P. 1
agroborneo edisi 05

agroborneo edisi 05

|Views: 766|Likes:
Dipublikasikan oleh agroborneo
Majalah Pertanian Kalimantan Edisi 05 tahun 2011. Tidak menyangka dalam bulan Juni 2011 ini banyak kegiatan yang
berkaitan dengan bidang pertanian, dalam cakupan yang luas.
Dimulai dari Peringatan Gerakan Nasional Bulan Bhakti Gotong
Royong Masyarakat VIII dan Hari Kesatuan Gerak PKK ke 39 di
Pontianak pada 31 Mei s/d 4 Juni 2011. Meskipun yang punya
gawe acara ini adalah Menteri Dalam Negeri dan Gubernur Kalbar
serta Ketua Umum Tim Penggerak PKK, namun karena yang hadir
adalah Kepala Negara, juga diselenggarakan Gelar Dagang dan
Expo, maka nuansa agrobisnis muncul kuat pada kegiatan ini.
Majalah Pertanian Kalimantan Edisi 05 tahun 2011. Tidak menyangka dalam bulan Juni 2011 ini banyak kegiatan yang
berkaitan dengan bidang pertanian, dalam cakupan yang luas.
Dimulai dari Peringatan Gerakan Nasional Bulan Bhakti Gotong
Royong Masyarakat VIII dan Hari Kesatuan Gerak PKK ke 39 di
Pontianak pada 31 Mei s/d 4 Juni 2011. Meskipun yang punya
gawe acara ini adalah Menteri Dalam Negeri dan Gubernur Kalbar
serta Ketua Umum Tim Penggerak PKK, namun karena yang hadir
adalah Kepala Negara, juga diselenggarakan Gelar Dagang dan
Expo, maka nuansa agrobisnis muncul kuat pada kegiatan ini.

More info:

Published by: agroborneo on Jul 13, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/11/2016

pdf

text

original

Harga RP 15.

000,-

SUARA PERTANIAN KALIMANTAN

Edisi 5 • Tahun II • 2011

PERHATIAN
KEPALA NEGARA
PANGAN
Sri Organik Bertani dengan Cinta

RUMINAN
Apa Kabar Sapi Kalbar ?

Lokasi: Pabrik pupuk organik dan hayati PT. Sinka Sinye Agotama Singkawang – Kalimantan Barat.

Graha Sujaya Jl. Komodor Yos Sudarso No. 133 Singkawang 79123 Kalimantan Barat. Telp. 0562-638974 (Hunting), Fax. 0562-638975 Email: sujaya@ssa.co.id

Dari Redaksi

Kemeriahan Bulan Juni

menurut penyelengaranya, PT. Napindo Media Ashatama, akan digelar setahun sekali, dengan tempat Tidak menyangka dalam bulan Juni 2011 ini banyak kegiatan yang Jakarta dan Surabaya. Pameran peterberkaitan dengan bidang pertanian, dalam cakupan yang luas. nakan berskala nasional ini juga ajeg Dimulai dari Peringatan Gerakan Nasional Bulan Bhakti Gotong diikuti perusahaan peternakan dari luar Royong Masyarakat VIII dan Hari Kesatuan Gerak PKK ke 39 di negeri. Pontianak pada 31 Mei s/d 4 Juni 2011. Meskipun yang punya Menjadi agenda rutin tahunan gawe acara ini adalah Menteri Dalam Negeri dan Gubernur Kalbar Masyarakat Petani dan Nelayan sejak serta Ketua Umum Tim Penggerak PKK, namun karena yang hadir zaman orde baru adalah Pekan adalah Kepala Negara, juga diselenggarakan Gelar Dagang dan Nasional (PENAS) yang tahun ini Expo, maka nuansa agrobisnis muncul kuat pada kegiatan ini. diselenggarakan di Tenggarong – Kalimantan Timur Tak urung dalam sambupada 18 – 23 Juni 2011. Hadir tannya, Presiden Susilo Bamdalan acara ini Wakil Presiden bang Yudhoyono menyerukan Budiono, yang didampingi gerakan optimalisasi pekaranMenteri Pertanian Suswono. gan keluarga. “Setiap Melengkapi kemeriahan menjelang Lebaran, sidang di bulan Juni, Tetiono pendiri kabinet selalu sibuk mengantiSujaya Group, bersama sipasi kenaikan harga-harga keluarga besarnya merayakan kebutuhan pokok. Harga cabe Ulang Tahun Pernikahan yang melambung tinggi. Maka, Emas (50 tahun) bagi kedua mulai dari sekarang, apabila orang tuanya. Relasi dari berbsetiap keluarga mengoptimal- Walikota Yangmei Peng Sheng Fu dan Antoni dari PT. Sinka Sinye Agrotama (keduanya memegang Majalah AgroBorneo) berfoto bersama Walikota agai lapisan diundang, tak kan halaman dan pekarangan Singkawang Hasan Karman dan istri.(9/6) kurang 2.000 orang lebih rumah dengan menanam cabe, saya kira kita tidak perlu repot dengan Kota Singkawang yang telah mengadakan datang ikut bersukacita dalam acara kenaikan harga cabe.” ucap Presiden. kesepakatan Sister City. Meskipun keluarga ini. Relasi bisnis di bidang Dalam kunjungan Gelar Dagang statusnya ‘kota’ namun Singkawang pertanian-peternakan datang dari dan Expo, Presiden berkenan menga- adalah daerah pertanian yang subur Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, wali kunjungannya ke stand pabrik dan mata pencaharian sebagian besar bahkan dari Malaysia dan Cina. Peterpupuk organik terbesar di Asia Teng- warganya adalah bertani. Taiwan yang nak dan mitra kerja, pejabat setempat, gara PT. Sinka Sinye Agrotama. Relatif telah maju dalam bidang pertanian rohaniwan, dan sesama pengurus lama dan cukup banyak informasi yang menjadi ‘saudara’ yang tepat untuk yayasan kemanusiaan, semuanya hadir digali Presiden tentang pabrik pupuk saling berbagi demi kemajuan bersama. menyempurnakan rasa syukur. Salam! yang letaknya di Singkawang ini. Untuk Kunjungan delegasi Taiwan ke Singitu, dalam rubrik TOPIK kali ini kami kawang ini berlangsung dari tanggal 8 – mengangkat seputar pabrik pupuk 10 Juni 2011. organik ini sesuai pertanyaanPada tanggal 15 – 17 Juni digelar pertanyaan yang diajukan presiden Indolivestock Expo & Forum di Surakepada S. Sudjono Anggie, Direktur baya. Pameran dan forum seminar Eksekutif PT. Sinka Sinye Agrotama. bidang peternakan yang di Indonesia Menarik untuk diangkat dalam telah digelar untuk keenam kalinya ini TOPIK selain ‘Perhatian Kepala pertama sekali diselenggarakan di Bali, Bersama Winarno pelaku agribisnis peternakan di Kalimantan Selatan (berpeci hitam), diterima Negara’ adalah kunjungan Walikota kemudian ke-2 sampai ke-5 di Jakarta Sugeng Pujiono dari Caprifarmindo di stand pada Yangmei – Taiwan beserta rombonga ke setiap dua tahun sekali. Pada tahun ini, Indolivestock Expo & Forum Surabaya (17/6)
Pendiri: S. Sudjono Anggie, Ir. Bambang Mulyantono Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi: Ir. Bambang Mulyantono Staf Ahli: Drh. Apriyadi Suwarno, Drh. Nengah Suardana, Ir. M. Sinambela Periklanan: Tri Wahyuni Sirkulasi: Suryaman Artistik/Produksi: Ridwan Fillardhy, Yoga Anggoro Alamat Redaksi & Bisnis: Jl. Jenderal Ahmad Yani, Komplek Ruko A. Yani Sentral Bisnis Blok B No 37-38 Pontianak - Kalbar Tel: 0561-761 168 Fax: 0561765 900 email: majalah@agroborneo.com website: www.agroborneo.com

Susunan Tim Agroborneo

2

AGROBORNEO // Edisi 05 // Juni 2011

Daftar Isi
Dari Redaksi
Kemeriahan Bulan Juni

02
Ruminan

Topik

Perhatian Kepala Negara

05
12 16 18 21

Kerjasama Dagang Dengan Taiwan
Telur Asin Pun Sangat Kurang Sri Organik Menanam Dengan Cinta

08
24 26

Apa Kabar Sapi Kalbar ?

36
38 41

Unggas
Menghadapi Flu Burung Babak Baru
Respon Kekebalan Vaksin (in-aktif)

Hortikultura
Sinergi Peternakan Ayam Petelur dengan Petani Sayur Memupuk ‘Pedasnya’ Cabe

Pada Unggas di Indonesia

Pir Broiler Menyerbu Hulu Jangan Lupa Mencatat

Pangan
Bebek Empuk Ala Pak Ndut

Pakan
22
Ketika Harga Jagung Melambung

Cakrawala
32
Kemilaunya Pernikahan Emas Berbagai Lapisan

42 46

AGROBORNEO // Edisi 05 // Juni 2011

3

Topik

Kepala Negara
S. Sudjono Anggie – Direktur Eksekutif PT. Sinka Sinye Agrotama menyambut kehadiran Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bersama rombongan di arena stand pameran.

Perhatian

Rasa syukur dan haru merona di wajah S. Sudjono Anggie – Direktur Eksekutif PT. Sinka Sinye Agrotama (SSA) setelah menerima dan memberi penjelasan kepada orang nomor satu di Indonesia itu, tentang segala sesuatu sekitar pabrik pupuk organik terbesar di Asia Tenggara ini. Seusai rangkaian agenda utama, Pembukaan Hari Gerakan Nasional Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat (GN BBGRM) VIII dan Hari Kesatuan Gerak PKK ke-39 Tahun 2011, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibu Hj. Ani Yudhoyono langsung meninjau Gelar Dagang dan Bisnis Expo yang diikuti oleh seluruh PKK se-Indonesia dan pelaku bisnis lainnya di tempat yang sama, yakni di Komplek Sentra Bisnis Ayani Megamal, Pontianak yang berlangsung dari tanggal 31 Mei s/d 4 Juni 2011.

Stand pameran SSA adalah yang pertama dikunjungi Presiden Republik Indonesia, didampingi istri tercinta Ibu Ani, serta para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu jilid II, Gubernur dan Bupati se-Indonesia pada 31 Mei 2011 lalu. Turut hadir dalam rombongan Presiden, antara lain, Menko Kesra Agung Laksono, Mensesneg Sudi Silalahi, Mendagri Gamawan Fauzi, Mensos Salim Segaf Al-Jufri, Menteri Perumahan Rakyat Suharso Monoarfa, Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad, Menteri Pertanian Suswono, Menteri Koperasi dan UKM Syarifuddin Hasan, dan Menteri PP dan Perlindungan Anak Linda Amalia Sari Gumelar. “Berapa jauh jarak lokasi pabrik dari sini (Pontianak)? Berapa luas lahan tempat pabrik ini dibangun? Berapa lama proses produksi dari bahan baku hingga jadi pupuk siap pakai? Inilah serangkaian pertanyaan yang diajukan
AGROBORNEO // Edisi 05 // Juni 2011

4

Topik
Presiden SBY kepada S.Sudjono Anggie yang akrab disapa Aan itu.

Bermula dari ayam

PT. Sinka Sinye Agrotama (SSA) adalah produsen pupuk organik berbahan baku utama kotoran ayam, berlokasi di Singkawang – Kalimantan Barat, yang berjarak sekitar 145 km dari Pontianak. Pabrik pupuk organik berteknologi modern yang dibangun di atas lahan seluas 12 hektar ini, diawali dari usaha peternakan ayam ras petelur yang dimulai 1989 dari skala kecil hingga sekarang populasinya lebih 2 juta ekor. Ditambah dengan breeding farm ayam pedaging yang dibangun sejak 1999, maka kotoran ayam yang terhimpun bisa mencapai puluhan ton per hari. Belum lagi potensi kotoran dari peternakan lain, yang total populasi ayam petelur di Singkawang sekitar 5 juta ekor. Pada tahun 2003 – 2004 marak penyakit u burung menyerang peternakan unggas di Indonesia. Kotoran unggas dianggap sebagai salah satu media penyebarannya. Atas persoalan ini, muncul ide kuat untuk membuat pupuk organik berbahan kotoran ayam yang bebas dari kontaminasi u burung dengan teknologi fermentasi dan pemanasan. Pada

tahun itu sesungguhnya aktivitas membuat pupuk organik berbahan kotoran ayam sudah dimulai, meskipun dengan peralatan yang masih sederhana. Pada tahun 2006 dibangun pabrik pupuk dengan kapasitas produksi mencapai 1.000 ton/bulan. Untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat, pada 2007 dibangun unit pabrik kedua dengan rangkaian mesin produksi berteknologi modern. Rangkaian mesin produksi SSA ada dua line dengan total kapasitas terpasang 1.000 ton/hari atau

Presiden menyimak penjelasan tentang maket pabrik pupuk organik terbesar di Asia Tenggara yang berlokasi di Singkawang – Kalimantan Barat.

Ketika S. Sudjono Anggie menerangkan alur produksi pupuk organik, Presiden SBY bertanya, berapa lama waktu yang diperlukan untuk mengolah dari bahan baku hingga menjadi pupuk organik siap pakai. “Dalam satu jam menghasilkan 50 ton pupuk,” jawab Sudjono.

AGROBORNEO // Edisi 05 // Juni 2011

5

Topik
berat yang berkemampuan 100 ton/jam. Setelah pencampuran, bahan masuk ke dalam kamar fermentasi selama 10 hari, ada 16 kamar yang masing-masing mampu menampung 500 – 600 ton bahan. Di dalam ruang fermentasi juga dilakukan proses pembalikan secara mekanis agar mengalami proses yang merata. Dari proses fermentasi dihasilkan bahan setengah jadi, yang selanjutnya masuk ke dalam proses produksi melalui pintu pertama yang disebut ’curah’. Masuk dari pintu curah bahan dibawa ban berjalan menuju mesin penghancur. Selanjutnya materi diterima ban berjalan menuju mesin penggranulan pertama. Keluar dari mesin penggranulan pertama, 360.000 ton/tahun. masih dengan ban berjalan masuk mesin Bahan baku pupuk organik adalah penggranulan kedua atau yang lazim disebut kompos (kotoran ayam), humus (sisa ’parabola’ karena bentuknya yang mirip antena organik/tumbuhan), batuan kapur dan zeolit. parabola. Selanjutnya bahan masuk ke dalam Pada prinsipnya unsur makro dan mikro dari drum pemanas pertama, langsung ke drum bahan-bahan alam tersebut diolah sehingga pemanas kedua, setelah itu masuk ke drum komposisinya sesuai kebutuhan tanaman. pendingin. Kemudian ditambahkan bakteri pengaktif Keluar dari drum pendingin masuk ke hara tanah yang disebut bioaktivator, sehingga ayakan, dan pada tahap akhir adalah nutrisi tanah siap dimakan oleh tanaman. Oleh pengemasan. Pada mesin ayakan menuju sebab itu pupuk yang demikian ini populer packing, bahan pupuk organik ini diperkaya diberi istilah bio-fertilizer dengan bio-hayati atau bio-aktivator tanah Alur produksi dimulai dari pencampuran berupa mikroorganisme yang disemprotkan. bahan baku disertai pengadukan dengan alat Setelah itu pupuk organik yang berada dalam

Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi memperhatikan foto pabrik pupuk organik PT. Sinka Sinye Agrotama Singkawang sehari sebelum kunjungan Presiden.

Tim Protokol Kepresidenan yang berkunjung ke pabrik pupuk organik PT. Sinka Sinye Agrotama di Singkawang pada 28 Mei 2011.

6

AGROBORNEO // Edisi 05 // Juni 2011

Topik
karung itu masuk ke gudang penyimpanan. ”Berapa lama proses produksi dari bahan baku hingga jadi pupuk organik yang siap pakai, dalam kemasan ini?” tanya Bapak Presiden kepada Sudjono. “Dalam satu jam rangkaian proses produksi menghasilkan 50 ton pupuk organik granule,” terang Sudjono kepada Presiden SBY. “Wah, banyak juga ya,” komentar Presiden.

Produk berserti kat

Produk utama pupuk organik yang diproduksi SSA adalah butiran (granule), disamping tepung (powder) dan cair (liquid). Seluruh produk sudah mendapatkan nomor penda aran dari Pusat Perizinan dan Investasi Departemen Pertanian, dan Serti kat Hak Merek oleh Direktur Jenderal Hak Kekayaan Intelektual Departemen Hukum Hak Asasi Manusia. Pupuk organik SSA juga mendapatkan ‘Serti kat Halal’ dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kalimantan Barat, yang menerangkan bahwa pupuk organik SSA tidak berasal dari kotoran hewan yang diharamkan. Uji mutu produk SSA dilakukan oleh Balai Penelitian Tanah Bogor, sedangkan pengujian efekti tas lapangan dilakukan oleh Departemen Agronomi dan Hortikultura Institut Pertanian Bogor (IPB). SSA juga melakukan uji kandungan produk di laboratorium milik sendiri dan secara berkala di laboratorium PT.

Superintending Company of Indonesia (SUCOFINDO). Pengujian mutu juga dilakukan pada lahan milik petani serta pada lahan pertanian dan green house yang terletak di dalam areal pabrik. Saat ini pemasaran pupuk organik SSA sudah merambah ke seluruh Kalimantan, Sumatera dan Jawa. Dengan peruntukan pada perkebunan, tanaman pangan, dan hortikultura. Pasar luar negeri yang sudah dirambah adalah Serawak – Malaysia. Semenjak terbit program pemerintah berupa bantuan langsung pupuk (BLP), PT. Sinka Sinye Agrotama berperan aktif dalam pengadaan pupuk organik melalui BUMN yang ditunjuk sebagai penyalur kepada petani, yakni PT. Sang Hyang Seri dan PT. Pertani.

Tidak hanya tamu dari Jakarta, utusan Dinas Pertanian di tingkat kabupaten se- Kalimantan Barat juga meninjau pabrik pupuk organik PT. SSA saat melakukan workshop ‘Apresiasi Pupuk Organik’ di Singkawang pada 26-27 April 2011.

Tamu-tamu lain, Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad, Menko Kesra Agung Laksono, Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia Osman Sapta, berfoto bersama di stand pameran PT. Sinka Sinye Agrotama.

AGROBORNEO // Edisi 05 // Juni 2011

7

Topik

Kerjasama Dagang
Walikota Yangmei – Taiwan Peng Sheng Fu bersama istri dan rombongan sejumlah 20 orang datang ke Kota Singkawang pada tanggal 08 s/d 10 Juni 2011. Kunjungan tersebut merupakan tindak lanjut dari kerjasama Sister City antara Yangmei – Singkawang, yang telah ditandatangani 29 Oktober 2010 lalu di Yangmei.
Walikota Yangmei Peng Sheng Fu dengan Walikota Singkawang Hasan Karman.

Dengan Taiwan

8

AGROBORNEO // Edisi 05 // Juni 2011

Topik

Teknologi yang digunakan oleh PT. Sinka Sinye Agrotama sama dengan pabrik pupuk organik yang ada di Taiwan maupun di Cina.

Secara resmi rombongan tamu disambut Walikota Singkawang Hasan Karman beserta jajaran Pemkot Singkawang di Restoran Kampung Batu pada Rabu (8/6). Selanjutnya, pada Kamis pagi kedua belah pihak melakukan pembahasan fokus kerjasama di ruang pertemuan Kampung Batu. Dilanjutkan kunjungan lapangan ke sejumlah tempat, antara lain : Sekolah Yayasan Dharma Barito Singkawang, Sekolah Dasar Kopisan, Panti Jompo Vihara Cikung, pabrik pupuk organik PT. Sinka Sinye Agrotama, peternakan babi modern PT. Fajar Semesta Indah, dan pertanian sayur Kelompok Tani Rezeki Singkawang Timur. Pada malam harinya

diselenggarakan ramah-tamah masyarakat Singkawang dengan delegasi Yangmei di Sun Moon. Kerjasama Sister City antara Singkawang dengan Yangmei difokuskan pada sektor perdagangan, perindustrian, koperasi, pertanian, pendidikan, pariwisata, dan infrastruktur. Namun tidak menutup kemungkinan ke depannya akan merambah pada sektor-sektor lainnya. Walikota Singkawang Hasan Karman menyatakan tekadnya untuk keberhasilan kerjasama dengan Yangmei. “Kalaupun saya

Cindera mata dari PT. Sinka Sinye Agrotama Singkawang untuk Walikota Yangmei Peng Sheng Fu beserta rombongan.

Pengusaha benih sayur-mayur di Yangmei – Taiwan.

AGROBORNEO // Edisi 05 // Juni 2011

9

Topik

Berdiskusi dengan Kelompok Tani Sayur ‘Rezeki’ Singkawang Timur.

Berfoto bersama dengan latar kebun sayur.

besan.” ungkap Peng Sheng Fu. Kunjungan ke pabrik pupuk organik PT. dan Mr. Peng Sheng Fu nantinya tidak menjadi Sinka Sinye Agrotama dilakukan sejak dari walikota, saya harap kerjasama ini tetap awal proses produksi hingga pengemasan, dilanjutkan,” harapnya. namun kunjungan hanya dilakukan sepintas Sementara Walikota Yangmei Peng Sheng saja, karena – kata Peng Sheng Fu -Fu menyatakan siap memberi bantuan kepada teknologinya sama seperti yang ada di Taiwan Singkawang sesuai kerjasama yang disepakati. maupun di Cina. Tamu dari Taiwan juga Dia mengatakan kerjasama dengan memberikan pujian saat melakukan Singkawang ini diawali dengan hubungan kunjungan ke peternakan babi PT. Fajar emosional, yaitu banyaknya perkawinan antara Semesta Indah yang dinilai berhasil warga Negara Taiwan dengan warga menerapkan inseminasi buatan (IB) untuk Singkawang (Indonesia). “Jadi komunikasi pembiakannya. antara pemerintah kota Yangmei dengan Rombongan dari Yangmei yang Singkawang bagaikan komunikasi antar melakukan kunjungan ke pertanian sayur

Walikota Yangmei Peng Sheng Fu menyimak Majalah AgroBorneo disaksikan Walikota Singkawang Hasan Karman.

10

AGROBORNEO // Edisi 05 // Juni 2011

Topik
Kelompok Tani Rezeki Singawang Timur banyak memberi masukan kepada para petani Singkawang. Kebetulan dalam rombongan tersebut ikut serta pengusaha pembenihan sayur di Yangmei. “Untuk sayuran yang diambil daunnya seperti sawi , gundukan tanah ini terlalu tinggi. Mestinya cukup separuhnya. Gundukan tanah setinggi ini cocok untuk sayuran yang diambil buahnya, seperti terong, tomat, atau cabe,” komentar petani Yangmei melalui penterjamah. Lebih lanjut, dikatakan, tanaman pepaya ini terlalu tinggi dengan buah yang jarang. Di Taiwan tanaman papaya tidak lebih tinggi dari sedada orang dewasa dengan buah yang lebat. “Bagaima caranya?” tanya petani Singkawang. “Banyak yang harus dikerjakan, bagaimana kalau Anda datang ke Taiwan? Nanti kami tunjukkan caranya.” jawab petani Yangmei. Pada hari terakhir di Singkawang, Jum’at pagi (10/6) diadakan sepeda gembira dengan rute dari Pekong Tua menuju kantor Walikota. Setiba di kantor Walikota dilakukan penanaman pohon persahabatan, yakni Pohon/Bunga Yangmei. Kembali ke hotel

untuk selanjutanya peresmian prasasti di Sinka Island dan rekreasi ke obyek-obyek wisata di Pasir Panjang, seperti Tanjung Bajau, Sinka Zoo, dan sekitarnya. Rombongan langsung ke Pontianak dan melanjutkan perjalanan ke Jakarta. Tiba di Jakarta pada malam harinya diselenggarakan pertemuan dengan Wakil Menteri Perdagangan dan Gubernur Kalimantan Barat di Jakarta.

Menandatangani kerjasama untuk kesejahteraan semua.

Keluarga Besar Asosiasi Agribisnis Perunggasan Kalimantan Barat (AAP Kalbar) dan Majalah AgroBorneo mengucapkan selamat dan turut berbahagia atas pernikahan :

Cung Can Tham (Edy Ertanto) Tjhai Tiu Li (Yully)
Pada tanggal 12 Mei 2011 di Pemangkat - Sambas, KALBAR

&

Mempelai pria adalah putra tunggal dari Cung Kit Chiung & Phang Khiuk Ki (Darmawati) pemilik YAKIN PS Pemangkat - Sambas

AGROBORNEO // Edisi 05 // Juni 2011

11

Unggas

MENGHADAPI FLU BURUNG
Siapa tidak kenal C.A. Nidom, Ketua Avian Influenza Research Center Universitas Airlangga Surabaya? Dialah deklarator wabah flu burung yang menyerang peternakan unggas di Indonesia (Baca Kompas, 24 Desember 2003). Sejak pertengahan 2003 sebenarnya wabah flu burung sudah merebak di peternakan ayam di Pulau Jawa, namun pemerintah saat itu lamban bergerak dan enggan menyatakan bahwa wabah itu flu burung. Nidom yang dokter hewan dan dosen di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga geram atas kelambanan pemerintah. Ia ungkapkan bahwa penyakit baru yang menyerang ayam-ayam itu memang benar flu burung. Maka tergeraklah semua pihak menyikapi penyakit yang berbahaya itu hingga terbentuk Komnas Flu Burung. Setelah hampir sembilan tahun bergelut mengatasi flu burung, bahkan hingga masa tugas Komnas Flu Burung berakhir, nyatanya penyakit ini, tidak kunjung hengkang dari Bumi Pertiwi. Bahkan merebak lagi.
C.A. Nidom

BABAK BARU

12

AGROBORNEO // Edisi 05 // Juni 2011

Unggas
Berdasarkan pernyataan Bapak di Gatra (31 Maret – 6 April) dan Kompas (4/4) bahwa merebaknya u burung belakangan ini disebabkan oleh kebocoran vaksinasi. Apa faktor utamanya, disebabkan oleh pilihan vaksin yang salah atau aplikasi vaksinasi yang tidak tepat?
Saya ingin sampaikan sekali lagi, bahwa pengendalian terbaik untuk wabah u burung adalah stamping out. Tujuanya adalah untuk menghilangkan virus dari sumbernya. Banyak yang salah persepsi terhadap langkah ini, yang sering dimaknai bahwa kalau stamping out berarti virus ini tidak muncul lagi pada sektor hewan. Tapi kenyataanya, negara-negara yang selama ini menerapkan cara ini, virusnya toh muncul kembali beberapa waktu (tahun) kemudian. Saya ingin tegaskan bahwa cara stamping out, tujuan utamanya ditujukan untuk menyelamatkan jiwa (korban) manusia. Sebagaimana teori yang diterima selama ini bahwa virus u burung yang menginfeksi manusia berasal (bersumber) dari hewan, meskipun sampai saat ini modus operandi penularannya masih misteri. Jadi dengan stamping out, paling tidak akan meminimalkan resiko pada korban manusia. Negara-negara yang sangat memperhatikan keselamatan jiwa manusia, maka akan segera melakukan cara ini, berapapun biaya dan resiko sosial politiknya. Tetapi dari sisi kepentingan ekonomi peternakan, resiko kebangkrutan ekonomi akibat cara stamping out dipandang lebih besar dari pada resiko ancaman jiwa manusia akibat penyakit ini. Jadi semua ini tergantung pada cara pandang kita dalam menilai “harga” jiwa manusia.
AGROBORNEO // Edisi 05 // Juni 2011

Tampaknya pemerintah kita inaktivasinya, formalin yang digunakan khususnya konsentrasi yang lebih suka menempuh jalan disepakati, sampai petugas kompromi?
Iya, jalan kompromi-nya adalah penggunaan program vaksinasi pada unggas, meskipun mempunyai kelemahan, karena masalah u burung, bukan hanya masalah ekonomi peternakan, tetapi juga menyangkut masalah kesehatan manusia (ZOONOSIS). Program yang dilaksanakan HARUS memperhatikan keduanya. Kehati-hatian harus menjadi perhatian bersama. Jika terjadi “kesalahan” dalam vaksinasi ini, bukan hanya merugikan sektor peternakan, tetapi juga terancamnya keselamatan manusia. Jadi loso vaksin AI sangat berbeda dengan vaksin ND, IB, Gumbora dan vaksin ayam lainnya. Faktor-faktor “kehati-hatian” dalam penggunaan vaksin meliputi banyak hal : seed virus yang digunakan, cara seleksi seed virus, kemurnian seed vaksin, cara inaktivasi, adjuvan, kemasan, pengiriman dan penyimpanan serta cara vaksinasi di lapangan. Kita telah melaksanakan program vaksinasi sejak tahun 2004, berarti kita sudah melaksanakan tujuh tahun, sampai seberapa jauh otoritas yang ada telah mengontrol faktor-faktor tersebut. Persoalan seed virus, apakah homolog (H5N1) atau heterolog (H5Nx); monovalen atau polivalen; vaksin AI yang dicampur dengan virus lain seperti ND atau IB dan lain-lain. Cara

vaksinatornya. Saya kurang yakin bahwa otoritas telah memperhatikan semua itu. Semuanya diserahkan kepada produsen atau importir. Akibatnya, pendekatan semua faktor di atas, semata hanya bertumpu pada aspek “untung-rugi” dari para pedagang. Sebagai contoh uji tantang yang dijanjikan oleh Pemerintah, sampai saat ini saya belum mendengar pelaksanaannya. Saya tidak tahu faktornya kenapa, padahal UNAIR sudah menawarkan fasilitasnya. Belum lagi persoalan perijinan. Sampai saat ini,

13

Unggas
selama 7 tahun, masih bersifat sementara (DPS), dan dibiarkan para pelaku vaksin melakukan investasi. Hal-hal yang saya uraikan tersebut menjadi rawan terhadap penyimpangan penyimpangan pelaksanaaan aturan di lapangan. Kalau sampai ini terjadi, maka siapa yang bertanggung jawab terhadap aspek keselamatan jiwa manusia dan mungkin juga perlindungan konsumen pengguna vaksin. Saya ingin mengajak pembaca/pengguna vaksin untuk sedikit melongok bagaimana kaidah umum proses produksi vaksin; Pemerintah telah menetap virus seed baru sebanyak 4 strain. Yang saya dengar ini mengikuti saran (mudah-mudahan bukan paksaan) dari OFFLU, meskipun metodologi mereka (yaitu dengan cara Kartogra ) banyak mendapat kritik dari berbagai kalangan. Pertanyaan yang timbul: bagaimana Pemerintah akan mengatur penggunaan strain-strain tersebut oleh produsen vaksin. Apakah produsen dibebaskan memilih atau harus digunakan semuanya? Apakah produsen harus memperoleh strain baru dari Pemerintah atau diperbolehkan mengeksplorasi sendiri di lapangan? Kalau harus dari Pemerintah, apakah harus membeli (membayar) atau gratis? Karena keduanya, bisa membawa dampak pada aspek-aspek hukum. Terus bagaimana nasib importer vaksin AI yang selama ini telah melakukan aktivitasnya? Semua pertanyaan-pertanyaan tadi, sudah berlangsung selama 7 tahun, tanpa progress positive yang menggembirakan. Selama ini vaksin AI yang dicampur dengan virus lain, ND,IB dan lain-lain. Apakah sudah mendapat kajian mendalam, terutama terhadap
14

perubahan-perubahan virus AI dan dosis dikurangi, maka akan terjadi akibatnya pada faktor infeksi manusia? dampak-dampak : Konon ada vaksin AI monovalen atau polivalen. Apakah ini sudah diijinkan (a) Proses inaktivasi tidak merata, atau kita “biarkan” saja sampai timbul sehingga dimungkinkan ada persoalan baru? Apakah sudah vaksin yang virusnya masih mendapat kajian secara mendalam hidup. Kalau ini yang terjadi, terhadap dampak-dampak yang akan maka vaksinasi sama dengan terjadi? menyuntikan virus hidup pada Kembali pada istilah tubuh ayam, yang memungkinkan KEBOCORAN VAKSIN (VACCINE akan outbreak dengan virus OUTBREAK). Saya ingin mengajak vaksin. pembaca pada salah satu aspek (b) Proses inaktivasi tidak sempurna, inaktivasi. Selama ini inaktivasi yang dalam arti tidak semua digunakan adalah formalin dengan protein/RNA yang terinaktivasi, ketentuan dosis sekitar 0,1%. Juga kita karena menggunakan virus harus ingat bahwa virus vaksin yang lapang. Jadi virus vaksin seperti digunakan adalah virus utuh bukan “klenger”. Keadaan ini tinggal rekombinan. Jadi struktur virus vaksin menunggu kondisi yang sama dengan virus di lapangan. memungkinkan untuk muncul Penggunaan dosis formalin yang kembali dan menginfeksi ayam tepat untuk setiap virus vaksin sangat yang divaksin atau yang ditulari. menentukan kondisi virus vaksin. Yang (c) Untuk vaksin polivalen kedua diinaktivasi oleh formalin bukan hanya keadaan diatas bisa menimbulkan protein HA dan NA saja, tetapi harus kekhawatiran yang lebih dari mampu menginaktivasi seluruh pada vaksin yang monovalen. protein (10 protein).Kalau dosis Karena inaktivasi yang tidak formalin berlebihan bukan inaktivasi merata, berarti akan memasukan yang diperoleh, tetapi kerusakan (“menginfeksi”) virus vaksin lebih protein dan tidak efektif dalam dari satu strain asli, belum lagi memicu antibody (kerugian bagi jika terjadi koalisi antar virus AI pengguna vaksin). Sebaliknya kalau vaksin. Jika vaksin campuran

AGROBORNEO // Edisi 05 // Juni 2011

Unggas
AI,ND,IB dll, kalau sampai terjadi inaktivasi tidak merata, atau proses inaktivasinya tidak sendiri setiap virus, bisa terjadi “RNA INSERTION” (maaf ini bukan istilah baku). Artinya struktur RNA virus ND atau virus campuran vaksin bergabung dengan virus AI vaksin atau sebaliknya, sehingga struktur virus AI membawa struktur virus ND,IB dll dan juga sebaliknya. Belum lagi jika dalam tubuh ayam sudah virus lain yang sudah dorman (“tidur”). Kami mengisolasi virus dari beberapa tempat yang mempunyai struktur yang sama dengan virus yang diisolasi dari daerah lain. Ini tidak mungkin sebuah virus tidak mengalami perubahan (mutasi). Jadi pasti ada penyebabnya. Dalam waktu yang bersamaan, ditemukan virus yang sama dari berbagai daerah. Mudah-mudahan ini bukan disengaja, tapi ketidakfahaman. Oleh karena itu diperlukan kajian yang mendalam terhadap kondisi yang timbul. Kalau virus yang timbul bersamaan, bisa saja karena faktor musim atau lainnya, tetapi umumnya diikuti dengan adanya perubahan. serius. Coba kita bayangkan, bagaimana bisa dikatakan serius, kalau anggaran untuk pemantauan virus u burung minim sekali. Konon, sebagai contoh saja, anggaran Balitvet untuk tahun 2011 hanya 30 puluh juta rupiah. Bukan dollar lho ! tapi rupiah. Saya tidak tahu, bagaimana dengan Pertanyaan ini saya jawab dengan lembaga lainnya. Coba bandingkan lampiran abstrak presentasi dari riset penelitian tentang virus u burung di kami. Kami meneliti beberapa vaksin salah satu lab di Tokyo, mendapat AI baik H5N1 atau H5Nx. Hasil yang biaya 9,5 juta dollar Amerika (setara diperoleh menunjukkan titer antibody dengan 80 milyar rupiah).Itu satu lab, (HI test) semua vaksin menunjukkan belum dihitung seluruh Jepang. Saat ini sudah terbit Perpres No 30 titer yang protektif (lebih dari 40), tahun 2011, tentang Pengendalian tetapi dengan pengujian netralisasi Zoonosis, dan akan dibentuk Komnas virus (kemampuan antibody anti AI) Zoonosis. Semoga dengan Komnas ini, menunjukkan tidak mampu pengendalian penyakit zoonosis, menetralkan virus AI dari Jatim atau Jabar (nilainya kurang 80). Apa artinya termasuk u burung bisa lebih ini, pembaca sudah bisa mengartikan fokus.Semoga! sendiri.

Dari kajian akademis (bukan bisnis) bagaimana kondisi seed virus yang dipakai oleh perusahaan produsen vaksin AI di dalam negeri, maupun vaksin dari luar negeri. Sudah tepat atau perlu seed baru?

Kalau saya diminta saran bagaimana menghadapi penyakit u burung : Barangkali istilahnya bukan Pemerintah tidak serius menangani u (1) Tidak harus melakukan vaksinasi, tapi hanya dengan biosekuriti burung, tapi Pemerintah tidak yang ketat dan test and slaughter menganggap masalah u burung ini (2) Kalau menggunakan vaksin, maka virus seed vaksin harus sama dengan virus yang menginfeksi (3) Pemerintah Daerah cq Dinas Peternakan setempat mengambil inisiatif untuk melakukan mapping dan penentuan virus seed vaksin. (4) Pemerintah Pusat, kalau sulit melakukan koordinasi, sebaiknya mendesentralisasikan perijinan / peraturan dan lain-lain yang berkaitan dengan pengendalian virus u burung termasuk penentuan vaksin u burung yang Menjaga kesehatan ternak dengan menyemprot kendaraan yang akan digunakan di daerah keluar-masuk peternakan merupakan bagian dari biosecurity standar yang seharusnya dilakukan. masing-masing.
15

Dari penjelasan Bapak yang panjang lebar tadi, apakah bisa disimpulkan Pemerintah tidak serius menangani u burung?

Apa saran Bapak menghadapi u burung babak baru sekarang ini?

AGROBORNEO // Edisi 05 // Juni 2011

Unggas

Box:

Respon Kekebalan Vaksin (in-aktif)

Pada Unggas di Indonesia
ABSTRAK

Oleh CA. Nidom, dkk.

Vaksinasi terhadap virus avian in uenza (AI) H5N1 telah diterapkan pada skala yang luas di industri unggas komersial dan dalam skala kecil peternakan ayam kampung di Indonesia. Lebih dari sepuluh vaksin telah diberi lisensi di Indonesia, termasuk vaksin yang berasal dari isolat virus H5N1 dan dari isolat virus patogenik rendah H5N2 dan H5N9. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui respon kekebalan ayam dengan menggunakan uji HI (Hemmaglutinin Inhibition/penghambatan hemaglutinin), uji netralisasi virus, dan uji tantangan. Vaksin menggunakan isolat virus AI H5N1 tidak aktif (4 vaksin) dan H5N2 patogenik (baca : tingkat keganasan) rendah (1
16

Latar belakang

vaksin). Enam puluh satu ayam umur 1 bulan diujicobakan dalam fasilitas BSL (Biosafety Level)-3 milik Universitas Airlangga, Surabaya. Dosis tunggal 0,5 ml diberikan secara intramuskular ke dalam otot dada. Sampel darah dikumpulkan untuk uji HI dan uji netralisasi pada hari 10, 12, 14, 16, 18, dan 20 pasca vaksinasi. Uji HI dan uji netralisasi dianggap positif jika anti-virus H5N1 titer antibodi masing-masing lebih besar dari 40 dan 80. Virus diisolasi dari Provinsi Jawa Timur dan Jawa Barat, digunakan dalam uji tantang dengan masing-masing dosis vaksin sekitar 105 EID50 / 0,1 ml per ayam. Sampel usapan kloaka dan usapan hidung dikumpulkan setiap hari untuk menganalisa shedding virus.

Kesimpulan
Titer antibodi H5 pada uji HI dari semua vaksin hasilnya > 40, namun titer pada uji netralisasi adalah <80. Shedding analisis virus sedang berlangsung.

Metode

AGROBORNEO // Edisi 05 // Juni 2011

Unggas

Menyerbu Hulu
Oleh Drh. Apriyadi Suwarno

Pir Broiler
Agustinus Agun

Pola kerjasama kemitraan inti-rakyat (PIR) ayam ras pedaging di Kalbar mulai berkembang satu tahun terakhir ini. Dilakukan oleh perusahaan yang bekerjasama dengan produsen anak ayam ras pedaging (day old chick broiler) yang berada dalam group PT. Charoen Pokphand Indonesia, yaitu PT. Charoen Pokphand Jaya Farm (CPJF) dan PT. Cipta Khatulistiwa Mandiri (CKM). Sedangkan pemasaran DOC broiler dari breeding farm yang lain, yaitu PT. Satwa Borneo Jaya (SBJ) menerapkan pola pemasaran ‘jual lepas’ dengan peternak mandiri.

Senja di Desa Sengoret Kecamatan Parindu Kabupaten Sanggau, masih berlangsung kesibukan di kandang ayam broiler milik Agustinus Agun (43). Panen ayam broiler sebanyak 3.000 ekor yang telah dipelihara 35 hari dengan berat rata-rata 2,0 kg per ekornya itu, merupakan kegembiraan tersendiri bagi Agun. “Dua periode ini saya ikut PIR ‘CK’. Hasilnya lumayan, kematiannya rendah. Berbeda ketika saya beternak secara mandiri. Waktu itu ayam-ayam yang saya pelihara banyak mati terserang sampar,” ungkap Agun yang mengaku pernah menjalani beternak secara mandiri selama 5 tahun. Dengan mengikuti PIR ‘CK’, proses budidaya dibimbing oleh tanaga sarjana atau dokter hewan sehingga pengawasan terhadap kesehatan hewan berjalan baik. Adapun kontrak harga yang disepakati antara Agun
AGROBORNEO // Edisi 05 // Juni 2011

18

Unggas
sebagai plasma dengan pihak Inti adalah sebagai berikut: harga DOC broiler Rp 5.500/ekor, pakan Rp 305.000/zag alias Rp 6.100/kg, dan pembelian hasil panen oleh pihak Inti sebesar 14.750/kg. “Bila harga broiler di luar seperti sekarang ini Rp 16.500 s/d Rp 17.000/kg, maka selisih harga kontrak dengan harga pasar dibagi dua, untuk pihak inti dan sebagian untuk plasma,” ucap Agun bangga. Dari hasil panen dia memperoleh keuntungan antara Rp 1 – 1,3 juta per 1.000 ekor ayam. Memang seperti itulah lebih-kurangnya pola kerjasama budidaya broiler ala PIR. Untuk daerah-daerah hulu di Kalbar kerjasama semacam ini mulai masuk menjalar. Namun, tidak semua pembudidaya broiler tertarik mengikuti kerjasama semacam itu. Peternak mandiri seperti Justin Manurung (60) di Kembayan, kemudian Udir (33), Amir (31), Yulianus Will (25), Ajirni (30) dan Hadi Semingan (50) yang semuanya berdomisili di Desa Bantai Kecamatan Bonti Kabupaten Sanggau menjawab tidak mau mengikuti PIR ketika ditawari pola kerjasama ini. Alasan mereka menolak mengikuti pola kerjasama PIR kompak, yaitu keuntungan peternak pembudidaya dibatasi -- dihitung sebagai

ongkos pelihara saja. Justin Manurung yang pensiunan tentara, termasuk peternak baru, mencari ilmu beternak ayam dari internet, ayah 4 orang anak yang salah satu anaknya menjadi dokter ini malah memasang harga ayam di lokasi kandang ditulis besar-besar Rp 21.000/kg padahal harga di pasaran lagi jatuh Rp 17.000/kg. “Peternak harus punya posisi tawar yang kuat. Harga kontrak pembelian ayam oleh PIR dari peternak plasma seharusnya lebih tinggi dari harga pasar, bukan malah sebaliknya; menekan. Ini justru membawa

Justin Manurung (menunjuk) bersama Henry Wijaya

Udir bersama istri

AGROBORNEO // Edisi 05 // Juni 2011

19

Unggas

Amir bersama istri

dampak melemahnya harga broiler di pasar,” tegas Justin. Udir yang beternak broiler sejak 2001 bermula dari 200 ekor terus meningkat menjadi 6.000 ekor. Pernah mencapai 10.000 ekor populasinya, tapi sebagian (kandang) dijual dibelikan kebun yang ditanami sawit seluas 13 hektar. “Kalau ikut PIR yang jelas tidak bisa menjual sendiri secara eceran, padahal kami sudah punya pelanggan. Seperti sekarang ini harga eceran masih bisa Rp 23.000/kg, sedangkan di tingkat penampung bisa Rp 18.000/kg.” tutur Udir yang didampingi istrinya. Usaha peternakan broiler secara mandiri

Ajirni

menjadi sumber perekonomian bagi masyarakat perbatasan. Desa Bantai Kecamatan Bonti lebih kurang 18 km dari perbatasan Serawak dengan Kalimantan Barat. Semangat keluarga muda seperti Yulianus, Amir dan Ajirni untuk mencukupi kebutuhan pangan dari dalam negeri sendiri, jangan sampai kandas oleh penyelundupan komoditi sejenis dari Negara tetangga. Jadi, sudah saatnya perhatian kita berikan kepada saudara-saudara kita di perbatasan.

Yulianus Will bersama istri

20

AGROBORNEO // Edisi 05 // Juni 2011

Unggas
BOX :

Jangan Lupa Mencatat

Bun Kie beternak ayam broiler sejak 1999. Lokasi beternaknya yang berada di Sungai Pinyuh – Kabupaten Pontianak saat ini berpopulasi 15.000 ekor. Selama beternak ia mengaku tidak pernah ikut kerjasama pola inti rakyat (PIR) broiler. “Beternak secara mandiri lebih bebas menentukan sarana produksi peternakan yang akan dibeli, sedangkan ikut kemitraan terikat kontrak dengan perusahaan inti; jenis, merek, bahkan kualitas sapronaknya. Dalam penjualan hasil (budidaya), peternak mandiri juga bebas menjual ke pemotong atau pedagang ayam mana pun yang menjadi langganannya, dengan harga sesuai pasar. Sedangkan ikut PIR harga beli inti dari plasma juga sudah berada dalam teken kontrak,” tutur Bun Kie. Manfaat PIR broiler lebih dirasakan bagi peternak pemula yang belum punya pasar (pelanggan yang memanen ayam), juga bagi peternak yang perlu banyak bimbingan teknis budidaya. “Saya sendiri masih perlu belajar dan terus memperbaiki teknis budidaya. Kunjungan dari seorang dokter hewan sebagai tempat bertanya dan berkonsultasi juga sangat diperlukan. Oleh sebab itu perlu ada bahan. Untuk itulah diperlukan catatan. Maka, kepada setiap penanggung jawab kandang diharuskan rajin mencatat perkembangan dan keadaan ayam setiap hari. Tidak ada masalah atau pun ada masalah, harus dicatat.” ucap Bun Kie. Dengan mencatat memudahkan evaluasi apabila ada masalah budidaya, dan memudahkan untuk menemukan solusinya.

AGROBORNEO // Edisi 05 // Juni 2011

21

Pangan

Bebek empuk
ala ‘Pak
Larisnya bebek dan ayam goreng ‘Pak Ndut’ memperkuat bukti bahwa peternakan bebek di Kalimantan Barat belum berkembang dengan baik. Adalah Yudianto, pria kelahiran Solo beristrikan putri Pontianak, Irma Nura fah, yang mengusung Rumah Makan Bebek & Ayam Goreng ini ke Pontianak secara waralaba dari ‘Pak Ndut’ yang juga berasal dari Sukoharjo - Solo. Waralaba ‘Pak Ndut’ sendiri saat ini berjumlah 28 outlet tersebar di Jawa, Bali, Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. Sejak dibuka pada 27 November 2010, RM Bebek & Ayam Goreng ‘Pak Ndut’ Pontianak terus mendatangkan karkas bebek dari rumah potong unggas (RPU) milik ‘Pak Ndut’ di Sukoharjo. “Membeli karkas bebek dari ‘Pak Ndut’ di Sukoharjo tidak menjadi keharusan, justru kami lebih senang membeli
22

Ndut’
dari peternak lokal yang siap memasok secara rutin, tapi tidak ada yang sanggup. Memang sebelum buka saya sudah survey terlebih dahulu, dimana ada peternakan bebek di sekitar Pontianak ini, ternyata langka, ada satu-dua peternak tapi mereka tidak sanggup. Oleh sebab itu, kami mendatangkan dari Jawa Tengah.“ ucap Yudianto, yang telah dikaruniai dua orang anak ini. Dari catatan yang dilaporkan kepada Asosiasi Agribisnis Perunggasan Kalimantan Barat (AAP Kalbar), realisasi daging bebek (karkas) yang didatangkan Yudianto, dalam bulan Desember 2010 sebanyak 2.880 kg, Januari 2011 berjumlah 1.335 kg, Februari 1.975 kg, Maret 1.950 kg, April 2.000 kg, dan Mei tetap 2.000 kg. “Perkiraan saya kebutuhan daging bebek untuk Kota Pontianak sehari bisa
AGROBORNEO // Edisi 05 // Juni 2011

Pangan
mencapai 200-an ekor lebih. Dari tempat saya ini saja rata-rata 100 ekor per hari, sedangkan warung-warung tenda (kaki lima) yang menyajikan menu bebek goreng sekitar 100 ekor lebih semalam.” tutur Yudianto yang berbulat-tekad memilih pensiun dini dari perusahaan swasta nasional untuk menjalani usaha rumah makan ini. Sementara untuk menu ayam goreng, Yudianto membeli karkas ayam merah (a ir petelur) dari pemotong di Pontianak yang rutin mendapat pasokan ayam merah dari Singkawang. “Sehari rata-rata menghabiskan karkas ayam merah 25 ekor,” sambung Yudianto. Dengan menyajikan menu daging bebek (goreng) original, bebek ijo, bebek remuk, bebek sangan dan ayam goreng original, RM Bebek & Ayam Goreng ini menyajikan citarasa daging bebek yang istimewa, tidak alot dan tidak amis, tidak seperti kesan pada umumnya orang terhadap daging bebek. Ditambah sambal korek, sambal hijau dan sambal sangan, orang yang awalnya tidak suka daging bebek bisa ketagihan. Tidak heran, dengan menyiapkan 37 meja yang ditata nyaman, ada pilihan berkursi atau lesehan, tamu yang datang per hari antara 300 - 400

orang. Ketika ditanya akankah membuka cabang baru, selain rumah makan yang berada di Jl. Sultan Abdurahman No. 118 Pontianak, dengan rendah hati Yudianto menjawab sedang dipertimbangkan, membuka lagi di Pontianak atau kota lain di Kalimantan Barat ini, sasarannya antara lain Singkawang, Sintang atau Ngabang. “Tapi, bahan utamanya inilah yang agak repot. Bagaimana, Pemerintah dan Asosiasi serius mendorong tumbuhnya peternakan bebek di Kalimantan Barat ini?” harap Yudianto.

Yudianto

RM Bebek & Ayam Goreng ‘Pak Ndut’, mampukah menggugah semangat peternakan bebek Kalimantan Barat?

AGROBORNEO // Edisi 05 // Juni 2011

23

Pangan

Box:

Telur Asin Pun Sangat Kurang
Kedodorannya peternakan itik Kalimantan Barat juga terlihat dari permintaan telur asin yang belum bisa dicukupi oleh peternakan lokal. Pedagang telur asin hampir setiap bulan mendatangkan dari Jawa. Dalam kurun waktu Januari – April 2011, total telur asin yang masuk Kalbar sekitar 200 ton, didatangkan dari peternakan Kerawang, Brebes, Mojokerto, Tulungagung dan Blitar. Dedi Octaris peternak itik di Pontianak menuturkan, permintaan telur asin dan daging bebek memang belum bisa dipasok secara kontinu oleh peternak itik di Kalbar ini. Karena, selain populasi yang masih sedikit, ongkos produksinya juga mahal. Tantangan terbesar peternakan itik di Kalbar adalah biaya pakan yang tinggi. “Tidak
24

Bibit yang sulit dan biaya pakan yang melangit belum mendorng tumbuhnya peternakan itik di Kalbar, padahal dari kebutuhan hasil ternaknya sangatlah besar.

ada untung apabila seluruh pakan menggunakan pakan ternak produksi pabrik. Harus ada kreati tas peternak untuk memanfaatkan bahan baku lokal sebagai pakan bebek. Sementara pemerintah, melalui unit pelayanan teknis (UPT), selayaknya menyediakan bibit yang berkualitas baik – agar tidak terjadi inbreeding dan tidak tergantung pasokan dari luar Kalbar. Tapi, sayang semua itu belum terlaksana,” ujar Dedi. Karena peternakan itik Dedi termasuk di wilayah Kota Pontianak, untuk menghemat biaya pakan bagi ternak itiknya, Dedi rela bersusah-payah mengumpulkan sisa-sisa makanan dari restoran maupun seusai penyelenggaraan pesta. Lalu bagaimana inovasi peternakan itik lainnya? Yang jelas belum tampak, sehingga telur asin maupun daging itik untuk keperluan masyarakat Kalbar masih terus didatangkan.
AGROBORNEO // Edisi 05 // Juni 2011

Pangan

Bertani Dengan Cinta
Pemerintah juga manusia, mereka bisa salah. Program swasembada beras yang mengharuskan pertanian dengan pemakaian pupuk kimia, adalah salah satu contoh kesalahan itu. Kini pemerintah mengakui kesalahannya, bertobat dan mengajak bertani secara organik, kembali seperti yang diajarkan oleh nenek moyang kita dalam menjaga kelestarian alamnya. Diajak bertobat menuju kebaikan, semua petani seharusnya bersenang hati, kita sadari kesalahan bersama, kita cintai bumi dengan bertani secara organik. Pertanian kimia hanya memberi makan pada tanaman, pertanian organik memberi makan pada tanah. Dengan memberi makanan yang cukup pada tanah, berarti memberi makanan yang baik pada tanaman.
Sri Lestari
26 AGROBORNEO // Edisi 05 // Juni 2011

SRI ORGANIK

Pangan
Pernyataan di atas keluar dari Herman Suryanto seorang petani sejati yang tinggal di Kelurahan Pajintan Kecamatan Singkawang Timur – Kota Singkawang. Pasangan suamiistri antara Herman Suryanto dan Sri Lestari ini memang kompak menjalani profesi sebagai petani. Rumah yang didiami pun apabila dilihat dari jalan raya Singkawang – Bengkayang terlihat berada di tengah sawah. Halaman depan bersambung dengan hamparan sawah, kebun di belakang rumah pun bersambung dengan sawah yang berlatar belakang Gunung Poteng. Jadi, apabila berkunjung ke rumahnya harus melewati jalan kecil di sisi timur hamparan sawah. Persis seperti lukisan pemandangan alam yang pada umumnya.dibuat oleh seniman. Sawah yang ditanami padi secara organik seluas 1.350 meter pesegi, kebun sayur di pekarangan rumah, kolam ikan di bawah dapur, ternak bebek di belakang rumah, sementara untuk tabungan ada peliharaan beberapa ekor sapi. Hobi merawat tanaman bunga juga disalurkan oleh keluarga ini dengan membiakkan berbagai jenis anggrek khas hutan Kalimantan “Menjalani hidup dengan profesi apapun asalkan dilaksanakan dengan cinta akan membuahkan suatu keber-

hasilan. Ingin menjadi wartawan yang berhasil, ya harus mencintai profesi itu. Ingin menjadi petani yang berhasil ya harus mencintai bumi, mencintai tanaman, mencintai ternak-ternak yang dipelihara. Kalau tidak mencintai, mana ada hasilnya,” tegas ayah dari enam orang anak ini yang semuanya didorong untuk sekolah tinggi. Sebagaimana pada umumnya petani, Suryanto dan yang lain, manut saja. Ketika zaman dulu diarahkan pemerintah menggenjot produksi beras dengan benih hibrida yang rakus hara tanah, sehingga harus diberi pupuk

Herman Suryanto di ruang kerjanya; tempat produksi kompos dan pembiakan mikro organisme lokal (MOL).

Pembuatan kompos, berlapis-lapis.

AGROBORNEO // Edisi 05 // Juni 2011

27

Pangan
1) Ketergantungan dengan hak luar dalam bertani, mulai dari perencanaan sampai memasarkan hasil. 2) Menjunjung tinggi nilai efekti tas/hasil (mengejar produksi tinggi meskipun dengan masukan yang tinggi pula). 3) Target utama meningkatkan produksi untuk keuntungan dan kebanggaan sesaat, meskipun harus dibayar mahal ongkos lingkungan dan sosial. “Akibat yang ditimbulkannya, kita sama-sama tahu : Pencemaran lingkungan, terbunuhnya jasad non sasaran, berkurangnya keragaman unsur hayati, hama menjadi kebal, timbul hama sekunder, peledakan hama, dan gangguan kesehatan manusia karena residu kimia, mereka patuh-patuh saja dan melakracun yang terkumpul,” ungkap Sri Lestari. sanakannya. Sekarang ketika semua menyadari Maka penerapan SRI Organik tetap bahwa dampak buruk dari pertanian kimiawi bertumpu pada gagasan peningkatan produksi membuat tanah sakit, maka beralih ke pertaper satuan luas lahan atau intensi kasi, nian organik. Sang istri yang penyuluh pertapengendalian hama secara terpadu, memanian juga menyerap ilmu pertanian terkini, hami ekologi tanah, dan menduplikasi kelomdengan mengikuti berbagai pendidikan kilat, pok tani/petani yang berhasil. Namun, diakui antara lain belajar ilmu pengelolaan agrooleh Suryanto, perpindahan dari pertanian ekosistem padi sawah model SRI (System of padi kimiawi menjadi pertanian organik harus Rice Intensi cation), atau yang dipopulerkan dilakukan secara bertahap, kalau langsung dengan istilah SRI Organik. akan rusak. “Kami sendiri melaksanakan Apa itu SRI Organik? penananam pertanian organik (padi) secara SRI Organik adalah cara bercocok tanam penuh baru tiga kali penanaman, termasuk padi yang dilatarbelakangi dengan keinginan yang sekarang ini. Sebelumnya dilakukan melepaskan diri dari perangkap revolusi hijau pengondisian dari 100% kimia, terus turun yang menciptakan perilaku pertanian menjadi: 75%, turun lagi menjadi 50%, dan setelah 25%,

Pembenihan bunga anggrek plasma nutfah Kalimantan.

Tidak boleh ada sejengkal ruang yang kosong, membuat kolam ikan di bawah lantai dapur.

28

AGROBORNEO // Edisi 05 // Juni 2011

Pangan
kami berani organik penuh,” tegas Suryanto. Yang dimaksud dengan pengondisian, lanjut Suryanto, adalah mengurangi secara bertahap pemakaian pupuk dan pestisida kimia. Kearifan lokal Pelaksanaan metode SRI Organik jelas perlu dukungan pupuk organik yang berasal dari kompos maupun humus, serta pestisida organik. Disinilah diperlukan mikro organisme lokal (MOL), yang proses pengembangbiakannya dapat dikerjakan dengan mudah dan menggunakan bahan-bahan lokal. Banyak jenis tanaman yang bisa digunakan sebagai bahan pestisida organik maupun zat perangsang tumbuh alami seperti tanaman butrowali, selasih, gadung, sembung, dlingu, suren dan lain sebagainya. Herman Suryanto dan Sri Lestari mempopulerkan MOL dengan bahan dasar daun bambu, buah maja, dan rebung bambu. “Menurut hasil penelitian para ahli, di dalam daun bambu yang busuk banyak hidup tricoderma – sebangsa jamur pengurai. Sedangkan fermentasi buah maja dapat menambah nutrisi bagi tanaman utamanya kandungan N, dan fermentasi rebung bambu dapat menghasilkan zat perangsang tumbuh untuk berbagai tanaman.” ujar Sri Lestari. Cara membuat MOL dengan daun bambu ; pertama-tama daun bambu kering yang

rontok bahkan mulai membusuk diletakkan berjejer rata di atas suatu tempat, kemudian di atasnya diletakkan beberapa kepal nasi, ditutup lagi dengan lapisan daun bambu, kemudian boleh di atasnya diberi beberapa kepal nasi, ditutup lapisan daun bambu lagi, terserah sampai berapa lapis. Setelah itu dibiarkan selama seminggu. Nanti nasi akan kebiru-biruan penuh dengan jamur. Setelah seminggu, nasi yang sudah penuh dengan jamur direndam dalam air bekas cucian beras. Perbandingannya; 25 kepal nasi dimasukkan ke dalam 25 liter air bekas cucian beras, kemudian ditambahkan 1,5 kg gula merah. Campuran ini dimasukkan ke dalam ember tertutup rapat untuk mengalami fermentasi

Sekawanan itik di belakang rumah, sumber protein hewani.

Menyemai padi secara metode SRI.

AGROBORNEO // Edisi 05 // Juni 2011

29

Pangan
adalah sebagai berikut : Satu liter cairan MOL nasi tadi dilarutkan dengan lima liter air cucian beras kemudian ditambah gula merah satu ons. Pemakaiannya disiramkan di atas kompos. Cara membuat kompos dengan bahan dasar kotoran sapi. Tahi sapi ditumpuk rata setebal 20 cm, disiram MOL nasi yang sudah diencerkan, dilapisi abu sekam setebal 20 cm, kemudian disiram MOL nasi encer lagi, terus tumpuki kotoran sapi dengan ketebalan sama, disiram MOL nasi, ditutup abu sekam, terus tergantung bahannya cukup berapa lapis. Setelah itu ditutup rapat dengan terpal. Dibiarkan selama 2 – 3 minggu untuk proses fermentasi. “Kompos telah dikatakan jadi dengan baik apabila warna hitam, tidak bau kotoran, tidak mengumpal, kalau diremas mudah terurai hancur,” ujar Suryanto. Aplikasi untuk tanaman padi, untuk satu hektar sekitar satu ton kompos, diberikan dua minggu setelah tanam. “Untuk pemupukan sebelum tanam, jerami padi sisa panen, dibusukkan dengan disiram MOL nasi, setelah itu ditenggelamkan dengan pembajakan, jadilah pupuk dasar,” sambung Sri Lestari. Lebih cinta Tentang penanaman padi secara SRI, Suryanto sendiri mengakui bahwa ini cara tanam yang patut diacungi jempol. “Kita diajak

Menanam benih tidak terlalu dalam.

selama dua minggu. Agar gas yang ditimbulkan selama fermentasi tidak menekan keluar tutup ember, maka pada bagian tengah tutupnya diberi lubang, ditancapkan selang yang menghubungkan dengan botol atau tabung berisi air. Setelah dua minggu atau ketika aroma fermentasi sudah tercium tajam, artinya pembuatan MOL sudah selesai. Bahan ini bisa digunakan sebagai proses pembuatan kompos (decomposer) atau mempercepat pembusukan jerami padi di sawah yang sekaligus sebagai pupuk dasar. Pemakaian untuk decomposer

Padi menguning menjelang panen.

30

AGROBORNEO // Edisi 05 // Juni 2011

Pangan
untuk lebih mencintai padi. Bayangkan, proses penyemaiannya di atas nampan yang didasari tanah bercampur kompos. Setelah padi bersemi kemudian menanamnya tidak perlu sampai ‘tenggelam’, satu lubang cukup satu batang. Tapi lihat, pada minggu ketiga jumlah anakannya sudah empat belas. Nanti, pada minggu kelima dan keenam bisa terjadi ledakan jumlah anakan. Pada minggu ketujuh sudah mulai bunting,” tutur Suryanto. Padi organik hasil tanaman Suryanto dan Sri Lestari ini pernah dipanen oleh Walikota Singkawang Hasan Karman bersama pejabat terkait di bidang pertanian. “Hasilnya untuk dimakan sendiri, dibagikan ke teman-teman, disimpan. Atau kerap dijadikan contoh kalau ada pameran.” ucap Sri Lestari. Untuk mempopulerkan tanaman padi secara SRI Organik memang tidak mudah. Ada sejumlah tantangan yang menghadang, antara lain : (1) Terbatasnya ketersediaan bahan kompos terutama yang bersumber dari kotoran hewan. (2) Pembuatan kompos masih dilakukan secara manual sehingga memerlukan waktu lama, tenaga kerja yang tinggi. (3) Distribusi bahan organik/kompos pada skala luas memerlukan biaya tinggi. (4) Kebiasaan membuang dan membakar jerami di sebagian besar petani menjadi budaya. (5) Jumlah

petugas/petani yang memahami teknis metoda SRI masih sangat terbatas. (6) Diperlukan proses pembelajaran/pendampingan secara intensif. “Ingat, ini tidak sekedar mengubah cara bercocok tanam, tapi mengubah cara pandang bertani. Dulu system bertani yang diajarkan nenek moyang kita sudah sangat bersahabat dengan alam, tapi atas nama swasembada pangan, pola bertani diubah untuk mengejar setoran, sekarang kembali ke pertanian (organik) yang bersahabat dengan alam. Ini memerlukan proses panjang, kesungguhan dan teladan,” ucap Sri Lestari.

Beras yang dihasilkan keras, bening dan kuat, tetapi setelah jadi nasi rasanya pulen banget.

Dipanen rame-rame oleh Walikota Singkawang dan para pejabat pemerintah lainnya.

AGROBORNEO // Edisi 05 // Juni 2011

31

Pakan

Ketika Harga Jagung

Melambung

Dalam tempo yang singkat, harga jagung melesat. Akhir 2010 harga jagung masih Rp 2.000 – 2.500/kg, namun per Mei 2011 sudah mencapai Rp 4.000 – 4.500/kg. Seharusnya menggairahkan petani menanam jagung, tapi nyatanya tidak. Malah untuk pakan ternak saja, angka impor jagung tahun ini melambung
IRONIS. Sebuah negeri yang setiap jengkal tanahnya begitu subur dan bisa ditanami aneka ragam tanaman, ternyata setiap tahun rakyatnya masih memakan nasi dengan citarasa Vietnam atau ailand. Dan memakan tahu, tempe, makanan khas masyarakat Nusantara itu dengan citarasa Amerika. Maklum, karena sepanjang 20 tahun terakhir untuk memenuhi kebutuhan dalam negari selalu saja setiap tahunnya Indonesia harus menambalnya dengan beras impor dari Vietnam atau ailand, serta kedelai dan jagung impor dari Amerika Serikat. Sebuah paradoks bagi Negeri berjuluk “Zamrud Khatulistiwa”. Khususnya dalam hal beras dan palawija, serta bahan pangan lainnya, Indonesia tak kunjung mampu memenuhinya sendiri. Dalam tahun 1985 – 1987, Indonesia memang pernah dijuluki sebagai negara berpenduduk terbesar keempat dunia (setelah China, India dan Amerika Serikat) yang mampu berswasembada beras. Waktu itu, Indonesia sukses meraih penghargaan dari FAO (Food and Agriculture Orgnization). Semangat meningkatkan produktivitas, pemerintah minta sejumlah konglomerat untuk berkonsorsium membuka lahan sawah satu juta hektar di Kalimantan
AGROBORNEO // Edisi 05 // Juni 2011

Oleh Ir. M. Sinambela

32

Pakan
No Wilayah SUMATERA 1 Luas Tanam (Ha) Persentase (%) JAWA 2 Luas Tanam (Ha) Persentase (%) KALIMANTAN 3 Luas Tanam (Ha) Persentase (%) SULAWESI 4 Luas Tanam (Ha) Persentase (%) PAPUA + MALUKU 5 Luas Tanam (Ha) Persentase (%) BALI + NTT 6 Luas Tanam (Ha) Persentase (%) JUMLAH Luas Tanam (Ha) Persentase (%) 1.285.721 29.65 305.295 7.04 155.618 3.59 248.141 5.72 92.097 2.12 551.254 12.71 1.697.875 39.16 4.336.001 14.943 3.83 32.528 8.34 31.907 8.18 151.471 38.84 159.178 40.81 390.027 9,00 492 2.04 16.06 66.45 7.616 0.56 24.169 0.56 299.655 43.83 25.112 3.67 20.45 2.99 38.864 5.68 299.606 43.82 683.688 15.77 1.896 2.44 2.578 3.32 26.12 33.61 47.115 60.63 77.71 1.79 733.016 33.17 194.725 8.81 95.589 4.33 139.72 6.32 262.245 11.87 784.611 35.5 2.209.906 50.97 238.106 25.05 110.57 11.63 105.843 11.14 39.74 4.18 56.493 5.94 399.75 42.06 950.502 21.92 VARIETAS DOMINAN Bisi 2 P21 BISMA P12 JAYA 2 LOKAL V.U.LAINNYA JUMLAH

Sumber : Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian 2011.

Tengah. Namun, hingga kini pembukaan sawah sejuta hektar itu tak jelas nasibnya. Untuk keperluan pakan ternak unggas, impor jagung dalam tiga tahun terakhir ini terus meningkat; tahun 2009 tercatat 400.000 ton, tahun 2010 naik menjadi 1.600.000 ton, dan tahun 2011 ini diperkirakan melebihi 2.000.000 ton. Padahal angka produksi jagung Nasional per tahun yang dikeluarkan Biro Pusat Statistik (BPS) terus meningkat dari 10,5 juta ton (tahun 2005) dan mencapai 14,5 juta ton di tahun ini. Hanya untuk industri pakan ternak saja yang membutuhkan jagung 3,5 – 4,5 juta ton setahun, nyatanya tidak cukup. Dalam rangka peningkatan penggunaan benih bermutu varietas unggul dan mendukung upaya peningkatan produktivitas/produksi padi, jagung dan kedelai pada musim tanam (MT) 2011, Pemerintah mengalokasikan bantuan langsung benih unggul (BLBU) bersumber dari APBN TA 2011, untuk penyediaan dan penyaluran benih padi non hibrida, padi hibrida, padi lahan kering, jagung hibrida dan kedelai
AGROBORNEO // Edisi 05 // Juni 2011

kepada petani, pada periode bulan April sampai dengan Desember 2011 (Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, 2011) Kebijakan pemerintah untuk peningkatan produktivitas jagung secara nasional sudah
JANUARI -DESEMBER No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Kab/Kota Kab.Sambas Kab. Bengkayang Kab. Landak Kab.Pontianak Kab.Sanggau Kab.Ketapang Kab.Sintang Kab.Kapuas Hulu Kab.Sekadau Kab. Melawi Kab. Kayong Utara Kab.Kubu Raya Kota Pontianak Kota Singkawang ATAP 2009 ATAP 2008 ATAP 2007 ATAP 2006 ATAP 2005 Luas Panen (Ha) 300 24,419 2,754 835 1,205 360 2,272 565 415 224 27 7,314 64 584 41,338.00 42,834 36,295 38,271 37,743 Ku/Ha 16.30 48.81 25.51 25.84 20.26 19.53 22.57 25.47 19.98 21.81 17.74 32.71 14.46 52.38 40,39 42,35 42,46 35,74 33,77 Produksi (Ton) 489.00 119,200.00 7,025.00 2,158.00 2,441.00 703.00 5,127.00 1,439.00 829.00 489.00 48.00 23,922.00 93.00 2,870.00 166,833.00 181,407.00 154,117.00 136,777.00 127,460.00

Sumber: Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Barat (2010)

33

Pakan
Dan tidak tertutup kemungkinan jagung yang diperoleh dari luar Kalimantan Barat tersebut adalah jagung impor. Akhir-akhir ini jagung yang masuk ke Kalimantan Barat juga berasal dari negara tetangga, Malaysia yang berbatasan langsung dengan beberapa kabupaten di Kalimantan Barat. Kita tahu, untuk kebutuhan pakan ternak di dalam negerinya, 100% Malaysia impor jagung, namun harga jagung yang cukup tinggi di pasar (Kalimantan Barat) memacu masuknya komoditas tersebut secara ilegal. Harga jagung yang berasal dai petani Kalbar sendiri antara Rp 4400 – 4500/kg, yang berasal dari pelabuhan Semarang Rp 4200 – 4300/kg, sedangkan dari Malaysia harganya Rp 3900 – 4000/kg. Harga jagung yang tinggi seharusnya meningkatkan keinginan dan kegairahan petani untuk membudidayakan jagung. Namun yang terjadi justru sebaliknya, di sentra penghasil jagung Kalimantan Barat, yakni Kabupaten Bengkayang, minat dan antusiasme petani menanam jagung malah turun. Ini sangat dirasakan pedagang pengumpul desa (PPD) yang ada di kecamatan Sanggau Ledo dan Tujuh Belas yang semakin hari semakin sedikit pasokan jagungnya. Biasanya satu pedagang pengumpul desa bisa memasar-

Petani jelas ingin menanam komoditi yang menguntungkan, pemerintah mengarahkan dan memberi perlindungan.

ditunjukkan dengan adanya peningkatan luas tanam menjadi 4.336.001 hektar. Pencapaian angka luas tanam yang cukup signi kan ini bila diikuti dengan peningkatan produktivitas semestinya bisa diharapkan dapat memenuhi kebutuhan jagung dalam negeri sendiri. Provinsi Kalimantan Barat, berdasarkan realisasi luas tanam tahun 2009 seluas 41.338 ha dengan pencapaian produksi 166.833 ton, seharusnya sudah dapat memenuhi kebutuhan jagungnya sendiri. Akan tetapi untuk memenuhi kebutuhan akan bahan baku pakan ternak saja, Kalimantan Barat masih mendatangkan jagung pipil dari provinsi lain di Indonesia, terutama dari Jawa dan Sulawesi.

Perlahan tapi pasti, tanaman jagung tergeser sawit.

34

AGROBORNEO // Edisi 05 // Juni 2011

Pakan
kan tiga sampai empat truk setiap minggunya, tetapi saat ini dalam satu minggu mereka bisa menjual satu truk jagung itu sudah sangat disyukuri. Di tingkat petani malah sebagian besar petani mengganti tanaman jagungnya menjadi tanaman hortikultura, dan tidak sedikit mulai beralih ke komoditi perkebunan sawit. ”Produktivitas jagung kami semakin hari semakin menurun, sementara biaya yang kami keluarkan setiap musimnya semakin bertambah dikarenakan harga pupuk kandang dan pupuk urea, SP-36 phonska sulit kami dapat, dan kalaupun ada harganya mahal. Antara biaya produksi dengan hasil penjualan masih tidak untung -- meskipun ’katanya’ harga jagung melambung” ujar petani di Sanggau Ledo. Anjloknya produksi dan produktivitas tanaman jagung di Kalimantan Barat secara numerik sebenarnya sudah terlihat sejak beberapa tahun yang lalu. Pada tahun 2007 mencapai 42,46 Ku/Ha, tahun 2008 turun menjadi 42,35 Ku/Ha dan tahun 2009 menurun menjadi 40,39 Ku/Ha. Padahal, berdasarkan angka sasaran luas panen, produktivitas dan produksi tanaman pangan Kalimantan Barat tahun 2011 diharapkan terjadi peningkatan luas panen menjadi 50.000 Ha, produktivitas 44,00 Ku/Ha dan produksi 220.000 ton

untuk komoditi jagung pipil. Pernah persoalan ini disampaikan kepada pemangku kepentingan produksi jagung di Kalimantan Barat dan mereka menangkis secara diplomatis; tanah di Kalimantan Barat yang bisa ditanami jagung dan menghasilkan jagung tidak hanya Kabupaten Bengkayang. Memang, namun faktanya program peningkatan produksi jagung di kabupaten lain belum nampak, apalagi melihat hasilnya Apabila hal ini tidak segera diatasi, mungkin nantinya ’Bengkayang akan menjadi kenangan”, bahwa tanah ini pernah menjadi pusat penghasil jagung untuk Kalimantan Barat, satu propinsi yang luasnya sama seperti luas Pulau Jawa ditambah Bali. Ironi

Volume jagung yang terkumpul dari petani setempat semakin menurun.

Pakan ternak dari Jawa dan jagung yang didatangkan dari luar Kalimantan Barat.

AGROBORNEO // Edisi 05 // Juni 2011

35

Ruminan

Apa Kabar Sapi Kalbar ?

Drh. Abdul Manaf Mustafa Drh. H. Abdul Manaf Mustafa

Penggemukan sapi milik Ameng di Tebas – Sambas.

Topografi Kalimantan yang berhutan-hutan, banyak hamparan lahan gambut dan semak belukar, serta minimnya padang rumput yang luas, menimbulkan anggapan masyarakat awam bahwa Kalimantan tidak cocok untuk pengembangan ternak ruminansia seperti halnya sapi. Malangnya, anggapan ini didukung oleh fakta, hampir semua propinsi di Kalimantan terus mendatangkan ternak sapi sebagai bibit dan untuk dipotong setiap tahunnya.
Menurut Drh. Abdul Manaf Mustafa, Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Kalimantan Barat, populasi sapi di Kalbar pada tahun 2010 tercatat 167.000 ekor, pada tahun yang sama pemotongan sapi sebagai daging konsumsi sebanyak 46.348 ekor -- sekitar 27% dari populasi. Sebuah angka pemotongan yang cukup besar dibandingkan peningkatan populasinya. Maka sangat masuk akal apabila setiap tahun Kalbar mendatangkan sapi untuk dipotong. Pada tahun 2009 sapi potong yang didatangkan ke Kalbar 15.753 ekor, sedangkan sapi yang didatangkan untuk bibit sebanyak 1.063 ekor. Pada tahun 2010 sapi potong yang

masuk 9.875 ekor, sapi bibitnya 1.067 ekor. Tahun 2011 ini sapi potong yang masuk diperkirakan 14.000 ekor, dan sapi bibit yang didatangkan sekitar 1.000 ekor. Upaya pengembangan lewat inseminasi buatan (IB) boleh dikatakan tidak berhasil, karena keterbatasan tenaga maupun jarak tempuh yang jauh dari satu desa ke desa yang lain. Kegagalan IB kerap terjadi akibat waktu ‘kawin’ yang tidak tepat antara saat puncak birahi sapi betina yang hanya 12-18 jam –setelah tanda-tanda awal birahi ---dengan kedatangan petugas yang membawa sperma pejantan dan seharusnya langsung menyuntikkannya. “Akhirnya, pengembangbiakan yang ditempuh lebih banyak melalui perkawinan alam. Dengan program; setiap pemberian bantuan 10 bibit sapi betina ditambah 1 ekor pejantan unggul,” tutur Manaf. Kendala peningkatan populasi sapi yang lain adalah praktik pemotongan sapi betina produktif. Bersyukur dua tahun terakhir ini terbentuk Asosiasi Agribisnis Pengusaha Sapi
AGROBORNEO // Edisi 05 // Juni 2011

36

Ruminan

Bahasan, SH

(AAPS) Kalimantan Barat yang diketuai Bahasan, SH, anggota dewan di DPRD II Kota Pontianak yang berlatarbelakang keluarga peternak sapi. Program kerja kepengurusan AAPS pada periode awal ini, menurut Bahasan adalah konsolidasi dan koordinasi dengan pemerintah daerah. Misalnya mengatasi praktik pemotongan sapi betina produktif yang dilarang pemerintah, asosiasi menyiapkan penggantinya berupa sapi jantan. “Jadi kalau ada pemilik sapi menuntun sapi betina ke rumah pemotongan hewan, petugas tidak hanya melarang, tapi berkoordinasi dengan AAPS, untuk mengganti sapi betina (produktif) yang bakal dijagal tadi dengan sapi jantan.” tutur Bahasan. “Dalam pengadaan dan distribusi sapi bibit bantuan pemerintah pun, AAPS dilibatkan dalam pelaksanaannya”, lanjut Bahasan. Di tingkat masyarakat, minat memelihara sapi sebenarnya cukup kuat. Pernah ada anggapan bahwa etnis tertentu tidak menyukai memelihara sapi dan etnis yang lain menyukai beternak sapi. Tetapi faktanya di Kalbar ada peternak sapi berlatar etnis Dayak, Melayu, Jawa, Madura, maupun Tionghua. Agus Bahtiar yang berlatar belakang keluarga Melayu sudah cukup lama memelihara sapi, bahkan melanjutkan beternak sapi dari bapaknya. Dia sendiri yang menjadi tokoh pemuda tani di Singkawang, mengaku juga ‘hobi’ memelihara sapi. “Memelihara sapi banyak manfaat dan fungsinya, ternaknya sebagai tabungan keluarga, kotoran diolah sebagai kompos dan biogas. Memelihara lima ekor sapi cukup menghasilkan kotoran bahan biogas untuk
AGROBORNEO // Edisi 05 // Juni 2011

keperluan masak dan penerangan bagi satu keluarga,” tutur Bahtiar. Disamping peternakan sapi skala keluarga, di Kalimantan Barat juga ada peternakan sapi penggemukan oleh beberapa pengusaha. Salah satunya adalah milik Ameng yang berlokasi di Tebas Kabupaten Sambas. Selain penggemukan (sapi jantan) Ameng juga memelihara sapi betina sebagai pembibit, hal ini ditempuh agar tidak terlalu tergantung pasokan bibit dari luar Kalbar. Untuk memacu laju pertumbuhan ternak sapi di Kalimantan Barat sedang dirintis kerjasama antara perusahaan perkebunan sawit – pemerintah - dan pekerja kebun untuk memelihara sapi. Dengan maraknya pembukaan lahan untuk perkebunan sawit, diharapkan tumpang sari antara sawit dengan ternak sapi dapat mendorong populasi ternak sapi di Kalbar. Semoga!

Agus Bahtiar dan sapi-sapi peliharaannya

Pemanfaatan kotoran sapi sebagai biogas di rumah orang tua Bahtiar

37

Hortikultura

Sinergi Peternakan Ayam Petelur dengan Petani Sayur
Peternakan ayam ras petelur terbukti menjadi lokomotif bergeraknya bidang pertanian yang lain. Begitu Singkawang tumbuh menjadi sentra peternakan ayam ras petelur di Kalimantan Barat awal tahun 80-an, sejak saat itu tergerak pula petani di wilayah subur tetangganya, yakni Sanggau Ledo - Bengkayang, untuk rame-rame menanam jagung. Bahkan antara peternak di Singkawang dengan petani jagung di Sanggau Ledo yang umumnya transmigran dari Jawa, menjalin kemitraan ‘barter’ jagung dengan kotoran ayam.
Supadmi dan Legimin

38

AGROBORNEO // Edisi 05 // Juni 2011

Hortikultura
Penggunaan paranet untuk mengurangi intensitas cahaya matahari.

