Anda di halaman 1dari 24

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Pemetaan Geologi merupakan suatu kegiatan untuk memetakan kondisi geologi suatu daerah sehingga menghasilkan peta geologi yang bertujuan untuk menyingkap sejarah dan proses-proses geologi yang terjadi di daerah penelitian. Geologi tersebut merupakan suatu ilmu yang mengkaji bumi, objek studi utamanya adalah batuan penyusun kerak bumi yang meliputi ruang, waktu dan proses pembentukan batuan, serta berbagai aspek dan fenomena yang terjadi didalamnya. Geologi tidak cukup hanya dengan mempelajari teori-teori dari perkuliahan dan buku saja, melainkan juga dengan melihat langsung hasil dan peristiwa geologi itu langsung ke lapangan. Hal ini dilakukan dengan mengadakan penyelidikan langsung ke lapangan yang merupakan laboratorium alam yang bersifat universal. Pada Peta Geologi Regional Lembar Majenang yang disusun oleh Kartowo dan N. Suwarna pada tahun 1996, daerah Bumiayu dan sekitarnya memiliki aspekaspek geologi yang menarik untuk diteliti yang meliputi variasi litologi, stratigafi, struktur geologi, geomorfologi dan potensi bahan galian.

Untuk mengungkapkan aspek-aspek geologi tersebut diatas, penulis melakukan pemetaan geologi detil dengan menggunakan peta skala 1:25.000 dengan harapan mampu untuk memberikan informasi yang lebih lengkap tentang aspek-aspek geologi yang ada di daerah penelitian.

1.2 Identifikasi dan Rumusan Masalah Lingkup permasalahan penelitian difokuskan pada keadaan geologi yang mencakup aspek-aspek sebagai berikut: 1. Bagaimana kondisi geomorfologinya sehingga terbentuk bentang alam di daerah penelitian? 2. Bagaimana jenis litologi dan stratigrafi yang menyusun daerah penelitian dan penyebarannya? 3. Bagaimana struktur geologi dan tektonik yang berkembang di daerah penelitian? 4. Bagaimana sejarah geologi daerah penelitian dari hasil keseluruhan penelitian?

1.2 Maksud, Tujuan, dan Manfaat Penelitian

Maksud dilakukannya pemetaan geologi adalah untuk meneliti aspek-aspek geologi dan permasalahannya serta berusaha mencari jawaban atas permasalahan dari aspek-aspek geologi tersebut. Tujuan dari Pemetaan Geologi ini adalah untuk mempelajari dan mengungkapkan aspek-aspek geologi daerah penelitian, antara lain: 1. Aspek geomorfologi, yang meliputi unsur-unsur geomorfologi, proses-proses geomorfologi yang telah dan sedang berlangsung, dan membuat satuan-satuan geomorfologi berdasarkan unsur-unsurnya. 2. Aspek litologi, yaitu mendeskripsi karakteristik batuan, kemudian mengelompokkan menjadi satuan-satuan batuan bernama berdasarkan aturan sandi stratigrafi yang baku, menelusuri penyebarannya, menganalisis umur, kandungan fosil, hubungan antar satuan, dan lingkungan pengendapannya. 3. Aspek struktur geologi, meliputi jenis, waktu pembentukannya, serta menelusuri hubungan kejadian dengan tektonik yang terjadi di daerah penelitian. 4. Aspek sejarah geologi, yaitu untuk mengungkapkan sejarah geologi daerah penelitian yang berlangsung mulai saat pembentukan daerah ini hingga keadaan akhir yang ditemukan sekarang. 5. Potensi bahan galian. Manfaat dari penelitian geologi lanjut ini, penulis berharap dapat menambah pengetahuan dasar tentang aplikasi ilmu geologi dan metode pemetaan lapangan,

memberikan informasi ilmiah mengenai keadaan geologi daerah penelitian dan dapat membantu bagi penelitian-penelitian selanjutnya di daerah ini, dan mengungkap potensi sumberdaya geologi yang ada di daerah penelitian serta kemungkinan pengembangannya.

