Anda di halaman 1dari 9

PIDANA MATI BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Pasal 10 KUHP menyatakan bahwa salah satu dari pidana pokok adalah Pidana Mati. Sebagaimana kita ketahui KUHP diberlakukan di Indonesia berdasarkan asas konkordansi, dimana seharusnya KUHP bersesuaian dengan Wetboek van straftrecht voor Indonesie berdasarkan Putusan Kerajaan tanggal 15 Oktober 1915 No. 33, Stb. Tahun 1915 No. 732 jo. Stb. Tahun 1917 No. 497 dan No. 645 mulai diberlakukan di Indonesia pada tanggal 1 Januari 1918. Padahal, pada waktuWetboek van starftrecht sendiri dibuat pada tahun 1881, di Belnda sendiri sudah tidak mengenal pidana mati. Karena lembaga pidana mati sudah dihapuskan dengan undang-undang tanggal 17 September 1870, Stb. Tahun 1870 No.182, dengan alasan eksekusi terhadap terpidana mati jarang dilakukan karena para terpidana hampir selalu mendapat pengampunan dari Ratu. Berangkat dari latar belakang inilah kami mengnngkat judul Pidana Mati sebagai judul makalah mata kuliah Hukum Penintensier kali ini. B. Permasalahan 1. Bagaimana penerapan Pidana mati dari masa ke masa ? 2. Bagaimana pengaturan tentang Pidana Mati di KUHP ?

BAB II PEMBAHASAN
A.Penerapan Pidana mati dari masa ke masa Jejak pidana mati dapat kita telusuri sampai ke tradisi-tradisi yang sangat kuno. Lex talionis dari umat Ibrani kuno sebenarnya mencerminkan satu langkah maju dalan sejarah peradaban, bahwa kerugian harus ditebus dengan denda atau retribusi yang sama nilainya : mata ganti mata, gigi ganti gigi. Jadi, hukum dikenal sebagai pengatur perilaku. Dalam umat Ibrani kuno hukum tersebut disebut sebagai hukum Hammurabi.hukum ini menerapkan hukuman mati secara tidak pandang bulu. Perbuatan-perbuatan berikut ini diancan hukuman mati : zinah, kekejaman setaraf binatang (bestiality), penghinaa terhadap Tuhan, mengutuk ayah atau ibu, melakukan hubungan seksual sumbang (incest), pemerkosaaa, dan praktek sihir. Cara eksekusi yang paling lazim adalah deng dirajam sampai mati. Masyarakat Yunani kuno pun mempraktekan pidana mati. Sokrates misalnya, dieksekusi mati dengan minum semangkuk racun pada tahun 399 SM atas tuduhan bahwa ia mempraktekan agama baru dan bahwa ajarannya berpengaruh buruk terhadap kaum muda sezamannya. Dari catatan Plato yang berjudul Euthypron, dikatakan bahwamenolak dan menghina Dewa yang umum disembah oleh masyarakat suatu ppolis merupakan bentuk ketidaksalehan yang diancam dengan pidana mati. Hukum Romawi Kuno juga mengenal pidana mati. Tapi, tidak hanya berupa summum supplicium (kematian), melainkan juga jenis-jenis hukuman yang mempengaruhi

secara serius status (caput) warga negra. Misalnya. Pembuangan atau pengasingan, pemecatan menetap dari jabatan atau pekerjaan. Perbuatan-perbuatan berikut ini biasanya diancam pidana mati : pengkhianatan terhadap Raja atau negara, zina dan

sodomi,pembunuhan, pemalsuan dokumen oleh budak-budak, korupsi, penculikan pada kondisi tertentu dan pemerkosaan. Di Swiss, sampai kurang lebih tahun 1400 para terpidana mati dibunuh dengan ditenggelamkan, hal ini terus berlangsung hingga tahun 1600-an. Pada tahun 1786 di Berlin, dilakukan dengan cara dibakar di tiang maut. Di Frank Furt jumlah hukuman mati adalah 317 pada abad ke15, 248 di abad ke-16, dan hanya 140 di abad ke-17. Di daerah Zurich dan Scharz 572 hukuman mati terjadi di abad ke-15, 336 di abad ke-17 dan hanya 149 di abad ke-12. Di Inggris terjadi 17 pelanggaran utama d awal abad ke-15, kemudian jumlahnya terus menurun lagi hingga sama dengan jumlah pada 4 abad sebelumnya. Pad periode ini di Inggris pidana mati sering dijatuhkan kepada pelanggaran yang bersifat agama, kemudian kebanyakan karena pelanggran atas hak milik dan banyak diantaranya hanya karena pelanggaran ringan saja. Pada tahun 1814, tiga anak laki-laki masing-masing berumur 8 tahun, 9 tahun dan 11 tahun dijatuh hukuman mati karena mencuri sepasang sepatu. Pada awal zaman modern, mayatnya digantung beberapa lama, sebagai peringatan kepada mereka yang berbuat jahat. Di bawah pimpinan Romily, Bentham, Peool, Mc Intosh, omtago Cruikshank dan yang lainnya, dengan bertambahnya kekuatan rakyat biasa penggunaan hukuman mati mulai menurun. Meskipun hukuman mati tidak jadi dijalankan, para anggota parlemen merasa keberatan untuk memperbaharui undang-undang penghukuman mati, karena khawatir akan bertambahnya jumlah pengkhianatan.

Selama abad yang baru terdapat kecenderungan yang mengarahkan untuk mencoba menghilangkan hukuman mati. Sekitar 30 negara telah menghilangkan hukuman mati dan di negara-negara lainnya hukuman mati hanya boleh dijatuhkan terbatas untuk pelanggaran yang bersifat pembunuhan. Di Indonesia, hukuman mati masih diakui oleh KUHP. Menurut J. E. Sahetapy, sejak kemerdekaan Indonesia hingga tahun 1978, jarang tedengar pengadilan negeri menjatuhkan pidana mati, kecuali pada kasus Kusnni Kasdut, kasus Oesin bin Oemar Batfari, dan kasus Djainar Ardo Sinaga. Hukuman mati merupakan keputusan yang sangat langka dan pelaksanaan eksekusi pun tidak biasa disiarkan melalui media. Dalam tahun 1995 terjadi beberapa eksekusimati. Kart Cahyadi (33) dihukum mati pada bulam Maret karena terbukti membunuh tiga orang, satu keluarga dalam bulan Februari 1990.

B. Pengaturan tentang Pidana Mati di KUHP Secara umum, pidana mati tercantum dalam Pasal 10 dan 11 KUHP. Sejauh ini, dalam KUHP, pasal-pasal yang mengandung ancaman pidana mati adalah pasal-pasal :104, 110 ayat (1), 110 ayat (2),111 ayat (2), 112,113,123, 124 ayat (1), 124 bis, 125,127, 129, 140 ayat (3), 185,340,444, 479k ayat (2), dan 4790 ayat (2). Itu untuk lex generalis, untuk lex specialis, yang mengadung ancaman pidana mati diantaranya adalah UU No. 7/DRt/1955 tentang Tindak Pidana Ekonomi, Undang-undang No. 22 Tahun 1997 tentang Tindak Pidana Narkotik dan Psikotropika, undang-undang No 31 tahun 1999 yang telah diubah dengan undan-undang No 20 Tahun 2001 tentang Tindak Pidana Korupsi, Undangundang No 26 Tahun 2000 tentang Tindak Pidana terhadap HAM, perppu Tindak pemberantasan Terorisme yang telah disahkan menjadi undang-undang.

Menurut Pasal 11 KUHP, pidana mati dilakukan oleh seorang algojo yang dilaksanakan oleh terpidana di atas tiang gantungan, yakni dengan mengikatkan sebuah jerat pada leher terpidana yang terikat pada tiang gantungan dan kemudian menjatuhkan papan tempat ia berdiri. Pelaksanaan pidana mati kemudian diuabha melalui Penetapan Presiden (Penpres) tanggal 27 April 1964 No. 2 tahun 1964, LN. Tahun 1964 No. 38 yang kemudian menjadi undang-undang No. 2 Pnps tahun 1964, yaitu dengan cara ditembak sampai mati. Pasal 2 hingga Pasal 16 undang-undang No. 2 tentang Pnps tahun 1964 menjelaskan tentang cara-cara melaksanakan pidana mati, yaitu sebagai berikut :
a.

dalam jangka waktu tiga kali dua puluh empat jam sebelum saat pidana mati

dilaksanakan, jaksa yang bersangkutan harus memberitahukan kepada terpidana tentang pelaksanaan pidana matinya. Apabila terpidana ingin menyampaikan pesan terakhir maka jaksa tersebut harus menerimanya. b. Jika terpidana adalah seoarang wanita hamil, maka eksekusi ditunda hingga

kelahiran anaknya c. Tempat pelaksanaan pidana mati ditentukan oleh Menteri Kehakiman, yakni

di daerah hukum dari pengadilan tingkat pertama yang telah memutuskan pidana mati yang bersangkutan
d.

Kepala polisi dari daerah yang bersangkutan berbertanggung jawab

mengenai pelaksanaan pidana mati tersebut setelah mendengar nasehat dari jaksa yang telah melakukan penuntutan pidana mati pada peradilan tingkat pertama. e. Pelaksanaan pidana mati dilakukan oleh regu penembak polisi di bawah

pimpinan seorang perwira polisi.

f.

Kepala polisi dari daerah yang bersangkutan (atau perwira yang ditunjuk0

harus menghadiri pelaksanaan pidana mati itu, dan pembela terpidana atas permintaannya sendiri atau terpidana dapat menghadirinya. g.
h.

Pelaksanaan pidana mati tidak boleh di muka umum Penguburan jenazah terpidana diserahkan kepada keluarga atau kepada yang bersifat

sahabt-sahabat terpidana, dan harus dicegah pelaksanaan

demonstratif, kecuali demi kepentingan umum jaksa dapat menentukan lain. i. Setelah eksekusi selesai, maka jaksa membuat berita acara mengenai

pelaksaanaan pidana mati itu, dimana berita acara tersebut harus dicantumkan dalan Surat Keputusan dari pengadilan yang bersangktuan. Pelaksanaan pidana mati dalam lingkungan Pengadilan Militer pada dasarnya sama dengan pelaksanaan pidana mati di lingkungan pengadilan umu, hanya terdapat beberapa perbedaan yaitu sebagia berikut : a.
b.

Kata-kata jaksa diganti dengan kata ditur militer; Kata Menteri Kehakiman diganti dengan Menteri Pertahanan-Panglima

Angkatan Bersenjata; c. d. e. Kata regu penembak polisi diganti dengan regu penembak militer; Kata Kepala Polisi daerah diganti Panglima Daerah atau Komandan daerah; Apabila terpidana adalah anggota militer, maka harus memakai pakaian

dinas harian tanpa tanda pangkat atau tanda lainnya.

Selain itu, untuk melaksanakan pidana mati perlu juga memperhatikan ketentuan dalam Pasal 2 Undang-undang No. 3 Tahun 1950 tentang Permohonan Grasi yang menyatakan :
(1)

Jika pidana mati dijatuhkan oleh pengadilan, maka pelaksanaan pidana mati

tidak boleh dilaksanakan selama 30 hari terhitung mulai hari berikut dari keputusan itu menjadi tidak dapat diubah kembali, dengan pengertian bahwa dalam hal keputusan dalam pemeriksaan ulangan yang dijatuhkan oleh pengadilan ulangan, tenggang waktu 30 hari itu dihitung mulai haru berikutnya dari hari keputusan itu telah diberitahukan kepada terpidana.
(2)

Jika terpidana dalam tenggang waktu yang tersebut dalam ayat (1) tidak

mengajukan permohonan grasi, maka panitera tersebut dalam Pasal 6 ayat(1) yakni panitera dari pengadilan yang memutuskan perkaranya pada tingkat pertama segera harus memeberitahukan hal iu kepada hakim atau Ketua Pengadilan dan jaksa atau kepala Kejaksaan tersebut dalam Pasal 8 ayat (1), Ayat(3) dan ayat(4) yakni hakim, ketua pengadilan, kepala kejaksaan pada pengadilan yang memutus pada tingkatpertama serta jaksa yang melakukan penuntutan pada peradilan tingkat pertama dengan catatan bahwa ketentuan-ketentuan dalam Pasal 8 berlaku dalam hal ini.
(3)

Pidana mati itu tidak dapat dilaksanakan sebelum putusan presiden itu

sampai pada kepala kejaksaan yang dimaksud dalam Pasal 8 ayat (3) atau pada pegawai yang diwajibkan putusan Hakim.

BAB III KESIMPULAN


1.

Penerapan Pidana mati dari masa ke masa, pidana mati telah lama dikenal

sejak masa kuno atau sebelum masehi, dengan berbagai bentuk dan alsan mengapa pidana mati dijatuhkan. Pada perkembangannya pidana mati di berbagai negara mulai dihilangkan atau dipersempit wilayahnya.
2.

Secara umum, pidana mati tercantum dalam Pasal 10 dan 11 KUHP. Sejauh

ini, dalam KUHP, pasal-pasal yang mengandung ancaman pidana mati adalah pasalpasal :104, 110 ayat (1), 110 ayat (2),111 ayat (2), 112,113,123, 124 ayat (1), 124 bis, 125,127, 129, 140 ayat (3), 185,340,444, 479k ayat (2), dan 4790 ayat (2). Itu untuk lex generalis, untuk lex specialis, yang mengadung ancaman pidana mati diantaranya adalah UU No. 7/DRt/1955 tentang Tindak Pidana Ekonomi, Undangundang No. 22 Tahun 1997 tentang Tindak Pidana Narkotik dan Psikotropika, undang-undang No 31 tahun 1999 yang telah diubah dengan undan-undang No 20 Tahun 2001 tentang Tindak Pidana Korupsi, Undang-undang No 26 Tahun 2000 tentang Tindak Pidana terhadap HAM, perppu Tindak pemberantasan Terorisme yang telah disahkan menjadi undang-undang.

Daftar Pustaka

P. A. F. Lamintang. Hukum Penintensier Indonesia. Bandung : Armico.

1984.

Sutherland & Cressey. The Control Of Crime : Hukuman dalam

perkembangan Hukum Pidana. Bandung :Tarsito. 1974. 1997. Yong Ohoitimur. Teori Etika tentang Hukuman Legal.Jakarta :Gramedia.