P. 1
arn

arn

|Views: 59|Likes:
Dipublikasikan oleh Chandra Respati

More info:

Published by: Chandra Respati on Jul 13, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/30/2012

pdf

text

original

DEWAN RISET NASIONAL

AGENDA RISET NASIONAL
2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006
DEWAN RISET NASIONAL 2006
iii
DEWAN RISET NASIONAL 2006
KATA SAMBUTAN
Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Pada era global sekarang ini, salah satu faktor penting yang menjadi
penentu daya saing sebuah bangsa adalah penguasaan ilmu pengetahuan
dan teknologi (Iptek). Penguasaan Iptek dapat diperoleh melalui penelitian,
pengembangan, dan penerapan teknologi yang berjenjang dan
berkesinambungan. Penguasaan Iptek, mutlak diperlukan dalam upaya
meningkatkan daya saing bangsa dan kesejahteraan rakyat. Pemerintah,
dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2004-
2009, menempatkan peningkatan kemampuan Iptek sebagai salah satu
agenda nasional.
Kita bersyukur, berbagai paket teknologi telah berhasil dikembangkan
oleh Kementerian Riset dan Teknologi, antara lain biofuel, pemanfaatan
energi surya, PLTU skala kecil, teknologi informasi dan prototip roket
antariksa. Selain itu, penelitian, pengembangan dan penerapan melalui Riset
Unggulan Terpadu untuk berbagai bidang penelitian, seperti pertanian dan pangan,
kesehatan, lingkungan, kelautan, energi dan bidang teknologi informasi dan
mikroelektronika, terus dikembangkan.
Tersusunnya buku Agenda Riset Nasional (ARN) merupakan
pedoman, sekaligus ukuran capaian dari seluruh kegiatan penelitian dan
pengembangan Iptek, yang dilakukan oleh para peneliti dan akademisi
bangsa kita. Buku ini, di samping memberikan penekanan pada tahapan
capaian jangka menengah, juga meletakkan dasar-dasar agenda riset jangka
panjang yang diperlukan untuk mengembangkan Iptek di tanah air, seiring
dengan percepatan pembangunan dan kemajuan pesat dalam bidang ilmu
pengetahuan dan teknologi.
iv AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
Saya menyambut baik terbitnya buku “Agenda Riset Nasional”. Buku
ini, berisi agenda riset yang perlu dikembangkan oleh bangsa dan
negara kita, baik di masa sekarang maupun pada masa yang akan datang.
Apa yang menjadi agenda riset nasional, seperti ketahanan pangan, sumber
energi baru dan terbarukan, teknologi dan manajemen transportasi, teknologi
informasi dan komunikasi, teknologi pertahanan dan keamanan, serta
teknologi kesehatan dan obat-obatan, merupakan agenda penting yang
merupakan penerjemahan dari kebijakan riset nasional.
Saya berharap, agenda riset yang tertuang dalam buku ini, dapat
menjadi rujukan bagi para peneliti, akademisi, praktisi, para pengambil
kebijakan, dan seluruh komponen bangsa dalam meneliti, mengembangkan,
dan memanfaatkan teknologi yang kita miliki dan akan kita terus
kembangkan.
Akhirnya, saya mengucapkan selamat atas terbitnya buku “Agenda
Riset Nasional”. Semoga dengan terbitnya buku ini dapat membuka
cakrawala Iptek sebagai sarana menuju kekuatan utama untuk meraih
kesejahteraan, keamanan, dan kedaulatan bangsa dan negara kita.
Terima kasih.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Jakarta, Agustus 2006

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO
2
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
DEWAN RISET NASIONAL 2006
vii
DEWAN RISET NASIONAL 2006
Ringkasan EksEkutif
Krisis ekonomi di Asia di pertengahan dekade 90-an yang berimbaskan
gejolak multidimensional di Indonesia menjadi bukti bahwa pertumbuhan
ekonomi saja tidak mampu menopang ketahanan dan daya saing bangsa.
Pelajaran berharga yang dapat dipetik dari krisis tersebut adalah bahwa
pembangunan Indonesia perlu lebih sungguh-sungguh memperhatikan
ketegakan dan kepastian hukum, keadilan dan keamanan sosial, kekayaan
nilai kebudayaan, kapasitas inovasi industrial, kapasitas pengelolaan
lingkungan, serta kesatuan berbangsa dan bernegara.
Pada tataran regional/global, agenda pembangunan antarbangsa di
awal abad ke-21 menegaskan kembali posisi manusia (dan masyarakat)
sebagai subyek dan sekaligus tujuan pembangunan. Kesetaraan (equity),
keamanan (security) dan keberlanjutan (sustainability) kini menjadi per­
soalan sentral. Tujuan Pembangunan Milenium (Millenium Development
Goals) yang ditetapkan di tahun 2000 memberikan prioritas pada: pe-
nanggulangan kemiskinan; kesetaraan akses ke layanan pendidikan da-
sar; kesetaraan jender; penurunan angka kematian anak; peningkatan
kesehatan ibu; dan kelestarian lingkungan hidup. Penegasan manusia
sebagai subyek pembangunan dituangkan dalam Indeks Pembangunan
Manusia (Human Development Index), yang bertitikberatkan ketersediaan
pilihan manusia dalam pemenuhan kebutuhan pendidikan, kesehatan
dan daya beli. Peranan penting pengetahuan masyarakat dirumuskan
dalam konsepsi Masyarakat/Ekonomi Berbasis Pengetahuan (Knowledge
viii AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
Based Society/Economy), yang menegaskan bahwa daya saing ekonomik
sebuah bangsa bukan hanya ditentukan oleh faktor produksi, tetapi juga
oleh pengetahuan dan kreativitas sebagai faktor inovasi.
Agenda Riset Nasional (ARN) 2006-2009 disusun untuk memberikan
prioritas kegiatan, tonggak dan indikator capaian pembangunan nasio-
nal iptek untuk kurun waktu 2006-2009, yang diletakkan dalam suatu
proyeksi capaian jangka panjang (yakni sasaran pada tahun 2025). Proses
penyusunan ARN ini mencakup penyusunan materi pokok melalui diskusi
di dalam komisi teknis Dewan Riset Nasional (DRN) dan pengayaan materi
melalui sosialisasi ke berbagai pemangku-kepentingan di Indonesia. Bidang
Fokus ARN ditetapkan dengan merujuk pada Rencana Pembangunan
Jangka Menengah (RPJM) 2004-2009, yakni: (i) ketahanan pangan; (ii)
energi baru dan terbarukan; (iii) teknologi dan manajemen transportasi;
(iv) teknologi informasi dan komunikasi; (v) teknologi pertahanan; dan
(vi) teknologi kesehatan dan obat-obatan. Ke enam bidang fokus ARN
tersebut tersatukan dalam suatu kerangka tujuan bersama, yang mencakup:
ketersediaan layanan untuk masyarakat, kesetaraan akses dan keadilan,
kemandirian dan daya saing bangsa, ketahanan dan rasa aman, iklim yang
kondusif untuk inovasi, kapasitas iptek masyarakat dan sistem produksi,
ketegakan dan kepastian hukum, kekuatan pranata legal dan standardisasi,
kelestarian lingkungan dan keberlanjutan pembangunan, serta kekuatan
basis pengetahuan masyarakat.
Pembangunan ketahanan pangan diarahkan untuk memenuhi ke-
butuhan pangan masyarakat secara cukup, bergizi, aman, dan bermutu.
Ini dicapai melalui peningkatan kuantitas, kualitas, dan efsiensi dalam
produksi pangan, serta pengolahan hasil dan penganekaragaman
pangan secara berkelanjutan. Prioritas utama adalah untuk: (i) mancapai
kemandirian ketahanan pangan, revitalisasi nilai kearifan lokal, dan
meningkatkan kemitraan antarlembaga; dan (ii) mengembangkan komo-
ditas pangan secara selaras dengan kebijakan revitalisasi pembangunan
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
ix
DEWAN RISET NASIONAL 2006
produksi pangan asal tanaman, ternak, dan ikan. Kebijakan iptek ke-
tahanan pangan ditujukan pada peningkatan daya dukung teknologi,
peningkatan kapasitas kelembagaan, pengembangan iklim inovasi, dan
pembentukan SDM yang handal dalam pengelolaan pangan.
Pembangunan di bidang energi diarahkan menuju peningkatan ke-
mampuan iptek dalam: (i) konservasi sumber energi, efsiensi pemanfaatan
energi, diversifkasi penggunaan energi, dan pengembangan energi baru
dan terbarukan; (ii) pengelolaan energi nasional jangka panjang, dan
peningkatan kemampuan pasokan bauran energi (energy-mix) berbasis
sumber energi baru dan terbarukan; dan (iii) pembangunan infrastruktur
energi melalui penguatan kelembagaan, optimalisasi dan pendayagunaan
sumber daya, serta pembangunan jaringan yang mencakup focal point
untuk tiap jenis energi dan kegiatan yang dikembangkan.
Pembangunan di bidang transportasi diarahkan menuju: (i) pening-
katan transaksi perdagangan yang menjadi pangsa pasar bisnis trans-
portasi melalui political trading secara saling menguntungkan; (ii) pen-
ciptaan jejaring layanan secara intra dan antarmoda angkutan melalui
pembangunan prasarana dan sarana transportasi, serta diikuti dengan
pemanfaatan e-commerce untuk mencapai kemudahan, kelancaran, dan
kepastian layanan; (iii) penyelarasan seluruh peraturan perundang-
undangan baik yang mencakup investasi maupun penyelenggaraan
jasa transportasi; (iv) penciptaan sistem perbankan dan mekanisme
pendanaan untuk menunjang investasi dan operasi prasarana dan
sarana transportasi; (v) peningkatan partisipasi seluruh pemangku-
kepentingan dalam penyediaan layanan mulai dari tahap perencanaan,
pembangunan, dan pengoperasian; (vi) penghapusan segala macam
bentuk monopoli agar dapat memberikan alternatif/pilihan bagi para
pengguna jasa; (vii) penegakan keberpihakan pemerintah sebagai re-
gulator kepada masyarakat; dan (viii) penyatuan persepsi dan langkah
para pelaku penyedia jasa transportasi dalam konteks global services.
RingkAsAn eksekutif
x AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
Pembangunan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) diarahkan
menuju: (i) antisipasi terhadap implikasi konvergensi TIK, baik dalam
aspek kelembagaan maupun peraturan perundang-undangannya, yang
terkait dengan keamanan, kerahasiaan, privasi dan integritas informasi,
hak atas kekayaan intelektual dan legalitas; (ii) optimalisasi dan sinergi
pembangunan dan pemanfaatan prasarana telekomunikasi dan non-
telekomunikasi dengan pengutamaan pada masyarakat pedesaan, dan
dengan penekanan pada efsiensi dalam investasi; (iii) pemanfaatan TIK
yang responsif terhadap kebutuhan pasar dan industri, dengan tetap
menjaga keutuhan sistem yang telah ada; (iv) peningkatan persaingan
yang sehat dalam penyelenggaraan telekomunikasi fxed-line dengan
mempersiapkan langkah migrasi dari duopoli ke bentuk kompetisi penuh;
(v) pengembangan industri pendukung (komponen, material, submodul,
dan lain-lain), industri konten dan aplikasi; (vi) penumbuhkembangan
kepemimpinan (leadership) dalam bidang TIK; dan (vii) peningkatan
pengetahuan masyarakat (khususnya masyarakat pedesaan) dan kepe-
dulian tentang potensi pemanfaatan TIK.
Arah pembangunan teknologi pertahanan dan keamanan (hankam)
ditujukan pada: (i) pemenuhan kebutuhan alat utama sistem sen-
jata (alutsista), baik perangkat keras maupun perangkat lunak ber-
teknologi terbaru, yang mempunyai efek penangkal yang tinggi;
(ii) peningkatan penguasan kapabilitas iptek hankam di kalangan
industri nasional melalui regulasi, kelembagaan dan penanganan
alokasi pendanaan yang khusus; (iii) peningkatan pemahaman,
penguasaan iptek, dan rekayasa untuk aplikasi hankam di kalangan
perguruan tinggi dan lembaga iptek nasional untuk mencapai
keunggulan dan kemandirian bangsa; (iv) pemenuhan standardisasi
sarana pertahanan (ranahan) sehingga mampu bersaing pada pangsa
pasar dunia; dan (v) perluasan peluang bagi industri strategis di
bidang hankam untuk berinovasi.
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
xi
DEWAN RISET NASIONAL 2006
Pembangunan di bidang kesehatan dan obat-obatan diarahkan me-
nuju: (i) pencapaian gizi seimbang, terutama untuk mempertahankan
dan meingkatkan keadaan gizi masyarakat, serta tumbuh-kembang anak;
(ii) pengembangan industri farmasi untuk mewujudkan kemandirian
ketersediaan obat-obatan yang dapat dijangkau oleh masyarakat luas;
(iii) pengembangan obat bahan alam menjadi ftofarmaka dan sediaan
obat modern; (iv) pengembangan obat-obat preventif seperti vaksin sera,
serta obat-obat protein pharmaceutical; (v) pengendalian penyakit melalui
deteksi dini dan diagnosis, peningkatan kesehatan, pencegahan dan
penyembuhan penyakit, serta pemulihan kesehatan; (vi) pengembangan
alat kesehatan/kedokteran dengan meningkatkan kemampuan produksi
dan mutu alat kesehatan, terutama untuk subsidi impor, serta pe-
ngembangan jaringan nasional untuk pelayanan purna jual peralatan;
(vii) penjagaan mutu pelayanan kesehatan dengan prioritas kesehatan
keluarga, pengawasan penggunaan narkotika, psikotropika dan zat adik-
tif; (viii) perawatan terhadap korban trauma dan bencana; serta (ix)
pengurangan dampak pembangunan terhadap kerusakan lingkungan
dan kesehatan manusia.
Sebagai faktor dominan dalam Agenda Riset Nasional ini di-
tetapkan bidang sains dasar dan bidang sosial dan kemanusiaan, yang
dikembangkan untuk: (i) memperkuat basis keilmuan dari ke enam
bidang fokus; (ii) memperkuat dimensi sosial dan kemanusiaan dari
ke enam bidang fokus; dan (iii) mempererat keterkaitan lintas-disiplin
dan lintas-bidang di antara ke enam bidang fokus tersebut. Sains dasar
memberikan landasan teoretik bagi perkembangan ilmu pengetahuan,
teknologi, inovasi dan budaya ilmiah di sebuah bangsa. Sebaliknya,
berbagai kegiatan pemanfaatan teknologi dan inovasi dapat menjadi
sumber inspirasi bagi pengembangan sains dasar itu sendiri, yang
pada gilirannya membuka jalan bagi temuan terapan yang lebih baru.
Penguatan dan pengembangan sains dasar, oleh karenanya, berperanan
RingkAsAn eksekutif
xii AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
kunci dalam menjamin keberlanjutan dari upaya pemanfaatan teknologi
dan peningkatan daya saing industri. Sebagai modal dasar bagi penguatan
budaya ilmiah masyarakat Indonesia, berbagai sasaran pengembangan
sains dasar tersebut dapat dikategorikan ke dalam dua kelompok: ke-
lompok fundamental, dan kelompok kompleksitas.
Pengembangan di bidang sosial dan kemanusiaan diarahkan untuk
memperkaya dan memperkuat dimensi sosial dan kemanusiaan dalam
pengembangan di ke enam bidang prioritas ARN. Tema pengembangan
ilmu sosial dan kemanusiaan untuk kurun waktu 2006-2025 adalah
keadilan sosial. Pengembangan ilmu sosial dan kemanusiaan dijabarkan
ke dalam tiga kelompok utama, yaitu: (i) kajian aspeks sosial dan ke-
manusiaan dalam berbagai kebijakan publik yang terpaut dengan bidang
pangan, energi, transportasi, informasi dan komunikasi, pertahanan
dan keamanan, serta kesehatan dan obat-obatan, dengan penekanan
pada aspek keadilan; (ii) kajian sosial, ekonomi, budaya, hukum dan
politik yang terpaut erat dengan ke enam bidang prioritas ARN, dengan
berfokus pada tema keadilan; (iii) kajian sosial dan kemanusiaan untuk
mempercepat difusi dan pemanfaatan iptek pada ke enam bidang fokus
pembangunan iptek, dengan memperhatikan keterkaitan antarbidang.
Riset dan pengembangan iptek yang berpola lintas-disiplin dipan-
dang penting untuk memicu pertukaran dan sintesis keilmuan di
antara para pelaku iptek di lembaga riset/perguruan tinggi, dan di
industri/organisasi usaha. Riset dan pengembangan iptek secara lintas-
disiplin yang mencakup ilmu sosial dan kemanusiaan diharapkan dapat
menumbuhkembangkan lingkungan yang kondusif bagi difusi dan
pemanfaatan iptek di masyarakat, dan menjamin adanya akuntabilitas
moral, sosial dan lingkungan dari pemanfaatan iptek. Riset fundamental
yang bersifat lintas/trans-disiplin diharapkan akan menghasilkan pe-
ngetahuan baru tentang fenomena kompleks dan meningkatkan prestasi
keilmuan Indonesia di tingkat regional/global.
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
xiii
DEWAN RISET NASIONAL 2006
Percepatan difusi dan pemanfaatan iptek, peningkatan kapasitas
kelembagaan iptek, dan peningkatan kapasitas iptek sistem produksi
menjadi bagian yang terpadu dari keseluruhan Agenda Riset
Nasional. Percepatan difusi dan pemanfaatan iptek mencakup:
(i) peningkatan partisipasi masyarakat dalam penentuan pilihan
iptek yang akan dikembangkan dan dimanfaatkan; (ii) minimalisasi
dampak negatif yang mungkin timbul dari pemanfaatan iptek;
(iii) pengembangan kapasitas masyarakat untuk mengadopsi dan
mengadaptasi iptek, dengan memperhatikan potensi sumber daya
alam lokal, pengetahuan dan kearifan lokal; (iv) kesiapan regulasi,
infrastruktur metrologi legal, tata niaga, dan iklim investasi dalam
pemanfaatan iptek untuk tujuan komersial. Peningkatan kapasitas
kelembagaan iptek mencakup pengembangan kompetensi individual,
ketersediaan sarana dan pra-sarana, dan pengembangan iklim yang
kondusif bagi komunikasi dan kolaborasi intra dan antar lembaga,
dan iklim yang kondusif bagi efektivitas kepemimpinan. Peningkatan
kapasitas kelembagaan iptek mencakup pengembangan di semua
aspek tersebut secara terpadu dan pengembangan berbagai faktor
penunjang pembelajaran (learning), interaksi dan komunikasi baik
intralembaga maupun antarlembaga. Berbagai sumber daya yang
terdapat di lembaga pemerintah (government), perguruan tinggi
(academicians), dan organisasi swasta (business organizations) dapat
dimobilisasi untuk mengembangkan berbagai hal tersebut di atas
melalui jejaring A-B-G (academician-business-government).
Sebagai pedoman nasional pembangunan iptek, Agenda Riset
Nasional berperanan strategis dalam meningkatkan koordinasi dan
sinergi di antara berbagai pemangku-kepentingan iptek nasional, serta
meningkatkan mobilitas dan optimalitas pemanfaatan sumber daya iptek
nasional. Mempertimbangkan tingginya dinamika masyarakat di dalam
pergaulan antarbangsa dan dinamika iptek itu sendiri, maka dokumen
RingkAsAn eksekutif
xiv AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
Agenda Riset Nasional ini perlu dipandang sebagai panduan yang
bersifat dinamis dan responsif, yang terbuka terhadap penyempurnaan.
Hasil yang optimal akan dicapai bila realisasi Agenda Riset Nasional
ini didukung oleh sistem penopangnya yang mencakup sistem pe-
rencanaan, sistem pembiayaan, serta sistem difusi dan adopsi iptek.
Dampak yang nyata dan meluas di masyarakat akan terwujud bila seluruh
pemangku-kepentingan iptek nasional memiliki komitmen yang kuat
untuk menjadikan dokumen ini pedoman dalam pembangunan nasional
iptek, dalam kerangka upaya mewujudkan masa depan yang lebih cerah
bagi generasi penerus cita-cita bangsa.
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
xv
DEWAN RISET NASIONAL 2006
DaftaR isi
Sambutan Presiden Republik Indonesia ......................................... iii
Ringkasan Eksekutif ........................................................................... vii
Daftar Isi ................................................................................................ xv
Daftar Singkatan .................................................................................. xviii
Daftar Gambar ..................................................................................... xxiv
Bab I Pendahuluan
1.1. Perubahan dan Tantangan di Abad ke-21 ...................... 1
1.2. Tujuan Penyusunan ARN ................................................. 5
1.3. Lingkungan Strategis ....................................................... 6
1.4. Kerangka Kerja Legal Formal........................................... 7
1.5. Ruang Lingkup .................................................................. 8
1.6. Faktor Dominan ................................................................ 10
1.6.1. Penguatan Sains Dasar.......................................... 10
1.6.2. Penguatan Dimensi Sosial Kemanusiaan ............ 13

Bab II Fokus Area Pembangunan Nasional Iptek
2.1. Arah Pengembangan ........................................................ 17
2.1.1. Pembangunan Ketahanan Pangan ....................... 17
xvi AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
2.1.2. Penyediaan dan Pemanfaatan Sumber Energi
Baru dan Terbarukan.............................................. 18
2.1.3. Pengembangan Teknologi dan Manajemen
Transportasi ............................................................ 18
2.1.4. Pengembangan Teknologi Informasi dan
Komunikasi ............................................................ 19
2.1.5. Pengembangan Teknologi Pertahanan dan
Keamanan ............................................................... 20
2.1.6. Pengembangan Teknologi Kesehatan dan
Obat-Obatan .......................................................... 21
2.2. Keterkaitan Antar Bidang ................................................. 22
2.2.1. Keterkaitan dalam Proses ..................................... 22
2.2.2. Keterkaitan dalam Tujuan ..................................... 23
2.3. Difusi, Kelembagaan dan Kapasitas Iptek ...................... 24
2.3.1. Difusi dan Pemanfaatan Iptek............................... 24
2.3.2. Kelembagaan Iptek ................................................ 25
2.3.3. Kapasitas Iptek Sistem Produksi .......................... 26
Bab III Agenda Riset
3.1. Agenda Riset Ketahanan Pangan .................................... 29
3.1.1. Latar Belakang Permasalahan .............................. 29
3.1.2. Arah Kebijakan dan Prioritas Utama .................... 31
3.1.3. Target Capaian Tahun 2009 dan Sasaran
Tahun 2025 ............................................................. 32
3.1.4. Program .................................................................. 35
3.2. Agenda Riset Energi Baru dan Terbarukan .................... 63
3.2.1. Latar Belakang Permasalahan .............................. 63
3.2.2. Arah Kebijakan dan Prioritas Utama .................... 65
3.2.3. Target Capaian Tahun 2009 dan Sasaran
Tahun 2025 ............................................................. 66
3.2.4. Program .................................................................. 72
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
xvii
DEWAN RISET NASIONAL 2006
dAftAR isi
3.3. Agenda Riset Teknologi dan Manajemen
Transportasi ...................................................................... 106
3.3.1. Latar Belakang Permasalahan .............................. 106
3.3.2. Arah Kebijakan dan Prioritas Utama .................... 108
3.3.3. Target Capaian Tahun 2009 dan Sasaran
Tahun 2025 ............................................................. 111
3.3.4. Program .................................................................. 112
3.4. Agenda Riset Teknologi Informasi dan
Komunikasi (TIK) .............................................................. 132
3.4.1. Latar Belakang Permasalahan .............................. 132
3.4.2. Arah Kebijakan dan Prioritas Utama .................... 134
3.4.3. Target Capaian Tahun 2009 dan Sasaran
Tahun 2025 ............................................................. 135
3.4.4. Program .................................................................. 136
3.5. Agenda Riset Teknologi Pertahanan dan
Keamanan ......................................................................... 154
3.5.1. Latar Belakang Permasalahan .............................. 154
3.5.2. Arah Kebijakan dan Prioritas Utama .................... 155
3.5.3. Target Capaian Tahun 2009 dan Sasaran
Tahun 2025 ............................................................. 156
3.5.4. Program .................................................................. 157
3.6. Agenda Riset Teknologi Kesehatan dan
Obat-Obatan ..................................................................... 180
3.6.1. Latar Belakang Permasalahan .............................. 180
3.6.2. Arah Kebijakan dan Prioritas Utama .................... 181
3.6.3. Target Capaian Tahun 2009 dan Sasaran
Tahun 2025 ............................................................. 182
3.6.4. Program .................................................................. 192
BAB IV PENUTUP ........................................................................ 215
LAMPIRAN .............................................................................................. 217
xviii AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
DaftaR singkatan
4G : Teknologi Generasi 4
A-B-G : Academician-Business-Government
Alkomlek : Alat Komunikasi Elektronika
Alutsista : Alat Utama Sistem Senjata
AMDAL : Analisa Mengenai Dampak Lingkungan
ARN : Agenda Riset Nasional.
ASDP : Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan
ATSC : Advanced Television Systems Committee

BAKOSURTANAL : Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional
Balitbang : Badan Penelitian dan Pengembangan
Bappenas : Badan Perencanaan Nasional
Batan : Badan Tenaga Nuklir Nasional
BBM : Bahan Bakar Minyak
Bengpuspal : Bengkel Pusat Peralatan
BIS : Bid Invitation Specifcation
BMG : Badan Meteorologi dan Geofsika
BPEN : Badan Pengembangan Ekspor Nasional
BPOM : Badan Pengawasan Obat dan Makanan
BPPT : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi
BPS : Badan Pusat Statistik
BSA : Business Software Alliance
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
xix
DEWAN RISET NASIONAL 2006
BSN : Badan Standardisasi Nasional
BUMN : Badan Usaha Milik Negara
BUMNIS : Badan Usaha Milik Negara Industri Strategis
CAAFIS : Computer Aided Automatic Fingerprint Identifcation System
CNS/ATM : Communication Navigation Surveillance/Air Traffc Manage-
ment
CPOB : Cara Pembuatan Obat yang Baik
CPOTB : Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik

Dep PU : Departemen Pekerjaan Umum
Depdagri : Departemen Dalam Negeri
Deperin : Departemen Perindustrian
Dephan : Departemen Pertahanan
DepHankam : Departemen Pertahanan dan Keamanan
Dephut : Departemen Kehutanan
DepKes : Departemen Kesehatan
DepKeu : Departemen Keuangan
Depkominfo : Departemen Komunikasi dan Informasi
Deptan : Departemen Pertanian
Diklat : Pendidikan dan Latihan.
Diknas : Departemen Pendidikan Nasional
Dislitbang : Dinas Penelitian dan Pengembangan
Dittop : Direktorat Topograf
DKP : Departemen Kelautan dan Perikanan
DNA : Deoxyribonucleic Acid
DRN : Dewan Riset Nasional
DSP : Digital Signal Processing
DVB-T : Digital TV Broadcasting – Terrestrial
DVD : Digital Versatile Disc
dAftAR singkAtAn
xx AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
EBT : Energi Baru dan Terbarukan
EDTV : Enhanced Defnition TV
EKG : Elektro Kardiograf
EOR : Enhance Oil Recovery
ESDM : Energi dan Sumber Daya Mineral
ESM : Electronic Support Measure
FMIPA : Fakultas Matematik dan Ilmu Pengetahuan Alam
FO : Fiber Optics

GMP : Good Manufacturing Practice

Hankam : Pertahanan dan Keamanan
Hankamneg : Pertahanan dan Keamanan Negara
HDTV : High Defnition Television
hEPO : Human Erythropoitin
HPN : Highly Predictable Networks

ICT : Information and Communication Technology
ICAO : International Civil Aviation Organization
IGOS : Indonesia Go Open Source
IMO : International Maritime Organization
IIPA : International Intellectual Property Alliance
IP : Internet Protocol
IPM : Indeks Pembangunan Manusia
Iptek : Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
ISDB : In Band Digital TV
IT : Information Technology
ITS : Intelligent Transportation System
Jakstranas : Kebijaksanaan Strategis Nasional
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
xxi
DEWAN RISET NASIONAL 2006
Jakstranas Iptek : Kebijaksanaan Strategis Nasional Iptek

K3I Komando : Kendali Komunikasi dan Intelijen
KADARZI : Keluarga Sadar Gizi
KEN : Kebijakan Energi Nasional
KIE : Kominikasi Informasi dan Edukasi
KLB : Kejadian Luar Biasa
KLH : Kementerian Lingkungan Hidup
KNRT : Kementerian Negara Riset dan Teknologi
Kodam : Komando Daerah Militer
Koharmat : Komando Pemeliharaan Materiil

LAPAN : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional
LIPI : Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
Litbang : Penelitian dan Pengembangan
LPD : Lembaga Penelitian Departemen
LPN : Low Predictable Networks
LPND : Lembaga Pemerintah Non Departemen

MBE : Mesin Berkas Elektron
MDG : Millennium Development Goals
MPN : Medium Predictable Networks

NGN : Next Generation Network
NKRI : Negara Kesatuan Republik Indonesia

OCC : Operation Control Center
OSS : Open Source Software

PAL : Phase Alternation Lines
dAftAR singkAtAn
xxii AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
PBB : Persatuan Bangsa-Bangsa
Pemda : Pemerintah daerah
PEMFC : Proton Exchange Membrane Fuel Cell.
PEN : Pengelolaan Energi Nasional
PET-CT : Positron Emission Tomography-Computed Tomography
PHBS : Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
PLTN : Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir
PLTPB : Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi
PLTU : Pembangkit Listrik Tenaga Uap
POLRI : Polisi Republik Indonesia
PSAR : Preliminary Safety Analysis Report
PSTN : Public Switched Telephone Networks
PT : Perguruan Tinggi
PT.PLN : PT Perusahaan Listrik Negara
QPSK : Quaternary Phase Shift Keying

R-NGN : Rural Next Generation Network
Rolitbang : Biro Penelitian dan Pengembangan
Ro-Ro : Roll on – Roll off
RPJM : Rencana Pembangunan Jangka Menengah
RPJP : Rencana Pembangunan Jangka Panjang

SDM : Sumber Daya Manusia
SDTV : Standard Defnition TV
Sekneg : Sekretariat Negara
SIG : Sistem Informasi Geograf
SIM : Surat Ijin Mengemudi
SISTRANAS : Sistem Transportasi Nasional
SKEA : Sistem Konversi Energi Angin
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
xxiii
DEWAN RISET NASIONAL 2006
SKPG : Pengembangan Sistem Kewaspadaan Pangan & Gizi
SLW : Sistem Logistik Wilayah
SNI : Standar Nasional Indonesia
SPW : Sistem Pembinaan Wilayah

TIK : Teknologi Informasi dan Komunikasi
TNI AD : Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat
TNI AL : Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut
TNI AU : Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara
TNI : Tentara Nasional Indonesia
TVD : Televisi Digital

UAD : Unit Akses Desa
UNDP : United Nation Development Programme
UNEP : United Nation Economic Programme
URD : User Requirement Document
USTR : United State Trade of Representative
UU : Undang-Undang
VCR : Video Cassette Recorder
VSB : Vistigial Side Band

WHO : World Health Organization
WiSE : Wing in Surface Effect
WSIS : World Summit on the Information Society
dAftAR singkAtAn
xxiv AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
DaftaR gaMBaR
Gambar 1 Kerangka Kerja Legal-Formal dan Lingkungan
Strategis Rujukan dalam Penyusunan Agenda
Riset Nasional ................................................................... 8
Gambar 2 Keterkaitan dalam Proses di antara Bidang Fokus
dan Faktor Dominan ARN................................................. 23
Gambar 3 Keterkaitan Antarbidang dalam Tujuan Bersama .......... 24
Gambar 4. Pengembangan Iptek, Difusi dan Pemanfaatan Iptek
dalam Konstelasi Jejaring Pelaku Iptek di dalam
Lingkungan Kebijakan dan Dinamika
Sosio-kultural .................................................................... 27
Gambar 5 Konvergensi Teknologi ...................................................... 132
Gambar 6 Misi dari multimedia center: menghasilkan creative
excitement bagi pengembangan industri seni digital
Indonesia yang sustainable ................................................. 144
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
1
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Perubahan dan Tantangan di Abad ke-21
Krisis ekonomi di Asia di pertengahan dekade 90-an yang ber-
imbaskan gejolak multidimensional di Indonesia menjadi bukti bahwa
pertumbuhan ekonomi saja tidak mampu menopang ketahanan dan
daya saing bangsa. Paradigma pembangunan Indonesia di era Orde
Baru yang bertitikberatkan pertumbuhan ekonomi tidak berhasil
mengantarkan bangsa Indonesia pada suatu kemajuan yang utuh dan
kokoh. Dalam memasuki abad ke-21 ini, pembangunan Indonesia perlu
lebih memperhatikan berbagai aspek kehidupan bangsa seperti kepastian
dan tegaknya hukum, keadilan dan keamanan sosial, kekayaan nilai-
nilai kebudayaan, kapasitas inovasi industrial, kapasitas pengelolaan
lingkungan, serta kesatuan berbangsa dan bernegara, agar dapat dicapai
kekokohan ketahanan dan daya saing bangsa Indonesia.
Pada tataran regional/global, agenda pembangunan antarbangsa di
awal abad ke-21 menegaskan kembali posisi manusia (dan masyarakat)
sebagai subyek dan sekaligus tujuan pembangunan. Jika di awal abad ke-
20 pembangunan antarbangsa menitikberatkan pada variabel ekonomik,
yang kemudian justru berdampak marjinalisasi sebagian masyarakat,
maka saat ini arti penting kesetaraan (equity), keamanan (security) dan
keberlanjutan (sustainability) menjadi perhatian sentral. Dalam Tujuan
Pembangunan Milenium (Millenium Development Goals; MDGs) yang di-
sepakati oleh 189 negara pada tahun 2000, dinyatakan sejumlah prio-
2 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
ritas pembangunan yang mencakup, di antaranya: penanggulangan
kemiskinan dan kelaparan; kesetaraan akses ke layanan pendidikan
dasar; kesetaraan jender dan pemberdayaan perempuan; penurunan
angka kematian anak; peningkatan kesehatan ibu; dan kelestarian
lingkungan hidup. Penegasan arti penting manusia dalam pembangunan
juga tercermin dalam Indeks Pembangunan Manusia (Human Development
Index; HDI), yang berfokus pada ketersediaan pilihan manusia dalam
pemenuhan kebutuhan pendidikan, kesehatan dan daya beli.
Liberalisasi perdagangan kini menjadi agenda sentral dalam ker-
jasama ekonomi antarbangsa. Dengan berlakunya liberalisasi per-
dagangan peranan pasar akan meningkat dalam mempengaruhi eko-
nomi sebuah bangsa. Tetapi di negara yang mempromosikan prinsip
lais·sez-faire (yakni prinsip bahwa pasar dibebaskan dari campur tangan
pemerintah), peranan pemerintah tetap penting dalam mengatur
ekonomi untuk kepentingan kedaulatan negara tersebut. Bagi bangsa
Indonesia, tantangan dalam memasuki arena perdagangan liberal/bebas
adalah bagaimana mengembangkan hubungan di antara pemerintah,
para pelaku usaha/industri swasta, dan segenap unsur masyarakat lain-
nya untuk mewujudkan ekonomi bangsa yang berdaya saing, dalam suatu
kerangka kedaulatan negara dan bangsa Indonesia.
Dalam persaingan ekonomi antarbangsa di abad ke-21 ini, arti
penting pengetahuan menjadi pusat perhatian. Ketika industrialisasi
modern berimbas pada sub-ordinasi pengetahuan di bawah faktor
produksi, berbagai upaya dilakukan untuk mengangkat kembali posisi
pengetahuan. Dirumuskannya gagasan tentang Masyarakat Berbasis
Pengetahuan (Knowledge Based Society; KBS) dan Ekonomi Berbasis Pe-
ngetahuan (Knowledge Based Economy; KBE) mencerminkan kristalisasi
upaya tersebut. Gagasan KBS dan KBE tersebut menegaskan peranan
penting pengetahuan dalam sistem inovasi; bahwa daya saing ekonomi
sebuah bangsa bukan hanya ditentukan oleh teknologi sebagai faktor
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
3
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
produksi, tetapi juga oleh pengetahuan dan kreativitas sebagai faktor
inovasi.
Alih-alih memisahkan pemerintah dari pasar, persaingan ekonomi
berbasis pengetahuan justru mendorong pengembangan hubungan yang
baru dan lebih erat di antara pemerintah, para pelaku usaha/industri
swasta dan para pelaku iptek. Di berbagai negara maju, kebijakan ekonomi
dan kebijakan iptek semakin terintegrasikan dan melahirkan kebijakan
inovasi, di mana arah pengembangan ekonomi, hukum, perdagangan,
industri, iptek dan pendidikan tinggi diselaraskan untuk meningkatkan
daya saing industri nasional. Bagi bangsa Indonesia yang berdaulat dan
menganut prinsip bebas-aktif, dibutuhkan suatu strategi peningkatan
daya saing industri yang mengombinasikan prinsip interdependensi
(melalui impor dan alih iptek) dan independensi (melalui penguasaan
iptek) sehingga daya saing ekonomi dapat dicapai dalam kerangka
kedaulatan bangsa (nation sovereignty).
Selain permasalahan daya saing, hingga hari ini bangsa Indonesia
masih dihadapkan pada sejumlah permasalahan pembangunan yang
mendasar seperti meluasnya kemiskinan, masih terdapatnya potensi kon-
fik sosial, terbatasnya akses masyarakat ke layanan dasar (seperti layanan
pangan, kesehatan dan obat-obatan, energi, transportasi, informasi dan
komunikasi, dan rasa aman), serta terdegradasinya lingkungan hidup. Di
samping itu semua, kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek)
bangsa Indonesia juga masih sangat terbatas, sehingga iptek bangsa
Indonesia belum memiliki peranan yang berarti dalam penyelesaian
berbagai permasalahan pembangunan tersebut. Hal tersebut ber-
implikasi pada tingginya tingkat ketergantungan berbagai kegiatan
pembangunan terhadap teknologi impor. Kondisi tersebut menghadirkan
suatu tantangan tersendiri bagi bangsa Indonesia untuk, di satu sisi,
membangun kemampuan iptek bangsa, dan di sisi lain, meningkatkan
peranan iptek dalam menjawab permasalahan pembangunan.
PendAhuluAn
4 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
Upaya untuk meningkatkan peranan iptek dalam menjawab per-
masalahan pembangunan bangsa juga semakin menjadi perhatian
di berbagai negara maju. Masyarakat ilmiah/akademik di negara
anggota maju seperti yang tergabung dalam OECD (Organizations for
Economic Cooperation and Development) kini memberikan perhatian yang
makin besar pada riset dan pengembangan iptek yang berpola lintas
dan trans-disiplin, yang melibatkan disiplin ilmu kealaman, rekayasa,
ekonomi, politik, hukum dan ilmu-ilmu kemanusiaan. Penekanan
pada riset yang berpola lintas/trans-disiplin ini ditujukan pada
peningkatan mobilitas ‘kapital intelektual’ masyarakat, sehingga
membawa perubahan menuju masyarakat berbasis pengetahuan.
Perkembangan dalam pola riset ini berimplikasi pada perubahan
kelembagaan iptek, di mana berbagai bentuk baru kerjasama di
antara lembaga pemerintah dan organisasi swasta dipelajari dan
dikembangkan. Bentuk baru perguruan tinggi, yang kemudian dikenal
dengan nama entrepreneurial university, di mana kegiatan riset dan
pengembangan iptek dan kegiatan entrepreneurship diletakkan dalam
satu kerangka kerja untuk menghasilkan technopreneurship.
Bagi bangsa Indonesia, mobilitas sumber daya iptek nasional
menjadi sangat penting oleh karena terbatasnya sumber daya
tersebut dan besarnya tantangan bangsa yang perlu dijawab me-
lalui pembangunan iptek. Untuk ini perlu dipromosikan riset dan
pengembangan iptek yang berpola lintas-disiplin yang dapat memicu
terjadinya pertukaran dan sintesis keilmuan di antara para pelaku
iptek di lembaga riset/perguruan tinggi, dan di industri/organisasi
usaha. Hal ini pada gilirannya akan memacu difusi teknologi di
industri dan peningkatan kapasitas iptek di sistem produksi nasional.
Riset dan pengembangan iptek secara lintas-disiplin yang mencakup
dimensi sosial dan kemanusiaan akan dapat menumbuhkembangkan
lingkungan yang kondusif bagi difusi dan pemanfaatan iptek di ma-
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
5
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
syarakat, dan menjamin adanya akuntabilitas moral, sosial dan
lingkungan dari pemanfaatan iptek. Riset fundamental yang bersifat
lintas/trans-disiplin untuk mengembangkan pengetahuan baru ten-
tang berbagai fenomena kompleks (complexity sciences) dapat me-
nyediakan peluang yang lebih besar bagi bangsa Indonesia untuk
meraih prestasi keilmuan di tingkat regional/global, tanpa harus
meninggalkan konteks nasional/lokal.
1.2. Tujuan Penyusunan ARN
Agenda Riset Nasional (ARN) 2006-2009 merupakan dokumen
yang disusun untuk memberikan prioritas kegiatan, tonggak capaian
dan indikator capaian pembangunan nasional iptek untuk kurun
waktu 2006-2009, yang diletakkan dalam suatu proyeksi capaian
jangka panjang (yakni sasaran pada tahun 2025). Proses penyusunan
ARN ini terdiri atas dua tahap utama: (i) tahap penyusunan materi
pokok ARN melalui diskusi di dalam komisi teknis, badan pekerja
dan sidang paripurna Dewan Riset Nasional (DRN); dan (ii) tahap
pengayaan materi melalui sosialisasi ke berbagai komponen masya-
rakat pemangku-kepentingan di berbagai daerah di Indonesia.
Keseluruhan proses penyusunan ARN 2006-2009 telah meng-
akomodasi sumbangan pemikiran yang substantif dari segenap
perwakilan dari berbagai departemen pemerintahan, LPND, per-
guruan tinggi, para pelaku usaha/industri swasta, dan dewan riset
daerah. Dengan demikian, diharapkan bahwa realisasi ARN menjadi
tanggungjawab bersama dari segenap pemangku-kepentingan iptek
dan seluruh komponen masyarakat, dan diharapkan realisasi ini akan
disertai dengan komitmen bersama untuk membangun kemampuan
iptek bangsa demi menjawab tantangan pembangunan.
PendAhuluAn
6 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
1.3. Lingkungan Strategis
Dalam dokumen Kebijakan Strategis Pembangunan Nasional Iptek
2005-2009 (Jakstranas Iptek 2005-2009) dirumuskan Visi Iptek 2025 sebagai
berikut:
”Iptek sebagai kekuatan utama peningkatan kesejahteraan yang
berkelanjutan dan peradaban bangsa.”
Visi ini dituangkan ke dalam Misi Iptek 2025 yang dirumuskan sebagai
berikut:
1. Menempatkan iptek sebagai landasan kebijakan pembangunan
nasional yang berkelanjutan;
2. Memberikan landasan etika pada pengembangan dan penerapan iptek;
3. Mewujudkan sistem inovasi nasional yang tangguh guna meningkatkan
daya saing bangsa di era global;
4. Meningkatkan difusi iptek melalui pemantapan jaringan pelaku dan
kelembagaan iptek termasuk pengembangan mekanisme dan kelem-
bagaan intermediasi iptek;
5. Mewujudkan SDM, sarana dan prasarana serta kelembagaan iptek
yang berkualitas dan kompetitif;
6. Mewujudkan masyarakat Indonesia yang cerdas, kreatif dan inovatif
dalam suatu peradaban masyarakat yang berbasiskan pengetahuan.
Dalam Jakstranas Iptek 2005-2009 ditemukenali sejumlah masalah
dalam pembangunan nasional iptek yang mencakup delapan gatra,
yaitu: (i) keterbatasan sumber daya iptek; (ii) belum berkembangnya
budaya iptek; (iii) belum optimalnya mekanisme intermediasi iptek; (iv)
lemahnya sinergi kebijakan iptek; (v) belum terkaitnya kegiatan riset
dengan kebutuhan nyata; (vi) belum maksimalnya kelembagaan litbang;
(vii) masih rendahnya aktivitas riset di perguruan tinggi; serta (viii)
kelemahan aktivitas riset.
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
7
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
1.4. Kerangka Kerja Legal-Formal
Bangsa Indonesia telah memiliki landasan konstitusional yang kokoh
bagi pembangunan nasional di bidang iptek, yakni Pasal 31 Ayat 5 UUD 45,
hasil Amandemen ke-4. Lebih jauh lagi, pada tahun 2002 telah disahkan UU
No. 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian, Pengembangan, dan
Penerapan Iptek. Tujuan dari pemberlakuan UU No 18/2002 tersebut adalah:
“untuk memperkuat daya dukung iptek bagi keperluan mempercepat
pencapaian tujuan negara serta meningkatkan daya saing dan
kemandirian dalam memperjuangkan kepentingan negara dalam
pergaulan internasional”.
Pasal 18 dan 19 dalam UU No. 18/2002 mengamanatkan bahwa Pe-
merintah wajib merumuskan arah, prioritas utama, dan kerangka kebijakan
pemerintah di bidang iptek yang dituangkan ke dalam bentuk kebijakan
strategis pembangunan nasional iptek (Takstranas Iptek). Perumusan kebi-
jakan di bidang iptek ini, berdasarkan amanat dari undang-undang tersebut,
dikoordinasikan oleh Menteri Negara Riset dan Teknologi (Meneg Ristek)
dengan mempertimbangkan segala masukan dan pandangan yang diberikan
oleh berbagai pemangku-kepentingan (stakeholders) iptek.
Dewan Riset Nasional (DRN) merupakan lembaga yang beranggota-
kan perwakilan para pemangku-kepentingan iptek yang dibentuk oleh
Pemerintah. Tugas utama dari DRN adalah memberikan berbagai per-
timbangan kepada Meneg Ristek dalam proses penyusunan kebijakan
strategis pembangunan nasional iptek, dan merumuskan arah dan
prioritas utama pembangunan iptek. Berdasarkan Keputusan Meneg
Ristek RI No 89/M/Kp/V/2005 tentang Dewan Riset Nasional, tugas
DRN periode 2005-2008 difokuskan pada: (i) penyusunan Agenda Riset
Nasional (ARN); (ii) pemantauan umum perkembangan iptek; (iii)
penegakan norma ilmiah riset; dan (iii) pengembangan sistem dan
pengusulan penerima penghargaan riset. Kerangka kerja legal-formal
PendAhuluAn
8 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
dan lingkungan strategis yang dirujuk dalam penyusunan dokumen ARN
diperlihatkan pada Gambar 1.
Gambar 1. Kerangka Kerja Legal-Formal dan Lingkungan Strategis Rujukan dalam
Penyusunan Agenda Riset Nasional.
1.5. Ruang Lingkup
Berbagai tantangan/permasalahan perlu diatasi melalui implementasi
kebijakan strategis pembangunan nasional di bidang iptek. Untuk ini,
UUD 45
UU
No.18/2002
SISNAS P3
IPTEK
INPRES
NO.4/2003
PENGKOORDINASIAN
PELAKSANAAN
JAKSTRANAS
IPTEK
PP 20/2005
ALIH TEKNOLOGI
RPJPM
Perpres
No.7/2005
di Bidang Fokus:
Pangan
Energi
Transportasi
Infokom
Pertahanan
Kesehatan
JAKSTRA
2000 - 2004
WHITE PAPER
LINGKUNGAN
STRATEGIS
Misi-Misi
Lembaga/Dept.
RPJP
VISI IPTEK
2025
JAKSTRANAS IPTEK
Tahun 2005 - 2009
ARAH PRIORITAS KERANGKA
KEBIJAKAN
AGENDA RISET
NASIONAL
PROGRAM
PROGRAM
PROGRAM
PROGRAM
Monitoring &
Evaluation
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
9
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
Jakstranas Iptek 2005-2009 memberikan penekanan pada beberapa hal
sebagai berikut:
(i) Memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi;
(ii) Membangun kesejahteraan dan peradaban bangsa;
(iii) Menjunjung prinsip dasar dan nilai-nilai luhur, yakni:
• Visioner: memberikan solusi yang bersifat strategis dan perpektif
jangka panjang, menyeluruh dan holistik (kesalingterkaitan
dalam kesatuan yang utuh);
• Unggul (excellence): keseluruhan tahapan pembangunan iptek
mulai dari fase inisiasi sampai evaluasi dampak iptek pada
masyarakat, harus dilaksanakan dengan cara yang terbaik;
• Inovatif: memastikan terciptanya nilai tambah dan manfaat bagi
masyarakat;
• Akuntabel (accountable): dalam aspek fnansial, moral, lingkung-
an, budaya, sosial-kemasyarakatan, politis, dan ekonomis;
(iv) Masyarakat berbasis pengetahuan (Knowledge Based Society) yang
didukung oleh empat aspek pondasi kehidupan bermasyarakat,
yaitu: kreasi, pemeliharaan, diseminasi, dan pemanfaatan penge-
tahuan;
(v) Bidang Fokus yang sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka
Menengah (RPJM) 2004-2009, yakni: ketahanan pangan; energi baru
dan terbarukan; teknologi dan manajemen transportasi; teknologi
informasi dan komunikasi; teknologi pertahanan; teknologi kese-
hatan dan obat-obatan.
Berpijak pada pertimbangan di atas, Agenda Riset Nasional difor-
mulasikan ke dalam fokus area pembangunan nasional iptek yang men-
cakup enam bidang berikut:
• Bidang ketahanan pangan
• Bidang energi baru dan terbarukan
PendAhuluAn
10 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
• Bidang teknologi dan manajemen transportasi
• Bidang teknologi informasi dan komunikasi
• Bidang teknologi pertahanan dan keamanan
• Bidang teknologi kesehatan dan obat-obatan
1.6 Faktor Dominan
Keberhasilan pembangunan nasional iptek di ke enam bidang fokus
tersebut membutuhkan Sains Dasar dan Ilmu Sosial dan Kemanusiaan
yang dikembangkan untuk: (i) memperkuat basis keilmuan dari ke enam
bidang fokus; (ii) memperkuat dimensi sosial dan kemanusiaan dari ke
enam bidang fokus; dan (iii) mempererat keterkaitan lintas-disiplin dan
lintas-bidang di antara ke enam bidang fokus tersebut.
1.6.1 Penguatan Sains Dasar
Sains dasar memberikan landasan teoretik bagi perkembangan
ilmu pengetahuan, teknologi, inovasi dan budaya ilmiah di sebuah
bangsa. Sebaliknya, berbagai kegiatan pemanfaatan teknologi dan
inovasi dapat menjadi sumber inspirasi bagi pengembangan sains
dasar itu sendiri, yang pada gilirannya membuka jalan bagi temuan
terapan yang lebih baru. Penguatan dan pengembangan sains dasar,
oleh karenanya, berperanan kunci dalam menjamin keberlanjutan
dari upaya pemanfaatan teknologi dan peningkatan daya saing
industri.
Sains dasar mencakup sejumlah bidang, yaitu: (a) matematika seba-
gai sains tentang struktur dan pola kuantitatif yang dikembangkan melalui
abstraksi mental murni dan/atau refeksi atas fenomena alam; (b) fsika
yang mengungkapkan tatakerja atau hukum-hukum yang mengatur alam
fsis; (c) kimia yang mengungkapkan tata keteraturan alam, khususnya
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
11
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
perubahan sifat dan bentuk material; (d) biologi yang mengungkapkan
keteraturan dalam fenomena hayati; (e) sains bumi and antariksa yang
mengungkapkan keteraturan alam fsis pada skala kebumian, lingkungan
dan antariksa. Riset fundamental di area sains dasar diarahkan untuk
dapat menghasilkan temuan baru, dan untuk menopang berbagai riset
terapan yang berfokus pada ke enam bidang prioritas riset nasional,
yaitu ketahanan pangan, penyediaan dan pemanfaatan energi baru dan
terbarukan, teknologi dan manajemen transportasi, teknologi informasi
dan komunikasi, teknologi pertahanan, teknologi kesehatan dan obat-
obatan. Pelaksanaan riset fundamental ini diharapkan akan mendukung
keberlanjutan riset terapan di ke enam bidang fokus tersebut.
Sasaran pengembangan matematika mencakup penguasaan dasar
matematika, meliputi aljabar dan aljabar abstrak, geometri, teori kom-
putasi dan analisis numerik, statistik, komunatorik, teori graf, sandi,
matrik, dan berbagai cabang matematika modern yang penting untuk
pemodelan dan analisis fenomena kompleks yang urgen dipahami dewasa
ini. Sedangkan sasaran pengembangan fsika mencakup pemahaman
dan penguasaan seluruh area fsika teori, teori gravitasi, super symetry
breaking and dimensional supergravity, kosmologi, radiofsika dan kesehatan,
fsika nuklir, sumber-sumber non-uniform induksi magnit, impedansi
elektromagnetik, sistim elektronik, serta nanoscience, serta aspek-
aspek fundamental fsis, geologis, molecular bio-fsika, dan rumusan
kompleksitasnya.
Dalam bidang kimia, sasaran pengembangan mencakup kimia
teori, kimia inti serta formulasi kompleksitasnya seperti kimia bahan
polimer, tekstil, petro-kimia, beserta aspek keselamatan, keamanan dan
lingkungannya. Formulasi bahan baru dari sumber daya alami dan sistem
diversifkasi bahan dengan penguasaan iptek nano merupakan tantang-
an utama. Sistem analisis/kontrol kualitas juga menjadi sangat berperan
dalam perkembangan ilmu kimia. Pengembangan ilmu hayati/biologi,
PendAhuluAn
12 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
diarahkan untuk mencapai sasaran yang mencakup: penyempurnaan
basis data sumber daya alam/hayati; penguasaan ilmu hayati beserta
aspek lingkungannya, aspek kehutanan, aspek kelautan; pengembangan
ilmu manipulasi genetika tanaman dan hewani; penguasaan dan
pengembangan metode kultur jaringan.
Riset di bidang sains kebumian dan antariksa diarahkan untuk
mencapai sasaran pengembangan dan penemuan rumusan fenomena
alam dan lingkungan (bumi, laut dan antariksa). Sasaran ini mencakup
pengembangan dan penguasaan pengetahuan yang berhubungan dengan
perubahan iklim/cuaca, laju kenaikan paras air laut kawasan pantai
pada lingkup nasional, regional dan lokal. Penyusunan peta kondisi
kebumian Indonesia menjadi sangat penting, termasuk pengembangan
dan penyediaan sarana dan prasarana untuk pengukuran, pemantauan
dan pengamatan yang terkait dengan kebumian, kelautan dan keanta-
riksaan.
Sebagai modal dasar bagi penguatan budaya ilmiah masyarakat
Indonesia, berbagai sasaran pengembangan sains dasar tersebut dapat
dikategorikan ke dalam dua kelompok: kelompok fundamental, dan
kelompok kompleksitas. Yang termasuk ke dalam kelompok fundamental
meliputi aljabar, aljabar abstrak, geometri, matematika modern yang
mendasar; fsika teori (teori gravitasi, supersymetry breaking dan dimensional
supergravity), fsika inti, fsika bumi, bio-fsika dan instrumentasinya; serta
penelitian efek negatif lubang ozon (pengaruh radiasi ultraviolet yang
lebih pendek dari 280nm, yang berenergi tinggi dan dapat membahayakan
kesehatan).
Sedangkan yang termasuk ke dalam kelompok formulasi kom-
pleksitas meliputi: (i) model matematika untuk pengembangan
partikel nano; ilmu kimia-bahan, dan bahan baru; ilmu dan teknologi
nano atau sistem material nano; (ii) sains kompleksitas (complexity
sciences) dan model matematika untuk melakukan prediksi fenomena
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
13
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
kompleks yang penting dalam manajemen sumber daya alam mi-
neral, manajemen rantai pasokan energi, manajemen sumber daya
hayati/botani, sumber daya hutan, laut dan lingkungannya; prediksi
degradasi lahan yang berimplikasi terbentuknya lahan kritis, ber-
kembangnya area yang rawan banjir, banjir bandang dan tanah
longsor; identifikasi dampak pemanasan bumi terhadap perubahan
cuaca dan iklim global, dan pada kondisi regional dan lokal di
Indonesia; pengungkapan karakteristik kebumian di Indonesia untuk
mengetahui kondisi seismisitas, kegiatan gunung berapi dan sistem
peredaran udara; penilaian kondisi kebencanaan (seperti gempa
bumi dan tsunami) sebagai akibat kondisi ekstrim kebumian; serta
pengembangan instrumen pengukuran langsung untuk bumi dan
antariksa dengan teknologi inderaja.
Dalam implementasi ARN, dipandang penting bahwa penguatan
dan penguasaan sains dasar melibatkan program pendidikan (pen-
didikan nasional, termasuk pendidikan tinggi) dengan sasaran pe-
ngembangan pola pikir dan paradigma sains dasar, yang diarahkan
untuk menopang pengembangan program terapan. Penguatan sains
dasar ini merupakan bagian hulu yang melandasi integrasi program
antarbidang ilmu dasar pada lembaga riset, perguruan tinggi,
dan industri. Pengembangan program pendidikan dasar maupun
terapan perlu memperkuat orientasi ke industri, mengembangkan
sinergi dengan lembaga riset dan industri, dan membangun jejaring
Academics-Business-Government (A-B-G).
1.6.2 Penguatan Dimensi Sosial Kemanusiaan
Riset dan pengembangan di bidang sosial dan kemanusiaan
diarahkan untuk memperkaya dan memperkuat dimensi sosial dan
kemanusiaan dalam pengembangan di ke enam bidang prioritas ARN.
PendAhuluAn
14 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
Tema pengembangan ilmu sosial dan kemanusiaan untuk kurun waktu
2006-2025 adalah keadilan sosial, dan untuk kurun waktu 2006-2009
adalah bagaimana nilai/prinsip keadilan dapat semakin terpahami
dan diberlakukan dalam pembangunan di ke enam bidang fokus ARN.
Pengembangan ilmu sosial dan kemanusiaan ini mencakup aspek sosial,
budaya, hukum, ekonomi dan keberlanjutan lingkungan. Penguatan
dimensi sosial dan kemanusiaan tersebut diharapkan dapat memberikan
landasan kemasyarakatan dan kemanusiaan bagi pembangunan iptek
bangsa secara berkesinambungan, dan pencapaian peradaban Indonesia
yang terkemuka, dengan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan universal.
Pengembangan ilmu sosial dan kemanusiaan dijabarkan ke dalam
tiga kelompok utama, yaitu: (i) kajian aspek sosial dan kemanusiaan
dalam berbagai kebijakan publik yang terpaut dengan bidang pangan,
energi, transportasi, informasi dan komunikasi, pertahanan dan
keamanan, serta kesehatan dan obat-obatan, dengan penekanan pada
aspek keadilan; (ii) kajian sosial, ekonomi, budaya, hukum dan politik
yang terpaut erat dengan ke enam bidang prioritas ARN, dengan
berfokus pada tema keadilan; (iii) kajian sosial dan kemanusiaan
untuk mempercepat difusi dan pemanfaatan iptek pada ke enam
bidang fokus pembangunan iptek, dengan memperhatikan keterkaitan
antarbidang.
Sasaran pengembangan dalam kelompok pertama adalah pengem-
bangan aspek sosial dan kemanusiaan dalam berbagai kebijakan,
sehingga implementasi kebijakan tersebut dapat meningkatkan kualitas
keadilan sosial dalam kehidupan bermasyarakat dan berteknologi. Dari
kajian ini dihasilkan indikator dan model pembangunan iptek lintas-
sektoral yang mempromosikan terbentuknya Knowledge-Based Society, yang
menjunjung tinggi kesetaraan dan keadilan sosial.
Kajian dalam kelompok kedua diarahkan untuk menjawab per-
masalahan berikut: (a) kesetaraan akses masyarakat ke layanan
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
15
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
sosial dasar (layanan pangan, energi, transportasi, informasi dan
komunikasi, jaminan rasa aman, serta kesehatan dan obat), yang
mencakup aspek availability, accesibility, acceptability dan affordability
(4A); (b) permasalahan pembangunan mendasar yang mendesak
untuk diselesaikan seperti kemiskinan—dimensi SARA dan ketidak-
adilan sosial (dan teknologis) dari kemiskinan, dan potensi
disintegrasi bangsa; (c) dampak kebudayaan dan kemanusiaan
dari perkembangan teknologi (termasuk pemanfaatan teknologi
impor); (d) dialog lintas-kultural untuk memberikan kesempatan
yang setara bagi bahasa dan pengetahuan indigeneous untuk terus
berkembang di era globalisasi informasi dan pengetahuan; (e)
peningkatan kapasitas inovasi masyarakat dan peningkatan akses
masyarakat terhadap sumber-sumber iptek untuk peningkatan
kesejahteraan secara berkeadilan; (f) reaktualisasi sistem hukum
yang bersifat netral dan berasal dari hukum lokal (hukum adat dan
hukum Islam) ke dalam sistem hukum nasional di satu sisi, dan
di sisi lain juga terhadap hukum yang bersifat netral yang berasal/
bersumber dari perjanjian antarbangsa; (g) penataan kelembagaan
aparatur hukum yang masih belum dibentuk secara komprehensif,
sehingga melahirkan berbagai ekses; (h) penataan dan penguatan
metrologi legal nasional untuk mendukung daya saing industri, dan
penguatan infrastruktur teknologi penunjang penegakan hukum; (i)
pemberdayaan masyarakat baik dalam bentuk peningkatan akses
masyarakat ke dalam kinerja pemerintah, dan peningkatan kesadaran
hukum masyarakat (kedua hal ini merupakan pengembangan ’budaya
hukum’); (j) pemberdayaan birokrasi (’bureaucratic engineering)—dalam
konteks peranan hukum dalam pembangunan; dan pemanfaatan
teknologi untuk pemberdayaan birokrasi (seperti e-government).
Kajian sosial dan kemanusiaan untuk mempercepat difusi dan
pemanfaatan iptek pada ke enam bidang fokus (secara terpadu) ditujukan
PendAhuluAn
16 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
untuk meningkatkan peluang keberhasilan dan kestabilan difusi iptek.
Secara umum, kajian ini dikelompokkan ke dalam tiga tingkat:
• Tingkat mikro: berfokus pada peningkatan partisipasi para (calon)
pengguna iptek, peningkatan kesetaraan akses terhadap sumber-
sumber iptek, dan interaksi di antara pengguna iptek dan penghasil
iptek; kajian terhadap persepsi dan aspirasi masyarakat terhadap
iptek (dalam kaitannya dengan kebutuhan-kebutuhan masyarakat dan
fungsi-fungsi sosial iptek), dan kajian terhadap dampak sosial dan
kemanusiaan dari teknologi;
• Tingkat meso: identifkasi peluang-peluang untuk mempengaruh proses
difusi iptek di masyarakat, dan pengembangan proses intermediasi;
kajian kebijakan dan pranata legal (seperti standar) yang terkait
dengan difusi iptek di masyarakat; pengembangan intermediasi di
antara pelaku akademik, pelaku usaha dan pelaku pemerintahan (A-
B-G);
• Tingkat makro dan pengembangan jangka panjang: interaksi dinamis/
ko-evolusioner antara perubahan keteknologian dan perubahan ke-
masyarakatan; kajian tentang perkembangan di masa mendatang; dan
kajian untuk mempengaruhi proses ini, dengan segala implikasinya,
untuk mengarahkan pemfungsian teknologi yang mencerminkan ke-
adilan sosial dan mempromosikan pemelajaran sosial (guna mencapai
Knowledge Based Society).
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
17
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
BAB II
FOKUS AREA
PEMBANGUNAN NASIONAL IPTEK
2.1 Arah Pengembangan
Berdasarkan tujuan pembangunan dan prioritas pembangunan iptek
yang ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM)
2004-2009, dan Kebijakan Strategis Pembangunan Nasional (Jakstranas)
Iptek 2005-2009, berikut ini dipaparkan arah pengembangan dari
bidang fokus: (1) Ketahanan Pangan; (2) Energi Baru dan Terbarukan;
(3) Teknologi dan Manajemen Transportasi; (4) Teknologi Informasi dan
Komunikasi; (5) Teknologi Pertahanan dan Keamanan; dan (6) Teknologi
Kesehatan dan Obat-Obatan.

2.1.1 Pembangunan Ketahanan Pangan
Pembangunan ketahanan pangan diarahkan untuk memenuhi
kebutuhan pangan masyarakat yang cukup, bergizi, aman, bermutu, sesuai
selera dan keyakinannya, melalui: peningkatan produktivitas, kualitas,
dan efsiensi produksi pangan asal tanaman, ternak, dan ikan secara
berkelanjutan; pengolahan hasil, dan penganekaragaman pangan. Prioritas
utama adalah untuk: (a) mendukung terwujudnya kemandirian ketahanan
pangan, revitalisasi nilai kearifan lokal, dan meningkatkan kemitraan
antar lembaga; dan (b) mengembangkan komoditas pangan yang menjadi
prioritas, yang diselaraskan dengan kebijakan revitalisasi pembangunan
produksi pangan asal tanaman, ternak, dan ikan.
18 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
Kebijakan iptek ketahanan pangan diarahkan/ditekankan pada
upaya peningkatan daya dukung teknologi untuk mempertajam prio-
ritas penelitian, peningkatan kapasitas kelembagaan, pengembangan
iklim inovasi, dan pembentukan SDM yang handal dalam pengelolaan
pangan.
2.1.2 Penyediaan dan Pemanfaatan Sumber Energi Baru dan
Terbarukan
Arah kebijakan penelitian, pengembangan dan penerapan iptek
di bidang energi adalah: (a) peningkatan kemampuan iptek yang
berorientasi mendukung kebijakan penyediaan energi nasional melalui
langkah konservasi sumber energi, pemanfaatan energi secara efsien,
diversifkasi penggunaan energi, dan pengembangan energi baru dan
terbarukan; (b) peningkatan kemampuan iptek dalam pengelolaan energi
nasional jangka panjang, dan peningkatan kemampuan pasokan energi
dengan memanfaatkan bauran energi (energy-mix) berbasis pemanfaatan
sumber energi baru dan terbarukan dengan memperhatikan kelestarian
lingkungan; (c) peningkatan kemampuan iptek dalam pembangunan
infrastruktur energi melalui penguatan kelembagaan, optimalisasi
dan pendayagunaan sumber daya, serta pembangunan jaringan
yang mencakup focal point untuk tiap jenis energi dan kegiatan yang di-
kembangkan; (d) mendorong terwujudnya iklim yang kondusif bagi
berkembangnya teknologi dan inovasi yang berorientasi pada kekuatan
dan kemampuan sumber daya nasional.
2.1.3 Pengembangan Teknologi dan Manajemen Transportasi
Pengembangan teknologi dan manajemen transportasi di masa
mendatang diarahkan untuk: (a) memenuhi kebutuhan transportasi na-
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
19
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
sional yang aman, nyaman, tepat waktu dan terjangkau masyarakat luas;(b)
meningkatkan transaksi perdagangan sebagai sumber pergerakan orang,
barang, dan jasa yang menjadi pangsa pasar bisnis transportasi melalui
political trading yang saling menguntungkan; (c) menciptakan jaringan
pelayanan secara inter dan antarmoda angkutan melalui pembangunan
prasarana dan sarana transportasi, serta diikuti dengan pemanfaatan e-
commerce dalam konteks less paper document, sehingga kemudahan, kelan-
caran, dan kepastian pelayanan dapat dicapai; (d) menyelaraskan semua
peraturan perundang-undangan baik yang mencakup investasi maupun
penyelenggaraan jasa transportasi untuk memberikan kepastian hukum
bagi semua pihak yang terkait; (e) menciptakan sistem perbankan dan
mekanisme pendanaan untuk menunjang investasi dan operasi bidang
prasarana dan sarana transportasi; (f) mendorong seluruh stakeholders untuk
berpartisipasi dalam penyediaan pelayanan mulai dari tahap perencanaan,
pembangunan, dan pengoperasiannya; (g) menghilangkan segala macam
bentuk monopoli agar dapat memberikan alternatif/pilihan bagi pengguna
jasa; (h) mempertahankan keberpihakan pemerintah sebagai regulator
terhadap pelayanan kepada masyarakat; (i) menyatukan persepsi dan
langkah para pelaku penyedia jasa transportasi dalam konteks global
services.
2.1.4 Pengembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi
Pengembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) diarahkan
untuk: (a) mengantisipasi implikasi konvergensi TIK, baik dalam aspek
kelembagaan maupun peraturan perundang-undangannya, termasuk
yang terkait dengan persoalan keamanan, kerahasiaan, privasi dan
integritas informasi, hak atas kekayaan intelektual, serta legalitasnya; (b)
mengoptimalkan dan mensinergikan pembangunan dan pemanfaatan
prasarana telekomunikasi dan non-telekomunikasi dalam pengembangan
Fokus AReA PembAngunAn nAsionAl iPtek
20 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
TIK secara menyeluruh dengan pengutamaan daerah pedesaan, guna
menciptakan efsiensi, termasuk efsiensi dalam investasi, yang pada
akhirnya akan menentukan harga/biaya layanan yang dibebankan kepada
masyarakat pengguna; (c) manfaatkan konsep teknologi netral yang
responsif terhadap kebutuhan pasar dan industri, namun tetap menjaga
keutuhan sistem yang telah ada; (d) mendorong persaingan yang sehat
dalam penyelenggaraan telekomunikasi fxed line dengan mempersiapkan
tahapan migrasi dari bentuk duopoli ke bentuk kompetisi penuh yang
setara dan berimbang, seperti telekomunikasi nirkabel; (e) mendorong
pengembangan industri pendukung (komponen, material, submodul,
dan lain-lain), industri konten dan aplikasi sebagai upaya penciptaan
nilai tambah dari industri TIK dalam negeri; (f) menumbuhkembangkan
kepemimpinan (leadership) dalam bidang TIK untuk memperkuat arah
yang jelas bagi pengembangan sektor ini; (g) meningkatkan pengetahuan
masyarakat (khususnya masyarakat pedesaan) dan kepedulian tentang
potensi pemanfaatan TIK.
2.1.5 Pengembangan Teknologi Pertahanan dan Keamanan
Arah kebijakan pengembangan teknologi pertahanan dan ke-
amanan (hankam) ditujukan untuk: (a) memenuhi kebutuhan alat
utama sistem senjata (alutsista), baik perangkat keras maupun
perangkat lunak berteknologi terbaru, sesuai dengan kebutuhan
operasional yang mempunyai efek penangkal yang tinggi; (b)
meningkatkan penguasaan kapabilitas iptek hankam di kalangan
industri nasional melalui regulasi, kelembagaan dan penanganan
alokasi pendanaan yang khusus; (c) meningkatkan pemahaman,
penguasaan iptek, dan rekayasa untuk aplikasi hankam di kalangan
perguruan tinggi dan lembaga iptek nasional untuk mencapai
keunggulan bangsa berbasiskan kemandirian, melalui roadmap yang
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
21
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
bersifat kuantitatif dan rancangan strategis hankam yang terpadu; (d)
mengikuti pemenuhan standardisasi sarana pertahanan (ranahan)
pangsa pasar dunia yang kompetitif; (e) memberikan peluang kepada
industri strategis di bidang hankam untuk berinovasi sehingga mam-
pu menjaga kelangsungan hidup industri secara ekonomis.
2.1.6 Pengembangan Teknologi Kesehatan dan Obat-Obatan
Penelitian dan pengembangan di bidang kesehatan dan obat-obatan
diarahkan untuk memberikan pemecahan berbagai permasalahan utama
kesehatan yang dihadapi sebagian masyarakat Indonesia. Prioritas
utama pengembangan iptek kesehatan dan obat-obatan adalah: (a)
pencapaian gizi seimbang, terutama untuk mempertahankan dan
meingkatkan keadaan gizi masyarakat, serta tumbuh kembang anak
dalam rangka menjaga kualitas SDM Indonesia; (b) pengembangan
industri farmasi untuk mewujudkan kemandirian dalam menjamin
ketersediaan obat-obatan yang dapat dijangkau oleh masyarakat luas;
(c) pengembangan obat bahan alam menjadi ftofarmaka dan sediaan
obat modern; (d) pengembangan obat-obat preventif seperti vaksin sera,
serta obat-obat protein pharmaceutical; (e) pengendalian penyakit melalui
deteksi dini dan diagnosis, peningkatan kesehatan, pencegahan dan
penyembuhan penyakit, serta pemulihan kesehatan; (f) pengembangan
alat kesehatan/kedokteran dengan meningkatkan kemampuan pro-
duksi dan mutu alat kesehatan, terutama untuk subsidi impor, ser-
ta pengembangan jejaring nasional untuk pelayanan purna jual
peralatan; (g) penjagaan mutu pelayanan kesehatan dengan prioritas
kesehatan keluarga, pengawasan penggunaan narkotika, psikotropika
dan zat adiktif, perawatan terhadap korban trauma dan bencana, serta
pengurangan dampak pembangunan terhadap kerusakan lingkungan
dan kesehatan manusia.
Fokus AReA PembAngunAn nAsionAl iPtek
22 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
2.2 Keterkaitan Antarbidang
Pembangunan bangsa, sebagai perubahan kemasyarakatan menuju
suatu keadaan yang lebih baik, memerlukan proses yang bersifat holistik.
Pembangunan nasional iptek, oleh karenanya, perlu dilakukan dalam
suatu keterkaitan yang terpadu. Keterkaitan di antara bidang fokus ARN
mencakup dua bentuk: pertama, pembangunan di ke enam bidang fokus
ARN perlu memperhatikan dan memanfaatkan peluang untuk bisa saling
mendukung (keterkaitan dalam proses); dan kedua, pembangunan di
ke enam bidang fokus tersebut perlu memperhatikan tujuan bersama
(keterkaitan dalam tujuan bersama).
2.2.1 Keterkaitan dalam Proses
Pembangunan di bidang Ketahanan Pangan, bidang Kesehatan
dan Obat-obatan, dan bidang Energi Baru dan Terbarukan akan lebih
efektif dan efsien jika dilaksanakan secara saling mendukung (baik
dalam pemanfaatan sumber daya alam, dalam teknologi maupun dalam
difusi dan inovasi). Pembangunan di bidang Transportasi dan bidang
Informasi dan Komunikasi dapat berperanan strategis dalam menunjang
pembangunan di tiga bidang tersebut (Pangan, Kesehatan, dan Energi).
Pembangunan di bidang Hankam membutuhkan dukungan dari ke
lima bidang tersebut di atas. Sebaliknya, pengembangan di bidang
hankam dapat menghasilkan teknologi spin-off yang bermanfaat bagi
pengembangan di bidang lainnya. Sains dasar memperkuat landasan
keilmuan bagi ke enam bidang fokus ARN, terutama dalam menyediakan
teori fundamental dan model untuk menghasilkan desain yang handal.
Ilmu sosial dan kemanusiaan berperan dalam memperkuat dimensi
sosial dan kemanusian dalam pengembangan di ke enam bidang fokus
tersebut. Uraian terinci mengenai keterkaitan antarbidang ini dipaparkan
dalam Lampiran dokumen ARN ini.
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
23
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006

Gambar 2. Keterkaitan dalam Proses di antara Bidang Fokus dan Faktor Dominan ARN.
2.2.2 Keterkaitan dalam Tujuan
Arah pembangunan di ke enam bidang fokus ARN, sebagaimana
telah diuraikan di atas, memiliki keterkaitan dalam tujuan bersama yang
mencakup: ketersediaan layanan untuk masyarakat, kesetaraan akses,
dan keadilan; kemandirian, daya saing bangsa, ketahanan dan rasa
aman; iklim yang kondusif untuk inovasi dan kapasitas iptek masyarakat
(dan sistem produksi); kepastian hukum, kekuatan pranata legal dan
standardisasi (termasuk metrologi legal); kelestarian lingkungan dan
keberlanjutan pembangunan; serta kekuatan landasan keilmuan dan
basis pengetahuan masyarakat. Dalam Gambar 3 diilustrasikan kesatuan
tujuan tersebut.
Tujuan Pembangunan Iptek
dalam RPJK/RPJP
Penguatan
Dimensi Sosial dan Kemanusiaan
Penguatan Sains Dasar
Fokus
Ketahanan
Pangan
Fokus
Energi Baru/
Terbarukan
Fokus
Teknologi
Informasi dan
Komunikasi
Fokus
Teknologi
Pertahanan
Fokus
Teknologi
Kesehatan dan
Obat-Obatan
Fokus
Teknologi dan
Manajemen
Transportasi
Fokus AReA PembAngunAn nAsionAl iPtek
24 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
Gambar 3. Keterkaitan Antarbidang dalam Tujuan Bersama
2.3 Difusi, Kelembagaan dan Kapasitas Iptek
Dalam Jakstranas Iptek 2005-2009 dinyatakan bahwa pembangunan
nasional iptek mencakup: percepatan difusi dan pemanfaatan iptek;
peningkatan kapasitas kelembagaan iptek; dan peningkatan kapasitas
iptek sistem produksi. Pembangunan ke tiga aspek ini menjadi bagian
yang terpadu dari keseluruhan Agenda Riset Nasional.
2.3.1 Difusi dan Pemanfaatan Iptek
Pemanfaatan iptek meliputi kegiatan riset dan pengembangan,
pembuatan prototipe dan pengujian berskala laboratorium, up-scale
dan produksi dalam jumlah besar, adopsi dan pemanfaatan iptek oleh
masyarakat (sebagai pengguna/adopter). Keseluruhan proses bermula
dari lokasi di mana riset berlangsung secara intensif (di laboratorium),
TUJUAN
BERSAMA
Ketersediaan Kebutuhan,
Kesetaraan Akses,
Keadilan Sosial
Kapasitas Iptek/
Onovasi Masyarakat
dan Sistem Produksi
Kamandirian
Daya Saing, Ketahanan
dan Rasa Aman
Kelestarian Lingkungan
dan Keberlanjutan
Pembangunan
Kepastian Hukum,
Kekuatan Pranata Legal
dan Standardisasi
Kekuatan Landasan Keilmuan
dan Basis Pengetahuan
Masyarakat
Pengembangan Bidang
Teknologi Kesehatan
dan Obat-Obatan
Pengembangan
Bidang
Ketahanan Pangan
Pengembangan
Bidang
Teknologi
Pertahanan dan
Keamanan
Pengembangan
Bidang
Energi Baru dan
Terbarukan
Pengembangan Bidang
Teknologi Informasi
dan Komunikasi
Pengembangan Bidang
Teknologi dan
Manajemen Transportasi
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
25
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
sampai di area yang tersebar (di masyarakat) di mana kegiatan utama
adalah pengoperasian atau penggunaan iptek. Oleh karena pemanfaatan
iptek bergerak dari lokasi yang intensif riset menuju area yang tersebar
di masyarakat luas (di mana riset sudah tidak intensif/tidak ada), proses
ini disebut difusi iptek.
Setiap kegiatan pengembangan iptek yang diarahkan pada peman-
faatan iptek mengandung aspek desain/perancangan di dalamnya.
Perancangan iptek didasarkan pada suatu asumsi (secara eksplisit
ataupun implisit) tentang berbagai kondisi dari masyarakat yang
akan memanfaatkan iptek tersebut. Proses difusi iptek akan menemui
hambatan, atau bahkan mengalami kegagalan, bila asumsi tersebut jauh
berbeda dari kondisi aktual masyarakat. Untuk menghindari terjadinya
kesenjangan di antara asumsi tentang kondisi masyarakat pengguna
iptek dengan kondisi aktual masyarakat tersebut, perlu diperhatikan
beberapa hal berikut: (i) keterlibatan yang cukup dari masyarakat dalam
penentuan pilihan iptek yang akan dikembangkan dan dimanfaatkan; (ii)
minimalisasi dampak negatif yang mungkin timbul dari pemanfaatan
iptek (terutama dampak pada sebagian masyarakat yang termarjinalkan
dari kegiatan pembangunan); (iii) pengembangan kapasitas masyarakat
untuk mengadopsi dan mengadaptasi iptek, dengan memperhatikan
potensi yang ada pada sumber daya alam lokal, pengetahuan dan kearifan
lokal; (iv) kesiapan regulasi, infrastruktur metrologi legal, tata niaga, dan
iklim investasi dalam pemanfaatan iptek untuk tujuan komersial.
2.3.2 Kelembagaan Iptek
Kelembagaan iptek mencakup kompetensi individual, ketersediaan
sarana dan pra-sarana, dan berbagai aspek lain yang relatif ‘soft’ seperti
suasana yang kondusif bagi komunikasi dan kolaborasi di antara
anggota lembaga, dan juga kondusif bagi efektivitas kepemimpinan.
Fokus AReA PembAngunAn nAsionAl iPtek
26 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
Peningkatan kapasitas kelembagaan iptek memerlukan pengembangan
di semua aspek tersebut secara terpadu. Oleh karena lembaga iptek (baik
lembaga pemerintah maupun organisasi swasta) merupakan lembaga
pemelajaran (learning institution/organization), berbagai faktor penunjang
pemelajaran melalui interaksi dan komunikasi (intra dan antarlembaga)
perlu dikembangkan.
2.3.3 Kapasitas Iptek Sistem Produksi
Di era ekonomi global ini, pengembangan sistem produksi nasional
perlu mengombinasikan pemanfaatan iptek impor dan iptek lokal/domestik
secara strategis untuk mencapai keseimbangan di antara peningkatan
daya saing dan ketahanan/keberlanjutan. Bagi sebuah industri—sebagai
elemen penting dalam sistem produksi, kemampuan untuk merencana-
kan pengadaan/pemanfaatan iptek menjadi faktor yang krusial. Kekeliruan
dalam perencanaan ini dapat berakibat kegagalan dalam alih iptek, dan
menjadikan pengoperasian industri tidak handal dan tidak efsien.
Lembaga riset iptek dan perguruan tinggi dapat berkontribusi
untuk meningkatkan kapasitas iptek sistem produksi nasional de-
ngan mengembangkan beberapa hal berikut: (i) mengembangkan
metodologi penilaian (assessment) kebutuhan iptek di industri yang
memperhitungkan aspek ekonomis, lingkungan, keselamatan, dan
legal; (ii) meningkatkan interaksi yang mendalam dengan para pelaku
industri untuk mengembangkan kapasitas adopsi iptek di industri; (iii)
mengembangkan (melalui dialog dengan pelaku industri) iptek yang
strategis bagi peningkatan daya saing industri; (iv) mengembangkan
reverse engineering untuk meningkatkan nilai guna teknologi yang telah
ada dan meningkatkan ketersediaan suku cadang; (v) memfasilitasi
proses standardisasi di industri; dan (vi) mengembangkan metodologi
untuk manajemen rantai pasokan (supply chain management) yang bersifat
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
27
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
lintas-industri (rantai pasokan hulu-hilir, rantai pasokan dalam kluster
industri).
Berbagai sumber daya yang terdapat di lembaga pemerintah, per-
guruan tinggi, dan organisasi swasta dapat dimobilisasi untuk mengem-
bangkan berbagai hal tersebut di atas melalui jejaring A-B-G.

Gambar 4. Pengembangan Iptek, Difusi dan Pemanfaatan Iptek dalam Konstelasi Jejaring
Pelaku Iptek di dalam Lingkungan Kebijakan dan Dinamika Sosio-kultural.
Pelaku
Riset
Pelaku
Riset
Pelaku
Riset
Pengguna
Langsung
Pengguna
Langsung
Pengguna
Tak
Langsung
Pengguna
Tak
Langsung
Pengguna
Tak
Langsung
Pengguna
Tak
Langsung
Lingkungan
Strategis
Riset
Nasional
Riset untuk
Percepatan
Difusi Iptek
Fokus AReA PembAngunAn nAsionAl iPtek
Program
Implementasi ARN
Lingkungan
Strategis
Difusi &
Pemanfaatan
IPTEK
P
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

I
P
T
E
K
D
i
f
u
s
i

&

P
e
m
a
n
f
a
a
t
a
n

I
P
T
E
K
Pelaku Iptek
baik penghasil
maupun pengguna
Aliran
Informasi
Iptek
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
29
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
BAB III
AGENDA RISET
3.1 AGENDA RISET KETAHANAN PANGAN
3.1.1 Latar Belakang Permasalahan
Permasalahan pangan yang dihadapi baik secara global, nasional,
maupun lokal dapat dipilah menjadi masalah produksi, distribusi,
dan konsumsi. Masalah tersebut selain bersifat teknis maka juga
terkait dengan dimensi sosial budaya dan ekonomi. Kegiatan riset di
bidang pangan tentu perlu pula didukung adanya penelitian dengan
riset dan pengembangan sains dasar. Masalah yang terkait dengan
produksi pangan dapat disebabkan oleh salah satu atau kombinasi dari
beberapa faktor produksi, termasuk kinerja petani, ketersediaan dan
kualitas lahan produksi, ketersediaan dan keterjangkauan harga sarana
produksi, serta kondisi iklim selama periode tanam atau selama siklus
produksi.
Sedangkan masalah distribusi pangan terkait erat dengan kualitas
dan jangkauan jaringan transportasi, ketersediaan sarana angkut untuk
produk pangan, dan selisih harga komoditas pangan di sentra produksi
dan di tingkat konsumen.
Masalah terkait dengan konsumsi pangan dapat berupa ketidak-
tersediaan atau kekurangan pasokan bahan pangan bagi masyarakat,
ketidakmampuan sebagian masyarakat untuk membeli pangan yang
dibutuhkan, pola konsumsi masyarakat yang bergantung pada jenis pangan
30 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
tertentu, kekurangan gizi atau malnutrisi, dan penggunaan bahan kimia
yang berbahaya bagi kesehatan pada pangan segar maupun olahan.
Konsumen komoditas pangan terdiri dari masyarakat (sebagai peng-
guna langsung), agroindustri (sebagai pengolahan pangan segar menjadi
pangan olahan), dan eksportir (sebagai penjual komoditas pangan untuk
pasar internasional). Produsen pangan adalah petani (untuk produk pa-
ngan segar dan bahan baku industri pangan) dan industri pangan (untuk
produk pangan olahan). Industri pangan dimaksud termasuk industri
rumah tangga, kecil, menengah, dan besar; serta mencakup industri pa-
ngan tradisional maupun modern.
Permasalahan pangan pada tahap produksi, distribusi, dan konsumsi
dapat saling terkait satu sama lain. Oleh sebab itu, penanganan masalah
pangan tidak dapat dilakukan secara parsial. Untuk panduan operasional,
permasalahan pangan dipilah menjadi: (a) kekurangan pangan pokok,
sebagai akibat kebutuhan yang lebih tinggi dari kapasitas produksi
dalam negeri, (b) pengurangan luas lahan pertanian produktif akibat
konversi penggunaannya untuk keperluan non-pertanian, (c) kecilnya
marjin usaha tani yang berakibat pada rendahnya motivasi petani untuk
meningkatkan produksi, (d) kendala dalam distribusi pangan sebagai
akibat keterbatasan jangkauan jaringan transportasi, (e) beberapa
produk pangan tidak dapat tersedia sepanjang tahun karena belum
berkembangnya teknologi pengolahan/pengawetan, (f) pola konsumsi
yang kaku sehingga upaya diversifkasi pangan sering terhambat, (g)
masih sering dijumpai produk pangan yang tidak memenuhi standar
kesehatan pangan, termasuk kurang gizi dan tidak memenuhi standar
keamanan pangan, sehingga sulit menerapkan SNI untuk produk pangan,
(h) belum semua rumah tangga secara ekonomi mampu memenuhi
kebutuhan pangan pokoknya.
Berdasarkan permasalahan pangan yang dapat diidentifkasi tersebut,
alternatif solusinya tidak selalu berupa solusi teknologi, beberapa
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
31
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
permasalahan tersebut lebih membutuhkan solusi non-teknologi, baik
berupa kebijakan publik yang mendukung atau berupa upaya edukasi
publik agar dapat memahami dengan benar tentang aspek pangan
tertentu. Solusi teknologi dijabarkan dalam bentuk langkah operasional
berupa aktivitas riset yang relevan dan terarah untuk menjawab per-
masalahan-permasalahan pangan yang sedang dihadapi. Hasil riset
pangan ini selayaknya pula digunakan sebagai acuan untuk penyusunan
kebijakan publik dan/atau digunakan sebagai basis pengetahuan untuk
mendukung kegiatan edukasi publik.
3.1.2 Arah Kebijakan dan Prioritas Utama
Kegiatan riset ketahanan pangan diarahkan untuk mendukung
upaya seluruh pemangku-kepentingan (stakeholders) dalam memenuhi
kebutuhan pangan yang cukup, bergizi, aman, sesuai-selera, keyakinan,
dan terjangkau daya beli masyarakat. Sesuai dengan permasalahan
pangan yang dihadapi, kegiatan riset dapat diarahkan untuk meningkat-
kan kapasitas produksi, memperlancar distribusi dan mengurangi ke-
hilangan/kerusakan pangan selama pengangkutan, dan meningkatkan
mutu pangan yang dikonsumsi masyarakat.
Pada dasarnya seluruh jenis pangan, baik pangan asal tanaman,
ternak, maupun ikan akan mendapat perhatian; demikian pula pangan
hasil kegiatan budidaya maupun hasil tangkap (ikan dan hewan liar)
atau petik (tumbuhan hutan). Akan tetapi dengan mempertimbangkan
aspek keberlanjutan pasokan pangan, maka pangan hasil budidaya
tentu perlu lebih diprioritaskan. Pangan asal fora dan fauna liar perlu
didomestikasikan dan dibudidayakan untuk memperkaya keragaman
pangan. Jenis komoditas pangan yang diprioritaskan adalah selaras
dengan besaran permintaan masyarakat atas jenis pangan tersebut dan
disesuaikan dengan pola konsumsi pangan masyarakat yang diharapkan
AgendA Riset
32 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
(Pola Pangan Harapan, PPH). Hal ini selaras dengan kebijakan Revitalisasi
Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan (RPPK) yang telah dicanangkan.
Ketergantungan masyarakat akan jenis pangan pokok tertentu (terutama
beras) perlu dikurangi dengan menawarkan berbagai jenis pangan alternatif.
Akan tetapi, riset untuk pengembangan jenis pangan alternatif perlu diba-
rengi dengan upaya edukasi publik yang intensif agar penerimaan masyarakat
terhadap produk pangan alternatif menjadi lebih meningkat.
Prioritas utama kegiatan riset bidang pangan adalah untuk mendukung
terwujudnya ketahanan pangan yang bersumber dari produksi dalam
negeri. Nilai-nilai kearifan lokal yang telah terbukti berwawasan ekologis
dapat diposisikan sebagai landasan untuk pengembangan teknologi
produksi maupun pengolahan pangan dengan sisipan muatan untuk
tujuan peningkatan produktivitas, efsiensi, kualitas, dan/atau keamanan
pangan.
Kemitraan antar-peneliti, antar-lembaga riset, dan juga antara aka-
demisi, pelaku bisnis, dan pembuat kebijakan (Kerjasama ABG) sangat
dianjurkan dalam aktivitas riset bidang pangan. Kerjasama yang intensif
dan sinergis antar-pelaku pembangunan ketahanan pangan diharapkan
mampu memaksimalkan capaian bersama dalam menyediakan pangan
bagi masyarakat dan meningkatkan efsiensi pengelolaan sumberdaya
yang dimiliki. Melalui intensifkasi kerjasama ABG ini diharapkan proses
adopsi teknologi oleh produsen (petani dan pelaku industri pangan)
dapat berlangsung lebih baik
3.1.3 Target Capaian Tahun 2009 dan Sasaran Tahun 2025
(a) Target Capaian tahun 2009
Target capaian tahun 2009 yang diharapkan dari riset teknologi
budidaya tanaman, ternak, dan ikan adalah diperolehnya varietas dan
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
33
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
benih/bibit unggul baru yang tahan terhadap cekaman biotik dan abiotik
dengan produktivitas dan kualitas yang tinggi. Selain itu tersedia pula
berbagai paket teknologi untuk deteksi, pencegahan, dan pengendalian
hama dan penyakit tanaman, ternak dan ikan; paket teknologi dan
formulasi pakan ternak dan ikan; paket teknologi pengelolaan lahan
dan air yang sesuai dengan agroekosistem setempat; paket teknologi
budidaya tanaman, ternak dan ikan secara terpadu (biocyclofarming) untuk
meningkatkan efsiensi penggunaan sumberdaya dan meminimalisasi
limbah pertanian (zero waste); peta rekomendasi jenis komoditas pangan
asal tanaman, ternak dan/atau ikan yang sesuai untuk berbagai tipologi
lahan marjinal. Paket teknologi yang akan dikembangkan juga mendukung
pelaksanaan Good Agriculture Practices (GAP) dan Good Manufacturing Practices
(GMP).
Program eksplorasi dan teknologi uji kelayakan dan pengolahan
pangan baru ditargetkan untuk menghasilkan teknologi budidaya
komoditas pangan yang didomestikasi dari hutan dan budidaya tanaman
asal daerah subtropika, termasuk kegiatan pemuliaan tanaman untuk
menghasilkan benih yang cocok untuk daerah tropika, baik secara
konvensional maupun melalui rekayasa genetik.
Program teknologi panen dan pascapanen ditargetkan untuk meng-
hasilkan teknologi kemasan dari bahan baku lokal; dan teknologi serta
rancangan alat/mesin pengawetan dan pengolahan pangan yang sesuai
dengan spesifkasi bahan baku lokal untuk menghasilkan produk pangan
olahan yang sesuai dengan selera konsumen domestik.
Untuk mendukung tata niaga pangan, ditargetkan pula pengem-
bangan sistem informasi yang akrab-pengguna (user-friendly) dengan
sajian data yang selalu diperbaharui (up to date) pada masing-masing
sentra produksi, industri pangan, dan pasar; situs promosi komoditas
pangan untuk ekspor; sistem informasi konsumsi pangan untuk media
edukasi publik; dan sistem informasi geografs (SIG) untuk pertanian
AgendA Riset
34 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
Untuk menjamin keamanan pangan, ditargetkan tersedianya meto-
da pengujian yang baku dan alat/mesin untuk penilaian dan pengenda-
lian mutu dan keamanan pangan termasuk alat/metode uji yang cepat
dan sederhana untuk penggunaan di lapangan. Penetapan standar mutu
dan keamanan pangan mengacu pada persyaratan/kriteria keamanan
pangan domestik dan internasional.
Kajian sosial-ekonomi-budaya bidang pangan ditargetkan untuk
memperoleh data dan informasi untuk estimasi permintaan dan
pasokan pangan tentang pola konsumsi dan strategi peningkatan
produksi pangan nasional; kelayakan usaha tani pangan; serta
peran dan kontribusi kelembagaan petani, peternak, nelayan dan
pelaku agribisnis. Data dan informasi ini diharapkan dapat dijadikan
landasan dalam penetapan kebijakan publik yang mengatur tentang
pangan.
Sains dasar pendukung riset ketahanan pangan diposisikan sebagai
landasan penting dalam pengembangan riset terapan untuk menghasilkan
produk yang dapat dimanfaatkan langsung oleh masyarakat. Sains dasar
dimaksud dapat berupa kajian matematika, biologi, kimia, fsika, serta
ilmu kebumian dan antariksa.
(b) Sasaran pada tahun 2025
Adapun sasaran yang diharapkan dicapai pada tahun 2025 adalah
signifkannya peran dan kontribusi riset dalam pemenuhan kebutuhan
domestik untuk seluruh jenis pangan pokok dari hasil budidaya dalam
negeri; menghasilkan pangan yang memenuhi standar mutu dan keaman-
an pangan domestik dan internasional; meningkatkan keanekaragaman
pangan yang tersedia (diversifkasi), baik untuk konsumsi langsung
oleh masyarakat maupun sebagai bahan baku industri; meningkatkan
kontribusi lahan marjinal dalam produksi pangan; dan meningkatkan
pendapatan petani serta pelaku agribisnis lainnya. Ukuran kuantitatif
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
35
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
untuk masing-masing sasaran ketahanan pangan akan mengacu pada
target yang ditetapkan dalam Kebijakan Umum Ketahanan Pangan.
3.1.4 Program
Program riset bidang ketahanan pangan dititikberatkan pada ke-
butuhan solusi teknologi atas permasalahan pangan yang dihadapi,
dengan didukung program difusi dan pemanfaatan iptek, program
penguatan kelembagaan iptek, dan program peningkatan kapasitas iptek
sistem produksi. Sesuai dengan permasalahan yang dihadapi, program
riset di bidang ketahanan pangan tahun 2006-2009 dikelompokkan
sebagai berikut: (a) teknologi budidaya tanaman, ternak, dan ikan;
(b) eksplorasi, teknologi uji kelayakan dan pengolahan pangan baru;
(c) teknologi pasca panen; (d) sistem informasi pangan; (e) teknologi
pengawasan pangan; (f) kajian dinamika sosial, ekonomi, budaya, dan
kebijakan pangan yang dimiliki dan diperlukan masyarakat; dan (g) sains
dasar pendukung riset ketahanan pangan.
(a) Teknologi Budidaya Tanaman, Ternak, dan Ikan
Penelitian dan pengembangan teknologi budidaya tanaman, ternak
dan ikan memiliki sasaran untuk peningkatan kapasitas produksi pangan
melalui intensifkasi dan ekstensifkasi termasuk di lahan marjinal yang
berpotensi menjadi lumbung pangan baru di masa depan serta teknologi
budidaya soil less culture.
Program penelitian dan pengembangan teknologi budidaya tanam-
an, ternak dan ikan mencakup kegiatan: (1) pemuliaan tanaman,
ternak, dan ikan secara konvensional, aplikasi bioteknologi dan/atau
aplikasi teknologi iradiasi untuk pengembangan varietas unggul baru;
(2) pengembangan teknologi pengendalian hama dan penyakit secara
terpadu; (3) pengembangan teknologi produksi pakan ternak dan ikan;
AgendA Riset
36 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
(4) pengembangan pupuk hayati dan pupuk kimia berimbang; (5)
pengembangan teknologi pengelolaan lahan dan air; (6) pengembangan
teknologi produksi tanaman, ternak dan ikan secara terintegrasi; (7)
pengembangan teknologi soil-less culture untuk tanaman dalam rumah
kaca; dan (8) pemetaan kesesuaian komoditas tanaman pangan, ternak,
dan ikan pada lahan-lahan marjinal Indonesia; dan (9) pengembangan
teknologi budidaya pertanian yang sesuai dengan kemampuan masya-
rakat dan kebutuhan pasar global

(b) Eksplorasi, teknologi uji kelayakan dan pengolahan pangan baru
Riset ini memiliki sasaran untuk peningkatan keragaman jenis pangan
yang dapat dikonsumsi masyarakat, baik yang bersumber dari kekayaan
hayati hutan Indonesia maupun tanaman yang diintroduksi dari daerah
subtropik.
Riset eksplorasi, teknologi uji kelayakan dan pengolahan pangan baru
meliputi kegiatan: (1) eksplorasi, karakterisasi, identifkasi, domestikasi,
dan evaluasi plasma nutfah tumbuhan, hewan, dan ikan yang berpotensi
sebagai sumber pangan baru atau sebagai sumberdaya genetik untuk
merakit varietas pangan baru yang unggul; (2) teknologi pengolahan
hasil hutan untuk bahan pangan baru; (3) uji adaptasi tanaman, ternak
dan ikan asal daerah subtropik; dan (4) pelestarian dan perlindungan
plasma nutfah lokal, baik yang telah terdomestikasi maupun kerabat
liarnya, serta mencegah terjadinya erosi genetik, kerusakan, dan biopiracy
oleh pihak asing.
(c) Teknologi Pasca Panen
Riset teknologi pasca panen bertujuan menciptakan teknologi
pasca panen untuk dapat menekan susut saat panen dan pasca panen,
mempertahankan mutu produk, dan meningkatkan nilai tambah ha-
sil tanaman, ternak, dan ikan, serta meningkatkan keragaman jenis
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
37
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
pangan olahan. Sasaran program ini adalah memperpanjang periode
ketersediaan, meningkatkan mutu dan nilai tambah hasil tanaman,
ternak dan ikan.
Riset ini mencakup kegiatan: (1) pengembangan teknologi kemasan
untuk produk pangan segar dan olahan, padat dan cair, asal tanaman,
ternak dan ikan; (2) pengembangan teknologi pengawetan dan peng-
olahan pangan hasil tanaman, ternak dan ikan; (3) pengembangan
teknologi pengurangan kehilangan hasil saat panen dan pasca panen
tanaman, ternak, dan ikan; (4) pengembangan teknologi pemanfaatan
limbah pertanian dan agroindustri untuk pakan, bahan baku industri
kimia, dan/atau energi; dan (5) rancang bangun sarana transportasi dan
distribusi produk pangan segar padat (ikan, ternak, hortikultura) dan cair
(susu).
(d) Sistem Informasi Pangan
Pengembangan sistem informasi pangan memiliki sasaran untuk
meningkatkan kelancaran arus informasi pangan dari sentra produksi
ke pasar domestik/internasional untuk pangan yang dipasarkan dalam
bentuk segar (fresh-market commodities) dan ke industri pangan untuk jenis
pangan yang perlu diolah; sebaliknya juga arus permintaan (demand) dari
pasar domestik/internasional ke sentra produksi dan industri pangan.
Tentunya ini memerlukan adanya dukungan ketersediaan perangkat
keras dan lunak di masing-masing simpul. Sistem informasi pangan
dapat juga dirancang untuk digunakan sebagai media edukasi publik
tentang pangan dan informasi bagi investor yang membutuhkan lahan
untuk kegiatan produksi pangan.
Riset ini mencakup kegiatan: (1) penyediaan data produksi (volume,
jenis, jadwal) pangan melalui pendirian atau optimalisasi peran simpul
pemasok data di lokasi sentra produksi (on-site); (2) penyediaan data
permintaan bahan pangan pokok pada pasar domestik dan internasional
AgendA Riset
38 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
(volume, jenis, harga), industri pengolahan pangan (kapasitas, jenis, har-
ga), dan transportasi produk pangan (moda, ongkos); (3) pengembangan
sistem informasi produksi dan pasar komoditas pangan pokok yang
mudah diakses oleh petani dan pelaku agribisnis berbasis teknologi
SMS menggunakan telepon seluler; (4) pengembangan situs promosi
komoditas pangan untuk ekspor (e-farming); (5) pengembangan sistem
informasi untuk edukasi publik tentang pangan; (6) aplikasi inderaja
(remote sensing) dan sistem informasi geografs (SIG) untuk pertanian.
(e) Teknologi Pengawasan Pangan
Riset teknologi pengawasan pangan mempunyai sasaran untuk me-
lindungi dan membantu konsumen dalam memilih pangan yang ber-
mutu, bergizi, dan aman, baik pangan yang diproduksi di dalam negeri
maupun impor.
Program riset teknologi pengawasan pangan meliputi kegiatan: (1)
pengembangan teknologi pengukuran dan pengujian mutu pangan; (2)
pengembangan teknologi untuk deteksi cemaran mikroba patogenik
pada produk pangan; (3) pengembangan teknologi untuk deteksi ba-
han kimia yang berbahaya bagi kesehatan secara cepat, sederhana
dan murah; dan (4) pengembangan Standar Nasional Indonesia (SNI)
produk pangan;
(f) Kajian Sosial, Ekonomi, Budaya, dan Kebijakan Pangan
Kajian sosial, ekonomi, budaya, dan kebijakan pangan mempunyai
sasaran untuk estimasi permintaan dan produksi pangan, kebiasaan
masyarakat dalam konsumsi pangan, dan teknologi pangan yang
dimiliki dan diperlukan masyarakat sebagai basis data dan informasi
dalam pembuatan kebijakan publik dalam bidang pangan dan bidang
terkait lainnya, untuk mendorong terwujudnya ketahanan pangan
nasional.
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
39
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
Program kajian sosial, ekonomi dan budaya mencakup kegiatan
antara lain: (1) pola konsumsi pangan; (2) analisis usaha tani dan eko-
nomi pangan; (3) penguatan kelembagaan kelompok tani/peternak/
nelayan dan asosiasi pelaku agribisnis;(4) pengembangan pengetahuan
lokal (indigenous knowledge) sebagai basis riset dan teknologi untuk
mendukung ketahanan pangan; dan (5) kajian kebijakan pembatasan
konversi lahan pertanian; dan (6) implikasi pengembangan teknologi
pangan bagi kehidupan masyarakat.
(g) Sains Dasar Pendukung Riset Ketahanan Pangan
Riset dalam lingkup sains dasar umumnya dipilah menjadi riset
untuk murni pengembangan ilmu dan riset untuk memberikan fondasi
dalam upaya untuk mendapatkan jawaban atas permasalahan nyata
melalui serangkaian riset terapan.
Kegiatan untuk program sains dasar pendukung riset ketahanan
pangan mencakup kegiatan antara lain: (1) kajian genetika dan biomole-
kuler, (2) kajian kimia pangan baru dan/atau produk hayati yang potensial
untuk pangan, (3) pengembangan teknologi pemantauan agroekosistem
secara presisi, dan (4) pengembangan instrumen untuk aplikasi teknologi
penginderaan jauh.
Riset bidang ketahanan pangan ini secara lebih rinci diuraikan pada
tabel kegiatan, target capaian tahun 2009, indikator keberhasilan, dan
sasaran akhir yang hendak dicapai pada tahun 2025. Selain program
penelitian dan pengembangan iptek, juga dirinci kegiatan-kegiatan pro-
gram difusi dan pemanfaatan iptek, penguatan kelembagaan iptek, dan
peningkatan kapasitas iptek sistem produksi.
AgendA Riset
40 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
INDIKATOR
NO KEGIATAN
TARGETCAPAIAN
KEBERHASILAN
SASARAN
KETERANGAN

2009
2009
AKHIR2025
I PROGRAM PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN IPTEK
(1) Pemuliaan
tanaman untuk
pengembangan
varietas unggul
baru yang tahan
terhadap cekaman
biotik dan abiotik
Varietas unggul baru
tanaman padi, jagung,
dan kedelai yang tahan
terhadap hama atau
patogen utamanya;
Varietas unggul baru
tanaman padi, jagung,
dan kedelai yang
toleran terhadap
cekaman abiotik
tertentu;
Tersedianya galur
tanaman pangan lain
yang potensial untuk
dikembangkan menjadi
varietas unggul tahan
cekaman biotik atau
abiotik;
Dilepasnya varietas
unggul baru tahan
hama atau penyakit
utama untuk tanaman
padi, jagung, dan
kedelai;
Dilepasnya varietas
padi yang toleran
terhadap keasaman
tanah;
Dilepasnya varietas
jagung dan kedelai
yang toleran terhadap
kekeringan;
Keberlanjutan program
pemuliaan tanaman
untuk tanaman pangan
lainnya;
Surplus
produksi
beras, jagung,
dan kedelai;
Pelaksana a.l:
Deptan, LIPI,
BPPT, Batan,
Universitas
Pengguna a.l :
Petani, Industri
Benih
(2) Pemuliaan
tanaman untuk
pengembangan
varietas unggul
baru yang
berpotensi hasil
tinggi
Varietas unggul baru
tanaman padi, jagung,
dan kedelai dengan
produktivitas tinggi;
Tersedianya galur
tanaman pangan
lain yang potensial
untuk dikembangkan
menjadi varietas unggul
berpotensi hasil tinggi;
Dilepasnya varietas
unggul baru tanaman
padi, jagung, dan
kedelai dengan
produktivitas tinggi;
Keberlanjutan program
pemuliaan tanaman
untuk tanaman pangan
lainnya;
Surplus
produksi
beras, jagung,
dan kedelai;
Pelaksana a.l:
Deptan, LIPI,
BPPT, Batan, PT
Pengguna a.l :
Petani, Industri
Benih
(3) Pemuliaan ikan
dan udang untuk
memperoleh bibit
unggul baru dengan
pertumbuhan dan
produktivitas tinggi
Benih ikan kerapu,
nila, patin, dan udang
unggul baru dengan
pertumbuhan dan
produktifitas tinggi;
Tersedianya benih
ikan kerapu, nila,
patin, dan udang
unggul baru dengan
pertumbuhan dan
produktivitas tinggi
Terpenuhinya
kebutuhan
domestik
untuk ikan dan
meningkatnya
ekspor udang
Pelaksana a.l :
DKP, BPPT,
Universitas
Pengguna a.l :
Petani tambak/
nelayan, Industri
perikanan
ATEKNOLOGIBUDIDAYATANAMAN,TERNAKDANIKAN
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
41
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
INDIKATOR
NO KEGIATAN
TARGETCAPAIAN
KEBERHASILAN
SASARAN
KETERANGAN

2009
2009
AKHIR2025
(4) Pemuliaan
ternak untuk
pengembangan
bibit ternak unggul
baru dengan
produktivitas tinggi
Bibit ternak unggul baru
(sapi, domba, kambing,
ayam lokal, dan itik)
dengan produktifitas
tinggi
Tersedianya bibit
ternak unggul
baru (sapi, domba,
kambing, ayam lokal,
dan itik) dengan
produktivitas tinggi
Terpenuhinya
kebutuhan
domestik
untuk pangan
asal ternak
Pelaksana a.l:
Deptan, LIPI,
Batan, BPPT,
Universitas
Pengguna a.l:
Peternak, Industri
peternakan
(5) Pengembangan
teknologi
pengendalian
hama dan penyakit
tanaman, ternak,
dan ikan;
Paket teknologi
pengendalian hama
dan penyakit tanaman,
ternak dan ikan prioritas
Tersedianya paket
teknologi deteksi,
pengendalian,
pencegahan dan
pemberantasan hama
dan penyakit tanaman,
ternak dan ikan
prioritas
Menurunnya
kehilangan
hasil akibat
hama dan
patogen
tanaman,
ternak, dan
ikan
Pelaksana a.l:
Deptan, DKP,
LIPI, BPPT, Batan,
Universitas
Pengguna a.l:
Petani, petani
tambak/nelayan,
eternak dan
agroindustri
(6) Pengembangan
pestisida alami
(biopesticide) untuk
untuk pengendalian
hama dan patogen
tanaman
Fomula biopestisida
alami untuk
pengendalian hama
atau penyakit tanaman
padi, jagung, dan
kedelai
Tersedianya
biopestisida alami
untuk pengendalian
hama atau patogen
utama tanaman padi,
jagung, dan kedelai
Menurunnya
kehilangan
hasil akibat
hama dan
patogen pada
tanaman padi,
jagung, dan
kedelai
Pelaksana a.l:
Deptan, LIPI,
BPPT, Batan,
Universitas
Pengguna a.l:
Petani, Industri
pestisida
(7) Pengembangan
teknologi dan
formulasi pakan
ternak dan ikan
bermutu berbasis
sumber daya lokal
Paket teknologi dan
formulasi pakan ternak
dan ikan bermutu
berbasis sumber daya
lokal
Tersedianya paket
teknologi dan
formulasi pakan ternak
dan ikan bermutu
berbasis sumber daya
hayati lokal
Peningkatan
produktivitas
lahan dan
wilayah
perairan
Pelaksana a.l:
Deptan,
DKP, LAPAN,
Bakosurtanal,
Universitas
Pengguna a.l:
Petani, peternak,
petani tambak/
nelayan, PEMDA,
dan industri terkait
AgendA Riset
42 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
(8) Pengembangan
teknologi
pengelolaan lahan
dan air untuk
tanaman, ternak
dan ikan
Paket teknologi dan
formulasi pupuk hayati
(biofertilizer) dan pupuk
kimia berimbang
Tersedianya paket
teknologi dan
formulasi pupuk hayati
(biofertilizer).
Tersedianya paket
teknologi dan
formulasi pupuk kimia
berimbang sesuai
kebutuhan tanaman
dan kondisi lahan
Peningkatan
produktivitas
lahan dan
wilayah
perairan
Pelaksana a.l:
Deptan,
DKP, LAPAN,
Bakosurtanal,
Universitas
Pengguna a.l:
Petani, peternak,
petani tambak/
nelayan, PEMDA,
dan industri terkait
(9) Pengembangan
teknologi dan
formulasi pupuk
hayati (biofertilizer)
dan pupuk kimia
berimbang untuk
tanaman
Paket teknologi
pengelolaan lahan dan
air untuk tanaman,
ternak dan ikan
Tersedianya
paket teknologi
pengintegrasian
komoditas pangan
untuk setiap
agroekosistem,
termasuk lahan-lahan
marjinal
Peningkatan
produktivitas
dan efisiensi
pemanfaatan
lahan;
Peningkatan
keragaman
produk
pangan yang
dihasilkan;
Pelaksana a.l:
Deptan,
DKP, LAPAN,
Bakosurtanal,
Universitas
Pengguna a.l:
Petani, peternak,
petani tambak/
nelayan, PEMDA,
dan industri terkait
INDIKATOR
NO KEGIATAN
TARGETCAPAIAN
KEBERHASILAN
SASARAN
KETERANGAN

2009
2009
AKHIR2025
(10) Pertanian terpadu
(biocyclofarming)
tanaman, ternak,
dan ikan
Paket teknologi
pengintegrasian
komoditas pangan
Tersedianya
paket teknologi
pengintegrasian
komoditas pangan
untuk setiap
agroekosistem,
termasuk lahan-lahan
marjinal
Peningkatan
produktivitas
dan efisiensi
pemanfaatan
lahan;
Peningkatan
keragaman
produk
pangan yang
dihasilkan;
Pelaksana a.l:
Deptan, DKP,
LIPI, BPPT,
Bakosurtanal,
LAPAN,
Universitas
Pengguna a.l:
Petani, petani
tambak, peternak,
PEMDA, industri
terkait
(11) Pengembangan
teknologi budidaya
tanaman dengan
sistem hidroponik
dan aeroponik
Paket teknologi
budidaya tanaman
dengan sistem
hidroponik dan
aeroponik untuk
tanaman hortikultura
Tersedianya teknologi
budidaya tanaman
dengan sistem
hidroponik dan
aeroponik untuk
sayuran bernilai
ekonomi tinggi
Peningkatan
ketersediaan
sayuran
dan buah
segar untuk
perkotaan
Pelaksana a.l:
Deptan, LIPI,
BPPT, Universitas
Pengguna a.l:
petani, Industri
pertanian
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
43
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
(12) Pemetaan
kesesuaian
komoditas tanaman
pangan, ternak,
dan ikan pada
lahan-lahan marjinal
Indonesia
Peta rekomendasi jenis
komoditas tanaman
pangan, ternak dan/
atau ikan yang sesuai
untuk berbagai tipologi
lahan marjinal
Penggunaan peta
rekomendasi
komoditas dalam
pengelolaan lahan
marjinal
Peningkatan
kontribusi
lahan marjinal
dalam
penyediaan
pangan
nasional
Pelaksana a.l:
Deptan,
Bakosurtanal,
LAPAN, DKP,
Universitas
Pengguna a.l:
investor pertanian,
Deptan, DKP,
Pemda, industri
terkait
INDIKATOR
NO KEGIATAN
TARGETCAPAIAN
KEBERHASILAN
SASARAN
KETERANGAN

2009
2009
AKHIR2025
BEKSPLORASI,TEKNOLOGIUjIKELAYAKANDANPENGOLAHANPANGANBARU
(1) Eksplorasi,
karakterisasi,
identifikasi,
domestikasi, dan
evaluasi plasma
nutfah biota hutan
melalui kegiatan
bioprospeksi
Teknologi budidaya
komoditas pangan
yang didomestikasi dari
hutan;
Gene bank asal biota
hutan yang potensial
untuk merakit varietas
unggul
Produk pangan asal
hutan yang dihasilkan
melalui kegiatan
budidaya, bukan hasil
pengambilan langsung
dari hutan;
Varietas unggul
tanaman yang dirakit
dengan memanfaatkan
sumberdaya genetik
asal biota hutan;
Peningkatan
keragaman
pangan
(divesifikasi)
yang
tersedia bagi
konsumen
Pelaksana
a.l : Deptan,
Universitas, LIPI,
BPPT
Pengguna a.l:
petani, Industri
benih/bibit
(2) Pengembangan
teknologi
pengolahan pangan
asal hutan
Paket teknologi untuk
pengolahan bahan
pangan asal hutan
Produk pangan olahan
dengan bahan baku
berasal dari produk
kehutanan
Peningkatan
keragaman
pangan
olahan yang
tersedia bagi
konsumen
Pelaksana a.l:
Deptan,
Universitas, LIPI,
BPPT
Pengguna a.l:
petani, Industri
pangan
(3) Tropikasi tanaman
pangan asal daerah
sub tropika
Teknologi seleksi dan
budidaya tanaman
pangan asal daerah
sub-tropika pada
kondisi lahan dan iklim
Indonesia
Tersedianya cultivar/
varietas gandum dan
kentang yang dapat
berproduksi dengan
baik pada lahan
dataran rendah tropika
Terpenuhinya
kebutuhan
na-sional
akan gandum,
dan kentang
sebagai bahan
baku industri
pangan dari
hasil budidaya
dalam negeri
Pelaksana a.l:
Universitas,
Deptan, LIPI,
BPPT, Batan
Pengguna a.l :
Industri pangan
AgendA Riset
44 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
CTEKNOLOGIPASCAPANEN
(4) Pelestarian dan
perlindungan
plasma nutfah
lokal, baik yang
telah terdo-
mestikasi maupun
kerabat liarnya,
serta mencegah
terjadinya erosi
genetik, kerusakan,
dan biopiracy oleh
pihak asing
Gene bank untuk
tanaman pangan utama
dan kerabat liarnya
Database plasma
nutfah Indonesia
semakin lengkap
dan berkembangnya
gene bank nasional
maupun konservasi in
situ untuk beberapa
komoditas pangan
yang potensial
Pemanfaatan
dan
pelestarian
plasma
nutfah secara
berkelanjutan
Pelaksana a.l:
Universitas, LIPI,
Deptan
Pengguna a.l:
Universitas,
industri benih,
Deptan, DKP
INDIKATOR
NO KEGIATAN
TARGETCAPAIAN
KEBERHASILAN
SASARAN
KETERANGAN

2009
2009
AKHIR2025
(1) Pengembangan
teknologi kemasan
untuk produk
pangan segar
dan olahan asal
tanaman, ternak
dan ikan
Paket teknologi
kemasan dari bahan
baku lokal untuk
komoditas pangan
orientasi ekspor (buah
tropis, udang, ikan)
Pengurangan
kehilangan hasil
pada saat panen dan
setelah panen;
Produk pangan yang
berkualitas, bebas
cemaran mikroba
patogenik dan bahan
kimia berbahaya;
Peningkatan
volume,
keraga-man,
dan mutu
produk
pangan segar
dan olahan
dalam negeri;
Ketersediaan
pangan
sepanjang
tahun;
Pelaksana a.l:
Universitas, BPPT,
LIPI, Deptan, DKP,
Batan
Pengguna a.l :
Industri pangan,
petani, petani
tambak/nelayan,
peternak
(2) Pengembangan
teknologi peng-
awetan dan
pengolahan pangan
hasil tanaman,
ternak dan ikan
Paket teknologi dan
alat/mesin pengawetan
dan pengolahan
pangan yang sesuai
dengan spesifikasi
bahan baku pangan
lokal
Berkembangnya
industri pangan
berbahan baku lokal
yang kompetitif
dan meningkatnya
keragaman jenis
pangan olahan
Peningkatan
ketersediaan
pangan
berkualitas
dan aman;
Peningkatan
serapan
tenaga
kerja sektor
pertanian;
Pelaksana a.l:
Universitas, BPPT,
LIPI, Batan,
Deptan, DKP
Pengguna a.l:
Industri pangan,
petani, petani
tambak/nelayan,
peternak
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
45
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
(3) Pengembangan
teknologi panen
dan pascapanen
skala kecil untuk
pengurangan
kehilangan hasil
tanaman, ternak
dan ikan
Paket teknologi dan
alat/mesin panen dan
sarana penanganan
pascapanen yang
mengurangi kehilangan
hasil pangan
Berkembangnya on
site agroindustri,
sehingga paling tidak
25% hasil tanaman
pangan, hortikutura,
ternak dan ikan
dapat diolah di sentra
produksi (sekitar lahan
produksi)
Pengurangan
kehilangan
hasil tanaman,
ternak, dan
ikan;
Peningkatan
kesejahteraan
petani,
pekerja,
dan pelaku
agribisnis
Pelaksana a.l:
Universitas, BPPT,
LIPI, Deptan, DKP
Pengguna a.l:
Industri pangan,
petani, petani
tambak/nelayan,
peternak
INDIKATOR
NO KEGIATAN
TARGETCAPAIAN
KEBERHASILAN
SASARAN
KETERANGAN

2009
2009
AKHIR2025
(4) Pengembangan
teknologi peman-
faatan limbah
pertanian dan
agroindustri untuk
pakan, bahan baku
industri kimia, atau
energi
Paket teknologi
pengolahan limbah
pertanian untuk
produksi pakan, pupuk
organik, atau energi
terbarukan
Berkembangnya
industri pengolahan
libah pertanian untuk
pakan, industri kimia
dan energi
Penurunan
masalah
limbah
pertanian;
Pengurangan
impor pakan;
Peningkatan
ketersediaan
energi
alternatif dan
terbarukan;
Pelaksana a.l:
Universitas, BPPT,
LIPI, BATAN,
Deptan, DKP
Pengguna
a.l: Industri
pengolahan
limbah, industri
pakan, PLN,
petani, petani
tambak/nelayan,
peternak
(5) Rancang bangun
sarana angkut dan
distribusi produk
pangan segar
padat (ikan,ternak,
hortikultura) dan
cair (susu)
Tersedianya sarana
angkutan darat hasil
rekayasa dalam negeri
untuk pengangkutan
produk pangan segar
Kelancaran distribusi
dan semakin luasnya
jangkauan pemasaran
produk pangan segar
Stabilitas dan
kesesuaian
harga produk
pangan segar
sehingga
menguntungkan
bagi konsumen
Pelaksana a.l:
Universitas, BPPT,
LIPI, Deptan,
Dephub, DKP
Pengguna a.l:
Industri pangan,
industri kendaraan,
petani, petani
tambak/nelayan,
peternak
AgendA Riset
46 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
DSPESIALISINFORMASIPANGAN
(1) Penyediaan
data produksi
pangan pokok
melalui pendirian
/optimalisasi peran
simpul pemasok
data di lokasi sentra
produksi (on-site)
Berperannya simpul
pemasok data up-to-
date tentang produksi
komoditas pangan
utama pada masing-
masing sentra produksi
utamanya.
Berfungsinya sistem
informasi produksi
untuk komoditas padi,
jagung, dan kedelai
pada sentra-sentra
produksi utama
Berfungsinya
sistem
informasi
produksi
dan pasar
untuk semua
komoditas
pangan, pada
semua sentra
produksi,
pasar,
agroindustri,
dan eksportir
Pelaksana a.l:
Deptan,
Depkominfo, DKP,
BPS, Pemda,
Universitas
Pengguna a.l:
Pemda, Petani,
petani tambak/
nelayan dan
peternak, industri
terkait
INDIKATOR
NO KEGIATAN
TARGETCAPAIAN
KEBERHASILAN
SASARAN
KETERANGAN

2009
2009
AKHIR2025
(2) Penyediaan data
permintaan bahan
pangan pokok pada
pasar domestik,
pasar global, dan
industri pengolahan
pangan
Berperannya simpul
pemasok data harian
untuk volume, jenis,
dan harga komoditas
pangan utama pada
tingkat pasar induk
(domestik), industri
pangan, dan eksportir
Jumlah pengguna
internet yang
mengakses situs
promosi komoditas
pangan
Peningkatan
volume dan
nilai transaksi
perdagangan
dalam dan luar
negeri untuk
komoditas
pangan
Pelaksana a.l:
Deptan,
Depkominfo, DKP,
BPS, Pemda,
Universitas
Pengguna a.l:
Petani, petani
tambak/nelayan
dan peternak,
eksportir pangan,
industri terkait
(3) Pengembangan
sistem informasi
produksi dan
pasar komoditas
pangan pokok yang
mudah diakses
oleh petani dan
pelaku agribisnis
berbasis teknologi
SMS menggunakan
telepon seluler
Berfungsinya sistem
informasi produksi
dan pasar komoditas
pangan utama berbasis
teknologi SMS
Tersedianya provider
yang mampu
memberikan informasi
pasar untuk tanaman
pangan utama,
termasuk hortikultura
Kepastian
harga dan
daya serap
pasar untuk
menjamin
keber-
langsungan
usaha
perdagangan
komoditas
pangan
Pelaksana:
Deptan,
Depkominfo,
Telkom, DKP,
BPS, BPPT, LIPI,
Universitas
Pengguna:
Petani, Petani
tambak/nelayan
dan Peternak,
konsumen
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
47
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
(4) Pengembangan
situs promosi
komoditas pangan
untuk ekspor
Tersedianya situs
promosi komoditas
pangan untuk ekspor
dengan data yang
up-to-date
Ketersediaan data
mutakhir untuk
komoditas pangan
berorientasi ekspor
Peningkatan
devisa
negara dari
perdagangan
komoditas
pangan
Pelaksana a.l:
Deptan, Depdag,
DKP, BPS,
Depkominfo,
Universitas
Pengguna a.l:
BPEN, eksportir
pangan, Pemda
INDIKATOR
NO KEGIATAN
TARGETCAPAIAN
KEBERHASILAN
SASARAN
KETERANGAN

2009
2009
AKHIR2025
(5) Pengembangan
sistem informasi
pangan
Pedoman konsumsi
pangan beragam,
bergizi seimbang dan
aman yang berbasis
sumberdaya lokal;
Model Komunikasi,
Informasi dan Edukasi
(KIE) Konsumsi
Pangan;
Peningkatan
pengetahuan
konsumen tentang
pola konsumsi yang
baik;
Perubahan prilaku
konsumsi yang
semakin kurang
tergantung pada
beras;
Skor Pola
Pangan
Harapan
(PPH) lebih
dari 80.0;
Pelaksana
a.l: Deptan,
DKP, Depkes,
Depkominfo, BPS,
LIPI, Universitas
Pengguna a.l:
Pemda, Industri
terkait, konsumen
(6) Pengembangan
sistem informasi
pangan
Pedoman konsumsi
pangan beragam,
bergizi seimbang dan
aman yang berbasis
sumberdaya lokal;
Model Komunikasi,
Informasi dan Edukasi
(KIE) Konsumsi
Pangan;
Peningkatan
pengetahuan
konsumen tentang
pola konsumsi yang
baik;
Perubahan prilaku
konsumsi yang
semakin kurang
tergantung pada
beras;
Skor Pola
Pangan
Harapan
(PPH) lebih
dari 80.0;
Pelaksana
a.l: Deptan,
DKP, Depkes,
Depkominfo, BPS,
LIPI, Universitas
Pengguna a.l:
Pemda, Industri
terkait, konsumen
ETEKNOLOGIPENGAWASANPANGAN
(1) Pengembangan
teknologi
pengukuran dan
pengujian mutu
pangan
Paket teknologi dan
alat ukur dan uji mutu
pangan yang cepat,
akurat, dan murah
Ketersediaan alat ukur
dan uji mutu pangan
buatan dalam negeri
yang cocok untuk
pangan lokal
Keterjaminan
mutu (quality
assurance)
pangan
produksi
dalam negeri
Pelaksana a.l:
Deptan, DKP,
Deprin, Depkes,
Depdag, BSN,
LIPI, BPPT,
Universitas,
Pengguna a.l:
Badan POM, BSN,
Industri pangan,
konsumen
AgendA Riset
48 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
INDIKATOR
NO KEGIATAN
TARGETCAPAIAN
KEBERHASILAN
SASARAN
KETERANGAN

2009
2009
AKHIR2025
(2) Pengembangan
teknologi untuk
deteksi cemaran
mikroba patogenik
pada produk
pangan
Teknologi untuk deteksi
cemaran patogenik
pada produk pangan
yang handal, cepat,
dan murah
Ketersediaan eknologi
dan alat untuk deteksi
cemaran patogenik
pada produk pangan
Ketiadaan
kasus
gangguan
kesehatan
akibat
konsumsi
pangan yang
kontaminasi
mikroba
patogenik
Pelaksana a.l:
Deptan, DKP,
Deprin, Depkes,
Depdag, BSN,
LIPI, BPPT,
Universitas,
Pengguna a.l:
Badan POM, BSN,
Industri pangan,
konsumen
(3) Pengembangan
Teknologi deteksi
dan pengujian
bahan kimia yang
berbahaya bagi
kesehatan dalam
produk pangan
Teknologi dan alat uji
untuk deteksi bahan
kimia yang berbahaya
bagi kesehatan
secara cepat, akurat,
dan murah untuk
penggunaan di
lapangan
Tersedianya metoda
uji untuk deteksi bahan
kimia yang berbahaya
bagi kesehatan secara
cepat dan sederhana
untuk penggunaan di
lapangan
Ketiadaan
kasus
gangguan
kesehatan
akibat
konsumsi
pangan yang
tercemar
bahan kimia
berbahaya
Pelaksana a.l:
Deptan, DKP,
Deprin, Depkes,
Depdag, BSN,
LIPI, BPPT,
Universitas,
Pengguna a.l:
Badan POM, BSN,
Industri pangan,
konsumen
(4) Pengembangan
Standar Nasional
Indonesia (SNI)
untuk pangan
Standar mutu dan
keamanan pangan
segara dan olahan
yang dapat diterima
dalam perdagangan
domestik dan
internasional
Penerapan standar
mutu dan keamanan
pangan dalam
produksi dan tata
niaga pangan
segar dan olahan di
Indonesia
Penerimaan
produk
pangan asal
Indonesia di
semua negara
tujuan;
Kemampuan
menangkal
masuknya
produk
pangan impor
yang tidak
memenuhi
SNI
Pelaksana a.l:
Deptan, DKP,
Deprin, Depkes,
Depdag, BSN,
LIPI, BPPT,
Universitas,
Pengguna a.l:
Badan POM, BSN,
Industri pangan,
konsumen
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
49
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
INDIKATOR
NO KEGIATAN
TARGETCAPAIAN
KEBERHASILAN
SASARAN
KETERANGAN

2009
2009
AKHIR2025
FKAjIANSOSIAL,EKONOMI,BUDAYA,DANKEBIjAKANPANGAN
(1) Pola konsumsi
pangan
Data dan informasi
tentang pola konsumsi
pangan masing-masing
daerah dan nasional
Paket kebijakan dan
edukasi publik tentang
pola konsumsi yang
sehat dan dianjurkan
Perubahan
pola konsumsi
masyarakat
yang lebih
menghargai
produk
pangan lokal
dan tidak
tergantung
pada satu
jenis pangan
pokok
Pelaksana
a.l: Deptan,
DKP, Depkes,
Depkominfo, LIPI,
BPPT, Universitas
Pengguna a.l:
konsumen, Industri
pangan, Pemda
(2) Analisis usaha
tani dan ekonomi
pangan
Rekomendasi bisnis
bidang pangan
Peningkatan motivasi
petani dan investor
untuk meningkatkan
dan berpartisipasi
dalam kegiatan
produksi pangan
Peningkatan
produksi
pangan
nasional;
Peningkatan
kesejahteraan
petani dan
pelaku industri
pangan
Pelaksana a.l:
Deptan, DKP,
Universitas
Pengguna a.l:
Industri pangan,
Pemda, petani,
petani tambak/
nelayan dan
peternak
(3) Penguatan
kelembagaan
kelompok tani,
peternak, dan
nelayan
Berfungsi-optimalnya
kelembagaan petani,
peternak, dan nelayan
Pengakuan
masyarakat
akan eksistensi
kelembagaan petani,
peternak, dan nelayan
Kemandirian
kelembagaan
petani,
peternak, dan
nelayan
Pelaksana a.l:
Deptan, DKP,
Pemda, Universitas
Pengguna a.l:
Petani, petani
tambak/nelayan dan
peternak, Pemda
(4) Kajian kearifan
lokal (indigenous
knowledge) yang
mendukung
pembangunan
ketahanan pangan
Terdokumentasinya
pengetahuan /kearifan
lokal terkait produksi
dan pengolahan
pangan
Integrasi kearifan
lokal dalam teknologi
produksi dan
pengolahan pangan
modern
Aplikasi
teknologi
pangan modern
yang berakar
pada nilai
kearifan lokal
untuk menjamin
kecukupan
dan kelestarian
pangan
Pelaksana a.l:
Deptan, DKP, LIPI,
BPPT, Universitas
Pengguna a.l:
petani, petani
tambak/nelayan
dan peternak,
industri pangan
AgendA Riset
50 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
(1) Kajian genetika dan
biomolekuler
Teridentifikasinya gen
pembawa sifat unggul
(daya hasil tinggi
dan/atau resistensi
terhadap cekaman
biotik atau abiotik)
pada tanaman, ternak,
dan ikan
Pemanfaatan
pengetahuan genetika
dan biomolekuler
ini dalam kegiatan
perakitan varietas
unggul
Ketersediaan
jenis tanaman,
ternak, dan ikan
unggul untuk
menopang
ketahanan
pangan
nasional
Pelaksana a.l.:
Universitas,
Deptan, LPND
Ristek
Pengguna a.l.:
industri benih/bibit
INDIKATOR
NO KEGIATAN
TARGETCAPAIAN
KEBERHASILAN
SASARAN
KETERANGAN

2009
2009
AKHIR2025
(5) Kajian kebijakan
tentang
pengendalian
konversi lahan
pertanian
Produk hukum yang
membatasi kegiatan
konversi lahan
pertanian
Penurunan laju
konversi lahan
pertanian menjadi
tidak lebih dari 100
ribu ha per tahun
Berkurangnya
konversi lahan
pertanian
menjadi
kurang dari
100 ribu ha
per tahun
Pelaksana a.l:
BPN, Deptan,
Depdagri,
Dephut, DepPU,
Bakosurtanal,
Universitas
Pengguna a.l:
Depdagri, BPN,
Pemda
GSAINSDASARPENDUKUNGRISETPANGAN
(2) Kajian kimia
pangan baru atau
produk hayati yang
potensial untuk
pangan
Komposisi gizi dan
deteksi kandungan
bahan kimia
yang berpotensi
mengganggu
kesehatan pada bahan
pangan baru
Daftar komposisi
gizi bahan pangan
baru yang telah
diintroduksikan ke
masyarakat
Seluruh bahan
pangan baru
telah diketahui
kandungan
gizi dan
kemungkinan
kandungan
senyawa kimia
berbahaya
yang secara
alami
terkandung
dalam bahan
pangan
tersebut
Pelaksana a.l.:
Universitas, Deptan,
LPND Ristek
Pengguna a.l.:
industri pangan
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
51
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
INDIKATOR
NO KEGIATAN
TARGETCAPAIAN
KEBERHASILAN
SASARAN
KETERANGAN

2009
2009
AKHIR2025
(3) Pengembangan
teknologi
pemantauan
agroekosistem
secara presisi
Pola iklim (suhu udara,
curah hujan) untuk
wilayah sentra produksi
pertanian
Penggunaan data dan
peta agroekosistem
dalam penentuan
jadwal tanam dan
jenis komoditas yang
dibudidayakan petani
Data dan peta
agroekosistem
dan
rekomendasi
jadwal tanam
dan jenis
komoditas
untuk seluruh
wilayah
Indonesia
Pelaksana a.l.:
BMG, Bakosurtanal,
Deptan, Universitas
Pengguna a.l.:
petani, investor,
Pemda
(4) Pengembangan
instrumen untuk
aplikasi teknologi
penginderaan jauh
Prototipe instrumen
yang telah teruji
kehandalannya
Tersedia prototipe
yang berfungsi sesuai
harapan dan layak
untuk diproduksi
secara komersial
Penggunaan
instrumen
produksi
dalam negeri
untuk seluruh
kebutuhan
aplikasi
teknologi
penginderaan
jauh di
Indonesia
Pelaksana a.l.:
LPND Ristek, BMG,
Universitas
Pengguna a.l.:
industri instrumen
AgendA Riset
52 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
INDIKATOR
NO KEGIATAN
TARGETCAPAIAN
KEBERHASILAN
SASARAN
KETERANGAN

2009
2009
AKHIR2025
II PROGRAM DIFUSI DAN PEMANFAATAN IPTEK
(1) Identifikasi dan
formulasi kebutuhan
intervensi teknologi
produksi dan pasca-
panen komoditas
pangan
Rekaman kebutuhan
intervensi teknologi
yang dibutuhkan
produsen pangan segar
dan olahan
Kesesuaian
teknologi budidaya
dan pengolahan
pangan yang sesuai
kebutuhan petani
dan/atau industri
pangan
Ketersediaan
solusi
teknologi
untuk
permasalahan
pangan pokok
Pelaksana a.l:
Deptan, DKP,
universitas, BPPT,
LIPI
Pengguna a.l:
Industri pangan,
petani, peternak,
nelayan
APAKETTEKNOLOGIYANGSESUAIKEBUTUHANPENGGUNA
(2) Evaluasi kesesuaian
teknologi yang
telah tersedia
dengan kebutuhan
produsen pangan
segar dan olahan
Rekomendasi paket
teknologi budidaya dan
pasca panen tanaman,
ternak, dan ikan
Adopsi teknologi
yang telah
direkomendasikan
dalam kegiatan
produksi pangan
segar (budidaya) oleh
petani dan pengolahan
pangan oleh pelaku
industri pangan
Peningkatan
kontribusi
iptek dalam
kegiatan
produksi dan
diversifikasi
pangan segar
dan olahan
Pelaksana a.l:
Deptan, DKP,
universitas, BPPT,
LIPI
Pengguna a.l:
Industri pangan,
petani, peternak,
nelayan, Pemda
(3) Pengemasan
paket teknologi
terpilih agar lebih
komunikatif untuk
media cetak,
elektronik, dan
presentasi oral
Kemasan paket
teknologi produksi dan
pengolahan pangan
yang komunikatif untuk
bahan edukasi publik,
pelaku produksi dan
industri pangan
Peningkatan
pemahaman publik,
pelaku produksi dan
industri pangan;
Adopsi teknologi yang
didiseminasikan dalam
proses produksi dan
pengolahan pangan
Peningkatan
kontribusi
iptek dalam
kegiatan
produksi dan
diversifikasi
pangan segar
dan olahan
Pelaksana a.l:
Deptan, DKP,
universitas, BPPT,
LIPI, media massa
Pengguna a.l :
Industri pangan,
petani, peternak,
nelayan, Pemda
BSISTEMTRANSFER/DIFUSITEKNOLOGI
(1) Pengembangan
metoda diseminasi
teknologi secara
elektronik (situs
internet, televisi,
radio)
Tersedia paket
teknologi yang sesuai
dan terselenggaranya
program difusi
teknologi melalui media
elektronik
Peningkatan
awareness petani
dan pelaku
agribisnis tentang
perkembangan dan
ketersediaan teknologi
budidaya dan pasca
panen komoditas
pangan
Peningkatan
kontribusi
iptek dalam
kegiatan
produksi
pangan segar
dan olahan
Pelaksana a.l:
Deptan, DKP,
Universitas, LPND
terkait, media
massa
Pengguna a.l:
pelaku produksi
pangan, industri
pangan, Pemda
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
53
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
INDIKATOR
NO KEGIATAN
TARGETCAPAIAN
KEBERHASILAN
SASARAN
KETERANGAN

2009
2009
AKHIR2025
(2) Pengembangan
naskah bahan
cetakan yang
komunikatif sebagai
media difusi
teknologi
Tersedianya buku,
poster, leaflet, atau
bentuk barang cetakan
lainnya sebagai media
difusi teknologi yang
komunikatif
Penerapan teknologi
yang dipromosikan
oleh petani dan pelaku
agribisnis dalam
kegiatan budidaya
dan pasca panen
komoditas pangan
Peningkatan
kontribusi
iptek dalam
kegiatan
produksi
pangan segar
dan olahan
Pelaksana a.l:
Deptan, DKP,
Universitas, LPND
terkait, media
massa
Pengguna a.l :
pelaku produksi
pangan, industri
pangan, Pemda
(3) Pengembangan
model penyuluhan
teknologi untuk
petani dan pelaku
agribisnis
Terselenggarakannya
kegiatan penyuluhan
yang interaktif untuk
memacu proses difusi
teknologi secara
terprogram
Penerapan teknologi
yang disuluhkan oleh
petani dan pelaku
agribisnis dalam
kegiatan budidaya
dan pasca panen
komoditas pangan
Peningkatan
kontribusi
iptek dalam
kegiatan
produksi
pangan segar
dan olahan
Pelaksana a.l:
Deptan, DKP,
Universitas, LPND
terkait, media
massa
Pengguna a.l :
pelaku produksi
pangan, industri
pangan, Pemda
(4) Pengembangan
model per-contohan
aplikasi teknologi
produksi dan
pascapanen di
lapangan (on-site)
Model percontohan
aplikasi teknologi
budidaya dan pasca-
panen di lapangan
Penerapan teknologi
yang dicontohkan oleh
petani dan pelaku
agribisnis dalam
kegiatan budidaya
dan pasca panen
komoditas pangan
Peningkatan
kontribusi
iptek dalam
kegiatan
produksi
pangan segar
dan olahan
Pelaksana a.l:
Deptan, DKP,
Universitas, LPND
terkait, media
massa
Pengguna a.l:
pelaku produksi
pangan, industri
pangan, Pemda
C)PENINGKATANKESIAPANPENGGUNA
(1) Penguatan
kelembagaan
kelompok tani,
peternak, nelayan,
dan asosiasi pelaku
agribisnis
Berfungsi optimalnya
kelembagaan petani,
peternak, dan nelayan
serta asosiasi pelaku
agribisnis
Pengakuan
masyarakat
akan eksistensi
kelembagaan petani,
peternak, nelayan,
dan asosiasi pelaku
agribisnis
Kemandirian
kelembagaan
petani,
peternak,
nelayan,
dan asosiasi
pelaku
agribisnis
Pelaksana
a.l : Deptan,
DKP, Depdagri,
Universitas, LPND
terkait
Pengguna a.l :
asosiasi agribisnis,
kelompok tani,
nelayan, peternak,
Pemda
AgendA Riset
54 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
INDIKATOR
NO KEGIATAN
TARGETCAPAIAN
KEBERHASILAN
SASARAN
KETERANGAN

2009
2009
AKHIR2025
(2) Pendidikan dan
pelatihan pelaku
produksi pangan
dan pelaku industri
pangan untuk
meningkatkan
pemahaman dan
apresiasi terhadap
teknologi budidaya
dan pascapanen
komoditas pangan
Pemahaman dan
ketrampilan petani,
peternak, nelayan,
dan pelaku industri
pangan dalam aplikasi
teknologi budidaya dan
pascapanen
Peningkatan aplikasi
teknologi dalam
kegiatan produksi dan
pengolahan pangan
Peningkatan
kinerja pelaku
produksi dan
pelaku industri
pangan
Pelaksana
a.l: Deptan,
DKP, Depdagri,
Universitas, LPND
terkait
Pengguna
a.l : petani,
peternak, nelayan,
pelaku industri
pangan,Pemda
(3) Penyediaan jasa
konsultansi dan
asistensi teknis
untuk mendukung
kegiatan industri
pangan dan
pemerintah daerah
Berkembangnya
kelembagaan jasa
konsultansi dan
asistensi teknis bidang
pangan
Peningkatan lembaga
konsultansi dan
bantuan teknis untuk
kegiatan produksi dan
pengolahan pangan
Kelembagaan
jasa
konsultansi
dan asistensi
teknis menjadi
mitra utama
industri dan
pemerintah
daerah dalam
pembangunan
ketahanan
pangan
Pelaksana
a.l : Deptan,
DKP, Depdagri,
Universitas,
lembaga
konsultansi, LPND
terkait
Pengguna
a.l: petani,
peternak, nelayan,
pelaku industri
pangan,Pemda
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
55
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
INDIKATOR
NO KEGIATAN
TARGETCAPAIAN
KEBERHASILAN
SASARAN
KETERANGAN

2009
2009
AKHIR2025
III PROGRAM PENGUATAN KELEMBAGAAN IPTEK
(1) Peningkatan
kemampuan
akademik/
intelektual peneliti
melalui pendidikan
formal dan/atau
pelatihan teknis
Lebih dari 50% peneliti
pada kelembagaan
penelitian tingkat pusat
dan perguruan tinggi
memiliki latar belakang
pendidikan S2 atau S3
Peningkatan
produktivitas peneliti
dan relevansi
kegiatan riset dengan
permasalahan
nyata dalam upaya
peningkatan produksi,
mutu dan keamanan
pangan
Lebih dari 75%
peneliti pada
kelembagaan
penelitian
tingkat pusat
dan perguruan
tinggi memiliki
latar belakang
pendidikan S2
atau S3
Pelaksana a.l:
Universitas,
Deptan, DKP,
LPND terkait
Pengguna a.l :
Litbang Deptan,
Litbang DKP,
LPND riset,
universitas
APENGUATANINTERNALKELEMBAGAANRISET
(2) Optimalisasi
dan mobilisasi
sumberdaya peneliti
melalui program
kerjasama antar
lembaga iptek
bidang pangan
Terbentuk dan
berjalannya program
pertukaran atau
penugasan staf
(sabbatical leave)
antar- kelembagaan
penelitian
Terbentuknya media/
forum komunikasi
yang intensif antar-
peneliti
Tumbuhnya
budaya
kemitraan
antar-peneliti
Pelaksana a.l:
Universitas,
Deptan, DKP,
LPND terkait
Pengguna a.l :
Litbang Deptan,
Litbang DKP,
LPND riset,
universitas
(3) Penguatan sarana
dan prasarana riset
Terpenuhinya
kebutuhan sarana dan
prasarana riset untuk
mendukung upaya
peningkatan produksi,
kualitas dan keamanan
pangan
Kelengkapan
peralatan dan
ketersediaan bahan
untuk riset pangan
Seluruh aspek
penelitian/riset
pangan dapat
diselenggarakan
di dalam negeri
Pelaksana a.l
: Universitas,
Deptan, DKP,
LPND terkait,
industri alat dan
bahan riset pangan
Pengguna a.l :
Litbang Deptan,
Litbang DKP,
LPND riset,
universitas
AgendA Riset
56 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
INDIKATOR
NO KEGIATAN
TARGETCAPAIAN
KEBERHASILAN
SASARAN
KETERANGAN

2009
2009
AKHIR2025
(4) Pengembangan
unit pendukung
seperti unit produksi
komersial dan
pelayanan jasa
berbasis iptek
dalam kelembagaan
riset
Terbentuknya unit
produksi komersial dan
jasa pelayanan dalam
kelembagaan riset
Penggunaan data dan
peta agroekosistem
dalam penentuan
jadwal tanam dan
jenis komoditas yang
dibudidayakan petani
Data dan peta
agroekosistem
dan
rekomendasi
jadwal tanam
dan jenis
komoditas
untuk seluruh
wilayah
Indonesia
Pelaksana a.l.:
BMG, Bakosurtanal,
Deptan, Universitas
Pengguna a.l.:
petani, investor,
Pemda
(4) Pengembangan
instrumen untuk
aplikasi teknologi
penginderaan jauh
Prototipe instrumen
yang telah teruji
kehandalannya
Tingkat kemandirian
lembaga riset dalam
melaksanakan
kegiatannya,
termasuk pengelolaan
pembiayaannya
Lembaga
riset tidak
lagi sebagai
cost center,
tetapi mulai
berfungsi
sebagai
self-financing
institution
Pelaksana a.l:
Universitas, Deptan,
DKP, LPND terkait
Pengguna a.l:
Litbang Deptan,
Litbang DKP, LPND
riset
(5) Penguatan
kelembagaan
riset daerah
dan lembaga
pendukungnya
Terbentuk dan
berfungsinya unit kerja
riset dalam organisasi
Pemda dan Dewan
Riset Daerah di semua
propinsi di Indonesia
Kemandirian daerah
dalam mencari solusi
teknologi untuk
permasalahan pangan
lokal
Solusi
teknologi
untuk setiap
masalah
pangan
yang bersifat
spesifik
daerah dapat
diselesaikan
di masing-
masing daerah
Pelaksana a.l:
Depdagri, Pemda,
Universitas
Pengguna a.l :
Pemda
(6) Penyempurnan
sistem
manajemen/
pengelolaan riset,
termasuk sistem
insentif, akreditasi
pranata litbang,
data base, dan
pembiayaan iptek
Tersusunnya prosedur
operasional baku
(SOP) untuk sistem
insentif, akreditasi,
data base, dan alokasi
pembiayaan
Peningkatan kinerja
lembaga riset dan
peningkatan kualitas
riset yang dihasilkan
Manajemen
riset yang
profesional
terselenggara
pada semua
kelembagaan
riset
Manajemen riset
yang profesional
terselenggara
pada semua
kelembagaan riset
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
57
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
INDIKATOR
NO KEGIATAN
TARGETCAPAIAN
KEBERHASILAN
SASARAN
KETERANGAN

2009
2009
AKHIR2025
(1) Pengembangan
jejaring antar-
kelembagaan
riset pangan dan
kelembagaan terkait
/pendukungnya
Peningkatan intensitas
kerjasama antar
– kelembagaan riset
dan perguruan tinggi
Peningkatan resource
sharing antar-
kelembagaan riset
dalam riset pangan
Efisiensi dan
optimalisasi
sumber
daya dalam
pelaksanaan
riset pangan
Pelaksana a.l :
Universitas, Deptan,
DKP, LPND terkait
Pengguna a.l:
Litbang Deptan,
Litbang DKP, LPND
riset, universitas
BKERjASAMAANTAR-LEMBAGADALAMNEGERI
(2) Peningkatan
partisipasi
pemerintah daerah
dan kemitraan
antara pusat dan
daerah dalam riset
pangan
Peningkatan kerjasama
kelembagan riset pusat
dan daerah
Peningkatan peran
Pemda dan universitas
setempat dalam
pelaksanaan riset
pangan
Kesetaraan
kontribusi
pemerintah
daerah dan
pusat dalam
pelaksanaan
riset bidang
pangan
Pelaksana a.l:
Universitas, Deptan,
DKP, LPND terkait
Pengguna a.l
: universitas
setempat, Pemda
(3) Pengembangan
model kerjasama
ABG (Academician-
Business-
Government) yang
sinergis untuk
pembangunan
ketahanan pangan
Terbentuknya model
kerjasama yang
sinergis antara
perguruan tinggi-
pemerintah-bisnis
Meningkatnya
kontribusi dunia usaha
dalam pembiayaan
kegiatan penelitian
dan pengembangan
iptek pangan
Kemitraan
mutualistik
antara
universitas,
bisnis, dan
pemerintah
dalam
pelaksanaan
riset pangan
Pelaksana a.l :
Universitas, Deptan,
DKP, LPND terkait,
pelaku bisnis
pangan
Pengguna a.l:
Litbang Deptan,
Litbang DKP, LPND
riset, universitas,
pelaku bisnis
pangan
CKERjASAMADENGANKELEMBAGAANINTERNASIONAL
(1) Kerjasama yang
setara (partnership)
dengan
kelembagaan
internasional dalam
pelaksanaan
kegiatan riset
pangan
Peningkatan intensitas
kegiatan kerjasama
dengan kelembagaan
iptek internasional
dalam penelitian dan
pengembangan pangan
Peningkatan jumlah
publikasi di jurnal
internasional yang
melibatkan peneliti
Indonesia sebagai
penulisnya
Peningkatan
kontribusi
ilmiah peneliti
Indonesia dalam
pengembangan
iptek pangan
dunia
Pelaksana a.l :
Universitas, Deptan,
DKP, LPND terkait,
Lembaga Riset
Asing/Internasional
Pengguna a.l:
Litbang Deptan,
Litbang DKP, LPND
riset, universitas
AgendA Riset
58 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
INDIKATOR
NO KEGIATAN
TARGETCAPAIAN
KEBERHASILAN
SASARAN
KETERANGAN

2009
2009
AKHIR2025
(2) Penelusuran
sumber pembiayaan
(sponsorship)
dari kelembagaan
internasional
untuk mendukung
kegiatan riset
pangan
Peningkatan kontribusi
finansial kelembagaan
intenasional untuk
mendukung kegiatan
penelitian dan
pengembangan pangan
Peningkatan
penelitian di Indonesia
yang dibiayai oleh
kelembagaan
internasional
Peningkatan
biaya riset
bersumber
dari
kelembagaan
internasional
Pelaksana a.l:
Universitas,
Deptan, DKP, LPND
terkait, Lembaga
pembiayaan riset
Pengguna a.l:
Litbang Deptan,
Litbang DKP, LPND
riset, universitas
(3) Pertukaran peneliti
antara lembaga riset
Indonesia dengan
kelembagaan riset
internasional
Terjalin kerjasama
pertukaran peneliti
pangan Indonesia
dengan peneliti pada
kelembagaan riset
tanaman pangan
bertaraf internasional
Peningkatan jumlah
peneliti asing yang
melaksanakan
kegiatan riset di
Indonesia;
Peningkatan jumlah
peneliti Indonesia yang
menimba pengalaman
riset internasional
Munculnya
peneliti
pangan
Indonesia
yang bertaraf
Internasional
Pelaksana a.l:
Universitas, Deptan,
DKP, LPND terkait,
Institusi riset
internasional
Pengguna a.l:
Litbang Deptan,
Litbang DKP, LPND
riset, universitas
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
59
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
INDIKATOR
NO KEGIATAN
TARGETCAPAIAN
KEBERHASILAN
SASARAN
KETERANGAN

2009
2009
AKHIR2025
IV PROGRAM PENINGKATAN KAPASITAS IPTEK SISTEM PRODUKSI
(1) Dukungan pranata
regulasi dan
kebijakan bagi
industri pangan
mikro dan kecil
berbasis teknologi
Kebijakan dan landasan
hukum tentang insentif
pajak dan asuransi
yang kondusif bagi
industri pangan mikro
dan kecil berbasis
teknologi
Peningkatan jumlah
dan kapasitas
industri pangan mikro
dan kecil berbasis
teknologi
Peningkatan
kontribusi
industri
pangan
mikro dan
kecil dalam
pemenuhan
kebutuhan
pangan
Pelaksana a.l:
Deptan, DKP,
LPND terkait,
universitas,
Depkumdang
Pengguna a.l :
industri pangan,
petani, peternak,
nelayan,trader
(pedagang)
AINDUSTRIPANGANSKALAKECILDANMIKRO
(2) Introduksi dan
aplikasi bioteknologi
sederhana
pada produksi
pangan skala
kecil (teknologi
fermentasi,
penyediaan
inokulum, dll)
Peningkatan volume,
mutu, dan keamanan
produk pangan olahan
hasil industri kecil dan
mikro
Aktualisasi dan/atau
peningkatan kontribusi
iptek dalam sistem
produksi pangan
olahan skala kecil dan
mikro
Peningkatan
kesejahteraan
pelaku industri
pangan olahan
skala kecil dan
mikro
Pelaksana a.l:
Deptan, DKP,
LPND terkait,
universitas
Pengguna a.l :
industri pangan,
petani, peternak,
nelayan,trader
(pedagang)
(3) Aplikasi teknologi
pengolahan dalam
kegiatan produksi
pangan fungsional
Peningkatan volume,
mutu, dan keamanan
produk pangan
fungsional hasil industri
kecil dan mikro
Aktualisasi dan/atau
peningkatan kontribusi
iptek dalam sistem
produksi pangan
fungsional skala kecil
dan mikro
Peningkatan
kesejahteraan
pelaku industri
pangan
fungsional
skala kecil dan
mikro
Pelaksana a.l
: Deptan, DKP,
LPND terkait,
universitas
Pengguna a.l:
industri pangan,
petani, peternak,
nelayan,trader
(pedagang)
(4) Penyempurnaan
dan/atau penyeder-
hanaan alat/mesin
pengolahan produk
pangan sehingga
applicable dan
affordable untuk
industri kecil dan
mikro
Tersedianya alat/mesin
pengolahan pangan
yang tepat-guna
(applicable) dengan
harga terjangkau
(affordable) bagi
industri pangan skala
kecil dan mikro
Penggunaan alat/
mesin pengolahan
produksi dalam negeri
pada industri pangan
skala kecil dan mikro
Pemenuhan
kebutuhan
domestik
untuk
mesin/alat
pengolahan
pangan dari
hasil produksi
dalam negeri
Pelaksana a.l
: Deptan, DKP,
LPND terkait,
universitas
Pengguna a.l :
Industri pangan,
petani, peternak,
nelayan,trader
(pedagang)
AgendA Riset
60 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
INDIKATOR
NO KEGIATAN
TARGETCAPAIAN
KEBERHASILAN
SASARAN
KETERANGAN

2009
2009
AKHIR2025
(5) Pengembangan
kelembagaan
keuangan modal
ventura dan startup
capital bagi industri
pangan mikro
dan kecil berbasis
teknologi
Tersedianya sumber
pembiayaan bagi
industri pangan mikro
dan kecil berbasis
teknologi
Teratasinya masalah
permodalan bagi
industri pangan mikro
dan kecil berbasis
teknologi
Pemenuhan
kebutuhan
modal usaha
untuk industri
pangan skala
mikro dan
kecil
Pelaksana a.l:
Deptan, DKP, LPND
terkait, universitas
Pengguna a.l:
Industri pangan,
petani, peternak,
nelayan,trader
(pedagang)
(6) Dukungan regulasi
yang berpihak
pada industri
pangan skala kecil
dan mikro agar
dapat memberikan
kontribusi lebih
besar dalam
perdagangan global
Diberlakukannya
kebijakan/ peraturan
yang berpihak pada
industri pangan skala
kecil dan mikro
Terlindunginya
kegiatan industri
pangan skala kecil dan
mikro
Peningkatan
jumlah dan
kontribusi
industri
kecil dan
mikro dalam
penyediaan
pangan dan
peningkatan
serapan tenaga
kerja
Pelaksana a.l:
Deptan, DKP, LPND
terkait, universitas
Pengguna a.l:I
industri pangan,
petani, peternak,
nelayan,trader
(pedagang)
BINDUSTRIPANGANSKALAMENENGAHDANBESAR
(1) Introduksi teknologi
pengolahan
pangan yang dapat
meningkatkan dan
menjaga mutu
produksi
Peningkatan volume,
mutu, dan keamanan
pangan olahan hasil
industri menengah dan
besar
Aktualisasi dan/atau
peningkatan kontribusi
iptek dalam sistem
produksi pangan skala
menengah dan besar
Produk pangan
olahan yang
memenuhi
seluruh kriteria
baku-mutu
internasional
Pelaksana a.l:
Deptan, DKP, LPND
terkait, universitas
Pengguna
a.l: BPEN,
industri pangan,
petani, peternak,
nelayan,trader
(pedagang)
(2) Rancang bangun
alat, mesin, atau
pabrik pengolahan
pangan berbasis
bahan baku lokal
Tersedianya alat/
mesin pengolahan
pangan yang handal
(dependable) bagi
industri pangan skala
menengah dan besar
Penggunaan alat/
mesin pengolahan
produksi dalam negeri
pada industri pangan
skala menengah dan
besar
Peningkatan
volume dan nilai
ekspor komoditas
pangan olahan
yang diproduksi
oleh industri
pangan berbasis
sumberdaya lokal
Pelaksana a.l :
Deptan, DKP, LPND
terkait, universitas
Pengguna
a.l : BPEN,
industri pangan,
petani, peternak,
nelayan,trader
(pedagang)
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
61
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
INDIKATOR
NO KEGIATAN
TARGETCAPAIAN
KEBERHASILAN
SASARAN
KETERANGAN

2009
2009
AKHIR2025
(3) Percepatan
transformasi industri
pangan berbasis
sumberdaya lokal
dan padat teknologi
Model industri pangan
menengah dan besar
yang padat teknologi
berbasis sumber-daya
lokal
Peningkatan jumlah
dan kapasitas industri
pangan menengah
dan besar yang padat
teknologi dan berbasis
sumberdaya lokal
Peningkatan
volume dan
nilai ekspor
komoditas
pangan
olahan yang
diproduksi
oleh industri
pangan
berbasis
sumberdaya
lokal
Pelaksana a.l :
Deptan, DKP, LPND
terkait, universitas
Pengguna
a.l : BPEN,
industri pangan,
petani, peternak,
nelayan,trader
(pedagang)
CPENGUjIANDANSTANDARDISASIPRODUKPANGAN
(1) Pengembangan
prasarana
penerapan standar
kemananan
dan penilaian
kesesuaian mutu
produk pangan
Pembakuan pedoman/
prosedur dalam
penilaian mutu dan
keamanan pangan
Konsistensi dalam
penggunaan standar
mutu dan keamanan
pangan
Seluruh
produk pangan
olahan telah
memenuhi
standard
mutu (quality
assurance)
dan keamanan
pangan
Pelaksana a.l:
BPOM, BSN,
Deptan, DKP, LPND
terkait, universitas
Pengguna
a.l : BPEN,
industri pangan,
petani, peternak,
nelayan,trader
(pedagang)
(2) Pembinaan dan
pelaksanaan
audit/ assessment
teknologi untuk
industri pangan
Penguasaan teknologi
deteksi dan pengujian
mutu dan keamanan
pangan dari cemaran
kimia dan patogen
Penurunan kasus
gangguan kesehatan
akibat konsumsi
pangan olahan yang
tercemar unsur/bahan
kimia dan/atau
mikroba patogenik
Keberhasilan
produk pangan
dalam negeri
merebut pasar
global
Pelaksana a.l :
Deptan, DKP, LPND
terkait, universitas
Pengguna
a.l : BPEN,
industri pangan,
petani, peternak,
nelayan,trader
(pedagang)
AgendA Riset
62 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
INDIKATOR
NO KEGIATAN
TARGETCAPAIAN
KEBERHASILAN
SASARAN
KETERANGAN

2009
2009
AKHIR2025
(3) Peningkatan peran
metrologi dan
pengujian untuk
penerapan Standar
Nasional Indonesia
(SNI)
Penetapan standar
mutu dan keamanan
pangan olahan yang
dapat diterima dalam
perdagangan domestik
dan internasional
Penerapan standar
mutu dan keamanan
pangan dalam
produksi dan tata
niaga pangan olahan
di Indonesia
Bebas kasus
gangguan
kesehatan
akibat
konsumsi
pangan
olahan yang
terkontaminasi
patogen
dan/atau
bahan kimia
berbahaya
Pelaksana a.l:
BSN, BPOM,
Deptan, DKP, LPND
terkait, universitas
Pengguna
a.l: BPEN,
industri pangan,
petani, peternak,
nelayan,trader
(pedagang)
(4) Pengembangan
teknologi sensorik
untuk mendeteksi
kerusakan mekanis
(mechanical
damage) pada
produk pangan
segar, terutama
buah tropis
Penguasaan teknologi
deteksi kerusakan
mekanis pada buah
tropis
Diterimanya produk
pangan hasil produksi
dalam negeri di pasar
global
Keberhasilan
produk
pangan segar
(buah tropis)
dalam negeri
merebut pasar
global
Pelaksana a.l:
Deptan, DKP, LPND
terkait, universitas
Pengguna
a.l: BPEN,
industri pangan,
petani, peternak,
nelayan,trader
(pedagang)
(5) Perlindungan Hak
atas Kekayaan
Intelektual (HaKI)
hasil penelitian
dalam negeri
Peningkatan inovasi
dalam negeri dalam
industri pangan
Peningkatan
kemampuan kompetisi
industri pangan dalam
negeri
Peningkatan
HaKI bidang
pangan yang
dimiliki peneliti
Indonesia
Pelaksana a.l :
Deptan, DKP, LPND
terkait, universitas
Pengguna a.l :
Depkumdang,
industri pangan,
petani, peternak,
nelayan,trader
(pedagang)
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
63
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
3.2. AGENDA RISET ENERGI BARU DAN TERBARUKAN
3.2.1 Latar Belakang Permasalahan
Permasalahan energi nasional jangka panjang menyangkut hal yang
berkaitan dengan security of supply dan keberlanjutan penyediaan energi
sehingga dapat mendukung pembangunan dan kebutuhan seluruh
masyarakat Indonesia dalam jangka panjang. Penyediaan energi jangka
panjang mempertimbangkan berbagai aspek lain, seperti lingkungan ,
ekonomi, dan aspek sosial kemanusiaan, karena teknologi baru perlu
edukasi dan informasi yang cukup agar dapat diterima sebagai bagian
budaya masyarakat yang belum pernah berinteraksi dengan berbagai
teknologi baru EBT maupun akibat pemanfaatannya pada dampak sosial
kemanusiaan. Hal ini akan menentukan keberlanjutan pembangunan
itu sendiri. Untuk Jangka panjang teknologi baru yang berkaitan dengan
EBT tidak dapat dihindari, demikian pula pengetahuan yang cukup
mendalam dalam ilmu bahan serta berbagai pemodelan matematik
untuk mendukung kegiatan rekayasa.
Permasalahan energi nasional jangka pendek yang harus segera
diselesaikan saat ini adalah menyiapkan sumber energi selain BBM untuk
memenuhi kebutuhan masyarakat dan industri nasional. Pemecahan
masalah energi nasional jangka pendek haruslah diletakkan dalam suatu
kerangka untuk menjawab masalah jangka panjang, sehingga menjadi
suatu penyelesaian yang integral dan kelanjutannya.
Perpres nomor 5 tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional
(KEN) menunjukkan adanya upaya agar pemakaian energi baru dan
terbarukan meningkat. Energi baru adalah bentuk energi yang dihasilkan
oleh teknologi baru baik yang berasal dari energi terbarukan maupun
energi tak terbarukan antara lain hidrogen, coal bed methane, batubara
yang dicairkan (liquefed coal), gasifkasi batubara (gasifed coal) dan nuklir;
sedangkan energi terbarukan adalah sumber energi yang dihasilkan dari
AgendA Riset
64 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
sumberdaya energi yang secara alamiah tidak akan habis dan dapat
berkelanjutan jika dikelola dengan baik, antara lain panas bumi, bahan
bakar nabati (biofuel), arus sungai, energi surya, energi angin, biomasa,
dan energi laut. Khusus untuk penyediaan bahan bakar nabati (biofuel)
diinstruksikan pula melalui Inpres No 1 tahun 2006, tentang Penyediaan
dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati (biofuel) sebagai Bahan Bakar Lain.
Melalui Inpres ini, Presiden R.I. menginstruksikan agar diambil langkah-
langkah untuk melaksanakan percepatan penyediaan dan pemanfaatan
biofuel, sedangkan untuk kegiatan pencairan batubara diinstruksikan
melalui Inpres nomor 2 tahun 2006 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan
Batubara yang Dicairkan sebagai Bahan Bakar Lain.
Blue-print Pengelolaan Energi Nasional (PEN) 2005-2025 yang telah
disiapkan oleh Departemen ESDM (Mei 2005) merupakan suatu bentuk
penjabaran KEN yang lebih operasional dan dapat dijadikan acuan bagi
seluruh pemangku kepentingan di bidang energi. Dalam dokumen PEN
2005-2025 disebutkan berbagai kegiatan litbang di bidang energi yang
harus dilakukan dalam rangka menjawab permasalahan energi, baik
dalam jangka menengah maupun dalam jangka panjang.
Perpres nomor 7 tahun 2005 tentang RPJM mengatur Rencana
Pembangunan Jangka Menengah 2004-2009. Kegiatan litbang iptek yang
menyangkut penyediaan dan pemanfaatan EBT terdapat pada dua pasal
dari RPJM tersebut, yaitu: (a) Bagian IV, Bab 22 menguraikan tentang
Peningkatan Kemampuan Ilmu Pengetahuan, dengan menyebutkan
4 Program Kegiatan; dan (b) Bagian IV, Bab 33 tentang Infrastruktur,
khususnya butir 3.1, membahas tentang Energi, dimana pada bagian ini
peranan litbang sangat penting dalam rangka pencapaian sasaran dari
RPJM tersebut.
Dokumen Kebijaksanaan Strategis Nasional (Jakstranas) di bidang
iptek yang secara resmi telah diserahkan oleh Menteri Negara Riset dan
Teknologi kepada Presiden R.I. pada tanggal 10 Agustus 2005 berisi:
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
65
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
kerangka kebijakan, arah, dan prioritas 6 jenis kegiatan litbang yang
akan dilakukan pada tahun 2005-2009. Salah satu dari jenis kegiatan
litbang tersebut adalah energi, yang dalam hal ini akan ditekankan pada
penyediaan dan pemanfaatan sumber EBT.
Dengan alur pemikiran seperti tersebut di atas, disusunlah suatu
Agenda Riset Nasional (ARN) 2005-2009 untuk penyediaan dan pe-
manfaatan sumber EBT. ARN ini diharapkan akan dijadikan acuan oleh
seluruh pelaku litbang di Indonesia dalam rangka harmonisasi rencana
strategis (Renstra) lembaga atau institusinya.
3.2.2 Arah Kebijakan dan Prioritas Utama
Arah dan prioritas pengembangan EBT adalah peran sertanya dalam
bauran energi bagi ketersediaan, ketahanan, dan keamanan pasokan
melalui optimasi sumberdaya serta pelestarian lingkungan.
Berbagai jenis sumber EBT yang diperhatikan dalam ARN adalah seba-
gai berikut: (a) angin; (b) batubara kualitas rendah; (c) panas bumi; (d) biofuels,
termasuk biodiesel, bioethanol, dan bio-oil; (e) biomassa dan biogas; (f) surya; (g)
hidrogen dan fuel-cell; (h) nuklir; (i) energi laut, termasuk gelombang dan arus
laut; dan (j) mini-hidro dan mikro-hidro; (k) coal bed methane
Uraian terhadap ARN untuk masing-masing jenis sumber EBT
disusun menurut program sesuai dengan rincian di RPJM 2004-2009 yang
meliputi: (a) Program penelitian dan pengembangan iptek; (b) Program
difusi dan pemanfaatan iptek; (c) Program penguatan kelembagaan iptek;
dan (d) Program peningkatan kapasitas iptek sistem produksi.
Mengingat bahwa kondisi kelembagaan iptek yang mendukung
kegiatan litbang berbagai jenis sumber EBT di Indonesia relatif sama,
maka program penguatan kelembagaan iptek akan ditulis secara umum
dan berlaku untuk seluruh jenis sumber EBT. Demikian juga yang terkait
dengan program peningkatan kapasitas iptek sistem produksi.
AgendA Riset
66 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
Penyediaan energi yang ditargetkan dalam Blue-print Pengelolaan
Energi Nasional (PEN) 2005-2025, perlu dicapai dan didukung oleh
kegiatan riset untuk mengurangi ketergantungan pada teknologi dari
luar, sehingga national participation akan meningkat dan Indonesia akan
mempunyai bargaining position untuk meningkatkan interdependensi.
Pengembangan iptek untuk pemanfaatan berbagai sumber EBT pada
akhirnya akan terkait dengan masalah yang hampir sama, yaitu masalah
material pendukung. Oleh karena itu diusulkan agar ada suatu program
bersama (common program) untuk menyelesaikan masalah material.
Disadari pada saat ini, bahwa salah satu hambatan yang ada dalam
implementasi dari pemakaian sumber EBT adalah masalah yang berkaitan
dengan aspek sosial-kemanusiaan dengan segala implikasinya. Beberapa
contoh kasus, diantaranya: opini masyarakat di media massa tentang
dampak penggunaan briket batubara bagi kesehatan, tertundanya PLT
Panas Bumi di Bedugul, penolakan terhadap rencana penggunaan
Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Oleh sebab itu, ARN untuk
pemanfaatan EBT juga akan menyangkut aspek sosial-kemanusiaan.
Dalam hal ini sosialisasi yang mudah dipahami oleh masyarakat serta
diterimanya segala dampak sosial kemanusiaan pemanfaatan EBT perlu
secara berlanjut dilaksanakan melalui dialog dengan seluruh pemangku
kepentingan agar komitmen jangka panjang dapat menjadi sikap publik.
Oleh sebab itu pengembangan komunitas publik harus diupayakan
seoptimal mungkin.
3.3.3 Target Capaian Tahun 2009 dan Sasaran Tahun 2025
Target capaian tersebut dibawah ini akan dapat bermanfaat apabila
mendapatkan dukungan publik. Oleh sebab itu penyebaran informasi dan
pendidikan bagi pemangku kepentingan harus dilakukan dengan cukup
memadai. Disamping itu perlu pula dikuasai sains dasar yang menjadi
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
67
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
prasyarat agar EBT dapat terlaksana sesuai dengan target capaian yang
telah digariskan seperti tersebut dibawah ini.
Untuk program penelitian dan pengembangan energi angin, target
capaian tahun 2009 adalah tersedianya dokumen hasil studi dan kajian
kelayakan pemanfaatan Sistem Konversi Energi Angin (SKEA) melalui
jaringan Perusahaan Listrik Negara (PLN). Adapun sasaran tahun 2025
adalah terwujudnya prototipe SKEA 30 s/d 50 kW yang diujicobakan di
lapangan untuk masyarakat pengguna .
Penelitian dan pengembangan batubara yang dimulai pada tahun
2009 adalah peningkatan pemanfaatan batubara kualitas rendah
melalui teknologi blending dan up-grading, teknologi pembakaran
dan gasifkasi, teknologi rancang bangun komponen pembangkit listrik
berbahan bakar batubara, teknologi hidrogenisasi dan karbonisasi, dan
teknologi pencairan batubara sebagai bahan bakar alternatif untuk sektor
transportasi. Adapun sasaran tahun 2025 adalah tersedianya suatu
teknologi rancang bangun komponen dan sistem Pembangkit Listrik
Tenaga Uap (PLTU) batubara skala kecil produksi nasional, terbangunnya
3 pabrik pencairan batubara komersial masing-masing 6000 ton/hari.
Capaian tahun 2009 untuk program penelitian dan pembangunan
sumber energi panas bumi adalah: tersedianya kemampuan eksplorasi
dan eksploitasi panas bumi dari dalam negeri; tersedianya Pembangkit
Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB) dengan rangkaian teknologinya yang
dapat dikerjakan di Indonesia termasuk engineering and construction. Juga
tersedianya perangkat Kebijakan Harga Energi Nasional termasuk energi
panas bumi. Sedangkan sasaran untuk tahun 2025 adalah: peningkatan
hasil eksplorasi panas bumi untuk memasok 5 % kebutuhan bauran
energi nasional; stabilnya harga energi dalam negeri untuk mendukung
diversifkasi sumberdaya energi
Capaian pengembangan dan penelitian biofuel tahun 2009 adalah
pengeksplorasian tanaman yang berpotensi sebagai bahan baku biofuel
AgendA Riset
68 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
selain tanaman yang telah dikebunkan secara massal seperti kelapa
sawit; pengembangan bibit tanaman jarak pagar (Jatropha curcas) yang
mempunyai produktivitas dan kandungan minyak tinggi serta tahan
terhadap kekeringan dan/atau hama patogen tanaman; tersedianya
informasi pasar biofuel internasional dan nasional; pengembangan tek-
nologi proses pembuatan biofuel berbahan baku minyak sawit dan jarak
pagar yang optimal; serta diperolehnya informasi teknik fermentasi
secara optimal untuk setiap bahan baku. Sasaran tahun 2025 adalah
dikuasainya teknologi proses, engineering design dan pembangunan pabrik
high/superior-performance biofuel (biodiesel dengan angka setan tinggi dan
titik tuang rendah yang optimal; produksi bioetanol dengan bakan baku
lignoselulosa dari hasil samping tanaman; penguasaan teknologi pirolisa
cepat untuk produksi bio-oil; produksi bahan bakar bioetanol secara tepat
guna pada skala kecil dan menengah; dan penguasaan teknologi reaktor
pirolisa cepat yang optimum).
Potensi biomassa di seluruh Indonesia bila dikonversi mejadi energi
listrik akan mencapai 1,160 MWe (ZREU GmbH,2000) yang terdiri dari
bagas tebu, limbah kelapa sawit , limbah pengergajian kayu, dan sekam
padi. Pulau Sumatera mempunyai potensi biomassa paling tinggi yaitu
590 MWe , berasal dari bagas tebu (40 %), limbah kelapa sawit (29 %),
sisanya dari limbah penggergajian kayu dan sekam padi. Potensi biomassa
di pulau Jawa sebesar 280 MWe yang didominasi oleh bagas tebu dan
sekam padi. Kalimantan berpotensi sebesar 230 MWe dan Sulawesi
60 MWe. Walaupun begitu pemanfaatan energi dari biomasa ini masih
sangat rendah. Sampah kota yang juga merupakan sumber biomassa,
mempunyai potensi cukup besar untuk dijadikan sumber energi, seperti
misalnya dicampur dengan batubara untuk sumber energi pembangkit
listrik. Capaian untuk tahun 2009 pada kegiatan ini adalah didapatkannya
kajian kelayakan campuran sampah dan batubara sebagai bahan bakar
pembangkit listrik. Pemanfaatan sampah kota untuk bahan pembuatan
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
69
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
alkohol, pada tahun 2009 ditargetkan dapat dihasilkan alkohol lebih
besar dari 10 liter/jam dalam skala laboratorium. Target pengembangan
biogas dari kotoran sapi dengan memakai digester dengan volume 5000
liter untuk skala rumah tangga sudah dapat terlaksana.
Penelitian dan pengembangan energi surya diarahkan pada pem-
buatan sel dan modul surya dan sistem serta komponen Pembangkit
Listrik Tenaga Surya (PLTS). Sebagai capaian pada tahun 2009 adalah
dikuasainya teknologi pembuatan sel surya berbasis silikon polikristal,
silikon monokristal, dan silikon amorf. Teknologi proses metal organic
gases (sillane/disillane) serta cetak biru proses pembuatan metal organic
gases diharapkan juga telah dapat dikuasai. Sasaran tahun 2025 adalah
berdirinya pabrik ingot dan wafer silikon dengan kapasitas 5-10 MWp/tahun
untuk memasok pabrik sel surya di Indonesia. Pabrik sel surya silikon
amorf dengan kapasitas 12 MW telah berdiri dengan target US $1.0/Wp.
Dalam pengembangan sistem dan komponen Sistem Pembangkit Tenaga
Surya, diharapkan sudah sesuai dan mengacu pada Standar Nasional
Indonesia (SNI).
Menuju era zero emission, penelitian dan pengembangan energi hidrogen
sebagai sumber energi terbarukan perlu dimulai dengan pemetaan dan
analisis potensi berbagai jenis energi baru dan terbarukan, maupun
teknologi konversi dari EBT ke energi hidrogen. Teknik-teknik konversi
energi yang ada pada saat ini menunjukkan bahwa semua jenis EBT bisa
di konversikan menjadi energi hidrogen. Pengembangan teknik produksi,
penyimpanan, dan distribusi, serta sistem keamanan energi hidrogen
sangat penting untuk dilakukan pula. Penelitian dan pengembangan
teknologi Proton Exchange Membrane Fuel Cell (PEMFC) yang merupakan
alat pembangkit listrik dengan energi hidrogen, mempunyai efsiensi
konversi energi cukup tinggi, dan noiseless, juga perlu dilakukan. Dengan
demikian sebagai capaian tahun 2009 diharapkan disain sistem stack
PEMFC kapasitas 2,5 kW beserta unit kontrolnya telah dapat dihasilkan,
AgendA Riset
70 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
dan pada tahun 2025 diharapkan sudah terpasang pembangkit listrik fuel
cell yang berbasis hidrogen sebesar 250 MW. Pembangkit listrik hibrid
fuel-cell dengan modul surya merupakan model pembangkit listrik yang
diperkirakan cukup sesuai untuk daerah terpencil/pulau kecil. Komponen
penting baterai dalam sistem tenaga surya, dapat disubsitusi dengan
mengkonversikan listrik yang dihasilkan langsung ke hidrogen dan diubah
kembali apabila diperlukan menjadi listrik dengan fuel cell. Dengan sistem
ini, kendala dari pemakaian baterai, yaitu life time yang relatif pendek,
berat dan volumenya yang besar dapat diminimalkan.
Persiapan industri energi nuklir serta strategi edukasi dan sosiali-
sasinya kepada masyarakat diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi
penting bagi perumusan prinsip dasar (basic principle) bagi persiapan
industri energi nuklir (industri teknologi reaktor dan daur bahan
bakar nuklir serta produk dan jasa terkait lainnya) ditinjau dari aspek:
ekonomi, keselamatan, non-proliferasi, lingkungan, pegelolaan limbah
dan infrastruktur. Sehingga PLTN secara bersinergi dan bersimbiosis
dapat berkontribusi bersama energi fosil dan non-fosil dalam meme-
nuhi kebutuhan energi nasional untuk mendukung pembangunan ber-
kelanjutan. Capaian tahun 2009 adalah: selesainya kajian teknologi
pengolahan limbah nuklir dan proses penyimpanan bahan bakar nuklir
bekas; siapnya kajian teknologi dan keselamatan PLTN; transfer tekno-
logi dan partisipasi industri nasional.
Untuk kegiatan pembangunan dan pengoperasian PLTN, pada tahun
2009 diharapkan akan dicapai dengan diselesaikannya studi/kajian pe-
nyiapan tapak dan draft dokumen pendukung URD, PSAR, BIS, AMDAL
serta pendanaan dan pembentukan ’owner’ PLTN.
Selain litbang teknologi reaktor daya, teknologi nuklir juga mencakup
kegiatan lain yang terkait dengan sektor energi, antara lain: (a) penggunaan
teknik nuklir untuk eksplorasi dan manajemen sumber panas bumi
(geothermal) di Sibayak (10 MW) Kamojang (200 MW) dan Lahendong (60
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
71
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
MW) serta mikro-hidro (dari sungai bawah tanah ) di Bribin, Gunung
Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. (440 kW); (b) introduksi penggunaan
Mesin Berkas Elektron (MBE) dalam mereduksi polusi udara (gas SOx
dan NOx) dari pembangkit listrik fosil; (c) litbang bahan di bidang Fuel-
Cell dan hidrogen; (d) biofuel/biodiesel, mutation breeding untuk mendapatkan
tanaman non-pangan penghasil biodiesel dengan kualitas yang baik; (e)
pengembangan konsep reaktor co-generation untuk produksi air bersih/
desalinasi, penggunaan panas proses untuk industri, pencairan batubara,
produksi hidrogen, Enhanced Oil Recovery (EOR).
Keuntungan penggunaan arus laut adalah selain ramah lingkungan,
energi ini juga mempunyai intensitas energi kinetik yang besar
dibandingkan energi terbarukan lainnya. Hal ini disebabkan densitas
air laut yang besarnya 830 kali lipat densitas udara, sehingga dengan
kapasitas yang sama, turbin arus laut akan jauh lebih kecil dibandingkan
dengan turbin angin yang dirancang dengan memperhitungkan adanya
angin topan. Turbin air laut dapat dirancang realtif lebih tepat, karena
kondisi fsik arus laut pada kedalaman tertentu cenderung tenang dan
dapat diperkirakan. Kegiatan penelitian yang sedang dilakukan adalah
simulasi numerik potensi daya listrik di beberapa daerah di Indonesia
yang dilakukan oleh Laboratorium Hidrodinamika Indonesia BPPT.
Hasil simulasi potensi daya listrik di Selat Bali dan Lombok dengan
menggunakan program MEC-Model buatan Research Committee of Marine
Environment, The Society of Naval Architects of Japan, diperoleh estimasi potensi
daya listrik di beberapa tempat di selat Bali pada kedalaman 12 meter,
kondisi pasang perbani, mencapai 300 kW bila menggunakan daun turbin
dengan diameter 10 meter, dengan asumsi efsiensi turbin sebesar 0,593
dan menggunakan kecepatan arus rata-rata selama satu periode pasang
surut (residual current) untuk tidal constant M2. Untuk Selat Badung dan Selat
Lombok bagian selatan potensi energinya berkisar 80-90 kW. Sedangkan
Laboratorium Pantai juga sedang melaksanakan rancang bangun dan
AgendA Riset
72 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
rekayasa wave power generator, dengan target capaian tahun 2009 adalah
dihasilkan suatu analisa desain, dari prototipe komponen struktur dasar,
chamber, turbin dan generator.
Potensi tenaga air tersebar hampir di seluruh Indonesia dan
diperkirakan hampir mencapai 75,000 MW; sementara pemanfaatannya
baru mencapai 2,5 % dari potensi yang ada. Pengembangan teknologi,
penerapan dan standardisasi sistem dan komponen mini/mikro hidro
perlu terus dilaksanakan untuk memberi kontribusi pada pemenuhan
target pemakaian energi baru dan terbarukan sebesar 15 % pada tahun
2025.
Coal bed methane adalah gas methane yang didapat pada beberapa
lapisan batubara. CBM terbentuk oleh proses biologis melalui aktivitas
mikroba atau proses thermal sebagai akibat naiknya suhu pada kedalaman
lapisan batubara. Kelimpahan CBM di Indonesia memerlukan penelitian
untuk inventarisasinya. Walaupun demikian diperkirakan ada diberbagai
tempat mengingat kelimpahan batubara yang banyak di Indonesia.
3.2.4 Program
Program penelitian dan pengembangan iptek serta Program difusi
dan pemanfaatan iptek untuk masing-masing jenis sumber EBT dirinci
sebagai berikut:
(a) Angin
Penelitian dan pengembangan energi angin mencakup kegiatan: (1)
survei potensi energi angin dan studi kelayakan pemanfaatan Sistem
Konversi Energi Angin (SKEA); inventarisasi, pengolahan dan evaluasi
data potensi energi angin di lokasi potensial; pembuatan peta potensi
energi angin nasional dan wilayah berdasarkan data pengukuran dan
hasil dari model matematika untuk mendiagnosa/ menganalisis dan
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
73
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
memperkirakan kecepatan angin,serta data pendukung lainya; studi
dan kajian kelayakan pemanfaatan SKEA di berbagai lokasi kabupaten;
(2) pengembangan teknologi SKEA, termasuk kegiatan: pengembangan
dan penyempurnaan SKEA skala kecil s/d kapasitas 5 kW dengan
litbang aerodinamika rotor, angin, dan material; pengembangan dan
penyempurnaan angin SKEA 10 kW, dengan litbang aerodinamika
rotor, angin, dan material; rancang bangun teknologi SKEA skala kecil-
menengah 30 s/d 50 kW; rancang bangun teknologi SKEA skala besar s/d
300 kW, untuk interkoneksi dengan jaringan; dan litbang aerodinamika
rotor (advanced airfoil), sistem angin, dan interkoneksi serta material ringan
dan tahan karat.
Kegiatan difusi dan pemanfaatan iptek untuk energi angin termasuk:
diseminasi dan pemanfaatan Teknologi SKEA; pemanfaatan SKEA
pembangkit listrik di pedesaan, lokasi terpencil dan pulau serta untuk
nelayan; dan pemanfaatan SKEA interkoneksi dengan grid/jaringan PLN.
Kegiatan tersebut memerlukan prasyarat yang seharusnya telah tercakup
dalam Rencana Umum Tata Ruang (RUTR) di pemerintah daerah
setempat.
(b) Batubara kualitas rendah
Kegiatan riset untuk pemanfaatan batubara kualitas rendah sebagai
sumber energi mencakup: (1) fnalisasi pemetaan dan karakterisasi
batubara kualitas rendah; inventarisasi jenis/pilihan teknologi peman-
faatan batubara; melakukan pengumpulan data cadangan batubara
Indonesia dan karakteristiknya serta pengembangan sistem informasi
cadangan dan karakteristik batubara Indonesia; (2) teknologi blending
dan up-grading batubara, termasuk: penelitian pengaruh blending ter-
hadap karakteristik batubara dan karakteristik pembakaran dan tendensi
pembentukan slagging serta fouling; pengembangan piranti lunak metode
AgendA Riset
74 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
dan sistem blending batubara dan. pengembangan teknologi up-grading
batubara; (3) teknologi pembakaran dan gasifkasi batubara kualitas
rendah, mencakup: penelitian pengaruh karakteristik batubara dalam
pembakaran dan gasifkasi; pengembangan teknologi pembakaran
batubara dan gasifkasi serta meningkatkan disain sistemnya; (4)
rekayasa rancang bangun peralatan/komponen pembangkit listrik
berbasis batubara, termasuk kegiatan: rancang bangun komponen
dan sistem PLTU batubara kualitas rendah skala kecil (7 MW), serta
pembuatan prototipenya; (5) teknologi hidrogenasi dan karbonisasi
untuk penyediaan batubara sebagai bahan bakar alternatif, termasuk
pengembangan teknologi hidrogenasi dan karbonisasi batubara serta
pengembangan produk kimia hasil hidrogenasi serta karbonisasi; dan
(6) teknologi pencairan batubara.
Kegiatan difusi dan pemanfaatan iptek hasil riset batubara kualitas
rendah adalah: (1) pengembangan paket teknologi pembakaran batu-
bara yang sesuai kebutuhan pengguna, identifkasi dan formulasi
kebutuhan teknologi pemanfaatan batubara, dan penyediaan informasi
dan pengembangan paket teknologi pemanfaatan batubara; (2) pengem-
bangan sistem transfer/difusi teknologi batubara kualitas rendah,
pengembangan sistem diseminasi informasi teknologi batubara kualitas
rendah secara elektronik, dan pengembangan model percontohan
aplikasi pemanfaatan batubara; (3) peningkatan kesiapan pengguna
untuk mengadopsi teknologi batubara kualitas rendah, penguatan
kelembagaan pelaku bisnis pemanfaatan batubara, pendidikan dan
pelatihan pengguna batubara, dan sosialisasi teknologi pemanfaatan
batubara.Untuk Keberhasilan kegiatan tersebut diatas sesuai dengan
RUTR juga telah diperkuat dengan peraturan daerah yang disepakati
dengan pemangku kepentingan setempat, baik dalam pengembangan
komunitas maupun penanggulangan pencemaran.
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
75
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
(c) Panas bumi
Kegiatan riset untuk pemanfaatan panas bumi sebagai sumber
energi mencakup: (1) eksplorasi dan permesinan listrik tenaga uap; (2)
pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi; dan (3) kajian
kebijakan harga energi nasional yang mendukung pengembangan panas
bumi.
Difusi iptek dilakukan dengan melaksanakan sosialisasi pengem-
bangan panas bumi sesuai target yang dinyatakan dalam dokumen
pengembangan EBT serta sesuai dengan RUTR setempat dan diupayakan
mempunyai efek ganda bagi pariwisata dan industri serta budaya lokal.
(d) Bahan bakar nabati (biofuel)
Kegiatan penelitian dan pengembangan bahan bakar nabati (biofuel)
yang diprioritaskan adalah: (1) intensifkasi pencarian bahan baku biofuel,
termasuk pemetaan kebutuhan dan potensi bahan baku biofuel; dan survei
potensi bahan baku dan produk biofuel untuk bahan bakar boiler di industri;
(2) pengembangan teknologi produksi biofuel, termasuk: optimalisasi
proses pembuatan biodiesel dari berbagai bahan baku; pengembangan
teknologi fermentasi dengan bahan baku pati dan gula; pengembangan
teknologi pra pengolahan bermacam bahan baku untuk proses pirolisa
cepat; pengembangan teknologi proses pengolahan gliserin standar
komersial sebagai produk samping dari biofuel; pengembangan teknologi
fermentasi menggunakan bahan baku lignoselulosa (produk samping
pertanian); pengembangan teknologi pirolisa cepat dengan berbagai
macam bahan baku; teknologi proses ekstraksi minyak jarak pagar;
rekayasa genetika bibit jarak pagar yang unggul; pengembangan teknologi
distilasi dan dehidrasi etanol; dan teknologi pirolisa cepat menggunakan
berbagai macam reaktor pirolisa.
AgendA Riset
76 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
Difusi iptek dan upaya peningkatan pemanfaatan teknologi biofuel
atau hasilnya dilakukan melalui: (1) sosialisasi biofuel sebagai bahan
bakar alternatif minyak diesel, melalui media cetak, elektronika, forum
dialog, seminar dan pameran, serta demo penggunaan bahan bakar
biodiesel pada kendaraan umum; (2) pengembangan paket teknologi
produksi biofuel secara tepat guna, mencakup kegiatan idetifkasi
kebutuhan daerah untuk memproduksi biofuel secara terdesentralisasi,
pengembangan sistem produksi biofuel skala kecil-menengah terintegrasi
dengan budidaya bahan baku yang tersedia di daerah masing-masing;
dan (3) pengembangan sistem difusi teknologi budidaya bahan baku dan
produksi biofuel, mencakup kegiatan pengembangan sistem diseminasi
teknologi budidaya bahan baku dan produksi biofuel serta publikasi
produk-produk pengembangan teknologi tepat guna budidaya bahan
baku dan produksi biofuel. Keberhasilan kegiatan tersebut diatas
perlu didukung oleh kebijakan yang terkoordinasi bersama berbagai
departemen terkait, RUTR, dan partisipasi masyarakat setempat.
(e) Biomassa dan biogas
Riset pemanfaatan biomassa sebagai sumber energi mencakup:
(1) pemanfatan sampah perkotaan untuk pembuatan alkohol skala
laboratorium dengan target 18,5 liter/2,5 jam; studi kelayakan pembangkit
listrik berbahan bakar campuran sampah kota dan batubara; (2)
pengembangan biogas dari kotoran sapi, termasuk riset pengembangan
digester dengan volume 5000 liter untuk skala rumah tangga.
Kegiatan difusi dan pemanfaatan teknologi untuk energi biomassa
dan biogas meliputi sosialisasi pemanfaatan biogas dari kotoran sapi
sebagai sumber energi sektor rumah tangga melalui media cetak, elek-
tronika, forum dialog, seminar dan pameran, serta demo penggunaan
bahan bakar biogas pada rumah tangga. Disamping itu kesesuaian dengan
RUTR harus juga dipenuhi.
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
77
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
(f) Surya
Kegiatan penelitian dan pengembangan energi surya adalah: (1)
Penguasaan ilmu material elektronik, semi konduktor, untuk mendukung
kegiatan riset pembuatan sel dan modul surya silikon monokristal, silikon
polikristal, silikon amorf, copper indium diselenide, serta sel surya organik;
mencakup juga pengembangan teknologi silikon monokristal, silikon
polikristal, dan teknologi metalorganic gases; (2) pengkajian dan penerapan
berbagai sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), termasuk
mengkaji kelayakan tekno-ekonomi sistem PLTS untuk berbagai jenis
aplikasi, dan mendukung kompetisi diversifkasi sistem PLTS sebagai
pilihan konsumen, dengan membuat SNI sistem dan komponen PLTS.
Kegiatan difusi iptek mencakup pengembangan prototipe sistem
PLTS skala kecil dan menengah dan diversifkasi sistem PLTS, untuk
daerah-daerah terpencil dan terisolir. Kegiatan ini juga memerlukan
dukungan koordinasi pemanfaatan lahan.
(g) Hidrogen dan fuel cell
Kegiatan riset tentang energi hidrogen dan fuel cell mencakup: (1)
pengembangan peta potensi energi baru dan terbarukan dan analisis
konversi EBT ke energi hidrogen, termasuk: penyiapan peta potensi
EBT seperti surya, angin, berbagai sumber gas alam yang marginal dan
kurang ekonomis, dan sumber biomassa/biogas. (2) pengembangan
teknik produksi, penyimpanan, distribusi, dan keamanan energi hidro-
gen, termasuk: telaah teknologi elektrolisa air-alkalin, proses elektrolisa
air menjadi hidrogen dengan menggunakan EBT, teknik reforming dan
gasifkasi pada suhu tinggi; telaah teknologi pemisahan gas antara
hidrogen, CO, dan oksigen; telaah pengembangan katalis, material
adsorpsi, dan membran pemisah gas; telaah dan analisis teknologi
penyimpanan hidrogen dengan metal hidrat, sistem daur ulang, dan
sistem pembuangan, serta teknologi sistem penyimpanan gas hidrogen
AgendA Riset
78 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
untuk skala besar dan untuk waktu yang panjang; telaah tekno-
ekonomi sistem distribusi, studi keamanan, manajemen penyimpanan
dan distribusi hidrogen; (3) pengembangan teknologi fuel cell PEMFC,
termasuk: pengembangan bahan membrane dan elektroda/katalis fuel cell
jenis PEMFC, pengembangan komponen gas feeder monopolar/bipolar
dan kolektor arus, serta pengembangan disain sistem stack fuel cell
PEMFC dan kajian tekno-ekonomi dan pengembangan unit kontrol gas
hidrogen.
Untuk memasyarakatkan dan meningkatkan adopsi teknologi ini
sebagai alternatif sumber energi, maka perlu dilakukan kegiatan difusi
teknologi yang mencakup: (1) penyediaan paket informasi dan pelatihan
tentang teknologi energi hidrogen, termasuk sosialisasi teknologi
energi hidrogen dan teknologi fuel cell dan penyediaan informasi serta
pengembangan paket pelatihan penggunaan sistem pembangkit listrik
fuel cell berbasis energi gas hidrogen; (2) pengembangan sistem transfer/
difusi teknologi energi hidrogen, termasuk pengembangan sistem dise-
minasi teknologi berbasis elektronik/internet dan media cetak; dan (3)
peningkatan kesiapan pengguna untuk mengadopsi teknologi energi
hidrogen, termasuk penyediaan jasa konsultasi dan bantuan teknis
untuk industri energi yang berbasis hidrogen/fuel cell. Tak dapat dihindari
keberhasilan program ini memerlukan dukungan ilmu bahan yang
memadai.
(h) Nuklir
Penelitian dan pengembangan energi nuklir yang diprioritaskan
untuk dilaksanakan adalah: (1) bahan bakar nuklir dan pengelolaan lim-
bah radioaktif, termasuk penyusunan data dasar untuk pengambilan
kebijakan pengembangan bahan bakar nuklir dan pengelolaan uranium
jangka panjang, eksplorasi uranium di daerah Kalimantan dan pengem-
bangan pabrik uranium oksida (yellow cake) skala pilot, kajian teknologi
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
79
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
dan ekonomi bahan bakar nuklir yang disesuaikan dengan jenis PLTN
yang akan dikembangkan di Indonesia, dan kajian teknologi pengolahan
limbah nuklir dan proses penyimpanan bahan bakar nuklir bekas;
(2) teknologi reaktor dan sistem PLTN, termasuk kajian teknologi dan
keselamatan PLTN, transfer teknologi, dan peningkatan partisipasi
industri nasional; (3) pembangunan dan pengoperasian PLTN, studi/kajian
program penerimaan masyarakat terhadap rencana pembangunan PLTN
dan rekayasa sosial, studi/kajian regulasi dan peraturan pelaksanaannya,
penyiapan dan penyelesaian sistem perizinan nasional, perizinan
konstruksi PLTN, serta studi/kajian penyiapan tapak dan draf dokumen
pendukung URD, PSAR, BIS, AMDAL, pendanaan dan pembentukan
’owner’ PLTN; (4) pemanfaatan teknologi nuklir untuk mendukung energi
fosil dan terbarukan, termasuk eksplorasi dan eksploitasi panas bumi,
pengelolaan air pada pembangkit mini dan mikrohidro, mutation breeding
untuk memperoleh bibit unggul tanaman jarak pagar untuk biodiesel dan
sorgum untuk gasohol, serta penggunaan mesin berkas elektron untuk
pengurangan polusi udara dari pembangkit listrik dengan sumber energi
konvensional; (5) studi pemanfaatan untuk cogenerasi, termasuk enhanced
oil recorvery, nuclear desalinasi, produksi hidrogen, dan coal gasifcation and
liquefaction.
Kegiatan difusi dan pemanfaatan iptek diarahkan pada: (1) sosialisasi
iptek nuklir untuk mendukung pengembangan EBT dalam bentuk public
information dan public education; (2) sosialisasi penggunaan PLTN sebagai
bagian dari pemenuhan kebutuhan energi nasional jangka panjang serta
community development di daerah sekitar tapak.
Pengembangan tersebut diatas memerlukan pengetahuan yang
memadai tentang bahan yang digunakan dalam industri nuklir serta daur
bahan bakar nuklir, disamping sifat-sifat dasar radiasi, zat radio aktif dan
berbagai reaksi nuklir.
AgendA Riset
80 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
(i) Energi laut (sea current and sea wave)
Gelombang dan arus laut dapat menjadi sumber energi alternatif
yang memberikan kontribusi signifkan terhadap upaya pemenuhan
kebutuhan energi nasional. Riset untuk energi laut diarahkan pada
rancang bangun dan rekayasa wave power generator, termasuk rekayasa
prototipe, struktur dasar, chamber, turbin, dan generator.
Kegiatan difusi iptek yang diprogramkan adalah: (1) sosialisasi iptek
pemanfaatan energi ombak laut untuk mendukung pengembangan
EBT dalam bentuk public information dan public education; dan (2)
pembangunan pembangkit listrik tenaga ombak laut skala demonstrasi.
Kegiatan ini memerlukan koordinasi bagi seluruh pemangku kepentingan
yang memanfaatkan laut.
(j) Mini/mikrohidro
Kegiatan penelitian dan pengembangan iptek yang diprogramkan
untuk energi mini/mikrohidro adalah rancang bangun teknologi PLT
Mikrohidro, termasuk standardisasi sistem dan komponen.
Program difusi dan pemanfaatan iptek untuk energi mini/mikro hidro
adalah: (1) sosialisasi pemanfaatan air untuk pembangkit listrik mini/
mikro hidro serta perlunya dibuat suatu sistem pengelolaan sumber
air yang efsien dan bermanfaat kepada masyarakat, dan (2) sosialisasi
aturan dan tatacara penjualan listrik yang dihasilkan oleh mini/mikro
hidro kepada PT PLN. Kegiatan ini memerlukan koordinasi bagi seluruh
pemangku kepentingan yang memanfaatkan sumberdaya air.
(k) Coal bed-methane.
Kegiatan penelitian dan pengembangan coal bed methane (CBM)
ditujukan pada target tahun 2025 untuk dapat diproduksi gas CBM
sebesar 1 – 1,5 BCFD, yang dapat dipergunakan secara komersial. Adapun
tahapan-tahapan penelitian yang akan dilakukan adalah pemboran sumur
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
81
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
untuk mengekplorasi untuk mendapatkan informasi besarnya cadangan.
Selain itu persiapan tentang perumusan peraturan pengembangan CBM
terus dilakukan . Sampai dengan tahun 2009 akan dilaksanakan kegiatan
fracturing, pemasangan fasilitas permukaan dan rekayasa reservoir dengan
metoda dewatering untuk perhitungan short dan long term reserve cadangan
CBM di lapangan Rambutan Sumatera Selatan.
Program penguatan kelembagaan iptek merupakan kegiatan yang
dilakukan oleh organisasi pelaku kegiatan litbang di Indonesia dan
berlaku untuk seluruh jenis sumber EBT. Program ini pada prinsipnya
ingin menjawab tentang keterbatasan baik jumlah maupun kualitas SDM
dan sarana penelitian dan dana. Disamping itu, dirasakan bahwa dengan
keterbatasan dana yang ada akan membatasi kerjasama penelitian baik
dengan institusi di dalam maupun di luar negeri.
Kegiatan untuk penguatan kelembaga iptek yang diprogramkan
adalah: (1) penguatan internal kelembagaan iptek dan kelembagaan
pendukungnya, termasuk peningkatan kemampuan SDM dan pengem-
bangan sarana dan prasana penelitian; (2) kerjasama antar-lembaga
iptek dalam negeri, termasuk menghimpun kemampuan manufakturing,
departemen teknis terkait dan pemda untuk bekerjasama/kemitraan
diseminasi teknologi, pengembangan jaringan antar-lembaga pemerintah
dan legislatif yang berkaitan dengan teknologi energi; (3) kerjasama
dengan kelembagaan internasional, termasuk kerjasama penelitian,
pengembangan dan penerapan teknologi energi dan pengembangan
lembaga untuk kalibrasi dan standardisasi.
Kegiatan untuk peningkatan kapasitas iptek sistem produksi yang
diprogramkan adalah pemberdayaan industri nasional pada bidang
energi baru dan terbarukan dalam rangka menciptakan kemandirian
bangsa, termasuk: (1) kemitraan dengan sektor manufaktur nasional untuk
komersialisasi berbagai hasil iptek energi; (2) perencanaan kelistrikan
daerah dan studi kelayakan teknologi energi (pembangkit listrik dengan
AgendA Riset
82 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
sumber energi baru dan terbarukan) bekerjasama dengan Pemda dan/
atau swasta; (3) penyusunan masukan kebijakan mengenai kandungan
lokal komponen teknologi energi baru dan terbarukan; (4) keringanan
pajak dan dukungan kemudahan impor sistem/komponen teknologi
energi baru dan terbarukan untuk pengembangan dan penguasaan
teknologi tersebut di dalam negeri; dan (5) pengembangan kerjasama
litbang dan kemampuan sistem produksi skala industri (scale-up).
ARN energi baru dan terbarukan ini diharapkan menjadi long term
commitment bersama melalui penerimaan masyarakat yang tercermin
dengan adanya perencanaan umum yang kondusif dan mengikutkan
semua pemangku kepentingan dalam harmonisasi pemanfaatan sum-
berdaya energi.
Keterkaitan dan keterpaduan riset energi dengan berbagai bidang
lainnya perlu mendapat perhatian, karena proses maupun hasil riset
energi akan berpengaruh terhadap bidang riset lainnya. Kecermatan
dalam mengidentifkasi keterkaitan antar-bidang riset akan meningkatkan
efektivitas dan efsiensi pengelolaan sumberdaya yang dimiliki.
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
83
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
INDIKATOR
NO KEGIATAN
TARGETCAPAIAN
KEBERHASILAN
SASARAN
KETERANGAN

2009
2009
AKHIR2025
I PROGRAM PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN IPTEK
(1) Inventarisasi,
pengolahan dan
evaluasi data
potensi energi
angin, di lokasi
potensial
Tersedianya data dan
informasi mengenai
potensi energi angin
di 150 lokasi terpilih
potensial di seluruh
Indonesia
Jumlah data dan
lokasi terukur terkait
dengan informasi data
pendukung berupa
potensi pengguna dan
sarana lainya
Berfungsinya
data base
dan sistem
informasi data
potensi energi
angin nasional
Pelaksanaan
a.l. : LAPAN,
Universitas, LSM,
DJLPE, P3TEK-
Litbang ESDM.
A-1SURvEIPOTENSIENERGIANGINDANSTUDIKELAYAKANPEMANFAATANSISTEMKONvERSIENERGI
ANGIN(SKEA)
(2) Pembuatan peta
potensi energi
angin Nasional
dan per wilayah
berdasarkan data
pengukuran dan
data pendukung
lainya
Tersedianya peta
potensi energi angin
Nasional dan wilayah di
10 kabupaten terpilih
Jumlah peta lokasi
potensi energi angin
yang dihasilkan terkait
dengan data potensi
angin di wilayah
Terwujudnya
peta potensi
energi angin
per wilayah
provinsi
/kabupaten di
lokasi terpilih
di berbagai
wilayah
(3) Studi dan kajian
kelayakan
pemanfaatan SKEA
di berbagai lokasi
/kabupaten
Tersedianya dokumen
hasil studi dan kajian
kelayakan pemanfaatan
SKEA dengan jaringan
PLN
Jumlah dokumen
hasil studi yang dapat
dimanfaatkan untuk
pengembangan dan
pemanfaatan teknologi
SKEA
Tersedianya
dokumen
hasil studi
dan kajian
kelayakan
pemanfaatan
SKEA dengan
jaringan PLN
di lokasi
terpilih
(1) Pengembangan dan
penyempurnaan
SKEA skala kecil
s/d kapasitas 5
kW dengan R & D
aerodinamika rotor,
kontrol dan material
Tersedianya dokumen
teknis dan blueprint
berbagai tipe dan
kapasitas SKEA skala
kecil s/d 5 kW
Meningkatnya unjuk
kerja dan jumlah pe-
makaian SKEA skala
kecil dan meningkat-
nya efisiensi sistem
SKEA skala
kecil dapat
dimanfaatkan
oleh pengguna
dengan
kehandalan dan
efisiensi cukup
dan harga
terjangkau
Pelaksanaan a.l.:
LAPAN, BPPT
Universitas, LSM,
DJLPE, P3TEK-
Litbang ESDM.
A-2PENGEMBANGANTEKNOLOGISISTEMKONvERSIENERGIANGIN(SKEA)
AgendA Riset
84 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
INDIKATOR
NO KEGIATAN
TARGETCAPAIAN
KEBERHASILAN
SASARAN
KETERANGAN

2009
2009
AKHIR2025
(2) Pengembangan dan
penyempurnaan
prototipe SKEA 10
kW, dengan R&D
aerodinamika rotor ,
kontrol dan material
Tersedianya dokumen
teknis dan blueprint
perancangan, pembua-
tan serta manual SKEA
10 kW
Meningkatnya jumlah
prototipe SKEA 10
kW yang terpasang
di lapangan (untuk
pengujian dan
implementasi) dan
unjuk kerja. Dokumen
teknis penyempurnaan
sistem
SKEA 10 kW
diproduksi
secara massal
dan dapat
dimanfaatkan
oleh masyarakat
/pengguna
dengan
kehandalan
yang cukup dan
harga terjangkau
(3) Rancang bangun
teknologi SKEA
skala kecil-
menengah 30 s/d
50 kW
Tersedianya dokumen
teknis SKEA 30 s/d 50
kW dan prototipenya
Tersedianya prototipe
SKEA 30 s/d 50 kW
dan dapat berfungsi
dengan baik sesuai
rancangan
Terwujudnya
prototipe
SKEA 30
s/d 50 kW dapat
diujicobakan di
lapangan untuk
masyarakat
/pengguna
dengan sistem
hibrid di daerah
terpencil
(4) Rancang bangun
teknologi SKEA
skala besar
s/d 300 kW,untuk
interkoneksi dengan
jaringan
Terwujudnya dokumen
teknis SKEA 300 kW
dan prototipenya
SKEA 300 kW dapat
beroperasi sesuai
dengan rancangan
Berfungsinya
prototipe
SKEA 300
kW dan dapat
dioperasikan
dengan jaringan
yang ada (PLN
/lokal)
(5) R & D aerodinamika
rotor (advanced
airfoil), sistem
kontrol hibrid dan
interkoneksi serta
material ringan dan
tahan karat
Terwujudnya rotor
SKEA beroperasi pada
regim kecepatan angin
rendah, dengan mate-
rial ringan, kuat dan
tahan karat
Turbin angin telah
dapat berputar dan
menghasilkan energi
di kecepatan angin
2,5 m/s. dengan
rotor tahan terhadap
korosi dan gesekan.
Konstruksi lainya
tahan terhadap korosi
Terwujudnya
rotor SKEA
beroperasi pada
regim kecepatan
angin rendah,
dengan material
ringan, kuat dan
tahan karat.
Pelaksanaan a.l. :
LAPAN, BPPT,
Universitas, LSM,
DJLPE, P3TEK-
Litbang ESDM.
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
85
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
INDIKATOR
NO KEGIATAN
TARGETCAPAIAN
KEBERHASILAN
SASARAN
KETERANGAN

2009
2009
AKHIR2025
(2) Pengembangan dan
penyempurnaan
prototipe SKEA 10
kW, dengan R&D
aerodinamika rotor ,
kontrol dan material
Tersedianya dokumen
teknis dan blueprint
perancangan, pembua-
tan serta manual SKEA
10 kW
Meningkatnya jumlah
prototipe SKEA 10
kW yang terpasang
di lapangan (untuk
pengujian dan
implementasi) dan
unjuk kerja. Dokumen
teknis penyempurnaan
sistem
SKEA 10 kW
diproduksi
secara massal
dan dapat
dimanfaatkan
oleh masyarakat
/pengguna
dengan
kehandalan
yang cukup dan
harga terjangkau
Pelaksanaan a.l.
LAPAN, BPPT,
Universitas, LSM,
DJLPE, P3TEK-
Litbang ESDM.
B-1FINALISASIMAPPINGDANKARAKTERISASIBATUBARAKUALITASRENDAH
(1) Inventarisasi jenis/
pilihan teknologi
pemanfaatan
Batubara
Tersedianya pilihan
teknologi pemanfaatan
Batubara beserta
karakteristiknya
Ketersediaan data
teknologi pemanfaatan
Batubara beserta
karakteristiknya
dengan lengkap
Kemudahan
dalam
menentukan
teknologi sesuai
karakteristik
Batubara yang
tersedia
Pelaksanaan a.l.:
BPPT,LIPI,
TEKMIRA, DJLPE,
Universitas
(2) Melakukan
pengumpulan data
cadangan Batubara
Indonesia dan
karakteristiknya dan
Pengembangan
sistem informasi
cadangan dan
karakteristik Batu-
bara Indonesia
Tersedianya sistem
informasi cadangan dan
karakteristik Batubara
Indonesia
Kelengkapan data
cadangan dan
karakteristik Batubara
Indonesia
Kemudahan
dalam
mendapatkan
data cadangan
dan karakteristik
Batubara
Indonesia
B-2TEKNOLOGI Blending dan Up grading BATUBARA
(1) Penelitian pengaruh
blending terhadap
karakteristik
Batubara dan
karakteristik
pembakaran
dan tendensi
pembentukan
slagging serta
fouling
Mendapatkan formula
blending yang optimal
untuk Batubara Indo-
nesia
Peningkatan
pemanfaatan Batubara
berkualitas rendah
(dari sisi peringkat dan
grade).
Pemanfaatan
Batubara
berkualitas
rendah
meningkat
AgendA Riset
86 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
INDIKATOR
NO KEGIATAN
TARGETCAPAIAN
KEBERHASILAN
SASARAN
KETERANGAN

2009
2009
AKHIR2025
(2) Pengembangan
piranti lunak metode
dan sistem blending
Batubara dan.
Pengembangan
teknologi upgrading
Batubara
Tersedianya sistem
blending yang
tepat dan efisien. Serta
Tersedianya teknologi
upgrading Batubara
Ketersediaan Batubara
yang memenuhi
persyaratan operasi
dan lingkungan
Peningkatan
operabilitas dan
komersialisasi
teknologi
pemanfaatan
Batubara.
(1) Penelitian
mengenai pengaruh
karakteristik
Batubara dalam
pembakaran
dan gasifikasi.
serta Pengem-
bangan teknologi
pembakaran
Batubara dan
gasifikasi
Tersedianya informasi
lengkap mengenai efek
parameter Batubara
dalam pembakaran
dan gasifikasi dan.
Tersedianya teknologi
pembakaran (furnace)
dan gasifikasi Batubara
Peningkatan jumlah
aplikasi teknologi
pembakaran dan
gasifikasi Batubara,
untuk kebutuhan
energi termal atau
listrik di industri.
Penggunaan
teknologi
Pembakaran
dan gasifikasi
yang tepat,
efisien
dan ramah
lingkungan serta.
Peningkatan
aplikasi
teknologi
pembakaran
dan gasifikasi
Batubara
B-3TEKNOLOGIPEMBAKARANDANGASIFIKASIBATUBARAKUALITASRENDAHSERTAMENINGKATKAN
DISAINSISTEMNYA
Pelaksanaan a.l.:
BPPT,LIPI,
TEKMIRA, DJLPE,
Universitas
(1) Rancang bangun
komponen dan
sistem PLTU
batubara kualitas
rendah skala kecil
(7 MW)
Ketersediaan teknologi
rancang bangun
komponen dan sistem
PLTU skala kecil
Peningkatan
kandungan lokal dalam
sistem pembangkit
tenaga listrik
serta peningkatan
penerapan pembangkit
tenaga listrik hasil
rancang bangun
Penguasaan
teknologi
rancang bangun
komponen dan
sistem PLTU
batubara skala
kecil serta
tersedianya
teknologi PLTU
batubara skala
kecil produksi
nasional
B-4REKAYASARANCANGBANGUNPERALATAN/KOMPONENPEMBANGKITLISTRIK,BERBASISBATUBARA
SERTAPEMBUATANPROTOTIPENYA.
Pelaksanaan a.l. :
BPPT, LIPI,
TEKMIRA, DJLPE,
Universitas
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
87
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
INDIKATOR
NO KEGIATAN
TARGETCAPAIAN
KEBERHASILAN
SASARAN
KETERANGAN

2009
2009
AKHIR2025
(1) Pengembagan
teknologi
hidrogenasi
dan karbonisasi
batubara dan
pengembangan
produk kimia hasil
hidrogenasi serta
karbonisasi
Tersedianya teknologi
hidrogenasi dan
karbonisasi batubara
Peningkatan
operabilitas dan
kinerja teknologi
hidrogenasi dan
karbonisasi batubara
Tersedianya
teknologi
nasional
hidrogenasi
dan karbonisasi
batubara yang
efisien dan
murah
B-5TEKNOLOGIHIDROGENASIDANKARBONISASIUNTUKPENYEDIAANBATUBARASEBAGAIBAHANBAKAR
ALTERNATIF
Pelaksanaan a.l. :
BPPT, TEKMIRA,
DJLPE, Universitas
(1) Detail study
pembangunan
demo plant 3000
ton/hari (pabrik semi
komersial)
Tersedianya hasil studi
yang meliputi project
financing, bankable pro-
posal, Letter of Intent
untuk pembangunan
demo plant pencairan
batubara
Adanya badan
otorita khusus yang
menangani persiapan
pembangunan dan
pengoperasian pabrik
pencairan batubara
Terbangunnya 3
plant pencairan
batubara
komersial
masing-masing
6000 ton/hari
(8,1 MBOE/thn).
B-6TEKNOLOGIPENCAIRANBATUBARA
Pelaksanaan a.l. :
BPPT, ESDM,
Swasta
(1) Melaksanakan R&D
bidang eksplorasi;
permesinan, listrik
tenaga uap.
Tersedianya kemam-
puan eksplorasi dan
eksploitasi panas bumi
dan dari dalam negeri
Tereksplorasinya
cadangan potensial
jalur panas bumi 1.000
km dari cadangan
potensial jalur panas
bumi 12.000 MWe,
5000 km
Peningkatan
hasil ekplorasi
panas bumi
untuk memasok
5 % kebutuhan
bauran energi
nasional.
CPROGRAMPEMBANGUNANPANASBUMI
Pelaksanaan a.l. :
BPPT,LIPI,
LITBANG ESDM,
Universitas
(2) Melaksanakan
R&D dalam bidang
pengembangan
pembangkit listrik
Tenaga Panas Bumi
Tersedianya Pembang-
kit Listrik Tenaga Panas
Bumi dengan rangkaian
teknologinya dan dapat
dikerjakan di Indonesia
termasuk engineering
and construction.
Digunakannya sistem
dan komponen
Pembangkit Listrik
Tenaga Panas Bumi
produk dalam negeri
(pemerintah dan
swasta)
Dihasilkannya
produksi listrik
dari Pembangkit
Listrik Tenaga
Panas Bumi
guna memenuhi
kebutuhan listrik
dalam negeri.
AgendA Riset
88 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
INDIKATOR
NO KEGIATAN
TARGETCAPAIAN
KEBERHASILAN
SASARAN
KETERANGAN

2009
2009
AKHIR2025
(3) Melakukan kajian
kebijakan harga
energi nasional
yang mendukung
pengembangan
energi panas bumi
Tersedianya perangkat
kebijakan harga energi
nasional termasuk
energi panas bumi.
Dilaksanakannya
kebijakan harga energi
nasional termasuk
energi panas bumi
Stabilnya harga
energi dalam
negeri untuk
mendukung
pengembangan
diversifikasi
sumberdaya
energi
Pelaksanaan a.l. :
BPPT,LIPI,
LITBANG ESDM,
Universitas
(1) Survei potensi
bahan baku, dan
produk biofuel untuk
bahan bakar boiler
di industri
Explorasi tanaman
yang berpotensi
sebagai bahan baku
biofuel selain tanaman
yang telah dikebunkan
secara massal seperti
kelapa sawit Pengem-
bangan bibit jarak
pagar (Jatropha curcas)
unggul sebagai sumber
BBM alternatif serta
tersediannya informasi
pasar biofuel interna-
sional dan nasional
Database potensi
bahan baku biofuel
di Indonesia dengan
ditemukannya
berbagai varietas bibit
jarak yang unggul.
Ketersediaan
aneka ragam
bahan baku
untuk produksi
biodiesel dari
sumber hayati
nasional dalam
mendukung
program
ketahanan
energi
nasional serta
kemudahan
para stake
holders untuk
mendapatkan
informasi potensi
bahan baku dan
pengembangan
produksi di
setiap daerah
Pelaksanaan a.l. :
BPPT,LIPI,
LITBANG ESDM,
Universitas
D-1INTENSIFIKASIPENCARIANBAHANBAKUBiofUel
(2) Pemetaan
kebutuhan dan
potensi bahan baku
biofuel
Tersedianya informasi
potensi bahan baku
dan informasi pasar
biofuel internasional
dan nasional
Database potensi
bahan baku biofuel
disetiap kabupaten
serta informasi pasar
biofuel di internasional
maupun nasional
Penguasaan
informasi potensi
bahan baku dan
pengembangan
produksi. Serta
kemudahan
para stake
holders untuk
mendapatkan
informasi potensi
bahan baku dan
pengembangan
produksi di
setiap daerah.
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
89
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
INDIKATOR
NO KEGIATAN
TARGETCAPAIAN
KEBERHASILAN
SASARAN
KETERANGAN

2009
2009
AKHIR2025
(1) Optimalisasi
proses pembuatan
biodiesel dari
berbagai bahan
baku
Pengembangan
teknologi fermentasi
dengan bahan baku
pati-patian dan gula
Pengembangan
teknologi pra
pengolahan
bermacam bahan
baku untuk proses
pirolisa cepat
Dihasilkan teknologi
proses pembuatan
biofuel berbahan baku
minyak sawit dan jarak
pagar yang optimal
serta diperolehnya
informasi teknik fermen-
tasi secara bahan baku
potensial di Indonesia.
Diperolehnya teknologi
pengolahan awal bahan
baku untuk proses piro-
lisa cepat.
Paket detail proses
pembuatan biofuel dari
bahan baku minyak
sawit dan jarak pagar
serta didapatkan
laporan teknis
teknologi fermentasi
secara optimal
dan laporan teknis
teknologi dan disain
pra pengolahan bahan
baku untuk proses
pirolisa cepat
Ketersediaan
bahan baku
untuk produksi
biofuel dari
sumber hayati
nasional serta
penerapan
pada produksi
etanol skala
kecil-menengah
dan penguasaan
teknologi pra
pengolahan
bahan baku
untuk proses
pirolisa cepat
Pelaksanaan a.l. :
BPPT, LIPI,
Universitas
D-2PENGEMBANGANIPTEKPRODUKSIBiofUel
(2) Teknologi proses
pengolahan gliserin
standar komersial
sebagai produk
samping dari biofuel
Pengembangan
teknologi fermentasi
menggunakan
bahan baku
lignoselulosa
(produk samping
pertanian)
Pengembangan
teknologi pirolisa
cepat dengan
berbagai macam
bahan baku.
Dihasilkan teknologi
proses pembuatan
gliserin sebagai produk
samping biofuel yang
optimal. Diperolehnya
paket teknologi
fermentasi skala lab
dengan bahan baku
ligno-selulosa (produk
samping pertanian) dan
diperolehnya teknologi
proses pirolisa cepat
secara optimal untuk
setiap bahan baku
potensial
Tersedianya
perkebunan jarak
pagar sebagai
pendamping
perkebunan sawit
untuk bahan baku
biofuel Diperolehnya
laporan teknis
teknologi fermentasi
dengan bahan baku
lignoselulosa dan
diperoleh laporan
teknis teknologi
pirolisa cepat
Dikuasainya
teknologi proses
desain dan
pembangunan
pabrik
high/superior
performance
biofuel (biodiesel
dengan angka
setan tinggi
dan titik tuang
rendah) yang
optimal Produksi
bioetanol
dengan
bakan baku
lignoselulosa
dari hasil
samping
budidaya
Penguasaan
teknologi pirolisa
cepat untuk
produksi bio oil
untuk keperluan
panas
AgendA Riset
90 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
INDIKATOR
NO KEGIATAN
TARGETCAPAIAN
KEBERHASILAN
SASARAN
KETERANGAN

2009
2009
AKHIR2025
(3) Teknologi proses
ekstraksi minyak
jarak pagar R&D
rekayasa genetika
bibit jarak pagar
yang ung-gul,
pengembangan
teknologi distilasi
dan dehidrasi etanol
dan Pengkajian
teknologi
pirolisa cepat
menggunakan
berbagai macam
reaktor pirolisa
Dihasilkan teknologi
proses ekstraksi minyak
jarak pagar yang opti-
mal Dihasilkan varietas
bibit jarak pagar yang
unggul Diperolehnya
paket teknologi
produksi bioetanol
grade bahan bakar
secara efisien, serta
diperolehnya paket
teknologi bermacam
reaktor pirolisa cepat
Dihasilkan teknologi
proses dan strategi
pembudidayaan
tanaman jarak pagar,
sebagai pendamping
bahan baku biodiesel
minyak sawit.
Berdirinya demo plant
etanol grade bahan
bakar di Indonesia
bagian Barat dan
Timur, laporan teknis
teknologi dan disain
reaktor pirolisa cepat
dengan bermacam
bahan baku
Produksi
bioetanol grade
bahan bakar
secara tepat
guna pada skala
kecil-menengah
dan penguasaan
teknologi reaktor
pirolisa cepat
yang optimum
E-1PEMANFATANSAMPAHPERKOTAAN
(1) Pembuatan alkohol
dari sampah
perkotaan
Skala laboratorium
dengan target 18,5
untuk setiap 2,5 jam
Dihasilkan suatu
teknologi untuk
menghasilkan alkohol
dari sampah kota
Dibangun plant
pembuatan
alkohol skala
demo
Pelaksanaan a.l. :
P3-TEK Litbang
ESDM
(2) Studi kelayakan
pembangkit listrik
berbahan bakar
campuran sampah
kota dan batubara
Apabila layak untuk
mencampur sampah
kota dengan batubara
sebagai bahan bakar
PLTU, dibuat skala
demo plant
Demo plant pabrik
bahan bakar
campuran sampah
kota dan batubara
Pasokan bahan
bakar campuran
sampah kota
dan batubara
untuk PLTU
Pelaksanaan a.l. :
P3-TEK Litbang
ESDM
E-2PENGEMBANGANBIOGASDARIKOTORANSAPI
(1) Pengembangan
digester dengan
volume 5000 liter
untuk skala rumah
tangga
Pengembangan desa
percontohan untuk
pemakaian biogas dari
kotoran sapi
Penggunaan biogas
untuk kebutuhan
memasak sebagi
pengganti minyak
tanah
Multiplikasi
pemakaian
biogas sebgai
bahan bakar
untuk memasak
Pelaksanaan a.l. :
P3-TEK Litbang
ESDM
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
91
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
F-1PEMBUATANSELDANMODULSURYA
(1) Melaksanakan R &
D pada teknologi
dan pembuatan sel
surya silikon mono-
kristal dan silikon
polikristal
Teknologi pembuatan
solar sel dari mono
dan poly-kristalin telah
dikuasai dan diproduksi
secara komersial serta
dihasilkan patent untuk
produk ingot dan waver
dilanjutkan dengan
pabrikasi Ingot dan
waver untuk poli dan
monokristal
Kebutuhan waver
untuk produk modul
surya dalam negeri
terpenuhi dari produk
lokal dan telah
digunakan untuk
program- program
pemerintah.
Pabrik Ingot dan
waver dengan
kapasitas 5-10
MWp/tahun
untuk memasok
pabrik solar sel
didalam negeri
sudah berdiri di
Indonesia
Pelaksanaan a.l. :
BPPT, LIPI,
Universitas.
INDIKATOR
NO KEGIATAN
TARGETCAPAIAN
KEBERHASILAN
SASARAN
KETERANGAN

2009
2009
AKHIR2025
(2) Melaksanakan R
& D metalorganic
gases
Teknologi proses metal-
organic gases (sillane/
disillane) serta Cetak
biru proses pembuatan
metal-organic gases
telah dikuasai
Pabrik thin film solar
cell kapasitas 5 MW
telah berdiri dengan
target harga US $1,5
/Wp
Pabrik thin
film solar cell
kapasitas 12
MW telah berdiri
dengan target
harga US $1/Wp
F-2PENGKAjIANDANPENERAPANBERBAGAISISTEMPEMBANGKITLISTRIKTENAGASURYA
(1) Mengkaji kelayakan
tekno-ekonomi
sistem PLTS untuk
berbagai jenis
aplikasi
Diperolehnya tingkat
kelayakan tekno-eko-
nomi model penerapan
sistem PLTS untuk
berbagai jenis aplikasi
Terpasangnya
sistem PLTS dengan
kapasitas 10 MW.
Terpasangnya
sistem PLTS
dengan
kapasitas 100
MW
Pelaksanaan a.l. :
BPPT, LIPI,P3TEK,
Universitas, DJLPE
(2) Mendukung
kompetisi
diversifikasi sistem
PLTS sebagai
pilihan konsumen,
dengan membuat
SNI sistem dan
komponen PLTS
Tersusunnya SNI
sistem Hibrida PLTS
dan komponennya
Tersedianya SNI
sistem dan komponen
PLTS
Sistem
terpasang
telah sesuai
dengan Standar
Nasional
Indonesia.
AgendA Riset
92 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
G-1PENGEMBANGANPETAPOTENSIENERGIBARUDANTERBARUKANDANANALISISKONvERSIKEENERGI
HIDROGEN.
(1) Penyiapan peta
potensi energi baru
dan terbarukan
seperti surya, angin,
berbagai sumber
gas marginal yang
tidak ekonomis, dan
sumber biomassa/
biogas dan analisis
Mengkon-versi
ke bentuk energi
hidrogen.
Peta potensi energi
baru dan terbarukan
surya, angin, berbagai
sumber gas marginal
yang tidak ekonomis,
dan sumber biomassa/
biogas serta analisis
mengkonversi ke ben-
tuk energi hidrogen
Tersedianya dan
peta potensi energi
surya, angin, sumber
gas marginal dan
biomassa/biogas serta
analisis mengkonversi
ke bentuk energi
hidrogen
Basis Data
dalam bentuk
peta potensi
berbagai sumber
Energi Baru
dan Terbarukan
dan sumber
gas marginal
yang kurang
ekonomis di
Indonesia telah
tersedia.
Pelaksanaan a.l. :
BPPT, LIPI, DJLPE,
DEPT.ESDM,
Universitas.
INDIKATOR
NO KEGIATAN
TARGETCAPAIAN
KEBERHASILAN
SASARAN
KETERANGAN

2009
2009
AKHIR2025
(1) Telaah teknologi
elektrolisa
air-alkalin, dan
alternatif proses
elektrolisa dengan
menggunakan
energi baru dan
terbarukan dan
teknik reforming dan
gasifikasi pada suhu
tinggi.
Model teknik elektrolisa
air-alkalin, dan Model
awal teknik reforming
dan gasifikasi pada
suhu tinggi.
Pilot plant hidrogen
skala kecil telah
dapat dibuat dengan
penggunaan model
dan tersedianya model
teknik reforming dan
gasifikasi pada suhu
tinggi.
Tersedianya
instalasi
produksi gas
hidrogen
yang berbasis
energi baru
dan terbarukan
yaitu surya,
angin, dan atau
biomassa.
Tersedianya
instalasi gas
hidrogen dengan
pemanfaatan
sumber-sumber
gas marginal
untuk bahan
pembutan gas
hidrogen.
Tersedianya
regulasi dan
standardisasi
sistem
penyimpanan,
distribusi,
dan sistem
keamanan
pemakaian gas
hidrogen
Pelaksanaan a.l. :
BPPT, LIPI, DJLPE,
LEMIGAS DEPT.
ESDM, Universitas
G-2PENGEMBANGANTEKNIKPRODUKSI,PENYIMPANAN,DISTRIBUSI,DANKEAMANANENERGIHIDROGEN
(2) Telaah teknologi
pemisahan gas
antara hidrogen,
CO, dan oksigen
Teknik pemisahan gas
antara hidrogen, CO,
dan oksigen.
Tersedianya teknik
awal pemisahan gas
hidrogen, CO, dan
oksigen
(3) Telaah
pengembangan
katalis, material
adsorpsi, dan
membran pemisah
gas
Bahan dasar katalis,
material absorbsi dan
membran dapat di-
ekstrak dan dimurnikan.
Tersedianya teknik
proses pembuatan
katalis, material
adsorpsi, dan
membran untuk
pembuatan gas
hidrogen.
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
93
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
INDIKATOR
NO KEGIATAN
TARGETCAPAIAN
KEBERHASILAN
SASARAN
KETERANGAN

2009
2009
AKHIR2025
(4) Telaah dan
analisis teknologi
penyimpanan
hidrogen dengan
metal hidrat,
sistem daur
ulang, dan sistem
pembuangan,
serta,. Teknologi
sistem
penyimpanan
gas hidrogen
untuk skala besar
dan waktu yang
panjang.
Model analisis penyim-
panan hidrogen dengan
metal hidrat, sistem
daur ulang , dan sistem
pembuangan serta.
Model penyimpanan
gas hidrogen untuk
skala besar dan jangka
panjang .
Tersedianya model
penyimpanan gas
hidrogen skala
besar dan jangka
panjang serta
Tersedianya model
awal penyimpanan
gas hidrogen dengan
metal hidrat, sistem
daur ulang, dan sistem
pembuangan.
(5) Telaah tekno-
ekonomi sistem
distribusi,Studi
keamanan,
manajemen
penyimpanan dan
distribusi hidrogen.
Model analisis
tekno-ekonomi sistem
distribusi gas hidrogen,
Model manajemen dan
sistem keamanan
Tersedianya
model awal sistem
manajemen dan
keamanan, pilot
plant pembuatan gas
hidrogen
G-3PENGEMBANGANTEKNOLOGIFUELCELLPEMFC
(1) Pengembangan
bahan membrane
dan elektroda/
katalis fuel cell
jenis PEMFC.
Rekayasa pembuatan
membran dan elek-
troda/katalis dengan
bahan baku utama
dari luar negeri dapat
dilakukan.
Stack fuel cell jenis
portable PEMFC
dengan kapasitas
hingga 2,5 kW
dgn kandungan
lokal hingga 70 %
telah dapat dibuat
untuk keperluan
rumah tangga,
penggunaan khusus,
atau keperluan
telekomunikasi.
Disain dan
pengembangan
sistem power
generator
PEMFC
kapasitas
modular hingga
50 kW dengan
kandungan lokal
hingga 90 %.
Pelaksanaan a.l. :
LIPI, BPPT, DJLPE,
DEPT.ESDM,
Universitas
(2) Pengembangan
komponen gas
feeder monopolar/
bipolar dan kolektor
arus.
Komponen gas feeder
jenis monopolar/bipolar.
Sistem portable fuel
cell PEMFC hingga 2,5
kW dapat dibuat.
Pada tahun 2015
diharap kan telah
terpasang fuel
cell jenis PEMFC
hingga kapasitas
50 MW
AgendA Riset
94 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
INDIKATOR
NO KEGIATAN
TARGETCAPAIAN
KEBERHASILAN
SASARAN
KETERANGAN

2009
2009
AKHIR2025
(3) Pengembangan
disain sistem stack
fuel cell PEMFC
dan kajian tekno
ekonomi.
Pengembangan
kontrol gas
Disain sistem stack
kapasitas hingga 2,5
KW.Disain kontrol untuk
sistem fuel cell hingga
2,5 kW.
Telah digunakan
hingga sekitar 500 unit
kapasitas 2 – 2,5 kW,
dengan total kapasitas
hingga 1 MW telah
terpasang
Pada tahun
2025 telah
terpasang
hingga 250 MW
listrik.
H-1BAHANBAKARNUKLIRDANPENGELOLAANLIMBAHRADIOAKTIF
(1) Penyusunan data
dasar untuk peng-
ambilan kebijakan
pengembangan
bahan bakar nuklir
dan pengelolaan
uranium jangka
panjang.
Selesainya data dasar
untuk pengambilan ke-
bijakan pengembangan
bahan bakar nuklir dan
pengelolaan uranium
jangka panjang.
Tersedianya dokumen
data dasar kebijakan
pengembangan bahan
bakar nuklir dan
pengelolaan uranium
jangka panjang.
Data terbukti
pasokan
uranium jangka
panjang untuk
mengamankan
pengoperasian
PLTN.
Pelaksanan a.l. :
BATAN,
BAPETEN,DJGSDM
(2) Eksplorasi
uranium di daerah
Kalimantan, serta
pengembangan
pabrik uranium
oksida (yellow cake)
skala pilot.
Selesainya eksplorasi
uranium di daerah
Kalimantan, serta
beroperasinya pabrik
’Yellow Cake’ skala
pilot.
Berfungsinya tambang
uranium di daerah
Kalimantan, serta
beroperasinya pabrik
’yellow cake’ skala
pilot.
Diketahuinya
cadangan
uranium di
seluruh wilayah
Indonesia
(3) Kajian teknologi
dan ekonomi bahan
bakar nuklir yang
disesuaikan dengan
jenis PLTN yang
akan dikembangkan
di Indonesia.
Selesainya kajian
teknologi dan ekonomi
bahan bakar nuklir.
Tersedianya dokumen
kajian teknologi dan
ekonomi bahan bakar
nuklir.
Kemandirian
memproduksi
bahan dan
elemen bakar
nuklir.
(4) Kajian teknologi
pengolahan limbah
nuklir dan proses
penyimpanan bahan
bakar nuklir bekas.
Selesainya kajian
teknologi pengolahan
limbah nuklir dan
proses penyimpanan
bahan bakar nuklir
bekas.
Tersedianya dokumen
kajian teknologi
pengolahan limbah
nuklir dan proses
penyimpanan bahan
bakar nuklir bekas.
Kemandirian
proses
pengolahan
limbah
nuklir dan
penyimpanan
bahan bakar
nuklir bekas.
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
95
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
INDIKATOR
NO KEGIATAN
TARGETCAPAIAN
KEBERHASILAN
SASARAN
KETERANGAN

2009
2009
AKHIR2025
H-2TEKNOLOGIREAKTORDANSISTEMPLTN
(1) Kajian teknologi dan
keselamatan PLTN,
transfer teknologi
dan partisipasi
industri nasional.
Siapnya ka-
jian teknologi dan
keselamatan PLTN,
transfer teknologi dan
partisipasi industri
nasional.
Tersedianya dokumen
kajian teknologi dan
keselamatan PLTN,
transfer teknologi dan
partisipasi industri
nasional.
Litbang untuk
pembangunan,
operasi dan
perawatan
serta desain
komponen dan
sistem PLTN.
Pelaksanaan a.l. :
BATAN, DJLPE,
BAPETEN,DJGSDM,
DEPERIN
H-3PEMBANGUNAN&PENGOPERASIANPLTN
(1) Studi/kajian pro-
gram penerimaan
masyarakat
terhadap rencana
pembangunan
PLTN dan rekayasa
sosial.
Selesainya studi/kajian
program penerimaan
masyarakat terhadap
rencana pembangunan
PLTN dan rekayasa
sosial.
Tersedianya studi/
kajian program
penerimaan
masyarakat terhadap
pembangunan dan
pengoperasian PLTN.
Kecilnya
penolakan
masyarakat
terhadap
pembangunan
pengoperasian
PLTN di
Indonesia.
Pelaksanaan a.l. :
BATAN,
BAPETEN,DJGSDM,
DJLPE
(2) Studi/kajian regulasi
/UU dan peraturan
pelaksanaannya,
penyiapan dan
penyelesaian sistem
perizinan nasional,
perizinan konstruksi
PLTN.
Selesainya studi/kajian
penyiapan sistem dan
proses perizinan
nasional, perizinan
konstruksi PLTN
pertama di Indonesia.
Adanya dokumen studi
/kajian peraturan dan
sistem perizinan untuk
pembangunan dan
pengoperasian PLTN.
Peraturan
dan perizinan
pembangunan
dan
pengoperasian
PLTN
selanjutnya.
Pelaksanaan a.l. :
BATAN,
BAPETEN,DJGSDM,
DJLPE
(3) Studi/kajian
penyiapan tapak
dan draf dokumen
pendukung URD,
PSAR, BIS, AMDAL
serta pendanaan
dan pembentukan
’owner’ PLTN.
Selesainya studi/
kajian penyiapan tapak
dan draf dokumen
pendukung URD,
PSAR, BIS, AMDAL
serta pendanaan dan
pembentukan ’owner’
PLTN.
Tersedianya pilihan
lain tapak PLTN
dan draf dokumen
pendukung URD,
PSAR, BIS dan
AMDAL
Studi dan
penyiapan
tapak PLTN
terpilih lainnya
di wilayah Jawa-
Madura-Bali
AgendA Riset
96 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
INDIKATOR
NO KEGIATAN
TARGETCAPAIAN
KEBERHASILAN
SASARAN
KETERANGAN

2009
2009
AKHIR2025
H-4PEMANFAATANTEKNOLOGINUKLIRUNTUKMENDUKUNGENERGIFOSILDANTERBARUKAN
(1) Penggunaan
Teknik Nuklir untuk
eksplorasi dan
manajemen sumber
panas bumi, serta
mikrohidro
Eksplorasi Geothermal
di Si bayak, Kamojang
dan Lahendong.
mikrohidro di Bribin,
dan daerah Indonesia
bagian Timur
Hasil eksplorasi 10
MW di Sibayak, 200
MW di Kamojang dan
60 MW di Lahendong,
mikrohidro 440 kW di
Bribin
Membantu
peningkatan
hasil ekplorasi
panas bumi
untuk memasok
3,8% kebutuhan
bauran energi
nasional.
Pelaksanaan a.l. :
BATAN, PERTAMINA
(2) Biofuel / biodiesel,
mutation breeding
untuk mendapatkan
tanaman non-
pangan penghasil
biodiesel dengan
kualitas yang baik.
Explorasi tanaman
yang berpotensi
sebagai bahan baku
biofuel selain tanaman
yang telah dikebunkan
secara massal seperti
kelapa sawit Pengem-
bangan bibit jarak
pagar (Jatropha curcas)
unggul sebagai sumber
BBM alternatif
Data base potensi
bahan baku biofuel
di Indonesia dengan
ditemukannya
berbagai varietas bibit
jarak yang unggul.
Ketersediaan
aneka ragam
bahan baku
untuk produksi
biodiesel dari
sumber hayati
nasional dalam
mendukung
program
ketahanan
energi
nasional serta
kemudahan
para stake
holder untuk
mendapatkan
informasi
potensi bahan
baku dan
pengembangan
produksi di
setiap daerah
Pelaksanaan a.l. :
BATAN
(3) Penggunaan mesin
berkas elektron
untuk pengurang-
an polusi udara
dari pembangkit
listrik dengan energi
konvensional
Engineering design
untuk PLTU batubara di
Suralaya
Terpasangnya demo
plant MBE di PLTU
Suralaya
Pemakaian
MBE pada
PLTU batubara
dengan
kapasitas besar
dan terletak
didaerah padat
penduduk
seperti pulau
Jawa
Pelaksanaan a.l. :
BATAN
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
97
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
INDIKATOR
NO KEGIATAN
TARGETCAPAIAN
KEBERHASILAN
SASARAN
KETERANGAN

2009
2009
AKHIR2025
(4) Pengembangan
konsep reaktor
co-generation
untuk produksi air
bersih, penggunaan
panas proses (untuk
industri, pencairan
batubara dan EOR)
Mengikuti perkembang-
an program penelitian
pencairan batubara dan
bila diperlukan untuk
EOR
Mengikuti
perkembangan
program penelitian
pencairan batubara
dan bila diperlukan
untuk EOR
Mengikuti
perkembangan
program
penelitian
pencairan
batubara dan
bila diperlukan
untuk EOR
Pelaksanaan a.l. :
BATAN
(1) Rekayasa prototipe,
struktur dasar,
chamber, turbin,
dan generator
Initial test sistem
integrasi hasil review
desain
Instalasi demo plant
sistem pembangkit
tenaga ombak
Scaling-up
kapasitas
daya sistem
pembangkit
listrik tenaga
ombak.
Pelaksanaan a.l. :
BPPT, Universitas
I-1RANCANGBANGUNDANREKAYASAwave power generator
(1) Pengembangan
teknologi dan
standardisasi sistem
dan komponen
Terstandarisasinya
sistem dan komponen
PLT mikrohidro
Didapatkan tambahan
SNI untuk sistem
dan komponen PLT
mikrohidro
Pengembangan
dan
pemanfaatan
PLT mikrohidro
untuk memenuhi
PEN
Pelaksanaan a.l. :
BPPT, Litbang
ESDM dan
Perguruan Tinggi
j-1RANCANGBANGUNTEKNOLOGIPLTM
(1) Inventarisasi
cadangan CBM di
Rambutan Suma-
tera Selatan
Perhitungan short
dan long term reserve
dengan metoda
dewatering
Adanya Fasilitas dan
perkiraan cadangan
CBM di Rambutan
Sumsel
Produksi CBM
di Rambutan
sebesar 1- 1,5
BcfD
Pelaksanaan a.l. :
Litbang ESDM,
BPPT dan
perguruan Tinggi.
K-1PENGEMBANGANBASISDATACBMINDONESIA.
AgendA Riset
98 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
INDIKATOR
NO KEGIATAN
TARGETCAPAIAN
KEBERHASILAN
SASARAN
KETERANGAN

2009
2009
AKHIR2025
II PROGRAM DIFUSI DAN PEMANFAATAN IPTEK
(1) Pemanfaatan SKEA
pembangkit listrik
di pedesaan, lokasi
terpencil dan pulau
serta untuk nelayan
Terwujudnya
pemanfaatan berbagai
tipe dan kapasitas
SKEA di berbagai lokasi
terpilih
Meningkatnya jumlah
desa /wilayah yang
memanfaatkan
teknologi SKEA skala
kecil untuk pembangkit
listrik maupun pemom-
paan air
Terwujudnya
pemanfaatan
1000 unit
SKEA di
pantai selatan
pulau Jawa
Pelaksanaan
a.l. : LAPAN,
Universitas, LSM,
DJLPE
A-1DISEMINASIDANPEMANFAATANTEKNOLOGISKEA
(2) Pemanfaatan
SKEA inter-koneksi
dengan grid/
jaringan PLN
Terwujudnya dokumen
hasil studi dan kajian
pemanfaatan SKEA
Harga energi listrik
yang dibangkitkan
menurun dan dapat
kompetitif dengan
energi terbarukan
lainya
Terwujudnya
pemanfaatan
SKEA kecil untuk
perahu nelayan
dan bagan
penangkap ikan di
berbagai wilayah.
Terwujudnya
pemanfaatan
SKEA di :
Maluku Tenggara,
Halmahera
Tengah, Rote,
Madura, Sulawesi
Selatan, Sulawesi
Utara, Gorontalo,
Nias, NTB dan
Kepulauan Seribu
dan Karimunjawa
Tersedianya
SKEA dengan
harga yang
terjangkau
Tersedianya
sistem hibrida
angin–diesel,
angin-pv dan
sumber energi
lainnya.
Pemanfaatan
SKEA dengan
jaringan PLN di
NTT, NTB.
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
99
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
B-3PENINGKATANKESIAPANPENGGUNAUNTUKMENGADOPSITEKNOLOGIBATUBARAKUALITASRENDAH
Pelaksanaan a.l. :
BPPT,LIPI, TEK-
MIRA, DJLPE, Dept.
ESDM, Universitas
INDIKATOR
NO KEGIATAN
TARGETCAPAIAN
KEBERHASILAN
SASARAN
KETERANGAN

2009
2009
AKHIR2025
B-1PENGEMBANGANPAKETTEKNOLOGIPEMBAKARANBATUBARAYANGSESUAIKEBUTUHANPENGGUNA
(1) Identifikasi dan
formulasi kebutuhan
teknologi peman-
faatan batubara
Tersedianya paket
teknologi pembakaran
batubara untuk
pembangkitan listrik
maupun aplikasi lainnya
Peningkatan jumlah
penerapan paket
teknologi pembakaran
batubara untuk
pembangkitan listrik
maupun aplikasi lainnya
Peningkatan
kontribusi IPTEK
dalam kegiatan
pemanfaatan
batubara
Pelaksanaan a.l. :
BPPT,
LIPI,TEKMIRA,
DJLPE, Dept.ESDM,
Perguruan Tinggi,
(2) Penyediaan
informasi dan
pengembangan
paket teknologi
pemanfaatan
batubara
Tersedianya teknologi/
paket teknologi:
gasifikasi, blending,
pencucian, desulfurisasi
gas buang, pembrik-
etan dan pencairan
batubara
Peningkatan jumlah
penerapan teknologi
pemanfaatan batubara
B-2PENGEMBANGANSISTEMTRANSFER/DIFUSITEKNOLOGIBATUBARAKUALITASRENDAH
(1) Pengembangan
sistem diseminasi
informasi teknologi
batubara kualitas
rendah secara
elektronik
Tersedia sistem
diseminasi infor-
masi teknologi batubara
kualitas rendah dengan
teknologi ICT
Peningkatan jumlah
penerapan teknologi
pemanfaatan batubara
oleh pengguna
Peningkatan
kontribusi iptek
dalam kegiatan
pemanfaatan
batubara
Pelaksanaan a.l. :
BPPT,LIPI, TEK-
MIRA, DJLPE, Dept.
ESDM, Perguruan
Tinggi,
(2) Pengembangan
model percontohan
aplikasi peman-
faatan batubara
Tersedianya model
percontohan aplikasi
pemanfaatan batubara
(1) Penguatan kelem-
bagaan pelaku
bisnis pemanfaatan
batubara
Berfungsinya secara
optimal kelembagaan
pelaku bisnis peman-
faatan batubara
Meningkatnya jumlah
pelaku dan kegiatan
bisnis dibidang
pemanfaatan batubara
Kemandirian
kelembagaan
pelaku bisnis
pemanfaatan
batubara
(2) Pendidikan dan
pelatihan peng-
guna batubara dan
sosialisasi teknologi
pemanfaatan
batubara
Pemahaman dan
ketrampilan peng-
guna batubara,
pemahaman pelaku
bisnis tentang teknologi
pemanfaatan batubara.
Berkembangnya bisnis
jasa konsultansi dan
pendukung lainnya
AgendA Riset
100 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
INDIKATOR
NO KEGIATAN
TARGETCAPAIAN
KEBERHASILAN
SASARAN
KETERANGAN

2009
2009
AKHIR2025
C-1DISEMINASIENERGIPANASBUMI
(1) Sosialisasi pengem-
bangan panas bumi
sesuai kepentingan
energi terbarukan
Masyarakat lokal
well-informed terhadap
Pembangkit Listrik
Tenaga Panas Bumi
Telah dapat
dioperasikannya
pembangkit panas bumi
sesuai rencana 2009
Dukungan
masyarakat
pada
pemanfaatan
sumber energi
panas bumi
Pelaksanaan a.l. :
BPPT, LITBANG
ESDM, Universitas
D-1SOSIALISASIBiofUel SEBAGAIBAHANBAKARALTERNATIFMINYAKDIESEL
(1) Publikasi melalui
media cetak,
elektronika, forum
dialog, seminar dan
pameran
Terpublikasikannya
biodiesel di masyarakat
Publikasi melalui media
cetak dan elektronika,
forum dialog, seminar
serta pameran tingkat
lokal dan nasional
Meningkatnya
pemahaman
masyarakat
terhadap biofuel
sebagai bahan
bakar baru
terbarukan
Pelaksanaan a.l. :
BPPT, LIPI, Univer-
sitas
(2) Demo penggunaan
bahan bakar biodie-
sel pada kendaraan
umum
Digunakannya bahan
bakar biofuel pada
kendaraan instansi
Pemerintah dan
sebagian angkutan
umum serta dipakai
pada industri.
Penggunaan bahan
bakar biofuel pada
seluruh kendaraan
pemerintah dan
sebagian kendaraan
umum di kota besar,
serta penggunaan pada
industri.
Meluasnya
penggunaan
biofuel sebagai
bahan bakar
alternatif
D-2PENGEMBANGANPAKETTEKNOLOGIPRODUKSIBIOFUELSECARATEPATGUNA
(1) Indetintifikasi
kebutuhan daerah
untuk memproduksi
biofuel secara
terdesentralisasi
Diperolehnya informasi
daerah yang berpotensi
memproduksi biofuel
skala kecil-menengah
Data base daerah
potensial untuk produksi
biofuel skala kecil-
menengah
Penerapan
teknologi
produksi biofuel
skala kecil-
menengah di
daerah terpencil
Pelaksanaan a.l. :
BPPT, LIPI, Univer-
sitas
(2) Pengembangan
sistem produksi
biofuel skala
kecil-menengah
terintegrasi dengan
budidaya bahan
baku yang tersedia
di tiap daerah
Tersedianya paket
teknologi produksi bio-
fuel skala kecil-mene-
ngah
Diterapkannya paket
teknologi produksi
biofuel skala kecil-
menengah
Peningkatan
ketahanan
bahan bakar
daerah
khususnya
daerah/pulau
terpencil
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
101
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
INDIKATOR
NO KEGIATAN
TARGETCAPAIAN
KEBERHASILAN
SASARAN
KETERANGAN

2009
2009
AKHIR2025
D-3PENGEMBANGANSISTEMDIFUSITEKNOLOGIBUDIDAYABAHANBAKUDANPRODUKSIBiofUel
(1) Pengembangan
sistem diseminasi
teknologi budidaya
bahan baku dan
produksi biofuel
Terselenggaranya
program difusi teknologi
budidaya baku dan
produksi biofuel
Meningkatnya
pemahaman dan
pengetahuan petani/
teknisi lokal tentang
teknologi tepat guna
budidaya bahan baku
dan produksi biofuel
Meningkatnya
kontribusi
petani/teknisi
lokal dalam
budidaya bahan
baku dan
produksi biofuel
Pelaksanaan a.l. :
BPPT, LIPI, Univer-
sitas
(2) Publikasi produk
pengembangan
teknologi tepat guna
budidaya bahan
baku dan produksi
biofuel
Tersedianya buku,
poster, leaflet dan
lain-lain
Penerapan teknologi
budidaya bahan baku
dan produksi biodiesel
oleh petani dan teknisi
lokal
Terciptanya
strategi, skema
dan iklim
kerjasama yang
baik antara
stakeholders
industri biodiesel
mulai dari
penyedia bahan
baku, industri
pemasok, industri
pengguna,
investor, lembaga
riset dan regulator
Pelaksanaan a.l. :
BPPT, LIPI, Univer-
sitas
F-1PENGEMBANGANPROTOTIPESISTEMPLTSSKALAKECILDANMENENGAH
(1) Diversifikasi sistem
PLTS, untuk daerah
terpencil dan
terisolir
Penerapan sistem
PLTS seperti hibrid,
sistem komunikasi,
penyimpan vaksin di
wilayah terpencil di
Indonesia
Terpasangnya berbagai
sistem sistem PLTS
dengan kapasitas 10
MW.
Terbentuknya
Standar
Nasional
Indonesia untuk
berbagai sistem
PLTS dan
komponen
Pelaksanaan a.l. :
BPPT, LIPI, Univer-
sitas
G-1PENYEDIANPAKETINFORMASI,DANPELATIHANTENTANGTEKNOLOGIENERGIHIDROGEN.
(1) Sosialisasi teknologi
energi hidrogen dan
teknologi fuel cell
Tumbuhnya pemaham-
an masyarkat dan
pelaku bisnis pada
pentingnya penggu-
naan energi hidrogen &
fuel cell sebagai energi
alternatif dan kompeti-
tor utama BBM
Meningkatnya
perhatian masyarakat
pada kegiatan
pengembangan IPTEK
energi hidrogen dan
fuel cell
Telah cukup
siapnya
masyarakat
luas dalam
menggunakan
energi hidrogen
dan fuel cell
sebagai sumber
dan pembangkit
energi listrik
Pelaksanan a.l. :
LIPI, BPPT, DJLPE,
DEPT.ESDM,
Universitas
AgendA Riset
102 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
INDIKATOR
NO KEGIATAN
TARGETCAPAIAN
KEBERHASILAN
SASARAN
KETERANGAN

2009
2009
AKHIR2025
(2) Penyediaan
informasi dan
pengembangan
paket pelatihan
penggunaan sistem
pembangkit listrik
fuel cell berbasis
energi gas hidrogen
Paket pelatihan peng-
gunaan
Tersedianya paket
pelatihan pengunaan
sistem pembangkit
listrik fuel cell PEMFC
G-2PENGEMBANGANSISTEMTRANSFER/DIFUSITEKNOLOGIENERGIHIDROGEN
(1) Pengembangan
sistem diseminasi
teknologi berbasis
elektronik/internet,
dan media cetak
Tersedianya program
difusi teknologi melalui
media elektronik/inter-
net, dan media cetak
Meningkatnya perhatian
dan peran serta
masyarakat dalam
kegiatan penyebaran
informasi teknologi fuel
cell dan penggunaan
energi hidrogen.
Terjadinya diver-
sifikasi produk
aplikasi fuel cell
serta meningkat-
nya investasi
manufaktur untuk
pemenuhan
permin-taan
dalam negeri dan
peluang ekspor
dan meningkat
pula pengem-
bangan instalasi
produksi, penyim-
panan, dan
distribusi gas
hidrogen.
Pelaksanan a.l. :
LIPI, BPPT,
DJLPE, DEPT.
ESDM, Universitas
(2) Sosialisasi peng-
gunaan PLTN
sebagau bagian
dari pemenuhan
kebutuhan eergi
nasional jangka
panjang
G-3PENINGKATANKESIAPANPENGGUNAUNTUKMENGADOPSITEKNOLOGIENERGIHIDROGEN
(1) Sosialisasi
Iptek nuklir
untuk mendukung
pengembangan
EBT
Pelaksanan a.l. :
BATAN, LIPI,
Universitas
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
103
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
INDIKATOR
NO KEGIATAN
TARGETCAPAIAN
KEBERHASILAN
SASARAN
KETERANGAN

2009
2009
AKHIR2025
III PROGRAM PENGUATAN KELEMBAGAAN IPTEK
(1) Peningkatan
kemampuan SDM
Peningkatan peneliti
dengan tingkat
pendidikan S2 dan S3
Peningkatan jumlah
peneliti dengan tingkat
akademis S2 dan S3,
Tersedianya
SDM dan sarana
serta prasarana
penelitian yang
dibutuhkan untuk
mengembangkan
kapasitas
nasional
Pelaksanaan a.l. :
LPND RISTEK,
DEPT ESDM
APENGUATANINTERNALKELEMBAGAANIPTEKDANKELEMBAGAANPENDUKUNGNYA
(2) Pengembangan
sarana dan prasana
penelitian
Terpenuhinya
kebutuhan sarana dan
prasarana penelitian
Peningkatan produk-
tivitas penelitian yang
dihasilkan
BKERjASAMAANTARLEMBAGAIPTEKDALAMNEGERI
(1) Menghimpun
kemampuan
manufacturing,
departemen teknis
terkait, dan pemda
untuk bekerjasama
/kemitraan
diseminasi teknologi
Peningkatan koordinasi
dan kerjasama dalam
penerapan dan
penelitian teknologi .
Peningkatan jumlah
kerjasama dalam
penerapan dan Peng-
kajian Teknologi.
Adanya
kemampuan
nasional dari
berbagai lembaga
pemerintah
maupun swasta
terkait
Pelaksanaan a.l. :
LPND RISTEK,
DEPT ESDM
(2) Pengembangan
jaringan antar
lembaga pemerintah
dan legislatif yang
berkaitan dengan
teknologi energi
Terbentuknya forum
antar pengambil
keputusan, baik pusat
maupun daerah
Terjalinnya komuni-
kasi yang efektif antar
pengambil keputusan
Peningkatan
komunikasi
antar pengambil
keputusan dalam
pengembangan
teknologi energi
CKERjASAMADENGANKELEMBAGAANINTERNASIONAL
(1) Kerjasama penelitian,
pengembangan dan
penerapan teknologi
energi
Peningkatan intensitas
kerjasama internasional
Peningkatan
jumlah kerjasama dan
penerapan produk
kerja-sama teknologi
Pengakuan
internasional
terhadap produk
teknologi
nasional
Pelaksanaan a.l. :
LPND RISTEK,
DEPT ESDM
(2) Pengembangan
lembaga untuk
kalibrasi dan
standardisasi
Terbentuknya lembaga
standardisasi dan
kalibrasi produk
teknologi energi dan
komponen
Tersedianya lembaga
untuk standardisasi
dan kalibrasi produk
teknologi energi dan
komponen
Lembaga yang
terakreditasi
secara
Internasional
dan produk
teknologi energi
dalam negeri
tersertifikasi
secara
Internasional
AgendA Riset
104 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
INDIKATOR
NO KEGIATAN
TARGETCAPAIAN
KEBERHASILAN
SASARAN
KETERANGAN

2009
2009
AKHIR2025
IV PROGRAM PENINGKATAN KAPASITAS IPTEK SISTEM PRODUKSI
(1) Kemitraan dengan
sektor manufaktur
nasional untuk
komersialisasi hasil
IPTEK energi
Tersedianya sistem
produksi komponen dan
sistem teknologi energi
(sektor manufaktur)
Peningkatan jumlah
produksi komponen
dan sistem fabrikator
lokal
Tersedianya
komponen dan
sistem teknologi
energi yang
diproduksi secara
nasional
Pelaksanaan a.l. :
LPND RISTEK ,
DEPARTEMEN
ESDM dan
Perguruan Tinggi
APEMBERDAYAANINDUSTRINASIONALPADABIDANGENERGIBARUDANTERBARUKAN
(2) Perencanaan
kelistrikan daerah
dan studi kelayakan
teknologi energi
(pembangkit
listrik dg sumber
energi baru dan
terbarukan)
bekerjasama
dengan Pemda dan
swasta
Tersedianya rencana
pembangunan
kelistrikan dan studi
kelayakan pembangkit
listrik energi baru dan
terbarukan
Adanya kesiapan
Pemda dan swasta
untuk menerapkan
pembangkit listrik
energi baru dan ter-
barukan. yang akan
dibangun
Peningkatan
jumlah
pemanfaatan
batubara kualitas
rendah sesuai
target pasokan
batubara dalam
fuel-mix energi
nasional
Pelaksanaan a.l. :
LPND RISTEK ,
DEPARTEMEN
ESDM dan
Perguruan Tinggi
(3) Penyusunan
masukan kebijakan
mengenai
kandungan lokal
komponen teknologi
energi baru dan
terbarukan
Adanya masukan
regulasi untuk
meningkatkan
kandungan lokal
komponen teknologi
energi baru dan
terbarukan.
Terbitnya regulasi
tentang batasan kan-
dungan lokal dalam
penerapan berbagai
sistem teknologi baru
dan terbarukan.
Kemandirian
nasional dibidang
penyediaan
komponen dan
sistem teknologi
yang berbasis
teknologi
energi baru dan
terbarukan.
Pelaksanaan a.l. :
LPND RISTEK ,
DEPARTEMEN
ESDM dan
Perguruan Tinggi
(4) Keringanan pajak
dan dukungan
kemudahan impor
sistem /komponen
teknologi
energi baru dan
terbarukan untuk
pengembangan
dan penguasaan
teknologi tersebut
Insentif pajak dan
dukungan kemudahan
untuk pengembangan
regulasi dan
standardisasi sistem
pendukung dan sistem
produksi teknologi
energi baru dan
terbarukan.
Ketepatan dari
pemerintah tentang
insentif penggunaan
energi yang diproduksi
oleh energi baru dan
terbarukan
Peningkatan
konstribusi
penggunaan
energi baru dan
terbarukan pada
penyediaan
baur-an energi,
pada Pengelolaan
Energi Nasional
2005.
Pelaksanaan a.l. :
LPND RISTEK,
DEPARTEMEN
ESDM dan
Perguruan Tinggi
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
105
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
INDIKATOR
NO KEGIATAN
TARGETCAPAIAN
KEBERHASILAN
SASARAN
KETERANGAN

2009
2009
AKHIR2025
IV PROGRAM PENINGKATAN KAPASITAS IPTEK SISTEM PRODUKSI
(5) Pengembangan
kerjasama litbang
dan kemampuan
sistem produksi
skala industri
(scale-up).
Kerjasama antara
litbang khususnya
LPND Ristek,
Perguruan Tinggi dan
Litbang Departemen
ESDM dalam satu
program peningkatan
hasil IPTEK teknologi
energi baru dan
terbarukan menjadi
skala industri.
Terbentuknya Industri
nasional yang mampu
sepenuhnya dalam
melaksanakan
kegiatan Engineering,
Procurement and
Construction (EPC)
teknologi energi baru
dan terbarukan skala
komersial yang ber-
dasarkan kerjasama
antar litbang
AgendA Riset
106 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
3.3. AGENDA RISET TEKNOLOGI DAN MANAJEMEN
TRANSPORTASI
3.3.1 Latar Belakang Permasalahan
Masalah transportasi adalah masalah yang sangat kompleks karena
mencakup berbagai aspek seperti ekonomi, fnansial, sosial, lingkungan
hidup, politik, bahkan pertahanan dan keamanan serta ketertiban
masyarakat (kamtibmas). Hal ini karena kegiatan transportasi adalah
kegiatan derivatif (derivative demand) yang diturunkan dari berbagai kegiatan
manusia seperti sekolah, bekerja, bisnis, kegiatan sosial, pengiriman
logistik, dan sebagainya.
Transportasi terdiri atas unsur-unsur obyek angkutan (manusia
dan barang), alat angkut (sarana/kendaraan), prasarana dan sistem
(termasuk manajemen, dan lain-lain). Permasalahan yang dihadapi
oleh transportasi antarkota pada umumnya agak berbeda dengan
transportasi perkotaan. Dalam konteks transportasi antarkota (matra air,
darat, maupun udara), permasalahan umum berupa keterbatasan sarana
dan prasarana, baik dalam hal kualitas maupun kuantitas. Sedangkan
dalam konteks transportasi perkotaan, permasalahan umumnya lebih
didominasi oleh kemacetan lalu lintas yang berdampak sangat luas pada
tingkat mobilitas yang merupakan cerminan dari tingginya intensitas
kegiatan sosial ekonomi masyarakat.
Obyek angkutan mencakup jumlah dan karakteristiknya serta
asal ataupun tujuan perjalanan. Dalam hal angkutan penumpang,
permasalahan pokok adalah adanya excess demand dimana jumlah
angkutan selalu lebih tinggi dari pada kapasitas yang tersedia. Hal yang
sama juga terjadi pada angkutan barang dan jasa yang terus meningkat
seiring dengan peningkatan jumlah produksi dan jumlah konsumsi. Oleh
karena itu, salah satu cara mengatasinya yakni dengan menyediakan
moda angkutan yang berkapasitas besar (angkutan massal).
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
107
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
Data tahun 2003 menunjukkan bahwa peran antarmoda dalam
pengangkutan penumpang tidak seimbang. Untuk moda angkutan jalan,
misalnya, peran dalam pengangkutan penumpang mencapai angka sekitar
92 persen, sedangkan moda angkutan kereta api dan Angkutan Sungai,
danau dan Penyeberangan (ASDP) masing-masing hanya mencapai
angka 6 persen dan 1 persen. Hal yang sama juga terjadi pada moda
angkutan laut dan udara yang masing-masing di bawah 1 persen. Oleh
karena itu, untuk meningkatkan peran angkutan laut dan udara sekaligus
meningkatkan sinergi antarmoda, maka perlu diterapkan transportasi
antar/multimoda, khususnya untuk daerah yang pada saat ini tingkat
kebutuhannya sudah sangat tinggi.
Dalam hal sarana dan prasarana, permasalahan yang terjadi
meliputi masalah kapasitas, kenyamanan, keselamatan dan kehandalan.
Permasalahan ini umumnya terjadi karena kapasitas yang tidak men-
cukupi, baik dalam arti jumlah (kuantitas) maupun karena keterbatasan
manajemen sehingga sarana dan prasarana yang ada tidak termanfaatkan
secara optimum.
Permasalahan lain yang terkait dengan sarana adalah dalam peng-
gunaan energi dan dampaknya pada lingkungan hidup. Proporsi peng-
gunaan energi oleh sektor transportasi yang mencapai lebih 30 persen
dari total penggunaan energi nasional yang hampir seluruhnya (92%)
bersumber dari BBM tidak saja menimbulkan masalah pasokan energi
BBM, melainkan juga berdampak buruk pada lingkungan. Oleh karena itu,
penting untuk dipikirkan energi pengganti BBM disatu pihak dan solusi
terhadap pencemaran lingkungan di lain pihak. Selain itu juga penting
untuk dipikirkan penggunaan produk lokal dalam sektor transportasi
agar peran industri dalam negeri dapat bertahan pada era pasar global.
Di samping masalah-masalah di atas, sektor transportasi juga
menghadapi kendala dalam hal kesisteman, yang mencakup antara lain
manajemen/pengaturan, keamanan, kualitas dan kuantitas SDM (sebagai
AgendA Riset
108 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
pelaku perjalanan dan sebagai penyedia jasa), peraturan/perundang-
undangan dan kebijakan pendukung.
Selanjutnya, pembangunan sistem transportasi perlu mempertim-
bangkan aspek kemanusiaan dan keadilan. Aspek kemanusiaan menyangkut
kualitas layanan yang disediakan, sedangkan aspek keadilan menyangkut
kesetaraan aksesibilitas baik yang terkait dengan strata sosial, wilayah, jender
dan lain-lain seperti ibu-ibu hamil, para lanjut usia dan penyandang cacat.
Pada dasarnya keberhasilan pembangunan sektor transportasi tidak
hanya dipengaruhi oleh faktor-faktor internal di dalam sistem transportasi,
tetapi juga oleh faktor-faktor eksternal. Faktor eksternal yang dimaksud
antara lain berupa kebijakan tata ruang yang sangat berpengaruh terhadap
pola perjalanan (orang dan barang), kebijakan energi, lingkungan hidup, serta
peraturan perundang-undangan yang terkait dengan keuangan, perpajakan
dan subsidi yang sangat berpengaruh terhadap iklim investasi, pembiayaan
sektor transportasi, dan peran serta masyarakat.
Berangkat dari kompleksitas permasalahan di atas, riset dibidang
transportasi perlu didukung oleh riset pada bidang-bidang lainnya
seperti (a) sains dasar yang antara lain mencakup material, korosi,
simulasi dan pemodelan, (b) teknologi informasi, dalam rangka
optimisasi kinerja sistem transportasi, (c) energi dan lingkungan hidup
dalam rangka penggunaan energi alternatif dan minimisasi dampak
lingkungan, serta (d) sosial kemanusiaan, dalam rangka memperbaiki
perilaku bertransportasi dan memenuhi permintaan masyarakat.
3.3.2 Arah Kebijakan dan Prioritas Utama
(a) Arah Kebijakan
Salah satu tahap yang paling mendasar yang diperlukan dalam
penyusunan konsep kebijakan adalah tahap identifkasi masalah, khu-
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
109
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
susnya indentifkasi permasalahan kunci yang bernilai strategis. Dalam
identifkasi ini, aspek yang diperhatikan tidak hanya menyangkut tentang
kondisi transportasi yang ada, melainkan juga kemungkinan terjadinya
perubahan di masa datang sesuai dengan visi dan misi yang ditetapkan
dalam Sistim Transportasi Nasional (SISTRANAS).
Pendekatan yang umum digunakan untuk melihat kinerja pe-
nyelenggaraan transportasi adalah dari aspek pemenuhan kebutuhan
transportasi yang memadai dan pelayanan. Kedua aspek ini dapat
dijadikan barometer keberhasilan suatu sistem transportasi. Oleh kare-
na itu, masalah-masalah kunci yang berkaitan dengan pemenuhan
kebutuhan transportasi yang memadai dan pelayanan dapat dianggap
sebagai isu-isu yang strategis bagi keberhasilan ataupun pencapaian
tujuan sistem transportasi nasional yang handal, efektif, efsien, ber-
keadilan, berkelanjutan (sustainable) dan memberi nilai tambah bagi sektor
lain. Pada masa yang akan datang, pembangunan sistem transportasi
diharapkan dapat mendukung pembangunan sektor-sektor lain seperti
pariwisata, pembangunan kawasan perdesaan/terpencil, kawasan per-
kotaan, kawasan perbatasan, dan sebagainya.
Sejalan dengan itu, sampai dengan tahun 2009, arah kebijakan Iptek
untuk pengembangan teknologi dan manajemen transportasi seyogyanya
diarahkan untuk (1) meningkatkan kemampuan ilmu pengetahuan
dan teknologi untuk menjawab berbagai isu yang berkaitan dengan
kebutuhan (demand), pasokan (supply) dan pelayanan transportasi, seperti
keselamatan, keamanan, kehandalan dan kenyamanan, serta terjangkau
masyarakat luas; (2) meningkatkan kemampuan iptek strategis dalam
rangka pengembangan sistem transportasi nasional yang handal, efektif
dan efsien yang sesuai kebutuhan masyarakat, kondisi fsik wilayah
serta sosial-ekonomi budayanya; (3) meningkatkan penguasaan dan
kemampuan teknologi industri dalam negeri untuk mendukung sistem
transportasi nasional guna mendukung kelancaran sistem operasional
AgendA Riset
110 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
dan kemampuan untuk merawat serta ramah lingkungan dan hemat
energi; (4) meningkatkan kapasitas teknologi pada sistem produksi di
dunia usaha dan industri serta peningkatan sinergi antar komponen
sistem inovasi; (5) meningkatkan kemampuan manufakturing teknologi
tinggi dan tepat guna yang berdaya saing internasional untuk mendukung
pembangunan sarana dan prasarana transportasi dan (6) memperkuat
kerja sama kelembagaan yang berkelanjutan dan terintegrasi untuk
mengimplementasikan berbagai rekomendasi hasil riptek dengan men-
sinergikan kemampuan industri nasional.
(b) Prioritas Utama
Prioritas utama dalam pengembangan teknologi dan manajemen
transportasi adalah:
(1) Mengembangkan program-program iptek transportasi dengan kriteria
terintegrasi, sesuai kebutuhan masyarakat serta mengutamakan
keselamatan, keamanan dan kesesuaian dengan komponen lokal,
(2) Meningkatkan riset pengembangan dalam sistem manajemen dan
studi kelayakan transportasi yang mencakup angkutan perkotaan
(urban transportation) dan angkutan umum (public transportation).
Termasuk dalam hal ini adalah demand management, rekayasa
pembiayaan (fnancial engineering), kebijakan tarif dan pricing policy,
kemampuan teknologi dalam negeri dengan memperbesar peng-
gunaan komponen lokal, mitigasi dampak sosial dan lingkungan,
pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) serta
ilmu dasar dalam optimisasi sistem transportasi. Selain itu perlu
pula dipikirkan aspek konservasi energi bagi kegiatan transportasi
misalnya dengan pengembangan kendaraan dengan teknologi
hibrid, penggunaan kendaraan tidak bermotor dsb.
(3) Meningkatkan riset guna mendukung rencana induk (masterplan)
sistem transportasi antar/multi moda di daerah-daerah yang tingkat
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
111
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
kebutuhannya sudah sangat tinggi, seperti Sumatera, Jawa, Bali.
Misalnya riset tentang pengembangan wilayah, tataruang wilayah,
dsb.
3.3.3 Target Capaian 2009 dan Sasaran 2025
Target capaian secara umum sampai dengan tahun 2009 adalah
sebagai berikut:
(1) Digariskannya kebijakan transportasi berdasarkan hasil litbang yang
sesuai dengan kebutuhan masyarakat akan angkutan umum dan
angkutan perkotaan yang mengutamakan keamanan dan keselamatan,
serta sumber daya lokal,
(2) Tersusunnya sistem manajemen serta strategi implementasi sistem
angkutan umum dan angkutan perkotaan yang mencakup antara lain
aspek-aspek pembiayaan, pricing policy, penggunaan komponen lokal,
dampak sosial, dampak lingkungan, pemanfaatan TIK (Teknologi
Informasi dan Komunikasi) serta konservasi energi, multi moda yang
terpadu,
(3) Telah siapnya rencana induk sistem transportasi antar/multi moda
minimal di Pulau Jawa, Sumatera dan Bali, berdasarkan hasil studi,dan
kebijaksanaan pembangunan wilayah atau kawasan,
(4) Telah tersusunnya strategi dan perangkat teknologi yang dibutuhkan
guna mendukung peningkatan kapasitas sarana dan prasarana
transportasi.
Sedangkan sasaran akhir pada tahun 2025 adalah:
(5) Diterapkannya sistem angkutan masal perkotaan di beberapa kota
besar di Indonesia,terpadu dengan angkutan perkotaan lainnya,
(6) Adanya mekanisme subsidi baik secara langsung maupun tidak
langsung (termasuk yang berasal dari pricing policy), yang baku untuk
AgendA Riset
112 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
menunjang terselenggaranya sistem angkutan umum yang terjangkau
oleh masyarakat luas,
(7) Terselenggaranya sistem transportasi yang optimum, terpadu antar
moda, berkeadilan dan ramah lingkungan yang ditunjang oleh pe-
manfaatan TIK (Teknologi, Informasi dan Komunikasi),
(8) Meningkatnya pemanfaatan energi alternatif dan efsiensi penggu-
naan BBM oleh sektor transportasi,
(9) Meningkatnya kontribusi industri dalam negeri di sektor transpor-
tasi yang didukung oleh adanya kebijakan penggunaan industri
dalam negeri,
(10) Hasil riset sistem transportasi antar/multi moda terpadu sudah di-
terapkan di daerah- daerah yang tingkat kebutuhannya sudah sangat
tinggi sesuai masterplan yang disetujui.
3.3.4 Program
Penelitian dan Pengembangan Iptek:
Dalam bidang penelitian dan pengembangan iptek terdapat 6
program sebagai berikut:
(a) Penguatan ilmu dasar seperti (1) teknik simulasi dan pemodelan
dalam rangka optimalisasi sistem transportasi dengan menggunakan
teknik simulasi dan pemodelan, (2) reaksi kimia dalam proses
korosi yang sangat berpengaruh terhadap umur ekonomis sarana
dan prasarana transportasi, (3) matematika, fsika, mekanika, dan
lain-lain yang terkait dengan pemanfaatan energi gelombang untuk
pembangkit tenaga listrik dan efeknya terhadap proses perusakan
lingkungan, penerapan teknologi baru seperti hovercraft, magnetic
levitated train (Maglev), monorail, wing in surface effect (WiSE), kapal sungai,
dan lain-lain. Adapun keluaran yang diharapkan dari kegiatan ini
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
113
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
adalah: (1) model matematika dan atau perangkat lunak yang dapat
digunakan untuk optimasi kinerja sarana dan prasarana transportasi,
(2) metoda, alat atau material yang dapat digunakan untuk me-
ngurangi kecepatan atau bahkan mengeliminasi proses korosi yang
sangat berpengaruh terhadap pengurangan umur ekonomis sarana
dan prasarana transportasi, (3) metoda, rumus, perangkat lunak
dan lain-lain yang dapat digunakan untuk menganalisa prinsip kerja
serta sisi positip dan negatip penerapan teknologi baru serta sebagai
dasar untuk pembangunan prototip teknologi baru, (4) rekomendasi
penerapan teknologi baru, dan (5) prototip teknologi baru.
(b) Studi standardisasi sarana dalam konteks: (1) peningkatan keselamatan
dan keamanan transportasi, (2) transportasi intermodal (3) konservasi
dan penghematan energi, (4) minimalisasi dampak lingkungan,
(c) Penyusunan pedoman dan standar tentang disain teknis serta
manajemen operasional sarana dan prasarana transportasi
antara lain di sistem perawatan,
(d) Evaluasi regulasi/deregulasi di bidang transportasi dalam rangka
efsiensi nasional misalnya dampak Inpres 5 Tahun 2005 tentang
pemberdayaan armada laut nasional, ratifkasi konvensi internasional
di bidang transportasi, dan lain-lain,
(e) Tinjauan terhadap reglemen kereta api dalam kaitannya dengan
sistem persinyalan, Operation Control Centre (OCC), telekomunikasi
dan pengoperasian kereta api modern,
(f ) Regenerasi pesawat udara dikaitkan dengan penuaaan armada
pesawat udara serta perkembangan tingkat kebutuhan angkutan
udara di Indonesia.
Difusi dan Pemanfaatan
Pada bidang difusi dan pemanfaatan iptek, terdapat 3 program
yaitu (a) angkutan perkotaan dan angkutan umum, (b) angkutan umum
AgendA Riset
114 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
masal perkotaan serta (c) diversifkasi dan konservasi energi di sektor
transportasi. Dalam jangka panjang diharapkan peran angkutan umum
dapat dioptimumkan, kemacetan lalu lintas dapat diturunkan dan
dampak lingkungan dapat diminimumkan. Adapun rincian dari ketiga
program yang dimaksud adalah sebagai berikut:
(a) Angkutan perkotaan dan angkutan umum
Dalam konteks angkutan perkotaan dan angkutan umum, masa-
lah utama yang dihadapi adalah kemacetan lalu lintas. Hal ini dapat
disebabkan oleh peran angkutan umum yang tidak optimal, angkutan
umum masal yang masih belum diterapkan di kota-kota besar di Indonesia,
disiplin lalu lintas yang relatif rendah serta belum diterapkannya teknologi
Intelligent Transportation System (ITS). Oleh karena itu maka kajian difokuskan
pada 5 hal yang terkait dengan (1) estimasi permintaan transportasi yang
diperlukan; (2) penentuan proporsi peran angkutan umum dan angkutan
pribadi, (3) angkutan umum masal perkotaan, (4) riset sosial yang terkait
dengan perilaku bertransportasi dan (5) implementasi ITS.
(1) Penentuan Proporsi Peran Angkutan Umum dan Angkutan Pribadi:
Kegiatan penentuan proporsi peran angkutan umum dibanding
kendaraan pribadi (modal split) mencakup hal-hal sebagai berikut
(a) identifkasi kebutuhan sarana dan prasarana transportasi, (b)
kebutuhan biaya investasi untuk penyediaan sarana dan prasarana
angkutan umum, (c) dampak sosial peningkatan penggunaan
angkutan umum, (d) dampak lingkungan peningkatan penggunaan
angkutan umum, serta (e) estimasi konsumsi BBM yang bisa dihemat
akibat peningkatan penggunaan angkutan.
Dari topik-topik kajian tersebut di atas dapat dilihat bahwa hal penting
yang ingin diketahui dari hasil kegiatan ini adalah dinamika kebutuhan
masyarakat terhadap alat angkutan konsekuensi dari peningkatan
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
115
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
peran angkutan umum baik dalam aspek fnansial, dampak sosial,
dampak lingkungan maupun konsumsi penggunaan BBM.
(2) Angkutan Umum Masal Perkotaan:
Dalam penerapan sisem angkutan umum masal, sangat banyak aspek
yang perlu dikaji. Namun demikian mengingat terbatasnya waktu
dan biaya, kegiatan ini minimal mencakup beberapa aspek seperti:
(a) kelayakan teknis dan ekonomis, (b) rekayasa pembiayaan yang
terkait dengan kelayakan fnansial, sumber-sumber pembiayaan
proyek, strategi pengadaan (procurement strategy) dan syarat-syarat
pembiayaan, skenario pembiayaan proyek, sumber-sumber pengem-
balian biaya investasi dan pola pengembalian biaya investasi serta
pola kerjasama pemerintah dan swasta (public private partnership)
yang terkait dengan alokasi resiko, jenis-jenis konsesi yang dapat
diberikan kepada investor, struktur kepemilikan dan pengoperasian
proyek, (c) sistem informasi transportasi antar moda yang akan
sangat membantu bagi penumpang untuk melanjutkan perjalanan
dengan menggunakan moda angkutan yang lain.
Untuk implementasi sistem angkutan umum masal di perkotaan
diperlukan kebijakan pendukung. Kebijakan yang dimaksud terkait
dengan aspek fnansial, penggunaan komponen lokal, aspek keadilan
serta strategi dan regulasi pemasaran.
Dalam aspek finansial, cakupannya adalah (a) kebijakan insentif
dan disinsentif yang terkait dengan biaya produksi, tingkat
pendapatan, tingkat subsidi, serta jenis subsidi langsung atau
tidak langsung, serta konsesi yang diberikan oleh Pemerintah,
(b) sistem tiket terpadu, (c) implementasi pembatasan lalu lintas
baik dengan menggunakan kebijakan fiskal maupun moneter,
termasuk dalam hal ini adalah road pricing, parking pricing, fuel
pricing dalam kaitannya dengan traffic demand management, undang-
AgendA Riset
116 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
undang perpajakan, mekanisme penganggaran, investasi serta
kondisi sosial politik di Indonesia.
Dalam hal penggunaan komponen lokal, persoalan utama adalah
yang tekait dengan kualitas produksi dan resiko kegagalan yang
dihadapi oleh investor. Tingginya resiko kegagalan akan menyulitkan
pihak investor untuk mendapatkan dukungan perbankan, selain itu
hal ini juga akan menyebabkan tingginya biaya asuransi.
Yang dimaksud dengan aspek keadilan adalah kesamaan akses
oleh berbagai komponen masyarakat. Pemanfaatan angkutan
umum masal tidak hanya dimaksudkan untuk para penumpang dari
strata sosial menengah atas, tetapi juga harus dapat diakses oleh
kelompok masyarakat dari strata sosial menengah bawah. Hal ini
berarti harga tiket harus terjangkau dengan tetap mempertahankan
kualitas pelayanan pada tingkat yang memadai. Selain itu, perlu
pula disediakan fasilitas khusus bagi para penyandang keterbatasan
seperti para lanjut usia, ibu-ibu hamil, orang tua yang membawa bayi
serta para penyandang cacat. Persoalan yang dihadapi dalam hal ini
adalah pada satu sisi menyebabkan peningkatan biaya investasi yang
cukup besar, sementara pada sisi yang lain, jumlah penggunanya
relatif sedikit.
Kebijakan lain yang tidak kalah penting adalah yang terkait dengan
strategi dan regulasi pemasaran (marketing). Hal ini diperlukan untuk
mengantisipasi persaingan yang tidak sehat.

(3) Riset Sosial Tentang Perilaku Berlalu lintas
Mengingat rendahnya disiplin lalu lintas di perkotaan, perlu dilakukan
riset sosial tentang perilaku pelaku perjalanan yang terkait dengan
etika berlalu lintas.
Minimal hal-hal yang dicakup dalam kajian ini adalah (a)
pengaruh etika berlalu lintas terhadap tingkat kemacetan dan
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
117
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
tingkat keselamatan, (b) tingkat pemahaman pelaku perjalanan
atas etika berlalu lintas serta undang-undang dan peraturan, (c)
praktek pengambilan SIM dan (d) praktek penegakan hukum di
lapangan.
Setelah didapatkan data tentang hal-hal tersebut di atas, maka perlu
dilakukan kajian-kajian tentang (a) teknik-teknik dan strategi perbaikan
perilaku berlalu lintas serta pendisiplinan penggunaan ruang jalan
melalui teknik-teknik publikasi dan pendidikan masyarakat, serta (b)
penerapan suatu unit yang dapat menampung keluhan dan saran-
saran dari pengguna jasa transportasi dalam rangka mendorong
partisipasi masyarakat.
(4) Implementasi ITS
Salah satu alternatif yang dapat dipergunakan untuk mengurangi
tingkat kemacetan lalu lintas dan optimalisasi sistem transportasi
adalah penerapan teknologi Intelligent Transportation System (ITS).
Oleh karena itu perlu dilakukan kajian untuk melihat sejauh mana
teknologi seperti Global Positioning System (GPS), papan informasi lalu
lintas, detektor lalu lintas, dan lain-lain dapat diterapkan secara
tepat di Indonesia.
(b) Transportasi antar/multi moda
Pada masa yang akan datang, transportasi antar/multi moda
diharapkan dapat menjamin kesinambungan transportasi baik untuk
angkutan penumpang maupun barang dari titik asal ke titik tujuan.
Pada saat ini persoalan yang paling menonjol adalah rendahnya
koordinasi antar moda, sehingga proses pemindahan antar moda
tidak bisa berjalan dengan mulus.
Dalam kaitan dengan hal tersebut kajian tentang transportasi antar/
multi moda mencakup (1) model penyelenggaraan transportasi
AgendA Riset
118 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
antar/multi moda yang optimum, (2) intermodal supply chain security, (3)
prototype intermodal terminal, dan (4) rencana induk sistem transportasi
antar/multi moda di daerah-daerah yang tingkat kebutuhannya sudah
sangat tinggi.
Model penyelenggaraan transportasi antar/multi moda yang
optimum meliputi model kerjasama antara pemerintah-swasta
maupun swasta-swasta, sistem penjaminan resiko dan asuransi dan
peraturan dan kelembagaan yang diperlukan.
Sistem transportasi antar/multimoda mencakup angkutan barang
mudah busuk, barang mudah rusak, barang yang harganya mahal,
sembako, dan lain-lain. Adapun keluaran yang diharapkan antara
lain berupa pola distribusi angkutan barang, lokasi titik-titik simpul
transportasi, moda angkutan yang digunakan dan kompatibilitas
antar moda, prasarana yang dibutuhkan, kebutuhan waktu serta
biaya di setiap titik simpul transportasi akibat adanya perpindahan
moda.
Kajian ini juga mencakup tahapan pengembangan sistem transportasi
antar/multi moda, biaya investasi yang dibutuhkan pada tiap tahapan
serta kajian kelayakan ekonomi dan fnansial.
Selain itu juga dikaji masalah peningkatan reliability dan punctuality
sistem transportasi antar/multi moda dalam rangka peningkatan kinerja
pelayanan, termasuk kinerja pelayanan di simpul-simpul transportasi.
(c) Diversifkasi dan konservasi energi di sektor transportasi
Mengingat tingginya konsumsi energi BBM di sektor transportasi,
serta terbatasnya ketersediaan BBM di masa yang akan datang
maka perlu dilakukan kajian yang terkait dengan diversifkasi dan
konservasi energi.
Dalam konteks tersebut di atas, kajian tentang diversifkasi dan
konservasi energi difokuskan pada 4 hal yaitu (1) konversi moda
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
119
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
angkutan jalan untuk penggunaan energi alternatif seperti (antara
lain) listrik, gas, dan gasohol, (2) pengembangan kendaraan dengan
teknologi hybrid, (3) peningkatan penggunaan kendaraan tidak ber-
motor dan (4) pemanfaatan energi alternatif.
Penguatan Kelembagaan Iptek
Dalam pelaksanaan program-program iptek, sering ditemui kendala
berupa kurangnya koordinasi dan sinergi antar lembaga iptek serta
lemahnya kompetensi lembaga iptek. Dengan demikian maka produk
yang dihasilkan kurang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan efsiensi
proses produksi serta kualitas dan kuantitas produksi.
Berdasarkan hal tersebut maka dianggap perlu untuk melakukan kajian
tentang kerjasama kelembagaan iptek yang mencakup (1) inventarisasi
lembaga iptek yang mencakup kompetensi serta kelengkapan prasarana
dan sarana iptek yang dimiliki dan (2) sistem informasi mengenai
kompetensi serta kelengkapan prasarana dan sarana iptek yang tersedia
pada masing-masing lembaga iptek.
Selain itu perlu pula dilakukan kajian untuk dapat meningkatkan
kompetensi lembaga iptek. Kegiatan yang dimaksud antara lain
mencakup (1) teknik dan strategi peningkatan kompetensi lembaga
iptek serta (2) teknik dan strategi peningkatan kerjasama antara
lembaga iptek dengan pengguna iptek, yaitu industri dan penyedia jasa
transportasi.
Interaksi antara lembaga iptek dengan pengguna iptek sangat penting
karena hanya melalui proses inilah lembaga iptek dapat mengetahui
persoalan-persoalan nyata yang dihadapi oleh pengguna. Selanjutnya
adalah tugas lembaga iptek untuk melakukan kajian-kajian dalam rangka
mencari solusi atas permasalahan yang ada. Dengan demikian maka
hasil kegiatan iptek dapat menjadi lebih aplikatif dan langsung dapat
menjawab persoalan nyata yang dihadapi oleh para pengguna.
AgendA Riset
120 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
Peningkatan Kapasitas Iptek Sistem Produksi
Banyak hal yang terkait dengan peningkatan sistem produksi, tetapi
dalam hal ini difokuskan pada 3 hal yaitu (1) sarana, (2) prasarana dan
(3) sumber daya manusia (SDM).
Dalam hal ini yang terkait dengan sarana misalnya difokuskan pada
pengembangan transportasi antar pulau serta sistem transportasi sungai
dan danau. Sedangkan dalam bidang prasarana difokuskan pada hal-
hal yang terkait dengan peningkatan kualitas dan kapasitas prasarana
transportasi serta pemanfaatanya. Adapun yang terkait dengan SDM
difokuskan pada peningkatan kualitas dan kuantitas.
Fokus kegiatan terkait dengan sarana transportasi
Dalam konteks pengembangan transportasi antar pulau, beberapa hal
yang perlu dikaji adalah (a) pengembangan kapal domestik dan Pelra, (b)
kebutuhan kapal laut penumpang, (c) pengembangan penggunaan kapal
penyeberangan antara lain Ro-Ro, dan (d) evaluasi pelayanan angkutan
penumpang perintis, (e) evaluasi kinerja pelayanan darat/pelabuhan.
Selain itu perlu pula dikaji masalah sarana untuk pengembangan sistem
transportasi sungai dan danau.
Fokus kegiatan terkait dengan prasarana transportasi
Jembatan, jalan, terminal, stasiun, dermaga penyeberangan, pela-
buhan, bandara adalah jenis prasarana transportasi yang perlu dilakukan
kajian-kajian dalam rangka peningkatan kualitas dan kapasitasnya.
Termasuk dalam hal ini adalah penerapan Airport air traffc service technology,
Communication Navigation Surveillance/Air Traffc Management (CNS/ATM), ser-
ta Ground Base Augment System (GBAS).
Hal lain yang perlu dipikirkan adalah peningkatan kapasitas fasilitas
bongkar muat yang mencakup antara lain dermaga, parkir, gudang,
terminal serta sistem bongkar muat dan keserasian pindah moda, serta
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
121
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
pemanfaatan pelabuhan khusus dan bandara khusus untuk pelayanan
umum.
Fokus kegiatan terkait dengan peningkatan SDM
Beberapa hal yang perlu dikaji adalah yang terkait dengan (a)
teknik dan strategi pengembangan SDM transportasi dalam rangka
menghasilkan SDM transportasi yang kompetensinya diakui sesuai
standar internasional (ICAO, IMO, dan sebagainya), (b) inventarisasi
lembaga diklat, kompetensi, kurikulum, serta sarana dan prasarana yang
dimiliki, (c) teknik dan strategi peningkatan kompetensi lembaga diklat,
dan (d) peningkatan pemanfaatan lembaga diklat.
Adapun tentang keluaran dari masing-masing kegiatan serta sasaran
yang ingin dicapai pada tahun 2009 maupun tahun 2025 dapat dilihat
pada tabel di bawah ini.
AgendA Riset
122 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
INDIKATOR
NO KEGIATAN
TARGETCAPAIAN
KEBERHASILAN
SASARAN
KETERANGAN

2009
2009
AKHIR2025
I PROGRAM PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN IPTEK
(a) Penguatan ilmu
dasar
Terlaksananya kajian-
kajian tentang ilmu
da-sar yang terkait
dengan:
1) Optimasi
pengoperasian
sarana dan
prasarana
transportasi
2) Proses korosi
3) Pembangunan dan
atau implementasi
teknologi baru
seperti hover-craft,
maglev, monoraíl,
wing in surface
effect (WiSE), dsb
Tersedianya:
1) Model matematika
dan atau perangkat
lunak untuk
optimasi kinerja sa-
rana dan prasarana
transportasi
2) Metoda, alat, atau
bahan kimia yang
dapat mengurangi
kecepatan atau
mengeliminir
proses korosi
3) Metoda, rumus,
perangkat lunak
yang dapat digu-
nakan untuk men-
ganalisa prinsip
kerja dan penera-
pan teknologi baru,
serta untuk pemba-
ngunan prototip
teknologi baru
4) Rekomedasi pener-
apan teknologi baru
5) Prototip teknologi
baru
1) Tersedianya
sistem
transportasi
yang optimum
2) Proses
korosi dapat
diperlambat
sehingga umur
ekonomis
dapat
diperpanjang
3) Teknologi
baru yang
direkomen-
dasikan
sudah dapat
diiplemen-
tasikan dan
atau diproduksi
di da-lam
negeri
Pelaksana a.l.:
Perguruan Tinggi,
Badan/lembaga
Litbang
Pengguna a.l.:
Pengelola fasilitas
transportasi
(b) Studi standardisasi
sarana dalam
konteks:
1) peningkatan
keselamatan
dan keamanan
transportasi,
2) transportasi
intermodal
3) konservasi dan
penghematan
energi,
4) minimalisasi
dampak
lingkungan
Terlaksananya studi
standardisasi sarana
transportasi
Tersedianya standar
untuk sarana trans-
portasi yang
1) aman,
2) kompatibel,
3) hemat energi,
4) ramah lingkungan
Standar sudah
dibakukan dalam
bentuk undang-
undang
Pelaksana a.l.:
Perguruan Tinggi,
Badan/lembaga
Litbang, BSN
Pengguna a.l.:
Pemerintah (Pusat
dan Daerah),
Penyedia jasa
transportasi
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
123
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
INDIKATOR
NO KEGIATAN
TARGETCAPAIAN
KEBERHASILAN
SASARAN
KETERANGAN

2009
2009
AKHIR2025
(c) Penyusunan
pedoman dan
standar tentang
disain teknis
serta manajemen
operasional sarana
dan prasarana
transportasi
Terlaksananya
penyusunan pedoman
dan standar tentang
disain teknis serta ma-
najemen operasional
sarana dan prasarana
trans-portasi
Tersedianya pedo-man
dan standar tentang:
1) Disain teknis sa-
rana dan prasa-rana
transportasi
2) Manajemen ope-
rasional sarana dan
prasarana trans-
portasi
Standar sudah
dibakukan dalam
bentuk undang-
undang
10 Pedoman dan
standar sudah
dibakukan
dalam bentuk
undang-undang
2) Masalah per-
awatan sarana
dan prasarana
transportasi
sudah dapat
diatasi
Pelaksana a.l.:
Perguruan Tinggi,
Badan/lembaga
Litbang, BSN
Pengguna a.l.:
Pemerintah (Pusat
dan Daerah),
Penyedia jasa
transportasi
(d) Evaluasi regulasi/
deregulasi di
bidang transportasi
dalam rangka
efisiensi na-sional
misal (1) dampak
Inpres 5 Tahun
2005 tentang pem-
berdayaan armada
laut nasional, (2)
ratifikasi konvensi
internasional di
bidang transportasi.
Tersedianya hasil kajian
tentang dampak positip
dan negatip antara lain
akibat:
1) penerapan Inpres 5
tahun 2005
2) ratifikasi konvensi
internasi-onal di
bidang transportasi.
Tersedianya konsep
regulasi/deregulasi
di bidang transpor-
tasi dalam rangka
peningkatan efisiensi
nasional
Meningkatnya
efisiensi di bidang
transportasi
nasional
Pelaksana a.l.:
Perguruan Tinggi,
Badan/lembaga
Litbang
Pengguna a.l.:
Pemerintah (Pusat
dan Daerah),
Penyedia jasa
transportasi laut
(e) Tinjauan terhadap
reglemen kereta api
dalam kaitannya
dengan sistem
persinyalan, OCC,
telekomunikasi dan
pola pengoperasian
sistem kereta api
modern.
Tersedianya hasil kajian
tentang kesesuaian
reglemen dengan
sistem perkeretaapian
modern
Tersedianya konsep
undang-undang dan
peraturan yang se-suai
dengan teknologi
perkeretaapian
modern
Tersedianya un-
dang-undang dan
peraturan yang
sesuai dengan
pengoperasian
sistem perkereta-
apian modern
Pelaksana a.l.:
Perguruan Tinggi,
Badan/lembaga
Litbang
Pengguna a.l.:
Pemerintah (Pusat
dan Daerah),
Penyedia jasa
angkutan KA
AgendA Riset
124 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
INDIKATOR
NO KEGIATAN
TARGETCAPAIAN
KEBERHASILAN
SASARAN
KETERANGAN

2009
2009
AKHIR2025
(f) Regenerasi
pesawat udara
dikaitkan dengan
penuaan armada
pesawat udara serta
perkembangan
tingkat kebutuhan
angkutan udara di
Indonesia
Terselenggaranya ka-
jian tentang regenerasi
pesawat udara
Tersedianya konsep
dan strategi regenerasi
pesawat udara
Tersedianya
armada pesawat
udara dengan
jenis dan jumlah
yang tepat
Pelaksana a.l.:
Perguruan Tinggi,
Badan/lembaga
Litbang
Pengguna a.l.:
Pemerintah,
Penyedia jasa
angkutan udara,
Pengelola bandara
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
125
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
INDIKATOR
NO KEGIATAN
TARGETCAPAIAN
KEBERHASILAN
SASARAN
KETERANGAN

2009
2009
AKHIR2025
II PROGRAM DIFUSI DAN PEMANFAATAN IPTEK
(a) Angkutan perkotaan
dan angkutan
umum
1) Tersedianya
hasil kajian tentang
proporsi peran ang-
kutan umum diban-
ding kendaraan
pribadi (modal split)
dalam kerangka
sistem transportasi
perkotaan
Tersedianya informasi
tentang:
1) Kebutuhan sarana
dan prasarana trans-
portasi
2) Kebutuhan biaya
investasi penyediaan
sarana dan prasa-
rana angkutan umum
(kereta api, bus, dll)
3) Dampak sosial pen-
ingkatan penggunaan
angkutan umum
(kereta api, bus, dll)
4) Dampak lingkungan
pe-ningkatan penggu-
naan angkutan umum
(kereta api, bus, dll)
5) Estimasi konsumsi
BBM yang bisa di-
hemat akibat pening-
katan penggunaan
angkutan umum
(kereta api, bus, dll)
Penggunaan
angkutan umum
dibanding
kendaraan pribadi
sudah berada
pada proporsi
yang tepat
Pelaksana a.l.:
Perguruan Tinggi,
Badan/lembaga
Litbang, Pemda
Pengguna a.l.:
Pemda
2) Terseleng-garanya
kajian tentang Ang-
kutan Umum Masal
perkotaan
Tersedianya informasi
tentang:
1) Kelayakan teknis
2) Kelayakan ekonomi
3) Konsep rekayasa
pembiayaan yang
mencakup antara
lain: kelayakan finan-
sial, sumber-sumber
pembiayaan proyek,
syarat-syarat pem-
biayaan, skenario
pembiayaan proyek,
sumber-sumber
pengembalian biaya
investasi dan pola
pengembalian biaya
investasi, pola ker-
jasama pemerintah
dan swasta (public
private partner-ship).
Sistem angkutan
umum masal su-
dah terimplemen-
tasi di kota-kota
besar di Indonesia
Pelaksana a.l.:
Perguruan Tinggi,
Badan Litbang,
Lembaga Penelitian,
Pemda
Pengguna a.l.:
Pemerintah (Pusat
dan Daerah)
AgendA Riset
126 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
INDIKATOR
NO KEGIATAN
TARGETCAPAIAN
KEBERHASILAN
SASARAN
KETERANGAN

2009
2009
AKHIR2025
4) Sistem informasi trans-
portasi antar moda
5) Kebijakan pendukung
yang mencakup:
(a) kebijakan tarif,
(b) sistem tiket terpadu,
(c) pembatasan lalu
lintas dengan meng-
gunakan kebijakan
fiskal maupun
non-fiskal,
(d) penggunaan kompo-
nen lokal
(e) penyediaan fasilitas
khusus bagi para
lanjut usia, ibu-ibu
hamil, orang tua yang
membawa bayi dan
para penyandang
cacat
(f) strategi dan
regulasi pemasaran
(marketing) terutama
untuk mengantisipasi
persaingan yang tidak
sehat.
Tersedianya informasi
tentang:
1) Pengaruh etika berlalu
lintas terhadap tingkat
kemacetan dan tingkat
keselamatan,
2) Tingkat pemahaman
pelaku perjalanan atas
etika berlalu lintas serta
undang-undang dan
peraturan,
3) Praktek pengambilan
SIM,
4) Praktek penegakan
hukum di lapangan
5) Teknik-teknik dan
stra-tegi perbaikan
perilaku berlalu lintas
serta pendisiplinan peng-
gunaan ruang jalan
6) Unit penampung keluh-
an dan saran-saran dari
masyarakat
3) Terlaksananya riset
sosial tentang peri-
laku pelaku perjalanan
yang terkait dengan
kajian tentang etika
berlalu lintas
Pelaku perjalanan
dapat memahami
undang-undang/
peraturan lalu
lintas, serta
me-matuhi etika
berlalu lintas
Pelaksana a.l.:
Perguruan Tinggi,
Badan/lembaga
Litbang
Pengguna a.l.:
Pemerintah
(Pusat dan Daerah),
Penegak Hukum
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
127
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
INDIKATOR
NO KEGIATAN
TARGETCAPAIAN
KEBERHASILAN
SASARAN
KETERANGAN

2009
2009
AKHIR2025
4) Terselenggaranya
kajian tentang ITS
untuk mengurangi
kemacetan lalu lin-
tas
Tersedianya informasi
tentang peralatan
Intelligent Transporta-
tion System (ITS) yang
sesuai untuk Indonesia
TS sudah terpa-
sang di beberapa
kota besar di
Indonesia, sesuai
tingkat kebutuhan
Pelaksana a.l.:
Perguruan Tinggi,
Badan/lembaga
Litbang
Pengguna a.l.:
Pemda
(b) Transportasi antar/
multi moda
1) Terlaksananya
kajian tentang model
penyelenggaraan
transportasi antar
moda yang optimum
Tersedianya:
1) Model kerjasama
antara pemerintah-
swasta maupun
swasta-swasta
untuk pengemban-
gan transportasi
antar/multi moda
2) Sistem penjaminan
resiko dan asuransi
3) Peraturan dan
kelembagaan yang
diperlukan
Transportasi
antar/multi moda
sudah terseleng-
gara dengan baik
Pelaksana a.l.:
Perguruan Tinggi,
Badan/lembaga
Litbang
Pengguna a.l.:
Pemerintah (Pusat
dan Daerah),
Penyedia jasa
transportasi
antar/multi moda
2) Terselenggaranya
kajian tentang inter-
modal supply chain
security
Tersedianya konsep
penerapan intermodal
supply chain security
Konsep supply
chain security
sudah terimple-
mentasi
Pelaksana a.l.:
Perguruan Tinggi,
Badan/lembaga
Litbang
Pengguna a.l.:
Pemerintah (Pusat
dan Daerah),
Penyedia jasa
transportasi
antar/multi moda
3) Terselenggaranya
kajian tentang
prototipe intermodal
terminal
Tersedianya prototipe
tentang intermodal
terminal
Konsep intermo-
dal terminal su-
dah diimplemen-
tasikan
Pelaksana a.l.:
Perguruan Tinggi,
Badan/lembaga
Litbang
Pengguna a.l.:
Pemerintah,
Pengelola terminal
intermoda
AgendA Riset
128 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
INDIKATOR
NO KEGIATAN
TARGETCAPAIAN
KEBERHASILAN
SASARAN
KETERANGAN

2009
2009
AKHIR2025
4) Terselenggaranya
kajian tentang rencana
induk sistem transpor-
tasi antar/multi moda
di daerah-daerah yang
tingkat kebutuhannya
sudah sangat tinggi
Tersedianya informasi
tentang:
1) Pola distribusi
angkutan barang
2) Lokasi titik-titik simpul
transportasi
3) Moda angkutan
yang digunakan dan
kompatibilitas antar
moda
4) Prasarana yang
dibutuhkan,
5) Kebutuhan waktu dan
biaya di setiap titik
simpul transportasi
akibat adanya perpin-
dahan moda
6) Tahapan pengem-
bangan sistem
transportasi antar/multi
moda serta biaya
investasi yang dibutuh-
kan pada tiap tahapan
7) Kajian kelayakan eko-
nomi dan finansial
Sistem transportasi
antar/multi moda
minimal di pulau
Jawa, Sumatera
dan Bali sudah
diimplementasikan
Pelaksana a.l.:
Perguruan Tinggi,
Badan/ lembaga
Litbang
Pengguna a.l.:
Pemerintah (Pusat
dan Daerah)
5) Terselenggaranya
kajian tentang pe-
ningkatan kinerja
Tersedianya konsep pe-
ningkatan reliability dan
punctuality dalam rangka
peningkatan kinerja pela-
yanan, termasuk kinerja
pelayanan di simpul-
simpul transportasi
Kinerja pelayanan
bisa dioptimumkan
Pelaksana a.l.:
Perguruan Tinggi,
Badan/lembaga
Litbang
Pengguna a.l.:
Pengelola prasarana
transportasi
Terselenggaranya kajian
tentang:
1) Konversi mesin
kendaraan
2) Pengembangan kenda-
raan teknologi hybrid
3) Kebijakan pendukung
yang diperlukan
Tersedianya:
1) Teknik dan prosedur
konversi yang bisa
diakses oleh masyara-
kat luas,
2) Contoh mesin-mesin
yang sudah dikonversi
3) Prototip kendaraan
dengan teknologi
hybrid
4) Kebijakan pendukung
yang diperlukan,
termasuk penggunaan
kendaraan tidak
bermotor
Konsumsi BBM dari
sektor transportasi
dapat diminimumkan
Pelaksana a.l.:
Perguruan Tinggi,
Badan/lembaga
Litbang
Pengguna a.l.:
Pemerintah (Pusat
dan Daerah), Industri
Diversifikasi dan
konversi energi di
sektor transportasi
(c)
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
129
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
INDIKATOR
NO KEGIATAN
TARGETCAPAIAN
KEBERHASILAN
SASARAN
KETERANGAN

2009
2009
AKHIR2025
II PROGRAM PENGUATAN KELEMBAGAAN IPTEK
(a) Model kerjasama
kelembagaan Iptek
Terselenggaranya
kajian tentang:
1) Inventarisasi
lembaga Iptek yang
mencakup kompe-
tensi serta keleng-
kapan prasarana
dan sarana Iptek
yang dimiliki
2) Sistem informasi
mengenai kompe-
tensi serta keleng-
kapan prasarana
dan sarana Iptek
yang tersedia pada
masing-masing
lembaga Iptek
1) Tersedianya
informasi tentang
kompetensi serta ke-
lengkapan prasarana
dan sarana yang
dimiliki oleh setiap
lembaga Iptek
2) Tersedianya sistem
informasi mengenai
kompetensi serta ke-
lengkapan prasarana
dan sarana yang
dimiliki oleh setiap
lembaga Iptek
Terwujudnya
kerjasama dan si-
nergi positip antar
lembaga Iptek
Pelaksana a.l. :
KRT, Perguruan
Tinggi, Badan/Lem-
baga Litbang,
Puspiptek
Pengguna a.l. :
Badan/Lembaga
Iptek
(b) Peningkatan
kompetensi lembaga
iptek
Terselenggaranya kajian
tentang:
1) Teknik dan strategi
peningkatan kompe-
tensi lembaga iptek
2) Teknik dan strategi
peningkatan kerja-
sama antara lemba-ga
iptek dengan peng-
guna iptek (industri
dan penyedia jasa
transportasi)
Tersedianya infor-
masi tentang teknik dan
strategi tentang:
1) Peningkatan kompe-
tensi lembaga iptek
2) Kerjasama antara
lembaga iptek de-
ngan pengguna iptek
(industri dan penye-
dia jasa transportasi)
1) Terdapat hu-
bungan timbal
balik saling
menguntungkan
antara lembaga
iptek dengan
peng-guna iptek
2) Hasil iptek
sudah diman-
faatkan untuk
meningkatkan
efisiensi proses
produksi, serta
kualitas dan
kuantitas hasil
produksi
Pelaksana a.l.:
KRT, Perguruan
Tinggi, Badan/Lem-
baga Litbang
Pengguna a.l. :
Badan/Lembaga
Iptek, industri dan
penyedia jasa
transportasi
AgendA Riset
130 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
INDIKATOR
NO KEGIATAN
TARGETCAPAIAN
KEBERHASILAN
SASARAN
KETERANGAN

2009
2009
AKHIR2025
III PROGRAM PENINGKATAN KAPASITAS IPTEK SISTEM PRODUKSI
(a) Pengembangan
transportasi antar
pulau
Terselenggaranya kajian
tentang:
1) Pengembangan kapal
domestik dan Pelra
2) Kebutuhan kapal laut
penumpang
3) Pengembangan
penggunaan kapal pe-
nyeberangan (antara
lain Ro-Ro)
4) Evaluasi pelayanan
angkutan penumpang
perintis
Tersedianya informasi
tentang:
1) Kebutuhan armada
kapal domestik dan
pelra
2) Kebutuhan armada
kapal laut penum-
pang
3) Kebutuhan armada
kapal penyeberang-
an (antara lain Ro-Ro)
4) Hasil evaluasi
pelayanan angkutan
pe-numpang perintis
1) Sudah terdapat
armada kapal
penumpang,
barang dan
penyeberangan
termasuk kapal
pelra yang
se-suai dengan
kebutuhan
2) Pelayanan ang-
kutan perintis
sudah sesuai
dengan kebu-
tuhan
Pelaksana a.l. :
Perguruan Tinggi,
Badan/lembaga
Litbang
Pengguna a.l. :
Pemerintah (Pusat
dan Daerah), Penye-
dia jasa transportasi
antar pulau
(b) Pengembangan
sistem transportasi
sungai dan danau
Terselenggaranya kajian
tentang:
1) Teknik dan strategi
pengembangan sistem
transportasi sungai dan
danau serta keterpa-
duannya dengan moda
transportasi yang lain
2) Peraturan, kelemba-
gaan serta kebijakan
pendukung yang
dibutuhkan
3) Kelayakan teknis,
lingkungan, ekonomi
dan finansial
Sudah tersedia informasi
tentang:
1) Teknik dan strategi
pengembangan
sistem transportasi
sungai dan danau
serta keterpaduannya
dengan moda trans-
portasi yang lain
2) Peraturan,
kelembagaan serta
kebijakan pendukung
yang dibutuhkan
3) Kelayakan teknis,
lingkungan, ekonomi
dan finansial
Sistem transpor-
tasi sungai dan
danau sudah
termanfaatkan
secara optimum
Pelaksana a.l. :
Perguruan Tinggi,
Badan/lembaga
Litbang
Pengguna a.l.:
Pemerintah (Pusat
dan Daerah), Penye-
dia jasa transpor-tasi
sungai dan danau
(c) Peningkatan
kualitas dan ka-
pasitas prasarana
transportasi, ter-
masuk penerapan
Airport air traffic
service technology,
CNS/ATM
Sudah terselengaranya
kajian tentang peningkat-
an kualitas dan kapasitas
prasarana transportasi
(jembatan, jalan, terminal,
stasiun, dermaga penye-
berangan, pelabuhan,
bandara, dll), termasuk
penerapan Airport air
traffic service technology,
CNS/ATM
Sudah tersedia informasi
tentang:
1) Daftar prasarana
transportasi yang
perlu ditingkatkan
kualitas dan kapasi-
tasnya
2) Daftar airport yang
memerlukan penerap-
an Airport air traffic
service technology,
CNS/ATM
3) Gambaran kelayakan
teknis, ekonomi dan
finansial
Kualitas dan kapa-
sitas prasarana
transportasi sudah
ditingkatkan sam-
pai titik optimum
Pelaksana a.l.:
Perguruan Tinggi,
Badan/lembaga
Litbang
Pengguna a.l.:
Pemerintah
(Pusat dan Daerah),
Pengelola prasarana
transportasi
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
131
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
INDIKATOR
NO KEGIATAN
TARGETCAPAIAN
KEBERHASILAN
SASARAN
KETERANGAN

2009
2009
AKHIR2025
Sudah terselenggara-
nya kajian tentang
peningkatan kapasitas
fasilitas bongkar muat
yang mencakup antara
lain dermaga, parkir,
gudang, terminal.
Sudah tersedia informasi
tentang:
1) Daftar fasilitas bong-
kar muat yang perlu
ditingkatkan
2) Kapasitas dan kinerja
fasilitas bongkar muat
3) Sistem bongkar
muat dan keserasian
pindah moda
4) Kelayakan teknis,
ekonomi dan finan-
sial
Kapasitas fasilitas
bongkar muat
yang mencakup
antara lain derma-
ga, parkir, gudang,
terminal sudah
dapat ditingkatkan
sampai titik yang
optimum
Pelaksana a.l.:
Perguruan Tinggi,
Badan/lembaga
Litbang
Pengguna a.l.:
Pemerintah (Pusat
dan Daerah), Pe-
ngelola prasarana
transportasi
Peningkatan
kapasitas fasilitas
bongkar muat yang
mencakup antara
lain dermaga, parkir,
gudang, terminal.
(d)
Sudah terselenggara-
nya kajian tentang
pemanfaatan
pelabuhan dan
bandara khusus untuk
pelayanan umum
Sudah tersedia informasi
tentang pelabuhan dan
bandara khusus yang
mencakup:
1) Daftar lokasi pela-
buhan dan bandara
khusus
2) Status kepemilikan
3) Data-data teknik
4) Kelengkapan sarana
dan prasarana
5) Sisa kapasitas yang
bisa dimanfaatkan
6) Gambaran kelayakan
teknis serta ekonomi
dan finansial
Beberapa
pelabuhan dan
bandara khusus
sudah dapat
digunakan untuk
pelayanan umum
Pelaksana a.l.:
Perguruan Tinggi,
Badan/lembaga
Litbang
Pengguna a.l.:
Pemerintah (Pusat
dan Daerah),
Pemilik/pengelola
pelabuhan khusus
dan bandara
khusus
Pemanfaatan
pelabuhan khusus
dan bandara khusus
untuk pelayanan
umum
(e)
Terselenggaranya
kajian tentang:
1) Teknik dan strategi
pengembangan SDM
transportasi
2) Inventarisasi lem-
baga diklat, kompe-
tensi, kurikulum
serta sarana dan
prasarana yang
dimiliki
3) Teknik dan strategi
peningkatan kom-
petensi lembaga
diklat
Terersedianya:
1) Informasi tentang
daftar lembaga diklat
lengkap dengan kom-
petensi, kurikulum
serta sarana dan
prasarana yang
dimilikinya
2) Program-program
pengembangan SDM
transportasi di insti-
tusi terkait khususnya
bagi perencana,
regulator dan operator
3) Institusi-intitusi yang
berkompeten dalam
memberikan sertifi-
kasi bagi SDM
Tersedianya SDM
transportasi yang
tersertifikasi se-
suai sandar-stan-
dar internasional
(IMO, ICAO, dll)
dalam jumlah yang
memadai
Pelaksana a.l.:
KRT, Perguruan
Tinggi, Badan /
Lembaga Litbang,
Puspiptek
Pengguna a.l.:
Pemerintah
Pusat dan Daerah,
operator, BSN
Peningkatan SDM
transportasi
(f)
AgendA Riset
132 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
3.4 AGENDA RISET TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI
3.4.1 Latar Belakang Permasalahan
Peradaban dunia pada masa ini dicirikan dengan fenomena
perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) serta kecende-
rungan globalisasi yang berdampak luas di hampir semua bidang kehidup-
an, dari ilmu pengetahuan dan teknologi hingga mainan anak-anak. Salah
satu pendorongnya adalah kemajuan teknologi dan konvergensinya yang
membuahkan integrasi teknologi telekomunikasi, informasi dan multimedia.
Ketika mereka masih berkembang sendiri-sendiri dampak yang dihasilkan
belum sebesar sekarang. Namun ketika telekomunikasi telah memperkaya
teknologi informasi, keduanya menghasilkan jenis-jenis layanan baru yang
belum pernah terwujud sebelumnya.
Layanan-layanan baru tersebut pada dasarnya bertujuan memenuhi
kebutuhan informasi yang disajikan dalam berbagai bentuk. Karena
manusia mengirim dan menerima informasi menggunakan inderanya
(mata, hidung, telinga, dan mulut), maka layanan ini pun berupaya
menyajikan informasi dalam kombinasi berbentuk gambar, grafk, teks,
dan suara. Oleh karena itu, penggunaan berbagai media sebagai data
masukan atau informasi keluaran dari kombinasi alat telekomunikasi dan
komputasi menjadi suatu keniscayaan. Fenomena inilah yang kemudian
disebut sebagai konvergensi teknologi telekomunikasi, informasi, dan
multimedia seperti dalam Gambar 5.
Gambar 5. Konvergensi Teknologi
Data/Text
Multimedia platform
web / internet
terrestial/
Broadcast
Mobile/
Cellular phone
internet protocol Based
Video Voice / Sound
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
133
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
Mewujudkan konvergensi teknologi komunikasi, informasi dan multi-
media memerlukan langkah-langkah strategis, seperti pengadaan sistem
komunikasi masyarakat yang murah, dan migrasi dari sistem penyiaran
analog ke digital. Sistem-sistem ini merupakan infrastruktur dasar untuk
mewujudkan daya guna TIK dalam membangun kemakmuran Indonesia.
Selain itu, TIK juga berfungsi sebagai enabler yang merupakan dasar
berbagai aplikasi dalam banyak aspek untuk meningkatkan produktivitas
kerja, kecerdasan pengambilan keputusan, efektivitas komunikasi, serta
kualitas kehidupan masyarakat. Kegairahan masyarakat luas dalam
menggunakan aplikasi TIK akan mendorong tumbuhnya industri layanan
TIK (seperti informasi dan layanan di bidang transportasi, kesehatan dll),
produk TIK dan daya kreativitas serta inovasi (seperti multimedia creative
digital), sehingga membuka lapangan kerja dan meningkatkan pertumbuhan
ekonomi. Selain itu, pertumbuhan industri TIK juga ikut mendorong
tumbuhnya kemampuan ilmu dan teknologi bangsa Indonesia.
Berdasarkan data yang dilaporkan Business Software Alliance (BSA) dalam
Global Software Piracy, Juli, 2004 terungkap bahwa Indonesia merupakan
salah satu dari empat negara dengan pembajakan perangkat lunak terbesar
yaitu 88%, setelah China (92%), Vietnam (92%), dan Ukraina (91%). Oleh
karena itu perlu ditingkatkan pengunaan perangkat lunak legal dan Open
Source Software (OSS), sehingga ranking pembajak perangkat lunak ke empat
akan semakin turun dan Indonesia keluar dari Priority Watch List.
Pengembangan perangkat lunak berbasis open source juga sangat
penting dalam menurunkan ketergantungan pada satu vendor tertentu
dan mengembangkan pilihan-pilihan yang ekonomis dan dinilai paling
sesuai bagi kebutuhan masyarakat. Dalam konteks ini, menjadi sangat
penting kuatnya komitmen, baik pemerintah maupun kalangan
pendidikan, penelitian dan pengembangan untuk secara proaktif men-
dorong kreativitas dan inovasi, serta sekaligus berupaya mengatasi
permasalahan ini.
AgendA Riset
134 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
Sehubungan dengan itu diperlukan langkah-langkah strategis dan
prioritas untuk penelitian dan pengembangan, untuk penyusunan
kebijakan, regulasi dan standardisasi, peningkatan kemampuan SDM,
penguasaan sains dasar dan untuk membangun kemandirian di bidang
TIK yang menjunjung tinggi nilai-nilai sosial kemanusian.
3.4.2. Arah Kebijakan dan Prioritas Utama
Kegiatan riset bidang TIK diarahkan dan terkait dengan program
strategis di berbagai sektor/bidang dan stakeholders yaitu: masyarakat
menuju knowledge-based society, terutama agar seluruh masyarakat dapat
menikmati manfaat TIK yang terjangkau, sehingga menjadi produktif,
cerdas, dan kreatif; pemerintah menuju e-Government, terutama agar roda
pemerintahan dan layanan pemerintah dapat berjalan lancar, hemat, dan
bebas korupsi, serta masyarakat demokratis dapat terwujud; pelayanan
publik menuju e-Services, terutama agar sektor layanan publik dapat
berjalan dengan efektif, berkualitas dan efsien (hemat) pada target
layanannya; industri (termasuk BUMN) menuju industri TIK global, terutama
agar industri nasional tumbuh berkembang dalam era persaingan
global dan menjadi tuan rumah di Indonesia; dan masyarakat iptek dan
lembaga risetnya menuju kelas dunia, terutama agar iptek yang strategis
dikuasai lembaga nasional, serta masyarakat iptek Indonesia tumbuh
dalam lingkungan dan budaya yang kondusif menuju kelas dunia dalam
menghasilkan iptek baru.
Prioritas utama kegiatan riset bidang TIK terbagi dalam 4 kategori
yaitu (1) Program penelitian dan pengembangan TIK untuk telekomunikasi
masyarakat pedesaan berbasis Internet Protocol (IP) dan penyiaran berbasis
digital (digital broadcasting). (2) Program difusi dan pemanfaatan TIK
untuk modernisasi ekonomi lokal/daerah, riset dasar, pengembangan
SDM, kepemimpinan (leadership) dan nilai-nilai sosial kemanusiaan,
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
135
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
serta pemanfaatan TIK berbasis perangkat lunak open source. (3) Program
penguatan kelembagaan TIK untuk pengkajian dan penyusunan kebi-
jakan bidang teknologi informasi, komunikasi dan broadcasting, untuk
pengembangan standarisasi bidang TIK dan untuk penyusunan indikator
dan statistik TIK. (4) Program peningkatan kapasitas iptek sistem produksi
untuk Creative Digital, untuk pengembangan perangkat keras dan lunak
murah, untuk pengembangan klaster industri TIK, untuk pengembangan
sistem pembiayaan dan skema insentif bagi pemajuan industri TIK serta
untuk pengkajian, pembinaan dan pelayanan audit/assessment TIK.
3.4.3. Target Capaian 2009 dan Sasaran 2025
(a) Target Capaian 2009:
Target capaian tahun 2009 untuk program penelitian dan pengembangan
TIK adalah diperolehnya teknologi telekomunikasi pedesaan berbasis
IP atau Rural Next Generation Network (R-NGN), mampu mengembangkan
prototipe produk TIK termasuk elektronika industri yang digunakan untuk
substitusi impor atau sebagai basis pengembangan teknologi/industri
nasional masa depan, dan mampu membuat pemancar dan penerima serta
aplikasi pada program penyiaran TV Digital. Sedangkan untuk program
difusi dan pemanfaatan TIK akan menjadikan Open Source Software (OSS)
sebagai alternatif perangkat lunak bagi pengembang maupun pengguna,
meningkatnya aplikasi TIK dalam pencapaian sasaran MDG (Millennium
Development Goals), peningkatan IPM (Indeks Pembangunan Manusia), dan
pembangunan ekonomi lokal/daerah. Untuk program penguatan kelembagaan
TIK menargetkan tersedianya perangkat kebijakan/regulasi untuk bidang
teknologi informasi, komunikasi dan broadcasting sebagai landasan bagi
kepastian hukum dan untuk menjamin penegakan hukum tanpa standar
ganda, dalam rangka menciptakan iklim usaha yang kondusif bagi operator
AgendA Riset
136 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
dan industri TIK, serta perkembangan investasi, tersusunnya standar untuk
menjamin interoperabilitas dan interkonektivitas berbagai perangkat keras
dan perangkat lunak di bidang TIK, dan tersedianya indikator & statistik
serta kajian tentang status dan perkembangan di bidang TIK. Untuk program
peningkatan kapasitas iptek sistem produksi TIK menargetkan agar kegairahan
kreativitas (creative excitement) dalam kehidupan melalui penggunaan teknologi
digital secara artistik dapat lebih berkembang, produk-produk TIK yang
semakin terjangkau oleh masyarakat pengguna, industri TIK nasional dapat
berdaya saing, berkembangnya lembaga pembiayaan, skema pembiayaan,
dan skema insentif yang diperlukan bagi perkembangan industri TIK yang
ada maupun yang baru/pemula, dan berkembangnya praktik baik/terbaik
pendayagunaan TIK nasional.
(b) Sasaran 2025:
Adapun sasaran yang diharapkan dicapai pada tahun 2025 adalah
menjadikan Indonesia sebagai pusat teknologi dan mendominasi industri R-
NGN, kemandirian dalam industri teknologi digital broadcasting, regulasi dan
standardisasi di bidang teknologi informasi, komunikasi dan penyiaran yang
terintegrasi, pemanfaatan OSS sebagai alternatif software legal secara Nasional,
Industri software lokal memenuhi kebutuhan Nasional dan menyerap pasar
regional, dan menjadikan pusat budaya Indonesia yang berbasis digital.
3.4.4. Program/Kegiatan
(a) Penelitian dan Pengembangan Telekomunikasi Berbasis Internet
Protocol (IP) untuk Masyarakat Perdesaan
Penelitian dan pengembangan TIK untuk perdesaan didasarkan
pada sistem komunikasi Next Generation Networks (NGN), di mana jejaring
protokol internet (internet protocol, IP) sebagai intinya. Pengembangan
aplikasi teknologi NGN untuk area pedesaan disebut Rural NGN (R-NGN).
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
137
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
R-NGN ini diharapkan dapat menawarkan akses internet yang terjangkau
bagi masyarakat di perdesaan, dan sekaligus memicu pengembangan
industri dalam negeri.
Hambatan dalam pengembangan R-NGN terutama adalah kondisi
alam tropis dan geografs Indonesia yang berbentuk negara kepulauan,
dan tingkat daya beli masyarakat pedesaan yang umumnya masih
rendah. Oleh karena ini, dalam pengembangan R-NGN diupayakan
berbagai inovasi baik dalam aspek teknologi, pengembangan produk,
aplikasi, aspek ekonomi/bisnis, maupun dalam strategi penerapan
(deployment).
R-NGN menggunakan teknologi internet sebagai teknologi trans-
port, dan multimedia coding and compression sebagai teknologi telepon.
Dengan demikian R-NGN diharapkan akan membawa internet sampai ke
desa-desa, sambil memberikan layanan telepon di atasnya. Impelementasi
R-NGN menggunakan pendekatan jejaring tiga lapis yaitu; lapis pertama
adalah Highly Predictable Networks (HPN), seperti fber optics (FO) dan public
switched telephone networks (PSTN). Jejaring ini sangat stabil, dan dimaksudkan
untuk melayani kelompok masyarakat dengan populasi padat dan
berpendapatan tinggi di kota-kota besar dan daerah urban. Sedangkan
lapis kedua adalah Medium Predictable Networks (MPN), seperti satelit
dan seluler. Jejaring semacam ini melayani masyarakat berpendapatan
menengah di daerah suburban dan kota kecil. Selanjutnya lapis ketiga
adalah Low Predictable Networks (LPN), yang dibentuk berdasarkan prinsip
jejaring adhoc. Jejaring semacam ini menggunakan Wif, Wimax, dan
teknologi mesh untuk melayani masyarakat ber-penghasilan rendah dan
berpopulasi tidak padat di daerah perdesaan.
Adapun teknologi kunci yang dibutuhkan bagi implementasi R-NGN
meliputi: NGN berbasis IP menggunakan teknologi generasi 4 (4G), smart
wireless IP menggunakan smart antenna dan softradio, multimedia dan creative
excitement untuk pengembangan aplikasi, softswitch heterogeneous dengan
AgendA Riset
138 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
software suites untuk produktivitas operasi dan bisnis, dan sistem digital
signal processing (DSP) low power berbasis komponen komoditas.
(b) Program pengembangan dan penelitian teknologi penyiaran
berbasis digital (digital broadcasting)
Salah satu kelebihan gambar digital adalah bebas dari “ghosts” dan
“snow” seperti yang biasa terjadi pada TV analog. TV analog di negara
maju diperkirakan dioperasikan sampai akhir 2008, dan dalam waktu
yang cepat kondisi negara berkembang seperti Indonesia juga akan
meninggalkan TV analog. Akan tetapi konsumen selalu menginginkan
untuk menikmati teknologi yang paling baru dengan biaya yang murah,
sehingga diperlukan inverter (set top box) yang dapat mengubah signal
digital ke analog sehingga dapat dilihat dengan menggunakan pesawat
TV biasa.
Dengan cepatnya perkembangan teknologi, maka bentuk penyiaran
seperti radio dan televisi juga mengalami perubahan teknologi dari
sistem analog menjadi sistem digital, sehingga dapat terintegrasi dengan
sistem komunikasi dan komputer.
Oleh karena itu kegiatan pengembangan dan penelitian (R&D) yang
harus dilakukan meliputi Packetized Elementary Streams (Coding, compression,
Formatting) dan Program Stream Multiplex and Transport stream yang
dilaksanakan dalam 2 (dua) tahun yaitu 2006-2007. Sedangkan untuk
modul: RF/Transmission System (modulasi 8-VSB), Cable Head-End jika
menggunakan sistem kabel (16-VSB), Receiver dan Set Top Box dilaksanakan
selama 2 (dua) tahun yaitu 2007-2008.
Sistem yang dikembangkan tersebut belum HDTV, tetapi dalam rangka
menuju ke HDTV yang menjadi sasaran untuk 2025 atau bisa menjadi
lebih cepat lagi, karena perkembangan dalam bidang digital ini akan
dapat menjadi sangat cepat jika ada penemuan di bidang komponen.
Berhubung ketergantungan Indonesia dari komponen dan material
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
139
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
bahan baku industri dari luar sangat tinggi, maka perlu ada dukungan
yang jelas dalam industri tersebut, agar perkembangan industri TVD
diharapkan dapat terwujud. Untuk menuju suatu sistem baru seperti
broadcasting televisi yang menggunakan sistem digital (Broadcasting
Televisi Digital - TVD) harus didukung juga dengan kebijakan, peraturan
atau perijinan yang jelas, dan standardisasi.
Selain itu, dalam perkembangan TV broadcasting yang ada di Indonesia
saat ini, terutama TV swasta, pemancarnya sudah menggunakan digital
dengan sistim QPSK, yang dipancarkan ke Satelit, sehingga dengan receiver
digital yang diterima dari satelit, masyarakat sudah bisa menikmati hasil TV
digital, walaupun belum HDTV. Tahap ini dapat disahkan Pemerintah dan
menjadi model yang paling cepat untuk menuju ke broadcasting TVD.
(c) Program kajian regulasi untuk bidang teknologi informasi,
komunikasi dan broadcasting
Program kajian regulasi untuk bidang teknologi informasi, komunikasi
dan broadcasting dapat meliputi penyusunan Undang-Undang (UU) baru
dan penyempurnaan berbagai kebijakan dan regulasi yang terkait dengan
teknologi informasi, komunikasi dan broadcasting. Seperti penyempurnaan
Cetak Biru Telekomunikasi dan UU Telekomunikasi No. 36/1999 yang
dirasakan sudah mulai ketinggalan dengan perkembangan teknologi dan
tuntutan masyarakat. Penyelesaian Rancangan UU tentang Informasi
dan Transaksi Elektronik dan berbagai UU lain yang dapat mendorong
pertumbuhan aplikasi IT sangat diharapkan dapat direalisasikan
dalam waktu 2006-2009. Termasuk dalam kerangka regulasi ini adalah
mempercepat terlaksananya proses kompetisi yang sebenar-benarnya
dalam penyediaan jasa telekomunikasi sehingga dapat memberikan
perbaikan kondisi layanan, kemudahan bagi pengguna jasa, serta harga
yang ekonomis.
AgendA Riset
140 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
Kegiatan kajian untuk regulasi lebih banyak berupa kajian untuk di-
gunakan oleh badan regulator sebagai bahan referensi antara lain; (1) Kajian
kebijakan bidang penataan frekuensi, pemanfaatan Spektrum Frekuensi
Radio sebagai sumber daya alam tersebut perlu dilakukan secara tertib,
efsien dan sesuai dengan peruntukannya, sehingga tidak menimbulkan
gangguan yang merugikan. (2) Kajian kebijakan bidang digital broadcasting,
penetapan kebijakan bahwa kita bangsa Indonesia akan menuju ke TVD,
perlu ditekankan dan dicanangkan oleh pemerintah mulai kapan, sehingga
infrastruktur yang diperlukan dapat direncanakan untuk dibangun. (3) Kajian
kebijakan untuk infrastruktur Telekomunikasi dan Informasi. (4) Kajian
kebijakan pengembangan SDM TIK. (5) Kajian kebijakan pengembangan
sistem kelembagaan TIK. (6) Kajian kebijakan untuk perlindungan perangkat
lunak produk nasional. (7) Kajian kebijakan pengembangan industri TIK.
(d) Program pengembangan standardisasi bidang TIK
Standardisasi dibidang TIK sebagai suatu unsur penunjang pem-
bangunan mempunyai peran penting dalam usaha optimasi pen-
dayagunaan sumber daya dan seluruh kegiatan pembangunan di bidang
informasi dan komunikasi. Perangkat standardisasi termasuk juga
perangkat pembinaan dan pengawasan di dalam akan sangat berperan
dalam peningkatan perdagangan dalam negeri dan internasional,
pengembangan industri nasional, dan perlindungan terhadap pemakai
serta terwujudnya jaminan mutu perangkat informasi dan komunikasi.
Dengan demikian standardisasi dapat digunakan sebagai alat kebijakan
pemerintah untuk menata struktur ekonomi secara lebih baik dan
memberikan perlindungan kepada umum. Selain itu juga untuk
menunjang tercapainya tujuan-tujuan strategis antara lain peningkatan
ekspor bidang TIK, peningkatan daya saing produk TIK dalam negeri
terhadap barang-barang impor, dan peningkatan efsiensi nasional.
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
141
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
Kegiatan pengembangan untuk standardisasi lebih banyak be-
rupa kajian untuk melihat komponen yang diperlukan dilakukan
standardisasinya antara lain; (1) Standardisasi Digital Broadcasting,
dalam perkembangan teknologi TVD ada beberapa standar yang
saat ini digunakan, yaitu: Standard Definition TV (SDTV) merupakan
kualitas dasar display dan resolusi untuk analog maupun digital.
Enhanced Definition TV (EDTV) adalah satu step lebih baik dari televisi
analog. Kualitas lebih baik dari SDTV tapi belum sebaik HDTV. High
Definition TV (HDTV) dengan layar lebar(16:9) memberikan kualitas
gambar dan resolusi yang tinggi. (2) Standardisasi perangkat sis-
tem telekomunikasi berbasis IP. (3) Standardisasi perangkat dan
komponen penyelenggaraan penyiaran digital. (4) Standardisasi un-
tuk audit sistem informasi. (5) Standardisasi hardware dan software open
source. (6) Standardisasi profesi TIK
(e) Program difusi dan pemanfaatan TIK untuk riset dasar, pe-
ngembangan SDM, leadership dan nilai-nilai sosial kemanusiaan
Perkembangan suatu teknologi termasuk TIK didukung oleh dua pilar
pertahanan yang kokoh, yakni kemajuan teknologi dan perkembangan
pasar yang semakin meluas. Kemajuan teknologi ditentukan oleh
penguasaan ilmu pengetahuan (termasuk riset dasar), teknologi baru
dan SDM, sedangkan perkembangan pasar tidak lepas dari kondisi sosial
budaya masyarakat.
Untuk itu perlu dilakukan kajian: 1) kajian dukungan riset dasar
pada bidang TIK, 2) kajian pengembangan SDM dan leadership TIK, 3)
kajian dampak sosial kemanusiaan yang terkait dengan bidang TIK.
Kegiatan dari riset dasar yang mendukung TIK antara lain: 1) kajian
mitigasi bencana dengan menggunakan sarana prasarana TIK; 2) kajian
material yang menunjang pengembangan bidang TIK; (3) kajian dampak
AgendA Riset
142 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
lingkungan Electromagnetic Compatibility (EMC) terhadap kehidupan; (4)
penelitian teori dasar dan elektronika bidang TIK.
Kegiatan Kajian pengembangan SDM dan kepemimpinan (leadership)
antara lain: (1) kajian strategi dan kapasitas pengembangan SDM bidang
TIK; (2) kajian kompentensi standard SDM di bidang TIK; (3) kajian
pengembangan kurikulum di pendidikan dasar, menengah dan tinggi
untuk pengajaran bidang TIK; (4) kajian pembentukan Chief Information
Offcer (CIO) pada setiap institusi.
Kegiatan Kajian Sosial Kemanusiaan di bidang TIK ditujukan untuk
meningkatkan peluang keberhasilan difusi TIK dan perubahan sosial
kemanusiaan yang diimplikasikannya. Kajian-kajian tersebut antara
lain adalah: (1) kajian kesetaraan Akses Masyarakat pada fasilitas TIK;
(2) kajian isu pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk
pemeliharaan dan pengembangan bahasa dan pengetahuan indigeneous;
(3) kajian kesetaraan strata sosial, regional (kewilayahan), jender,
yang terkait dengan infrastruktur dan peralatan (device) informasi dan
komunikasi; dan implikasinya pada komunikasi lintas-kultural dan pada
kualitas pendidikan publik;

(f) Program difusi dan pemanfaatan TIK untuk perangkat keras dan
lunak berbasis open source
Salah satu isu global tentang TIK adalah Open Source Software (OSS),
yang merupakan perangkat lunak yang sumbernya atau kode programnya
terbuka, artinya dapat dikembangkan lagi sesuai kebutuhan pengguna. OSS
ini menjawab tantangan yang disebabkan oleh banyak beredarnya perangkat
lunak bajakan atau illegal, melanggar undang-undang Hak Atas Kekayaan
Intelektual (HAKI). Secara Internasional, Indonesia masih termasuk dalam
daftar Negara prioritas untuk diawasi (Priority Watch List) berdasarkan
usulan International Intellectual Property Alliance (IIPA) kepada United State Trade of
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
143
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
Representative (USTR), salah satunya karena dianggap belum berhasil dalam
mengatasi pembajakan perangkat lunak komputer.
Kalau dicermati perkembangan di luar negeri, sebenarnya gerakan
pengembangan open source sudah merupakan kecenderungan (trend) terutama
di dunia pendidikan dan penelitian. Hal ini perlu ditegaskan kembali,
karena sebagian masyarakat masih meragukan kualitas perangkat lunak open
source. Karena itu, komitmen harus dimulai dengan dimilikinya keyakinan
bahwa pemanfaatan perangkat lunak open source dapat menjadi salah satu
alternatif sebagaimana halnya perangkat lunak proprietary. Pilihan ini sangat
relevan diwacanakan terutama berkaitan dengan resahnya kalangan Usaha
Kecil dan Menengah yang sedang menghadapi razia (sweeping) karena
diduga menggunakan perangkat lunak bajakan. Namun demikian, sebelum
menjatuhkan pilihan, masyarakat tentu harus diyakinkan, bahwa perangkat
lunak open source merupakan pilihan rasional yang tidak kalah kelas dengan
perangkat lunak yang berbasis proprietary.
Adapun kegiatan difusi dan pemanfaatan iptek TIK untuk perangkat
keras dan lunak berbasis OSS antara lain; (1) kajian pengembangan Indonesia
Go Open Source (IGOS), untuk meningkatkan akselerasi pendayagunaan OSS
di Indonesia; (2) pengembangan aplikasi berbasis OSS untuk penelitian,
industri dan dunia usaha untuk perangkat lunak berbasis Open IT Standard,
Rebranding perangkat lunak RI berbasis OS, dan aplikasi untuk sistem
peringatan dini suatu bencana alam; (3) pengembangan Isi (Content) dalam
pemanfaatan data dan informasi IPTEK; (4) pengembangan perangkat keras
murah berbasis sistem thin/thick clients.
(g) Program peningkatan kapasitas iptek TIK untuk creative digital
TIK telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari produktivitas
semua organisasi, besar atau kecil. Revolusi multimedia membuka
jalan bagi integrasi daya ekspresi seni dan kultural manusia/masyarakat
AgendA Riset
144 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
ke dalam TIK. Bagi bangsa Indonesia yang kaya akan keanekaragaman
budaya dan seni, revolusi multimedia membuka peluang untuk
menumbuhkembangkan kegiatan-kegiatan yang mempunyai kreativitas
seni yang tinggi baik di perkotaan maupun di perdesaan. Ini pada
gilirannya akan menjadi faktor penting dalam penciptaan nilai ekonomi
dan pemerataan kesejahteraan melalui TIK.
Segmen pasar potensial bagi industri multimedia sangat luas, karena
mencakup area global. Dengan demikian, volume transaksi pasar juga sangat
besar, dan diperkirakan akan tumbuh seiring dengan perkembangan ekonomi
global. Lebih dari itu, perkembangan industri multimedia di Indonesia
memiliki pijakan untuk bisa berkelanjutan (sustainable), oleh karena adanya
modal budaya dan seni bangsa Indonesia yang sangat besar.
Program creative digital memiliki misi untuk menumbuhkembangkan
kegairahan kreatif (creative excitement) melalui penggunaan tekhologi digital
secara artistik. Seperti terlihat pada Gambar 6, kegairahan kreatif ini
disematkan (embedded) di dalam produk dan jasa industri di Indonesia, yang
dicapai melalui penambahan nilai ekonomik, nilai artistik, nilai daya guna,
dan nilai kebaruan karena menggunakan teknologi baru. Dengan perkataan
lain, misi dari program ini adalah memberikan sentuhan dan kandungan seni
digital pada berbagai produk dan jasa industri nasional, sehingga produk dan
jasa tersebut memiliki daya tarik dan kegairahan kreatif.

Gambar 6. Misi dari multimedia center: menghasilkan creative excitement bagi pengem­
bangan industri seni digital Indonesia yang sustainable.
Valusable
New
Technology
Useful Artistic
Creative
Excitement
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
145
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
Masukan utama dari program ini adalah aset yang intangible, para
insan seni digital, insan teknologi multimedia, dan insan budaya kreatif.
Luaran atau outcome utama program ini adalah tumbuh berkembangnya
berbagai bentuk creative excitement. Dalam kerangka upaya mencapai sasar-
an misi tersebut, telah digagas pendirian Pusat Multimedia Internasional
(International Multimedia Center), dengan lokasi (di tahap awal ini) di
Bandung, Yogyakarta, dan Bali. Pusat ini bertujuan untuk membangun,
memelihara, dan mengembangkan kompetensi dan aset intangible di
bidang multimedia, dengan tujuan untuk menstimulasi dan memacu
tumbuhnya industri TIK multimedia. Dalam pusat multimedia ini juga
terdapat proses produksi internal untuk menghasilkan produk dan jasa
seni digital yang bernilai creative excitement, dengan memanfaatkan aset
seni digital. Di masa depan, program creative excitement diharapkan menjadi
sebuah basis penting bagi pengembangan bisnis Indonesia yang unggul
dalam industri multimedia artistik di tingkat internasional
AgendA Riset
146 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006

NOTARGETCAPAIAN TAHUN INDIKATOR SASARAN2005 KETERANGAN
I PROGRAM PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN IPTEK
(1) Penguasaan
Teknologi R-NGN
2006-2012 Dihasilkannya Paten,
Paper, Prototip, Testbed
Pusat teknologi R-NGN
dunia
Pelaksana a.l.:
• Program lisensi
teknologi dan R&D
bersama di lembaga
penelitian perguruan
tinggi, LPND Ristek
dan R&D Industri
• Menggalang
Konsorsium KITNAS
• Depkominfo
mengadopsi R-NGN
sebagai sistem
komunikasi rural
terintegrasi dengan
HPN dan MPN
• Operator Nasional
dan Daerah
berinvestasi
mengoperasikan
R-NGN dengan high
performance low cost
system
Pengguna a.l.:
• Masyarakat di daerah
pedesaan
• UKM akan
mengembangkan
konten diberbagai
aspek
A PROGRAMPENGEMBANGANDANPENELITIANTELEKOMUNIKASIBERBASISIPUNTUK
MASYARAKATPEDESAAN
(2) Pengembangan
produk R-NGN oleh
industri nasional
2006 Produk masuk pasar dan
lulus sertifikasi
Dominasi industri
R-NGN
(3) Pengoperasian
produk R-NGN
pada Testbed/
daerah USO
2007 Operasi R-NGN berhasil
di daerah target
Program USO berhasil
(4) Sistem R-NGN
digunakan di
seluruh Indonesia
2008 Sistem R-NGN berop-
erasi di seluruh desa
Digital Divide di
Indonesia teratasi
(5) Sistem R-NGN
digunakan di pasar
dunia ketiga
2010-2012 Ekspor produk R-NGN
dan penggelaran R-NGN
di luar Indonesia
Industri Indonesia
menjadi kekuatan global
(1) Pengembangan
Perangkat lunak untuk
digital broadcasting
yaitu : Coding,
Compression, formatting
dan Multiplexing.
2006 Tersedianya Industri
perangkat komponen
untuk penyelenggaraan
penyiaran TV Digital
Program Penyiaran TV
Digital dengan teknologi
HDTV
Pelaksana Kegiatan a.l.:
• Depkominfo melakukan
kajian dan mengeluarkan
regulasi untuk digital
Broadcasting.
BPROGRAMPENGEMBANGANDANPENELITIANTEKNOLOGIPENYIARANBERBASISDIGITAL
(digital BroadCasting)
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
147
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006

NOTARGETCAPAIAN TAHUN INDIKATOR SASARAN2005 KETERANGAN
(2) Pengembangan
Perangkat keras
untuk digital
broadcasting yaitu:
RF Transmitter,
Set Top Box dan
Receiver
2007 Tersedianya Industri set
top box dan receiver
Program Penyiaran TV
Digital dengan teknologi
HDTV
Pelaksana al:
• LPND Ristek dan Uni-
versitas melakukan
inovasi IPTEK digital
Broadcasting.
• BSN mengeluarkan
standar sistem
penyiaran digital,
• Industri atau BUMN
memproduksi
komponen pendukung
dan perangkat yang
sesuai dengan
standard
Pengguna a.l.:
• Masyarakat Indonesia
• Lembaga penyiaran
akan mengembang-
kan konten dalam
berbagai aspek
(3) Pelaksanaan
penyiaran TV
dengan sistem dan
teknologi Digital di
Indonesia
2008 Terimplementasikannya
penyiaran digital
CPROGRAMKAjIANREGULASIUNTUKBIDANGTEKNOLOGIINFORMASI,KOMUNIKASIDANBroadCasting
(1) Kajian regulasi
untuk infrastruktur
Telekomunikasi dan
Informasi
2006 Tersedianya regulasi
infrastruktur bidang TIK
Regulasi di bidang
teknologi, informasi
dan broadcasting yang
terintegrasi
Pelaksana Kegiatan a.l.:
• Depkominfo berkoor-
dinasi dengan semua
lembaga litbang
dan LPND Ristek
untuk membuat kajian
beberapa regulasi.
• Depkominfo menso-
sialisasi regulasinya
ke semua stake
holders dan DPR.
• Depkominfo menge-
luarkan regulasi baru.
• DRN membuat
e-performance untuk
peneliti
(2) Kajian regulasi
kompetisi dan
tarif untuk
telekomunikasi dan
Informasi
2006 Tersedia sistem
kompetisi dan tarif akses
komunikasi dan infor-
masi yang terjangkau
(3) Kajian regulasi
untuk penggunaan
frekuensi
2006 Tersedianya regulasi
perijinan frekuensi yg
komprehensif
(4) Kajian regulasi
pengembangan
SDM dibidang TIK
2006 Tersedianya regulasi
SDM di bidang TIK
AgendA Riset
148 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006

NOTARGETCAPAIAN TAHUN INDIKATOR SASARAN2005 KETERANGAN
(5) Kajian regulasi
pengembangan
sistem
kelembagaan
dibidang TIK
2006 Tersedianya regulasi
kelembagaan di bidang
TIK
(6) Kajian regulasi
untuk sistem dan
teknologi penyiaran
digital
2007 Tersedianya regulasi un-
tuk sistem dan teknologi
penyiaran digital
(7) Penyusunan
Peraturan dan
Perijinan untuk
Penyiaran yang
menggunakan
Sistem Digital
2007 Tersedianya regulasi
sistem digital
(8) Kajian sistem
kovergensi
teknologi informasi
dan komunikasi
2007 Tersedianya sistem
konvergensi yang
terintegrasi
(9) Kajian regulasi
untuk perlindungan
perangkat lunak
produk nasional
2008 Tersedianya regulasi
open source
(10) Kajian regulasi
pengembangan
industri dibidang
TIK
2009 Tersedianya regulasi
industri dibidang TIK
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
149
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006

NOTARGETCAPAIAN TAHUN INDIKATOR SASARAN2005 KETERANGAN
DPROGRAMPENGEMBANGANSTANDARDISASIBIDANGTEKNOLOGIINFORMASIDANKOMUNIKASI
(1) Penyusunan
standardisasi
perangkat sistem
telekomunikasi
berbasis IP
2006 Tersedianya standardi-
sasi teknologi NGN
Selesainya semua
Standardisasi dibidang
TIK
Pelaksana a.l.
• Depkominfo berkoor-
dinasi dengan semua
lembaga litbang dan
LPND Ristek untuk
membuat kajian be-
berapa standardisasi
dibidang TIK.
• Depkominfo melaku-
kan sosialisasi ke
berbagai stakeholders
• BSN mngeluarkan
standard TIK
Pengguna a.l. :
• Semua komunitas
yang bergerak
dibidang Informasi
dan Komunikasi
(2) Penyusunan
standardisasi
perangkat dan
komponen
penyelenggaraan
penyiaran digital
2007 Tersedianya standard-
isasi perangkat sistem
digital broadcasting
(3) Standardisasi
untuk audit sistem
informasi
2007 Tersedianya RUU
tentang audit sistem
informasi
(4) Penyusunan
standardisasi
hardware dan
software open
source
2007 Tersedianya standard-
isasi untuk OSS
(5) Penyusunan
standard profesi
dibidang TIK
2007 Tersedianya standardi-
sasi keprofesian bidang
TIK
(6) Penyusunan
standard diseminasi
informasi mitigasi
bencana
2007 Tersedianya standardisa-
si mitigasi bencana alam
tsunami, gempa bumi
dan gunung berapi
AgendA Riset
150 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006

NOTARGETCAPAIAN TAHUN INDIKATOR SASARAN2005 KETERANGAN
II PROGRAM DIFUSI DAN PEMANFAATAN IPTEK
(1) Kajian mitigasi
bencana dengan
menggunakan
sarana prasarana
TIK
2007 Diperolehnya early
warning system yang
terpadu
Diperolehnya teknologi
baru di bidang TIK dari
penguasaan ilmu-ilmu
dasar
Pelaksana a.l. :
LPND Ristek, Litbang
Departemen dan
Perguruan tinggi.
Pengguna a.l. :
Masyarakat dan kalan-
gan industri TIK
EPROGRAMDIFUSIDANPEMANFAATANTIKUNTUKRISETDASAR,PENGEMBANGANSDM, leadershipDAN
NILAI-NILAISOSIALKEMANUSIAAN
(2) Kajian material
yang menunjang
pengembangan
bidang TIK
2008 Diproduksinya jenis
material khusus untuk
bidang TIK
(3) Kajian dampak
lingkungan
Electromagnetic
Compatibility
(EMC) terhadap
kehidupan;
2009 Diidentifikasinya dampak
EMC
(4) Penelitian teori
dasar dan
elektronika bidang
TIK.
2007 Diperolehnya teknologi
baru baik hardware dan
software
(5) Kajian strategi
dan kapasitas
pengembangan
SDM bidang TIK
2007 Diperoleh grand strategy
pengembangan SDM
TIK Indonesia
Diperolehnya SDM
mampu berkompetisi
secara global dan kader
kepemimpinan yang
good governance
(6) Kajian kompentensi
standard SDM di
bidang TIK
2007 Diperolehnya standard
kompetensi untuk
seluruh profesi TIK
(7) Kajian
pengembangan
kurikulum di
pendidikan dasar,
menengah dan tinggi
untuk pengajaran
bidang TIK
2007 Diperolehnya kurikulum
yang berbasis kompe-
tensi di bidang TIK
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
151
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006

NOTARGETCAPAIAN TAHUN INDIKATOR SASARAN2005 KETERANGAN
(8) Kajian
pembentukan Chief
Information Officer
(CIO) pada setiap
institusi.
2008 Diperolehnya aturan dan
organisasi CIO
(9) Kajian kesetaraan
akses masyarakat
pada fasilitas TIK
2008 Diperolehnya pelayanan
publik berbasis TIK yang
merata bagi seluruh
masyarakat
Kesetaraan untuk
mendapatkan fasilitas
TIK bagi seluruh masya-
rakat Indonesia dan
kelestarian nilai-nilai
budaya dari berbagai
daerah di Indonesia
(10) Kajian isu
pemanfaatan
teknologi informasi
dan komunikasi
untuk pemeliharaan
dan pengembangan
bahasa dan
pengetahuan
indigeneous
2008 Diperolehnya database
bahasa dan budaya
bangsa Indonesia
(11) Kajian kesetaraan
strata sosial,
regional
(kewilayahan),
jender, yang terkait
dengan infrastruktur
dan peralatan
(device) informasi
dan komunikasi;
dan implikasinya
pada komunikasi
lintas-kultural dan
pada kualitas
2009 Diperolehnya identifikasi
dampak pengembangan
TIK
AgendA Riset
152 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
(1) Pengembangan
repository
2006 Terbentuknya repository
OSS

NOTARGETCAPAIAN TAHUN INDIKATOR SASARAN2005 KETERANGAN
FPROGRAMDIFUSIDANPEMANFAATANIPTEKTIKUNTUKPERANGKATKERASDANPERANGKATLUNAK
BERBASISopen soUrCe
• Pemanfaatan OSS
sebagai alternatif
software legal
sebanyak 50 % secara
Nasional.
• Industri software lokal
memenuhi kebutuhan
Nasional dan menyerap
20 % pasar regional
• Pemanfaatan industri
komputer murah
• Seluruh desa terhubung
dengan ICT (2015)
• Terbentuk community
access point (2015)
• Seluruh universitas
terhubung ICT (2005)
• Seluruh SLTA dan SLTP
terhubung ICT(2010)
• Seluruh SD terhubung
ICT (2015)
• Rumah sakit terhubung
dengan ICT (2005)
• Pusat kesehatan
terhubung dengan ICT
(2010)
• Semua instansi
pemerintah pusat
punya website dan
email (2005)
• Pemda punya website
dan e-mail (2010)
• Penyebaran radio
diseluruh Indonesia
(2010)
• Penyiaran TV ke
seluruh Indonesia
(2015)
• Menurunnya %
pembajakan di
Indonesia (88%), dari
urutan ke 4 (setelah
Cina (92%), Vietnam
(92%), Ukraina (91%)
)menjadi lebih rendah
(2010)
Pelaksana a.l. :
• Depkominfo dan
MENPAN dalam pe-
nyusunan kebijakan.
• Perguruan tinggi,
lembaga penelitian,
technology partners
dan industri IT
bekerjasama dlm
pengembangan pusat
pelatihan dan inkuba-
tor bisnis.
• Komunitas IT melaku-
kan pengembangan
repository.
• Pengembang lokal
bekerjasama dalam
pengembangan
modul-modul aplikasi
OSS.
Pengguna a.l.:
Masyarakat Peng-
guna Aplikasi Perangkat
Lunak dalam berbagai
bidang
(2) Pengembangan
OSS
2007-2010 • Tersedianya modul-
modul aplikasi OSS
untuk e-gov dan
e-bisnis
• Tersedianya
(3) Pengembangan
industri pendukung
OSS
2008 Tersedianya industri
pendukung OSS
(4) Pembuatan
komputer murah
2007 Tersedianya komputer
murah, seperti thin/thick
clients
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
153
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006

NOTARGETCAPAIAN TAHUN INDIKATOR SASARAN2005 KETERANGAN
IV PROGRAM PENINGKATAN KAPASITAS IPTEK SISTEM PRODUKSI
(1) Pembentukan Pusat
Multimedia
2006 Center di Bandung,
Jogja, dan Bali
Pusat Kompetensi
digitalisasi kultur
Pelaksana a.l.:
• Perguruan Tinggi
dan LPND Ristek
melakukan Program
R&D pengembangan
perangkat lunak dan
perangkat keras
• Departemen Pari-
wisata dan budaya
menggalang industri
berinvestasi di daerah
potensial
• UKM pariwisata
memasarkan produk
budaya Indonesia
kedunia
• Industri melakukan
Pengembangan
klaster industri kreatif
Pengguna a.l. :
• Komunitas budaya
dan pariwisata Indo-
nesia
• Lembaga Penyiaran
Publik
GPROGRAMPENINGKATANKAPASITASIPTEKTIKUNTUKCREATIvEDIGITAL
(2) Pengembangan
dan sustainabilitas
aset kreatif kultural
nasional
2006 Sumber daya manusia
seniman digital, sumber
daya teknologi multime-
dia, dan budaya kreatif
Pusat budaya digital
(3) Embedding creative
excitement dalam
industri Indonesia
2007 Produk kreativitas
digital masuk pasar, dan
Kualitas desain produk
meningkat
Produk budaya
Indonesia mendunia
(4) Penguasaan
teknologi kreatif
(3D, grafik, animasi)
2007 Output riset kelas dunia Kualitas teknologi kelas
dunia
(5) Pengembangan
ekonomi berbasis
kreatifitas digital
2010 Volume produksi industri
kreatif, serta lapangan
pekerjaan
Industri kreatif
Indonesia memberikan
kontribusi signifikan
bagi GDP Indonesia
(6) Pengembangan
simulasi dan
pemodelan
2007 Tersedianya simulasi
dan pemodelan untuk
mitigasi bencana
Perangkat lunak
simulasi dan pemodelan
AgendA Riset
154 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
3.5. AGENDA RISET TEKNOLOGI PERTAHANAN DAN KEAMANAN
3.5.1. Latar Belakang Permasalahan
Pengalaman menunjukkan bahwa ketergantungan sistem persenjata-
an pada negara lain sangat rawan bagi operasi TNI dalam mempertah-
ankan dan menegakkan kedaulatan NKRI. Embargo suku cadang alat uta-
ma sistem senjata (alutsista) dan berbagai bentuk larangan penggunaan
peralatan militer dalam operasi pemulihan keamanan dalam negeri oleh
pihak lain menyadarkan pentingnya membebaskan diri dari ketergan-
tungan ini. Adanya kemandirian—meskipun tidak sepenuhnya—dalam
pertahanan negara menjadi suatu keharusan yang mendasar yang perlu
disadari oleh seluruh unsur masyarakat dalam kerangka NKRI.
Upaya untuk mengatasi meningkatnya gangguan keamanan berupa
terorisme, illegal logging, illegal fshing dan tindak kriminal lainnya disam-
ping memerlukan dukungan peralatan khusus juga memerlukan dukun-
gan masyarakat, selain tindakan tegas pemerintah. Kesiapan dan peneri-
maan masyarakat dengan jalan mengeliminasi sejauh mungkin resistensi
masyarakat yang diakibatkan oleh ketidakadilan dalam praktek kehidu-
pan di lapangan dan penguatan nilai dan wawasan kebangsaan.
Walaupun masih sangat terbatas, industri hankam nasional dewasa
ini telah memiliki kemampuan dalam membantu penyediaan dan peme-
liharaan alutsista yang dibutuhkan untuk mendukung program member-
antas gangguan keamanan. Hal tersebut terlihat dari kerjasama informal
yang terjalin selama ini antara industri hankam nasional (BUMNIS) den-
gan TNI sesuai dengan kebutuhan masing-masing di lapangan.
Jadi dapat dikatakan, bahwa untuk mendukung upaya kemandirian di
bidang pemenuhan kebutuhan alutsista, saat ini Indonesia telah memi-
liki beberapa elemen dasar, yaitu industri strategis hankam, SDM, lemba-
ga litbang dan dukungan perguruan tinggi yang memberikan penguatan
kompetensi sains dasar. Namun yang tidak kalah penting adalah komit-
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
155
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
men pimpinan nasional dan dukungan seluruh elemen penyelenggara
negara untuk bersikap dan bertindak nyata mendukung upaya mere-
alisasikan kemandirian di bidang peralatan dan persenjataan hankam
dengan segala konsekuensinya, yang tercermin dalam penyediaan alo-
kasi anggaran untuk hankam dan adanya peraturan perundang-undan-
gan khusus yang sesuai dengan kepentingan pertahanan dan keamanan
negara.
3.5.2. Arah Kebijakan dan Prioritas Utama
Program pembangunan iptek bidang teknologi hankam diarahkan un-
tuk: (a) memenuhi kebutuhan alutsista, baik perangkat keras maupun
perangkat lunak berteknologi terbaru, sesuai dengan kebutuhan opera-
sional yang mempunyai efek penangkal yang tinggi; (b) meningkatkan
penguasaan kapabilitas iptek hankam di kalangan industri nasional me-
lalui regulasi kelembagaan dan penanganan alokasi pendanaan yang
khusus; (c) meningkatkan pemahaman, penguasaan iptek, dan rekayasa
untuk aplikasi hankam di kalangan perguruan tinggi dan lembaga iptek
nasional untuk mencapai keunggulan bangsa berbasiskan kemandirian,
melalui roadmap yang bersifat kuantitatif dan rancangan strategis han-
kam yang terpadu; (d) mengikuti standardisasi sarana hankam pangsa
pasar dunia; (e) memberikan peluang kepada industri strategis bidang
hankam untuk berinovasi sehingga mampu menjaga kelangsungan hid-
up industri secara ekonomi.
Prioritas utama kegiatan penelitian dan pengembangan iptek tek-
nologi hankam meliputi: (a) teknologi pendukung daya gerak, yaitu ran-
cang bangun rekayasa alat angkut/wahana dan suku cadang baik darat,
laut maupun udara; (b) teknologi pendukung daya tempur, antara lain
rancang bangun rekayasa sistem persenjataan meriam kaliber 20 mm
ke atas, peluru kendali, roket, bom, ranjau, alat optik/alat bidik, ba-
han peledak, perangkat surveillance (radar, optronik ESM), dan alat-alat
AgendA Riset
156 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
komunikasi; (c) teknologi pendukung Komando Kendali Komunikasi
dan Intelijen (K3I); (d) teknologi pendukung bekal/alat khusus, antara
lain rancang bangun rekayasa rompi anti peluru, biodefence, alat deteksi
radiasi nuklir, jembatan gantung, dan bekal/alat khusus pelaksanaan
kamtibmas;
Untuk mencapai hasil rancang bangun rekayasa tersebut diatas di-
perlukan: (a) dukungan sains dasar untuk menjamin kualitas produk,
dan dukungan sosial kemanusiaan untuk mengkondisikan kesiapan dan
partisipasi masyarakat dalam pengembangan dan pengelolaan sistem
ketahanan nasional dan industrialisasi di sektor pertahanan keamanan
negara; (b) keterpaduan dalam meningkatkan dan mengembangkan ke-
mampuan industri hankam domestik; (c) penyusunan format regulasi
pendanaan yang kreatif dalam mendukung pembangunan sistem pertah-
anan dan keamanan negara (sishankamneg), yang dalam jangka pendek
dititikberatkan pada pengamanan wilayah perbatasan, pulau-pulau ter-
luar dan wilayah rawan konfik; (d) pelibatan aktif kalangan LPND Ristek,
perguruan tinggi dan industri nasional guna menghasilkan pasokan
teknologi kebutuhan alutsista;
3.5.3. Target Capaian Tahun 2009 dan Sasaran Tahun 2025
Target capaian tahun 2009 yang diharapkan dari program pemban-
gunan iptek teknologi hankam adalah (1) terwujudnya dukungan waha-
na/alat angkut ringan dan sedang, yang dilengkapi dengan senjata, baik
darat, laut maupun udara serta terpenuhinya suku cadang dan pemeli-
haraan secara mandiri; (2) terwujudnya dukungan sistem senjata tingkat
sedang (meriam 20 mm ke atas, mortir, senjata anti tank, bahan baku
propelan, roket, bom, peluru kendali jarak pendek) serta pemelihara-
annya secara mandiri; (3) terwujudnya kemandirian perangkat K3I guna
mendukung operasi taktis dan operasi strategis secara terbatas; (4) ter-
wujudnya kemandirian perbekalan TNI dan Polri secara penuh berdasar-
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
157
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
kan pasokan industri dalam negeri dan (5) meningkatnya kemampuan
penguasaan teknologi untuk membuat suku cadang alutsista serta ran-
cang bangun dan perekayasaan produk teknologi canggih.
Adapun sasaran yang diharapkan dicapai tahun 2025 adalah : (1) ter-
wujudnya kemandirian produk wahana/alat angkut berat yang bernilai
strategis, baik darat, laut maupun udara antara lain kendaraan tempur/
tank, kapal kombatan, pesawat tempur; (2) terwujudnya kemandirian
sistem persenjataan berat secara terbatas antara lain senjata artileri,
meriam tank, peluru kendali jarak sedang, termasuk amunisi dan sistem
kendali; (3) terwujudnya kemandirian perangkat K3I guna mendukung
operasi strategis secara penuh (4) terwujudnya kemandirian dalam pen-
gadaan suku cadang alat utama canggih dan terwujudnya produk ran-
cang bangun dan perekayasaan secara mandiri yang siap diproduksi se-
cara masal.
3.5.4. Program
Program Penelitian dan Pengembangan Iptek
Program penelitian dan pengembangan iptek bidang teknologi han-
kam dititik-beratkan pada kebutuhan solusi atas permasalahan alutsista
yang dihadapi, dengan didukung oleh program difusi dan pemanfaatan
iptek, program penguatan kelembagaan iptek dan program peningkatan
kapasitas iptek sistem produksi.
Sesuai dengan permasalahan yang dihadapi program penelitian dan
pengembangan bidang teknologi hankam tahun 2006-2009 dikelompokkan
dalam: (a) Rancang bangun dan rekayasa alat angkut/wahana darat, laut
dan udara; (b) Rancang bangun dan rekayasa sistem persenjataan meriam/
artileri (kaliber 20 mm ke atas); (c) Rancang bangun dan rekayasa peluru ken-
dali dan roket; (d) Rancang bangun dan rekayasa bom untuk pesawat, ranjau
laut dan alat penjinak bahan peledak/bom; (e) Rancang bangun alat optik
dan alat bidik;(f) Rancang bangun dan rekayasa bahan peledak/propelan;
AgendA Riset
158 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
(g) Rancang bangun dan rekayasa perangkat surveillance; (h) Rancang bangun
peralatan komunikasi; (i) Rancang bangun sistem komando kendali; (j) Ran-
cang bangun dan pembuatan bekal/alat khusus.
(a) Rancang bangun dan rekayasa alat angkut/wahana darat, laut
dan udara
Program ini mencakup delapan kegiatan, yaitu (1) rancang bangun
dan rekayasa kendaraan taktis; (2) pengembangan kendaraan tempur/
tank dan suku cadangnya; (3) rancang bangun dan rekayasa kapal patroli
cepat; (4) rancang bangun dan rekayasa wahana angkut pendarat pasu-
kan; (5) rancang bangun dan rekayasa Hovercraft; (6) rancang bangun dan
rekayasa wahana bawah air; (7) rancang bangun dan rekayasa pesawat
terbang; (8) rancang bangun dan rekayasa suku cadang pesawat terbang
dan helikopter.
(b) Rancang bangun dan rekayasa sistem persenjataan meriam/ar-
tileri (kaliber 20 mm ke atas)
Program ini meliputi empat kegiatan, yaitu (1) pengembangan me-
riam kaliber 20 mm keatas, (2) pengembangan amunisi kaliber 20 mm,
40 mm, 57 mm dan 76 mm, (3) penelitian Mortir 80 mm dan 81 mm, dan
(4) penelitian dan pengembangan bahan baku laras senjata .
(c) Rancang bangun dan rekayasa peluru kendali dan roket
Program ini terdiri dari dua kegiatan, yaitu (1) rancang bangun peluru
kendali, dan (2) penelitian dan pengembangan peroketan.
(d) Rancang bangun dan rekayasa bom, ranjau laut dan penjinak
bahan peledak/bom
Program ini meliputi empat kegiatan (1) pengembangan bom untuk
pesawat, pengembangan ranjau laut, (2) pengembangan alat deteksi
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
159
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
ranjau darat /bom, (3) pengembangan alat penjinak bahan peledak/bom
untuk menghadapi teroris
(e) Rancang bangun alat optik dan alat bidik
Program ini terdiri dari dua kegiatan: (1) pengembangan teropong bi-
dik malam/anti kabut dan (2) pengembangan dan rancang bangun sistem
kendali senjata meriam
(f) Rancang bangun dan rekayasa bahan peledak/propelan
Program ini terdiri dari tiga kegiatan: (1) pengembangan bahan baku
propelan; (2) rancang bangun dan rekayasa double base dan triple base pro-
pellant plant; dan (3) penelitian dan pengembangan hulu ledak (warhead)
(g) Rancang bangun dan rekayasa perangkat surveillance
Kegiatan rancang bangun dan rekayasa perangkat surveillance antara
lain pengembangan sistem radar, pengembangan suku cadang radar,
dan penelitian dan pembuatan portable simulator ESM
(h) Rancang bangun peralatan komunikasi
Kegiatannya meliputi rancang bangun berbagai macam dan jenis alat
komunikasi elektronika (Alkomlek)
(i) Rancang bangun sistem komando kendali
Kegiatannya meliputi antara lain pengembangan simulator olah
yudha, simulator penembakan meriam, dan simulator pengendalian pe-
sawat/helicopter, dan pengembangan konsol combat system
(j) Rancang bangun dan pembuatan bekal/alat khusus
Program ini meliputi delapan kegiatan, yaitu: (1) penelitian bahan
material tahan peluru dan aplikasinya, (2) pengembangan alat monitor-
AgendA Riset
160 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
ing radiasi nuklir, (3) peningkatan kemampuan biodefence untuk antisipasi
ancaman senjata biologi, (4) rancang bangun dan rekayasa jembatan
gantung prefaf, (5) rancang bangun dan rekayasa peluru gas airmata/
granat asap/peluru asap, (6) rancang bangun dan rekayasa peluru karet,
(7) pengembangan bubuk untuk pengambilan sidik jari, dan (8) pengem-
bangan alat khusus identifkasi dan deteksi dalam rangka Scientifc Crimi-
nal Investigation.
Program Difusi dan Pemanfaatan Iptek
Program difusi dan pemanfaatan Iptek terdiri dari sub program studi
aplikasi teknologi pertahanan, sub program studi aplikasi teknologi ke-
amanan dan kajian sosial kemanusiaan.

(a) Studi aplikasi teknologi pertahanan
Studi aplikasi teknologi pertahanan meliputi 15 kegiatan : (1); studi
aplikasi teknologi dan pengembangan Sistem Informasi Geograf (SIG)
untuk pengelolaan informasi pertahanan; (2) studi aplikasi teknologi
dan pengembangan GPS navigasi untuk pelacakan benda bergerak di
darat; (3) studi aplikasi teknologi indraja untuk monitoring/remote sensing;
(4) Studi aplikasi transformasi produksi industri pertahanan; (5) studi
aplikasi transformasi prasarana nasional untuk keperluan pertahanan;
(6) studi aplikasi teknologi komputer untuk pembangunan Sistem Pembi-
naan Wilayah (SPW) dan Sistem Logistik Wilayah (SLW); (7) penyusunan
model sandi (Kriptograf; (8) studi Manajemen Kesejahteraan Rakyat; (9)
studi korosi logam akibat degradasi kondisi lingkungan; (10) pengem-
bangan sistim metoda analisis, identifkasi dan karakterisasi bahan; (11)
pengembangan ilmu dan teknologi proses terhadap sumber daya alam/
bahan tropis; (12) pengembangan ilmu dan teknologi proses terhadap
sumber daya alam/bahan tropis; (12) pengembangan ilmu dan teknologi
nano atau sistem material nano; (13) pengembangan ilmu bio-diversity:
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
161
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
bio-remediasi dan bio-informatika, dan manajemen pengelolaan hayati/
botani, kehutanan serta ingkungan; (14) studi aplikasi ilmu mikrobiolo-
gi untuk menghadapi bioterorisme di Indonesia; (15) studi karakteristik
kebumian di Indonesia untuk mengetahui kondisi seismisitas, kegiatan
gunung berapi dan sistem peredaran udara
(b) Studi aplikasi teknologi keamanan
Studi aplikasi teknologi keamanan meliputi tiga kegiatan: (1) studi
aplikasi teknologi komputer untuk Sistem Informasi Komunikasi Polri;
(2) studi aplikasi manajemen transportasi untuk mendukung operasion-
al Polri; (3) Optimalisasi program Computer Aided Automatic Fingerprint Iden-
tifcation System (CAAFIS)
(c) Kajian sosial kemanusiaan
Kajian sosial kemanusiaan meliputi tiga kegiatan (1) Kajian –kajian
tentang wawasan Kebangsaan dan Bela Negara, (2) Kajian Kebijakan
Publik tentang Potensi Disintegrasi Nasional dalam Perspektif Keadilan
(3) Kajian-kajian di Wilayah Perbatasan dan Daerah Rawan Konfik Untuk
Penguatan Pertahan dan Keamanan
Program Penguatan Kelembagaan Iptek
Program penguatan kelembagaan iptek adalah kegiatan lembaga lit-
bang untuk meningkatkan kuantitas maupun kualitas SDM dan sarana
penelitian serta dana. Program penguatan kelembagaan iptek hankam
meliputi tiga kegiatan, yaitu (1) penguatan internal dan kelembagaan
pendukungnya dalam rangka peningkatan sarana dan prasarana pene-
litian; (2) kerjasama antar lembaga iptek di dalam negeri, termasuk
kerjasama dengan perguruan tinggi dalam rangka peningkatan SDM di
bidang teknologi hankam, kerjasama dengan industri yang memiliki ke-
mampuan dan potensi sebagai penyedia kebutuhan yang berkait dengan
AgendA Riset
162 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
kepentingan hankam dan kerjasama bidang litbangyasa antara LPND Ri-
set, perguruan tinggi dan industri, baik BUMN maupun swasta; (3) ker-
jasama dengan luar negeri dalam rangka peningkatan SDM di bidang
teknologi hankam, bantuan konsultasi dan bantuan dana dan sarana &
prasarana.
Program Peningkatan Kapasitas Iptek Sistem Produksi
Program peningkatan kapasitas iptek sistem produksi diprioritaskan
pada pemberdayaan industri nasional dalam rangka menciptakan ke-
mandirian guna memperkecil ketergantungan alutsista dari luar negeri
dengan target capaian (a) peningkatan kemampuan industri dalam ne-
geri untuk komersialisasi hasil iptek teknologi hankam; (b) peningkatan
kualitas dan kuantitas SDM di bidang rancang bangun dan perekayas-
aan; (c) penyusunan format regulasi pendanaan dalam mendukung pem-
bangunan sishanneg; (d) regulasi yang menetapkan penggunaan produk
industri hankam dalam negeri; (e) kerjasama industri hankam nasional
dengan luar negeri.
Program-program pembangunan iptek bidang teknologi hankam ini
secara lebih terinci diuraikan pada tabel yang terdiri dari kegiatan, target
capaian tahun 2009, indikator keberhasilan, dan sasaran akhir yang di-
harapkan tercapai pada tahun 2025 serta para pelaksana dan pengguna.
Program-program tersebut dapat terlaksana dengan hasil yang dica-
pai sesuai dengan tahapan sasaran yang diharapkan, baik jangka pendek
maupun jangka panjang apabila didukung (a) SDM dengan kualitas,
kepakaran dan kuantitas sesuai keperluan; (b) sarana dan prasarana
yang diperlukan; (c) anggaran yang memadai; dan (d) terlaksananya
koordinasi dan sinergi antar pelaksana (lembaga litbang, perguruan
tinggi dan industri serta penunjang lainnya).
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
163
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
INDIKATOR
NO KEGIATAN
TARGETCAPAIAN
KEBERHASILAN
SASARAN
KETERANGAN

2009
2009
AKHIR2025
I PROGRAM PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN IPTEK
(1) Rancang bangun
dan rekayasa
kendaraan taktis
Model kendaraan taktis
tahan peluru
Terwujudnya model
kendaraan taktis tahan
peluru
Penguasaan
teknologi
pembuatan
kendaraan taktis
tahan peluru
Pelaksana a.l.:
Dislitbangad
Bengpuspal ad,
PT Pindad
Pengguna a.l. :
TNI & Polri
ARANCANGBANGUNDANREKAYASAALATANGKUT/WAHANA
(2) Pengembangan
kendaraan tempur/
suku cadang
a) Prototip tank
amphibi
b) Prototip suku
cadang kendaraan
tempur tank AMX-
13
a) Terwujudnya
rekayasa tank
amphibi
b) Terwujudnya
rekayasa suku
cadang kendaran
tempur tank
AMX-13
Kemandirian
dalam
penyediaan
tank amphibi
dan suku
cadang
kendaraan
tempur tank
Pelaksana a.l. :
Dislitbangal,
Dislitbangad,
PT Pindad
Bengpuspalad
Pengguna:TNI
(3) Rancang bangun
dan rekayasa kapal
patroli cepat
Prototip kapal cepat
dengan senjata dan
combat system
Hasil rekayasa kapal
cepat yang dapat
diproduksi di dalam
negeri
Kemandirian
dalam penye-
diaan kapal
patroli cepat
siap tempur
Pelaksana a.l. :
Dislitbangal,
PT PAL
Pengguna a.l:
TNI & Polri
(4) Rancang bangun
dan rekayasa
wahana angkut
pendarat pasukan
a) Prototip wahana ang-
kut ringan pendarat
pasukan berkecepat-
an tinggi
b) Prototip wahana ang-
kut berat pendarat
pasukan berprinsip
air cushion
Hasil rekayasa waha-
na angkut pendarat
pasukan yang dapat
diproduksi di dalam
negeri
Kemandirian
dalam penye-
diaan wahana
angkut pasukan
pendarat
Pelaksana a.l.
Dislitbangal,
PT PAL,
BPPT
Pengguna : TNI
(5) Rancang bangun
dan rekayasa
Hovercraft
Prototip Hovercraft ber-
penumpang 40 orang
Hasil rekayasa Hover-
craft berpenumpang
40 orang yang dapat
diproduksi di dalam
negeri
Kemandirian
dalam penye-
diaan Hovercraft
elaksana a.l. :
Balitbang Dephan,
Dislitbangal BPPT
Pengguna a.l : TNI
& Polri
AgendA Riset
164 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
INDIKATOR
NO KEGIATAN
TARGETCAPAIAN
KEBERHASILAN
SASARAN
KETERANGAN

2009
2009
AKHIR2025
(6) Rancang bangun dan
rekayasa wahana
bawah air
Prototip wahana bawah
air tanpa awak
Rekayasa wahana
bawah air tanpa awak
yang dapat diproduksi di
dalam negeri
Kemandirian
dalam penyediaan
wahana bawah air
Pelaksana a.l. :
Dislitbangal
BPPT, PT PAL
(7) Rancang bangun dan
rekayasa pesawat
terbang
a) Prototip pesawat
terbang tanpa awak
untuk surveillance
b) Prototip pesawat latih
turbo jet tandem
c) Prototip pesawat 19
penumpang
a) Hasil rekayasa
pesawat terbang
tanpa awak siap
operasional
b) Hasil rekayasa
pesawat latih
turbo jet tandem siap
diproduksi dalam
negeri
c) Hasil rekayasa pe-
sawat 19 penumpang
dapat diproduksi di
dalam negeri
Kemandirian
dalam penyediaan
beberapa jenis
pesawat terbang.
Pelaksana a.l. :
Dislitbangau,
Koharmatau,
BPPT
PT DI
Pengguna a.l. :
TNI, Polri,
Dep Kehutanan
(8) Rancang bangun dan
rekayasa komponen
pesawat terbang/
helikopter
a) Prototip external store
untuk pesawat Sukhoi
SU-27/30
b) Prototip movable
hydroulic helikopter
NAS-332 dan SA-330
c) Prototip sistem
ACMR pesawat Hawk
109-209
d) Prototip drag chute
pesawat Sukhoi
e) Prototip disc brake
pesawat C-130 H
f) Prototip peralatan
pengecekan sistem
pitch dan yaw pesawat
F-5
a) Hasil rekayasa
external store dapat
dipasang pada
pesawat Sukhoi
Su-27/30
b) Hasil rekayasa mova-
ble hydraulic untuk
dimanfatkan pada
helikopter NAS-332
dan SA-330
c) Hasil rekayasa
sistem ACMR
dapat dimanfaatkan
untuk pesawat Hawk
109-209
d) Hasil rekayasa
drag chute dapat
dimanfaatkan untuk
pesawat Sukhoi
e) Hasil rekayasa
disc brake dapat
dimanfaatkan untuk
pesawat C-130 H
f) Hasil rekayasa
peralatan pengecekan
sistem pitch dan yaw
dapat dimanfaatkan
untuk pesawat F-5
Penguasaan
teknologi
pembuatan
beberapa jenis
suku cadang
pesawat terbang/
helikopter dan
dapat diproduksi
di dalam negeri
Pelaksana a.l.
Dislitbangau,
Koharmatau,
LIPI, BPPT
PT DI , PT LEN
PT Pindad,
Balai Besar Tekstil,
Industri Tekstil.
Pengguna : TNI
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
165
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
INDIKATOR
NO KEGIATAN
TARGETCAPAIAN
KEBERHASILAN
SASARAN
KETERANGAN

2009
2009
AKHIR2025
(1) Pengembangan
meriam kaliber 20
mm keatas
Penyempurnaan
meriam 20 mm, 40 mm
dan 57 mm untuk kapal
perang
Hasil rekayasa meriam
20 mm, 40 mm dan
57 mm yang dapat
diproduksi oleh industri
dalam negeri
Kemandirian
dalam penyediaan
meriam berbagai
kaliber untuk
kapal perang dan
pasukan darat
Pelaksana a.l. :
Dislitbangal
Dislitbangad
PT Pindad
BPPT
BRANCANGBANGUNDANREKAYASASISTEMPERSENjATAANMERIAM/ARTILERI
(2) Pengembangan
Amunisi kaliber 20
mm, 40 mm, 57
mm, dan 76 mm
Penyempurnaan
berbagai jenis amunisi
20 mm, 40 mm, 57 m
dan 76 mm untuk kapal
perang
Hasil rekayasa amunisi
20 mm, 40 mm, 57 mm
dan 76 mm yang dapat
diaplikasikan dalam
sistem senjata kapal
maupun satuan tempur
darat
Kemandirian
dalam
penyediaan
berbagai jenis
amunisi meriam
berbagai kaliber
Pelaksana a.l. :
Dislitbangal,
Dislitbangad
PT Pindad
LAPAN
Pengguna : TNI
(3) Penelitian Mortir
80 m dan 81 mm
Konsep standardiasi
Mortir 80 mm dan 81
mm
Standardisasi Mortir 80
mm dan 81 mm yang
tepat untuk satuan
tempur tingkat Batalyon
Infantri
Penguasaan
teknologi
pembuatan mortir
80 mm dan 81
mm
Pelaksana a.l. :
Dislitbangad,
Bengpuspalad, PT
Pindad
Pengguna: TNI
(4) Penelitian dan
pengembangan
bahan baku laras
senjata
Bahan baku laras
senjata
Terwujudnya bahan
baku laras senjata
Kemandirian
dalam penyediaan
material bahan
baku laras senjata
Pelaksana a.l.:
Balitbang Dephan
PT Pindad,
PT Krakatau Steel
Pengguna : Industri
Hankam
CRANCANGBANGUNDANREKAYASAPELURUKENDALIDANROKET
(1) Rancang bangun
peluru kendali
a). Rancang bangun
peluru kendali anti
kapal atas air
b). Prototip peluru kendali
jarak pendek anti
pesawat udara
a) Hasil rekayasa
peluru kendali yang
dapat diaplikasikan
pada kapal perang
b) Hasil rekayasa
peluru kendali jarak
pendek anti pesawat
udara
Kemandirian
dalam pembuatan
peluru kendali
Pelaksana a.l. :
Dislitbangal,
Dislitbangau
LAPAN
Pengguna : TNI
AgendA Riset
166 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
INDIKATOR
NO KEGIATAN
TARGETCAPAIAN
KEBERHASILAN
SASARAN
KETERANGAN

2009
2009
AKHIR2025
(2) Penelitian dan
pengembangan
peroketan
a) Prototip roket udara-
darat kaliber 2.75
inc dan roket kaliber
80 mm
b) Prototip roket balistik
jarak jangkau s.d 300
km. Meliputi : jarak
jangkau 10 km, 15
km, 40 km, 80 km,
200 km, 300 km (
Kal. 100 mm, 150
mm, 250 mm, 340
mm, 420 mm dan
520 mm)
c) Prototip roket
kendali jarak
jangkau s/d 30 km.
a) Hasil rekayasa roket
kaliber 2.75 inc dan
oket kaliber 80 mm
b) Kemampuan
rekayasa roket
balistik jarak jang-
kau s.d 300 km.
Meliputi :
jarak jangkau 10
km, 15 km, 40 km,
80 km, 200 km, 300
km ( Kal. 100 mm,
150 mm, 250 mm,
340 mm, 420 mm
dan 520 mm)
c) Kemampuan
rekayasa Roket ken-
dali jarak jangkau
s/d 30 km
Kemandirian
dalam pembuatan
pembuatan roket
berbagai kaliber,
baik terkendali
maupun tidak
terkendali
dengan jarak
jangkau dari 10
km s/d 300 km.
Pelaksana a.l. :
Dislitbangal
Dislitbangau
LAPAN,
PT Pindad
PT LEN,
Pergurun Tinggi
Pengguna a.l. :
TNI , LAPAN
(1) Pengembangan
Bom untuk Pesawat
terbang
a) Prototip bom tajam
kaliber 360 kg
b) Prototip bom practice
sejenis OFAB 250
untuk pesawat
Hasil rekayasa bom
tajam kaliber 360 kg
dan bom practice
untuk pesawat Sukhoi
Kemandirian
dalam pembuatan
bom tajam kaliber
360 kg dan bom
practice untuk
pesawat
Pelaksana a.l. :
Dislitbangau,
PI Pindad
LAPAN
Pengguna : TNI
DRANCANGBANGUNDANREKAYASABOMDANRANjAU
(2) Pengembangan
Ranjau laut
Prototip ranjau laut
pintar
Hasil rekayasa
ranjau laut pintar dapat
diproduksi di dalam
negeri
Kemandirian
dalam pembuatan
ranjau laut
Pelaksanaa.l. :
Dislitbangal
PT Pindad
LAPAN
Pengguna : TNI
(3) Pengembangan
alat deteksi ranjau
darat/bom/bahan
peledak
Prototip alat deteksi
ranjau darat/bom/bahan
peledak
Hasil rekayasa alat
deteksi ranjau darat/
bom/bahan peledak
untuk pasukan TNI/
Polri
Kemandirian
dalam pembuatan
alat deteksi ranjau
darat/bom
Pelaksana a.l. :
Dislitbangad,
PT PINDAD
Pengguna a.l:
TNI & Polri
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
167
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
INDIKATOR
NO KEGIATAN
TARGETCAPAIAN
KEBERHASILAN
SASARAN
KETERANGAN

2009
2009
AKHIR2025
(1) Pengembangan
teropong bidik
Prototip teropong bidik
malam/anti kabut
Hasil rekayasa tero-
pong bidik malam/anti
kabut untuk pasukan
TNI
Penguasan
teknologi
teropong bidik
malam/anti kabut
Pelaksana a.l. :
Dislitbangad,
PT LEN
Pengguna a.l.:
TNI & Polri
EALATOPTIKDANALATBIDIK
(2) Pengembangan
rancang bangun
sistem kendali
senjata meriam
a) Prototip hardware
dan sofware sistem
kendali senjata
berbasis optik untuk
meriam kapal
b) Prototip sistem ken-
dali senjata berbasis
optik meriam kenda-
raan tempur/tank
a) Hasil rekayasa
sistem kendali sen-
jata berbasis optik
untuk meriam kapal
b) Hasil rekayasa
sistem kendali sen-
jata berbasis optik
meriam kendaraan
tempur/tank
Penguasaan
teknologi
pembuatan sistem
kendali senjata
meriam
Pelaksana a.l. :
Dislitbangal,
PT LEN
Pengguna :TNI
(1) Pengembangan
bahan baku
propelan
Bahan baku propelan
padat komposit
Hasil rekayasa
pembuatan bahan
baku propelan padat
komposit
Kemandirian
dalam penyediaan
bahan baku
propelan padat
komposit
Pelaksanan a.l. :
Balitbang Dephan
LAPAN,
Industri Kimia
Pengguna a.l.:
Industri hankam
FPENELITIANDANPENGEMBANGANBAHANPELEDAK/PROPELAN
(2) Rancang bangun
dan rekayasa Plant
double base dan tri
base propellant
Prototip Plant double
base dan tri base
propellant skala
laboratorium
Hasil rekayasa Plant
double base dan tri
base Propellant
Kemandirian
dalam penyediaan
double base dan
tri base propellant
Pelaksanan a.l. :
Balitbang Dephan,
PT Dahana,
Industri kimia
Pengguna a.l.:
Industri Hankam
(3) Penelitian dan
pengembangan
expolisive war head
(hulu ledak)
Prototip explosive war-
head untuk roket 2.75
inc dan roket 80 mm
Hasil rekayasa
explosive warhead
untuk roket 2.75 inc
dan roket 80 mm
Kemandirian
dalam pembuatan
hulu ledak
Pelaksana a.l. :
Dislitbangau,
PT Pindad.
Pengguna : TNI
AgendA Riset
168 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
INDIKATOR
NO KEGIATAN
TARGETCAPAIAN
KEBERHASILAN
SASARAN
KETERANGAN

2009
2009
AKHIR2025
(1) Pengembangan
sistem radar
Prototip instalasi radar
pantai tanpa awak
Hasil rekayasa
instalasi radar pantai
tanpa awak
Penguasaan
teknologi instalasi
radar pantai tanpa
awak
Pelaksana a.l. :
Dislitbangal,
PT LEN
Pengguna : TNI
GPENELITIANDANPENGEMBAGANPERANGKATsUrveillanCe (RADAR,OPTRONIK,ESM)
(2) Pengembangan
suku cadang radar
a) Prototip analog to
digital converter R
427 radar Thomson
b) Prototip phase
shifter keramiik
antenna radar
Thomson
c) Prototip power
supply 5V-40A radar
Thomson
d) Prototip radar
fundamental simula-
tor model device
11B104
e) Prototip real time
surveillance system
a) Hasil rekayasa
analog to digital
converter R 427
radar Thomson
b) Hasil rekayasa
phase shifter
keramik antenna
radar Thomson
c) Hasil rekayasa
power supply
5V-40A untuk radar
Thomson
d) Hasil rekayasa
radar fundamental
simulator model
device 11B104
e) Hasil rekayasa real
time surveillance
system
Penguasaan
teknologi
pembuatan
komponen radar
Pelaksana a.l. :
Dislitbangau, PT
LEN
Pengguna : TNI
(3) Penelitian dan
pembuatan portable
simulator ESM
Prototip portable
simulator ESM untuk
mendeksi sinyal radar
kapal
Terwujudnya portabel
simulator guna mendu-
kung operasi tektis
Kemandirian
dalam perangkat
surveillance
guna mendukung
operasi
Pelaksana a.l. :
Dislitbangal,
PT LEN
Pengguna : TNI
HRANCANGBANGUNDANREKAYASAPERALATANKOMUNIKASI
(1) Pengembangan
rekayasa alat
komunikasi
elektronika
(Alkomlek)
a) Prototip alkomlek
untuk pasukan
b) Prototip Charger &
Battery discharger
monitoring untuk
pasukan
Hasil rekayasa alkom-
lek untuk pasukan
yang dapat diproduksi
di dalam negeri
Kemandirian
dalam pengadaan
alkomlek untuk
pasukan
Pelaksana a.l. :
Balitbang Dep Han,
Disltbangad,
Dislitbangau
Industri elektronika
Pengguna a.l. :
TNI & Polri
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
169
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
INDIKATOR
NO KEGIATAN
TARGETCAPAIAN
KEBERHASILAN
SASARAN
KETERANGAN

2009
2009
AKHIR2025
(1) Pengembangan
Simulasi Olah
Yudha
a) Penyempurnaan
Sofware & hardware
Simulasi Olah Yudha
b) Prototip simulator
pengemudi dan
penembak meriam
pada kendaraan
tank
a) Tersedianya
Software Simulasi
Olah Yudha sesusai
perkembangan
keadaan
b) Tersedianya simu-
lator penembankan
meriam yang dapat
diaplikaikan pada
kendaraan tarik
Penguasaan
teknologi
pembuatan
Alat Simulasi
Olah Yuda dan
alat Simulasi
penembakan
meriam
Pelaksana a.l. :
Dislitbangad,
Seskoad,
Pengguna : TNI
ISISTEMKOMANDODANKENDALI
(1) Penelitian Bahan
material tahan
peluru dan
aplikasinya
a) Prototip material dari
keramik yang mampu
menahan peluru dari
tembakan senjata
ringan laras panjang
b) Prototip rompi anti
peluru
a) Terwujudnya mate-
rial dari keramik
yang mampu
menahan peluru
dari tembakan
senjata ringan laras
panjang
b) Hasil rekayasa
rompi anti peluru
Penguasaan
teknologi material
dari keramik
tahan peluru
untuk berbagai
aplikasi (rompi,
rantis, kursi pilot
pesawat, dll)
Pelaksana a.l. :
Balitbang Dephan,
Dislitbagau
Balai besar Keramik
Balai Besar Tekstil
Univ. Indonesia,
PT Pidad,
PT DI
Pengguna a.l :
TNI & Polri
jRANCANGBANGUNDANREKAYASABEKAL/ALATKHUSUS
(2) Pengembangan
alat monitor radiasi
nuklir
Prototip alat monitor
radiasi nuklir (Gamma,
beta dan sinar x)
portabel
Tersedianya alat
monitor radiasi nuklir
(Gamma, beta dan
sinar x) portabel
Penguasan
teknologi
pembuatan alat
monitor radiasi
nuklir
Pelaksana a.l. :
Dislitbangad, BATAN
Pengguna a.l. :
TNI & Polri
(3) Peningkatan
kemampuan
biodefence untuk
mengantisipasi
ancaman senjata
biologi
Tersedianya sistem
emergency response
untuk unnatural
outbreak of diseases
pada manusia, hewan
dan tanaman
Terwujudnya peningkat-
an kemampuan untuk
mendeteksi ancaman
senjata biologi
Terselenggarakan-
nya sistem
koordinasi
pencegahan dan
pendeteksian
ancaman senjata
biologi
Pelaksana a.l. :
Deptan, Depkes,
LIPI. Lembaga
Eijkman
Pengguna a.l :
TNI dan Polri
(4) Rancang bangun
dan rekayasa
Jembatan Gantung
Prefab
Prototip Jembatan
Gantung Prefab beban
maks. 7,5 Ton, 15 Ton
dan 30 Ton dengan
panjang 50 m
Terwujudnya rekayasa
Jembatan Gantung
Prefab beban maks.
7,5 Ton, 15 Ton dan 30
Ton dengan panjang
50 m
Kemandirian
dalam pembuatan
Jembatan Gantung
Pelaksana a.l. :
Dislitbagad,
PT KS,
PT Pindad, PT DI
Pengguna a.l.:
TNI, Polri dan
Masyarakat
AgendA Riset
170 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
INDIKATOR
NO KEGIATAN
TARGETCAPAIAN
KEBERHASILAN
SASARAN
KETERANGAN

2009
2009
AKHIR2025
(5) Rancang bangun
dan rekayasa
peluru/granat gas
air dan asap
Prototip peluru gas air
mata kal. 38 mm, peluru
asap kal 38 mm, dan
granat asap dan gas
airmata
Terwujud peluru gas
airmata dan asap yang
dapat diproduksi di
dalam negeri
Kemandirian
dalam penyediaan
amunisi gas
airmata dan asap
Pelaksana a.l. :
Puslitbang Polri
PT Pindad
LIPI dan BPPT
Pengguna: Polri
(6) Rancang bangun
dan rekayasa peluru
karet
Prototip peluru karet kal
0,38 mi dan 7,63 mm
Terwujudnya rekayasa
peluru karet yang
dapat diproduksi
dalam negeri
Kemandirian
dalam penyediaan
peluru karet
Pelaksana a.l. :
Puslitbang Polri
PT Pindad
LIPI dan BPPT
Pengguna: Polri
(7) Pengembangan
bubuk untuk
pengambilan sidik
jari
Senyawa bahan
pembuatan bubuk untuk
pengambilan sidik jari
Terwujudnya senyawa
bahan pembuatan
bubuk untuk pengam-
bilan sidik jari
Kemnadirian
dalam penyediaan
bubuk untuk
pengambilan
sidik jari
Pelaksana a.l. :
Puslitbang Polri
LIPI dan BPPT
Perguruan Tinggi
Pengguna: Polri
(8) Pengembangan
alat identifikasi
dan deteksi
dalam rangka
Scientitific Criminal
Investigation
Ptototip alat khusus
identifikasi dan deteksi
untuk tugas pencegah-
an dan tindakan
kejahanatn
Terwujudnya alat
khusus identifikasi dan
deteksi untuk tugas
pencegahan dan
tindakan kejahanatn
Kemandirian
dalam penyediaan
penyediaan alat
khusus identifikasi
dan deteksi
untuk tugas
pencegahan
dan tindakan
kejahanatn
Pelaksana a.l. :
Puslitbang Polri
PT Pindad
LIPI dan BPPT
Pengguna: Polri
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
171
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
INDIKATOR
NO KEGIATAN
TARGETCAPAIAN
KEBERHASILAN
SASARAN
KETERANGAN

2009
2009
AKHIR2025
II PROGRAM DIFUSI DAN PEMANFAATAN IPTEK
(1) Studi aplikasi
teknologi dan
pembangunan
Sistem Informasi
Geografi (SIG)
untuk pengelolaan
informasi
pertahanan
Terbangunnya jaringan
SIG Pertahanan secara
terpusat
Terwujudnya jaringan
SIG Pertahanan
Penguasaan
Teknologi SIG
Pelaksana a.l.
Bakosurtananal,
LAPAN,
Dit Topad,
Kodam
Pengguna : TNI
ASTUDIAPLIKASITEKNOLOGIPERTAHANAN
(2) Studi aplikasi dan
pengembangan
GPS navigasi untuk
pelacakan benda
bergerak
Hasil kajian aplikasi
dan pengembangan
GPS navigasi untuk
pelacakan benda
bergerak
Tersedianya informasi
aplikasi dan pengem-
bangan GPS navi-
gasi untuk pelacakan
benda bergerak
Penguasan
teknologi aplikasi
GPS navigasi
Pelaksana a.l.
Dephan,
Mabes TNI,
Mabes Polri,
LAPAN
Pengguna : TNI
(3) Studi aplikasi
teknologi Indraja
untuk monitoring/
remote sensing
Tersedianya protipe alat
remote sensor pada
pesawat terbang
Terwujudnya hasil
rekayasa alat remote
sensing pada pesawat
terbang
Penguasan
Teknologi
Remote Sensing
Pelaksana a.l. :
Bakosurtanal,
LAPAN.
UGM
Pengguna a.l.:
Dephankam
(4) Studi aplikasi
transformasi
produksi industri
pertahanan
Hasil kajian aplikasi
transformasi
produksi industri
pertahanan (kapal,
pesawat terbang, alat
komunikasi)
Tersedianya Informasi
aplikasi transformasi
produk industri
pertahanan (kapal,
pesawat terbang, alat
komunikasi)
Terselenggara
kannya transfor
masi produksi
industri
pertahanan
Pelaksana a.l. :
Bakosurtanal,
LAPAN.
UGM
Pengguna a.l.:
Dephankam
(5) Studi aplikasi
transformasi
prasarana nasional
untuk kepentingan
pertahanan
Hasil kajian aplikasi
transformasi
prasarana nasional
untuk kepentingan
pertahanan
Tersedianya informasi
aplikasi transformasi
prasarana nasional
untuk kepentingan
pertahanan
Terwujudnya
prasarana nasional
untuk kepentingan
pertahanan
Pelaksanana a.l.:
Balitbang
DepHan,
Dep
Kimpraswil
Pengguna :
DepHan
AgendA Riset
172 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
INDIKATOR
NO KEGIATAN
TARGETCAPAIAN
KEBERHASILAN
SASARAN
KETERANGAN

2009
2009
AKHIR2025
(6) Studi aplikasi
teknologi komputer
untuk pembangunan
Sistem Pembinaan
Wilayah (SPW)
dan Sistem Logistik
Wilayah (SLW)
Hasil kajian aplikasi
teknologi komputer
untuk pembangunan
Sistem Pembinaan
Wilayah (SPW) dan
Sistem Logistik Wilayah
(SLW)
Tersedianya aplikasi
teknologi komputer
untuk pembangunan
Sistem Pembinaan
Wilayah (SPW)
dan Sistem Logistik
Wilayah (SLW)
Terwujudnya
Sistem
Pembinaan
Wilayah (SPW)
dan Sistem
Logistik Wilayah
(SLW)
Pelaksanan a.l.:
Balitbang
DepHan,
Dep Kominfo
Pengguna :
DepHan
(7) Penyusunan Model
Sandi (Kriptografi)
Hasil kajian model
Sandi Negara untuk
keamanan, keuangan,
dan perdagangan
Tersedianya
Sistem Sandi untuk
keamanan, keuangan,
dan perdagangan
Terwujudnya
Sandi yang
spesifik, valid dan
dapat diterapkan
Pelaksana a.l:
Dephan, BPS,
Depkeu, Sekneg,
Perguruan Tinggi
(Jurusan Matema-
tika), Depdagri,
Lembaga Sandi
Negara
Pengguna a.l.:
Dephan,
TNI/Polri, Depdagri,
Lembaga Sandi
Negara, Depkeu,
Sekneg.
(8) Studi Manajemen
Kesejahteraan
Rakyat
Hasil kajian Pengem-
bangan Model
Statistik, Komunatorik,
matematika industri dan
keuangan
Terwujudnya Pening-
katan Sistem Manaje-
men Kesejahteraan
Tercapainya
sistem
kesejahteraan
rakyat yang
handal
Pelaksana a.l:
Dephan,
Menko Kesra,
Bappenas, Sekneg,
Depkominfo, De-
perin/dag, Depkeu
Pengguna a.l.:
Dephan,
Menko Kesra,
Bappenas, Sekneg,
Depkominfo, De-
perin/dag, Depkeu
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
173
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
INDIKATOR
NO KEGIATAN
TARGETCAPAIAN
KEBERHASILAN
SASARAN
KETERANGAN

2009
2009
AKHIR2025
(9) Studi korosi logam
akibat degradasi
kondisi lingkungan
Penemuan formula
bahan atau rumusan
koefisien laju korosi
material/logam di In-
donesia
Berkurangnya korosi
pada material/logam
Terwujd nya
bahan baru, atau
bahan lapisan
pelindung dan
penghambat
korosi
Pelaksana a.l:
Dephan,
KNRT, Pergu-
ruan Tinggi, LPND,
Deperin, industri
Pengguna a.l.:
Dephan, TNI/Polri
LPND, Deperin,
Industri
(10) Pengembangan
sistim metoda
analisis, identifikasi
dan karakterisasi
bahan.
Sistim metodologi
analisis bahan (pangan,
obat, sumber energi,
elektronika, senjata,
dan lain-lain.
Terciptanya sistim ken-
dali mutu berdasarkan
standar internasional
Dikuasainya
iptek untuk sistim
monitoring,
analisis,
instrumentasi
pengendali mutu
Pelaksana a.l:
Dephan,
KNRT, LPND. LPD,
Depkes, Perguruan
Tinggi, Transportasi,
KomInfo.
Pengguna a.l.:
Dephan, TNI/Polri
LPND, LPD, Depkes,
Perguruan Tinggi,
Transportasi,
KomInfo
(11) Pengembangan
ilmu dan teknologi
proses terhadap
sumber daya alam/
bahan tropis
Sumber daya sandang,
pangan, suplemen, sis-
tim penyimpanan dan
pengawetan makanan,
iptek bahan struktur
dan bahan dukung
bahan serat, anti korosi,
diversifikasi bahan alam
untuk kesehatan,
lingkungan, pertahanan
(amunisi, bahan anti
senjata dsb.) dan bahan
penghasil energi.
Tersedianya sumber
bahan baku sebagai
hasil dari penguasaan
ilmu dan teknologi
proses untuk kepentin-
gan konsumsi nasional
Tercapainya
penguasaan iptek
untuk penyediaan/
suplai Sumber
daya pangan,
suplemen, bahan
struktur dan
bahan dukung
anti korosi,
diversifikasi
bahan alam
amunisi handal,
bahan anti senjata
dan material
lainnya
Pelaksana a.l:
Dephan,
KNRT, LPND. LPD,
Depkes, Perguruan
Tinggi
Pengguna a.l.:
Dephan,
KNRT, LPND. LPD,
Depkes, Perguruan
Tinggi
AgendA Riset
174 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
INDIKATOR
NO KEGIATAN
TARGETCAPAIAN
KEBERHASILAN
SASARAN
KETERANGAN

2009
2009
AKHIR2025
(12) Pengembangan
ilmu dan teknologi
nano atau sistem
material nano
Terbentuknya mate-
rial nano partikel/nano
kristal yang mempunyai
sifat spesifik yang
unggul
Penguasaan ilmu
dan teknologi nano
dalam bidang mate-
rial baru dari segi sifat
konduktivitas, super-
ionik/konduktivitasnya,
sensitivitas sensor,
bio-kompatibilitas, ba-
han pelindung lapisan
tipis, bahan komposit-
ringan, katalis dsb.
Berkembangnya
produk material
nano untuk
bahan pangan,
obat, sandang,
komposit, lapisan
tipis, magnetic,
dan elektronik,
yang mempunyai
sifat fungsional
baru, yang dapat
digunakan pula
pada sistim
energi baru, TIK,
transportasi,
pertahanan dan
kesehatan
Pelaksana a.l:
Dephan,
KNRT, Perguruan
Tinggi LPND, LPD,
Industri.
Pengguna a.l.:
Dephan,
KNRT, Perguruan
Tinggi LPND, LPD,
Industri.
(13) Pengembangan
ilmu bio-diversity:
bio-remediasi dan
bio-informatika,
dan manajemen
pengelolaan hayati/
botani, kehutanan
serta lingkungan
Berkembangnya ilmu
bio-diversity dalam
rangka menunjang
Sistem Logistik Wilayah
Terwujudnya
pengembangan ilmu
bio-diversity
Penguasaan
ilmu bio-diversity:
bio-remediasi dan
bio-informatika,
dan manajemen
pengelolaan
hayati/botani,
kehutanan serta
lingkungan.
Pelaksana a.l:
DepHan, DepHut,
Depdagri, DikNas
Perguruan Tinggi,
KLH, LPD/LPND
Pengguna a.l.:
DepHan, DepHut,
Depdagri, DikNas,
Perguruan Tinggi,
KLH, LPD/LPND
(14) Studi aplikasi
ilmu mikrobiologi
untuk menghadapi
bioterorisme di
Indonesia
Aplikasi ilmu dan
teknologi mikrobi-
ologi untuk meng-
hadapi bioterorisme di
Indonesia
Tersedianya teknologi
mikrobiologi untuk
menghadapi bioteror-
isme di Indonesia
Pendalaman
penguasaan ilmu
mikrobiologi untuk
menghadapi
bioterorisme di
Indonesia
Pelaksana a.l:
Dephan, KNRT,
Depkes, Perguruan
Tinggi Pengguna
a.l.: Dephan,
Depkes
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
175
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
INDIKATOR
NO KEGIATAN
TARGETCAPAIAN
KEBERHASILAN
SASARAN
KETERANGAN

2009
2009
AKHIR2025
(15) Studi karakteristik
kebumian di
Indonesia untuk
mengetahui
kondisi seismisitas,
kegiatan gunung
berapi dan sistem
Peredaran Udara
Karakteristik kondisi
seismisitas, kegiatan
gunung berapi dan
sistem Peredaran
Udara
Tersedianya
Karakteristik kondisi
seismisitas, kegiatan
gunung berapi dan
sistem Peredaran
Tersusunnysa
karakteristik
kebumian di
Indonesia untuk
mengetahui
kondisi
seismisitas,
kegiatan gunung
berapi dan sistem
Peredaran Udara
Pelaksana a.l:
Dephan
KNRT, BMG, LAPAN,
BAKOSURTANAL.
Pengguna a.l.:
Dephan
KNRT, BMG, LAPAN,
BAKOSURTANAL
(1) Studi aplikasi
teknologi
informasi untuk
Sistem Informasi
Komunikasi Polri
Blue Print Jaringan In-
formasi dan Komunika-
si Polri dan spesifikasi
teknik peralatan yang
diperlukan
Terwujudnya blue print
jaringan informasi dan
komunikasi
Terselenggaranya
jaringan informasi
dan komunikasi
yang mampu
mendukung
operasional Polri
Pelaksana a.l.:
Puslitbang Polri
ITB
LAPAN
Pengguna : Polri
BSTUDIAPLIKASITEKNOLOGIKEAMANAN
(2) Studi aplikasi
manajemen
transportasi untuk
mendukung
operasional polri
Blue Print Jaringan
Transportasi Laut dan
Udara Polri dan spa-
sifikasi teknis peralatan
yang diperlukan
Terwujudnya Blue Print
Jaringan Transportasi
Laut dan Udara Polri
dan spasifikasi teknis
peralatan yang diperlu-
kan sesusai karakteris-
tik kewilayahan
Terselenggaranya
Jaringan
Transportasi
Laut dan Udara
untuk mendukung
operasional Polri
Pelaksana a.l. :
Puslitbang Polsi
PT DI , PT PAL
LIPI,/BPPT/ PUSPI-
PTEK
Pengguna: Polri
(3) Optimalisasi
program Computer
Aided Automatic
Fingerproint
Identification
System (CAAFIS)
Terlaksananya me-
kanisme pelaporan dan
dokumentasi sidik jari
Terbangunnya sentral
data sidik jari
Penguasaan
teknologi CAAFIS
Pelaksana a.l. :
Puslitbang Polri
Pus Identifikasi
Polri
Pengguna : Polri
AgendA Riset
176 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
INDIKATOR
NO KEGIATAN
TARGETCAPAIAN
KEBERHASILAN
SASARAN
KETERANGAN

2009
2009
AKHIR2025
(1) Kajian-kajian
tentang wawasan
Kebangsaan dan
Bela Negara
Teridentifikasinya fak-
tor-faktor yang kondusif
dan detrimental bagi
penguatan Wawasan
Kebangsaan dan Bela
Negara
Terumuskannya
alternatif strategi
penguatan wawasan
kebangsaan dan bela
negara
Meningkatnya
perwujudan
kesatuan bangsa
Pelaksana a.l:
Lemhannas,
Balitbang Dephan,
Dislitbang TNI/Polri,
Lembaga litbang
Sosial seperti
IPSK- LIPI, Litbang-
da, Lemhannas,
perguruan tinggi.
Pengguna a.l.:
Dephan, TNI/Polri,
Depdagri
CKAjIANSOSIALKEMANUSIAAN
(2) Kajian Kebijakan
Publik tentang
Potensi Disintegrasi
Nasional dalam
Perspektif Keadilan
Teridentifikasinya
Kebijakan-kebijakan
Publik yang kondusif
dan detrimental bagi
Integrasi Nasional
Terumuskannya
Alternatif Strategi
Kebijakan Publik yang
berperspektif Keadilan
(3) Kajian-kajian di
Wilayah Perbatasan
dan Daerah Rawan
Konflik Untuk
Penguatan Pertahan
dan Keamanan
Teridentifikasinya
Permasalahan-per-
masalahan di Wilayah
Perbatasan dan Daerah
Rawan Konflik
Dihasilkannya Peta
dan Sistem Peringatan
Dini (EWS) Perma-
salahan di Wilayah
Perbatasan dan di
Daerah Rawan Konflik,
serta alternatif strategi
penanggulangannya
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
177
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
INDIKATOR
NO KEGIATAN
TARGETCAPAIAN
KEBERHASILAN
SASARAN
KETERANGAN

2009
2009
AKHIR2025
III PROGRAM PENGUATAN KELEMBAGAAN IPTEK
(1) Penguatan internal
Kelembagaan Iptek
dan Kelembagaan
Pendukungnya
Terpenuhinya sebagian
kebutuhan sarana dan
prasara peneliitian
Terwujudnya pening-
katan produktivitas
penelitian yang
dihasilkan
Meningkatnya
peran dan
kontribusi
lembaga
penelitian dalam
mendukung
perkembangan
industri hankam
Pelaksanan a.l.:
Dephan
Perguruan Tinggi,
LPND Ristek
Pengguna a.l :
Dep han
TNI & POlri
APENGUATANINTERNALKELEMBAGAANIPTEK
(1) Peningkatan
kerjasama dengan
perguruan tinggi
dalam rangka
peningkatan
kemampuan SDM
di bidang teknologi
hankam
Peningkatan
kemampuan SDM
peneliti dengan tingkat
pendidikan S2 san S3
Peningkatan jumlah
peneliti dengan tingkat
akademis S2 dan S3
Tersedianya
SDM peneliti
yang dibutuhkan
untuk
mengembang
kan kapasitas
nasional
Pelaksanan a.l.
Dep. Han
Perguruan Tinggi,
LPND Ristek,
Industri nasional
Pengguna a.l :
Dep han
TNI & Polri
BKERjASAMAANTARLEMBAGAIPTEKDALAMNEGERI
(2) Kerjasama
dengan industri
yang memiliki
kemampuan dan
potensi sebagai
penyedia kebutuhan
yang terkait dengan
kepentingan
hankam
Tersedianya informasi
industri yang memiliki
kemampuan dan
potensi sebagai
penyedia kebutuhan
yang terkait dengan
kepentingan hankam
Tersedianya informasi
industri yang memiliki
kemampuan dan poten-
si sebagai penyedia
kebutuhan yang terkait
dengan kepentingan
hankam
Terselenggara
nya kemandirian
dalam penyedia-
an kebutuhan
yang terkait
dengan kepent-
ingan hankam
Pelaksanan a.l. :
Dep. Han,
Perguruan Tinggi,
LPND Ristek,
Industri nasional
Pengguna a.l :
Dep han
TNI & Polri
(3) Kerjasama di
bidang litbangyasa
antara LPND Riset,
Perguruan Tinggi
dan industri, baik
BUMN maupun
swasta
Terselenggaranya
kerjasama di bidang
litbangyasa alutsista
Pelibatan aktif LPND
Riset, Perguruan
Tinggi dan industri
dalam memberikan
pasokan teknologi
Peningkatan pa-
sokan teknologi
untuk memenuhi
kebutuhan
alutsista
Pelaksanan a.l.:
Dep. Han,
Perguruan Tinggi,
LPND Ristek,
Industri nasional
Pengguna a.l :
Dep han
TNI & Polri
AgendA Riset
178 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
INDIKATOR
NO KEGIATAN
TARGETCAPAIAN
KEBERHASILAN
SASARAN
KETERANGAN

2009
2009
AKHIR2025
(1) Kerjasama
dengan lembaga
internasional
Peningkatan intensitas
kegiatan kerjasama
dengan kelembagaan
iptek internasional dan
peningkatan kontribusi
finansial kelembagaan
internasional untuk
kegiatan litbang di
dalam negeri
Peningkatan penelitian
yang dibiayai oleh
kelembagaan
internasional dan
peningkatan jumlah
bantuan sarana dan
prasana litbang serta
pemberian technical
assistance
Peningkatan
kontribusi peneliti
Indonesia dalam
pengembangan
teknologi
pertahanan
Pelaksana a.l. :
Dephan,
Negara – negara
sahabat
Pengguna :
Dephan
TNI
CKERjASAMADENGANLEMBAGAINTERNASIONAL
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
179
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
INDIKATOR
NO KEGIATAN
TARGETCAPAIAN
KEBERHASILAN
SASARAN
KETERANGAN

2009
2009
AKHIR2025
IV PROGRAM PENINGKATAN KAPASITAS IPTEK SISTEM PRODUKSI
(1) Pemberdayaan
industri nasional
dalam rangka
menciptakan
kemandirian guna
memperkecil
ketergantungan
alutsista dari luar
a) Meningkatnya
kualitas dan kuantitas
SDM di bidang
rancang bangun
dan perekayasaan
dalam upaya
mengembangkan
kemampuan produksi
alutsista
b) Tersedianya sistem
produksi komponen
& sistem alutsista
sesusai kebutuhan
operasi
c) Tersedianya
regulasi pendanaan
dalam mendukung
pembangunan
sishanneg
d) Tersedianya regulasi
yang menetapkan
penggunaan produk
industri pertahanan
dalam negeri
e) Terselenggara nya
kerjasama industri
pertahanan nasional
dengan industri luar
negeri
a) Terwujudnya
peningkatan SDM
di bidang rancang
bangun dan
perekayasaan
b) Peningkatan jumlah
produksi komponen
dan sistem fabrika-
tor lokal
c) Peningkatan pem-
bangunan alutsista
secara bertahap
d) Peningkatan pem-
bangunan alutsista
secara bertahap
e) Peningkatan
kemampuan industri
pertahanan nasional
Kemandirian
dalam penyediaan
alutsista dan
pemeliharaannya
dengan
tersedianya
alutsista dan
susku cadang
yang diproduksi di
dalam negeri
Pelaksana a.l.
Dep. Pertahanan
Dep Keuangan
Kementerian
BUMN
Kementerian
Ristek
Kementerian
terkait
DPR
Pengguna a.l. :
Industri hankam
TNI/Polri
APEMBERDAYAANINDUSTRINASIONAL
AgendA Riset
180 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
3.6. AGENDA RISET TEKNOLOGI KESEHATAN DAN OBAT-OBATAN
3.6.1. Latar Belakang Permasalahan
Pembangunan kesehatan merupakan upaya untuk memenuhi salah
satu hak dasar rakyat, yaitu hak untuk memperoleh pelayanan kesehatan
yang bermutu seperti diamanatkan dalam UUD 1945 pasal 28 dan UU
nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan. Kesehatan merupakan modal
dasar pembangunan manusia seutuhnya dan sebagai tonggak awal
pembangunan di segala bidang.
Ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) mempunyai peran yang
sangat penting dalam pembangunan kesehatan. Pembangunan iptek
kesehatan pada hakekatnya ditujukan untuk meningkatkan kesadaran,
kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud
derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Pembangunan kesehatan
ditekankan kepada perilaku hidup sehat dan terciptanya lingkungan
yang sehat serta terjangkaunya pelayanan kesehatan yang bermutu
secara adil dan merata. Kesehatan juga merupakan investasi untuk men-
dukung pembangunan ekonomi serta memiliki peran penting dalam
penanggulangan kemiskinan.
Permasalahan utama yang dihadapi adalah: (a) terjadinya disparitas
status kesehatan; (b) beban ganda penyakit; (c) mahalnya harga obat;
(d) ketergantungan yang tinggi terhadap impor obat dan alat kesehatan/
kedokteran dari luar negeri; (e) perilaku masyarakat yang kurang mendukung
pola hidup sehat dan bersih; (f) rendahnya kondisi kesehatan lingkungan; (g)
rendahnya kualitas, pemerataan dan keterjangkauan pelayanan kesehatan;
(h) terbatasnya tenaga kesehatan dan distribusinya yang tidak merata; dan
(i) rendahnya status kesehatan penduduk miskin.
Dalam Sistem Kesehatan Nasional, disebutkan bahwa penerapan
kemajuan iptek kesehatan diutamakan pada iptek tepat guna untuk
pelayanan kesehatan tingkat pertama (Puskesmas) dan iptek canggih
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
181
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
untuk pelayanan kesehatan rujukan. Kemajuan global di bidang iptek
kesehatan, khususnya teknologi diagnostik, bioteknologi dan teknologi
intervensi kuratif serta preventif berlangsung dengan pesat. Mengingat
tantangan yang besar di era globalisasi, maka untuk mencapai hasil yang
optimal perlu dikembangkan program riset kesehatan yang lebih terarah
dan sistematis.
3.6.2. Arah Kebijakan dan Prioritas Utama
Arah kebijakan umum riset kesehatan tahun 2005-2009 dirumuskan
dengan mengacu kepada kebijakan iptek dari Kementerian Negara Riset
dan Teknologi dan Kebijakan Litbangkes Departemen Kesehatan. Kebi-
jakan strategis nasional bidang teknologi kesehatan dan obat-obatan
harus mampu memberikan solusi permasalahan kesehatan nasional.
Untuk itu, arah dan prioritas Pengembangan Teknologi Kesehatan dan
Obat-obatan difokuskan pada tujuh bidang prioritas, yaitu penerapan
iptek untuk:
(1) Peningkatan status gizi masyarakat menuju pencapaian gizi seimbang
serta tumbuh kembang anak dalam rangka menjaga kualitas manusia
Indonesia.
(2) Pengembangan bahan baku obat untuk memperkuat struktur in-
dustri bahan baku farmasi nasional agar secara bertahap dan
berkesinambungan dapat mengurangi kebutuhan impor.
(3) Pengembangan obat bahan alam (OBA) melalui pemanfaatan
sumberdaya hayati Indonesia menjadi produk obat alami (herbal
terstandar, dan ftofarmaka) yang mempunyai nilai tambah, berkuali-
tas dan berdaya saing tinggi di tingkat lokal, regional maupun global.
(4) Pengembangan obat yang mempunyai khasiat preventif, kuratif dan
paliatif seperti, vaksin, serta obat terapeutik dan alat diagnostika
melalui pendekatan bioteknologi/protein rekombinan
AgendA Riset
182 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
a. Pengendalian penyakit melalui deteksi dini, peningkatan dan pe-
meliharaan kesehatan, pencegahan dan penyembuhan penyakit, ser-
ta pemulihan kesehatan.
b. Penguasaan teknologi produksi dan perawatan alat kesehatan/ke-
dokteran untuk mengurangi ketergantungan impor serta kemandirian
operasional dan perawatannya.
c. Penerapan teknologi genomics, proteomics dan teknologi nano untuk
kesehatan dan kedokteran.
Untuk mewujudkan penguasaan teknologi, inovasi dan kemandirian
dalam Teknologi Kesehatan dan Obat-obatan, diperlukan dukungan
riset sains dasar khususnya di bidang kimia, fsika, biologi, genetika dan
biomolekuler yang terkait dengan gizi, penyakit menular dan tidak menular,
obat dan bahan pembantu obat, mekanisme kerja obat, produksi obat,
sumberdaya genetik, instrumentasi medik dan teknologi informatika.
Selain itu diperlukan juga riset-riset dasar dibidang sosial menyangkut
kesehatan seperti perilaku hidup sehat, jaminan sosial, kesetaraan akses
pelayanan kesehatan dasar, dan sistem informasi kesehatan.
3.6.3. Target Capaian Tahun 2009 dan Sasaran Tahun 2025
(a) Target Capaian Tahun 2009
Program Penelitian dan Pengembangan Iptek Kesehatan.
Target capaian tahun 2009 untuk program riset bidang gizi adalah
tersedianya peta permasalah gizi di Indonesia; alat/metoda penilaian
status gizi yang cepat dan sahih untuk mengukur indikator pencapaian
program gizi seimbang; pemahaman hubungan antara gizi dan penyakit
degeneratif serta metoda pengumpulan dan analisis datanya; kebijakan
pangan & gizi yang mengarah pada peningkatan standar kualitas (aspek
nutrisi dan keamanan konsumsi); peningkatan pemahaman tentang
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
183
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
aspek genetika masalah gizi; sistem komunikasi gizi untuk mencapai
Kadarzi; dan model intervensi kecamatan rawan gizi spesifk lokal.
Capaian hasil riset bidang obat bahan alam untuk tahun 2009
adalah: meningkatnya jumlah formula herbal terstandar (menjadi 50)
dan ftofarmaka (15); paket teknologi produksi obat dan diagnostika
berbasis protein rekombinan a.l. kit diagnostik dengue melalui sistem
yeast; human erythropoetin (hEPO), 2α-interferon dan antibodi M-12 melalui
sistem tanaman; paket teknologi produksi antibiotika, antikanker,
immunomodulator, antiinfamasi dari tanaman, mikroba dan biota
laut; diperoleh sejumlah mikroba potentisial (5 sp./thn) untuk produksi
antibiotik dan enzim untuk industri farmasi; paket teknologi ekstrak
terstandar tanaman obat unggulan yang ditetapkan BPOM (20 tanaman/
tahun); paket validasi farmakologi sediaan obat degeneratif dan anti
infeksi difokuskan pada antikanker, imunomodulator, kardiovaskuler,
sindrom metabolik, anti demam berdarah dan anti fu burung; dan
panduan uji stabilitas sifat biokimia dan ftokimia tanaman obat terpilih
difokuskan pada antikanker, imunomodulator, anti demam berdarah,
dan antifu burung.
Target capaian pada tahun 2009 untuk bidang penyakit menular dan
tidak menular, serta pengendalian penyakit dan penyehatan lingkungan
dipilah untuk masing-masing sub-bidang. Capaian untuk sub-bidang
riset penyakit menular adalah: kandidat vaksin yang murah, terjangkau,
dan praktis (dari injeksi diganti peroral); pemakaian Kit oleh Program;
metode pengobatan pharmacogenomic; Model Peringatan Dini KLB; dan
Model Community Base penanggulangan penyakit menular. Capaian untuk
sub-bidang riset penyakit tidak menular adalah: prototipe diagnostik
yang mempunyai sensitivitas dan spesifsitas tinggi terhadap agen/faktor
resiko penyebab kanker/penyakit kardiovaskuler /sindrom metabolik;
standardisasi diagnosis terutama untuk diagnosis molekuler (DNA) dan
monitoring; tersedianya metode pencegahan (KIE); metode diagnosis
AgendA Riset
184 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
tepat guna; dan mapping genetik penyebab kanker, faktor resiko penyakit
sindrom metabolik dengan polimorfsme genetik pada lokus-lokus
khromosom yang telah dicurigai seperti dilaporkan peneliti lain dari
bangsa Kaukasia yang belum tentu sama dengan bangsa Asia. Capaian
riset sub-bidang penyehatan lingkungan adalah: model pengendalian
vektor, reservoir dan penyakit; teknologi tepat guna untuk pengelolaan
limbah rumah tangga, yankes dan industri; serta model peningkatan
prilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) melalui pemberdayaan ma-
syarakat.
Capaian pada tahun 2009 untuk riset bidang peralatan kesehatan
/kedokteran adalah: database tentang produk instrumen medik sistem
pemonitor pasien dan biosensor; prototipe alat kesehatan disposable berbasis
bahan baku lokal (catheter, respiratory bag, respiratory mask); prototipe alat
diagnosa kedokteran nuklir; kandidat biosensor untuk penyakit degeneratif
yang tervalidasi secara klinis; prototipe alat biosensor untuk deteksi materi
bioterorisme; sistem dan prosedur untuk evaluasi scanner ultrasonograf;
dan prototipe sistem pemonitor pasien, (alat respirasi, EKG, alat monitor
suhu dan kadar oksigen).
Program Difusi dan Pemanfaatan Iptek
Target capaian program difusi dan pemanfaatan iptek pada tahun
2009 untuk riset bidang gizi adalah: Sistem Kewaspadaan Pangan dan
Gizi (SKPG) yang lebih efektif dan efsien; Posyandu ‘baru’ berbasis
pengukuran status gizi dan metoda intervensi yang sahih dan tepat guna;
dan Sistem surveillance gizi sentinel siap dipasang.
Untuk bidang obat bahan alam, capaian yang ditargetkan pada tahun
2009 adalah: diaplikasikannya teknologi ekstrak standar dari tanaman
obat oleh mitra industri; diaplikasikannya paket teknologi produksi
sediaan obat alami dengan indikasi khasiat antikanker, imunomodulator,
obat penyakit degeneratif, obat pemeliharaan kesehatan dan obat demam
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
185
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
berdarah oleh mitra industri sehingga diharapkan dapat mencapai
50% dari nilai volume pasar obat di Indonesia; diaplikasikannya paket
teknologi produksi bahan baku obat berbasis fermentasi (antibiotika
generasi baru, penurun kolesterol, vitamin, hormon) oleh mitra industri;
diaplikasikannya teknologi produksi bahan baku obat dan bahan tambahan
(excipient) untuk pembuatan sediaan obat; meningkatnya jumlah industri
obat herbal yang menerapkan kaidah kualitas dan keamanan pakai
bagi konsumen; dan tumbuhnya industri obat berbasis bioteknologi
(antibiotika, diagnostika dengue, vaksin fu burung, interferon), melalui
lisensi dari perusahaan induk.
Target capaian program difusi dan pemanfaatan iptek pada tahun
2009 untuk bidang penyakit menular dan tidak menular, pengendalian
penyakit dan penyehatan lingkungan adalah: ditemukannya populasi
resiko kanker tinggi, kardiovaskuler/sindrom metabolik; diterapkannya
teknik diagnostik dan prognostik untuk kanker, kardiovaskuler/ sindrom
metabolik; diperoleh prototipe vaksin atau biologi target untuk kanker,
kardiovaskuler/sindrom metabolik; dan tersedianya database nasional
untuk kanker, kardiovaskuler/sindrom metabolik yang dapat diakses oleh
pengguna yang memerlukannya.
Capaian untuk bidang peralatan kesehatan/kedokteran yang ditar-
getkan adalah: pelayanan dan konsultasi pemakaian dan operasional
alat kesehatan/kedokteran; dan penyelenggaraan pelatihan alat ke-
sehatan/kedokteran.
Program Penguatan Kelembagaan Iptek
Target capaian program penguatan kelembagaan iptek pada tahun
2009 untuk bidang gizi adalah terbentuk dan mantapnya Jejaring Iptek
Sadar Gizi.
Capaian untuk bidang obat bahan alam adalah: tersedianya labo-
ratorium litbang dan produksi yang memenuhi persyaratan GMP
AgendA Riset
186 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
(CPOB, CPOTB); dan peningkatan jumlah SDM yang memperoleh
pendidikan, pelatihan dan pengalaman kerja di industri maju (lokal atau
internasional).
Untuk bidang penyakit menular, penyakit tidak menular, pengenda-
lian penyakit, dan penyehatan lingkungan, target capaian pada
tahun 2009 adalah: fasilitas atau laboratorium deteksi dini penyakit
menular maupun tidak menular mulai dibangun dengan mengacu
pada aturan akreditasi dan sertifkasi WHO; fasilitas atau laboratorium
penanggulangan penyakit baru dan darurat (SARS, Flu burung),
emerging dan re-emerging (TBC, Polio) dan sebagainya mulai dibangun
dan dilengkapi alat yang diperlukan; peningkatan kemampuan SDM
yang sudah mendapatkan pelatihan, pendidikan dan wawasan yang
luas dari kegiatan pertukaran informasi dan pengetahuan melalui event
penting; sistem insentif dan pembiayaan iptek kesehatan melalui aturan
regulasi yang berlaku; sistem manajemen iptek kesehatan terpadu
sudah disosialisasikan dan siap diterapkan; draft rancangan etika iptek
kesehatan sudah selesai; dan sudah disusun Tim Pengembangan
Indikator dan statistik iptek kesehatan dengan draft indikator sampai
dengan 2009.
Peningkatan Kapasitas Iptek Sistem Produksi
Target capaian program peningkatan kapasitas iptek sistem produksi
pada tahun 2009 untuk bidang gizi adalah: tersusunnya formula lokal
(Indonesia) pangan untuk intervensi gizi; dan ketersediaan makanan
fungsional produk domestik yang dibutuhkan masyarakat untuk pe-
ningkatan gizinya.
Capaian untuk bidang obat bahan alam adalah: teknologi peningkatan
sistem produksi bahan baku farmasi dan obat alami melalui optimasi
proses; teknologi peningkatan produksi antibiotika generasi baru,
golongan obat gangguan metabolisme dan bahan baku obat lainnya
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
187
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
melalui rekayasa optimasi strain (mutasi strain); dan teknologi peningkatan
produksi beberapa bahan baku obat yang diprioritaskan melalui rekayasa
molekuler biologi.
Untuk bidang penyakit menular, penyakit tidak menular, pengen-
dalian penyakit, dan penyehatan lingkungan, target capaian pada
tahun 2009 adalah: teknologi deteksi dini untuk kanker, kardiovaskuler/
sindrom metabolik; teknologi diagnosis dan prognosis untuk kanker,
kardiovaskuler/sindrom metabolik; dan database kanker, kardiovaskuler/
sindrom metabolik.
Capaian untuk bidang peralatan kesehatan/kedokteran yang ditar-
getkan adalah tervalidasinya instumen kedokteran untuk diagnosa dan
terapi di rumah sakit pemerintah dan swasta.
(b) Sasaran pada Tahun 2025
Program Penelitian dan Pengembangan Iptek Kesehatan.
Sasaran yang ingin dicapai pada tahun 2025 untuk bidang gizi adalah:
penanganan berbagai masalah gizi dilakukan dengan perencanaan baik,
sesuai dengan perkembangan peta masalah yang ada dan dimutakhirkan;
penanggulangan masalah gizi didasarkan pada hasil penilaian status gizi
yang sahih; informasi gizi (dan faktor terkait) jangka panjang tersedia;
prevalensi keracunan pangan menurun drastis; penanganan berbagai
masalah gizi secara mendasar sesuai dengan hasil kajian aspek genetika
masalah gizi yang ada; dan peningkatan proporsi Kadarzi sebesar 75%
keluarga di Indonesia.
Untuk bidang obat bahan alam sasarannya adalah: obat bahan alam
hasil eksplorasi sumberdaya alam Indonesia sudah diproduksi dan
dipasarkan di Indonesia oleh industri lokal; mikroba yang ditemukan
dari SDA Indonesia sudah diberi nomenclature sebagai indigenous
Indonesia, dan dimanfaatkan untuk produksi obat golongan antibiotik,
AgendA Riset
188 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
vitamin, hormon dan enzim untuk industri farmasi; semua tanaman
obat unggulan dan tanaman obat lainnya sudah memiliki nilai standar
sesuai yang ditetapkan oleh BPOM atau referensi baku lainnya;
terintegrasikannya obat alami dari herbal maupun sumberdaya alam
lainnya yang sudah divalidasi melalui kajian ftokimia, uji farmakologi
(uji khasiat dan toksisitas praklinik maupun klinik untuk obat herbal
terstandar dan ftofarmaka) ke dalam pelayanan kesehatan formal, serta
menjadi alternatif dan komplementer dengan pengobatan modern; dan
tercapainya kemandirian dan ketersediaan obat dan sediaan farmasi
berbasis bioteknologi atau protein rekombinan untuk upaya preventif,
dan kuratif seperti kit diagnostika vaksin, antibodi, sera serta obat-
obatan untuk penyakit menular dan tidak menular. Diharapkan tahun
2025 kebutuhan obat dan sediaan farmasi dari impor dapat dikurangi
secara signifkan (dari 95% impor menjadi hanya 50% impor).
Sasaran hasil riset pada tahun 2025 untuk bidang penyakit menular
dan tidak menular, serta pengendalian penyakit dan penyehatan
lingkungan dipilah untuk masing-masing sub-bidang. Sasaran sub-
bidang penyakit menular adalah: penggunaan vaksin secara merata dan
penurunan kejadian penyakit menular, pencegahan KLB; pemakaian
teknik terbaru pada semua rumah sakit besar/rujukan; dan penggunaan
antimikroba rasional dan tepat. Sasaran untuk sub-bidang penyakit
tidak menular adalah: penurunan insiden penyakit kanker dan sindrom
metabolik; data epidemiologik penduduk atau daerah yg mempunyai
risiko tinggi; teknik tepat dan akurat dengan para ahli yg bertaraf
international; pola DNA/genom bangsa Indonesia dari lokus-lokus yang
merupakan faktor risiko dan gen-gen rentan (susceptible genes) timbulnya
penyakit kanker dan sindrom metabolik; pencegahan penyakit kanker
berbasis biomolekuler; kesadaran masyarakat terhadap faktor risiko
dengan pengaturan pola makan, gaya hidup dan lingkungan (biohazard);
dan diagnosis lebih cepat dan tepat yang dapat diterapkan di Rumah
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
189
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
Sakit. Sasaran untuk sub-bidang penyehatan lingkungan adalah: model
pengendalian vektor, reservoir dan penyakit; teknologi tepat guna
untuk pengelolaan limbah rumahtangga, yankes dan industri; dan
Model Peningkatan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dengan
mengembangkan model-model pemberdayaan masyarakat yang mandiri
dan mampu mencari solusi permasalahan yang timbul.
Sasaran yang ingin dicapai pada tahun 2025 untuk riset bidang
peralatan kesehatan /kedokteran adalah: instrumentasi medik untuk
diagnosa dan terapi kesehatan sudah dibuat dengan kemampuan dan
sumberdaya lokal; biosensor pemeriksaan penyakit degeneratif sudah
dikomersialkan baik lokal maupun ekspor; kemampuan nasional sistem
deteksi materi bioterorisme; produksi lokal untuk sistem pemonitor pasien
(alat respirasi, EKG, alat monitor suhu dan kadar oksigen); kemandirian
produksi alat kesehatan disposable berbahan baku lokal (catheter, respiratory
bag, respiratory mask); kemandirian produksi alat diagnosa nuklir PET-CT;
produksi instrumentasi medik terpilih dan suku cadangnya sesuai dengan
prioritas dan kebutuhan pengguna; sistem standarisasi alat kesehatan/
kedokteran sudah terbangun; dan kemandirian pengoperasian dan
perawatan instrumentasi medik baik pada perangkat keras (hardware),
maupun perangkat lunak (software).
Program Difusi dan Pemanfaatan Iptek
Sasaran program difusi dan pemanfaatan iptek yang ingin dicapai
pada tahun 2025 untuk bidang gizi adalah: intervensi pangan dan gizi
berbasis data SKPG dan mekanisme tanggap dini masalah pangan dan
gizi di lapangan sebagai bagian integral sistem perbaikan gizi; Posyandu
menjadi ujung tombak program, melalui program ”Dokter Keluarga”
(Family Physician); serta surveillance gizi sentinel telah dikerjakan selama
20 tahun dan dapat dipergunakan sebagai basis pengambilan keputusan
program gizi.
AgendA Riset
190 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
Sasaran tahun 2025 untuk bidang obat bahan alam adalah: produk
sediaan obat herbal menjadi produk komplementer obat modern,
diresepkan oleh dokter dan ditanggung oleh asuransi kesehatan;
peralihan pola industri farmasi dari trading ke manufacturing sehingga
tercapai kemandirian produksi bahan baku obat esential, bahan baku
tambahan, obat berbasis bioteknologi (antibiotika generasi baru,
penurun kolesterol, vitamin), vaksin, diagnostika, dan sera sehingga
mampu mencukupi kebutuhan lokal; serta meningkatnya jumlah industri
farmasi yang memproduksi obat berbasis bioteknologi dengan penerapan
teknologi genomics, proteomics dan teknologi nano.
Sasaran untuk bidang penyakit menular, penyakit tidak menular,
pengendalian penyakit, dan penyehatan lingkungan adalah: jumlah pen-
derita kanker, kardiovaskuler/sindrom metabolik di Indonesia menurun
dan dapat dicegah; angka kesakitan dan kematian kanker, kardiovaskuler/
sindrom metabolik menurun; diaplikasikannya vaksin produksi lokal
untuk kanker, serta obat berbasis biologi molekuler untuk kardiovaskuler/
sindrom metabolik; dan database berbasis teknologi IT berisi peta profl
penyakit kanker dan penyakit kardiovaskuler/sindrom metabolik sudah
dipakai secara luas dan dapat diakses secara online di semua center di
Indonesia.
Untuk bidang peralatan kesehatan/kedokteran, sasaran tahun 2025
adalah: peningkatan kemampuan Rumah Sakit baik pemerintah maupun
swasta untuk pengoperasian serta perawatan alat kesehatan/kedokteran;
dan kemandirian nasional untuk produksi alat kesehatan/kedokteran
terpilih serta suku cadangnya.
Program Penguatan Kelembagaan Iptek
Sasaran program penguatan kelembagaan iptek pada tahun 2025
untuk bidang gizi adalah mantapnya mekanisme penyusunan program
gizi berbasis Iptek
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
191
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
Untuk bidang obat bahan alam, sasarannya pada tahun 2025 ada-
lah: terbangun industri biofarmasi yang memproduksi obat berbasis
bioteknologi dan mampu mencukupi kebutuhan lokal untuk obat, vaksin
dan diagnostika; dan integrasi pemakaian obat alami dalam sistem
pelayanan kesehatan formal, baik sebagai alternatif maupun komplementer
obat modern dan dijamin oleh sistem asuransi kesehatan.
Sasaran untuk tahun 2025 untuk bidang penyakit menular, penyakit
tidak menular, pengendalian penyakit, dan penyehatan lingkungan
adalah: tersedianya fasilitas atau laboratorium deteksi dini penyakit
menular maupun tidak menular yang terakreditasi dan tersertifkasi oleh
WHO; tersedianya fasilitas atau laboratorium penanggulangan penyakit
baru dan darurat (SARS, Flu burung), emerging dan re-emerging (TBC,
Polio) yang dilengkapi dengan fasilitas dan peralatan yang memadai;
terbangun jejaring antar pelaku kesehatan (SDM), Jaringan Kesehatan
Nasional, meliputi kegiatan, pertukaran informasi, pengetahuan dan
pengalaman serta kerjasama penelitian dan aplikasinya; tersedia dan
diaplikasikan sistem insentif dan pembiayaan iptek kesehatan agar dapat
memberikan pelayanan kesehatan secara optimal, efektif dan efsien;
sistem managemen iptek kesehatan terpadu sudah terbangun dan
diaplikasikan secara nasional; etika iptek kesehatan sudah diaplikasikan
secara nasional; dan tersedia indikator dan statistik iptek kesehatan
nasional yang dimutakhirkan datanya secara rutin.
Peningkatan Kapasitas Iptek Sistem Produksi.
Program peningkatan kapasitas iptek sistem produksi menetapkan
sasaran untuk bidang gizi pada tahun 2025 adalah penanggulangan
masalah gizi dalam bentuk intervensi pangan yang layak produksi dan
konsumsi; serta swasembada makanan fungsional.
Sasaran untuk bidang obat bahan alam adalah: meningkatnya
volume pemakaian obat produksi lokal (sampai dengan 25% dari total
AgendA Riset
192 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
konsumsi obat) baik obat alami, obat berbasis bioteknologi dan sediaan
farmasi lainnya dalam sistem pelayanan kesehatan formal.
Untuk bidang peralatan kesehatan/kedokteran, sasaran yang ingin
dicapai pada tahun 2025 adalah kemampuan nasional bidang teknologi
produksi alat kesehatan atau suku cadang (spare part) untuk beberapa
instrumen yang pemakaiannya sangat diperlukan.
3.6.4. Program
Program riset kesehatan tentu perlu didukung oleh tiga program
lainnya, yakni program difusi dan pemanfaatan iptek, penguatan
kelembagaan iptek, dan peningkatan kapasitas iptek sistem produksi.
Bidang riset kesehatan yang dipilih disesuaikan dengan permasalahan
nyata yang dihadapi sektor kesehatan pada saat ini, yakni: (a) gizi; (b) obat
bahan alam; (c) penyakit menular, penyakit tidak menular, pengendalian
penyakit, dan penyehatan lingkungan; serta (d) peralatan kesehatan /
kedokteran.
(a) Gizi
Permasalah kesehatan yang terkait dengan status gizi masyarakat
masih sangat aktual di Indonesia. Oleh sebab itu, perlu dilakukan riset
tentang gizi, mencakup: (1) masalah kekurangan gizi (makro-mikro) dan
kelebihan gizi; (2) pengembangan teknologi penilaian status gizi yang
cepat dan sahih; (3) hubungan gizi dan penyakit degeneratif; (4) ke-
racunan makanan; (5) aspek genetika masalah gizi di Indonesia; dan
(6) teknologi komunikasi gizi untuk pencapaian Keluarga Sadar Gizi
(KADARZI).
Dukungan sains dasar ilmu genetika dan biomolekuler diperlukan
untuk mendukung program gizi serta penyusunan model matematika
untuk tatacara sensus ekonomi dan status gizi. Selain itu, pendekatan
sosial kemanusiaan untuk merubah paradigma masyarakat tentang
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
193
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
perlunya penerapan pola diet menuju gizi seimbang juga perlu dila-
kukan.
Agar hasil riset yang dilakukan dapat diadopsi oleh masyarakat atau
pihak pengguna lainnya, maka perlu ditunjang dengan kegiatan difusi
iptek yang mencakup: (1) pengembangan Sistem Kewaspadaan Pangan
& Gizi (SKPG) yang tepat guna; (2) revitalisasi Posyandu sebagai basis
pemantauan gizi keluarga; dan (3) pengembangan sistem surveillance
sentinel gizi dan penyakit degeneratif. Selain itu perlu dikembangkan dan
diperkuat lembaga iptek sadar gizi di tingkat nasional, maupun daerah.
Peningkatan kapasitas iptek sistem produksi diimplementasikan dalam
bentuk: (1) pengembangan formula dan produk intervensi gizi yang efektif
dan efsien; dan (2) pengembangan makanan fungsional Indonesia.
(b) Bahan Baku Obat dan Obat Bahan Alam
Kebutuhan obat secara nasional masih sangat bergantung pada
bahan baku obat impor; sedangkan dari sisi lain kekayaan biodiversitas
yang dimiliki Indonesia sangat potential untuk dikelola sebagai sumber
obat bahan alam (OBA). Kenyataan ini melandasi perlunya dilakukan
riset tentang: (1) teknologi protein rekombinan untuk produksi obat
dan sediaan farmasi melalui sistem yeast, sel mamalia dan tanaman;
(2) senyawa bioaktif dari bahan alam; (3) skrining mikroba potential
penghasil senyawa aktif untuk bahan baku farmasi (antibiotik dan
enzim); (4) teknologi ekstrak standar dari tanaman obat untuk
memenuhi kebutuhan bahan baku obat bahan alam (herbal terstandar
dan ftofarmaka); (5) teknologi uji praklinis (uji khasiat dan toksisitas)
pada tanaman obat terpilih; dan (6) pengujian stabilitas biokimia dan
karakterisitik ftokimia tanaman obat terpilih.
Aplikasi ilmu genetika dan biomolekuler dalam bidang sains dasar
diperlukan untuk mendukung pengembangan obat berbasis protein
rekombinan, baik untuk obat, diagnostik maupun vaksin, dengan
AgendA Riset
194 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
memperhatikan bioetika dan nilai-nilai kemanusiaan yang universal. Selain
itu aplikasi ilmu kimia material, kimia proses, kimia analitik, kimia fsika,
bioproses diperlukan untuk pengembangan obat bahan alam berbasis
sintesis kimia, biosintesis, ekstraksi dan fermentasi. Untuk mendukung
program pengembangan obat bahan alam diperlukan biodiversitas yang
memadai, bioinformatika serta manajemen pengelolaan sumberdaya
hayati dan lingkungan .
Kegiatan riset ini perlu didukung dengan upaya difusi dan pemanfaatan
iptek, berupa: (1) aplikasi paket teknologi produksi obat herbal, obat
bahan alam, bahan baku obat dan bahan tambahan (excipient) serta
beberapa obat berbasis bioteknologi (antibiotika generasi batu, vitamin,
antikolestrol, enzim) oleh mitra industri; dan (2) pemberdayaan industri
obat herbal, obat bahan alam, bahan baku obat dan bahan tambahan
(excipient) serta obat berbasis bioteknologi, genomik dan proteomik.
Penguatan kelembagaan dilakukan dengan: (1) peningkatan sarana
laboratorium bioteknologi, farmasi, medika ketingkat CPOB (Cara Pro-
duksi Obat yang Baik); dan (2) peningkatan kompetensi SDM bidang
teknologi produksi obat melalui training dan magang baik lokal maupun
internasional (3) peningkatan komunikasi tentang kebijakan sistem
kesehatan nasional, pelayanan kesehatan, dan kebijakan riset serta hasil-
hasil penelitian pengembangan obat bahan alam diantara lembaga-
lembaga terkait untuk mendorong pemanfaatan dan pengakuan obat
bahan alam dalam sistem pelayanan kesehatan nasional.
Peningkatan kapasitas iptek sistem produksi diimplementasikan
melalui kegiatan: (1) percepatan trasnformasi industri bahan baku
farmasi, obat alami dan obat berbasis bioteknologi/protein rekombinan;
(2) peningkatan teknologi sistem produksi bahan baku farmasi, obat
alami dan obat berbasis bioteknologi/protein rekombinan; dan (3)
peningkatan teknologi produksi bahan baku obat secara fermentasi,
biosintesa dan rekayasa genetika.
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
195
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
(c) Penyakit menular, penyakit tidak menular, pengendalian penyakit
dan penyehatan lingkungan.
Masalah penyakit menular dan tidak menular serta kesehatan
lingkungan masih merupakan isu penting. Kegiatan riset yang perlu
dilakukan untuk mencari solusi teknologi atas permasalahan kesehatan
ini adalah: (1) pengembangan kandidat vaksin dan kit diagnostika
potensial untuk pengendalian penyakit menular (Malaria, TB, Dengue,HIV,
SARS/Flu Burung/H5IN); (2) teknologi deteksi dini dan prognosis kanker
maupun penyakit kardiovaskular dan sindrom metabolik; (3) teknologi
pencegahan penyakit kanker, kardivaskular dan penyaklit metabolik
melalui aplikasi vaksin dan berbasis sel target; (4) teknologi informasi
untuk membuat database kanker dan penyakit kardiovaskuler/sindrom
metabolik; (5) model pengendalian vektor, reservoir dan penyakit; (6)
teknologi tepat guna untuk pengelolaan limbah rumah tangga, yankes
dan industri; dan (7) Model Peningkatan Perilaku Hidup Bersih dan
Sehat (PHBS).
Dalam bidang sains dasar aplikasi ilmu genetika dan biomolekuler
diperlukan untuk memahami proses dan mekanisme penyakit menular,
degeneratif, emerging dan reemerging.
Sedangkan untuk merubah paradigma masyarakat dari penanggu-
langan dan pengendalian penyakit menjadi promosi sehat secara holistik,
diperlukan pendekatan sosial kemanusiaan melalui Model Peningkatan
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
Kegiatan difusi iptek diarahkan kepada: (1) aplikasi, diseminasi dan
komersialisasi teknologi kesehatan untuk deteksi dini dan prognosis
penyakit kanker, kardiovaskuler dan sindrom metabolik, serta deteksi
penyakit berbasis sel target; (2) aplikasi teknologi diagnosis dan prognosis
kanker/penyakit kardiovaskuler dan metabolik untuk diseminasi dan
komersialisasi untuk pencapaian standar dan mutu produk; (3) aplikasi,
diseminasi dan komersialisasi teknologi pencegahan penyakit menular
AgendA Riset
196 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
dan tidak menular melalui pemasyrakatan cara hidup sehat dan aplikasi
vaksin; (4) aplikasi, diseminasi dan komersialisasi teknologi informasi
untuk membuat database, peta, profl penyakit kanker dan penyakit
kardiovaskuler/ sindrom metabolik; dan (5) peningkatan apresiasi dan
kesadaran masyarakat tentang upaya pemeliharaan kesehatan.
Kegiatan untuk penguatan kelembagaan untuk mendukung kegiatan
riset ini adalah: (1) pembangunan fasilitas atau laboratorium deteksi
dini penyakit menular maupun tidak menular yang terakreditasi dan
tersertifkasi oleh WHO; (2) pembangunan fasilitas atau laboratorium
penanggulangan penyakit baru dan darurat (SARS, Flu burung),
emerging dan re-emerging (TBC, Polio) dsb, yang dilengkapi dengan
fasilitas dan peralatan yang memadai; (3) peningkatan kompetensi SDM
bidang kesehatan melalui pendidikan, pelatihan, seminar, workshop dan
sebagainya, serta pertukaran informasi dan kemampuan iptek kesehatan
antar pelaku dan praktisi kesehatan; (4) penyempurnaan sistem insentif
dan pembiayaan iptek kesehatan agar dapat memberikan pelayanan
kesehatan secara optimal, efektif dan efsien; (5) pengembangan
sistem managemen iptek kesehatan terpadu; (6) peningkatan etika
iptek kesehatan; dan (7) pengembangan indikator dan statistik iptek
kesehatan
(d) Alat Kesehatan/Kedokteran
Untuk menjamin ketersediaan peralatan kesehatan/kedokteran
dan mengurangi ketergantungan pada impor, maka sangat perlu untuk
dilakukan upaya untuk mengembangkan teknologi kesehatan sebagai
berikut: (1) teknologi instrumentasi medik untuk diagnostika dan terapi
kesehatan; (2) teknologi produksi alat kesehatan disposable berbahan baku
lokal (catheter, respiratory bag, respiratory mask) untuk mengurangi kebutuhan
impor; (3) biosensor untuk pemeriksaan penyakit degeneratif (diabetes,
asam urat, kholesterol, dll); (4) biosensor untuk menangkal bioterorisme; (5)
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
197
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
prototip sistem pemonitor pasien, difokuskan pada alat respirasi, EKG,
alat monitor suhu dan kadar oksigen; (6) teknologi diagnosa kedokteran
nuklir (PET-CT); (7) sistem dan prosedur untuk evaluasi performa scanner
ultrasonograf; (8) perekayasaan untuk peningkatan fungsi instrumentasi
medik; (9) standardisasi alat kesehatan/kedokteran; dan (10) teknologi
produksi perangkat keras dan spare part-nya serta operasional perangkat
lunak alat kesehatan/kedokteran.
Aplikasi biofsika dan instrumentasi sebagai bagian dari sains
dasar diperlukan untuk mendukung pengembangan biosensor, sistem
pemonitor pasien, dan perangkat lunak untuk modalitas terapi. Selain
itu juga diperlukan perekayasaan instrumentasi medik, standardisasi
dan kalibrasi alat kesehatan kedokteran.
Kegiatan program difusi dan pemanfaatan iptek yang mendukung
adalah: (1) penyediaan jasa konsultasi dan pelatihan pemakaian dan
perawatan alat kesehatan/kedokteran; dan (2) aplikasi hasil litbang
produksi perangkat keras dan perangkat lunak oleh industri alat kese-
hatan/kedokteran. Penguatan kelembagaan dilakukan melalui: (1) pe-
ngembangan fasilitas layanan dan konsultasi pemakaian dan perawatan
alat kesehatan/kedokteran; dan (2) pengembangan dan penerapan
kurikulum teknologi alat kesehatan/kedokteran pada fakultas kedokteran
dan unit pendidikan terkait. Selain itu, sebagai pendukung, perlu di-
lakukan upaya peningkatan kapasitas iptek sistem produksi, berupa:
(1) pengembangan pranata regulasi alat kesehatan/kedokteran; dan
(2) audit teknologi instumentasi medik untuk terapi dan diagnosa
kesehatan.
AgendA Riset
198 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
INDIKATOR
NO KEGIATAN
TARGETCAPAIAN
KEBERHASILAN
SASARAN
KETERANGAN

2009
2009
AKHIR2025
I PROGRAM PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN IPTEK
(1) Penelitian berbagai
masalah gizi: gizi
kurang (makro-
mikro) dan gizi lebih
Tersedianya peta
permasalah gizi di
Indonesia
Sudah terciptanya
kondisi sadar gizi serta
gizi seimbang pada
masyarakat.
Penanganan
berbagai
masalah gizi
dilakukan
dengan
perencanaan
baik, sesuai
dengan
perkembangan
peta masalah
yang ada &
dimutakhirkan
Pelaksana a.l.:
Litbang LPND,
Depkes,
Universitas,
Litbang Industri
(Swasta).
Pengguna a.l.:
Industri pangan,
RS Ibu dan Anak,
Industri Makanan
Fungsional
AGIzI
(2) Pengembangan
teknologi penilaian
status gizi yang
cepat dan sahih
Tersedianya alat/
metoda penilaian status
gizi yang cepat dan
sahih
Tersedianya model
intervensi kecamatan
rawan gizi spesifik lokal
Penanggulangan
masalah gizi
didasarkan pada
hasil penilaian
status gizi yang
sahih
(3) Penelitian hubungan
gizi dan penyakit
degeneratif
Pemahaman hubungan
antara gizi dan penyakit
degeneratif serta
metoda pengumpulan
dan analisis datanya
Informasi gizi
(dan faktor
terkait) jangka
panjang tersedia
(4) Penelitian
keracunan makanan
Kebijakan pangan &
gizi yang mengarah
pada peningkatan
standar kualitas (aspek
nutrisi dan keamanan
konsumsi)
Prevalensi
keracunan
pangan menurun
drastis
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
199
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
INDIKATOR
NO KEGIATAN
TARGETCAPAIAN
KEBERHASILAN
SASARAN
KETERANGAN

2009
2009
AKHIR2025
(5) Penelitian dasar
genetika dan
biomolekuler dalam
program gizi
Dihasilkannya pola
genetik yang terkait
dengan gizi
Tersedianya data-data
awal nutrigenomics
Penanganan
berbagai masalah
gizi secara
mendasar sesuai
dengan hasil
kajian aspek
genetika masalah
gizi yang ada
Pelaksana a.l.:
LPND, Universitas,
Litbangkes
(6) Pengembangan
model matematika
untuk sensus
ekonomi dan status
gizi
Dihasilkannya model
matematika sensus
ekonomi dan status gizi
Indonesia
Tersedianya data awal
sensus ekonomi dan
status gizi Indonesia
Terkasedianya
data lengkap
sensus ekonomi
dan status gizi
Pelaksana a.l.:
LPND, Universitas,
Litbangkes
(7) Pengembangan
teknologi
komunikasi gizi
untuk pencapaian
Keluarga Sadar Gizi
(Kadarzi)
Tersusunnya sistem
komunikasi gizi untuk
mencapai Kadarzi
Peningkatan
proporsi Kadarzi
sebesar 75%
keluarga di
Indonesia
BBAHANBAKUOBATDANOBATBAHANALAM
(1) Penelitian dan
pengembangan
senyawa bioaktif
dari bahan alam.
Paket teknologi
produksi antibiotika,
antikanker, immuno-
modulator, antiinflamasi
dari biota laut (spons,
fungi dan mikroba) dan
tanaman;
Meningkatnya temuan
senyawa aktif peng-
hasil antibiotika dan
antikanker dari SDA
Indonesia
Obat bahan alam
hasil eksplorasi
sumberdaya alam
Indonesia sudah
diproduksi dan
dipasarkan di
Indonesia oleh
industri lokal.
Pelaksana a.l. :
Litbang LPND,
Depkes, Universitas,
Litbang Industri
(Swasta).
Pengguna a.l.:
Industri farmasi,
Industri Obat Alami,
Industri Makanan
Fungsional
(2) Skrining mikroba
potential penghasil
senyawa aktif
untuk bahan baku
farmasi (antibiotik,
antikanker, enzim).
Diperoleh sejumlah
mikroba potentisial (5
sp./thn) untuk produksi
antibiotik dan enzim
untuk industri farmasi;
Meningkatnya temuan
strain penghasil anti-
biotika dan antikanker
dari SDA Indonesia
Mikroba yang
ditemukan dari
SDA Indonesia
sudah diberi
nomenclature
sebagai
indigenous
Indonesia, dan
dimanfaatkan
untuk produksi
obat antibiotik
dan enzim untuk
industri farmasi
AgendA Riset
200 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
INDIKATOR
NO KEGIATAN
TARGETCAPAIAN
KEBERHASILAN
SASARAN
KETERANGAN

2009
2009
AKHIR2025
(3) Penelitian dan
pengembangan
produksi obat dan
diagnostik melalui
bioteknologi
Paket teknologi
produksi obat dan
alat diagnostik (Kit
Diagnostk dengue;
Human Erythropoetin
(hEPO), 2-Interferon
dan antibodi M-12, dll)
melalui bioteknologi
Diproduksinya obat
dan alat diagnostik
melalui pendekatan
bioteknologi baik
melalui lisensi dan
transfer teknologi dari
negara industri maju
maupun hasil riset
sendiri.
Tercapainya
kemandirian dan
ketersediaan
obat dan alat
diagnostik melalui
pendekatan
bioteknologi untuk
upaya preventif,
kuratif dan paliatif
Pelaksana a.l. :
Litbang LPND,
Depkes, Universi-
tas, Litbang Industri
(Swasta).
Pengguna a.l. :
Industri farmasi,
Industri Obat Alami,
Industri Biofarmasi
(4) Pengembangan
teknologi ekstrak
standar dari
tanaman obat
untuk memenuhi
kebutuhan bahan
baku obat alami
(herbal terstandar
dan fitofarmaka).
Paket teknologi ekstrak
standar tanaman
obat unggulan yang
ditetapkan BPOM (20
tanaman/tahun);
Meningkatnya jumlah
simplisia dan ekstrak
terstandar untuk
produk herbal standar
dan fitofarmaka
Semua tanaman
obat unggulan
dan tanamn obat
lainnya sudah
memiliki nilai
standar sesuai
yang ditetapkan
oleh BPOM atau
referensi baku
lainnya.
(5) Pengembangan
teknologi uji
praklinis (Uji khasiat
dan toksisitas) dan
uji klinis tanaman
obat terpilih
Paket uji praklinis dan
klinis sediaan OBA
untuk penyakit infeksi
dan non infeksi, seperti
demam berdarah, flu
burung, antikanker,
imunomodulator,
kardiovaskuler, sindrom
metabolik, dll
Meningkatnya
pemakaian dan keper-
cayaan masyarakat
dan tenaga kesehatan
tentang OBA (herbal
terstandar, fitofarmaka)
baik melalui pengobat-
an sendiri maupun
melalui resep dokter
Terintegrasikannya
OBA, baik dari
herbal maupun
sumberdaya alam
lainnya ke dalam
SISYANKES dan
SISKESNAS
sebagai terapi
komplementer
pengobatan
modern
(6) Pengujian stabilitas
biokimia dan
karakterisitik
fitokimia tanaman
obat terpilih
Panduan uji stabilitas
sifat biokimia dan fito-
kimia tanaman obat
terpilih difokuskan
pada penyakit infeksi
dan noninfeksi, seperti
demam berdarah, flu
burung, kanker, imuno-
modulator, dll
Meningkatnya jumlah
tanaman obat yang
sudah dikarakterisasi
sifat-sifat fitokimianya
sebagai alat bantu
penentuan kandung-
an (standardisasi)
senyawa aktifnya.
Standardisasi
dan karakterisasi
sifat fitokimia
tanaman obat
sudah diterapkan
secara lebih luas
lagi pada berbagai
tanaman obat.
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
201
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
INDIKATOR
NO KEGIATAN
TARGETCAPAIAN
KEBERHASILAN
SASARAN
KETERANGAN

2009
2009
AKHIR2025
CPENYAKITMENULARDANTIDAKMENULAR,PENGENDALIANPENYAKITDANPENYEHATANLINGKUNGAN
(1) Pengembangan
kandidat vaksin
dan kit diagnostika
potensial untuk
pengendalian
penyakit menular
(Malaria, TB,
Dengue, HIV,
SARS/Flu Burung/
H5IN)
emakaian Kit diagnostik
oleh Program serta
tersedianya kandidat
vaksin, yang murah
terjangkau dan peng-
gunaan yg praktis (dari
injeksi diganti peroral).
Meningkatnya jumlah
temuan vaksin dari
sumberdaya lokal atau
jumlah produk vaksin
secara lisensi
Penyakit menular
(Malaria, TB,
Dengue, HIV,
SARS/Flu Burung/
H5IN) sudah
bisa dikendalikan
dan tersedia
vaksin serta kit
diagnostikanya
Pelaksana a.l.:
Litbang LPND,
Depkes, Universi-
tas, Litbang Industri
(Swasta).
Pengguna a.l. :
Rumah Sakit,
Yankes, Klinik,
Tenaga medis,
Masyarakat pada
umumnya
(2) Pengembangan
teknologi deteksi
dini dan prognosis
kanker/penyakit
kardiovaskular dan
sindrom metabolik
Pemakaian Kit diag-
nostik oleh Program;
serta pengobatan
pharmakogenomik
Meningkatnya jumlah
dan kemampuan
produksi diagnostika
berbasis sumberdaya
lokal.
Angka insidensi
kanker di
Indonesia
menurun, tersedia
peralatan dan
teknologi serta
SDM kompeten di
seluruh Indonesia
(3) Pengembangan
teknologi
pencegahan
penyakit kanker,
kardivaskular dan
penyakit metabolik
melalui aplikasi
vaksin dan berbasis
sel target.
Ketersediaan mapping
genetik untuk kanker,
penyakit kardiovaskuler/
simbol metabolik untuk
pengembangan biologi
target dan vaksin
Meningkatnya jumlah
dan kemampuan
produksi vaksin berba-
sis sumberdaya lokal
Ketersediaan
biologi target
dan vaksin untuk
kanker, penyakit
kardiovaskuler/
sindrom metabolik
di Indonesia
(4) Pengembangan
teknologi IT untuk
membuat data base
kanker dan penyakit
kardiovaskuler/
sindrom metabolik
Diperoleh data base
kanker, kardiovaskuler
dan sindrom metabolik
Meningkatnya akses
data base kanker,
kardiovaskuler dan
sindrom metabolik oleh
user sebagai indikasi
pentingnya database
tersebut sebagai
piranti medis.
Dimanfaatkannya
data base kanker,
kardiovaskuler
dan sindrom
metabolik
secara luas oleh
masyarakat
medis.
AgendA Riset
202 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
INDIKATOR
NO KEGIATAN
TARGETCAPAIAN
KEBERHASILAN
SASARAN
KETERANGAN

2009
2009
AKHIR2025
(5) Pengembangan
model pengendalian
vektor, reservoir dan
penyakit;
Tersedianya model
pengendalian vektor,
reservoir dan penyakit;
Pengendalian vektor,
reservoir dan penyakit
memberikan hasil lebih
baik
Sistem
pengendalian
vektor, reservoir
dan penyakit
sudah baku
(6) Pengembangan
teknologi tepat
guna untuk
pengelolaan limbah
rumahtangga,
yankes dan industri;
Tersedianya teknologi
tepat guna untuk
pengelolaan limbah
rumah tangga, yankes
dan industri;
Pengelolaan
limbah rumah tangga,
YanKes, dan industri
semakin baik.
Limbah rumah
tangga,
Pelayanan
Kesehatan dan
Industri sudah
dapat tertangani
dengan baik
sehingga tidak
menimbulkan
dampak negatif
terhadap
lingkungan
DALATKESEHATAN
(1) Pengembangan
teknologi
instrumentasi
medik dan suku
cadangnya untuk
diagnostika dan
terapi kesehatan
Tersedia database
tentang produk instru-
men medik dan suku
cadangnya sistem
pemonitor pasien dan
biosensor.
Meningkatnya kemam-
puan tenaga medis
dalam pemakaian
serta perawatan alat
kesehatan/kedokteran.
Instrumentasi
medik untuk
diagnosa
dan terapi
kesehatan sudah
dibuat dengan
kemampuan dan
sumberdaya lokal
Pelaksana a.l. :
Litbang LPND,
Depkes, Universi-
tas, Litbang Industri
(Swasta).
Pengguna a.l.:
Industri Alat Kes-
ehatan/kedokteran,
Rumah Sakit, Klinik
(2) Pengembangan
teknologi diagnosa
kedokteran nuklir
PET-CT
Diperoleh prototipe alat
diagnosa kedokteran
nuklir PET-CT
Alat diagnosa kedok-
teran nuklir PET-CT
diaplikasikan dirumah
sakit.
Kemandirian
produksi alat
diagnosa nuklir
PET-CT.
(3) Penelitian dan
pengembangan
biosensor untuk
deteksi materi
bioterorisme dan
penyakit degeneratif
Diperoleh kandidat
biosensor untuk
deteksi bakteri antrax
dan marker penyakit
degeneratif
Kandidat Biosen-
sor hasil penelitian
lokal tersebut mulai
diaplikasikan.
Kemampuan
nasional sistem
deteksi materi
bioterorisme
dan penyakit
degeneratif
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
203
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
INDIKATOR
NO KEGIATAN
TARGETCAPAIAN
KEBERHASILAN
SASARAN
KETERANGAN

2009
2009
AKHIR2025
(4) Pengembangan
prototip sistem
pemonitor pasien,
difokuskan pada
alat respirasi, EKG,
alat monitor suhu
dan kadar oksigen.
Diperoleh prototip
sistem pemonitor
pasien, (alat respirasi,
EKG, alat monitor suhu
dan kadar oksigen).
Prototip sistem
pemonitor pasien,
(alat respirasi, EKG,
alat monitor suhu dan
kadar oksigen) diujikan
di RS
Kemampuan
produksi lokal
untuk sistem
pemonitor pasien,
(alat respirasi,
EKG, alat monitor
suhu dan kadar
oksigen).
(5) Pengembangan
teknologi produksi
alat kesehatan
disposable
berbahan baku lokal
untuk mengurangi
kebutuhan impor.
Diperoleh prototip alat
kesehatan disposable
berbahan baku lokal
(catheter, respiratory
bag, respiratory mask).
Prototip alat kesehatan
disposable berbahan
baku lokal tersebut
diterima dan diaplika-
sikan di RS
Kemandirian
produksi alat
kesehatan
disposable
berbahan baku
lokal (catheter,
respiratory bag,
respiratory mask).
(7) Pengembangan
sistem dan prosedur
untuk evaluasi
performa scanner
ultrasonografi.
Tersedianya sistem
dan prosedur untuk
evaluasi performa
scanner ultrasonografi.
Sistem dan prosedur
untuk evaluasi
performa scanner
ultrasonografi diterap-
kan secara baik
Sistem dan
prosedur
untuk evaluasi
performa scanner
ultrasonografi
diterapkan secara
baik
(8) Pengembangan
teknik standardisasi
dan kalibrasi
alat kesehatan/
kedokteran
Diperolehnya teknik
stadardisasi dan
kalibrasi beberapa alat
kesehatan/kedokteran
Standaraisasi dan ka-
librasi alat kesehatan/
kedokteran menjadi
bagian penting dari
pengguna
Sistem
Standarisasi
dan kalibrasi
alat kesehatan/
kedokteran sudah
terbangun
AgendA Riset
204 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
INDIKATOR
NO KEGIATAN
TARGETCAPAIAN
KEBERHASILAN
SASARAN
KETERANGAN

2009
2009
AKHIR2025
II PROGRAM KEGIATAN DIFUSI DAN PEMANFAATAN IPTEK
(1) Pengembangan
Sistem
Kewaspadaan
Pangan & Gizi
(SKPG) yang tepat
guna
SKPG yang
lebih efektif dan efisien
SKPG yang lebih
efektif dan efisien
sudah diaplikasikan
Intervensi
pangan & gizi
berbasis data
SKPG dan
mekanisme
respons dini
masalah pangan
dan gizi di
lapangan;
Sebagai bagian
integral sistem
perbaikan gizi
Pelaksana a.l.:
Litbang LPND,
Depkes, Univer-
sitas, Litbang
Industri (Swasta).
Pengguna a.l.:
Rumah Sakit,
Klinik, Tenaga
medis, Masyarakat
pada umumnya
AGIzI
(2) Revitalisasi
Posyandu sebagai
basis pemantauan
gizi keluarga
Posyandu ‘baru’
berbasis pengukuran
status gizi dan metoda
intervensi yang sahih &
tepat guna.
Posyandu semakin
disadari sebagai
instrumen penting
untuk pemantauan gizi
keluarga
Posyandu
menjadi ujung
tombak program.
(3) Pengembangan
sistem surveillance
sentinel gizi dan
penyakit degeneratif
Sistem surveillance gizi
sentinel siap dipasang
Diaplikasikannya
sistem surveillance gizi
sentinel.
Surveillance
gizi sentinel
telah dikerjakan
selama 20 tahun
dan dapat diper-
gunakan sebagai
basis pengam-
bilan keputusan
program gizi.
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
205
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
INDIKATOR
NO KEGIATAN
TARGETCAPAIAN
KEBERHASILAN
SASARAN
KETERANGAN

2009
2009
AKHIR2025
BBAHANBAKUOBATDANOBATBAHANALAM
(1) Aplikasi paket
teknologi produksi
OBA, bahan
baku obat dan
bahan tambahan
(excipient)
serta beberapa
obat berbasis
bioteknologi
(antibiotika generasi
batu, vitamin,
antikolestrol,
enzim), oleh mitra
industri.
Diaplikasikannya
teknologi ekstrak stan-
dar dari tanaman obat
oleh mitra industri;
Meningkatnya jumlah
industri jamu dan
industri farmasi yang
memproduksi obat
herbal terstandar dan
fitofarmaka.
Produk sediaan
obat herbal
menjadi produk
komplementer
obat modern,
diresepkan
oleh Dokter
dan di”cover”
oleh Asuransi
Kesehatan
Pelaksana a.l. :
Litbang LPND,
Depkes, Universi-
tas, Litbang Industri
Herbal dan Farmasi
(Pemerintah dan
Swasta).
Pengguna a.l. :
Rumah Sakit,
Klinik, Dokter,
Tenaga medis,
Industri obat herbal,
industri farmasi.
(2) Pemberdayaan
industri OBA, bahan
baku obat dan
bahan tambahan
(excipient) serta
obat berbasis
bioteknologi,
genomik dan
proteomik
Diaplikasikannya paket
teknologi produksi se-
diaan obat herbal untuk
indikasi antikanker,
imunomodulator dan
obat demam berdarah
oleh mitra industri;
Meningkatnya produk
sediaan obat herbal
untuk indikasi anti-
kanker, imunomodula-
tor dan obat demam
berdarah
Diaplikasikannya paket
teknologi produksi ba-
han baku obat berbasis
fermentasi (antibiotika
generasi baru, penurun
kolesterol, vitamin) oleh
mitra industri;
Meningkatnya kesada-
ran dan kepercayaan
industri lokal untuk
beralih dari trading ke
arah manufacturing
untuk obat berbasis
bioteknologi, bahan
baku obat dan bahan
tambahan.
Terjadinya shifting
(peralihan) pola
industri farmasi
dari trading ke
manufacturing
sehingga tercapai
kemandirian
produksi bahan
baku obat esential,
bahan baku tambah-
an, obat berbasis
bioteknologi (anti-
biotika generasi
baru, penurun
kolesterol, vitamin),
vaksin, diagnostika
dan sera sehingga
mampu mencukupi
kebutuhan lokal
Diaplikasikannya
teknologi produksi
bahan baku obat dan
bahan tambahan
(excipient) untuk pem-
buatan sediaan obat
AgendA Riset
206 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
INDIKATOR
NO KEGIATAN
TARGETCAPAIAN
KEBERHASILAN
SASARAN
KETERANGAN

2009
2009
AKHIR2025
Tumbuhnya
industri obat berbasis
bioteknologi (antibiotika,
diagnostika dengue,
vaksin flu burung,
interferon), melalui
lisensi dari perusahaan
induk.
Meningkatnya jumlah
industri farmasi yang
memproduksi obat
berbasis bioteknologi
Meningkatnya
jumlah industri
farmasi yang
memproduksi
obat berbasis
bioteknologi
dengan
penerapan
teknologi
genomics,
proteomics dan
teknologi nano.
CPENYAKITMENULARDANTIDAKMENULAR,PENGENDALIANPENYAKITDANPENYEHATANLINGKUNGAN
(1) Aplikasi, diseminasi
dan komersialisasi
teknologi kesehatan
untuk deteksi dini
dan prognosis
penyakit kanker,
kardiovaskuler dan
sindrom metabolik,
serta deteksi
penyakit berbasis
sel target.
Ditemukannya popu-
lasi high risk kanker,
kardiovaskuler/sindrom
metabolik;
Meningkatnya kesada-
ran masyarakat untuk
melalukan deteksi
dini penyakit kanker
kardiovaskuler dan sin-
drom metabolik sudah
diterapkan secara
Jumlah penderita
kanker,
kardiovaskuler/
sindrom
metabolik di
Indonesia
menurun ;
Pelaksana a.l. :
Litbang LPND,
Depkes, Universi-
tas, Litbang Industri
Herbal dan Farmasi
(Pemerintah dan
Swasta).
Pengguna a.l. :
Rumah Sakit,
Klinik, Dokter,
Tenaga medis,
Industri obat herbal,
industri farmasi.
(2) Aplikasi teknologi
diagnosis dan
prognosis
kanker/penyakit
kardiovaskuler dan
metabolik untuk
diseminasi dan
komersialisasi untuk
pencapaian standar
dan mutu produk
Diterapkannya teknik
diagnostik dan prog-
nostik untuk kanker,
kardiovaskuler/ sindrom
metabolik
Meningkatnya pene-
muan penyakit pada
stadium lebih dini
Angka kesakitan
dan kematian
kanker,
kardiovaskuler/
sindrom
metabolik
menurun
(3) Aplikasi, diseminasi
dan komersialisasi
teknologi
pencegahan
penyakit menular
dan tidak menular
Diterapkannya teknologi
pencegahan penyakit
menular dan tidak
menular, seperti vaksin,
dll,
Diaplikasikannya
vaksin produksi lokal
untuk kanker, serta
obat berbasis biologi
molekuler untuk kar-
diovaskuler/ sindrom
metabolik;
Menurunnya
insidensi
penyakit
menular dan
tidak menular di
Indonesia
Pelaksana a.l.:
Industri, LPND,
Litbangkes,
Universitas, RS,
Puskesmas
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
207
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
INDIKATOR
NO KEGIATAN
TARGETCAPAIAN
KEBERHASILAN
SASARAN
KETERANGAN

2009
2009
AKHIR2025
DALATKESEHATAN
(4) Aplikasi, diseminasi
dan komersialisasi
teknologi IT untuk
membuat data base,
peta, profil penyakit
kanker dan penyakit
kardiovaskuler/
sindrom metabolik.
Diterapkannya teknologi
IT untuk membuat data
base, peta, profil penya-
kit kanker dan penyakit
kardiovaskuler/ sindrom
metabolik.
Dimanfaatkannya
teknologi IT untuk
membuat data base,
peta, profil penyakit
kanker dan penyakit
kardiovaskuler/
sindrom metabolik
diaplikasikan
Database
berbasis
teknologi IT
berisi peta profil
penyakit kanker
dan penyakit
kardiovaskuler/
sindrom
metabolik
sudah dipakai
secara luas dan
dapat diakses
secara online di
semua center di
Indonesia
Pelaksana a.l.:
Litbang LPND,
Depkes, Universi-
tas, Litbang Industri
Herbal dan Farmasi
(Pemerintah dan
Swasta).
Pengguna a.l. :
Rumah Sakit,
Klinik, Dokter,
Tenaga medis,
Industri obat herbal,
industri farmasi.
(5) Diseminasi
perubahan
paradigma hidup
sehat secara holistik
Mengubah pandangan
masyarakat dari
pendekatan pengobat-
an penyakit ke pen-
dekatan pemeliharaan
kesehatan secara
holistik
Meningkatnya
kesadaran masyarakat
tentang pemeliharaan
kesehatan secara
holistik
Terbangunnya
perubahan
paradigma pada
masyarakat dari
pendekatan
pengobatan
penyakit ke
pendekatan
pemeliharaan
kesehatan
secara holistik
(1) Penyediaan
jasa konsultasi
dan pelatihan
pemakaian
dan perawatan
alat kesehatan/
kedokteran
Pelayanan dan
konsultasi pemakaian
dan operasional alat
kesehatan/kedokteran
Meningkatnya
pemanfaatan jasa
konsultasi dan pelatih-
an pemakaian dan
perawatan alat
kesehatan/kedook-
teran
Peningkatan
kemampuan
Rumah Sakit
baik pemerintah
maupun
swasta untuk
pengoperasian
serta perawatan
alat kesehatan/
kedokteran
Pelaksana a.l.:
Litbang LPND,
Depkes, Universi-
tas, Litbang Industri
(Swasta).
Pengguna a.l.:
Industri Alat Kes-
ehatan/kedokteran,
Rumah Sakit, Klinik
AgendA Riset
208 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
INDIKATOR
NO KEGIATAN
TARGETCAPAIAN
KEBERHASILAN
SASARAN
KETERANGAN

2009
2009
AKHIR2025
(2) Aplikasi hasil litbang
produksi perangkat
keras dan perangkat
lunak oleh industri
alat kesehatan/
kedokteran
Penyelenggaraan pela-
tihan alat kesehatan/
kedokteran
Pelatihan alat
kesehatan/kedokteran
menjadi kegiatan rutin
Kemandirian
nasional untuk
produksi
beberapa alat
kesehatan/
kedokteran
terpilih serta
sparepart
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
209
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
INDIKATOR
NO KEGIATAN
TARGETCAPAIAN
KEBERHASILAN
SASARAN
KETERANGAN

2009
2009
AKHIR2025
III PENGUATAN KELEMBAGAAN IPTEK
(1) Pengembangan
Lembaga IPTEK
sadar gizi di pusat &
daerah
Terbentuk dan mantap-
nya Jejaring IPTEK
Sadar Gizi
Jejaring IPTEK Sadar
Gizi sudah operasional
Mantapnya
mekanisme
penyusunan
program gizi
berbasis IPTEK
Pelaksana:
Depkes;
Pengguna :
Masyarakat
AGIzI
(2) Pendekatan sosial
kemanusiaan untuk
merubah paradigma
hidup sehat menuju
pola gizi seimbang
Meningkatnya
kesadaran masyarakat
tentang paradigma
hidup sehat
Tersedianya konsep
paradigma hidup
sehat menuju pola gizi
seimbang
Terpenuhinya
Nilai Kebutuhan
/Kecukupan Gizi
Pelaksana a.l.:
KNRT, Diknas,
Depkes, Deptan,
Puskesmas,
Posyandu, Pemda,
Universitas
BBAHANBAKUOBATDANOBATBAHANALAM
Peningkatan sarana
laboratorium biotek,
farmasi, medika
ketingkat GMP
(COPB, CPOTB)
Tersedianya
laboratorium litbang
dan produksi yang
memenuhi persyaratan
GMP (CPOB, CPOTB);
Tersedianya
laboratorium litbang
dan produksi yang
memenuhi persyaratan
GMP (CPOB, CPOTB)
Sudah terbangun
industri
biofarmasi yang
memproduksi
obat berbasis
bioteknologi dan
semi sintesa
dan mampu
mencukupi
kebutuhan lokal
untuk obat,
vaksin dan
diagnostika.
Pelaksana a.l.:
Litbangkes, Insti-
tusi Riset, Industri
Farmasi
Peningkatan
kompetensi SDM
bidang teknologi
produksi obat
melalui training
dan magang baik
lokal maupun
internasional.
Peningkatan jumlah
SDM yang memperoleh
pendidikan, pelatihan
dan pengalaman kerja
di industri maju (lokal
dan internasional)
Meningkatnya kom-
petensi SDM bidang
teknologi produksi obat
Terjadinya
integrasi
pemakaian
obat alami
dalam sistem
pelayanan
kesehatan
formal, baik
sebagai alternatif
maupun
komplementer
obat modern dan
di cover oleh
sistem asuransi
kesehatan.
elaksana a.l.:
Litbangkes, Insti-
tusi Riset, Industri
Farmasi
AgendA Riset
210 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
INDIKATOR
NO KEGIATAN
TARGETCAPAIAN
KEBERHASILAN
SASARAN
KETERANGAN

2009
2009
AKHIR2025
Peningkatan
komunikasi
tentang kebijakan
SISKESNAS,
SISYANKES,
kebijakan riset dan
hasil-hasil penelitian
pengembangan
OBA untuk
pemanfaatan dan
pengakuan dalam
SISYANKES
Terjadinya jejaring
komunikasi dalam
pengembangan OBA
untuk diintegrasikan
kedalam SISYANKES
Tersedianya kebijakan
pemanfaatan dan
penggunaan OBA
dalam SISYANKES
Dimanfaatkannya
OBA secara luas
oleh masyarakat
dan diterima oleh
para dokter dan
tenaga medis
lainnya.
Lembaga Terkait :
Depkes, KNRT,
LPND, BPOM,
Deptan, Institusi
riset/universitas,
Pemda.
CPENYAKITMENULARDANTIDAKMENULAR,PENGENDALIANPENYAKITDANPENYEHATANLINGKUNGAN.
(1) Pembangunan
fasilitas atau
laboratorium deteksi
dini penyakit
menular maupun
tidak menular yang
terakreditasi dan
tersertifikasi oleh
WHO.
Fasilitas atau
laboratorium deteksi
dini penyakit menular
maupun tidak menular
mulai dibangun dengan
mengacu pada aturan
akreditasi dan sertifikasi
WHO
Tersedianya teknologi
deteksi dini untuk
penyakit menular,
kanker, kardiovaskuler/
sindrom metabolik;
emerging dan
reemerging
Tersedianya
fasilitas atau
laboratorium
deteksi dini
penyakit menular
maupun tidak
menular yang
terakreditasi dan
tersertifikasi oleh
WHO.
Pelaksana :
Depkes
Pengguna a.l.:
RS dan YanKes
(2) Pembangunan
fasilitas atau
laboratorium
penanggulangan
penyakit baru dan
darurat (SARS, Flu
burung), emerging
dan re-emerging
(TBC, Polio) dsb,
yang dilengkapi
dengan fasilitas
dan peralatan yang
memadai.
Secara bertahap
fasilitas atau
laboratorium
penanggulangan
penyakit baru dan
darurat (SARS, Flu
burung), emerging
dan re-emerging
(TBC, Polio) dsb
mulai dibangun dan
dilengkapi alat yang
diperlukan
Tahapan pembangun-
an fasilitas atau labo-
ratorium penanggu-
langan penyakit baru
dan darurat (SARS,
Flu burung), emerging
dan re-emerging (TBC,
Polio) dimulai.
Tersedianya
fasilitas atau
laboratorium
penanggulangan
penyakit baru
dan darurat
(SARS, Flu
burung),
emerging dan
re-emerging
(TBC, Polio) dsb,
yang dilengkapi
dengan fasilitas
dan peralatan
yang memadai.
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
211
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
INDIKATOR
NO KEGIATAN
TARGETCAPAIAN
KEBERHASILAN
SASARAN
KETERANGAN

2009
2009
AKHIR2025
(3) Peningkatan
kompetensi SDM
bidang kesehatan
melalui pendidikan,
pelatihan, seminar,
worksop dsb, serta
pertukaran informasi
dan kemampuan
iptek kesehatan
antar pelaku dan
praktisi kesehatan.
Meningkatnya
kemampuan SDM yang
sudah mendapatkan
pelatihan, pendidikan
dan wawasan yang
luas dari kegiatan
pertukaran informasi
dan pengetahuan
melalui event-event
penting.
Meningkatnya ke-
mampuan SDM yang
sudah mendapatkan
pelatihan, pendidikan
dan wawasan yang
luas dari kegiatan
pertukaran informasi
dan pengetahuan
Sudah terbangun
jejaring
antar pelaku
kesehatan
(SDM), “Jaringan
Kesehatan
Nasional”
meliputi
kegiatan,
pertukaran
informasi,
pengetahuan
dan pengalaman
serta kerjasama
penelitian dan
aplikasinya.
(4) Penyempurnaan
sistem insentif dan
pembiayaan iptek
kesehatan agar
dapat memberikan
pelayanan
kesehatan secara
optimal, efektif dan
efisien.
Diusulkan Sistem
insentif dan
pembiayaan iptek
kesehatan melalui
aturan regulasi yang
berlaku
Usulan Sistem insentif
dan pembiayaan iptek
kesehatan dapat
respon persetujuan
dari Pemerintah dan
DPR
Sudah tersedia
dan diaplikasikan
sistem insentif
dan pembiayaan
iptek kesehatan
agar dapat
memberikan
pelayanan
kesehatan
secara optimal,
efektif dan
efisien.
(5) Pengembangan
sistem managemen
iptek kesehatan
terpadu.
Sistem managemen
iptek kesehatan terpadu
sudah disosialisasikan
dan siap diterapkan
Sistem managemen
iptek kesehatan
terpadu sudah disosiali-
sasikan dan siap
diterapkan
Sistem
managemen
iptek kesehatan
terpadu sudah
terbangun dan
diaplikasikan
secara nasional
(6) Peningkatan etika
iptek kesehatan
Draft Rancangan Etika
iptek kesehatan sudah
selesai
Tersedianya Draft
Rancangan Etika iptek
kesehatan
Etika iptek
kesehatan sudah
diaplikasikan
secara nasional
(7) Pengembangan
indikator dan
statistik iptek
kesehatan
Sudah disusun Tim
Pengembangan
Indikator dan statistik
iptek kesehatan dengan
draft indikator s/d 2009
Draft indukator iptek
kesehatan s/d 2009
sudah selesai
Tersedia
indikator dan
statistik iptek
kesehatan
nasional yang
diupdate secara
rutin.
AgendA Riset
212 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
INDIKATOR
NO KEGIATAN
TARGETCAPAIAN
KEBERHASILAN
SASARAN
KETERANGAN

2009
2009
AKHIR2025
DALATKESEHATAN
(1) Pengembangan
fasilitas layanan
dan konsultasi
pemakaian
dan perawatan
alat kesehatan/
kedokteran
Tersedianya fasilitas
layanan dan konsultasi
pemakaian dan
perawatan alat
kesehatan/kedokteran
bagi RS dan klinik
Fasilitas layanan dan
konsultasi pemakaian
dan perawatan alat
kesehatan/kedokteran
sudah disosialisasikan
ke pengguna (RS dan
klinik)
Berkurangnya
secara signifikan
ketergantungan
institusi layanan
kesehatan dalam
pemakaian
dan perawatan
alat kesehatan/
kedokteran
Pelaksana a.l.:
Universitas, LPND
Pengguna:
Tenaga medis
(2) Pengembangan
dan penerapan
kurikulum teknologi
alat kesehatan/
kedokteran pada
fakultas kedokteran
dan unit pendidikan
terkait
Mulai diaplikasikannya
kurikulum teknologi alat
kesehatan/kedokteran
pada fakultas
kedokteran dan unit
pendidikan terkait
Mulai diaplikasikannya
kurikulum teknologi
alat kesehatan/kedok-
teran pada fakultas
kedokteran dan unit
pendidikan terkait
Peningkatan
secara signifikan
kompetensi
dibidang
teknologi alat
kesehatan bagi
para tenaga
medis
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
213
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
INDIKATOR
NO KEGIATAN
TARGETCAPAIAN
KEBERHASILAN
SASARAN
KETERANGAN

2009
2009
AKHIR2025
IV PROGRAM PENINGKATAN KAPASITAS IPTEK SISTEM PRODUKSI
(1) Pengembangan
formula dan produk
intervensi gizi yang
efektif-efisien
Tersusunnya formula
lokal (Indonesia)
pangan untuk intervensi
gizi
Tersusunnya formula
lokal (Indonesia) pan-
gan untuk intervensi
gizi
Penanggulangan
masalah gizi
dalam bentuk
intervensi
pangan yang
layak produksi
dan konsumsi
Pelaksana a.l.:
Litbang LPND,
Depkes, Univer-
sitas, Litbang
Industri (Swasta).
Pengguna a.l.:
Industri pangan,
RS Ibu dan Anak,
Industri Makanan
Fungsional
AGIzI
(2) Pengembangan
Makanan
Fungsional
Indonesia
Ketersediaan makanan
fungsional produk
domestik yang
dibutuhkan masyarakat
untuk peningkatan
gizinya
Makanan fungsional
produk domestik
sudah mulai dipasar-
kan
Swasembada
makanan
fungsional
BBAHANBAKUOBATDANOBATBAHANALAM
(1) Percepatan
transformasi
industri bahan baku
farmasi, OBA dan
obat berbasis bio
teknologi/protein
rekombinan.
Diperoleh teknologi
peningkatan sistem
produksi bahan baku
farmasi dan obat alami
melalui optimasi proses;
Teknologi Iptek
sistem produksi
untuk obat herbal,
bahan baku farmasi
terpilih, bahan baku
tambahan dan obat
berbasis bioteknologi
mengalami percepatan
dan dapat segera
diaplikasikan
Meningkatnya
volume
pemakaian obat
produksi lokal
(sampai dengan
25% dari total
konsumsi obat)
baik obat alami,
obat berbasis
bioteknologi dan
sediaan farmasi
lainnya oleh
pasien melalui
resep dokter
atau sistem
pelayanan
kesehatan
formal.
Pelaksana a.l. :
Litbang LPND,
Depkes, Univer-
sitas, Litbang
Industri Farmasi
(Pemerintah dan
Swasta).
Pengguna a.l.:
Rumah Sakit,
Klinik, Dokter,
Tenaga medis,
Industri farmasi.
(2) Peningkatan
teknologi sistem
produksi bahan
baku farmasi, OBA
dan obat berbasis
bioteknologi/protein
rekombinan.
Diperoleh teknologi
peningkatan produksi
antibiotika generasi
baru, golongan obat
gangguan metabolisme
dan bahan baku
obat lainnya melalui
rekayasa optimasi
strain (mutasi strain)
(3) Peningkatan
teknologi produksi
bahan baku obat
secara fermentasi,
biosintesa dan
rekayasa genetika.
Diperoleh teknologi
peningkatan produksi
beberapa bahan baku
obat yang diprioritaskan
melalui rekayasa
molekuler biologi.
AgendA Riset
214 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
INDIKATOR
NO KEGIATAN
TARGETCAPAIAN
KEBERHASILAN
SASARAN
KETERANGAN

2009
2009
AKHIR2025
CALATKESEHATAN
(1) Pengembangan
pranata regulasi
alat kesehatan/
kedokteran
Tervalidasinya instumen
kedokteran untuk
diagnosa dan terapi di
RS Pemerintah dan RS
lainnya;
Meningkatnya kapa-
sitas dan keakuratan
instrumentasi medik
untuk diagnosa atau
terapi.
Kemampuan
nasional
dibidang
teknologi
produksi alat
kesehatan atau
suku cadang
(spare part)
untuk beberapa
instrumen yang
pemakaiannya
sangat
diperlukan.
Pelaksana a.l :
Depkes, Bapeten,
LPND.
(2) Audit teknologi
instumentasi
medik untuk terapi
dan diagnosa
kesehatan.
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
215
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
BAB IV
PENUTUP
Realisasi dari berbagai program yang dirumuskan dalam Agenda
Riset Nasional ini diharapkan memberikan sumbangan yang berarti
dalam pewujudan visi tentang iptek sebagai:
“kekuatan utama peningkatan kesejahteraan yang berkelanjutan
dan peradaban bangsa”
Dokumen Agenda Riset Nasional ini menyediakan prioritas riset
dan tonggak capaian pembangunan nasional iptek yang mencakup
pengembangan iptek, difusi dan pemanfaatan iptek, penguatan ke-
lembagaan iptek, dan peningkatan kapasitas di berbagai sistem produksi
nasional. Aktualisasi berbagai program dalam Agenda Riset Nasional
diharapkan juga memberikan kontribusi jangka panjang yang signifkan
di sektor ekonomi dan di sektor-sektor pembangunan yang lainnya.
Sebagai pedoman nasional berupa garis besar haluan pembangunan
iptek, Agenda Riset Nasional berperanan strategis dalam mempromosikan
koordinasi dan sinergi di antara berbagai lembaga iptek nasional—baik
lembaga pemerintahan maupun oganisasi swasta, baik penghasil iptek
maupun pengguna iptek, serta meningkatkan mobilitas dan optimalitas
pemanfaatan sumber daya iptek nasional. Mempertimbangkan tingginya
dinamika masyarakat di dalam pergaulan antarbangsa dan dinamika iptek
itu sendiri, maka dokumen Agenda Riset Nasional ini perlu dipandang
216 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
sebagai panduan yang bersifat dinamis dan responsif, yang terbuka
terhadap penyempurnaan.
Aktualisasi Agenda Riset Nasional akan mencapai hasil yang signifkan
hanya bila disertai dengan dukungan dari berbagai sistem penopangnya
yang mencakup sistem perencanaan, sistem pembiayaan, serta sistem
difusi dan adopsi iptek. Hasil capaian ini akan memiliki dampak nyata
yang meluas bila seluruh unsur kelembagaan dan pemangku-kepentingan
iptek nasional memiliki komitmen yang kuat untuk menjadikan dokumen
ini pedoman dalam pembangunan nasional iptek, dalam kerangka upaya
meningkatkan kesejahteraan yang berkeadilan, dan membangun masa
depan yang lebih cerah bagi generasi penerus cita-cita bangsa.
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
217
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
1. KETAHANAN PANGAN
Lampiran
KetahananPangan BidangLainnya
KETERKAITAN ANTAR BIDANG-BIDANG ARN 2006 – 2009
(a). Teknologi budidaya tanam-
an, ternak dan ikan
(b). Teknologi pasca panen
(c). Sistem informasi: produksi-
agroindustri-pasar
SumberEnergiBarudanTerbarukan(CT)
Kompetisi pemanfaatan lahan untuk tanaman pangan
dengan tanaman bio-energi
TeknologidanManajemenTransportasi(ST)
1) Pengembangan jaringan transportasi ke sentra produksi
pangan
2) Rancang-bangun sarana transportasi khusus untuk
pengangkutan saprodi dan hasil pertanian
TeknologiHankam(CT)
Peningkatan kemampuan bio-defence untuk senjata biologi
TeknologiKesehatandanObat-obatan
Budidaya tanaman bahan baku pangan fungsional (ST)
SumberEnergiBarudanTerbarukan(CT)
Kompetisi pemanfaatan hasil tanaman pangan yang juga
potensial untuk bio-energi
TeknologidanManajemenTransportasi(ST)
Sarana transportasi untuk perishable food products
TeknologiHankam(T)
Kemasan pangan untuk mendukung operasional hankam
TeknologiKesehatandanObat-obatan(T)
Penelitian hubungan gizi dan penyakit degeneratif
Tekonologiinformasi&komunikasi(T)
1) Telekomunikasi berbasis internet (IP) untuk masyarakat
pedesaan
2) Sistem informasi berbasis SMS
TeknologiKesehatandanObat-obatan(CT)
1) Pemetaan masalah gizi
2) Teknologi penilaian status gizi yang cepat dan sahih
3) Teknologi komunikasi gizi untuk pencapaian Keluarga
Sadar Gizi
218 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
KetahananPangan(T)
Litbang Tek Pasca Panen, Teknologi Pengawasan Pangan
TeknologiKomunikasidanInformasi(T)
Litbang Telekom berbasis IP untuk masyarakat pedesaan
TeknologidanManajemenTransportasi(T)
Pengembangan infrastruktur transportasi
KetahananPangan(CT)
Pengembangan harmonisasi dan sinergi dengan tanaman
pangan
TeknologidanManajemenTransportasi(ST)
Studi standardisasi sarana dalam konteks: konservasi dan
penghematan energi, minimalisasi dampak lingkungan
KetahananPangan(T)
LitBang Tek Pasca Panen, Teknik Pengawasan Pangan dan
harmonisasi pemanfaatan lahan
TeknologiKomunikasidanInformasi(T)
Litbang sumber energi untuk sistem komunikasi di pedesaan
TeknologidanManajemenTransportasi(T)
Pengembangan infrastruktur
TeknologidanManajemenTransportasi(T)
Pengembangan infrastruktur untuk mendukung akses dan
distribusi listrik manajemen bakar dalam reaktor manajemen
bahan bakar dalam reaktor
KetahananPangan BidangLainnya
(d). Teknologi pengawasan
pangan
TeknologiHankam(T)
1) Penguasaan ilmu mikrobiologi untuk menghadapi bio-
terorisme
2) Teknologi Kesehatan dan Obat-obatan
Penelitian keracunan makanan
SumberEnergiBarudanTerbarukan BidangLainnya
(a) Pengembangan Teknologi
Sistem Konversi Energi Angin
(SKEA)
(b) Program Pengembangan
Panas Bumi
(c) Pengembangan Iptek Produksi
Biofuel
(d) Pengkajian dan Penerapan
Berbagai Sistem Pembangkit
Listrik Tenaga Surya
(e) Pengembangan Teknik
Produksi, Penyimpanan,
Distribusi, dan Keamanan
Energi Hidrogen
(f) Pembangunan & Pengopera-
sian PLTN
2. SUMBER ENERGI BARU DAN TERBARUKAN
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
219
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
TeknologiHankam(T)
1) Teknologi GPS dan inderaja untuk monitoring juga dapat
dimanfaatkan untuk optimalisasi sistem transportasi
2) Optimalisasi sistem transportasi juga dapat dimanfaat-
kan untuk mendukung sistem logistik
TeknologiHankam(T)
Sarana transportasi (air dan udara) dapat distandardisasi
untuk dilengkapi dengan teknologi GPS dan inderaja
untuk monitoring sesuai kebutuhan (sipil, militer, Polri)
SumberEnergiBarudanTerbarukan(ST)
Teknologi baru harus mempertimbangkan konservasi
energi, penghematan energi dan minimalisasi dampak
lingkungan
TeknologiHankam(T)
Diharapkan teknologi baru yang dikaji dapat dimanfaatkan
untuk kepentingan pertahanan dan atau keamanan
TeknologiHankam(CT)
Kajian masalah korosi diperlukan bagi alat angkut/wa-
hana darat, laut dan udara
TeknologiHankam(T)
Hasil studi regenerasi pesawat udara mungkin bisa
dimanfaatkan oleh bidang pertahanan dan keamanan
SumberEnergiBarudanTerbarukan BidangLainnya
(g) Pemanfaatan Teknologi Nuklir
Untuk Mendukung Energi
Fosil Dan Terbarukan
KetahananPangan(T)
Pengembangan Teknologi Budidaya Tanaman (Pemu-
liaan tanaman untuk pengembangan varietas unggul baru
tanaman prioritas secara konvensional, bioteknologi dan
teknologi iradiasi)
TeknologidanManajemenTransportasi BidangLainnya
(a) Optimasi Sistem Transportasi
(b) Studi standardisasi sarana
(c) Studi teknologi baru
(d) Kajian korosi sarana dan
prasarana transportasi
(e) Regenerasi pesawat udara
3. TEKNOLOGI DAN MANAJEMEN TRANSPORTASI
lAmPiRAn
220 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
SumberEnergiBarudanTerbarukan(T)
Penyediaan angkutan perkotaan dan angkutan umum
dilaksanakan dengan mempertimbangkan konservasi
energi, penghematan energi dan minimalisasi dampak
lingkungan
TeknologiInformasidanKomunikasi(T)
Teknologi informasi dan komunikasi yang sesuai sangat
dibutuhkan untuk meningkatkan pelayanan bagi penum-
pang, serta mengoptimalkan kinerja angkutan umum dan
angkutan perkotaan
TeknologiHankam(T)
Pengembangan sistem GPS dan indraja untuk monitoring
dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kinerja angkutan
perkotaan dan angkutan umum
KetahananPangan(CT)
Rancang bangun jaringan prasarana transportasi untuk
pengangkutan saprodi dan hasil pertanian
SumberEnergiBarudanTerbarukan(CT)
Penyediaan transportasi antar/multi moda dilaksanakan
dengan mempertimbangkan konservasi energi, penghe-
matan energi dan minimalisasi dampak lingkungan
TeknologiInformasidanKomunikasi(CT)
Teknologi informasi dan komunikasi yang sesuai sangat
dibutuhkan untuk mengoptimalkan kinerja sistem trans-
portasi antar/multi moda
TeknologiHankam(CT)
Pengembangan sistem GPS dan inderaja untuk moni-
toring serta komputerisasi untuk sistem logistik dapat
dimanfaatkan untuk meningkatkan kinerja sistem trans-
portasi antar/multi moda
SumberEnergiBarudanTerbarukan(ST)
Konversi moda angkutan jalan memperhatikan jenis-
jenis energi yang telah tersedia maupun yang sedang
dikembangkan dengan mempertimbangkan konservasi
energi, penghematan energi dan minimalisasi dampak
lingkungan
TeknologidanManajemenTransportasi BidangLainnya
(f) Angkutan perkotaan dan
angkutan umum
(g) Transportasi antar/multi moda
(h) Konservasi moda angkutan
jalan untuk penggunaan energi
alternatif (listrik, gas, bio die-
sel, gasohol, dll)
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
221
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
KetahananPangan(ST)
Dengan adanya infrastruktur berbasis IP ini masyarakat
pedesaan dapat mengakses Sistem Informasi: Produksi
– Agroindustri – Pasar dengan biaya yang terjangkau
SumberEnergiBarudanTerbarukan(ST)
Penggunaan SKEA dan PLTS untuk mendukung sistem
telekomunikasi pedesaan
TeknologidanManajemenTransportasi(T)
Kemudahan dalam akses dan memilih tranportasi untuk
angkutan hasil produksi
TeknologiHankam(T)
Rancang bangun dan rekayasa Peralatan komunikasi

KetahananPangan(ST)
Departemen Pertanian atau LSM mengisi konten dan
membuka saluran broadcast khusus untuk informasi
teknologi pertanian dan data produksi komoditas pangan
utama karena kanal broadcasting tersedia cukup banyak
SumberEnergiBarudanTerbarukan(T)
Sistem diseminasi informasi teknologi Batu bara kualitas
rendah dengan menggunakan sarana digital broadcasting
TeknologidanManajemenTransportasi(T)
Akses pada sistem transportasi perkotaan (Rute, Jadwal
dan Biaya) dengan menggunakan digital broadcasting
TeknologiHankam(T)
Pembangunan Sistem Pembinaan Wilayah (SPW) de-
ngan memanfaatkan digital Broadcasting
TeknologiKesehatandanObat-obatan(ST)
Sosialisasi Model Peningkatan Perilaku Hidup Bersih dan
Sehat (PHBS) melalui digital broadcasting
TeknologiInformasidanKomunikasi BidangLainnya
(a) Program pengembangan dan
penelitian telekomunikasi
berbasis Internet Protocol (IP)
untuk masyarakat pedesaan

(b) Program pengembangan dan
penelitian teknologi penyiaran
berbasis digital (digital broad-
casting)

4. TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI
lAmPiRAn
222 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
KetahananPangan(T)
Pengembangan sistem informasi berbasis open source
dan SMS untuk produksi dan pasar komoditas pangan
pokok yang mudah diakses oleh petani dan pelaku
agribisnis
SumberEnergiBarudanTerbarukan(T)
Penggunaan Perangkat lunak berbasis open source
untuk sistem pengelolaan pembangkit listrik
TeknologidanManajemenTransportasi(ST)
Tehnik simulasi sistem transportasi dan aplikasi etiket
serta ITS dengan menggunakan perangkat lunak berba-
sis open source (ST)
TeknologiHankam(T)
Kemandirian perangkat C3IS (Command Control Com-
munication Intelligent and Surveillance), dengan menggu-
nakan perangkat keras dan lunak berbasis open source
TeknologiKesehatandanObat-obatan(T)
Pembuatan data base kanker dan penyakit kardiovas-
kuler/sindrom metabolik dengan menggunakan perangkat
lunak open source.

KetahananPangan(CT)
Dalam diseminasi teknologi pertanian dan pengembang-
an situs komoditas pangan untuk ekspor bisa digunakan
sarana multimedia digital supaya lebih menarik
SumberEnergiBarudanTerbarukan(T)
Penggunaan creative digital untuk mensosialisasikan
gerakan hemat energi antara lain: teknologi batu bara
kualitas rendah, teknologi Hidrogen dll
TeknologidanManajemenTransportasi(CT)
Peningkatan kualitas dan kapasitas prasarana terminal
dan bandara dengan menggunakan multimedia digital

Ketahanan Pangan, Sumber Energi Baru dan Terbarukan
dan Teknologi dan ManajemenTransportasi(CT)
Dalam pengembangan sistem informasi dibutuhkan SDM
yang memiliki kompetensi standard dibidang TIK
TeknologiInformasidanKomunikasi BidangLainnya
(c) Program difusi dan pemanfaat-
an IPTEK TIK untuk perangkat
keras dan perangkat lunak
berbasis open source
(d) Program peningkatan kapasi-
tas IPTEK TIK untuk Creative
Digital
(e) Pengembangan standardisasi
bidang teknologi informasi dan
komunikasi
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
223
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
SumberEnergiBarudanTerbarukan(T)
Pengembangan paket teknologi produksi biofuel secara
tepat guna
TeknologidanManajemenTransportasi(T)
1) Optimalisasi sistem transportasi
2) Studi standardisasi sarana
3) Studi teknologi baru
4) Kajian korosi sarana dan prasarana transportasi
5) Regenerasi pesawat udara
TeknologiInformasidanKomunikasi(T)
Standardisasi TIK

SumberEnergiBarudanTerbarukan
1) Mengadopsi teknologi energi hidrogen (T)
2) Pengembangan instrumen pengukuran langsung
bumi dan antariksa dengan teknologi inderaja (CT)
SumberEnergiBarudanTerbarukan(CT)
Nuklir

TeknologiInformasidanKomunikasi(T)
1) Telkom berbasis internet protocol untuk pedesaan
2) Standardisasi TIK
3) Komputer murah
TeknologiInformasidanKomunikasi(T)
1) Telkom berbasis internet protocol untuk pedesaan
2) Standardisasi TIK
3) Komputer murah

TeknologiInformasidanKomunikasi(T)
1) Telkom berbasis internet protocol untuk pedesaan
2) Standardisasi TIK
3) Komputer murah
TeknologiHankam BidangLainnya
(a) Alat angkut/wahana darat, laut
dan udara
(b) Peluru kendali dan roket
(c) Bahan peledak dan propelan
(d) Perangkat surveillance
(e) Peralatan komunikasi
(f) Sistem komando kendali
5. TEKNOLOGI HANKAM
lAmPiRAn
224 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
KetahananPangan(ST)
1) Teknologi budi daya tanaman, ternak dan ikan
2) Eksplorasi dan teknologi uji kelayakan pengolahan
pangan baru
3) Teknologi pasca panen
4) Pengembangan paket teknologi
Sumber Energi Baru dan Terbarukan (ST)
1) Diseminasi dan pemanfaatan teknologi SKEA 1)
Pengemba ngan prototipe Sistem PLTS skala kecil dan
menengah
TeknologiInformasidanKomunikasi(T)
Komputer murah
TeknologiKesehatandanObat-obatan(T)
1) Gizi
2) Obat bahan alam
3) Alat kesehatan/kedokteran
TeknologidanManajemenTransportasi(ST)
1) Optimasi Sistem Transportasi
2) Studi standardisasi sarana
3) Angkutan perkotaan dan angkutan umum
4) Transportasi antar/multi moda

TeknologidanManajemenTransportasi(ST)
1) Optimalisasi Sistem Transportasi
2) Studi standardisasi sarana
3) Angkutan perkotaan dan angkutan umum
4) Transportasi antar/multi moda

KetahananPangan(ST)
1) Teknologi budi daya tanaman, ternak dan ikan
2) Teknologi pasca panen
3) Sistem Informasi Produksi-Agroindustri-Pasar
4) Teknologi Pengawasan Pangan
6) Pengembangan Paket Teknologi yang sesuai dengan
kebutuhan pengguna
TeknologiHankam BidangLainnya
(g) Bekal/alat Khusus
(h) Studi aplikasi teknologi dan
pengembangan GPS navigasi
untuk pelacakan benda
bergerak
(i) Studi aplikasi inderaja untuk
monitoring
(j). Studi aplikasi teknologi
komputer untuk pembangunan
Sistem Pembinaan Wilayah
dan Sistem Logistik Wilayah
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
225
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
TeknologidanManajemenTransportasi(ST)
1) Optimasi Sistem Transportasi
2) Antar/multi moda
TeknologiInformasidanKomunikasi(T)
1) Telkom berbasis internet protocol untuk pedesaan
2) Standardisasi TIK
3) Komputer murah
TeknologiKesehatandanObat-obatan(ST)
1) Gizi
2) Obat bahan alam
3) Alat kesehatan/kedokteran

SumberEnergiBarudanTerbarukan(T)
1) Diseminasi dan pemanfaatan teknologi SKEA
2) Pengembangan prototip sistem PLTS skala kecil dan
menengah
TeknologiInformasidanKomunikasi(T)
1) Telkom berbasis internet protocol untuk pedesaan
2) Kajian regulasi TIK dan broadcasting
3) Standardisasi TIK
4) Komputer murah
5) Pengembangan pusat latihan dan inkubator bisnis
OSS
SumberEnergiBarudanTerbarukan(T)
Pengembangan paket teknologi produksi biofuel secara
tepat guna
TeknologidanManajemenTransportasi(ST)
Studi standardisasi sarana
SumberEnergiBarudanTerbarukan(T)
1) Diseminasi dan pemanfaatan teknologi SKEA
2) Pengembangan prototipe sistem PLTS skala kecil dan
menengah

TeknologiHankam BidangLainnya
(j). Studi aplikasi teknologi
komputer untuk pembangunan
Sistem Pembinaan Wilayah
dan Sistem Logistik Wilayah
(k) Studi Sistem Informasi Komu-
nikasi Polri
(l) Studi Sistem transportasi
darat, air dan udara untuk
dukungan operasional Polri
(m) Optimalisasi program Compu-
ter Aided Automatic Finger-
print Identication System
lAmPiRAn
226 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
KetahananPangan(ST)
1) Eksplorasi dan teknologi uji kelayakan pengelolaan
pangan baru
2) Teknologi Paska PanenTeknologi Pengawasan Pangan
3) Kajian sosial, ekonomi dan budaya
TeknologiInformasidanKomunikasi(ST)
Program pengembangan dan penelitian telekomunikasi
berbasis Internet Protocol (IP) dan teknologi penyiaran
berbasis digital (digital broadcasting) untuk mendukung
diseminasi informasi secara luas tentang masalah gizi,
kaitan gizi dengan aspek genetika, keluarga sadar gizi
(KADARZI), dsb.
KetahananPangan(ST)
1) Teknologi budidaya tanaman, ternak dan ikan
2) Tenologi paska panen
3) Sistem informasi produksiagroindustri-pasaran
4) Kajian sosial, ekonomi dan budaya
TeknologiInformasidanKomunikasi(ST)
Program pengembangan dan penelitian telekomunikasi
berbasis Internet Protocol (IP) dan teknologi penyiaran
berbasis digital (digital broadcasting) untuk :
a) Mendukung diseminasi informasi kepada masyarakat
luas tentang obat herbal (Jamu, Herbal Terstandar,
Fitofarmaka) berbasis sumberdaya alam Indonesia
sebagai alternatif dan komplementer obat modern.
b) Penyebaran informasi ilmiah tentang inovasi teknologi
pengembangan obat bahan alam kepada masyarakat
iptek kesehatan
TeknologiKesehatandanObat-obatan BidangLainnya
(a). Gizi
(b). Obat Bahan Alam
6. TEKNOLOGI KESEHATAN DAN OBAT – OBATAN
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
227
DEWAN RISET NASIONAL 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006
KetahananPangan(T)
1) Teknologi paska panen
2) Teknologi pengawasan pangan
3) Kajian sosial, ekonomi dan budaya
SumberEnergiBarudanTerbarukan(CT)
1) Kajian teknologi pengolahan limbah nuklir dan proses pe-
nyimpanan bahan bakar nuklir bekas.
2) Kajian teknologi dan keselamatan PLTN, transfer teknologi
dan peningkatan partisipasi industri nasional
3) Penggunaan mesin berkas elektron untuk pengurangan
polusi udara dari pembangkit listrik dengan sumber energi
konvensional
TeknologiInformasidanKomunikasi(ST)
1) Aplikasi Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk pengem-
bangan database penyakit menular, tidak menular, penyakit
emerging, re-emerging.
2) Aplikasidan bioinformatik untuk mendukung pengembangan
obat berbasis protein rekombinan (obat, diagnostika, vaksin)
Program pengembangan dan penelitian telekomunikasi berbasis
Internet Protocol (IP) dan teknologi penyiaran berbasis digital
(digital broadcasting) untuk:
a) Penyebaran informasi secara luas tentang situasi endemik
penyakit menular, emerging, re-emerging, strategi pencegah-
an, solusi serta pengendaliannya
b) Sosialisasi Model Peningkatan perilaku Hidup Bersih dan
Sehat (PHBS)
TeknologiInformasidanKomunikasi(ST)
Program pengembangan dan penelitian telekomunikasi berbasis
Internet Protocol (IP) dan teknologi penyiaran berbasis digital
(digital broadcasting) untuk mendukung program pengem-
bangan telemedicine.
TeknologiHankam(T)
Peningkatan kemampuan biodefence untuk antisipasi ancaman
senjata biologi (bioterorisme)
TeknologiKesehatandanObat-obatan BidangLainnya
(c). Penyakit menular dan tidak
menular, pengendalian penyakit
dan penyehatan lingkungan
(d) Alat Kesehatan/ Kedokteran
Keterangan:
ST : Sangat Terkait
T : Terkait
CT : Cukup Terkait
lAmPiRAn

iii

KATA SAMBUTAN

Bismillahirrahmanirrahim, Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Pada era global sekarang ini, salah satu faktor penting yang menjadi penentu daya saing sebuah bangsa adalah penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek). Penguasaan Iptek dapat diperoleh melalui penelitian, pengembangan, dan penerapan teknologi yang berjenjang dan berkesinambungan. Penguasaan Iptek, mutlak diperlukan dalam upaya meningkatkan daya saing bangsa dan kesejahteraan rakyat. Pemerintah, dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 20042009, menempatkan peningkatan kemampuan Iptek sebagai salah satu agenda nasional. Kita bersyukur, berbagai paket teknologi telah berhasil dikembangkan oleh Kementerian Riset dan Teknologi, antara lain biofuel, pemanfaatan energi surya, PLTU skala kecil, teknologi informasi dan prototip roket antariksa. Selain itu, penelitian, pengembangan dan penerapan melalui Riset Unggulan Terpadu untuk berbagai bidang penelitian, seperti pertanian dan pangan, kesehatan, lingkungan, kelautan, energi dan bidang teknologi informasi dan mikroelektronika, terus dikembangkan. Tersusunnya buku Agenda Riset Nasional (ARN) merupakan pedoman, sekaligus ukuran capaian dari seluruh kegiatan penelitian dan pengembangan Iptek, yang dilakukan oleh para peneliti dan akademisi bangsa kita. Buku ini, di samping memberikan penekanan pada tahapan capaian jangka menengah, juga meletakkan dasar-dasar agenda riset jangka panjang yang diperlukan untuk mengembangkan Iptek di tanah air, seiring dengan percepatan pembangunan dan kemajuan pesat dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

DEWAN RISET NASIONAL 2006

iv

AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009

2
Saya menyambut baik terbitnya buku “Agenda Riset Nasional”. Buku ini, berisi agenda riset yang perlu dikembangkan oleh bangsa dan negara kita, baik di masa sekarang maupun pada masa yang akan datang. Apa yang menjadi agenda riset nasional, seperti ketahanan pangan, sumber energi baru dan terbarukan, teknologi dan manajemen transportasi, teknologi informasi dan komunikasi, teknologi pertahanan dan keamanan, serta teknologi kesehatan dan obat-obatan, merupakan agenda penting yang merupakan penerjemahan dari kebijakan riset nasional. Saya berharap, agenda riset yang tertuang dalam buku ini, dapat menjadi rujukan bagi para peneliti, akademisi, praktisi, para pengambil kebijakan, dan seluruh komponen bangsa dalam meneliti, mengembangkan, dan memanfaatkan teknologi yang kita miliki dan akan kita terus kembangkan. Akhirnya, saya mengucapkan selamat atas terbitnya buku “Agenda Riset Nasional”. Semoga dengan terbitnya buku ini dapat membuka cakrawala Iptek sebagai sarana menuju kekuatan utama untuk meraih kesejahteraan, keamanan, dan kedaulatan bangsa dan negara kita. Terima kasih.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Jakarta, Agustus 2006

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO

DEWAN RISET NASIONAL 2006

DEWAN RISET NASIONAL 2006

.

kapasitas inovasi industrial. Tujuan Pembangunan Milenium (Millenium Development Goals) yang ditetapkan di tahun 2000 memberikan prioritas pada: penanggulangan kemiskinan. yang bertitikberatkan ketersediaan pilihan manusia dalam pemenuhan kebutuhan pendidikan. Pelajaran berharga yang dapat dipetik dari krisis tersebut adalah bahwa pembangunan Indonesia perlu lebih sungguh-sungguh memperhatikan ketegakan dan kepastian hukum. kesetaraan jender. keamanan (security) dan keberlanjutan (sustainability) kini menjadi per­ soalan sentral. kesetaraan akses ke layanan pendidikan dasar. kapasitas pengelolaan lingkungan.vii Ringkasan EksEkutif Krisis ekonomi di Asia di pertengahan dekade 90-an yang berimbaskan gejolak multidimensional di Indonesia menjadi bukti bahwa pertumbuhan ekonomi saja tidak mampu menopang ketahanan dan daya saing bangsa. penurunan angka kematian anak. serta kesatuan berbangsa dan bernegara. kesehatan dan daya beli. dan kelestarian lingkungan hidup. Peranan penting pengetahuan masyarakat dirumuskan dalam konsepsi Masyarakat/Ekonomi Berbasis Pengetahuan (Knowledge DEWAN RISET NASIONAL 2006 . agenda pembangunan antarbangsa di awal abad ke-21 menegaskan kembali posisi manusia (dan masyarakat) sebagai subyek dan sekaligus tujuan pembangunan. Pada tataran regional/global. Kesetaraan (equity). keadilan dan keamanan sosial. peningkatan kesehatan ibu. Penegasan manusia sebagai subyek pembangunan dituangkan dalam Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index). kekayaan nilai kebudayaan.

viii AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 Based Society/Economy). (ii) energi baru dan terbarukan. dan efisiensi dalam produksi pangan. yang menegaskan bahwa daya saing ekonomik sebuah bangsa bukan hanya ditentukan oleh faktor produksi. Ke enam bidang fokus ARN tersebut tersatukan dalam suatu kerangka tujuan bersama. revitalisasi nilai kearifan lokal. yang mencakup: ketersediaan layanan untuk masyarakat. serta pengolahan hasil dan penganekaragaman pangan secara berkelanjutan. dan bermutu. (iii) teknologi dan manajemen transportasi. (iv) teknologi informasi dan komunikasi. kesetaraan akses dan keadilan. dan (ii) mengembangkan komoditas pangan secara selaras dengan kebijakan revitalisasi pembangunan DEWAN RISET NASIONAL 2006 . yakni: (i) ketahanan pangan. ketahanan dan rasa aman. kekuatan pranata legal dan standardisasi. dan (vi) teknologi kesehatan dan obat-obatan. ketegakan dan kepastian hukum. Prioritas utama adalah untuk: (i) mancapai kemandirian ketahanan pangan. yang diletakkan dalam suatu proyeksi capaian jangka panjang (yakni sasaran pada tahun 2025). kualitas. Pembangunan ketahanan pangan diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat secara cukup. kelestarian lingkungan dan keberlanjutan pembangunan. dan meningkatkan kemitraan antarlembaga. serta kekuatan basis pengetahuan masyarakat. iklim yang kondusif untuk inovasi. Ini dicapai melalui peningkatan kuantitas. Bidang Fokus ARN ditetapkan dengan merujuk pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2004-2009. Proses penyusunan ARN ini mencakup penyusunan materi pokok melalui diskusi di dalam komisi teknis Dewan Riset Nasional (DRN) dan pengayaan materi melalui sosialisasi ke berbagai pemangku-kepentingan di Indonesia. tetapi juga oleh pengetahuan dan kreativitas sebagai faktor inovasi. tonggak dan indikator capaian pembangunan nasional iptek untuk kurun waktu 2006-2009. aman. kemandirian dan daya saing bangsa. kapasitas iptek masyarakat dan sistem produksi. bergizi. Agenda Riset Nasional (ARN) 2006-2009 disusun untuk memberikan prioritas kegiatan. (v) teknologi pertahanan.

(iii) penyelarasan seluruh peraturan perundangundangan baik yang mencakup investasi maupun penyelenggaraan jasa transportasi. dan kepastian layanan. pengembangan iklim inovasi. serta diikuti dengan pemanfaatan e-commerce untuk mencapai kemudahan. ternak. dan pengoperasian. peningkatan kapasitas kelembagaan. diversifikasi penggunaan energi. dan pembentukan SDM yang handal dalam pengelolaan pangan. DEWAN RISET NASIONAL 2006 . dan (iii) pembangunan infrastruktur energi melalui penguatan kelembagaan. Kebijakan iptek ketahanan pangan ditujukan pada peningkatan daya dukung teknologi. kelancaran. dan peningkatan kemampuan pasokan bauran energi (energy-mix) berbasis sumber energi baru dan terbarukan. Pembangunan di bidang energi diarahkan menuju peningkatan kemampuan iptek dalam: (i) konservasi sumber energi. dan pengembangan energi baru dan terbarukan. (ii) pengelolaan energi nasional jangka panjang. dan ikan. dan (viii) penyatuan persepsi dan langkah para pelaku penyedia jasa transportasi dalam konteks global services. optimalisasi dan pendayagunaan sumber daya. (ii) penciptaan jejaring layanan secara intra dan antarmoda angkutan melalui pembangunan prasarana dan sarana transportasi. serta pembangunan jaringan yang mencakup focal point untuk tiap jenis energi dan kegiatan yang dikembangkan. (v) peningkatan partisipasi seluruh pemangkukepentingan dalam penyediaan layanan mulai dari tahap perencanaan.RingkAsAn eksekutif ix produksi pangan asal tanaman. (vii) penegakan keberpihakan pemerintah sebagai regulator kepada masyarakat. efisiensi pemanfaatan energi. (iv) penciptaan sistem perbankan dan mekanisme pendanaan untuk menunjang investasi dan operasi prasarana dan sarana transportasi. pembangunan. Pembangunan di bidang transportasi diarahkan menuju: (i) peningkatan transaksi perdagangan yang menjadi pangsa pasar bisnis transportasi melalui political trading secara saling menguntungkan. (vi) penghapusan segala macam bentuk monopoli agar dapat memberikan alternatif/pilihan bagi para pengguna jasa.

kelembagaan dan penanganan alokasi pendanaan yang khusus. dan rekayasa untuk aplikasi hankam di kalangan perguruan tinggi dan lembaga iptek nasional untuk mencapai keunggulan dan kemandirian bangsa. (v) pengembangan industri pendukung (komponen. dan lain-lain). penguasaan iptek. (iii) peningkatan pemahaman. dan (v) perluasan peluang bagi industri strategis di bidang hankam untuk berinovasi. Arah pembangunan teknologi pertahanan dan keamanan (hankam) ditujukan pada: (i) pemenuhan kebutuhan alat utama sistem senjata (alutsista). yang terkait dengan keamanan. dan (vii) peningkatan pengetahuan masyarakat (khususnya masyarakat pedesaan) dan kepedulian tentang potensi pemanfaatan TIK. (iii) pemanfaatan TIK yang responsif terhadap kebutuhan pasar dan industri. hak atas kekayaan intelektual dan legalitas. kerahasiaan. (iv) pemenuhan standardisasi sarana pertahanan (ranahan) sehingga mampu bersaing pada pangsa pasar dunia. submodul. dengan tetap menjaga keutuhan sistem yang telah ada. (ii) peningkatan penguasan kapabilitas iptek hankam di kalangan industri nasional melalui regulasi. (vi) penumbuhkembangan kepemimpinan (leadership) dalam bidang TIK. industri konten dan aplikasi. privasi dan integritas informasi. (ii) optimalisasi dan sinergi pembangunan dan pemanfaatan prasarana telekomunikasi dan nontelekomunikasi dengan pengutamaan pada masyarakat pedesaan. dan dengan penekanan pada efisiensi dalam investasi. (iv) peningkatan persaingan yang sehat dalam penyelenggaraan telekomunikasi fixed-line dengan mempersiapkan langkah migrasi dari duopoli ke bentuk kompetisi penuh. material. yang mempunyai efek penangkal yang tinggi. baik dalam aspek kelembagaan maupun peraturan perundang-undangannya. baik perangkat keras maupun perangkat lunak berteknologi terbaru.x AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 Pembangunan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) diarahkan menuju: (i) antisipasi terhadap implikasi konvergensi TIK. DEWAN RISET NASIONAL 2006 .

dan (iii) mempererat keterkaitan lintas-disiplin dan lintas-bidang di antara ke enam bidang fokus tersebut. oleh karenanya. teknologi. pencegahan dan penyembuhan penyakit. (ii) pengembangan industri farmasi untuk mewujudkan kemandirian ketersediaan obat-obatan yang dapat dijangkau oleh masyarakat luas. Penguatan dan pengembangan sains dasar. (viii) perawatan terhadap korban trauma dan bencana. (ii) memperkuat dimensi sosial dan kemanusiaan dari ke enam bidang fokus. (iii) pengembangan obat bahan alam menjadi fitofarmaka dan sediaan obat modern. serta pengembangan jaringan nasional untuk pelayanan purna jual peralatan. (vi) pengembangan alat kesehatan/kedokteran dengan meningkatkan kemampuan produksi dan mutu alat kesehatan. (vii) penjagaan mutu pelayanan kesehatan dengan prioritas kesehatan keluarga. (v) pengendalian penyakit melalui deteksi dini dan diagnosis. peningkatan kesehatan. berbagai kegiatan pemanfaatan teknologi dan inovasi dapat menjadi sumber inspirasi bagi pengembangan sains dasar itu sendiri. psikotropika dan zat adiktif. Sebagai faktor dominan dalam Agenda Riset Nasional ini ditetapkan bidang sains dasar dan bidang sosial dan kemanusiaan. yang dikembangkan untuk: (i) memperkuat basis keilmuan dari ke enam bidang fokus. terutama untuk subsidi impor. inovasi dan budaya ilmiah di sebuah bangsa. berperanan DEWAN RISET NASIONAL 2006 . serta pemulihan kesehatan. pengawasan penggunaan narkotika. Sebaliknya.RingkAsAn eksekutif xi Pembangunan di bidang kesehatan dan obat-obatan diarahkan menuju: (i) pencapaian gizi seimbang. Sains dasar memberikan landasan teoretik bagi perkembangan ilmu pengetahuan. serta obat-obat protein pharmaceutical. terutama untuk mempertahankan dan meingkatkan keadaan gizi masyarakat. (iv) pengembangan obat-obat preventif seperti vaksin sera. serta tumbuh-kembang anak. serta (ix) pengurangan dampak pembangunan terhadap kerusakan lingkungan dan kesehatan manusia. yang pada gilirannya membuka jalan bagi temuan terapan yang lebih baru.

Riset dan pengembangan iptek secara lintasdisiplin yang mencakup ilmu sosial dan kemanusiaan diharapkan dapat menumbuhkembangkan lingkungan yang kondusif bagi difusi dan pemanfaatan iptek di masyarakat. budaya. (ii) kajian sosial. (iii) kajian sosial dan kemanusiaan untuk mempercepat difusi dan pemanfaatan iptek pada ke enam bidang fokus pembangunan iptek. sosial dan lingkungan dari pemanfaatan iptek.xii AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 kunci dalam menjamin keberlanjutan dari upaya pemanfaatan teknologi dan peningkatan daya saing industri. serta kesehatan dan obat-obatan. dengan berfokus pada tema keadilan. Pengembangan ilmu sosial dan kemanusiaan dijabarkan ke dalam tiga kelompok utama. Sebagai modal dasar bagi penguatan budaya ilmiah masyarakat Indonesia. DEWAN RISET NASIONAL 2006 . pertahanan dan keamanan. Tema pengembangan ilmu sosial dan kemanusiaan untuk kurun waktu 2006-2025 adalah keadilan sosial. dengan memperhatikan keterkaitan antarbidang. Pengembangan di bidang sosial dan kemanusiaan diarahkan untuk memperkaya dan memperkuat dimensi sosial dan kemanusiaan dalam pengembangan di ke enam bidang prioritas ARN. yaitu: (i) kajian aspeks sosial dan kemanusiaan dalam berbagai kebijakan publik yang terpaut dengan bidang pangan. ekonomi. dan menjamin adanya akuntabilitas moral. berbagai sasaran pengembangan sains dasar tersebut dapat dikategorikan ke dalam dua kelompok: kelompok fundamental. transportasi. dengan penekanan pada aspek keadilan. Riset dan pengembangan iptek yang berpola lintas-disiplin dipandang penting untuk memicu pertukaran dan sintesis keilmuan di antara para pelaku iptek di lembaga riset/perguruan tinggi. dan di industri/organisasi usaha. energi. informasi dan komunikasi. hukum dan politik yang terpaut erat dengan ke enam bidang prioritas ARN. Riset fundamental yang bersifat lintas/trans-disiplin diharapkan akan menghasilkan pengetahuan baru tentang fenomena kompleks dan meningkatkan prestasi keilmuan Indonesia di tingkat regional/global. dan kelompok kompleksitas.

dan iklim investasi dalam pemanfaatan iptek untuk tujuan komersial. Sebagai pedoman nasional pembangunan iptek. dan pengembangan iklim yang kondusif bagi komunikasi dan kolaborasi intra dan antar lembaga. Agenda Riset Nasional berperanan strategis dalam meningkatkan koordinasi dan sinergi di antara berbagai pemangku-kepentingan iptek nasional. Mempertimbangkan tingginya dinamika masyarakat di dalam pergaulan antarbangsa dan dinamika iptek itu sendiri. interaksi dan komunikasi baik intralembaga maupun antarlembaga. dan peningkatan kapasitas iptek sistem produksi menjadi bagian yang terpadu dari keseluruhan Agenda Riset Nasional. dan iklim yang kondusif bagi efektivitas kepemimpinan. Peningkatan kapasitas kelembagaan iptek mencakup pengembangan kompetensi individual. (iii) pengembangan kapasitas masyarakat untuk mengadopsi dan mengadaptasi iptek. serta meningkatkan mobilitas dan optimalitas pemanfaatan sumber daya iptek nasional. peningkatan kapasitas kelembagaan iptek. ketersediaan sarana dan pra-sarana. (iv) kesiapan regulasi. dengan memperhatikan potensi sumber daya alam lokal. maka dokumen DEWAN RISET NASIONAL 2006 . infrastruktur metrologi legal.RingkAsAn eksekutif xiii Percepatan difusi dan pemanfaatan iptek. pengetahuan dan kearifan lokal. Berbagai sumber daya yang terdapat di lembaga pemerintah (government). Percepatan difusi dan pemanfaatan iptek mencakup: (i) peningkatan partisipasi masyarakat dalam penentuan pilihan iptek yang akan dikembangkan dan dimanfaatkan. perguruan tinggi (academicians). dan organisasi swasta (business organizations) dapat dimobilisasi untuk mengembangkan berbagai hal tersebut di atas melalui jejaring A-B-G (academician-business-government). Peningkatan kapasitas kelembagaan iptek mencakup pengembangan di semua aspek tersebut secara terpadu dan pengembangan berbagai faktor penunjang pembelajaran (learning). (ii) minimalisasi dampak negatif yang mungkin timbul dari pemanfaatan iptek. tata niaga.

yang terbuka terhadap penyempurnaan. Hasil yang optimal akan dicapai bila realisasi Agenda Riset Nasional ini didukung oleh sistem penopangnya yang mencakup sistem perencanaan. sistem pembiayaan. DEWAN RISET NASIONAL 2006 . Dampak yang nyata dan meluas di masyarakat akan terwujud bila seluruh pemangku-kepentingan iptek nasional memiliki komitmen yang kuat untuk menjadikan dokumen ini pedoman dalam pembangunan nasional iptek. dalam kerangka upaya mewujudkan masa depan yang lebih cerah bagi generasi penerus cita-cita bangsa.xiv AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 Agenda Riset Nasional ini perlu dipandang sebagai panduan yang bersifat dinamis dan responsif. serta sistem difusi dan adopsi iptek.

.............. xviii Daftar Gambar ............................4................................................. Pembangunan Ketahanan Pangan .................................. 1............... Kerangka Kerja Legal Formal..................................... 1............................. 1....... Ruang Lingkup ............................6...................... 1............................ Penguatan Dimensi Sosial Kemanusiaan....... iii vii xv Daftar Singkatan .............. 1..................1..............................1............ Ringkasan Eksekutif ................3...... 2. Daftar Isi .................. Lingkungan Strategis .........................................................................................................................1............................. Penguatan Sains Dasar............ 17 17 DEWAN RISET NASIONAL 2006 ...... Arah Pengembangan ..................6... Tujuan Penyusunan ARN .......................... xxiv Bab I Pendahuluan 1.. 1...........................5.... 1.. Faktor Dominan .2.....................................2.....1.............6..xv DaftaR isi Sambutan Presiden Republik Indonesia ......................1...... Perubahan dan Tantangan di Abad ke-21 ............................................................. 1 5 6 7 8 10 10 13 Bab II Fokus Area Pembangunan Nasional Iptek 2.........................

2...3...........3......... Latar Belakang Permasalahan .............. Program ..................1..2...............1.....3........ 3................................................................ 2.............4............2... Difusi. Arah Kebijakan dan Prioritas Utama . 3.....................................1............6....................... 3....1...........1....1........ 2...1. 3...... 3...2.3....2...........3............ Keterkaitan dalam Tujuan ...... Kelembagaan Iptek ............. Pengembangan Teknologi Kesehatan dan Obat-Obatan ..............2.. 2................... 2......1...................................5............................2.........................2..........................1..2................... Agenda Riset Ketahanan Pangan ............... Target Capaian Tahun 2009 dan Sasaran Tahun 2025 ......... Pengembangan Teknologi dan Manajemen Transportasi .......3............. Kapasitas Iptek Sistem Produksi ...................1...........................1..... Keterkaitan Antar Bidang................... Penyediaan dan Pemanfaatan Sumber Energi Baru dan Terbarukan...........4. 3.. 2............................. 2............... 3...........2.................................... 2........ Kelembagaan dan Kapasitas Iptek... 3........2.. 2............2.... Pengembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi .............xvi AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 2..........................1. Target Capaian Tahun 2009 dan Sasaran Tahun 2025 .....1........3.. 2. Program ..........4... Agenda Riset Energi Baru dan Terbarukan .... Latar Belakang Permasalahan . Difusi dan Pemanfaatan Iptek. Pengembangan Teknologi Pertahanan dan Keamanan.....1.... Keterkaitan dalam Proses .................................2..... 3.................... 18 18 19 20 21 22 22 23 24 24 25 26 29 29 31 32 35 63 63 65 66 72 DEWAN RISET NASIONAL 2006 ...................3............. Arah Kebijakan dan Prioritas Utama ..................................2.............................. 2. Bab III Agenda Riset 3..

...........................................................3. 3....................4............................................................ Target Capaian Tahun 2009 dan Sasaran Tahun 2025 .......3.....6................................. Program ......4...................5........... Latar Belakang Permasalahan ..5..........................2....... BAB IV 106 106 108 111 112 132 132 134 135 136 154 154 155 156 157 180 180 181 182 192 PENUTUP ... 3..........4.4... Agenda Riset Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) ..........1....... Program ....... 3................................................. Arah Kebijakan dan Prioritas Utama ........... 3......2.5.1......6.....3................4.............. Latar Belakang Permasalahan ................... Arah Kebijakan dan Prioritas Utama ..................................3.............. Program .................. 3...............3...6............................. 3.............. Latar Belakang Permasalahan ..............................4..........6............... 3...3......4.................. 3......... 217 DEWAN RISET NASIONAL 2006 ...................................... 3............................ 3.................................. 3.............. Target Capaian Tahun 2009 dan Sasaran Tahun 2025 ................................1.5.................... Target Capaian Tahun 2009 dan Sasaran Tahun 2025 ............. Agenda Riset Teknologi dan Manajemen Transportasi ...........................................4....... Program ........6.............3... Latar Belakang Permasalahan ......3.......2.......... 3..............................4................... 3...................... 3............. 3.. 3...... 3... Agenda Riset Teknologi Pertahanan dan Keamanan .................... Target Capaian Tahun 2009 dan Sasaran Tahun 2025 .2...................... 3............. 215 LAMPIRAN....1.......3.................................................5...... Agenda Riset Teknologi Kesehatan dan Obat-Obatan ...................................... Arah Kebijakan dan Prioritas Utama .dAftAR isi xvii 3............... 3... Arah Kebijakan dan Prioritas Utama ...........

Angkutan Sungai. Danau dan Penyeberangan Advanced Television Systems Committee Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional Badan Penelitian dan Pengembangan Badan Perencanaan Nasional Badan Tenaga Nuklir Nasional Bahan Bakar Minyak Bengkel Pusat Peralatan Bid Invitation Specification Badan Meteorologi dan Geofisika Badan Pengembangan Ekspor Nasional Badan Pengawasan Obat dan Makanan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Badan Pusat Statistik Business Software Alliance DEWAN RISET NASIONAL 2006 .xviii AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 DaftaR singkatan 4G A-B-G Alkomlek Alutsista AMDAL ARN ASDP ATSC BAKOSURTANAL Balitbang Bappenas Batan BBM Bengpuspal BIS BMG BPEN BPOM BPPT BPS BSA : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : Teknologi Generasi 4 Academician-Business-Government Alat Komunikasi Elektronika Alat Utama Sistem Senjata Analisa Mengenai Dampak Lingkungan Agenda Riset Nasional.

dAftAR singkAtAn xix BSN BUMN BUMNIS CAAFIS CNS/ATM CPOB CPOTB Dep PU Depdagri Deperin Dephan DepHankam Dephut DepKes DepKeu Depkominfo Deptan Diklat Diknas Dislitbang Dittop DKP DNA DRN DSP DVB-T DVD : Badan Standardisasi Nasional : Badan Usaha Milik Negara : Badan Usaha Milik Negara Industri Strategis : Computer Aided Automatic Fingerprint Identification System : Communication Navigation Surveillance/Air Traffic Management : Cara Pembuatan Obat yang Baik : Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik : : : : : : : : : : : : : : : : : : : : Departemen Pekerjaan Umum Departemen Dalam Negeri Departemen Perindustrian Departemen Pertahanan Departemen Pertahanan dan Keamanan Departemen Kehutanan Departemen Kesehatan Departemen Keuangan Departemen Komunikasi dan Informasi Departemen Pertanian Pendidikan dan Latihan. Departemen Pendidikan Nasional Dinas Penelitian dan Pengembangan Direktorat Topografi Departemen Kelautan dan Perikanan Deoxyribonucleic Acid Dewan Riset Nasional Digital Signal Processing Digital TV Broadcasting – Terrestrial Digital Versatile Disc DEWAN RISET NASIONAL 2006 .

xx AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 EBT EDTV EKG EOR ESDM ESM FMIPA FO GMP Hankam Hankamneg HDTV hEPO HPN ICT ICAO IGOS IMO IIPA IP IPM Iptek ISDB IT ITS Jakstranas : : : : : : Energi Baru dan Terbarukan Enhanced Definition TV Elektro Kardiograf Enhance Oil Recovery Energi dan Sumber Daya Mineral Electronic Support Measure : Fakultas Matematik dan Ilmu Pengetahuan Alam : Fiber Optics : Good Manufacturing Practice : : : : : : : : : : : : : : : : Pertahanan dan Keamanan Pertahanan dan Keamanan Negara High Definition Television Human Erythropoitin Highly Predictable Networks Information and Communication Technology International Civil Aviation Organization Indonesia Go Open Source International Maritime Organization International Intellectual Property Alliance Internet Protocol Indeks Pembangunan Manusia Ilmu Pengetahuan dan Teknologi In Band Digital TV Information Technology Intelligent Transportation System : Kebijaksanaan Strategis Nasional DEWAN RISET NASIONAL 2006 .

dAftAR singkAtAn xxi Jakstranas Iptek : Kebijaksanaan Strategis Nasional Iptek K3I Komando KADARZI KEN KIE KLB KLH KNRT Kodam Koharmat LAPAN LIPI Litbang LPD LPN LPND MBE MDG MPN NGN NKRI OCC OSS PAL : : : : : : : : : : : : : : : Kendali Komunikasi dan Intelijen Keluarga Sadar Gizi Kebijakan Energi Nasional Kominikasi Informasi dan Edukasi Kejadian Luar Biasa Kementerian Lingkungan Hidup Kementerian Negara Riset dan Teknologi Komando Daerah Militer Komando Pemeliharaan Materiil Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Penelitian dan Pengembangan Lembaga Penelitian Departemen Low Predictable Networks Lembaga Pemerintah Non Departemen : Mesin Berkas Elektron : Millennium Development Goals : Medium Predictable Networks : Next Generation Network : Negara Kesatuan Republik Indonesia : Operation Control Center : Open Source Software : Phase Alternation Lines DEWAN RISET NASIONAL 2006 .

xxii AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 PBB Pemda PEMFC PEN PET-CT PHBS PLTN PLTPB PLTU POLRI PSAR PSTN PT PT. Pengelolaan Energi Nasional Positron Emission Tomography-Computed Tomography Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi Pembangkit Listrik Tenaga Uap Polisi Republik Indonesia Preliminary Safety Analysis Report Public Switched Telephone Networks Perguruan Tinggi PT Perusahaan Listrik Negara : Quaternary Phase Shift Keying : : : : : : : : : : : : Rural Next Generation Network Biro Penelitian dan Pengembangan Roll on – Roll off Rencana Pembangunan Jangka Menengah Rencana Pembangunan Jangka Panjang Sumber Daya Manusia Standard Definition TV Sekretariat Negara Sistem Informasi Geografi Surat Ijin Mengemudi Sistem Transportasi Nasional Sistem Konversi Energi Angin DEWAN RISET NASIONAL 2006 .PLN QPSK R-NGN Rolitbang Ro-Ro RPJM RPJP SDM SDTV Sekneg SIG SIM SISTRANAS SKEA : : : : : : : : : : : : : : Persatuan Bangsa-Bangsa Pemerintah daerah Proton Exchange Membrane Fuel Cell.

dAftAR singkAtAn xxiii SKPG SLW SNI SPW TIK TNI AD TNI AL TNI AU TNI TVD UAD UNDP UNEP URD USTR UU VCR VSB WHO WiSE WSIS : : : : : : : : : : : : : : : : Pengembangan Sistem Kewaspadaan Pangan & Gizi Sistem Logistik Wilayah Standar Nasional Indonesia Sistem Pembinaan Wilayah Teknologi Informasi dan Komunikasi Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara Tentara Nasional Indonesia Televisi Digital Unit Akses Desa United Nation Development Programme United Nation Economic Programme User Requirement Document United State Trade of Representative Undang-Undang : Video Cassette Recorder : Vistigial Side Band : World Health Organization : Wing in Surface Effect : World Summit on the Information Society DEWAN RISET NASIONAL 2006 .

............................................................................ 8 23 24 27 Gambar 5 Konvergensi Teknologi............................xxiv AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 DaftaR gaMBaR Gambar 1 Kerangka Kerja Legal-Formal dan Lingkungan Strategis Rujukan dalam Penyusunan Agenda Riset Nasional ................................................. Pengembangan Iptek. Difusi dan Pemanfaatan Iptek dalam Konstelasi Jejaring Pelaku Iptek di dalam Lingkungan Kebijakan dan Dinamika Sosio-kultural ........................... Gambar 3 Keterkaitan Antarbidang dalam Tujuan Bersama .................... 132 Gambar 6 Misi dari multimedia center: menghasilkan creative excitement bagi pengembangan industri seni digital Indonesia yang sustainable ............... 144 DEWAN RISET NASIONAL 2006 ................................................................... Gambar 4............... Gambar 2 Keterkaitan dalam Proses di antara Bidang Fokus dan Faktor Dominan ARN..

keamanan (security) dan keberlanjutan (sustainability) menjadi perhatian sentral. dinyatakan sejumlah prio- DEWAN RISET NASIONAL 2006 . serta kesatuan berbangsa dan bernegara. Pada tataran regional/global. agar dapat dicapai kekokohan ketahanan dan daya saing bangsa Indonesia. Dalam Tujuan Pembangunan Milenium (Millenium Development Goals. keadilan dan keamanan sosial. maka saat ini arti penting kesetaraan (equity). pembangunan Indonesia perlu lebih memperhatikan berbagai aspek kehidupan bangsa seperti kepastian dan tegaknya hukum. kapasitas pengelolaan lingkungan. agenda pembangunan antarbangsa di awal abad ke-21 menegaskan kembali posisi manusia (dan masyarakat) sebagai subyek dan sekaligus tujuan pembangunan. yang kemudian justru berdampak marjinalisasi sebagian masyarakat. Dalam memasuki abad ke-21 ini. MDGs) yang disepakati oleh 189 negara pada tahun 2000. kapasitas inovasi industrial. BAB I PENDAHULUAN 1. Jika di awal abad ke20 pembangunan antarbangsa menitikberatkan pada variabel ekonomik. Paradigma pembangunan Indonesia di era Orde Baru yang bertitikberatkan pertumbuhan ekonomi tidak berhasil mengantarkan bangsa Indonesia pada suatu kemajuan yang utuh dan kokoh.1 Perubahan dan Tantangan di Abad ke-21 Krisis ekonomi di Asia di pertengahan dekade 90-an yang berimbaskan gejolak multidimensional di Indonesia menjadi bukti bahwa pertumbuhan ekonomi saja tidak mampu menopang ketahanan dan daya saing bangsa. kekayaan nilainilai kebudayaan.

tantangan dalam memasuki arena perdagangan liberal/bebas adalah bagaimana mengembangkan hubungan di antara pemerintah. Dalam persaingan ekonomi antarbangsa di abad ke-21 ini. bahwa daya saing ekonomi sebuah bangsa bukan hanya ditentukan oleh teknologi sebagai faktor DEWAN RISET NASIONAL 2006 . para pelaku usaha/industri swasta. Dirumuskannya gagasan tentang Masyarakat Berbasis Pengetahuan (Knowledge Based Society. dalam suatu kerangka kedaulatan negara dan bangsa Indonesia. Liberalisasi perdagangan kini menjadi agenda sentral dalam kerjasama ekonomi antarbangsa. dan segenap unsur masyarakat lainnya untuk mewujudkan ekonomi bangsa yang berdaya saing. Penegasan arti penting manusia dalam pembangunan juga tercermin dalam Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index. Dengan berlakunya liberalisasi perdagangan peranan pasar akan meningkat dalam mempengaruhi ekonomi sebuah bangsa. kesetaraan jender dan pemberdayaan perempuan. dan kelestarian lingkungan hidup. HDI). arti penting pengetahuan menjadi pusat perhatian. Gagasan KBS dan KBE tersebut menegaskan peranan penting pengetahuan dalam sistem inovasi. di antaranya: penanggulangan kemiskinan dan kelaparan. penurunan angka kematian anak. KBE) mencerminkan kristalisasi upaya tersebut. KBS) dan Ekonomi Berbasis Pengetahuan (Knowledge Based Economy. peningkatan kesehatan ibu. yang berfokus pada ketersediaan pilihan manusia dalam pemenuhan kebutuhan pendidikan. Tetapi di negara yang mempromosikan prinsip lais·sez-faire (yakni prinsip bahwa pasar dibebaskan dari campur tangan pemerintah). AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 ritas pembangunan yang mencakup. Bagi bangsa Indonesia. kesehatan dan daya beli. kesetaraan akses ke layanan pendidikan dasar. Ketika industrialisasi modern berimbas pada sub-ordinasi pengetahuan di bawah faktor produksi. peranan pemerintah tetap penting dalam mengatur ekonomi untuk kepentingan kedaulatan negara tersebut. berbagai upaya dilakukan untuk mengangkat kembali posisi pengetahuan.

sehingga iptek bangsa Indonesia belum memiliki peranan yang berarti dalam penyelesaian berbagai permasalahan pembangunan tersebut. di mana arah pengembangan ekonomi.PendAhuluAn  produksi. kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) bangsa Indonesia juga masih sangat terbatas. transportasi. dan rasa aman). hukum. iptek dan pendidikan tinggi diselaraskan untuk meningkatkan daya saing industri nasional. dan di sisi lain. di satu sisi. masih terdapatnya potensi konflik sosial. kesehatan dan obat-obatan. informasi dan komunikasi. Bagi bangsa Indonesia yang berdaulat dan menganut prinsip bebas-aktif. Selain permasalahan daya saing. dibutuhkan suatu strategi peningkatan daya saing industri yang mengombinasikan prinsip interdependensi (melalui impor dan alih iptek) dan independensi (melalui penguasaan iptek) sehingga daya saing ekonomi dapat dicapai dalam kerangka kedaulatan bangsa (nation sovereignty). kebijakan ekonomi dan kebijakan iptek semakin terintegrasikan dan melahirkan kebijakan inovasi. perdagangan. industri. Hal tersebut berimplikasi pada tingginya tingkat ketergantungan berbagai kegiatan pembangunan terhadap teknologi impor. persaingan ekonomi berbasis pengetahuan justru mendorong pengembangan hubungan yang baru dan lebih erat di antara pemerintah. Di samping itu semua. DEWAN RISET NASIONAL 2006 . para pelaku usaha/industri swasta dan para pelaku iptek. tetapi juga oleh pengetahuan dan kreativitas sebagai faktor inovasi. Kondisi tersebut menghadirkan suatu tantangan tersendiri bagi bangsa Indonesia untuk. membangun kemampuan iptek bangsa. Alih-alih memisahkan pemerintah dari pasar. Di berbagai negara maju. hingga hari ini bangsa Indonesia masih dihadapkan pada sejumlah permasalahan pembangunan yang mendasar seperti meluasnya kemiskinan. terbatasnya akses masyarakat ke layanan dasar (seperti layanan pangan. energi. meningkatkan peranan iptek dalam menjawab permasalahan pembangunan. serta terdegradasinya lingkungan hidup.

politik. Bagi bangsa Indonesia. di mana berbagai bentuk baru kerjasama di antara lembaga pemerintah dan organisasi swasta dipelajari dan dikembangkan. dan di industri/organisasi usaha. mobilitas sumber daya iptek nasional menjadi sangat penting oleh karena terbatasnya sumber daya tersebut dan besarnya tantangan bangsa yang perlu dijawab melalui pembangunan iptek. Masyarakat ilmiah/akademik di negara anggota maju seperti yang tergabung dalam OECD (Organizations for Economic Cooperation and Development) kini memberikan perhatian yang makin besar pada riset dan pengembangan iptek yang berpola lintas dan trans-disiplin. Perkembangan dalam pola riset ini berimplikasi pada perubahan kelembagaan iptek. ekonomi. AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 Upaya untuk meningkatkan peranan iptek dalam menjawab permasalahan pembangunan bangsa juga semakin menjadi perhatian di berbagai negara maju. sehingga membawa perubahan menuju masyarakat berbasis pengetahuan. yang melibatkan disiplin ilmu kealaman. hukum dan ilmu-ilmu kemanusiaan. Untuk ini perlu dipromosikan riset dan pengembangan iptek yang berpola lintas-disiplin yang dapat memicu terjadinya pertukaran dan sintesis keilmuan di antara para pelaku iptek di lembaga riset/perguruan tinggi. Riset dan pengembangan iptek secara lintas-disiplin yang mencakup dimensi sosial dan kemanusiaan akan dapat menumbuhkembangkan lingkungan yang kondusif bagi difusi dan pemanfaatan iptek di ma- DEWAN RISET NASIONAL 2006 . Penekanan pada riset yang berpola lintas/trans-disiplin ini ditujukan pada peningkatan mobilitas ‘kapital intelektual’ masyarakat. rekayasa. di mana kegiatan riset dan pengembangan iptek dan kegiatan entrepreneurship diletakkan dalam satu kerangka kerja untuk menghasilkan technopreneurship. yang kemudian dikenal dengan nama entrepreneurial university. Hal ini pada gilirannya akan memacu difusi teknologi di industri dan peningkatan kapasitas iptek di sistem produksi nasional. Bentuk baru perguruan tinggi.

2. Dengan demikian. tonggak capaian dan indikator capaian pembangunan nasional iptek untuk kurun waktu 2006-2009. para pelaku usaha/industri swasta. tanpa harus meninggalkan konteks nasional/lokal. 1. dan menjamin adanya akuntabilitas moral. sosial dan lingkungan dari pemanfaatan iptek. Keseluruhan proses penyusunan ARN 2006-2009 telah mengakomodasi sumbangan pemikiran yang substantif dari segenap perwakilan dari berbagai departemen pemerintahan. dan dewan riset daerah. dan (ii) tahap pengayaan materi melalui sosialisasi ke berbagai komponen masyarakat pemangku-kepentingan di berbagai daerah di Indonesia. LPND.PendAhuluAn  syarakat. yang diletakkan dalam suatu proyeksi capaian jangka panjang (yakni sasaran pada tahun 2025). DEWAN RISET NASIONAL 2006 . Proses penyusunan ARN ini terdiri atas dua tahap utama: (i) tahap penyusunan materi pokok ARN melalui diskusi di dalam komisi teknis. perguruan tinggi. Tujuan Penyusunan ARN Agenda Riset Nasional (ARN) 2006-2009 merupakan dokumen yang disusun untuk memberikan prioritas kegiatan. Riset fundamental yang bersifat lintas/trans-disiplin untuk mengembangkan pengetahuan baru tentang berbagai fenomena kompleks (complexity sciences) dapat menyediakan peluang yang lebih besar bagi bangsa Indonesia untuk meraih prestasi keilmuan di tingkat regional/global. dan diharapkan realisasi ini akan disertai dengan komitmen bersama untuk membangun kemampuan iptek bangsa demi menjawab tantangan pembangunan. diharapkan bahwa realisasi ARN menjadi tanggungjawab bersama dari segenap pemangku-kepentingan iptek dan seluruh komponen masyarakat. badan pekerja dan sidang paripurna Dewan Riset Nasional (DRN).

Mewujudkan masyarakat Indonesia yang cerdas. kreatif dan inovatif dalam suatu peradaban masyarakat yang berbasiskan pengetahuan. Meningkatkan difusi iptek melalui pemantapan jaringan pelaku dan kelembagaan iptek termasuk pengembangan mekanisme dan kelembagaan intermediasi iptek. 3. Lingkungan Strategis Dalam dokumen Kebijakan Strategis Pembangunan Nasional Iptek 2005-2009 (Jakstranas Iptek 2005-2009) dirumuskan Visi Iptek 2025 sebagai berikut: ”Iptek sebagai kekuatan utama peningkatan kesejahteraan yang berkelanjutan dan peradaban bangsa. Memberikan landasan etika pada pengembangan dan penerapan iptek. (vi) belum maksimalnya kelembagaan litbang. Mewujudkan sistem inovasi nasional yang tangguh guna meningkatkan daya saing bangsa di era global. yaitu: (i) keterbatasan sumber daya iptek. 2. (vii) masih rendahnya aktivitas riset di perguruan tinggi. (iv) lemahnya sinergi kebijakan iptek. AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 1. sarana dan prasarana serta kelembagaan iptek yang berkualitas dan kompetitif. 4. Mewujudkan SDM.” Visi ini dituangkan ke dalam Misi Iptek 2025 yang dirumuskan sebagai berikut: 1. serta (viii) kelemahan aktivitas riset. DEWAN RISET NASIONAL 2006 . 5.3. 6. (ii) belum berkembangnya budaya iptek. Menempatkan iptek sebagai landasan kebijakan pembangunan nasional yang berkelanjutan. Dalam Jakstranas Iptek 2005-2009 ditemukenali sejumlah masalah dalam pembangunan nasional iptek yang mencakup delapan gatra. (v) belum terkaitnya kegiatan riset dengan kebutuhan nyata. (iii) belum optimalnya mekanisme intermediasi iptek.

Dewan Riset Nasional (DRN) merupakan lembaga yang beranggotakan perwakilan para pemangku-kepentingan iptek yang dibentuk oleh Pemerintah. dan (iii) pengembangan sistem dan pengusulan penerima penghargaan riset. berdasarkan amanat dari undang-undang tersebut. Tugas utama dari DRN adalah memberikan berbagai pertimbangan kepada Meneg Ristek dalam proses penyusunan kebijakan strategis pembangunan nasional iptek. 18/2002 mengamanatkan bahwa Pemerintah wajib merumuskan arah.4. Tujuan dari pemberlakuan UU No 18/2002 tersebut adalah: “untuk memperkuat daya dukung iptek bagi keperluan mempercepat pencapaian tujuan negara serta meningkatkan daya saing dan kemandirian dalam memperjuangkan kepentingan negara dalam pergaulan internasional”. dan Penerapan Iptek. pada tahun 2002 telah disahkan UU No. Kerangka kerja legal-formal DEWAN RISET NASIONAL 2006 . Lebih jauh lagi. Berdasarkan Keputusan Meneg Ristek RI No 89/M/Kp/V/2005 tentang Dewan Riset Nasional. (ii) pemantauan umum perkembangan iptek. hasil Amandemen ke-4. dikoordinasikan oleh Menteri Negara Riset dan Teknologi (Meneg Ristek) dengan mempertimbangkan segala masukan dan pandangan yang diberikan oleh berbagai pemangku-kepentingan (stakeholders) iptek.PendAhuluAn  1. yakni Pasal 31 Ayat 5 UUD 45. tugas DRN periode 2005-2008 difokuskan pada: (i) penyusunan Agenda Riset Nasional (ARN). dan merumuskan arah dan prioritas utama pembangunan iptek. Perumusan kebijakan di bidang iptek ini. dan kerangka kebijakan pemerintah di bidang iptek yang dituangkan ke dalam bentuk kebijakan strategis pembangunan nasional iptek (Takstranas Iptek). Pengembangan. prioritas utama. 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian. Kerangka Kerja Legal-Formal Bangsa Indonesia telah memiliki landasan konstitusional yang kokoh bagi pembangunan nasional di bidang iptek. (iii) penegakan norma ilmiah riset. Pasal 18 dan 19 dalam UU No.

UUD 45 UU No. Ruang Lingkup Berbagai tantangan/permasalahan perlu diatasi melalui implementasi kebijakan strategis pembangunan nasional di bidang iptek.2009 ARAH PRIORITAS KERANGKA KEBIJAKAN PROGRAM PROGRAM PROGRAM PROGRAM Gambar 1.2004 WHITE PAPER LINGKUNGAN STRATEGIS Misi-Misi Lembaga/Dept. Untuk ini. 1.4/2003 PENGKOORDINASIAN PELAKSANAAN JAKSTRANAS IPTEK PP 20/2005 ALIH TEKNOLOGI AGENDA RISET NASIONAL VISI IPTEK 2025 RPJP RPJPM Perpres No. Kerangka Kerja Legal-Formal dan Lingkungan Strategis Rujukan dalam Penyusunan Agenda Riset Nasional. Monitoring & Evaluation JAKSTRANAS IPTEK Tahun 2005 . DEWAN RISET NASIONAL 2006 .18/2002 SISNAS P3 IPTEK INPRES NO. AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 dan lingkungan strategis yang dirujuk dalam penyusunan dokumen ARN diperlihatkan pada Gambar 1.7/2005 di Bidang Fokus: Pangan Energi Transportasi Infokom Pertahanan Kesehatan JAKSTRA 2000 .5.

teknologi informasi dan komunikasi. teknologi kesehatan dan obat-obatan. yakni: ketahanan pangan. dan ekonomis. politis. lingkungan. budaya. • Unggul (excellence): keseluruhan tahapan pembangunan iptek mulai dari fase inisiasi sampai evaluasi dampak iptek pada masyarakat. teknologi pertahanan.PendAhuluAn  Jakstranas Iptek 2005-2009 memberikan penekanan pada beberapa hal sebagai berikut: (i) Memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi. dan pemanfaatan pengetahuan. (v) Bidang Fokus yang sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2004-2009. Berpijak pada pertimbangan di atas. • Inovatif: memastikan terciptanya nilai tambah dan manfaat bagi masyarakat. moral. (iii) Menjunjung prinsip dasar dan nilai-nilai luhur. (ii) Membangun kesejahteraan dan peradaban bangsa. yaitu: kreasi. diseminasi. sosial-kemasyarakatan. teknologi dan manajemen transportasi. • Akuntabel (accountable): dalam aspek finansial. menyeluruh dan holistik (kesalingterkaitan dalam kesatuan yang utuh). energi baru dan terbarukan. Agenda Riset Nasional diformulasikan ke dalam fokus area pembangunan nasional iptek yang mencakup enam bidang berikut: • Bidang ketahanan pangan • Bidang energi baru dan terbarukan DEWAN RISET NASIONAL 2006 . harus dilaksanakan dengan cara yang terbaik. (iv) Masyarakat berbasis pengetahuan (Knowledge Based Society) yang didukung oleh empat aspek pondasi kehidupan bermasyarakat. yakni: • Visioner: memberikan solusi yang bersifat strategis dan perpektif jangka panjang. pemeliharaan.

(b) fisika yang mengungkapkan tatakerja atau hukum-hukum yang mengatur alam fisis. khususnya DEWAN RISET NASIONAL 2006 . (ii) memperkuat dimensi sosial dan kemanusiaan dari ke enam bidang fokus. (c) kimia yang mengungkapkan tata keteraturan alam. Penguatan dan pengembangan sains dasar. yang pada gilirannya membuka jalan bagi temuan terapan yang lebih baru. Sebaliknya. berbagai kegiatan pemanfaatan teknologi dan inovasi dapat menjadi sumber inspirasi bagi pengembangan sains dasar itu sendiri. yaitu: (a) matematika sebagai sains tentang struktur dan pola kuantitatif yang dikembangkan melalui abstraksi mental murni dan/atau refleksi atas fenomena alam. inovasi dan budaya ilmiah di sebuah bangsa.6. berperanan kunci dalam menjamin keberlanjutan dari upaya pemanfaatan teknologi dan peningkatan daya saing industri. dan (iii) mempererat keterkaitan lintas-disiplin dan lintas-bidang di antara ke enam bidang fokus tersebut. Sains dasar mencakup sejumlah bidang. 1.1 Penguatan Sains Dasar Sains dasar memberikan landasan teoretik bagi perkembangan ilmu pengetahuan. teknologi.0 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 • • • • Bidang teknologi dan manajemen transportasi Bidang teknologi informasi dan komunikasi Bidang teknologi pertahanan dan keamanan Bidang teknologi kesehatan dan obat-obatan 1.6 Faktor Dominan Keberhasilan pembangunan nasional iptek di ke enam bidang fokus tersebut membutuhkan Sains Dasar dan Ilmu Sosial dan Kemanusiaan yang dikembangkan untuk: (i) memperkuat basis keilmuan dari ke enam bidang fokus. oleh karenanya.

petro-kimia. teknologi pertahanan. sistim elektronik. Dalam bidang kimia. DEWAN RISET NASIONAL 2006 . molecular bio-fisika. kosmologi. geologis. sasaran pengembangan mencakup kimia teori. (d) biologi yang mengungkapkan keteraturan dalam fenomena hayati. kimia inti serta formulasi kompleksitasnya seperti kimia bahan polimer. radiofisika dan kesehatan. super symetry breaking and dimensional supergravity. dan rumusan kompleksitasnya. matrik. Riset fundamental di area sains dasar diarahkan untuk dapat menghasilkan temuan baru. yaitu ketahanan pangan.PendAhuluAn  perubahan sifat dan bentuk material. Pelaksanaan riset fundamental ini diharapkan akan mendukung keberlanjutan riset terapan di ke enam bidang fokus tersebut. impedansi elektromagnetik. teknologi kesehatan dan obatobatan. tekstil. geometri. penyediaan dan pemanfaatan energi baru dan terbarukan. teori graf. Formulasi bahan baru dari sumber daya alami dan sistem diversifikasi bahan dengan penguasaan iptek nano merupakan tantangan utama. dan berbagai cabang matematika modern yang penting untuk pemodelan dan analisis fenomena kompleks yang urgen dipahami dewasa ini. fisika nuklir. komunatorik. Sasaran pengembangan matematika mencakup penguasaan dasar matematika. sumber-sumber non-uniform induksi magnit. teori gravitasi. Pengembangan ilmu hayati/biologi. sandi. teknologi dan manajemen transportasi. teknologi informasi dan komunikasi. dan untuk menopang berbagai riset terapan yang berfokus pada ke enam bidang prioritas riset nasional. statistik. serta aspekaspek fundamental fisis. teori komputasi dan analisis numerik. keamanan dan lingkungannya. Sistem analisis/kontrol kualitas juga menjadi sangat berperan dalam perkembangan ilmu kimia. lingkungan dan antariksa. beserta aspek keselamatan. meliputi aljabar dan aljabar abstrak. Sedangkan sasaran pengembangan fisika mencakup pemahaman dan penguasaan seluruh area fisika teori. (e) sains bumi and antariksa yang mengungkapkan keteraturan alam fisis pada skala kebumian. serta nanoscience.

laju kenaikan paras air laut kawasan pantai pada lingkup nasional. termasuk pengembangan dan penyediaan sarana dan prasarana untuk pengukuran. berbagai sasaran pengembangan sains dasar tersebut dapat dikategorikan ke dalam dua kelompok: kelompok fundamental. ilmu dan teknologi nano atau sistem material nano. Yang termasuk ke dalam kelompok fundamental meliputi aljabar. pengembangan ilmu manipulasi genetika tanaman dan hewani. Sedangkan yang termasuk ke dalam kelompok formulasi kompleksitas meliputi: (i) model matematika untuk pengembangan partikel nano. fisika teori (teori gravitasi. serta penelitian efek negatif lubang ozon (pengaruh radiasi ultraviolet yang lebih pendek dari 280nm. supersymetry breaking dan dimensional supergravity). yang berenergi tinggi dan dapat membahayakan kesehatan). aspek kelautan. dan kelompok kompleksitas. regional dan lokal. aljabar abstrak. laut dan antariksa). fisika inti. matematika modern yang mendasar. (ii) sains kompleksitas (complexity sciences) dan model matematika untuk melakukan prediksi fenomena DEWAN RISET NASIONAL 2006 . fisika bumi. kelautan dan keantariksaan. Sasaran ini mencakup pengembangan dan penguasaan pengetahuan yang berhubungan dengan perubahan iklim/cuaca. bio-fisika dan instrumentasinya. AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 diarahkan untuk mencapai sasaran yang mencakup: penyempurnaan basis data sumber daya alam/hayati. penguasaan dan pengembangan metode kultur jaringan. Sebagai modal dasar bagi penguatan budaya ilmiah masyarakat Indonesia. Riset di bidang sains kebumian dan antariksa diarahkan untuk mencapai sasaran pengembangan dan penemuan rumusan fenomena alam dan lingkungan (bumi. Penyusunan peta kondisi kebumian Indonesia menjadi sangat penting. pemantauan dan pengamatan yang terkait dengan kebumian. dan bahan baru. aspek kehutanan. penguasaan ilmu hayati beserta aspek lingkungannya. ilmu kimia-bahan. geometri.

DEWAN RISET NASIONAL 2006 . dipandang penting bahwa penguatan dan penguasaan sains dasar melibatkan program pendidikan (pendidikan nasional. identifikasi dampak pemanasan bumi terhadap perubahan cuaca dan iklim global. pengungkapan karakteristik kebumian di Indonesia untuk mengetahui kondisi seismisitas. serta pengembangan instrumen pengukuran langsung untuk bumi dan antariksa dengan teknologi inderaja. mengembangkan sinergi dengan lembaga riset dan industri. prediksi degradasi lahan yang berimplikasi terbentuknya lahan kritis. dan membangun jejaring Academics-Business-Government (A-B-G). berkembangnya area yang rawan banjir. sumber daya hutan. perguruan tinggi. dan industri. Dalam implementasi ARN. penilaian kondisi kebencanaan (seperti gempa bumi dan tsunami) sebagai akibat kondisi ekstrim kebumian. yang diarahkan untuk menopang pengembangan program terapan. 1. termasuk pendidikan tinggi) dengan sasaran pengembangan pola pikir dan paradigma sains dasar. dan pada kondisi regional dan lokal di Indonesia. Pengembangan program pendidikan dasar maupun terapan perlu memperkuat orientasi ke industri. laut dan lingkungannya. manajemen rantai pasokan energi.PendAhuluAn  kompleks yang penting dalam manajemen sumber daya alam mineral.2 Penguatan Dimensi Sosial Kemanusiaan Riset dan pengembangan di bidang sosial dan kemanusiaan diarahkan untuk memperkaya dan memperkuat dimensi sosial dan kemanusiaan dalam pengembangan di ke enam bidang prioritas ARN. kegiatan gunung berapi dan sistem peredaran udara. Penguatan sains dasar ini merupakan bagian hulu yang melandasi integrasi program antarbidang ilmu dasar pada lembaga riset. banjir bandang dan tanah longsor. manajemen sumber daya hayati/botani.6.

ekonomi dan keberlanjutan lingkungan. hukum dan politik yang terpaut erat dengan ke enam bidang prioritas ARN. AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 Tema pengembangan ilmu sosial dan kemanusiaan untuk kurun waktu 2006-2025 adalah keadilan sosial. dengan memperhatikan keterkaitan antarbidang. dan untuk kurun waktu 2006-2009 adalah bagaimana nilai/prinsip keadilan dapat semakin terpahami dan diberlakukan dalam pembangunan di ke enam bidang fokus ARN. yang menjunjung tinggi kesetaraan dan keadilan sosial. budaya. yaitu: (i) kajian aspek sosial dan kemanusiaan dalam berbagai kebijakan publik yang terpaut dengan bidang pangan. energi. ekonomi. Pengembangan ilmu sosial dan kemanusiaan ini mencakup aspek sosial. dengan berfokus pada tema keadilan. (iii) kajian sosial dan kemanusiaan untuk mempercepat difusi dan pemanfaatan iptek pada ke enam bidang fokus pembangunan iptek. informasi dan komunikasi. (ii) kajian sosial. Pengembangan ilmu sosial dan kemanusiaan dijabarkan ke dalam tiga kelompok utama. dengan penekanan pada aspek keadilan. Kajian dalam kelompok kedua diarahkan untuk menjawab permasalahan berikut: (a) kesetaraan akses masyarakat ke layanan DEWAN RISET NASIONAL 2006 . dan pencapaian peradaban Indonesia yang terkemuka. budaya. serta kesehatan dan obat-obatan. pertahanan dan keamanan. hukum. Sasaran pengembangan dalam kelompok pertama adalah pengembangan aspek sosial dan kemanusiaan dalam berbagai kebijakan. dengan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan universal. Penguatan dimensi sosial dan kemanusiaan tersebut diharapkan dapat memberikan landasan kemasyarakatan dan kemanusiaan bagi pembangunan iptek bangsa secara berkesinambungan. Dari kajian ini dihasilkan indikator dan model pembangunan iptek lintassektoral yang mempromosikan terbentuknya Knowledge-Based Society. sehingga implementasi kebijakan tersebut dapat meningkatkan kualitas keadilan sosial dalam kehidupan bermasyarakat dan berteknologi. transportasi.

PendAhuluAn 

sosial dasar (layanan pangan, energi, transportasi, informasi dan komunikasi, jaminan rasa aman, serta kesehatan dan obat), yang mencakup aspek availability, accesibility, acceptability dan affordability (4A); (b) permasalahan pembangunan mendasar yang mendesak untuk diselesaikan seperti kemiskinan—dimensi SARA dan ketidakadilan sosial (dan teknologis) dari kemiskinan, dan potensi disintegrasi bangsa; (c) dampak kebudayaan dan kemanusiaan dari perkembangan teknologi (termasuk pemanfaatan teknologi impor); (d) dialog lintas-kultural untuk memberikan kesempatan yang setara bagi bahasa dan pengetahuan indigeneous untuk terus berkembang di era globalisasi informasi dan pengetahuan; (e) peningkatan kapasitas inovasi masyarakat dan peningkatan akses masyarakat terhadap sumber-sumber iptek untuk peningkatan kesejahteraan secara berkeadilan; (f) reaktualisasi sistem hukum yang bersifat netral dan berasal dari hukum lokal (hukum adat dan hukum Islam) ke dalam sistem hukum nasional di satu sisi, dan di sisi lain juga terhadap hukum yang bersifat netral yang berasal/ bersumber dari perjanjian antarbangsa; (g) penataan kelembagaan aparatur hukum yang masih belum dibentuk secara komprehensif, sehingga melahirkan berbagai ekses; (h) penataan dan penguatan metrologi legal nasional untuk mendukung daya saing industri, dan penguatan infrastruktur teknologi penunjang penegakan hukum; (i) pemberdayaan masyarakat baik dalam bentuk peningkatan akses masyarakat ke dalam kinerja pemerintah, dan peningkatan kesadaran hukum masyarakat (kedua hal ini merupakan pengembangan ’budaya hukum’); (j) pemberdayaan birokrasi (’bureaucratic engineering)—dalam konteks peranan hukum dalam pembangunan; dan pemanfaatan teknologi untuk pemberdayaan birokrasi (seperti e-government). Kajian sosial dan kemanusiaan untuk mempercepat difusi dan pemanfaatan iptek pada ke enam bidang fokus (secara terpadu) ditujukan

DEWAN RISET NASIONAL 2006



AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009

untuk meningkatkan peluang keberhasilan dan kestabilan difusi iptek. Secara umum, kajian ini dikelompokkan ke dalam tiga tingkat: • Tingkat mikro: berfokus pada peningkatan partisipasi para (calon) pengguna iptek, peningkatan kesetaraan akses terhadap sumbersumber iptek, dan interaksi di antara pengguna iptek dan penghasil iptek; kajian terhadap persepsi dan aspirasi masyarakat terhadap iptek (dalam kaitannya dengan kebutuhan-kebutuhan masyarakat dan fungsi-fungsi sosial iptek), dan kajian terhadap dampak sosial dan kemanusiaan dari teknologi; • Tingkat meso: identifikasi peluang-peluang untuk mempengaruh proses difusi iptek di masyarakat, dan pengembangan proses intermediasi; kajian kebijakan dan pranata legal (seperti standar) yang terkait dengan difusi iptek di masyarakat; pengembangan intermediasi di antara pelaku akademik, pelaku usaha dan pelaku pemerintahan (AB-G); • Tingkat makro dan pengembangan jangka panjang: interaksi dinamis/ ko-evolusioner antara perubahan keteknologian dan perubahan kemasyarakatan; kajian tentang perkembangan di masa mendatang; dan kajian untuk mempengaruhi proses ini, dengan segala implikasinya, untuk mengarahkan pemfungsian teknologi yang mencerminkan keadilan sosial dan mempromosikan pemelajaran sosial (guna mencapai Knowledge Based Society).

DEWAN RISET NASIONAL 2006



BAB II FOKUS AREA PEMBANGUNAN NASIONAL IPTEK

2.1 Arah Pengembangan Berdasarkan tujuan pembangunan dan prioritas pembangunan iptek yang ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2004-2009, dan Kebijakan Strategis Pembangunan Nasional (Jakstranas) Iptek 2005-2009, berikut ini dipaparkan arah pengembangan dari bidang fokus: (1) Ketahanan Pangan; (2) Energi Baru dan Terbarukan; (3) Teknologi dan Manajemen Transportasi; (4) Teknologi Informasi dan Komunikasi; (5) Teknologi Pertahanan dan Keamanan; dan (6) Teknologi Kesehatan dan Obat-Obatan.

2.1.1 Pembangunan Ketahanan Pangan Pembangunan ketahanan pangan diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat yang cukup, bergizi, aman, bermutu, sesuai selera dan keyakinannya, melalui: peningkatan produktivitas, kualitas, dan efisiensi produksi pangan asal tanaman, ternak, dan ikan secara berkelanjutan; pengolahan hasil, dan penganekaragaman pangan. Prioritas utama adalah untuk: (a) mendukung terwujudnya kemandirian ketahanan pangan, revitalisasi nilai kearifan lokal, dan meningkatkan kemitraan antar lembaga; dan (b) mengembangkan komoditas pangan yang menjadi prioritas, yang diselaraskan dengan kebijakan revitalisasi pembangunan produksi pangan asal tanaman, ternak, dan ikan.

DEWAN RISET NASIONAL 2006



AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009

Kebijakan iptek ketahanan pangan diarahkan/ditekankan pada upaya peningkatan daya dukung teknologi untuk mempertajam prioritas penelitian, peningkatan kapasitas kelembagaan, pengembangan iklim inovasi, dan pembentukan SDM yang handal dalam pengelolaan pangan.

2.1.2 Penyediaan dan Pemanfaatan Sumber Energi Baru dan Terbarukan Arah kebijakan penelitian, pengembangan dan penerapan iptek di bidang energi adalah: (a) peningkatan kemampuan iptek yang berorientasi mendukung kebijakan penyediaan energi nasional melalui langkah konservasi sumber energi, pemanfaatan energi secara efisien, diversifikasi penggunaan energi, dan pengembangan energi baru dan terbarukan; (b) peningkatan kemampuan iptek dalam pengelolaan energi nasional jangka panjang, dan peningkatan kemampuan pasokan energi dengan memanfaatkan bauran energi (energy-mix) berbasis pemanfaatan sumber energi baru dan terbarukan dengan memperhatikan kelestarian lingkungan; (c) peningkatan kemampuan iptek dalam pembangunan infrastruktur energi melalui penguatan kelembagaan, optimalisasi dan pendayagunaan sumber daya, serta pembangunan jaringan yang mencakup focal point untuk tiap jenis energi dan kegiatan yang dikembangkan; (d) mendorong terwujudnya iklim yang kondusif bagi berkembangnya teknologi dan inovasi yang berorientasi pada kekuatan dan kemampuan sumber daya nasional.

2.1.3 Pengembangan Teknologi dan Manajemen Transportasi Pengembangan teknologi dan manajemen transportasi di masa mendatang diarahkan untuk: (a) memenuhi kebutuhan transportasi na-

DEWAN RISET NASIONAL 2006

Fokus AReA PembAngunAn nAsionAl iPtek 

sional yang aman, nyaman, tepat waktu dan terjangkau masyarakat luas;(b) meningkatkan transaksi perdagangan sebagai sumber pergerakan orang, barang, dan jasa yang menjadi pangsa pasar bisnis transportasi melalui political trading yang saling menguntungkan; (c) menciptakan jaringan pelayanan secara inter dan antarmoda angkutan melalui pembangunan prasarana dan sarana transportasi, serta diikuti dengan pemanfaatan ecommerce dalam konteks less paper document, sehingga kemudahan, kelancaran, dan kepastian pelayanan dapat dicapai; (d) menyelaraskan semua peraturan perundang-undangan baik yang mencakup investasi maupun penyelenggaraan jasa transportasi untuk memberikan kepastian hukum bagi semua pihak yang terkait; (e) menciptakan sistem perbankan dan mekanisme pendanaan untuk menunjang investasi dan operasi bidang prasarana dan sarana transportasi; (f) mendorong seluruh stakeholders untuk berpartisipasi dalam penyediaan pelayanan mulai dari tahap perencanaan, pembangunan, dan pengoperasiannya; (g) menghilangkan segala macam bentuk monopoli agar dapat memberikan alternatif/pilihan bagi pengguna jasa; (h) mempertahankan keberpihakan pemerintah sebagai regulator terhadap pelayanan kepada masyarakat; (i) menyatukan persepsi dan langkah para pelaku penyedia jasa transportasi dalam konteks global services.

2.1.4 Pengembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi Pengembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) diarahkan untuk: (a) mengantisipasi implikasi konvergensi TIK, baik dalam aspek kelembagaan maupun peraturan perundang-undangannya, termasuk yang terkait dengan persoalan keamanan, kerahasiaan, privasi dan integritas informasi, hak atas kekayaan intelektual, serta legalitasnya; (b) mengoptimalkan dan mensinergikan pembangunan dan pemanfaatan prasarana telekomunikasi dan non-telekomunikasi dalam pengembangan

DEWAN RISET NASIONAL 2006

namun tetap menjaga keutuhan sistem yang telah ada. (g) meningkatkan pengetahuan masyarakat (khususnya masyarakat pedesaan) dan kepedulian tentang potensi pemanfaatan TIK.0 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 TIK secara menyeluruh dengan pengutamaan daerah pedesaan. (f) menumbuhkembangkan kepemimpinan (leadership) dalam bidang TIK untuk memperkuat arah yang jelas bagi pengembangan sektor ini.5 Pengembangan Teknologi Pertahanan dan Keamanan Arah kebijakan pengembangan teknologi pertahanan dan keamanan (hankam) ditujukan untuk: (a) memenuhi kebutuhan alat utama sistem senjata (alutsista). guna menciptakan efisiensi. (c) meningkatkan pemahaman. yang pada akhirnya akan menentukan harga/biaya layanan yang dibebankan kepada masyarakat pengguna. baik perangkat keras maupun perangkat lunak berteknologi terbaru. (c) manfaatkan konsep teknologi netral yang responsif terhadap kebutuhan pasar dan industri. termasuk efisiensi dalam investasi. kelembagaan dan penanganan alokasi pendanaan yang khusus. (d) mendorong persaingan yang sehat dalam penyelenggaraan telekomunikasi fixed line dengan mempersiapkan tahapan migrasi dari bentuk duopoli ke bentuk kompetisi penuh yang setara dan berimbang.1. 2. dan lain-lain). material. industri konten dan aplikasi sebagai upaya penciptaan nilai tambah dari industri TIK dalam negeri. sesuai dengan kebutuhan operasional yang mempunyai efek penangkal yang tinggi. penguasaan iptek. dan rekayasa untuk aplikasi hankam di kalangan perguruan tinggi dan lembaga iptek nasional untuk mencapai keunggulan bangsa berbasiskan kemandirian. (b) meningkatkan penguasaan kapabilitas iptek hankam di kalangan industri nasional melalui regulasi. (e) mendorong pengembangan industri pendukung (komponen. seperti telekomunikasi nirkabel. melalui roadmap yang DEWAN RISET NASIONAL 2006 . submodul.

peningkatan kesehatan. serta pengurangan dampak pembangunan terhadap kerusakan lingkungan dan kesehatan manusia. perawatan terhadap korban trauma dan bencana. serta pengembangan jejaring nasional untuk pelayanan purna jual peralatan.Fokus AReA PembAngunAn nAsionAl iPtek  bersifat kuantitatif dan rancangan strategis hankam yang terpadu. (b) pengembangan industri farmasi untuk mewujudkan kemandirian dalam menjamin ketersediaan obat-obatan yang dapat dijangkau oleh masyarakat luas.1. (d) pengembangan obat-obat preventif seperti vaksin sera. (c) pengembangan obat bahan alam menjadi fitofarmaka dan sediaan obat modern. terutama untuk mempertahankan dan meingkatkan keadaan gizi masyarakat. serta tumbuh kembang anak dalam rangka menjaga kualitas SDM Indonesia. serta pemulihan kesehatan. Prioritas utama pengembangan iptek kesehatan dan obat-obatan adalah: (a) pencapaian gizi seimbang. (f) pengembangan alat kesehatan/kedokteran dengan meningkatkan kemampuan produksi dan mutu alat kesehatan. DEWAN RISET NASIONAL 2006 . terutama untuk subsidi impor. pencegahan dan penyembuhan penyakit. pengawasan penggunaan narkotika. serta obat-obat protein pharmaceutical. (e) memberikan peluang kepada industri strategis di bidang hankam untuk berinovasi sehingga mampu menjaga kelangsungan hidup industri secara ekonomis. (e) pengendalian penyakit melalui deteksi dini dan diagnosis.6 Pengembangan Teknologi Kesehatan dan Obat-Obatan Penelitian dan pengembangan di bidang kesehatan dan obat-obatan diarahkan untuk memberikan pemecahan berbagai permasalahan utama kesehatan yang dihadapi sebagian masyarakat Indonesia. psikotropika dan zat adiktif. (g) penjagaan mutu pelayanan kesehatan dengan prioritas kesehatan keluarga. (d) mengikuti pemenuhan standardisasi sarana pertahanan (ranahan) pangsa pasar dunia yang kompetitif. 2.

dan Energi). dan bidang Energi Baru dan Terbarukan akan lebih efektif dan efisien jika dilaksanakan secara saling mendukung (baik dalam pemanfaatan sumber daya alam. pengembangan di bidang hankam dapat menghasilkan teknologi spin-off yang bermanfaat bagi pengembangan di bidang lainnya. pembangunan di ke enam bidang fokus tersebut perlu memperhatikan tujuan bersama (keterkaitan dalam tujuan bersama). Sains dasar memperkuat landasan keilmuan bagi ke enam bidang fokus ARN.2. sebagai perubahan kemasyarakatan menuju suatu keadaan yang lebih baik. Uraian terinci mengenai keterkaitan antarbidang ini dipaparkan dalam Lampiran dokumen ARN ini. bidang Kesehatan dan Obat-obatan. dan kedua. Ilmu sosial dan kemanusiaan berperan dalam memperkuat dimensi sosial dan kemanusian dalam pengembangan di ke enam bidang fokus tersebut. DEWAN RISET NASIONAL 2006 .2 Keterkaitan Antarbidang Pembangunan bangsa. dalam teknologi maupun dalam difusi dan inovasi). perlu dilakukan dalam suatu keterkaitan yang terpadu. Pembangunan nasional iptek. Pembangunan di bidang Hankam membutuhkan dukungan dari ke lima bidang tersebut di atas. Kesehatan. 2. AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 2. oleh karenanya. Sebaliknya. Pembangunan di bidang Transportasi dan bidang Informasi dan Komunikasi dapat berperanan strategis dalam menunjang pembangunan di tiga bidang tersebut (Pangan.1 Keterkaitan dalam Proses Pembangunan di bidang Ketahanan Pangan. Keterkaitan di antara bidang fokus ARN mencakup dua bentuk: pertama. terutama dalam menyediakan teori fundamental dan model untuk menghasilkan desain yang handal. pembangunan di ke enam bidang fokus ARN perlu memperhatikan dan memanfaatkan peluang untuk bisa saling mendukung (keterkaitan dalam proses). memerlukan proses yang bersifat holistik.

Fokus AReA PembAngunAn nAsionAl iPtek  Tujuan Pembangunan Iptek dalam RPJK/RPJP Penguatan Dimensi Sosial dan Kemanusiaan Fokus Teknologi dan Manajemen Transportasi Fokus Teknologi Informasi dan Komunikasi Fokus Teknologi Kesehatan dan Obat-Obatan Fokus Ketahanan Pangan Fokus Energi Baru/ Terbarukan Fokus Teknologi Pertahanan Penguatan Sains Dasar Gambar 2. 2. DEWAN RISET NASIONAL 2006 . Keterkaitan dalam Proses di antara Bidang Fokus dan Faktor Dominan ARN. daya saing bangsa. kemandirian. iklim yang kondusif untuk inovasi dan kapasitas iptek masyarakat (dan sistem produksi). kekuatan pranata legal dan standardisasi (termasuk metrologi legal). kelestarian lingkungan dan keberlanjutan pembangunan. dan keadilan. kesetaraan akses. memiliki keterkaitan dalam tujuan bersama yang mencakup: ketersediaan layanan untuk masyarakat. sebagaimana telah diuraikan di atas.2 Keterkaitan dalam Tujuan Arah pembangunan di ke enam bidang fokus ARN. serta kekuatan landasan keilmuan dan basis pengetahuan masyarakat. ketahanan dan rasa aman. kepastian hukum.2. Dalam Gambar 3 diilustrasikan kesatuan tujuan tersebut.

Kekuatan Pranata Legal dan Standardisasi Pengembangan Bidang Energi Baru dan Terbarukan Kekuatan Landasan Keilmuan dan Basis Pengetahuan Masyarakat Pengembangan Bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi Pengembangan Bidang Teknologi dan Manajemen Transportasi Gambar 3. dan peningkatan kapasitas iptek sistem produksi.3 Difusi. up-scale dan produksi dalam jumlah besar. Keseluruhan proses bermula dari lokasi di mana riset berlangsung secara intensif (di laboratorium). Kesetaraan Akses. DEWAN RISET NASIONAL 2006 . Keterkaitan Antarbidang dalam Tujuan Bersama 2. AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 Pengembangan Bidang Teknologi Kesehatan dan Obat-Obatan Ketersediaan Kebutuhan. Ketahanan dan Rasa Aman Pengembangan Bidang Ketahanan Pangan Pengembangan Bidang Teknologi Pertahanan dan Keamanan TUJUAN BERSAMA Kelestarian Lingkungan dan Keberlanjutan Pembangunan Kepastian Hukum. peningkatan kapasitas kelembagaan iptek.1 Difusi dan Pemanfaatan Iptek Pemanfaatan iptek meliputi kegiatan riset dan pengembangan. pembuatan prototipe dan pengujian berskala laboratorium.3. Kelembagaan dan Kapasitas Iptek Dalam Jakstranas Iptek 2005-2009 dinyatakan bahwa pembangunan nasional iptek mencakup: percepatan difusi dan pemanfaatan iptek. adopsi dan pemanfaatan iptek oleh masyarakat (sebagai pengguna/adopter). Pembangunan ke tiga aspek ini menjadi bagian yang terpadu dari keseluruhan Agenda Riset Nasional. 2. Keadilan Sosial Kapasitas Iptek/ Onovasi Masyarakat dan Sistem Produksi Kamandirian Daya Saing.

tata niaga. dan iklim investasi dalam pemanfaatan iptek untuk tujuan komersial. (iv) kesiapan regulasi.2 Kelembagaan Iptek Kelembagaan iptek mencakup kompetensi individual. Perancangan iptek didasarkan pada suatu asumsi (secara eksplisit ataupun implisit) tentang berbagai kondisi dari masyarakat yang akan memanfaatkan iptek tersebut. proses ini disebut difusi iptek. dan berbagai aspek lain yang relatif ‘soft’ seperti suasana yang kondusif bagi komunikasi dan kolaborasi di antara anggota lembaga. ketersediaan sarana dan pra-sarana. dengan memperhatikan potensi yang ada pada sumber daya alam lokal.3. infrastruktur metrologi legal. perlu diperhatikan beberapa hal berikut: (i) keterlibatan yang cukup dari masyarakat dalam penentuan pilihan iptek yang akan dikembangkan dan dimanfaatkan. atau bahkan mengalami kegagalan. Setiap kegiatan pengembangan iptek yang diarahkan pada pemanfaatan iptek mengandung aspek desain/perancangan di dalamnya. DEWAN RISET NASIONAL 2006 . pengetahuan dan kearifan lokal. Proses difusi iptek akan menemui hambatan. dan juga kondusif bagi efektivitas kepemimpinan. (iii) pengembangan kapasitas masyarakat untuk mengadopsi dan mengadaptasi iptek.Fokus AReA PembAngunAn nAsionAl iPtek  sampai di area yang tersebar (di masyarakat) di mana kegiatan utama adalah pengoperasian atau penggunaan iptek. bila asumsi tersebut jauh berbeda dari kondisi aktual masyarakat. 2. (ii) minimalisasi dampak negatif yang mungkin timbul dari pemanfaatan iptek (terutama dampak pada sebagian masyarakat yang termarjinalkan dari kegiatan pembangunan). Oleh karena pemanfaatan iptek bergerak dari lokasi yang intensif riset menuju area yang tersebar di masyarakat luas (di mana riset sudah tidak intensif/tidak ada). Untuk menghindari terjadinya kesenjangan di antara asumsi tentang kondisi masyarakat pengguna iptek dengan kondisi aktual masyarakat tersebut.

kemampuan untuk merencanakan pengadaan/pemanfaatan iptek menjadi faktor yang krusial. (iv) mengembangkan reverse engineering untuk meningkatkan nilai guna teknologi yang telah ada dan meningkatkan ketersediaan suku cadang. keselamatan. AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 Peningkatan kapasitas kelembagaan iptek memerlukan pengembangan di semua aspek tersebut secara terpadu. Oleh karena lembaga iptek (baik lembaga pemerintah maupun organisasi swasta) merupakan lembaga pemelajaran (learning institution/organization).3.3 Kapasitas Iptek Sistem Produksi Di era ekonomi global ini. lingkungan. berbagai faktor penunjang pemelajaran melalui interaksi dan komunikasi (intra dan antarlembaga) perlu dikembangkan. dan menjadikan pengoperasian industri tidak handal dan tidak efisien. (ii) meningkatkan interaksi yang mendalam dengan para pelaku industri untuk mengembangkan kapasitas adopsi iptek di industri. 2. dan legal. Lembaga riset iptek dan perguruan tinggi dapat berkontribusi untuk meningkatkan kapasitas iptek sistem produksi nasional dengan mengembangkan beberapa hal berikut: (i) mengembangkan metodologi penilaian (assessment) kebutuhan iptek di industri yang memperhitungkan aspek ekonomis. dan (vi) mengembangkan metodologi untuk manajemen rantai pasokan (supply chain management) yang bersifat DEWAN RISET NASIONAL 2006 . pengembangan sistem produksi nasional perlu mengombinasikan pemanfaatan iptek impor dan iptek lokal/domestik secara strategis untuk mencapai keseimbangan di antara peningkatan daya saing dan ketahanan/keberlanjutan. Bagi sebuah industri—sebagai elemen penting dalam sistem produksi. (v) memfasilitasi proses standardisasi di industri. (iii) mengembangkan (melalui dialog dengan pelaku industri) iptek yang strategis bagi peningkatan daya saing industri. Kekeliruan dalam perencanaan ini dapat berakibat kegagalan dalam alih iptek.

dan organisasi swasta dapat dimobilisasi untuk mengembangkan berbagai hal tersebut di atas melalui jejaring A-B-G. Pengembangan Iptek. rantai pasokan dalam kluster industri). Pengembangan IPTEK Pelaku Riset Lingkungan Strategis Riset Nasional Pelaku Riset Pelaku Riset Program Implementasi ARN Difusi & Pemanfaatan IPTEK Lingkungan Strategis Difusi & Pemanfaatan IPTEK Pengguna Langsung Pengguna Langsung Riset untuk Percepatan Difusi Iptek Pengguna Tak Langsung Pengguna Tak Langsung Pengguna Tak Langsung Pengguna Tak Langsung Pelaku Iptek baik penghasil maupun pengguna Aliran Informasi Iptek Gambar 4.Fokus AReA PembAngunAn nAsionAl iPtek  lintas-industri (rantai pasokan hulu-hilir. Difusi dan Pemanfaatan Iptek dalam Konstelasi Jejaring Pelaku Iptek di dalam Lingkungan Kebijakan dan Dinamika Sosio-kultural. Berbagai sumber daya yang terdapat di lembaga pemerintah. perguruan tinggi. DEWAN RISET NASIONAL 2006 .

DEWAN RISET NASIONAL 2006 .

1 AGENDA RISET KETAHANAN PANGAN 3. ketersediaan dan kualitas lahan produksi. Masalah terkait dengan konsumsi pangan dapat berupa ketidaktersediaan atau kekurangan pasokan bahan pangan bagi masyarakat. Kegiatan riset di bidang pangan tentu perlu pula didukung adanya penelitian dengan riset dan pengembangan sains dasar. serta kondisi iklim selama periode tanam atau selama siklus produksi. pola konsumsi masyarakat yang bergantung pada jenis pangan DEWAN RISET NASIONAL 2006 . ketersediaan sarana angkut untuk produk pangan. distribusi. BAB III AGENDA RISET 3. ketidakmampuan sebagian masyarakat untuk membeli pangan yang dibutuhkan. ketersediaan dan keterjangkauan harga sarana produksi. Masalah tersebut selain bersifat teknis maka juga terkait dengan dimensi sosial budaya dan ekonomi.1. dan konsumsi. maupun lokal dapat dipilah menjadi masalah produksi. termasuk kinerja petani. Masalah yang terkait dengan produksi pangan dapat disebabkan oleh salah satu atau kombinasi dari beberapa faktor produksi. nasional. dan selisih harga komoditas pangan di sentra produksi dan di tingkat konsumen.1 Latar Belakang Permasalahan Permasalahan pangan yang dihadapi baik secara global. Sedangkan masalah distribusi pangan terkait erat dengan kualitas dan jangkauan jaringan transportasi.

0 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 tertentu. penanganan masalah pangan tidak dapat dilakukan secara parsial. (g) masih sering dijumpai produk pangan yang tidak memenuhi standar kesehatan pangan. sehingga sulit menerapkan SNI untuk produk pangan. serta mencakup industri pangan tradisional maupun modern. (f) pola konsumsi yang kaku sehingga upaya diversifikasi pangan sering terhambat. beberapa DEWAN RISET NASIONAL 2006 . Berdasarkan permasalahan pangan yang dapat diidentifikasi tersebut. Permasalahan pangan pada tahap produksi. Oleh sebab itu. distribusi. agroindustri (sebagai pengolahan pangan segar menjadi pangan olahan). permasalahan pangan dipilah menjadi: (a) kekurangan pangan pokok. (c) kecilnya marjin usaha tani yang berakibat pada rendahnya motivasi petani untuk meningkatkan produksi. kecil. menengah. (h) belum semua rumah tangga secara ekonomi mampu memenuhi kebutuhan pangan pokoknya. dan penggunaan bahan kimia yang berbahaya bagi kesehatan pada pangan segar maupun olahan. (e) beberapa produk pangan tidak dapat tersedia sepanjang tahun karena belum berkembangnya teknologi pengolahan/pengawetan. Produsen pangan adalah petani (untuk produk pangan segar dan bahan baku industri pangan) dan industri pangan (untuk produk pangan olahan). Untuk panduan operasional. Konsumen komoditas pangan terdiri dari masyarakat (sebagai pengguna langsung). Industri pangan dimaksud termasuk industri rumah tangga. alternatif solusinya tidak selalu berupa solusi teknologi. dan konsumsi dapat saling terkait satu sama lain. dan besar. termasuk kurang gizi dan tidak memenuhi standar keamanan pangan. (b) pengurangan luas lahan pertanian produktif akibat konversi penggunaannya untuk keperluan non-pertanian. kekurangan gizi atau malnutrisi. (d) kendala dalam distribusi pangan sebagai akibat keterbatasan jangkauan jaringan transportasi. sebagai akibat kebutuhan yang lebih tinggi dari kapasitas produksi dalam negeri. dan eksportir (sebagai penjual komoditas pangan untuk pasar internasional).

2 Arah Kebijakan dan Prioritas Utama Kegiatan riset ketahanan pangan diarahkan untuk mendukung upaya seluruh pemangku-kepentingan (stakeholders) dalam memenuhi kebutuhan pangan yang cukup. bergizi. Hasil riset pangan ini selayaknya pula digunakan sebagai acuan untuk penyusunan kebijakan publik dan/atau digunakan sebagai basis pengetahuan untuk mendukung kegiatan edukasi publik. kegiatan riset dapat diarahkan untuk meningkatkan kapasitas produksi. dan meningkatkan mutu pangan yang dikonsumsi masyarakat. demikian pula pangan hasil kegiatan budidaya maupun hasil tangkap (ikan dan hewan liar) atau petik (tumbuhan hutan). sesuai-selera. dan terjangkau daya beli masyarakat. maka pangan hasil budidaya tentu perlu lebih diprioritaskan. 3. baik pangan asal tanaman. memperlancar distribusi dan mengurangi kehilangan/kerusakan pangan selama pengangkutan. ternak. Pada dasarnya seluruh jenis pangan. Sesuai dengan permasalahan pangan yang dihadapi. Solusi teknologi dijabarkan dalam bentuk langkah operasional berupa aktivitas riset yang relevan dan terarah untuk menjawab permasalahan-permasalahan pangan yang sedang dihadapi. baik berupa kebijakan publik yang mendukung atau berupa upaya edukasi publik agar dapat memahami dengan benar tentang aspek pangan tertentu. Akan tetapi dengan mempertimbangkan aspek keberlanjutan pasokan pangan. maupun ikan akan mendapat perhatian. aman. keyakinan. Jenis komoditas pangan yang diprioritaskan adalah selaras dengan besaran permintaan masyarakat atas jenis pangan tersebut dan disesuaikan dengan pola konsumsi pangan masyarakat yang diharapkan DEWAN RISET NASIONAL 2006 .1.AgendA Riset  permasalahan tersebut lebih membutuhkan solusi non-teknologi. Pangan asal flora dan fauna liar perlu didomestikasikan dan dibudidayakan untuk memperkaya keragaman pangan.

PPH). dan ikan adalah diperolehnya varietas dan DEWAN RISET NASIONAL 2006 .3 Target Capaian Tahun 2009 dan Sasaran Tahun 2025 (a) Target Capaian tahun 2009 Target capaian tahun 2009 yang diharapkan dari riset teknologi budidaya tanaman. Hal ini selaras dengan kebijakan Revitalisasi Pertanian. AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 (Pola Pangan Harapan. Melalui intensifikasi kerjasama ABG ini diharapkan proses adopsi teknologi oleh produsen (petani dan pelaku industri pangan) dapat berlangsung lebih baik 3. Nilai-nilai kearifan lokal yang telah terbukti berwawasan ekologis dapat diposisikan sebagai landasan untuk pengembangan teknologi produksi maupun pengolahan pangan dengan sisipan muatan untuk tujuan peningkatan produktivitas.1. Prioritas utama kegiatan riset bidang pangan adalah untuk mendukung terwujudnya ketahanan pangan yang bersumber dari produksi dalam negeri. dan Kehutanan (RPPK) yang telah dicanangkan. ternak. antar-lembaga riset. efisiensi. Kerjasama yang intensif dan sinergis antar-pelaku pembangunan ketahanan pangan diharapkan mampu memaksimalkan capaian bersama dalam menyediakan pangan bagi masyarakat dan meningkatkan efisiensi pengelolaan sumberdaya yang dimiliki. dan/atau keamanan pangan. Ketergantungan masyarakat akan jenis pangan pokok tertentu (terutama beras) perlu dikurangi dengan menawarkan berbagai jenis pangan alternatif. kualitas. dan pembuat kebijakan (Kerjasama ABG) sangat dianjurkan dalam aktivitas riset bidang pangan. Kemitraan antar-peneliti. dan juga antara akademisi. Akan tetapi. Perikanan. riset untuk pengembangan jenis pangan alternatif perlu dibarengi dengan upaya edukasi publik yang intensif agar penerimaan masyarakat terhadap produk pangan alternatif menjadi lebih meningkat. pelaku bisnis.

AgendA Riset  benih/bibit unggul baru yang tahan terhadap cekaman biotik dan abiotik dengan produktivitas dan kualitas yang tinggi. dan pengendalian hama dan penyakit tanaman. ternak dan/atau ikan yang sesuai untuk berbagai tipologi lahan marjinal. ternak dan ikan secara terpadu (biocyclofarming) untuk meningkatkan efisiensi penggunaan sumberdaya dan meminimalisasi limbah pertanian (zero waste). sistem informasi konsumsi pangan untuk media edukasi publik. termasuk kegiatan pemuliaan tanaman untuk menghasilkan benih yang cocok untuk daerah tropika. Program teknologi panen dan pascapanen ditargetkan untuk menghasilkan teknologi kemasan dari bahan baku lokal. Untuk mendukung tata niaga pangan. dan sistem informasi geografis (SIG) untuk pertanian DEWAN RISET NASIONAL 2006 . paket teknologi pengelolaan lahan dan air yang sesuai dengan agroekosistem setempat. ditargetkan pula pengembangan sistem informasi yang akrab-pengguna (user-friendly) dengan sajian data yang selalu diperbaharui (up to date) pada masing-masing sentra produksi. Program eksplorasi dan teknologi uji kelayakan dan pengolahan pangan baru ditargetkan untuk menghasilkan teknologi budidaya komoditas pangan yang didomestikasi dari hutan dan budidaya tanaman asal daerah subtropika. paket teknologi dan formulasi pakan ternak dan ikan. pencegahan. paket teknologi budidaya tanaman. Paket teknologi yang akan dikembangkan juga mendukung pelaksanaan Good Agriculture Practices (GAP) dan Good Manufacturing Practices (GMP). baik secara konvensional maupun melalui rekayasa genetik. dan pasar. peta rekomendasi jenis komoditas pangan asal tanaman. situs promosi komoditas pangan untuk ekspor. Selain itu tersedia pula berbagai paket teknologi untuk deteksi. ternak dan ikan. industri pangan. dan teknologi serta rancangan alat/mesin pengawetan dan pengolahan pangan yang sesuai dengan spesifikasi bahan baku lokal untuk menghasilkan produk pangan olahan yang sesuai dengan selera konsumen domestik.

peternak. kelayakan usaha tani pangan. nelayan dan pelaku agribisnis. menghasilkan pangan yang memenuhi standar mutu dan keamanan pangan domestik dan internasional. kimia. Kajian sosial-ekonomi-budaya bidang pangan ditargetkan untuk memperoleh data dan informasi untuk estimasi permintaan dan pasokan pangan tentang pola konsumsi dan strategi peningkatan produksi pangan nasional. serta peran dan kontribusi kelembagaan petani. baik untuk konsumsi langsung oleh masyarakat maupun sebagai bahan baku industri. Penetapan standar mutu dan keamanan pangan mengacu pada persyaratan/kriteria keamanan pangan domestik dan internasional. Ukuran kuantitatif DEWAN RISET NASIONAL 2006 . fisika. meningkatkan keanekaragaman pangan yang tersedia (diversifikasi). dan meningkatkan pendapatan petani serta pelaku agribisnis lainnya. AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 Untuk menjamin keamanan pangan. Data dan informasi ini diharapkan dapat dijadikan landasan dalam penetapan kebijakan publik yang mengatur tentang pangan. meningkatkan kontribusi lahan marjinal dalam produksi pangan. Sains dasar pendukung riset ketahanan pangan diposisikan sebagai landasan penting dalam pengembangan riset terapan untuk menghasilkan produk yang dapat dimanfaatkan langsung oleh masyarakat. ditargetkan tersedianya metoda pengujian yang baku dan alat/mesin untuk penilaian dan pengendalian mutu dan keamanan pangan termasuk alat/metode uji yang cepat dan sederhana untuk penggunaan di lapangan. Sains dasar dimaksud dapat berupa kajian matematika. (b) Sasaran pada tahun 2025 Adapun sasaran yang diharapkan dicapai pada tahun 2025 adalah signifikannya peran dan kontribusi riset dalam pemenuhan kebutuhan domestik untuk seluruh jenis pangan pokok dari hasil budidaya dalam negeri. serta ilmu kebumian dan antariksa. biologi.

Ternak. ternak. dengan didukung program difusi dan pemanfaatan iptek. budaya. dan program peningkatan kapasitas iptek sistem produksi. ternak dan ikan memiliki sasaran untuk peningkatan kapasitas produksi pangan melalui intensifikasi dan ekstensifikasi termasuk di lahan marjinal yang berpotensi menjadi lumbung pangan baru di masa depan serta teknologi budidaya soil less culture. ternak dan ikan mencakup kegiatan: (1) pemuliaan tanaman.1. (a) Teknologi Budidaya Tanaman. (f) kajian dinamika sosial. (b) eksplorasi. Sesuai dengan permasalahan yang dihadapi. program riset di bidang ketahanan pangan tahun 2006-2009 dikelompokkan sebagai berikut: (a) teknologi budidaya tanaman. dan kebijakan pangan yang dimiliki dan diperlukan masyarakat. ternak. teknologi uji kelayakan dan pengolahan pangan baru. (3) pengembangan teknologi produksi pakan ternak dan ikan. dan ikan. 3. (e) teknologi pengawasan pangan. aplikasi bioteknologi dan/atau aplikasi teknologi iradiasi untuk pengembangan varietas unggul baru. (2) pengembangan teknologi pengendalian hama dan penyakit secara terpadu.4 Program Program riset bidang ketahanan pangan dititikberatkan pada kebutuhan solusi teknologi atas permasalahan pangan yang dihadapi. DEWAN RISET NASIONAL 2006 . dan ikan secara konvensional. (d) sistem informasi pangan. ekonomi. (c) teknologi pasca panen.AgendA Riset  untuk masing-masing sasaran ketahanan pangan akan mengacu pada target yang ditetapkan dalam Kebijakan Umum Ketahanan Pangan. dan (g) sains dasar pendukung riset ketahanan pangan. dan Ikan Penelitian dan pengembangan teknologi budidaya tanaman. Program penelitian dan pengembangan teknologi budidaya tanaman. program penguatan kelembagaan iptek.

dan meningkatkan nilai tambah hasil tanaman. teknologi uji kelayakan dan pengolahan pangan baru meliputi kegiatan: (1) eksplorasi. dan (9) pengembangan teknologi budidaya pertanian yang sesuai dengan kemampuan masyarakat dan kebutuhan pasar global (b) Eksplorasi. dan ikan pada lahan-lahan marjinal Indonesia. dan evaluasi plasma nutfah tumbuhan. (3) uji adaptasi tanaman. ternak dan ikan secara terintegrasi. hewan. ternak dan ikan asal daerah subtropik. ternak. (7) pengembangan teknologi soil-less culture untuk tanaman dalam rumah kaca. dan (8) pemetaan kesesuaian komoditas tanaman pangan. domestikasi. serta mencegah terjadinya erosi genetik. dan ikan yang berpotensi sebagai sumber pangan baru atau sebagai sumberdaya genetik untuk merakit varietas pangan baru yang unggul. kerusakan. (6) pengembangan teknologi produksi tanaman. AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 (4) pengembangan pupuk hayati dan pupuk kimia berimbang. mempertahankan mutu produk. dan (4) pelestarian dan perlindungan plasma nutfah lokal. (2) teknologi pengolahan hasil hutan untuk bahan pangan baru. (c) Teknologi Pasca Panen Riset teknologi pasca panen bertujuan menciptakan teknologi pasca panen untuk dapat menekan susut saat panen dan pasca panen. dan ikan. serta meningkatkan keragaman jenis DEWAN RISET NASIONAL 2006 . identifikasi. dan biopiracy oleh pihak asing. ternak. teknologi uji kelayakan dan pengolahan pangan baru Riset ini memiliki sasaran untuk peningkatan keragaman jenis pangan yang dapat dikonsumsi masyarakat. baik yang telah terdomestikasi maupun kerabat liarnya. Riset eksplorasi. karakterisasi. (5) pengembangan teknologi pengelolaan lahan dan air. baik yang bersumber dari kekayaan hayati hutan Indonesia maupun tanaman yang diintroduksi dari daerah subtropik.

asal tanaman. (d) Sistem Informasi Pangan Pengembangan sistem informasi pangan memiliki sasaran untuk meningkatkan kelancaran arus informasi pangan dari sentra produksi ke pasar domestik/internasional untuk pangan yang dipasarkan dalam bentuk segar (fresh-market commodities) dan ke industri pangan untuk jenis pangan yang perlu diolah. ternak. Sasaran program ini adalah memperpanjang periode ketersediaan. jenis. dan ikan. Riset ini mencakup kegiatan: (1) penyediaan data produksi (volume.AgendA Riset  pangan olahan. ternak dan ikan. Sistem informasi pangan dapat juga dirancang untuk digunakan sebagai media edukasi publik tentang pangan dan informasi bagi investor yang membutuhkan lahan untuk kegiatan produksi pangan. Tentunya ini memerlukan adanya dukungan ketersediaan perangkat keras dan lunak di masing-masing simpul. dan (5) rancang bangun sarana transportasi dan distribusi produk pangan segar padat (ikan. ternak. Riset ini mencakup kegiatan: (1) pengembangan teknologi kemasan untuk produk pangan segar dan olahan. dan/atau energi. ternak dan ikan. ternak dan ikan. padat dan cair. (4) pengembangan teknologi pemanfaatan limbah pertanian dan agroindustri untuk pakan. (2) penyediaan data permintaan bahan pangan pokok pada pasar domestik dan internasional DEWAN RISET NASIONAL 2006 . jadwal) pangan melalui pendirian atau optimalisasi peran simpul pemasok data di lokasi sentra produksi (on-site). meningkatkan mutu dan nilai tambah hasil tanaman. bahan baku industri kimia. sebaliknya juga arus permintaan (demand) dari pasar domestik/internasional ke sentra produksi dan industri pangan. (2) pengembangan teknologi pengawetan dan pengolahan pangan hasil tanaman. hortikultura) dan cair (susu). (3) pengembangan teknologi pengurangan kehilangan hasil saat panen dan pasca panen tanaman.

Budaya. baik pangan yang diproduksi di dalam negeri maupun impor. Ekonomi. dan Kebijakan Pangan Kajian sosial. harga). (6) aplikasi inderaja (remote sensing) dan sistem informasi geografis (SIG) untuk pertanian. (3) pengembangan teknologi untuk deteksi bahan kimia yang berbahaya bagi kesehatan secara cepat. budaya. industri pengolahan pangan (kapasitas. dan (4) pengembangan Standar Nasional Indonesia (SNI) produk pangan. jenis. dan teknologi pangan yang dimiliki dan diperlukan masyarakat sebagai basis data dan informasi dalam pembuatan kebijakan publik dalam bidang pangan dan bidang terkait lainnya. jenis. (f) Kajian Sosial. bergizi. DEWAN RISET NASIONAL 2006 . dan kebijakan pangan mempunyai sasaran untuk estimasi permintaan dan produksi pangan. (3) pengembangan sistem informasi produksi dan pasar komoditas pangan pokok yang mudah diakses oleh petani dan pelaku agribisnis berbasis teknologi SMS menggunakan telepon seluler. harga). sederhana dan murah. (e) Teknologi Pengawasan Pangan Riset teknologi pengawasan pangan mempunyai sasaran untuk melindungi dan membantu konsumen dalam memilih pangan yang bermutu. ongkos). untuk mendorong terwujudnya ketahanan pangan nasional. (4) pengembangan situs promosi komoditas pangan untuk ekspor (e-farming). (5) pengembangan sistem informasi untuk edukasi publik tentang pangan. AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 (volume. dan transportasi produk pangan (moda. dan aman. Program riset teknologi pengawasan pangan meliputi kegiatan: (1) pengembangan teknologi pengukuran dan pengujian mutu pangan. (2) pengembangan teknologi untuk deteksi cemaran mikroba patogenik pada produk pangan. kebiasaan masyarakat dalam konsumsi pangan. ekonomi.

penguatan kelembagaan iptek. target capaian tahun 2009. indikator keberhasilan. dan (6) implikasi pengembangan teknologi pangan bagi kehidupan masyarakat. juga dirinci kegiatan-kegiatan program difusi dan pemanfaatan iptek. dan (5) kajian kebijakan pembatasan konversi lahan pertanian. Kegiatan untuk program sains dasar pendukung riset ketahanan pangan mencakup kegiatan antara lain: (1) kajian genetika dan biomolekuler. (g) Sains Dasar Pendukung Riset Ketahanan Pangan Riset dalam lingkup sains dasar umumnya dipilah menjadi riset untuk murni pengembangan ilmu dan riset untuk memberikan fondasi dalam upaya untuk mendapatkan jawaban atas permasalahan nyata melalui serangkaian riset terapan. (2) analisis usaha tani dan ekonomi pangan. (3) pengembangan teknologi pemantauan agroekosistem secara presisi. Selain program penelitian dan pengembangan iptek. (3) penguatan kelembagaan kelompok tani/peternak/ nelayan dan asosiasi pelaku agribisnis.AgendA Riset  Program kajian sosial. (2) kajian kimia pangan baru dan/atau produk hayati yang potensial untuk pangan. dan sasaran akhir yang hendak dicapai pada tahun 2025. dan peningkatan kapasitas iptek sistem produksi. ekonomi dan budaya mencakup kegiatan antara lain: (1) pola konsumsi pangan.(4) pengembangan pengetahuan lokal (indigenous knowledge) sebagai basis riset dan teknologi untuk mendukung ketahanan pangan. DEWAN RISET NASIONAL 2006 . Riset bidang ketahanan pangan ini secara lebih rinci diuraikan pada tabel kegiatan. dan (4) pengembangan instrumen untuk aplikasi teknologi penginderaan jauh.

l : DKP. BPPT. Universitas Pengguna a. Pelaksana a. jagung. LIPI. Keberlanjutan program pemuliaan tanaman untuk tanaman pangan lainnya. patin. PT Pengguna a. dan kedelai yang tahan terhadap hama atau patogen utamanya. dan kedelai dengan produktivitas tinggi. BPPT.l : Petani. (3) Pemuliaan ikan dan udang untuk memperoleh bibit unggul baru dengan pertumbuhan dan produktivitas tinggi Pelaksana a. dan kedelai. jagung. Benih ikan kerapu. dan kedelai. jagung.0 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 I PROGRAM PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN IPTEK NO KEGIATAN INDIKATOR TARGET CAPAIAN KEBERHASILAN SASARAN KETERANGAN 2009 2009 AKHIR 2025 Varietas unggul baru tanaman padi. Tersedianya benih ikan kerapu.l : Petani tambak/ nelayan. Varietas unggul baru tanaman padi. jagung. TERNAK DAN IKAN (1) Pemuliaan tanaman untuk pengembangan varietas unggul baru yang tahan terhadap cekaman biotik dan abiotik Surplus produksi beras. Industri Benih (2) Pemuliaan tanaman untuk pengembangan varietas unggul baru yang berpotensi hasil tinggi Varietas unggul baru tanaman padi. Tersedianya galur tanaman pangan lain yang potensial untuk dikembangkan menjadi varietas unggul berpotensi hasil tinggi. dan kedelai dengan produktivitas tinggi. Dilepasnya varietas jagung dan kedelai yang toleran terhadap kekeringan. Dilepasnya varietas unggul baru tahan hama atau penyakit utama untuk tanaman padi. jagung. dan udang unggul baru dengan pertumbuhan dan produktifitas tinggi.l: Deptan. jagung. nila. nila. patin.l : Petani. jagung.l: Deptan. Tersedianya galur tanaman pangan lain yang potensial untuk dikembangkan menjadi varietas unggul tahan cekaman biotik atau abiotik. LIPI. Dilepasnya varietas unggul baru tanaman padi. Batan. Pelaksana a. Industri Benih A TEKNOLOGI BUDIDAYA TANAMAN. BPPT. Batan. Universitas Pengguna a. dan kedelai. Industri perikanan DEWAN RISET NASIONAL 2006 . Dilepasnya varietas padi yang toleran terhadap keasaman tanah. dan kedelai yang toleran terhadap cekaman abiotik tertentu. Keberlanjutan program pemuliaan tanaman untuk tanaman pangan lainnya. dan udang unggul baru dengan pertumbuhan dan produktivitas tinggi Terpenuhinya kebutuhan domestik untuk ikan dan meningkatnya ekspor udang Surplus produksi beras.

BPPT. LIPI. LAPAN. domba. peternak. Industri peternakan Pelaksana a. Batan. dan itik) dengan produktivitas tinggi Terpenuhinya kebutuhan domestik untuk pangan asal ternak Pelaksana a. Paket teknologi pengendalian hama dan penyakit tanaman. jagung. ternak. LIPI. DKP. Batan. ayam lokal. ayam lokal. dan kedelai Tersedianya biopestisida alami untuk pengendalian hama atau patogen utama tanaman padi.l: Peternak. Batan.l: Petani. Universitas Pengguna a. LIPI. dan kedelai Menurunnya kehilangan hasil akibat hama dan patogen pada tanaman padi. petani tambak/nelayan.l: Petani. Bakosurtanal. domba. BPPT. jagung. dan itik) dengan produktifitas tinggi Tersedianya bibit ternak unggul baru (sapi. pengendalian. jagung.l: Petani. DKP.l: Deptan. petani tambak/ nelayan.AgendA Riset  NO (4) KEGIATAN Pemuliaan ternak untuk pengembangan bibit ternak unggul baru dengan produktivitas tinggi INDIKATOR TARGET CAPAIAN KEBERHASILAN SASARAN KETERANGAN 2009 AKHIR 2025 2009 Bibit ternak unggul baru (sapi. dan kedelai Peningkatan produktivitas lahan dan wilayah perairan (7) Pengembangan teknologi dan formulasi pakan ternak dan ikan bermutu berbasis sumber daya lokal Paket teknologi dan formulasi pakan ternak dan ikan bermutu berbasis sumber daya lokal Tersedianya paket teknologi dan formulasi pakan ternak dan ikan bermutu berbasis sumber daya hayati lokal DEWAN RISET NASIONAL 2006 . BPPT. kambing. Universitas Pengguna a.l: Deptan. PEMDA. kambing. pencegahan dan pemberantasan hama dan penyakit tanaman. Industri pestisida Pelaksana a. dan ikan. ternak dan ikan prioritas Menurunnya kehilangan hasil akibat hama dan patogen tanaman. Universitas Pengguna a.l: Deptan. eternak dan agroindustri Pelaksana a. Universitas Pengguna a. ternak. dan industri terkait (5) Pengembangan teknologi pengendalian hama dan penyakit tanaman.l: Deptan. dan ikan (6) Pengembangan pestisida alami (biopesticide) untuk untuk pengendalian hama dan patogen tanaman Fomula biopestisida alami untuk pengendalian hama atau penyakit tanaman padi. ternak dan ikan prioritas Tersedianya paket teknologi deteksi.

Peningkatan keragaman produk pangan yang dihasilkan. AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 NO (8) KEGIATAN Pengembangan teknologi pengelolaan lahan dan air untuk tanaman.l: Deptan. termasuk lahan-lahan marjinal Peningkatan produktivitas lahan dan wilayah perairan Pelaksana a. DKP. industri terkait Pelaksana a. Bakosurtanal. peternak. dan industri terkait Pelaksana a. ternak dan ikan INDIKATOR TARGET CAPAIAN KEBERHASILAN SASARAN KETERANGAN 2009 2009 AKHIR 2025 Paket teknologi dan formulasi pupuk hayati (biofertilizer) dan pupuk kimia berimbang Tersedianya paket teknologi dan formulasi pupuk hayati (biofertilizer). Universitas Pengguna a. Industri pertanian (9) Pengembangan teknologi dan formulasi pupuk hayati (biofertilizer) dan pupuk kimia berimbang untuk tanaman Peningkatan produktivitas dan efisiensi pemanfaatan lahan. BPPT.l: Petani. petani tambak/ nelayan. petani tambak/ nelayan. LAPAN. LAPAN. Bakosurtanal. DKP. LIPI. petani tambak. dan industri terkait Pelaksana a. LIPI.l: Deptan. Peningkatan ketersediaan sayuran dan buah segar untuk perkotaan (10) Pertanian terpadu (biocyclofarming) tanaman. Peningkatan produktivitas dan efisiensi pemanfaatan lahan.l: Petani. Tersedianya paket teknologi dan formulasi pupuk kimia berimbang sesuai kebutuhan tanaman dan kondisi lahan Paket teknologi pengelolaan lahan dan air untuk tanaman. peternak. ternak.l: Petani. LAPAN. PEMDA. peternak. Peningkatan keragaman produk pangan yang dihasilkan. PEMDA. DKP.l: Deptan. BPPT. dan ikan Paket teknologi pengintegrasian komoditas pangan Tersedianya paket teknologi pengintegrasian komoditas pangan untuk setiap agroekosistem. PEMDA. termasuk lahan-lahan marjinal (11) Pengembangan teknologi budidaya tanaman dengan sistem hidroponik dan aeroponik Paket teknologi budidaya tanaman dengan sistem hidroponik dan aeroponik untuk tanaman hortikultura Tersedianya teknologi budidaya tanaman dengan sistem hidroponik dan aeroponik untuk sayuran bernilai ekonomi tinggi DEWAN RISET NASIONAL 2006 .l: petani. Universitas Pengguna a. Universitas Pengguna a. Universitas Pengguna a.l: Deptan. Bakosurtanal. ternak dan ikan Tersedianya paket teknologi pengintegrasian komoditas pangan untuk setiap agroekosistem.

LIPI.l: Deptan. bukan hasil pengambilan langsung dari hutan. domestikasi. atau ikan yang sesuai pengelolaan lahan dalam LAPAN. ternak. BPPT Pengguna a. Industri pangan Pelaksana a. DKP. Universitas. Batan Pengguna a. Gene bank asal biota hutan yang potensial untuk merakit varietas unggul Produk pangan asal hutan yang dihasilkan melalui kegiatan budidaya. Produk pangan olahan dengan bahan baku berasal dari produk kehutanan Peningkatan keragaman pangan (divesifikasi) yang tersedia bagi konsumen Pelaksana a.l: petani. TEKNOLOGI UjI KELAYAKAN DAN PENGOLAHAN PANGAN BARU (1) Eksplorasi. Industri benih/bibit (2) Paket teknologi untuk Pengembangan pengolahan bahan teknologi pengolahan pangan pangan asal hutan asal hutan Peningkatan keragaman pangan olahan yang tersedia bagi konsumen Terpenuhinya kebutuhan na-sional akan gandum. dan evaluasi plasma nutfah biota hutan melalui kegiatan bioprospeksi Teknologi budidaya komoditas pangan yang didomestikasi dari hutan. LIPI.AgendA Riset  NO KEGIATAN (12) Pemetaan kesesuaian komoditas tanaman pangan. industri terkait B EKSPLORASI. DKP. pangan.l : Deptan.l: petani.l: Universitas. karakterisasi.l: komoditas tanaman rekomendasi kontribusi Deptan. dan ikan pada lahan-lahan marjinal Indonesia INDIKATOR TARGET CAPAIAN KEBERHASILAN SASARAN KETERANGAN 2009 2009 AKHIR 2025 Peta rekomendasi jenis Penggunaan peta Peningkatan Pelaksana a. ternak dan/ komoditas dalam lahan marjinal Bakosurtanal.l : Industri pangan DEWAN RISET NASIONAL 2006 . Varietas unggul tanaman yang dirakit dengan memanfaatkan sumberdaya genetik asal biota hutan. Deptan. Pemda. dan kentang sebagai bahan baku industri pangan dari hasil budidaya dalam negeri (3) Tropikasi tanaman Teknologi seleksi dan pangan asal daerah budidaya tanaman pangan asal daerah sub tropika sub-tropika pada kondisi lahan dan iklim Indonesia Tersedianya cultivar/ varietas gandum dan kentang yang dapat berproduksi dengan baik pada lahan dataran rendah tropika Pelaksana a.l: nasional investor pertanian. identifikasi. BPPT Pengguna a. Deptan. untuk berbagai tipologi marjinal penyediaan Universitas lahan marjinal pangan Pengguna a. Universitas. LIPI. BPPT.

udang. ternak dan ikan Paket teknologi dan alat/mesin pengawetan dan pengolahan pangan yang sesuai dengan spesifikasi bahan baku pangan lokal Berkembangnya industri pangan berbahan baku lokal yang kompetitif dan meningkatnya keragaman jenis pangan olahan Pelaksana a. Deptan. peternak DEWAN RISET NASIONAL 2006 .l: Universitas. kerusakan. BPPT. serta mencegah terjadinya erosi genetik. dan biopiracy oleh pihak asing INDIKATOR TARGET CAPAIAN KEBERHASILAN SASARAN KETERANGAN 2009 AKHIR 2025 2009 Gene bank untuk tanaman pangan utama dan kerabat liarnya Database plasma nutfah Indonesia semakin lengkap dan berkembangnya gene bank nasional maupun konservasi in situ untuk beberapa komoditas pangan yang potensial Pemanfaatan dan pelestarian plasma nutfah secara berkelanjutan Pelaksana a. dan mutu produk pangan segar dan olahan dalam negeri. DKP Pengguna a. Batan Pengguna a.l: Universitas. BPPT. Peningkatan ketersediaan pangan berkualitas dan aman. petani tambak/nelayan. keraga-man. LIPI. Ketersediaan pangan sepanjang tahun. DKP C TEKNOLOGI PASCA PANEN (1) Pengembangan teknologi kemasan untuk produk pangan segar dan olahan asal tanaman. peternak (2) Pengembangan teknologi pengawetan dan pengolahan pangan hasil tanaman. Deptan. baik yang telah terdomestikasi maupun kerabat liarnya. DKP. Pelaksana a. Deptan Pengguna a. petani.l: Universitas. LIPI. ternak dan ikan Paket teknologi kemasan dari bahan baku lokal untuk komoditas pangan orientasi ekspor (buah tropis.l: Universitas. Batan.l : Industri pangan. petani tambak/nelayan.l: Industri pangan. ikan) Pengurangan kehilangan hasil pada saat panen dan setelah panen. AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 NO (4) KEGIATAN Pelestarian dan perlindungan plasma nutfah lokal. Peningkatan serapan tenaga kerja sektor pertanian. Deptan. bebas cemaran mikroba patogenik dan bahan kimia berbahaya. petani. industri benih. Produk pangan yang berkualitas. Peningkatan volume. LIPI.

peternak (5) Rancang bangun sarana angkut dan distribusi produk pangan segar padat (ikan.l: Universitas. petani tambak/nelayan. hortikultura) dan cair (susu) Tersedianya sarana angkutan darat hasil rekayasa dalam negeri untuk pengangkutan produk pangan segar Kelancaran distribusi dan semakin luasnya jangkauan pemasaran produk pangan segar DEWAN RISET NASIONAL 2006 . petani tambak/nelayan. dan pelaku agribisnis Penurunan masalah limbah pertanian. pekerja. ternak dan ikan dapat diolah di sentra produksi (sekitar lahan produksi) Pengurangan kehilangan hasil tanaman. dan ikan. industri kimia dan energi Pelaksana a. Pengurangan impor pakan. ternak. peternak Pelaksana a.AgendA Riset  NO (3) KEGIATAN Pengembangan teknologi panen dan pascapanen skala kecil untuk pengurangan kehilangan hasil tanaman.l: Industri pangan. BPPT. peternak (4) Pengembangan teknologi pemanfaatan limbah pertanian dan agroindustri untuk pakan. Deptan. PLN.l: Universitas. LIPI. Deptan.ternak. Peningkatan ketersediaan energi alternatif dan terbarukan. DKP Pengguna a.l: Industri pangan. pupuk organik. industri pakan. BATAN. atau energi Paket teknologi pengolahan limbah pertanian untuk produksi pakan. DKP Pengguna a. petani. petani. BPPT. sehingga paling tidak 25% hasil tanaman pangan. Deptan.l: Universitas. atau energi terbarukan Berkembangnya industri pengolahan libah pertanian untuk pakan. BPPT. DKP Pengguna a. Stabilitas dan kesesuaian harga produk pangan segar sehingga menguntungkan bagi konsumen Pelaksana a. hortikutura. industri kendaraan. ternak dan ikan INDIKATOR TARGET CAPAIAN KEBERHASILAN SASARAN KETERANGAN 2009 AKHIR 2025 2009 Paket teknologi dan alat/mesin panen dan sarana penanganan pascapanen yang mengurangi kehilangan hasil pangan Berkembangnya on site agroindustri. bahan baku industri kimia. Dephub. petani tambak/nelayan. Peningkatan kesejahteraan petani. LIPI. LIPI.l: Industri pengolahan limbah. petani.

Pemda. dan harga komoditas pangan utama pada tingkat pasar induk (domestik).l: Petani. BPS.l: Deptan. Petani. Universitas Pengguna a. pasar. Universitas Pengguna: Petani. eksportir pangan. DKP. Telkom. termasuk hortikultura Kepastian harga dan daya serap pasar untuk menjamin keberlangsungan usaha perdagangan komoditas pangan DEWAN RISET NASIONAL 2006 . pada semua sentra produksi. Berfungsinya sistem informasi produksi untuk komoditas padi. Pemda. pasar global. Depkominfo. Universitas Pengguna a.l: Deptan. dan industri pengolahan pangan Berperannya simpul pemasok data harian untuk volume. jenis. dan eksportir Jumlah pengguna internet yang mengakses situs promosi komoditas pangan Pelaksana a. jagung. petani tambak/nelayan dan peternak. petani tambak/ nelayan dan peternak.l: Pemda. LIPI. dan kedelai pada sentra-sentra produksi utama Berfungsinya sistem informasi produksi dan pasar untuk semua komoditas pangan. industri terkait (2) Penyediaan data permintaan bahan pangan pokok pada pasar domestik. DKP. industri pangan. BPS. Depkominfo. BPPT. dan eksportir Peningkatan volume dan nilai transaksi perdagangan dalam dan luar negeri untuk komoditas pangan Pelaksana a. DKP. BPS. Petani tambak/nelayan dan Peternak. agroindustri. industri terkait Pelaksana: Deptan. konsumen (3) Pengembangan sistem informasi produksi dan pasar komoditas pangan pokok yang mudah diakses oleh petani dan pelaku agribisnis berbasis teknologi SMS menggunakan telepon seluler Berfungsinya sistem informasi produksi dan pasar komoditas pangan utama berbasis teknologi SMS Tersedianya provider yang mampu memberikan informasi pasar untuk tanaman pangan utama. AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 NO KEGIATAN INDIKATOR TARGET CAPAIAN KEBERHASILAN SASARAN KETERANGAN 2009 AKHIR 2025 2009 D SPESIALIS INFORMASI PANGAN (1) Penyediaan data produksi pangan pokok melalui pendirian /optimalisasi peran simpul pemasok data di lokasi sentra produksi (on-site) Berperannya simpul pemasok data up-todate tentang produksi komoditas pangan utama pada masingmasing sentra produksi utamanya. Depkominfo.

Depkominfo. DKP. Depkominfo. Industri terkait. BSN.l: Pemda. Model Komunikasi. Depdag. Industri pangan. dan murah Ketersediaan alat ukur dan uji mutu pangan buatan dalam negeri yang cocok untuk pangan lokal Keterjaminan mutu (quality assurance) pangan produksi dalam negeri Pelaksana a. Depkominfo. BPS. DKP. Depkes. Peningkatan pengetahuan konsumen tentang pola konsumsi yang baik.AgendA Riset  NO (4) KEGIATAN Pengembangan situs promosi komoditas pangan untuk ekspor INDIKATOR TARGET CAPAIAN KEBERHASILAN SASARAN KETERANGAN 2009 2009 AKHIR 2025 Tersedianya situs promosi komoditas pangan untuk ekspor dengan data yang up-to-date Ketersediaan data mutakhir untuk komoditas pangan berorientasi ekspor Peningkatan devisa negara dari perdagangan komoditas pangan Pelaksana a. LIPI. akurat. Depdag. konsumen DEWAN RISET NASIONAL 2006 . BPS. Pemda Pelaksana a. bergizi seimbang dan aman yang berbasis sumberdaya lokal. LIPI. Depkes. LIPI. Informasi dan Edukasi (KIE) Konsumsi Pangan. Industri terkait.l: Pemda. Model Komunikasi.l: Deptan. BPS. konsumen (5) Pengembangan sistem informasi pangan Pedoman konsumsi pangan beragam.0.l: Deptan. (6) Pengembangan sistem informasi pangan Skor Pola Pangan Harapan (PPH) lebih dari 80. Depkes. Pengguna a.l: Badan POM. Deprin. BPPT. Universitas Pengguna a. Pedoman konsumsi pangan beragam. bergizi seimbang dan aman yang berbasis sumberdaya lokal.l: Deptan. Peningkatan pengetahuan konsumen tentang pola konsumsi yang baik. DKP.l: BPEN.0. Perubahan prilaku konsumsi yang semakin kurang tergantung pada beras. Universitas Pengguna a. Universitas Pengguna a.l: Deptan. DKP. Informasi dan Edukasi (KIE) Konsumsi Pangan. Universitas. BSN. konsumen E TEKNOLOGI PENGAWASAN PANGAN (1) Pengembangan teknologi pengukuran dan pengujian mutu pangan Paket teknologi dan alat ukur dan uji mutu pangan yang cepat. Perubahan prilaku konsumsi yang semakin kurang tergantung pada beras. Pelaksana a. eksportir pangan. Skor Pola Pangan Harapan (PPH) lebih dari 80.

DKP. Depdag. Kemampuan menangkal masuknya produk pangan impor yang tidak memenuhi SNI Pelaksana a. dan murah untuk penggunaan di lapangan Tersedianya metoda uji untuk deteksi bahan kimia yang berbahaya bagi kesehatan secara cepat dan sederhana untuk penggunaan di lapangan (4) Pengembangan Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk pangan Standar mutu dan keamanan pangan segara dan olahan yang dapat diterima dalam perdagangan domestik dan internasional Penerapan standar mutu dan keamanan pangan dalam produksi dan tata niaga pangan segar dan olahan di Indonesia DEWAN RISET NASIONAL 2006 . Pengguna a. Universitas. Deprin. Industri pangan. Depdag. Universitas. AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 NO (2) KEGIATAN Pengembangan teknologi untuk deteksi cemaran mikroba patogenik pada produk pangan INDIKATOR TARGET CAPAIAN KEBERHASILAN SASARAN KETERANGAN 2009 AKHIR 2025 2009 Teknologi untuk deteksi cemaran patogenik pada produk pangan yang handal. akurat. LIPI. Depkes. Depdag.l: Deptan.l: Deptan. BSN. DKP. Universitas. BPPT. Pengguna a. BPPT. Industri pangan. konsumen (3) Pengembangan Teknologi deteksi dan pengujian bahan kimia yang berbahaya bagi kesehatan dalam produk pangan Teknologi dan alat uji untuk deteksi bahan kimia yang berbahaya bagi kesehatan secara cepat. Deprin. BSN.l: Badan POM. LIPI. konsumen Pelaksana a. Deprin.l: Badan POM. Industri pangan. dan murah Ketersediaan eknologi dan alat untuk deteksi cemaran patogenik pada produk pangan Ketiadaan kasus gangguan kesehatan akibat konsumsi pangan yang kontaminasi mikroba patogenik Ketiadaan kasus gangguan kesehatan akibat konsumsi pangan yang tercemar bahan kimia berbahaya Penerimaan produk pangan asal Indonesia di semua negara tujuan. konsumen Pelaksana a. BPPT. DKP.l: Deptan. BSN. LIPI. Depkes. BSN.l: Badan POM. BSN. Pengguna a. Depkes. cepat. BSN.

l: Deptan.l: Deptan. peternak. petani tambak/nelayan dan peternak.l: Industri pangan. peternak. petani.l: petani. Pemda. Pemda F KAjIAN SOSIAL. Pemda Pelaksana a. peternak. Pemda.l: Petani. petani tambak/nelayan dan peternak. Universitas Pengguna a. EKONOMI. dan nelayan (4) Kajian kearifan lokal (indigenous knowledge) yang mendukung pembangunan ketahanan pangan Terdokumentasinya pengetahuan /kearifan lokal terkait produksi dan pengolahan pangan Integrasi kearifan lokal dalam teknologi produksi dan pengolahan pangan modern Aplikasi teknologi pangan modern yang berakar pada nilai kearifan lokal untuk menjamin kecukupan dan kelestarian pangan DEWAN RISET NASIONAL 2006 . DAN KEBIjAKAN PANGAN (2) Analisis usaha tani dan ekonomi pangan Rekomendasi bisnis bidang pangan Peningkatan motivasi petani dan investor untuk meningkatkan dan berpartisipasi dalam kegiatan produksi pangan Pelaksana a.l: konsumen. LIPI. Industri pangan. Depkominfo. industri pangan (3) Penguatan kelembagaan kelompok tani. peternak. dan nelayan Pelaksana a. dan nelayan Pengakuan masyarakat akan eksistensi kelembagaan petani. LIPI. DKP.l: Deptan. BPPT. Peningkatan kesejahteraan petani dan pelaku industri pangan Kemandirian kelembagaan petani. Universitas Pengguna a.AgendA Riset  NO (1) KEGIATAN Pola konsumsi pangan INDIKATOR TARGET CAPAIAN KEBERHASILAN SASARAN KETERANGAN 2009 AKHIR 2025 2009 Data dan informasi tentang pola konsumsi pangan masing-masing daerah dan nasional Paket kebijakan dan edukasi publik tentang pola konsumsi yang sehat dan dianjurkan Perubahan pola konsumsi masyarakat yang lebih menghargai produk pangan lokal dan tidak tergantung pada satu jenis pangan pokok Peningkatan produksi pangan nasional. dan nelayan Berfungsi-optimalnya kelembagaan petani. petani tambak/ nelayan dan peternak Pelaksana a. BPPT. DKP. Universitas Pengguna a. Depkes. DKP.l: Deptan. DKP. BUDAYA. Universitas Pengguna a.

ternak. LPND Ristek Pengguna a. Depdagri. Pemda G SAINS DASAR PENDUKUNG RISET PANGAN (1) Kajian genetika dan Teridentifikasinya gen pembawa sifat unggul biomolekuler (daya hasil tinggi dan/atau resistensi terhadap cekaman biotik atau abiotik) pada tanaman. Bakosurtanal.: industri benih/bibit (2) Daftar komposisi gizi bahan pangan baru yang telah diintroduksikan ke masyarakat Pelaksana a. DepPU. Deptan.0 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 NO (5) KEGIATAN Kajian kebijakan tentang pengendalian konversi lahan pertanian INDIKATOR TARGET CAPAIAN KEBERHASILAN SASARAN KETERANGAN 2009 2009 AKHIR 2025 Produk hukum yang membatasi kegiatan konversi lahan pertanian Penurunan laju konversi lahan pertanian menjadi tidak lebih dari 100 ribu ha per tahun Berkurangnya konversi lahan pertanian menjadi kurang dari 100 ribu ha per tahun Pelaksana a. ternak. Universitas Pengguna a.: industri pangan DEWAN RISET NASIONAL 2006 . dan ikan unggul untuk menopang ketahanan pangan nasional Seluruh bahan pangan baru telah diketahui kandungan gizi dan kemungkinan kandungan senyawa kimia berbahaya yang secara alami terkandung dalam bahan pangan tersebut Pelaksana a. BPN. Deptan. LPND Ristek Pengguna a.l. dan ikan Kajian kimia pangan baru atau produk hayati yang potensial untuk pangan Komposisi gizi dan deteksi kandungan bahan kimia yang berpotensi mengganggu kesehatan pada bahan pangan baru Pemanfaatan pengetahuan genetika dan biomolekuler ini dalam kegiatan perakitan varietas unggul Ketersediaan jenis tanaman.l.: Universitas. Deptan.l: Depdagri.l.l: BPN.: Universitas.l. Dephut.

: LPND Ristek. Universitas Pengguna a. Pemda (4) Pengembangan instrumen untuk aplikasi teknologi penginderaan jauh Prototipe instrumen yang telah teruji kehandalannya Tersedia prototipe yang berfungsi sesuai harapan dan layak untuk diproduksi secara komersial Pelaksana a.AgendA Riset  NO (3) KEGIATAN Pengembangan teknologi pemantauan agroekosistem secara presisi INDIKATOR TARGET CAPAIAN KEBERHASILAN SASARAN KETERANGAN 2009 2009 AKHIR 2025 Pola iklim (suhu udara.l. curah hujan) untuk wilayah sentra produksi pertanian Penggunaan data dan peta agroekosistem dalam penentuan jadwal tanam dan jenis komoditas yang dibudidayakan petani Data dan peta agroekosistem dan rekomendasi jadwal tanam dan jenis komoditas untuk seluruh wilayah Indonesia Penggunaan instrumen produksi dalam negeri untuk seluruh kebutuhan aplikasi teknologi penginderaan jauh di Indonesia Pelaksana a.: BMG.l. Bakosurtanal.: industri instrumen DEWAN RISET NASIONAL 2006 . Universitas Pengguna a. investor.l.: petani. BMG. Deptan.l.

DKP. nelayan Pelaksana a.l: Industri pangan.l: pelaku produksi pangan. AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 II PROGRAM DIFUSI DAN PEMANFAATAN IPTEK NO (1) KEGIATAN Identifikasi dan formulasi kebutuhan intervensi teknologi produksi dan pascapanen komoditas pangan INDIKATOR TARGET CAPAIAN KEBERHASILAN SASARAN KETERANGAN 2009 AKHIR 2025 2009 Rekaman kebutuhan intervensi teknologi yang dibutuhkan produsen pangan segar dan olahan Kesesuaian teknologi budidaya dan pengolahan pangan yang sesuai kebutuhan petani dan/atau industri pangan Adopsi teknologi yang telah direkomendasikan dalam kegiatan produksi pangan segar (budidaya) oleh petani dan pengolahan pangan oleh pelaku industri pangan Peningkatan pemahaman publik. media massa Pengguna a. dan presentasi oral Kemasan paket teknologi produksi dan pengolahan pangan yang komunikatif untuk bahan edukasi publik. nelayan. pelaku produksi dan industri pangan B SISTEM TRANSFER/DIFUSI TEKNOLOGI (1) Pengembangan metoda diseminasi teknologi secara elektronik (situs internet.l: Deptan.l : Industri pangan. peternak. petani. dan ikan Peningkatan kontribusi iptek dalam kegiatan produksi dan diversifikasi pangan segar dan olahan Peningkatan kontribusi iptek dalam kegiatan produksi dan diversifikasi pangan segar dan olahan (3) Pengemasan paket teknologi terpilih agar lebih komunikatif untuk media cetak. universitas. nelayan. petani. LIPI. radio) Tersedia paket teknologi yang sesuai dan terselenggaranya program difusi teknologi melalui media elektronik Peningkatan awareness petani dan pelaku agribisnis tentang perkembangan dan ketersediaan teknologi budidaya dan pasca panen komoditas pangan Peningkatan kontribusi iptek dalam kegiatan produksi pangan segar dan olahan Pelaksana a. Adopsi teknologi yang didiseminasikan dalam proses produksi dan pengolahan pangan Ketersediaan solusi teknologi untuk permasalahan pangan pokok Pelaksana a. Pemda Pelaksana a. Pemda A PAKET TEKNOLOGI YANG SESUAI KEBUTUHAN PENGGUNA (2) Evaluasi kesesuaian teknologi yang telah tersedia dengan kebutuhan produsen pangan segar dan olahan Rekomendasi paket teknologi budidaya dan pasca panen tanaman. Universitas.l: Deptan. petani. pelaku produksi dan industri pangan.l: Industri pangan. elektronik. universitas. industri pangan. LIPI Pengguna a. DKP. ternak. televisi. LIPI Pengguna a. peternak. DKP. DKP. media massa Pengguna a.l: Deptan. BPPT. BPPT.l: Deptan. universitas. Pemda DEWAN RISET NASIONAL 2006 . BPPT. LPND terkait. peternak.

nelayan. nelayan. Universitas. nelayan. industri pangan. dan asosiasi pelaku agribisnis Berfungsi optimalnya kelembagaan petani. LPND terkait Pengguna a. Pemda Pelaksana a. industri pangan.l : pelaku produksi pangan. dan nelayan serta asosiasi pelaku agribisnis Pengakuan masyarakat akan eksistensi kelembagaan petani. peternak. DKP. LPND terkait.l: Deptan. LPND terkait. media massa Pengguna a. atau bentuk barang cetakan lainnya sebagai media difusi teknologi yang komunikatif Penerapan teknologi yang dipromosikan oleh petani dan pelaku agribisnis dalam kegiatan budidaya dan pasca panen komoditas pangan Peningkatan kontribusi iptek dalam kegiatan produksi pangan segar dan olahan Pelaksana a. Universitas.l: pelaku produksi pangan. Universitas.l : asosiasi agribisnis. DKP. peternak.l : pelaku produksi pangan. LPND terkait. Pemda (3) Pengembangan model penyuluhan teknologi untuk petani dan pelaku agribisnis Terselenggarakannya kegiatan penyuluhan yang interaktif untuk memacu proses difusi teknologi secara terprogram Penerapan teknologi yang disuluhkan oleh petani dan pelaku agribisnis dalam kegiatan budidaya dan pasca panen komoditas pangan Peningkatan kontribusi iptek dalam kegiatan produksi pangan segar dan olahan (4) Pengembangan model per-contohan aplikasi teknologi produksi dan pascapanen di lapangan (on-site) Model percontohan aplikasi teknologi budidaya dan pascapanen di lapangan Penerapan teknologi yang dicontohkan oleh petani dan pelaku agribisnis dalam kegiatan budidaya dan pasca panen komoditas pangan Peningkatan kontribusi iptek dalam kegiatan produksi pangan segar dan olahan C) PENINGKATAN KESIAPAN PENGGUNA (1) Penguatan kelembagaan kelompok tani. peternak. nelayan. Depdagri. peternak. poster.l: Deptan. Universitas. industri pangan. dan asosiasi pelaku agribisnis Pelaksana a. kelompok tani.AgendA Riset  NO (2) KEGIATAN Pengembangan naskah bahan cetakan yang komunikatif sebagai media difusi teknologi INDIKATOR TARGET CAPAIAN KEBERHASILAN SASARAN KETERANGAN 2009 2009 AKHIR 2025 Tersedianya buku. peternak. Pemda DEWAN RISET NASIONAL 2006 . leaflet. media massa Pengguna a. DKP.l : Deptan. Pemda Pelaksana a. DKP. dan asosiasi pelaku agribisnis Kemandirian kelembagaan petani. media massa Pengguna a.l: Deptan.

nelayan. dan pelaku industri pangan dalam aplikasi teknologi budidaya dan pascapanen Peningkatan aplikasi teknologi dalam kegiatan produksi dan pengolahan pangan Peningkatan kinerja pelaku produksi dan pelaku industri pangan Pelaksana a. Depdagri.l : petani.l: petani. peternak.l : Deptan. DKP.l: Deptan. nelayan. LPND terkait Pengguna a.Pemda Peningkatan lembaga konsultansi dan bantuan teknis untuk kegiatan produksi dan pengolahan pangan Kelembagaan jasa konsultansi dan asistensi teknis menjadi mitra utama industri dan pemerintah daerah dalam pembangunan ketahanan pangan Pelaksana a.Pemda (3) Berkembangnya kelembagaan jasa konsultansi dan asistensi teknis bidang pangan DEWAN RISET NASIONAL 2006 . LPND terkait Pengguna a. Universitas. pelaku industri pangan. nelayan. pelaku industri pangan. Universitas. AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 NO (2) KEGIATAN Pendidikan dan pelatihan pelaku produksi pangan dan pelaku industri pangan untuk meningkatkan pemahaman dan apresiasi terhadap teknologi budidaya dan pascapanen komoditas pangan Penyediaan jasa konsultansi dan asistensi teknis untuk mendukung kegiatan industri pangan dan pemerintah daerah INDIKATOR TARGET CAPAIAN KEBERHASILAN SASARAN KETERANGAN 2009 2009 AKHIR 2025 Pemahaman dan ketrampilan petani. lembaga konsultansi. peternak. DKP. peternak. Depdagri.

DKP.l: Universitas. LPND riset. Litbang DKP.l : Litbang Deptan. industri alat dan bahan riset pangan Pengguna a. Deptan. universitas Kelengkapan peralatan dan ketersediaan bahan untuk riset pangan Seluruh aspek penelitian/riset pangan dapat diselenggarakan di dalam negeri  A PENGUATAN INTERNAL KELEMBAGAAN RISET (2) Optimalisasi dan mobilisasi sumberdaya peneliti melalui program kerjasama antar lembaga iptek bidang pangan Terbentuk dan berjalannya program pertukaran atau penugasan staf (sabbatical leave) antar. DKP. Deptan. mutu dan keamanan pangan Terbentuknya media/ forum komunikasi yang intensif antarpeneliti Lebih dari 75% peneliti pada kelembagaan penelitian tingkat pusat dan perguruan tinggi memiliki latar belakang pendidikan S2 atau S3 Tumbuhnya budaya kemitraan antar-peneliti Pelaksana a. Litbang DKP.kelembagaan penelitian (3) Penguatan sarana dan prasarana riset Terpenuhinya kebutuhan sarana dan prasarana riset untuk mendukung upaya peningkatan produksi. LPND riset. Litbang DKP.l : Universitas. LPND terkait.l : Litbang Deptan. LPND terkait Pengguna a. DKP. Deptan. kualitas dan keamanan pangan Pelaksana a. universitas DEWAN RISET NASIONAL 2006 . LPND riset.l : Litbang Deptan.AgendA Riset III PROGRAM PENGUATAN KELEMBAGAAN IPTEK NO (1) KEGIATAN Peningkatan kemampuan akademik/ intelektual peneliti melalui pendidikan formal dan/atau pelatihan teknis INDIKATOR TARGET CAPAIAN KEBERHASILAN SASARAN KETERANGAN 2009 2009 AKHIR 2025 Lebih dari 50% peneliti pada kelembagaan penelitian tingkat pusat dan perguruan tinggi memiliki latar belakang pendidikan S2 atau S3 Peningkatan produktivitas peneliti dan relevansi kegiatan riset dengan permasalahan nyata dalam upaya peningkatan produksi.l: Universitas. LPND terkait Pengguna a. universitas Pelaksana a.

l: Litbang Deptan. Pemda. Litbang DKP. dan pembiayaan iptek Tersusunnya prosedur operasional baku (SOP) untuk sistem insentif. data base. dan alokasi pembiayaan Peningkatan kinerja lembaga riset dan peningkatan kualitas riset yang dihasilkan Manajemen riset yang profesional terselenggara pada semua kelembagaan riset DEWAN RISET NASIONAL 2006 . tetapi mulai berfungsi sebagai self-financing institution Solusi teknologi untuk setiap masalah pangan yang bersifat spesifik daerah dapat diselesaikan di masingmasing daerah Manajemen riset yang profesional terselenggara pada semua kelembagaan riset Pelaksana a. termasuk pengelolaan pembiayaannya Pelaksana a. LPND riset (5) Penguatan kelembagaan riset daerah dan lembaga pendukungnya Terbentuk dan berfungsinya unit kerja riset dalam organisasi Pemda dan Dewan Riset Daerah di semua propinsi di Indonesia Kemandirian daerah dalam mencari solusi teknologi untuk permasalahan pangan lokal Pelaksana a. AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 NO (4) KEGIATAN Pengembangan unit pendukung seperti unit produksi komersial dan pelayanan jasa berbasis iptek dalam kelembagaan riset INDIKATOR TARGET CAPAIAN KEBERHASILAN SASARAN KETERANGAN 2009 2009 AKHIR 2025 Terbentuknya unit produksi komersial dan jasa pelayanan dalam kelembagaan riset Penggunaan data dan peta agroekosistem dalam penentuan jadwal tanam dan jenis komoditas yang dibudidayakan petani Data dan peta agroekosistem dan rekomendasi jadwal tanam dan jenis komoditas untuk seluruh wilayah Indonesia Lembaga riset tidak lagi sebagai cost center. data base. LPND terkait Pengguna a. Bakosurtanal. Universitas Pengguna a. Deptan. termasuk sistem insentif.l: Universitas. akreditasi. DKP.l: Depdagri.l.l. akreditasi pranata litbang. Deptan.: petani. investor.: BMG.l : Pemda (6) Penyempurnan sistem manajemen/ pengelolaan riset. Universitas Pengguna a. Pemda (4) Pengembangan instrumen untuk aplikasi teknologi penginderaan jauh Prototipe instrumen yang telah teruji kehandalannya Tingkat kemandirian lembaga riset dalam melaksanakan kegiatannya.

Deptan.l: Litbang Deptan. DKP.l: Litbang Deptan. Litbang DKP.l : Universitas. LPND riset.l: Litbang Deptan. pelaku bisnis pangan C KERjASAMA DENGAN KELEMBAGAAN INTERNASIONAL (1) Kerjasama yang setara (partnership) dengan kelembagaan internasional dalam pelaksanaan kegiatan riset pangan Peningkatan intensitas kegiatan kerjasama dengan kelembagaan iptek internasional dalam penelitian dan pengembangan pangan Peningkatan jumlah publikasi di jurnal internasional yang melibatkan peneliti Indonesia sebagai penulisnya Peningkatan kontribusi ilmiah peneliti Indonesia dalam pengembangan iptek pangan dunia Pelaksana a.AgendA Riset  NO KEGIATAN INDIKATOR TARGET CAPAIAN KEBERHASILAN SASARAN KETERANGAN 2009 2009 AKHIR 2025 B KERjASAMA ANTAR-LEMBAGA DALAM NEGERI (1) Pengembangan jejaring antarkelembagaan riset pangan dan kelembagaan terkait /pendukungnya Peningkatan partisipasi pemerintah daerah dan kemitraan antara pusat dan daerah dalam riset pangan Pengembangan model kerjasama ABG (AcademicianBusinessGovernment) yang sinergis untuk pembangunan ketahanan pangan Peningkatan intensitas kerjasama antar – kelembagaan riset dan perguruan tinggi Peningkatan resource sharing antarkelembagaan riset dalam riset pangan Efisiensi dan optimalisasi sumber daya dalam pelaksanaan riset pangan Kesetaraan kontribusi pemerintah daerah dan pusat dalam pelaksanaan riset bidang pangan Kemitraan mutualistik antara universitas. Deptan. Pemda (2) Peningkatan kerjasama kelembagan riset pusat dan daerah Peningkatan peran Pemda dan universitas setempat dalam pelaksanaan riset pangan (3) Terbentuknya model kerjasama yang sinergis antara perguruan tinggipemerintah-bisnis Meningkatnya kontribusi dunia usaha dalam pembiayaan kegiatan penelitian dan pengembangan iptek pangan Pelaksana a. Litbang DKP. DKP. LPND terkait Pengguna a. Deptan. LPND terkait. universitas Pelaksana a.l: Universitas.l : Universitas. bisnis.l : universitas setempat. dan pemerintah dalam pelaksanaan riset pangan Pelaksana a. LPND terkait Pengguna a. DKP.l : Universitas. Deptan. LPND riset. LPND riset. DKP. Lembaga Riset Asing/Internasional Pengguna a. universitas DEWAN RISET NASIONAL 2006 . universitas. LPND terkait. Litbang DKP. pelaku bisnis pangan Pengguna a.

LPND riset. Deptan. LPND terkait.l: Universitas. Litbang DKP. AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 NO (2) KEGIATAN Penelusuran sumber pembiayaan (sponsorship) dari kelembagaan internasional untuk mendukung kegiatan riset pangan INDIKATOR TARGET CAPAIAN KEBERHASILAN SASARAN KETERANGAN 2009 AKHIR 2025 2009 Peningkatan kontribusi finansial kelembagaan intenasional untuk mendukung kegiatan penelitian dan pengembangan pangan Peningkatan penelitian di Indonesia yang dibiayai oleh kelembagaan internasional Peningkatan biaya riset bersumber dari kelembagaan internasional Pelaksana a. LPND riset.l: Litbang Deptan. Lembaga pembiayaan riset Pengguna a. LPND terkait. universitas (3) Pertukaran peneliti antara lembaga riset Indonesia dengan kelembagaan riset internasional Terjalin kerjasama pertukaran peneliti pangan Indonesia dengan peneliti pada kelembagaan riset tanaman pangan bertaraf internasional Peningkatan jumlah peneliti asing yang melaksanakan kegiatan riset di Indonesia. universitas Pelaksana a. Institusi riset internasional Pengguna a. Deptan.l: Universitas. Peningkatan jumlah peneliti Indonesia yang menimba pengalaman riset internasional Munculnya peneliti pangan Indonesia yang bertaraf Internasional DEWAN RISET NASIONAL 2006 . DKP. Litbang DKP. DKP.l: Litbang Deptan.

DKP.l: industri pangan. dan keamanan produk pangan olahan hasil industri kecil dan mikro Aktualisasi dan/atau peningkatan kontribusi iptek dalam sistem produksi pangan olahan skala kecil dan mikro (3) Peningkatan volume. peternak. mutu. peternak. petani. Depkumdang Pengguna a. LPND terkait. LPND terkait. dll) Aplikasi teknologi pengolahan dalam kegiatan produksi pangan fungsional Peningkatan volume.trader (pedagang) Pelaksana a. dan keamanan produk pangan fungsional hasil industri kecil dan mikro Aktualisasi dan/atau peningkatan kontribusi iptek dalam sistem produksi pangan fungsional skala kecil dan mikro Peningkatan kesejahteraan pelaku industri pangan fungsional skala kecil dan mikro (4) Penyempurnaan dan/atau penyederhanaan alat/mesin pengolahan produk pangan sehingga applicable dan affordable untuk industri kecil dan mikro Tersedianya alat/mesin pengolahan pangan yang tepat-guna (applicable) dengan harga terjangkau (affordable) bagi industri pangan skala kecil dan mikro Penggunaan alat/ mesin pengolahan produksi dalam negeri pada industri pangan skala kecil dan mikro Pemenuhan kebutuhan domestik untuk mesin/alat pengolahan pangan dari hasil produksi dalam negeri DEWAN RISET NASIONAL 2006 .l: Deptan.AgendA Riset  IV PROGRAM PENINGKATAN KAPASITAS IPTEK SISTEM PRODUKSI NO (1) KEGIATAN Dukungan pranata regulasi dan kebijakan bagi industri pangan mikro dan kecil berbasis teknologi INDIKATOR TARGET CAPAIAN KEBERHASILAN SASARAN KETERANGAN 2009 AKHIR 2025 2009 Kebijakan dan landasan hukum tentang insentif pajak dan asuransi yang kondusif bagi industri pangan mikro dan kecil berbasis teknologi Peningkatan jumlah dan kapasitas industri pangan mikro dan kecil berbasis teknologi Peningkatan kontribusi industri pangan mikro dan kecil dalam pemenuhan kebutuhan pangan Peningkatan kesejahteraan pelaku industri pangan olahan skala kecil dan mikro Pelaksana a. petani. DKP. peternak. universitas.l : Deptan.l : industri pangan.trader (pedagang) A INDUSTRI PANGAN SKALA KECIL DAN MIKRO (2) Introduksi dan aplikasi bioteknologi sederhana pada produksi pangan skala kecil (teknologi fermentasi.trader (pedagang) Pelaksana a. peternak. DKP.l : industri pangan. nelayan. universitas Pengguna a. petani. nelayan. nelayan. universitas Pengguna a. LPND terkait.l : Industri pangan. penyediaan inokulum.trader (pedagang) Pelaksana a. universitas Pengguna a. LPND terkait.l : Deptan. nelayan. petani.l: Deptan. DKP. mutu.

DKP.l:I industri pangan. petani.trader (pedagang) (2) Rancang bangun alat. industri pangan. industri pangan. LPND terkait. peternak. universitas Pengguna a. peternak.trader (pedagang) (6) Diberlakukannya kebijakan/ peraturan yang berpihak pada industri pangan skala kecil dan mikro Terlindunginya kegiatan industri pangan skala kecil dan mikro B INDUSTRI PANGAN SKALA MENENGAH DAN BESAR (1) Introduksi teknologi pengolahan pangan yang dapat meningkatkan dan menjaga mutu produksi Peningkatan volume.l : BPEN. DKP. universitas Pengguna a.trader (pedagang) Pelaksana a. atau pabrik pengolahan pangan berbasis bahan baku lokal Tersedianya alat/ mesin pengolahan pangan yang handal (dependable) bagi industri pangan skala menengah dan besar Penggunaan alat/ mesin pengolahan produksi dalam negeri pada industri pangan skala menengah dan besar Peningkatan volume dan nilai ekspor komoditas pangan olahan yang diproduksi oleh industri pangan berbasis sumberdaya lokal DEWAN RISET NASIONAL 2006 . LPND terkait. peternak. LPND terkait. nelayan. nelayan. universitas Pengguna a. universitas Pengguna a.l: Deptan. petani. mesin. DKP. dan keamanan pangan olahan hasil industri menengah dan besar Aktualisasi dan/atau peningkatan kontribusi iptek dalam sistem produksi pangan skala menengah dan besar Pelaksana a.l: BPEN. LPND terkait. petani.l: Industri pangan.0 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 NO (5) KEGIATAN Pengembangan kelembagaan keuangan modal ventura dan startup capital bagi industri pangan mikro dan kecil berbasis teknologi Dukungan regulasi yang berpihak pada industri pangan skala kecil dan mikro agar dapat memberikan kontribusi lebih besar dalam perdagangan global INDIKATOR TARGET CAPAIAN KEBERHASILAN SASARAN KETERANGAN 2009 AKHIR 2025 2009 Tersedianya sumber pembiayaan bagi industri pangan mikro dan kecil berbasis teknologi Teratasinya masalah permodalan bagi industri pangan mikro dan kecil berbasis teknologi Pemenuhan kebutuhan modal usaha untuk industri pangan skala mikro dan kecil Peningkatan jumlah dan kontribusi industri kecil dan mikro dalam penyediaan pangan dan peningkatan serapan tenaga kerja Produk pangan olahan yang memenuhi seluruh kriteria baku-mutu internasional Pelaksana a. petani.l: Deptan.l : Deptan.l: Deptan. nelayan.trader (pedagang) Pelaksana a. mutu. peternak. nelayan. DKP.

DKP. industri pangan. peternak. universitas Pengguna a. petani. nelayan. universitas Pengguna a. industri pangan. petani.trader (pedagang) (2) Pembinaan dan pelaksanaan audit/ assessment teknologi untuk industri pangan Penguasaan teknologi deteksi dan pengujian mutu dan keamanan pangan dari cemaran kimia dan patogen Penurunan kasus gangguan kesehatan akibat konsumsi pangan olahan yang tercemar unsur/bahan kimia dan/atau mikroba patogenik Keberhasilan produk pangan dalam negeri merebut pasar global DEWAN RISET NASIONAL 2006 . BSN.trader (pedagang) C PENGUjIAN DAN STANDARDISASI PRODUK PANGAN (1) Pengembangan prasarana penerapan standar kemananan dan penilaian kesesuaian mutu produk pangan Pembakuan pedoman/ prosedur dalam penilaian mutu dan keamanan pangan Konsistensi dalam penggunaan standar mutu dan keamanan pangan Seluruh produk pangan olahan telah memenuhi standard mutu (quality assurance) dan keamanan pangan Pelaksana a. nelayan.l: BPOM. petani.AgendA Riset  NO (3) KEGIATAN Percepatan transformasi industri pangan berbasis sumberdaya lokal dan padat teknologi INDIKATOR TARGET CAPAIAN KEBERHASILAN SASARAN KETERANGAN 2009 AKHIR 2025 2009 Model industri pangan menengah dan besar yang padat teknologi berbasis sumber-daya lokal Peningkatan jumlah dan kapasitas industri pangan menengah dan besar yang padat teknologi dan berbasis sumberdaya lokal Peningkatan volume dan nilai ekspor komoditas pangan olahan yang diproduksi oleh industri pangan berbasis sumberdaya lokal Pelaksana a. industri pangan. universitas Pengguna a.l : Deptan. LPND terkait. Deptan. nelayan.l : Deptan.trader (pedagang) Pelaksana a. DKP.l : BPEN. peternak.l : BPEN. peternak.l : BPEN. LPND terkait. LPND terkait. DKP.

industri pangan. terutama buah tropis Perlindungan Hak atas Kekayaan Intelektual (HaKI) hasil penelitian dalam negeri Penguasaan teknologi deteksi kerusakan mekanis pada buah tropis Diterimanya produk pangan hasil produksi dalam negeri di pasar global Pelaksana a. industri pangan. LPND terkait.trader (pedagang) Pelaksana a.trader (pedagang) (5) Peningkatan inovasi dalam negeri dalam industri pangan Peningkatan kemampuan kompetisi industri pangan dalam negeri Peningkatan HaKI bidang pangan yang dimiliki peneliti Indonesia DEWAN RISET NASIONAL 2006 . petani. industri pangan. petani. BPOM. LPND terkait. peternak. universitas Pengguna a. universitas Pengguna a. nelayan. AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 NO (3) KEGIATAN Peningkatan peran metrologi dan pengujian untuk penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) INDIKATOR TARGET CAPAIAN KEBERHASILAN SASARAN KETERANGAN 2009 2009 AKHIR 2025 Penetapan standar mutu dan keamanan pangan olahan yang dapat diterima dalam perdagangan domestik dan internasional Penerapan standar mutu dan keamanan pangan dalam produksi dan tata niaga pangan olahan di Indonesia Bebas kasus gangguan kesehatan akibat konsumsi pangan olahan yang terkontaminasi patogen dan/atau bahan kimia berbahaya Keberhasilan produk pangan segar (buah tropis) dalam negeri merebut pasar global Pelaksana a. DKP.l: BSN. peternak.l : Deptan. LPND terkait. nelayan.l: BPEN. nelayan. petani.l : Depkumdang. peternak.l: BPEN. universitas Pengguna a. DKP.l: Deptan. DKP.trader (pedagang) (4) Pengembangan teknologi sensorik untuk mendeteksi kerusakan mekanis (mechanical damage) pada produk pangan segar. Deptan.

karena teknologi baru perlu edukasi dan informasi yang cukup agar dapat diterima sebagai bagian budaya masyarakat yang belum pernah berinteraksi dengan berbagai teknologi baru EBT maupun akibat pemanfaatannya pada dampak sosial kemanusiaan. sedangkan energi terbarukan adalah sumber energi yang dihasilkan dari DEWAN RISET NASIONAL 2006 . AGENDA RISET ENERGI BARU DAN TERBARUKAN 3. coal bed methane. seperti lingkungan .2. batubara yang dicairkan (liquefied coal). sehingga menjadi suatu penyelesaian yang integral dan kelanjutannya. ekonomi. dan aspek sosial kemanusiaan. gasifikasi batubara (gasified coal) dan nuklir. Pemecahan masalah energi nasional jangka pendek haruslah diletakkan dalam suatu kerangka untuk menjawab masalah jangka panjang. Penyediaan energi jangka panjang mempertimbangkan berbagai aspek lain. Permasalahan energi nasional jangka pendek yang harus segera diselesaikan saat ini adalah menyiapkan sumber energi selain BBM untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan industri nasional.AgendA Riset  3.2. Perpres nomor 5 tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional (KEN) menunjukkan adanya upaya agar pemakaian energi baru dan terbarukan meningkat. Hal ini akan menentukan keberlanjutan pembangunan itu sendiri. demikian pula pengetahuan yang cukup mendalam dalam ilmu bahan serta berbagai pemodelan matematik untuk mendukung kegiatan rekayasa. Energi baru adalah bentuk energi yang dihasilkan oleh teknologi baru baik yang berasal dari energi terbarukan maupun energi tak terbarukan antara lain hidrogen. Untuk Jangka panjang teknologi baru yang berkaitan dengan EBT tidak dapat dihindari.1 Latar Belakang Permasalahan Permasalahan energi nasional jangka panjang menyangkut hal yang berkaitan dengan security of supply dan keberlanjutan penyediaan energi sehingga dapat mendukung pembangunan dan kebutuhan seluruh masyarakat Indonesia dalam jangka panjang.

tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati (biofuel) sebagai Bahan Bakar Lain. Melalui Inpres ini.I. Khusus untuk penyediaan bahan bakar nabati (biofuel) diinstruksikan pula melalui Inpres No 1 tahun 2006. Blue-print Pengelolaan Energi Nasional (PEN) 2005-2025 yang telah disiapkan oleh Departemen ESDM (Mei 2005) merupakan suatu bentuk penjabaran KEN yang lebih operasional dan dapat dijadikan acuan bagi seluruh pemangku kepentingan di bidang energi. Bab 22 menguraikan tentang Peningkatan Kemampuan Ilmu Pengetahuan.1. energi surya. Perpres nomor 7 tahun 2005 tentang RPJM mengatur Rencana Pembangunan Jangka Menengah 2004-2009. antara lain panas bumi. arus sungai. Kegiatan litbang iptek yang menyangkut penyediaan dan pemanfaatan EBT terdapat pada dua pasal dari RPJM tersebut. dan (b) Bagian IV. baik dalam jangka menengah maupun dalam jangka panjang. yaitu: (a) Bagian IV. biomasa. Presiden R. energi angin. AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 sumberdaya energi yang secara alamiah tidak akan habis dan dapat berkelanjutan jika dikelola dengan baik. bahan bakar nabati (biofuel). dengan menyebutkan 4 Program Kegiatan. Dalam dokumen PEN 2005-2025 disebutkan berbagai kegiatan litbang di bidang energi yang harus dilakukan dalam rangka menjawab permasalahan energi. pada tanggal 10 Agustus 2005 berisi: DEWAN RISET NASIONAL 2006 .I. dimana pada bagian ini peranan litbang sangat penting dalam rangka pencapaian sasaran dari RPJM tersebut. Dokumen Kebijaksanaan Strategis Nasional (Jakstranas) di bidang iptek yang secara resmi telah diserahkan oleh Menteri Negara Riset dan Teknologi kepada Presiden R. menginstruksikan agar diambil langkahlangkah untuk melaksanakan percepatan penyediaan dan pemanfaatan biofuel. membahas tentang Energi. Bab 33 tentang Infrastruktur. khususnya butir 3. sedangkan untuk kegiatan pencairan batubara diinstruksikan melalui Inpres nomor 2 tahun 2006 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Batubara yang Dicairkan sebagai Bahan Bakar Lain. dan energi laut.

ketahanan.AgendA Riset  kerangka kebijakan. dan prioritas 6 jenis kegiatan litbang yang akan dilakukan pada tahun 2005-2009. (c) Program penguatan kelembagaan iptek. Berbagai jenis sumber EBT yang diperhatikan dalam ARN adalah sebagai berikut: (a) angin. Dengan alur pemikiran seperti tersebut di atas. (b) batubara kualitas rendah. dan (j) mini-hidro dan mikro-hidro. (e) biomassa dan biogas. Mengingat bahwa kondisi kelembagaan iptek yang mendukung kegiatan litbang berbagai jenis sumber EBT di Indonesia relatif sama. (f) surya. yang dalam hal ini akan ditekankan pada penyediaan dan pemanfaatan sumber EBT. dan (d) Program peningkatan kapasitas iptek sistem produksi.2 Arah Kebijakan dan Prioritas Utama Arah dan prioritas pengembangan EBT adalah peran sertanya dalam bauran energi bagi ketersediaan. (c) panas bumi. termasuk biodiesel. bioethanol. 3. dan keamanan pasokan melalui optimasi sumberdaya serta pelestarian lingkungan. Demikian juga yang terkait dengan program peningkatan kapasitas iptek sistem produksi. dan bio-oil. Salah satu dari jenis kegiatan litbang tersebut adalah energi. maka program penguatan kelembagaan iptek akan ditulis secara umum dan berlaku untuk seluruh jenis sumber EBT. arah. (g) hidrogen dan fuel-cell. (i) energi laut. disusunlah suatu Agenda Riset Nasional (ARN) 2005-2009 untuk penyediaan dan pemanfaatan sumber EBT. (b) Program difusi dan pemanfaatan iptek.2. (k) coal bed methane Uraian terhadap ARN untuk masing-masing jenis sumber EBT disusun menurut program sesuai dengan rincian di RPJM 2004-2009 yang meliputi: (a) Program penelitian dan pengembangan iptek. DEWAN RISET NASIONAL 2006 . (h) nuklir. termasuk gelombang dan arus laut. ARN ini diharapkan akan dijadikan acuan oleh seluruh pelaku litbang di Indonesia dalam rangka harmonisasi rencana strategis (Renstra) lembaga atau institusinya. (d) biofuels.

Oleh karena itu diusulkan agar ada suatu program bersama (common program) untuk menyelesaikan masalah material. penolakan terhadap rencana penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). yaitu masalah material pendukung. 3. Oleh sebab itu. perlu dicapai dan didukung oleh kegiatan riset untuk mengurangi ketergantungan pada teknologi dari luar. Beberapa contoh kasus. Oleh sebab itu pengembangan komunitas publik harus diupayakan seoptimal mungkin. Disadari pada saat ini. AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 Penyediaan energi yang ditargetkan dalam Blue-print Pengelolaan Energi Nasional (PEN) 2005-2025. Pengembangan iptek untuk pemanfaatan berbagai sumber EBT pada akhirnya akan terkait dengan masalah yang hampir sama. ARN untuk pemanfaatan EBT juga akan menyangkut aspek sosial-kemanusiaan.3. bahwa salah satu hambatan yang ada dalam implementasi dari pemakaian sumber EBT adalah masalah yang berkaitan dengan aspek sosial-kemanusiaan dengan segala implikasinya.3 Target Capaian Tahun 2009 dan Sasaran Tahun 2025 Target capaian tersebut dibawah ini akan dapat bermanfaat apabila mendapatkan dukungan publik. Dalam hal ini sosialisasi yang mudah dipahami oleh masyarakat serta diterimanya segala dampak sosial kemanusiaan pemanfaatan EBT perlu secara berlanjut dilaksanakan melalui dialog dengan seluruh pemangku kepentingan agar komitmen jangka panjang dapat menjadi sikap publik. sehingga national participation akan meningkat dan Indonesia akan mempunyai bargaining position untuk meningkatkan interdependensi. tertundanya PLT Panas Bumi di Bedugul. diantaranya: opini masyarakat di media massa tentang dampak penggunaan briket batubara bagi kesehatan. Disamping itu perlu pula dikuasai sains dasar yang menjadi DEWAN RISET NASIONAL 2006 . Oleh sebab itu penyebaran informasi dan pendidikan bagi pemangku kepentingan harus dilakukan dengan cukup memadai.

Juga tersedianya perangkat Kebijakan Harga Energi Nasional termasuk energi panas bumi. Sedangkan sasaran untuk tahun 2025 adalah: peningkatan hasil eksplorasi panas bumi untuk memasok 5 % kebutuhan bauran energi nasional. target capaian tahun 2009 adalah tersedianya dokumen hasil studi dan kajian kelayakan pemanfaatan Sistem Konversi Energi Angin (SKEA) melalui jaringan Perusahaan Listrik Negara (PLN). Adapun sasaran tahun 2025 adalah tersedianya suatu teknologi rancang bangun komponen dan sistem Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batubara skala kecil produksi nasional. stabilnya harga energi dalam negeri untuk mendukung diversifikasi sumberdaya energi Capaian pengembangan dan penelitian biofuel tahun 2009 adalah pengeksplorasian tanaman yang berpotensi sebagai bahan baku biofuel DEWAN RISET NASIONAL 2006 . teknologi rancang bangun komponen pembangkit listrik berbahan bakar batubara. teknologi hidrogenisasi dan karbonisasi. terbangunnya 3 pabrik pencairan batubara komersial masing-masing 6000 ton/hari. Untuk program penelitian dan pengembangan energi angin. Adapun sasaran tahun 2025 adalah terwujudnya prototipe SKEA 30 s/d 50 kW yang diujicobakan di lapangan untuk masyarakat pengguna . dan teknologi pencairan batubara sebagai bahan bakar alternatif untuk sektor transportasi. tersedianya Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB) dengan rangkaian teknologinya yang dapat dikerjakan di Indonesia termasuk engineering and construction. Penelitian dan pengembangan batubara yang dimulai pada tahun 2009 adalah peningkatan pemanfaatan batubara kualitas rendah melalui teknologi blending dan up-grading. Capaian tahun 2009 untuk program penelitian dan pembangunan sumber energi panas bumi adalah: tersedianya kemampuan eksplorasi dan eksploitasi panas bumi dari dalam negeri. teknologi pembakaran dan gasifikasi.AgendA Riset  prasyarat agar EBT dapat terlaksana sesuai dengan target capaian yang telah digariskan seperti tersebut dibawah ini.

engineering design dan pembangunan pabrik high/superior-performance biofuel (biodiesel dengan angka setan tinggi dan titik tuang rendah yang optimal. Sasaran tahun 2025 adalah dikuasainya teknologi proses. berasal dari bagas tebu (40 %). dan sekam padi. Capaian untuk tahun 2009 pada kegiatan ini adalah didapatkannya kajian kelayakan campuran sampah dan batubara sebagai bahan bakar pembangkit listrik. Potensi biomassa di seluruh Indonesia bila dikonversi mejadi energi listrik akan mencapai 1. pengembangan bibit tanaman jarak pagar (Jatropha curcas) yang mempunyai produktivitas dan kandungan minyak tinggi serta tahan terhadap kekeringan dan/atau hama patogen tanaman. Pemanfaatan sampah kota untuk bahan pembuatan DEWAN RISET NASIONAL 2006 . produksi bioetanol dengan bakan baku lignoselulosa dari hasil samping tanaman. tersedianya informasi pasar biofuel internasional dan nasional. produksi bahan bakar bioetanol secara tepat guna pada skala kecil dan menengah.2000) yang terdiri dari bagas tebu. serta diperolehnya informasi teknik fermentasi secara optimal untuk setiap bahan baku. penguasaan teknologi pirolisa cepat untuk produksi bio-oil. sisanya dari limbah penggergajian kayu dan sekam padi. Sampah kota yang juga merupakan sumber biomassa. mempunyai potensi cukup besar untuk dijadikan sumber energi.160 MWe (ZREU GmbH. limbah kelapa sawit . AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 selain tanaman yang telah dikebunkan secara massal seperti kelapa sawit. limbah kelapa sawit (29 %). pengembangan teknologi proses pembuatan biofuel berbahan baku minyak sawit dan jarak pagar yang optimal. dan penguasaan teknologi reaktor pirolisa cepat yang optimum). Pulau Sumatera mempunyai potensi biomassa paling tinggi yaitu 590 MWe . Walaupun begitu pemanfaatan energi dari biomasa ini masih sangat rendah. Potensi biomassa di pulau Jawa sebesar 280 MWe yang didominasi oleh bagas tebu dan sekam padi. Kalimantan berpotensi sebesar 230 MWe dan Sulawesi 60 MWe. limbah pengergajian kayu. seperti misalnya dicampur dengan batubara untuk sumber energi pembangkit listrik.

dan noiseless. Dalam pengembangan sistem dan komponen Sistem Pembangkit Tenaga Surya. Teknik-teknik konversi energi yang ada pada saat ini menunjukkan bahwa semua jenis EBT bisa di konversikan menjadi energi hidrogen. Sebagai capaian pada tahun 2009 adalah dikuasainya teknologi pembuatan sel surya berbasis silikon polikristal. serta sistem keamanan energi hidrogen sangat penting untuk dilakukan pula. Pengembangan teknik produksi. dan silikon amorf. mempunyai efisiensi konversi energi cukup tinggi. Penelitian dan pengembangan teknologi Proton Exchange Membrane Fuel Cell (PEMFC) yang merupakan alat pembangkit listrik dengan energi hidrogen. dan distribusi. maupun teknologi konversi dari EBT ke energi hidrogen. silikon monokristal. penelitian dan pengembangan energi hidrogen sebagai sumber energi terbarukan perlu dimulai dengan pemetaan dan analisis potensi berbagai jenis energi baru dan terbarukan. penyimpanan.5 kW beserta unit kontrolnya telah dapat dihasilkan. DEWAN RISET NASIONAL 2006 . Penelitian dan pengembangan energi surya diarahkan pada pembuatan sel dan modul surya dan sistem serta komponen Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). diharapkan sudah sesuai dan mengacu pada Standar Nasional Indonesia (SNI). Pabrik sel surya silikon amorf dengan kapasitas 12 MW telah berdiri dengan target US $1. Menuju era zero emission. juga perlu dilakukan. Sasaran tahun 2025 adalah berdirinya pabrik ingot dan wafer silikon dengan kapasitas 5-10 MWp/tahun untuk memasok pabrik sel surya di Indonesia. Teknologi proses metal organic gases (sillane/disillane) serta cetak biru proses pembuatan metal organic gases diharapkan juga telah dapat dikuasai. Target pengembangan biogas dari kotoran sapi dengan memakai digester dengan volume 5000 liter untuk skala rumah tangga sudah dapat terlaksana. Dengan demikian sebagai capaian tahun 2009 diharapkan disain sistem stack PEMFC kapasitas 2. pada tahun 2009 ditargetkan dapat dihasilkan alkohol lebih besar dari 10 liter/jam dalam skala laboratorium.0/Wp.AgendA Riset  alkohol.

kendala dari pemakaian baterai. Sehingga PLTN secara bersinergi dan bersimbiosis dapat berkontribusi bersama energi fosil dan non-fosil dalam memenuhi kebutuhan energi nasional untuk mendukung pembangunan berkelanjutan. keselamatan. transfer teknologi dan partisipasi industri nasional. yaitu life time yang relatif pendek.0 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 dan pada tahun 2025 diharapkan sudah terpasang pembangkit listrik fuel cell yang berbasis hidrogen sebesar 250 MW. dapat disubsitusi dengan mengkonversikan listrik yang dihasilkan langsung ke hidrogen dan diubah kembali apabila diperlukan menjadi listrik dengan fuel cell. berat dan volumenya yang besar dapat diminimalkan. Untuk kegiatan pembangunan dan pengoperasian PLTN. antara lain: (a) penggunaan teknik nuklir untuk eksplorasi dan manajemen sumber panas bumi (geothermal) di Sibayak (10 MW) Kamojang (200 MW) dan Lahendong (60 DEWAN RISET NASIONAL 2006 . Selain litbang teknologi reaktor daya. Dengan sistem ini. Pembangkit listrik hibrid fuel-cell dengan modul surya merupakan model pembangkit listrik yang diperkirakan cukup sesuai untuk daerah terpencil/pulau kecil. non-proliferasi. Persiapan industri energi nuklir serta strategi edukasi dan sosialisasinya kepada masyarakat diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi penting bagi perumusan prinsip dasar (basic principle) bagi persiapan industri energi nuklir (industri teknologi reaktor dan daur bahan bakar nuklir serta produk dan jasa terkait lainnya) ditinjau dari aspek: ekonomi. AMDAL serta pendanaan dan pembentukan ’owner’ PLTN. lingkungan. pada tahun 2009 diharapkan akan dicapai dengan diselesaikannya studi/kajian penyiapan tapak dan draft dokumen pendukung URD. Komponen penting baterai dalam sistem tenaga surya. BIS. PSAR. teknologi nuklir juga mencakup kegiatan lain yang terkait dengan sektor energi. Capaian tahun 2009 adalah: selesainya kajian teknologi pengolahan limbah nuklir dan proses penyimpanan bahan bakar nuklir bekas. pegelolaan limbah dan infrastruktur. siapnya kajian teknologi dan keselamatan PLTN.

AgendA Riset 

MW) serta mikro-hidro (dari sungai bawah tanah ) di Bribin, Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. (440 kW); (b) introduksi penggunaan Mesin Berkas Elektron (MBE) dalam mereduksi polusi udara (gas SOx dan NOx) dari pembangkit listrik fosil; (c) litbang bahan di bidang FuelCell dan hidrogen; (d) biofuel/biodiesel, mutation breeding untuk mendapatkan tanaman non-pangan penghasil biodiesel dengan kualitas yang baik; (e) pengembangan konsep reaktor co-generation untuk produksi air bersih/ desalinasi, penggunaan panas proses untuk industri, pencairan batubara, produksi hidrogen, Enhanced Oil Recovery (EOR). Keuntungan penggunaan arus laut adalah selain ramah lingkungan, energi ini juga mempunyai intensitas energi kinetik yang besar dibandingkan energi terbarukan lainnya. Hal ini disebabkan densitas air laut yang besarnya 830 kali lipat densitas udara, sehingga dengan kapasitas yang sama, turbin arus laut akan jauh lebih kecil dibandingkan dengan turbin angin yang dirancang dengan memperhitungkan adanya angin topan. Turbin air laut dapat dirancang realtif lebih tepat, karena kondisi fisik arus laut pada kedalaman tertentu cenderung tenang dan dapat diperkirakan. Kegiatan penelitian yang sedang dilakukan adalah simulasi numerik potensi daya listrik di beberapa daerah di Indonesia yang dilakukan oleh Laboratorium Hidrodinamika Indonesia BPPT. Hasil simulasi potensi daya listrik di Selat Bali dan Lombok dengan menggunakan program MEC-Model buatan Research Committee of Marine

Environment, The Society of Naval Architects of Japan, diperoleh estimasi potensi daya listrik di beberapa tempat di selat Bali pada kedalaman 12 meter, kondisi pasang perbani, mencapai 300 kW bila menggunakan daun turbin dengan diameter 10 meter, dengan asumsi efisiensi turbin sebesar 0,593 dan menggunakan kecepatan arus rata-rata selama satu periode pasang surut (residual current) untuk tidal constant M2. Untuk Selat Badung dan Selat Lombok bagian selatan potensi energinya berkisar 80-90 kW. Sedangkan Laboratorium Pantai juga sedang melaksanakan rancang bangun dan

DEWAN RISET NASIONAL 2006



AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009

rekayasa wave power generator, dengan target capaian tahun 2009 adalah dihasilkan suatu analisa desain, dari prototipe komponen struktur dasar, chamber, turbin dan generator. Potensi tenaga air tersebar hampir di seluruh Indonesia dan diperkirakan hampir mencapai 75,000 MW; sementara pemanfaatannya baru mencapai 2,5 % dari potensi yang ada. Pengembangan teknologi, penerapan dan standardisasi sistem dan komponen mini/mikro hidro perlu terus dilaksanakan untuk memberi kontribusi pada pemenuhan target pemakaian energi baru dan terbarukan sebesar 15 % pada tahun 2025. Coal bed methane adalah gas methane yang didapat pada beberapa lapisan batubara. CBM terbentuk oleh proses biologis melalui aktivitas mikroba atau proses thermal sebagai akibat naiknya suhu pada kedalaman lapisan batubara. Kelimpahan CBM di Indonesia memerlukan penelitian untuk inventarisasinya. Walaupun demikian diperkirakan ada diberbagai tempat mengingat kelimpahan batubara yang banyak di Indonesia.

3.2.4 Program Program penelitian dan pengembangan iptek serta Program difusi dan pemanfaatan iptek untuk masing-masing jenis sumber EBT dirinci sebagai berikut: (a) Angin Penelitian dan pengembangan energi angin mencakup kegiatan: (1) survei potensi energi angin dan studi kelayakan pemanfaatan Sistem Konversi Energi Angin (SKEA); inventarisasi, pengolahan dan evaluasi data potensi energi angin di lokasi potensial; pembuatan peta potensi energi angin nasional dan wilayah berdasarkan data pengukuran dan hasil dari model matematika untuk mendiagnosa/ menganalisis dan

DEWAN RISET NASIONAL 2006

AgendA Riset 

memperkirakan kecepatan angin,serta data pendukung lainya; studi dan kajian kelayakan pemanfaatan SKEA di berbagai lokasi kabupaten; (2) pengembangan teknologi SKEA, termasuk kegiatan: pengembangan dan penyempurnaan SKEA skala kecil s/d kapasitas 5 kW dengan litbang aerodinamika rotor, angin, dan material; pengembangan dan penyempurnaan angin SKEA 10 kW, dengan litbang aerodinamika rotor, angin, dan material; rancang bangun teknologi SKEA skala kecilmenengah 30 s/d 50 kW; rancang bangun teknologi SKEA skala besar s/d 300 kW, untuk interkoneksi dengan jaringan; dan litbang aerodinamika rotor (advanced airfoil), sistem angin, dan interkoneksi serta material ringan dan tahan karat. Kegiatan difusi dan pemanfaatan iptek untuk energi angin termasuk: diseminasi dan pemanfaatan Teknologi SKEA; pemanfaatan SKEA pembangkit listrik di pedesaan, lokasi terpencil dan pulau serta untuk nelayan; dan pemanfaatan SKEA interkoneksi dengan grid/jaringan PLN. Kegiatan tersebut memerlukan prasyarat yang seharusnya telah tercakup dalam Rencana Umum Tata Ruang (RUTR) di pemerintah daerah setempat. (b) Batubara kualitas rendah Kegiatan riset untuk pemanfaatan batubara kualitas rendah sebagai sumber energi mencakup: (1) finalisasi pemetaan dan karakterisasi batubara kualitas rendah; inventarisasi jenis/pilihan teknologi pemanfaatan batubara; melakukan pengumpulan data cadangan batubara Indonesia dan karakteristiknya serta pengembangan sistem informasi cadangan dan karakteristik batubara Indonesia; (2) teknologi blending dan up-grading batubara, termasuk: penelitian pengaruh blending terhadap karakteristik batubara dan karakteristik pembakaran dan tendensi pembentukan slagging serta fouling; pengembangan piranti lunak metode

DEWAN RISET NASIONAL 2006



AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009

dan sistem blending batubara dan. pengembangan teknologi up-grading batubara; (3) teknologi pembakaran dan gasifikasi batubara kualitas rendah, mencakup: penelitian pengaruh karakteristik batubara dalam pembakaran dan gasifikasi; pengembangan teknologi pembakaran batubara dan gasifikasi serta meningkatkan disain sistemnya; (4) rekayasa rancang bangun peralatan/komponen pembangkit listrik berbasis batubara, termasuk kegiatan: rancang bangun komponen dan sistem PLTU batubara kualitas rendah skala kecil (7 MW), serta pembuatan prototipenya; (5) teknologi hidrogenasi dan karbonisasi untuk penyediaan batubara sebagai bahan bakar alternatif, termasuk pengembangan teknologi hidrogenasi dan karbonisasi batubara serta pengembangan produk kimia hasil hidrogenasi serta karbonisasi; dan (6) teknologi pencairan batubara. Kegiatan difusi dan pemanfaatan iptek hasil riset batubara kualitas rendah adalah: (1) pengembangan paket teknologi pembakaran batubara yang sesuai kebutuhan pengguna, identifikasi dan formulasi kebutuhan teknologi pemanfaatan batubara, dan penyediaan informasi dan pengembangan paket teknologi pemanfaatan batubara; (2) pengembangan sistem transfer/difusi teknologi batubara kualitas rendah, pengembangan sistem diseminasi informasi teknologi batubara kualitas rendah secara elektronik, dan pengembangan model percontohan aplikasi pemanfaatan batubara; (3) peningkatan kesiapan pengguna untuk mengadopsi teknologi batubara kualitas rendah, penguatan kelembagaan pelaku bisnis pemanfaatan batubara, pendidikan dan pelatihan pengguna batubara, dan sosialisasi teknologi pemanfaatan batubara.Untuk Keberhasilan kegiatan tersebut diatas sesuai dengan RUTR juga telah diperkuat dengan peraturan daerah yang disepakati dengan pemangku kepentingan setempat, baik dalam pengembangan komunitas maupun penanggulangan pencemaran.

DEWAN RISET NASIONAL 2006

AgendA Riset 

(c) Panas bumi Kegiatan riset untuk pemanfaatan panas bumi sebagai sumber energi mencakup: (1) eksplorasi dan permesinan listrik tenaga uap; (2) pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi; dan (3) kajian kebijakan harga energi nasional yang mendukung pengembangan panas bumi. Difusi iptek dilakukan dengan melaksanakan sosialisasi pengembangan panas bumi sesuai target yang dinyatakan dalam dokumen pengembangan EBT serta sesuai dengan RUTR setempat dan diupayakan mempunyai efek ganda bagi pariwisata dan industri serta budaya lokal. (d) Bahan bakar nabati (biofuel) Kegiatan penelitian dan pengembangan bahan bakar nabati (biofuel) yang diprioritaskan adalah: (1) intensifikasi pencarian bahan baku biofuel, termasuk pemetaan kebutuhan dan potensi bahan baku biofuel; dan survei potensi bahan baku dan produk biofuel untuk bahan bakar boiler di industri; (2) pengembangan teknologi produksi biofuel, termasuk: optimalisasi proses pembuatan biodiesel dari berbagai bahan baku; pengembangan teknologi fermentasi dengan bahan baku pati dan gula; pengembangan teknologi pra pengolahan bermacam bahan baku untuk proses pirolisa cepat; pengembangan teknologi proses pengolahan gliserin standar komersial sebagai produk samping dari biofuel; pengembangan teknologi fermentasi menggunakan bahan baku lignoselulosa (produk samping pertanian); pengembangan teknologi pirolisa cepat dengan berbagai macam bahan baku; teknologi proses ekstraksi minyak jarak pagar; rekayasa genetika bibit jarak pagar yang unggul; pengembangan teknologi distilasi dan dehidrasi etanol; dan teknologi pirolisa cepat menggunakan berbagai macam reaktor pirolisa.

DEWAN RISET NASIONAL 2006

dan (3) pengembangan sistem difusi teknologi budidaya bahan baku dan produksi biofuel.5 jam. elektronika. forum dialog. forum dialog. Disamping itu kesesuaian dengan RUTR harus juga dipenuhi. DEWAN RISET NASIONAL 2006 . pengembangan sistem produksi biofuel skala kecil-menengah terintegrasi dengan budidaya bahan baku yang tersedia di daerah masing-masing. AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 Difusi iptek dan upaya peningkatan pemanfaatan teknologi biofuel atau hasilnya dilakukan melalui: (1) sosialisasi biofuel sebagai bahan bakar alternatif minyak diesel. seminar dan pameran. (e) Biomassa dan biogas Riset pemanfaatan biomassa sebagai sumber energi mencakup: (1) pemanfatan sampah perkotaan untuk pembuatan alkohol skala laboratorium dengan target 18. elektronika. mencakup kegiatan idetifikasi kebutuhan daerah untuk memproduksi biofuel secara terdesentralisasi. seminar dan pameran. (2) pengembangan paket teknologi produksi biofuel secara tepat guna. melalui media cetak. (2) pengembangan biogas dari kotoran sapi. Keberhasilan kegiatan tersebut diatas perlu didukung oleh kebijakan yang terkoordinasi bersama berbagai departemen terkait. serta demo penggunaan bahan bakar biogas pada rumah tangga. termasuk riset pengembangan digester dengan volume 5000 liter untuk skala rumah tangga. RUTR. serta demo penggunaan bahan bakar biodiesel pada kendaraan umum. Kegiatan difusi dan pemanfaatan teknologi untuk energi biomassa dan biogas meliputi sosialisasi pemanfaatan biogas dari kotoran sapi sebagai sumber energi sektor rumah tangga melalui media cetak. studi kelayakan pembangkit listrik berbahan bakar campuran sampah kota dan batubara.5 liter/2. mencakup kegiatan pengembangan sistem diseminasi teknologi budidaya bahan baku dan produksi biofuel serta publikasi produk-produk pengembangan teknologi tepat guna budidaya bahan baku dan produksi biofuel. dan partisipasi masyarakat setempat.

angin. untuk mendukung kegiatan riset pembuatan sel dan modul surya silikon monokristal. sistem daur ulang. (2) pengembangan teknik produksi. telaah dan analisis teknologi penyimpanan hidrogen dengan metal hidrat. untuk daerah-daerah terpencil dan terisolir. dan mendukung kompetisi diversifikasi sistem PLTS sebagai pilihan konsumen. termasuk: penyiapan peta potensi EBT seperti surya. dengan membuat SNI sistem dan komponen PLTS. serta teknologi sistem penyimpanan gas hidrogen DEWAN RISET NASIONAL 2006 . (g) Hidrogen dan fuel cell Kegiatan riset tentang energi hidrogen dan fuel cell mencakup: (1) pengembangan peta potensi energi baru dan terbarukan dan analisis konversi EBT ke energi hidrogen. dan membran pemisah gas. serta sel surya organik. Kegiatan difusi iptek mencakup pengembangan prototipe sistem PLTS skala kecil dan menengah dan diversifikasi sistem PLTS. dan oksigen. (2) pengkajian dan penerapan berbagai sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). dan keamanan energi hidrogen. penyimpanan. Kegiatan ini juga memerlukan dukungan koordinasi pemanfaatan lahan. termasuk mengkaji kelayakan tekno-ekonomi sistem PLTS untuk berbagai jenis aplikasi. distribusi. dan sumber biomassa/biogas. proses elektrolisa air menjadi hidrogen dengan menggunakan EBT. material adsorpsi. berbagai sumber gas alam yang marginal dan kurang ekonomis. dan sistem pembuangan.AgendA Riset  (f) Surya Kegiatan penelitian dan pengembangan energi surya adalah: (1) Penguasaan ilmu material elektronik. silikon polikristal. telaah teknologi pemisahan gas antara hidrogen. dan teknologi metalorganic gases. termasuk: telaah teknologi elektrolisa air-alkalin. telaah pengembangan katalis. silikon amorf. mencakup juga pengembangan teknologi silikon monokristal. copper indium diselenide. CO. teknik reforming dan gasifikasi pada suhu tinggi. semi konduktor. silikon polikristal.

manajemen penyimpanan dan distribusi hidrogen. (h) Nuklir Penelitian dan pengembangan energi nuklir yang diprioritaskan untuk dilaksanakan adalah: (1) bahan bakar nuklir dan pengelolaan limbah radioaktif. pengembangan komponen gas feeder monopolar/bipolar dan kolektor arus. termasuk penyediaan jasa konsultasi dan bantuan teknis untuk industri energi yang berbasis hidrogen/fuel cell. Untuk memasyarakatkan dan meningkatkan adopsi teknologi ini sebagai alternatif sumber energi. maka perlu dilakukan kegiatan difusi teknologi yang mencakup: (1) penyediaan paket informasi dan pelatihan tentang teknologi energi hidrogen. studi keamanan. telaah teknoekonomi sistem distribusi. dan (3) peningkatan kesiapan pengguna untuk mengadopsi teknologi energi hidrogen. eksplorasi uranium di daerah Kalimantan dan pengembangan pabrik uranium oksida (yellow cake) skala pilot. serta pengembangan disain sistem stack fuel cell PEMFC dan kajian tekno-ekonomi dan pengembangan unit kontrol gas hidrogen. termasuk: pengembangan bahan membrane dan elektroda/katalis fuel cell jenis PEMFC. termasuk penyusunan data dasar untuk pengambilan kebijakan pengembangan bahan bakar nuklir dan pengelolaan uranium jangka panjang. (3) pengembangan teknologi fuel cell PEMFC. Tak dapat dihindari keberhasilan program ini memerlukan dukungan ilmu bahan yang memadai. termasuk sosialisasi teknologi energi hidrogen dan teknologi fuel cell dan penyediaan informasi serta pengembangan paket pelatihan penggunaan sistem pembangkit listrik fuel cell berbasis energi gas hidrogen. AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 untuk skala besar dan untuk waktu yang panjang. termasuk pengembangan sistem diseminasi teknologi berbasis elektronik/internet dan media cetak. kajian teknologi DEWAN RISET NASIONAL 2006 . (2) pengembangan sistem transfer/ difusi teknologi energi hidrogen.

(2) sosialisasi penggunaan PLTN sebagai bagian dari pemenuhan kebutuhan energi nasional jangka panjang serta community development di daerah sekitar tapak. serta penggunaan mesin berkas elektron untuk pengurangan polusi udara dari pembangkit listrik dengan sumber energi konvensional. PSAR. pengelolaan air pada pembangkit mini dan mikrohidro. termasuk kajian teknologi dan keselamatan PLTN. (3) pembangunan dan pengoperasian PLTN.AgendA Riset  dan ekonomi bahan bakar nuklir yang disesuaikan dengan jenis PLTN yang akan dikembangkan di Indonesia. transfer teknologi. (4) pemanfaatan teknologi nuklir untuk mendukung energi fosil dan terbarukan. studi/kajian regulasi dan peraturan pelaksanaannya. dan coal gasification and liquefaction. Kegiatan difusi dan pemanfaatan iptek diarahkan pada: (1) sosialisasi iptek nuklir untuk mendukung pengembangan EBT dalam bentuk public information dan public education. serta studi/kajian penyiapan tapak dan draf dokumen pendukung URD. nuclear desalinasi. DEWAN RISET NASIONAL 2006 . disamping sifat-sifat dasar radiasi. produksi hidrogen. (2) teknologi reaktor dan sistem PLTN. penyiapan dan penyelesaian sistem perizinan nasional. BIS. AMDAL. mutation breeding untuk memperoleh bibit unggul tanaman jarak pagar untuk biodiesel dan sorgum untuk gasohol. Pengembangan tersebut diatas memerlukan pengetahuan yang memadai tentang bahan yang digunakan dalam industri nuklir serta daur bahan bakar nuklir. termasuk eksplorasi dan eksploitasi panas bumi. dan kajian teknologi pengolahan limbah nuklir dan proses penyimpanan bahan bakar nuklir bekas. pendanaan dan pembentukan ’owner’ PLTN. zat radio aktif dan berbagai reaksi nuklir. (5) studi pemanfaatan untuk cogenerasi. studi/kajian program penerimaan masyarakat terhadap rencana pembangunan PLTN dan rekayasa sosial. termasuk enhanced oil recorvery. dan peningkatan partisipasi industri nasional. perizinan konstruksi PLTN.

Adapun tahapan-tahapan penelitian yang akan dilakukan adalah pemboran sumur DEWAN RISET NASIONAL 2006 . Kegiatan difusi iptek yang diprogramkan adalah: (1) sosialisasi iptek pemanfaatan energi ombak laut untuk mendukung pengembangan EBT dalam bentuk public information dan public education. (k) Coal bed-methane. termasuk standardisasi sistem dan komponen.0 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 (i) Energi laut (sea current and sea wave) Gelombang dan arus laut dapat menjadi sumber energi alternatif yang memberikan kontribusi signifikan terhadap upaya pemenuhan kebutuhan energi nasional. Riset untuk energi laut diarahkan pada rancang bangun dan rekayasa wave power generator. turbin. Program difusi dan pemanfaatan iptek untuk energi mini/mikro hidro adalah: (1) sosialisasi pemanfaatan air untuk pembangkit listrik mini/ mikro hidro serta perlunya dibuat suatu sistem pengelolaan sumber air yang efisien dan bermanfaat kepada masyarakat. (j) Mini/mikrohidro Kegiatan penelitian dan pengembangan iptek yang diprogramkan untuk energi mini/mikrohidro adalah rancang bangun teknologi PLT Mikrohidro. struktur dasar.5 BCFD. termasuk rekayasa prototipe. chamber. dan (2) pembangunan pembangkit listrik tenaga ombak laut skala demonstrasi. Kegiatan ini memerlukan koordinasi bagi seluruh pemangku kepentingan yang memanfaatkan sumberdaya air. Kegiatan penelitian dan pengembangan coal bed methane (CBM) ditujukan pada target tahun 2025 untuk dapat diproduksi gas CBM sebesar 1 – 1. dan generator. yang dapat dipergunakan secara komersial. Kegiatan ini memerlukan koordinasi bagi seluruh pemangku kepentingan yang memanfaatkan laut. dan (2) sosialisasi aturan dan tatacara penjualan listrik yang dihasilkan oleh mini/mikro hidro kepada PT PLN.

Kegiatan untuk peningkatan kapasitas iptek sistem produksi yang diprogramkan adalah pemberdayaan industri nasional pada bidang energi baru dan terbarukan dalam rangka menciptakan kemandirian bangsa. departemen teknis terkait dan pemda untuk bekerjasama/kemitraan diseminasi teknologi. pemasangan fasilitas permukaan dan rekayasa reservoir dengan metoda dewatering untuk perhitungan short dan long term reserve cadangan CBM di lapangan Rambutan Sumatera Selatan. pengembangan dan penerapan teknologi energi dan pengembangan lembaga untuk kalibrasi dan standardisasi.AgendA Riset  untuk mengekplorasi untuk mendapatkan informasi besarnya cadangan. Selain itu persiapan tentang perumusan peraturan pengembangan CBM terus dilakukan . (2) kerjasama antar-lembaga iptek dalam negeri. Sampai dengan tahun 2009 akan dilaksanakan kegiatan fracturing. Program penguatan kelembagaan iptek merupakan kegiatan yang dilakukan oleh organisasi pelaku kegiatan litbang di Indonesia dan berlaku untuk seluruh jenis sumber EBT. termasuk kerjasama penelitian. termasuk menghimpun kemampuan manufakturing. pengembangan jaringan antar-lembaga pemerintah dan legislatif yang berkaitan dengan teknologi energi. dirasakan bahwa dengan keterbatasan dana yang ada akan membatasi kerjasama penelitian baik dengan institusi di dalam maupun di luar negeri. termasuk: (1) kemitraan dengan sektor manufaktur nasional untuk komersialisasi berbagai hasil iptek energi. Disamping itu. Program ini pada prinsipnya ingin menjawab tentang keterbatasan baik jumlah maupun kualitas SDM dan sarana penelitian dan dana. termasuk peningkatan kemampuan SDM dan pengembangan sarana dan prasana penelitian. (3) kerjasama dengan kelembagaan internasional. Kegiatan untuk penguatan kelembaga iptek yang diprogramkan adalah: (1) penguatan internal kelembagaan iptek dan kelembagaan pendukungnya. (2) perencanaan kelistrikan daerah dan studi kelayakan teknologi energi (pembangkit listrik dengan DEWAN RISET NASIONAL 2006 .

Keterkaitan dan keterpaduan riset energi dengan berbagai bidang lainnya perlu mendapat perhatian. DEWAN RISET NASIONAL 2006 . AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 sumber energi baru dan terbarukan) bekerjasama dengan Pemda dan/ atau swasta. (3) penyusunan masukan kebijakan mengenai kandungan lokal komponen teknologi energi baru dan terbarukan. dan (5) pengembangan kerjasama litbang dan kemampuan sistem produksi skala industri (scale-up). Kecermatan dalam mengidentifikasi keterkaitan antar-bidang riset akan meningkatkan efektivitas dan efisiensi pengelolaan sumberdaya yang dimiliki. (4) keringanan pajak dan dukungan kemudahan impor sistem/komponen teknologi energi baru dan terbarukan untuk pengembangan dan penguasaan teknologi tersebut di dalam negeri. karena proses maupun hasil riset energi akan berpengaruh terhadap bidang riset lainnya. ARN energi baru dan terbarukan ini diharapkan menjadi long term commitment bersama melalui penerimaan masyarakat yang tercermin dengan adanya perencanaan umum yang kondusif dan mengikutkan semua pemangku kepentingan dalam harmonisasi pemanfaatan sumberdaya energi.

Berfungsinya Pelaksanaan informasi mengenai lokasi terukur terkait pengolahan dan data base a. kontrol dan material Tersedianya dokumen teknis dan blueprint berbagai tipe dan kapasitas SKEA skala kecil s/d 5 kW Meningkatnya unjuk kerja dan jumlah pemakaian SKEA skala kecil dan meningkatnya efisiensi sistem SKEA skala kecil dapat dimanfaatkan oleh pengguna dengan kehandalan dan efisiensi cukup dan harga terjangkau Pelaksanaan a.l. LSM. BPPT Universitas. P3TEKpotensial di seluruh potensi pengguna dan potensi energi angin. : LAPAN. DJLPE. Indonesia sarana lainya potensial angin nasional (2) Pembuatan peta potensi energi angin Nasional dan per wilayah berdasarkan data pengukuran dan data pendukung lainya Studi dan kajian kelayakan pemanfaatan SKEA di berbagai lokasi /kabupaten Tersedianya peta potensi energi angin Nasional dan wilayah di 10 kabupaten terpilih Jumlah peta lokasi potensi energi angin yang dihasilkan terkait dengan data potensi angin di wilayah Terwujudnya peta potensi energi angin per wilayah provinsi /kabupaten di lokasi terpilih di berbagai wilayah Tersedianya dokumen hasil studi dan kajian kelayakan pemanfaatan SKEA dengan jaringan PLN di lokasi terpilih  (3) Tersedianya dokumen hasil studi dan kajian kelayakan pemanfaatan SKEA dengan jaringan PLN Jumlah dokumen hasil studi yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan dan pemanfaatan teknologi SKEA A-2 PENGEMBANGAN TEKNOLOGI SISTEM KONvERSI ENERGI ANGIN (SKEA) (1) Pengembangan dan penyempurnaan SKEA skala kecil s/d kapasitas 5 kW dengan R & D aerodinamika rotor.: LAPAN.AgendA Riset I PROGRAM PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN IPTEK INDIKATOR SASARAN NO KEGIATAN TARGET CAPAIAN KEBERHASILAN AKHIR 2025 KETERANGAN 2009 2009 A-1 SURvEI POTENSI ENERGI ANGIN DAN STUDI KELAYAKAN PEMANFAATAN SISTEM KONvERSI ENERGI ANGIN (SKEA) Tersedianya data dan Jumlah data dan (1) Inventarisasi. potensi energi angin dengan informasi data dan sistem evaluasi data Universitas. LSM. P3TEKLitbang ESDM. di lokasi Litbang ESDM.l. DEWAN RISET NASIONAL 2006 . di 150 lokasi terpilih pendukung berupa potensi energi informasi data DJLPE.

kuat dan tahan karat. BPPT. dengan material ringan. Pelaksanaan a. dengan rotor tahan terhadap korosi dan gesekan. (3) Rancang bangun teknologi SKEA skala kecilmenengah 30 s/d 50 kW Tersedianya dokumen teknis SKEA 30 s/d 50 kW dan prototipenya Tersedianya prototipe SKEA 30 s/d 50 kW dan dapat berfungsi dengan baik sesuai rancangan (4) Terwujudnya dokumen Rancang bangun teknis SKEA 300 kW teknologi SKEA dan prototipenya skala besar s/d 300 kW. Universitas. Dokumen teknis penyempurnaan sistem SKEA 10 kW diproduksi secara massal dan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat /pengguna dengan kehandalan yang cukup dan harga terjangkau Terwujudnya prototipe SKEA 30 s/d 50 kW dapat diujicobakan di lapangan untuk masyarakat /pengguna dengan sistem hibrid di daerah terpencil Berfungsinya prototipe SKEA 300 kW dan dapat dioperasikan dengan jaringan yang ada (PLN /lokal) Terwujudnya rotor SKEA beroperasi pada regim kecepatan angin rendah. dengan material ringan.5 m/s. kontrol dan material INDIKATOR TARGET CAPAIAN KEBERHASILAN SASARAN KETERANGAN 2009 2009 AKHIR 2025 Tersedianya dokumen teknis dan blueprint perancangan. AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 NO (2) KEGIATAN Pengembangan dan penyempurnaan prototipe SKEA 10 kW.l. Konstruksi lainya tahan terhadap korosi DEWAN RISET NASIONAL 2006 . sistem kontrol hibrid dan interkoneksi serta material ringan dan tahan karat Terwujudnya rotor SKEA beroperasi pada regim kecepatan angin rendah. dengan R&D aerodinamika rotor . LSM. : LAPAN. P3TEKLitbang ESDM. pembuatan serta manual SKEA 10 kW Meningkatnya jumlah prototipe SKEA 10 kW yang terpasang di lapangan (untuk pengujian dan implementasi) dan unjuk kerja. kuat dan tahan karat Turbin angin telah dapat berputar dan menghasilkan energi di kecepatan angin 2. DJLPE.untuk interkoneksi dengan jaringan SKEA 300 kW dapat beroperasi sesuai dengan rancangan (5) R & D aerodinamika rotor (advanced airfoil).

Universitas. pembuatan serta manual SKEA 10 kW Meningkatnya jumlah prototipe SKEA 10 kW yang terpasang di lapangan (untuk pengujian dan implementasi) dan unjuk kerja.LIPI. kontrol dan material INDIKATOR TARGET CAPAIAN KEBERHASILAN SASARAN KETERANGAN 2009 2009 AKHIR 2025 Tersedianya dokumen teknis dan blueprint perancangan. P3TEKLitbang ESDM. TEKMIRA. DJLPE. Dokumen teknis penyempurnaan sistem SKEA 10 kW diproduksi secara massal dan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat /pengguna dengan kehandalan yang cukup dan harga terjangkau Pelaksanaan a.l. DJLPE.: BPPT. B-1 FINALISASI MAPPING DAN KARAKTERISASI BATUBARA KUALITAS RENDAH (1) Inventarisasi jenis/ pilihan teknologi pemanfaatan Batubara Tersedianya pilihan teknologi pemanfaatan Batubara beserta karakteristiknya Ketersediaan data teknologi pemanfaatan Batubara beserta karakteristiknya dengan lengkap Kemudahan dalam menentukan teknologi sesuai karakteristik Batubara yang tersedia Kemudahan dalam mendapatkan data cadangan dan karakteristik Batubara Indonesia Pelaksanaan a. Pemanfaatan Batubara berkualitas rendah meningkat DEWAN RISET NASIONAL 2006 . dengan R&D aerodinamika rotor . Universitas (2) Melakukan pengumpulan data cadangan Batubara Indonesia dan karakteristiknya dan Pengembangan sistem informasi cadangan dan karakteristik Batubara Indonesia Penelitian pengaruh blending terhadap karakteristik Batubara dan karakteristik pembakaran dan tendensi pembentukan slagging serta fouling Tersedianya sistem informasi cadangan dan karakteristik Batubara Indonesia Kelengkapan data cadangan dan karakteristik Batubara Indonesia B-2 TEKNOLOGI Blending dan Up grading BATUBARA (1) Mendapatkan formula blending yang optimal untuk Batubara Indonesia Peningkatan pemanfaatan Batubara berkualitas rendah (dari sisi peringkat dan grade). BPPT. LSM. LAPAN.AgendA Riset  NO (2) KEGIATAN Pengembangan dan penyempurnaan prototipe SKEA 10 kW.l.

Peningkatan aplikasi teknologi pembakaran dan gasifikasi Batubara Pelaksanaan a. B-3 TEKNOLOGI PEMBAKARAN DAN GASIFIKASI BATUBARA KUALITAS RENDAH SERTA MENINGKATKAN DISAIN SISTEMNYA (1) Penelitian mengenai pengaruh karakteristik Batubara dalam pembakaran dan gasifikasi. : BPPT. Penggunaan teknologi Pembakaran dan gasifikasi yang tepat. DJLPE.l. Tersedianya teknologi pembakaran (furnace) dan gasifikasi Batubara Peningkatan jumlah aplikasi teknologi pembakaran dan gasifikasi Batubara.: BPPT. LIPI. TEKMIRA. efisien dan ramah lingkungan serta. serta Pengembangan teknologi pembakaran Batubara dan gasifikasi Tersedianya informasi lengkap mengenai efek parameter Batubara dalam pembakaran dan gasifikasi dan. DJLPE. untuk kebutuhan energi termal atau listrik di industri. (1) Rancang bangun komponen dan sistem PLTU batubara kualitas rendah skala kecil (7 MW) Ketersediaan teknologi rancang bangun komponen dan sistem PLTU skala kecil Peningkatan kandungan lokal dalam sistem pembangkit tenaga listrik serta peningkatan penerapan pembangkit tenaga listrik hasil rancang bangun Penguasaan teknologi rancang bangun komponen dan sistem PLTU batubara skala kecil serta tersedianya teknologi PLTU batubara skala kecil produksi nasional Pelaksanaan a. BERBASIS BATUBARA SERTA PEMBUATAN PROTOTIPENYA. Universitas DEWAN RISET NASIONAL 2006 . Universitas B-4 REKAYASA RANCANG BANGUN PERALATAN/KOMPONEN PEMBANGKIT LISTRIK.LIPI. Serta Tersedianya teknologi upgrading Batubara Ketersediaan Batubara yang memenuhi persyaratan operasi dan lingkungan Peningkatan operabilitas dan komersialisasi teknologi pemanfaatan Batubara. AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 NO (2) KEGIATAN Pengembangan piranti lunak metode dan sistem blending Batubara dan. Pengembangan teknologi upgrading Batubara INDIKATOR TARGET CAPAIAN KEBERHASILAN SASARAN KETERANGAN 2009 AKHIR 2025 2009 Tersedianya sistem blending yang tepat dan efisien. TEKMIRA.l.

listrik tenaga uap. : BPPT. permesinan. Tersedianya kemampuan eksplorasi dan eksploitasi panas bumi dan dari dalam negeri Tereksplorasinya cadangan potensial jalur panas bumi 1.l. Universitas (2) Melaksanakan R&D dalam bidang pengembangan pembangkit listrik Tenaga Panas Bumi Tersedianya Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi dengan rangkaian teknologinya dan dapat dikerjakan di Indonesia termasuk engineering and construction.l.l. Universitas B-6 TEKNOLOGI PENCAIRAN BATUBARA (1) Detail study pembangunan demo plant 3000 ton/hari (pabrik semi komersial) Tersedianya hasil studi yang meliputi project financing. 5000 km Digunakannya sistem dan komponen Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi produk dalam negeri (pemerintah dan swasta) Peningkatan hasil ekplorasi panas bumi untuk memasok 5 % kebutuhan bauran energi nasional.LIPI.1 MBOE/thn).000 MWe. Dihasilkannya produksi listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi guna memenuhi kebutuhan listrik dalam negeri. : BPPT.AgendA Riset  NO KEGIATAN INDIKATOR TARGET CAPAIAN KEBERHASILAN SASARAN KETERANGAN 2009 AKHIR 2025 2009 B-5 TEKNOLOGI HIDROGENASI DAN KARBONISASI UNTUK PENYEDIAAN BATUBARA SEBAGAI BAHAN BAKAR ALTERNATIF (1) Pengembagan teknologi hidrogenasi dan karbonisasi batubara dan pengembangan produk kimia hasil hidrogenasi serta karbonisasi Tersedianya teknologi hidrogenasi dan karbonisasi batubara Peningkatan operabilitas dan kinerja teknologi hidrogenasi dan karbonisasi batubara Tersedianya teknologi nasional hidrogenasi dan karbonisasi batubara yang efisien dan murah Pelaksanaan a. Swasta C PROGRAM PEMBANGUNAN PANAS BUMI (1) Melaksanakan R&D bidang eksplorasi. : BPPT. Pelaksanaan a. DEWAN RISET NASIONAL 2006 . DJLPE. Letter of Intent untuk pembangunan demo plant pencairan batubara Adanya badan otorita khusus yang menangani persiapan pembangunan dan pengoperasian pabrik pencairan batubara Terbangunnya 3 plant pencairan batubara komersial masing-masing 6000 ton/hari (8. bankable proposal.000 km dari cadangan potensial jalur panas bumi 12. LITBANG ESDM. ESDM. Pelaksanaan a. TEKMIRA.

energi panas bumi pengembangan Universitas diversifikasi sumberdaya energi Ketersediaan aneka ragam bahan baku untuk produksi biodiesel dari sumber hayati nasional dalam mendukung program ketahanan energi nasional serta kemudahan para stake holders untuk mendapatkan informasi potensi bahan baku dan pengembangan produksi di setiap daerah Penguasaan informasi potensi bahan baku dan pengembangan produksi. Universitas D-1 INTENSIFIKASI PENCARIAN BAHAN BAKU BiofUel Explorasi tanaman Database potensi (1) Survei potensi yang berpotensi bahan baku biofuel bahan baku. AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 NO KEGIATAN (3) Melakukan kajian kebijakan harga energi nasional yang mendukung pengembangan energi panas bumi INDIKATOR TARGET CAPAIAN KEBERHASILAN SASARAN KETERANGAN 2009 2009 AKHIR 2025 Tersedianya perangkat Dilaksanakannya Stabilnya harga Pelaksanaan a.LIPI.l. mendukung energi panas bumi.l.LIPI. : BPPT. negeri untuk nasional termasuk nasional termasuk LITBANG ESDM. LITBANG ESDM. dan di Indonesia dengan produk biofuel untuk sebagai bahan baku bahan bakar boiler biofuel selain tanaman ditemukannya yang telah dikebunkan berbagai varietas bibit di industri secara massal seperti jarak yang unggul. Serta kemudahan para stake holders untuk mendapatkan informasi potensi bahan baku dan pengembangan produksi di setiap daerah. kelapa sawit Pengembangan bibit jarak pagar (Jatropha curcas) unggul sebagai sumber BBM alternatif serta tersediannya informasi pasar biofuel internasional dan nasional (2) Pemetaan kebutuhan dan potensi bahan baku biofuel Tersedianya informasi potensi bahan baku dan informasi pasar biofuel internasional dan nasional Database potensi bahan baku biofuel disetiap kabupaten serta informasi pasar biofuel di internasional maupun nasional DEWAN RISET NASIONAL 2006 . Pelaksanaan a. : kebijakan harga energi kebijakan harga energi energi dalam BPPT.

AgendA Riset 

NO (1)

KEGIATAN Optimalisasi proses pembuatan biodiesel dari berbagai bahan baku Pengembangan teknologi fermentasi dengan bahan baku pati-patian dan gula Pengembangan teknologi pra pengolahan bermacam bahan baku untuk proses pirolisa cepat Teknologi proses pengolahan gliserin standar komersial sebagai produk samping dari biofuel Pengembangan teknologi fermentasi menggunakan bahan baku lignoselulosa (produk samping pertanian) Pengembangan teknologi pirolisa cepat dengan berbagai macam bahan baku.

INDIKATOR TARGET CAPAIAN KEBERHASILAN SASARAN KETERANGAN 2009 2009 AKHIR 2025 Dihasilkan teknologi proses pembuatan biofuel berbahan baku minyak sawit dan jarak pagar yang optimal serta diperolehnya informasi teknik fermentasi secara bahan baku potensial di Indonesia. Diperolehnya teknologi pengolahan awal bahan baku untuk proses pirolisa cepat. Paket detail proses pembuatan biofuel dari bahan baku minyak sawit dan jarak pagar serta didapatkan laporan teknis teknologi fermentasi secara optimal dan laporan teknis teknologi dan disain pra pengolahan bahan baku untuk proses pirolisa cepat Ketersediaan bahan baku untuk produksi biofuel dari sumber hayati nasional serta penerapan pada produksi etanol skala kecil-menengah dan penguasaan teknologi pra pengolahan bahan baku untuk proses pirolisa cepat Dikuasainya teknologi proses desain dan pembangunan pabrik high/superior performance biofuel (biodiesel dengan angka setan tinggi dan titik tuang rendah) yang optimal Produksi bioetanol dengan bakan baku lignoselulosa dari hasil samping budidaya Penguasaan teknologi pirolisa cepat untuk produksi bio oil untuk keperluan panas Pelaksanaan a.l. : BPPT, LIPI, Universitas

D-2 PENGEMBANGAN IPTEK PRODUKSI BiofUel

(2)

Dihasilkan teknologi proses pembuatan gliserin sebagai produk samping biofuel yang optimal. Diperolehnya paket teknologi fermentasi skala lab dengan bahan baku ligno-selulosa (produk samping pertanian) dan diperolehnya teknologi proses pirolisa cepat secara optimal untuk setiap bahan baku potensial

Tersedianya perkebunan jarak pagar sebagai pendamping perkebunan sawit untuk bahan baku biofuel Diperolehnya laporan teknis teknologi fermentasi dengan bahan baku lignoselulosa dan diperoleh laporan teknis teknologi pirolisa cepat

DEWAN RISET NASIONAL 2006

0

AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009

NO (3)

KEGIATAN Teknologi proses ekstraksi minyak jarak pagar R&D rekayasa genetika bibit jarak pagar yang ung-gul, pengembangan teknologi distilasi dan dehidrasi etanol dan Pengkajian teknologi pirolisa cepat menggunakan berbagai macam reaktor pirolisa

INDIKATOR TARGET CAPAIAN KEBERHASILAN SASARAN KETERANGAN 2009 AKHIR 2025 2009 Dihasilkan teknologi proses ekstraksi minyak jarak pagar yang optimal Dihasilkan varietas bibit jarak pagar yang unggul Diperolehnya paket teknologi produksi bioetanol grade bahan bakar secara efisien, serta diperolehnya paket teknologi bermacam reaktor pirolisa cepat Dihasilkan teknologi proses dan strategi pembudidayaan tanaman jarak pagar, sebagai pendamping bahan baku biodiesel minyak sawit. Berdirinya demo plant etanol grade bahan bakar di Indonesia bagian Barat dan Timur, laporan teknis teknologi dan disain reaktor pirolisa cepat dengan bermacam bahan baku Produksi bioetanol grade bahan bakar secara tepat guna pada skala kecil-menengah dan penguasaan teknologi reaktor pirolisa cepat yang optimum

E-1 PEMANFATAN SAMPAH PERKOTAAN (1) Pembuatan alkohol dari sampah perkotaan Studi kelayakan pembangkit listrik berbahan bakar campuran sampah kota dan batubara Skala laboratorium dengan target 18,5 untuk setiap 2,5 jam Apabila layak untuk mencampur sampah kota dengan batubara sebagai bahan bakar PLTU, dibuat skala demo plant Dihasilkan suatu teknologi untuk menghasilkan alkohol dari sampah kota Demo plant pabrik bahan bakar campuran sampah kota dan batubara Dibangun plant pembuatan alkohol skala demo Pasokan bahan bakar campuran sampah kota dan batubara untuk PLTU Pelaksanaan a.l. : P3-TEK Litbang ESDM Pelaksanaan a.l. : P3-TEK Litbang ESDM

(2)

E-2 PENGEMBANGAN BIOGAS DARI KOTORAN SAPI (1) Pengembangan digester dengan volume 5000 liter untuk skala rumah tangga Pengembangan desa percontohan untuk pemakaian biogas dari kotoran sapi Penggunaan biogas untuk kebutuhan memasak sebagi pengganti minyak tanah Multiplikasi pemakaian biogas sebgai bahan bakar untuk memasak Pelaksanaan a.l. : P3-TEK Litbang ESDM

DEWAN RISET NASIONAL 2006

AgendA Riset 

NO

KEGIATAN

INDIKATOR TARGET CAPAIAN KEBERHASILAN SASARAN KETERANGAN 2009 AKHIR 2025 2009

F-1 PEMBUATAN SEL DAN MODUL SURYA (1) Melaksanakan R & D pada teknologi dan pembuatan sel surya silikon monokristal dan silikon polikristal Teknologi pembuatan solar sel dari mono dan poly-kristalin telah dikuasai dan diproduksi secara komersial serta dihasilkan patent untuk produk ingot dan waver dilanjutkan dengan pabrikasi Ingot dan waver untuk poli dan monokristal Teknologi proses metalorganic gases (sillane/ disillane) serta Cetak biru proses pembuatan metal-organic gases telah dikuasai Kebutuhan waver untuk produk modul surya dalam negeri terpenuhi dari produk lokal dan telah digunakan untuk program- program pemerintah. Pabrik Ingot dan waver dengan kapasitas 5-10 MWp/tahun untuk memasok pabrik solar sel didalam negeri sudah berdiri di Indonesia Pelaksanaan a.l. : BPPT, LIPI, Universitas.

(2)

Melaksanakan R & D metalorganic gases

Pabrik thin film solar cell kapasitas 5 MW telah berdiri dengan target harga US $1,5 /Wp

Pabrik thin film solar cell kapasitas 12 MW telah berdiri dengan target harga US $1/Wp

F-2 PENGKAjIAN DAN PENERAPAN BERBAGAI SISTEM PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA SURYA (1) Mengkaji kelayakan tekno-ekonomi sistem PLTS untuk berbagai jenis aplikasi Mendukung kompetisi diversifikasi sistem PLTS sebagai pilihan konsumen, dengan membuat SNI sistem dan komponen PLTS Diperolehnya tingkat kelayakan tekno-ekonomi model penerapan sistem PLTS untuk berbagai jenis aplikasi Tersusunnya SNI sistem Hibrida PLTS dan komponennya Terpasangnya sistem PLTS dengan kapasitas 10 MW. Terpasangnya sistem PLTS dengan kapasitas 100 MW Sistem terpasang telah sesuai dengan Standar Nasional Indonesia. Pelaksanaan a.l. : BPPT, LIPI,P3TEK, Universitas, DJLPE

(2)

Tersedianya SNI sistem dan komponen PLTS

DEWAN RISET NASIONAL 2006



AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009

NO

KEGIATAN

INDIKATOR TARGET CAPAIAN KEBERHASILAN SASARAN KETERANGAN 2009 AKHIR 2025 2009

G-1 PENGEMBANGAN PETA POTENSI ENERGI BARU DAN TERBARUKAN DAN ANALISIS KONvERSI KE ENERGI HIDROGEN. Peta potensi energi Tersedianya dan (1) Penyiapan peta Basis Data Pelaksanaan a.l. : peta potensi energi potensi energi baru baru dan terbarukan dalam bentuk BPPT, LIPI, DJLPE, surya, angin, berbagai surya, angin, sumber peta potensi dan terbarukan DEPT.ESDM, gas marginal dan seperti surya, angin, sumber gas marginal berbagai sumber Universitas. yang tidak ekonomis, biomassa/biogas serta Energi Baru berbagai sumber gas marginal yang dan sumber biomassa/ analisis mengkonversi dan Terbarukan ke bentuk energi tidak ekonomis, dan biogas serta analisis dan sumber hidrogen sumber biomassa/ mengkonversi ke bengas marginal biogas dan analisis tuk energi hidrogen yang kurang Mengkon-versi ekonomis di ke bentuk energi Indonesia telah hidrogen. tersedia. G-2 PENGEMBANGAN TEKNIK PRODUKSI, PENYIMPANAN, DISTRIBUSI, DAN KEAMANAN ENERGI HIDROGEN Model teknik elektrolisa Pilot plant hidrogen (1) Telaah teknologi Tersedianya Pelaksanaan a.l. : instalasi air-alkalin, dan Model skala kecil telah elektrolisa BPPT, LIPI, DJLPE, produksi gas awal teknik reforming dapat dibuat dengan air-alkalin, dan LEMIGAS DEPT. hidrogen dan gasifikasi pada penggunaan model alternatif proses ESDM, Universitas dan tersedianya model yang berbasis elektrolisa dengan suhu tinggi. energi baru teknik reforming dan menggunakan dan terbarukan gasifikasi pada suhu energi baru dan yaitu surya, tinggi. terbarukan dan angin, dan atau teknik reforming dan biomassa. gasifikasi pada suhu tinggi. Tersedianya instalasi gas hidrogen dengan Teknik pemisahan gas Tersedianya teknik (2) Telaah teknologi pemanfaatan antara hidrogen, CO, awal pemisahan gas pemisahan gas sumber-sumber dan oksigen. hidrogen, CO, dan antara hidrogen, gas marginal oksigen CO, dan oksigen untuk bahan pembutan gas Bahan dasar katalis, Tersedianya teknik (3) Telaah hidrogen. material absorbsi dan proses pembuatan pengembangan membran dapat dikatalis, material katalis, material Tersedianya ekstrak dan dimurnikan. adsorpsi, dan adsorpsi, dan regulasi dan membran untuk membran pemisah standardisasi sistem pembuatan gas gas penyimpanan, hidrogen. distribusi, dan sistem keamanan pemakaian gas hidrogen

DEWAN RISET NASIONAL 2006

AgendA Riset 

NO (4)

KEGIATAN Telaah dan analisis teknologi penyimpanan hidrogen dengan metal hidrat, sistem daur ulang, dan sistem pembuangan, serta,. Teknologi sistem penyimpanan gas hidrogen untuk skala besar dan waktu yang panjang. Telaah teknoekonomi sistem distribusi,Studi keamanan, manajemen penyimpanan dan distribusi hidrogen.

INDIKATOR TARGET CAPAIAN KEBERHASILAN SASARAN KETERANGAN 2009 AKHIR 2025 2009 Model analisis penyimpanan hidrogen dengan metal hidrat, sistem daur ulang , dan sistem pembuangan serta. Model penyimpanan gas hidrogen untuk skala besar dan jangka panjang . Tersedianya model penyimpanan gas hidrogen skala besar dan jangka panjang serta Tersedianya model awal penyimpanan gas hidrogen dengan metal hidrat, sistem daur ulang, dan sistem pembuangan.

(5)

Model analisis tekno-ekonomi sistem distribusi gas hidrogen, Model manajemen dan sistem keamanan

Tersedianya model awal sistem manajemen dan keamanan, pilot plant pembuatan gas hidrogen

G-3 PENGEMBANGAN TEKNOLOGI FUEL CELL PEMFC (1) Pengembangan bahan membrane dan elektroda/ katalis fuel cell jenis PEMFC. Rekayasa pembuatan membran dan elektroda/katalis dengan bahan baku utama dari luar negeri dapat dilakukan. Stack fuel cell jenis portable PEMFC dengan kapasitas hingga 2,5 kW dgn kandungan lokal hingga 70 % telah dapat dibuat untuk keperluan rumah tangga, penggunaan khusus, atau keperluan telekomunikasi. Disain dan pengembangan sistem power generator PEMFC kapasitas modular hingga 50 kW dengan kandungan lokal hingga 90 %. Pelaksanaan a.l. : LIPI, BPPT, DJLPE, DEPT.ESDM, Universitas

(2)

Komponen gas feeder Pengembangan jenis monopolar/bipolar. komponen gas feeder monopolar/ bipolar dan kolektor arus.

Sistem portable fuel Pada tahun 2015 cell PEMFC hingga 2,5 diharap kan telah kW dapat dibuat. terpasang fuel cell jenis PEMFC hingga kapasitas 50 MW

DEWAN RISET NASIONAL 2006

BAPETEN.l. Pengembangan kontrol gas INDIKATOR TARGET CAPAIAN KEBERHASILAN SASARAN KETERANGAN 2009 2009 AKHIR 2025 Disain sistem stack kapasitas hingga 2.Disain kontrol untuk sistem fuel cell hingga 2. Berfungsinya tambang uranium di daerah Kalimantan. Tersedianya dokumen data dasar kebijakan pengembangan bahan bakar nuklir dan pengelolaan uranium jangka panjang. Kemandirian memproduksi bahan dan elemen bakar nuklir.DJGSDM (2) Selesainya eksplorasi uranium di daerah Kalimantan. H-1 BAHAN BAKAR NUKLIR DAN PENGELOLAAN LIMBAH RADIOAKTIF (1) Penyusunan data dasar untuk pengambilan kebijakan pengembangan bahan bakar nuklir dan pengelolaan uranium jangka panjang. DEWAN RISET NASIONAL 2006 . Selesainya kajian teknologi pengolahan limbah nuklir dan proses penyimpanan bahan bakar nuklir bekas. Pelaksanan a. serta pengembangan pabrik uranium oksida (yellow cake) skala pilot. bakar nuklir yang disesuaikan dengan jenis PLTN yang akan dikembangkan di Indonesia. Kemandirian proses pengolahan limbah nuklir dan penyimpanan bahan bakar nuklir bekas. Tersedianya dokumen kajian teknologi dan ekonomi bahan bakar nuklir. dengan total kapasitas hingga 1 MW telah terpasang Pada tahun 2025 telah terpasang hingga 250 MW listrik. Diketahuinya cadangan uranium di seluruh wilayah Indonesia (3) Selesainya kajian Kajian teknologi dan ekonomi bahan teknologi dan ekonomi bahan bakar nuklir.5 KW. AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 NO (3) KEGIATAN Pengembangan disain sistem stack fuel cell PEMFC dan kajian tekno ekonomi. (4) Tersedianya dokumen kajian teknologi pengolahan limbah nuklir dan proses penyimpanan bahan bakar nuklir bekas. : BATAN.5 kW. Kajian teknologi pengolahan limbah nuklir dan proses penyimpanan bahan bakar nuklir bekas. Eksplorasi uranium di daerah Kalimantan. Data terbukti pasokan uranium jangka panjang untuk mengamankan pengoperasian PLTN. Selesainya data dasar untuk pengambilan kebijakan pengembangan bahan bakar nuklir dan pengelolaan uranium jangka panjang. Telah digunakan hingga sekitar 500 unit kapasitas 2 – 2.5 kW. serta beroperasinya pabrik ’Yellow Cake’ skala pilot. serta beroperasinya pabrik ’yellow cake’ skala pilot.

Studi/kajian regulasi /UU dan peraturan pelaksanaannya. DJLPE (2) Selesainya studi/kajian penyiapan sistem dan proses perizinan nasional. PSAR. : BATAN. Pelaksanaan a.DJGSDM. AMDAL serta pendanaan dan pembentukan ’owner’ PLTN. DJLPE (3) Studi/kajian penyiapan tapak dan draf dokumen pendukung URD.l.DJGSDM.l. operasi dan perawatan serta desain komponen dan sistem PLTN. Tersedianya studi/ kajian program penerimaan masyarakat terhadap pembangunan dan pengoperasian PLTN. Selesainya studi/ kajian penyiapan tapak dan draf dokumen pendukung URD. AMDAL serta pendanaan dan pembentukan ’owner’ PLTN. PSAR.l. : BATAN. Peraturan dan perizinan pembangunan dan pengoperasian PLTN selanjutnya. DJLPE. Kecilnya penolakan masyarakat terhadap pembangunan pengoperasian PLTN di Indonesia.AgendA Riset  NO (1) KEGIATAN Kajian teknologi dan keselamatan PLTN. Tersedianya pilihan lain tapak PLTN dan draf dokumen pendukung URD. BAPETEN. Tersedianya dokumen kajian teknologi dan keselamatan PLTN. Selesainya studi/kajian program penerimaan masyarakat terhadap rencana pembangunan PLTN dan rekayasa sosial. transfer teknologi dan partisipasi industri nasional. BIS dan AMDAL Studi dan penyiapan tapak PLTN terpilih lainnya di wilayah JawaMadura-Bali DEWAN RISET NASIONAL 2006 .DJGSDM. PSAR. transfer teknologi dan partisipasi industri nasional. perizinan konstruksi PLTN pertama di Indonesia. Pelaksanaan a. Pelaksanaan a. transfer teknologi dan partisipasi industri nasional. BIS. BIS. BAPETEN. : BATAN. DEPERIN H-2 TEKNOLOGI REAKTOR DAN SISTEM PLTN H-3 PEMBANGUNAN & PENGOPERASIAN PLTN (1) Studi/kajian program penerimaan masyarakat terhadap rencana pembangunan PLTN dan rekayasa sosial. BAPETEN. INDIKATOR TARGET CAPAIAN KEBERHASILAN SASARAN KETERANGAN 2009 2009 AKHIR 2025 Siapnya kajian teknologi dan keselamatan PLTN. Litbang untuk pembangunan. Adanya dokumen studi /kajian peraturan dan sistem perizinan untuk pembangunan dan pengoperasian PLTN. penyiapan dan penyelesaian sistem perizinan nasional. perizinan konstruksi PLTN.

mikrohidro di Bribin. AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 NO KEGIATAN INDIKATOR TARGET CAPAIAN KEBERHASILAN SASARAN KETERANGAN 2009 AKHIR 2025 2009 H-4 PEMANFAATAN TEKNOLOGI NUKLIR UNTUK MENDUKUNG ENERGI FOSIL DAN TERBARUKAN (1) Penggunaan Teknik Nuklir untuk eksplorasi dan manajemen sumber panas bumi. 200 MW di Kamojang dan 60 MW di Lahendong. Explorasi tanaman yang berpotensi sebagai bahan baku biofuel selain tanaman yang telah dikebunkan secara massal seperti kelapa sawit Pengembangan bibit jarak pagar (Jatropha curcas) unggul sebagai sumber BBM alternatif Data base potensi bahan baku biofuel di Indonesia dengan ditemukannya berbagai varietas bibit jarak yang unggul.l.8% kebutuhan bauran energi nasional. serta mikrohidro Eksplorasi Geothermal di Si bayak. Ketersediaan aneka ragam bahan baku untuk produksi biodiesel dari sumber hayati nasional dalam mendukung program ketahanan energi nasional serta kemudahan para stake holder untuk mendapatkan informasi potensi bahan baku dan pengembangan produksi di setiap daerah Pemakaian MBE pada PLTU batubara dengan kapasitas besar dan terletak didaerah padat penduduk seperti pulau Jawa Pelaksanaan a. dan daerah Indonesia bagian Timur Hasil eksplorasi 10 MW di Sibayak. : BATAN (2) Biofuel / biodiesel.l. PERTAMINA hasil ekplorasi panas bumi untuk memasok 3. Kamojang dan Lahendong. : peningkatan BATAN. (3) Penggunaan mesin Engineering design untuk PLTU batubara di berkas elektron Suralaya untuk pengurangan polusi udara dari pembangkit listrik dengan energi konvensional Terpasangnya demo plant MBE di PLTU Suralaya Pelaksanaan a.l. mikrohidro 440 kW di Bribin Membantu Pelaksanaan a. mutation breeding untuk mendapatkan tanaman nonpangan penghasil biodiesel dengan kualitas yang baik. : BATAN DEWAN RISET NASIONAL 2006 .

l.l. (1) Inventarisasi cadangan CBM di Rambutan Sumatera Selatan Perhitungan short dan long term reserve dengan metoda dewatering Adanya Fasilitas dan perkiraan cadangan CBM di Rambutan Sumsel Produksi CBM di Rambutan sebesar 1. penggunaan panas proses (untuk industri. : BPPT.l. Universitas j-1 RANCANG BANGUN TEKNOLOGI PLTM (1) Terstandarisasinya Pengembangan sistem dan komponen teknologi dan standardisasi sistem PLT mikrohidro dan komponen Didapatkan tambahan SNI untuk sistem dan komponen PLT mikrohidro Pengembangan dan pemanfaatan PLT mikrohidro untuk memenuhi PEN Pelaksanaan a. turbin.AgendA Riset  NO (4) KEGIATAN Pengembangan konsep reaktor co-generation untuk produksi air bersih. Pelaksanaan a. : Litbang ESDM. DEWAN RISET NASIONAL 2006 . desain chamber. Initial test sistem integrasi hasil review struktur dasar. : BATAN I-1 RANCANG BANGUN DAN REKAYASA wave power generator (1) Rekayasa prototipe. Litbang ESDM dan Perguruan Tinggi K-1 PENGEMBANGAN BASIS DATA CBM INDONESIA. : BPPT.1. BPPT dan perguruan Tinggi. pencairan batubara dan EOR) INDIKATOR TARGET CAPAIAN KEBERHASILAN SASARAN KETERANGAN 2009 AKHIR 2025 2009 Mengikuti perkembangan program penelitian pencairan batubara dan bila diperlukan untuk EOR Mengikuti perkembangan program penelitian pencairan batubara dan bila diperlukan untuk EOR Mengikuti perkembangan program penelitian pencairan batubara dan bila diperlukan untuk EOR Pelaksanaan a.5 BcfD Pelaksanaan a.l. dan generator Instalasi demo plant sistem pembangkit tenaga ombak Scaling-up kapasitas daya sistem pembangkit listrik tenaga ombak.

lokasi terpencil dan pulau serta untuk nelayan INDIKATOR TARGET CAPAIAN KEBERHASILAN SASARAN KETERANGAN 2009 2009 AKHIR 2025 Terwujudnya pemanfaatan berbagai tipe dan kapasitas SKEA di berbagai lokasi terpilih Meningkatnya jumlah desa /wilayah yang memanfaatkan teknologi SKEA skala kecil untuk pembangkit listrik maupun pemompaan air Harga energi listrik yang dibangkitkan menurun dan dapat kompetitif dengan energi terbarukan lainya Terwujudnya pemanfaatan 1000 unit SKEA di pantai selatan pulau Jawa Terwujudnya pemanfaatan SKEA kecil untuk perahu nelayan dan bagan penangkap ikan di berbagai wilayah. Sulawesi Selatan.l. AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 II PROGRAM DIFUSI DAN PEMANFAATAN IPTEK NO (1) KEGIATAN Pemanfaatan SKEA pembangkit listrik di pedesaan. Pelaksanaan a. : LAPAN. NTB. Terwujudnya pemanfaatan SKEA di : Maluku Tenggara. Sulawesi Utara. Rote. Pemanfaatan SKEA dengan jaringan PLN di NTT. angin-pv dan sumber energi lainnya. LSM. Halmahera Tengah. Madura. Universitas. DJLPE A-1 DISEMINASI DAN PEMANFAATAN TEKNOLOGI SKEA (2) Pemanfaatan SKEA inter-koneksi dengan grid/ jaringan PLN Terwujudnya dokumen hasil studi dan kajian pemanfaatan SKEA DEWAN RISET NASIONAL 2006 . Nias. NTB dan Kepulauan Seribu dan Karimunjawa Tersedianya SKEA dengan harga yang terjangkau Tersedianya sistem hibrida angin–diesel. Gorontalo.

l.ESDM. (2) Penyediaan informasi dan pengembangan paket teknologi pemanfaatan batubara Tersedianya teknologi/ Peningkatan jumlah paket teknologi: penerapan teknologi gasifikasi. Berkembangnya bisnis jasa konsultansi dan pendukung lainnya Meningkatnya jumlah pelaku dan kegiatan bisnis dibidang pemanfaatan batubara Kemandirian kelembagaan pelaku bisnis pemanfaatan batubara Pelaksanaan a. Dept. DJLPE. pemanfaatan batubara pencucian. Perguruan Tinggi. desulfurisasi gas buang. pemahaman pelaku bisnis tentang teknologi pemanfaatan batubara. Dept. pembriketan dan pencairan batubara B-2 PENGEMBANGAN SISTEM TRANSFER /DIFUSI TEKNOLOGI BATUBARA KUALITAS RENDAH (1) Pengembangan sistem diseminasi informasi teknologi batubara kualitas rendah secara elektronik Pengembangan model percontohan aplikasi pemanfaatan batubara Tersedia sistem diseminasi informasi teknologi batubara kualitas rendah dengan teknologi ICT Tersedianya model percontohan aplikasi pemanfaatan batubara Peningkatan jumlah penerapan teknologi pemanfaatan batubara oleh pengguna Peningkatan kontribusi iptek dalam kegiatan pemanfaatan batubara Pelaksanaan a. (2) B-3 PENINGKATAN KESIAPAN PENGGUNA UNTUK MENGADOPSI TEKNOLOGI BATUBARA KUALITAS RENDAH (1) Penguatan kelembagaan pelaku bisnis pemanfaatan batubara Pendidikan dan pelatihan pengguna batubara dan sosialisasi teknologi pemanfaatan batubara Berfungsinya secara optimal kelembagaan pelaku bisnis pemanfaatan batubara Pemahaman dan ketrampilan pengguna batubara.TEKMIRA. : BPPT. ESDM.l. TEKMIRA.AgendA Riset  NO KEGIATAN INDIKATOR TARGET CAPAIAN KEBERHASILAN SASARAN KETERANGAN 2009 AKHIR 2025 2009 B-1 PENGEMBANGAN PAKET TEKNOLOGI PEMBAKARAN BATUBARA YANG SESUAI KEBUTUHAN PENGGUNA (1) Identifikasi dan formulasi kebutuhan teknologi pemanfaatan batubara Tersedianya paket teknologi pembakaran batubara untuk pembangkitan listrik maupun aplikasi lainnya Peningkatan jumlah penerapan paket teknologi pembakaran batubara untuk pembangkitan listrik maupun aplikasi lainnya Peningkatan kontribusi IPTEK dalam kegiatan pemanfaatan batubara Pelaksanaan a. blending. DJLPE. LIPI. Universitas (2) DEWAN RISET NASIONAL 2006 . TEKMIRA. ESDM. : BPPT. Dept.l.LIPI.LIPI. Perguruan Tinggi. DJLPE. : BPPT.

l. Univermasyarakat sitas terhadap biofuel sebagai bahan bakar baru terbarukan Meluasnya penggunaan biofuel sebagai bahan bakar alternatif (2) Demo penggunaan bahan bakar biodiesel pada kendaraan umum Digunakannya bahan bakar biofuel pada kendaraan instansi Pemerintah dan sebagian angkutan umum serta dipakai pada industri. D-2 PENGEMBANGAN PAKET TEKNOLOGI PRODUKSI BIOFUEL SECARA TEPAT GUNA (1) Indetintifikasi kebutuhan daerah untuk memproduksi biofuel secara terdesentralisasi Pengembangan sistem produksi biofuel skala kecil-menengah terintegrasi dengan budidaya bahan baku yang tersedia di tiap daerah Diperolehnya informasi daerah yang berpotensi memproduksi biofuel skala kecil-menengah Data base daerah potensial untuk produksi biofuel skala kecilmenengah Penerapan Pelaksanaan a.00 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 NO KEGIATAN INDIKATOR TARGET CAPAIAN KEBERHASILAN SASARAN KETERANGAN 2009 AKHIR 2025 2009 C-1 DISEMINASI ENERGI PANAS BUMI (1) Sosialisasi pengembangan panas bumi sesuai kepentingan energi terbarukan Masyarakat lokal well-informed terhadap Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi Telah dapat dioperasikannya pembangkit panas bumi sesuai rencana 2009 Dukungan masyarakat pada pemanfaatan sumber energi panas bumi Pelaksanaan a. LIPI. : BPPT. : pemahaman BPPT. Univerproduksi biofuel sitas skala kecilmenengah di daerah terpencil Peningkatan ketahanan bahan bakar daerah khususnya daerah/pulau terpencil (2) Tersedianya paket teknologi produksi biofuel skala kecil-menengah Diterapkannya paket teknologi produksi biofuel skala kecilmenengah DEWAN RISET NASIONAL 2006 . Penggunaan bahan bakar biofuel pada seluruh kendaraan pemerintah dan sebagian kendaraan umum di kota besar. seminar dan pameran Publikasi melalui media cetak dan elektronika. serta penggunaan pada industri.l. LITBANG ESDM. forum dialog. forum dialog. elektronika. seminar serta pameran tingkat lokal dan nasional Meningkatnya Pelaksanaan a. Universitas D-1 SOSIALISASI BiofUel SEBAGAI BAHAN BAKAR ALTERNATIF MINYAK DIESEL (1) Terpublikasikannya Publikasi melalui biodiesel di masyarakat media cetak. : teknologi BPPT.l. LIPI.

industri pemasok. DJLPE. Universitas G-1 PENYEDIAN PAKET INFORMASI. LIPI. Universitas DEWAN RISET NASIONAL 2006 . : BPPT. DEPT. : LIPI.ESDM. skema BPPT. LIPI. Terbentuknya Standar Nasional Indonesia untuk berbagai sistem PLTS dan komponen Pelaksanaan a. Publikasi produk poster. : BPPT.AgendA Riset 0 NO (1) KEGIATAN Pengembangan sistem diseminasi teknologi budidaya bahan baku dan produksi biofuel INDIKATOR TARGET CAPAIAN KEBERHASILAN SASARAN KETERANGAN 2009 AKHIR 2025 2009 Terselenggaranya program difusi teknologi budidaya baku dan produksi biofuel Meningkatnya pemahaman dan pengetahuan petani/ teknisi lokal tentang teknologi tepat guna budidaya bahan baku dan produksi biofuel Penerapan teknologi budidaya bahan baku dan produksi biodiesel oleh petani dan teknisi lokal Meningkatnya kontribusi petani/teknisi lokal dalam budidaya bahan baku dan produksi biofuel Pelaksanaan a. leaflet dan pengembangan teknologi tepat guna lain-lain budidaya bahan baku dan produksi biofuel Terciptanya Pelaksanaan a. untuk daerah terpencil dan terisolir Penerapan sistem PLTS seperti hibrid. (1) Sosialisasi teknologi Tumbuhnya pemahamenergi hidrogen dan an masyarkat dan pelaku bisnis pada teknologi fuel cell pentingnya penggunaan energi hidrogen & fuel cell sebagai energi alternatif dan kompetitor utama BBM Meningkatnya perhatian masyarakat pada kegiatan pengembangan IPTEK energi hidrogen dan fuel cell Telah cukup siapnya masyarakat luas dalam menggunakan energi hidrogen dan fuel cell sebagai sumber dan pembangkit energi listrik Pelaksanan a.l. Universitas D-3 PENGEMBANGAN SISTEM DIFUSI TEKNOLOGI BUDIDAYA BAHAN BAKU DAN PRODUKSI BiofUel (2) Tersedianya buku. BPPT. lembaga riset dan regulator F-1 PENGEMBANGAN PROTOTIPE SISTEM PLTS SKALA KECIL DAN MENENGAH (1) Diversifikasi sistem PLTS. penyimpan vaksin di wilayah terpencil di Indonesia Terpasangnya berbagai sistem sistem PLTS dengan kapasitas 10 MW.l.l. LIPI. investor. : strategi. sistem komunikasi. industri pengguna.l. DAN PELATIHAN TENTANG TEKNOLOGI ENERGI HIDROGEN. Univerdan iklim sitas kerjasama yang baik antara stakeholders industri biodiesel mulai dari penyedia bahan baku.

: LIPI.l. dan media cetak Meningkatnya perhatian dan peran serta masyarakat dalam kegiatan penyebaran informasi teknologi fuel cell dan penggunaan energi hidrogen. LIPI. DEPT. : BATAN.l. penyimpanan. Pelaksanan a. Universitas G-3 PENINGKATAN KESIAPAN PENGGUNA UNTUK MENGADOPSI TEKNOLOGI ENERGI HIDROGEN (1) Sosialisasi Iptek nuklir untuk mendukung pengembangan EBT Sosialisasi penggunaan PLTN sebagau bagian dari pemenuhan kebutuhan eergi nasional jangka panjang Pelaksanan a. BPPT. DJLPE. Universitas (2) DEWAN RISET NASIONAL 2006 . dan distribusi gas hidrogen. Terjadinya diversifikasi produk aplikasi fuel cell serta meningkatnya investasi manufaktur untuk pemenuhan permin-taan dalam negeri dan peluang ekspor dan meningkat pula pengembangan instalasi produksi.0 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 NO (2) KEGIATAN INDIKATOR TARGET CAPAIAN KEBERHASILAN SASARAN KETERANGAN 2009 2009 AKHIR 2025 Tersedianya paket pelatihan pengunaan sistem pembangkit listrik fuel cell PEMFC Paket pelatihan pengPenyediaan gunaan informasi dan pengembangan paket pelatihan penggunaan sistem pembangkit listrik fuel cell berbasis energi gas hidrogen G-2 PENGEMBANGAN SISTEM TRANSFER /DIFUSI TEKNOLOGI ENERGI HIDROGEN (1) Pengembangan sistem diseminasi teknologi berbasis elektronik/internet. ESDM. dan media cetak Tersedianya program difusi teknologi melalui media elektronik/internet.

DEPT ESDM (2) DEWAN RISET NASIONAL 2006 . : kemampuan LPND RISTEK. Adanya Pelaksanaan a. Peningkatan intensitas pengembangan dan kerjasama internasional penerapan teknologi energi Pengembangan lembaga untuk kalibrasi dan standardisasi Terbentuknya lembaga standardisasi dan kalibrasi produk teknologi energi dan komponen Peningkatan jumlah kerjasama dan penerapan produk kerja-sama teknologi Tersedianya lembaga untuk standardisasi dan kalibrasi produk teknologi energi dan komponen Pengakuan internasional terhadap produk teknologi nasional Lembaga yang terakreditasi secara Internasional dan produk teknologi energi dalam negeri tersertifikasi secara Internasional Pelaksanaan a. departemen teknis terkait. baik pusat maupun daerah Terjalinnya komunikasi yang efektif antar pengambil keputusan C KERjASAMA DENGAN KELEMBAGAAN INTERNASIONAL (1) Kerjasama penelitian. akademis S2 dan S3. : peneliti dengan tingkat SDM dan sarana LPND RISTEK.AgendA Riset III PROGRAM PENGUATAN KELEMBAGAAN IPTEK NO (1) KEGIATAN Peningkatan kemampuan SDM 0 INDIKATOR TARGET CAPAIAN KEBERHASILAN SASARAN KETERANGAN 2009 AKHIR 2025 2009 Peningkatan peneliti dengan tingkat pendidikan S2 dan S3 Peningkatan jumlah Tersedianya Pelaksanaan a.l. dan pemda untuk bekerjasama /kemitraan diseminasi teknologi Pengembangan jaringan antar lembaga pemerintah dan legislatif yang berkaitan dengan teknologi energi Peningkatan koordinasi dan kerjasama dalam penerapan dan penelitian teknologi .dibutuhkan untuk mengembangkan tivitas penelitian yang kapasitas dihasilkan nasional A PENGUATAN INTERNAL KELEMBAGAAN IPTEK DAN KELEMBAGAAN PENDUKUNGNYA (2) Terpenuhinya Pengembangan sarana dan prasana kebutuhan sarana dan prasarana penelitian penelitian B KERjASAMA ANTAR LEMBAGA IPTEK DALAM NEGERI (1) Menghimpun kemampuan manufacturing.l. Peningkatan jumlah kerjasama dalam penerapan dan Pengkajian Teknologi. serta prasarana DEPT ESDM penelitian yang Peningkatan produk. : LPND RISTEK.l. nasional dari DEPT ESDM berbagai lembaga pemerintah maupun swasta terkait Peningkatan komunikasi antar pengambil keputusan dalam pengembangan teknologi energi (2) Terbentuknya forum antar pengambil keputusan.

: LPND RISTEK . Kemandirian nasional dibidang penyediaan komponen dan sistem teknologi yang berbasis teknologi energi baru dan terbarukan.l. : LPND RISTEK . DEPARTEMEN ESDM dan Perguruan Tinggi A PEMBERDAYAAN INDUSTRI NASIONAL PADA BIDANG ENERGI BARU DAN TERBARUKAN (2) Tersedianya rencana pembangunan kelistrikan dan studi kelayakan pembangkit listrik energi baru dan terbarukan Adanya kesiapan Pemda dan swasta untuk menerapkan pembangkit listrik energi baru dan terbarukan.l. DEPARTEMEN ESDM dan Perguruan Tinggi (4) Keringanan pajak dan dukungan kemudahan impor sistem /komponen teknologi energi baru dan terbarukan untuk pengembangan dan penguasaan teknologi tersebut Insentif pajak dan dukungan kemudahan untuk pengembangan regulasi dan standardisasi sistem pendukung dan sistem produksi teknologi energi baru dan terbarukan. pada Pengelolaan Energi Nasional 2005. yang akan dibangun (3) Adanya masukan regulasi untuk meningkatkan kandungan lokal komponen teknologi energi baru dan terbarukan.0 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 IV PROGRAM PENINGKATAN KAPASITAS IPTEK SISTEM PRODUKSI NO (1) KEGIATAN Kemitraan dengan sektor manufaktur nasional untuk komersialisasi hasil IPTEK energi Perencanaan kelistrikan daerah dan studi kelayakan teknologi energi (pembangkit listrik dg sumber energi baru dan terbarukan) bekerjasama dengan Pemda dan swasta Penyusunan masukan kebijakan mengenai kandungan lokal komponen teknologi energi baru dan terbarukan INDIKATOR TARGET CAPAIAN KEBERHASILAN SASARAN KETERANGAN 2009 AKHIR 2025 2009 Tersedianya sistem produksi komponen dan sistem teknologi energi (sektor manufaktur) Peningkatan jumlah produksi komponen dan sistem fabrikator lokal Tersedianya komponen dan sistem teknologi energi yang diproduksi secara nasional Peningkatan jumlah pemanfaatan batubara kualitas rendah sesuai target pasokan batubara dalam fuel-mix energi nasional Pelaksanaan a.l.l. : LPND RISTEK. DEPARTEMEN ESDM dan Perguruan Tinggi Pelaksanaan a. Ketepatan dari pemerintah tentang insentif penggunaan energi yang diproduksi oleh energi baru dan terbarukan Pelaksanaan a. : LPND RISTEK . Terbitnya regulasi tentang batasan kandungan lokal dalam penerapan berbagai sistem teknologi baru dan terbarukan. Peningkatan konstribusi penggunaan energi baru dan terbarukan pada penyediaan baur-an energi. Pelaksanaan a. DEPARTEMEN ESDM dan Perguruan Tinggi DEWAN RISET NASIONAL 2006 .

Terbentuknya Industri nasional yang mampu sepenuhnya dalam melaksanakan kegiatan Engineering.AgendA Riset IV PROGRAM PENINGKATAN KAPASITAS IPTEK SISTEM PRODUKSI NO (5) KEGIATAN Pengembangan kerjasama litbang dan kemampuan sistem produksi skala industri (scale-up). 0 INDIKATOR TARGET CAPAIAN KEBERHASILAN SASARAN KETERANGAN 2009 AKHIR 2025 2009 Kerjasama antara litbang khususnya LPND Ristek. Procurement and Construction (EPC) teknologi energi baru dan terbarukan skala komersial yang berdasarkan kerjasama antar litbang DEWAN RISET NASIONAL 2006 . Perguruan Tinggi dan Litbang Departemen ESDM dalam satu program peningkatan hasil IPTEK teknologi energi baru dan terbarukan menjadi skala industri.

bahkan pertahanan dan keamanan serta ketertiban masyarakat (kamtibmas). bekerja.3. politik. Dalam hal angkutan penumpang. dan sebagainya. Hal ini karena kegiatan transportasi adalah kegiatan derivatif (derivative demand) yang diturunkan dari berbagai kegiatan manusia seperti sekolah. bisnis. alat angkut (sarana/kendaraan). maupun udara). darat. permasalahan pokok adalah adanya excess demand dimana jumlah angkutan selalu lebih tinggi dari pada kapasitas yang tersedia. permasalahan umumnya lebih didominasi oleh kemacetan lalu lintas yang berdampak sangat luas pada tingkat mobilitas yang merupakan cerminan dari tingginya intensitas kegiatan sosial ekonomi masyarakat. lingkungan hidup. finansial. dan lain-lain). pengiriman logistik. baik dalam hal kualitas maupun kuantitas. kegiatan sosial.3. Oleh karena itu. AGENDA RISET TEKNOLOGI DAN MANAJEMEN TRANSPORTASI 3. Dalam konteks transportasi antarkota (matra air. Obyek angkutan mencakup jumlah dan karakteristiknya serta asal ataupun tujuan perjalanan. Transportasi terdiri atas unsur-unsur obyek angkutan (manusia dan barang). permasalahan umum berupa keterbatasan sarana dan prasarana.0 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 3. Permasalahan yang dihadapi oleh transportasi antarkota pada umumnya agak berbeda dengan transportasi perkotaan. Sedangkan dalam konteks transportasi perkotaan. prasarana dan sistem (termasuk manajemen. DEWAN RISET NASIONAL 2006 .1 Latar Belakang Permasalahan Masalah transportasi adalah masalah yang sangat kompleks karena mencakup berbagai aspek seperti ekonomi. salah satu cara mengatasinya yakni dengan menyediakan moda angkutan yang berkapasitas besar (angkutan massal). sosial. Hal yang sama juga terjadi pada angkutan barang dan jasa yang terus meningkat seiring dengan peningkatan jumlah produksi dan jumlah konsumsi.

AgendA Riset 0 Data tahun 2003 menunjukkan bahwa peran antarmoda dalam pengangkutan penumpang tidak seimbang. yang mencakup antara lain manajemen/pengaturan. penting untuk dipikirkan energi pengganti BBM disatu pihak dan solusi terhadap pencemaran lingkungan di lain pihak. untuk meningkatkan peran angkutan laut dan udara sekaligus meningkatkan sinergi antarmoda. kenyamanan. peran dalam pengangkutan penumpang mencapai angka sekitar 92 persen. Untuk moda angkutan jalan. misalnya. keselamatan dan kehandalan. Proporsi penggunaan energi oleh sektor transportasi yang mencapai lebih 30 persen dari total penggunaan energi nasional yang hampir seluruhnya (92%) bersumber dari BBM tidak saja menimbulkan masalah pasokan energi BBM. Permasalahan ini umumnya terjadi karena kapasitas yang tidak mencukupi. Oleh karena itu. kualitas dan kuantitas SDM (sebagai DEWAN RISET NASIONAL 2006 . melainkan juga berdampak buruk pada lingkungan. danau dan Penyeberangan (ASDP) masing-masing hanya mencapai angka 6 persen dan 1 persen. keamanan. Permasalahan lain yang terkait dengan sarana adalah dalam penggunaan energi dan dampaknya pada lingkungan hidup. Hal yang sama juga terjadi pada moda angkutan laut dan udara yang masing-masing di bawah 1 persen. Di samping masalah-masalah di atas. maka perlu diterapkan transportasi antar/multimoda. sedangkan moda angkutan kereta api dan Angkutan Sungai. sektor transportasi juga menghadapi kendala dalam hal kesisteman. Oleh karena itu. Dalam hal sarana dan prasarana. Selain itu juga penting untuk dipikirkan penggunaan produk lokal dalam sektor transportasi agar peran industri dalam negeri dapat bertahan pada era pasar global. khususnya untuk daerah yang pada saat ini tingkat kebutuhannya sudah sangat tinggi. baik dalam arti jumlah (kuantitas) maupun karena keterbatasan manajemen sehingga sarana dan prasarana yang ada tidak termanfaatkan secara optimum. permasalahan yang terjadi meliputi masalah kapasitas.

tetapi juga oleh faktor-faktor eksternal. simulasi dan pemodelan. lingkungan hidup. Berangkat dari kompleksitas permasalahan di atas.0 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 pelaku perjalanan dan sebagai penyedia jasa). dalam rangka memperbaiki perilaku bertransportasi dan memenuhi permintaan masyarakat. Aspek kemanusiaan menyangkut kualitas layanan yang disediakan. dalam rangka optimisasi kinerja sistem transportasi.3. wilayah. (b) teknologi informasi. jender dan lain-lain seperti ibu-ibu hamil. khu- DEWAN RISET NASIONAL 2006 . sedangkan aspek keadilan menyangkut kesetaraan aksesibilitas baik yang terkait dengan strata sosial. Pada dasarnya keberhasilan pembangunan sektor transportasi tidak hanya dipengaruhi oleh faktor-faktor internal di dalam sistem transportasi.2 Arah Kebijakan dan Prioritas Utama (a) Arah Kebijakan Salah satu tahap yang paling mendasar yang diperlukan dalam penyusunan konsep kebijakan adalah tahap identifikasi masalah. serta peraturan perundang-undangan yang terkait dengan keuangan. (c) energi dan lingkungan hidup dalam rangka penggunaan energi alternatif dan minimisasi dampak lingkungan. pembangunan sistem transportasi perlu mempertimbangkan aspek kemanusiaan dan keadilan. serta (d) sosial kemanusiaan. dan peran serta masyarakat. korosi. para lanjut usia dan penyandang cacat. pembiayaan sektor transportasi. kebijakan energi. 3. Selanjutnya. riset dibidang transportasi perlu didukung oleh riset pada bidang-bidang lainnya seperti (a) sains dasar yang antara lain mencakup material. Faktor eksternal yang dimaksud antara lain berupa kebijakan tata ruang yang sangat berpengaruh terhadap pola perjalanan (orang dan barang). perpajakan dan subsidi yang sangat berpengaruh terhadap iklim investasi. peraturan/perundangundangan dan kebijakan pendukung.

efektif dan efisien yang sesuai kebutuhan masyarakat. kawasan perbatasan. pembangunan kawasan perdesaan/terpencil. Sejalan dengan itu. (3) meningkatkan penguasaan dan kemampuan teknologi industri dalam negeri untuk mendukung sistem transportasi nasional guna mendukung kelancaran sistem operasional DEWAN RISET NASIONAL 2006 . pasokan (supply) dan pelayanan transportasi.AgendA Riset 0 susnya indentifikasi permasalahan kunci yang bernilai strategis. Pendekatan yang umum digunakan untuk melihat kinerja penyelenggaraan transportasi adalah dari aspek pemenuhan kebutuhan transportasi yang memadai dan pelayanan. masalah-masalah kunci yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan transportasi yang memadai dan pelayanan dapat dianggap sebagai isu-isu yang strategis bagi keberhasilan ataupun pencapaian tujuan sistem transportasi nasional yang handal. kehandalan dan kenyamanan. Oleh karena itu. serta terjangkau masyarakat luas. aspek yang diperhatikan tidak hanya menyangkut tentang kondisi transportasi yang ada. keamanan. kondisi fisik wilayah serta sosial-ekonomi budayanya. arah kebijakan Iptek untuk pengembangan teknologi dan manajemen transportasi seyogyanya diarahkan untuk (1) meningkatkan kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menjawab berbagai isu yang berkaitan dengan kebutuhan (demand). (2) meningkatkan kemampuan iptek strategis dalam rangka pengembangan sistem transportasi nasional yang handal. berkelanjutan (sustainable) dan memberi nilai tambah bagi sektor lain. Pada masa yang akan datang. melainkan juga kemungkinan terjadinya perubahan di masa datang sesuai dengan visi dan misi yang ditetapkan dalam Sistim Transportasi Nasional (SISTRANAS). pembangunan sistem transportasi diharapkan dapat mendukung pembangunan sektor-sektor lain seperti pariwisata. dan sebagainya. Dalam identifikasi ini. efisien. sampai dengan tahun 2009. kawasan perkotaan. seperti keselamatan. Kedua aspek ini dapat dijadikan barometer keberhasilan suatu sistem transportasi. efektif. berkeadilan.

keamanan dan kesesuaian dengan komponen lokal. sesuai kebutuhan masyarakat serta mengutamakan keselamatan. (5) meningkatkan kemampuan manufakturing teknologi tinggi dan tepat guna yang berdaya saing internasional untuk mendukung pembangunan sarana dan prasarana transportasi dan (6) memperkuat kerja sama kelembagaan yang berkelanjutan dan terintegrasi untuk mengimplementasikan berbagai rekomendasi hasil riptek dengan mensinergikan kemampuan industri nasional. mitigasi dampak sosial dan lingkungan. (b) Prioritas Utama Prioritas utama dalam pengembangan teknologi dan manajemen transportasi adalah: (1) Mengembangkan program-program iptek transportasi dengan kriteria terintegrasi. (3) Meningkatkan riset guna mendukung rencana induk (masterplan) sistem transportasi antar/multi moda di daerah-daerah yang tingkat DEWAN RISET NASIONAL 2006 . penggunaan kendaraan tidak bermotor dsb. pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) serta ilmu dasar dalam optimisasi sistem transportasi. Selain itu perlu pula dipikirkan aspek konservasi energi bagi kegiatan transportasi misalnya dengan pengembangan kendaraan dengan teknologi hibrid. (2) Meningkatkan riset pengembangan dalam sistem manajemen dan studi kelayakan transportasi yang mencakup angkutan perkotaan (urban transportation) dan angkutan umum (public transportation).0 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 dan kemampuan untuk merawat serta ramah lingkungan dan hemat energi. (4) meningkatkan kapasitas teknologi pada sistem produksi di dunia usaha dan industri serta peningkatan sinergi antar komponen sistem inovasi. kemampuan teknologi dalam negeri dengan memperbesar penggunaan komponen lokal. rekayasa pembiayaan (financial engineering). Termasuk dalam hal ini adalah demand management. kebijakan tarif dan pricing policy.

(3) Telah siapnya rencana induk sistem transportasi antar/multi moda minimal di Pulau Jawa. (2) Tersusunnya sistem manajemen serta strategi implementasi sistem angkutan umum dan angkutan perkotaan yang mencakup antara lain aspek-aspek pembiayaan. Misalnya riset tentang pengembangan wilayah. Jawa. dsb.dan kebijaksanaan pembangunan wilayah atau kawasan. Bali. (6) Adanya mekanisme subsidi baik secara langsung maupun tidak langsung (termasuk yang berasal dari pricing policy). Sumatera dan Bali. multi moda yang terpadu.3 Target Capaian 2009 dan Sasaran 2025 Target capaian secara umum sampai dengan tahun 2009 adalah sebagai berikut: (1) Digariskannya kebijakan transportasi berdasarkan hasil litbang yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat akan angkutan umum dan angkutan perkotaan yang mengutamakan keamanan dan keselamatan. dampak lingkungan. (4) Telah tersusunnya strategi dan perangkat teknologi yang dibutuhkan guna mendukung peningkatan kapasitas sarana dan prasarana transportasi. Sedangkan sasaran akhir pada tahun 2025 adalah: (5) Diterapkannya sistem angkutan masal perkotaan di beberapa kota besar di Indonesia. serta sumber daya lokal. 3.3. berdasarkan hasil studi. seperti Sumatera. dampak sosial.terpadu dengan angkutan perkotaan lainnya.AgendA Riset  kebutuhannya sudah sangat tinggi. tataruang wilayah. pricing policy. penggunaan komponen lokal. pemanfaatan TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) serta konservasi energi. yang baku untuk DEWAN RISET NASIONAL 2006 .

kapal sungai. terpadu antar moda. penerapan teknologi baru seperti hovercraft. Adapun keluaran yang diharapkan dari kegiatan ini DEWAN RISET NASIONAL 2006 . fisika. magnetic levitated train (Maglev). (2) reaksi kimia dalam proses korosi yang sangat berpengaruh terhadap umur ekonomis sarana dan prasarana transportasi. (7) Terselenggaranya sistem transportasi yang optimum. (3) matematika. (9) Meningkatnya kontribusi industri dalam negeri di sektor transportasi yang didukung oleh adanya kebijakan penggunaan industri dalam negeri. wing in surface effect (WiSE). AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 menunjang terselenggaranya sistem angkutan umum yang terjangkau oleh masyarakat luas. (8) Meningkatnya pemanfaatan energi alternatif dan efisiensi penggunaan BBM oleh sektor transportasi. dan lain-lain yang terkait dengan pemanfaatan energi gelombang untuk pembangkit tenaga listrik dan efeknya terhadap proses perusakan lingkungan. (10) Hasil riset sistem transportasi antar/multi moda terpadu sudah diterapkan di daerah. dan lain-lain.4 Program Penelitian dan Pengembangan Iptek: Dalam bidang penelitian dan pengembangan iptek terdapat 6 program sebagai berikut: (a) Penguatan ilmu dasar seperti (1) teknik simulasi dan pemodelan dalam rangka optimalisasi sistem transportasi dengan menggunakan teknik simulasi dan pemodelan. monorail.daerah yang tingkat kebutuhannya sudah sangat tinggi sesuai masterplan yang disetujui. Informasi dan Komunikasi). 3. berkeadilan dan ramah lingkungan yang ditunjang oleh pemanfaatan TIK (Teknologi.3. mekanika.

(4) minimalisasi dampak lingkungan. (4) rekomendasi penerapan teknologi baru. (f ) Regenerasi pesawat udara dikaitkan dengan penuaaan armada pesawat udara serta perkembangan tingkat kebutuhan angkutan udara di Indonesia. rumus. Operation Control Centre (OCC). Difusi dan Pemanfaatan Pada bidang difusi dan pemanfaatan iptek. telekomunikasi dan pengoperasian kereta api modern. dan lain-lain. Studi standardisasi sarana dalam konteks: (1) peningkatan keselamatan dan keamanan transportasi. Evaluasi regulasi/deregulasi di bidang transportasi dalam rangka efisiensi nasional misalnya dampak Inpres 5 Tahun 2005 tentang pemberdayaan armada laut nasional. (b) angkutan umum DEWAN RISET NASIONAL 2006 . (2) metoda. ratifikasi konvensi internasional di bidang transportasi. Tinjauan terhadap reglemen kereta api dalam kaitannya dengan sistem persinyalan. terdapat 3 program yaitu (a) angkutan perkotaan dan angkutan umum. dan (5) prototip teknologi baru. Penyusunan pedoman dan standar tentang disain teknis serta manajemen operasional sarana dan prasarana transportasi antara lain di sistem perawatan. alat atau material yang dapat digunakan untuk mengurangi kecepatan atau bahkan mengeliminasi proses korosi yang sangat berpengaruh terhadap pengurangan umur ekonomis sarana dan prasarana transportasi. (3) metoda.AgendA Riset  (b) (c) (d) (e) adalah: (1) model matematika dan atau perangkat lunak yang dapat digunakan untuk optimasi kinerja sarana dan prasarana transportasi. (2) transportasi intermodal (3) konservasi dan penghematan energi. perangkat lunak dan lain-lain yang dapat digunakan untuk menganalisa prinsip kerja serta sisi positip dan negatip penerapan teknologi baru serta sebagai dasar untuk pembangunan prototip teknologi baru.

Dari topik-topik kajian tersebut di atas dapat dilihat bahwa hal penting yang ingin diketahui dari hasil kegiatan ini adalah dinamika kebutuhan masyarakat terhadap alat angkutan konsekuensi dari peningkatan DEWAN RISET NASIONAL 2006 . AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 masal perkotaan serta (c) diversifikasi dan konservasi energi di sektor transportasi. angkutan umum masal yang masih belum diterapkan di kota-kota besar di Indonesia. serta (e) estimasi konsumsi BBM yang bisa dihemat akibat peningkatan penggunaan angkutan. Hal ini dapat disebabkan oleh peran angkutan umum yang tidak optimal. kemacetan lalu lintas dapat diturunkan dan dampak lingkungan dapat diminimumkan. (1) Penentuan Proporsi Peran Angkutan Umum dan Angkutan Pribadi: Kegiatan penentuan proporsi peran angkutan umum dibanding kendaraan pribadi (modal split) mencakup hal-hal sebagai berikut (a) identifikasi kebutuhan sarana dan prasarana transportasi. disiplin lalu lintas yang relatif rendah serta belum diterapkannya teknologi Intelligent Transportation System (ITS). Oleh karena itu maka kajian difokuskan pada 5 hal yang terkait dengan (1) estimasi permintaan transportasi yang diperlukan. Adapun rincian dari ketiga program yang dimaksud adalah sebagai berikut: (a) Angkutan perkotaan dan angkutan umum Dalam konteks angkutan perkotaan dan angkutan umum. masalah utama yang dihadapi adalah kemacetan lalu lintas. (3) angkutan umum masal perkotaan. (d) dampak lingkungan peningkatan penggunaan angkutan umum. (2) penentuan proporsi peran angkutan umum dan angkutan pribadi. (4) riset sosial yang terkait dengan perilaku bertransportasi dan (5) implementasi ITS. (c) dampak sosial peningkatan penggunaan angkutan umum. (b) kebutuhan biaya investasi untuk penyediaan sarana dan prasarana angkutan umum. Dalam jangka panjang diharapkan peran angkutan umum dapat dioptimumkan.

sumber-sumber pembiayaan proyek. skenario pembiayaan proyek. Untuk implementasi sistem angkutan umum masal di perkotaan diperlukan kebijakan pendukung. (2) Angkutan Umum Masal Perkotaan: Dalam penerapan sisem angkutan umum masal. dampak lingkungan maupun konsumsi penggunaan BBM. cakupannya adalah (a) kebijakan insentif dan disinsentif yang terkait dengan biaya produksi. sangat banyak aspek yang perlu dikaji. undang- DEWAN RISET NASIONAL 2006 . (b) rekayasa pembiayaan yang terkait dengan kelayakan finansial. tingkat pendapatan. termasuk dalam hal ini adalah road pricing. struktur kepemilikan dan pengoperasian proyek. tingkat subsidi. (c) implementasi pembatasan lalu lintas baik dengan menggunakan kebijakan fiskal maupun moneter. serta jenis subsidi langsung atau tidak langsung. serta konsesi yang diberikan oleh Pemerintah. aspek keadilan serta strategi dan regulasi pemasaran. dampak sosial. fuel pricing dalam kaitannya dengan traffic demand management. parking pricing. Kebijakan yang dimaksud terkait dengan aspek finansial.AgendA Riset  peran angkutan umum baik dalam aspek finansial. Dalam aspek finansial. penggunaan komponen lokal. strategi pengadaan (procurement strategy) dan syarat-syarat pembiayaan. jenis-jenis konsesi yang dapat diberikan kepada investor. kegiatan ini minimal mencakup beberapa aspek seperti: (a) kelayakan teknis dan ekonomis. sumber-sumber pengembalian biaya investasi dan pola pengembalian biaya investasi serta pola kerjasama pemerintah dan swasta (public private partnership) yang terkait dengan alokasi resiko. Namun demikian mengingat terbatasnya waktu dan biaya. (c) sistem informasi transportasi antar moda yang akan sangat membantu bagi penumpang untuk melanjutkan perjalanan dengan menggunakan moda angkutan yang lain. (b) sistem tiket terpadu.

tetapi juga harus dapat diakses oleh kelompok masyarakat dari strata sosial menengah bawah. Persoalan yang dihadapi dalam hal ini adalah pada satu sisi menyebabkan peningkatan biaya investasi yang cukup besar. perlu pula disediakan fasilitas khusus bagi para penyandang keterbatasan seperti para lanjut usia. Tingginya resiko kegagalan akan menyulitkan pihak investor untuk mendapatkan dukungan perbankan. Minimal hal-hal yang dicakup dalam kajian ini adalah (a) pengaruh etika berlalu lintas terhadap tingkat kemacetan dan DEWAN RISET NASIONAL 2006 . Hal ini berarti harga tiket harus terjangkau dengan tetap mempertahankan kualitas pelayanan pada tingkat yang memadai. persoalan utama adalah yang tekait dengan kualitas produksi dan resiko kegagalan yang dihadapi oleh investor. selain itu hal ini juga akan menyebabkan tingginya biaya asuransi. jumlah penggunanya relatif sedikit. sementara pada sisi yang lain. Dalam hal penggunaan komponen lokal. perlu dilakukan riset sosial tentang perilaku pelaku perjalanan yang terkait dengan etika berlalu lintas. investasi serta kondisi sosial politik di Indonesia. AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 undang perpajakan. Kebijakan lain yang tidak kalah penting adalah yang terkait dengan strategi dan regulasi pemasaran (marketing). ibu-ibu hamil. (3) Riset Sosial Tentang Perilaku Berlalu lintas Mengingat rendahnya disiplin lalu lintas di perkotaan. orang tua yang membawa bayi serta para penyandang cacat. Selain itu. mekanisme penganggaran. Pemanfaatan angkutan umum masal tidak hanya dimaksudkan untuk para penumpang dari strata sosial menengah atas. Hal ini diperlukan untuk mengantisipasi persaingan yang tidak sehat. Yang dimaksud dengan aspek keadilan adalah kesamaan akses oleh berbagai komponen masyarakat.

(b) tingkat pemahaman pelaku perjalanan atas etika berlalu lintas serta undang-undang dan peraturan. Pada saat ini persoalan yang paling menonjol adalah rendahnya koordinasi antar moda.AgendA Riset  tingkat keselamatan. Setelah didapatkan data tentang hal-hal tersebut di atas. transportasi antar/multi moda diharapkan dapat menjamin kesinambungan transportasi baik untuk angkutan penumpang maupun barang dari titik asal ke titik tujuan. sehingga proses pemindahan antar moda tidak bisa berjalan dengan mulus. serta (b) penerapan suatu unit yang dapat menampung keluhan dan saransaran dari pengguna jasa transportasi dalam rangka mendorong partisipasi masyarakat. (c) praktek pengambilan SIM dan (d) praktek penegakan hukum di lapangan. (b) Transportasi antar/multi moda Pada masa yang akan datang. dan lain-lain dapat diterapkan secara tepat di Indonesia. papan informasi lalu lintas. Dalam kaitan dengan hal tersebut kajian tentang transportasi antar/ multi moda mencakup (1) model penyelenggaraan transportasi DEWAN RISET NASIONAL 2006 . Oleh karena itu perlu dilakukan kajian untuk melihat sejauh mana teknologi seperti Global Positioning System (GPS). maka perlu dilakukan kajian-kajian tentang (a) teknik-teknik dan strategi perbaikan perilaku berlalu lintas serta pendisiplinan penggunaan ruang jalan melalui teknik-teknik publikasi dan pendidikan masyarakat. detektor lalu lintas. (4) Implementasi ITS Salah satu alternatif yang dapat dipergunakan untuk mengurangi tingkat kemacetan lalu lintas dan optimalisasi sistem transportasi adalah penerapan teknologi Intelligent Transportation System (ITS).

lokasi titik-titik simpul transportasi. serta terbatasnya ketersediaan BBM di masa yang akan datang maka perlu dilakukan kajian yang terkait dengan diversifikasi dan konservasi energi. kebutuhan waktu serta biaya di setiap titik simpul transportasi akibat adanya perpindahan moda. dan lain-lain. kajian tentang diversifikasi dan konservasi energi difokuskan pada 4 hal yaitu (1) konversi moda DEWAN RISET NASIONAL 2006 . sembako. (2) intermodal supply chain security. Model penyelenggaraan transportasi antar/multi moda yang optimum meliputi model kerjasama antara pemerintah-swasta maupun swasta-swasta. prasarana yang dibutuhkan. Adapun keluaran yang diharapkan antara lain berupa pola distribusi angkutan barang. (c) Diversifikasi dan konservasi energi di sektor transportasi Mengingat tingginya konsumsi energi BBM di sektor transportasi. (3) prototype intermodal terminal. barang mudah rusak. biaya investasi yang dibutuhkan pada tiap tahapan serta kajian kelayakan ekonomi dan finansial. Selain itu juga dikaji masalah peningkatan reliability dan punctuality sistem transportasi antar/multi moda dalam rangka peningkatan kinerja pelayanan. barang yang harganya mahal. termasuk kinerja pelayanan di simpul-simpul transportasi. sistem penjaminan resiko dan asuransi dan peraturan dan kelembagaan yang diperlukan. dan (4) rencana induk sistem transportasi antar/multi moda di daerah-daerah yang tingkat kebutuhannya sudah sangat tinggi. Dalam konteks tersebut di atas. Sistem transportasi antar/multimoda mencakup angkutan barang mudah busuk. AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 antar/multi moda yang optimum. Kajian ini juga mencakup tahapan pengembangan sistem transportasi antar/multi moda. moda angkutan yang digunakan dan kompatibilitas antar moda.

Kegiatan yang dimaksud antara lain mencakup (1) teknik dan strategi peningkatan kompetensi lembaga iptek serta (2) teknik dan strategi peningkatan kerjasama antara lembaga iptek dengan pengguna iptek. Selanjutnya adalah tugas lembaga iptek untuk melakukan kajian-kajian dalam rangka mencari solusi atas permasalahan yang ada. Penguatan Kelembagaan Iptek Dalam pelaksanaan program-program iptek. Selain itu perlu pula dilakukan kajian untuk dapat meningkatkan kompetensi lembaga iptek. gas. Dengan demikian maka produk yang dihasilkan kurang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan efisiensi proses produksi serta kualitas dan kuantitas produksi. Interaksi antara lembaga iptek dengan pengguna iptek sangat penting karena hanya melalui proses inilah lembaga iptek dapat mengetahui persoalan-persoalan nyata yang dihadapi oleh pengguna.AgendA Riset  angkutan jalan untuk penggunaan energi alternatif seperti (antara lain) listrik. sering ditemui kendala berupa kurangnya koordinasi dan sinergi antar lembaga iptek serta lemahnya kompetensi lembaga iptek. DEWAN RISET NASIONAL 2006 . Berdasarkan hal tersebut maka dianggap perlu untuk melakukan kajian tentang kerjasama kelembagaan iptek yang mencakup (1) inventarisasi lembaga iptek yang mencakup kompetensi serta kelengkapan prasarana dan sarana iptek yang dimiliki dan (2) sistem informasi mengenai kompetensi serta kelengkapan prasarana dan sarana iptek yang tersedia pada masing-masing lembaga iptek. (3) peningkatan penggunaan kendaraan tidak bermotor dan (4) pemanfaatan energi alternatif. (2) pengembangan kendaraan dengan teknologi hybrid. Dengan demikian maka hasil kegiatan iptek dapat menjadi lebih aplikatif dan langsung dapat menjawab persoalan nyata yang dihadapi oleh para pengguna. yaitu industri dan penyedia jasa transportasi. dan gasohol.

Communication Navigation Surveillance/Air Traffic Management (CNS/ATM). (2) prasarana dan (3) sumber daya manusia (SDM). dermaga penyeberangan. bandara adalah jenis prasarana transportasi yang perlu dilakukan kajian-kajian dalam rangka peningkatan kualitas dan kapasitasnya. Sedangkan dalam bidang prasarana difokuskan pada halhal yang terkait dengan peningkatan kualitas dan kapasitas prasarana transportasi serta pemanfaatanya. tetapi dalam hal ini difokuskan pada 3 hal yaitu (1) sarana. stasiun. dan (d) evaluasi pelayanan angkutan penumpang perintis. (b) kebutuhan kapal laut penumpang. Fokus kegiatan terkait dengan prasarana transportasi Jembatan.0 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 Peningkatan Kapasitas Iptek Sistem Produksi Banyak hal yang terkait dengan peningkatan sistem produksi. gudang. Adapun yang terkait dengan SDM difokuskan pada peningkatan kualitas dan kuantitas. terminal. Selain itu perlu pula dikaji masalah sarana untuk pengembangan sistem transportasi sungai dan danau. beberapa hal yang perlu dikaji adalah (a) pengembangan kapal domestik dan Pelra. Dalam hal ini yang terkait dengan sarana misalnya difokuskan pada pengembangan transportasi antar pulau serta sistem transportasi sungai dan danau. (c) pengembangan penggunaan kapal penyeberangan antara lain Ro-Ro. Hal lain yang perlu dipikirkan adalah peningkatan kapasitas fasilitas bongkar muat yang mencakup antara lain dermaga. serta DEWAN RISET NASIONAL 2006 . terminal serta sistem bongkar muat dan keserasian pindah moda. Termasuk dalam hal ini adalah penerapan Airport air traffic service technology. pelabuhan. Fokus kegiatan terkait dengan sarana transportasi Dalam konteks pengembangan transportasi antar pulau. serta Ground Base Augment System (GBAS). jalan. parkir. (e) evaluasi kinerja pelayanan darat/pelabuhan.

(b) inventarisasi lembaga diklat. dan (d) peningkatan pemanfaatan lembaga diklat. Adapun tentang keluaran dari masing-masing kegiatan serta sasaran yang ingin dicapai pada tahun 2009 maupun tahun 2025 dapat dilihat pada tabel di bawah ini. dan sebagainya). serta sarana dan prasarana yang dimiliki. kurikulum.AgendA Riset  pemanfaatan pelabuhan khusus dan bandara khusus untuk pelayanan umum. DEWAN RISET NASIONAL 2006 . (c) teknik dan strategi peningkatan kompetensi lembaga diklat. Fokus kegiatan terkait dengan peningkatan SDM Beberapa hal yang perlu dikaji adalah yang terkait dengan (a) teknik dan strategi pengembangan SDM transportasi dalam rangka menghasilkan SDM transportasi yang kompetensinya diakui sesuai standar internasional (ICAO. kompetensi. IMO.

2) kompatibel. atau diproduksi serta untuk pembadi da-lam ngunan prototip negeri teknologi baru 4) Rekomedasi penerapan teknologi baru 5) Prototip teknologi baru Pelaksana a.: Pengelola fasilitas transportasi (b) Studi standardisasi sarana dalam konteks: 1) peningkatan keselamatan dan keamanan transportasi. AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 I PROGRAM PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN IPTEK NO (a) KEGIATAN Penguatan ilmu dasar INDIKATOR TARGET CAPAIAN KEBERHASILAN SASARAN KETERANGAN 2009 AKHIR 2025 2009 Terlaksananya kajiankajian tentang ilmu da-sar yang terkait dengan: 1) Optimasi pengoperasian sarana dan prasarana transportasi 2) Proses korosi 3) Pembangunan dan atau implementasi teknologi baru seperti hover-craft.l. 4) ramah lingkungan Standar sudah dibakukan dalam bentuk undangundang Pelaksana a. 3) hemat energi. atau diperlambat bahan kimia yang sehingga umur dapat mengurangi ekonomis kecepatan atau dapat mengeliminir diperpanjang proses korosi 3) Teknologi 3) Metoda. baru yang perangkat lunak direkomenyang dapat digudasikan nakan untuk mensudah dapat ganalisa prinsip diiplemenkerja dan peneratasikan dan pan teknologi baru. Badan/lembaga Litbang Pengguna a.: Pemerintah (Pusat dan Daerah). Badan/lembaga Litbang. wing in surface effect (WiSE). maglev.l.: Perguruan Tinggi. dsb Tersedianya: 1) Model matematika 1) Tersedianya dan atau perangkat sistem lunak untuk transportasi optimasi kinerja sayang optimum rana dan prasarana 2) Proses transportasi korosi dapat 2) Metoda. 4) minimalisasi dampak lingkungan Terlaksananya studi standardisasi sarana transportasi Tersedianya standar untuk sarana transportasi yang 1) aman. 2) transportasi intermodal 3) konservasi dan penghematan energi. Penyedia jasa transportasi DEWAN RISET NASIONAL 2006 .l. rumus. alat.: Perguruan Tinggi.l. monoraíl. BSN Pengguna a.

Penyedia jasa angkutan KA DEWAN RISET NASIONAL 2006 . OCC.: Pemerintah (Pusat dan Daerah). BSN Pengguna a. Tersedianya hasil kajian tentang dampak positip dan negatip antara lain akibat: 1) penerapan Inpres 5 tahun 2005 2) ratifikasi konvensi internasi-onal di bidang transportasi.: Pemerintah (Pusat dan Daerah). Badan/lembaga Litbang. Badan/lembaga Litbang Pengguna a.l.AgendA Riset  NO (c) KEGIATAN Penyusunan pedoman dan standar tentang disain teknis serta manajemen operasional sarana dan prasarana transportasi INDIKATOR TARGET CAPAIAN KEBERHASILAN SASARAN KETERANGAN 2009 2009 AKHIR 2025 Terlaksananya penyusunan pedoman dan standar tentang disain teknis serta manajemen operasional sarana dan prasarana trans-portasi Tersedianya pedo-man dan standar tentang: 1) Disain teknis sarana dan prasa-rana transportasi 2) Manajemen operasional sarana dan prasarana transportasi Standar sudah dibakukan dalam bentuk undangundang 10 Pedoman dan standar sudah dibakukan dalam bentuk undang-undang 2) Masalah perawatan sarana dan prasarana transportasi sudah dapat diatasi Meningkatnya efisiensi di bidang transportasi nasional Pelaksana a.l.: Perguruan Tinggi.: Perguruan Tinggi. Badan/lembaga Litbang Pengguna a.: Pemerintah (Pusat dan Daerah). Penyedia jasa transportasi (d) Evaluasi regulasi/ deregulasi di bidang transportasi dalam rangka efisiensi na-sional misal (1) dampak Inpres 5 Tahun 2005 tentang pemberdayaan armada laut nasional.l.l. telekomunikasi dan pola pengoperasian sistem kereta api modern. Tersedianya konsep regulasi/deregulasi di bidang transportasi dalam rangka peningkatan efisiensi nasional Pelaksana a. Penyedia jasa transportasi laut (e) Tersedianya hasil kajian tentang kesesuaian reglemen dengan sistem perkeretaapian modern Tersedianya konsep undang-undang dan peraturan yang se-suai dengan teknologi perkeretaapian modern Tersedianya undang-undang dan peraturan yang sesuai dengan pengoperasian sistem perkeretaapian modern Pelaksana a. Tinjauan terhadap reglemen kereta api dalam kaitannya dengan sistem persinyalan.l.l.: Perguruan Tinggi. (2) ratifikasi konvensi internasional di bidang transportasi.

: Pemerintah. AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 NO (f) KEGIATAN INDIKATOR TARGET CAPAIAN KEBERHASILAN SASARAN KETERANGAN 2009 2009 AKHIR 2025 Tersedianya konsep Tersedianya dan strategi regenerasi armada pesawat pesawat udara udara dengan jenis dan jumlah yang tepat Pelaksana a.l. Penyedia jasa angkutan udara.l. Pengelola bandara Terselenggaranya kaRegenerasi jian tentang regenerasi pesawat udara pesawat udara dikaitkan dengan penuaan armada pesawat udara serta perkembangan tingkat kebutuhan angkutan udara di Indonesia DEWAN RISET NASIONAL 2006 .: Perguruan Tinggi. Badan/lembaga Litbang Pengguna a.

1) Kebutuhan sarana umum dibanding Badan/lembaga dan prasarana trans.AgendA Riset II PROGRAM DIFUSI DAN PEMANFAATAN IPTEK  INDIKATOR SASARAN NO KEGIATAN TARGET CAPAIAN KEBERHASILAN AKHIR 2025 KETERANGAN 2009 2009 Tersedianya informasi (a) Angkutan perkotaan 1) Tersedianya Penggunaan Pelaksana a. proporsi peran ang. dll) 2) Terseleng-garanya kajian tentang Angkutan Umum Masal perkotaan Tersedianya informasi tentang: 1) Kelayakan teknis 2) Kelayakan ekonomi 3) Konsep rekayasa pembiayaan yang mencakup antara lain: kelayakan finansial. bus. Sistem angkutan umum masal sudah terimplementasi di kota-kota besar di Indonesia Pelaksana a. sumber-sumber pembiayaan proyek. bus. dll) 5) Estimasi konsumsi BBM yang bisa dihemat akibat peningkatan penggunaan angkutan umum (kereta api. syarat-syarat pembiayaan.: Perguruan Tinggi.l. sumber-sumber pengembalian biaya investasi dan pola pengembalian biaya investasi.l.l.kendaraan pribadi Litbang. dll) 3) Dampak sosial peningkatan penggunaan angkutan umum (kereta api. Lembaga Penelitian. skenario pembiayaan proyek. Badan Litbang.l.: Pemerintah (Pusat dan Daerah) DEWAN RISET NASIONAL 2006 . pola kerjasama pemerintah dan swasta (public private partner-ship). Pemda kutan umum dibanportasi ding kendaraan sudah berada 2) Kebutuhan biaya pribadi (modal split) Pengguna a.: hasil kajian tentang tentang: dan angkutan angkutan umum Perguruan Tinggi. bus. dll) 4) Dampak lingkungan pe-ningkatan penggunaan angkutan umum (kereta api.: investasi penyediaan pada proporsi dalam kerangka yang tepat Pemda sarana dan prasasistem transportasi rana angkutan umum perkotaan (kereta api. bus. Pemda Pengguna a.

Penegak Hukum DEWAN RISET NASIONAL 2006 . serta me-matuhi etika berlalu lintas Pelaksana a.: Pemerintah (Pusat dan Daerah). Badan/lembaga Litbang Pengguna a.l. 2) Tingkat pemahaman pelaku perjalanan atas etika berlalu lintas serta undang-undang dan peraturan. AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 NO KEGIATAN INDIKATOR TARGET CAPAIAN KEBERHASILAN SASARAN KETERANGAN 2009 2009 AKHIR 2025 4) Sistem informasi transportasi antar moda 5) Kebijakan pendukung yang mencakup: (a) kebijakan tarif. ibu-ibu hamil. 4) Praktek penegakan hukum di lapangan 5) Teknik-teknik dan stra-tegi perbaikan perilaku berlalu lintas serta pendisiplinan penggunaan ruang jalan 6) Unit penampung keluhan dan saran-saran dari masyarakat Pelaku perjalanan dapat memahami undang-undang/ peraturan lalu lintas. (b) sistem tiket terpadu. 3) Terlaksananya riset Tersedianya informasi sosial tentang peritentang: laku pelaku perjalanan 1) Pengaruh etika berlalu yang terkait dengan lintas terhadap tingkat kajian tentang etika kemacetan dan tingkat berlalu lintas keselamatan.l. orang tua yang membawa bayi dan para penyandang cacat (f) strategi dan regulasi pemasaran (marketing) terutama untuk mengantisipasi persaingan yang tidak sehat. (c) pembatasan lalu lintas dengan menggunakan kebijakan fiskal maupun non-fiskal. 3) Praktek pengambilan SIM. (d) penggunaan komponen lokal (e) penyediaan fasilitas khusus bagi para lanjut usia.: Perguruan Tinggi.

: Perguruan Tinggi.l. sesuai tingkat kebutuhan Pelaksana a.: Pemerintah (Pusat dan Daerah). Penyedia jasa transportasi antar/multi moda (b) Transportasi antar/ multi moda 1) Terlaksananya kajian tentang model penyelenggaraan transportasi antar moda yang optimum Tersedianya: 1) Model kerjasama antara pemerintahswasta maupun swasta-swasta untuk pengembangan transportasi antar/multi moda 2) Sistem penjaminan resiko dan asuransi 3) Peraturan dan kelembagaan yang diperlukan Tersedianya konsep penerapan intermodal supply chain security Transportasi antar/multi moda sudah terselenggara dengan baik 2) Terselenggaranya kajian tentang intermodal supply chain security Konsep supply chain security sudah terimplementasi Pelaksana a.l. Penyedia jasa transportasi antar/multi moda 3) Terselenggaranya kajian tentang prototipe intermodal terminal Tersedianya prototipe tentang intermodal terminal Konsep intermodal terminal sudah diimplementasikan Pelaksana a.: Pemerintah (Pusat dan Daerah).AgendA Riset  NO KEGIATAN INDIKATOR TARGET CAPAIAN KEBERHASILAN SASARAN KETERANGAN 2009 AKHIR 2025 2009 4) Terselenggaranya kajian tentang ITS untuk mengurangi kemacetan lalu lintas Tersedianya informasi tentang peralatan Intelligent Transportation System (ITS) yang sesuai untuk Indonesia TS sudah terpasang di beberapa kota besar di Indonesia.: Perguruan Tinggi. Badan/lembaga Litbang Pengguna a.l.l.: Pemerintah. Pengelola terminal intermoda DEWAN RISET NASIONAL 2006 .l.: Perguruan Tinggi.: Perguruan Tinggi.l. Badan/lembaga Litbang Pengguna a.l.: Pemda Pelaksana a.l. Badan/lembaga Litbang Pengguna a. Badan/lembaga Litbang Pengguna a.

Kinerja pelayanan ningkatan reliability dan bisa dioptimumkan punctuality dalam rangka peningkatan kinerja pelayanan.l.: Pemerintah (Pusat dan Daerah). Badan/ lembaga Litbang Pengguna a. 5) Kebutuhan waktu dan biaya di setiap titik simpul transportasi akibat adanya perpindahan moda 6) Tahapan pengembangan sistem transportasi antar/multi moda serta biaya investasi yang dibutuhkan pada tiap tahapan 7) Kajian kelayakan ekonomi dan finansial Sistem transportasi antar/multi moda minimal di pulau Jawa.: Perguruan Tinggi. Industri (c) Diversifikasi dan konversi energi di sektor transportasi Terselenggaranya kajian tentang: 1) Konversi mesin kendaraan 2) Pengembangan kendaraan teknologi hybrid 3) Kebijakan pendukung yang diperlukan DEWAN RISET NASIONAL 2006 . Badan/lembaga Litbang Pengguna a.: Perguruan Tinggi.l. Sumatera dan Bali sudah diimplementasikan Pelaksana a.: Perguruan Tinggi. termasuk kinerja pelayanan di simpulsimpul transportasi Tersedianya: Konsumsi BBM dari 1) Teknik dan prosedur sektor transportasi konversi yang bisa dapat diminimumkan diakses oleh masyarakat luas.: Pemerintah (Pusat dan Daerah) 5) Terselenggaranya kajian tentang peningkatan kinerja Tersedianya konsep pe. Badan/lembaga Litbang Pengguna a. 2) Contoh mesin-mesin yang sudah dikonversi 3) Prototip kendaraan dengan teknologi hybrid 4) Kebijakan pendukung yang diperlukan.l. AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 NO KEGIATAN INDIKATOR TARGET CAPAIAN KEBERHASILAN SASARAN KETERANGAN 2009 2009 AKHIR 2025 4) Terselenggaranya kajian tentang rencana induk sistem transportasi antar/multi moda di daerah-daerah yang tingkat kebutuhannya sudah sangat tinggi Tersedianya informasi tentang: 1) Pola distribusi angkutan barang 2) Lokasi titik-titik simpul transportasi 3) Moda angkutan yang digunakan dan kompatibilitas antar moda 4) Prasarana yang dibutuhkan.: Pengelola prasarana transportasi Pelaksana a.l. termasuk penggunaan kendaraan tidak bermotor Pelaksana a.l.l.

Perguruan Tinggi. Badan/Lembaga Litbang Pengguna a. : kapan prasarana 2) Tersedianya sistem Badan/Lembaga dan sarana Iptek informasi mengenai Iptek yang dimiliki kompetensi serta ke2) Sistem informasi lengkapan prasarana mengenai kompedan sarana yang dimiliki oleh setiap tensi serta kelenglembaga Iptek kapan prasarana dan sarana Iptek yang tersedia pada masing-masing lembaga Iptek Terselenggaranya kajian tentang: 1) Teknik dan strategi peningkatan kompetensi lembaga iptek 2) Teknik dan strategi peningkatan kerjasama antara lemba-ga iptek dengan pengguna iptek (industri dan penyedia jasa transportasi) Tersedianya informasi tentang teknik dan strategi tentang: 1) Peningkatan kompetensi lembaga iptek 2) Kerjasama antara lembaga iptek dengan pengguna iptek (industri dan penyedia jasa transportasi) 1) Terdapat hubungan timbal balik saling menguntungkan antara lembaga iptek dengan peng-guna iptek 2) Hasil iptek sudah dimanfaatkan untuk meningkatkan efisiensi proses produksi. : Badan/Lembaga Iptek. lembaga Iptek yang dan sarana yang Puspiptek mencakup kompedimiliki oleh setiap tensi serta kelenglembaga Iptek Pengguna a. industri dan penyedia jasa transportasi (b) Peningkatan kompetensi lembaga iptek DEWAN RISET NASIONAL 2006 .AgendA Riset  II PROGRAM PENGUATAN KELEMBAGAAN IPTEK NO KEGIATAN (a) Model kerjasama kelembagaan Iptek INDIKATOR TARGET CAPAIAN KEBERHASILAN SASARAN KETERANGAN 2009 2009 AKHIR 2025 Terselenggaranya 1) Tersedianya Terwujudnya Pelaksana a.l.l. Perguruan kajian tentang: kompetensi serta ke.l.l. Badan/Lem1) Inventarisasi lengkapan prasarana lembaga Iptek baga Litbang. serta kualitas dan kuantitas hasil produksi Pelaksana a. : informasi tentang kerjasama dan si.: KRT.nergi positip antar Tinggi.KRT.

: Pemerintah (Pusat dan Daerah). dermaga penyeberangan. CNS/ATM Sudah tersedia informasi tentang: 1) Teknik dan strategi pengembangan sistem transportasi sungai dan danau serta keterpaduannya dengan moda transportasi yang lain 2) Peraturan. termasuk penerapan Airport air traffic service technology. : tentang: tentang: armada kapal Perguruan Tinggi. Pengelola prasarana transportasi DEWAN RISET NASIONAL 2006 . pelabuhan. : 3) Pengembangan kapal laut penumpelra yang Pemerintah (Pusat penggunaan kapal pepang se-suai dengan dan Daerah). CNS/ATM 3) Gambaran kelayakan teknis. lingkungan. kelembagaan serta kebijakan pendukung yang dibutuhkan 3) Kelayakan teknis. ekonomi dan finansial Sudah tersedia informasi tentang: 1) Daftar prasarana transportasi yang perlu ditingkatkan kualitas dan kapasitasnya 2) Daftar airport yang memerlukan penerapan Airport air traffic service technology.l.l.: Perguruan Tinggi. Penyenyeberangan (antara 3) Kebutuhan armada kebutuhan dia jasa transportasi lain Ro-Ro) kapal penyeberang2) Pelayanan ang. termasuk penerapan Airport air traffic service technology.l.l. Badan/lembaga Litbang Pengguna a. Badan/lembaga domestik dan Pelra kapal domestik dan barang dan Litbang 2) Kebutuhan kapal laut pelra penyeberangan penumpang 2) Kebutuhan armada termasuk kapal Pengguna a.: Pemerintah (Pusat dan Daerah). terminal. jalan. ekonomi dan finansial Sudah terselengaranya kajian tentang peningkatan kualitas dan kapasitas prasarana transportasi (jembatan. : Perguruan Tinggi. bandara. ekonomi dan finansial Sistem transportasi sungai dan danau sudah termanfaatkan secara optimum Pelaksana a. kelembagaan serta kebijakan pendukung yang dibutuhkan 3) Kelayakan teknis.l. dll). Badan/lembaga Litbang Pengguna a.antar pulau 4) Evaluasi pelayanan an (antara lain Ro-Ro) kutan perintis angkutan penumpang 4) Hasil evaluasi sudah sesuai perintis pelayanan angkutan dengan kebupe-numpang perintis tuhan Terselenggaranya kajian tentang: 1) Teknik dan strategi pengembangan sistem transportasi sungai dan danau serta keterpaduannya dengan moda transportasi yang lain 2) Peraturan. lingkungan. stasiun. 1) Pengembangan kapal 1) Kebutuhan armada penumpang. Penyedia jasa transpor-tasi sungai dan danau (b) Pengembangan sistem transportasi sungai dan danau (c) Peningkatan kualitas dan kapasitas prasarana transportasi.0 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 III PROGRAM PENINGKATAN KAPASITAS IPTEK SISTEM PRODUKSI NO KEGIATAN (a) Pengembangan transportasi antar pulau INDIKATOR TARGET CAPAIAN KEBERHASILAN SASARAN KETERANGAN 2009 AKHIR 2025 2009 Terselenggaranya kajian Tersedianya informasi 1) Sudah terdapat Pelaksana a.l. CNS/ATM Kualitas dan kapasitas prasarana transportasi sudah ditingkatkan sampai titik optimum Pelaksana a.

gudang. Puspiptek Pengguna a. kurikulum serta sarana dan prasarana yang dimilikinya 2) Program-program pengembangan SDM transportasi di institusi terkait khususnya bagi perencana. terminal sudah dapat ditingkatkan sampai titik yang optimum Pelaksana a. parkir. ekonomi dan finansial Sudah tersedia informasi tentang pelabuhan dan bandara khusus yang mencakup: 1) Daftar lokasi pelabuhan dan bandara khusus 2) Status kepemilikan 3) Data-data teknik 4) Kelengkapan sarana dan prasarana 5) Sisa kapasitas yang bisa dimanfaatkan 6) Gambaran kelayakan teknis serta ekonomi dan finansial Terersedianya: 1) Informasi tentang daftar lembaga diklat lengkap dengan kompetensi. Badan / Lembaga Litbang. regulator dan operator 3) Institusi-intitusi yang berkompeten dalam memberikan sertifikasi bagi SDM Kapasitas fasilitas bongkar muat yang mencakup antara lain dermaga.: Perguruan Tinggi.: Pemerintah Pusat dan Daerah. Badan/lembaga Litbang Pengguna a.l.: Perguruan Tinggi. parkir. kurikulum serta sarana dan prasarana yang dimiliki 3) Teknik dan strategi peningkatan kompetensi lembaga diklat Tersedianya SDM transportasi yang tersertifikasi sesuai sandar-standar internasional (IMO.: KRT.l.l.l. Pemilik/pengelola pelabuhan khusus dan bandara khusus (f) Peningkatan SDM transportasi Terselenggaranya kajian tentang: 1) Teknik dan strategi pengembangan SDM transportasi 2) Inventarisasi lembaga diklat.: Pemerintah (Pusat dan Daerah). (e) Pemanfaatan pelabuhan khusus dan bandara khusus untuk pelayanan umum Sudah terselenggaranya kajian tentang pemanfaatan pelabuhan dan bandara khusus untuk pelayanan umum Beberapa pelabuhan dan bandara khusus sudah dapat digunakan untuk pelayanan umum Pelaksana a.l.AgendA Riset  NO KEGIATAN INDIKATOR TARGET CAPAIAN KEBERHASILAN SASARAN KETERANGAN 2009 AKHIR 2025 2009 Sudah terselenggaranya kajian tentang peningkatan kapasitas fasilitas bongkar muat yang mencakup antara lain dermaga. gudang. terminal. operator. Badan/lembaga Litbang Pengguna a. Perguruan Tinggi. Sudah tersedia informasi tentang: 1) Daftar fasilitas bongkar muat yang perlu ditingkatkan 2) Kapasitas dan kinerja fasilitas bongkar muat 3) Sistem bongkar muat dan keserasian pindah moda 4) Kelayakan teknis. terminal. dll) dalam jumlah yang memadai Pelaksana a. parkir. kompetensi. Pengelola prasarana transportasi (d) Peningkatan kapasitas fasilitas bongkar muat yang mencakup antara lain dermaga. BSN DEWAN RISET NASIONAL 2006 . gudang. ICAO.: Pemerintah (Pusat dan Daerah).l.

teks.1 Latar Belakang Permasalahan Peradaban dunia pada masa ini dicirikan dengan fenomena perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) serta kecenderungan globalisasi yang berdampak luas di hampir semua bidang kehidupan. dari ilmu pengetahuan dan teknologi hingga mainan anak-anak.4. Karena manusia mengirim dan menerima informasi menggunakan inderanya (mata. Layanan-layanan baru tersebut pada dasarnya bertujuan memenuhi kebutuhan informasi yang disajikan dalam berbagai bentuk. informasi dan multimedia. Ketika mereka masih berkembang sendiri-sendiri dampak yang dihasilkan belum sebesar sekarang. informasi. dan suara. maka layanan ini pun berupaya menyajikan informasi dalam kombinasi berbentuk gambar. Konvergensi Teknologi Video Mobile/ Cellular phone DEWAN RISET NASIONAL 2006 . dan mulut).4 AGENDA RISET TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI 3. hidung. Data/Text Voice / Sound Multimedia platform web / internet terrestial/ Broadcast internet protocol Based Gambar 5. Salah satu pendorongnya adalah kemajuan teknologi dan konvergensinya yang membuahkan integrasi teknologi telekomunikasi. keduanya menghasilkan jenis-jenis layanan baru yang belum pernah terwujud sebelumnya. grafik. Namun ketika telekomunikasi telah memperkaya teknologi informasi. telinga. penggunaan berbagai media sebagai data masukan atau informasi keluaran dari kombinasi alat telekomunikasi dan komputasi menjadi suatu keniscayaan. dan multimedia seperti dalam Gambar 5. AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 3. Oleh karena itu. Fenomena inilah yang kemudian disebut sebagai konvergensi teknologi telekomunikasi.

serta kualitas kehidupan masyarakat. efektivitas komunikasi. pertumbuhan industri TIK juga ikut mendorong tumbuhnya kemampuan ilmu dan teknologi bangsa Indonesia. DEWAN RISET NASIONAL 2006 . kecerdasan pengambilan keputusan. dan migrasi dari sistem penyiaran analog ke digital. Oleh karena itu perlu ditingkatkan pengunaan perangkat lunak legal dan Open Source Software (OSS). informasi dan multimedia memerlukan langkah-langkah strategis. Pengembangan perangkat lunak berbasis open source juga sangat penting dalam menurunkan ketergantungan pada satu vendor tertentu dan mengembangkan pilihan-pilihan yang ekonomis dan dinilai paling sesuai bagi kebutuhan masyarakat. dan Ukraina (91%). sehingga membuka lapangan kerja dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. menjadi sangat penting kuatnya komitmen. Dalam konteks ini. Juli. Vietnam (92%). Berdasarkan data yang dilaporkan Business Software Alliance (BSA) dalam Global Software Piracy. seperti pengadaan sistem komunikasi masyarakat yang murah. baik pemerintah maupun kalangan pendidikan. Selain itu.AgendA Riset  Mewujudkan konvergensi teknologi komunikasi. sehingga ranking pembajak perangkat lunak ke empat akan semakin turun dan Indonesia keluar dari Priority Watch List. produk TIK dan daya kreativitas serta inovasi (seperti multimedia creative digital). 2004 terungkap bahwa Indonesia merupakan salah satu dari empat negara dengan pembajakan perangkat lunak terbesar yaitu 88%. kesehatan dll). Sistem-sistem ini merupakan infrastruktur dasar untuk mewujudkan daya guna TIK dalam membangun kemakmuran Indonesia. TIK juga berfungsi sebagai enabler yang merupakan dasar berbagai aplikasi dalam banyak aspek untuk meningkatkan produktivitas kerja. Selain itu. setelah China (92%). Kegairahan masyarakat luas dalam menggunakan aplikasi TIK akan mendorong tumbuhnya industri layanan TIK (seperti informasi dan layanan di bidang transportasi. serta sekaligus berupaya mengatasi permasalahan ini. penelitian dan pengembangan untuk secara proaktif mendorong kreativitas dan inovasi.

terutama agar roda pemerintahan dan layanan pemerintah dapat berjalan lancar. penguasaan sains dasar dan untuk membangun kemandirian di bidang TIK yang menjunjung tinggi nilai-nilai sosial kemanusian. 3. terutama agar seluruh masyarakat dapat menikmati manfaat TIK yang terjangkau. DEWAN RISET NASIONAL 2006 . terutama agar iptek yang strategis dikuasai lembaga nasional. Prioritas utama kegiatan riset bidang TIK terbagi dalam 4 kategori yaitu (1) Program penelitian dan pengembangan TIK untuk telekomunikasi masyarakat pedesaan berbasis Internet Protocol (IP) dan penyiaran berbasis digital (digital broadcasting). berkualitas dan efisien (hemat) pada target layanannya.4. untuk penyusunan kebijakan. terutama agar sektor layanan publik dapat berjalan dengan efektif. pengembangan SDM. serta masyarakat demokratis dapat terwujud. (2) Program difusi dan pemanfaatan TIK untuk modernisasi ekonomi lokal/daerah. peningkatan kemampuan SDM. sehingga menjadi produktif. dan masyarakat iptek dan lembaga risetnya menuju kelas dunia. industri (termasuk BUMN) menuju industri TIK global. dan bebas korupsi. pelayanan publik menuju e-Services. riset dasar. hemat. serta masyarakat iptek Indonesia tumbuh dalam lingkungan dan budaya yang kondusif menuju kelas dunia dalam menghasilkan iptek baru. regulasi dan standardisasi. dan kreatif.2. kepemimpinan (leadership) dan nilai-nilai sosial kemanusiaan. cerdas. pemerintah menuju e-Government. Arah Kebijakan dan Prioritas Utama Kegiatan riset bidang TIK diarahkan dan terkait dengan program strategis di berbagai sektor/bidang dan stakeholders yaitu: masyarakat menuju knowledge-based society. AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 Sehubungan dengan itu diperlukan langkah-langkah strategis dan prioritas untuk penelitian dan pengembangan. terutama agar industri nasional tumbuh berkembang dalam era persaingan global dan menjadi tuan rumah di Indonesia.

dalam rangka menciptakan iklim usaha yang kondusif bagi operator DEWAN RISET NASIONAL 2006 .AgendA Riset  serta pemanfaatan TIK berbasis perangkat lunak open source. 3. untuk pengembangan perangkat keras dan lunak murah. dan mampu membuat pemancar dan penerima serta aplikasi pada program penyiaran TV Digital.4. (3) Program penguatan kelembagaan TIK untuk pengkajian dan penyusunan kebijakan bidang teknologi informasi. untuk pengembangan klaster industri TIK. Target Capaian 2009 dan Sasaran 2025 (a) Target Capaian 2009: Target capaian tahun 2009 untuk program penelitian dan pengembangan TIK adalah diperolehnya teknologi telekomunikasi pedesaan berbasis IP atau Rural Next Generation Network (R-NGN). (4) Program peningkatan kapasitas iptek sistem produksi untuk Creative Digital. dan pembangunan ekonomi lokal/daerah. komunikasi dan broadcasting. untuk pengembangan standarisasi bidang TIK dan untuk penyusunan indikator dan statistik TIK. mampu mengembangkan prototipe produk TIK termasuk elektronika industri yang digunakan untuk substitusi impor atau sebagai basis pengembangan teknologi/industri nasional masa depan. peningkatan IPM (Indeks Pembangunan Manusia). pembinaan dan pelayanan audit/assessment TIK. komunikasi dan broadcasting sebagai landasan bagi kepastian hukum dan untuk menjamin penegakan hukum tanpa standar ganda. meningkatnya aplikasi TIK dalam pencapaian sasaran MDG (Millennium Development Goals).3. Untuk program penguatan kelembagaan TIK menargetkan tersedianya perangkat kebijakan/regulasi untuk bidang teknologi informasi. untuk pengembangan sistem pembiayaan dan skema insentif bagi pemajuan industri TIK serta untuk pengkajian. Sedangkan untuk program difusi dan pemanfaatan TIK akan menjadikan Open Source Software (OSS) sebagai alternatif perangkat lunak bagi pengembang maupun pengguna.

Industri software lokal memenuhi kebutuhan Nasional dan menyerap pasar regional. di mana jejaring protokol internet (internet protocol. regulasi dan standardisasi di bidang teknologi informasi. IP) sebagai intinya. (b) Sasaran 2025: Adapun sasaran yang diharapkan dicapai pada tahun 2025 adalah menjadikan Indonesia sebagai pusat teknologi dan mendominasi industri RNGN. skema pembiayaan. dan tersedianya indikator & statistik serta kajian tentang status dan perkembangan di bidang TIK. industri TIK nasional dapat berdaya saing.4. Program/Kegiatan (a) Penelitian dan Pengembangan Telekomunikasi Berbasis Internet Protocol (IP) untuk Masyarakat Perdesaan Penelitian dan pengembangan TIK untuk perdesaan didasarkan pada sistem komunikasi Next Generation Networks (NGN). kemandirian dalam industri teknologi digital broadcasting. produk-produk TIK yang semakin terjangkau oleh masyarakat pengguna. serta perkembangan investasi. dan skema insentif yang diperlukan bagi perkembangan industri TIK yang ada maupun yang baru/pemula. DEWAN RISET NASIONAL 2006 . pemanfaatan OSS sebagai alternatif software legal secara Nasional. Pengembangan aplikasi teknologi NGN untuk area pedesaan disebut Rural NGN (R-NGN). tersusunnya standar untuk menjamin interoperabilitas dan interkonektivitas berbagai perangkat keras dan perangkat lunak di bidang TIK. dan berkembangnya praktik baik/terbaik pendayagunaan TIK nasional. 3.4. dan menjadikan pusat budaya Indonesia yang berbasis digital. Untuk program peningkatan kapasitas iptek sistem produksi TIK menargetkan agar kegairahan kreativitas (creative excitement) dalam kehidupan melalui penggunaan teknologi digital secara artistik dapat lebih berkembang. berkembangnya lembaga pembiayaan. AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 dan industri TIK. komunikasi dan penyiaran yang terintegrasi.

Dengan demikian R-NGN diharapkan akan membawa internet sampai ke desa-desa. seperti satelit dan seluler. aplikasi. pengembangan produk. lapis pertama adalah Highly Predictable Networks (HPN). dan sekaligus memicu pengembangan industri dalam negeri. seperti fiber optics (FO) dan public switched telephone networks (PSTN). Wimax. dan multimedia coding and compression sebagai teknologi telepon. dalam pengembangan R-NGN diupayakan berbagai inovasi baik dalam aspek teknologi. Hambatan dalam pengembangan R-NGN terutama adalah kondisi alam tropis dan geografis Indonesia yang berbentuk negara kepulauan. dan tingkat daya beli masyarakat pedesaan yang umumnya masih rendah. Impelementasi R-NGN menggunakan pendekatan jejaring tiga lapis yaitu. sambil memberikan layanan telepon di atasnya. softswitch heterogeneous dengan DEWAN RISET NASIONAL 2006 . maupun dalam strategi penerapan (deployment). Jejaring ini sangat stabil. aspek ekonomi/bisnis. Sedangkan lapis kedua adalah Medium Predictable Networks (MPN). R-NGN menggunakan teknologi internet sebagai teknologi transport. Adapun teknologi kunci yang dibutuhkan bagi implementasi R-NGN meliputi: NGN berbasis IP menggunakan teknologi generasi 4 (4G). Selanjutnya lapis ketiga adalah Low Predictable Networks (LPN). Jejaring semacam ini menggunakan Wifi. smart wireless IP menggunakan smart antenna dan softradio.AgendA Riset  R-NGN ini diharapkan dapat menawarkan akses internet yang terjangkau bagi masyarakat di perdesaan. dan dimaksudkan untuk melayani kelompok masyarakat dengan populasi padat dan berpendapatan tinggi di kota-kota besar dan daerah urban. Oleh karena ini. Jejaring semacam ini melayani masyarakat berpendapatan menengah di daerah suburban dan kota kecil. dan teknologi mesh untuk melayani masyarakat ber-penghasilan rendah dan berpopulasi tidak padat di daerah perdesaan. multimedia dan creative excitement untuk pengembangan aplikasi. yang dibentuk berdasarkan prinsip jejaring adhoc.

Receiver dan Set Top Box dilaksanakan selama 2 (dua) tahun yaitu 2007-2008. Formatting) dan Program Stream Multiplex and Transport stream yang dilaksanakan dalam 2 (dua) tahun yaitu 2006-2007. Berhubung ketergantungan Indonesia dari komponen dan material DEWAN RISET NASIONAL 2006 . sehingga diperlukan inverter (set top box) yang dapat mengubah signal digital ke analog sehingga dapat dilihat dengan menggunakan pesawat TV biasa. dan sistem digital signal processing (DSP) low power berbasis komponen komoditas. dan dalam waktu yang cepat kondisi negara berkembang seperti Indonesia juga akan meninggalkan TV analog. tetapi dalam rangka menuju ke HDTV yang menjadi sasaran untuk 2025 atau bisa menjadi lebih cepat lagi. maka bentuk penyiaran seperti radio dan televisi juga mengalami perubahan teknologi dari sistem analog menjadi sistem digital. karena perkembangan dalam bidang digital ini akan dapat menjadi sangat cepat jika ada penemuan di bidang komponen. Oleh karena itu kegiatan pengembangan dan penelitian (R&D) yang harus dilakukan meliputi Packetized Elementary Streams (Coding. (b) Program pengembangan dan penelitian teknologi penyiaran berbasis digital (digital broadcasting) Salah satu kelebihan gambar digital adalah bebas dari “ghosts” dan “snow” seperti yang biasa terjadi pada TV analog. Sedangkan untuk modul: RF/Transmission System (modulasi 8-VSB). Dengan cepatnya perkembangan teknologi. sehingga dapat terintegrasi dengan sistem komunikasi dan komputer. Cable Head-End jika menggunakan sistem kabel (16-VSB). TV analog di negara maju diperkirakan dioperasikan sampai akhir 2008. Akan tetapi konsumen selalu menginginkan untuk menikmati teknologi yang paling baru dengan biaya yang murah. compression. AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 software suites untuk produktivitas operasi dan bisnis. Sistem yang dikembangkan tersebut belum HDTV.

masyarakat sudah bisa menikmati hasil TV digital. sehingga dengan receiver digital yang diterima dari satelit. walaupun belum HDTV. kemudahan bagi pengguna jasa. komunikasi dan broadcasting Program kajian regulasi untuk bidang teknologi informasi. DEWAN RISET NASIONAL 2006 . komunikasi dan broadcasting dapat meliputi penyusunan Undang-Undang (UU) baru dan penyempurnaan berbagai kebijakan dan regulasi yang terkait dengan teknologi informasi. 36/1999 yang dirasakan sudah mulai ketinggalan dengan perkembangan teknologi dan tuntutan masyarakat. serta harga yang ekonomis. pemancarnya sudah menggunakan digital dengan sistim QPSK. peraturan atau perijinan yang jelas. agar perkembangan industri TVD diharapkan dapat terwujud. komunikasi dan broadcasting. dan standardisasi. maka perlu ada dukungan yang jelas dalam industri tersebut. Tahap ini dapat disahkan Pemerintah dan menjadi model yang paling cepat untuk menuju ke broadcasting TVD. dalam perkembangan TV broadcasting yang ada di Indonesia saat ini. Penyelesaian Rancangan UU tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dan berbagai UU lain yang dapat mendorong pertumbuhan aplikasi IT sangat diharapkan dapat direalisasikan dalam waktu 2006-2009.TVD) harus didukung juga dengan kebijakan. yang dipancarkan ke Satelit. Selain itu. terutama TV swasta.AgendA Riset  bahan baku industri dari luar sangat tinggi. (c) Program kajian regulasi untuk bidang teknologi informasi. Untuk menuju suatu sistem baru seperti broadcasting televisi yang menggunakan sistem digital (Broadcasting Televisi Digital . Seperti penyempurnaan Cetak Biru Telekomunikasi dan UU Telekomunikasi No. Termasuk dalam kerangka regulasi ini adalah mempercepat terlaksananya proses kompetisi yang sebenar-benarnya dalam penyediaan jasa telekomunikasi sehingga dapat memberikan perbaikan kondisi layanan.

perlu ditekankan dan dicanangkan oleh pemerintah mulai kapan. (5) Kajian kebijakan pengembangan sistem kelembagaan TIK. penetapan kebijakan bahwa kita bangsa Indonesia akan menuju ke TVD. pemanfaatan Spektrum Frekuensi Radio sebagai sumber daya alam tersebut perlu dilakukan secara tertib. (6) Kajian kebijakan untuk perlindungan perangkat lunak produk nasional. pengembangan industri nasional. (7) Kajian kebijakan pengembangan industri TIK.0 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 Kegiatan kajian untuk regulasi lebih banyak berupa kajian untuk digunakan oleh badan regulator sebagai bahan referensi antara lain. sehingga infrastruktur yang diperlukan dapat direncanakan untuk dibangun. (d) Program pengembangan standardisasi bidang TIK Standardisasi dibidang TIK sebagai suatu unsur penunjang pembangunan mempunyai peran penting dalam usaha optimasi pendayagunaan sumber daya dan seluruh kegiatan pembangunan di bidang informasi dan komunikasi. Selain itu juga untuk menunjang tercapainya tujuan-tujuan strategis antara lain peningkatan ekspor bidang TIK. Perangkat standardisasi termasuk juga perangkat pembinaan dan pengawasan di dalam akan sangat berperan dalam peningkatan perdagangan dalam negeri dan internasional. sehingga tidak menimbulkan gangguan yang merugikan. (4) Kajian kebijakan pengembangan SDM TIK. DEWAN RISET NASIONAL 2006 . (2) Kajian kebijakan bidang digital broadcasting. dan perlindungan terhadap pemakai serta terwujudnya jaminan mutu perangkat informasi dan komunikasi. (1) Kajian kebijakan bidang penataan frekuensi. Dengan demikian standardisasi dapat digunakan sebagai alat kebijakan pemerintah untuk menata struktur ekonomi secara lebih baik dan memberikan perlindungan kepada umum. dan peningkatan efisiensi nasional. (3) Kajian kebijakan untuk infrastruktur Telekomunikasi dan Informasi. efisien dan sesuai dengan peruntukannya. peningkatan daya saing produk TIK dalam negeri terhadap barang-barang impor.

(2) Standardisasi perangkat sistem telekomunikasi berbasis IP. (4) Standardisasi untuk audit sistem informasi. leadership dan nilai-nilai sosial kemanusiaan Perkembangan suatu teknologi termasuk TIK didukung oleh dua pilar pertahanan yang kokoh. (6) Standardisasi profesi TIK (e) Program difusi dan pemanfaatan TIK untuk riset dasar. 3) kajian dampak sosial kemanusiaan yang terkait dengan bidang TIK. Kemajuan teknologi ditentukan oleh penguasaan ilmu pengetahuan (termasuk riset dasar). (3) kajian dampak DEWAN RISET NASIONAL 2006 . Untuk itu perlu dilakukan kajian: 1) kajian dukungan riset dasar pada bidang TIK. Kegiatan dari riset dasar yang mendukung TIK antara lain: 1) kajian mitigasi bencana dengan menggunakan sarana prasarana TIK. Kualitas lebih baik dari SDTV tapi belum sebaik HDTV. sedangkan perkembangan pasar tidak lepas dari kondisi sosial budaya masyarakat. (5) Standardisasi hardware dan software open source. (1) Standardisasi Digital Broadcasting. yakni kemajuan teknologi dan perkembangan pasar yang semakin meluas. pengembangan SDM. Enhanced Definition TV (EDTV) adalah satu step lebih baik dari televisi analog.AgendA Riset  Kegiatan pengembangan untuk standardisasi lebih banyak berupa kajian untuk melihat komponen yang diperlukan dilakukan standardisasinya antara lain. 2) kajian pengembangan SDM dan leadership TIK. 2) kajian material yang menunjang pengembangan bidang TIK. dalam perkembangan teknologi TVD ada beberapa standar yang saat ini digunakan. yaitu: Standard Definition TV (SDTV) merupakan kualitas dasar display dan resolusi untuk analog maupun digital. teknologi baru dan SDM. High Definition TV (HDTV) dengan layar lebar(16:9) memberikan kualitas gambar dan resolusi yang tinggi. (3) Standardisasi perangkat dan komponen penyelenggaraan penyiaran digital.

yang terkait dengan infrastruktur dan peralatan (device) informasi dan komunikasi. Kajian-kajian tersebut antara lain adalah: (1) kajian kesetaraan Akses Masyarakat pada fasilitas TIK. (4) kajian pembentukan Chief Information Officer (CIO) pada setiap institusi. AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 lingkungan Electromagnetic Compatibility (EMC) terhadap kehidupan. dan implikasinya pada komunikasi lintas-kultural dan pada kualitas pendidikan publik. Kegiatan Kajian pengembangan SDM dan kepemimpinan (leadership) antara lain: (1) kajian strategi dan kapasitas pengembangan SDM bidang TIK. melanggar undang-undang Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI). jender. Secara Internasional. (2) kajian isu pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk pemeliharaan dan pengembangan bahasa dan pengetahuan indigeneous. (3) kajian kesetaraan strata sosial. artinya dapat dikembangkan lagi sesuai kebutuhan pengguna. (4) penelitian teori dasar dan elektronika bidang TIK. menengah dan tinggi untuk pengajaran bidang TIK. (3) kajian pengembangan kurikulum di pendidikan dasar. Kegiatan Kajian Sosial Kemanusiaan di bidang TIK ditujukan untuk meningkatkan peluang keberhasilan difusi TIK dan perubahan sosial kemanusiaan yang diimplikasikannya. Indonesia masih termasuk dalam daftar Negara prioritas untuk diawasi (Priority Watch List) berdasarkan usulan International Intellectual Property Alliance (IIPA) kepada United State Trade of DEWAN RISET NASIONAL 2006 . yang merupakan perangkat lunak yang sumbernya atau kode programnya terbuka. OSS ini menjawab tantangan yang disebabkan oleh banyak beredarnya perangkat lunak bajakan atau illegal. (2) kajian kompentensi standard SDM di bidang TIK. regional (kewilayahan). (f) Program difusi dan pemanfaatan TIK untuk perangkat keras dan lunak berbasis open source Salah satu isu global tentang TIK adalah Open Source Software (OSS).

sebelum menjatuhkan pilihan. dan aplikasi untuk sistem peringatan dini suatu bencana alam. Pilihan ini sangat relevan diwacanakan terutama berkaitan dengan resahnya kalangan Usaha Kecil dan Menengah yang sedang menghadapi razia (sweeping) karena diduga menggunakan perangkat lunak bajakan. bahwa perangkat lunak open source merupakan pilihan rasional yang tidak kalah kelas dengan perangkat lunak yang berbasis proprietary. Rebranding perangkat lunak RI berbasis OS. besar atau kecil. (1) kajian pengembangan Indonesia Go Open Source (IGOS). Namun demikian.AgendA Riset  Representative (USTR). (4) pengembangan perangkat keras murah berbasis sistem thin/thick clients. sebenarnya gerakan pengembangan open source sudah merupakan kecenderungan (trend) terutama di dunia pendidikan dan penelitian. masyarakat tentu harus diyakinkan. Adapun kegiatan difusi dan pemanfaatan iptek TIK untuk perangkat keras dan lunak berbasis OSS antara lain. salah satunya karena dianggap belum berhasil dalam mengatasi pembajakan perangkat lunak komputer. (3) pengembangan Isi (Content) dalam pemanfaatan data dan informasi IPTEK. Hal ini perlu ditegaskan kembali. karena sebagian masyarakat masih meragukan kualitas perangkat lunak open source. Karena itu. untuk meningkatkan akselerasi pendayagunaan OSS di Indonesia. industri dan dunia usaha untuk perangkat lunak berbasis Open IT Standard. (g) Program peningkatan kapasitas iptek TIK untuk creative digital TIK telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari produktivitas semua organisasi. komitmen harus dimulai dengan dimilikinya keyakinan bahwa pemanfaatan perangkat lunak open source dapat menjadi salah satu alternatif sebagaimana halnya perangkat lunak proprietary. Kalau dicermati perkembangan di luar negeri. (2) pengembangan aplikasi berbasis OSS untuk penelitian. Revolusi multimedia membuka jalan bagi integrasi daya ekspresi seni dan kultural manusia/masyarakat DEWAN RISET NASIONAL 2006 .

Misi dari multimedia center: menghasilkan creative excitement bagi pengem­ bangan industri seni digital Indonesia yang sustainable. misi dari program ini adalah memberikan sentuhan dan kandungan seni digital pada berbagai produk dan jasa industri nasional. Ini pada gilirannya akan menjadi faktor penting dalam penciptaan nilai ekonomi dan pemerataan kesejahteraan melalui TIK. Segmen pasar potensial bagi industri multimedia sangat luas. Lebih dari itu. karena mencakup area global. Dengan perkataan lain. yang dicapai melalui penambahan nilai ekonomik. AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 ke dalam TIK. DEWAN RISET NASIONAL 2006 . Valusable Useful Creative Excitement New Technology Artistic Gambar 6. perkembangan industri multimedia di Indonesia memiliki pijakan untuk bisa berkelanjutan (sustainable). nilai daya guna. Bagi bangsa Indonesia yang kaya akan keanekaragaman budaya dan seni. sehingga produk dan jasa tersebut memiliki daya tarik dan kegairahan kreatif. oleh karena adanya modal budaya dan seni bangsa Indonesia yang sangat besar. volume transaksi pasar juga sangat besar. dan diperkirakan akan tumbuh seiring dengan perkembangan ekonomi global. Seperti terlihat pada Gambar 6. dan nilai kebaruan karena menggunakan teknologi baru. nilai artistik. Program creative digital memiliki misi untuk menumbuhkembangkan kegairahan kreatif (creative excitement) melalui penggunaan tekhologi digital secara artistik. Dengan demikian. revolusi multimedia membuka peluang untuk menumbuhkembangkan kegiatan-kegiatan yang mempunyai kreativitas seni yang tinggi baik di perkotaan maupun di perdesaan. kegairahan kreatif ini disematkan (embedded) di dalam produk dan jasa industri di Indonesia.

dan insan budaya kreatif. dengan memanfaatkan aset seni digital. Yogyakarta. dengan lokasi (di tahap awal ini) di Bandung. Dalam kerangka upaya mencapai sasaran misi tersebut. telah digagas pendirian Pusat Multimedia Internasional (International Multimedia Center). Di masa depan.AgendA Riset  Masukan utama dari program ini adalah aset yang intangible. Luaran atau outcome utama program ini adalah tumbuh berkembangnya berbagai bentuk creative excitement. para insan seni digital. dan mengembangkan kompetensi dan aset intangible di bidang multimedia. dan Bali. insan teknologi multimedia. dengan tujuan untuk menstimulasi dan memacu tumbuhnya industri TIK multimedia. Dalam pusat multimedia ini juga terdapat proses produksi internal untuk menghasilkan produk dan jasa seni digital yang bernilai creative excitement. memelihara. Pusat ini bertujuan untuk membangun. program creative excitement diharapkan menjadi sebuah basis penting bagi pengembangan bisnis Indonesia yang unggul dalam industri multimedia artistik di tingkat internasional DEWAN RISET NASIONAL 2006 .

Prototip.: • Masyarakat di daerah pedesaan • UKM akan mengembangkan konten diberbagai aspek B PROGRAM PENGEMBANGAN DAN PENELITIAN TEKNOLOGI PENYIARAN BERBASIS DIGITAL (digital BroadCasting) (1) Pengembangan Perangkat lunak untuk digital broadcasting yaitu : Coding. LPND Ristek dan R&D Industri Program USO berhasil • Menggalang Konsorsium KITNAS • Depkominfo mengadopsi R-NGN sebagai sistem komunikasi rural Digital Divide di terintegrasi dengan Indonesia teratasi HPN dan MPN • Operator Nasional dan Daerah Industri Indonesia berinvestasi menjadi kekuatan global mengoperasikan R-NGN dengan high performance low cost system Pusat teknologi R-NGN dunia Pengguna a.l.: • Program lisensi teknologi dan R&D bersama di lembaga Dominasi industri penelitian perguruan R-NGN tinggi. Testbed Produk masuk pasar dan lulus sertifikasi Operasi R-NGN berhasil di daerah target Pelaksana a. Compression.l. 2006 Tersedianya Industri perangkat komponen untuk penyelenggaraan penyiaran TV Digital Program Penyiaran TV Pelaksana Kegiatan a. formatting dan Multiplexing. AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 I PROGRAM PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN IPTEK NO TARGET CAPAIAN TAHUN INDIKATOR SASARAN 2005 KETERANGAN A PROGRAM PENGEMBANGAN DAN PENELITIAN TELEKOMUNIKASI BERBASIS IP UNTUK MASYARAKAT PEDESAAN (1) Penguasaan Teknologi R-NGN (2) Pengembangan produk R-NGN oleh industri nasional (3) Pengoperasian produk R-NGN pada Testbed/ daerah USO (4) Sistem R-NGN digunakan di seluruh Indonesia (5) Sistem R-NGN digunakan di pasar dunia ketiga 2006-2012 2006 Dihasilkannya Paten. 2007 2008 Sistem R-NGN beroperasi di seluruh desa Ekspor produk R-NGN dan penggelaran R-NGN di luar Indonesia 2010-2012 DEWAN RISET NASIONAL 2006 . Paper.l.: Digital dengan teknologi • Depkominfo melakukan kajian dan mengeluarkan HDTV regulasi untuk digital Broadcasting.

informasi dan broadcasting yang terintegrasi Pelaksana Kegiatan a.AgendA Riset  NO TARGET CAPAIAN TAHUN (2) Pengembangan Perangkat keras untuk digital broadcasting yaitu: RF Transmitter. • Depkominfo mengeluarkan regulasi baru. • DRN membuat e-performance untuk peneliti 2006 Tersedia sistem kompetisi dan tarif akses komunikasi dan informasi yang terjangkau Tersedianya regulasi perijinan frekuensi yg komprehensif Tersedianya regulasi SDM di bidang TIK 2006 2006 DEWAN RISET NASIONAL 2006 . • Industri atau BUMN memproduksi komponen pendukung dan perangkat yang sesuai dengan standard Pengguna a.l. • BSN mengeluarkan standar sistem penyiaran digital. Set Top Box dan Receiver (3) Pelaksanaan penyiaran TV dengan sistem dan teknologi Digital di Indonesia 2007 INDIKATOR Tersedianya Industri set top box dan receiver SASARAN 2005 Program Penyiaran TV Digital dengan teknologi HDTV KETERANGAN Pelaksana al: • LPND Ristek dan Universitas melakukan inovasi IPTEK digital Broadcasting. KOMUNIKASI DAN BroadCasting (1) Kajian regulasi untuk infrastruktur Telekomunikasi dan Informasi (2) Kajian regulasi kompetisi dan tarif untuk telekomunikasi dan Informasi (3) Kajian regulasi untuk penggunaan frekuensi (4) Kajian regulasi pengembangan SDM dibidang TIK 2006 Tersedianya regulasi infrastruktur bidang TIK Regulasi di bidang teknologi.: • Masyarakat Indonesia • Lembaga penyiaran akan mengembangkan konten dalam berbagai aspek 2008 Terimplementasikannya penyiaran digital C PROGRAM KAjIAN REGULASI UNTUK BIDANG TEKNOLOGI INFORMASI.l.: • Depkominfo berkoordinasi dengan semua lembaga litbang dan LPND Ristek untuk membuat kajian beberapa regulasi. • Depkominfo mensosialisasi regulasinya ke semua stake holders dan DPR.

 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 NO TARGET CAPAIAN TAHUN (5) Kajian regulasi pengembangan sistem kelembagaan dibidang TIK (6) Kajian regulasi untuk sistem dan teknologi penyiaran digital (7) Penyusunan Peraturan dan Perijinan untuk Penyiaran yang menggunakan Sistem Digital (8) Kajian sistem kovergensi teknologi informasi dan komunikasi (9) Kajian regulasi untuk perlindungan perangkat lunak produk nasional (10) Kajian regulasi pengembangan industri dibidang TIK 2006 INDIKATOR Tersedianya regulasi kelembagaan di bidang TIK SASARAN 2005 KETERANGAN 2007 Tersedianya regulasi untuk sistem dan teknologi penyiaran digital Tersedianya regulasi sistem digital 2007 2007 Tersedianya sistem konvergensi yang terintegrasi Tersedianya regulasi open source 2008 2009 Tersedianya regulasi industri dibidang TIK DEWAN RISET NASIONAL 2006 .

AgendA Riset  NO TARGET CAPAIAN TAHUN INDIKATOR SASARAN 2005 KETERANGAN D PROGRAM PENGEMBANGAN STANDARDISASI BIDANG TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI (1) Penyusunan standardisasi perangkat sistem telekomunikasi berbasis IP (2) Penyusunan standardisasi perangkat dan komponen penyelenggaraan penyiaran digital (3) Standardisasi untuk audit sistem informasi (4) Penyusunan standardisasi hardware dan software open source (5) Penyusunan standard profesi dibidang TIK (6) Penyusunan standard diseminasi informasi mitigasi bencana 2006 Tersedianya standardisasi teknologi NGN Selesainya semua Standardisasi dibidang TIK Pelaksana a.l. gempa bumi dan gunung berapi 2007 DEWAN RISET NASIONAL 2006 . : • Semua komunitas yang bergerak dibidang Informasi dan Komunikasi 2007 Tersedianya standardisasi perangkat sistem digital broadcasting 2007 Tersedianya RUU tentang audit sistem informasi Tersedianya standardisasi untuk OSS 2007 2007 Tersedianya standardisasi keprofesian bidang TIK Tersedianya standardisasi mitigasi bencana alam tsunami.l. • Depkominfo berkoordinasi dengan semua lembaga litbang dan LPND Ristek untuk membuat kajian beberapa standardisasi dibidang TIK. • Depkominfo melakukan sosialisasi ke berbagai stakeholders • BSN mngeluarkan standard TIK Pengguna a.

: LPND Ristek. Litbang Departemen dan Perguruan tinggi.0 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 II PROGRAM DIFUSI DAN PEMANFAATAN IPTEK NO TARGET CAPAIAN TAHUN INDIKATOR SASARAN 2005 KETERANGAN E PROGRAM DIFUSI DAN PEMANFAATAN TIK UNTUK RISET DASAR.l.l. (4) Penelitian teori dasar dan elektronika bidang TIK. PENGEMBANGAN SDM. menengah dan tinggi untuk pengajaran bidang TIK 2007 Diperolehnya early warning system yang terpadu Diperolehnya teknologi baru di bidang TIK dari penguasaan ilmu-ilmu dasar Pelaksana a. Pengguna a. : Masyarakat dan kalangan industri TIK 2008 Diproduksinya jenis material khusus untuk bidang TIK Diidentifikasinya dampak EMC 2009 2007 Diperolehnya teknologi baru baik hardware dan software Diperoleh grand strategy pengembangan SDM TIK Indonesia Diperolehnya SDM mampu berkompetisi secara global dan kader kepemimpinan yang good governance 2007 2007 Diperolehnya standard kompetensi untuk seluruh profesi TIK Diperolehnya kurikulum yang berbasis kompetensi di bidang TIK 2007 DEWAN RISET NASIONAL 2006 . (5) Kajian strategi dan kapasitas pengembangan SDM bidang TIK (6) Kajian kompentensi standard SDM di bidang TIK (7) Kajian pengembangan kurikulum di pendidikan dasar. leadership DAN NILAI-NILAI SOSIAL KEMANUSIAAN (1) Kajian mitigasi bencana dengan menggunakan sarana prasarana TIK (2) Kajian material yang menunjang pengembangan bidang TIK (3) Kajian dampak lingkungan Electromagnetic Compatibility (EMC) terhadap kehidupan.

AgendA Riset  NO TARGET CAPAIAN TAHUN (8) Kajian pembentukan Chief Information Officer (CIO) pada setiap institusi. yang terkait dengan infrastruktur dan peralatan (device) informasi dan komunikasi. dan implikasinya pada komunikasi lintas-kultural dan pada kualitas 2008 INDIKATOR Diperolehnya aturan dan organisasi CIO SASARAN 2005 KETERANGAN 2008 Diperolehnya pelayanan publik berbasis TIK yang merata bagi seluruh masyarakat Diperolehnya database bahasa dan budaya bangsa Indonesia 2008 Kesetaraan untuk mendapatkan fasilitas TIK bagi seluruh masyarakat Indonesia dan kelestarian nilai-nilai budaya dari berbagai daerah di Indonesia 2009 Diperolehnya identifikasi dampak pengembangan TIK DEWAN RISET NASIONAL 2006 . jender. (9) Kajian kesetaraan akses masyarakat pada fasilitas TIK (10) Kajian isu pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk pemeliharaan dan pengembangan bahasa dan pengetahuan indigeneous (11) Kajian kesetaraan strata sosial. regional (kewilayahan).

: Masyarakat Pengguna Aplikasi Perangkat Lunak dalam berbagai bidang 2007-2010 (3) Pengembangan industri pendukung OSS (4) Pembuatan komputer murah 2008 2007 Tersedianya komputer murah.l.l. • Komunitas IT melakukan pengembangan repository. lembaga penelitian. technology partners dan industri IT bekerjasama dlm pengembangan pusat pelatihan dan inkubator bisnis. • Pengembang lokal bekerjasama dalam pengembangan modul-modul aplikasi OSS. Vietnam (92%). • Industri software lokal memenuhi kebutuhan Nasional dan menyerap 20 % pasar regional • Pemanfaatan industri komputer murah • Seluruh desa terhubung dengan ICT (2015) • Terbentuk community access point (2015) • Seluruh universitas terhubung ICT (2005) • Seluruh SLTA dan SLTP terhubung ICT(2010) • Seluruh SD terhubung ICT (2015) • Rumah sakit terhubung dengan ICT (2005) • Pusat kesehatan terhubung dengan ICT (2010) • Semua instansi pemerintah pusat punya website dan email (2005) • Pemda punya website dan e-mail (2010) • Penyebaran radio diseluruh Indonesia (2010) • Penyiaran TV ke seluruh Indonesia (2015) • Menurunnya % pembajakan di Indonesia (88%). AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 NO TARGET CAPAIAN TAHUN INDIKATOR SASARAN 2005 KETERANGAN F PROGRAM DIFUSI DAN PEMANFAATAN IPTEK TIK UNTUK PERANGKAT KERAS DAN PERANGKAT LUNAK BERBASIS open soUrCe (1) Pengembangan repository (2) Pengembangan OSS 2006 Terbentuknya repository OSS • Tersedianya modulmodul aplikasi OSS untuk e-gov dan e-bisnis • Tersedianya Tersedianya industri pendukung OSS • Pemanfaatan OSS sebagai alternatif software legal sebanyak 50 % secara Nasional. Ukraina (91%) )menjadi lebih rendah (2010) Pelaksana a. seperti thin/thick clients DEWAN RISET NASIONAL 2006 . Pengguna a. : • Depkominfo dan MENPAN dalam penyusunan kebijakan. • Perguruan tinggi. dari urutan ke 4 (setelah Cina (92%).

animasi) (5) Pengembangan ekonomi berbasis kreatifitas digital (6) Pengembangan simulasi dan pemodelan 2006 2006 Center di Bandung. dan budaya kreatif Produk kreativitas digital masuk pasar. sumber daya teknologi multimedia. : • Komunitas budaya dan pariwisata Indonesia Perangkat lunak simulasi dan pemodelan • Lembaga Penyiaran Publik DEWAN RISET NASIONAL 2006 . grafik.l.l.: • Perguruan Tinggi dan LPND Ristek melakukan Program R&D pengembangan perangkat lunak dan perangkat keras • Departemen Pariwisata dan budaya menggalang industri berinvestasi di daerah potensial • UKM pariwisata memasarkan produk budaya Indonesia kedunia • Industri melakukan Pengembangan klaster industri kreatif 2007 Produk budaya Indonesia mendunia 2007 Kualitas teknologi kelas dunia Industri kreatif Indonesia memberikan kontribusi signifikan bagi GDP Indonesia 2010 Volume produksi industri kreatif. Jogja.AgendA Riset  IV PROGRAM PENINGKATAN KAPASITAS IPTEK SISTEM PRODUKSI NO TARGET CAPAIAN TAHUN INDIKATOR SASARAN 2005 KETERANGAN G PROGRAM PENINGKATAN KAPASITAS IPTEK TIK UNTUK CREATIvE DIGITAL (1) Pembentukan Pusat Multimedia (2) Pengembangan dan sustainabilitas aset kreatif kultural nasional (3) Embedding creative excitement dalam industri Indonesia (4) Penguasaan teknologi kreatif (3D. dan Kualitas desain produk meningkat Output riset kelas dunia Pusat Kompetensi digitalisasi kultur Pusat budaya digital Pelaksana a. dan Bali Sumber daya manusia seniman digital. serta lapangan pekerjaan Tersedianya simulasi dan pemodelan untuk mitigasi bencana 2007 Pengguna a.

 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 3. Namun yang tidak kalah penting adalah komit- DEWAN RISET NASIONAL 2006 . illegal logging. Hal tersebut terlihat dari kerjasama informal yang terjalin selama ini antara industri hankam nasional (BUMNIS) dengan TNI sesuai dengan kebutuhan masing-masing di lapangan. Walaupun masih sangat terbatas.1. bahwa untuk mendukung upaya kemandirian di bidang pemenuhan kebutuhan alutsista. Jadi dapat dikatakan. SDM. saat ini Indonesia telah memiliki beberapa elemen dasar. Adanya kemandirian—meskipun tidak sepenuhnya—dalam pertahanan negara menjadi suatu keharusan yang mendasar yang perlu disadari oleh seluruh unsur masyarakat dalam kerangka NKRI. selain tindakan tegas pemerintah. industri hankam nasional dewasa ini telah memiliki kemampuan dalam membantu penyediaan dan pemeliharaan alutsista yang dibutuhkan untuk mendukung program memberantas gangguan keamanan.5. Upaya untuk mengatasi meningkatnya gangguan keamanan berupa terorisme. AGENDA RISET TEKNOLOGI PERTAHANAN DAN KEAMANAN 3. lembaga litbang dan dukungan perguruan tinggi yang memberikan penguatan kompetensi sains dasar. Latar Belakang Permasalahan Pengalaman menunjukkan bahwa ketergantungan sistem persenjataan pada negara lain sangat rawan bagi operasi TNI dalam mempertahankan dan menegakkan kedaulatan NKRI. yaitu industri strategis hankam. Kesiapan dan penerimaan masyarakat dengan jalan mengeliminasi sejauh mungkin resistensi masyarakat yang diakibatkan oleh ketidakadilan dalam praktek kehidupan di lapangan dan penguatan nilai dan wawasan kebangsaan.5. Embargo suku cadang alat utama sistem senjata (alutsista) dan berbagai bentuk larangan penggunaan peralatan militer dalam operasi pemulihan keamanan dalam negeri oleh pihak lain menyadarkan pentingnya membebaskan diri dari ketergantungan ini. illegal fishing dan tindak kriminal lainnya disamping memerlukan dukungan peralatan khusus juga memerlukan dukungan masyarakat.

dan alat-alat DEWAN RISET NASIONAL 2006 .AgendA Riset  men pimpinan nasional dan dukungan seluruh elemen penyelenggara negara untuk bersikap dan bertindak nyata mendukung upaya merealisasikan kemandirian di bidang peralatan dan persenjataan hankam dengan segala konsekuensinya. optronik ESM). penguasaan iptek.5. Arah Kebijakan dan Prioritas Utama Program pembangunan iptek bidang teknologi hankam diarahkan untuk: (a) memenuhi kebutuhan alutsista. melalui roadmap yang bersifat kuantitatif dan rancangan strategis hankam yang terpadu. yang tercermin dalam penyediaan alokasi anggaran untuk hankam dan adanya peraturan perundang-undangan khusus yang sesuai dengan kepentingan pertahanan dan keamanan negara. (b) teknologi pendukung daya tempur. peluru kendali. (b) meningkatkan penguasaan kapabilitas iptek hankam di kalangan industri nasional melalui regulasi kelembagaan dan penanganan alokasi pendanaan yang khusus.2. dan rekayasa untuk aplikasi hankam di kalangan perguruan tinggi dan lembaga iptek nasional untuk mencapai keunggulan bangsa berbasiskan kemandirian. (e) memberikan peluang kepada industri strategis bidang hankam untuk berinovasi sehingga mampu menjaga kelangsungan hidup industri secara ekonomi. laut maupun udara. sesuai dengan kebutuhan operasional yang mempunyai efek penangkal yang tinggi. yaitu rancang bangun rekayasa alat angkut/wahana dan suku cadang baik darat. bom. baik perangkat keras maupun perangkat lunak berteknologi terbaru. alat optik/alat bidik. (d) mengikuti standardisasi sarana hankam pangsa pasar dunia. (c) meningkatkan pemahaman. roket. ranjau. bahan peledak. perangkat surveillance (radar. 3. Prioritas utama kegiatan penelitian dan pengembangan iptek teknologi hankam meliputi: (a) teknologi pendukung daya gerak. antara lain rancang bangun rekayasa sistem persenjataan meriam kaliber 20 mm ke atas.

yang dalam jangka pendek dititikberatkan pada pengamanan wilayah perbatasan. (c) teknologi pendukung Komando Kendali Komunikasi dan Intelijen (K3I). (c) penyusunan format regulasi pendanaan yang kreatif dalam mendukung pembangunan sistem pertahanan dan keamanan negara (sishankamneg). (d) pelibatan aktif kalangan LPND Ristek.5. yang dilengkapi dengan senjata. jembatan gantung. bom. roket. (d) teknologi pendukung bekal/alat khusus. mortir. alat deteksi radiasi nuklir. pulau-pulau terluar dan wilayah rawan konflik. Target Capaian Tahun 2009 dan Sasaran Tahun 2025 Target capaian tahun 2009 yang diharapkan dari program pembangunan iptek teknologi hankam adalah (1) terwujudnya dukungan wahana/alat angkut ringan dan sedang. biodefence.3. laut maupun udara serta terpenuhinya suku cadang dan pemeliharaan secara mandiri. peluru kendali jarak pendek) serta pemeliharaannya secara mandiri. bahan baku propelan. Untuk mencapai hasil rancang bangun rekayasa tersebut diatas diperlukan: (a) dukungan sains dasar untuk menjamin kualitas produk. (4) terwujudnya kemandirian perbekalan TNI dan Polri secara penuh berdasar- DEWAN RISET NASIONAL 2006 . (3) terwujudnya kemandirian perangkat K3I guna mendukung operasi taktis dan operasi strategis secara terbatas. baik darat. senjata anti tank. perguruan tinggi dan industri nasional guna menghasilkan pasokan teknologi kebutuhan alutsista. dan dukungan sosial kemanusiaan untuk mengkondisikan kesiapan dan partisipasi masyarakat dalam pengembangan dan pengelolaan sistem ketahanan nasional dan industrialisasi di sektor pertahanan keamanan negara. (2) terwujudnya dukungan sistem senjata tingkat sedang (meriam 20 mm ke atas. (b) keterpaduan dalam meningkatkan dan mengembangkan kemampuan industri hankam domestik. 3. antara lain rancang bangun rekayasa rompi anti peluru. dan bekal/alat khusus pelaksanaan kamtibmas. AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 komunikasi.

DEWAN RISET NASIONAL 2006 . meriam tank. (d) Rancang bangun dan rekayasa bom untuk pesawat. dengan didukung oleh program difusi dan pemanfaatan iptek. (b) Rancang bangun dan rekayasa sistem persenjataan meriam/ artileri (kaliber 20 mm ke atas). Adapun sasaran yang diharapkan dicapai tahun 2025 adalah : (1) terwujudnya kemandirian produk wahana/alat angkut berat yang bernilai strategis. laut maupun udara antara lain kendaraan tempur/ tank. (3) terwujudnya kemandirian perangkat K3I guna mendukung operasi strategis secara penuh (4) terwujudnya kemandirian dalam pengadaan suku cadang alat utama canggih dan terwujudnya produk rancang bangun dan perekayasaan secara mandiri yang siap diproduksi secara masal. program penguatan kelembagaan iptek dan program peningkatan kapasitas iptek sistem produksi. 3. laut dan udara. (c) Rancang bangun dan rekayasa peluru kendali dan roket. (2) terwujudnya kemandirian sistem persenjataan berat secara terbatas antara lain senjata artileri. (e) Rancang bangun alat optik dan alat bidik.4. kapal kombatan. pesawat tempur. ranjau laut dan alat penjinak bahan peledak/bom.AgendA Riset  kan pasokan industri dalam negeri dan (5) meningkatnya kemampuan penguasaan teknologi untuk membuat suku cadang alutsista serta rancang bangun dan perekayasaan produk teknologi canggih.(f) Rancang bangun dan rekayasa bahan peledak/propelan. Program Program Penelitian dan Pengembangan Iptek Program penelitian dan pengembangan iptek bidang teknologi hankam dititik-beratkan pada kebutuhan solusi atas permasalahan alutsista yang dihadapi. Sesuai dengan permasalahan yang dihadapi program penelitian dan pengembangan bidang teknologi hankam tahun 2006-2009 dikelompokkan dalam: (a) Rancang bangun dan rekayasa alat angkut/wahana darat. baik darat. termasuk amunisi dan sistem kendali.5. peluru kendali jarak sedang.

dan (4) penelitian dan pengembangan bahan baku laras senjata . AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 (g) Rancang bangun dan rekayasa perangkat surveillance. (d) Rancang bangun dan rekayasa bom. 40 mm. (b) Rancang bangun dan rekayasa sistem persenjataan meriam/artileri (kaliber 20 mm ke atas) Program ini meliputi empat kegiatan. 57 mm dan 76 mm. pengembangan ranjau laut. yaitu (1) rancang bangun dan rekayasa kendaraan taktis. yaitu (1) pengembangan meriam kaliber 20 mm keatas. (3) rancang bangun dan rekayasa kapal patroli cepat. (h) Rancang bangun peralatan komunikasi. (8) rancang bangun dan rekayasa suku cadang pesawat terbang dan helikopter. dan (2) penelitian dan pengembangan peroketan. (2) pengembangan amunisi kaliber 20 mm. (j) Rancang bangun dan pembuatan bekal/alat khusus. (c) Rancang bangun dan rekayasa peluru kendali dan roket Program ini terdiri dari dua kegiatan. (6) rancang bangun dan rekayasa wahana bawah air. (4) rancang bangun dan rekayasa wahana angkut pendarat pasukan. yaitu (1) rancang bangun peluru kendali. (7) rancang bangun dan rekayasa pesawat terbang. (5) rancang bangun dan rekayasa Hovercraft. (a) Rancang bangun dan rekayasa alat angkut/wahana darat. (i) Rancang bangun sistem komando kendali. ranjau laut dan penjinak bahan peledak/bom Program ini meliputi empat kegiatan (1) pengembangan bom untuk pesawat. laut dan udara Program ini mencakup delapan kegiatan. (2) pengembangan alat deteksi DEWAN RISET NASIONAL 2006 . (3) penelitian Mortir 80 mm dan 81 mm. (2) pengembangan kendaraan tempur/ tank dan suku cadangnya.

(3) pengembangan alat penjinak bahan peledak/bom untuk menghadapi teroris (e) Rancang bangun alat optik dan alat bidik Program ini terdiri dari dua kegiatan: (1) pengembangan teropong bidik malam/anti kabut dan (2) pengembangan dan rancang bangun sistem kendali senjata meriam (f) Rancang bangun dan rekayasa bahan peledak/propelan Program ini terdiri dari tiga kegiatan: (1) pengembangan bahan baku propelan. dan pengembangan konsol combat system (j) Rancang bangun dan pembuatan bekal/alat khusus Program ini meliputi delapan kegiatan. dan (3) penelitian dan pengembangan hulu ledak (warhead) (g) Rancang bangun dan rekayasa perangkat surveillance Kegiatan rancang bangun dan rekayasa perangkat surveillance antara lain pengembangan sistem radar. (2) pengembangan alat monitor- DEWAN RISET NASIONAL 2006 . yaitu: (1) penelitian bahan material tahan peluru dan aplikasinya. pengembangan suku cadang radar. (2) rancang bangun dan rekayasa double base dan triple base propellant plant. dan simulator pengendalian pesawat/helicopter.AgendA Riset  ranjau darat /bom. simulator penembakan meriam. dan penelitian dan pembuatan portable simulator ESM (h) Rancang bangun peralatan komunikasi Kegiatannya meliputi rancang bangun berbagai macam dan jenis alat komunikasi elektronika (Alkomlek) (i) Rancang bangun sistem komando kendali Kegiatannya meliputi antara lain pengembangan simulator olah yudha.

(12) pengembangan ilmu dan teknologi proses terhadap sumber daya alam/bahan tropis. (10) pengembangan sistim metoda analisis. (12) pengembangan ilmu dan teknologi nano atau sistem material nano. (4) rancang bangun dan rekayasa jembatan gantung prefaf. sub program studi aplikasi teknologi keamanan dan kajian sosial kemanusiaan. (13) pengembangan ilmu bio-diversity: DEWAN RISET NASIONAL 2006 . (5) rancang bangun dan rekayasa peluru gas airmata/ granat asap/peluru asap. dan (8) pengembangan alat khusus identifikasi dan deteksi dalam rangka Scientific Criminal Investigation. (6) rancang bangun dan rekayasa peluru karet. (a) Studi aplikasi teknologi pertahanan Studi aplikasi teknologi pertahanan meliputi 15 kegiatan : (1). identifikasi dan karakterisasi bahan. (3) studi aplikasi teknologi indraja untuk monitoring/remote sensing. studi aplikasi teknologi dan pengembangan Sistem Informasi Geografi (SIG) untuk pengelolaan informasi pertahanan. (8) studi Manajemen Kesejahteraan Rakyat. (4) Studi aplikasi transformasi produksi industri pertahanan. (7) penyusunan model sandi (Kriptografi. (11) pengembangan ilmu dan teknologi proses terhadap sumber daya alam/ bahan tropis. (7) pengembangan bubuk untuk pengambilan sidik jari. (2) studi aplikasi teknologi dan pengembangan GPS navigasi untuk pelacakan benda bergerak di darat. Program Difusi dan Pemanfaatan Iptek Program difusi dan pemanfaatan Iptek terdiri dari sub program studi aplikasi teknologi pertahanan. (6) studi aplikasi teknologi komputer untuk pembangunan Sistem Pembinaan Wilayah (SPW) dan Sistem Logistik Wilayah (SLW). (9) studi korosi logam akibat degradasi kondisi lingkungan.0 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 ing radiasi nuklir. (5) studi aplikasi transformasi prasarana nasional untuk keperluan pertahanan. (3) peningkatan kemampuan biodefence untuk antisipasi ancaman senjata biologi.

kegiatan gunung berapi dan sistem peredaran udara (b) Studi aplikasi teknologi keamanan Studi aplikasi teknologi keamanan meliputi tiga kegiatan: (1) studi aplikasi teknologi komputer untuk Sistem Informasi Komunikasi Polri. (3) Optimalisasi program Computer Aided Automatic Fingerprint Identification System (CAAFIS) (c) Kajian sosial kemanusiaan Kajian sosial kemanusiaan meliputi tiga kegiatan (1) Kajian –kajian tentang wawasan Kebangsaan dan Bela Negara. (2) kerjasama antar lembaga iptek di dalam negeri.AgendA Riset  bio-remediasi dan bio-informatika. kerjasama dengan industri yang memiliki kemampuan dan potensi sebagai penyedia kebutuhan yang berkait dengan DEWAN RISET NASIONAL 2006 . yaitu (1) penguatan internal dan kelembagaan pendukungnya dalam rangka peningkatan sarana dan prasarana penelitian. (2) Kajian Kebijakan Publik tentang Potensi Disintegrasi Nasional dalam Perspektif Keadilan (3) Kajian-kajian di Wilayah Perbatasan dan Daerah Rawan Konflik Untuk Penguatan Pertahan dan Keamanan Program Penguatan Kelembagaan Iptek Program penguatan kelembagaan iptek adalah kegiatan lembaga litbang untuk meningkatkan kuantitas maupun kualitas SDM dan sarana penelitian serta dana. kehutanan serta ingkungan. (14) studi aplikasi ilmu mikrobiologi untuk menghadapi bioterorisme di Indonesia. Program penguatan kelembagaan iptek hankam meliputi tiga kegiatan. termasuk kerjasama dengan perguruan tinggi dalam rangka peningkatan SDM di bidang teknologi hankam. dan manajemen pengelolaan hayati/ botani. (2) studi aplikasi manajemen transportasi untuk mendukung operasional Polri. (15) studi karakteristik kebumian di Indonesia untuk mengetahui kondisi seismisitas.

Program-program tersebut dapat terlaksana dengan hasil yang dicapai sesuai dengan tahapan sasaran yang diharapkan. baik BUMN maupun swasta. AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 kepentingan hankam dan kerjasama bidang litbangyasa antara LPND Riset. (e) kerjasama industri hankam nasional dengan luar negeri. (b) peningkatan kualitas dan kuantitas SDM di bidang rancang bangun dan perekayasaan. bantuan konsultasi dan bantuan dana dan sarana & prasarana. perguruan tinggi dan industri serta penunjang lainnya). Program Peningkatan Kapasitas Iptek Sistem Produksi Program peningkatan kapasitas iptek sistem produksi diprioritaskan pada pemberdayaan industri nasional dalam rangka menciptakan kemandirian guna memperkecil ketergantungan alutsista dari luar negeri dengan target capaian (a) peningkatan kemampuan industri dalam negeri untuk komersialisasi hasil iptek teknologi hankam. Program-program pembangunan iptek bidang teknologi hankam ini secara lebih terinci diuraikan pada tabel yang terdiri dari kegiatan. (c) penyusunan format regulasi pendanaan dalam mendukung pembangunan sishanneg. (d) regulasi yang menetapkan penggunaan produk industri hankam dalam negeri. (c) anggaran yang memadai. DEWAN RISET NASIONAL 2006 . perguruan tinggi dan industri. dan sasaran akhir yang diharapkan tercapai pada tahun 2025 serta para pelaksana dan pengguna. target capaian tahun 2009. (3) kerjasama dengan luar negeri dalam rangka peningkatan SDM di bidang teknologi hankam. kepakaran dan kuantitas sesuai keperluan. dan (d) terlaksananya koordinasi dan sinergi antar pelaksana (lembaga litbang. indikator keberhasilan. baik jangka pendek maupun jangka panjang apabila didukung (a) SDM dengan kualitas. (b) sarana dan prasarana yang diperlukan.

PT PAL.AgendA Riset I PROGRAM PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN IPTEK NO (1) KEGIATAN Rancang bangun dan rekayasa kendaraan taktis  INDIKATOR TARGET CAPAIAN KEBERHASILAN SASARAN KETERANGAN 2009 AKHIR 2025 2009 Model kendaraan taktis tahan peluru Terwujudnya model kendaraan taktis tahan peluru Penguasaan teknologi pembuatan kendaraan taktis tahan peluru Kemandirian dalam penyediaan tank amphibi dan suku cadang kendaraan tempur tank Kemandirian dalam penyediaan kapal patroli cepat siap tempur Kemandirian dalam penyediaan wahana angkut pasukan pendarat Pelaksana a.l. Dislitbangad.l. PT PAL Pengguna a. : dalam penyeBalitbang Dephan.l.l: TNI & Polri Pelaksana a.l : TNI & Polri DEWAN RISET NASIONAL 2006 . : Dislitbangal.l. BPPT Pengguna : TNI (4) Rancang bangun dan rekayasa wahana angkut pendarat pasukan a) Prototip wahana angkut ringan pendarat pasukan berkecepatan tinggi b) Prototip wahana angkut berat pendarat pasukan berprinsip air cushion (5) Rancang bangun dan rekayasa Hovercraft Prototip Hovercraft berpenumpang 40 orang Hasil rekayasa Hovercraft berpenumpang 40 orang yang dapat diproduksi di dalam negeri Kemandirian elaksana a.: Dislitbangad Bengpuspal ad. PT Pindad Bengpuspalad Pengguna:TNI A RANCANG BANGUN DAN REKAYASA ALAT ANGKUT/WAHANA (2) Pengembangan kendaraan tempur/ suku cadang a) Prototip tank amphibi b) Prototip suku cadang kendaraan tempur tank AMX13 a) Terwujudnya rekayasa tank amphibi b) Terwujudnya rekayasa suku cadang kendaran tempur tank AMX-13 Hasil rekayasa kapal cepat yang dapat diproduksi di dalam negeri Hasil rekayasa wahana angkut pendarat pasukan yang dapat diproduksi di dalam negeri (3) Rancang bangun dan rekayasa kapal patroli cepat Prototip kapal cepat dengan senjata dan combat system Pelaksana a.l.l. PT Pindad Pengguna a. : TNI & Polri Pelaksana a. diaan Hovercraft Dislitbangal BPPT Pengguna a. : Dislitbangal. Dislitbangal.

Polri. Dep Kehutanan Rancang bangun dan Prototip wahana bawah air tanpa awak rekayasa wahana bawah air Rancang bangun dan a) Prototip pesawat terbang tanpa awak rekayasa pesawat untuk surveillance terbang b) Prototip pesawat latih turbo jet tandem c) Prototip pesawat 19 penumpang (7) (8) Rancang bangun dan a) Prototip external store untuk pesawat Sukhoi rekayasa komponen SU-27/30 pesawat terbang/ b) Prototip movable helikopter hydroulic helikopter NAS-332 dan SA-330 c) Prototip sistem ACMR pesawat Hawk 109-209 d) Prototip drag chute pesawat Sukhoi e) Prototip disc brake pesawat C-130 H f) Prototip peralatan pengecekan sistem pitch dan yaw pesawat F-5 Penguasaan teknologi pembuatan beberapa jenis suku cadang pesawat terbang/ helikopter dan dapat diproduksi di dalam negeri Pelaksana a. LIPI. Pengguna : TNI DEWAN RISET NASIONAL 2006 . : dalam penyediaan Dislitbangal wahana bawah air BPPT.l. PT PAL Kemandirian dalam penyediaan beberapa jenis pesawat terbang. : Dislitbangau. AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 NO (6) KEGIATAN INDIKATOR TARGET CAPAIAN KEBERHASILAN SASARAN KETERANGAN 2009 2009 AKHIR 2025 Rekayasa wahana bawah air tanpa awak yang dapat diproduksi di dalam negeri a) Hasil rekayasa pesawat terbang tanpa awak siap operasional b) Hasil rekayasa pesawat latih turbo jet tandem siap diproduksi dalam negeri c) Hasil rekayasa pesawat 19 penumpang dapat diproduksi di dalam negeri a) Hasil rekayasa external store dapat dipasang pada pesawat Sukhoi Su-27/30 b) Hasil rekayasa movable hydraulic untuk dimanfatkan pada helikopter NAS-332 dan SA-330 c) Hasil rekayasa sistem ACMR dapat dimanfaatkan untuk pesawat Hawk 109-209 d) Hasil rekayasa drag chute dapat dimanfaatkan untuk pesawat Sukhoi e) Hasil rekayasa disc brake dapat dimanfaatkan untuk pesawat C-130 H f) Hasil rekayasa peralatan pengecekan sistem pitch dan yaw dapat dimanfaatkan untuk pesawat F-5 Kemandirian Pelaksana a. Dislitbangau.l. Balai Besar Tekstil. Koharmatau. Industri Tekstil. BPPT PT DI Pengguna a.l.l. PT LEN PT Pindad. : TNI. Koharmatau. Pelaksana a. BPPT PT DI .

40 mm dan 57 mm untuk kapal perang Hasil rekayasa meriam 20 mm. : Dislitbangal. PT Pindad Pengguna: TNI Pelaksana a. 57 m dan 76 mm untuk kapal perang Hasil rekayasa amunisi 20 mm.l.l.l. 57 mm. 40 mm dan 57 mm yang dapat diproduksi oleh industri dalam negeri Kemandirian dalam penyediaan meriam berbagai kaliber untuk kapal perang dan pasukan darat Kemandirian dalam penyediaan berbagai jenis amunisi meriam berbagai kaliber Penguasaan teknologi pembuatan mortir 80 mm dan 81 mm Kemandirian dalam penyediaan material bahan baku laras senjata Pelaksana a.: Balitbang Dephan PT Pindad. PT Krakatau Steel Pengguna : Industri Hankam (3) Penelitian Mortir 80 m dan 81 mm Konsep standardiasi Mortir 80 mm dan 81 mm (4) Penelitian dan pengembangan bahan baku laras senjata Bahan baku laras senjata C RANCANG BANGUN DAN REKAYASA PELURU KENDALI DAN ROKET (1) Rancang bangun peluru kendali a).AgendA Riset  NO KEGIATAN INDIKATOR TARGET CAPAIAN KEBERHASILAN SASARAN KETERANGAN 2009 2009 AKHIR 2025 B RANCANG BANGUN DAN REKAYASA SISTEM PERSENjATAAN MERIAM/ARTILERI (1) Pengembangan meriam kaliber 20 mm keatas Penyempurnaan meriam 20 mm. 57 mm dan 76 mm yang dapat diaplikasikan dalam sistem senjata kapal maupun satuan tempur darat Standardisasi Mortir 80 mm dan 81 mm yang tepat untuk satuan tempur tingkat Batalyon Infantri Terwujudnya bahan baku laras senjata Pelaksana a. 40 mm. Bengpuspalad.l. 40 mm. dan 76 mm Penyempurnaan berbagai jenis amunisi 20 mm.l. Dislitbangad PT Pindad LAPAN Pengguna : TNI Pelaksana a. 40 mm. Dislitbangau LAPAN Pengguna : TNI DEWAN RISET NASIONAL 2006 . : Dislitbangad. : Dislitbangal Dislitbangad PT Pindad BPPT (2) Pengembangan Amunisi kaliber 20 mm. Rancang bangun peluru kendali anti kapal atas air b). : Dislitbangal. Prototip peluru kendali jarak pendek anti pesawat udara a) Hasil rekayasa Kemandirian peluru kendali yang dalam pembuatan dapat diaplikasikan peluru kendali pada kapal perang b) Hasil rekayasa peluru kendali jarak pendek anti pesawat udara Pelaksana a.

40 km. 420 mm dan 520 mm) c) Kemampuan rekayasa Roket kendali jarak jangkau s/d 30 km Kemandirian dalam pembuatan pembuatan roket berbagai kaliber.l. : Dislitbangau. 80 km. 150 mm. LAPAN D RANCANG BANGUN DAN REKAYASA BOM DAN RANjAU (1) a) Prototip bom tajam Pengembangan kaliber 360 kg Bom untuk Pesawat b) Prototip bom practice terbang sejenis OFAB 250 untuk pesawat Hasil rekayasa bom tajam kaliber 360 kg dan bom practice untuk pesawat Sukhoi Kemandirian dalam pembuatan bom tajam kaliber 360 kg dan bom practice untuk pesawat Pelaksana a.d 300 km. Pelaksana a. 420 mm dan 520 mm) c) Prototip roket kendali jarak jangkau s/d 30 km.l. Meliputi : jarak jangkau 10 km. PI Pindad LAPAN Pengguna : TNI (2) Pengembangan Ranjau laut Prototip ranjau laut pintar Hasil rekayasa Kemandirian ranjau laut pintar dapat dalam pembuatan diproduksi di dalam ranjau laut negeri Hasil rekayasa alat deteksi ranjau darat/ bom/bahan peledak untuk pasukan TNI/ Polri Kemandirian dalam pembuatan alat deteksi ranjau darat/bom Pelaksanaa.l. PT Pindad PT LEN. baik terkendali maupun tidak terkendali dengan jarak jangkau dari 10 km s/d 300 km. a) Hasil rekayasa roket kaliber 2. Pergurun Tinggi Pengguna a. : Dislitbangal Dislitbangau LAPAN.d 300 km.l. 250 mm. 100 mm. : Dislitbangal PT Pindad LAPAN Pengguna : TNI Pelaksana a. 15 km. 200 km. 100 mm. 340 mm. 250 mm. : TNI . 80 km. PT PINDAD Pengguna a. 340 mm. 300 km ( Kal. 200 km. AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 NO (2) KEGIATAN Penelitian dan pengembangan peroketan INDIKATOR TARGET CAPAIAN KEBERHASILAN SASARAN KETERANGAN 2009 2009 AKHIR 2025 a) Prototip roket udaradarat kaliber 2. 15 km.75 inc dan oket kaliber 80 mm b) Kemampuan rekayasa roket balistik jarak jangkau s. 300 km ( Kal. Meliputi : jarak jangkau 10 km. 150 mm.l: TNI & Polri (3) Pengembangan alat deteksi ranjau darat/bom/bahan peledak Prototip alat deteksi ranjau darat/bom/bahan peledak DEWAN RISET NASIONAL 2006 .l.75 inc dan roket kaliber 80 mm b) Prototip roket balistik jarak jangkau s. : Dislitbangad. 40 km.

hulu ledak PT Pindad. : dalam pembuatan Dislitbangau.AgendA Riset  NO KEGIATAN INDIKATOR TARGET CAPAIAN KEBERHASILAN SASARAN KETERANGAN 2009 2009 AKHIR 2025 E ALAT OPTIK DAN ALAT BIDIK (1) Pengembangan teropong bidik Prototip teropong bidik malam/anti kabut Hasil rekayasa teropong bidik malam/anti kabut untuk pasukan TNI a) Hasil rekayasa sistem kendali senjata berbasis optik untuk meriam kapal b) Hasil rekayasa sistem kendali senjata berbasis optik meriam kendaraan tempur/tank Penguasan teknologi teropong bidik malam/anti kabut Penguasaan teknologi pembuatan sistem kendali senjata meriam Pelaksana a.l. : Dislitbangal.l.: Industri hankam Pelaksanan a.75 inc dan roket 80 mm Kemandirian Pelaksana a.: TNI & Polri Pelaksana a. Industri kimia Pengguna a. PT Dahana.: Industri Hankam (2) Rancang bangun dan rekayasa Plant double base dan tri base propellant Prototip Plant double base dan tri base propellant skala laboratorium Hasil rekayasa Plant double base dan tri base Propellant (3) Prototip explosive warPenelitian dan head untuk roket 2. PT LEN Pengguna :TNI (2) Pengembangan rancang bangun sistem kendali senjata meriam a) Prototip hardware dan sofware sistem kendali senjata berbasis optik untuk meriam kapal b) Prototip sistem kendali senjata berbasis optik meriam kendaraan tempur/tank F PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN BAHAN PELEDAK / PROPELAN (1) Pengembangan bahan baku propelan Bahan baku propelan padat komposit Hasil rekayasa pembuatan bahan baku propelan padat komposit Kemandirian dalam penyediaan bahan baku propelan padat komposit Kemandirian dalam penyediaan double base dan tri base propellant Pelaksanan a. : Balitbang Dephan. : Dislitbangad.l.l.l. Industri Kimia Pengguna a.l.75 pengembangan expolisive war head inc dan roket 80 mm (hulu ledak) Hasil rekayasa explosive warhead untuk roket 2.l. : Balitbang Dephan LAPAN.l. Pengguna : TNI DEWAN RISET NASIONAL 2006 . PT LEN Pengguna a.

l. : Dislitbangal. PT LEN Pengguna : TNI H RANCANG BANGUN DAN REKAYASA PERALATAN KOMUNIKASI (1) Pengembangan rekayasa alat komunikasi elektronika (Alkomlek) a) Prototip alkomlek untuk pasukan b) Prototip Charger & Battery discharger monitoring untuk pasukan Hasil rekayasa alkomlek untuk pasukan yang dapat diproduksi di dalam negeri Kemandirian dalam pengadaan alkomlek untuk pasukan Pelaksana a. PT LEN Pengguna : TNI (2) Pengembangan suku cadang radar a) Prototip analog to digital converter R 427 radar Thomson b) Prototip phase shifter keramiik antenna radar Thomson c) Prototip power supply 5V-40A radar Thomson d) Prototip radar fundamental simulator model device 11B104 e) Prototip real time surveillance system (3) Prototip portable Penelitian dan pembuatan portable simulator ESM untuk mendeksi sinyal radar simulator ESM kapal Terwujudnya portabel Kemandirian simulator guna mendu. : Dislitbangal. OPTRONIK. Disltbangad. Dislitbangau Industri elektronika Pengguna a.l. ESM) (1) Pengembangan sistem radar Prototip instalasi radar pantai tanpa awak Hasil rekayasa instalasi radar pantai tanpa awak a) Hasil rekayasa analog to digital converter R 427 radar Thomson b) Hasil rekayasa phase shifter keramik antenna radar Thomson c) Hasil rekayasa power supply 5V-40A untuk radar Thomson d) Hasil rekayasa radar fundamental simulator model device 11B104 e) Hasil rekayasa real time surveillance system Penguasaan teknologi instalasi radar pantai tanpa awak Penguasaan teknologi pembuatan komponen radar Pelaksana a. : Dislitbangau.l.l. PT LEN Pengguna : TNI Pelaksana a. : TNI & Polri DEWAN RISET NASIONAL 2006 .dalam perangkat kung operasi tektis surveillance guna mendukung operasi Pelaksana a. AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 NO KEGIATAN INDIKATOR TARGET CAPAIAN KEBERHASILAN SASARAN KETERANGAN 2009 2009 AKHIR 2025 G PENELITIAN DAN PENGEMBAGAN PERANGKAT sUrveillanCe (RADAR. : Balitbang Dep Han.l.

BATAN Pengguna a. Lembaga Eijkman Pengguna a. : Dislitbangad. kursi pilot pesawat. Dislitbagau Balai besar Keramik Balai Besar Tekstil Univ. : Dislitbagad. Polri dan Masyarakat (2) Pengembangan alat monitor radiasi nuklir Prototip alat monitor radiasi nuklir (Gamma. beta dan sinar x) portabel Tersedianya sistem emergency response untuk unnatural outbreak of diseases pada manusia. : Deptan. dll) Penguasan teknologi pembuatan alat monitor radiasi nuklir Terselenggarakannya sistem koordinasi pencegahan dan pendeteksian ancaman senjata biologi Pelaksana a.5 Ton. : Dislitbangad.l : TNI & Polri Pelaksana a. Jembatan Gantung 7.5 Ton.l. 7. LIPI.l.AgendA Riset  NO (1) KEGIATAN Pengembangan Simulasi Olah Yudha INDIKATOR TARGET CAPAIAN KEBERHASILAN SASARAN KETERANGAN 2009 2009 AKHIR 2025 a) Penyempurnaan Sofware & hardware Simulasi Olah Yudha b) Prototip simulator pengemudi dan penembak meriam pada kendaraan tank a) Tersedianya Software Simulasi Olah Yudha sesusai perkembangan keadaan b) Tersedianya simulator penembankan meriam yang dapat diaplikaikan pada kendaraan tarik Penguasaan teknologi pembuatan Alat Simulasi Olah Yuda dan alat Simulasi penembakan meriam Pelaksana a. Indonesia. Pengguna : TNI I SISTEM KOMANDO DAN KENDALI j RANCANG BANGUN DAN REKAYASA BEKAL/ALAT KHUSUS (1) Penelitian Bahan material tahan peluru dan aplikasinya a) Prototip material dari keramik yang mampu menahan peluru dari tembakan senjata ringan laras panjang b) Prototip rompi anti peluru a) Terwujudnya material dari keramik yang mampu menahan peluru dari tembakan senjata ringan laras panjang b) Hasil rekayasa rompi anti peluru Tersedianya alat monitor radiasi nuklir (Gamma. 15 Ton dan 30 Ton dengan panjang 50 m (3) Peningkatan kemampuan biodefence untuk mengantisipasi ancaman senjata biologi Rancang bangun dan rekayasa Jembatan Gantung Prefab (4) Terwujudnya rekayasa Kemandirian Jembatan Gantung dalam pembuatan Prefab beban maks. Depkes. rantis.l.: TNI. PT DI Pengguna a.l. hewan dan tanaman Prototip Jembatan Gantung Prefab beban maks.l.l. 15 Ton dan 30 Ton dengan panjang 50 m DEWAN RISET NASIONAL 2006 . PT KS. PT Pindad. : Balitbang Dephan. PT Pidad. Seskoad. PT DI Pengguna a. : TNI & Polri Pelaksana a.l : TNI dan Polri Pelaksana a.l. beta dan sinar x) portabel Terwujudnya peningkatan kemampuan untuk mendeteksi ancaman senjata biologi Penguasaan teknologi material dari keramik tahan peluru untuk berbagai aplikasi (rompi.

: Puslitbang Polri PT Pindad LIPI dan BPPT Pengguna: Polri (6) Prototip peluru karet kal Rancang bangun dan rekayasa peluru 0. dan granat asap dan gas airmata Terwujud peluru gas airmata dan asap yang dapat diproduksi di dalam negeri Kemandirian dalam penyediaan amunisi gas airmata dan asap Pelaksana a.l.63 mm karet Terwujudnya rekayasa peluru karet yang dapat diproduksi dalam negeri Kemandirian Pelaksana a.0 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 NO (5) KEGIATAN Rancang bangun dan rekayasa peluru/granat gas air dan asap INDIKATOR TARGET CAPAIAN KEBERHASILAN SASARAN KETERANGAN 2009 2009 AKHIR 2025 Prototip peluru gas air mata kal. 38 mm. peluru asap kal 38 mm. : dalam penyediaan Puslitbang Polri peluru karet PT Pindad LIPI dan BPPT Pengguna: Polri Kemnadirian dalam penyediaan bubuk untuk pengambilan sidik jari Kemandirian dalam penyediaan penyediaan alat khusus identifikasi dan deteksi untuk tugas pencegahan dan tindakan kejahanatn Pelaksana a.38 mi dan 7. : Puslitbang Polri PT Pindad LIPI dan BPPT Pengguna: Polri (7) Pengembangan bubuk untuk pengambilan sidik jari Pengembangan alat identifikasi dan deteksi dalam rangka Scientitific Criminal Investigation Senyawa bahan pembuatan bubuk untuk pengambilan sidik jari Terwujudnya senyawa bahan pembuatan bubuk untuk pengambilan sidik jari (8) Ptototip alat khusus identifikasi dan deteksi untuk tugas pencegahan dan tindakan kejahanatn Terwujudnya alat khusus identifikasi dan deteksi untuk tugas pencegahan dan tindakan kejahanatn DEWAN RISET NASIONAL 2006 .l.l.l. : Puslitbang Polri LIPI dan BPPT Perguruan Tinggi Pengguna: Polri Pelaksana a.

l. Dit Topad. teknologi aplikasi Dephan. pesawat terbang. UGM Pengguna a. LAPAN.l.: Balitbang DepHan.l.l.l. Bakosurtananal.: Dephankam Terselenggara kannya transfor masi produksi industri pertahanan Terwujudnya prasarana nasional untuk kepentingan pertahanan Pelaksana a. Remote Sensing LAPAN. LAPAN Pengguna : TNI Penguasan Pelaksana a. alat komunikasi) Hasil kajian aplikasi transformasi prasarana nasional untuk kepentingan pertahanan Tersedianya Informasi aplikasi transformasi produk industri pertahanan (kapal.: Dephankam Pelaksanana a. alat komunikasi) Tersedianya informasi aplikasi transformasi prasarana nasional untuk kepentingan pertahanan (5) Studi aplikasi transformasi prasarana nasional untuk kepentingan pertahanan DEWAN RISET NASIONAL 2006 .l. pesawat terbang.AgendA Riset II PROGRAM DIFUSI DAN PEMANFAATAN IPTEK NO (1) KEGIATAN Studi aplikasi teknologi dan pembangunan Sistem Informasi Geografi (SIG) untuk pengelolaan informasi pertahanan Studi aplikasi dan pengembangan GPS navigasi untuk pelacakan benda bergerak  INDIKATOR TARGET CAPAIAN KEBERHASILAN SASARAN KETERANGAN 2009 2009 AKHIR 2025 Terbangunnya jaringan SIG Pertahanan secara terpusat Terwujudnya jaringan SIG Pertahanan Penguasaan Teknologi SIG Pelaksana a. GPS navigasi Mabes TNI. Kodam Pengguna : TNI A STUDI APLIKASI TEKNOLOGI PERTAHANAN (2) Hasil kajian aplikasi dan pengembangan GPS navigasi untuk pelacakan benda bergerak Tersedianya informasi aplikasi dan pengembangan GPS navigasi untuk pelacakan benda bergerak Penguasan Pelaksana a.l. UGM Pengguna a. Dep Kimpraswil Pengguna : DepHan (3) Studi aplikasi teknologi Indraja untuk monitoring/ remote sensing Tersedianya protipe alat remote sensor pada pesawat terbang Terwujudnya hasil rekayasa alat remote sensing pada pesawat terbang (4) Studi aplikasi transformasi produksi industri pertahanan Hasil kajian aplikasi transformasi produksi industri pertahanan (kapal. : Teknologi Bakosurtanal. LAPAN. Mabes Polri. : Bakosurtanal.

Menko Kesra.: Dephan. Bappenas.l: Dephan. Lembaga Sandi Negara. keuangan.l.l: Dephan. Menko Kesra.: Balitbang DepHan. Sekneg. Lembaga Sandi Negara Pengguna a. Depkominfo. (8) Studi Manajemen Kesejahteraan Rakyat Hasil kajian Pengembangan Model Statistik. Komunatorik. BPS.: Dephan. Perguruan Tinggi (Jurusan Matematika). Depkeu Pengguna a. Depkeu DEWAN RISET NASIONAL 2006 . Sekneg. AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 NO KEGIATAN INDIKATOR TARGET CAPAIAN KEBERHASILAN SASARAN KETERANGAN 2009 2009 AKHIR 2025 Hasil kajian aplikasi teknologi komputer untuk pembangunan Sistem Pembinaan Wilayah (SPW) dan Sistem Logistik Wilayah (SLW) Hasil kajian model Sandi Negara untuk keamanan.l. Deperin/dag. Deperin/dag. valid dan dapat diterapkan Pelaksanan a. Depkeu. Depkeu. Depdagri. keuangan. Depdagri. Dep Kominfo Pengguna : DepHan (6) Studi aplikasi teknologi komputer untuk pembangunan Sistem Pembinaan Wilayah (SPW) dan Sistem Logistik Wilayah (SLW) (7) Penyusunan Model Sandi (Kriptografi) Pelaksana a. dan perdagangan Tersedianya aplikasi teknologi komputer untuk pembangunan Sistem Pembinaan Wilayah (SPW) dan Sistem Logistik Wilayah (SLW) Tersedianya Sistem Sandi untuk keamanan. Sekneg. Bappenas. TNI/Polri. Depkominfo.l. matematika industri dan keuangan Terwujudnya Peningkatan Sistem Manajemen Kesejahteraan Tercapainya sistem kesejahteraan rakyat yang handal Pelaksana a. dan perdagangan Terwujudnya Sistem Pembinaan Wilayah (SPW) dan Sistem Logistik Wilayah (SLW) Terwujudnya Sandi yang spesifik. Sekneg.

AgendA Riset 

NO

KEGIATAN

INDIKATOR TARGET CAPAIAN KEBERHASILAN SASARAN KETERANGAN 2009 2009 AKHIR 2025 Penemuan formula bahan atau rumusan koefisien laju korosi material/logam di Indonesia Berkurangnya korosi pada material/logam Terwujd nya bahan baru, atau bahan lapisan pelindung dan penghambat korosi Pelaksana a.l: Dephan, KNRT, Perguruan Tinggi, LPND, Deperin, industri Pengguna a.l.: Dephan, TNI/Polri LPND, Deperin, Industri Pelaksana a.l: Dephan, KNRT, LPND. LPD, Depkes, Perguruan Tinggi, Transportasi, KomInfo. Pengguna a.l.: Dephan, TNI/Polri LPND, LPD, Depkes, Perguruan Tinggi, Transportasi, KomInfo

(9) Studi korosi logam akibat degradasi kondisi lingkungan

(10) Pengembangan sistim metoda analisis, identifikasi dan karakterisasi bahan.

Sistim metodologi analisis bahan (pangan, obat, sumber energi, elektronika, senjata, dan lain-lain.

Terciptanya sistim ken- Dikuasainya dali mutu berdasarkan iptek untuk sistim standar internasional monitoring, analisis, instrumentasi pengendali mutu

(11) Pengembangan ilmu dan teknologi proses terhadap sumber daya alam/ bahan tropis

Sumber daya sandang, pangan, suplemen, sistim penyimpanan dan pengawetan makanan, iptek bahan struktur dan bahan dukung bahan serat, anti korosi, diversifikasi bahan alam untuk kesehatan, lingkungan, pertahanan (amunisi, bahan anti senjata dsb.) dan bahan penghasil energi.

Tersedianya sumber bahan baku sebagai hasil dari penguasaan ilmu dan teknologi proses untuk kepentingan konsumsi nasional

Tercapainya penguasaan iptek untuk penyediaan/ suplai Sumber daya pangan, suplemen, bahan struktur dan bahan dukung anti korosi, diversifikasi bahan alam amunisi handal, bahan anti senjata dan material lainnya

Pelaksana a.l: Dephan, KNRT, LPND. LPD, Depkes, Perguruan Tinggi Pengguna a.l.: Dephan, KNRT, LPND. LPD, Depkes, Perguruan Tinggi

DEWAN RISET NASIONAL 2006



AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009

NO

KEGIATAN

INDIKATOR TARGET CAPAIAN KEBERHASILAN SASARAN KETERANGAN 2009 AKHIR 2025 2009 Terbentuknya material nano partikel/nano kristal yang mempunyai sifat spesifik yang unggul Penguasaan ilmu dan teknologi nano dalam bidang material baru dari segi sifat konduktivitas, superionik/konduktivitasnya, sensitivitas sensor, bio-kompatibilitas, bahan pelindung lapisan tipis, bahan kompositringan, katalis dsb. Berkembangnya produk material nano untuk bahan pangan, obat, sandang, komposit, lapisan tipis, magnetic, dan elektronik, yang mempunyai sifat fungsional baru, yang dapat digunakan pula pada sistim energi baru, TIK, transportasi, pertahanan dan kesehatan Penguasaan ilmu bio-diversity: bio-remediasi dan bio-informatika, dan manajemen pengelolaan hayati/botani, kehutanan serta lingkungan. Pelaksana a.l: Dephan, KNRT, Perguruan Tinggi LPND, LPD, Industri. Pengguna a.l.: Dephan, KNRT, Perguruan Tinggi LPND, LPD, Industri.

(12) Pengembangan ilmu dan teknologi nano atau sistem material nano

(13) Pengembangan ilmu bio-diversity: bio-remediasi dan bio-informatika, dan manajemen pengelolaan hayati/ botani, kehutanan serta lingkungan

Berkembangnya ilmu bio-diversity dalam rangka menunjang Sistem Logistik Wilayah

Terwujudnya pengembangan ilmu bio-diversity

Pelaksana a.l: DepHan, DepHut, Depdagri, DikNas Perguruan Tinggi, KLH, LPD/LPND Pengguna a.l.: DepHan, DepHut, Depdagri, DikNas, Perguruan Tinggi, KLH, LPD/LPND Pelaksana a.l: Dephan, KNRT, Depkes, Perguruan Tinggi Pengguna a.l.: Dephan, Depkes

(14) Studi aplikasi ilmu mikrobiologi untuk menghadapi bioterorisme di Indonesia

Aplikasi ilmu dan teknologi mikrobiologi untuk menghadapi bioterorisme di Indonesia

Tersedianya teknologi mikrobiologi untuk menghadapi bioterorisme di Indonesia

Pendalaman penguasaan ilmu mikrobiologi untuk menghadapi bioterorisme di Indonesia

DEWAN RISET NASIONAL 2006

AgendA Riset 

NO

KEGIATAN

INDIKATOR TARGET CAPAIAN KEBERHASILAN SASARAN KETERANGAN 2009 AKHIR 2025 2009 Karakteristik kondisi seismisitas, kegiatan gunung berapi dan sistem Peredaran Udara Tersedianya Karakteristik kondisi seismisitas, kegiatan gunung berapi dan sistem Peredaran Tersusunnysa karakteristik kebumian di Indonesia untuk mengetahui kondisi seismisitas, kegiatan gunung berapi dan sistem Peredaran Udara Pelaksana a.l: Dephan KNRT, BMG, LAPAN, BAKOSURTANAL. Pengguna a.l.: Dephan KNRT, BMG, LAPAN, BAKOSURTANAL

(15) Studi karakteristik kebumian di Indonesia untuk mengetahui kondisi seismisitas, kegiatan gunung berapi dan sistem Peredaran Udara

B STUDI APLIKASI TEKNOLOGI KEAMANAN (1) Studi aplikasi teknologi informasi untuk Sistem Informasi Komunikasi Polri (2) Studi aplikasi manajemen transportasi untuk mendukung operasional polri Blue Print Jaringan Informasi dan Komunikasi Polri dan spesifikasi teknik peralatan yang diperlukan Blue Print Jaringan Transportasi Laut dan Udara Polri dan spasifikasi teknis peralatan yang diperlukan Terwujudnya blue print Terselenggaranya jaringan informasi dan jaringan informasi komunikasi dan komunikasi yang mampu mendukung operasional Polri Terwujudnya Blue Print Jaringan Transportasi Laut dan Udara Polri dan spasifikasi teknis peralatan yang diperlukan sesusai karakteristik kewilayahan Terbangunnya sentral data sidik jari Terselenggaranya Jaringan Transportasi Laut dan Udara untuk mendukung operasional Polri Penguasaan teknologi CAAFIS Pelaksana a.l.: Puslitbang Polri ITB LAPAN Pengguna : Polri Pelaksana a.l. : Puslitbang Polsi PT DI , PT PAL LIPI,/BPPT/ PUSPIPTEK Pengguna: Polri Pelaksana a.l. : Puslitbang Polri Pus Identifikasi Polri Pengguna : Polri

(3) Optimalisasi program Computer Aided Automatic Fingerproint Identification System (CAAFIS)

Terlaksananya mekanisme pelaporan dan dokumentasi sidik jari

DEWAN RISET NASIONAL 2006



AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009

NO

KEGIATAN

INDIKATOR TARGET CAPAIAN KEBERHASILAN SASARAN KETERANGAN 2009 AKHIR 2025 2009

C KAjIAN SOSIAL KEMANUSIAAN (1) Kajian-kajian tentang wawasan Kebangsaan dan Bela Negara Teridentifikasinya faktor-faktor yang kondusif dan detrimental bagi penguatan Wawasan Kebangsaan dan Bela Negara Teridentifikasinya Kebijakan-kebijakan Publik yang kondusif dan detrimental bagi Integrasi Nasional Teridentifikasinya Permasalahan-permasalahan di Wilayah Perbatasan dan Daerah Rawan Konflik Terumuskannya alternatif strategi penguatan wawasan kebangsaan dan bela negara Terumuskannya Alternatif Strategi Kebijakan Publik yang berperspektif Keadilan Dihasilkannya Peta dan Sistem Peringatan Dini (EWS) Permasalahan di Wilayah Perbatasan dan di Daerah Rawan Konflik, serta alternatif strategi penanggulangannya Meningkatnya perwujudan kesatuan bangsa Pelaksana a.l: Lemhannas, Balitbang Dephan, Dislitbang TNI/Polri, Lembaga litbang Sosial seperti IPSK- LIPI, Litbangda, Lemhannas, perguruan tinggi. Pengguna a.l.: Dephan, TNI/Polri, Depdagri

(2) Kajian Kebijakan Publik tentang Potensi Disintegrasi Nasional dalam Perspektif Keadilan (3) Kajian-kajian di Wilayah Perbatasan dan Daerah Rawan Konflik Untuk Penguatan Pertahan dan Keamanan

DEWAN RISET NASIONAL 2006

AgendA Riset III PROGRAM PENGUATAN KELEMBAGAAN IPTEK NO (1) KEGIATAN Penguatan internal Kelembagaan Iptek dan Kelembagaan Pendukungnya 

INDIKATOR TARGET CAPAIAN KEBERHASILAN SASARAN KETERANGAN 2009 AKHIR 2025 2009 Terpenuhinya sebagian kebutuhan sarana dan prasara peneliitian Terwujudnya peningkatan produktivitas penelitian yang dihasilkan Meningkatnya peran dan kontribusi lembaga penelitian dalam mendukung perkembangan industri hankam Pelaksanan a.l.: Dephan Perguruan Tinggi, LPND Ristek Pengguna a.l : Dep han TNI & POlri

A PENGUATAN INTERNAL KELEMBAGAAN IPTEK

B KERjASAMA ANTAR LEMBAGA IPTEK DALAM NEGERI (1) Peningkatan kerjasama dengan perguruan tinggi dalam rangka peningkatan kemampuan SDM di bidang teknologi hankam Kerjasama dengan industri yang memiliki kemampuan dan potensi sebagai penyedia kebutuhan yang terkait dengan kepentingan hankam Kerjasama di bidang litbangyasa antara LPND Riset, Perguruan Tinggi dan industri, baik BUMN maupun swasta Peningkatan kemampuan SDM peneliti dengan tingkat pendidikan S2 san S3 Peningkatan jumlah peneliti dengan tingkat akademis S2 dan S3 Tersedianya SDM peneliti yang dibutuhkan untuk mengembang kan kapasitas nasional Tersedianya informasi industri yang memiliki kemampuan dan potensi sebagai penyedia kebutuhan yang terkait dengan kepentingan hankam Tersedianya informasi industri yang memiliki kemampuan dan potensi sebagai penyedia kebutuhan yang terkait dengan kepentingan hankam Terselenggara nya kemandirian dalam penyediaan kebutuhan yang terkait dengan kepentingan hankam Pelaksanan a.l. Dep. Han Perguruan Tinggi, LPND Ristek, Industri nasional Pengguna a.l : Dep han TNI & Polri Pelaksanan a.l. : Dep. Han, Perguruan Tinggi, LPND Ristek, Industri nasional Pengguna a.l : Dep han TNI & Polri Pelaksanan a.l.: Dep. Han, Perguruan Tinggi, LPND Ristek, Industri nasional Pengguna a.l : Dep han TNI & Polri

(2)

(3)

Terselenggaranya kerjasama di bidang litbangyasa alutsista

Pelibatan aktif LPND Riset, Perguruan Tinggi dan industri dalam memberikan pasokan teknologi

Peningkatan pasokan teknologi untuk memenuhi kebutuhan alutsista

DEWAN RISET NASIONAL 2006

: Dephan.l. Negara – negara sahabat Pengguna : Dephan TNI DEWAN RISET NASIONAL 2006 . AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 NO KEGIATAN INDIKATOR TARGET CAPAIAN KEBERHASILAN SASARAN KETERANGAN 2009 AKHIR 2025 2009 C KERjASAMA DENGAN LEMBAGA INTERNASIONAL (1) Kerjasama dengan lembaga internasional Peningkatan intensitas kegiatan kerjasama dengan kelembagaan iptek internasional dan peningkatan kontribusi finansial kelembagaan internasional untuk kegiatan litbang di dalam negeri Peningkatan penelitian yang dibiayai oleh kelembagaan internasional dan peningkatan jumlah bantuan sarana dan prasana litbang serta pemberian technical assistance Peningkatan kontribusi peneliti Indonesia dalam pengembangan teknologi pertahanan Pelaksana a.

l.l.AgendA Riset  IV PROGRAM PENINGKATAN KAPASITAS IPTEK SISTEM PRODUKSI NO (1) KEGIATAN Pemberdayaan industri nasional dalam rangka menciptakan kemandirian guna memperkecil ketergantungan alutsista dari luar INDIKATOR TARGET CAPAIAN KEBERHASILAN SASARAN KETERANGAN 2009 2009 AKHIR 2025 a) Meningkatnya kualitas dan kuantitas SDM di bidang rancang bangun dan perekayasaan dalam upaya mengembangkan kemampuan produksi alutsista b) Tersedianya sistem produksi komponen & sistem alutsista sesusai kebutuhan operasi c) Tersedianya regulasi pendanaan dalam mendukung pembangunan sishanneg d) Tersedianya regulasi yang menetapkan penggunaan produk industri pertahanan dalam negeri e) Terselenggara nya kerjasama industri pertahanan nasional dengan industri luar negeri a) Terwujudnya peningkatan SDM di bidang rancang bangun dan perekayasaan b) Peningkatan jumlah produksi komponen dan sistem fabrikator lokal c) Peningkatan pembangunan alutsista secara bertahap d) Peningkatan pembangunan alutsista secara bertahap e) Peningkatan kemampuan industri pertahanan nasional Kemandirian dalam penyediaan alutsista dan pemeliharaannya dengan tersedianya alutsista dan susku cadang yang diproduksi di dalam negeri Pelaksana a. Pertahanan Dep Keuangan Kementerian BUMN Kementerian Ristek Kementerian terkait DPR Pengguna a. Dep. : Industri hankam TNI/Polri A PEMBERDAYAAN INDUSTRI NASIONAL DEWAN RISET NASIONAL 2006 .

pemerataan dan keterjangkauan pelayanan kesehatan. (e) perilaku masyarakat yang kurang mendukung pola hidup sehat dan bersih. (c) mahalnya harga obat.1. Latar Belakang Permasalahan Pembangunan kesehatan merupakan upaya untuk memenuhi salah satu hak dasar rakyat. Kesehatan merupakan modal dasar pembangunan manusia seutuhnya dan sebagai tonggak awal pembangunan di segala bidang. (f) rendahnya kondisi kesehatan lingkungan. (g) rendahnya kualitas. dan (i) rendahnya status kesehatan penduduk miskin. (d) ketergantungan yang tinggi terhadap impor obat dan alat kesehatan/ kedokteran dari luar negeri.6. Kesehatan juga merupakan investasi untuk mendukung pembangunan ekonomi serta memiliki peran penting dalam penanggulangan kemiskinan. (b) beban ganda penyakit. Ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) mempunyai peran yang sangat penting dalam pembangunan kesehatan. Pembangunan iptek kesehatan pada hakekatnya ditujukan untuk meningkatkan kesadaran. Pembangunan kesehatan ditekankan kepada perilaku hidup sehat dan terciptanya lingkungan yang sehat serta terjangkaunya pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata. AGENDA RISET TEKNOLOGI KESEHATAN DAN OBAT-OBATAN 3. (h) terbatasnya tenaga kesehatan dan distribusinya yang tidak merata. Dalam Sistem Kesehatan Nasional.6. kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Permasalahan utama yang dihadapi adalah: (a) terjadinya disparitas status kesehatan.0 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 3. yaitu hak untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang bermutu seperti diamanatkan dalam UUD 1945 pasal 28 dan UU nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan. disebutkan bahwa penerapan kemajuan iptek kesehatan diutamakan pada iptek tepat guna untuk pelayanan kesehatan tingkat pertama (Puskesmas) dan iptek canggih DEWAN RISET NASIONAL 2006 .

berkualitas dan berdaya saing tinggi di tingkat lokal. Mengingat tantangan yang besar di era globalisasi.6. (2) Pengembangan bahan baku obat untuk memperkuat struktur industri bahan baku farmasi nasional agar secara bertahap dan berkesinambungan dapat mengurangi kebutuhan impor. yaitu penerapan iptek untuk: (1) Peningkatan status gizi masyarakat menuju pencapaian gizi seimbang serta tumbuh kembang anak dalam rangka menjaga kualitas manusia Indonesia. (3) Pengembangan obat bahan alam (OBA) melalui pemanfaatan sumberdaya hayati Indonesia menjadi produk obat alami (herbal terstandar. Kemajuan global di bidang iptek kesehatan. Untuk itu. kuratif dan paliatif seperti.2. Arah Kebijakan dan Prioritas Utama Arah kebijakan umum riset kesehatan tahun 2005-2009 dirumuskan dengan mengacu kepada kebijakan iptek dari Kementerian Negara Riset dan Teknologi dan Kebijakan Litbangkes Departemen Kesehatan. Kebijakan strategis nasional bidang teknologi kesehatan dan obat-obatan harus mampu memberikan solusi permasalahan kesehatan nasional. bioteknologi dan teknologi intervensi kuratif serta preventif berlangsung dengan pesat. vaksin. serta obat terapeutik dan alat diagnostika melalui pendekatan bioteknologi/protein rekombinan DEWAN RISET NASIONAL 2006 . 3. (4) Pengembangan obat yang mempunyai khasiat preventif. maka untuk mencapai hasil yang optimal perlu dikembangkan program riset kesehatan yang lebih terarah dan sistematis. regional maupun global. khususnya teknologi diagnostik. arah dan prioritas Pengembangan Teknologi Kesehatan dan Obat-obatan difokuskan pada tujuh bidang prioritas. dan fitofarmaka) yang mempunyai nilai tambah.AgendA Riset  untuk pelayanan kesehatan rujukan.

Target Capaian Tahun 2009 dan Sasaran Tahun 2025 (a) Target Capaian Tahun 2009 Program Penelitian dan Pengembangan Iptek Kesehatan. inovasi dan kemandirian dalam Teknologi Kesehatan dan Obat-obatan. obat dan bahan pembantu obat. pencegahan dan penyembuhan penyakit. Penguasaan teknologi produksi dan perawatan alat kesehatan/kedokteran untuk mengurangi ketergantungan impor serta kemandirian operasional dan perawatannya. proteomics dan teknologi nano untuk kesehatan dan kedokteran. peningkatan dan pemeliharaan kesehatan. Untuk mewujudkan penguasaan teknologi. AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 a. 3. serta pemulihan kesehatan. Target capaian tahun 2009 untuk program riset bidang gizi adalah tersedianya peta permasalah gizi di Indonesia. sumberdaya genetik. peningkatan pemahaman tentang DEWAN RISET NASIONAL 2006 . penyakit menular dan tidak menular. dan sistem informasi kesehatan. b. instrumentasi medik dan teknologi informatika. mekanisme kerja obat. kebijakan pangan & gizi yang mengarah pada peningkatan standar kualitas (aspek nutrisi dan keamanan konsumsi). diperlukan dukungan riset sains dasar khususnya di bidang kimia. alat/metoda penilaian status gizi yang cepat dan sahih untuk mengukur indikator pencapaian program gizi seimbang. produksi obat. biologi. Penerapan teknologi genomics. Pengendalian penyakit melalui deteksi dini.6. jaminan sosial. kesetaraan akses pelayanan kesehatan dasar. genetika dan biomolekuler yang terkait dengan gizi.3. c. Selain itu diperlukan juga riset-riset dasar dibidang sosial menyangkut kesehatan seperti perilaku hidup sehat. fisika. pemahaman hubungan antara gizi dan penyakit degeneratif serta metoda pengumpulan dan analisis datanya.

metode pengobatan pharmacogenomic. dan antiflu burung. antiinflamasi dari tanaman. Capaian hasil riset bidang obat bahan alam untuk tahun 2009 adalah: meningkatnya jumlah formula herbal terstandar (menjadi 50) dan fitofarmaka (15). anti demam berdarah dan anti flu burung./thn) untuk produksi antibiotik dan enzim untuk industri farmasi. dan model intervensi kecamatan rawan gizi spesifik lokal. imunomodulator. paket teknologi ekstrak terstandar tanaman obat unggulan yang ditetapkan BPOM (20 tanaman/ tahun). paket teknologi produksi antibiotika. 2α-interferon dan antibodi M-12 melalui sistem tanaman. tersedianya metode pencegahan (KIE). Capaian untuk sub-bidang riset penyakit tidak menular adalah: prototipe diagnostik yang mempunyai sensitivitas dan spesifisitas tinggi terhadap agen/faktor resiko penyebab kanker/penyakit kardiovaskuler /sindrom metabolik. human erythropoetin (hEPO). Model Peringatan Dini KLB. diperoleh sejumlah mikroba potentisial (5 sp. imunomodulator. serta pengendalian penyakit dan penyehatan lingkungan dipilah untuk masing-masing sub-bidang. terjangkau. dan Model Community Base penanggulangan penyakit menular. paket teknologi produksi obat dan diagnostika berbasis protein rekombinan a. dan praktis (dari injeksi diganti peroral). pemakaian Kit oleh Program.AgendA Riset  aspek genetika masalah gizi. paket validasi farmakologi sediaan obat degeneratif dan anti infeksi difokuskan pada antikanker.l. standardisasi diagnosis terutama untuk diagnosis molekuler (DNA) dan monitoring. dan panduan uji stabilitas sifat biokimia dan fitokimia tanaman obat terpilih difokuskan pada antikanker. sistem komunikasi gizi untuk mencapai Kadarzi. immunomodulator. Target capaian pada tahun 2009 untuk bidang penyakit menular dan tidak menular. kardiovaskuler. sindrom metabolik. anti demam berdarah. Capaian untuk sub-bidang riset penyakit menular adalah: kandidat vaksin yang murah. metode diagnosis DEWAN RISET NASIONAL 2006 . mikroba dan biota laut. kit diagnostik dengue melalui sistem yeast. antikanker.

dan prototipe sistem pemonitor pasien. dan Sistem surveillance gizi sentinel siap dipasang. obat pemeliharaan kesehatan dan obat demam DEWAN RISET NASIONAL 2006 . respiratory mask). AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 tepat guna. reservoir dan penyakit. Capaian pada tahun 2009 untuk riset bidang peralatan kesehatan /kedokteran adalah: database tentang produk instrumen medik sistem pemonitor pasien dan biosensor. prototipe alat biosensor untuk deteksi materi bioterorisme. Capaian riset sub-bidang penyehatan lingkungan adalah: model pengendalian vektor. kandidat biosensor untuk penyakit degeneratif yang tervalidasi secara klinis. capaian yang ditargetkan pada tahun 2009 adalah: diaplikasikannya teknologi ekstrak standar dari tanaman obat oleh mitra industri. prototipe alat kesehatan disposable berbasis bahan baku lokal (catheter. yankes dan industri. obat penyakit degeneratif. respiratory bag. (alat respirasi. diaplikasikannya paket teknologi produksi sediaan obat alami dengan indikasi khasiat antikanker. dan mapping genetik penyebab kanker. faktor resiko penyakit sindrom metabolik dengan polimorfisme genetik pada lokus-lokus khromosom yang telah dicurigai seperti dilaporkan peneliti lain dari bangsa Kaukasia yang belum tentu sama dengan bangsa Asia. prototipe alat diagnosa kedokteran nuklir. serta model peningkatan prilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) melalui pemberdayaan masyarakat. Posyandu ‘baru’ berbasis pengukuran status gizi dan metoda intervensi yang sahih dan tepat guna. teknologi tepat guna untuk pengelolaan limbah rumah tangga. Untuk bidang obat bahan alam. EKG. sistem dan prosedur untuk evaluasi scanner ultrasonografi. alat monitor suhu dan kadar oksigen). imunomodulator. Program Difusi dan Pemanfaatan Iptek Target capaian program difusi dan pemanfaatan iptek pada tahun 2009 untuk riset bidang gizi adalah: Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG) yang lebih efektif dan efisien.

diaplikasikannya paket teknologi produksi bahan baku obat berbasis fermentasi (antibiotika generasi baru.AgendA Riset  berdarah oleh mitra industri sehingga diharapkan dapat mencapai 50% dari nilai volume pasar obat di Indonesia. dan penyelenggaraan pelatihan alat kesehatan/kedokteran. diagnostika dengue. meningkatnya jumlah industri obat herbal yang menerapkan kaidah kualitas dan keamanan pakai bagi konsumen. vitamin. diaplikasikannya teknologi produksi bahan baku obat dan bahan tambahan (excipient) untuk pembuatan sediaan obat. pengendalian penyakit dan penyehatan lingkungan adalah: ditemukannya populasi resiko kanker tinggi. diterapkannya teknik diagnostik dan prognostik untuk kanker. vaksin flu burung. Capaian untuk bidang obat bahan alam adalah: tersedianya laboratorium litbang dan produksi yang memenuhi persyaratan GMP DEWAN RISET NASIONAL 2006 . hormon) oleh mitra industri. Capaian untuk bidang peralatan kesehatan/kedokteran yang ditargetkan adalah: pelayanan dan konsultasi pemakaian dan operasional alat kesehatan/kedokteran. dan tersedianya database nasional untuk kanker. Program Penguatan Kelembagaan Iptek Target capaian program penguatan kelembagaan iptek pada tahun 2009 untuk bidang gizi adalah terbentuk dan mantapnya Jejaring Iptek Sadar Gizi. diperoleh prototipe vaksin atau biologi target untuk kanker. kardiovaskuler/ sindrom metabolik. penurun kolesterol. kardiovaskuler/sindrom metabolik yang dapat diakses oleh pengguna yang memerlukannya. interferon). Target capaian program difusi dan pemanfaatan iptek pada tahun 2009 untuk bidang penyakit menular dan tidak menular. melalui lisensi dari perusahaan induk. kardiovaskuler/sindrom metabolik. dan tumbuhnya industri obat berbasis bioteknologi (antibiotika. kardiovaskuler/sindrom metabolik.

CPOTB). fasilitas atau laboratorium penanggulangan penyakit baru dan darurat (SARS. emerging dan re-emerging (TBC. dan peningkatan jumlah SDM yang memperoleh pendidikan. pelatihan dan pengalaman kerja di industri maju (lokal atau internasional). sistem manajemen iptek kesehatan terpadu sudah disosialisasikan dan siap diterapkan. Polio) dan sebagainya mulai dibangun dan dilengkapi alat yang diperlukan. penyakit tidak menular. draft rancangan etika iptek kesehatan sudah selesai. pengendalian penyakit. dan sudah disusun Tim Pengembangan Indikator dan statistik iptek kesehatan dengan draft indikator sampai dengan 2009. Untuk bidang penyakit menular. dan penyehatan lingkungan. teknologi peningkatan produksi antibiotika generasi baru. pendidikan dan wawasan yang luas dari kegiatan pertukaran informasi dan pengetahuan melalui event penting. target capaian pada tahun 2009 adalah: fasilitas atau laboratorium deteksi dini penyakit menular maupun tidak menular mulai dibangun dengan mengacu pada aturan akreditasi dan sertifikasi WHO. golongan obat gangguan metabolisme dan bahan baku obat lainnya DEWAN RISET NASIONAL 2006 . AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 (CPOB. sistem insentif dan pembiayaan iptek kesehatan melalui aturan regulasi yang berlaku. Capaian untuk bidang obat bahan alam adalah: teknologi peningkatan sistem produksi bahan baku farmasi dan obat alami melalui optimasi proses. dan ketersediaan makanan fungsional produk domestik yang dibutuhkan masyarakat untuk peningkatan gizinya. Flu burung). peningkatan kemampuan SDM yang sudah mendapatkan pelatihan. Peningkatan Kapasitas Iptek Sistem Produksi Target capaian program peningkatan kapasitas iptek sistem produksi pada tahun 2009 untuk bidang gizi adalah: tersusunnya formula lokal (Indonesia) pangan untuk intervensi gizi.

kardiovaskuler/ sindrom metabolik. Sasaran yang ingin dicapai pada tahun 2025 untuk bidang gizi adalah: penanganan berbagai masalah gizi dilakukan dengan perencanaan baik. teknologi diagnosis dan prognosis untuk kanker. Untuk bidang penyakit menular. informasi gizi (dan faktor terkait) jangka panjang tersedia. dan dimanfaatkan untuk produksi obat golongan antibiotik. penanggulangan masalah gizi didasarkan pada hasil penilaian status gizi yang sahih.AgendA Riset  melalui rekayasa optimasi strain (mutasi strain). sesuai dengan perkembangan peta masalah yang ada dan dimutakhirkan. kardiovaskuler/sindrom metabolik. Capaian untuk bidang peralatan kesehatan/kedokteran yang ditargetkan adalah tervalidasinya instumen kedokteran untuk diagnosa dan terapi di rumah sakit pemerintah dan swasta. DEWAN RISET NASIONAL 2006 . dan penyehatan lingkungan. kardiovaskuler/ sindrom metabolik. dan peningkatan proporsi Kadarzi sebesar 75% keluarga di Indonesia. penyakit tidak menular. target capaian pada tahun 2009 adalah: teknologi deteksi dini untuk kanker. mikroba yang ditemukan dari SDA Indonesia sudah diberi nomenclature sebagai indigenous Indonesia. penanganan berbagai masalah gizi secara mendasar sesuai dengan hasil kajian aspek genetika masalah gizi yang ada. Untuk bidang obat bahan alam sasarannya adalah: obat bahan alam hasil eksplorasi sumberdaya alam Indonesia sudah diproduksi dan dipasarkan di Indonesia oleh industri lokal. dan database kanker. dan teknologi peningkatan produksi beberapa bahan baku obat yang diprioritaskan melalui rekayasa molekuler biologi. pengendalian penyakit. prevalensi keracunan pangan menurun drastis. (b) Sasaran pada Tahun 2025 Program Penelitian dan Pengembangan Iptek Kesehatan.

terintegrasikannya obat alami dari herbal maupun sumberdaya alam lainnya yang sudah divalidasi melalui kajian fitokimia. Diharapkan tahun 2025 kebutuhan obat dan sediaan farmasi dari impor dapat dikurangi secara signifikan (dari 95% impor menjadi hanya 50% impor). Sasaran subbidang penyakit menular adalah: penggunaan vaksin secara merata dan penurunan kejadian penyakit menular. teknik tepat dan akurat dengan para ahli yg bertaraf international. pola DNA/genom bangsa Indonesia dari lokus-lokus yang merupakan faktor risiko dan gen-gen rentan (susceptible genes) timbulnya penyakit kanker dan sindrom metabolik. pencegahan penyakit kanker berbasis biomolekuler. dan kuratif seperti kit diagnostika vaksin. serta pengendalian penyakit dan penyehatan lingkungan dipilah untuk masing-masing sub-bidang. gaya hidup dan lingkungan (biohazard). dan penggunaan antimikroba rasional dan tepat. serta menjadi alternatif dan komplementer dengan pengobatan modern. antibodi. uji farmakologi (uji khasiat dan toksisitas praklinik maupun klinik untuk obat herbal terstandar dan fitofarmaka) ke dalam pelayanan kesehatan formal. AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 vitamin. Sasaran untuk sub-bidang penyakit tidak menular adalah: penurunan insiden penyakit kanker dan sindrom metabolik. pemakaian teknik terbaru pada semua rumah sakit besar/rujukan. sera serta obatobatan untuk penyakit menular dan tidak menular. data epidemiologik penduduk atau daerah yg mempunyai risiko tinggi. kesadaran masyarakat terhadap faktor risiko dengan pengaturan pola makan. semua tanaman obat unggulan dan tanaman obat lainnya sudah memiliki nilai standar sesuai yang ditetapkan oleh BPOM atau referensi baku lainnya. hormon dan enzim untuk industri farmasi. pencegahan KLB. dan tercapainya kemandirian dan ketersediaan obat dan sediaan farmasi berbasis bioteknologi atau protein rekombinan untuk upaya preventif. dan diagnosis lebih cepat dan tepat yang dapat diterapkan di Rumah DEWAN RISET NASIONAL 2006 . Sasaran hasil riset pada tahun 2025 untuk bidang penyakit menular dan tidak menular.

alat monitor suhu dan kadar oksigen). kemampuan nasional sistem deteksi materi bioterorisme. dan kemandirian pengoperasian dan perawatan instrumentasi medik baik pada perangkat keras (hardware).AgendA Riset  Sakit. Sasaran untuk sub-bidang penyehatan lingkungan adalah: model pengendalian vektor. respiratory mask). maupun perangkat lunak (software). respiratory bag. dan Model Peningkatan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dengan mengembangkan model-model pemberdayaan masyarakat yang mandiri dan mampu mencari solusi permasalahan yang timbul. Posyandu menjadi ujung tombak program. EKG. teknologi tepat guna untuk pengelolaan limbah rumahtangga. biosensor pemeriksaan penyakit degeneratif sudah dikomersialkan baik lokal maupun ekspor. serta surveillance gizi sentinel telah dikerjakan selama 20 tahun dan dapat dipergunakan sebagai basis pengambilan keputusan program gizi. yankes dan industri. Sasaran yang ingin dicapai pada tahun 2025 untuk riset bidang peralatan kesehatan /kedokteran adalah: instrumentasi medik untuk diagnosa dan terapi kesehatan sudah dibuat dengan kemampuan dan sumberdaya lokal. produksi instrumentasi medik terpilih dan suku cadangnya sesuai dengan prioritas dan kebutuhan pengguna. kemandirian produksi alat diagnosa nuklir PET-CT. produksi lokal untuk sistem pemonitor pasien (alat respirasi. reservoir dan penyakit. sistem standarisasi alat kesehatan/ kedokteran sudah terbangun. kemandirian produksi alat kesehatan disposable berbahan baku lokal (catheter. Program Difusi dan Pemanfaatan Iptek Sasaran program difusi dan pemanfaatan iptek yang ingin dicapai pada tahun 2025 untuk bidang gizi adalah: intervensi pangan dan gizi berbasis data SKPG dan mekanisme tanggap dini masalah pangan dan gizi di lapangan sebagai bagian integral sistem perbaikan gizi. melalui program ”Dokter Keluarga” (Family Physician). DEWAN RISET NASIONAL 2006 .

Program Penguatan Kelembagaan Iptek Sasaran program penguatan kelembagaan iptek pada tahun 2025 untuk bidang gizi adalah mantapnya mekanisme penyusunan program gizi berbasis Iptek DEWAN RISET NASIONAL 2006 . serta obat berbasis biologi molekuler untuk kardiovaskuler/ sindrom metabolik. vitamin). penurun kolesterol. peralihan pola industri farmasi dari trading ke manufacturing sehingga tercapai kemandirian produksi bahan baku obat esential. dan penyehatan lingkungan adalah: jumlah penderita kanker. sasaran tahun 2025 adalah: peningkatan kemampuan Rumah Sakit baik pemerintah maupun swasta untuk pengoperasian serta perawatan alat kesehatan/kedokteran. angka kesakitan dan kematian kanker. pengendalian penyakit. dan sera sehingga mampu mencukupi kebutuhan lokal. obat berbasis bioteknologi (antibiotika generasi baru. bahan baku tambahan. dan kemandirian nasional untuk produksi alat kesehatan/kedokteran terpilih serta suku cadangnya. dan database berbasis teknologi IT berisi peta profil penyakit kanker dan penyakit kardiovaskuler/sindrom metabolik sudah dipakai secara luas dan dapat diakses secara online di semua center di Indonesia. kardiovaskuler/ sindrom metabolik menurun. serta meningkatnya jumlah industri farmasi yang memproduksi obat berbasis bioteknologi dengan penerapan teknologi genomics. penyakit tidak menular. proteomics dan teknologi nano.0 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 Sasaran tahun 2025 untuk bidang obat bahan alam adalah: produk sediaan obat herbal menjadi produk komplementer obat modern. diresepkan oleh dokter dan ditanggung oleh asuransi kesehatan. Sasaran untuk bidang penyakit menular. Untuk bidang peralatan kesehatan/kedokteran. kardiovaskuler/sindrom metabolik di Indonesia menurun dan dapat dicegah. diaplikasikannya vaksin produksi lokal untuk kanker. diagnostika. vaksin.

meliputi kegiatan. dan integrasi pemakaian obat alami dalam sistem pelayanan kesehatan formal. sistem managemen iptek kesehatan terpadu sudah terbangun dan diaplikasikan secara nasional. Sasaran untuk bidang obat bahan alam adalah: meningkatnya volume pemakaian obat produksi lokal (sampai dengan 25% dari total DEWAN RISET NASIONAL 2006 . pertukaran informasi. baik sebagai alternatif maupun komplementer obat modern dan dijamin oleh sistem asuransi kesehatan. Peningkatan Kapasitas Iptek Sistem Produksi. etika iptek kesehatan sudah diaplikasikan secara nasional. pengetahuan dan pengalaman serta kerjasama penelitian dan aplikasinya. serta swasembada makanan fungsional. emerging dan re-emerging (TBC. Polio) yang dilengkapi dengan fasilitas dan peralatan yang memadai. pengendalian penyakit. dan penyehatan lingkungan adalah: tersedianya fasilitas atau laboratorium deteksi dini penyakit menular maupun tidak menular yang terakreditasi dan tersertifikasi oleh WHO. tersedia dan diaplikasikan sistem insentif dan pembiayaan iptek kesehatan agar dapat memberikan pelayanan kesehatan secara optimal. terbangun jejaring antar pelaku kesehatan (SDM). Jaringan Kesehatan Nasional. sasarannya pada tahun 2025 adalah: terbangun industri biofarmasi yang memproduksi obat berbasis bioteknologi dan mampu mencukupi kebutuhan lokal untuk obat. dan tersedia indikator dan statistik iptek kesehatan nasional yang dimutakhirkan datanya secara rutin. Program peningkatan kapasitas iptek sistem produksi menetapkan sasaran untuk bidang gizi pada tahun 2025 adalah penanggulangan masalah gizi dalam bentuk intervensi pangan yang layak produksi dan konsumsi. vaksin dan diagnostika. Flu burung).AgendA Riset  Untuk bidang obat bahan alam. Sasaran untuk tahun 2025 untuk bidang penyakit menular. penyakit tidak menular. efektif dan efisien. tersedianya fasilitas atau laboratorium penanggulangan penyakit baru dan darurat (SARS.

dan peningkatan kapasitas iptek sistem produksi. AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 konsumsi obat) baik obat alami.6. Untuk bidang peralatan kesehatan/kedokteran. yakni: (a) gizi. obat berbasis bioteknologi dan sediaan farmasi lainnya dalam sistem pelayanan kesehatan formal. perlu dilakukan riset tentang gizi. dan (6) teknologi komunikasi gizi untuk pencapaian Keluarga Sadar Gizi (KADARZI). serta (d) peralatan kesehatan / kedokteran. (3) hubungan gizi dan penyakit degeneratif. pengendalian penyakit. (c) penyakit menular. mencakup: (1) masalah kekurangan gizi (makro-mikro) dan kelebihan gizi. pendekatan sosial kemanusiaan untuk merubah paradigma masyarakat tentang DEWAN RISET NASIONAL 2006 . (2) pengembangan teknologi penilaian status gizi yang cepat dan sahih. sasaran yang ingin dicapai pada tahun 2025 adalah kemampuan nasional bidang teknologi produksi alat kesehatan atau suku cadang (spare part) untuk beberapa instrumen yang pemakaiannya sangat diperlukan. (4) keracunan makanan. yakni program difusi dan pemanfaatan iptek. Program Program riset kesehatan tentu perlu didukung oleh tiga program lainnya. penyakit tidak menular. dan penyehatan lingkungan. (5) aspek genetika masalah gizi di Indonesia. Oleh sebab itu.4. Selain itu. penguatan kelembagaan iptek. 3. (b) obat bahan alam. Bidang riset kesehatan yang dipilih disesuaikan dengan permasalahan nyata yang dihadapi sektor kesehatan pada saat ini. (a) Gizi Permasalah kesehatan yang terkait dengan status gizi masyarakat masih sangat aktual di Indonesia. Dukungan sains dasar ilmu genetika dan biomolekuler diperlukan untuk mendukung program gizi serta penyusunan model matematika untuk tatacara sensus ekonomi dan status gizi.

dan (3) pengembangan sistem surveillance sentinel gizi dan penyakit degeneratif. dengan DEWAN RISET NASIONAL 2006 . Kenyataan ini melandasi perlunya dilakukan riset tentang: (1) teknologi protein rekombinan untuk produksi obat dan sediaan farmasi melalui sistem yeast. sel mamalia dan tanaman. diagnostik maupun vaksin. (2) revitalisasi Posyandu sebagai basis pemantauan gizi keluarga. (5) teknologi uji praklinis (uji khasiat dan toksisitas) pada tanaman obat terpilih. (4) teknologi ekstrak standar dari tanaman obat untuk memenuhi kebutuhan bahan baku obat bahan alam (herbal terstandar dan fitofarmaka). Aplikasi ilmu genetika dan biomolekuler dalam bidang sains dasar diperlukan untuk mendukung pengembangan obat berbasis protein rekombinan. Peningkatan kapasitas iptek sistem produksi diimplementasikan dalam bentuk: (1) pengembangan formula dan produk intervensi gizi yang efektif dan efisien. (b) Bahan Baku Obat dan Obat Bahan Alam Kebutuhan obat secara nasional masih sangat bergantung pada bahan baku obat impor.AgendA Riset  perlunya penerapan pola diet menuju gizi seimbang juga perlu dilakukan. maupun daerah. (2) senyawa bioaktif dari bahan alam. sedangkan dari sisi lain kekayaan biodiversitas yang dimiliki Indonesia sangat potential untuk dikelola sebagai sumber obat bahan alam (OBA). dan (2) pengembangan makanan fungsional Indonesia. Selain itu perlu dikembangkan dan diperkuat lembaga iptek sadar gizi di tingkat nasional. Agar hasil riset yang dilakukan dapat diadopsi oleh masyarakat atau pihak pengguna lainnya. dan (6) pengujian stabilitas biokimia dan karakterisitik fitokimia tanaman obat terpilih. maka perlu ditunjang dengan kegiatan difusi iptek yang mencakup: (1) pengembangan Sistem Kewaspadaan Pangan & Gizi (SKPG) yang tepat guna. baik untuk obat. (3) skrining mikroba potential penghasil senyawa aktif untuk bahan baku farmasi (antibiotik dan enzim).

farmasi. kimia fisika. antikolestrol. bioproses diperlukan untuk pengembangan obat bahan alam berbasis sintesis kimia. kimia proses. DEWAN RISET NASIONAL 2006 . obat alami dan obat berbasis bioteknologi/protein rekombinan. Peningkatan kapasitas iptek sistem produksi diimplementasikan melalui kegiatan: (1) percepatan trasnformasi industri bahan baku farmasi. bioinformatika serta manajemen pengelolaan sumberdaya hayati dan lingkungan . Penguatan kelembagaan dilakukan dengan: (1) peningkatan sarana laboratorium bioteknologi. Selain itu aplikasi ilmu kimia material. dan (2) peningkatan kompetensi SDM bidang teknologi produksi obat melalui training dan magang baik lokal maupun internasional (3) peningkatan komunikasi tentang kebijakan sistem kesehatan nasional. enzim) oleh mitra industri. biosintesa dan rekayasa genetika. bahan baku obat dan bahan tambahan (excipient) serta obat berbasis bioteknologi. kimia analitik. ekstraksi dan fermentasi. dan kebijakan riset serta hasilhasil penelitian pengembangan obat bahan alam diantara lembagalembaga terkait untuk mendorong pemanfaatan dan pengakuan obat bahan alam dalam sistem pelayanan kesehatan nasional. AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 memperhatikan bioetika dan nilai-nilai kemanusiaan yang universal. Kegiatan riset ini perlu didukung dengan upaya difusi dan pemanfaatan iptek. biosintesis. vitamin. obat bahan alam. genomik dan proteomik. Untuk mendukung program pengembangan obat bahan alam diperlukan biodiversitas yang memadai. pelayanan kesehatan. obat bahan alam. obat alami dan obat berbasis bioteknologi/protein rekombinan. (2) peningkatan teknologi sistem produksi bahan baku farmasi. medika ketingkat CPOB (Cara Produksi Obat yang Baik). bahan baku obat dan bahan tambahan (excipient) serta beberapa obat berbasis bioteknologi (antibiotika generasi batu. berupa: (1) aplikasi paket teknologi produksi obat herbal. dan (3) peningkatan teknologi produksi bahan baku obat secara fermentasi. dan (2) pemberdayaan industri obat herbal.

diseminasi dan komersialisasi teknologi pencegahan penyakit menular DEWAN RISET NASIONAL 2006 . yankes dan industri. Kegiatan riset yang perlu dilakukan untuk mencari solusi teknologi atas permasalahan kesehatan ini adalah: (1) pengembangan kandidat vaksin dan kit diagnostika potensial untuk pengendalian penyakit menular (Malaria. Sedangkan untuk merubah paradigma masyarakat dari penanggulangan dan pengendalian penyakit menjadi promosi sehat secara holistik. diseminasi dan komersialisasi teknologi kesehatan untuk deteksi dini dan prognosis penyakit kanker.AgendA Riset  (c) Penyakit menular. (3) teknologi pencegahan penyakit kanker. kardivaskular dan penyaklit metabolik melalui aplikasi vaksin dan berbasis sel target. pengendalian penyakit dan penyehatan lingkungan. Kegiatan difusi iptek diarahkan kepada: (1) aplikasi. emerging dan reemerging.HIV. (5) model pengendalian vektor. degeneratif. (6) teknologi tepat guna untuk pengelolaan limbah rumah tangga. (2) teknologi deteksi dini dan prognosis kanker maupun penyakit kardiovaskular dan sindrom metabolik. SARS/Flu Burung/H5IN). kardiovaskuler dan sindrom metabolik. (2) aplikasi teknologi diagnosis dan prognosis kanker/penyakit kardiovaskuler dan metabolik untuk diseminasi dan komersialisasi untuk pencapaian standar dan mutu produk. Dengue. dan (7) Model Peningkatan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). penyakit tidak menular. (4) teknologi informasi untuk membuat database kanker dan penyakit kardiovaskuler/sindrom metabolik. diperlukan pendekatan sosial kemanusiaan melalui Model Peningkatan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). TB. Masalah penyakit menular dan tidak menular serta kesehatan lingkungan masih merupakan isu penting. (3) aplikasi. Dalam bidang sains dasar aplikasi ilmu genetika dan biomolekuler diperlukan untuk memahami proses dan mekanisme penyakit menular. serta deteksi penyakit berbasis sel target. reservoir dan penyakit.

asam urat. Polio) dsb. maka sangat perlu untuk dilakukan upaya untuk mengembangkan teknologi kesehatan sebagai berikut: (1) teknologi instrumentasi medik untuk diagnostika dan terapi kesehatan. dan (5) peningkatan apresiasi dan kesadaran masyarakat tentang upaya pemeliharaan kesehatan. (2) teknologi produksi alat kesehatan disposable berbahan baku lokal (catheter. respiratory bag. (3) biosensor untuk pemeriksaan penyakit degeneratif (diabetes. yang dilengkapi dengan fasilitas dan peralatan yang memadai. dll). (5) pengembangan sistem managemen iptek kesehatan terpadu. Kegiatan untuk penguatan kelembagaan untuk mendukung kegiatan riset ini adalah: (1) pembangunan fasilitas atau laboratorium deteksi dini penyakit menular maupun tidak menular yang terakreditasi dan tersertifikasi oleh WHO. peta. serta pertukaran informasi dan kemampuan iptek kesehatan antar pelaku dan praktisi kesehatan. Flu burung). kholesterol. seminar. (2) pembangunan fasilitas atau laboratorium penanggulangan penyakit baru dan darurat (SARS. (4) penyempurnaan sistem insentif dan pembiayaan iptek kesehatan agar dapat memberikan pelayanan kesehatan secara optimal. workshop dan sebagainya. (6) peningkatan etika iptek kesehatan. (3) peningkatan kompetensi SDM bidang kesehatan melalui pendidikan. dan (7) pengembangan indikator dan statistik iptek kesehatan (d) Alat Kesehatan/Kedokteran Untuk menjamin ketersediaan peralatan kesehatan/kedokteran dan mengurangi ketergantungan pada impor. (5) DEWAN RISET NASIONAL 2006 . respiratory mask) untuk mengurangi kebutuhan impor. pelatihan. (4) aplikasi. AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 dan tidak menular melalui pemasyrakatan cara hidup sehat dan aplikasi vaksin. efektif dan efisien. diseminasi dan komersialisasi teknologi informasi untuk membuat database. profil penyakit kanker dan penyakit kardiovaskuler/ sindrom metabolik. (4) biosensor untuk menangkal bioterorisme. emerging dan re-emerging (TBC.

Aplikasi biofisika dan instrumentasi sebagai bagian dari sains dasar diperlukan untuk mendukung pengembangan biosensor. (8) perekayasaan untuk peningkatan fungsi instrumentasi medik. dan (10) teknologi produksi perangkat keras dan spare part-nya serta operasional perangkat lunak alat kesehatan/kedokteran. (7) sistem dan prosedur untuk evaluasi performa scanner ultrasonografi. (9) standardisasi alat kesehatan/kedokteran. Selain itu. sebagai pendukung. sistem pemonitor pasien. dan (2) audit teknologi instumentasi medik untuk terapi dan diagnosa kesehatan. dan (2) pengembangan dan penerapan kurikulum teknologi alat kesehatan/kedokteran pada fakultas kedokteran dan unit pendidikan terkait. difokuskan pada alat respirasi. dan (2) aplikasi hasil litbang produksi perangkat keras dan perangkat lunak oleh industri alat kesehatan/kedokteran. Selain itu juga diperlukan perekayasaan instrumentasi medik. dan perangkat lunak untuk modalitas terapi. (6) teknologi diagnosa kedokteran nuklir (PET-CT). DEWAN RISET NASIONAL 2006 . standardisasi dan kalibrasi alat kesehatan kedokteran. alat monitor suhu dan kadar oksigen. berupa: (1) pengembangan pranata regulasi alat kesehatan/kedokteran. perlu dilakukan upaya peningkatan kapasitas iptek sistem produksi. Kegiatan program difusi dan pemanfaatan iptek yang mendukung adalah: (1) penyediaan jasa konsultasi dan pelatihan pemakaian dan perawatan alat kesehatan/kedokteran. Penguatan kelembagaan dilakukan melalui: (1) pengembangan fasilitas layanan dan konsultasi pemakaian dan perawatan alat kesehatan/kedokteran. EKG.AgendA Riset  prototip sistem pemonitor pasien.

Universitas. RS Ibu dan Anak. AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 I PROGRAM PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN IPTEK NO A GIzI (1) KEGIATAN INDIKATOR TARGET CAPAIAN KEBERHASILAN SASARAN KETERANGAN 2009 AKHIR 2025 2009 Sudah terciptanya kondisi sadar gizi serta gizi seimbang pada masyarakat. Penanganan berbagai masalah gizi dilakukan dengan perencanaan baik. Industri Makanan Fungsional Penelitian berbagai Tersedianya peta permasalah gizi di masalah gizi: gizi Indonesia kurang (makromikro) dan gizi lebih (2) Pengembangan teknologi penilaian status gizi yang cepat dan sahih Tersedianya alat/ metoda penilaian status gizi yang cepat dan sahih Tersedianya model intervensi kecamatan rawan gizi spesifik lokal (3) Penelitian hubungan Pemahaman hubungan antara gizi dan penyakit gizi dan penyakit degeneratif serta degeneratif metoda pengumpulan dan analisis datanya Informasi gizi (dan faktor terkait) jangka panjang tersedia Kebijakan pangan & (4) Penelitian keracunan makanan gizi yang mengarah pada peningkatan standar kualitas (aspek nutrisi dan keamanan konsumsi) Prevalensi keracunan pangan menurun drastis DEWAN RISET NASIONAL 2006 .: Industri pangan.: Litbang LPND. sesuai dengan perkembangan peta masalah yang ada & dimutakhirkan Penanggulangan masalah gizi didasarkan pada hasil penilaian status gizi yang sahih Pelaksana a.l. Litbang Industri (Swasta).l. Depkes. Pengguna a.

Universitas. Litbang Industri (Swasta). Meningkatnya temuan strain penghasil antibiotika dan antikanker dari SDA Indonesia DEWAN RISET NASIONAL 2006 . antiinflamasi dari biota laut (spons. enzim). Paket teknologi produksi antibiotika.l. : Litbang LPND.l. Mikroba yang ditemukan dari SDA Indonesia sudah diberi nomenclature sebagai indigenous Indonesia.: Industri farmasi.l. Meningkatnya temuan senyawa aktif penghasil antibiotika dan antikanker dari SDA Indonesia Obat bahan alam hasil eksplorasi sumberdaya alam Indonesia sudah diproduksi dan dipasarkan di Indonesia oleh industri lokal. Litbangkes B BAHAN BAKU OBAT DAN OBAT BAHAN ALAM (1) Penelitian dan pengembangan senyawa bioaktif dari bahan alam. Pengguna a.: LPND. antikanker. dan dimanfaatkan untuk produksi obat antibiotik dan enzim untuk industri farmasi Pelaksana a. Diperoleh sejumlah mikroba potentisial (5 sp. Industri Makanan Fungsional (2) Skrining mikroba potential penghasil senyawa aktif untuk bahan baku farmasi (antibiotik.AgendA Riset  NO KEGIATAN INDIKATOR TARGET CAPAIAN KEBERHASILAN SASARAN KETERANGAN 2009 2009 AKHIR 2025 Dihasilkannya pola genetik yang terkait dengan gizi Tersedianya data-data awal nutrigenomics Penanganan berbagai masalah gizi secara mendasar sesuai dengan hasil kajian aspek genetika masalah gizi yang ada Pelaksana a.: LPND. immunomodulator. fungi dan mikroba) dan tanaman. Universitas. Litbangkes (5) Penelitian dasar genetika dan biomolekuler dalam program gizi (6) Pengembangan model matematika untuk sensus ekonomi dan status gizi (7) Pengembangan teknologi komunikasi gizi untuk pencapaian Keluarga Sadar Gizi (Kadarzi) Dihasilkannya model matematika sensus ekonomi dan status gizi Indonesia Tersusunnya sistem komunikasi gizi untuk mencapai Kadarzi Tersedianya data awal Terkasedianya sensus ekonomi dan data lengkap status gizi Indonesia sensus ekonomi dan status gizi Peningkatan proporsi Kadarzi sebesar 75% keluarga di Indonesia Pelaksana a.l./thn) untuk produksi antibiotik dan enzim untuk industri farmasi. Depkes. antikanker. Universitas. Industri Obat Alami.

kuratif dan paliatif Semua tanaman obat unggulan dan tanamn obat lainnya sudah memiliki nilai standar sesuai yang ditetapkan oleh BPOM atau referensi baku lainnya. Terintegrasikannya OBA. kanker. Diproduksinya obat dan alat diagnostik melalui pendekatan bioteknologi baik melalui lisensi dan transfer teknologi dari negara industri maju maupun hasil riset sendiri. baik dari herbal maupun sumberdaya alam lainnya ke dalam SISYANKES dan SISKESNAS sebagai terapi komplementer pengobatan modern Standardisasi dan karakterisasi sifat fitokimia tanaman obat sudah diterapkan secara lebih luas lagi pada berbagai tanaman obat. dll Meningkatnya jumlah tanaman obat yang sudah dikarakterisasi sifat-sifat fitokimianya sebagai alat bantu penentuan kandungan (standardisasi) senyawa aktifnya. flu burung. Meningkatnya jumlah simplisia dan ekstrak terstandar untuk produk herbal standar dan fitofarmaka Tercapainya kemandirian dan ketersediaan obat dan alat diagnostik melalui pendekatan bioteknologi untuk upaya preventif. (5) Pengembangan teknologi uji praklinis (Uji khasiat dan toksisitas) dan uji klinis tanaman obat terpilih Paket uji praklinis dan klinis sediaan OBA untuk penyakit infeksi dan non infeksi. seperti demam berdarah. 2-Interferon dan antibodi M-12. kardiovaskuler.l. Litbang Industri (Swasta). Human Erythropoetin (hEPO).l. sindrom metabolik. Industri Biofarmasi (3) Penelitian dan pengembangan produksi obat dan diagnostik melalui bioteknologi (4) Pengembangan teknologi ekstrak standar dari tanaman obat untuk memenuhi kebutuhan bahan baku obat alami (herbal terstandar dan fitofarmaka). seperti demam berdarah. flu burung. : Litbang LPND. Depkes. : Industri farmasi. Pelaksana a. DEWAN RISET NASIONAL 2006 . Pengguna a.00 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 NO KEGIATAN INDIKATOR TARGET CAPAIAN KEBERHASILAN SASARAN KETERANGAN 2009 2009 AKHIR 2025 Paket teknologi produksi obat dan alat diagnostik (Kit Diagnostk dengue. fitofarmaka) baik melalui pengobatan sendiri maupun melalui resep dokter (6) Pengujian stabilitas biokimia dan karakterisitik fitokimia tanaman obat terpilih Panduan uji stabilitas sifat biokimia dan fitokimia tanaman obat terpilih difokuskan pada penyakit infeksi dan noninfeksi. imunomodulator. imunomodulator. Universitas. dll Meningkatnya pemakaian dan kepercayaan masyarakat dan tenaga kesehatan tentang OBA (herbal terstandar. dll) melalui bioteknologi Paket teknologi ekstrak standar tanaman obat unggulan yang ditetapkan BPOM (20 tanaman/tahun). Industri Obat Alami. antikanker.

Yankes. : Rumah Sakit. Universitas. penyakit kardiovaskuler/ simbol metabolik untuk pengembangan biologi target dan vaksin Meningkatnya jumlah dan kemampuan produksi vaksin berbasis sumberdaya lokal Diperoleh data base kanker.: Litbang LPND. HIV. HIV. kardiovaskuler dan sindrom metabolik oleh user sebagai indikasi pentingnya database tersebut sebagai piranti medis. kardiovaskuler dan sindrom metabolik Meningkatnya akses data base kanker. Pengguna a. Masyarakat pada umumnya C PENYAKIT MENULAR DAN TIDAK MENULAR. Depkes. kardivaskular dan penyakit metabolik melalui aplikasi vaksin dan berbasis sel target. Angka insidensi kanker di Indonesia menurun. PENGENDALIAN PENYAKIT DAN PENYEHATAN LINGKUNGAN (1) Pengembangan kandidat vaksin dan kit diagnostika potensial untuk pengendalian penyakit menular (Malaria. DEWAN RISET NASIONAL 2006 . penyakit kardiovaskuler/ sindrom metabolik di Indonesia (3) Pengembangan teknologi pencegahan penyakit kanker. Litbang Industri (Swasta). Dengue. SARS/Flu Burung/ H5IN) (2) Pengembangan teknologi deteksi dini dan prognosis kanker/penyakit kardiovaskular dan sindrom metabolik Pemakaian Kit diagnostik oleh Program. SARS/Flu Burung/ H5IN) sudah bisa dikendalikan dan tersedia vaksin serta kit diagnostikanya Pelaksana a. Tenaga medis. serta pengobatan pharmakogenomik Meningkatnya jumlah dan kemampuan produksi diagnostika berbasis sumberdaya lokal. TB. TB.AgendA Riset 0 NO KEGIATAN INDIKATOR TARGET CAPAIAN KEBERHASILAN SASARAN KETERANGAN 2009 2009 AKHIR 2025 emakaian Kit diagnostik oleh Program serta tersedianya kandidat vaksin.l. Meningkatnya jumlah temuan vaksin dari sumberdaya lokal atau jumlah produk vaksin secara lisensi Penyakit menular (Malaria.l. tersedia peralatan dan teknologi serta SDM kompeten di seluruh Indonesia Ketersediaan biologi target dan vaksin untuk kanker. Dimanfaatkannya data base kanker. yang murah terjangkau dan penggunaan yg praktis (dari injeksi diganti peroral). Klinik. Dengue. kardiovaskuler dan sindrom metabolik secara luas oleh masyarakat medis. (4) Pengembangan teknologi IT untuk membuat data base kanker dan penyakit kardiovaskuler/ sindrom metabolik Ketersediaan mapping genetik untuk kanker.

reservoir dan penyakit. yankes dan industri.l.0 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 NO KEGIATAN INDIKATOR TARGET CAPAIAN KEBERHASILAN SASARAN KETERANGAN 2009 2009 AKHIR 2025 Tersedianya model pengendalian vektor. Pengguna a. Kandidat Biosensor hasil penelitian lokal tersebut mulai diaplikasikan. YanKes. Kemampuan nasional sistem deteksi materi bioterorisme dan penyakit degeneratif Pelaksana a. : Litbang LPND. (6) Pengembangan teknologi tepat guna untuk pengelolaan limbah rumahtangga. Klinik (2) Pengembangan teknologi diagnosa kedokteran nuklir PET-CT (3) Penelitian dan pengembangan biosensor untuk deteksi materi bioterorisme dan penyakit degeneratif Diperoleh prototipe alat diagnosa kedokteran nuklir PET-CT Alat diagnosa kedokteran nuklir PET-CT diaplikasikan dirumah sakit. Pelayanan Kesehatan dan Industri sudah dapat tertangani dengan baik sehingga tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan (5) Pengembangan model pengendalian vektor. Instrumentasi medik untuk diagnosa dan terapi kesehatan sudah dibuat dengan kemampuan dan sumberdaya lokal Kemandirian produksi alat diagnosa nuklir PET-CT. Universitas. dan industri semakin baik. D ALAT KESEHATAN (1) Pengembangan teknologi instrumentasi medik dan suku cadangnya untuk diagnostika dan terapi kesehatan Tersedia database tentang produk instrumen medik dan suku cadangnya sistem pemonitor pasien dan biosensor. Litbang Industri (Swasta). Rumah Sakit. Tersedianya teknologi tepat guna untuk pengelolaan limbah rumah tangga.: Industri Alat Kesehatan/kedokteran. reservoir dan penyakit memberikan hasil lebih baik Pengelolaan limbah rumah tangga. Meningkatnya kemampuan tenaga medis dalam pemakaian serta perawatan alat kesehatan/kedokteran. reservoir dan penyakit. Depkes. yankes dan industri. reservoir dan penyakit sudah baku Limbah rumah tangga.l. Pengendalian vektor. Sistem pengendalian vektor. Diperoleh kandidat biosensor untuk deteksi bakteri antrax dan marker penyakit degeneratif DEWAN RISET NASIONAL 2006 .

difokuskan pada alat respirasi. EKG. respiratory bag. Prototip sistem pemonitor pasien. EKG. Sistem dan prosedur untuk evaluasi performa scanner ultrasonografi diterapkan secara baik (8) Pengembangan teknik standardisasi dan kalibrasi alat kesehatan/ kedokteran Diperolehnya teknik stadardisasi dan kalibrasi beberapa alat kesehatan/kedokteran Standaraisasi dan kalibrasi alat kesehatan/ kedokteran menjadi bagian penting dari pengguna DEWAN RISET NASIONAL 2006 . alat monitor suhu dan kadar oksigen) diujikan di RS Kemampuan produksi lokal untuk sistem pemonitor pasien. (alat respirasi. (5) Pengembangan teknologi produksi alat kesehatan disposable berbahan baku lokal untuk mengurangi kebutuhan impor. alat monitor suhu dan kadar oksigen). alat monitor suhu dan kadar oksigen. Kemandirian produksi alat kesehatan disposable berbahan baku lokal (catheter. (7) Pengembangan sistem dan prosedur untuk evaluasi performa scanner ultrasonografi. Prototip alat kesehatan disposable berbahan baku lokal tersebut diterima dan diaplikasikan di RS Tersedianya sistem dan prosedur untuk evaluasi performa scanner ultrasonografi. respiratory mask).AgendA Riset 0 NO KEGIATAN INDIKATOR TARGET CAPAIAN KEBERHASILAN SASARAN KETERANGAN 2009 2009 AKHIR 2025 Diperoleh prototip sistem pemonitor pasien. Diperoleh prototip alat kesehatan disposable berbahan baku lokal (catheter. respiratory bag. Sistem dan prosedur untuk evaluasi performa scanner ultrasonografi diterapkan secara baik Sistem Standarisasi dan kalibrasi alat kesehatan/ kedokteran sudah terbangun (4) Pengembangan prototip sistem pemonitor pasien. alat monitor suhu dan kadar oksigen). respiratory mask). EKG. (alat respirasi. EKG. (alat respirasi.

Sebagai bagian integral sistem perbaikan gizi Posyandu menjadi ujung tombak program. Pelaksana a. DEWAN RISET NASIONAL 2006 . Klinik. Tenaga medis. Depkes.0 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 II PROGRAM KEGIATAN DIFUSI DAN PEMANFAATAN IPTEK NO A GIzI (1) KEGIATAN Pengembangan Sistem Kewaspadaan Pangan & Gizi (SKPG) yang tepat guna INDIKATOR TARGET CAPAIAN KEBERHASILAN SASARAN KETERANGAN 2009 AKHIR 2025 2009 SKPG yang lebih efektif dan efisien SKPG yang lebih efektif dan efisien sudah diaplikasikan Intervensi pangan & gizi berbasis data SKPG dan mekanisme respons dini masalah pangan dan gizi di lapangan. Pengguna a.l. Litbang Industri (Swasta). telah dikerjakan selama 20 tahun dan dapat dipergunakan sebagai basis pengambilan keputusan program gizi. Masyarakat pada umumnya (2) Revitalisasi Posyandu sebagai basis pemantauan gizi keluarga Posyandu ‘baru’ berbasis pengukuran status gizi dan metoda intervensi yang sahih & tepat guna.l.: Litbang LPND. Posyandu semakin disadari sebagai instrumen penting untuk pemantauan gizi keluarga (3) Sistem surveillance gizi Pengembangan sistem surveillance sentinel siap dipasang sentinel gizi dan penyakit degeneratif Diaplikasikannya Surveillance sistem surveillance gizi gizi sentinel sentinel.: Rumah Sakit. Universitas.

Meningkatnya jumlah industri jamu dan industri farmasi yang memproduksi obat herbal terstandar dan fitofarmaka. vitamin. Klinik. Litbang Industri Herbal dan Farmasi (Pemerintah dan Swasta). antikolestrol. Diaplikasikannya teknologi produksi bahan baku obat dan bahan tambahan (excipient) untuk pembuatan sediaan obat Terjadinya shifting (peralihan) pola industri farmasi dari trading ke manufacturing sehingga tercapai kemandirian produksi bahan baku obat esential. bahan baku tambahan. penurun kolesterol.AgendA Riset 0 NO KEGIATAN INDIKATOR TARGET CAPAIAN KEBERHASILAN SASARAN KETERANGAN 2009 2009 AKHIR 2025 Diaplikasikannya teknologi ekstrak standar dari tanaman obat oleh mitra industri. Tenaga medis. vitamin) oleh mitra industri. : Rumah Sakit. vitamin). bahan baku obat dan bahan tambahan (excipient) serta beberapa obat berbasis bioteknologi (antibiotika generasi batu. B BAHAN BAKU OBAT DAN OBAT BAHAN ALAM (1) Aplikasi paket teknologi produksi OBA. Depkes. Diaplikasikannya paket teknologi produksi bahan baku obat berbasis fermentasi (antibiotika generasi baru. Produk sediaan obat herbal menjadi produk komplementer obat modern. enzim). vaksin. imunomodulator dan obat demam berdarah oleh mitra industri. Universitas. bahan baku obat dan bahan tambahan (excipient) serta obat berbasis bioteknologi. Meningkatnya produk sediaan obat herbal untuk indikasi antikanker.l. penurun kolesterol. (2) Pemberdayaan industri OBA. oleh mitra industri. diagnostika dan sera sehingga mampu mencukupi kebutuhan lokal DEWAN RISET NASIONAL 2006 . Industri obat herbal. diresepkan oleh Dokter dan di”cover” oleh Asuransi Kesehatan Pelaksana a. bahan baku obat dan bahan tambahan. Dokter. : Litbang LPND. Pengguna a.l. obat berbasis bioteknologi (antibiotika generasi baru. genomik dan proteomik Diaplikasikannya paket teknologi produksi sediaan obat herbal untuk indikasi antikanker. industri farmasi. imunomodulator dan obat demam berdarah Meningkatnya kesadaran dan kepercayaan industri lokal untuk beralih dari trading ke arah manufacturing untuk obat berbasis bioteknologi.

Depkes. : Litbang LPND. Meningkatnya kesadaran masyarakat untuk melalukan deteksi dini penyakit kanker kardiovaskuler dan sindrom metabolik sudah diterapkan secara Jumlah penderita kanker.: Industri. LPND.0 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 NO KEGIATAN INDIKATOR TARGET CAPAIAN KEBERHASILAN SASARAN KETERANGAN 2009 2009 AKHIR 2025 Tumbuhnya industri obat berbasis bioteknologi (antibiotika. Litbang Industri Herbal dan Farmasi (Pemerintah dan Swasta). Litbangkes. seperti vaksin. Universitas. Diaplikasikannya vaksin produksi lokal untuk kanker. kardiovaskuler/ sindrom metabolik Meningkatnya penemuan penyakit pada stadium lebih dini Angka kesakitan dan kematian kanker. melalui lisensi dari perusahaan induk. dll. Pelaksana a. diseminasi dan komersialisasi teknologi kesehatan untuk deteksi dini dan prognosis penyakit kanker. kardiovaskuler/ sindrom metabolik menurun Menurunnya insidensi penyakit menular dan tidak menular di Indonesia Diterapkannya teknologi pencegahan penyakit menular dan tidak menular.l. kardiovaskuler/sindrom metabolik. industri farmasi. proteomics dan teknologi nano. RS. (2) Aplikasi teknologi diagnosis dan prognosis kanker/penyakit kardiovaskuler dan metabolik untuk diseminasi dan komersialisasi untuk pencapaian standar dan mutu produk (3) Aplikasi. serta obat berbasis biologi molekuler untuk kardiovaskuler/ sindrom metabolik. Industri obat herbal. diseminasi dan komersialisasi teknologi pencegahan penyakit menular dan tidak menular Ditemukannya populasi high risk kanker. Diterapkannya teknik diagnostik dan prognostik untuk kanker. Universitas. Puskesmas DEWAN RISET NASIONAL 2006 . kardiovaskuler/ sindrom metabolik di Indonesia menurun . C PENYAKIT MENULAR DAN TIDAK MENULAR. serta deteksi penyakit berbasis sel target.l. interferon). Tenaga medis. Pengguna a. diagnostika dengue.l. PENGENDALIAN PENYAKIT DAN PENYEHATAN LINGKUNGAN (1) Aplikasi. Dokter. Meningkatnya jumlah industri farmasi yang memproduksi obat berbasis bioteknologi Meningkatnya jumlah industri farmasi yang memproduksi obat berbasis bioteknologi dengan penerapan teknologi genomics. Klinik. Pelaksana a. kardiovaskuler dan sindrom metabolik. : Rumah Sakit. vaksin flu burung.

profil penyakit kanker dan penyakit kardiovaskuler/ sindrom metabolik diaplikasikan Database berbasis teknologi IT berisi peta profil penyakit kanker dan penyakit kardiovaskuler/ sindrom metabolik sudah dipakai secara luas dan dapat diakses secara online di semua center di Indonesia Terbangunnya perubahan paradigma pada masyarakat dari pendekatan pengobatan penyakit ke pendekatan pemeliharaan kesehatan secara holistik Pelaksana a.: Litbang LPND. Depkes. (4) Aplikasi. Klinik. : Rumah Sakit. Klinik DEWAN RISET NASIONAL 2006 .: Industri Alat Kesehatan/kedokteran.: Litbang LPND. peta. Universitas. Tenaga medis. diseminasi dan komersialisasi teknologi IT untuk membuat data base. Dimanfaatkannya teknologi IT untuk membuat data base.l. Industri obat herbal. Depkes. Pengguna a. (5) Diseminasi perubahan paradigma hidup sehat secara holistik Mengubah pandangan masyarakat dari pendekatan pengobatan penyakit ke pendekatan pemeliharaan kesehatan secara holistik Meningkatnya kesadaran masyarakat tentang pemeliharaan kesehatan secara holistik D ALAT KESEHATAN (1) Penyediaan jasa konsultasi dan pelatihan pemakaian dan perawatan alat kesehatan/ kedokteran Pelayanan dan konsultasi pemakaian dan operasional alat kesehatan/kedokteran Meningkatnya pemanfaatan jasa konsultasi dan pelatihan pemakaian dan perawatan alat kesehatan/kedookteran Peningkatan kemampuan Rumah Sakit baik pemerintah maupun swasta untuk pengoperasian serta perawatan alat kesehatan/ kedokteran Pelaksana a.l.AgendA Riset 0 NO KEGIATAN INDIKATOR TARGET CAPAIAN KEBERHASILAN SASARAN KETERANGAN 2009 2009 AKHIR 2025 Diterapkannya teknologi IT untuk membuat data base.l. profil penyakit kanker dan penyakit kardiovaskuler/ sindrom metabolik. Universitas. Rumah Sakit. Litbang Industri Herbal dan Farmasi (Pemerintah dan Swasta). Pengguna a. Dokter. Litbang Industri (Swasta). industri farmasi.l. peta. peta. profil penyakit kanker dan penyakit kardiovaskuler/ sindrom metabolik.

0 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 NO KEGIATAN INDIKATOR TARGET CAPAIAN KEBERHASILAN SASARAN KETERANGAN 2009 AKHIR 2025 2009 Pelatihan alat kesehatan/kedokteran menjadi kegiatan rutin Kemandirian nasional untuk produksi beberapa alat kesehatan/ kedokteran terpilih serta sparepart (2) Aplikasi hasil litbang Penyelenggaraan pelaproduksi perangkat tihan alat kesehatan/ keras dan perangkat kedokteran lunak oleh industri alat kesehatan/ kedokteran DEWAN RISET NASIONAL 2006 .

Peningkatan jumlah SDM yang memperoleh pendidikan. Diknas. Pelaksana a.l. Pemda.l.: Litbangkes. Institusi Riset.: Litbangkes. Industri Farmasi DEWAN RISET NASIONAL 2006 . Deptan. Universitas B BAHAN BAKU OBAT DAN OBAT BAHAN ALAM Peningkatan sarana laboratorium biotek.: Nilai Kebutuhan KNRT. baik sebagai alternatif maupun komplementer obat modern dan di cover oleh sistem asuransi kesehatan. Puskesmas. Institusi Riset.AgendA Riset III PENGUATAN KELEMBAGAAN IPTEK NO A GIzI (1) Terbentuk dan mantapPengembangan nya Jejaring IPTEK Lembaga IPTEK sadar gizi di pusat & Sadar Gizi daerah Pendekatan sosial kemanusiaan untuk merubah paradigma hidup sehat menuju pola gizi seimbang Meningkatnya kesadaran masyarakat tentang paradigma hidup sehat Jejaring IPTEK Sadar Gizi sudah operasional Mantapnya mekanisme penyusunan program gizi berbasis IPTEK Pelaksana: Depkes. Pengguna : Masyarakat KEGIATAN 0 INDIKATOR TARGET CAPAIAN KEBERHASILAN SASARAN KETERANGAN 2009 AKHIR 2025 2009 (2) Tersedianya konsep paradigma hidup sehat menuju pola gizi seimbang Terpenuhinya Pelaksana a. /Kecukupan Gizi Depkes. medika ketingkat GMP (COPB. pelatihan dan pengalaman kerja di industri maju (lokal dan internasional) Meningkatnya komTerjadinya integrasi petensi SDM bidang teknologi produksi obat pemakaian obat alami dalam sistem pelayanan kesehatan formal. CPOTB) Sudah terbangun industri biofarmasi yang memproduksi obat berbasis bioteknologi dan semi sintesa dan mampu mencukupi kebutuhan lokal untuk obat. farmasi. CPOTB) Tersedianya laboratorium litbang dan produksi yang memenuhi persyaratan GMP (CPOB. elaksana a. Industri Farmasi Peningkatan kompetensi SDM bidang teknologi produksi obat melalui training dan magang baik lokal maupun internasional. vaksin dan diagnostika. Tersedianya laboratorium litbang dan produksi yang memenuhi persyaratan GMP (CPOB.l. Posyandu. CPOTB).

kardiovaskuler/ sindrom metabolik. Pelaksana : Depkes Pengguna a. C PENYAKIT MENULAR DAN TIDAK MENULAR. kanker. (2) Pembangunan fasilitas atau laboratorium penanggulangan penyakit baru dan darurat (SARS. PENGENDALIAN PENYAKIT DAN PENYEHATAN LINGKUNGAN. Pemda. KNRT. SISYANKES. emerging dan re-emerging (TBC. Flu burung). emerging dan reemerging Tersedianya fasilitas atau laboratorium deteksi dini penyakit menular maupun tidak menular yang terakreditasi dan tersertifikasi oleh WHO. kebijakan riset dan hasil-hasil penelitian pengembangan OBA untuk pemanfaatan dan pengakuan dalam SISYANKES INDIKATOR TARGET CAPAIAN KEBERHASILAN SASARAN KETERANGAN 2009 2009 AKHIR 2025 Terjadinya jejaring komunikasi dalam pengembangan OBA untuk diintegrasikan kedalam SISYANKES Tersedianya kebijakan pemanfaatan dan penggunaan OBA dalam SISYANKES Dimanfaatkannya OBA secara luas oleh masyarakat dan diterima oleh para dokter dan tenaga medis lainnya. emerging dan re-emerging (TBC. Polio) dsb mulai dibangun dan dilengkapi alat yang diperlukan Tahapan pembangunan fasilitas atau laboratorium penanggulangan penyakit baru dan darurat (SARS. Deptan. Polio) dimulai. Flu burung). yang dilengkapi dengan fasilitas dan peralatan yang memadai. emerging dan re-emerging (TBC. Flu burung). emerging dan re-emerging (TBC. Fasilitas atau laboratorium deteksi dini penyakit menular maupun tidak menular mulai dibangun dengan mengacu pada aturan akreditasi dan sertifikasi WHO Tersedianya teknologi deteksi dini untuk penyakit menular. yang dilengkapi dengan fasilitas dan peralatan yang memadai. Polio) dsb.: RS dan YanKes Secara bertahap fasilitas atau laboratorium penanggulangan penyakit baru dan darurat (SARS. Institusi riset/universitas. DEWAN RISET NASIONAL 2006 .l. LPND. Tersedianya fasilitas atau laboratorium penanggulangan penyakit baru dan darurat (SARS. Lembaga Terkait : Depkes. BPOM. Polio) dsb.0 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 NO KEGIATAN Peningkatan komunikasi tentang kebijakan SISKESNAS. (1) Pembangunan fasilitas atau laboratorium deteksi dini penyakit menular maupun tidak menular yang terakreditasi dan tersertifikasi oleh WHO. Flu burung).

“Jaringan melalui pendidikan. (4) Penyempurnaan sistem insentif dan pembiayaan iptek kesehatan agar dapat memberikan pelayanan kesehatan secara optimal. dan wawasan yang Kesehatan luas dari kegiatan worksop dsb.AgendA Riset  NO INDIKATOR TARGET CAPAIAN KEBERHASILAN SASARAN KETERANGAN 2009 2009 AKHIR 2025 Meningkatnya Meningkatnya ke(3) Peningkatan Sudah terbangun jejaring kemampuan SDM yang mampuan SDM yang kompetensi SDM antar pelaku sudah mendapatkan sudah mendapatkan bidang kesehatan kesehatan pelatihan. Diusulkan Sistem insentif dan pembiayaan iptek kesehatan melalui aturan regulasi yang berlaku Usulan Sistem insentif dan pembiayaan iptek kesehatan dapat respon persetujuan dari Pemerintah dan DPR Sudah tersedia dan diaplikasikan sistem insentif dan pembiayaan iptek kesehatan agar dapat memberikan pelayanan kesehatan secara optimal. KEGIATAN Sistem managemen iptek kesehatan terpadu sudah disosialisasikan dan siap diterapkan Sistem managemen iptek kesehatan terpadu sudah disosialisasikan dan siap diterapkan Tersedianya Draft Rancangan Etika iptek kesehatan Draft indukator iptek kesehatan s/d 2009 sudah selesai (6) Peningkatan etika iptek kesehatan (7) Pengembangan indikator dan statistik iptek kesehatan Draft Rancangan Etika iptek kesehatan sudah selesai Sudah disusun Tim Pengembangan Indikator dan statistik iptek kesehatan dengan draft indikator s/d 2009 DEWAN RISET NASIONAL 2006 . antar pelaku dan pengetahuan praktisi kesehatan. Sistem managemen iptek kesehatan terpadu sudah terbangun dan diaplikasikan secara nasional Etika iptek kesehatan sudah diaplikasikan secara nasional Tersedia indikator dan statistik iptek kesehatan nasional yang diupdate secara rutin. efektif dan efisien. serta luas dari kegiatan Nasional” meliputi pertukaran informasi pertukaran informasi pertukaran informasi kegiatan. dan pengetahuan dan pengetahuan dan kemampuan pertukaran melalui event-event iptek kesehatan informasi. seminar. pendidikan (SDM). efektif dan efisien. dan pengalaman serta kerjasama penelitian dan aplikasinya. (5) Pengembangan sistem managemen iptek kesehatan terpadu. pendidikan dan wawasan yang pelatihan. penting. pelatihan.

: Universitas.l. LPND Pengguna: Tenaga medis D ALAT KESEHATAN (1) Pengembangan fasilitas layanan dan konsultasi pemakaian dan perawatan alat kesehatan/ kedokteran (2) Pengembangan dan penerapan kurikulum teknologi alat kesehatan/ kedokteran pada fakultas kedokteran dan unit pendidikan terkait Mulai diaplikasikannya kurikulum teknologi alat kesehatan/kedokteran pada fakultas kedokteran dan unit pendidikan terkait Mulai diaplikasikannya kurikulum teknologi alat kesehatan/kedokteran pada fakultas kedokteran dan unit pendidikan terkait DEWAN RISET NASIONAL 2006 . AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 NO KEGIATAN INDIKATOR TARGET CAPAIAN KEBERHASILAN SASARAN KETERANGAN 2009 2009 AKHIR 2025 Tersedianya fasilitas layanan dan konsultasi pemakaian dan perawatan alat kesehatan/kedokteran bagi RS dan klinik Fasilitas layanan dan konsultasi pemakaian dan perawatan alat kesehatan/kedokteran sudah disosialisasikan ke pengguna (RS dan klinik) Berkurangnya secara signifikan ketergantungan institusi layanan kesehatan dalam pemakaian dan perawatan alat kesehatan/ kedokteran Peningkatan secara signifikan kompetensi dibidang teknologi alat kesehatan bagi para tenaga medis Pelaksana a.

(3) DEWAN RISET NASIONAL 2006 . Industri Makanan Fungsional KEGIATAN INDIKATOR TARGET CAPAIAN KEBERHASILAN SASARAN KETERANGAN 2009 AKHIR 2025 2009 (2) Pengembangan Makanan Fungsional Indonesia Ketersediaan makanan fungsional produk domestik yang dibutuhkan masyarakat untuk peningkatan gizinya Makanan fungsional produk domestik sudah mulai dipasarkan B BAHAN BAKU OBAT DAN OBAT BAHAN ALAM (1) Percepatan transformasi industri bahan baku farmasi.: Litbang LPND. Klinik. Peningkatan teknologi sistem produksi bahan baku farmasi. Litbang Industri (Swasta). obat berbasis bioteknologi dan sediaan farmasi lainnya oleh pasien melalui resep dokter atau sistem pelayanan kesehatan formal. Depkes. Universitas. Pengguna a. Pelaksana a. Peningkatan teknologi produksi bahan baku obat secara fermentasi. Universitas.l. Teknologi Iptek sistem produksi untuk obat herbal. Industri farmasi. biosintesa dan rekayasa genetika. bahan baku tambahan dan obat berbasis bioteknologi mengalami percepatan dan dapat segera diaplikasikan Meningkatnya volume pemakaian obat produksi lokal (sampai dengan 25% dari total konsumsi obat) baik obat alami. golongan obat gangguan metabolisme dan bahan baku obat lainnya melalui rekayasa optimasi strain (mutasi strain) Diperoleh teknologi peningkatan produksi beberapa bahan baku obat yang diprioritaskan melalui rekayasa molekuler biologi. Tenaga medis. : Litbang LPND. Dokter. Diperoleh teknologi peningkatan sistem produksi bahan baku farmasi dan obat alami melalui optimasi proses. (2) Diperoleh teknologi peningkatan produksi antibiotika generasi baru.l.l. Litbang Industri Farmasi (Pemerintah dan Swasta). RS Ibu dan Anak.: Rumah Sakit. OBA dan obat berbasis bioteknologi/protein rekombinan. bahan baku farmasi terpilih.AgendA Riset  IV PROGRAM PENINGKATAN KAPASITAS IPTEK SISTEM PRODUKSI NO A GIzI (1) Pengembangan formula dan produk intervensi gizi yang efektif-efisien Tersusunnya formula lokal (Indonesia) pangan untuk intervensi gizi Tersusunnya formula lokal (Indonesia) pangan untuk intervensi gizi Penanggulangan masalah gizi dalam bentuk intervensi pangan yang layak produksi dan konsumsi Swasembada makanan fungsional Pelaksana a. Depkes. Pengguna a.: Industri pangan.l. OBA dan obat berbasis bio teknologi/protein rekombinan.

DEWAN RISET NASIONAL 2006 . (2) Audit teknologi instumentasi medik untuk terapi dan diagnosa kesehatan. AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 NO KEGIATAN INDIKATOR TARGET CAPAIAN KEBERHASILAN SASARAN KETERANGAN 2009 2009 AKHIR 2025 C ALAT KESEHATAN (1) Pengembangan pranata regulasi alat kesehatan/ kedokteran Tervalidasinya instumen kedokteran untuk diagnosa dan terapi di RS Pemerintah dan RS lainnya. Kemampuan nasional dibidang teknologi produksi alat kesehatan atau suku cadang (spare part) untuk beberapa instrumen yang pemakaiannya sangat diperlukan. LPND.l : Depkes. Meningkatnya kapasitas dan keakuratan instrumentasi medik untuk diagnosa atau terapi. Bapeten. Pelaksana a.

Agenda Riset Nasional berperanan strategis dalam mempromosikan koordinasi dan sinergi di antara berbagai lembaga iptek nasional—baik lembaga pemerintahan maupun oganisasi swasta. difusi dan pemanfaatan iptek. Aktualisasi berbagai program dalam Agenda Riset Nasional diharapkan juga memberikan kontribusi jangka panjang yang signifikan di sektor ekonomi dan di sektor-sektor pembangunan yang lainnya. Mempertimbangkan tingginya dinamika masyarakat di dalam pergaulan antarbangsa dan dinamika iptek itu sendiri. BAB IV PENUTUP Realisasi dari berbagai program yang dirumuskan dalam Agenda Riset Nasional ini diharapkan memberikan sumbangan yang berarti dalam pewujudan visi tentang iptek sebagai: “kekuatan utama peningkatan kesejahteraan yang berkelanjutan dan peradaban bangsa” Dokumen Agenda Riset Nasional ini menyediakan prioritas riset dan tonggak capaian pembangunan nasional iptek yang mencakup pengembangan iptek. serta meningkatkan mobilitas dan optimalitas pemanfaatan sumber daya iptek nasional. penguatan kelembagaan iptek. dan peningkatan kapasitas di berbagai sistem produksi nasional. Sebagai pedoman nasional berupa garis besar haluan pembangunan iptek. maka dokumen Agenda Riset Nasional ini perlu dipandang DEWAN RISET NASIONAL 2006 . baik penghasil iptek maupun pengguna iptek.

serta sistem difusi dan adopsi iptek. dan membangun masa depan yang lebih cerah bagi generasi penerus cita-cita bangsa. dalam kerangka upaya meningkatkan kesejahteraan yang berkeadilan. DEWAN RISET NASIONAL 2006 . AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 sebagai panduan yang bersifat dinamis dan responsif. Aktualisasi Agenda Riset Nasional akan mencapai hasil yang signifikan hanya bila disertai dengan dukungan dari berbagai sistem penopangnya yang mencakup sistem perencanaan. yang terbuka terhadap penyempurnaan. Hasil capaian ini akan memiliki dampak nyata yang meluas bila seluruh unsur kelembagaan dan pemangku-kepentingan iptek nasional memiliki komitmen yang kuat untuk menjadikan dokumen ini pedoman dalam pembangunan nasional iptek. sistem pembiayaan.

Teknologi budidaya tanaman. Teknologi pasca panen Tekonologi informasi & komunikasi (T) 1) Telekomunikasi berbasis internet (IP) untuk masyarakat pedesaan 2) Sistem informasi berbasis SMS Teknologi Kesehatan dan Obat-obatan (CT) 1) Pemetaan masalah gizi 2) Teknologi penilaian status gizi yang cepat dan sahih 3) Teknologi komunikasi gizi untuk pencapaian Keluarga Sadar Gizi (c). Sistem informasi: produksiagroindustri-pasar DEWAN RISET NASIONAL 2006 . Lampiran KETERKAITAN ANTAR BIDANG-BIDANG ARN 2006 – 2009 1. KETAHANAN PANGAN Ketahanan Pangan (a). ternak dan ikan Bidang Lainnya Sumber Energi Baru dan Terbarukan (CT) Kompetisi pemanfaatan lahan untuk tanaman pangan dengan tanaman bio-energi Teknologi dan Manajemen Transportasi (ST) 1) Pengembangan jaringan transportasi ke sentra produksi pangan 2) Rancang-bangun sarana transportasi khusus untuk pengangkutan saprodi dan hasil pertanian Teknologi Hankam(CT) Peningkatan kemampuan bio-defence untuk senjata biologi Teknologi Kesehatan dan Obat-obatan Budidaya tanaman bahan baku pangan fungsional (ST) Sumber Energi Baru dan Terbarukan (CT) Kompetisi pemanfaatan hasil tanaman pangan yang juga potensial untuk bio-energi Teknologi dan Manajemen Transportasi (ST) Sarana transportasi untuk perishable food products Teknologi Hankam (T) Kemasan pangan untuk mendukung operasional hankam Teknologi Kesehatan dan Obat-obatan (T) Penelitian hubungan gizi dan penyakit degeneratif (b).

dan Keamanan Energi Hidrogen (f) Pembangunan & Pengoperasian PLTN Teknologi dan Manajemen Transportasi (T) Pengembangan infrastruktur untuk mendukung akses dan distribusi listrik manajemen bakar dalam reaktor manajemen bahan bakar dalam reaktor DEWAN RISET NASIONAL 2006 . Distribusi. Teknologi pengawasan pangan Bidang Lainnya Teknologi Hankam (T) 1) Penguasaan ilmu mikrobiologi untuk menghadapi bioterorisme 2) Teknologi Kesehatan dan Obat-obatan Penelitian keracunan makanan 2. minimalisasi dampak lingkungan Ketahanan Pangan (T) LitBang Tek Pasca Panen. SUMBER ENERGI BARU DAN TERBARUKAN Sumber Energi Baru dan Terbarukan (a) Pengembangan Teknologi Sistem Konversi Energi Angin (SKEA) Bidang Lainnya Ketahanan Pangan (T) Litbang Tek Pasca Panen. AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 Ketahanan Pangan (d). Teknik Pengawasan Pangan dan harmonisasi pemanfaatan lahan Teknologi Komunikasi dan Informasi (T) Litbang sumber energi untuk sistem komunikasi di pedesaan Teknologi dan Manajemen Transportasi (T) Pengembangan infrastruktur (b) Program Pengembangan Panas Bumi (c) Pengembangan Iptek Produksi Biofuel (d) Pengkajian dan Penerapan Berbagai Sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya (e) Pengembangan Teknik Produksi. Teknologi Pengawasan Pangan Teknologi Komunikasi dan Informasi (T) Litbang Telekom berbasis IP untuk masyarakat pedesaan Teknologi dan Manajemen Transportasi (T) Pengembangan infrastruktur transportasi Ketahanan Pangan (CT) Pengembangan harmonisasi dan sinergi dengan tanaman pangan Teknologi dan Manajemen Transportasi (ST) Studi standardisasi sarana dalam konteks: konservasi dan penghematan energi. Penyimpanan.

TEKNOLOGI DAN MANAJEMEN TRANSPORTASI Teknologi dan Manajemen Transportasi (a) Optimasi Sistem Transportasi Bidang Lainnya Teknologi Hankam (T) 1) Teknologi GPS dan inderaja untuk monitoring juga dapat dimanfaatkan untuk optimalisasi sistem transportasi 2) Optimalisasi sistem transportasi juga dapat dimanfaatkan untuk mendukung sistem logistik Teknologi Hankam (T) Sarana transportasi (air dan udara) dapat distandardisasi untuk dilengkapi dengan teknologi GPS dan inderaja untuk monitoring sesuai kebutuhan (sipil. militer. bioteknologi dan teknologi iradiasi) 3. Polri) Sumber Energi Baru dan Terbarukan (ST) Teknologi baru harus mempertimbangkan konservasi energi.lAmPiRAn  Sumber Energi Baru dan Terbarukan (g) Pemanfaatan Teknologi Nuklir Untuk Mendukung Energi Fosil Dan Terbarukan Bidang Lainnya Ketahanan Pangan (T) Pengembangan Teknologi Budidaya Tanaman (Pemuliaan tanaman untuk pengembangan varietas unggul baru tanaman prioritas secara konvensional. laut dan udara Teknologi Hankam (T) Hasil studi regenerasi pesawat udara mungkin bisa dimanfaatkan oleh bidang pertahanan dan keamanan (b) Studi standardisasi sarana (c) Studi teknologi baru (d) Kajian korosi sarana dan prasarana transportasi (e) Regenerasi pesawat udara DEWAN RISET NASIONAL 2006 . penghematan energi dan minimalisasi dampak lingkungan Teknologi Hankam (T) Diharapkan teknologi baru yang dikaji dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pertahanan dan atau keamanan Teknologi Hankam (CT) Kajian masalah korosi diperlukan bagi alat angkut/wahana darat.

penghematan energi dan minimalisasi dampak lingkungan Teknologi Informasi dan Komunikasi (T) Teknologi informasi dan komunikasi yang sesuai sangat dibutuhkan untuk meningkatkan pelayanan bagi penumpang.0 AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 Teknologi dan Manajemen Transportasi (f) Angkutan perkotaan dan angkutan umum Bidang Lainnya Sumber Energi Baru dan Terbarukan (T) Penyediaan angkutan perkotaan dan angkutan umum dilaksanakan dengan mempertimbangkan konservasi energi. penghematan energi dan minimalisasi dampak lingkungan Teknologi Informasi dan Komunikasi (CT) Teknologi informasi dan komunikasi yang sesuai sangat dibutuhkan untuk mengoptimalkan kinerja sistem transportasi antar/multi moda Teknologi Hankam (CT) Pengembangan sistem GPS dan inderaja untuk monitoring serta komputerisasi untuk sistem logistik dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kinerja sistem transportasi antar/multi moda Sumber Energi Baru dan Terbarukan (ST) Konversi moda angkutan jalan memperhatikan jenisjenis energi yang telah tersedia maupun yang sedang dikembangkan dengan mempertimbangkan konservasi energi. bio diesel. gas. gasohol. penghematan energi dan minimalisasi dampak lingkungan (g) Transportasi antar/multi moda (h) Konservasi moda angkutan jalan untuk penggunaan energi alternatif (listrik. serta mengoptimalkan kinerja angkutan umum dan angkutan perkotaan Teknologi Hankam (T) Pengembangan sistem GPS dan indraja untuk monitoring dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kinerja angkutan perkotaan dan angkutan umum Ketahanan Pangan (CT) Rancang bangun jaringan prasarana transportasi untuk pengangkutan saprodi dan hasil pertanian Sumber Energi Baru dan Terbarukan (CT) Penyediaan transportasi antar/multi moda dilaksanakan dengan mempertimbangkan konservasi energi. dll) DEWAN RISET NASIONAL 2006 .

TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI Teknologi Informasi dan Komunikasi (a) Program pengembangan dan penelitian telekomunikasi berbasis Internet Protocol (IP) untuk masyarakat pedesaan Bidang Lainnya  Ketahanan Pangan (ST) Dengan adanya infrastruktur berbasis IP ini masyarakat pedesaan dapat mengakses Sistem Informasi: Produksi – Agroindustri – Pasar dengan biaya yang terjangkau Sumber Energi Baru dan Terbarukan (ST) Penggunaan SKEA dan PLTS untuk mendukung sistem telekomunikasi pedesaan Teknologi dan Manajemen Transportasi (T) Kemudahan dalam akses dan memilih tranportasi untuk angkutan hasil produksi Teknologi Hankam (T) Rancang bangun dan rekayasa Peralatan komunikasi Ketahanan Pangan (ST) Departemen Pertanian atau LSM mengisi konten dan membuka saluran broadcast khusus untuk informasi teknologi pertanian dan data produksi komoditas pangan utama karena kanal broadcasting tersedia cukup banyak Sumber Energi Baru dan Terbarukan (T) Sistem diseminasi informasi teknologi Batu bara kualitas rendah dengan menggunakan sarana digital broadcasting Teknologi dan Manajemen Transportasi (T) Akses pada sistem transportasi perkotaan (Rute.lAmPiRAn 4. Jadwal dan Biaya) dengan menggunakan digital broadcasting Teknologi Hankam (T) Pembangunan Sistem Pembinaan Wilayah (SPW) dengan memanfaatkan digital Broadcasting Teknologi Kesehatan dan Obat-obatan (ST) Sosialisasi Model Peningkatan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) melalui digital broadcasting (b) Program pengembangan dan penelitian teknologi penyiaran berbasis digital (digital broadcasting) DEWAN RISET NASIONAL 2006 .

Ketahanan Pangan (CT) Dalam diseminasi teknologi pertanian dan pengembangan situs komoditas pangan untuk ekspor bisa digunakan sarana multimedia digital supaya lebih menarik Sumber Energi Baru dan Terbarukan (T) Penggunaan creative digital untuk mensosialisasikan gerakan hemat energi antara lain: teknologi batu bara kualitas rendah. teknologi Hidrogen dll Teknologi dan Manajemen Transportasi (CT) Peningkatan kualitas dan kapasitas prasarana terminal dan bandara dengan menggunakan multimedia digital Ketahanan Pangan. dengan menggunakan perangkat keras dan lunak berbasis open source Teknologi Kesehatan dan Obat-obatan (T) Pembuatan data base kanker dan penyakit kardiovaskuler/sindrom metabolik dengan menggunakan perangkat lunak open source. AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 Teknologi Informasi dan Komunikasi (c) Program difusi dan pemanfaatan IPTEK TIK untuk perangkat keras dan perangkat lunak berbasis open source Bidang Lainnya Ketahanan Pangan (T) Pengembangan sistem informasi berbasis open source dan SMS untuk produksi dan pasar komoditas pangan pokok yang mudah diakses oleh petani dan pelaku agribisnis Sumber Energi Baru dan Terbarukan (T) Penggunaan Perangkat lunak berbasis open source untuk sistem pengelolaan pembangkit listrik Teknologi dan Manajemen Transportasi (ST) Tehnik simulasi sistem transportasi dan aplikasi etiket serta ITS dengan menggunakan perangkat lunak berbasis open source (ST) Teknologi Hankam (T) Kemandirian perangkat C3IS (Command Control Communication Intelligent and Surveillance). Sumber Energi Baru dan Terbarukan dan Teknologi dan Manajemen Transportasi (CT) Dalam pengembangan sistem informasi dibutuhkan SDM yang memiliki kompetensi standard dibidang TIK (d) Program peningkatan kapasitas IPTEK TIK untuk Creative Digital (e) Pengembangan standardisasi bidang teknologi informasi dan komunikasi DEWAN RISET NASIONAL 2006 .

laut dan udara Bidang Lainnya  Sumber Energi Baru dan Terbarukan (T) Pengembangan paket teknologi produksi biofuel secara tepat guna Teknologi dan Manajemen Transportasi (T) 1) Optimalisasi sistem transportasi 2) Studi standardisasi sarana 3) Studi teknologi baru 4) Kajian korosi sarana dan prasarana transportasi 5) Regenerasi pesawat udara Teknologi Informasi dan Komunikasi (T) Standardisasi TIK Sumber Energi Baru dan Terbarukan 1) Mengadopsi teknologi energi hidrogen (T) 2) Pengembangan instrumen pengukuran langsung bumi dan antariksa dengan teknologi inderaja (CT) Sumber Energi Baru dan Terbarukan (CT) Nuklir Teknologi Informasi dan Komunikasi (T) 1) Telkom berbasis internet protocol untuk pedesaan 2) Standardisasi TIK 3) Komputer murah Teknologi Informasi dan Komunikasi (T) 1) Telkom berbasis internet protocol untuk pedesaan 2) Standardisasi TIK 3) Komputer murah Teknologi Informasi dan Komunikasi (T) 1) Telkom berbasis internet protocol untuk pedesaan 2) Standardisasi TIK 3) Komputer murah (b) Peluru kendali dan roket (c) Bahan peledak dan propelan (d) Perangkat surveillance (e) Peralatan komunikasi (f) Sistem komando kendali DEWAN RISET NASIONAL 2006 .lAmPiRAn 5. TEKNOLOGI HANKAM Teknologi Hankam (a) Alat angkut/wahana darat.

ternak dan ikan 2) Teknologi pasca panen 3) Sistem Informasi Produksi-Agroindustri-Pasar 4) Teknologi Pengawasan Pangan 6) Pengembangan Paket Teknologi yang sesuai dengan kebutuhan pengguna (h) Studi aplikasi teknologi dan pengembangan GPS navigasi untuk pelacakan benda bergerak (i) Studi aplikasi inderaja untuk monitoring (j). Studi aplikasi teknologi komputer untuk pembangunan Sistem Pembinaan Wilayah dan Sistem Logistik Wilayah DEWAN RISET NASIONAL 2006 . AgendA Riset nAsionAl 2006 – 2009 Teknologi Hankam (g) Bekal/alat Khusus Bidang Lainnya Ketahanan Pangan (ST) 1) Teknologi budi daya tanaman. ternak dan ikan 2) Eksplorasi dan teknologi uji kelayakan pengolahan pangan baru 3) Teknologi pasca panen 4) Pengembangan paket teknologi Sumber Energi Baru dan Terbarukan (ST) 1) Diseminasi dan pemanfaatan teknologi SKEA 1) Pengemba ngan prototipe Sistem PLTS skala kecil dan menengah Teknologi Informasi dan Komunikasi (T) Komputer murah Teknologi Kesehatan dan Obat-obatan (T) 1) Gizi 2) Obat bahan alam 3) Alat kesehatan/kedokteran Teknologi dan Manajemen Transportasi (ST) 1) Optimasi Sistem Transportasi 2) Studi standardisasi sarana 3) Angkutan perkotaan dan angkutan umum 4) Transportasi antar/multi moda Teknologi dan Manajemen Transportasi (ST) 1) Optimalisasi Sistem Transportasi 2) Studi standardisasi sarana 3) Angkutan perkotaan dan angkutan umum 4) Transportasi antar/multi moda Ketahanan Pangan (ST) 1) Teknologi budi daya tanaman.

Studi aplik