Anda di halaman 1dari 120

Hidup dan Kepausan Paus Yohanes Paulus II, Karol Josef Wojtyla (19202005)

Posted: Apr. 09, 2005 19:23:22 WIB

Foto file dari Paus Yohanes Paulus II memberkati peziarah dan pengunjung di Lapangan St. Peter dari balkon pusat Basilika St. Peter, pada hari Natal, 25 Desember 1993. Paus Yohanes Paulus II, Paus Polandia yang mengepalai Gereja Katolik Roma selama 26 tahun dan memainkan peranan kunci penting dalam kejatuhan komunisme di Europa, wafat 2 April 2005 dalam usia 84 tahun. Jutaan orang berkabung atas kematiannya. REUTERS/Vatican/Pool/FILE Jutaan orang menyaksikan pemakaman salah seorang pemimpin relijius yang paling berpengaruh dalam abad 20, dalam suatu proses pemakaman terbesar pada era ini. Pemakaman almarhum Paus Yohanes Paulus II, pemimpin 1,1 milyar umat Katolik Roma, Jumat, 8 April, disaksikan oleh sekitar 1 milyar pemirsa melalui layar televisi. Sekitar 80 pemimpin negara hadir, disertai para pemimpin relijius dunia dan tokoh-tokoh dunia. Hidup dan karisma Paus diakui tidak hanya oleh umat Kristiani, tetapi juga oleh masyarakat dunia, melampaui batas agama, suku, asal-usul, dan negara. Hidup dari Karol Josef Wojtyla, yang lebih dikenal sebagai Paus Yohanes Paulus II, menyatakan harapan dan kekuatan bagi banyak orang di seluruh dunia. Jutaan orang berkabung atas kepergiannya.

Walaupun hidupnya tidak biasa dan bermomentum setelah naiknya ia ke tahta kepausan pada tahun 1978 pada usia 58 tahun, tahun-tahun yang memimpin kepada titik itu membantu untuk membentuk dia. Dari awal yang sederhana dari kota di luar ibukota Polandia, Krakow, sampai kematian hampir seluruh anggota keluarganya pada usianya yang muda 20 tahun, sampai kepada penganiayaan dari Nazi Jerman yang datang di negara itu pada tahun 1940an dan hidup sebagai orang dewasa di negara komunis, awal-awal tahun kehidupan Karol Josef Wojtyla menyediakan latar belakang untuk membentuk seorang pria, yang bagi banyak orang, dinyatakan sebagai pemimpin moral dan Kristiani yang luar biasa. Persahabatan Masa Muda Karol Josef Wojtyla lahir di Wadowice, Polandia pada tanggal 18 Mei 1920. Ayahnya, Karol Wojtyla, (dibaca voy-TIH-wah) adalah mantan prajurit dan juga penjahit. Ibunya, Emilia Kaczorowska Wojtyla, adalah guru sekolah. Wadowice terletak sekitar 35 mil dari ibukota Krakow. Populasi pada saat itu terdiri dari 8.000 orang pengikut katolik dan 2.000 orang Yahudi. Dia tumbuh di apartemen dua lantai sederhana yang dimiliki oleh sebuah keluarga Yahudi. Salah satu teman masa kecilnya, seorang Yahudi, mengingat permainan sepakbola yang biasanya mereka mainkan. Pertandingan itu biasanya Katolik vs Yahudi. Kluger mengatakan Karol Wojtyla muda akan secara sukarela bermain untuk pihak Yahudi, bahkan di lapangan. Biasanya tidak ada cukup (anak) Yahudi, jadi seseorang harus bermain untuk pihak Yahudi, dan dia selalu sepertinya siap, ya kamu tahu,kata Kluger dalam suatu wawancara dengan CNN tahun 2003. Persahabatan itu dilanjutkan saat tahun 1993, ketika saat itu Klugerlah yang dipanggil Yohanes Paulus II untuk bertindak sebagai pengantara antar Israel dan Vatikan dalam negosiasi-negosiasi yang memimpin Vatikan untuk menghadiahkan Israel hubungan diplomatik formal, menurut New York Times. Kehilangan Masa Muda Pada masa muda, ia suka berenang di Sungai Skawa dan seorang pemain bola yang sering berhenti untuk berdoa dalamperjalanannya ke sekolah, menurut LA Times. Namun kematian saudara-saudaranya membuat kehidupannya berbeda dengan anak-anak lain. Sebelum ia lahir, kakak perempuannya meninggal. Pada tahun 1929, sebulan sebelum hari ulang tahunnya yang ke-9, ibunya wafat karena sakit jantung. Ia mengikuti

Komuni Kudus pada bulan yang sama. Di usia 12 tahun, kakak laki-lakinya meninggal akibat demam. Karol kecil juga hampir tewas dua kali. Sekali karena tertabrak mobil dan kedua tertabrak truk tahun 1944. "Masa muda Paus bukan masa yang menyenangkan," kata Pastor Joseph Vandrisse dari Perancis. "Ia banyak merenungkan arti penderitaan," katanya. Sepeninggalan anggota keluarga yang lain, ia dibesarkan oleh ayahnya dan hidup sederhana di sebuah Spartan, apartemen satu kamar di belakang gereja. Lulus dari sekolah menengah tahun 1938, Lolek dan ayahnya pindah ke Krakow, tempat ia belajar sastra dan filsafat di Universitas Jagiellonian. Di sana ia bergabung dengan kelompok pembaca puisi dan kelompok diskusi sastra. "Ia seorang aktor hebat dan penyanyi berbakat," kata beberapa temannya. Ia selamat dari pendudukan Jerman dengan bekerja sebagai seorang pemotong batu pada tahun 1940. Pada Februari 1941, ayahnya yang merupakan penganut Katolik taat, meninggal dunia tanpa sempat terkabul keinginannya melihat anaknya mendedikasikan hidupnya untuk melayani Tuhan. Akademis yang Bersemangat, Menjanjikan Kenaikan 18 bulan berikutnya, Wojtyla mulai memenuhi harapan ayahnya dengan belajar di seminari bawah tanah di Krakow, sekaligus belajar teologi di universitas. Ia harus belajar sembunyi-sembunyi karena adanya larangan dari penguasa Jerman saat itu. Dia belajar sembari bekerja di sebuah pabrik hingga Agustus 1944. Namun, ketika tentara Jerman mulai menangkapi pemuda-pemuda Polandia, Wojtyla bersembunyi di rumah Uskup Krakow hingga perang berakhir. Ia ditahbiskan sebagai asisten pastor di Krakow tahun 1946. Tahun 1948 ia mendapatkan gelar doktor dalam etika. Pada tahun 1953, ia memperoleh gelar doktor dalam teologi dan mula mengar pada seminar gereja di Krakow. Dia juga menjadi seorang professor dan mengepalai departemen filsafat di Universitas Katolik di Lublin tahun 1954. Wojtyla naik secara pesat melalui hirarki gereja setelah ini, menjadi pembantu uskup pada tahun 1958 dan uskup pada tahun 1964. Pada tahun 1967, Paus Paulus VI menjadikan Wojtyla seorang kardinal.

Ia menentang komunisme tetapi penunjukkannya disambut oleh pemerintah Plandia yang melihat Wojtyla sebagai keras tapi fleksible dan sebagai seorang reformator moderat, menurut CNN. Biografi saat itu menyebutkan Wojtyla sebagai musuh dari komunisme dan pemenang dalam hak asasi manusia, penginjil yang berkuasa dan intelektual yang rendah hati yang mampu mengalahkan Marxists dalam bahasa mereka sendiri. Saat ditanya apakah dia takut akan larangan pejabat pemerintahan, Wojtyla membalas, Saya tidak takut akan mereka. Mereka yang takut akan saya, menurut CNN. Pada tahun-tahun yang mengikuti penunjukkannya sebagai kardinal, Wojtyla dikenal luas sebagai pribadi yang inteletual, administrator dan penggalang dana. Pada tahun 1978, setelah Yohanes Paulus I wafat secara tidak diduga 33 hari setelah menjadi Paus, para Kardinal di seluruh dunia berkumpul untuk memilih penggantinya. Ketika para kardinal tidak bisa menemukan kata sepakat setelah tujuh kali pemungutan suara, pada putaran voting ke delapan muncul nama Wojtyla. Ia terpilih. Menurut CNN, ia menerima hasil pemilihan itu dengan mata berkaca-kaca. Pada tanggal 16 Oktober 1978, ia ditahbiskan sebagai Paus. Ia menjadi paus termuda setelah lebih dari 120 tahun dan merupakan paus non Italia pertama setelah Adrian VI dari Belanda dipilih tahun 1522. Kepausan yang Karismatik Sebagai paus, Yohanes Paulus II menjadi seorang paus yang melakukan perjalan terbanyak ke luar negeri. Ia mengunjungi 125 negara dalam jangka waktu 26 tahun. Ia menarik jutaan masa. Ia juga berbicara multi bahasa, dapat berbicara dalam 8 bahasa. Yohanes Paulus II menyatakan karisma yang besar. Pengarang buku , The Making of Popes 1978, Andrew M. Greely menulis gaya paus hadir di tengah kerumunan, "Gerekannya, kehadirannya, senyumnya, keramahannya, sikapnya menyenangkan siapapun. ... Ia luar biasa di tengah-tengah kerumunan --- berjabatan tangan, tersenyum, berbincang, mencium bayi-bayi, menurut CNN. Saat dia kembali ke Polandia tahun 1997, LA Times melaporkan saat pemunculannya, kerumunan menjadi diam, beberapa orang jatuh berlutut dan menangis saat Yohanes Paulus berjalan menuju altar. Ia adalah paus yang bersemangat bahkan sebelum kesehatannya mulai menurun. Ia tampaknya tidak mampu untuk menyia-nyiakan satu menit. Saya tidak pernah melihatnya jatuh dalam kesedihan ataupun tegang, kata juru bicara kepausan, Joaquin Navarro-Valls suatu ketika.

Bahkan pemimpin Kuba yang keras Fidel Castro, dikenal selalu mengenakan pakaian militer hijau zaitun, mengenakan pakaian resmi ketika Yohanes Paulus II mengunjungi negaranya pada tahun 1998. Mengikutsertakan Dunia Paus melibatkan dirinya sendiri dalam isu-isu luas, terutama dalam hak asasi manusia. Keterlibatannya sebagai paus bukan anya untuk menyebarkan injil, untuk menyebarkan iman, tetapi juga untuk mentransformasi kepausan Roma menjadi juru bicara hak asasi manusia, kata Marco Politi, pengarang buku His Holiness, kepada CNN tahun 2003. Ia mengkritik diktator Alfred Stroessner di Paraguay, Agusto Pinochet di Chili dan Ferdinand Marcos di Filipina. Ia membantu mempercepat kejatuhan komunis dengan mendukung gerakan Solidaritas disana. Kunjungan Paus ke negara asalnya Polandia pada tahun 1979 menarik kerumunan yang kemudian bertekad merubah pemerintah mereka. Ini mempercepat kehatuhan Uni Soviet dan Sekutunya di Eropa Timur, menurut Associated Press. Ia juga mengkritik Barat saat kunjungan pertamanya ke Amerika Serikat, ia memperingatkan bangsa itu tentang bahaya dari paham materialisme, egoisme dan sekularisme. Ia juga yang mengusulkan penurunan standar hidup mereka dan berbagi kekayaan dengan dunia ketiga. Ia menegaskan paham materialisme bukanlah jawaban. " Dunia ini tidaklah mampu membuat orang bahagia," kata Yohanes Paulus. Ia memandang hubungan dengan Tuhan sebagai pengejaran yang utama dalam hidup. Ia berdoa sangat sering sehingga dikatakan ia membuat keputusan " pada lututnya," kata CNN. Suara untuk Konservatisme Religius, yang Sosial Tema yang terkemuka lain dalam masa jabatan kepausan Yohanes Paulus adalah cara pendiriannya yang konservatif atas isu sosial dan doktrin gereja. Ia absolute menolak total pengguguran dan kontrasepsi, yang mana banyak mengasingkan banyak Katolik. Ketika ia datang dalam kekuasaan dan ia telah dipilih, ia menyadari bahwa satu hal ia harus lebih dulu lakukan adalah untuk memugar kembali kejelasan ke ajaran Katholik. Dan ia mengatakan, ' OK, barangkali mereka tidak akan patuh, barangkali mereka tidak akan menerima, tetapi setidaknya mereka akan mengetahui apa yang gereja wakili," kata Wilton Wynn, pengarang dari "Keeper Of The Keys," dalam suatu wawancara dengan CNN.

Paus suatu ketika berbicara dengan Time, " Adalah suatu kesalahan untuk mengaplikasikan prosedur demokratis Amerika ke (dalam) iman dan kebenaran." Ia menambahkan, " Kamu tidak bisa mengambil suatu voting tentang kebenaran." Paus adalah juga aktif dalam mendiamkan pandangan yang liberal di dalam Katolikisme. "Gereja tidak bisa menjadi suatu asosiasi dari free thinkers (pemikir bebas)," ia berkata di tahun 1981, menurut CNN Ia juga dengan sepenuhnya menentang pengguguran dan euthanasia. Dalam suatu surat ia mengutuk " kultur dari kematian," ia berkata pengguguran itu " selalu mendasari suatu kekacauan moral sejak secara terbuka membunuh manusia yang tidak bersalah secara sengaja,' kata Paus, menurut CNN. Isu-isu sosial lain yang ia pertentangkan adalah pembuahan buatan, hubungan seksual di luar perkawinan, dan hubungan homoseksual- meski demikian ia menghimbau toleransi untuk homoseksual. Selama masa jabatannya, ia menolak untuk mentahbiskan wanita, berkata bahwa gereja harus mengikuti contoh dari Yesus yang hanya memilih pria sebagai rasul-rasulnya, menurut AP Ia juga menekankan kebutuhan akan alim ulama (Katolik) untuk melakukan selibat. Mengikuti Jalan Perdamaian Walaupun warisan Yohanes Paulus pastilah meliputi usaha-usahanya pada perdamaian dengan Kristiani yang lain, dan bahkan dialog-dialog antar agama, satu contoh dari pengertian pribadi Yohanes Paulus akan harapan untuk mengatur hal-hal menjadi benar kembali adalah pengampunan yang ia tunjukkan bagi orang yang mencoba untuk membunuh dia di tahun 1981. Pada 13 Mei tahun itu, selagi memasuki Lapangan St. Peter untuk bertemu dengan yang hadir, seorang penembang dari Turki yang bernama Mehmet Ali Agca menembak Sri Paus, hampir membunuh dia. Pada tahun yang sama, dua hari setelah Natal, paus pergi ke penjara di mana orang yang akan membunuhnya tinggal dan mengadakan suatu percakapan dengan dia. Keduanya berbicara pelan-pelan dan sekali-kali, Agca tertawa, menurut Time. Paus memaafkan dia. Paus mencari perdamaian dengan berbagai cabang dari Kekristenan, termasuk Kaum Orthodox timur dan gereja Anglikan. Akan tetapi, keputusan Gereja Inggris untuk mentahbiskan wanita di tahun 1992 dan keputusan Episkopal untuk memilih uskup gay yang terbuka pada tahun 2004 mungkin telah merintangi usaha-usaha itu. Paus juga menggapai Yahudi, di depan umum meminta pengampunan Tuhan untuk penyiksaan Yahudi oleh orang Katolik sepanjang waktu. Di tahun 1993, Vatikan menetapkan hubungan diplomatik formal dengan Israel.

Mengunjungi Israel bulan Maret 2000 ia berdiri di Bethlehem, tempat kelahiran Yesus. Ia juga berdiri pada suatu tempat yang memperlihatkan sungai Galilea yang dikatakan bahwa Yesus mengajarkan Kotbah di Atas Bukit. Dari perjalanan ke Yerusalem, Time mengatakan ia menulis, " Untuk pergi dalam roh doa dari satu tempat ke lain, dari satu kota ke yang lain, membantu kita tidak hanya untuk menghidupi kehidupan kita sebagai suatu perjalanan." Itu " juga memberi kita suatu perasaan tentang Tuhan yang telah mendahului kita dan memimpin kita mengenal jalan manusia, Tuhan yang tidak meremehkan kita dari tempat tinggi, tetapi yang menjadi rekan perjalanan kita.

Kemurnian di luar perkawinan


PEMBAHASAN

I. Apa pentingnya kemurnian (chastity)? II. Apa itu kemurnian? 1. Kemurnian = keutuhan seksualitas secara jasmani dan rohani 2. Kemurnian = pengendalian diri yang mengacu kepada kelemahlembutan dan kesetiaan Allah 3. Kemurnian = peneguhan dan pemberian diri yang tidak diwarnai cinta diri/ mementingkan diri sendiri. II. Dasar kemurnian 1. Kesendirian Asali (Original Solitude) 2. Kesatuan Asali (Original Unity) 3. Ketelanjangan Asali (Original Nakedness) III. Tujuan kemurnian IV. Bentuk- bentuk kemurnian V. Dosa menjadikan manusia berjuang dalam kekudusan dan kemurnian 1. Dosa mengubah persepsi manusia akan kondisi asali 2. Kebajikan penguasaan diri dan hubungannya dengan kemurnian 3. Berlatih kemurnian adalah seperti berlatih mendidik anak-anak VI. Pelanggaran terhadap kemurnian 1. Nafsu/ ketidakmurnian 2. Masturbasi 3. Percabulan 4. Pornografi 5. Prostitusi 6. Perkosaan 7. Homoseksualitas VII. Bagaimana jika sudah terlanjur tidak murni? VIII. Mengusahakan kemurnian tubuh dan jiwa secara praktis.

1. Mengenal diri sendiri 2. Mohon rahmat Tuhan 3. Melatih pengendalian diri 4. Kemurnian hati mensyaratkan sikap bersahaja (modesty): IX. Kesimpulan: Kemurnian = mengasihi dengan jiwa dan tubuh

I. Apa pentingnya kemurnian (chastity)?


Mungkin ada banyak dari kita merasa bahwa kemurnian itu suatu hal yang aneh untuk dibicarakan, sepertinya muluk- muluk dan terlalu idealis. Apa sih perlunya? Mengapa Gereja repot- repot mengajarkannya? Mungkin jawabannya singkat saja: karena kemurnian berhubungan erat dengan kebahagiaan kita. Tuhan menciptakan kita sesuai dengan gambaran-Nya untuk maksud yang mulia: yaitu agar kita berbahagia bersamaNya, tanpa cacat dan cela (lih. Ef 1:3-6). Caranya adalah dengan mengasihi, dan memberikan diri. Manusia dapat sepenuhnya menemukan jati dirinya, hanya di dalam pemberian dirinya yang tulus.[1]. Seseorang yang selalu berpusat pada diri sendiri dan tak pernah memberikan dirinya kepada orang lain, tidak akan hidup bahagia. Sedangkan seseorang yang mau memberikan dirinya bagi orang lain akan menemukan arti hidupnya. Nah, pemberian diri yang tulus yang dikehendaki Tuhan ini, adalah pemberian kasih yang murni. Itulah sebabnya kita perlu mengetahui dan melaksanakan kebajikan kemurnian, karena hanya dengan menerapkannya, maka kita dapat sungguh berbahagia dan kelak dapat memandang Allah di surga. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah (Mat 5:8).

II. Apa itu kemurnian?


Kalau kita mendengar kata emas murni atau air murni, yang terbayang di pikiran kita adalah suatu zat dalam kondisi awal yang semestinya, yang tidak terkontaminasi oleh zatzat lain yang buruk. Demikian juga, Tuhan menghendaki kemurnian kita, artinya Tuhan menginginkan agar kita menjadi sempurna, tubuh dan jiwa, seperti pada awalnya saat Ia

menciptakan manusia yang sungguh sangat baik adanya (lih. Kej 1:31). Pertanyaannya kemudian adalah: Apakah saat kita memandang tubuh kita sendiri di depan kaca cermin, kita dapat berkata, Terima kasih Tuhan, Engkau telah menciptakan tubuhku dengan sangat baik? Atau selanjutnya, sudah cukupkah kita memperhatikan dan menjaga kecantikan rohani kita di samping menjaga kecantikan jasmani? Manusia diciptakan sebagai mahluk rohani yang mempunyai tubuh; yang berakal budi dan berkehendak bebas. Inilah yang menjadikan manusia dapat mengenal dan mengasihi Allah, dan menemukan arti hidupnya dengan melakukan kasih. Pertanyaannya adalah, kasih seperti apa? Jawaban yang sederhana, namun tak terkira dalam maknanya adalah: kasih yang seperti kasih Yesus; yaitu kasih yang melibatkan tubuh dan jiwa, seperti yang dinyatakan-Nya di kayu salib. Inilah kemurnian kasih yang Tuhan ajarkan kepada kita. Maka tak mengherankan jika Gereja Katolik mendefinisikan kemurnian, demikian:

1. Kemurnian = keutuhan seksualitas secara jasmani dan rohani


KGK 2337 Kemurnian berarti keutuhan seksualitas yang membahagiakan di dalam pribadi dan selanjutnya kesatuan batin manusia dalam keberadaannya secara jasmani dan rohani. Seksualitas, yang di dalamnya nyata, bahwa manusia termasuk dalam dunia badani dan biologis, menjadi pribadi dan benar-benar manusiawi ketika pribadi ini digabungkan ke dalam hubungan antara satu orang dengan yang lainnya, di dalam penyerahan timbal balik secara sempurna dan tidak terbatas oleh waktu, antara seorang laki- laki dan seorang perempuan. Dengan demikian kebajikan kemurnian melibatkan keutuhan pribadi dan kesempurnaan penyerahan diri. Jika kita menghayati makna keutuhan tubuh dan jiwa ini, maka kita dapat melihat bahwa tubuh kita diciptakan Tuhan untuk maksud yang ilahi, dan dengan tubuh ini kita dapat memuliakan Tuhan. Dengan penghayatan ini, kita tidak mudah dibingungkan oleh kedua pandangan ekstrim yang ada di dunia ini: 1) mengagungkan hal- hal rohani sampai menolak segala sesuatu yang bersifat jasmani/ seksual dan menganggapnya dosa; 2) mengagungkan hal- hal jasmani dan seksual sampai ke tingkat yang tidak semestinya, dan menolak segala yang bersifat rohani. Kedua pandangan ekstrim ini keliru karena memisahkan tubuh dan jiwa.

2. Kemurnian = pengendalian diri yang mengacu kepada kelemahlembutan dan kesetiaan Allah
Kemurnian menjadi penting, karena kasih yang sempurna mensyaratkan kemurnian dalam cara menyampaikannya. Nah, seorang yang murni adalah seorang yang dapat mengendalikan dirinya, pada saat menyerahkan dirinya pada orang lain; sehingga dapat menjadi saksi bagi orang lain tentang kesetiaan dan kelemahlembutan kasih Allah. KGK 2346 Kasih adalah bentuk semua kebajikan. Di bawah pengaruhnya, kemurnian tampak sebagai latihan penyerahan diri. Pengendalian diri diarahkan kepada penyerahan

diri. Kemurnian menjadikan orang yang hidup sesuai dengannya, seorang saksi bagi sesamanya tentang kesetiaan dan kasih Allah yang lemah lembut.

3. Kemurnian = peneguhan dan pemberian diri yang tidak diwarnai cinta diri/ mementingkan diri sendiri.
Kemurnian adalah peneguhan penuh sukacita dari seseorang yang mengetahui bagaimana ia hidup dengan memberikan dirinya, yang tidak dibatasi oleh segala bentuk perbudakan cinta diri.[2] Hal pemberian diri yang murni ini memang tidak mudah dilakukan, terutama karena manusia cenderung memiliki rasa cinta diri. Kasih kita kepada sesama secara umum dapat diuji dengan pertanyaan ini: Apakah dalam berelasi dengan sesama, fokus saya adalah menyenangkan diri sendiri atau menyenangkan orang lain? Apakah dalam berelasi dengan orang lain saya membantunya untuk hidup kudus/ murni atau malah menjerumuskannya? Paus Yohanes Paulus II mengajarkan, Para pria dan wanita yang ber-relasi satu sama lain dengan kemurnian sungguh memuliakan Allah dengan tubuh mereka.[3]

II. Dasar kemurnian


Paus Yohanes Paulus II mengajarkan agar kita dapat memahami makna kemurnian, kita harus melihat keadaan pada saat awal mula manusia diciptakan oleh Tuhan. Dalam khotbahnya, Theology of the Body, Paus mengajarkan adanya tiga pengalaman dasar yang dapat membantu kita membayangkan keadaan tersebut:

1. Kesendirian Asali (Original Solitude)


Pada saat awal mula penciptaan, Adam mengalami kesendirian di tengah dunia ciptaan Tuhan; sebab ia menyadari bahwa ia tidak sama dengan ciptaan lainnya (lih. Kej 2:20). Kesadaran ini timbul dari pengalaman tentang tubuhnya. Kesendirian ini memanggilnya untuk bersekutu dengan Tuhan Sang Pencipta dan dengan mahluk lain yang sejenis dengannya (lih. Kej 2:23).

2. Kesatuan Asali (Original Unity)


Ayat Kej 2:24 . dan keduanya menjadi satu tubuh merupakan dasar akan adanya kesatuan asali. Kesatuan ini mengatasi kesendirian manusia; dan kesatuan antar seorang laki- laki dan perempuan yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah ini, sungguh berbeda dengan persetubuhan binatang. Kesadaran akan kesatuan asali ini memberikan dasar bagi kemampuan seseorang untuk memberikan dirinya kepada orang lain dan menghargai orang lain, sebagai saudara laki- laki dan saudara perempuan di dalam kesatuan umat manusia (lih. Pope John Paul II, Theology of the Body 18:5))

3. Ketelanjangan Asali (Original Nakedness)

Ketelanjangan asali merupakan pengalaman telanjang namun tanpa rasa malu (Kej 2:25), namun bukan maksudnya bahwa kemudian orang boleh telanjang dan tidak perlu malu. Maksudnya di sini adalah, kita harus mempunyai kesadaran penuh akan makna tubuh kita seperti pada saat awal diciptakan Tuhan, sebagai pernyataan keseluruhan pribadi kita sebagai manusia. Sebab, Sesungguhnya tubuh, hanya tubuh saja, yang mampu memperlihatkan misteri Allah yang tidak kelihatan (TOB 96:6, 19:4). Itulah sebabnya Kristus Sang Firman menjadi daging (Yoh 1:14) mengambil tubuh manusia (Ibr 10:5), dan akhirnya mengorbankan Tubuh-Nya itu sebagai tebusan bagi dosa manusia, agar kita semua dapat memahami besarnya kasih Tuhan kepada kita manusia (lih. Yoh 3:16). Itulah sebabnya, Tuhan Yesus memerintahkan kepada para rasul untuk mengenangkan-Nya dengan melakukan perjamuan kudus, di mana Ia akan hadir dalam rupa roti dan anggur. Inilah Tubuh-Ku.. inilah Darah-Ku (lih. Mat 26:20-29; Mrk 14:17-25; Luk 22:14-23). Maka jika kita memahami makna ketelanjangan asali ini, maka kita akan melihat bagaimana rahmat Allah yang tidak kelihatan itu disampaikan kepada manusia, baik lakilaki maupun perempuan. Kekudusan yang melibatkan cara memandang seseorang sebagai ciptaan Tuhan yang baik adanya, inilah yang memampukan manusia menyatakan diri mereka melalui pemberian diri yang tulus (the sincere gift of self). Dengan perkataan lain, dengan menyadari kasih yang Tuhan sampaikan kepada kita melalui tubuh kita ini, maka kita dapat mempergunakan tubuh ini untuk mengasihi dan melayani sesama. Dalam konteks perkawinan, maka penghayatan pengalaman kesatuan asali dan ketelanjangan asali ini diwujudkan dalam hubungan seksual suami istri yang maknanya adalah: Aku memberikan diriku sepenuhnya kepadamu, segalanya, tanpa ada yang kusimpan sendiri. Setulusnya. Tanpa paksaan. Selamanya. Dan aku menerima pemberian dirimu yang engkau berikan kepadaku. Aku memberkati engkau. Aku mendukung/ meneguhkan engkau. Segala yang ada padamu, tanpa syarat. Selamanya.[4]. Bukankah pernyataan serupa ini dinyatakan oleh Kristus kepada Mempelai-Nya yaitu Gereja, di kayu salib? Kristus memberikan Diri-Nya sehabis- habisnya kepada Gereja, dan pemberian diri serupa ini yang menjadi teladan bagi suami untuk memberikan dirinya kepada istrinya. Sedangkan hubungan seksual di luar perkawinan yang hanya berfokus untuk memuaskan keinginan tubuh, cenderung tidak total, tidak didasari oleh komitmen kesetiaan selamanya, dan tidak didasari oleh persekutuan rohani di dalam Kristus. Dan karena hubungan ini tidak dilakukan sesuai dengan kehendak Allah, maka hal ini adalah dosa, dan tak heran jika kemudian mengakibatkan hal- hal buruk yang dapat merusak hubungan pasangan itu sendiri.

III. Tujuan kemurnian


Telah disampaikan bahwa kemurnian membawa manusia kepada keselamatan kekal. Mengapa? Karena kemurnian menunjukkan arti penciptaan manusia sebagai pria dan wanita: yaitu bahwa kita dipanggil untuk mengambil bagian dalam kasih persekutuan Allah dalam Trinitas di dalam Kristus. Hubungan kasih suami istri yang dapat melahirkan kehidupan baru, merupakan gambaran samar- samar akan kesatuan kasih Allah Trinitas, yaitu kasih persekutuan Allah Bapa dan Allah Putera yang menghembuskan Roh Kudus. Tentu saja persekutuan ketiga Pribadi Allah ini bukan karena ada perkawinan di dalam Pribadi Allah, namun demikian kesatuan mereka merupakan sesuatu yang seharusnya digambarkan dalam setiap perkawinan Kristiani. Ini adalah salah satu makna, bahwa manusia diciptakan menurut gambar Allah (Kej 1:27). Inilah sebabnya mengapa hubungan jasmani suami istri memiliki makna yang luhur. Karena kasih suami istri tidak saja melibatkan tubuh, tetapi juga jiwa. Dalam hal ini, persekutuan tubuh tidak terlepas dari persatuan jiwa. Persatuan ini terjadi ketika pasangan tersebut telah dipersatukan oleh Kristus, karena hanya di dalam Kristuslah manusia menemukan makna luhur perkawinan. Demikian juga, dengan penghayatan akan makna perkawinan, kita dapat semakin menghargai kehidupan para religius yang memilih untuk mempersembahkan keseluruhan kasih mereka yang total kepada Allah, sehingga kehidupan mereka di dunia ini menjadi tanda yang lebih jelas tentang persekutuan kekal antara Allah dan manusia dalam perjamuan Anak Domba yang tidak melibatkan perkawinan secara jasmani.

IV. Bentuk- bentuk kemurnian


Sebagai umat beriman, kita semua dipanggil untuk hidup murni, entah seseorang hidup sebagai seorang religius, atau mereka yang menikah maupun yang tidak menikah. Kita semua dipanggil untuk hidup kudus (lih. Konsili Vatikan II, Lumen Gentium Bab V), sebab tubuh kita ini adalah bait Allah Roh Kudus (lih. 1 Kor 6:19). Maka mereka yang sudah menikah dipanggil untuk hidup dalam kemurnian pernikahan, sedangkan yang tidak menikah, kemurnian dengan tidak melakukan aktivitas seksual. Maka ada tiga bentuk kemurnian, yaitu yang menyangkut kemurnian pasangan suami istri, kemurnian para janda/ duda, dan kemurnian para perawan/ selibat.[5]. Mereka yang selibat untuk Kerajaan Allah merupakan tanda yang jelas di dunia ini tentang makna persekutuan dengan Allah pada akhir jaman nanti, sebab mereka tidak kawin dan dikawinkan namun menjaga kemurnian kasih dalam kesatuan dengan Allah. Lalu, bagaimana untuk orang-orang yang sedang bertunangan? Katekismus mengajarkan: KGK 2350, Mereka yang terikat/bertunangan dan akan menikah dihimbau agar hidup murni dalam suasana berpantang. Mereka harus melihat waktu percobaan ini sebagai waktu, di mana mereka belajar, saling menghormati dan saling menyatakan kesetiaan dengan harapan, bahwa mereka dianugerahkan oleh Allah satu untuk yang lain. Mereka harus menghindari pernyataan cinta kasih yang merupakan cinta kasih suami isteri,

sampai pada waktu mereka menikah. Mereka harus saling membantu agar dapat tumbuh dalam kemurnian. Dengan demikian waktu berpacaran/ bertunangan merupakan waktu yang harus digunakan untuk mengenal pribadi pasangan, terutama secara rohani. Ini penting, karena hal persekutuan rohani sesungguhnya yang mendasari persekutuan jasmani, dan tidak terpisahkan darinya. Jika pasangan mendahulukan keintiman jasmani, misalnya dengan hubungan seksual sebelum menikah, maka sebenarnya keduanya mengambil sesuatu sebelum waktunya, kesatuan yang ingin dilambangkan sebenarnya belum ada, dan kemurnian jiwa dan tubuh mereka menjadi korbannya. Namun percabulan tidak hanya disebabkan oleh hubungan seksual sebelum perkawinan. Yesus mengajar, Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya. (Mat 5:28). Hal perzinahan di pikiran sudah termasuk dalam dosa melawan kemurnian. Nampaknya, kemurnian menjadi sesuatu yang sulit dijalankan, terlebih dengan adanya banyak propaganda yang seolah mengumbar hal- hal seksual. Mengapa ada kecenderungan manusia jatuh ke dalam dosa seksual ini?