1.4 1.4.1

Metode Pemetaan Geologi Objek Penelitian Objek penelitian pada suatu pemetaan geologi meliputi : 1. Geomorfologi, digunakan untuk penentuan proses geomorfologi,

tingkat erosi, pola pengaliran yang berkembang serta memperkirakan indikasi adanya struktur geologi yang aktif di daerah pemetaan. 2. Litologi, meliputi seluruh jenis batuan beserta seluruh karakteristik

fisik, tekstur, dan struktur yang tersingkap di daerah pemetaan dan merupakan batuan yang masih segar dan insitu, yaitu batuan yang belum mengalami pelapukan dan perpindahan tempat. 3. Stratigrafi, yaitu meliputi perlapisan batuan dari batuan tertua sampai

termuda dengan menyertakan fosil sebagai salah astu aspek penunjang untuk menentukan umur dan lingkungan pengendapan satuan batuan sedimen.

4.

Struktur geologi dan indikasinya, yang dapat di gunakan untuk

menentukan pola tegasan dan gaya yang terjadi pada masa lampau, jenis struktur geologi serta pola struktur geologi, yaitu sesar, kekar, dan perlipatan yang berkembang pada darah pemetaan. 5. Geologi mineral ekonomi di daerah pemetaan, untuk memperkirakan

bahan galian yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sekitarnya.

1.4.2

Alat-alat yang Digunakan

1.4.2.1 Peralatan lapangan Alat-alat yang digunakan untuk menunjang kelancaran penelitian di lapanagan, adalah sebagai berikut: 1. Peta dasar dengan skala 1 : 25.000 yang diambil dari peta Bakosurtanal lembar Limusnunggal dan Selasari yang berskala 1 : 25.000, 2. Kompas geologi dan palu geologi, 3. Loup dengan pembesaran 20x dan 10x, 4. Larutan HCL 0,1 N, 5. Komparator besar butir batuan sedimen dan batuan beku, 6. Alat tulis 7. Pita ukur dan meteran 8. Plastik sampel

9. Tas lapangan dan kamera

1.4.2.2 Peralatan Laboratorium Alat-alat yang digunakan untuk analisis paleontologi, adalah: 1. Lumpang, mortar dan cawan,
2. Hidrogen Peroksida (H2O2) 30%

3. Natrium Hidroksida (NaOH) dan air 4. Cangkir aluminium dan oven 5. Saringan (60mg, 80 mg dan 120 mg) 6. Piring pemisah, slide dan kuas 7. Mikroskop binokuler Untuk analisis petrografi, alat-alat yang digunakan adalah: 1. Sayatan tipis batuan 2. Mikroskop polarisasi 3. Chart dan tabel-tabel yang diperlukan

1.4.3

Langkah-langkah Penelitian Untuk memudahkan pelaksanaan penelitian ini, maka jalannya penelitian

dilakukan secara sistematis dan terkoordinasi, yang dibagi menjadi beberapa tahapan sebagai berikut: 1. Tahap persiapan dan studi pustaka 2. Tahap pekerjaan lapangan

3. Tahap pekerjaan laboratorium 4. Tahap analisis data

1.4.3.1 Tahap Persiapan dan Studi Pustaka Tahap persiapan dan studi literatur ini dapat meliputi pembuatan peta dasar, studi peta regional, studi laporan peneliti terdahulu, buku-buku teks perkuliahan, penentuan waktu kerja penelitian, survey pendahuluan untuk menentukan pangkalan kerja dan menyelesaikan surat-surat perizinan.

1.4.3.2 Tahap Pekerjaan Lapangan Pada tahapan ini dilakukan penelitian langsung secara terencana dan sistematis di daerah penelitian, dengan objek penelitian utama berupa geomorfologi, batuan dan struktur geologi. Pada tahap pekerjaan lapangan yang dilakukan adalah: 1. Menentukan lintasan pengamatan, dimana pada tahapan ini metode yang digunakan adalah metode lintasan. Lintasan yang dilalui merupakan deretan titiktitik pengamatan yang diukur dari titik ke titik berikutnya, arah lintasan yang diambil disesuaikan dengan kondisi medan di lapangan. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam perencanaan lintasan antara lain: a. Lintasan sebaiknya memotong arah umum pentebaran batuan. b. Lintasan diusahakan melalui banyak singkapan. c. Lintasan diusahakan titik melalui daerah yang sulit dijangkau.

2. Pengambilan data lapangan, berupa deskripsi batuan secara lengkap,

pengukuran arah jurus dan kemiringan perlapisan, deskripsi indikasi struktur geologi meliputi arah dan pola pergerakan, pembuatan sketsa dan foto, serta pengambilan contoh batuan segar yang representatif. Dalam mengambil contoh batuan, ada 3 hal yang harus diperhatikan agar diperoleh kualitas contoh yang baik. Ketiga hal tersebut adalah:
a. Contoh batuan yang diambil harus segar dan bersih, dengan demikian sebelum

contoh batuan diambil, lapisan pengotor yang menutupi batuan harus dibersihkan terlebih dahulu dengan cara mengupasnya sebelum dimasukkan kedalam kantong sampel. Juga perlu diperhatikan bahwa peralatan yang digunakan harus bersih sebelum dipakai kembali.
b. Contoh batuan harus mewakili dan selengkap mungkin, contoh yang diambil

harus dibedakan antara contoh dari sisipan dengan contoh dari lapisan penyusun batuan.
c. Contoh batuan harus pasti, dalam arti bahwa contoh yang diambil harus

dikemas dengan baik serta diberi keterangan mengenai nomor contoh batuan dan lokasi pengambilannya. Pada penelitian ini pengambilan sampel dilakukan dengan metode spot sampling, yaitu contoh batuan diambil pada interval dan pada suatu lapisan batuan yang diperkirakan cukup representatif. Pengambilan sampel ini berukuran relatif kecil dan dilakukan untuk menghindari kontaminasi terhadap contoh yang diambil.

3. Ploting titik lokasi pengambilan data ke dalam peta dasar, cara ini dapat dilakukan dengan: a. Mengamati keadaan bentangalam di sekitar titk pengamatan dan disesuaikan dengan peta, misalnya kelokan sungai atau perpotongan sungai dengan jalan. b. Menarik suatu garis lurus yang terarah pada suatu objek yang mudah dikenali dalam peta, misalnya pada puncak bukit, jalan dan sungai.

1.4.3.3

Tahap Pekerjaan Laboratorium

14.3.3.1 Tahap Pekerjaan Laboratorium Paleontologi Tahap pekerjaan laboratorium paleontologi pada fosil foraminifera planktonik dan bentonik dilakukan untuk membantu penulisan umur dan lingkungan pengendapan dari setiap satuan batuan. Analisis ini dilakukan pada sampel pada sampel batuan (dengan posisi atas, tengah dan bawah). Metode yang dilakukan adalah preparasi metode residu, dengan tahapan sebagai berikut: 1. Sampel yang terpilih diambil 50 gram dan ditumbuk sampai halus
2. Direndam ( 15 menit) dengan zat pelarut (H2O2) 30% ditambah 2 butir 2

NaOH, bersihkan dengan air bersih yang mengalir di bak pencuci dan saring sampelnya,
3. Keringkan sampelnya dengan oven (100o 150o), setelah kering amati di

bawah mikroskop dan pisahkan fosil dari materialnya.

4. Amati bentuk dan karekterisitik sifat fisik fosil, untuk menentukan mana genus dan spesiesnya.

1.4.3.3.2 Tahap Pekerjaan Laboratorium Petrografi Analisis petrografi dilakukan untuk mempermudah penamaan dan klasifikasi batuan, melalui identifikasi komposisi, gejala struktural, kandungan dan jenis mineralnya. Pekerjaan analisis petrografi dilakukan melalui sayatan tipis batuan yang diambil dari singkapan segar, bersih dan mewakili setiap batuan.

1.4.3.4 Tahap Penyusunan Laporan Tahap ini merupakan tahap akhir yang meliputi interpretasi dan rekontruksi data yang diperoleh dari lapangan serta hasil analisis laboratorium, yang kemudian disusun dalam bentuk peta kerangka geologi, peta pola jurus perlapisan batuan, peta geomorfologi, peta geologi dan dalam bentuk laporan pemetaan geologi lanjut.

1.4.4 1.4.4.1

Analisis Data

Analisis Geomorfologi

1.4.4.1.1 Pola Pengaliran Sungai Howard (1967) membedakan pola pengaliran menjadi pola pengaliran dasar (Gambar 1.1 dan Gambar 1.2). Definisi pola pengaliran yang digunakan adalah sebagai berikut:

1.

Pola pengaliran adalah kumpulan dari suatu jaringan pengaliran di suatu daerah yang dipengaruhi atau tidak dipengaruhi oleh curah hujan, alur pengaliran tetap pengali. Biasanya pola pengaliran yang demikian disebut sebagai pola pengaliran permanen (tetap).

2.

Pola dasar adalah salah satu sifat yang terbaca dan dapat dipisahkan dari pola dasar lainnya.

3.

Perubahan (modifikasi) pola dasar adalah salah satu perbedaan yang dibuat dari pola dasar setempat. Selain Howard, van Zuidam juga membagi pola pengaliran dengan dasar

karakterisitiknya (Tabel 1.1)

Gambar 1.1 Pola pengaliran dasar (Howard 1967, dalam van Zuidam 1985)

Gambar 1.2 Pola pengaliran dasar (Howard 1967, dalam van Zuidam 1985)

Tabel 1.1
Pola Peng alira n

Pola pengaliran dan karakteristiknya (van Zuidam, 1985)


Karakteristik

Bentuk umum seperti daun, berkembang pada batuan dengan kekerasan relatif Dendritik sama, perlapisan batuan sedimen relatif datar serta tahan akan pelapukan, kemiringan landai, kurang dipengaruhi struktur geologi. Bentuk umum cenderung sejajar, berlereng sedang-agak curam, dipengaruhi Paralel struktur geologi, terdapat pada perbukitan memanjang dipengaruhi perlipatan, merupakan transisi pola dendritik dan trelis. Bentuk memanjang sepanjang arah jurus perlapisan batuan sedimen, induk sungainya seringkali membentuk lengkungan menganan memotong kepanjangan Trelis dari alur jalur punggungannya. Biasanya dikontrol oleh struktur lipatan. Batuan sedimen dengan kemiringan atau terlipat, batuan volkanik serta batuan metasedimen berderajat rendah dengan perbedaan pelapukan yang jelas. Jenis pola pengalirannya berhadapan pada sisi sepanjang aliran subsekuen. Induk sungai dengan anak sungai memperlihatkan arah lengkungan menganan, Rektangular pengontrol struktur atau sesar yang memiliki sudut kemiringan, tidak memiliki perulangan perlapisan batuan dan sering memperlihatkan pola pengaliran yang tidak menerus. Bentuk menyebar dari satu pusat, biasanya terjadi pada kubah intrusi, kerucut Radial volkanik dan bukit yang berbentuk kerucut serta sisa-sisa erosi. Memiliki dua sistem, sentrifugal dengan arah penyebaran keluar dari pusat (berbentuk kubah) dan sentripetal dengan arah penyebaran menuju pusat (cekungan). Bentuk seperti cincin yang disusun oleh anak-anak sungai, sedangkan induk Anular sungai memotong anak sungai hampir tegak lurus. Mencirikan kubah dewasa yang sudah terpotong atau terkikis dimana disusun perselingan batuan keras dan lunak. Juga berupa cekungan dan kemungkinan stocks. Endapan permukaan berupa gumuk hasil longsoran dengan perbedaan Multibasinal penggerusan atau perataan batuan dasar, merupakan daerah gerakan tanah, vulkanisme, pelarutan gamping serta lelehan salju atau permafrost. Terbentuk pada batuan metamorf dengan intrusi dike, urat yang menunjukkan Kontorted daerah yang relatif keras batuannya, anak sungainya lebih panjang ke arah lengkungan subsekuen, umumnya menunjukkan kemiringan lapisan batuan metamorf dan merupakan pembeda antara penunjaman antiklin dan sinklin.

1.4.4.1.2 Morfografi Morfografi secara garis besar memiliki arti gambaran bentuk permukaan bumi atau arsitektur permukaan bumi. Perubahan pola punggungan dan pola pengaliran sungai bisa mengidentifikasikan kegiatan tektonik yang ada di daerah pemetaan. Aspek- aspek morfografi diantaranya ialah :
1.

Bentuk lahan pedataran, memiliki kemiringan 0% - 2% terdiri atas

bentuk asal marine, bentuk asal fluvial, bentuk asal campuran (delta) dan bentuk lahan plato. 2. Bentuk lahan perbukitan atau pegunungan, perbukitan memiliki meter dengan kemiringan 7% - 20%, sedangkan

ketinggian 50 - 500

pegunungan memiliki elevasi lebih dari 500 meter diatas permukaan air laut dengan kemiringan lebih dari 20%. Terdiri atas bentuk lahan perbukitan intrusi, perbukitan kubah rempah gunungapi, perbukitan karst, perbukitan memanjang dengan penyusun batuan sedimen dan bentuk lahan pegunungan.
3.

Bentuk lahan gunungapi, memiliki ketinggian lebih dari 1000 meter

dengan kemiringan lereng 56% - 140%. 4. 5. 6. Lembah, terdiri atas lembah bentuk U, V tumpul, dan V tajam. Bentuk lereng, terdiri atas bentuk lereng cembung, cekung dan lurus. Pola punggungan.

1.4.4.1.3 Morfometri Morfometri merupakan penilaian kuantitatif dari Bentuk lahan, sebagai aspek

pendukung morfografi dan morfogenetik sehingga klasifikasi kuantitatif akan semakin tegas dengan angka-angka yang jelas. Unsur-unsur morfometri antara lain berupa klasifikasi kemiringan lereng (ukuran kemiringan lereng serta panjang lereng), klasifikasi ketinggian absolut, klasifikasi hubungan kemiringan lereng, relief dan perbedaan ketinggian serta klasifikasi kerapatan pengaliran. Perhitungan dilakukan dengan cara menggrid peta topografi 2x2 cm, selanjutnya pada bujursangkar-bujursangkar tersebut ditarik garis diagonal yang memotong kontur (d) dan hitung kemiringan lereng dengan rumus: S = (n-1) x IK x 100% d X SP S : Kemiringan lereng n : Jumlah kontur yang terpotong garis diagonal IK : Interval kontur (m) d : Panjang garis diagonal (cm) SP : Skala peta Hasil perhitungan dikelompokkan sesuai dengan Tabel 1.2 (Van Zuidam, 1985).

Tabel 1.2
Kelas Lereng

Hubungan kelas lereng dengan sifat - sifat proses dan kondisi lahan disertai simbol warna yang disarankan. (Van Zuidam, 1985).
Proses, Karakteristik dan Kondisi lahan Simbol warna yang disarankan.

00 - 20 (0 - 2 %) 20 - 40 (2 - 7 %) 40 - 80 (7 - 15 %) 80 - 160 (15 - 30 %) 160 - 350 (30 - 70 %) 350 - 550 (70 - 140 %) > 550 ( > 140% )

Datar atau hampi datar, tidak ada erosi yang besar, dapat diolah dengan mudah dalam kondisi kering. Lahan memiliki kemiringan lereng landai, bila terjadi longsor bergerak dengan kecepatan rendah, pengikisan dan erosi akan meninggalkan bekas yang sangat dalam. Lahan memiliki kemiringan lereng landai sampai curam, bila terjadi longsor bergerak dengan kecepatan rendah, sangat rawan terhadap erosi. Lahan memiliki kemiringan lereng yang curam, rawan terhadap bahaya longsor, erosi permukaan dan erosi alur. Lahan memiliki kemiringan lereng yang curam sampai terjal, sering terjadi erosi dan gerakan tanah dengan kecepatan yang perlahan - lahan. Daerah rawan erosi dan longsor Lahan memiliki kemiringan lereng yang terjal, sering ditemukan singkapan batuan, rawan terhadap erosi. Lahan memiliki kemiringan lereng yang terjal, singkapan batuan muncul di permukaan, rawan tergadap longsor batuan.

