Anda di halaman 1dari 29

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Sistem pelayanan kesehatan merupakan bagian penting dalam

meningkatkan derajat kesehatan, terutama dalam pelayanan keperawatan yang merupakan bagian penting dalam pelayanan kesehatan, karena melalui asuhan keperawatan yang baik dan berkesinambungan, maka kebutuhan bio, psiko, sosial, spiritual dan kultural dapat terpenuhi. (A. Azis Alimul H, 2004). Sejalan dengan hal tersebut diatas, pelayanan keperawatan dirumah sakit juga mengalami perkembangan. Tidak hanya berupa bagaimana penyembuhan klien atau mengurangi rasa sakit akan tetapi berkembang menjadi proses keperawatan yang pada intinya mengajak klien dan keluarga untuk bekerja sama dalam proses penyembuhan terorganisasi. Hal ini menuntut perawat untuk memberikan pelayanan yang professional yang komprehensif meliputi aspek bio, psikososio, spiritual, yang ditujukan pada individu, keluarga atau masyarakat yang sehat ataupun yang sakit. (A. Azis Alimul H, 2004). Keperawatan adalah suatu bentuk peleyanan profesional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan, yang didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan, berbentuk pelyanan boipsikososial yang kofrehaensif, dan ditujikan kepada individu, keluarga, dan mayarakat baik sehat maupun sakit yang mencakup seluruh proses kehidupan manusia. (A.Asis Alimul Hidayat ; 2004 ) Kemajuan tehnologi yang dewasa ini berkembang dengan pesat telah merubah pola dan gaya hidup masyarakat. Gaya hidup ini cenderung mengarah kepada pola makan dan activitas masyarakat yang meningkatkan potensi tumor. Penderita dengan tumor sering datang dengan keluhan hanya

pembengkakan di abdomen tanpa ada gejala lain atau ditemukan. Pada tumor primer, harus dipikirkan prosesnya jinak atau ganas. Pembesaran hati disebabkan oleh proses non-neoplastik atau barangkali oleh adanya massa lain di abdomen.

(http://www.tempo.co.id/medika/arsip/082001/pus-3.htm) Secara patologi tumor abdomen dapat meluas ke retroperitonium, dapat terjadi obstruksi ureter atau vena kava inferior. Massa jaringan fibrosis mengelilingi dan menentukan struktur yang di bungkusnya tetapi tidak menginvasinya. (http//tumor.abdomen.html) Berdasarkan dari temuan data medical record BPRSUD.Labuang Baji Makassar angka kejadian yang menderita tumor secara umum sebagai berikut : No Tahun Laki2 1 2 3 2006 2007 2008 628 216 47 % 45,1 45,5 36,7 Perempuan 763 259 81 % 54,9 54,5 63,3 Meninggal % 8 1 2 0,6 0,2 1,6 Jumlah 1391 475 128

Berdasarkan uraian tersebut, maka penulis tertarik untuk mengangkat judul Asuhan keperawatan pada klien dengan ganguan sistem pencernaan : Tumor Abdomen di ruang perawatan bedah Badan Pengelolah Rumah Sakit Umum Daerah Labuang Baji Makassar. B. Tujuan 1. Tujuan Umum Untuk memperoleh informasi atau gambaran umum tentang

pelaksanaan asuhan keperawatan pada klien Dengan gangguan sistem pencernaan ruang Perawatan Bedah 2. Tujuan Khusus a. Memperoleh gambaran yang nyata dalam pengkajian, analisa dan diagnosa keperawatan yang terjadi pada klien dengan gangguan sistem b. Memperoleh gambaran yang nyata dalam menetapkan perencanaan asuhan keperawatan Klien dengan gangguan sistem pencernaan; tumor abdomen. Memperoleh gambaran yang nyata dalam melaksanakan Asuhan

Keperawatan dengan gangguan sistem pencernaan; tumor abdomen

d. Memperoleh gambaran yang

nyata dalam melaksanakan evaluasi

keperawatan yang telah di berikan berdasarkan tujuan yang telah di tentukan sebelumnya kepada dengan gangguan sistem pencernaan; tumor abdomen. e. Memperoleh gambaran tentang kesenjangan yang terjadi antara teori dan praktek serta perbandingan antara kasus yang sama. f. Dapat mendokumentasikan asuhan keperawatan yang telah dibuat.

BAB II TINJAUAN TEORITIS

A. Konsep Dasar 1. Pengertian a. Tumor adalah : merupakan kumpulan sel abdormal yang terbentuk oleh sel-sel yang tumbuh terus mennerus, tidak terbatas, tidak terkoordinasi dengan jaringan disekitarnya serta tidak berguna bagi tubuh. (Kusuma, Budi 2001) b. Tumor adalah : benjolan yang disebabkan oleh oleh pertumbuhan sel dengan pertumbuhan yang terbatas dan lonjong. (E. Oswari, 2000) c. Tumor adalah : massa padat besar, meninggi dan berukuran lebih dari 2 cm. ( Carwin, Elizabeth.J. 2000) d. Tumor abdomen : merupakan massa yang padat dengan ketebalan yang berbeda-beda, yang disebabkan oleh sel tubuh yang yang mengalami transformasi dan tumbuh secara autonom lepas dari kendali pertumbuhan sel normal, sehingga sel tersebut berbeda dari sel normal dalam bentuk dan strukturnya. Secara patologi kelainan ini mudah terkelupas dan dapat meluas ke retroperitonium, dapat terjadi obstruksi ureter atau vena kava inferior. Massa jaringan fibrosis mengelilingi dan menentukan struktur yang di bungkusnya tetapi tidak menginvasinya. (http///tumor abdomen.html)

2.

Anatomi fisiologi sistem pencernaan a. Mulut Mulut atau oris adalah permulaan saluran pencernaan yang terdiri atas 2 bagian yaitu bagian luar yang sempit atau vestibula yaitu ruang di antara gusi, gigi, bibir, dan pipi. Bagian rongga mulut bagian dalam, yaitu rongga mulut yang dibatasi sisinya oleh tulang

maksilaris, palatum dan mandibularis, di sebelah belakang bersambung dengan faring. 1) Gigi Gigi dewasa berjumlah 32 yang terdiri dari gigi seri untuk memotong makanan, gigi taring untuk memutuskan makanan yang keras dan liat dan gigi geraham untuk mengunyah makanan yang sudah dipotong-potong. 2) Lidah Lidah terdiri dari otot serat lintang dan dilapisi oleh selaput lendir, kerja otot lidah ini dapat digerakkan keseluruh arah. Fungsi lidah itu sendiri yaitu mengaduk makanan, membentuk suara, sebagai alat pengecap dan menelan, seta merasakan makanan. 3) Kelenjar ludah Kelenjar ludah merupakan kelenjar yang mempunyai duktus yang bernama wartoni dan duktus stensoni. Kelenjar ludah ada dua yaitu kelenjar submaksilaris dan sublingualis. b. Faring Merupakan organ berhubungan rongga mulut dengan

kerongkongan (esofagus). Di dalam lengkung faring terdapat tonsil (amandel) yaitu kumpulan kelenjar limfe yang banyak mengandung limfosit dan merupakan pertahanan terhadap infeksi. Tekak terdiri dari bagian superior (bagian yang sama tinggi dengan hidung) bagian media (bagian yang sama tinggi denagn mulut), dan bagian inferior (bagian yang sama tinggi dengan laring). Bagian superior disebut nasofaring, pada nasofaring bermuara tuba yang menghiubungkan tekak denan ruang gendang telinga.

c. Esofagus Esofagus merupakan saluran yang menghubungkan tekak dengan lambung panjangnya 25cm, mulai dari faring sampai pintu masuk kardiak di baeah lambung. Lapisan dinding dari dalam ke luar: lapisan selaput lendir (mukosa), lapisan submukosa, lapisan otot melingkar sirkuler, dan lapisan otot memenjang longitudinal. Esofagus terletak di belakang trakea dan di depan tulang punggung, setelah malaului toraks menembus difragma masuk ke dalam abdomen menyambung dengan lambung. d. Lambung Lambung atau gaster merupakan bagian dari saluran yang dapat mengembang paliung banyak terutama di daerah epigaster. Lambung terdiri dari bagian atas fundus uteri berhubungan denagan esofagus melalui orifisium pilorok, terletak di bawah diafragma di depan pankreas dan limpa, memempel di sebelah kiri fundus uteri. Bagian lambung terdiri dari : 1) Fundus ventrikuli, bagian yang menonjol ke tas terletak sebelah kiri osteum kardium dan biasanya penuh berisi gas. 2) Korpus ventrikuli, setinggi osteum kardium, sustu lekukan pada bagian bawah kurvatura minor. 3) Antrum pilorius, bagian lambung berbentuk tabung mempunyai otot yang tebal membentuk sfingter pilorius. 4) Kurvatura minor, terdapat di sebelah kanan lambung, terbentang dari osteum kardiak sampai ke pilorus. 5) Kurvantura mayor, terdapat lebih panjang dari kurvantura minor, terbentang dari sisi kirio osteum kardiak malalui fundus ventrikuli menuju ke kanan sampai bagian atas kurvantura mayor sampai ke limpa. 6) Osteum kardiak, merupakan tampat esofagus bagian abdoman masuk ke lambung. Pada bagian ini terdapat orifisium pilorik.

Sekresi getah lambung mulai terjadi pada awal orang makan. Bila melihat makanan dan mencium bau makanan maka sekresi lambing akan terangsang. Rangsangan kimiawi yang menuebabkan dinding lambung melepaskan hormon yang disebut getah lambung. Getah lambung di halangi oleh sistem saraf simpatis yang dapat terjadi pada waktu gangguan emosi seperti marah dan rasa takut. e. Usus halus Usus halus atau intestium minor adalah bagian dari sistem pencernaan makanan yang berpangkal pada piloris dan berakhir pada sekum panjangnya 6m, merupakan saluran paling panjang tempat proses pencernaan dan absorbsi hasil pencernaan yang terdiri dari lapisan usus halus (lapisan mukosa[sebelah dalam], lapisan

pencernaan terdiri dari lapisan otot melingkar [m.sirkuler], lapisan otot memanjang [m.longi tudinal] dan lapisan serosa [sebelah luar]). 1) Duedenum Duedenum disebut juga usus 12 jari, panjangnya 25 cm, berbentuk sepatu kuda melengkung ke kiri, pada lengkungan iniv terdapat pankreas. Pada bagaian kanan duedenum terdapat selaput landir, yang membukit disebut papila vateri yang bermuara di saluran empedu. Dinding duedenum mempunyai lapisan mukosa yang banyak mengandung kelenjar, kelenjar ini disebut Brunnern berfungsi untuk memproduksi getah intestinum. 2) Jejenum dan ilieum Jejenum dan ileum memiliki panjang sekitar 6 meter. Dua perlima bagian atas adalah (jejenum) dengan panjang 23 meter dan ileum denagan panjang 4-5 meter. Lekukan jejenum dan ileum melekat pada dinding abdomen poesterior dengan

perantaraan lipatan peritonium yang berbentuk kipas dikenal sebagai mesenterium. f. Usus besar Usus besar atau intestum mayor panjangnya 1,5 m, lebarnya 56 cm. lapisan lapisan usus besar dari dalam ke luar: selaput lendir, lapisan otot melingkar, usus besar dari dalam ke luar: selaput lendir, lapisan otot melingkar, lapisan otot memanjang, jaringanj ikat. Fungsi usus brsar adalah menyerap air dan makanan. Tempat tinggal bakteri koli, tempat feces. 1) Sekum Dibaeah sekum terdpat apendiks vermiformis yang berbentuk sepereti cacing sehingga disebut juga imbai cacing, panjangnya 6 cm. selurihnya ditutupi oleh peritoneum mudah bergerak walaupun tidak mempunyai mesentrium dan dapat diraba melalui dinding abdomen pada orang uang masih hidup. 2) Kolon asendens Panjangnya 13 cm, terletak di bawah abdimen sebelah kana, membujur ke atas dari ileum ke bawah hati. Di bwah hati melengkung ke kiri, lengkungan ini disebut fleksura hepatika, di lanjutkan sebagai kolon transversum.

3)

Apendiks (usus halus) Bagian dari usus halus yang muncul seperti corong dari ujung sekum, mempunyai pintu keluar yang sempit tetapi

memungkinkan dapat dilewati oleh beberapa isi usus. Apendiks tergantung menyilang pada linea terminalis masuk ke dalam rongga pelvis minor, terletak horizontal di belakang sekum. Sebagai suatu organ pertahanan terhadap infeksi

kadang apendiks bereaksi secara hebat dan hiperaktif yang bisa nenimbulkan peforasi dindingnya ke dalam rongga abdomen. 4) Kolon trasversum Panjangnya 38 cm, membujurdari kolon asendens sampai desendens berada di bawah abdomen, sebelah kana terdapat fleksura linealis 5) Kolon desendens Panjangnya 25 cm, terletak di baeah abdomen bagian kiri membujur dari atas ke bawah dan fleksura linealis sampai ke depan ileum kiri, brsambung denagan kolon sigmpid. 6) Kolon sigmoid Kolon sigmoid merupakan lanjutanm dari kolon desendens, terletak miring dalam rongga pelvis sebelah kiri, berbentuk menyerupai huruf S, ujung bawahnya berhubungan dengan rektum.

g. Rektum Rektum terletak di bawah kolon sigmoid yang menghubungkan intestium mayor dan anus, terletak di dasr pekvis, dindingnya diperkuat oleh 3 sfingter: 1) Sfingter ani internus (sebelah atas), bekerja tidak menurut kehendak. 2) 3) Sfingter levator ani, bekerja juga tidak menurut kehjendak. Sfingter ani eksternus (sebelah bawah), bekrja menurut kehendak. ( H. Syaiffudin, 2003)

10

Gambar anatomi pencernaan manusia :

11

Anatomi fisiologi yang berhubungan. Abdomen ialah rongga terbesar dalm tubuh. Bentuknya lonjong dan meluas dari atas diafragma sampai pelvis di bawah. a. Anatomi rongga abdomen Rongga abdomen di batasi oleh : 1.) Atas 2.) Bawah 3.) Depan 4.) Lateral : diafragma : pelvis : dinding depan abdomen : dinding lateral abdomen

5.) Belakang : dinding belakang abdomen serta tulang belakang. Isi abdomen sebagian besar dari saluran pencernaan yaitu lambumg, usus halus dan usus besar. Lambung adalah bagian dari saluran pencernaan yang dapat mekar paling banyak. Terletak di epegastrik, dan sebagian di sebelah kiri hipokhodriak dan umbilical.lambung terletak di bawah difragma, di depan pangkrea. Dan limpa menempel pada sebelah kiri fundus. Hati menempati bagian kanan atas, terletak di bawah diafragma, dan menutupi lambung bagian pertama usu halus. Kandung empedu terletak di bawah hati. Pangkreas terletak di belakang lambung, dam limpa terletak di dekat ujung pangkreas. Ginjal dan kelenjar suprarenal berada diatas dinding posterior abdomen dari ginjal. Aorta abdominalis, vena cava interior, reseptakulum khili dan sebagian dari saluran torasika terletak di dalam abdomen. Pembuluh limfe dan kelenjar, urat saraf, peritoneum dan lemak juga di jumpai di dalam rongga ini. (Evelyn Pearce, 2002) Diafragma merupakan suatu kubah yang menonjol dalam rongga torax. Diafragma ini turut dalam pernafasan. Pada inspirasi akan turun ke bawah, pada ekspirasi akan naik ke atas. Pada saat ekspirasi maksimal akan berada

12

setinggi kira-kira 4 pada garis midklavikularis, yang kurang lebih sama dengan papilla mammae pada laki-laki. Dengan demikian pada trauma toraks, baik tumpul maupun tajam, bila ditemukan sampai setinggi papilla mamae (pada laki-laki) harus diwaspadai adanya trauma abdomen juga. Organ yang terlindung dalam pelvis adalah rektum, buli-buli dan uterus, dengan demikian organ yang tidak terlindungi adalah usus halus dan sebagian besar kolon. Ke-2 ginjal karena letaknya yang di daerah belakang ( dorsal) relatif terlindungi. Hepar dan lien tidak mempunyai lumen atau solid, dan trauma pada ke-2 organ ini akan menimbulkan perdarahan yang akan terkumpul dalam rongga peritionium. Keadaan ini di kenal dengan hemoperitorium. Robekan usus juga dapat menimbulkan perdarahan intra-peritonial. Gaster, usus halus dan usus besar mempunyai lumen. Dengan demikian bila terjadi perforasi, isinya akan tumpah dalam rongga peritonium dan menimbulkan peritonitis. Bila yang masuk rongga peritonium adalah asam lambung maka rangsangan kimia akan segera maninbulkan gejala peritonitis, sedangkan bila yang masuk rongga pertonium adalah isi usus halus atau kolon. Gejala yang akan timbul akan lambat (Syaifuddin, 2003).

a. Etiologi Penyebab terjadinya tumor karena terjadinya pembelahan sel yang abnormal. Pembedaan sel tumor tergantung dari besarnya penyimpangan dalam bentuk dan fungsi aotonomnya dalam pertumbuhan, kemampuanya mengadakan infiltrasi dan menyebabkan metastasis. Ada beberapa factor yang dapat menyebabkan terjadinya tumor antara lain: 1) Karsinogen 2) Hormone 3) Gaya hidup, kelebihan nutrisi khususnya lemak dan kebiasaan makan makanan yang kurang berserat.

13

4) Parasit : parasit schistososma hematobin yang mengakibatkan karsinoma planoseluler. 5) Genetic 6) Infeksi, trauma, hipersensitivitas terhadap obet-obatan. ( http///tumor abdomen.html) b. Insiden Tumor adalah penyakit kedua setelah penyakit kardiovaskuler yang menyebabkan kematian utama di Amerika Serikat. Lebih dari 496.000 orang Amerika meninggal akibat proses maligna, setiap tahunnya. Memperlihatkan frekuensinya, penyebab kematian akibat tumor di Amerika Serikat meliputi kanker paru, prostate, dan area kolorektal pada pria dan pada tumor paru, payudara, dan area kolorektal pada wanita.(Smelstzer, Suzanne C.2001)

c.

Patofisiologi Tumor adalah proses penyakit yang bermula ketika sel abnormal di ubah oleh mutasi ganetic dari DNA seluler, sel abnormal ini membentuk kolon dan berpopliferasi secar abnormal, mengabaikan sinyal mengatur pertumbuhan dalam lingkungan sekitar sel tersebut. Sel-sel neoplasma mandapat energi terutama dari anaerob karena kempuan sel untuk oksidasi berkurang, meskipun mempunyai enzim yang lengkap untuk oksidasi. Susunan enzim sel uniform sehingga lebih mengutamakan berkembang biak yang membutuhkan energi unruk anabolisme daripada untuk berfungsi yang lmenghasilkan energi dengan jalan katabolisme. Jarinagan yang tumbuh memerlukan bahan-bahan untuk membentuk protioplasma dan energi, antara lain asam amino. Sel-sel neoplasma dapat mengalahkan sel-sel normal dalm mendapatkan bahan-bahan

tersebut.(Kusuma, Budi drg. 2001). Ketika dicapai suatu tahap diman sel mendapatkan ciri-ciri invasi, dan terjadi perubahan pada jaringan sekitarnya. Sel-sel tersebut menginfiltrasi jaringan

14

sekitar dan memperoleh akses ke limfe dan pembuluh-pembuluh darah, melalui pembuluh darah tersebut sel-sel dapat terbawa ke area lain dalam tubuh untuk membentuk metastase (penyebaran tumor) pada bagian tubuh yang lain. Meskipun penyakit ini dapat diuraikan secara umumn seperti yang telah digunakan, namun tumor bukan suatu penyakit tunggal dengan penyebab tunggal : tetapi lebih kepada suatu kelompok penyakit yang jelas denagn penyebab, metastase, pengobatan dan prognosa yang berbeda.(Smelstzer, Suzanne C.2001). d. Manifestasi Klinik 1) 2) 3) Hiperplasia Konsistensi tumor umumnya padat atau keras Tumor epital biasanya mengandung sedikit jaringan ikat dan apabila berasal dari masenkim yang banyak mengandung jaringan ikat maka akan elastic kenyal atau lunak. 4) 5) 6) 7) 8) 9) Kadang tampak hipervaskulari disekitar tumor. Biasa terjadi pengerutan dam mengalami retraksi. Edema disekitar tumor disebabkan infiltrasi kepembuluh limfe. Nyeri Anoreksia, mual, muntah. Penurunan berat badan. (http///tumor abdomen.html)

e.

Test diagnostik Prosedur diagnostik yang biasa dilakuakan dalam mengevakluasi malignansi meliputi : 1) Marker tumor Substansi yang ditemukan dalam darah atau cairan tubuh lain yang dibentuk oleh tumor atau oleh tubuh dalam berespon terhadap tumor. 2) Pencitraan resonansi magnetic (MRI)

15

Penggunaan medan magnet dan sinyal frekuensi_radio untuk menghasilkan gambatan berbagai struktur tubuh. 3) CT Scan Menggunakan pancaran sinar sempit sinar-X untuk memindai susunan lapisan jaringan untuk memberikan pandangan potongan melintang. 4) Flouroskopi Menggunakan sinar-X yang memperlihatkan perbedaan ketebalan antar jaringan; dap[at ,mencakup penggunaan bahan kontras. 5) Ultrasound Echo dari gelombang bunyi berfrekuensi tinggi direkam pada layer penerima, digunkan untuk mengkaji jarinagn yang dalam di dalam tubuh. 6) Endoskopi Memvisualkan langsung rongga tubuh atau saluran denagan

memasukan suatu ke dalam rongga tubuh atau ostium tubuh; memungkinkan dilakukannya biopsy jaringan, aspirasi dan eksisi tumor yang kecil. 7) Pencitraan kedokteran nuklir Menggunakan suntikan intravena atau menelan bahan radiosisotope yang diikuti dengan pencitraan yang menkadi yempat berkumpulnya radioisotope.(Smeltzer, Suzanne C.2001).

f.

Penatalaksanaan medic 1) Pembedahan Pembedahan adalah modalitas penanganan utama, biasanya

gasterektoni subtotal atau total, dan digunakan untuk baik pengobatan maupun paliasi. Pasien dengan tumor lambung tanpa biopsy dan tidak ada bukti matastatis jauh harus menjalani laparotomi eksplorasi atau seliatomi untuk menentukan apakah pasien harus menjalani prosedur kuratif

16

atau paliatif. Komplikasi yang berkaitan dengan tindakan adalah injeksi, perdarahan, ileus, dan kebocoran anastomoisis.(Smeltzer, Suzanne C. 2001) 2) Radioterapi Penggunaaan partikel energy tinggi untuk menghancurkan sel-sel dalam pengobatan tumor dapat menyebabkan perubahan pada DNA dan RNA sel tumor. Bentuk energy yang digunakan pada radioterapi adalah ionisasi radiasi yaitu energy tertinggi dalam spektrum elektromagnetik. 3) Kemoterapi Kemoterapi sekarang telah digunakan sebagai terapi tambahan untuk reseksi tumor, untuk tumor lambung tingkat tinggi lanjutan dan pada kombinasi dengan terapi radiasi dengan melawan sel dalam proses pembelahan, tumor dengan fraksi pembelahan yang tinggi ditangani lebih efektif dengan kemoterapi. 4) Bioterapi Terapi biologis atau bioterapi sebagai modalitas pengobatankeempat untuk kanker dengan menstimulasi system imun(biologic response modifiers/BRM) berupa antibody monoclonal, vaksin, factor stimulasi koloni, interferon, interleukin.(Danielle Gale. 2000).

17

B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan 1. Pengkajian Pengkajian merupakan tahap awal dan merupak dasar proses

keperawatan diperlukan pengkajian yang cermat untuk mengenal masalah klien agar dapat memberikan rah kepada tindakan keperawatan. Keberhasilan keperawatan sanagat tergantung kepada kecermatan dan ketelitian dalam pengkajian. Tahap pengkajian ini terdiri dari empat komponen antara lain : pengelompokan data, analisa data, perumusan diagnosa keperawatan. Data dasar pengkajian klien : a. Aktiviutas istirahat Gelaja : kelemahan dan keletihan b. Sirkulasi Gejala : palpitasi, nyeri, dada pada pengarahan kerja. Kebiasaan : perubahan pada TD c. Integritas ego Gejala : alopesia, lesi cacat pembedahan Tanda : menyanhkal, menarik diri dan marah d. Eliminasi Gejala : perubahan pada pola defekasi misalnya : darh pada feces, nyaeri pada defekasi. Perubahan eliminasi urunarius misalnya nyeri atau ras terbakar pada saat berkemih, hematuria, sering berkemih. Tanda : perubahan pada bising usus, distensi abdomen. e. Makanan/cairan Gejala : kebiasaan diet buruk ( rendah serat, tinggi lemak, aditif bahan pengawet). Anoreksisa, mual/muntah. Intoleransi makanan Perubahan pada berat badan; penurunan berat badan hebat, berkuranganya massa otot.

18

Tanda : perubahan pada kelembapan/tugor kulit, edema. f. Neurosensori Gejala : pusing, sinkope. g. Nyeri/kenyamanan Gejala : tidak ada nyaerin atau derajat bervariasi misalnya

ketidaknyamanan ringan sampai berat (dihubungkan dengan proses penyakit) h. Pernafasan Gejala : merokok(tembakau, mariyuana, hidup denan sesoramh yang merokok.) Pemajanan asbes. i. Keamanan Gejala : pemajanan bahan kimia toksik. Karsinogen Pemajanan matahari lama/berlebihan. Tanda : demam, ruam kulit, ulserasi.

j.

Seksualitas Gejala : masalah seksualitas misalnya dampak pada hubungan perubahan pada tingkat kepuasan. Nuligravida lebih besar dari usia 30 tahun Multigravida, pasangan seks miltifel, aktivitas seksual dini.

k. Interaksi sosial Gejala : ketidakadekuatan/kelemahan sotem pendikung. Riwayat perkawinan (berkenaan dengan kepuasan di rumah dukungan, atau bantuan).

19

2.

Diagnose keperawatan yang lazim muncul Pre operasi a) Ketakuatan/ansietas b/d perubahan status kesehatan. b) Nyeri (akut) b/d proses penyakit c) Resiko tinggi terhadap diare d) Kurang pengetahuan mengenai prognisis dan kebutuhan pengobatan. Post operasi a) Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan tindakan pembedahan. b) Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan akibat tindakan operasi. c) Resiko infeksi berhubungan dengan adanya luka operasi. d) Gangguan pemenuhan nutrisi berhubungan dengan intake yang tidak adekuat. e) Kerusakan intregitas kulit/jaringan berhubungan dengan insisi bedah.

3. Rencana keperawatan Pre operasi a. Ansietas/cemas berhubungan dengan perubahan status kesehatan. Kemungkinan dibuktikan oleh: peningkatan ketegangan, gelisah,

mengekspresikan masalah mengenai perubahan dalam kejadian hidup. Hasil yang diharapkan : Menunjukkan rentang yang tepat dari perasaan dan berkurangnya rasa takut Tampak rileks dan melaporkan ansietas berkurang pada tingkat dapat diatasi. Mendemonstrasikan penggunaan mekanisme koping efektif dan partisipasi aktif dalam pengaturan obat.

20

Intervensi 1) Dorong klien pikiran

Rasional untuk 1) dan Memberikan kesempatan untuk memeriksa takut realistis serta kesalahan diagnosis. konsep tentang

mengungkapkan perasaan.

2) Berikan lingkungan terbuka dimana 2) klien merasa aman untuk

Membantu klien untuk merasa diterima pada adanya kondisi tanpa perasaan dihakimi dan

mendiskusikan perasaannya.

meningkatkan rasa terhormat. 3) Pertahankan kontak sesering 3) Memberikan keyakinan bahwa

mungkin dengan klien. 4) Bantu klien/keluarga dalam 4)

klien tidak sendiri atau ditolak. Dukungan dan konseling sesering diperlukan untuk memungkinkan individu mengenal dan

mengenali dan mengklasifikasikan rasa takut untuk memulai

mengembangkan strategi koping. 5) Berikan informasi yang akurat 5)

menghadapi rasa takut. Dapat menurunkan ansietas

b. Nyeri berhubungan dengan proses penyakit. Kemungkinan dibuktikan oleh: keluhan nyeri, respon autonomic gelisah, perilaku berhati-hati Hasil yang diharapkan : Melaporkan nyeri yang dirasakan menurun atau menghilang Mengikutu aturan farmakologis yang ditentukan. Intervensi 1) Tentukan riwayat nyeri Rasional 1) Informasi dasar memberikan data

misalnya lokasi, durasi dan skala.

untuk /

mengevaluasi keefektifan

kebutuhan intervensi.

2) Berikan

tindakan

kenyaman

2) Dapat meningkatkan relaksasi

21

dasar misal: massage punggung dan aktivitas hiburan misalnya music. 3) Dorong keterampilan penggunaan penggunaan 3) Memungkinkan klien untuk

berpartisipasi secara aktif dalam meningkatkan rasa control.

keterampilan manajement nyeri misalnya relaksasi napas dalam. 4) Kolaborasi pemberian analgetik sesuai indikasi.

4) Analgetik dapat stimulus nyeri.

menghambat

c. Resiko tinggi terhadap diare b/d koping yang tidak adekuat Tujuan : mempertahankan pola defekasi umum. Intervensi 1) Kaji tingkat usus dan pantau/ catat gerakan usus termasuk frekuensi konsistensi. 2) Dorong masukan cairan Rasional 1) Mengidentifikasi misalnya konstipasi. 2) Dapat menurunkan potensial terhadap konstipasi dengan misalnya masalah diare,

adekuat(2000ml/jam)dan peningkatan.

memperbaiki konsistensi feces dan merangsang peristaltic;

dapat mencegah dehidrasi. 3) Berikan makan sedikit tapi 3) Menurunkan iritasi gaster,

sering dengan makanan rendah serat ( bila tidak dan kebutuhan

penggunaan makanan rendah serat dapat dan menurunkan memberikan

dikontraindikasi) mempertahankan protein karbohidrat.

iritabilitas

istirahat pada usus bila ada diare. 4) Stimulasi GI yang dapat

4) Pastikan diet yang tepat hindari makanan tinggi lemak.

meningkatkan

22

motilitas/frekuensi defekasi. 5) Pantau pemeriksaan 5) Ketidakseimbangan elektrolit

laboratorium sesuai indikasi.

mungkin akibat dari/pemberat untuk mengubah fungsi GI.

6) Pelunak feces, laksatif, enema sesuai indikasi.

6) Penggunaan prolaktif mencegah koplikasi lanjut pada klien.

d. Kurang pengetahuan b/d kurangnya informasi Tujuan : dapat mengungkapkan informasi akurat tentang diagnose dan aturan pengobatan. Intervensi 1) Tinjau ulang dengan klien/orang tedekat pemahaman diagnose Rasional 1) Memvalidasi pemahaman mengidentifikasi saat tingkat ini

khusus, alternative pengobatan dan sifat harapan.

kebutuhan

belajar dan memberiakan dasar pengobatan membuat dimana klien

keputusan

berdasarkan informasi. 2) Tentukan persepsi klien tentang kanker dan pengobatan kanker. 2) Membantu identifiokasi ide

,sikap, rasa takut, kesalahan konsepsi, dan kesenjanagan

pengetahaun tentang kanker. 3) Berikan informasi akurat dan jelas dalam cara yang nyata tetapi sensitive. 3) Membantu penilaian diagnose kanker, memberikan informasi yang diperlukan selama waktu menyerapnya. 4) Tinjau ulang aturan pengobatan khusus dan penggunaan obat yang dijual bebas. 4) Meningkatkan kemampuan

untuk mengatur perwatan diri dan menghindari potensial,

23

komplikasi, obat. 5) Tinjau ulang dengan klien/orang terdekat pentingnya 5) Meningkatkan

reaksi/interaksi

kesejateraan,

memudahkan pemulihan dan memumgkinkan mentoleransi pengobatan. klien

mempertahankan status nutrisi optimal. 6) Anjurkan meningkatkan

6) Meperbaiki konsistensi feces dan merangsang peristaltic.

masukan cairan dan serta dalam diet serta latihan teratur.

Post operasi a. Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan tindakan pembedahan. Tujuan : Mempertahankan volume cairan adekuat denga membrane mukosa lembab, turgor kulit dan pengisian kapiler baik tanda vital stabil dan haluaran urien adekuat. Intervensi Rasional

1. Pantau tanda-tanda vital dengan 1. Tanda-tanda awal hemoragi usus dan sering. Periksa balutan luka pembentukan hematoma yang dapat menyebabkan syok hepovelemik.

dengan sering selama 24 jam pertama darah terhadap merah tanda-tanda terang dan

berlebihan. 2. Palpasi nadi periver. Evaluasi 2. Memberikan pengisian kapiler turgor kulit, dan status membrane mukosa. 3. Perhatikan adanya edema. informasi tentang

volume sirkulasi umum dan tingkat hidrasi. 3. Edema dapat terjadi cairan Karena berkenaan

perpindahan

24

dengan penurunan kadar albumin (protein). 4. Indikator langsung dari hidrasi organ 4. Pantau masukan dan haluaran. dan fungsi. Memberikan pedoman untuk penggantian cairan. 5. Demam rendah umum selama 24-48 5. Pantau suhu tubuh. jam pertama dan dapat menambah kehilangan cairan.

b. Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan akibat tindakan operasi. Tujuan : Nyeri dapat berkurang ekspres wajah

Kriteria : Klien mengungkapkan nyeri berkurang dan normal. Intervensi 1. Kaji karakteristik nyeri. 1. Mengetahui

Rasional tingkat nyeri yang

dirasakan oleh klien sebagai acuan untuk intervensi selanjutnya. 2. Ukur tanda-tanda vital. 2. Mengetahui penyimpangan diharapkan. 3. Ajarkan tehnik relaksasi. 3. Untuk merelaksasi otot sehingga kemajuan dari hasil atau yang

mengurangi rasa nyeri. 4. Ajarkan nafas dalam dan batuk 4. Dengan nafas dalam dan batuk yang yang efektif. efektif dapat mengurangi tekanan darah pada abdomen yang dapat

menimbulkan rangsangan nyeri. 5. Penatalaksanaan pemberian obat 5. Obat analgetik dapat mengurangi atau

25

analgetik.

menghilangkan rasa nyeri.

c. Resiko infeksi berhubungan dengan adanya luka operasi. Tujuan Kriteria : Resiko infeksi tidak terjadi. : Luka sembuh dengan baik, verband tidak basah dan tidak ada tanda-tanda infeksi (kalor, dolor, rubor, tumor). Intervensi Rasional

1. Kaji tanda-tanda infeksi dan vital 1. Mengetahui tanda-tanda infeksi dan sign. 2. Gunakan antiseptik. 3. Ganti verband. tehnik septik menentukan intervensi selanjutnya. dan 2. Dapat mencegah terjadinya kontaminasi dengan kuman penyebab infeksi. 3. Verban yang basah dan kotor dapat menjadi tempat berkembang biaknya kuman penyebab infeksi. 4. Berikan penyuluhan tentang cara 4. Memberikan pengertian kepada klien pencegahan infeksi. agar dapat mengetahui tentang

perawatan luka. 5. Penatalaksanaan pemberian obat 5. Obat antibiotik dapat membunuh kuman antibiotik. penyebab infeksi.

d. Gangguan pemenuhan nutrisi berhubungan dengan intake yang tidak adekuat. Tujuan : Nutrisi klien dapat terpenuhi.

26

Kriteria

Klien mengungkapkan nafsu makan baik, badan tidak lemah, dan HB normal.

Intervensi 1. Kaji intake dan out put klien.

Rasional 1. Untuk mengetahui kebutuhan nutrisi dan merupakan asupan dalam tindakan selanjutnya.

2. Timbang berat badan sesuai indikasi. 2. Mengidentifikasi status cairan serta memastikan kebutuhan metabolic. 3. Identifikasi kesukaan/ketidak sukaan 3. Meningkatkan diet dari pasien. Anjurkan pilihan makanan tinggi protein dan vitamin C. 4. Berikan cairan IV. kerja sama pasien

dengan aturan diet. Protein/ vitamin C adalah contributor utama unatuka

pemeliharaan jaringan dan perbaikan. 4. Memperbaiki elektrolit. keseimbangan Kehilangan cairan plasma;

penurunan albumin serum (edema) dan dapat memperpanjang penyembuhan luka. 5. Beriakan obat-obat sesuai indikasi. 5. Mencegah muntah dan menetralkan atau menurunkan prmbentukan asam untuk mencegah erosi mukosa.

e. Kerusakan intregitas kulit/jaringan berhubungan dengan insisi bedah. Tujuan : Mencapai pemulihan kluka tepat waktu tanpa komplikasi. Intervensi 1. Pantau tanda-tanda vital perhatikan demam, periksa luka dengan sering terhadap bengkak insisi berlebihan Rasional 1. Pembentukan hematoma/terjadinya infeksi, yang menunjang lambatnya pemulihan luka dan meningkatklan

27

resiko pemisahan luka. 2. Bebat insisi selama batuk dan latihan napas. Berikan pengikat atau penyokon untuk pasien gemuk bila di indikasikan 3. Gunakan plester kertas untuk balutan sesuai indikasi. 2. Meminimalkan stress/tegangan pada tepi luka yang sembuh. Jaringan lemak sulit menyatu, dan garis jahitan lebih mudah terganggu. 3. Pengantian balutan sering dapat mengakibatkan kerusakan kulit karena perlekatan yang kuat. Tinjau ulang nilai laboratorium terhadap anemia dan penurunan albumin serum. (Marlyn E. Doenges 2000) 4. Implementasi Implementasi disesuaikan dengan intervensi yang tercantum pada rencana keperawatan yang menetapkan waktu dan respon klien. 5. Evaluasi Evaluasi adalah bagin terakhir dari proses keperawatan semua tahap proses keperawatan harus dievaluasi. Hasil asuhan keperawatan dengan sesuai dengan tujuan yang telah di tetapkan. Evaluasi ini didasarkan pada hasil yang di harapkan atau perubahan yang terjadi pada klien. Adapun sasaran evaluasi pada klien dengan Tumor Abdomen : Hasil pre operatif : a) Klien dapat menunjukan perubahan perilaku yang diharapkan dalam pernyataan tujuan. b) Rasa nyeri yang dirasakan klien hilang Hasil post operatif : a) Tidak terjadi kekurangan volume cairan b) Tidak terdapat rasa nyeri 4. Anemia dan pembentukan edema dapat memenuhi pemulihan.

28

c) Tidak terdapat tanda-tanda infeksi. d) Nuirisi terpenuhi. e) Tidak terdapat gangguan integritas.

Daftar Pustaka A. Aziz Halimul Hidayat, 2004, Pengantar Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta : Salema Medika. Budi Kusuma, 2001, Ilmu Patologi, Penerbit Buku Kedokteran.Jakarta: EGC Doenges, E.M, 2000, Rencana Asuhan Keperawatan, (Edisi 3). Jakarta :Penerbit Buku Kedokteran EGC. Elizabet J. Corwin, 2000. Buku Saku Patofisiologi, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta. E, Oswari, 2000, Bedah dan Perawatanya. Jakarta: Fakultas Kedokteran UI. Gale,Danielle RN, MS, 2000, Rencana Asuhan Keperawatan Onkologi. Penerbit Buku Kedokteran EGC Smelster Suzanne, C 2001, Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 8, Vol. 2.Jakarta : EGC. Syaifuddin, 2003. Anatomi Fisiologi. Jakarta : EGC. (http://www.tempo.co.id/medika/arsip/082001/pus-3htm) (http://tumor.abdomen.htm)

29

Anda mungkin juga menyukai