Human Rights Watch

Desember 2003, Vol. 15, No. 10 (C)

ACEH DIBAWAH DARURAT MILITER:
DI DALAM PERANG RAHASIA
Daftar Istilah Pendahuluan Konteks Kekerasan yang Terjadi Sekarang: Perang Panjang di Aceh Hidup di bawah Darurat Militer Meningkatnya Kehadiran di Desa Menjadikan Anak-Anak Muda Sipil Sebagai Sasaran Pelanggaran Hak Asasi Manusia dan Hukum Kemanusiaan Pembunuhan Diluar Hukum (Extrajudicial Killings) Pembunuhan Kilat (Summary Killings) Selama Operasi Sweeping Penculikan yang Membawa Pada Kematian Penghilangan Secara Paksa (Forced Disappearances) Siksaan Fisik Penahanan Secara Sewenang-wenang dan Ketiadaan Proses Pengusutan Pembatasan Kebebasan Bergerak Pemerasan dan Pembatasan Terhadap Aktifitas Ekonomi Kembalinya Jaga Malam: Tugas Wajib Jaga Malam Pengungsian dan Perampokan Pertanggungjawaban Rekomendasi Untuk Pemerintah dan Pasukan Tentara Indonesia Untuk Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Untuk “Kuartet” (Amerika Serikat, Uni Eropa, Jepang, Bank Dunia) Untuk Pemerintah Malaysia Untuk ASEAN Untuk Negara-Negara, seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Australia, yang menyediakan bantuan atau latihan militer kepada Indonesia Lampiran 2 3 8 15 17 18 20 20 21 27 28 29 34 37 41 43 46 49 51 51 52 53 53 53 54 55

NOTE: This is an unofficial translation of the text of the HRW report by Kontras (http://www.kontras.org), the Commission for Disappearances and Victims of Violence; an Indonesian human rights NGO based in Jakarta. Please see the English language version for exact wording or confirmation of footnotes and other details. Laporan HRW ini tidak secara resmi dan diterjemahkan oleh Kontras (http://www.kontras.org), Kommissi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan; salah satu LSM HAM di Jakarta. Silakan membaca edisi di dalam Bahasa Inggris untuk susunan kata tepat, atau untuk konfirmasi catatan dibawah halaman majalah atau perincian yang lain.

Daftar Istilah
Ambil malam DOM Ambil malam adalah dimana seseorang dibawa dari rumahnya di waktu malam, seringkali oleh orang tak dikenal. Daerah Operasi Militer adalah sebuah penandaan yang diberikan kepada Aceh selama operasi anti-pemberontak yang dilaksanakan dari tahun 1990 s.d 1998. Gerakan Aceh merdeka. Ini adalah nama biasa dari gerakan separatis bersenjata yang dimulai tahun 1976 Bawah Kendali Operasi, penunjukan pasukan tambahan dari luar Aceh dan ditempatkan dibawah komando lokal Tugas wajib jaga malam Kartu Tanda Penduduk Merah Putih, atau kartu identitas merah dan putih yang disyaratkan bagi orang-orang Aceh dibawah darurat militer. Komando Daerah Militer Komando Distrik Militer Komando Rayon Militer Komando Resort Militer Komando Strategis Angkatan Darat Polisi Daerah Polisi Resort Polisi Sektor Tentara Nasional Indonesia

GAM BKO Jaga Malam KTP Merah Putih

Kodam Kodim Koramil Korem Kostrad Polda Polres Polsek TNI

Pendahuluan
Jika Kamu Lari, Kamu ditembak. Jika Kamu tidak lari, Kamu dipukuli.1 —Laki-laki Aceh berusia 20 tahun Perang tersembunyi sudah mengamuk di Aceh sejak bulan Mei 2003, ketika Presiden Indonesia Megawati Soekarnoputri mengumumkan Darurat Militer di propinsi tersebut. Laporan ini mencoba untuk menyampaikan beberapa kenyataan pada perang tersebut: eksekusi diluar hukum (extrajudicial execution), penghilangan secara terpaksa (forced dissapearence), pemukulan (beating), penangkapan dan penahanan secara sewenang-wenang (arbitrarily arrest and detention), dan pembatasan atas kebebasan bergerak. Di dalam banyak peristiwa yang dideskripsikan kepada Human Right Watch, pasukan keamanan Indonesia – militer dan polisi – secara rutin terutama mengambil jalan kekerasan terhadap laki-laki muda Aceh yang diberhentikan untuk ditanyai. Para saksi mengatakan kepada Human Right Watch mengenai pembunuhan para penduduk sipil saat terjadi “sweepings” di desadesa, sebagian ditanyai atau ditahan, beberapa lainnya melarikan diri karena takut dianiyaia. Seorang laki-laki mendeskripsikan kematian seorang laki-laki bernama Jamal: “Dia masih muda, masih duapuluh tahunan. Pada awalnya Saya hanya melihat tiga orang tentara tetapi kemudian yang lainnya bergabung. Saya melihat salah satu dari tentara tersebut memborgol pergelangan kaki lakilaki ini, lalu kemudian tentara lainnya memegang kakinya dan mengayunkannya menghantam sebuah pohon. Tentara tersebut melakukannya beberapa kali sehingga kepala laki-laki tersebut membentur pohon tersebut. Otaknya terburai keluar dari kepalanya, sampai akhirnya dia meninggal. Lalu mayatnya diletakkan di jalan dan tentara lainnya menembak beberapa kali kepada mayat tersebut.”2 Indonesia telah menempatkan kabut rahasia di sekeliling Aceh, propinisi berpenduduk empat juta orang yang terletak di ujung paling utara pulau Sumatra, sebagaimana negara ini mengadakan perang terhadap Gerakan Aceh Merdeka atau GAM. Dalam banyak usaha yang sukses untuk mengontrol informasi, Indonesia telah melarang organisasi hak asasi manusia internasional dan bahkan organisasi kemanusiaan untuk memasuki Aceh dan organisasi berita internsional untuk bergerak banyak diluar Ibukota propinsi, Banda Aceh. Dengan alasan ini, Human Right Watch berangkat ke Malaysia, dimana ribuan orang-orang Aceh mencari perlindungan sesudah menantang bahaya dan perjalanan yang mahal dari zona perang Aceh. Human Rights Watch juga prihatin akan memburuknya kondisi material dan ekonomi yang dapat menandai (bahkan mencerminkan) krisis kemanusiaan, sesuatu yang Human
1 2

Wawancara Human Right Watch (nama disembunyikan), Malaysia, 27 Oktobert 2003.

Wawancara Human Right Watch dengan laki-laki berusia empat puluhan (nama disembunyikan), Malaysia, 23 Oktober 2003.

3

Human Rights Watch, Vol. 15, No. 10 (C)

Rights Watch dan organisasi lainnya sudah peringatkan sejak berbulan-bulan yang lalu. Informasi yang bersifat anekdot dari kesaksian pengungsi, cerita pers dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang bocor keluar secara sporadis dari propinsi tersebut mengesankan bahwa ribuan penduduk Aceh telah dipaksa meninggalkan rumah mereka untuk melarikan diri dari konflik yang ada atau untuk mencari makanan dan tempat berlindung. Penduduk yang tetap tinggal di rumah mereka menjadi sasaran kekurangan bahan pangan, air dan sanitasi, dan mogoknya pelayanan dasar seperti pelayanan kesehatan dan pendidikan.3 Karena laporan ini disiapkan dari beberapa wawancara diluar Aceh, maka tidak dapat melukiskan gambaran menyeluruh tentang konflik senjata ini. Tetapi mungkin fakta yang paling menganggu dalam penelitian kami adalah cerita pelanggaran hak asasi manusia yang serius dan nampak sistematis sejak dimulainya Darurat Militer tidak terbuka. Semua orang-orang Aceh yang diwawancarai oleh Human Right Watch mempunyai cerita mengenai pelanggaran tersebut untuk disampaikan. Banyak dari mereka adalah korban. Secara tidak biasanya, banyak dari mereka menyaksikan penyiksaan terhadap yang lainnya – dalam beberapa kasus pembunuhan, atau pemukulan.4 Diluar fakta bahwa pada awal Juni Kepala Staff Militer Jendral Ryamizard Ryacudu menerima pihak manapun untuk meninjau operasi di Aceh,5 propinsi tersebut hampir seluruhnya tetap tertutup untuk orang luar. Pemerintah Indonesia sudah melarang diplomat, pengamat internasional yang independen, dan LSM internasional di bidang hak asasi manusia untuk memasuki Aceh dan menganjurkan badan kemanusiaan PBB dan LSM kemanusiaan luar negeri untuk pergi. Pekerja LSM Indonesia yang mencoba memonitor situasi tersebut telah diancam tahanan oleh polisi. Bahkan sesi pelatihan Komisi Hak Asasi Manusia National di Banda Aceh dihentikan oleh polisi atas perintah penyelenggara darurat militer pada 20 Oktober. Pihak yang berwenang mengatakan bahwa komisi tersebut tidak memberitahukan mereka mengenai acara tersebut yang disangkal oleh organisasi tersebut. Petugas kepolisian berada di antara para peserta dalam sesi pelatihan tersebut.6 Pemerintah Indonesia telah sangat sukse membatasi arus informasi dari propinsi tersebut. Sebagaimana laporan Human Rights Watch terkini yang didokumentasikan, pembatasan tersebut telah menjaga media dibawah pengawasan yang ketat.7 Untuk mengecilkan laporan mereka mengenai situasi tersebut, beberapa LSM telah terdaftar sebagai tersangka simpatisan GAM, suatu penandaan yang diperingatkan petugas
Lihat secara umum pada Human Right Watch , “Aceh dibawah Darurat Militer: Larangan yang Tidak Perlu dan Berbahaya terhadap Akses Kemanusiaan Internasional,” Makalah Ringkas Human Rights Watch, September 2003. Kerahasiaan dan intimidasi yang menyertai pelanggaran hak asasi manusia yang paling serius secara umum menyulitkan pengumpulan kesaksian saksi. “Badan Hak Asasi Pemerintah Berencana Mengadakan Penyelidikan di Propinsi Aceh” The Jakarta Post, 5 Juni 2003.
6 7 5 4 3

“POLRI Melanggar Hak dalam Sesi Komisi di Propinsi Aceh”, Agence France-Presse, 2 Oktober 2003.

Human Rights Watch, “Aceh dibawah Darurat Militer; Memberangus Para Kurir,” Sebuah Laporan Human Right Watch, vol 15, No. 9 (c ), November 2003.

Human Rights Watch, Vol. 15, No. 10 (C)

4

kepolisan dapat membawa kepada hukuman mati atas alasan subversi.8 Segel yang serapat-rapatnya sudah ditempatkan Indonesia pada desa-desa dan pegunungan di Aceh menimbulkan ketakutan bahwa pasukan militer di kedua belah pihak percaya bahwa, seperti di masa lalu, mereka bisa melakukan pelanggaran yang kebal hukum. Tujuan Indonesia yang jelas adalah untuk menyembunyikan tindakan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan pasukan keamanan lainnya. Hal ini pada akhirnya telah menyembunyikan tingkat kematian dan luka-luka sipil dan militer. Sementara masyarakat Indonesia dan opini Internasional (sebagaimana dalam putaran terkahir pertempuran dengan GAM di Aceh) yang bisa jadi mendukung prinsip-prinsip integritas wilayah Indonesia, ketika berhadapan dengan gafik biaya kemanusiaan akibat perang yang hampir seluruhnya pasti tidak dapat dimenangkan dalam medan perang, maka opini tentang perang bisa jadi mulai berubah. Kebanyakan yang dideskripsikan oleh para pengungsi kepada Human Rights Watch konsisten dengan sejarah panjang prilaku pelanggaran oleh pasukan keamanan Indonesia di Aceh. Taktik militer yang terkini di Aceh dikombinasikan dengan jumah serdadu baru yang disebarkan di propinsi tersebut memastikan meningkatnya kontak antara kekuatan keamanan dengan penduduk sipil, yang dapat menjelaskan beberapa pelanggaran yang terjadi. Terlebih penting lagi adalah lingkungan yang diciptakan oleh pejabat senior militer, yang sudah bersumpah untuk ‘menumpas’ GAM dalam kerangka waktu yang diumumkan.9 “Hal ini sudah ditambahkan untuk menekan tentara dan pejabat di lapangan untuk memenuhi misi mereka dan menghancurkan mereka yang dipercaya menjadi anggota atau pendukung GAM. Tekanan-tekanan ini bertindak seperti minyak yang disiram ke api diantara pasukan bersenjata yang mencerminkan persepsi yang di pegang secara nasional bahwa orang-orang Aceh adalah ‘bajingan’, penduduk yang separatis. Keyakinan bahwa semua orang Aceh mendukung GAM, meskipun tidak ditemukan, meliputi cara berpikir militer Indonesia dan diterjemahkan di lapangan dalam bentuk penggunaan kekuatan secara tidak pandang bulu terhadap penduduk sipil, terutama terhadap para pemuda.’ Komentar yang dikeluarkan oleh Brigadir Polisi Jenderal Gulliansyah, Kepala Operasi Penegakan Hukum, pada tanggal 3 Desember 2003 adalah contoh mengerikan jenis ceramah yang membakar yang dapat membawa kepada pelanggaran dan kegagalan pasukan militer untuk membedakan antara pejuang GAM dan orang-orang sipil, “Jika perlu tembak di tempat semua orang yang mengibarkan bendera GAM ini. Siapapun yang mengibarkan bendera tersebut pasti anggota GAM.”10

“Para Pendukung GAM Dapat Terancam Hukuman Mati,” The Straits Times, 4 Juni 2003, “Jika ada Bukti, Aktivis dan simpatisan GAM akan ditangkap,” detik.com, 21 May 2003. Raja Ismail dan Abdussalam Muhamad Dell, dua orang anggota organisasi hak asasi manusia di Aceh Timur yang disebut Pos Bantuan Hukum dan HAM, PB-HAM, menghilang dalam minggu-minggu sebelum Darurat Militer. Tubuh Raja Ismail ditemukan dua hari kemudian. Lihat Amnesty International, “Indonesia Melindungi Para Pelindung; Para Pembela Hak Asasi Manusia dan Pekerja Kemanusiaan di Nanggroe Aceh Darussalam,” 3 Juni 2003. “Putaran Terakhir Pembicaraan untuk Mencegah Perang di Aceh,“ Laksamananet, 20 April 2003; Matthew Moore, “Indonesia Mengatakan akan Menghancurkan Para Pemberontak.” The Age, 5 Nopember 2003.
10 9

8

“NAD: Tembak di Tempat Bagi Pengibar Bendera GAM,” Kompas, 4 Desember 2003.

5

Human Rights Watch, Vol. 15, No. 10 (C)

Karena larangan terhadap akses. Uni Eropa. Rekomendasi utama laporan ini. khususnya “kuartet” (Amerika Serikat. selain membangun proses yang dipercaya untuk menghapuskan. Kesaksian dari para pengungsi ini melukiskan contoh yang mewakili kehidupan penduduk sipil tertentu dibawah darurat militer. mendisiplinkan dan mengusut mereka yang melakukan pelangguran (rekomendasi lebih lanjut terdapat di halaman 42 dan 43) dan membolehkan akses yang segera dan tanpa kekangan ke Aceh untuk pengamat independen dan tidak berpihak serta badan-badan kemanusiaan. adalah sederhana: ambil semua langkah yang mungkin untuk memastikan bahwa aparat keamanan bertindak secara profesional dan menghargai hak asasi manusia dan hukum kemanusiaan. Sekitar delapanpuluh lima wawancara dengan orang-orang Aceh dilakukan di bulan Oktober dan November 2003. bukannya membawa akhir bagi konflik. Gagalnya Kerangka Perjanjian Genjatan Senjata terhadap Permusuhan (the Cessation of Hostilities Franework Agreement atau COHA) memberi pukulan yang serius bagi harapan akan akhir sebuah negosiasi menjadi pelanggaran hak asasi secara besar-besaran di Aceh. Sebagaimana di masa lalu. Hal ini selanjutnya terlihat pada mayoritas pengungsi yang datang di Malasysia sejak dimulainya perang pada bulan Mei 2003. Human Rights Watch hanya mampu mewawancarai sembilan Human Rights Watch. tetapi malah menghasilkan gelombang baru pelanggaran terhadap hak asasi manusia. beberapa diantaranya datang hanya beberapa hari atau minggu sebelum diwawancara. Banyak dari mereka sudah berada disana sejak Darurat Militer dimulai. seperti badan PBB yang terkait. Sedangkan untuk komunitas internasional. Hal ini penting bagi kesejahteraan masyarakat Aceh bahwa organisasi yang tidak memihak. informasi yang terdapat didalam laporan ini mungkin hanya merepresentasikan puncak gunung es yang berbahaya dan menakutkan saja dari kenyataan yang sebenarnya. Sebuah Catatan mengenai Para Narasumber Human Rights Watch pergi ke Malaysia untuk mewawancarai individu yang meninggalkan Aceh karena pertempuran yang terjadi. Hanya dengan begitu maka pelanggaran hak asasi manusia dapat dideteksi dan organisasi kemanusiaan. Pendekatan militer yang dilakukan Jakarta. Jepang dan Bank Dunia) yang terlibat di dalam perundingan damai antara Indonesia dan GAM. 15. 10 (C) 6 . baik internasional maupun lokal. Komunitas Internasional seharusnya membuat akses pada prioritas tertinggi. mempunyai akses dan mampu untuk melaporkan kepada umum mengenai situasi disana. No. dapat menyediakan bantuan yang diperlukan. TNI khususnya menargetkan penduduk di kelompok usia ini di Aceh sebagai yang paling mungkin terlibat dalam aktifitas GAM. Vol. Wawancara di Malaysia dilakukan terutama dengan laki-laki Aceh berusia antara delapan belas sampai dengan tigapuluh lima tahun. ditujukan kepada Indonesia. Human Rights Watch menghimbau agar tekanan yang seberatberatnya ditempatkan pada Indonesia untuk menghentikan pelanggaran hak di Aceh merajalela dan memastikan kesejahteraan dan keselamatan penduduk sipil.

GAM mempunyai catatan panjang tentang prilaku menyiksa di Aceh. “Indonesia: Perang di Aceh. Human Rights Watch menghimbau GAM untuk bertindak sesuai dengan hukum kemanusiaan internasional. Secara khusus. Tetapi sebelum pemerintah Indonesia membuka Aceh untuk pengamat independen. Vol. “Ringkasan Statistik Pendaftaran Berdasarkan Asal Etnis. No. dengan Profil Demografis. Human Rights Watch secara konsisten bertanya kepada mereka yang diwawancarai seandainya mereka pernah menyaksikan atau menjadi korban penyiksaan GAM. Figur ini mencerminkan dua belas persen pendaftar baru di UNHCR adalah perempuan selama September 2003. informasi mengenai kemungkinan penyiksaan yang dilakukan GAM akan sulit diperoleh. 4 (c). karena Human Rights Watch tidak mempunyai akses di Aceh. No. Komisi Hak Asasi Manusia Malaysia. atau mereka yang dicurigai menolong militer. 12 11 7 Human Rights Watch.12 Orang-orang semacam itu lebih cenderung melarikan diri ke bagian lain dari propinsi tersebut atau menyebar ke daerah lain di Indonesia daripada pergi ke Malaysia. 10 (C) . Tetapi. aktivis mahasiswa. selebihnya dilakukan dengan penterjemah bahasa Aceh. para pengungsi yang diwawancarai di Malaysia tidak melaporkan kasus semacam itu. GAM tidak seharusnya melakukan tindakan yang menempatkan orang sipil dalam resiko khusus. 2003. akademisi. Meskipun demikian. Agustus 2001. Human Rights Watch mengakui bahwa kurangnya kesaksian tidak secara perlu berarti bahwa tidak ada penyiksaan yang dilakukan. 15. vol.” JuliSeptember. seperti penculikan atau penyitaan kartu identitas untuk dipergunakan oleh pejuang GAM. UNHCR. 13. Kurangnya akses terhadap para pengamat independen membuat mustahil unuk mengetahui seberapa mewakilinya laporan ini. desa asal mereka dan lokasi mereka di Malaysia. Laporan ini hampir seluruhnya terdiri dari kesaksian tangan-pertama yang meliputi banyak kabupaten di Aceh dan keseluruhan periode darurat Militer. Sebuah catatan dalam hal pelanggaran GAM: Human Rights Watch prihatin terhadap penyiksaan yang dilakukan oleh GAM. seperti etnis Jawa. Dikarenakan resiko tindakan balas dendam.perempuan dewasa dan seorang anak perempuan dari Aceh. laporan ini tidak berisi informasi semacam itu.11 Banyak wawancara dilakukan tanpa penterjemah dalam Bahasa Indonesia. Lihat Human Rights Watch. Kami sudah menghilangkan nama-nama para narasumber dari Aceh. perwakilan LSM Malaysia.” Sebuah Laporan Human Righat Watch. Human Rights Watch juga mewawancarai pimpinan komunitas masyarakat Aceh. Para peneliti Human Rights Watch tidak bisa mewawancarai mereka yang paling beresiko terkena kekerasan oleh GAM. dan staf di kantor United Nations High Commissioner for Refuges di Malaysia yang dianggap representatif.

” Sebuah Laporan Human Rights Watch. fase terburuk DOM. Lebih dari 500 orang lainnya terdaftar sebagai “orang hilang” dan tidak pernah ditemukan.” Sebuah Laporan Human Righst Watch. disiapkan oleh pemerintah propinsi di akhir tahun 1998. 13. 14 15 13 Tim Kell. “Indonesia: Panduduk Sipi Menjadi Target di Aceh. 23 Oktober 2003. telah dan seterusnya menjadi penting. 106. vol. Penghitungan korban yang paling konservatif. Selalu begitu selama DOM. Para pendiri GAM menekankan perampasan kekayaan dan sumber alam Aceh oleh penduduk baru “Orang Jawa-Indonesia” atas nama pembangunan dan kebutuhan untuk merebut kembali kejayaan masa lalu Aceh. Human Rights Watch. Sesudah DOM selesai sempat ada setahun dimana segalanya berlangsung lebih baik. dan struktur komando yang secara relatif terorganisir dengan baik. Dari bulan Juli 2001 sampai saat operasi darurat militer membuat mereka harus bertahan. 62-63. hal. Malaysia. mencatat 871 orang terbunuh secara seketika oleh tentara. vol 12. Lihat Human Right Watch. Sebagai tambahan. tetapi spur lain yang penting untuk gerakan kemerdekaan telah menjadi kegagalan pemerintahan paska Soeharto untuk memusatkan pelanggaran hak asasi manusia di masa lalu.15 Hampir semua perkiraan LSM setidaknya berjumlah dua kali lebih besar. “Indonesia: Pertanggungjawaban Terhadap Kejahatan Kemanusiaan di Aceh. dan 387 orang hilang yang kemudian pada akhirnya ditemukan meninggal.Konteks Kekerasan yang Terjadi Sekarang: Perang Panjang di Aceh Kami tidak bisa hidup. Human Rights Watch. —Laki-laki Aceh usia 30 tahun13 GAM sudah ada sejak para pendirinya mendeklarasikan kemerdekaannya dari Jakarta pada tahun 1976. sumber persenjataan tetap. DOM masih ringan. Apa yang disebut sebagai peride Daerah Operasi Militer dimulai pada tahun 1990 sesudah GAM menyusun serangkaian penyerangan terhadap pos polisi dan militer untuk merampas amunisi dan lusinan senjata otomatis. Agustus 2001. tidak bisa dibandingkan dengan sekarang. Vol. Mei 2000. pergi kemanapun kami mau. 1995. 4 (c). no 1 (c). Maret 2002. sebagian sehubungan dengan sumber daya gas dan minya. 15. mencai kerja. Kami bisa mendapat pekerjaan.14 Keluhan ekonomi. status resmi militer di Aceh sejak tahun 1990 sampai dengan 1998. 10 (C) 8 . Sayed Mudhahar Ahmad dan Yarmen Dinamika. hal. tidak bisa mencari uang. Akar Pemberontakan Warga Aceh 1989-92 Lithace: Cornell Univeristy. 1998). Sekitar seribu orang Aceh dari masyarakat sipil terbunuh dalam tiga tahun pertama operasi tersebut. DOM adalah singkatan dari Daerah Operasi Militer. Aceh Diselubungi oleh Darah (Jakarta: Pustaka as-Kautsar. Al-Chaidar. meskipun operasi dan penyiksaan berlanjut sampai sesudah DOM berakhir. Human Rights Watch. “Indonesia. no. belasan ribu orang Aceh dipenjara dan disiksa di dalam Wawancara Human Rights (nama disembunyikan). Tetapi kini keadaan sudah kembali mengerikan. GAM menjalankan pengawasan terhadap bagian yang luas di Aceh. No.” Makalah Ringkas Human Rights Watch. Situasi sekarang lebih dari DOM. Betapapun baru empat tahun terakhir ini mereka sudah membangun pangkalan penting yang terkenal. sampai akhirnya pemerintahan Soeharto menyatakan Aceh sebagai “Daerah Operasi Militer” atau DOM dan menyusun salah satu kampanye kontra-pemberontak terbesar yang terlihat sejak tahun 1960. Perang di Aceh. dengan kehadiran terkuat khususnya di enam dari kebupaten yang terbanyak penduduknya dan tersejahtera.

Seandainya. Tidak ada yang terjadi dari sana. tetapi rekomendasi mengenai pengusutan diabaikan. 10 (C) . dan perkosaan menurut laporan menyebarluas. panitia khusus di DPR untuk Aceh membuat serangkaian rekomendasi untuk presiden baru. dan Cinta Meunasah I dan II – 9 Human Rights Watch. empat elemen kunci berkumpul bersama untuk memfasilitasi perkembangan yang cepat dari gerakan kemerdekaan: sebuah organisasi gerilya bersenjata. Sejak awal 1999. Pada bulan Agustus 1998. yang menerima tanggung jawab kepresidenan ketika Soeharto turun di tahun 1998. Yang keempat adalah serangkaian kesalahan di Jakarta. Di awal tahun 1999.J. Rekomendasi-rekomendasi tersebut menghasilkan perubahan dalam rancangan undang-undang tentang otonomi. sebuah gerakan politik pro-kemerdekaan yang mulai timbul dan mobilisasi penduduk secara besar-besaran yang mencari saluran-saluran untuk mengekspresikan kefrustasian mereka terhadap Jakarta atas kegagalannya mengatasi pelanggaran masa lalu. secara resmi meminta maaf kepada masyarakat Aceh atas perbuatan yang keterlaluan selama era DOM. Daripada pengusutan malah terjadi peningkatan dalam jenis-jenis kejahatan hak asasi manusia yang menandai periode DOM. Abdurrahman Wahid. Komisi Hak Asasi Manusia Indonesia menyarankan untuk dibentuknya Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi khusus untuk Aceh. sosok-sosok kunci dalam hirarkis DOM berlanjut untuk menduduki posisi-posisi yang berpengaruh di seluruh Indonesia. meskipun dalam tingkat intensitas yang lebih rendah daripada dalam periode 1990-1993. Vol. dan secepatnya mengusut mereka yang bertanggungjawab atas pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan selama periode DOM.kamp militer. Tampaknya setiap orang Aceh di daerah yang terpukul paling berat dapat menyebutkan anggota keluarga mereka yang menjadi target utama langsung dari pelanggaran hak asasi manusia. membuka dialog dengan pihak-pihak yang terkait dengan konflik. Habibie. Sadar Rencong I. Bagaimanapun. Penyiksaan terus berlangsung sampai DOM berakhir di tahun 1998. Beberapa orang di Jakarta sepertinya memahami derajat kemarahan terhadap pelanggaran selama era DOM sudah merubah dinamika politik di Aceh: GAM sekarang mempunyai jauh lebih banyak pendukung yang mau menerima mereka daripada yang sebelumnya mereka punya. sebuah kongres yang dibentuk oleh seluruh mahasiswa Aceh meminta sebuah referendum kemerdekaan untuk dilaksanakan di Aceh. Pengunduran diri Soeharto di tahun 1998 menciptakan harapan di sepanjang Aceh bahwa keadilan akan dilakukan. Jendral Wiranto. 15. Dalam hitungan hari. dengan 102 kasus yang tercatat oleh tim pemerintahan lokal. memberikan propinsi tersebut lebih banyak otonomi. dinamika politik di propinsi tersebut mengalami perubahan genting lainnya. Di bulan Desember 1999. pemerintah Indonesia sudah bergerak untuk menyelidiki dan mengusut para pejabat atas peran mereka dalam pelanggaran tersebut. Di bulan Agustus 1999. B. pada titik ini. Operasi militer dibawah serangkaian kode-kode nama – Wibawa 99. No. hal ini bisa membuat pemutusan dengan masa lalu yang menentukan. Komandan TNI. II dan II. mengumumkan bahwa warga Timor Timur akan diberikan kesempatan untuk memilih antara pemberian otonomi dan memisahkan diri dari Indonesia. termasuk membangun kembali fasilitas yang dihancurkan.

Jumlah pasukan dinaikan dalam usaha sistematis yang ditujukan kepada kubu dan markas GAM yang dicurigai. Pada tanggal 9 Maret 2001. BBC World News. mulai bergerak diluar penyerangan sporadis terhadap polisi dan tentara untuk menyiapkan sebuah pemerintahan alternatif. Aceh Timur dan Aceh Selatan. kandidat presiden Megawati Soekarnoputri menjanjikan bahwa jika dia terpilih maka dia akan berusaha kerasa untuk mengakhiri komflik yang sudah berjalan begitu lama. International Herald Tribune. dengan 16 “Penduduk Desa Aceh Menemukan Pemakaman Masal”. dengan ketidaksenangan militer Indonesia. Jeda tersebut diperbaharui dua kali. menteri pertahanan Indonesia dan komandan TNI mengumumkan operasi militer baru melawan GAM. Mereka melakukannya dengan mengganti kepala-kepala desa. Sejalan dengan meningkatnya kekerasah dari pihak Indonesia. 30 Juli 1000. tanpa diduga sebelumnya oleh orang-orang. GAM. dan mengadakan kembali dewan sesepuh desa yang sudah ada sebelum Aceh bergabung dengan Republik Indonesia. Human Rights Watch. GAM secara berangsur-angsur mengambil alih kebanyakan fungsi-fungsi pemerintah yang dimulai dari Kabupaten Pidie dan berangsur berpindah jauh kedalam Aceh Utara. yang melihatnya sebagai cara GAM untuk mengkonsolidasikan kontrolnya terhadap daerah pedesaan. Henri Dunant Centre. suatu gencatan senjata yang bukan sungguhan. 29 Agustus 2003.”16 Di pertengahan tahun 2000 datanglah organisasi yang berlandaskan resolusi konflik dari Geneva. Kadang melalui persuasi. yang kemudian berganti nama menjadi Pusat Dialog Kemanusiaan (the Centre for Humanitarian Dialogue atau HDC) kedalam situasi tersebut. Sebagai bagian dari perjanjian berkenaan dengan ‘jeda’ tersebut. membangun kemarahan orang-orang yang meningkat. Pada bulan Juli 1999. GAM mampu untuk menghasilkan pemasukan yang penting dalam “pajak perang” dari perseorangan dan bisnis. “Perang Kecil untuk Menyokong Penilaian”. jenjang dasar dinas pemerintah Indonesia. kekerasan menurun dengan tajam. Saya tidak akan mengizinkan satu tetes pun darah manusia menyentuh tanah kalian. Di saat yang sama. dan kepergian militia pro-Indonesia dari timur sampai barat Timor menyediakan sumber persenjataan baru yang utama. dalam menjadi menengahi perundingan antara GAM dan pemerintah Indonesia. Di bulan Mei 2000. Nama yang diberikan kepada usaha perdamaian berubah dari ‘jeda kemanusiaan’ menjadi ‘penundaan kekerasan’ lalu menjadi ‘perdamaian melalui dialog”.membawa kepada jumlah serdadu lebih besar dan seluruh desa dihukum sebagai pembalasan dendam atas serangan GAM. untuk mendiskusikan masalah keamanan dan kekerasan selama ‘jeda’ tersebut. No. Pada bulan-bulan pertama ‘jeda’ tersebut. 10 (C) 10 . HDC menghasilkan suatu “jeda kemanusiaan” dalam konflik tersebut. terdiri dari baik GAM maupun perwakilan pemerintah. panitia dibentuk di Aceh. 15. tetapi usaha dasar untuk menjaga pembicaraan antara pihak-pihak terkait terus berlanjut. Menitikan air matanya di Aceh dia mengumumkan. Vol. Aceh barat. Julia Suryakusuma. kadang melalui penculikan dan sejenis pendidikan kembali untuk pejabat-pejabat pemerintah daerah. yang sukses. serangan oleh GAM kepada militer dan polisi juga meningkat. “saat pemimpin perempuan kalian memimpin negara ini.

Sesudah penangkapan terhadap empat juru runding GAM dan runtuhnya parit-terakhir (last-ditch) pembicaraan damai di Tokyo. pada tanggal 21 Mei para tentara membunuh tujuh orang. Komnas HAM. Presiden Megawati menandatangani Keputusan Presiden nomor 28. Keputusan tersebut menempatkan Aceh dibawah Darurat Militer selama enam bulan. dengan perantara HDC. Palang Merah Indonesia melaporkan bahwa mereka menemukan delapanpuluh dua mayat di minggu pertama. tanggal 19 Mei 2003. GAM menuduh bahwa Indonesia tidak berunding dengan niat baik. Baik perkiraan pemerintah maupun GAM tidak dapat diandalkan (misalnya jumlah orang sipil yang hilang yang berasal dari pemerintah hanya terbatas pegawai pemerintah saja) dan LSM di lapangan.banyak tuduhan dari organisasi lokal atas nama penududuk sipil yang terbunuh selama proses tersebut.” The Jakarta Post. Semua korban memakai pakaian sipil. Dalam satu kasus yang dilaporkan dengan baik dari hari-hari pertama Darurat Militer. tapi membuka pintu terhadap lebih banyak perundingan yang dilakukan dalam pengawasan internasional. Meskipun begitu hanya terdapat sedikit kemajuan terhadap penyelesaian konflik secara politis. dan TNI serta dinas keamanan Indonesia lainnya menggembar-gemborkan untuk ‘menumpas’ GAM dalam periode tersebut meskipun banyak pengamat menyangsikannya. No. Indonesia berkeras bahwa GAM tidak mengakui tuduhan hendak merebut kemerdakaan dan menuduh GAM menggunakan COHA untuk membangun kembali kekuatan bersenjatanya dan meluaskan basis politiknya. mengakui bahwa mereka tidak mampu untuk mengumpulkan data di lapangan secara efektif. dan dibawah tekanan dari Amerika Serikat. Vol. Jepang dan Bank Dunia. meskipun mereka tidak menyalahkan secara umum. termasuk dua orang bocah berusia dibawah empat belas tahun. 11 Human Rights Watch. Muninggar Sri Sraswati. 15. sesudah kunjungannya pada bulan Juni ke propinsi tersebut. 14 Juni 2003. yang memberi wewenang kepada pasukan kemanan Indonesia untuk melancarkan operasi militer besar-besaran melawan GAM. dan 151 mayat di akhir minggu ketiga. Segera terdapat tuduhan berkaitan dengan kekerasan terhadap hak asasi manusia oleh TNI. meskipun para penduduk lokal menolaknya. dan pada mulanya membawa pengurangan kekerasan. (“kuartet”). 10 (C) . seperti organisasi terhormat seeperti Kontras cabang Aceh. menegaskan bahwa anak-anak tersebut berada diantara korban pembunuhan extra-judicial di Aceh.17 Jumlah pasti korban-korban sipil sulit untuk ditetapkan mesipun semua pihak mengesankan bahwa korban sipil dan pejuang (GAM) sangat besar. Militer mengatakan semua korban adalah anggota atau mata-mata GAM. Ini adalah harapan terakhir yang terbaik untuk perdamaian di Aceh. Indonesia dan GAM menandatangani Perjanjian Kerangka Gencatan Senjata atas Permusuhan (the Cessation of Hostilities Framework Agreement atau COHA). Meskipun COHA tidak menunujukan perbedaan yang mendasar. “Badan Hak Asasi Menegaskan Pembunuhan atas Warga Sipil Tanpa Nama di Bireuen.” Agence FrancePresse. Komisi Hak Asasi Manusia Indonesia. meskipun organisasi tersebut mengatakan bahwa hal tersebut tidak dapat 17 “Badan Hak Asasi akan Memeriksa Laporan Pemakaman Masal di Aceh Minggu Depan. Pada bulan Desember 2003. Uni Eropa. 20 Juni 2003.

19“Permintaan Suplai Tambahan di Aceh” British Broadcasting Corporation.menegaskan bahwa mereka semua non-pejuang. Vol.” Reuters. Perang Kotor yang Tidak Terungkap. tetapi dalam pernyataan secara umum komisi tersebut mengatakan bahwa pembunuhan. Tidak ada laporan yang dikeluarkan. “Makalah Ringkas tentang Aceh: Propinsi Aceh. 3 Juni 2003. 2003.” Ahmad Pathoni. Komnas HAM mengatakan bahwa di awal bulan Juni mereka akan meneyelidiki lebih dari dua puluh kasus tentang pelanggaran hak yang diduga keras terjadi selama dua minggu pertama operasi militer di propinsi tersebut. No. Pemerintah Indonesia melaporkan bahwa sekitar 1. 22 Pemerintah Indonesia menyalahkan GAM atas korban-korban tersebut.” September 2003. 15.600 Korban. Bireun. dan tergantung dari sumber dan bentuk penyiksaan. 21 Di bulan November. Dean Yates. 26 May 2003. 19 dan jumlah korban lebih jauh dari dua pusat perkotaan tersebut kemungkinan lebih tinggi. 20 Tertiani ZB Simanjuntak. kebanyakan dari mereka adalah para pemuda dengan luka tembak. 21 M. 18 Human Rights Watch. Kebanyakan perkirakan mencatat secara khusus tingginya korban sipil di Aceh Utara dan Aceh Timur. dan tujuhpuluh delapan sipil menjadi korban penghilangan secara paksa. “Komnas HAM Hendak Menyelidiki Pelanggaran-Pelanggaran di Aceh. “Pelanggaran Hak Asasi di Aceh Dapat Membawa Intervensi PBB. Sidney Jones dari Kelompok Krisis Internasional (Inetrnational Crisis Group) telah mencatat. Perkiraan Kontras Aceh pada tanggal 18 Agustus menempatkan jumlah yang kurang lebih sama yaitu 329 warga sipil terbunuh.100) dan senjata yang ditemukan (485). 5 September 2003.” Reuters. juru bicara militer melaporkan bahwa setidaknya 395 orang sipil telah terbunuh sejak dimulainya Darurat Militer. Di sekitar Lhokseumawe jumlah tersebut dilaporkan sebanyak enam orang per hari. Pencapaian yang Tidak Jelas.23 18 “Palang Merah Indonesia Mengatakan Memindahkan 151 Mayat di Aceh. 23 22 Memperhatikan ketidaksesuaian antara anggota GAM yang berdasarkan laporan terbunuh (1. 11 Juni 2003. penguasa darusat militer membatasi gerakan tim sama sekali. “Indonesia Melancarkan Kampanye Aceh Melawan Pemberontak. termasuk pembunuhan.” Agence France-Presse. dari 319 kematian warga sipil yang dilaporkan oleh polisi pada tanggal 3 September 2003. begitu juga 315 warga sipil disiksa atau dipukuli. perkosaan dan pemindahan (displacement) secara paksa. Human Rights Watch prihatin baik kepada mereka yang diklasifikasikan sebagai GAM namum ternyata orang sipil. perkosaan dan pemindahan secara paksa dan penculikan masih tetap merajalela. Meskipun tidak ada kasus dimana korban diganggu oleh pelaku. Aceh Timur (70) dan Aceh Selatan (45). LSM tersebut menekankan bahwa jumlah sebenarnya kemungkinan lebih besar karena adanya keterbatasan pelaporan dan investigasi. Taufiqurrahaman.” The Jakarta Post. korban sipil terbesar berasal dari Aceh Utara (110). “Deutsche Presse-Agentur. 213 kasus penangkapan dan penahanan secara sewenang-wenang. 10 (C) 12 . Sebagai contoh. BBC memberitakan bahwa dalam minggu pertama operasi. pelecehan seksual. kamar mayat rumah sakit utama Banda Aceh menerima rata-rata tiga mayat per hari. dan Aceh Besar. May 26. “Perang Indonesia dengan Para Separatis Memakan 1. Kontras Aceh menemukan bahwa banyak warga sipil menjadi korban selama operasi militer di Indonesia dalam pencarian para gerilyawan. dan juga anggota GAM yang mungkin terbunuh diluar pertempuran dalam pelanggaran hukum kemanusiaan.18 Dalam indikasi lain tentang tingginya jumlah korban awal. Kontras Aceh. 23 Agustus 2003. Lihat “319 warga sipil terbunuh dalam Kekacuan Aceh di Indonesia. 20 Meskipun tim komisi ad-hoc dapat bertemu dengan lebih dari seratus orang saksi mata dalam misi kedua mereka selama lima hari di bulan agustus. “Pertanyaan sesunggunya adalah berapa banyak dari orang-orang tersebut yang dideskripsikan sebagai pemberontak pada kenyataannya adalah GAM.100 anggota GAM telah terbunuh di bulan Oktober. pelecehan seksual. Aceh Selatan.” The Jakarta Post.

sub-regional (Korem) dan regional (Kodam). Tetapi usaha apapun yang bisa dilakukan pemerintah Indonesia untuk membatasi kengerian perang bagi penduduk sipil. pendidikan – hal-hal tersebut bukanlah masalah militer Indonesia. yang cenderung lebih terlibat dalam operasi militer. kesaksian yang dikumpulkan dalam laporan ini memperjelas bahwa operasi militer lah yang mempunyai pengaruh terhebat terhadap penduduk sipil. Penyelenggara Darurat Militer di Aceh. Brimob. Banyak dari November 2003.25 Pasukan polisi termasuk polisi lokal.24 Suatu ukuran dari peran utama operasi militer dalam operasi terpadu ini adalah luasnya cakupan upaya militer. 26 Oktober 2003. yang mengenakan baret merah. Tetapi sejauh ini sejak propinsi tersebut tertutup dari pengamat internasional independen. penegakan hukum kemanusiaan. mengawasi semua aspek dari operasi ‘terpadu’ Indonesia di Aceh. TNI akan menempatkan bukti bahwa korban tersebut adalah anggota GAM. “Tidak Ada Daerah yang Bisa Melepaskan Diri: Time Asia. Kostrad dapat dikenali melalui baret hijau mereka dan sebagai pasukan tentara khusus TNI. atau “pasukan khusus”.Pengenaan darurat militer berarti bahwa semua instrumen pemerintah sekarang berada di bawah kontrol militer. agama. Wawancara Human Rights Watch dengan seorang laki-laki berusia empat puluh-an (nama disembunyikan). meskipun mereka dikenal dengan reputasi buruk karena keterlibatan mereka dalam pelanggaran hak asasi manusia sepanjang kepulauan ini. fokus yang berlebihan telah ditempatkan pada operasi militer. 24 Diluar sifat dasar terpadu operasi. Vol.” Wawancara dengan Ryamizard Ryacudu. persoalan keadian. efektifitas dan kekuasaan programprogram non-militer akan sulit untuk dinilai. 2 Juni 2003. adalah spesialis dalam pengumpulan intelijen dan operasi khusus dan dianggap sebagai kebanggan pasukan tentara. Kopassus. Kepala TNI Ryamizard Ryacudu menyatakan dalam sebuah wawancara. Operasi terpadu ini disusun sebagai usaha untuk memenangkan perang dengan GAM sekaligus memenangkan hati dan pikiran penduduk lokal. sebagaimana juga kekuatan Kostrad dan Kopassus untuk membantu pengumpulan operasi dan intelijen.000 pasukan dan 12. kabupaten (Kodim). No. diperkirakan 28. 10 (C) . “Militer Indonesian dan Militia Sipil di Timor Timur” Backgounder Human Rights Watch. yang menurut pemerintah Indonesia termasuk komponen-komponen militer. 25 13 Human Rights Watch. Kesatuan tempur yang kuat dari kekuatan militer Indonesia telah disebar di Aceh. Malaysia. Unit “non-organik” dikirim dari bagian lain Indonesia termasuk battalion infantri dari propinsi lainnya. sering bekerja bersama-sama dengan unit militer.000 polisi (kebanyakan dari mereka menjalankan fungsi paramiliter) telah disebarkan propinsi tersebut untuk berperang melawan sekitar 5. meskipun hanya dengan satu kesaksian saksi mata. Mayor Jenderal Endang Suwarya. April 1999. dan pemerintah daerah. Unit tentara termasuk ‘organik’ atau kekuatan berbasis lokal tingkatan kelurahan (Koramil). otonomi. Beberapa orang Aceh di Malaysia menyatakan bahwa sesudah membunuh seorang warga sipil. Lihat Human Rights Watch. pada tingkatan kecamatan (polsek) dan propinsi (Polda) dan unit brigadir mobil polisi paramiliter.000 senjata. Dalam kampanye militer tebesar militer Indonesia sejak penyerbuan ke Timor Timur. “Tugas kami adalah untuk menghancurkan kemampuan militer GAM.000 pemberontak GAM dengan 2. kesejahteraan sosial. 15.

Korem Teuku Umar di Banda Aceh dan Korem Lilawangsa di Lhokseumawe. Bulletin Online 159. Aceh mempunyai dua Korem. Marinir dan Kopassus. September 2000.mereka telah dikirim dari luar Aceh untuk membantu operasi (dikenal sebagai BKO atau Bawah Kendali Operasi.” The Jakarta Post. kapal-kapal tempur dan helikopter. Satuang tugas menurut laporan telah dilatih oleh Kopassus dalam peperangan anti-gerilya. pertempuran di daerah hunian. tank-tank. pasukan pembentu yang penting) Pada tahun 2002 penguasa militer menciptakan komando regional baru. Sebagai tambahan. 17 April 2001. udara dan marinir Indonesia juga sudah memainkan peran dalam kampanye melalui penyerbaran kapal-kapal perang. untuk Aceh. pasukan terjun payung. kapal amfibi. satuan tugas Rajawali beroperasi di unit pasukan peleton yang dibentuk dari pasukan yang berasal dari cabang dan wilayah yang berbeda. termasuk Kostrad. atau Kodam. Vol. pertempuran jalanan. Brigadir Jendral Goerge Toisutta tersebut pada bulan November sebagai komandan operasi militer dibawah Darurat Militer untuk TNI di Aceh. barisan terdepan perburuan GAM adalah pegunungan dan hutan. menggantikan Mayor Jendral Bambang Darmono. Desa-desa dalam atau dipinggir daerah-daerah ini secara khusus cenderung terjebak didalam peperangan mereka. Kodam Iskandar Muda dikepalai oleh Mayor Jenderal Endang Suwaryo. 15. Angkatan laut. yang menjadi bagian dari komando yang lebih luas yang berpusat di propinsi tetangga Sumatera Utara. 10 (C) 14 . strategi penyergapan dan teknik-teknik tembak-untuk-bunuh. Human Rights Watch. No. Tapol.26 Meskipun konflik dapat mengambil tempat dimanapun. 26 “Kopassus BErsiap Menumpas Pemberontak Aceh. yang juga sekarang menjadi penyelenggara Darurat Militer.

seorang laki-laki duapuluh lima-an. 26 Juli 2003. darurat militer datang. Malaysia. Bulan Maret 2003.Hidup di bawah Darurat Militer Harus dimengerti bahwa para pejabat kami berprilaku cukup agresif di mata umum. Dua orang yang berada dalam bus ditahan: satu di Alue Ie Puteh di Aceh Utara. tujuan. Penjelasan atas kampanye tersebut diterangkan sebelum pernyataan resmi Darurat Militer. 15. Sebagaimanya yang dikatakan bekas aktifis mahasiswa. yang lainnya. tetapi mereka juga menggambar-gemborkan penyebaran sekitar 28. Seorang laki-laki berusia dua puluh lima tahun. 15 Human Rights Watch. di Langsa (Aceh Timur)… Saya menelepon rumah tanggal 5 Oktober dan pos TNI yang berada di dekat rumah Saya sudah bertambah dari satu pos menjadi tiga pos – kami berada dekat pegunungan. Keadaan hanya sedikit aman selama periode tersebut. tetapi sesudah tiga bulan. 10 (C) . yang meninggalkan Aceh dua minggu sebelum darurat militer dimulai.000 polisi yang bertugas “menumpas” GAM. tetapi mereka pada dasarnya personil yang ramah dan bersahabat. Wawancara Human Right Watch dengan laki-laki berusia empat puluh dua tahun (nama disembunyikan). menuju ke Barat… Pada tempat pemeriksaan mereka memeriksa tas-tas.28 Dimulainya kampanye militer Indonesia di Aceh dalam bulan Mei ditandai dengan pertunjukan kekuatan besar-besaran. Saya pergi dari Aceh ke Medan dengan minibus. Sudah terdapat banyak TNI. Air mata kami semua sudah kering. 5 November 2003. Saya berharap untuk menetap selama enam bulan. Kabupaten Bireun.000 pasukan dan 12.” The Jakarta Post. menggambarkan usahanya untuk meninggalkan propinsi tersebut: Saya datang kesini (Malaysia) ketika segalanya pertama kali meledak. —Laki-laki Aceh berusia empat puluh tahun. dengan militer Indonesia memamerkan pasukan dan perlengkapan terbaik mereka didepan pers dunia.27 Kami tidak menangis. setiap hari di Aceh. Saya pulang ke rumah secara sukarela. No. Kami bahkan tidak bisa menangis lagi dengan trauma yang kami alami hari ini. Vol. kepada Human Rights Watch: Sudah jelas apa yang akan terjadi. kartu identitas. yang kembali ke Aceh dari Malaysia pada bulan Maret ketika the COHA diberlakukan. Pada hari dimana (presiden) Megawati 27 28 “TNI Berencana untuk Menyusun Ulang Penyebaran Pasukan di Aceh. tahun 1998. —Juru bicara untuk administrator daurat militer Kolonel Ditya Soedarsono. Pada saat itu Saya sedang berada di Kecamatan Samalanga. Bis Saya harus menunggu dua puluh menit untuk lewatnya iring-iringan truk tentara sebanyak tigapuluh lima truk. Bom sonik dan peragaan udara oleh Angkatan Udara Indonesia memang jadi sekedar untuk pertunjukan.

Saya sedang menanm padi. Orang bilang di Samalaga terdapat tiga buah tank. mereka yang dari laut. Saya tidak bisa tinggal di Aceh lagi. No. Bahkan pembicara-pembicara Indonesia sering menggunakan istilah bahasa inggris “sweepings”. Traumanya terlalu banyak. kendaraan amphibi. intensifikasi operasi intelejen. Mereka yang dari laut (datang) dari laut. Vol. Human Rights Watch. taktik yang dirancang untuk mengindentifikasikan separatis atau pendukung mereka melalui pencarian kendaraan. 28 Oktober 2003. Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki limapuluh tujuh tahun (nama disembunyikan). dan meningkatkan operasi di waktu malam. 26 May 2003. lebih banyak patroli kerjasama militer dan polisi untuk membatasi gerakan para pejuang GAM.mengumumkan darurat militer secara resmi… TNI datang ke Aceh.30 Hari-hari sesudah pernyataan Darurat Militer. bertanya-tanya seandainya Saya akan hidup atau mati.000 orang sipil meninggalkan rumah-rumah mereka. dan pencarian secara sistematis dari satu desa sesudah desa lainnya. 26 May.29 Seorang laki-laki dari Aceh Tengah yang tiba di Malaysia di awal Agustus mengatakan pada Human Rights Watch: Saya meninggalkan Aceh karena terdapat pertempuran dan tembakan senjata setiap hari antara TNI dan GAM di segala penjuru Aceh. 2003. Enam jet tempur lewat di atas kepala Saya. 10 (C) 16 . Begitu banyak hal yang telah terjadi. lebih dari 21. Perlengkapan untuk Memerangi Pemberontak Aceh. Teman-teman Saya dipukuli oleh militer.31 Operasi termasuk patroli yang luas dan ‘penyapuan’ (sweeping). pemeriksaan dokumen. Malaysia. “Indonesia Melancarkan Aceh Kampanye Melawan Pemberontak. 29 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia dua puluh lima tahun (nama disembunyikan). 30 “Indonesia Memindahkan Pasukan. Saya bisa mendengarkannya dari desa Saya. yang dimaksudkan untuk mengurangi korban sipil. 15. Pagi berikutnya terdengar suara peluru dan ledakan. termasuk unit-unit yang lebih kecil disebarkan dalam pencarian kepemimpinan GAM yang kebanyakan tidak sukses. 24 Oktober 2003. Banyak yang sudah diancam.32 Pada akhir Juli. peluru-peluru di sawah. pejabat militer mengumumkan beberapa perubahan terhadap strategi tersebut. 32 31 Dean Yates. Tapi kami katakan kepada mereka bahwa tidak ada GAM disana – yang mati hanyalah sapisapi dan ayam-ayam. (datang_ dari laut. militer membawa artileri berat dalam posisi untuk menyerang basis pemberontak.” Associated Press.” Reuters. TNI datang mencari GAM.

kontak antara orang sipil dan militer sekarang adalah kejadian sehari-hari. istri dan keluarga Saya sudah mengatakan pada Saya untuk pergi… Mereka (TNI) “suka-suka tembak”.”33 Pelanggaran hak asasi manusia yang meningkat tajam sejak darurat militer dimulai bisa jadi sebagian disumbangkan dari meningkatnya kontak sehari-hari antara tentara dan penduduk desa. Meningkatnya kehadiran di desa-desa nampaknya bertujuan untuk membatasi dukungan materi dan moral dari penduduk lokal untuk GAM dan kemampuan GAM untuk mengambil pengungsi di desa-desa dan mengikutsertakan mereka dalam pengerahan. kami dipukuli. Mereka membangun pos-pos tepat di desa-desa. jika GAM tidak ditemukan mereka menyerang penduduk. Malaysia. TNI akan sering masuk desa. Saya rasa Rajawali. Dari hari pertama sudah ada perasaan baru. dengan pos-pos militer setiap dua kilometer. Teman-teman kami sekarat akibat konflik. 15. Pasukan keamanan tinggal disana sekarang. Tentara-tentara tersebut takut pergi ke pegunungan. Seorang laki-laki berusia dua puluh lima tahun yang meninggalkan Aceh Selatan satu minggu sesudah Darurat Militer mulai menjelaskan: Dari hari pertama darurat militer. Beberapa narasumber menjelaskan bahwa padahal kesatuan-kesatuan tentara sebelumnya hanya datang ke desa sekali seminggu. 10 (C) . sampai sebulan yang lalu. Vol. kemudian mereka turun kebawah selama dua hari untuk mengambil makanan dan beristirahat. Sebagaimana seorang perempuan yang tiba di Pidie pada tanggal 25 Oktober menjelaskan: Konflik ada disana. Biasanya mereka akan menghabiskan waktu satu minggu di pegunungan. 27 Oktober 2003.Meningkatnya Kehadiran di Desa Gelombang pasukan tidak hanya untuk operasi tempur melawan pasukan GAM di pegunungan dan hutan. 17 Human Rights Watch. ketika mereka membangun pos di desa.. Jika kami tidak tahu dimana GAM.34 Seorang laki-laki yang meninggalkan Aceh pada 5 Oktober menjelaskan: Saya meninggalkan Aceh karena kemanan menurun. di dalam semua dusun kecil. 26 Oktober 2003. TNI mencari GAM. karena kami trauma. tidak peduli kami melakukan sesuatu yang salah atau tidak. 34 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh lima tahun (nama disembunyikan). sebelum naik ke atas lagi. satu kelompok. 33 Wawancara Human Right Watch dengan perempuan berusia tigapuluh-an (nama disembunyikan). sekitar tiga puluh tentara. No. Hampir semua orang yang diwawancarai oleh Human Right Watch berbicara tentang pos-pos keamanan baru yang didirikan oleh TNI dan Brimob sejak dimulainya Darurat Militer. Mereka membunuh kami seperti semut. Malaysia. khususnya jika desa tersebut berada di tepi peguningan seperti desa kami.

Dalam beberapa kasus pencarian rumah-ke-rumah disertai dengan kekerasan secara fisik. Wawancara Human Rights Watch (nama disembunyikan). Malaysia. tetapi hanya sejak darurat militer dimulai. TNI mencurigai semua laki-laki muda sebagai GAM. 26 Oktober 2003. 38 Seorang laki-laki yang meninggalkan Aceh Utara ke Malaysia pada bulan Juni memberitahukan Human Rights Watch: Di Aceh. 23 Oktober 2003. Malaysia. “Kamu GAM!” Saya bilang pada mereka.Saya dipukuli dua kali… Tidak ada GAM di desa Saya sejak Darurat Militer dimulai. 15. Mereka bertanya. 26 Oktober 2003. Mereka bilang. 38 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia dua puluh tahun (nama disembunyikan). 36 —Perempuan Aceh berusia tigapuluh tahun Taktik pasukan kemanan Indonesia yang biasa adalah pencarian rumah-ke rumah terhadap anggota GAM. Seorang laki-laki muda memperkirakan bahwa pasukan keamanan sudah mendatangi rumahnya lima kali sebelum dia meninggalkan propinsi tersebut menyerangnya setiap kali. Mereka datang seminggu tiga kali. Seorang laki-laki yang masih muda di Aceh akan dipandang dengan kecurigaan dan beresiko. Dugaan sebelumnya adalah bahwa pemuda yang meninggalkan desa bergabung dengan GAM. 37 Seorang laki-laki berusia tigapuluh lima tahun yang tiba di Malaysia bulan Oktober dari Peuruelak. tetapi keluarga saya bilang jangan. dan informasi mengenai pemuda manapun yang meninggalkan desa. sudah belasan kali. 39 Human Rights Watch. Aceh Timur menjelaskan: Dibawah darurat militer rumah seringkali dikunjungi. Mereka tidak mengamankan Aceh. senjata-senjata dan amunisi. 28 Oktober 2003. ke Thailand dan berkata mereka mengamankan Aceh. Malaysia.35 Menjadikan Anak-Anak Muda Sipil Sebagai Sasaran TNI pernah pergi ke Amerika. Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia tigapuluh lima tahun (nama disembunyikan). mereka datang hanya untuk membunuh kami. Setiap hari di Aceh Saya harus melapor pada kantor TNI sehingga mereka bisa memeriksa bahwa saya tidak pergi dan bergabung dengan GAM. Saya mau pulang ke rumah untuk liburan. 28 Oktober 2003. No. 36 37 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki Aceh berusia delapan belas tahun (nama disembunyikan). 10 (C) 18 . Kantornya ada di desa Saya.39 35 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia dua puluh satu tahun (nama disembunyikan). Tetapi para pemuda yang tetap berada di desa seringkali dijadikan sasaran sebagai tersangka simpatisan GAM. Malaysia. “Dimana para lelaki?” Saya tidak berani tinggal di rumah. Vol. ke Eropa. Malaysia. “Saya orang biasa!” Mereka memukul dan menendang.

Kami dipisahkan antara laki-laki. sebelumnya mereka membangunkan kami melalui kepala desa dengan menggunakan mikrophon. Lebih dari seratus orang disana dari desa-desa (nama dihilangkan) di semua Kecamatan Mila. satu perusahaan.40 Seorang laki-laki dari Pidie memberitahukan Human Rights Watch tentang an assault oleh anggota satuan tugas Rajawali terhadap penduduk yang paling muda di desa: Kurang dari seminggu sesudah (Hari Kemerdekaan Indonesia) setiap orang diberitahukan untuk berkumpul di meunasah (tempat sembahyang). Setiap hari ada perang antara GAM dan TNI. Medan dan Kuala Lumpur. tetapi beberapa orang tua pingsan karena apa yang terjadi kepada anak-anak mereka. 41 19 Human Rights Watch. satuan tugas Rajawali datang ke desa… Tanggal 17 Agustus (Hari Kemerdekaan Indonesia) TNI memasuki desa mencari GAM. Sekitar jam 8 malam. dan mereka dibawa ke lapangan sekolah di sebebelah. Kelompok anak muda sekitar tiga puluh orang. karena orang-orang yang tinggal di sekitar pos komando militer tingkat kecamatan tidak dipaksa untuk bergabung. orang tua Saya tinggal di Pidie. No. perempuan dan anak-anak muda.Seorang laki-laki lain memberitahukan Human Rights Watch kenapa dia datang ke Malaysia: Seluruh keluarga Saya tetap tinggal. Saya mendengar mereka bertanya pada anak-anak muda tersebut mengenai GAM dan memukul mereka.41 40 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia sembilan belas tahun (nama disembunyikan). Akhirnya anak-anak muda tersebut diperbolehkan untuk pulang ke ruamh. Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia empat puluh tahun (nama disembunyikan). beberapa dari mereka menderita luka dalam. Malaysia. Saya sedang berada dekat kedai kopi. 9 Oktober 2003. Saya seorang laki-laki jadi Saya dicurigai menjadi GAM. Saya anak satu-satunya. Sesaudah itu. tetapi sepuluh orang harus pergi ke rumah sakit. Vol. 15. Mereka datang ke desa. 23 Oktober 2003. Malaysia. diserang sebagai GAM. Dua kelompok lainnya tidak dipukuli. Mereka tidak menemukan GAM maka mereka memukul Saya. Jika TNI tidak menemukan GAM kami. karena akan ada operasi di pegunungan. Mereka memulainya jam 5 pagi. Batalion 113. semua anak muda pergi ke Banda Aceh. Mereka kemudian memaksa orang-orang untuk bergabung dalam perayaan Hari Kemerdekaan. Ada sekitar empat puluh tentara. Tentara tersebut berasal dari Rajwali. 10 (C) . orang-orang. Mereka berasal dari usia sekolah sampai usia tiga puluh enam tahun. sekitar dua puluh tentara.

dan pembatasan yang tidak perlu terhadap kebebasan bergerak. penyembelihan. hak mendasar yang ditemukan didalamnya dinyatakan sebagai bagian dari hukum adat internasional. —Laki-laki Aceh berusia delapan belas tahun. Meskipun Indonesia bukan bagian dari Konvenan Internasional mengenai Hal-Hak Sipil dan Politik dan perjanjian hak asasi manusia yang penting lainnya. 44 45 43 42 Wawancara HumanRights Watch (nama disembunyikan ). Malaysia.43 Pembunuhan Diluar Hukum (Extrajudicial Killings) Kami terbiasa mendengarkan suara tembakan.44 Sejak dimulainya Darurat Militer.42 Pasal 3 yang lazim disediakan untuk perlakuan berperikemanusiaan terhadap orang sipil dan mereka yang tidak ikut ambil bagian secara aktif dalam permusuhan (termasuk penangkapan anggota pasukan senjata lawan). Juga tersedia adalah Protokol Tambahan kedua tahun 1977 pada Konvensi Kovensi (Protokol II). pasukan kemanan Indonesia sudah melakukan eksekusi extra judicial yang tidak diketahui jumlahnya terhadap orang sipil yang tidak bersenjata di Aceh. Konflik di Aceh dianggap sebagai konflik bersenjata non-internasional (internal). banyak –kalau tidak bisa dibilang semua-pernyataannya merefleksikan hukum adat perang. Yang juga dilarang adalah tindakan atau ancaman kekerasan terhadap penduduk sipil yang menyebarkan terror atau pemindahan penduduk sipil secara paksa tanpa keperluan militer. Hak hidup dan kebebasan yang mendasar tidak boleh dilanggar. No. Hukum internasional hak asasi manusia berlaku selama konflik bersenjata internal. Terbunuhnya para pejuang dalam pertempuran dianggap sebagai pembunuhan yang sah secara hukum dibawah hukum kemanusiaan internasional. 28 Oktober 1992. Meskipun Indonesia bukan bagian dari Protokol II. Suatu eksekusi extra-judicial (atau eksekusi kilat) adalah pembunuhan yang tidak sah menurut hukum dan disengaja atas seseorang oleh alat negara. pada khususnya perlakuan penghinaan dan penurunan martabat. pengambilan sandera. setiap saksi mata pembunuhan semacam itu di Aceh memberitahukan Human Rights Watch bahwa Indonesia menjadi bagian dari Konvensi Geneva tahun 1958. Ini termasuk pelarangan eksekusi (extrajudicial executions). dan eksekusi kilat. penghilangan secara paksa. penangkapan dan penahanan secara sewenang-wenang. perlakuan kejam dan penyiksaaan. upon.Pelanggaran Hak Asasi Manusia dan Hukum Kemanusiaan Pasukan Indonesia dan GAM di Aceh terikat oleh hukum kemanusiaan internasional (juga dikenal sebagai hukum perang). Jika tidak ada kami tidak bisa tidur. 10 (C) 20 . kebiadaban terhadap martabat seseorang. penyiksaan. 15. Aturan dasar hukum kemanusiaan adalah bahwa penduduk sipil serta secara perseorangan tidak boleh menjadi sasaran penyerangan. bahkan selama keadaan darurat (state of emergency). penghukukan tanpa peradilan yang adil. Human Rights Watch. untuk dimana hukum yang diterapkan termasuk pasal 3 dalam empat konvensi Geneva pada tahun 1949 dan hukum adat perang.45 Sementara pembunuhan extra-judicial terhadap siapapun – tidak perduli orang sipil atau pejuang– adalah pelanggaran serius terhdap hukum internasional. Vol. Yang selamanya dilarang adalah pembunuhan.

46 Dari delapan puluh lima orang Aceh yang diwawancarai Human Rights Watch di Malaysia. 49 21 Human Rights Watch. kematian mempunyai pola. “Di Aceh. tidak bersenjata.47 Jenis kedua pembunuhan yang terlihat adalah tembakan kepada orang sipil saat pasukan keamanan Indonesia meninggalkan tempat. Vol. tujuh orang secara langsung menyaksikan eksekuso kilat (summary execution) atas orang sipil oleh pasukan keamanan Indonesia sejak dimulainya darurat militer. Aceh Utara menceritakan suatu peristiwa di bulan Mei: 46 Para pejuang GAM pada umumnya mengenakan seragam. Sifat dasar yang umum dan disengaja dari pembunuhan semacam ini memberi kesan bahwa mereka mencoba mengirimkan peringatan untuk menghalangi penduduk desa untuk mendukung GAM. dan berpakaian sipil pada saat hukuman mati dilakukan. 15. Tiga orang lainnya menemukan mayat orang sipil (dalam dua kasus adalah anggota keluarga mereka sendiri) yang kurang lebih dekat dengan operasi militer. Wawancara Human Rights Watch (nama disembunyikan). Jika Saya menabrak ayam dengan mobil Saya maka Saya harus membayar. No.” Lihat Human Rights Watch. “Indonesia: Perang di Aceh”. pasal 13. adalah pola yang muncul dalam serangan militer Indonesia terhadap pemberontak Aceh. serta tidak ada usaha untuk menyembunyikan eksekusi tersebut. kemudian eksekusi kilat.49 Seorang laki-laki Aceh dari Lhokseumawe.korban bukanlah anggita GAM. Nampaknya terdapat dua jenis ekesekusi yang baru-baru ini terlihat mengambil tempat di Aceh. diikuti oleh pemukulan. meskipun angota-anggotanya memakai pakaian sipil ketika berada di daerah sipil. Tetapi hidup seseorang –siapa yang membayarnya? —Laki-laki Aceh berusia delapan belas tahun. Laporan Human Rights Watch vol. Selama pembersihan ini laki-laki dipilih and ditembak. 28 Oktober 2003. Beberapa orang lainnya menggambarkan penculikan oleh TNI berakhir dengan kematian. Tiga orang lainnya menyaksikan tentara menembak ke arah orang sipil yang tidak membawa pada kematian secara langsung.48 Pembunuhan diluar hukum lainnya terjadi ketika pasukan keamanan mengambil seseorang untuk ditahan – dan mayat mereka kemudian ditemukan atau mereka tidak pernah terdengar lagi. Para keluarga boleh jadi diberatuhkan sesudahnya oleh para tentara untuk mengambil dan memindahkan tubuh korban untuk dikuburkan. 47 48 Protokol II.” The Age (Australia). meskipun demikian mereka yang diwawancarai seringkali menyatakan dengan percaya diri bahwa tetangga atau kenalan mereka bukan anggota GAM. sebelum pembatasan media diperketat: “Interogasi. 13. Agustus 2001. Pembunuhan Kilat (Summary Killings) Selama Operasi Sweeping Hidup tidak mempunyai nilai disana. secara khusus melarang “tindakan atau perlakuan kekerasan yang tujuan utamanya adalah untuk menyebarkan teror diantara penduudk sipil. 25 Mei 2003. No.” Mathew Moore. Hal ini konsisten dengan temuan seorang jurnalis Australia yang mengunjungi lima desa dimana terdapat penembakan-penembakan dalam minggu pertama darurat militer.4 (c). 10 (C) . Pakaian seseorang sama sekali tidak berhubungan dengan keanggotaan mereka. Jenis pertama secara khas terjadi ketika pasukan memasuki desa selama periode yang disebut sebagai “operasi sweepinga”.

Pada awal darurat militer. Otaknya keluar dari kepala laki-laki terebut. Pada hari ke-empat. Tentara tersebut melakukannya beberapa kali sehingga kepada laki-laki tersebut membentur pohon. Istri dari laki-laki pertama mengatakan bahwa mereka masuk dan bertanya pada suaminya apakah dia GAM. Namanya adalah Ibrahim dan dia berusia limapuluh lima tahun. Dia masih muda. sampai dia mati. 10 (C) 22 . tetapi Saya melihat tubuh mereka langsung sesudahnya. Dan lalu mayatnya diletakan di atas tanah dan tentara lainnya menembak beberapa kali kepada mayat tersebut. setidaknya lima puluh tahun. GAM semuanya ada di pegunungan.dia Yusuf. Seakan-akan lengannya berubah menjadi daging mentah. tetapi para tentara tersebut selalu ada di desa mencari-cari GAM. Mereka sedang memeriksa siapa laki-laki tersebut kepada orang-orang.51 50 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia empatpuluh tahun (nama disembunyikan). 51 Human Rights Watch. Mereka orang biasa. Saya sedang berada di rumah. Mereka kemudian bertanya siapa yang terlibat dalam GAM. Malaysia.50 Seorang berusia duapuluh lima tahun yang meninggalkan Aceh Selatan satu minggu sesudah darurat militer memberitahukan Human Rights watch mengenai minggu pertama darurat militer: Pada tujuh hari itu mereka terus membunuh orang-orang tak bersalah. Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh lima tahun (nama disembunyikan). Tubuhnya dihancurkan. Mereka bertanya kepada setiap orang. Begitulah dalam tujuh hari tersebut… Dua orang ditembak di rumah mereka dan seorang dibawa pergi oleh Brimob pada tengah hari. Para tentara berkata bahwa dia adalah tersangka GAM. Mereka tidak peduli siapa yang mereka beritahukan. Tiga orang tentara. Saya berada sekitar dua puluh meter dari sana. apa pekerjaannya? Mereka memeriksa namanya kepada orang-orang. 15. No. Mereka menyeret laki-laki ini sepanjang jalan. di awal dua puluh-an. 23 Oktober 2003. “Kamu tahu siapa laki-laki ini?” Saya bilang “Ya”. 26 Oktober 2003. Para tentara di desa kami (nama disembunyikan). Mereka bertanya kepada Saya. Malaysia. Lalu mereka menembaknya. Saya melihat salah satu dari tentara tersebut memborgol pergelangan laki-laki ini. Namanya Jamal. Mereka tidak mengancam para penduduk desa. Tentara yang menembaknya kemudian mengatakan kepada para penduduk desa disana untuk mengambil tubuhnya kembali ke desa. pukul 3 sore. Yang kedua kurang lebih sama ceritanya. Vol. Seorang yang dibawa pergi sudah tua. dan kemudian tentara lainnya memegang kakinya dan mengayunkannya ke arah pohon. bulan Mei. “Kamu tahu siapa laki-laki ini?” Jika Kamu berkata kau tidak tahu siapa dia Kamu dipukul. Saya melihat tiga puluh petugas Brimob disana. Pada awalnya Saya hanya melihat tiga tentara tetapi kemudian yang lainnya berganung. saat itu pagi-pagi sekali. umur tujuh belas tahun.

Dari jam 6 pagi sampai 6 sore Kamu tidak bisa keluar. Begitu tentara tersebut selesai menembak dia memerintahkan penduduk kampung untuk menguburkan tubuh tersebut. menggambarkan pembunuhan di bulan Agustus: Sekitar dua bulan yang lalu (nama dihilangkan). Kamu tidak bisa keluar kemanapun. Mereka mencari-cari GAM. dia hanyalah orang biasa. Dia keluar dan mereka segera menembaknya. Seorang tentara memanggilnya dan menanyakan sesuatu kepadanya. Mungkin jawabannya salah. 31 Oktober 2003. Malaysia. Malaysia.53 Seorang laki-laki berusia duapuluh lima tahun yang juga dari Peureulak di Aceh Timur bercerita tentang penembakan kakak laki-lakinya pada akhir Juli: Sejak darurat militer dimulai segalanya menjadi panas. dia bangun untuk mengambil wudhu sebelum sembahyang. Ada beberapa jenis tentara disana. dia tidak bersenjata. beberapa dari daerah sana dan beberapa dari luar. Saya berada sekitar seratus meter jauhnya. Saya tidak mendengarnya. Saya melihatnya melalui jendela. 26 Oktober 2003. Saya meninggalkan Aceh pagi berikutnya. Waktu itu pagi hari dengan sweepings GAM sebagai alasannya. No. Tentara-tentara datang ke kampung mencari GAM. pergi untuk mencari GAM di tempat lain. Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia dua puluh tahun *nama disembunyikan). Kakak Saya ditembak di rumah kami. Tidak ada satu pun jadi mereka menembak warga kampung akhirnya. 53 23 Human Rights Watch.52 Seorang laki-laki dari Peureulak. 15. Kakak Saya berumur tiga puluh lima tahun. Vol. Saya segera bangun. Tentara lainnya lalu menembaknya di kepala dan lagi di bagian kanan atas tubuhnya dengan senapannya. 10 (C) . Para tentara kemudian pergi. sebuah M16. Hanya ketika mereka pergi saya baru bisa melakukannya. tetapi GAM tidak ada disana. Laki-laki itu bukan GAM. di belakang mereka Saya tidak tahu. Jam 6 pagi. sekitar duapuluh tahun-an. dan dia mempunyai istri dan dua orang anak. Kakak saya sedang 52 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki di usia duapuluhan (nama disembunyikan). TNI memasuki kampung. Mereka bertanya kepada penduduk di kampung. Saya sedang di rumah Saya. Peureulak. Ada lebih dari limapuluh orang. sekitar duapuluh orang tentara yang terlihat.Seorang laki-laki di usia duapuluh-an memberitahukan Human Rights Watch mengenai eksekusi kakak laki-lakinya seminggu sesudah pernyataan darurat militer: Kakak Saya – dia hanya orang biasa – ditembak. Kakak Saya ditembak ketika dia sedang mengumpulkan rumput untuk sapi jam 6 pagi dua bulan yang lalu. ada kejadian. Saya melihatnya sendiri. tetapi pada akhirnya tidak ada GAM. Aceh Timur. Ada seorang laki-laki. Saya mau membawa tubuhnya kedalam tetapi Saya tidak bisa.

lari dan bersembunyi ketika tentara memasuki desa mereka.54 Human Rights Watch juga diberitahu mengenai dua peristiwa yang mana para penghuni dikumpulkan bersama untuk ditanyai dan membawa pada kematian. dia kakak Saya. Dua orang dibunuh. dan anggota GAM diminta menyerahkan diri. Ada sekitar lima puluh orang. Orang-orang ditendang dan ditinju. khususnya laki-laki muda. Seorang berusia dua puluh tahun dari desa di pinggir Lhokseumawe. Sesudah para tentara pergi Kami menguburkan mayat mereka. Saya berada jauh dari lapangan tersebut (dua puluh lima meter). Orang-orang diberitahu untuk berkumpul oleh TNI. sampai jam 11. di Aceh Utara. dekat kandang. meskipun mereka bukan dari kampung kami. Sesudah itu kami ditanyai. Mereka menahan kami disana selama empat jam. “Siapa dia? Kalian tahu dia? Apakah dia GAM?” “Bukan. Saksi menggambarkan kepada Human Rights Watch bagaimana beberapa laki-laki ini ditembak ketika berusaha melarikan diri. Kami tidak diperbolehkan mendekati mayat-mayat tersebut. Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia dua puluh tahun (nama disembunyikan). 15. Malysia. Vol.mengumpulkan rumput untuk sapi. Mereka menanyai kami tentang GAM. Saya ada di rumah. sesudah dua jam. Kami (berjumlah) sekitar 300 orang. 28 Oktober 2003. Karena tingginya tingkat ketakutan di Aceh terhadap pasukan keamanan Indonesia. Saya rasa mereka semua dari Kodim tetapi Saya tidak yakin. jam 9 pagi. Seorang tentara menembak mereka berdua dengan M16. 31 Oktober 2003. Mereka bertanya. 10 (C) 24 . Malaysia. Anak laki-lakinya bilang bahwa dia melihat tiga tentara dengan samaran datang untuk melihat tubuhnya jam 6. Apakah mereka berusaha melarikan diri semata-mata karena mereka takut diperlakukan tidak semestinya atau karena mereka anggota GAM tidak jelas. (Kejadian) ini sekitar dua bulan sesudah darurat militer.55 Human Rights Watch mempelajari empat peristiwa ketika tentara Indonesia menembak laki-laki muda yang sedang berlari ke sawah atau hutan untuk menyembunyikan diri dari tentara selama operasi sweeping. banyak penduduk desa.30.” “Kuburkan dia!” Lalu mereka kembali ke kota. Tiga jam kemudian. 55 Human Rights Watch. tetapi saksi 54 Wawancara Human rights Watch dengan laki-laki berusia tigapuluh lima tahun (nama disembunyikan). “Bapak ditembak orang tak dikenal” Dia ditembak sekali di kepalanya dan sekali lagi di sebelah kirinya. Saya tidak tahu nama mereka karena mereka dari kampung lain. dua belas tentara keluar dari hutan di dekat sana. menggambarkan pembunuhan dua laki-laki yang tidak bersenjata dalam pakaian sipil: Pukul 5 di pagi hari TNI datang dan mengepung kampung. Dia memakai seragam hijau dan topi hijau. No. Anak laki-lakinya datang ke rumah Saya dan bilang. Saya sedang di sekolah ketika kami diperintahkan untuk berkumpul di lapangan sepak bolah dekat pantai. Sesudah mereka keluar dari hutan mereka mengumpulkan semua orang.

menggambarkan tampak sebagai lak-laki yang tidak bersenjata dan mengenakan pakaian sipil. juga menggambarkan kematian lain hari tersebut: Seorang berusaha lari ketika kami pertama kali diberitahu untuk berkumpul. Jika kamu tidak lari Kamu dipukuli… Seorang laki-laki bernama Simus. usia dua puluh tiga tahun. Sesudahnya delapan orang tentara membawanya ke pos TNI di desa itu.57 Tidak semua penembakan membawa pada kematian. Saya rasa dari Jakarta. sekitar waktu sembahyang. Laki-laki berusia dua puluh tahun dari desa di pinggir Lhokseumawe. Kopassus.sekitar jam 6. 31 Oktober 2003. sekitar jam 9 pagi. Saya melihat mereka mempunyai tiga strip merah. Wawancara Human Rights dengan laki-laki berusia empatpuluh tahun (nama disembunyikan). Sesudah itu Saya pergi. Mereka tentara non-organik. Brimob.30 pagi atau sekitarnya. Mereka tiba khusus untuk darurat militer. tetapi Saya lihat ketika keluarganya membawa mayatnya pergi. kaki kananya. Saya sedang ada di rumah Saya dan Saya mendengar suara tembakan. ditembak dari jarak tigapuluh meter. di desa (nama dihilangkan). yang menggambarkan (di atas) pembunuhan dua orang laki-laki sesudah para penduduk desa dikumpulkan. 15. dia dari desa ini. Saya melihat seorang laki-laki berlari ke sawah. 57 58 Meskipun terdapat variasi pasukan keamanan yang luas dan lencana yang hadir di Aceh. Saya takut hal semacam itu akan terjadi kepada Saya. Malaysia. dan kami berlima bersembunyi di 56 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia dua puluh tahun (nama disembunyikan) Malaysia.58 Kami berlima lari melalui sawah menuju hutan. satu bulan sebelum dia tiba di Malaysia: Jika Kamu lari Kamu ditembak.56 Seorang laki-laki yang tiba di Malaysia pada akhir bulan Mei mengggambarkan seorang laki-laki ditembak ketika melarikan diri: Saat itu lima hari sesudah darurat militer dimulai. Segera sesudahnya seorang tentara menembak kakinya. tetapi mereka mencurigainya sebagai GAM. 25 Human Rights Watch. 28 Oktober 2003. menggambarkan suatu peristiwa yang terjadi akhir September. Mereka menggunakan topi biru. Sesudahnya dia dibawa ke pos untuk ditanya oleh TNI. Sesudah dua malam TNI membunuhnya di pos mereka. Aceh Timur. Mereka menembaknya di pinggul – Saya hanya berada lima meter darinya. Saya tidak melihatnya saat dia meninggal. Dia bukan GAM. Tentara dengan menyamar datang dalam beberapa kendaraan: Kostrad. Dia bangun dan terus berlari. . sehingga dia tidak bisa lari lagi dan dia terjatuh. No. Dia berusia sekitar tigapuluh tahun. Seorang laki-laki berusia duapuluh tahun dari Peureulak. Dia ditembak. tiga strip lebih mengindikasikan prajurit kelas pertama. 10 (C) . di Aceh Utara. Vol. jadi Saya pergi keluar.

28 Oktober 2003. Malaysia. dan dipaksa untuk bernyanyi. Mereka mengosongkan tempat peluru mereka –kira-kira berapa ya.hutan selama tiga jam. Kami sedang duduk. Penduduk Aceh menjadi semakin terpolarisasi. ketika mereka kembali. dia mencoba bergabung dengan GAM hanya saja dicegah oleh keluarganya (termasuk kakaknya yang melawan GAM): Orang tua Saya dipukul pada 17 Agustus 2002 (Hari Kemerdekaan Indonesia). Militer bertindak diluar sasaran operasinya. sehingga orang-orang ketakutan. penghilangan. Tetapi bagaimanapun peluru –itu menjadi trauma. datang ke desa. minum kopi. Malaysia. Human Rights Watch. Jika tidak ada GAM.60 Apakah dengan sengaja atau sewenang-wenang. dua dari mereka. 27 Oktober 2993. Tingkat pelanggaran hak asasi manusia yang serius di propinsi tesebut serta kekebalan hukum yang menyertainya mendorong orang-orang memihak kepada GAM.59 Dalam peristiwa yang sama di Aceh Timur di awal bulan Oktober. untuk ekonominya. Mereka meyakinkan Saya untuk menyumbang dengan cara lain untuk Aceh. empat puluh tembakan? Mereka dari battalion non-organik dari Jawa. tidak ada orang yang terkena. Saya hanya bersembunyi di pinggir hutan. Saya sedang di desa di Perureulak. ditelanjangi. emosi mereka dikeluarkan kepada orang sipil. seorang laki-laki memberitahu Human Rights Watch: Satu-satunya alasan Saya pergi adalah bahwa tidak ada jaminan keselamatan disana. Jadi Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh tahun (nama disembunyikan). Tentara pergi keatas ke hutan. Saya mencoba bergabung saat berusia enambelas tahun tetapi kakak dan orang tua saya mencegah Saya. 60 59 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh lima tahun (nama disembunyikan). Mungkin TNI terlihat terlalu siap. Orang-orang mulai berlarian. Lalu kami kembali –TNI sudah kembali ke kota. Seorang laki-laki berusia delapan belas tahun menjelaskan banwa sesudah dipukuli dan melihat orang tuanya diperlakukan tidak semestinya. Kekerasan terhadap orang sipil sudah melewati batas. Saya tidak lari. 10 (C) 26 . No. Mereka mulai menembak. tabib itu mengeluarkan pelurunya. Dia takut pergi ke rumah sakit jadi kami bawa dia ke tabib tradisional yang bekerja dengan pusat kesehatan. hasil dari tingkat kekerasan terhadap penduduk sipil di Aceh ini sepertinya menghasilkan efek yang berlawanan dari apa yang militer nyatakan dari strategi operasi terpadu. Mereka mencari GAM. inspeksi yang disertai “hukum militer”: pemukulan. Saya baik-baik saja. Itulah kenapa orang-orang bergabung dengan GAM –untuk balas dendam. 15. mungkin Kostrad.bukan karena kami bersalah tetapi hanya ketakutan. Vol. Sebagai contoh ada penembakan di awal bulan ini (Oktober). Mereka melakukan sweepings.

Vol. Ada sekitar limabelas orang tentara TNI disana. anak laki-laki. Malaysia. “Tidak. Tujuh tentara. Dia pergi ke pasar untuk membeli ikan untuk ibunya. Selama dua hari kami tidak tahu dimana anak itu berada. Seorang tentara berkata kepadanya. yang meninggalkan rumahnya di Banda Aceh sehari sebelum darurat militer.62 Dalam beberapa kasus mayat dibuang jauh dari rumah korban. Saya mau pulang. Dia masih usia sekolah. membuat identifikasi menjadi sulit. Seorang laki-laki Aceh yang sudah tinggal di Malaysia selama lima tahun kembali ke Aceh di bulan Agustus selama beberapa minggu untuk mengunjungi ayahnya yang sakit. dan tubuhnya dipenuhi bekas-bekas merah. dia benar-benar panik. Tentara tersebut berkata. Saya melihat mayatnya. untuk membeli buah. 27 Human Rights Watch. Saya mau memberikannya kepada ibu Saya. No. Jadi tentara tersebut membawanya dan melemparkannya ke truk militer. Kekebalan hukum tingkat tinggi yang ditingkatkan oleh selubung rahasia yang menyelubungi daerah konflik.” Sesudah itu anak laki-laki tu benar-benar ketakutan. memeriksanya karena dia membeli ikan. Tujuh orang tentara memberhentikan seorang anak. Hanya satu. 10 (C) . 15. Malaysia. bekas-bekas merah siksaan. menjelaskan bagaimana keluarganya menemukan mayat adik lelakinya: 61 Wawancara Human Rights Watch dengan seorang laki-laki berusia delapan belas tahun (nama disembunyikan). tentara di lapangan yang melakukan tindak kekerasan dan pemerasan dengan hanya sedikit rasa takut akan dihukum. TNI menghentikannya.” TNI menuduhnya dan mengancamnya. Bagian belakang kepalanya semuanya hancur. 28 Oktober 2003. 62 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh lima tahun (nama disembunyikan). Tujuh tentara tersebut mengenakan seragam samaran TNI. Ketika dia berada di Aceh dia menyaksikan tentara TNI menculik seorang anak laki-laki berusia lima belas tahun: Saat itu tanggal 4 September sekitar jam 10 pagi. 29 Oktober 2003. Dia anak kecil. kamu mau memberikannya kepada GAM? Darimana kamu dapatkan ikan ini?” Anak itu menjawab. Kemudian mayat anak itu muncul dipinggir jalan. Jawabannya tidak jelas. Penculikan yang Membawa Pada Kematian Pembunuhan lain terjadi diluar penglihatan para saksi. Saya berhenti di jalan di pasar. yang lainnya tinggal di pasar. “Banyak ikannya. “Kamu pasti mau memberikan ikan ini kepada GAM. Dia diancam dengan senjata. mungkin sekitar limabelas tahun. Ada luka tembak di dahinya. Pasar Ulee Glee. Mereka tentara non-organik dan berbicara dalam bahasa Indonesia dengan logat Jawa.pada akhinya Saya hanya berdoa untuk kebebasan… Jika Kamu dipukuli tidak kah Kamu merasa butuh membalas dendam?”61 Masalah yang mendasar terletak pada kurangnya pertanggungjawaban di semua tingkat. Seorang laki-laki berusia tigapuluh delapan tahun.

dan dibawa ke Koramil. Dia ditahan dari rumahnya oleh TNI. Malaysia. 65 66 Human Rights Watch. No. Jika tidak. Vol. menutupinya dengan pakaian. Malaysia. pasukan keamanan Indonesia telah seringkali tersangkut “penghilangan”64 Organisasi kemanusiaan Indonesia Kontras cabang Aceh melaporkan bahwa dari tanggal 19 Mei sampai dengan 18 Agustus terdapat tujuhpuluh delapan penghilangan secara paksa orang sipil. Seringkali mayat mereka yang “hilang” ditemukan di pinggir jalan atau di sawah berhari-hari atau berminggu-minggu kemudian. (Nama dihilangkan) berumur duapuluh enam tahun. Jika mayat tersebut dapat diidentifikasi maka akan dibawa ke keluarganya. Dalam kasuskasus lainnya mereka tidak pernah terlihat lagi. 64 “Penghilangan” terjadi ketika penguasa menahan seseorang secara diam-diam dan tanpa pemberitahuan serta menyangkal bahwa orang tersebut dalam penahanan mereka. dalam beberapa kasus anggota keluarga atau tetangga dapat mengindentifikasikan mereka. meskipun mereka mewaspadai bahwa pelarangan terhadap monitoring menandakan bahwa perkiraan tersebut bisa jadi lebih rendah. Praktek ini secara pouler digambarkan sebagai ambil malam. Dua hari kemudian mayatnya ditemukan di sawah. Sebagaimana hal itu didefinisikan dibawah hukum internasional. Orang yang ditahan dengan cara demikian seringkali disiksa. GAM mempunyai sejarah melaksanakan penculikan. penghilangan secara paksa seringkali terjadi sesudah pasukan kemanan atau orang-orang bersenjata tak dikenal mengunjungi sebuah ruamh di malam hari dan membawa korban pergi dengan kendaraan.66 Seorang laki-laki berusia duapuluh tiga tahun dari Bireun menjelaskan: 63 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia tigapuluh delapan tahun (nama disembunyikan). dan pembunuhan kilat.63 Penghilangan Secara Paksa (Forced Disappearances) Selama tahun-tahun panjang konflik di Aceh. Sementara aktor non-negara tidak bisa secara teknis melakukan “penghilangan”. Seorang laki-laki dari daerah pesisir di Pidie menjelaskan bahwa ketika warga menemukan mayat mengapung di tepian pantai mereka memanggil Palang Merah Indoensia untuk mengevakuasinya. dan di pagi hari dia pergi dan menemui Palang Merah Indonesia di rumah sakit untuk mengambil mayat tersebut dengan ambulans. “Makalah Ringkas tentang Aceh: Propinsi Aceh. tanggal 27 Agustus 2003. di depan istrinya.” September 2003. Saya memperoleh informasi ini dari keluarga Saya ketika Saya menelepon rumah. 29 Oktober 2003. 5 November 2003.Adik lelaki Saya terbunuh dua bulan lalu di Aceh Utara. dianiyai atau dibunuh.65 Di Aceh. Seorang saudara yang tinggal di desa dimana mayatnya ditinggalkan menemukannya dan mengenalinya. Dia membawa mayatnya secara diam-diam ke rumahnya. 15. Perang Kotor yang Tidak Terungkap. keduanya untuk tebusan dan alasan politik. Kontras Aceh. mayat tersebut akan dibawa ke rumah sakit atau klinik dan istilah yang digunakan oleh keluarga korban adalah saudara yang hilang. Wawancara Human Rights dengan seorang laki-laki berusia enampuluh lima tahun (nama disembunyikan). 10 (C) 28 . Sementara dalam banyak kasus para pelaku digambarkan sebagai orang tak dikenal.

Kejadiannya sekitar dua bulan yang lalu. Rumah Saya sangat dekat dengan ruamhnya. 2 November 2003. —Mayor Jendral Bambang Damono. 3 June 2003. Mereka membawanya ke dalam truk TNI dan membawanya ke pos TNI. November 2003. Mereka adalah tentara yang baru saja tiba di Aceh untuk darurat militer ini. Mereka mengenakan samaran. Commander Operasi Militer di Aceh. ada Kopassus dan beberapa memakai topi hijau. Saya tidak tahu lagi dimana dia. 31 Oktober 2003. tentara Saya menghantam tersangka di wajahnya. Lely Djuhari. Setiap orang di desa yang dicurigai dibawa pergi di malam hari… Saya melihat seorang laki-laki dibawa pergi dari rumahnya hanya mengenakan pakaian dalam dan dimasukan kedalam truk. dan mereka yang melanggar peraturan pertempuran (rule of engagement) ini akan harus berhadapan dengan Saya. bulan Agustus. Tiarma Siboro. Wawancara Human Rights Watch (nama disembunyikan). Selama dia mampu berfungsi sesudah ditanyai. Seluruh kejadian itu hanya memakan waktu mungkin sekitar tiga pluh menit. Malaysia. Saya pergi keluar ke pinggir lapangan dan menonton tiga truk tentara masuk ke desa. 68 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh tahun (nama disembunyikan). Delapan orang tersebut tidak pernah terlihat lagi sejak saat itu – kami tidak tahu apa yang terjadi kepada mereka. dan beberapa dari mereka mempunyai strip merah.” Associated Press. Lalu Saya dengar seseorang menanyakan pada teman Saya (nama disembunyikan) mengenai kartu identitasnya. Saya berada di rumah sebelahnya. 28 Oktober 2003. Vol. semuanya laki-laki. —Mayor Jendral Bambang Darmono. No. Jika itu adalah siksaan berat yang menyebabkan seseorang menjadi cacat… itu adalah tidak-tidak. Malaysia. 2 June 200369 Sebagai contoh. 10 (C) . Saat itu sekitar jam 5 pagi dan Saya mendengar ketukan yang keras di pintu. satu persatu. sehingga Saya bangun dan melihat melalui jendela. 69 70 29 Human Rights Watch.Situasi sekarang sangat menyeramkan. Sampai saat ini dia tidak pernah kembali. “Komandan di Aceh Menyangkal Tuduhan Penyiksaan.70 67 Satu strip merah sepertinya berhubungan dengan tingkat jabatan prajurit. Saya melihat sekitar limabelas tentara TNI membawanya dari rumahnya. Mereka membawa delapan orang malam itu.67 Seorang laki-laki dari Pidie memberitahu Human Rights Watch: Saat itu lima hari sesudah darurat militer dimulai. Itu tidak masalah.68 Siksaan Fisik Tidak ada bedanya jika mereka anggota GAM atau bukan: tidak satupun dari tentara Saya yang berhak memukul mereka… Tentara Saya datang ke Aceh untuk melindungi orang sipil. Kami tidak tahu siapa mereka. Saat itu ada bermacam-macam tentara. “Pengadilan Aceh akan Mengadili 7 prajurit. 15.” The Jakarta Post.

Seorang laki-laki yang meninggalkan Aceh bulan Agustus menjelaskan: Jika Saya tinggal di Aceh. kakek berusia sembilan puluh tahun. Brimob akan bertanya kepada kami. Jika Kami sedang duduk-duduk seperti ini di Aceh. jika Kami bilang “tidak” Kami mendapatkannya. Saat mereka membolehkan kami beristirahat.71 Dalam beberapa instansi. 15. Artinya kami mati. Human Rights Watch. dua diantaranya membawa pada kematian: Kami dipukuli secara terus menerus. Hal ini terjadi dari jam 9. Dalam kasus-kasus lainnya kekerasan nampak menjadi sangat sewenang-wenang. Jika Kamu tidak mau berlatih. Pertama kali tanggal 13 Juni 2003. atau untuk mengirim peringatan kepada penduduk desa. dari beberapa desa.30 pagi sampai dengan jam 2 sore. kekerasan terhadap orang sipil terjadi hanya sebelum atau sesudah operasi militer di daerah GAM. mengindikasikan ketidaksabaran atau ketakutan terhadap sasaran yang suka dipahami dan kegagalan untuk membedakan antara orang sipil dan oposisi bersenjata. Setiap orang harus berlatih. Vol. perempuan. Seorang laki-laki yang tiba bulan Oktober dari Pidie menggambarkan peristiwa dimana TNI dan Brimob mengumpulkan dan menyerang penghuni. 10 (C) 30 . berdasarkan tegangnya tingkah dan kecurigaan tentara dan petugas polisi.Banyak orang-orang Aceh yang diwawancarai oleh Human Rights Watch menggambarkan tindakan kekerasan yang dilakukan pasukan keamanan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Menjawab “Saya tidak tahu” dan Kami mendapatkannya juga. “Apakah ada GAM?” Jika kami bilang “Ya” Kami mendapatkannya [pukulan]. seperti selama pencarian rumah-ke-rumah atau ketika para penghuni diperintahkan untuk berkumpul di tempat tertentu. Banyak orangorang Aceh yang dianiyai kami minta bicara untuk menjelaskan apakah mereka melakukan atau tidak sesuatu yang salah atau tak salah. Dua kali ini terjadi. Malaysia. bersalah atau tidak Saya dihajar. Mereka mengumpulkan 300 orang dari satu daerah pemukiman tersebut –ada tiga atau empat desa. No. anak-anak. Kamu akan dipukuli sampai mati. Mereka memerintahan orang-orang untuk tiarap dan memukul dada dan 71 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh enam tahun (nama disembunyikan). Banyak kekearan ditujuan kepada orang sipil nampak diimaksudkan untuk mengidentifikasi anggota dan pendukung GAM. 26 Oktober 2003. tujuhpuluh dua orang dibawa ke rumah sakit umum di Sigli. Korban seringkali digambarkan diinterogasi dengan tuduhan “Kamu adalah GAM!” atau pertanyaan “Siapa yang GAM? Dimana GAM?” Sering kekerasan ini terjadi selama operasi sweepings di desa-desa. Suatu waktu seluruh orang didalam satu area berkumpul bersama. Sesudahnya kami dibariskan dan diperintahkan untuk melakukan latihan (melakukan lari di tempat). tua dan muda. Mereka bermalam disana tetapi kami semua dilepaskan kemudian.

Mereka memukuli badan Saya dengan senjata mereka. dan kami semua dipukuli. Vol. Dua orang yang meninggal diinjak di dada dan leher. Orang-orang ini adalah BKO. Paddock. mungkin karena mereka bertubuh besar. Rajawali. Kami berduapuluh termasuk para pelanggan yang kebetulan berada disana. 15. Dua oranng meninggal di tempat. Rajawali dari Jawa. GAM sudah pergi ke tempat lain. Laporan media telah memerinci peristiwa yang sama yang mana sekelompok besar laki-laki dan perempuan ditanyai dan dipukuli dan satu atau dua orang laki-laki dipisahkan dan ditembak. dan dipaksa untuk telanjang. 31 Mei 2003. Kami dikumpulkan di pos penjagaan terdekat oleh para tentara. Hal ini berlangsung dari jam 5 sampai jam 7 malam. dan Muhammad Ali. 10 (C) . 5 Nopember 2003. dan menendang kami. dan memukul mereka dengan uujung senapan.: Kopassus. kami berenam semuanya dipukuli. Mereka semua memukul kami seakan-akan kami kerbau air. tetapi Saya tdiak bisa melihat kepada mereka secara langsung. 20 Oktober 2003. dan Saya meninggalkan Aceh sepuluh hari kemudian. Mereka bilang itu karena Kami mempunyai radio untuk berkomunikasi dengan GAM. Lihat Richard C. Lima orang pemilik toko lainnya adalah (nama dihilangkan). Umar Bin Usman. barisan perempuan GAM.” Tidak ada satupun. kami semua orang biasa. usia 21 tahun. Malam itu kami membiarkan lampu menyala. gigi mereka dijotos oleh tentara Kostrad. Angkatan Laut.73 Seorang berusia empatpuluh tahun dari Pidie yang tiba di Malaysia bulan Oktober sesudah dua bulan di Medan menggambarkan peristiwa dalam minggu-minggu sebelum dia meninggalkan Aceh: Jam sepuluh pada suatu malam Kami semua pemilik toko diberitahukan untuk mematikan semua lampu. Saya hanya berada empat meter dari mereka yang terbunuh.72 Laki-laki tersebut melaporkan bahwa tiga minggu kemudian operasi bersama TNIBrimob yang lain membariskan para laki-laki. “Separatis Perang Indonesia Menuntut Para Pemuda. jadi kami lakukan. Mereka bilang. mereka berduabelas. Paling banyak Kamu cuma bisa melirik lama. No. Wawancara human Rights Watch dengan laki-laki berusia empatpuluh tahun (nama disembunyikan).” Los Angeles Times. Mereka bukan GAM. Hari berikutnya kami dipukuli karena mematikan lampu! Enam pemilik toko dipukul. 74 31 Human Rights Watch. Malaysia. sementara tujuh orang perempuan dituduh sebagai inong balee. Mereka menghancurkan kuku jempol Saya dengan kakatua – lihat? Mereka menaruh jempol jari kaki Saya dibawah bangku dan menekannya ke bawah – yang ini sudah tumbuh kembali. “Siapapun yang GAM.74 72 73 Wawancara Human Rights Watch (nama disembunyikan).muka mereka. menanyai mereka. usia 32 tahun. Mereka terlihat sebagai GAM. angkat tangan. Para tentara adalah campuran. Mayat mereka dikembalikan kepada keluarga mereka dan dikuburkan. Brimob. tetapi itu tidak ada. Rajawali yang melakukannya.

29 Oktober 2003. Saya baru saja kembali dari laut dalam kapal ikan Saya. Mereka membuat Saya tiarap. dan celana panjang seragam. lalu kembali ke Pidie. Banyak orang dipukuli hari itu. mencari ikan. Mereka bertanya kepada Saya.75 Seorang laki-laki berusia duapuluh delapan tahun yang tiba di akhir Agustus dari Aceh Timur menggambarkan konsekuensi ditangkap tanpa KTP Merah Putih (lihat dibawah). mereka bertiga. mengambil barangbarang Saya dan pergi hari itu juga. memang ada!” Sesudah dua jam Saya dibebaskan. dan dua marinir berdiri di atas tangan Saya sementara seorang menginjak leher Saya. dan sesudah mereka kembali TNI memukuli banyak orang.” Mereka tidak peduli. 75 Human Rights Watch. Malaysia. termasuk Saya. “Siapa di desa yang GAM?” Mereka mencoba memaksa Saya untuk mengindentifikasi mereka. tapi mengenakan kaos hijau bertuliskan Marinir di punggung. Mereka selalu menaruh kami orang biasa di depan. sementara teman Saya dari kapal yang sama dipukuli diluar rumah. Saya beritahukan mereka begitu tetapi mereka bilang. Mereka tidak berseragam. Saya baru tiba di pantai ketika beberapa marinir bertanya pada Saya. Lalu mereka menyiramkan air kepada Saya untuk membangunkan Saya dan Saya ditendang lagi. Peristiwa ini juga mengilustrasikan kombinasi pemerasan dan kekerasan yang sudah menjadi hal biasa di jalanan dan toko-toko di Aceh: Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh dua tahun (nama disembunyikan). Saya tidak ingat berapa kali. Saya bahkan tidak bisa menjawab pertanyaan mereka lagi. Tujuh hari kemudian Saya pergi ke Banda Aceh untuk mendapatkan paspor. Orang-orang yang memukul Saya adalah marinir. Mereka tidak melihat pertanda apapun dari GAM. Hanya berusaha mencari makan. 15.Seorang laki-laki berusia duapuluh dua tahun dari Pidie menggambarkan peristiwa dari awal September dimana orang sipil dipaksa untuk mengambil bagian dalam operasi militer: Suatu waktu pada jam 4 pagi. 10 (C) 32 . dua puluh orang dikumpulkan bersama (oleh TNI) dan dipecah dalam empat kelompok.” “Memberi makan kepada GAM?” “Tidak. Sesudah dua malam mereka kembali. Mereka melakukannya sampai Saya pingsan. Vol. Saya dibawah ke sebuah rumah kosong. tetapi tidak ada seorang pun yang dapat Saya beritahukan kepada mereka. “Kamu darimana?” “Dari laut. “Ya. No. sekitar jam 8 pagi. Mereka dibawa ke pegunungan untuk mencari GAM.

dan mereka menendangnya tiga kali di kaki. Ketika Saya melihat mereka datang. Ketika mereka masuk adik Saya sedang duduk di lantai menonton TV. Seorang laki-laki berusia duapuluh tiga tahun dari Bireun menggambarkan apa yang terjadi bulan September: Brimob pernah datang ke rumah Saya. Kami membawa adik Saya ke dokter dan ke dukun patah. sekitar jam lima. Saat itu sudah senja hari.” Di jalan terdapat tulisan yang bilang. Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh tiga tahun (nama disembunyikan). dengan dua truk. Mereka membiarkannya bangun. Mereka memukul adik laki-laki Saya. Saya lari dan bersembunyi di dalam hutan. Ada sekitar tigabelas tentara. mematahkannya. Sekitar jam 9 malam. Malaysia. “Saya tidak tahu. Dia satu-satunya yang tidak membawanya. ketika orang-orang sedang berebelanja.. Ketika mereka tiba mereka bertanya pada Saya. Saya sedang duduk di kedai kopi dengan teman Saya. Saya melihat hal ini terjadi kepada teman Saya dan Saya pergi pagi berikutnya jam 7. dan mungkin lima orang terlibat memukulnya. Kami sekelompok membawanya dengan truk ke Rumah Sakit Simpang Ulim. dan lalu mereka pergi membeli makanan. Ketika dia jatuh mereka menendangnya di punggung.000. dan dia berikan kepada mereka. 31 Oktober 2003. Mungkin mereka pikir dia GAM. Mereka datang jam 9 pagi. Dia lupa membawa KTPnya. Dia bilang mereka bertanya apakah dia GAM dan dia bilang bukan. Lalu mereka meminta uang darinya. No. seperti sedang mabuk. karena dia berdarah dari luka dikepalanya. Mereka berduabelas. Dia dipukul di kepala dia terjatuh. dan dia diperintahkan untuk duduk di pantai. adik Saya dan Saya. Rp 500. Dia hanya mempunyai Rp 100. Saat itu 28 Agustus. “TNI tolong jangan pernah berada di Aceh 76 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh delapan tahun (nama disembunyikan).76 Kekerasan juga terjadi selama pencarian di rumah. Ada kami bertiga di rumah – ibu saya. kami membawanya pulang. 10 (C) . Ketika kami membawanya ke rumah dia masih pusing-pusing.000 (US$ 60). Vol. TNI datang.77 Seorang laki-laki dari Bireun yang meninggalkan Aceh ke Malaysia di pertengahan Oktober memberitahu Human Rights Watch: Bulan Mei jam 8 pagi di desa dekat rumah Saya. Saya duga untuk mencari senjata.Saya melihat seorang teman Saya dipukul. dalam usaha yang nampak untuk mengitimidasi atau memperoleh informasi. Malysia. 31 Oktober 2003. dan tentara sedang memeriksa. “Siapa yang menulis ini di jalan?” Saya bilang. Mereka masuk ke toko dan menanyakan KTP setiap orang. Mereka merampok rumah. dan Brimob datang dari pos mereka di desa sebelah ke toko untuk membeli makanan. mengambil satu juta rupiah (US$120) dari bawah kasur. 77 33 Human Rights Watch. Saya hanya bicara dengan keluarga Saya lewat telepon dan adik Saya masih belum baik. 15.

Mereka menanyakan KTP Saya. Wawancara Human Rights dengan laki-laki beruisa duapuluh tiga tahun (nama disembunyikan).” dan lalu Saya dipukuli. Dia mengikat tangan Saya dibelakang punggung dan memukul Saya langsung karena Saya tidak memberitahunya dimana GAM berada. “GAM Masih Kuat. Ada banyak tentara di jalan. Muka Saya berdarah.” Dia bilang. Malaysia. 1. “120 Napi GAM akan dipindahkan ke Jawa” Serambi. Mereka pergi sekitar jam 10. “Semua orang yang sudah melakukan kesalahan sudah melarikan diri. Mereka juga mengambil cincin dan uang Saya.79 Penahanan Secara Sewenang-wenang dan Ketiadaan Proses Pengusutan Banyak dari mereka yang tertangkap karena dicurigai kenggotaan atau dukungannya terhadap GAM sepertinya diadili atas tuduhan makar. Tujuh kali.338 anggota GAM ditahan. Saya tidak tahu kenapa. Setidaknya 500 ditemukan bersalah dan dijatuhi hukuman. Saya hanya punya mereka yang tidak melakukan kesalahan yang tinggal untuk dipukul.” Laksamana. Dia menendang Saya di dada.80 78 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia tigapuluh dua tahun (nama disembunyikan). Vol. Sekitar sepuluh orang dipukuli tetapi Saya satu-satunya yang diikat. 10 (C) 34 . Itu adalah Batallion Siliwangi yang biasanya berlokasi di Pos Peudada. Saya tidak melakukan kesalahan apapun. termasuk 912 pejuang dan 416 pendukungnya. 15.” Sesudah ini terjadi.016 kasus kepada kantor kejaksaan. Saya bukan. Bukan pos yang biasa. Saya bilang. Dalam pernyataan awal militer mengatakan bahwa mereka sudak membebaskan 145 tersangka karena kurangnya bukti. “Kenapa Kamu memukuli Saya. Saya bilang. Mereka membuka baju dan celana panjang Saya dan mengikat tangan Saya dibelakang punggung dengan tali. di depan dan belakang. “PDMD Tentukan Amnesti Anggota GAM. 4 desember 2003. Saya dibawa ke rumah sakit oleh orangorang di desa. 24 Oktober 2003 Anggota Batalion Siliwangi yang dituduh dan dibebaskan di pengadilan militer karena pemukulan di Dewantara. 20 Oktober 2003. tanggal 30 Agustus. Sesudahnya tiga tentara memukul Saya. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi suatu hari jka Saya tidak bisa lari lagi.338 Anggota Pemberontak GAM Ditahan. Aceh Utara. Saya melarikan diri ke Malaysia. Mungkin sekitar jam 10 pagi. memeriksanya dan lalu berkata bahwa Saya GAM. Pusat Penerangan TNI. 9 Nopember 2003. Penguasa militer sudah memasukkan 1.net.lagi.” Sinar Harapan. Saya sedang sendirian di jalan menuju ke toko. Mungkin sekitar seratus orang. satu yang khusus untuk darurat militer. Ketika dia sedang memukuli Saya. “Bukan. Mereka benar-benar dekat dengan Saya. 80 79 Human Rights Watch. Kantor penerangan TNI melaporkan bahwa sampai tanggal 4 Desember. Salah satu dari mereka menghentikan Saya di jalan. Pendengaran Saya rusak dari saat mereka menembakan senjata mereka ke udara. 13 November 2003.” 4 Desember 2003. Malaysia.78 Seorang laki-laki dari Aceh Timur memberitahu Human Rigths Watch: Saat itu dua hari sesudah darurat militer dimulai.” Belasan tentara lalu menembakan senapan mereka ke udara. No. “1. daan 561 sudah dijatuhi vonis.

15. Dia berusia tigapuluh lima tahun dan mempunyai dua orang anak yang masih muda. menghadiri beberapa pertemuan. Propinsi Aceh. 20 Oktober 2003. hanya orang biasa. Perang koto yang Tidak Terungkap. “5 Bulan Darurat Militer. 26 Oktober 2003. Saya tidak tahu kenapa –mungkin mereka mendapatkan suatu informasi dari seseorang. tetapi tidak mengeluarkan surat perintah. 22 November 2003. 7 Desember 2003. Sampai sekarang tidak ada tanda-tanda dia akan dibebaskan. seorang laki-laki berusia delapan belas tahun dari Aceh Besar memberitahukan Human Rights Watch: Pada bulan September Brimob datang ke desa dan mengambil seseorang. atau membantu menguburkan tersangka pengacau. dalam propinis dengan beberapa pengadilan yang bekerja. Mereka juga melaporkan bahwa delapan puluh klien mereka menderita penyiksaan selama ditanyai dalam penanganan militer atau polisi.” September 2003. Mereka membawanya jam 8 pagi. Dia ditutup matanya dan tangannya diikat. Sebagai tambahan kasus yang dikutip diatas. Tidak diketahui 81 Suatu penangkapan atau penahanan adalah sewenang-wenang ketika dilakukan oleh penguasa negara tanpa dasar hukum yang sepatutnya dan untuk melakukan hal tersebut.Organisasi non-pemerintah Kontras sudah melaporkan bahwa banyak dari mereka yang ditahan telah dituduh dengan tuduhan makar. 10 (C) .82 Dalam wawancara di rumah tahanan. “Komandan Aceh menyangkal tuduhan penyiksaan. 83 82 “Tersangka Pemberontak Indoneisa Memberitahukan Teror di Rumah Tahanan.” Press Release. para terdakwa mengatakan kepada seorang jurnalis bahwa mereka mengalami penyiksaan selama interogasi. Dia seorang tetangga dan Saya melihatnya. Mereka membawanya ke Kodim di Jambu Tape. Malysia. Kontras juga melaporkan bahwa sampai dengan tanggal 18 Agustus terdapat 213 kasus penangkapan dan penahanan secara sewenang-wenang. dan bahwa pengadilan selama 1 jam tersebut terjadi tanpa pengacara pembela atau saksi dan menghasilkan hukuman paling banyak lima tahun. Vol.” Associated Press.81 Seorang anggota Lembaga Bantuan Hukum di Aceh melaporkan banyak orang yang ditahan yang mereka wakili menyatakan bahwa mereka tidak lebih daripada membelikan kopi untuk pemberontak. Mereka datang dengan truk berisi tigapuluh lima orang. Berhasil Ciptakan Ketergantungan Sipil pada Militer. Wawancara Human Rights Watch dengan seorang laki-laki berusia delapan belas tahun (nama disembunyikan). No. “Makalah Ringkas tentang Aceh. Orang ini adalah orang biasa –tidak kaya atau miskin.83 Mereka yang diwawancarai menggambarkan banyak kasus dimana polisi atau TNI secara tiba-tiba datang dan membawa pergi seseorang atau beberapa orang.” Associated Press. dan diperkirakan bahwa sampai bulan Oktober hanya seratus orang yang mampu memperoleh bantuan hukum. menimbulkan perhatian kepada proses pembelaannya. Kontras Aceh. 84 35 Human Rights Watch. Kontras. Pengacara bantuan hukum dalam artikel tersebut memperkirakan bahwa 40 persen terdakwa tidak mempunyai akses ke pengacara.84 Lajunya langkah dan tingginya jumlah kasus.

Malaysia. Saya membayar sepuluh juta rupiah (US$1200) sebelum akhirnya mereka membiarkan Saya bebas… kepada kepala Koramil. dan menahannya tanpa tuduhan di Koramil lokal. Keluarga saya sudah memberikan delapan juta rupiah (US$940) kepada Komandan polisi militer di Bireun. tidak ada peristiwa apapun. tetapi masih ada yang lainnya di luar rumah. 86 Human Rights Watch. Saya sudah tidur. mereka hanya datang dan menangkapnya… Ketika mereka menangkapnya Saya ada di kebun Sebelum Saya kembali ke desa Saya mendengar apa yang telah terjadi jadi Saya tidak kembali. 15. kepada Komandan operasi Aceh Selatan… Di Koramil terdapat banyak orang dari desa. “Suamimu ada disini?” Saya bilang. “Dia tidak ada disini. tidak diperbolehkan untuk membuat makanan yang enak. Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia tigapuluh tujuh tahun (nama disembunyikan). Para tentara tersebut berkata pada kami. Saya tidak tahu dimana dia. Dia memberitahukan Human Rights Watch: Sekitar jam 10 malam. Komandan militer memberitahu istri Saya bahwa jika Saya kembali ke desa hari berikutnya dia akan dilepaskan… Dia benar-benar tidak tahu apa salah yang sudah dia lakukan. sampai sekarang. Seorang perempuan dari Aceh Selatan mengatakan bahwa dia ditahan bulan Oktober oleh militer. Vol. “GAM tidak bisa diberikan sesuatu yang baik.” Saya bukan GAM.86 85 Wawancara Human Right Watch dengan perempuan berusaia tigapuluh tahun. Ada tigapuluh sembilan tentara dan Brimob dari Jakarta. jam 3 sore nasi. Beberapa hari tidak ada nasi. malam hari kadang-kadang nasi. Ketika mereka menangkapnya mereka membawanya ke Samalanga. 26 Oktober 2003. Saya hanya orang dusun biasa. Malaysia. perempuan.sampai tingkatan apa tahanan diproses sehubungan dengan hukum.85 Seorang laki-laki lain memberitahu Human Rights watch mengenai penangkapan istrinya bulan September: TNI menangkap istri Saya tanpa alasan apapun… Sekitar jam 8 pagi. dua orang tentara datang ke rumah Saya dengan senjata. Dia meminta lebih tetapi tidak ada uang lagi.” Mereka membawa Saya langsung ke Koramil dengan kijang. beberapa laki-laki. Didalam kijang tersebut. Dua tentara tersebut mengetuk pintu “buka pintu!” Keduanya membawa senjata. Salah satu teman saya ada didalam bersama dengan tujuh anaknya. Mereka bertanya kepada Saya. 5 Nopember 2003. Jam 10 pagi Kami mendapatkan nasi dan ikan. sekitar 300 orang. 10 (C) 36 . No. kami dibawa ke Koramil. anak-anak perempuan. kurangnya informasi dan waktu tambahan yang disediakan oleh kerangka hukum darurat militer. Beberapa dari mereka sangat kecil dan juga seorang laki-laki tua yang sedang sangat sakit. (nama disembunyikan).

338 Anggota Pemberiontak GAM ditahan. Mereka yang tidak mempunyai KTP baru menjadi target kekerasan secara khusus dan harus membatasi gerakan mereka secara berarti.” 4 Desember 2003. atau diambil oleh GAM atau pasukan keamanan Indonesia. simbol tersebut kemudian lebih dikaitkan dengan kondisi penindasan. 15. “KTP sementara Aceh berlaku 1 Juli. “1.” Pada tanggal 4 Desember. penduduk Aceh sekarang diwajibkan untuk memperoleh kartu merah dan putih khusus.89 Pernyataan Menteri Luar Negeri menjelaskan bahwa tertanggal 10 Agustus. motif lainnya yang penting adalah untuk memaksa semua orang Aceh untuk datang sendiri ke depan petugas. persyaratan kartu identitas baru mempunyai pengaruh yang berarti terhadap orang-orang Aceh yang kartunya sudah hilang. Departemen Luar Negeri. 10 (C) . bukan normanya. ABRI mengumumkan bahwa 95 persen penduduk Aceh sudah memenuhi persyaratan untuk mempunyai kartu identitas baru. Betapapun. dan dibatasi untuk apa yang penting dan sebanding. Pusat penerangan TNI. Darpada kartu identitas Indonesia biasa yang diwajibkan seara nasional. Vol. “Tujuhpuluh pesen penduduk yang harus memiliki kartu identitas sudah mempunyai kartu merah putih di tangan mereka.87 Sementara hal ini bisa jadi adalah motif yang utama.90 87 88 Nur Raihan. 29 May. banyak orang-orang Aceh masih belum menerima kartu-kartu mereka sampai kini. Tujuan dari dikenalkannya KTP merah-putih adalah untuk memisahkan orang sipil dengan anggota GAM. 2003. Meskipun mereka membutuhkan KTP baru untuk bergerak secara bebas. disusul dengan inspeksi besar dan operasi penegakan yang dimulai 1 Agustus.Pembatasan Kebebasan Bergerak Sembilan hari sesudah darurat militer dimulai. seperti yang terjadi di Timor Timur 1999. tidak pernah mendapatkannya. GAM biasanya menggunakan strategi dengan merampas KTP orang sipil untuk membingungkan TNI dan polisi (Polri). Kartu Tanda Penduduk merah putih.com. 28 Juli 2003.88 Batas akhir untuk mempunyainya ditentukan tanggal 31 Juli. tertinggal. Tertini ZB Simanjuntak. Komandan militer Mayor Jendral Endang Suwarya mengumumkan bahwa KTP baru akan dikeluarkan karena begitu banyak yang sudah dicuri oleh GAM. Sebagai orang yang hanya bisa mendapatkan kartu di daerah tempat tinggalnya. No. pembatasan kebebasan bergerak apapun oleh pemerintah untuk alasan kemanan harus mempunyai dasar hukum yang jelas. Dimaksudkan untuk menegakkan kesetiaan kepada negara Indonesia. “Makalah Ringkas mengenai Perkembangan Terkini di Propinsi Nangroe Aceh Darusslam (NAD periode: 19 Mei-10 Agustus 2003. sampai batas akhir penutupan.” detik. Pada akhir Juli kepala sebuah Kabupaten memperkirakan bahawa hanya 60% dari penghuni yang mempunyai kartu baru dan bahwa dia tidak akan bisa menyelesaikan pekerjaannya pada akhir bulan tersebut tanpa bantuan dari polisi dan militer. setiap batasan harus menjadi pengecualian.” The Jakarta Post. Dalam prakteknya. 89 90 37 Human Rights Watch. Pengeluaran kartu identitas tidak bertentangan dengan hukum internasional. Itu adalah warna bendera Indonesia. “Persyaratan KTP Baru Menambah Lebih Banyak Penderitaan Bagi Rakyat Aceh. Mereka yang tidak datang lalu dianggap sebagai anggota GAM. memungkinkan mereka melalui sweepings tanpa terdeteksi. siapapun yang berada diluar daerahnya ketika persyaratan baru diterapkan menghadapi resiko saat bepergian kembali ke rumah.

$24). Sebelumnya Saya takut meninggalkan rumah. 10 (C) 38 . 93 92 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki duapuluh tahun (nama disembunyikan). Di kantor Polisi. Saya harus membayar Rp 25. Pidie. dan tanda tangan dari komandan Koramil. Kamu harus pergi ke kantor kepala kecamatan setelah Kamu difoto. Tuntutan untuk menyuap adalah rutin. dalam satu kasus Rp 50. kembali lagi ke kepala kecamatan. Saya dapatkan dari kantor polisi di Singli. Beberapa orang menggambarkan bahwa mereka membayar lebih untuk mendapatkan kartu mereka. Saya pergi ke Medan dan Malaysia. 6 November 2003. Kepala desa Saya ikut bersama Saya. Wawancara Human Rights Watch dengan seorang laki-laki berusia duapuluh lima tahun (nama disembunyikan). Dengan KTP Saya bisa pergi ke Medan dengan bis umum.” 93 91 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh lima tahun-an (nama disembunyikan). No. karena Kamu harus datang sendiri untuk menandatanganinya.91 Proses mendapatkan identitas baru sulit. 15.Seorang laki-laki menggambarkan sulitnya mendapatkan kartu ketika dia sudah meninggalkan desa tempat tinggalnya ke ibukota Banda Aceh untuk alasan keamanan: Dengan tanpa KTP Saya takut keluar. Tetapi proses mendapatkan KTP Merah Putih sangat sulit. Dia bilang. 28 Oktober 2003.S. Setiap hari terasa menakutkan. Saya mau pergi ke Malaysia tetapi Saya tidak bisa. “Hormat kepada matahari sampai Kamu bisa menyanyikan lagu kebangsaanmu. dan kepala kabupaten. Kami datang kesana untuk mendapatkan KTP dengan semua dokumen. ke kepala kecamatan dahulu. dalam kasus yang lain Rp 200. Jika Kamu tidak datang. Vol.000 (U. Saya menghabiskan dua bulan (di Banda Aceh). lalu ke polisi. Malaysia.92 Seorang perempuan dari Pidie memberitahukan Human Rights Watch: Di awal bulan ini saya mendapat KTP Saya. Human Rights Watch. Surat kuasa dari kepala desa. Butuh tiga hari sebelum Saya mendapatkan KTP Saya. kepala kepolisian. Akhirnya Saya mendapatkan KTP melalui KTP keluarga kakak laki-laki Saya. Malaysia. yang sudah lama tinggal di Malaysia tetapi kembalikan ke Aceh di August. 29 Oktober 2003. membutuhkan izin pendahuluan dari kepala desa.S.000 (US$3). menjelaskan prosesnya: Saya melihat bahwa jika Kamu tidak mendapatkan KTP Kamu tidak akan bisa aman. Seorang laki-laki dari Pidie.000 (U. KTPmu tidak akan dikeluarkan.$6) kepada kepala kecamatan untuk mendapatkan kartu dengan untuk pergi. Malaysia. dia memerintahkan Kami untuk menyanyikan Indonesia Raya (Lagu Kebangsaan). Jika Kamu tidak dapat menyanyikannya dia memerintahkanmu untuk berdiri di lapangan.

teman seorang saksi yang berusia dua puluh tahun dipukuli: Di lapangan tersebut teman Saya dipukuli. Selama salah satu peristiwa yang sudah disebutkan di atas mana TNI memaksa penduduk desa untuk berkumpul dan membunuh tiga orang di desa dekat Lhokseumawe. 10 (C) . 3 Juni 2003. dan hampir semuanya menggambarkan pemeriksaan yang berulangulang terhadap kartu merah putih.” The Jakarta Post. Mayoritas orang-orang Aceh yang diwawancarai oleh Human Rights watch meninggalkan Aceh dengan bis ke Sumatera Utara. penganiayaan atau pemerasan. atau di perbatasan-perbatasan antar kabupaten seperti antara Aceh Utara dan Aceh Timur. No. Dia bilang. Malaysia. 15. Banyak orang yang tinggal dengan teman atau sanak saudaranya di Medan. Kamu GAM!” Mereka menendangnya di perut dan dia terjatuh. diduga karena tidak mempunyai kartu atau karena alasan lainnya seperti mempunyai nama atau wajah yang sesuai (atau memiliki persamaan) dengan satu dalam daftar yang dimiliki tempat pemeriksaan. mereka ingin tahu siapa yang GAM.94 Nampak sulit meninggalkan Aceh tanpa kartu merah putih. di Langsa di Aceh Timur. Lebih dari sepuluh orang melaporkan bahwa ada lakilaki muda dikeluarkan dari bis yang mereka naiki. di Alue Ie Puteh. 95 39 Human Rights Watch. Bagaimanapun. KTP diminta. setiap orang keluar. Ada pemeriksaan di Peureulak. Melihat KTP. Ketika dia bangun dari mulutnya keluar darah. enam orang tersangka GAM di 94 Wawancara Human Rights Watch dengan seorang laki-laki berusia duapuluh tahun (nama disembunyikan).” “Tidak. siapa yang bukan. Ada beberapa laporan operasi sweepings terhadap orang-orang Aceh di propinsi Sumatera Utara dan Riau. Sesudah itu enam orang diambil. Semua bis harus berhenti. menandai seseorang sebagai orang Aceh dan menjadi sasaran penangkapan. Tertiani ZB Simanjuntak. Aceh Utara. “Saya meninggalkannya di rumah. Vol. TNI mencari GAM. KTP merah putih menjadi suatu kekurangan. Kesalahannya adalah tidak membawa KTPnya bersamanya. begitu seseorang menyebrangi perbatasan menuju ke propinsi tetangga Sumatera Utara. juga di perbatasan dengan Medan. “Komnas HAM akan Menyelidiki Pelanggaran Aceh. Mereka menanyakan KTPnya.Beberapa peristiwa penyerangan fisik digambarkan kepada Human Rights Watch berkaitan dengan kartu identitas merah putih. Penahanan semacam ini secara khas terjadi di tempat pemeriksaan di perbatasan dengan Sumatera Utara. atau bersembunyi di hutan sampai mereka bisa menemukan jalan untuk pergi ke Malaysia. 31 Oktober 2003.95 Seorang laki-laki dari Bireun memberitahu Human Rights Watch mengenai perjalannya keluar dari Aceh: Saya sedang berada dalam bis umum ke Medan.

Vol. Saya keluar dari bis dan bis pergi tanpa saya. Dia menunjuk… Sesudahnya mereka membebaskan Saya… Saya menangis. Dua orang tersebut tidak pernah kembali ke dalam bis. Wawancara Human Right Watch dengan laki-laki Aceh berusia duapuluh tahun (nama disembunyikan). Ada pos TNI dan semuanya diminta turun dari bis dan berbaris. ada sampah. Tidak jauh. Mereka orang-orang Aceh. Saya di tahan di ruangan tersebut selama satu jam. tidak terlalu dekat juga. durian. Saya tidak tahu dimana mereka. Kenapa? Karena mereka melihat nomor telepon di dompet Saya. Tiga polisi masuk dan membuka baju dan celana panjang saya. “Itu nama orang GAM. Mereka bertanya kepada Saya untuk menyatakan bahwa Saya adalah GAM. Kami sudah tiba di Aceh Timur. 10 (C) 40 . Sangat menjijikan. Di perbatasan terdapat banyak pasukan keamanan… Ada tiga bus dan sekitar limabelas orang ditangkap. meraka bilang mereka akan menembak Saya. No. Mereka polisi tapi BKO. Dia bilang kepada Saya. Tiga kali Saya ditendang. Malaysia. Sesudah itu mereka mulai memukul Saya karena Saya tidak mau mengakuinya. Saya melihat dua orang dibawa ke belakang oleh lima orang tentara TNI. Sesudahnya saya diperintahkan untuk membersihkan isi ruangan. di tubuh Saya dua kali. Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh lima tahun (nama disembunyikan). Malaysia. 26 Oktober 2003. Saya tidak tahu kemana mereka dibawa. 28 Oktober 2003. Kamu GAM. memberitahu Human Rights Watch: Saya sedang berada di perbatasan dan bis berhenti untuk pemeriksaan KTP.97 Seorang laki-laki dari Pidie. 15. 29 Oktober. Semuanya orang Aceh. Malaysia. Mereka bertiga bersenjata. Mereka memaksa saya untuk membersihkan daerah tersebut. meminta tolong agar dibebaskan karena Saya mau kembali ke Medan secepatnya… Saya menunggu bis lagi dan langsung pergi ke Medan. Saya kemudian mendengar suara tembakan.96 Seorang laki-laki yang tiba di Malaysia bulan Juni memberitahukan Human Rights Watch mengenai peristiwa yang terjadi di bisnya saat perjalanan dari Aceh Utara ke Medan: Saat itu malam sudah sangat larut.Peureulak. (yang datang) khusus untuk darurat militer. Ada tempat penahanan.98 96 Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia empatluluh tahun (nama disembunyikan). semuanya laki-laki. bahwa nomor itu hanyalah nomor telepon Saya. yang kembali ke Aceh dari Malaysia di bulan Agustus. Jika Saya tidak melakukannya. Lalu mereka membawa Saya ke sebuah kamar kecil. rokok. Saya pergi langsung ke Medan. Saya dipukul di wajah sekali. Paha Saya ditendang. AJ-47s. semua laki-laki.” Ada lima orang polisi. Satu persatu dipanggil untuk memeriksa kartu identitas kita. ketika mereka memeriksa KTP Saya. Saya menunggu di Medan lima hari. Sesudahnya setiap orang kembali ke dalam bis. Saya membeli tiket pesawat dan pergi langsung kembali ke Malaysia. 2003 97 98 Human Rights Watch.

Jika kami melakukannya. jadi kami tidak berani pergi kesana.99 Perang telah nenyebabkan ekonomi berjalan tertatih-tatih tetapi pengawasan yang luas terhadap gerakan. 29 Oktober 2003. 29 Oktober 2003. menanam sayur-sayuran atau singkong. 15. Hampir semua warga yang diwawancarai mencatat bahwa penghuni desa mereka dilarang pergi ke kebun mereka. ke kebun kami. naik ke atas ke bukit ke kebun sayurannya tetapi ditahan oleh Brimob dan dibawa ke pos brimob di Labuhan Haji. Dia disiksa disana –ditusuk dengan pisau. dan ditanya apakah dia GAM. 28 Oktober 2003. “Angka pengangguran dan kemiskinan disebabkan konflik di Aceh mengkhawatirkan.”100 Karena pasukan GAM terutama berada di daerah pegunungan. “Ada pos-pos di desa. dan rasa takut yang terbangun baik terhadap kekerasan saat bepergian untuk membeli atau menjual barang-barang secara hebat telah memperburuk masalah tersebut. http://www. Kami tidak bisa mencari makan. Banyak orang Aceh mengeluh bahwa ketakukan akan kekerasan atau larangan-larangan terhadap mobilitas telah secara serius mempengaruhi kemampuan mereka untuk menyambung hidup. Vol. menebang pohon untuk membangun rumah. Pegunungan tersebut dikepung oleh TNI. Malaysia. Seorang laki-laki berusia delapanbelas tahun yang tiba tanggal 11 September dari Aceh Besar memberitahukan Human Rights Watch: Orang-orang tidak bisa pergi ke pegunungan. Laki-laki ini.laksamana. dan 99 “Waspadai kemiskinan dan pengangguran di Aceh.Pemerasan dan Pembatasan Terhadap Aktifitas Ekonomi Situasi ekonomi dibawah darurat militer memburuk secara cepat. Kami diperingatkan: “Jika Kalian pergi ke tasa Kami tidak bisa bilang apa yang akan terjadi. Seorang laki-laki berusia duapuluh enam tahun dari Aceh Selatan melaporkan: Tanggal 23 Jumi ada seorang laki-laki mencari makanan didekat desa (nama dihilangkan). No. Di bulan Oktober.” Laksamana. Ekonomi kami membeku. atau sebagai pendukung mereka yang membawakan nasi atau kebutuhan lainnya untuk separatis bersenjata tersebut. Seorang laki-laki memberitahukan Human Rights watch.cfm?ncat=35&news_id=6246 (diakses 4 Desember 2003). Kami takut tembakan. Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia delapan belas tahun (nama disembunyikan). Dia tidak mengakuinya. siapapun yang terlihat menuju kesana dianggap entah sebagai GAM. Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh dua tahun (nama disembunyikan). 10 (C) . 101 100 41 Human Rights Watch. kami akan dikira GAM dan mereka akan menembak kami. dan kami tidak diperbolehkan pergi ke bukit-bukit. pemerasan. Kalian harus bertanggung jawab atas diri kalian sendiri.” Puteh mengutip data terkini yang menunjukan bahwa 40 persen penduduk tinggal dibawah garis kemiskinan. yang seringkali berada bukit diatas desa. Bahari.”101 Hal ini bukanlah ancaman main-main. Kecamatan Labuhan Haji.net/vnews. Gubernur Abdullah Puteh mencatat.

di Aceh Selatan. Malysia. Saya bekerja sebagai supir minibus di jalan raya. laporan aktifitas milisi di beberapa kabupaten. Malaysia. 26 Oktober 2003. 10 (C) 42 .103 Seorang supir lainnya dari Bireun mengulang cerita bahayanya bepergian di jalan: Saya menjual ikan di Takengon. Lalu kami pergi ke Lhokseumawe untuk menjual ikan Kami harus melapor disana. Tetapi Saya harus berhenti pergi kesana karena Saya takut kepada milisi. 104 103 102 Human Rights Watch. Wawancara Human Rights Watch (nama disembunyikan). lalu kembali ke pos marinir ketika kami kembali untuk mengambil KTP kembali… Pernah ketika Saya sedang merawat ayam jantan Saya untuk sabung ayam. Jika Kamu tidak mempunyai uang dan mencoba menawar – “Saya tidak punya sepuluh. No.dia dibunuh. Saya melihat mayatnya di rumahnya. tetapi mayat tersebut dikirim ke rumahnya. Saya tidak mau memberikan mereka Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh enam tahun (nama disembunyikan). tentara datang dan memintanya. Jika mereka bilang sepuluh maka harus sepuluh. Lalu Saya ketakutan karena adanya tempat pemeriksaan di jalan oleh TNI dan Brimob… Saat Saya menyetir kendaraan mereka menghentikan Saya untuk meminta uang atau makanan. khususnya dmana imigran Jawa berada. ini ada lima”.mereka tidak akan menerimanya. Saya melakukan perjalanan terakhir Saya bulan Juli. truk-truk mereka diambil. Jika Kita keluar dari kapal yang pertama adalah pergi ke pos marinir dan melapor disana. tetapi mereka tidak mengaku. telah meningkat tahun-tahun terakhir ini. Mereka meminta lagi. Meskipun kelompokkelompok yang berkaitan dengan militer berkeliaran setidaknya sejak tahun 1990. 25 Oktober 2003. Mayat mereka tidak pernah dikembalikan. di daerah kecamatan. 15. Kamu tidak bisa tawar menawar dengan mereka. 26 Oktober 2003. Saya sudah memberikan satu kepada mereka jadi Saya bilang tidak. Malaysia. Jika Kamu tidak memberikannya kepada mereka. Kamu dipukuli.102 Seorang berusa tigapuluh tahun yang tiba dari Aceh Tengah segera setelah darurat militer dimulai berkata: Hidup Saya sangat berat. Vol. Sebelumnya tidak ada masalah. Banyak orang Aceh yang menghilang. dan memberikan KTP. Wawancara Human Rights Watch dengan seorang laki-laki berusia tigapuluh tahun (nama disembunyikan). Dua orang lainnya ditahan pada waktu yang sama dan juga ditusuk. Milisi tersebut dilatih tahun 1999 oleh TNI dan Polri. Saya tidak tahu dimana ditemukannya. Tetapi baru-baru ini dua orang penjual ikan lainnya yang Saya kenal menghilang: Rusli di bulan Oktober dan Azhari di bulan September.104 Seorang nelayan berusia duapuluh tahun dari Aceh Utara yang tiba dua minggu yang lalu menjelaskan: Ada pos-pos setiap limapuluh meter di beberapa tempat.

menyiksa dan bahkan membunuh warga lainnya. Lalu dia mengancam Saya – “Kalau Kamu tidak memberikannya kepada Saya. Dia bilang pada Saya.”106 Kembalinya Jaga Malam: Tugas Wajib Jaga Malam Kami seharusnya mempertimbangkan untuk memberikan penghargaan yang sepantasnya kepada tuntutan masyarakat untuk diperbolehkan membela diri dan barang-barang mereka sendiri.” Karena Saya takut. “Jika Aku tidak ada disini. “Presiden Menyetujui ‘Penjaga’ Sipil’. Saat itu tanggal 8 atau 9 Oktober. Saya memiliki penggilingan beras.” Saya pergi sesudah dua hari –mereka memberi Saya waktu tiga hari.105 Seorang laki-laki yang memiliki bisnis penggilingan beras melaporkan: Membuka jalan untuk hidup di Aceh itu sulit. Vol. Saya dimintai tujuh juta rupiah (US$825) dan diberitahukan bahwa jika Saya tidak memilikinya dalam tiga hari Saya tidak akan selamat. 2 Juli 2003. —Presiden Megawati. Tetapi kalau diminta. bermarkas di Koramil. Malaysia. 5 Nopember 2003. Jika Kamu mencoba membuka usaha. Saya memberikannya kepadanya. mereka akan mengambil kalian. No. Batalion Sriwijaya 141. kan? Saya katakan pada tiga anak laki-laki Saya untuk ikut pergi (nama disembunyikan). bilang pada mereka. Setiap hari TNI meminta 450 kilogram. Fabiola Desy Unidjaya dan Tiarma Siboro. Saya akan menembakmu. The Jakarta Post. militer Indonesia melaksanakan operasai yang disebut kampanye “pagar betis” di Timor Timur. 15. 106 107 105 Wawancara Human Rights Watch (nama disembunyikan). partisipasi masyarakat semakin dibutuhkan karena kurangnya personil keamanan. “Sebaiknya kamu pergi saja.satu lagi. Sesudah mereka pergi Saya pergi ke teman Saya di kedai kopi di depan rumah Saya. mereka akan meminta uang.” Saya seharusnya bisa pergi haji ke Mekkah duapuluh lima kali sekarang. “Jika Kamu tidak memberikannya kepada kami. Tahun 1981. baik sebagai tameng manusia dan juga menggunakan orang sipil untuk menekan perlawanan para pejuang. Mereka hendak pindah ke pos BKO yang lain dan meminta ‘uang pindah’. 10 (C) . malam ini Kamu akan dibunuh. yang kebanyakan orang Jawa. Malaysia. maka diberikan… Saya tidak tahan lagi. Dia bertanya apa yang mereka inginkan dan Saya beritahukan: tujuh juta rupiah dalam tiga hari. TNI biasa menggunakan taktik semacam “pagar betis” di Timor Timur dengam menaruh orang sipil diantara tentara dan gerilya. 31 Oktober 2003. Mereka BKP. Kopassus datang jam 11 pagi. militer memaksa 108 43 Human Rights Watch. kepada polisi pada upacara bulan Juli107 Secara historis. Dalam usahanya untuk memaksa keluar para pejuang yang bertahan dari persembunyiannya. Mereka bilang.108 Beberapa Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh tahun (nama disembunyikan). mereka berempat di dalam Taft – seperti Pajero tapi lebih kecil. Dia dari pos lokal. khususnya mereka yang tinggal di daerah konflik… Dalam menghadapi orang sipil yang bersenjata yang memerat.

Kami berempat dipukuli kalau tertidur.000 penduduk desa dari Kecamatan Leupung di Aceh Besar dilaporkan terlibat didalam perburuan pemberontak GAM di hutan dekat sana. bahkan laki-laki tua. Nani Farida.109 Seorang laki-laki memberitahukan Human Rights Watch tentang penduduk desa yang dibawa ke hutan untuk mencari GAM. contoh partisipasi orang sipil yang paling luas dalam pertahan yang dilaporkan adalah tugas wajib jaga malam tanpa senjata. tetapi tidak jelas seberapa sering taktik ini digunakan dibawah darurat militer. Republik Indonesia. Departemen Luar Negeri. 110“Evaluasi Pemerintah Terhadap Operasi Khusus di Aceh. . Sebagai contoh. dan kesetiaan rakyat Aceh kepada Negara Kesatuan Indonesia semakin menguat. empat orang setiap kalinya. www. Kami harus melakukannya tiga kali seminggu.” Pernyataan Pemerintah Indonesia. “Warga Sipil Terlibat Secara langsung Dalam Perburuan Pemberontak GAM “. Militer mengikutinya dari belakang. Semua laki-laki diatas lima belas tahun harus berjaga. sekitar sebulan kemudian. Beberapa perkembangan yang positif sudah dicapai seperti misalnya beberapa pos sudah dibuat oleh penduduk lokal yang juga berfungsi sebagai Pos Informasi. begitu juga kesadaran mereka akan hak dan kewajiban mereka. operasi ditujuan untuk merangsang keberanian masyarakat lokal untuk berjuang melawan GAM. Seorang laki-laki berusia duapuluh tahun dari Pidie yang tiba di Malaysia tanggal 14 Oktober menggambarkan ketika tentara mengadakan tugas jaga malam di desanya: Jaga malam dimulai sesudah darurat militer. Vol.media baru-baru ini melaporkan penggunaan orang sipil dalam operasi militer di Aceh. Semua perhatian dan kewaspadaan ini datang dari masyarakat secara spontan. The Jakarta Post. 15. 111 109 Human Rights Watch. kesaksian yang dikumpulkan di Malaysia menunjukan bahwa pasukan keamanan memakai ancaman dan penggunaan kekerasan untuk memaksa penduduk lakilaki di desa untuk bergantian menjaga desa.go. Komandan Kodim Aceh Besar mengatakan bahwa militer hanya menyediakan sokongan terhadap inisiatif warga desa itu sendiri. sekitar 1. Menurut pernyataan pemerintah mengenai kemajuan darurat militer: Penjagaan lingkungan telah meningkat di desa dari 0% sampai dengan 70%.Polkam. Kami juga biasa melakukannya dibawah DOM. dibawah DOM. laki-laki tua tidak pernah melakukan tugas jaga.110 Pernyataan lain yang dikeluarkan oleh Kementerian Luar Negeri menegaskan: Dalam rangka menciptakan situasi yang aman dan teratur di (Aceh). Sebelumnya. Dalam wawancara dengan Human Rights Watch. menggunakan mereka sebagai tameng manusia terhadap para pejuang yang bertahan. No. periode: 19 Mei -10 Agustus 2003. 17 September 2003. orang sipil untuk berjalan berbaris dari setengah garis pertahanan pulau terebut menuju ke pusatnya.id. strategi dari peride DOM yang dihidupkan kembali segera sesudah darurat militer dimulai. dalam tiga waktu yang berbeda. “Makalah Ringkas tentang Perkembangan Terakhir di Propinsi Nangroe Aceh Darussalam (NAD)”. 10 (C) 44 . 15 Agustus 2003.111 Biarpun demikian.

kami pasti akan diculik dan diancam. 15. Malaysia. 26 Oktober 2003. Suami Saya lalu sakit jadi tidak bisa pergi dan mencari makan. Dia desa Saya mereka hanya mengambil alih sebuah rumah kosong. Kami harus melakukannya mungkin dua hari setiap minggunya. Dia mengatakan kepada Human Rights Watch: Suami Saya dipukuli oleh TNI bulan Agustus saat dia jaga malam.114 Dua orang Aceh yang diwawancarai oleh Human Rights Watch juga mengeluh mengenai pemaksaan tenaga kerja. Atau kami diperintahkan untuk membawa tiang pohon kelapa sawit ke atas bukit. di Aceh Timur.113 Tugas wajib jaga malam adalah aspek tambahan dari kehidupan yang semakin tidak dapat dipertahankan lagi bagi laki-laki Aceh. menempatkan mereka dalam resiko pembalasan dendam dari kedua belah pihak. Selama darurat militer sulit sekali mencai makanan. Wawancara Human Rights dengan laki-laki berusia tigapuluh tahun (nama disembunyikan). Tetapi kalau kami memberitahukan GAM. itu juga menaruh orang sipil di seputar antara GAM dan TNI. 10 (C) . membangun pos-pos dan kamp baru. seperti membangun pos tingkat desa baru. Malaysia. Kadang-kadang ketika mereka pergi.112 Seorang perempuan dari Peureulak. Sementara jaga malam bisa menaruh orang sipil di tingkat resiko yang sama seperti keterlibatan langsung dalam operasi militer atau dipaksa untuk bergabung dengan militia. 24 Oktober 2003. Dan. meninggalkan propinsi tersebut di pertengahan Oktober. di pagi hari kami harus melakuka gotong royong. Vol. No. GAM meminta kami untuk memberitahukan mereka apa yang TNI dan Brimob lakukan. Sekarang selalu seperti ini. 26 Oktober 2003. 26 Oktober 2003. tetapi kami harus membangun pos-pos di desa lain. Seorang dari dua orang yang menggambarkan tugas wajib tersebut menjelaskan: “di malam hari kami jaga malam. Wawancara Human Rights dengan perempuan berusia tigapuluh tahun (nama disembunyikan). tidak ada perubahan. Mereka tidak berkata kami seharusnya menjaga –jaga malam saja! Mereka tidak berkata menjaga ini atau itu. 115 114 113 112 45 Human Rights Watch.115 Wawancara Human Rights Watch dengan seorang laki-laki berusia duapuluh dua tahun (nama disembunyikan).” Wawancara Human Rights Watch dengan lakilaki berusia tigapuluh tahun (nama disembunyikan).Kami tidak berkeliling tetapi tinggal di sekitar pos jaga. kami harus merubuhkan pos. Malaysia. lalu mereka kembali lagi dan kami harus membangunnya lagi. Saya harus pergi (dari Aceh) untuk mendapatkan uang dan makanan. Malaysia. seperti yang dikatakan seorang laki-laki berusia tigapuluh tahun yang tiba dari Aceh Tengah segera sesudah darurat militer dimulai: Polisi dan Brimob datang ke desa dan mengatakan pada orang-orang untuk menjaganya.

semua tindakan yang mungkin seharusnya diambil untuk memastikan bahwa tempat dimana mereka akan ditampung menawarkan kondisi tempat berlindung yang memuaskan. Agustus 2001: Human Rights Watch. “Warga Sipil Indonesia Dijadikan Target di Aceh. Meskipun bukan instrumen yang mengikat. “Jesuit Refugee Service: Berita JRS No.000 orang di Aceh Utara dilaporkan meninggalkan rumah mereka karena Angkatan Udara Indonesia membom posisi pemberontak di Pantai Pisang di Kecamatan Nisam yang banyak pegunungannya.” Laporan Human Rights watch. Laporan Perwakilan Sekretaris Jendral tentang Orang-Orang Terlantarl. Protokol II. pasal. dan menyatakan kumpulan standar internasional yang mengatur perlakuan terhadap orang-orang terlantar. 17. 15 Februari 2002.Pengungsian dan Perampokan Sejak dimulainya darurat militer. yang memperhatikan cerminan hukum internastional menyatakan bahwa “pengungsian penduduk sipil tidak boleh dilakukan dengan alasan yang berkaitan dengan konflik kecuali berkaitan dengan keamanan warga sipil atau tuntutan militer yang sangat penting. 14 Nopember 2003.” 17 Nopember 2003. Sebagai contoh. dan mereka yang berwenang dan berada di komunitas internasional. 10 (C) 46 . Vol. di awal Juli sekitar 10. 142. Perkiraan resmi jatuh dari lebih dari duapuluh ribu orang terlantar di sebelas kabupaten di bulan Agustus menjadi hanya sepuluh ribu orang terlantar di enam kabupaten pada pertengahan November.” Prinsip-Prinsip Pedoman tentang Orang Terlantar (prinsip pedoman). 1 Juli 2003. sementara yang lainnya ditangkapi dan diangkut pergi: A’An Suryana. 119 118 117 116 Human Rights Watch. Kantor PBB untuk Koordinasi Masalah Kemanusiaan (OCHA). 15. Lebih dari seratus ribu orang dipindahkan di beberapa titik tertentu sejak dimulainya darurat militer. Departemen Luar Negeri. higenis.118 Banyak pengungsidapat kembali ke tempat asalnya sesudah periode yang cukup singkat. atau ada alasan militer yang sangat penting untuk tindakan tersebut. sehat dan menyediakan nutrisi. mencerminkan hukum kemanusiaan internasional sebagai juga hukum hak asasi manusia. “Perang di Aceh. Vol. E/CN. “Orang Aceh Pergi karena Serangan Udara” The Jakarta Post. No. jadi jumlahnya turun-naik dari minggu ke minggu. Sampai tahun 2001 ada sekitar 50. “Laporan OCHA Mengenai Gabungan Situasi No. Prinsip pedomaan ini didasarkan pada hukum internasional yang tentunya mengikat negara-negara seperti halnya beberapa kelompok pemberontak. Lihat Human Rights Watch.000 orang Jawa di Sumatera Barat yang meninggalkan Aceh. No.2. Republik Indonesia. Dulu Suku nonAceh juga lebih banyak diintimidasi agar meninggalkan Aceh oleh GAM.13. diadopsi bulan September 1998 oleh Majelis Umum PBB. 4 (c ).116 Penampungan massa atau pengungsian orang sipil yang hanya untuk meniadakan basis sosial untuk pasukan lawan dilarang oleh hukum kemanusiaan internasional. Konvensi Geneva. “Makalah Ringkas mengenai Perkembangan Terkini di Propinsi Nangroe Aceh Dasrussalam (NAD).” Human Rights Watch Press Backgrounder.4/2003/95/Add.119 Seorang laki-laki berusia duapuluh tahun yang tiba di Pidie menggambarkan bagaimana beberapa orang di desanya meningalkan TNI. belasan ribu orang sipil telah dipaksa oleh pertempuran atau diperintahkan oleh pemerintah Indonesia atau pasukan keamanan untuk meninggalkan rumah dan desa mereka. Mei 2000. Para penghuni dilaporkan diperintahkan oleh militer untuk ditampung di dua kamp di sekitar Kecamatan Dewantara dan Muara Batu. Kemungkinan prilaku yang sama terjadi di bawah Darurat Militer tetapi kurangnya akses membuat sulit untuk menunjukannya. Periode: 19 Mei-10 Agustus 2003”.117 Seandainya tindakan tersebut harus dilakukan. 154”. Pihak-pihak yang berkonflik harusnya tidak memerintahan pemindahan penududuk kecuali dengan alasan yang serius berkaitan dengan keamanan orang sipil yang terlibat.

empat buah tank datang ke desa. Kami kembali ke rumah kami untuk mengambil barang-barang yang paling penting. 26 Oktober 2003. 121 122 120 Wawancara Human Rights Watch (nama disembunyikan). Kami menghabiskan waktu limabelas hari disana. No. Ketika Kami pulang ke rumah semua barang-barang kami tidak ada. “Kepala TNI Menawarkan Permintaan Maaf Kepada Rakyat Aceh. Ayam.122 Sebagaimana digambarkan dalam “Aceh dibawah Darurat Militer: Pelarangan yang Tidak Perlu dan Berbahaya Terhadap Akses Kemanusiaan Internasioal. sekitar empatpuluh kilometer jauhnya. Malaysia. 10 (C) . dan beberapa orang melarikan diri ke pegunungan. mereka menemukan rumah mereka dirampok ketika mereka kembali ke rumah mereka. 15. Sesudahnya kami dikirim kembali ke rumah dengan truk. dan yang lainnya melarikan diri ke Sigli.” terdapat kelanjutan untuk memperhatikan kurangnya akses ke makanan.121 Di akhir Juli.” The Jakata Post. tetapi Saya terlalu ketakutan. kami (TNI) memaksa orang-orang untuk meninggalkan rumah mereka dan mengungsi sementara para tentara berusaha menyingkirkan para pemberontak yang seringkali mencoba berbaur dengan orang sipil di desa mereka… Bahkan jika para pengungsi tinggal di kamp selama tiga atau empat hari saja. kepala staf ABRI. Mereka pergi kesana karena ada panggilan dari mesjid untuk berkumpul disana. dan pendidikan Wawancara Human Rights Watch dengan laki-laki berusia duapuluh dua tahun (nama disembunyikan). mengakui bahwa tentara secara paksa menelantarkan warga sipil dan meminta maaf atas perampokan tersebut: Dengan beberapa pertimbangan.000 untuk mengembalikan barang-brang kami kembali. Kami mempunyai satu jam untuk mengemas barang kami. Saya tidak mau orang-orang berkorban sebanyak itu. Malaysia. Jendral Endiartono Sutarto. Beberapa orang membayar. lalu tiga truk datang untuk membawa kami ke Sigli. dibawa oleh tentara yang lalu meminta uang Rp 300. Human Rights Watch tidak tahu mengenai hasilnya. Tiarma Siboro. 47 Human Rights Watch. (semua) dicuri saat kami melarikan diri. 29 Oktober 2003. Kami tidak diberitahukan alasannya. Orang-orang di desa ketakutan. Kami diberitahukan oleh tentara. 26 Juli 2003. Saya meminta maaf karenanya. dimana ada sebuah kamp orang terlantar di lapangan disana. “Sekarang mengungsi!” Saya rasa mereka dari Pos BKO Siliwangi. sarana kesehatan. kambing.120 Seorang perempuan dari Aceh Utara menggambarkan perampokan yang terjadi ketika para penduduk dipindahkan: Saya melarikan diri ke kamp pengungsi.Suatu pagi hari. Vol. Orang-orang di pegunungan kembali ke rumah setelah kami pulang. Pengadilan darurat militer dilakukan pada tanggal 22 Juli terhadap dua orang prajurit yang dituduh mencuri uang kontan dan perhiasan dari rumah seorang tersangka pemberontak separatis di Aceh Utara. hidup didalam tenda.

dan informasi dasar lainnya.123 Pertempuran antara militer Indonesia dan GAM sebagaimana larangan untuk bergerak. listrik. 10 (C) 48 . No.125 Human Rights Watch.124 Penolakan Indonesia terhadap akses badan-badan kemanusiaan internasional dan LSM membuat penilaian secara lengkap mustahil. “Kematian Orang-Orang Terlantar di Aceh” (diproses dan diperiksa oleh Organisasi Migrasi Internasional Banda Aceh).bagi orang-orang terlantar di Aceh. Kondisi tersebut diperburuk bagi mereka yang telah dipaksa untuk meninggalkan rumah mereka. telah mengganggu hidup dan mata pencaharaian warga sipil dengan terpotongnya suplai makanan. fasilitas kesehatan yang tersedia. “Aceh dibawah Darurat Militer: Pelarangan yang Tidak Perlu dan Berbahaya atas Akses Kemanusiaan Internasional. 124 125 123 Jesuit Refugee Service. Jesuit Refugee Rervice dan sumber-sumber media Indonesia sudah menyoroti laporan mengenai fasilitas sanitasi dan air yang memprihatinkan. dan sarana kesehatan bagi ribuan orang..” Makalah Ringkas Human Rights Watch. kekurangan gizi dan keluhan kulit diantara para penduduk tersebut. Bagaimanapun. informsai ini mustahil untuk di verifikasi atau diinterpretasikan tanpa mengetahui lebih banyak mengenai tingkat kehidupan total penduduk. Informasi awal mengindikasikan bahwa pertempuran telah memaksa ribuan warga sipil keluar dari rumahnya. Human Rights Watch. “Berita JSR No. Vol. 15. air. komunikasi. 5 Oktober 2003. September 2003. Satkorlak NAD. Gambaran menyeluruh dari sedikit informasi yang tersedia adalah bahwa penududuk Aceh menghadapi kekurangan jasa dan persediaan dasar.” 1 Agustus 2003. pemerintah Indonesia melaporkan empat puluh tujuh kematian yang berkaitan dnegan kesehatan di kamp. Sampai bulan Oktober 2003. sekolah. 137.

Di bulan Juni. hukuman ringan. 5 Juni 2003 “Prajurit Dipenjara Karena Perkosaan di Aceh. Aceh Utara.laksamana. “Saya tidak akan mengambil tanggungjawab atas semua perintah yang Saya berikan. “Indonesia Mendakwa Tentara atas Pelanggaran di Aceh. Indonesia telah mengambil beberapa langkah meminta pertangungjawaban tentaranya dalam kejahatan yang terjadi di Aceh. 10 Juni 2003.” Associated Press.” Associated Press. dan rendahnya tingkat tuduhan-tuduhan tersebut memperlihatkan kurangnya keseriusan dalam menghukum atau menghalangi kejahatan oleh anggota pasukan bersenjata. “Prajurit Dibebaskan atas Penyerangan di Aceh. 15. haruskan Saya juga 49 Human Rights Watch. No. atau mencuri uang untuk membelinya.Pertanggungjawaban Tidak seperti dalam operasi di masa lalu di Aceh.” The Jakarta Post. 25 September 2003. dikenai tuduhan atas pemukulan dua orang penduduk desa di Kecamatan Dewantara. 20 September 2003.130 Persidangan adalah pengecualian yang disambut baik untuk kekebalan hukum yang hampir seluruh TNI menikmatinya. “Prajurit dihukum dalam kasus perkosaan di Aceh. pengadilan militer menjatuhkan hukuman kepada enam tentara dari Batalion Infrantri 144 lima bulan penjara karena pemukulan warga desa di Kabupaten Bireun pada 27 Mei.” The Jakarta Post. korban bersaksi di pengadilan bahwa mereka diserang karena tidak tahu lokasi para pemberontak separatis.” Laksamana. Tiarma Siboro. 9 Juni 2003. pada 30 Agustus 2003.” The Jakarta Post. 131 Tidak ada tuduhan pembunuhan yang membawa kematian para warga sipil selama operasi militer ini. “12 Prajurit Diadili karena Memukul Warga Desa di Aceh.126 Para tentara tersebut dikenai tuduhan melanggar pasal 351 dan 55 dalam Undang-Undang Kejahatan tentang penyerangan terhadap orang sipil dan ayat 103 dalam undnag-undang kejahatan militer mengenai pelanggaran disiplin militer. 10 (C) .129 Mereka dibebaskan meskipun jurubicara militer mengatakan mereka teap akan menerima hukuman kedisiplinan yang mencakup dari peringatan keras sampai dengan tiga minggu penjara.net. 131 130 129 Oktober 2003. Jika Saya mengirimkan sesorang keluar untuk membeli pisang goreng dan orang tersebut tertangkan karena mencurinya. Mereka tidak dikenai tuduhan karena menembak mati seorang laki-laki bernama Abubakar dalam peristiwa yang sama. Tetapi perintah-perintah Saya dan para komandan pasukan bersenjata lainnya jelas: jangan membunuh orang sipil. Aceh Utara.” BBC News Online.net/vnews. pengadilan militer di Ljokseumawe. 127 128 126 “Tiga prajurit dalam Sidang Mengakui Menyerang Penduduk Desa. menemukan tiga orang tentara bersalah atas pemerkosaan empat orang perempuan. Dibawah hukum darurat militer teretuduh mendapat hukuman maksimum duabelas tahun.” Laksamana. duabelas tentara dari Jawa Barat base Batalion Siliwangi dibawa ke pengadilan militer. Bagaimanapun. Vol.cfm?ncat=45&news_id=6152 (diakses 4 Desember 2003).128 Pada bulan September. “Tentara Didakwa atas Pelanggaran Hak Asasi. Kepala TNI memberitahu majalah Time. Pengadilan memerintahkan tiga tentara tersebut diberhentikan dan menghukum mereka antara dua setengah sampai tiga setengah tahun penjara. 20 Juli 2003. “12 Prajurit Menghadapi Sidang Karena Menyiksa Orang Sipil di Aceh. meskipun salah seorang terdakwa mengakui pembunuhan tersebut.127 Bulan Juli. Sebagaimana dalam banyak kasus yang dilaporkan dalam laporan ini.net. 19 Juli 2003. 10 http://www. tuntutan yang selektif.

seorang pejabat militer Indonesia tertinggi yang pernah diadili dan dinyatakan bersalah melakukan pelanggaran hak asasi manusia di Indonesia. Salah seorang yang paling terkenal karena nama buruk yang disandangnya adalah Mayor Jendral Adam Rachmat Damiri. Kasus-kasus lainnya telah didokumentasikan oleh Human Rights Watch. beberapa orang yang bertanggungjawab dalam kampanye militer di Aceh telah didakwa atau disangkutkan dalam pelanggaran hak asasi manusia yang serius. 2 Juni 2003. Damiri juga dituduh atas kejahatan terhadap kemanusiaan oleh pengadilan PBB di Timor Timur. pangadilan ad-hoc Jakarta tentang Timor Timur menyatakan Jendral Damiri bersalah atas kejahatan terhadap kemanusiaan dengan atrocities yang dilakukan di Timor Timur tahun 1999. 132 Human Rights Watch. Vol. Damiri dipromosikan sebagai Asisisten Operasi untuk Kepala Staf Umum. “Tidak ada daerah yang melepaskan diri.132 dihukum?” Wawancara dengan Ryamizard Ryacudu. sebagaimana yang sudah didokumentasikan sebelumnya oleh Human Rights Watch. Pada 5 Agustus 2003. Oktober 2003. Diluar tuduhan atas dirinya.” Time Asia.Sebagai tambahan. “Aceh dibawah Darurat Militer: Dapatkah Orang-Orang ini Dipercayai untuk Mengusut Perang ini?” Makalah Ringkas Human Rights. No. dimana dia terlibat dalam mengarahkan operasi militer di propinsi Aceh selama bulan-bulan pertama darurat militer. 15. 10 (C) 50 . Lihat.

badan-badan internasional. 5. Bergerak secepat mungkin untuk mengembalikan pemerintahan Aceh kepada pengawasan sipil yang bertanggungjawab. perkosaan dan kekerasan seksual. Secara penuh menyelidiki pernyataan tanpa bukti (allegations) terhadap pelanggaran hukum kemanusiaan dan hak asasi manusia internasional. penghilangan secara paksa. perampokan dan pemerasan. 15. pasukan bersenjata dan personil polisi yang tersangkut dalam pelanggaran. 3. 7. No. dan memperbolehkan para tahanan untuk memberikan petisi peninjauan kembali terhadap penahanan mereka tanpa 51 Human Rights Watch. 8. 2. daripada mensyaratkan badanbadan tersebut untuk mengirimkan bantuannya melalui badan-badan resmi Indonesia. Menyusul keputusan Indonesia yang disambut baik untuk memperbolehkan ICRC datang ke Aceh. Menghormati kebebasan pers dan memperbolehkan peliputan konflik senjata secara penuh dan independen. Memperbolehkan Komisi Hak Asasi Manusia Nasional untuk menjalankan investigasi yang bebas dari intimidasi atau campur tangan oleh penguasa darurat militer. Vol. Memastikan bahwa semua komandan yang disebarkan di Aceh. Segera menyediakan kepada semua tahanan akses yang teratur kepada anggota keluarga dan pengacaranya. yang menempatkan pelarangan yang tidak perlu terhadap akses untuk PBB. Segera dan tanpa syarat menghapuskan larangan pengumpulan dan pelaporan berita secara langsung dari Aceh oleh media Indonesia dan asing. Semua pejuang seharusnya dilatih dan diberi pelajaran mengenai perlakuan yang sepantasnya terhadap warga sipil dan non-pejuang. penyiksaan dan penganiayaan lainnya. Memberitahukan semua tahanan segera dasar penangkapan dan tuduhan apapun terhadap mereka. pastikan bahwa ICRC mempunyai akses yang bebas dan tanpa kekangan untuk menjalankan pekerjaannya. Menahan semua tahanan hanya di tempat penahanan yang secara resmi dikenali. 9. Organisasi hak asasi manusia dan jurnalis seharusnya mempunyai akses tanpa kekangan ke propinsi tersebut. Mendisiplinkan dan/atau mengusut semua petugas secara semestinya. Segera mencabut Keputusan Presiden No. jurnalis dan orang asing di Aceh.43/2003. 4. 6. 10 (C) . sudah menerima latihan dasar mengenai prinsip-prinsip dasar hukum kemanusiaan. khususnya perlindungan warga sipil dan non-pejuang. Mengambil semua langkah yang diperlukan untuk memastikan bahwa pasukan militer dan polisi Indonesia sepenuhnya bertindak sesuai dengan hukum kemanusiaan dan hak asasi manusia. di semua tingkatan. termasuk eksekusi diluar hukum. termasuk pejuang yang tertangkap. Mengizinkan badan-badan kemanusiaan untuk menyampaikan bantuan secara langsung kepada penduduk yang membutuhkan. lembaga swadaya masyarakat (LSM). Meyakinkan bahwa semua pasukan beroperasi dibawah aturan pertempuran yang konsisten dengan hukum kemanusiaan internasional.Rekomendasi Untuk Pemerintah dan Pasukan Tentara Indonesia 1.

adanya penundaan. paramiliter. Mengakhiri persyaratan kartu identitas khusus untuk penduduk Aceh sepanjang pemerintah tidak dapat memastikan bahwa kartu semacam ini tidak akan terus menghasilkan penyiksaan terhadap penduduk lokal. Memastikan bahwa semua pasukan mentaati hukum kemanusiaan internasional. seperti penyitaan kartu identitas. termasuk penangkapan secara sewenang-wenang. Mengakhiri praktek penggunaan orang sipil di militer. Segera menghapuskan –dari semua peran sehubungan dengan konflik di Aceh – semua personel militer Indonesia yang sudah didakwa atau diindikasikan atas pelanggaran hak asasi manusia atau hukum kemanusiaan atau kepada mereka yang terdapat bukti melakukan penganiyaan semacam itu. Menghormati pelarangan hukum kemanusiaan internasional mengenai pengungsian orang-orang sipil yang menyatakan bahwa pengungsian semacam itu seharusnya hanya terjadi dengan alasan kemanan warga sipil atau adanya tuntututan militer yang alasannya sangat penting sekali. Bertentangan dengan praktek di Indonesia kini. menerima latihan dasar mengenai prinsip-prinsip dasar hukum kemanusiaan. 11. No. Mengundang mekanisme PBB yang berasngkutan untuk mengunjungi Aceh.10. Summary or Arbitrary Execution) dan perwakilan dari Badan Pekerja Penghilangan Secara paksa atau tidak sukarela (Working Group on Enforced or Involuntary Dissapearances). Memelihara kelangsungan pendaftaran yang akurat nama-nama tahanan dan tempat penahanan mereka dan membuat pendaftaran semacam ini siap tersedia untuk keluarga tahanan. Prioritas seharusnya diberikan kepada Pelapor Khusus mengenai Esksekusi diluar hukum. 10 (C) 52 . 14. penasehat hukum dan orang-orang yang secara hukum berkepentingan. pembunuhan kilat atau yang sewenang-wenang dan (Special Rapporteur on Extrajudicial. 13. 15. Mengakui pelaksanaan hak asasi semua orang yang ditahan dan/atau dituduh melakukan kejahatan. Diharapkan menghentikan pengambilan tindakan yang menempatkan orang sipil dalam resiko khusus. 12. Setiap personil yang diindikasikan seharusnya dipindahkan dari tugas aktif mereka sampai penyelesaian proses persidangan mereka. atau keamanan berkaitan dengan fungsi-fungsi. dan alasannya serta lokasi penahanan. pejabat yang dituduh atas tuduhan serius seharusnya mulai untuk menjalankan hukuman mereka dengan segera dan dikenai pemecatan secara administrasi dari pasukan tentara. 2. penganiyaan dan penahanan tanpa surat perintah atas kebebasan bergerak. termasuk praktek tugas wajib jaga malam untuk laki-laki dan anak laki-laki. Untuk Gerakan Aceh Merdeka (GAM) 1. Memberitahukan keluarga tahanan mengenai penahanan mereka. di semua tingkatan. khususnya Human Rights Watch. Membuat figur yang diperbarui secara teratur untuk umum mengenai jumlah orang yang dituduh dan ditangkap dalam kejahatan yang berkenaan dengan keamanan di Aceh. dengan informasi mengenai sifat dasar kejahatan yang mungkin dan tempat penahanan mereka. Vol. 15. Memastikan bahwa semua komandan. Menyatakan kepada umum komitmen GAM untuk mentaati hukum kemanusiaan internasional.

ASEAN seharusnya menekankan perlunya keterlibatan dalam kehadiran monitoring internasional di Aceh. harus menyertakan dialog mengenai pelanggaran hak asasi manusia di Aceh. Mengambil tindakan-tindakan untuk memastikan bahwa mekanisme yang dapat diselenggarakan dilaksanakan untuk memastikan bahwa anggota pasukan secara perseorangan bertanggungjawab terhadap pelanggaran. 3. Uni Eropa. Jepang dan Uni Eropa seharusnya secara bersama menindak lanjuti pernyataan mereka di bulan November 2003 yang mengekspresikan “keprihatinan terhadap perpanjangan keadaan darurat militer di Aceh” dan mendorong Idonesia “untuk menjalankan aktifitasnya dengan kemungkinan pengaruh yang paling minimum terhadap kesejahteraan masyarakat Aceh dan dalam pendekatan yang mengikutsertakan bantuan kemanusian. Jepang. penculikan. 10 (C) . Meneruskan desakan terhadap Indonesia untuk membuka Aceh kepada LSM internasional. 3. termasuk pejuang yang tertangkap. Semua pejuang seharusnya dilatih dan diberi pelajaran mengenai perlakuan yang sepantasnya terhadap warga sipil dan non-pejuang. jurnalis dan badan-badan internasional. Melepaskan semua tawanan yang ditahan dalam pelanggaran hal asasi manusia.perlindungan warga sipil dan non-pejuang. 15. Termasuk mendesak badan-badan kemanusiaan yang tidak berpihak agar mampu menyediakan bantuan kepada penduduk. termasuk dua orang jurnalis yang saat ini dalam penahanan GAM. Untuk “Kuartet” (Amerika Serikat. 2. dan pemindahan secara paksa. Untuk Pemerintah Malaysia 1. Untuk ASEAN 1. ASEAN dan anggota-anggotanya seharusnya menggunakan kewenangan regional mereka dan meminta Indonesia untuk menghargai kewajiban internasionalnya dalam konflik di Aceh. Amerika Serikat. Mengajukan kondisi di Aceh dalam semua pertemuan dengan penguasa Indonesia dan tetap menuntut dibukanya akses diplomatik yang teratur ke Aceh. sebagaimana yang berkenaan dengan korupsi dan reformasi yang tercatat dalam Strategi Bantuan Negara untuk Indonesia (Country Assistance Strategy for Indonesia) yang dikeluarkan tanggal 3 Desember. Vol.” Secara bersama dan indvidual ketiganya harus menekan pemerintah Indonesia untuk mentaati hukum kemanusiaan dan hak asasi manusia di Aceh. Tidak ada orang Aceh yang seharusnya dikembalikan secara paksa ke Indonesia selama keamanan mereka beresiko di Aceh. seperti yang dipinjamkan Bank Dunia. Bank Dunia) 1. terutama kepada orang-orang yang terlantar karena konflik. 53 Human Rights Watch. termasuk eksekusi kilat. perbaikan lembaga-lembaga sipil dan menegakkan hukum. Orang-orang Aceh di Malaysia seharusnya diberikan perlindungan dan bantuan sepenuhnya. No. Semua keputusan bantuan. Sehubungan dengan partisipasi Thailand dan Philipina dalam memonitor COHA. penyiksaan.

negara-negara penyuplai senjata seharusnya mempertimbangkan penundaan transfer senjata kepada Indonesia. mempunyai tanggungjawab khusus untuk memastikan bahwa bantuan tersebut tidak digunakan untuk menyumbang pelanggaran hak asasi manusia. dan jika perlu menyediakan bentuk lain akses untuk memfasilitasi monitoring yang efektif dan berguna sampai akhir. perlengkapan lainnya. Apapun ketentuan Amerika Serikat atas latihan atau bantuan militer kepada pasukan bersenjata Indonesia harus disyaratkan terhadap perkembangan yang jelas dalam mengadili militer dan polisi yang bertanggungjawab dalam pelanggaran hak asasi manusia. Vol. dan harus tidak ditujukan kepada cabang dan unit yang diketahui sebagai pelanggar hak asasi manusia. 3. dan latihan. termasuk senjata. Inggris. seperti Amerika Serikat. 15. Indonesia mempunyai tugas wajib untuk menjaga dan menawarkan pemeriksaan terhadap dokumen-dokumen yang dibutuhkan untuk menunjukan bagaimana negara ini sudah menggunakan perlengkapan yang disuplai asing. Negaranegara yang sudah menyediakan bantuan Militer kepada Indonesia terebut. Sehubungan dengan perhatian terhadap pelangggaran serius dalam kampanye Indonesia di Aceh. 10 (C) 54 . 4. Human Rights Watch. No. Latihan teroris harus secara hati-hati dirancang untuk tidak mengurangi keefektifan pelarangan yang sudah ada. yang menyediakan bantuan atau latihan militer kepada Indonesia 1.Untuk Negara-Negara. sesuai dengan standar-standar hukum hak asasi manusia dan kemanusiaan internasional. 2. Menempatkan tindakan yang efektif untuk memonitor dan memastikan pertanggungjawaban dalam penyalahgunaan senjata atau bantuan lainnya. Menjatuhkan persyaratan yang ketat terhadap penggunaan senjata atau bantuan militer lainnya. dan Australia. seperti Kopassus atau Brimob.

No. 1. 10 (C) . Memberangus Kurir. 2. 15. Vol. Oktober 2003 4. Aceh Under Martial Law: Muzzling the Messengers: Attacks and Restrictions on the Media (Aceh dibawah Darurat Militer. Aceh Under Martial Law: Unnecessary and Dangerous Restrictions on International Humanitarian Access (Aceh dibawah Darurat Militer: Pelarangan yang Tidak Perlu dan Berbahaya terhadap Akses Kemanusiaan Internasional) Makalah Ringkas Human Rights Watch. September 2003 3. Serangan dan Pelarangan terhadap Media) Sebuah Laporan Human Rights Watch.Lampiran Untuk informasi terkini lebih lanjut mengenai perang di Aceh silahkan lihat rangkaian laporan dan makalah ringkas Human Rights Watch berikut ini. Aceh Under Martial Law: Can These Men Be Trusted to Prosecute This War? (Aceh dibawah Darurat Militer: Dapatkan Orang-Orang ini dipercayai untuk Mengadili Perang ini?) Makalah Ringkas Human Rights Watch. Aceh Under Martial Law: Human Rights Under Fire (Aceh dibawah Darurat Militer: Hak Asasi Manusia diserang) Sebuah Makalah Ringkas Human Rights Watch Juni 2003. Nopember 2003 55 Human Rights Watch.

associate director. Vol. United Nations representative. send a blank e-mail message to hrw-news-asia-subscribe@topica. The staff includes Kenneth Roth. Web Site Address: http://www. Allison Adoradio. Meg Davis. operations director. to uphold political freedom and to protect people from inhumane conduct in wartime. Its Asia division was established in 1985 to monitor and promote the observance of internationally recognized human rights in Asia. Thomas Kellogg is Orville Schell Fellow. Human Rights Watch.email-publisher. Charmain Mohamed. finance director. Maria Pignataro Nielsen. development director. to prevent discrimination.hrw. Iain Levine. Jonathan Fanton is the chair of the board. Michele Alexander. and Ami Evangelista is associate. Steve Crawshaw. Wilder Tayler. program director. Saman Zia-Zarifi is deputy director. Meenakshi Ganguly. Liz Weiss is coordinator. executive director. Lotte Leicht. We stand with victims and activists to bring offenders to justice. legal and policy director. John Sifton. Sara Colm and Mickey Spiegel are senior researchers. London office director. Bernstein is the founding chair. Rory Mungoven. and Joanna Weschler. Robert L. and Tej Thapa are researchers. 10 (C) 56 . Joanne Leedom-Ackerman is Chairperson of the advisory committee.com. Brussels office director. Carroll Bogert.Human Rights Watch Asia Division Human Rights Watch is dedicated to protecting the human rights of people around the world. We investigate and expose human rights violations and hold abusers accountable. 15. Ali Hasan. Brad Adams is executive director.org Listserv address: To subscribe to the list. Barbara Guglielmo. We enlist the public and the international community to support the cause of human rights for all. human resources director. We challenge governments and those holding power to end abusive practices and respect international human rights law. No. advocacy director.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful