Human Rights Watch

Desember 2003, Vol. 15, No. 10 (C)

ACEH DIBAWAH DARURAT MILITER:
DI DALAM PERANG RAHASIA
Daftar Istilah Pendahuluan Konteks Kekerasan yang Terjadi Sekarang: Perang Panjang di Aceh Hidup di bawah Darurat Militer Meningkatnya Kehadiran di Desa Menjadikan Anak-Anak Muda Sipil Sebagai Sasaran Pelanggaran Hak Asasi Manusia dan Hukum Kemanusiaan Pembunuhan Diluar Hukum (Extrajudicial Killings) Pembunuhan Kilat (Summary Killings) Selama Operasi Sweeping Penculikan yang Membawa Pada Kematian Penghilangan Secara Paksa (Forced Disappearances) Siksaan Fisik Penahanan Secara Sewenang-wenang dan Ketiadaan Proses Pengusutan Pembatasan Kebebasan Bergerak Pemerasan dan Pembatasan Terhadap Aktifitas Ekonomi Kembalinya Jaga Malam: Tugas Wajib Jaga Malam Pengungsian dan Perampokan Pertanggungjawaban Rekomendasi Untuk Pemerintah dan Pasukan Tentara Indonesia Untuk Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Untuk “Kuartet” (Amerika Serikat, Uni Eropa, Jepang, Bank Dunia) Untuk Pemerintah Malaysia Untuk ASEAN Untuk Negara-Negara, seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Australia, yang menyediakan bantuan atau latihan militer kepada Indonesia Lampiran 2 3 8 15 17 18 20 20 21 27 28 29 34 37 41 43 46 49 51 51 52 53 53 53 54 55

NOTE: This is an unofficial translation of the text of the HRW report by Kontras (http://www.kontras.org), the Commission for Disappearances and Victims of Violence; an Indonesian human rights NGO based in Jakarta. Please see the English language version for exact wording or confirmation of footnotes and other details. Laporan HRW ini tidak secara resmi dan diterjemahkan oleh Kontras (http://www.kontras.org), Kommissi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan; salah satu LSM HAM di Jakarta. Silakan membaca edisi di dalam Bahasa Inggris untuk susunan kata tepat, atau untuk konfirmasi catatan dibawah halaman majalah atau perincian yang lain.

Daftar Istilah
Ambil malam DOM Ambil malam adalah dimana seseorang dibawa dari rumahnya di waktu malam, seringkali oleh orang tak dikenal. Daerah Operasi Militer adalah sebuah penandaan yang diberikan kepada Aceh selama operasi anti-pemberontak yang dilaksanakan dari tahun 1990 s.d 1998. Gerakan Aceh merdeka. Ini adalah nama biasa dari gerakan separatis bersenjata yang dimulai tahun 1976 Bawah Kendali Operasi, penunjukan pasukan tambahan dari luar Aceh dan ditempatkan dibawah komando lokal Tugas wajib jaga malam Kartu Tanda Penduduk Merah Putih, atau kartu identitas merah dan putih yang disyaratkan bagi orang-orang Aceh dibawah darurat militer. Komando Daerah Militer Komando Distrik Militer Komando Rayon Militer Komando Resort Militer Komando Strategis Angkatan Darat Polisi Daerah Polisi Resort Polisi Sektor Tentara Nasional Indonesia

GAM BKO Jaga Malam KTP Merah Putih

Kodam Kodim Koramil Korem Kostrad Polda Polres Polsek TNI

Pendahuluan
Jika Kamu Lari, Kamu ditembak. Jika Kamu tidak lari, Kamu dipukuli.1 —Laki-laki Aceh berusia 20 tahun Perang tersembunyi sudah mengamuk di Aceh sejak bulan Mei 2003, ketika Presiden Indonesia Megawati Soekarnoputri mengumumkan Darurat Militer di propinsi tersebut. Laporan ini mencoba untuk menyampaikan beberapa kenyataan pada perang tersebut: eksekusi diluar hukum (extrajudicial execution), penghilangan secara terpaksa (forced dissapearence), pemukulan (beating), penangkapan dan penahanan secara sewenang-wenang (arbitrarily arrest and detention), dan pembatasan atas kebebasan bergerak. Di dalam banyak peristiwa yang dideskripsikan kepada Human Right Watch, pasukan keamanan Indonesia – militer dan polisi – secara rutin terutama mengambil jalan kekerasan terhadap laki-laki muda Aceh yang diberhentikan untuk ditanyai. Para saksi mengatakan kepada Human Right Watch mengenai pembunuhan para penduduk sipil saat terjadi “sweepings” di desadesa, sebagian ditanyai atau ditahan, beberapa lainnya melarikan diri karena takut dianiyaia. Seorang laki-laki mendeskripsikan kematian seorang laki-laki bernama Jamal: “Dia masih muda, masih duapuluh tahunan. Pada awalnya Saya hanya melihat tiga orang tentara tetapi kemudian yang lainnya bergabung. Saya melihat salah satu dari tentara tersebut memborgol pergelangan kaki lakilaki ini, lalu kemudian tentara lainnya memegang kakinya dan mengayunkannya menghantam sebuah pohon. Tentara tersebut melakukannya beberapa kali sehingga kepala laki-laki tersebut membentur pohon tersebut. Otaknya terburai keluar dari kepalanya, sampai akhirnya dia meninggal. Lalu mayatnya diletakkan di jalan dan tentara lainnya menembak beberapa kali kepada mayat tersebut.”2 Indonesia telah menempatkan kabut rahasia di sekeliling Aceh, propinisi berpenduduk empat juta orang yang terletak di ujung paling utara pulau Sumatra, sebagaimana negara ini mengadakan perang terhadap Gerakan Aceh Merdeka atau GAM. Dalam banyak usaha yang sukses untuk mengontrol informasi, Indonesia telah melarang organisasi hak asasi manusia internasional dan bahkan organisasi kemanusiaan untuk memasuki Aceh dan organisasi berita internsional untuk bergerak banyak diluar Ibukota propinsi, Banda Aceh. Dengan alasan ini, Human Right Watch berangkat ke Malaysia, dimana ribuan orang-orang Aceh mencari perlindungan sesudah menantang bahaya dan perjalanan yang mahal dari zona perang Aceh. Human Rights Watch juga prihatin akan memburuknya kondisi material dan ekonomi yang dapat menandai (bahkan mencerminkan) krisis kemanusiaan, sesuatu yang Human
1 2

Wawancara Human Right Watch (nama disembunyikan), Malaysia, 27 Oktobert 2003.

Wawancara Human Right Watch dengan laki-laki berusia empat puluhan (nama disembunyikan), Malaysia, 23 Oktober 2003.

3

Human Rights Watch, Vol. 15, No. 10 (C)

Rights Watch dan organisasi lainnya sudah peringatkan sejak berbulan-bulan yang lalu. Informasi yang bersifat anekdot dari kesaksian pengungsi, cerita pers dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang bocor keluar secara sporadis dari propinsi tersebut mengesankan bahwa ribuan penduduk Aceh telah dipaksa meninggalkan rumah mereka untuk melarikan diri dari konflik yang ada atau untuk mencari makanan dan tempat berlindung. Penduduk yang tetap tinggal di rumah mereka menjadi sasaran kekurangan bahan pangan, air dan sanitasi, dan mogoknya pelayanan dasar seperti pelayanan kesehatan dan pendidikan.3 Karena laporan ini disiapkan dari beberapa wawancara diluar Aceh, maka tidak dapat melukiskan gambaran menyeluruh tentang konflik senjata ini. Tetapi mungkin fakta yang paling menganggu dalam penelitian kami adalah cerita pelanggaran hak asasi manusia yang serius dan nampak sistematis sejak dimulainya Darurat Militer tidak terbuka. Semua orang-orang Aceh yang diwawancarai oleh Human Right Watch mempunyai cerita mengenai pelanggaran tersebut untuk disampaikan. Banyak dari mereka adalah korban. Secara tidak biasanya, banyak dari mereka menyaksikan penyiksaan terhadap yang lainnya – dalam beberapa kasus pembunuhan, atau pemukulan.4 Diluar fakta bahwa pada awal Juni Kepala Staff Militer Jendral Ryamizard Ryacudu menerima pihak manapun untuk meninjau operasi di Aceh,5 propinsi tersebut hampir seluruhnya tetap tertutup untuk orang luar. Pemerintah Indonesia sudah melarang diplomat, pengamat internasional yang independen, dan LSM internasional di bidang hak asasi manusia untuk memasuki Aceh dan menganjurkan badan kemanusiaan PBB dan LSM kemanusiaan luar negeri untuk pergi. Pekerja LSM Indonesia yang mencoba memonitor situasi tersebut telah diancam tahanan oleh polisi. Bahkan sesi pelatihan Komisi Hak Asasi Manusia National di Banda Aceh dihentikan oleh polisi atas perintah penyelenggara darurat militer pada 20 Oktober. Pihak yang berwenang mengatakan bahwa komisi tersebut tidak memberitahukan mereka mengenai acara tersebut yang disangkal oleh organisasi tersebut. Petugas kepolisian berada di antara para peserta dalam sesi pelatihan tersebut.6 Pemerintah Indonesia telah sangat sukse membatasi arus informasi dari propinsi tersebut. Sebagaimana laporan Human Rights Watch terkini yang didokumentasikan, pembatasan tersebut telah menjaga media dibawah pengawasan yang ketat.7 Untuk mengecilkan laporan mereka mengenai situasi tersebut, beberapa LSM telah terdaftar sebagai tersangka simpatisan GAM, suatu penandaan yang diperingatkan petugas
Lihat secara umum pada Human Right Watch , “Aceh dibawah Darurat Militer: Larangan yang Tidak Perlu dan Berbahaya terhadap Akses Kemanusiaan Internasional,” Makalah Ringkas Human Rights Watch, September 2003. Kerahasiaan dan intimidasi yang menyertai pelanggaran hak asasi manusia yang paling serius secara umum menyulitkan pengumpulan kesaksian saksi. “Badan Hak Asasi Pemerintah Berencana Mengadakan Penyelidikan di Propinsi Aceh” The Jakarta Post, 5 Juni 2003.
6 7 5 4 3

“POLRI Melanggar Hak dalam Sesi Komisi di Propinsi Aceh”, Agence France-Presse, 2 Oktober 2003.

Human Rights Watch, “Aceh dibawah Darurat Militer; Memberangus Para Kurir,” Sebuah Laporan Human Right Watch, vol 15, No. 9 (c ), November 2003.

Human Rights Watch, Vol. 15, No. 10 (C)

4

kepolisan dapat membawa kepada hukuman mati atas alasan subversi.8 Segel yang serapat-rapatnya sudah ditempatkan Indonesia pada desa-desa dan pegunungan di Aceh menimbulkan ketakutan bahwa pasukan militer di kedua belah pihak percaya bahwa, seperti di masa lalu, mereka bisa melakukan pelanggaran yang kebal hukum. Tujuan Indonesia yang jelas adalah untuk menyembunyikan tindakan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan pasukan keamanan lainnya. Hal ini pada akhirnya telah menyembunyikan tingkat kematian dan luka-luka sipil dan militer. Sementara masyarakat Indonesia dan opini Internasional (sebagaimana dalam putaran terkahir pertempuran dengan GAM di Aceh) yang bisa jadi mendukung prinsip-prinsip integritas wilayah Indonesia, ketika berhadapan dengan gafik biaya kemanusiaan akibat perang yang hampir seluruhnya pasti tidak dapat dimenangkan dalam medan perang, maka opini tentang perang bisa jadi mulai berubah. Kebanyakan yang dideskripsikan oleh para pengungsi kepada Human Rights Watch konsisten dengan sejarah panjang prilaku pelanggaran oleh pasukan keamanan Indonesia di Aceh. Taktik militer yang terkini di Aceh dikombinasikan dengan jumah serdadu baru yang disebarkan di propinsi tersebut memastikan meningkatnya kontak antara kekuatan keamanan dengan penduduk sipil, yang dapat menjelaskan beberapa pelanggaran yang terjadi. Terlebih penting lagi adalah lingkungan yang diciptakan oleh pejabat senior militer, yang sudah bersumpah untuk ‘menumpas’ GAM dalam kerangka waktu yang diumumkan.9 “Hal ini sudah ditambahkan untuk menekan tentara dan pejabat di lapangan untuk memenuhi misi mereka dan menghancurkan mereka yang dipercaya menjadi anggota atau pendukung GAM. Tekanan-tekanan ini bertindak seperti minyak yang disiram ke api diantara pasukan bersenjata yang mencerminkan persepsi yang di pegang secara nasional bahwa orang-orang Aceh adalah ‘bajingan’, penduduk yang separatis. Keyakinan bahwa semua orang Aceh mendukung GAM, meskipun tidak ditemukan, meliputi cara berpikir militer Indonesia dan diterjemahkan di lapangan dalam bentuk penggunaan kekuatan secara tidak pandang bulu terhadap penduduk sipil, terutama terhadap para pemuda.’ Komentar yang dikeluarkan oleh Brigadir Polisi Jenderal Gulliansyah, Kepala Operasi Penegakan Hukum, pada tanggal 3 Desember 2003 adalah contoh mengerikan jenis ceramah yang membakar yang dapat membawa kepada pelanggaran dan kegagalan pasukan militer untuk membedakan antara pejuang GAM dan orang-orang sipil, “Jika perlu tembak di tempat semua orang yang mengibarkan bendera GAM ini. Siapapun yang mengibarkan bendera tersebut pasti anggota GAM.”10

“Para Pendukung GAM Dapat Terancam Hukuman Mati,” The Straits Times, 4 Juni 2003, “Jika ada Bukti, Aktivis dan simpatisan GAM akan ditangkap,” detik.com, 21 May 2003. Raja Ismail dan Abdussalam Muhamad Dell, dua orang anggota organisasi hak asasi manusia di Aceh Timur yang disebut Pos Bantuan Hukum dan HAM, PB-HAM, menghilang dalam minggu-minggu sebelum Darurat Militer. Tubuh Raja Ismail ditemukan dua hari kemudian. Lihat Amnesty International, “Indonesia Melindungi Para Pelindung; Para Pembela Hak Asasi Manusia dan Pekerja Kemanusiaan di Nanggroe Aceh Darussalam,” 3 Juni 2003. “Putaran Terakhir Pembicaraan untuk Mencegah Perang di Aceh,“ Laksamananet, 20 April 2003; Matthew Moore, “Indonesia Mengatakan akan Menghancurkan Para Pemberontak.” The Age, 5 Nopember 2003.
10 9

8

“NAD: Tembak di Tempat Bagi Pengibar Bendera GAM,” Kompas, 4 Desember 2003.

5

Human Rights Watch, Vol. 15, No. 10 (C)

Karena larangan terhadap akses. informasi yang terdapat didalam laporan ini mungkin hanya merepresentasikan puncak gunung es yang berbahaya dan menakutkan saja dari kenyataan yang sebenarnya. Wawancara di Malaysia dilakukan terutama dengan laki-laki Aceh berusia antara delapan belas sampai dengan tigapuluh lima tahun. ditujukan kepada Indonesia. Hal ini penting bagi kesejahteraan masyarakat Aceh bahwa organisasi yang tidak memihak. bukannya membawa akhir bagi konflik. adalah sederhana: ambil semua langkah yang mungkin untuk memastikan bahwa aparat keamanan bertindak secara profesional dan menghargai hak asasi manusia dan hukum kemanusiaan. Banyak dari mereka sudah berada disana sejak Darurat Militer dimulai. Human Rights Watch hanya mampu mewawancarai sembilan Human Rights Watch. mendisiplinkan dan mengusut mereka yang melakukan pelangguran (rekomendasi lebih lanjut terdapat di halaman 42 dan 43) dan membolehkan akses yang segera dan tanpa kekangan ke Aceh untuk pengamat independen dan tidak berpihak serta badan-badan kemanusiaan. baik internasional maupun lokal. TNI khususnya menargetkan penduduk di kelompok usia ini di Aceh sebagai yang paling mungkin terlibat dalam aktifitas GAM. Human Rights Watch menghimbau agar tekanan yang seberatberatnya ditempatkan pada Indonesia untuk menghentikan pelanggaran hak di Aceh merajalela dan memastikan kesejahteraan dan keselamatan penduduk sipil. Sebagaimana di masa lalu. Gagalnya Kerangka Perjanjian Genjatan Senjata terhadap Permusuhan (the Cessation of Hostilities Franework Agreement atau COHA) memberi pukulan yang serius bagi harapan akan akhir sebuah negosiasi menjadi pelanggaran hak asasi secara besar-besaran di Aceh. Kesaksian dari para pengungsi ini melukiskan contoh yang mewakili kehidupan penduduk sipil tertentu dibawah darurat militer. Uni Eropa. Hanya dengan begitu maka pelanggaran hak asasi manusia dapat dideteksi dan organisasi kemanusiaan. Rekomendasi utama laporan ini. 15. Sebuah Catatan mengenai Para Narasumber Human Rights Watch pergi ke Malaysia untuk mewawancarai individu yang meninggalkan Aceh karena pertempuran yang terjadi. Sedangkan untuk komunitas internasional. dapat menyediakan bantuan yang diperlukan. Sekitar delapanpuluh lima wawancara dengan orang-orang Aceh dilakukan di bulan Oktober dan November 2003. seperti badan PBB yang terkait. mempunyai akses dan mampu untuk melaporkan kepada umum mengenai situasi disana. Pendekatan militer yang dilakukan Jakarta. Vol. No. 10 (C) 6 . khususnya “kuartet” (Amerika Serikat. Hal ini selanjutnya terlihat pada mayoritas pengungsi yang datang di Malasysia sejak dimulainya perang pada bulan Mei 2003. Komunitas Internasional seharusnya membuat akses pada prioritas tertinggi. selain membangun proses yang dipercaya untuk menghapuskan. tetapi malah menghasilkan gelombang baru pelanggaran terhadap hak asasi manusia. Jepang dan Bank Dunia) yang terlibat di dalam perundingan damai antara Indonesia dan GAM. beberapa diantaranya datang hanya beberapa hari atau minggu sebelum diwawancara.

Human Rights Watch secara konsisten bertanya kepada mereka yang diwawancarai seandainya mereka pernah menyaksikan atau menjadi korban penyiksaan GAM.” Sebuah Laporan Human Righat Watch. Tetapi sebelum pemerintah Indonesia membuka Aceh untuk pengamat independen. dan staf di kantor United Nations High Commissioner for Refuges di Malaysia yang dianggap representatif. Secara khusus. selebihnya dilakukan dengan penterjemah bahasa Aceh. Kurangnya akses terhadap para pengamat independen membuat mustahil unuk mengetahui seberapa mewakilinya laporan ini. Para peneliti Human Rights Watch tidak bisa mewawancarai mereka yang paling beresiko terkena kekerasan oleh GAM. “Indonesia: Perang di Aceh. Kami sudah menghilangkan nama-nama para narasumber dari Aceh. Lihat Human Rights Watch. Meskipun demikian. No. GAM tidak seharusnya melakukan tindakan yang menempatkan orang sipil dalam resiko khusus. seperti penculikan atau penyitaan kartu identitas untuk dipergunakan oleh pejuang GAM. akademisi. dengan Profil Demografis. GAM mempunyai catatan panjang tentang prilaku menyiksa di Aceh. Figur ini mencerminkan dua belas persen pendaftar baru di UNHCR adalah perempuan selama September 2003. UNHCR. 13. Sebuah catatan dalam hal pelanggaran GAM: Human Rights Watch prihatin terhadap penyiksaan yang dilakukan oleh GAM. Human Rights Watch menghimbau GAM untuk bertindak sesuai dengan hukum kemanusiaan internasional. laporan ini tidak berisi informasi semacam itu. informasi mengenai kemungkinan penyiksaan yang dilakukan GAM akan sulit diperoleh.” JuliSeptember. karena Human Rights Watch tidak mempunyai akses di Aceh. 10 (C) . vol. perwakilan LSM Malaysia. aktivis mahasiswa. Laporan ini hampir seluruhnya terdiri dari kesaksian tangan-pertama yang meliputi banyak kabupaten di Aceh dan keseluruhan periode darurat Militer. 4 (c). Agustus 2001. para pengungsi yang diwawancarai di Malaysia tidak melaporkan kasus semacam itu.12 Orang-orang semacam itu lebih cenderung melarikan diri ke bagian lain dari propinsi tersebut atau menyebar ke daerah lain di Indonesia daripada pergi ke Malaysia. seperti etnis Jawa. “Ringkasan Statistik Pendaftaran Berdasarkan Asal Etnis. Tetapi. 12 11 7 Human Rights Watch. Human Rights Watch mengakui bahwa kurangnya kesaksian tidak secara perlu berarti bahwa tidak ada penyiksaan yang dilakukan.perempuan dewasa dan seorang anak perempuan dari Aceh. 15.11 Banyak wawancara dilakukan tanpa penterjemah dalam Bahasa Indonesia. Vol. Human Rights Watch juga mewawancarai pimpinan komunitas masyarakat Aceh. 2003. No. Dikarenakan resiko tindakan balas dendam. desa asal mereka dan lokasi mereka di Malaysia. Komisi Hak Asasi Manusia Malaysia. atau mereka yang dicurigai menolong militer.

status resmi militer di Aceh sejak tahun 1990 sampai dengan 1998. 1995. Apa yang disebut sebagai peride Daerah Operasi Militer dimulai pada tahun 1990 sesudah GAM menyusun serangkaian penyerangan terhadap pos polisi dan militer untuk merampas amunisi dan lusinan senjata otomatis. 106. Penghitungan korban yang paling konservatif. Sekitar seribu orang Aceh dari masyarakat sipil terbunuh dalam tiga tahun pertama operasi tersebut. telah dan seterusnya menjadi penting. Betapapun baru empat tahun terakhir ini mereka sudah membangun pangkalan penting yang terkenal. Maret 2002. hal. “Indonesia: Pertanggungjawaban Terhadap Kejahatan Kemanusiaan di Aceh. Aceh Diselubungi oleh Darah (Jakarta: Pustaka as-Kautsar. Dari bulan Juli 2001 sampai saat operasi darurat militer membuat mereka harus bertahan. 15. tidak bisa mencari uang. mencatat 871 orang terbunuh secara seketika oleh tentara. 10 (C) 8 . pergi kemanapun kami mau. 13. Situasi sekarang lebih dari DOM. —Laki-laki Aceh usia 30 tahun13 GAM sudah ada sejak para pendirinya mendeklarasikan kemerdekaannya dari Jakarta pada tahun 1976. 4 (c). no 1 (c). “Indonesia: Panduduk Sipi Menjadi Target di Aceh. sumber persenjataan tetap. Kami bisa mendapat pekerjaan. vol 12. DOM masih ringan. DOM adalah singkatan dari Daerah Operasi Militer. Perang di Aceh. hal. dan 387 orang hilang yang kemudian pada akhirnya ditemukan meninggal. 14 15 13 Tim Kell. Mei 2000. Selalu begitu selama DOM. Human Rights Watch. Malaysia.” Makalah Ringkas Human Rights Watch. GAM menjalankan pengawasan terhadap bagian yang luas di Aceh. Human Rights Watch. “Indonesia. Human Rights Watch. fase terburuk DOM. tetapi spur lain yang penting untuk gerakan kemerdekaan telah menjadi kegagalan pemerintahan paska Soeharto untuk memusatkan pelanggaran hak asasi manusia di masa lalu. no. disiapkan oleh pemerintah propinsi di akhir tahun 1998. tidak bisa dibandingkan dengan sekarang. sampai akhirnya pemerintahan Soeharto menyatakan Aceh sebagai “Daerah Operasi Militer” atau DOM dan menyusun salah satu kampanye kontra-pemberontak terbesar yang terlihat sejak tahun 1960. Lebih dari 500 orang lainnya terdaftar sebagai “orang hilang” dan tidak pernah ditemukan.14 Keluhan ekonomi. meskipun operasi dan penyiksaan berlanjut sampai sesudah DOM berakhir. 1998). belasan ribu orang Aceh dipenjara dan disiksa di dalam Wawancara Human Rights (nama disembunyikan). dan struktur komando yang secara relatif terorganisir dengan baik. sebagian sehubungan dengan sumber daya gas dan minya. Sesudah DOM selesai sempat ada setahun dimana segalanya berlangsung lebih baik. Tetapi kini keadaan sudah kembali mengerikan. 62-63. 23 Oktober 2003. Al-Chaidar.” Sebuah Laporan Human Righst Watch. dengan kehadiran terkuat khususnya di enam dari kebupaten yang terbanyak penduduknya dan tersejahtera. Agustus 2001. Sebagai tambahan. mencai kerja. Lihat Human Right Watch. Para pendiri GAM menekankan perampasan kekayaan dan sumber alam Aceh oleh penduduk baru “Orang Jawa-Indonesia” atas nama pembangunan dan kebutuhan untuk merebut kembali kejayaan masa lalu Aceh. Akar Pemberontakan Warga Aceh 1989-92 Lithace: Cornell Univeristy.15 Hampir semua perkiraan LSM setidaknya berjumlah dua kali lebih besar. Vol.Konteks Kekerasan yang Terjadi Sekarang: Perang Panjang di Aceh Kami tidak bisa hidup. Sayed Mudhahar Ahmad dan Yarmen Dinamika. No. vol.” Sebuah Laporan Human Rights Watch.

