Anda di halaman 1dari 11

Potensi Kayu Hasil Budidaya Hutan Tanaman Rakyat (HTR) Di Kabupaten Humbang Hasundutan. Benteng. H Sihombing, S.

Hut, MP (Tugas MK Menejemen Hutan Tanaman Industri) Pascasarjana Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman

I. PENDAHULUAN

I.1.Latar Belakang. Sejak tahun 1990, Direktorat Jenderal Bina Pengembangan Hutan Tanaman telah merencanakan target pembangunan Hutan Tanaman Industri (HTI) dengan luas 5 juta ha sampai pada tahun 2009. Untuk mencapai target produksi ini, sebagaian harus dicapai melalui pengembangan Hutan Tanaman Rakyat (HTR). Selanjutnya direncanakan bahwa target ini hanya bisa dicapai jika penanaman HTI bisa mencapai 710.000 ha per tahun. Untuk mencapai target pembangunan HTI tersebut, di provinsi Sumatera Utara, telah dilaksanakan dengan pola Perkebunan Inti Rakyat (PIR) Kayu. Pengembangan HTR itu sendiri di Sumatera utara telah dilaksanakan sejak tahun 1990 (Anonimous, 1992). Kegiatan ini merupakan Pilot Project dari PT. Inti Indorayon Utama (PT. IIU) dan sebagai plasmanya adalah masyarakat petani kayu yang berada di wilayah 3 Kabupaten dengan komposisi wilayah kabupaten Tapanuli Utara seluas 4.441,77 ha, wilayah kabupaten Dairi seluas 134,80 ha dan wilayah kabupaten Simalungun seluas 427,52 ha. Hubungan antara petani kayu plasma dengan PT. Inti Indorayon Utama pada pola PIR kayu ini diatur dengan Surat Perjanjian Kerjasama. Lahan yang digunakan dalam pengembangan HTR ini adalah lahan rakyat dan lahan adat yang kurang produktif/ lahan tidur (tidak dimanfaatkan sebagai lahan usaha tani). Dalam perjanjian kerja ditegaskan bahwa tanah rakyat adalah tanah yang dikukuhkan dengan sertifikat tanah. Tanah adat adalah tanah yang dibebani oleh hak ulayat. Penetapan lahan yang akan digunakan untuk penanaman dengan pola hubungan Plasma Inti adalah berdasarkan musawarah. Dalam perjanjian kerjasama ditetapkan bahwa daur tebangan adalah 7 tahun dengan rencana produksi adalah 290 m/ha. Setelah beberapa tahun berjalan, ternyata

produksi kayu dari HTR hanya mampu mencapai produksi 120 m/ha. Sistem penanaman yang telah dilakukan adalah secara monokultur dengan jenis utama yaitu Eucalyptus urophylla St. Blake. Sedangkan sistem tumpang sari dilakukan skala kecil dalam bentuk pilot project. Sementara, menejemen pengelolaan hutan tanaman rakyat diserahkan sepenuhnya kepada masyarakat petani kayu dengan bantuan modal awal dari perusahaan Inti sebagai bapak angkat. I.2. Permasalahan Setelah 20 tahun berjalan, sedikit tidaknya masyarakat telah merasakan dampak positif dari pengembangan HTR ini, terutama bagi petani kayu yang turut dalam program HTR. Namun, bagi sebagian petani lainnya ada juga yang berpendapat bahwa HTR tidak memberikan keuntungan finansial bagi mereka. Padahal, faktor yang menyebabkan mereka tidak merasa mendapat untung dari kegiatan HTR ini belum dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. I.3.Tujuan Penelitian Dalam penelitian tentang analisis profitabilitas usaha hutan tanaman rakyat di provinsi Sumatera Utara, ditetapkan tujuan penelitian, antara lain: 1) Mengetahui metode silvikultur yang diterapkan dalam pembangunan Hutan Tanaman Rakyat (HTR). 2) Mengetahui gambaran tingkat pertumbuhan (growth) dan hasil (yield) jenis yang digunakan dalam pembangunan Hutan Tanaman Rakyat (HTR) 3) Mengetahui aliran biaya (cost) dan hasil (benefit) dalam pembangunan Hutan Tanaman Rakyat (HTR). 4) Mengetahui rasio profit ekonomi (economic provitable rasio) antara pengembangan Hutan Tanaman Rakyat (HTR) dengan pengembangan oleh HTI (Inti). 5) Mengetahui tahapan kegiatan yang tidak dilaksanakan petani Hutan Tanaman Rakyat (HTR). 6) Mengetahui dampak dari perlakuan yang tidak dilaksanakan terhadap pertumbuhan (growth) dan hasil (yield) pengembangan Hutan Tanaman Rakyat (HTR). 7) Mengetahui prospektus ekonomi konprehensi dari pengembangan Hutan Tanaman Rakyat (HTR).

II. TINJAUAN PUSTAKA II.1.Hutan Tanaman Industri (HTI) Hutan Tanaman Industri adalah hutan tanaman yang dikelola dan diusahakan berdasarkan prinsip pemanfaatan yang optimal dengan memperhatikan kelestarian lingkungan dan sumber daya alamiah serta dengan untuk menerapkan memperoleh prinsip manfaat ekonomi yang dalam sebesarpengusahaannya

besarnya. Agar pembangunan HTI memberikan manfaat yang optimal bagi pembangunan wilayah maka dalam pelaksanaannya perlu mengikutsertakan masyarakat sekitar hutan. Apabila di dalam rencana pembangunan HTI terdapat hak-hak masyarakat, maka hak-hak tersebut diselesaikan sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku. Pengusahaan Hutan Tanaman Industri (HTI) bertujuan untuk:
1) Menunjang pengembangan industri hasil hutan dalam negeri

guna meningkatkan nilai tambah dan devisa. 2) Meningkatkan produktivitas lahan dan kualitas lingkungan hidup. 3) Memperluas lapangan kerja dan lapangan usaha. Sifat usaha HTI adalah berjangka panjang dengan resiko yang tinggi sehingga diperlukan pengelolaan yang profesional dan modal yang cukup besar. Agar investasi yang ditanam dapat kembali, diperlukan jangka waktu usaha yang relatif lama. Untuk itu jangka waktu Hak Pengusahaan HTI diberikan selama 35 (tiga puluh lima)

tahun ditambah dengan masa daur tanaman. Jangka waktu tersebut dipandang sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan bagi jaminan usaha pembangunan HTI. II.2.Hutan Tanaman Rakyat (HTR). Hutan Rakyat adalah Hutan yang dimiliki oleh rakyat dengan luas minimal 0,25 ha, dengan penutupan tajuk tanaman berkayu dan lainnya lebih dari 50 % atau jumlah tanaman tiap hektar (Kepmenhut no.49/kptsII/97 tanggal 20 januari 1997). HTR pada umumnya dibangun pada lahan-lahan tidur, lahan kritis, yang tidak baik untuk komiditi lainnya. Dalam Lampiran Surat Direktur Bina Pengembangan Hutan Tanaman No.S./20/VI/BPHT-2/2005, tanggal 21 juni 2005 disebutkan bahwa nomenklatur HTI rakyat untuk membedakan hutan rakyat yaitu pada areal lahan hutan yang digunakan. Hutan rakyat dibangun pada lahan rakyat diluar kawasan hutan negara. Sedangkan HTI rakyat dibangun pada lahan hutan negara, yaitu pada hutan produksi. II.3.Pola Pengembangan HTR HTR dikembangkan dengan 3 pola, yaitu pola mandiri, pola kemitraan dan pola developer. Berikut adalah keterangan tentang ke-tiga pola pengembangan HTR yang dimaksud. 1.Pola Mandiri Dalam pola ini, masyarakat setempat membentuk kelompok tani dan diajukan ke Bupati. Pemerintah mengalokasikan areal dengan SK IUPHHK HTR untuk setiap individu dalam kelompok dan masing-masing pendamping ketua dari kelompok bertanggungjawab Pemda. Setiap atas pelaksanaan HTR, pengajuan dan pengembalian kredit, pasar dan Pemerintah/ anggota mengingatkan kelompok lainnya untuk memenuhi kewajiban. 2.Pola Kemitraan Dalam pola ini, masyarakat setempat membentuk kelompok tani dan diajukan ke Bupati dan Bupati mengajukan ke Menteri

Kehutanan. Pemerintah mengalokasikan areal dengan SK IUPHHK HTR dan menerbitkan SK dan menetapkan Mitra. Mitra bertanggungjawab atas saprodia, pelatihan, pendamping dan pasar. 3.Pola Developer Dalam pola ini, BUMN/ Swasta sebagai developer membangun hutan tanaman rakyat dan selanjutnya diserahkan Pemerintah kepada masyarakat sebagai pemegang SK IUPHHK HTR yang selanjutnya biaya pembangunannya diperhitungkan sebagai pinjaman pemegang SK IUPHHK HTR dan dikembangkan secara bertahap sesuai akad kredit. III. METODE PENELITIAN III.1.Lokasi Penelitian Lokasi penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Humbang Hasundutan yang meliputi HTR (desa Hutan Gur-gur, Lintong Nihuta, Huta Soit) dan HTI PT.Toba Pulp Lestari, Tbk (Sibaganding, Pematang Siantar). III.2.Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus 2008 yang lalu (pada saat peneliti pulang ke kampung orangtua). III.3.Alat-alat Penelitian Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain adalah phi band, meteran panjang, clinometer, alat tulis, tally sheet data, calculator dan computer. III.4.Pengambilan Data Pengambilan data dimulai dengan pembuatan plot berukuran 20 m x 20 m. Semua pohon yang berada dalam plot ini diukur diameter, tinggi bebas cabang, dan tinggi totalnya. Setelah itu, lalu dihitung diameter rata-rata tegakan, tinggi bebas cabang rata-rata pohon, tinggi total rata-rata pohon, bidang dasar tegakan, bidang

dasar rata-rata tegakan, potensi tegakan dan potensi rata-rata tegakan. Analisis Data Analisis data dilakukan untuk mengetahui beberapa hal, antara lain:
1) Mengetahui nilai parameter rata-rata d, h dan potensi tegakan

Eucalyptus urophylla St. Blake berumur 3 tahun pada lokasi dan sejarah pengelolaan yang berbeda.
2) Mengetahui produktivitas tegakan Eucalyptus urophylla St.

Blake berumur 3 tahun pada lokasi dan sejarah pengelolaan yang berbeda.
3) Membandingkan produktivitas tegakan Eucalyptus urophylla

St.

Blake

berumur urophylla

tahun Blake

pada

lokasi 3

dan

sejarah hasil KUHR

pengelolaan yang berbeda dengan produktivitas tegakan Eucalyptus Belajar dari St. berumur rakyat tahun penanaman yang dilakukan oleh PT. Toba Pulp Lestari Tbk. pembangunan Hutan melalui ternyata rakyat hanya berfungsi sebagai buruh upahan di lahan yang dimilikinya dan menikmati marginal profit adalah mitranya saja. Harga ditentukan oleh industri sehingga walaupun masyarakat bebas menjual ke beberapa industri, namun posisi tawar yang lemah. Beberapa hasil penelitian yang ada memperlihatkan bahwa dalam 3 dasawarsa terakhir ini, pola kemitraan hutan rakyat seperti ini tidak dapat merubah kondisi sosial ekonomi masyarakat ke arah yang lebih baik (Sabarudi, 2006). Pertumbuhan pohon dalam tegakan sangat dipengaruhi oleh jenis tanaman (sifat keunggulan genetik), tempat tumbuh (keunggulan site) dan faktor lingkungan (kesesuaian lingkungan). Satu faktor dengan faktor lainnya tidak berdiri sendiri melainkan

saling

terkait

untuk

dapat

menghasilkan

pertumbuhan

yang

optimum. Usaha untuk meningkatkan kualitas tegakan hutan harus dilakukan sejak awal agar produktivitas yang diharapkan dapat tercapai. Perlakuan sejak awal dimulai dari pemilihan bibit dari pohon induk yang baik, penggunaan bibit unggul, persiapan persemaian, peningkatan penanaman kualitas serta pemeliharaan dapat ditempuh pada pula tegakan, dengan merupakan rangkaian yang tidak dapat berdiri sendiri. Selain itu tegakan berbagai cara antara lain dengan pembiakan vegetative, pemuliaan pohon dan yang sedang digalakkan melalui rekayasa genetic dengan Tissue Culture untuk jenis-jenis yang bernilai tinggi. Didalam menentukan perlakuan yang akan diterapkan pada suatu tegakan didasarkan atas kepentingan hasilnya yaitu apakah yang dipentingkan volume total kayunya (untuk industri pulp) atau faktor kualitas dan volume perpohon menjadi dasar (kayu gergajian, vinir dan kayu lapis). Apabila tujuan pengusahaan telah ditentukan maka tinggal dipilih sistem perlakuan yang akan diterapkan. Husch (1963); Loetch & Haller (1971) dan Spurr (1951) mengemukakan bahwa tingkat ketelitian suatu model persamaan regressi ditentukan oleh simpangan agregartifnya dan yang paling baik adalah simpangan aggregatifnya kurang dari 1 dan simpangan rata-rata maksimum 10%. Faktor-faktor yang menentukan kecepatan pertumbuhan dan produktivitas tegakan antara lain adalah genetika semai, sifat fisik tanah, tofografi, iklim dan menejemen tegakan. Lahan dengan kondisi tanah porous, tofografi datar, iklim dengan curah hujan tinggi akan berproduksi lebih tinggi jika ditanami oleh semai berkualitas genetika terbaik.

DAFTAR PUSTAKA Anonimous, 1980. Sedikit bekal mengenai Eucalyptus sp . Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada dan Direktorat Jenderal Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan (RRL). Anonimous, 2002. Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial, Perbenihan dan Pembibitan) Direktorat Jenderal Rehabilitasi

Lahan

dan

Perhutanan

Sosial.

Departement

Kehutanan

Republik Indonesia. Jakarta. Anonimous, 2005. Cetak biru Kehutanan kita (Indonesia). Warta FKKM. Vol. 8 No.2 (ISSN. 1430-8550). Anonimous, 2006. Alih tehnologi pembuatan bahan tanaman dengan system COFFCO System. Balai Besar Penelitian Hutan Tropis Kalimantan . Samarinda Kalimantan Timur. Anonimous, 2006. Pengembangan areal HTI untuk Support pembangunan Pulp Mill di Kabupaten Kutai Timur. Sangatta Kalimantan Timur. Sinar Mas Group. Anonimous, 2006. Kajian aspek tehnik dan implementasi Hutan Tanaman Industri (HTI). Tugas Mahasiswa Pascasarjana Mata Kuliah Budidaya Hutan Lanjutan, Universitas Mulawarman. Samarinda Kalimantan Timur. Apransyah, R. 2006. Pertumbuhan Sengon Pada Dua Lokasi di Areal Reklamasi Tambang Batubara PT.Berau Coal Kabupaten Berau. (Skripsi Sarjana Fakultas Kehutanan UNMUL Tidak diterbitkan). Baker, 1950. Prinsip-prinsip Silvikultur (Terjemahan). Edisi ke II. Universitas Gajah Mada. Yokyakarta. Budiningsih, K. 2002. Kajian Model Hutan Kemasyarakatan (HKm) di Kalimantan Selatan. Direktorat Jenderal Pemuliaan Tanaman Hutan Departemen Kehutanan Republik Indonesia - BPPK. Banjarbaru. Heyne, 1987. Tumbuhan berguna Indonesia. Jilid I-II. Terjemahan Badan Litbang Kehutanan Republik Indonesia. Jakarta. Japilus, 1978). Pengaruh pemberian pupuk kandang pada tanah persemaian terhadap pertumbuhan St.Blake. Laporan No.329 BPH. Bogor. Eucalyptus urophylla

Naiem, 2002. Aplikasi hasil Povenas Trial dalam pembangunan Hutan Tanaman Industri (HTI). Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin Kalimantan Selatan. Roni, A. 2004. Model pertumbuhan dan hasil hutan tanaman jenis Eucalyptus urophylla di PT.TPL Tbk, Sumatera Utara. Skripsi Sarjana Jurusan Manajemen Hutan Universitas Simalungun (USI). Pematang Siantar Sumatera Utara. Untung, I dkk. 2003. Hutan Tanaman Industri dipersimpangan Jalan. Penerbit Avrico Press. Darwo, 1997. Evaluasi Hasil Inventarisasi Tegakan di HTI PT.IIU, Sumatera Utara. Konifera. Visi dan Informasi Teknis BPK Pematang Siantar. ISSN: 1410-150x. No.1/thnXIII/April/1997. http://www2.gtz.de/dokumente/bib/02-5103.pdf. 2000. Pengelolaan Unsur Hara Pada Hutan Tanaman Industri (HTI). Penelitian Hutan Tropis. Petunjuk Praktis Ke Arah Pengelolaan Unsur Hara Terpadu. Murad, A dan Purwanto. 1993. Studi pendahuluan tentang perkembangan dan permasalahan yang dihadapi dalam

pembangunan PIR kayu Eucalyptus spp di Sumatera utara. Buletin Penelitian Kehutanan. BPKPS, vol.9 no.2 juli 1993. ISSN 0215-0190. Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam. Volume I no.3 tahun 2004. BALITBANGHUT PUSAT. Bogor, Indonesia. Peraturan Sabarudi, Pemerintah No.7, 1990. Hak Pengusahaan Hutan HTI Tanaman Industri (HPHTI). 2006.Tanggapan atas pedoman Pembangunan Rakyat: Belajar dari Pelaksanaan Kredit Usaha Tani Rakyat. Jurnal Rimba Indonesia (indonesian Journal Of Forestry). Vol. 41 No.1 Februari 2006.

Sunarto, 2007. Hutan Rakyat: Kondisi, Trend dan Prospeknya. Majalah Penyuluhan Kehutanan Kenari. Komunikasi Edukasi Wana Lestari.