Anda di halaman 1dari 59

1

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sastra dibangun menurut daya angan (imajinasi), yaitu daya tangkap batin yang secara intuitif memperoleh tanggapan atau visi yang benar dari pengalaman dan kenyataan konkret. Imajinasi dibedakan dari fantasi. Angan dibedakan dari khayal tanpa disertai penjelasan sama sekali, tetapi serentak dengan itu. Fantasi adalah imajinasi yang diteruskan

(dikembangkan) yang mengatasi struktur kenyataan sehari-hari. Fantasi merupakan contoh pertama dari kesadaran imajinatif. Pengimajian dalam sastra berguna untuk memberi gambaran yang jelas, menimbulkan suasana khusus, membuat hidup gambaran dalam pikiran dan pengindraan. Selain itu, untuk menarik perhatian dan memberikan kesan mental atau bayangan visual penyair. Gambaran angan, gambaran pikiran, kesan mental, dan bahasa yang menggambarkannya biasa disebut dengan istilah citra atau imaji. Adapun cara membentuk kesan mental atau gambaran sesuatu biasa disebut dengan istilah citraan (imagery). Kenyataan yang dilahirkan sastra, dalam hubungan ini adalah suatu karya imajiner "a reflected reality" (realitas yang direfleksikan)." Imajiner artinya hanya terdapat dalam angan-angan, atau khayalan, sebutan lain untuk 'fantasi' (Ignas Kleden).
1

Sastra adalah cabang seni. Seni sangat ditentukan oleh faktor manusia dan penafsiran, khususnya masalah perasaan, semangat, kepercayaan. Dengan demikian, sulit sekali dibuat batasan atau definisi sastra di mana definisi tersebut dihasilkan dari metode ilmiah. Karya sastra melekat dengan situasi dan waktu penciptaannya. Karya sastra tahun 1920-an tentu berbeda dengan karya sastra tahun 1966. Kadang-kadang definisi kesusastraan ingin mencakup seluruhnya sehingga mungkin tepat untuk satu kurun waktu tertentu tetapi ternyata kurang tepat untuk yang lain. Beberapa definisi sastra, yaitu sastra sebagai seni berbahasa. Sastra adalah ungkapan spontan dari perasaan yang mendalam. Sastra adalah ekspresi pikiran (pandangan, ide, perasaan, pemikiran) dalam bahasa. Sastra adalah inspirasi kehidupan yanag dimateraikan dalam sebuah bentuk keindahan. Sastra adalah buku-buku yang memuat perasaan kemanusiaan yang mendalam dan kebenaran moral dengan sentuhan kesucian, keluasan pandangan, dan bentuk yang mempesona. Sastra adalah ungkapan pribadi manusia yang berupa pengalaman, pemikiran, perasaan, ide, semangat, keyakainan dalam suatu bentuk gambaran kongkret yang membangkitkan pesona dengan alat bahasa. Sesuatu disebut teks sastra jika (1) teks tersebut tidak melulu disusun untuk tujuan komunikatif praktis atau sementara waktu, (2) teks tersebut mengandung unsur fiksionalitas, (3) teks tersebut menyebabkan pembaca

mengambil jarak, (4) bahannya diolah secara istimewa, dan (5) mempunyai keterbukaan penafsiran. Terdapat tiga hal yang membedakan karya sastra dengan karya tulis lainnya, yaitu sifat khayali, adanya nilai-nilai seni/estetika, dan penggunaan bahasa yang khas. Karya sastra dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok, yaitu (a) sastra imajinatif, dan (b) sastra non-imajinatif. Sastra imajinatif mempunyai ciri isinya bersifat khayali, menggunakan bahasa yang konotatif, memenuhi syarat-syarat estetika seni. Sastra non-imajinatif mempunyai ciri-ciri isinya menekankan unsur faktual/faktanya,

menggunakan bahasa yang cenderung denotatif, memenuhi unsur-unsur estetika seni. Dengan demikian, kesamaan antara sastra imajinatif dan nonimajinatif adalah masalah estetika seni. Unsur estetika seni meliputi keutuhan (unity), keselarasan (harmony), keseimbangan (balance),

fokus/pusat penekanan suatu unsur (right emphasis). Perbedaannya terletak pada isi dan bahasanya. Isi sastra imajinatif sepenuhnya bersifat khayal/fiktif sedangkan isi sastra non-imajinantif didominasi oleh faktafakta. Bahasa sastra imajinatif cenderung konotatif sedangkan bahasa sastra non-imajinatif cenderung denotatif. Kegiatan apresiasi terhadap karya sastra merupakan suatu bentuk kegiatan mendalami karya sastra secara sungguh-sungguh dan berulang kali. Untuk itu, nantinya diharapkan dapat menimbulkan kesadaran

terhadap nilai seni yang dikandungnya, kepekaan pikiran dan perasaan, dan penghargaan terhadap karya sastra. Karya sastra adalah hasil ciptaan sastrawan, tidak begitu saja datang sendiri. Sastrawan berasal dari masyarakat, dan menyadari perlunya berkomunikasi dengan manusia lain. Dengan demikian, sastrawan memerlukan pembaca untuk membaca hasil karyanya sebagai salah satu bentuk komunikasi. Sehubungan dengan hal itu, sastrawan berusaha menciptakan dunia rekaan berdasarkan kemampuan daya khayalnya. Dunia rekaan itu tentu saja harus bisa dikenal oleh pembaca, sebab jika tidak, komunikasi tidak akan berlangsung. Pembaca layaknya sastrawan juga merupakan anggota masyarakat yang tentunya menyadari pentingnya berkomunikasi. Di dalam proses komunikasi semacam itu, sastrawan adalah pengirim pesan lewat karya sastranya sedangkan pembaca adalah penerima pesan. Dalam proses tersebut, pembaca adalah penerima yang pasif sedangkan sastrawan pengirim pesan yang aktif, namun kenyataannya tidaklah demikian. Dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia, siswa diharapkan memiliki keterampilan berbahasa yang terdiri dari menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Keempat keterampilan dasar tersebut saling berkaitan dan merupakan satu kesatuan. Keterampilan berbahasa yang satu akan mempengaruhi keterampilan berbahasa yang lain, terutama yang tingkatannya lebih tinggi. Menyimak dan membaca termasuk dalam

kegiatan reseptif, sedangkan berbicara dan menulis merupakan kegiatan produktif. Hal tersebut tidak berarti berbicara dan menulis merupakan kegiatan yang lebih baik karena bersifat produktif atau menghasilkan. Sebenarnya, dalam menyimak dan membaca ada kerja otak untuk menyerap berbagai informasi dan pengetahuan yang ada di dalamnya. Di antara keempat keterampilan berbahasa tersebut, menulis berada pada tataran yang paling tinggi. Menulis merupakan kegiatan yang kompleks dan produktif. Oleh karena itu, untuk keterampilan menulis, ketiga keterampilan di bawahnya haruslah mendukung. Alur berpikir seseorang dapat dilihat dari hasil tulisannya. Teknologi pendidikan merupakan suatu bidang pengetahuan terapan yang diharapkan dapat memberikan sumbangan pada perkembangan pendidikan di Indonesia, untuk itu diperlukan kemampuan untuk memanfaatkan teknologi modern dalam upaya untuk mengembangkan pendidikan. Upaya pemanfaatan teknologi dalam bidang pendidikan hendaknya terus dilakukan karena media pendidikan mempunyai peranan penting dalam komunikasi. Mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di sekolah merupakan suatu program pengembangan pengetahuan,

keterampilan berbahasa dan sikap positif terhadap Bahasa dan Sastra Indonesia. MTs. Negeri Turikale Kabupaten Maros merupakan instansi pendidikan yang masih baru, dimana pada pembelajaran bahasa dan sastra

indonesia belum semaksimal mungkin diterapkan karena masih dibutuhkan suatu metode dan media yang mungkin cocok untuk diterapkan. Hal ini diketahui dari hasil pembelajaran menulis cerpen pada pembelajaran sebelumnya diperoleh bahwa hsail belajarnya masih dibawah KKM 70. 45% siswa masih memerlukan remdial pada pembelajaran bahasa indonesia. Oleh karena itu, peneliti menganggap bahwa perlu adanya media atau metode yang cocok di sekolah tersebut. Dengan adanya media audio visual yang menampilkan gambar beserta suaranya akan mempermudah siswa untuk menangkap informasi yang dibutuhkan dalam mengembangkan inspirasi maupun gagasan yang akan dituangkan dalam menulis sebuah cerpen. Selain itu proses belajar mengajar akan terasa lebih hidup dan lebih menyenangkan dibandingkan dengan menggunakan media audio (suara), pembelajaran menulis cerpen yang menggunakan media audio (suara) kurang maksimal digunakan dalam pembelajaran menulis cerpen karena penggunaan media audio hanya menampilkan sebuah suara yang kurang memaksimalkan potensi siswa dalam menangkap informasi yang sangat dibutuhkan untuk

mengembangkan inspirasi dan ide-idenya yang akan digunakan untuk menulis sebuah cerpen. Dari uraian ti atas, maka peneliti menganggap bahwa perlu diadakan penelitian tentang hal tersebut, dengan judul Peningkatan Keterampilan

Menulis Cerpan melalui Media Audio Visual pada Siswa Kelas VIII MTS Negeri Turikale Kabupaten Maros. B. Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah apakah ada peningkatan keterampilan menulis cerpen melalui media audio visual pada siswa kelas VIII MTs. Negeri Turikale Kabupaten Maros? C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 2. Tujuan Penelitian Dari rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan keterampilan menulis cerpen melalui media audio visual pada siswa kelas VIII MTs. Negeri Turikale Kabupaten Maros.

3. Manfaat Penelitian Adapun manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut : a. Segi praktis

Dapat memberikan suatu masukan pada pengajasan bahasa dan sastra Indonesia, khususnya materi menulis cerpen dengan metode audio visual pada siswa kelas VIII MTs. Negeri Turikale Kabupaten Maros. b. Teoritis Dapat memberikan sumbangan pikiran terhadap guru-guru mata pelajaran bahasa Indonesia tentang menulis cerpen dengan metode audio visual pada siswa kelas VIII MTs. Negeri Turikale Kabupaten Maros dan memberikan masukan dalam rangka peningkatan kreativitas guru-guru bahasa Indonesia dalam menulis cerpen dengan metode audio visual pada siswa kelas VIII MTs. Negeri Turikale Kabupaten Maros.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, HIPOTESIS DAN KERANGKA PIKIR A. Tinjauan Pustaka

1. Kemampuan Apresiasi Cerpen a. Hakikat Apresiasi Istilah apresiasi berasal dari bahasa Latin apreciatio yang berarti mengindahkan atau menghargai. Hal ini sesuai dengan pernyataan (Dick Hartoko dan Brahmanto, 1985: 17), bahwa kata apresiasi dipinjam dari bahasa Inggris appreciation yang artinya penghargaan. Apresiasi sastra berarti penghargaan terhadap karya sastra. Rusyana mengutip pendapat Hornby (1995: 6) menyatakan bahwa apresiasi bersal dari bahasa Inggris yang artinya pemahaman dan pengenalan yang tepat; pertimbangan; penilaian; pernyataan yang memberikan penilaian. Dalam hubungan psikologi pendidikan, apresiasi diterangkan sebagai recognition of worth in the realm of the higher values yang lebih lanjut diterangkan oleh Rusyana (1995: 6) apresiasi merupakan jawaban seseorang yang lebih tinggi sehingga ia siap untuk melihat dan mengenal nilai dengan tepat, dan menjawabnya dengan hangat dan simpatik. Dalam konteks yang lebih luas, istilah apresiasi menurut Gove (lewat Aminuddin, 2002: 34) mengandung makna (1) pengenalan melalui perasaan atau kepekaan batin dan (2) pemahaman serta pengakuan terhadap nilai9 nilai keindahan yang diungkapkan pengarang. Pada sisi lain, Squire dan

Taba (lewat Aminuddin, 2002: 34) mengemukakan tiga unsur inti apresiasi, yakni (1) aspek kognitif, (2) aspek emotif, dan aspek evaluatif. Aspek

10

kognitif berkaitan dengan unsur intrinsik dan ekstrinsik. Aspek emotif berkaitan dengan unsur emosi dalam upaya menghayati unsur keindahan sastra yang dihadapi. Aspek evaluatif berkaitan dengan penilaian baik buruk, indah tidak indah, sesuai tidak sesuai, dan sebagainya. Pengertian apresiasi yang lain disampaikan oleh Natawidjaja (1982: 1) adalah penghargaan dan pemahaman atas suatu hasil seni atau budaya. Selain itu, (Natawidjaja, 1982: 2) mengemukakan bahwa kegiatan apresiasi mengalami beberapa tingkatan. Tingkat pertama yaitu tingkat penikmatan yang bersifat menonton dan merasa senang, tingkat kedua yaitu tingkat penghargaan yang bersifat pemilikan dan kekaguman akan sesuatu hal yang dihadapinya, tingkat ketiga yaitu tingkat pemahaman yang bersifat studi, mencari pengertian apa sebenarnya yang dihadapi itu, tingkat keempat yaitu tingkat penghayatan yang bersifat menyakini apa dan bagaimana hakikat produk itu, dan tingkat kelima, yaitu tingkat implikasi yang bersifat makrifat, memperoleh daya tepat guna, bagaimana dan untuk apa. Selanjutnya, Jacob Sumarjo dan Saini (1997: 173) menerangkan bahwa kata apresiasi mengandung pengertian memahami, menikmati, dan menghargai atau menilai. Apresiasi sastra meliputi tiga kegiatan atau langkah, yaitu langkah pertama keterlibatan jiwa, langkah kedua tingkat penghayatan yang tepat, dan langkah ketiga pembaca dapat merelevansikan pengalaman yang ia dapat dari karya sastra dengan pengalaman kehidupan nyata yang dihadapi Sumarjo dan Saini (1997: 174-175).

11

Dengan mencermati teori-teori di atas, dapat diketahui bahwa apresiasi adalah suatu kegiatan pengamatan, penilaian, dan penghargaan terhadap karya sastra secara sungguh-sungguh dan berulang kali. b. Hakikat Kemampuan Apresiasi Kemampuan apresiasi menurut Burton yang dikuti oleh Akhmadi (1981: 13) adalah persepsi arti serta memberikan pertimbangan secara kritis terhadap keterampilan teknik terwujudnya sebuah hasil karya seni. Pendapat lain mengenai hal tersebut dikemukakan oleh Chamdiah (1981: 7) yang menyatakan bahwa kemampuan apresiasi merupakan kesanggupan menanggapi karya-karya sastra, prosa, puisi, drama baik secara subjektif maupun objektif. Kemampuan subjektif pada umumnya merupakan bawaan secara pribadi, sedangkan kesanggupan objektif didapat karena belajar secara teoritis. Berdasarkan uraian di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa kemampuan aparesiasi adalah kemampuan untuk melakukan pengamatan, penilaian, dan penghargaan terhadap karya sastra secara sungguh-sungguh dan berulang kali. c. Hakikat Cerpen Membaca cerita pendek merupakan aktivitas komunikasi yang kompleks, karena di dalamnya terdapat kegiatan menerjemahkan simbol untuk mengetahui isi yang tersurat ataupun yang tersirat di dalam cerpen yang ditulis oleh pengarang. Ada banyak pengertian cerpen yang

12

dikemukakan oleh para ahli, salah satunya adalah Suminto A. Sayuti (2000: 10) menyatakan bahwa cerpen menunjukkan kualitas yang bersifat compression pemadatan, concentration pemusatan, dan intensity pendalaman, yang semuanya berkaitan dengan panjang cerita dan kualitas struktural yang diisyaratkan oleh panjang cerita itu. Pendapat lain mengenai cerpen dikemukakan oleh Strong yang dikutip oleh Tarigan (1991: 176), cerpen menimbulkan minat masyarakat yang cukup besar untuk membacanya. Hal itu disebabkan sifat cerpen yang singkat dan lengkap. Sastrawan sebagai pencipta sastra dapat menulis dan mengemukakan pikiran dan sikapnya terhadap sesuatu dengan cepat dan simpel. Demikian juga pembaca dapat menikmati karya sastra itu dengan tidak perlu mengorbankan waktu tertalu lama. Burhan Nurgiyantoro (2002: 11) menyatakan bahwa kelebihan cerpen yang khas adalah kemampuannya mengemukakan secara lebih banyak-jadi, secara implisit-dari sekedar apa yang diceritakan. Selain Nurgiyantoro, Sumardjo dan Saini menerangkan bahwa cerpen memiliki beberapa ciri, yaitu ceritanya bersifat pendek, bersifat rekaan, dan bersifat naratif. Keutuhan atau kelengkapan sebuah cerpen dapat dilihat dari segi-segi unsur yang membentuknya. Adapun unsur-unsur itu adalah peristiwa cerita (alur atau plot), tokoh cerita (karakter), tema cerita, suasana cerita (mood dan atmosfir cerita), latar cerita (setting), sudut pandang penceritaan (point of view), dan gaya (style).

13

Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa cerpen merupakan suatu cerita fiksi berbentuk prosa yang singkat dan pendek yang unsur ceritanya terpusat pada suatu peristiwa pokok. Jumlah dan pengembangan pelaku terbatas dan keseluruhan cerita memberikan kesan tunggal. Burhan Nurgiyantoro (2002: 11) menyatakan bahwa kelebihan cerpen yang khas adalah kemampuannya mengemukakan secara lebih banyak-jadi, secara implisit-dari sekedar apa yang diceritakan. Selain Burhan Nurgiyantoro, Jacob Sumardjo dan Saini menerangkan bahwa cerpen memiliki beberapa ciri, yaitu ceritanya bersifat pendek, bersifat rekaan, dan bersifat naratif. Keutuhan atau kelengkapan sebuah cerpen dapat dilihat dari segi-segi unsur yang membentuknya. Adapun unsur-unsur itu adalah peristiwa cerita (alur atau plot), tokoh cerita (karakter), tema cerita, suasana cerita (mood dan atmosfir cerita), latar cerita (setting), sudut pandang penceritaan (point of view), dan gaya (style).

Unsur-unsur-unsur intrinsik tersebut sebagai berikut. 1. Tema cerita Tema dipandang sebagai dasar arti atau gagasan dasar umum sebuah karya. Tema menjadi unsur cerita yang memberikan makna dan kekuatan

14

sekaligus unsur pemersatu semua fakta dan sarana cerita (Sugihastuti dan Suharto, 2005: 45). Tema disaring dari motif- motif yang terdapat dalam karya yang bersangkutan yang menentukan hadirnya peristiwa-peristiwa, konflik, dan situasi tertentu. Tema dalam banyak hal bersifat mengikat kehadiran atau ketidakhadiran peristiwa, konflik serta situasi tertentu termasuk berbagai unsur intrinsik yang lain. 2. Alur Cerita Sebuah cerpen menyajikan sebuah cerita kepada pembacanya. Alur cerita ialah peristiwa yang jalin-menjalin berdasar atas urutan atau hubungan tertentu. Sebuah rangkaian peristiwa dapat terjalin berdasar atas urutan waktu, urutan kejadian, atau hubungan sebab-akibat. Jalinmenjalinnya berbagai peristiwa, baik secara linear atau lurus maupun secara kausalitas, sehingga membentuk satu kesatuan yang utuh, padu, dan bulat dalam suatu prosa fiksi. Lebih lanjut Stanton mengemukakan bahwa plot ialah cerita yang berisi urutan kejadian, namun tiap kejadian itu hanya dihubungkan secara sebab-akibat, peristiwa yang disebabkan atau menyebabkan terjadinya peristiwa yang lain.Plot ialah peristiwa-peristiwa yang ditampilkan dalam cerita yang tidak bersifat sederhana, karena pengarang menyusun peristiwaperistiwa itu berdasarkan kaitan sebab-akibat.

15

Dengan demikian, alur cerita ialah jalinan peristiwa yang melatari sebuah prosa fiksi yang dihubungkan secara sebab-akibat. 3. Penokohan Dalam pembicaraan sebuah cerita pendek sering dipergunakan istilahistilah seperti tokoh dan penokohan, watak dan perwatakan, atau karakter dan karakterisasi secara bergantian dengan menunjuk pengertian yang hampir sama. Tokoh cerita ialah orang-orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif, atau drama , yang oleh pembaca ditafsirkan memilki kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang diespresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan. Sedangkan penokohan ialah pelukisan gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita. Dengan demikian, istilah penokohan lebih luas pengertiannya daripada tokoh atau perwatakan, sebab penokohan sekaligus mencakup masalah siapa tokoh cerita, bagaimana perwatakan, dan bagaimana penempatan dan pelukisannya dalam sebuah cerita sehingga sanggup memberikan gambaran yang jelas kepada pembaca. Penokohan sekaligus menunjuk pada teknik perwujudan dan pengembangan tokoh dalam sebuah cerita. 4. Latar

16

Latar menurut Kenney (dalam Sugihastuti dan Suharto, 2005: 54) merupakan atmosfer karya sastra yang mendukung masalah tema, alur, dan penokohan. Latar meliputi penggambaran geografis, termasuk topografi, pemandangan, perincian perelengkapan sebuah ruang. Sebuah cerita pada hakikatnya ialah peristiwa atau kejadian yang menimpa atau dilakukan oleh satu atau beberapa orang tokoh pada suatu waktu tertentu dan pada tempat tertentu. Menurut Burhan Nurgiyantoro (2002: 227- 233) unsur latar dapat dibedakan ke dalam tiga unsur pokok, antara lain sebagai berikut. a. Latar Tempat Latar tempat mengacu pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Unsur tempat yang dipergunakan mungkin berupa tempat-tempat dengan nama tertentu serta inisial tertentu. b. Latar Waktu Latar waktu berhubungan dengan masalah kapan terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Masalah kapan teersebut biasanya dihubungkan dengan waktu

c. Latar Sosial Latar sosial mengacu pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi. Tata cara kehidupan sosial masyarakat mencakup berbagai masalah dalam

17

lingkup yang cukup kompleks serta dapat berupa kebiasaan hidup, adat istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup, cara berpikir dan bersikap. Selain itu latar sosial juga berhubungan dengan status sosial tokoh yang bersangkutan. 1. Sudut Pandang Sudut pandang (point of view) merupakan strategi, teknik, siasat, yang secara sengaja dipilih pengarang untuk mengemukakan gagasan dan ceritanya. Segala sesuatu yang dikemukakan dalam karya fiksi memang milik pengarang, pandangan hidup, dan tafsirannya terhadap kehidupan. Namun kesemuanya itu dalam karya fiksi disalurkan lewat sudut pandang tokoh, lewat kacamata tokoh cerita. Sudut pandang adalah cara memandang tokoh-tokoh cerita dengan menempatkan dirinya pada posisi tertentu. 1. Siapa yang berbicara kepada pembaca (pengarang dalam persona ketiga atau pertama, salah satu pelaku dengan aku, atau seperti tak seorang pun)? 2. Dari posisi mana cerita itu dikisahkan (atas, tepi, pusat, depan atau berganti-ganti)? 3. Saluran informasi apa yang dipergunakan narator untuk

menyampaikan ceritanya kepada pembaca (kata-kata, pikirn, atau persepsi pengarang; kata-kata, tindakan, pikiran, perasaan, atau persepsi tokoh)?

18

4. Sejauh mana narator menempatkan pembaca dari ceritanya (dekat, jauh, atau berganti-ganti)? Selain itu, pembedaan sudut pandang juga dilihat dari bagaimana kehadiran cerita itu kepada pembaca: lebih bersifat penceritaan, telling, atau penunjukan, showing, naratif atau dramatik. Pembedaan sudut pandang yang akan dikemukakan berikut berdasarkan pembedaan yang telah umum dilakukan orang yaitu bentuk persona tokoh cerita: persona ketiga dan persona pertama. 1) Sudut pandang persona ketiga : Dia Pengisahan cerita yang menpergunakan sudut pandang persona ketiga gaya Dia, narator adalah seorang yang berada di luar cerita yang menampilkan tokoh-tokoh cerita dengan menyebut nama, atau kata gantinya: ia, dia, mereka. Nama-nama tokoh cerita, khususnya yang utama, kerap atau terus menerus disebut, dan sebagai variasi dipergunakan kata ganti. Hal ini akan mempermudah pembaca untuk mengenali siapa tokoh yang diceritakan atau siapa yang bertindak. Sudut pandang diadapat dibedakan ke dalam dua golongan berdasarkan tingkat kebebasan dan keterikatan pengarang terhadap bahan ceritanya. Di satu pihak, pengarang, narator dapat bebas menceritakan segala sesuatu yang berhubungan dengan tokoh dia, jadi bersifat mahatahu, di lain pihak ia terikat, mempunyai keterbatasan pengertian

19

terhadap tokoh dia yang diceritakan itu, jadi bersifat terbatas, hanya selaku pengamat saja. a) Dia mahatahu Dalam sudut pandang ini, cerita dikisahkan dari sudut dia, namun pengarang, narator dapat menceritakan apa saja hal-hal yang menyangkut tokoh dia tersebut. Narator mengetahui segalanya, ia bersifat mahatahu (omniscient). Ia mengetahui berbagai hal tentang tokoh, peristiwa, dan tindakan, termasuk motivasi yang melatarbelakanginya. Ia bebas bergerak dan menceritakan apa saja dalam lingkup waktu dan tempat cerita, berpindah-pindah dari tokoh diayang satu ke dia yang lain, menceritakan atau sebaliknya menyembunyikan ucapan dan tindakan tokoh, bahkan juga yang hanya berupa pikiran, perasaan, pandangan, dan motivasi tokoh secara jelas, seperti halnya ucapan dan tindakan nyata. b) Dia terbatas, Dia sebagai pengamat Dalam sudut pandang dia terbatas, seperti halnya

dalamdiamahatahu, pengarang melukiskan apa yang dilihat, didengar, dialami, dipikir, dan dirasakan oleh tokoh cerita, namun terbatas hanya pada seorang tokoh saja atau terbatas dalam jumlah yang sangat terbatas. Tokoh cerita mungkin saja cukup banyak, yang juga berupa tokoh dia, namun mereka tidak diberi kesempatan untuk menunjukkan sosok dirinya seperti halnya tokoh pertama. 2) Sudut Pandang Persona Pertama: Aku

20

Dalam pengisahan cerita yang mempergunakan sudut pandang persona pertama (first person point of view), aku. Jadi: gaya aku, narator adalah seseorang yang ikut terlibat dalam cerita. Ia adalah si aku tokoh yang berkisah, mengisahkan kesadaran dirinya sendiri, mengisahkan peristiwa atau tindakan, yang diketahui,dilihat, didengar,dialami dan dirasakan, serta sikapnya terhadap orang (tokoh) lain kepada pembaca. Jadi, pembaca hanya dapat melihat dan merasakan secara terbatas seperti yang dilihat dan dirasakan tokoh si aku tersebut. (a) Aku tokoh utama Dalam sudut pandang teknik ini, si aku mengisahkan berbagai peristiwa dan tingkah laku yang dialaminya, baik yang bersifat batiniah, dalam diri sendiri, maupun fisik, hubungannya dengan sesuatu yang di luar dirinya. Si akumenjadi fokus pusat kesadaran, pusat cerita. Segala sesuatu yang di luar diri si aku, peristiwa, tindakan, dan orang, diceritakan hanya jika berhubungan dengan dirinya, di samping memiliki kebebasan untuk memilih masalah-masalah yang akan diceritakan. Dalam cerita yang demikian,si aku menjadi tokoh utama (first person central). (b) Aku tokoh tambahan Dalam sudut pandang ini, tokoh aku muncul bukan sebagai tokoh utama, melainkan sebagai tokoh tambahan (first pesonal peripheral). Tokoh aku hadir untuk membawakan cerita kepada pembaca, sedangkan tokoh cerita yang dikisahkan itu kemudian dibiarkan untuk mengisahkan sendiri

21

berbagai pengalamannya. Tokoh cerita yang dibiarkan berkisah sendiri itulah yang kemudian menjadi tokoh utama, sebab dialah yang lebih banyak tampil, membawakan berbagai peristiwa, tindakan, dan berhubungan dengan tokoh-tokoh lain. Setelah cerita tokoh utama habis, si

akutambahan tampil kembali, dan dialah kini yang berkisah. Dengan demikian, si aku hanya tampil sebagai saksi saja. Saksi terhadap berlangsungnya cerita yang ditokohi oleh orang lain. Si aku pada umumnya tampil sebagai pengantar dan penutup cerita. 1. Gaya Bahasa dan Nada Bahasa dalam cerpen memilki peran ganda, bahasa tidak hanya berfungsi sebagai penyampai gagasan pengarang. Namun juga sebagai penyampai perasaannya. Beberapa cara yang ditempuh oleh pengarang dalam memberdayakan bahasa cerpen ialah dengan menggunakan perbandingan, menghidupkan benda mati, melukiskan sesuatu dengan tidak sewajarnya, dan sebagainya Latar menurut Kenney (dalam Sugihastuti dan Suharto, 2005: 54) merupakan atmosfer karya sastra yang mendukung masalah tema, alur, dan penokohan. Latar meliputi penggambaran geografis, termasuk topografi, pemandangan, perincian perelengkapan sebuah ruang. 2. Menulis cerpen a. Hakikat Menulis

22

Menulis merupakan salah satu jenis keterampilan berbahasa yang harus dikuasai siswa. Keterampilan ini sangat didukung oleh keterampilan membaca. Membaca adalah sarana utama menuju ke keterampilan menulis (Murahimin, 1994: 6). Sementara itu, pengertian menulis telah banyak di kemukakan oleh para ahli Widyamartaya (1994: 4) mengemukakan bahwa menulis dapat kita pahami sebagai keseluruhan rangkaian kegiatan seseorang mengungkapkan gagasan dan menyampaikannya melalui bahasa tulis kepada pembaca untuk dipahami tepat seperti yang dimaksud oleh pengarang. Menulis bisa juga diartikan sebagai usaha untuk berkomunikasi yang mempunyai aturan main serta kebiasaanya sendiri (Murahimin, 1994: 13). Menulis adalah kegiatan melahirkan pikiran dan perasaan dengan tulisan. Dapat juga diartikan menulis adalah berkomunikasi

mengungkapkan pikiran, perasaan, dan kehendak kepada orang lain secara tertulis. Selanjutnya, juga dapat diartikan bahwa menulis adalah menjelmakan bahasa lisan, mungkin menyalin atau melahirkan pikiran atau perasaan seperti mengarang, membuat surat, membuat laporan, dan sebagianya (Suriamiharja, dkk1996/1997: 2). Dengan mencermati teori-teori di atas, dapat dikemukakan bahwa menulis adalah kegiatan menuangkan gagasan, ide atau pendapat yang akan disampaikan kepada orang lain (pembaca) melalui media bahasa tulis untuk dipahami tepat seperti yang dimaksud oleh penulis.

23

b. Menulis cerpen Menulis adalah kegiatan menuangkan gagasan, ide atau pendapat yang akan disampaikan kepada orang lain (pembaca) melalui media bahasa tulis untuk dipahami tepat seperti yang dimaksud oleh penulis. Gagasan, ide atau pendapat yang akan disampaikan kepada orang lain (pembaca) oleh penulis melalui media bahasa tulis dapat berbentuk cerpen. Berdasarkan bentuknya, Weaver yang dikutip oleh (Tarigan, 1985: 27) membuat klasifikasi tulisan menjadi empat bentuk, di antaranya adalah mencakup urutan waktu, motif, konflik, titik pandang, dan pusat minat. Dengan mencermati teori-teori di atas, dapat diketahui bahwa menulis cerpen merupakan kegiatan menuangkan ide atau pendapat bahkan imajinasi ke dalam bentuk tulisan (cerpen) yang isinya menceritakan sesuatu kejadian berdasarkan urutan waktu dan ada tokoh yang mengalami konflik.

2. Pembelajaran dengan Media Audio Visual Penggunaan media audio visual dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan rasa ingin tahu dan memunculkan ide yang sangat menarik di benak siswa, membangkitkan motivasi dan rangsangan dalam proses belajar mengajar, serta dapat mempengaruhi psikologi siswa. Oleh karena itu media audio visual dapat digunakan secara tepat, secara nyata membantu dan mempermudah proses belajar mengajar.

24

Tindakan yang hendak dilakukan dalam proses pembelajaran menulis cerpen, yaitu pembelajaran dengan menggunakan media audio visual yang memerlukan persiapan yang matang. Pembelajaran menulis cerpen didahului dengan pemutaran VCD. Setelah pemutaran VCD, Posisi duduk siswa diatur pada posisi yang nyaman dan enak, guru memberi penjelasan tata tertib selama pemutaran VCD, siswa dapat mencatat hal-hal yang dianggap perlu. Kemudian pembelajaran menulis cerpen dilakukan setelah siswa menyaksikan pemutaran film dengan media audio visual. Guru menugasi siswa untuk menulis cerita pendek sesuai ide yang didapat setelah menyaksikan pemutaran film dan mengandaikan dirinya sebagai salah satu tokoh dalam film yang dapat memudahkan siswa dalam menulis sebuah cerpen. 1. Perencanaan Alat peraga pelajaran yang digunakan adalah media audio visual dengan CD film remaja. Metode yang digunakan adalah ceramah, tanya jawab,pemutaran film dan penugasan. Jenis penilaian yang digunakan adalah nontes yaitu pengamatan (observasi) terhadap kinerja siswa selama proses pembelajaran dan penilaian terhadap hasil menulis cerpen para siswa. Hasil menulis cerpen siswa diobservasi meliputi isi, kesesuaian judul, panjang cerpen, alur cerita, pemilihan dan pengembangan karakter tokoh. 2. Tindakan

25

Tindakan yang dilakukan oleh guru adalah mengadakan apresiasi berupa tanya jawab tentang berbagai macam film remaja yang digemari para siswa. Tujuan dari apresiasi ini adalah menggali pengetahuan dan pengalaman siswa tentang berbagai macam film remaja yang pernah dilihat dan memberikan penjelasan mengenai kegiatan belajar mengajar yang hendak dilaksanakan, yaitu mengenai menulis cerpen melalui teknik pengandaian diri sebagai tokoh dalam cerita dengan media audio visual. 3. Pengamatan atau Observasi Kinerja siswa diamati selama pembelajaran berlangsung, keaktifan dalam melaksanakan kegiatan dan antusiasme menulis cerpen. Hasil menulis cerpen siswa juga diobservasikan berdasarkan isi, panjang cerita, alur, pemilihan dan pengembangan karakter tokoh dalam cerita.

4. Refleksi Guru menganalisis hasil pengamatan terhadap kinerja siswa dan penilaian hasil kerja siswa. 2. Hasil belajar a. Pengertian hasil belajar

26

Belajar merupakan proses perubahan yang terjadi pada diri seseorang melalui penguatan (reinfarcemen), sehingga terjadi perubahan ynag bersifat permanen dan persistem pada dirinya sebagai hasil pengalaman (Learning is a change of behavior of experience),demikian pendapat John Dewey, salah seorang ahli pendidikan Amerika Serikat dari aliran bahavioural approach (Dwitaqma, 2008). Perubahan yang dihasilkan oleh proses belajar bersifat progresif dan akumulatif, mengarah pada kesempatan, misalnya dari tidak mampu menjadi mampu, dan tidak mengerti menjadi mengerti, baik mencakup aspek pengetahuan (coqnitive domain), aspek afektif (afektive domain). Hal tersebut sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Winkel (1996) bahwa Dalam taksonomi Bloom, aspek belajar yang harus diukur keberhasilannya adalah aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik sehingga dapat menggambarkan tingkah laku menyeluruh sebagai hasil belajar siswa?. Pencapaian hasil belajar dapat diukur dengan melihat prestasi belajar yang diperoleh pada proses pembelajaran. Tingkah laku sebagai hasil belajar juga tidak terlepas dari proses pembelajaran di kelas dan berbagai bentuk interaksi belajar lainnya. Menurut Sudjana (1984) bahwa hasil belajar adalah Tingkah laku yang dicapai oleh pelajar dalam mengikuti program belajar mengajar sesuai dengan tujuan pendidikan yang diharapkan. Hasil belajar dalam hal ini, meliputi wawasan kognitif, afektif, dan psikomotorik.

27

Adapun menurut Mappasoro (2006) bahwa Hasil belajar adalah sejumlah perubahan yang terjadi pada diri seseorang yang disebabkan oleh faktor lain di luar seperti perubahan karena kematangan, perubahan karena kelelahan fisik dan sebagainya. Hasil belajar dan prestasi belajar ibarat dari sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Oleh Karena itu, berbicara hasil belajar maka orientasinya adalah berbicara prestasi belajar yang diukur dengan nilai tertentu. Berdasarkan beberapa pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah perubahan yang dicapai seorang pelajar setelah mengikuti program belajar mengajar sesuai dengan tujuan pendidikan yang diharapkan yang meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Berdasarkan hal tersebut, maka hasil yang dimaksudkan adalah prestasi belajar yang diperoleh dari kegiatan belajar mengajar. Dengan demikian, tujuan pembelajaran dipandang sebagai suatu harapan yang akan diperoleh siswa setelah mengikuti kegiatan belajar mengajar. Hal ini

sebagaimana dikemukakan oleh Nasution (2000) bahwa hasil belajar siswa dirumuskan sebagai standar kompetensi yang dinyatakan dalam bentuk yang lebih spesifik dan merupakan komponen dari tujuan umum bidang studi. b. Fungsi hasil belajar Hasil belajar yang dicapai siswa dapat dijadikan indikator untuk mengikuti tingkat kemampuan, kesanggupan, penguasaan tentang materi

28

belajar. Sehingga hasil belajar dalam pendidikan tidak dapat dilepaskan dari tujuan evaluasi itu sendiri. Di dalam pengertian tentang evaluasi

pendidikan ialah untuk mendapatkan data pembuktian yang akan menunjukkan sampai di mana kemampuan dan keberhasilan siswa dalam pencapaian tujuan kurikuler. Di samping hasil belajar yang digunakan oleh guru-guru dan para pengawas pendidik untuk mengukur dan menilai sampai di mana keefektifan pengalaman-pengalaman mengajar, kegiatan-kegiatan belajar dan metode-metode mengajar yang digunakan. Dengan demikian, dapat dikatakan betapa penting peranan dan fungsi hasil belajar dalam

pendidikan dan pengajaran dikelompokkan menjadi empat fungsi Purnama (dalam Nasution, 2000) yaitu :
1. Untuk

mengetahui kemajuan dan perkembangan serta keberhasilan Siswa setelah mengalami atau melakukan kegiatan belajar selama jangka waktu tertentu. Hasil belajar dapat diperoleh itu selanjutnya dapat digunakan untuk memperbaiki cara belajar Siswa (fungsi formatif) dan atau untuk mengisi rapor atau Surat Keterangan Hasil Ujian Nasional, yang berbarti pula untuk menentukan kenaikan kelas atau lulus tidak hanya seorang Siswa dari suatu lembaga pendidikan tertentu (fungsi sumatif). 2. Untuk mengetahui tingkat keberhasilan program pengajaran. Pengajaran sebagai suatu sistem terdiri atas beberapa komponen yang saling berkaitan satu sama lainnya. 3. Untuk keperluan bimbingan dan konseling (BK). Hasil-hasil yang telah dilaksanakan terhadapa Siswanya dapat dijadikan informasi atau data bagi pelayanan BK oleh para konselor sekolah. 4. Untuk keperluan pengembangan dan perbaikan kurikulum sekolah yang bersangkutan.

29

Adapun menurut Winkel (1996) bahwa hasil belajar dapat digunakan untuk :
1.

2.

Mendapatkan informasi tentang masing-masing Siswa, sampai sejauh mana mereka telah mencapai tujuan-tujuan intruksional. Hasil belajar pada tahap evaluasi formatif merupakan bahan untuk memonitor kemajuan Siswa menyangkut pencapaian tujuan intruksional untuk unit pelajaran tertentu, pada tahap evaluasi sumatif dapat digunakan sebagai bahan informasi untuk menentukan tingkat keberhasilan Siswa dalam beberapa tujuan instruksional yang diuji bersama-sama. Mendapatkan informasi tentang suatu kelompok Siswa sampai berapa jauh kelompok Siswa mengenai tujuan-tujuan instruksional, misalnya satu satuan kelas di bidang studi Bahasa Indonesia. Informasi ini diperoleh dengan menerapkan evaluasi formatif dan evaluasi sumatif. Hasil evaluasi tersebut juga bersifat diganostik yaitu membantu menentukan faktor kesulitan dan kesukaran yang masih dialami Siswa dalam mencapai tujuan instruksional tertentu, dimana faktor tersebut mungkin terdapat pada pribadi Siswa dan mungkin juga terletak dalam model proses belajar mengajar itu sendiri.

a. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap hasil belajar Belajar merupakan proses kegiatan untuk mengubah tingkah laku subyek belajar ternyata banyak faktor yang mempengaruhi dari sekian banyak yang berpengaruh terhadap pencapaian hasil belajar, menurut Sudjana (1984) bahwa secara garis besar dapat dibagi dalam klasifikasi faktor interen (dari dalam) dan faktor eksteren (dari luar) diri subyek belajar. Hal ini, sama dikemukakan oleh Winkel (1996) bahwa Hasil belajar secara pokok dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal terdapat pada diri siswa itu sendiri, yang meliputi faktor fisiologis dan faktor psikologi. Sedangkan faktor eksternal

30

merupakan kondisi yang berada di luar siswa yang terdiri atas faktor keluarga atau rumah tangga, faktor sekolah dan faktor lingkungan masyarakat. Menurut Abdurrahman (1993) bahwa Faktor fisiologis-biologis yang berpengaruh terhadap hasil belajar Siswa, antara lain: (1) bentuk atau postur tubuh, (2) kesegaran dan kebugaran, (3) kesehatan atau keutuhan tubuh, (4) instink, refleks dan driff (dorongan), (5) komposisi zat cair tubuh, dan (6) rentang dan susunan saraf. Adapun faktor psikologis, antara lain : (1) kemampuan kognitif (pengenalan) berupa pengamatan, tanggapan, ingatan, assosiasi/ reproduksi, fantasi dan intelegensi, (2) kematangan emosi (perasaan berupa kematangan emosi biologis dan emosi rohani, (3) kekuatan konasi (kemauan), dan dorongan kombinasi berupa minat, perhatian, dan sugesti. Lebih lanjut Abdurrahman (1993) Faktor-faktor yang berkaitan dengan keluarga dan lingkungan, antara lain: (1) suasana kehidupan dalam keluarga, (2) kondisi sosial ekonomi, (3) perhatian orang tua terhadap pelajaran anaknya, (4) pemberian motivasi dan dorongan untuk belajar, (5) fasilitas belajar. Faktor sekolah berkaitan dengan (1) pengelolaan kelas dan sekolah, (2) hubungan antara guru dan Siswa, antara Siswa dan antara Siswa dengan guru, (3) pelaksanaan bimbingan konseling, (4) fasilitas dan sumber belajar, (5) penetapan dan penggunaan metode dan media pembelajaran oleh guru, (6) kondisi ruangan dan tempat belajar, dan (7) kerjasama orang tua dengan guru dan sekolah dengan masyarakat. Sedangkan faktor ligkungan masyarakat berkaitan dengan (8) perhatian dan kepedulian lembaga-lembaga masyarakat akan pendidikan, (9) keteladanan para pemimpin formal dan informal, (10) peranan media massa, dan (11) bentuk kehidupan masyarakat. b. Prinsip-prinsip pengembangan hasil belajar Pengembangan hasil belajar siswa dapat dilakukan dengan cara mengemas pelajaran dan suasana menantang, merangsang dan menggugah

31

daya cipta siswa untuk menemukan dan mengesankan. Gagne (dalam Mulyasa, 2007) menambahkan bahwa jika seorang Siswa dihadapkan pada suatu masalah pada akhirnya mereka bukan hanya sekedar memecahkan masalah memegang peranan penting dalam pemgembangan siswa. Menurut Abdurrahman (1993) bahwa beberapa prinsip yang dapat digunakan dalam mengembangkan hasil belajar antara lain: a) Prinsip motivasi Prinsip motivasi dimaksudkan untuk merangsan daya dorong pribadi Siswa melakukan sesuatu (motivasi intrinsil dan motivasi ekstrinsik). Untuk motivasi instrinsik, gairahkanlah perasaan ingin tahu anak, keinginan mencoba dan hasrta untuk lebih memajukan hasil belajar. b) Prinsip latar atau konteks Siswa akan terangsang mempelajari sesuatu jika mengetahui adanya hubungan langsung pada hal-hal yang sudah diketahui sebelumnya. Guru hendaknya mengetahui apa kira-kira pengetahuan, keterampilan, sikap, dan pengalaman yang sudah dimiliki Siswa. Dengan pengetahuan latar ini, guru dapat mengembangkan kemampuan dan hasil belajar Siswa. c) Prinsip sosialisasi Kegiatan belajar bersama dala kelompok perlu dikembangkan di kalangan Siswa, karena hasil belajar akan lebih baik. Pengelompokan peserta idik dapat dilakukan dengan pendekatan kemampuan, tempat

32

tinggal, jenis kelamin, dan minat. Setiap kelompok diberi tugas yang berbeda dari sumber yang sama. d) Prinsip belajar sambil bermain Bekerja merupakan tuntutan menyatakan diri utuk berprestasi pada diri anak, karena itu berilah kesempatan mengembangkan kemampuan dan hasil belajarnya melalui kegiatan bermain sambil belajar atau belajar sambil bermain.
A. Hipotesis

Dari rumusan masalah tersebut di atas, maka hipotesis penelitian ini adalah diduga dengan menggunakan media audio visual dapat

meningkatkan hasil belajar siswa dalam menulis cerpen di MTs Negeri Turikale Kabupaten Maros.

B. Kerangka Pikir Pada pembelajaran bahasa indonesia, ada empat komponen yang mesti dipelajari oleh siswa, yakni membaca, menulis, berbicara dan menyimak. Dalam melakukan pembelajaran peneliti berusaha membuat metode audio visual menarik untuk dipelajari oleh siswa. Dalam pembelajaran tersebut salah satu metode yang dilakukan oleh peneliti adalah dengan menggunakan metode audio visual. Materi yang cukup rumit untuk siswa

33

MTs adalah menulis cerita pendek (cerpen). Salah satu metode peneliti adalah metode audio visual dimana peneliti akan mengantarkan siswa untuk menulis cerpen siswa. Adapun peneliti dalam hal ini, akan menilai cerpen yang dibuat oleh siswa nantinya berupa unsur-unsur intrinsik dalam membuat cerpen. Nah, dari hasil penelitian ini, peneliti nantinya membuat hasil belajar siswa sebagai tolak ukur dalam menilai keterampilan siswa. Adapaun alur cerita dapat diperhatikan sebagaimana tabel berikut .

Tema Pembelajaran Keterampilan Menulis Unsur Intrinsik Menulis Media Alur Audio Visual Bahasa Indonesia Cerpen Penokohan Latar Sudut Pandang Gaya Bahasa & Nada

34

Gambar 1 Bagan Kerangka Pikir

BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi dan Waktu Penelitian

35

1. Lokasi penelitian Lokasi penelitian ini adalah MTs. Negeri Turikale Kabupaten Maros. 2. Waktu penelitian Waktu penelitian ini adalah selama 2 bulan yakni pada bulan Mei s.d Juni 2011. A. Variabel dan Disain Penelitian 1. Variabel penelitian Adapun variabel penelitian ini, yakni variabel bebasnya adalah metodi audio visual dan variabel terikatnya adalah keterampilan menulis cerpen siswa kelas VIII MTs Negeri Turikale Kabupaten Maros. 2. Disain penelitian Adapun disain penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Dimana dalam PTK ini, direncanakan 2 (dua) siklus, dan masing-masing siklus terdiri dari : Perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi.

Perenca Obser Tinda Refle naan vasi kan ksi 35

Desain penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Secara skematik desain PTK dapat dilihat pada gambar berikut ini.

36

Gambar 2 Skema Penelitian tindakan kelas dalam satu siklus A. Definisi Operasional Variabel Untuk memperjelas penelitian ini, maka perlu mendefinisikan operasional variabel penelitian ini adalah sebagai berikut: Media audio visual adalah penggunaan media film di dalam pembelajaran. Keterampilan menulis cerpen adalah keterampilan siswa dalam menuangkan gagasan, ide atau pendapat yang ingin disampaikan kepada orang lain melalui media bahasa tulis untuk dipahami. B. Subjek Penelitian Adapun subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIII MTs. Negeri Turikale Kabupaten Maros berjumlah 19 orang yang terdiri dari 12 laki-laki dan 7 Perempuan.

C. Instrumen Penelitian Instrumen penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Hasil belajar

37

Dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan butir soal sehingga dapat diseleksi atau direvisi. Tes adalah serentetan atau latihan yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, sikap, intelegensi, keterampilan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok. 2. Observasi Observasi dilakukan untuk mengamati keaktifan siswa dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar. Observasi terhadap aktivitas kelas yang berhubungan dengan perilaku siswa maupun guru. Observasi merupakan teknik pengumpulan data yang menggunakan pengamatan terhadap objek penelitian. Observasi yang akan dilakukan adalah observasi langsung, dalam artian mengadakan pengamatan secara langsung terhadap gejala-gejala yang diselidiki, baik pengamatan itu dilakukan dalam situasi sebenarnya maupun dilakukan dalam situasi buatan yang khusus diadakan.

A. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui beberapa teknik yaitu, melalui :

38

1. Tes hasil belajar menulis cerpen dengan menggunakan media audio visual, pada tiap akhir siklus di adakan evaluasi keterampilan menulis cerpen. Kemudian peneliti melakukan penilaian terhadap hasil pekerjaan siswa, yakni cerpen yang telah dibuat oleh siswa pada lembar penilaian yang telah dipersiapkan sebelumnya. 2. Lembar observasi, peneliti juga mengamati sikap dan tingkah laku siswa, dan membuat penilaian pengamatan ditulis pada lembar pengamatan yang telah dipersiapkan sebelumnya. A. Teknik Analisis Data Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah statistik deskriptif, yang terdiri dari rata-rata nilai maksimal dan minimum yang diperoleh siswa pada setiap siklus untuk analisis kuantitatif, yang digunakan teknik ketegorisasi yang dikemukakan oleh Suherman (1990) sebagai berikut: a. Tingkat penguasaan 85 % - 100% sangat tinggi b. Tingkat penguasaan 75% - 84% tinggi c. Tingkat penguasaan 55 % - 74% sedang, cukup d. Tingkat penguasaan 40 % - 54% rendah e. Tingkat penguasaan 0 % - 39 % jelek, sangat rendah Untuk analisis deskriptif, rumus yang digunakan sebagai berikut :

Keterangan :

39

Me f x N

= Mean = Frekuensi = Nilai perolehan siswa = Jumlah siswa

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian


1. Data kualitatif

40

Data kualitatif merupakan data sikap siswa kelas VIII MTs Turikale Kabupaten Maros dalam mengikuti pembelajaran bahasa Indonesia yang diperoleh dari lembar observasi. Dalam mengamati aktivitas siswa dilakukan sebanyak dua kali, yakni pengamatan aktivitas siswa pada siklus I dan pengamatan aktivitas siswa siklus II. Berikut ini hasil pengamatan aktivitas siswa selama mengikuti proses pembelajaran siklus I dan siklus II. Adapun hasil pengamatan pada siklus I dan siklus II sebagai berikut. Tabel 1 Frekuensi Hasil Observasi Siklus I dan Siklus II pada Siswa Kelas VIII MTs. Turikale Kabupaten Maros No Aktivitas Kelas Siklus I x % 15 79 13 68 7 37 3 16 0 0 5 26 7 37 8 42 8 42 11 58 Siklus II x % 19 100 19 100 12 63 14 74 0 0 2 11 5 26 5 26 9 47 9 47

1 Menyimak Pengajaran Guru 2 Kerja sama Kelompok 3 Meminta Bimbingan Guru 4 Mengajukan pertanyaan 5 Kegiatan tidak relevan : Keluar Masuk Kelas 6 Kegiatan tidak relevan : Menganggu Teman 7 Menjawab Pertanyaan 8 Mempresentasikan hasil belajar 9 Menyimpulkan hasil belajar 10 Merespon teman Sumber : Hasil Pengamatan, 2011

Dari tabel 1 di atas, dapat diketahui bahwa siswa yang menyimak pengajaran guru pada siklus I sebanyak 15 orang dengan persentase 79%
40

dan pada siklus II sebanyak 19 orang dengan persentase 100%, siswa yang bekerja sama kelompoknya pada siklus I sebanyak 13 orang dengan presentase 68% dan pada siklus II sebanyak 19 orang dengan persentase 100%, siswa yang meminta bimbingan guru pada siklus I sebanyak 7 orang

41

dengan persentase 37% dan pada siklus II sebanyak 12 orang dengan persentase 63%, siswa yang mengajukan pertanyaan pada siklus I sebanyak 3 orang dengan persentase 16% dan pada sikus II sebanyak 14 orang dengan persentase 74%, siswa yang melakukan kegiatan yang tidak relevan seperti keluar masuk kelas sebanyak 0 orang begitupun pada siklus II tidak ada siswa yang keluar masuk, siswa yang melakukan kegiatan yang tidak relevan seperti menganggu temanya pada siklus I sebanyak 5 orang dengan persentase 26% dan siklus II sebanyak 2 orang dengan persentase 11%, siswa yang menjawab pertanyaan guru dan siswa pada siklus I sebanyak 7 orang dengan persentase 37% dan pada siklus II sebanyak 5 orang dengan persentase 26%, siswa yang menyimpulkan hasil belajar pada siklus I sebanyak 8 orang dengen persentase 42% dan pada sikus II sebanyak 9 orang dengan persentase 47%, dan siswa yang merespon temannya pada siklus I sebanyak 11 orang dengan persentase 58% dan pada sikus II sebanyak 9 orang dengan persentse 47%. 2. Data kuantitatif Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hasil belajar menulis cerita pendek melalui media audio visual. Untuk memperoleh data mengenai apakah hasil belajar menulis cerpen dapat meningkat, maka sampel siswa kelas VIII MTs Negeri Turikale Kabupaten Maros. Sebelum mengadakan tindakan kelas dalam rangka menerapkan metode audio visual, terlebih dahulu disiapkan rencana pelaksanaan pembelajaran yang disusun sesuai

42

dengan materi yang dipelajari oleh siswa pada saat itu sesuai dengan kurikulum, tes untuk siklus I dan siklus II. a. Siklus I Proses belajar mengajar dimulai dengan perkenalan oleh guru dengan siswa. Siklus I dilakukan dua kali pertemuan proses belajar mengajar dan tes akhir siklus I pada pertemuan ketiga. Khusus untuk pertemuan pertama semua siswa hadir dan begitu pun pada pertemuan kedua, semua siswa hadir yang berjumlah 19 orang sebagai subjek penelitian. Pertemuan ketiga yang merupakan tes akhis siklus I semua siswa menjadi subjek penelitian yang hadir. Tes akhir ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan siswa dalam memahami materi yang telah diberikan, adapun skor hasil belajar menggunakan Microsoft Excel 2007, maka diperoleh skor hasil belajar sebagai berikut.

Tabel 2 Skor Hasil Perolehan Siswa Siklus I Skor Perolehan 50 60 70 80 90 Jumlah Sumber : Hasil Olahan, 2011 Frekuensi 6 7 0 0 6 19 Persentase 32 38 0 0 32 100

Dari tabel 2 di atas, menunjukkan bahwa skor perolehan siswa pada siklus I ini yakni, siswa yang memperoleh skor 50 sebanyak 6 orang dengan

43

persentase 32%, siswa yang memperoleh skor 60 sebanyak 7 orang dengan persentase 37%, dan siswa yang memperoleh skor 90 sebanyak 6 orang dengan persentase 32%. Adapun statistik hasil belajar siswa dalam Menulis Cerpen Melalui Media Audio Visual ditunjukkan pada tabel berikut ini. Tabel 3 Statistik Hasil Belajar siswa Siklus I Statistik Subjek Penelitian Rata-rata Median Modus Standar Deviasi Varian Nilai Tertinggi Nilai Terendah Rentang Sumber : Hasil Olahan, 2011 Nilai 19 66 60 60 17 291 90 50 40

Dari tabel 3 di atas, menunjukkan bahwa statistik hasil belajar siswa dari 19 subjek penelitian dalam Menulis Cerpen Melalui Media Audio Visual pada siklus I, diperoleh bahwa rata-rata hasil belajarnya adalah 66, nilai median yang diperoleh adalah 60, nilai modus yang diperoleh adalah 60, nilai standar deviasi yang diperoleh adalah 17, nilai varians yang diperoleh adalah 291, nilai tertinggi yang diperoleh adalah 90, nilai terendah yang diperoleh adalah 50 dan rentang nilai yang diperoleh adalah 40. Berikut ini, kategorisasi hasil belajar siswa dalam Menulis Cerpen Melalui Media Audio Visual pada siklus I.

44

Tabel 4 Kategorisasi Hasil Belajar Siswa dalam Menulis Cerpen Melalui Media Audio Visual pada Siklus I Interval 0 39 40 54 55 74 75 84 85 - 100 Kategori Frekuensi 0 6 7 0 6 19 Persentase (%) 0 32 38 0 32 100

Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi Jumlah Sumber : Hasil Perolehan, 2011

Dari tabel 4 di atas, menunjukkan kategorasi hasil belajar siswa dalam Menulis Cerpen Melalui Media Audio Visual pada siklus I, diperlihatkan bahwa hasil belajar siswa pada kategori sangat rendah sebanyak 0 orang atau persentase 0%, yang berada pada kategori rendah sebanyak 6 orang dengan persentase 32%, yang berada pada kategori sedang sebanyak 7orang dengan persentase 38%, yang berada pada kategori tinggi sebanyak 0 orang dengan persentase 0% dan yang berada pada kategori sangat tinggi sebanyak 6 orang dengan persentase 32%. Dari data tersebut di atas, maka disimpulkan bahwa kategorisasi hasil belajar siswa dalam menulis cerpen melalui media audio visual pada siklus I didominasi oleh kategori sedang. Dari tabel tersebut, dapat pula kita perhatikan diagram batang hasil belajar siswa dalam menulis cerpen melalui media audio visual pada siklus I berikut ini.

Gambar 2 Diagram Kategorisasi Hasil Belajar Siswa Siklus I

45

Adapun ketuntasan hasil belajar siswa dalam Menulis Cerpen Melalui Media Audio Visual pada siklus I sebagai berikut :

Tabel 5 Ketuntasan Hasil Belajar Siswa dalam Menulis Cerpen Melalui Media Audio Visual pada siklus I Interval Kategori Frekuensi 13 6 Persentase (%) 68 32

0 70 Tidak Tuntas 71 - 100 Tuntas Sumber : Hasil Perolehan, 2011

Dari tabel 5 di atas, menunjukkan bahwa ketuntasa hasil belajar siswa dalam menulis cerpen melalui media audio visual pada siklus I, diperoleh bahwa hasil belajar siswa yang berada pada kategori tidak tuntas sebanyak 13 orang dengan persentase 68% dan yang berada pada kategori tuntas adalah sebanyak 6 orang dengan persentase 32%. Untuk memperjelas tabel 5 di atas, berikut ini diagram ketuntasan hasil belajar dalam menulis cerpen melalui media audio visual pada siklus I.

Dari diagram di atas disimpulkan bahwa pada siklus I hasil belajar siswa dalam menulis cerpen melalui media audio visual berada pada kategori tidak tuntas.
b. Siklus II

46

Siklus II dilakukan 2 (dua) kali pertemuan proses belajar mengajar dan tes akhir siklus II pada pertemuan ketiga. Khusus untuk pertemuan pertama semua siswa hadir dan begitu pun pada pertemuan kedua, semua siswa hadir yang berjumlah 19 orang. Pertemuan ketiga yang merupakan tes akhir siklus II semua siswa menjadi subjek penelitian. Tes akhir siklus II ini bertujuan untuk mengetahui hasil belajar siswa melalui media audio visual dalam memahami materi yang diberikan. Adapun skor hasil belajar siswa dengan menggunakan Microsoft Excel 2007, setelah data dikumpulkan kemudian di input ke dalam Microsoft Excel untuk mencari skor perolehan dari perolehan tersebut. Maka diperoleh skor perolehan sebagai berikut. Tabel 6 Skor Perolehan Siswa dalam menulis cerpen melalui media audio visual pada siklus II Skor Perolehan 60 70 80 90 100 Jumlah Sumber : Hasil Perolehan, 2011 Frekuensi 3 9 1 0 6 19 Persentase (%) 16 47 5 0 32 100

Dari tabel 6 di atas, menunjukkan bahwa skor perolehan siswa dalam menulis cerpen melalui media audio visual pada siklus II, diperoleh bahwa siswa yang memperoleh skor 60 sebanyak 3 orang dengan 16%, siswa yang memperoleh skor 70 sebanyak 9 orang dengan persentase 47%, siswa yang memperoleh skor 80 sebanyak 1 orang dengan persentase 5%, siswa yang

47

memperoleh skor 90 sebanyak 0 orang dengan persentase 0%, dan siswa yang memperoleh skor 100 sebanyak 6 orang dengan persentse 32%. Dari data tersebut di atas, disimpulkan bahwa skor peroleh siswa dalam menulis cerpen melalui media audio visual pada siswa kelas VIII MTs. Turikale Kabupaten Maros siklus II didominasi oleh siswa yang memperoleh skor 70. Dari skor perolehan siswa tersebut, maka dibuatlah statistik hasil belajar siswa dalam menulis cerpen melalui audio visual pada siswa kelas VIII MTs. Turikale Kabupaten Maros, sebagai berikut: Tabel 7 Statistik Hasil Belajar Siswa dalam Menulis Cerpen melalui Media Audio Visual pada Siswa Kelas VIII MTs. Turikale Kabupaten Maros Siklus II Statistik Subjek Penelitian Rata-rata Median Modus Standar Deviasi Varians Nilai Tertinggi Nilai Terendah Rentang Sumber : Hasil Olahan, 2011 Nilai 19 78 70 70 16 247 100 60 40

Dari tabel 7 di atas, menunjukkan bahwa statistik hasil belajar siswa dalam menulis cerpen melalui media audio visual pada siswa kelas VIII MTs. Turikale Kabupaten Maros siklus II dari 19 subjek penelitian diperoleh bahwa rata-rata hasil belajar adalah 78, nilai median yang diperoleh adalah 70, nilai modus yang diperoleh adalah 70, nilai standar

48

deviasi yang diperoleh adalah 16, nilai varians yang diperoleh adalah 247, nilai tertinggi yang diperoleh adalah 100, nilai terendah yang diperoleh adalah 60, dan rentang nilai yang diperoleh adalah 40. Kemudian, nilai statistik tersebut, di kategorisasikan sebagaiman pada tabel 8 berikut ini. Tabel 8 Kategorisasi Hasil Belajar Siswa dalam Menulis Cerpen melalui Media Audio Visual pada Siswa Kelas VIII MTs. Negeri Turikale Kabupaten Maros siklus II Interval 0 39 40 54 55 74 75 84 85 100 Kategori Frekuensi 0 3 9 1 6 19 Persentase (%) 0 16 47 5 32 100

Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi Jumlah Sumber : Hasil Perolehan, 2011

Dari tabel 8 di atas menunjukkan bahwa kategorisasi hasil belajar siswa dalam menulis cerpen melalui media audio visual pada siswa kelas VIII MTs. Negeri Turikale Kabupaten Maros siklus II, menunjukkan bahwa siswa yang berada pada kategori sangat rendah sebanyak 0 orang dengan persentase 0%, siswa yang berada pada kategori rendah sebanyak 3 orang dengan persentase 16%, siswa yang berada pada kategori sedang sebanyak 9 orang dengan persentase 47%, siswa yang berada pada kategori tinggi sebanyak 1 orang dengan persentase 5%, dan siswa yang berada pada kategori sangat tinggi sebanyak 6 orang dengan persentase 32%.

49

Dari data tersebut di atas, menunjukkan bahwa hasil belajar siswa dalam menulis cerpen melalui media audio visual didominasi oleh kategori sedang. Selain dalam bentuk tabel kategorisasi hasil belajar menulis cerpen melalui media audio visual pada siswa kelas VIII MTs. Negeri Turikale Kabupaten Maros, berikut ini disajikan dalam bentuk diagram.

Gambar 4 Diagram Kategorisasi Hasil Belajar Siswa Siklus II

Data kategorisasi ini kemudian diketahui persentase ketuntasan hasil belajar dalam menulis cerpen melalui media audio visual pada siswa kelas VIII MTs. Negeri Turikale Kabupaten Maros siklus II, sebagai berikut. Tabel 9 Ketuntasan Hasil Belajar Siswa dalam Menulis Cerpen melalui Media Audio Visual pada Siswa Kelas VIII MTs. Negeri Turikale Kabupaten Maros Interval Kategori Frekuensi 3 16 Persentase (%) 16 84

0 70 Tidak Tuntas 71 - 100 Tuntas Sumber : Hasil Perolehan, 2011

Dari tabel 9 di atas, menunjukkan bahwa ketuntasan hasil belajar siswa dalam menulis cerpen melalui media audio visual pada siswa kelas VIII MTs. Negeri Turikale Kabupaten Maros siklus II di ketahui dari tabel tersebut dimana siswa yang berada pada kategori tidak tuntas sebanyak 3

50

orang dengan persentase 16% dan siswa yang berada pada kategori tuntas sebanyak 16 orang dengan persentase 84%. Dari data tersebut di atas, disimpulkan bahwa hasil belajar siswa dalam keterampilan menulis cerpen melalui media audio visual pada siswa kelas VIII MTs. Negeri Turikale Kabupaten Maros didominasi oleh

kategori tuntas. Hal ini dapat pula kita perhatikan pada diagram berikut.

Gambar 5 Diagram Ketuntasan Menulis Cerpen Melalui Audio Visual Siklus II Dari diagram tersebut, menunjukkan bahwa pada kategori tuntas memiliki diagram lebih tinggi dibandingkan dengan kategori tidak tuntas. A. Pembahasan Hasil belajar bahasa Indonesia yang diperoleh setelah dilakukan tes akhis siklus I dalam menulis cerpen melalui media audio visual pada siswa kelas VIII MTs Negeri Turikale Kabupaten Maros, dimana subjek penelitian ini berjumlah 19 orang, diperoleh rata-rata hasil belajarnya adalah 58, nilai mediannya adalah senilai 66, nilai modusnya adalah senilai 60, nilai standar deviasinya adalah senilai 17, nilai variansnya adalah senilai 291, nilai tertinggi yang diperoleh adalah 90, nilai terendah adalah senilai 50 dan rentang nilanya adalah 40 dengan tingkat ketuntasan sebesar 32%. Data tersebut menunjukkan bahwa hasil belajar siswa pada siklus I belum signifikan, karena tingkat ketuntasan hasil belajar siswa belum mencapai

51

70% tingkat ketuntasan, diketahui bahwa data menunjukkan bahwa nilai rata-rata yang diperoleh adalah 58, artinya rata-rata siswa belum menguasai atau belum memahami pembelajaran pada siklus I. Hal ini disebabkan karena kurangnya motivasi belajar sehingga siswa tidak tertarik dengan pembelajaran yang diberikan. Melalui media audio visual siswa ditekankan pada pembelajaran keterampilan siswa dalam menulis cerpen dengan memperhatikan media yang disajikan ini merupakan suatu cara meningkatkan minat siswa untuk melakukan pembelajaran menulis cerpen. Namun, siklus I ini siswa belum dapat bekerja seefisien mungkin. Melalui media audio visual ini, masih banyak siswa yang memonopoli tugas yang diberikan. Oleh karena itu, dalam siklus I ini guru lebih banyak membimbing dan mengarahkan siswa. Adapun faktor yang mempengaruhi belum maksimalnya hasil belajar siswa pada siklus I ini adalah kegiatan siswa yang tidak relevan dengan pembelajaran yakni menganngu temannya pada saat pembelajaran berlangsung, mengobrol dengan temannya, mengerjakan tugas lain, bersikap seadanya dalam melakukan kegiatan. Meskipun jumlah siswa yang melakuakn kegiatan tersebut tidak terlalu signifikan dan masih terkatgori ditelerasi. Namun, tetap harus menjadi perhatian karena jika dibiarkan tanpa tindakan korektif akan mengakibatkan orientasi belajar siswa terganggu sehingga tujuan pembelajaran tidak dapat tercapai.

52

Pada siklus II tidak jauh berbeda dengan siklus I, siklus II keaktifan siswa sudah tampak, dorongan dan minat siswa dalam belajar bahasa Indonesia dengan metode inkuiri sudah dapat terlihat dari keaktifannya bertanya, bekerjasama dalam kelompoknya, meminta bimbingan guru, menyimak penjelasan guru, membuat kesimpulan, dan mempresentasikan hasil belajarnya, walaupun masih terdapat 2 orang dengan persentase 11% siswa yang melakukan kegiatan yang tidak relevan seperti menganggu temannya, tidak menjadikan bahwa proses pembelajaran terganggu. Hal ini diketahui dengan hasil belajar siswa pada siklus II ini diperoleh nilai rataratanya adalah 78, nilai median yang diperoleh adalah 70, nilai modus yang diperoleh adalah senilai 70, nilai standar deviasi yang diperoleh adalah 16, nilai tertinggi yang diperoleh 100, nilai terendah yang diperoleh adalah 60. Adapun statistik hasil belajar pada siswa kelas VIII MTs Negeri Turikale Kabupaten Maros siklus I dan siklus II sebagai berikut.

Tabel 10 Statistik Hasil Belajar pada Siklus I dan Siklus II Statistik Siklus I II

53

Subjek Penelitian Rata-rata Median Modus Standar Deviasi Varians Nilai Tertinggi Nilai terendah Sumber : Hasil Perolehan, 2011

19 66 60 60 17 291 90 50

19 78 70 70 16 247 100 60

Dari tabel 10 di atas, sangatlah jelas menunjukkan bahwa dari 19 subjek penelitian ini, pada siklus I nilai rata-rata yang diperoleh adalah 66 dan pada siklus II adalah 78 berarti mengalami peningkatan nilai rata-rata hasil belajar siswa. Nilai median pada siklus I adalah senilai 60 dan pada sikus II senilai 70, nilai mediannya juga mengalami peningkatan dari 60 ke 70. Begitupun untuk nilai tertingginya pada siklus I nilai tertingginya adalah 90 dan pada siklus II adalah 100, mengalami kenaikan sebanyak 10, dan nilai terendah yang diperoleh pada siklus I adalah 50 dan pada siklus II adalah senilai 70, nilai terendah tersebut juga mengalami kenaikan. Kenaikan-kenaikan tersebut menunjukkan bahwa dengan metode inkuiri dapat meningkatkan hasil belajar menulis karangan deskriptif siswa. Kategorisasi hasil belajar siswa dapat dilihat pada diagram kategoriasai siklus I dan II berikut ini.

Gambar 8 Diagram Kategorisasi Siklus I dan Siklus II Jika diperhatikan pada gambar di atas, menunjukkan bahwa pada siklus I nilai yang peroleh siswa pada siklu I berada pada kategori sedang

54

dan pada siklus II berada pada kategori sedang pula, walaupun pada hasil belajar siswa tersebut kedua siklus nilai modusnya adalah berada pada kategori sedang, dimana grafik paling tinggi menjukkan pada kategori sedang ini berarti modus kedua siklus tersebut adalah pada kategori sedang. Untuk siklus I sendiri tidak ada hasil belajar siswa yang berada pada kategori sangat rendah begitupun untuk siklus II. Hal ini berarti terjadi peningkatan hasil belajar bahasa Indonesia pada siswa kelas VIII MTs Negeri Turikale Kabupaten Maros. Hal ini dapat pula diketahui dari diagram ketuntasan hasil belajar siklus I dan siklus II sebagai berikut.

Gambar 9 Diagram Ketuntasan Hasil Belajar Siklus I dan Siklus II Dari diagram di atas menunjukkan bahwa ketuntasan hasil belajar siklus I dan II menujukkan peningkatan hasil belajar pada siklus I dan siklus II, dimana pada siklus I jumlah siswa yang tidak tuntas sebanyak 68% dan pada siklus II sebanyak 16%, sedangkan ketuntasan siklus I siswa sebanyak 32% dan pada siklus II sebanyak 84%. Hal ini menunjukkan bahwa dari hasil ketuntasan hasil belajar pada siklus I ke siklus II mengalami kenaikan hasil belajar yang signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa pada siklus II terjadi peningkatan hasil belajar dalam menulis cerpen melalui media audio visual pada siswa kelas VIII MTs Negeri Turikale Kabupaten Maros, pada siklus II ini rata-rata

55

hasil belanya adalah 78 telah melewati KKM sebesar 70. Ini berarti bahwa dengan penggunaan media audio visual dapat meningkatkan keterampilan hasil belajar siswa dalam menulis cerpen BAB V SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan Dari pembahasan di atas, maka peneliti menyimpulkan beberapa hal sebagai berikut:
1. Dari hasil pengamatan aktivitas belajar siswa pada siklus I belum

seefektif mungkin sedangkan pada siklus II sudah efektif. Dimana pada siklus I siswa yang menyimak penjelasan guru mengalami peningkatan pada siklus II sebanyak 4 orang, yakni dari 15 orang menjadi 19 orang. Kemudian pada siklus I masih kurang siswa yang meminta bimbingan guru sedangkan pada siklus II bertambah 11 orang yang meminta bimbingan guru. Sedangkan siswa yang melakukan kegiatan yang tidak relevan seperti keluar masuk kelas tidak ada, hanya ada siswa yang menganggu temannya, itupun bisa ditolerir dengan memberikan teguran. Ini menunjukkan bahwa pada siklus I ke siklus II mengalamai peningkatan hasil belajar menulis cerpen melalui audio visual pada siswa kelas VIII MTs. Negeri Turikale Kabupaten Maros.

56

2. Hasil belajar siswa dalam menulis cerpen melalui media audio

visual pada siklus I ke siklus II mengalami peningkatan hal ini diketahui dari hasil statitik, dimana subjek penelitian ini pada siklus I berjumlah 19 orang, diperoleh rata-rata hasil belajarnya
58 adalah 66, nilai mediannya adalah senilai 60, nilai modusnya

adalah senilai 60, nilai standar deviasinya adalah senilai 17, nilai varians adalah senilai 291, nilai tertinggi yang diperoleh adalah 90, nilai terendah adalah senilai 50. Pada siklus II ini diperoleh nilai rata-ratanya adalah 78, nilai median yang diperoleh adalah 70, nilai modus yang diperoleh adalah senilai 70, nilai standar deviasi yang diperoleh adalah 16, nilai variansnya adalah 247, nilai tertinggi yang diperoleh 100, nilai terendah yang diperoleh adalah 60. Dari data siklus I dan siklus II tersebut di atas menunjukkan bahwa melalui media audio visual dapat meningkatkan keterampilan menulis cerpen pada siswa kelas VIII MTs. Negeri Turikale Kabupaten Maros.

A. Saran Dari simpulan di atas, maka dapat dikemukakan beberapa saran sebagai berikut:

57

1. Menetapkan media audio visual dalam meningkatkan hasil belajar

menulis cerpen melalui audio visual pada siswa kelas VIII MTs. Negeri Turikale Kabupaten Maros. 2. Dalam kegiatan pembelajaran guru hendaknya memberikan situasi yang bervariasi sehingga tidak menyebabkan kejenuhan bagi siswa.
3. Diharapkan para peneliti dibidang pendidikan, agar dapat

melakukan penelitian lebih lanjut tentang penggunaan media audio visual.

58

DAFTAR PUSTAKA Abdurahman, 1993. Pengelolahan Pengajaran. Ujung Pandang: PT. Bintang Selatan Akhmadi, Mukhsin, dkk. 1981. Kemampuan Mengapresiasi Prosa Murid SPG di Jawa Timur. Jakarta: DEPDIKBUD Pusat Pembinaan dan Pengembagan Bahasa. Aminuddin. 2002. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Algesindo. Burhan Nurgiyantoro. 2002. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Chamdiah, Sri, dkk. 1981. Kemampuan Mengapresiasi Siswa SMA DKI. Jakarta: DEPDIKBUD Pusat Pembinaan dan Pengembagan Bahasa. Dick Hartoko dan B. Rahmanto. 1986. Pemandu di Dunia Sastra. Yogyakarta: Penerbit Kanisius. Dwitaqama, D, 2008. Laporan Penelitian Tindakan Kelas (online). Jacob Sumardjo dan Saini K.M. 1997. Apresiasi Kesustraan. Jakarta: Gramedia Pustaka Jaya. Mappasaro, S, 2006. Belajar dan Pengajaran. Makassar : FIP UNM Mulyasa. 2007. Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Murahimin Ismail. 1994. Menulis Secara Populer. Jakarta: Pustaka Jaya Press. Natawijaya, Suparman. 1982. Apresiasi Sastra dan Budaya. Jakarta: Intermasa.

59

Nasution. 2000. Metode Research. Jakarta: Penerbit Bumi Aksara. Rusyana, Yus, dkk. 1995. Kegiatan Apresiasi Sastra Indonesia Murid SMA Jawa Barat. Jakarta: DEPDIKBUD Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Sudjana, Nana. 1984. Pedoman Praktis Mengajar. Jakarta: PPPP. Agama 61 Islam. Sugihastuti dan Suharto. 2005. Kritik Sastra Feminis: Teori dan Aplikasinya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Suherman. E. 1990. Petunjuk Pelaksanaan Evaluasi Pendidikan Matematika untuk Guru dan Calon Guru. Wijaya Kusuma: Bandung.

Suminto A. Sayuti. 2000. Berkenalan dengan Prosa Fiksi. Yogyakarta: Gama Media Suriamiharja, dkk. 1996/1997. Petunjuk Praktis Menulis. Jakarta: DEPDIKBUD Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah bagian Proyek Penataran Guru SLTP Stara D III. Tarigan, Henry Guntur. 1985. Menulis sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa. Tarigan, Henry Guntur. 1991. Prinsip-prinsip Dasar Sastra. Bandung: Angkasa. Widyamartaya, A. 1992. Seni Membaca untuk Studi. Yogyakarta: Kanisius. Winkel, W.S. 1996. Psikologi Pengajaran. Jakarta: PT. Grasindo.

60