Anda di halaman 1dari 32

Situs 1 MASJID SEBAGAI PUSAT PENDIDIKAN ISLAM Mangun Budiyanto

mangunbudiyanto.wordpress.com/.../masjid-sebagai-pusat-pendi... - Tembolok 20 Jun 2010 MASJID SEBAGAI PUSAT PENDIDIKAN ISLAM ... dikatakan dengan marka (tempat ruku') atau kata lain dari bagian penting dalam kegiatan sholat. ...

Diakses tgl30-06-2011 pkl 6.23

MASJID SEBAGAI PUSAT PENDIDIKAN ISLAM


Posted: Juni 20, 2010 by mangunbudiyanto in ke-masjid-an

( Tinjauan Historis ) Oleh Drs. Mangun Budiyanto I. PENGERTIAN MASJID Kata masjid berasal dari akar kata bahasa Arab yang berarti membungkuk dengan hormat dalam posisi sujud pada waktu sholat (Kamus Al-Munawwir, 1984: 650). Dari akar kata tersebut berubah menjadi masjid yang merupakan kata benda yang menunjukkan arti tempat sujud (isim makan dari fiil sajada). Sujud adalah merupakan perbuatan sholat yang paling mulia, yaitu agar seorang hamba mendekatkan diri kepada Tuhannya, maka isim makan: (kata benda yang menunjukkan tempat untuk sholat-pun diambil dari kata sujud yang kemudian berubah bentuknya menjadi masjid. Masjid tidak dikatakan dengan marka (tempat ruku) atau kata lain dari bagian penting dalam kegiatan sholat. Dari pengertian asal bahasa ini maka secara terminologi syari. Masjid adalah setiap bangunan atau tempat yang diperuntukkan keberadaannya untuk beribadah kepada

Allah dan sujud kepada-Nya ditempat itu walaupun sebenarnya, Islam membolehkan sholat diseluruh bagian bumi, kecuali pada tempat yang sudah jelas-jelas ada najisnya. Rasulullah SAW. Bersabda: Artinya: Telah dijadikan untukku bumi sebagai masjid dan sarana penyucian diri (HR Bukhari dan Muslim) M. Quraish Shihab (1996:459) menulis bahwa dalam pengertian sehari-hari, masjid merupakan bangunan tempat sholat kaum muslimin. Tetapi karena akar katanya mengandung makna tunduk dan patuh, hakekat masjid adalah tempat melakukan segala aktivitas yang mengandung kepatuhan kepada Allah semata. Karena itu AlQuran surat Al-Jin:18 misalnya, menegaskan bahwa : Artinya: Sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah, karena itu janganlah kamu menyembah sesuatupun selain Allah Ayat ini mengandung larangan untuk menyembah selain Allah di dalam masjid. Kenyataan ini merupakan sindiran atas perbuatan kaum musyrikin dimana mereka menyembah selain Allah yang mereka lakukan di dalam Masjidil Haram. Yang mereka sembah adalah patung-patung dan berhala. II. FUNGSI MASJID Al-Quran telah menjelaskan tentang fungsi masjid dan urgensinya sebagaimana dalam firman Allah QS. An-Nur:36-37. Artinya: Bertasbihlah kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu siang. Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak pula oleh jual beli dari mengingat Allah, dan

dari mendirikan sembahyang, dan membayar zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang (QS. An-Nur:36-37) Dari ayat di atas dapat dipahami bahwa Allah telah menetapkan tentang beberapa hak masjid, yaitu ia berhak untuk dimuliakan, diagungkan dan dihormati kesuciannya karena ia merupakan rumah Allah yang digunakan untuk beribadah oleh orang-orang yang sholat. Keagungan masjid adalah karena ia mampu melimpahkan berbagai kebaikan kepada orang yang senantiasa mengunjunginya, juga orang yang selalu mempersiapkan masjid dalam rangka menyambut kedatangan jamaah untuk sholat dan beribadah di dalamnya. Sementara itu, asas dan fondasi bangunan masjid adalah kualitas takwa yang dikucurkan kepada umat Islam, karena keagungan dan ketinggian Islam juga karena kebesaran dan kehormatannya. Masjid hanya digunakan untuk mengingat nama Allah. Sementara mengingat Allah itu mencakup beberapa bentuk yang sangat luas; antara lain sholat, adzan, membaca AlQuran dan mengajarkannya, mengajarkan beberapa cabang ilmu yang lain dan menyelenggarakan pendidikan di dalamnya. Ibnu Abbas berkata, Setiap tasbih (memuji Allah) di dalam Al-Quran menunjukkan makna kepada sholat. Sementara masjid dipersiapkan untuk melaksanakan sholat yang jauh dari hiruk pikuk kesibukan duniawi; jauh dari keramaian pasar dan kesibukan perdagangan; dan jauh dari memikirkan pintu-pintu rezeki. Kondisi seperti itu menjadikan masjid tetap berada dalam keagungan dan kesuciannya yang layak untuk dijadikan sebagai tempat melaksanakan sholat yang penuh dengan kekhusuan dan ketundukan kepada Allah. Saat itu pikirannya tidak membayangkan kesibukan pasar,

perdagangan dan perbuatan-perbuatan kotor. Orang-orang mukmin yang sungguhsungguh keimanannya, kehidupan dunianya tidak akan memalingkan dari

melaksanakan sholat ketika muadzin mengumandangkan adzan; tidak memalingkannya dari melaksanakan sholat ketika waktunya telah tiba; juga tidak memalingkannya dari taat kepada Allah yang dengan ketaatan itu jiwanya menjadi suci dan selamat dari fitnah dunia. (Depag DIY, 2003:7) Dzikir dan tasbih menurut sebagian ulama adalah membebaskan dan mengosongkan diri dari kelalaian dan kealpaan dengan cara melanggengkan kehadiran hati bersama Allah. Sementara masjid dibangun untuk melaksanakan itikaf didalamnya dan berdiam diri di dalam masjid yang bertujuan untuk beribadah dengan cara tertentu dan disertai dengan niat yang tulus. Allah SWT berfirman, Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang itikaf, yang ruku dan yang sujud. (QS. Al-Baqarah (2):125). Allah juga berfirman, Dan Masjidil Haram yang telah Kami jadikan untuk semua manusia baik yang bermukim (itikaf) disitu maupun di padang pasir. (QS. Al Hajj (22):25). Allah berfirman pula, Janganlah kamu campuri mereka itu, sedangkan kamu beritikaf di dalam masjid (QS. Al Baqarah (2): 87). III. FUNGSI MASJID DI MASA RASULULLAH SAW Ketika Rasulullah SAW berhijrah ke Madinah, langkah pertama yang beliau lakukan adalah membangun masjid kecil yang berlantaikan tanah, dan beratapkan pelepah kurma. Dari sana beliau membangun masjid yang besar, membangun dunia ini, sehingga kota tempat beliau membangun itu benar-benar menjadi Madinah, (seperti

namanya) yang arti harfiahnya adalah tempat peradaban, atau paling tidak, dari tempat tersebut lahir benih peradaban baru umat manusia. Masjid pertama yang dibangun oleh Rasulullah SAW (M. Quraish Shihab, 1996:461) adalah Masjid Quba, kemudian disusul dengan Masjid Nabawi di Madinah. Terlepas dari perbedaan pendapat ulama tentang masjid yang dijuluki Allah sebagai masjid yang dibangun atas dasar takwa (QS. Al-Tawbah (9):108), yang jelas bahwa keduanya Masjid Quba dan Masjid Nabawi dibangun atas dasar ketakwaan, dan setiap masjid seharusnya memiliki landasan dan fungsi seperti itu. Itulah sebabnya mengapa Rasulullah SAW meruntuhkan bangunan kaum munafik yang juga mereka sebut masjid dan menjadikan lokasi itu tempat pembuangan sampah dan bangkai binatang, karena di bangunan tersebut tidak dijalankan fungsi masjid yang sebenarnya, yakni ketakwaan. Al-Quran melukiskan bangunan kaum munafik itu sebagai berikut: Artinya: Dan (diantara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang Mukmin) dan karena kekafiran-(nya), dan untuk memecah belah antara orang-orang Mukmin, serta menunggu/mengamat-amati kedatangan orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu (QS. AlTawbah (9):107). Masjid Nabawi di Madinah telah menjabarkan fungsinya sehingga lahir peranan masjid yang beraneka ragam. Sejarah mencatat tidak kurang dari sembilan peranan yang telah diemban oleh Masjid Nabawi, yaitu sebagai: 1. 1. Tempat ibadah (sholat, dzikir dan sebagainya)

Didalam masjid Nabawi ini Rasulullah SAW bersama para sahabatnya senantiasa melaksanakan sholat fardlu lima waktu, sholat jumat, berdzikir dan bentuk-bentuk ibadah yang lainnya. Dengan demikian, masjid di masa Rasulullah SAW benar-benar menjadi pusat kaum muslimin membina hubungan vertikal kepada Allah. 1. 2. Sebagai tempat musyawarah Masjid dijadikan sebagai tempat musyawarah oleh Nabi SAW bersama para sahabatnya dalam rangka mengatur dan mengelola urusan agama dan kehidupan dunia mereka. Ia merupakan tempat yang paling utama untuk melakukan musyawarah, karena didalamnya seorang muslim jauh dari hawa nafsu dan godaan-godaan syetan. 1. 3. Pusat pendidikan dan memberi fatwa Masjid juga dijadikan sebagai tempat memberi fatwa oleh nabi dan para alim ulama kepada kaum muslimin mengenai berbagai problema mereka, baik yang berkaitan dengan urusan agama atau persoalan keduniaan mereka. Dari Abdullah bin Umar bahwasannya seseorang sedang berdiri di masjid lalu ia bertanya, Hai Rasulullah, dari arah manakah engkau memerintahkan kami untuk mulai membaca talbiyah dengan suara keras? Rasulullah SAW menjawab. Penduduk Madinah membaca talbiyah dengan keras dari daerah Dzul Khulaifah, penduduk Syam dari arah Juhfah, dan penduduk Najd dari Qorn. Abdullah berkata Telah sampai berita kepadaku bahwa rasulullah bersabda, Penduduk Yaman membaca talbiyah dengan keras dari arah Yalamlam. (Hadits dikeluarkan oleh Bukhari, Al-Luluwal Majan, no. 735) 1. 4. Sebagai tempat pengadilan.

Bila terjadi perselisihan, pertengkaran dan permusuhan diantara kaum muslimin, maka mereka harus didamaikan, diadili dan diberi keputusan hukum dengan adil yang pelaksanaannya dilakukan didalam masjid. Upaya-upaya tersebut dilakukan agar kaum muslimin mendapatkan kedamaian jiwa dan menemukan kenyamanan. Malik berkata (Dep. Agama DIY, 2003: 9): Pelaksanaan qadha (peradilan) di dalam masjid merupakan kebiasaan yang telah lama dijalani, dan dalam mengadili apapun. Halaman masjidnya pun dapat digunakan sebagai tempat duduk agar orang-orang yang lemah, orang-orang musyrik atau wanita yang sedang haidh bisa hadir dan mengikuti acara yang digelar di masjid. Adapun pelaksanaan hudud (hukuman) tidak boleh dilaksanakan di dalam masjid. 1. 5. Sebagai tempat penyambutan utusan Nabi Muhammad SAW pernah menyambut utusan dari Nasrani Najran di dalam masjid. Rombongan tersebut berjumlah enam puluh orang, diantaranya adalah empat belas orang yang menjadi para pembesar mereka. Rombongan tersebut memasuki masjid dengan menggunakan jubah (kenasranian) setelah selesai sholat ashar. Mereka menginap di Madinah beberapa hari untuk berdialog dengan Nabi Muhammad SAW tentang Isa AS. Beliau membantah pendapat-pendapat rombongan Nasrani sampai mereka pulang. Beliau juga mengutus Abu Ubaidah bin Jarrah agar menyelesaikan masalah dan mendamaikan mereka dalam perselisihan yang berkaitan dengan perbekalan yang mereka bawa. 1. 6. Sebagai pusat penjagaan dan pengembangan kehidupan sosial

Dari Utsman bin Yaman, ia berkata, Ketika para Muhajirin membanjiri kota Madinah tanpa memiliki rumah dan tempat tinggal, maka Rasulullah SAW menempatkan mereka di masjid dan beliau menamai mereka dengan Ashabush Shuffah. Beliau juga duduk bersama mereka dengan sikap yang sangat ramah. (HR. Baihaqi) Abdullah bin Umar pun tidur di masjid Rasul saat masih bujangan. 1. 7. Sebagai tempat akad nikah Aisyah RA berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda: Artinya: Beritakanlah pernikahan ini dan selenggarakanlah ia di dalam masjid, lalu pukullah rebana-rebana. (HR. Tirmidzi, Al Misykah, juz. II, no. 3152) Tidak diragukan lagi bahwa tempat yang paling suci untuk mengikat janji pernikahan adalah di dalam masjid. Hal ini diharapkan agar masyarakat muslim yang datang untuk menghadiri acara pernikahan itu dapat ditampung. Pemilihan tempat pernikahan di masjid itu mendorong pengantin untuk senantiasa memelihara tali pernikahan, dan mendorong para saksi untuk memelihara persaksian atas pernikahan itu. 1. 8. Sebagai pusat latihan perang Masjid dijadikan sebagai pusat latihan perang, baik untuk pembinaan fisik maupun mental. Dari Aisyah RA, ia berkata: Aku melihat Nabi SAW menghalangi (pandangan)ku dengan serbannya, padahal aku sedang memperhatikan orang-orang Habsyi yang sedang bermain-main di masjid, sehingga aku keluar (hendak melihat mereka lagi). Aku perkirakan masih suka bermain. (Shahih Bukhari dengan syarah Ibnu Hajar, juz IX, no. 5236).

Ibnu Hajar Al Asqalani mengomentari hadits tersebut bahwa yang dimaksud bermainmain di dalam hadits itu adalah latihan perang, bukan semata-mata bermain. Tetapi di dalamnya adalah melatih keberanian di medan-medan pertempuran dan keberanian menghadapi musuh. Sementara itu Ibnu Mahlab berkata, Masjid merupakan tempat untuk memberi rasa aman kepada kaum muslimin. Perbuatan apa saja yang membuahkan kemanfaatan bagi agama dan bagi keluarganya boleh dilakukan di masjid. (Fathul Bari, Ibnu Hajar, juz. II, hlm. 96). 1. 9. Sebagai tempat pengobatan orang sakit Nabi Muhammad SAW menjadikan masjid sebagai tempat untuk mengobati orang sakit, khususnya pada hari-hari terjadi peperangan. Aisyah RA berkata, Pada hari terjadinya perang Khandaq, Saad bin Muadz mengalami luka-luka karena dipanah oleh seseorang dari kafir Quraisy. Kata Khabban bin Araqah, orang itu memanah Saad pada bagian lehernya. Maka, Nabi SAW membuatkan tenda di masjid agar beliau bisa pulang (istirahat) dari jarak yang dekat. Demikianlah sebagian fungsi dari masjid yang digunakan pada masa Nabi SAW, juga bentuk pelayanan beliau terhadapnya. Nampak sekali bahwa masjid dijadikan sebagai tempat melayani urusan keagamaan dan keduniawian secara seimbang. Hal itu terealisasi dalam bentuk pemeliharaan beliau terhadap kesucian dan kemuliaan masjid, dan juga menjadikan masjid itu sebagai tempat berkembangnya kegiatan-kegiatan dan gerakan-gerakan untuk melayani kepentingan umum dalam berbagai bentuknya, termasuk sebagai pusat pendidikan, pengajaran dan memberi fatwa. IV. DARI MASJID KE MADRASAH

Fungsi masjid sebagai pusat pendidikan dan pengajaran umat Islam terus berlangsung semenjak masa Rasulullah SAW, Khulafaur Rosyidin dan kholifah-kholifah sesudahnya. Baru pada tahun 459 H (Ahmad Syalabi, 1975:32), mulailah terjadi pergeseran, yaitu dengan didirikannya madrasah yang pertama di kota Baghdad. Semenjak tahun itu, mulailah bermunculan secara besar-besaran serangkaian sekolah-sekolah (madrasahmadrasah) yang didirikan oleh Nizamul Muluk, seorang mentri yang terkenal dari Bani Saljuk. Tatkala madrasah-madrasah ini didirikan dan guru-guru serta murid-murid telah mendapatkan kesempatan yang lebih luas, maka masjid yang sebelumnya menjadi pusat pendidikan dan pembelajaran pun mulai berkurang kesemarakannya. Apa sebab pembelajaran berpindah dari masjid-masjid ke madrasah-madrasah? Prof. Dr. Ahmad Syalabi (1975:106) menjawab adanya dua faktor, yaitu:
1. Khalaqah-khalaqah (lingkaran) untuk mengajarkan berbagai ilmu pengetahuan,

yang didalamnya juga terjadi diskusi dan perdebatan yang ramai, sering satu sama lain saling mengganggu, disamping sering pula mengganggu orang-orang yang beribadah dalam masjid. Keadaan demikian, mendorong untuk

dipindahkannya khalaqah-khalaqah tersebut keluar lingkungan masjid, dan didirikanlah bangunan-bangunan sebagai ruang-ruang kuliah atau kelas-kelas yang tersendiri. Dengan demikian kegiatan pengajaran dari khalaqah-khalaqah tersebut tidak saling mengganggu satu sama lain.
2. Dengan berkembang luasnya ilmu pengetahuan, baik mengenai agama maupun

umum maka diperlukan semakin banyak khalaqah-khalaqah (lingkaran-lingkaran pengajaran), yang tidak mungkin keseluruhan tertampung dalam ruang masjid.

Disamping itu, menurut Dra. Zuhairini, dkk (1997: 100-102) terdapat faktor-faktor lainnya yang mendorong bagi para penguasa dan pemegang pemerintahan pada masa itu untuk mendirikan sekolah-sekolah sebagai bangunan-bangunan yang terpisah dari masjid. Antara lain adalah: 1. Pada masa bangsa Turki mulai berpengaruh dalam pemerintahan Bani Abbasiyah dan untuk mempertahankan kedudukan mereka dalam pemerintahan, mereka berusaha untuk menarik hati kaum muslimin pada umumnya dengan jalan memperhatikan pendidikan dan pengajaran bagi rakyat umum. Mereka berusaha untuk mendirikan sekolah-sekolah di berbagai tempat dan dilengkapi dengan segala sarana dan fasilitas yang diperlukan. Guru-guru digaji secara khusus untuk mengajar di sekolah-sekolah yang mereka dirikan. 2. Mereka mendirikan sekolah-sekolah tersebut, di samping dengan harapan untuk mendapatkan simpati dari rakyat umumnya, juga berharap mendapatkan ampunan dan pahala dari Tuhan. Para pembesar negara pada masa itu, dengan kekayaan mereka yang luar biasa, banyak yang hidup dalam kemewahan dan sering pula berbuat maksiat. Dengan mendirikan sekolah-sekolah dan membiayainya secukupnya, berarti mereka telah mewakafkan dan membelanjakan harta bendanya di jalan Allah. Mereka berharap hal yang demikian dapat menjadi penebus dosa dan maksiat yang telah mereka kerjakan. Kalau para ulama dan para ahli berbagai ilmu pengetahuan banyak berbuat amal saleh dengan keahlian mereka masing-masing, maka mereka pun ingin berbuat yang serupa sebagai imbangannya.

1. Para pembesar negara pada masa itu dengan kekuasaannya, telah berhasil

mengumpulkan harta kekayaan yang banyak. Mereka khawatir kalau nantinya kekayaan tersebut tidak bisa diwariskan kepada anak-anaknya, karena diambil oleh sultan. Anak-anak mereka akan menjadi terlantar dan hidup dalam kemiskinan. Untuk menghindari hal tersebut, mereka mendirikan madrasah-madrasah yang dilengkapi dengan asrama-asrama, dan dijadikan sebagai wakaf keluarga. Anak-anak dan kaum keluargalah yang berhak mengurus harta kekayaan wakaf tersebut, sehingga kehidupan mereka dengan demikian akan tetap terjamin.
1. Disamping itu, didirikannya madrasah-madrasah tersebut ada hubungannya

dengan usaha untuk mempertahankan dan mengembangkan aliran keagamaan dari para pembesar negara yang bersangkutan. Dalam mendirikan sekolah ini, mereka mempersyaratkan harus diajarkan aliran keagamaan tertentu, dan dengan demikian aliran keagamaan tersebut akan berkembang dalam masyarakat. Dalam pada itu, Prof. Dr. Ahmad Syalabi (1975:07) menambahkan bahwa menurut Von Kremer ada sekumpulan manusia yang mempergunakan bagian terbesar dari waktunya untuk mengajar. Dan untuk nafkah hidupnya sehari-hari mereka mencoba mengerjakan perusahaan-perusahaan yang ringan-ringan disamping mengajar itu. Akan tetapi mereka tidak berhasil untuk mencapai taraf kehidupan yang selaras, karena itu tidak dapat/tidak perlulah sekolah-sekolah didirikan, karena sekolah-sekolah itulah yang akan menjamin bagi mereka penghasilan yang mencukupi keperluan-keperluan hidup mereka sehari-hari.

Walau bagaimanapun motivasinya, yang jelas bahwa dengan berkembangnya madrasah-madrasah di seluruh dunia Islam kaum muslimin telah mendapat kesempatan yang luas untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Namun seiring dengan itu, keberadaan masjid yang dulunya semarak dengan berbagai aktivitas, menjadi semakin sepi. Bahkan dalam banyak daerah, fungsi masjid pun tinggal sebagai tempat menunaikan ibadah sholat semata. Yogyakarta, 2 Oktober 2007 Penulis Drs. HM. Budiyanto DAFTAR PUSTAKA Ahmad Syalabi, Prof. Dr. 1975. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta: Bulan Bintang.

Ahmad Syalabi, Prof. Dr. 1983. Sejarah dan Kebudayaan Islam. Jakarta: Pustaka Al-Husna.

Ahmad Syalabi, Prof. Dr. 1957. Masyarakat Islam. Yogyakarta: CV. Ahmad Nabhan.

Ahmad Warson Munawir. 1984. Kamus Al-Munawwir. Yogyakarta: PP Al-Munawir.

Badri Yatim, Dr., MA. 2000. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Dep. Agama DIY.

2003.

Pedoman Pemberdayaan Masjid. Yogyakarta: Proyek Dep.

Agama.

Hassan Ibrahim Hassan. 1989. Sejarah dan Kebudayaan Islam. Yogyakarta: Kota Kembang.

Mahmud Yunus. 1979. Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta: Mutiara.

Mulyanto Sumardi. 1978. Sejarah Singkat Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta: Dharma Bakti.

Quraish Shihab. 1996. Wawasan Al-Quran. Jakarta: Mizan.

Zuhairini, Dra., dkk. 1997. Suka Be the first to like this post. Tinggalkan Balasan Cancel reply Top of Form
guest

Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara.

Enter your comment here...

Guest

Masuk Masuk Masuk

Email (required) Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Nama (required)

Situs web

Please log in to WordPress.com to post a comment to your blog.

You are commenting using your Twitter account. (Keluar)

You are commenting using your Facebook account. (Keluar)

Connecting to %s

Beritahu saya balasan komentar lewat surat elektronik.

Beritahu saya tulisan baru lewat surat elektronik.


Kirim Komentar

1309428678

eb1822c7c9

1309428682493

Bottom of Form INTERVENSI POLITIK DALAM PENDIDIKAN AGAMA DI SEKOLAH UMUM PEMIKIRAN AL-GHOZALI TENTANG PENDIDIKAN

Blog pada WordPress.com. | Theme: Greyzed by The Forge Web Creations.

Situs 2 Masjid Pusat Pendidikan Umat


www.ikadi.or.id/index.php?...masjid-pusat-pendidikan... - Tembolok 23 Apr 2010 Menebar Islam Rahmatan Lil 'Alamin. Sunday. Jun 26th ... melakukan pemberdayaan masjid sebagai pusat kegiatan keagamaan, pendidikan dan ...

Diaksses tgl 30-06-2011 pkl 6.30

Masjid Pusat Pendidikan Umat Jumat, 23 April 2010 Admin

Orang-orang yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada

siapapun) selain kepada Allah. Merekalah orangorang yang diharapkan termasuk golongan orangorang yang mendapat petunjuk. (At-Taubah: 18)

Terdapat hanya dua ayat dalam Al-Quran yang berbicara tentang pemberdayaan masjid yang menggunakan redaksi , keduanya berbicara secara terbalik, yaitu surat At-Taubah: 17 dan surat At-Taubah: 18 yang menjadi ayat kunci pada tulisan ini. Ayat 17 berbicara tentang penafian Allah terhadap kemungkinan orang-orang musyrik melakukan pemberdayaan masjid, dan ayat ke 18 berbicara tentang mereka yang layak dan berhak melakukan itu. Sehingga ayat ke 18 ini dapat difahami dari dua sudut pandang yang berbeda tentang pelaku pemberdayaan masjid.

Pertama, yang benar-benar memberdayakan masjid dalam arti memakmurkannya hanyalah orang-orang yang beirman kepada Allah dan hari kemudian. Karena secara korelatif ayat sebelumnya berbicara tentang mereka yang tidak layak dan tidak berhak

memakmurkan masjid karena kesyirikan yang melekat di dalam dada mereka.

Kedua, jaminan Allah bagi para pelaku pemberdayaan masjid bahwa mereka adalah orang-orang yang akan senantiasa dijaga keimanannya oleh Allah swt.

Pemahaman kedua terhadap ayat ini dapat ditemukan dalam sebuah hadits Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Hakim bahwa jaminan eksistensi dan keberlangsungan iman seseorang ada pada kekerapannya menghadiri aktivitas lembaga masjid (baca: memakmurkannya). Jika kalian melihat seseorang kerap hadir di dalam masjid maka persaksikanlah bahwa ia seorang yang beriman. Lantas Rasulullah membaca surat At-Taubah: 18. Maka sangat jelas seperti yang dikemukakan oleh Imam Asy-Syaukani bahwa melalui ayat ini Allah hendak menunjukkan kelompok yang berhak dan mampu melakukan pemberdayaan masjid sebagai pusat kegiatan keagamaan, pendidikan dan sosial masyarakat muslim.

Kata masjid sendiri secara harfiah menurut makna ahasa Arab adalah bentuk isim makan yang berarti tempat untuk bersujud. Namun secara terminologis, masjid dapat dimaknai sebagai tempat khusus untuk melakukan berbagai aktivitas yang bernilai ibadah dalam arti yang luas. Salah satu bentuk aktivitas ibadah tersebut adalah aktivitas pengajaran dan pendidikan. Melalui lembaga nonformal inilah Rasulullah saw melakukan proses pembinaan moral, mental dan spiritual umat, sehingga masjid pada saat itu berfungsi strategis sebagai lembaga pendidikan yang efektif untuk menghimpun potensi ummat dari berbagai latar belakang dan unsurnya.

Terkait dengan ini, berdasarkan pembacaan terhadap ayat-ayat Al-Quran dapat dirumuskan dua klasifikasi lembaga pendidikan yang disebut secara implisit oleh Allah swt, yaitu institusi keluarga yang biasa disebut dengan istilah lembaga informal dan institusi masjid yang mewakili lembaga pendidikan nonformal. Sedangkan lembaga pendidikan formal yang berkembang sangat pesat sekarang ini dapat disarikan dari surat At-Taubah: 122 yang menyebut komunitas kecil thaifah yang melakukan pengkajian ilmu tafaqquh fid din secara intens. Dapat dikatakan inilah peserta didik formal yang secara spesifik memiliki konsekuensi dan tanggung jawab ilmiyah dan moral untuk menyampaikan kembali pengajaran yang diterimanya kepada masyarakat yang tidak memenuhi syarat atau kesempatan untuk mendapatkan pendidikan formal:

Tidak sepatutnya bagi orang-orang beriman itu pergi semuanya ke medan perang. Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka untuk memperdalam pengetahuan agama supaya dapat memberi pengajaran dan peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, mudah-mudahan mereka dapat memeliharadirinya.

Lembaga pendidikan pertama dan utama atau pendidikan informal adalah kegiatan pendidikan yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan yang terbatas yang berbentuk kegiatan belajar secara mandiri.. Pentingnya keluarga sebagai lembaga pendidikan primer diisyaratkan oleh Allah dalam firmanNya: Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka. (At-Tahrim: 6). Ayat lain yang mengisyaratkan bentuk pendidikan informal adalah perintah Allah kepada Nabi Muhammad saw untuk memberi peringatan (pengajaran) secara prioritas kepada kaum

kerabatnya: Dan berilah peringatan kepada kaum kerabatmu yang dekat. (AsySyuara: 214).

Kedua ayat ini jelas memerintahkan agar objek kepeduliaan keluarga muslim adalah tentang keberagamaan keluarga mereka, tentang program yang mendekatkan mereka dengan pintu-pintu surga dan menjauhkan mereka dari daya tarik neraka. Inilah keluarga ideal dan sukses dalam kaca mata surat At-Tahrim: 6 karena memang hanya keluarga yang dibangun di atas pondasi iman yang memiliki perhatian besar terhadap aspek seperti yang tersirat dalam khitab ayat ini Hai orang-orang yang beriman. Tentu, untuk menghadirkan pendidikan Islam di tengah keluarga diperlukan manajemen hak dan kewajiban yang sinergis dan saling melengkapi antara suami dan isteri atau ayah dan ibu selaku pemimpin dalam institusi pendidikan ini sehingga akan lahir keluarga-keluarga seperti yang senantiasa dipohonkan dalam doa sehari-hari orang yang beriman: Dan orang-orang yang senantiasa berdoa: Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri dan keturunan yang menyenangkan hati kami. Dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa. (Al-Furqan: 74)

Lembaga pendidikan ketiga yang tidak kalah tingkat urgensinya adalah lembaga pendidikan nonformal yang berlangsung di dalam masjid seperti yang difirmankan Allah dalamsalahsatuayat-Nya:

Orang-orang yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah. Merekalah orang-orang yang

diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. (At-Taubah: 18)

Menurut Abdurrahman An-Nahlawi masjid sebagai pusat pendidikan nonformal memiliki tingkatimplikasiyangcukupbesar,diantaranya:

Pertama, mendidik masyarakat agar memiliki semangat pengabdian dalam seluruh aktivitasnyakepadaAllahswt.

Kedua, menanamkan rasa cinta kepada ilmu pengetahuan dan menanamkan solidaritas sosial, serta menyadarkan hak-hak dan kewajiban-kewajibannya sebagai insan pribadi, sosial dan warga masyarakat dan negara.

Ketiga,

memberikan

rasa

ketentraman,

kekuatan,

dan

kemakmuran

serta

mengembangkan potensi-potensi ruhiah manusia melalui pendidikan kesabaran, keikhlasan, optimisme, dan akhlak luhur lainnya. Sehingga alumni lembaga masjid memiliki kualifikasi intelektual, emosional dan spritual yang baik sebagai basis akhlak masyarakat. Untuk itu, diperlukan kreatifitas dan inovasi masyarakat untuk

memberdayakan masjid sebagai lembaga pendidikan kemasyarakatan sehingga tujuan pendidikan untuk mewujudkan masyarakat yang beriman dan bertakwa dalam sebuah negeri yang tayyibatun wa rabbun ghafur dapat diraih sesuai dengan yang diharapkan.

Pada tataran aplikasi pemberdayaan masjid, memakmurkan masjid menurut Imam ArRazi dapat dilakukan dengan dua aktivitas secara sinergis dan terpadu, yaitu dengan memberikan kenyamanan secara fisik untuk beribadah di dalamnya dan

memperbanyak aktivitas kebaikan di dalamnya. Senada dengan pemahaman ini, Abu Suud menegaskan bahwa aktivitas memakmurkan masjid harus difahami dalam arti yang luas. Membangun, membersihkan, merawat dan memelihara keindahan dan kebaikan masjid termasuk dalam kategori memakmurkannya. Juga melakukan aktivitas kebaikan yang dibenarkan syariat merupakan aktivitas memakmurkan masjid yang dianjurkan oleh Rasulullah saw. Di sini peran setiap muslim dalam memberdayakan masjid sangat dinanti untuk kebaikan umat secara kolektif, karena demikianlah yang dilakukan oleh Rasulullah dalam membangun dan memfungsikan masjid secara komprehensif, integral dan menyatu dengan umat. Allahu alam

Dr.AttabiqLuthfi,MA

Dakwatuna

Latest Update on Selasa, 28 Juni 2011 - 07:25 GMT+07 Artikel Terbaru Mengindahkan Keadilan Nilai-nilai keadilan jika ditegakkan dalam sebuah komunitas maka ia akan menguatkan eksistensi komunitas tersebut. Begitu pul... Khutbah | Tuesday, 28 June 2011 Kesabaran Yang Progresif ... ) Tafakkur | Wednesday, 15 June 2011

Kelembutan Nabi Ketika Rasulullah SAW duduk bersama para sahabatnya, seorang pendeta Yahudi bernama Zaid bin Sa'nah masuk menerobos shaf, lal... Mauizhoh | Tuesday, 7 June 2011 Menghiasi Lisan dengan Kejujuran Menghiasi Lisan dengan Kejujuran Kejujuran adalah akhlak yang sangat mulia. Pada

beberapa ayat Al-Quran Allah SWT. ... Khutbah | Friday, 3 June 2011 More in: Mauizhoh, Moderasi Islam, Tips, Khutbah, Fiqh Dakwah, Kemukjizatan Ilmiah, Tafakkur, Kajian, Opini

Mengindahkan Keadilan Kesabaran Yang Progresif Kelembutan Nabi Menghiasi Lisan dengan Kejujuran

Visitor Map

Nusantara

Mancanegara Sikap Imam Masjid Istiqlal: Transliterasi Huruf Arab ke Latin Ganggu Keyakinan Umat Islam

Potensi Zakat di Jawa Barat Rp 17,6 Triliun Terbesar se-Indonesia Gubernur Sumbar Mulai Terapkan Konsep "Full Day School" Respon Positif Gagasan Pusat Pembinaan Mualaf Hidayat Nur Wahid Imbau Warga Ahmadiyah Kembali ke Islam 'SKB Tiga Menteri Tegas Perintahkan Ahmadiyah Hentikan Kegiatan' Pornografi Lebih Bahaya dari Narkoba Krisis Mesir Berlanjut, Rencana Darurat Terhadap WNI Disiapkan Soal Daging Halal, Belanda Kebingungan Kamis (16/06) parlemen Belanda atau Tweede kamer berdebat apakah mereka harus mendukung larangan

menyembelih binatang...

Delegasi Ikhwan: Gaza Kebanggaan Kaum Muslimin Delegasi Jamaah al Ikhwan al Muslimun yang ditiba di Gaza, Ahad (12/6), menyampaikan taziah atas meninggalnya Ke...

Meski Muslim Minoritas, Vietnam Peduli Sertifikasi Halal HO CHI MINH CITY - Muslim memang minoritas di Vietnam, namun sertifikasi halal diberlakukan ketat di negeri ini. Pasa...

Menyikapi Teror Bom di Masjid Polresta Cirebon Seruan Solidaritas Bencana Pernyataan PP IKADI tentang Penyergapan Tentara Israel Terhadap Relawan Kemanusiaan GAZA

Sikap IKADI Tentang Uji Materi UU Penodaan Agama Seruan Solidaritas Bencana KLARIFIKASI DAN TAUJIHAT IKADI Release : Taujihat Dakwah IKADI Tentang Pemilihan Pemimpin Nasional Dalam PILPRES 2009 MAKLUMAT KEPADA UMAT ISLAM DALAM MENGHADAPI PEMILU 2009 Fatwa MUI Pusat Hasil Ijtima Ulama Komisi Fatwa Se-Indonesia III 1430H/2009M (Bag.Pertama) Fatwa MUI Pusat Hasil Ijtima Ulama Komisi Fatwa Se-Indonesia III 1430H/2009M (Bag.Kedua) Today Kamis, 30 Juni 2011 29. Rajab 1432 Menu Utama

Home Profil Berita Galeri Foto Artikel


Fiqh Dakwah Kajian Kemukjizatan Ilmiah Khutbah Mauizhoh Opini

Tafakkur

Direktori Search ZISWAF

Visitors Counter

Today Yesterday This week Last week This month Last month All days Visitors Counter

471 619 2824 5539 22015 26152 267735

Copyright 2011 IKATAN DAI INDONESIA. All Rights Reserved.

Situs 3 PDF 54KbPEMANFAATAN MASJID SEBAGAI MEDIA PENDIDIKAN ISLAM TINJAUAN ... etd.eprints.ums.ac.id/3221/ - TembolokMirip 16 Nov 2010 Secara historis masjid merupakan lembaga sentral ummat Islam ... Tampilkan hasil lainnya dari ums.ac.id Diakses tgl 30-06-2011 pkl 6.35 PEMANFAATAN MASJID SEBAGAI MEDIA PENDIDIKAN ISLAM TINJAUAN PENDIDIKAN ISLAM NON FORMAL (Studi Kasus di Masjid Al Kautsar Mendungan Pabelan Kartasura) Fuad, Slamet (2009) PEMANFAATAN MASJID SEBAGAI MEDIA PENDIDIKAN ISLAM TINJAUAN PENDIDIKAN ISLAM NON FORMAL (Studi Kasus di Masjid Al Kautsar Mendungan Pabelan Kartasura). Skripsi thesis, Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Preview