Habibie.J. Sejak awal 1999. Tidak ada yang terjadi dari sana. Beberapa orang di Jakarta sepertinya memahami derajat kemarahan terhadap pelanggaran selama era DOM sudah merubah dinamika politik di Aceh: GAM sekarang mempunyai jauh lebih banyak pendukung yang mau menerima mereka daripada yang sebelumnya mereka punya. Penyiksaan terus berlangsung sampai DOM berakhir di tahun 1998. Jendral Wiranto. Komisi Hak Asasi Manusia Indonesia menyarankan untuk dibentuknya Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi khusus untuk Aceh. Sadar Rencong I. Di bulan Desember 1999. B. secara resmi meminta maaf kepada masyarakat Aceh atas perbuatan yang keterlaluan selama era DOM. dan secepatnya mengusut mereka yang bertanggungjawab atas pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan selama periode DOM. Komandan TNI. Pengunduran diri Soeharto di tahun 1998 menciptakan harapan di sepanjang Aceh bahwa keadilan akan dilakukan. Rekomendasi-rekomendasi tersebut menghasilkan perubahan dalam rancangan undang-undang tentang otonomi. dengan 102 kasus yang tercatat oleh tim pemerintahan lokal. yang menerima tanggung jawab kepresidenan ketika Soeharto turun di tahun 1998. Dalam hitungan hari. sebuah gerakan politik pro-kemerdekaan yang mulai timbul dan mobilisasi penduduk secara besar-besaran yang mencari saluran-saluran untuk mengekspresikan kefrustasian mereka terhadap Jakarta atas kegagalannya mengatasi pelanggaran masa lalu. empat elemen kunci berkumpul bersama untuk memfasilitasi perkembangan yang cepat dari gerakan kemerdekaan: sebuah organisasi gerilya bersenjata. sosok-sosok kunci dalam hirarkis DOM berlanjut untuk menduduki posisi-posisi yang berpengaruh di seluruh Indonesia. Tampaknya setiap orang Aceh di daerah yang terpukul paling berat dapat menyebutkan anggota keluarga mereka yang menjadi target utama langsung dari pelanggaran hak asasi manusia. Bagaimanapun.kamp militer. 10 (C) . meskipun dalam tingkat intensitas yang lebih rendah daripada dalam periode 1990-1993. Pada bulan Agustus 1998. pemerintah Indonesia sudah bergerak untuk menyelidiki dan mengusut para pejabat atas peran mereka dalam pelanggaran tersebut. mengumumkan bahwa warga Timor Timur akan diberikan kesempatan untuk memilih antara pemberian otonomi dan memisahkan diri dari Indonesia. termasuk membangun kembali fasilitas yang dihancurkan. Yang keempat adalah serangkaian kesalahan di Jakarta. Di awal tahun 1999. Abdurrahman Wahid. membuka dialog dengan pihak-pihak yang terkait dengan konflik. sebuah kongres yang dibentuk oleh seluruh mahasiswa Aceh meminta sebuah referendum kemerdekaan untuk dilaksanakan di Aceh. Di bulan Agustus 1999. Seandainya. 15. No. dinamika politik di propinsi tersebut mengalami perubahan genting lainnya. dan Cinta Meunasah I dan II – 9 Human Rights Watch. II dan II. Daripada pengusutan malah terjadi peningkatan dalam jenis-jenis kejahatan hak asasi manusia yang menandai periode DOM. hal ini bisa membuat pemutusan dengan masa lalu yang menentukan. pada titik ini. memberikan propinsi tersebut lebih banyak otonomi. Operasi militer dibawah serangkaian kode-kode nama – Wibawa 99. Vol. dan perkosaan menurut laporan menyebarluas. tetapi rekomendasi mengenai pengusutan diabaikan. panitia khusus di DPR untuk Aceh membuat serangkaian rekomendasi untuk presiden baru.

Jumlah pasukan dinaikan dalam usaha sistematis yang ditujukan kepada kubu dan markas GAM yang dicurigai. panitia dibentuk di Aceh. Aceh barat. Di saat yang sama. 29 Agustus 2003. tanpa diduga sebelumnya oleh orang-orang. Sebagai bagian dari perjanjian berkenaan dengan ‘jeda’ tersebut. kandidat presiden Megawati Soekarnoputri menjanjikan bahwa jika dia terpilih maka dia akan berusaha kerasa untuk mengakhiri komflik yang sudah berjalan begitu lama. dan mengadakan kembali dewan sesepuh desa yang sudah ada sebelum Aceh bergabung dengan Republik Indonesia. dengan 16 “Penduduk Desa Aceh Menemukan Pemakaman Masal”. Jeda tersebut diperbaharui dua kali. menteri pertahanan Indonesia dan komandan TNI mengumumkan operasi militer baru melawan GAM. “saat pemimpin perempuan kalian memimpin negara ini. International Herald Tribune. yang melihatnya sebagai cara GAM untuk mengkonsolidasikan kontrolnya terhadap daerah pedesaan. membangun kemarahan orang-orang yang meningkat. yang kemudian berganti nama menjadi Pusat Dialog Kemanusiaan (the Centre for Humanitarian Dialogue atau HDC) kedalam situasi tersebut. Kadang melalui persuasi. “Perang Kecil untuk Menyokong Penilaian”. untuk mendiskusikan masalah keamanan dan kekerasan selama ‘jeda’ tersebut. No. Nama yang diberikan kepada usaha perdamaian berubah dari ‘jeda kemanusiaan’ menjadi ‘penundaan kekerasan’ lalu menjadi ‘perdamaian melalui dialog”. terdiri dari baik GAM maupun perwakilan pemerintah. yang sukses. Di bulan Mei 2000. dan kepergian militia pro-Indonesia dari timur sampai barat Timor menyediakan sumber persenjataan baru yang utama. Julia Suryakusuma. serangan oleh GAM kepada militer dan polisi juga meningkat. Sejalan dengan meningkatnya kekerasah dari pihak Indonesia. Pada bulan-bulan pertama ‘jeda’ tersebut. Aceh Timur dan Aceh Selatan. dengan ketidaksenangan militer Indonesia. tetapi usaha dasar untuk menjaga pembicaraan antara pihak-pihak terkait terus berlanjut. jenjang dasar dinas pemerintah Indonesia. Pada bulan Juli 1999. HDC menghasilkan suatu “jeda kemanusiaan” dalam konflik tersebut. suatu gencatan senjata yang bukan sungguhan. BBC World News. Human Rights Watch. 15. mulai bergerak diluar penyerangan sporadis terhadap polisi dan tentara untuk menyiapkan sebuah pemerintahan alternatif. GAM secara berangsur-angsur mengambil alih kebanyakan fungsi-fungsi pemerintah yang dimulai dari Kabupaten Pidie dan berangsur berpindah jauh kedalam Aceh Utara. kadang melalui penculikan dan sejenis pendidikan kembali untuk pejabat-pejabat pemerintah daerah. Henri Dunant Centre. Pada tanggal 9 Maret 2001. 10 (C) 10 . Mereka melakukannya dengan mengganti kepala-kepala desa.membawa kepada jumlah serdadu lebih besar dan seluruh desa dihukum sebagai pembalasan dendam atas serangan GAM. Saya tidak akan mengizinkan satu tetes pun darah manusia menyentuh tanah kalian. GAM.”16 Di pertengahan tahun 2000 datanglah organisasi yang berlandaskan resolusi konflik dari Geneva. GAM mampu untuk menghasilkan pemasukan yang penting dalam “pajak perang” dari perseorangan dan bisnis. Vol. kekerasan menurun dengan tajam. 30 Juli 1000. dalam menjadi menengahi perundingan antara GAM dan pemerintah Indonesia. Menitikan air matanya di Aceh dia mengumumkan.

Sesudah penangkapan terhadap empat juru runding GAM dan runtuhnya parit-terakhir (last-ditch) pembicaraan damai di Tokyo. Ini adalah harapan terakhir yang terbaik untuk perdamaian di Aceh. dengan perantara HDC. tanggal 19 Mei 2003. dan TNI serta dinas keamanan Indonesia lainnya menggembar-gemborkan untuk ‘menumpas’ GAM dalam periode tersebut meskipun banyak pengamat menyangsikannya. Vol. GAM menuduh bahwa Indonesia tidak berunding dengan niat baik. “Badan Hak Asasi Menegaskan Pembunuhan atas Warga Sipil Tanpa Nama di Bireuen. Keputusan tersebut menempatkan Aceh dibawah Darurat Militer selama enam bulan. menegaskan bahwa anak-anak tersebut berada diantara korban pembunuhan extra-judicial di Aceh. pada tanggal 21 Mei para tentara membunuh tujuh orang. Indonesia berkeras bahwa GAM tidak mengakui tuduhan hendak merebut kemerdakaan dan menuduh GAM menggunakan COHA untuk membangun kembali kekuatan bersenjatanya dan meluaskan basis politiknya. 20 Juni 2003. Palang Merah Indonesia melaporkan bahwa mereka menemukan delapanpuluh dua mayat di minggu pertama. seperti organisasi terhormat seeperti Kontras cabang Aceh. Militer mengatakan semua korban adalah anggota atau mata-mata GAM. meskipun organisasi tersebut mengatakan bahwa hal tersebut tidak dapat 17 “Badan Hak Asasi akan Memeriksa Laporan Pemakaman Masal di Aceh Minggu Depan. Meskipun COHA tidak menunujukan perbedaan yang mendasar. dan pada mulanya membawa pengurangan kekerasan. dan dibawah tekanan dari Amerika Serikat. 14 Juni 2003. No. Presiden Megawati menandatangani Keputusan Presiden nomor 28. yang memberi wewenang kepada pasukan kemanan Indonesia untuk melancarkan operasi militer besar-besaran melawan GAM. Jepang dan Bank Dunia. dan 151 mayat di akhir minggu ketiga. mengakui bahwa mereka tidak mampu untuk mengumpulkan data di lapangan secara efektif. Uni Eropa. Meskipun begitu hanya terdapat sedikit kemajuan terhadap penyelesaian konflik secara politis. Muninggar Sri Sraswati. termasuk dua orang bocah berusia dibawah empat belas tahun.17 Jumlah pasti korban-korban sipil sulit untuk ditetapkan mesipun semua pihak mengesankan bahwa korban sipil dan pejuang (GAM) sangat besar. Komisi Hak Asasi Manusia Indonesia. Semua korban memakai pakaian sipil. Dalam satu kasus yang dilaporkan dengan baik dari hari-hari pertama Darurat Militer. 10 (C) . meskipun mereka tidak menyalahkan secara umum.banyak tuduhan dari organisasi lokal atas nama penududuk sipil yang terbunuh selama proses tersebut.” Agence FrancePresse. Segera terdapat tuduhan berkaitan dengan kekerasan terhadap hak asasi manusia oleh TNI. (“kuartet”). Komnas HAM.” The Jakarta Post. sesudah kunjungannya pada bulan Juni ke propinsi tersebut. meskipun para penduduk lokal menolaknya. Indonesia dan GAM menandatangani Perjanjian Kerangka Gencatan Senjata atas Permusuhan (the Cessation of Hostilities Framework Agreement atau COHA). tapi membuka pintu terhadap lebih banyak perundingan yang dilakukan dalam pengawasan internasional. 15. 11 Human Rights Watch. Baik perkiraan pemerintah maupun GAM tidak dapat diandalkan (misalnya jumlah orang sipil yang hilang yang berasal dari pemerintah hanya terbatas pegawai pemerintah saja) dan LSM di lapangan. Pada bulan Desember 2003.

” Reuters. dari 319 kematian warga sipil yang dilaporkan oleh polisi pada tanggal 3 September 2003. No. Perang Kotor yang Tidak Terungkap. Lihat “319 warga sipil terbunuh dalam Kekacuan Aceh di Indonesia. Bireun. perkosaan dan pemindahan (displacement) secara paksa. pelecehan seksual. Tidak ada laporan yang dikeluarkan.18 Dalam indikasi lain tentang tingginya jumlah korban awal.” The Jakarta Post. Komnas HAM mengatakan bahwa di awal bulan Juni mereka akan meneyelidiki lebih dari dua puluh kasus tentang pelanggaran hak yang diduga keras terjadi selama dua minggu pertama operasi militer di propinsi tersebut. penguasa darusat militer membatasi gerakan tim sama sekali. Vol. “Komnas HAM Hendak Menyelidiki Pelanggaran-Pelanggaran di Aceh. “Perang Indonesia dengan Para Separatis Memakan 1. Di sekitar Lhokseumawe jumlah tersebut dilaporkan sebanyak enam orang per hari. 23 Agustus 2003. perkosaan dan pemindahan secara paksa dan penculikan masih tetap merajalela. dan tergantung dari sumber dan bentuk penyiksaan. 20 Meskipun tim komisi ad-hoc dapat bertemu dengan lebih dari seratus orang saksi mata dalam misi kedua mereka selama lima hari di bulan agustus. Taufiqurrahaman. 10 (C) 12 . dan tujuhpuluh delapan sipil menjadi korban penghilangan secara paksa.” The Jakarta Post. dan Aceh Besar. Pemerintah Indonesia melaporkan bahwa sekitar 1. Sebagai contoh. 23 22 Memperhatikan ketidaksesuaian antara anggota GAM yang berdasarkan laporan terbunuh (1. “Pelanggaran Hak Asasi di Aceh Dapat Membawa Intervensi PBB. 18 Human Rights Watch. 2003. Kebanyakan perkirakan mencatat secara khusus tingginya korban sipil di Aceh Utara dan Aceh Timur. 21 Di bulan November. 213 kasus penangkapan dan penahanan secara sewenang-wenang. “Pertanyaan sesunggunya adalah berapa banyak dari orang-orang tersebut yang dideskripsikan sebagai pemberontak pada kenyataannya adalah GAM. juru bicara militer melaporkan bahwa setidaknya 395 orang sipil telah terbunuh sejak dimulainya Darurat Militer. korban sipil terbesar berasal dari Aceh Utara (110).” Ahmad Pathoni.23 18 “Palang Merah Indonesia Mengatakan Memindahkan 151 Mayat di Aceh. Aceh Timur (70) dan Aceh Selatan (45). kebanyakan dari mereka adalah para pemuda dengan luka tembak.100) dan senjata yang ditemukan (485). 5 September 2003. Kontras Aceh menemukan bahwa banyak warga sipil menjadi korban selama operasi militer di Indonesia dalam pencarian para gerilyawan. Aceh Selatan. 11 Juni 2003. “Makalah Ringkas tentang Aceh: Propinsi Aceh. “Deutsche Presse-Agentur. 3 Juni 2003. 22 Pemerintah Indonesia menyalahkan GAM atas korban-korban tersebut. Meskipun tidak ada kasus dimana korban diganggu oleh pelaku. Pencapaian yang Tidak Jelas.100 anggota GAM telah terbunuh di bulan Oktober. Perkiraan Kontras Aceh pada tanggal 18 Agustus menempatkan jumlah yang kurang lebih sama yaitu 329 warga sipil terbunuh. 26 May 2003. LSM tersebut menekankan bahwa jumlah sebenarnya kemungkinan lebih besar karena adanya keterbatasan pelaporan dan investigasi. tetapi dalam pernyataan secara umum komisi tersebut mengatakan bahwa pembunuhan. pelecehan seksual. Kontras Aceh. 19“Permintaan Suplai Tambahan di Aceh” British Broadcasting Corporation. dan juga anggota GAM yang mungkin terbunuh diluar pertempuran dalam pelanggaran hukum kemanusiaan.” September 2003. termasuk pembunuhan.600 Korban.menegaskan bahwa mereka semua non-pejuang. begitu juga 315 warga sipil disiksa atau dipukuli. Sidney Jones dari Kelompok Krisis Internasional (Inetrnational Crisis Group) telah mencatat. kamar mayat rumah sakit utama Banda Aceh menerima rata-rata tiga mayat per hari. Human Rights Watch prihatin baik kepada mereka yang diklasifikasikan sebagai GAM namum ternyata orang sipil. 20 Tertiani ZB Simanjuntak.” Agence France-Presse. 21 M. “Indonesia Melancarkan Kampanye Aceh Melawan Pemberontak. Dean Yates. May 26. BBC memberitakan bahwa dalam minggu pertama operasi. 15. 19 dan jumlah korban lebih jauh dari dua pusat perkotaan tersebut kemungkinan lebih tinggi.” Reuters.

25 13 Human Rights Watch. Lihat Human Rights Watch. dan pemerintah daerah. Unit “non-organik” dikirim dari bagian lain Indonesia termasuk battalion infantri dari propinsi lainnya. adalah spesialis dalam pengumpulan intelijen dan operasi khusus dan dianggap sebagai kebanggan pasukan tentara. Malaysia. “Tidak Ada Daerah yang Bisa Melepaskan Diri: Time Asia.000 polisi (kebanyakan dari mereka menjalankan fungsi paramiliter) telah disebarkan propinsi tersebut untuk berperang melawan sekitar 5. Dalam kampanye militer tebesar militer Indonesia sejak penyerbuan ke Timor Timur. persoalan keadian. fokus yang berlebihan telah ditempatkan pada operasi militer. 10 (C) . Kesatuan tempur yang kuat dari kekuatan militer Indonesia telah disebar di Aceh. sering bekerja bersama-sama dengan unit militer. Operasi terpadu ini disusun sebagai usaha untuk memenangkan perang dengan GAM sekaligus memenangkan hati dan pikiran penduduk lokal. Tetapi usaha apapun yang bisa dilakukan pemerintah Indonesia untuk membatasi kengerian perang bagi penduduk sipil. Banyak dari November 2003.000 pemberontak GAM dengan 2. kesejahteraan sosial. Mayor Jenderal Endang Suwarya. 24 Diluar sifat dasar terpadu operasi. atau “pasukan khusus”. pada tingkatan kecamatan (polsek) dan propinsi (Polda) dan unit brigadir mobil polisi paramiliter. meskipun mereka dikenal dengan reputasi buruk karena keterlibatan mereka dalam pelanggaran hak asasi manusia sepanjang kepulauan ini. Kepala TNI Ryamizard Ryacudu menyatakan dalam sebuah wawancara. “Tugas kami adalah untuk menghancurkan kemampuan militer GAM.” Wawancara dengan Ryamizard Ryacudu. TNI akan menempatkan bukti bahwa korban tersebut adalah anggota GAM. meskipun hanya dengan satu kesaksian saksi mata. kesaksian yang dikumpulkan dalam laporan ini memperjelas bahwa operasi militer lah yang mempunyai pengaruh terhebat terhadap penduduk sipil.000 senjata. diperkirakan 28. sebagaimana juga kekuatan Kostrad dan Kopassus untuk membantu pengumpulan operasi dan intelijen. No. Penyelenggara Darurat Militer di Aceh. Brimob. Kopassus. Wawancara Human Rights Watch dengan seorang laki-laki berusia empat puluh-an (nama disembunyikan). 26 Oktober 2003. 15. Tetapi sejauh ini sejak propinsi tersebut tertutup dari pengamat internasional independen. agama. otonomi. yang menurut pemerintah Indonesia termasuk komponen-komponen militer. yang cenderung lebih terlibat dalam operasi militer. sub-regional (Korem) dan regional (Kodam).25 Pasukan polisi termasuk polisi lokal.Pengenaan darurat militer berarti bahwa semua instrumen pemerintah sekarang berada di bawah kontrol militer. efektifitas dan kekuasaan programprogram non-militer akan sulit untuk dinilai.24 Suatu ukuran dari peran utama operasi militer dalam operasi terpadu ini adalah luasnya cakupan upaya militer. pendidikan – hal-hal tersebut bukanlah masalah militer Indonesia. mengawasi semua aspek dari operasi ‘terpadu’ Indonesia di Aceh. Vol. “Militer Indonesian dan Militia Sipil di Timor Timur” Backgounder Human Rights Watch. April 1999. Kostrad dapat dikenali melalui baret hijau mereka dan sebagai pasukan tentara khusus TNI. Beberapa orang Aceh di Malaysia menyatakan bahwa sesudah membunuh seorang warga sipil. yang mengenakan baret merah.000 pasukan dan 12. Unit tentara termasuk ‘organik’ atau kekuatan berbasis lokal tingkatan kelurahan (Koramil). kabupaten (Kodim). 2 Juni 2003. penegakan hukum kemanusiaan.

26 Meskipun konflik dapat mengambil tempat dimanapun.” The Jakarta Post. pertempuran di daerah hunian. tank-tank. Bulletin Online 159. September 2000. pasukan terjun payung. termasuk Kostrad. Aceh mempunyai dua Korem. No. pasukan pembentu yang penting) Pada tahun 2002 penguasa militer menciptakan komando regional baru. Vol.mereka telah dikirim dari luar Aceh untuk membantu operasi (dikenal sebagai BKO atau Bawah Kendali Operasi. kapal amfibi. untuk Aceh. satuan tugas Rajawali beroperasi di unit pasukan peleton yang dibentuk dari pasukan yang berasal dari cabang dan wilayah yang berbeda. Marinir dan Kopassus. Brigadir Jendral Goerge Toisutta tersebut pada bulan November sebagai komandan operasi militer dibawah Darurat Militer untuk TNI di Aceh. 10 (C) 14 . Angkatan laut. strategi penyergapan dan teknik-teknik tembak-untuk-bunuh. kapal-kapal tempur dan helikopter. 17 April 2001. Sebagai tambahan. Satuang tugas menurut laporan telah dilatih oleh Kopassus dalam peperangan anti-gerilya. Korem Teuku Umar di Banda Aceh dan Korem Lilawangsa di Lhokseumawe. 15. menggantikan Mayor Jendral Bambang Darmono. barisan terdepan perburuan GAM adalah pegunungan dan hutan. Tapol. atau Kodam. 26 “Kopassus BErsiap Menumpas Pemberontak Aceh. Kodam Iskandar Muda dikepalai oleh Mayor Jenderal Endang Suwaryo. udara dan marinir Indonesia juga sudah memainkan peran dalam kampanye melalui penyerbaran kapal-kapal perang. yang juga sekarang menjadi penyelenggara Darurat Militer. Desa-desa dalam atau dipinggir daerah-daerah ini secara khusus cenderung terjebak didalam peperangan mereka. Human Rights Watch. pertempuran jalanan. yang menjadi bagian dari komando yang lebih luas yang berpusat di propinsi tetangga Sumatera Utara.

Malaysia.28 Dimulainya kampanye militer Indonesia di Aceh dalam bulan Mei ditandai dengan pertunjukan kekuatan besar-besaran. Bis Saya harus menunggu dua puluh menit untuk lewatnya iring-iringan truk tentara sebanyak tigapuluh lima truk. 5 November 2003.000 polisi yang bertugas “menumpas” GAM. dengan militer Indonesia memamerkan pasukan dan perlengkapan terbaik mereka didepan pers dunia. Wawancara Human Right Watch dengan laki-laki berusia empat puluh dua tahun (nama disembunyikan). 15 Human Rights Watch. Penjelasan atas kampanye tersebut diterangkan sebelum pernyataan resmi Darurat Militer. Seorang laki-laki berusia dua puluh lima tahun. seorang laki-laki duapuluh lima-an. Air mata kami semua sudah kering. yang kembali ke Aceh dari Malaysia pada bulan Maret ketika the COHA diberlakukan.000 pasukan dan 12. Keadaan hanya sedikit aman selama periode tersebut. darurat militer datang. Saya pulang ke rumah secara sukarela. —Laki-laki Aceh berusia empat puluh tahun.Hidup di bawah Darurat Militer Harus dimengerti bahwa para pejabat kami berprilaku cukup agresif di mata umum.27 Kami tidak menangis. kartu identitas. tahun 1998. Sudah terdapat banyak TNI. Bulan Maret 2003. Kami bahkan tidak bisa menangis lagi dengan trauma yang kami alami hari ini. tetapi mereka juga menggambar-gemborkan penyebaran sekitar 28. Pada saat itu Saya sedang berada di Kecamatan Samalanga. Vol. tetapi sesudah tiga bulan. No. tetapi mereka pada dasarnya personil yang ramah dan bersahabat. Sebagaimanya yang dikatakan bekas aktifis mahasiswa. Saya pergi dari Aceh ke Medan dengan minibus. tujuan. Pada hari dimana (presiden) Megawati 27 28 “TNI Berencana untuk Menyusun Ulang Penyebaran Pasukan di Aceh.” The Jakarta Post. Saya berharap untuk menetap selama enam bulan. yang lainnya. 10 (C) . 15. menggambarkan usahanya untuk meninggalkan propinsi tersebut: Saya datang kesini (Malaysia) ketika segalanya pertama kali meledak. yang meninggalkan Aceh dua minggu sebelum darurat militer dimulai. 26 Juli 2003. kepada Human Rights Watch: Sudah jelas apa yang akan terjadi. menuju ke Barat… Pada tempat pemeriksaan mereka memeriksa tas-tas. Bom sonik dan peragaan udara oleh Angkatan Udara Indonesia memang jadi sekedar untuk pertunjukan. setiap hari di Aceh. di Langsa (Aceh Timur)… Saya menelepon rumah tanggal 5 Oktober dan pos TNI yang berada di dekat rumah Saya sudah bertambah dari satu pos menjadi tiga pos – kami berada dekat pegunungan. Kabupaten Bireun. —Juru bicara untuk administrator daurat militer Kolonel Ditya Soedarsono. Dua orang yang berada dalam bus ditahan: satu di Alue Ie Puteh di Aceh Utara.

Orang bilang di Samalaga terdapat tiga buah tank. Saya tidak bisa tinggal di Aceh lagi. Traumanya terlalu banyak.000 orang sipil meninggalkan rumah-rumah mereka. 10 (C) 16 . (datang_ dari laut. 32 31 Dean Yates. Perlengkapan untuk Memerangi Pemberontak Aceh. TNI datang mencari GAM. pemeriksaan dokumen. Bahkan pembicara-pembicara Indonesia sering menggunakan istilah bahasa inggris “sweepings”. pejabat militer mengumumkan beberapa perubahan terhadap strategi tersebut. termasuk unit-unit yang lebih kecil disebarkan dalam pencarian kepemimpinan GAM yang kebanyakan tidak sukses. 2003.31 Operasi termasuk patroli yang luas dan ‘penyapuan’ (sweeping). Teman-teman Saya dipukuli oleh militer. Saya bisa mendengarkannya dari desa Saya. Enam jet tempur lewat di atas kepala Saya. Malaysia. Pagi berikutnya terdengar suara peluru dan ledakan. 26 May. 29 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia dua puluh lima tahun (nama disembunyikan). dan meningkatkan operasi di waktu malam. intensifikasi operasi intelejen. mereka yang dari laut. Vol. Mereka yang dari laut (datang) dari laut. militer membawa artileri berat dalam posisi untuk menyerang basis pemberontak. lebih dari 21. 15. 26 May 2003. “Indonesia Melancarkan Aceh Kampanye Melawan Pemberontak. Human Rights Watch. yang dimaksudkan untuk mengurangi korban sipil. lebih banyak patroli kerjasama militer dan polisi untuk membatasi gerakan para pejuang GAM.29 Seorang laki-laki dari Aceh Tengah yang tiba di Malaysia di awal Agustus mengatakan pada Human Rights Watch: Saya meninggalkan Aceh karena terdapat pertempuran dan tembakan senjata setiap hari antara TNI dan GAM di segala penjuru Aceh. No.” Reuters. kendaraan amphibi. taktik yang dirancang untuk mengindentifikasikan separatis atau pendukung mereka melalui pencarian kendaraan.mengumumkan darurat militer secara resmi… TNI datang ke Aceh. 24 Oktober 2003. Begitu banyak hal yang telah terjadi.” Associated Press. dan pencarian secara sistematis dari satu desa sesudah desa lainnya. Saya sedang menanm padi. Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki limapuluh tujuh tahun (nama disembunyikan). Tapi kami katakan kepada mereka bahwa tidak ada GAM disana – yang mati hanyalah sapisapi dan ayam-ayam. Banyak yang sudah diancam. peluru-peluru di sawah. 30 “Indonesia Memindahkan Pasukan.30 Hari-hari sesudah pernyataan Darurat Militer.32 Pada akhir Juli. bertanya-tanya seandainya Saya akan hidup atau mati. 28 Oktober 2003.

Saya rasa Rajawali. di dalam semua dusun kecil. tidak peduli kami melakukan sesuatu yang salah atau tidak.. Meningkatnya kehadiran di desa-desa nampaknya bertujuan untuk membatasi dukungan materi dan moral dari penduduk lokal untuk GAM dan kemampuan GAM untuk mengambil pengungsi di desa-desa dan mengikutsertakan mereka dalam pengerahan. Mereka membangun pos-pos tepat di desa-desa. Vol.Meningkatnya Kehadiran di Desa Gelombang pasukan tidak hanya untuk operasi tempur melawan pasukan GAM di pegunungan dan hutan. Sebagaimana seorang perempuan yang tiba di Pidie pada tanggal 25 Oktober menjelaskan: Konflik ada disana. Biasanya mereka akan menghabiskan waktu satu minggu di pegunungan. kontak antara orang sipil dan militer sekarang adalah kejadian sehari-hari. Mereka membunuh kami seperti semut. Jika kami tidak tahu dimana GAM. jika GAM tidak ditemukan mereka menyerang penduduk. Seorang laki-laki berusia dua puluh lima tahun yang meninggalkan Aceh Selatan satu minggu sesudah Darurat Militer mulai menjelaskan: Dari hari pertama darurat militer. 33 Wawancara Human Right Watch dengan perempuan berusia tigapuluh-an (nama disembunyikan). sampai sebulan yang lalu. satu kelompok. Dari hari pertama sudah ada perasaan baru.”33 Pelanggaran hak asasi manusia yang meningkat tajam sejak darurat militer dimulai bisa jadi sebagian disumbangkan dari meningkatnya kontak sehari-hari antara tentara dan penduduk desa. TNI mencari GAM. 27 Oktober 2003. karena kami trauma. Beberapa narasumber menjelaskan bahwa padahal kesatuan-kesatuan tentara sebelumnya hanya datang ke desa sekali seminggu. 34 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh lima tahun (nama disembunyikan). Teman-teman kami sekarat akibat konflik. 17 Human Rights Watch. 10 (C) . Malaysia. TNI akan sering masuk desa. sebelum naik ke atas lagi. kami dipukuli. Malaysia. istri dan keluarga Saya sudah mengatakan pada Saya untuk pergi… Mereka (TNI) “suka-suka tembak”. kemudian mereka turun kebawah selama dua hari untuk mengambil makanan dan beristirahat. 15. Tentara-tentara tersebut takut pergi ke pegunungan. 26 Oktober 2003. khususnya jika desa tersebut berada di tepi peguningan seperti desa kami.34 Seorang laki-laki yang meninggalkan Aceh pada 5 Oktober menjelaskan: Saya meninggalkan Aceh karena kemanan menurun. sekitar tiga puluh tentara. No. ketika mereka membangun pos di desa. dengan pos-pos militer setiap dua kilometer. Pasukan keamanan tinggal disana sekarang. Hampir semua orang yang diwawancarai oleh Human Right Watch berbicara tentang pos-pos keamanan baru yang didirikan oleh TNI dan Brimob sejak dimulainya Darurat Militer.

tetapi hanya sejak darurat militer dimulai. 36 37 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki Aceh berusia delapan belas tahun (nama disembunyikan).35 Menjadikan Anak-Anak Muda Sipil Sebagai Sasaran TNI pernah pergi ke Amerika.39 35 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia dua puluh satu tahun (nama disembunyikan). Wawancara Human Rights Watch (nama disembunyikan). Malaysia. ke Eropa. Malaysia. Dalam beberapa kasus pencarian rumah-ke-rumah disertai dengan kekerasan secara fisik. Tetapi para pemuda yang tetap berada di desa seringkali dijadikan sasaran sebagai tersangka simpatisan GAM. dan informasi mengenai pemuda manapun yang meninggalkan desa. ke Thailand dan berkata mereka mengamankan Aceh. 28 Oktober 2003. 10 (C) 18 . Mereka bertanya. Malaysia. Mereka bilang. 37 Seorang laki-laki berusia tigapuluh lima tahun yang tiba di Malaysia bulan Oktober dari Peuruelak. Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia tigapuluh lima tahun (nama disembunyikan). Seorang laki-laki yang masih muda di Aceh akan dipandang dengan kecurigaan dan beresiko.Saya dipukuli dua kali… Tidak ada GAM di desa Saya sejak Darurat Militer dimulai. 15. Seorang laki-laki muda memperkirakan bahwa pasukan keamanan sudah mendatangi rumahnya lima kali sebelum dia meninggalkan propinsi tersebut menyerangnya setiap kali. Mereka tidak mengamankan Aceh. 39 Human Rights Watch. senjata-senjata dan amunisi. No. mereka datang hanya untuk membunuh kami. 38 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia dua puluh tahun (nama disembunyikan). Malaysia. “Saya orang biasa!” Mereka memukul dan menendang. 28 Oktober 2003. 26 Oktober 2003. Malaysia. “Dimana para lelaki?” Saya tidak berani tinggal di rumah. TNI mencurigai semua laki-laki muda sebagai GAM. Kantornya ada di desa Saya. sudah belasan kali. tetapi keluarga saya bilang jangan. Mereka datang seminggu tiga kali. Dugaan sebelumnya adalah bahwa pemuda yang meninggalkan desa bergabung dengan GAM. “Kamu GAM!” Saya bilang pada mereka. Setiap hari di Aceh Saya harus melapor pada kantor TNI sehingga mereka bisa memeriksa bahwa saya tidak pergi dan bergabung dengan GAM. Vol. 23 Oktober 2003. Saya mau pulang ke rumah untuk liburan. 36 —Perempuan Aceh berusia tigapuluh tahun Taktik pasukan kemanan Indonesia yang biasa adalah pencarian rumah-ke rumah terhadap anggota GAM. Aceh Timur menjelaskan: Dibawah darurat militer rumah seringkali dikunjungi. 38 Seorang laki-laki yang meninggalkan Aceh Utara ke Malaysia pada bulan Juni memberitahukan Human Rights Watch: Di Aceh. 26 Oktober 2003.

Sekitar jam 8 malam. 41 19 Human Rights Watch.41 40 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia sembilan belas tahun (nama disembunyikan). Saya sedang berada dekat kedai kopi. 15. 23 Oktober 2003. beberapa dari mereka menderita luka dalam.40 Seorang laki-laki dari Pidie memberitahukan Human Rights Watch tentang an assault oleh anggota satuan tugas Rajawali terhadap penduduk yang paling muda di desa: Kurang dari seminggu sesudah (Hari Kemerdekaan Indonesia) setiap orang diberitahukan untuk berkumpul di meunasah (tempat sembahyang). Akhirnya anak-anak muda tersebut diperbolehkan untuk pulang ke ruamh. Mereka datang ke desa. Vol. Jika TNI tidak menemukan GAM kami. Mereka memulainya jam 5 pagi. Mereka berasal dari usia sekolah sampai usia tiga puluh enam tahun. Setiap hari ada perang antara GAM dan TNI. sekitar dua puluh tentara. Malaysia. Malaysia. No. Kelompok anak muda sekitar tiga puluh orang. dan mereka dibawa ke lapangan sekolah di sebebelah. Dua kelompok lainnya tidak dipukuli. satuan tugas Rajawali datang ke desa… Tanggal 17 Agustus (Hari Kemerdekaan Indonesia) TNI memasuki desa mencari GAM. Saya mendengar mereka bertanya pada anak-anak muda tersebut mengenai GAM dan memukul mereka. 9 Oktober 2003. diserang sebagai GAM. Mereka kemudian memaksa orang-orang untuk bergabung dalam perayaan Hari Kemerdekaan. tetapi beberapa orang tua pingsan karena apa yang terjadi kepada anak-anak mereka. orang-orang. Lebih dari seratus orang disana dari desa-desa (nama dihilangkan) di semua Kecamatan Mila. Ada sekitar empat puluh tentara. satu perusahaan. sebelumnya mereka membangunkan kami melalui kepala desa dengan menggunakan mikrophon. Batalion 113. orang tua Saya tinggal di Pidie.Seorang laki-laki lain memberitahukan Human Rights Watch kenapa dia datang ke Malaysia: Seluruh keluarga Saya tetap tinggal. karena akan ada operasi di pegunungan. Tentara tersebut berasal dari Rajwali. Saya seorang laki-laki jadi Saya dicurigai menjadi GAM. tetapi sepuluh orang harus pergi ke rumah sakit. Kami dipisahkan antara laki-laki. Sesaudah itu. Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia empat puluh tahun (nama disembunyikan). perempuan dan anak-anak muda. karena orang-orang yang tinggal di sekitar pos komando militer tingkat kecamatan tidak dipaksa untuk bergabung. Saya anak satu-satunya. 10 (C) . Mereka tidak menemukan GAM maka mereka memukul Saya. semua anak muda pergi ke Banda Aceh. Medan dan Kuala Lumpur.

setiap saksi mata pembunuhan semacam itu di Aceh memberitahukan Human Rights Watch bahwa Indonesia menjadi bagian dari Konvensi Geneva tahun 1958. No. penyiksaan. untuk dimana hukum yang diterapkan termasuk pasal 3 dalam empat konvensi Geneva pada tahun 1949 dan hukum adat perang.Pelanggaran Hak Asasi Manusia dan Hukum Kemanusiaan Pasukan Indonesia dan GAM di Aceh terikat oleh hukum kemanusiaan internasional (juga dikenal sebagai hukum perang).45 Sementara pembunuhan extra-judicial terhadap siapapun – tidak perduli orang sipil atau pejuang– adalah pelanggaran serius terhdap hukum internasional. Jika tidak ada kami tidak bisa tidur. Terbunuhnya para pejuang dalam pertempuran dianggap sebagai pembunuhan yang sah secara hukum dibawah hukum kemanusiaan internasional. Meskipun Indonesia bukan bagian dari Konvenan Internasional mengenai Hal-Hak Sipil dan Politik dan perjanjian hak asasi manusia yang penting lainnya. bahkan selama keadaan darurat (state of emergency). Aturan dasar hukum kemanusiaan adalah bahwa penduduk sipil serta secara perseorangan tidak boleh menjadi sasaran penyerangan. Suatu eksekusi extra-judicial (atau eksekusi kilat) adalah pembunuhan yang tidak sah menurut hukum dan disengaja atas seseorang oleh alat negara.43 Pembunuhan Diluar Hukum (Extrajudicial Killings) Kami terbiasa mendengarkan suara tembakan. Vol. upon. Hukum internasional hak asasi manusia berlaku selama konflik bersenjata internal. dan eksekusi kilat. perlakuan kejam dan penyiksaaan. pengambilan sandera.44 Sejak dimulainya Darurat Militer. Malaysia. penyembelihan. banyak –kalau tidak bisa dibilang semua-pernyataannya merefleksikan hukum adat perang. Konflik di Aceh dianggap sebagai konflik bersenjata non-internasional (internal).42 Pasal 3 yang lazim disediakan untuk perlakuan berperikemanusiaan terhadap orang sipil dan mereka yang tidak ikut ambil bagian secara aktif dalam permusuhan (termasuk penangkapan anggota pasukan senjata lawan). kebiadaban terhadap martabat seseorang. Human Rights Watch. hak mendasar yang ditemukan didalamnya dinyatakan sebagai bagian dari hukum adat internasional. pasukan kemanan Indonesia sudah melakukan eksekusi extra judicial yang tidak diketahui jumlahnya terhadap orang sipil yang tidak bersenjata di Aceh. penangkapan dan penahanan secara sewenang-wenang. pada khususnya perlakuan penghinaan dan penurunan martabat. Ini termasuk pelarangan eksekusi (extrajudicial executions). Juga tersedia adalah Protokol Tambahan kedua tahun 1977 pada Konvensi Kovensi (Protokol II). Yang selamanya dilarang adalah pembunuhan. 44 45 43 42 Wawancara HumanRights Watch (nama disembunyikan ). 10 (C) 20 . Meskipun Indonesia bukan bagian dari Protokol II. dan pembatasan yang tidak perlu terhadap kebebasan bergerak. penghilangan secara paksa. 28 Oktober 1992. penghukukan tanpa peradilan yang adil. Hak hidup dan kebebasan yang mendasar tidak boleh dilanggar. —Laki-laki Aceh berusia delapan belas tahun. 15. Yang juga dilarang adalah tindakan atau ancaman kekerasan terhadap penduduk sipil yang menyebarkan terror atau pemindahan penduduk sipil secara paksa tanpa keperluan militer.

48 Pembunuhan diluar hukum lainnya terjadi ketika pasukan keamanan mengambil seseorang untuk ditahan – dan mayat mereka kemudian ditemukan atau mereka tidak pernah terdengar lagi. Jenis pertama secara khas terjadi ketika pasukan memasuki desa selama periode yang disebut sebagai “operasi sweepinga”.4 (c). “Indonesia: Perang di Aceh”. meskipun angota-anggotanya memakai pakaian sipil ketika berada di daerah sipil. adalah pola yang muncul dalam serangan militer Indonesia terhadap pemberontak Aceh. pasal 13.” Mathew Moore. 10 (C) . Laporan Human Rights Watch vol. Selama pembersihan ini laki-laki dipilih and ditembak.46 Dari delapan puluh lima orang Aceh yang diwawancarai Human Rights Watch di Malaysia. Pembunuhan Kilat (Summary Killings) Selama Operasi Sweeping Hidup tidak mempunyai nilai disana. Nampaknya terdapat dua jenis ekesekusi yang baru-baru ini terlihat mengambil tempat di Aceh.” Lihat Human Rights Watch. Hal ini konsisten dengan temuan seorang jurnalis Australia yang mengunjungi lima desa dimana terdapat penembakan-penembakan dalam minggu pertama darurat militer. No. Para keluarga boleh jadi diberatuhkan sesudahnya oleh para tentara untuk mengambil dan memindahkan tubuh korban untuk dikuburkan. kemudian eksekusi kilat. secara khusus melarang “tindakan atau perlakuan kekerasan yang tujuan utamanya adalah untuk menyebarkan teror diantara penduudk sipil. meskipun demikian mereka yang diwawancarai seringkali menyatakan dengan percaya diri bahwa tetangga atau kenalan mereka bukan anggota GAM. No. dan berpakaian sipil pada saat hukuman mati dilakukan. Sifat dasar yang umum dan disengaja dari pembunuhan semacam ini memberi kesan bahwa mereka mencoba mengirimkan peringatan untuk menghalangi penduduk desa untuk mendukung GAM. sebelum pembatasan media diperketat: “Interogasi. Tiga orang lainnya menyaksikan tentara menembak ke arah orang sipil yang tidak membawa pada kematian secara langsung. 13. tujuh orang secara langsung menyaksikan eksekuso kilat (summary execution) atas orang sipil oleh pasukan keamanan Indonesia sejak dimulainya darurat militer. 15. tidak bersenjata. 47 48 Protokol II. kematian mempunyai pola. Jika Saya menabrak ayam dengan mobil Saya maka Saya harus membayar. “Di Aceh. Pakaian seseorang sama sekali tidak berhubungan dengan keanggotaan mereka.” The Age (Australia).47 Jenis kedua pembunuhan yang terlihat adalah tembakan kepada orang sipil saat pasukan keamanan Indonesia meninggalkan tempat. Beberapa orang lainnya menggambarkan penculikan oleh TNI berakhir dengan kematian. Aceh Utara menceritakan suatu peristiwa di bulan Mei: 46 Para pejuang GAM pada umumnya mengenakan seragam.korban bukanlah anggita GAM. Wawancara Human Rights Watch (nama disembunyikan). Tiga orang lainnya menemukan mayat orang sipil (dalam dua kasus adalah anggota keluarga mereka sendiri) yang kurang lebih dekat dengan operasi militer. 25 Mei 2003. Vol. Agustus 2001. Tetapi hidup seseorang –siapa yang membayarnya? —Laki-laki Aceh berusia delapan belas tahun. 49 21 Human Rights Watch.49 Seorang laki-laki Aceh dari Lhokseumawe. serta tidak ada usaha untuk menyembunyikan eksekusi tersebut. diikuti oleh pemukulan. 28 Oktober 2003.

Para tentara di desa kami (nama disembunyikan). Mereka orang biasa. 15. 10 (C) 22 . di awal dua puluh-an. Tubuhnya dihancurkan. Vol.51 50 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia empatpuluh tahun (nama disembunyikan). Dia masih muda. setidaknya lima puluh tahun. Tentara tersebut melakukannya beberapa kali sehingga kepada laki-laki tersebut membentur pohon. Mereka bertanya kepada Saya. 26 Oktober 2003. Malaysia. umur tujuh belas tahun. Saya melihat tiga puluh petugas Brimob disana. Mereka tidak mengancam para penduduk desa.Pada awal darurat militer. GAM semuanya ada di pegunungan. Tentara yang menembaknya kemudian mengatakan kepada para penduduk desa disana untuk mengambil tubuhnya kembali ke desa. pukul 3 sore. dan kemudian tentara lainnya memegang kakinya dan mengayunkannya ke arah pohon.dia Yusuf. Mereka kemudian bertanya siapa yang terlibat dalam GAM. saat itu pagi-pagi sekali. Istri dari laki-laki pertama mengatakan bahwa mereka masuk dan bertanya pada suaminya apakah dia GAM. bulan Mei. Mereka bertanya kepada setiap orang. Lalu mereka menembaknya. Saya melihat salah satu dari tentara tersebut memborgol pergelangan laki-laki ini.50 Seorang berusia duapuluh lima tahun yang meninggalkan Aceh Selatan satu minggu sesudah darurat militer memberitahukan Human Rights watch mengenai minggu pertama darurat militer: Pada tujuh hari itu mereka terus membunuh orang-orang tak bersalah. Namanya adalah Ibrahim dan dia berusia limapuluh lima tahun. Seakan-akan lengannya berubah menjadi daging mentah. No. Mereka tidak peduli siapa yang mereka beritahukan. Otaknya keluar dari kepala laki-laki terebut. apa pekerjaannya? Mereka memeriksa namanya kepada orang-orang. Begitulah dalam tujuh hari tersebut… Dua orang ditembak di rumah mereka dan seorang dibawa pergi oleh Brimob pada tengah hari. Pada hari ke-empat. sampai dia mati. Saya berada sekitar dua puluh meter dari sana. Saya sedang berada di rumah. Malaysia. Tiga orang tentara. Pada awalnya Saya hanya melihat tiga tentara tetapi kemudian yang lainnya berganung. 51 Human Rights Watch. Seorang yang dibawa pergi sudah tua. 23 Oktober 2003. Namanya Jamal. Mereka sedang memeriksa siapa laki-laki tersebut kepada orang-orang. Dan lalu mayatnya diletakan di atas tanah dan tentara lainnya menembak beberapa kali kepada mayat tersebut. Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh lima tahun (nama disembunyikan). Para tentara berkata bahwa dia adalah tersangka GAM. “Kamu tahu siapa laki-laki ini?” Jika Kamu berkata kau tidak tahu siapa dia Kamu dipukul. Yang kedua kurang lebih sama ceritanya. tetapi Saya melihat tubuh mereka langsung sesudahnya. tetapi para tentara tersebut selalu ada di desa mencari-cari GAM. “Kamu tahu siapa laki-laki ini?” Saya bilang “Ya”. Mereka menyeret laki-laki ini sepanjang jalan.

Seorang tentara memanggilnya dan menanyakan sesuatu kepadanya. 15. Malaysia. Saya segera bangun. sebuah M16. sekitar duapuluh orang tentara yang terlihat. Vol.52 Seorang laki-laki dari Peureulak. sekitar duapuluh tahun-an. Hanya ketika mereka pergi saya baru bisa melakukannya. Saya melihatnya melalui jendela. Para tentara kemudian pergi. Saya sedang di rumah Saya. Ada beberapa jenis tentara disana. Mereka bertanya kepada penduduk di kampung. Kakak saya sedang 52 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki di usia duapuluhan (nama disembunyikan). Tidak ada satu pun jadi mereka menembak warga kampung akhirnya. Kakak Saya ditembak di rumah kami. Mereka mencari-cari GAM. Saya mau membawa tubuhnya kedalam tetapi Saya tidak bisa. Saya meninggalkan Aceh pagi berikutnya. Jam 6 pagi. 10 (C) . Malaysia. Kakak Saya ditembak ketika dia sedang mengumpulkan rumput untuk sapi jam 6 pagi dua bulan yang lalu. Laki-laki itu bukan GAM. dan dia mempunyai istri dan dua orang anak. 53 23 Human Rights Watch. Ada lebih dari limapuluh orang. Peureulak. Dari jam 6 pagi sampai 6 sore Kamu tidak bisa keluar. Saya tidak mendengarnya.Seorang laki-laki di usia duapuluh-an memberitahukan Human Rights Watch mengenai eksekusi kakak laki-lakinya seminggu sesudah pernyataan darurat militer: Kakak Saya – dia hanya orang biasa – ditembak. tetapi GAM tidak ada disana. TNI memasuki kampung. dia bangun untuk mengambil wudhu sebelum sembahyang. Tentara lainnya lalu menembaknya di kepala dan lagi di bagian kanan atas tubuhnya dengan senapannya. dia hanyalah orang biasa. di belakang mereka Saya tidak tahu. Aceh Timur. beberapa dari daerah sana dan beberapa dari luar. Tentara-tentara datang ke kampung mencari GAM. Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia dua puluh tahun *nama disembunyikan). Kakak Saya berumur tiga puluh lima tahun. 26 Oktober 2003.53 Seorang laki-laki berusia duapuluh lima tahun yang juga dari Peureulak di Aceh Timur bercerita tentang penembakan kakak laki-lakinya pada akhir Juli: Sejak darurat militer dimulai segalanya menjadi panas. pergi untuk mencari GAM di tempat lain. No. dia tidak bersenjata. menggambarkan pembunuhan di bulan Agustus: Sekitar dua bulan yang lalu (nama dihilangkan). Saya berada sekitar seratus meter jauhnya. tetapi pada akhirnya tidak ada GAM. Kamu tidak bisa keluar kemanapun. Waktu itu pagi hari dengan sweepings GAM sebagai alasannya. ada kejadian. Ada seorang laki-laki. Mungkin jawabannya salah. Dia keluar dan mereka segera menembaknya. 31 Oktober 2003. Saya melihatnya sendiri. Begitu tentara tersebut selesai menembak dia memerintahkan penduduk kampung untuk menguburkan tubuh tersebut.

Karena tingginya tingkat ketakutan di Aceh terhadap pasukan keamanan Indonesia. dekat kandang. (Kejadian) ini sekitar dua bulan sesudah darurat militer. 10 (C) 24 . Apakah mereka berusaha melarikan diri semata-mata karena mereka takut diperlakukan tidak semestinya atau karena mereka anggota GAM tidak jelas. dua belas tentara keluar dari hutan di dekat sana. khususnya laki-laki muda. Sesudah itu kami ditanyai. 15. Vol. menggambarkan pembunuhan dua laki-laki yang tidak bersenjata dalam pakaian sipil: Pukul 5 di pagi hari TNI datang dan mengepung kampung. Mereka menahan kami disana selama empat jam. Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia dua puluh tahun (nama disembunyikan). 28 Oktober 2003. Kami tidak diperbolehkan mendekati mayat-mayat tersebut. Mereka menanyai kami tentang GAM. Anak laki-lakinya datang ke rumah Saya dan bilang. 55 Human Rights Watch. Malysia. dia kakak Saya. Tiga jam kemudian. Seorang berusia dua puluh tahun dari desa di pinggir Lhokseumawe. 31 Oktober 2003.54 Human Rights Watch juga diberitahu mengenai dua peristiwa yang mana para penghuni dikumpulkan bersama untuk ditanyai dan membawa pada kematian. lari dan bersembunyi ketika tentara memasuki desa mereka. Dia memakai seragam hijau dan topi hijau. Orang-orang diberitahu untuk berkumpul oleh TNI. Saksi menggambarkan kepada Human Rights Watch bagaimana beberapa laki-laki ini ditembak ketika berusaha melarikan diri. No. sesudah dua jam. Malaysia. tetapi saksi 54 Wawancara Human rights Watch dengan laki-laki berusia tigapuluh lima tahun (nama disembunyikan). banyak penduduk desa. sampai jam 11.” “Kuburkan dia!” Lalu mereka kembali ke kota. Dua orang dibunuh. jam 9 pagi. Saya rasa mereka semua dari Kodim tetapi Saya tidak yakin. Seorang tentara menembak mereka berdua dengan M16. Saya tidak tahu nama mereka karena mereka dari kampung lain. Saya ada di rumah. dan anggota GAM diminta menyerahkan diri.mengumpulkan rumput untuk sapi. Sesudah mereka keluar dari hutan mereka mengumpulkan semua orang. Anak laki-lakinya bilang bahwa dia melihat tiga tentara dengan samaran datang untuk melihat tubuhnya jam 6. Ada sekitar lima puluh orang. di Aceh Utara. meskipun mereka bukan dari kampung kami. Orang-orang ditendang dan ditinju. “Bapak ditembak orang tak dikenal” Dia ditembak sekali di kepalanya dan sekali lagi di sebelah kirinya.30. Saya sedang di sekolah ketika kami diperintahkan untuk berkumpul di lapangan sepak bolah dekat pantai. Saya berada jauh dari lapangan tersebut (dua puluh lima meter). “Siapa dia? Kalian tahu dia? Apakah dia GAM?” “Bukan.55 Human Rights Watch mempelajari empat peristiwa ketika tentara Indonesia menembak laki-laki muda yang sedang berlari ke sawah atau hutan untuk menyembunyikan diri dari tentara selama operasi sweeping. Mereka bertanya. Sesudah para tentara pergi Kami menguburkan mayat mereka. Kami (berjumlah) sekitar 300 orang.

25 Human Rights Watch. dan kami berlima bersembunyi di 56 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia dua puluh tahun (nama disembunyikan) Malaysia. Dia bangun dan terus berlari. Malaysia. Laki-laki berusia dua puluh tahun dari desa di pinggir Lhokseumawe. Kopassus. sekitar waktu sembahyang. menggambarkan suatu peristiwa yang terjadi akhir September. Sesudahnya delapan orang tentara membawanya ke pos TNI di desa itu. Aceh Timur. 15. tetapi Saya lihat ketika keluarganya membawa mayatnya pergi. Saya tidak melihatnya saat dia meninggal.30 pagi atau sekitarnya. Saya melihat seorang laki-laki berlari ke sawah. Mereka tiba khusus untuk darurat militer. Sesudahnya dia dibawa ke pos untuk ditanya oleh TNI. Saya takut hal semacam itu akan terjadi kepada Saya. 57 58 Meskipun terdapat variasi pasukan keamanan yang luas dan lencana yang hadir di Aceh. yang menggambarkan (di atas) pembunuhan dua orang laki-laki sesudah para penduduk desa dikumpulkan. Saya rasa dari Jakarta. Saya melihat mereka mempunyai tiga strip merah. juga menggambarkan kematian lain hari tersebut: Seorang berusaha lari ketika kami pertama kali diberitahu untuk berkumpul. 28 Oktober 2003. Vol. . kaki kananya. ditembak dari jarak tigapuluh meter. Wawancara Human Rights dengan laki-laki berusia empatpuluh tahun (nama disembunyikan). Dia berusia sekitar tigapuluh tahun. Mereka menggunakan topi biru. Segera sesudahnya seorang tentara menembak kakinya.58 Kami berlima lari melalui sawah menuju hutan. Sesudah itu Saya pergi. dia dari desa ini.sekitar jam 6. jadi Saya pergi keluar.56 Seorang laki-laki yang tiba di Malaysia pada akhir bulan Mei mengggambarkan seorang laki-laki ditembak ketika melarikan diri: Saat itu lima hari sesudah darurat militer dimulai. Dia bukan GAM. 31 Oktober 2003. 10 (C) . di Aceh Utara. tiga strip lebih mengindikasikan prajurit kelas pertama. Mereka menembaknya di pinggul – Saya hanya berada lima meter darinya. tetapi mereka mencurigainya sebagai GAM. usia dua puluh tiga tahun. Mereka tentara non-organik. di desa (nama dihilangkan). Jika kamu tidak lari Kamu dipukuli… Seorang laki-laki bernama Simus.57 Tidak semua penembakan membawa pada kematian. No.menggambarkan tampak sebagai lak-laki yang tidak bersenjata dan mengenakan pakaian sipil. sehingga dia tidak bisa lari lagi dan dia terjatuh. Seorang laki-laki berusia duapuluh tahun dari Peureulak. satu bulan sebelum dia tiba di Malaysia: Jika Kamu lari Kamu ditembak. Tentara dengan menyamar datang dalam beberapa kendaraan: Kostrad. Saya sedang ada di rumah Saya dan Saya mendengar suara tembakan. sekitar jam 9 pagi. Sesudah dua malam TNI membunuhnya di pos mereka. Brimob. Dia ditembak.

No. minum kopi. Mereka mulai menembak. Mungkin TNI terlihat terlalu siap. Saya hanya bersembunyi di pinggir hutan. seorang laki-laki memberitahu Human Rights Watch: Satu-satunya alasan Saya pergi adalah bahwa tidak ada jaminan keselamatan disana. Jadi Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh tahun (nama disembunyikan). Seorang laki-laki berusia delapan belas tahun menjelaskan banwa sesudah dipukuli dan melihat orang tuanya diperlakukan tidak semestinya. Mereka meyakinkan Saya untuk menyumbang dengan cara lain untuk Aceh. Tentara pergi keatas ke hutan. ketika mereka kembali. Saya baik-baik saja. Tetapi bagaimanapun peluru –itu menjadi trauma. 27 Oktober 2993. inspeksi yang disertai “hukum militer”: pemukulan. dua dari mereka.59 Dalam peristiwa yang sama di Aceh Timur di awal bulan Oktober. tabib itu mengeluarkan pelurunya. datang ke desa. tidak ada orang yang terkena. dia mencoba bergabung dengan GAM hanya saja dicegah oleh keluarganya (termasuk kakaknya yang melawan GAM): Orang tua Saya dipukul pada 17 Agustus 2002 (Hari Kemerdekaan Indonesia). Dia takut pergi ke rumah sakit jadi kami bawa dia ke tabib tradisional yang bekerja dengan pusat kesehatan. Lalu kami kembali –TNI sudah kembali ke kota. Jika tidak ada GAM. mungkin Kostrad.bukan karena kami bersalah tetapi hanya ketakutan. Kami sedang duduk. Orang-orang mulai berlarian. Penduduk Aceh menjadi semakin terpolarisasi. 15. Mereka melakukan sweepings. Malaysia. Saya mencoba bergabung saat berusia enambelas tahun tetapi kakak dan orang tua saya mencegah Saya. Mereka mengosongkan tempat peluru mereka –kira-kira berapa ya. 60 59 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh lima tahun (nama disembunyikan). Malaysia. hasil dari tingkat kekerasan terhadap penduduk sipil di Aceh ini sepertinya menghasilkan efek yang berlawanan dari apa yang militer nyatakan dari strategi operasi terpadu. empat puluh tembakan? Mereka dari battalion non-organik dari Jawa. Itulah kenapa orang-orang bergabung dengan GAM –untuk balas dendam. ditelanjangi. untuk ekonominya. dan dipaksa untuk bernyanyi.60 Apakah dengan sengaja atau sewenang-wenang. penghilangan. 28 Oktober 2003. Kekerasan terhadap orang sipil sudah melewati batas. emosi mereka dikeluarkan kepada orang sipil. Militer bertindak diluar sasaran operasinya. Saya sedang di desa di Perureulak. Mereka mencari GAM. Saya tidak lari. Vol. sehingga orang-orang ketakutan. Tingkat pelanggaran hak asasi manusia yang serius di propinsi tesebut serta kekebalan hukum yang menyertainya mendorong orang-orang memihak kepada GAM. 10 (C) 26 . Sebagai contoh ada penembakan di awal bulan ini (Oktober).hutan selama tiga jam. Human Rights Watch.

kamu mau memberikannya kepada GAM? Darimana kamu dapatkan ikan ini?” Anak itu menjawab.62 Dalam beberapa kasus mayat dibuang jauh dari rumah korban. dan tubuhnya dipenuhi bekas-bekas merah. 27 Human Rights Watch. membuat identifikasi menjadi sulit. Seorang laki-laki berusia tigapuluh delapan tahun. anak laki-laki. Ada sekitar limabelas orang tentara TNI disana. TNI menghentikannya. Malaysia. menjelaskan bagaimana keluarganya menemukan mayat adik lelakinya: 61 Wawancara Human Rights Watch dengan seorang laki-laki berusia delapan belas tahun (nama disembunyikan). Ada luka tembak di dahinya. tentara di lapangan yang melakukan tindak kekerasan dan pemerasan dengan hanya sedikit rasa takut akan dihukum. Dia diancam dengan senjata. Dia masih usia sekolah. Saya mau memberikannya kepada ibu Saya. Pasar Ulee Glee. Tujuh tentara. Tujuh tentara tersebut mengenakan seragam samaran TNI. Ketika dia berada di Aceh dia menyaksikan tentara TNI menculik seorang anak laki-laki berusia lima belas tahun: Saat itu tanggal 4 September sekitar jam 10 pagi. Tentara tersebut berkata. “Tidak. Kemudian mayat anak itu muncul dipinggir jalan. Tujuh orang tentara memberhentikan seorang anak. Jadi tentara tersebut membawanya dan melemparkannya ke truk militer. “Banyak ikannya. 28 Oktober 2003. Saya mau pulang. Penculikan yang Membawa Pada Kematian Pembunuhan lain terjadi diluar penglihatan para saksi. 62 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh lima tahun (nama disembunyikan). 10 (C) .pada akhinya Saya hanya berdoa untuk kebebasan… Jika Kamu dipukuli tidak kah Kamu merasa butuh membalas dendam?”61 Masalah yang mendasar terletak pada kurangnya pertanggungjawaban di semua tingkat. Vol. Seorang laki-laki Aceh yang sudah tinggal di Malaysia selama lima tahun kembali ke Aceh di bulan Agustus selama beberapa minggu untuk mengunjungi ayahnya yang sakit. 15. Malaysia. Dia pergi ke pasar untuk membeli ikan untuk ibunya. memeriksanya karena dia membeli ikan. “Kamu pasti mau memberikan ikan ini kepada GAM.” TNI menuduhnya dan mengancamnya. untuk membeli buah. 29 Oktober 2003. Dia anak kecil. Selama dua hari kami tidak tahu dimana anak itu berada. Mereka tentara non-organik dan berbicara dalam bahasa Indonesia dengan logat Jawa. yang lainnya tinggal di pasar. No. Bagian belakang kepalanya semuanya hancur. yang meninggalkan rumahnya di Banda Aceh sehari sebelum darurat militer. dia benar-benar panik. Jawabannya tidak jelas. bekas-bekas merah siksaan. Saya berhenti di jalan di pasar. Saya melihat mayatnya. Kekebalan hukum tingkat tinggi yang ditingkatkan oleh selubung rahasia yang menyelubungi daerah konflik.” Sesudah itu anak laki-laki tu benar-benar ketakutan. Hanya satu. mungkin sekitar limabelas tahun. Seorang tentara berkata kepadanya.

di depan istrinya. mayat tersebut akan dibawa ke rumah sakit atau klinik dan istilah yang digunakan oleh keluarga korban adalah saudara yang hilang. Vol. Seorang saudara yang tinggal di desa dimana mayatnya ditinggalkan menemukannya dan mengenalinya. Dia membawa mayatnya secara diam-diam ke rumahnya. dan di pagi hari dia pergi dan menemui Palang Merah Indonesia di rumah sakit untuk mengambil mayat tersebut dengan ambulans. 15. keduanya untuk tebusan dan alasan politik.Adik lelaki Saya terbunuh dua bulan lalu di Aceh Utara.65 Di Aceh. Jika tidak. 65 66 Human Rights Watch. Seringkali mayat mereka yang “hilang” ditemukan di pinggir jalan atau di sawah berhari-hari atau berminggu-minggu kemudian. pasukan keamanan Indonesia telah seringkali tersangkut “penghilangan”64 Organisasi kemanusiaan Indonesia Kontras cabang Aceh melaporkan bahwa dari tanggal 19 Mei sampai dengan 18 Agustus terdapat tujuhpuluh delapan penghilangan secara paksa orang sipil. (Nama dihilangkan) berumur duapuluh enam tahun. GAM mempunyai sejarah melaksanakan penculikan. Sebagaimana hal itu didefinisikan dibawah hukum internasional. tanggal 27 Agustus 2003. Dalam kasuskasus lainnya mereka tidak pernah terlihat lagi. 5 November 2003. Malaysia. Dua hari kemudian mayatnya ditemukan di sawah. dalam beberapa kasus anggota keluarga atau tetangga dapat mengindentifikasikan mereka.66 Seorang laki-laki berusia duapuluh tiga tahun dari Bireun menjelaskan: 63 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia tigapuluh delapan tahun (nama disembunyikan). Malaysia. meskipun mereka mewaspadai bahwa pelarangan terhadap monitoring menandakan bahwa perkiraan tersebut bisa jadi lebih rendah. Jika mayat tersebut dapat diidentifikasi maka akan dibawa ke keluarganya. No. Sementara aktor non-negara tidak bisa secara teknis melakukan “penghilangan”. Dia ditahan dari rumahnya oleh TNI. Kontras Aceh. “Makalah Ringkas tentang Aceh: Propinsi Aceh. Sementara dalam banyak kasus para pelaku digambarkan sebagai orang tak dikenal.” September 2003. 29 Oktober 2003. Seorang laki-laki dari daerah pesisir di Pidie menjelaskan bahwa ketika warga menemukan mayat mengapung di tepian pantai mereka memanggil Palang Merah Indoensia untuk mengevakuasinya. Wawancara Human Rights dengan seorang laki-laki berusia enampuluh lima tahun (nama disembunyikan). dan dibawa ke Koramil. Praktek ini secara pouler digambarkan sebagai ambil malam. Perang Kotor yang Tidak Terungkap. Orang yang ditahan dengan cara demikian seringkali disiksa. dan pembunuhan kilat. Saya memperoleh informasi ini dari keluarga Saya ketika Saya menelepon rumah. dianiyai atau dibunuh. penghilangan secara paksa seringkali terjadi sesudah pasukan kemanan atau orang-orang bersenjata tak dikenal mengunjungi sebuah ruamh di malam hari dan membawa korban pergi dengan kendaraan. 10 (C) 28 . 64 “Penghilangan” terjadi ketika penguasa menahan seseorang secara diam-diam dan tanpa pemberitahuan serta menyangkal bahwa orang tersebut dalam penahanan mereka. menutupinya dengan pakaian.63 Penghilangan Secara Paksa (Forced Disappearances) Selama tahun-tahun panjang konflik di Aceh.

Jika itu adalah siksaan berat yang menyebabkan seseorang menjadi cacat… itu adalah tidak-tidak.” Associated Press. Saat itu ada bermacam-macam tentara. Kejadiannya sekitar dua bulan yang lalu. No. Mereka mengenakan samaran. Mereka membawanya ke dalam truk TNI dan membawanya ke pos TNI. semuanya laki-laki. Wawancara Human Rights Watch (nama disembunyikan).” The Jakarta Post. Itu tidak masalah. —Mayor Jendral Bambang Darmono. satu persatu. “Komandan di Aceh Menyangkal Tuduhan Penyiksaan. Saya berada di rumah sebelahnya. 2 November 2003.68 Siksaan Fisik Tidak ada bedanya jika mereka anggota GAM atau bukan: tidak satupun dari tentara Saya yang berhak memukul mereka… Tentara Saya datang ke Aceh untuk melindungi orang sipil. Setiap orang di desa yang dicurigai dibawa pergi di malam hari… Saya melihat seorang laki-laki dibawa pergi dari rumahnya hanya mengenakan pakaian dalam dan dimasukan kedalam truk. tentara Saya menghantam tersangka di wajahnya. 15. Sampai saat ini dia tidak pernah kembali. bulan Agustus. 68 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh tahun (nama disembunyikan). Saya pergi keluar ke pinggir lapangan dan menonton tiga truk tentara masuk ke desa.Situasi sekarang sangat menyeramkan. dan beberapa dari mereka mempunyai strip merah. Commander Operasi Militer di Aceh. “Pengadilan Aceh akan Mengadili 7 prajurit. Selama dia mampu berfungsi sesudah ditanyai. Kami tidak tahu siapa mereka. Lalu Saya dengar seseorang menanyakan pada teman Saya (nama disembunyikan) mengenai kartu identitasnya. Malaysia. dan mereka yang melanggar peraturan pertempuran (rule of engagement) ini akan harus berhadapan dengan Saya. —Mayor Jendral Bambang Damono. Malaysia. Vol. Tiarma Siboro. Saat itu sekitar jam 5 pagi dan Saya mendengar ketukan yang keras di pintu. 28 Oktober 2003. Mereka adalah tentara yang baru saja tiba di Aceh untuk darurat militer ini.67 Seorang laki-laki dari Pidie memberitahu Human Rights Watch: Saat itu lima hari sesudah darurat militer dimulai. 3 June 2003. November 2003. 69 70 29 Human Rights Watch. Rumah Saya sangat dekat dengan ruamhnya. 2 June 200369 Sebagai contoh. sehingga Saya bangun dan melihat melalui jendela. Lely Djuhari. Mereka membawa delapan orang malam itu. 31 Oktober 2003.70 67 Satu strip merah sepertinya berhubungan dengan tingkat jabatan prajurit. Saya melihat sekitar limabelas tentara TNI membawanya dari rumahnya. Saya tidak tahu lagi dimana dia. ada Kopassus dan beberapa memakai topi hijau. Seluruh kejadian itu hanya memakan waktu mungkin sekitar tiga pluh menit. Delapan orang tersebut tidak pernah terlihat lagi sejak saat itu – kami tidak tahu apa yang terjadi kepada mereka. 10 (C) .

tua dan muda.71 Dalam beberapa instansi. dua diantaranya membawa pada kematian: Kami dipukuli secara terus menerus. perempuan. Banyak orangorang Aceh yang dianiyai kami minta bicara untuk menjelaskan apakah mereka melakukan atau tidak sesuatu yang salah atau tak salah. Menjawab “Saya tidak tahu” dan Kami mendapatkannya juga. Mereka mengumpulkan 300 orang dari satu daerah pemukiman tersebut –ada tiga atau empat desa. Jika Kamu tidak mau berlatih. 15. berdasarkan tegangnya tingkah dan kecurigaan tentara dan petugas polisi. 26 Oktober 2003. Dalam kasus-kasus lainnya kekerasan nampak menjadi sangat sewenang-wenang. 10 (C) 30 . Jika Kami sedang duduk-duduk seperti ini di Aceh. kakek berusia sembilan puluh tahun.Banyak orang-orang Aceh yang diwawancarai oleh Human Rights Watch menggambarkan tindakan kekerasan yang dilakukan pasukan keamanan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Brimob akan bertanya kepada kami. kekerasan terhadap orang sipil terjadi hanya sebelum atau sesudah operasi militer di daerah GAM. dari beberapa desa. Dua kali ini terjadi. seperti selama pencarian rumah-ke-rumah atau ketika para penghuni diperintahkan untuk berkumpul di tempat tertentu. Kamu akan dipukuli sampai mati. tujuhpuluh dua orang dibawa ke rumah sakit umum di Sigli. jika Kami bilang “tidak” Kami mendapatkannya. Suatu waktu seluruh orang didalam satu area berkumpul bersama. mengindikasikan ketidaksabaran atau ketakutan terhadap sasaran yang suka dipahami dan kegagalan untuk membedakan antara orang sipil dan oposisi bersenjata. Mereka memerintahan orang-orang untuk tiarap dan memukul dada dan 71 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh enam tahun (nama disembunyikan). bersalah atau tidak Saya dihajar. Korban seringkali digambarkan diinterogasi dengan tuduhan “Kamu adalah GAM!” atau pertanyaan “Siapa yang GAM? Dimana GAM?” Sering kekerasan ini terjadi selama operasi sweepings di desa-desa. Seorang laki-laki yang meninggalkan Aceh bulan Agustus menjelaskan: Jika Saya tinggal di Aceh. Mereka bermalam disana tetapi kami semua dilepaskan kemudian. Artinya kami mati.30 pagi sampai dengan jam 2 sore. Human Rights Watch. “Apakah ada GAM?” Jika kami bilang “Ya” Kami mendapatkannya [pukulan]. anak-anak. No. Setiap orang harus berlatih. Pertama kali tanggal 13 Juni 2003. Malaysia. Seorang laki-laki yang tiba bulan Oktober dari Pidie menggambarkan peristiwa dimana TNI dan Brimob mengumpulkan dan menyerang penghuni. Hal ini terjadi dari jam 9. Banyak kekearan ditujuan kepada orang sipil nampak diimaksudkan untuk mengidentifikasi anggota dan pendukung GAM. Sesudahnya kami dibariskan dan diperintahkan untuk melakukan latihan (melakukan lari di tempat). Vol. Saat mereka membolehkan kami beristirahat. atau untuk mengirim peringatan kepada penduduk desa.

dan kami semua dipukuli. Malaysia.72 Laki-laki tersebut melaporkan bahwa tiga minggu kemudian operasi bersama TNIBrimob yang lain membariskan para laki-laki.74 72 73 Wawancara Human Rights Watch (nama disembunyikan).: Kopassus. Rajawali.muka mereka. kami berenam semuanya dipukuli.” Los Angeles Times. mungkin karena mereka bertubuh besar. Mereka terlihat sebagai GAM. Mereka bilang itu karena Kami mempunyai radio untuk berkomunikasi dengan GAM. Saya hanya berada empat meter dari mereka yang terbunuh.” Tidak ada satupun. No. Umar Bin Usman. Angkatan Laut. Hal ini berlangsung dari jam 5 sampai jam 7 malam. Mereka menghancurkan kuku jempol Saya dengan kakatua – lihat? Mereka menaruh jempol jari kaki Saya dibawah bangku dan menekannya ke bawah – yang ini sudah tumbuh kembali. Dua orang yang meninggal diinjak di dada dan leher. Orang-orang ini adalah BKO. 10 (C) . Vol. Malam itu kami membiarkan lampu menyala. usia 21 tahun. Kami dikumpulkan di pos penjagaan terdekat oleh para tentara. tetapi Saya tdiak bisa melihat kepada mereka secara langsung. Mayat mereka dikembalikan kepada keluarga mereka dan dikuburkan.73 Seorang berusia empatpuluh tahun dari Pidie yang tiba di Malaysia bulan Oktober sesudah dua bulan di Medan menggambarkan peristiwa dalam minggu-minggu sebelum dia meninggalkan Aceh: Jam sepuluh pada suatu malam Kami semua pemilik toko diberitahukan untuk mematikan semua lampu. kami semua orang biasa. Lima orang pemilik toko lainnya adalah (nama dihilangkan). Rajawali yang melakukannya. Mereka semua memukul kami seakan-akan kami kerbau air. Mereka bilang. barisan perempuan GAM. Mereka bukan GAM. “Separatis Perang Indonesia Menuntut Para Pemuda. Lihat Richard C. mereka berduabelas. Paddock. dan memukul mereka dengan uujung senapan. Kami berduapuluh termasuk para pelanggan yang kebetulan berada disana. GAM sudah pergi ke tempat lain. angkat tangan. Mereka memukuli badan Saya dengan senjata mereka. jadi kami lakukan. 15. Para tentara adalah campuran. sementara tujuh orang perempuan dituduh sebagai inong balee. tetapi itu tidak ada. dan dipaksa untuk telanjang. dan Muhammad Ali. dan menendang kami. Laporan media telah memerinci peristiwa yang sama yang mana sekelompok besar laki-laki dan perempuan ditanyai dan dipukuli dan satu atau dua orang laki-laki dipisahkan dan ditembak. dan Saya meninggalkan Aceh sepuluh hari kemudian. Rajawali dari Jawa. Paling banyak Kamu cuma bisa melirik lama. Hari berikutnya kami dipukuli karena mematikan lampu! Enam pemilik toko dipukul. 31 Mei 2003. Wawancara human Rights Watch dengan laki-laki berusia empatpuluh tahun (nama disembunyikan). Brimob. gigi mereka dijotos oleh tentara Kostrad. usia 32 tahun. “Siapapun yang GAM. Dua oranng meninggal di tempat. menanyai mereka. 5 Nopember 2003. 74 31 Human Rights Watch. 20 Oktober 2003.

“Ya. mengambil barangbarang Saya dan pergi hari itu juga. Mereka selalu menaruh kami orang biasa di depan. Saya dibawah ke sebuah rumah kosong. Saya tidak ingat berapa kali. dan celana panjang seragam. Saya baru tiba di pantai ketika beberapa marinir bertanya pada Saya. Saya baru saja kembali dari laut dalam kapal ikan Saya. Tujuh hari kemudian Saya pergi ke Banda Aceh untuk mendapatkan paspor. 75 Human Rights Watch. sekitar jam 8 pagi. dua puluh orang dikumpulkan bersama (oleh TNI) dan dipecah dalam empat kelompok. tapi mengenakan kaos hijau bertuliskan Marinir di punggung. Mereka bertanya kepada Saya.75 Seorang laki-laki berusia duapuluh delapan tahun yang tiba di akhir Agustus dari Aceh Timur menggambarkan konsekuensi ditangkap tanpa KTP Merah Putih (lihat dibawah). Orang-orang yang memukul Saya adalah marinir. Mereka membuat Saya tiarap.” “Memberi makan kepada GAM?” “Tidak. Banyak orang dipukuli hari itu. 29 Oktober 2003. termasuk Saya. Vol. Sesudah dua malam mereka kembali. Lalu mereka menyiramkan air kepada Saya untuk membangunkan Saya dan Saya ditendang lagi. Mereka dibawa ke pegunungan untuk mencari GAM. tetapi tidak ada seorang pun yang dapat Saya beritahukan kepada mereka.Seorang laki-laki berusia duapuluh dua tahun dari Pidie menggambarkan peristiwa dari awal September dimana orang sipil dipaksa untuk mengambil bagian dalam operasi militer: Suatu waktu pada jam 4 pagi. dan sesudah mereka kembali TNI memukuli banyak orang. memang ada!” Sesudah dua jam Saya dibebaskan. No. 10 (C) 32 . Saya bahkan tidak bisa menjawab pertanyaan mereka lagi. mereka bertiga. Saya beritahukan mereka begitu tetapi mereka bilang. Hanya berusaha mencari makan. 15. Malaysia. Mereka melakukannya sampai Saya pingsan. dan dua marinir berdiri di atas tangan Saya sementara seorang menginjak leher Saya. Peristiwa ini juga mengilustrasikan kombinasi pemerasan dan kekerasan yang sudah menjadi hal biasa di jalanan dan toko-toko di Aceh: Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh dua tahun (nama disembunyikan).” Mereka tidak peduli. “Kamu darimana?” “Dari laut. “Siapa di desa yang GAM?” Mereka mencoba memaksa Saya untuk mengindentifikasi mereka. sementara teman Saya dari kapal yang sama dipukuli diluar rumah. mencari ikan. Mereka tidak melihat pertanda apapun dari GAM. Mereka tidak berseragam. lalu kembali ke Pidie.

10 (C) .” Di jalan terdapat tulisan yang bilang. Ketika mereka masuk adik Saya sedang duduk di lantai menonton TV. kami membawanya pulang. mengambil satu juta rupiah (US$120) dari bawah kasur. Mereka berduabelas. mematahkannya. sekitar jam lima.77 Seorang laki-laki dari Bireun yang meninggalkan Aceh ke Malaysia di pertengahan Oktober memberitahu Human Rights Watch: Bulan Mei jam 8 pagi di desa dekat rumah Saya. seperti sedang mabuk. Saat itu sudah senja hari. dalam usaha yang nampak untuk mengitimidasi atau memperoleh informasi.000 (US$ 60). Ketika mereka tiba mereka bertanya pada Saya. karena dia berdarah dari luka dikepalanya. Sekitar jam 9 malam.Saya melihat seorang teman Saya dipukul. Dia bilang mereka bertanya apakah dia GAM dan dia bilang bukan. Ada kami bertiga di rumah – ibu saya. Mereka merampok rumah. Saya melihat hal ini terjadi kepada teman Saya dan Saya pergi pagi berikutnya jam 7. ketika orang-orang sedang berebelanja. “TNI tolong jangan pernah berada di Aceh 76 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh delapan tahun (nama disembunyikan). Lalu mereka meminta uang darinya. Saya hanya bicara dengan keluarga Saya lewat telepon dan adik Saya masih belum baik. Saat itu 28 Agustus. TNI datang. Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh tiga tahun (nama disembunyikan). Mereka masuk ke toko dan menanyakan KTP setiap orang. 31 Oktober 2003. dan mereka menendangnya tiga kali di kaki. dan dia berikan kepada mereka.76 Kekerasan juga terjadi selama pencarian di rumah. Mungkin mereka pikir dia GAM. dan Brimob datang dari pos mereka di desa sebelah ke toko untuk membeli makanan. 31 Oktober 2003. Dia lupa membawa KTPnya. Dia hanya mempunyai Rp 100. dan lalu mereka pergi membeli makanan. Saya lari dan bersembunyi di dalam hutan. 15. Mereka memukul adik laki-laki Saya. Kami sekelompok membawanya dengan truk ke Rumah Sakit Simpang Ulim. Malaysia.000. Mereka datang jam 9 pagi. Kami membawa adik Saya ke dokter dan ke dukun patah. “Siapa yang menulis ini di jalan?” Saya bilang. adik Saya dan Saya. 77 33 Human Rights Watch.. Mereka membiarkannya bangun. dengan dua truk. Dia satu-satunya yang tidak membawanya. Ketika Saya melihat mereka datang. Dia dipukul di kepala dia terjatuh. Seorang laki-laki berusia duapuluh tiga tahun dari Bireun menggambarkan apa yang terjadi bulan September: Brimob pernah datang ke rumah Saya. “Saya tidak tahu. dan tentara sedang memeriksa. Rp 500. Ketika dia jatuh mereka menendangnya di punggung. Malysia. No. Saya duga untuk mencari senjata. Ada sekitar tigabelas tentara. Vol. Ketika kami membawanya ke rumah dia masih pusing-pusing. Saya sedang duduk di kedai kopi dengan teman Saya. dan dia diperintahkan untuk duduk di pantai. dan mungkin lima orang terlibat memukulnya.

daan 561 sudah dijatuhi vonis.lagi.” Sinar Harapan. “GAM Masih Kuat. tanggal 30 Agustus. Malaysia. Wawancara Human Rights dengan laki-laki beruisa duapuluh tiga tahun (nama disembunyikan). Mereka menanyakan KTP Saya. 13 November 2003. Mungkin sekitar jam 10 pagi. 1. Muka Saya berdarah.” dan lalu Saya dipukuli. Kantor penerangan TNI melaporkan bahwa sampai tanggal 4 Desember. 80 79 Human Rights Watch. Saya dibawa ke rumah sakit oleh orangorang di desa. 9 Nopember 2003.338 anggota GAM ditahan.” 4 Desember 2003. Pendengaran Saya rusak dari saat mereka menembakan senjata mereka ke udara. Penguasa militer sudah memasukkan 1. 15. Itu adalah Batallion Siliwangi yang biasanya berlokasi di Pos Peudada. 4 desember 2003. “1. “PDMD Tentukan Amnesti Anggota GAM. “Kenapa Kamu memukuli Saya.” Dia bilang. Saya sedang sendirian di jalan menuju ke toko. Dia menendang Saya di dada. “Semua orang yang sudah melakukan kesalahan sudah melarikan diri. Mereka benar-benar dekat dengan Saya. Saya tidak tahu kenapa. No. Bukan pos yang biasa. Ketika dia sedang memukuli Saya. memeriksanya dan lalu berkata bahwa Saya GAM. Pusat Penerangan TNI. Salah satu dari mereka menghentikan Saya di jalan. Ada banyak tentara di jalan. Mereka membuka baju dan celana panjang Saya dan mengikat tangan Saya dibelakang punggung dengan tali. Saya melarikan diri ke Malaysia. Tujuh kali. “120 Napi GAM akan dipindahkan ke Jawa” Serambi. termasuk 912 pejuang dan 416 pendukungnya.” Laksamana.net. Dia mengikat tangan Saya dibelakang punggung dan memukul Saya langsung karena Saya tidak memberitahunya dimana GAM berada. Mereka pergi sekitar jam 10. Saya bilang.016 kasus kepada kantor kejaksaan. 20 Oktober 2003.” Belasan tentara lalu menembakan senapan mereka ke udara.338 Anggota Pemberontak GAM Ditahan. Mereka juga mengambil cincin dan uang Saya.79 Penahanan Secara Sewenang-wenang dan Ketiadaan Proses Pengusutan Banyak dari mereka yang tertangkap karena dicurigai kenggotaan atau dukungannya terhadap GAM sepertinya diadili atas tuduhan makar. Saya bilang. 24 Oktober 2003 Anggota Batalion Siliwangi yang dituduh dan dibebaskan di pengadilan militer karena pemukulan di Dewantara. 10 (C) 34 . Setidaknya 500 ditemukan bersalah dan dijatuhi hukuman. Saya bukan. Malaysia. Vol. Saya hanya punya mereka yang tidak melakukan kesalahan yang tinggal untuk dipukul. di depan dan belakang.” Sesudah ini terjadi. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi suatu hari jka Saya tidak bisa lari lagi. Aceh Utara. Dalam pernyataan awal militer mengatakan bahwa mereka sudak membebaskan 145 tersangka karena kurangnya bukti. “Bukan.78 Seorang laki-laki dari Aceh Timur memberitahu Human Rigths Watch: Saat itu dua hari sesudah darurat militer dimulai. Saya tidak melakukan kesalahan apapun.80 78 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia tigapuluh dua tahun (nama disembunyikan). Sekitar sepuluh orang dipukuli tetapi Saya satu-satunya yang diikat. satu yang khusus untuk darurat militer. Sesudahnya tiga tentara memukul Saya. Mungkin sekitar seratus orang.

Dia berusia tigapuluh lima tahun dan mempunyai dua orang anak yang masih muda. Mereka membawanya jam 8 pagi. 15. “5 Bulan Darurat Militer. Orang ini adalah orang biasa –tidak kaya atau miskin. Mereka datang dengan truk berisi tigapuluh lima orang.” Associated Press. Mereka juga melaporkan bahwa delapan puluh klien mereka menderita penyiksaan selama ditanyai dalam penanganan militer atau polisi. 26 Oktober 2003.” Press Release. menghadiri beberapa pertemuan. seorang laki-laki berusia delapan belas tahun dari Aceh Besar memberitahukan Human Rights Watch: Pada bulan September Brimob datang ke desa dan mengambil seseorang. Propinsi Aceh. Tidak diketahui 81 Suatu penangkapan atau penahanan adalah sewenang-wenang ketika dilakukan oleh penguasa negara tanpa dasar hukum yang sepatutnya dan untuk melakukan hal tersebut. Kontras juga melaporkan bahwa sampai dengan tanggal 18 Agustus terdapat 213 kasus penangkapan dan penahanan secara sewenang-wenang. dalam propinis dengan beberapa pengadilan yang bekerja. 20 Oktober 2003. 10 (C) . Dia ditutup matanya dan tangannya diikat. hanya orang biasa. No. 83 82 “Tersangka Pemberontak Indoneisa Memberitahukan Teror di Rumah Tahanan. “Komandan Aceh menyangkal tuduhan penyiksaan. Sebagai tambahan kasus yang dikutip diatas. atau membantu menguburkan tersangka pengacau.84 Lajunya langkah dan tingginya jumlah kasus. 84 35 Human Rights Watch. Pengacara bantuan hukum dalam artikel tersebut memperkirakan bahwa 40 persen terdakwa tidak mempunyai akses ke pengacara.” September 2003. 7 Desember 2003. Kontras.Organisasi non-pemerintah Kontras sudah melaporkan bahwa banyak dari mereka yang ditahan telah dituduh dengan tuduhan makar. Kontras Aceh. Perang koto yang Tidak Terungkap. Mereka membawanya ke Kodim di Jambu Tape. para terdakwa mengatakan kepada seorang jurnalis bahwa mereka mengalami penyiksaan selama interogasi.83 Mereka yang diwawancarai menggambarkan banyak kasus dimana polisi atau TNI secara tiba-tiba datang dan membawa pergi seseorang atau beberapa orang. Berhasil Ciptakan Ketergantungan Sipil pada Militer.81 Seorang anggota Lembaga Bantuan Hukum di Aceh melaporkan banyak orang yang ditahan yang mereka wakili menyatakan bahwa mereka tidak lebih daripada membelikan kopi untuk pemberontak. dan diperkirakan bahwa sampai bulan Oktober hanya seratus orang yang mampu memperoleh bantuan hukum. menimbulkan perhatian kepada proses pembelaannya. tetapi tidak mengeluarkan surat perintah.” Associated Press. Dia seorang tetangga dan Saya melihatnya. Wawancara Human Rights Watch dengan seorang laki-laki berusia delapan belas tahun (nama disembunyikan). Malysia. Saya tidak tahu kenapa –mungkin mereka mendapatkan suatu informasi dari seseorang. “Makalah Ringkas tentang Aceh. Sampai sekarang tidak ada tanda-tanda dia akan dibebaskan. 22 November 2003. dan bahwa pengadilan selama 1 jam tersebut terjadi tanpa pengacara pembela atau saksi dan menghasilkan hukuman paling banyak lima tahun.82 Dalam wawancara di rumah tahanan. Vol.

Jam 10 pagi Kami mendapatkan nasi dan ikan. Dia memberitahukan Human Rights Watch: Sekitar jam 10 malam. sampai sekarang. Ketika mereka menangkapnya mereka membawanya ke Samalanga. anak-anak perempuan. tidak diperbolehkan untuk membuat makanan yang enak. Malaysia. Komandan militer memberitahu istri Saya bahwa jika Saya kembali ke desa hari berikutnya dia akan dilepaskan… Dia benar-benar tidak tahu apa salah yang sudah dia lakukan. Salah satu teman saya ada didalam bersama dengan tujuh anaknya. mereka hanya datang dan menangkapnya… Ketika mereka menangkapnya Saya ada di kebun Sebelum Saya kembali ke desa Saya mendengar apa yang telah terjadi jadi Saya tidak kembali. tidak ada peristiwa apapun. “Dia tidak ada disini. Seorang perempuan dari Aceh Selatan mengatakan bahwa dia ditahan bulan Oktober oleh militer. kurangnya informasi dan waktu tambahan yang disediakan oleh kerangka hukum darurat militer. “GAM tidak bisa diberikan sesuatu yang baik. 26 Oktober 2003.85 Seorang laki-laki lain memberitahu Human Rights watch mengenai penangkapan istrinya bulan September: TNI menangkap istri Saya tanpa alasan apapun… Sekitar jam 8 pagi. dua orang tentara datang ke rumah Saya dengan senjata. 5 Nopember 2003. kami dibawa ke Koramil. perempuan.” Mereka membawa Saya langsung ke Koramil dengan kijang. kepada Komandan operasi Aceh Selatan… Di Koramil terdapat banyak orang dari desa. Mereka bertanya kepada Saya. Malaysia. Saya membayar sepuluh juta rupiah (US$1200) sebelum akhirnya mereka membiarkan Saya bebas… kepada kepala Koramil. Vol. 86 Human Rights Watch. tetapi masih ada yang lainnya di luar rumah. sekitar 300 orang. malam hari kadang-kadang nasi. (nama disembunyikan). Beberapa dari mereka sangat kecil dan juga seorang laki-laki tua yang sedang sangat sakit. Ada tigapuluh sembilan tentara dan Brimob dari Jakarta. Dua tentara tersebut mengetuk pintu “buka pintu!” Keduanya membawa senjata. beberapa laki-laki. No. “Suamimu ada disini?” Saya bilang. Para tentara tersebut berkata pada kami. Beberapa hari tidak ada nasi.86 85 Wawancara Human Right Watch dengan perempuan berusaia tigapuluh tahun. Didalam kijang tersebut.” Saya bukan GAM. Saya tidak tahu dimana dia. Keluarga saya sudah memberikan delapan juta rupiah (US$940) kepada Komandan polisi militer di Bireun.sampai tingkatan apa tahanan diproses sehubungan dengan hukum. Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia tigapuluh tujuh tahun (nama disembunyikan). 15. 10 (C) 36 . dan menahannya tanpa tuduhan di Koramil lokal. jam 3 sore nasi. Dia meminta lebih tetapi tidak ada uang lagi. Saya sudah tidur. Saya hanya orang dusun biasa.

ABRI mengumumkan bahwa 95 persen penduduk Aceh sudah memenuhi persyaratan untuk mempunyai kartu identitas baru. persyaratan kartu identitas baru mempunyai pengaruh yang berarti terhadap orang-orang Aceh yang kartunya sudah hilang.88 Batas akhir untuk mempunyainya ditentukan tanggal 31 Juli. Mereka yang tidak datang lalu dianggap sebagai anggota GAM. Mereka yang tidak mempunyai KTP baru menjadi target kekerasan secara khusus dan harus membatasi gerakan mereka secara berarti. tertinggal. Departemen Luar Negeri. siapapun yang berada diluar daerahnya ketika persyaratan baru diterapkan menghadapi resiko saat bepergian kembali ke rumah. 2003. Sebagai orang yang hanya bisa mendapatkan kartu di daerah tempat tinggalnya. Kartu Tanda Penduduk merah putih. disusul dengan inspeksi besar dan operasi penegakan yang dimulai 1 Agustus. Meskipun mereka membutuhkan KTP baru untuk bergerak secara bebas.Pembatasan Kebebasan Bergerak Sembilan hari sesudah darurat militer dimulai.90 87 88 Nur Raihan. penduduk Aceh sekarang diwajibkan untuk memperoleh kartu merah dan putih khusus. dan dibatasi untuk apa yang penting dan sebanding. pembatasan kebebasan bergerak apapun oleh pemerintah untuk alasan kemanan harus mempunyai dasar hukum yang jelas.” detik. Tujuan dari dikenalkannya KTP merah-putih adalah untuk memisahkan orang sipil dengan anggota GAM. bukan normanya. “Tujuhpuluh pesen penduduk yang harus memiliki kartu identitas sudah mempunyai kartu merah putih di tangan mereka. GAM biasanya menggunakan strategi dengan merampas KTP orang sipil untuk membingungkan TNI dan polisi (Polri). No.338 Anggota Pemberiontak GAM ditahan. Pada akhir Juli kepala sebuah Kabupaten memperkirakan bahawa hanya 60% dari penghuni yang mempunyai kartu baru dan bahwa dia tidak akan bisa menyelesaikan pekerjaannya pada akhir bulan tersebut tanpa bantuan dari polisi dan militer. Pusat penerangan TNI. motif lainnya yang penting adalah untuk memaksa semua orang Aceh untuk datang sendiri ke depan petugas. 10 (C) . memungkinkan mereka melalui sweepings tanpa terdeteksi.com. 29 May. seperti yang terjadi di Timor Timur 1999. “1. Pengeluaran kartu identitas tidak bertentangan dengan hukum internasional. Komandan militer Mayor Jendral Endang Suwarya mengumumkan bahwa KTP baru akan dikeluarkan karena begitu banyak yang sudah dicuri oleh GAM. Betapapun. simbol tersebut kemudian lebih dikaitkan dengan kondisi penindasan.” Pada tanggal 4 Desember. setiap batasan harus menjadi pengecualian. “Persyaratan KTP Baru Menambah Lebih Banyak Penderitaan Bagi Rakyat Aceh. 15.” The Jakarta Post. 89 90 37 Human Rights Watch. Tertini ZB Simanjuntak. banyak orang-orang Aceh masih belum menerima kartu-kartu mereka sampai kini. Darpada kartu identitas Indonesia biasa yang diwajibkan seara nasional. 28 Juli 2003. Vol.” 4 Desember 2003. Dimaksudkan untuk menegakkan kesetiaan kepada negara Indonesia.89 Pernyataan Menteri Luar Negeri menjelaskan bahwa tertanggal 10 Agustus. tidak pernah mendapatkannya. Dalam prakteknya. “Makalah Ringkas mengenai Perkembangan Terkini di Propinsi Nangroe Aceh Darusslam (NAD periode: 19 Mei-10 Agustus 2003. Itu adalah warna bendera Indonesia. sampai batas akhir penutupan.87 Sementara hal ini bisa jadi adalah motif yang utama. “KTP sementara Aceh berlaku 1 Juli. atau diambil oleh GAM atau pasukan keamanan Indonesia.

kepala kepolisian. menjelaskan prosesnya: Saya melihat bahwa jika Kamu tidak mendapatkan KTP Kamu tidak akan bisa aman. dalam satu kasus Rp 50.S. KTPmu tidak akan dikeluarkan. dalam kasus yang lain Rp 200. Setiap hari terasa menakutkan. Tuntutan untuk menyuap adalah rutin. Wawancara Human Rights Watch dengan seorang laki-laki berusia duapuluh lima tahun (nama disembunyikan). 10 (C) 38 . Tetapi proses mendapatkan KTP Merah Putih sangat sulit.$24). 29 Oktober 2003. Dengan KTP Saya bisa pergi ke Medan dengan bis umum.Seorang laki-laki menggambarkan sulitnya mendapatkan kartu ketika dia sudah meninggalkan desa tempat tinggalnya ke ibukota Banda Aceh untuk alasan keamanan: Dengan tanpa KTP Saya takut keluar. Di kantor Polisi.” 93 91 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh lima tahun-an (nama disembunyikan). Malaysia. 93 92 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki duapuluh tahun (nama disembunyikan). Jika Kamu tidak datang. Butuh tiga hari sebelum Saya mendapatkan KTP Saya. Kami datang kesana untuk mendapatkan KTP dengan semua dokumen. Saya menghabiskan dua bulan (di Banda Aceh). 28 Oktober 2003.000 (US$3). dia memerintahkan Kami untuk menyanyikan Indonesia Raya (Lagu Kebangsaan). Malaysia. Saya dapatkan dari kantor polisi di Singli. Kamu harus pergi ke kantor kepala kecamatan setelah Kamu difoto. Human Rights Watch. Saya mau pergi ke Malaysia tetapi Saya tidak bisa. lalu ke polisi.91 Proses mendapatkan identitas baru sulit.S.000 (U.000 (U. Akhirnya Saya mendapatkan KTP melalui KTP keluarga kakak laki-laki Saya. Surat kuasa dari kepala desa.92 Seorang perempuan dari Pidie memberitahukan Human Rights Watch: Di awal bulan ini saya mendapat KTP Saya. Sebelumnya Saya takut meninggalkan rumah. Pidie. kembali lagi ke kepala kecamatan.$6) kepada kepala kecamatan untuk mendapatkan kartu dengan untuk pergi. No. dan kepala kabupaten. Malaysia. karena Kamu harus datang sendiri untuk menandatanganinya. 6 November 2003. Saya pergi ke Medan dan Malaysia. dan tanda tangan dari komandan Koramil. yang sudah lama tinggal di Malaysia tetapi kembalikan ke Aceh di August. 15. Vol. Dia bilang. membutuhkan izin pendahuluan dari kepala desa. Seorang laki-laki dari Pidie. Beberapa orang menggambarkan bahwa mereka membayar lebih untuk mendapatkan kartu mereka. ke kepala kecamatan dahulu. “Hormat kepada matahari sampai Kamu bisa menyanyikan lagu kebangsaanmu. Jika Kamu tidak dapat menyanyikannya dia memerintahkanmu untuk berdiri di lapangan. Saya harus membayar Rp 25. Kepala desa Saya ikut bersama Saya.

KTP merah putih menjadi suatu kekurangan. No. 31 Oktober 2003. setiap orang keluar. 15. Penahanan semacam ini secara khas terjadi di tempat pemeriksaan di perbatasan dengan Sumatera Utara.94 Nampak sulit meninggalkan Aceh tanpa kartu merah putih. Banyak orang yang tinggal dengan teman atau sanak saudaranya di Medan. Mayoritas orang-orang Aceh yang diwawancarai oleh Human Rights watch meninggalkan Aceh dengan bis ke Sumatera Utara. 95 39 Human Rights Watch. Mereka menanyakan KTPnya. Lebih dari sepuluh orang melaporkan bahwa ada lakilaki muda dikeluarkan dari bis yang mereka naiki. Semua bis harus berhenti. juga di perbatasan dengan Medan.95 Seorang laki-laki dari Bireun memberitahu Human Rights Watch mengenai perjalannya keluar dari Aceh: Saya sedang berada dalam bis umum ke Medan.” The Jakarta Post. di Alue Ie Puteh. menandai seseorang sebagai orang Aceh dan menjadi sasaran penangkapan. teman seorang saksi yang berusia dua puluh tahun dipukuli: Di lapangan tersebut teman Saya dipukuli. penganiayaan atau pemerasan. Malaysia. atau di perbatasan-perbatasan antar kabupaten seperti antara Aceh Utara dan Aceh Timur. Ada pemeriksaan di Peureulak. Kesalahannya adalah tidak membawa KTPnya bersamanya. mereka ingin tahu siapa yang GAM. enam orang tersangka GAM di 94 Wawancara Human Rights Watch dengan seorang laki-laki berusia duapuluh tahun (nama disembunyikan). Bagaimanapun. “Saya meninggalkannya di rumah. Tertiani ZB Simanjuntak. Selama salah satu peristiwa yang sudah disebutkan di atas mana TNI memaksa penduduk desa untuk berkumpul dan membunuh tiga orang di desa dekat Lhokseumawe. 3 Juni 2003. begitu seseorang menyebrangi perbatasan menuju ke propinsi tetangga Sumatera Utara. di Langsa di Aceh Timur. Melihat KTP. Ada beberapa laporan operasi sweepings terhadap orang-orang Aceh di propinsi Sumatera Utara dan Riau. atau bersembunyi di hutan sampai mereka bisa menemukan jalan untuk pergi ke Malaysia.” “Tidak. siapa yang bukan. Ketika dia bangun dari mulutnya keluar darah. Dia bilang. dan hampir semuanya menggambarkan pemeriksaan yang berulangulang terhadap kartu merah putih. Sesudah itu enam orang diambil. KTP diminta. “Komnas HAM akan Menyelidiki Pelanggaran Aceh. Kamu GAM!” Mereka menendangnya di perut dan dia terjatuh. TNI mencari GAM.Beberapa peristiwa penyerangan fisik digambarkan kepada Human Rights Watch berkaitan dengan kartu identitas merah putih. Aceh Utara. Vol. 10 (C) . diduga karena tidak mempunyai kartu atau karena alasan lainnya seperti mempunyai nama atau wajah yang sesuai (atau memiliki persamaan) dengan satu dalam daftar yang dimiliki tempat pemeriksaan.

durian. bahwa nomor itu hanyalah nomor telepon Saya. Saya pergi langsung ke Medan. 15. Saya melihat dua orang dibawa ke belakang oleh lima orang tentara TNI. Saya dipukul di wajah sekali. Sesudahnya setiap orang kembali ke dalam bis. Dia menunjuk… Sesudahnya mereka membebaskan Saya… Saya menangis. 2003 97 98 Human Rights Watch. Di perbatasan terdapat banyak pasukan keamanan… Ada tiga bus dan sekitar limabelas orang ditangkap. Malaysia. 10 (C) 40 . Saya tidak tahu dimana mereka. Saya menunggu di Medan lima hari. 28 Oktober 2003. Satu persatu dipanggil untuk memeriksa kartu identitas kita. memberitahu Human Rights Watch: Saya sedang berada di perbatasan dan bis berhenti untuk pemeriksaan KTP.96 Seorang laki-laki yang tiba di Malaysia bulan Juni memberitahukan Human Rights Watch mengenai peristiwa yang terjadi di bisnya saat perjalanan dari Aceh Utara ke Medan: Saat itu malam sudah sangat larut. Sesudahnya saya diperintahkan untuk membersihkan isi ruangan. Mereka bertiga bersenjata. No. Kenapa? Karena mereka melihat nomor telepon di dompet Saya. Saya keluar dari bis dan bis pergi tanpa saya. semuanya laki-laki. ketika mereka memeriksa KTP Saya. meminta tolong agar dibebaskan karena Saya mau kembali ke Medan secepatnya… Saya menunggu bis lagi dan langsung pergi ke Medan. ada sampah. Dia bilang kepada Saya.97 Seorang laki-laki dari Pidie. “Itu nama orang GAM. yang kembali ke Aceh dari Malaysia di bulan Agustus. Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh lima tahun (nama disembunyikan). Mereka polisi tapi BKO. Sangat menjijikan. rokok. Wawancara Human Right Watch dengan laki-laki Aceh berusia duapuluh tahun (nama disembunyikan). (yang datang) khusus untuk darurat militer. Vol. Jika Saya tidak melakukannya. Saya membeli tiket pesawat dan pergi langsung kembali ke Malaysia. Semuanya orang Aceh. Ada pos TNI dan semuanya diminta turun dari bis dan berbaris. Kami sudah tiba di Aceh Timur.” Ada lima orang polisi. Saya tidak tahu kemana mereka dibawa. tidak terlalu dekat juga. Tiga polisi masuk dan membuka baju dan celana panjang saya.98 96 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia empatluluh tahun (nama disembunyikan). Mereka orang-orang Aceh. Paha Saya ditendang. Sesudah itu mereka mulai memukul Saya karena Saya tidak mau mengakuinya. Malaysia. Ada tempat penahanan. Saya di tahan di ruangan tersebut selama satu jam. Saya kemudian mendengar suara tembakan. 26 Oktober 2003. Malaysia. Lalu mereka membawa Saya ke sebuah kamar kecil. Tiga kali Saya ditendang. di tubuh Saya dua kali. 29 Oktober.Peureulak. semua laki-laki. Kamu GAM. Mereka bertanya kepada Saya untuk menyatakan bahwa Saya adalah GAM. AJ-47s. Mereka memaksa saya untuk membersihkan daerah tersebut. Dua orang tersebut tidak pernah kembali ke dalam bis. meraka bilang mereka akan menembak Saya. Tidak jauh.

”101 Hal ini bukanlah ancaman main-main. Bahari. Di bulan Oktober. menanam sayur-sayuran atau singkong.cfm?ncat=35&news_id=6246 (diakses 4 Desember 2003). 101 100 41 Human Rights Watch. Banyak orang Aceh mengeluh bahwa ketakukan akan kekerasan atau larangan-larangan terhadap mobilitas telah secara serius mempengaruhi kemampuan mereka untuk menyambung hidup. 15.laksamana. Laki-laki ini. yang seringkali berada bukit diatas desa. dan kami tidak diperbolehkan pergi ke bukit-bukit. No. Pegunungan tersebut dikepung oleh TNI. Gubernur Abdullah Puteh mencatat. Jika kami melakukannya. atau sebagai pendukung mereka yang membawakan nasi atau kebutuhan lainnya untuk separatis bersenjata tersebut. 29 Oktober 2003. Dia tidak mengakuinya. Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh dua tahun (nama disembunyikan). Kecamatan Labuhan Haji.” Laksamana. naik ke atas ke bukit ke kebun sayurannya tetapi ditahan oleh Brimob dan dibawa ke pos brimob di Labuhan Haji. Vol. 29 Oktober 2003. ke kebun kami. “Angka pengangguran dan kemiskinan disebabkan konflik di Aceh mengkhawatirkan.Pemerasan dan Pembatasan Terhadap Aktifitas Ekonomi Situasi ekonomi dibawah darurat militer memburuk secara cepat. dan ditanya apakah dia GAM. Ekonomi kami membeku. siapapun yang terlihat menuju kesana dianggap entah sebagai GAM. jadi kami tidak berani pergi kesana. Seorang laki-laki berusia delapanbelas tahun yang tiba tanggal 11 September dari Aceh Besar memberitahukan Human Rights Watch: Orang-orang tidak bisa pergi ke pegunungan. Hampir semua warga yang diwawancarai mencatat bahwa penghuni desa mereka dilarang pergi ke kebun mereka. Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia delapan belas tahun (nama disembunyikan). Kalian harus bertanggung jawab atas diri kalian sendiri. Kami diperingatkan: “Jika Kalian pergi ke tasa Kami tidak bisa bilang apa yang akan terjadi. 10 (C) . Kami takut tembakan. pemerasan.” Puteh mengutip data terkini yang menunjukan bahwa 40 persen penduduk tinggal dibawah garis kemiskinan. kami akan dikira GAM dan mereka akan menembak kami. “Ada pos-pos di desa. Dia disiksa disana –ditusuk dengan pisau.”100 Karena pasukan GAM terutama berada di daerah pegunungan. Malaysia. dan rasa takut yang terbangun baik terhadap kekerasan saat bepergian untuk membeli atau menjual barang-barang secara hebat telah memperburuk masalah tersebut. dan 99 “Waspadai kemiskinan dan pengangguran di Aceh. Kami tidak bisa mencari makan. http://www. Seorang laki-laki memberitahukan Human Rights watch. 28 Oktober 2003.99 Perang telah nenyebabkan ekonomi berjalan tertatih-tatih tetapi pengawasan yang luas terhadap gerakan. menebang pohon untuk membangun rumah. Seorang laki-laki berusia duapuluh enam tahun dari Aceh Selatan melaporkan: Tanggal 23 Jumi ada seorang laki-laki mencari makanan didekat desa (nama dihilangkan).net/vnews.

