial (atau eksekusi kilat) adalah pembunuhan yang tidak sah menurut hukum dan disengaja atas seseorang oleh alat negara. Hak hidup dan kebebasan yang mendasar tidak boleh dilanggar. Meskipun Indonesia bukan bagian dari Konvenan Internasional mengenai Hal-Hak Sipil dan Politik dan perjanjian hak asasi manusia yang penting lainnya. Hukum internasional hak asasi manusia berlaku selama konflik bersenjata internal. Ini termasuk pelarangan eksekusi (extrajudicial executions). Konflik di Aceh dianggap sebagai konflik bersenjata non-internasional (internal). Meskipun Indonesia bukan bagian dari Protokol II.

tidak bersenjata. 28 Oktober 2003. meskipun angota-anggotanya memakai pakaian sipil ketika berada di daerah sipil. serta tidak ada usaha untuk menyembunyikan eksekusi tersebut. 10 (C) . Jika Saya menabrak ayam dengan mobil Saya maka Saya harus membayar. Laporan Human Rights Watch vol. No. secara khusus melarang “tindakan atau perlakuan kekerasan yang tujuan utamanya adalah untuk menyebarkan teror diantara penduudk sipil. Para keluarga boleh jadi diberatuhkan sesudahnya oleh para tentara untuk mengambil dan memindahkan tubuh korban untuk dikuburkan. 47 48 Protokol II. kemudian eksekusi kilat.” Mathew Moore. Selama pembersihan ini laki-laki dipilih and ditembak. kematian mempunyai pola.” Lihat Human Rights Watch. dan berpakaian sipil pada saat hukuman mati dilakukan. Vol. Pembunuhan Kilat (Summary Killings) Selama Operasi Sweeping Hidup tidak mempunyai nilai disana. Tiga orang lainnya menemukan mayat orang sipil (dalam dua kasus adalah anggota keluarga mereka sendiri) yang kurang lebih dekat dengan operasi militer. 49 21 Human Rights Watch. Hal ini konsisten dengan temuan seorang jurnalis Australia yang mengunjungi lima desa dimana terdapat penembakan-penembakan dalam minggu pertama darurat militer. diikuti oleh pemukulan.4 (c). Tetapi hidup seseorang –siapa yang membayarnya? —Laki-laki Aceh berusia delapan belas tahun.47 Jenis kedua pembunuhan yang terlihat adalah tembakan kepada orang sipil saat pasukan keamanan Indonesia meninggalkan tempat. Jenis pertama secara khas terjadi ketika pasukan memasuki desa selama periode yang disebut sebagai “operasi sweepinga”. “Indonesia: Perang di Aceh”. Nampaknya terdapat dua jenis ekesekusi yang baru-baru ini terlihat mengambil tempat di Aceh. tujuh orang secara langsung menyaksikan eksekuso kilat (summary execution) atas orang sipil oleh pasukan keamanan Indonesia sejak dimulainya darurat militer. Beberapa orang lainnya menggambarkan penculikan oleh TNI berakhir dengan kematian. Wawancara Human Rights Watch (nama disembunyikan). No. adalah pola yang muncul dalam serangan militer Indonesia terhadap pemberontak Aceh. sebelum pembatasan media diperketat: “Interogasi. Pakaian seseorang sama sekali tidak berhubungan dengan keanggotaan mereka.46 Dari delapan puluh lima orang Aceh yang diwawancarai Human Rights Watch di Malaysia. Tiga orang lainnya menyaksikan tentara menembak ke arah orang sipil yang tidak membawa pada kematian secara langsung. 13. Aceh Utara menceritakan suatu peristiwa di bulan Mei: 46 Para pejuang GAM pada umumnya mengenakan seragam.” The Age (Australia). 25 Mei 2003. 15.49 Seorang laki-laki Aceh dari Lhokseumawe. pasal 13.korban bukanlah anggita GAM. Sifat dasar yang umum dan disengaja dari pembunuhan semacam ini memberi kesan bahwa mereka mencoba mengirimkan peringatan untuk menghalangi penduduk desa untuk mendukung GAM.48 Pembunuhan diluar hukum lainnya terjadi ketika pasukan keamanan mengambil seseorang untuk ditahan – dan mayat mereka kemudian ditemukan atau mereka tidak pernah terdengar lagi. Agustus 2001. meskipun demikian mereka yang diwawancarai seringkali menyatakan dengan percaya diri bahwa tetangga atau kenalan mereka bukan anggota GAM. “Di Aceh.

Saya berada sekitar dua puluh meter dari sana. “Kamu tahu siapa laki-laki ini?” Saya bilang “Ya”. Mereka orang biasa. umur tujuh belas tahun. Tiga orang tentara. 15. apa pekerjaannya? Mereka memeriksa namanya kepada orang-orang. pukul 3 sore. Tubuhnya dihancurkan. Istri dari laki-laki pertama mengatakan bahwa mereka masuk dan bertanya pada suaminya apakah dia GAM.Pada awal darurat militer. Tentara yang menembaknya kemudian mengatakan kepada para penduduk desa disana untuk mengambil tubuhnya kembali ke desa. Pada awalnya Saya hanya melihat tiga tentara tetapi kemudian yang lainnya berganung. Begitulah dalam tujuh hari tersebut… Dua orang ditembak di rumah mereka dan seorang dibawa pergi oleh Brimob pada tengah hari. tetapi Saya melihat tubuh mereka langsung sesudahnya. Seorang yang dibawa pergi sudah tua. Saya melihat tiga puluh petugas Brimob disana. dan kemudian tentara lainnya memegang kakinya dan mengayunkannya ke arah pohon. Namanya Jamal. tetapi para tentara tersebut selalu ada di desa mencari-cari GAM. Malaysia. Tentara tersebut melakukannya beberapa kali sehingga kepada laki-laki tersebut membentur pohon. Seakan-akan lengannya berubah menjadi daging mentah. Mereka bertanya kepada setiap orang. Saya melihat salah satu dari tentara tersebut memborgol pergelangan laki-laki ini. Mereka bertanya kepada Saya. GAM semuanya ada di pegunungan. saat itu pagi-pagi sekali. Namanya adalah Ibrahim dan dia berusia limapuluh lima tahun. Para tentara berkata bahwa dia adalah tersangka GAM. Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh lima tahun (nama disembunyikan). Mereka tidak peduli siapa yang mereka beritahukan. setidaknya lima puluh tahun. bulan Mei. Dan lalu mayatnya diletakan di atas tanah dan tentara lainnya menembak beberapa kali kepada mayat tersebut.51 50 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia empatpuluh tahun (nama disembunyikan).dia Yusuf. Mereka menyeret laki-laki ini sepanjang jalan. Malaysia. sampai dia mati. di awal dua puluh-an. Para tentara di desa kami (nama disembunyikan). Saya sedang berada di rumah. Otaknya keluar dari kepala laki-laki terebut. Mereka kemudian bertanya siapa yang terlibat dalam GAM. Vol. Lalu mereka menembaknya. 10 (C) 22 . 23 Oktober 2003. No. 51 Human Rights Watch. Mereka tidak mengancam para penduduk desa. “Kamu tahu siapa laki-laki ini?” Jika Kamu berkata kau tidak tahu siapa dia Kamu dipukul. Dia masih muda. 26 Oktober 2003. Pada hari ke-empat.50 Seorang berusia duapuluh lima tahun yang meninggalkan Aceh Selatan satu minggu sesudah darurat militer memberitahukan Human Rights watch mengenai minggu pertama darurat militer: Pada tujuh hari itu mereka terus membunuh orang-orang tak bersalah. Yang kedua kurang lebih sama ceritanya. Mereka sedang memeriksa siapa laki-laki tersebut kepada orang-orang.

dia hanyalah orang biasa. Kamu tidak bisa keluar kemanapun. No. Para tentara kemudian pergi. dan dia mempunyai istri dan dua orang anak. tetapi GAM tidak ada disana. dia tidak bersenjata. Saya tidak mendengarnya. Saya berada sekitar seratus meter jauhnya. menggambarkan pembunuhan di bulan Agustus: Sekitar dua bulan yang lalu (nama dihilangkan).Seorang laki-laki di usia duapuluh-an memberitahukan Human Rights Watch mengenai eksekusi kakak laki-lakinya seminggu sesudah pernyataan darurat militer: Kakak Saya – dia hanya orang biasa – ditembak. 15. sekitar duapuluh orang tentara yang terlihat.53 Seorang laki-laki berusia duapuluh lima tahun yang juga dari Peureulak di Aceh Timur bercerita tentang penembakan kakak laki-lakinya pada akhir Juli: Sejak darurat militer dimulai segalanya menjadi panas. 26 Oktober 2003. dia bangun untuk mengambil wudhu sebelum sembahyang. Ada beberapa jenis tentara disana. beberapa dari daerah sana dan beberapa dari luar. Kakak saya sedang 52 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki di usia duapuluhan (nama disembunyikan). ada kejadian. Dia keluar dan mereka segera menembaknya. Vol. Malaysia. Seorang tentara memanggilnya dan menanyakan sesuatu kepadanya. Ada seorang laki-laki. 31 Oktober 2003. Mungkin jawabannya salah. Mereka mencari-cari GAM. Aceh Timur. di belakang mereka Saya tidak tahu. Tentara-tentara datang ke kampung mencari GAM. Saya mau membawa tubuhnya kedalam tetapi Saya tidak bisa. TNI memasuki kampung. tetapi pada akhirnya tidak ada GAM. sebuah M16. Tidak ada satu pun jadi mereka menembak warga kampung akhirnya. 53 23 Human Rights Watch. Ada lebih dari limapuluh orang. Saya segera bangun. Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia dua puluh tahun *nama disembunyikan). Saya melihatnya sendiri. Waktu itu pagi hari dengan sweepings GAM sebagai alasannya. Saya meninggalkan Aceh pagi berikutnya. Laki-laki itu bukan GAM. Mereka bertanya kepada penduduk di kampung.52 Seorang laki-laki dari Peureulak. Malaysia. Jam 6 pagi. Dari jam 6 pagi sampai 6 sore Kamu tidak bisa keluar. sekitar duapuluh tahun-an. Begitu tentara tersebut selesai menembak dia memerintahkan penduduk kampung untuk menguburkan tubuh tersebut. Saya sedang di rumah Saya. Saya melihatnya melalui jendela. Kakak Saya ditembak ketika dia sedang mengumpulkan rumput untuk sapi jam 6 pagi dua bulan yang lalu. pergi untuk mencari GAM di tempat lain. Hanya ketika mereka pergi saya baru bisa melakukannya. Peureulak. 10 (C) . Tentara lainnya lalu menembaknya di kepala dan lagi di bagian kanan atas tubuhnya dengan senapannya. Kakak Saya ditembak di rumah kami. Kakak Saya berumur tiga puluh lima tahun.

menggambarkan pembunuhan dua laki-laki yang tidak bersenjata dalam pakaian sipil: Pukul 5 di pagi hari TNI datang dan mengepung kampung. Kami tidak diperbolehkan mendekati mayat-mayat tersebut. 15. di Aceh Utara. Vol. Mereka menanyai kami tentang GAM. No. dan anggota GAM diminta menyerahkan diri. Orang-orang diberitahu untuk berkumpul oleh TNI. 55 Human Rights Watch. Mereka menahan kami disana selama empat jam.55 Human Rights Watch mempelajari empat peristiwa ketika tentara Indonesia menembak laki-laki muda yang sedang berlari ke sawah atau hutan untuk menyembunyikan diri dari tentara selama operasi sweeping. Anak laki-lakinya bilang bahwa dia melihat tiga tentara dengan samaran datang untuk melihat tubuhnya jam 6. Karena tingginya tingkat ketakutan di Aceh terhadap pasukan keamanan Indonesia. Saya tidak tahu nama mereka karena mereka dari kampung lain. sesudah dua jam. Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia dua puluh tahun (nama disembunyikan). Saya sedang di sekolah ketika kami diperintahkan untuk berkumpul di lapangan sepak bolah dekat pantai. meskipun mereka bukan dari kampung kami. (Kejadian) ini sekitar dua bulan sesudah darurat militer. Orang-orang ditendang dan ditinju. sampai jam 11. Dua orang dibunuh. 28 Oktober 2003.54 Human Rights Watch juga diberitahu mengenai dua peristiwa yang mana para penghuni dikumpulkan bersama untuk ditanyai dan membawa pada kematian. Saksi menggambarkan kepada Human Rights Watch bagaimana beberapa laki-laki ini ditembak ketika berusaha melarikan diri.30. Sesudah itu kami ditanyai. Tiga jam kemudian. Anak laki-lakinya datang ke rumah Saya dan bilang. 31 Oktober 2003. Ada sekitar lima puluh orang. “Siapa dia? Kalian tahu dia? Apakah dia GAM?” “Bukan. banyak penduduk desa. Sesudah para tentara pergi Kami menguburkan mayat mereka. “Bapak ditembak orang tak dikenal” Dia ditembak sekali di kepalanya dan sekali lagi di sebelah kirinya. Saya berada jauh dari lapangan tersebut (dua puluh lima meter). Seorang tentara menembak mereka berdua dengan M16. 10 (C) 24 . Seorang berusia dua puluh tahun dari desa di pinggir Lhokseumawe. Saya rasa mereka semua dari Kodim tetapi Saya tidak yakin. Malysia. Apakah mereka berusaha melarikan diri semata-mata karena mereka takut diperlakukan tidak semestinya atau karena mereka anggota GAM tidak jelas. dua belas tentara keluar dari hutan di dekat sana. Malaysia. Saya ada di rumah. dia kakak Saya. lari dan bersembunyi ketika tentara memasuki desa mereka. tetapi saksi 54 Wawancara Human rights Watch dengan laki-laki berusia tigapuluh lima tahun (nama disembunyikan). Dia memakai seragam hijau dan topi hijau. Mereka bertanya. jam 9 pagi.” “Kuburkan dia!” Lalu mereka kembali ke kota. Sesudah mereka keluar dari hutan mereka mengumpulkan semua orang. dekat kandang. Kami (berjumlah) sekitar 300 orang. khususnya laki-laki muda.mengumpulkan rumput untuk sapi.

Sesudahnya delapan orang tentara membawanya ke pos TNI di desa itu. tetapi Saya lihat ketika keluarganya membawa mayatnya pergi. ditembak dari jarak tigapuluh meter.30 pagi atau sekitarnya. di Aceh Utara. Vol. Seorang laki-laki berusia duapuluh tahun dari Peureulak. jadi Saya pergi keluar. Tentara dengan menyamar datang dalam beberapa kendaraan: Kostrad. 31 Oktober 2003. Wawancara Human Rights dengan laki-laki berusia empatpuluh tahun (nama disembunyikan). di desa (nama dihilangkan). No.sekitar jam 6. 25 Human Rights Watch. Saya rasa dari Jakarta. Segera sesudahnya seorang tentara menembak kakinya. kaki kananya. Saya sedang ada di rumah Saya dan Saya mendengar suara tembakan. Sesudah itu Saya pergi. dia dari desa ini. 28 Oktober 2003. Dia ditembak. Jika kamu tidak lari Kamu dipukuli… Seorang laki-laki bernama Simus. Dia bukan GAM. satu bulan sebelum dia tiba di Malaysia: Jika Kamu lari Kamu ditembak. Mereka menggunakan topi biru. Mereka tentara non-organik. Malaysia. 57 58 Meskipun terdapat variasi pasukan keamanan yang luas dan lencana yang hadir di Aceh. usia dua puluh tiga tahun. 15.56 Seorang laki-laki yang tiba di Malaysia pada akhir bulan Mei mengggambarkan seorang laki-laki ditembak ketika melarikan diri: Saat itu lima hari sesudah darurat militer dimulai. Saya melihat seorang laki-laki berlari ke sawah. . Dia berusia sekitar tigapuluh tahun. Aceh Timur. menggambarkan suatu peristiwa yang terjadi akhir September. dan kami berlima bersembunyi di 56 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia dua puluh tahun (nama disembunyikan) Malaysia. Mereka tiba khusus untuk darurat militer. tiga strip lebih mengindikasikan prajurit kelas pertama. 10 (C) . Sesudah dua malam TNI membunuhnya di pos mereka. sekitar jam 9 pagi. Dia bangun dan terus berlari. yang menggambarkan (di atas) pembunuhan dua orang laki-laki sesudah para penduduk desa dikumpulkan. tetapi mereka mencurigainya sebagai GAM. Saya tidak melihatnya saat dia meninggal. Saya takut hal semacam itu akan terjadi kepada Saya.57 Tidak semua penembakan membawa pada kematian. Sesudahnya dia dibawa ke pos untuk ditanya oleh TNI. Laki-laki berusia dua puluh tahun dari desa di pinggir Lhokseumawe. sehingga dia tidak bisa lari lagi dan dia terjatuh. Saya melihat mereka mempunyai tiga strip merah.58 Kami berlima lari melalui sawah menuju hutan. sekitar waktu sembahyang. Mereka menembaknya di pinggul – Saya hanya berada lima meter darinya.menggambarkan tampak sebagai lak-laki yang tidak bersenjata dan mengenakan pakaian sipil. juga menggambarkan kematian lain hari tersebut: Seorang berusaha lari ketika kami pertama kali diberitahu untuk berkumpul. Brimob. Kopassus.

Lalu kami kembali –TNI sudah kembali ke kota. dan dipaksa untuk bernyanyi. 60 59 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh lima tahun (nama disembunyikan). seorang laki-laki memberitahu Human Rights Watch: Satu-satunya alasan Saya pergi adalah bahwa tidak ada jaminan keselamatan disana. 28 Oktober 2003. Kami sedang duduk. Dia takut pergi ke rumah sakit jadi kami bawa dia ke tabib tradisional yang bekerja dengan pusat kesehatan. Mungkin TNI terlihat terlalu siap. Vol. sehingga orang-orang ketakutan. Jadi Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh tahun (nama disembunyikan). dia mencoba bergabung dengan GAM hanya saja dicegah oleh keluarganya (termasuk kakaknya yang melawan GAM): Orang tua Saya dipukul pada 17 Agustus 2002 (Hari Kemerdekaan Indonesia).60 Apakah dengan sengaja atau sewenang-wenang. dua dari mereka. tidak ada orang yang terkena. Saya sedang di desa di Perureulak. empat puluh tembakan? Mereka dari battalion non-organik dari Jawa. Saya tidak lari. Mereka mulai menembak. datang ke desa. 27 Oktober 2993. Tentara pergi keatas ke hutan. ditelanjangi. 10 (C) 26 . Mereka meyakinkan Saya untuk menyumbang dengan cara lain untuk Aceh. Human Rights Watch. ketika mereka kembali. Mereka melakukan sweepings. Tingkat pelanggaran hak asasi manusia yang serius di propinsi tesebut serta kekebalan hukum yang menyertainya mendorong orang-orang memihak kepada GAM. Mereka mencari GAM. Kekerasan terhadap orang sipil sudah melewati batas. minum kopi. Penduduk Aceh menjadi semakin terpolarisasi. Jika tidak ada GAM. Tetapi bagaimanapun peluru –itu menjadi trauma.hutan selama tiga jam. Itulah kenapa orang-orang bergabung dengan GAM –untuk balas dendam. Militer bertindak diluar sasaran operasinya. Mereka mengosongkan tempat peluru mereka –kira-kira berapa ya. emosi mereka dikeluarkan kepada orang sipil. Malaysia. 15. Orang-orang mulai berlarian. Sebagai contoh ada penembakan di awal bulan ini (Oktober). Saya baik-baik saja. inspeksi yang disertai “hukum militer”: pemukulan. penghilangan. tabib itu mengeluarkan pelurunya. hasil dari tingkat kekerasan terhadap penduduk sipil di Aceh ini sepertinya menghasilkan efek yang berlawanan dari apa yang militer nyatakan dari strategi operasi terpadu. Malaysia.59 Dalam peristiwa yang sama di Aceh Timur di awal bulan Oktober. Saya hanya bersembunyi di pinggir hutan. Seorang laki-laki berusia delapan belas tahun menjelaskan banwa sesudah dipukuli dan melihat orang tuanya diperlakukan tidak semestinya. No. Saya mencoba bergabung saat berusia enambelas tahun tetapi kakak dan orang tua saya mencegah Saya.bukan karena kami bersalah tetapi hanya ketakutan. untuk ekonominya. mungkin Kostrad.

dan tubuhnya dipenuhi bekas-bekas merah. Ketika dia berada di Aceh dia menyaksikan tentara TNI menculik seorang anak laki-laki berusia lima belas tahun: Saat itu tanggal 4 September sekitar jam 10 pagi. Tujuh tentara. yang meninggalkan rumahnya di Banda Aceh sehari sebelum darurat militer. anak laki-laki. membuat identifikasi menjadi sulit. Malaysia. yang lainnya tinggal di pasar. 15. Bagian belakang kepalanya semuanya hancur. Jadi tentara tersebut membawanya dan melemparkannya ke truk militer. Selama dua hari kami tidak tahu dimana anak itu berada. Dia pergi ke pasar untuk membeli ikan untuk ibunya. Jawabannya tidak jelas. Dia masih usia sekolah. Ada sekitar limabelas orang tentara TNI disana. dia benar-benar panik. Malaysia. Seorang laki-laki berusia tigapuluh delapan tahun. TNI menghentikannya. menjelaskan bagaimana keluarganya menemukan mayat adik lelakinya: 61 Wawancara Human Rights Watch dengan seorang laki-laki berusia delapan belas tahun (nama disembunyikan). No. memeriksanya karena dia membeli ikan. tentara di lapangan yang melakukan tindak kekerasan dan pemerasan dengan hanya sedikit rasa takut akan dihukum.” Sesudah itu anak laki-laki tu benar-benar ketakutan. 29 Oktober 2003. Tujuh orang tentara memberhentikan seorang anak. Kemudian mayat anak itu muncul dipinggir jalan. “Banyak ikannya. “Tidak. Dia anak kecil. 62 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh lima tahun (nama disembunyikan).pada akhinya Saya hanya berdoa untuk kebebasan… Jika Kamu dipukuli tidak kah Kamu merasa butuh membalas dendam?”61 Masalah yang mendasar terletak pada kurangnya pertanggungjawaban di semua tingkat. 27 Human Rights Watch. Vol. Seorang tentara berkata kepadanya. kamu mau memberikannya kepada GAM? Darimana kamu dapatkan ikan ini?” Anak itu menjawab. “Kamu pasti mau memberikan ikan ini kepada GAM. Mereka tentara non-organik dan berbicara dalam bahasa Indonesia dengan logat Jawa. Dia diancam dengan senjata. Tujuh tentara tersebut mengenakan seragam samaran TNI. Kekebalan hukum tingkat tinggi yang ditingkatkan oleh selubung rahasia yang menyelubungi daerah konflik. Hanya satu. Penculikan yang Membawa Pada Kematian Pembunuhan lain terjadi diluar penglihatan para saksi. Saya melihat mayatnya. Ada luka tembak di dahinya. Saya mau pulang. bekas-bekas merah siksaan. Saya berhenti di jalan di pasar.” TNI menuduhnya dan mengancamnya. Seorang laki-laki Aceh yang sudah tinggal di Malaysia selama lima tahun kembali ke Aceh di bulan Agustus selama beberapa minggu untuk mengunjungi ayahnya yang sakit. untuk membeli buah. 10 (C) . Pasar Ulee Glee. 28 Oktober 2003. Saya mau memberikannya kepada ibu Saya. mungkin sekitar limabelas tahun.62 Dalam beberapa kasus mayat dibuang jauh dari rumah korban. Tentara tersebut berkata.

“Makalah Ringkas tentang Aceh: Propinsi Aceh. Orang yang ditahan dengan cara demikian seringkali disiksa. 15. meskipun mereka mewaspadai bahwa pelarangan terhadap monitoring menandakan bahwa perkiraan tersebut bisa jadi lebih rendah. Jika tidak.63 Penghilangan Secara Paksa (Forced Disappearances) Selama tahun-tahun panjang konflik di Aceh. 64 “Penghilangan” terjadi ketika penguasa menahan seseorang secara diam-diam dan tanpa pemberitahuan serta menyangkal bahwa orang tersebut dalam penahanan mereka. mayat tersebut akan dibawa ke rumah sakit atau klinik dan istilah yang digunakan oleh keluarga korban adalah saudara yang hilang. Sementara dalam banyak kasus para pelaku digambarkan sebagai orang tak dikenal. Sementara aktor non-negara tidak bisa secara teknis melakukan “penghilangan”. Dia ditahan dari rumahnya oleh TNI. Kontras Aceh. 10 (C) 28 . menutupinya dengan pakaian. dan pembunuhan kilat. di depan istrinya. (Nama dihilangkan) berumur duapuluh enam tahun.66 Seorang laki-laki berusia duapuluh tiga tahun dari Bireun menjelaskan: 63 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia tigapuluh delapan tahun (nama disembunyikan). Seorang laki-laki dari daerah pesisir di Pidie menjelaskan bahwa ketika warga menemukan mayat mengapung di tepian pantai mereka memanggil Palang Merah Indoensia untuk mengevakuasinya. 29 Oktober 2003. dianiyai atau dibunuh. Vol. Dua hari kemudian mayatnya ditemukan di sawah. Dia membawa mayatnya secara diam-diam ke rumahnya. penghilangan secara paksa seringkali terjadi sesudah pasukan kemanan atau orang-orang bersenjata tak dikenal mengunjungi sebuah ruamh di malam hari dan membawa korban pergi dengan kendaraan. keduanya untuk tebusan dan alasan politik. tanggal 27 Agustus 2003. Malaysia. 65 66 Human Rights Watch. Seorang saudara yang tinggal di desa dimana mayatnya ditinggalkan menemukannya dan mengenalinya.Adik lelaki Saya terbunuh dua bulan lalu di Aceh Utara. dan dibawa ke Koramil. GAM mempunyai sejarah melaksanakan penculikan. No. pasukan keamanan Indonesia telah seringkali tersangkut “penghilangan”64 Organisasi kemanusiaan Indonesia Kontras cabang Aceh melaporkan bahwa dari tanggal 19 Mei sampai dengan 18 Agustus terdapat tujuhpuluh delapan penghilangan secara paksa orang sipil. dan di pagi hari dia pergi dan menemui Palang Merah Indonesia di rumah sakit untuk mengambil mayat tersebut dengan ambulans.65 Di Aceh. Malaysia.” September 2003. Saya memperoleh informasi ini dari keluarga Saya ketika Saya menelepon rumah. Seringkali mayat mereka yang “hilang” ditemukan di pinggir jalan atau di sawah berhari-hari atau berminggu-minggu kemudian. Praktek ini secara pouler digambarkan sebagai ambil malam. dalam beberapa kasus anggota keluarga atau tetangga dapat mengindentifikasikan mereka. 5 November 2003. Wawancara Human Rights dengan seorang laki-laki berusia enampuluh lima tahun (nama disembunyikan). Sebagaimana hal itu didefinisikan dibawah hukum internasional. Perang Kotor yang Tidak Terungkap. Dalam kasuskasus lainnya mereka tidak pernah terlihat lagi. Jika mayat tersebut dapat diidentifikasi maka akan dibawa ke keluarganya.

68 Siksaan Fisik Tidak ada bedanya jika mereka anggota GAM atau bukan: tidak satupun dari tentara Saya yang berhak memukul mereka… Tentara Saya datang ke Aceh untuk melindungi orang sipil. 15. Selama dia mampu berfungsi sesudah ditanyai. Sampai saat ini dia tidak pernah kembali.Situasi sekarang sangat menyeramkan. Commander Operasi Militer di Aceh. Delapan orang tersebut tidak pernah terlihat lagi sejak saat itu – kami tidak tahu apa yang terjadi kepada mereka. Mereka mengenakan samaran. 2 November 2003. Saat itu sekitar jam 5 pagi dan Saya mendengar ketukan yang keras di pintu. —Mayor Jendral Bambang Darmono. No. Saya tidak tahu lagi dimana dia. satu persatu. 10 (C) . 28 Oktober 2003. 31 Oktober 2003. “Pengadilan Aceh akan Mengadili 7 prajurit. Kejadiannya sekitar dua bulan yang lalu. semuanya laki-laki. ada Kopassus dan beberapa memakai topi hijau. Vol. 69 70 29 Human Rights Watch. Mereka membawa delapan orang malam itu. Lalu Saya dengar seseorang menanyakan pada teman Saya (nama disembunyikan) mengenai kartu identitasnya. 3 June 2003. sehingga Saya bangun dan melihat melalui jendela.” Associated Press. Saya melihat sekitar limabelas tentara TNI membawanya dari rumahnya. Jika itu adalah siksaan berat yang menyebabkan seseorang menjadi cacat… itu adalah tidak-tidak.67 Seorang laki-laki dari Pidie memberitahu Human Rights Watch: Saat itu lima hari sesudah darurat militer dimulai. dan mereka yang melanggar peraturan pertempuran (rule of engagement) ini akan harus berhadapan dengan Saya. Malaysia. dan beberapa dari mereka mempunyai strip merah. Setiap orang di desa yang dicurigai dibawa pergi di malam hari… Saya melihat seorang laki-laki dibawa pergi dari rumahnya hanya mengenakan pakaian dalam dan dimasukan kedalam truk. 2 June 200369 Sebagai contoh. —Mayor Jendral Bambang Damono. 68 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh tahun (nama disembunyikan). Wawancara Human Rights Watch (nama disembunyikan). Saya berada di rumah sebelahnya. “Komandan di Aceh Menyangkal Tuduhan Penyiksaan. Malaysia. Lely Djuhari. Mereka membawanya ke dalam truk TNI dan membawanya ke pos TNI. Saya pergi keluar ke pinggir lapangan dan menonton tiga truk tentara masuk ke desa. Itu tidak masalah. tentara Saya menghantam tersangka di wajahnya. November 2003. Rumah Saya sangat dekat dengan ruamhnya. Mereka adalah tentara yang baru saja tiba di Aceh untuk darurat militer ini.70 67 Satu strip merah sepertinya berhubungan dengan tingkat jabatan prajurit. Seluruh kejadian itu hanya memakan waktu mungkin sekitar tiga pluh menit.” The Jakarta Post. bulan Agustus. Tiarma Siboro. Kami tidak tahu siapa mereka. Saat itu ada bermacam-macam tentara.

Malaysia. Vol. Banyak orangorang Aceh yang dianiyai kami minta bicara untuk menjelaskan apakah mereka melakukan atau tidak sesuatu yang salah atau tak salah. bersalah atau tidak Saya dihajar. seperti selama pencarian rumah-ke-rumah atau ketika para penghuni diperintahkan untuk berkumpul di tempat tertentu. Seorang laki-laki yang tiba bulan Oktober dari Pidie menggambarkan peristiwa dimana TNI dan Brimob mengumpulkan dan menyerang penghuni. dari beberapa desa. Menjawab “Saya tidak tahu” dan Kami mendapatkannya juga. Pertama kali tanggal 13 Juni 2003. Jika Kami sedang duduk-duduk seperti ini di Aceh. tujuhpuluh dua orang dibawa ke rumah sakit umum di Sigli. Dua kali ini terjadi. Kamu akan dipukuli sampai mati. dua diantaranya membawa pada kematian: Kami dipukuli secara terus menerus. mengindikasikan ketidaksabaran atau ketakutan terhadap sasaran yang suka dipahami dan kegagalan untuk membedakan antara orang sipil dan oposisi bersenjata. berdasarkan tegangnya tingkah dan kecurigaan tentara dan petugas polisi. Suatu waktu seluruh orang didalam satu area berkumpul bersama. anak-anak. jika Kami bilang “tidak” Kami mendapatkannya. 15. “Apakah ada GAM?” Jika kami bilang “Ya” Kami mendapatkannya [pukulan]. Korban seringkali digambarkan diinterogasi dengan tuduhan “Kamu adalah GAM!” atau pertanyaan “Siapa yang GAM? Dimana GAM?” Sering kekerasan ini terjadi selama operasi sweepings di desa-desa. perempuan.71 Dalam beberapa instansi. 26 Oktober 2003. Banyak kekearan ditujuan kepada orang sipil nampak diimaksudkan untuk mengidentifikasi anggota dan pendukung GAM. kekerasan terhadap orang sipil terjadi hanya sebelum atau sesudah operasi militer di daerah GAM. Artinya kami mati. No. Saat mereka membolehkan kami beristirahat. Mereka mengumpulkan 300 orang dari satu daerah pemukiman tersebut –ada tiga atau empat desa. atau untuk mengirim peringatan kepada penduduk desa. Sesudahnya kami dibariskan dan diperintahkan untuk melakukan latihan (melakukan lari di tempat). Brimob akan bertanya kepada kami.30 pagi sampai dengan jam 2 sore. Mereka bermalam disana tetapi kami semua dilepaskan kemudian. 10 (C) 30 . Seorang laki-laki yang meninggalkan Aceh bulan Agustus menjelaskan: Jika Saya tinggal di Aceh. Mereka memerintahan orang-orang untuk tiarap dan memukul dada dan 71 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh enam tahun (nama disembunyikan). tua dan muda.Banyak orang-orang Aceh yang diwawancarai oleh Human Rights Watch menggambarkan tindakan kekerasan yang dilakukan pasukan keamanan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Dalam kasus-kasus lainnya kekerasan nampak menjadi sangat sewenang-wenang. kakek berusia sembilan puluh tahun. Hal ini terjadi dari jam 9. Human Rights Watch. Jika Kamu tidak mau berlatih. Setiap orang harus berlatih.

mereka berduabelas. Kami berduapuluh termasuk para pelanggan yang kebetulan berada disana. Rajawali.73 Seorang berusia empatpuluh tahun dari Pidie yang tiba di Malaysia bulan Oktober sesudah dua bulan di Medan menggambarkan peristiwa dalam minggu-minggu sebelum dia meninggalkan Aceh: Jam sepuluh pada suatu malam Kami semua pemilik toko diberitahukan untuk mematikan semua lampu. “Siapapun yang GAM. Laporan media telah memerinci peristiwa yang sama yang mana sekelompok besar laki-laki dan perempuan ditanyai dan dipukuli dan satu atau dua orang laki-laki dipisahkan dan ditembak. angkat tangan. usia 21 tahun. usia 32 tahun. mungkin karena mereka bertubuh besar. 15.: Kopassus. Mereka memukuli badan Saya dengan senjata mereka. Mayat mereka dikembalikan kepada keluarga mereka dan dikuburkan. Dua oranng meninggal di tempat. Angkatan Laut. Hal ini berlangsung dari jam 5 sampai jam 7 malam. Malaysia. Mereka bukan GAM. dan dipaksa untuk telanjang. Paddock. menanyai mereka. Lihat Richard C. Mereka semua memukul kami seakan-akan kami kerbau air. Rajawali yang melakukannya. GAM sudah pergi ke tempat lain. Brimob. dan kami semua dipukuli. dan Muhammad Ali. Hari berikutnya kami dipukuli karena mematikan lampu! Enam pemilik toko dipukul. 5 Nopember 2003. Kami dikumpulkan di pos penjagaan terdekat oleh para tentara.72 Laki-laki tersebut melaporkan bahwa tiga minggu kemudian operasi bersama TNIBrimob yang lain membariskan para laki-laki. jadi kami lakukan.74 72 73 Wawancara Human Rights Watch (nama disembunyikan). tetapi Saya tdiak bisa melihat kepada mereka secara langsung. Umar Bin Usman. Mereka bilang itu karena Kami mempunyai radio untuk berkomunikasi dengan GAM. dan memukul mereka dengan uujung senapan.” Tidak ada satupun. Paling banyak Kamu cuma bisa melirik lama. Mereka terlihat sebagai GAM.muka mereka. Mereka menghancurkan kuku jempol Saya dengan kakatua – lihat? Mereka menaruh jempol jari kaki Saya dibawah bangku dan menekannya ke bawah – yang ini sudah tumbuh kembali. kami berenam semuanya dipukuli. tetapi itu tidak ada. 31 Mei 2003. Para tentara adalah campuran. No. kami semua orang biasa. Vol. dan Saya meninggalkan Aceh sepuluh hari kemudian. dan menendang kami. Mereka bilang. Lima orang pemilik toko lainnya adalah (nama dihilangkan). 10 (C) . Wawancara human Rights Watch dengan laki-laki berusia empatpuluh tahun (nama disembunyikan). sementara tujuh orang perempuan dituduh sebagai inong balee. gigi mereka dijotos oleh tentara Kostrad. Saya hanya berada empat meter dari mereka yang terbunuh. Malam itu kami membiarkan lampu menyala. Rajawali dari Jawa.” Los Angeles Times. barisan perempuan GAM. Dua orang yang meninggal diinjak di dada dan leher. 74 31 Human Rights Watch. “Separatis Perang Indonesia Menuntut Para Pemuda. Orang-orang ini adalah BKO. 20 Oktober 2003.

dan sesudah mereka kembali TNI memukuli banyak orang. Mereka tidak berseragam. 10 (C) 32 . Mereka dibawa ke pegunungan untuk mencari GAM. sekitar jam 8 pagi. Tujuh hari kemudian Saya pergi ke Banda Aceh untuk mendapatkan paspor. Saya beritahukan mereka begitu tetapi mereka bilang. Saya tidak ingat berapa kali. Saya dibawah ke sebuah rumah kosong. Mereka melakukannya sampai Saya pingsan. Saya bahkan tidak bisa menjawab pertanyaan mereka lagi. Saya baru tiba di pantai ketika beberapa marinir bertanya pada Saya. tetapi tidak ada seorang pun yang dapat Saya beritahukan kepada mereka.” Mereka tidak peduli. No. Orang-orang yang memukul Saya adalah marinir. lalu kembali ke Pidie. Mereka selalu menaruh kami orang biasa di depan. memang ada!” Sesudah dua jam Saya dibebaskan. Vol. “Ya. Saya baru saja kembali dari laut dalam kapal ikan Saya.” “Memberi makan kepada GAM?” “Tidak. 75 Human Rights Watch. Banyak orang dipukuli hari itu. 29 Oktober 2003. Mereka membuat Saya tiarap.Seorang laki-laki berusia duapuluh dua tahun dari Pidie menggambarkan peristiwa dari awal September dimana orang sipil dipaksa untuk mengambil bagian dalam operasi militer: Suatu waktu pada jam 4 pagi. dan dua marinir berdiri di atas tangan Saya sementara seorang menginjak leher Saya. Mereka tidak melihat pertanda apapun dari GAM. “Kamu darimana?” “Dari laut. Hanya berusaha mencari makan. mencari ikan. tapi mengenakan kaos hijau bertuliskan Marinir di punggung. mengambil barangbarang Saya dan pergi hari itu juga. Sesudah dua malam mereka kembali. termasuk Saya. dan celana panjang seragam.75 Seorang laki-laki berusia duapuluh delapan tahun yang tiba di akhir Agustus dari Aceh Timur menggambarkan konsekuensi ditangkap tanpa KTP Merah Putih (lihat dibawah). “Siapa di desa yang GAM?” Mereka mencoba memaksa Saya untuk mengindentifikasi mereka. 15. Malaysia. mereka bertiga. dua puluh orang dikumpulkan bersama (oleh TNI) dan dipecah dalam empat kelompok. Peristiwa ini juga mengilustrasikan kombinasi pemerasan dan kekerasan yang sudah menjadi hal biasa di jalanan dan toko-toko di Aceh: Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh dua tahun (nama disembunyikan). sementara teman Saya dari kapal yang sama dipukuli diluar rumah. Lalu mereka menyiramkan air kepada Saya untuk membangunkan Saya dan Saya ditendang lagi. Mereka bertanya kepada Saya.

Ketika kami membawanya ke rumah dia masih pusing-pusing. karena dia berdarah dari luka dikepalanya. Mereka merampok rumah.000 (US$ 60). Mungkin mereka pikir dia GAM. Malysia.76 Kekerasan juga terjadi selama pencarian di rumah. Saya melihat hal ini terjadi kepada teman Saya dan Saya pergi pagi berikutnya jam 7. Saya duga untuk mencari senjata. Saya sedang duduk di kedai kopi dengan teman Saya. Mereka memukul adik laki-laki Saya. Lalu mereka meminta uang darinya. Kami membawa adik Saya ke dokter dan ke dukun patah. seperti sedang mabuk. dengan dua truk. dan Brimob datang dari pos mereka di desa sebelah ke toko untuk membeli makanan. 31 Oktober 2003. Dia dipukul di kepala dia terjatuh. Ketika mereka masuk adik Saya sedang duduk di lantai menonton TV. dan dia berikan kepada mereka. 10 (C) . Dia hanya mempunyai Rp 100. mengambil satu juta rupiah (US$120) dari bawah kasur. 77 33 Human Rights Watch. dan lalu mereka pergi membeli makanan. Sekitar jam 9 malam. Mereka masuk ke toko dan menanyakan KTP setiap orang. TNI datang. dalam usaha yang nampak untuk mengitimidasi atau memperoleh informasi. Dia bilang mereka bertanya apakah dia GAM dan dia bilang bukan. “Saya tidak tahu. dan dia diperintahkan untuk duduk di pantai. “TNI tolong jangan pernah berada di Aceh 76 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh delapan tahun (nama disembunyikan). No. Ketika dia jatuh mereka menendangnya di punggung. Saat itu 28 Agustus. sekitar jam lima. Seorang laki-laki berusia duapuluh tiga tahun dari Bireun menggambarkan apa yang terjadi bulan September: Brimob pernah datang ke rumah Saya.Saya melihat seorang teman Saya dipukul. dan tentara sedang memeriksa. 31 Oktober 2003. Mereka membiarkannya bangun. dan mereka menendangnya tiga kali di kaki. Ada sekitar tigabelas tentara. ketika orang-orang sedang berebelanja. Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh tiga tahun (nama disembunyikan). 15. Vol.” Di jalan terdapat tulisan yang bilang. Malaysia. Mereka berduabelas. Dia lupa membawa KTPnya. “Siapa yang menulis ini di jalan?” Saya bilang. kami membawanya pulang. Ketika Saya melihat mereka datang. Kami sekelompok membawanya dengan truk ke Rumah Sakit Simpang Ulim.77 Seorang laki-laki dari Bireun yang meninggalkan Aceh ke Malaysia di pertengahan Oktober memberitahu Human Rights Watch: Bulan Mei jam 8 pagi di desa dekat rumah Saya. adik Saya dan Saya. Mereka datang jam 9 pagi. Rp 500. dan mungkin lima orang terlibat memukulnya. Dia satu-satunya yang tidak membawanya.. mematahkannya. Saat itu sudah senja hari.000. Saya lari dan bersembunyi di dalam hutan. Ada kami bertiga di rumah – ibu saya. Saya hanya bicara dengan keluarga Saya lewat telepon dan adik Saya masih belum baik. Ketika mereka tiba mereka bertanya pada Saya.

” Dia bilang. Tujuh kali. 80 79 Human Rights Watch. 13 November 2003. Bukan pos yang biasa. Dia mengikat tangan Saya dibelakang punggung dan memukul Saya langsung karena Saya tidak memberitahunya dimana GAM berada.” 4 Desember 2003. Pusat Penerangan TNI. Malaysia.79 Penahanan Secara Sewenang-wenang dan Ketiadaan Proses Pengusutan Banyak dari mereka yang tertangkap karena dicurigai kenggotaan atau dukungannya terhadap GAM sepertinya diadili atas tuduhan makar. Saya hanya punya mereka yang tidak melakukan kesalahan yang tinggal untuk dipukul. termasuk 912 pejuang dan 416 pendukungnya. memeriksanya dan lalu berkata bahwa Saya GAM.” dan lalu Saya dipukuli. satu yang khusus untuk darurat militer.” Laksamana. 4 desember 2003. 9 Nopember 2003. “GAM Masih Kuat.80 78 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia tigapuluh dua tahun (nama disembunyikan). 10 (C) 34 .” Sesudah ini terjadi. Malaysia. “Kenapa Kamu memukuli Saya. “Bukan. Salah satu dari mereka menghentikan Saya di jalan.338 Anggota Pemberontak GAM Ditahan. 24 Oktober 2003 Anggota Batalion Siliwangi yang dituduh dan dibebaskan di pengadilan militer karena pemukulan di Dewantara. tanggal 30 Agustus. Muka Saya berdarah. Kantor penerangan TNI melaporkan bahwa sampai tanggal 4 Desember. 1. Saya bilang. Ada banyak tentara di jalan. Dalam pernyataan awal militer mengatakan bahwa mereka sudak membebaskan 145 tersangka karena kurangnya bukti.78 Seorang laki-laki dari Aceh Timur memberitahu Human Rigths Watch: Saat itu dua hari sesudah darurat militer dimulai. Saya tidak melakukan kesalahan apapun. daan 561 sudah dijatuhi vonis. 15. Aceh Utara. Saya melarikan diri ke Malaysia. di depan dan belakang. Mereka membuka baju dan celana panjang Saya dan mengikat tangan Saya dibelakang punggung dengan tali. No. “120 Napi GAM akan dipindahkan ke Jawa” Serambi. Saya bukan. Mereka pergi sekitar jam 10. Mungkin sekitar jam 10 pagi. 20 Oktober 2003.net. Saya tidak tahu kenapa. Saya sedang sendirian di jalan menuju ke toko. Saya bilang. Mereka benar-benar dekat dengan Saya. Saya dibawa ke rumah sakit oleh orangorang di desa. Sekitar sepuluh orang dipukuli tetapi Saya satu-satunya yang diikat. Vol. Dia menendang Saya di dada. Mereka juga mengambil cincin dan uang Saya. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi suatu hari jka Saya tidak bisa lari lagi. Sesudahnya tiga tentara memukul Saya.” Sinar Harapan. Mungkin sekitar seratus orang. Wawancara Human Rights dengan laki-laki beruisa duapuluh tiga tahun (nama disembunyikan).338 anggota GAM ditahan.” Belasan tentara lalu menembakan senapan mereka ke udara.016 kasus kepada kantor kejaksaan. Pendengaran Saya rusak dari saat mereka menembakan senjata mereka ke udara. Penguasa militer sudah memasukkan 1. Itu adalah Batallion Siliwangi yang biasanya berlokasi di Pos Peudada. Setidaknya 500 ditemukan bersalah dan dijatuhi hukuman. Mereka menanyakan KTP Saya. “Semua orang yang sudah melakukan kesalahan sudah melarikan diri. “PDMD Tentukan Amnesti Anggota GAM. Ketika dia sedang memukuli Saya. “1.lagi.

” Associated Press. Dia ditutup matanya dan tangannya diikat. 20 Oktober 2003. Berhasil Ciptakan Ketergantungan Sipil pada Militer. 26 Oktober 2003. 84 35 Human Rights Watch.81 Seorang anggota Lembaga Bantuan Hukum di Aceh melaporkan banyak orang yang ditahan yang mereka wakili menyatakan bahwa mereka tidak lebih daripada membelikan kopi untuk pemberontak. Kontras juga melaporkan bahwa sampai dengan tanggal 18 Agustus terdapat 213 kasus penangkapan dan penahanan secara sewenang-wenang. “Komandan Aceh menyangkal tuduhan penyiksaan. Malysia. tetapi tidak mengeluarkan surat perintah. menghadiri beberapa pertemuan. para terdakwa mengatakan kepada seorang jurnalis bahwa mereka mengalami penyiksaan selama interogasi. Mereka juga melaporkan bahwa delapan puluh klien mereka menderita penyiksaan selama ditanyai dalam penanganan militer atau polisi. 22 November 2003. Orang ini adalah orang biasa –tidak kaya atau miskin. Sebagai tambahan kasus yang dikutip diatas.” Associated Press. Tidak diketahui 81 Suatu penangkapan atau penahanan adalah sewenang-wenang ketika dilakukan oleh penguasa negara tanpa dasar hukum yang sepatutnya dan untuk melakukan hal tersebut. Mereka datang dengan truk berisi tigapuluh lima orang. dan bahwa pengadilan selama 1 jam tersebut terjadi tanpa pengacara pembela atau saksi dan menghasilkan hukuman paling banyak lima tahun. Dia berusia tigapuluh lima tahun dan mempunyai dua orang anak yang masih muda. “Makalah Ringkas tentang Aceh. 83 82 “Tersangka Pemberontak Indoneisa Memberitahukan Teror di Rumah Tahanan. Pengacara bantuan hukum dalam artikel tersebut memperkirakan bahwa 40 persen terdakwa tidak mempunyai akses ke pengacara. dan diperkirakan bahwa sampai bulan Oktober hanya seratus orang yang mampu memperoleh bantuan hukum.Organisasi non-pemerintah Kontras sudah melaporkan bahwa banyak dari mereka yang ditahan telah dituduh dengan tuduhan makar. Sampai sekarang tidak ada tanda-tanda dia akan dibebaskan. Vol. seorang laki-laki berusia delapan belas tahun dari Aceh Besar memberitahukan Human Rights Watch: Pada bulan September Brimob datang ke desa dan mengambil seseorang. Propinsi Aceh. Mereka membawanya jam 8 pagi. Dia seorang tetangga dan Saya melihatnya. menimbulkan perhatian kepada proses pembelaannya. atau membantu menguburkan tersangka pengacau. Kontras Aceh.” Press Release. 15. 10 (C) . hanya orang biasa. Kontras. No. “5 Bulan Darurat Militer.84 Lajunya langkah dan tingginya jumlah kasus.” September 2003. Perang koto yang Tidak Terungkap. Mereka membawanya ke Kodim di Jambu Tape.83 Mereka yang diwawancarai menggambarkan banyak kasus dimana polisi atau TNI secara tiba-tiba datang dan membawa pergi seseorang atau beberapa orang. Wawancara Human Rights Watch dengan seorang laki-laki berusia delapan belas tahun (nama disembunyikan). 7 Desember 2003.82 Dalam wawancara di rumah tahanan. Saya tidak tahu kenapa –mungkin mereka mendapatkan suatu informasi dari seseorang. dalam propinis dengan beberapa pengadilan yang bekerja.

kurangnya informasi dan waktu tambahan yang disediakan oleh kerangka hukum darurat militer. Dua tentara tersebut mengetuk pintu “buka pintu!” Keduanya membawa senjata. jam 3 sore nasi. Salah satu teman saya ada didalam bersama dengan tujuh anaknya. Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia tigapuluh tujuh tahun (nama disembunyikan). kepada Komandan operasi Aceh Selatan… Di Koramil terdapat banyak orang dari desa. Dia memberitahukan Human Rights Watch: Sekitar jam 10 malam. “GAM tidak bisa diberikan sesuatu yang baik. Didalam kijang tersebut. Mereka bertanya kepada Saya.” Saya bukan GAM. Keluarga saya sudah memberikan delapan juta rupiah (US$940) kepada Komandan polisi militer di Bireun.85 Seorang laki-laki lain memberitahu Human Rights watch mengenai penangkapan istrinya bulan September: TNI menangkap istri Saya tanpa alasan apapun… Sekitar jam 8 pagi. Ketika mereka menangkapnya mereka membawanya ke Samalanga. Malaysia. Dia meminta lebih tetapi tidak ada uang lagi. No. “Dia tidak ada disini. dan menahannya tanpa tuduhan di Koramil lokal. dua orang tentara datang ke rumah Saya dengan senjata. tetapi masih ada yang lainnya di luar rumah. beberapa laki-laki. Saya hanya orang dusun biasa. mereka hanya datang dan menangkapnya… Ketika mereka menangkapnya Saya ada di kebun Sebelum Saya kembali ke desa Saya mendengar apa yang telah terjadi jadi Saya tidak kembali. malam hari kadang-kadang nasi. 86 Human Rights Watch. Saya tidak tahu dimana dia. 15.86 85 Wawancara Human Right Watch dengan perempuan berusaia tigapuluh tahun. Beberapa hari tidak ada nasi. perempuan. 10 (C) 36 . Para tentara tersebut berkata pada kami. Malaysia. tidak diperbolehkan untuk membuat makanan yang enak. 5 Nopember 2003. anak-anak perempuan.sampai tingkatan apa tahanan diproses sehubungan dengan hukum. Beberapa dari mereka sangat kecil dan juga seorang laki-laki tua yang sedang sangat sakit. “Suamimu ada disini?” Saya bilang. sampai sekarang. Jam 10 pagi Kami mendapatkan nasi dan ikan. Ada tigapuluh sembilan tentara dan Brimob dari Jakarta. Saya membayar sepuluh juta rupiah (US$1200) sebelum akhirnya mereka membiarkan Saya bebas… kepada kepala Koramil.” Mereka membawa Saya langsung ke Koramil dengan kijang. kami dibawa ke Koramil. Saya sudah tidur. Vol. (nama disembunyikan). tidak ada peristiwa apapun. 26 Oktober 2003. sekitar 300 orang. Seorang perempuan dari Aceh Selatan mengatakan bahwa dia ditahan bulan Oktober oleh militer. Komandan militer memberitahu istri Saya bahwa jika Saya kembali ke desa hari berikutnya dia akan dilepaskan… Dia benar-benar tidak tahu apa salah yang sudah dia lakukan.

persyaratan kartu identitas baru mempunyai pengaruh yang berarti terhadap orang-orang Aceh yang kartunya sudah hilang. “Persyaratan KTP Baru Menambah Lebih Banyak Penderitaan Bagi Rakyat Aceh. siapapun yang berada diluar daerahnya ketika persyaratan baru diterapkan menghadapi resiko saat bepergian kembali ke rumah. Mereka yang tidak mempunyai KTP baru menjadi target kekerasan secara khusus dan harus membatasi gerakan mereka secara berarti. 10 (C) . banyak orang-orang Aceh masih belum menerima kartu-kartu mereka sampai kini.com. 15. Tertini ZB Simanjuntak. No. disusul dengan inspeksi besar dan operasi penegakan yang dimulai 1 Agustus. Pusat penerangan TNI. setiap batasan harus menjadi pengecualian. 28 Juli 2003. Sebagai orang yang hanya bisa mendapatkan kartu di daerah tempat tinggalnya. bukan normanya. GAM biasanya menggunakan strategi dengan merampas KTP orang sipil untuk membingungkan TNI dan polisi (Polri). Departemen Luar Negeri. pembatasan kebebasan bergerak apapun oleh pemerintah untuk alasan kemanan harus mempunyai dasar hukum yang jelas. atau diambil oleh GAM atau pasukan keamanan Indonesia. 29 May. Betapapun.” 4 Desember 2003. 2003. seperti yang terjadi di Timor Timur 1999. Pada akhir Juli kepala sebuah Kabupaten memperkirakan bahawa hanya 60% dari penghuni yang mempunyai kartu baru dan bahwa dia tidak akan bisa menyelesaikan pekerjaannya pada akhir bulan tersebut tanpa bantuan dari polisi dan militer. Tujuan dari dikenalkannya KTP merah-putih adalah untuk memisahkan orang sipil dengan anggota GAM.” The Jakarta Post. penduduk Aceh sekarang diwajibkan untuk memperoleh kartu merah dan putih khusus. memungkinkan mereka melalui sweepings tanpa terdeteksi. tertinggal. Vol.90 87 88 Nur Raihan. Dimaksudkan untuk menegakkan kesetiaan kepada negara Indonesia. Pengeluaran kartu identitas tidak bertentangan dengan hukum internasional. Darpada kartu identitas Indonesia biasa yang diwajibkan seara nasional. motif lainnya yang penting adalah untuk memaksa semua orang Aceh untuk datang sendiri ke depan petugas.87 Sementara hal ini bisa jadi adalah motif yang utama.” Pada tanggal 4 Desember.338 Anggota Pemberiontak GAM ditahan. ABRI mengumumkan bahwa 95 persen penduduk Aceh sudah memenuhi persyaratan untuk mempunyai kartu identitas baru. Meskipun mereka membutuhkan KTP baru untuk bergerak secara bebas.” detik. Mereka yang tidak datang lalu dianggap sebagai anggota GAM. Dalam prakteknya. tidak pernah mendapatkannya.89 Pernyataan Menteri Luar Negeri menjelaskan bahwa tertanggal 10 Agustus. simbol tersebut kemudian lebih dikaitkan dengan kondisi penindasan. “Makalah Ringkas mengenai Perkembangan Terkini di Propinsi Nangroe Aceh Darusslam (NAD periode: 19 Mei-10 Agustus 2003. 89 90 37 Human Rights Watch.Pembatasan Kebebasan Bergerak Sembilan hari sesudah darurat militer dimulai. Itu adalah warna bendera Indonesia. “Tujuhpuluh pesen penduduk yang harus memiliki kartu identitas sudah mempunyai kartu merah putih di tangan mereka. Komandan militer Mayor Jendral Endang Suwarya mengumumkan bahwa KTP baru akan dikeluarkan karena begitu banyak yang sudah dicuri oleh GAM.88 Batas akhir untuk mempunyainya ditentukan tanggal 31 Juli. Kartu Tanda Penduduk merah putih. sampai batas akhir penutupan. dan dibatasi untuk apa yang penting dan sebanding. “1. “KTP sementara Aceh berlaku 1 Juli.

Dia bilang. Saya harus membayar Rp 25. dalam kasus yang lain Rp 200. Surat kuasa dari kepala desa. Malaysia. Setiap hari terasa menakutkan. Beberapa orang menggambarkan bahwa mereka membayar lebih untuk mendapatkan kartu mereka. dan kepala kabupaten. 93 92 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki duapuluh tahun (nama disembunyikan).$24). Saya pergi ke Medan dan Malaysia. No.$6) kepada kepala kecamatan untuk mendapatkan kartu dengan untuk pergi. 28 Oktober 2003. 29 Oktober 2003.” 93 91 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh lima tahun-an (nama disembunyikan). Human Rights Watch. kepala kepolisian. membutuhkan izin pendahuluan dari kepala desa. Seorang laki-laki dari Pidie. menjelaskan prosesnya: Saya melihat bahwa jika Kamu tidak mendapatkan KTP Kamu tidak akan bisa aman. Saya mau pergi ke Malaysia tetapi Saya tidak bisa. Butuh tiga hari sebelum Saya mendapatkan KTP Saya. Kami datang kesana untuk mendapatkan KTP dengan semua dokumen. Malaysia. Akhirnya Saya mendapatkan KTP melalui KTP keluarga kakak laki-laki Saya. Pidie. dan tanda tangan dari komandan Koramil. 6 November 2003. ke kepala kecamatan dahulu. Kamu harus pergi ke kantor kepala kecamatan setelah Kamu difoto.S. dalam satu kasus Rp 50. Jika Kamu tidak dapat menyanyikannya dia memerintahkanmu untuk berdiri di lapangan. lalu ke polisi.92 Seorang perempuan dari Pidie memberitahukan Human Rights Watch: Di awal bulan ini saya mendapat KTP Saya. Malaysia. Di kantor Polisi.91 Proses mendapatkan identitas baru sulit. kembali lagi ke kepala kecamatan. Wawancara Human Rights Watch dengan seorang laki-laki berusia duapuluh lima tahun (nama disembunyikan). Saya menghabiskan dua bulan (di Banda Aceh).000 (US$3). Saya dapatkan dari kantor polisi di Singli.S. Kepala desa Saya ikut bersama Saya. 15. Vol. yang sudah lama tinggal di Malaysia tetapi kembalikan ke Aceh di August. Dengan KTP Saya bisa pergi ke Medan dengan bis umum. dia memerintahkan Kami untuk menyanyikan Indonesia Raya (Lagu Kebangsaan).000 (U. Tetapi proses mendapatkan KTP Merah Putih sangat sulit. KTPmu tidak akan dikeluarkan. Sebelumnya Saya takut meninggalkan rumah.000 (U. “Hormat kepada matahari sampai Kamu bisa menyanyikan lagu kebangsaanmu.Seorang laki-laki menggambarkan sulitnya mendapatkan kartu ketika dia sudah meninggalkan desa tempat tinggalnya ke ibukota Banda Aceh untuk alasan keamanan: Dengan tanpa KTP Saya takut keluar. karena Kamu harus datang sendiri untuk menandatanganinya. 10 (C) 38 . Jika Kamu tidak datang. Tuntutan untuk menyuap adalah rutin.

No. TNI mencari GAM. Mayoritas orang-orang Aceh yang diwawancarai oleh Human Rights watch meninggalkan Aceh dengan bis ke Sumatera Utara. penganiayaan atau pemerasan. Lebih dari sepuluh orang melaporkan bahwa ada lakilaki muda dikeluarkan dari bis yang mereka naiki. Ketika dia bangun dari mulutnya keluar darah. Penahanan semacam ini secara khas terjadi di tempat pemeriksaan di perbatasan dengan Sumatera Utara. Ada beberapa laporan operasi sweepings terhadap orang-orang Aceh di propinsi Sumatera Utara dan Riau. Kesalahannya adalah tidak membawa KTPnya bersamanya. setiap orang keluar. diduga karena tidak mempunyai kartu atau karena alasan lainnya seperti mempunyai nama atau wajah yang sesuai (atau memiliki persamaan) dengan satu dalam daftar yang dimiliki tempat pemeriksaan. atau bersembunyi di hutan sampai mereka bisa menemukan jalan untuk pergi ke Malaysia. Bagaimanapun. Mereka menanyakan KTPnya. KTP merah putih menjadi suatu kekurangan. Selama salah satu peristiwa yang sudah disebutkan di atas mana TNI memaksa penduduk desa untuk berkumpul dan membunuh tiga orang di desa dekat Lhokseumawe. di Langsa di Aceh Timur. Kamu GAM!” Mereka menendangnya di perut dan dia terjatuh. 10 (C) . 95 39 Human Rights Watch.94 Nampak sulit meninggalkan Aceh tanpa kartu merah putih. Malaysia. Semua bis harus berhenti. Sesudah itu enam orang diambil.95 Seorang laki-laki dari Bireun memberitahu Human Rights Watch mengenai perjalannya keluar dari Aceh: Saya sedang berada dalam bis umum ke Medan. Ada pemeriksaan di Peureulak. mereka ingin tahu siapa yang GAM. “Saya meninggalkannya di rumah. enam orang tersangka GAM di 94 Wawancara Human Rights Watch dengan seorang laki-laki berusia duapuluh tahun (nama disembunyikan). Tertiani ZB Simanjuntak. atau di perbatasan-perbatasan antar kabupaten seperti antara Aceh Utara dan Aceh Timur. “Komnas HAM akan Menyelidiki Pelanggaran Aceh. menandai seseorang sebagai orang Aceh dan menjadi sasaran penangkapan. Vol. juga di perbatasan dengan Medan. teman seorang saksi yang berusia dua puluh tahun dipukuli: Di lapangan tersebut teman Saya dipukuli. dan hampir semuanya menggambarkan pemeriksaan yang berulangulang terhadap kartu merah putih. siapa yang bukan. Banyak orang yang tinggal dengan teman atau sanak saudaranya di Medan. Dia bilang.” The Jakarta Post. di Alue Ie Puteh. Aceh Utara. KTP diminta. 3 Juni 2003. 15. Melihat KTP.” “Tidak. begitu seseorang menyebrangi perbatasan menuju ke propinsi tetangga Sumatera Utara.Beberapa peristiwa penyerangan fisik digambarkan kepada Human Rights Watch berkaitan dengan kartu identitas merah putih. 31 Oktober 2003.

Kamu GAM. Lalu mereka membawa Saya ke sebuah kamar kecil. Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh lima tahun (nama disembunyikan). Mereka bertiga bersenjata. yang kembali ke Aceh dari Malaysia di bulan Agustus. Saya kemudian mendengar suara tembakan. meminta tolong agar dibebaskan karena Saya mau kembali ke Medan secepatnya… Saya menunggu bis lagi dan langsung pergi ke Medan. Mereka bertanya kepada Saya untuk menyatakan bahwa Saya adalah GAM. Malaysia. Sangat menjijikan. Vol. Saya menunggu di Medan lima hari. rokok. 10 (C) 40 . Sesudahnya setiap orang kembali ke dalam bis. Malaysia.Peureulak. Mereka orang-orang Aceh. Saya keluar dari bis dan bis pergi tanpa saya. meraka bilang mereka akan menembak Saya. Semuanya orang Aceh. ada sampah. Saya membeli tiket pesawat dan pergi langsung kembali ke Malaysia. Jika Saya tidak melakukannya. Malaysia.” Ada lima orang polisi. Dia bilang kepada Saya. Sesudahnya saya diperintahkan untuk membersihkan isi ruangan. 2003 97 98 Human Rights Watch. Dia menunjuk… Sesudahnya mereka membebaskan Saya… Saya menangis. No. Tidak jauh. Ada pos TNI dan semuanya diminta turun dari bis dan berbaris.96 Seorang laki-laki yang tiba di Malaysia bulan Juni memberitahukan Human Rights Watch mengenai peristiwa yang terjadi di bisnya saat perjalanan dari Aceh Utara ke Medan: Saat itu malam sudah sangat larut. Saya pergi langsung ke Medan. durian. Mereka memaksa saya untuk membersihkan daerah tersebut. Di perbatasan terdapat banyak pasukan keamanan… Ada tiga bus dan sekitar limabelas orang ditangkap. 15. AJ-47s. Ada tempat penahanan. memberitahu Human Rights Watch: Saya sedang berada di perbatasan dan bis berhenti untuk pemeriksaan KTP.97 Seorang laki-laki dari Pidie. “Itu nama orang GAM. Mereka polisi tapi BKO. bahwa nomor itu hanyalah nomor telepon Saya. Kami sudah tiba di Aceh Timur. 26 Oktober 2003. semuanya laki-laki. Paha Saya ditendang. Satu persatu dipanggil untuk memeriksa kartu identitas kita. tidak terlalu dekat juga. ketika mereka memeriksa KTP Saya. Tiga polisi masuk dan membuka baju dan celana panjang saya. Saya dipukul di wajah sekali.98 96 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia empatluluh tahun (nama disembunyikan). Saya melihat dua orang dibawa ke belakang oleh lima orang tentara TNI. Saya tidak tahu kemana mereka dibawa. Saya di tahan di ruangan tersebut selama satu jam. 28 Oktober 2003. Saya tidak tahu dimana mereka. Dua orang tersebut tidak pernah kembali ke dalam bis. Tiga kali Saya ditendang. semua laki-laki. di tubuh Saya dua kali. Kenapa? Karena mereka melihat nomor telepon di dompet Saya. Wawancara Human Right Watch dengan laki-laki Aceh berusia duapuluh tahun (nama disembunyikan). (yang datang) khusus untuk darurat militer. Sesudah itu mereka mulai memukul Saya karena Saya tidak mau mengakuinya. 29 Oktober.

“Angka pengangguran dan kemiskinan disebabkan konflik di Aceh mengkhawatirkan. menanam sayur-sayuran atau singkong. Kecamatan Labuhan Haji. menebang pohon untuk membangun rumah. Malaysia.net/vnews. Kami tidak bisa mencari makan.” Laksamana. dan kami tidak diperbolehkan pergi ke bukit-bukit. dan rasa takut yang terbangun baik terhadap kekerasan saat bepergian untuk membeli atau menjual barang-barang secara hebat telah memperburuk masalah tersebut. Seorang laki-laki memberitahukan Human Rights watch. http://www. Gubernur Abdullah Puteh mencatat.laksamana.”101 Hal ini bukanlah ancaman main-main. 29 Oktober 2003. Hampir semua warga yang diwawancarai mencatat bahwa penghuni desa mereka dilarang pergi ke kebun mereka. atau sebagai pendukung mereka yang membawakan nasi atau kebutuhan lainnya untuk separatis bersenjata tersebut. No. Laki-laki ini. Kalian harus bertanggung jawab atas diri kalian sendiri. 29 Oktober 2003. 101 100 41 Human Rights Watch. 10 (C) .99 Perang telah nenyebabkan ekonomi berjalan tertatih-tatih tetapi pengawasan yang luas terhadap gerakan. 15. Banyak orang Aceh mengeluh bahwa ketakukan akan kekerasan atau larangan-larangan terhadap mobilitas telah secara serius mempengaruhi kemampuan mereka untuk menyambung hidup. Pegunungan tersebut dikepung oleh TNI. Ekonomi kami membeku. siapapun yang terlihat menuju kesana dianggap entah sebagai GAM. Kami takut tembakan. ke kebun kami. naik ke atas ke bukit ke kebun sayurannya tetapi ditahan oleh Brimob dan dibawa ke pos brimob di Labuhan Haji. 28 Oktober 2003. yang seringkali berada bukit diatas desa.cfm?ncat=35&news_id=6246 (diakses 4 Desember 2003). kami akan dikira GAM dan mereka akan menembak kami. “Ada pos-pos di desa. pemerasan.Pemerasan dan Pembatasan Terhadap Aktifitas Ekonomi Situasi ekonomi dibawah darurat militer memburuk secara cepat.”100 Karena pasukan GAM terutama berada di daerah pegunungan. Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh dua tahun (nama disembunyikan). Seorang laki-laki berusia delapanbelas tahun yang tiba tanggal 11 September dari Aceh Besar memberitahukan Human Rights Watch: Orang-orang tidak bisa pergi ke pegunungan.” Puteh mengutip data terkini yang menunjukan bahwa 40 persen penduduk tinggal dibawah garis kemiskinan. Dia tidak mengakuinya. Dia disiksa disana –ditusuk dengan pisau. jadi kami tidak berani pergi kesana. Bahari. Kami diperingatkan: “Jika Kalian pergi ke tasa Kami tidak bisa bilang apa yang akan terjadi. Vol. Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia delapan belas tahun (nama disembunyikan). Seorang laki-laki berusia duapuluh enam tahun dari Aceh Selatan melaporkan: Tanggal 23 Jumi ada seorang laki-laki mencari makanan didekat desa (nama dihilangkan). Jika kami melakukannya. Di bulan Oktober. dan ditanya apakah dia GAM. dan 99 “Waspadai kemiskinan dan pengangguran di Aceh.

telah meningkat tahun-tahun terakhir ini. Jika mereka bilang sepuluh maka harus sepuluh. 26 Oktober 2003.103 Seorang supir lainnya dari Bireun mengulang cerita bahayanya bepergian di jalan: Saya menjual ikan di Takengon. Jika Kamu tidak mempunyai uang dan mencoba menawar – “Saya tidak punya sepuluh. truk-truk mereka diambil.104 Seorang nelayan berusia duapuluh tahun dari Aceh Utara yang tiba dua minggu yang lalu menjelaskan: Ada pos-pos setiap limapuluh meter di beberapa tempat. Wawancara Human Rights Watch (nama disembunyikan). khususnya dmana imigran Jawa berada. 104 103 102 Human Rights Watch. Saya melihat mayatnya di rumahnya. Saya tidak mau memberikan mereka Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh enam tahun (nama disembunyikan). Saya melakukan perjalanan terakhir Saya bulan Juli. lalu kembali ke pos marinir ketika kami kembali untuk mengambil KTP kembali… Pernah ketika Saya sedang merawat ayam jantan Saya untuk sabung ayam.mereka tidak akan menerimanya. Tetapi Saya harus berhenti pergi kesana karena Saya takut kepada milisi.dia dibunuh. Lalu kami pergi ke Lhokseumawe untuk menjual ikan Kami harus melapor disana. Banyak orang Aceh yang menghilang. Saya bekerja sebagai supir minibus di jalan raya. tetapi mayat tersebut dikirim ke rumahnya. di Aceh Selatan. Malaysia. Vol. Jika Kita keluar dari kapal yang pertama adalah pergi ke pos marinir dan melapor disana. tetapi mereka tidak mengaku. Dua orang lainnya ditahan pada waktu yang sama dan juga ditusuk. Meskipun kelompokkelompok yang berkaitan dengan militer berkeliaran setidaknya sejak tahun 1990. 26 Oktober 2003. Malysia. di daerah kecamatan. Kamu dipukuli. Mayat mereka tidak pernah dikembalikan. Tetapi baru-baru ini dua orang penjual ikan lainnya yang Saya kenal menghilang: Rusli di bulan Oktober dan Azhari di bulan September. ini ada lima”. Saya sudah memberikan satu kepada mereka jadi Saya bilang tidak. Kamu tidak bisa tawar menawar dengan mereka. Milisi tersebut dilatih tahun 1999 oleh TNI dan Polri. Jika Kamu tidak memberikannya kepada mereka. Malaysia. Saya tidak tahu dimana ditemukannya. 15. tentara datang dan memintanya. Mereka meminta lagi. No. Sebelumnya tidak ada masalah. 10 (C) 42 . laporan aktifitas milisi di beberapa kabupaten.102 Seorang berusa tigapuluh tahun yang tiba dari Aceh Tengah segera setelah darurat militer dimulai berkata: Hidup Saya sangat berat. Wawancara Human Rights Watch dengan seorang laki-laki berusia tigapuluh tahun (nama disembunyikan). Lalu Saya ketakutan karena adanya tempat pemeriksaan di jalan oleh TNI dan Brimob… Saat Saya menyetir kendaraan mereka menghentikan Saya untuk meminta uang atau makanan. 25 Oktober 2003. dan memberikan KTP.

kan? Saya katakan pada tiga anak laki-laki Saya untuk ikut pergi (nama disembunyikan). Malaysia. Malaysia. Sesudah mereka pergi Saya pergi ke teman Saya di kedai kopi di depan rumah Saya. Setiap hari TNI meminta 450 kilogram. mereka akan meminta uang. militer Indonesia melaksanakan operasai yang disebut kampanye “pagar betis” di Timor Timur. Batalion Sriwijaya 141. Dalam usahanya untuk memaksa keluar para pejuang yang bertahan dari persembunyiannya. 10 (C) . Mereka hendak pindah ke pos BKO yang lain dan meminta ‘uang pindah’. Kopassus datang jam 11 pagi.105 Seorang laki-laki yang memiliki bisnis penggilingan beras melaporkan: Membuka jalan untuk hidup di Aceh itu sulit. Saya memberikannya kepadanya. 5 Nopember 2003. yang kebanyakan orang Jawa. partisipasi masyarakat semakin dibutuhkan karena kurangnya personil keamanan. Saya dimintai tujuh juta rupiah (US$825) dan diberitahukan bahwa jika Saya tidak memilikinya dalam tiga hari Saya tidak akan selamat. Dia dari pos lokal. kepada polisi pada upacara bulan Juli107 Secara historis. Saya akan menembakmu. Lalu dia mengancam Saya – “Kalau Kamu tidak memberikannya kepada Saya. “Jika Aku tidak ada disini.”106 Kembalinya Jaga Malam: Tugas Wajib Jaga Malam Kami seharusnya mempertimbangkan untuk memberikan penghargaan yang sepantasnya kepada tuntutan masyarakat untuk diperbolehkan membela diri dan barang-barang mereka sendiri. 15. malam ini Kamu akan dibunuh. Saat itu tanggal 8 atau 9 Oktober. mereka akan mengambil kalian.” Saya pergi sesudah dua hari –mereka memberi Saya waktu tiga hari. khususnya mereka yang tinggal di daerah konflik… Dalam menghadapi orang sipil yang bersenjata yang memerat. 106 107 105 Wawancara Human Rights Watch (nama disembunyikan). Mereka bilang. bermarkas di Koramil. militer memaksa 108 43 Human Rights Watch.” Saya seharusnya bisa pergi haji ke Mekkah duapuluh lima kali sekarang. No. mereka berempat di dalam Taft – seperti Pajero tapi lebih kecil. Tetapi kalau diminta. bilang pada mereka. maka diberikan… Saya tidak tahan lagi. TNI biasa menggunakan taktik semacam “pagar betis” di Timor Timur dengam menaruh orang sipil diantara tentara dan gerilya. Jika Kamu mencoba membuka usaha. Vol. The Jakarta Post. Fabiola Desy Unidjaya dan Tiarma Siboro.” Karena Saya takut. “Sebaiknya kamu pergi saja.108 Beberapa Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh tahun (nama disembunyikan). menyiksa dan bahkan membunuh warga lainnya. Tahun 1981. baik sebagai tameng manusia dan juga menggunakan orang sipil untuk menekan perlawanan para pejuang. “Jika Kamu tidak memberikannya kepada kami. Dia bertanya apa yang mereka inginkan dan Saya beritahukan: tujuh juta rupiah dalam tiga hari. —Presiden Megawati.satu lagi. 31 Oktober 2003. 2 Juli 2003. Dia bilang pada Saya. Mereka BKP. “Presiden Menyetujui ‘Penjaga’ Sipil’. Saya memiliki penggilingan beras.

No. Sebelumnya. 17 September 2003.media baru-baru ini melaporkan penggunaan orang sipil dalam operasi militer di Aceh.Polkam.go. Kami harus melakukannya tiga kali seminggu. 15 Agustus 2003. Republik Indonesia.” Pernyataan Pemerintah Indonesia.110 Pernyataan lain yang dikeluarkan oleh Kementerian Luar Negeri menegaskan: Dalam rangka menciptakan situasi yang aman dan teratur di (Aceh). periode: 19 Mei -10 Agustus 2003. sekitar 1. dan kesetiaan rakyat Aceh kepada Negara Kesatuan Indonesia semakin menguat. begitu juga kesadaran mereka akan hak dan kewajiban mereka.109 Seorang laki-laki memberitahukan Human Rights Watch tentang penduduk desa yang dibawa ke hutan untuk mencari GAM. contoh partisipasi orang sipil yang paling luas dalam pertahan yang dilaporkan adalah tugas wajib jaga malam tanpa senjata. Kami juga biasa melakukannya dibawah DOM. strategi dari peride DOM yang dihidupkan kembali segera sesudah darurat militer dimulai. bahkan laki-laki tua. Nani Farida. dibawah DOM. Menurut pernyataan pemerintah mengenai kemajuan darurat militer: Penjagaan lingkungan telah meningkat di desa dari 0% sampai dengan 70%. Beberapa perkembangan yang positif sudah dicapai seperti misalnya beberapa pos sudah dibuat oleh penduduk lokal yang juga berfungsi sebagai Pos Informasi. Kami berempat dipukuli kalau tertidur. “Warga Sipil Terlibat Secara langsung Dalam Perburuan Pemberontak GAM “.id.111 Biarpun demikian. operasi ditujuan untuk merangsang keberanian masyarakat lokal untuk berjuang melawan GAM. Dalam wawancara dengan Human Rights Watch. . The Jakarta Post. Semua laki-laki diatas lima belas tahun harus berjaga. dalam tiga waktu yang berbeda. Vol. orang sipil untuk berjalan berbaris dari setengah garis pertahanan pulau terebut menuju ke pusatnya. menggunakan mereka sebagai tameng manusia terhadap para pejuang yang bertahan. empat orang setiap kalinya. www. Komandan Kodim Aceh Besar mengatakan bahwa militer hanya menyediakan sokongan terhadap inisiatif warga desa itu sendiri. 10 (C) 44 . sekitar sebulan kemudian.000 penduduk desa dari Kecamatan Leupung di Aceh Besar dilaporkan terlibat didalam perburuan pemberontak GAM di hutan dekat sana. Seorang laki-laki berusia duapuluh tahun dari Pidie yang tiba di Malaysia tanggal 14 Oktober menggambarkan ketika tentara mengadakan tugas jaga malam di desanya: Jaga malam dimulai sesudah darurat militer. Sebagai contoh. Departemen Luar Negeri. 111 109 Human Rights Watch. 110“Evaluasi Pemerintah Terhadap Operasi Khusus di Aceh. laki-laki tua tidak pernah melakukan tugas jaga. Semua perhatian dan kewaspadaan ini datang dari masyarakat secara spontan. “Makalah Ringkas tentang Perkembangan Terakhir di Propinsi Nangroe Aceh Darussalam (NAD)”. Militer mengikutinya dari belakang. 15. kesaksian yang dikumpulkan di Malaysia menunjukan bahwa pasukan keamanan memakai ancaman dan penggunaan kekerasan untuk memaksa penduduk lakilaki di desa untuk bergantian menjaga desa. tetapi tidak jelas seberapa sering taktik ini digunakan dibawah darurat militer.

Kami harus melakukannya mungkin dua hari setiap minggunya. Kadang-kadang ketika mereka pergi. Dia mengatakan kepada Human Rights Watch: Suami Saya dipukuli oleh TNI bulan Agustus saat dia jaga malam. Vol. di pagi hari kami harus melakuka gotong royong. 15. Malaysia. Mereka tidak berkata kami seharusnya menjaga –jaga malam saja! Mereka tidak berkata menjaga ini atau itu. kami harus merubuhkan pos. Malaysia.115 Wawancara Human Rights Watch dengan seorang laki-laki berusia duapuluh dua tahun (nama disembunyikan). Sekarang selalu seperti ini. Sementara jaga malam bisa menaruh orang sipil di tingkat resiko yang sama seperti keterlibatan langsung dalam operasi militer atau dipaksa untuk bergabung dengan militia. 10 (C) . 26 Oktober 2003. Dia desa Saya mereka hanya mengambil alih sebuah rumah kosong. membangun pos-pos dan kamp baru. Atau kami diperintahkan untuk membawa tiang pohon kelapa sawit ke atas bukit. tetapi kami harus membangun pos-pos di desa lain. seperti membangun pos tingkat desa baru.114 Dua orang Aceh yang diwawancarai oleh Human Rights Watch juga mengeluh mengenai pemaksaan tenaga kerja. Wawancara Human Rights dengan perempuan berusia tigapuluh tahun (nama disembunyikan). Selama darurat militer sulit sekali mencai makanan. tidak ada perubahan. No.” Wawancara Human Rights Watch dengan lakilaki berusia tigapuluh tahun (nama disembunyikan). menempatkan mereka dalam resiko pembalasan dendam dari kedua belah pihak. seperti yang dikatakan seorang laki-laki berusia tigapuluh tahun yang tiba dari Aceh Tengah segera sesudah darurat militer dimulai: Polisi dan Brimob datang ke desa dan mengatakan pada orang-orang untuk menjaganya.113 Tugas wajib jaga malam adalah aspek tambahan dari kehidupan yang semakin tidak dapat dipertahankan lagi bagi laki-laki Aceh. itu juga menaruh orang sipil di seputar antara GAM dan TNI. lalu mereka kembali lagi dan kami harus membangunnya lagi. 24 Oktober 2003. Seorang dari dua orang yang menggambarkan tugas wajib tersebut menjelaskan: “di malam hari kami jaga malam. 26 Oktober 2003. Wawancara Human Rights dengan laki-laki berusia tigapuluh tahun (nama disembunyikan). meninggalkan propinsi tersebut di pertengahan Oktober. Malaysia.112 Seorang perempuan dari Peureulak. GAM meminta kami untuk memberitahukan mereka apa yang TNI dan Brimob lakukan. Malaysia. kami pasti akan diculik dan diancam. 26 Oktober 2003. Tetapi kalau kami memberitahukan GAM. Dan. di Aceh Timur. Saya harus pergi (dari Aceh) untuk mendapatkan uang dan makanan. 115 114 113 112 45 Human Rights Watch.Kami tidak berkeliling tetapi tinggal di sekitar pos jaga. Suami Saya lalu sakit jadi tidak bisa pergi dan mencari makan.

118 Banyak pengungsidapat kembali ke tempat asalnya sesudah periode yang cukup singkat.000 orang di Aceh Utara dilaporkan meninggalkan rumah mereka karena Angkatan Udara Indonesia membom posisi pemberontak di Pantai Pisang di Kecamatan Nisam yang banyak pegunungannya. Kemungkinan prilaku yang sama terjadi di bawah Darurat Militer tetapi kurangnya akses membuat sulit untuk menunjukannya. “Jesuit Refugee Service: Berita JRS No. Republik Indonesia. No.Pengungsian dan Perampokan Sejak dimulainya darurat militer.13. Protokol II. Konvensi Geneva.116 Penampungan massa atau pengungsian orang sipil yang hanya untuk meniadakan basis sosial untuk pasukan lawan dilarang oleh hukum kemanusiaan internasional.117 Seandainya tindakan tersebut harus dilakukan. 142. higenis. jadi jumlahnya turun-naik dari minggu ke minggu. Pihak-pihak yang berkonflik harusnya tidak memerintahan pemindahan penududuk kecuali dengan alasan yang serius berkaitan dengan keamanan orang sipil yang terlibat. 1 Juli 2003. “Warga Sipil Indonesia Dijadikan Target di Aceh. yang memperhatikan cerminan hukum internastional menyatakan bahwa “pengungsian penduduk sipil tidak boleh dilakukan dengan alasan yang berkaitan dengan konflik kecuali berkaitan dengan keamanan warga sipil atau tuntutan militer yang sangat penting. mencerminkan hukum kemanusiaan internasional sebagai juga hukum hak asasi manusia. atau ada alasan militer yang sangat penting untuk tindakan tersebut. semua tindakan yang mungkin seharusnya diambil untuk memastikan bahwa tempat dimana mereka akan ditampung menawarkan kondisi tempat berlindung yang memuaskan. “Orang Aceh Pergi karena Serangan Udara” The Jakarta Post. Mei 2000.” Laporan Human Rights watch.” Prinsip-Prinsip Pedoman tentang Orang Terlantar (prinsip pedoman). Kantor PBB untuk Koordinasi Masalah Kemanusiaan (OCHA). Perkiraan resmi jatuh dari lebih dari duapuluh ribu orang terlantar di sebelas kabupaten di bulan Agustus menjadi hanya sepuluh ribu orang terlantar di enam kabupaten pada pertengahan November. Departemen Luar Negeri.2. “Laporan OCHA Mengenai Gabungan Situasi No.119 Seorang laki-laki berusia duapuluh tahun yang tiba di Pidie menggambarkan bagaimana beberapa orang di desanya meningalkan TNI.” Human Rights Watch Press Backgrounder. dan mereka yang berwenang dan berada di komunitas internasional. Sampai tahun 2001 ada sekitar 50. 10 (C) 46 . “Perang di Aceh. Lihat Human Rights Watch. Dulu Suku nonAceh juga lebih banyak diintimidasi agar meninggalkan Aceh oleh GAM.4/2003/95/Add. 17. 154”. pasal. dan menyatakan kumpulan standar internasional yang mengatur perlakuan terhadap orang-orang terlantar. No. Vol. 15. Sebagai contoh. Agustus 2001: Human Rights Watch. 14 Nopember 2003. 119 118 117 116 Human Rights Watch. Laporan Perwakilan Sekretaris Jendral tentang Orang-Orang Terlantarl. 4 (c ). belasan ribu orang sipil telah dipaksa oleh pertempuran atau diperintahkan oleh pemerintah Indonesia atau pasukan keamanan untuk meninggalkan rumah dan desa mereka. diadopsi bulan September 1998 oleh Majelis Umum PBB. 15 Februari 2002. Meskipun bukan instrumen yang mengikat. Para penghuni dilaporkan diperintahkan oleh militer untuk ditampung di dua kamp di sekitar Kecamatan Dewantara dan Muara Batu.” 17 Nopember 2003. sehat dan menyediakan nutrisi. di awal Juli sekitar 10. sementara yang lainnya ditangkapi dan diangkut pergi: A’An Suryana. “Makalah Ringkas mengenai Perkembangan Terkini di Propinsi Nangroe Aceh Dasrussalam (NAD). Prinsip pedomaan ini didasarkan pada hukum internasional yang tentunya mengikat negara-negara seperti halnya beberapa kelompok pemberontak. Periode: 19 Mei-10 Agustus 2003”. Lebih dari seratus ribu orang dipindahkan di beberapa titik tertentu sejak dimulainya darurat militer. E/CN. Vol.000 orang Jawa di Sumatera Barat yang meninggalkan Aceh.

sekitar empatpuluh kilometer jauhnya. Pengadilan darurat militer dilakukan pada tanggal 22 Juli terhadap dua orang prajurit yang dituduh mencuri uang kontan dan perhiasan dari rumah seorang tersangka pemberontak separatis di Aceh Utara. Tiarma Siboro. Beberapa orang membayar. Sesudahnya kami dikirim kembali ke rumah dengan truk. tetapi Saya terlalu ketakutan.122 Sebagaimana digambarkan dalam “Aceh dibawah Darurat Militer: Pelarangan yang Tidak Perlu dan Berbahaya Terhadap Akses Kemanusiaan Internasioal. (semua) dicuri saat kami melarikan diri.121 Di akhir Juli.120 Seorang perempuan dari Aceh Utara menggambarkan perampokan yang terjadi ketika para penduduk dipindahkan: Saya melarikan diri ke kamp pengungsi. dan yang lainnya melarikan diri ke Sigli. mereka menemukan rumah mereka dirampok ketika mereka kembali ke rumah mereka.” terdapat kelanjutan untuk memperhatikan kurangnya akses ke makanan.” The Jakata Post. dibawa oleh tentara yang lalu meminta uang Rp 300. 121 122 120 Wawancara Human Rights Watch (nama disembunyikan). sarana kesehatan. Saya meminta maaf karenanya. 26 Juli 2003. Saya tidak mau orang-orang berkorban sebanyak itu. Orang-orang di pegunungan kembali ke rumah setelah kami pulang. Kami mempunyai satu jam untuk mengemas barang kami. kambing. Human Rights Watch tidak tahu mengenai hasilnya. empat buah tank datang ke desa. Mereka pergi kesana karena ada panggilan dari mesjid untuk berkumpul disana. hidup didalam tenda. mengakui bahwa tentara secara paksa menelantarkan warga sipil dan meminta maaf atas perampokan tersebut: Dengan beberapa pertimbangan. dan beberapa orang melarikan diri ke pegunungan. kami (TNI) memaksa orang-orang untuk meninggalkan rumah mereka dan mengungsi sementara para tentara berusaha menyingkirkan para pemberontak yang seringkali mencoba berbaur dengan orang sipil di desa mereka… Bahkan jika para pengungsi tinggal di kamp selama tiga atau empat hari saja. 15. Ketika Kami pulang ke rumah semua barang-barang kami tidak ada. Malaysia. lalu tiga truk datang untuk membawa kami ke Sigli. Orang-orang di desa ketakutan. kepala staf ABRI. 47 Human Rights Watch. Jendral Endiartono Sutarto.000 untuk mengembalikan barang-brang kami kembali. Kami menghabiskan waktu limabelas hari disana. No. 26 Oktober 2003. Vol. “Kepala TNI Menawarkan Permintaan Maaf Kepada Rakyat Aceh. 10 (C) . Kami tidak diberitahukan alasannya. dimana ada sebuah kamp orang terlantar di lapangan disana. “Sekarang mengungsi!” Saya rasa mereka dari Pos BKO Siliwangi. Ayam. Malaysia. 29 Oktober 2003.Suatu pagi hari. Kami kembali ke rumah kami untuk mengambil barang-barang yang paling penting. dan pendidikan Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh dua tahun (nama disembunyikan). Kami diberitahukan oleh tentara.

September 2003. Vol. telah mengganggu hidup dan mata pencaharaian warga sipil dengan terpotongnya suplai makanan. kekurangan gizi dan keluhan kulit diantara para penduduk tersebut.125 Human Rights Watch. Human Rights Watch. 5 Oktober 2003.123 Pertempuran antara militer Indonesia dan GAM sebagaimana larangan untuk bergerak.” Makalah Ringkas Human Rights Watch.124 Penolakan Indonesia terhadap akses badan-badan kemanusiaan internasional dan LSM membuat penilaian secara lengkap mustahil. Kondisi tersebut diperburuk bagi mereka yang telah dipaksa untuk meninggalkan rumah mereka. Sampai bulan Oktober 2003. listrik.” 1 Agustus 2003. 15. 137. fasilitas kesehatan yang tersedia. komunikasi. dan sarana kesehatan bagi ribuan orang. “Berita JSR No. air. 10 (C) 48 .. Satkorlak NAD. dan informasi dasar lainnya. “Aceh dibawah Darurat Militer: Pelarangan yang Tidak Perlu dan Berbahaya atas Akses Kemanusiaan Internasional. Jesuit Refugee Rervice dan sumber-sumber media Indonesia sudah menyoroti laporan mengenai fasilitas sanitasi dan air yang memprihatinkan. Gambaran menyeluruh dari sedikit informasi yang tersedia adalah bahwa penududuk Aceh menghadapi kekurangan jasa dan persediaan dasar. pemerintah Indonesia melaporkan empat puluh tujuh kematian yang berkaitan dnegan kesehatan di kamp. “Kematian Orang-Orang Terlantar di Aceh” (diproses dan diperiksa oleh Organisasi Migrasi Internasional Banda Aceh). No. 124 125 123 Jesuit Refugee Service. informsai ini mustahil untuk di verifikasi atau diinterpretasikan tanpa mengetahui lebih banyak mengenai tingkat kehidupan total penduduk. sekolah. Informasi awal mengindikasikan bahwa pertempuran telah memaksa ribuan warga sipil keluar dari rumahnya. Bagaimanapun.bagi orang-orang terlantar di Aceh.

Jika Saya mengirimkan sesorang keluar untuk membeli pisang goreng dan orang tersebut tertangkan karena mencurinya. Tetapi perintah-perintah Saya dan para komandan pasukan bersenjata lainnya jelas: jangan membunuh orang sipil. Indonesia telah mengambil beberapa langkah meminta pertangungjawaban tentaranya dalam kejahatan yang terjadi di Aceh. 127 128 126 “Tiga prajurit dalam Sidang Mengakui Menyerang Penduduk Desa. 10 Juni 2003. “12 Prajurit Menghadapi Sidang Karena Menyiksa Orang Sipil di Aceh.” Laksamana. 10 http://www. pada 30 Agustus 2003.” BBC News Online.126 Para tentara tersebut dikenai tuduhan melanggar pasal 351 dan 55 dalam Undang-Undang Kejahatan tentang penyerangan terhadap orang sipil dan ayat 103 dalam undnag-undang kejahatan militer mengenai pelanggaran disiplin militer. Kepala TNI memberitahu majalah Time. Sebagaimana dalam banyak kasus yang dilaporkan dalam laporan ini. “Tentara Didakwa atas Pelanggaran Hak Asasi. 10 (C) .127 Bulan Juli.” The Jakarta Post.129 Mereka dibebaskan meskipun jurubicara militer mengatakan mereka teap akan menerima hukuman kedisiplinan yang mencakup dari peringatan keras sampai dengan tiga minggu penjara.Pertanggungjawaban Tidak seperti dalam operasi di masa lalu di Aceh. “Indonesia Mendakwa Tentara atas Pelanggaran di Aceh. “Prajurit Dibebaskan atas Penyerangan di Aceh. atau mencuri uang untuk membelinya.net. No. pengadilan militer menjatuhkan hukuman kepada enam tentara dari Batalion Infrantri 144 lima bulan penjara karena pemukulan warga desa di Kabupaten Bireun pada 27 Mei. “Prajurit dihukum dalam kasus perkosaan di Aceh.net.cfm?ncat=45&news_id=6152 (diakses 4 Desember 2003). Di bulan Juni. 5 Juni 2003 “Prajurit Dipenjara Karena Perkosaan di Aceh. 131 Tidak ada tuduhan pembunuhan yang membawa kematian para warga sipil selama operasi militer ini. pengadilan militer di Ljokseumawe. Dibawah hukum darurat militer teretuduh mendapat hukuman maksimum duabelas tahun. Vol. meskipun salah seorang terdakwa mengakui pembunuhan tersebut. Pengadilan memerintahkan tiga tentara tersebut diberhentikan dan menghukum mereka antara dua setengah sampai tiga setengah tahun penjara. 20 Juli 2003.” The Jakarta Post. korban bersaksi di pengadilan bahwa mereka diserang karena tidak tahu lokasi para pemberontak separatis. Aceh Utara. “12 Prajurit Diadili karena Memukul Warga Desa di Aceh. tuntutan yang selektif. Bagaimanapun. 131 130 129 Oktober 2003.net/vnews. Aceh Utara. “Saya tidak akan mengambil tanggungjawab atas semua perintah yang Saya berikan.” Laksamana.128 Pada bulan September. Tiarma Siboro. 9 Juni 2003. menemukan tiga orang tentara bersalah atas pemerkosaan empat orang perempuan. 15. dan rendahnya tingkat tuduhan-tuduhan tersebut memperlihatkan kurangnya keseriusan dalam menghukum atau menghalangi kejahatan oleh anggota pasukan bersenjata. 20 September 2003.” The Jakarta Post.” Associated Press.” Associated Press. dikenai tuduhan atas pemukulan dua orang penduduk desa di Kecamatan Dewantara. Mereka tidak dikenai tuduhan karena menembak mati seorang laki-laki bernama Abubakar dalam peristiwa yang sama. duabelas tentara dari Jawa Barat base Batalion Siliwangi dibawa ke pengadilan militer. 25 September 2003.laksamana. 19 Juli 2003. haruskan Saya juga 49 Human Rights Watch.130 Persidangan adalah pengecualian yang disambut baik untuk kekebalan hukum yang hampir seluruh TNI menikmatinya. hukuman ringan.

Damiri dipromosikan sebagai Asisisten Operasi untuk Kepala Staf Umum. dimana dia terlibat dalam mengarahkan operasi militer di propinsi Aceh selama bulan-bulan pertama darurat militer. “Tidak ada daerah yang melepaskan diri. beberapa orang yang bertanggungjawab dalam kampanye militer di Aceh telah didakwa atau disangkutkan dalam pelanggaran hak asasi manusia yang serius.” Time Asia.Sebagai tambahan. 132 Human Rights Watch. Oktober 2003. 10 (C) 50 .132 dihukum?” Wawancara dengan Ryamizard Ryacudu. Kasus-kasus lainnya telah didokumentasikan oleh Human Rights Watch. Damiri juga dituduh atas kejahatan terhadap kemanusiaan oleh pengadilan PBB di Timor Timur. seorang pejabat militer Indonesia tertinggi yang pernah diadili dan dinyatakan bersalah melakukan pelanggaran hak asasi manusia di Indonesia. Salah seorang yang paling terkenal karena nama buruk yang disandangnya adalah Mayor Jendral Adam Rachmat Damiri. pangadilan ad-hoc Jakarta tentang Timor Timur menyatakan Jendral Damiri bersalah atas kejahatan terhadap kemanusiaan dengan atrocities yang dilakukan di Timor Timur tahun 1999. No. sebagaimana yang sudah didokumentasikan sebelumnya oleh Human Rights Watch. “Aceh dibawah Darurat Militer: Dapatkah Orang-Orang ini Dipercayai untuk Mengusut Perang ini?” Makalah Ringkas Human Rights. 2 Juni 2003. Pada 5 Agustus 2003. Lihat. Diluar tuduhan atas dirinya. Vol. 15.

lembaga swadaya masyarakat (LSM). Mengambil semua langkah yang diperlukan untuk memastikan bahwa pasukan militer dan polisi Indonesia sepenuhnya bertindak sesuai dengan hukum kemanusiaan dan hak asasi manusia. Memperbolehkan Komisi Hak Asasi Manusia Nasional untuk menjalankan investigasi yang bebas dari intimidasi atau campur tangan oleh penguasa darurat militer. No. Menghormati kebebasan pers dan memperbolehkan peliputan konflik senjata secara penuh dan independen.Rekomendasi Untuk Pemerintah dan Pasukan Tentara Indonesia 1. penghilangan secara paksa. di semua tingkatan. Organisasi hak asasi manusia dan jurnalis seharusnya mempunyai akses tanpa kekangan ke propinsi tersebut. Secara penuh menyelidiki pernyataan tanpa bukti (allegations) terhadap pelanggaran hukum kemanusiaan dan hak asasi manusia internasional. 2. Vol. 4. Bergerak secepat mungkin untuk mengembalikan pemerintahan Aceh kepada pengawasan sipil yang bertanggungjawab. yang menempatkan pelarangan yang tidak perlu terhadap akses untuk PBB. 6. termasuk eksekusi diluar hukum. Menahan semua tahanan hanya di tempat penahanan yang secara resmi dikenali. perampokan dan pemerasan. 7. sudah menerima latihan dasar mengenai prinsip-prinsip dasar hukum kemanusiaan. Segera mencabut Keputusan Presiden No. jurnalis dan orang asing di Aceh. Memberitahukan semua tahanan segera dasar penangkapan dan tuduhan apapun terhadap mereka. termasuk pejuang yang tertangkap. pasukan bersenjata dan personil polisi yang tersangkut dalam pelanggaran. Segera dan tanpa syarat menghapuskan larangan pengumpulan dan pelaporan berita secara langsung dari Aceh oleh media Indonesia dan asing. Mendisiplinkan dan/atau mengusut semua petugas secara semestinya. badan-badan internasional. dan memperbolehkan para tahanan untuk memberikan petisi peninjauan kembali terhadap penahanan mereka tanpa 51 Human Rights Watch. Semua pejuang seharusnya dilatih dan diberi pelajaran mengenai perlakuan yang sepantasnya terhadap warga sipil dan non-pejuang. Memastikan bahwa semua komandan yang disebarkan di Aceh. Meyakinkan bahwa semua pasukan beroperasi dibawah aturan pertempuran yang konsisten dengan hukum kemanusiaan internasional. penyiksaan dan penganiayaan lainnya. khususnya perlindungan warga sipil dan non-pejuang. 9.43/2003. daripada mensyaratkan badanbadan tersebut untuk mengirimkan bantuannya melalui badan-badan resmi Indonesia. Mengizinkan badan-badan kemanusiaan untuk menyampaikan bantuan secara langsung kepada penduduk yang membutuhkan. perkosaan dan kekerasan seksual. 10 (C) . Segera menyediakan kepada semua tahanan akses yang teratur kepada anggota keluarga dan pengacaranya. 5. 8. pastikan bahwa ICRC mempunyai akses yang bebas dan tanpa kekangan untuk menjalankan pekerjaannya. 15. Menyusul keputusan Indonesia yang disambut baik untuk memperbolehkan ICRC datang ke Aceh. 3.

menerima latihan dasar mengenai prinsip-prinsip dasar hukum kemanusiaan. khususnya Human Rights Watch. Mengakui pelaksanaan hak asasi semua orang yang ditahan dan/atau dituduh melakukan kejahatan. Vol. 14. dan alasannya serta lokasi penahanan. Membuat figur yang diperbarui secara teratur untuk umum mengenai jumlah orang yang dituduh dan ditangkap dalam kejahatan yang berkenaan dengan keamanan di Aceh. No. Bertentangan dengan praktek di Indonesia kini. Menyatakan kepada umum komitmen GAM untuk mentaati hukum kemanusiaan internasional. Segera menghapuskan –dari semua peran sehubungan dengan konflik di Aceh – semua personel militer Indonesia yang sudah didakwa atau diindikasikan atas pelanggaran hak asasi manusia atau hukum kemanusiaan atau kepada mereka yang terdapat bukti melakukan penganiyaan semacam itu. Memastikan bahwa semua pasukan mentaati hukum kemanusiaan internasional. pembunuhan kilat atau yang sewenang-wenang dan (Special Rapporteur on Extrajudicial. Mengakhiri persyaratan kartu identitas khusus untuk penduduk Aceh sepanjang pemerintah tidak dapat memastikan bahwa kartu semacam ini tidak akan terus menghasilkan penyiksaan terhadap penduduk lokal. termasuk penangkapan secara sewenang-wenang. termasuk praktek tugas wajib jaga malam untuk laki-laki dan anak laki-laki. penasehat hukum dan orang-orang yang secara hukum berkepentingan. 15.10. Setiap personil yang diindikasikan seharusnya dipindahkan dari tugas aktif mereka sampai penyelesaian proses persidangan mereka. Memastikan bahwa semua komandan. 11. 15. Untuk Gerakan Aceh Merdeka (GAM) 1. Diharapkan menghentikan pengambilan tindakan yang menempatkan orang sipil dalam resiko khusus. penganiyaan dan penahanan tanpa surat perintah atas kebebasan bergerak. 13. seperti penyitaan kartu identitas. paramiliter. Mengundang mekanisme PBB yang berasngkutan untuk mengunjungi Aceh. 12. Memelihara kelangsungan pendaftaran yang akurat nama-nama tahanan dan tempat penahanan mereka dan membuat pendaftaran semacam ini siap tersedia untuk keluarga tahanan. dengan informasi mengenai sifat dasar kejahatan yang mungkin dan tempat penahanan mereka. 2. atau keamanan berkaitan dengan fungsi-fungsi. Prioritas seharusnya diberikan kepada Pelapor Khusus mengenai Esksekusi diluar hukum. adanya penundaan. Memberitahukan keluarga tahanan mengenai penahanan mereka. Menghormati pelarangan hukum kemanusiaan internasional mengenai pengungsian orang-orang sipil yang menyatakan bahwa pengungsian semacam itu seharusnya hanya terjadi dengan alasan kemanan warga sipil atau adanya tuntututan militer yang alasannya sangat penting sekali. pejabat yang dituduh atas tuduhan serius seharusnya mulai untuk menjalankan hukuman mereka dengan segera dan dikenai pemecatan secara administrasi dari pasukan tentara. Summary or Arbitrary Execution) dan perwakilan dari Badan Pekerja Penghilangan Secara paksa atau tidak sukarela (Working Group on Enforced or Involuntary Dissapearances). 10 (C) 52 . Mengakhiri praktek penggunaan orang sipil di militer. di semua tingkatan.

sebagaimana yang berkenaan dengan korupsi dan reformasi yang tercatat dalam Strategi Bantuan Negara untuk Indonesia (Country Assistance Strategy for Indonesia) yang dikeluarkan tanggal 3 Desember. No. 10 (C) . 2.perlindungan warga sipil dan non-pejuang. Meneruskan desakan terhadap Indonesia untuk membuka Aceh kepada LSM internasional.” Secara bersama dan indvidual ketiganya harus menekan pemerintah Indonesia untuk mentaati hukum kemanusiaan dan hak asasi manusia di Aceh. jurnalis dan badan-badan internasional. seperti yang dipinjamkan Bank Dunia. penculikan. Untuk ASEAN 1. Orang-orang Aceh di Malaysia seharusnya diberikan perlindungan dan bantuan sepenuhnya. Jepang. terutama kepada orang-orang yang terlantar karena konflik. Uni Eropa. perbaikan lembaga-lembaga sipil dan menegakkan hukum. termasuk pejuang yang tertangkap. dan pemindahan secara paksa. Bank Dunia) 1. Termasuk mendesak badan-badan kemanusiaan yang tidak berpihak agar mampu menyediakan bantuan kepada penduduk. Tidak ada orang Aceh yang seharusnya dikembalikan secara paksa ke Indonesia selama keamanan mereka beresiko di Aceh. 3. Mengambil tindakan-tindakan untuk memastikan bahwa mekanisme yang dapat diselenggarakan dilaksanakan untuk memastikan bahwa anggota pasukan secara perseorangan bertanggungjawab terhadap pelanggaran. Untuk Pemerintah Malaysia 1. ASEAN dan anggota-anggotanya seharusnya menggunakan kewenangan regional mereka dan meminta Indonesia untuk menghargai kewajiban internasionalnya dalam konflik di Aceh. termasuk dua orang jurnalis yang saat ini dalam penahanan GAM. Sehubungan dengan partisipasi Thailand dan Philipina dalam memonitor COHA. penyiksaan. termasuk eksekusi kilat. Melepaskan semua tawanan yang ditahan dalam pelanggaran hal asasi manusia. ASEAN seharusnya menekankan perlunya keterlibatan dalam kehadiran monitoring internasional di Aceh. Untuk “Kuartet” (Amerika Serikat. 3. 53 Human Rights Watch. Vol. Semua keputusan bantuan. Semua pejuang seharusnya dilatih dan diberi pelajaran mengenai perlakuan yang sepantasnya terhadap warga sipil dan non-pejuang. Mengajukan kondisi di Aceh dalam semua pertemuan dengan penguasa Indonesia dan tetap menuntut dibukanya akses diplomatik yang teratur ke Aceh. harus menyertakan dialog mengenai pelanggaran hak asasi manusia di Aceh. Amerika Serikat. Jepang dan Uni Eropa seharusnya secara bersama menindak lanjuti pernyataan mereka di bulan November 2003 yang mengekspresikan “keprihatinan terhadap perpanjangan keadaan darurat militer di Aceh” dan mendorong Idonesia “untuk menjalankan aktifitasnya dengan kemungkinan pengaruh yang paling minimum terhadap kesejahteraan masyarakat Aceh dan dalam pendekatan yang mengikutsertakan bantuan kemanusian. 15.

Apapun ketentuan Amerika Serikat atas latihan atau bantuan militer kepada pasukan bersenjata Indonesia harus disyaratkan terhadap perkembangan yang jelas dalam mengadili militer dan polisi yang bertanggungjawab dalam pelanggaran hak asasi manusia. Menempatkan tindakan yang efektif untuk memonitor dan memastikan pertanggungjawaban dalam penyalahgunaan senjata atau bantuan lainnya. perlengkapan lainnya. Vol. Sehubungan dengan perhatian terhadap pelangggaran serius dalam kampanye Indonesia di Aceh. dan latihan. sesuai dengan standar-standar hukum hak asasi manusia dan kemanusiaan internasional. Indonesia mempunyai tugas wajib untuk menjaga dan menawarkan pemeriksaan terhadap dokumen-dokumen yang dibutuhkan untuk menunjukan bagaimana negara ini sudah menggunakan perlengkapan yang disuplai asing. 15. dan harus tidak ditujukan kepada cabang dan unit yang diketahui sebagai pelanggar hak asasi manusia. yang menyediakan bantuan atau latihan militer kepada Indonesia 1.Untuk Negara-Negara. 10 (C) 54 . negara-negara penyuplai senjata seharusnya mempertimbangkan penundaan transfer senjata kepada Indonesia. dan Australia. 2. No. seperti Kopassus atau Brimob. Human Rights Watch. seperti Amerika Serikat. Latihan teroris harus secara hati-hati dirancang untuk tidak mengurangi keefektifan pelarangan yang sudah ada. 4. Negaranegara yang sudah menyediakan bantuan Militer kepada Indonesia terebut. termasuk senjata. Menjatuhkan persyaratan yang ketat terhadap penggunaan senjata atau bantuan militer lainnya. 3. mempunyai tanggungjawab khusus untuk memastikan bahwa bantuan tersebut tidak digunakan untuk menyumbang pelanggaran hak asasi manusia. dan jika perlu menyediakan bentuk lain akses untuk memfasilitasi monitoring yang efektif dan berguna sampai akhir. Inggris.

Aceh Under Martial Law: Unnecessary and Dangerous Restrictions on International Humanitarian Access (Aceh dibawah Darurat Militer: Pelarangan yang Tidak Perlu dan Berbahaya terhadap Akses Kemanusiaan Internasional) Makalah Ringkas Human Rights Watch. 2. No. September 2003 3. Vol. Aceh Under Martial Law: Human Rights Under Fire (Aceh dibawah Darurat Militer: Hak Asasi Manusia diserang) Sebuah Makalah Ringkas Human Rights Watch Juni 2003. Oktober 2003 4. 10 (C) . Aceh Under Martial Law: Can These Men Be Trusted to Prosecute This War? (Aceh dibawah Darurat Militer: Dapatkan Orang-Orang ini dipercayai untuk Mengadili Perang ini?) Makalah Ringkas Human Rights Watch. 1.Lampiran Untuk informasi terkini lebih lanjut mengenai perang di Aceh silahkan lihat rangkaian laporan dan makalah ringkas Human Rights Watch berikut ini. Serangan dan Pelarangan terhadap Media) Sebuah Laporan Human Rights Watch. Nopember 2003 55 Human Rights Watch. Memberangus Kurir. Aceh Under Martial Law: Muzzling the Messengers: Attacks and Restrictions on the Media (Aceh dibawah Darurat Militer. 15.

Charmain Mohamed. Sara Colm and Mickey Spiegel are senior researchers. Bernstein is the founding chair. Human Rights Watch. We investigate and expose human rights violations and hold abusers accountable. to prevent discrimination. We enlist the public and the international community to support the cause of human rights for all. and Ami Evangelista is associate. Carroll Bogert. Brussels office director. United Nations representative. Ali Hasan. human resources director. John Sifton. Joanne Leedom-Ackerman is Chairperson of the advisory committee. Saman Zia-Zarifi is deputy director. Thomas Kellogg is Orville Schell Fellow. send a blank e-mail message to hrw-news-asia-subscribe@topica.com. Maria Pignataro Nielsen. development director. Barbara Guglielmo. Meenakshi Ganguly.email-publisher. We challenge governments and those holding power to end abusive practices and respect international human rights law. Wilder Tayler. Steve Crawshaw. 15. advocacy director. Liz Weiss is coordinator. Rory Mungoven.Human Rights Watch Asia Division Human Rights Watch is dedicated to protecting the human rights of people around the world. Robert L. Its Asia division was established in 1985 to monitor and promote the observance of internationally recognized human rights in Asia. Meg Davis. and Tej Thapa are researchers. Lotte Leicht.hrw. finance director. legal and policy director. and Joanna Weschler. to uphold political freedom and to protect people from inhumane conduct in wartime. program director. executive director. The staff includes Kenneth Roth. associate director. We stand with victims and activists to bring offenders to justice. London office director. Jonathan Fanton is the chair of the board. Iain Levine. No.org Listserv address: To subscribe to the list. Michele Alexander. operations director. Allison Adoradio. Vol. Brad Adams is executive director. Web Site Address: http://www. 10 (C) 56 .