Anda di halaman 1dari 2

Bahan Pisau Crusher (K460 AMUTIT S) Amutit S merupakan baja paduan , termasuk kelompok Cold work Tool Steel,

yang diproduksi oleh perusahan Bohler Jerman. Komposisi kimia yang terkandung di dalam Amutit S sbb: Carbon (C) : 0,85% Silicon (Si) : 0,25 % Manggan (Mn) : 1,10 % Chrom ( Cr) : 0,55 % Vanadium (V) : 0,10% Wolfram (W) : 0,55% Standar bahan yang sesuai dengan bahan Amutit S sbb: DIN : 1.2510100MnCrW4 AISI : 01 BS : BO1 JIS : SKS 3 Amutit mempunyai sifat mampu mesin yang baik sehinga banyak dipilih sebagai bahan untuk Tools. Setelah melalui proses pengerasan mampu mencapai 65 HRC dengan variasi temperatur temper rendah, sedang dan tinggi. Pemilihan temperatur tempering disesuaikan dengan kekerasan akhir yang dibutuhkan; makin tinggi temperatur tempering akan menyebabkan semakin turun kekerasan akhir yang dihasilkan. Kekerasan akhir yang dipertimbangkan berdasarkan pemakaian dan kondisi pembebanan. menunjukan proses Heat Treatment AMUTIT. Proses : Logam (baja) dipanaskan sampai temperatur austenit (warna merah ceri/merah terang),kemudian segera didinginkan kejut pada media pendingin yang sesuai, selanjutnya diteruskan proses temper warna (tempering dengan control panas dari spectrum warna logam yang dipanaslkan). Tabel berikut meperlihatkan hubungan temperatur dengan spectrum warna yang muncul pada saat baja dipanaskan. Adapun alur proses flame hardening heat treatment adalah: galvalum Spesifikasi minimum baja ringan yang dipakai (G550) adalah: 1. Kekuatan Leleh Minimum : 550 MPa 2. Tegangan Maksimum : 550 MPa 3. Modulus Geser : 50.000 MPa 4. Modulus Elastisitas : 20.000 MPa Karena ketebalan profil baja ringan sangat tipis (yang beredar di Indonesia berkisar 0,5 sampai 1 mm), bahan baja yang harus dipakai adalah baja mutu tinggi atau biasa disebut High Tension Steel, umumnya (standar) G550, artinya Yield Strength maupun Tension Strength dari baja tersebut minimal 550 MPa. ( minimal tidak sama dengan rata-rata dengan kata lain sewaktu diuji tarik di laboratorium, tension strength-nya tidak boleh kurang dari 550 MPa) Lapisan Anti Karat Di Indonesia lapisan anti karat yang

umumnya dipakai adalah lapisan Z (Zinc) yang sering disebut Galvanis atau lapisan AZ (Aluminum dan Zinc). Masing-masing lapisan punya kelebihan maupun kekurangan sendiri. Banyak orang salah mengerti bahwa bahan Aluminum Zinc lebih baik daripada Zinc (Galvanis), padahal yang menentukan adalah ketebalan lapisan yang dipakai, bukan jenisnya. Untuk mencapai taraf ketahanan yang relatif setara, ketebalan lapisan Zinc yang dipakai harus lebih tebal daripada Aluminum Zinc. Standar umum untuk bahan struktural (menanggung beban), ketebalan lapisan Aluminum Zinc tidak boleh kurang dari 150 gram/m2 (AZ 150) sedangkan untuk lapisan Zinc (Galvanis) tidak kurang dari 200 gram/m2 (Z 200).