Jika Kita keluar dari kapal yang pertama adalah pergi ke pos marinir dan melapor disana. Sebelumnya tidak ada masalah. tetapi mayat tersebut dikirim ke rumahnya. lalu kembali ke pos marinir ketika kami kembali untuk mengambil KTP kembali… Pernah ketika Saya sedang merawat ayam jantan Saya untuk sabung ayam. Lalu Saya ketakutan karena adanya tempat pemeriksaan di jalan oleh TNI dan Brimob… Saat Saya menyetir kendaraan mereka menghentikan Saya untuk meminta uang atau makanan. di daerah kecamatan. Jika mereka bilang sepuluh maka harus sepuluh. Jika Kamu tidak memberikannya kepada mereka. 26 Oktober 2003. khususnya dmana imigran Jawa berada. Milisi tersebut dilatih tahun 1999 oleh TNI dan Polri.103 Seorang supir lainnya dari Bireun mengulang cerita bahayanya bepergian di jalan: Saya menjual ikan di Takengon. Malaysia. Wawancara Human Rights Watch (nama disembunyikan). Saya tidak mau memberikan mereka Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh enam tahun (nama disembunyikan).104 Seorang nelayan berusia duapuluh tahun dari Aceh Utara yang tiba dua minggu yang lalu menjelaskan: Ada pos-pos setiap limapuluh meter di beberapa tempat. di Aceh Selatan. Lalu kami pergi ke Lhokseumawe untuk menjual ikan Kami harus melapor disana. 10 (C) 42 . laporan aktifitas milisi di beberapa kabupaten. 26 Oktober 2003. dan memberikan KTP. Wawancara Human Rights Watch dengan seorang laki-laki berusia tigapuluh tahun (nama disembunyikan). Kamu dipukuli. 104 103 102 Human Rights Watch. Dua orang lainnya ditahan pada waktu yang sama dan juga ditusuk. No.102 Seorang berusa tigapuluh tahun yang tiba dari Aceh Tengah segera setelah darurat militer dimulai berkata: Hidup Saya sangat berat. Banyak orang Aceh yang menghilang. Malaysia. Malysia.dia dibunuh. Mayat mereka tidak pernah dikembalikan. Tetapi baru-baru ini dua orang penjual ikan lainnya yang Saya kenal menghilang: Rusli di bulan Oktober dan Azhari di bulan September. Saya sudah memberikan satu kepada mereka jadi Saya bilang tidak. Saya melakukan perjalanan terakhir Saya bulan Juli. truk-truk mereka diambil. Meskipun kelompokkelompok yang berkaitan dengan militer berkeliaran setidaknya sejak tahun 1990. ini ada lima”. tetapi mereka tidak mengaku. Saya melihat mayatnya di rumahnya. 25 Oktober 2003. Kamu tidak bisa tawar menawar dengan mereka. Jika Kamu tidak mempunyai uang dan mencoba menawar – “Saya tidak punya sepuluh. tentara datang dan memintanya. Saya tidak tahu dimana ditemukannya. Tetapi Saya harus berhenti pergi kesana karena Saya takut kepada milisi. Saya bekerja sebagai supir minibus di jalan raya. Mereka meminta lagi. 15. telah meningkat tahun-tahun terakhir ini.mereka tidak akan menerimanya. Vol.

Batalion Sriwijaya 141. Lalu dia mengancam Saya – “Kalau Kamu tidak memberikannya kepada Saya.”106 Kembalinya Jaga Malam: Tugas Wajib Jaga Malam Kami seharusnya mempertimbangkan untuk memberikan penghargaan yang sepantasnya kepada tuntutan masyarakat untuk diperbolehkan membela diri dan barang-barang mereka sendiri. Kopassus datang jam 11 pagi. Saat itu tanggal 8 atau 9 Oktober. mereka akan mengambil kalian. Dalam usahanya untuk memaksa keluar para pejuang yang bertahan dari persembunyiannya. 2 Juli 2003. Tahun 1981. mereka akan meminta uang. 31 Oktober 2003. Malaysia. 106 107 105 Wawancara Human Rights Watch (nama disembunyikan). Fabiola Desy Unidjaya dan Tiarma Siboro. mereka berempat di dalam Taft – seperti Pajero tapi lebih kecil. menyiksa dan bahkan membunuh warga lainnya. Mereka BKP. Jika Kamu mencoba membuka usaha.” Saya seharusnya bisa pergi haji ke Mekkah duapuluh lima kali sekarang. “Jika Aku tidak ada disini. 5 Nopember 2003. Dia bilang pada Saya. “Jika Kamu tidak memberikannya kepada kami.” Karena Saya takut. Mereka hendak pindah ke pos BKO yang lain dan meminta ‘uang pindah’. Dia dari pos lokal. Saya akan menembakmu. 15. maka diberikan… Saya tidak tahan lagi. baik sebagai tameng manusia dan juga menggunakan orang sipil untuk menekan perlawanan para pejuang. “Presiden Menyetujui ‘Penjaga’ Sipil’. Saya memiliki penggilingan beras. militer Indonesia melaksanakan operasai yang disebut kampanye “pagar betis” di Timor Timur. bilang pada mereka. Tetapi kalau diminta. No.108 Beberapa Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh tahun (nama disembunyikan). “Sebaiknya kamu pergi saja. Dia bertanya apa yang mereka inginkan dan Saya beritahukan: tujuh juta rupiah dalam tiga hari. Saya memberikannya kepadanya. Saya dimintai tujuh juta rupiah (US$825) dan diberitahukan bahwa jika Saya tidak memilikinya dalam tiga hari Saya tidak akan selamat. yang kebanyakan orang Jawa. bermarkas di Koramil.satu lagi. 10 (C) . Mereka bilang. Malaysia.” Saya pergi sesudah dua hari –mereka memberi Saya waktu tiga hari. —Presiden Megawati. malam ini Kamu akan dibunuh. TNI biasa menggunakan taktik semacam “pagar betis” di Timor Timur dengam menaruh orang sipil diantara tentara dan gerilya. The Jakarta Post. partisipasi masyarakat semakin dibutuhkan karena kurangnya personil keamanan. Setiap hari TNI meminta 450 kilogram.105 Seorang laki-laki yang memiliki bisnis penggilingan beras melaporkan: Membuka jalan untuk hidup di Aceh itu sulit. militer memaksa 108 43 Human Rights Watch. kan? Saya katakan pada tiga anak laki-laki Saya untuk ikut pergi (nama disembunyikan). Vol. Sesudah mereka pergi Saya pergi ke teman Saya di kedai kopi di depan rumah Saya. kepada polisi pada upacara bulan Juli107 Secara historis. khususnya mereka yang tinggal di daerah konflik… Dalam menghadapi orang sipil yang bersenjata yang memerat.

operasi ditujuan untuk merangsang keberanian masyarakat lokal untuk berjuang melawan GAM.Polkam. Seorang laki-laki berusia duapuluh tahun dari Pidie yang tiba di Malaysia tanggal 14 Oktober menggambarkan ketika tentara mengadakan tugas jaga malam di desanya: Jaga malam dimulai sesudah darurat militer.go. No. tetapi tidak jelas seberapa sering taktik ini digunakan dibawah darurat militer. Kami berempat dipukuli kalau tertidur.” Pernyataan Pemerintah Indonesia. Dalam wawancara dengan Human Rights Watch. Semua laki-laki diatas lima belas tahun harus berjaga. dibawah DOM. Nani Farida.109 Seorang laki-laki memberitahukan Human Rights Watch tentang penduduk desa yang dibawa ke hutan untuk mencari GAM. Semua perhatian dan kewaspadaan ini datang dari masyarakat secara spontan. bahkan laki-laki tua. begitu juga kesadaran mereka akan hak dan kewajiban mereka. dan kesetiaan rakyat Aceh kepada Negara Kesatuan Indonesia semakin menguat. strategi dari peride DOM yang dihidupkan kembali segera sesudah darurat militer dimulai. dalam tiga waktu yang berbeda. Republik Indonesia. 111 109 Human Rights Watch. Sebelumnya. Kami juga biasa melakukannya dibawah DOM. “Warga Sipil Terlibat Secara langsung Dalam Perburuan Pemberontak GAM “. Menurut pernyataan pemerintah mengenai kemajuan darurat militer: Penjagaan lingkungan telah meningkat di desa dari 0% sampai dengan 70%. Kami harus melakukannya tiga kali seminggu. www. Komandan Kodim Aceh Besar mengatakan bahwa militer hanya menyediakan sokongan terhadap inisiatif warga desa itu sendiri. menggunakan mereka sebagai tameng manusia terhadap para pejuang yang bertahan. 15 Agustus 2003. Beberapa perkembangan yang positif sudah dicapai seperti misalnya beberapa pos sudah dibuat oleh penduduk lokal yang juga berfungsi sebagai Pos Informasi. contoh partisipasi orang sipil yang paling luas dalam pertahan yang dilaporkan adalah tugas wajib jaga malam tanpa senjata. orang sipil untuk berjalan berbaris dari setengah garis pertahanan pulau terebut menuju ke pusatnya. sekitar 1. Militer mengikutinya dari belakang. sekitar sebulan kemudian. Vol. Departemen Luar Negeri. kesaksian yang dikumpulkan di Malaysia menunjukan bahwa pasukan keamanan memakai ancaman dan penggunaan kekerasan untuk memaksa penduduk lakilaki di desa untuk bergantian menjaga desa.000 penduduk desa dari Kecamatan Leupung di Aceh Besar dilaporkan terlibat didalam perburuan pemberontak GAM di hutan dekat sana. Sebagai contoh. The Jakarta Post.media baru-baru ini melaporkan penggunaan orang sipil dalam operasi militer di Aceh. laki-laki tua tidak pernah melakukan tugas jaga. 110“Evaluasi Pemerintah Terhadap Operasi Khusus di Aceh. 10 (C) 44 . . 15. periode: 19 Mei -10 Agustus 2003.110 Pernyataan lain yang dikeluarkan oleh Kementerian Luar Negeri menegaskan: Dalam rangka menciptakan situasi yang aman dan teratur di (Aceh).111 Biarpun demikian. 17 September 2003.id. empat orang setiap kalinya. “Makalah Ringkas tentang Perkembangan Terakhir di Propinsi Nangroe Aceh Darussalam (NAD)”.

115 114 113 112 45 Human Rights Watch. 26 Oktober 2003.114 Dua orang Aceh yang diwawancarai oleh Human Rights Watch juga mengeluh mengenai pemaksaan tenaga kerja. Kami harus melakukannya mungkin dua hari setiap minggunya. tidak ada perubahan. tetapi kami harus membangun pos-pos di desa lain. Malaysia.112 Seorang perempuan dari Peureulak. Kadang-kadang ketika mereka pergi. membangun pos-pos dan kamp baru. Wawancara Human Rights dengan laki-laki berusia tigapuluh tahun (nama disembunyikan). menempatkan mereka dalam resiko pembalasan dendam dari kedua belah pihak. Suami Saya lalu sakit jadi tidak bisa pergi dan mencari makan. di Aceh Timur. Dia desa Saya mereka hanya mengambil alih sebuah rumah kosong.Kami tidak berkeliling tetapi tinggal di sekitar pos jaga. 24 Oktober 2003. itu juga menaruh orang sipil di seputar antara GAM dan TNI. 10 (C) . Wawancara Human Rights dengan perempuan berusia tigapuluh tahun (nama disembunyikan). Sekarang selalu seperti ini. Mereka tidak berkata kami seharusnya menjaga –jaga malam saja! Mereka tidak berkata menjaga ini atau itu. Dan. Dia mengatakan kepada Human Rights Watch: Suami Saya dipukuli oleh TNI bulan Agustus saat dia jaga malam. Malaysia. GAM meminta kami untuk memberitahukan mereka apa yang TNI dan Brimob lakukan. Seorang dari dua orang yang menggambarkan tugas wajib tersebut menjelaskan: “di malam hari kami jaga malam. Saya harus pergi (dari Aceh) untuk mendapatkan uang dan makanan.113 Tugas wajib jaga malam adalah aspek tambahan dari kehidupan yang semakin tidak dapat dipertahankan lagi bagi laki-laki Aceh.115 Wawancara Human Rights Watch dengan seorang laki-laki berusia duapuluh dua tahun (nama disembunyikan). Malaysia. Malaysia. kami harus merubuhkan pos. Sementara jaga malam bisa menaruh orang sipil di tingkat resiko yang sama seperti keterlibatan langsung dalam operasi militer atau dipaksa untuk bergabung dengan militia. meninggalkan propinsi tersebut di pertengahan Oktober. lalu mereka kembali lagi dan kami harus membangunnya lagi. seperti yang dikatakan seorang laki-laki berusia tigapuluh tahun yang tiba dari Aceh Tengah segera sesudah darurat militer dimulai: Polisi dan Brimob datang ke desa dan mengatakan pada orang-orang untuk menjaganya. No. 26 Oktober 2003. Vol. 15. 26 Oktober 2003. seperti membangun pos tingkat desa baru.” Wawancara Human Rights Watch dengan lakilaki berusia tigapuluh tahun (nama disembunyikan). kami pasti akan diculik dan diancam. Selama darurat militer sulit sekali mencai makanan. Atau kami diperintahkan untuk membawa tiang pohon kelapa sawit ke atas bukit. di pagi hari kami harus melakuka gotong royong. Tetapi kalau kami memberitahukan GAM.

dan menyatakan kumpulan standar internasional yang mengatur perlakuan terhadap orang-orang terlantar.4/2003/95/Add. Lebih dari seratus ribu orang dipindahkan di beberapa titik tertentu sejak dimulainya darurat militer. “Laporan OCHA Mengenai Gabungan Situasi No. 14 Nopember 2003. Vol.000 orang Jawa di Sumatera Barat yang meninggalkan Aceh. 154”. Mei 2000. jadi jumlahnya turun-naik dari minggu ke minggu. di awal Juli sekitar 10.” Human Rights Watch Press Backgrounder. No. Agustus 2001: Human Rights Watch. 15 Februari 2002. Pihak-pihak yang berkonflik harusnya tidak memerintahan pemindahan penududuk kecuali dengan alasan yang serius berkaitan dengan keamanan orang sipil yang terlibat. E/CN.116 Penampungan massa atau pengungsian orang sipil yang hanya untuk meniadakan basis sosial untuk pasukan lawan dilarang oleh hukum kemanusiaan internasional. higenis.000 orang di Aceh Utara dilaporkan meninggalkan rumah mereka karena Angkatan Udara Indonesia membom posisi pemberontak di Pantai Pisang di Kecamatan Nisam yang banyak pegunungannya. diadopsi bulan September 1998 oleh Majelis Umum PBB. sehat dan menyediakan nutrisi. dan mereka yang berwenang dan berada di komunitas internasional. Dulu Suku nonAceh juga lebih banyak diintimidasi agar meninggalkan Aceh oleh GAM. No. atau ada alasan militer yang sangat penting untuk tindakan tersebut. Konvensi Geneva. “Jesuit Refugee Service: Berita JRS No.117 Seandainya tindakan tersebut harus dilakukan. 15. sementara yang lainnya ditangkapi dan diangkut pergi: A’An Suryana. Meskipun bukan instrumen yang mengikat. Kantor PBB untuk Koordinasi Masalah Kemanusiaan (OCHA). belasan ribu orang sipil telah dipaksa oleh pertempuran atau diperintahkan oleh pemerintah Indonesia atau pasukan keamanan untuk meninggalkan rumah dan desa mereka.13. 119 118 117 116 Human Rights Watch. Kemungkinan prilaku yang sama terjadi di bawah Darurat Militer tetapi kurangnya akses membuat sulit untuk menunjukannya. Departemen Luar Negeri. Vol. “Perang di Aceh.” 17 Nopember 2003.” Laporan Human Rights watch. yang memperhatikan cerminan hukum internastional menyatakan bahwa “pengungsian penduduk sipil tidak boleh dilakukan dengan alasan yang berkaitan dengan konflik kecuali berkaitan dengan keamanan warga sipil atau tuntutan militer yang sangat penting. Lihat Human Rights Watch. “Orang Aceh Pergi karena Serangan Udara” The Jakarta Post. Perkiraan resmi jatuh dari lebih dari duapuluh ribu orang terlantar di sebelas kabupaten di bulan Agustus menjadi hanya sepuluh ribu orang terlantar di enam kabupaten pada pertengahan November.” Prinsip-Prinsip Pedoman tentang Orang Terlantar (prinsip pedoman). Sampai tahun 2001 ada sekitar 50. 10 (C) 46 . semua tindakan yang mungkin seharusnya diambil untuk memastikan bahwa tempat dimana mereka akan ditampung menawarkan kondisi tempat berlindung yang memuaskan. Laporan Perwakilan Sekretaris Jendral tentang Orang-Orang Terlantarl. pasal. 142. Sebagai contoh. Para penghuni dilaporkan diperintahkan oleh militer untuk ditampung di dua kamp di sekitar Kecamatan Dewantara dan Muara Batu. mencerminkan hukum kemanusiaan internasional sebagai juga hukum hak asasi manusia. 17.Pengungsian dan Perampokan Sejak dimulainya darurat militer. Republik Indonesia.2. 4 (c ). “Makalah Ringkas mengenai Perkembangan Terkini di Propinsi Nangroe Aceh Dasrussalam (NAD). 1 Juli 2003. Protokol II.119 Seorang laki-laki berusia duapuluh tahun yang tiba di Pidie menggambarkan bagaimana beberapa orang di desanya meningalkan TNI.118 Banyak pengungsidapat kembali ke tempat asalnya sesudah periode yang cukup singkat. “Warga Sipil Indonesia Dijadikan Target di Aceh. Periode: 19 Mei-10 Agustus 2003”. Prinsip pedomaan ini didasarkan pada hukum internasional yang tentunya mengikat negara-negara seperti halnya beberapa kelompok pemberontak.

Kami tidak diberitahukan alasannya. Orang-orang di desa ketakutan. “Sekarang mengungsi!” Saya rasa mereka dari Pos BKO Siliwangi. kambing. “Kepala TNI Menawarkan Permintaan Maaf Kepada Rakyat Aceh. lalu tiga truk datang untuk membawa kami ke Sigli. 15. Mereka pergi kesana karena ada panggilan dari mesjid untuk berkumpul disana. 47 Human Rights Watch. mereka menemukan rumah mereka dirampok ketika mereka kembali ke rumah mereka. Kami diberitahukan oleh tentara. Ketika Kami pulang ke rumah semua barang-barang kami tidak ada. 121 122 120 Wawancara Human Rights Watch (nama disembunyikan). Jendral Endiartono Sutarto. empat buah tank datang ke desa. Malaysia.” The Jakata Post. Ayam. Kami kembali ke rumah kami untuk mengambil barang-barang yang paling penting. Saya meminta maaf karenanya.Suatu pagi hari. tetapi Saya terlalu ketakutan.” terdapat kelanjutan untuk memperhatikan kurangnya akses ke makanan. Saya tidak mau orang-orang berkorban sebanyak itu.122 Sebagaimana digambarkan dalam “Aceh dibawah Darurat Militer: Pelarangan yang Tidak Perlu dan Berbahaya Terhadap Akses Kemanusiaan Internasioal. No. 10 (C) . Kami menghabiskan waktu limabelas hari disana. sekitar empatpuluh kilometer jauhnya. Beberapa orang membayar. dan pendidikan Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh dua tahun (nama disembunyikan). kepala staf ABRI. 29 Oktober 2003. Malaysia.120 Seorang perempuan dari Aceh Utara menggambarkan perampokan yang terjadi ketika para penduduk dipindahkan: Saya melarikan diri ke kamp pengungsi. dimana ada sebuah kamp orang terlantar di lapangan disana. Orang-orang di pegunungan kembali ke rumah setelah kami pulang. dan beberapa orang melarikan diri ke pegunungan. Pengadilan darurat militer dilakukan pada tanggal 22 Juli terhadap dua orang prajurit yang dituduh mencuri uang kontan dan perhiasan dari rumah seorang tersangka pemberontak separatis di Aceh Utara. mengakui bahwa tentara secara paksa menelantarkan warga sipil dan meminta maaf atas perampokan tersebut: Dengan beberapa pertimbangan. sarana kesehatan. kami (TNI) memaksa orang-orang untuk meninggalkan rumah mereka dan mengungsi sementara para tentara berusaha menyingkirkan para pemberontak yang seringkali mencoba berbaur dengan orang sipil di desa mereka… Bahkan jika para pengungsi tinggal di kamp selama tiga atau empat hari saja. Sesudahnya kami dikirim kembali ke rumah dengan truk. Tiarma Siboro. 26 Oktober 2003. dan yang lainnya melarikan diri ke Sigli. Vol. dibawa oleh tentara yang lalu meminta uang Rp 300.000 untuk mengembalikan barang-brang kami kembali. Human Rights Watch tidak tahu mengenai hasilnya.121 Di akhir Juli. 26 Juli 2003. (semua) dicuri saat kami melarikan diri. Kami mempunyai satu jam untuk mengemas barang kami. hidup didalam tenda.

Human Rights Watch. No. 124 125 123 Jesuit Refugee Service. Sampai bulan Oktober 2003. 137. Gambaran menyeluruh dari sedikit informasi yang tersedia adalah bahwa penududuk Aceh menghadapi kekurangan jasa dan persediaan dasar. Satkorlak NAD. komunikasi. informsai ini mustahil untuk di verifikasi atau diinterpretasikan tanpa mengetahui lebih banyak mengenai tingkat kehidupan total penduduk.125 Human Rights Watch. air. sekolah. 5 Oktober 2003. kekurangan gizi dan keluhan kulit diantara para penduduk tersebut. telah mengganggu hidup dan mata pencaharaian warga sipil dengan terpotongnya suplai makanan. 10 (C) 48 . September 2003.bagi orang-orang terlantar di Aceh. “Berita JSR No.” 1 Agustus 2003. listrik. dan sarana kesehatan bagi ribuan orang. Kondisi tersebut diperburuk bagi mereka yang telah dipaksa untuk meninggalkan rumah mereka. 15. pemerintah Indonesia melaporkan empat puluh tujuh kematian yang berkaitan dnegan kesehatan di kamp. Jesuit Refugee Rervice dan sumber-sumber media Indonesia sudah menyoroti laporan mengenai fasilitas sanitasi dan air yang memprihatinkan.. Informasi awal mengindikasikan bahwa pertempuran telah memaksa ribuan warga sipil keluar dari rumahnya. “Aceh dibawah Darurat Militer: Pelarangan yang Tidak Perlu dan Berbahaya atas Akses Kemanusiaan Internasional. fasilitas kesehatan yang tersedia.123 Pertempuran antara militer Indonesia dan GAM sebagaimana larangan untuk bergerak. dan informasi dasar lainnya.” Makalah Ringkas Human Rights Watch.124 Penolakan Indonesia terhadap akses badan-badan kemanusiaan internasional dan LSM membuat penilaian secara lengkap mustahil. Vol. “Kematian Orang-Orang Terlantar di Aceh” (diproses dan diperiksa oleh Organisasi Migrasi Internasional Banda Aceh). Bagaimanapun.

” Laksamana.net/vnews. 25 September 2003. Bagaimanapun. dan rendahnya tingkat tuduhan-tuduhan tersebut memperlihatkan kurangnya keseriusan dalam menghukum atau menghalangi kejahatan oleh anggota pasukan bersenjata. 15. menemukan tiga orang tentara bersalah atas pemerkosaan empat orang perempuan. Kepala TNI memberitahu majalah Time. korban bersaksi di pengadilan bahwa mereka diserang karena tidak tahu lokasi para pemberontak separatis. hukuman ringan. pada 30 Agustus 2003.” Associated Press. pengadilan militer di Ljokseumawe. dikenai tuduhan atas pemukulan dua orang penduduk desa di Kecamatan Dewantara. 5 Juni 2003 “Prajurit Dipenjara Karena Perkosaan di Aceh.130 Persidangan adalah pengecualian yang disambut baik untuk kekebalan hukum yang hampir seluruh TNI menikmatinya. “Prajurit Dibebaskan atas Penyerangan di Aceh.129 Mereka dibebaskan meskipun jurubicara militer mengatakan mereka teap akan menerima hukuman kedisiplinan yang mencakup dari peringatan keras sampai dengan tiga minggu penjara.laksamana. Jika Saya mengirimkan sesorang keluar untuk membeli pisang goreng dan orang tersebut tertangkan karena mencurinya.” The Jakarta Post. Tetapi perintah-perintah Saya dan para komandan pasukan bersenjata lainnya jelas: jangan membunuh orang sipil. No.” BBC News Online. pengadilan militer menjatuhkan hukuman kepada enam tentara dari Batalion Infrantri 144 lima bulan penjara karena pemukulan warga desa di Kabupaten Bireun pada 27 Mei.” Associated Press. 20 September 2003. Aceh Utara. 20 Juli 2003.cfm?ncat=45&news_id=6152 (diakses 4 Desember 2003).” Laksamana.Pertanggungjawaban Tidak seperti dalam operasi di masa lalu di Aceh. 131 130 129 Oktober 2003. 131 Tidak ada tuduhan pembunuhan yang membawa kematian para warga sipil selama operasi militer ini. Pengadilan memerintahkan tiga tentara tersebut diberhentikan dan menghukum mereka antara dua setengah sampai tiga setengah tahun penjara. 127 128 126 “Tiga prajurit dalam Sidang Mengakui Menyerang Penduduk Desa. “Saya tidak akan mengambil tanggungjawab atas semua perintah yang Saya berikan. tuntutan yang selektif. 10 Juni 2003.” The Jakarta Post. Tiarma Siboro. 9 Juni 2003. Mereka tidak dikenai tuduhan karena menembak mati seorang laki-laki bernama Abubakar dalam peristiwa yang sama. haruskan Saya juga 49 Human Rights Watch. 10 (C) . 10 http://www. atau mencuri uang untuk membelinya. Aceh Utara. “12 Prajurit Diadili karena Memukul Warga Desa di Aceh. duabelas tentara dari Jawa Barat base Batalion Siliwangi dibawa ke pengadilan militer. Vol. “Tentara Didakwa atas Pelanggaran Hak Asasi.net. Dibawah hukum darurat militer teretuduh mendapat hukuman maksimum duabelas tahun. meskipun salah seorang terdakwa mengakui pembunuhan tersebut. 19 Juli 2003. “12 Prajurit Menghadapi Sidang Karena Menyiksa Orang Sipil di Aceh. Indonesia telah mengambil beberapa langkah meminta pertangungjawaban tentaranya dalam kejahatan yang terjadi di Aceh. Sebagaimana dalam banyak kasus yang dilaporkan dalam laporan ini.128 Pada bulan September.net. Di bulan Juni.127 Bulan Juli. “Prajurit dihukum dalam kasus perkosaan di Aceh.126 Para tentara tersebut dikenai tuduhan melanggar pasal 351 dan 55 dalam Undang-Undang Kejahatan tentang penyerangan terhadap orang sipil dan ayat 103 dalam undnag-undang kejahatan militer mengenai pelanggaran disiplin militer. “Indonesia Mendakwa Tentara atas Pelanggaran di Aceh.” The Jakarta Post.

Oktober 2003. Damiri juga dituduh atas kejahatan terhadap kemanusiaan oleh pengadilan PBB di Timor Timur. No. Diluar tuduhan atas dirinya. Vol. “Aceh dibawah Darurat Militer: Dapatkah Orang-Orang ini Dipercayai untuk Mengusut Perang ini?” Makalah Ringkas Human Rights. sebagaimana yang sudah didokumentasikan sebelumnya oleh Human Rights Watch.” Time Asia. seorang pejabat militer Indonesia tertinggi yang pernah diadili dan dinyatakan bersalah melakukan pelanggaran hak asasi manusia di Indonesia. 2 Juni 2003. dimana dia terlibat dalam mengarahkan operasi militer di propinsi Aceh selama bulan-bulan pertama darurat militer. 15. 10 (C) 50 .132 dihukum?” Wawancara dengan Ryamizard Ryacudu. Damiri dipromosikan sebagai Asisisten Operasi untuk Kepala Staf Umum. “Tidak ada daerah yang melepaskan diri. Pada 5 Agustus 2003. beberapa orang yang bertanggungjawab dalam kampanye militer di Aceh telah didakwa atau disangkutkan dalam pelanggaran hak asasi manusia yang serius. Salah seorang yang paling terkenal karena nama buruk yang disandangnya adalah Mayor Jendral Adam Rachmat Damiri.Sebagai tambahan. 132 Human Rights Watch. Kasus-kasus lainnya telah didokumentasikan oleh Human Rights Watch. Lihat. pangadilan ad-hoc Jakarta tentang Timor Timur menyatakan Jendral Damiri bersalah atas kejahatan terhadap kemanusiaan dengan atrocities yang dilakukan di Timor Timur tahun 1999.

4. penghilangan secara paksa. termasuk pejuang yang tertangkap. daripada mensyaratkan badanbadan tersebut untuk mengirimkan bantuannya melalui badan-badan resmi Indonesia. pasukan bersenjata dan personil polisi yang tersangkut dalam pelanggaran. Memberitahukan semua tahanan segera dasar penangkapan dan tuduhan apapun terhadap mereka. Segera mencabut Keputusan Presiden No. 10 (C) . Mengambil semua langkah yang diperlukan untuk memastikan bahwa pasukan militer dan polisi Indonesia sepenuhnya bertindak sesuai dengan hukum kemanusiaan dan hak asasi manusia. 5. Memperbolehkan Komisi Hak Asasi Manusia Nasional untuk menjalankan investigasi yang bebas dari intimidasi atau campur tangan oleh penguasa darurat militer. termasuk eksekusi diluar hukum. penyiksaan dan penganiayaan lainnya. 15. Segera dan tanpa syarat menghapuskan larangan pengumpulan dan pelaporan berita secara langsung dari Aceh oleh media Indonesia dan asing. Secara penuh menyelidiki pernyataan tanpa bukti (allegations) terhadap pelanggaran hukum kemanusiaan dan hak asasi manusia internasional. Mendisiplinkan dan/atau mengusut semua petugas secara semestinya. Menghormati kebebasan pers dan memperbolehkan peliputan konflik senjata secara penuh dan independen. Menahan semua tahanan hanya di tempat penahanan yang secara resmi dikenali. khususnya perlindungan warga sipil dan non-pejuang. perkosaan dan kekerasan seksual. Segera menyediakan kepada semua tahanan akses yang teratur kepada anggota keluarga dan pengacaranya. yang menempatkan pelarangan yang tidak perlu terhadap akses untuk PBB. 9. pastikan bahwa ICRC mempunyai akses yang bebas dan tanpa kekangan untuk menjalankan pekerjaannya. Menyusul keputusan Indonesia yang disambut baik untuk memperbolehkan ICRC datang ke Aceh. 8. 7. 3.Rekomendasi Untuk Pemerintah dan Pasukan Tentara Indonesia 1. No. 6.43/2003. dan memperbolehkan para tahanan untuk memberikan petisi peninjauan kembali terhadap penahanan mereka tanpa 51 Human Rights Watch. sudah menerima latihan dasar mengenai prinsip-prinsip dasar hukum kemanusiaan. jurnalis dan orang asing di Aceh. Memastikan bahwa semua komandan yang disebarkan di Aceh. di semua tingkatan. Vol. Bergerak secepat mungkin untuk mengembalikan pemerintahan Aceh kepada pengawasan sipil yang bertanggungjawab. perampokan dan pemerasan. Meyakinkan bahwa semua pasukan beroperasi dibawah aturan pertempuran yang konsisten dengan hukum kemanusiaan internasional. Mengizinkan badan-badan kemanusiaan untuk menyampaikan bantuan secara langsung kepada penduduk yang membutuhkan. badan-badan internasional. lembaga swadaya masyarakat (LSM). 2. Semua pejuang seharusnya dilatih dan diberi pelajaran mengenai perlakuan yang sepantasnya terhadap warga sipil dan non-pejuang. Organisasi hak asasi manusia dan jurnalis seharusnya mempunyai akses tanpa kekangan ke propinsi tersebut.

13. 2. Vol. 10 (C) 52 . penganiyaan dan penahanan tanpa surat perintah atas kebebasan bergerak. Memastikan bahwa semua komandan. pejabat yang dituduh atas tuduhan serius seharusnya mulai untuk menjalankan hukuman mereka dengan segera dan dikenai pemecatan secara administrasi dari pasukan tentara. 15. Memberitahukan keluarga tahanan mengenai penahanan mereka. Mengakui pelaksanaan hak asasi semua orang yang ditahan dan/atau dituduh melakukan kejahatan.10. Diharapkan menghentikan pengambilan tindakan yang menempatkan orang sipil dalam resiko khusus. Bertentangan dengan praktek di Indonesia kini. Setiap personil yang diindikasikan seharusnya dipindahkan dari tugas aktif mereka sampai penyelesaian proses persidangan mereka. Menghormati pelarangan hukum kemanusiaan internasional mengenai pengungsian orang-orang sipil yang menyatakan bahwa pengungsian semacam itu seharusnya hanya terjadi dengan alasan kemanan warga sipil atau adanya tuntututan militer yang alasannya sangat penting sekali. 15. Mengakhiri praktek penggunaan orang sipil di militer. Memelihara kelangsungan pendaftaran yang akurat nama-nama tahanan dan tempat penahanan mereka dan membuat pendaftaran semacam ini siap tersedia untuk keluarga tahanan. Mengakhiri persyaratan kartu identitas khusus untuk penduduk Aceh sepanjang pemerintah tidak dapat memastikan bahwa kartu semacam ini tidak akan terus menghasilkan penyiksaan terhadap penduduk lokal. pembunuhan kilat atau yang sewenang-wenang dan (Special Rapporteur on Extrajudicial. Mengundang mekanisme PBB yang berasngkutan untuk mengunjungi Aceh. atau keamanan berkaitan dengan fungsi-fungsi. Membuat figur yang diperbarui secara teratur untuk umum mengenai jumlah orang yang dituduh dan ditangkap dalam kejahatan yang berkenaan dengan keamanan di Aceh. Memastikan bahwa semua pasukan mentaati hukum kemanusiaan internasional. No. dan alasannya serta lokasi penahanan. penasehat hukum dan orang-orang yang secara hukum berkepentingan. 14. Segera menghapuskan –dari semua peran sehubungan dengan konflik di Aceh – semua personel militer Indonesia yang sudah didakwa atau diindikasikan atas pelanggaran hak asasi manusia atau hukum kemanusiaan atau kepada mereka yang terdapat bukti melakukan penganiyaan semacam itu. paramiliter. dengan informasi mengenai sifat dasar kejahatan yang mungkin dan tempat penahanan mereka. Summary or Arbitrary Execution) dan perwakilan dari Badan Pekerja Penghilangan Secara paksa atau tidak sukarela (Working Group on Enforced or Involuntary Dissapearances). di semua tingkatan. Prioritas seharusnya diberikan kepada Pelapor Khusus mengenai Esksekusi diluar hukum. adanya penundaan. Menyatakan kepada umum komitmen GAM untuk mentaati hukum kemanusiaan internasional. 11. termasuk praktek tugas wajib jaga malam untuk laki-laki dan anak laki-laki. menerima latihan dasar mengenai prinsip-prinsip dasar hukum kemanusiaan. termasuk penangkapan secara sewenang-wenang. 12. seperti penyitaan kartu identitas. khususnya Human Rights Watch. Untuk Gerakan Aceh Merdeka (GAM) 1.

ASEAN dan anggota-anggotanya seharusnya menggunakan kewenangan regional mereka dan meminta Indonesia untuk menghargai kewajiban internasionalnya dalam konflik di Aceh. termasuk dua orang jurnalis yang saat ini dalam penahanan GAM. termasuk eksekusi kilat. seperti yang dipinjamkan Bank Dunia. Semua keputusan bantuan. Untuk ASEAN 1. terutama kepada orang-orang yang terlantar karena konflik. Sehubungan dengan partisipasi Thailand dan Philipina dalam memonitor COHA. Untuk Pemerintah Malaysia 1. Uni Eropa. termasuk pejuang yang tertangkap. Mengambil tindakan-tindakan untuk memastikan bahwa mekanisme yang dapat diselenggarakan dilaksanakan untuk memastikan bahwa anggota pasukan secara perseorangan bertanggungjawab terhadap pelanggaran. 3. Untuk “Kuartet” (Amerika Serikat. jurnalis dan badan-badan internasional. Meneruskan desakan terhadap Indonesia untuk membuka Aceh kepada LSM internasional. sebagaimana yang berkenaan dengan korupsi dan reformasi yang tercatat dalam Strategi Bantuan Negara untuk Indonesia (Country Assistance Strategy for Indonesia) yang dikeluarkan tanggal 3 Desember. 10 (C) . Jepang dan Uni Eropa seharusnya secara bersama menindak lanjuti pernyataan mereka di bulan November 2003 yang mengekspresikan “keprihatinan terhadap perpanjangan keadaan darurat militer di Aceh” dan mendorong Idonesia “untuk menjalankan aktifitasnya dengan kemungkinan pengaruh yang paling minimum terhadap kesejahteraan masyarakat Aceh dan dalam pendekatan yang mengikutsertakan bantuan kemanusian. ASEAN seharusnya menekankan perlunya keterlibatan dalam kehadiran monitoring internasional di Aceh. 53 Human Rights Watch. Tidak ada orang Aceh yang seharusnya dikembalikan secara paksa ke Indonesia selama keamanan mereka beresiko di Aceh. Bank Dunia) 1. perbaikan lembaga-lembaga sipil dan menegakkan hukum. Melepaskan semua tawanan yang ditahan dalam pelanggaran hal asasi manusia. Mengajukan kondisi di Aceh dalam semua pertemuan dengan penguasa Indonesia dan tetap menuntut dibukanya akses diplomatik yang teratur ke Aceh. penculikan.perlindungan warga sipil dan non-pejuang. Orang-orang Aceh di Malaysia seharusnya diberikan perlindungan dan bantuan sepenuhnya. Termasuk mendesak badan-badan kemanusiaan yang tidak berpihak agar mampu menyediakan bantuan kepada penduduk. Vol. 3. penyiksaan. 15.” Secara bersama dan indvidual ketiganya harus menekan pemerintah Indonesia untuk mentaati hukum kemanusiaan dan hak asasi manusia di Aceh. No. harus menyertakan dialog mengenai pelanggaran hak asasi manusia di Aceh. Jepang. Semua pejuang seharusnya dilatih dan diberi pelajaran mengenai perlakuan yang sepantasnya terhadap warga sipil dan non-pejuang. 2. Amerika Serikat. dan pemindahan secara paksa.

perlengkapan lainnya.Untuk Negara-Negara. Negaranegara yang sudah menyediakan bantuan Militer kepada Indonesia terebut. 15. sesuai dengan standar-standar hukum hak asasi manusia dan kemanusiaan internasional. 2. negara-negara penyuplai senjata seharusnya mempertimbangkan penundaan transfer senjata kepada Indonesia. seperti Kopassus atau Brimob. 10 (C) 54 . termasuk senjata. Apapun ketentuan Amerika Serikat atas latihan atau bantuan militer kepada pasukan bersenjata Indonesia harus disyaratkan terhadap perkembangan yang jelas dalam mengadili militer dan polisi yang bertanggungjawab dalam pelanggaran hak asasi manusia. Latihan teroris harus secara hati-hati dirancang untuk tidak mengurangi keefektifan pelarangan yang sudah ada. seperti Amerika Serikat. Human Rights Watch. mempunyai tanggungjawab khusus untuk memastikan bahwa bantuan tersebut tidak digunakan untuk menyumbang pelanggaran hak asasi manusia. No. Vol. dan harus tidak ditujukan kepada cabang dan unit yang diketahui sebagai pelanggar hak asasi manusia. Menempatkan tindakan yang efektif untuk memonitor dan memastikan pertanggungjawaban dalam penyalahgunaan senjata atau bantuan lainnya. 4. Indonesia mempunyai tugas wajib untuk menjaga dan menawarkan pemeriksaan terhadap dokumen-dokumen yang dibutuhkan untuk menunjukan bagaimana negara ini sudah menggunakan perlengkapan yang disuplai asing. dan latihan. Inggris. Menjatuhkan persyaratan yang ketat terhadap penggunaan senjata atau bantuan militer lainnya. Sehubungan dengan perhatian terhadap pelangggaran serius dalam kampanye Indonesia di Aceh. 3. yang menyediakan bantuan atau latihan militer kepada Indonesia 1. dan jika perlu menyediakan bentuk lain akses untuk memfasilitasi monitoring yang efektif dan berguna sampai akhir. dan Australia.

15. Aceh Under Martial Law: Can These Men Be Trusted to Prosecute This War? (Aceh dibawah Darurat Militer: Dapatkan Orang-Orang ini dipercayai untuk Mengadili Perang ini?) Makalah Ringkas Human Rights Watch.Lampiran Untuk informasi terkini lebih lanjut mengenai perang di Aceh silahkan lihat rangkaian laporan dan makalah ringkas Human Rights Watch berikut ini. September 2003 3. Aceh Under Martial Law: Muzzling the Messengers: Attacks and Restrictions on the Media (Aceh dibawah Darurat Militer. Vol. Serangan dan Pelarangan terhadap Media) Sebuah Laporan Human Rights Watch. Nopember 2003 55 Human Rights Watch. Aceh Under Martial Law: Unnecessary and Dangerous Restrictions on International Humanitarian Access (Aceh dibawah Darurat Militer: Pelarangan yang Tidak Perlu dan Berbahaya terhadap Akses Kemanusiaan Internasional) Makalah Ringkas Human Rights Watch. No. Aceh Under Martial Law: Human Rights Under Fire (Aceh dibawah Darurat Militer: Hak Asasi Manusia diserang) Sebuah Makalah Ringkas Human Rights Watch Juni 2003. Oktober 2003 4. 10 (C) . 2. 1. Memberangus Kurir.

We enlist the public and the international community to support the cause of human rights for all. Lotte Leicht. operations director. We investigate and expose human rights violations and hold abusers accountable. legal and policy director. Meg Davis. Ali Hasan. Web Site Address: http://www.org Listserv address: To subscribe to the list. Rory Mungoven. London office director. No. Robert L. Saman Zia-Zarifi is deputy director. The staff includes Kenneth Roth. send a blank e-mail message to hrw-news-asia-subscribe@topica. John Sifton. Allison Adoradio.com. executive director.Human Rights Watch Asia Division Human Rights Watch is dedicated to protecting the human rights of people around the world. We stand with victims and activists to bring offenders to justice.hrw. Wilder Tayler. and Joanna Weschler. Bernstein is the founding chair. Maria Pignataro Nielsen. program director. finance director. associate director. 15. human resources director. Sara Colm and Mickey Spiegel are senior researchers. Steve Crawshaw. Michele Alexander. Carroll Bogert. Vol. and Ami Evangelista is associate. and Tej Thapa are researchers. Brad Adams is executive director. Jonathan Fanton is the chair of the board. United Nations representative. Joanne Leedom-Ackerman is Chairperson of the advisory committee. 10 (C) 56 . development director. Human Rights Watch. Meenakshi Ganguly. advocacy director. We challenge governments and those holding power to end abusive practices and respect international human rights law. Brussels office director. Iain Levine. Barbara Guglielmo. to prevent discrimination.email-publisher. Thomas Kellogg is Orville Schell Fellow. Its Asia division was established in 1985 to monitor and promote the observance of internationally recognized human rights in Asia. Charmain Mohamed. to uphold political freedom and to protect people from inhumane conduct in wartime. Liz Weiss is coordinator.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful