Human Rights Watch

Desember 2003, Vol. 15, No. 10 (C)

ACEH DIBAWAH DARURAT MILITER:
DI DALAM PERANG RAHASIA
Daftar Istilah Pendahuluan Konteks Kekerasan yang Terjadi Sekarang: Perang Panjang di Aceh Hidup di bawah Darurat Militer Meningkatnya Kehadiran di Desa Menjadikan Anak-Anak Muda Sipil Sebagai Sasaran Pelanggaran Hak Asasi Manusia dan Hukum Kemanusiaan Pembunuhan Diluar Hukum (Extrajudicial Killings) Pembunuhan Kilat (Summary Killings) Selama Operasi Sweeping Penculikan yang Membawa Pada Kematian Penghilangan Secara Paksa (Forced Disappearances) Siksaan Fisik Penahanan Secara Sewenang-wenang dan Ketiadaan Proses Pengusutan Pembatasan Kebebasan Bergerak Pemerasan dan Pembatasan Terhadap Aktifitas Ekonomi Kembalinya Jaga Malam: Tugas Wajib Jaga Malam Pengungsian dan Perampokan Pertanggungjawaban Rekomendasi Untuk Pemerintah dan Pasukan Tentara Indonesia Untuk Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Untuk “Kuartet” (Amerika Serikat, Uni Eropa, Jepang, Bank Dunia) Untuk Pemerintah Malaysia Untuk ASEAN Untuk Negara-Negara, seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Australia, yang menyediakan bantuan atau latihan militer kepada Indonesia Lampiran 2 3 8 15 17 18 20 20 21 27 28 29 34 37 41 43 46 49 51 51 52 53 53 53 54 55

NOTE: This is an unofficial translation of the text of the HRW report by Kontras (http://www.kontras.org), the Commission for Disappearances and Victims of Violence; an Indonesian human rights NGO based in Jakarta. Please see the English language version for exact wording or confirmation of footnotes and other details. Laporan HRW ini tidak secara resmi dan diterjemahkan oleh Kontras (http://www.kontras.org), Kommissi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan; salah satu LSM HAM di Jakarta. Silakan membaca edisi di dalam Bahasa Inggris untuk susunan kata tepat, atau untuk konfirmasi catatan dibawah halaman majalah atau perincian yang lain.

Daftar Istilah
Ambil malam DOM Ambil malam adalah dimana seseorang dibawa dari rumahnya di waktu malam, seringkali oleh orang tak dikenal. Daerah Operasi Militer adalah sebuah penandaan yang diberikan kepada Aceh selama operasi anti-pemberontak yang dilaksanakan dari tahun 1990 s.d 1998. Gerakan Aceh merdeka. Ini adalah nama biasa dari gerakan separatis bersenjata yang dimulai tahun 1976 Bawah Kendali Operasi, penunjukan pasukan tambahan dari luar Aceh dan ditempatkan dibawah komando lokal Tugas wajib jaga malam Kartu Tanda Penduduk Merah Putih, atau kartu identitas merah dan putih yang disyaratkan bagi orang-orang Aceh dibawah darurat militer. Komando Daerah Militer Komando Distrik Militer Komando Rayon Militer Komando Resort Militer Komando Strategis Angkatan Darat Polisi Daerah Polisi Resort Polisi Sektor Tentara Nasional Indonesia

GAM BKO Jaga Malam KTP Merah Putih

Kodam Kodim Koramil Korem Kostrad Polda Polres Polsek TNI

Pendahuluan
Jika Kamu Lari, Kamu ditembak. Jika Kamu tidak lari, Kamu dipukuli.1 —Laki-laki Aceh berusia 20 tahun Perang tersembunyi sudah mengamuk di Aceh sejak bulan Mei 2003, ketika Presiden Indonesia Megawati Soekarnoputri mengumumkan Darurat Militer di propinsi tersebut. Laporan ini mencoba untuk menyampaikan beberapa kenyataan pada perang tersebut: eksekusi diluar hukum (extrajudicial execution), penghilangan secara terpaksa (forced dissapearence), pemukulan (beating), penangkapan dan penahanan secara sewenang-wenang (arbitrarily arrest and detention), dan pembatasan atas kebebasan bergerak. Di dalam banyak peristiwa yang dideskripsikan kepada Human Right Watch, pasukan keamanan Indonesia – militer dan polisi – secara rutin terutama mengambil jalan kekerasan terhadap laki-laki muda Aceh yang diberhentikan untuk ditanyai. Para saksi mengatakan kepada Human Right Watch mengenai pembunuhan para penduduk sipil saat terjadi “sweepings” di desadesa, sebagian ditanyai atau ditahan, beberapa lainnya melarikan diri karena takut dianiyaia. Seorang laki-laki mendeskripsikan kematian seorang laki-laki bernama Jamal: “Dia masih muda, masih duapuluh tahunan. Pada awalnya Saya hanya melihat tiga orang tentara tetapi kemudian yang lainnya bergabung. Saya melihat salah satu dari tentara tersebut memborgol pergelangan kaki lakilaki ini, lalu kemudian tentara lainnya memegang kakinya dan mengayunkannya menghantam sebuah pohon. Tentara tersebut melakukannya beberapa kali sehingga kepala laki-laki tersebut membentur pohon tersebut. Otaknya terburai keluar dari kepalanya, sampai akhirnya dia meninggal. Lalu mayatnya diletakkan di jalan dan tentara lainnya menembak beberapa kali kepada mayat tersebut.”2 Indonesia telah menempatkan kabut rahasia di sekeliling Aceh, propinisi berpenduduk empat juta orang yang terletak di ujung paling utara pulau Sumatra, sebagaimana negara ini mengadakan perang terhadap Gerakan Aceh Merdeka atau GAM. Dalam banyak usaha yang sukses untuk mengontrol informasi, Indonesia telah melarang organisasi hak asasi manusia internasional dan bahkan organisasi kemanusiaan untuk memasuki Aceh dan organisasi berita internsional untuk bergerak banyak diluar Ibukota propinsi, Banda Aceh. Dengan alasan ini, Human Right Watch berangkat ke Malaysia, dimana ribuan orang-orang Aceh mencari perlindungan sesudah menantang bahaya dan perjalanan yang mahal dari zona perang Aceh. Human Rights Watch juga prihatin akan memburuknya kondisi material dan ekonomi yang dapat menandai (bahkan mencerminkan) krisis kemanusiaan, sesuatu yang Human
1 2

Wawancara Human Right Watch (nama disembunyikan), Malaysia, 27 Oktobert 2003.

Wawancara Human Right Watch dengan laki-laki berusia empat puluhan (nama disembunyikan), Malaysia, 23 Oktober 2003.

3

Human Rights Watch, Vol. 15, No. 10 (C)

Rights Watch dan organisasi lainnya sudah peringatkan sejak berbulan-bulan yang lalu. Informasi yang bersifat anekdot dari kesaksian pengungsi, cerita pers dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang bocor keluar secara sporadis dari propinsi tersebut mengesankan bahwa ribuan penduduk Aceh telah dipaksa meninggalkan rumah mereka untuk melarikan diri dari konflik yang ada atau untuk mencari makanan dan tempat berlindung. Penduduk yang tetap tinggal di rumah mereka menjadi sasaran kekurangan bahan pangan, air dan sanitasi, dan mogoknya pelayanan dasar seperti pelayanan kesehatan dan pendidikan.3 Karena laporan ini disiapkan dari beberapa wawancara diluar Aceh, maka tidak dapat melukiskan gambaran menyeluruh tentang konflik senjata ini. Tetapi mungkin fakta yang paling menganggu dalam penelitian kami adalah cerita pelanggaran hak asasi manusia yang serius dan nampak sistematis sejak dimulainya Darurat Militer tidak terbuka. Semua orang-orang Aceh yang diwawancarai oleh Human Right Watch mempunyai cerita mengenai pelanggaran tersebut untuk disampaikan. Banyak dari mereka adalah korban. Secara tidak biasanya, banyak dari mereka menyaksikan penyiksaan terhadap yang lainnya – dalam beberapa kasus pembunuhan, atau pemukulan.4 Diluar fakta bahwa pada awal Juni Kepala Staff Militer Jendral Ryamizard Ryacudu menerima pihak manapun untuk meninjau operasi di Aceh,5 propinsi tersebut hampir seluruhnya tetap tertutup untuk orang luar. Pemerintah Indonesia sudah melarang diplomat, pengamat internasional yang independen, dan LSM internasional di bidang hak asasi manusia untuk memasuki Aceh dan menganjurkan badan kemanusiaan PBB dan LSM kemanusiaan luar negeri untuk pergi. Pekerja LSM Indonesia yang mencoba memonitor situasi tersebut telah diancam tahanan oleh polisi. Bahkan sesi pelatihan Komisi Hak Asasi Manusia National di Banda Aceh dihentikan oleh polisi atas perintah penyelenggara darurat militer pada 20 Oktober. Pihak yang berwenang mengatakan bahwa komisi tersebut tidak memberitahukan mereka mengenai acara tersebut yang disangkal oleh organisasi tersebut. Petugas kepolisian berada di antara para peserta dalam sesi pelatihan tersebut.6 Pemerintah Indonesia telah sangat sukse membatasi arus informasi dari propinsi tersebut. Sebagaimana laporan Human Rights Watch terkini yang didokumentasikan, pembatasan tersebut telah menjaga media dibawah pengawasan yang ketat.7 Untuk mengecilkan laporan mereka mengenai situasi tersebut, beberapa LSM telah terdaftar sebagai tersangka simpatisan GAM, suatu penandaan yang diperingatkan petugas
Lihat secara umum pada Human Right Watch , “Aceh dibawah Darurat Militer: Larangan yang Tidak Perlu dan Berbahaya terhadap Akses Kemanusiaan Internasional,” Makalah Ringkas Human Rights Watch, September 2003. Kerahasiaan dan intimidasi yang menyertai pelanggaran hak asasi manusia yang paling serius secara umum menyulitkan pengumpulan kesaksian saksi. “Badan Hak Asasi Pemerintah Berencana Mengadakan Penyelidikan di Propinsi Aceh” The Jakarta Post, 5 Juni 2003.
6 7 5 4 3

“POLRI Melanggar Hak dalam Sesi Komisi di Propinsi Aceh”, Agence France-Presse, 2 Oktober 2003.

Human Rights Watch, “Aceh dibawah Darurat Militer; Memberangus Para Kurir,” Sebuah Laporan Human Right Watch, vol 15, No. 9 (c ), November 2003.

Human Rights Watch, Vol. 15, No. 10 (C)

4

kepolisan dapat membawa kepada hukuman mati atas alasan subversi.8 Segel yang serapat-rapatnya sudah ditempatkan Indonesia pada desa-desa dan pegunungan di Aceh menimbulkan ketakutan bahwa pasukan militer di kedua belah pihak percaya bahwa, seperti di masa lalu, mereka bisa melakukan pelanggaran yang kebal hukum. Tujuan Indonesia yang jelas adalah untuk menyembunyikan tindakan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan pasukan keamanan lainnya. Hal ini pada akhirnya telah menyembunyikan tingkat kematian dan luka-luka sipil dan militer. Sementara masyarakat Indonesia dan opini Internasional (sebagaimana dalam putaran terkahir pertempuran dengan GAM di Aceh) yang bisa jadi mendukung prinsip-prinsip integritas wilayah Indonesia, ketika berhadapan dengan gafik biaya kemanusiaan akibat perang yang hampir seluruhnya pasti tidak dapat dimenangkan dalam medan perang, maka opini tentang perang bisa jadi mulai berubah. Kebanyakan yang dideskripsikan oleh para pengungsi kepada Human Rights Watch konsisten dengan sejarah panjang prilaku pelanggaran oleh pasukan keamanan Indonesia di Aceh. Taktik militer yang terkini di Aceh dikombinasikan dengan jumah serdadu baru yang disebarkan di propinsi tersebut memastikan meningkatnya kontak antara kekuatan keamanan dengan penduduk sipil, yang dapat menjelaskan beberapa pelanggaran yang terjadi. Terlebih penting lagi adalah lingkungan yang diciptakan oleh pejabat senior militer, yang sudah bersumpah untuk ‘menumpas’ GAM dalam kerangka waktu yang diumumkan.9 “Hal ini sudah ditambahkan untuk menekan tentara dan pejabat di lapangan untuk memenuhi misi mereka dan menghancurkan mereka yang dipercaya menjadi anggota atau pendukung GAM. Tekanan-tekanan ini bertindak seperti minyak yang disiram ke api diantara pasukan bersenjata yang mencerminkan persepsi yang di pegang secara nasional bahwa orang-orang Aceh adalah ‘bajingan’, penduduk yang separatis. Keyakinan bahwa semua orang Aceh mendukung GAM, meskipun tidak ditemukan, meliputi cara berpikir militer Indonesia dan diterjemahkan di lapangan dalam bentuk penggunaan kekuatan secara tidak pandang bulu terhadap penduduk sipil, terutama terhadap para pemuda.’ Komentar yang dikeluarkan oleh Brigadir Polisi Jenderal Gulliansyah, Kepala Operasi Penegakan Hukum, pada tanggal 3 Desember 2003 adalah contoh mengerikan jenis ceramah yang membakar yang dapat membawa kepada pelanggaran dan kegagalan pasukan militer untuk membedakan antara pejuang GAM dan orang-orang sipil, “Jika perlu tembak di tempat semua orang yang mengibarkan bendera GAM ini. Siapapun yang mengibarkan bendera tersebut pasti anggota GAM.”10

“Para Pendukung GAM Dapat Terancam Hukuman Mati,” The Straits Times, 4 Juni 2003, “Jika ada Bukti, Aktivis dan simpatisan GAM akan ditangkap,” detik.com, 21 May 2003. Raja Ismail dan Abdussalam Muhamad Dell, dua orang anggota organisasi hak asasi manusia di Aceh Timur yang disebut Pos Bantuan Hukum dan HAM, PB-HAM, menghilang dalam minggu-minggu sebelum Darurat Militer. Tubuh Raja Ismail ditemukan dua hari kemudian. Lihat Amnesty International, “Indonesia Melindungi Para Pelindung; Para Pembela Hak Asasi Manusia dan Pekerja Kemanusiaan di Nanggroe Aceh Darussalam,” 3 Juni 2003. “Putaran Terakhir Pembicaraan untuk Mencegah Perang di Aceh,“ Laksamananet, 20 April 2003; Matthew Moore, “Indonesia Mengatakan akan Menghancurkan Para Pemberontak.” The Age, 5 Nopember 2003.
10 9

8

“NAD: Tembak di Tempat Bagi Pengibar Bendera GAM,” Kompas, 4 Desember 2003.

5

Human Rights Watch, Vol. 15, No. 10 (C)

adalah sederhana: ambil semua langkah yang mungkin untuk memastikan bahwa aparat keamanan bertindak secara profesional dan menghargai hak asasi manusia dan hukum kemanusiaan. Rekomendasi utama laporan ini. Kesaksian dari para pengungsi ini melukiskan contoh yang mewakili kehidupan penduduk sipil tertentu dibawah darurat militer. dapat menyediakan bantuan yang diperlukan. informasi yang terdapat didalam laporan ini mungkin hanya merepresentasikan puncak gunung es yang berbahaya dan menakutkan saja dari kenyataan yang sebenarnya. Human Rights Watch hanya mampu mewawancarai sembilan Human Rights Watch. beberapa diantaranya datang hanya beberapa hari atau minggu sebelum diwawancara.Karena larangan terhadap akses. khususnya “kuartet” (Amerika Serikat. Sekitar delapanpuluh lima wawancara dengan orang-orang Aceh dilakukan di bulan Oktober dan November 2003. selain membangun proses yang dipercaya untuk menghapuskan. Hal ini selanjutnya terlihat pada mayoritas pengungsi yang datang di Malasysia sejak dimulainya perang pada bulan Mei 2003. Wawancara di Malaysia dilakukan terutama dengan laki-laki Aceh berusia antara delapan belas sampai dengan tigapuluh lima tahun. 10 (C) 6 . Sedangkan untuk komunitas internasional. Jepang dan Bank Dunia) yang terlibat di dalam perundingan damai antara Indonesia dan GAM. Sebagaimana di masa lalu. mempunyai akses dan mampu untuk melaporkan kepada umum mengenai situasi disana. seperti badan PBB yang terkait. Pendekatan militer yang dilakukan Jakarta. tetapi malah menghasilkan gelombang baru pelanggaran terhadap hak asasi manusia. Gagalnya Kerangka Perjanjian Genjatan Senjata terhadap Permusuhan (the Cessation of Hostilities Franework Agreement atau COHA) memberi pukulan yang serius bagi harapan akan akhir sebuah negosiasi menjadi pelanggaran hak asasi secara besar-besaran di Aceh. ditujukan kepada Indonesia. bukannya membawa akhir bagi konflik. baik internasional maupun lokal. Human Rights Watch menghimbau agar tekanan yang seberatberatnya ditempatkan pada Indonesia untuk menghentikan pelanggaran hak di Aceh merajalela dan memastikan kesejahteraan dan keselamatan penduduk sipil. 15. Sebuah Catatan mengenai Para Narasumber Human Rights Watch pergi ke Malaysia untuk mewawancarai individu yang meninggalkan Aceh karena pertempuran yang terjadi. No. Vol. Hanya dengan begitu maka pelanggaran hak asasi manusia dapat dideteksi dan organisasi kemanusiaan. Hal ini penting bagi kesejahteraan masyarakat Aceh bahwa organisasi yang tidak memihak. Banyak dari mereka sudah berada disana sejak Darurat Militer dimulai. TNI khususnya menargetkan penduduk di kelompok usia ini di Aceh sebagai yang paling mungkin terlibat dalam aktifitas GAM. mendisiplinkan dan mengusut mereka yang melakukan pelangguran (rekomendasi lebih lanjut terdapat di halaman 42 dan 43) dan membolehkan akses yang segera dan tanpa kekangan ke Aceh untuk pengamat independen dan tidak berpihak serta badan-badan kemanusiaan. Komunitas Internasional seharusnya membuat akses pada prioritas tertinggi. Uni Eropa.

seperti etnis Jawa. “Ringkasan Statistik Pendaftaran Berdasarkan Asal Etnis.” JuliSeptember. 15. dan staf di kantor United Nations High Commissioner for Refuges di Malaysia yang dianggap representatif. Laporan ini hampir seluruhnya terdiri dari kesaksian tangan-pertama yang meliputi banyak kabupaten di Aceh dan keseluruhan periode darurat Militer. Human Rights Watch secara konsisten bertanya kepada mereka yang diwawancarai seandainya mereka pernah menyaksikan atau menjadi korban penyiksaan GAM. 4 (c). GAM tidak seharusnya melakukan tindakan yang menempatkan orang sipil dalam resiko khusus.11 Banyak wawancara dilakukan tanpa penterjemah dalam Bahasa Indonesia. Secara khusus. desa asal mereka dan lokasi mereka di Malaysia. GAM mempunyai catatan panjang tentang prilaku menyiksa di Aceh.perempuan dewasa dan seorang anak perempuan dari Aceh. seperti penculikan atau penyitaan kartu identitas untuk dipergunakan oleh pejuang GAM. Komisi Hak Asasi Manusia Malaysia. para pengungsi yang diwawancarai di Malaysia tidak melaporkan kasus semacam itu. Figur ini mencerminkan dua belas persen pendaftar baru di UNHCR adalah perempuan selama September 2003. vol. Tetapi sebelum pemerintah Indonesia membuka Aceh untuk pengamat independen. 12 11 7 Human Rights Watch. No. Human Rights Watch menghimbau GAM untuk bertindak sesuai dengan hukum kemanusiaan internasional. karena Human Rights Watch tidak mempunyai akses di Aceh. Human Rights Watch juga mewawancarai pimpinan komunitas masyarakat Aceh. Lihat Human Rights Watch. 13. Para peneliti Human Rights Watch tidak bisa mewawancarai mereka yang paling beresiko terkena kekerasan oleh GAM. “Indonesia: Perang di Aceh. Vol. UNHCR.12 Orang-orang semacam itu lebih cenderung melarikan diri ke bagian lain dari propinsi tersebut atau menyebar ke daerah lain di Indonesia daripada pergi ke Malaysia. No. akademisi. Dikarenakan resiko tindakan balas dendam.” Sebuah Laporan Human Righat Watch. Tetapi. aktivis mahasiswa. Human Rights Watch mengakui bahwa kurangnya kesaksian tidak secara perlu berarti bahwa tidak ada penyiksaan yang dilakukan. dengan Profil Demografis. informasi mengenai kemungkinan penyiksaan yang dilakukan GAM akan sulit diperoleh. laporan ini tidak berisi informasi semacam itu. 10 (C) . 2003. atau mereka yang dicurigai menolong militer. Kami sudah menghilangkan nama-nama para narasumber dari Aceh. Kurangnya akses terhadap para pengamat independen membuat mustahil unuk mengetahui seberapa mewakilinya laporan ini. Agustus 2001. perwakilan LSM Malaysia. Sebuah catatan dalam hal pelanggaran GAM: Human Rights Watch prihatin terhadap penyiksaan yang dilakukan oleh GAM. selebihnya dilakukan dengan penterjemah bahasa Aceh. Meskipun demikian.

62-63. Maret 2002. telah dan seterusnya menjadi penting. Kami bisa mendapat pekerjaan. fase terburuk DOM. sebagian sehubungan dengan sumber daya gas dan minya. Tetapi kini keadaan sudah kembali mengerikan. hal. sumber persenjataan tetap.15 Hampir semua perkiraan LSM setidaknya berjumlah dua kali lebih besar. GAM menjalankan pengawasan terhadap bagian yang luas di Aceh. 15. Akar Pemberontakan Warga Aceh 1989-92 Lithace: Cornell Univeristy. “Indonesia: Pertanggungjawaban Terhadap Kejahatan Kemanusiaan di Aceh. Sesudah DOM selesai sempat ada setahun dimana segalanya berlangsung lebih baik. Sebagai tambahan. mencai kerja. Agustus 2001. Human Rights Watch. Human Rights Watch. Situasi sekarang lebih dari DOM. 4 (c). Perang di Aceh. Sekitar seribu orang Aceh dari masyarakat sipil terbunuh dalam tiga tahun pertama operasi tersebut. pergi kemanapun kami mau. belasan ribu orang Aceh dipenjara dan disiksa di dalam Wawancara Human Rights (nama disembunyikan). tetapi spur lain yang penting untuk gerakan kemerdekaan telah menjadi kegagalan pemerintahan paska Soeharto untuk memusatkan pelanggaran hak asasi manusia di masa lalu. Sayed Mudhahar Ahmad dan Yarmen Dinamika. Betapapun baru empat tahun terakhir ini mereka sudah membangun pangkalan penting yang terkenal. disiapkan oleh pemerintah propinsi di akhir tahun 1998. 10 (C) 8 .14 Keluhan ekonomi. Penghitungan korban yang paling konservatif. Lihat Human Right Watch.” Sebuah Laporan Human Rights Watch. sampai akhirnya pemerintahan Soeharto menyatakan Aceh sebagai “Daerah Operasi Militer” atau DOM dan menyusun salah satu kampanye kontra-pemberontak terbesar yang terlihat sejak tahun 1960. Lebih dari 500 orang lainnya terdaftar sebagai “orang hilang” dan tidak pernah ditemukan. 14 15 13 Tim Kell. hal. Apa yang disebut sebagai peride Daerah Operasi Militer dimulai pada tahun 1990 sesudah GAM menyusun serangkaian penyerangan terhadap pos polisi dan militer untuk merampas amunisi dan lusinan senjata otomatis. —Laki-laki Aceh usia 30 tahun13 GAM sudah ada sejak para pendirinya mendeklarasikan kemerdekaannya dari Jakarta pada tahun 1976. Vol. Dari bulan Juli 2001 sampai saat operasi darurat militer membuat mereka harus bertahan. Al-Chaidar. Malaysia. tidak bisa dibandingkan dengan sekarang. dengan kehadiran terkuat khususnya di enam dari kebupaten yang terbanyak penduduknya dan tersejahtera. dan 387 orang hilang yang kemudian pada akhirnya ditemukan meninggal. Para pendiri GAM menekankan perampasan kekayaan dan sumber alam Aceh oleh penduduk baru “Orang Jawa-Indonesia” atas nama pembangunan dan kebutuhan untuk merebut kembali kejayaan masa lalu Aceh. 23 Oktober 2003. 1998). Selalu begitu selama DOM. no 1 (c). Human Rights Watch. mencatat 871 orang terbunuh secara seketika oleh tentara. DOM masih ringan. DOM adalah singkatan dari Daerah Operasi Militer. “Indonesia. Mei 2000. 106. status resmi militer di Aceh sejak tahun 1990 sampai dengan 1998. 1995. Aceh Diselubungi oleh Darah (Jakarta: Pustaka as-Kautsar.” Sebuah Laporan Human Righst Watch. no. meskipun operasi dan penyiksaan berlanjut sampai sesudah DOM berakhir. tidak bisa mencari uang. 13. dan struktur komando yang secara relatif terorganisir dengan baik. “Indonesia: Panduduk Sipi Menjadi Target di Aceh. vol 12.” Makalah Ringkas Human Rights Watch.Konteks Kekerasan yang Terjadi Sekarang: Perang Panjang di Aceh Kami tidak bisa hidup. vol. No.

memberikan propinsi tersebut lebih banyak otonomi. No. Yang keempat adalah serangkaian kesalahan di Jakarta. meskipun dalam tingkat intensitas yang lebih rendah daripada dalam periode 1990-1993. termasuk membangun kembali fasilitas yang dihancurkan. membuka dialog dengan pihak-pihak yang terkait dengan konflik. tetapi rekomendasi mengenai pengusutan diabaikan. mengumumkan bahwa warga Timor Timur akan diberikan kesempatan untuk memilih antara pemberian otonomi dan memisahkan diri dari Indonesia. Tidak ada yang terjadi dari sana. Bagaimanapun. Pada bulan Agustus 1998. Pengunduran diri Soeharto di tahun 1998 menciptakan harapan di sepanjang Aceh bahwa keadilan akan dilakukan. Sadar Rencong I. sosok-sosok kunci dalam hirarkis DOM berlanjut untuk menduduki posisi-posisi yang berpengaruh di seluruh Indonesia. sebuah kongres yang dibentuk oleh seluruh mahasiswa Aceh meminta sebuah referendum kemerdekaan untuk dilaksanakan di Aceh. 10 (C) . Vol. sebuah gerakan politik pro-kemerdekaan yang mulai timbul dan mobilisasi penduduk secara besar-besaran yang mencari saluran-saluran untuk mengekspresikan kefrustasian mereka terhadap Jakarta atas kegagalannya mengatasi pelanggaran masa lalu. Operasi militer dibawah serangkaian kode-kode nama – Wibawa 99. Habibie. B. pemerintah Indonesia sudah bergerak untuk menyelidiki dan mengusut para pejabat atas peran mereka dalam pelanggaran tersebut.kamp militer. II dan II. panitia khusus di DPR untuk Aceh membuat serangkaian rekomendasi untuk presiden baru. yang menerima tanggung jawab kepresidenan ketika Soeharto turun di tahun 1998. Komisi Hak Asasi Manusia Indonesia menyarankan untuk dibentuknya Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi khusus untuk Aceh. Rekomendasi-rekomendasi tersebut menghasilkan perubahan dalam rancangan undang-undang tentang otonomi. Di bulan Agustus 1999. hal ini bisa membuat pemutusan dengan masa lalu yang menentukan. dengan 102 kasus yang tercatat oleh tim pemerintahan lokal. Komandan TNI. pada titik ini. Tampaknya setiap orang Aceh di daerah yang terpukul paling berat dapat menyebutkan anggota keluarga mereka yang menjadi target utama langsung dari pelanggaran hak asasi manusia. dan Cinta Meunasah I dan II – 9 Human Rights Watch. Sejak awal 1999. Dalam hitungan hari. Beberapa orang di Jakarta sepertinya memahami derajat kemarahan terhadap pelanggaran selama era DOM sudah merubah dinamika politik di Aceh: GAM sekarang mempunyai jauh lebih banyak pendukung yang mau menerima mereka daripada yang sebelumnya mereka punya. secara resmi meminta maaf kepada masyarakat Aceh atas perbuatan yang keterlaluan selama era DOM. empat elemen kunci berkumpul bersama untuk memfasilitasi perkembangan yang cepat dari gerakan kemerdekaan: sebuah organisasi gerilya bersenjata. Daripada pengusutan malah terjadi peningkatan dalam jenis-jenis kejahatan hak asasi manusia yang menandai periode DOM. Jendral Wiranto. Abdurrahman Wahid. dan perkosaan menurut laporan menyebarluas. Penyiksaan terus berlangsung sampai DOM berakhir di tahun 1998. Seandainya. dinamika politik di propinsi tersebut mengalami perubahan genting lainnya.J. Di bulan Desember 1999. Di awal tahun 1999. dan secepatnya mengusut mereka yang bertanggungjawab atas pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan selama periode DOM. 15.

suatu gencatan senjata yang bukan sungguhan. Jumlah pasukan dinaikan dalam usaha sistematis yang ditujukan kepada kubu dan markas GAM yang dicurigai. kadang melalui penculikan dan sejenis pendidikan kembali untuk pejabat-pejabat pemerintah daerah. No. Di saat yang sama. kandidat presiden Megawati Soekarnoputri menjanjikan bahwa jika dia terpilih maka dia akan berusaha kerasa untuk mengakhiri komflik yang sudah berjalan begitu lama. BBC World News. GAM. dengan ketidaksenangan militer Indonesia. kekerasan menurun dengan tajam. serangan oleh GAM kepada militer dan polisi juga meningkat. Julia Suryakusuma. Henri Dunant Centre. Saya tidak akan mengizinkan satu tetes pun darah manusia menyentuh tanah kalian. Nama yang diberikan kepada usaha perdamaian berubah dari ‘jeda kemanusiaan’ menjadi ‘penundaan kekerasan’ lalu menjadi ‘perdamaian melalui dialog”. dan kepergian militia pro-Indonesia dari timur sampai barat Timor menyediakan sumber persenjataan baru yang utama.membawa kepada jumlah serdadu lebih besar dan seluruh desa dihukum sebagai pembalasan dendam atas serangan GAM. International Herald Tribune. 10 (C) 10 . Pada bulan-bulan pertama ‘jeda’ tersebut. GAM mampu untuk menghasilkan pemasukan yang penting dalam “pajak perang” dari perseorangan dan bisnis. Sejalan dengan meningkatnya kekerasah dari pihak Indonesia. “saat pemimpin perempuan kalian memimpin negara ini. HDC menghasilkan suatu “jeda kemanusiaan” dalam konflik tersebut. Aceh barat. Jeda tersebut diperbaharui dua kali. jenjang dasar dinas pemerintah Indonesia. Vol. tanpa diduga sebelumnya oleh orang-orang. Mereka melakukannya dengan mengganti kepala-kepala desa. Human Rights Watch. Kadang melalui persuasi. Di bulan Mei 2000. “Perang Kecil untuk Menyokong Penilaian”. 30 Juli 1000. Aceh Timur dan Aceh Selatan. tetapi usaha dasar untuk menjaga pembicaraan antara pihak-pihak terkait terus berlanjut. GAM secara berangsur-angsur mengambil alih kebanyakan fungsi-fungsi pemerintah yang dimulai dari Kabupaten Pidie dan berangsur berpindah jauh kedalam Aceh Utara. dan mengadakan kembali dewan sesepuh desa yang sudah ada sebelum Aceh bergabung dengan Republik Indonesia. Menitikan air matanya di Aceh dia mengumumkan. 15. mulai bergerak diluar penyerangan sporadis terhadap polisi dan tentara untuk menyiapkan sebuah pemerintahan alternatif.”16 Di pertengahan tahun 2000 datanglah organisasi yang berlandaskan resolusi konflik dari Geneva. untuk mendiskusikan masalah keamanan dan kekerasan selama ‘jeda’ tersebut. membangun kemarahan orang-orang yang meningkat. Sebagai bagian dari perjanjian berkenaan dengan ‘jeda’ tersebut. terdiri dari baik GAM maupun perwakilan pemerintah. Pada bulan Juli 1999. menteri pertahanan Indonesia dan komandan TNI mengumumkan operasi militer baru melawan GAM. dalam menjadi menengahi perundingan antara GAM dan pemerintah Indonesia. yang sukses. panitia dibentuk di Aceh. dengan 16 “Penduduk Desa Aceh Menemukan Pemakaman Masal”. 29 Agustus 2003. yang kemudian berganti nama menjadi Pusat Dialog Kemanusiaan (the Centre for Humanitarian Dialogue atau HDC) kedalam situasi tersebut. yang melihatnya sebagai cara GAM untuk mengkonsolidasikan kontrolnya terhadap daerah pedesaan. Pada tanggal 9 Maret 2001.

Muninggar Sri Sraswati. Segera terdapat tuduhan berkaitan dengan kekerasan terhadap hak asasi manusia oleh TNI. Keputusan tersebut menempatkan Aceh dibawah Darurat Militer selama enam bulan. Komisi Hak Asasi Manusia Indonesia. 14 Juni 2003. 11 Human Rights Watch. Indonesia dan GAM menandatangani Perjanjian Kerangka Gencatan Senjata atas Permusuhan (the Cessation of Hostilities Framework Agreement atau COHA). dan TNI serta dinas keamanan Indonesia lainnya menggembar-gemborkan untuk ‘menumpas’ GAM dalam periode tersebut meskipun banyak pengamat menyangsikannya. dengan perantara HDC. meskipun para penduduk lokal menolaknya. Baik perkiraan pemerintah maupun GAM tidak dapat diandalkan (misalnya jumlah orang sipil yang hilang yang berasal dari pemerintah hanya terbatas pegawai pemerintah saja) dan LSM di lapangan. sesudah kunjungannya pada bulan Juni ke propinsi tersebut. “Badan Hak Asasi Menegaskan Pembunuhan atas Warga Sipil Tanpa Nama di Bireuen. Jepang dan Bank Dunia. Sesudah penangkapan terhadap empat juru runding GAM dan runtuhnya parit-terakhir (last-ditch) pembicaraan damai di Tokyo. termasuk dua orang bocah berusia dibawah empat belas tahun. 20 Juni 2003. 15. Semua korban memakai pakaian sipil. Uni Eropa.17 Jumlah pasti korban-korban sipil sulit untuk ditetapkan mesipun semua pihak mengesankan bahwa korban sipil dan pejuang (GAM) sangat besar. pada tanggal 21 Mei para tentara membunuh tujuh orang.” The Jakarta Post. yang memberi wewenang kepada pasukan kemanan Indonesia untuk melancarkan operasi militer besar-besaran melawan GAM. Presiden Megawati menandatangani Keputusan Presiden nomor 28. (“kuartet”). meskipun mereka tidak menyalahkan secara umum. Pada bulan Desember 2003. Meskipun COHA tidak menunujukan perbedaan yang mendasar. Komnas HAM. Militer mengatakan semua korban adalah anggota atau mata-mata GAM. Palang Merah Indonesia melaporkan bahwa mereka menemukan delapanpuluh dua mayat di minggu pertama. tapi membuka pintu terhadap lebih banyak perundingan yang dilakukan dalam pengawasan internasional. 10 (C) .” Agence FrancePresse. Dalam satu kasus yang dilaporkan dengan baik dari hari-hari pertama Darurat Militer. dan pada mulanya membawa pengurangan kekerasan. dan dibawah tekanan dari Amerika Serikat. mengakui bahwa mereka tidak mampu untuk mengumpulkan data di lapangan secara efektif.banyak tuduhan dari organisasi lokal atas nama penududuk sipil yang terbunuh selama proses tersebut. tanggal 19 Mei 2003. seperti organisasi terhormat seeperti Kontras cabang Aceh. Meskipun begitu hanya terdapat sedikit kemajuan terhadap penyelesaian konflik secara politis. GAM menuduh bahwa Indonesia tidak berunding dengan niat baik. meskipun organisasi tersebut mengatakan bahwa hal tersebut tidak dapat 17 “Badan Hak Asasi akan Memeriksa Laporan Pemakaman Masal di Aceh Minggu Depan. Indonesia berkeras bahwa GAM tidak mengakui tuduhan hendak merebut kemerdakaan dan menuduh GAM menggunakan COHA untuk membangun kembali kekuatan bersenjatanya dan meluaskan basis politiknya. menegaskan bahwa anak-anak tersebut berada diantara korban pembunuhan extra-judicial di Aceh. Ini adalah harapan terakhir yang terbaik untuk perdamaian di Aceh. No. dan 151 mayat di akhir minggu ketiga. Vol.

19 dan jumlah korban lebih jauh dari dua pusat perkotaan tersebut kemungkinan lebih tinggi.” The Jakarta Post. 15.” The Jakarta Post. 18 Human Rights Watch. 23 22 Memperhatikan ketidaksesuaian antara anggota GAM yang berdasarkan laporan terbunuh (1. “Perang Indonesia dengan Para Separatis Memakan 1. 19“Permintaan Suplai Tambahan di Aceh” British Broadcasting Corporation. 21 Di bulan November. pelecehan seksual.600 Korban. korban sipil terbesar berasal dari Aceh Utara (110). Komnas HAM mengatakan bahwa di awal bulan Juni mereka akan meneyelidiki lebih dari dua puluh kasus tentang pelanggaran hak yang diduga keras terjadi selama dua minggu pertama operasi militer di propinsi tersebut. dan tergantung dari sumber dan bentuk penyiksaan. Kontras Aceh. BBC memberitakan bahwa dalam minggu pertama operasi.” Reuters. Perkiraan Kontras Aceh pada tanggal 18 Agustus menempatkan jumlah yang kurang lebih sama yaitu 329 warga sipil terbunuh. 20 Meskipun tim komisi ad-hoc dapat bertemu dengan lebih dari seratus orang saksi mata dalam misi kedua mereka selama lima hari di bulan agustus. 3 Juni 2003. “Pertanyaan sesunggunya adalah berapa banyak dari orang-orang tersebut yang dideskripsikan sebagai pemberontak pada kenyataannya adalah GAM. “Indonesia Melancarkan Kampanye Aceh Melawan Pemberontak. Aceh Selatan. Aceh Timur (70) dan Aceh Selatan (45). 10 (C) 12 . 213 kasus penangkapan dan penahanan secara sewenang-wenang. “Makalah Ringkas tentang Aceh: Propinsi Aceh. kebanyakan dari mereka adalah para pemuda dengan luka tembak. dari 319 kematian warga sipil yang dilaporkan oleh polisi pada tanggal 3 September 2003. Sebagai contoh. Di sekitar Lhokseumawe jumlah tersebut dilaporkan sebanyak enam orang per hari. 26 May 2003. pelecehan seksual. dan Aceh Besar. termasuk pembunuhan.menegaskan bahwa mereka semua non-pejuang. Lihat “319 warga sipil terbunuh dalam Kekacuan Aceh di Indonesia. No.” Agence France-Presse. 21 M. Pencapaian yang Tidak Jelas. Human Rights Watch prihatin baik kepada mereka yang diklasifikasikan sebagai GAM namum ternyata orang sipil. kamar mayat rumah sakit utama Banda Aceh menerima rata-rata tiga mayat per hari. juru bicara militer melaporkan bahwa setidaknya 395 orang sipil telah terbunuh sejak dimulainya Darurat Militer. “Deutsche Presse-Agentur. Tidak ada laporan yang dikeluarkan. LSM tersebut menekankan bahwa jumlah sebenarnya kemungkinan lebih besar karena adanya keterbatasan pelaporan dan investigasi. Vol. 23 Agustus 2003. 5 September 2003. dan juga anggota GAM yang mungkin terbunuh diluar pertempuran dalam pelanggaran hukum kemanusiaan. Meskipun tidak ada kasus dimana korban diganggu oleh pelaku. penguasa darusat militer membatasi gerakan tim sama sekali. “Komnas HAM Hendak Menyelidiki Pelanggaran-Pelanggaran di Aceh. 2003. 22 Pemerintah Indonesia menyalahkan GAM atas korban-korban tersebut.18 Dalam indikasi lain tentang tingginya jumlah korban awal. May 26. begitu juga 315 warga sipil disiksa atau dipukuli. 11 Juni 2003. Taufiqurrahaman. Kontras Aceh menemukan bahwa banyak warga sipil menjadi korban selama operasi militer di Indonesia dalam pencarian para gerilyawan.100) dan senjata yang ditemukan (485). Kebanyakan perkirakan mencatat secara khusus tingginya korban sipil di Aceh Utara dan Aceh Timur.” September 2003.” Ahmad Pathoni.100 anggota GAM telah terbunuh di bulan Oktober. perkosaan dan pemindahan secara paksa dan penculikan masih tetap merajalela. “Pelanggaran Hak Asasi di Aceh Dapat Membawa Intervensi PBB. Dean Yates. 20 Tertiani ZB Simanjuntak. Bireun. perkosaan dan pemindahan (displacement) secara paksa.” Reuters. dan tujuhpuluh delapan sipil menjadi korban penghilangan secara paksa. Pemerintah Indonesia melaporkan bahwa sekitar 1. Perang Kotor yang Tidak Terungkap. Sidney Jones dari Kelompok Krisis Internasional (Inetrnational Crisis Group) telah mencatat. tetapi dalam pernyataan secara umum komisi tersebut mengatakan bahwa pembunuhan.23 18 “Palang Merah Indonesia Mengatakan Memindahkan 151 Mayat di Aceh.

kabupaten (Kodim). meskipun hanya dengan satu kesaksian saksi mata. Dalam kampanye militer tebesar militer Indonesia sejak penyerbuan ke Timor Timur. 26 Oktober 2003. “Tugas kami adalah untuk menghancurkan kemampuan militer GAM. Beberapa orang Aceh di Malaysia menyatakan bahwa sesudah membunuh seorang warga sipil. dan pemerintah daerah. diperkirakan 28. 15. Malaysia. kesaksian yang dikumpulkan dalam laporan ini memperjelas bahwa operasi militer lah yang mempunyai pengaruh terhebat terhadap penduduk sipil. persoalan keadian.24 Suatu ukuran dari peran utama operasi militer dalam operasi terpadu ini adalah luasnya cakupan upaya militer.25 Pasukan polisi termasuk polisi lokal. adalah spesialis dalam pengumpulan intelijen dan operasi khusus dan dianggap sebagai kebanggan pasukan tentara. April 1999. sebagaimana juga kekuatan Kostrad dan Kopassus untuk membantu pengumpulan operasi dan intelijen. kesejahteraan sosial. sering bekerja bersama-sama dengan unit militer. meskipun mereka dikenal dengan reputasi buruk karena keterlibatan mereka dalam pelanggaran hak asasi manusia sepanjang kepulauan ini. Kesatuan tempur yang kuat dari kekuatan militer Indonesia telah disebar di Aceh. 24 Diluar sifat dasar terpadu operasi.000 senjata. Wawancara Human Rights Watch dengan seorang laki-laki berusia empat puluh-an (nama disembunyikan). Lihat Human Rights Watch. agama. Kostrad dapat dikenali melalui baret hijau mereka dan sebagai pasukan tentara khusus TNI. yang menurut pemerintah Indonesia termasuk komponen-komponen militer. penegakan hukum kemanusiaan. Vol. Brimob. 25 13 Human Rights Watch. Tetapi usaha apapun yang bisa dilakukan pemerintah Indonesia untuk membatasi kengerian perang bagi penduduk sipil. yang cenderung lebih terlibat dalam operasi militer. Banyak dari November 2003.000 polisi (kebanyakan dari mereka menjalankan fungsi paramiliter) telah disebarkan propinsi tersebut untuk berperang melawan sekitar 5. fokus yang berlebihan telah ditempatkan pada operasi militer. atau “pasukan khusus”. Kepala TNI Ryamizard Ryacudu menyatakan dalam sebuah wawancara. Penyelenggara Darurat Militer di Aceh. Kopassus. 2 Juni 2003. sub-regional (Korem) dan regional (Kodam).000 pemberontak GAM dengan 2. otonomi. Unit tentara termasuk ‘organik’ atau kekuatan berbasis lokal tingkatan kelurahan (Koramil). “Tidak Ada Daerah yang Bisa Melepaskan Diri: Time Asia. pada tingkatan kecamatan (polsek) dan propinsi (Polda) dan unit brigadir mobil polisi paramiliter. Mayor Jenderal Endang Suwarya. pendidikan – hal-hal tersebut bukanlah masalah militer Indonesia. Unit “non-organik” dikirim dari bagian lain Indonesia termasuk battalion infantri dari propinsi lainnya. mengawasi semua aspek dari operasi ‘terpadu’ Indonesia di Aceh. “Militer Indonesian dan Militia Sipil di Timor Timur” Backgounder Human Rights Watch.Pengenaan darurat militer berarti bahwa semua instrumen pemerintah sekarang berada di bawah kontrol militer. TNI akan menempatkan bukti bahwa korban tersebut adalah anggota GAM. 10 (C) .000 pasukan dan 12. yang mengenakan baret merah.” Wawancara dengan Ryamizard Ryacudu. Operasi terpadu ini disusun sebagai usaha untuk memenangkan perang dengan GAM sekaligus memenangkan hati dan pikiran penduduk lokal. No. Tetapi sejauh ini sejak propinsi tersebut tertutup dari pengamat internasional independen. efektifitas dan kekuasaan programprogram non-militer akan sulit untuk dinilai.

kapal-kapal tempur dan helikopter. No. Desa-desa dalam atau dipinggir daerah-daerah ini secara khusus cenderung terjebak didalam peperangan mereka. termasuk Kostrad. pasukan pembentu yang penting) Pada tahun 2002 penguasa militer menciptakan komando regional baru.26 Meskipun konflik dapat mengambil tempat dimanapun. Angkatan laut. yang juga sekarang menjadi penyelenggara Darurat Militer. Satuang tugas menurut laporan telah dilatih oleh Kopassus dalam peperangan anti-gerilya.” The Jakarta Post. Vol. atau Kodam. Marinir dan Kopassus. udara dan marinir Indonesia juga sudah memainkan peran dalam kampanye melalui penyerbaran kapal-kapal perang. Sebagai tambahan. September 2000. satuan tugas Rajawali beroperasi di unit pasukan peleton yang dibentuk dari pasukan yang berasal dari cabang dan wilayah yang berbeda. strategi penyergapan dan teknik-teknik tembak-untuk-bunuh. tank-tank. untuk Aceh. Brigadir Jendral Goerge Toisutta tersebut pada bulan November sebagai komandan operasi militer dibawah Darurat Militer untuk TNI di Aceh. yang menjadi bagian dari komando yang lebih luas yang berpusat di propinsi tetangga Sumatera Utara. Kodam Iskandar Muda dikepalai oleh Mayor Jenderal Endang Suwaryo. Tapol. 10 (C) 14 . menggantikan Mayor Jendral Bambang Darmono.mereka telah dikirim dari luar Aceh untuk membantu operasi (dikenal sebagai BKO atau Bawah Kendali Operasi. kapal amfibi. 26 “Kopassus BErsiap Menumpas Pemberontak Aceh. 15. Aceh mempunyai dua Korem. pasukan terjun payung. pertempuran di daerah hunian. Korem Teuku Umar di Banda Aceh dan Korem Lilawangsa di Lhokseumawe. barisan terdepan perburuan GAM adalah pegunungan dan hutan. pertempuran jalanan. 17 April 2001. Bulletin Online 159. Human Rights Watch.

Saya berharap untuk menetap selama enam bulan. Air mata kami semua sudah kering.Hidup di bawah Darurat Militer Harus dimengerti bahwa para pejabat kami berprilaku cukup agresif di mata umum. Wawancara Human Right Watch dengan laki-laki berusia empat puluh dua tahun (nama disembunyikan). dengan militer Indonesia memamerkan pasukan dan perlengkapan terbaik mereka didepan pers dunia. Vol. kepada Human Rights Watch: Sudah jelas apa yang akan terjadi. tahun 1998. Malaysia. No. tujuan.000 polisi yang bertugas “menumpas” GAM. Sebagaimanya yang dikatakan bekas aktifis mahasiswa. darurat militer datang. Dua orang yang berada dalam bus ditahan: satu di Alue Ie Puteh di Aceh Utara. Bulan Maret 2003. —Juru bicara untuk administrator daurat militer Kolonel Ditya Soedarsono.27 Kami tidak menangis. tetapi mereka juga menggambar-gemborkan penyebaran sekitar 28. Kabupaten Bireun. seorang laki-laki duapuluh lima-an. 10 (C) .” The Jakarta Post. 26 Juli 2003. Bis Saya harus menunggu dua puluh menit untuk lewatnya iring-iringan truk tentara sebanyak tigapuluh lima truk.28 Dimulainya kampanye militer Indonesia di Aceh dalam bulan Mei ditandai dengan pertunjukan kekuatan besar-besaran. Kami bahkan tidak bisa menangis lagi dengan trauma yang kami alami hari ini. yang meninggalkan Aceh dua minggu sebelum darurat militer dimulai. kartu identitas. Seorang laki-laki berusia dua puluh lima tahun. tetapi mereka pada dasarnya personil yang ramah dan bersahabat. tetapi sesudah tiga bulan. Keadaan hanya sedikit aman selama periode tersebut. 15. menggambarkan usahanya untuk meninggalkan propinsi tersebut: Saya datang kesini (Malaysia) ketika segalanya pertama kali meledak. Pada saat itu Saya sedang berada di Kecamatan Samalanga. Sudah terdapat banyak TNI. Penjelasan atas kampanye tersebut diterangkan sebelum pernyataan resmi Darurat Militer.000 pasukan dan 12. 5 November 2003. Pada hari dimana (presiden) Megawati 27 28 “TNI Berencana untuk Menyusun Ulang Penyebaran Pasukan di Aceh. Saya pulang ke rumah secara sukarela. yang lainnya. yang kembali ke Aceh dari Malaysia pada bulan Maret ketika the COHA diberlakukan. —Laki-laki Aceh berusia empat puluh tahun. di Langsa (Aceh Timur)… Saya menelepon rumah tanggal 5 Oktober dan pos TNI yang berada di dekat rumah Saya sudah bertambah dari satu pos menjadi tiga pos – kami berada dekat pegunungan. setiap hari di Aceh. menuju ke Barat… Pada tempat pemeriksaan mereka memeriksa tas-tas. Saya pergi dari Aceh ke Medan dengan minibus. Bom sonik dan peragaan udara oleh Angkatan Udara Indonesia memang jadi sekedar untuk pertunjukan. 15 Human Rights Watch.

Bahkan pembicara-pembicara Indonesia sering menggunakan istilah bahasa inggris “sweepings”. lebih banyak patroli kerjasama militer dan polisi untuk membatasi gerakan para pejuang GAM. Saya tidak bisa tinggal di Aceh lagi. Banyak yang sudah diancam. 29 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia dua puluh lima tahun (nama disembunyikan). Saya bisa mendengarkannya dari desa Saya.000 orang sipil meninggalkan rumah-rumah mereka. No.” Reuters. bertanya-tanya seandainya Saya akan hidup atau mati. 15. intensifikasi operasi intelejen. dan meningkatkan operasi di waktu malam. taktik yang dirancang untuk mengindentifikasikan separatis atau pendukung mereka melalui pencarian kendaraan. TNI datang mencari GAM. termasuk unit-unit yang lebih kecil disebarkan dalam pencarian kepemimpinan GAM yang kebanyakan tidak sukses. lebih dari 21. dan pencarian secara sistematis dari satu desa sesudah desa lainnya. 26 May. 26 May 2003. 32 31 Dean Yates.32 Pada akhir Juli. (datang_ dari laut. 24 Oktober 2003. Enam jet tempur lewat di atas kepala Saya. Malaysia. Perlengkapan untuk Memerangi Pemberontak Aceh. Orang bilang di Samalaga terdapat tiga buah tank. pemeriksaan dokumen. Human Rights Watch. Tapi kami katakan kepada mereka bahwa tidak ada GAM disana – yang mati hanyalah sapisapi dan ayam-ayam. Pagi berikutnya terdengar suara peluru dan ledakan. Teman-teman Saya dipukuli oleh militer. Traumanya terlalu banyak. mereka yang dari laut. Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki limapuluh tujuh tahun (nama disembunyikan). Vol. 2003. 28 Oktober 2003. yang dimaksudkan untuk mengurangi korban sipil. kendaraan amphibi.30 Hari-hari sesudah pernyataan Darurat Militer. militer membawa artileri berat dalam posisi untuk menyerang basis pemberontak. 30 “Indonesia Memindahkan Pasukan.31 Operasi termasuk patroli yang luas dan ‘penyapuan’ (sweeping).” Associated Press. peluru-peluru di sawah. Begitu banyak hal yang telah terjadi. Saya sedang menanm padi.29 Seorang laki-laki dari Aceh Tengah yang tiba di Malaysia di awal Agustus mengatakan pada Human Rights Watch: Saya meninggalkan Aceh karena terdapat pertempuran dan tembakan senjata setiap hari antara TNI dan GAM di segala penjuru Aceh. 10 (C) 16 .mengumumkan darurat militer secara resmi… TNI datang ke Aceh. pejabat militer mengumumkan beberapa perubahan terhadap strategi tersebut. Mereka yang dari laut (datang) dari laut. “Indonesia Melancarkan Aceh Kampanye Melawan Pemberontak.

Malaysia. 34 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh lima tahun (nama disembunyikan). satu kelompok. tidak peduli kami melakukan sesuatu yang salah atau tidak. di dalam semua dusun kecil. Hampir semua orang yang diwawancarai oleh Human Right Watch berbicara tentang pos-pos keamanan baru yang didirikan oleh TNI dan Brimob sejak dimulainya Darurat Militer. 26 Oktober 2003. Sebagaimana seorang perempuan yang tiba di Pidie pada tanggal 25 Oktober menjelaskan: Konflik ada disana. No. dengan pos-pos militer setiap dua kilometer. 15. sampai sebulan yang lalu. Dari hari pertama sudah ada perasaan baru. 33 Wawancara Human Right Watch dengan perempuan berusia tigapuluh-an (nama disembunyikan). Biasanya mereka akan menghabiskan waktu satu minggu di pegunungan. ketika mereka membangun pos di desa.34 Seorang laki-laki yang meninggalkan Aceh pada 5 Oktober menjelaskan: Saya meninggalkan Aceh karena kemanan menurun. karena kami trauma. TNI mencari GAM. 10 (C) .Meningkatnya Kehadiran di Desa Gelombang pasukan tidak hanya untuk operasi tempur melawan pasukan GAM di pegunungan dan hutan. Mereka membunuh kami seperti semut. Pasukan keamanan tinggal disana sekarang. khususnya jika desa tersebut berada di tepi peguningan seperti desa kami. Meningkatnya kehadiran di desa-desa nampaknya bertujuan untuk membatasi dukungan materi dan moral dari penduduk lokal untuk GAM dan kemampuan GAM untuk mengambil pengungsi di desa-desa dan mengikutsertakan mereka dalam pengerahan.. kami dipukuli. Tentara-tentara tersebut takut pergi ke pegunungan. jika GAM tidak ditemukan mereka menyerang penduduk. Teman-teman kami sekarat akibat konflik. 17 Human Rights Watch. Jika kami tidak tahu dimana GAM. Seorang laki-laki berusia dua puluh lima tahun yang meninggalkan Aceh Selatan satu minggu sesudah Darurat Militer mulai menjelaskan: Dari hari pertama darurat militer. Mereka membangun pos-pos tepat di desa-desa. Malaysia. 27 Oktober 2003. sebelum naik ke atas lagi. Vol. kemudian mereka turun kebawah selama dua hari untuk mengambil makanan dan beristirahat. Beberapa narasumber menjelaskan bahwa padahal kesatuan-kesatuan tentara sebelumnya hanya datang ke desa sekali seminggu. TNI akan sering masuk desa. istri dan keluarga Saya sudah mengatakan pada Saya untuk pergi… Mereka (TNI) “suka-suka tembak”. sekitar tiga puluh tentara.”33 Pelanggaran hak asasi manusia yang meningkat tajam sejak darurat militer dimulai bisa jadi sebagian disumbangkan dari meningkatnya kontak sehari-hari antara tentara dan penduduk desa. kontak antara orang sipil dan militer sekarang adalah kejadian sehari-hari. Saya rasa Rajawali.

Malaysia. 39 Human Rights Watch. 15. Seorang laki-laki muda memperkirakan bahwa pasukan keamanan sudah mendatangi rumahnya lima kali sebelum dia meninggalkan propinsi tersebut menyerangnya setiap kali. Wawancara Human Rights Watch (nama disembunyikan).35 Menjadikan Anak-Anak Muda Sipil Sebagai Sasaran TNI pernah pergi ke Amerika. Kantornya ada di desa Saya. Malaysia. “Kamu GAM!” Saya bilang pada mereka. ke Eropa. 36 37 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki Aceh berusia delapan belas tahun (nama disembunyikan). Malaysia. Seorang laki-laki yang masih muda di Aceh akan dipandang dengan kecurigaan dan beresiko. Setiap hari di Aceh Saya harus melapor pada kantor TNI sehingga mereka bisa memeriksa bahwa saya tidak pergi dan bergabung dengan GAM. 23 Oktober 2003. 37 Seorang laki-laki berusia tigapuluh lima tahun yang tiba di Malaysia bulan Oktober dari Peuruelak. “Saya orang biasa!” Mereka memukul dan menendang. Aceh Timur menjelaskan: Dibawah darurat militer rumah seringkali dikunjungi. 28 Oktober 2003. tetapi hanya sejak darurat militer dimulai. 26 Oktober 2003. “Dimana para lelaki?” Saya tidak berani tinggal di rumah. TNI mencurigai semua laki-laki muda sebagai GAM. senjata-senjata dan amunisi. Mereka bertanya. Dugaan sebelumnya adalah bahwa pemuda yang meninggalkan desa bergabung dengan GAM. Vol. Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia tigapuluh lima tahun (nama disembunyikan). Mereka datang seminggu tiga kali. 10 (C) 18 . Dalam beberapa kasus pencarian rumah-ke-rumah disertai dengan kekerasan secara fisik. ke Thailand dan berkata mereka mengamankan Aceh. Mereka bilang. mereka datang hanya untuk membunuh kami.39 35 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia dua puluh satu tahun (nama disembunyikan). 26 Oktober 2003. sudah belasan kali. tetapi keluarga saya bilang jangan. Tetapi para pemuda yang tetap berada di desa seringkali dijadikan sasaran sebagai tersangka simpatisan GAM.Saya dipukuli dua kali… Tidak ada GAM di desa Saya sejak Darurat Militer dimulai. 38 Seorang laki-laki yang meninggalkan Aceh Utara ke Malaysia pada bulan Juni memberitahukan Human Rights Watch: Di Aceh. Mereka tidak mengamankan Aceh. Malaysia. dan informasi mengenai pemuda manapun yang meninggalkan desa. Malaysia. 38 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia dua puluh tahun (nama disembunyikan). 28 Oktober 2003. 36 —Perempuan Aceh berusia tigapuluh tahun Taktik pasukan kemanan Indonesia yang biasa adalah pencarian rumah-ke rumah terhadap anggota GAM. No. Saya mau pulang ke rumah untuk liburan.

40 Seorang laki-laki dari Pidie memberitahukan Human Rights Watch tentang an assault oleh anggota satuan tugas Rajawali terhadap penduduk yang paling muda di desa: Kurang dari seminggu sesudah (Hari Kemerdekaan Indonesia) setiap orang diberitahukan untuk berkumpul di meunasah (tempat sembahyang). Mereka memulainya jam 5 pagi. Batalion 113. Mereka datang ke desa. dan mereka dibawa ke lapangan sekolah di sebebelah. Malaysia. karena orang-orang yang tinggal di sekitar pos komando militer tingkat kecamatan tidak dipaksa untuk bergabung. Kami dipisahkan antara laki-laki. 15.41 40 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia sembilan belas tahun (nama disembunyikan). beberapa dari mereka menderita luka dalam. Lebih dari seratus orang disana dari desa-desa (nama dihilangkan) di semua Kecamatan Mila. Jika TNI tidak menemukan GAM kami. Saya seorang laki-laki jadi Saya dicurigai menjadi GAM. sebelumnya mereka membangunkan kami melalui kepala desa dengan menggunakan mikrophon. Sekitar jam 8 malam. Tentara tersebut berasal dari Rajwali. Setiap hari ada perang antara GAM dan TNI. perempuan dan anak-anak muda. Sesaudah itu. 41 19 Human Rights Watch. tetapi sepuluh orang harus pergi ke rumah sakit. Vol. Saya anak satu-satunya. Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia empat puluh tahun (nama disembunyikan). Mereka berasal dari usia sekolah sampai usia tiga puluh enam tahun. Medan dan Kuala Lumpur. Kelompok anak muda sekitar tiga puluh orang. Saya sedang berada dekat kedai kopi. diserang sebagai GAM. satuan tugas Rajawali datang ke desa… Tanggal 17 Agustus (Hari Kemerdekaan Indonesia) TNI memasuki desa mencari GAM. Mereka tidak menemukan GAM maka mereka memukul Saya. orang tua Saya tinggal di Pidie. Akhirnya anak-anak muda tersebut diperbolehkan untuk pulang ke ruamh. Mereka kemudian memaksa orang-orang untuk bergabung dalam perayaan Hari Kemerdekaan. sekitar dua puluh tentara. No. Malaysia. Dua kelompok lainnya tidak dipukuli. satu perusahaan. orang-orang. karena akan ada operasi di pegunungan. 23 Oktober 2003.Seorang laki-laki lain memberitahukan Human Rights Watch kenapa dia datang ke Malaysia: Seluruh keluarga Saya tetap tinggal. semua anak muda pergi ke Banda Aceh. 10 (C) . Saya mendengar mereka bertanya pada anak-anak muda tersebut mengenai GAM dan memukul mereka. Ada sekitar empat puluh tentara. tetapi beberapa orang tua pingsan karena apa yang terjadi kepada anak-anak mereka. 9 Oktober 2003.

Human Rights Watch. Juga tersedia adalah Protokol Tambahan kedua tahun 1977 pada Konvensi Kovensi (Protokol II). pasukan kemanan Indonesia sudah melakukan eksekusi extra judicial yang tidak diketahui jumlahnya terhadap orang sipil yang tidak bersenjata di Aceh.45 Sementara pembunuhan extra-judicial terhadap siapapun – tidak perduli orang sipil atau pejuang– adalah pelanggaran serius terhdap hukum internasional. Yang juga dilarang adalah tindakan atau ancaman kekerasan terhadap penduduk sipil yang menyebarkan terror atau pemindahan penduduk sipil secara paksa tanpa keperluan militer. Malaysia. penghilangan secara paksa. setiap saksi mata pembunuhan semacam itu di Aceh memberitahukan Human Rights Watch bahwa Indonesia menjadi bagian dari Konvensi Geneva tahun 1958. Yang selamanya dilarang adalah pembunuhan. Hukum internasional hak asasi manusia berlaku selama konflik bersenjata internal. upon. No. Aturan dasar hukum kemanusiaan adalah bahwa penduduk sipil serta secara perseorangan tidak boleh menjadi sasaran penyerangan. perlakuan kejam dan penyiksaaan. 15. Jika tidak ada kami tidak bisa tidur. pada khususnya perlakuan penghinaan dan penurunan martabat.44 Sejak dimulainya Darurat Militer. Ini termasuk pelarangan eksekusi (extrajudicial executions). bahkan selama keadaan darurat (state of emergency). 10 (C) 20 . penyiksaan. Konflik di Aceh dianggap sebagai konflik bersenjata non-internasional (internal). banyak –kalau tidak bisa dibilang semua-pernyataannya merefleksikan hukum adat perang. penyembelihan. Hak hidup dan kebebasan yang mendasar tidak boleh dilanggar.42 Pasal 3 yang lazim disediakan untuk perlakuan berperikemanusiaan terhadap orang sipil dan mereka yang tidak ikut ambil bagian secara aktif dalam permusuhan (termasuk penangkapan anggota pasukan senjata lawan). Meskipun Indonesia bukan bagian dari Konvenan Internasional mengenai Hal-Hak Sipil dan Politik dan perjanjian hak asasi manusia yang penting lainnya. Vol.43 Pembunuhan Diluar Hukum (Extrajudicial Killings) Kami terbiasa mendengarkan suara tembakan. dan eksekusi kilat. —Laki-laki Aceh berusia delapan belas tahun. 44 45 43 42 Wawancara HumanRights Watch (nama disembunyikan ). kebiadaban terhadap martabat seseorang.Pelanggaran Hak Asasi Manusia dan Hukum Kemanusiaan Pasukan Indonesia dan GAM di Aceh terikat oleh hukum kemanusiaan internasional (juga dikenal sebagai hukum perang). Terbunuhnya para pejuang dalam pertempuran dianggap sebagai pembunuhan yang sah secara hukum dibawah hukum kemanusiaan internasional. 28 Oktober 1992. Meskipun Indonesia bukan bagian dari Protokol II. hak mendasar yang ditemukan didalamnya dinyatakan sebagai bagian dari hukum adat internasional. pengambilan sandera. untuk dimana hukum yang diterapkan termasuk pasal 3 dalam empat konvensi Geneva pada tahun 1949 dan hukum adat perang. dan pembatasan yang tidak perlu terhadap kebebasan bergerak. penghukukan tanpa peradilan yang adil. penangkapan dan penahanan secara sewenang-wenang. Suatu eksekusi extra-judicial (atau eksekusi kilat) adalah pembunuhan yang tidak sah menurut hukum dan disengaja atas seseorang oleh alat negara.

Tiga orang lainnya menyaksikan tentara menembak ke arah orang sipil yang tidak membawa pada kematian secara langsung. Laporan Human Rights Watch vol. Agustus 2001. Hal ini konsisten dengan temuan seorang jurnalis Australia yang mengunjungi lima desa dimana terdapat penembakan-penembakan dalam minggu pertama darurat militer. sebelum pembatasan media diperketat: “Interogasi.46 Dari delapan puluh lima orang Aceh yang diwawancarai Human Rights Watch di Malaysia.49 Seorang laki-laki Aceh dari Lhokseumawe. Selama pembersihan ini laki-laki dipilih and ditembak. diikuti oleh pemukulan. Beberapa orang lainnya menggambarkan penculikan oleh TNI berakhir dengan kematian.48 Pembunuhan diluar hukum lainnya terjadi ketika pasukan keamanan mengambil seseorang untuk ditahan – dan mayat mereka kemudian ditemukan atau mereka tidak pernah terdengar lagi. No. 13. Sifat dasar yang umum dan disengaja dari pembunuhan semacam ini memberi kesan bahwa mereka mencoba mengirimkan peringatan untuk menghalangi penduduk desa untuk mendukung GAM. Nampaknya terdapat dua jenis ekesekusi yang baru-baru ini terlihat mengambil tempat di Aceh. 47 48 Protokol II.” Mathew Moore. kemudian eksekusi kilat. adalah pola yang muncul dalam serangan militer Indonesia terhadap pemberontak Aceh.” The Age (Australia). Vol. serta tidak ada usaha untuk menyembunyikan eksekusi tersebut. Jika Saya menabrak ayam dengan mobil Saya maka Saya harus membayar.korban bukanlah anggita GAM. “Indonesia: Perang di Aceh”. “Di Aceh. Pembunuhan Kilat (Summary Killings) Selama Operasi Sweeping Hidup tidak mempunyai nilai disana. Jenis pertama secara khas terjadi ketika pasukan memasuki desa selama periode yang disebut sebagai “operasi sweepinga”. meskipun demikian mereka yang diwawancarai seringkali menyatakan dengan percaya diri bahwa tetangga atau kenalan mereka bukan anggota GAM. 25 Mei 2003. Aceh Utara menceritakan suatu peristiwa di bulan Mei: 46 Para pejuang GAM pada umumnya mengenakan seragam. 15. Wawancara Human Rights Watch (nama disembunyikan). Tiga orang lainnya menemukan mayat orang sipil (dalam dua kasus adalah anggota keluarga mereka sendiri) yang kurang lebih dekat dengan operasi militer.” Lihat Human Rights Watch. meskipun angota-anggotanya memakai pakaian sipil ketika berada di daerah sipil. secara khusus melarang “tindakan atau perlakuan kekerasan yang tujuan utamanya adalah untuk menyebarkan teror diantara penduudk sipil. No. Pakaian seseorang sama sekali tidak berhubungan dengan keanggotaan mereka. 10 (C) . tujuh orang secara langsung menyaksikan eksekuso kilat (summary execution) atas orang sipil oleh pasukan keamanan Indonesia sejak dimulainya darurat militer.4 (c). 49 21 Human Rights Watch. dan berpakaian sipil pada saat hukuman mati dilakukan. kematian mempunyai pola. 28 Oktober 2003. Para keluarga boleh jadi diberatuhkan sesudahnya oleh para tentara untuk mengambil dan memindahkan tubuh korban untuk dikuburkan.47 Jenis kedua pembunuhan yang terlihat adalah tembakan kepada orang sipil saat pasukan keamanan Indonesia meninggalkan tempat. tidak bersenjata. Tetapi hidup seseorang –siapa yang membayarnya? —Laki-laki Aceh berusia delapan belas tahun. pasal 13.

50 Seorang berusia duapuluh lima tahun yang meninggalkan Aceh Selatan satu minggu sesudah darurat militer memberitahukan Human Rights watch mengenai minggu pertama darurat militer: Pada tujuh hari itu mereka terus membunuh orang-orang tak bersalah. Dia masih muda. umur tujuh belas tahun.Pada awal darurat militer. Otaknya keluar dari kepala laki-laki terebut. Saya berada sekitar dua puluh meter dari sana. Para tentara di desa kami (nama disembunyikan). 23 Oktober 2003. Tentara tersebut melakukannya beberapa kali sehingga kepada laki-laki tersebut membentur pohon.51 50 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia empatpuluh tahun (nama disembunyikan). Istri dari laki-laki pertama mengatakan bahwa mereka masuk dan bertanya pada suaminya apakah dia GAM. tetapi para tentara tersebut selalu ada di desa mencari-cari GAM. Tentara yang menembaknya kemudian mengatakan kepada para penduduk desa disana untuk mengambil tubuhnya kembali ke desa. Saya melihat tiga puluh petugas Brimob disana. GAM semuanya ada di pegunungan. “Kamu tahu siapa laki-laki ini?” Saya bilang “Ya”. pukul 3 sore.dia Yusuf. Lalu mereka menembaknya. Mereka tidak peduli siapa yang mereka beritahukan. Tubuhnya dihancurkan. Tiga orang tentara. Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh lima tahun (nama disembunyikan). 51 Human Rights Watch. saat itu pagi-pagi sekali. 10 (C) 22 . Malaysia. Vol. 26 Oktober 2003. bulan Mei. Mereka menyeret laki-laki ini sepanjang jalan. setidaknya lima puluh tahun. Begitulah dalam tujuh hari tersebut… Dua orang ditembak di rumah mereka dan seorang dibawa pergi oleh Brimob pada tengah hari. Seorang yang dibawa pergi sudah tua. 15. Para tentara berkata bahwa dia adalah tersangka GAM. Namanya adalah Ibrahim dan dia berusia limapuluh lima tahun. Saya melihat salah satu dari tentara tersebut memborgol pergelangan laki-laki ini. sampai dia mati. “Kamu tahu siapa laki-laki ini?” Jika Kamu berkata kau tidak tahu siapa dia Kamu dipukul. apa pekerjaannya? Mereka memeriksa namanya kepada orang-orang. Namanya Jamal. Mereka bertanya kepada Saya. Mereka sedang memeriksa siapa laki-laki tersebut kepada orang-orang. Mereka orang biasa. Mereka kemudian bertanya siapa yang terlibat dalam GAM. Malaysia. Mereka bertanya kepada setiap orang. Yang kedua kurang lebih sama ceritanya. Saya sedang berada di rumah. Pada hari ke-empat. Seakan-akan lengannya berubah menjadi daging mentah. No. Pada awalnya Saya hanya melihat tiga tentara tetapi kemudian yang lainnya berganung. dan kemudian tentara lainnya memegang kakinya dan mengayunkannya ke arah pohon. Dan lalu mayatnya diletakan di atas tanah dan tentara lainnya menembak beberapa kali kepada mayat tersebut. tetapi Saya melihat tubuh mereka langsung sesudahnya. Mereka tidak mengancam para penduduk desa. di awal dua puluh-an.

Laki-laki itu bukan GAM. 31 Oktober 2003. Malaysia. Ada lebih dari limapuluh orang. Kakak saya sedang 52 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki di usia duapuluhan (nama disembunyikan). ada kejadian. Malaysia. Saya meninggalkan Aceh pagi berikutnya. Begitu tentara tersebut selesai menembak dia memerintahkan penduduk kampung untuk menguburkan tubuh tersebut. menggambarkan pembunuhan di bulan Agustus: Sekitar dua bulan yang lalu (nama dihilangkan). dia tidak bersenjata. Peureulak. Saya melihatnya melalui jendela. Seorang tentara memanggilnya dan menanyakan sesuatu kepadanya. dia hanyalah orang biasa. sebuah M16. Kakak Saya ditembak ketika dia sedang mengumpulkan rumput untuk sapi jam 6 pagi dua bulan yang lalu. Saya melihatnya sendiri. Saya tidak mendengarnya. 53 23 Human Rights Watch. Tentara-tentara datang ke kampung mencari GAM. Saya berada sekitar seratus meter jauhnya. Waktu itu pagi hari dengan sweepings GAM sebagai alasannya. tetapi GAM tidak ada disana. 10 (C) . Ada beberapa jenis tentara disana. Dari jam 6 pagi sampai 6 sore Kamu tidak bisa keluar. pergi untuk mencari GAM di tempat lain. Mungkin jawabannya salah. Kakak Saya berumur tiga puluh lima tahun. 15. Vol. Kamu tidak bisa keluar kemanapun. Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia dua puluh tahun *nama disembunyikan). Saya segera bangun. 26 Oktober 2003. Mereka mencari-cari GAM.52 Seorang laki-laki dari Peureulak. dan dia mempunyai istri dan dua orang anak. Kakak Saya ditembak di rumah kami. Tidak ada satu pun jadi mereka menembak warga kampung akhirnya. sekitar duapuluh tahun-an. sekitar duapuluh orang tentara yang terlihat. Para tentara kemudian pergi.53 Seorang laki-laki berusia duapuluh lima tahun yang juga dari Peureulak di Aceh Timur bercerita tentang penembakan kakak laki-lakinya pada akhir Juli: Sejak darurat militer dimulai segalanya menjadi panas. Tentara lainnya lalu menembaknya di kepala dan lagi di bagian kanan atas tubuhnya dengan senapannya. No. tetapi pada akhirnya tidak ada GAM. Jam 6 pagi. TNI memasuki kampung. Saya mau membawa tubuhnya kedalam tetapi Saya tidak bisa. beberapa dari daerah sana dan beberapa dari luar. Hanya ketika mereka pergi saya baru bisa melakukannya. Saya sedang di rumah Saya. Aceh Timur.Seorang laki-laki di usia duapuluh-an memberitahukan Human Rights Watch mengenai eksekusi kakak laki-lakinya seminggu sesudah pernyataan darurat militer: Kakak Saya – dia hanya orang biasa – ditembak. Dia keluar dan mereka segera menembaknya. dia bangun untuk mengambil wudhu sebelum sembahyang. di belakang mereka Saya tidak tahu. Mereka bertanya kepada penduduk di kampung. Ada seorang laki-laki.

Saya ada di rumah. “Bapak ditembak orang tak dikenal” Dia ditembak sekali di kepalanya dan sekali lagi di sebelah kirinya. Dua orang dibunuh. Sesudah mereka keluar dari hutan mereka mengumpulkan semua orang. Malaysia. Malysia. Sesudah para tentara pergi Kami menguburkan mayat mereka. 55 Human Rights Watch. Sesudah itu kami ditanyai. Saya berada jauh dari lapangan tersebut (dua puluh lima meter). dekat kandang. sampai jam 11. dia kakak Saya. Kami tidak diperbolehkan mendekati mayat-mayat tersebut.55 Human Rights Watch mempelajari empat peristiwa ketika tentara Indonesia menembak laki-laki muda yang sedang berlari ke sawah atau hutan untuk menyembunyikan diri dari tentara selama operasi sweeping. Saya tidak tahu nama mereka karena mereka dari kampung lain.54 Human Rights Watch juga diberitahu mengenai dua peristiwa yang mana para penghuni dikumpulkan bersama untuk ditanyai dan membawa pada kematian. Mereka menanyai kami tentang GAM. sesudah dua jam.30. Saya sedang di sekolah ketika kami diperintahkan untuk berkumpul di lapangan sepak bolah dekat pantai. menggambarkan pembunuhan dua laki-laki yang tidak bersenjata dalam pakaian sipil: Pukul 5 di pagi hari TNI datang dan mengepung kampung. (Kejadian) ini sekitar dua bulan sesudah darurat militer. 31 Oktober 2003. 15. Saksi menggambarkan kepada Human Rights Watch bagaimana beberapa laki-laki ini ditembak ketika berusaha melarikan diri. 28 Oktober 2003. jam 9 pagi. Apakah mereka berusaha melarikan diri semata-mata karena mereka takut diperlakukan tidak semestinya atau karena mereka anggota GAM tidak jelas. Dia memakai seragam hijau dan topi hijau. khususnya laki-laki muda. Mereka bertanya. 10 (C) 24 . Anak laki-lakinya datang ke rumah Saya dan bilang. Seorang berusia dua puluh tahun dari desa di pinggir Lhokseumawe.” “Kuburkan dia!” Lalu mereka kembali ke kota. Mereka menahan kami disana selama empat jam. Seorang tentara menembak mereka berdua dengan M16. “Siapa dia? Kalian tahu dia? Apakah dia GAM?” “Bukan. Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia dua puluh tahun (nama disembunyikan). Anak laki-lakinya bilang bahwa dia melihat tiga tentara dengan samaran datang untuk melihat tubuhnya jam 6. banyak penduduk desa. meskipun mereka bukan dari kampung kami. Tiga jam kemudian. Kami (berjumlah) sekitar 300 orang. No. lari dan bersembunyi ketika tentara memasuki desa mereka.mengumpulkan rumput untuk sapi. di Aceh Utara. Orang-orang ditendang dan ditinju. Ada sekitar lima puluh orang. dan anggota GAM diminta menyerahkan diri. Karena tingginya tingkat ketakutan di Aceh terhadap pasukan keamanan Indonesia. tetapi saksi 54 Wawancara Human rights Watch dengan laki-laki berusia tigapuluh lima tahun (nama disembunyikan). dua belas tentara keluar dari hutan di dekat sana. Saya rasa mereka semua dari Kodim tetapi Saya tidak yakin. Orang-orang diberitahu untuk berkumpul oleh TNI. Vol.

57 58 Meskipun terdapat variasi pasukan keamanan yang luas dan lencana yang hadir di Aceh. Vol. Brimob.sekitar jam 6. tiga strip lebih mengindikasikan prajurit kelas pertama. jadi Saya pergi keluar. Saya melihat seorang laki-laki berlari ke sawah. usia dua puluh tiga tahun. Saya takut hal semacam itu akan terjadi kepada Saya.30 pagi atau sekitarnya. 25 Human Rights Watch. menggambarkan suatu peristiwa yang terjadi akhir September.57 Tidak semua penembakan membawa pada kematian. 28 Oktober 2003. Mereka menggunakan topi biru. tetapi Saya lihat ketika keluarganya membawa mayatnya pergi. tetapi mereka mencurigainya sebagai GAM. juga menggambarkan kematian lain hari tersebut: Seorang berusaha lari ketika kami pertama kali diberitahu untuk berkumpul. Aceh Timur. No. 15. ditembak dari jarak tigapuluh meter. 10 (C) . Mereka tentara non-organik. Saya tidak melihatnya saat dia meninggal.56 Seorang laki-laki yang tiba di Malaysia pada akhir bulan Mei mengggambarkan seorang laki-laki ditembak ketika melarikan diri: Saat itu lima hari sesudah darurat militer dimulai. Mereka tiba khusus untuk darurat militer. Sesudahnya dia dibawa ke pos untuk ditanya oleh TNI. Sesudah itu Saya pergi. Jika kamu tidak lari Kamu dipukuli… Seorang laki-laki bernama Simus. sehingga dia tidak bisa lari lagi dan dia terjatuh.menggambarkan tampak sebagai lak-laki yang tidak bersenjata dan mengenakan pakaian sipil. dan kami berlima bersembunyi di 56 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia dua puluh tahun (nama disembunyikan) Malaysia. sekitar jam 9 pagi. Dia berusia sekitar tigapuluh tahun. Sesudahnya delapan orang tentara membawanya ke pos TNI di desa itu. Saya sedang ada di rumah Saya dan Saya mendengar suara tembakan. Dia ditembak. sekitar waktu sembahyang. Sesudah dua malam TNI membunuhnya di pos mereka. yang menggambarkan (di atas) pembunuhan dua orang laki-laki sesudah para penduduk desa dikumpulkan. Segera sesudahnya seorang tentara menembak kakinya. Dia bangun dan terus berlari.58 Kami berlima lari melalui sawah menuju hutan. Wawancara Human Rights dengan laki-laki berusia empatpuluh tahun (nama disembunyikan). Saya melihat mereka mempunyai tiga strip merah. . di desa (nama dihilangkan). Saya rasa dari Jakarta. Laki-laki berusia dua puluh tahun dari desa di pinggir Lhokseumawe. Dia bukan GAM. dia dari desa ini. satu bulan sebelum dia tiba di Malaysia: Jika Kamu lari Kamu ditembak. di Aceh Utara. Malaysia. Kopassus. kaki kananya. Tentara dengan menyamar datang dalam beberapa kendaraan: Kostrad. Seorang laki-laki berusia duapuluh tahun dari Peureulak. 31 Oktober 2003. Mereka menembaknya di pinggul – Saya hanya berada lima meter darinya.

dia mencoba bergabung dengan GAM hanya saja dicegah oleh keluarganya (termasuk kakaknya yang melawan GAM): Orang tua Saya dipukul pada 17 Agustus 2002 (Hari Kemerdekaan Indonesia). penghilangan.bukan karena kami bersalah tetapi hanya ketakutan. tabib itu mengeluarkan pelurunya. 27 Oktober 2993. Mereka mulai menembak. Saya hanya bersembunyi di pinggir hutan. sehingga orang-orang ketakutan. hasil dari tingkat kekerasan terhadap penduduk sipil di Aceh ini sepertinya menghasilkan efek yang berlawanan dari apa yang militer nyatakan dari strategi operasi terpadu. Dia takut pergi ke rumah sakit jadi kami bawa dia ke tabib tradisional yang bekerja dengan pusat kesehatan. Tetapi bagaimanapun peluru –itu menjadi trauma. Penduduk Aceh menjadi semakin terpolarisasi. 10 (C) 26 . Lalu kami kembali –TNI sudah kembali ke kota. Tentara pergi keatas ke hutan. emosi mereka dikeluarkan kepada orang sipil. Saya mencoba bergabung saat berusia enambelas tahun tetapi kakak dan orang tua saya mencegah Saya. Saya baik-baik saja. Seorang laki-laki berusia delapan belas tahun menjelaskan banwa sesudah dipukuli dan melihat orang tuanya diperlakukan tidak semestinya. 15. Vol. Mereka mencari GAM. No. Jika tidak ada GAM. datang ke desa. Sebagai contoh ada penembakan di awal bulan ini (Oktober). Tingkat pelanggaran hak asasi manusia yang serius di propinsi tesebut serta kekebalan hukum yang menyertainya mendorong orang-orang memihak kepada GAM. empat puluh tembakan? Mereka dari battalion non-organik dari Jawa. Malaysia. Human Rights Watch. minum kopi. seorang laki-laki memberitahu Human Rights Watch: Satu-satunya alasan Saya pergi adalah bahwa tidak ada jaminan keselamatan disana. Kekerasan terhadap orang sipil sudah melewati batas. Mereka melakukan sweepings. Mungkin TNI terlihat terlalu siap. Saya tidak lari. Kami sedang duduk. Mereka mengosongkan tempat peluru mereka –kira-kira berapa ya. Malaysia. ditelanjangi.hutan selama tiga jam. Mereka meyakinkan Saya untuk menyumbang dengan cara lain untuk Aceh. tidak ada orang yang terkena. untuk ekonominya. Militer bertindak diluar sasaran operasinya. 28 Oktober 2003. dua dari mereka. mungkin Kostrad. ketika mereka kembali. Itulah kenapa orang-orang bergabung dengan GAM –untuk balas dendam. Saya sedang di desa di Perureulak. Orang-orang mulai berlarian.59 Dalam peristiwa yang sama di Aceh Timur di awal bulan Oktober. inspeksi yang disertai “hukum militer”: pemukulan. Jadi Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh tahun (nama disembunyikan).60 Apakah dengan sengaja atau sewenang-wenang. 60 59 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh lima tahun (nama disembunyikan). dan dipaksa untuk bernyanyi.

Jadi tentara tersebut membawanya dan melemparkannya ke truk militer. Seorang laki-laki berusia tigapuluh delapan tahun. Tujuh tentara. Dia pergi ke pasar untuk membeli ikan untuk ibunya.” Sesudah itu anak laki-laki tu benar-benar ketakutan. dan tubuhnya dipenuhi bekas-bekas merah. 62 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh lima tahun (nama disembunyikan). “Tidak. Dia diancam dengan senjata. tentara di lapangan yang melakukan tindak kekerasan dan pemerasan dengan hanya sedikit rasa takut akan dihukum. Tujuh orang tentara memberhentikan seorang anak. 15. “Banyak ikannya. TNI menghentikannya. 29 Oktober 2003. memeriksanya karena dia membeli ikan. anak laki-laki. Malaysia. menjelaskan bagaimana keluarganya menemukan mayat adik lelakinya: 61 Wawancara Human Rights Watch dengan seorang laki-laki berusia delapan belas tahun (nama disembunyikan). yang meninggalkan rumahnya di Banda Aceh sehari sebelum darurat militer. 10 (C) . Ketika dia berada di Aceh dia menyaksikan tentara TNI menculik seorang anak laki-laki berusia lima belas tahun: Saat itu tanggal 4 September sekitar jam 10 pagi. No. Dia masih usia sekolah.62 Dalam beberapa kasus mayat dibuang jauh dari rumah korban. Pasar Ulee Glee.” TNI menuduhnya dan mengancamnya. Ada sekitar limabelas orang tentara TNI disana. untuk membeli buah. Saya mau memberikannya kepada ibu Saya. dia benar-benar panik. Saya melihat mayatnya. Kekebalan hukum tingkat tinggi yang ditingkatkan oleh selubung rahasia yang menyelubungi daerah konflik. yang lainnya tinggal di pasar. Saya berhenti di jalan di pasar. Hanya satu. Selama dua hari kami tidak tahu dimana anak itu berada. Penculikan yang Membawa Pada Kematian Pembunuhan lain terjadi diluar penglihatan para saksi. Kemudian mayat anak itu muncul dipinggir jalan. Seorang tentara berkata kepadanya. Dia anak kecil. Vol. Tujuh tentara tersebut mengenakan seragam samaran TNI. Malaysia. Tentara tersebut berkata. Saya mau pulang. 28 Oktober 2003. mungkin sekitar limabelas tahun. membuat identifikasi menjadi sulit. Jawabannya tidak jelas. 27 Human Rights Watch. Mereka tentara non-organik dan berbicara dalam bahasa Indonesia dengan logat Jawa. bekas-bekas merah siksaan. “Kamu pasti mau memberikan ikan ini kepada GAM. Ada luka tembak di dahinya.pada akhinya Saya hanya berdoa untuk kebebasan… Jika Kamu dipukuli tidak kah Kamu merasa butuh membalas dendam?”61 Masalah yang mendasar terletak pada kurangnya pertanggungjawaban di semua tingkat. kamu mau memberikannya kepada GAM? Darimana kamu dapatkan ikan ini?” Anak itu menjawab. Bagian belakang kepalanya semuanya hancur. Seorang laki-laki Aceh yang sudah tinggal di Malaysia selama lima tahun kembali ke Aceh di bulan Agustus selama beberapa minggu untuk mengunjungi ayahnya yang sakit.

Wawancara Human Rights dengan seorang laki-laki berusia enampuluh lima tahun (nama disembunyikan). meskipun mereka mewaspadai bahwa pelarangan terhadap monitoring menandakan bahwa perkiraan tersebut bisa jadi lebih rendah.63 Penghilangan Secara Paksa (Forced Disappearances) Selama tahun-tahun panjang konflik di Aceh. No. 10 (C) 28 .” September 2003.66 Seorang laki-laki berusia duapuluh tiga tahun dari Bireun menjelaskan: 63 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia tigapuluh delapan tahun (nama disembunyikan). dianiyai atau dibunuh. Sementara dalam banyak kasus para pelaku digambarkan sebagai orang tak dikenal. dalam beberapa kasus anggota keluarga atau tetangga dapat mengindentifikasikan mereka. pasukan keamanan Indonesia telah seringkali tersangkut “penghilangan”64 Organisasi kemanusiaan Indonesia Kontras cabang Aceh melaporkan bahwa dari tanggal 19 Mei sampai dengan 18 Agustus terdapat tujuhpuluh delapan penghilangan secara paksa orang sipil. penghilangan secara paksa seringkali terjadi sesudah pasukan kemanan atau orang-orang bersenjata tak dikenal mengunjungi sebuah ruamh di malam hari dan membawa korban pergi dengan kendaraan. Seorang laki-laki dari daerah pesisir di Pidie menjelaskan bahwa ketika warga menemukan mayat mengapung di tepian pantai mereka memanggil Palang Merah Indoensia untuk mengevakuasinya. dan pembunuhan kilat. Seorang saudara yang tinggal di desa dimana mayatnya ditinggalkan menemukannya dan mengenalinya. Kontras Aceh. di depan istrinya. Praktek ini secara pouler digambarkan sebagai ambil malam. Orang yang ditahan dengan cara demikian seringkali disiksa. (Nama dihilangkan) berumur duapuluh enam tahun. mayat tersebut akan dibawa ke rumah sakit atau klinik dan istilah yang digunakan oleh keluarga korban adalah saudara yang hilang.Adik lelaki Saya terbunuh dua bulan lalu di Aceh Utara. dan dibawa ke Koramil. 15. Malaysia. Perang Kotor yang Tidak Terungkap. Vol. 64 “Penghilangan” terjadi ketika penguasa menahan seseorang secara diam-diam dan tanpa pemberitahuan serta menyangkal bahwa orang tersebut dalam penahanan mereka. dan di pagi hari dia pergi dan menemui Palang Merah Indonesia di rumah sakit untuk mengambil mayat tersebut dengan ambulans. tanggal 27 Agustus 2003. Dia membawa mayatnya secara diam-diam ke rumahnya. Dua hari kemudian mayatnya ditemukan di sawah. Sebagaimana hal itu didefinisikan dibawah hukum internasional. 29 Oktober 2003. Dia ditahan dari rumahnya oleh TNI. Jika mayat tersebut dapat diidentifikasi maka akan dibawa ke keluarganya. Dalam kasuskasus lainnya mereka tidak pernah terlihat lagi. Malaysia. “Makalah Ringkas tentang Aceh: Propinsi Aceh. Jika tidak. Sementara aktor non-negara tidak bisa secara teknis melakukan “penghilangan”.65 Di Aceh. GAM mempunyai sejarah melaksanakan penculikan. menutupinya dengan pakaian. Saya memperoleh informasi ini dari keluarga Saya ketika Saya menelepon rumah. 65 66 Human Rights Watch. Seringkali mayat mereka yang “hilang” ditemukan di pinggir jalan atau di sawah berhari-hari atau berminggu-minggu kemudian. keduanya untuk tebusan dan alasan politik. 5 November 2003.

2 November 2003. Kami tidak tahu siapa mereka.” Associated Press. “Pengadilan Aceh akan Mengadili 7 prajurit. Mereka membawanya ke dalam truk TNI dan membawanya ke pos TNI. Saya tidak tahu lagi dimana dia. Rumah Saya sangat dekat dengan ruamhnya. dan mereka yang melanggar peraturan pertempuran (rule of engagement) ini akan harus berhadapan dengan Saya. 10 (C) .67 Seorang laki-laki dari Pidie memberitahu Human Rights Watch: Saat itu lima hari sesudah darurat militer dimulai. Saya berada di rumah sebelahnya. Commander Operasi Militer di Aceh. —Mayor Jendral Bambang Darmono. Malaysia. Mereka mengenakan samaran. dan beberapa dari mereka mempunyai strip merah.” The Jakarta Post.68 Siksaan Fisik Tidak ada bedanya jika mereka anggota GAM atau bukan: tidak satupun dari tentara Saya yang berhak memukul mereka… Tentara Saya datang ke Aceh untuk melindungi orang sipil.70 67 Satu strip merah sepertinya berhubungan dengan tingkat jabatan prajurit. satu persatu. No. 3 June 2003. Wawancara Human Rights Watch (nama disembunyikan). November 2003. Seluruh kejadian itu hanya memakan waktu mungkin sekitar tiga pluh menit. Lely Djuhari. Malaysia. Saya melihat sekitar limabelas tentara TNI membawanya dari rumahnya. Saat itu ada bermacam-macam tentara. 31 Oktober 2003. 28 Oktober 2003. Sampai saat ini dia tidak pernah kembali. Saat itu sekitar jam 5 pagi dan Saya mendengar ketukan yang keras di pintu. —Mayor Jendral Bambang Damono. Itu tidak masalah. Saya pergi keluar ke pinggir lapangan dan menonton tiga truk tentara masuk ke desa. sehingga Saya bangun dan melihat melalui jendela. Kejadiannya sekitar dua bulan yang lalu. Mereka membawa delapan orang malam itu. ada Kopassus dan beberapa memakai topi hijau. 15. Mereka adalah tentara yang baru saja tiba di Aceh untuk darurat militer ini. 69 70 29 Human Rights Watch. Tiarma Siboro. Lalu Saya dengar seseorang menanyakan pada teman Saya (nama disembunyikan) mengenai kartu identitasnya. Setiap orang di desa yang dicurigai dibawa pergi di malam hari… Saya melihat seorang laki-laki dibawa pergi dari rumahnya hanya mengenakan pakaian dalam dan dimasukan kedalam truk. tentara Saya menghantam tersangka di wajahnya. Selama dia mampu berfungsi sesudah ditanyai. “Komandan di Aceh Menyangkal Tuduhan Penyiksaan. semuanya laki-laki. Vol. 68 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh tahun (nama disembunyikan).Situasi sekarang sangat menyeramkan. Jika itu adalah siksaan berat yang menyebabkan seseorang menjadi cacat… itu adalah tidak-tidak. 2 June 200369 Sebagai contoh. bulan Agustus. Delapan orang tersebut tidak pernah terlihat lagi sejak saat itu – kami tidak tahu apa yang terjadi kepada mereka.

kakek berusia sembilan puluh tahun. Banyak orangorang Aceh yang dianiyai kami minta bicara untuk menjelaskan apakah mereka melakukan atau tidak sesuatu yang salah atau tak salah. Dalam kasus-kasus lainnya kekerasan nampak menjadi sangat sewenang-wenang. seperti selama pencarian rumah-ke-rumah atau ketika para penghuni diperintahkan untuk berkumpul di tempat tertentu. Setiap orang harus berlatih. Seorang laki-laki yang tiba bulan Oktober dari Pidie menggambarkan peristiwa dimana TNI dan Brimob mengumpulkan dan menyerang penghuni. Kamu akan dipukuli sampai mati. Human Rights Watch. Pertama kali tanggal 13 Juni 2003. “Apakah ada GAM?” Jika kami bilang “Ya” Kami mendapatkannya [pukulan]. Mereka bermalam disana tetapi kami semua dilepaskan kemudian. Vol. dua diantaranya membawa pada kematian: Kami dipukuli secara terus menerus. No. berdasarkan tegangnya tingkah dan kecurigaan tentara dan petugas polisi. anak-anak. mengindikasikan ketidaksabaran atau ketakutan terhadap sasaran yang suka dipahami dan kegagalan untuk membedakan antara orang sipil dan oposisi bersenjata. jika Kami bilang “tidak” Kami mendapatkannya. tua dan muda. Mereka mengumpulkan 300 orang dari satu daerah pemukiman tersebut –ada tiga atau empat desa. Menjawab “Saya tidak tahu” dan Kami mendapatkannya juga.Banyak orang-orang Aceh yang diwawancarai oleh Human Rights Watch menggambarkan tindakan kekerasan yang dilakukan pasukan keamanan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. dari beberapa desa. Banyak kekearan ditujuan kepada orang sipil nampak diimaksudkan untuk mengidentifikasi anggota dan pendukung GAM. tujuhpuluh dua orang dibawa ke rumah sakit umum di Sigli. Korban seringkali digambarkan diinterogasi dengan tuduhan “Kamu adalah GAM!” atau pertanyaan “Siapa yang GAM? Dimana GAM?” Sering kekerasan ini terjadi selama operasi sweepings di desa-desa. Seorang laki-laki yang meninggalkan Aceh bulan Agustus menjelaskan: Jika Saya tinggal di Aceh. kekerasan terhadap orang sipil terjadi hanya sebelum atau sesudah operasi militer di daerah GAM. Malaysia. Artinya kami mati. Saat mereka membolehkan kami beristirahat. 10 (C) 30 . Mereka memerintahan orang-orang untuk tiarap dan memukul dada dan 71 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh enam tahun (nama disembunyikan). Suatu waktu seluruh orang didalam satu area berkumpul bersama. Hal ini terjadi dari jam 9. 26 Oktober 2003. 15. Sesudahnya kami dibariskan dan diperintahkan untuk melakukan latihan (melakukan lari di tempat).30 pagi sampai dengan jam 2 sore. atau untuk mengirim peringatan kepada penduduk desa. bersalah atau tidak Saya dihajar.71 Dalam beberapa instansi. Jika Kamu tidak mau berlatih. Jika Kami sedang duduk-duduk seperti ini di Aceh. Brimob akan bertanya kepada kami. perempuan. Dua kali ini terjadi.

Angkatan Laut.74 72 73 Wawancara Human Rights Watch (nama disembunyikan). GAM sudah pergi ke tempat lain. gigi mereka dijotos oleh tentara Kostrad. barisan perempuan GAM. 5 Nopember 2003. Lima orang pemilik toko lainnya adalah (nama dihilangkan). kami semua orang biasa. dan memukul mereka dengan uujung senapan. tetapi Saya tdiak bisa melihat kepada mereka secara langsung. Dua orang yang meninggal diinjak di dada dan leher. Umar Bin Usman. Laporan media telah memerinci peristiwa yang sama yang mana sekelompok besar laki-laki dan perempuan ditanyai dan dipukuli dan satu atau dua orang laki-laki dipisahkan dan ditembak. Mereka terlihat sebagai GAM. Rajawali yang melakukannya. 10 (C) . 31 Mei 2003.” Tidak ada satupun. Saya hanya berada empat meter dari mereka yang terbunuh.” Los Angeles Times. Rajawali. “Siapapun yang GAM. mereka berduabelas. Hal ini berlangsung dari jam 5 sampai jam 7 malam. Mereka bilang. Mereka bukan GAM.73 Seorang berusia empatpuluh tahun dari Pidie yang tiba di Malaysia bulan Oktober sesudah dua bulan di Medan menggambarkan peristiwa dalam minggu-minggu sebelum dia meninggalkan Aceh: Jam sepuluh pada suatu malam Kami semua pemilik toko diberitahukan untuk mematikan semua lampu. Mereka memukuli badan Saya dengan senjata mereka. menanyai mereka. dan kami semua dipukuli. 15. dan menendang kami. “Separatis Perang Indonesia Menuntut Para Pemuda. Dua oranng meninggal di tempat. Paddock. sementara tujuh orang perempuan dituduh sebagai inong balee.muka mereka. dan Saya meninggalkan Aceh sepuluh hari kemudian. kami berenam semuanya dipukuli. 74 31 Human Rights Watch. angkat tangan. 20 Oktober 2003. Wawancara human Rights Watch dengan laki-laki berusia empatpuluh tahun (nama disembunyikan). Kami dikumpulkan di pos penjagaan terdekat oleh para tentara. Hari berikutnya kami dipukuli karena mematikan lampu! Enam pemilik toko dipukul. Malam itu kami membiarkan lampu menyala. Mereka semua memukul kami seakan-akan kami kerbau air. mungkin karena mereka bertubuh besar. Mayat mereka dikembalikan kepada keluarga mereka dan dikuburkan. usia 32 tahun. Orang-orang ini adalah BKO. dan Muhammad Ali. usia 21 tahun. Brimob. Mereka menghancurkan kuku jempol Saya dengan kakatua – lihat? Mereka menaruh jempol jari kaki Saya dibawah bangku dan menekannya ke bawah – yang ini sudah tumbuh kembali. Malaysia. Kami berduapuluh termasuk para pelanggan yang kebetulan berada disana.72 Laki-laki tersebut melaporkan bahwa tiga minggu kemudian operasi bersama TNIBrimob yang lain membariskan para laki-laki. Paling banyak Kamu cuma bisa melirik lama. tetapi itu tidak ada. Vol. Mereka bilang itu karena Kami mempunyai radio untuk berkomunikasi dengan GAM. No. Para tentara adalah campuran. jadi kami lakukan. Rajawali dari Jawa. dan dipaksa untuk telanjang. Lihat Richard C.: Kopassus.

mencari ikan. Sesudah dua malam mereka kembali. Peristiwa ini juga mengilustrasikan kombinasi pemerasan dan kekerasan yang sudah menjadi hal biasa di jalanan dan toko-toko di Aceh: Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh dua tahun (nama disembunyikan). Malaysia. Vol. dua puluh orang dikumpulkan bersama (oleh TNI) dan dipecah dalam empat kelompok. Saya beritahukan mereka begitu tetapi mereka bilang. mereka bertiga. Saya bahkan tidak bisa menjawab pertanyaan mereka lagi. dan celana panjang seragam. lalu kembali ke Pidie. Saya tidak ingat berapa kali. Saya baru tiba di pantai ketika beberapa marinir bertanya pada Saya. 75 Human Rights Watch. Mereka tidak berseragam.” “Memberi makan kepada GAM?” “Tidak. Saya baru saja kembali dari laut dalam kapal ikan Saya. Tujuh hari kemudian Saya pergi ke Banda Aceh untuk mendapatkan paspor. Mereka selalu menaruh kami orang biasa di depan. sementara teman Saya dari kapal yang sama dipukuli diluar rumah. Saya dibawah ke sebuah rumah kosong. memang ada!” Sesudah dua jam Saya dibebaskan. tetapi tidak ada seorang pun yang dapat Saya beritahukan kepada mereka. Mereka tidak melihat pertanda apapun dari GAM. Orang-orang yang memukul Saya adalah marinir. dan dua marinir berdiri di atas tangan Saya sementara seorang menginjak leher Saya. 10 (C) 32 . Hanya berusaha mencari makan.” Mereka tidak peduli.75 Seorang laki-laki berusia duapuluh delapan tahun yang tiba di akhir Agustus dari Aceh Timur menggambarkan konsekuensi ditangkap tanpa KTP Merah Putih (lihat dibawah).Seorang laki-laki berusia duapuluh dua tahun dari Pidie menggambarkan peristiwa dari awal September dimana orang sipil dipaksa untuk mengambil bagian dalam operasi militer: Suatu waktu pada jam 4 pagi. tapi mengenakan kaos hijau bertuliskan Marinir di punggung. Banyak orang dipukuli hari itu. “Siapa di desa yang GAM?” Mereka mencoba memaksa Saya untuk mengindentifikasi mereka. Lalu mereka menyiramkan air kepada Saya untuk membangunkan Saya dan Saya ditendang lagi. termasuk Saya. Mereka dibawa ke pegunungan untuk mencari GAM. 29 Oktober 2003. Mereka melakukannya sampai Saya pingsan. Mereka bertanya kepada Saya. Mereka membuat Saya tiarap. 15. No. “Kamu darimana?” “Dari laut. dan sesudah mereka kembali TNI memukuli banyak orang. sekitar jam 8 pagi. mengambil barangbarang Saya dan pergi hari itu juga. “Ya.

Dia lupa membawa KTPnya. dalam usaha yang nampak untuk mengitimidasi atau memperoleh informasi. dan mereka menendangnya tiga kali di kaki. Mereka berduabelas. Mungkin mereka pikir dia GAM. Saya melihat hal ini terjadi kepada teman Saya dan Saya pergi pagi berikutnya jam 7. Malysia. Saat itu sudah senja hari. TNI datang. Saat itu 28 Agustus. Mereka membiarkannya bangun. Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh tiga tahun (nama disembunyikan). Ketika dia jatuh mereka menendangnya di punggung. ketika orang-orang sedang berebelanja. Ketika mereka masuk adik Saya sedang duduk di lantai menonton TV. adik Saya dan Saya. Kami membawa adik Saya ke dokter dan ke dukun patah. sekitar jam lima.000. karena dia berdarah dari luka dikepalanya. mengambil satu juta rupiah (US$120) dari bawah kasur. 31 Oktober 2003. dengan dua truk. Sekitar jam 9 malam. Saya duga untuk mencari senjata. Vol. Ada kami bertiga di rumah – ibu saya.76 Kekerasan juga terjadi selama pencarian di rumah. 15. Dia hanya mempunyai Rp 100.77 Seorang laki-laki dari Bireun yang meninggalkan Aceh ke Malaysia di pertengahan Oktober memberitahu Human Rights Watch: Bulan Mei jam 8 pagi di desa dekat rumah Saya. dan mungkin lima orang terlibat memukulnya. Dia bilang mereka bertanya apakah dia GAM dan dia bilang bukan. dan dia berikan kepada mereka. “TNI tolong jangan pernah berada di Aceh 76 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh delapan tahun (nama disembunyikan). Dia dipukul di kepala dia terjatuh. Ketika kami membawanya ke rumah dia masih pusing-pusing. Lalu mereka meminta uang darinya. dan tentara sedang memeriksa. Saya hanya bicara dengan keluarga Saya lewat telepon dan adik Saya masih belum baik. Kami sekelompok membawanya dengan truk ke Rumah Sakit Simpang Ulim. “Saya tidak tahu.000 (US$ 60). Mereka memukul adik laki-laki Saya. Rp 500.” Di jalan terdapat tulisan yang bilang. kami membawanya pulang. Saya sedang duduk di kedai kopi dengan teman Saya. Mereka masuk ke toko dan menanyakan KTP setiap orang. mematahkannya. Saya lari dan bersembunyi di dalam hutan. Ada sekitar tigabelas tentara.Saya melihat seorang teman Saya dipukul.. seperti sedang mabuk. Seorang laki-laki berusia duapuluh tiga tahun dari Bireun menggambarkan apa yang terjadi bulan September: Brimob pernah datang ke rumah Saya. dan lalu mereka pergi membeli makanan. Mereka merampok rumah. Dia satu-satunya yang tidak membawanya. Ketika mereka tiba mereka bertanya pada Saya. 10 (C) . Malaysia. dan Brimob datang dari pos mereka di desa sebelah ke toko untuk membeli makanan. Mereka datang jam 9 pagi. 31 Oktober 2003. No. 77 33 Human Rights Watch. Ketika Saya melihat mereka datang. “Siapa yang menulis ini di jalan?” Saya bilang. dan dia diperintahkan untuk duduk di pantai.

338 anggota GAM ditahan. Vol. Dalam pernyataan awal militer mengatakan bahwa mereka sudak membebaskan 145 tersangka karena kurangnya bukti. 4 desember 2003. memeriksanya dan lalu berkata bahwa Saya GAM. Tujuh kali. di depan dan belakang.78 Seorang laki-laki dari Aceh Timur memberitahu Human Rigths Watch: Saat itu dua hari sesudah darurat militer dimulai. Penguasa militer sudah memasukkan 1. Mereka membuka baju dan celana panjang Saya dan mengikat tangan Saya dibelakang punggung dengan tali. satu yang khusus untuk darurat militer. 80 79 Human Rights Watch. Mungkin sekitar seratus orang. Malaysia.” Belasan tentara lalu menembakan senapan mereka ke udara. 10 (C) 34 . Wawancara Human Rights dengan laki-laki beruisa duapuluh tiga tahun (nama disembunyikan). Saya tidak tahu apa yang akan terjadi suatu hari jka Saya tidak bisa lari lagi. Itu adalah Batallion Siliwangi yang biasanya berlokasi di Pos Peudada. “Kenapa Kamu memukuli Saya. Saya bilang. Mereka juga mengambil cincin dan uang Saya. Saya hanya punya mereka yang tidak melakukan kesalahan yang tinggal untuk dipukul. Mereka pergi sekitar jam 10. 13 November 2003.” Sinar Harapan.” Sesudah ini terjadi. Saya dibawa ke rumah sakit oleh orangorang di desa.016 kasus kepada kantor kejaksaan. 24 Oktober 2003 Anggota Batalion Siliwangi yang dituduh dan dibebaskan di pengadilan militer karena pemukulan di Dewantara.80 78 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia tigapuluh dua tahun (nama disembunyikan).net. No. Pusat Penerangan TNI. Saya bilang. “Bukan. Dia mengikat tangan Saya dibelakang punggung dan memukul Saya langsung karena Saya tidak memberitahunya dimana GAM berada. termasuk 912 pejuang dan 416 pendukungnya. Bukan pos yang biasa. daan 561 sudah dijatuhi vonis. Ada banyak tentara di jalan. “120 Napi GAM akan dipindahkan ke Jawa” Serambi. Mereka menanyakan KTP Saya. Setidaknya 500 ditemukan bersalah dan dijatuhi hukuman. Ketika dia sedang memukuli Saya.79 Penahanan Secara Sewenang-wenang dan Ketiadaan Proses Pengusutan Banyak dari mereka yang tertangkap karena dicurigai kenggotaan atau dukungannya terhadap GAM sepertinya diadili atas tuduhan makar. Sekitar sepuluh orang dipukuli tetapi Saya satu-satunya yang diikat.” dan lalu Saya dipukuli. “GAM Masih Kuat. Mereka benar-benar dekat dengan Saya. Dia menendang Saya di dada. 15.338 Anggota Pemberontak GAM Ditahan. Saya tidak tahu kenapa. Kantor penerangan TNI melaporkan bahwa sampai tanggal 4 Desember. Saya sedang sendirian di jalan menuju ke toko. Saya bukan. Sesudahnya tiga tentara memukul Saya. 20 Oktober 2003. Saya melarikan diri ke Malaysia. Mungkin sekitar jam 10 pagi. Muka Saya berdarah. Malaysia. Pendengaran Saya rusak dari saat mereka menembakan senjata mereka ke udara.” Laksamana.” 4 Desember 2003. Aceh Utara. tanggal 30 Agustus. Saya tidak melakukan kesalahan apapun. Salah satu dari mereka menghentikan Saya di jalan.” Dia bilang. 1. “PDMD Tentukan Amnesti Anggota GAM. “Semua orang yang sudah melakukan kesalahan sudah melarikan diri.lagi. “1. 9 Nopember 2003.

Organisasi non-pemerintah Kontras sudah melaporkan bahwa banyak dari mereka yang ditahan telah dituduh dengan tuduhan makar.82 Dalam wawancara di rumah tahanan. 7 Desember 2003. menimbulkan perhatian kepada proses pembelaannya.” September 2003. seorang laki-laki berusia delapan belas tahun dari Aceh Besar memberitahukan Human Rights Watch: Pada bulan September Brimob datang ke desa dan mengambil seseorang. Kontras juga melaporkan bahwa sampai dengan tanggal 18 Agustus terdapat 213 kasus penangkapan dan penahanan secara sewenang-wenang.” Press Release. Berhasil Ciptakan Ketergantungan Sipil pada Militer. dan diperkirakan bahwa sampai bulan Oktober hanya seratus orang yang mampu memperoleh bantuan hukum. Dia seorang tetangga dan Saya melihatnya. “Komandan Aceh menyangkal tuduhan penyiksaan. 22 November 2003. Sampai sekarang tidak ada tanda-tanda dia akan dibebaskan. Mereka membawanya ke Kodim di Jambu Tape. hanya orang biasa. Mereka datang dengan truk berisi tigapuluh lima orang. Vol. Propinsi Aceh. 26 Oktober 2003.” Associated Press. Perang koto yang Tidak Terungkap. 10 (C) . 20 Oktober 2003. Tidak diketahui 81 Suatu penangkapan atau penahanan adalah sewenang-wenang ketika dilakukan oleh penguasa negara tanpa dasar hukum yang sepatutnya dan untuk melakukan hal tersebut. Kontras. tetapi tidak mengeluarkan surat perintah. Malysia.81 Seorang anggota Lembaga Bantuan Hukum di Aceh melaporkan banyak orang yang ditahan yang mereka wakili menyatakan bahwa mereka tidak lebih daripada membelikan kopi untuk pemberontak. Wawancara Human Rights Watch dengan seorang laki-laki berusia delapan belas tahun (nama disembunyikan). 84 35 Human Rights Watch. 83 82 “Tersangka Pemberontak Indoneisa Memberitahukan Teror di Rumah Tahanan. atau membantu menguburkan tersangka pengacau. Pengacara bantuan hukum dalam artikel tersebut memperkirakan bahwa 40 persen terdakwa tidak mempunyai akses ke pengacara. Mereka juga melaporkan bahwa delapan puluh klien mereka menderita penyiksaan selama ditanyai dalam penanganan militer atau polisi. “5 Bulan Darurat Militer. Sebagai tambahan kasus yang dikutip diatas. Saya tidak tahu kenapa –mungkin mereka mendapatkan suatu informasi dari seseorang. Dia berusia tigapuluh lima tahun dan mempunyai dua orang anak yang masih muda.83 Mereka yang diwawancarai menggambarkan banyak kasus dimana polisi atau TNI secara tiba-tiba datang dan membawa pergi seseorang atau beberapa orang.84 Lajunya langkah dan tingginya jumlah kasus. dan bahwa pengadilan selama 1 jam tersebut terjadi tanpa pengacara pembela atau saksi dan menghasilkan hukuman paling banyak lima tahun. Dia ditutup matanya dan tangannya diikat. Orang ini adalah orang biasa –tidak kaya atau miskin. Mereka membawanya jam 8 pagi.” Associated Press. No. Kontras Aceh. menghadiri beberapa pertemuan. dalam propinis dengan beberapa pengadilan yang bekerja. 15. para terdakwa mengatakan kepada seorang jurnalis bahwa mereka mengalami penyiksaan selama interogasi. “Makalah Ringkas tentang Aceh.

mereka hanya datang dan menangkapnya… Ketika mereka menangkapnya Saya ada di kebun Sebelum Saya kembali ke desa Saya mendengar apa yang telah terjadi jadi Saya tidak kembali.86 85 Wawancara Human Right Watch dengan perempuan berusaia tigapuluh tahun. anak-anak perempuan. sampai sekarang. kurangnya informasi dan waktu tambahan yang disediakan oleh kerangka hukum darurat militer. Dua tentara tersebut mengetuk pintu “buka pintu!” Keduanya membawa senjata. “GAM tidak bisa diberikan sesuatu yang baik. Dia memberitahukan Human Rights Watch: Sekitar jam 10 malam. “Dia tidak ada disini. Jam 10 pagi Kami mendapatkan nasi dan ikan. Saya membayar sepuluh juta rupiah (US$1200) sebelum akhirnya mereka membiarkan Saya bebas… kepada kepala Koramil. Seorang perempuan dari Aceh Selatan mengatakan bahwa dia ditahan bulan Oktober oleh militer. Keluarga saya sudah memberikan delapan juta rupiah (US$940) kepada Komandan polisi militer di Bireun. Malaysia. Ketika mereka menangkapnya mereka membawanya ke Samalanga. 86 Human Rights Watch. Salah satu teman saya ada didalam bersama dengan tujuh anaknya. Malaysia. Para tentara tersebut berkata pada kami. perempuan. Saya sudah tidur. Ada tigapuluh sembilan tentara dan Brimob dari Jakarta. kepada Komandan operasi Aceh Selatan… Di Koramil terdapat banyak orang dari desa.85 Seorang laki-laki lain memberitahu Human Rights watch mengenai penangkapan istrinya bulan September: TNI menangkap istri Saya tanpa alasan apapun… Sekitar jam 8 pagi. tetapi masih ada yang lainnya di luar rumah. dua orang tentara datang ke rumah Saya dengan senjata. (nama disembunyikan). Komandan militer memberitahu istri Saya bahwa jika Saya kembali ke desa hari berikutnya dia akan dilepaskan… Dia benar-benar tidak tahu apa salah yang sudah dia lakukan. Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia tigapuluh tujuh tahun (nama disembunyikan). Saya tidak tahu dimana dia. No. Dia meminta lebih tetapi tidak ada uang lagi. Vol. 10 (C) 36 . 15. “Suamimu ada disini?” Saya bilang. malam hari kadang-kadang nasi. tidak diperbolehkan untuk membuat makanan yang enak. Saya hanya orang dusun biasa. dan menahannya tanpa tuduhan di Koramil lokal. Didalam kijang tersebut. kami dibawa ke Koramil. 26 Oktober 2003. Beberapa dari mereka sangat kecil dan juga seorang laki-laki tua yang sedang sangat sakit. 5 Nopember 2003.” Saya bukan GAM. tidak ada peristiwa apapun. Mereka bertanya kepada Saya. jam 3 sore nasi.” Mereka membawa Saya langsung ke Koramil dengan kijang. beberapa laki-laki. Beberapa hari tidak ada nasi.sampai tingkatan apa tahanan diproses sehubungan dengan hukum. sekitar 300 orang.

banyak orang-orang Aceh masih belum menerima kartu-kartu mereka sampai kini. Dalam prakteknya. “Persyaratan KTP Baru Menambah Lebih Banyak Penderitaan Bagi Rakyat Aceh. bukan normanya. No. pembatasan kebebasan bergerak apapun oleh pemerintah untuk alasan kemanan harus mempunyai dasar hukum yang jelas. setiap batasan harus menjadi pengecualian. “KTP sementara Aceh berlaku 1 Juli. simbol tersebut kemudian lebih dikaitkan dengan kondisi penindasan. Mereka yang tidak datang lalu dianggap sebagai anggota GAM. dan dibatasi untuk apa yang penting dan sebanding. Departemen Luar Negeri. Dimaksudkan untuk menegakkan kesetiaan kepada negara Indonesia. penduduk Aceh sekarang diwajibkan untuk memperoleh kartu merah dan putih khusus. Betapapun.87 Sementara hal ini bisa jadi adalah motif yang utama.com.89 Pernyataan Menteri Luar Negeri menjelaskan bahwa tertanggal 10 Agustus.” The Jakarta Post. Pada akhir Juli kepala sebuah Kabupaten memperkirakan bahawa hanya 60% dari penghuni yang mempunyai kartu baru dan bahwa dia tidak akan bisa menyelesaikan pekerjaannya pada akhir bulan tersebut tanpa bantuan dari polisi dan militer.” 4 Desember 2003. tidak pernah mendapatkannya. Pusat penerangan TNI. motif lainnya yang penting adalah untuk memaksa semua orang Aceh untuk datang sendiri ke depan petugas. persyaratan kartu identitas baru mempunyai pengaruh yang berarti terhadap orang-orang Aceh yang kartunya sudah hilang. tertinggal. 2003. Kartu Tanda Penduduk merah putih. “Tujuhpuluh pesen penduduk yang harus memiliki kartu identitas sudah mempunyai kartu merah putih di tangan mereka. Sebagai orang yang hanya bisa mendapatkan kartu di daerah tempat tinggalnya. memungkinkan mereka melalui sweepings tanpa terdeteksi. sampai batas akhir penutupan. Tertini ZB Simanjuntak.88 Batas akhir untuk mempunyainya ditentukan tanggal 31 Juli.Pembatasan Kebebasan Bergerak Sembilan hari sesudah darurat militer dimulai. 29 May. “Makalah Ringkas mengenai Perkembangan Terkini di Propinsi Nangroe Aceh Darusslam (NAD periode: 19 Mei-10 Agustus 2003.90 87 88 Nur Raihan. Meskipun mereka membutuhkan KTP baru untuk bergerak secara bebas. Komandan militer Mayor Jendral Endang Suwarya mengumumkan bahwa KTP baru akan dikeluarkan karena begitu banyak yang sudah dicuri oleh GAM. Vol. 10 (C) .” detik. Darpada kartu identitas Indonesia biasa yang diwajibkan seara nasional. 89 90 37 Human Rights Watch. Pengeluaran kartu identitas tidak bertentangan dengan hukum internasional. disusul dengan inspeksi besar dan operasi penegakan yang dimulai 1 Agustus. Mereka yang tidak mempunyai KTP baru menjadi target kekerasan secara khusus dan harus membatasi gerakan mereka secara berarti.338 Anggota Pemberiontak GAM ditahan. ABRI mengumumkan bahwa 95 persen penduduk Aceh sudah memenuhi persyaratan untuk mempunyai kartu identitas baru. 28 Juli 2003. siapapun yang berada diluar daerahnya ketika persyaratan baru diterapkan menghadapi resiko saat bepergian kembali ke rumah.” Pada tanggal 4 Desember. “1. atau diambil oleh GAM atau pasukan keamanan Indonesia. GAM biasanya menggunakan strategi dengan merampas KTP orang sipil untuk membingungkan TNI dan polisi (Polri). seperti yang terjadi di Timor Timur 1999. 15. Tujuan dari dikenalkannya KTP merah-putih adalah untuk memisahkan orang sipil dengan anggota GAM. Itu adalah warna bendera Indonesia.

” 93 91 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh lima tahun-an (nama disembunyikan). Akhirnya Saya mendapatkan KTP melalui KTP keluarga kakak laki-laki Saya. kepala kepolisian.S. Saya dapatkan dari kantor polisi di Singli. 29 Oktober 2003. Jika Kamu tidak dapat menyanyikannya dia memerintahkanmu untuk berdiri di lapangan. Tuntutan untuk menyuap adalah rutin. Saya mau pergi ke Malaysia tetapi Saya tidak bisa. Beberapa orang menggambarkan bahwa mereka membayar lebih untuk mendapatkan kartu mereka. Wawancara Human Rights Watch dengan seorang laki-laki berusia duapuluh lima tahun (nama disembunyikan).91 Proses mendapatkan identitas baru sulit. Human Rights Watch. Malaysia. dalam kasus yang lain Rp 200. dan kepala kabupaten.000 (U.92 Seorang perempuan dari Pidie memberitahukan Human Rights Watch: Di awal bulan ini saya mendapat KTP Saya. Saya menghabiskan dua bulan (di Banda Aceh). “Hormat kepada matahari sampai Kamu bisa menyanyikan lagu kebangsaanmu.S. Dia bilang. yang sudah lama tinggal di Malaysia tetapi kembalikan ke Aceh di August.000 (US$3). 93 92 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki duapuluh tahun (nama disembunyikan). Butuh tiga hari sebelum Saya mendapatkan KTP Saya. menjelaskan prosesnya: Saya melihat bahwa jika Kamu tidak mendapatkan KTP Kamu tidak akan bisa aman. Pidie. Tetapi proses mendapatkan KTP Merah Putih sangat sulit. membutuhkan izin pendahuluan dari kepala desa. Setiap hari terasa menakutkan. No. dan tanda tangan dari komandan Koramil. 6 November 2003. Malaysia.Seorang laki-laki menggambarkan sulitnya mendapatkan kartu ketika dia sudah meninggalkan desa tempat tinggalnya ke ibukota Banda Aceh untuk alasan keamanan: Dengan tanpa KTP Saya takut keluar. dalam satu kasus Rp 50. Saya pergi ke Medan dan Malaysia. Di kantor Polisi. Sebelumnya Saya takut meninggalkan rumah. Dengan KTP Saya bisa pergi ke Medan dengan bis umum. dia memerintahkan Kami untuk menyanyikan Indonesia Raya (Lagu Kebangsaan).$24). Vol. ke kepala kecamatan dahulu. lalu ke polisi.000 (U. KTPmu tidak akan dikeluarkan. Seorang laki-laki dari Pidie. Saya harus membayar Rp 25. 15. Kepala desa Saya ikut bersama Saya. karena Kamu harus datang sendiri untuk menandatanganinya. Kami datang kesana untuk mendapatkan KTP dengan semua dokumen. Surat kuasa dari kepala desa. Kamu harus pergi ke kantor kepala kecamatan setelah Kamu difoto. Malaysia. Jika Kamu tidak datang. 10 (C) 38 . 28 Oktober 2003. kembali lagi ke kepala kecamatan.$6) kepada kepala kecamatan untuk mendapatkan kartu dengan untuk pergi.

diduga karena tidak mempunyai kartu atau karena alasan lainnya seperti mempunyai nama atau wajah yang sesuai (atau memiliki persamaan) dengan satu dalam daftar yang dimiliki tempat pemeriksaan. atau bersembunyi di hutan sampai mereka bisa menemukan jalan untuk pergi ke Malaysia. setiap orang keluar. Mayoritas orang-orang Aceh yang diwawancarai oleh Human Rights watch meninggalkan Aceh dengan bis ke Sumatera Utara. 31 Oktober 2003. dan hampir semuanya menggambarkan pemeriksaan yang berulangulang terhadap kartu merah putih. Kesalahannya adalah tidak membawa KTPnya bersamanya. teman seorang saksi yang berusia dua puluh tahun dipukuli: Di lapangan tersebut teman Saya dipukuli. Ketika dia bangun dari mulutnya keluar darah. Aceh Utara. 95 39 Human Rights Watch. Semua bis harus berhenti. Sesudah itu enam orang diambil. Kamu GAM!” Mereka menendangnya di perut dan dia terjatuh. Ada pemeriksaan di Peureulak. Malaysia.” “Tidak. Lebih dari sepuluh orang melaporkan bahwa ada lakilaki muda dikeluarkan dari bis yang mereka naiki.94 Nampak sulit meninggalkan Aceh tanpa kartu merah putih. Selama salah satu peristiwa yang sudah disebutkan di atas mana TNI memaksa penduduk desa untuk berkumpul dan membunuh tiga orang di desa dekat Lhokseumawe. penganiayaan atau pemerasan.” The Jakarta Post. “Komnas HAM akan Menyelidiki Pelanggaran Aceh. Dia bilang. Vol. KTP diminta. Ada beberapa laporan operasi sweepings terhadap orang-orang Aceh di propinsi Sumatera Utara dan Riau. 10 (C) . TNI mencari GAM. KTP merah putih menjadi suatu kekurangan. No. Penahanan semacam ini secara khas terjadi di tempat pemeriksaan di perbatasan dengan Sumatera Utara. Melihat KTP. juga di perbatasan dengan Medan. begitu seseorang menyebrangi perbatasan menuju ke propinsi tetangga Sumatera Utara. mereka ingin tahu siapa yang GAM. “Saya meninggalkannya di rumah. menandai seseorang sebagai orang Aceh dan menjadi sasaran penangkapan. 15. Mereka menanyakan KTPnya.Beberapa peristiwa penyerangan fisik digambarkan kepada Human Rights Watch berkaitan dengan kartu identitas merah putih. Tertiani ZB Simanjuntak. di Langsa di Aceh Timur. Banyak orang yang tinggal dengan teman atau sanak saudaranya di Medan. di Alue Ie Puteh.95 Seorang laki-laki dari Bireun memberitahu Human Rights Watch mengenai perjalannya keluar dari Aceh: Saya sedang berada dalam bis umum ke Medan. atau di perbatasan-perbatasan antar kabupaten seperti antara Aceh Utara dan Aceh Timur. 3 Juni 2003. enam orang tersangka GAM di 94 Wawancara Human Rights Watch dengan seorang laki-laki berusia duapuluh tahun (nama disembunyikan). Bagaimanapun. siapa yang bukan.

Kenapa? Karena mereka melihat nomor telepon di dompet Saya. Sesudahnya saya diperintahkan untuk membersihkan isi ruangan. Saya melihat dua orang dibawa ke belakang oleh lima orang tentara TNI. Tidak jauh.” Ada lima orang polisi. 26 Oktober 2003. tidak terlalu dekat juga. AJ-47s. Saya menunggu di Medan lima hari. Ada pos TNI dan semuanya diminta turun dari bis dan berbaris. Saya di tahan di ruangan tersebut selama satu jam. Saya membeli tiket pesawat dan pergi langsung kembali ke Malaysia. Saya tidak tahu dimana mereka. di tubuh Saya dua kali. Jika Saya tidak melakukannya. Mereka bertanya kepada Saya untuk menyatakan bahwa Saya adalah GAM. Dia bilang kepada Saya. Semuanya orang Aceh. Saya pergi langsung ke Medan. (yang datang) khusus untuk darurat militer. Satu persatu dipanggil untuk memeriksa kartu identitas kita. ada sampah. Vol. Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh lima tahun (nama disembunyikan). 2003 97 98 Human Rights Watch.96 Seorang laki-laki yang tiba di Malaysia bulan Juni memberitahukan Human Rights Watch mengenai peristiwa yang terjadi di bisnya saat perjalanan dari Aceh Utara ke Medan: Saat itu malam sudah sangat larut. semua laki-laki. Wawancara Human Right Watch dengan laki-laki Aceh berusia duapuluh tahun (nama disembunyikan). Malaysia. Lalu mereka membawa Saya ke sebuah kamar kecil. Di perbatasan terdapat banyak pasukan keamanan… Ada tiga bus dan sekitar limabelas orang ditangkap. Dua orang tersebut tidak pernah kembali ke dalam bis. “Itu nama orang GAM. Malaysia. Kamu GAM. ketika mereka memeriksa KTP Saya. 28 Oktober 2003. Ada tempat penahanan. Tiga kali Saya ditendang. rokok. Saya tidak tahu kemana mereka dibawa. Mereka orang-orang Aceh.98 96 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia empatluluh tahun (nama disembunyikan). durian. No. Paha Saya ditendang. meminta tolong agar dibebaskan karena Saya mau kembali ke Medan secepatnya… Saya menunggu bis lagi dan langsung pergi ke Medan. 15. Mereka polisi tapi BKO. yang kembali ke Aceh dari Malaysia di bulan Agustus. Malaysia. memberitahu Human Rights Watch: Saya sedang berada di perbatasan dan bis berhenti untuk pemeriksaan KTP. meraka bilang mereka akan menembak Saya. Saya kemudian mendengar suara tembakan. Kami sudah tiba di Aceh Timur. Saya dipukul di wajah sekali.97 Seorang laki-laki dari Pidie. Mereka memaksa saya untuk membersihkan daerah tersebut. semuanya laki-laki. Sangat menjijikan. 29 Oktober. Tiga polisi masuk dan membuka baju dan celana panjang saya. Sesudah itu mereka mulai memukul Saya karena Saya tidak mau mengakuinya. Saya keluar dari bis dan bis pergi tanpa saya. Sesudahnya setiap orang kembali ke dalam bis. Mereka bertiga bersenjata. Dia menunjuk… Sesudahnya mereka membebaskan Saya… Saya menangis. 10 (C) 40 . bahwa nomor itu hanyalah nomor telepon Saya.Peureulak.

dan kami tidak diperbolehkan pergi ke bukit-bukit. No.Pemerasan dan Pembatasan Terhadap Aktifitas Ekonomi Situasi ekonomi dibawah darurat militer memburuk secara cepat. Pegunungan tersebut dikepung oleh TNI. Banyak orang Aceh mengeluh bahwa ketakukan akan kekerasan atau larangan-larangan terhadap mobilitas telah secara serius mempengaruhi kemampuan mereka untuk menyambung hidup. ke kebun kami. Di bulan Oktober. 29 Oktober 2003. Gubernur Abdullah Puteh mencatat. 28 Oktober 2003. atau sebagai pendukung mereka yang membawakan nasi atau kebutuhan lainnya untuk separatis bersenjata tersebut.net/vnews. 101 100 41 Human Rights Watch. Jika kami melakukannya. Kecamatan Labuhan Haji.” Laksamana. pemerasan. 29 Oktober 2003. Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh dua tahun (nama disembunyikan). yang seringkali berada bukit diatas desa. dan 99 “Waspadai kemiskinan dan pengangguran di Aceh. Dia tidak mengakuinya. menanam sayur-sayuran atau singkong. siapapun yang terlihat menuju kesana dianggap entah sebagai GAM. Ekonomi kami membeku. http://www. 15.cfm?ncat=35&news_id=6246 (diakses 4 Desember 2003).99 Perang telah nenyebabkan ekonomi berjalan tertatih-tatih tetapi pengawasan yang luas terhadap gerakan. jadi kami tidak berani pergi kesana. Hampir semua warga yang diwawancarai mencatat bahwa penghuni desa mereka dilarang pergi ke kebun mereka. Seorang laki-laki memberitahukan Human Rights watch.” Puteh mengutip data terkini yang menunjukan bahwa 40 persen penduduk tinggal dibawah garis kemiskinan. dan rasa takut yang terbangun baik terhadap kekerasan saat bepergian untuk membeli atau menjual barang-barang secara hebat telah memperburuk masalah tersebut.laksamana. dan ditanya apakah dia GAM. naik ke atas ke bukit ke kebun sayurannya tetapi ditahan oleh Brimob dan dibawa ke pos brimob di Labuhan Haji. Laki-laki ini. “Ada pos-pos di desa. Seorang laki-laki berusia delapanbelas tahun yang tiba tanggal 11 September dari Aceh Besar memberitahukan Human Rights Watch: Orang-orang tidak bisa pergi ke pegunungan. Kami tidak bisa mencari makan. Bahari. 10 (C) . Vol. Kalian harus bertanggung jawab atas diri kalian sendiri. Malaysia. menebang pohon untuk membangun rumah. Seorang laki-laki berusia duapuluh enam tahun dari Aceh Selatan melaporkan: Tanggal 23 Jumi ada seorang laki-laki mencari makanan didekat desa (nama dihilangkan). Kami diperingatkan: “Jika Kalian pergi ke tasa Kami tidak bisa bilang apa yang akan terjadi.”101 Hal ini bukanlah ancaman main-main. “Angka pengangguran dan kemiskinan disebabkan konflik di Aceh mengkhawatirkan. Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia delapan belas tahun (nama disembunyikan). Dia disiksa disana –ditusuk dengan pisau. Kami takut tembakan.”100 Karena pasukan GAM terutama berada di daerah pegunungan. kami akan dikira GAM dan mereka akan menembak kami.

Saya melakukan perjalanan terakhir Saya bulan Juli. Saya bekerja sebagai supir minibus di jalan raya. Saya tidak tahu dimana ditemukannya. ini ada lima”. Dua orang lainnya ditahan pada waktu yang sama dan juga ditusuk. Tetapi Saya harus berhenti pergi kesana karena Saya takut kepada milisi. Milisi tersebut dilatih tahun 1999 oleh TNI dan Polri. tentara datang dan memintanya. tetapi mayat tersebut dikirim ke rumahnya. di Aceh Selatan. 15. telah meningkat tahun-tahun terakhir ini. 25 Oktober 2003. Saya sudah memberikan satu kepada mereka jadi Saya bilang tidak. lalu kembali ke pos marinir ketika kami kembali untuk mengambil KTP kembali… Pernah ketika Saya sedang merawat ayam jantan Saya untuk sabung ayam. dan memberikan KTP. Malaysia. truk-truk mereka diambil.102 Seorang berusa tigapuluh tahun yang tiba dari Aceh Tengah segera setelah darurat militer dimulai berkata: Hidup Saya sangat berat.103 Seorang supir lainnya dari Bireun mengulang cerita bahayanya bepergian di jalan: Saya menjual ikan di Takengon. laporan aktifitas milisi di beberapa kabupaten. Banyak orang Aceh yang menghilang. Sebelumnya tidak ada masalah. Mayat mereka tidak pernah dikembalikan. Jika Kamu tidak memberikannya kepada mereka. 10 (C) 42 . Lalu Saya ketakutan karena adanya tempat pemeriksaan di jalan oleh TNI dan Brimob… Saat Saya menyetir kendaraan mereka menghentikan Saya untuk meminta uang atau makanan. No. Tetapi baru-baru ini dua orang penjual ikan lainnya yang Saya kenal menghilang: Rusli di bulan Oktober dan Azhari di bulan September.mereka tidak akan menerimanya. Saya tidak mau memberikan mereka Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh enam tahun (nama disembunyikan). 104 103 102 Human Rights Watch. Lalu kami pergi ke Lhokseumawe untuk menjual ikan Kami harus melapor disana. khususnya dmana imigran Jawa berada. Malaysia. Wawancara Human Rights Watch dengan seorang laki-laki berusia tigapuluh tahun (nama disembunyikan). Kamu tidak bisa tawar menawar dengan mereka. Mereka meminta lagi. 26 Oktober 2003. tetapi mereka tidak mengaku. Saya melihat mayatnya di rumahnya. 26 Oktober 2003.104 Seorang nelayan berusia duapuluh tahun dari Aceh Utara yang tiba dua minggu yang lalu menjelaskan: Ada pos-pos setiap limapuluh meter di beberapa tempat.dia dibunuh. Jika Kita keluar dari kapal yang pertama adalah pergi ke pos marinir dan melapor disana. Jika Kamu tidak mempunyai uang dan mencoba menawar – “Saya tidak punya sepuluh. Wawancara Human Rights Watch (nama disembunyikan). Vol. Jika mereka bilang sepuluh maka harus sepuluh. Kamu dipukuli. Malysia. Meskipun kelompokkelompok yang berkaitan dengan militer berkeliaran setidaknya sejak tahun 1990. di daerah kecamatan.

TNI biasa menggunakan taktik semacam “pagar betis” di Timor Timur dengam menaruh orang sipil diantara tentara dan gerilya.108 Beberapa Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh tahun (nama disembunyikan). 2 Juli 2003.” Karena Saya takut. Dalam usahanya untuk memaksa keluar para pejuang yang bertahan dari persembunyiannya. Tetapi kalau diminta. Saat itu tanggal 8 atau 9 Oktober. khususnya mereka yang tinggal di daerah konflik… Dalam menghadapi orang sipil yang bersenjata yang memerat. “Sebaiknya kamu pergi saja. “Jika Aku tidak ada disini. Tahun 1981. malam ini Kamu akan dibunuh. Saya dimintai tujuh juta rupiah (US$825) dan diberitahukan bahwa jika Saya tidak memilikinya dalam tiga hari Saya tidak akan selamat. mereka berempat di dalam Taft – seperti Pajero tapi lebih kecil. menyiksa dan bahkan membunuh warga lainnya.satu lagi. Mereka BKP. militer memaksa 108 43 Human Rights Watch. 5 Nopember 2003. baik sebagai tameng manusia dan juga menggunakan orang sipil untuk menekan perlawanan para pejuang. “Presiden Menyetujui ‘Penjaga’ Sipil’. bermarkas di Koramil. 10 (C) . Saya memiliki penggilingan beras. Fabiola Desy Unidjaya dan Tiarma Siboro. Saya akan menembakmu. Batalion Sriwijaya 141. —Presiden Megawati. bilang pada mereka. maka diberikan… Saya tidak tahan lagi. 106 107 105 Wawancara Human Rights Watch (nama disembunyikan). Dia bilang pada Saya. Sesudah mereka pergi Saya pergi ke teman Saya di kedai kopi di depan rumah Saya. Dia dari pos lokal. militer Indonesia melaksanakan operasai yang disebut kampanye “pagar betis” di Timor Timur.” Saya pergi sesudah dua hari –mereka memberi Saya waktu tiga hari.”106 Kembalinya Jaga Malam: Tugas Wajib Jaga Malam Kami seharusnya mempertimbangkan untuk memberikan penghargaan yang sepantasnya kepada tuntutan masyarakat untuk diperbolehkan membela diri dan barang-barang mereka sendiri. Kopassus datang jam 11 pagi. Saya memberikannya kepadanya. Setiap hari TNI meminta 450 kilogram. Malaysia. Malaysia. partisipasi masyarakat semakin dibutuhkan karena kurangnya personil keamanan.105 Seorang laki-laki yang memiliki bisnis penggilingan beras melaporkan: Membuka jalan untuk hidup di Aceh itu sulit. Mereka hendak pindah ke pos BKO yang lain dan meminta ‘uang pindah’. Vol. The Jakarta Post.” Saya seharusnya bisa pergi haji ke Mekkah duapuluh lima kali sekarang. Jika Kamu mencoba membuka usaha. mereka akan meminta uang. Dia bertanya apa yang mereka inginkan dan Saya beritahukan: tujuh juta rupiah dalam tiga hari. Mereka bilang. kepada polisi pada upacara bulan Juli107 Secara historis. Lalu dia mengancam Saya – “Kalau Kamu tidak memberikannya kepada Saya. kan? Saya katakan pada tiga anak laki-laki Saya untuk ikut pergi (nama disembunyikan). yang kebanyakan orang Jawa. “Jika Kamu tidak memberikannya kepada kami. 31 Oktober 2003. 15. No. mereka akan mengambil kalian.

110 Pernyataan lain yang dikeluarkan oleh Kementerian Luar Negeri menegaskan: Dalam rangka menciptakan situasi yang aman dan teratur di (Aceh). periode: 19 Mei -10 Agustus 2003. laki-laki tua tidak pernah melakukan tugas jaga. Komandan Kodim Aceh Besar mengatakan bahwa militer hanya menyediakan sokongan terhadap inisiatif warga desa itu sendiri.” Pernyataan Pemerintah Indonesia. No. 15.109 Seorang laki-laki memberitahukan Human Rights Watch tentang penduduk desa yang dibawa ke hutan untuk mencari GAM.Polkam. dibawah DOM. dalam tiga waktu yang berbeda. strategi dari peride DOM yang dihidupkan kembali segera sesudah darurat militer dimulai.111 Biarpun demikian. Semua perhatian dan kewaspadaan ini datang dari masyarakat secara spontan. menggunakan mereka sebagai tameng manusia terhadap para pejuang yang bertahan. bahkan laki-laki tua. Sebagai contoh. contoh partisipasi orang sipil yang paling luas dalam pertahan yang dilaporkan adalah tugas wajib jaga malam tanpa senjata.media baru-baru ini melaporkan penggunaan orang sipil dalam operasi militer di Aceh.go. sekitar 1. “Warga Sipil Terlibat Secara langsung Dalam Perburuan Pemberontak GAM “. empat orang setiap kalinya.id. 10 (C) 44 . Kami juga biasa melakukannya dibawah DOM. orang sipil untuk berjalan berbaris dari setengah garis pertahanan pulau terebut menuju ke pusatnya.000 penduduk desa dari Kecamatan Leupung di Aceh Besar dilaporkan terlibat didalam perburuan pemberontak GAM di hutan dekat sana. Departemen Luar Negeri. Sebelumnya. Nani Farida. The Jakarta Post. 111 109 Human Rights Watch. Militer mengikutinya dari belakang. 17 September 2003. Menurut pernyataan pemerintah mengenai kemajuan darurat militer: Penjagaan lingkungan telah meningkat di desa dari 0% sampai dengan 70%. 110“Evaluasi Pemerintah Terhadap Operasi Khusus di Aceh. www. “Makalah Ringkas tentang Perkembangan Terakhir di Propinsi Nangroe Aceh Darussalam (NAD)”. Republik Indonesia. dan kesetiaan rakyat Aceh kepada Negara Kesatuan Indonesia semakin menguat. operasi ditujuan untuk merangsang keberanian masyarakat lokal untuk berjuang melawan GAM. kesaksian yang dikumpulkan di Malaysia menunjukan bahwa pasukan keamanan memakai ancaman dan penggunaan kekerasan untuk memaksa penduduk lakilaki di desa untuk bergantian menjaga desa. Kami berempat dipukuli kalau tertidur. . Semua laki-laki diatas lima belas tahun harus berjaga. begitu juga kesadaran mereka akan hak dan kewajiban mereka. Dalam wawancara dengan Human Rights Watch. Seorang laki-laki berusia duapuluh tahun dari Pidie yang tiba di Malaysia tanggal 14 Oktober menggambarkan ketika tentara mengadakan tugas jaga malam di desanya: Jaga malam dimulai sesudah darurat militer. tetapi tidak jelas seberapa sering taktik ini digunakan dibawah darurat militer. 15 Agustus 2003. Beberapa perkembangan yang positif sudah dicapai seperti misalnya beberapa pos sudah dibuat oleh penduduk lokal yang juga berfungsi sebagai Pos Informasi. Kami harus melakukannya tiga kali seminggu. sekitar sebulan kemudian. Vol.

10 (C) . menempatkan mereka dalam resiko pembalasan dendam dari kedua belah pihak. Saya harus pergi (dari Aceh) untuk mendapatkan uang dan makanan. Atau kami diperintahkan untuk membawa tiang pohon kelapa sawit ke atas bukit. No. Mereka tidak berkata kami seharusnya menjaga –jaga malam saja! Mereka tidak berkata menjaga ini atau itu. GAM meminta kami untuk memberitahukan mereka apa yang TNI dan Brimob lakukan. Malaysia. kami pasti akan diculik dan diancam. 26 Oktober 2003. meninggalkan propinsi tersebut di pertengahan Oktober. 115 114 113 112 45 Human Rights Watch. Malaysia. itu juga menaruh orang sipil di seputar antara GAM dan TNI. 26 Oktober 2003.” Wawancara Human Rights Watch dengan lakilaki berusia tigapuluh tahun (nama disembunyikan). Vol. di Aceh Timur. membangun pos-pos dan kamp baru.112 Seorang perempuan dari Peureulak. Malaysia. Sekarang selalu seperti ini. lalu mereka kembali lagi dan kami harus membangunnya lagi. Malaysia. kami harus merubuhkan pos. Dia desa Saya mereka hanya mengambil alih sebuah rumah kosong.115 Wawancara Human Rights Watch dengan seorang laki-laki berusia duapuluh dua tahun (nama disembunyikan). Wawancara Human Rights dengan laki-laki berusia tigapuluh tahun (nama disembunyikan). Kami harus melakukannya mungkin dua hari setiap minggunya. 26 Oktober 2003. Tetapi kalau kami memberitahukan GAM. Kadang-kadang ketika mereka pergi. Selama darurat militer sulit sekali mencai makanan. tidak ada perubahan. seperti membangun pos tingkat desa baru. seperti yang dikatakan seorang laki-laki berusia tigapuluh tahun yang tiba dari Aceh Tengah segera sesudah darurat militer dimulai: Polisi dan Brimob datang ke desa dan mengatakan pada orang-orang untuk menjaganya. tetapi kami harus membangun pos-pos di desa lain. di pagi hari kami harus melakuka gotong royong. Dia mengatakan kepada Human Rights Watch: Suami Saya dipukuli oleh TNI bulan Agustus saat dia jaga malam. Dan. Suami Saya lalu sakit jadi tidak bisa pergi dan mencari makan. 24 Oktober 2003.114 Dua orang Aceh yang diwawancarai oleh Human Rights Watch juga mengeluh mengenai pemaksaan tenaga kerja. 15. Wawancara Human Rights dengan perempuan berusia tigapuluh tahun (nama disembunyikan). Seorang dari dua orang yang menggambarkan tugas wajib tersebut menjelaskan: “di malam hari kami jaga malam.113 Tugas wajib jaga malam adalah aspek tambahan dari kehidupan yang semakin tidak dapat dipertahankan lagi bagi laki-laki Aceh. Sementara jaga malam bisa menaruh orang sipil di tingkat resiko yang sama seperti keterlibatan langsung dalam operasi militer atau dipaksa untuk bergabung dengan militia.Kami tidak berkeliling tetapi tinggal di sekitar pos jaga.

Protokol II.119 Seorang laki-laki berusia duapuluh tahun yang tiba di Pidie menggambarkan bagaimana beberapa orang di desanya meningalkan TNI. “Makalah Ringkas mengenai Perkembangan Terkini di Propinsi Nangroe Aceh Dasrussalam (NAD). yang memperhatikan cerminan hukum internastional menyatakan bahwa “pengungsian penduduk sipil tidak boleh dilakukan dengan alasan yang berkaitan dengan konflik kecuali berkaitan dengan keamanan warga sipil atau tuntutan militer yang sangat penting. sehat dan menyediakan nutrisi. Departemen Luar Negeri. 1 Juli 2003. 4 (c ).” 17 Nopember 2003. Pihak-pihak yang berkonflik harusnya tidak memerintahan pemindahan penududuk kecuali dengan alasan yang serius berkaitan dengan keamanan orang sipil yang terlibat. Kemungkinan prilaku yang sama terjadi di bawah Darurat Militer tetapi kurangnya akses membuat sulit untuk menunjukannya. atau ada alasan militer yang sangat penting untuk tindakan tersebut. “Orang Aceh Pergi karena Serangan Udara” The Jakarta Post. Lebih dari seratus ribu orang dipindahkan di beberapa titik tertentu sejak dimulainya darurat militer.” Human Rights Watch Press Backgrounder. No. sementara yang lainnya ditangkapi dan diangkut pergi: A’An Suryana. Laporan Perwakilan Sekretaris Jendral tentang Orang-Orang Terlantarl. Republik Indonesia. Dulu Suku nonAceh juga lebih banyak diintimidasi agar meninggalkan Aceh oleh GAM. dan mereka yang berwenang dan berada di komunitas internasional.118 Banyak pengungsidapat kembali ke tempat asalnya sesudah periode yang cukup singkat.116 Penampungan massa atau pengungsian orang sipil yang hanya untuk meniadakan basis sosial untuk pasukan lawan dilarang oleh hukum kemanusiaan internasional. diadopsi bulan September 1998 oleh Majelis Umum PBB. higenis. “Jesuit Refugee Service: Berita JRS No.” Laporan Human Rights watch. belasan ribu orang sipil telah dipaksa oleh pertempuran atau diperintahkan oleh pemerintah Indonesia atau pasukan keamanan untuk meninggalkan rumah dan desa mereka. 15 Februari 2002. Konvensi Geneva. Prinsip pedomaan ini didasarkan pada hukum internasional yang tentunya mengikat negara-negara seperti halnya beberapa kelompok pemberontak. Sampai tahun 2001 ada sekitar 50. 10 (C) 46 . Para penghuni dilaporkan diperintahkan oleh militer untuk ditampung di dua kamp di sekitar Kecamatan Dewantara dan Muara Batu.13. Agustus 2001: Human Rights Watch. Lihat Human Rights Watch.2. mencerminkan hukum kemanusiaan internasional sebagai juga hukum hak asasi manusia. 17. Perkiraan resmi jatuh dari lebih dari duapuluh ribu orang terlantar di sebelas kabupaten di bulan Agustus menjadi hanya sepuluh ribu orang terlantar di enam kabupaten pada pertengahan November. 119 118 117 116 Human Rights Watch. “Perang di Aceh. Mei 2000. di awal Juli sekitar 10. Vol. 15. semua tindakan yang mungkin seharusnya diambil untuk memastikan bahwa tempat dimana mereka akan ditampung menawarkan kondisi tempat berlindung yang memuaskan. Periode: 19 Mei-10 Agustus 2003”. 154”. 142. Kantor PBB untuk Koordinasi Masalah Kemanusiaan (OCHA). E/CN. Sebagai contoh.000 orang di Aceh Utara dilaporkan meninggalkan rumah mereka karena Angkatan Udara Indonesia membom posisi pemberontak di Pantai Pisang di Kecamatan Nisam yang banyak pegunungannya. Meskipun bukan instrumen yang mengikat.Pengungsian dan Perampokan Sejak dimulainya darurat militer. pasal.” Prinsip-Prinsip Pedoman tentang Orang Terlantar (prinsip pedoman).117 Seandainya tindakan tersebut harus dilakukan.000 orang Jawa di Sumatera Barat yang meninggalkan Aceh. 14 Nopember 2003. jadi jumlahnya turun-naik dari minggu ke minggu. Vol.4/2003/95/Add. dan menyatakan kumpulan standar internasional yang mengatur perlakuan terhadap orang-orang terlantar. “Warga Sipil Indonesia Dijadikan Target di Aceh. No. “Laporan OCHA Mengenai Gabungan Situasi No.

dan pendidikan Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh dua tahun (nama disembunyikan). No. Orang-orang di pegunungan kembali ke rumah setelah kami pulang. 26 Oktober 2003. dan beberapa orang melarikan diri ke pegunungan.122 Sebagaimana digambarkan dalam “Aceh dibawah Darurat Militer: Pelarangan yang Tidak Perlu dan Berbahaya Terhadap Akses Kemanusiaan Internasioal. mereka menemukan rumah mereka dirampok ketika mereka kembali ke rumah mereka. Kami kembali ke rumah kami untuk mengambil barang-barang yang paling penting. tetapi Saya terlalu ketakutan.Suatu pagi hari. 10 (C) .121 Di akhir Juli. Tiarma Siboro.” terdapat kelanjutan untuk memperhatikan kurangnya akses ke makanan. Jendral Endiartono Sutarto. Mereka pergi kesana karena ada panggilan dari mesjid untuk berkumpul disana. Pengadilan darurat militer dilakukan pada tanggal 22 Juli terhadap dua orang prajurit yang dituduh mencuri uang kontan dan perhiasan dari rumah seorang tersangka pemberontak separatis di Aceh Utara. (semua) dicuri saat kami melarikan diri. Kami mempunyai satu jam untuk mengemas barang kami. “Kepala TNI Menawarkan Permintaan Maaf Kepada Rakyat Aceh.000 untuk mengembalikan barang-brang kami kembali. “Sekarang mengungsi!” Saya rasa mereka dari Pos BKO Siliwangi. Malaysia. Vol. Sesudahnya kami dikirim kembali ke rumah dengan truk. dibawa oleh tentara yang lalu meminta uang Rp 300. Saya tidak mau orang-orang berkorban sebanyak itu.120 Seorang perempuan dari Aceh Utara menggambarkan perampokan yang terjadi ketika para penduduk dipindahkan: Saya melarikan diri ke kamp pengungsi. dimana ada sebuah kamp orang terlantar di lapangan disana. sarana kesehatan. Malaysia. 121 122 120 Wawancara Human Rights Watch (nama disembunyikan). lalu tiga truk datang untuk membawa kami ke Sigli. hidup didalam tenda. kambing. Orang-orang di desa ketakutan. Ketika Kami pulang ke rumah semua barang-barang kami tidak ada. kepala staf ABRI. mengakui bahwa tentara secara paksa menelantarkan warga sipil dan meminta maaf atas perampokan tersebut: Dengan beberapa pertimbangan. Kami diberitahukan oleh tentara. Human Rights Watch tidak tahu mengenai hasilnya. dan yang lainnya melarikan diri ke Sigli. Beberapa orang membayar. Ayam.” The Jakata Post. 29 Oktober 2003. Saya meminta maaf karenanya. Kami tidak diberitahukan alasannya. sekitar empatpuluh kilometer jauhnya. empat buah tank datang ke desa. 15. kami (TNI) memaksa orang-orang untuk meninggalkan rumah mereka dan mengungsi sementara para tentara berusaha menyingkirkan para pemberontak yang seringkali mencoba berbaur dengan orang sipil di desa mereka… Bahkan jika para pengungsi tinggal di kamp selama tiga atau empat hari saja. 26 Juli 2003. Kami menghabiskan waktu limabelas hari disana. 47 Human Rights Watch.

137. 5 Oktober 2003. 124 125 123 Jesuit Refugee Service.. Kondisi tersebut diperburuk bagi mereka yang telah dipaksa untuk meninggalkan rumah mereka. 10 (C) 48 .125 Human Rights Watch. Sampai bulan Oktober 2003. Bagaimanapun. Gambaran menyeluruh dari sedikit informasi yang tersedia adalah bahwa penududuk Aceh menghadapi kekurangan jasa dan persediaan dasar. Vol. September 2003. pemerintah Indonesia melaporkan empat puluh tujuh kematian yang berkaitan dnegan kesehatan di kamp. informsai ini mustahil untuk di verifikasi atau diinterpretasikan tanpa mengetahui lebih banyak mengenai tingkat kehidupan total penduduk. Human Rights Watch. Jesuit Refugee Rervice dan sumber-sumber media Indonesia sudah menyoroti laporan mengenai fasilitas sanitasi dan air yang memprihatinkan. telah mengganggu hidup dan mata pencaharaian warga sipil dengan terpotongnya suplai makanan. listrik. dan informasi dasar lainnya.123 Pertempuran antara militer Indonesia dan GAM sebagaimana larangan untuk bergerak. kekurangan gizi dan keluhan kulit diantara para penduduk tersebut.” Makalah Ringkas Human Rights Watch. fasilitas kesehatan yang tersedia.bagi orang-orang terlantar di Aceh. “Kematian Orang-Orang Terlantar di Aceh” (diproses dan diperiksa oleh Organisasi Migrasi Internasional Banda Aceh). dan sarana kesehatan bagi ribuan orang. “Aceh dibawah Darurat Militer: Pelarangan yang Tidak Perlu dan Berbahaya atas Akses Kemanusiaan Internasional. sekolah. 15.” 1 Agustus 2003.124 Penolakan Indonesia terhadap akses badan-badan kemanusiaan internasional dan LSM membuat penilaian secara lengkap mustahil. air. Informasi awal mengindikasikan bahwa pertempuran telah memaksa ribuan warga sipil keluar dari rumahnya. komunikasi. “Berita JSR No. Satkorlak NAD. No.

“Prajurit Dibebaskan atas Penyerangan di Aceh. 5 Juni 2003 “Prajurit Dipenjara Karena Perkosaan di Aceh. dan rendahnya tingkat tuduhan-tuduhan tersebut memperlihatkan kurangnya keseriusan dalam menghukum atau menghalangi kejahatan oleh anggota pasukan bersenjata.” The Jakarta Post.net/vnews. Tiarma Siboro. 25 September 2003. 10 http://www.” Associated Press. “Indonesia Mendakwa Tentara atas Pelanggaran di Aceh. Jika Saya mengirimkan sesorang keluar untuk membeli pisang goreng dan orang tersebut tertangkan karena mencurinya. Aceh Utara. Indonesia telah mengambil beberapa langkah meminta pertangungjawaban tentaranya dalam kejahatan yang terjadi di Aceh.net. 10 Juni 2003. Kepala TNI memberitahu majalah Time. Tetapi perintah-perintah Saya dan para komandan pasukan bersenjata lainnya jelas: jangan membunuh orang sipil. meskipun salah seorang terdakwa mengakui pembunuhan tersebut.” The Jakarta Post. menemukan tiga orang tentara bersalah atas pemerkosaan empat orang perempuan. duabelas tentara dari Jawa Barat base Batalion Siliwangi dibawa ke pengadilan militer.laksamana. Pengadilan memerintahkan tiga tentara tersebut diberhentikan dan menghukum mereka antara dua setengah sampai tiga setengah tahun penjara.128 Pada bulan September. 15.126 Para tentara tersebut dikenai tuduhan melanggar pasal 351 dan 55 dalam Undang-Undang Kejahatan tentang penyerangan terhadap orang sipil dan ayat 103 dalam undnag-undang kejahatan militer mengenai pelanggaran disiplin militer.130 Persidangan adalah pengecualian yang disambut baik untuk kekebalan hukum yang hampir seluruh TNI menikmatinya.” Laksamana. Sebagaimana dalam banyak kasus yang dilaporkan dalam laporan ini. tuntutan yang selektif. “12 Prajurit Menghadapi Sidang Karena Menyiksa Orang Sipil di Aceh. pengadilan militer menjatuhkan hukuman kepada enam tentara dari Batalion Infrantri 144 lima bulan penjara karena pemukulan warga desa di Kabupaten Bireun pada 27 Mei.Pertanggungjawaban Tidak seperti dalam operasi di masa lalu di Aceh. dikenai tuduhan atas pemukulan dua orang penduduk desa di Kecamatan Dewantara.net. pada 30 Agustus 2003.” Laksamana.” Associated Press. “Saya tidak akan mengambil tanggungjawab atas semua perintah yang Saya berikan. Vol. 20 Juli 2003. Aceh Utara.cfm?ncat=45&news_id=6152 (diakses 4 Desember 2003). 131 130 129 Oktober 2003. Dibawah hukum darurat militer teretuduh mendapat hukuman maksimum duabelas tahun. “12 Prajurit Diadili karena Memukul Warga Desa di Aceh. 131 Tidak ada tuduhan pembunuhan yang membawa kematian para warga sipil selama operasi militer ini. “Prajurit dihukum dalam kasus perkosaan di Aceh. atau mencuri uang untuk membelinya. Di bulan Juni. korban bersaksi di pengadilan bahwa mereka diserang karena tidak tahu lokasi para pemberontak separatis.127 Bulan Juli. 20 September 2003.” The Jakarta Post. Mereka tidak dikenai tuduhan karena menembak mati seorang laki-laki bernama Abubakar dalam peristiwa yang sama. pengadilan militer di Ljokseumawe. 9 Juni 2003. 19 Juli 2003. Bagaimanapun.129 Mereka dibebaskan meskipun jurubicara militer mengatakan mereka teap akan menerima hukuman kedisiplinan yang mencakup dari peringatan keras sampai dengan tiga minggu penjara. haruskan Saya juga 49 Human Rights Watch. “Tentara Didakwa atas Pelanggaran Hak Asasi.” BBC News Online. 127 128 126 “Tiga prajurit dalam Sidang Mengakui Menyerang Penduduk Desa. hukuman ringan. No. 10 (C) .

2 Juni 2003.132 dihukum?” Wawancara dengan Ryamizard Ryacudu. sebagaimana yang sudah didokumentasikan sebelumnya oleh Human Rights Watch. dimana dia terlibat dalam mengarahkan operasi militer di propinsi Aceh selama bulan-bulan pertama darurat militer. No. Salah seorang yang paling terkenal karena nama buruk yang disandangnya adalah Mayor Jendral Adam Rachmat Damiri. beberapa orang yang bertanggungjawab dalam kampanye militer di Aceh telah didakwa atau disangkutkan dalam pelanggaran hak asasi manusia yang serius. Vol. Lihat.” Time Asia. 132 Human Rights Watch. pangadilan ad-hoc Jakarta tentang Timor Timur menyatakan Jendral Damiri bersalah atas kejahatan terhadap kemanusiaan dengan atrocities yang dilakukan di Timor Timur tahun 1999. 10 (C) 50 . Damiri dipromosikan sebagai Asisisten Operasi untuk Kepala Staf Umum. seorang pejabat militer Indonesia tertinggi yang pernah diadili dan dinyatakan bersalah melakukan pelanggaran hak asasi manusia di Indonesia.Sebagai tambahan. Oktober 2003. Diluar tuduhan atas dirinya. Kasus-kasus lainnya telah didokumentasikan oleh Human Rights Watch. Pada 5 Agustus 2003. “Tidak ada daerah yang melepaskan diri. “Aceh dibawah Darurat Militer: Dapatkah Orang-Orang ini Dipercayai untuk Mengusut Perang ini?” Makalah Ringkas Human Rights. Damiri juga dituduh atas kejahatan terhadap kemanusiaan oleh pengadilan PBB di Timor Timur. 15.

10 (C) . 6. Bergerak secepat mungkin untuk mengembalikan pemerintahan Aceh kepada pengawasan sipil yang bertanggungjawab. Segera mencabut Keputusan Presiden No. khususnya perlindungan warga sipil dan non-pejuang. 9. Menyusul keputusan Indonesia yang disambut baik untuk memperbolehkan ICRC datang ke Aceh. Mengambil semua langkah yang diperlukan untuk memastikan bahwa pasukan militer dan polisi Indonesia sepenuhnya bertindak sesuai dengan hukum kemanusiaan dan hak asasi manusia. Memastikan bahwa semua komandan yang disebarkan di Aceh. Secara penuh menyelidiki pernyataan tanpa bukti (allegations) terhadap pelanggaran hukum kemanusiaan dan hak asasi manusia internasional. Meyakinkan bahwa semua pasukan beroperasi dibawah aturan pertempuran yang konsisten dengan hukum kemanusiaan internasional. Mendisiplinkan dan/atau mengusut semua petugas secara semestinya. 4.Rekomendasi Untuk Pemerintah dan Pasukan Tentara Indonesia 1. termasuk pejuang yang tertangkap. 2. daripada mensyaratkan badanbadan tersebut untuk mengirimkan bantuannya melalui badan-badan resmi Indonesia. perampokan dan pemerasan. Segera dan tanpa syarat menghapuskan larangan pengumpulan dan pelaporan berita secara langsung dari Aceh oleh media Indonesia dan asing. penghilangan secara paksa. No. pastikan bahwa ICRC mempunyai akses yang bebas dan tanpa kekangan untuk menjalankan pekerjaannya.43/2003. penyiksaan dan penganiayaan lainnya. Memberitahukan semua tahanan segera dasar penangkapan dan tuduhan apapun terhadap mereka. jurnalis dan orang asing di Aceh. 5. Mengizinkan badan-badan kemanusiaan untuk menyampaikan bantuan secara langsung kepada penduduk yang membutuhkan. di semua tingkatan. Menahan semua tahanan hanya di tempat penahanan yang secara resmi dikenali. dan memperbolehkan para tahanan untuk memberikan petisi peninjauan kembali terhadap penahanan mereka tanpa 51 Human Rights Watch. lembaga swadaya masyarakat (LSM). 7. yang menempatkan pelarangan yang tidak perlu terhadap akses untuk PBB. Memperbolehkan Komisi Hak Asasi Manusia Nasional untuk menjalankan investigasi yang bebas dari intimidasi atau campur tangan oleh penguasa darurat militer. 8. pasukan bersenjata dan personil polisi yang tersangkut dalam pelanggaran. termasuk eksekusi diluar hukum. 15. Semua pejuang seharusnya dilatih dan diberi pelajaran mengenai perlakuan yang sepantasnya terhadap warga sipil dan non-pejuang. Vol. Organisasi hak asasi manusia dan jurnalis seharusnya mempunyai akses tanpa kekangan ke propinsi tersebut. 3. Segera menyediakan kepada semua tahanan akses yang teratur kepada anggota keluarga dan pengacaranya. badan-badan internasional. perkosaan dan kekerasan seksual. Menghormati kebebasan pers dan memperbolehkan peliputan konflik senjata secara penuh dan independen. sudah menerima latihan dasar mengenai prinsip-prinsip dasar hukum kemanusiaan.

dengan informasi mengenai sifat dasar kejahatan yang mungkin dan tempat penahanan mereka. di semua tingkatan. Vol. Untuk Gerakan Aceh Merdeka (GAM) 1. menerima latihan dasar mengenai prinsip-prinsip dasar hukum kemanusiaan. Mengundang mekanisme PBB yang berasngkutan untuk mengunjungi Aceh. 12. 10 (C) 52 . dan alasannya serta lokasi penahanan. 13. Diharapkan menghentikan pengambilan tindakan yang menempatkan orang sipil dalam resiko khusus. 15. pejabat yang dituduh atas tuduhan serius seharusnya mulai untuk menjalankan hukuman mereka dengan segera dan dikenai pemecatan secara administrasi dari pasukan tentara. penasehat hukum dan orang-orang yang secara hukum berkepentingan. Setiap personil yang diindikasikan seharusnya dipindahkan dari tugas aktif mereka sampai penyelesaian proses persidangan mereka. termasuk penangkapan secara sewenang-wenang. Mengakui pelaksanaan hak asasi semua orang yang ditahan dan/atau dituduh melakukan kejahatan. 2. Mengakhiri praktek penggunaan orang sipil di militer. pembunuhan kilat atau yang sewenang-wenang dan (Special Rapporteur on Extrajudicial. 14. atau keamanan berkaitan dengan fungsi-fungsi. seperti penyitaan kartu identitas. termasuk praktek tugas wajib jaga malam untuk laki-laki dan anak laki-laki. Prioritas seharusnya diberikan kepada Pelapor Khusus mengenai Esksekusi diluar hukum. 11. Summary or Arbitrary Execution) dan perwakilan dari Badan Pekerja Penghilangan Secara paksa atau tidak sukarela (Working Group on Enforced or Involuntary Dissapearances). penganiyaan dan penahanan tanpa surat perintah atas kebebasan bergerak. Memelihara kelangsungan pendaftaran yang akurat nama-nama tahanan dan tempat penahanan mereka dan membuat pendaftaran semacam ini siap tersedia untuk keluarga tahanan. adanya penundaan. Memastikan bahwa semua pasukan mentaati hukum kemanusiaan internasional. paramiliter. Segera menghapuskan –dari semua peran sehubungan dengan konflik di Aceh – semua personel militer Indonesia yang sudah didakwa atau diindikasikan atas pelanggaran hak asasi manusia atau hukum kemanusiaan atau kepada mereka yang terdapat bukti melakukan penganiyaan semacam itu. Memastikan bahwa semua komandan. Bertentangan dengan praktek di Indonesia kini. No. Membuat figur yang diperbarui secara teratur untuk umum mengenai jumlah orang yang dituduh dan ditangkap dalam kejahatan yang berkenaan dengan keamanan di Aceh. khususnya Human Rights Watch. Menyatakan kepada umum komitmen GAM untuk mentaati hukum kemanusiaan internasional. 15. Menghormati pelarangan hukum kemanusiaan internasional mengenai pengungsian orang-orang sipil yang menyatakan bahwa pengungsian semacam itu seharusnya hanya terjadi dengan alasan kemanan warga sipil atau adanya tuntututan militer yang alasannya sangat penting sekali. Memberitahukan keluarga tahanan mengenai penahanan mereka. Mengakhiri persyaratan kartu identitas khusus untuk penduduk Aceh sepanjang pemerintah tidak dapat memastikan bahwa kartu semacam ini tidak akan terus menghasilkan penyiksaan terhadap penduduk lokal.10.

termasuk dua orang jurnalis yang saat ini dalam penahanan GAM.” Secara bersama dan indvidual ketiganya harus menekan pemerintah Indonesia untuk mentaati hukum kemanusiaan dan hak asasi manusia di Aceh. Orang-orang Aceh di Malaysia seharusnya diberikan perlindungan dan bantuan sepenuhnya. penculikan. Uni Eropa. 3. Untuk “Kuartet” (Amerika Serikat. Mengambil tindakan-tindakan untuk memastikan bahwa mekanisme yang dapat diselenggarakan dilaksanakan untuk memastikan bahwa anggota pasukan secara perseorangan bertanggungjawab terhadap pelanggaran. termasuk eksekusi kilat. Jepang dan Uni Eropa seharusnya secara bersama menindak lanjuti pernyataan mereka di bulan November 2003 yang mengekspresikan “keprihatinan terhadap perpanjangan keadaan darurat militer di Aceh” dan mendorong Idonesia “untuk menjalankan aktifitasnya dengan kemungkinan pengaruh yang paling minimum terhadap kesejahteraan masyarakat Aceh dan dalam pendekatan yang mengikutsertakan bantuan kemanusian. Semua keputusan bantuan. Bank Dunia) 1. Jepang. terutama kepada orang-orang yang terlantar karena konflik. Amerika Serikat. Sehubungan dengan partisipasi Thailand dan Philipina dalam memonitor COHA. perbaikan lembaga-lembaga sipil dan menegakkan hukum. termasuk pejuang yang tertangkap. Untuk Pemerintah Malaysia 1. Untuk ASEAN 1. Meneruskan desakan terhadap Indonesia untuk membuka Aceh kepada LSM internasional. 15. 2. Tidak ada orang Aceh yang seharusnya dikembalikan secara paksa ke Indonesia selama keamanan mereka beresiko di Aceh. 53 Human Rights Watch. No.perlindungan warga sipil dan non-pejuang. harus menyertakan dialog mengenai pelanggaran hak asasi manusia di Aceh. Mengajukan kondisi di Aceh dalam semua pertemuan dengan penguasa Indonesia dan tetap menuntut dibukanya akses diplomatik yang teratur ke Aceh. ASEAN seharusnya menekankan perlunya keterlibatan dalam kehadiran monitoring internasional di Aceh. ASEAN dan anggota-anggotanya seharusnya menggunakan kewenangan regional mereka dan meminta Indonesia untuk menghargai kewajiban internasionalnya dalam konflik di Aceh. jurnalis dan badan-badan internasional. penyiksaan. Semua pejuang seharusnya dilatih dan diberi pelajaran mengenai perlakuan yang sepantasnya terhadap warga sipil dan non-pejuang. seperti yang dipinjamkan Bank Dunia. Melepaskan semua tawanan yang ditahan dalam pelanggaran hal asasi manusia. sebagaimana yang berkenaan dengan korupsi dan reformasi yang tercatat dalam Strategi Bantuan Negara untuk Indonesia (Country Assistance Strategy for Indonesia) yang dikeluarkan tanggal 3 Desember. Vol. 10 (C) . dan pemindahan secara paksa. Termasuk mendesak badan-badan kemanusiaan yang tidak berpihak agar mampu menyediakan bantuan kepada penduduk. 3.

Inggris. Vol. 2. Apapun ketentuan Amerika Serikat atas latihan atau bantuan militer kepada pasukan bersenjata Indonesia harus disyaratkan terhadap perkembangan yang jelas dalam mengadili militer dan polisi yang bertanggungjawab dalam pelanggaran hak asasi manusia. No. 10 (C) 54 . dan latihan. perlengkapan lainnya. Human Rights Watch. Indonesia mempunyai tugas wajib untuk menjaga dan menawarkan pemeriksaan terhadap dokumen-dokumen yang dibutuhkan untuk menunjukan bagaimana negara ini sudah menggunakan perlengkapan yang disuplai asing. termasuk senjata. yang menyediakan bantuan atau latihan militer kepada Indonesia 1.Untuk Negara-Negara. seperti Kopassus atau Brimob. 3. seperti Amerika Serikat. dan Australia. Negaranegara yang sudah menyediakan bantuan Militer kepada Indonesia terebut. Menjatuhkan persyaratan yang ketat terhadap penggunaan senjata atau bantuan militer lainnya. Menempatkan tindakan yang efektif untuk memonitor dan memastikan pertanggungjawaban dalam penyalahgunaan senjata atau bantuan lainnya. sesuai dengan standar-standar hukum hak asasi manusia dan kemanusiaan internasional. Latihan teroris harus secara hati-hati dirancang untuk tidak mengurangi keefektifan pelarangan yang sudah ada. dan harus tidak ditujukan kepada cabang dan unit yang diketahui sebagai pelanggar hak asasi manusia. dan jika perlu menyediakan bentuk lain akses untuk memfasilitasi monitoring yang efektif dan berguna sampai akhir. 4. mempunyai tanggungjawab khusus untuk memastikan bahwa bantuan tersebut tidak digunakan untuk menyumbang pelanggaran hak asasi manusia. negara-negara penyuplai senjata seharusnya mempertimbangkan penundaan transfer senjata kepada Indonesia. 15. Sehubungan dengan perhatian terhadap pelangggaran serius dalam kampanye Indonesia di Aceh.

Serangan dan Pelarangan terhadap Media) Sebuah Laporan Human Rights Watch. 15. Aceh Under Martial Law: Human Rights Under Fire (Aceh dibawah Darurat Militer: Hak Asasi Manusia diserang) Sebuah Makalah Ringkas Human Rights Watch Juni 2003. 2. Memberangus Kurir. Vol. September 2003 3. Aceh Under Martial Law: Unnecessary and Dangerous Restrictions on International Humanitarian Access (Aceh dibawah Darurat Militer: Pelarangan yang Tidak Perlu dan Berbahaya terhadap Akses Kemanusiaan Internasional) Makalah Ringkas Human Rights Watch. Nopember 2003 55 Human Rights Watch. No. Aceh Under Martial Law: Can These Men Be Trusted to Prosecute This War? (Aceh dibawah Darurat Militer: Dapatkan Orang-Orang ini dipercayai untuk Mengadili Perang ini?) Makalah Ringkas Human Rights Watch. Aceh Under Martial Law: Muzzling the Messengers: Attacks and Restrictions on the Media (Aceh dibawah Darurat Militer. 10 (C) . 1. Oktober 2003 4.Lampiran Untuk informasi terkini lebih lanjut mengenai perang di Aceh silahkan lihat rangkaian laporan dan makalah ringkas Human Rights Watch berikut ini.

email-publisher. human resources director. and Joanna Weschler. Wilder Tayler. program director. Michele Alexander. operations director. John Sifton. We enlist the public and the international community to support the cause of human rights for all. 15. The staff includes Kenneth Roth. Barbara Guglielmo. Meenakshi Ganguly. Thomas Kellogg is Orville Schell Fellow. 10 (C) 56 . development director. advocacy director. to prevent discrimination. Rory Mungoven. London office director. finance director. Human Rights Watch. United Nations representative. to uphold political freedom and to protect people from inhumane conduct in wartime.org Listserv address: To subscribe to the list. Ali Hasan. Sara Colm and Mickey Spiegel are senior researchers. Web Site Address: http://www. We investigate and expose human rights violations and hold abusers accountable. Jonathan Fanton is the chair of the board. executive director. Its Asia division was established in 1985 to monitor and promote the observance of internationally recognized human rights in Asia. legal and policy director. and Tej Thapa are researchers. send a blank e-mail message to hrw-news-asia-subscribe@topica. We challenge governments and those holding power to end abusive practices and respect international human rights law. Robert L. No. and Ami Evangelista is associate. Charmain Mohamed. Maria Pignataro Nielsen. Liz Weiss is coordinator. We stand with victims and activists to bring offenders to justice. Saman Zia-Zarifi is deputy director. Lotte Leicht. Vol.com. Allison Adoradio.Human Rights Watch Asia Division Human Rights Watch is dedicated to protecting the human rights of people around the world. Brussels office director. Meg Davis. Steve Crawshaw.hrw. Iain Levine. associate director. Joanne Leedom-Ackerman is Chairperson of the advisory committee. Brad Adams is executive director. Bernstein is the founding chair. Carroll Bogert.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful