Anda di halaman 1dari 6

Sedikit berbagi.

Ini adalah tugas Regionalisme yang susah payah saya Amelia Rahmawaty, Gustav Franklin Yustisian, Niken Budi Astuti, dan Ikra Loveni buat. Silahkan dijadikan sumber bacaan, tapi jangan lupa harus pake footnote ya. Bila ada beberapa atau bahkan banyak kesalahan mohon dimaafkan, karena disini kita masih belajar I. Definisi Supranasionalisme dan Aplikasinya pada Uni Eropa Supranasionalisme. Hal kedua yang terkait dan langsung terpikir setelah mendengar kata supranasionalisme pastilah Uni Eropa. Apakah sebenarnya supranasionalisme itu? Apa keterkaitannya dengan Uni Eropa? Supranasionalisme adalah metode pengambilan keputusan di komunitas politik multi-nasional, dimana kekuasaan dialihkan atau didelegasikan ke otoritas oleh pemerintah negara-negara anggota.1 Pada pengertian yang lain, supranasionalisme adalah sebuah proses penyatuan dan kerjasama internasional dalam berbagai bidang, mulai dari ekonomi hingga politik.2 Dari kedua pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa supranasionalisme adalah penyerahan kewenangan dari pemerintah-pemerintah negara anggota suatu organisasi internasional pada suatu otoritas yang lebih besar atau berwenang di dalam organisasi internasional tersebut. Dapat dikatakan bahwa negara-negara anggota tersebut memiliki otoritas yang lebih besar dari pemerintah negaranya. Contoh utama dari supranasionalisme ini adalah Uni Eropa. Uni Eropa (UE, bahasa Inggris: European Union atau EU) adalah sebuah organisasi antar-pemerintahan dan supra-nasional, yang terdiri dari negara-negara Eropa, yang sejak 1 Januari 2007 telah memiliki 27 negara anggota. Persatuan ini didirikan atas nama tersebut di bawah Perjanjian Uni Eropa (yang lebih dikenal dengan Perjanjian Maastricht) pada 1992. Namun, banyak aspek dari EU timbul sebelum tanggal tersebut melalui organisasi sebelumnya, kembali ke tahun 1950-an dan masih terdapat simpang siur pertentangan mengenai supranasionalisme EU ini. Di beberapa bidang, keputusan-keputusan ditetapkan melalui musyawarah dan mufakat di antara negara-negara anggota, dan di bidang-bidang lainnya lembaga-lembaga organ yang bersifat supranasional menjalankan tanggung jawabnya tanpa perlu persetujuan anggota-anggotanya. Lembaga organ penting di dalam UE adalah Komisi Eropa, Dewan Uni Eropa, Dewan Eropa, Mahkamah Eropa, dan Bank Sentral Eropa. Terdapat pula Parlemen Eropa yang anggota-anggotanya dipilih langsung oleh warga negara anggota.3 Hal ini kemudian disadari, sehingga akhirnya ketika Uni Eropa berdiri, mereka membentuk suatu pemerintahan baru dengan parlemen dan presiden baru yang posisinya mengatur segala hal di Uni Eropa

http://en.wikipedia.org/wiki/Supranational_union Lberbauer, Harald. 2007. The Elusive Quest for Security Continues The European Unions Foreign Policy and Its Implications to Transatlantic Relations. GRIN Verlag: Norderstedt Germany http://id.wikipedia.org/wiki/Uni_Eropa
2 3

