Anda di halaman 1dari 16

DAMPAK POLUSI ASAP KENDARAAN BERMOTOR

December 30th, 2009 Related Filed Under DAMPAK POLUSI ASAP KENDARAAN BERMOTOR NAMA : Aqsa nuddin Npm / Kelas : 38409509 Email : aqsa_nuddin_03@yahoo.com PENDAHULUAN Kecerahan langit dari hari ke hari kian memudar. Terlihat langit biru yang kita idamkan sepertinya telah jauh dari harapan. Udara yang kita hirup semakin tercemar oleh berbagai polutan. Di kota lebih banyak tercemar dibandingkan di daerah pedesaan, karena di kota banyak terdapat industri yang telah dibangun dan banyaknya jumlah kendaraan yang telah meningkat pesat, tetapi juga banyak kendaraan yang tidak dirawat dengan baik, disamping kualitas bahan bakar yang masih mengandung timbel ( Pb ), sehingga menghasilkan emisi yang dapat mengganggu kesehatan. Contohnya kota-kota di Indonesia, khususnya di kota-kota besarnya seperti, Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, dan lain-lain. Kendaraan bermotor ,mempunyai andil yang sangat besar dalam memberikan kontribusi pada polusi udara. Kontribusi gas buang kendaraan bermotor sebagai sumber polusi udara mencapai 60-70%, bandingkan dengan industri yang hanya berkisar antara 10-15%. Sedangkan sisanya berasal dari rumah tangga, pembakaran sampah, kebakaran hutan/ladang dan lain-lain. Dari jumlah total tiap zat pencemaran utama yang dikeluarkan setiap tahun,karbon monoksida ( CO )merupakan zat pencemar terbanyak dan kendaraan bermotor adalah sumber utamanya. Namun perlu diingat kita tidak boleh memandang jenis zat tercemar atau sumbernya semata-mata berdasarkan jumlah total emisi tiap tahun. Kita juga harus mempertimbangkan sejauh mana tingkat bahaya setiap jenis zat pencemar, terutama terhadap kesehatan manusia. PEMBAHASAN Polusi udara adalah udara yang mengandung satu atau lebih zat kimia dalam konsentrasi yang cukup tinggi yang dapat gangguan pada manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan dan harta benda. Polusi udara berpotensi mempengaruhi kesehatan masyarakat, antara lain menimbulkan berbagai penyakit. Penyakit yang ditimbulkan tergantung pada bahan pencemaran udara tersebut. Polusi udara dapat menimbulkan gangguan kesehatan pada manusia melalui berbagai cara, antara lain dengan merangsang timbulnya atau sebagai faktor pencetus sejumlah penyakit. Kelompok yang terkena terutama bayi, orang tua dan golongan berpenghasilan rendah biasanya tinggal di kota-kota besar dengan kondisi perumahan dan lingkungan yang buruk. Terdapat korelasi yang kuat antara pencemaran udara dengan penyakit bronchitis kronik ( menahun ). Walaupun merokok hampir menjadi urutan tertinggi sebagai penyebab dari penyakit pernapasan menahun, sulfur oksida, asam sulfur, pertikulat dan nitrogen dioksida telah menunjukkan sebagai penyebab dan pencetus ashma brochiale, bronchitis menahun dan emphysema paru. Hubungan yang sebenarnya antara pencemaran udara dan kesehatan atau pun timbulnya

penyakit yang disebabkan masih merupakan problema yang sangat komplek. Banyak faktorfaktor lain yang ikut menentukan hubungan sebab akibat ini. Namun dari statistik dan epidemiologik hubungan ini dapat dilihat dengan nyata. Pada umumnya data morbiditas dapat dianggap lebih penting dan berguna daripada data mengenai mortalitas.apalagi penemuan-penemuan kelainan fisikologik pada kehidupan manusia yang terjadi lebih dini sebelum tanda-tanda penyakit dapat dilihat atau pun dirasakan, sebagai akibat dari pencemaran udara, jelas lebih penting lagi artinya. Tindakan pencegahan mestinya telah perlu dilaksanakan pada tingkat yang sedini mungkin. Seperti yang kita ketahui di PBB mempunyai badan yang bergerak di bidang kesehatan yaitu WHO Inter Regional Symposium on Criteria for Air Quality and Method of Measurement telah menetapkan beberapa tingkat konsentrasi polusi udara dalam hubungan dengan akibatnya terdapatnya terhadap kesalahan maupun lingkungan sebagai berikut : Tingkat I : Konsentrasi dan waktu expose yang tidak ditemui akibat apa-apa, baik secara langsung maupun tidak langsung. Tingkat II : Kosentrasi yang mungkin dapat ditemui iritasi pada pencaidera, akibat berbahaya pada tumbuh-tumbuhan,pembahasan penglihatan atau akibat-akibat lain yang merugikan pada lingkungan ( adversi level ). Tingkat III : Konsenterasi yang mungkin menimbulkan hambatan pada fungsi-fungsi faali yang fital serta perubahan yang mungkin dapat menimbulkan penyakit menahun atau pemendekan umur ( serious level ). Tingkat IV : konsentrasi yang mungkin menimbulkan penyakit akut atau kematian pada golongan populasi yang peka ( emergency level ). Penyelidikan-penyelidikan ini harus dilakukan secara prospektif dan komparatif antara daerah-daerah dengan pencemaran udara hebat dan ringan,dengan juga memperhitungkan faktor-faktor lain yang mungkin berpengaruh, misalnya kualitas udara, kebiasaan makan, merokok, data meteorologi dan sebagainya, yang sering disebut sebagai faktor yang menunjang ( predisposing faktor ). Meskipun bukan penyebab predisposing faktor tersebut memegang peranan penting dalma menimbulkan penyakit pada manusia. Khusus polusi udara yang berasal dari kendaraan bermotor dengan bahan bakar yang tak ramah lingkungan, terutama karena masih mengandung sejumlah Pb, dikhawatirkan akan menurunkan kualitas sumber daya manusia, karena akan menurunkan tingkat kecerdasan anak-anak. Celakanya timbel (Pb) tidak hanya terserap lewat saluran pernapasan, kini banyak tanaman yang mengandung residu Pb akibat polusi udara oleh bahan kimia ini. Penyakit-penyakit yang disebabkan oleh polusi udara : 1. Bronchitis kronika. Pengaruh pada wanita maupun pria kurang lebih sama. Hal ini membuktikan prevalensinya tak dipengaruhi oleh macam pekerjaan sehari-hari. Dengan membersihkan udara dapat terjadi penurunan 40% dari angka mortalitas. 2. Emphysema pulmonum. 3. Bronchopneumonia. 4. Asthma bronchiale. 5. Cor pulmonale kronikum. di daerah industri, Czechoslovakia umpamanya, dapat ditemukan prevalensi tinggi penyakit ini. Demikian juga di India bagian utara, penduduk tinggal di rumah-rumah tanah liat tanpa jendela dan menggunakan kayu api untuk pemanas rumah. 6. Kanker paru. Stocks & Campbell menemukan mortalitas pada non-smokers di daerah kota 10 kali lebih besar daripada daerah rural. 7. Penyakit jantung, juga ditemukan dua kali lebih besar morbiditasnya di daerah dengan polusi udara tinggi. Karbon-monoksida ternyata dapat menyebabkan bahaya pada jantung, apalagi bila telah ada tanda-tanda penyakit jantung ischemik sebelumnya. Afinitas CO terhadap hemoglobin adalah 210 kali lebih besar daripada O2 sehingga bila kadar CO Hb

sama atau lebih besar dari 50%, akan dapat terjadi nekrosis otot jantung. Kadar lebih rendah dari itu pun telah dapat mengganggu faal jantung. 8. Kanker lambung, ditemukan dua kali lebih banyak pada daerah dengan polusi tinggi. 9. Penyakit-penyakit lain, umpamanya iritasi mata, kulit dan sebagainya banyak juga dihubungkan dengan polusi udara. Juga gangguan pertumbuhan anak dan kelainan hematologik pernah diumumkan. Di Rusia pernah ditemukan hambatan pembentukan antibodi terhadap influenza vaccin di daerah kota dengan tingkat polusi tinggi, sedangkan di daerah lain pembentukannya normal. Beberapa cara menghitung/memeriksa pengaruh pencemaran udara terhadap kesehatan adalah antara lain dengan mencatat: jumlah absensi pekerjaan/dinas, jumlah sertifikat/surat keterangan dokter, jumlah perawatan dalam rumah sakit, jumlah morbiditas pada anak-anak, jumlah morbiditas pada orang-orang usia lanjut, jumlah morbiditas para pekerja yang berisiko mendapat pencemaran udara, penyelidikan pada penderita dengan penyakit tertentu misalnya penyakit jantung, paru dan sebagainya. Penyelidikan-penyelidikan ini harus dilakukan secara prospektif dan komparatif antara daerah-daerah dengan pencemaran udara hebat dan ringan, dengan juga memperhitungkan faktor-faktor lain yang mungkin berpengaruh, misalnya kualitas udara, kebiasaan makan, merokok, data meteorologik dan sebagainya, yang sering disebut sebagai faktor yang menunjang (predisposing factor). Meskipun bukan penyebab, predisposing factor tersebut memegang peranan penting dalam menimbulkan penyakit pada manusia. Khusus polusi udara yang berasal dari kendaraan bermotor dengan bahan bakar yang tak ramah lingkungan, terutama karena masih mengandung sejumlah Pb, dikhawatirkan akan menurunkan kualitas sumberdaya manusia, karena akan menurunkan tingkat kecerdasan anak-anak. Celakanya, timbel tidak hanya terserap lewat saluran pernapasan. Kini banyak tanaman yang mengandung residu Pb, akibat polusi udara oleh bahan kimia ini. ANALISA Apabila memungkinkan, diperlukan peraturan perundangan yang berlaku, dapat pula dibuat peraturan yang khusus untuk mengelola sumber-sumber pengotor udara. Peraturan seperti ini dikenal sebagai standar emisi, khususnya emisi kendaraan bermotor. Di samping itu ada pula standar yang diberlakukan bagi kualitas bahan bakar, karena sebagian besar polusi udara disebabkan oleh pembakaran. Kualitas hasil atau sisa pembakaran tergantung antara lain dari kualitas bahan bakar yang digunakan. penggunaan bahan bakar yang berasal dari gas alam yang sangat ramah lingkungan. Namun, kualitas pembakaran oleh kendaraan bermotor tidak kalah pentingnya. Karena itu, perawatan kendaraan dan jika perlu pembatasan usia kendaraan mutlak dilakukan. Hal ini memungkinkan dilakukan jika secara berkala dilakukan uji emisi kendaraan. Kendaraan bermotor yang beroperasi di kota harus telah lulus uji emisi. KESIMPULAN Mengingat kendaraan bermotor mempunyai andil terbesar dalam polusi udara, maka pengendalian polusi udara juga berarti pengendalian emisi kendaraan bermotor. DAFTAR PUSTAKA KORAN SUARA RAKYAT MERDEKA
http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2009/12/dampak-polusi-asap-kendaraanbermotor/

aiRa-fluff: Polusi Udara dan Implikasinya terhadap Kesehatan Menurut World Bank, 70 persen sumber pencemar berasal dari emisi gas buang kendaraan bermotor. Dengan pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor yang tinggi menyebabkan pencemaran udara di Indonesia menjadi sangat serius. Saat ini terdapat lebih dari 20 juta unit kendaraan bermotor di Indonesia. Dari jumlah tersebut, sekitar 4 juta unit diantaranya berseliweran di jalanan Jakarta. Kajian JICA (Japan International Cooperation Agency) tahun 1996 menyebutkan bahwa penyumbang zat-zat pencemar terbesar di Jakarta adalah kendaraan pribadi. Zat-zat pencemar tersebut diantaranya karbon monoksida (CO) sebesar 58 persen, nitrogen oksida (Nox) 54 persen, hidrokarbon 88,8 persen, dan timbel (Pb) 90 persen. Zat pencemar lain adalah sulfur oksida (Sox) yang banyak disumbangkan oleh kendaraan bus, truk, dan kendaraan berbahan bakar solar lainnya, sekitar 35 persen. Sekjen Sustran Network for Asia and the Pacific (Jaringan Kegiatan Transportasi Berkelanjutan untuk Asia dan Pasifik) Bambang Susantono mengatakan gaya hidup masyarakat perkotaan dan perilaku ugal-ugalan dalam berkendaraan ikut mempengaruhi tingginya tingkat pencemaran udara di Jakarta. Gaya hidup boros itu terlihat dari kebiasaan menggunakan satu mobil untuk tiap anggota keluarga. Hal itu menyebabkan pemborosan pemakaian BBM, dan akhirnya berdampak pada pencemaran udara. Kondisi demikian diperparah tidak seimbangnya antara pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor dengan pertambahan jalan raya. Pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor di kotakota besar Indonesia berkisar antara 8-12 persen per tahun, sedang pertambahan jalan raya hanya 3-5 persen saja. Keadaan ini mengakibatkan kemacetan di jalan-jalan yang akhirnya polusi udara juga meningkat, apalagi emisi gas buang kendaraan bermotor yang langsam dan merayap (macet) berbeda 12 kalinya dibanding saat kendaraan berjalan normal atau lancar. Dampak terhadap kesehatan Berbagai zat pencemar yang beterbangan di udara tersebut akan sangat merugikan dan berdampak negatif bagi kesehatan manusia dan lingkungannya. Akibat ini secara nyata sudah dirasakan oleh masyarakat, sebagai contoh, efek toksik pada timbel dapat mengganggu fungsi ginjal, saluran pencernakan, dan sistem saraf. Kandungan timbel juga menurunkan tingkat kecerdasan atau IQ terutama pada anak-anak, menurunkan fertilitas dan kualitas spermatozoa. Gangguan kesehatan akibat zat-zat pencemar seperti gangguan pada syaraf dan ketidak-nyamanan kini menghantui masyarakat kita, apalagi WHO memperkirakan 800.000 kematian pertahun di dunia diakibatkan polusi udara. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Mabes Polri dan FKUI pada tahun 1995 juga mengungkapkan besarnya pengaruh timbel (Pb) dari emisi kendaraan bermotor terhadap kualitas air mani polisi lalu lintas di Jakarta. Penelitian itu melibatkan 232 orang polisi lalu lintas yang bekerja di tepi jalan raya dibandingkan dengan 58 orang polisi lalu lintas yang bekerja di kantor. Hasil pengukuran timbel urine secara keseluruhan 266,5 ug Pb/I urine, juga lebih tinggi dari

yang diperbolehkan, yakni 65 ug Pb/I urine. Temuan kualitas air mani pada penelitian itu, jika dibandingkan standar baku WHO (standar normal), derajat keasaman (pH) semen (air mani) mempunyai nilai lebih besar dari standar normal (8,4 vs 7,2-7,8). Penelitian yang dilakukan pada tahun 1998 di Surabaya oleh UI dan GTZ juga tidak kalah mengkhawatirkan bahkan lebih mencengangkan. Dari penelitian yang melibatkan 94 ibu hamil itu, diketahui kadar timbel dalam darah sebesar 42 Ug/dL yang jauh melebihi ambang batas yaitu 20 Ug/dL. Demikian juga analisis yang dilakukan terhadap air susu mereka, diperoleh hasil kadar timbel sebesar 54 Ug/dL, atau lebih dari 10 kali lipat ambang batas yang diizinkan, yakni 0,5 Ug/Dl. Sementara itu, penelitian yang dilakukan oleh Universitas Brigham Young dan Universitas New York seperti dimuat pada jurnal The American Medical Association, dengan melibatkan data kesehatan 500.000 penduduk urban sejak tahun 1982-1998, mengungkapkan bahwa mereka yang terpapar polusi udara jangka panjang - terutama jelaga yang dikeluarkan oleh industri dan knalpot kendaraan - meningkatkan risiko terkena kanker paru. Paparan polusi udara ini sama bahayanya dengan hidup bersama seorang perokok dan terkena asapnya setiap hari. Dari penelitian tersebut ditemukan bahwa kanker paru merupakan penyebab kematian tertinggi. Hampir 90% pengidap kanker paru tidak bisa diselamatkan, karena jika sudah akut, dengan mudah kanker akan menyebar ke jaringan tubuh sekelilingnya seperti hati, tulang belakang, dan otak melalui pembuluh darah. Kanker paru telah membunuh lebih dari sejuta orang setiap tahunnya, dan saat ini menjadi pembunuh utama. Anak-anak merupakan kelompok sensitif terhadap timbel karena mereka lebih peka dan lima kali lebih mudah menyerap timbel daripada orang dewasa. Menurut Dirjen Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan, Prof. Dr. Umar Fahmi Achmadi, dalam sebuah seminar tentang Mewaspadai Efek Kesehatan BBM dari Bensin Bertimbel bulan Februari yang lalu, sekitar 42 sampai 48 persen anak di Jakarta menghirup timbel yang bersumber dari asap pencemaran udara. Timbel padahal bersifat persistent dalam tubuh manusia, dan memiliki sifat neurotoksik dan karsinogenik sehingga bisa mengganggu sistem saraf pusat, sistem fungsi ginjal, dan pertumbuhan tulang. Timbel sebagai bahan yang tidak dapat terurai di alam tidak akan hilang, dan akan terakumulasi di tempat-tempat deposit. Secara biologis, zat itu tidak memberi keuntungan bagi tubuh manusia, terutama kelompok penduduk di atas. Lebih jauh, kelompok yang menghirup pencemar udara yang mengandung bahan logam atau timbel akan menimbulkan penyakit perut, muntah, atau diare akut. Gejala keracuan akut kronis bisa menyebabkan hilangnya nafsu makan, konstipasi, lelah, sakit kepala, anemia, kelumpuhan anggota badan, kejang, dan gangguan penglihatan. aiRa-fluff: Dampak Polusi Asap Kendaraan bagi Kesehatan Di Indonesia, khususnya di kota-kota besar, lalu lintas dalam hal ini kendaraan bermotor, mempunyai andil yang sangat besar dalam memberikan kontribusi pada polusi udara. Konstribusi gas buang kendaraan bermotor sebagai sumber polusi udara mencapai 60-70%, bandingkan dengan industri yang hanya berkisar antara 10-15%. Sedangkan sisanya berasal dari rumah tangga, pembakaran sampah, kebakaran hutan/ladang dan lain-lain.

Asap Kendaraan Bermotor mengganggu Kesehatan Polusi udara dapat menimbulkan gangguan kesehatan pada manusia melalui berbagai cara, antara lain dengan merangsang timbulnya atau sebagai faktor pencetus sejumlah penyakit. Kelompok yang terkena terutama bayi, orang tua dan golongan berpenghasilan rendah biasanya tinggal di kota-kota besar dengan kondisi perumahan dan lingkungan yang buruk. Terdapat korelasi yang kuat antara pencemaran udara dengan penyakit bronchitis kronik (menahun). Walaupun merokok hampir selalu menjadi urutan tertinggi sebagai penyebab dari penyakit pernafasan menahun, sulfur oksida, asam sulfur, pertikulat dan nitrogen dioksida telah menunjukkan sebagai penyebab dan pencetus asthma brochiale, bronchitis menahun dan emphysema paru Hasil-hasil penelitian di Amerika Serikat sekitar tahun 70-an menunjukkan bronchitis kronik menyerang 1 di antara 5 orang laki-laki Amerika umur antara 40-60 tahun dan keadaan ini berhubungan dengan merokok dan tinggal di daerah perkotaan yang udaranya tercemar. Khusus polusi udara yang berasal dari kendaraan bermotor dengan bahan bakar yang tak ramah lingkungan, terutama karena masih mengandung sejumlah Pb, dikhawatirkan akan menurunkan kualitas sumberdaya manusia, karena akan menurunkan tingkat kecerdasan anak-anak. Celakanya, timbel tidak hanya terserap lewat saluran pernapasan. Kini banyak tanaman yang mengandung residu Pb, akibat polusi udara oleh bahan kimia ini. -WHO Inter Regional Symposium on Criteria for Air Quality and Method of Measurement telah menentapkan beberapa tingkat konsentrasi polusi udara dalam hubungan dengan akibatnya terhadap kesehatan maupun lingkungan sebagai berikut: Tingkat I: Konsetrasi dan waktu expose yang tidak ditemui akibat apa-apa, baik secara langsung maupun tidak langsung. Tingkat II: Konsentrasi yang mungkin dapat ditemui iritasi pada pencaindera, akibat berbahaya pada tumbuh-tumbuhan, pembatasan penglihatan atau akibat-akibat lain yang merugikan pada lingkungan (adverse level). Tingkat III: Konsentari yang mungkin menimbulkan hambatan pada fungsi-fungsi faali yang fital serta perubahan yang mungkin dapat menimbulkan penyakit menahun atau pemendekan umur (serious level). Tingkat IV: Konsentrasi yang mungkin menimbulkan penyakit akut atau kematian pada golongan populasi yang peka (emergency level).

Penyakit Penyakit-penyakit yang dapat disebabkan oleh polusi udara adalah:

1. Bronchitis kronika. Pengaruh pada wanita maupun pria kurang lebih sama. Hal ini membuktikan prevalensinya tak dipengaruhi oleh macam pekerjaan sehari-hari. Dengan membersihkan udara dapat terjadi penurunan 40% dari angka mortalitas. 2. Emphysema pulmonum. 3. Bronchopneumonia. 4. Asthma bronchiale. 5. Cor pulmonale kronikum. Di daerah industri, Czechoslovakia umpamanya, dapat ditemukan prevalensi tinggi penyakit ini. Demikian juga di India bagian utara, penduduk tinggal di rumah-rumah tanah liat tanpa jendela dan menggunakan kayu api untuk pemanas rumah. 6. Kanker paru. Stocks & Campbell menemukan mortalitas pada non-smokers di daerah kota 10 kali lebih besar daripada daerah rural. 7. Penyakit jantung, juga ditemukan dua kali lebih besar morbiditasnya di daerah dengan polusi udara tinggi. Karbon-monoksida ternyata dapat menyebabkan bahaya pada jantung, apalagi bila telah ada tanda-tanda penyakit jantung ischemik sebelumnya. Afinitas CO terhadap hemoglobin adalah 210 kali lebih besar daripada O2 sehingga bila kadar CO Hb sama atau lebih besar dari 50%, akan dapat terjadi nekrosis otot jantung. Kadar lebih rendah dari itu pun telah dapat mengganggu faal jantung. 8. Kanker lambung, ditemukan dua kali lebih banyak pada daerah dengan polusi tinggi. 9. Penyakit-penyakit lain, umpamanya iritasi mata, kulit dan sebagainya banyak juga dihubungkan dengan polusi udara. Juga gangguan pertumbuhan anak dan kelainan hematologik pernah diumumkan. Di Rusia pernah ditemukan hambatan pembentukan antibodi terhadap influenza vaccin di daerah kota dengan tingkat polusi tinggi, sedangkan di daerah lain pembentukannya normal. aiRa-fluff: Polusi Mengubah Fungsi Otak Para peneliti mengamati reaksi otak dari 10 relawan yang dibiarkan terpapar asap kendaraan selama satu jam. Satu lagi penelitian yang kian menguatkan dampak negatif dari polusi udara akibat asap kendaraan bermotor. Para pakar kesehatan di Belanda menyatakan bahwa asap kendaraan bermotor bisa mengubah fungsi otak bagi siapa pun yang terpapar asap beracun tersebut. ''Jika terpapar asap kendaraan selama satu jam, maka seseorang tak hanya akan menderita sakit kepala. Namun, hal tersebut bisa mengubah fungsi otak,'' ungkap Paul Borm dari Zuyd University yang memimpin penelitian tersebut. Sesungguhnya, telah banyak penelitian yang mengungkap bagaimana nanopartikel yang dikeluarkan dari emisi kendaraan bermotor masuk ke jaringan otak. Namun, penelitian ini adalah yang pertama kali mengungkapkan bagaimana proses itu terjadi.

Hal penelitian yang ditulis di jurnal Particle and Fibre Toxology ini mengungkapkan bahwa para peneliti meminta 10 relawan untuk menghabiskan waktu selama satu jam di dalam dua jenis ruangan. Ruangan pertama yaitu ruang yang udaranya bersih dan ruang kedua dipenuhi asap dari mesin diesel. Para peneliti juga memasang alat electroencephalograph (EEG), yang akan mendeteksi sinyal elektrik pada otak 10 relawan tersebut. Mereka terus dimonitor selama terpapar asap kendaraan hingga satu jam setelah mereka meninggalkan ruangan tadi. Ternyata, tak perlu menunggu satu jam untuk melihat reaksi dari paparan asap kendaraan tadi. Setelah 30 menit berjalan, terjadi respons stres pada otak yang terpantau oleh EEG. Ini menunjukkan adanya indikasi perubahan dari proses sistem informasi pada bagian otak yang disebut korteks. Yang mengkhawatirkan, efek tersebut ternyata terus berlanjut hingga mereka meninggalkan ruangan yang dipenuhi asap tersebut. ''Kami hanya dapat berspekulasi bahwa dampak ini mungkin menjadi serius pada kota-kota sibuk dengan tingkat polusi udara yang tinggi. Bisa jadi, di kota-kota tersebut terdapat partikel-partikel dari asap kendaraan sangat tinggi,'' ungkap Borm. Meski demikian, lanjut Borm, perlu diketahui bagaimana pengaruh jangka panjang dari paparan asap kendaraan bermotor tadi terhadap fungsi normal otak. ''Karena itu, sangat penting dilakukan penelitian lebih lanjut,'' katanya, seperti ditulis oleh BBC. Meski secara jelas penelitian ini memperlihatkan pengaruh pada fungsi otak, namun menurut Ken Donaldson, guru besar bidang toksologi respirasi dari University of Edinburgh menyatakan, temuan itu tidak terlalu mengejutkan. ''Namun, perlu dilakukan investigasi lebih mendalam mengenai perubahan fisiologi tersebut dalam jangka panjang. Meski demikian, penelitian ini sangat menarik dan sangat penting,'' ungkap Donaldson. Menurutnya, kontrol mengenai penelitian dampak dari polusi udara terhadap otak secara etika kerap memunculkan masalah. Penelitian pada populasi di area yang terpapar polusi udara dalam jangka panjang, ungkapnya, sulit dilakukan. Apalagi, jika itu dikaitkan dengan penyakit-penyakit pada otak yang kemudian menyebabkan kematian. Namun, ungkap Donaldson, bisa jadi polusi udara memang berkaitan dengan infeksi pada otak yang bisa berakibat fatal. Sebuah penelitian pada dog yang hidup di kawasan tinggi polusi di Meksiko memperlihatkan bahwa terjadi kerusakan otak pada hewan tersebut yang menyerupai penyakit alzheimer. Sementara, dog yang hidup di kawasan pedesaan yang polusinya lebih rendah ternyata memiliki kerusakan otak yang lebih kecil. Kematian dini Polusi udara nyatanya memang bukan perkara sepeleh. Beberapa waktu lalu, sebuah penelitian oleh Komisi Eropa juga menyimpulkan dampak negatif dari polusi udara. Mereka menyebutkan bahwa polusi udara bertanggung jawab terhadap 310 ribu kematian dini di Eropa setiap tahunnya. Penelitian ini mengungkapkan bahwa partikel supermini yang disebut partikulat dari polusi udara bisa masuk ke jaringan respirasi, dan bahkan secara langsung bisa masuk ke pembuluh darah. Partikulat ini umumnya berasal dari asap kendaraan bermotor, industri, dan polusi domestik. Dalam penelitian ini dijabarkan kesempatan hidup di sejumlah negara di Eropa berkurang akibat polusi udara. Di Belgia, rata-rata kesempatan hidup penduduknya diduga berkurang 13,6 bulan dan di Belanda 12,7 bulan. Sementara, Finlandia berkurang 3,1 bulan dan Irlandia

3,9 bulan. Polusi udara juga diduga bisa memicu kanker pada anak. Anak-anak yang terpapar polusi udara memiliki meninggal karena kanker sebelum usia 16 tahun. Penelitian yang dilakukan profesor George Knox dari University of Birmingham, memetakan emisi kimia di Inggris pada tahun 2001. Dia juga mendata secara detail anak-anak yang meninggal dunia di bawah usia 16 tahun yang meninggal karena leukemia dan kanker jenis lainnya antara tahun 1966 hingga 1980. Dia menyimpulkan bahwa anak-anak yang lahir dalam radius 1 kilometer dari partikulat akibat polusi berisiko dua hingga empat kali lipat lebih tinggi terkena kanker sebelum usia 16 tahun. Menurutnya, polusi bahkan bisa mempengaruhi janin yang masih berada di dalam kandungan ibunya. Racun-racun berbahaya dari polusi bisa masuk ke rahim melalui plasenta aiRa-fluff: ^ ^ dog = hewan an jing ~__~" kaget pas di post disensor berikut gambaran2 apa yang terjadi pada paru-paru begitu terkena penyakit dibawah ini (dimana penyakit ini dapat disebabkan asap kendaraan bermotor): emphysema paru: http://i343.photobucket.com/albums/o469/airafluff/emphysemaparu.jpg bronchopneumonia: http://i343.photobucket.com/albums/o469/airafluff/bronchopneumonia2.jpg ---------smoga info diatas dapat berguna ^^ ;)6 Joya: Bajaj, bus patas, metromini parah banget tuh asepnya diilangin aja kenapa sih... gw tau emang gk gampang, cuma masa gk di apa2in?
http://www.ligagame.com/forum/index.php/topic,69747.0/wap2.html

Dampak Polusi Asap Kendaraan bagi Kesehatan


LANGIT biru yang kita idamkan agaknya kian jauh dari kenyataan. Udara kita telah tercemar oleh berbagai polutan udara kota, baik dari kegiatan industri maupun terutama lalu lintas atau transportasi darat. Bukan hanya jumlah kendaraan bermotor yang kian meningkat pesat, tetapi juga banyak kendaraan yang tidak dirawat dengan baik, disamping kualitas bahan bakar yang masih mengandung timbel (Pb), sehingga menghasilkan emisi yang dapat mengganggu kesehatan. Polusi udara umumnya diberi batasan sebagai udara yang mengandung satu atau lebih zat kimia dalam konsentrasi yang cukup tinggi untuk dapat menyebabkan gangguan pada manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan dan harta benda. Kanada memberikan batasan serupa, yaitu semua macam kontaminasi undara dalam kualitas yang dapat menyebabkan gangguan pada manusia atau membahayakan kesehatan serta keselamatannya, merusak milik serta mengganggu kehidupan tanaman dan hewan. Bahkan di Prancis, polusi udara dinyatakan sebagai pengotoran udara yang dapat membahayakan kesehatan dan keamanan umum, pertanian serta preservasi monumen-monumen umum atau keindahan alam. Di samping berpengaruh terhadap kenyamanan hidup, polusi udara berpotensi mempengaruhi kesehatan masyarakat, antara lain menimbulkan berbagai penyakit. Penyakit yang ditimbulkan tergantung pada bahan pencemar udara tersebut. Emisi Kendaraan Di Indonesia, khususnya di kota-kota besar, lalu lintas dalam hal ini kendaraan bermotor, mempunyai andil yang sangat besar dalam memberikan kontribusi pada polusi udara. Konstribusi gas buang kendaraan bermotor sebagai sumber polusi udara mencapai 60-70%, bandingkan dengan industri yang hanya berkisar antara 10-15%. Sedangkan sisanya berasal dari rumah tangga, pembakaran sampah, kebakaran hutan/ladang dan lain-lain. Gambaran yang mirip terjadi pula di Amerika Serikat. Dari jumlah total tiap zat pencemar utama yang dikeluarkan setiap tahun, karbon monoksida (CO) merupakan zat pencemar terbanyak dan kendaraan bermotor adalah sumber utamanya, seperti terlihat pada tabel berikut ini. Namun perlu diingat kita tidak boleh memandang jenis zat pencemar atau sumbernya semata-mata berdasarkan jumlah total emisi tiap tahun. Kita juga harus mempertimbangkan sejauh mana tingkat bahaya setiap jenis zat pencemar, terutama terhadap kesehatan manusia. Berdasarkan tabel tersebut di atas, dipandang dari segi efek dan gangguan kesehatan yang membahayakan, sulfur oksida dan partikulat menempati dua urutan teratas. Sebaliknya karbon monoksida menempati urutan terbawah dari ke 5 jenis zat pencemar. Urutan-urutan dalam efek kesehatan dari zat-zat pencemar memberikan dasar yang lebih rasional dan realistik dalam merencanakan program pengendalian dan penanggulangan polusi udara. Emisi memegang peranan penting dalam menimbulkan dampak terhadap kesehatan masyarakat. Dalam kesehatan lingkungan dikenal teori simpul, yang terdiri atas simpulsimpul A, B, C dan D. Simpul A adalah yang diemisikan dari sumber, dalam hal ini asap

knalpot kendaraan. Simpul B adalah ambient, sedangkan simpul C timbunan sejumlah gas atau partikel dalam darah maupun organ tubuh tetapi belum menimbulkan efek terhadap kesehatan. Simpul D adalah kondisi terminal, telah menimbulkan efek terhadap kesehatan maupun kecacatan. Mengganggu Kesehatan Polusi udara dapat menimbulkan gangguan kesehatan pada manusia melalui berbagai cara, antara lain dengan merangsang timbulnya atau sebagai faktor pencetus sejumlah penyakit. Kelompok yang terkena terutama bayi, orang tua dan golongan berpenghasilan rendah biasanya tinggal di kota-kota besar dengan kondisi perumahan dan lingkungan yang buruk. Terdapat korelasi yang kuat antara pencemaran udara dengan penyakit bronchitis kronik (menahun). Walaupun merokok hampir selalu menjadi urutan tertinggi sebagai penyebab dari penyakit pernafasan menahun, sulfur oksida, asam sulfur, pertikulat dan nitrogen dioksida telah menunjukkan sebagai penyebab dan pencetus asthma brochiale, bronchitis menahun dan emphysema paru. Hasil-hasil penelitian di Amerika Serikat sekitar tahun 70-an menunjukkan bronchitis kronik menyerang 1 di antara 5 orang laki-laki Amerika umur antara 40-60 tahun dan keadaan ini berhubungan dengan merokok dan tinggal di daerah perkotaan yang udaranya tercemar. Hubungan yang sebenarnya antara pencemaran udara dan kesehatan atau pun timbulnya penyakit yang disebabkannya masih merupakan problema yang sangat komplek. Banyak faktor-faktor lain yang ikut menentukan hubungan sebab akibat ini. Namun dari data statistik dan epidemiologik hubungan ini dapat dilihat dengan nyata. Pada umumnya data morbiditas dapat dianggap lebih penting dan berguna daripada data mengenai mortalitas. Apalagi penemuan-penemuan kelainan fisiologik pada kehidupan manusia yang terjadi lebih dini sebelum tanda-tanda penyakit dapat dilihat atau pun dirasa, sebagai akibat dari pencemaran udara, jelas lebih penting lagi artinya. Tindakan pencegahan mestinya telah perlu dilaksanakan pada tingkat yang sedini mungkin. WHO Inter Regional Symposium on Criteria for Air Quality and Method of Measurement telah menentapkan beberapa tingkat konsentrasi polusi udara dalam hubungan dengan akibatnya terhadap kesehatan maupun lingkungan sebagai berikut: Tingkat I: Konsetrasi dan waktu expose yang tidak ditemui akibat apa-apa, baik secara langsung maupun tidak langsung. Tingkat II: Konsentrasi yang mungkin dapat ditemui iritasi pada pencaindera, akibat berbahaya pada tumbuh-tumbuhan, pembatasan penglihatan atau akibat-akibat lain yang merugikan pada lingkungan (adverse level). Tingkat III: Konsentari yang mungkin menimbulkan hambatan pada fungsi-fungsi faali yang fital serta perubahan yang mungkin dapat menimbulkan penyakit menahun atau pemendekan umur (serious level). Tingkat IV: Konsentrasi yang mungkin menimbulkan penyakit akut atau kematian pada golongan populasi yang peka (emergency level).

Beberapa cara menghitung/memeriksa pengaruh pencemaran udara terhadap kesehatan adalah antara lain dengan mencatat: jumlah absensi pekerjaan/dinas, jumlah sertifikat/surat keterangan dokter, jumlah perawatan dalam rumah sakit, jumlah morbiditas pada anak-anak, jumlah morbiditas pada orang-orang usia lanjut, jumlah morbiditas para pekerja yang berisiko mendapat pencemaran udara, penyelidikan pada penderita dengan penyakit tertentu misalnya penyakit jantung, paru dan sebagainya. Penyelidikan-penyelidikan ini harus dilakukan secara prospektif dan komparatif antara daerah-daerah dengan pencemaran udara hebat dan ringan, dengan juga memperhitungkan faktor-faktor lain yang mungkin berpengaruh, misalnya kualitas udara, kebiasaan makan, merokok, data meteorologik dan sebagainya, yang sering disebut sebagai faktor yang menunjang (predisposing factor). Meskipun bukan penyebab, predisposing factor tersebut memegang peranan penting dalam menimbulkan penyakit pada manusia. Khusus polusi udara yang berasal dari kendaraan bermotor dengan bahan bakar yang tak ramah lingkungan, terutama karena masih mengandung sejumlah Pb, dikhawatirkan akan menurunkan kualitas sumberdaya manusia, karena akan menurunkan tingkat kecerdasan anak-anak. Celakanya, timbel tidak hanya terserap lewat saluran pernapasan. Kini banyak tanaman yang mengandung residu Pb, akibat polusi udara oleh bahan kimia ini. Penyakit Penyakit-penyakit yang dapat disebabkan oleh polusi udara adalah:
1. Bronchitis kronika. Pengaruh pada wanita maupun pria kurang lebih sama. Hal ini membuktikan prevalensinya tak dipengaruhi oleh macam pekerjaan sehari-hari. Dengan membersihkan udara dapat terjadi penurunan 40% dari angka mortalitas. 2. Emphysema pulmonum. 3. Bronchopneumonia. 4. Asthma bronchiale. 5. Cor pulmonale kronikum. Di daerah industri, Czechoslovakia umpamanya, dapat ditemukan prevalensi tinggi penyakit ini. Demikian juga di India bagian utara, penduduk tinggal di rumah-rumah tanah liat tanpa jendela dan menggunakan kayu api untuk pemanas rumah. 6. Kanker paru. Stocks & Campbell menemukan mortalitas pada nonsmokers di daerah kota 10 kali lebih besar daripada daerah rural. 7. Penyakit jantung, juga ditemukan dua kali lebih besar morbiditasnya di daerah dengan polusi udara tinggi. Karbon-monoksida ternyata dapat menyebabkan bahaya pada jantung, apalagi bila telah ada tanda-tanda penyakit jantung ischemik sebelumnya. Afinitas CO terhadap hemoglobin adalah 210 kali lebih besar daripada O2 sehingga bila kadar CO Hb sama atau lebih besar dari 50%, akan dapat terjadi nekrosis otot jantung. Kadar lebih rendah dari itu pun telah dapat mengganggu faal jantung. 8. Kanker lambung, ditemukan dua kali lebih banyak pada daerah dengan polusi tinggi. 9. Penyakit-penyakit lain, umpamanya iritasi mata, kulit dan sebagainya banyak juga dihubungkan dengan polusi udara. Juga gangguan pertumbuhan anak dan kelainan hematologik pernah diumumkan. Di Rusia pernah ditemukan hambatan pembentukan antibodi terhadap influenza vaccin di daerah kota dengan tingkat polusi tinggi, sedangkan di daerah lain pembentukannya normal.

Pengendalian Mengingat kendaraan bermotor mempunyai andil terbesar dalam polusi udara, maka pengendalian polusi udara juga berarti pengendalian emisi kendaraan bermotor. Pengendalian tingkat ini adalah pengendalian terhadap simpul A dalam teori simpul. Apabila memungkinkan, selain peraturan perundangan yang berlaku umum, dapat pula dibuat peraturan yang khusus untuk mengelola sumber-sumber pengotor udara. Peraturan seperti ini dikenal sebagai standar emisi, khususnya emisi kendaraan bermotor. Di samping itu ada pula standar yang diberlakukan bagi kualitas bahan bakar, karena sebagian besar polusi udara disebabkan oleh pembakaran. Kualitas hasil atau sisa pembakaran tergantung antara lain dari kualitas bahan bakar yang digunakan. Di DKI Jakarta telah diujicoba penggunaan bahan bakar yang berasal dari gas alam yang sangat ramah lingkungan. Namun, kualitas pembakaran oleh kendaraan bermotor tidak kalah pentingnya. Karena itu, perawatan kendaraan dan jika perlu pembatasan usia kendaraan mutlak dilakukan. Hal ini memungkinkan dilakukan jika secara berkala dilakukan uji emisi kendaraan. Kendaraan bermotor yang beroperasi di kota harus telah lulus uji emisi. Peran serta masyarakat dalam mengurangi polusi pada udara ambient, dalam hal ini intervensi terhadap simpul B, sangat diperlukan. Gerakan penghijauan seyogianya terus ditingkatkan, terutama dimulai dari tempat tinggal masing-masing. Sangat dianjurkan menggunakan pohon yang berdaun lebar atau yang berpotensi mengurangi polusi udara. Misalnya setiap keluarga, terutama di kota, menanam sebuah bibit pohon angsana. Niscaya lima tahun ke depan, telah tercipta lingkungan yang asri dan terhindar dari polusi udara. Demikian pula taman-taman kota perlu digalakkan untuk mengimbangi polusi udara kota dan agar langit biru tidak sekedar menjadi isapan jempol. (www.suaramerdeka.com)
Tabel Sumber dan Dampak Zat Pencemar di Amerika Serikat Emisi Tahunan Zat Pencemar: % Uruta % total Urutan total n Sulfur oksida Partikular Nitrogen oksida Hidrokarbon Karbon monoksida Jumlah Sumber: Efek Kesehatan Relatif

12.9 9.7 8.6 13.1 55.7 100.0

3 4 5 2 1

34.6 27.9 18.6 17.7 1.2 100.0

1 2 3 4 5

Pembangkit tenaga Industri Transportasi Kebakaran hutan/ladang Pembakaran sampah pdt Lain-lain Jumlah Sumber : Miller, 1979.

16.9 15.3 54.5 7.3 4.2 1.8 100.0

2 3 1 4 5 6

43.0 25.7 22.2 4.4 3.0 1.7 100.0

1 2 3 4 5 6

Februari 6, 2007

Menanti Hasil Konferensi Global Warming


Senin, 3 Desember 2007 18:58

Tajuk | komentar

Konfrensi tentang global warming yang dilaksanakan oleh United Nations Framework Convention on climate change (UNFCCC) rencananya akan di buka hari ini (3/12/07). Acara ini menjadi perhatian serius semua pihak, bahkan akhir-akhir ini telah menjadi sorotan utama masyarakat di seluruh dunia, karena dampaknya yang sangat membahayakan eksistensi kita semua sebagai penduduk bumi. Suhu yang berlebihan akibat efek rumah kaca atau Greenhouse Effect, menjadikan proses alam yang tidak normal. Bisa melahirkan ratusan korban yang meninggal akibat kepanasan, belum terhitung yang mengalami krisis.Dalam 50 tahun yang akan datang, suhu bumi rata-rata akan meningkat 3oC atau 1oC di Khatulistiwa dan meningkat 4oC di kutup yang menyebabkan mencairnya sungai dan lapisan es di daerah kutub (karena kenaikan suhu bumi) akan meningkatkan resiko naiknya permukaan air laut. Membuat tergenangnya sejumlah pantai produktif, merusak area pertanian, termasuk bisa menyebabkan rusaknya terumbu karang. Kenaikan suhu yang terjadi dapat lebih meluas dan mempengaruhi suhu air laut yang kemudian disebut pemanasan air laut. Apalagi wilayah kita sangat besar wilayah lautan, yang tentu dapat mengancam perikanan dan keanekaragaman hayati di laut. Kenaikan suhu dan ekspansi terhadap siklus air juga bisa menyebabkan merebaknya wabah penyakit menular melalui binatang seperti, malaria dan demam berdarah. Global warming juga berdampak kekuarangan air atau kekeringan dan kualitas air yang bisa membuat terjadinya kegagalan panen bagi petani. Kerentanan yang dihadapi pembangunan manusia akibat perubahan iklim adalah penurunan produksi pangan yang diperkirakan akan menambah gizi buruk (malnutrisi) sampai 600 juta pada 2080. Kelangkaan air laut yang dimaksudkan di atas akan melanda 1,8 miliar jiwa pada 2080. Kenaikan air laut bisa menyebabkan 330 juta jiwa yang harus mengungsi. Ekosistem dan keragaman hayati akan mengalami pemutihan separuh terumbu karang dunia. Penyakit pembunuh seperti malaria bisa meningkat hingga 220-400 juta penderita, yang sekarang ini saja sudah membawa kematian tiap tahun. Tidak heran, jika Negara berkembang begitu antusias dan bersemangat dalam menghadapi agenda strategis tersebut. Apalagi Negara Indonesia menjadi tumpuan Negara-negara industri atau Negara yang diharapkan menjadi paru-paru dunia. Secara garis besarnya, Indonesia paling tidak mempunyai tiga harapan yang besar dalam agenda ini. Pertama, pembukaan perundingan untuk kesepakatan emisi pasca Protocol Kyoto. Kedua, identifikasi persoalan yang perlu dirundingkan lebih lanjut dari empat building blocks (mitigasi, adaptasi, transfer teknologi dan pendanaan). Ketiga, penyepakatan 2009 sebagai batas akhir komitmen pascaprotokol Kyoto. Hal lain yang juga sangat mendasar adalah reduksi emisi dari deforestasi dan degradasi hutan (REDD), mekanisme pembangunan bersih (CDM), juga sangat diharapkan bisa menjadi momentum peluncuran dana adaptasi bagi Negara berkembang. Tuntutan tersebut memang tidak mudah, perlu dukungan Negara berkembang lainnya, dan tidak kalah pentingnya respon baik positif dari Negara maju. Tantangan besar dari Negara maju seperti AS tetap akan muncul, karena adanya ketidaksiapan dunia industri di AS dalam

aspek green industry, bisa menjadi alas an mendasar AS menolak untuk meratifikasi Protokol Kyoto. Intinya, setiap kesepakatan yang dilahirkan hendaknya realistis dan bisa mempengaruhi dinamika politik global. Karena penyumbang utama terjadinya global warming tidak lain disebabkan oleh kerakusan dan gaya hidup manusia yang menghasilkan banyak emisi karbon oleh penggunaan energi fosil, termasuk dalam hal ini penggunaan minyak, batubara dan sejenisnya. Terlebih lagi saat manusia memasuki proses industri, pembakaran batu bara, minyak dan gas bumi untuk menghasilkan bahan bakar dan listrik. Emisi dari pembangkit listrik dan kendaraan bermotor. Hilangnya karbondioksida dalam jumlah besar pada pohon oleh karena kebakaran dan penebangan hutan yang dapat menyebabkan meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca. Pemakaian pupuk buatan pada pertanian yang menghasilkan dinitrooksida (N2O), pembusukan pakan ternak, kotoran hewan, dan sampah organik akan melepaskan gas methana (CH4). Bukan hanya membuat suhu bumi makin terasa panas, tetapi juga dapat meningkatkan terjadinya penguapan di udara, berubahnya pola curah hujan, dan tekanan udara yang pada akhirnya merubah pola iklim dunia. Oleh karena itu, tidak perlu tekanan yang lebih tegas dan kerelaan Negara maju untuk untuk memotong emisi karbonnya. Sebagaimana apa yang dituntut oleh UNDP harus didorong dan didukung Negara berkembang, agar setiap tahun secara global Negara-negara maju mengumpulkan dana investasi senilai US$86 miliar untuk mendukung adaptasi perubahan iklim bagi Negara miskin. Tidak salah, jika konferensi ini menjadi momentum yang sangat penting dalam menentukan masa depan hidup manusia khususnya penduduk Negara berkembang, yang memiliki keterbatasan dalam membendung arus besar pengaruh negatif global warming. Teruslah berjuang dengan penuh semangat dan harapan. Semoga mendapat hasil yang maksimal dalam menyelamatkan bumi ini khususnya bumi Indonesia yang kita cintai. (IC)
http://gp-ansor.org/3665-03122007.html