Human Rights Watch

Desember 2003, Vol. 15, No. 10 (C)

ACEH DIBAWAH DARURAT MILITER:
DI DALAM PERANG RAHASIA
Daftar Istilah Pendahuluan Konteks Kekerasan yang Terjadi Sekarang: Perang Panjang di Aceh Hidup di bawah Darurat Militer Meningkatnya Kehadiran di Desa Menjadikan Anak-Anak Muda Sipil Sebagai Sasaran Pelanggaran Hak Asasi Manusia dan Hukum Kemanusiaan Pembunuhan Diluar Hukum (Extrajudicial Killings) Pembunuhan Kilat (Summary Killings) Selama Operasi Sweeping Penculikan yang Membawa Pada Kematian Penghilangan Secara Paksa (Forced Disappearances) Siksaan Fisik Penahanan Secara Sewenang-wenang dan Ketiadaan Proses Pengusutan Pembatasan Kebebasan Bergerak Pemerasan dan Pembatasan Terhadap Aktifitas Ekonomi Kembalinya Jaga Malam: Tugas Wajib Jaga Malam Pengungsian dan Perampokan Pertanggungjawaban Rekomendasi Untuk Pemerintah dan Pasukan Tentara Indonesia Untuk Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Untuk “Kuartet” (Amerika Serikat, Uni Eropa, Jepang, Bank Dunia) Untuk Pemerintah Malaysia Untuk ASEAN Untuk Negara-Negara, seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Australia, yang menyediakan bantuan atau latihan militer kepada Indonesia Lampiran 2 3 8 15 17 18 20 20 21 27 28 29 34 37 41 43 46 49 51 51 52 53 53 53 54 55

NOTE: This is an unofficial translation of the text of the HRW report by Kontras (http://www.kontras.org), the Commission for Disappearances and Victims of Violence; an Indonesian human rights NGO based in Jakarta. Please see the English language version for exact wording or confirmation of footnotes and other details. Laporan HRW ini tidak secara resmi dan diterjemahkan oleh Kontras (http://www.kontras.org), Kommissi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan; salah satu LSM HAM di Jakarta. Silakan membaca edisi di dalam Bahasa Inggris untuk susunan kata tepat, atau untuk konfirmasi catatan dibawah halaman majalah atau perincian yang lain.

Daftar Istilah
Ambil malam DOM Ambil malam adalah dimana seseorang dibawa dari rumahnya di waktu malam, seringkali oleh orang tak dikenal. Daerah Operasi Militer adalah sebuah penandaan yang diberikan kepada Aceh selama operasi anti-pemberontak yang dilaksanakan dari tahun 1990 s.d 1998. Gerakan Aceh merdeka. Ini adalah nama biasa dari gerakan separatis bersenjata yang dimulai tahun 1976 Bawah Kendali Operasi, penunjukan pasukan tambahan dari luar Aceh dan ditempatkan dibawah komando lokal Tugas wajib jaga malam Kartu Tanda Penduduk Merah Putih, atau kartu identitas merah dan putih yang disyaratkan bagi orang-orang Aceh dibawah darurat militer. Komando Daerah Militer Komando Distrik Militer Komando Rayon Militer Komando Resort Militer Komando Strategis Angkatan Darat Polisi Daerah Polisi Resort Polisi Sektor Tentara Nasional Indonesia

GAM BKO Jaga Malam KTP Merah Putih

Kodam Kodim Koramil Korem Kostrad Polda Polres Polsek TNI

Pendahuluan
Jika Kamu Lari, Kamu ditembak. Jika Kamu tidak lari, Kamu dipukuli.1 —Laki-laki Aceh berusia 20 tahun Perang tersembunyi sudah mengamuk di Aceh sejak bulan Mei 2003, ketika Presiden Indonesia Megawati Soekarnoputri mengumumkan Darurat Militer di propinsi tersebut. Laporan ini mencoba untuk menyampaikan beberapa kenyataan pada perang tersebut: eksekusi diluar hukum (extrajudicial execution), penghilangan secara terpaksa (forced dissapearence), pemukulan (beating), penangkapan dan penahanan secara sewenang-wenang (arbitrarily arrest and detention), dan pembatasan atas kebebasan bergerak. Di dalam banyak peristiwa yang dideskripsikan kepada Human Right Watch, pasukan keamanan Indonesia – militer dan polisi – secara rutin terutama mengambil jalan kekerasan terhadap laki-laki muda Aceh yang diberhentikan untuk ditanyai. Para saksi mengatakan kepada Human Right Watch mengenai pembunuhan para penduduk sipil saat terjadi “sweepings” di desadesa, sebagian ditanyai atau ditahan, beberapa lainnya melarikan diri karena takut dianiyaia. Seorang laki-laki mendeskripsikan kematian seorang laki-laki bernama Jamal: “Dia masih muda, masih duapuluh tahunan. Pada awalnya Saya hanya melihat tiga orang tentara tetapi kemudian yang lainnya bergabung. Saya melihat salah satu dari tentara tersebut memborgol pergelangan kaki lakilaki ini, lalu kemudian tentara lainnya memegang kakinya dan mengayunkannya menghantam sebuah pohon. Tentara tersebut melakukannya beberapa kali sehingga kepala laki-laki tersebut membentur pohon tersebut. Otaknya terburai keluar dari kepalanya, sampai akhirnya dia meninggal. Lalu mayatnya diletakkan di jalan dan tentara lainnya menembak beberapa kali kepada mayat tersebut.”2 Indonesia telah menempatkan kabut rahasia di sekeliling Aceh, propinisi berpenduduk empat juta orang yang terletak di ujung paling utara pulau Sumatra, sebagaimana negara ini mengadakan perang terhadap Gerakan Aceh Merdeka atau GAM. Dalam banyak usaha yang sukses untuk mengontrol informasi, Indonesia telah melarang organisasi hak asasi manusia internasional dan bahkan organisasi kemanusiaan untuk memasuki Aceh dan organisasi berita internsional untuk bergerak banyak diluar Ibukota propinsi, Banda Aceh. Dengan alasan ini, Human Right Watch berangkat ke Malaysia, dimana ribuan orang-orang Aceh mencari perlindungan sesudah menantang bahaya dan perjalanan yang mahal dari zona perang Aceh. Human Rights Watch juga prihatin akan memburuknya kondisi material dan ekonomi yang dapat menandai (bahkan mencerminkan) krisis kemanusiaan, sesuatu yang Human
1 2

Wawancara Human Right Watch (nama disembunyikan), Malaysia, 27 Oktobert 2003.

Wawancara Human Right Watch dengan laki-laki berusia empat puluhan (nama disembunyikan), Malaysia, 23 Oktober 2003.

3

Human Rights Watch, Vol. 15, No. 10 (C)

Rights Watch dan organisasi lainnya sudah peringatkan sejak berbulan-bulan yang lalu. Informasi yang bersifat anekdot dari kesaksian pengungsi, cerita pers dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang bocor keluar secara sporadis dari propinsi tersebut mengesankan bahwa ribuan penduduk Aceh telah dipaksa meninggalkan rumah mereka untuk melarikan diri dari konflik yang ada atau untuk mencari makanan dan tempat berlindung. Penduduk yang tetap tinggal di rumah mereka menjadi sasaran kekurangan bahan pangan, air dan sanitasi, dan mogoknya pelayanan dasar seperti pelayanan kesehatan dan pendidikan.3 Karena laporan ini disiapkan dari beberapa wawancara diluar Aceh, maka tidak dapat melukiskan gambaran menyeluruh tentang konflik senjata ini. Tetapi mungkin fakta yang paling menganggu dalam penelitian kami adalah cerita pelanggaran hak asasi manusia yang serius dan nampak sistematis sejak dimulainya Darurat Militer tidak terbuka. Semua orang-orang Aceh yang diwawancarai oleh Human Right Watch mempunyai cerita mengenai pelanggaran tersebut untuk disampaikan. Banyak dari mereka adalah korban. Secara tidak biasanya, banyak dari mereka menyaksikan penyiksaan terhadap yang lainnya – dalam beberapa kasus pembunuhan, atau pemukulan.4 Diluar fakta bahwa pada awal Juni Kepala Staff Militer Jendral Ryamizard Ryacudu menerima pihak manapun untuk meninjau operasi di Aceh,5 propinsi tersebut hampir seluruhnya tetap tertutup untuk orang luar. Pemerintah Indonesia sudah melarang diplomat, pengamat internasional yang independen, dan LSM internasional di bidang hak asasi manusia untuk memasuki Aceh dan menganjurkan badan kemanusiaan PBB dan LSM kemanusiaan luar negeri untuk pergi. Pekerja LSM Indonesia yang mencoba memonitor situasi tersebut telah diancam tahanan oleh polisi. Bahkan sesi pelatihan Komisi Hak Asasi Manusia National di Banda Aceh dihentikan oleh polisi atas perintah penyelenggara darurat militer pada 20 Oktober. Pihak yang berwenang mengatakan bahwa komisi tersebut tidak memberitahukan mereka mengenai acara tersebut yang disangkal oleh organisasi tersebut. Petugas kepolisian berada di antara para peserta dalam sesi pelatihan tersebut.6 Pemerintah Indonesia telah sangat sukse membatasi arus informasi dari propinsi tersebut. Sebagaimana laporan Human Rights Watch terkini yang didokumentasikan, pembatasan tersebut telah menjaga media dibawah pengawasan yang ketat.7 Untuk mengecilkan laporan mereka mengenai situasi tersebut, beberapa LSM telah terdaftar sebagai tersangka simpatisan GAM, suatu penandaan yang diperingatkan petugas
Lihat secara umum pada Human Right Watch , “Aceh dibawah Darurat Militer: Larangan yang Tidak Perlu dan Berbahaya terhadap Akses Kemanusiaan Internasional,” Makalah Ringkas Human Rights Watch, September 2003. Kerahasiaan dan intimidasi yang menyertai pelanggaran hak asasi manusia yang paling serius secara umum menyulitkan pengumpulan kesaksian saksi. “Badan Hak Asasi Pemerintah Berencana Mengadakan Penyelidikan di Propinsi Aceh” The Jakarta Post, 5 Juni 2003.
6 7 5 4 3

“POLRI Melanggar Hak dalam Sesi Komisi di Propinsi Aceh”, Agence France-Presse, 2 Oktober 2003.

Human Rights Watch, “Aceh dibawah Darurat Militer; Memberangus Para Kurir,” Sebuah Laporan Human Right Watch, vol 15, No. 9 (c ), November 2003.

Human Rights Watch, Vol. 15, No. 10 (C)

4

kepolisan dapat membawa kepada hukuman mati atas alasan subversi.8 Segel yang serapat-rapatnya sudah ditempatkan Indonesia pada desa-desa dan pegunungan di Aceh menimbulkan ketakutan bahwa pasukan militer di kedua belah pihak percaya bahwa, seperti di masa lalu, mereka bisa melakukan pelanggaran yang kebal hukum. Tujuan Indonesia yang jelas adalah untuk menyembunyikan tindakan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan pasukan keamanan lainnya. Hal ini pada akhirnya telah menyembunyikan tingkat kematian dan luka-luka sipil dan militer. Sementara masyarakat Indonesia dan opini Internasional (sebagaimana dalam putaran terkahir pertempuran dengan GAM di Aceh) yang bisa jadi mendukung prinsip-prinsip integritas wilayah Indonesia, ketika berhadapan dengan gafik biaya kemanusiaan akibat perang yang hampir seluruhnya pasti tidak dapat dimenangkan dalam medan perang, maka opini tentang perang bisa jadi mulai berubah. Kebanyakan yang dideskripsikan oleh para pengungsi kepada Human Rights Watch konsisten dengan sejarah panjang prilaku pelanggaran oleh pasukan keamanan Indonesia di Aceh. Taktik militer yang terkini di Aceh dikombinasikan dengan jumah serdadu baru yang disebarkan di propinsi tersebut memastikan meningkatnya kontak antara kekuatan keamanan dengan penduduk sipil, yang dapat menjelaskan beberapa pelanggaran yang terjadi. Terlebih penting lagi adalah lingkungan yang diciptakan oleh pejabat senior militer, yang sudah bersumpah untuk ‘menumpas’ GAM dalam kerangka waktu yang diumumkan.9 “Hal ini sudah ditambahkan untuk menekan tentara dan pejabat di lapangan untuk memenuhi misi mereka dan menghancurkan mereka yang dipercaya menjadi anggota atau pendukung GAM. Tekanan-tekanan ini bertindak seperti minyak yang disiram ke api diantara pasukan bersenjata yang mencerminkan persepsi yang di pegang secara nasional bahwa orang-orang Aceh adalah ‘bajingan’, penduduk yang separatis. Keyakinan bahwa semua orang Aceh mendukung GAM, meskipun tidak ditemukan, meliputi cara berpikir militer Indonesia dan diterjemahkan di lapangan dalam bentuk penggunaan kekuatan secara tidak pandang bulu terhadap penduduk sipil, terutama terhadap para pemuda.’ Komentar yang dikeluarkan oleh Brigadir Polisi Jenderal Gulliansyah, Kepala Operasi Penegakan Hukum, pada tanggal 3 Desember 2003 adalah contoh mengerikan jenis ceramah yang membakar yang dapat membawa kepada pelanggaran dan kegagalan pasukan militer untuk membedakan antara pejuang GAM dan orang-orang sipil, “Jika perlu tembak di tempat semua orang yang mengibarkan bendera GAM ini. Siapapun yang mengibarkan bendera tersebut pasti anggota GAM.”10

“Para Pendukung GAM Dapat Terancam Hukuman Mati,” The Straits Times, 4 Juni 2003, “Jika ada Bukti, Aktivis dan simpatisan GAM akan ditangkap,” detik.com, 21 May 2003. Raja Ismail dan Abdussalam Muhamad Dell, dua orang anggota organisasi hak asasi manusia di Aceh Timur yang disebut Pos Bantuan Hukum dan HAM, PB-HAM, menghilang dalam minggu-minggu sebelum Darurat Militer. Tubuh Raja Ismail ditemukan dua hari kemudian. Lihat Amnesty International, “Indonesia Melindungi Para Pelindung; Para Pembela Hak Asasi Manusia dan Pekerja Kemanusiaan di Nanggroe Aceh Darussalam,” 3 Juni 2003. “Putaran Terakhir Pembicaraan untuk Mencegah Perang di Aceh,“ Laksamananet, 20 April 2003; Matthew Moore, “Indonesia Mengatakan akan Menghancurkan Para Pemberontak.” The Age, 5 Nopember 2003.
10 9

8

“NAD: Tembak di Tempat Bagi Pengibar Bendera GAM,” Kompas, 4 Desember 2003.

5

Human Rights Watch, Vol. 15, No. 10 (C)

Banyak dari mereka sudah berada disana sejak Darurat Militer dimulai. selain membangun proses yang dipercaya untuk menghapuskan. tetapi malah menghasilkan gelombang baru pelanggaran terhadap hak asasi manusia. mendisiplinkan dan mengusut mereka yang melakukan pelangguran (rekomendasi lebih lanjut terdapat di halaman 42 dan 43) dan membolehkan akses yang segera dan tanpa kekangan ke Aceh untuk pengamat independen dan tidak berpihak serta badan-badan kemanusiaan. seperti badan PBB yang terkait. Sebagaimana di masa lalu. Uni Eropa. Human Rights Watch hanya mampu mewawancarai sembilan Human Rights Watch. baik internasional maupun lokal. mempunyai akses dan mampu untuk melaporkan kepada umum mengenai situasi disana. TNI khususnya menargetkan penduduk di kelompok usia ini di Aceh sebagai yang paling mungkin terlibat dalam aktifitas GAM. Rekomendasi utama laporan ini. beberapa diantaranya datang hanya beberapa hari atau minggu sebelum diwawancara. dapat menyediakan bantuan yang diperlukan. Jepang dan Bank Dunia) yang terlibat di dalam perundingan damai antara Indonesia dan GAM. Komunitas Internasional seharusnya membuat akses pada prioritas tertinggi. Sekitar delapanpuluh lima wawancara dengan orang-orang Aceh dilakukan di bulan Oktober dan November 2003. bukannya membawa akhir bagi konflik. 10 (C) 6 . Sebuah Catatan mengenai Para Narasumber Human Rights Watch pergi ke Malaysia untuk mewawancarai individu yang meninggalkan Aceh karena pertempuran yang terjadi. Kesaksian dari para pengungsi ini melukiskan contoh yang mewakili kehidupan penduduk sipil tertentu dibawah darurat militer. informasi yang terdapat didalam laporan ini mungkin hanya merepresentasikan puncak gunung es yang berbahaya dan menakutkan saja dari kenyataan yang sebenarnya. Sedangkan untuk komunitas internasional. ditujukan kepada Indonesia. adalah sederhana: ambil semua langkah yang mungkin untuk memastikan bahwa aparat keamanan bertindak secara profesional dan menghargai hak asasi manusia dan hukum kemanusiaan. No. Pendekatan militer yang dilakukan Jakarta. Hal ini selanjutnya terlihat pada mayoritas pengungsi yang datang di Malasysia sejak dimulainya perang pada bulan Mei 2003.Karena larangan terhadap akses. Gagalnya Kerangka Perjanjian Genjatan Senjata terhadap Permusuhan (the Cessation of Hostilities Franework Agreement atau COHA) memberi pukulan yang serius bagi harapan akan akhir sebuah negosiasi menjadi pelanggaran hak asasi secara besar-besaran di Aceh. Wawancara di Malaysia dilakukan terutama dengan laki-laki Aceh berusia antara delapan belas sampai dengan tigapuluh lima tahun. 15. Human Rights Watch menghimbau agar tekanan yang seberatberatnya ditempatkan pada Indonesia untuk menghentikan pelanggaran hak di Aceh merajalela dan memastikan kesejahteraan dan keselamatan penduduk sipil. Hal ini penting bagi kesejahteraan masyarakat Aceh bahwa organisasi yang tidak memihak. Vol. khususnya “kuartet” (Amerika Serikat. Hanya dengan begitu maka pelanggaran hak asasi manusia dapat dideteksi dan organisasi kemanusiaan.

aktivis mahasiswa. “Ringkasan Statistik Pendaftaran Berdasarkan Asal Etnis. Kami sudah menghilangkan nama-nama para narasumber dari Aceh. Laporan ini hampir seluruhnya terdiri dari kesaksian tangan-pertama yang meliputi banyak kabupaten di Aceh dan keseluruhan periode darurat Militer. 4 (c). Kurangnya akses terhadap para pengamat independen membuat mustahil unuk mengetahui seberapa mewakilinya laporan ini. Human Rights Watch menghimbau GAM untuk bertindak sesuai dengan hukum kemanusiaan internasional. laporan ini tidak berisi informasi semacam itu. 13. para pengungsi yang diwawancarai di Malaysia tidak melaporkan kasus semacam itu. Human Rights Watch mengakui bahwa kurangnya kesaksian tidak secara perlu berarti bahwa tidak ada penyiksaan yang dilakukan. No. seperti etnis Jawa. dengan Profil Demografis. seperti penculikan atau penyitaan kartu identitas untuk dipergunakan oleh pejuang GAM. GAM mempunyai catatan panjang tentang prilaku menyiksa di Aceh. perwakilan LSM Malaysia. Vol. vol.” Sebuah Laporan Human Righat Watch. Tetapi sebelum pemerintah Indonesia membuka Aceh untuk pengamat independen. karena Human Rights Watch tidak mempunyai akses di Aceh. Dikarenakan resiko tindakan balas dendam. 12 11 7 Human Rights Watch. 10 (C) . Figur ini mencerminkan dua belas persen pendaftar baru di UNHCR adalah perempuan selama September 2003. “Indonesia: Perang di Aceh. GAM tidak seharusnya melakukan tindakan yang menempatkan orang sipil dalam resiko khusus. 15. informasi mengenai kemungkinan penyiksaan yang dilakukan GAM akan sulit diperoleh. Tetapi.perempuan dewasa dan seorang anak perempuan dari Aceh. No.12 Orang-orang semacam itu lebih cenderung melarikan diri ke bagian lain dari propinsi tersebut atau menyebar ke daerah lain di Indonesia daripada pergi ke Malaysia. dan staf di kantor United Nations High Commissioner for Refuges di Malaysia yang dianggap representatif. Sebuah catatan dalam hal pelanggaran GAM: Human Rights Watch prihatin terhadap penyiksaan yang dilakukan oleh GAM. Human Rights Watch secara konsisten bertanya kepada mereka yang diwawancarai seandainya mereka pernah menyaksikan atau menjadi korban penyiksaan GAM.” JuliSeptember. Human Rights Watch juga mewawancarai pimpinan komunitas masyarakat Aceh. atau mereka yang dicurigai menolong militer. 2003. selebihnya dilakukan dengan penterjemah bahasa Aceh.11 Banyak wawancara dilakukan tanpa penterjemah dalam Bahasa Indonesia. Meskipun demikian. UNHCR. akademisi. Agustus 2001. desa asal mereka dan lokasi mereka di Malaysia. Komisi Hak Asasi Manusia Malaysia. Para peneliti Human Rights Watch tidak bisa mewawancarai mereka yang paling beresiko terkena kekerasan oleh GAM. Lihat Human Rights Watch. Secara khusus.

sampai akhirnya pemerintahan Soeharto menyatakan Aceh sebagai “Daerah Operasi Militer” atau DOM dan menyusun salah satu kampanye kontra-pemberontak terbesar yang terlihat sejak tahun 1960. disiapkan oleh pemerintah propinsi di akhir tahun 1998. Sayed Mudhahar Ahmad dan Yarmen Dinamika. 14 15 13 Tim Kell. telah dan seterusnya menjadi penting. “Indonesia: Pertanggungjawaban Terhadap Kejahatan Kemanusiaan di Aceh. hal. DOM adalah singkatan dari Daerah Operasi Militer. tidak bisa dibandingkan dengan sekarang. Dari bulan Juli 2001 sampai saat operasi darurat militer membuat mereka harus bertahan. 10 (C) 8 . Human Rights Watch. mencatat 871 orang terbunuh secara seketika oleh tentara. status resmi militer di Aceh sejak tahun 1990 sampai dengan 1998. Mei 2000. Malaysia. dengan kehadiran terkuat khususnya di enam dari kebupaten yang terbanyak penduduknya dan tersejahtera. Agustus 2001. tetapi spur lain yang penting untuk gerakan kemerdekaan telah menjadi kegagalan pemerintahan paska Soeharto untuk memusatkan pelanggaran hak asasi manusia di masa lalu. Apa yang disebut sebagai peride Daerah Operasi Militer dimulai pada tahun 1990 sesudah GAM menyusun serangkaian penyerangan terhadap pos polisi dan militer untuk merampas amunisi dan lusinan senjata otomatis. Human Rights Watch. dan 387 orang hilang yang kemudian pada akhirnya ditemukan meninggal. Betapapun baru empat tahun terakhir ini mereka sudah membangun pangkalan penting yang terkenal.” Sebuah Laporan Human Righst Watch. no 1 (c). 4 (c).Konteks Kekerasan yang Terjadi Sekarang: Perang Panjang di Aceh Kami tidak bisa hidup. 1995. —Laki-laki Aceh usia 30 tahun13 GAM sudah ada sejak para pendirinya mendeklarasikan kemerdekaannya dari Jakarta pada tahun 1976. mencai kerja. Human Rights Watch. Penghitungan korban yang paling konservatif. meskipun operasi dan penyiksaan berlanjut sampai sesudah DOM berakhir. GAM menjalankan pengawasan terhadap bagian yang luas di Aceh. Aceh Diselubungi oleh Darah (Jakarta: Pustaka as-Kautsar.15 Hampir semua perkiraan LSM setidaknya berjumlah dua kali lebih besar. Kami bisa mendapat pekerjaan.” Makalah Ringkas Human Rights Watch. Tetapi kini keadaan sudah kembali mengerikan. sebagian sehubungan dengan sumber daya gas dan minya. fase terburuk DOM. dan struktur komando yang secara relatif terorganisir dengan baik. 62-63. Perang di Aceh. hal. Selalu begitu selama DOM. Akar Pemberontakan Warga Aceh 1989-92 Lithace: Cornell Univeristy. Lebih dari 500 orang lainnya terdaftar sebagai “orang hilang” dan tidak pernah ditemukan. Situasi sekarang lebih dari DOM. 13. belasan ribu orang Aceh dipenjara dan disiksa di dalam Wawancara Human Rights (nama disembunyikan). Vol. Lihat Human Right Watch.14 Keluhan ekonomi. “Indonesia. Maret 2002. vol 12. tidak bisa mencari uang. sumber persenjataan tetap. 15. “Indonesia: Panduduk Sipi Menjadi Target di Aceh. pergi kemanapun kami mau. 1998). Al-Chaidar. DOM masih ringan. Para pendiri GAM menekankan perampasan kekayaan dan sumber alam Aceh oleh penduduk baru “Orang Jawa-Indonesia” atas nama pembangunan dan kebutuhan untuk merebut kembali kejayaan masa lalu Aceh. vol.” Sebuah Laporan Human Rights Watch. 106. Sebagai tambahan. Sekitar seribu orang Aceh dari masyarakat sipil terbunuh dalam tiga tahun pertama operasi tersebut. 23 Oktober 2003. No. Sesudah DOM selesai sempat ada setahun dimana segalanya berlangsung lebih baik. no.

yang menerima tanggung jawab kepresidenan ketika Soeharto turun di tahun 1998. No. pada titik ini. 15. sebuah gerakan politik pro-kemerdekaan yang mulai timbul dan mobilisasi penduduk secara besar-besaran yang mencari saluran-saluran untuk mengekspresikan kefrustasian mereka terhadap Jakarta atas kegagalannya mengatasi pelanggaran masa lalu. Rekomendasi-rekomendasi tersebut menghasilkan perubahan dalam rancangan undang-undang tentang otonomi. Sadar Rencong I. Penyiksaan terus berlangsung sampai DOM berakhir di tahun 1998. Yang keempat adalah serangkaian kesalahan di Jakarta. Beberapa orang di Jakarta sepertinya memahami derajat kemarahan terhadap pelanggaran selama era DOM sudah merubah dinamika politik di Aceh: GAM sekarang mempunyai jauh lebih banyak pendukung yang mau menerima mereka daripada yang sebelumnya mereka punya. Habibie. II dan II. mengumumkan bahwa warga Timor Timur akan diberikan kesempatan untuk memilih antara pemberian otonomi dan memisahkan diri dari Indonesia. memberikan propinsi tersebut lebih banyak otonomi. termasuk membangun kembali fasilitas yang dihancurkan. dinamika politik di propinsi tersebut mengalami perubahan genting lainnya. membuka dialog dengan pihak-pihak yang terkait dengan konflik. Komandan TNI. Pada bulan Agustus 1998. hal ini bisa membuat pemutusan dengan masa lalu yang menentukan. dan perkosaan menurut laporan menyebarluas. secara resmi meminta maaf kepada masyarakat Aceh atas perbuatan yang keterlaluan selama era DOM. Di bulan Agustus 1999. dan secepatnya mengusut mereka yang bertanggungjawab atas pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan selama periode DOM. Tampaknya setiap orang Aceh di daerah yang terpukul paling berat dapat menyebutkan anggota keluarga mereka yang menjadi target utama langsung dari pelanggaran hak asasi manusia. Di awal tahun 1999. Pengunduran diri Soeharto di tahun 1998 menciptakan harapan di sepanjang Aceh bahwa keadilan akan dilakukan. Seandainya. Operasi militer dibawah serangkaian kode-kode nama – Wibawa 99. dan Cinta Meunasah I dan II – 9 Human Rights Watch. Bagaimanapun. panitia khusus di DPR untuk Aceh membuat serangkaian rekomendasi untuk presiden baru. Vol. Tidak ada yang terjadi dari sana. sosok-sosok kunci dalam hirarkis DOM berlanjut untuk menduduki posisi-posisi yang berpengaruh di seluruh Indonesia. Abdurrahman Wahid. Dalam hitungan hari. Jendral Wiranto. empat elemen kunci berkumpul bersama untuk memfasilitasi perkembangan yang cepat dari gerakan kemerdekaan: sebuah organisasi gerilya bersenjata. Daripada pengusutan malah terjadi peningkatan dalam jenis-jenis kejahatan hak asasi manusia yang menandai periode DOM. dengan 102 kasus yang tercatat oleh tim pemerintahan lokal. Di bulan Desember 1999.kamp militer. tetapi rekomendasi mengenai pengusutan diabaikan. meskipun dalam tingkat intensitas yang lebih rendah daripada dalam periode 1990-1993. Komisi Hak Asasi Manusia Indonesia menyarankan untuk dibentuknya Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi khusus untuk Aceh.J. Sejak awal 1999. sebuah kongres yang dibentuk oleh seluruh mahasiswa Aceh meminta sebuah referendum kemerdekaan untuk dilaksanakan di Aceh. pemerintah Indonesia sudah bergerak untuk menyelidiki dan mengusut para pejabat atas peran mereka dalam pelanggaran tersebut. 10 (C) . B.

Henri Dunant Centre. Kadang melalui persuasi. Nama yang diberikan kepada usaha perdamaian berubah dari ‘jeda kemanusiaan’ menjadi ‘penundaan kekerasan’ lalu menjadi ‘perdamaian melalui dialog”. yang sukses. Pada tanggal 9 Maret 2001. “saat pemimpin perempuan kalian memimpin negara ini. kandidat presiden Megawati Soekarnoputri menjanjikan bahwa jika dia terpilih maka dia akan berusaha kerasa untuk mengakhiri komflik yang sudah berjalan begitu lama. panitia dibentuk di Aceh. Saya tidak akan mengizinkan satu tetes pun darah manusia menyentuh tanah kalian. Aceh Timur dan Aceh Selatan. Julia Suryakusuma. GAM. Pada bulan Juli 1999. HDC menghasilkan suatu “jeda kemanusiaan” dalam konflik tersebut.membawa kepada jumlah serdadu lebih besar dan seluruh desa dihukum sebagai pembalasan dendam atas serangan GAM. Aceh barat. suatu gencatan senjata yang bukan sungguhan. Human Rights Watch.”16 Di pertengahan tahun 2000 datanglah organisasi yang berlandaskan resolusi konflik dari Geneva. Sebagai bagian dari perjanjian berkenaan dengan ‘jeda’ tersebut. International Herald Tribune. serangan oleh GAM kepada militer dan polisi juga meningkat. 30 Juli 1000. Mereka melakukannya dengan mengganti kepala-kepala desa. dengan ketidaksenangan militer Indonesia. Di bulan Mei 2000. kekerasan menurun dengan tajam. GAM secara berangsur-angsur mengambil alih kebanyakan fungsi-fungsi pemerintah yang dimulai dari Kabupaten Pidie dan berangsur berpindah jauh kedalam Aceh Utara. 15. kadang melalui penculikan dan sejenis pendidikan kembali untuk pejabat-pejabat pemerintah daerah. tanpa diduga sebelumnya oleh orang-orang. menteri pertahanan Indonesia dan komandan TNI mengumumkan operasi militer baru melawan GAM. membangun kemarahan orang-orang yang meningkat. terdiri dari baik GAM maupun perwakilan pemerintah. Di saat yang sama. mulai bergerak diluar penyerangan sporadis terhadap polisi dan tentara untuk menyiapkan sebuah pemerintahan alternatif. 10 (C) 10 . No. untuk mendiskusikan masalah keamanan dan kekerasan selama ‘jeda’ tersebut. yang melihatnya sebagai cara GAM untuk mengkonsolidasikan kontrolnya terhadap daerah pedesaan. yang kemudian berganti nama menjadi Pusat Dialog Kemanusiaan (the Centre for Humanitarian Dialogue atau HDC) kedalam situasi tersebut. jenjang dasar dinas pemerintah Indonesia. dan mengadakan kembali dewan sesepuh desa yang sudah ada sebelum Aceh bergabung dengan Republik Indonesia. “Perang Kecil untuk Menyokong Penilaian”. Sejalan dengan meningkatnya kekerasah dari pihak Indonesia. dalam menjadi menengahi perundingan antara GAM dan pemerintah Indonesia. BBC World News. dengan 16 “Penduduk Desa Aceh Menemukan Pemakaman Masal”. tetapi usaha dasar untuk menjaga pembicaraan antara pihak-pihak terkait terus berlanjut. 29 Agustus 2003. GAM mampu untuk menghasilkan pemasukan yang penting dalam “pajak perang” dari perseorangan dan bisnis. Vol. Jeda tersebut diperbaharui dua kali. Menitikan air matanya di Aceh dia mengumumkan. dan kepergian militia pro-Indonesia dari timur sampai barat Timor menyediakan sumber persenjataan baru yang utama. Jumlah pasukan dinaikan dalam usaha sistematis yang ditujukan kepada kubu dan markas GAM yang dicurigai. Pada bulan-bulan pertama ‘jeda’ tersebut.

dan 151 mayat di akhir minggu ketiga. yang memberi wewenang kepada pasukan kemanan Indonesia untuk melancarkan operasi militer besar-besaran melawan GAM. Indonesia dan GAM menandatangani Perjanjian Kerangka Gencatan Senjata atas Permusuhan (the Cessation of Hostilities Framework Agreement atau COHA). meskipun organisasi tersebut mengatakan bahwa hal tersebut tidak dapat 17 “Badan Hak Asasi akan Memeriksa Laporan Pemakaman Masal di Aceh Minggu Depan. Baik perkiraan pemerintah maupun GAM tidak dapat diandalkan (misalnya jumlah orang sipil yang hilang yang berasal dari pemerintah hanya terbatas pegawai pemerintah saja) dan LSM di lapangan. Vol. Ini adalah harapan terakhir yang terbaik untuk perdamaian di Aceh. mengakui bahwa mereka tidak mampu untuk mengumpulkan data di lapangan secara efektif. Segera terdapat tuduhan berkaitan dengan kekerasan terhadap hak asasi manusia oleh TNI. (“kuartet”).” The Jakarta Post. meskipun para penduduk lokal menolaknya. No. sesudah kunjungannya pada bulan Juni ke propinsi tersebut.” Agence FrancePresse. dengan perantara HDC. 20 Juni 2003. tanggal 19 Mei 2003. 10 (C) . dan TNI serta dinas keamanan Indonesia lainnya menggembar-gemborkan untuk ‘menumpas’ GAM dalam periode tersebut meskipun banyak pengamat menyangsikannya. Dalam satu kasus yang dilaporkan dengan baik dari hari-hari pertama Darurat Militer. Keputusan tersebut menempatkan Aceh dibawah Darurat Militer selama enam bulan. seperti organisasi terhormat seeperti Kontras cabang Aceh. Indonesia berkeras bahwa GAM tidak mengakui tuduhan hendak merebut kemerdakaan dan menuduh GAM menggunakan COHA untuk membangun kembali kekuatan bersenjatanya dan meluaskan basis politiknya. Sesudah penangkapan terhadap empat juru runding GAM dan runtuhnya parit-terakhir (last-ditch) pembicaraan damai di Tokyo. Semua korban memakai pakaian sipil. Uni Eropa. Komisi Hak Asasi Manusia Indonesia. Palang Merah Indonesia melaporkan bahwa mereka menemukan delapanpuluh dua mayat di minggu pertama. Meskipun begitu hanya terdapat sedikit kemajuan terhadap penyelesaian konflik secara politis. 14 Juni 2003. dan pada mulanya membawa pengurangan kekerasan. dan dibawah tekanan dari Amerika Serikat. 11 Human Rights Watch. Presiden Megawati menandatangani Keputusan Presiden nomor 28. 15. “Badan Hak Asasi Menegaskan Pembunuhan atas Warga Sipil Tanpa Nama di Bireuen. meskipun mereka tidak menyalahkan secara umum. tapi membuka pintu terhadap lebih banyak perundingan yang dilakukan dalam pengawasan internasional. GAM menuduh bahwa Indonesia tidak berunding dengan niat baik.17 Jumlah pasti korban-korban sipil sulit untuk ditetapkan mesipun semua pihak mengesankan bahwa korban sipil dan pejuang (GAM) sangat besar. Komnas HAM.banyak tuduhan dari organisasi lokal atas nama penududuk sipil yang terbunuh selama proses tersebut. Meskipun COHA tidak menunujukan perbedaan yang mendasar. Militer mengatakan semua korban adalah anggota atau mata-mata GAM. termasuk dua orang bocah berusia dibawah empat belas tahun. Jepang dan Bank Dunia. pada tanggal 21 Mei para tentara membunuh tujuh orang. Pada bulan Desember 2003. menegaskan bahwa anak-anak tersebut berada diantara korban pembunuhan extra-judicial di Aceh. Muninggar Sri Sraswati.

” The Jakarta Post.” The Jakarta Post. 26 May 2003. juru bicara militer melaporkan bahwa setidaknya 395 orang sipil telah terbunuh sejak dimulainya Darurat Militer. 19 dan jumlah korban lebih jauh dari dua pusat perkotaan tersebut kemungkinan lebih tinggi.100 anggota GAM telah terbunuh di bulan Oktober. Pemerintah Indonesia melaporkan bahwa sekitar 1.” Ahmad Pathoni. 213 kasus penangkapan dan penahanan secara sewenang-wenang. Tidak ada laporan yang dikeluarkan. pelecehan seksual. “Pelanggaran Hak Asasi di Aceh Dapat Membawa Intervensi PBB.” Reuters.” Reuters. Bireun. 19“Permintaan Suplai Tambahan di Aceh” British Broadcasting Corporation. 3 Juni 2003. Di sekitar Lhokseumawe jumlah tersebut dilaporkan sebanyak enam orang per hari. “Pertanyaan sesunggunya adalah berapa banyak dari orang-orang tersebut yang dideskripsikan sebagai pemberontak pada kenyataannya adalah GAM. pelecehan seksual. 18 Human Rights Watch.” Agence France-Presse. Lihat “319 warga sipil terbunuh dalam Kekacuan Aceh di Indonesia. 11 Juni 2003. Komnas HAM mengatakan bahwa di awal bulan Juni mereka akan meneyelidiki lebih dari dua puluh kasus tentang pelanggaran hak yang diduga keras terjadi selama dua minggu pertama operasi militer di propinsi tersebut. LSM tersebut menekankan bahwa jumlah sebenarnya kemungkinan lebih besar karena adanya keterbatasan pelaporan dan investigasi. penguasa darusat militer membatasi gerakan tim sama sekali. No. “Komnas HAM Hendak Menyelidiki Pelanggaran-Pelanggaran di Aceh. begitu juga 315 warga sipil disiksa atau dipukuli. “Indonesia Melancarkan Kampanye Aceh Melawan Pemberontak. Dean Yates. Meskipun tidak ada kasus dimana korban diganggu oleh pelaku. Aceh Selatan. dan Aceh Besar. 23 Agustus 2003. 21 M. kamar mayat rumah sakit utama Banda Aceh menerima rata-rata tiga mayat per hari. perkosaan dan pemindahan secara paksa dan penculikan masih tetap merajalela. kebanyakan dari mereka adalah para pemuda dengan luka tembak. Vol. “Deutsche Presse-Agentur. dan tergantung dari sumber dan bentuk penyiksaan. Kontras Aceh. dan tujuhpuluh delapan sipil menjadi korban penghilangan secara paksa. 20 Meskipun tim komisi ad-hoc dapat bertemu dengan lebih dari seratus orang saksi mata dalam misi kedua mereka selama lima hari di bulan agustus. 22 Pemerintah Indonesia menyalahkan GAM atas korban-korban tersebut.18 Dalam indikasi lain tentang tingginya jumlah korban awal. 20 Tertiani ZB Simanjuntak. dan juga anggota GAM yang mungkin terbunuh diluar pertempuran dalam pelanggaran hukum kemanusiaan. Sidney Jones dari Kelompok Krisis Internasional (Inetrnational Crisis Group) telah mencatat. perkosaan dan pemindahan (displacement) secara paksa. Human Rights Watch prihatin baik kepada mereka yang diklasifikasikan sebagai GAM namum ternyata orang sipil.600 Korban. Kebanyakan perkirakan mencatat secara khusus tingginya korban sipil di Aceh Utara dan Aceh Timur. 23 22 Memperhatikan ketidaksesuaian antara anggota GAM yang berdasarkan laporan terbunuh (1. dari 319 kematian warga sipil yang dilaporkan oleh polisi pada tanggal 3 September 2003. 21 Di bulan November.menegaskan bahwa mereka semua non-pejuang. BBC memberitakan bahwa dalam minggu pertama operasi. Perang Kotor yang Tidak Terungkap. 10 (C) 12 . “Makalah Ringkas tentang Aceh: Propinsi Aceh. May 26. termasuk pembunuhan. Pencapaian yang Tidak Jelas.100) dan senjata yang ditemukan (485). Sebagai contoh.23 18 “Palang Merah Indonesia Mengatakan Memindahkan 151 Mayat di Aceh. Kontras Aceh menemukan bahwa banyak warga sipil menjadi korban selama operasi militer di Indonesia dalam pencarian para gerilyawan. tetapi dalam pernyataan secara umum komisi tersebut mengatakan bahwa pembunuhan. 5 September 2003. 15. korban sipil terbesar berasal dari Aceh Utara (110). Aceh Timur (70) dan Aceh Selatan (45). Taufiqurrahaman. “Perang Indonesia dengan Para Separatis Memakan 1.” September 2003. Perkiraan Kontras Aceh pada tanggal 18 Agustus menempatkan jumlah yang kurang lebih sama yaitu 329 warga sipil terbunuh. 2003.

kesaksian yang dikumpulkan dalam laporan ini memperjelas bahwa operasi militer lah yang mempunyai pengaruh terhebat terhadap penduduk sipil. sebagaimana juga kekuatan Kostrad dan Kopassus untuk membantu pengumpulan operasi dan intelijen. yang mengenakan baret merah. 15. “Militer Indonesian dan Militia Sipil di Timor Timur” Backgounder Human Rights Watch. fokus yang berlebihan telah ditempatkan pada operasi militer. meskipun mereka dikenal dengan reputasi buruk karena keterlibatan mereka dalam pelanggaran hak asasi manusia sepanjang kepulauan ini.24 Suatu ukuran dari peran utama operasi militer dalam operasi terpadu ini adalah luasnya cakupan upaya militer. Lihat Human Rights Watch. TNI akan menempatkan bukti bahwa korban tersebut adalah anggota GAM. pendidikan – hal-hal tersebut bukanlah masalah militer Indonesia. 25 13 Human Rights Watch. atau “pasukan khusus”. 2 Juni 2003.000 pemberontak GAM dengan 2. Banyak dari November 2003. Unit tentara termasuk ‘organik’ atau kekuatan berbasis lokal tingkatan kelurahan (Koramil). sering bekerja bersama-sama dengan unit militer. meskipun hanya dengan satu kesaksian saksi mata. 24 Diluar sifat dasar terpadu operasi. April 1999. Kopassus. Operasi terpadu ini disusun sebagai usaha untuk memenangkan perang dengan GAM sekaligus memenangkan hati dan pikiran penduduk lokal. Kepala TNI Ryamizard Ryacudu menyatakan dalam sebuah wawancara. mengawasi semua aspek dari operasi ‘terpadu’ Indonesia di Aceh. Malaysia. Kesatuan tempur yang kuat dari kekuatan militer Indonesia telah disebar di Aceh. “Tugas kami adalah untuk menghancurkan kemampuan militer GAM.” Wawancara dengan Ryamizard Ryacudu. otonomi. kabupaten (Kodim). pada tingkatan kecamatan (polsek) dan propinsi (Polda) dan unit brigadir mobil polisi paramiliter. Kostrad dapat dikenali melalui baret hijau mereka dan sebagai pasukan tentara khusus TNI. Tetapi sejauh ini sejak propinsi tersebut tertutup dari pengamat internasional independen. Tetapi usaha apapun yang bisa dilakukan pemerintah Indonesia untuk membatasi kengerian perang bagi penduduk sipil.000 pasukan dan 12. kesejahteraan sosial. Wawancara Human Rights Watch dengan seorang laki-laki berusia empat puluh-an (nama disembunyikan). Mayor Jenderal Endang Suwarya. efektifitas dan kekuasaan programprogram non-militer akan sulit untuk dinilai. sub-regional (Korem) dan regional (Kodam). 26 Oktober 2003.000 polisi (kebanyakan dari mereka menjalankan fungsi paramiliter) telah disebarkan propinsi tersebut untuk berperang melawan sekitar 5.Pengenaan darurat militer berarti bahwa semua instrumen pemerintah sekarang berada di bawah kontrol militer. Vol. agama. “Tidak Ada Daerah yang Bisa Melepaskan Diri: Time Asia. Brimob. Penyelenggara Darurat Militer di Aceh.000 senjata. persoalan keadian. Dalam kampanye militer tebesar militer Indonesia sejak penyerbuan ke Timor Timur. penegakan hukum kemanusiaan. dan pemerintah daerah. yang menurut pemerintah Indonesia termasuk komponen-komponen militer.25 Pasukan polisi termasuk polisi lokal. Beberapa orang Aceh di Malaysia menyatakan bahwa sesudah membunuh seorang warga sipil. No. adalah spesialis dalam pengumpulan intelijen dan operasi khusus dan dianggap sebagai kebanggan pasukan tentara. 10 (C) . diperkirakan 28. Unit “non-organik” dikirim dari bagian lain Indonesia termasuk battalion infantri dari propinsi lainnya. yang cenderung lebih terlibat dalam operasi militer.

Kodam Iskandar Muda dikepalai oleh Mayor Jenderal Endang Suwaryo. 17 April 2001. tank-tank.mereka telah dikirim dari luar Aceh untuk membantu operasi (dikenal sebagai BKO atau Bawah Kendali Operasi. strategi penyergapan dan teknik-teknik tembak-untuk-bunuh. Angkatan laut.26 Meskipun konflik dapat mengambil tempat dimanapun. Vol. kapal amfibi. pasukan terjun payung. termasuk Kostrad. Sebagai tambahan. September 2000. Aceh mempunyai dua Korem.” The Jakarta Post. Human Rights Watch. atau Kodam. udara dan marinir Indonesia juga sudah memainkan peran dalam kampanye melalui penyerbaran kapal-kapal perang. Korem Teuku Umar di Banda Aceh dan Korem Lilawangsa di Lhokseumawe. satuan tugas Rajawali beroperasi di unit pasukan peleton yang dibentuk dari pasukan yang berasal dari cabang dan wilayah yang berbeda. Marinir dan Kopassus. menggantikan Mayor Jendral Bambang Darmono. Desa-desa dalam atau dipinggir daerah-daerah ini secara khusus cenderung terjebak didalam peperangan mereka. kapal-kapal tempur dan helikopter. 15. 10 (C) 14 . Tapol. yang menjadi bagian dari komando yang lebih luas yang berpusat di propinsi tetangga Sumatera Utara. pasukan pembentu yang penting) Pada tahun 2002 penguasa militer menciptakan komando regional baru. Bulletin Online 159. untuk Aceh. No. Satuang tugas menurut laporan telah dilatih oleh Kopassus dalam peperangan anti-gerilya. yang juga sekarang menjadi penyelenggara Darurat Militer. pertempuran di daerah hunian. 26 “Kopassus BErsiap Menumpas Pemberontak Aceh. pertempuran jalanan. barisan terdepan perburuan GAM adalah pegunungan dan hutan. Brigadir Jendral Goerge Toisutta tersebut pada bulan November sebagai komandan operasi militer dibawah Darurat Militer untuk TNI di Aceh.

Bis Saya harus menunggu dua puluh menit untuk lewatnya iring-iringan truk tentara sebanyak tigapuluh lima truk. Seorang laki-laki berusia dua puluh lima tahun. 5 November 2003. No. yang meninggalkan Aceh dua minggu sebelum darurat militer dimulai. Air mata kami semua sudah kering. Keadaan hanya sedikit aman selama periode tersebut. tahun 1998. setiap hari di Aceh. Pada hari dimana (presiden) Megawati 27 28 “TNI Berencana untuk Menyusun Ulang Penyebaran Pasukan di Aceh. yang lainnya. menuju ke Barat… Pada tempat pemeriksaan mereka memeriksa tas-tas. Malaysia. Saya pergi dari Aceh ke Medan dengan minibus. tetapi mereka juga menggambar-gemborkan penyebaran sekitar 28. Sebagaimanya yang dikatakan bekas aktifis mahasiswa. menggambarkan usahanya untuk meninggalkan propinsi tersebut: Saya datang kesini (Malaysia) ketika segalanya pertama kali meledak. 26 Juli 2003.27 Kami tidak menangis. 10 (C) .28 Dimulainya kampanye militer Indonesia di Aceh dalam bulan Mei ditandai dengan pertunjukan kekuatan besar-besaran. yang kembali ke Aceh dari Malaysia pada bulan Maret ketika the COHA diberlakukan. darurat militer datang. Kabupaten Bireun. Pada saat itu Saya sedang berada di Kecamatan Samalanga.000 pasukan dan 12. tujuan. Sudah terdapat banyak TNI. Penjelasan atas kampanye tersebut diterangkan sebelum pernyataan resmi Darurat Militer. 15 Human Rights Watch. 15. Saya berharap untuk menetap selama enam bulan. —Juru bicara untuk administrator daurat militer Kolonel Ditya Soedarsono.” The Jakarta Post. —Laki-laki Aceh berusia empat puluh tahun. seorang laki-laki duapuluh lima-an. Kami bahkan tidak bisa menangis lagi dengan trauma yang kami alami hari ini. Dua orang yang berada dalam bus ditahan: satu di Alue Ie Puteh di Aceh Utara. tetapi mereka pada dasarnya personil yang ramah dan bersahabat. di Langsa (Aceh Timur)… Saya menelepon rumah tanggal 5 Oktober dan pos TNI yang berada di dekat rumah Saya sudah bertambah dari satu pos menjadi tiga pos – kami berada dekat pegunungan.Hidup di bawah Darurat Militer Harus dimengerti bahwa para pejabat kami berprilaku cukup agresif di mata umum.000 polisi yang bertugas “menumpas” GAM. Saya pulang ke rumah secara sukarela. Bom sonik dan peragaan udara oleh Angkatan Udara Indonesia memang jadi sekedar untuk pertunjukan. dengan militer Indonesia memamerkan pasukan dan perlengkapan terbaik mereka didepan pers dunia. kepada Human Rights Watch: Sudah jelas apa yang akan terjadi. kartu identitas. tetapi sesudah tiga bulan. Vol. Wawancara Human Right Watch dengan laki-laki berusia empat puluh dua tahun (nama disembunyikan). Bulan Maret 2003.

TNI datang mencari GAM. pemeriksaan dokumen.” Reuters. militer membawa artileri berat dalam posisi untuk menyerang basis pemberontak. dan meningkatkan operasi di waktu malam. 2003.31 Operasi termasuk patroli yang luas dan ‘penyapuan’ (sweeping). 29 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia dua puluh lima tahun (nama disembunyikan). Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki limapuluh tujuh tahun (nama disembunyikan). 26 May. Tapi kami katakan kepada mereka bahwa tidak ada GAM disana – yang mati hanyalah sapisapi dan ayam-ayam. 10 (C) 16 . lebih banyak patroli kerjasama militer dan polisi untuk membatasi gerakan para pejuang GAM. bertanya-tanya seandainya Saya akan hidup atau mati. 30 “Indonesia Memindahkan Pasukan. kendaraan amphibi. 15. 24 Oktober 2003.32 Pada akhir Juli. Perlengkapan untuk Memerangi Pemberontak Aceh. Begitu banyak hal yang telah terjadi. Saya sedang menanm padi. termasuk unit-unit yang lebih kecil disebarkan dalam pencarian kepemimpinan GAM yang kebanyakan tidak sukses. taktik yang dirancang untuk mengindentifikasikan separatis atau pendukung mereka melalui pencarian kendaraan. Enam jet tempur lewat di atas kepala Saya. intensifikasi operasi intelejen. Teman-teman Saya dipukuli oleh militer. mereka yang dari laut. Saya tidak bisa tinggal di Aceh lagi. Malaysia. Human Rights Watch.mengumumkan darurat militer secara resmi… TNI datang ke Aceh. “Indonesia Melancarkan Aceh Kampanye Melawan Pemberontak. Pagi berikutnya terdengar suara peluru dan ledakan. Orang bilang di Samalaga terdapat tiga buah tank. Banyak yang sudah diancam. Vol. yang dimaksudkan untuk mengurangi korban sipil. Traumanya terlalu banyak.29 Seorang laki-laki dari Aceh Tengah yang tiba di Malaysia di awal Agustus mengatakan pada Human Rights Watch: Saya meninggalkan Aceh karena terdapat pertempuran dan tembakan senjata setiap hari antara TNI dan GAM di segala penjuru Aceh. 28 Oktober 2003. dan pencarian secara sistematis dari satu desa sesudah desa lainnya. 26 May 2003. lebih dari 21. Saya bisa mendengarkannya dari desa Saya. Mereka yang dari laut (datang) dari laut. Bahkan pembicara-pembicara Indonesia sering menggunakan istilah bahasa inggris “sweepings”. 32 31 Dean Yates.30 Hari-hari sesudah pernyataan Darurat Militer.000 orang sipil meninggalkan rumah-rumah mereka.” Associated Press. peluru-peluru di sawah. pejabat militer mengumumkan beberapa perubahan terhadap strategi tersebut. No. (datang_ dari laut.

sampai sebulan yang lalu. istri dan keluarga Saya sudah mengatakan pada Saya untuk pergi… Mereka (TNI) “suka-suka tembak”. Mereka membangun pos-pos tepat di desa-desa. satu kelompok. Tentara-tentara tersebut takut pergi ke pegunungan. 17 Human Rights Watch.. Seorang laki-laki berusia dua puluh lima tahun yang meninggalkan Aceh Selatan satu minggu sesudah Darurat Militer mulai menjelaskan: Dari hari pertama darurat militer. Hampir semua orang yang diwawancarai oleh Human Right Watch berbicara tentang pos-pos keamanan baru yang didirikan oleh TNI dan Brimob sejak dimulainya Darurat Militer. ketika mereka membangun pos di desa.Meningkatnya Kehadiran di Desa Gelombang pasukan tidak hanya untuk operasi tempur melawan pasukan GAM di pegunungan dan hutan. sekitar tiga puluh tentara. karena kami trauma. 15. sebelum naik ke atas lagi. khususnya jika desa tersebut berada di tepi peguningan seperti desa kami. Teman-teman kami sekarat akibat konflik. kami dipukuli. 34 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh lima tahun (nama disembunyikan). TNI akan sering masuk desa.34 Seorang laki-laki yang meninggalkan Aceh pada 5 Oktober menjelaskan: Saya meninggalkan Aceh karena kemanan menurun. tidak peduli kami melakukan sesuatu yang salah atau tidak. Pasukan keamanan tinggal disana sekarang. Sebagaimana seorang perempuan yang tiba di Pidie pada tanggal 25 Oktober menjelaskan: Konflik ada disana. Beberapa narasumber menjelaskan bahwa padahal kesatuan-kesatuan tentara sebelumnya hanya datang ke desa sekali seminggu. kontak antara orang sipil dan militer sekarang adalah kejadian sehari-hari. 33 Wawancara Human Right Watch dengan perempuan berusia tigapuluh-an (nama disembunyikan). di dalam semua dusun kecil. TNI mencari GAM. 26 Oktober 2003. 10 (C) . Meningkatnya kehadiran di desa-desa nampaknya bertujuan untuk membatasi dukungan materi dan moral dari penduduk lokal untuk GAM dan kemampuan GAM untuk mengambil pengungsi di desa-desa dan mengikutsertakan mereka dalam pengerahan. Biasanya mereka akan menghabiskan waktu satu minggu di pegunungan. Jika kami tidak tahu dimana GAM. Malaysia.”33 Pelanggaran hak asasi manusia yang meningkat tajam sejak darurat militer dimulai bisa jadi sebagian disumbangkan dari meningkatnya kontak sehari-hari antara tentara dan penduduk desa. 27 Oktober 2003. dengan pos-pos militer setiap dua kilometer. Dari hari pertama sudah ada perasaan baru. Saya rasa Rajawali. Vol. jika GAM tidak ditemukan mereka menyerang penduduk. Mereka membunuh kami seperti semut. Malaysia. No. kemudian mereka turun kebawah selama dua hari untuk mengambil makanan dan beristirahat.

Seorang laki-laki muda memperkirakan bahwa pasukan keamanan sudah mendatangi rumahnya lima kali sebelum dia meninggalkan propinsi tersebut menyerangnya setiap kali. tetapi keluarga saya bilang jangan. ke Thailand dan berkata mereka mengamankan Aceh.Saya dipukuli dua kali… Tidak ada GAM di desa Saya sejak Darurat Militer dimulai. 38 Seorang laki-laki yang meninggalkan Aceh Utara ke Malaysia pada bulan Juni memberitahukan Human Rights Watch: Di Aceh. 38 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia dua puluh tahun (nama disembunyikan). Setiap hari di Aceh Saya harus melapor pada kantor TNI sehingga mereka bisa memeriksa bahwa saya tidak pergi dan bergabung dengan GAM. 36 —Perempuan Aceh berusia tigapuluh tahun Taktik pasukan kemanan Indonesia yang biasa adalah pencarian rumah-ke rumah terhadap anggota GAM. Mereka datang seminggu tiga kali. Aceh Timur menjelaskan: Dibawah darurat militer rumah seringkali dikunjungi. Malaysia. Tetapi para pemuda yang tetap berada di desa seringkali dijadikan sasaran sebagai tersangka simpatisan GAM. 26 Oktober 2003. Mereka bilang. 26 Oktober 2003. 28 Oktober 2003. mereka datang hanya untuk membunuh kami. tetapi hanya sejak darurat militer dimulai.35 Menjadikan Anak-Anak Muda Sipil Sebagai Sasaran TNI pernah pergi ke Amerika. Dalam beberapa kasus pencarian rumah-ke-rumah disertai dengan kekerasan secara fisik. Malaysia.39 35 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia dua puluh satu tahun (nama disembunyikan). “Kamu GAM!” Saya bilang pada mereka. ke Eropa. 36 37 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki Aceh berusia delapan belas tahun (nama disembunyikan). Saya mau pulang ke rumah untuk liburan. 37 Seorang laki-laki berusia tigapuluh lima tahun yang tiba di Malaysia bulan Oktober dari Peuruelak. Malaysia. Dugaan sebelumnya adalah bahwa pemuda yang meninggalkan desa bergabung dengan GAM. Mereka tidak mengamankan Aceh. Kantornya ada di desa Saya. 10 (C) 18 . “Saya orang biasa!” Mereka memukul dan menendang. Seorang laki-laki yang masih muda di Aceh akan dipandang dengan kecurigaan dan beresiko. Mereka bertanya. TNI mencurigai semua laki-laki muda sebagai GAM. 39 Human Rights Watch. sudah belasan kali. Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia tigapuluh lima tahun (nama disembunyikan). Vol. 15. No. Wawancara Human Rights Watch (nama disembunyikan). Malaysia. 28 Oktober 2003. “Dimana para lelaki?” Saya tidak berani tinggal di rumah. dan informasi mengenai pemuda manapun yang meninggalkan desa. 23 Oktober 2003. senjata-senjata dan amunisi. Malaysia.

9 Oktober 2003. Akhirnya anak-anak muda tersebut diperbolehkan untuk pulang ke ruamh.40 Seorang laki-laki dari Pidie memberitahukan Human Rights Watch tentang an assault oleh anggota satuan tugas Rajawali terhadap penduduk yang paling muda di desa: Kurang dari seminggu sesudah (Hari Kemerdekaan Indonesia) setiap orang diberitahukan untuk berkumpul di meunasah (tempat sembahyang). orang tua Saya tinggal di Pidie. Saya sedang berada dekat kedai kopi. sekitar dua puluh tentara. Tentara tersebut berasal dari Rajwali. semua anak muda pergi ke Banda Aceh. Malaysia. Mereka kemudian memaksa orang-orang untuk bergabung dalam perayaan Hari Kemerdekaan. Batalion 113. Ada sekitar empat puluh tentara. sebelumnya mereka membangunkan kami melalui kepala desa dengan menggunakan mikrophon. Saya mendengar mereka bertanya pada anak-anak muda tersebut mengenai GAM dan memukul mereka. Kelompok anak muda sekitar tiga puluh orang. Medan dan Kuala Lumpur. Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia empat puluh tahun (nama disembunyikan). Jika TNI tidak menemukan GAM kami. Saya seorang laki-laki jadi Saya dicurigai menjadi GAM. Sekitar jam 8 malam. beberapa dari mereka menderita luka dalam. Mereka berasal dari usia sekolah sampai usia tiga puluh enam tahun. dan mereka dibawa ke lapangan sekolah di sebebelah.Seorang laki-laki lain memberitahukan Human Rights Watch kenapa dia datang ke Malaysia: Seluruh keluarga Saya tetap tinggal. Mereka tidak menemukan GAM maka mereka memukul Saya. satu perusahaan. perempuan dan anak-anak muda. satuan tugas Rajawali datang ke desa… Tanggal 17 Agustus (Hari Kemerdekaan Indonesia) TNI memasuki desa mencari GAM. Setiap hari ada perang antara GAM dan TNI. Sesaudah itu. diserang sebagai GAM. Malaysia. 23 Oktober 2003. 10 (C) . orang-orang. Mereka memulainya jam 5 pagi. Lebih dari seratus orang disana dari desa-desa (nama dihilangkan) di semua Kecamatan Mila. Kami dipisahkan antara laki-laki. 15. karena akan ada operasi di pegunungan. tetapi beberapa orang tua pingsan karena apa yang terjadi kepada anak-anak mereka. Vol. karena orang-orang yang tinggal di sekitar pos komando militer tingkat kecamatan tidak dipaksa untuk bergabung. tetapi sepuluh orang harus pergi ke rumah sakit.41 40 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia sembilan belas tahun (nama disembunyikan). No. Mereka datang ke desa. 41 19 Human Rights Watch. Dua kelompok lainnya tidak dipukuli. Saya anak satu-satunya.

15. hak mendasar yang ditemukan didalamnya dinyatakan sebagai bagian dari hukum adat internasional. Ini termasuk pelarangan eksekusi (extrajudicial executions). kebiadaban terhadap martabat seseorang. Yang juga dilarang adalah tindakan atau ancaman kekerasan terhadap penduduk sipil yang menyebarkan terror atau pemindahan penduduk sipil secara paksa tanpa keperluan militer.42 Pasal 3 yang lazim disediakan untuk perlakuan berperikemanusiaan terhadap orang sipil dan mereka yang tidak ikut ambil bagian secara aktif dalam permusuhan (termasuk penangkapan anggota pasukan senjata lawan). penyiksaan. Meskipun Indonesia bukan bagian dari Konvenan Internasional mengenai Hal-Hak Sipil dan Politik dan perjanjian hak asasi manusia yang penting lainnya.Pelanggaran Hak Asasi Manusia dan Hukum Kemanusiaan Pasukan Indonesia dan GAM di Aceh terikat oleh hukum kemanusiaan internasional (juga dikenal sebagai hukum perang). Human Rights Watch. dan eksekusi kilat. pada khususnya perlakuan penghinaan dan penurunan martabat. pasukan kemanan Indonesia sudah melakukan eksekusi extra judicial yang tidak diketahui jumlahnya terhadap orang sipil yang tidak bersenjata di Aceh. Terbunuhnya para pejuang dalam pertempuran dianggap sebagai pembunuhan yang sah secara hukum dibawah hukum kemanusiaan internasional.45 Sementara pembunuhan extra-judicial terhadap siapapun – tidak perduli orang sipil atau pejuang– adalah pelanggaran serius terhdap hukum internasional. perlakuan kejam dan penyiksaaan. penghilangan secara paksa. pengambilan sandera. Juga tersedia adalah Protokol Tambahan kedua tahun 1977 pada Konvensi Kovensi (Protokol II).43 Pembunuhan Diluar Hukum (Extrajudicial Killings) Kami terbiasa mendengarkan suara tembakan. —Laki-laki Aceh berusia delapan belas tahun. Suatu eksekusi extra-judicial (atau eksekusi kilat) adalah pembunuhan yang tidak sah menurut hukum dan disengaja atas seseorang oleh alat negara. 10 (C) 20 . 44 45 43 42 Wawancara HumanRights Watch (nama disembunyikan ). penghukukan tanpa peradilan yang adil. Vol. Yang selamanya dilarang adalah pembunuhan. Hak hidup dan kebebasan yang mendasar tidak boleh dilanggar. Hukum internasional hak asasi manusia berlaku selama konflik bersenjata internal. setiap saksi mata pembunuhan semacam itu di Aceh memberitahukan Human Rights Watch bahwa Indonesia menjadi bagian dari Konvensi Geneva tahun 1958.44 Sejak dimulainya Darurat Militer. upon. untuk dimana hukum yang diterapkan termasuk pasal 3 dalam empat konvensi Geneva pada tahun 1949 dan hukum adat perang. Meskipun Indonesia bukan bagian dari Protokol II. 28 Oktober 1992. Aturan dasar hukum kemanusiaan adalah bahwa penduduk sipil serta secara perseorangan tidak boleh menjadi sasaran penyerangan. bahkan selama keadaan darurat (state of emergency). banyak –kalau tidak bisa dibilang semua-pernyataannya merefleksikan hukum adat perang. No. dan pembatasan yang tidak perlu terhadap kebebasan bergerak. Jika tidak ada kami tidak bisa tidur. Konflik di Aceh dianggap sebagai konflik bersenjata non-internasional (internal). penangkapan dan penahanan secara sewenang-wenang. penyembelihan. Malaysia.

Pakaian seseorang sama sekali tidak berhubungan dengan keanggotaan mereka. Laporan Human Rights Watch vol. Aceh Utara menceritakan suatu peristiwa di bulan Mei: 46 Para pejuang GAM pada umumnya mengenakan seragam. “Di Aceh. Tiga orang lainnya menyaksikan tentara menembak ke arah orang sipil yang tidak membawa pada kematian secara langsung. meskipun angota-anggotanya memakai pakaian sipil ketika berada di daerah sipil. 47 48 Protokol II. Pembunuhan Kilat (Summary Killings) Selama Operasi Sweeping Hidup tidak mempunyai nilai disana. adalah pola yang muncul dalam serangan militer Indonesia terhadap pemberontak Aceh. 28 Oktober 2003. No.korban bukanlah anggita GAM. Sifat dasar yang umum dan disengaja dari pembunuhan semacam ini memberi kesan bahwa mereka mencoba mengirimkan peringatan untuk menghalangi penduduk desa untuk mendukung GAM.” The Age (Australia). No. Jika Saya menabrak ayam dengan mobil Saya maka Saya harus membayar.49 Seorang laki-laki Aceh dari Lhokseumawe. tidak bersenjata. Agustus 2001. 25 Mei 2003.” Mathew Moore. diikuti oleh pemukulan. Para keluarga boleh jadi diberatuhkan sesudahnya oleh para tentara untuk mengambil dan memindahkan tubuh korban untuk dikuburkan. Vol. secara khusus melarang “tindakan atau perlakuan kekerasan yang tujuan utamanya adalah untuk menyebarkan teror diantara penduudk sipil.4 (c). kemudian eksekusi kilat. Hal ini konsisten dengan temuan seorang jurnalis Australia yang mengunjungi lima desa dimana terdapat penembakan-penembakan dalam minggu pertama darurat militer. Nampaknya terdapat dua jenis ekesekusi yang baru-baru ini terlihat mengambil tempat di Aceh. 49 21 Human Rights Watch.46 Dari delapan puluh lima orang Aceh yang diwawancarai Human Rights Watch di Malaysia. Tiga orang lainnya menemukan mayat orang sipil (dalam dua kasus adalah anggota keluarga mereka sendiri) yang kurang lebih dekat dengan operasi militer. pasal 13. “Indonesia: Perang di Aceh”. Selama pembersihan ini laki-laki dipilih and ditembak. 15.48 Pembunuhan diluar hukum lainnya terjadi ketika pasukan keamanan mengambil seseorang untuk ditahan – dan mayat mereka kemudian ditemukan atau mereka tidak pernah terdengar lagi. serta tidak ada usaha untuk menyembunyikan eksekusi tersebut. 13. 10 (C) . Wawancara Human Rights Watch (nama disembunyikan). Jenis pertama secara khas terjadi ketika pasukan memasuki desa selama periode yang disebut sebagai “operasi sweepinga”. dan berpakaian sipil pada saat hukuman mati dilakukan. meskipun demikian mereka yang diwawancarai seringkali menyatakan dengan percaya diri bahwa tetangga atau kenalan mereka bukan anggota GAM.47 Jenis kedua pembunuhan yang terlihat adalah tembakan kepada orang sipil saat pasukan keamanan Indonesia meninggalkan tempat. Beberapa orang lainnya menggambarkan penculikan oleh TNI berakhir dengan kematian.” Lihat Human Rights Watch. tujuh orang secara langsung menyaksikan eksekuso kilat (summary execution) atas orang sipil oleh pasukan keamanan Indonesia sejak dimulainya darurat militer. Tetapi hidup seseorang –siapa yang membayarnya? —Laki-laki Aceh berusia delapan belas tahun. kematian mempunyai pola. sebelum pembatasan media diperketat: “Interogasi.

26 Oktober 2003. dan kemudian tentara lainnya memegang kakinya dan mengayunkannya ke arah pohon. setidaknya lima puluh tahun. Seorang yang dibawa pergi sudah tua. Mereka kemudian bertanya siapa yang terlibat dalam GAM. Dan lalu mayatnya diletakan di atas tanah dan tentara lainnya menembak beberapa kali kepada mayat tersebut. Tubuhnya dihancurkan. Yang kedua kurang lebih sama ceritanya. bulan Mei.dia Yusuf. Para tentara berkata bahwa dia adalah tersangka GAM. GAM semuanya ada di pegunungan. Seakan-akan lengannya berubah menjadi daging mentah. 23 Oktober 2003.Pada awal darurat militer. tetapi Saya melihat tubuh mereka langsung sesudahnya. Tiga orang tentara. Saya melihat tiga puluh petugas Brimob disana. 10 (C) 22 . Saya berada sekitar dua puluh meter dari sana. Mereka tidak mengancam para penduduk desa. umur tujuh belas tahun. Otaknya keluar dari kepala laki-laki terebut. Mereka tidak peduli siapa yang mereka beritahukan. Mereka sedang memeriksa siapa laki-laki tersebut kepada orang-orang. Mereka orang biasa. pukul 3 sore. Dia masih muda. 15. apa pekerjaannya? Mereka memeriksa namanya kepada orang-orang. No. Saya melihat salah satu dari tentara tersebut memborgol pergelangan laki-laki ini.50 Seorang berusia duapuluh lima tahun yang meninggalkan Aceh Selatan satu minggu sesudah darurat militer memberitahukan Human Rights watch mengenai minggu pertama darurat militer: Pada tujuh hari itu mereka terus membunuh orang-orang tak bersalah. “Kamu tahu siapa laki-laki ini?” Saya bilang “Ya”. “Kamu tahu siapa laki-laki ini?” Jika Kamu berkata kau tidak tahu siapa dia Kamu dipukul. sampai dia mati. Mereka bertanya kepada Saya. Para tentara di desa kami (nama disembunyikan). Pada awalnya Saya hanya melihat tiga tentara tetapi kemudian yang lainnya berganung. Lalu mereka menembaknya. 51 Human Rights Watch. Istri dari laki-laki pertama mengatakan bahwa mereka masuk dan bertanya pada suaminya apakah dia GAM. Begitulah dalam tujuh hari tersebut… Dua orang ditembak di rumah mereka dan seorang dibawa pergi oleh Brimob pada tengah hari. di awal dua puluh-an. Mereka menyeret laki-laki ini sepanjang jalan. Namanya Jamal. saat itu pagi-pagi sekali. Vol. Malaysia. Pada hari ke-empat. Namanya adalah Ibrahim dan dia berusia limapuluh lima tahun. tetapi para tentara tersebut selalu ada di desa mencari-cari GAM. Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh lima tahun (nama disembunyikan). Mereka bertanya kepada setiap orang.51 50 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia empatpuluh tahun (nama disembunyikan). Malaysia. Tentara yang menembaknya kemudian mengatakan kepada para penduduk desa disana untuk mengambil tubuhnya kembali ke desa. Saya sedang berada di rumah. Tentara tersebut melakukannya beberapa kali sehingga kepada laki-laki tersebut membentur pohon.

beberapa dari daerah sana dan beberapa dari luar. Mungkin jawabannya salah. dan dia mempunyai istri dan dua orang anak. Malaysia. pergi untuk mencari GAM di tempat lain. No. ada kejadian. Vol. Kakak Saya berumur tiga puluh lima tahun. sekitar duapuluh tahun-an. Malaysia. Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia dua puluh tahun *nama disembunyikan). sekitar duapuluh orang tentara yang terlihat. di belakang mereka Saya tidak tahu. sebuah M16. dia hanyalah orang biasa. dia bangun untuk mengambil wudhu sebelum sembahyang. Dari jam 6 pagi sampai 6 sore Kamu tidak bisa keluar. 10 (C) . Seorang tentara memanggilnya dan menanyakan sesuatu kepadanya. dia tidak bersenjata.53 Seorang laki-laki berusia duapuluh lima tahun yang juga dari Peureulak di Aceh Timur bercerita tentang penembakan kakak laki-lakinya pada akhir Juli: Sejak darurat militer dimulai segalanya menjadi panas. Ada lebih dari limapuluh orang. Jam 6 pagi. Saya segera bangun. Saya mau membawa tubuhnya kedalam tetapi Saya tidak bisa. Kakak Saya ditembak di rumah kami. Kakak Saya ditembak ketika dia sedang mengumpulkan rumput untuk sapi jam 6 pagi dua bulan yang lalu. Peureulak. menggambarkan pembunuhan di bulan Agustus: Sekitar dua bulan yang lalu (nama dihilangkan). Saya meninggalkan Aceh pagi berikutnya. Tentara lainnya lalu menembaknya di kepala dan lagi di bagian kanan atas tubuhnya dengan senapannya. Para tentara kemudian pergi. Saya tidak mendengarnya. Kamu tidak bisa keluar kemanapun.Seorang laki-laki di usia duapuluh-an memberitahukan Human Rights Watch mengenai eksekusi kakak laki-lakinya seminggu sesudah pernyataan darurat militer: Kakak Saya – dia hanya orang biasa – ditembak. Ada seorang laki-laki. Tentara-tentara datang ke kampung mencari GAM. Kakak saya sedang 52 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki di usia duapuluhan (nama disembunyikan). 31 Oktober 2003. Saya berada sekitar seratus meter jauhnya. Hanya ketika mereka pergi saya baru bisa melakukannya. Waktu itu pagi hari dengan sweepings GAM sebagai alasannya. Begitu tentara tersebut selesai menembak dia memerintahkan penduduk kampung untuk menguburkan tubuh tersebut. Ada beberapa jenis tentara disana. Aceh Timur. Saya sedang di rumah Saya. 15. tetapi pada akhirnya tidak ada GAM. Laki-laki itu bukan GAM. 26 Oktober 2003. Dia keluar dan mereka segera menembaknya. Tidak ada satu pun jadi mereka menembak warga kampung akhirnya. TNI memasuki kampung. 53 23 Human Rights Watch. Saya melihatnya melalui jendela. Mereka bertanya kepada penduduk di kampung.52 Seorang laki-laki dari Peureulak. tetapi GAM tidak ada disana. Mereka mencari-cari GAM. Saya melihatnya sendiri.

sampai jam 11. Apakah mereka berusaha melarikan diri semata-mata karena mereka takut diperlakukan tidak semestinya atau karena mereka anggota GAM tidak jelas. Saya sedang di sekolah ketika kami diperintahkan untuk berkumpul di lapangan sepak bolah dekat pantai. dia kakak Saya. Sesudah mereka keluar dari hutan mereka mengumpulkan semua orang. Saya berada jauh dari lapangan tersebut (dua puluh lima meter). 10 (C) 24 . Ada sekitar lima puluh orang. menggambarkan pembunuhan dua laki-laki yang tidak bersenjata dalam pakaian sipil: Pukul 5 di pagi hari TNI datang dan mengepung kampung. Orang-orang diberitahu untuk berkumpul oleh TNI. Dua orang dibunuh. Kami (berjumlah) sekitar 300 orang. dekat kandang. Malaysia. Sesudah para tentara pergi Kami menguburkan mayat mereka.mengumpulkan rumput untuk sapi. meskipun mereka bukan dari kampung kami. dua belas tentara keluar dari hutan di dekat sana. dan anggota GAM diminta menyerahkan diri. banyak penduduk desa. Anak laki-lakinya bilang bahwa dia melihat tiga tentara dengan samaran datang untuk melihat tubuhnya jam 6. Saksi menggambarkan kepada Human Rights Watch bagaimana beberapa laki-laki ini ditembak ketika berusaha melarikan diri. tetapi saksi 54 Wawancara Human rights Watch dengan laki-laki berusia tigapuluh lima tahun (nama disembunyikan).30.54 Human Rights Watch juga diberitahu mengenai dua peristiwa yang mana para penghuni dikumpulkan bersama untuk ditanyai dan membawa pada kematian. Sesudah itu kami ditanyai. Seorang tentara menembak mereka berdua dengan M16.55 Human Rights Watch mempelajari empat peristiwa ketika tentara Indonesia menembak laki-laki muda yang sedang berlari ke sawah atau hutan untuk menyembunyikan diri dari tentara selama operasi sweeping. sesudah dua jam. Malysia. “Siapa dia? Kalian tahu dia? Apakah dia GAM?” “Bukan. lari dan bersembunyi ketika tentara memasuki desa mereka. (Kejadian) ini sekitar dua bulan sesudah darurat militer. Saya ada di rumah. No. khususnya laki-laki muda. Tiga jam kemudian. Saya rasa mereka semua dari Kodim tetapi Saya tidak yakin. Seorang berusia dua puluh tahun dari desa di pinggir Lhokseumawe. 15. Orang-orang ditendang dan ditinju. 55 Human Rights Watch. Mereka menahan kami disana selama empat jam. Mereka bertanya.” “Kuburkan dia!” Lalu mereka kembali ke kota. di Aceh Utara. Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia dua puluh tahun (nama disembunyikan). Vol. Anak laki-lakinya datang ke rumah Saya dan bilang. Dia memakai seragam hijau dan topi hijau. Karena tingginya tingkat ketakutan di Aceh terhadap pasukan keamanan Indonesia. 31 Oktober 2003. 28 Oktober 2003. Kami tidak diperbolehkan mendekati mayat-mayat tersebut. Saya tidak tahu nama mereka karena mereka dari kampung lain. jam 9 pagi. “Bapak ditembak orang tak dikenal” Dia ditembak sekali di kepalanya dan sekali lagi di sebelah kirinya. Mereka menanyai kami tentang GAM.

Saya takut hal semacam itu akan terjadi kepada Saya. jadi Saya pergi keluar. Sesudah itu Saya pergi. Brimob. sehingga dia tidak bisa lari lagi dan dia terjatuh.sekitar jam 6. tiga strip lebih mengindikasikan prajurit kelas pertama. dan kami berlima bersembunyi di 56 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia dua puluh tahun (nama disembunyikan) Malaysia. . Tentara dengan menyamar datang dalam beberapa kendaraan: Kostrad. Saya sedang ada di rumah Saya dan Saya mendengar suara tembakan. Segera sesudahnya seorang tentara menembak kakinya. sekitar jam 9 pagi. sekitar waktu sembahyang. 25 Human Rights Watch. tetapi mereka mencurigainya sebagai GAM. 57 58 Meskipun terdapat variasi pasukan keamanan yang luas dan lencana yang hadir di Aceh. ditembak dari jarak tigapuluh meter. juga menggambarkan kematian lain hari tersebut: Seorang berusaha lari ketika kami pertama kali diberitahu untuk berkumpul. Dia bangun dan terus berlari. Malaysia. Wawancara Human Rights dengan laki-laki berusia empatpuluh tahun (nama disembunyikan). usia dua puluh tiga tahun.56 Seorang laki-laki yang tiba di Malaysia pada akhir bulan Mei mengggambarkan seorang laki-laki ditembak ketika melarikan diri: Saat itu lima hari sesudah darurat militer dimulai.58 Kami berlima lari melalui sawah menuju hutan. di Aceh Utara. satu bulan sebelum dia tiba di Malaysia: Jika Kamu lari Kamu ditembak. tetapi Saya lihat ketika keluarganya membawa mayatnya pergi. Saya rasa dari Jakarta. Mereka tiba khusus untuk darurat militer. Mereka tentara non-organik. Saya melihat mereka mempunyai tiga strip merah. 15. No. Seorang laki-laki berusia duapuluh tahun dari Peureulak. dia dari desa ini. Dia ditembak. Jika kamu tidak lari Kamu dipukuli… Seorang laki-laki bernama Simus. 10 (C) . Dia berusia sekitar tigapuluh tahun. Sesudahnya delapan orang tentara membawanya ke pos TNI di desa itu. Vol. kaki kananya.menggambarkan tampak sebagai lak-laki yang tidak bersenjata dan mengenakan pakaian sipil. yang menggambarkan (di atas) pembunuhan dua orang laki-laki sesudah para penduduk desa dikumpulkan.30 pagi atau sekitarnya. Dia bukan GAM. Aceh Timur. Laki-laki berusia dua puluh tahun dari desa di pinggir Lhokseumawe. Mereka menembaknya di pinggul – Saya hanya berada lima meter darinya. 31 Oktober 2003. di desa (nama dihilangkan). Sesudahnya dia dibawa ke pos untuk ditanya oleh TNI.57 Tidak semua penembakan membawa pada kematian. Saya melihat seorang laki-laki berlari ke sawah. Sesudah dua malam TNI membunuhnya di pos mereka. Mereka menggunakan topi biru. menggambarkan suatu peristiwa yang terjadi akhir September. Saya tidak melihatnya saat dia meninggal. 28 Oktober 2003. Kopassus.

seorang laki-laki memberitahu Human Rights Watch: Satu-satunya alasan Saya pergi adalah bahwa tidak ada jaminan keselamatan disana. Malaysia. dia mencoba bergabung dengan GAM hanya saja dicegah oleh keluarganya (termasuk kakaknya yang melawan GAM): Orang tua Saya dipukul pada 17 Agustus 2002 (Hari Kemerdekaan Indonesia). Tingkat pelanggaran hak asasi manusia yang serius di propinsi tesebut serta kekebalan hukum yang menyertainya mendorong orang-orang memihak kepada GAM.hutan selama tiga jam. Mereka melakukan sweepings. Mereka mencari GAM. emosi mereka dikeluarkan kepada orang sipil. penghilangan. Saya tidak lari. Seorang laki-laki berusia delapan belas tahun menjelaskan banwa sesudah dipukuli dan melihat orang tuanya diperlakukan tidak semestinya. dan dipaksa untuk bernyanyi. Itulah kenapa orang-orang bergabung dengan GAM –untuk balas dendam. tidak ada orang yang terkena. Saya hanya bersembunyi di pinggir hutan.60 Apakah dengan sengaja atau sewenang-wenang. 15. No. Tetapi bagaimanapun peluru –itu menjadi trauma. Jadi Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh tahun (nama disembunyikan). Kekerasan terhadap orang sipil sudah melewati batas. Penduduk Aceh menjadi semakin terpolarisasi. 10 (C) 26 . Saya sedang di desa di Perureulak. Kami sedang duduk. Dia takut pergi ke rumah sakit jadi kami bawa dia ke tabib tradisional yang bekerja dengan pusat kesehatan. minum kopi. hasil dari tingkat kekerasan terhadap penduduk sipil di Aceh ini sepertinya menghasilkan efek yang berlawanan dari apa yang militer nyatakan dari strategi operasi terpadu. Lalu kami kembali –TNI sudah kembali ke kota. untuk ekonominya. Malaysia. empat puluh tembakan? Mereka dari battalion non-organik dari Jawa. Mereka meyakinkan Saya untuk menyumbang dengan cara lain untuk Aceh. Mungkin TNI terlihat terlalu siap. inspeksi yang disertai “hukum militer”: pemukulan. 60 59 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh lima tahun (nama disembunyikan). 28 Oktober 2003. Jika tidak ada GAM.bukan karena kami bersalah tetapi hanya ketakutan. mungkin Kostrad. sehingga orang-orang ketakutan. Sebagai contoh ada penembakan di awal bulan ini (Oktober). 27 Oktober 2993. ketika mereka kembali. Militer bertindak diluar sasaran operasinya. tabib itu mengeluarkan pelurunya. Saya baik-baik saja. Vol. ditelanjangi. Saya mencoba bergabung saat berusia enambelas tahun tetapi kakak dan orang tua saya mencegah Saya. Mereka mengosongkan tempat peluru mereka –kira-kira berapa ya.59 Dalam peristiwa yang sama di Aceh Timur di awal bulan Oktober. Human Rights Watch. dua dari mereka. datang ke desa. Mereka mulai menembak. Orang-orang mulai berlarian. Tentara pergi keatas ke hutan.

Penculikan yang Membawa Pada Kematian Pembunuhan lain terjadi diluar penglihatan para saksi. Tujuh tentara. yang meninggalkan rumahnya di Banda Aceh sehari sebelum darurat militer. kamu mau memberikannya kepada GAM? Darimana kamu dapatkan ikan ini?” Anak itu menjawab. Vol. “Kamu pasti mau memberikan ikan ini kepada GAM. Pasar Ulee Glee. Tentara tersebut berkata. “Banyak ikannya.” Sesudah itu anak laki-laki tu benar-benar ketakutan.62 Dalam beberapa kasus mayat dibuang jauh dari rumah korban. anak laki-laki. Tujuh orang tentara memberhentikan seorang anak. “Tidak. 10 (C) . Saya mau pulang. Dia diancam dengan senjata. Selama dua hari kami tidak tahu dimana anak itu berada. membuat identifikasi menjadi sulit. Dia pergi ke pasar untuk membeli ikan untuk ibunya. Mereka tentara non-organik dan berbicara dalam bahasa Indonesia dengan logat Jawa. dan tubuhnya dipenuhi bekas-bekas merah. Ada sekitar limabelas orang tentara TNI disana. Ada luka tembak di dahinya. Seorang laki-laki berusia tigapuluh delapan tahun. 27 Human Rights Watch. Seorang laki-laki Aceh yang sudah tinggal di Malaysia selama lima tahun kembali ke Aceh di bulan Agustus selama beberapa minggu untuk mengunjungi ayahnya yang sakit. Bagian belakang kepalanya semuanya hancur.pada akhinya Saya hanya berdoa untuk kebebasan… Jika Kamu dipukuli tidak kah Kamu merasa butuh membalas dendam?”61 Masalah yang mendasar terletak pada kurangnya pertanggungjawaban di semua tingkat. Saya berhenti di jalan di pasar. 62 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh lima tahun (nama disembunyikan). Tujuh tentara tersebut mengenakan seragam samaran TNI. TNI menghentikannya. memeriksanya karena dia membeli ikan. dia benar-benar panik. No. Malaysia. Malaysia.” TNI menuduhnya dan mengancamnya. Kekebalan hukum tingkat tinggi yang ditingkatkan oleh selubung rahasia yang menyelubungi daerah konflik. Jawabannya tidak jelas. Hanya satu. yang lainnya tinggal di pasar. Dia anak kecil. 15. Ketika dia berada di Aceh dia menyaksikan tentara TNI menculik seorang anak laki-laki berusia lima belas tahun: Saat itu tanggal 4 September sekitar jam 10 pagi. 28 Oktober 2003. untuk membeli buah. Saya melihat mayatnya. Seorang tentara berkata kepadanya. bekas-bekas merah siksaan. 29 Oktober 2003. Saya mau memberikannya kepada ibu Saya. Dia masih usia sekolah. menjelaskan bagaimana keluarganya menemukan mayat adik lelakinya: 61 Wawancara Human Rights Watch dengan seorang laki-laki berusia delapan belas tahun (nama disembunyikan). tentara di lapangan yang melakukan tindak kekerasan dan pemerasan dengan hanya sedikit rasa takut akan dihukum. Jadi tentara tersebut membawanya dan melemparkannya ke truk militer. mungkin sekitar limabelas tahun. Kemudian mayat anak itu muncul dipinggir jalan.

5 November 2003. dan dibawa ke Koramil.” September 2003. dan di pagi hari dia pergi dan menemui Palang Merah Indonesia di rumah sakit untuk mengambil mayat tersebut dengan ambulans. Dia ditahan dari rumahnya oleh TNI. dan pembunuhan kilat. Wawancara Human Rights dengan seorang laki-laki berusia enampuluh lima tahun (nama disembunyikan). keduanya untuk tebusan dan alasan politik. Dalam kasuskasus lainnya mereka tidak pernah terlihat lagi. 65 66 Human Rights Watch. penghilangan secara paksa seringkali terjadi sesudah pasukan kemanan atau orang-orang bersenjata tak dikenal mengunjungi sebuah ruamh di malam hari dan membawa korban pergi dengan kendaraan.63 Penghilangan Secara Paksa (Forced Disappearances) Selama tahun-tahun panjang konflik di Aceh. Kontras Aceh. Dua hari kemudian mayatnya ditemukan di sawah. Jika tidak. dianiyai atau dibunuh. 64 “Penghilangan” terjadi ketika penguasa menahan seseorang secara diam-diam dan tanpa pemberitahuan serta menyangkal bahwa orang tersebut dalam penahanan mereka. Jika mayat tersebut dapat diidentifikasi maka akan dibawa ke keluarganya. Malaysia. 10 (C) 28 . GAM mempunyai sejarah melaksanakan penculikan. menutupinya dengan pakaian. 15. (Nama dihilangkan) berumur duapuluh enam tahun.Adik lelaki Saya terbunuh dua bulan lalu di Aceh Utara. 29 Oktober 2003. Sementara dalam banyak kasus para pelaku digambarkan sebagai orang tak dikenal. Seorang saudara yang tinggal di desa dimana mayatnya ditinggalkan menemukannya dan mengenalinya. Praktek ini secara pouler digambarkan sebagai ambil malam.66 Seorang laki-laki berusia duapuluh tiga tahun dari Bireun menjelaskan: 63 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia tigapuluh delapan tahun (nama disembunyikan). Orang yang ditahan dengan cara demikian seringkali disiksa. dalam beberapa kasus anggota keluarga atau tetangga dapat mengindentifikasikan mereka. Saya memperoleh informasi ini dari keluarga Saya ketika Saya menelepon rumah. Dia membawa mayatnya secara diam-diam ke rumahnya. Perang Kotor yang Tidak Terungkap. No. “Makalah Ringkas tentang Aceh: Propinsi Aceh. Sebagaimana hal itu didefinisikan dibawah hukum internasional. pasukan keamanan Indonesia telah seringkali tersangkut “penghilangan”64 Organisasi kemanusiaan Indonesia Kontras cabang Aceh melaporkan bahwa dari tanggal 19 Mei sampai dengan 18 Agustus terdapat tujuhpuluh delapan penghilangan secara paksa orang sipil. mayat tersebut akan dibawa ke rumah sakit atau klinik dan istilah yang digunakan oleh keluarga korban adalah saudara yang hilang. Malaysia.65 Di Aceh. di depan istrinya. meskipun mereka mewaspadai bahwa pelarangan terhadap monitoring menandakan bahwa perkiraan tersebut bisa jadi lebih rendah. Vol. Seorang laki-laki dari daerah pesisir di Pidie menjelaskan bahwa ketika warga menemukan mayat mengapung di tepian pantai mereka memanggil Palang Merah Indoensia untuk mengevakuasinya. tanggal 27 Agustus 2003. Sementara aktor non-negara tidak bisa secara teknis melakukan “penghilangan”. Seringkali mayat mereka yang “hilang” ditemukan di pinggir jalan atau di sawah berhari-hari atau berminggu-minggu kemudian.

Commander Operasi Militer di Aceh. Lely Djuhari. dan mereka yang melanggar peraturan pertempuran (rule of engagement) ini akan harus berhadapan dengan Saya. November 2003.” Associated Press. Mereka mengenakan samaran. Selama dia mampu berfungsi sesudah ditanyai. Tiarma Siboro. —Mayor Jendral Bambang Damono. 31 Oktober 2003. Sampai saat ini dia tidak pernah kembali. Saat itu ada bermacam-macam tentara. Saya berada di rumah sebelahnya. Wawancara Human Rights Watch (nama disembunyikan). Delapan orang tersebut tidak pernah terlihat lagi sejak saat itu – kami tidak tahu apa yang terjadi kepada mereka. Saya melihat sekitar limabelas tentara TNI membawanya dari rumahnya.” The Jakarta Post. Rumah Saya sangat dekat dengan ruamhnya. Itu tidak masalah. Jika itu adalah siksaan berat yang menyebabkan seseorang menjadi cacat… itu adalah tidak-tidak.67 Seorang laki-laki dari Pidie memberitahu Human Rights Watch: Saat itu lima hari sesudah darurat militer dimulai. Mereka adalah tentara yang baru saja tiba di Aceh untuk darurat militer ini. dan beberapa dari mereka mempunyai strip merah. 10 (C) . bulan Agustus. 28 Oktober 2003. 69 70 29 Human Rights Watch. Mereka membawanya ke dalam truk TNI dan membawanya ke pos TNI. satu persatu. 2 November 2003. Saat itu sekitar jam 5 pagi dan Saya mendengar ketukan yang keras di pintu.Situasi sekarang sangat menyeramkan. Malaysia. 3 June 2003. No. Seluruh kejadian itu hanya memakan waktu mungkin sekitar tiga pluh menit. Vol. Lalu Saya dengar seseorang menanyakan pada teman Saya (nama disembunyikan) mengenai kartu identitasnya. Malaysia. Kejadiannya sekitar dua bulan yang lalu. 2 June 200369 Sebagai contoh. ada Kopassus dan beberapa memakai topi hijau.70 67 Satu strip merah sepertinya berhubungan dengan tingkat jabatan prajurit.68 Siksaan Fisik Tidak ada bedanya jika mereka anggota GAM atau bukan: tidak satupun dari tentara Saya yang berhak memukul mereka… Tentara Saya datang ke Aceh untuk melindungi orang sipil. “Pengadilan Aceh akan Mengadili 7 prajurit. Mereka membawa delapan orang malam itu. 15. semuanya laki-laki. 68 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh tahun (nama disembunyikan). sehingga Saya bangun dan melihat melalui jendela. tentara Saya menghantam tersangka di wajahnya. “Komandan di Aceh Menyangkal Tuduhan Penyiksaan. —Mayor Jendral Bambang Darmono. Setiap orang di desa yang dicurigai dibawa pergi di malam hari… Saya melihat seorang laki-laki dibawa pergi dari rumahnya hanya mengenakan pakaian dalam dan dimasukan kedalam truk. Saya pergi keluar ke pinggir lapangan dan menonton tiga truk tentara masuk ke desa. Kami tidak tahu siapa mereka. Saya tidak tahu lagi dimana dia.

atau untuk mengirim peringatan kepada penduduk desa. Suatu waktu seluruh orang didalam satu area berkumpul bersama. Setiap orang harus berlatih. Jika Kami sedang duduk-duduk seperti ini di Aceh. Banyak kekearan ditujuan kepada orang sipil nampak diimaksudkan untuk mengidentifikasi anggota dan pendukung GAM. Sesudahnya kami dibariskan dan diperintahkan untuk melakukan latihan (melakukan lari di tempat). tujuhpuluh dua orang dibawa ke rumah sakit umum di Sigli. jika Kami bilang “tidak” Kami mendapatkannya. perempuan. Seorang laki-laki yang tiba bulan Oktober dari Pidie menggambarkan peristiwa dimana TNI dan Brimob mengumpulkan dan menyerang penghuni. kakek berusia sembilan puluh tahun. 26 Oktober 2003. “Apakah ada GAM?” Jika kami bilang “Ya” Kami mendapatkannya [pukulan]. Banyak orangorang Aceh yang dianiyai kami minta bicara untuk menjelaskan apakah mereka melakukan atau tidak sesuatu yang salah atau tak salah. No. Mereka memerintahan orang-orang untuk tiarap dan memukul dada dan 71 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh enam tahun (nama disembunyikan). 10 (C) 30 . 15. dari beberapa desa. Artinya kami mati. Seorang laki-laki yang meninggalkan Aceh bulan Agustus menjelaskan: Jika Saya tinggal di Aceh. Kamu akan dipukuli sampai mati.30 pagi sampai dengan jam 2 sore. kekerasan terhadap orang sipil terjadi hanya sebelum atau sesudah operasi militer di daerah GAM. Saat mereka membolehkan kami beristirahat. bersalah atau tidak Saya dihajar. Menjawab “Saya tidak tahu” dan Kami mendapatkannya juga. tua dan muda. Brimob akan bertanya kepada kami. Mereka mengumpulkan 300 orang dari satu daerah pemukiman tersebut –ada tiga atau empat desa.71 Dalam beberapa instansi. Korban seringkali digambarkan diinterogasi dengan tuduhan “Kamu adalah GAM!” atau pertanyaan “Siapa yang GAM? Dimana GAM?” Sering kekerasan ini terjadi selama operasi sweepings di desa-desa. Dalam kasus-kasus lainnya kekerasan nampak menjadi sangat sewenang-wenang. dua diantaranya membawa pada kematian: Kami dipukuli secara terus menerus. Malaysia. Mereka bermalam disana tetapi kami semua dilepaskan kemudian. berdasarkan tegangnya tingkah dan kecurigaan tentara dan petugas polisi.Banyak orang-orang Aceh yang diwawancarai oleh Human Rights Watch menggambarkan tindakan kekerasan yang dilakukan pasukan keamanan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Human Rights Watch. Pertama kali tanggal 13 Juni 2003. seperti selama pencarian rumah-ke-rumah atau ketika para penghuni diperintahkan untuk berkumpul di tempat tertentu. Dua kali ini terjadi. anak-anak. Vol. mengindikasikan ketidaksabaran atau ketakutan terhadap sasaran yang suka dipahami dan kegagalan untuk membedakan antara orang sipil dan oposisi bersenjata. Jika Kamu tidak mau berlatih. Hal ini terjadi dari jam 9.

muka mereka. Rajawali. Paddock. Saya hanya berada empat meter dari mereka yang terbunuh. Lima orang pemilik toko lainnya adalah (nama dihilangkan). Rajawali dari Jawa.” Los Angeles Times. mereka berduabelas. 31 Mei 2003. 20 Oktober 2003. Malaysia.74 72 73 Wawancara Human Rights Watch (nama disembunyikan). angkat tangan. Mereka bukan GAM. Mereka bilang itu karena Kami mempunyai radio untuk berkomunikasi dengan GAM. Paling banyak Kamu cuma bisa melirik lama. menanyai mereka.: Kopassus. No. Rajawali yang melakukannya. Mereka memukuli badan Saya dengan senjata mereka. Hal ini berlangsung dari jam 5 sampai jam 7 malam. dan dipaksa untuk telanjang. usia 32 tahun. Malam itu kami membiarkan lampu menyala.73 Seorang berusia empatpuluh tahun dari Pidie yang tiba di Malaysia bulan Oktober sesudah dua bulan di Medan menggambarkan peristiwa dalam minggu-minggu sebelum dia meninggalkan Aceh: Jam sepuluh pada suatu malam Kami semua pemilik toko diberitahukan untuk mematikan semua lampu. dan kami semua dipukuli. GAM sudah pergi ke tempat lain. Wawancara human Rights Watch dengan laki-laki berusia empatpuluh tahun (nama disembunyikan). Mereka terlihat sebagai GAM. tetapi Saya tdiak bisa melihat kepada mereka secara langsung. 5 Nopember 2003. Laporan media telah memerinci peristiwa yang sama yang mana sekelompok besar laki-laki dan perempuan ditanyai dan dipukuli dan satu atau dua orang laki-laki dipisahkan dan ditembak. dan Muhammad Ali. kami semua orang biasa. “Siapapun yang GAM. dan menendang kami. usia 21 tahun. Kami dikumpulkan di pos penjagaan terdekat oleh para tentara. barisan perempuan GAM. Umar Bin Usman. Angkatan Laut. dan memukul mereka dengan uujung senapan. Mayat mereka dikembalikan kepada keluarga mereka dan dikuburkan. Kami berduapuluh termasuk para pelanggan yang kebetulan berada disana. Hari berikutnya kami dipukuli karena mematikan lampu! Enam pemilik toko dipukul. “Separatis Perang Indonesia Menuntut Para Pemuda. Dua oranng meninggal di tempat. 10 (C) . Para tentara adalah campuran. Mereka semua memukul kami seakan-akan kami kerbau air. jadi kami lakukan. 74 31 Human Rights Watch. Brimob. kami berenam semuanya dipukuli. tetapi itu tidak ada. 15. Dua orang yang meninggal diinjak di dada dan leher.” Tidak ada satupun.72 Laki-laki tersebut melaporkan bahwa tiga minggu kemudian operasi bersama TNIBrimob yang lain membariskan para laki-laki. gigi mereka dijotos oleh tentara Kostrad. Mereka menghancurkan kuku jempol Saya dengan kakatua – lihat? Mereka menaruh jempol jari kaki Saya dibawah bangku dan menekannya ke bawah – yang ini sudah tumbuh kembali. Mereka bilang. mungkin karena mereka bertubuh besar. Orang-orang ini adalah BKO. Vol. sementara tujuh orang perempuan dituduh sebagai inong balee. Lihat Richard C. dan Saya meninggalkan Aceh sepuluh hari kemudian.

Lalu mereka menyiramkan air kepada Saya untuk membangunkan Saya dan Saya ditendang lagi. Saya dibawah ke sebuah rumah kosong. lalu kembali ke Pidie. Hanya berusaha mencari makan. Mereka tidak berseragam. dua puluh orang dikumpulkan bersama (oleh TNI) dan dipecah dalam empat kelompok. 10 (C) 32 .” Mereka tidak peduli. Orang-orang yang memukul Saya adalah marinir. Mereka dibawa ke pegunungan untuk mencari GAM. dan dua marinir berdiri di atas tangan Saya sementara seorang menginjak leher Saya. “Ya. “Siapa di desa yang GAM?” Mereka mencoba memaksa Saya untuk mengindentifikasi mereka. Mereka melakukannya sampai Saya pingsan. mereka bertiga. Malaysia. Saya baru tiba di pantai ketika beberapa marinir bertanya pada Saya. No. Saya baru saja kembali dari laut dalam kapal ikan Saya. Saya bahkan tidak bisa menjawab pertanyaan mereka lagi. Saya tidak ingat berapa kali. tapi mengenakan kaos hijau bertuliskan Marinir di punggung. Banyak orang dipukuli hari itu. memang ada!” Sesudah dua jam Saya dibebaskan. dan celana panjang seragam. Mereka selalu menaruh kami orang biasa di depan. tetapi tidak ada seorang pun yang dapat Saya beritahukan kepada mereka. 15. dan sesudah mereka kembali TNI memukuli banyak orang. Vol. mengambil barangbarang Saya dan pergi hari itu juga. Saya beritahukan mereka begitu tetapi mereka bilang. Mereka tidak melihat pertanda apapun dari GAM.Seorang laki-laki berusia duapuluh dua tahun dari Pidie menggambarkan peristiwa dari awal September dimana orang sipil dipaksa untuk mengambil bagian dalam operasi militer: Suatu waktu pada jam 4 pagi. Sesudah dua malam mereka kembali.75 Seorang laki-laki berusia duapuluh delapan tahun yang tiba di akhir Agustus dari Aceh Timur menggambarkan konsekuensi ditangkap tanpa KTP Merah Putih (lihat dibawah). Mereka bertanya kepada Saya.” “Memberi makan kepada GAM?” “Tidak. Tujuh hari kemudian Saya pergi ke Banda Aceh untuk mendapatkan paspor. mencari ikan. Peristiwa ini juga mengilustrasikan kombinasi pemerasan dan kekerasan yang sudah menjadi hal biasa di jalanan dan toko-toko di Aceh: Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh dua tahun (nama disembunyikan). sementara teman Saya dari kapal yang sama dipukuli diluar rumah. 75 Human Rights Watch. Mereka membuat Saya tiarap. “Kamu darimana?” “Dari laut. 29 Oktober 2003. termasuk Saya. sekitar jam 8 pagi.

Rp 500. Dia lupa membawa KTPnya.77 Seorang laki-laki dari Bireun yang meninggalkan Aceh ke Malaysia di pertengahan Oktober memberitahu Human Rights Watch: Bulan Mei jam 8 pagi di desa dekat rumah Saya.76 Kekerasan juga terjadi selama pencarian di rumah. Mereka datang jam 9 pagi. 31 Oktober 2003. Seorang laki-laki berusia duapuluh tiga tahun dari Bireun menggambarkan apa yang terjadi bulan September: Brimob pernah datang ke rumah Saya.000 (US$ 60). adik Saya dan Saya. dan tentara sedang memeriksa. seperti sedang mabuk. Kami sekelompok membawanya dengan truk ke Rumah Sakit Simpang Ulim.” Di jalan terdapat tulisan yang bilang. Dia bilang mereka bertanya apakah dia GAM dan dia bilang bukan. “TNI tolong jangan pernah berada di Aceh 76 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh delapan tahun (nama disembunyikan).Saya melihat seorang teman Saya dipukul. Kami membawa adik Saya ke dokter dan ke dukun patah. Vol. dan dia berikan kepada mereka. mengambil satu juta rupiah (US$120) dari bawah kasur. dalam usaha yang nampak untuk mengitimidasi atau memperoleh informasi. Dia hanya mempunyai Rp 100. dan Brimob datang dari pos mereka di desa sebelah ke toko untuk membeli makanan. dan dia diperintahkan untuk duduk di pantai. Saya lari dan bersembunyi di dalam hutan. dan mungkin lima orang terlibat memukulnya. ketika orang-orang sedang berebelanja. Saat itu 28 Agustus. Ketika kami membawanya ke rumah dia masih pusing-pusing. Ketika Saya melihat mereka datang. Ketika mereka masuk adik Saya sedang duduk di lantai menonton TV. dengan dua truk. 10 (C) . Saya duga untuk mencari senjata. Sekitar jam 9 malam. Dia dipukul di kepala dia terjatuh. Dia satu-satunya yang tidak membawanya. dan mereka menendangnya tiga kali di kaki. mematahkannya. Lalu mereka meminta uang darinya. Ada kami bertiga di rumah – ibu saya. Mereka membiarkannya bangun. kami membawanya pulang. Saya sedang duduk di kedai kopi dengan teman Saya. Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh tiga tahun (nama disembunyikan). Ketika mereka tiba mereka bertanya pada Saya. Malysia. No. 77 33 Human Rights Watch. TNI datang. Mereka merampok rumah. “Saya tidak tahu. Mereka berduabelas.000. Ketika dia jatuh mereka menendangnya di punggung. sekitar jam lima. Mereka memukul adik laki-laki Saya. Ada sekitar tigabelas tentara. 15.. Saat itu sudah senja hari. Malaysia. 31 Oktober 2003. Saya hanya bicara dengan keluarga Saya lewat telepon dan adik Saya masih belum baik. dan lalu mereka pergi membeli makanan. karena dia berdarah dari luka dikepalanya. Saya melihat hal ini terjadi kepada teman Saya dan Saya pergi pagi berikutnya jam 7. “Siapa yang menulis ini di jalan?” Saya bilang. Mereka masuk ke toko dan menanyakan KTP setiap orang. Mungkin mereka pikir dia GAM.

Saya bukan. Saya bilang. 80 79 Human Rights Watch. satu yang khusus untuk darurat militer. Saya melarikan diri ke Malaysia.79 Penahanan Secara Sewenang-wenang dan Ketiadaan Proses Pengusutan Banyak dari mereka yang tertangkap karena dicurigai kenggotaan atau dukungannya terhadap GAM sepertinya diadili atas tuduhan makar. Saya tidak melakukan kesalahan apapun. Dia mengikat tangan Saya dibelakang punggung dan memukul Saya langsung karena Saya tidak memberitahunya dimana GAM berada. Mereka juga mengambil cincin dan uang Saya.” Belasan tentara lalu menembakan senapan mereka ke udara. 4 desember 2003. 10 (C) 34 .78 Seorang laki-laki dari Aceh Timur memberitahu Human Rigths Watch: Saat itu dua hari sesudah darurat militer dimulai. Mereka pergi sekitar jam 10. memeriksanya dan lalu berkata bahwa Saya GAM. No. Saya bilang.016 kasus kepada kantor kejaksaan.” Laksamana. “120 Napi GAM akan dipindahkan ke Jawa” Serambi.” Dia bilang. Pendengaran Saya rusak dari saat mereka menembakan senjata mereka ke udara.” dan lalu Saya dipukuli. Salah satu dari mereka menghentikan Saya di jalan. 9 Nopember 2003. “1. “Bukan. Malaysia. Saya hanya punya mereka yang tidak melakukan kesalahan yang tinggal untuk dipukul. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi suatu hari jka Saya tidak bisa lari lagi. “Kenapa Kamu memukuli Saya. “GAM Masih Kuat. Itu adalah Batallion Siliwangi yang biasanya berlokasi di Pos Peudada. Vol.80 78 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia tigapuluh dua tahun (nama disembunyikan). Dalam pernyataan awal militer mengatakan bahwa mereka sudak membebaskan 145 tersangka karena kurangnya bukti. Mungkin sekitar jam 10 pagi.net. Wawancara Human Rights dengan laki-laki beruisa duapuluh tiga tahun (nama disembunyikan). 1. “PDMD Tentukan Amnesti Anggota GAM. Malaysia. Sekitar sepuluh orang dipukuli tetapi Saya satu-satunya yang diikat. Aceh Utara. Muka Saya berdarah. Pusat Penerangan TNI. termasuk 912 pejuang dan 416 pendukungnya. Sesudahnya tiga tentara memukul Saya. daan 561 sudah dijatuhi vonis. Dia menendang Saya di dada. Saya tidak tahu kenapa. Tujuh kali. tanggal 30 Agustus.” Sinar Harapan. Mereka benar-benar dekat dengan Saya.338 anggota GAM ditahan. Penguasa militer sudah memasukkan 1. Setidaknya 500 ditemukan bersalah dan dijatuhi hukuman.” Sesudah ini terjadi. Bukan pos yang biasa. 15. Saya sedang sendirian di jalan menuju ke toko. “Semua orang yang sudah melakukan kesalahan sudah melarikan diri. Ada banyak tentara di jalan. 20 Oktober 2003.338 Anggota Pemberontak GAM Ditahan. 24 Oktober 2003 Anggota Batalion Siliwangi yang dituduh dan dibebaskan di pengadilan militer karena pemukulan di Dewantara. Ketika dia sedang memukuli Saya. di depan dan belakang.” 4 Desember 2003. Saya dibawa ke rumah sakit oleh orangorang di desa.lagi. Mereka membuka baju dan celana panjang Saya dan mengikat tangan Saya dibelakang punggung dengan tali. 13 November 2003. Mungkin sekitar seratus orang. Mereka menanyakan KTP Saya. Kantor penerangan TNI melaporkan bahwa sampai tanggal 4 Desember.

tetapi tidak mengeluarkan surat perintah. seorang laki-laki berusia delapan belas tahun dari Aceh Besar memberitahukan Human Rights Watch: Pada bulan September Brimob datang ke desa dan mengambil seseorang. Berhasil Ciptakan Ketergantungan Sipil pada Militer.” Associated Press. 22 November 2003. 26 Oktober 2003. Pengacara bantuan hukum dalam artikel tersebut memperkirakan bahwa 40 persen terdakwa tidak mempunyai akses ke pengacara.” Associated Press.84 Lajunya langkah dan tingginya jumlah kasus. 84 35 Human Rights Watch. Wawancara Human Rights Watch dengan seorang laki-laki berusia delapan belas tahun (nama disembunyikan). Dia ditutup matanya dan tangannya diikat. 15. dalam propinis dengan beberapa pengadilan yang bekerja. “Komandan Aceh menyangkal tuduhan penyiksaan. Dia berusia tigapuluh lima tahun dan mempunyai dua orang anak yang masih muda. Mereka membawanya ke Kodim di Jambu Tape. Mereka membawanya jam 8 pagi. 20 Oktober 2003. No. Dia seorang tetangga dan Saya melihatnya. Orang ini adalah orang biasa –tidak kaya atau miskin.Organisasi non-pemerintah Kontras sudah melaporkan bahwa banyak dari mereka yang ditahan telah dituduh dengan tuduhan makar.81 Seorang anggota Lembaga Bantuan Hukum di Aceh melaporkan banyak orang yang ditahan yang mereka wakili menyatakan bahwa mereka tidak lebih daripada membelikan kopi untuk pemberontak.83 Mereka yang diwawancarai menggambarkan banyak kasus dimana polisi atau TNI secara tiba-tiba datang dan membawa pergi seseorang atau beberapa orang. Tidak diketahui 81 Suatu penangkapan atau penahanan adalah sewenang-wenang ketika dilakukan oleh penguasa negara tanpa dasar hukum yang sepatutnya dan untuk melakukan hal tersebut. Mereka juga melaporkan bahwa delapan puluh klien mereka menderita penyiksaan selama ditanyai dalam penanganan militer atau polisi. Sampai sekarang tidak ada tanda-tanda dia akan dibebaskan. menimbulkan perhatian kepada proses pembelaannya. menghadiri beberapa pertemuan. 10 (C) . Malysia. Kontras. atau membantu menguburkan tersangka pengacau. Kontras juga melaporkan bahwa sampai dengan tanggal 18 Agustus terdapat 213 kasus penangkapan dan penahanan secara sewenang-wenang.” Press Release. “5 Bulan Darurat Militer. hanya orang biasa. 83 82 “Tersangka Pemberontak Indoneisa Memberitahukan Teror di Rumah Tahanan. “Makalah Ringkas tentang Aceh. Saya tidak tahu kenapa –mungkin mereka mendapatkan suatu informasi dari seseorang. Mereka datang dengan truk berisi tigapuluh lima orang. dan bahwa pengadilan selama 1 jam tersebut terjadi tanpa pengacara pembela atau saksi dan menghasilkan hukuman paling banyak lima tahun. 7 Desember 2003. Vol. Kontras Aceh.82 Dalam wawancara di rumah tahanan.” September 2003. dan diperkirakan bahwa sampai bulan Oktober hanya seratus orang yang mampu memperoleh bantuan hukum. Perang koto yang Tidak Terungkap. para terdakwa mengatakan kepada seorang jurnalis bahwa mereka mengalami penyiksaan selama interogasi. Sebagai tambahan kasus yang dikutip diatas. Propinsi Aceh.

Dia memberitahukan Human Rights Watch: Sekitar jam 10 malam. Saya sudah tidur. jam 3 sore nasi. Komandan militer memberitahu istri Saya bahwa jika Saya kembali ke desa hari berikutnya dia akan dilepaskan… Dia benar-benar tidak tahu apa salah yang sudah dia lakukan. Didalam kijang tersebut. Saya membayar sepuluh juta rupiah (US$1200) sebelum akhirnya mereka membiarkan Saya bebas… kepada kepala Koramil. kepada Komandan operasi Aceh Selatan… Di Koramil terdapat banyak orang dari desa. Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia tigapuluh tujuh tahun (nama disembunyikan). Seorang perempuan dari Aceh Selatan mengatakan bahwa dia ditahan bulan Oktober oleh militer. Dia meminta lebih tetapi tidak ada uang lagi. 5 Nopember 2003. Saya hanya orang dusun biasa. mereka hanya datang dan menangkapnya… Ketika mereka menangkapnya Saya ada di kebun Sebelum Saya kembali ke desa Saya mendengar apa yang telah terjadi jadi Saya tidak kembali. tidak ada peristiwa apapun. “Suamimu ada disini?” Saya bilang. Saya tidak tahu dimana dia. beberapa laki-laki. Beberapa dari mereka sangat kecil dan juga seorang laki-laki tua yang sedang sangat sakit. 86 Human Rights Watch. kurangnya informasi dan waktu tambahan yang disediakan oleh kerangka hukum darurat militer.sampai tingkatan apa tahanan diproses sehubungan dengan hukum. tetapi masih ada yang lainnya di luar rumah. Keluarga saya sudah memberikan delapan juta rupiah (US$940) kepada Komandan polisi militer di Bireun. Dua tentara tersebut mengetuk pintu “buka pintu!” Keduanya membawa senjata. Jam 10 pagi Kami mendapatkan nasi dan ikan. 15. dan menahannya tanpa tuduhan di Koramil lokal. Malaysia. sekitar 300 orang. Para tentara tersebut berkata pada kami. “Dia tidak ada disini. 10 (C) 36 . Malaysia.” Saya bukan GAM. “GAM tidak bisa diberikan sesuatu yang baik. anak-anak perempuan. 26 Oktober 2003. Mereka bertanya kepada Saya. (nama disembunyikan). perempuan. malam hari kadang-kadang nasi. kami dibawa ke Koramil. tidak diperbolehkan untuk membuat makanan yang enak. Ada tigapuluh sembilan tentara dan Brimob dari Jakarta. Ketika mereka menangkapnya mereka membawanya ke Samalanga.85 Seorang laki-laki lain memberitahu Human Rights watch mengenai penangkapan istrinya bulan September: TNI menangkap istri Saya tanpa alasan apapun… Sekitar jam 8 pagi.86 85 Wawancara Human Right Watch dengan perempuan berusaia tigapuluh tahun.” Mereka membawa Saya langsung ke Koramil dengan kijang. dua orang tentara datang ke rumah Saya dengan senjata. Vol. sampai sekarang. Salah satu teman saya ada didalam bersama dengan tujuh anaknya. Beberapa hari tidak ada nasi. No.

com. tertinggal. siapapun yang berada diluar daerahnya ketika persyaratan baru diterapkan menghadapi resiko saat bepergian kembali ke rumah. Mereka yang tidak mempunyai KTP baru menjadi target kekerasan secara khusus dan harus membatasi gerakan mereka secara berarti. disusul dengan inspeksi besar dan operasi penegakan yang dimulai 1 Agustus. bukan normanya. penduduk Aceh sekarang diwajibkan untuk memperoleh kartu merah dan putih khusus. Pengeluaran kartu identitas tidak bertentangan dengan hukum internasional. dan dibatasi untuk apa yang penting dan sebanding.” The Jakarta Post. Kartu Tanda Penduduk merah putih.90 87 88 Nur Raihan. pembatasan kebebasan bergerak apapun oleh pemerintah untuk alasan kemanan harus mempunyai dasar hukum yang jelas.89 Pernyataan Menteri Luar Negeri menjelaskan bahwa tertanggal 10 Agustus. Darpada kartu identitas Indonesia biasa yang diwajibkan seara nasional. Dimaksudkan untuk menegakkan kesetiaan kepada negara Indonesia. Departemen Luar Negeri. Tertini ZB Simanjuntak. memungkinkan mereka melalui sweepings tanpa terdeteksi. 29 May. tidak pernah mendapatkannya. Betapapun. 2003. 28 Juli 2003. atau diambil oleh GAM atau pasukan keamanan Indonesia. Itu adalah warna bendera Indonesia. Meskipun mereka membutuhkan KTP baru untuk bergerak secara bebas. sampai batas akhir penutupan.” 4 Desember 2003. Pada akhir Juli kepala sebuah Kabupaten memperkirakan bahawa hanya 60% dari penghuni yang mempunyai kartu baru dan bahwa dia tidak akan bisa menyelesaikan pekerjaannya pada akhir bulan tersebut tanpa bantuan dari polisi dan militer. seperti yang terjadi di Timor Timur 1999. banyak orang-orang Aceh masih belum menerima kartu-kartu mereka sampai kini. Pusat penerangan TNI. Dalam prakteknya. 10 (C) . persyaratan kartu identitas baru mempunyai pengaruh yang berarti terhadap orang-orang Aceh yang kartunya sudah hilang. No. Mereka yang tidak datang lalu dianggap sebagai anggota GAM.338 Anggota Pemberiontak GAM ditahan. simbol tersebut kemudian lebih dikaitkan dengan kondisi penindasan. ABRI mengumumkan bahwa 95 persen penduduk Aceh sudah memenuhi persyaratan untuk mempunyai kartu identitas baru.88 Batas akhir untuk mempunyainya ditentukan tanggal 31 Juli. Sebagai orang yang hanya bisa mendapatkan kartu di daerah tempat tinggalnya. motif lainnya yang penting adalah untuk memaksa semua orang Aceh untuk datang sendiri ke depan petugas. 89 90 37 Human Rights Watch. “Tujuhpuluh pesen penduduk yang harus memiliki kartu identitas sudah mempunyai kartu merah putih di tangan mereka. “1. “KTP sementara Aceh berlaku 1 Juli. “Makalah Ringkas mengenai Perkembangan Terkini di Propinsi Nangroe Aceh Darusslam (NAD periode: 19 Mei-10 Agustus 2003.Pembatasan Kebebasan Bergerak Sembilan hari sesudah darurat militer dimulai.87 Sementara hal ini bisa jadi adalah motif yang utama. 15. GAM biasanya menggunakan strategi dengan merampas KTP orang sipil untuk membingungkan TNI dan polisi (Polri). setiap batasan harus menjadi pengecualian. Tujuan dari dikenalkannya KTP merah-putih adalah untuk memisahkan orang sipil dengan anggota GAM.” detik. Vol. “Persyaratan KTP Baru Menambah Lebih Banyak Penderitaan Bagi Rakyat Aceh. Komandan militer Mayor Jendral Endang Suwarya mengumumkan bahwa KTP baru akan dikeluarkan karena begitu banyak yang sudah dicuri oleh GAM.” Pada tanggal 4 Desember.

ke kepala kecamatan dahulu. 10 (C) 38 . kembali lagi ke kepala kecamatan. Tuntutan untuk menyuap adalah rutin.S. dia memerintahkan Kami untuk menyanyikan Indonesia Raya (Lagu Kebangsaan). Kamu harus pergi ke kantor kepala kecamatan setelah Kamu difoto. Surat kuasa dari kepala desa. Dia bilang. Jika Kamu tidak datang. Beberapa orang menggambarkan bahwa mereka membayar lebih untuk mendapatkan kartu mereka. Saya mau pergi ke Malaysia tetapi Saya tidak bisa.Seorang laki-laki menggambarkan sulitnya mendapatkan kartu ketika dia sudah meninggalkan desa tempat tinggalnya ke ibukota Banda Aceh untuk alasan keamanan: Dengan tanpa KTP Saya takut keluar. 28 Oktober 2003. Jika Kamu tidak dapat menyanyikannya dia memerintahkanmu untuk berdiri di lapangan. Tetapi proses mendapatkan KTP Merah Putih sangat sulit. Seorang laki-laki dari Pidie.$24). 93 92 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki duapuluh tahun (nama disembunyikan).000 (U. Saya dapatkan dari kantor polisi di Singli. Wawancara Human Rights Watch dengan seorang laki-laki berusia duapuluh lima tahun (nama disembunyikan). Malaysia. No. Butuh tiga hari sebelum Saya mendapatkan KTP Saya. dan kepala kabupaten. “Hormat kepada matahari sampai Kamu bisa menyanyikan lagu kebangsaanmu. Human Rights Watch. kepala kepolisian. dalam satu kasus Rp 50. 6 November 2003. yang sudah lama tinggal di Malaysia tetapi kembalikan ke Aceh di August.” 93 91 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh lima tahun-an (nama disembunyikan). membutuhkan izin pendahuluan dari kepala desa. menjelaskan prosesnya: Saya melihat bahwa jika Kamu tidak mendapatkan KTP Kamu tidak akan bisa aman. Sebelumnya Saya takut meninggalkan rumah.92 Seorang perempuan dari Pidie memberitahukan Human Rights Watch: Di awal bulan ini saya mendapat KTP Saya. Saya menghabiskan dua bulan (di Banda Aceh).$6) kepada kepala kecamatan untuk mendapatkan kartu dengan untuk pergi. KTPmu tidak akan dikeluarkan. Malaysia. lalu ke polisi. 29 Oktober 2003.000 (US$3). Kepala desa Saya ikut bersama Saya.91 Proses mendapatkan identitas baru sulit. Akhirnya Saya mendapatkan KTP melalui KTP keluarga kakak laki-laki Saya. dan tanda tangan dari komandan Koramil. Kami datang kesana untuk mendapatkan KTP dengan semua dokumen. 15.000 (U. Pidie. Saya pergi ke Medan dan Malaysia. dalam kasus yang lain Rp 200. karena Kamu harus datang sendiri untuk menandatanganinya.S. Setiap hari terasa menakutkan. Di kantor Polisi. Malaysia. Dengan KTP Saya bisa pergi ke Medan dengan bis umum. Vol. Saya harus membayar Rp 25.

Tertiani ZB Simanjuntak. Dia bilang. juga di perbatasan dengan Medan. KTP diminta. Ketika dia bangun dari mulutnya keluar darah. Kesalahannya adalah tidak membawa KTPnya bersamanya.” The Jakarta Post. Mayoritas orang-orang Aceh yang diwawancarai oleh Human Rights watch meninggalkan Aceh dengan bis ke Sumatera Utara. 95 39 Human Rights Watch. diduga karena tidak mempunyai kartu atau karena alasan lainnya seperti mempunyai nama atau wajah yang sesuai (atau memiliki persamaan) dengan satu dalam daftar yang dimiliki tempat pemeriksaan. Banyak orang yang tinggal dengan teman atau sanak saudaranya di Medan. 31 Oktober 2003. Selama salah satu peristiwa yang sudah disebutkan di atas mana TNI memaksa penduduk desa untuk berkumpul dan membunuh tiga orang di desa dekat Lhokseumawe. Semua bis harus berhenti. begitu seseorang menyebrangi perbatasan menuju ke propinsi tetangga Sumatera Utara. dan hampir semuanya menggambarkan pemeriksaan yang berulangulang terhadap kartu merah putih. Bagaimanapun. mereka ingin tahu siapa yang GAM. Ada pemeriksaan di Peureulak.95 Seorang laki-laki dari Bireun memberitahu Human Rights Watch mengenai perjalannya keluar dari Aceh: Saya sedang berada dalam bis umum ke Medan. di Langsa di Aceh Timur.94 Nampak sulit meninggalkan Aceh tanpa kartu merah putih. 10 (C) . Melihat KTP. Mereka menanyakan KTPnya. Vol. KTP merah putih menjadi suatu kekurangan. teman seorang saksi yang berusia dua puluh tahun dipukuli: Di lapangan tersebut teman Saya dipukuli. atau bersembunyi di hutan sampai mereka bisa menemukan jalan untuk pergi ke Malaysia. Lebih dari sepuluh orang melaporkan bahwa ada lakilaki muda dikeluarkan dari bis yang mereka naiki. di Alue Ie Puteh. setiap orang keluar. 3 Juni 2003. Ada beberapa laporan operasi sweepings terhadap orang-orang Aceh di propinsi Sumatera Utara dan Riau. Malaysia. “Saya meninggalkannya di rumah. No. TNI mencari GAM. enam orang tersangka GAM di 94 Wawancara Human Rights Watch dengan seorang laki-laki berusia duapuluh tahun (nama disembunyikan). Sesudah itu enam orang diambil. “Komnas HAM akan Menyelidiki Pelanggaran Aceh. Kamu GAM!” Mereka menendangnya di perut dan dia terjatuh. Aceh Utara. 15. siapa yang bukan. menandai seseorang sebagai orang Aceh dan menjadi sasaran penangkapan. Penahanan semacam ini secara khas terjadi di tempat pemeriksaan di perbatasan dengan Sumatera Utara. atau di perbatasan-perbatasan antar kabupaten seperti antara Aceh Utara dan Aceh Timur.” “Tidak.Beberapa peristiwa penyerangan fisik digambarkan kepada Human Rights Watch berkaitan dengan kartu identitas merah putih. penganiayaan atau pemerasan.

Saya tidak tahu kemana mereka dibawa. Dia bilang kepada Saya.98 96 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia empatluluh tahun (nama disembunyikan). Mereka memaksa saya untuk membersihkan daerah tersebut. Semuanya orang Aceh. Tidak jauh. semuanya laki-laki. Sesudahnya setiap orang kembali ke dalam bis. Tiga polisi masuk dan membuka baju dan celana panjang saya. Mereka bertiga bersenjata. Ada pos TNI dan semuanya diminta turun dari bis dan berbaris. Mereka polisi tapi BKO. Saya tidak tahu dimana mereka. meraka bilang mereka akan menembak Saya. Jika Saya tidak melakukannya. bahwa nomor itu hanyalah nomor telepon Saya. Mereka bertanya kepada Saya untuk menyatakan bahwa Saya adalah GAM. ada sampah. Dua orang tersebut tidak pernah kembali ke dalam bis. yang kembali ke Aceh dari Malaysia di bulan Agustus. “Itu nama orang GAM. semua laki-laki. Saya di tahan di ruangan tersebut selama satu jam. Di perbatasan terdapat banyak pasukan keamanan… Ada tiga bus dan sekitar limabelas orang ditangkap.96 Seorang laki-laki yang tiba di Malaysia bulan Juni memberitahukan Human Rights Watch mengenai peristiwa yang terjadi di bisnya saat perjalanan dari Aceh Utara ke Medan: Saat itu malam sudah sangat larut. 2003 97 98 Human Rights Watch. No. Kenapa? Karena mereka melihat nomor telepon di dompet Saya.” Ada lima orang polisi. Saya pergi langsung ke Medan. Tiga kali Saya ditendang. memberitahu Human Rights Watch: Saya sedang berada di perbatasan dan bis berhenti untuk pemeriksaan KTP. Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh lima tahun (nama disembunyikan). AJ-47s. Vol. di tubuh Saya dua kali. Saya keluar dari bis dan bis pergi tanpa saya.Peureulak. rokok. Malaysia. Saya melihat dua orang dibawa ke belakang oleh lima orang tentara TNI. 28 Oktober 2003. Satu persatu dipanggil untuk memeriksa kartu identitas kita.97 Seorang laki-laki dari Pidie. Sesudahnya saya diperintahkan untuk membersihkan isi ruangan. Ada tempat penahanan. Malaysia. 10 (C) 40 . (yang datang) khusus untuk darurat militer. Kamu GAM. Sangat menjijikan. tidak terlalu dekat juga. ketika mereka memeriksa KTP Saya. Malaysia. Sesudah itu mereka mulai memukul Saya karena Saya tidak mau mengakuinya. Kami sudah tiba di Aceh Timur. Mereka orang-orang Aceh. Wawancara Human Right Watch dengan laki-laki Aceh berusia duapuluh tahun (nama disembunyikan). 29 Oktober. Saya kemudian mendengar suara tembakan. durian. Saya menunggu di Medan lima hari. Saya membeli tiket pesawat dan pergi langsung kembali ke Malaysia. meminta tolong agar dibebaskan karena Saya mau kembali ke Medan secepatnya… Saya menunggu bis lagi dan langsung pergi ke Medan. Saya dipukul di wajah sekali. 26 Oktober 2003. Lalu mereka membawa Saya ke sebuah kamar kecil. Paha Saya ditendang. Dia menunjuk… Sesudahnya mereka membebaskan Saya… Saya menangis. 15.

” Puteh mengutip data terkini yang menunjukan bahwa 40 persen penduduk tinggal dibawah garis kemiskinan. “Angka pengangguran dan kemiskinan disebabkan konflik di Aceh mengkhawatirkan. Kalian harus bertanggung jawab atas diri kalian sendiri. Di bulan Oktober. kami akan dikira GAM dan mereka akan menembak kami. Kami diperingatkan: “Jika Kalian pergi ke tasa Kami tidak bisa bilang apa yang akan terjadi. 15. atau sebagai pendukung mereka yang membawakan nasi atau kebutuhan lainnya untuk separatis bersenjata tersebut. Kecamatan Labuhan Haji. dan ditanya apakah dia GAM. dan rasa takut yang terbangun baik terhadap kekerasan saat bepergian untuk membeli atau menjual barang-barang secara hebat telah memperburuk masalah tersebut. 28 Oktober 2003. Malaysia.net/vnews. menanam sayur-sayuran atau singkong. No. Jika kami melakukannya. jadi kami tidak berani pergi kesana. naik ke atas ke bukit ke kebun sayurannya tetapi ditahan oleh Brimob dan dibawa ke pos brimob di Labuhan Haji. Kami tidak bisa mencari makan. dan kami tidak diperbolehkan pergi ke bukit-bukit. dan 99 “Waspadai kemiskinan dan pengangguran di Aceh. Kami takut tembakan. Banyak orang Aceh mengeluh bahwa ketakukan akan kekerasan atau larangan-larangan terhadap mobilitas telah secara serius mempengaruhi kemampuan mereka untuk menyambung hidup.cfm?ncat=35&news_id=6246 (diakses 4 Desember 2003). Seorang laki-laki memberitahukan Human Rights watch. Gubernur Abdullah Puteh mencatat. 29 Oktober 2003.” Laksamana. pemerasan. Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh dua tahun (nama disembunyikan).”100 Karena pasukan GAM terutama berada di daerah pegunungan. Hampir semua warga yang diwawancarai mencatat bahwa penghuni desa mereka dilarang pergi ke kebun mereka. Ekonomi kami membeku. Dia disiksa disana –ditusuk dengan pisau. Laki-laki ini. Seorang laki-laki berusia delapanbelas tahun yang tiba tanggal 11 September dari Aceh Besar memberitahukan Human Rights Watch: Orang-orang tidak bisa pergi ke pegunungan. Pegunungan tersebut dikepung oleh TNI. Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia delapan belas tahun (nama disembunyikan).99 Perang telah nenyebabkan ekonomi berjalan tertatih-tatih tetapi pengawasan yang luas terhadap gerakan. 10 (C) . 101 100 41 Human Rights Watch. http://www. Bahari. yang seringkali berada bukit diatas desa. Seorang laki-laki berusia duapuluh enam tahun dari Aceh Selatan melaporkan: Tanggal 23 Jumi ada seorang laki-laki mencari makanan didekat desa (nama dihilangkan). Dia tidak mengakuinya. 29 Oktober 2003. Vol. “Ada pos-pos di desa.Pemerasan dan Pembatasan Terhadap Aktifitas Ekonomi Situasi ekonomi dibawah darurat militer memburuk secara cepat. siapapun yang terlihat menuju kesana dianggap entah sebagai GAM.”101 Hal ini bukanlah ancaman main-main. menebang pohon untuk membangun rumah.laksamana. ke kebun kami.

26 Oktober 2003. Kamu tidak bisa tawar menawar dengan mereka. Jika mereka bilang sepuluh maka harus sepuluh. Jika Kamu tidak mempunyai uang dan mencoba menawar – “Saya tidak punya sepuluh. No. Kamu dipukuli. Malysia. dan memberikan KTP.102 Seorang berusa tigapuluh tahun yang tiba dari Aceh Tengah segera setelah darurat militer dimulai berkata: Hidup Saya sangat berat. Sebelumnya tidak ada masalah.103 Seorang supir lainnya dari Bireun mengulang cerita bahayanya bepergian di jalan: Saya menjual ikan di Takengon. Jika Kamu tidak memberikannya kepada mereka.104 Seorang nelayan berusia duapuluh tahun dari Aceh Utara yang tiba dua minggu yang lalu menjelaskan: Ada pos-pos setiap limapuluh meter di beberapa tempat. khususnya dmana imigran Jawa berada. Saya tidak tahu dimana ditemukannya.mereka tidak akan menerimanya. truk-truk mereka diambil. telah meningkat tahun-tahun terakhir ini. tentara datang dan memintanya. 104 103 102 Human Rights Watch. Banyak orang Aceh yang menghilang. Saya bekerja sebagai supir minibus di jalan raya. Wawancara Human Rights Watch (nama disembunyikan). 25 Oktober 2003. Tetapi Saya harus berhenti pergi kesana karena Saya takut kepada milisi. tetapi mereka tidak mengaku. 10 (C) 42 . Meskipun kelompokkelompok yang berkaitan dengan militer berkeliaran setidaknya sejak tahun 1990. Saya melihat mayatnya di rumahnya. Lalu Saya ketakutan karena adanya tempat pemeriksaan di jalan oleh TNI dan Brimob… Saat Saya menyetir kendaraan mereka menghentikan Saya untuk meminta uang atau makanan. Saya melakukan perjalanan terakhir Saya bulan Juli. Saya sudah memberikan satu kepada mereka jadi Saya bilang tidak.dia dibunuh. Jika Kita keluar dari kapal yang pertama adalah pergi ke pos marinir dan melapor disana. Mayat mereka tidak pernah dikembalikan. di Aceh Selatan. Wawancara Human Rights Watch dengan seorang laki-laki berusia tigapuluh tahun (nama disembunyikan). 15. Lalu kami pergi ke Lhokseumawe untuk menjual ikan Kami harus melapor disana. ini ada lima”. laporan aktifitas milisi di beberapa kabupaten. lalu kembali ke pos marinir ketika kami kembali untuk mengambil KTP kembali… Pernah ketika Saya sedang merawat ayam jantan Saya untuk sabung ayam. Vol. Tetapi baru-baru ini dua orang penjual ikan lainnya yang Saya kenal menghilang: Rusli di bulan Oktober dan Azhari di bulan September. Malaysia. tetapi mayat tersebut dikirim ke rumahnya. Dua orang lainnya ditahan pada waktu yang sama dan juga ditusuk. Mereka meminta lagi. Malaysia. 26 Oktober 2003. di daerah kecamatan. Saya tidak mau memberikan mereka Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh enam tahun (nama disembunyikan). Milisi tersebut dilatih tahun 1999 oleh TNI dan Polri.

Saya memberikannya kepadanya. mereka akan meminta uang. Malaysia. Setiap hari TNI meminta 450 kilogram. 15. malam ini Kamu akan dibunuh. bermarkas di Koramil.”106 Kembalinya Jaga Malam: Tugas Wajib Jaga Malam Kami seharusnya mempertimbangkan untuk memberikan penghargaan yang sepantasnya kepada tuntutan masyarakat untuk diperbolehkan membela diri dan barang-barang mereka sendiri. Tahun 1981. menyiksa dan bahkan membunuh warga lainnya. Mereka BKP.108 Beberapa Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh tahun (nama disembunyikan).” Saya seharusnya bisa pergi haji ke Mekkah duapuluh lima kali sekarang. 31 Oktober 2003. Malaysia. Tetapi kalau diminta. 5 Nopember 2003. Saya dimintai tujuh juta rupiah (US$825) dan diberitahukan bahwa jika Saya tidak memilikinya dalam tiga hari Saya tidak akan selamat. Batalion Sriwijaya 141. khususnya mereka yang tinggal di daerah konflik… Dalam menghadapi orang sipil yang bersenjata yang memerat. Dalam usahanya untuk memaksa keluar para pejuang yang bertahan dari persembunyiannya. bilang pada mereka.” Karena Saya takut. baik sebagai tameng manusia dan juga menggunakan orang sipil untuk menekan perlawanan para pejuang. kan? Saya katakan pada tiga anak laki-laki Saya untuk ikut pergi (nama disembunyikan). Saya akan menembakmu. Dia bilang pada Saya. Vol. maka diberikan… Saya tidak tahan lagi. Lalu dia mengancam Saya – “Kalau Kamu tidak memberikannya kepada Saya. militer memaksa 108 43 Human Rights Watch. mereka akan mengambil kalian. 106 107 105 Wawancara Human Rights Watch (nama disembunyikan). kepada polisi pada upacara bulan Juli107 Secara historis. TNI biasa menggunakan taktik semacam “pagar betis” di Timor Timur dengam menaruh orang sipil diantara tentara dan gerilya. “Jika Kamu tidak memberikannya kepada kami. The Jakarta Post. yang kebanyakan orang Jawa. Fabiola Desy Unidjaya dan Tiarma Siboro. Dia bertanya apa yang mereka inginkan dan Saya beritahukan: tujuh juta rupiah dalam tiga hari. Mereka hendak pindah ke pos BKO yang lain dan meminta ‘uang pindah’. Saya memiliki penggilingan beras. Dia dari pos lokal. 2 Juli 2003. 10 (C) . Saat itu tanggal 8 atau 9 Oktober. —Presiden Megawati.satu lagi. “Jika Aku tidak ada disini. “Presiden Menyetujui ‘Penjaga’ Sipil’. “Sebaiknya kamu pergi saja. partisipasi masyarakat semakin dibutuhkan karena kurangnya personil keamanan. No.” Saya pergi sesudah dua hari –mereka memberi Saya waktu tiga hari. Kopassus datang jam 11 pagi. Mereka bilang. Jika Kamu mencoba membuka usaha.105 Seorang laki-laki yang memiliki bisnis penggilingan beras melaporkan: Membuka jalan untuk hidup di Aceh itu sulit. Sesudah mereka pergi Saya pergi ke teman Saya di kedai kopi di depan rumah Saya. mereka berempat di dalam Taft – seperti Pajero tapi lebih kecil. militer Indonesia melaksanakan operasai yang disebut kampanye “pagar betis” di Timor Timur.

No. Sebelumnya. Kami berempat dipukuli kalau tertidur. laki-laki tua tidak pernah melakukan tugas jaga. Nani Farida. sekitar 1. tetapi tidak jelas seberapa sering taktik ini digunakan dibawah darurat militer. Semua laki-laki diatas lima belas tahun harus berjaga. Sebagai contoh.000 penduduk desa dari Kecamatan Leupung di Aceh Besar dilaporkan terlibat didalam perburuan pemberontak GAM di hutan dekat sana. “Makalah Ringkas tentang Perkembangan Terakhir di Propinsi Nangroe Aceh Darussalam (NAD)”. operasi ditujuan untuk merangsang keberanian masyarakat lokal untuk berjuang melawan GAM. dalam tiga waktu yang berbeda. “Warga Sipil Terlibat Secara langsung Dalam Perburuan Pemberontak GAM “. Dalam wawancara dengan Human Rights Watch. Republik Indonesia. 111 109 Human Rights Watch.id.go. dan kesetiaan rakyat Aceh kepada Negara Kesatuan Indonesia semakin menguat. Kami harus melakukannya tiga kali seminggu. orang sipil untuk berjalan berbaris dari setengah garis pertahanan pulau terebut menuju ke pusatnya. periode: 19 Mei -10 Agustus 2003. . contoh partisipasi orang sipil yang paling luas dalam pertahan yang dilaporkan adalah tugas wajib jaga malam tanpa senjata. 15. empat orang setiap kalinya. www. 17 September 2003.media baru-baru ini melaporkan penggunaan orang sipil dalam operasi militer di Aceh. Beberapa perkembangan yang positif sudah dicapai seperti misalnya beberapa pos sudah dibuat oleh penduduk lokal yang juga berfungsi sebagai Pos Informasi. Seorang laki-laki berusia duapuluh tahun dari Pidie yang tiba di Malaysia tanggal 14 Oktober menggambarkan ketika tentara mengadakan tugas jaga malam di desanya: Jaga malam dimulai sesudah darurat militer. Militer mengikutinya dari belakang.109 Seorang laki-laki memberitahukan Human Rights Watch tentang penduduk desa yang dibawa ke hutan untuk mencari GAM. 110“Evaluasi Pemerintah Terhadap Operasi Khusus di Aceh. The Jakarta Post. menggunakan mereka sebagai tameng manusia terhadap para pejuang yang bertahan.111 Biarpun demikian.” Pernyataan Pemerintah Indonesia. dibawah DOM. bahkan laki-laki tua. Vol. begitu juga kesadaran mereka akan hak dan kewajiban mereka. Menurut pernyataan pemerintah mengenai kemajuan darurat militer: Penjagaan lingkungan telah meningkat di desa dari 0% sampai dengan 70%. Departemen Luar Negeri. 10 (C) 44 . Kami juga biasa melakukannya dibawah DOM. strategi dari peride DOM yang dihidupkan kembali segera sesudah darurat militer dimulai.Polkam. Semua perhatian dan kewaspadaan ini datang dari masyarakat secara spontan. 15 Agustus 2003. Komandan Kodim Aceh Besar mengatakan bahwa militer hanya menyediakan sokongan terhadap inisiatif warga desa itu sendiri. sekitar sebulan kemudian. kesaksian yang dikumpulkan di Malaysia menunjukan bahwa pasukan keamanan memakai ancaman dan penggunaan kekerasan untuk memaksa penduduk lakilaki di desa untuk bergantian menjaga desa.110 Pernyataan lain yang dikeluarkan oleh Kementerian Luar Negeri menegaskan: Dalam rangka menciptakan situasi yang aman dan teratur di (Aceh).

Kadang-kadang ketika mereka pergi. Malaysia.115 Wawancara Human Rights Watch dengan seorang laki-laki berusia duapuluh dua tahun (nama disembunyikan). kami pasti akan diculik dan diancam. 24 Oktober 2003. Malaysia. seperti yang dikatakan seorang laki-laki berusia tigapuluh tahun yang tiba dari Aceh Tengah segera sesudah darurat militer dimulai: Polisi dan Brimob datang ke desa dan mengatakan pada orang-orang untuk menjaganya. 26 Oktober 2003. Tetapi kalau kami memberitahukan GAM. GAM meminta kami untuk memberitahukan mereka apa yang TNI dan Brimob lakukan. Mereka tidak berkata kami seharusnya menjaga –jaga malam saja! Mereka tidak berkata menjaga ini atau itu. seperti membangun pos tingkat desa baru. meninggalkan propinsi tersebut di pertengahan Oktober. Wawancara Human Rights dengan perempuan berusia tigapuluh tahun (nama disembunyikan). Dia desa Saya mereka hanya mengambil alih sebuah rumah kosong. Seorang dari dua orang yang menggambarkan tugas wajib tersebut menjelaskan: “di malam hari kami jaga malam. Vol. itu juga menaruh orang sipil di seputar antara GAM dan TNI.112 Seorang perempuan dari Peureulak. No. Saya harus pergi (dari Aceh) untuk mendapatkan uang dan makanan. Selama darurat militer sulit sekali mencai makanan. tidak ada perubahan.Kami tidak berkeliling tetapi tinggal di sekitar pos jaga. 115 114 113 112 45 Human Rights Watch. Sementara jaga malam bisa menaruh orang sipil di tingkat resiko yang sama seperti keterlibatan langsung dalam operasi militer atau dipaksa untuk bergabung dengan militia. membangun pos-pos dan kamp baru.” Wawancara Human Rights Watch dengan lakilaki berusia tigapuluh tahun (nama disembunyikan). 26 Oktober 2003. 10 (C) . Atau kami diperintahkan untuk membawa tiang pohon kelapa sawit ke atas bukit. kami harus merubuhkan pos. 26 Oktober 2003.114 Dua orang Aceh yang diwawancarai oleh Human Rights Watch juga mengeluh mengenai pemaksaan tenaga kerja. Sekarang selalu seperti ini. Wawancara Human Rights dengan laki-laki berusia tigapuluh tahun (nama disembunyikan). di pagi hari kami harus melakuka gotong royong. Malaysia. menempatkan mereka dalam resiko pembalasan dendam dari kedua belah pihak. lalu mereka kembali lagi dan kami harus membangunnya lagi. Malaysia. Dan. Dia mengatakan kepada Human Rights Watch: Suami Saya dipukuli oleh TNI bulan Agustus saat dia jaga malam. Suami Saya lalu sakit jadi tidak bisa pergi dan mencari makan. 15. tetapi kami harus membangun pos-pos di desa lain.113 Tugas wajib jaga malam adalah aspek tambahan dari kehidupan yang semakin tidak dapat dipertahankan lagi bagi laki-laki Aceh. di Aceh Timur. Kami harus melakukannya mungkin dua hari setiap minggunya.

belasan ribu orang sipil telah dipaksa oleh pertempuran atau diperintahkan oleh pemerintah Indonesia atau pasukan keamanan untuk meninggalkan rumah dan desa mereka.4/2003/95/Add. Pihak-pihak yang berkonflik harusnya tidak memerintahan pemindahan penududuk kecuali dengan alasan yang serius berkaitan dengan keamanan orang sipil yang terlibat. dan mereka yang berwenang dan berada di komunitas internasional. Konvensi Geneva.117 Seandainya tindakan tersebut harus dilakukan. atau ada alasan militer yang sangat penting untuk tindakan tersebut. Vol. semua tindakan yang mungkin seharusnya diambil untuk memastikan bahwa tempat dimana mereka akan ditampung menawarkan kondisi tempat berlindung yang memuaskan. Periode: 19 Mei-10 Agustus 2003”. Sebagai contoh. Prinsip pedomaan ini didasarkan pada hukum internasional yang tentunya mengikat negara-negara seperti halnya beberapa kelompok pemberontak. “Jesuit Refugee Service: Berita JRS No. pasal.2. mencerminkan hukum kemanusiaan internasional sebagai juga hukum hak asasi manusia.” Laporan Human Rights watch. “Orang Aceh Pergi karena Serangan Udara” The Jakarta Post.” Human Rights Watch Press Backgrounder. Departemen Luar Negeri. 17. Protokol II. Mei 2000. 142. 14 Nopember 2003.119 Seorang laki-laki berusia duapuluh tahun yang tiba di Pidie menggambarkan bagaimana beberapa orang di desanya meningalkan TNI.” Prinsip-Prinsip Pedoman tentang Orang Terlantar (prinsip pedoman). Vol. di awal Juli sekitar 10. Dulu Suku nonAceh juga lebih banyak diintimidasi agar meninggalkan Aceh oleh GAM. sehat dan menyediakan nutrisi. dan menyatakan kumpulan standar internasional yang mengatur perlakuan terhadap orang-orang terlantar.000 orang Jawa di Sumatera Barat yang meninggalkan Aceh. Lihat Human Rights Watch. Meskipun bukan instrumen yang mengikat. sementara yang lainnya ditangkapi dan diangkut pergi: A’An Suryana. 15. 10 (C) 46 . No. Para penghuni dilaporkan diperintahkan oleh militer untuk ditampung di dua kamp di sekitar Kecamatan Dewantara dan Muara Batu. Kemungkinan prilaku yang sama terjadi di bawah Darurat Militer tetapi kurangnya akses membuat sulit untuk menunjukannya. E/CN. higenis. 119 118 117 116 Human Rights Watch. Perkiraan resmi jatuh dari lebih dari duapuluh ribu orang terlantar di sebelas kabupaten di bulan Agustus menjadi hanya sepuluh ribu orang terlantar di enam kabupaten pada pertengahan November. “Warga Sipil Indonesia Dijadikan Target di Aceh.Pengungsian dan Perampokan Sejak dimulainya darurat militer.116 Penampungan massa atau pengungsian orang sipil yang hanya untuk meniadakan basis sosial untuk pasukan lawan dilarang oleh hukum kemanusiaan internasional.000 orang di Aceh Utara dilaporkan meninggalkan rumah mereka karena Angkatan Udara Indonesia membom posisi pemberontak di Pantai Pisang di Kecamatan Nisam yang banyak pegunungannya. “Makalah Ringkas mengenai Perkembangan Terkini di Propinsi Nangroe Aceh Dasrussalam (NAD). Republik Indonesia. Agustus 2001: Human Rights Watch. Lebih dari seratus ribu orang dipindahkan di beberapa titik tertentu sejak dimulainya darurat militer. “Laporan OCHA Mengenai Gabungan Situasi No.118 Banyak pengungsidapat kembali ke tempat asalnya sesudah periode yang cukup singkat. 4 (c ). yang memperhatikan cerminan hukum internastional menyatakan bahwa “pengungsian penduduk sipil tidak boleh dilakukan dengan alasan yang berkaitan dengan konflik kecuali berkaitan dengan keamanan warga sipil atau tuntutan militer yang sangat penting. 154”. 1 Juli 2003. “Perang di Aceh. Sampai tahun 2001 ada sekitar 50. jadi jumlahnya turun-naik dari minggu ke minggu.” 17 Nopember 2003. Laporan Perwakilan Sekretaris Jendral tentang Orang-Orang Terlantarl. Kantor PBB untuk Koordinasi Masalah Kemanusiaan (OCHA). 15 Februari 2002.13. diadopsi bulan September 1998 oleh Majelis Umum PBB. No.

Ayam. mereka menemukan rumah mereka dirampok ketika mereka kembali ke rumah mereka. 26 Juli 2003. Malaysia. Beberapa orang membayar.Suatu pagi hari. “Kepala TNI Menawarkan Permintaan Maaf Kepada Rakyat Aceh.000 untuk mengembalikan barang-brang kami kembali. dibawa oleh tentara yang lalu meminta uang Rp 300. Kami kembali ke rumah kami untuk mengambil barang-barang yang paling penting. Jendral Endiartono Sutarto. 47 Human Rights Watch. Kami tidak diberitahukan alasannya. Orang-orang di desa ketakutan.” The Jakata Post. sekitar empatpuluh kilometer jauhnya. dimana ada sebuah kamp orang terlantar di lapangan disana. tetapi Saya terlalu ketakutan. Kami menghabiskan waktu limabelas hari disana. Malaysia.122 Sebagaimana digambarkan dalam “Aceh dibawah Darurat Militer: Pelarangan yang Tidak Perlu dan Berbahaya Terhadap Akses Kemanusiaan Internasioal. Kami diberitahukan oleh tentara. “Sekarang mengungsi!” Saya rasa mereka dari Pos BKO Siliwangi. hidup didalam tenda. Vol. kambing. 26 Oktober 2003. 121 122 120 Wawancara Human Rights Watch (nama disembunyikan). mengakui bahwa tentara secara paksa menelantarkan warga sipil dan meminta maaf atas perampokan tersebut: Dengan beberapa pertimbangan. Orang-orang di pegunungan kembali ke rumah setelah kami pulang. (semua) dicuri saat kami melarikan diri.121 Di akhir Juli. Tiarma Siboro. kepala staf ABRI. Saya meminta maaf karenanya. lalu tiga truk datang untuk membawa kami ke Sigli. Ketika Kami pulang ke rumah semua barang-barang kami tidak ada. dan beberapa orang melarikan diri ke pegunungan.” terdapat kelanjutan untuk memperhatikan kurangnya akses ke makanan. Human Rights Watch tidak tahu mengenai hasilnya. No. sarana kesehatan. Kami mempunyai satu jam untuk mengemas barang kami. 29 Oktober 2003. kami (TNI) memaksa orang-orang untuk meninggalkan rumah mereka dan mengungsi sementara para tentara berusaha menyingkirkan para pemberontak yang seringkali mencoba berbaur dengan orang sipil di desa mereka… Bahkan jika para pengungsi tinggal di kamp selama tiga atau empat hari saja. 15. 10 (C) . Sesudahnya kami dikirim kembali ke rumah dengan truk. dan yang lainnya melarikan diri ke Sigli. dan pendidikan Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh dua tahun (nama disembunyikan). empat buah tank datang ke desa. Pengadilan darurat militer dilakukan pada tanggal 22 Juli terhadap dua orang prajurit yang dituduh mencuri uang kontan dan perhiasan dari rumah seorang tersangka pemberontak separatis di Aceh Utara.120 Seorang perempuan dari Aceh Utara menggambarkan perampokan yang terjadi ketika para penduduk dipindahkan: Saya melarikan diri ke kamp pengungsi. Saya tidak mau orang-orang berkorban sebanyak itu. Mereka pergi kesana karena ada panggilan dari mesjid untuk berkumpul disana.

telah mengganggu hidup dan mata pencaharaian warga sipil dengan terpotongnya suplai makanan. Human Rights Watch. fasilitas kesehatan yang tersedia.124 Penolakan Indonesia terhadap akses badan-badan kemanusiaan internasional dan LSM membuat penilaian secara lengkap mustahil. 5 Oktober 2003.” 1 Agustus 2003. 10 (C) 48 . “Aceh dibawah Darurat Militer: Pelarangan yang Tidak Perlu dan Berbahaya atas Akses Kemanusiaan Internasional. Bagaimanapun.” Makalah Ringkas Human Rights Watch. kekurangan gizi dan keluhan kulit diantara para penduduk tersebut. “Berita JSR No. 124 125 123 Jesuit Refugee Service. Jesuit Refugee Rervice dan sumber-sumber media Indonesia sudah menyoroti laporan mengenai fasilitas sanitasi dan air yang memprihatinkan. Kondisi tersebut diperburuk bagi mereka yang telah dipaksa untuk meninggalkan rumah mereka. pemerintah Indonesia melaporkan empat puluh tujuh kematian yang berkaitan dnegan kesehatan di kamp. informsai ini mustahil untuk di verifikasi atau diinterpretasikan tanpa mengetahui lebih banyak mengenai tingkat kehidupan total penduduk. 137. 15. Satkorlak NAD. air.123 Pertempuran antara militer Indonesia dan GAM sebagaimana larangan untuk bergerak. komunikasi. Gambaran menyeluruh dari sedikit informasi yang tersedia adalah bahwa penududuk Aceh menghadapi kekurangan jasa dan persediaan dasar. dan informasi dasar lainnya. Vol. September 2003. sekolah. Informasi awal mengindikasikan bahwa pertempuran telah memaksa ribuan warga sipil keluar dari rumahnya. “Kematian Orang-Orang Terlantar di Aceh” (diproses dan diperiksa oleh Organisasi Migrasi Internasional Banda Aceh).. Sampai bulan Oktober 2003. listrik. No.125 Human Rights Watch.bagi orang-orang terlantar di Aceh. dan sarana kesehatan bagi ribuan orang.

25 September 2003. Aceh Utara. “12 Prajurit Menghadapi Sidang Karena Menyiksa Orang Sipil di Aceh.net.127 Bulan Juli.” BBC News Online. atau mencuri uang untuk membelinya. pada 30 Agustus 2003. duabelas tentara dari Jawa Barat base Batalion Siliwangi dibawa ke pengadilan militer.130 Persidangan adalah pengecualian yang disambut baik untuk kekebalan hukum yang hampir seluruh TNI menikmatinya. Pengadilan memerintahkan tiga tentara tersebut diberhentikan dan menghukum mereka antara dua setengah sampai tiga setengah tahun penjara. Vol.Pertanggungjawaban Tidak seperti dalam operasi di masa lalu di Aceh.126 Para tentara tersebut dikenai tuduhan melanggar pasal 351 dan 55 dalam Undang-Undang Kejahatan tentang penyerangan terhadap orang sipil dan ayat 103 dalam undnag-undang kejahatan militer mengenai pelanggaran disiplin militer. Aceh Utara. Bagaimanapun. Di bulan Juni. 20 September 2003. “Tentara Didakwa atas Pelanggaran Hak Asasi. 10 (C) . meskipun salah seorang terdakwa mengakui pembunuhan tersebut. 9 Juni 2003. Kepala TNI memberitahu majalah Time. 10 http://www. 15. 20 Juli 2003. “Prajurit Dibebaskan atas Penyerangan di Aceh. “Prajurit dihukum dalam kasus perkosaan di Aceh. “12 Prajurit Diadili karena Memukul Warga Desa di Aceh.” Laksamana.” The Jakarta Post.net.net/vnews. hukuman ringan. Tiarma Siboro. korban bersaksi di pengadilan bahwa mereka diserang karena tidak tahu lokasi para pemberontak separatis. No.laksamana. Tetapi perintah-perintah Saya dan para komandan pasukan bersenjata lainnya jelas: jangan membunuh orang sipil.” The Jakarta Post. dikenai tuduhan atas pemukulan dua orang penduduk desa di Kecamatan Dewantara. Indonesia telah mengambil beberapa langkah meminta pertangungjawaban tentaranya dalam kejahatan yang terjadi di Aceh. 131 130 129 Oktober 2003. 10 Juni 2003. “Indonesia Mendakwa Tentara atas Pelanggaran di Aceh. dan rendahnya tingkat tuduhan-tuduhan tersebut memperlihatkan kurangnya keseriusan dalam menghukum atau menghalangi kejahatan oleh anggota pasukan bersenjata.” Associated Press. “Saya tidak akan mengambil tanggungjawab atas semua perintah yang Saya berikan. Sebagaimana dalam banyak kasus yang dilaporkan dalam laporan ini. pengadilan militer di Ljokseumawe. Dibawah hukum darurat militer teretuduh mendapat hukuman maksimum duabelas tahun. Mereka tidak dikenai tuduhan karena menembak mati seorang laki-laki bernama Abubakar dalam peristiwa yang sama. haruskan Saya juga 49 Human Rights Watch. tuntutan yang selektif.128 Pada bulan September.” The Jakarta Post. pengadilan militer menjatuhkan hukuman kepada enam tentara dari Batalion Infrantri 144 lima bulan penjara karena pemukulan warga desa di Kabupaten Bireun pada 27 Mei.” Associated Press. 5 Juni 2003 “Prajurit Dipenjara Karena Perkosaan di Aceh.129 Mereka dibebaskan meskipun jurubicara militer mengatakan mereka teap akan menerima hukuman kedisiplinan yang mencakup dari peringatan keras sampai dengan tiga minggu penjara. 131 Tidak ada tuduhan pembunuhan yang membawa kematian para warga sipil selama operasi militer ini.” Laksamana. 127 128 126 “Tiga prajurit dalam Sidang Mengakui Menyerang Penduduk Desa. 19 Juli 2003. Jika Saya mengirimkan sesorang keluar untuk membeli pisang goreng dan orang tersebut tertangkan karena mencurinya.cfm?ncat=45&news_id=6152 (diakses 4 Desember 2003). menemukan tiga orang tentara bersalah atas pemerkosaan empat orang perempuan.

Kasus-kasus lainnya telah didokumentasikan oleh Human Rights Watch. pangadilan ad-hoc Jakarta tentang Timor Timur menyatakan Jendral Damiri bersalah atas kejahatan terhadap kemanusiaan dengan atrocities yang dilakukan di Timor Timur tahun 1999. No. “Tidak ada daerah yang melepaskan diri.132 dihukum?” Wawancara dengan Ryamizard Ryacudu. Damiri juga dituduh atas kejahatan terhadap kemanusiaan oleh pengadilan PBB di Timor Timur. dimana dia terlibat dalam mengarahkan operasi militer di propinsi Aceh selama bulan-bulan pertama darurat militer. 15. beberapa orang yang bertanggungjawab dalam kampanye militer di Aceh telah didakwa atau disangkutkan dalam pelanggaran hak asasi manusia yang serius. 2 Juni 2003. Diluar tuduhan atas dirinya. Pada 5 Agustus 2003. seorang pejabat militer Indonesia tertinggi yang pernah diadili dan dinyatakan bersalah melakukan pelanggaran hak asasi manusia di Indonesia.” Time Asia. Vol. 10 (C) 50 . Salah seorang yang paling terkenal karena nama buruk yang disandangnya adalah Mayor Jendral Adam Rachmat Damiri. Oktober 2003. Lihat. “Aceh dibawah Darurat Militer: Dapatkah Orang-Orang ini Dipercayai untuk Mengusut Perang ini?” Makalah Ringkas Human Rights. Damiri dipromosikan sebagai Asisisten Operasi untuk Kepala Staf Umum. 132 Human Rights Watch. sebagaimana yang sudah didokumentasikan sebelumnya oleh Human Rights Watch.Sebagai tambahan.

Organisasi hak asasi manusia dan jurnalis seharusnya mempunyai akses tanpa kekangan ke propinsi tersebut. daripada mensyaratkan badanbadan tersebut untuk mengirimkan bantuannya melalui badan-badan resmi Indonesia. Segera menyediakan kepada semua tahanan akses yang teratur kepada anggota keluarga dan pengacaranya. Menyusul keputusan Indonesia yang disambut baik untuk memperbolehkan ICRC datang ke Aceh. 3. sudah menerima latihan dasar mengenai prinsip-prinsip dasar hukum kemanusiaan. Memastikan bahwa semua komandan yang disebarkan di Aceh. Memperbolehkan Komisi Hak Asasi Manusia Nasional untuk menjalankan investigasi yang bebas dari intimidasi atau campur tangan oleh penguasa darurat militer. 9. yang menempatkan pelarangan yang tidak perlu terhadap akses untuk PBB. No. penghilangan secara paksa. Menahan semua tahanan hanya di tempat penahanan yang secara resmi dikenali. di semua tingkatan. 7. Mengizinkan badan-badan kemanusiaan untuk menyampaikan bantuan secara langsung kepada penduduk yang membutuhkan. 4. Mengambil semua langkah yang diperlukan untuk memastikan bahwa pasukan militer dan polisi Indonesia sepenuhnya bertindak sesuai dengan hukum kemanusiaan dan hak asasi manusia. Segera dan tanpa syarat menghapuskan larangan pengumpulan dan pelaporan berita secara langsung dari Aceh oleh media Indonesia dan asing. pasukan bersenjata dan personil polisi yang tersangkut dalam pelanggaran. 6. 15. 8. Segera mencabut Keputusan Presiden No. Mendisiplinkan dan/atau mengusut semua petugas secara semestinya. Secara penuh menyelidiki pernyataan tanpa bukti (allegations) terhadap pelanggaran hukum kemanusiaan dan hak asasi manusia internasional. dan memperbolehkan para tahanan untuk memberikan petisi peninjauan kembali terhadap penahanan mereka tanpa 51 Human Rights Watch. Meyakinkan bahwa semua pasukan beroperasi dibawah aturan pertempuran yang konsisten dengan hukum kemanusiaan internasional. pastikan bahwa ICRC mempunyai akses yang bebas dan tanpa kekangan untuk menjalankan pekerjaannya. jurnalis dan orang asing di Aceh. 2. lembaga swadaya masyarakat (LSM). badan-badan internasional.Rekomendasi Untuk Pemerintah dan Pasukan Tentara Indonesia 1. Semua pejuang seharusnya dilatih dan diberi pelajaran mengenai perlakuan yang sepantasnya terhadap warga sipil dan non-pejuang. Vol. Bergerak secepat mungkin untuk mengembalikan pemerintahan Aceh kepada pengawasan sipil yang bertanggungjawab. Memberitahukan semua tahanan segera dasar penangkapan dan tuduhan apapun terhadap mereka. perkosaan dan kekerasan seksual. khususnya perlindungan warga sipil dan non-pejuang. penyiksaan dan penganiayaan lainnya. termasuk pejuang yang tertangkap.43/2003. 5. perampokan dan pemerasan. termasuk eksekusi diluar hukum. 10 (C) . Menghormati kebebasan pers dan memperbolehkan peliputan konflik senjata secara penuh dan independen.

Mengakhiri praktek penggunaan orang sipil di militer. dengan informasi mengenai sifat dasar kejahatan yang mungkin dan tempat penahanan mereka. 11. 2. adanya penundaan. Mengakhiri persyaratan kartu identitas khusus untuk penduduk Aceh sepanjang pemerintah tidak dapat memastikan bahwa kartu semacam ini tidak akan terus menghasilkan penyiksaan terhadap penduduk lokal. Mengakui pelaksanaan hak asasi semua orang yang ditahan dan/atau dituduh melakukan kejahatan. termasuk penangkapan secara sewenang-wenang. Membuat figur yang diperbarui secara teratur untuk umum mengenai jumlah orang yang dituduh dan ditangkap dalam kejahatan yang berkenaan dengan keamanan di Aceh. atau keamanan berkaitan dengan fungsi-fungsi. penganiyaan dan penahanan tanpa surat perintah atas kebebasan bergerak. Segera menghapuskan –dari semua peran sehubungan dengan konflik di Aceh – semua personel militer Indonesia yang sudah didakwa atau diindikasikan atas pelanggaran hak asasi manusia atau hukum kemanusiaan atau kepada mereka yang terdapat bukti melakukan penganiyaan semacam itu. pembunuhan kilat atau yang sewenang-wenang dan (Special Rapporteur on Extrajudicial.10. Memberitahukan keluarga tahanan mengenai penahanan mereka. Prioritas seharusnya diberikan kepada Pelapor Khusus mengenai Esksekusi diluar hukum. 10 (C) 52 . Memastikan bahwa semua komandan. pejabat yang dituduh atas tuduhan serius seharusnya mulai untuk menjalankan hukuman mereka dengan segera dan dikenai pemecatan secara administrasi dari pasukan tentara. di semua tingkatan. 12. Memastikan bahwa semua pasukan mentaati hukum kemanusiaan internasional. 14. No. seperti penyitaan kartu identitas. 15. menerima latihan dasar mengenai prinsip-prinsip dasar hukum kemanusiaan. Setiap personil yang diindikasikan seharusnya dipindahkan dari tugas aktif mereka sampai penyelesaian proses persidangan mereka. penasehat hukum dan orang-orang yang secara hukum berkepentingan. Memelihara kelangsungan pendaftaran yang akurat nama-nama tahanan dan tempat penahanan mereka dan membuat pendaftaran semacam ini siap tersedia untuk keluarga tahanan. Untuk Gerakan Aceh Merdeka (GAM) 1. 13. Bertentangan dengan praktek di Indonesia kini. Menyatakan kepada umum komitmen GAM untuk mentaati hukum kemanusiaan internasional. Summary or Arbitrary Execution) dan perwakilan dari Badan Pekerja Penghilangan Secara paksa atau tidak sukarela (Working Group on Enforced or Involuntary Dissapearances). Vol. Diharapkan menghentikan pengambilan tindakan yang menempatkan orang sipil dalam resiko khusus. khususnya Human Rights Watch. Menghormati pelarangan hukum kemanusiaan internasional mengenai pengungsian orang-orang sipil yang menyatakan bahwa pengungsian semacam itu seharusnya hanya terjadi dengan alasan kemanan warga sipil atau adanya tuntututan militer yang alasannya sangat penting sekali. paramiliter. dan alasannya serta lokasi penahanan. Mengundang mekanisme PBB yang berasngkutan untuk mengunjungi Aceh. termasuk praktek tugas wajib jaga malam untuk laki-laki dan anak laki-laki. 15.

Semua pejuang seharusnya dilatih dan diberi pelajaran mengenai perlakuan yang sepantasnya terhadap warga sipil dan non-pejuang. Termasuk mendesak badan-badan kemanusiaan yang tidak berpihak agar mampu menyediakan bantuan kepada penduduk. 3. penyiksaan. Meneruskan desakan terhadap Indonesia untuk membuka Aceh kepada LSM internasional. Jepang dan Uni Eropa seharusnya secara bersama menindak lanjuti pernyataan mereka di bulan November 2003 yang mengekspresikan “keprihatinan terhadap perpanjangan keadaan darurat militer di Aceh” dan mendorong Idonesia “untuk menjalankan aktifitasnya dengan kemungkinan pengaruh yang paling minimum terhadap kesejahteraan masyarakat Aceh dan dalam pendekatan yang mengikutsertakan bantuan kemanusian. 2. Uni Eropa. Untuk Pemerintah Malaysia 1. Jepang. ASEAN dan anggota-anggotanya seharusnya menggunakan kewenangan regional mereka dan meminta Indonesia untuk menghargai kewajiban internasionalnya dalam konflik di Aceh. 53 Human Rights Watch. Semua keputusan bantuan. Bank Dunia) 1.” Secara bersama dan indvidual ketiganya harus menekan pemerintah Indonesia untuk mentaati hukum kemanusiaan dan hak asasi manusia di Aceh. ASEAN seharusnya menekankan perlunya keterlibatan dalam kehadiran monitoring internasional di Aceh. Mengajukan kondisi di Aceh dalam semua pertemuan dengan penguasa Indonesia dan tetap menuntut dibukanya akses diplomatik yang teratur ke Aceh. perbaikan lembaga-lembaga sipil dan menegakkan hukum. seperti yang dipinjamkan Bank Dunia. Orang-orang Aceh di Malaysia seharusnya diberikan perlindungan dan bantuan sepenuhnya. 10 (C) . Mengambil tindakan-tindakan untuk memastikan bahwa mekanisme yang dapat diselenggarakan dilaksanakan untuk memastikan bahwa anggota pasukan secara perseorangan bertanggungjawab terhadap pelanggaran. terutama kepada orang-orang yang terlantar karena konflik. sebagaimana yang berkenaan dengan korupsi dan reformasi yang tercatat dalam Strategi Bantuan Negara untuk Indonesia (Country Assistance Strategy for Indonesia) yang dikeluarkan tanggal 3 Desember. No. termasuk pejuang yang tertangkap. Untuk ASEAN 1. Vol. 15. Melepaskan semua tawanan yang ditahan dalam pelanggaran hal asasi manusia. termasuk dua orang jurnalis yang saat ini dalam penahanan GAM. penculikan. 3. Tidak ada orang Aceh yang seharusnya dikembalikan secara paksa ke Indonesia selama keamanan mereka beresiko di Aceh. harus menyertakan dialog mengenai pelanggaran hak asasi manusia di Aceh. Sehubungan dengan partisipasi Thailand dan Philipina dalam memonitor COHA.perlindungan warga sipil dan non-pejuang. Amerika Serikat. jurnalis dan badan-badan internasional. Untuk “Kuartet” (Amerika Serikat. termasuk eksekusi kilat. dan pemindahan secara paksa.

Vol. Negaranegara yang sudah menyediakan bantuan Militer kepada Indonesia terebut. yang menyediakan bantuan atau latihan militer kepada Indonesia 1. dan latihan. 10 (C) 54 . Apapun ketentuan Amerika Serikat atas latihan atau bantuan militer kepada pasukan bersenjata Indonesia harus disyaratkan terhadap perkembangan yang jelas dalam mengadili militer dan polisi yang bertanggungjawab dalam pelanggaran hak asasi manusia. 3. negara-negara penyuplai senjata seharusnya mempertimbangkan penundaan transfer senjata kepada Indonesia. 2. Latihan teroris harus secara hati-hati dirancang untuk tidak mengurangi keefektifan pelarangan yang sudah ada. dan harus tidak ditujukan kepada cabang dan unit yang diketahui sebagai pelanggar hak asasi manusia. seperti Amerika Serikat. sesuai dengan standar-standar hukum hak asasi manusia dan kemanusiaan internasional. mempunyai tanggungjawab khusus untuk memastikan bahwa bantuan tersebut tidak digunakan untuk menyumbang pelanggaran hak asasi manusia. perlengkapan lainnya. 15.Untuk Negara-Negara. seperti Kopassus atau Brimob. termasuk senjata. Indonesia mempunyai tugas wajib untuk menjaga dan menawarkan pemeriksaan terhadap dokumen-dokumen yang dibutuhkan untuk menunjukan bagaimana negara ini sudah menggunakan perlengkapan yang disuplai asing. Sehubungan dengan perhatian terhadap pelangggaran serius dalam kampanye Indonesia di Aceh. dan Australia. Menjatuhkan persyaratan yang ketat terhadap penggunaan senjata atau bantuan militer lainnya. dan jika perlu menyediakan bentuk lain akses untuk memfasilitasi monitoring yang efektif dan berguna sampai akhir. Human Rights Watch. No. 4. Inggris. Menempatkan tindakan yang efektif untuk memonitor dan memastikan pertanggungjawaban dalam penyalahgunaan senjata atau bantuan lainnya.

Serangan dan Pelarangan terhadap Media) Sebuah Laporan Human Rights Watch. September 2003 3. Memberangus Kurir. Aceh Under Martial Law: Can These Men Be Trusted to Prosecute This War? (Aceh dibawah Darurat Militer: Dapatkan Orang-Orang ini dipercayai untuk Mengadili Perang ini?) Makalah Ringkas Human Rights Watch. 10 (C) . 1. Oktober 2003 4. 2.Lampiran Untuk informasi terkini lebih lanjut mengenai perang di Aceh silahkan lihat rangkaian laporan dan makalah ringkas Human Rights Watch berikut ini. Aceh Under Martial Law: Human Rights Under Fire (Aceh dibawah Darurat Militer: Hak Asasi Manusia diserang) Sebuah Makalah Ringkas Human Rights Watch Juni 2003. Aceh Under Martial Law: Muzzling the Messengers: Attacks and Restrictions on the Media (Aceh dibawah Darurat Militer. 15. Aceh Under Martial Law: Unnecessary and Dangerous Restrictions on International Humanitarian Access (Aceh dibawah Darurat Militer: Pelarangan yang Tidak Perlu dan Berbahaya terhadap Akses Kemanusiaan Internasional) Makalah Ringkas Human Rights Watch. Vol. No. Nopember 2003 55 Human Rights Watch.

development director. Lotte Leicht.org Listserv address: To subscribe to the list.email-publisher.Human Rights Watch Asia Division Human Rights Watch is dedicated to protecting the human rights of people around the world. and Ami Evangelista is associate. John Sifton. Maria Pignataro Nielsen. 10 (C) 56 . Robert L. Brad Adams is executive director. Ali Hasan. Sara Colm and Mickey Spiegel are senior researchers. and Tej Thapa are researchers. We investigate and expose human rights violations and hold abusers accountable. Allison Adoradio. advocacy director. human resources director. 15. Meg Davis. Carroll Bogert. legal and policy director. Wilder Tayler. and Joanna Weschler. send a blank e-mail message to hrw-news-asia-subscribe@topica. executive director. Its Asia division was established in 1985 to monitor and promote the observance of internationally recognized human rights in Asia. program director. Vol. associate director. United Nations representative. Liz Weiss is coordinator. Brussels office director.com. Meenakshi Ganguly. to uphold political freedom and to protect people from inhumane conduct in wartime. No. Human Rights Watch.hrw. to prevent discrimination. We challenge governments and those holding power to end abusive practices and respect international human rights law. We stand with victims and activists to bring offenders to justice. Thomas Kellogg is Orville Schell Fellow. Saman Zia-Zarifi is deputy director. Barbara Guglielmo. finance director. Rory Mungoven. Joanne Leedom-Ackerman is Chairperson of the advisory committee. Steve Crawshaw. Web Site Address: http://www. The staff includes Kenneth Roth. We enlist the public and the international community to support the cause of human rights for all. London office director. Jonathan Fanton is the chair of the board. Charmain Mohamed. Bernstein is the founding chair. Michele Alexander. Iain Levine. operations director.