Anda di halaman 1dari 6

Nama NIM

: Inike Dewi Kusuma W. : D2D008042

REVIEW BUKU Judul Buku : Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Pengarang Penerbit : Otto Soemarwoto : Gadjah MadaUniversity Press

Tahun Terbit : 2005

Bab 1 Pendahuluan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan, atau yang sering disingkat dengan AMDAL, lahir dengan diundangkannya undang-undang tentang lingkungan hidup di Amerika Serikat, National Environmental Policy Act (NEPA), pada tahun 1969. NEPA 1969 mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 1970. Pasal 102 (2) (C) dalam undang-undang ini menyatakan, semua usulan legislasi dan aktivitas pemerintah federal yang besar yang diperkirakan akan mempunyai dampak penting terhadap lingkungan diharuskan disertai laporan Enviromental Impact Assessment (Analisis Dampak Lingkungan) tentang usulan tersebut. Dalam keadaan tingkat hidup yang tinggi yang hampir semua penduduknya tidak lagi mengenal kelaparan maupun penyakit menular yang berbahaya, kerusakan lingkungan dipandang sebagai bahaya terhadap kehidupan orang Barat yang makmur, aman dan menyenangkan. Untuk apa harus dibangun bendungan, apabila bendungan tersebut membawa risiko rusaknya lingkungan, sedangkan listrik untuk pabrik dan keperluan rumah tangga serta air irigasi untuk produksi pertanian sudah cukup. Untuk apa pula digunakan pestisida untuk menaikkan lagi produksi bahan makanan dengan menanggung risiko terjadinya pencemaran lingkungan, sedangkan produksi telah melimpah bahkan berlebihan. Demikianlah, antara lain, argumentasi para aktivis lingkungan hidup di dunia Barat. Secara umum keadaan di negara yang sedang berkembang sangatlah berbeda dengan di negara maju. Tingkat hidup masih rendah, produksi bahan makanan masih belum cukup untuk memenuhi kebutuhan penduduknya, sehingga kurang makan sering terjadi, bahkan bahaya kelaparan masih selalu mengancam di beberapa negara, tingkat pendidikan masih rendah, pengangguran terdapat pada tingkat yang tinggi, erosi merajalela di banyak tempat, serta kekeringan dan banjir merupakan ancaman yang rutin. Indonesia pun masih mengaami banyak masalah
1

walaupun dibandingkan dengan keadaan di banyak negara yang sedang berkembang lainnya, keadaan kita sudah cukup baik. Namun dengan adanya pembangunan sebagian masalah tersebut selah dapat dipecahkan atau diperingan walaupun harus dengan menggunakan teknologi tinggi. Walaupun pembangunan kita perlukan untuk mengatasi banyak masalah, namun pengalaman meunjukkan bahwa pembangunan mempunyai dampak negatif. Untuk itu pembangunan harus berwawasan lingkungan yang pada hakekatnya merupakan permasalahan ekologi, khususnya ekologi pembangunan, yaitu interaksi antara pembangunan dan lingkungan. Ekologi pembangunan merupakan cabang khusus ekologi manusia. Bab 2 Ekologi Manusia: Interaksi Manusia Dengan Lingkungan Hidupnya Manusia secara ekologi adalah bagian integral dari lingkungan hidupnya. Manusia terbentuk oleh lingkungan hidupnya dan sebaliknya manusia membentuk lingkungan hidupnya. Kelangsungan hidupnya hanya mungkin dalam batas kemampuannya untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan dalam lingkungan hidupnya. Kualitas lingkungan dapat diukur dengan menggunakan kualitas hidup sebagai acuan, yakni dalam lingkungan yang berkualitas tinggi terdapat potensi untuk berkembangnya hidup dengan kualitas yang tinggi. Kualitas hidup ditentukan oleh tiga komponen, yaitu derajat terpenuhinya kebutuhan untuk kelangsungan hidup hayati, derajat dipenuhinya kebutuhan untuk kelangsungan hidup manusiawi, dan derajat kebebasan untuk memilih. Pembangunan pada hakekatnya adalah gangguan terhadap keseimbangan lingkungan, yaitu usaha sadar manusia untuk mengubah keseimbangan lingkungan dari tingkat kualitas yang dianggap kurang baik ke keseimbangan baru pada tingkat kualitas yang dianggap lebih tinggi. Dalam usaha ini harus dijaga agar lingkungan tetap mampu untuk mendukung tingkat hidup pada kualitas yang lebih tinggi itu. Pembangunan itu berwawasan lingkungan dan berkelanjutan. Bab 3 Arti dan Peranan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan diperuntukkan bagi perencanaan program dan proyek. Karena itu AMDAL sering pula disebut preaudit. Baik menurut undang-undang maupun berdasarkan pertimbangan teknis. AMDAL bukanlah alat untuk mengkaji lingkungan setelah program atau proyek selesai dan operasional. Sebab setelah proyek atau program selesai, lingkungan telah berubah, sehingga garis dasar seluruhnya atau sebagian telah terhapus dan tidak ada lagi acuan untuk mengukur dampak. Arti dampak seyogyanya diberi batasan: perbedaan antara kondisi lingkungan yang diperkirakan akan ada tanpa adanya pembangunan dan yang diperkirakan akan ada dengan adanya pembangunan. Dengan batasan ini dampak yang disebabkan oleh aktivitas lain di luar pebangunan termaksud, baik alamiah
2

maupun oleh manusia, tidak ikut diperhitungkan dalam prakiraan dampak. Dampak meliputi baik dampak biofisik, maupun dampak sosial-ekonomi-budaya dan kesehatan, serta seyogyanya tidak dilakukan Analisis Dampak Sosial dan Analisis Dampak Kesehatan Lingkungan secara terpisah dari AMDAL. Bab 4 Metodologi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan I: Uraian Umum Analisis Mengenai Dampak Lingkungan didahului oleh penapisan (screening) apakah proyek akan memerlukan AMDAL atau tidak, AMDAL terdiri atas beberapa langkah, yaitu 1. 2. 3. Identifikasi dampak penting dan pelingkupan Penyusunan Kerangka Acuan (KA) berdasarkan pelingkupan ANDAL 3.1 Prakiraan besarnya dampak 3.2 Evaluasi dampak 4. Perencanaan pengelolaan dan pemantauan lingkungan 4.1 Penyusunan Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) 4.2 Penyusunan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL)
5. Penyusunan laporan AMDAL

5.1 Penyusunan Ringkasan Eksekutif 5.2 Penyusunan Laporan Utama 5.3 Penyusunan Lampiran-lampiran Bab 5 Metodologi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan II: Penapisan Penapisan bertujuan untuk memilah proyek pembangunan yang memerlukan AMDAL dan yang tidak memmerlukannya. Metode penapisan dalam garis besarnya dapat dibedakan dalam dua kelompok, yaitu metode penapisan bertahap dan metode penapisan satu langkah. Metode penapisan yang bersifat uraian memerlukan tenaga terlatih, baik untuk penyusunannya maupun untuk memeriksanya. Karena laporan penapisan harus diperiksa oleh instansi yang berwenang, metode ini memperpanjang birokrasi dan menambah ekonomi biaya tinggi. Metode penapisan yang sederhana berupa daftar positif, yaitu rencana jenis proyek dan lokasi yang tercantum dalam daftar diharuskan dilengkapi dengan AMDAL. Yang tidak tercantum di dalamnya tidak memerlukan AMDAL.

Metode ini sangat mudah dan dengan Kepmen-11/MENLH/3/1994 metode penapisan dengan daftar positif telah diterapkan di Indonesia. Bab 6 Metodologi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan III: Pelingkupan dan Kerangka Acuan Pelingkupan bertujuan untuk membatasi penelitian AMDAL pada dampak penting saja. Dampak penting ditentukan dari sejumlah dampak potensial yang diidentifikasi berdasarkan hal penting, yaitu hal yang dipedulikan oleh pemrakarsa proyek, pemerintah dan masyarakat nasional maupun internasional dan yang dianggap penting. Karena itu penentuan hal penting harus didasarkan pada masukan yang diperoleh dari pemrakarsa, pejabat yang berwenang dan masyarakat yang berkepentingan. Usaha untuk mendapatkan masukan dari keempat kelompok itu merupakan upaya untuk terlaksananya pasal 22 Peraturan Pemerintah No. 51 tahun 1993. Pelingkupan mencakup bidang, ruang, dan waktu. Pelingkupan selanjutnya digunakan sebagai dasar untuk menyusun kerangka acuan. Kerangka acuan seyogyanya bersifat lentur, yaitu dapat mengalami perubahan, baik dengan kerjakurang atau kerja-tambah. Bab 7 Metodologi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan IV: Prakiraan Dampak, Analisis Risiko Lingkungan Serta Evaluasi Dampak dan Risiko Prakiraan dampak dapat dilakukan dengan metode informasi dan metode formal. Sedapat-dapatnya diusahakan untuk digunakan metode formal, yaitu dengan model prakiraan cepat, model matematik, model fisik, dan model eksperimental, dengan menghasilkan hasil kuantitatif. Dampak dapat bersifat kumulatif. Mekanisme terjadinya dampak kumulatif masih banyak yang belum diketahui. Karena itu metode prakiraan dampak kumulatif juga masih belum banyak berkembang, sehingga prakiraan itu masih banyak dilakukan secara infortmal dengan hasil yang bersifat kualitatif. Namun dalam hal telah dapat dilakukan metode formal, harus diusahakan metode ini untuk mendapatkan hasil kuantitatif. Bab 8 Metodologi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan V: Pengelolaan Lingkungan Proyek: Penanganan Dampak, Pemantauan Dampak, dan Audit Lingkungan Penanganan dampak dapat bersifat ad hoc, yaitu untuk dampak yang bersifat kecil, tetapi penting, misalnya penggunaan masker pada pekerja di pertambangan batu. Untuk dampak yang bersifat lintas sektoral penanganannya merupakan bagian terpadu pengelolaan lingkungan proyek, misalnya pada pembangunan kota dan pembangunan bendungan. Pemantauan dampak bertujuan untuk mengelola dampak, umpan balik untuk perbaikan teknik prakiraan dampak dan untuk pengembangan kebijaksanaan lingkungan. Audit lingkungan mengukur kondisi lingkungan pada
4

proyek yang sedang berjalan dengan tujuan untuk mengidentifikasi manfaat dam risiko yang ada di daerah proyek. ANALISIS Keadaan di negara yang sedang berkembang sangatlah berbeda dengan di negara maju. Indonesia pun masih mengaami banyak masalah walaupun dibandingkan dengan keadaan di banyak negara yang sedang berkembang lainnya, keadaan kita sudah cukup baik. Namun dengan adanya pembangunan sebagian masalah tersebut selah dapat dipecahkan atau diperingan walaupun harus dengan menggunakan teknologi tinggi. Walaupun pembangunan kita perlukan untuk mengatasi banyak masalah, namun pengalaman menunjukkan bahwa pembangunan mempunyai dampak negatif. Untuk itu pembangunan harus berwawasan lingkungan yang pada hakekatnya merupakan permasalahan ekologi, khususnya ekologi pembangunan, yaitu interaksi antara pembangunan dan lingkungan. Ekologi pembangunan merupakan cabang khusus ekologi manusia. Citra lingkungan tradisional manusia Indonesia ialah manusia merupakan bagian dari lingkungan hidupnya. Karena itu kelangsungan hidup manusia tergantung dari keutuhan lingkungan hidupnya. Lingkungan hidup tidak dipandang semata-mata sebagai sumber daya yang harus dieksploitasi, melainkan terutama sebagai tempat hidup yang mensyaratkan adanya keserasian antara manusia dengan lingkungan hidupnya. Tujuan jangka panjang kita bukanlah untuk memperkuat AMDAL, melainkan justru untuk mengeliminasinya dengan makin mengurangi kebutuhan akan AMDAL sebagai proses terpisah dan mengintegrasikan pertimbangan lingkungan yang holistik sebagai bagian internal proses perencanaan yang berwawasan lingkungan. Karena sifat AMDAL yang lintas sektoral gugus kerja AMDAL haruslah bersifat multidisiplin dengan anggota pakar yang menguasai bidang yang diliput dalam AMDAL yang bersangkutan. Anggota pakar tidak perlu mempunyai sertifikat khusus AMDAL, namun harus mempunyai pengalaman dalam pelaksanaan dan penyusunan AMDAL. Penapisan bertujuan untuk memilah proyek pembangunan yang memerlukan AMDAL dan yang tidak memmerlukannya. Metode penapisan dalam garis besarnya dapat dibedakan dalam dua kelompok, yaitu metode penapisan bertahap dan metode penapisan satu langkah. Pelingkupan bertujuan untuk membatasi penelitian AMDAL pada dampak penting saja. Pelingkupan mencakup bidang, ruang, dan waktu. Pelingkupan selanjutnya digunakan sebagai dasar untuk menyusun kerangka acuan. Kerangka acuan seyogyanya bersifat lentur, yaitu dapat mengalami perubahan, baik dengan kerja-kurang atau kerja-tambah.