V. Dosa menjadikan manusia berjuang dalam kekudusan dan kemurnian


1. Dosa mengubah persepsi manusia akan kondisi asali
St. Thomas Aquinas mengajarkan bahwa manusia pertama (Adam dan Hawa) diciptakan dengan rahmat pengudusan Allah (sanctifying grace) dan karunia preternatural gifts yaitu 1) keabadian atau tidak dapat mati, 2) tidak dapat menderita, 3) mempunyai pengetahuan akan Tuhan atau infused knowledge dan 4) berkat keutuhan atau integrity maksudnya, adalah harmoni atau tunduknya nafsu kedagingan pada akal budi. Namun sejak manusia pertama jatuh dalam dosa, mereka kehilangan karunia-karunia tersebut. Adam dan Hawa menurunkan dosa asal dan akibatnya kepada keturunan mereka, termasuk kita, sehingga kita sebagai manusia memang selalu mempunyai kecenderungan untuk berbuat dosa. Salah satu dokumen Vatikan II, Gaudium Et Spes menuliskan tentang dosa asal dan bagaimana manusia senantiasa berjuang dalam kekudusan di tengah-tengah kecenderungan untuk berbuat dosa. Akan tetapi manusia, yang diciptakan oleh Allah dalam kebenaran, sejak awal mula sejarah, atas bujukan si Jahat, telah menyalahgunakan kebebasannya. Ia memberontak melawan Allah, dan ingin mencapai tujuannya di luar Allah. Meskipun orang-orang mengenal Allah, mereka tidak memuliakan-Nya sebagai Allah; melainkan hati mereka yang bodoh diliputi kegelapan, dan mereka memilih mengabdi makhluk dari pada Sang Pencipta[10]. Apa yang kita ketahui berkat Perwahyuan itu memang cocok dengan pengalaman sendiri. Sebab bila memeriksa batinnya sendiri manusia memang menemukan juga, bahwa ia cenderung untuk berbuat jahat, dan

tenggelam dalam banyak hal-hal buruk, yang tidak mungkin berasal dari Penciptanya yang baik. Sering ia menolak mengakui Allah sebagai dasar hidupnya. Dengan demikian ia merusak keterarahannya yang sejati kepada tujuan yang terakhir, begitu pula seluruh hubungannya yang sesungguhnya dengan dirinya sendiri, dengan sesama manusia, dan dengan segenap ciptaan. Oleh karena itu dalam batinnya manusia mengalami perpecahan. Itulah sebabnya, mengapa seluruh hidup manusia, ditinjau secara perorangan maupun secara kolektif, nampak sebagai perjuangan, itu pun perjuangan yang dramatis, antara kebaikan dan kejahatan, antara terang dan kegelapan. Bahkan manusia mendapatkan dirinya tidak mampu untuk atas kuasanya sendiri memerangi serangan-serangan kejahatan secara efektif, sehingga setiap orang merasa diri ibarat terbelenggu dengan rantai. Akan tetapi datanglah Tuhan sendiri untuk membebaskan dan meneguhkan manusia, dengan membaharuinya dari dalam, dan dengan melemparkan keluar penguasa dunia ini (lih. Yoh 12:31), yang menahan manusia dalam perbudakan dosa[11]. Adapun dosa yang merongrong manusia sendiri dengan menghalang-halanginya untuk mencapai kepenuhannya. Dalam terang Perwahyuan itulah baik panggilan luhur maupun kemalangan mendalam, yang dialami oleh manusia, menemukan penjelasannya yang terdalam.[6] Rahmat pengudusan dipulihkan oleh rahmat yang mengalir dari misteri Paskah Kristus, sehingga manusia dapat tetap mengambil bagian di dalam kehidupan Tuhan. Sebaliknya, berkat keutuhan (gift of integrity) tidak terpulihkan, namun dipakai oleh Tuhan sebagai cara sehingga manusia dapat membuktikan kasihnya kepada Tuhan. Oleh karena itu, walaupun telah dibaptis yang berarti telah menerima rahmat pengudusan, tiga kebajikan ilahi (iman, pengharapan dan kasih), karunia Roh Kudus, dan karunia menjadi anak-anak Allah manusia senantiasa mempunyai kecenderungan berbuat dosa (concupiscence). Katekismus Gereja Katolik mendefinisikan concupiscence / tinder of sin / kecenderungan berbuat dosa sebagai berikut: KGK, 1264. Tetapi di dalam orang-orang yang dibaptis tetap ada beberapa akibat sementara dari dosa: penderitaan, penyakit, kematian, kelemahan yang berhubungan dengan kehidupan (seperti misalnya kelemahan tabiat), serta kecondongan kepada dosa, yang tradisi namakan concupiscentia [keinginan tak teratur] atau, secara kiasan, dapur dosa [fomes peccati]. Karena keinginan tak teratur tertinggal untuk perjuangan, maka ia tidak akan merugikan mereka, yang tidak menyerah kepadanya dan yang dengan bantuan rahmat Yesus Kristus menantangnya dengan perkasa. Malahan lebih dari itu, siapa yang berjuang dengan benar, akan menerima mahkota (2 Tim 2:5) (Konsili Trente: DS 1515). Dari pemaparan di atas, maka kita dapat melihat bahwa sampai akhir hayatnya, manusia akan senantiasa berjuang dalam kekudusan, termasuk dalam menjaga kemurnian.

2. Kebajikan penguasaan diri dan hubungannya dengan kemurnian

Sehubungan dengan kemurnian (chastity), kita akan membahas secara khusus tentang kebajikan penguasaan diri. Katekismus Gereja Katolik mendefinisikan sebagai berikut: KGK 1809 Penguasaan diri adalah kebajikan moral yang mengekang kecenderungan kepada berbagai macam kenikmatan dan yang membuat kita mempergunakan benda-benda duniawi dengan ukuran yang tepat. Ia menjamin penguasaan kehendak atas kecenderungan dan tidak membiarkan kecenderungan melampaui batas-batas yang patut dihormati. Manusia yang menguasai diri mengarahkan kehendak inderawi-nya kepada yang baik, mempertahankan kemampuan sehat untuk menilai, dan berpegang pada kata-kata: Jangan mengikuti setiap kecenderungan walaupun engkau mampu, dan jangan engkau mengikuti hawa nafsumu (Sir 5:2, Bdk. Sir 37:27-31) Kebajikan penguasaan diri sering dipuji dalam Perjanjian Lama: Jangan dikuasai oleh keinginan-keinginanmu, tetapi kuasailah segala nafsumu (Sir 18:30). Dalam Perjanjian Baru ia dinamakan kebijaksanaan atau ketenangan. Kita harus hidup bijaksana, adil, dan beribadah di dalam dunia sekarang ini (Tit 2:12). Hidup yang baik itu tidak lain dari mencintai Allah dengan segenap hati, dengan segenap jiwa, dan dengan segenap pikiran. (Oleh penguasaan diri) orang mencintai-Nya dengan cinta sempurna, yang tidak dapat digoyahkan oleh kemalangan apa pun (karena keberanian yang hanya mematuhi Dia (karena keadilan) dan yang siaga supaya menilai semua hal, supaya jangan dikalahkan oleh kelicikan atau penipuan (inilah kebijaksanaan) (Agustinus, mor. Eccl. 1,25,46). Penguasaan diri dapat diterapkan dalam makanan, minuman dan juga dalam seksualitas. Penguasaan diri bukan berarti meniadakan sama sekali keinginan yang menjadi bagian darinya, namun memakainya dengan ukuran yang tepat dan sesuai dengan akal budi yang benar.[7] Contohnya, bagi pasangan yang belum menikah, adalah wajar untuk ingin saling berdekatan, namun jangan sampai melakukan melakukan hubungan intim yang hanya diperbolehkan untuk suami dan istri. Sedangkan suami istri walaupun diperbolehkan untuk melakukan hubungam intim, namun jangan sampai hubungan tersebut hanya didasari oleh nafsu belaka, sehingga menjadikan pasangan hanya sebagai obyek pelampiasan semata.

3. Berlatih kemurnian adalah seperti berlatih mendidik anak-anak


Pertanyaannya adalah, bagaimana kita dapat mengendalikan kecenderungankecenderungan ini, sehingga kita dapat hidup murni? Kata kemurnian (chastity) menurut St. Thomas adalah memurnikan kecenderungan berbuat dosa (concupiscence) dengan akal budi. Aristoteles membandingkan hal ini seperti proses pendidikan anak-anak.[8] Seperti anak-anak yang dibiarkan untuk berbuat apa saja, maka akan semakin sulit untuk dikontrol. Namun, semakin anak-anak dilatih dan dididik, maka dia akan semakin menurut, sampai akhirnya pendidikan tersebut menjadi bagian dari dirinya, sehingga pendidikan tersebut bukan menjadi sesuatu yang mengekang namun menjadi sesuatu yang membebaskan.

VI. Pelanggaran terhadap kemurnian


Setelah kita mengetahui kemurnian dan hubungannya dengan kebajikan, serta menyadari perlunya untuk mengarahkan dorongan kodrati (sensitive appetite), maka kita akan melihat beberapa hal yang dipandang sebagai pelanggaran terhadap kemurnian:

1. Nafsu/ ketidakmurnian
KGK 2351 Nafsu adalah hasrat yang menyimpang akan, ataupun kenikmatan yang tidak teratur akan kesenangan seksual. Keinginan seksual itu tidak teratur secara moral, apabila ia dikejar karena dirinya sendiri dan dengan demikian dilepaskan dari tujuan batinnya untuk melanjutkan kehidupan (procreative) dan untuk hubungan cinta kasih (unitive).

2. Masturbasi
KGK 2352 Masturbasi adalah rangsangan alat-alat kelamin yang disengaja dengan tujuan membangkitkan kenikmatan seksual. Baik Wewenang Mengajar Gereja dalam tradisinya yang tidak berubah maupun perasaan susila umat beriman telah tidak pernah meragukan, untuk mencap masturbasi sebagai satu tindakan yang sangat menyimpang. Penggunaan kemampuan seksual dengan sengaja, dengan alasan apa pun, yang dilakukan di luar hubungan suami isteri yang normal, bertentangan dengan hakikat tujuannya. Sebab di sini, kenikmatan seksual dicari di luar hubungan seksual yang diatur oleh hukum moral/ kesusilaan dan yang di dalamnya dicapai arti sepenuhnya dari penyerahan diri secara timbal balik dan juga suatu pembuahan manusiawi di dalam cinta yang sejati[9]. Walaupun ada pandangan psikologis yang menyetujui masturbasi sebagai suatu cara penyaluran dorongan seksual, namun Gereja tidak pernah membenarkan tindakan tersebut. Masturbasi adalah tindakan didasari motif mengagungkan kenikmatan seksual di atas segalanya, dan ini dapat beresiko menjadikan seseorang kecanduan seksual, di mana seseorang menempatkan kenikmatan badani sebagai tuhannya. Maka harus dicari jalan yang positif untuk menyalurkan dorongan- dorongan seksual, agar fokusnya bukan menyalurkan dorongan tersebut dengan melakukan aktivitas seksual, tetapi mengarahkannya kepada aktivitas lain yang membangun tubuh dan jiwa.

3. Percabulan
KGK 2353 Percabulan adalah hubungan badan antara seorang pria dan seorang wanita yang tidak menikah satu dengan yang lain. Ini adalah satu pelanggaran besar terhadap martabat orang-orang ini dan terhadap seksualitas manusia itu sendiri, yang dari kodratnya diarahkan kepada kebahagiaan suami isteri serta kepada melahirkan keturunan dan pendidikan anak-anak. Selain itu ia juga merupakan skandal berat, karena dengan demikian moral anak-anak muda dirusakkan.

Termasuk di sini adalah hidup bersama sebelum menikah, karena umumnya mereka yang melakukannya mempunyai kecenderungan untuk melakukan dosa percabulan. Percabulan ini juga tidak terbatas dengan tindakan nyata, sebab seseorang dapat jatuh dalam dosa percabulan dengan pikirannya (lih. Mat 5:28; KGK 2528). Bagaimana agar tidak jatuh dalam dosa percabulan sebelum menikah? Demikian adalah anjuran dari Johann Christoph Arnold, dalam bukunya A Plea for Purity: Pelukan yang lama, saling bercumbu, ciuman bibir dan segala yang lain yang dapat mendorong hasrat seksual harus dihindari. Hasrat untuk berdekatan secara fisik antara sepasang kekasih adalah sesuatu yang wajar, namun daripada membangkitkan hasrat seputar keintiman ini, pasangan tersebut harus memfokuskan diri untuk lebih mengenal pasangan secara lebih akrab secara rohani, dan saling membangun kasih kepada Yesus dan Gereja-Nya. [10] Ketika Tuhan Yesus berbicara tentang percabulan di hati, maksudnya adalah seorang pria tidak boleh memandang seorang wanita dengan nafsu. Paus Yohanes Paulus II mengatakan, Percabulan di hati dilakukan bukan hanya karena laki-laki melihat dengan cara sedemikian kepada seorang perempuan yang bukan istrinya, tetapi karena ia melihat dengan cara sedemikian kepada seorang perempuan. Meskipun laki- laki itu melihat dengan cara sedemikian kepada perempuan yang adalah istrinya, ia tetap melakukan percabulan di hatinya. (TOB 43:2). Maka di sini Paus mengajarkan bahwa hubungan suami istri tidak boleh direduksi artinya hanya sebagai pemuasan kebutuhan seksual, namun sebagai ungkapan kasih yang total antara suami istri sesuai dengan kehendak Tuhan.

4. Pornografi
KGK 2354 Pornografi mengambil persetubuhan yang sebenarnya atau yang dibuat-buat dengan sengaja dan keintiman para pelaku dan menunjukkannya kepada pihak ketiga. Ia menodai kemurnian, karena ia meyimpangkan makna hubungan suami isteri, penyerahan diri yang intim antara suami dan isteri. Ia sangat merusak martabat semua mereka yang ikut berperan (para aktor, pedagang, dan penonton), karena mereka ini menjadi obyek kenikmatan primitif dan sumber keuntungan yang tidak diperbolehkan. Pornografi menenggelamkan semua yang berperan di dalamnya dalam sebuah dunia semu. Ia adalah suatu pelangaran berat. Pemerintah berkewajiban mencegah pengadaan dan penyebarluasan bahan-bahan pornografi. Sayangnya, dewasa ini pornografi ini marak di mana- mana dan mudah diakses oleh kalangan luas termasuk anak- anak. Diperlukan kehendak yang kuat dan konsistensi untuk menolak pornografi.

5. Prostitusi
KGK 2355 Prostitusi menodai martabat orang yang melakukannya dan orang dengan demikian merendahkan diri sendiri dengan menjadikan diri obyek kenikmatan sematamata bagi orang lain. Siapa yang melakukannya, berdosa berat terhadap diri sendiri; ia

memutuskan hubungan dengan kemurnian yang telah ia janjikan pada waktu Pembaptisan, dan menodai tubuhnya, kenisah Roh Kudus (Bdk. 1 Kor 6:15-20). Prostitusi adalah satu bencana untuk masyarakat. Sebagaimana, biasa ia menyangkut para wanita, tetapi juga para pria, anak-anak, atau orang muda (kedua kelompok terakhir melibatkan dosa tambahan karena penyesatan)..

6. Perkosaan
KGK 2356 Perkosaan adalah satu pelanggaran dengan kekerasan dalam keintiman seksual seorang manusia. Ia adalah pelanggaran terhadap keadilan dan cinta kasih. Perkosaan adalah pelanggaran hak yang dimiliki setiap manusia atas penghormatan, kebebasan, keutuhan fisik, dan jiwa. Ia menyebabkan kerusakan besar, yang dapat membebani korban seumur hidup. Ia selalu merupakan suatu perbuatan yang pada dasarnya/ dengan sendirinya jahat. Lebih buruk lagi, apabila orang-tua atau para pendidik memperkosa anak-anak yang dipercayakan kepada mereka.

7. Homoseksualitas
KGK 2357 Homoseksualitas adalah hubungan antara para pria atau wanita, yang merasa diri tertarik dalam hubungan seksual, semata-mata atau terutama, kepada orang sejenis kelamin.. Berdasarkan Kitab Suci yang melukiskannya sebagai penyelewengan besar (Bdk.Kej 19:1-29; Rm 1:24-27; 1 Kor 6:10; 1 Tim 1:10) tradisi Gereja selalu menjelaskan, bahwa perbuatan homoseksual itu sangat menyimpang[11]. Perbuatan itu melawan hukum kodrat, karena kelanjutan kehidupan tidak mungkin terjadi waktu persetubuhan. Perbuatan itu tidak berasal dari satu kebutuhan benar untuk saling melengkapi secara afektif dan seksual. Bagaimanapun perbuatan itu tidak dapat dibenarkan.

VII. Bagaimana jika sudah terlanjur tidak murni?


Jika karena satu dan lain hal, (entah karena ketidaktahuan, ataukah karena kesalahan) seseorang tidak sepenuhnya menjalankan ajaran kemurnian di masa yang lalu, janganlah berputus asa. Tuhan Yesus datang untuk mengampuni dosa- dosa manusia. Asalkan ia dengan tulus menyesali segala dosa dan kesalahannya, maka Tuhan akan mengampuninya. Seperti Yesus mengampuni perempuan yang berdosa (Maria Magdalena), dan pengampunan ini mengubah kehidupan perempuan ini; Yesuspun dapat mengampuni kita dan mengubah kehidupan kita. Alkitab mencatat, bahwa kepada perempuan ini Tuhan Yesus menampakkan diri pada hari kebangkitan-Nya. Semoga kitapun dapat menjadi saksi- saksi kebangkitan-Nya dan karya penyelamatan-Nya dalam hidup kita. Maka, kisah pertobatan Maria Magdalena ini harus mendorong kita untuk bertobat; dan selalu tidak ada kata terlambat untuk bertobat. Selanjutnya usahakanlah untuk menjaga kemurnian ini, dan mengajarkannya kepada anak- anak kita; agar mereka dapat mengetahui kabar gembira tentang kemurnian ini, dan melaksanakannya dalam kehidupan mereka.

VIII. Mengusahakan kemurnian tubuh dan jiwa secara praktis.


Berikut ini adalah langkah- langkah praktis untuk mengusahakan kemurnian tubuh dan jiwa:

1. Mengenal diri sendiri


Kita harus mengenal diri sendiri, sehingga kita tahu di area mana kita harus memperbaiki diri. Untuk itu, kita minta agar Roh Kudus menyingkapkan apa yang tersebunyi, yang ada di dalam diri kita.

2. Mohon rahmat Tuhan


Kita memohon kepada Tuhan agar membersihkan hati kita dari pikiran- pikiran dan kecenderungan yang tidak semestinya.

3. Melatih pengendalian diri


Selanjutnya, kita harus melatih pengendalian diri, dan mempraktekkan ajaran kemurnian ini, dalam pikiran, perkataan dan perbuatan. KGK 2530 Perjuangan melawan keinginan daging terjadi melalui pembersihan hati dan latihan menjaga batas dalam segala hal. KGK 2532 Untuk pembersihan hati dibutuhkan doa, mempraktekkan kemurnian, mempunyai maksud dan pandangan yang murni. Pedoman praktis: jauhi segala kesempatan yang mendorong kita untuk berpikir atau melakukan hal- hal yang tidak sopan. Jauhilah pembicaraan yang nyerempet ke arah hal yang porno. Carilah kesibukan yang lebih bermanfaat dan membangun.

4. Kemurnian hati mensyaratkan sikap bersahaja (modesty):


KGK 2533 Kemurnian hati menuntut sikap yang bersahaja, yang terdiri dari kesabaran, kerendahan hati, dan kehati-hatian (discretion). Sikap yang bersahaja melindungi jati diri seseorang. KGK 2522 Sikap bersahaja (modesty) melindungi rahasia pribadi dan cinta kasihnya. Ia mengundang untuk bersabar dan mengekang diri dalam hubungan cinta kasih. Sikap bersahaja mensyaratkan bahwa prasyarat-prasyarat untuk ikatan definitif dan penyerahan timbal balik dari suami dan isteri dipenuhi. Dalam sikap tersebut termasuk pula sikap kepantasan/ kelayakan. Ia mempengaruhi pemilihan busana. Ia diam atau menahan diri jika ada resiko ingin tahu yang tidak sehat. Ia bijaksana dalam menghormati privacy orang lain.

Sikap yang pantas dan bersahaja (modesty) dalam perkataan, perbuatan dan cara berpakaian adalah sangat penting untuk menciptakan atmosfir yang cocok untuk pertumbuhan kemurnian. Orang tua perlu waspada sehingga mode- mode pakaian yang tidak sopan dan sikap- sikap yang tidak pantas tidak melanggar keutuhan sebuah rumah tangga, terutama karena salah penggunaan mass media.[12]

IX. Kesimpulan: Kemurnian = mengasihi dengan jiwa dan tubuh


Sebagai mahluk yang diciptakan Tuhan sesuai dengan gambaran Allah, yang adalah Kasih, manusia diciptakan untuk mengasihi. Maka setiap manusia diberi kemampuan oleh Tuhan untuk mengasihi dengan memberikan dirinya dengan tulus, yang melibatkan tubuh dan jiwa, dan inilah yang membedakan manusia dengan ciptaan lainnya. Oleh karena itu, seksualitas manusia adalah sesuatu yang baik, sebab manusia ber- relasi satu sama lain dengan tubuhnya. Maka tujuan akhir seksualitas adalah kasih, yaitu kasih yang melibatkan kegiatan memberi dan menerima. Jadi, bagi pasangan yang menuju jenjang perkawinan harus mempraktekkan kemurnian, sehingga dapat menghormati pasangan dan mengasihi pasangan lebih dari sekedar tubuh pasangan, namun terutama mengasihi pasangan sebagai seseorang / pribadi. Dengan demikian, pasangan ini dapat saling mengenal satu sama lain, dapat saling memberi dan menerima secara lebih mendalam dan spiritual. Dalam perkawinan, pemberian dan penerimaan kasih terjadi sedemikian rupa, sehingga menggambarkan kasih yang total sebagaimana kasih Kristus kepada Gereja-Nya. Hubungan kasih ini mengatasi hubungan kontrak ataupun perjanjian, sebab yang mengikat adalah Kristus sendiri, yaitu ketika pasangan suami istri dipersatukan oleh Allah untuk mengambil bagian di dalam kehidupan Allah sendiri, dan dalam karya penciptaan-Nya. Oleh sebab itu hubungan suami istri memiliki makna luhur dan suci, dan karena itu tidak dapat diartikan dan dilakukan sekehendak hati manusia. Kebajikan kemurnian adalah segala upaya untuk menggunakan berkat seksualitas sesuai dengan rencana Tuhan. Hanya dengan mempraktekkan kebajikan kemurnian inilah maka kita dapat sungguh berbahagia. Catatan: Bahan ini diberikan untuk session 4 (tanggal 2 November 2010) dari 9 session, seminar tentang kabar baik tentang seks dan perkawinan yang diselenggarakan oleh Seksi Kerasulan Keluarga Paroki Stella Maris. CATATAN KAKI: 1. Konsili Vatikan II, Gaudium et Spes, 24 [] 2. The Pontifical Council of the Family, The Truth and Meaning of Human Sexuality, 17 [] 3. lih. Pope John Paul II, Theology of the Body 57:3 [] 4. Christopher West, Theology of the Body Explained (Boston: Pauline Books anda Media, 2007), p.137 [] 5. lihat. St. Ambrose, De viduis 4, 23: PL 16, 255A []

6. Gaudium et Spes, 13 [] 7. ST, II-II, q. 154, a. 1. [] 8. ST, II-II, q. 151, a. 1. See Aristotle, Nich. Ethics 3.12. 1119a33. [] 9. CDF, Perny. Persona humana 9 [] 10. Johann Christoph Arnold, A Plea for Purity, (Farmimgton: The Plough Publishing House of the Bruderhof Foundation, 1998, reprint), 102 [] 11. CDF, Perny. Persona humana 8 [] 12. Pontifical Council for the Family, The truth and meaning of human sexuality, 56 []

Ditulis oleh Stefanus Tay & Ingrid Tay pada 01 11 10 Disimpan dalam Antropologi, Artikel, Hal Kontemporer, Keluarga. Anda dapat mengikuti pesan-pesan di artikel ini melalui RSS 2.0. Anda dapat meninggalkan pesan atau trackback di artikel i

Kisah Perjalananku Menuju Gereja Katolik


Dari Katolisitas: Tulisan ini merupakan bagian kedua dari kesaksian iman Rachel. Kami berterima kasih atas kesediaan Rachel untuk membagikan kisah pergumulan batinnya sampai akhirnya memilih untuk menjadi seorang Katolik. Semoga kisah kesaksian iman ini dapat juga menguatkan iman kita semua..

Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir. (Pengkhotbah 3 : 11) Tak pernah terbayang sebelumnya, kalau pada akhirnya aku akan memilih untuk menjadi seorang Katolik. Ini merupakan keputusan terbesar dalam hidupku setelah pernikahan. Sekali mengatakan Ya, berarti untuk selamanya!! Setelah melalui perjalanan yang panjang dengan liku-likunya, yang terkadang penuh duri dan terasa amat menyakitkan, serta acap kali menemui persimpangan jalan hingga membuatku cukup mengalami depresi, kini aku, dengan langkah pasti dan kepala tegap terangkat, dapat mengarahkan hatiku untuk melangkah memasuki Gereja Katolik. Ya, Gereja Katolik! Gereja Katolik yang dahulunya sangat bertentangan dengan hatiku, dengan pikiranku, dengan seluruh keberadaanku sebagai seorang Protestan. Dulu, aku sangat membenci doktrin-doktrin Katolik, khususnya ajaran mengenai Maria. Bagiku, Maria adalah penghalang utama orang Katolik untuk mendekat lebih lagi kepada Yesus. Apapun yang orang Katolik jelaskan, termasuk pacarku sendiri, tentang doktrin Maria, otakku tidak bisa menerimanya, hatiku selalu memberontak dengan keras. Bagiku doktrin Maria hanyalah buatan manusia, karangan Paus semata! Salah satu penyebab kebencianku terhadap Maria adalah juga karena kegemaranku membaca buku-buku rohani yang berhubungan dengan alam roh. Aku pernah membaca sebuah buku yang ditulis oleh seorang mantan penyihir dari Afrika, bernama Mukendi. Di situ dikatakan bahwa ketika Allah mengusir Lucifer dari Firdaus, ia tidak hanya terlempar seorang diri saja, tetapi bersama pengikut-pengikutnya, dan para pengikutnya

itu tersebar ke berbagai tempat. Ada yang terjatuh ke dalam laut, dan menjadi penguasa lautan. Kebetulan malaikat penguasa laut ini bernama Maria Marguella, ia sering mengaku sebagai Maria ibu Yesus. Dan menurut Mukendi, orang yang berdoa kepada Maria, secara tidak langsung mereka sedang berdoa kepada malaikat penguasa lautan ini. Ada juga malaikat yang jatuh ke langit, dan menjadi penguasa langit, dibawah kakinya terdapat tulisan: Rosa, yang berarti naga. Dan orang yang berdoa Rosario secara tidak langsung juga mereka sesungguhnya sedang berdoa kepada malaikat penguasa langit tersebut. Masih banyak hal lainnya yang membuatku semakin membenci Maria, dan mengasihani orang-orang Katolik. Aku menelan seluruh isi buku itu bulat-bulat, tanpa ada sedikit pun perlawanan dari dalam diriku. Sekarang buku itu sudah tidak ada lagi, bukan karena hilang, atau kubuang, tetapi, (sekarang aku baru menyesal), karena buku tersebut sudah kuberikan kepada seseorang yang tidak kukenal, yang sudah hampir menemui ajalnya karena sakit berat. Aku pernah bertanya kepada pacarku yang seorang Katolik: Kalau memang tujuan dari setiap penampakan Maria itu adalah membawa orang untuk lebih dekat lagi kepada Yesus, kenapa tidak Yesus sendiri saja yang langsung menampakan diriNya kepada orang-orang, kenapa harus Maria? Apa mungkin Maria yang adalah manusia biasa, sama seperti kita, bisa dengan mudahnya naik turun Surga hanya untuk menampakkan dirinya? Sementara aku sedang mengajukan pertanyaan itu, di dalam pikiranku sendiri tiba-tiba muncul gambaran tentang penampakan Musa dan Elia, ketika Yesus dan ketiga muridNya naik ke gunung yang tinggi. Matius 17:3 Maka nampak kepada mereka Musa dan Elia sedang berbicara dengan Dia. Kemudian aku mendengar pacarku itu menjawab: Mungkin saja, kalau itu memang sesuai dengan kehendak Tuhan. Contohnya Musa dan Elia yang menampakan diri kepada Yesus! Aku terdiam dan jadi heran sendiri. Bukan hanya karena jawaban dari pacarku itu, tapi terutama tentang gambaran yang tadi tiba-tiba saja muncul di dalam pikiranku, seolaholah aku sudah diberitahu jawabannya terlebih dahulu sebelum pacarku menjawab. Kisah cintaku semasa pacaran banyak dihiasi dengan pertengkaran seputar doktrin Katolik, terutama doktrin Maria ini. Aku juga pernah berkata kepada pacarku kemudian, yang sekarang sudah menjadi suami tercintaku: Kenapa sih dalam doa Rosario, Salam Maria didoakan sampai 10 kali, sementara doa Bapa kami cuma satu kali saja?

Tanpa menunggu jawaban dari pacarku itu, aku kembali berkata dengan ketus: Dasar Maria egois! serakah! Maunya dia yang paling banyak didoakan! Saat itu pacarku masih sabar dalam menghadapi perlawananku, yang kalau kupikir sekarang, sudah amat keterlaluan. Tapi, ada suatu waktu dia sudah tidak dapat lagi menahan kemarahannya, karena mendengar penghinaanku terhadap Bunda Maria. Aku sudah lupa bagaimana kejadiannya saat itu, tapi yang aku tidak dapat lupakan adalah tanggapannya yang sangat keras: Yayang boleh sepuasnya menghina Koko, tapi jangan sekali-kali Yayang menghina Mama Koko, apalagi Mama yang sangat Koko hormati! Setelah berkata seperti itu, dia pun pergi dengan penuh kemarahan, meninggalkan aku sendiri yang pada saat itu masih juga dapat tersenyum, karena pikirku: Siapa juga yang menghina mamanya, orang yang aku hina Maria, bukan mamanya! Tapi sekarang aku sudah mengerti bahwa yang dimaksud pacarku waktu itu adalah Maria sebagai mamanya, sebagai ibu rohaninya. Saat tergantung di kayu salib, Yesus menyerahkan ibuNya kepada murid terkasihNya, Yohanes, dengan berkata kepada ibuNya: Ibu, inilah anakmu!, dan kepada murid terkasihNya: Inilah ibumu!, dan mulai saat itu Yohanes menerima Maria di dalam rumahnya. (Yoh 19 : 26-27) Karena kita juga adalah murid terkasih Yesus, maka ibuNya pun menjadi ibu kita. Bahkan dalam Ibrani 2 : 11-12, Yesus menyebut kita adalah saudara-saudaraNya. Ibrani 2 : 11 Sebab Ia yang menguduskan dan mereka yang dikuduskan, mereka semua berasal dari Satu; itulah sebabnya Ia tidak malu menyebut mereka saudara, Ibrani 2 : 12 Kata-Nya: Aku akan memberitakan nama-Mu kepada saudara-saudara-Ku, dan memuji-muji Engkau di tengah-tengah jemaat, Meski bibirku tersenyum mendengar kata-kata pacarku yang menyebut Maria sebagai mamanya, tapi sesungguhnya hatiku porak poranda. Aku langsung berlari masuk ke dalam kamar dan menangis sejadi-jadinya. Aku bertanya kepada Tuhan: Mengapa Tuhan, mengapa harus aku yang mengalami hal seperti ini? Engkau tahu kalau aku ini paling anti Katolik Tak pernah sekalipun dalam doaku, aku memohon kepadaMu untuk mengirimkan padaku seorang pacar Katolik! Lalu mengapa Kau malah mengirimkan padaku seseorang yang bahkan sangat kuat dalam iman Katoliknya? Siapakah itu Maria? Tolong Tuhan, tunjukkan padaku siapakah itu Maria? Pada suatu hari, aku melihat sebuah buku dari daftar buku di perpustakaan kantorku. Buku itu sangat menarik minatku. Aku sudah sangat sering mendengar nama dan karya

sungguh luar biasa yang dikerjakan tokoh utama dalam buku itu, yaitu : Bunda Theresa, tapi baru kali ini aku berminat untuk membaca seluruh kisah kehidupannya. Aku sungguh terharu dan kagum menyaksikan kasih yang dinyatakan oleh Bunda Theresa kepada orang-orang kusta di Kalkuta, India. Sekalipun dia tidak pernah mengatakan tentang Yesus kepada orang-orang malang yang dilayaninya, tetapi pada akhirnya banyak dari mereka yang percaya kepada Yesus, karena melihat perbuatan nyata penuh kasih yang dilakukan Bunda Theresa. Ini barulah kesaksian yang hidup. Kesaksian yang sesungguhnya! Aku merasa heran, mengapa orang Katolik bisa melakukan hal luar biasa seperti ini? Mengapa mereka memiliki kasih yang sedemikian nyatanya, hingga seolah-olah Yesus sendiri yang berkerja dalam mereka, dan nampak dalam setiap laku mereka? Aku juga melihat bahwa Bunda Theresa memiliki hubungan yang akrab dengan Yesus. Bagaimana ini bisa terjadi? Bukankah seharusnya Maria menjadi penghalang hubungan mereka dengan Yesus? Padahal Bunda Theresa juga sering berdoa Rosario, berarti dia juga memiliki hubungan yang dekat dengan Maria? Lalu, apa sebenarnya yang salah dalam buku ini? Setelah membaca habis buku itu, aku duduk termenung. Aku mulai membayangkan perjalanan Bunda Theresa yang pastinya penuh perjuangan, melayani orang-orang berpenyakitan dan menjadi sampah masyarakat. Bukan hanya itu saja, perjuangannya lebih terasa berat lagi, karena dia melayani bukan di negaranya sendiri, tetapi di negara orang. Oleh karena kasihnya kepada Yesus, yang dinyatakan kepada mereka yang malang, Bunda Theresa mampu melewati semuanya itu dengan penuh kesabaran dan ketekunan. Aku jadi teringat dengan perkataan Yakobus dalam suratnya: Yakobus 2, 2:14 Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia? 2:15 Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, 2:16 dan seorang dari antara kamu berkata: Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!, tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu? 2:17 Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati. 2:18 Tetapi mungkin ada orang berkata: Padamu ada iman dan padaku ada perbuatan, aku akan menjawab dia: Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku. 2:19 Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setan pun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar.

