Human Rights Watch

Desember 2003, Vol. 15, No. 10 (C)

ACEH DIBAWAH DARURAT MILITER:
DI DALAM PERANG RAHASIA
Daftar Istilah Pendahuluan Konteks Kekerasan yang Terjadi Sekarang: Perang Panjang di Aceh Hidup di bawah Darurat Militer Meningkatnya Kehadiran di Desa Menjadikan Anak-Anak Muda Sipil Sebagai Sasaran Pelanggaran Hak Asasi Manusia dan Hukum Kemanusiaan Pembunuhan Diluar Hukum (Extrajudicial Killings) Pembunuhan Kilat (Summary Killings) Selama Operasi Sweeping Penculikan yang Membawa Pada Kematian Penghilangan Secara Paksa (Forced Disappearances) Siksaan Fisik Penahanan Secara Sewenang-wenang dan Ketiadaan Proses Pengusutan Pembatasan Kebebasan Bergerak Pemerasan dan Pembatasan Terhadap Aktifitas Ekonomi Kembalinya Jaga Malam: Tugas Wajib Jaga Malam Pengungsian dan Perampokan Pertanggungjawaban Rekomendasi Untuk Pemerintah dan Pasukan Tentara Indonesia Untuk Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Untuk “Kuartet” (Amerika Serikat, Uni Eropa, Jepang, Bank Dunia) Untuk Pemerintah Malaysia Untuk ASEAN Untuk Negara-Negara, seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Australia, yang menyediakan bantuan atau latihan militer kepada Indonesia Lampiran 2 3 8 15 17 18 20 20 21 27 28 29 34 37 41 43 46 49 51 51 52 53 53 53 54 55

NOTE: This is an unofficial translation of the text of the HRW report by Kontras (http://www.kontras.org), the Commission for Disappearances and Victims of Violence; an Indonesian human rights NGO based in Jakarta. Please see the English language version for exact wording or confirmation of footnotes and other details. Laporan HRW ini tidak secara resmi dan diterjemahkan oleh Kontras (http://www.kontras.org), Kommissi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan; salah satu LSM HAM di Jakarta. Silakan membaca edisi di dalam Bahasa Inggris untuk susunan kata tepat, atau untuk konfirmasi catatan dibawah halaman majalah atau perincian yang lain.

Daftar Istilah
Ambil malam DOM Ambil malam adalah dimana seseorang dibawa dari rumahnya di waktu malam, seringkali oleh orang tak dikenal. Daerah Operasi Militer adalah sebuah penandaan yang diberikan kepada Aceh selama operasi anti-pemberontak yang dilaksanakan dari tahun 1990 s.d 1998. Gerakan Aceh merdeka. Ini adalah nama biasa dari gerakan separatis bersenjata yang dimulai tahun 1976 Bawah Kendali Operasi, penunjukan pasukan tambahan dari luar Aceh dan ditempatkan dibawah komando lokal Tugas wajib jaga malam Kartu Tanda Penduduk Merah Putih, atau kartu identitas merah dan putih yang disyaratkan bagi orang-orang Aceh dibawah darurat militer. Komando Daerah Militer Komando Distrik Militer Komando Rayon Militer Komando Resort Militer Komando Strategis Angkatan Darat Polisi Daerah Polisi Resort Polisi Sektor Tentara Nasional Indonesia

GAM BKO Jaga Malam KTP Merah Putih

Kodam Kodim Koramil Korem Kostrad Polda Polres Polsek TNI

Pendahuluan
Jika Kamu Lari, Kamu ditembak. Jika Kamu tidak lari, Kamu dipukuli.1 —Laki-laki Aceh berusia 20 tahun Perang tersembunyi sudah mengamuk di Aceh sejak bulan Mei 2003, ketika Presiden Indonesia Megawati Soekarnoputri mengumumkan Darurat Militer di propinsi tersebut. Laporan ini mencoba untuk menyampaikan beberapa kenyataan pada perang tersebut: eksekusi diluar hukum (extrajudicial execution), penghilangan secara terpaksa (forced dissapearence), pemukulan (beating), penangkapan dan penahanan secara sewenang-wenang (arbitrarily arrest and detention), dan pembatasan atas kebebasan bergerak. Di dalam banyak peristiwa yang dideskripsikan kepada Human Right Watch, pasukan keamanan Indonesia – militer dan polisi – secara rutin terutama mengambil jalan kekerasan terhadap laki-laki muda Aceh yang diberhentikan untuk ditanyai. Para saksi mengatakan kepada Human Right Watch mengenai pembunuhan para penduduk sipil saat terjadi “sweepings” di desadesa, sebagian ditanyai atau ditahan, beberapa lainnya melarikan diri karena takut dianiyaia. Seorang laki-laki mendeskripsikan kematian seorang laki-laki bernama Jamal: “Dia masih muda, masih duapuluh tahunan. Pada awalnya Saya hanya melihat tiga orang tentara tetapi kemudian yang lainnya bergabung. Saya melihat salah satu dari tentara tersebut memborgol pergelangan kaki lakilaki ini, lalu kemudian tentara lainnya memegang kakinya dan mengayunkannya menghantam sebuah pohon. Tentara tersebut melakukannya beberapa kali sehingga kepala laki-laki tersebut membentur pohon tersebut. Otaknya terburai keluar dari kepalanya, sampai akhirnya dia meninggal. Lalu mayatnya diletakkan di jalan dan tentara lainnya menembak beberapa kali kepada mayat tersebut.”2 Indonesia telah menempatkan kabut rahasia di sekeliling Aceh, propinisi berpenduduk empat juta orang yang terletak di ujung paling utara pulau Sumatra, sebagaimana negara ini mengadakan perang terhadap Gerakan Aceh Merdeka atau GAM. Dalam banyak usaha yang sukses untuk mengontrol informasi, Indonesia telah melarang organisasi hak asasi manusia internasional dan bahkan organisasi kemanusiaan untuk memasuki Aceh dan organisasi berita internsional untuk bergerak banyak diluar Ibukota propinsi, Banda Aceh. Dengan alasan ini, Human Right Watch berangkat ke Malaysia, dimana ribuan orang-orang Aceh mencari perlindungan sesudah menantang bahaya dan perjalanan yang mahal dari zona perang Aceh. Human Rights Watch juga prihatin akan memburuknya kondisi material dan ekonomi yang dapat menandai (bahkan mencerminkan) krisis kemanusiaan, sesuatu yang Human
1 2

Wawancara Human Right Watch (nama disembunyikan), Malaysia, 27 Oktobert 2003.

Wawancara Human Right Watch dengan laki-laki berusia empat puluhan (nama disembunyikan), Malaysia, 23 Oktober 2003.

3

Human Rights Watch, Vol. 15, No. 10 (C)

Rights Watch dan organisasi lainnya sudah peringatkan sejak berbulan-bulan yang lalu. Informasi yang bersifat anekdot dari kesaksian pengungsi, cerita pers dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang bocor keluar secara sporadis dari propinsi tersebut mengesankan bahwa ribuan penduduk Aceh telah dipaksa meninggalkan rumah mereka untuk melarikan diri dari konflik yang ada atau untuk mencari makanan dan tempat berlindung. Penduduk yang tetap tinggal di rumah mereka menjadi sasaran kekurangan bahan pangan, air dan sanitasi, dan mogoknya pelayanan dasar seperti pelayanan kesehatan dan pendidikan.3 Karena laporan ini disiapkan dari beberapa wawancara diluar Aceh, maka tidak dapat melukiskan gambaran menyeluruh tentang konflik senjata ini. Tetapi mungkin fakta yang paling menganggu dalam penelitian kami adalah cerita pelanggaran hak asasi manusia yang serius dan nampak sistematis sejak dimulainya Darurat Militer tidak terbuka. Semua orang-orang Aceh yang diwawancarai oleh Human Right Watch mempunyai cerita mengenai pelanggaran tersebut untuk disampaikan. Banyak dari mereka adalah korban. Secara tidak biasanya, banyak dari mereka menyaksikan penyiksaan terhadap yang lainnya – dalam beberapa kasus pembunuhan, atau pemukulan.4 Diluar fakta bahwa pada awal Juni Kepala Staff Militer Jendral Ryamizard Ryacudu menerima pihak manapun untuk meninjau operasi di Aceh,5 propinsi tersebut hampir seluruhnya tetap tertutup untuk orang luar. Pemerintah Indonesia sudah melarang diplomat, pengamat internasional yang independen, dan LSM internasional di bidang hak asasi manusia untuk memasuki Aceh dan menganjurkan badan kemanusiaan PBB dan LSM kemanusiaan luar negeri untuk pergi. Pekerja LSM Indonesia yang mencoba memonitor situasi tersebut telah diancam tahanan oleh polisi. Bahkan sesi pelatihan Komisi Hak Asasi Manusia National di Banda Aceh dihentikan oleh polisi atas perintah penyelenggara darurat militer pada 20 Oktober. Pihak yang berwenang mengatakan bahwa komisi tersebut tidak memberitahukan mereka mengenai acara tersebut yang disangkal oleh organisasi tersebut. Petugas kepolisian berada di antara para peserta dalam sesi pelatihan tersebut.6 Pemerintah Indonesia telah sangat sukse membatasi arus informasi dari propinsi tersebut. Sebagaimana laporan Human Rights Watch terkini yang didokumentasikan, pembatasan tersebut telah menjaga media dibawah pengawasan yang ketat.7 Untuk mengecilkan laporan mereka mengenai situasi tersebut, beberapa LSM telah terdaftar sebagai tersangka simpatisan GAM, suatu penandaan yang diperingatkan petugas
Lihat secara umum pada Human Right Watch , “Aceh dibawah Darurat Militer: Larangan yang Tidak Perlu dan Berbahaya terhadap Akses Kemanusiaan Internasional,” Makalah Ringkas Human Rights Watch, September 2003. Kerahasiaan dan intimidasi yang menyertai pelanggaran hak asasi manusia yang paling serius secara umum menyulitkan pengumpulan kesaksian saksi. “Badan Hak Asasi Pemerintah Berencana Mengadakan Penyelidikan di Propinsi Aceh” The Jakarta Post, 5 Juni 2003.
6 7 5 4 3

“POLRI Melanggar Hak dalam Sesi Komisi di Propinsi Aceh”, Agence France-Presse, 2 Oktober 2003.

Human Rights Watch, “Aceh dibawah Darurat Militer; Memberangus Para Kurir,” Sebuah Laporan Human Right Watch, vol 15, No. 9 (c ), November 2003.

Human Rights Watch, Vol. 15, No. 10 (C)

4

kepolisan dapat membawa kepada hukuman mati atas alasan subversi.8 Segel yang serapat-rapatnya sudah ditempatkan Indonesia pada desa-desa dan pegunungan di Aceh menimbulkan ketakutan bahwa pasukan militer di kedua belah pihak percaya bahwa, seperti di masa lalu, mereka bisa melakukan pelanggaran yang kebal hukum. Tujuan Indonesia yang jelas adalah untuk menyembunyikan tindakan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan pasukan keamanan lainnya. Hal ini pada akhirnya telah menyembunyikan tingkat kematian dan luka-luka sipil dan militer. Sementara masyarakat Indonesia dan opini Internasional (sebagaimana dalam putaran terkahir pertempuran dengan GAM di Aceh) yang bisa jadi mendukung prinsip-prinsip integritas wilayah Indonesia, ketika berhadapan dengan gafik biaya kemanusiaan akibat perang yang hampir seluruhnya pasti tidak dapat dimenangkan dalam medan perang, maka opini tentang perang bisa jadi mulai berubah. Kebanyakan yang dideskripsikan oleh para pengungsi kepada Human Rights Watch konsisten dengan sejarah panjang prilaku pelanggaran oleh pasukan keamanan Indonesia di Aceh. Taktik militer yang terkini di Aceh dikombinasikan dengan jumah serdadu baru yang disebarkan di propinsi tersebut memastikan meningkatnya kontak antara kekuatan keamanan dengan penduduk sipil, yang dapat menjelaskan beberapa pelanggaran yang terjadi. Terlebih penting lagi adalah lingkungan yang diciptakan oleh pejabat senior militer, yang sudah bersumpah untuk ‘menumpas’ GAM dalam kerangka waktu yang diumumkan.9 “Hal ini sudah ditambahkan untuk menekan tentara dan pejabat di lapangan untuk memenuhi misi mereka dan menghancurkan mereka yang dipercaya menjadi anggota atau pendukung GAM. Tekanan-tekanan ini bertindak seperti minyak yang disiram ke api diantara pasukan bersenjata yang mencerminkan persepsi yang di pegang secara nasional bahwa orang-orang Aceh adalah ‘bajingan’, penduduk yang separatis. Keyakinan bahwa semua orang Aceh mendukung GAM, meskipun tidak ditemukan, meliputi cara berpikir militer Indonesia dan diterjemahkan di lapangan dalam bentuk penggunaan kekuatan secara tidak pandang bulu terhadap penduduk sipil, terutama terhadap para pemuda.’ Komentar yang dikeluarkan oleh Brigadir Polisi Jenderal Gulliansyah, Kepala Operasi Penegakan Hukum, pada tanggal 3 Desember 2003 adalah contoh mengerikan jenis ceramah yang membakar yang dapat membawa kepada pelanggaran dan kegagalan pasukan militer untuk membedakan antara pejuang GAM dan orang-orang sipil, “Jika perlu tembak di tempat semua orang yang mengibarkan bendera GAM ini. Siapapun yang mengibarkan bendera tersebut pasti anggota GAM.”10

“Para Pendukung GAM Dapat Terancam Hukuman Mati,” The Straits Times, 4 Juni 2003, “Jika ada Bukti, Aktivis dan simpatisan GAM akan ditangkap,” detik.com, 21 May 2003. Raja Ismail dan Abdussalam Muhamad Dell, dua orang anggota organisasi hak asasi manusia di Aceh Timur yang disebut Pos Bantuan Hukum dan HAM, PB-HAM, menghilang dalam minggu-minggu sebelum Darurat Militer. Tubuh Raja Ismail ditemukan dua hari kemudian. Lihat Amnesty International, “Indonesia Melindungi Para Pelindung; Para Pembela Hak Asasi Manusia dan Pekerja Kemanusiaan di Nanggroe Aceh Darussalam,” 3 Juni 2003. “Putaran Terakhir Pembicaraan untuk Mencegah Perang di Aceh,“ Laksamananet, 20 April 2003; Matthew Moore, “Indonesia Mengatakan akan Menghancurkan Para Pemberontak.” The Age, 5 Nopember 2003.
10 9

8

“NAD: Tembak di Tempat Bagi Pengibar Bendera GAM,” Kompas, 4 Desember 2003.

5

Human Rights Watch, Vol. 15, No. 10 (C)

Pendekatan militer yang dilakukan Jakarta. No. Jepang dan Bank Dunia) yang terlibat di dalam perundingan damai antara Indonesia dan GAM. Sebagaimana di masa lalu. khususnya “kuartet” (Amerika Serikat. Rekomendasi utama laporan ini. Hal ini penting bagi kesejahteraan masyarakat Aceh bahwa organisasi yang tidak memihak. Kesaksian dari para pengungsi ini melukiskan contoh yang mewakili kehidupan penduduk sipil tertentu dibawah darurat militer. Vol. Gagalnya Kerangka Perjanjian Genjatan Senjata terhadap Permusuhan (the Cessation of Hostilities Franework Agreement atau COHA) memberi pukulan yang serius bagi harapan akan akhir sebuah negosiasi menjadi pelanggaran hak asasi secara besar-besaran di Aceh. Human Rights Watch menghimbau agar tekanan yang seberatberatnya ditempatkan pada Indonesia untuk menghentikan pelanggaran hak di Aceh merajalela dan memastikan kesejahteraan dan keselamatan penduduk sipil. ditujukan kepada Indonesia. mempunyai akses dan mampu untuk melaporkan kepada umum mengenai situasi disana. Banyak dari mereka sudah berada disana sejak Darurat Militer dimulai.Karena larangan terhadap akses. Human Rights Watch hanya mampu mewawancarai sembilan Human Rights Watch. Sekitar delapanpuluh lima wawancara dengan orang-orang Aceh dilakukan di bulan Oktober dan November 2003. tetapi malah menghasilkan gelombang baru pelanggaran terhadap hak asasi manusia. 15. Sedangkan untuk komunitas internasional. baik internasional maupun lokal. Wawancara di Malaysia dilakukan terutama dengan laki-laki Aceh berusia antara delapan belas sampai dengan tigapuluh lima tahun. Hanya dengan begitu maka pelanggaran hak asasi manusia dapat dideteksi dan organisasi kemanusiaan. Hal ini selanjutnya terlihat pada mayoritas pengungsi yang datang di Malasysia sejak dimulainya perang pada bulan Mei 2003. mendisiplinkan dan mengusut mereka yang melakukan pelangguran (rekomendasi lebih lanjut terdapat di halaman 42 dan 43) dan membolehkan akses yang segera dan tanpa kekangan ke Aceh untuk pengamat independen dan tidak berpihak serta badan-badan kemanusiaan. Uni Eropa. bukannya membawa akhir bagi konflik. informasi yang terdapat didalam laporan ini mungkin hanya merepresentasikan puncak gunung es yang berbahaya dan menakutkan saja dari kenyataan yang sebenarnya. selain membangun proses yang dipercaya untuk menghapuskan. beberapa diantaranya datang hanya beberapa hari atau minggu sebelum diwawancara. seperti badan PBB yang terkait. Sebuah Catatan mengenai Para Narasumber Human Rights Watch pergi ke Malaysia untuk mewawancarai individu yang meninggalkan Aceh karena pertempuran yang terjadi. adalah sederhana: ambil semua langkah yang mungkin untuk memastikan bahwa aparat keamanan bertindak secara profesional dan menghargai hak asasi manusia dan hukum kemanusiaan. Komunitas Internasional seharusnya membuat akses pada prioritas tertinggi. dapat menyediakan bantuan yang diperlukan. TNI khususnya menargetkan penduduk di kelompok usia ini di Aceh sebagai yang paling mungkin terlibat dalam aktifitas GAM. 10 (C) 6 .

Kurangnya akses terhadap para pengamat independen membuat mustahil unuk mengetahui seberapa mewakilinya laporan ini. Kami sudah menghilangkan nama-nama para narasumber dari Aceh. Lihat Human Rights Watch. perwakilan LSM Malaysia. dan staf di kantor United Nations High Commissioner for Refuges di Malaysia yang dianggap representatif. seperti penculikan atau penyitaan kartu identitas untuk dipergunakan oleh pejuang GAM. GAM tidak seharusnya melakukan tindakan yang menempatkan orang sipil dalam resiko khusus. Figur ini mencerminkan dua belas persen pendaftar baru di UNHCR adalah perempuan selama September 2003.perempuan dewasa dan seorang anak perempuan dari Aceh. UNHCR. desa asal mereka dan lokasi mereka di Malaysia. Sebuah catatan dalam hal pelanggaran GAM: Human Rights Watch prihatin terhadap penyiksaan yang dilakukan oleh GAM. Para peneliti Human Rights Watch tidak bisa mewawancarai mereka yang paling beresiko terkena kekerasan oleh GAM. Tetapi. GAM mempunyai catatan panjang tentang prilaku menyiksa di Aceh. “Indonesia: Perang di Aceh. karena Human Rights Watch tidak mempunyai akses di Aceh. Tetapi sebelum pemerintah Indonesia membuka Aceh untuk pengamat independen. laporan ini tidak berisi informasi semacam itu. 13. Agustus 2001. Meskipun demikian. Human Rights Watch juga mewawancarai pimpinan komunitas masyarakat Aceh. para pengungsi yang diwawancarai di Malaysia tidak melaporkan kasus semacam itu. vol. 12 11 7 Human Rights Watch. akademisi.” Sebuah Laporan Human Righat Watch. Human Rights Watch menghimbau GAM untuk bertindak sesuai dengan hukum kemanusiaan internasional. Human Rights Watch secara konsisten bertanya kepada mereka yang diwawancarai seandainya mereka pernah menyaksikan atau menjadi korban penyiksaan GAM. 2003. 10 (C) . atau mereka yang dicurigai menolong militer. No.12 Orang-orang semacam itu lebih cenderung melarikan diri ke bagian lain dari propinsi tersebut atau menyebar ke daerah lain di Indonesia daripada pergi ke Malaysia. Dikarenakan resiko tindakan balas dendam. selebihnya dilakukan dengan penterjemah bahasa Aceh. seperti etnis Jawa. Human Rights Watch mengakui bahwa kurangnya kesaksian tidak secara perlu berarti bahwa tidak ada penyiksaan yang dilakukan.11 Banyak wawancara dilakukan tanpa penterjemah dalam Bahasa Indonesia. 4 (c). informasi mengenai kemungkinan penyiksaan yang dilakukan GAM akan sulit diperoleh.” JuliSeptember. Komisi Hak Asasi Manusia Malaysia. Laporan ini hampir seluruhnya terdiri dari kesaksian tangan-pertama yang meliputi banyak kabupaten di Aceh dan keseluruhan periode darurat Militer. 15. dengan Profil Demografis. Secara khusus. aktivis mahasiswa. Vol. “Ringkasan Statistik Pendaftaran Berdasarkan Asal Etnis. No.

dan struktur komando yang secara relatif terorganisir dengan baik.Konteks Kekerasan yang Terjadi Sekarang: Perang Panjang di Aceh Kami tidak bisa hidup. “Indonesia: Panduduk Sipi Menjadi Target di Aceh. hal. Al-Chaidar. 14 15 13 Tim Kell. status resmi militer di Aceh sejak tahun 1990 sampai dengan 1998. disiapkan oleh pemerintah propinsi di akhir tahun 1998. meskipun operasi dan penyiksaan berlanjut sampai sesudah DOM berakhir. Dari bulan Juli 2001 sampai saat operasi darurat militer membuat mereka harus bertahan. 10 (C) 8 . Tetapi kini keadaan sudah kembali mengerikan. No.” Sebuah Laporan Human Righst Watch. mencatat 871 orang terbunuh secara seketika oleh tentara. DOM adalah singkatan dari Daerah Operasi Militer. 1998). 13. vol 12. Sesudah DOM selesai sempat ada setahun dimana segalanya berlangsung lebih baik. Betapapun baru empat tahun terakhir ini mereka sudah membangun pangkalan penting yang terkenal.” Sebuah Laporan Human Rights Watch. dengan kehadiran terkuat khususnya di enam dari kebupaten yang terbanyak penduduknya dan tersejahtera. 106. 15. Lebih dari 500 orang lainnya terdaftar sebagai “orang hilang” dan tidak pernah ditemukan. “Indonesia. —Laki-laki Aceh usia 30 tahun13 GAM sudah ada sejak para pendirinya mendeklarasikan kemerdekaannya dari Jakarta pada tahun 1976. 4 (c). fase terburuk DOM. Sekitar seribu orang Aceh dari masyarakat sipil terbunuh dalam tiga tahun pertama operasi tersebut. Perang di Aceh. Agustus 2001. Kami bisa mendapat pekerjaan. Lihat Human Right Watch. DOM masih ringan. 1995. hal. sampai akhirnya pemerintahan Soeharto menyatakan Aceh sebagai “Daerah Operasi Militer” atau DOM dan menyusun salah satu kampanye kontra-pemberontak terbesar yang terlihat sejak tahun 1960. Selalu begitu selama DOM. Aceh Diselubungi oleh Darah (Jakarta: Pustaka as-Kautsar. Maret 2002. tetapi spur lain yang penting untuk gerakan kemerdekaan telah menjadi kegagalan pemerintahan paska Soeharto untuk memusatkan pelanggaran hak asasi manusia di masa lalu. “Indonesia: Pertanggungjawaban Terhadap Kejahatan Kemanusiaan di Aceh. dan 387 orang hilang yang kemudian pada akhirnya ditemukan meninggal. pergi kemanapun kami mau. 23 Oktober 2003. Human Rights Watch. 62-63.” Makalah Ringkas Human Rights Watch. tidak bisa dibandingkan dengan sekarang. sumber persenjataan tetap.15 Hampir semua perkiraan LSM setidaknya berjumlah dua kali lebih besar. no 1 (c). Penghitungan korban yang paling konservatif. Sayed Mudhahar Ahmad dan Yarmen Dinamika. Akar Pemberontakan Warga Aceh 1989-92 Lithace: Cornell Univeristy. sebagian sehubungan dengan sumber daya gas dan minya. Para pendiri GAM menekankan perampasan kekayaan dan sumber alam Aceh oleh penduduk baru “Orang Jawa-Indonesia” atas nama pembangunan dan kebutuhan untuk merebut kembali kejayaan masa lalu Aceh. Situasi sekarang lebih dari DOM. mencai kerja. Apa yang disebut sebagai peride Daerah Operasi Militer dimulai pada tahun 1990 sesudah GAM menyusun serangkaian penyerangan terhadap pos polisi dan militer untuk merampas amunisi dan lusinan senjata otomatis. telah dan seterusnya menjadi penting. Mei 2000. tidak bisa mencari uang. Sebagai tambahan. GAM menjalankan pengawasan terhadap bagian yang luas di Aceh.14 Keluhan ekonomi. Malaysia. Human Rights Watch. no. vol. Vol. Human Rights Watch. belasan ribu orang Aceh dipenjara dan disiksa di dalam Wawancara Human Rights (nama disembunyikan).

hal ini bisa membuat pemutusan dengan masa lalu yang menentukan. sosok-sosok kunci dalam hirarkis DOM berlanjut untuk menduduki posisi-posisi yang berpengaruh di seluruh Indonesia. Seandainya. secara resmi meminta maaf kepada masyarakat Aceh atas perbuatan yang keterlaluan selama era DOM. Di bulan Agustus 1999. dan secepatnya mengusut mereka yang bertanggungjawab atas pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan selama periode DOM. B. Pengunduran diri Soeharto di tahun 1998 menciptakan harapan di sepanjang Aceh bahwa keadilan akan dilakukan. meskipun dalam tingkat intensitas yang lebih rendah daripada dalam periode 1990-1993. Habibie. Komandan TNI. memberikan propinsi tersebut lebih banyak otonomi. dan perkosaan menurut laporan menyebarluas. Komisi Hak Asasi Manusia Indonesia menyarankan untuk dibentuknya Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi khusus untuk Aceh. II dan II. Bagaimanapun. empat elemen kunci berkumpul bersama untuk memfasilitasi perkembangan yang cepat dari gerakan kemerdekaan: sebuah organisasi gerilya bersenjata. Tampaknya setiap orang Aceh di daerah yang terpukul paling berat dapat menyebutkan anggota keluarga mereka yang menjadi target utama langsung dari pelanggaran hak asasi manusia. No. 10 (C) . Di awal tahun 1999. termasuk membangun kembali fasilitas yang dihancurkan. panitia khusus di DPR untuk Aceh membuat serangkaian rekomendasi untuk presiden baru. yang menerima tanggung jawab kepresidenan ketika Soeharto turun di tahun 1998. Beberapa orang di Jakarta sepertinya memahami derajat kemarahan terhadap pelanggaran selama era DOM sudah merubah dinamika politik di Aceh: GAM sekarang mempunyai jauh lebih banyak pendukung yang mau menerima mereka daripada yang sebelumnya mereka punya. Pada bulan Agustus 1998.kamp militer. Jendral Wiranto. Sadar Rencong I. membuka dialog dengan pihak-pihak yang terkait dengan konflik. Abdurrahman Wahid. dengan 102 kasus yang tercatat oleh tim pemerintahan lokal. Vol. Sejak awal 1999.J. dinamika politik di propinsi tersebut mengalami perubahan genting lainnya. dan Cinta Meunasah I dan II – 9 Human Rights Watch. tetapi rekomendasi mengenai pengusutan diabaikan. Daripada pengusutan malah terjadi peningkatan dalam jenis-jenis kejahatan hak asasi manusia yang menandai periode DOM. Operasi militer dibawah serangkaian kode-kode nama – Wibawa 99. pada titik ini. Rekomendasi-rekomendasi tersebut menghasilkan perubahan dalam rancangan undang-undang tentang otonomi. Tidak ada yang terjadi dari sana. mengumumkan bahwa warga Timor Timur akan diberikan kesempatan untuk memilih antara pemberian otonomi dan memisahkan diri dari Indonesia. Yang keempat adalah serangkaian kesalahan di Jakarta. Di bulan Desember 1999. sebuah gerakan politik pro-kemerdekaan yang mulai timbul dan mobilisasi penduduk secara besar-besaran yang mencari saluran-saluran untuk mengekspresikan kefrustasian mereka terhadap Jakarta atas kegagalannya mengatasi pelanggaran masa lalu. pemerintah Indonesia sudah bergerak untuk menyelidiki dan mengusut para pejabat atas peran mereka dalam pelanggaran tersebut. 15. sebuah kongres yang dibentuk oleh seluruh mahasiswa Aceh meminta sebuah referendum kemerdekaan untuk dilaksanakan di Aceh. Penyiksaan terus berlangsung sampai DOM berakhir di tahun 1998. Dalam hitungan hari.

mulai bergerak diluar penyerangan sporadis terhadap polisi dan tentara untuk menyiapkan sebuah pemerintahan alternatif. “saat pemimpin perempuan kalian memimpin negara ini. kandidat presiden Megawati Soekarnoputri menjanjikan bahwa jika dia terpilih maka dia akan berusaha kerasa untuk mengakhiri komflik yang sudah berjalan begitu lama. jenjang dasar dinas pemerintah Indonesia. kekerasan menurun dengan tajam. dan kepergian militia pro-Indonesia dari timur sampai barat Timor menyediakan sumber persenjataan baru yang utama. GAM mampu untuk menghasilkan pemasukan yang penting dalam “pajak perang” dari perseorangan dan bisnis. Jeda tersebut diperbaharui dua kali. No. suatu gencatan senjata yang bukan sungguhan. Kadang melalui persuasi. 15. HDC menghasilkan suatu “jeda kemanusiaan” dalam konflik tersebut. GAM. Human Rights Watch. Aceh barat. untuk mendiskusikan masalah keamanan dan kekerasan selama ‘jeda’ tersebut. menteri pertahanan Indonesia dan komandan TNI mengumumkan operasi militer baru melawan GAM. dengan 16 “Penduduk Desa Aceh Menemukan Pemakaman Masal”. Di bulan Mei 2000. yang melihatnya sebagai cara GAM untuk mengkonsolidasikan kontrolnya terhadap daerah pedesaan. Sejalan dengan meningkatnya kekerasah dari pihak Indonesia.”16 Di pertengahan tahun 2000 datanglah organisasi yang berlandaskan resolusi konflik dari Geneva. membangun kemarahan orang-orang yang meningkat. terdiri dari baik GAM maupun perwakilan pemerintah. Pada bulan Juli 1999. kadang melalui penculikan dan sejenis pendidikan kembali untuk pejabat-pejabat pemerintah daerah. serangan oleh GAM kepada militer dan polisi juga meningkat. Henri Dunant Centre.membawa kepada jumlah serdadu lebih besar dan seluruh desa dihukum sebagai pembalasan dendam atas serangan GAM. Vol. GAM secara berangsur-angsur mengambil alih kebanyakan fungsi-fungsi pemerintah yang dimulai dari Kabupaten Pidie dan berangsur berpindah jauh kedalam Aceh Utara. tanpa diduga sebelumnya oleh orang-orang. Saya tidak akan mengizinkan satu tetes pun darah manusia menyentuh tanah kalian. Nama yang diberikan kepada usaha perdamaian berubah dari ‘jeda kemanusiaan’ menjadi ‘penundaan kekerasan’ lalu menjadi ‘perdamaian melalui dialog”. yang sukses. Di saat yang sama. Jumlah pasukan dinaikan dalam usaha sistematis yang ditujukan kepada kubu dan markas GAM yang dicurigai. Mereka melakukannya dengan mengganti kepala-kepala desa. Julia Suryakusuma. Pada tanggal 9 Maret 2001. dalam menjadi menengahi perundingan antara GAM dan pemerintah Indonesia. 30 Juli 1000. Aceh Timur dan Aceh Selatan. BBC World News. 29 Agustus 2003. Sebagai bagian dari perjanjian berkenaan dengan ‘jeda’ tersebut. panitia dibentuk di Aceh. Menitikan air matanya di Aceh dia mengumumkan. International Herald Tribune. dan mengadakan kembali dewan sesepuh desa yang sudah ada sebelum Aceh bergabung dengan Republik Indonesia. tetapi usaha dasar untuk menjaga pembicaraan antara pihak-pihak terkait terus berlanjut. dengan ketidaksenangan militer Indonesia. “Perang Kecil untuk Menyokong Penilaian”. 10 (C) 10 . yang kemudian berganti nama menjadi Pusat Dialog Kemanusiaan (the Centre for Humanitarian Dialogue atau HDC) kedalam situasi tersebut. Pada bulan-bulan pertama ‘jeda’ tersebut.

pada tanggal 21 Mei para tentara membunuh tujuh orang. mengakui bahwa mereka tidak mampu untuk mengumpulkan data di lapangan secara efektif. Meskipun begitu hanya terdapat sedikit kemajuan terhadap penyelesaian konflik secara politis. Vol. Militer mengatakan semua korban adalah anggota atau mata-mata GAM. 10 (C) .” The Jakarta Post. 14 Juni 2003. sesudah kunjungannya pada bulan Juni ke propinsi tersebut. Sesudah penangkapan terhadap empat juru runding GAM dan runtuhnya parit-terakhir (last-ditch) pembicaraan damai di Tokyo. dan pada mulanya membawa pengurangan kekerasan. Komnas HAM. Pada bulan Desember 2003. tapi membuka pintu terhadap lebih banyak perundingan yang dilakukan dalam pengawasan internasional. Ini adalah harapan terakhir yang terbaik untuk perdamaian di Aceh. Segera terdapat tuduhan berkaitan dengan kekerasan terhadap hak asasi manusia oleh TNI. meskipun mereka tidak menyalahkan secara umum. dan dibawah tekanan dari Amerika Serikat. Keputusan tersebut menempatkan Aceh dibawah Darurat Militer selama enam bulan. (“kuartet”). termasuk dua orang bocah berusia dibawah empat belas tahun. 11 Human Rights Watch. Muninggar Sri Sraswati. GAM menuduh bahwa Indonesia tidak berunding dengan niat baik. Indonesia berkeras bahwa GAM tidak mengakui tuduhan hendak merebut kemerdakaan dan menuduh GAM menggunakan COHA untuk membangun kembali kekuatan bersenjatanya dan meluaskan basis politiknya. dengan perantara HDC. Semua korban memakai pakaian sipil. tanggal 19 Mei 2003. 20 Juni 2003. dan TNI serta dinas keamanan Indonesia lainnya menggembar-gemborkan untuk ‘menumpas’ GAM dalam periode tersebut meskipun banyak pengamat menyangsikannya. No. Presiden Megawati menandatangani Keputusan Presiden nomor 28. menegaskan bahwa anak-anak tersebut berada diantara korban pembunuhan extra-judicial di Aceh.banyak tuduhan dari organisasi lokal atas nama penududuk sipil yang terbunuh selama proses tersebut. Baik perkiraan pemerintah maupun GAM tidak dapat diandalkan (misalnya jumlah orang sipil yang hilang yang berasal dari pemerintah hanya terbatas pegawai pemerintah saja) dan LSM di lapangan. dan 151 mayat di akhir minggu ketiga. 15. Uni Eropa. meskipun organisasi tersebut mengatakan bahwa hal tersebut tidak dapat 17 “Badan Hak Asasi akan Memeriksa Laporan Pemakaman Masal di Aceh Minggu Depan.17 Jumlah pasti korban-korban sipil sulit untuk ditetapkan mesipun semua pihak mengesankan bahwa korban sipil dan pejuang (GAM) sangat besar. seperti organisasi terhormat seeperti Kontras cabang Aceh. Dalam satu kasus yang dilaporkan dengan baik dari hari-hari pertama Darurat Militer.” Agence FrancePresse. Palang Merah Indonesia melaporkan bahwa mereka menemukan delapanpuluh dua mayat di minggu pertama. Jepang dan Bank Dunia. Indonesia dan GAM menandatangani Perjanjian Kerangka Gencatan Senjata atas Permusuhan (the Cessation of Hostilities Framework Agreement atau COHA). meskipun para penduduk lokal menolaknya. yang memberi wewenang kepada pasukan kemanan Indonesia untuk melancarkan operasi militer besar-besaran melawan GAM. Meskipun COHA tidak menunujukan perbedaan yang mendasar. Komisi Hak Asasi Manusia Indonesia. “Badan Hak Asasi Menegaskan Pembunuhan atas Warga Sipil Tanpa Nama di Bireuen.

pelecehan seksual. 22 Pemerintah Indonesia menyalahkan GAM atas korban-korban tersebut. BBC memberitakan bahwa dalam minggu pertama operasi. 11 Juni 2003. 23 Agustus 2003. korban sipil terbesar berasal dari Aceh Utara (110).18 Dalam indikasi lain tentang tingginya jumlah korban awal. 15. “Perang Indonesia dengan Para Separatis Memakan 1. “Pelanggaran Hak Asasi di Aceh Dapat Membawa Intervensi PBB. termasuk pembunuhan. Pencapaian yang Tidak Jelas. 21 Di bulan November. Sebagai contoh.” Ahmad Pathoni. 2003.23 18 “Palang Merah Indonesia Mengatakan Memindahkan 151 Mayat di Aceh. Komnas HAM mengatakan bahwa di awal bulan Juni mereka akan meneyelidiki lebih dari dua puluh kasus tentang pelanggaran hak yang diduga keras terjadi selama dua minggu pertama operasi militer di propinsi tersebut. dan tujuhpuluh delapan sipil menjadi korban penghilangan secara paksa. dan tergantung dari sumber dan bentuk penyiksaan. Vol. Di sekitar Lhokseumawe jumlah tersebut dilaporkan sebanyak enam orang per hari. Kontras Aceh menemukan bahwa banyak warga sipil menjadi korban selama operasi militer di Indonesia dalam pencarian para gerilyawan.” Agence France-Presse. 20 Tertiani ZB Simanjuntak. Kontras Aceh. 26 May 2003. Perkiraan Kontras Aceh pada tanggal 18 Agustus menempatkan jumlah yang kurang lebih sama yaitu 329 warga sipil terbunuh. “Komnas HAM Hendak Menyelidiki Pelanggaran-Pelanggaran di Aceh. juru bicara militer melaporkan bahwa setidaknya 395 orang sipil telah terbunuh sejak dimulainya Darurat Militer.menegaskan bahwa mereka semua non-pejuang. No. 3 Juni 2003. 19 dan jumlah korban lebih jauh dari dua pusat perkotaan tersebut kemungkinan lebih tinggi.” The Jakarta Post. Bireun. penguasa darusat militer membatasi gerakan tim sama sekali. Meskipun tidak ada kasus dimana korban diganggu oleh pelaku. Aceh Timur (70) dan Aceh Selatan (45). Kebanyakan perkirakan mencatat secara khusus tingginya korban sipil di Aceh Utara dan Aceh Timur. Aceh Selatan. 10 (C) 12 . Lihat “319 warga sipil terbunuh dalam Kekacuan Aceh di Indonesia. LSM tersebut menekankan bahwa jumlah sebenarnya kemungkinan lebih besar karena adanya keterbatasan pelaporan dan investigasi.” September 2003. 19“Permintaan Suplai Tambahan di Aceh” British Broadcasting Corporation. pelecehan seksual. kamar mayat rumah sakit utama Banda Aceh menerima rata-rata tiga mayat per hari.100) dan senjata yang ditemukan (485). kebanyakan dari mereka adalah para pemuda dengan luka tembak. tetapi dalam pernyataan secara umum komisi tersebut mengatakan bahwa pembunuhan.” Reuters. Dean Yates. 213 kasus penangkapan dan penahanan secara sewenang-wenang. 23 22 Memperhatikan ketidaksesuaian antara anggota GAM yang berdasarkan laporan terbunuh (1. Tidak ada laporan yang dikeluarkan. Pemerintah Indonesia melaporkan bahwa sekitar 1. 18 Human Rights Watch. 21 M.” Reuters.100 anggota GAM telah terbunuh di bulan Oktober. perkosaan dan pemindahan secara paksa dan penculikan masih tetap merajalela. “Deutsche Presse-Agentur. Perang Kotor yang Tidak Terungkap. May 26. Human Rights Watch prihatin baik kepada mereka yang diklasifikasikan sebagai GAM namum ternyata orang sipil. “Indonesia Melancarkan Kampanye Aceh Melawan Pemberontak. dari 319 kematian warga sipil yang dilaporkan oleh polisi pada tanggal 3 September 2003. begitu juga 315 warga sipil disiksa atau dipukuli. dan juga anggota GAM yang mungkin terbunuh diluar pertempuran dalam pelanggaran hukum kemanusiaan. “Makalah Ringkas tentang Aceh: Propinsi Aceh.” The Jakarta Post. 20 Meskipun tim komisi ad-hoc dapat bertemu dengan lebih dari seratus orang saksi mata dalam misi kedua mereka selama lima hari di bulan agustus. Sidney Jones dari Kelompok Krisis Internasional (Inetrnational Crisis Group) telah mencatat. “Pertanyaan sesunggunya adalah berapa banyak dari orang-orang tersebut yang dideskripsikan sebagai pemberontak pada kenyataannya adalah GAM. dan Aceh Besar. perkosaan dan pemindahan (displacement) secara paksa.600 Korban. Taufiqurrahaman. 5 September 2003.

diperkirakan 28. sebagaimana juga kekuatan Kostrad dan Kopassus untuk membantu pengumpulan operasi dan intelijen.” Wawancara dengan Ryamizard Ryacudu. “Tugas kami adalah untuk menghancurkan kemampuan militer GAM. kabupaten (Kodim). 25 13 Human Rights Watch.000 pemberontak GAM dengan 2. “Militer Indonesian dan Militia Sipil di Timor Timur” Backgounder Human Rights Watch. Banyak dari November 2003. TNI akan menempatkan bukti bahwa korban tersebut adalah anggota GAM. kesejahteraan sosial.000 pasukan dan 12. atau “pasukan khusus”. Dalam kampanye militer tebesar militer Indonesia sejak penyerbuan ke Timor Timur. meskipun mereka dikenal dengan reputasi buruk karena keterlibatan mereka dalam pelanggaran hak asasi manusia sepanjang kepulauan ini.24 Suatu ukuran dari peran utama operasi militer dalam operasi terpadu ini adalah luasnya cakupan upaya militer. penegakan hukum kemanusiaan. yang menurut pemerintah Indonesia termasuk komponen-komponen militer. Lihat Human Rights Watch. Vol. pada tingkatan kecamatan (polsek) dan propinsi (Polda) dan unit brigadir mobil polisi paramiliter. Malaysia. Mayor Jenderal Endang Suwarya.000 polisi (kebanyakan dari mereka menjalankan fungsi paramiliter) telah disebarkan propinsi tersebut untuk berperang melawan sekitar 5. 10 (C) .25 Pasukan polisi termasuk polisi lokal. pendidikan – hal-hal tersebut bukanlah masalah militer Indonesia. 26 Oktober 2003. “Tidak Ada Daerah yang Bisa Melepaskan Diri: Time Asia. 24 Diluar sifat dasar terpadu operasi. No. Kopassus. dan pemerintah daerah. Brimob. Unit tentara termasuk ‘organik’ atau kekuatan berbasis lokal tingkatan kelurahan (Koramil). Unit “non-organik” dikirim dari bagian lain Indonesia termasuk battalion infantri dari propinsi lainnya. Kostrad dapat dikenali melalui baret hijau mereka dan sebagai pasukan tentara khusus TNI. Wawancara Human Rights Watch dengan seorang laki-laki berusia empat puluh-an (nama disembunyikan). Beberapa orang Aceh di Malaysia menyatakan bahwa sesudah membunuh seorang warga sipil. meskipun hanya dengan satu kesaksian saksi mata. Kepala TNI Ryamizard Ryacudu menyatakan dalam sebuah wawancara. persoalan keadian. sering bekerja bersama-sama dengan unit militer. adalah spesialis dalam pengumpulan intelijen dan operasi khusus dan dianggap sebagai kebanggan pasukan tentara. fokus yang berlebihan telah ditempatkan pada operasi militer. yang mengenakan baret merah. kesaksian yang dikumpulkan dalam laporan ini memperjelas bahwa operasi militer lah yang mempunyai pengaruh terhebat terhadap penduduk sipil. yang cenderung lebih terlibat dalam operasi militer. Tetapi usaha apapun yang bisa dilakukan pemerintah Indonesia untuk membatasi kengerian perang bagi penduduk sipil. mengawasi semua aspek dari operasi ‘terpadu’ Indonesia di Aceh. efektifitas dan kekuasaan programprogram non-militer akan sulit untuk dinilai. April 1999. sub-regional (Korem) dan regional (Kodam).000 senjata. Penyelenggara Darurat Militer di Aceh.Pengenaan darurat militer berarti bahwa semua instrumen pemerintah sekarang berada di bawah kontrol militer. 2 Juni 2003. otonomi. Tetapi sejauh ini sejak propinsi tersebut tertutup dari pengamat internasional independen. Kesatuan tempur yang kuat dari kekuatan militer Indonesia telah disebar di Aceh. agama. Operasi terpadu ini disusun sebagai usaha untuk memenangkan perang dengan GAM sekaligus memenangkan hati dan pikiran penduduk lokal. 15.

Sebagai tambahan. Vol. Marinir dan Kopassus. pertempuran jalanan. satuan tugas Rajawali beroperasi di unit pasukan peleton yang dibentuk dari pasukan yang berasal dari cabang dan wilayah yang berbeda. Tapol. Kodam Iskandar Muda dikepalai oleh Mayor Jenderal Endang Suwaryo. Satuang tugas menurut laporan telah dilatih oleh Kopassus dalam peperangan anti-gerilya. September 2000. 17 April 2001. kapal-kapal tempur dan helikopter. menggantikan Mayor Jendral Bambang Darmono. Desa-desa dalam atau dipinggir daerah-daerah ini secara khusus cenderung terjebak didalam peperangan mereka. untuk Aceh. yang juga sekarang menjadi penyelenggara Darurat Militer. pertempuran di daerah hunian. 10 (C) 14 . barisan terdepan perburuan GAM adalah pegunungan dan hutan.” The Jakarta Post. pasukan pembentu yang penting) Pada tahun 2002 penguasa militer menciptakan komando regional baru.26 Meskipun konflik dapat mengambil tempat dimanapun. No. udara dan marinir Indonesia juga sudah memainkan peran dalam kampanye melalui penyerbaran kapal-kapal perang. Brigadir Jendral Goerge Toisutta tersebut pada bulan November sebagai komandan operasi militer dibawah Darurat Militer untuk TNI di Aceh. pasukan terjun payung. 15. Human Rights Watch.mereka telah dikirim dari luar Aceh untuk membantu operasi (dikenal sebagai BKO atau Bawah Kendali Operasi. Bulletin Online 159. termasuk Kostrad. atau Kodam. yang menjadi bagian dari komando yang lebih luas yang berpusat di propinsi tetangga Sumatera Utara. Aceh mempunyai dua Korem. kapal amfibi. Angkatan laut. Korem Teuku Umar di Banda Aceh dan Korem Lilawangsa di Lhokseumawe. 26 “Kopassus BErsiap Menumpas Pemberontak Aceh. tank-tank. strategi penyergapan dan teknik-teknik tembak-untuk-bunuh.

15. Keadaan hanya sedikit aman selama periode tersebut.28 Dimulainya kampanye militer Indonesia di Aceh dalam bulan Mei ditandai dengan pertunjukan kekuatan besar-besaran. di Langsa (Aceh Timur)… Saya menelepon rumah tanggal 5 Oktober dan pos TNI yang berada di dekat rumah Saya sudah bertambah dari satu pos menjadi tiga pos – kami berada dekat pegunungan. kepada Human Rights Watch: Sudah jelas apa yang akan terjadi. Sudah terdapat banyak TNI. Air mata kami semua sudah kering. Saya berharap untuk menetap selama enam bulan. menuju ke Barat… Pada tempat pemeriksaan mereka memeriksa tas-tas.” The Jakarta Post. seorang laki-laki duapuluh lima-an. Bulan Maret 2003. No.Hidup di bawah Darurat Militer Harus dimengerti bahwa para pejabat kami berprilaku cukup agresif di mata umum. Pada hari dimana (presiden) Megawati 27 28 “TNI Berencana untuk Menyusun Ulang Penyebaran Pasukan di Aceh.27 Kami tidak menangis. darurat militer datang. Kami bahkan tidak bisa menangis lagi dengan trauma yang kami alami hari ini. 10 (C) . Wawancara Human Right Watch dengan laki-laki berusia empat puluh dua tahun (nama disembunyikan). kartu identitas. Malaysia. Sebagaimanya yang dikatakan bekas aktifis mahasiswa. Bom sonik dan peragaan udara oleh Angkatan Udara Indonesia memang jadi sekedar untuk pertunjukan. Seorang laki-laki berusia dua puluh lima tahun. menggambarkan usahanya untuk meninggalkan propinsi tersebut: Saya datang kesini (Malaysia) ketika segalanya pertama kali meledak. tahun 1998.000 polisi yang bertugas “menumpas” GAM. Saya pulang ke rumah secara sukarela. setiap hari di Aceh. yang lainnya. tetapi mereka juga menggambar-gemborkan penyebaran sekitar 28. Penjelasan atas kampanye tersebut diterangkan sebelum pernyataan resmi Darurat Militer. 15 Human Rights Watch. —Laki-laki Aceh berusia empat puluh tahun. Dua orang yang berada dalam bus ditahan: satu di Alue Ie Puteh di Aceh Utara. yang kembali ke Aceh dari Malaysia pada bulan Maret ketika the COHA diberlakukan. 26 Juli 2003. Vol. Saya pergi dari Aceh ke Medan dengan minibus. 5 November 2003. tetapi mereka pada dasarnya personil yang ramah dan bersahabat. —Juru bicara untuk administrator daurat militer Kolonel Ditya Soedarsono. tetapi sesudah tiga bulan.000 pasukan dan 12. Pada saat itu Saya sedang berada di Kecamatan Samalanga. tujuan. yang meninggalkan Aceh dua minggu sebelum darurat militer dimulai. Kabupaten Bireun. Bis Saya harus menunggu dua puluh menit untuk lewatnya iring-iringan truk tentara sebanyak tigapuluh lima truk. dengan militer Indonesia memamerkan pasukan dan perlengkapan terbaik mereka didepan pers dunia.

000 orang sipil meninggalkan rumah-rumah mereka. 10 (C) 16 .31 Operasi termasuk patroli yang luas dan ‘penyapuan’ (sweeping). 15. dan meningkatkan operasi di waktu malam. Saya tidak bisa tinggal di Aceh lagi. Bahkan pembicara-pembicara Indonesia sering menggunakan istilah bahasa inggris “sweepings”. 26 May 2003. Saya bisa mendengarkannya dari desa Saya. 26 May. Traumanya terlalu banyak. 2003. 28 Oktober 2003. Saya sedang menanm padi. Mereka yang dari laut (datang) dari laut.” Reuters. Begitu banyak hal yang telah terjadi. Teman-teman Saya dipukuli oleh militer. Perlengkapan untuk Memerangi Pemberontak Aceh. pemeriksaan dokumen. Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki limapuluh tujuh tahun (nama disembunyikan). bertanya-tanya seandainya Saya akan hidup atau mati.mengumumkan darurat militer secara resmi… TNI datang ke Aceh. Pagi berikutnya terdengar suara peluru dan ledakan. lebih banyak patroli kerjasama militer dan polisi untuk membatasi gerakan para pejuang GAM.30 Hari-hari sesudah pernyataan Darurat Militer. mereka yang dari laut. pejabat militer mengumumkan beberapa perubahan terhadap strategi tersebut. 30 “Indonesia Memindahkan Pasukan. taktik yang dirancang untuk mengindentifikasikan separatis atau pendukung mereka melalui pencarian kendaraan. kendaraan amphibi. lebih dari 21. peluru-peluru di sawah. TNI datang mencari GAM. Enam jet tempur lewat di atas kepala Saya. “Indonesia Melancarkan Aceh Kampanye Melawan Pemberontak. Banyak yang sudah diancam. No. dan pencarian secara sistematis dari satu desa sesudah desa lainnya. intensifikasi operasi intelejen. Tapi kami katakan kepada mereka bahwa tidak ada GAM disana – yang mati hanyalah sapisapi dan ayam-ayam. Orang bilang di Samalaga terdapat tiga buah tank.29 Seorang laki-laki dari Aceh Tengah yang tiba di Malaysia di awal Agustus mengatakan pada Human Rights Watch: Saya meninggalkan Aceh karena terdapat pertempuran dan tembakan senjata setiap hari antara TNI dan GAM di segala penjuru Aceh. termasuk unit-unit yang lebih kecil disebarkan dalam pencarian kepemimpinan GAM yang kebanyakan tidak sukses.” Associated Press. 29 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia dua puluh lima tahun (nama disembunyikan). Malaysia. Vol. 32 31 Dean Yates. (datang_ dari laut. Human Rights Watch. 24 Oktober 2003.32 Pada akhir Juli. yang dimaksudkan untuk mengurangi korban sipil. militer membawa artileri berat dalam posisi untuk menyerang basis pemberontak.

Saya rasa Rajawali. sebelum naik ke atas lagi. Pasukan keamanan tinggal disana sekarang. tidak peduli kami melakukan sesuatu yang salah atau tidak. 10 (C) . Mereka membangun pos-pos tepat di desa-desa. Tentara-tentara tersebut takut pergi ke pegunungan. dengan pos-pos militer setiap dua kilometer. Malaysia. sekitar tiga puluh tentara. Vol. Meningkatnya kehadiran di desa-desa nampaknya bertujuan untuk membatasi dukungan materi dan moral dari penduduk lokal untuk GAM dan kemampuan GAM untuk mengambil pengungsi di desa-desa dan mengikutsertakan mereka dalam pengerahan. istri dan keluarga Saya sudah mengatakan pada Saya untuk pergi… Mereka (TNI) “suka-suka tembak”. 33 Wawancara Human Right Watch dengan perempuan berusia tigapuluh-an (nama disembunyikan). Malaysia. Mereka membunuh kami seperti semut. kontak antara orang sipil dan militer sekarang adalah kejadian sehari-hari. TNI mencari GAM. di dalam semua dusun kecil. ketika mereka membangun pos di desa. kemudian mereka turun kebawah selama dua hari untuk mengambil makanan dan beristirahat.34 Seorang laki-laki yang meninggalkan Aceh pada 5 Oktober menjelaskan: Saya meninggalkan Aceh karena kemanan menurun. sampai sebulan yang lalu. Biasanya mereka akan menghabiskan waktu satu minggu di pegunungan. kami dipukuli. jika GAM tidak ditemukan mereka menyerang penduduk.Meningkatnya Kehadiran di Desa Gelombang pasukan tidak hanya untuk operasi tempur melawan pasukan GAM di pegunungan dan hutan. Sebagaimana seorang perempuan yang tiba di Pidie pada tanggal 25 Oktober menjelaskan: Konflik ada disana. khususnya jika desa tersebut berada di tepi peguningan seperti desa kami. Beberapa narasumber menjelaskan bahwa padahal kesatuan-kesatuan tentara sebelumnya hanya datang ke desa sekali seminggu. 26 Oktober 2003. TNI akan sering masuk desa. 17 Human Rights Watch. Seorang laki-laki berusia dua puluh lima tahun yang meninggalkan Aceh Selatan satu minggu sesudah Darurat Militer mulai menjelaskan: Dari hari pertama darurat militer. Jika kami tidak tahu dimana GAM. 15.”33 Pelanggaran hak asasi manusia yang meningkat tajam sejak darurat militer dimulai bisa jadi sebagian disumbangkan dari meningkatnya kontak sehari-hari antara tentara dan penduduk desa. Dari hari pertama sudah ada perasaan baru. 34 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh lima tahun (nama disembunyikan). 27 Oktober 2003. Hampir semua orang yang diwawancarai oleh Human Right Watch berbicara tentang pos-pos keamanan baru yang didirikan oleh TNI dan Brimob sejak dimulainya Darurat Militer. Teman-teman kami sekarat akibat konflik. satu kelompok.. No. karena kami trauma.

10 (C) 18 . 36 37 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki Aceh berusia delapan belas tahun (nama disembunyikan). “Kamu GAM!” Saya bilang pada mereka. Malaysia. Dalam beberapa kasus pencarian rumah-ke-rumah disertai dengan kekerasan secara fisik. Mereka bertanya. Malaysia. sudah belasan kali.35 Menjadikan Anak-Anak Muda Sipil Sebagai Sasaran TNI pernah pergi ke Amerika. “Dimana para lelaki?” Saya tidak berani tinggal di rumah. No. 26 Oktober 2003. TNI mencurigai semua laki-laki muda sebagai GAM. “Saya orang biasa!” Mereka memukul dan menendang. Tetapi para pemuda yang tetap berada di desa seringkali dijadikan sasaran sebagai tersangka simpatisan GAM. Wawancara Human Rights Watch (nama disembunyikan). 38 Seorang laki-laki yang meninggalkan Aceh Utara ke Malaysia pada bulan Juni memberitahukan Human Rights Watch: Di Aceh. Kantornya ada di desa Saya. Saya mau pulang ke rumah untuk liburan. tetapi keluarga saya bilang jangan. Malaysia. dan informasi mengenai pemuda manapun yang meninggalkan desa. Vol. 26 Oktober 2003. mereka datang hanya untuk membunuh kami. Dugaan sebelumnya adalah bahwa pemuda yang meninggalkan desa bergabung dengan GAM. 36 —Perempuan Aceh berusia tigapuluh tahun Taktik pasukan kemanan Indonesia yang biasa adalah pencarian rumah-ke rumah terhadap anggota GAM. Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia tigapuluh lima tahun (nama disembunyikan). 28 Oktober 2003. Aceh Timur menjelaskan: Dibawah darurat militer rumah seringkali dikunjungi. 23 Oktober 2003. Seorang laki-laki muda memperkirakan bahwa pasukan keamanan sudah mendatangi rumahnya lima kali sebelum dia meninggalkan propinsi tersebut menyerangnya setiap kali. Mereka bilang. Malaysia.Saya dipukuli dua kali… Tidak ada GAM di desa Saya sejak Darurat Militer dimulai. 37 Seorang laki-laki berusia tigapuluh lima tahun yang tiba di Malaysia bulan Oktober dari Peuruelak. tetapi hanya sejak darurat militer dimulai. 38 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia dua puluh tahun (nama disembunyikan). senjata-senjata dan amunisi. Seorang laki-laki yang masih muda di Aceh akan dipandang dengan kecurigaan dan beresiko. Mereka datang seminggu tiga kali. 28 Oktober 2003.39 35 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia dua puluh satu tahun (nama disembunyikan). Malaysia. ke Eropa. Setiap hari di Aceh Saya harus melapor pada kantor TNI sehingga mereka bisa memeriksa bahwa saya tidak pergi dan bergabung dengan GAM. ke Thailand dan berkata mereka mengamankan Aceh. 39 Human Rights Watch. Mereka tidak mengamankan Aceh. 15.

41 19 Human Rights Watch. Saya seorang laki-laki jadi Saya dicurigai menjadi GAM. Mereka berasal dari usia sekolah sampai usia tiga puluh enam tahun. Batalion 113. Saya anak satu-satunya. orang tua Saya tinggal di Pidie. Tentara tersebut berasal dari Rajwali. satuan tugas Rajawali datang ke desa… Tanggal 17 Agustus (Hari Kemerdekaan Indonesia) TNI memasuki desa mencari GAM. Mereka datang ke desa. karena akan ada operasi di pegunungan. Kelompok anak muda sekitar tiga puluh orang. Sekitar jam 8 malam. sekitar dua puluh tentara. Mereka kemudian memaksa orang-orang untuk bergabung dalam perayaan Hari Kemerdekaan. 23 Oktober 2003. Lebih dari seratus orang disana dari desa-desa (nama dihilangkan) di semua Kecamatan Mila.Seorang laki-laki lain memberitahukan Human Rights Watch kenapa dia datang ke Malaysia: Seluruh keluarga Saya tetap tinggal. orang-orang. Jika TNI tidak menemukan GAM kami. Malaysia. Vol. Mereka tidak menemukan GAM maka mereka memukul Saya. 15. Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia empat puluh tahun (nama disembunyikan). semua anak muda pergi ke Banda Aceh.40 Seorang laki-laki dari Pidie memberitahukan Human Rights Watch tentang an assault oleh anggota satuan tugas Rajawali terhadap penduduk yang paling muda di desa: Kurang dari seminggu sesudah (Hari Kemerdekaan Indonesia) setiap orang diberitahukan untuk berkumpul di meunasah (tempat sembahyang). beberapa dari mereka menderita luka dalam. sebelumnya mereka membangunkan kami melalui kepala desa dengan menggunakan mikrophon. tetapi beberapa orang tua pingsan karena apa yang terjadi kepada anak-anak mereka. Saya mendengar mereka bertanya pada anak-anak muda tersebut mengenai GAM dan memukul mereka. satu perusahaan. Medan dan Kuala Lumpur. Akhirnya anak-anak muda tersebut diperbolehkan untuk pulang ke ruamh. Dua kelompok lainnya tidak dipukuli. 10 (C) . karena orang-orang yang tinggal di sekitar pos komando militer tingkat kecamatan tidak dipaksa untuk bergabung. Saya sedang berada dekat kedai kopi. Ada sekitar empat puluh tentara. No. tetapi sepuluh orang harus pergi ke rumah sakit. diserang sebagai GAM. perempuan dan anak-anak muda. Mereka memulainya jam 5 pagi. dan mereka dibawa ke lapangan sekolah di sebebelah.41 40 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia sembilan belas tahun (nama disembunyikan). Setiap hari ada perang antara GAM dan TNI. 9 Oktober 2003. Malaysia. Kami dipisahkan antara laki-laki. Sesaudah itu.

Human Rights Watch. —Laki-laki Aceh berusia delapan belas tahun. pengambilan sandera.42 Pasal 3 yang lazim disediakan untuk perlakuan berperikemanusiaan terhadap orang sipil dan mereka yang tidak ikut ambil bagian secara aktif dalam permusuhan (termasuk penangkapan anggota pasukan senjata lawan). pada khususnya perlakuan penghinaan dan penurunan martabat. banyak –kalau tidak bisa dibilang semua-pernyataannya merefleksikan hukum adat perang. 15. Hukum internasional hak asasi manusia berlaku selama konflik bersenjata internal. Vol. 28 Oktober 1992. bahkan selama keadaan darurat (state of emergency). Ini termasuk pelarangan eksekusi (extrajudicial executions). 10 (C) 20 . Meskipun Indonesia bukan bagian dari Protokol II. Yang selamanya dilarang adalah pembunuhan. 44 45 43 42 Wawancara HumanRights Watch (nama disembunyikan ). penghilangan secara paksa. pasukan kemanan Indonesia sudah melakukan eksekusi extra judicial yang tidak diketahui jumlahnya terhadap orang sipil yang tidak bersenjata di Aceh. dan eksekusi kilat.Pelanggaran Hak Asasi Manusia dan Hukum Kemanusiaan Pasukan Indonesia dan GAM di Aceh terikat oleh hukum kemanusiaan internasional (juga dikenal sebagai hukum perang). Aturan dasar hukum kemanusiaan adalah bahwa penduduk sipil serta secara perseorangan tidak boleh menjadi sasaran penyerangan. dan pembatasan yang tidak perlu terhadap kebebasan bergerak.45 Sementara pembunuhan extra-judicial terhadap siapapun – tidak perduli orang sipil atau pejuang– adalah pelanggaran serius terhdap hukum internasional. penyembelihan. Malaysia. upon. Yang juga dilarang adalah tindakan atau ancaman kekerasan terhadap penduduk sipil yang menyebarkan terror atau pemindahan penduduk sipil secara paksa tanpa keperluan militer. kebiadaban terhadap martabat seseorang. Konflik di Aceh dianggap sebagai konflik bersenjata non-internasional (internal). Meskipun Indonesia bukan bagian dari Konvenan Internasional mengenai Hal-Hak Sipil dan Politik dan perjanjian hak asasi manusia yang penting lainnya. Juga tersedia adalah Protokol Tambahan kedua tahun 1977 pada Konvensi Kovensi (Protokol II). Suatu eksekusi extra-judicial (atau eksekusi kilat) adalah pembunuhan yang tidak sah menurut hukum dan disengaja atas seseorang oleh alat negara.44 Sejak dimulainya Darurat Militer. perlakuan kejam dan penyiksaaan. Terbunuhnya para pejuang dalam pertempuran dianggap sebagai pembunuhan yang sah secara hukum dibawah hukum kemanusiaan internasional. Jika tidak ada kami tidak bisa tidur.43 Pembunuhan Diluar Hukum (Extrajudicial Killings) Kami terbiasa mendengarkan suara tembakan. untuk dimana hukum yang diterapkan termasuk pasal 3 dalam empat konvensi Geneva pada tahun 1949 dan hukum adat perang. hak mendasar yang ditemukan didalamnya dinyatakan sebagai bagian dari hukum adat internasional. No. penangkapan dan penahanan secara sewenang-wenang. setiap saksi mata pembunuhan semacam itu di Aceh memberitahukan Human Rights Watch bahwa Indonesia menjadi bagian dari Konvensi Geneva tahun 1958. penghukukan tanpa peradilan yang adil. penyiksaan. Hak hidup dan kebebasan yang mendasar tidak boleh dilanggar.

kemudian eksekusi kilat. Selama pembersihan ini laki-laki dipilih and ditembak. Jenis pertama secara khas terjadi ketika pasukan memasuki desa selama periode yang disebut sebagai “operasi sweepinga”. “Indonesia: Perang di Aceh”. 28 Oktober 2003. Tiga orang lainnya menemukan mayat orang sipil (dalam dua kasus adalah anggota keluarga mereka sendiri) yang kurang lebih dekat dengan operasi militer. Para keluarga boleh jadi diberatuhkan sesudahnya oleh para tentara untuk mengambil dan memindahkan tubuh korban untuk dikuburkan. Nampaknya terdapat dua jenis ekesekusi yang baru-baru ini terlihat mengambil tempat di Aceh. No. tidak bersenjata.” Lihat Human Rights Watch. sebelum pembatasan media diperketat: “Interogasi. Beberapa orang lainnya menggambarkan penculikan oleh TNI berakhir dengan kematian. Tetapi hidup seseorang –siapa yang membayarnya? —Laki-laki Aceh berusia delapan belas tahun. diikuti oleh pemukulan. dan berpakaian sipil pada saat hukuman mati dilakukan.49 Seorang laki-laki Aceh dari Lhokseumawe. kematian mempunyai pola. serta tidak ada usaha untuk menyembunyikan eksekusi tersebut.” Mathew Moore.48 Pembunuhan diluar hukum lainnya terjadi ketika pasukan keamanan mengambil seseorang untuk ditahan – dan mayat mereka kemudian ditemukan atau mereka tidak pernah terdengar lagi.4 (c). Vol. 25 Mei 2003. pasal 13. Pembunuhan Kilat (Summary Killings) Selama Operasi Sweeping Hidup tidak mempunyai nilai disana. 10 (C) . 49 21 Human Rights Watch.47 Jenis kedua pembunuhan yang terlihat adalah tembakan kepada orang sipil saat pasukan keamanan Indonesia meninggalkan tempat. 15. Pakaian seseorang sama sekali tidak berhubungan dengan keanggotaan mereka. Aceh Utara menceritakan suatu peristiwa di bulan Mei: 46 Para pejuang GAM pada umumnya mengenakan seragam. meskipun demikian mereka yang diwawancarai seringkali menyatakan dengan percaya diri bahwa tetangga atau kenalan mereka bukan anggota GAM.46 Dari delapan puluh lima orang Aceh yang diwawancarai Human Rights Watch di Malaysia. Laporan Human Rights Watch vol. secara khusus melarang “tindakan atau perlakuan kekerasan yang tujuan utamanya adalah untuk menyebarkan teror diantara penduudk sipil. Hal ini konsisten dengan temuan seorang jurnalis Australia yang mengunjungi lima desa dimana terdapat penembakan-penembakan dalam minggu pertama darurat militer. Agustus 2001. adalah pola yang muncul dalam serangan militer Indonesia terhadap pemberontak Aceh. Tiga orang lainnya menyaksikan tentara menembak ke arah orang sipil yang tidak membawa pada kematian secara langsung. Sifat dasar yang umum dan disengaja dari pembunuhan semacam ini memberi kesan bahwa mereka mencoba mengirimkan peringatan untuk menghalangi penduduk desa untuk mendukung GAM. tujuh orang secara langsung menyaksikan eksekuso kilat (summary execution) atas orang sipil oleh pasukan keamanan Indonesia sejak dimulainya darurat militer. “Di Aceh.” The Age (Australia). 47 48 Protokol II. meskipun angota-anggotanya memakai pakaian sipil ketika berada di daerah sipil. 13. Wawancara Human Rights Watch (nama disembunyikan).korban bukanlah anggita GAM. No. Jika Saya menabrak ayam dengan mobil Saya maka Saya harus membayar.

pukul 3 sore. Mereka bertanya kepada setiap orang. 26 Oktober 2003. Namanya Jamal. Begitulah dalam tujuh hari tersebut… Dua orang ditembak di rumah mereka dan seorang dibawa pergi oleh Brimob pada tengah hari. No. Tiga orang tentara. Mereka menyeret laki-laki ini sepanjang jalan. tetapi para tentara tersebut selalu ada di desa mencari-cari GAM.51 50 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia empatpuluh tahun (nama disembunyikan). tetapi Saya melihat tubuh mereka langsung sesudahnya. Malaysia. Saya melihat tiga puluh petugas Brimob disana. Tentara tersebut melakukannya beberapa kali sehingga kepada laki-laki tersebut membentur pohon. 51 Human Rights Watch. apa pekerjaannya? Mereka memeriksa namanya kepada orang-orang. Mereka bertanya kepada Saya. Mereka sedang memeriksa siapa laki-laki tersebut kepada orang-orang. Pada awalnya Saya hanya melihat tiga tentara tetapi kemudian yang lainnya berganung. Saya sedang berada di rumah. Otaknya keluar dari kepala laki-laki terebut. Dia masih muda. di awal dua puluh-an. Malaysia. saat itu pagi-pagi sekali. Para tentara di desa kami (nama disembunyikan).Pada awal darurat militer. sampai dia mati. bulan Mei. Mereka tidak peduli siapa yang mereka beritahukan. Tubuhnya dihancurkan. Tentara yang menembaknya kemudian mengatakan kepada para penduduk desa disana untuk mengambil tubuhnya kembali ke desa. Seakan-akan lengannya berubah menjadi daging mentah. umur tujuh belas tahun. Vol. Pada hari ke-empat. Saya melihat salah satu dari tentara tersebut memborgol pergelangan laki-laki ini. Mereka kemudian bertanya siapa yang terlibat dalam GAM. Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh lima tahun (nama disembunyikan).dia Yusuf. Yang kedua kurang lebih sama ceritanya. GAM semuanya ada di pegunungan. Para tentara berkata bahwa dia adalah tersangka GAM. setidaknya lima puluh tahun. “Kamu tahu siapa laki-laki ini?” Saya bilang “Ya”. 23 Oktober 2003. Lalu mereka menembaknya. Mereka tidak mengancam para penduduk desa.50 Seorang berusia duapuluh lima tahun yang meninggalkan Aceh Selatan satu minggu sesudah darurat militer memberitahukan Human Rights watch mengenai minggu pertama darurat militer: Pada tujuh hari itu mereka terus membunuh orang-orang tak bersalah. Istri dari laki-laki pertama mengatakan bahwa mereka masuk dan bertanya pada suaminya apakah dia GAM. Seorang yang dibawa pergi sudah tua. Dan lalu mayatnya diletakan di atas tanah dan tentara lainnya menembak beberapa kali kepada mayat tersebut. 15. 10 (C) 22 . Namanya adalah Ibrahim dan dia berusia limapuluh lima tahun. Saya berada sekitar dua puluh meter dari sana. “Kamu tahu siapa laki-laki ini?” Jika Kamu berkata kau tidak tahu siapa dia Kamu dipukul. dan kemudian tentara lainnya memegang kakinya dan mengayunkannya ke arah pohon. Mereka orang biasa.

sekitar duapuluh orang tentara yang terlihat. tetapi pada akhirnya tidak ada GAM. tetapi GAM tidak ada disana. Tidak ada satu pun jadi mereka menembak warga kampung akhirnya. Mungkin jawabannya salah. Ada seorang laki-laki. Saya melihatnya sendiri.Seorang laki-laki di usia duapuluh-an memberitahukan Human Rights Watch mengenai eksekusi kakak laki-lakinya seminggu sesudah pernyataan darurat militer: Kakak Saya – dia hanya orang biasa – ditembak. Saya tidak mendengarnya. Seorang tentara memanggilnya dan menanyakan sesuatu kepadanya. Saya segera bangun. Kamu tidak bisa keluar kemanapun. Aceh Timur. 31 Oktober 2003. Dari jam 6 pagi sampai 6 sore Kamu tidak bisa keluar.53 Seorang laki-laki berusia duapuluh lima tahun yang juga dari Peureulak di Aceh Timur bercerita tentang penembakan kakak laki-lakinya pada akhir Juli: Sejak darurat militer dimulai segalanya menjadi panas. Ada beberapa jenis tentara disana. ada kejadian. Peureulak. dia bangun untuk mengambil wudhu sebelum sembahyang. Ada lebih dari limapuluh orang. Kakak Saya ditembak di rumah kami. pergi untuk mencari GAM di tempat lain.52 Seorang laki-laki dari Peureulak. Saya melihatnya melalui jendela. Saya berada sekitar seratus meter jauhnya. Vol. Dia keluar dan mereka segera menembaknya. Saya mau membawa tubuhnya kedalam tetapi Saya tidak bisa. menggambarkan pembunuhan di bulan Agustus: Sekitar dua bulan yang lalu (nama dihilangkan). Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia dua puluh tahun *nama disembunyikan). No. Mereka bertanya kepada penduduk di kampung. TNI memasuki kampung. Kakak saya sedang 52 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki di usia duapuluhan (nama disembunyikan). dan dia mempunyai istri dan dua orang anak. Begitu tentara tersebut selesai menembak dia memerintahkan penduduk kampung untuk menguburkan tubuh tersebut. dia tidak bersenjata. 10 (C) . Hanya ketika mereka pergi saya baru bisa melakukannya. Saya sedang di rumah Saya. Laki-laki itu bukan GAM. 15. Malaysia. di belakang mereka Saya tidak tahu. 26 Oktober 2003. dia hanyalah orang biasa. Kakak Saya ditembak ketika dia sedang mengumpulkan rumput untuk sapi jam 6 pagi dua bulan yang lalu. Kakak Saya berumur tiga puluh lima tahun. 53 23 Human Rights Watch. Tentara lainnya lalu menembaknya di kepala dan lagi di bagian kanan atas tubuhnya dengan senapannya. sekitar duapuluh tahun-an. Waktu itu pagi hari dengan sweepings GAM sebagai alasannya. Malaysia. Jam 6 pagi. Mereka mencari-cari GAM. Tentara-tentara datang ke kampung mencari GAM. beberapa dari daerah sana dan beberapa dari luar. Para tentara kemudian pergi. Saya meninggalkan Aceh pagi berikutnya. sebuah M16.

“Siapa dia? Kalian tahu dia? Apakah dia GAM?” “Bukan.30. Saya rasa mereka semua dari Kodim tetapi Saya tidak yakin. No. 55 Human Rights Watch. lari dan bersembunyi ketika tentara memasuki desa mereka. Orang-orang diberitahu untuk berkumpul oleh TNI. dua belas tentara keluar dari hutan di dekat sana. Vol. sampai jam 11. tetapi saksi 54 Wawancara Human rights Watch dengan laki-laki berusia tigapuluh lima tahun (nama disembunyikan). Apakah mereka berusaha melarikan diri semata-mata karena mereka takut diperlakukan tidak semestinya atau karena mereka anggota GAM tidak jelas. Karena tingginya tingkat ketakutan di Aceh terhadap pasukan keamanan Indonesia. 31 Oktober 2003. Saya sedang di sekolah ketika kami diperintahkan untuk berkumpul di lapangan sepak bolah dekat pantai. Malaysia. meskipun mereka bukan dari kampung kami. Sesudah mereka keluar dari hutan mereka mengumpulkan semua orang. dan anggota GAM diminta menyerahkan diri. Kami (berjumlah) sekitar 300 orang. Saya ada di rumah. Mereka menanyai kami tentang GAM. Saksi menggambarkan kepada Human Rights Watch bagaimana beberapa laki-laki ini ditembak ketika berusaha melarikan diri. Seorang berusia dua puluh tahun dari desa di pinggir Lhokseumawe. Mereka bertanya. banyak penduduk desa. dekat kandang. Orang-orang ditendang dan ditinju. 15. Tiga jam kemudian. Kami tidak diperbolehkan mendekati mayat-mayat tersebut. di Aceh Utara. dia kakak Saya. jam 9 pagi. Dia memakai seragam hijau dan topi hijau. Dua orang dibunuh. Ada sekitar lima puluh orang. Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia dua puluh tahun (nama disembunyikan). “Bapak ditembak orang tak dikenal” Dia ditembak sekali di kepalanya dan sekali lagi di sebelah kirinya.mengumpulkan rumput untuk sapi. Mereka menahan kami disana selama empat jam. Malysia.54 Human Rights Watch juga diberitahu mengenai dua peristiwa yang mana para penghuni dikumpulkan bersama untuk ditanyai dan membawa pada kematian. Saya berada jauh dari lapangan tersebut (dua puluh lima meter). (Kejadian) ini sekitar dua bulan sesudah darurat militer. sesudah dua jam. Anak laki-lakinya datang ke rumah Saya dan bilang. Saya tidak tahu nama mereka karena mereka dari kampung lain. khususnya laki-laki muda. Anak laki-lakinya bilang bahwa dia melihat tiga tentara dengan samaran datang untuk melihat tubuhnya jam 6. Sesudah itu kami ditanyai. 28 Oktober 2003. Sesudah para tentara pergi Kami menguburkan mayat mereka. menggambarkan pembunuhan dua laki-laki yang tidak bersenjata dalam pakaian sipil: Pukul 5 di pagi hari TNI datang dan mengepung kampung. 10 (C) 24 .55 Human Rights Watch mempelajari empat peristiwa ketika tentara Indonesia menembak laki-laki muda yang sedang berlari ke sawah atau hutan untuk menyembunyikan diri dari tentara selama operasi sweeping. Seorang tentara menembak mereka berdua dengan M16.” “Kuburkan dia!” Lalu mereka kembali ke kota.

57 58 Meskipun terdapat variasi pasukan keamanan yang luas dan lencana yang hadir di Aceh. tetapi Saya lihat ketika keluarganya membawa mayatnya pergi. jadi Saya pergi keluar. 28 Oktober 2003. Kopassus.58 Kami berlima lari melalui sawah menuju hutan. Segera sesudahnya seorang tentara menembak kakinya. Saya melihat mereka mempunyai tiga strip merah. Aceh Timur. tiga strip lebih mengindikasikan prajurit kelas pertama. menggambarkan suatu peristiwa yang terjadi akhir September. Dia berusia sekitar tigapuluh tahun. Saya melihat seorang laki-laki berlari ke sawah. Laki-laki berusia dua puluh tahun dari desa di pinggir Lhokseumawe. usia dua puluh tiga tahun. sekitar waktu sembahyang. Vol. Sesudah dua malam TNI membunuhnya di pos mereka. tetapi mereka mencurigainya sebagai GAM. Mereka menggunakan topi biru. Saya rasa dari Jakarta. Tentara dengan menyamar datang dalam beberapa kendaraan: Kostrad. Saya tidak melihatnya saat dia meninggal.30 pagi atau sekitarnya. Dia ditembak. Jika kamu tidak lari Kamu dipukuli… Seorang laki-laki bernama Simus. Seorang laki-laki berusia duapuluh tahun dari Peureulak.sekitar jam 6.57 Tidak semua penembakan membawa pada kematian. Dia bangun dan terus berlari. di Aceh Utara. Sesudahnya dia dibawa ke pos untuk ditanya oleh TNI. dan kami berlima bersembunyi di 56 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia dua puluh tahun (nama disembunyikan) Malaysia. dia dari desa ini. Saya sedang ada di rumah Saya dan Saya mendengar suara tembakan. Mereka tiba khusus untuk darurat militer. Malaysia. yang menggambarkan (di atas) pembunuhan dua orang laki-laki sesudah para penduduk desa dikumpulkan. No. satu bulan sebelum dia tiba di Malaysia: Jika Kamu lari Kamu ditembak. Mereka menembaknya di pinggul – Saya hanya berada lima meter darinya.menggambarkan tampak sebagai lak-laki yang tidak bersenjata dan mengenakan pakaian sipil. Sesudah itu Saya pergi. 25 Human Rights Watch.56 Seorang laki-laki yang tiba di Malaysia pada akhir bulan Mei mengggambarkan seorang laki-laki ditembak ketika melarikan diri: Saat itu lima hari sesudah darurat militer dimulai. Wawancara Human Rights dengan laki-laki berusia empatpuluh tahun (nama disembunyikan). Mereka tentara non-organik. Sesudahnya delapan orang tentara membawanya ke pos TNI di desa itu. kaki kananya. 31 Oktober 2003. Saya takut hal semacam itu akan terjadi kepada Saya. sekitar jam 9 pagi. 10 (C) . Brimob. juga menggambarkan kematian lain hari tersebut: Seorang berusaha lari ketika kami pertama kali diberitahu untuk berkumpul. di desa (nama dihilangkan). ditembak dari jarak tigapuluh meter. sehingga dia tidak bisa lari lagi dan dia terjatuh. Dia bukan GAM. . 15.

10 (C) 26 . Itulah kenapa orang-orang bergabung dengan GAM –untuk balas dendam. Vol. ketika mereka kembali. Saya baik-baik saja. Kekerasan terhadap orang sipil sudah melewati batas. 28 Oktober 2003. Mereka mencari GAM. Tetapi bagaimanapun peluru –itu menjadi trauma. Penduduk Aceh menjadi semakin terpolarisasi. ditelanjangi. Tentara pergi keatas ke hutan. Seorang laki-laki berusia delapan belas tahun menjelaskan banwa sesudah dipukuli dan melihat orang tuanya diperlakukan tidak semestinya. Sebagai contoh ada penembakan di awal bulan ini (Oktober). Kami sedang duduk. tidak ada orang yang terkena. penghilangan. datang ke desa. Mereka mulai menembak. Lalu kami kembali –TNI sudah kembali ke kota. 60 59 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh lima tahun (nama disembunyikan). Orang-orang mulai berlarian. Militer bertindak diluar sasaran operasinya. Mereka melakukan sweepings. Jadi Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh tahun (nama disembunyikan). dua dari mereka. Mereka mengosongkan tempat peluru mereka –kira-kira berapa ya. Saya hanya bersembunyi di pinggir hutan. No. 27 Oktober 2993. Saya mencoba bergabung saat berusia enambelas tahun tetapi kakak dan orang tua saya mencegah Saya. tabib itu mengeluarkan pelurunya. mungkin Kostrad.59 Dalam peristiwa yang sama di Aceh Timur di awal bulan Oktober. hasil dari tingkat kekerasan terhadap penduduk sipil di Aceh ini sepertinya menghasilkan efek yang berlawanan dari apa yang militer nyatakan dari strategi operasi terpadu. inspeksi yang disertai “hukum militer”: pemukulan. Dia takut pergi ke rumah sakit jadi kami bawa dia ke tabib tradisional yang bekerja dengan pusat kesehatan. untuk ekonominya. minum kopi. empat puluh tembakan? Mereka dari battalion non-organik dari Jawa.bukan karena kami bersalah tetapi hanya ketakutan. Saya tidak lari.hutan selama tiga jam. Human Rights Watch. 15. Malaysia. Mereka meyakinkan Saya untuk menyumbang dengan cara lain untuk Aceh. Malaysia. dan dipaksa untuk bernyanyi. Jika tidak ada GAM. Saya sedang di desa di Perureulak. seorang laki-laki memberitahu Human Rights Watch: Satu-satunya alasan Saya pergi adalah bahwa tidak ada jaminan keselamatan disana.60 Apakah dengan sengaja atau sewenang-wenang. sehingga orang-orang ketakutan. Tingkat pelanggaran hak asasi manusia yang serius di propinsi tesebut serta kekebalan hukum yang menyertainya mendorong orang-orang memihak kepada GAM. Mungkin TNI terlihat terlalu siap. emosi mereka dikeluarkan kepada orang sipil. dia mencoba bergabung dengan GAM hanya saja dicegah oleh keluarganya (termasuk kakaknya yang melawan GAM): Orang tua Saya dipukul pada 17 Agustus 2002 (Hari Kemerdekaan Indonesia).

Jawabannya tidak jelas. kamu mau memberikannya kepada GAM? Darimana kamu dapatkan ikan ini?” Anak itu menjawab. Saya mau memberikannya kepada ibu Saya. 15. “Tidak. Tujuh tentara. yang meninggalkan rumahnya di Banda Aceh sehari sebelum darurat militer. dia benar-benar panik. tentara di lapangan yang melakukan tindak kekerasan dan pemerasan dengan hanya sedikit rasa takut akan dihukum. No. “Banyak ikannya. dan tubuhnya dipenuhi bekas-bekas merah. menjelaskan bagaimana keluarganya menemukan mayat adik lelakinya: 61 Wawancara Human Rights Watch dengan seorang laki-laki berusia delapan belas tahun (nama disembunyikan). Dia pergi ke pasar untuk membeli ikan untuk ibunya. Dia diancam dengan senjata. memeriksanya karena dia membeli ikan. Seorang tentara berkata kepadanya. Tujuh tentara tersebut mengenakan seragam samaran TNI. Mereka tentara non-organik dan berbicara dalam bahasa Indonesia dengan logat Jawa.” TNI menuduhnya dan mengancamnya. Saya berhenti di jalan di pasar. Penculikan yang Membawa Pada Kematian Pembunuhan lain terjadi diluar penglihatan para saksi. 62 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh lima tahun (nama disembunyikan). Seorang laki-laki Aceh yang sudah tinggal di Malaysia selama lima tahun kembali ke Aceh di bulan Agustus selama beberapa minggu untuk mengunjungi ayahnya yang sakit. 28 Oktober 2003. Tujuh orang tentara memberhentikan seorang anak. Malaysia. Jadi tentara tersebut membawanya dan melemparkannya ke truk militer. Malaysia. mungkin sekitar limabelas tahun. Ada sekitar limabelas orang tentara TNI disana.pada akhinya Saya hanya berdoa untuk kebebasan… Jika Kamu dipukuli tidak kah Kamu merasa butuh membalas dendam?”61 Masalah yang mendasar terletak pada kurangnya pertanggungjawaban di semua tingkat. 29 Oktober 2003. Vol. untuk membeli buah. membuat identifikasi menjadi sulit. yang lainnya tinggal di pasar. Kekebalan hukum tingkat tinggi yang ditingkatkan oleh selubung rahasia yang menyelubungi daerah konflik. bekas-bekas merah siksaan. 10 (C) . Dia anak kecil. Kemudian mayat anak itu muncul dipinggir jalan. Ketika dia berada di Aceh dia menyaksikan tentara TNI menculik seorang anak laki-laki berusia lima belas tahun: Saat itu tanggal 4 September sekitar jam 10 pagi. Pasar Ulee Glee. 27 Human Rights Watch.62 Dalam beberapa kasus mayat dibuang jauh dari rumah korban. Hanya satu. Saya melihat mayatnya. Selama dua hari kami tidak tahu dimana anak itu berada. Tentara tersebut berkata. Dia masih usia sekolah. Bagian belakang kepalanya semuanya hancur. Ada luka tembak di dahinya.” Sesudah itu anak laki-laki tu benar-benar ketakutan. anak laki-laki. Saya mau pulang. “Kamu pasti mau memberikan ikan ini kepada GAM. Seorang laki-laki berusia tigapuluh delapan tahun. TNI menghentikannya.

Vol. Dia membawa mayatnya secara diam-diam ke rumahnya. Saya memperoleh informasi ini dari keluarga Saya ketika Saya menelepon rumah. Jika tidak. dan pembunuhan kilat. Malaysia. Dua hari kemudian mayatnya ditemukan di sawah. meskipun mereka mewaspadai bahwa pelarangan terhadap monitoring menandakan bahwa perkiraan tersebut bisa jadi lebih rendah. Wawancara Human Rights dengan seorang laki-laki berusia enampuluh lima tahun (nama disembunyikan). penghilangan secara paksa seringkali terjadi sesudah pasukan kemanan atau orang-orang bersenjata tak dikenal mengunjungi sebuah ruamh di malam hari dan membawa korban pergi dengan kendaraan. 5 November 2003. dan di pagi hari dia pergi dan menemui Palang Merah Indonesia di rumah sakit untuk mengambil mayat tersebut dengan ambulans. di depan istrinya.Adik lelaki Saya terbunuh dua bulan lalu di Aceh Utara. Sementara dalam banyak kasus para pelaku digambarkan sebagai orang tak dikenal. Seringkali mayat mereka yang “hilang” ditemukan di pinggir jalan atau di sawah berhari-hari atau berminggu-minggu kemudian. Sementara aktor non-negara tidak bisa secara teknis melakukan “penghilangan”. 65 66 Human Rights Watch. dalam beberapa kasus anggota keluarga atau tetangga dapat mengindentifikasikan mereka. dan dibawa ke Koramil. tanggal 27 Agustus 2003.63 Penghilangan Secara Paksa (Forced Disappearances) Selama tahun-tahun panjang konflik di Aceh.65 Di Aceh. Sebagaimana hal itu didefinisikan dibawah hukum internasional. “Makalah Ringkas tentang Aceh: Propinsi Aceh. keduanya untuk tebusan dan alasan politik. Seorang laki-laki dari daerah pesisir di Pidie menjelaskan bahwa ketika warga menemukan mayat mengapung di tepian pantai mereka memanggil Palang Merah Indoensia untuk mengevakuasinya. pasukan keamanan Indonesia telah seringkali tersangkut “penghilangan”64 Organisasi kemanusiaan Indonesia Kontras cabang Aceh melaporkan bahwa dari tanggal 19 Mei sampai dengan 18 Agustus terdapat tujuhpuluh delapan penghilangan secara paksa orang sipil. 10 (C) 28 . (Nama dihilangkan) berumur duapuluh enam tahun. Malaysia. Perang Kotor yang Tidak Terungkap. Praktek ini secara pouler digambarkan sebagai ambil malam. Seorang saudara yang tinggal di desa dimana mayatnya ditinggalkan menemukannya dan mengenalinya. 29 Oktober 2003. 64 “Penghilangan” terjadi ketika penguasa menahan seseorang secara diam-diam dan tanpa pemberitahuan serta menyangkal bahwa orang tersebut dalam penahanan mereka. 15. Dia ditahan dari rumahnya oleh TNI. Jika mayat tersebut dapat diidentifikasi maka akan dibawa ke keluarganya.” September 2003. menutupinya dengan pakaian. mayat tersebut akan dibawa ke rumah sakit atau klinik dan istilah yang digunakan oleh keluarga korban adalah saudara yang hilang. GAM mempunyai sejarah melaksanakan penculikan. No. Kontras Aceh. dianiyai atau dibunuh.66 Seorang laki-laki berusia duapuluh tiga tahun dari Bireun menjelaskan: 63 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia tigapuluh delapan tahun (nama disembunyikan). Dalam kasuskasus lainnya mereka tidak pernah terlihat lagi. Orang yang ditahan dengan cara demikian seringkali disiksa.

Rumah Saya sangat dekat dengan ruamhnya. —Mayor Jendral Bambang Darmono. bulan Agustus. Saya melihat sekitar limabelas tentara TNI membawanya dari rumahnya. Setiap orang di desa yang dicurigai dibawa pergi di malam hari… Saya melihat seorang laki-laki dibawa pergi dari rumahnya hanya mengenakan pakaian dalam dan dimasukan kedalam truk. —Mayor Jendral Bambang Damono. Lalu Saya dengar seseorang menanyakan pada teman Saya (nama disembunyikan) mengenai kartu identitasnya. ada Kopassus dan beberapa memakai topi hijau. Seluruh kejadian itu hanya memakan waktu mungkin sekitar tiga pluh menit. sehingga Saya bangun dan melihat melalui jendela.70 67 Satu strip merah sepertinya berhubungan dengan tingkat jabatan prajurit.68 Siksaan Fisik Tidak ada bedanya jika mereka anggota GAM atau bukan: tidak satupun dari tentara Saya yang berhak memukul mereka… Tentara Saya datang ke Aceh untuk melindungi orang sipil. semuanya laki-laki. Jika itu adalah siksaan berat yang menyebabkan seseorang menjadi cacat… itu adalah tidak-tidak. 68 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh tahun (nama disembunyikan). 2 November 2003. Tiarma Siboro. Lely Djuhari. No. satu persatu. Wawancara Human Rights Watch (nama disembunyikan). Saya tidak tahu lagi dimana dia. Mereka mengenakan samaran. 2 June 200369 Sebagai contoh. Delapan orang tersebut tidak pernah terlihat lagi sejak saat itu – kami tidak tahu apa yang terjadi kepada mereka.Situasi sekarang sangat menyeramkan. “Komandan di Aceh Menyangkal Tuduhan Penyiksaan. Vol. 28 Oktober 2003. Saat itu sekitar jam 5 pagi dan Saya mendengar ketukan yang keras di pintu.” The Jakarta Post. dan mereka yang melanggar peraturan pertempuran (rule of engagement) ini akan harus berhadapan dengan Saya. Saat itu ada bermacam-macam tentara. Mereka membawa delapan orang malam itu. Sampai saat ini dia tidak pernah kembali. 31 Oktober 2003. Selama dia mampu berfungsi sesudah ditanyai. Kejadiannya sekitar dua bulan yang lalu. Itu tidak masalah. Mereka adalah tentara yang baru saja tiba di Aceh untuk darurat militer ini. 3 June 2003. dan beberapa dari mereka mempunyai strip merah. Saya berada di rumah sebelahnya. 10 (C) . Malaysia.” Associated Press. Malaysia. “Pengadilan Aceh akan Mengadili 7 prajurit. Kami tidak tahu siapa mereka. Mereka membawanya ke dalam truk TNI dan membawanya ke pos TNI. 69 70 29 Human Rights Watch.67 Seorang laki-laki dari Pidie memberitahu Human Rights Watch: Saat itu lima hari sesudah darurat militer dimulai. 15. Commander Operasi Militer di Aceh. Saya pergi keluar ke pinggir lapangan dan menonton tiga truk tentara masuk ke desa. November 2003. tentara Saya menghantam tersangka di wajahnya.

15. perempuan.71 Dalam beberapa instansi. atau untuk mengirim peringatan kepada penduduk desa. Mereka mengumpulkan 300 orang dari satu daerah pemukiman tersebut –ada tiga atau empat desa. No. Malaysia. seperti selama pencarian rumah-ke-rumah atau ketika para penghuni diperintahkan untuk berkumpul di tempat tertentu. Hal ini terjadi dari jam 9. Dua kali ini terjadi. Artinya kami mati. Banyak kekearan ditujuan kepada orang sipil nampak diimaksudkan untuk mengidentifikasi anggota dan pendukung GAM. Setiap orang harus berlatih. Mereka memerintahan orang-orang untuk tiarap dan memukul dada dan 71 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh enam tahun (nama disembunyikan). Mereka bermalam disana tetapi kami semua dilepaskan kemudian. Seorang laki-laki yang tiba bulan Oktober dari Pidie menggambarkan peristiwa dimana TNI dan Brimob mengumpulkan dan menyerang penghuni. Jika Kami sedang duduk-duduk seperti ini di Aceh. berdasarkan tegangnya tingkah dan kecurigaan tentara dan petugas polisi. Saat mereka membolehkan kami beristirahat. kekerasan terhadap orang sipil terjadi hanya sebelum atau sesudah operasi militer di daerah GAM. Brimob akan bertanya kepada kami. mengindikasikan ketidaksabaran atau ketakutan terhadap sasaran yang suka dipahami dan kegagalan untuk membedakan antara orang sipil dan oposisi bersenjata. tujuhpuluh dua orang dibawa ke rumah sakit umum di Sigli. Sesudahnya kami dibariskan dan diperintahkan untuk melakukan latihan (melakukan lari di tempat). jika Kami bilang “tidak” Kami mendapatkannya. tua dan muda. Seorang laki-laki yang meninggalkan Aceh bulan Agustus menjelaskan: Jika Saya tinggal di Aceh. Menjawab “Saya tidak tahu” dan Kami mendapatkannya juga. Kamu akan dipukuli sampai mati. 10 (C) 30 . anak-anak. Suatu waktu seluruh orang didalam satu area berkumpul bersama. dari beberapa desa. bersalah atau tidak Saya dihajar.30 pagi sampai dengan jam 2 sore.Banyak orang-orang Aceh yang diwawancarai oleh Human Rights Watch menggambarkan tindakan kekerasan yang dilakukan pasukan keamanan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Banyak orangorang Aceh yang dianiyai kami minta bicara untuk menjelaskan apakah mereka melakukan atau tidak sesuatu yang salah atau tak salah. Vol. dua diantaranya membawa pada kematian: Kami dipukuli secara terus menerus. Pertama kali tanggal 13 Juni 2003. Korban seringkali digambarkan diinterogasi dengan tuduhan “Kamu adalah GAM!” atau pertanyaan “Siapa yang GAM? Dimana GAM?” Sering kekerasan ini terjadi selama operasi sweepings di desa-desa. kakek berusia sembilan puluh tahun. “Apakah ada GAM?” Jika kami bilang “Ya” Kami mendapatkannya [pukulan]. Human Rights Watch. Dalam kasus-kasus lainnya kekerasan nampak menjadi sangat sewenang-wenang. Jika Kamu tidak mau berlatih. 26 Oktober 2003.

Mereka bukan GAM. Saya hanya berada empat meter dari mereka yang terbunuh. “Siapapun yang GAM. tetapi itu tidak ada.” Los Angeles Times. Laporan media telah memerinci peristiwa yang sama yang mana sekelompok besar laki-laki dan perempuan ditanyai dan dipukuli dan satu atau dua orang laki-laki dipisahkan dan ditembak. Rajawali dari Jawa. “Separatis Perang Indonesia Menuntut Para Pemuda. Paddock. Dua oranng meninggal di tempat. dan Saya meninggalkan Aceh sepuluh hari kemudian. 10 (C) . No. 5 Nopember 2003.muka mereka.73 Seorang berusia empatpuluh tahun dari Pidie yang tiba di Malaysia bulan Oktober sesudah dua bulan di Medan menggambarkan peristiwa dalam minggu-minggu sebelum dia meninggalkan Aceh: Jam sepuluh pada suatu malam Kami semua pemilik toko diberitahukan untuk mematikan semua lampu. GAM sudah pergi ke tempat lain. Wawancara human Rights Watch dengan laki-laki berusia empatpuluh tahun (nama disembunyikan). menanyai mereka. Hari berikutnya kami dipukuli karena mematikan lampu! Enam pemilik toko dipukul. Mereka menghancurkan kuku jempol Saya dengan kakatua – lihat? Mereka menaruh jempol jari kaki Saya dibawah bangku dan menekannya ke bawah – yang ini sudah tumbuh kembali. Orang-orang ini adalah BKO. Mereka bilang itu karena Kami mempunyai radio untuk berkomunikasi dengan GAM.” Tidak ada satupun. Rajawali. Mereka memukuli badan Saya dengan senjata mereka. Paling banyak Kamu cuma bisa melirik lama. dan Muhammad Ali. Brimob. dan kami semua dipukuli. 31 Mei 2003. gigi mereka dijotos oleh tentara Kostrad. kami semua orang biasa. Umar Bin Usman. sementara tujuh orang perempuan dituduh sebagai inong balee. barisan perempuan GAM. Mayat mereka dikembalikan kepada keluarga mereka dan dikuburkan. Para tentara adalah campuran. Kami berduapuluh termasuk para pelanggan yang kebetulan berada disana.74 72 73 Wawancara Human Rights Watch (nama disembunyikan). Malaysia. Rajawali yang melakukannya. Hal ini berlangsung dari jam 5 sampai jam 7 malam. Kami dikumpulkan di pos penjagaan terdekat oleh para tentara. Mereka terlihat sebagai GAM. jadi kami lakukan. angkat tangan.: Kopassus. Mereka bilang. Lihat Richard C. 74 31 Human Rights Watch. usia 21 tahun. mereka berduabelas. dan dipaksa untuk telanjang. Dua orang yang meninggal diinjak di dada dan leher. mungkin karena mereka bertubuh besar. dan menendang kami. Vol. tetapi Saya tdiak bisa melihat kepada mereka secara langsung.72 Laki-laki tersebut melaporkan bahwa tiga minggu kemudian operasi bersama TNIBrimob yang lain membariskan para laki-laki. 15. kami berenam semuanya dipukuli. Mereka semua memukul kami seakan-akan kami kerbau air. Angkatan Laut. usia 32 tahun. dan memukul mereka dengan uujung senapan. Lima orang pemilik toko lainnya adalah (nama dihilangkan). Malam itu kami membiarkan lampu menyala. 20 Oktober 2003.

Saya tidak ingat berapa kali. “Kamu darimana?” “Dari laut. termasuk Saya. Saya dibawah ke sebuah rumah kosong. tapi mengenakan kaos hijau bertuliskan Marinir di punggung. sementara teman Saya dari kapal yang sama dipukuli diluar rumah. Malaysia. Banyak orang dipukuli hari itu. Mereka melakukannya sampai Saya pingsan. Saya baru saja kembali dari laut dalam kapal ikan Saya. 10 (C) 32 . mengambil barangbarang Saya dan pergi hari itu juga. Saya beritahukan mereka begitu tetapi mereka bilang. dan sesudah mereka kembali TNI memukuli banyak orang. Tujuh hari kemudian Saya pergi ke Banda Aceh untuk mendapatkan paspor. Mereka tidak berseragam. “Siapa di desa yang GAM?” Mereka mencoba memaksa Saya untuk mengindentifikasi mereka. Orang-orang yang memukul Saya adalah marinir. Vol. Mereka dibawa ke pegunungan untuk mencari GAM. Hanya berusaha mencari makan. lalu kembali ke Pidie.” Mereka tidak peduli. Saya bahkan tidak bisa menjawab pertanyaan mereka lagi. Mereka tidak melihat pertanda apapun dari GAM.75 Seorang laki-laki berusia duapuluh delapan tahun yang tiba di akhir Agustus dari Aceh Timur menggambarkan konsekuensi ditangkap tanpa KTP Merah Putih (lihat dibawah). Saya baru tiba di pantai ketika beberapa marinir bertanya pada Saya. 29 Oktober 2003. tetapi tidak ada seorang pun yang dapat Saya beritahukan kepada mereka. Lalu mereka menyiramkan air kepada Saya untuk membangunkan Saya dan Saya ditendang lagi. dua puluh orang dikumpulkan bersama (oleh TNI) dan dipecah dalam empat kelompok. “Ya. dan dua marinir berdiri di atas tangan Saya sementara seorang menginjak leher Saya. No. 15. dan celana panjang seragam. Peristiwa ini juga mengilustrasikan kombinasi pemerasan dan kekerasan yang sudah menjadi hal biasa di jalanan dan toko-toko di Aceh: Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh dua tahun (nama disembunyikan). Sesudah dua malam mereka kembali.Seorang laki-laki berusia duapuluh dua tahun dari Pidie menggambarkan peristiwa dari awal September dimana orang sipil dipaksa untuk mengambil bagian dalam operasi militer: Suatu waktu pada jam 4 pagi. mencari ikan. mereka bertiga. Mereka bertanya kepada Saya. sekitar jam 8 pagi.” “Memberi makan kepada GAM?” “Tidak. 75 Human Rights Watch. Mereka membuat Saya tiarap. Mereka selalu menaruh kami orang biasa di depan. memang ada!” Sesudah dua jam Saya dibebaskan.

000. Malysia. kami membawanya pulang. Ada sekitar tigabelas tentara. Rp 500. TNI datang. dengan dua truk. Mereka memukul adik laki-laki Saya.Saya melihat seorang teman Saya dipukul. adik Saya dan Saya. Mereka masuk ke toko dan menanyakan KTP setiap orang.” Di jalan terdapat tulisan yang bilang. Saya melihat hal ini terjadi kepada teman Saya dan Saya pergi pagi berikutnya jam 7. Ketika Saya melihat mereka datang. dan dia diperintahkan untuk duduk di pantai. Seorang laki-laki berusia duapuluh tiga tahun dari Bireun menggambarkan apa yang terjadi bulan September: Brimob pernah datang ke rumah Saya. Mungkin mereka pikir dia GAM. Mereka datang jam 9 pagi. Lalu mereka meminta uang darinya. Saya duga untuk mencari senjata. 15. “Siapa yang menulis ini di jalan?” Saya bilang. Ketika kami membawanya ke rumah dia masih pusing-pusing. dan mungkin lima orang terlibat memukulnya. Sekitar jam 9 malam. No. Saya lari dan bersembunyi di dalam hutan. 77 33 Human Rights Watch.. mematahkannya. Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh tiga tahun (nama disembunyikan). Saat itu 28 Agustus. dan mereka menendangnya tiga kali di kaki. seperti sedang mabuk.76 Kekerasan juga terjadi selama pencarian di rumah. Saya sedang duduk di kedai kopi dengan teman Saya.000 (US$ 60). Ketika mereka masuk adik Saya sedang duduk di lantai menonton TV. “Saya tidak tahu. dan Brimob datang dari pos mereka di desa sebelah ke toko untuk membeli makanan. Ketika dia jatuh mereka menendangnya di punggung. Dia hanya mempunyai Rp 100. Dia satu-satunya yang tidak membawanya. Mereka membiarkannya bangun. Mereka berduabelas. Saat itu sudah senja hari. Mereka merampok rumah. Kami membawa adik Saya ke dokter dan ke dukun patah. Malaysia. mengambil satu juta rupiah (US$120) dari bawah kasur. sekitar jam lima. ketika orang-orang sedang berebelanja. karena dia berdarah dari luka dikepalanya. Ada kami bertiga di rumah – ibu saya. 31 Oktober 2003. Dia dipukul di kepala dia terjatuh. Dia bilang mereka bertanya apakah dia GAM dan dia bilang bukan. Saya hanya bicara dengan keluarga Saya lewat telepon dan adik Saya masih belum baik. 10 (C) .77 Seorang laki-laki dari Bireun yang meninggalkan Aceh ke Malaysia di pertengahan Oktober memberitahu Human Rights Watch: Bulan Mei jam 8 pagi di desa dekat rumah Saya. dan lalu mereka pergi membeli makanan. dan tentara sedang memeriksa. Vol. Ketika mereka tiba mereka bertanya pada Saya. Dia lupa membawa KTPnya. dan dia berikan kepada mereka. 31 Oktober 2003. “TNI tolong jangan pernah berada di Aceh 76 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh delapan tahun (nama disembunyikan). dalam usaha yang nampak untuk mengitimidasi atau memperoleh informasi. Kami sekelompok membawanya dengan truk ke Rumah Sakit Simpang Ulim.

24 Oktober 2003 Anggota Batalion Siliwangi yang dituduh dan dibebaskan di pengadilan militer karena pemukulan di Dewantara. Saya bukan. Dalam pernyataan awal militer mengatakan bahwa mereka sudak membebaskan 145 tersangka karena kurangnya bukti. Malaysia. Itu adalah Batallion Siliwangi yang biasanya berlokasi di Pos Peudada. Saya melarikan diri ke Malaysia. Malaysia.80 78 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia tigapuluh dua tahun (nama disembunyikan). 4 desember 2003. di depan dan belakang. “Kenapa Kamu memukuli Saya. tanggal 30 Agustus. Pusat Penerangan TNI. “Bukan. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi suatu hari jka Saya tidak bisa lari lagi.” Belasan tentara lalu menembakan senapan mereka ke udara. 1. termasuk 912 pejuang dan 416 pendukungnya. 9 Nopember 2003.” Laksamana. Saya bilang. Mungkin sekitar jam 10 pagi. 10 (C) 34 . “120 Napi GAM akan dipindahkan ke Jawa” Serambi.lagi.79 Penahanan Secara Sewenang-wenang dan Ketiadaan Proses Pengusutan Banyak dari mereka yang tertangkap karena dicurigai kenggotaan atau dukungannya terhadap GAM sepertinya diadili atas tuduhan makar.net.016 kasus kepada kantor kejaksaan.338 Anggota Pemberontak GAM Ditahan. “GAM Masih Kuat. “PDMD Tentukan Amnesti Anggota GAM.338 anggota GAM ditahan. Aceh Utara.” Dia bilang. Mereka membuka baju dan celana panjang Saya dan mengikat tangan Saya dibelakang punggung dengan tali. Ketika dia sedang memukuli Saya. Mereka juga mengambil cincin dan uang Saya. Mereka pergi sekitar jam 10. Saya dibawa ke rumah sakit oleh orangorang di desa. Tujuh kali. Saya bilang. Bukan pos yang biasa. Saya hanya punya mereka yang tidak melakukan kesalahan yang tinggal untuk dipukul. Mungkin sekitar seratus orang. daan 561 sudah dijatuhi vonis. Pendengaran Saya rusak dari saat mereka menembakan senjata mereka ke udara. Wawancara Human Rights dengan laki-laki beruisa duapuluh tiga tahun (nama disembunyikan). 15. 13 November 2003. satu yang khusus untuk darurat militer. Sekitar sepuluh orang dipukuli tetapi Saya satu-satunya yang diikat.” Sinar Harapan. 20 Oktober 2003. Setidaknya 500 ditemukan bersalah dan dijatuhi hukuman. “1. No. Salah satu dari mereka menghentikan Saya di jalan. Penguasa militer sudah memasukkan 1. Saya tidak melakukan kesalahan apapun. Dia menendang Saya di dada. Vol. Sesudahnya tiga tentara memukul Saya. Saya sedang sendirian di jalan menuju ke toko. Dia mengikat tangan Saya dibelakang punggung dan memukul Saya langsung karena Saya tidak memberitahunya dimana GAM berada. Saya tidak tahu kenapa. Muka Saya berdarah. “Semua orang yang sudah melakukan kesalahan sudah melarikan diri.” dan lalu Saya dipukuli. memeriksanya dan lalu berkata bahwa Saya GAM. 80 79 Human Rights Watch. Kantor penerangan TNI melaporkan bahwa sampai tanggal 4 Desember. Mereka benar-benar dekat dengan Saya. Ada banyak tentara di jalan.78 Seorang laki-laki dari Aceh Timur memberitahu Human Rigths Watch: Saat itu dua hari sesudah darurat militer dimulai.” Sesudah ini terjadi.” 4 Desember 2003. Mereka menanyakan KTP Saya.

“5 Bulan Darurat Militer. Malysia.82 Dalam wawancara di rumah tahanan.81 Seorang anggota Lembaga Bantuan Hukum di Aceh melaporkan banyak orang yang ditahan yang mereka wakili menyatakan bahwa mereka tidak lebih daripada membelikan kopi untuk pemberontak. Pengacara bantuan hukum dalam artikel tersebut memperkirakan bahwa 40 persen terdakwa tidak mempunyai akses ke pengacara.84 Lajunya langkah dan tingginya jumlah kasus. para terdakwa mengatakan kepada seorang jurnalis bahwa mereka mengalami penyiksaan selama interogasi. “Makalah Ringkas tentang Aceh. 7 Desember 2003. Kontras. menimbulkan perhatian kepada proses pembelaannya. 15. Dia ditutup matanya dan tangannya diikat. dan diperkirakan bahwa sampai bulan Oktober hanya seratus orang yang mampu memperoleh bantuan hukum.” September 2003. 84 35 Human Rights Watch. Kontras juga melaporkan bahwa sampai dengan tanggal 18 Agustus terdapat 213 kasus penangkapan dan penahanan secara sewenang-wenang. Kontras Aceh. Tidak diketahui 81 Suatu penangkapan atau penahanan adalah sewenang-wenang ketika dilakukan oleh penguasa negara tanpa dasar hukum yang sepatutnya dan untuk melakukan hal tersebut. Wawancara Human Rights Watch dengan seorang laki-laki berusia delapan belas tahun (nama disembunyikan). 10 (C) . hanya orang biasa. Dia berusia tigapuluh lima tahun dan mempunyai dua orang anak yang masih muda. atau membantu menguburkan tersangka pengacau.” Associated Press. seorang laki-laki berusia delapan belas tahun dari Aceh Besar memberitahukan Human Rights Watch: Pada bulan September Brimob datang ke desa dan mengambil seseorang. 83 82 “Tersangka Pemberontak Indoneisa Memberitahukan Teror di Rumah Tahanan. Mereka juga melaporkan bahwa delapan puluh klien mereka menderita penyiksaan selama ditanyai dalam penanganan militer atau polisi. Vol. dalam propinis dengan beberapa pengadilan yang bekerja. “Komandan Aceh menyangkal tuduhan penyiksaan. Sampai sekarang tidak ada tanda-tanda dia akan dibebaskan.Organisasi non-pemerintah Kontras sudah melaporkan bahwa banyak dari mereka yang ditahan telah dituduh dengan tuduhan makar. Dia seorang tetangga dan Saya melihatnya. Perang koto yang Tidak Terungkap. Saya tidak tahu kenapa –mungkin mereka mendapatkan suatu informasi dari seseorang. Mereka datang dengan truk berisi tigapuluh lima orang. Berhasil Ciptakan Ketergantungan Sipil pada Militer. No. Mereka membawanya ke Kodim di Jambu Tape. Mereka membawanya jam 8 pagi. Orang ini adalah orang biasa –tidak kaya atau miskin. menghadiri beberapa pertemuan.83 Mereka yang diwawancarai menggambarkan banyak kasus dimana polisi atau TNI secara tiba-tiba datang dan membawa pergi seseorang atau beberapa orang. Propinsi Aceh. 22 November 2003. tetapi tidak mengeluarkan surat perintah.” Associated Press. Sebagai tambahan kasus yang dikutip diatas. dan bahwa pengadilan selama 1 jam tersebut terjadi tanpa pengacara pembela atau saksi dan menghasilkan hukuman paling banyak lima tahun. 20 Oktober 2003.” Press Release. 26 Oktober 2003.

Komandan militer memberitahu istri Saya bahwa jika Saya kembali ke desa hari berikutnya dia akan dilepaskan… Dia benar-benar tidak tahu apa salah yang sudah dia lakukan.sampai tingkatan apa tahanan diproses sehubungan dengan hukum. Ketika mereka menangkapnya mereka membawanya ke Samalanga. malam hari kadang-kadang nasi. “GAM tidak bisa diberikan sesuatu yang baik.” Saya bukan GAM. mereka hanya datang dan menangkapnya… Ketika mereka menangkapnya Saya ada di kebun Sebelum Saya kembali ke desa Saya mendengar apa yang telah terjadi jadi Saya tidak kembali. Beberapa hari tidak ada nasi. kami dibawa ke Koramil. Didalam kijang tersebut. Dia meminta lebih tetapi tidak ada uang lagi. Ada tigapuluh sembilan tentara dan Brimob dari Jakarta. “Suamimu ada disini?” Saya bilang. Saya tidak tahu dimana dia. Dua tentara tersebut mengetuk pintu “buka pintu!” Keduanya membawa senjata. kepada Komandan operasi Aceh Selatan… Di Koramil terdapat banyak orang dari desa. jam 3 sore nasi. anak-anak perempuan. beberapa laki-laki. (nama disembunyikan). tetapi masih ada yang lainnya di luar rumah. Malaysia. Malaysia. sekitar 300 orang. sampai sekarang. Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia tigapuluh tujuh tahun (nama disembunyikan). Jam 10 pagi Kami mendapatkan nasi dan ikan. Beberapa dari mereka sangat kecil dan juga seorang laki-laki tua yang sedang sangat sakit. tidak diperbolehkan untuk membuat makanan yang enak. Saya hanya orang dusun biasa.85 Seorang laki-laki lain memberitahu Human Rights watch mengenai penangkapan istrinya bulan September: TNI menangkap istri Saya tanpa alasan apapun… Sekitar jam 8 pagi. “Dia tidak ada disini. Vol. 15. kurangnya informasi dan waktu tambahan yang disediakan oleh kerangka hukum darurat militer. dan menahannya tanpa tuduhan di Koramil lokal. Dia memberitahukan Human Rights Watch: Sekitar jam 10 malam.86 85 Wawancara Human Right Watch dengan perempuan berusaia tigapuluh tahun. Saya sudah tidur. Seorang perempuan dari Aceh Selatan mengatakan bahwa dia ditahan bulan Oktober oleh militer. perempuan. 10 (C) 36 . Para tentara tersebut berkata pada kami. Mereka bertanya kepada Saya. tidak ada peristiwa apapun. Saya membayar sepuluh juta rupiah (US$1200) sebelum akhirnya mereka membiarkan Saya bebas… kepada kepala Koramil. dua orang tentara datang ke rumah Saya dengan senjata. No. Keluarga saya sudah memberikan delapan juta rupiah (US$940) kepada Komandan polisi militer di Bireun. 26 Oktober 2003. 5 Nopember 2003.” Mereka membawa Saya langsung ke Koramil dengan kijang. 86 Human Rights Watch. Salah satu teman saya ada didalam bersama dengan tujuh anaknya.

Mereka yang tidak datang lalu dianggap sebagai anggota GAM. memungkinkan mereka melalui sweepings tanpa terdeteksi. Pada akhir Juli kepala sebuah Kabupaten memperkirakan bahawa hanya 60% dari penghuni yang mempunyai kartu baru dan bahwa dia tidak akan bisa menyelesaikan pekerjaannya pada akhir bulan tersebut tanpa bantuan dari polisi dan militer. disusul dengan inspeksi besar dan operasi penegakan yang dimulai 1 Agustus.338 Anggota Pemberiontak GAM ditahan. “KTP sementara Aceh berlaku 1 Juli. Sebagai orang yang hanya bisa mendapatkan kartu di daerah tempat tinggalnya. “Tujuhpuluh pesen penduduk yang harus memiliki kartu identitas sudah mempunyai kartu merah putih di tangan mereka. ABRI mengumumkan bahwa 95 persen penduduk Aceh sudah memenuhi persyaratan untuk mempunyai kartu identitas baru. Tertini ZB Simanjuntak. Tujuan dari dikenalkannya KTP merah-putih adalah untuk memisahkan orang sipil dengan anggota GAM. pembatasan kebebasan bergerak apapun oleh pemerintah untuk alasan kemanan harus mempunyai dasar hukum yang jelas. tidak pernah mendapatkannya. Pusat penerangan TNI.87 Sementara hal ini bisa jadi adalah motif yang utama.” The Jakarta Post. 15. Dalam prakteknya. persyaratan kartu identitas baru mempunyai pengaruh yang berarti terhadap orang-orang Aceh yang kartunya sudah hilang. Darpada kartu identitas Indonesia biasa yang diwajibkan seara nasional.” 4 Desember 2003.88 Batas akhir untuk mempunyainya ditentukan tanggal 31 Juli. bukan normanya. motif lainnya yang penting adalah untuk memaksa semua orang Aceh untuk datang sendiri ke depan petugas. Meskipun mereka membutuhkan KTP baru untuk bergerak secara bebas. 29 May. Departemen Luar Negeri. banyak orang-orang Aceh masih belum menerima kartu-kartu mereka sampai kini. seperti yang terjadi di Timor Timur 1999. Mereka yang tidak mempunyai KTP baru menjadi target kekerasan secara khusus dan harus membatasi gerakan mereka secara berarti. tertinggal.90 87 88 Nur Raihan. Komandan militer Mayor Jendral Endang Suwarya mengumumkan bahwa KTP baru akan dikeluarkan karena begitu banyak yang sudah dicuri oleh GAM. Betapapun.” Pada tanggal 4 Desember.Pembatasan Kebebasan Bergerak Sembilan hari sesudah darurat militer dimulai. Pengeluaran kartu identitas tidak bertentangan dengan hukum internasional. No. “Persyaratan KTP Baru Menambah Lebih Banyak Penderitaan Bagi Rakyat Aceh. siapapun yang berada diluar daerahnya ketika persyaratan baru diterapkan menghadapi resiko saat bepergian kembali ke rumah. 89 90 37 Human Rights Watch. sampai batas akhir penutupan. 28 Juli 2003. penduduk Aceh sekarang diwajibkan untuk memperoleh kartu merah dan putih khusus. Itu adalah warna bendera Indonesia. setiap batasan harus menjadi pengecualian.” detik.89 Pernyataan Menteri Luar Negeri menjelaskan bahwa tertanggal 10 Agustus. Kartu Tanda Penduduk merah putih. simbol tersebut kemudian lebih dikaitkan dengan kondisi penindasan. “1. dan dibatasi untuk apa yang penting dan sebanding. atau diambil oleh GAM atau pasukan keamanan Indonesia. 2003. GAM biasanya menggunakan strategi dengan merampas KTP orang sipil untuk membingungkan TNI dan polisi (Polri). Vol. “Makalah Ringkas mengenai Perkembangan Terkini di Propinsi Nangroe Aceh Darusslam (NAD periode: 19 Mei-10 Agustus 2003. Dimaksudkan untuk menegakkan kesetiaan kepada negara Indonesia.com. 10 (C) .

91 Proses mendapatkan identitas baru sulit. Saya menghabiskan dua bulan (di Banda Aceh). Human Rights Watch. Tetapi proses mendapatkan KTP Merah Putih sangat sulit. Surat kuasa dari kepala desa. kembali lagi ke kepala kecamatan. Setiap hari terasa menakutkan. Di kantor Polisi. Kamu harus pergi ke kantor kepala kecamatan setelah Kamu difoto.$6) kepada kepala kecamatan untuk mendapatkan kartu dengan untuk pergi.$24). No. 10 (C) 38 . Malaysia. Saya pergi ke Medan dan Malaysia. yang sudah lama tinggal di Malaysia tetapi kembalikan ke Aceh di August. menjelaskan prosesnya: Saya melihat bahwa jika Kamu tidak mendapatkan KTP Kamu tidak akan bisa aman. Tuntutan untuk menyuap adalah rutin. 6 November 2003. Pidie.S. Beberapa orang menggambarkan bahwa mereka membayar lebih untuk mendapatkan kartu mereka. dan tanda tangan dari komandan Koramil. Seorang laki-laki dari Pidie. Jika Kamu tidak dapat menyanyikannya dia memerintahkanmu untuk berdiri di lapangan. Dengan KTP Saya bisa pergi ke Medan dengan bis umum. dalam satu kasus Rp 50. ke kepala kecamatan dahulu.Seorang laki-laki menggambarkan sulitnya mendapatkan kartu ketika dia sudah meninggalkan desa tempat tinggalnya ke ibukota Banda Aceh untuk alasan keamanan: Dengan tanpa KTP Saya takut keluar. 28 Oktober 2003. Saya mau pergi ke Malaysia tetapi Saya tidak bisa.” 93 91 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh lima tahun-an (nama disembunyikan). dalam kasus yang lain Rp 200. Malaysia.000 (U. Kepala desa Saya ikut bersama Saya. dia memerintahkan Kami untuk menyanyikan Indonesia Raya (Lagu Kebangsaan). 15. Akhirnya Saya mendapatkan KTP melalui KTP keluarga kakak laki-laki Saya. Wawancara Human Rights Watch dengan seorang laki-laki berusia duapuluh lima tahun (nama disembunyikan). membutuhkan izin pendahuluan dari kepala desa. KTPmu tidak akan dikeluarkan. Dia bilang. Malaysia. 93 92 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki duapuluh tahun (nama disembunyikan). Butuh tiga hari sebelum Saya mendapatkan KTP Saya. 29 Oktober 2003. kepala kepolisian.92 Seorang perempuan dari Pidie memberitahukan Human Rights Watch: Di awal bulan ini saya mendapat KTP Saya.000 (US$3).000 (U. “Hormat kepada matahari sampai Kamu bisa menyanyikan lagu kebangsaanmu. dan kepala kabupaten. Saya harus membayar Rp 25. Kami datang kesana untuk mendapatkan KTP dengan semua dokumen. lalu ke polisi. Sebelumnya Saya takut meninggalkan rumah. Vol.S. Jika Kamu tidak datang. Saya dapatkan dari kantor polisi di Singli. karena Kamu harus datang sendiri untuk menandatanganinya.

Ada pemeriksaan di Peureulak. begitu seseorang menyebrangi perbatasan menuju ke propinsi tetangga Sumatera Utara. di Langsa di Aceh Timur. teman seorang saksi yang berusia dua puluh tahun dipukuli: Di lapangan tersebut teman Saya dipukuli. KTP merah putih menjadi suatu kekurangan. setiap orang keluar. 3 Juni 2003. enam orang tersangka GAM di 94 Wawancara Human Rights Watch dengan seorang laki-laki berusia duapuluh tahun (nama disembunyikan). Malaysia.94 Nampak sulit meninggalkan Aceh tanpa kartu merah putih. mereka ingin tahu siapa yang GAM. Banyak orang yang tinggal dengan teman atau sanak saudaranya di Medan. Bagaimanapun. Mayoritas orang-orang Aceh yang diwawancarai oleh Human Rights watch meninggalkan Aceh dengan bis ke Sumatera Utara.95 Seorang laki-laki dari Bireun memberitahu Human Rights Watch mengenai perjalannya keluar dari Aceh: Saya sedang berada dalam bis umum ke Medan. 31 Oktober 2003. Selama salah satu peristiwa yang sudah disebutkan di atas mana TNI memaksa penduduk desa untuk berkumpul dan membunuh tiga orang di desa dekat Lhokseumawe. TNI mencari GAM.” The Jakarta Post. Aceh Utara. Lebih dari sepuluh orang melaporkan bahwa ada lakilaki muda dikeluarkan dari bis yang mereka naiki. 10 (C) . diduga karena tidak mempunyai kartu atau karena alasan lainnya seperti mempunyai nama atau wajah yang sesuai (atau memiliki persamaan) dengan satu dalam daftar yang dimiliki tempat pemeriksaan. Melihat KTP. Ketika dia bangun dari mulutnya keluar darah. Dia bilang. Kesalahannya adalah tidak membawa KTPnya bersamanya. Tertiani ZB Simanjuntak. Sesudah itu enam orang diambil. Vol. 15.Beberapa peristiwa penyerangan fisik digambarkan kepada Human Rights Watch berkaitan dengan kartu identitas merah putih. juga di perbatasan dengan Medan. Penahanan semacam ini secara khas terjadi di tempat pemeriksaan di perbatasan dengan Sumatera Utara. No. menandai seseorang sebagai orang Aceh dan menjadi sasaran penangkapan. Mereka menanyakan KTPnya. Kamu GAM!” Mereka menendangnya di perut dan dia terjatuh. penganiayaan atau pemerasan. Ada beberapa laporan operasi sweepings terhadap orang-orang Aceh di propinsi Sumatera Utara dan Riau. siapa yang bukan. KTP diminta. atau bersembunyi di hutan sampai mereka bisa menemukan jalan untuk pergi ke Malaysia. “Saya meninggalkannya di rumah. 95 39 Human Rights Watch. “Komnas HAM akan Menyelidiki Pelanggaran Aceh. dan hampir semuanya menggambarkan pemeriksaan yang berulangulang terhadap kartu merah putih. di Alue Ie Puteh. atau di perbatasan-perbatasan antar kabupaten seperti antara Aceh Utara dan Aceh Timur.” “Tidak. Semua bis harus berhenti.

96 Seorang laki-laki yang tiba di Malaysia bulan Juni memberitahukan Human Rights Watch mengenai peristiwa yang terjadi di bisnya saat perjalanan dari Aceh Utara ke Medan: Saat itu malam sudah sangat larut. 29 Oktober. Malaysia. Mereka orang-orang Aceh. Malaysia. Saya kemudian mendengar suara tembakan. yang kembali ke Aceh dari Malaysia di bulan Agustus. Saya dipukul di wajah sekali. Di perbatasan terdapat banyak pasukan keamanan… Ada tiga bus dan sekitar limabelas orang ditangkap. Saya membeli tiket pesawat dan pergi langsung kembali ke Malaysia. 28 Oktober 2003. rokok. ketika mereka memeriksa KTP Saya. tidak terlalu dekat juga. Sesudahnya setiap orang kembali ke dalam bis. Dua orang tersebut tidak pernah kembali ke dalam bis. Ada tempat penahanan. Saya keluar dari bis dan bis pergi tanpa saya. 15. Sesudahnya saya diperintahkan untuk membersihkan isi ruangan. Sesudah itu mereka mulai memukul Saya karena Saya tidak mau mengakuinya. “Itu nama orang GAM. Jika Saya tidak melakukannya. Semuanya orang Aceh. Kami sudah tiba di Aceh Timur. Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh lima tahun (nama disembunyikan). No. Saya melihat dua orang dibawa ke belakang oleh lima orang tentara TNI. Saya tidak tahu dimana mereka. 2003 97 98 Human Rights Watch. bahwa nomor itu hanyalah nomor telepon Saya. Dia bilang kepada Saya. durian. Mereka memaksa saya untuk membersihkan daerah tersebut.” Ada lima orang polisi. Sangat menjijikan.Peureulak. semuanya laki-laki. Saya menunggu di Medan lima hari. Tidak jauh. Paha Saya ditendang. Kenapa? Karena mereka melihat nomor telepon di dompet Saya. di tubuh Saya dua kali. memberitahu Human Rights Watch: Saya sedang berada di perbatasan dan bis berhenti untuk pemeriksaan KTP. Malaysia. Lalu mereka membawa Saya ke sebuah kamar kecil. Kamu GAM. ada sampah. Saya pergi langsung ke Medan. Saya tidak tahu kemana mereka dibawa. Satu persatu dipanggil untuk memeriksa kartu identitas kita. Ada pos TNI dan semuanya diminta turun dari bis dan berbaris. Dia menunjuk… Sesudahnya mereka membebaskan Saya… Saya menangis. AJ-47s. Saya di tahan di ruangan tersebut selama satu jam. Mereka bertiga bersenjata. Wawancara Human Right Watch dengan laki-laki Aceh berusia duapuluh tahun (nama disembunyikan). 26 Oktober 2003.97 Seorang laki-laki dari Pidie. semua laki-laki.98 96 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia empatluluh tahun (nama disembunyikan). (yang datang) khusus untuk darurat militer. Mereka polisi tapi BKO. meminta tolong agar dibebaskan karena Saya mau kembali ke Medan secepatnya… Saya menunggu bis lagi dan langsung pergi ke Medan. 10 (C) 40 . Tiga polisi masuk dan membuka baju dan celana panjang saya. meraka bilang mereka akan menembak Saya. Mereka bertanya kepada Saya untuk menyatakan bahwa Saya adalah GAM. Vol. Tiga kali Saya ditendang.

Kami tidak bisa mencari makan. Dia tidak mengakuinya.” Laksamana. Gubernur Abdullah Puteh mencatat. Seorang laki-laki memberitahukan Human Rights watch. 101 100 41 Human Rights Watch. Dia disiksa disana –ditusuk dengan pisau. Kecamatan Labuhan Haji. kami akan dikira GAM dan mereka akan menembak kami. Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia delapan belas tahun (nama disembunyikan). Vol. http://www.cfm?ncat=35&news_id=6246 (diakses 4 Desember 2003). Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh dua tahun (nama disembunyikan). 28 Oktober 2003. Ekonomi kami membeku.net/vnews.laksamana. Seorang laki-laki berusia delapanbelas tahun yang tiba tanggal 11 September dari Aceh Besar memberitahukan Human Rights Watch: Orang-orang tidak bisa pergi ke pegunungan. 15. naik ke atas ke bukit ke kebun sayurannya tetapi ditahan oleh Brimob dan dibawa ke pos brimob di Labuhan Haji. ke kebun kami. Laki-laki ini. dan rasa takut yang terbangun baik terhadap kekerasan saat bepergian untuk membeli atau menjual barang-barang secara hebat telah memperburuk masalah tersebut. atau sebagai pendukung mereka yang membawakan nasi atau kebutuhan lainnya untuk separatis bersenjata tersebut. 29 Oktober 2003. yang seringkali berada bukit diatas desa.Pemerasan dan Pembatasan Terhadap Aktifitas Ekonomi Situasi ekonomi dibawah darurat militer memburuk secara cepat. menebang pohon untuk membangun rumah. “Angka pengangguran dan kemiskinan disebabkan konflik di Aceh mengkhawatirkan. Banyak orang Aceh mengeluh bahwa ketakukan akan kekerasan atau larangan-larangan terhadap mobilitas telah secara serius mempengaruhi kemampuan mereka untuk menyambung hidup. jadi kami tidak berani pergi kesana. dan 99 “Waspadai kemiskinan dan pengangguran di Aceh. Di bulan Oktober. dan ditanya apakah dia GAM. siapapun yang terlihat menuju kesana dianggap entah sebagai GAM.99 Perang telah nenyebabkan ekonomi berjalan tertatih-tatih tetapi pengawasan yang luas terhadap gerakan. Malaysia. dan kami tidak diperbolehkan pergi ke bukit-bukit. “Ada pos-pos di desa. Kalian harus bertanggung jawab atas diri kalian sendiri. Hampir semua warga yang diwawancarai mencatat bahwa penghuni desa mereka dilarang pergi ke kebun mereka. Seorang laki-laki berusia duapuluh enam tahun dari Aceh Selatan melaporkan: Tanggal 23 Jumi ada seorang laki-laki mencari makanan didekat desa (nama dihilangkan). Kami takut tembakan. Bahari.”100 Karena pasukan GAM terutama berada di daerah pegunungan. menanam sayur-sayuran atau singkong.”101 Hal ini bukanlah ancaman main-main. Pegunungan tersebut dikepung oleh TNI. pemerasan. Jika kami melakukannya. 29 Oktober 2003. No. 10 (C) .” Puteh mengutip data terkini yang menunjukan bahwa 40 persen penduduk tinggal dibawah garis kemiskinan. Kami diperingatkan: “Jika Kalian pergi ke tasa Kami tidak bisa bilang apa yang akan terjadi.

103 Seorang supir lainnya dari Bireun mengulang cerita bahayanya bepergian di jalan: Saya menjual ikan di Takengon. Malysia. Kamu dipukuli. khususnya dmana imigran Jawa berada. Malaysia. 26 Oktober 2003. Meskipun kelompokkelompok yang berkaitan dengan militer berkeliaran setidaknya sejak tahun 1990. 10 (C) 42 . 26 Oktober 2003. Tetapi Saya harus berhenti pergi kesana karena Saya takut kepada milisi.102 Seorang berusa tigapuluh tahun yang tiba dari Aceh Tengah segera setelah darurat militer dimulai berkata: Hidup Saya sangat berat. Jika Kita keluar dari kapal yang pertama adalah pergi ke pos marinir dan melapor disana.104 Seorang nelayan berusia duapuluh tahun dari Aceh Utara yang tiba dua minggu yang lalu menjelaskan: Ada pos-pos setiap limapuluh meter di beberapa tempat. Mereka meminta lagi. Jika Kamu tidak mempunyai uang dan mencoba menawar – “Saya tidak punya sepuluh. Saya sudah memberikan satu kepada mereka jadi Saya bilang tidak. tentara datang dan memintanya. No. Saya tidak mau memberikan mereka Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh enam tahun (nama disembunyikan). Jika Kamu tidak memberikannya kepada mereka.mereka tidak akan menerimanya. 104 103 102 Human Rights Watch. Kamu tidak bisa tawar menawar dengan mereka. telah meningkat tahun-tahun terakhir ini. lalu kembali ke pos marinir ketika kami kembali untuk mengambil KTP kembali… Pernah ketika Saya sedang merawat ayam jantan Saya untuk sabung ayam. laporan aktifitas milisi di beberapa kabupaten. tetapi mereka tidak mengaku. tetapi mayat tersebut dikirim ke rumahnya. Saya melakukan perjalanan terakhir Saya bulan Juli. truk-truk mereka diambil. Saya bekerja sebagai supir minibus di jalan raya. Lalu kami pergi ke Lhokseumawe untuk menjual ikan Kami harus melapor disana. 25 Oktober 2003. Wawancara Human Rights Watch (nama disembunyikan). ini ada lima”. Saya melihat mayatnya di rumahnya. Sebelumnya tidak ada masalah. Lalu Saya ketakutan karena adanya tempat pemeriksaan di jalan oleh TNI dan Brimob… Saat Saya menyetir kendaraan mereka menghentikan Saya untuk meminta uang atau makanan. Mayat mereka tidak pernah dikembalikan.dia dibunuh. Wawancara Human Rights Watch dengan seorang laki-laki berusia tigapuluh tahun (nama disembunyikan). Dua orang lainnya ditahan pada waktu yang sama dan juga ditusuk. Milisi tersebut dilatih tahun 1999 oleh TNI dan Polri. Tetapi baru-baru ini dua orang penjual ikan lainnya yang Saya kenal menghilang: Rusli di bulan Oktober dan Azhari di bulan September. di daerah kecamatan. Banyak orang Aceh yang menghilang. Malaysia. 15. di Aceh Selatan. Jika mereka bilang sepuluh maka harus sepuluh. Vol. Saya tidak tahu dimana ditemukannya. dan memberikan KTP.

“Jika Kamu tidak memberikannya kepada kami. 2 Juli 2003. Mereka BKP. Mereka hendak pindah ke pos BKO yang lain dan meminta ‘uang pindah’.108 Beberapa Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh tahun (nama disembunyikan).105 Seorang laki-laki yang memiliki bisnis penggilingan beras melaporkan: Membuka jalan untuk hidup di Aceh itu sulit. 5 Nopember 2003. Malaysia. Saya memiliki penggilingan beras. Saya akan menembakmu. menyiksa dan bahkan membunuh warga lainnya. Tahun 1981. “Jika Aku tidak ada disini. 10 (C) . TNI biasa menggunakan taktik semacam “pagar betis” di Timor Timur dengam menaruh orang sipil diantara tentara dan gerilya. 106 107 105 Wawancara Human Rights Watch (nama disembunyikan). bilang pada mereka. Jika Kamu mencoba membuka usaha. mereka akan mengambil kalian. kepada polisi pada upacara bulan Juli107 Secara historis. maka diberikan… Saya tidak tahan lagi. Dia bertanya apa yang mereka inginkan dan Saya beritahukan: tujuh juta rupiah dalam tiga hari. Setiap hari TNI meminta 450 kilogram.” Saya seharusnya bisa pergi haji ke Mekkah duapuluh lima kali sekarang. kan? Saya katakan pada tiga anak laki-laki Saya untuk ikut pergi (nama disembunyikan). partisipasi masyarakat semakin dibutuhkan karena kurangnya personil keamanan. 31 Oktober 2003. Dia dari pos lokal. 15. mereka akan meminta uang. “Presiden Menyetujui ‘Penjaga’ Sipil’. militer Indonesia melaksanakan operasai yang disebut kampanye “pagar betis” di Timor Timur. Saya dimintai tujuh juta rupiah (US$825) dan diberitahukan bahwa jika Saya tidak memilikinya dalam tiga hari Saya tidak akan selamat. Vol. “Sebaiknya kamu pergi saja. Tetapi kalau diminta. baik sebagai tameng manusia dan juga menggunakan orang sipil untuk menekan perlawanan para pejuang. Kopassus datang jam 11 pagi. Malaysia. Mereka bilang. Dia bilang pada Saya. —Presiden Megawati. No. bermarkas di Koramil. Batalion Sriwijaya 141.satu lagi.” Karena Saya takut.” Saya pergi sesudah dua hari –mereka memberi Saya waktu tiga hari. Saat itu tanggal 8 atau 9 Oktober. malam ini Kamu akan dibunuh. yang kebanyakan orang Jawa.”106 Kembalinya Jaga Malam: Tugas Wajib Jaga Malam Kami seharusnya mempertimbangkan untuk memberikan penghargaan yang sepantasnya kepada tuntutan masyarakat untuk diperbolehkan membela diri dan barang-barang mereka sendiri. militer memaksa 108 43 Human Rights Watch. khususnya mereka yang tinggal di daerah konflik… Dalam menghadapi orang sipil yang bersenjata yang memerat. Fabiola Desy Unidjaya dan Tiarma Siboro. The Jakarta Post. Dalam usahanya untuk memaksa keluar para pejuang yang bertahan dari persembunyiannya. Saya memberikannya kepadanya. Sesudah mereka pergi Saya pergi ke teman Saya di kedai kopi di depan rumah Saya. Lalu dia mengancam Saya – “Kalau Kamu tidak memberikannya kepada Saya. mereka berempat di dalam Taft – seperti Pajero tapi lebih kecil.

kesaksian yang dikumpulkan di Malaysia menunjukan bahwa pasukan keamanan memakai ancaman dan penggunaan kekerasan untuk memaksa penduduk lakilaki di desa untuk bergantian menjaga desa. menggunakan mereka sebagai tameng manusia terhadap para pejuang yang bertahan.media baru-baru ini melaporkan penggunaan orang sipil dalam operasi militer di Aceh.109 Seorang laki-laki memberitahukan Human Rights Watch tentang penduduk desa yang dibawa ke hutan untuk mencari GAM. No. Kami berempat dipukuli kalau tertidur. Semua perhatian dan kewaspadaan ini datang dari masyarakat secara spontan. Menurut pernyataan pemerintah mengenai kemajuan darurat militer: Penjagaan lingkungan telah meningkat di desa dari 0% sampai dengan 70%. 110“Evaluasi Pemerintah Terhadap Operasi Khusus di Aceh. Nani Farida.go. sekitar sebulan kemudian. laki-laki tua tidak pernah melakukan tugas jaga. sekitar 1. bahkan laki-laki tua.000 penduduk desa dari Kecamatan Leupung di Aceh Besar dilaporkan terlibat didalam perburuan pemberontak GAM di hutan dekat sana. dan kesetiaan rakyat Aceh kepada Negara Kesatuan Indonesia semakin menguat. operasi ditujuan untuk merangsang keberanian masyarakat lokal untuk berjuang melawan GAM. periode: 19 Mei -10 Agustus 2003. “Makalah Ringkas tentang Perkembangan Terakhir di Propinsi Nangroe Aceh Darussalam (NAD)”. Semua laki-laki diatas lima belas tahun harus berjaga. Beberapa perkembangan yang positif sudah dicapai seperti misalnya beberapa pos sudah dibuat oleh penduduk lokal yang juga berfungsi sebagai Pos Informasi. dibawah DOM. Sebagai contoh. www. Seorang laki-laki berusia duapuluh tahun dari Pidie yang tiba di Malaysia tanggal 14 Oktober menggambarkan ketika tentara mengadakan tugas jaga malam di desanya: Jaga malam dimulai sesudah darurat militer. Dalam wawancara dengan Human Rights Watch. The Jakarta Post. Republik Indonesia.110 Pernyataan lain yang dikeluarkan oleh Kementerian Luar Negeri menegaskan: Dalam rangka menciptakan situasi yang aman dan teratur di (Aceh). dalam tiga waktu yang berbeda. . strategi dari peride DOM yang dihidupkan kembali segera sesudah darurat militer dimulai.” Pernyataan Pemerintah Indonesia. Kami harus melakukannya tiga kali seminggu. Departemen Luar Negeri. 17 September 2003.111 Biarpun demikian. Komandan Kodim Aceh Besar mengatakan bahwa militer hanya menyediakan sokongan terhadap inisiatif warga desa itu sendiri. Kami juga biasa melakukannya dibawah DOM. begitu juga kesadaran mereka akan hak dan kewajiban mereka. “Warga Sipil Terlibat Secara langsung Dalam Perburuan Pemberontak GAM “.id. 15 Agustus 2003. tetapi tidak jelas seberapa sering taktik ini digunakan dibawah darurat militer. 111 109 Human Rights Watch. 15.Polkam. contoh partisipasi orang sipil yang paling luas dalam pertahan yang dilaporkan adalah tugas wajib jaga malam tanpa senjata. empat orang setiap kalinya. 10 (C) 44 . Vol. Militer mengikutinya dari belakang. orang sipil untuk berjalan berbaris dari setengah garis pertahanan pulau terebut menuju ke pusatnya. Sebelumnya.

26 Oktober 2003. tetapi kami harus membangun pos-pos di desa lain. Vol. Malaysia.113 Tugas wajib jaga malam adalah aspek tambahan dari kehidupan yang semakin tidak dapat dipertahankan lagi bagi laki-laki Aceh. GAM meminta kami untuk memberitahukan mereka apa yang TNI dan Brimob lakukan. 24 Oktober 2003. Sekarang selalu seperti ini.Kami tidak berkeliling tetapi tinggal di sekitar pos jaga. 115 114 113 112 45 Human Rights Watch. Malaysia. Saya harus pergi (dari Aceh) untuk mendapatkan uang dan makanan. seperti yang dikatakan seorang laki-laki berusia tigapuluh tahun yang tiba dari Aceh Tengah segera sesudah darurat militer dimulai: Polisi dan Brimob datang ke desa dan mengatakan pada orang-orang untuk menjaganya. tidak ada perubahan.114 Dua orang Aceh yang diwawancarai oleh Human Rights Watch juga mengeluh mengenai pemaksaan tenaga kerja. No.112 Seorang perempuan dari Peureulak.” Wawancara Human Rights Watch dengan lakilaki berusia tigapuluh tahun (nama disembunyikan).115 Wawancara Human Rights Watch dengan seorang laki-laki berusia duapuluh dua tahun (nama disembunyikan). Selama darurat militer sulit sekali mencai makanan. Sementara jaga malam bisa menaruh orang sipil di tingkat resiko yang sama seperti keterlibatan langsung dalam operasi militer atau dipaksa untuk bergabung dengan militia. Tetapi kalau kami memberitahukan GAM. di Aceh Timur. kami pasti akan diculik dan diancam. Seorang dari dua orang yang menggambarkan tugas wajib tersebut menjelaskan: “di malam hari kami jaga malam. 26 Oktober 2003. Atau kami diperintahkan untuk membawa tiang pohon kelapa sawit ke atas bukit. Malaysia. Dia mengatakan kepada Human Rights Watch: Suami Saya dipukuli oleh TNI bulan Agustus saat dia jaga malam. membangun pos-pos dan kamp baru. seperti membangun pos tingkat desa baru. Dia desa Saya mereka hanya mengambil alih sebuah rumah kosong. 15. di pagi hari kami harus melakuka gotong royong. 26 Oktober 2003. Mereka tidak berkata kami seharusnya menjaga –jaga malam saja! Mereka tidak berkata menjaga ini atau itu. Malaysia. meninggalkan propinsi tersebut di pertengahan Oktober. kami harus merubuhkan pos. 10 (C) . Wawancara Human Rights dengan laki-laki berusia tigapuluh tahun (nama disembunyikan). lalu mereka kembali lagi dan kami harus membangunnya lagi. Dan. Kami harus melakukannya mungkin dua hari setiap minggunya. Suami Saya lalu sakit jadi tidak bisa pergi dan mencari makan. Kadang-kadang ketika mereka pergi. Wawancara Human Rights dengan perempuan berusia tigapuluh tahun (nama disembunyikan). itu juga menaruh orang sipil di seputar antara GAM dan TNI. menempatkan mereka dalam resiko pembalasan dendam dari kedua belah pihak.

“Jesuit Refugee Service: Berita JRS No. sementara yang lainnya ditangkapi dan diangkut pergi: A’An Suryana. 154”. Kantor PBB untuk Koordinasi Masalah Kemanusiaan (OCHA). pasal. Konvensi Geneva. sehat dan menyediakan nutrisi. Mei 2000.” Prinsip-Prinsip Pedoman tentang Orang Terlantar (prinsip pedoman). 10 (C) 46 .117 Seandainya tindakan tersebut harus dilakukan. 15 Februari 2002. No. 15.” Human Rights Watch Press Backgrounder.2. Protokol II. 1 Juli 2003. dan menyatakan kumpulan standar internasional yang mengatur perlakuan terhadap orang-orang terlantar. Vol. Dulu Suku nonAceh juga lebih banyak diintimidasi agar meninggalkan Aceh oleh GAM. 142.” 17 Nopember 2003. Periode: 19 Mei-10 Agustus 2003”. Pihak-pihak yang berkonflik harusnya tidak memerintahan pemindahan penududuk kecuali dengan alasan yang serius berkaitan dengan keamanan orang sipil yang terlibat.118 Banyak pengungsidapat kembali ke tempat asalnya sesudah periode yang cukup singkat. Republik Indonesia. 17.000 orang Jawa di Sumatera Barat yang meninggalkan Aceh.119 Seorang laki-laki berusia duapuluh tahun yang tiba di Pidie menggambarkan bagaimana beberapa orang di desanya meningalkan TNI. Kemungkinan prilaku yang sama terjadi di bawah Darurat Militer tetapi kurangnya akses membuat sulit untuk menunjukannya. Lebih dari seratus ribu orang dipindahkan di beberapa titik tertentu sejak dimulainya darurat militer. yang memperhatikan cerminan hukum internastional menyatakan bahwa “pengungsian penduduk sipil tidak boleh dilakukan dengan alasan yang berkaitan dengan konflik kecuali berkaitan dengan keamanan warga sipil atau tuntutan militer yang sangat penting. Lihat Human Rights Watch. di awal Juli sekitar 10. atau ada alasan militer yang sangat penting untuk tindakan tersebut. No. Prinsip pedomaan ini didasarkan pada hukum internasional yang tentunya mengikat negara-negara seperti halnya beberapa kelompok pemberontak. 4 (c ). belasan ribu orang sipil telah dipaksa oleh pertempuran atau diperintahkan oleh pemerintah Indonesia atau pasukan keamanan untuk meninggalkan rumah dan desa mereka. dan mereka yang berwenang dan berada di komunitas internasional. 119 118 117 116 Human Rights Watch. Laporan Perwakilan Sekretaris Jendral tentang Orang-Orang Terlantarl. Para penghuni dilaporkan diperintahkan oleh militer untuk ditampung di dua kamp di sekitar Kecamatan Dewantara dan Muara Batu. diadopsi bulan September 1998 oleh Majelis Umum PBB. mencerminkan hukum kemanusiaan internasional sebagai juga hukum hak asasi manusia.116 Penampungan massa atau pengungsian orang sipil yang hanya untuk meniadakan basis sosial untuk pasukan lawan dilarang oleh hukum kemanusiaan internasional. “Laporan OCHA Mengenai Gabungan Situasi No. Meskipun bukan instrumen yang mengikat. “Perang di Aceh. E/CN. 14 Nopember 2003. “Warga Sipil Indonesia Dijadikan Target di Aceh. Agustus 2001: Human Rights Watch.4/2003/95/Add. Vol. higenis.000 orang di Aceh Utara dilaporkan meninggalkan rumah mereka karena Angkatan Udara Indonesia membom posisi pemberontak di Pantai Pisang di Kecamatan Nisam yang banyak pegunungannya.13. semua tindakan yang mungkin seharusnya diambil untuk memastikan bahwa tempat dimana mereka akan ditampung menawarkan kondisi tempat berlindung yang memuaskan.” Laporan Human Rights watch. “Makalah Ringkas mengenai Perkembangan Terkini di Propinsi Nangroe Aceh Dasrussalam (NAD).Pengungsian dan Perampokan Sejak dimulainya darurat militer. “Orang Aceh Pergi karena Serangan Udara” The Jakarta Post. Departemen Luar Negeri. Sampai tahun 2001 ada sekitar 50. Perkiraan resmi jatuh dari lebih dari duapuluh ribu orang terlantar di sebelas kabupaten di bulan Agustus menjadi hanya sepuluh ribu orang terlantar di enam kabupaten pada pertengahan November. jadi jumlahnya turun-naik dari minggu ke minggu. Sebagai contoh.

” terdapat kelanjutan untuk memperhatikan kurangnya akses ke makanan. Sesudahnya kami dikirim kembali ke rumah dengan truk. Ketika Kami pulang ke rumah semua barang-barang kami tidak ada. “Sekarang mengungsi!” Saya rasa mereka dari Pos BKO Siliwangi.121 Di akhir Juli. Saya meminta maaf karenanya. dan yang lainnya melarikan diri ke Sigli. kami (TNI) memaksa orang-orang untuk meninggalkan rumah mereka dan mengungsi sementara para tentara berusaha menyingkirkan para pemberontak yang seringkali mencoba berbaur dengan orang sipil di desa mereka… Bahkan jika para pengungsi tinggal di kamp selama tiga atau empat hari saja.000 untuk mengembalikan barang-brang kami kembali. Orang-orang di pegunungan kembali ke rumah setelah kami pulang. kambing.Suatu pagi hari. Ayam. kepala staf ABRI. sarana kesehatan. Kami kembali ke rumah kami untuk mengambil barang-barang yang paling penting. Saya tidak mau orang-orang berkorban sebanyak itu. No.122 Sebagaimana digambarkan dalam “Aceh dibawah Darurat Militer: Pelarangan yang Tidak Perlu dan Berbahaya Terhadap Akses Kemanusiaan Internasioal. mengakui bahwa tentara secara paksa menelantarkan warga sipil dan meminta maaf atas perampokan tersebut: Dengan beberapa pertimbangan. Kami tidak diberitahukan alasannya. dibawa oleh tentara yang lalu meminta uang Rp 300. 26 Oktober 2003. Tiarma Siboro. hidup didalam tenda. Kami diberitahukan oleh tentara. lalu tiga truk datang untuk membawa kami ke Sigli. sekitar empatpuluh kilometer jauhnya. Kami mempunyai satu jam untuk mengemas barang kami. Human Rights Watch tidak tahu mengenai hasilnya.” The Jakata Post. (semua) dicuri saat kami melarikan diri. 47 Human Rights Watch. Beberapa orang membayar. “Kepala TNI Menawarkan Permintaan Maaf Kepada Rakyat Aceh. Pengadilan darurat militer dilakukan pada tanggal 22 Juli terhadap dua orang prajurit yang dituduh mencuri uang kontan dan perhiasan dari rumah seorang tersangka pemberontak separatis di Aceh Utara. Jendral Endiartono Sutarto. dan beberapa orang melarikan diri ke pegunungan. 121 122 120 Wawancara Human Rights Watch (nama disembunyikan). empat buah tank datang ke desa. 26 Juli 2003. dan pendidikan Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh dua tahun (nama disembunyikan). Orang-orang di desa ketakutan. tetapi Saya terlalu ketakutan. 29 Oktober 2003. 15. Vol. dimana ada sebuah kamp orang terlantar di lapangan disana. 10 (C) . Kami menghabiskan waktu limabelas hari disana. Malaysia.120 Seorang perempuan dari Aceh Utara menggambarkan perampokan yang terjadi ketika para penduduk dipindahkan: Saya melarikan diri ke kamp pengungsi. Malaysia. Mereka pergi kesana karena ada panggilan dari mesjid untuk berkumpul disana. mereka menemukan rumah mereka dirampok ketika mereka kembali ke rumah mereka.

informsai ini mustahil untuk di verifikasi atau diinterpretasikan tanpa mengetahui lebih banyak mengenai tingkat kehidupan total penduduk.bagi orang-orang terlantar di Aceh. Satkorlak NAD.” 1 Agustus 2003. telah mengganggu hidup dan mata pencaharaian warga sipil dengan terpotongnya suplai makanan.. kekurangan gizi dan keluhan kulit diantara para penduduk tersebut.123 Pertempuran antara militer Indonesia dan GAM sebagaimana larangan untuk bergerak.” Makalah Ringkas Human Rights Watch. No. dan sarana kesehatan bagi ribuan orang. 137. 5 Oktober 2003. Vol. September 2003. komunikasi. “Berita JSR No. 124 125 123 Jesuit Refugee Service. Sampai bulan Oktober 2003. Kondisi tersebut diperburuk bagi mereka yang telah dipaksa untuk meninggalkan rumah mereka. 10 (C) 48 . “Aceh dibawah Darurat Militer: Pelarangan yang Tidak Perlu dan Berbahaya atas Akses Kemanusiaan Internasional. fasilitas kesehatan yang tersedia. “Kematian Orang-Orang Terlantar di Aceh” (diproses dan diperiksa oleh Organisasi Migrasi Internasional Banda Aceh).125 Human Rights Watch. sekolah. 15. Informasi awal mengindikasikan bahwa pertempuran telah memaksa ribuan warga sipil keluar dari rumahnya. Gambaran menyeluruh dari sedikit informasi yang tersedia adalah bahwa penududuk Aceh menghadapi kekurangan jasa dan persediaan dasar. Jesuit Refugee Rervice dan sumber-sumber media Indonesia sudah menyoroti laporan mengenai fasilitas sanitasi dan air yang memprihatinkan.124 Penolakan Indonesia terhadap akses badan-badan kemanusiaan internasional dan LSM membuat penilaian secara lengkap mustahil. Human Rights Watch. Bagaimanapun. air. dan informasi dasar lainnya. pemerintah Indonesia melaporkan empat puluh tujuh kematian yang berkaitan dnegan kesehatan di kamp. listrik.

131 Tidak ada tuduhan pembunuhan yang membawa kematian para warga sipil selama operasi militer ini.” Associated Press.net. Jika Saya mengirimkan sesorang keluar untuk membeli pisang goreng dan orang tersebut tertangkan karena mencurinya. Sebagaimana dalam banyak kasus yang dilaporkan dalam laporan ini. Dibawah hukum darurat militer teretuduh mendapat hukuman maksimum duabelas tahun.net. Tetapi perintah-perintah Saya dan para komandan pasukan bersenjata lainnya jelas: jangan membunuh orang sipil. 10 Juni 2003. “Prajurit dihukum dalam kasus perkosaan di Aceh.128 Pada bulan September. 20 September 2003.126 Para tentara tersebut dikenai tuduhan melanggar pasal 351 dan 55 dalam Undang-Undang Kejahatan tentang penyerangan terhadap orang sipil dan ayat 103 dalam undnag-undang kejahatan militer mengenai pelanggaran disiplin militer. Bagaimanapun. Indonesia telah mengambil beberapa langkah meminta pertangungjawaban tentaranya dalam kejahatan yang terjadi di Aceh. 15. Vol.” Laksamana.127 Bulan Juli. Tiarma Siboro. “12 Prajurit Menghadapi Sidang Karena Menyiksa Orang Sipil di Aceh. 25 September 2003. “12 Prajurit Diadili karena Memukul Warga Desa di Aceh. duabelas tentara dari Jawa Barat base Batalion Siliwangi dibawa ke pengadilan militer. dikenai tuduhan atas pemukulan dua orang penduduk desa di Kecamatan Dewantara.net/vnews. 20 Juli 2003. pada 30 Agustus 2003. haruskan Saya juga 49 Human Rights Watch. Aceh Utara.Pertanggungjawaban Tidak seperti dalam operasi di masa lalu di Aceh. korban bersaksi di pengadilan bahwa mereka diserang karena tidak tahu lokasi para pemberontak separatis. 10 http://www. “Indonesia Mendakwa Tentara atas Pelanggaran di Aceh.” The Jakarta Post.laksamana. “Tentara Didakwa atas Pelanggaran Hak Asasi. pengadilan militer di Ljokseumawe. Mereka tidak dikenai tuduhan karena menembak mati seorang laki-laki bernama Abubakar dalam peristiwa yang sama. 5 Juni 2003 “Prajurit Dipenjara Karena Perkosaan di Aceh.” BBC News Online. 131 130 129 Oktober 2003. Aceh Utara. 10 (C) . “Saya tidak akan mengambil tanggungjawab atas semua perintah yang Saya berikan. meskipun salah seorang terdakwa mengakui pembunuhan tersebut. 19 Juli 2003.” The Jakarta Post.cfm?ncat=45&news_id=6152 (diakses 4 Desember 2003).” The Jakarta Post.130 Persidangan adalah pengecualian yang disambut baik untuk kekebalan hukum yang hampir seluruh TNI menikmatinya. menemukan tiga orang tentara bersalah atas pemerkosaan empat orang perempuan.129 Mereka dibebaskan meskipun jurubicara militer mengatakan mereka teap akan menerima hukuman kedisiplinan yang mencakup dari peringatan keras sampai dengan tiga minggu penjara. Kepala TNI memberitahu majalah Time. Di bulan Juni.” Associated Press. “Prajurit Dibebaskan atas Penyerangan di Aceh. pengadilan militer menjatuhkan hukuman kepada enam tentara dari Batalion Infrantri 144 lima bulan penjara karena pemukulan warga desa di Kabupaten Bireun pada 27 Mei. Pengadilan memerintahkan tiga tentara tersebut diberhentikan dan menghukum mereka antara dua setengah sampai tiga setengah tahun penjara. No. 127 128 126 “Tiga prajurit dalam Sidang Mengakui Menyerang Penduduk Desa.” Laksamana. atau mencuri uang untuk membelinya. tuntutan yang selektif. hukuman ringan. dan rendahnya tingkat tuduhan-tuduhan tersebut memperlihatkan kurangnya keseriusan dalam menghukum atau menghalangi kejahatan oleh anggota pasukan bersenjata. 9 Juni 2003.

pangadilan ad-hoc Jakarta tentang Timor Timur menyatakan Jendral Damiri bersalah atas kejahatan terhadap kemanusiaan dengan atrocities yang dilakukan di Timor Timur tahun 1999. Salah seorang yang paling terkenal karena nama buruk yang disandangnya adalah Mayor Jendral Adam Rachmat Damiri. Damiri juga dituduh atas kejahatan terhadap kemanusiaan oleh pengadilan PBB di Timor Timur. 132 Human Rights Watch. 15. No. 2 Juni 2003.” Time Asia. “Tidak ada daerah yang melepaskan diri. “Aceh dibawah Darurat Militer: Dapatkah Orang-Orang ini Dipercayai untuk Mengusut Perang ini?” Makalah Ringkas Human Rights. sebagaimana yang sudah didokumentasikan sebelumnya oleh Human Rights Watch. Damiri dipromosikan sebagai Asisisten Operasi untuk Kepala Staf Umum. Oktober 2003.Sebagai tambahan. beberapa orang yang bertanggungjawab dalam kampanye militer di Aceh telah didakwa atau disangkutkan dalam pelanggaran hak asasi manusia yang serius. Pada 5 Agustus 2003.132 dihukum?” Wawancara dengan Ryamizard Ryacudu. 10 (C) 50 . Kasus-kasus lainnya telah didokumentasikan oleh Human Rights Watch. Lihat. seorang pejabat militer Indonesia tertinggi yang pernah diadili dan dinyatakan bersalah melakukan pelanggaran hak asasi manusia di Indonesia. Diluar tuduhan atas dirinya. dimana dia terlibat dalam mengarahkan operasi militer di propinsi Aceh selama bulan-bulan pertama darurat militer. Vol.

Memperbolehkan Komisi Hak Asasi Manusia Nasional untuk menjalankan investigasi yang bebas dari intimidasi atau campur tangan oleh penguasa darurat militer. Secara penuh menyelidiki pernyataan tanpa bukti (allegations) terhadap pelanggaran hukum kemanusiaan dan hak asasi manusia internasional. khususnya perlindungan warga sipil dan non-pejuang. Menahan semua tahanan hanya di tempat penahanan yang secara resmi dikenali. 8. jurnalis dan orang asing di Aceh. Mendisiplinkan dan/atau mengusut semua petugas secara semestinya. di semua tingkatan.43/2003. termasuk pejuang yang tertangkap. 7. 3. penyiksaan dan penganiayaan lainnya. Segera mencabut Keputusan Presiden No. perampokan dan pemerasan. 10 (C) . Meyakinkan bahwa semua pasukan beroperasi dibawah aturan pertempuran yang konsisten dengan hukum kemanusiaan internasional. Vol. perkosaan dan kekerasan seksual. Mengizinkan badan-badan kemanusiaan untuk menyampaikan bantuan secara langsung kepada penduduk yang membutuhkan. Segera dan tanpa syarat menghapuskan larangan pengumpulan dan pelaporan berita secara langsung dari Aceh oleh media Indonesia dan asing. Organisasi hak asasi manusia dan jurnalis seharusnya mempunyai akses tanpa kekangan ke propinsi tersebut. pastikan bahwa ICRC mempunyai akses yang bebas dan tanpa kekangan untuk menjalankan pekerjaannya. No. lembaga swadaya masyarakat (LSM). 9. 4. Memastikan bahwa semua komandan yang disebarkan di Aceh. Memberitahukan semua tahanan segera dasar penangkapan dan tuduhan apapun terhadap mereka. 5. dan memperbolehkan para tahanan untuk memberikan petisi peninjauan kembali terhadap penahanan mereka tanpa 51 Human Rights Watch. pasukan bersenjata dan personil polisi yang tersangkut dalam pelanggaran. Segera menyediakan kepada semua tahanan akses yang teratur kepada anggota keluarga dan pengacaranya. 2. Mengambil semua langkah yang diperlukan untuk memastikan bahwa pasukan militer dan polisi Indonesia sepenuhnya bertindak sesuai dengan hukum kemanusiaan dan hak asasi manusia. Menyusul keputusan Indonesia yang disambut baik untuk memperbolehkan ICRC datang ke Aceh. Semua pejuang seharusnya dilatih dan diberi pelajaran mengenai perlakuan yang sepantasnya terhadap warga sipil dan non-pejuang. 6. daripada mensyaratkan badanbadan tersebut untuk mengirimkan bantuannya melalui badan-badan resmi Indonesia. badan-badan internasional. penghilangan secara paksa. Menghormati kebebasan pers dan memperbolehkan peliputan konflik senjata secara penuh dan independen. 15. Bergerak secepat mungkin untuk mengembalikan pemerintahan Aceh kepada pengawasan sipil yang bertanggungjawab. yang menempatkan pelarangan yang tidak perlu terhadap akses untuk PBB. termasuk eksekusi diluar hukum. sudah menerima latihan dasar mengenai prinsip-prinsip dasar hukum kemanusiaan.Rekomendasi Untuk Pemerintah dan Pasukan Tentara Indonesia 1.

paramiliter. seperti penyitaan kartu identitas. 14. atau keamanan berkaitan dengan fungsi-fungsi. 13. Bertentangan dengan praktek di Indonesia kini.10. Memelihara kelangsungan pendaftaran yang akurat nama-nama tahanan dan tempat penahanan mereka dan membuat pendaftaran semacam ini siap tersedia untuk keluarga tahanan. Vol. dengan informasi mengenai sifat dasar kejahatan yang mungkin dan tempat penahanan mereka. Segera menghapuskan –dari semua peran sehubungan dengan konflik di Aceh – semua personel militer Indonesia yang sudah didakwa atau diindikasikan atas pelanggaran hak asasi manusia atau hukum kemanusiaan atau kepada mereka yang terdapat bukti melakukan penganiyaan semacam itu. Mengakhiri praktek penggunaan orang sipil di militer. dan alasannya serta lokasi penahanan. Summary or Arbitrary Execution) dan perwakilan dari Badan Pekerja Penghilangan Secara paksa atau tidak sukarela (Working Group on Enforced or Involuntary Dissapearances). 15. Untuk Gerakan Aceh Merdeka (GAM) 1. 11. Menghormati pelarangan hukum kemanusiaan internasional mengenai pengungsian orang-orang sipil yang menyatakan bahwa pengungsian semacam itu seharusnya hanya terjadi dengan alasan kemanan warga sipil atau adanya tuntututan militer yang alasannya sangat penting sekali. menerima latihan dasar mengenai prinsip-prinsip dasar hukum kemanusiaan. Menyatakan kepada umum komitmen GAM untuk mentaati hukum kemanusiaan internasional. Setiap personil yang diindikasikan seharusnya dipindahkan dari tugas aktif mereka sampai penyelesaian proses persidangan mereka. Memberitahukan keluarga tahanan mengenai penahanan mereka. Membuat figur yang diperbarui secara teratur untuk umum mengenai jumlah orang yang dituduh dan ditangkap dalam kejahatan yang berkenaan dengan keamanan di Aceh. adanya penundaan. Mengakhiri persyaratan kartu identitas khusus untuk penduduk Aceh sepanjang pemerintah tidak dapat memastikan bahwa kartu semacam ini tidak akan terus menghasilkan penyiksaan terhadap penduduk lokal. Memastikan bahwa semua komandan. pembunuhan kilat atau yang sewenang-wenang dan (Special Rapporteur on Extrajudicial. 10 (C) 52 . khususnya Human Rights Watch. Mengundang mekanisme PBB yang berasngkutan untuk mengunjungi Aceh. Memastikan bahwa semua pasukan mentaati hukum kemanusiaan internasional. Diharapkan menghentikan pengambilan tindakan yang menempatkan orang sipil dalam resiko khusus. 2. penganiyaan dan penahanan tanpa surat perintah atas kebebasan bergerak. No. di semua tingkatan. Mengakui pelaksanaan hak asasi semua orang yang ditahan dan/atau dituduh melakukan kejahatan. pejabat yang dituduh atas tuduhan serius seharusnya mulai untuk menjalankan hukuman mereka dengan segera dan dikenai pemecatan secara administrasi dari pasukan tentara. 12. Prioritas seharusnya diberikan kepada Pelapor Khusus mengenai Esksekusi diluar hukum. penasehat hukum dan orang-orang yang secara hukum berkepentingan. termasuk penangkapan secara sewenang-wenang. 15. termasuk praktek tugas wajib jaga malam untuk laki-laki dan anak laki-laki.

3. 2. Vol. Meneruskan desakan terhadap Indonesia untuk membuka Aceh kepada LSM internasional. Uni Eropa. Mengambil tindakan-tindakan untuk memastikan bahwa mekanisme yang dapat diselenggarakan dilaksanakan untuk memastikan bahwa anggota pasukan secara perseorangan bertanggungjawab terhadap pelanggaran. Untuk ASEAN 1. 3. termasuk dua orang jurnalis yang saat ini dalam penahanan GAM. 10 (C) . Termasuk mendesak badan-badan kemanusiaan yang tidak berpihak agar mampu menyediakan bantuan kepada penduduk. termasuk pejuang yang tertangkap. Jepang. Tidak ada orang Aceh yang seharusnya dikembalikan secara paksa ke Indonesia selama keamanan mereka beresiko di Aceh. Mengajukan kondisi di Aceh dalam semua pertemuan dengan penguasa Indonesia dan tetap menuntut dibukanya akses diplomatik yang teratur ke Aceh. 15. 53 Human Rights Watch.” Secara bersama dan indvidual ketiganya harus menekan pemerintah Indonesia untuk mentaati hukum kemanusiaan dan hak asasi manusia di Aceh. termasuk eksekusi kilat. penyiksaan. Untuk “Kuartet” (Amerika Serikat. dan pemindahan secara paksa. No. perbaikan lembaga-lembaga sipil dan menegakkan hukum. Semua keputusan bantuan. Orang-orang Aceh di Malaysia seharusnya diberikan perlindungan dan bantuan sepenuhnya. seperti yang dipinjamkan Bank Dunia. jurnalis dan badan-badan internasional. ASEAN dan anggota-anggotanya seharusnya menggunakan kewenangan regional mereka dan meminta Indonesia untuk menghargai kewajiban internasionalnya dalam konflik di Aceh. Jepang dan Uni Eropa seharusnya secara bersama menindak lanjuti pernyataan mereka di bulan November 2003 yang mengekspresikan “keprihatinan terhadap perpanjangan keadaan darurat militer di Aceh” dan mendorong Idonesia “untuk menjalankan aktifitasnya dengan kemungkinan pengaruh yang paling minimum terhadap kesejahteraan masyarakat Aceh dan dalam pendekatan yang mengikutsertakan bantuan kemanusian. terutama kepada orang-orang yang terlantar karena konflik.perlindungan warga sipil dan non-pejuang. Melepaskan semua tawanan yang ditahan dalam pelanggaran hal asasi manusia. sebagaimana yang berkenaan dengan korupsi dan reformasi yang tercatat dalam Strategi Bantuan Negara untuk Indonesia (Country Assistance Strategy for Indonesia) yang dikeluarkan tanggal 3 Desember. Sehubungan dengan partisipasi Thailand dan Philipina dalam memonitor COHA. penculikan. Amerika Serikat. Bank Dunia) 1. Untuk Pemerintah Malaysia 1. Semua pejuang seharusnya dilatih dan diberi pelajaran mengenai perlakuan yang sepantasnya terhadap warga sipil dan non-pejuang. ASEAN seharusnya menekankan perlunya keterlibatan dalam kehadiran monitoring internasional di Aceh. harus menyertakan dialog mengenai pelanggaran hak asasi manusia di Aceh.

seperti Amerika Serikat. Latihan teroris harus secara hati-hati dirancang untuk tidak mengurangi keefektifan pelarangan yang sudah ada. Apapun ketentuan Amerika Serikat atas latihan atau bantuan militer kepada pasukan bersenjata Indonesia harus disyaratkan terhadap perkembangan yang jelas dalam mengadili militer dan polisi yang bertanggungjawab dalam pelanggaran hak asasi manusia. sesuai dengan standar-standar hukum hak asasi manusia dan kemanusiaan internasional. termasuk senjata. Menempatkan tindakan yang efektif untuk memonitor dan memastikan pertanggungjawaban dalam penyalahgunaan senjata atau bantuan lainnya. Indonesia mempunyai tugas wajib untuk menjaga dan menawarkan pemeriksaan terhadap dokumen-dokumen yang dibutuhkan untuk menunjukan bagaimana negara ini sudah menggunakan perlengkapan yang disuplai asing. 3. dan jika perlu menyediakan bentuk lain akses untuk memfasilitasi monitoring yang efektif dan berguna sampai akhir. dan latihan. 10 (C) 54 . No.Untuk Negara-Negara. Vol. negara-negara penyuplai senjata seharusnya mempertimbangkan penundaan transfer senjata kepada Indonesia. seperti Kopassus atau Brimob. 2. Negaranegara yang sudah menyediakan bantuan Militer kepada Indonesia terebut. Inggris. 15. Human Rights Watch. Menjatuhkan persyaratan yang ketat terhadap penggunaan senjata atau bantuan militer lainnya. 4. mempunyai tanggungjawab khusus untuk memastikan bahwa bantuan tersebut tidak digunakan untuk menyumbang pelanggaran hak asasi manusia. yang menyediakan bantuan atau latihan militer kepada Indonesia 1. dan Australia. Sehubungan dengan perhatian terhadap pelangggaran serius dalam kampanye Indonesia di Aceh. perlengkapan lainnya. dan harus tidak ditujukan kepada cabang dan unit yang diketahui sebagai pelanggar hak asasi manusia.

10 (C) .Lampiran Untuk informasi terkini lebih lanjut mengenai perang di Aceh silahkan lihat rangkaian laporan dan makalah ringkas Human Rights Watch berikut ini. Aceh Under Martial Law: Unnecessary and Dangerous Restrictions on International Humanitarian Access (Aceh dibawah Darurat Militer: Pelarangan yang Tidak Perlu dan Berbahaya terhadap Akses Kemanusiaan Internasional) Makalah Ringkas Human Rights Watch. Oktober 2003 4. 2. Memberangus Kurir. 15. Serangan dan Pelarangan terhadap Media) Sebuah Laporan Human Rights Watch. Aceh Under Martial Law: Can These Men Be Trusted to Prosecute This War? (Aceh dibawah Darurat Militer: Dapatkan Orang-Orang ini dipercayai untuk Mengadili Perang ini?) Makalah Ringkas Human Rights Watch. 1. Vol. Aceh Under Martial Law: Muzzling the Messengers: Attacks and Restrictions on the Media (Aceh dibawah Darurat Militer. Aceh Under Martial Law: Human Rights Under Fire (Aceh dibawah Darurat Militer: Hak Asasi Manusia diserang) Sebuah Makalah Ringkas Human Rights Watch Juni 2003. No. Nopember 2003 55 Human Rights Watch. September 2003 3.

We investigate and expose human rights violations and hold abusers accountable. Steve Crawshaw. operations director. Iain Levine. No. Allison Adoradio. Rory Mungoven. and Tej Thapa are researchers. Brussels office director. and Ami Evangelista is associate. Carroll Bogert. Bernstein is the founding chair. associate director. Maria Pignataro Nielsen. Joanne Leedom-Ackerman is Chairperson of the advisory committee. Jonathan Fanton is the chair of the board. John Sifton.com.email-publisher. Michele Alexander. finance director. We enlist the public and the international community to support the cause of human rights for all. Meenakshi Ganguly. and Joanna Weschler. We challenge governments and those holding power to end abusive practices and respect international human rights law. to uphold political freedom and to protect people from inhumane conduct in wartime. The staff includes Kenneth Roth. development director. Saman Zia-Zarifi is deputy director. Ali Hasan. Liz Weiss is coordinator. advocacy director. Its Asia division was established in 1985 to monitor and promote the observance of internationally recognized human rights in Asia.hrw. 10 (C) 56 . program director. to prevent discrimination. Meg Davis.Human Rights Watch Asia Division Human Rights Watch is dedicated to protecting the human rights of people around the world. Barbara Guglielmo. Brad Adams is executive director. executive director. We stand with victims and activists to bring offenders to justice. human resources director. United Nations representative. send a blank e-mail message to hrw-news-asia-subscribe@topica.org Listserv address: To subscribe to the list. Web Site Address: http://www. 15. Human Rights Watch. Robert L. Wilder Tayler. London office director. Thomas Kellogg is Orville Schell Fellow. Charmain Mohamed. legal and policy director. Lotte Leicht. Sara Colm and Mickey Spiegel are senior researchers. Vol.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful