Anda di halaman 1dari 8

MEMBANGUN KEMBALI KEMAMPUAN ENGINEERING NASIONAL

Bacharuddin Jusuf Habibie


ACARA PII AWARD 2010 Auditorium BPPT Jakarta, Rabu 22 Desember 2010

Industri pertanian, perkebunan, pertambangan, perternakan, perikanan; industri bangunan, perhubungan, jasa, perbankan, perdagangan saja tidak dapat menyediakan lapangan-kerja atau jam-kerja yang sangat dibutuhkan Kita harus memberi perhatian khusus pada industri manufaktur, baik mikro, kecil, menengah maupun besar Pasar dalam negeri diamankan untuk produk dalam negeri tanpa membedakan siapa pemilik perusahaan Penggerak utama industri manufaktur adalah pasar dalam negeri. Industri manufaktur obat, jamu, makanan, kerajinan, tekstil, pakaian jadi, transportasi darat-laut-udara, mesin, baja, elektonik dsb. Harus segera mendapat perhatian.

Yang diperhatikan bukan hanya Neraca Perdagangan dan Neraca Pembayaran namun juga Neraca Jam-Kerja. Dalam proses globalisasi, Neraca Jam Kerja harus segera mendapat perhatian khusus. Defisit Jam Kerja dapat diperbaiki melalui peningkatan daya saing industri manufaktur yang memanfaatkan SDM dan teknologi secanggih apa pun. Untuk memperbaiki Neraca Jam Kerja diperlukan perencanaan jangka panjang yang konsisten dan berkesinambungan harus diamankan, tidak mungkin dilaksanakan dalam waktu yang singkat.

Diperlukan produk hukum yang dapat membantu peningkatan daya saing industri manufaktur dan mengamankan pasar domestik untuk produk buatan dalam negeri. Kebijakan ini bukan proteksionisme, namun untuk menciptakan lapangan kerja dalam rangka memperbaiki Neraca Jam Kerja Kebijakan peningkatan kualitas dan daya saing SDM, harus senantiasa mengandalkan pada kualitas IPTEK dan proses pendidikan keachlian yang disesuaikan dengan kebutuhan industri manufaktur yang perlu terus ditingkatkan.

Pemberian insentip keringanan pajak pada semua produkt yang padat karya. Mempersulit impor produk padat karya Memberi Informasi yang tepat guna pada masyarakat bahwa membeli produk buatan dalam negeri sama dengan mengamankan lapangan kerja dan menjamin proses pemerataan dan kesejahteraan yang berkesinambungan.

Memberi insentip khusus pada investor dalam dan luar negeri bidang manufaktur padat karya Memberi insentip pada semua perusahaan yang memiliki program pendidikan untuk meningkatkan daya saing Meningkatkan peran Dewan Riset Nasional, Dewan Standardisasi Nasional, BPPT, LIPI, AIPI,PUSPITEK dan Lembaga swasta dan pemerintah sejenis lainnya yang diperlukan untuk mengembangkan produk dalam negeri.

Dalam waktu sesingkat-singkatnya PII bersama dengan ISEI mengambil Inisiatip untuk mengadakan Pertemuan Nasional mengenai masallah JAMKERJA Menyusun kriteria JAMKERJA Mengkwantifisir JAMKERJA dalam nilai IDR dan USD Menyususn rancangan UU yang berkaitan dengan JAMKERJA dan LAPANGAN KERJA Menggalakkan kerja sama antara Pemerintah Daerah dan Pusat dalam memperbaiki Neraca JAMKERJA

Melanjutkan dan menyesuaikan dengan keadaan sekarang rencana pembangunan berkesinambungan pulau BATAM. Melanjutkan rencana Kawasan Pembangunan Ekonomi Terpadu atau KAPET di Wilayah Indonesia bagian Timur. Mengembangkan KAPET secara Nasional Mengembangkan mekanisme kerjasama antar Daerah berdasarkan pengalaman 10 tahun Otonomi Daerah Memberi Insentip khusus pada pembangunan di Daerah yang belum memiliki Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang memadai dan perlu disusun kriterianya Perlu dikembangkan dan berperan Bank Pembangunan Daerah atau Bank Pembangunan Wilayah