KLIK DI SINI UNTUK MELIHAT TEKS LENGKAPNYA

Abstract Secara historis masjid merupakan lembaga sentral ummat Islam. Rasulullah membangun dan menjadikan masjid bukan semata-mata sebagai tempat kegiatan ritual umat Islam, tetapi sebagai pusat kegiatan Pendidikan Agama Islam. Artinya didalam lembaga masjid tersebut terjadi distribusi ajaran Islam, sehingga Islam bisa dipahami, dihayati dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Hubungan masjid dan ilmu pengetahuan merupakan unsur yang sangat berkaitan. Dilihat pada perkembangan Islam pada zaman dahulu (masa Nabi) sampai sekarang masjid berperan penting sebagai media pengajaran atau media pendidikan. Masjid berfungsi sebagai pengontrol dan penilai seluruh aktifitas umat Islam. Persoalan yang muncul sekarang dalam penelitian ini adalah bagaimanakah pemanfaatan masjid sebagai media pendidikan non formal? Dan faktor apa sajakah yang mendukung dan menghambat pemanfaatan masjid sebagai madia pendidikan agama Islam, khusunya dalam penelitian ini masjid Al Kautsar Mendungan, Pabelan, Kartasura? Karena rata-rata masjid yang berfungsi sebagaimana tersebut diatas adalah masjid-masjid dipesantren, disekolah, dan di kampus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemanfaatan masjid sebagai media pendidikan Islam non formal serta mengetahui faktor pendukung dan penghambat pemanfaatan masjid sebagai media pendidikan Islam di Masjid Al Kautsar Mendungan, Pabelan, Kartasura. Dan manfaat penelitian ini adalah menambah wawasan dalam mengetahui fungsi masjid sebagai media pendidikan Islam dan memberikan masukan, sumbangan pemikiran dan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambangan pendidikan Islam terutama fungsi masjid sebagai media pendidikan Islam di Masjid Al Kautsar Mendungan, Pabelan, Kartasura. Melalui penelitian ini metode yang digunakan adalah metode interview,observasi, dokumentasi dari data-data yang diperlukan dalam proses penelitian. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif, dimana data yang diperoleh di lapangan maupun di perpustakaan dikumpulkan dan

dianalisis secara kualitatif. Data penelitian kualitatif tidak berbentuk angka, tetapi lebih banyak berbentuk narasi, deskriptif, cerita, metode observasi, dan metode dokumentasi tertulis. Dari penelitian ini ditemukan dan disimpulkan bahwa, masjid sebagai media pendidikan Islam memberikan bekal kepada jamaah khususnya dan masyarakat sekitar masjid Al Kautsar Mendungan, Pabelan, Kartasura. Pemanfaatan masjid Al Kautsar sebagai media pendidikan Islam telah bejalan dengan baik, hal ini dapat dilihat dengan adanya kegiatan pendidikan yang dilaksanakan di lingkungan masjid, dan pemanfaatan masjid yang sesuai dengan fungsi masjid sebagai media pendidikan dengan maksimal. Item Type: ID Number: Additional Information: Karya Ilmiah (Skripsi) G000040026 RAK G000-045

Uncontrolled Keywords: masjid, media pendidikan Islam Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > BP Islam. Bahaism. Theosophy, etc L Education > L Education (General) Divisions Fakultas Agama Islam > Tarbiyah

RANGKUMAN Secara historis masjid merupakan lembaga sentral ummat Islam. Rasulullah

membangun dan menjadikan masjid bukan semata-mata sebagai tempat kegiatan ritual umat Islam, tetapi sebagai pusat kegiatan Pendidikan Agama Islam. Artinya didalam lembaga masjid tersebut terjadi distribusi ajaran Islam, sehingga Islam bisa dipahami, dihayati dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Masjid pertama yang dibangun oleh Rasulullah SAW (M. Quraish Shihab, 1996:461) adalah Masjid Quba, kemudian disusul dengan Masjid Nabawi di Madinah. Masjid Nabawi di Madinah telah menjabarkan fungsinya sehingga lahir peranan masjid yang beraneka ragam. Sejarah mencatat tidak kurang dari sembilan peranan yang telah diemban oleh Masjid Nabawi, yaitu sebagai: 1. Tempat ibadah (sholat, dzikir dan sebagainya 2. Sebagai tempat musyawarah 3. Pusat pendidikan dan memberi fatwa 4. Sebagai tempat pengadilan 5. Sebagai tempat penyambutan utusan 6. Sebagai pusat penjagaan dan pengembangan kehidupan social 7. . Sebagai tempat akad nikah 8. Sebagai pusat pelatihan perang 9. . Sebagai tempat akad nikah Fungsi masjid sebagai pusat pendidikan dan pengajaran umat Islam terus berlangsung semenjak masa Rasulullah SAW, Khulafaur Rosyidin dan kholifah-kholifah sesudahnya. Baru pada tahun 459 H (Ahmad Syalabi, 1975:32), mulailah terjadi pergeseran, yaitu dengan didirikannya madrasah yang pertama di kota Baghdad. Semenjak tahun itu, mulailah bermunculan secara besar-besaran serangkaian sekolah-sekolah (madrasah-madrasah)

yang didirikan oleh Nizamul Muluk, seorang mentri yang terkenal dari Bani Saljuk. Tatkala madrasah-madrasah ini didirikan dan guru-guru serta murid-murid telah mendapatkan kesempatan yang lebih luas, maka masjid yang sebelumnya menjadi pusat pendidikan dan pembelajaran pun mulai berkurang kesemarakannya. Orang-orang yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah. Merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-oranyang mendapat petunjuk. (At-Taubah: 18)