itu sendiri. Sehingga pemerintah masing-masing negara yang tergabung di dalam Uni Eropa telah mendelegasikan kewenangannya pada otoritas yang lebih tinggi, yaitu pemerintahan Uni Eropa. Ini menandakan bahwa kekuatan suatu organisasi internasional lebih besar dari kekuatan negara, karena negara telah dengan rela menyerahkan sebagian kedaulatannya pada organisasi internasional tersebut. II. Teori Memandang Uni Eropa Dalam membahas kegagalan Uni Eropa dalam menjalankan perannya di antara anggota-anggota negara Eropa, teori yang paling tepat digunakan untuk menganalisisnya adalah teori Neo-fungsionalis. Dimana memang pada dasarnya teori ini terbentuk berdasarkan perkembangan dari Uni Eropa itu sendiri yang pada awalnya hanyalah merupakan suatu komunitas kebutuhan yang sama akan batu bara dan baja (European Coal and Steel Community), pada mulanya, seperti dapat dijelaskan oleh teori Fungsionalis yang menyatakan integrasi negara dapat dilakukan dengan terdapatnya persamaan kebutuhan beberapa negara sehingga terbentuklah suatu ECSC tersebut. Namun seiring dengan berjalannya waktu, disaat bukan hanya kebutuhan yang dijadikan dasar kerjasama, melainkan pembuatan kebijakan bersama dan unsur politik mulai diangkat bersamanya untuk mengarahkan alur kerjasama tersebut maka disinilah teori Neofungsionalis berperan untuk mejelaskan fenomena ini. Dari pembentukan tersebut dapat kita lihat bahwa memang seiring dengan berjalannya waktu kebutuhan akan dilibatkannya aspek politik semakin kental, maka dari itu akhirnya terbentuklah Uni Eropa seperti sekarang ini. Hal ini menurut teori Neo-Fungsionalis memberikan gagasan bahwa kegiatan fungsional dapat dikelola di seluruh aspek oleh sebuah organisasi yang tinggi dan di atas pemerintah dari negara-negara anggota, dalam kata lain disebut sebuah otoritas supranasional.4 Namun, tidak semua orang berpandangan positif terhadap integrasi Uni Eropa, ada pula yang merasa pesimis dan menyebarkan sikap Euroskeptis. Hal itu kebanyakan disebabkan oleh karakter, budaya politik dan sejarah. Dimana tensi kepentingan masing-masing negara yang lebih bermotif ekonomi mengaburkan makna nasionalisme bangsa Eropa sehingga integrasi kawasan menjadi terabaikan. Hal ini dapat dilihat dari penolakan kostitusi Uni Eropa oleh Perancis dan Belanda, penolakan Inggris untuk menggunakan Euro, dan kedekatannya pada AS daripada dengan negara Eropa sendiri (PPT Kelompok 4).5 Bahkan di Ceko pandangan euroskeptis ini muncul tidak saja di kalangan elit politik pemerintah Ceko tetapi juga di masyarakat umum. Alasannya Ceko banyak menghadapi masalah dalam negerinya, sementara pada saat yang bersamaan, Ceko juga harus memimpin Uni Eropa. Banyak pihak yang meragukan kemampuan Ceko untuk berhasil memimpin Uni Eropa. Kondisi ini diperparah dengan situasi perekonomian dunia yang tidak mendukung, ditambah

Archer Clive , p. 140 Riznae. (2010, Oktober 1). Relaksasi Nasionalisme Dalam Hubungan http://ri2naelah.blogspot.com/2010/10/relaksasi-nasionalisme-dalam-hubungan.html
5

Internasional.

Message

posted

to

kenyataan bahwa Ceko belum menggunakan negara pengguna mata uang Euro.6 Pembentukan Uni Eropa pasti disertai dengan tujuan untuk menciptakan solidaritas antar bangsa. Namun, solidaritas semacam itu yang justru semakin sirna dari kehidupan warga Eropa. Menurut sebuah jajak pendapat, hanya 25 persen warga Eropa yang merasa kehadiran Uni Eropa telah memperbaiki taraf hidupnya. Masih banyak pemerintah negara yang meletakkan ego nasional diatas kepentingan umum (Uni Eropa).7 Jika masalah ini dipandang menggunakan realism, sikap para kepala negara itu wajar saja. Pemerintah negara mana yang tidak menjadikan national-interestnya sebagai kebutuhan utama? Semua negara pasti mengejar power untuk menguatkan posisinya di peta perpolitikan dunia. Tidak peduli negara itu bergabung dengan IGO manapun, itu hanyalah sebagai perpanjangan tangan negara8, lihat saja AS di PBB. IGO hanya digunakan sebagai alat untuk mengakomodir kepentingan nasional negara. Bila kita tinjau lagi, sebenarnya supranasionalisme di Uni Eropa masih kabur. Walaupun dengan bergabung dengan Uni Eropa berarti negara menyerahkan sebagin kedaulatannya, tetapi Uni Eropa tidak bisa menyentuh langsung warga negara. Pemerintah negara tetap memegang wewenang tertinggi terhadap warganya. III. Pro Analisis Supranasionalisme adalah sifat kegiatan atau organisasi dng sasaran yg melebihi jangkauan kepentingan yg dibatasi oleh batas politis dan geografis.9 Konsep kewarganegaraan berubah menjadi antar bangsa, kebangsaan. Contoh berkaitan adalah Uni Eropa. Supranasionalisme bukanlah sekedar julukan bagi Uni Eropa. Pemberlakuan Perjanjian Lisbon (Lisbon Treaty) atau dikenal dengan Perjanjian Reformasi (Reform Treaty) pada Januari 2010 telah menciptakan nuansa baru bagi kehidupan politik dan ekonomi negara anggota Uni Eropa. Perjanjian yang disetujui pada 13 Desember 2007 di Kota Lisbon, Portugal, itu tidak hanya mengintegrasikan mereka sebagai satu pasar tunggal, tetapi sebuah kawasan supra nasional. Perjanjian Lisbon itu merupakan penyempurnaan Masyarakat Ekonomi Eropa yang dideklarasikan di Roma pada 1957. Ini berarti menyatakan dengan jelas bahwa supranasionalisme dalam tubuh Uni Eropa memang ada. Organisasi Internasional ini bekerja dengan system supranasionalisme. Pada awalnya, Uni Eropa belum berbentuk supranasional seperti sekarang. Diawali dengan kerjasama negara-negara Eropa dalam bidang batubara dan baja, yang dikenal dengan European Coal and Steel Community (ECSC), kemudian berkembang menjadi Masyarakat Ekonomi Eropa. Dari sini akhirnya berkembang dan muncullah suatu ide untuk menyatukan masyarakat Eropa, tidak hanya berupa sebuah komunitas yang bekerjasama dalam bidang-bidang tertentu, namun menjadikan Eropa sebagai kesatuan
6

Novianti, Naden. (2009, Jnuari 23). KBRI Praha Gelar Diplomatic Lecture Series. Vivanews.com. Retrieved http://kosmo.vivanews.com/news/read/24225-kbri_praha_gelar_diplomatic_lecture_series Dwiyono,Sandi. (2007, March 25). Eropa antara Nasionalisme dan Integrasi. from http://www.mailarchive.com/ppiindia@yahoogroups.com/msg52324.html Candradewi, Renny. (2010, Oktober 14). Organisasi Internasional. from http://frenndw.wordpress.com/2010/10/14/organsisasiinternasional-notes-on-rennie-and-devania/ http://www.bahtera.org/kateglo/?mod=dictionary&action=view&phrase=supranasional
7 8 9

kekuatan baru. Salah satu usahanya adalah dengan menyatukan Eropa dengan satu pemerintahan tertinggi di atas pemerintahan masing-masing negara Eropa. Hal ini menjadikan negara-negara Eropa borderless. Di sinilah konsep supranasional diterapkan oleh Uni Eropa. Seperti yang telah diketahui sebelumnya bahwa negara-negara Eropa telah bekerjasama terlebih dahulu sebelum membentuk Uni Eropa. Kerjasama tersebut dilakukan oleh pemerintah masing-masing negara. Ketika negara-negara tersebut memunculkan ide untuk menyatukan Eropa dan melakukan kerjasama dalam berbagai bidang, tidak hanya di bidang tertentu, tentunya mereka harus siap dengan adanya pemerintahan baru yang lebih berwenang dari pemerintah negara mereka masing-masing. Uni Eropa dikatakan sebagai organisasi supranasionalis dikarenakan pemilihan anggota parlemennya adalah rakyat dari 27 negara anggota. Mereka memilih sendiri perwakilan parlemen, sehingga kewenangan tertinggi dari Uni Eropa ada ditangan rakyat. IV. Kontra Analisis Supranasional menempatkan konsep-konsep mengenai negara-bangsa, gerakan nasional, dan berbagai manifestasi dari nasionalisme sebagai sebuah angan-angan ideologis. Hal itu disebabkan karena fenomena supranasionalisme itu secara perlahan mengikis unsur-unsur negara khususnya norma-norma tertentu, hak prerogatif, dan kedaulatan nasional. Akan tetapi hal itu tidak mengubah posisi negara sebagai sentral dalam sistem internasional. Banyak pendapat yang mengatakan bahwa Uni Eropa saat ini ialah sebuah oraganisasi supranasional dan mungkin satu-satunya. Tetapi menurut kami, Uni Eropa bukanlah sebuah organisasi supranasional, Uni Eropa belum mencapai tingkatan tersebut yang dikarenakan oleh berbagai faktor. Dalam tingkatan integrasi, menurut kami Uni Eropa masih berada dalam bentuk sebuah konfederasi daripada supranasional. Konfederasi disini terkait dengan kedaulatan nasional yang dimiliki oleh pemerintahan masing-masing negara anggotanya. Bentuk konfederasi tidak diakui sebagai negara berdaulat tersendiri dalam hukum internasional, karena masing-masing negara yang membentuk konfederasi tetap memiliki kedudukan internasional sebagai negara berdaulat. Dapat dikatakan dalam konfederasi kedaulatan tertinggi tetap berada di anggotanya, bukan secara keseluruhan. Aspek lainnya yang perlu diperhatikan ialah self-determination. Walaupun telah terjadi integrasi yang luar biasa di negara-negara Uni Eropa, self-determination masing-masing negara tidak boleh disepelekan, sebab dalam praktiknya supranasionalitas membutuhkan lebih dari sekadar integrasi yang spillover. Integrasi yang saat ini dilakukan 27 negara yang terhimpun dalam Uni Eropa bukanlah sebuah supranasional melainkan konfederasi. Walaupun Uni Eropa memiliki sejumlah unsur yang memperkuat dirinya sebagai sebuah bentuk supranasional seperti parlemen yang dipilih secara langsung oleh rakyat dari

negara-negara anggotanya atau kerja sama ekonomi melalui penggunaan mata uang tunggal, tetapi tetap saja hal-hal tersebut belum cukup mencerminkan Uni Eropa sebagai sebuah supranasional. Hal tersebut terjadi karena tuntutan yang berasal dari sebuah supranasional itu sendiri terkait dengan unsur yang sifatnya fundamental untuk membangun dirinya sendiri. Unsur tersebut ialah kedaulatan. Disini kedaulatan memegang peranan yang penting terkait dengan isu ini. Supranasional menuntut kedaulatan penuh terhadap anggotanya. Menurut kami, hal tersebut sangat sulit dilakukan, mengingat terdapat beberapa faktor yang membuat hal tersebut mustahil untuk terwujud. Seperti nasionalisme masing-masing negara anggota yang telah lama tertanam kuat di setiap warga negara masing-masing anggota. Hal tersebut terbukti dengan penolakan yang dilakukan oleh Prancis melalui hasil dari referendum yang tidak mendukung diamandemenkannya konstitusi Uni Eropa pada tahun 2005. Pada saat itu, 42 juta warga yang memiliki hak pilih di Perancis , diserukan memberikan suaranya dalam referendum hari ini mengenai konstitusi Uni Eropa. Dalam jajak pendapat terakhir mayoritas suara menentangnya. Sampai saat terakhir, Presiden Perancis Jacques Chirac menyerukan warganya untuk menerima konstitusi Uni Eropa. Penolakan terhadap konstitusi tersebut, tidak hanya merugikan Perancis, melainkan juga menjerumuskan Uni Eropa kedalam perpecahan. Dalam rancangan konsitusi Uni Eropa, antara lain mempermudah pengambilan keputusan dengan suara mayoritas dari ke 25 negara anggotanya, untuk memperkuat politik luar negeri bersama, dan ditingkatkannya hak dan wewenang parlemen Eropa. Konsititusi Uni Eropa hanya dapat diberlakukan, bila ke 25 negara anggotanya meratifikasinya.10 Kewarganegaraan supranasional merupakan kewarganegaraan sedunia. Bagaimanapun, Bangsa-Bangsa Bersatu tidak mewakili konsep ini secara langsung; ia lebih merupai forum antarabangsa berbanding struktur untuk menyatakan hak-hak dan tanggungjawab individu. Selain itu, terdapat beberapa kesepakatan yang menyatakan bahwa untuk mencapai organisasi regional yang sukses, tidak diperlukan supranasionalisme. Sehingga, keefektifan atau tidaknya Uni Eropa tidak ditentukan oleh supranasionalisme. Kesimpulan Uni Eropa adalah Inter-governmental Organization (IGO) yang bersifat hybrid dan supranasional. Terdiri dari 27 negara anggota, yaitu; Austria, Belanda, Belgia, Bulgaria, Republik Ceko, Denmark, Estonia, Finlandia, Jerman, Perancis, Hongaria, Inggris Raya, Irlandia, Italia, Latvia, Lituania, Luksemburg, Malta, Polandia, Portugal, Rumania, Siprus, Slovakia, Slovenia, Spanyol, Swedia, dan Yunani. Terdapat beberapa kandidat anggota Uni Eropa antara lain adalah Albania, Bosnia, Herzegovina, Montenegro, Kroasia, Makedonia, Serbia, dan Turki.

10

http://www.dw-world.de/dw/article/0,,2949859,00.html

Organisasi internasional ini bekerja melalui gabungan sistem supranasional dan antarpemerintahan. Di beberapa bidang, keputusan-keputusan ditetapkan melalui musyawarah dan mufakat di antara negaranegara anggota, dan di bidang-bidang lainnya lembaga-lembaga organ yang bersifat supranasional menjalankan tanggung jawabnya tanpa perlu persetujuan anggota-anggotanya. Lembaga organ penting di dalam UE adalah Komisi Eropa, Dewan Uni Eropa, Dewan Eropa, Mahkamah Eropa, dan Bank Sentral Eropa. Terdapat pula Parlemen Eropa yang anggota-anggotanya dipilih langsung oleh warga negara anggota.11 Hal ini menurut teori Neo-Fungsionalis memberikan gagasan bahwa kegiatan fungsional dapat dikelola di seluruh aspek oleh sebuah organisasi yang tinggi dan di atas pemerintah dari negara-negara anggota, dalam kata lain disebut sebuah otoritas supranasional.12 Namun, ada juga gagasan mengenai supranasional yang hanya bersifat mitos. Kontra terhadap keefektifan Uni Eropa pun menuai. Dikatakan bahwa kedaulatan Negara anggota Uni Eropa menjadi berkurang karena diberikan separuhnya kepada organisasi regional ini. Negara menyerahkan kedaulatannya ketika menjadi Negara anggota kepada Uni Eropa. Kepentingan nasional Negara di kesampingkan demi mendahulukan kepentingan umum Uni Eropa.

11 12

http://id.wikipedia.org/wiki/Uni_Eropa Archer Clive , p. 140