Anda di halaman 1dari 13

SEJARAH HUKUM ADAT SEBAGAI MASALAH POLITIK HUKUM, DI DALAM SISTEM PERUNDANGUNDANGAN DI INDONESIA 1.

Masa Menjelang Tahun 1848 Pada masa Kompeni tidak terdapat adanya politik hukum yang sadar dan tertentu terhadap hukum Adat. Hukum Adat dibiarkan saja seperti sediakala hidup berlaku untuk bangsa Indonesia dengan tidak pernah mempersoalkan atau menyelidiki sifat serta corak-corak hukum ini. Untuk pertama kalinya hukum adat mendapat sorotan sebagai masalah hukum oleh Pemerintah Belanda di negerinya adalah pada scat pengangkatan Mr. G.C. Hageman sebagai ketua "Hong Gerechtshof Hindia-Belanda" (Mahkamah Agung pada pemerintahan kolonial Belanda dahulu), yaitu pada tanggal 30 Juli 1830 Pada Hageman ditugaskan istimewa untuk mengadakan pemeriksaan yang sengaja dan selekas-lekasnya sedemikian rupa, agar undangundang umum yang ditetapkan kerajaan Belanda sedapat-dapatnya juga diperlakukan di Indonesia. Bagaimanakah putusan Hageman? Hageman beranggapan, bahwa ada kebutuhan adanya buku hukum sipil yang ditulis dalam bahasa Indonesia yang juga akan berlaku untuk bangsa Indonesia. Jadi Hageman membayangkan adanya persatuan buku hukum yang berlaku bagi bangsa Indonesia dan bangsa Eropa.

2. Hukum Adat Sebagai Masalah Politik Hukum Pada Tahun 1848 Dan Seterusnya Sebagai masalah dalam politik hukum, hukum adat diperbincangkan lebih hebat lagi pada tahun 1848, sebab pada saat itu kitab-kitab hukum Perdata, Dagang, Acara Perdata dan Acara Pidana, berdasarkan pola Belanda berlaku bagi penduduk Belanda di Indonesia. Mengenai hukum adat timbullah masalah bagi pemerintah kolonial, sampai di mana hukum ini dapat digunakan bagi tujuan-tujuan Belanda serta kepentingan-kepentingan ekonominya, dan sampai di mana hukum adat itu dapat dimasukkan dalam rangka politik Belanda. Kepentingan atau kehendak bangsa. Indonesia tidak masuk perhitungan pemerintah kolonial. Apabila diikuti secara kronologis usaha-usaha baik pemerintah Belanda di negerinya sendiri maupun pemerintah kolonial yang ada di Indonesia ini, make secara ringkasnya undang-undang yang bertujuan menetapkan nasib ataupun kedudukan hukum adat seterusnya di dalam sistem perundang-undangan di Indonesia, adalah sebagai berikut:

Usaha ke-1 Mr. Wichers, Presides Mahkamah Agung pada saat itu, ditugaskan untuk menyelidiki apakah hukum adat privet itu tidak dapat diganti dengan hukum kodifikasi Barat. Rencana kodifikasi Wichers gagal, karena hukum Barat tidak cocok bagi apa yang olehnya dinamakan perhubungan-perhubungan hukum sederhana bangsa Indonesia. Usaha ke-2 Sekitar tahun 1870, pada seat perusahaan partikulir Belanda masuk Indonesia menggantikan eksplotasi negara, Van der Putte, Menteri Jajahan Belanda, mengusulkan penggunaan hukum tanah Eropa bagi penduduk desa di Indonesia untuk kepentingan agraria pengusaha Belanda. Usaha ini pun gagal, karena Parlemen Belanda menuntut lebih dahulu diadakan penyelidikan lokal mengenai hak-hak penduduk terhadap tanah. Usaha ke-5 Pada tahun 1914 Pemerintah Belanda dengan tidak menghiraukan amandemen Idsinga, mengumumkan rencana KUH Perdata bagi selumh golongan penduduk di Indonesia. Ditentang keras oleh Van Vollenhoven dalam karangannya "Strijd van het Adatrecht" (Perjuangan bagi hukum adat). Rencana ini tetap tinggal rencana dan tidak pernah dimajukan kepada Parlemen Belanda. Usaha ke-6 Pada tahun 1923 Mr. Cowan, Direktur Departemen Justine di Jakarta membuat rencana baru KUH Perdata dalam tabus 1920, yang diumumkan Pemerintah Belanda sebagai rencana unifikasi dalam tahun 1923. Gagal lagi, karena kritik Van Vollenhoven dalam karangannya "Juridisch Confeetiewerk". Hukum Adat dengan demikian telah berkali-kali menerima percobaan-percobaan yang semuanya berakhir dengan kegagalan. Apa sebab gagal semua usaha itu? Sebab kegagalan semua usaha tersebut di atas adalah, karena kenyataan, bahwasanya tidak mungkin, bangsa Indonesia yang merupakan bagian terbesar dari penduduk, harus tunduk kepada hukum yang sebagian besar disesuaikan pada kebutuhan bangsa Eropa sedangkan bangsa Eropa ini hanya merupakan bagian kecil saja. Bangsa Indonesia tidak bisa dimasukkan dalam golongan Eropa di dalam lapangan hukum privat. "Kedudukan penduduk Indonesia yang serba berada itu mengakibatkan kesukaran-kesukaran dalam perkembangan ke arah satu hukum seragam. Akan tetapi akhirnya keseragaman itu tidak perlu didasarkan kepada sistem hukum

Barat. 3. Sejak Tahun 1927 Politik Pemerintah Hindia Belanda Terhadap Hukum Adat Mulai Berganti Haluan, Yaitu Dari "Unifikasi" Beralih Ke "Kodifikasi Konsepsi Van Vollenhoven yang isinya menganjurkan diadakannya pencatatan-pencatatan yang sistematis dari pengertian-pengertian hukum yang sesungguhnya dari penduduk, daerah hukum demi daerah hukum, tetapi didahului dengan penelitian dan penyelidikan yang dipimpin oleh para ahli. Tujuan ini adalah untuk memajukan ketentuan hukum dan untuk membantu hakim yang harus mengadili menurut hukum adat. Konsepsi yang diperjuangkan oleh Van Vollenhoven ini disokong dan dibenarkan oleh dua hal yaitu: a. Pengalaman-pengalaman yang pahit bertahun-tahun lamanya, bahwa memaksakan hukum Barat dari atas selalu gagal. b. Selalu berkembangnya pengertian akan pentingnya hukum adat dalam lingkungan penduduk bangsa Indonesia. Akhirnya pada tahun 1927 konsepsi Van Vollenhoven ini diterima. Dan politik pemerintah kolonial Belanda sejak itu sampai pendudukan Jepang pada tahun 1942, ditandai dengan suatu langkah kembali secara teratur ke arah dualisme. 4. Dasar Hukum Sah Berlakunya Hukum Adat Sebelum Undang-Undang No. 19 tahun 1964 L.N. No. 107 tahun 1964, yakni Undang-Undang tentang ketentuan-ketentuan pokok kekuasaan Kehakiman, diundangkan pada tanggal 31 Oktober 1964, maka yang menjadi dasar hukum sah berlakunya Hukum Adat adalah masih pasal II Aturan Peralihan Undang-Undang Dasar 1945 yang berbunyi sebagai berikut: "Segala badan negara dan peraturan yang ads masih berlaku, selama belum diadakan yang baru menurut UndangUndang Dasar ini. Berdasarkan atas Aturan Peralihan tersebut di atas, maka Presiden sesuai dengan wewenang yang diberika.n kepadanya oleh pasal IV Aturan Peralihan Undang-Undang Dasar 1945 yang berbunyi sebagai berikut: "Sebelum MPR, DPR dan DPA dibentuk menurut UndangUndang Dasar ini, segala kekuasaan dijalankan oleh Presiden dengan bantuan sebuah Komite Nasional Pusat." Tentang dasar/landasan hukum Bah berlakunya Hukum Adat sekarang. Jauh sebelum Undang-Undang No. 19 Tahun 1964 tentang ketentuanketentuan pokok kekuasaan kehakiman diundangkan, sesungguhnya secara konstitusional telah dapat diketemukan pasal-pasal yang merupakan landasan hukum berlakunya Hukum Adat. Namur pasal-pasal itu masih belum ada

peraturan pelaksanaannya. Pasal-pasal tersebut adalah: 1) Pasal 146 ayat (1) Konstitusi RIS yang menetapkan bahwa segala keputusan kehakiman harus berisi alasan-alasannya dan dalam perkara hukuman harus menyebut aturan-aturan undang-undang dan aturan hukum adat yang dijadikan dasar hukuman itu. 2) Pasal 104 ayat (1) Undang-Undang Dasar Sementara 1950 yang menegaskan kembali apa yang telah ditetapkan dalam pasal 146 ayat (1) Konstitusi RIS tersebut di atas. Ketentuan yang tercantum dalam pasal-pasal Konstitusi RIS dan UndangUndang Dasar Sementara dimaksud di atas ternyata kemudian ditetapkan serta diatur kembali dalam pasal 17 Undang-Undang No. 19 tahun 1946." 5. Nilai-Nilai Yang Universal Dalam Hukum Adat Hukum adat yang tradisional ini menunjukkan juga adanya nilai-nilai yang universal seperti: a. Asas gotong royong. b. Fungsi sosial manusia dan milik dalam masyarakat. c. Asas persetujuan sebagai dasar kekuasaan umum. d. Asas perwakilan dan permusyawaratan dalam sistem pemerintahan. Adakah dalam kehidupan sehari-hari di dalam suatu masyarakat kcsatuan hukum, misalnya desa, nampak adanya pencerminan, implementasi ataupun refleksi daripada asas-asas yang bernilai universal ini? Sudah barang tentu ada bahkan justru pencerminan daripada asas-asas itulah yang memberikan corak-corak khas dalam kehidupan tradisional di desadesa dan di lain-lain masyarakat kesatuan hukum. Pencerminan dimaksud dalam kehidupan sehari-hari nampak sebagai berikut: a. Asas gotong-royong jelas nampak dengan adanya kebiasaan untuk kerja "gugur gunung" (bersama-sama) dalam membangun dan memelihara misalnya saluran-saluran air guna mengairi sawah-sawahnya, masjid desa, tanggul yang melindungi desa terhadap hahaya banjir, jalan-jalan desa dan lain sebagainya. b. Asas fungsi sosial manusia dan milik dalam masyarakat dicerminkan juga dalam kebiasaan "gugur gunung" dimaksud di atas (fungsi sosial manusia), sedangkan fungsi sosial milik nampak juga dalam kebiasaan sipemilik mengizinkan warga-warga sedesanya pada waktu-waktu tertentu atau dalam keadaan-keadaan tertentu menggunakan pula miliknya. c. Asas persetujuan sebagai dasar kekuasaan umum nampak dalam pelaksanaan Pamong Desa, di mana sudah menjadi kebiasaan, bahwa Kepala Desa dalam

mengambil keputusan-keputusan yang penting yang menyangkut kepentingan kehidupan desanya, selalu lebih dahulu membicarakan masalahnya dalam Balai Desa untuk mendapatkan perinufakatan. d. Asas perwakilan dan permusyawaratan dalam sister pemerintahan penuangannya dalam kehidupan sehari-hari di desa berwujud dalam lembaga Balai Desa dimaksud di atas. 6. Kepribadian Hukum Adat Itu Bagaimana Hukum seperti hainya dengan hukum di mana pun di Dunia mengikutl jiwa dari bangsa masyarakatnya, karena hukum itu senantiasa tumbuh dari sesuatu kebutuhan hidup yang nyata, cara hidup dan pandangan hidup dari Bangsa/Masyarakatnya, yang keseluruhannya merupakan kebudayaan masyarakat tempat hukum adat itu berlaku. Hukum merupakan salah satu penjelmaan dari kepribadian jiwa dan struktur bangsanya/masyarakatnya. Bangsa Indonesia berkepribadian Pancasila, sehingga hukum Adat pun berkepribadian Pancasila pula, demikian pula hukum yang dimaksud dalam Undang-undang Pokok Kekuasaan Kehakiman berkepribadian sama dengan Hukum Adat. 7. Hukum Adat Dapat Diketemukan dimana Saja? Apakah Yang Menjadi Sumber-Hukumnya Serta Apakah Yang Menjadi Sumber Pengenalnya Di manakah hukum adat itu dapat dicari atau dimanakah tempat-tempat hukum adat itu? Jawabnya adalah sebagai berikut: a. Sebagian sangat beset hukum adat ini masih tidak tertulis serta berupa kaidahkaidah kehidupan sehari-hari yang penting di dalam pergaulan masyarakat dan yang dikenal oleh masyarakat yang bersangkutan Kompleks norma-norma tak tertulis ini, seperti suatu tumbuhan hukum di dalam masyarakat yang senantiasa berkembang, penuh pepatah dan symbolik serta penuh kiasan. b. Ada pula didapat catatan-catatan ataupun himpunan-himpunan peraturanperaturan hukum adat yang disusun dan dibukukan dalam kitab-kitab seperti: 1) Ruhut Parsaoran di Habatahon (Kehidupan sosial di tanah Batak). 2) Patik Dohot Uhum ni Halak Batak (Undang-undang dan ketentuan-ketentuan di tanah Batak). 3) Undang-undang Jambi. 4) Kitab Undang-undang dagang dan pelayaran dari suku Wajo di Sulawesi Selatan. Tetapi terhadap buku-buku ataupun karangan-karangan ini, kite wajib

berhati-hati serta meneliti lebih lanjut, apakah peraturan-peraturan adat yang tercantum dalam buku-buku itu kini juga masih berliku dan hidup di dalam masyarakat yang bersangkutan dan tidak ketinggalan jaman, sebab seperti diketahui hukum adat itu terus berkembang seperti berkembangnya masyarakat itu sendiri. Sumber hukum adat adalah: Kebiasaan dan adat-istiadat yang berhubungan dengan tradisi rakyat (Van Vollenhoven). Kebudayaan tradisional rakyat (Ter Haar). Ugeran-ugeran yang langsung timbul sebagai pernyataan kebudayaan orang Indonesia asli, tegasnya sebagai pernyataan rasa keadilannya dalam hubungan pamrih (Djojodiguno). Perasaan keadilan yang hidup di dalam hati nurani rakyat (Supomo). Dan apakah yang menjadi sumber pengenalnya ("kenbron"). Sumber pengenalnya adalah: Pepatah-pepatah adat. Yurisprudensi adat. Laporan-laporan dari komisi-komisi penelitian yang khusus dibentuk, misalnya komisi Mr. W.B. Bergsma yang meneliti hukum tanah di Jawa dan Madura. Dokumen-dokumen yang memuat ketentuan-ketentuan hukum yang hidup pada waktu itu, baik yang berupa piagam (Pepakem Cirebon), peraturanperaturan (awig-awig maupun ketentuan-ketentuan/keputusan-keputusan (rapang-rapang di Makasar). Buku-buku undang-undang yang dikeluarkan oleh raja-raja atau sultan-sultan, seperti buku undang-undang kerajaan Bone. Buku-buku karangan para sarjana, seperti bukunya: Wilken, Vollenhoven, Hurgronje, Veth, Supomo, Djojodiguno, Hazairin, Endabumi dan lain sebagainya. 8. Tentang Kedudukan Hukum Adat Dalam Tata Hukum Nasional Indonesia Pada tanggal 17 Agustus 1945 kita Bangsa Indonesia hidup dalam perumahan Bangsa sendiri, bebas dari segala ikatan Asing. Ikatan Politik, Ekonomi, Sosial, Kebudayaan dan Mental. Kita hidup sesuai dengan kepribadian/jiwa kita sendiri. Jaman baru telah lahir, salah satu Manifestasi dari jaman baru, hidup baru ini, adalah pengesahan Undang-Undang Dasar 1945 pada tanggal 18 Agustus 1945. Undang-Undang Dasar 1945 adalah asli cerminan Kepribadian (identity)

Bangsa Indonesia. Dengan disahkannya Undang-Undang Dasar 1945 tersebut di atas, Bangsa Indonesia mempunyai dasar-dasar daripada tertib hukum baru, hukum yang mencerminkan Kepribadian Bangsa Indonesia untuk mengatur tata-tertib hidup Bangsa Indonesia dan Masyarakat Indonesia baru. Tertib Hukum baru ini disebut Tata Hukum Nasional. Di dalam lampiran A dari Ketetapan MPRS No. II/MPRS/1960 pada paragraf 402 No. 34 dan 35 tersebut di atas disebut dengan jelas asas-asas yang harus diperhatikan oleh para Pembina Hukum Nasional yaitu: a. Pembangunan hukum Nasional harus diarahkan kepada homogenitet hukum dengan memperhatikan kenyataan-kenyataan yang hidup di Indonesia. b. Harus sesuai dengan haluan Negara dan berlandaskan Hukum Adat yang tidak menghambat perkembangan Masyarakat adil dan makmur Lembaga Pembinaan Hukum Nasional yang diadakan dengan keputusan Presiders nomor 107 tahun 1958 diberi tugas: Melaksanakan pembinaan Hukum Nasional sesuai yang dikehendaki oleh ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara No. II/MPRS/1960 (berlandaskan Hukum Adat) dengan tujuan mencapai Tata Hukum Nasional sebagai berikut: a. Menyiapkan rancangan-rancangan peraturan perundangan-undangan: a) Untuk meletakkan dasar-dasar Tata Hukum Nasional. b) Untuk mengganti peraturan-peraturan yang tidak sesuai dengan Tata Hukum Nasional. c) Untuk masalah-masalah yang belum diatur dalam suatu peraturan perundang-undangan. b. Menyelenggarakan segala sesuatu yang diperlukan untuk menyusun keaturan dalam keadaan perundang-undangan. Dasar-dasar dan Asas-asas Tata Hukum Nasional, atas persetujuan Wakil Menteri Pertama bidang dalam Negeri/Menteri Kehakiman Sahardjo dirumuskan oleh Lembaga Pembinaan Hukum Nasional sebagai berikut: 1) Dasar Pokok Hukum Nasional Republik Indonesia ialah Pancasila. 2) Hukum Nasional bersifat: a) Pengayoman b) Gotong Royong c) Kekeluargaan. d) Toleransi e) Anti "Kolonialisme, Imperialisme, Feodalisme." 3) Semua hukum sebanyak mungkin diberi bentuk tertulis. 4) Selain hukum tertulis diakui berlaku hukum tidak tertulis sepanjang tidak

menghambat terbentuknya Masyarakat Sosialis Indonesia. 5) Hakim membimbing perkembangan hukum tidak tertulis melalui Yurisprudensi ke arah keseragaman hukum (homogenitet) yang seluasluasnya dan dalam bidang hukum kekeluargaan ke arah sistem parental. 6) Hukum tertulis mengenai bidang-bidang hukum tertentu sedapat mungkin dihimpun dalam bentuk kodifikasi (hukum perdata, hukum pidana, hukum dagang, hukum Acara Perdata). 7) Untuk pembangunan masyarakat Sosialis Indonesia diusahakan unifikasi hukum. 8) Dalam perkara, pidana: a) Hakim berwenang sekaligus memutuskan aspek perdatanya baik karena jabatannya maupun atas tuntutan pihak yang berkepentingan. b) Hakim berwenang mengambil tindakan yang dipandang patut dan adil di samping atau tanpa pidana. 9) Sistem pidana harus bersikap memberikan pendidikan kepada terhukum untuk menjadi warga yang bermanfaat bagi masyarakat. 10) Dalam bidang Hukum Acara Perdata diadakan jaminan supaya peradilan berjalan sederhana, cepat dan murah. 11) Dalam bidang Hukum Acara Pidana diadakan ketentuan yang merupakan jaminan kuat untuk mencegah: a) Seseorang tanpa dasar Hukum yang cukup kuat ditahan atau ditahan lebih lama dari yang benar-benar diperlukan. b) Penggeledahan, penyitaan, pembukaan Surat-Surat dilakukan sewenangwenang (lihat pidato Menteri Sahardjo tersebut di atas yang dimuat dalam hukum dan masyarakat tahun 1962 No. 4/5/6 halaman 194, 195 dan 196) pun Hukum dan Masyarakat No. Kongres I - 1961 halaman 224-227. 9. Bagaimanakah Kedudukan Hukum Adat ini Di Kemudian Hari? Tentang masalah ini Profesor Soepomo di dalam pidato Dies Natalis di Universitas Gajah Mada Yogyakarta pada tanggal 17 Maret 1947 menegaskan sebagai berikut: a. Bahwa dalam lapangan hidup kekeluargaan, hukum adat masih akan menguasai masyarakat Indonesia. b. Bahwa hukum pidana dari sesuatu negara wajib sesuai dengan corak dan sifatsifat bangsanya atau masyarakat itu sendiri. Oleh karena itu, maka hukum adat pidana akan memberi bahan-bahan yang sangat berharga dalam pembentukan KUH Pidana baru untuk negara kita. Bahwa hukum adat sebagai hukum kebiasaan yang tak tertulis akan tetap menjadi sumber hukum baru dalam halhal yang belum/tidak ditetapkan oleh undang-undang.

Seminar Hukum Nasional ke-4 yang diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 26-30 Maret 1979 mengenai sistem Hukum Nasional ini antara lain menyimpulkan sebagai berikut: a. Sistem Hukum Nasional harus sesuai dengan kebutuhan dan kesadaran hukum Rakyat Indonesia. b. Landasan Hukum Nasional ialah PANCASILA dan UndangUndang Dasar 1945. c. Asas-asas umum Hukum Nasional adalah asas-asas yang tercantum dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara (Ketetapan MPR. No. IV/MPR/1978) yaitu: 1) Asas manfaat 2) Asas Usaha Bersama dan Kekeluargaan. 3) Asas Demokrasi 4) Asas adil dan merata. 5) Asas perikehidupan dalam keseimbangan. 6) Asas kesadaran hukum. 7) Asas kepercayaan kepada diri sendiri. d. Fungsi Hukum Nasional ialah pengayoman. e. Dalam rangka menciptakan ketertiban dan kepastian hukum untuk memperlancar Pembangunan Nasional, Hukum Nasional sejauh mungkin diusahakan dalam bentuk tertulis. Di camping itu hukum yang tidak tertulis tetap merupakan bagian dari Hukum Nasional. f. Untuk memelihara persatuan dan kesatuan, Hukum Nasional dibina ke arah unifikasi dengan memperhatikan kesadaran hukum masyarakat, khususnya dalam bidang-bidang yang erat hubungannya dengan kehidupan spiritual. g. dan seterusnya.

SISTEM HUKUM ADAT

1. Sendi-Sendi Hukum Adat Yang Merupakan Landasan (Fundamental) Tiap hukum merupakan suatu sistem, artinya kompleks normanormanya itu merupakan suatu kebulatan sebagai wujud pangejawantahan daripada kesatuan alam pikiran yang hidup di dalam masyarakat. Sistem hukum adat bersendi atas dasar alam pikiran bangsa Indonesia yang sudah barang tentu berlainan dengan alam pikiran yang menguasai hukum Barat. Dan untuk dapat memahami serta sadar akan hukum adat, orang harus menyelami dasar-dasar alam pikiran yang hidup di dalam masyarakat Indonesia. Menyimpang ataupun lebih tepat berlainan dengan hukum Barat yang individualistis-liberalistis sifatnya itu, hukum adat memiliki corakcorak sebagai berikut: a. Mempunyai sifat kebersamaan atau komunal yang kuat artinya manusia menurut hukum adat merupakan makhluk dalam ikatan kemasyarakatan yang erat, rasa kebersamaan ini meliputi seluruh lapangan hukum adat. b. Mempunyai corak religio-magis yang berhubungan dengan pandangan hidup alam Indonesia. c. Hukum adat diliputi oleh pikiran penataan serba konkrit; artinya hukum adat sangat memperhatikan banyaknya dan berulang-ulangnya perhubunganperhubungan hidup yang konkrit. d. Hukum adat mempunyai sifat yang visual, artinya perhubungan hukum dianggap hanya terjadi, oleh karena ditetapkan dengan suatu ikatan yang dapat dilihat (tanda yang kelihatan) Corak-corak khas dimaksud di atas nampak pula dengan jelas implementasinya dalam kehidupan sehari-hari. Sifat komunal, sifat kebersamaan ataupun komune trek" terlihat dalam warga desa melakukan kerja "gugurgunung" nampak pola dalam kebiasaan hidup tolong-menolong, bantu-membantu. Bahkan pada suku bangsa Jawa terdapat suatu pepatah adat yang melukiskan secara tepat sekali sifat komunal ini, yaitu pepatah yang berbunyi: "Dudu sanak dudu kadang ning yen mati melu kelangan" (= bukan anggota keluarga bukan saudara sekandung, tetapi kalau ia meninggal merasa turut kehilangan juga). Corak religio-magis terlihat dengan jelas sekali pada upacara-upacara adat di mana lazimnya diadakan sesajen-sesajen yang ditujukan kepada roh-roh leluhur yang ingin diminta restu serta bantuannya. Antara sistem hukum adat dan sistem hukum Barat terdapat beberapa

perbedaan yang fundamental, misalnya: 1. Hukum Barat mengenal "zakelijke rechten" dan "persoonlijke rechten". Zakelijke rechten adalah hak atas benda yang bersifat zakelijk artinya berlaku terhadap tiap orang. Jadi merupakan hak mutlak atau Absolut. "Persoonlijke reehten" adalah hak atas sesuatu obyek (benda) yang hanya berlaku terhadap sesuatu orang lain tertentu. Jadi merupakan hak relatif. Hukum adat tidak mengenal pembagian hak dalam dua golongan seperti tersebut di atas, Hak-hak menurut sistem hukum adat perlindungannya ada di tangan hakim. Hakim mempertimbangkan kepentingan siapa yang lebih berat dalam perkara konkrit yang diadili itu, kepentingan pemilik atau kepentingan pembeli yang bersangka baik. 2. Hukum Barat mengenal perbedaan antara hukum publik dan hukum privat. Hukum adat tidak mengenal perbedaan ini. 3. Hukum Barat membedakan pelanggaran-pelanggaran hukum dalam dua golongan, yaitu pelanggaran yang bersifat pidana dan harus diperiksa oleh hakim pidana, dan pelanggaran-pelanggaran yang hanya mempunyai akibat dalam lapangan perdata saja serta yang diadili oleh hakim Perdata. Hukum adat tidak mengenal perbedaan demikian. Perbedaan-perbedaan fundamental dalam sistem ini, pada hakikatnya disebabkan karena: a. Corak serta sifat yang berlainan antara hukum adat dan hukum Barat b. Pandangan hidup yang mendukung ("Volksgeist menurut Von Savigny) kedua macam hukum itu juga jauh berlainan. 2. Bahasa Hukum Lukisan sesuatu sistem hukum memerlukan pemakaian hukum teknis secara konsekwen. Hukum Barat telah memiliki istilah-istilah hukum teknis yang dibina berabad-abad oleh para ahli hukum, para hakim dan oleh pembentuk undangundang. Hukum Adat, pembinaan bahasa hukum ini justru masih merupakan suatu masalah yang sangat meminta perhatian khusus pada para ahli hukum Indonesia. Bahasa hukum adalah bukan sesuatu yang dapat diciptakan dalam satu dua hari saja, tetapi harus melalui suatu proses yang cukup lama. Dengan demikian, maka sudah dengan sendirinya, bahwa bahasa rakyat yang bersangkutanlah merupakan bahasa yang pertama-tama yang sanggup melukiskan perasaan rakyat dimaksud secara tepat 3. Pepatah adat Kecuali istilah-istilah hukum adat, di berbagai lingkaran hukum adat

terdapat pula "pepatah adat" - "kato adat" - 'patitih - mamangan" - "umpama" "pitua" yang sangat berguna sebagai petunjuk tentang adanya sesuatu peraturan hukum adat. Contoh: a. Dari daerah Tapanuli, misalnya yang berikut: "togu urat ni bulu, toguan urat ni padang, togu pe na nidok ni uhum, toguan na nidok ni padan. Artinya: "akar bambu kuat, akan tetapi akar rumput lebih kuat lagi." Umpama ini mengandung dasar hukum, bahwa peraturan-peraturan hukum (positif) adalah kuat, akan tetapi sesuatu persetujuan adalah lebih kuat daripada peraturan hukum. b. Dari daerah Minangkabau, misalnya yang berikut: "Sakali aie gadang, sakali tapian baranjak, sakali raja ba(r) ganti, sakali adat ber ubah. - Artinya: "Apabila air meluap, tempat permandian bergeser, Apabila ada penggantian raja, maka adat akan berganti juga." Pepatah ini mengandung pengertian, bahwa adat itu tidak statis, melainkan berubah menurut perubahan yang berlaku dengan penggantian kepada adat. 4. Penyelidikan Hukum Adat Apabila berkehendak melakukan penyelidikan setempat, maka agar memperoleh bahan-bahan yang tepat serta berharga tentang hukum adat perhatian harus diarahkan kepada yang berikut: a. Research tentang putusan-putusan petugas hukum ditempat/didaerah yang bersangkutan; b. Sikap penduduk dalam hidupnya sehari-hari terhadap hal-hal yang sedang disoroti dan diinginkan mendapat keterangan dengan melakukan field research" itu. Bagaimanakah caranya melakukan field research?" Wajib menemui para pejabat desa, orang-orang tua, para cerdik pandai dan orang-orang terkemuka di daerah yang bersangkutan, serta menanyakan fakta-fakta yang telah dialami atau diketahui sendiri oleh mereka itu. Dengan cara ini dapat diperoleh keterangan tentang peraturan-peraturan yang benar-benar berlaku di dalam hidup bersama di daerah yang sedang diselidiki serta selanjutnya dapat dilukiskan hukum adat yang nyata-nyata hidup di daerah itu. 5. Hukum Adat Sebagai Aspek Kebudayaan Penyelidikan Van Vollenhoven dan sarjana-sarjana lain membuktikan bahwa wilayah Hukum Adat Indonesia itu tidak hanya terbatas pada daerahdaerah hukum Republik Indonesia yaitu terbatas pada daerah kepulauan Nusantara kita. Hukum Adat Indonesia tidak hanya bersemayam dalam hati

nurani orang Indonesia yang menjadi warga negara Republik Indonesia di segala penjuru Nusantara kita, tetapi tersebar meluas sampai kegugusan kepulauan Philipina dan Taiwan di sebelah Utara, di pulau Malagasi (Madagaskar) dan berbatas di sebelah Timur sampai di kepulauan Paska, dianut dan dipertahankan oleh orang Indonesia yang termasuk golongan orang Indonesia dalam arti ethnis. Hukum yang terdapat di dalam masyarakat manusia, betapa sederhana dan kecil pun masyarakat itu, menjadi cerminnya. Karena tiap masyarakat, tiap rakyat, mempunyai kebudayaan sendiri dengan corak dan sifatnya sendiri, mempunyai struktur alam pikiran sendiri. Begitu pula halnya dengan hukum ada di Indonesia, hukum adat itu senantiasa tumbuh dari sesuatu kebutuhan hidup yang nyata, cara hidup dan pandangan hidup yang keseluruhannya merupakan kebudayaan masyarakat tempat hukum adat itu berlaku.