Anda di halaman 1dari 7

STATUS PASIEN

A. Anamnesis 1. Identitas Pasien Nama Umur Jenis kelamin Alamat 2. Keluhan Utama Hidung kiri tersumbat . 3. Keluhan Tambahan Sering pilek, dan keluar cairan dari hidung kiri. 4. Riwayat Penyakit Sekarang Pasien datang ke Poliklinik THT RSMS tanggal 4 Juli 2005 dengan keluhan sejak 6 Bulan yang lalu hidung kiri tersumbat terasa ada massa yang menetap dan keluar cairan bening dari hidung kiri. Pasien sudah berobat ke dokter, bahkan pernah menjalani operasi pengangkatan massa yang menyumbat hidung pada tanggal 30 Agustus 2004 di Purbalingga, namun setelah 5 bulan mengalami kekambuhan lagi. 5. Riwayat Penyakit Dahulu Riwayat penyakit hidung yang sama. 6. Riwayat Penyakit Keluarga Tidak ada anggota keluarga pasien yang menderita penyakit yang sama. : Ny. S : 65 tahun : Perempuan : Purwokerto

A. Pemeriksaan Fisik 1. Status Generalis Keadaan umum Kesadaran Vital sign : Baik. : Compos Mentis. : Tekanan darah : 170/100 mmHg Nadi Suhu Respirasi THT Leher Thorax Abdomen Ekstremitas : Status lokalis. : Kelenjar limfonodi tidak membesar. : Cor : S1 > S2 reguler, tidak ada bising. Pulmo : Vesikuler (+) Normal, tidak ada ronkhi. : Soefel, Hepar/Lien tidak teraba, Bising usus (+) Normal. : Tidak ada kelainan. : 88 x/menit. : 36,5 0 C. : 24 x/menit.

2. Status Lokalis A. Telinga 1. Auricula Tumor Hematom Tragus pain Antitragus pain 2. MAE Udema Hiperemis Serumen Otore Mastoid nyeri ketok Kanan (-) (-) (-) (-) Kanan (-) (-) (-) (-) (-) Kiri (-) (-) (-) (-) Kiri (-) (-) (-) (-) (-)

3. Membrana Timpani Reflek Cahaya Preforasi

Kanan (+) (-)

Kiri (+) (-)

Gambar Membrana Timpani

Kanan

Kiri

B. Hidung 1. Rhinoskopi anterior a. Conca inferior Hiperemis Udema b. Conca media Hiperemis Udema c. d. Polip Sekret Letak Sifat e. f. Tumor Septum deviasi (-) (-) (+) (+) (-) (-) (+) (+) (-) (-) (-) (-) Kanan Kiri Keterangan

: dari konka superior sampai konka inferior. : mukus. (-) (-) (-) (-)

Bentuk : lendir bening,Warna : bening.

Gambar Cavum Nasi Polip

Conca media

C.

Tenggorokan 1. Uvula 2. Tonsil Membesar Kripte Detritus Hipermis 3. Mulut Lidah Gigi 4. Faring Granulasi Sub Hiperemis Post nasal drip : (-) : (+) : (+) Gambaran Tenggorokan : Simetris, udema (-) : Kanan Kiri (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) : Feror ex ore (-) : Kotor (-) : (-)

To B. Pemeriksaan Penunjang : PA C. Diagnosis : Polip. D. Terapi : 1. 2. Polipektomi Medikamentosa : - Antibiotik Dekongetan Anti inflamasi analgesik-antipiretik

To

3. -

Edukasi

: - jaga jangan sampai pilek pemberian makanan yang bergizi dan ASI

E. Prognosis : Dubia ad bonam.

1. PEMBAHASAN Pada pasien (an. M.) di diagnosis otitis media supuratif kronik karena keluhan keluarnya sekret dari telinga/otore sudah berlangsung selama lebih kurang 3 bulan dan terus menerus, ini sesuai dengan defenisi dari otitis media supuratif kronik itu sendiri (3). Otitis media supuratif kronik pada pasien ini kemungkinan disebabkan/dipacu oleh adanya infeksi saluran nafas atas yang mendahului terjadinya otitis media supuratif akut, kemudian berlanjut menjadi otitis media supuratif kronik karena terapi terlambat diberikan, virulensi kuman yang tinggi dan higiene yang kurang disamping adanya keadaan anatomis telinga tengah pada bayi yang mempermudah masuk dan berkembangnya kuman di telinga tengah (3). Terjadinya perforasi membran timpani yang terdapat di daerah sentral dan dari otore yang berwarna putih dan kental, menunjukkan tipe otitis media supuratif kronik yang benigna. Adapun dari baunya otore pada pasien ini mungkin menunjukkan adanya super infeksi dengan kuman-kuman dari telinga luar yang masuk ke dalam melalui membran timpani yang robek. Dan otitis eksterna difusa yang terdapat pada pasien ini adalah karena infeksi sekunder dari otitis media supuratif kronik (1,3). Gejala-gejala lain yang terdapat pada pasien ini tidak mendukung adanya otitis media supuratif kronik tipe maligna, oleh karena itu tidak perlu dilakukan foto mastoid kecuali jika gejala-gejala yang ada sekarang bertambah berat dan otore tetap keluar walaupun sudah diterapi secara konvensional dan medikamentosa. Komplikasi yang biasanya terjadi pada otitis media supuratif kronik tipe maligna, namun bisa pula terjadi pada otitis media supuratif kronik tipe benigna yang berlangsung dalam waktu yang lama, kondisi tubuh yang lemah dan pengobatan yang tidak adekuat (3,4,5). Pengobatan yang diberikan pada pasien ini adalah pengobatan konvensional dan medikamentosa. Pengobatan konvensionalnya meliputi edukasi dan drainase guna memelihara kondisi telinga agar tetap kering dan menjamin ventilasi/aliran udara yang baik. Dan medikamentosa yang diberikan adalah antibiotik dan anti inflamasi karena penyakitnya masih aktif dan diberikan analgesik-antipiretik guna mengurangi gejala-gejala yang menyertai serta dekongestan untuk mempermudah pesien bernafas dengan mengurangi edem pada conca (1,3). Prognosis pasien adalah dubia yang mengarah ke bonam bila terapi yang diberikan benar-benar dijalankan namun bisa pula mengarah ke malam jika infeksi ini berlangsung terus dan penyebab otitis media supuratif kroniknya (ISPA) tidak diperhatikan/ dihilangkan atau bila kondisi pasien semakin menurun karena nutrisi yang tidak tepat.

DAFTAR PUSTAKA 1. Paparella, M.M, Penyakit Telinga Tengah dan Mastoid, dalam Higler AB (ed), Boies Buku Ajar Penyakit THT, Edisi 6, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta, 1997, 88-118. 2. Condronoyo, Rasio Adenoid Nasofaring Pada Adenoiditis, Hubungannya dengan Otitis Media Kronik dalam Oto Rhino Laryngologica Indonesia, Majalah Ilmu Kesehatan dan Penyakit THT, Jakarta, Vol XXII No. 2, April-Juni 1991, 72-5. 3. Djaafar, Z.A., Kelainan Telinga Tengah dalam Soepardi, E.A. & Iskandar, N. (ed), Buku Ajar Ilmu Penyakit Telinga Hidung Tenggorokan ,edisi III, FK UI, Jakarta, 1998, 53 - 65. 4. Gillon, V.M. Otore dalam Segi Praktis Telinga Hidung Tenggorokan, Binarupa Aksara, Jakarta, 41-50. 5. Helmi, Komplikasi Otitis Media Supuratif Kronik dan Mastoiditis dalam Soepardi, E.A. & Iskandar, N. (ed), Buku Ajar Ilmu Penyakit Telinga Hidung Tenggorokan ,edisi III, FK UI, Jakarta, 1998, 70 81