Hijau tua Hijau Muda Kuning Muda Kuning Tua

Merah Muda

Merah Tua Ungu Tua

1.4.4.1.4 Morfogenetik Morfogenetik adalah proses terbentuknya permukaan bumi akibat proses endogen berupa tenaga atau gaya dari dalam kerak bumi dan proses eksogen, berupa tenaga atau gaya dari luar kerak bumi seperti iklim (angin, hujan, dan perubahan temperatur), vegetasi, dan buatan manusia sehingga membentuk dataran,

perbukitan/punggungan, lembah, gunungapi, plato, pola pengaliran, dan bentuk lereng. Proses endogen yang menjadi genetik antara lain: intrusi, tektonik, dan vulkanisme. Proses intrusi akan menghasilkan perbukitan intrusi, proses tektonik menghasilkan perbukitan terlipat, tersesarkan atau terkekarkan, sedangkan proses vulkanisme akan menghasilkan gunungapi.

Proses eksogen sangat dipengaruhi iklim diantaranya disebut proses fisika karena adanya erosi maupun longsoran dengan media air, angin maupun benda padat. Proses kimia menimbulkan perubahan mineral batuan akibat pelapukan, serta proses biologi yang diakibatkan oleh vegetasi, hewan, dan buatan manusia. Proses eksogen cenderung merubah permukaan bumi secara bertahap, yaitu pelapukan batuan menjadi tanah akibat proses fisika, kimia, dan biologi, erosi tanah oleh air atau angin serta sedimentasi dicekungan-cekungan pengendapan berupa lembah sungai atau daerah-daerah relatif datar seperti pantai. Hasil dari analisis geomorfologi ini di masukkan ke dalam peta geomorofologi daerah penelitian yaitu pada Lembar Peta 1. Tabel 1.3 Warna - warna tertentu yang direkomendasikan untuk dijadikan simbol satuan geomorfologi berdasarkan aspek genetik (Van Zuidam, 1985).

KELAS GENETIK
Bentuklahan asal struktural Bentuklahan asal gunungapi Bentuklahan asal denudasional Bentuklahan asal laut (Marine) Bentuklahan asal sungai (Fluvial) Bentuklahan asal glasial (Es) Bentuklahan asal aeolian (Angin) Bentuklahan asal karst (Gamping) 1.4.4.2 Analisis Stratigrafi

SIMBOL WARNA Ungu / Violet Merah Coklat Hijau Biru Tua Biru Muda Kuning Jingga (Orange)

Tujuan utama analisa stratigrafi adalah untuk mengetahui umur dan mengelompokkan satuan batuan serta kesebandingan dengan formasi yang ada pada literatur. Dari hasil kisaran umur tiap satuan batuan akan diperoleh hubungan atau kontak antar satuan batuan sehingga dapat diketahui nama formasi batuan tersebut dengan cara kesebandingan terhadap hasil penelitian peneliti terdahulu. Dari data yang diperoleh di lapangan akan menghasilkan satuan-satuan batuan yang diambil dari dominasi batuan yang ada pada daerah tersebut. Kontak antara satuan batuan dengan batuan lain, apabila dapat ditemukan di lapangan dapat diinterpretasikan kisaran umur satuan batuannya. 1.4.4.3 Analisis Struktur Geologi Dalam melakukan rekontruksi struktur geologi diperlukan data lapangan yang meliputi pengukuran arah jurus dan kemiringan lapisan batuan, pengamatan terhadap kriteria yang ditemukan di lapangan seperti pergeseran lapisan, bidang gores garis dan indikasi struktur lainnya. Selain dari data lapangan juga perlu dilakukan pengamatan terhadap peta topografi. Hal-hal yang diamati adalah adanya kelurusan, seperti kelurusan punggungan dan kelurusan sungai dan anomali sungai. Anomali sungai adalah keanehan yang terlihat pada pola kelurusan dan kelokannya. Adanya anomali kelokan sungai yang melalui bidang sesar akan memperlihatkan suatu kelurusan anomali sepanjang aliran sungai pada bidang sesar tersebut.

Untuk membuat Peta Pola Jurus dan Perlapisan Batuan (Lembar Peta 3) digunakan metode Free Hand, hal ini dikarenakan terdapat 3 filosofi dari Pola Jurus, yaitu: 1. Merekontruksi bentuk bangun ruang tubuh batuan didasari dari data yang terpecah-pecah.
2. Menghubungkan data yang satu dengan data yang lain (Stike/Dip).

3. Suatu batuan pasti menerus. Oleh karena itu, dalam penarikan Pola Jurus, ada syarat yang harus dipenuhi, yaitu: a. Litologi harus sama
b. Selisih Dip kurang lebih 5

c. Pola jurus tidak boleh memotong pola jurus yang lain.

1.4.4.4 Analisis Petrografi Berdasarkan peta geologi regional diketahui litologi penyusun daerah penelitian terdiri dari tuf, batuan beku basalt, batupasir tufan, breksi, dan konglomerat. Dengan demikian klasifikasi yang dipakai adalah, klasifikasi tuf Schmid, 1981 (Gambar 1.3), klasifikasi batuan beku Streckeisen, 1978 (Gambar 1.4 dan 1.5), klasifikasi batupasir Pettijohn 1975, (Gambar 1.6)

Gambar 1.3 Klasifikasi tuf (Schmid, 1981 dalam Gillespie dan Styles, 1999)

Gambar 1.4 Klasifikasi batuan beku berbutir kasar (Streckeisen, 1978, dalam Gillespic dan Styles, 1999)

Gambar 1.5 Klasifikasi batuan beku berbutir halus (Streckeisen, 1978, dalam Gillespic dan Styles, 1999)

Gambar 1.6 Klasifikasi batupasir menurut Pettijohn (1975)

1.5

Geografi Umum Daerah Penelitian Luas daerah pemetaan kurang lebih 100 km2. Secara geografis terletak

diantara garis bujur 108o 5621,3 BT sampai 109 150,7 BT dan garis lintang 07 1148,7 LS sampai 07 1712,5 LS atau termasuk dalam sebagian lembar peta Rupabumi Digital Indonesia (Bakosurtanal) No. 1308-542, 1308-524, 1308-631, 1308-613 dengan skala 1:25.000.

Gambar 1.7 Peta Lokasi Daerah Penelitian Secara administratif daerah penelitian termasuk wilayah Kecamatan Bumiayu, Kabupaten Brebes, Provinsi Jawa Tengah. Mayoritas penduduk hanya bersekolah sampai tingkat SD. Mata pencaharian penduduk sebagian besar adalah bertani baik di sawah maupun di darat seperti tanaman pangan dan hortikultura, perkebunan, peternakan, perikanan, dan hutan rakyat. Mayoritas penduduk memilih islam sebagai

agama mereka, mesjid-mesjid ada di setiap kampung. Namun ada beberapa penduduk yang memeluk Kristen Protestan, biasanya mereka beretnis Tionghoa. Kesampaian lokasi pemetaan bisa dicapai dengan menggunakan kendaraan roda dua atau kendaraan roda empat. Perjalanan dari Bandung dapat menggunakan lintasan jalan raya utama jalur selatan , melalui rute Bandung Tasikmalaya Banjar Majenang Wangon Ajibarang lokasi pemetaan. Sedangkan di daerah pemetaan pencapaian lokasi singkapan dapat menggunakan kendaraan roda dua melalui jalan desa atau berjalan kaki menyusuri jalan setapak dan sungai-sungai.

1.5

Waktu Pemetaan dan Kelancaran Kerja

Pelaksanaan pemetaan ini dikerjakan dalam empat tahap, yaitu tahap persiapan, tahap penelitian lapangan, tahap pengolahan data, dan tahap penyusunan laporan. Tahap penelitian lapangan dilakukan pada bulan mei 2011.