Anda di halaman 1dari 7

STUDI ETNOBOTANI PADA MASYARAKAT DESA CIDAUN, CIANJUR JAWA BARAT

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendokumentasikan keanekaragaman tumbuhan etnobotani yang digunakan sehari-hari oleh masyarakat Desa Cidaun dan cara pemanfaatannya. Metode yang dilakukan pada penelitian ini adalah metode deskriptif, teknik observasi dan wawancara. Teknik observasi digunakan untuk mengidentifikasi tumbuhan yang dimanfaatkan penduduk. Teknik wawancara digunakan untuk menggali pengetahuan umum penduduk desa cidaun tentang pemanfaatan tumbuhan sekitar Desa Cidaun. Observasi dilakukan dengan wawancara penduduk. Kata Kunci: Etnobotani, Keanekaragaman Tumbuhan.

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Interaksi manusia dengan tumbuhan diawali sekitar ribuan tahun yang lalu yaitu pemanfaatannya sebagai obat. Disamping itu, tiga kebutuhan dasar manusia berupa sandang, pangan dan papan ditopang oleh tumbuhan. Beberapa penelitian telah banyak mengungkapkan potensi dan pemanfaatan tumbuhan bermanfaat oleh masyarakat setempat terutama di kawasan konservasi atau yang dikenal sebagai pengetahuan masyarakat lokal. Pengkajian pemanfaatan tanaman oleh suatu masyarakat adat atau suku dapat dilakukan dengan pendekatan etnobotani. Dhatmono (2007) menuturkan bahwa etnobotani merupakan ilmu botani mengenai pemanfaatan tumbuhan dalam keperluan sehari-hari dan adat suatu suku bangsa. Studi etnobotani tidak hanya mengenai data botani taksonomi saja, tetapi juga menyangkut pengetahuan botani yang bersifat kedaerahan. Pengetahuan ini berupa tinjauan interpretasi dan asosiasi yang mempelajari hubungan timbal balik antara manusia dengan tanaman, serta pemanfaatan tumbuhan tersebut. Menurut Martin (1998) etnobotani merujuk pada kajian interaksi antara manusia dengan tumbuhan. Etnobotani adalah sebuah cabang ilmu yang mempelajari hubungan tumbuhan yang dipergunakan penduduk asli dengan segala aspek kebudayaannya. Etnobotani membahas pemanfaatan tumbuh-tumbuhan secara komersil. Istilah Etnobotani pertama kali diperkenalkan oleh seorang ilmuwan bernama Dr. J.W Harshberger pada 1595. Ilmu yang diperkenalkannya ini mempelajari tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai bahan makanan, obat-obatan, pakaian, perkakas, bangunan, serta sesaji dalam upacara adat. Pengetahuan tentang keanekaragaman hayati dan pemanfaatan bertumpu pada keanekaragaman budaya dan pelestarian keanekaragaman hayati yang sering turut membantu mempererat keterpaduan dan tata nilai budaya masyarakat lokal (Soeriatmadja,1997). Pengetahuan masyarakat lokal tentang pemanfaatan tumbuhan berguna di kawasan konservasi penting untuk dipelajari sebagai informasi pengembangan potensinya. Tumbuhan bermanfaat, merupakan tumbuhan yang bagian-bagiannya dapat dimanfaatkan untuk kepentingan manusia dan dapat juga menjadi penyangga bagi kehidupan masyarakat setempat. Kelompok tumbuhan yang dimanfaatkan tersebut umumnya berasal dari beberapa lingkungan yang sangat berpengaruh terhadap pola-pola adaptasi mereka. Pemanfaatan yang terus-menerus oleh masyarakat akan membentuk 1

suatu pola pemanfaatan tumbuhan oleh masyarakat itu sendiri. Pola pemanfaatan tumbuhan tersebut dilatarbelakangi oleh tingkat kemampuan dan pengetahuan masyarakat dalam mengenal dan mengeksplorasi sumber daya tumbuhan di sekitarnya. Hal ini tidak saja berlaku pada pemanfaatan tanaman sebagai sumber bahan pangan, minuman, sumber energi, bahan rumah tangga tetapi juga digunakan untuk obat. Dalam perkembangannya, masyarakat Indonesia pada umumnya mengenal tumbuhan diantaranya sebagai bahan minuman seperti temulawak dan teh. Sebagai bumbu masak seperti jahe dan kunyit, sebagai obat-obatan tradisional seperti kumis kucing, tumbuhan yang manfaatnya sebagai kosmetik seperti lidah buaya, lalu tumbuhan ginseng untuk menjaga kebugaran dan masih banyak lagi yang lainnya. Masyarakat desa Cidaun Cianjur Jawa Barat terdapat didaerah Kawasan hutan Bojonglarang Jayanti yang telah ditetapkan sebagai cagar alam. Penelitian ini ditujukan untuk melakukan kajian etnobotani pada masyarakat desa Cidaun, Cianjur, Jawa Barat. Pengetahuan etnobotani ini dapat mengungkap aneka jenis tumbuhan yang diketahui oleh masyarakat untuk bisa memenuhi kebutuhan hidupnya. Penggalian informasi mengenai keanekaragaman potensi tumbuhan di kawasan hutan Bojonglarang Jayanti ini perlu dilakukan karena dengan informasi ini diharapkan dapat memberi kesadaran banyak pihak untuk memeliharan dan menjaga keutuhan dan keberadaan tumbuhan. B. Permasalahan 1. Tumbuhan apa yang dimanfaatkan oleh masyarakat desa Cidaun, Cianjur Jawa Barat? 2. Bagaimanakah cara masyarakat desa Cidaun dalam memanfaatkan tumbuhan sekitar? C. Tujuan 1. Mengetahui keanekaragaman tumbuhan yang banyak di manfaatkan oleh masyarakat desa Cidaun. 2. Mengetahui pemanfaatan keanekaragaman tumbuhan oleh masyarakat di desa cidaun. II. TINJAUAN PUSTAKA A. Studi Etnobotani Etnobotani merupakan bidang ilmu yang cakupannya interdisipliner mempelajari hubungan timbal balik antara manusia dengan sumber daya alam tumbuhan dan lingkungannya. Oleh karena itu bahasannya bersinggungan dengan ilmu-ilmu alamiah dan dengan ilmu-ilmu sosial seperti pengetahuan sosial budaya. Sehingga etnobotani sangat berkepentingan mengikuti dari dekat perkembangan yang berlangsung baik diseputar persoalan etnik maupun dalam bidang botani, yang pada saat ini sangat dipengaruhi oleh perkembangan yang sifatnya global. Ruang Lingkup kajian etnobotani Ruang lingkup etnobotani berkembang dari hanya mengungkap pemanfaatan keanekaragaman jenis tumbuhan oleh masyarakat lokal, berkembang pesat yang cakupannya interdisipliner meliputi berbagai bidang. Secara khusus etnobotani mencakup beberapa studi yang berhubungan dengan tumbuhan, termasuk bagaimana masyarakat tersebut mengklasifikasikan dan menamakannya, bagaimana suatu masyarakat menggunakan dan mengelola, bagaimana suatu masyarakat mengeksploitasi dan pengaruhnya terhadap evolusinya. Menurut Purwanto ( 1999), ruang lingkup etnobotani masa kini adalah sebagai berikut:

1. Etnoekologi : menitik beratkan pada pengetahuan tradisional tentang adaptasi dan interaksi diantara organism, dan pengaruh pengelolaan tradisional lingkungan alam terhadap kualitas lingkungan. 2. Pertanian tradisional: pengetahuan tradisional tentang varietas tanaman dan sistem pertanian 3. Etnobotani kognitif; persepsi masyarakat lokal terhadap sumberdaya alam tumbuhan, melalui analisis simbolik dalam ritual dan mitos, dan konsekuensi ekologisnya. 4. Budaya materi; pengetahuan tradisional dan pemanfaatan tumbuhan dan produk tumbuhan dalam seni dan teknologi 5. Fitokimia tradisional; pengetahuan tradisional atau pengetahuan lokal tentang penggunaan tumbuhan dihubungkan dengan kandungan bahan kimianya, contohnya insektisida lokal dan tumbuhan obat-obatan 6. Paleoetnobotani; interaksi masalalu antara populasi manusia dengan tumbuhan yang mendasarkan pada interpretasi peninggalan arkeologi.

Selanjutnya Purwanto ( 1999) membagi potensi aplikasi etnobotani dan perannya menjadi dua aspek yaitu dalam botani ekonomi dan ekologi. Selain itu etnobotani memberikan gambaran tentang perannya terhadap pembangunan yang berwawasan lingkungan dan konservasi keanekaragaman hayati. a. Aspek botani ekonomi Pertanian : berbagai jenis tumbuhan untuk bahan pangan, serat-seratan, dan berbagai komoditi yang lain, konservasi tradisional terhadap plasma nutfah seperti jenis-jenis yang tahan terhadap penyakit, tahan kekeringan dan keunggulan lainnya. Seni dan kerajinan; Pengembangan sumber pendapatan alternative dalam pengembangan yag berkesinambungan. Farmasi; Identifikasi tentang tumbuhan yang mengandung bahan kimia baru yang mendasarkan pada pengetahuan tradisional tentang tumbuhan obat-obatan. b. Aspek ekologi yang meliputi; Pengelolaan tumbuhan : Identifikasi praktis yang kemungkinan dapat menunjang pemanfaatan tumbuhan yang lestari dari sumberdaya biologis khususnya didaerah marginal. Keanekaragaman hayati; Praktik konservasi untuk promosi konservasi biologi dan keanekaragaman genetik Ekologi manusia; pengaruh aktifitas manusia terhadap lingkungan pada masa lalu dan masa sekarang.

Keuntungan pemanfaatan data etnobotani Secara garis besar keuntungan penelitian etnobotani dapat dikategorikan menjadi dua kelompok utama, Purwanto ( 1999 ), yaitu: 3

1. Pengembangan ekonomi; memiliki keuntungan melalui aspek pemanfaatan dan prospek keanekaragaman jenis tumbuhan yang secara langsung dapat dirasakan oleh masyarakat lokal. Selanjutnya keuntungan tersebut akan mempengaruhi aspek pendapatan yang berasal dari sumber daya tumbuhan terbarukan dan pemeliharaan serta perbaikan produksi yang disesuaikan dengan kondisi lingkungan lokal. 2. Konservasi sumber daya alam tumbuhan; memilki keuntungan yaitu konservasi habitat dan konservasi keanekaragaman plasma nutfah untuk program pemuliaan tanaman berpotensi ekonomi. Keuntungan lainnya adalah pelestarian dan pengakuan pengetahuan lokal tentang konservasi keanekaragaman jenis tumbuhan dan habitat secara tradisional.

B. Profil Desa Cidaun, Cianjur Jawa Barat Desa Cidaun terletak pada Kawasan hutan Bojonglarang Jayanti ditetapkan sebagai cagar alam berdasarkan Surat Keputusan Mentri Pertanian Nomor : 516/Kpts/Um/10/1973 tanggal 16-10-1973,seluas 750 Ha. Cagar Alam Bojonglarang Jayanti terletak di sebelah selatan Kabupaten Cianjur dan berdasarkan adminitrasi pemerintahan termasuk wilayah Desa Cidaun, Kecamatan Cidaun, Kabupaten Cianjur. Keadaan kawasan ini relatif datar dengan ketinggian 0 7 meter di atas permukaan laut. Iklimnya menurut Scamidt dan Ferguson, termasuk tipe B dengan curah hujan rata-rata pertahun 2.645 mm. Potensi Biotik Kawasan Flora Vegetasi kawasan ini adalah termasuk hutan dataran rendah. Aksesibilitas Cagar Alam Bojonglarang Jayanti dapat ditempuh melalui dua rute yaitu: Bandung-Cianjur-Sindangbarang-Lokasi (kl 209 km) BandungCiwidey-Lokasi (kl 168 km). III. METODOLOGI PENELITIAN A. Lokasi Penelitian ini akan dilaksanakan di desa kawasan Bojonglarang Jayanti Cidaun, Cianjur, Jawa Barat. suaka margasatwa

B. Waktu Pengambilan data akan dilaksanakan Selama 2 hari (tanggal 20-21 April 2010) C. Alat dan bahan Alat dan bahan yang digunakan antara lain :

1. Lembar observasi 2. Lembar wawancara 3. Papan jalan 4. Alat tulis 5. Cutter 6. Trash bag 7. Koran 8. Tali Rafia 9. Lakban 10. Kamera digital 11. Buku IdentifikasiTumbuhan

C. Cara Kerja 1. Menetukan desa yang akan dijadikan tempat penelitian. Diambil 10% secara acak dari jumlah 440KK. 2. Metode yang digunakan adalah deskriptif dengan teknik obsevasi dan wawancara. 3. Observasi tanaman yang ada di pekarangan 4. Wawancara menggunakan open-ended 5. Mencatat semua hasil wawancara

DAFTAR PUSTAKA Fathi,R.Mohammad.2009. Pengetahuan dan Pemanfaatan Tumbuhan desa Cidahu dan Girijaya, Kecamatan Cidahu, Sukabumi.2009.Keanekaragaman Hayati, Budaya dan Ilmu Pengetahuan. Bogor: 145-150. Murti.S,Francisca.2009.Potensi Keanekaragaman Jenis Tumbuhan Obat dan Kosmetik Bagi Masyarakat Talang Mamak di Taman Nasional Bukit Tiga Puluh. 2009. Keanekaragaman Hayati, Budaya dan Ilmu Pengetahuan. Bogor: 372-380. Purnomo.2009.Studi Etnobotani Pekarangan Sebagai Sumbet Pangan Desa Sendangsari, Pajangan, Bantul, Yogyakarta. 2009. Keanekaragaman Hayati, Budaya dan Ilmu Pengetahuan. Bogor: 381-389. Widhiono, Imam.2009. Pemanfaatan Keanekaragana Hayati Oleh Masyarakat di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. 2009. Keanekaragaman Hayati, Budaya dan Ilmu Pengetahuan. Bogor: 92-95. Yuliati, Susi,dkk.2009.Pemanfaatan Jenis Tumbuhan di Pulau Simeuleu Nangro Aceh Darussalam. 2009. Keanekaragaman Hayati, Budaya dan Ilmu Pengetahuan. Bogor: 103-110.

Lembar Observasi Nama Kepala keluarga Alamat No Nama Tanaman : : Nama Latin Manfaat Bagian Yang Dimanfaatkan Caranya