Anda di halaman 1dari 10

Rumusan Masalah 1. Apa yang dimaksud dengan penelitian hukum Islam sosiologis? 2.

Apa tipologi penelitian hukum Islam sosiologis? 3. Apa saja metode yang digunakan dalam penelitian hukum sosiologis? 4. Bagaimana aplikasi penelitian hukum Islam sosiologis?

A. Penelitian Hukum Islam Sosiologis Penelitian hukum merupakan suatu kegiatan ilmiah yang didasarkan pada metode, sistematika, dan pemikiran tertentu.1 Tujuan dari penelitian tersebut adalah untuk mempelajari satu atau beberapa gejala hukum tertentu dengan jelas dan menganalisanya. Di samping itu juga mengadakan pemeriksaan yang mendalam terhadap fakta hukum tersebut untuk kemudian mengusahakan suatu pemecahan atas permasalahan-permasalahan yang timbul di dalam gejala yang bersangkutan. Dengan demikian, obyek penelitian hukum dapat berupa norma hukum dan perilaku hukum. Hal ini terkait dengan apa yang umum diketahui bahwa hukum itu terdiri atas law in books dan law in action.2 Menurut Zarkasyi, yang dimaksud dengan law in books adalah gejala normatif otonom yang berupa kumpulan norma-norma yang mengatur hubungan-hubungan dalam masyarakat. Sedangkan law in action adalah hukum sebagai yang dijelaskan oleh masyarakat dalam tingkah laku para anggotanya. Kalau penelitian terhadap hukum sebagai law in books disebut penelitian hukum normatif, maka penelitian terhadap hukum sebagai law in action disebut penelitian hukum sosiologis.3 Berbicara tentang Hukum Islam, sejak diundangkan dan berlakunya Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama, Muhammad Daud Ali menyatakan, ketika kita membicarakan Hukum Islam, apakah yang dimaksud itu Syariat Islam atau Fiqh Islam? Syariat Islam adalah Hukum Islam yang berlaku abadi sepanjang masa. Sedangkan Fiqh adalah perumusan konkret

Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta: UI Press, 1986), 43........ dalam AlQanun, Jurnal Pemikiran dan Pembaruan Hukum Islam, Vol. 6 No.2 Desember 2003, hal 307 2 Zarkasyi Abdussalam, Metode Penelitian dan Pengembangan Ilmu Fiqh dalam Pengantar Arah Metode Penelitian dan Pengembangan Ilmu Pengetahuan Agama Islam, (Yogyakarta: Balai Penelitian P3M, 1992), 54.....dalam dalam Al-Qanun, Jurnal Pemikiran dan Pembaruan Hukum Islam, Vol. 6 No.2 Desember 2003, hal 310. 3 Masruhan, Metodologi Penelitian Hukum Islam, dalam Al-Qanun, Jurnal Pemikiran dan Pembaruan Hukum Islam, Vol. 6 No.2 Desember 2003, hal 310.

Syariat Islam untuk diterapkan pada suatu kasus tertentu di suatu tempat dan di suatu masa.4 Sebagai disiplin otonom, Hukum Islam juga memiliki pendekatan dan metode yang khas. Sudah barang tentu, pendekatan dan metode ini dikembangkan berdasarkan sifat dasar (the nature) dari bahan kajiannya. Kendati ada perbedaan, kajian hukum bidang tertentu tetap memiliki kesamaan dengan kajian hukum bidang lain, yang timbul karena sifat hukum yang juridis normatif. Karena itu pula, pada umumnya pendekatan dan metode yang lazim digunakan dalam penelitian hukum adalah pendekatan juridis-normatif atau normatifempiris. Penetapan metode ini bergantung pada masalah atau peristiwa hukum yang akan diteliti.5

B. Tipologi Penelitian Hukum Islam Sosiologis (non Doctrinal) Pembahasan tentang tipologi Hukum Islam bertitik tolak dari tipe-tipe penelitian hukum terutama dari sudut tujuannya. Dari sudut ini, penelitian hukum terdiri atas penelitian hukum normatif dan penelitian hukum sosiologis atau empiris.6 Adapun tipologi penelitian hukum sosiologis atau empiris adalah penelitian hukum yang dimulai dengan meneliti data sekunder untuk kemudian dilajutkan dengan meneliti data primer di lapangan atau terhadap masyarakat. Pada penelitian sosiologis tidak selalu diperlukan hipotesis, kecuali jika penelitiannya bersifat eksplanatoris terkadang diperlukan hipotesis sepeti jika penelitiannya bertujuan untuk menentukan korelasi antara beberapa gejala yang ditelaah. 7

Cik Hasan Bisri, Model Penelitian Fiqh, (Bogor: Kencana, 2003), 3 http://www.mudjiarahardjo.com, diakses tanggal 14 Juni 2011 6 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta: UI Press, 1986), hal 50-51....... dalam Al-Qanun, Jurnal Pemikiran dan Pembaruan Hukum Islam, Vol. 6 No.2 Desember 2003, hal 311 7 Ibid., hal. 53
5

Secara umum, bahan kajian pada penelitian Hukum Islam bisa dikategorikan menjadi dua. Kategorisasi ini, pada akhirnya nanti, akan menentukan teknik pengumpulan dan pengolahan data penelitian. Dua kategori dimaksud adalah: bahan-bahan normatif dan bahan-bahan empirik. Bahan normatif mencakup segala sumber hukum Islam yang sudah diakui. Di antaranya adalah Al Quran, Al Hadits, Ijma, Qiyas serta pendapat para ulama. Bahan empirik mencakup praktik hukum, peristiwa hukum, dan pranata hukum seperti peradilan agama, lembaga fatwa, dan organisasi keagamaan Islam. Sesuai dengan sifatnya yang empirik, maka bahan-bahan ini sangat perlu dikumpulkan, diolah untuk kemudian dikenali pola-pola yang berlaku. Sebagaimana diniscayakan jauh sebelum kurun sekarang, kemajemukan mazhab dalam Islam melahirkan praktik hukum, peristiwa hukum, pranata hukum seperti peradilan agama, lembaga fatwa, dan organisasi keagamaan Islam yang beraneka-ragam. Karena itu, secara empirik sangat penting untuk diteliti dan dipahami oleh siapa pun yang mengambil keputusan untuk menjadi ahli hukum Islam. 8 Lebih jauh dapat dikemukakan juga bahwa penelitian hukum sosiologis dapat dilakukan dengan melihat hukum sebagai independent variable yang menimbulkan berbagai efek dalam masyarakat dan ini desebut sociolegal research. Sebagai independent variable, hukum dapat hukum. 9 diteliti dengan

mengarahkan pada asal mula, perkembangan, organisasi, dan beroperasinya

http://www.mudjiarahardjo.com, diakses tanggal 14 Juni 2011 Masruhan, Metodologi Penelitian Hukum Islam, dalam dalam Al-Qanun, Jurnal Pemikiran dan Pembaruan Hukum Islam, Vol. 6 No.2 Desember 2003, hal 311.
9

C. Metode Yang Digunakan Dalam Penelitian Hukum Islam Sosiologis Hingga kini, formula metode penelitian Hukum Islam Sosiologis belum dirumuskan secara spesifik. Sementara itu, metode penelitian yang lazim digunakan dalam rumpun ilmu-ilmu sosial cukup berkembang dan bervariasi. Adapun beberapa metode yang dapat diterapkan pada penelitian Hukum Islam sosiologis adalah: Pertama, metode Historis, yaitu metode yang dimaksudkan untuk mengetahui kecenderungan-kecenderungan hukum di masa lampau agar dapat memberi penafsiran pada masa kini. Segi-segi hukum yang dapat didekati secara historis adalah institusi hukum, sumber-sumber hukum, dan tokoh-tokoh yang mempunyai peran besar dalam hukum di masa lampau.10 Metode historis memang penting dalam menggali fakta dan nilai yang hidup di masyarakat. Akan tetapi, pada akhirnya, sejarah harus berbicara fakta; dengan sendirinya nilai-nilai terabaikan. Meskipun demikian, dapat diakui bahwa pendekatan historis penting dilakukan dalam rangka mengetahui latar belakang hukum tersebut dikeluarkan. 11 Sejarah memang penting digunakan untuk mengetahui setting sosiohistoris suatu hukum dalam realitas masyarakat, tetapi persoalannya adalah sejarah mengandung masa lampau yang bisa jadi data-datanya masih mengandung kerelatifan meskipun ia memiliki makna.12 Ada beberapa karakteristik yang melekat pada metode penelitian sejarah, di antaranya:

Zarkasyi Abdussalam, Metode Penelitian dan Pengembangan Ilmu Fiqh dalam Pengantar Arah Metode Penelitian dan Pengembangan Ilmu Pengetahuan Agama Islam, (Yogyakarta: Balai Penelitian P3M, 1992), hal 55.....dalam dalam Al-Qanun, Jurnal Pemikiran dan Pembaruan Hukum Islam, Vol. 6 No.2 Desember 2003, hal 312. 11 Juhaya S. Praja, Filsafat Ilmu: Menelusuri Struktur Filsafat Ilmu dan Ilmu-ilmu Islam (Bandung:Program Pascasarjana IAIN Sunan Gunung Djati. 2007), hlm. 32-50). 12 F.R. Ankersmit, Refleksi tentang Sejarah: Pendapat-pendapat Modern tentang Filsafat Sejarah (Jakarta: PT. Gramedia. 1987), hlm. 17 dan 372.

10

1. Data sejarah sangat bergantung kepada hasil pengamatan orang lain, oleh karena peneliti berada di luar ruang, terutama waktu terjadinya peristiwa tersebut. 2. Sumber data meliputi sumber primer dan sumber sekunder. Sumber primer apabila penelitinya secara langsung mengamati peristiwa sejarah atau pelaku sejarah menuturkannya kepada peneliti. Sedangkan sumber sekunder apabila penelitinya tidak secara langsung mengamati peristiwa itu tetapi ia melaporkannya berdasarkan hasil pengamatan orang lain. 3. Terhadap sumber data itu dilakukan kritik internal dan kritik eksternal. Kritik internal berkenaan dengan otentisitas sumber, yang sangat tergantung kepada motivasi, tingkat kemencengan (bias), dan keterbatasan dalam pengamatan. Sedangkan kritik eksternal berkenaan dengan tingkat relevansi dan akurasi sumber berkenaan dengan struktur dan pola budaya yang melingkupi peristiwa tersebut. 4. Hal yang lazim dilakukan dalam penelitian sejarah adanya tinjauan pustaka, yang menggambarkan tentang hasil penelitian yang pernah dilakukan, pendekatan yang digunakan, model penelitian yang diterapkan, dan temuan yang diperoleh.13 Kedua, metode Survey. Menurut Black dan Champion, survey adalah specification of procedure for gathering information about large member of people by collecting information from a few of them.14 Dari sini jelas bahwa survey dimaksudkan untuk menghimpun informasi secara sistematik yang umumnya dilakukan dengan Sampling. Contoh penggunaan metode survey adalah apa yang dilakukan oleh How Informen Assistence Administration dari

Cik Hasan Bisri, Pilar-Pilar Penelitian Hukum Islam dan Pranata Sosial, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2004), hal. 290-291 14 James A. Black & Dean J. Champion, 1976, sebagaimana dikutip oleh Soerjono Soekanto, Pengantar, hal.54....... dalam dalam Al-Qanun, Jurnal Pemikiran dan Pembaruan Hukum Islam, Vol. 6 No.2 Desember 2003, hal 312.

13

Departemen Kehakiman Amerika Serikat (1974) untuk memperoleh ukuran akurat tentang besarnya kejahatan di Amerika. Berkenaan dengan penggunaan metode itu, ada beberapa ciri yang melekat dalam survai, yang memerlukan perhatian, di antaranya: 1. Biasanya metode survai digunakan dalam penelitian yang dilakukan dengan pendekatan kuantitatif dalam arti menggunakan uji statistik, atau sekurangkurangnya menggunakan statistik deskriptif. 2. Data yang dikumpulkan bersifat aspektual dan relatif besar (sedikit peubah dari jumlah data yang besar). Bersifat aspektual, maksudnya hanya tentang ciri tertentu dari suatu populasi yang kemudian dihubungkan dengan ciri lainnya. Secara teknis ciri-ciri itu kemudian didefinisikan sebagai peubah penelitian. Adapun yang dimaksud dengan data yang relatif besar, terdiri atas sejumlah (lazim di atas seratus) sumber data satuan analisis. Bahkan, boleh jadi ribuan sumber data dan satuan analisis. 3. Sumber data pada umumnya dipandang sebagai responden, yakni orang yang diminta tanggapan, pengalaman, atau pendapatnya tentang sesuatu yang dipilih dan ditetapkan sebagai salah satu peubah penelitian (peubah terikat) 4. Penentuan sumber data dilakukan dengan teknik sampling, yakni pemilihan sampel yang dipandang sebagai representasi dari populasi. Sampel itu berfungsi sebagai penduga terhadap populasi, sehingga kesimpulan terhadap sampel dipandang sebagai kesimpulan terhadap populasi. Dengan cara demikian, survai diarahkan untuk penarikan kesimpulan secara umum (generalization). 5. Berkenaan dengan jumlah sampel yang besar itu, pengumpulan data dilakukan dengan pengajuan daftar pertanyaan (questonaire). Dalam penyusunan daftar

pertanyyan tersebut dituntut untuk melakukan pemilihan dan penggunaan butir-butir pertanyaan yang disusun secara sahih dan tasdik. 15 Ketiga, metode Experimen. Metode ini oleh Black ini oleh Black dan Champion didefinisikan sebagai design that research to control condition within which persons are observed and analyzed. Metode ini digunakan untuk menguji adanya hubungan kausal yang biasanya dilakukan dengan dua atau lebih kelompok. Salah satu dari kelompok-kelompok itu merupakan pengontrol bagi kelompok yang lain. Sebagai contoh adalah penelitian yang dimaksudkan untuk meneliti taraf kesadaran hukum dari golongan-golongan tertentu di dalam masyarakat. Dalam menerapkan metode eksperimental dikenal dua cara untuk membentuk kelompok eksperimental dan kelompok pengawas atau pengendali (control group). Salah satu caranya disebut sebagai teknik memperbandingkan pasangan (matched-pair technique). Bagi setiap orang dalam kelompok eksperimental dipilih orang-orang yang sekualitas dengannya dalam kelompok pengawas atau pengendali. Teknik lainnya adalah taknik penugasan acak (random-assignment technique); artinya, dengan mempergunakan penugasan acak secara statistis orang-orang dari kelompok eksperimental maupun pengawas atau pengendali diberi tugas-tugas tertentu, untuk terlibat dalam proses kelompok-kelompok yang bersangkutan. Misalnya, orang pertama ditugaskan di kelompok eksperimental, orang kedua di kelompok pengawas atau pengendali, dan seterusnya. 16 Metode yang lainnya adalah metode Kasuistik. Metode ini dapat diterapkan jika penelitian dimaksudkan untuk menggambarkan secara lengkap ciri-ciri dari suatu keadaan, perilaku pribadi maupun perilaku kelompok. Metode ini dapat diterapkan baik pada penelitian hukum kelompok. Metode dapat
Cik Hasan Bisri, Pilar-Pilar Penelitian Hukum Islam dan Pranata Sosial, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2004), hal. 294-295 16 Soerjono Soekanto, Perspektif Teoritis Studi Hukum dalam Masyarakat, (Jakarta: CV Rajawali, 1985), hal. 90.
15

diterapkan baik pada penelitian hukum normatif maupun pada penelitian hukum sosiologis atau empiris. 17 Terdapat beberapa ciri yang melekat pada metode penelitian studi kasus, di antaranya: 1. Satuan analisis dipandang sebagai suatu kesatuan yang utuh dan terintegrasi. Ia terdiri atas beberapa unsur yang saling berhubungan. Berkenaan dengan hal itu, ia didekati secara kualitatif dan bersifat holistik. Di samping itu, satuan analisis itu mempunyai hubungan dengan unsur lain di luar dirinya dalam konteks yang lebih luas. 2. Studi kasus diarahkan untuk menemukan spesifikasi atau keunikan satuan analisis (bukan untuk melakukan generalisasi). Suatu satuan analisis yang mencakup beragam unsur dalam fokus penelitian. Oleh karena itu, memerlukan data yang rinci dan mendalam. Cara kerja yang demikian, yang membedakannya dengan metode penelitian survai (survey). 3. Data yang diperlukan itu, dikumpulkan dengan pengamatan terlibat dan atau wawancara mendalam (depth interview) dan penelaahan teks. Ia dikumpulkan secara rinci dan intensif. 18

D. Aplikasi Penelitian Hukum Islam Sosiologis Adapun penelitian sosiologis atau empiris terhadap hukum Islam tampak masih jarang dilakukan oleh pakar hukum Islam. Penelitian-penelitian hukum sosiologis yang ada kebanyakan dilakukan oleh ahli-ahli antropologi. Beberapa di antaranya dapat disebut sebagai contoh. Buku Hukum Islam dalam Perspektif Sejarah, misalnya, adalah hasil penelitian sosiologis hukum islam yang

Masruhan, Metodologi Penelitian Hukum Islam, dalam dalam Al-Qanun, Jurnal Pemikiran dan Pembaruan Hukum Islam, Vol. 6 No.2 Desember 2003, hal 313. 18 Cik Hasan Bisri, Pilar-Pilar Penelitian Hukum Islam dan Pranata Sosial, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2004), hal. 292.

17

dilakukan oleh Noel J. Coulson.19 Penelitian ini bersifat deskriptif analitis dengan pendekatan sejarah. Dalam melihat seluruh informasi tentang perkembangan hukum pada setiap periode, Coulson selalu mempertalikannya dengan faktorfaktor budaya yang memperngaruhinya, karena tidak ada satu pun produk hukum yang dibuat dalam ruang yang a historis. Coulson berhasil menggambarkan perjalanan hukum Islam dari sejak lahirnya hingga sekarang secara utuh. Contoh lainnya adalah penelitian sosiologis hukum Islam yang dilakukan oleh Amir Syarifuddin. Ia meneliti pelaksanaan hukum Islam dalam lingkungan dan adat Minangkabau dari beberapa abad yang lampau hingga dilakukannya penelitian itu. Penelitian sosiologis hukum Islam lainnya dilakukan oleh Muhammad Atho Mudhar. Ia meneliti produk fatwa MUI mulai tahun 1975 sampai 1988. Hasilnya dipublikasikan dengan judul Fatwa-fatwa Majelis Ulama Indonesia: Sebuah Studi tentang Pemikiran Hukum Islam di Indonesia 1975-1988. Penelitiannya ini bertujuan untuk mengetahui materi fatwa MUI dan faktorfaktor sosial politik yang melatarbelakangi timbulnya. Ia bertolak dari asumsi bahwa produk fatwa yang dikeluarkan MUI selalu dipengaruhi oleh setting sosio kultural dan sosio politik serta fungsi dan status yang harus dimainkan oleh lembaga tersebut. Agaknya, penelitian ini bersifat eksplanatori, yakni untuk mengkaji teori atau uji asumsi (hipotesis) yang dibangun dari berbagai teori dalam ilmu sosiologi hukum. 20

Hasil penelitia ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Hamid Ahmad dan diterbitkan oleh Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) pada tahun 1987...... dalam dalam Al-Qanun, Jurnal Pemikiran dan Pembaruan Hukum Islam, Vol. 6 No.2 Desember 2003, hal 316. 20 Masruhan, Metodologi Penelitian Hukum Islam, dalam dalam Al-Qanun, Jurnal Pemikiran dan Pembaruan Hukum Islam, Vol. 6 No.2 Desember 2003, hal 316.

19