2:20 Hai manusia yang bebal, maukah engkau mengakui sekarang, bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong? 2:21 Bukankah Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah? 2:22 Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna. 2:23 Dengan jalan demikian genaplah nas yang mengatakan: Lalu percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran. Karena itu Abraham disebut: Sahabat Allah. 2:24 Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman. Jadi, apalah gunanya kotbah yang berkobar-kobar, jika tidak disertai dengan perbuatan nyata penuh kasih? Setelah hari itu, aku makin penasaran dengan kisah hidup orang-orang Katolik. Aku mulai melirik website yang berbau Katolik di internet, dan aku menemukan kisah para Santa/Santo, orang-orang yang dianggap kudus oleh Gereja Katolik, karena teladan hidupnya yang luar biasa, atau karyanya yang telah membawa suatu kesaksian dalam pertumbuhan iman Katolik. Banyak daftar nama-nama Santa/Santo di sana. Tetapi aku menemukan seorang Santa yang membuat mataku semakin terbuka lebar dan membuat keherananku semakin menjadi-jadi. Tak pernah sekalipun kusangka sebelumnya akan menemukan yang seperti ini di dalam sejarah Gereja Katolik. Bagiku orang-orang Katolik hanyalah bonekaboneka hidup yang datang dan pulang Gereja bukan karena kerinduan untuk mencari Tuhan, tapi hanya sebatas kewajiban. Mereka pulang tak ada bedanya dengan ketika mereka datang. Aku berpikir mereka hanya patuh pada peraturan yang dibuat Paus saja. Jarang sekali aku menemukan teman-temanku Katolik yang mengerti Alkitab. Bahkan, yang lebih parahnya lagi, ada juga yang bingung ketika mencari letak dari kitab tertentu dalam Alkitab! Tapi di sini, dalam buku harian Santa ini, aku menemukan sesuatu yang sangat berbeda. Sungguh kebalikan 180 derajat dari apa yang kupikirkan mengenai orang Katolik. Seseorang yang begitu akrab dengan Yesus, sampai seolah-olah Yesus benar-benar nampak di dalam kehidupan sehari-hari Santa ini. Ia melihat dan berbicara kepada Yesus seperti ia sedang melihat dan berbicara dengan sahabatnya sendiri. Begitu nyata dan alami. Santa ini bernama St. Faustina Kowalska, dan dia mendapat gelar sebagai: RASUL KERAHIMAN ILAHI. Helena Kowalska dilahirkan di Glogowiec, Polandia pada tanggal 25 Agustus 1905 sebagai anak ketiga dari sepuluh putera-puteri pasangan suami isteri Katolik yang saleh Stanislaw Kowalski dan Marianna Babel. Ayahnya seorang petani merangkap tukang

kayu. Keluarga Kowalski, sama seperti penduduk Glogowiec lainnya, hidup miskin dan menderita dalam penjajahan Polandia oleh Rusia. Helena hanya sempat bersekolah hingga kelas 3 SD saja. Ia seorang anak yang cerdas dan rajin, juga rendah hati dan lemah lembut hingga disukai orang banyak. Sementara menggembalakan sapi, Helena biasa membaca buku; buku kegemarannya adalah riwayat hidup para santa dan santo. Seringkali ia mengumpulkan teman-teman sebayanya dan menjadi `katekis bagi mereka dengan menceritakan kisah santa dan santo yang dikenalnya. Helena kecil juga suka berdoa. Kerapkali ia bangun tengah malam dan berdoa seorang diri hingga lama sekali. Apabila ibunya menegur, ia akan menjawab, Malaikat pelindung yang membangunkanku untuk berdoa. Ketika usianya 16 tahun, Helena mulai bekerja sebagai pembantu rumah tangga agar dapat meringankan beban ekonomi keluarga. Tetapi, setahun kemudian ia pulang ke rumah untuk minta ijin masuk biara. Mendengar keinginan Helena, ayahnya menanggapi dengan tegas, Papa tidak punya uang untuk membelikan pakaian dan barang-barang lain yang kau perlukan di biara. Selain itu, Papa masih menanggung hutang! Puterinya mendesak, Papa, aku tidak perlu uang. Tuhan Yesus sendiri yang akan mengusahakan aku masuk biara. Namun, orangtuanya tetap tidak memberikan persetujuan mereka. Patuh pada kehendak orangtua, Helena bekerja kembali sebagai pembantu. Ia hidup penuh penyangkalan diri dan matiraga, hingga suatu hari pada bulan Juli 1924 terjadi suatu peristiwa yang menggoncang jiwanya. Suatu ketika aku berada di sebuah pesta dansa dengan salah seorang saudariku. Sementara semua orang berpesta-pora, jiwaku tersiksa begitu hebat. Ketika aku mulai berdansa, sekonyong-konyong aku melihat Yesus di sampingku; Yesus menderita sengsara, nyaris telanjang, sekujur tubuh-Nya penuh luka-luka; Ia berkata kepadaku: Berapa lama lagi Aku akan tahan denganmu dan berapa lama lagi engkau akan mengabaikan-Ku Saat itu hingar-bingar musik berhenti, orang-orang di sekelilingku lenyap dari penglihatan; hanya ada Yesus dan aku di sana. Aku mengambil tempat duduk di samping saudariku terkasih, berpura-pura sakit kepala guna menutupi apa yang terjadi dalam jiwaku. Beberapa saat kemudian aku menyelinap pergi, meninggalkan saudari dan semua teman-temanku, melangkahkan kaki menuju Katedral St. Stanislaus Kostka. Lampu-lampu sudah mulai dinyalakan; hanya sedikit orang saja ada dalam katedral. Tanpa mempedulikan sekeliling, aku rebah (= prostratio) di hadapan Sakramen Mahakudus dan memohon dengan sangat kepada Tuhan agar berbaik hati membuatku mengerti apa yang harus aku lakukan selanjutnya. Lalu aku mendengar kata-kata ini: Segeralah pergi ke Warsawa, engkau akan masuk suatu biara di sana.

Aku bangkit berdiri, pulang ke rumah, membereskan hal-hal yang perlu diselesaikan. Sebisaku, aku menceritakan kepada saudariku apa yang telah terjadi dalam jiwaku. Aku memintanya untuk menyampaikan selamat tinggal kepada orangtua kami, dan lalu, dengan baju yang melekat di tubuh, tanpa barang-barang lainnya, aku tiba di Warsawa, demikian tulis St Faustina di kemudian hari. Setelah ditolak di banyak biara, akhirnya Helena tiba di biara Kongregasi Suster-suster Santa Perawan Maria Berbelas Kasih. Kongregasi ini membaktikan diri pada pelayanan kepada para perempuan yang terlantar secara moral. Sejak awal didirikannya oleh Teresa Rondeau, kongregasi mengaitkan misinya dengan misteri Kerahiman Ilahi dan misteri Santa Perawan Maria Berbelas Kasih. Ketika Moeder Superior, yaitu Moeder Jenderal Michael yang sekarang, keluar untuk menemuiku, setelah berbincang sejenak, ia menyuruhku untuk menemui Tuan rumah dan menanyakan apakah Ia mau menerimaku. Seketika aku mengerti bahwa aku diminta menanyakan hal ini kepada Tuhan Yesus. Dengan kegirangan aku menuju kapel dan bertanya kepada Yesus: Tuan rumah ini, apakah Engkau mau menerimaku? Salah seorang suster menyuruhku untuk menanyakannya kepada-Mu. Segera aku mendengar suara ini: Aku menerimamu; engkau ada dalam Hati-Ku. Ketika aku kembali dari kapel, Moeder Superior langsung bertanya, Bagaimana, apakah sang Tuan menerimamu? Aku menjawab, Ya. Jika Tuan telah menerimamu, maka aku juga akan menerimamu. Begitulah bagaimana aku diterima dalam biara. Namun demikian, Helena masih harus tetap bekerja lebih dari setahun lamanya guna mengumpulkan cukup uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari pada tahap awal tinggal di biara. Akhirnya pada tanggal 1 Agustus 1925, menjelang ulangtahunnya yang ke-20, Helena diterima dalam Kongregasi Suster-suster Santa Perawan Maria Berbelas Kasih. Aku merasa sangat bahagia, seakan-akan aku telah melangkahkan kaki ke dalam kehidupan Firdaus, kenang St Faustina. Setelah tinggal di biara, Helena terkejut melihat kehidupan para biarawati yang sibuk sekali hingga kurang berdoa. Karenanya, tiga minggu kemudian Helena bermaksud meninggalkan biara dan pindah ke suatu biara kontemplatif yang menyediakan lebih banyak waktu untuk berdoa. Helena yang bingung dan bimbang rebah dalam doa di kamarnya. Beberapa saat kemudian suatu terang memenuhi bilikku, dan di atas tirai aku melihat wajah Yesus yang amat menderita. Luka-luka menganga memenuhi WajahNya dan butir-butir besar airmata jatuh menetes ke atas seprei tempat tidurku. Tak paham arti semua ini, aku bertanya kepada Yesus, Yesus, siapakah gerangan yang telah menyengsarakan-Mu begitu rupa? Yesus berkata kepadaku: Engkaulah yang akan mengakibatkan sengsara ini pada-Ku jika engkau meninggalkan biara. Ke tempat inilah engkau Ku-panggil dan bukan ke tempat lain; Aku telah menyediakan banyak rahmat bagimu. Aku mohon pengampunan pada Yesus dan segera mengubah keputusanku.

Pada tanggal 30 April 1926, Helena menerima jubah biara dan nama baru, yaitu St Maria Faustina; di belakang namanya, seijin kongregasi ia menambahkan dari Sakramen Mahakudus. Dalam upacara penerimaan jubah, dua kali St Faustina tiba-tiba lemas; pertama, ketika menerima jubah; kedua, ketika jubah dikenakan padanya. Dalam Buku Catatan Harian, St Faustina menulis bahwa ia panik sekaligus tidak berdaya karena pada saat itu ia melihat penderitaan yang harus ditanggungnya sebagai seorang biarawati. Dalam biara, tugas yang dipercayakan kepadanya sungguh sederhana, yaitu di dapur, di kebun atau di pintu sebagai penerima tamu. Semuanya dijalankan St Faustina dengan penuh kerendahan hati. Pada tanggal 22 Februari 1931, St Faustina mulai menerima pesan Kerahiman Ilahi dari Kristus yang harus disebarluaskannya ke seluruh dunia. Kristus memintanya untuk menjadi rasul dan sekretaris Kerahiman Ilahi, menjadi teladan belas kasih kepada sesama, menjadi alat-Nya untuk menegaskan kembali rencana belas kasih Allah bagi dunia. Seluruh hidupnya, sesuai teladan Kristus, akan menjadi suatu kurban hidup yang diperuntukkan bagi orang lain. Menanggapi permintaan Tuhan Yesus, St Faustina dengan rela mempersembahkan penderitaan pribadinya dalam persatuan dengan-Nya sebagai silih atas dosa-dosa manusia; dalam hidup sehari-hari ia akan menjadi pelaku belas kasih, pembawa sukacita dan damai bagi sesama; dan dengan menulis mengenai Kerahiman Ilahi, ia mendorong yang lain untuk mengandalkan Yesus dan dengan demikian mempersiapkan dunia bagi kedatangan-Nya kembali. Meskipun sadar akan ketidaklayakannya, serta ngeri akan pemikiran harus berusaha menuliskan sesuatu, toh akhirnya, pada tahun 1934, ia mulai menulis buku catatan harian dalam ketaatan pada pembimbing rohaninya, dan juga pada Tuhan Yesus sendiri. Selama empat tahun ia mencatat wahyu-wahyu ilahi, pengalaman-pengalaman mistik, juga pikiran-pikiran dari lubuk hatinya sendiri, pemahaman, serta doa-doanya. Hasilnya adalah suatu buku catatan harian setebal 600 halaman, yang dalam bahasa sederhana mengulang serta menjelaskan kisah kasih Injil Allah bagi umatnya, dan di atas segalanya, menekankan pentingnya kepercayaan pada tindak kasih-Nya dalam segala segi kehidupan kita. Buku itu menunjukkan suatu contoh luar biasa bagaimana menanggapi belas kasih Allah dan mewujudnyatakannya kepada sesama. Di kemudian hari, ketika tulisan-tulisan St Faustina diperiksa, para ilmuwan dan juga para teolog terheran-heran bahwa seorang biarawati sederhana dengan pendidikan formal yang amat minim dapat menulis begitu jelas serta terperinci; mereka memaklumkan bahwa tulisan St Faustina sepenuhnya benar secara teologis, dan bahwa tulisannya itu setara dengan karya-karya tulis para mistikus besar. Devosinya yang istimewa kepada Santa Perawan Maria Tak Bercela, kepada Sakramen Ekaristi dan Sakramen Tobat memberi St Faustina kekuatan untuk menanggung segala penderitaannya sebagai suatu persembahan kepada Tuhan atas nama Gereja dan mereka yang memiliki kepentingan khusus, teristimewa para pendosa berat dan mereka yang di ambang maut.

St Faustina Kowalska menulis dan menderita diam-diam, hanya pembimbing rohani dan beberapa superior saja yang mengetahui bahwa suatu yang istimewa tengah terjadi dalam hidupnya. Setelah wafat St Faustina, bahkan teman-temannya yang terdekat terperanjat mengetahui betapa besar penderitaan dan betapa dalam pengalaman-pengalaman mistik yang dianugerahkan kepada saudari mereka ini, yang senantiasa penuh sukacita dan bersahaja. Pesan Kerahiman Ilahi yang diterima St Faustina sekarang telah tersebar luas ke segenap penjuru dunia; dan buku catatan hariannya, Kerahiman Ilahi Dalam Jiwaku menjadi buku pegangan bagi Devosi Kerahiman Ilahi. St Faustina sendiri tak akan terkejut mengenai hal ini, sebab telah dikatakan kepadanya bahwa pesan Kerahiman Ilahi akan tersebar luas melalui tulisan-tulisan tangannya demi keselamatan jiwa-jiwa. Dalam suatu pernyataan nubuat yang ditulisnya, St Faustina memaklumkan: Aku merasa yakin bahwa misiku tidak akan berakhir sesudah kematianku, melainkan akan dimulai. Wahai jiwa-jiwa yang bimbang, aku akan menyingkapkan bagi kalian selubung Surga guna meyakinkan kalian akan kebajikan Allah (Buku Catatan Harian, 281) St Maria Faustina Kowalska dari Sakramen Mahakudus, rasul Kerahiman Ilahi, wafat pada tanggal 5 Oktober 1938 di Krakow dalam usia 33 tahun karena penyakit TBC yang dideritanya. Jenasahnya mula-mula dimakamkan di pekuburan biara, lalu dipindahkan ke sebuah kapel yang dibangun khusus di biara. Pada tahun 1967, dengan dekrit Kardinal Karol Wojtyla, Uskup Agung Krakow, kapel tersebut dijadikan Sanctuarium Reliqui Abdi Allah St Faustina Kowalska. Pada Pesta Kerahiman Ilahi tanggal 18 April 1993, St Faustina dibeatifikasi oleh Paus Yohanes Paulus II dan pada Pesta Kerahiman Ilahi tanggal 30 April 2000 dikanonisasi oleh Paus yang sama. Pesta St Faustina dirayakan setiap tanggal 5 Oktober. (Sumber : YESAYA) Sejak saat itu, aku sudah mengetahui nama apa yang kelak akan kupakai sebagai nama baptisku: Faustina. Aku merasakan hatiku semakin terbuka terhadap Gereja Katolik, beserta berbagai rahasianya yang kian menguak di depan mataku. Sementara hatiku kian menggelegak dalam kerinduan pencarian akan kebenaran yang tersembunyi dalam Gereja Katolik, seperti sedang mencari sebuah harta karun yang terkubur dalam gua-gua mengerikan, demikian hatiku menjelajah kian jauh menelusup dalam gudang rahasia Gereja Katolik. Namun, di sisi yang lain dalam otakku masih juga tak dapat memahami tentang doktrin Maria, api penyucian, dan persekutuan dengan para kudus! Mengapa orang Katolik harus berdoa kepada Maria, dan menjadikannya perantara kepada Yesus? Mengapa tidak langsung saja berbicara kepada Yesus, kenapa harus melalui jalan yang memutar? Apa fungsi doa Rosario yang diulang-ulang? Mengapa juga mereka

sering berdoa pada Santa atau Santo, orang-orang yang sudah mati? Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang membuat otakku menjadi linglung! Akhirnya, untuk menumpahkan kepenatanku akibat memikirkan tentang hal-hal itu, aku mencoba menuangkannya ke dalam bentuk tulisan, dan tulisanku itu kuberi judul Linglung. LINGLUNG (Senin, 17 Des 2007) Tuhan, apakah yang Engkau inginkan supaya aku perbuat? Apakah yang sedang Engkau rancangkan bagi hidupku? Mengapa Engkau menarik aku ke dalam suasana hati yang tidak karuan seperti ini? Seakan kakiku berpijak pada dua buah gunung, yang dipisahkan oleh sebuah jurang yang terjal, Yang siap kapan saja untuk menerjunkan diriku ke dalamnya. Hatiku sungguh diliputi kebingungan Diselimuti ketakutan dan keragu-raguan, Ke manakah aku harus melangkah? Ke gunung yang manakah aku harus meletakan kedua kakiku? Atau mungkinkah aku harus bertahan pada kedua gunung itu? Hingga kedua kakiku menjadi lemas; dan perlahan-lahan jurang keputusasaan akan dengan sukarela menyambut tubuhku amblas ke dalam pelukannya? Tuhan, Siapakah yang perduli akan kesengsaraanku? Siapakah yang perduli akan sakit yang kurasakan Akibat pertempuran hebat yang berkecamuk di dalam jiwaku ini? Haruskah aku berjuang seorang diri? Haruskah aku menangis di balik punggung-Mu? Atau haruskah aku terus berdiri diam sambil menantikan orang datang menarik-narik tanganku, Dan meyakinkan diriku untuk mengikuti jejak yang mereka pikir benar? Siapakah yang benar? Apakah kebenaran itu? O Tuhan, Mengapa hati dan pikiranku menjadi kalut seperti ini? Apakah aku sudah menjadi gila karena bingung?

Kapankah gembalaku datang? Kapankah gembalaku yang baik itu menolongku dan membawa aku pulang? Pulang ke mana? Ke gunung yang mana? Kini kedua gunung tampak begitu menarik di mataku. Gunung yang satu dipenuhi dengan aneka bunga berwarna-warni menebarkan keharuman yang sudah sangat kukenal, yang merasuk sampai ke sumsum dan tulang-tulangku, menghadirkan kehangatan dan kenyamanan. Gunung yang telah membesarkanku, memeliharaku, dan mengasihi aku hingga saat ini. Gunung yang begitu kukasihi, gunung yang begitu kukagumi dengan segala keindahannya. Tapi di sisi yang lain, Aku melihat gunung yang serupa namun tak sama, Gunung yang tak begitu kukenal, Yang juga menampilkan keindahan, Bunga-bunga tumbuh seirama Menebarkan keharuman di tengah-tengah keheningan yang menyejukan Penuh kelembutan dan kesederhanaan Namun terasa begitu asing bagiku, Seakan menyimpan sejuta rahasia yang sulit kumengerti. Rahasia yang lambat laun mulai menguak di depan mataku, Menyodorkan segenggam mutiara, Mutiara yang sesaat lalu tampak begitu buruk di mataku Begitu mengerikan, Kusam tanpa berkilau. Tapi.., Mengapa kini Mengapa kini hatiku seakan merasakan sesuatu yang lain? Mengapa mataku kini seolah-olah mulai melihat keindahan di balik mutiara yang buruk dan mengerikan itu? Menyingkapkan kebenaran yang indah namun begitu terasa menyakitkan hatiku? Adakah yang salah dengan hatiku? Ataukah gunung itu yang salah? Gunung yang mana? Yang kiri atau yang kanan?

Di manakah Engkau berada, hai gembala yang baik? Ke manakah Engkau memanggil aku pulang? Pulang ke mana? Ke gunung yang mana? Ah, Tuhan! Tahukah Kau, kalau aku linglung dibuatnya? Linglung karena ketakutanku, Takut kalau-kalau aku salah melangkah, Takut kalau-kalau aku menyakiti hati-Mu, Mengecewakan gembalaku yang sudah sangat kucintai, kukasihi, dan yang kuharapkan Kedatangan-Nya untuk menjemput aku masuk ke dalam kemuliaan-Nya yang abadi. Datanglah, hai gembala yang baik! Datanglah sekarang juga untuk menolong aku! Karena aku benar-benar linglung dibuatnya. Jangan diam terlalu lama! Jangan Kau biarkan aku linglung kelamaan! Hanya Engkau saja yang akan kuturuti. Aku takkan mau turut yang lain. Hanya Kau! Hanya Kau saja yang sanggup membawa aku pulang ke rumah-Mu. Ke rumah yang telah Kau siapkan bagiku. Bagi kita berdua! Aku terus mencari dan mencari, berusaha menemukan kebenaran yang telah, oh belum, hanya baru separuh terlihat. Keharuman yang baru sedikit, sangat sedikit tercium olehku. Keharuman serta keindahan yang secara perlahan-lahan mengerogoti kengerianku terhadap sosok Gereja Katolik. Aku mulai membaca lebih dalam lagi, dari sejarah Gereja Katolik, sejarah pohon natal, lagu Malam Kudus, hingga sejarah Alkitab, semuanya itu dimulai oleh Katolik. Ya, orang-orang Katolik! Gereja Katolik yang berani dengan jelas menyatakan bahwa dirinya adalah Gereja yang didirikan oleh Tuhan Yesus sendiri melalui Rasul Petrus, Paus pertama dalam sejarah Gereja Katolik! Dan telah melewati berabad-abad, baik dalam masa tenang maupun melewati masa-masa gelap, tetap berdiri kokoh seperti batu karang di tengah terjangan badai dunia! Matius 16:18 Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.

Pacarku juga mulai mengirimiku banyak artikel tentang Bunda Maria. Tidak seperti dulu, kini hatiku makin melunak dalam memandang Maria sebagai seseorang yang sangat dihormati oleh orang Katolik. Hingga suatu hari, pacarku memberikan kepadaku sebuah buku yang merupakan serentetan peluru senapan yang berhasil menjebol dinding pertahananku. Buku yang mengisahkan kepindahan seorang pendeta Presbytarian, seorang anti Katolik yang menganggap orang-orang Katolik adalah orang-orang malang yang perlu diselamatkan, dan menyebut Gereja Katolik sebagai pelacur dari Babilonia. Menjadi seorang Katolik, seorang pengikut Paus yang luar biasa dalam pengetahuannya tentang ajaran Katolik. Dalam bukunya yang berjudul : Rome Sweet Home (Roma Rumahku), Scott dan isterinya, Kimberly, menceritakan dengan detil, bagaimana mereka bisa sampai mengakui Gereja Katolik sebagai rumah sejatinya. Bagaimana, dengan rinci dan penuh ketelitian, serta mengacu pada ayat-ayat dalam Alkitab, Scott menjabarkan bahwa ajaran Katolik sangatlah Alkitabiah. Bagaimana Kimberly, baik dalam segi perasaan dan pandangannya terhadap ajaran Katolik, khususnya Maria, sama persis dengan apa yang telah dan sedang kurasakan serta pikirkan sekarang. Dan bagaimana cara dia mengatasinya, sungguh membuatku semakin mengerti dan menjadi semakin berkobar-kobar dalam kerinduanku meneguk habis setiap kebenaran yang disodorkan Alkitab mengenai ajaran Gereja Katolik! PANTAI KETEGUHAN (Jumat 4 Januari 2008) Desak rindu tak terbendung Rasa hati kian tak menentu Kebencian bergantikan kekaguman ketakutan bergantikan pengharapan. Meruntuhkan dinding keangkuhan, mematahkan deret rantai keragu-raguan Mendamparkan jiwa di pantai keteguhan, melangkah dengan iman kepada terang kebenaran yang sejati Akan kuteguk air sungai kehidupan Hingga kutemukan pulau kedamaian jiwa yang sesungguhnya. PERAHU KEMENANGAN (Sabtu 5 Januari 2008) Kutapaki lembaran baru dalam perjalanan iman mengarungi samudra kehidupan dalam perahu kemenangan

Cinta Tuhanku telah menghanguskan aku melumatku hingga ke dasar sanubari menerbangkanku ke awan persemayaman cinta yang bersinar kemilau bagaikan emas murni membalutku dalam selimut kedamaian yang sebelumnya tak pernah sekalipun melintas di benakku. Kini aku bagaikan seekor burung kecil yang terbang mengelilingi angkasa raya kemuliaan. Bersarang dalam dekapan terang kasih Tuhan sambil menyenandungkan nyanyian sukacita berkumpul kembali dalam kehangatan kasih persaudaraan Bersama segenap laskar surgawi, Memuji dan mengagungkan sang Raja Kemuliaan: Yesus Kristus Setiap Minggu, aku dan pacarku pergi ke Gereja Katolik. Dulu aku sangat menganggap remeh setiap tata cara liturginya. Bagiku dulu, nyanyian dan segala hal yang mencakup tata cara ibadah, termasuk kotbah Romo, sangat membosankan! Aku pernah mengejek pacarku yang setiap masuk dan keluar pintu Gereja selalu membungkukan badan, menghadap Altar Tuhan, kebetulan beberapa kali aku tepat berada di depannya, jadi aku secara spontan berkata: Duh, nggak usah repot-repot nyembah aku! Dan dalam beberapa kesempatan, aku sengaja melakukan apa yang dilarang pacarku untuk dilakukan di dalam Gereja, terutama saat Misa berlangsung. Seperti misalnya, aku sengaja minum dari botol minum yang kubawa ketika Romo sedang berkhotbah! Aku melakukan itu, semata-mata hanya ingin menunjukan kepada pacarku kalau aku tidak terikat pada peraturan, yang kupikir, hanya merupakan peraturan-peraturan yang dibuat oleh manusia. Tapi sekarang, aku sudah mengerti, kalau sesungguhnya ketaatan itu sangat penting. Satu hal yang tidak dapat iblis lakukan adalah taat! Dan aku tidak mau disamakan dengan iblis! Yesus saja taat kepada BapaNya sampai mati, sampai mati di kayu salib! I Petrus 1:22 Karena kamu telah menyucikan dirimu oleh ketaatan kepada kebenaran, sehingga kamu dapat mengamalkan kasih persaudaraan yang tulus ikhlas, hendaklah kamu bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hatimu. Ketika hatiku mulai mengerti, aku dapat melihat setiap detil dalam tata cara liturgi sangatlah bermakna. Seperti membungkuk, bersujud, dan melagukan kata-kata, semuanya itu sungguh-sungguh memiliki arti yang mendalam. Mereka percaya bahwa Yesus

sungguh hadir dalam setiap perayaan Ekaristi kudus. Bahwa Hosti yang berada di Altar adalah Yesus sendiri, bukan sekedar simbol dari tubuh dan darah Kristus, tapi sungguhsungguh Yesus sendiri! Oleh sebab itulah mengapa mereka sangat menghormati Altar kudus, karena di situlah Sang Raja kemuliaan bersemayam! Dan puncak dalam setiap perayaan Ekaristi adalah Komuni, di mana kita sungguh-sungguh dipersatukan kembali dengan Kristus. Sungguh misteri yang luar biasa, yang baru kutemukan dan baru kusadari keindahannya! Demikianlah, sedikit demi sedikit, satu demi satu rahasia itu mulai tersingkap di hadapanku. Begitu manis dan menggairahkan, seolah menggugah kerinduanku untuk melahap lebih dan lebih lagi. Aku terus melangkah dan melangkah, menapaki lembaran baru dalam perjalanan imanku, menyambut setiap kebenaran baru dengan penuh kekaguman. Namun, setiap kali berhadapan dengan doktrin Maria, aku kembali terbentur. Seakan-akan kakiku tertanam amat dalam, hingga sulit melangkah pada yang satu ini! Tiap malam aku selalu bertanya kepada Tuhan: Siapakah itu Maria yang dihormati sedimikian rupa oleh orang Katolik? Tolong Tuhan, tunjukanlah padaku, siapakah itu Maria, dan apa yang sepatutnya harus aku perbuat, agar aku tidak menyakiti hatiMu? Demikianlah aku terus bergumul dalam doaku untuk tahap pencarianku pada yang satu ini. Suatu hari aku menemukan ayat dalam perjanjian lama yang menggambarkan tentang kebundaan Maria lewat Batsyeba, ibu dari raja Salomo. 1 Raja-raja 2:19 Batsyeba masuk menghadap raja Salomo untuk membicarakan hal itu untuk Adonia, lalu bangkitlah raja mendapatkannya serta tunduk menyembah kepadanya; kemudian duduklah ia di atas takhtanya dan ia menyuruh meletakkan kursi untuk bunda raja, lalu perempuan itu duduk di sebelah kanannya. 2:20 Berkatalah perempuan itu: Suatu permintaan kecil saja yang kusampaikan kepadamu, janganlah tolak permintaanku. Jawab raja kepadanya: Mintalah, ya Ibu, sebab aku tidak akan menolak permintaanmu. Di sini bunda ratu bertindak sebagai perantara permohonan Adonia kepada raja, dan sebagai seorang anak kepada ibunya, raja sangat menghormatinya, sehingga raja berkata : Mintalah, ya Ibu, sebab aku tidak akan menolak permintaanmu. Tapi apa yang terjadi pada ayat-ayat sesudahnya, bahwa keputusan terakhir tetaplah berada di tangan raja. Aku mulai mengerti, bahwa beginilah orang-orang Katolik memandang Bunda Maria sebagai perantara doa mereka kepada Yesus, sang Raja.

Seperti yang dikatakan Scott dalam bukunya yang berjudul: Hail, Holy Queen (Salam Ratu Surgawi): Bahwa kita adalah satu keluarga besar dengan keluarga Kerajaan Allah. *** Bagaimanapun, Allah sendiri adalah suatu keluarga yang abadi, sempurna. Paus Yohanes Paulus II menyatakan hal ini dengan baik, Dalam misteri terdalam-Nya, Allah itu bukanlah suatu kesendirian, tetapi suatu keluarga karena dalam diri-Nya la memiliki kebapaan, keputraan, dan hakikat dari keluarga, yakni kasih. *** Karena Allah adalah keluarga, yang terungkap dalam Tritunggal Mahakudus, maka Allah pun ingin menarik kita, orang-orang percaya, untuk masuk menjadi anggota keluargaNya. Sebagai keluarga yang utuh, kita, baik yang masih berziarah di bumi, maupun yang di Sorga, memiliki ikatan persaudaraan yang erat. Kita dapat memohon kepada mereka yang di Sorga untuk mendoakan kita, seperti layaknya kita meminta orang-orang terdekat kita: ibu, ayah, saudara-saudara, atau teman-teman kita untuk mendoakan kita. Demikian jugalah dengan Bunda Maria, Ibu kita dalam Yesus, dan saudara-saudara kita yang telah mendahului kita menikmati janji Tuhan, yakni berkumpul kembali dalam keluarga Kerajaan Allah, pastilah mereka dengan suka hati akan terus mendoakan kita, dan menjadi saksi dari perlombaan yang sedang kita jalani sekarang. Ibrani 12:1 Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. Wahyu 8:4 Maka naiklah asap kemenyan bersama-sama dengan doa orang-orang kudus itu dari tangan malaikat itu ke hadapan Allah. Dalam bukunya, Scott menjabarkan secara terperinci tentang kebundaan Maria beserta dengan gelar-gelarnya. Seperti biasa, dengan begitu cermat, ia menelitinya dari sisi Alkitabnya juga. Dimana betapa eratnya hubungan antara Perjanjian Lama dengan Perjanjian Baru. *** Seluruh Alkitab dapat dilihat sebagai kisah persiapan Allah untuk, dan penggenapan dari, karya-Nya yang terbesar, yakni: pewahyuan diri definitif-Nya dalam Yesus Kristus. St. Agustinus berkata bahwa Perjanjian Baru tersembunyi dalam Perjanjian Lama, dan Perjanjian Lama terungkap dalam Perjanjian Baru. Karena seluruh sejarah adalah persiapan dunia untuk menyambut saat ketika Sabda menjadi daging, saat ketika Allah menjadi anak manusia dalam rahim seorang perawan muda dari Nazaret. *** Scott juga mengajak pembaca untuk mempelajari tentang gambaran. *** Orang-orang Kristen pertama mengikuti cara Tuhan dalam membaca Alkitab. Dalam

Surat kepada Orang Ibrani, kemah Perjanjian Lama dan ritualnya dilukiskan sebagai gambaran dan bayangan dari apa yang ada di Surga (Ibr 8:5), dan sebagai bayangan dari keselamatan yang akan datang (Ibr 10:1). Demikian juga, St. Petrus menulis bahwa Nuh dan keluarganya diselamatkan lewat air, dan bahwa ini melambangkan pembaptisan yang menyelamatkan Anda sekarang (1 Ptr 3:20-21). Perkataan Petrus yang diterjemahkan dengan melambangkan sebenarnya dari akar kata asli Yunani yang dialihbahasakan menjadi tipe atau typify yang berarti menggambarkan. Dan St. Paulus, dalam suratnya, melukiskan Adam sebagai gambaran dari Yesus Kristus (Roma 5:14). Jadi, apa itu gambaran? Gambaran adalah orang, tempat, benda, atau kejadian dalam Perjanjian Lama yang pada masa silam sudah melukiskan sesuatu yang lebih besar dalam Perjanjian Baru. Dari kata tipe kita mendapatkan kata tipologi, yakni suatu telaah mengenai gambaran-gambaran tentang Kristus dalam Perjanjian Lama (lihat Katekismus Gereja Katolik, no. 128-130). Di samping itu, perlu aku tekankan bahwa gambaran bukanlah simbol fiktif. Gambaran adalah detail historis yang sungguh ada, sungguh terjadi. Misalnya, ketika menafsirkan kisah anak-anak Abraham sebagai suatu gambaran (Gal 4:24), St. Paulus tidak bermaksud bahwa cerita itu tidak pernah sungguh terjadi; sebaliknya, ia menegaskan peristiwa itu sebagai sejarah, bahkan sejarah yang mendapat tempat dalam rencana Allah, sejarah yang maknanya menjadi jelas, baru sesudah penggenapannya pada zaman akhir. Tipologi mengungkap tidak hanya pribadi Kristus; ia juga menyatakan kepada kita tentang Surga, Gereja, rasul, Ekaristi, tempat-tempat kelahiran dan kematian Yesus, dan pribadi ibu Yesus. Dari orang-orang Kristen pertama kita mempelajari bahwa kenisah Yerusalem merupakan bayangan dari kediaman surgawi para kudus dalam kemuliaan (2 Kor 5:1-2; Why 21:9-22); bahwa Israel menggambarkan Gereja (Gal 6:16); bahwa kedua belas bapa bangsa dalam Perjanjian Lama merupakan gambaran dari kedua belas rasul dalam Perjanjian Baru (Luk 22:30); dan bahwa tabut perjanjian adalah gambaran dari Santa Perawan Maria (Why 11:19; 12:1-6.13-17). Di samping gambaran-gambaran yang secara eksplisit disebut dalam Perjanjian Baru, ada lebih banyak lagi gambaran yang tersirat secara implisit tetapi sungguh nyata. Misalnya, peran St. Yusuf dalam kehidupan duniawi Yesus jelas mengikuti peran Bapa Yusuf dalam kehidupan duniawi Israel. Keduanya menyandang nama yang sama; keduanya dilukiskan sebagai orang benar atau tulus, keduanya menerima pewahyuan lewat mimpi; keduanya dibuang ke Mesir; dan keduanya tampil dalam panggung sejarah untuk menyiapkan jalan bagi peristiwa yang lebih besar dalam hal Bapa bangsa Yusuf: keluaran yang dipimpin oleh Musa, Sang Pembebas; dalam hal St. Yusuf: penebusan yang diwujudkan oleh Yesus, Sang Penebus. Gambaran-gambaran tentang Maria pun melimpah dalam Perjanjian Lama. Kita temukan Maria digambarkan dalam diri Hawa, ibu dari semua yang hidup; dalam diri Sara, istri Abraham, yang mengandung anaknya secara ajaib; dalam sosok bunda ratu dalam

kerajaan Israel, yang menjadi penghubung antara rakyat dan sang raja; dalam banyak tempat, dan dalam banyak cara lain (misalnya, Hana dan Ester). Gambaran yang paling eksplisit dalam Perjanjian Baru, tabut perjanjian, akan kubahas dengan lebih rinci dalam bab yang bersangkutan. Di sini aku hanya akan menegaskan bahwa, sebagaimana tabut dibuat untuk mengemban Perjanjian Lama, demikian Perawan Maria diciptakan untuk mengemban Perjanjian Baru. *** Awalnya, aku membaca buku ini secara cepat, hanya sekilas saja, sehingga membuatku makin pusing kepala. Benar-benar misteri yang teramat dalam dan sulit dipahami. Perlu kecermatan serta ketelitian, dan, yang lebih penting lagi, tuntunan Roh Kudus dalam membacanya. Tapi, setelah membaca habis buku ini, walaupun masih kurang mengerti, hatiku mulai terasa rindu untuk berdamai dengan Bunda Maria, yang selama ini sangat kubenci. Aku memberanikan diri untuk mengambil Rosario dan mendoakannya. Sebelumnya aku berkata kepada Tuhan : Tuhan, hari ini aku mau berdoa Rosario, maafkan aku, Tuhan, apabila dengan berdoa Rosario seperti ini aku telah melukai hatiMu! Ternyata keputusanku untuk berdamai dengan Bunda Maria ini, merupakan titik balik keterbukaanku terhadap seluruh ajaran Katolik. Mulai saat itu, hatiku terus dipenuhi dengan perasaan rindu yang kian mendalam untuk bertemu Tuhan dalam Ekaristi kudus. Karenanya, setiap pulang kantor (yang waktu itu kebetulan sedang puasa umat Muslim, sehingga jam kantorku dimajukan hanya sampai jam 4 sore), pacarku mengajak aku untuk mengikuti Misa harian di Katedral yang dimulai pada jam 6 sore. Sepanjang Misa, hatiku sungguh diliputi rasa syukur dan cinta yang mendalam kepada Yesus, yang kini, kutahu, bahwa Dia, Yesus, ada bersama-sama kami dalam Ekaristi kudus, dan kurasakan sedang memperhatikan aku, dombaNya yang kini telah kembali pulang. Oh Yesus Kristus Tuhanku, Kakak Sulungku, Allah dan Penyelamat jiwaku, Penasihat Ajaib, Bapa yang kekal, Raja Damai, aku sungguh mencintaiMu dengan segenap hatiku, dengan seluruh keberadaanku. Aku sungguh menikmati kebersamaan kita dalam Ekaristi kudus. KehadiranMu yang mempersatukan diriku dengan DiriMu, hatiku dengan HatiMu, telah meruntuhkan dinding-dinding keangkuhan dalam hatiku dan telah menenggelamkan diriku seutuhnya ke dalam kasihMu yang menyelamatkan! Waktu terus bergulir dengan cepatnya, hatiku pun sudah merasa semakin rileks jika sedang berdoa Rosario, tidak seperti dulu yang selalu tegang jika mendengar, apalagi menyebut kata Maria dalam doa. Aku mulai senang membaca-baca segala sesuatu tentang Katolik.

Selain Rosario, aku juga senang mendaraskan doa Koronka, mempelajari Novena kepada Hati Kudus Yesus, Novena kepada Roh Kudus, dan Novena kepada Sakramen Mahakudus, sehingga koleksi Rosarioku pun menjadi banyak. Demikianlah, keterbukaan hatiku terus melebar seirama dengan pengetahuanku yang semakin bertambah mengenai ajaran Katolik. Tetapi, sementara hatiku sudah dapat menerima dan rindu untuk benar-benar terjun ke dalamnya, benar-benar menjadi keluarga Katolik yang sah dengan mengikuti Katekumen, otakku masih juga menahan hatiku dengan berkata: Belum waktunya!. Sampai tiba saatnya aku dan pacarku dipersatukan dalam Pemberkatan nikah di Gereja Katolik, dan anak kami lahir serta dibaptis dengan nama baptis Gabriella, aku belum juga mengikuti Katekumen. Mengenai pembaptisan bayi, awalnya aku pun kurang setuju, karena yang kutahu dari pengajaran Gerejaku dulu, bahwa pembaptisan itu hanya diberikan kepada orang-orang yang sudah dapat mengerti dan menerima Kristus secara pribadi. Sementara bayi atau kanak-kanak dibawah 12 tahun, masih bergantung pada iman kedua orang tuanya. Jadi kami hanya melakukan penyerahan anak, seperti yang dilakukan Maria ketika menyerahkan bayi Yesus kepada Imam Simeon untuk didoakan. Meski demikian, aku tetap memberikan anakku untuk dibaptis secara Katolik. Tetapi ketika Romo mengucurkan air, dan kemudian ia pun mengolesi minyak di dahi anakku, aku merasa hatiku pun dialiri sukacita yang berlimpah-limpah. Sejak saat itu aku percaya bahwa anakku sungguh-sungguh sudah menjadi milik Tuhan seutuhnya. Air dan minyak yang diolesi merupakan penanda bahwa anakku sudah tercatat sebagai anggota kerajaan Allah. Semacam KTP, tetapi ini tandanya bukan dalam bentuk kartu, melainkan cap yang menempel di dahi anakku dan tidak ada masa expired. Aku sering membayangkan anakku yang sedang berkumpul dengan teman-temannya. Namun, ada perbedaan yang mencolok di antara mereka: di dahi anakku terpancar sinar yang tidak dimiliki anak-anak lain! Aku pernah berkata kepada Tuhan: Tuhan, jikalau memang ini adalah kehendakMu agar aku masuk menjadi keluarga Katolik, kumohon, tunjukanlah hal ini juga kepada orang tuaku, biarlah orang tuaku pun menyutujui keputusanku untuk mengikuti katekumen! Ketika aku dan papi sedang berada di kamar hotel di Semarang, sementara mami sedang berada di kamar mandi, aku memberanikan diri untuk meminta ijin dibaptis secara Katolik. Pap, aku mau dibaptis Katolik ya? Aku benar-benar tegang saat mengatakan hal itu, terlebih saat menanti tanggapannya. Aku sudah berpikir berulang-ulang sebelum meluncurkan tembakan, agar tidak salah sasaran: ngomong dulu sama papi, masalah diterima atau ditolaknya keinginanku itu, yang penting aku sudah bicara dengan yang empunya keputusan akhir. Jadi, aku sudah berencana, kalau papi bilang Ya!, maka aku baru akan bicara dengan mami.

Tapi, ternyata jawaban papi saat itu membuat nafasku yang cukup bergemuruh akibat keteganganku, dapat kembali berjalan dengan normal dan terasa sangat ringan. Ya, terserah kamu saja kamu kan sekarang sudah dewasa dan bisa memutuskan sendiri mana yang menurut kamu baik. Memang sebaiknya suami isteri itu berjalan samasama Kira-kira begitulah jawaban papi. Dan selang beberapa bulan kemudian, ketika kami sedang makan malam, aku kembali memberanikan diri untuk bicara kepada Mami. Mam, aku mau dibaptis Katolik ya? Mami pun menjawab: hmm! Jawaban yang sangat singkat, jelas dan padat! :) Kini, dengan hati ringan dan keyakinan penuh, aku pun dapat berkata kepada suamiku : Aku siap mengikuti katekumen! Bila kurenungkan kembali pencarianku akan kebenaran ajaran Gereja Katolik, sungguh merupakan perjalanan yang sangat panjang dan penuh misteri. Ajaran Katolik sungguh kaya raya dan luar biasa. Andai saja orang-orang Protestan mau sedikit saja meluangkan waktu dan membuka hati mereka untuk menengok dan mempelajari kedalaman ajaran Katolik yang telah diwariskan secara turun-temurun, sejak zaman Yesus dan para Rasul, bahkan jauh sebelumnya lagi, maka mereka pun pasti akan tercengang menemukan harta karun yang begitu berharga, yang tidak pernah mereka pikirkan sebelumnya. Harta karun yang tersembunyi, dan tidak mungkin terlihat jika mereka tidak mau tahu dan tidak mau berusaha menggalinya! Tapi, sekarang aku baru mengerti, bahwa tidak mudah bagi kami, orang Protestan untuk membuka hati terhadap ajaran Katolik, demikian juga sebaliknya. Karena semua itu hanyalah karena Rahmat. Kalau bukan karena Rahmat, mungkin sampai sekarang pun aku akan tetap bertahan pada pengertianku sendiri bahwa Ajaran Gerejakulah yang paling benar!. Nah, sampai di sini dulu saja ya ceritaku untuk saat ini. Sekarang aku sedang mempersiapkan segala sesuatunya untuk mengikuti kelas katekumen. Nanti, kalau aku sudah masuk dalam kelas katekumen, aku akan bercerita lagi padamu. Ok???

I. Kerinduan yang menjadi kenyataan.


Tuhan sungguh bekerja dengan cara yang tak terselami, namun rencana-Nya begitu indah. Sungguh tidak pernah terbayangkan, website katolisitas.org, yang dimulai 2,5 tahun yang lalu, yang bermodalkan keinginan kuat dan kerinduan mendalam untuk

membagikan pengajaran Gereja Katolik, dapat berkembang dan pada akhirnya dapat menyelenggarakan temu darat Katolisitas 1, dengan tema Gereja Katolik kuno? Siapa Bilang? Pertemuan ini begitu istimewa, karena walaupun diselenggarakan di Pluit, Jakarta Utara, namun peserta datang dari berbagai macam sudut kota Jakarta, seperti: Bumi Serpong Damai, Alam Sutera, Bogor, Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, Jakarta Timur, dll. Peserta yang datang dari paroki-paroki yang berbeda-beda disatukan oleh kerinduan untuk mengetahui dan mengasihi iman Katolik. Terima kasih kepada Romo Wanta dan Romo Santo, karena pertemuan ini tidak akan mungkin terjadi tanpa dukungan dari para Romo, baik Romo Wanta dan Romo Santo, serta para panitia (Antonius Hendry, Samuel Rismana, Simon Welly) yang adalah pengunjung setia katolisitas.org. Terima kasih juga kepada teman-teman yang lain, yang membantu dalam mengisi dan membantu selama masa persiapan. Terima kasih juga kepada para donatur yang membantu katolisitas secara finansial, baik dalam acara ini maupun membantu biaya-biaya operasional yang lain. Terima kasih kepada Widi yang menuliskan narasi singkat tentang pertemuan Temu Darat Katolisitas 1. Dan akhirnya, terima kasih kepada semua peserta temu darat ini, yang semakin menguatkan kami untuk terus berkarya dalam karya kerasulan katolisitas.org. Mari kita ikuti bersama liputan temu darat ini, baik dalam tahap persiapan maupun pada saat berjalannya acara. Artikel lengkap untuk pertemuan ini adalah sebagai berikut: - Orang Muda Katolik (OMK) dan penghayatan imannya silakan klik. - Gereja Katolik kuno? Siapa bilang? silakan klik

II. Laporan dari panitia dadakan.


1. Awalnya skeptis dan ragu.
Bagi kita yang rutin mengunjungi dan membaca posting surat di katolisitas.org tentu mengetahui bahwa ide untuk melaksanakan jumpa atau temu darat sudah sering kali di usulkan, namun belum pernah bisa terealisir sampai hari Selasa kemarin tanggal 7 Desember 2010, ketika akhirnya ide tersebut benar- benar terwujud. Bermula dari e-mail dari Pak Samuel pada tanggal 19 November kepada beberapa teman, termasuk Pak Stef, yang mengingatkan bahwa tanggal 7 Desember adalah hari libur nasional, mungkin bisa dimanfaatkan untuk penyelenggaraan temu darat. Saya sendiri tidak begitu serius merespon ide tersebut, karena dari pembicaraan dengan Pak Stef sebelumnya, kami merencanakan acara ini pada bulan Januari 2011 supaya memberi waktu yang cukup untuk persiapan. Dari pengalaman sebelumnya, kami mengalami kesulitan mencari teman sukarelawan dari katolisitas yang bersedia untuk serius membantu kegiatan temu darat, karena alasan sibuk. Selain itu juga ada kesulitan mendapatkan pinjaman tempat (gratis) di beberapa paroki karena rumitnya prosedur ijin pengurus paroki setempat, ditambah lagi dengan kenyataan bahwa sebagian besar umat paroki belum mengenal atau tidak berminat pada karya situs katolisitas.org.

Tanggal 23 November saya menerima lagi e-mail dari pak Samuel tentang restoran Moonstar di Pluit Utara yang punya ruang ballroom cukup luas untuk disewa, cocok untuk menyelenggarakan acara pertemuan dengan biaya yang relatif tidak terlalu mahal. Pak Stef juga setuju. Begitulah kemudian kami saling berbalas e-mail, sms dan telpon. Lalu kami semua mulai memberi masukan ide tentang : setting pertemuan mau seperti apa? Apakah cuma bertemu dan dialog bebas, apakah perlu semacam seminar kecil? jika ya, thema- nya apa? Lalu berapa kira-kira peserta yang bisa diajak? Budget biaya-nya berapa? Apakah Romo Wanta dan Romo Santo yang selalu sibuk dapat ikut hadir? Kami yang cuma berlima saat itu : saya, Pak Samuel, Pak Simon, Pak Stef dan Ibu Ingrid, apa sanggup mengurus semuanya? Padahal semuanya punya kesibukan kerja masing masing.

2. Persiapan yang serba terburu-buru dan banyak lupa.


Meski dengan rasa pesimis saya tetap mencoba kontak ke Romo Wanta dan Romo Santo meminta kesediaan mereka untuk ikut hadir mendukung. Tanggal 23 November malam hari saya dapat balasan email Romo Santo, isinya pendek tapi mantap, katanya: Lanjutkan!! Sehari kemudian, tanggal 24 November menyusul jawaban dari Romo Wanta: OKE katanya. Jawaban para romo ini membuat saya yang tadinya setengah hati tiba- tiba menjadi bersemangat. Lagipula akan malu nantinya terhadap romo jika sudah ngomong booking namun akhirnya tidak jadi. Maka mulailah kami bergerak cepat membagi tugas, mulai dari menyusun iklan acara, publikasi dan penyebaran undangan kepada beberapa pengunjung katolisitas (sebagian besar tidak merespon atau mengatakan tidak bisa hadir, sehingga saya sempat berkecil hati), membuat alamat e-mail pendaftaran dan mengurus administrasi data pendaftar, mencetak brosur, spanduk, dll. Lokasi tempat tinggal dan kantor yang terpencar jauh serta jadwal kerja masing masing yang padat membuat kami berlima sulit sekali mengatur waktu untuk bisa bertemu untuk rapat persiapan panitia. Praktis kami bekerja sama hanya mengandalkan komunikasi e-mail dan HP. Setiap hari ada saja hal-hal yang kelupaan sehingga kami harus sering saling mengingatkan dan sibuk menelpon ke sana sini minta bantuan pinjaman peralatan dan lain-lain. Bahkan sampai malam hari tanggal 5 desember (hari minggu) yaitu 1-1/2 hari sebelum waktu pelaksanaan kami masih belum mencetak brosur, belum ada name- tag, belum siapkan foto copy makalah, dll. Juga belum jelas siapa nanti yang akan bantu di meja registrasi, siapa yang mengurus dokumentasi, siapa yang kontrol makanan? dll. Adalah kasih Allah Roh Kudus yang kemudian membantu mengirimkan tangan- tangan malaikat melalui Pak Samuel, Pak Simon, Pak Tjokro, dan Pak Usman dan Ibu Hany yang pada saat-saat terakhir berhasil membantu mencarikan semua kebutuhan peralatan dan lain-lain. Saya yakin Pak Stef dan Ibu Ingrid sendiri pasti kurang tidur dalam beberapa hari terakhir karena begitu banyak yang harus mereka persiapkan dan atur. Seperti mukjijat, pada pagi hari tgl 7 Desember semua kebutuhan- kebutuhan perlengkapan, cetakan brosur, name tags, makalah, LCD screen, dll, semua sudah tersedia.

Saat mulai acara pagi tgl 7 Desember, di meja pendaftaran yang suasananya agak kacau balau akhirnya berangsur under control setelah mendapat bantuan ibu I-ing (terima kasih ibu), juga di meja satu lagi tempat kami membagikan brosur ada seorang teman yang langsung membantu. Terima kasih Tuhan, dan tentunya terima kasih untuk semua teman yang telah beringan tangan membantu.

3. Pendaftaran dan jumlah peserta.


Tgl 26 November saat harus membayar DP booking restoran kami hanya berani booking tempat untuk 50 orang plus cadangan 10 kursi, dengan perhitungan jika sampai tidak ada peserta kami tidak nombok terlalu besar dan order makanan jadi berlebihan. Sampai tanggal 29 November saya yang kebetulan bertugas mengurus data pendaftaran peserta mencatat jumlah peserta kurang dari 30 orang. Tanggal 30 November cuma 41 orang. Rencananya, pendaftaran ditutup tanggal 5 Desember. Benak saya berkata : perkiraan booking 50-60 kursi kelihatannya angka yang tepat. Namun hari-hari berikutnya dugaan saya ini meleset. Sebab, ternyata jumlah pendaftar terus meningkat. Terakhir pada saat pendaftaran kami tutup tanggal 5 Desember tercatat jumlah peserta melonjak jadi 109 orang. Beberapa kesulitan kami alami saat mengurus data pendaftar karena hampir 50% pendaftar melakukannya tidak melalui e-mail seperti yang disyaratkan dalam publikasi iklan, namun via titipan kepada teman melalui SMS atau telpon. Sebagian juga tidak memberikan data lengkap menyulitkan kami saat mau mengkonfirmasi kehadiran dan mencatat informasi alamat, paroki, dan lain lain (maklum karena kami harus memperhitungkan jumlah booking kursi dan makanan serta menyiapkan name tag). Pak Samuel sempat bingung karena saya terus menerus menelpon dan sms beliau untuk minta tambahan booking makanan dan kursi (kami kuatir makanan yang dipesan kurang jumlahnya).Tanggal 6 desember, sehari setelah pendaftaran ditutup kami masih menerima sms dan telpon titipan tambahan pendaftar sebanyak 11 orang. Akhirnya, pada saat acara tgl 7 Desember jumlah dan data peserta yang ada di catatan kami sebagai berikut : 1. Dari 109 + 11 = 120 orang peserta yang mendaftar, ada 29 orang yang membatalkan/tidak hadir. 3 orang memberi kabar pembatalan via email (terima kasih atas inisiatifnya), sisanya tidak memberi kabar. 2. Tercatat 28 orang yang hadir tanpa mendaftar. Sempat ada pula seorang ibu yang nonkatolik tiba-tiba datang mau ikut hadir. Saya sempat bingung harus bersikap bagaimana. Akhirnya setelah kami jelaskan tentang isi dan thema acara dan ibu yang bersangkutan tidak berkeberatan, akhirnya ia kami terima dengan baik.

4. Jalannya Acara.
Secara umum, menurut saya acara berjalan sesuai jadwal dan susunan acara yang telah dibuat, meskipun acara agak molor kira-kira 30 menit dari jadwal waktu usai yang direncanakan (kita diberi batas waktu sampai jam 13.00 oleh pihak restoran). Semua peralatan pendukung juga berfungsi dengan baik. Kekurang teraturan terjadi pada bagian registrasi dan pengaturan makanan dan minuman, dapat dimaklumi karena memang dari semula kami kekurangan tenaga panitia yang bertugas, ditambah lagi dengan data pendaftaran peserta yang kurang akurat dan kurang tertib. Saat sesi tanya-jawab ada begitu banyak pertanyaan dengan topik yang luas, padahal kita semua di batasi oleh waktu, mengakibatkan banyak pertanyaan yang tidak sempat dijawab oleh nara sumber. Kesempatan berdialog dua arah antara penanya dan nara sumber juga menjadi terbatas. Saat sesi tanya-jawab berlangsung seru, waktu sudah menunjukkan lebih dari jam 12.30 siang. Kami panitia sudah mulai khawatir karena mengerti sebagian peserta lainnya sudah mulai resah menunggu saat makan siang. Saya mengerti ada peserta yang belum puas dan masih mau bertanya dan dialog dua arah. Atas nama nara sumber kami mohon maaf atas keterbatasan yang terjadi. Secara khusus saya juga mau menyampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya kepada Romo Santo yang ternyata adalah seorang vegetarian padahal semua makanan yang kami pesan mengandung daging. (Aduh bodohnya saya!!). Untung ada bantuan beberapa bapak dan ibu peserta yang langsung berinisiatif mengajak Romo Santo turun ke restoran di bawah untuk memesan makanan khusus. Saya sampaikan terima kasih pada Pak Chris dan Ibu Jenti yang tidak sempat saya kenal waktu itu. Di luar dari apa yang sempat saya sampaikan disini mengenai jalannya acara, mungkin pak Stef/ Ibu Ingrid, Romo Wanta dan Romo Santo, jika sempat juga bisa membantu memberi komentar dan saran tambahan.

5. Donasi dan Biaya penyelenggaraan.


Secara etika saya pikir kami juga harus melaporkan tentang jumlah uang Dana Kasih Katolisitas, donasi yang diterima, serta biaya-biaya penyelenggaraan yang sudah dibayarkan, sebagai berikut : a). Total Biaya Makanan dan Minuman untuk 110 porsi Rp. 6.725.000,b). Biaya Cetak Brosur = Rp 350,000,c). Stipendium Rp 0 (donasi) Rp 1,000,000,Total Biaya Rp 7,725,000,Total kolekte peserta yang diterima Rp 6,811,000,-

Defisit Rp e. Donasi tambahan dari donatur (anonim)

914,000,-

Rp 2,000,000,SISA UANG Rp 1,086,000,-

Sisa kelebihan uang sebesar Rp 1,086.000,- ini kami (saya, Pak Samuel dan Pak Simon) putuskan untuk di serahkan ke rekening Katolisitas untuk membantu mengganti berbagai biaya- biaya lain (yang tidak termasuk disini) yang sudah dibayarkan oleh Katolisitas. Catatan : terdapat biaya-biaya lain seperti biaya pembuatan Spanduk, sewa LCD Projector, biaya dokumentasi, biaya foto copy, biaya name tags, dll yang tidak kami laporkan disini karena semua biaya tersebut telah dibayarkan oleh para teman-teman donatur. Sekali lagi, terima kasih atas sumbangannya. Demikian laporan kegiatan yang dapat kami sampaikan secara garis besar. Sekali lagi mohon maaf atas segala kekurangan dalam penyelenggaraan temu darat yang pertama ini. Kami sendiri tidak kapok untuk mau tetap membantu jika nanti ada event katolisitas yang sama di masa mendatang. Tentunya dengan harapan kita mampu melakukannya dengan lebih baik dan teratur. Kami juga berharap teman-teman lain sesama pengunjung Katolisitas pada kesempatan lain ada yang terpanggil untuk ikut berpartisipasi membantu di kepanitian atau pun mendukung dalam bentuk apapun lainnya. Semua ini pada dasarnya kita lakukan hanya untuk meninggikan dan memuliakan nama Yesus, Tuhan dan Juruselamat kita. Salam dalam kasih Tuhan, Jakarta 9 Desember 2010, Pekerja dadakan Temu Darat Katolisitas I, Antonius Hendry Samuel Rismana Simon Welly

III. Narasi singkat dari Temu Darat Katolisitas 1


Pertemuan Katolisitas ini merupakan pertemuan yang perdana, baru pertama kali dilakukan dan baru pertama kali terjadi dalam sejarah situs ini. Tentunya tidak bisa dipungkiri kalau ada beberapa kurang sana-sini. Beberapa item memang belum

sempurna, namun justru disitulah tampak kasih Tuhan Yesus hadir dalam pertemuan kali ini. Diadakan di Moon Star Restaurant, sebuah restoran bercirikan Chinese food yang terletak di kompleks Pluit, Jakarta Utara. Para pembaca situs Katolisitas yang tergerak oleh Roh Kudus hadir dalam pertemuan perdana ini. Dipandu oleh Pak Samuel, dan para nara sumber yaitu pengasuh situs, yaitu Bpk. Stef dan Ibu Ingrid, para Romo yang mengisi dan membantu situs ini, yaitu Rm. Wanta dan Rm. Santo, acara secara keseluruhan berjalan dengan baik. Ibadah pagi dan sarapan pagi menjadi pembuka dari keseluruhan acara ini. Puji Tuhan, dari sekian banyak kursi, hampir semuanya penuh. Para hadirin terlihat sangat antusias dan sangat ingin terlibat dalam acara saat itu. Acara kemudian diteruskan dengan perkenalan singkat dari Pak Stef, dan para romo. Pak Stef sendiri juga menerangkan asal usul situs ini, yang dimulai dari harapan sederhana untuk membuat situs kecil- kecilan saja. Pada bulan pertama, situs Katolisitas hanya dikunjungi oleh 100 orang, hingga kini menjadi 97, 000 orang (unique visitors) per-bulannya, atau sekitar 3000-an lebih perhari. Selain itu banyak karunia Tuhan yang hadir dalam perintisan situs ini. Mulai dari perkenalan dengan Romo Wanta, yang terjadi karena kebetulan, tanpa direncanakan sebelumnya, sampai perkenalan dengan Mba Uti yang juga tidak sengaja akibat sebuah kasus penipuan. Hanya kasih karunia Tuhan saja yang menjadi sandaran berdirinya katolisitas.org ini. Pembahasan berikutnya dipaparkan oleh para romo, diawali oleh Romo Santo yang memberi pembahasan mengenai iman Katolik di kalangan orang muda. Bagaimana orang muda Katolik dewasa ini cenderung semakin tidak menjadikan Kristus sebagai acuannya. Bagaimana beliau juga membahas mengenai fenomena-fenomena orang muda dan tipetipe warga katolik ketika hadir dalam perayaan Ekaristi di gereja (ada yg boring: bobo miring, HKBP: habis komuni buru-buru pulang, dll). Ada fenomena juga mengenai seorang anak yang kelihatannya sering ke gereja namun hanya setor muka saja dan lain sebagainya. Tentunya banyak pula hadirin yang mengajukan pertanyaan dan pendapat. Seru dan meriah, tentunya dengan joke-joke dari Rm. Santo yang segar dan kocak. Ditambah dengan sentilan-sentilan beliau yang spontan, membuat para hadirin tertawa bersama. Silakan melihat artikel yang dibawakan oleh Romo Santo di sini silakan klik. Rm. Wanta menyusul kemudian dengan pembahasan mengenai pernikahan, persiapan pernikahan dan beberapa kali menyinggung mengenai hukum kanonik. Memang beliau membawakan dengan tegas dan lugas. Tampak begitu semangat dan menggebu-gebu hadirin mengajukan pertanyaan, ada beberapa peserta yang berkali-kali mengacungkan tangan untuk bertanya, ada pula yang menanyakan mengenai kisah Harry Potter dalam kaitannya dengan pendidikan anak, juga mengenai rumusan doa dan status imam yang hidup selibat. Seru dan semarak. Sungguh Tuhan hadir membantu umatnya untuk lebih mengenal iman Katolik. Beberapa rekan yang menulis kesaksian pun juga dipersilahkan untuk maju ke depan dan mengungkapkan pengalamannya mengenai katolisitas.org dan hubungannya dengan peneguhan iman katolik. Ada empat orang, termasuk Rm. Santo sendiri sebagai penulis kesaksian. Ada juga wartawan dari majalah rohani Shalom Betawi, yang juga turut hadir.

Pada penutup, disajikan oleh Bp. Stef dan Ibu Inggrid mengenai Topik Gereja Katolik Kuno, Siapa Bilang? Detail dan penjelasan lebarnya ada di situs katolisitas silakan klik, namun pada intinya adalah menjelaskan mengenai keagungan Gereja Katolik dengan ajarannya, keteguhan dan magisteriumnya, yang berakar dari ajaran yang disampaikan oleh Tuhan Yesus kepada para rasul-Nya. Ditutup kemudian dengan doa penutup dan kemudian makan siang bersama. Tampak antusias beberapa peserta mengerumuni Rm. Wanta sambil menyantap makanan dan berdikusi mengenai perkawinan, rumusan doa dan lainya. Ada yang juga berbincangbincang bersama Bp. Stef dan Ibu Ingrid. Beberapa orang lainnya mengabadikan momen-momen bersama para pengasuh katolisitas.org. Secara keseluruhan acara memang berjalan dengan baik. Dari hidangan yang disediakan seluruhnya habis. Antusias peserta tinggi dan hampir semuanya yang hadir benar-benar ingin mengetahui lebih dalam iman katolik dan situs ini. Dari pengamatan saya, beberapa peserta sebenarnya masih kurang puas akan jawaban dan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan, berhubung waktu yang disediakan terbatas walaupun pembahasan dan tanya jawab terjadi selama hampir 4 jam. Untuk ke depannya, mungkin perlu difokuskan khusus untuk membahas satu topik saja agar tidak melebar, sehingga dapat disesuaikan dengan waktu yang tersedia, dan tidak terkesan terburu- buru. Namun terlepas dari semua persiapan dan kondisi pertemuan yang diadakan oleh tim katolisitas dan sukarelawan tersebut, Tuhan telah hadir. Roh Kudus berkarya melalu pewartaan media situs katolisitas.org. untuk menggerakkan dan mengundang siapa saja yang rindu akan pewartaan sabda Tuhan. Acara pertemuan ini hanya merupakan secuil alat Tuhan yang dipakai untuk mengumpulkan domba-domba-Nya yang hilang. Masih dibutuhkan banyak talenta, karya dan tenaga kita semua untuk dapat menyampaikan warta gembiraNya ke tengah-tengah dunia, khususnya melalui situs katolisitas.org. Proficiat untuk Katolisitas.org atas pertemuan daratnya yang pertama, semoga bisa menjadi pijakan awal untuk melangkah, menjangkau umat lebih banyak. Dan untuk semua yang hadir, dan seluruh pembaca, mari bersama kita ucapkan puji syukur atas karunia Roh Kudus yang hadir dalam setiap karya pelayanan situs katolisitas. Sekali lagi proficiat untuk katolisitas.org. Semoga damai Tuhan selalu beserta kita semua. Jakarta, 8 Desember 2010, Dalam damai kasih Tuhan Benedictus Widi Handoyo

Mengapa aborsi itu dosa


PEMBAHASAN

Tolong, jangan tusuk saya!


Saya pernah menonton suatu program TV yang menunjukkan proses aborsi pada bayi usia 6 bulan. Dokter dengan sarung tangan memegang gunting dan pisau untuk membuka perut ibu. Beberapa menit kemudian, bagian perut sudah tersayat, dan dalam sekejap, saya melihat suatu adegan yang membuat jantung saya hampir berhenti berdetak: keluarlah sebuah tangan kecil dari perut itu memegangi ujung gunting itu, seolah berteriak, Tolong, jangan menusuk saya! Namun mungkin para dokter itu sudah terbiasa melakukan pekerjaan itu. Tak lama kemudian hancurlah sudah tubuh manusia kecil dan tak berdaya itu. Bayi kecil itu mati terpotong-potong. Tidak sebagai manusia, namun hanya sebagai benda yang dibuang karena dianggap mengganggu dan tidak diharapkan.

Pro Choice vs Pro-life


Di Amerika dewasa ini, terdapat isu yang cukup hangat, yang tak jarang mengundang perdebatan, yaitu mengenai aborsi. Umumnya mereka yang setuju aborsi menyebut diri sebagai pro- choice -karena mengacu kepada hak ibu untuk memilih nasib dirinya dan bayi yang dikandungnya; sedangkan yang tidak setuju menyebut diri pro-life. Gereja Katolik sendiri selalu ada dalam posisi pro-life karena Gereja Katolik selalu mendukung kehidupan manusia, tak peduli seberapa muda usianya, termasuk mereka yang masih di dalam kandungan. Sebenarnya secara objektif terminologi yang dipakai sudah rancu, karena pro-choice sebenarnya bukan choice, sebab pilihan yang diambil dalam hal ini hanya satu, yaitu membunuh bayi yang masih dalam usia kandungan. Sang bayi yang kecil dan lemah itu

tidak membuat pilihan, sebab ia ditentukan untuk mati. Tragisnya, yang menentukan kematiannya adalah ibunya sendiri yang mengandungnya.

Kapan kehidupan manusia terbentuk?


Gereja Katolik pro- life karena Tuhan mengajarkan kepada kita untuk menghargai kehidupan, yang diperoleh manusia sejak masa konsepsi (pembuahan) antara sel sperma dan sel telur. Kehidupan manusia terbentuk pada saat konsepsi, karena bahkan dalam ilmu pengetahuan-pun diketahui, Sebuah zygote adalah sebuah keseluruhan manusia yang unik.[1] Pada saat konsepsi inilah sebuah kesatuan sel manusia yang baru terbentuk, yang lain jika dibandingkan dengan sel telur ibunya, ataupun sel sperma ayahnya. Pada saat konsepsi ini, terbentuk sel baru yang terdiri dari 46 kromosom (seperti halnya sel manusia dewasa) dengan kemampuan untuk mengganti bagi dirinya sendiri sel-sel yang mati.[2] Analisa science menyimpulkan bahwa fertilisasi bukan suatu proses tetapi sebuah kejadian yang mengambil waktu kurang dari satu detik. Selanjutnya, dalam 24 jam pertama, persatuan sel telur dan sperma bertindak sebagai sebuah organisme manusia, dan bukan sebagai sel manusia semata-mata. Selengkapnya, untuk melihat pandangan para scientists tentang kapan hidup manusia dimulai, silakan membaca di link ini, silakan klik. Masalahnya, orang-orang yang pro-choice tidak menganggap bahwa yang ada di dalam kandungan itu adalah manusia, atau setidaknya mereka menghindari kenyataan tersebut dengan berbagai alasan. Padahal science sangat jelas mengatakan terbentuknya sosok manusia adalah pada saat konsepsi (pembuahan sel telur oleh sel sperma). Pada saat itulah Tuhan menghembuskan jiwa kepada manusia baru ciptaan-Nya, yang kelak bertumbuh dalam rahim ibunya, dapat lahir dan berkembang sebagai manusia dewasa. Adalah suatu ironi untuk membayangkan bahwa kita manusia berasal dari fetus yang bukan manusia. Logika sendiri sesungguhnya mengatakan, bahwa apa yang akan bertumbuh menjadi manusia layak disebut sebagai manusia.

Dasar Kitab Suci


1. Kitab suci juga mengajarkan bahwa manusia sudah terbentuk sebagai manusia sejak dalam kandungan ibu: Yes 44:2: Beginilah firman TUHAN yang menjadikan engkau, yang membentuk engkau sejak dari kandungan dan yang menolong engkau Allah sendiri mengatakan telah membentuk kita sejak dari kandungan, artinya, sejak dalam kandungan kita sudah menjadi manusia yang telah dipilih-Nya. Ayb 31: 15: Bukankah Ia, yang membuat aku dalam kandungan, membuat orang itu juga? Bukankah satu juga yang membentuk kami dalam rahim? Ayub menyadari bahwa ia dan juga orang-orang lain telah diciptakan/ dibentuk oleh Allah sejak dalam kandungan.

Yes 49, 1,5: .TUHAN telah memanggil aku sejak dari kandungan telah menyebut namaku sejak dari perut ibuku. Maka sekarang firman TUHAN, yang membentuk aku sejak dari kandungan untuk menjadi hamba-Nya, untuk mengembalikan Yakub kepada-Nya Nabi Yesaya mengajarkan bahwa Allah telah memanggilnya sejak ia masih di dalam kandungan (sesuatu yang tidak mungkin jika ketika di dalam kandungan ia bukan manusia). 2. Kitab Suci mengajarkan bahwa setiap kehidupan di dalam rahim ibu adalah ciptaan yang unik, yang sudah dikenal oleh Tuhan: Yer 1:5: Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa. Mazmur 139: 13, 15-16: Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku. Tulang-tulangku tidak terlindung bagi-Mu, ketika aku dijadikan di tempat yang tersembunyi, dan aku direkam di bagian-bagian bumi yang paling bawah; mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya. Gal 1:15-16: Tetapi waktu Ia, yang telah memilih aku sejak kandungan ibuku dan memanggil aku oleh kasih karunia-Nya, berkenan menyatakan Anak-Nya di dalam aku, supaya aku memberitakan Dia di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi, maka sesaatpun aku tidak minta pertimbangan kepada manusia Luk 1:41-42: Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabetpun penuh dengan Roh Kudus lalu berseru, Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Di dalam kisah ini, Yohanes Pembaptis yang masih berada dalam kandungan Elisabet dapat melonjak gembira pada saat mendengar salam Maria. Lalu Elisabet-pun mengucapkan salam kepada Maria dan kepada Yesus yang ada dalam kandungan Bunda Maria sebagai buah rahim-nya. Tentulah ini menunjukkan bahwa kehidupan janin di dalam kandungan sudah menunjukkan kehidupan seorang manusia, yang sudah dapat turut melonjak karena suka cita, dan layak untuk diberkati sebagai manusia. Janin di dalam kadungan bukan hanya sekedar sepotong daging/ fetus tanpa identitas. Sejak di dalam kandungan, Allah telah membentuk kita secara khusus, memperlengkapi kita dengan berbagai sifat dan karakter tertentu agar nantinya dapat melakukan tugas-tugas perutusan kita di dunia. 3. Tuhan Yesus mengajarkan kita untuk memperhatikan dan mengasihi saudara-saudari kita yang terkecil dan terlemah, sebab dengan demikian kita melakukannya untuk Kristus sendiri.

Mat 25:45: sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku. Aborsi yang pada akhirnya membunuh janin, entah di dalam atau di luar kandungan, adalah tindakan pembunuhan yang bertentangan dengan perintah Yesus untuk memperhatikan dan mengasihi saudari-saudari kita yang terkecil dan terlemah. 4. Kitab Suci menuliskan bahwa kita tidak boleh membunuh, atau jika mau dikatakan dengan kalimat positif, kita harus mengasihi sesama kita. Kel 20: 13; Ul 5:17; Mat 5:21-22; 19:18: Jangan membunuh. Mat 22:36-40; Mrk 12:31; Luk 10:27; Rom 13:9, Gal 5:14: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri 1 Yoh 3:15 Setiap orang yang membenci saudaranya, adalah seorang pembunuh manusia. Dan kamu tahu, bahwa tidak ada seorang pembunuh yang tetap memiliki hidup yang kekal di dalam dirinya. Jika di dunia ini mulai banyak kampanye untuk melindungi binatang-binatang, (terutama binatang langka), maka adalah suatu ironi, jika manusia malahan melakukan aborsi yang membunuh sesama manusia, yang derajatnya lebih tinggi dari binatang. Apalagi jika aborsi dilegalkan/ diperbolehkan secara hukum. Maka menjadi suatu ironi yang mengenaskan: ikan lumba-lumba dilindungi mati-matian, tetapi bayi-bayi manusia dimatikan dan tidak dilindungi. Suatu permenungan: seandainya kita adalah janin itu, tentu kitapun tak ingin ditusuk dan dipotong-potong sampai mati. Maka, jika kita tidak ingin diperlakukan demikian, janganlah kita melakukannya terhadap bayi itu. Atau, kalau kita mengatakan bahwa kita mengimani Kristus Tuhan yang hadir di dalam mahluk ciptaan-Nya yang terkecil itu, maka sudah selayaknya kita tidak menyiksanya apalagi membunuhnya! Kita malah harus sedapat mungkin memeliharanya dan memperlakukannya dengan kasih. 5. Kitab Suci menuliskan, bahwa jika kita tidak peduli akan nasib saudara-saudari kita yang lemah ini, kita sama dengan Kain, yang pura-pura tidak tahu nasib saudaranya sendiri. Kel 4: 9 Firman Tuhan kepada Kain, Di mana Habel adikmu itu? Ia (Kain) menjawab, Aku tidak tahu. Padahal tidak mungkin ia tidak tahu sebab Kain sendirilah yang memukul Habel adiknya hingga ia mati (lih. Kel 4:8). Adalah suatu fakta yang memprihatinkan, yang menyangkut Presiden Barrack Obama yang terkenal oleh kebijakannya memperbolehkan aborsi. Pada suatu kesempatan dalam wawancara tanggal 16 Agustus 2008 (pada saat itu ia masih menjadi senator Illinois), ia ditanya oleh Pastor Rick Warren, Jadi kapan menurut anda seorang bayi memperoleh hak azasinya? Ini adalah pertanyaan yang menyangkut iman dan bagaimana iman itu

bekerja dalam hati nurani dan kebijaksanaan sang (calon) Presiden. Namun sayangnya jawaban Obama adalah, Answering that question with specificity, you know, is above my pay grade. (Menjawab pertanyaan itu dengan detailnya, kamu tahu, itu melampaui batas gaji/ penghasilan saya). Suatu jawaban yang kelihatan sangat enteng untuk pertanyaan yang sangat serius. Ini sungguh mirip dengan jawaban Kain, Aku tidak tahu. Padahal, tentu bukannya tidak tahu, tetapi lebih tepatnya tidak mau tahu. Sebab fakta science dan bahkan akal sehat sesungguhnya telah begitu jelas menunjukkan kapan manusia terbentuk sebagai manusia. Alkitab menunjukkan dan bahkan ilmu pengetahuan membuktikan bahwa kehidupan manusia berawal dari masa konsepsi. Satu sel ini kemudian berkembang menjadi janin yang sungguh sudah berbentuk manusia, walaupun masih di dalam kandungan. DNA dan keseluruhan 46 kromosom terbentuk saat konsepsi. Jantung janin telah berdetak di hari ke-18, keseluruhan struktur syaraf terbentuk di hari ke- 20. Di hari ke 42, semua tulang sudah lengkap, gerak refleks sudah ada. Otak dan semua sistem tubuh terbentuk di minggu ke-8. Semua sistem tubuh berfungsi dalam 12 minggu. Hanya orang yang menutup diri terhadap semua fakta ini dapat berkata, aku tidak tahu kapan kehidupan manusia dimulai, dan apakah janin itu seorang manusia atau bukan.

Pengajaran Bapa Gereja


1. Didache: Pengajaran dari kedua belas Rasul (80- 110)[3] Mungkin tak banyak orang mengetahui bahwa larangan aborsi sudah berlaku sejak abad ke-1. Dalam Didache, yang merupakan katekese moral, aborsi dan mungkin juga kontrasepsi (yang dikatakan dalam istilah magic atau drug)[4] 2. Konsili Elvira (305) dan Konsili Ancyra (314) mengecam aborsi, silakan melihat teks lengkapnya di link ini, silakan klik. 3. Beberapa Bapa Gereja yang mengajarkan larangan aborsi: The Apocalypse of Peter (ca. 135) Tertullian (c.160-240) Athenagoras (d. 177) Minucius (3rd Century AD) Basil (c.329-379) Ambrose (c.340-397) Jerome (347-420) John Chrysostom (347-407) Augustine of Hippo (354-430) St. Caesarius, Bishop of Arles (470-543) Theodorus Priscianus (c.4th-5th century AD) Justinian (527-565) Gregory the Great (540-604) Disciple of Cassiodorus (after 540 AD) Apocalypse of Paul

The Apostolic Constitutions The Letter of Barnabas Hippolytus Teks lengkapnya dari masing-masing Bapa Gereja tersebut, silakan klik di link ini.

Pengajaran Magisterium Gereja Katolik


Maka, Magisterium Gereja Katolik dengan teguh menjunjung tinggi kehidupan manusia dan menentang aborsi, karena memang demikianlah yang sudah diajarkan oleh para rasul dan diimani Gereja sepanjang sejarah. 1. Konsili Vatikan II, Gaudium et Spes 27, Selain itu apa saja yang berlawanan dengan kehidupan sendiri, misalnya bentuk pembunuhan yang mana pun juga, penumpasan suku, pengguguran (aborsi), eutanasia atau bunuh diri yang disengaja; apa pun yang melanggar keutuhan pribadi manusia, . apa pun yang melukai martabat manusia, seperti kondisi-kondisi hidup yang tidak layak manusiawi, pemenjaraan yang sewenangwenang, pembuangan orang-orang, perbudakan, pelacuran, perdagangan wanita dan anak-anak muda; begitu pula kondisi-kondisi kerja yang memalukan, sehingga kaum buruh diperalat semata-mata untuk menarik keuntungan. itu semua dan hal-hal lain yang serupa memang perbuatan yang keji. Dan sementara mencoreng peradaban manusiawi, perbuatan-perbuatan itu lebih mencemarkan mereka yang melakukannya, dari pada mereka yang menanggung ketidak-adilan, lagi pula sangat berlawanan dengan kemuliaan Sang Pencipta. 2. Paus Paulus VI dalam surat ensikliknya, Humanae Vitae 13 mengutip Paus Yohanes XXIII mengatakan, Hidup manusia adalah sesuatu yang sakral, dari sejak permulaannya, ia secara langsung melibatkan tindakan penciptaan oleh Allah. Maka manusia tidak mempunyai dominasi yang tak terbatas terhadap tubuhnya secara umum; manusia tidak mempunyai dominasi penuh atas kemampuannya berkembang biak justru karena pemberian kemampuan berkembang biak itu ditentukan oleh Allah untuk memberi kehidupan baru, di mana Tuhan adalah sumber dan asalnya. Dalam surat ensiklik yang sana Paus Paulus VI juga menyebutkan kedua aspek perkawinan yaitu persatuan (union) dan penciptaan kehidupan baru (pro-creation). Maka usaha interupsi/ pemutusan terhadap proses generatif yang sudah berjalan, dan terutama, aborsi yang dengan sengaja diinginkan, meskipun untuk alasan terapi, adalah mutlak tidak termasuk dalam cara-cara yang diizinkan untuk pengaturan kelahiran.[5]. 3. Congregation for the Doctrine of the Faith, Declaration on Procured Abortion: (18 November 1974), nos 12-13, AAS (1974), 738: from the time that the ovum is fertilized, a life is begun which is neither that of the father nor the mother; it is rather the life of a new human being with his own growth. It would never be made human if it were not human already. This has always been clear, and modern genetic science offers clear confirmation. It has demonstrated that

from the first instant there is established the programme of what this living being will be: a person, this individual person with his characteristic aspects already well determined. Right from fertilization the adventure of a human life begins, and each of its capacities requires time-a rather lengthy time-to find its place and to be in a position to act. Karena hidup manusia dimulai saat konsepsi/ fertilisasi, maka manusia harus dihormati dan diperlakukan sebagai manusia sejak masa konsepsi dan karenanya, sejak saat konsepsi, hak-haknya sebagai manusia harus diakui, terutama haknya untuk hidup. [6] 4. Yohanes Paulus II dalam surat ensikliknya, Evangelium Vitae menekankan bahwa Injil Kehidupan (the Gospel of Life) yang diterima Gereja dari Tuhan Yesus sebenarnya telah menggema di hati semua orang. Setiap orang yang terbuka terhadap kebenaran dan kebaikan akan mengenali hukum kodrat yang tertulis di dalam hatinya (lih. 2:14-15) tentang kesakralan kehidupan manusia dari sejak awal mula sampai akhirnya; dan dengan demikian dapat mengakui adanya hak dari setiap orang untuk dapat hidup. Sesungguhnya atas dasar pengakuan akan hak untuk hidup inilah setiap komunitas manusia dan komunitas politik didirikan.[7] Paus Yohanes Paulus II kemudian menyebutkan adanya hubungan yang dekat antara kontrasepsi dan aborsi. Kontrasepsi menentang kebenaran sejati tentang hubungan suami istri, sedangkan aborsi menghancurkan kehidupan manusia. Kontrasepsi menentang kebajikan kemurnian di dalam perkawinan, sedangkan aborsi menentang kebajikan keadilan dan merupakan pelanggaran perintah Jangan membunuh[8]. Maka keduanya sebenarnya berasal dari pohon yang sama, berakar dari mental hedonistik yang tidak mau menanggung akibat dalam hal seksualitas, berpusat pada kebebasan yang egois, yang menganggap pro-creation sesuatu beban untuk pencapaian cita-cita/ personal fulfillment. Paus Yohanes Paulus II menyebutkan mentalitas sedemikian mendorong bertumbuhnya culture of death di dalam masyarakat, yang pada dasarnya menentang kehidupan.[9] Dalam mentalitas ini, bayi/ anak-anak maupun orang tua yang sakit-sakitan dianggap sebagai beban sehingga muncullah budaya aborsi dan euthanasia. Suatu yang sangat menyedihkan! Padahal seharusnya, manusia memilih kehidupan seperti yang diperintahkan Allah, Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu, dengan mengasihi Tuhan Allahmu, mendengarkan suara-Nya dan berpaut kepada-Nya. (Ul 30:19-20). Akhirnya, berikut ini adalah pengajaran definitif dari Paus Yohanes Paulus II yang menolak aborsi[10]: Therefore, by the authority which Christ conferred upon Peter and his Successors, in communion with the Bishops-who on various occasions have condemned abortion and who in the aforementioned consultation, albeit dispersed throughout the world, have shown unanimous agreement concerning this doctrine-I declare that direct abortion, that

is, abortion willed as an end or as a means, always constitutes a grave moral disorder, since it is the deliberate killing of an innocent human being. This doctrine is based upon the natural law and upon the written Word of God, is transmitted by the Churchs Tradition and taught by the ordinary and universal Magisterium.

Efek-efek negatif dari aborsi


Tidak mengherankan, karena aborsi adalah perbuatan yang menentang hukum alam dan hukum Tuhan, maka tindakan ini membawa akibat- akibat negatif, terutama kepada ibu dan ayah bayi, maupun juga kepada para pelaku aborsi dan masyarakat umum, terutama generasi muda, yang tidak lagi melihat kesakralan makna perkawinan. Ibu yang mengandung bayi, terutama menanggung akibat negatif, baik bagi fisik maupun psikologis, yaitu kemungkinan komplikasi fisik, resiko infeksi, perdarahan, atau bahkan kematian. Selanjutnya, penelitian dalam Journal of the National Cancer Institute di Amerika juga menunjukkan wanita yang melakukan aborsi meningkatkan resiko 50% terkena kanker payudara. Sebab aborsi membuat terputusnya proses perkembangan natural payudara, sehingga jutaan selnya kemudian mempunyai resiko tinggi mengalami keganasan. Selanjutnyapun kehamilan berikutnya mempunyai peningkatan resiko gagal 45%, atau komplikasi lainnya seperti prematur, steril, kerusakan cervix. Selanjutnya tentang hal ini dapat anda lihat di link ini, silakan klik. Di atas semua itu adalah tekanan kejiwaan yang biasanya dialami oleh wanita- wanita yang mengalami aborsi. Tekanan kejiwaan ini membuat mereka depresi, mengalami kesedihan yang berkepanjangan, menjadi pemarah, dikejar perasaan bersalah, membenci diri sendiri, bahkan sampai mempunyai kecenderungan bunuh diri. Menurut studi yang diadakan oleh David Reardon yang memimpin the Elliot Institute for Social Sciences Research di Springfield Illinois (di negara Obama menjadi senator): 98% wanita yang melakukan aborsi menyesali tindakannya, 28% wanita sesudah melakukan aborsi mencoba bunuh diri, 20% wanita post-aborsi mengalami nervous breakdown, 10% dirawat oleh psikiatris. Ini belum menghitung adanya akibat negatif dalam masyarakat, terutama generasi muda. Legalisasi aborsi semakin memerosotkan moral generasi muda, yang dapat mempunyai kecenderungan untuk mengagungkan kesenangan seksual, ataupun memikirkan kepentingan diri sendiri, tanpa memperhitungkan tanggung jawab. Suatu mentalitas yang sangat bertentangan dengan ajaran Kristiani.

Bagi yang telah melakukan aborsi


Paus Yohanes Paulus II dengan kebapakan mengatakan bahwa Gereja menyadari bahwa terdapat banyak faktor yang menyebabkan seorang wanita melakukan aborsi. Gereja mengajak para wanita yang telah melakukan aborsi untuk menghadapi segala yang telah terjadi dengan jujur. Perbuatan aborsi tetap merupakan perbuatan yang sangat salah dan dosa, namun juga janganlah berputus asa dan kehilangan harapan. Datanglah kepada Tuhan dalam pertobatan yang sungguh dalam Sakramen Pengakuan Dosa. Percayakanlah

kepada Allah Bapa jiwa anak yang telah diaborsi, dan mulai sekarang junjunglah kehidupan, entah dengan komitmen mengasuh anak-anak yang lain, atau bahkan menjadi promotor bagi banyak orang agar mempunyai pandangan yang baru dalam melihat makna kehidupan manusia.[11]. Anjuran ini juga berlaku bagi para dokter, petugas medis atau siapapun yang pernah terlibat dalam tindakan aborsi, entah dengan menganjurkannya ataupun dengan melakukan/ membantu proses aborsi itu sendiri. Semoga semakin banyak orang dapat melihat kejahatan aborsi, sehingga tidak lagi mau melakukannya.

Kesimpulan
Pengajaran Alkitab dan Gereja Katolik menyatakan, Kehidupan manusia adalah sakral karena sejak dari awalnya melibatkan tindakan penciptaan Allah[12]. Kehidupan, seperti halnya kematian adalah sesuatu yang menjadi hak Allah[13], dan manusia tidak berkuasa untuk mempermainkannya. Perbuatan aborsi menentang hukum alam dan hukum Allah, maka tak heran, perbuatan ini mengakibatkan hal yang sangat negatif kepada orang-orang yang terlibat di dalamnya. Aborsi adalah tindakan pembunuhan manusia, walaupun ada sebagian orang yang menutup mata terhadap kenyataan ini. Gereja Katolik tidak pernah urung dalam menyatakan sikapnya yang pro-life/ mendukung kehidupan, sebab, Gereja menghormati Allah Pencipta yang memberikan kehidupan itu. Tindakan melindungi kehidupan ini merupakan bukti nyata dari iman kita kepada Kristus, yang adalah Sang Hidup (Yoh 14:6) dan pemberi hidup itu sendiri. Mari, di tengah-tengah budaya yang menyerukan kematian/ culture of death, kita sebagai umat Katolik dengan berani menyuarakan kehidupan/ culture of life. Mari kita melihat di dalam setiap anak yang lahir, di dalam setiap orang yang hidup maupun yang meninggal, gambaran kemuliaan Tuhan Pencipta yang telah menciptakan manusia sesuai dengan gambaran-Nya. Dengan demikian, kita dapat menghormati setiap orang, dan memperlakukan setiap manusia sebagaimana mestinya demi kasih dan hormat kita kepada Tuhan yang menciptakannya. Mari bersama kita mewartakan Injil Kehidupan, yang menyatakan kepenuhan kebenaran tentang manusia dan tentang kehidupan manusia. Semoga kita dapat memiliki hati nurani yang jernih, sehingga kita dapat mendengar seruan Tuhan untuk memperhatikan dan mengasihi sesama kita yang terkecil, yakni mereka yang sedang terbentuk di dalam rahim para ibu. Sebab Yesus bersabda, Apa yang kau lakukan terhadap saudaramu yang paling kecil ini, engkau lakukan untuk Aku (lih. Mat 25:45). CATATAN KAKI: 1. Landrum B. Shettles, M.D. and David Rorvik, Human Life Begins at Conception, in Rites of Life (Grand Rapids, MI: Zondervan, 1983) cited in Abortion: Opposing Viewpoints (St. Paul, MN: Greenhaven Press, 1986), p.16 [] 2. Lihat Bob Larson, Larsons Book of Family Issues (Wheaton, IL: Tyndale House, 1986), p. 297 [] 3. Lihat J. Tixeront, A Handbook of Patrology []

4. Lihat John Hardon, S.J., The Catholic Tradition on the of Contraception on line http://www.therealpresence.org/archives/Abortion_Euthanasia/Abortion_Euthana sia_004.htm Ia menulis: Istilah ini mageia dan pharmaka dimengerti berkaitan dengan ritus-ritus magis dan/ atau minuman/ obat untuk kontrasepsi dan sebagai dosa besar, yang umum dilakukan oleh orang-orang pagan: Thou shalt not commit sodomy, thou shalt not commit fornication; thou shalt not steal; thou shalt not use magic; thou shalt not use drug; thou shalt not procure abortion, nor commit infanticide. ((Didache, II, 1-2 [] 5. Paus Paulus VI, Humanae Vitae 14, mengutip Roman Catechism of the Council of Trent, Part II, ch. 8, Paus Pius XI, ensiklik Casti Connubii: AAS 22 (1930), pp. 562-64; . Konsili Vatikan II, Gaudium et Spes, 51: AAS 58, 1966, p. 1072 [] 6. lihat Congregation for the Doctrine of the Faith, Instruction on Respect for Human Life in its Origin and on the Dignity of Procreation Donum Vitae: (22 February 1987), I, No. 1, AAS 80 (1988), 79 [] 7. Lihat Yohanes Paulus II, Evangelium Vitae, 2 [] 8. Lihat Evangelium Vitae, 13 [] 9. Lihat Evangelium Vitae 24, 26, 28 [] 10. Evangelium Vitae 62 [] 11. Lihat Evangelium Vitae 99 [] 12. Evangelium Vitae 53 [] 13. lihat Evangelium Vitae, 39, lihat Ayub 12:10 []

Ditulis oleh Ingrid Listiati pada 06 10 09 Disimpan dalam Artikel, Fundamental Teologi, Moral Teologi. Anda dapat mengikuti pesan-pesan di artikel ini melalui RSS 2.0. Anda dapat meninggalkan pesan atau trackback di artikel ini

48 komentar untuk Mengapa aborsi itu dosa


1. 19

ai says:

Orang Muda Katolik (OMK) dan penghayatan imannya


PEMBAHASAN

Keluhan-keluhan Menimbang Perkara Kedalaman Mistik Berkomunitas Katekese yang Menggerakkan Pembimbing yang Berkarakter Kuat

Keluhan-keluhan
Dengan segala hormat pada seorang ibu yang menuliskan keluhan melalui e-mail kepada saya, surat beliau saya tampilkan sebagai awal tulisan ini: (Friday, February 13, 2009 6:46 AM): Romo bisa beri advis ke kami tentang anak saya. Anak saya saat ini usianya 17 tahun, laki-laki, berwatak keras, tapi perasaannya sangat halus, yang berakibat saya jadi sangat hati hati kalau bicara dengan dia kawatir tersinggung. Sebab kerap kali jika berbicara dengan ayahnya, sering beda pendapat dan berakibat perang mulut, akhirnya marah2 , pernah jadi anaknya kabur, sementara saya dan adiknya pendiam. Jadi kalau ribut begini kami berdua sedih dan tidak suka. Anak pertama saya ini, pintar omong dan sangat setia kawan, jadi jika sudah kumpul sama teman-temannya suka lupa waktu, meskipun tempat di mana dia ngumpul / nongkrong, kami orangtua tahu, termasuk No. HP teman-temannya . Tentang ke gereja, menurut dia itu hanya setor muka saja. Kerap kali dia tidak komuni. Sepertinya dia mengalami kehampaan. Pernah suatu kali dia bilang Tuhan tidak pernah dengar doa saya, jadi percuma saja saya berdoa (saya sedih sekali dengarnya) Saya ingin giring dia untuk mau mengaku dosa tapi kog susah banget ya? Semoga ada Bapak Rohani yang bisa nasehati dia. Sementara ini dulu. Semoga ada advis dari Romo, terima kasih sudah mau membaca uneg2 saya. Keluhan para orangtua mengenai dinamika anak-anaknya pada saat mereka beranjak remaja dan menjadi pemuda-pemudi kerap terdengar. Surat di atas ialah salah satu dari sekian banyak surat yang mampir ke in-box saya. Keluhan mengenai soal psikologis dan

bagaimana mendampingi perkembangan Orang Muda Katolik (OMK) biasanya juga bersamaan dengan keluhan mengenai perkembangan iman Katolik-nya, seperti surat ibu di atas yang mengeluhkan iman anaknya yang sedang mengalami kehampaan. Dari pihak OMK sendiri pun keluhan soal pengetahuan iman sering muncul. Di in-box saya sepanjang tahun 2008 telah mampir 23 keluhan kebingungan mengenai pengetahuan iman. Salah satunya ini: (Wednesday, January 14, 2009, 15.47 PM): Romo, saya telah 3 bulan kerja di kawasan Kelapa Gading. Syukurlah lumayan baik, walau sering banjir. Tapi yg saya gelisah. Teman saya cowok beragama bukan Katolik. Tampaknya ia naksir saya. Ia baik, tapi suka bertanya-tanya ttg iman Katolik. Yang bikin saya gelisah, ia memberi buku-buku dan mempertanyakan iman Katolik saya. Saya bingung nih Romo. Saya pun tak tahu mesti ngejawab apa. Misalnya ia bilang bahwa Katolik salah karena percaya paus yang hanya manusia, itupun dikatakan bahwa paus kebal salah. Juga soal katolik menyembah Bunda Maria dan bikin patung itu salah besar. Juga salah jika kita misa karena itu berarti kejam karena menyalibkan Tuhan Yesus lagi. Saya jujur saja kini sedang goyah. Tak pernah lagi ikut misa. Bagaimana Romo, saya bingung.

Menimbang Perkara
Dari dua pucuk surat elektronik di atas, saya menemukan ada sebuah fakta yang sukar dibantah, yaitu bahwa pengetahuan dan penghayatan iman saling berhubungan. Pengetahuan iman yang minim akan membuat semangat OMK dalam menghayati iman gampang padam. Sebaliknya, penghayatan iman yang suam-suam kuku, tidak akan menyemangati OMK untuk menambah pengetahuan imannya. Surat yang pertama di atas ialah mengenai seorang anak berusia 17 tahun yang bersemangat suam-suam kuku dan bolehlah ditebak berpengetahuan iman rendah. Surat yang kedua dari seorang gadis Katolik berusia 34 tahun, dengan penghayatan iman yang pada mulanya semangat, namun oleh karena pengetahuan imannya rendah, maka penghayatannya menjadi goyah. Pada kedua surat tersebut, baik OMK berusia 17 tahun maupun OMK berusia 33 tahun ternyata pengalaman dan pengetahuan imannya relatif sama. Pedoman Karya Pastoral Kaum Muda yang dikeluarkan Komisi Kepemudaan KWI, membatasi usia OMK sejak 13 hingga 35 tahun sejauh masih lajang. Dari pengalaman menerima keluhan sekitar iman OMK itu, saya memberanikan diri menarik fakta bahwa sejak usia 13 tahun hingga 35 tahun, pengetahuan iman OMK mengalami stagnasi. Pengetahuan iman mereka begitu-begitu saja sejak ia komuni pertama, krisma, hingga menjelang masuk jenjang perkawinan. Saya menduga hal ini mungkin karena katekese kita yang tradisional (persiapan komuni I, persiapan krisma) masih berupa formalitas alias sebagai syarat saja untuk menerima komuni I dan krisma. Metode Katekese yang tidak menyentuh hati dan merangsang daya pikir itulah yang bisa jadi membuat iman Katolik kurang bergema di hati dan pemikiran OMK. Kita bisa pula menimbang dari sisi pewarisan pengetahuan dan penghayatan iman dari keluarga. Ketika mengucapkan janji pernikahan dahulu di depan altar, suami-isteri

berjanji akan mendidik anak-anak secara Katolik. Pendidikan itu mestinya pertama-tama merupakan kesaksian cinta kasih, kebenaran, doa dan iman serta pendidikan hati nurani. Seruan apostolik Paus Yohanes Paulus II Familiaris Consortio serta surat-surat beliau kepada keluarga ( 2 Februari 1994) jelas-jelas menunjuk betapa agung dan indahnya tugas ini. Keluarga merupakan sekolah iman yang pertama, sebuah Gereja keluarga. Dari sisi OMK sendiri, kita tahu, mereka kini mengalami tekanan berat dari sistem ekonomi dan politik serta budaya yang kurang mempercayai mereka. Sistem pendidikan nasional di Indonesia makin menekan mereka dengan berbagai kesulitan pribadi yang tidak mudah dipecahkan. Jika mereka mengelompok dalam kelompok se-lingkungan, separoki, sebaya, seminat, seprofesi sekalipun, maka tak ayal, tekanan itu bisa ditahan, namun tetap diragukan kehandalannya tanpa dukungan nyata dari pembimbing yang mereka percayai. Sebenarnya, tetap ada harapan bahwa situasi kualitas iman OMK ini bisa diubah menjadi lebih tangguh, ulet dan militan. Marilah kita menelaah dari kekayaan ajaran Katolik sendiri yang memberikan inspirasi bagi peningkatan iman OMK. Saya mengusulkan hal-hal di bawah ini, dengan mensyaratkan peran pembimbing, entah orangtua, pastor paroki, maupun para pendamping lainnya.