Kalaupun sekarang produksi jagung dari Sanggau Ledo turun lantaran banyak tanaman jagung yang berganti dengan sawit, peran lokomotif agribisnis ayam petelur tidaklah surut, tanaman sawit juga memerlukan pupuk organik berbahan dasar kotoran ayam. Satu lagi manfaat peternakan ayam ras petelur dirasakan oleh petani sayur di Kota Singkawang sendiri. Singkawang memang status admisnistrasi-nya ‘kota’ tetapi warganya banyak yang bermatapencaharian di bidang peternakan, pertanian tanaman pangan dan sayur-mayur, serta berdagang kebutuhan pokok di pasar. Pasangan suami-istri Legimin dan Supatmi adalah keluarga petani sayur di Singkawang, bahkan sang istri sekarang ini menjadi Ketua Kelompok Tani REJEKI yang berdomisili di Singkawang Tengah.

“Kelompok Tani REJEKI berdiri sejak tahun 2002, jumlah anggotanya 230 orang dengan luas hamparan yang dimiliki total 70 hektar, sudah diolah 50 hektar sedangkan yang belum 20 hektar. Jenis sayuran yang ditanam 80% sayuran daun seperti sawi, bayam, kangkung, sedangkan 20% lainnya sayuran buah seperti terong, cabe, dan kacang panjang.” tutur Supatmi. Menurut Supatmi keberadaan pupuk kandang sangat penting dalam penanaman sayuran, bukan latah ingin menghasilkan sayuran organik, tapi dari sisi biaya jauh lebih murah, ramah lingkungan dan tidak membahayakan kesehatan orang yang mengonsumsinya. “Pupuk kandang baik dari kotoran sapi maupun kotoran ayam sejak lama telah digunakan oleh petani sayur di sini. Kemudian
Sumber : Dinas Pertanian dan Kehutanan Kota Singkawang (2011)

PRODUKSI SAYURAN KOTA SINGKAWANG (2010)
Jenis Sayuran
Sawi Kacang panjang Mentimun Cabe besar Lobak Kangkung Bayam Terong Sayuran lain TOTAL

Luas Tanam (Ha)
527 82 78 31 37 43 55 32 44

Luas Panen (Ha)
523 101 95 39 38 43 55 45 47

Hasil Panen (Ton)
376,1 124,1 177,2 27,6 250,9 31 24,4 77 140,1

929

986

1.228,4
39

AGROBORNEO // Edisi 05 // Juni 2011

Hortikultura

Pada jenis sayur tertentu harus ditanam dalam ruangan sejuk dengan system penyiraman efek hujan. Sayuran segar di pasar Singkawang.

untuk pemberantasan hama juga dilakukan penyemprotan dengan pestisida organik. Memang sudah bisa disebut sebagai sayuran organik, tapi di pasaran kami tidak memberi label khusus sayuran organik, dan harganya pun tidak kami bedakan.” tutur Supadmi. Untuk biaya penanaman dan besarnya keuntungan pada masing-masing komoditi berbeda-beda. Namun, Legimin punya perhitungan sederhana; untuk luas tanam per hektar lahan, biaya tanamnya antara Rp 400.000 – 600.000, tidak termasuk upah tenaga kerja, karena semua dikerjakan sendiri, juga di

luar investasi paranet. Sedangkan hasil panennya untuk dua-tiga bulan masa tanam Rp 4 – 6 juta. Dari luas tanam yang ada diatur sedemikian rupa sehingga setiap hari ada yang dipetik. Sore hari saatnya panen, malam dibawa ke pasar Singkawang oleh pedagang, lalu jam 24.00 hingga jam 02 dini hari pedagang antar kota sudah meramaikan pasar Singkawang membeli sayur partai besar untuk dikirim ke kota atau kabupaten lainnya. Singkawang memang mashur sebagai sentra sayur juga penghasil telur. Makmur!

Peternakan ayam petelur menghasilkan pupuk yang baik bagi sayur.

40

AGROBORNEO // Edisi 05 // Juni 2011

Hortikultura

Harga komoditi cabe yang naik turun secara tajam sering menjadi godaan petani. Han Tjan Lang sedang menyiram tanaman cabe di pekarangan rumah

‘Pedasnya’Cabe
Manfaat kotoran ayam petelur sebagai pupuk penyubur sayur juga dirasakan oleh petani jagung manis yang kini berpindah ke tanaman cabe. Adalah pasangan suami-istri Ng Khong Hiong alias Sekong dengan Han Tjan Lang sejak awal tahun 2011 ini menanam cabe, bahkan hampir setiap minggu dipetik dan kini sudah 12 kali panen.

Box:

Memupuk

Tanaman cabe Sekong ada sekitar 2.000 pohon ditanam di lahan sawah, sedangkan puluhan batang cabe lainnya ditanam di pekarangan rumah.

“Tanaman cabe yang di pekarangan rumah bahkan diberi pupuk organik produksi PT. Sinka Sinye Agrotama (SSA) yang seharusnya menjadi jatah petani padi yang mendapatkan subsidi pupuk organik, tetapi karena masih “Tetapi saat harga cabe melambung tinggi tersisa banyak dan saya ikut hingga mencapai Rp 60.000/kg, cabe tanaman kebagian, maka saya terapkan kami masih kecil, saat panen pertama harga pada tanaman cabe ini,” cabe sudah turun menjadi Rp 26.000/kg. tutur Sekong. Itupun saya hanya bisa memetik 8 kg, setelah Ng Khong Hiong alias itu harga cabe turun terus dan sekarang ini Sekong di tengah tanaman (9/7) di pasar Singkawang Rp 5.000/kg.” tutur cabenya. Sekong.
AGROBORNEO // Edisi 05 // Juni 2011 41

Cakrawala

Kemilaunya

Pernikahan Emas
Ada dua hal yang tak bisa ditunda di dunia ini. Pertama, berbakti pada orang tua. Kedua, berbuat kebajikan.
demikian nasihat bijak Master Cheng Yen, Pendiri Yayasan Kemanusiaan Buddha Tzu Chi Internasional

42

AGROBORNEO // Edisi 05 // Juni 2011

Cakrawala

Lim Muk Choi dan Bong Se Cu

Tetiono dan Susiana Bonardy

Merupakan sukacita yang tak terkirakan mendapatkan karunia Tuhan Yang Maha Kasih berupa kedua orang tua yang diberi panjang usia dalam keadaan sehat wala at, sehingga bisa mengawal usaha putra-putrinya hingga berhasil, serta dapat menyaksikan kelucuan para cucu yang tumbuh dewasa. “Maka, perayaan ini merupakan ungkapan rasa syukur yang mendalam atas semua karunia itu, sekaligus penghormatan kepada orang tua
AGROBORNEO // Edisi 05 // Juni 2011

yang ada di sini dan bagi orang tua kita semua.” Demikian sambutan Tetiono selaku putra sulung dari pasangan Lim Muk Choi dan Bong Se Cu pada perayaan Pernikahan Emas (50 tahun) yang diselenggarakan pada Minggu, 19 Juni 2011 di Singkawang. Lim Muk Choi dan Bong Se Cu dikaruniai dua anak laki-laki, yaitu Tetiono (Lim Tet Lung) dan Sangian Sudjono Anggie (Lim Tet
43

Cakrawala
Ang), kemudian empat orang putri, yakni Sutiah Sri Tjuningsing (Lim Tet Ai), Maria Fransiska Diana (Lim Tet Khiem), Widiyati Lim (Lim Tet Moi) dan Lim Tet iam (Sumiati Lim). Dari putra-putri yang sudah berkeluarga, sekarang ini telah dikaruniai cucu-cucu sebanyak 18 orang Perayaan yang dihadiri undangan sebanyak 2.000 orang lebih itu merupakan ajang silaturahmi handai-taulan, sanak-keluarga, serta para sahabat. Hadirin terdiri dari para pejabat, pengusaha, tokoh agama, aktivis yayasan kemanusiaan, petani-peternak dan elemen masyarakat lain

Sangian Sudjono Anggie dan Susi

Sutiah Sri Tjuningsih dan Denny Gregorius

Maria Fransiska Diana dan Gunawan, H.T.

Widiyati Lim dan Phang Agus

Ciuman si bungsu Sumiati Lim

44

AGROBORNEO // Edisi 05 // Juni 2011

Cakrawala

Dibantu cucu tertua memotong kue ulang tahun pernikahan

yang mencerminkan luasnya pergaulan sang tuan rumah. Asal tamu pun beragam, selain dari Kalimantan, ada yang berasal dari kota-kota di Jawa maupun dari luar negeri, seperti Malaysia dan Cina. Kasih orang tua begitu kuatnya, seperti terangnya matahari. Maka berbakti kepada orang tua adalah berkah terbesar.

AGROBORNEO // Edisi 05 // Juni 2011

45

Cakrawala

BERBAGAI LAPISAN
Bermula dari usaha membuka kios sarana produksi peternakan yang popular disebut poultry shop di kota kelahirannya Singkawang, Tetiono dengan nama pemberian orang tuanya Lim Tet Lung mengembangkan usaha budidaya ayam ras petelur pada tahun 1989. Meskipun sarana produksi peternakan umumnya didatangkan dari Jawa, sehingga ongkos produksinya tinggi, namun usaha peternakan ayam di Singkawang terus berkembang. Populasi ayam milik Tetiono terus meningkat
Subono dari Japfa Comfeed dan Unang Patriana dari BPMSOH Jakarta Darwan Kiswandi dari PT. Reza Perkasa Surabaya

Walikota Singkawang Hasan Karman bersama keluarga

yang bebas dari kontaminasi u burung dengan teknologi fermentasi dan pemanasan. Pabrik pupuk organik berbahan dasar kotoran Peraphon Prayooravong dan Yonas Yahya bos Medion – Christian Tiono dari Charoen ayam itu diberinama PT. Sinka Pokphand Indonesia Bandung bersama istri Sinye Agrotama (SSA). Dari kegiatan agribisnis berbasis unggas sebagaimana tersebut di atas, maka sangatlah wajar apabila Tetiono mempunyai relasi dan sahabat Wakil Walikota Singkawang Edy R. Yacoub bersama istri dari berbagai lapisan Mandjuniah Henny pendiri PT. Cipta Khatulistiwa Mandiri masyarakat. Ditambah lagi sahabat yang terkait dengan kegiatan bisnis kapal angkut barang antar pulau. dan usaha budidaya ayam petelur ini diberinama Juga kawan dekat yang sama-sama bergerak di PD. Sinar Usaha Jaya Singkawang. bidang sosial, yayasan kemanusiaan, dan dari Pada tahun 1999 Tetiono mendirikan kalangan rohaniwan. pembibitan anak ayam yang diberi nama PT. Satwa Borneo Jawa (SBJ) Singkawang. Dengan bertambahnya breeding farm di Kalimantan Barat yang totalnya berjumlah tiga buah, yakni SBJ sendiri, PT. Cipta Khatulistiwa Mandiri (CKM), dan PT. Charoen Pokphand Jaya Farm (CPJF), maka ketergantungan anak ayam dari breeding farm di Jawa dapat diatasi. Pada tahun 2003 – 2004 marak penyakit u burung menyerang peternakan unggas di Indonesia. Kotoran unggas dianggap sebagai salah satu media penyebarannya. Bersama kesulitan datang kemudahan, setiap tantangan memberikan peluang. Tetiono mempunyai ide membuat pupuk organik berbahan kotoran ayam Berjabat tangan menguatkan tali
silaturahmi dapat memanjangkan usia
46 AGROBORNEO // Edisi 05 // Juni 2011

Mengucapkan selamat dan sukses atas terselenggaranya

Workshop dan Kongres Nasional III MAPORINA
“Peran Pertanian Organik dalam Meningkatkan Kemandirian Pangan yang Mensejahterakan Bangsa”

Opertion Room, Gedung Induk Depnakertrans

Jakarta, 27 Juli 2011

MJPF FARMA INDONESIA

Kerabang • Warna • Berat

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->