Kedalaman Mistik
Pasca Konsili Vatikan II (1965), paham akan Allah Tritunggal Mahakudus dan Gereja Kudus bukan saja menjadi sebuah pengetahuan melainkan juga sebuah misteri pengalaman hidup konkrit umat beriman baik secara pribadi maupun bersama di tengah dunia yang sedang dan selalu berubah. Iman itu lebih dari sekedar pengetahuan, melainkan relasi personal dengan Allah yang telah mewahyukan diri dalam Kristus. Karya itu terjadi dalam diri manusia berkat jasa Roh Kudus (bdk. Dei Verbum, 5). Iman sejati menyentuh pada tataran mistik, batin, kerohanian, ketika manusia beriman termasuk OMK secara pribadi bertemu Allah. Iman tidak sekedar ajaran yang diketahui saja melainkan juga sebuah sikap dan cara hidup yang dihayati. Maka, doa dalam keluarga mesti dibiasakan oleh orangtua sejak anak-anak mereka masih kecil, agar misteri kedalaman penghayatan iman itu dikenal. Doa-doa dalam pertemuan OMK mesti dibuat tanpa bosan-bosan. Di samping itu, mesti dibuat liturgi sedemikian rupa sehingga OMK merasakan sentuhan pada lapisan kedalaman hatinya yang terdalam. Liturgi haruslah dirancang dan dipersiapkan serta dilaksanakan oleh imam dengan melibatkan OMK sedemikian rupa sehingga membantu OMK untuk menghayati iman tersebut. Liturgi perlu dikerjakan sesuai dengan bahasa OMK yang merayakannya, agar dapat dipahami dan dihayati. Sungguh, jika OMK diberi kepercayaan dan didampingi dengan serius oleh pendamping yang tekun, maka mereka akan melakukan perkara-perkara baik yang tidak kita duga sebelumnya. Lebih dari itu, mereka akan mennghayati iman secara hidup dan cool.

Berkomunitas
Pentingnya berkomunitas bagi OMK mesti didasarkan pula oleh paham teologis yang tepat mengenai Gereja. Sampai dengan Konsili Vatikan II, banyak orang memahami Gereja sebagai sebuah fenomena sosial/keagamaan yakni kelompok orang kristiani

yang dipimpin oleh hirarki. Konsili menegaskan bahwa paham seperti itu tidak cukup! Gereja harus dimengerti bukan sebagai fenomena sosial, yang kelihatan, yang jasmani belaka. Ia adalah komunitas iman, harapan dan kasih dalam Kristus (bdk. Lumen Gentium, 8) Gereja ada bukan karena prakarsa manusia melainkan atas prakarsa Allah (bdk. Lumen Gentium 2,3,4). Pembimbing OMK mesti menyadari bahwa komunitaskomunitas OMK perlu berjejaring dan bergerak dalam misteri ini. Perlu dibatinkan oleh pembimbing, bahwa OMK ada karena panggilan Allah sendiri melalui Kristus dalam Roh Kudus. Mereka tak sekedar berkumpul karena sama-sama berminat akan hobi tertentu, namun pertama-tama karena inisiatif Yesus yang memanggil mereka menjadi satu kawanan. Jika hal ini dibuat, tentu keluhan bahwa OMK lari ke komunitas lain tak akan terjadi, atau yang lari akan kembali, karena merasakan kehangatan rohani dalam misteri panggilan Kristus dalam gerejaNya. Seorang muda yang menulis surat kedua di atas akan tertolong jika memiliki dan dimiliki oleh sebuah komunitas OMK yang hangat, yang berpusat pada misteri kehadiran Kristus.

Katekese yang Menggerakkan


Pengajaran iman yang animatif, menggerakkan olah pikir pasti akan menggairahkan OMK. Para katekis dan pastor, bahkan orangtua, perlu mempelajari cara-cara baru untuk mengajarkan bagian-bagian pengajaran iman Katolik. Yang menarik adalah, sumbersumber itu sekarang bisa didapatkan secara berlimpah ruah oleh para pendamping dan katekis manakala mereka mengunduh bahan-bahan itu dari internet. Lebih dari itu, muncul prakarsa-prakarsa dari para pendamping yang melibatkan OMK sendiri untuk membangun situs web dengan memanfaatkan media internet. Metode katekese calon komuni I dan krisma mestinya tak hanya klasikal dan tradisional. Katekis bisa saja membuka kesempatan OMK mempelajari pokok-pokok iman dari internet, dengan melibatkan orangtua untuk mendampingi dan memeriksanya. Mmetode ini mensyaratkan adanya website-website Katolik yang baik. Dalam penelusuran saya, telah ada web-web mengenai pengajaran iman Katolik dalam bahasa Indonesia. Kita bisa mencoba mencari dengan googgle dengan kata kunci misalnya katolisitas, gereja katolik, iman katolik, ekaristi, dan semacamnya. Cara ini akan jauh menggairahkan dan menggerakkan jika pembimbing OMK terampil membuat tantangan bagi OMK agar memanfaatkan teknologi terkini yang mulai nereka digemari ini. Selain itu, OMK perlu dirangsang agar kritis dan tertantang untuk menanyakan segala hal yang menjadi ganjalan hatinya manakala mendengar aspek katekese tertentu.

Pembimbing yang Berkarakter Kuat


Pembimbing yang berkarakter kuat ialah pendamping OMK yang sabar dan tekun, ada (available) untuk dan bersama komunitas OMK. Ia merupakan pengejawantahan Gembala yang Baik, yang mengenal domba-dombanya, dan domba-dombanya mengenalnya. Ia mendengar perkembangan OMK yang dinamik. Bagaikan menerbangkan layang-layang, ia tahu kapan saat menarik benang dan kapan saat untuk mengulurnya, mencermati arah angin. OMK percaya kepadanya, sebagaimana ia percaya kepada OMK yang ia dampingi, bahwa mereka memiliki daya kekuatan ilahi dari dalam

diri mereka untuk berkembang. Pembimbing yang demikian itu ialah para orangtua dalam keluarga, para pastor, para animator dan pengurus bidang kepemudaan paroki, para penggiat OMK di komunitas-komunitas ketegorial seperti komunitas pelajar, mahasiswa dan karyawan muda Katolik, dan semacamnya. Maka, organisasi pengelola pastoral OMK semestinya selalu mengkader pembimbing-pembimbing yang handal. Perlu dibuat secara rutin oleh Komisi Kepemudaan dalam kerjasama dengan komisi lain dalam Gereja, untuk membentuk pendidikan para pembina, agar ada out put ketersediaan pembina yang berkarakter gembala yang baik. Kata lainnya ialah pembimbing yang berusaha menjadikan diri mereka teladan, yang menghayati iman dalam perkara harian. OMK akan menghargai dan mengikuti arah keteladanan pembimbing yang mengakui kelemahannya, namun tidak berkompromi untuk dibelokkan ke arah budaya sekularistik. Catatan: Artikel ini dibuat untuk acara Temu Darat Katolisitas 1, yang diselenggarakan pada tanggal 7 Desember 2010 di Jakarta Utara. Artikel ini pernah dimuat di buletin KommKel KWI tahun 2009.

Ditulis oleh Romo Yohanes Dwi Harsanto, Pr. pada 09 12 10 Disimpan dalam Artikel, Misi Evangelisasi. Anda dapat mengikuti pesan-pesan di artikel ini melalui RSS 2.0. Anda dapat meninggalkan pesan atau trackback di artikel ini

32 komentar untuk Orang Muda Katolik (OMK) dan penghayatan imannya


1. 16

yusak says: January 24, 2011 at 3:47 pm Bagi saya OMK itu suatu bentuk otak-atik nama saja, sayangnya hirarki gereja saat ini lebih suka otak-atik nama tanpa pernah menyentuh akar masalahnya. Misdinar mana sih yang tidak merasa kalau dia itu juga Mudika?, Legio Maria mana sih yang kalau dia tergolong junior dia juga tidak merasa kalau dirinya Mudika, dll. Dulu ada Pemuda Katolik, lalu muncul mudika sekarang OMK baju baru tapi masalah tetap sama. Saya pernah jadi Ketua Mudika wilayah, Ketua Mudika Paroki dan sekarang menjabat Pegurus Pemuda Katolik Komcab Surabaya. Saya sungguh sedih melihat perkembangan Mudika saat ini. Sudah Hedonnya minta ampun ditambah tidak adanya pembina-pembina Mudika yang mumpuni. Suatu hari saya pernah mengikuti Pendalaman Iman rutin di Wilayah saya, biasalah dibagi buku panduan berupa pertanyaan-pertanyaan sesuai tema APP tahun ini. Lalu sang petugas yang memberikan panduan mulai melontarkan

pertanyaan-pertanyaan sesuai buku panduan tersebut. Suasana sunyi senyap.ada pertanyaan dan tidak ada yang berani nanggapi. Mungkin dalam hati orang-orang kalau nanggapi salah maka nilainya juga jelek. Suasana berubah agak hangat ketika dari pertanyaan-pertanyaan itu.saya lontarkan sedikit saja dari sejarah gereja, masalah-masalah gereja, istilah-istilah gereja. Pengetahuan saya memang tidak banyak-banyak amat tetapi rupanya pengetahuan saya yang masih minim masih lebih baik daripada orang yang sudah sepuh-sepuh apalagi yang muda. Saya kira model Pendalaman Iman yang seperti ini haruslah benar-benar ditinggalkan. Doa Lingkungan dan Pendalaman Iman model ini (tanya-jawab) akan terarah baik kalau petugas panduannya juga baik memberikan panduan. Cuma memang, orang-orang seperti ini berapa banyak jumlahnya? saat ini memang ada website ini.sangat bagus..cuma memang juga ada masalah berapa banyak orang yang bisa internetan? Dulu saya pernh berpikir, bahwa iman Katolik di kota kecil dan bahkan di pedesaan pasti kuat-kuat. Ternyata ketika saya jadi relawan di Komisi Kepemudaan Keuskupan Surabaya (K3S), yang saya lihat Mudika-nya sangat mengharapkan tambahan pengetahuan akan imannya dari orang-orang di Kota. Waduh, cilaka 12 pikir saya, padahal kami-kami ini yang di kota besar justru mengalami krisis iman karena gaya hidup hedon dan konsumerisme yang tinggi. Saya kira sudahlah Hirarki gereja janganlah lagi main utak-atik nama. akar masalah saya kira masih sama, ketidak tahuan umat lebihlebih kaum mudanya untuk bagaimana menghayati iman Katolik di tengah perkembangan jaman yang sunggu cepat ini. Tempora Muntatur et nos Mutamur Illis (Waktu berubah dan kitapun ikut berubah di dalamnya). Reply
o

16.1

Romo Yohanes Dwi Harsanto, Pr. says: January 24, 2011 at 6:38 pm Salam Yusak. Terima kasih bahwa Anda masih setia mendampingi OMK dan tetap mau berprihatin untuk OMK. Istilah OMK, sebagaimana istilah Mudika bukan hasil otak-atik hirarki. Tak ada uskup atau imam Indonesia apalagi KWI yang menginstruksikan hal itu. Lihat penjelasan saya pada kolom tanya jawab ini mengenai istilah OMK. Para peserta pertemuan nasional OMK tahun 2005 telah menyepakatinya dan prosesnya telah bermula sejak tahun 1990 an mengenai keprihatinan OMK ke depan. Harapannya satu saja, agar semua yang merasa orang, berusia muda dan beragama Katolik makin tersapa dan mau peduli pada iman Katoliknya dalam kebersamaan Gereja dan masyarakat. Saya tetap menilai orang muda Katolik secara positif dan berpengharapan pada mereka, bahwa mereka anak-anak Allah yang dikasihiNya secara unik dan kepada merekalah kita

mempercayakan masa depan mulai dari sekarang. Saya harap dengan adanya website-website yang memuat pengetahuan dan kesaksian iman Katolik khususnya katolisitas ini, Anda dan teman-teman yang memiliki sarana ber-internet, bisa menularkan informasi iman ini kepada temanteman yang belum memiliki internet. Jika berjumpa, sampaikan salam saya untuk teman-teman pengurus K3S, pastor ketua serta para relawan semuanya. Salam Rm Santo Reply 2. 15

L. Benedictus Giuseppe-Maria says: January 19, 2011 at 9:42 am Sekedar mau sharing di sini tentang metode katekese yang dibahas oleh Rm. Santo di artikel ini Saya dan beberapa teman di komunitas saya (bisa dibilang mayoritas). sangat mengalami apa yang dibahas di atas mengenai metode katekese yang tidak menyentuh. Kami mayoritas baptis dewasa dan melalui proses katekisasi di sekolah atau di paroki di daerah. Boro-boro mau menyentuh, katekese dibuat sebagai program singkat semacam paket kilat yang penting bentar lagi dibaptis dan bisa merasakan roti putih itu yang katanya Tubuh dan Darah Kristus. Tapi tanpa pengetahuan yang memadai dan cuma sebatas norma-norma umum yang tidak menggigit dan tidak nyantol di otak. Apalagi dibawakan dengan hemat: hanya 1 tahun potong libur sekolah dan kalau ada ujian. Kini tidak ada satu pun ilmu yang kami dapet waktu dulu jadi katekumen yang masih nyangkut di otak hahahahaha. jadi klo datang ke misa, ya cuma gitu aja, ritual hari minggu dengan segudang aturan dan rumusan. Hari senin-sabtu, ya manusia dunia aja. Boro-boro mw inget Tuhan. Waktu persiapan krisma, lebih hebat lagi. Bener-bener ga ada yang nyantol. Ga ada kesan sama sekali. Mungkin itu kali ada pepatah tak kenal maka tak sayang. Mungkin karena kita ga kenal sama yang Nama-Nya Yesus itu kali, makanya kita ga pernah sayang. Tapi ya Ilmu Ketuhanan (teologi) ga boleh cuma mampir di otak doank, tapi harus masuk ke hati supaya kita ga jadi angkatan kaum farisi kontemporer.

untung aja jaman sekarang sudah ada teknologi canggih dan website2 yang informatif, dan salah satunya katolisitas ini. Jadi mereka yang mau mencari tahu tentang Tuhan dan Gereja-Nya bisa mendapat referensi yang terpercaya. Padahal Informasi yang seharusnya didapat dari katekisasi sebenernya kan bisa dijadikan suatu tolak ukur moral bangsa ini terutama generasi muda dalam menghadapi pertentangan dan pilihan hidup sehari-hari. Dan yang terpenting adalah bagaimana merancang suatu proses katekisasi yang tepat dan mengena. Supaya OMK yang katanya adalah masa depan Gereja Katolik siap untuk menjadi masa depan itu. Bayangkan saja kalau generasi ini suatu saat jadi katekis, wah ga kebayang. info apa yang mau dikasih ke katekumennya nanti ya? Reply
o

15.1

Stefanus Tay says: January 19, 2011 at 10:08 am Shalom Benedictus, Terima kasih atas sharingnya untuk proses katekese. Memang, kita harus benar-benar memikirkan, bagaimana untuk memperbaiki sistem katekese, baik dari segi materi maupun cara penyajiannya, sehingga dapat benarbenar memberikan pondasi iman Katolik yang baik bagi para katekumen. Saya mengundang anda dan seluruh pembaca katolisitas untuk hadir dalam sarasehan Pendidikan anak sejak usia dini di dalam keluarga, paroki dan sekolah. Dalam sarasehan ini, kita akan diskusikan bersama, bagaimana untuk mendidik anak, termasuk dalam proses katekese. Silakan melihat informasi tentang acara ini di sini silakan klik. Kami tunggu kedatangan anda dan teman-teman yang lain. Salam kasih dalam Kristus Tuhan, stef katolisitas.org Reply

15.1.1

L. Benedictus Giuseppe-Maria says:

January 19, 2011 at 11:28 am Terima kasih atas undangannya. Mungkin untuk sekedar masukan, proses katekisasi dapat dibuat seperti jaman dulu, dengan model tanya jawab. Dengan pertanyaan yang bisa muncul dari para katekumenat. Kalau jaman saya sekolah dulu, Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) gitu kali yah. Dengan metode 8w + 1h. Seperti Siapakah itu Yesus? Apakah itu transubstansiasi? Apa itu dosa berat? Apa itu neraka? Pertanyaan simple tapi mendasar. Benar-benar informasi dasar mengenai iman katolik. Sehingga dari pertanyaan ringkas, muncul jawaban tepat dan ringkas, sehingga bisa dijiwai sepenuhnya. Jadi dengan metode simple tapi informasi yang didapat nyantol di otak Itu kan inti dari katekese? Mendapatkan informasi sehingga informasi itu bisa diresapi ke hati dan muncul lewat tindakan. Sebenarnya kan proses katekese adalah suatu awal/pengenalan untuk suatu transformasi Kristiani. Pax et Bonum Reply

15.1.1.1

Stefanus Tay says: January 19, 2011 at 11:47 am Shalom Benedictus, Memang metode katekese ada bermacam-macam. Metode yang anda ceritakan dipakai di Amerika, terutama untuk anak-anak, yaitu Baltimore Catechism. Buku tersebut memuat tanya jawab seperti yang anda ceritakan, yang memberikan definisi yang baik dalam setiap jawabannya. Semoga saja sarasehan ini dapat memberikan hasil yang berguna. Salam kasih dalam Kristus Tuhan, stef katolisitas.org

Reply 3. 14

Dini says: January 8, 2011 at 10:08 am Saya ke gereja St Perawan Maria Ratu di daerah Santa, jakarta. Duh, anak mudanya, ke gereja pakai celana pendek, ada lagi yang BB-an. Dan rasanya saya pernah melihat ada anak2 muda yang mengajak temannya yang non-katolik maju terima komuni (saya bisa menduga dia bukan katolik karena mukanya celingukan dan tidak tau harus diapakan komuni itu, tidak langsung dia makan). Waktu ada operet kecil dalam misa Jumat agung (padahal itu serius), orang-orang malah melihatnya sebagai lawakan. Saya sampai malu (pada Tuhan) dan tidak berani melihat ke altar. Saya rasa, sekarang makin banyak orang muda katolik yang tidak menghargai keimanannya sendiri sebagai anugrah dan mengentengkan. Sayangnya lagi, Romo di situ seperti cuma diam saja, tidak menegur. Jadi orang boleh baik, tapi tidak apatis, jangan tidak peduli dan masa bodoh. Wajar, lah, kalau sekali-kali Romo itu galak. Namanya umat, anak-anak, sesekali juga perlu disentil dan diingatkan. Bergaul dalam suatu organisasi juga belum tentu menolong. Kenalan2 saya dulu ada yang pacaran sama orang non-katolik, padahal paling super aktif di KMK. Soal kalau ada orang non-katolik yang berusaha menggoyahkan seperti menyatakan paus bisa salah, menyembah patung, kalau saya simple aja. Saya akan bilang,iya, paus bisa salah. So? Tidak menjadikan diri gue tidak katolik. Saya tidak menyembah patung dan cara saya mengimani agama saya sama sekali bukan urusan anda. Kalau anda ingin tahu katolik itu seperti apa, silakan tanya ke orang yang lebih jago atau mencari kebenarannya dengan DOA. Banyak orang-orang yang selalu ingin menjatuhkan orang katolik karena orang katolik (dari yang saya lihat) terkadang terlihat santai, easy going, dan terbuka. Gawatnya adalah kalau terbuka tapi tanpa perisai. Saya bergaul dengan semua orang, tidak hanya yang katolik. Saya, puji Tuhan, tetap katolik dan ironisnya adalah kadang-kadang yang justru menyebalkan adalah orang2 katolik. Apalagi kalau sudah fanatik, jadinya sombong, merasa benar sendiri dan lalu merasa pantas berkata2 apapun terhadap orang lain. Saya sendiri tidak aktif lagi di lingkungan karena, ya, itu, isinya mostly orang-orang yang seperti itu. Bagaimana bisa 1 tubuh Kristus, kalau saya ditendangin terus? Bagaimana bisa 1 tubuh Kristus, kalau ada orang2 yang merasa lebih tinggi dari lainnya? Ironisnya, seringkali ujung-ujunganya, orang-orang seperti saya yang

justru ditekan untuk,kita, kan, satu tubuh. Harus bisa memaafkanbla, blaLha? Thats not the point! Maksudnya, memaafkan dan membiarkan? *Kursus2 kitab suci untuk membantu memahami iman sangatlah baik. Saya dulu pernah ikut beberapa kali. Menarik. Ingin ikut lagi tapi tidak tahu masih ada atau tidak. *Dorongan dari imam agar omk menghargai keimanannya sebagai orang katolik juga perlu. *Dorongan dari imam agar omk bisa menjadi public relation gereja di masa depan yang rendah hati juga perlu digiatkan (rasanya sampai sekarang, saya belum pernah mendengar kotbah tentang itu. Sebenarnya, bagus, kita dikobarkobarkan semangat dan cinta terhadap keimanan tapi kalau yang terkobar jadi kebanggaan yang lama-lama jadi kesombongan gawat juga. Cinta yang terselubung kesombongan tidak akan pernah bisa berbuah. Berbuah, sih, berbuah jadi orang-orang yang menyebalkan and Ive seen A LOT like that). *Anak2 mudika (mungkin tidak semua tapi yang saya temui sih kebanyakan kacau2), bergaul secara katolik, mungkin pacaran dengan orang katolik juga tapi belum tentu menjadikan hidupnya katolik. Mungkin bagus juga, kalau misalnya, sesekali anak2 mudika mendapat pengarahan keimanan dari imam dan tetua2 di gereja. Tidak usah retret, rekoleksi karena biasanya kalau yang begini jadinya pada merasa liburan semua dan pesan2 masuk kuping kiri keluar kuping kanan saja. Taruh aja mereka di ruang pertemuan, berdiskusi keimanan dan hal-hal sensitif yang terjadi di sekitar (maaf, masalah seputar sex, pacaran beda agama, pendidikan,dll dll). Mudika kadang-kadang sering dijadikan tempat berkumpul saja tapi tanpa ada pengembangan iman dan juga dorongan untuk serius dengan pendidikan. Sayang sekali. Reply
o

14.1

Romo Yohanes Dwi Harsanto, Pr. says: January 10, 2011 at 11:31 am Dini yang baik, Komentar anda ada benarnya sebagai kasus. Komentar anda itu mengingatkan saya pada ungkapan bahwa Gereja tanpa pembinaan orang muda hanyalah calon museum. Usia muda merupakan usia terminal. Masa itu akan berlalu cepat namun sekaligus menentukan masa dewasa. Tidak mudah menyelami gejolak keinginan orang muda. Namun saya yakin, Tuhan tidak pernah melepaskan rencana keselamatanNya melalui dan dalam diri orang muda. Saya mencoba menempatkan komentar Anda dalam konteks Pelayanan Dewan Paroki,karena komentar Anda mengenai

pelayanan untuk OMK di Paroki. Semua Dewan Paroki yang dikepalai Pastor Paroki memiliki satu tujuan pokok, yaitu membawa orang Katolik di paroki makin beriman mendalam sebagai satu komunitas iman dan makin bermakna bagi masyarakat. Pelayanan itu meliputi koinonia (persaudaraan), diakonia (pelayanan pemberdayaan sosial-ekonomi), kerygma (pengajaran iman), dan liturgia (peribadatan, sakramensakramen) dan semuanya disinari dengan semangat Martyria (pengorbanan diri). Jika dibaca sekilas, tampaknya pelayanan OMK tidak terwadahi. Pelayanan pada OMK teritorial paroki ada dalam kelima bidang tersebut. Ia ditepatkan pada tim atau seksi Kepemudaan atau OMK Paroki. OMK harus mempelajari keempat bidang tersebut dalam semangat pengorbanan diri. Dalam hal ini, kualitas pembinaan juga tergantung pada kualitas dan kepedulian pembinanya. Selain pelayanan teritorial, masih ada pelayanan kategorial. Biasanya, apa yang dikeluhkan di paroki dipuaskan dalam pelayanan kelompok-kelompok kategorial yang tidak terikat di paroki seperti Persekutuan Doa Karismatik Katolik, Legio Mariae, Choice, Sant Aegidio, dan lain-lain. Ada baiknya jika OMK Paroki mau belajar dari OMK kategorial dalam hal semangat mendalami spiritualitas Katolik dan bagaimana mereka mengalami Kristus yang hidup dalam dinamika komunitas. Sebaliknya, OMK yang aktif dalam kelompok kategorial mau memperhatikan OMK paroki pula karena sebenarnyalah mereka tetaplah orang muda Katolik yang beriman pada Kristus. Bagaimanapun, peran pendamping OMK di paroki sangat vital bagi kualitas OMK paroki dalam menghayati iman Katolik mereka. Baguslah jika Dini bersedia menyampaikan kritik yang membangun langsung kepada pastor paroki setempat serta kepada pembina OMK paroki tersebut. Salam Romo Santo Reply 4. 13

Rudi Haryanto says: December 30, 2010 at 4:04 pm Biarlah Allah berkarya dalam OMK, sebab sungguh Dia sang maha Bijaksana, dalam pikiran saya muncul banyak pertanyaan tentang omk, salah satunya adalah : apakah kita pernah tahu berapa , bagaimana OMK dengan sadar menjauh dari Allah / bergabung menjadi keluarga Allah ? padahal disadari atau tidak bahwa OMK akan menjadi bagian pemegang kesetiaan iman gereja kepada Allah, maka biarlah kalau wadah OMK berjalan dinamis , dan berikanlah waktu, ruang,

harapan serta pendampingan yang seluas-luasnya kepada mereka. Dengan demikian kita juga boleh berpengharapan kepada mereka suatu saat nanti kitapun akan digantikannya ( OMK -red ) Reply 5. 12

Felix Henry says: December 22, 2010 at 5:18 pm Artikel yang mambuat saya makin mantap dalam mengikut Kristus serta berperanserta aktif dalam manjaga api yang ada dalam tubuh OMK sendiri. Tuhan memberkati Reply 6. 11

paulus prana says: December 21, 2010 at 1:28 pm Ikutan urun rembug. Menurut pendapat saya, dari sekian banyak OMK, sebenarnya ada 2 golongan utama: 1. Golongan yang memang ingin / sudah terlibat dalam kegiatan para OMK, terlepas dari apapun motivasinya. (pendalaman iman atau cari jodoh atau biar kelihatan sibuk, atau dll). 2. Golongan yang Apriori atau Apatis terhadap organisasi maupun kegiatan OMK. Golongan yang kedua ini, jumlahnya barangkali, safe to say, 70% lebih dari total OMK. Jadi, untuk menyemarakkan OMK, serta meningkatkan KUALITAS INDIVIDU para OMK, prioritas utama adalah strategi (IMHO): 1. Meng-embrace golongan apriori atau apatis (yg jmlnya sangat banyak), dengan cara: a. Menempatkan diri dalam sepatu mereka, shg kegiatan & cara-cara pendekatan kita menjadi FUN & COOL bagi mereka.

b. Mereka tidaklah homogen, sehingga perlu ada variasi kegiatan, yg mungkin untuk ukuran standar saat ini dianggap terlalu progresif, tetapi sejauh tujuan & ukurannya jelas, saya rasa worth trying. c. Misal: kelompok skateboarding, nonton bareng, rock-band, dugem community (dlm batas tertentu), group online-game, grup basket, penggemar grafitti, dll. d. Bentuk kegiatan yg FUN, barang kali: Rock-Metal Band for Christmas, Charity Basketball for Merapi, Dugem is FUNdraising for Mentawai, Graffiti for Orphans, dll 2. Hal ini lebih efektif, dibanding maksain menjual ide bahwa kegiatan yg sudah ada selama ini FUN lho (menurut yg ngajakin, tapi belum tentu bgt kan mnrt mereka) 3. Bagaimana kalau Youth Mass, dengan topik yang ganti-ganti: misalnya: Rock&Jazz Mass, Misa tema olahraga, Misa bertema tokoh game populer, Misa tema anak muda yg selengekan, dll. 4. Tentu, untuk membuat mereka benar-benar Betah dalam komunitas yang FUN tadi, jangan sampai mereka merasa Tertipu atau Lho-Kok-Gitu effect, karena kegiatannya terus dibelokkan dgn cara yang menurut mereka NOT FUN. 5. IMHO, selama dampak & tujuan kegiatan tsb berhasil membuat mereka menjadi individu yang Lebih Dekat dengan Ajaran Kristus SECARA SUBSTANSIAL, maka kegiatan ini telah mencapai tujuannya. Walaupun mungkin pasti ada pandangan konservatif yang tidak sepaham. Tinggal, kembali pada kita, Kegiatan ini SUBJEK-nya para OMK (spt cara pandang mrk, sehingga mrk bisa menemukan sesuatu yg bermanfaat) atau KITA (supaya mereka bertindak spt apa yang menurut kita baik & saleh) Salam, Reply
o

11.1

Romo Yohanes Dwi Harsanto, Pr. says: January 13, 2011 at 4:10 pm Salam Paulus Prana. Terimakasih atas pemetaannya. Komisi Kepemudaan KWI dan KomisiKomisi Kepemudaan Keuskupan-Keuskupan se Indonesia serta parokiparoki di bawahnya telah sepakat bahwa pembinaan OMK merupakan

langkah dinamik, tidak bisa dipatok harus begini atau harus begitu. Dalam setiap zaman, Pembina OMK harus peka pada perubahan pola dan strategi pembinaan, karena sifat OMK yang dinamik mengikuti perkembangan zaman. Semua metode sebenarnya berprinsip satu saja, yaitu masuk melalui pintu mereka dan keluar melalui pintu kita. Banyak cara dan metode telah pernah dibuat, termasuk dengan pemetaan minat serta perilaku OMK. Ada yang mengupayakan pemetaan seperti yang dibuat Paulus Prana tersebut, metode MSF (Musik, Sport, Film/Fun); dan lain sebagainya. Namun demikian, satu hal yang tak boleh lupa, ialah pintu kita atau pintu Ajaran Gereja atau Pintu Yesus Kristus, atau Makna/Nilai Iman apa yang mau dicapai. Dengan berbagai metode dan strategi yang banyak dan selalu dicari yang baru setiap saat itu, OMK harus sampai mengalami dikasihi secara pribadi oleh Yesus Kristus dalam kebersamaan sebagai Gereja Katolik dan warga Masyarakat. Untuk itu, tidak semua metode dipakai. Hanya metode yang pantas, bermartabat dan sesuai dengan ajaran Gereja saja yang layak kita tawarkan untuk OMK. Bagi Gereja, OMK bukan orang yang tak bisa serius. Pembina tidak boleh merendahkan OMK sebagai Objek bina saja seolah mereka pasti hanya ingin fun dan cool. Kita pun tidak bisa melayani semau mereka. Kita adalah Pembina, bukan pengikut mereka. Mereka pun bukan pengikut kita yang hanya jika kita memberi yang fun dan cool. Mereka pun tetap manusia utuh dengan segala dimensinya, bukan hanya ingin fun dan cool saja. Kita percaya, OMK bisa ber-refleksi secara mendalam. Justru metode yang sejati ialah metode yang dibuat Yesus ketika mendampingi para rasul, yaitu bersama mereka dan mendengarkan serta berdialog. Sebagai contoh. Seorang Pembina OMK kota besar suatu hari mengajak sekelompok OMK ke mall. Di mall, Pembina mengajak mereka mengeksplorasi kesan perasaan, pemikiran dan daya refleksi mereka mengenai isi mall dan rantai kegiatannya serta pelaku-pelakunya, termasuk keterlibatan mereka sendiri di mall tersebut. Pembina mengajak berdialog dengan mengeksplorasi kesadaran baru bagi OMK binaanya, mengenai makna tertentu, misalnya keadilan dsb. Dengan gembira namun serius, OMK menemukan daya kritis dan refleksinya mengenai budaya mall. Lain kali, pembina mengajak mereka ke pemukiman kumuh di kota yang sama. Dengan pola refleksi yang sama, mereka menemukan makna yang lain lagi. Pembina lalu merangsang mereka untuk mencermati hati nurani dan daya iman OMK setelah melihat kenyataan tersebut. Semua lalu bisa dipentaskan menjadi karya seni mereka, bisa pula dipersembahkan dalam Perayaan Ekaristi sebagai temuan berharga dan niat mereka untuk menyumbangkan sesuatu yang lebih bermakna bagi kehidupan. Tentu saja, usia OMK dan tingkat pendidikannya pun menentukan gaya pendampingan. Untuk ekaristi OMK, bisa saja dibuat kreatif dengan mengindahkan kaidah liturgi. Ada bagian dalam liturgi yang bisa dibuat variasi, ada pula yang tak boleh diubah sama sekali.

Salam Rm Santo Reply 7. 10

Bintara Tarigan says: December 18, 2010 at 6:27 pm Luar biasa. Saya semakin bangga dan bersyukur terlahir di keluarga Katolik, dan lebih bersyukur lagi ternyata selalu ada jawaban atas semua ketidaktahuan saya tentang Katolik, yang saya dapatkan dari katolisitas.org ini. Di lingkungan tempat tinggal saya, saya selalu merekomendasikan situs ini kepada teman-teman Mudika (di lingkungan kami Mudika lebih familiar daripada Orang Muda Katolik) sebagai sebuah referensi tentang keKatolikan. Yang membuat saya prihatin adalah nasib Mudika ke depan, terutama di lingkungan saya. Menurut pengamatan saya (semoga saya salah), teman-teman yang tergabung dalam Mudika (di lingkungan saya) sangat kurang tertarik dalam pendalaman iman Katolik. Keseharian sebagai Orang Muda Katolik hanya dinikmati sebagai akibat dari lahir dari keluarga Katolik. Sekali lagi, semoga saya salah, mereka kurang tertarik membahas iman Katolik, entah karena alasan apa, mungkin saja mereka menganggap dengan menjadi seorang Katolik saja sudah cukup, tanpa perlu tahu alasan di balik itu. Itu terlihat sebagai sebuah ideologi percaya saja. Karena itu, tidak jarang Mudika cenderung menghindari debat agama. Ada yang menganggap ini sebagai sebuah kebijaksanaan, ada pula yang memang sengaja menghindari debat kusir. Namun menurut saya, seorang Mudika wajib tahu dan mau menjawab semua pertanyaan dari orang non Katolik tentang keKatolikan. Kebijaksanaan yang dituntut disini adalah menjawab dengan baik semua pertanyaan, tanpa pernah menyalahkan iman orang yang bertanya itu. Mohon bimbingannya Romo. Salam dalam Kasih Kristus. Reply
o

10.1

Romo Yohanes Dwi Harsanto, Pr. says:

December 23, 2010 at 3:14 pm Salam Bintara. Benarlah bahwa Orang Muda Katolik wajib mengetahui rahasia imannya dan mengalami kasih Kristus dalam Gereja Katolik yang setia sejak para rasul. Dalam mempertanggungjawabkan iman Katolik, OMK hendaknya menghayati ungkapan dari Santo Petrus dalam 1 Petrus 3:15: Tetapi kuduskanlah KRISTUS di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat. Salam. Rm Santo Reply 8. 9

devi ayu says: December 16, 2010 at 10:19 am Syalom.. selamat pagi romo Romo, saya mau cerita.. di Paroki Kristus Raja Karawag.. itu banyak sekali anak mudanya,, sampe2 kita di bagi menjadi..KSK,OMK&MUDIKA,Bina Iman Anak,, tapi setiap ada yang baru gabung disambut dengan hangat,,tapi setelah lama2 di cuekin.. nah yang buat saya mengganjal pantes gak seh kalau pembimbing Mudika or OMK itu memilih anak2 yang berbakat aja dan yang terlihat cantik?? selama ini OMK itu di buat sebagai ajang cari jodoh.. makasih

Reply
o

9.1

Romo Yohanes Dwi Harsanto, Pr. says: December 16, 2010 at 5:18 pm Salam Devi Ayu. Istilah OMK dibuat pasca Pertemuan Nasional OMK Oktober 2005 di Cibubur yang diselenggarakan oleh Komisi Kepemudaan KWI. OMK ialah setiap orang yang muda dan beragama Katolik. Muda di sini menurut ketentuan Pedoman Karya Pastoral Orang Muda yang diterbitkan oleh Komkep KWI ialah lajang usia 13-35 tahun. Karena itu, OMK lebih luas daripada Mudika. OMK meliputi Mudika, BIR, Misdinar, Legio Mariae muda, PDKK Muda, Karyawan muda Katolik, Pemuda Katolik (ormas) dll, pokoknya asal orang, muda dan katolik, mereka ialah OMK. Sedangkan Mudika ialah istilah bagi OMK yang tidak gabung di kelompok-kelompok kategorial. Istilah OMK justru untuk mengatasi pengkotak-kotakan kelompok baik kategorial maupun teritorial. Siapapun OMK, dari kelompok muda katolik manapun, asalkan diumumkan hadirilah misa OMK, maka orang muda apapun komunitasnya mestinya ikut terlibat. Begitulah misalnya. Salah satu akibat yang baik dari pembinaan OMK ialah bahwa di antara OMK putra dan putri saling menemukan jodoh. Tak sedikit yang menikah dan berbahagia. Namun demikian, OMK yang saling jatuh cinta dalam kegiatan bersama hendaknya mengatur diri sedemikian rupa sehingga tetap konsentrasi pada agenda kegiatan. Pembimbing hendaknya mengingatkan akan hal ini. Di atas pembimbing mesti ada orang atau sekelompok orang yang dituakan yang ikut mendampingi kegiatan agar suasana dan alur kegiatan berjalan sebagaimana yang telah direncanakan. Kasus-kasus seperti yang Anda ceritakan memang tidak pantas jika hal itu benar terjadi. Maka hendaknya Pembina atau pastor paroki melakukan funngsinya sebagai gembala yang baik, yang mengarahkan domba-domba ke tujuan, dengan penuh kasih. Devi Ayu pun bisa melakukannya. Kalaupun harus menegur karena kegiatan melenceng, atau Anda lihat bahwa pembimbing melanggar etika, maka tegurlah dia bawah empat mata dengan penuh kasih demi kebaikan semua. Salam Y. Dwi Harsanto Pr Reply

9.1.1

devi ayu says: December 20, 2010 at 2:52 pm terima kasih romo atas sarannya Saya pernah mencoba mengungkapkannya kepada pembimbing,,tapi tetap saja seperti itu seolah2 saya yang selalu salah sehingga trkadang saya tidak pernah di tegur,,,apalagi kalo ada acara yang bersangkutan dengan OMK,tidak pernah di beritakan.. jadi saya terkadang juga tidak pernah mengikutinya lagi,,padahal saya terilbat dalam kepengurusan Ya semoga saja semuanya akan berjalan dengan baik.. terima kasih romo Reply 9. 8

Yosh says: December 14, 2010 at 9:05 pm Syalom katolisitas.org, Saya ingin mengajukan pertanyaan yang berhubungan dengan penghayatan OMK terhadap panggilan hidupnya masing-masing.Karena masalah-masalah seperti ini biasanya banyak dialami oleh orang-orang muda yang belum berhasil mengetahui rencana Tuhan dalam hidupnya. a. Bagaimana cara gereja Katolik menanggapi masa pertumbuhan kedewasaan seseorang, terutama yang sedang mencari jati dirinya berhubungan dengan kesadarannya untuk mengenal tujuan hidup pribadi dan rencana Tuhan? b. Seringkali OMK terlibat didalam kondisi yang lingkungan pertumbuhannya penuh dengan kompetisi yang membutuhkan keterampilan dan proses belajar tingkat tinggi. Jika ternyata, ada banyak kegagalan disekitarnya terutama yang

berhubungan dengan faktor luar, bagaimana cara supaya OMK terdorong dan terbantu untuk melewati krisis kepercayaan diri ? c. Adakah saran / tips yang bisa diberikan secara pribadi agar OMK dapat menghayati panggilan hidupnya dengan baik, hal hal yang dapat dipraktekkan secara langsung sehari- hari ? Terima kasih. Reply
o

8.1

Romo Yohanes Dwi Harsanto, Pr. says: December 16, 2010 at 5:10 pm Yosh yang baik. Orang Muda Katolik yaitu orang Katolik lajang usia 13 35 tahun berjumlah dua per tiga dari seluruh populasi umat Katolik. Perhatian Gereja Katolik sangatlah besar terhadap OMK. Secara struktural hirarkis, Kepausan membentuk Youth Section di bawah Dewan Kepausan untuk Kaum Awam. Di tingkat Federasi Konferensi-Konferensi Uskup se Asia dibentuk Youth Desk di bawah kantor urusan Kerawam dan Keluarga, dan Para Uskup Indonesia yang tergabung dalam Konferensi Waligereja Indonesia membentuk Komisi Kepemudaan. Setiap Keuskupan memiliki Komisi Kepemudaan serta di paroki-paroki pun ada Tim Kepemudaan sampai stasi dan lingkugan atau komunitas basis. Jadi secara kelembagaan, Gereja Katolik mewujudkan tanggungjawabnya atas pembinaan OMK. Di samping itu, ada pula pembinaan organ Kemahasiswaan Mahasiswa Katolik di Kampus serta Karyawan Muda, juga Pelajar Katolik dan Remaja (Bina Iman Remaja). Ada pula berbagai kelompok kategorial pembinaan OMK seperti Choice, Sant Aegidio, PDKK Muda-Mudi, dan sebagainya. Apa isi dan arah pembinaan OMK? Pedoman Karya Pastoral Orang Muda yang dikeluarkan oleh KomKep KWI tahun 1995 menyebut 5 bidang pembinaan yang integral yaitu: Spiritualitas Katolik/ Katolisitas, Kepribadian, Kepemimpinan/ Organisasi, Kemasyarakatan, dan Profesionalitas. Pelayanan pembinaan secara formal-struktural diadakan dengan berbagai program yang mengarah ke kelima bidang di atas. Dibuat berbagai jenis retret seperti pengenalan diri untuk remaja, pengenalan panggilan untuk mahasiswa, dll). Juga ada berbagai jenis kegiatan bersama dari tingkat terkecil di lingkungan/ Komunitas Basis, paroki, keuskupan, nasional,

regional hingga dunia seperti World Youth Day yang dihadiri Paus. Semua itu mengarah ke OMK, agar seorang muda Katolik benar-benar mengalami kasih Kristus dan mau mengasihiNya pula dengan mengasihi sesama dan dengan itu OMK siap menyambut panggilan Tuhan untuk dirinya dalam keluarga, masyarakat maupun Gereja. Pendek kata, agar OMK bertumbuh makin dikasihi Allah dan manusia. Didirikan pula aneka tempat kegiatan dan tempat pembinaan OMK baik di paroki maupun keuskupan seperti Youth Center dan Rumah Retret. Yang terpenting ialah agar OMK bisa beraksi sekaligus membuat refleksi dengan jujur di hadapan Sabda Tuhan dengan bantuan pembimbing. Maka tips bagi OMK agar kuat dan bertumbuh sehat ialah memupuk kebiasaan membuat refleksi diri. Biasakanlah membuat refleksi akhir hari dengan penelitian batin di hadirat Tuhan, seperti yang antara lain telah ditulis dalam buku-buku doa Katolik. Selain itu, memliki komunitas dan syukur-syukur punya seorang pembimbing rohani sangatlah membantu bagi perkembangan kedewasaan OMK. Sedangkan tips agar kita bisa menggerakkan OMK ialah hadir terlibat dalam kegiatan OMK dan mendengarkan mereka. Tak ada resep jadi untuk mendampingi OMK selain harus terjun langsung. Jangan lupa, teladan Anda dalam penghayatan iman Katolik dan pengorbanan diri dalam perkara harian sangat dinanti OMK. Salam Y. Dwi Harsanto Pr Reply

8.1.1

Yosh says: December 19, 2010 at 6:35 pm Syalom Romo Santo, Terimakasih banyak atas penjelasannya tentang OMK dan peran gereja Katolik. Saya sebagai OMK juga jadi merasa sangat penting dan perlu artinya untuk meningkatkan peran generasi muda di dunia modern ini, terutama berhubungan dengan 5 bidang yang romo sebutkan. Terima Kasih, Yosh Reply

10. 7

R Y Agung Setijono says: December 12, 2010 at 8:20 pm Mo Santo Sharing njenengan menyemangati-meneguhkan saya dalam menemani kawan muda katolikkhususnya mahasiswa katolik. Matur nuwun Berkah Dalem R Y Agung Setijono Reply 11. 6

anton says: December 10, 2010 at 11:37 pm Syalom, saya memberanikan diri menarik fakta bahwa sejak usia 13 tahun hingga 35 tahun, pengetahuan iman OMK mengalami stagnasi. Saya baru mulai ke gereja lagi setelah menggali pemahaman iman katolik dr situs2 katolik, terutama katolisitas. Untuk meningkatkan pemahaman dibutuhkan niat mempelajari, niat mempelajari dipicu oleh rasa ingin tahu, rasa ingin tahu biasanya muncul karena tertarik, rasa tertarik muncul bisa karena sesuatu itu menyenangkan, mengagumkan, berharga, berguna dll. Dan disinilah tantangannya..bagaimana caranya agar orang tertarik utk memahami dan kemudian menghayati iman tersebut dalam gegap gempita dan gemerlapnya daya tarik duniawi ? Dan disaat bersamaan juga, rasa tertarik itu (kalaupun ada sedikit) sering menjadi semakin berkurang setelah menyaksikan ketidakkonsekuenan/ kemunafikan dr org2 yg aktif ke gereja. Kita membutuhkan lebih banyak orang-orang yg bisa menginspirasi dengan buah2 imannya. Tapi yang terutama adalah bagaimana meyakinkan orang bahwa menyenangkan hati Tuhan dan memuliakan namaNya adalah sangat berharga shg perlu diperjuangkan bahkan dgn resiko kehilangan nyawa spt martir/orang2 kudus dahulu. Agar pemahaman berkembang menjadi penghayatan.

Maaf kalau tulisan ini tidak bermanfaat. Tuhan memberkati, [dari katolisitas: masukan yang sangat baik. Mari kita bersama-sama membangun Gereja Katolik yang kita kasihi dari dalam.] Reply 12. 5

David Richardo says: December 10, 2010 at 10:48 am OMK itu sama juga dengan Mudika ya Romo? Di mana saya bisa mencari pendamping atau pembimbing OMK? Reply
o

5.1

Romo Yohanes Dwi Harsanto, Pr. says: December 14, 2010 at 1:36 pm David Richardo Sesuai namanya, OMK meliputi Orang Muda Katolik seluruhnya yaitu Orang Muda usia 13-35 tahun lajang/ belum pernah menikah dan beragama Katolik. Mudika dalam perkembangan sejarahnya menyempit menjadi kelompok teritorial paroki, wilayah, lingkungan. Dengan demikian, OMK lebih luas daripada Mudika, sesuai namanya, meliputi kelompok kategorial selain Mudika seperti PDKK, Legio Mariae, Misdinar, Bina Iman Remaja, Karyawan Muda dan sebagainya. Seharusnya pelayanan pendampingan OMK sudah ada di setiap paroki dan dimasukkan dalam pelayanan Dewan Paroki. Silahkan menghubungi pastor paroki setempat. Salam YDHpr Reply

5.1.1

Fransiskus Wijayanto says: December 24, 2010 at 1:46 am Romo, sy saran apa tidak sebaiknya kaum muda Katolik dilibatkan dalam pengembangan IPTEK, seperti mengadakan kursus, tutorial atau workshop gratis ? contoh : mereka2 yg kuliah mengkader adik2nya yg masih SMU utk membangun pondasi IPTEK, sehingga muda-mudi Katolik punya sumbangsih terhadap bangsa dan negara. Mohon maaf romo, selama ini setahu saya OMK hanya aktif acara2 olaharaga dan seni saja. Citra pendidikan dan IPTEK jauh dari OMK. Selain IPTEK mungkin juga bisa dibidang sosial dan sastra, seperti mentoring akuntansi, bisnis, psikologi. Jadi anak2 SMU maupun SMK yg Katolik punya mentor2 yg membantu memberikan pandangan2 utk masa depan mereka. Reply

5.1.1.1

Romo Yohanes Dwi Harsanto, Pr. says: January 8, 2011 at 9:03 am Salam Fransiskus Wijayanto. Lontaran ide yang bagus. Dari pihak hirarki, kami bersikap terbuka terhadap usulan dan ide apapun demi pengembangan kualitas OMK serta umat Katolik pada umumnya. Hirarki sendiri memiliki beberapa tenaga dan lembaga yang mengurusi aplikasi IPTEK untuk pendidikan formal dan pelayanan langsung kemasyarakatan seperti Kursus Pertanian-Peternakan (misalnya KPPT Salatiga), serta Pendidikan Industri (Misalnya ATMI di Surakarta, PIKA di Semarang). Sedangkan kursus sosial kebudayaan

serta susastra dan musik secara formal selama ini ada di universitas-universitas Katolik serta elemen pendidikan Katolik lainnya. Namun untuk gerakan yang bersifat pembinaan informal untuk OMK, tampaknya tiada waktu dan tenaga lagi. Maka diharapkan dari OMK dan umat sendiri untuk bergerak untuk mweujudkannya dalam komunikasi yang baik dan koordinasi dengan hirarki. Saya tahu bahwa banyak sekali OMK yang aktif di bidangbidang itu. Baiklah jika saling berkomunikasi mengenai hal ini. Salam Y Dwi Harsanto Pr Reply 13. 4

MoEd says: December 10, 2010 at 7:35 am kunjungan perdana terima kasih Rm Santo cs yang berjuang untuk katekese di kalangan OMK Berkah dalem MoEd Reply 14. 3

Julianti Sugiman says: December 9, 2010 at 2:40 pm Thanks atas artikel ini Romo Santo. Julia juga ikut di Temu Darat Katolisitas 7 Dec kemarin. Sangat menarik, sangat menggugah hati. Jadi kepengen bantuin.jadi pembimbing OMK or Bina Iman. Jika tertarik, jika tertarik, bisa beritahu kami daftar di mana?

Thanks and cheers in Christ, Julia Reply 15. 2

AMBROS M. Deru Gore says: December 9, 2010 at 12:38 pm Sumbang saran ttg bagi cewek yg bermasalah dgn calon pacarnya bukan katolik. 1. Mencntai seseorg yg beda agama sdh bermasalah. karena beda keyakinan adlh awal krisis keluraga. 2. kawin campur hancurkan masa depan dan pendidikan anak ( Pater Dr. Herman Embuiru, SVD ). 3. Mempermasalahkan iman anda adalah awal diskrimasi iman anda dan pribadi anda secara utuh. 4. Sering ke gereja dan bergabung dgn OMK dan minta nasihat dr pastor. 5. Hindari pertemuan khusus secara tersendiri, Jauhi pergulan dgn cowok itu. 6. Berdoa selalu contoh novena kepada Bunda maria, karena pertolongannya nyata bagi jutaan umat yg meminta dan dikabulakan. Bunda Maria. 7. Jaga dan pelihara iman adalah kesaksian iman yg nyata. mudah mudahan berkenan. salam damai dalam kristus , Reply
o

2.1

Budi Darmawan Kusumo says: December 9, 2010 at 5:03 pm Syalom Ambros, Saran saran anda luar biasa, namun cuman 1 hal yang tertinggal dan AMAT SANGAT PENTING dan seharusnya diletakkan di bagian awal, yaitu Doakan cowok itu agar TUHAN bisa menuntun apakah memang cowok itu yang TUHAN inginkan dan dibawa ke Gereja Katolik.

TUHAN YESUS MEMBERKATI & Bunda maria selalu menuntun anda pada putraNYA Reply 16. 1

Bernard says: December 8, 2010 at 1:16 pm Kepada Ytk : Tim Katolisitas, Saya mengucap syukur dan berterimakasih atas Web Katolisitas,perkenalkan, nama saya Bernard,berasal dari Surabaya,paroki Roh Kudus,ada pertanyaan yg saya ajukan dimana saya dan teman-teman paroki tidak dapat menjawab beberapa hal dalam paroki kami,yaitu permainan Katu Tarot yg menurut orang-orang yang kami temui hal ini adalah hal Psikologi bukan magis atau perdukunan dan digemari oleh OMK,kami memberi nasihat pada OMK ttp tidak dihiraukan. Kami secara pribadi tidak menyetujui krn kami melihat hal ini spt ramalan dimana tertulis dalam KS ( bdk.Ul 18 :10-12 ) dan seperti tiruan dari Karunia Roh Kudus yang mirip dengan Sabda Pengetahuan /Word of Knowledge dan Nubuat . Lalu mrk memberi tanggapan seperti tertulis dibawah ini. Mohon penjelasannya dan Tuhan Memberkati. Salam, Bernard. Tanggapan dari OMK yg mendalami Psikologi Tarot Masih banyak orang yang menganggap bahwa tarot sebagai hal yang mistik atau berkaitan dengan supranatural. Seringkali orang mengkaitkan tarot sebagai media meramal masa depan. Dan tidak sedikit orang yang menganggap tarot sebagai hal yang tidak ilmiah, hanya permainan, tidak bisa dipercaya dan cuma kebetulan saja. Betulkah demikian ??? Bagi kami, yang membingkai tarot dalam sudut pandang psikologi atau Tarot Psikologi menyatakan bahwa tarot sebagai suatu hal yang alamiah serta ilmiah, khususnya dikaji dalam bidang keilmuan psikologi. Spirit yang dibawa dalam tarot psikologi adalah tarot yang digunakan sebagai sarana berkomunikasi dengan pikiran bawah sadar. Sehingga tarot dapat digunakan sebagai sarana konsultasi, terapi atau membantu untuk mendapatkan pencerahan diri dari pikiran bawah sadarnya.

Sehingga tarot psikologi menafikkan tarot digunakan untuk meramal, yaitu dengan pemberian sugesti : setelah ini kamu akan atau sebuah ramalan masa depan yang pasti terjadi dan klien hanya menunggu masa itu terjadi. Bagi kami, ramalan hanyalah akibat dari sebuah sebab dalam dinamika pikiran bawah sadar. Sehingga, dalam tarot psikologi berkeyakinan bahwa masa depan masih bisa berubah, sepanjang seseorang mau merubah dirinya sendirinya, khususnya dari ketidaksadarannya yang mempengaruhi 88% dari sikap dan perilakunya. Menurut pakar psikologi, Carl Gustav Jung (1875 1959) menyatakan bahwa setiap manusia memiliki ketidaksadaran kolektif, dimana melalui hal itulah manusia saling terhubung satu sama lain. Ketidaksadaran kolektif memuat nilai, gagasan atau kebijaksanaan yang bersifat universal,yang diturunkan dari generasi ke generasi. Dan melalui inilah budaya budaya jaman dahulu serta seseorang mengakses alam semesta terhadap kebijaksanaan universal. Sehingga ketika kartu tarot yang terbuka sesuai dengan keadaan klien, hal itu merupakan kebetulan yang bukan kebetulan yang oleh Jung diungkapkan sebagai synchronity atau sinkronitas bahwa segala sesuatu saling berhubungan dengan sesuatu yang lain, yang terkoneksi dengan ketidaksadaran kolektif. Didalam ketidaksadaran kolektif memuat archetype yang memuat tentang tema, karakter atau kecenderungan seseorang dalam mempersepsi pengalaman, menggambarkan kebutuhan serta bagaimana memenuhi kebutuhan tersebut. Pada archetype memuat persona, anima animus, self dan shadow, yang kesemuanya mewakili dari ketidaksadaran manusia. Dan kartu tarot merupakan sistem simbol yang merepresentasikan dari archetype yang mewakili isi ketidaksadaran manusia. Seperti misalnya figur Ibu digambarkan sebagai ratu, figure ayah digambarkan sebagai raja, kebijaksanaan digambarkan sebagai ahli tafsir agama, pengorbanan digambarkan sebagai laki-laki tergantung, keseimbangan digambarkan di kartu kesederhanaan dan seterusnya. Semuanya merupakan bagian dari archetype manusia, yang bersifat universal. Sehingga tidak heran bila kartu tarot dapat digunakan untuk mengungkap dari isi ketidaksadaran manusia. Terapis atau konselor dapat melihat tingkat kesadaran klien, dari self, higher self menuju ke spiritual self dalam rangka menuju keutuhan diri. Disamping itu, terapis atau konselor juga dapat melihat bagaimana dinamika yang terjadi dalam pikiran bawah sadar, yang selanjutnya dapat melihat pola sebab akibat dalam pikiran bawah sadar klien. Terapis atau konselor dapat melihat pola pola dalam pikiran bawah sadarnya dalam mempersepsi dan merespon sesuatu yang dapat menghasilkan akibat tertentu. Banyak orang yang mengartikan akibat tersebut merupakan ramalan yang mesti terjadi, padahal tidak, dengan kartu tarot kita dapat melihat program apa yang salah dalam pikiran bawah sadarnya, sehingga terapis / konselor dapat memberi kesadaran baru dalam ketidaksadarannya, sehingga menghasilkan out put atau akibat atau masa depan yang berbeda menjadi lebih baik.

Selain itu, kami mengkolaborasikan seni wacana tarot dengan teknik hipnosis yang kami beri nama hipno tarot, sehingga dapat melengkapi dan menindaklanjuti ketika terapis atau konselor telah mengetahui dan mengevaluasi bersama program pikiran yang salah dalam ketidaksadarannya melalui kartu tarot. Karena teknik hipnosis terbukti efektif untuk mereprogramming pikiran bawah sadar manusia menjadi lebih baik, sehingga nantinya out put yang dihasilkan juga lebih baik. Berkaitan dengan hal tersebut kami ingin berbagi hal tersebut melalui pelatihan sertifikasi tarot psikologi, yang dapat dipergunakan untuk sarana konsultasi, terapi atau membantu untuk mendapatkan pencerahan diri dari pikiran bawah sadarnya. Pelatihan ini sangat patut menjadi referensi bagi orang orang yang mendedikasikan diri sebagai terapis, konselor atau pendidik. Dengan kartu tarot, therapist dapat melihat dinamika ketidaksadaran seseorang yang selanjutnya dapat ditindaklanjuti dengan teknik serta script sugesti hipnosis yang sesuai dengan keadaan bawah sadarnya. Selain itu, pelatihan ini sangat penting bagi orang orang yang ingin mencerahkan dirinya untuk semakin lebih baik, bahkan sebagai sarana komunikasi dengan pikiran bawah sadar Anda di segala bidang kehidupan Anda. Nama Perkumpulan : Asosiaisi Tarot Nusantara Indonesia (ATNI) Berdiri : Tanggal 07 Juli 2007 dan dituangkan pada akte Notaris no 4/2007 tanggal 5 Nopember 2007 dihadapan Notaris Asnahwati H Herwidhi SH dikukuhkan oleh Bp. Walikota Jogjakarta, Bp. H. Herry Zudianto, SE.MM di Jogyakarta (sebelumnya bernama Association of Diviner Tarot Indonesia) Reply
o

1.1

Romo Yohanes Dwi Harsanto, Pr. says: January 7, 2011 at 4:46 pm Salam Bernard, Bunda Gereja dengan hati-hati memperingatkan putra-putrinya, agar dengan bijaksana menempuh kehidupan hanya berpegang pada akal sehat sebagai perwujudan iman, dengan berkomunitas, mempergunakan sarana-

sarana yang secara ilmiah bisa dipertanggungjawabkan, secara akal sehat, serta mengindahkan keadilan, kepantasan pergaulan dan budaya. Hendaknya dengan wajar mengacu pada nasihat Santo Paulus dalam menilai gerak kecenderungan suatu hal agar dipimpin oleh Roh yang baik yang akan menghasilkan buah-buah roh yang baik pula ( Galatia 5:16-26). Pandangan pribadi saya sebagai berikut. Menurut ilmu psikologi yang saya terima, alam bawah sadar hanya bisa diangkat ke alam sadar dengan cara menyadarinya secara jernih, menelitinya dengan refleksi diri dan didoakan. Bagaimana mungkin berdialog dengan alam yang tidak disadari? Lagi pula, bagaimanapun, pribadi manusia tidak bisa disederhanakan dengan pengelompokan kode atau simbol tertentu karena manusia itu dinamik dan mampu menggunakan kebebasannya secara bertanggung jawab dalam situasinya yang nyata. Dan yang lebih penting, bagaimanapun, manusia itu multidimensi dan dilingkupi misteri kasih Allah sendiri. Orang tetap wajib terbuka terhadap segala yang akan terjadi di masa depan dengan cahaya iman harapan dan kasih Allah. Orang yang percaya pada hasil ramalan (dan kartu tarot), bisa dibahayakan oleh kecenderungan membatasi (men-cap) dirinya sendiri sesuai hasil ramalan tersebut, sehingga kehilangan daya kreatif untuk mengasihi Tuhan dan sesama, dan bahkan bisa saja kehilangan kesadaran bahwa dirinya pribadi unik yang dikasihi Tuhan. Gereja Katolik memiliki kegiatan yang sudah teruji dalam membantu banyak Orang Muda Katolik menuju pribadi yang dewasa dan bertanggung jawab, yaitu retret pengenalan diri. Metodenya bukan dengan berdialog dengan alam bawah sadar, namun dengan cara refleksi untuk pengenalan diri di hadapan Allah dan sesama dalam terang Sabda Tuhan. Marilah menjadi dewasa, sehat dan wajar dengan cara dewasa, sehat dan wajar pula. Salam Y Dwi Harsanto Pr Reply Archdiocese of Makassar, Indonesia

Senin, 23 Maret 2009


Selamat Paskah 2009!
1

pukul 09.42 0 komentar

Kamis, 19 Maret 2009


Cover Koinonia vol. 4 no. 2

pukul 09.20 0 komentar

Rabu, 18 Maret 2009


Memahami dan Menjalankan Inkulturasi secara Benar

PENGANTAR Pasca Konsili Vatikan II (1962-1965) inkulturasi menjadi salah satu istilah yang populer dalam lingkungan Gereja Katolik. Dan, lebih dari itu, inkulturasi diajukan sebagai suatu tugas bagi Gereja. Di banyak tempat orang berbicara dan mengupayakan inkulturasi. Khusus untuk Keuskupan kita, Munas IX UNIO Indonesia yang berlangsung di Makassar dan Tana Toraja, 4-10 Agustus 2008 yang lalu, menjadi pendorong bangkitnya semangat menggumuli upaya inkulturasi secara lebih serius, khususnya di Toraja. Sebagaimana mungkin kita masih ingat, Munas tersebut mengambil tema Menemukan Benih-Benih Sabda di Toraja. Agar upaya tersebut tidak melenceng, sungguh dibutuhkan pemahaman yang tepat mengenai apa itu inkulturasi. Pemahaman yang tepat mengenai inkulturasi akan membantu kita menjalankan upaya tersebut secara benar. I. APA ITU INKULTURASI Asal-Usul dan Arti Istilah Walaupun kata inculturatio tidak terdapat dalam bahasa Latin klasik, jelaslah istilah tersebut berasal-usul dari bahasa Latin. Dibentuk dari kata depan in (menunjukkan di mana sesuatu ada/berlangsung: di(dalam), di(atas) atau menunjukkan ke mana sesuatu bergerak: ke, ke arah, ke dalam, ke atas); dan kata kerja colo, colere, colui, cultum (= menanami, mengolah, mengerjakan, mendiami, memelihara, menghormati, menyembah, beribadat). Dari kata kerja ini berasal kata benda cultura (=pengusahaan, penanaman, tanah pertanian; pendidikan, penggemblengan; pemujaan, penyembahan); tampaknya dari gabungan semua arti tersebutlah kata cultura mendapatkan arti kebudayaan. Maka inculturatio secara harafiah berarti penyisipan ke dalam suatu kebudayaan. Dalam antropologi kebudayaan terdapat dua istilah tehnis yang berakar kata sama, yaitu akulturasi dan enkulturasi. Akulturasi sinonim dengan kontak-budaya, yaitu pertemuan antara dua budaya berbeda dan perubahan yang ditimbulkannya. Sedangkan enkulturasi menunjuk pada proses inisiasi seorang individu ke dalam budayanya. Inkulturasi sebagai proses pengintegrasian pengalaman iman Gereja ke dalam suatu

budaya tertentu, tentu saja berbeda dari akulturasi. Perbedaan itu pertama-tama terletak di sini, bahwa hubungan antara Gereja dan sebuah budaya tertentu tidak sama dengan kontak antar-budaya. Sebab Gereja berkaitan dengan misi dan hakekatnya, tidak terikat pada suatu bentuk budaya tertentu (GS, 42). Kecuali itu, proses inkulturasi itu bukan sekedar suatu jenis kontak, melainkan sebuah penyisipan mendalam, yang dengannya Gereja menjadi bagian dari sebuah masyarakat tertentu (bdk. AG, 10). Demikian juga inkulturasi berbeda dari enkulturasi. Sebab yang dimaksud dengan inkulturasi ialah proses yang dengannya Gereja menjadi bagian dari budaya tertentu, dan bukan sekedar inisiasi seorang individu ke dalam budayanya. Definisi Inkulturasi Inkulturasi ialah: pengintegrasian pengalaman Kristiani sebuah Gereja lokal ke dalam kebudayaan setempat sedemikian rupa sehingga pengalaman tersebut tidak hanya mengungkapkan diri di dalam unsur-unsur kebudayaan bersangkutan, melainkan juga menjadi kekuatan yang menjiwai, mengarahkan, dan memperbaharui kebudayaan bersangkutan, dan dengan demikian menciptakan suatu kesatuan dan communio baru, tidak hanya di dalam kebudayaan tersebut, melainkan juga sebagai unsur yang memperkaya Gereja sejagat. II. DASAR KITAB SUCI DAN AJARAN GEREJA Landasan Biblis Inkulturasi Kekristenan lahir dalam lingkungan budaya Yahudi. Peristiwa Pentakosta (Kis. 2:1-41) dipandang sebagai hari kelahiran Gereja. Para penganut pertama Kekristenan adalah orang-orang Yahudi. Tetapi selanjutnya Kekristenan mulai berkembang di kalangan bangsa-bangsa lain, khususnya berkat kegiatan dua rasul besar, Paulus dan Barnabas. Segera saja Gereja yang baru lahir itu digoncang oleh sebuah persoalan besar. Persoalannya, apakah orang bukan-Yahudi yang menjadi Kristen harus mengikuti adatistiadat yang diwariskan oleh Musa (budaya Yahudi) atau tidak? Di sini terjadi pro-kontra yang tajam. Untuk membicarakan persoalan ini diadakanlah Konsili para Rasul di Yerusalem (sekitar tahun 50 AD). Konsili ini memutuskan, bahwa peraturan Yahudi tentang kenajisan, sunat dan larangan makanan tertentu bagi orang Kristen keturunan bukan-Yahudi tidaklah diwajibkan (lih. Kis. 15:1-34). Keputusan Konsili Yerusalem ini sangat penting bagi kehidupan dan perkembangan Gereja selanjutnya. Keputusan ini menegaskan, bahwa Gereja tidak terikat pada suatu budaya tertentu. Gereja dapat ber-inkarnasi dalam semua budaya yang baik. Karena itu, seseorang dari budaya manapun, ketika menjadi Kristen, tidak perlu meninggalkan budayanya, sejauh unsur budaya tersebut tidak bertentangan dengan iman Kristiani. Dapat dipahami bahwa permenungan teologis sekitar hal ini belum sangat berkembang dalam Perjanjian Baru. Tetapi Kis. 17:16-34 memberikan landasan teologis yang cukup jelas. Ketika berada di Atena, Paulus pergi berdiri di atas Areopagus dan berkata: Hai orang-orang Atena, aku lihat, bahwa dalam segala hal kamu sangat beribadah kepada dewa-dewa. Sebab ketika aku berjalan-jalan di kotamu dan melihat-lihat barang-barang pujaanmu, aku menjumpai juga sebuah mezbah dengan tulisan: Kepada Allah yang tidak dikenal. Apa yang kamu sembah tanpa mengenalnya, itulah yang kuberitakan kepadamu (Kis. 17:22-23). Paulus menemukan tanda kehadiran Allah secara tersembunyi dalam budaya-religius Yunani.

Ajaran Gereja Penemuan Paulus di atas menjadi salah satu pusat permenungan teologis pada masa selanjutnya, di jaman para Bapa Gereja (abad ke-2 s/d ke-8). Yustinus (meninggal sebagai martir antara 163-167 AD) dan Clemens dari Alexandria (meninggal 215 atau 216 AD), misalnya, menemukan hadirnya benih-benih Sabda dalam filsafat Yunani. Dan ini semua, menurut Eusebius dari Kaisarea, benar-benar dapat melandaskan suatu persiapan untuk Injil (praeparatio evangelica). Posisi para Bapa Gereja ini diambil alih dan dikembangkan secara matang dengan mengetrapkannya pada semua budaya dan agama bukan-Kristiani oleh Konsili Vatikan II (lih. LG,16 dan khususnya Deklarasi Nostra Aetate tentang Hubungan Gereja dengan Agama-Agama Bukan-Kristiani, disingkat NA). Penegasan Konsili Vatikan II sangat jelas, bahwa rencana keselamatan (Allah) juga merangkum mereka, yang mengakui Sang Pencipta; di antara mereka terdapat terutama kaum MusliminPun dari umat lain, yang mencari Allah yang tak mereka kenal dalam bayangan dan gambaran, tidak jauhlah Allah, karena Ia memberi semua kehidupan dan nafas dan segalanya (lih. Kis. 17:25-28), dan sebagai Penyelamat menghendaki keselamatan semua orang (lih. 1 Tim. 2:4) Penyelenggaraan ilahi tidak menolak memberi bantuan yang diperlukan untuk keselamatan kepada mereka, yang tanpa bersalah belum sampai kepada pengetahuan yang jelas tentang Allah, namun berkat rahmat ilahi berusaha menempuh hidup yang benar. Sebab apa pun yang baik dan benar, yang terdapat pada mereka, oleh Gereja dipandang sebagai persiapan Injil (LG, 16). Atas dasar itu, Konsili Vatikan II mengetengahkan tema inkulturasi sebagai suatu tugas bagi Gereja, khususnya Gereja-Gereja muda. Gereja-Gereja itu meminjam dari adatistiadat dan tradisi-tradisi para bangsanya, dari kebijaksanaan dan ajaran mereka, dari kesenian dan ilmu pengetahuan mereka, segala sesuatu, yang dapat merupakan sumbangan untuk mengakui kemuliaan Sang Pencipta, untuk memperjelas rahmat Sang Penebus, dan untuk mengatur hidup kristiani dengan saksama (AG, 22). Dengan demikian, apa pun yang baik, yang terdapat tertaburkan dalam hati dan budi orangorang, atau dalam adat-kebiasaan serta kebudayaan-kebudayaan yang khas para bangsa, bukan hanya tidak hilang, melainkan disembuhkan, diangkat dan disempurnakan demi kemuliaan Allah, untuk mempermalukan setan dan demi kebahagiaan manusia (AG, 9; lih. juga LG, 17; Agustinus, De Civitate Dei, 19,17: PL 41,646). Dalam Ajakan Apostolik Evangelii Nuntiandi (8 Des. 1975), Paus Paulus VI kembali secara tegas menekankan lagi mandat inkulturasi ini dalam tugas pewartaan. Namun, di lain pihak, dengan tidak kurang tegas mengingatkan agar tetap dijaga kesetiaan kepada Injil. Evangelisasi menghadapi risiko kehilangan kekuatannya dan sekaligus lenyap apabila seseorang mengosongkan atau memalsukan isinya dengan dalih menerjemahkannya (EN, 63). Konsili Vatikan II sesungguhnya telah memberi peringatan yang sama dalam kata-kata yang berbeda, yaitu agar dicegah semua bentuk sinkretisme (pencampuradukkan) dan partikularisme yang keliru (AG, 22). III. TAHAP-TAHAP INKULTURASI Kembali pada definisi inkulturasi yang sudah diberikan di atas, kita melihat bahwa keseluruhan proses inkulturasi itu merupakan suatu pengintegrasian, yang terjadi pada dua sisi, yaitu: (1) pengintegrasian iman dan hidup Kristiani ke dalam budaya yang

bersangkutan, dan (2) pengintegrasian sebuah ungkapan baru pengalaman Kristiani ke dalam kehidupan Gereja semesta. Dalam proses menuju integrasi bersisi-dua tersebut dapatlah dibedakan tiga tahap utama, sebagai berikut: 1.Tahap Terjemahan Ini tahap awal, di mana Gereja, melalui para misionaris asing, berkontak dengan sebuah kebudayaan baru, sambil memperkenalkan pesan dan hidup Kristiani dalam wujud budaya lain. Walau diupayakan penyesuaian-penyesuaian kecil, terjemahan dipersiapkan, Gereja toh mempunyai pandangan asing, dan menjadi seorang Kristiani seringkali berarti meninggalkan budayanya sendiri. Pada tahap pertama ini berlangsung proses akulturasi (perjumpaan dua budaya berbeda). Para misionaris dan umat Kristiani setempat mengasimilasikan unsur-unsur budaya satu sama lain. Sejumlah cerita kecil aneh rada lucu, karena salah paham akibat perbedaan budaya, muncul dari tahap awal ini. Misalnya, seorang anak pembantu pastoran suatu malam bukan kepalang terperanjat ketika dimarahi oleh Pastor, saat beliau tiba kembali di pastoran dari mengunjungi orang sakit. Dengan ramah anak pastoran itu menyambutnya dengan kata-kata, Dari mana, Pastor? Pastor merasa tersinggung, karena sebagai orang Barat beliau menganggap anak itu mau mencampuri urusannya. Padahal di daerah itu, sapaan tersebut sama dengan ucapan Selamat malam, Pastor. Cerita lain, sementara mengajar di kelas sebuah SD, seorang Pastor misionaris meneriaki seorang anak sebagai tolol. Beliau meminta anak itu menunjukkan mana sisi kanan mana sisi kiri dari sebuah lukisan yang tergantung di dinding. Anak itu menunjukkan sisi kanan dan sisi kiri persis terbalik dari yang dipikirkan Pastor. Memang, orang Barat menentukan sisi kanan dan kiri berdasarkan subyek yang memandang, sedang orang Timur berdasarkan obyek yang dipandang. Tidakkah di sini terungkap perbedaan pandangan yang lebih mendalam menyangkut hubungan manusia dan kosmos? Sementara orang Barat cenderung menganut paham antroposentrisme (manusia merupakan pusat dari alam), pandangan asli Timur tidak melihat manusia sebagai pusat melainkan bagian dari alam. Dan ini tentu mempunyai dampak luas dalam kehidupan sosio-religius masyarakat Timur, yang berbeda dari masyarakat Barat. 2. Tahap Asimilasi Ketika semakin banyak penduduk setempat menjadi anggota Gereja, dan khususnya ketika para klerus atau imam pribumi makin berkembang, Gereja dengan sendirinya semakin berasimilasi pada budaya masyarakat sekeliling. Pada tahap ini proses inkulturasi yang sesungguhnya mulai, di mana para pelaku utama adalah mereka yang berasal dari budaya setempat. Gereja semakin mengasimilasikan diri pada kebudayaan setempat. Banyak unsur dari kebudayaan setempat (ritus, upacara atau pesta, kesenian, simbol-simbol, dll) diambil alih ke dalam kehidupan Gereja. Inilah tahap yang kritis. Di sini dibutuhkan kecermatan memadai demi mencegah setiap bentuk sinkretisme dan partikularisme yang keliru, sebagaimana sudah dikemukakan di atas. Karena itu dibutuhkan pedoman umum praksis berikut: a. Metode Tiga Langkah Dalam mengambil alih manifestasi-manifestasi budaya dan keagamaan setempat (ritus, upacara atau pesta, simbol-simbol, dll) ke dalam penggunaan gerejawi, perlulah: (1)

pertama-tama diusahakan memurnikan manifestasi-manifestasi tersebut dari unsur-unsur takhyul dan magis; lalu (2) menerima yang baik atau yang sudah dimurnikan; dan dengan demikian (3) memberi makna baru kepadanya, dengan mengangkatnya ke dalam kepenuhan Kristiani. Sebuah contoh klasik demi lebih menjelaskan metode tiga langkah ini, ialah perayaan Natal, hari kelahiran Yesus Kristus pada 25 Desember. Secara historis tanggal kelahiran Yesus Kristus tidak diketahui. Kitab Suci sendiri tidak mencatat hal itu. Diketahui bahwa pada tanggal 25 Desember itu aslinya dalam kekaisaran Romawi dirayakan sebagai hari besar Mahadewa Terang, yaitu Matahari. Ketika agama Kristen mulai berkembang di wilayah kekaisaran Romawi, orang Kristen tidak mau menerima Matahari sebagai Mahadewa Terang. Mereka tahu matahari itu ciptaan Tuhan. Bagi orang Kristen Maha Terang yang sesungguhnya adalah Yesus Kristus. Maka melalui metode 3 langkah di atas hari besar 25 Desember diambil alih ke dalam penggunaan Gereja: merayakan peristiwa inkarnasi Sang Sabda, Terang Dunia, kini disebut Natal. Pada langkah pertama, hari besar 25 Desember dibersihkan dari unsur takhyul (matahari ditolak sebagai Dewa Terang); lalu 25 Desember diterima (langkah kedua); dan diberi makna baru: peristiwa inkarnasi Terang dunia (langkah ketiga). b. Dibutuhkan Telaah Sosiologis-Antropologis dan Teologis Jelaslah metode 3 langkah di atas harus didukung oleh refleksi teologis yang andal. Konsili Vatikan II menegaskan bahwa untuk mewujudkan inkulturasi secara benar perlulah, bahwa di setiap kawasan sosio-budaya yang luas, seperti dikatakan, didoronglah refleksi teologis, untuk dalam terang Tradisi Gereja semesta meneliti secara baru peristiwa-peristiwa maupun amanat sabda yang telah diwahyukan oleh Allah, dicantumkan dalam Kitab Suci, dan diuraikan oleh para Bapa serta Wewenang Mengajar Gereja. Demikianlah akan dimengerti lebih jelas, bagaimana iman dengan mengindahkan filsafah serta kebijaksanaan para bangsa dapat mencari pengertian, dan bagaimana adat-kebiasaan, cita-rasa kehidupan dan tertib sosial dapat diserasikan dengan tata-susila yang kita terima berkat perwahyuan ilahi. Begitulah akan terbuka jalan menuju penyesuaian lebih mendalam di seluruh lingkup hidup kristiani. Dengan cara bertindak demikian segala kesan sinkretisme (pencampuradukkan) dan partikularisme yang keliru akan dielakkan, hidup kristiani akan makin sesuai dengan watak perangai serta sifat-sifat setiap kebudayaan, dan tradisi-tradisi khusus beserta bakat-bawaan setiap keluarga bangsa-bangsa, berkat cahaya Injil, akan ditampung dalam kesatuan Katolik. Akhirnya Gereja-Gereja khusus baru, disemarakkan dengan tradisi-tradisi mereka, akan mendapat tempat mereka dalam persekutuan gerejawi, sementara tetap utuhlah tempat utama Takhta Petrus, yang mengetuai segenap paguyuban cinta kasih (AG, 22). Sebagaimana nyata dari kutipan di atas, refleksi teologis membutuhkan data antropologis dan sosiologis setempat. Data itu terutama menyangkut apa makna asli dari manifestasimanifestasi budaya dan keagamaan yang ingin diambil alih ke dalam kehidupan Gereja. Oleh karena itulah dibutuhkan penelaahan antropologis dan sosiologis setempat, dalam kerjasama khususnya dengan tokoh-tokoh dan para ahli adat setempat. Perlu jelas pula seberapa jauh nilai-nilai asli itu masih menjiwai hidup masyarakat setempat sekarang ini, bagaimana melestarikannya dan membuatnya tetap relevan di tengah arus perubahan dan perkembangan teknologis yang semakin cepat.

Dalam refleksi teologis, manifestasi-manifestasi budaya dan keagamaan, khususnya nilainilai yang terkandung di dalamnya, harus ditafsirkan dalam terang Kitab Suci dan tradisi Gereja. Tahap Transformasi Apabila proses asimilasi itu berjalan baik, maka lama-kelamaan iman Kristiani akan tertanam dan mulai berfungsi normatif dalam memberi orientasi baru pada kebudayaan bersangkutan. Inilah tahap ke-3 dalam proses inkulturasi, tahap transformasi. Pada tahap ini kita akan menemukan terbentuknya sebuah komunitas Kristiani baru; sebuah communio yang memiliki kekhasan dinamis, terus-menerus berkembang, tidak hanya pada bidang pengungkapan eksternal (seperti bentuk-bentuk liturgi dan ibadat), melainkan juga pada bidang refeleksi iman (teologi) serta pada bidang sikap dasar dan praksis iman (spiritualitas). Ekspresi khas pengalaman Kristiani ini pada gilirannya memperkaya, baik eksistensi budaya yang bersangkutan sendiri, maupun Gereja Katolik semesta. PENUTUP Sebagian besar yang dikemukakan dalam tulisan ini bukanlah hal baru. Kebanyakan telah diberikan dalam tulisan-tulisan saya sebelumnya, termasuk di KOINONIA. Hanya di sini dicoba disajikan secara lebih runtut, langkah demi langkah, dengan harapan lebih mudah diikuti dan dipahami. Perlu disadari bahwa tugas inkulturasi bukanlah pekerjaan yang sederhana dan mudah. Kita dituntut untuk terus-menerus memperdalam dan memperluas pemahaman kita, antara lain dengan banyak membaca. Semoga lewat upaya inkulturasi, Sang Sabda yang telah menjelma lebih 2000 tahun lalu ke dalam budaya Yahudi, semakin berinkarnasi pula ke dalam budaya kita, demi kemuliaan Allah, untuk mempermalukan setan dan demi kebahagiaan manusia (LG, 17; Agustinus, De Civitate Dei, 19,17, PL 41, 646; AG, 9). Makassar, Awal Maret 2009 + John Liku-Ada Bibliografi Terbatas Azevedo, Marcello de Carvalho, SJ 1982 Inculturation and the Challenges of Moderrity, dlm. AR Crollius, SJ, ed., Inculturation; Working Papers on Living Faith and Cultures, I, (Rome): 1-56. Crollius, Ary Roest, SJ 1984 Inculturation and the meaning of culture, dlm. Id.,ed., Inculturation; Working Papers on Living Faith and Cultures, V, (Rome): 33-54. 1984a What is so new about inculturation?, dlm. Id., ed., Inculturation; Working Papers on Living Faith and Cultures, V, (Rome): 1-18. De Gasperis, Francesco Rossi, SJ. 1983 Continuity and newness in the Faith of the Mother Church of Jerusalem, dlm.

AR. Crollius, SJ, ed., Inculturation; Working Papers on Living Faith and Cultures, III, (Rome): 19-69. Komisi Teologi KWI, ed. John Liku-Ada 2006 Dialog antara Iman dan Budaya, (Jakarta-Yogyakarta). Kobong, Theodorus 1989 Evangelium und Tongkonan; eine Untersuchung ber die Begegnung zwischen christlicher Botschaft und der Kultur der Toraja, (Ammersbek bei Hamburg). Konsili Vatikan II 1964 Konstitusi Dogmatis Lumen Gentium tentang Gereja, aa. 16-17. 1965 Deklarasi Nostra Aetate tentang Hubungan Gereja dengan Agama-Agama BukanKristiani. 1965a Dekrit Ad Gentes tentang Kegiatan Misioner Gereja. Liku-Ada, John 1986 Towards a Spirituality of Solidarity; a Study of Sadan-Torajan Solidarity in the Light of Gaudium et Spes, with a View to an Inculturated Authentic Christian Spirituality of Solidarity, (Dissertatio ad Doctoratum, Pontificia Universitas Gregoriana, Romae). Liku-Ada, John 2008 Dari Munas IX UNINDO: Kristenisasi Budaya Toraja atau Torajanisasi Iman Kristen? dlm. KOINONIA; Media Gereja Lokal KAMS, vol. 3, no. 4:2-5. 2008a Manusia dan Lingkungannya dalam Falsafah Religius Toraja, dlm. eds. A. Sunarko, OFM A. Eddy Kristiyanto, OFM, Menyapa Bumi Menyembah Hyang Ilahi; Tinjauan Teologis atas Lingkungan Hidup, (Yogyakarta): 71-101. 2008b Menurut kamu, siapa Aku ini?; Menemukan Wajah Toraja Yesus, dlm. SAWI; Sarana Karya Perutusan Gereja, No. 21, (KKM-KWI & KKI, Jakarta): 107-114. 2008c Perjumpaan Injil dan Budaya: Inkulturasi Iman, dlm. KOINONIA; Media Gereja Lokal KAMS, vol. 3, no. 3: 2-5. 2008d Perjumpaan paham Allah dalam Kekristenan dan Aluk To Dolo dalam konteks Pancasila, dlm. ed. M. Mali, Perjumpaan Pancasila dan Kristianitas; Reposisi relasi Negara dan Agama dalam masyarakat plural, (Bantul-Yogyakarta): 151-220. Nkramihigo, Thoneste, SJ. 1984 Inculturation and the Specificity of Christian Faith, dlm. AR Crollius, SJ, ed., Inculturation; Working Papers on Living Faith and Cultures, V, (Rome): 21-29.

Paniki-Siman, P. 1974 Korban, (Skripsi, STK Pradnyawidya, Yogyakarta). Paulus VI, Paus 1975 Ajakan Apostolik Evangelii Nuntiandi tentang Evangelisasi dalam Dunia Modern. Sacra Congregatio de Propaganda Fide 1977 Annuario 1976 (1), (Roma): khususnya 170 dsl. Saldanha, Chrys 1984 Divine Pedagogy; a Patristic View of Non-Christian Religions, (LAS-Roma). pukul 07.46 1 komentar

Merasul Melalui Politik


Kunjungan Komisi Kerawam ke Kevikepan Toraja, Kevikepan Luwu, dan Kevikepan Makassar untuk mengembangkan Keterlibatan Politik Kaum Awam

Politik itu adalah sesuatu yang kotor. Politik menjadi kotor karena di dalamnya sering kali terjadi berbagai intrik-intrik negatif antara lain: suap, saling menjatuhkan dan menjelekkan, serta berbagai macam cara yang digunakan untuk mendapatkan kekuasaan. Itulah gambaran pandangan awal yang sebagian besar ditemukan di tengah kaum beriman katolik. Terdorong oleh situasi seperti itu, Komisi Kerasulan Awam mengajak umat katolik untuk melihat politik bukan sebagai sesuatu yang dihindari melainkan sebagai bentuk tanggungjawab untuk mengembangkan hidup bersama. Politik pertama-tama hendaknya dipahami sebagai sebuah panggilan bagi kaum awam untuk merasul di tengah dunia untuk memberitakan kabar gembira keselamatan atau yang menghadirkan kerajaan Allah. Untuk itu, sesuai dengan anjuran Konsili Vatikan II, Komisi Kerawam mengajak umat sungguh menghayati bahwa kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan orang-orang zaman sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja

yang menderita, merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus juga (GS 1). Dengan demikian, politik tidak lagi sekedar dipahami sebagai alat untuk mendapatkan kekuasaan melainkan terlebih sebagai sebuah bentuk keterlibatan sosial untuk mengembangkan hidup bersama ke arah yang lebih baik. Keterlibatan tersebut dilandasi oleh adanya misi yang diemban oleh kaum awam, yaitu membarui tata dunia dgn semangat Injil; memajukan kesejahteraan umum (bonum commune) yang sejati; mewujudkan keadilan dan perdamaian terciptanya kesejahteraan bersama (bonum communae). Misi tersebut hanya dapat terwujud bila umat katolik secara aktif terlibat dalam pengambilan keputusan menyangkut hidup bersama, antara lain dalam menjadi legislator dan senator, terlibat dalam hidup bermasyarakat sehari-hari, menerima tanggung jawab yang dipercayakan sekecil apa pun (mis. menjadi Ketua RT/RW) dan lain sebagainya. Ajakan seperti ini ternyata mendapatkan tanggapan yang demikian positif dari dari setiap kunjungan yang dilaksanakan di Kevikepan Toraja, Luwu, dan Makassar. Antusiasme itu terungkap dari kehadiran dan keterlibatan yang sangat aktif dari para peserta kegiatan yang umumnya merupakan pengurus Dewan Pastoral Paroki, Pengurus Stasi dan Rukun, Pengurus Kelompok Kategorial dan Ormas, Aktivis Paroki, serta umat katolik yang selama ini banyak terlibat dalam politik praktis di lingkungan partai politik. Animasi Merasul lewat Politik dimulai di Kevikepan Toraja pada 21 Juni 2009. Setelah melalui beberapa pertemuan, akhirnya umat katolik di Kevikepan Toraja menindaklanjuti animasi ini dengan membentuk sebuah forum yang disebut Forum Komunikasi Komunitas Katolik Toraja (FKKT). Forum ini dimaksudkan untuk membantu umat katolik supaya semakin terlibat untuk memajukan hidup bersama di tengah masyarakat. Forum ini di ketuai oleh Bpk. Theo Rosandi dan dibantu oleh kepengurusan inti serta beberapa bidang: sosial-ekonomi, pemberdayaan ormas, sosial-politik, sosial-budaya, dan lingkungan hidup. Sudah beberapa kegiatan yang dibuat oleh Forum ini, antara lain: Pendidikan Politik umat menjelang Pemilu 2009 dan Seminar Kebudayaan Toraja pada tanggal 10-11 Maret 2009. Selain itu, Komisi Kerasulan Awam juga mengadakan kunjungan untuk melaksanakan animasi di Kevikepan Luwu pada tanggal 31 Januari 01 Februari. Pertemuan di Kevikepan Luwu juga dirangkaikan dengan Sosialisai Seruan Pemilu 2009 dari KWI-PGI dan dari Uskup Agung KAMS. Dalam pertemuan tersebut, semakin disadari perlunya umat katolik hadir dan merasul dengan cara menjadi garam dan terang di tengah dunia. Umat Katolik harus menjadi kelompok minoritas kreatif di tengah kelompok mayoritas sebagaimana konteks sosial yang terjadi di Kevikepan Luwu. Hadir pula dalam pertemuan ini beberapa umat katolik yang menjadi calon legislatif dan senator dalam pemilihan umum 2009. Mereka sepakat untuk mengembangkan prinsip bersaing di jalanan, bersatu di pangkalan. Para caleg boleh berbeda partai dan boleh berbeda pilihan, akan tetapi ketika berada di lingkungan Gereja mereka sepakat untuk tetap bersatu dan memperjuangkan kepentingan bersama dan kepentingan Gereja. Di Kevikepan Makassar, Komisi Kerasulan Awam juga mengadakan beberapa bentuk

kegiatan animasi: Merasul lewat Politik. Bagi para calon legislatif sudah diadakan beberapa kali pertemuan untuk membantu mereka menyadari tanggungjawab sosial yang mereka emban dalam keterlibatan sebagai seorang calon legislatif. Sekaligus pertemuan ini dimaksudkan menjadi sebuah bentuk dukungan Gereja Lokal KAMS terhadap keterlibatan politik umat katolik. Sementara bagi seluruh umat di Kevikepan Makassar, kegiatan ini dilaksanakan dengan cara berkeliling dari satu paroki ke paroki lain selama bulan Februari hingga Maret 2009. Sebagaimana sudah dilakukan di Kevikepan Toraja dan Kevikepan Luwu, pertemuan dengan umat ini dimaksudkan sebagai bentuk penyadaran kepada umat agar tidak bersikap apolitis. Selain kehadiran para pengurus DEPAS, Wilayah, Rukun, Ormas dan Kelompok Kategorial, pertemuan ini juga ternyata menarik minat para calon legislatif dan senator yang beragama katolik untuk hadir. Kehadiran mereka semakin membuat pertemuan menjadi lebih dinamis sekaligus terjadinya saling kenal dan sapa antara para calon pemilih dengan calon legislatif dan senator. Proses animasi ini masih akan terus berlangsung sebagai sebuah proses pembelajaran politik yang tidak dibatasi hanya oleh Pemilihan Umum 2009. Untuk itu, direncanakan proses selanjutnya akan dilaksanakan di Kevikepan Sulawesi Barat dan Sulawesi Tenggara. Selain itu, masih ada program Komisi Kerawam yang masih akan dilaksanakan dalam tahun ini, antara lain: Pertemuan Komisi Kerawam Regio Makassar, Ambon, Manado (MAM). Komisi Kerawam juga membangun kerja sama lintas komisi dengan Komisi Hubungan Antaraagama dan Kepercayaan (HAK) dalam membangun sikap dialogis di tengah masyarakat yang majemuk. *** pukul 07.27 0 komentar

Pemberkatan Gereja Stasi Barru

Gereja Stasi Barru berdiri tahun 1972 dengan jumlah umat 102 jiwa, yang pada umumnya berstatus PNS. Pada awal pendirian Gereja Barru dipakai bergantian bersama umat Gereja Kibait sampai tahun 1996. Izin Membangun Bangunan (IMB) gereja baru dikeluarkan oleh pemerintah setempat pada tanggal 15 Agustus 1997 dengan nomor IMB: 612/IMB/BR/1997. Sejak dikeluarkannya IMB, umat Barru mulai membangun gereja secara bahu membahu bersama masyarakat setempat.

Proses pembangunan Gereja Barru sangat lama, yakni mulai dari tahun 1997 sampai tahun 2009 karena jumlah umatnya sangat sedikit, yakni: 82 jiwa dan 18 KK. Walaupun demikian, umat Barru tetap sabar dan percaya bahwa dalam kekecilan itu Tuhan selalu bersama mereka. Keyakinan inilah yang memotivasi mereka untuk terus membangun hingga berhasil diberkati pada tanggal 11 Januari 2009 oleh Bapa Uskup Agung Makassar, Mgr. John Liku-Ada. Acara peresmian dimulai dengan Misa Kudus yang dipimpin langsung oleh Bapa Uskup Agung Makassar serta didampingi oleh Pastor Paroki St. Petrus Rasul Parepare, P. Willem Tulak Pr; Direktur Baruga Kare, P. Rudy Kwary Pr; Rektor Seminari Menengah St. Petrus Claver Makassar, P. Willi Welle Pr; dan Ekonom Keuskupan Agung Makassar, P. Albert Arina Pr. Misa pemberkatan yang direncanakan jam 9.30 terpaksa tertunda ke jam 10.30 karena rombongan umat dari Kota Parepare dan Pinrang terlambat tiba di tempat perayaan akibat hujan lebat dan terjebak pohon asam yang tumbang menghalangi jalan di Mallustasi.

Walaupun alam tidak bersahabat, tetapi umat yang hadir dalam Misa Pemberkatan Gereja Stasi Barru tetap bersemangat. Hal itu terlihat dari antusias umat dalam mengikuti perayaan Ekaristi pemberkatan gereja. Saat pemberkatan umat sangat antusias mengikuti proses pemberkatan sampai selesai walaupun hujan deras dan angin kencang disertai kilat tidak mengurangi semangat umat untuk bersyukur kepada Tuhan. Perayaan Ekaristi dimeriahkan oleh koor gabungan St. Sisilia Kota Parepare dan umat Stasi Pinrang. Usai perayaan puncak Ekaristi, Uskup Agung Makassar, Mgr. John Liku-Ada, para Pastor konselebran bersama para undangan diundang menuju tenda resepsi untuk mengikuti acara penandatanganan prasasti peresmian Gereja Barru dan resepsi bersama. Acara penandatanganan prasasti dan resepsi dihadiri oleh Wakil Bupati Barru, H. Kamril Daeng Mallongi, SH dan Kasi Penerangan Agama Islam Barru sebagai Wakil Kakandepag Barru, Drs. H. Arifin Arsyad. Acara penandatanganan prasasti dilakukan oleh Bapak Uskup Agung Makassar, Mgr. John Liku-Ada dari pihak gereja dan Wakil Bupati Barru, H. Kamril Daeng Mallongi, SH dari PEMDA setempat serta didampingi oleh utusan Kepala Kantor Departemen Agama Barru, Drs. H. Arifin Arsyad. Sedangkan acara resepsi sangat meriah karena diisi oleh kata sambutan dari Kakandepag Barru, Bapak Uskup Agung Makassar dan Bapak Wakil Bupati Barru serta lagu dan tarian dari berbagai kelompok umat basis.

Dalam kata sambutan resepsi, Wakil Bupati dan utusan Kakandepag Barru menyampaikan bahwa pemerintah setempat pada dasarnya mendukung pembangunan rumah ibadat semua agama demi peningkatan iman umatnya serta siap melindunginya dari berbagai ancaman yang mengganggu proses peribadatan menurut keyakinan agama masing-masing. Karena itu kehadiran pemerintah setempat untuk melayani semua golongan tanpa pilih kasih. Sedangkan Bapa Uskup Agung Makassar, Mgr. John Liku-Ada dalam kata sambutannya menyampaikan terima kasih yang tulus kepada umat Barru yang begitu sabar dan bekerja keras bersama masyarakat setempat serta para donaturnya membangun Gereja Barru hingga pemberkatan. Selain itu, Uskup juga menyatakan syukur kepada umat Barru yang berani memulai membangun rumah Tuhan dari kekurangan di tengah kelompok mayoritas. Inilah nilai iman yang patut dipertahankan serta disebarluaskan di kalangan Gereja Katolik, bahwa sesuatu itu akan menjadi luar biasa kalau ada tekad dan kemauan yang kuat dari setiap kaum beriman. Sebab Gereja adalah umat Allah (umat beriman, red.) dan pembangunan gereja harus mulai dari umat itu sendiri, tegas Bapa Uskup. Selanjutnya, Bapa Uskup mengajak umat Barru untuk memperlihatkan identitas minoritas di tengah mayoritas dengan melakukan hal-hal yang berguna bagi Gereja dan masyarakat agar orang lain bisa melihat cahaya Kristus yang hidup di tengah umat Katolik Barru. Tugas ini memang berat, tetapi bersama Kristus segala sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin. Pemberkatan Gereja Stasi Barru bukanlah akhir dari perjuangan umat kelompok minoritas di tengah mayoritas, melainkan awal pembangunan iman yang sesungguhnya. Dengan pemberkatan gereja, umat Barru ibarat sebuah lilin kecil yang bernyala menerangi sesama yang ada di sekitarnya. Cahaya lilin itu akan redup kalau umat Barru sendiri tidak berani memulai melakukan sesuatu dalam karya nyata bagi diri dan sesamanya. Maka umat Barru harus diyakinkan bahwa karya pertolongan Tuhan masih mungkin tumbuh di tengah minoritas jika umat Barru berusaha keras dan mampu membangun misi cinta kasih Tuhan bagaikan lilin kecil yang terus menyala di tengah dunia, tegas Bapak Uskup dalam mengakhiri kata sambutannya.*** Penulis: Martinus Jimung pukul 07.23 0 komentar

Animasi APP 2009: Gerakan Pemberdayaan Kesejatian Hidup Bersama Umat Beragama Lain
Aksi Puasa Pembangunan (APP) tahun 2009 Keuskupan Agung Makassar mengambil tema: Pemberdayaan kesejatian hidup melalui kebersamaan dengan umat beragama lain dalam perhatian terhadap orang-orang miskin, tak berdaya dan perhatian pada lingkungan hidup untuk kesejahteraan bersama. Tema APP ini dirumuskan bersama team APP Pleno KAMS yang berintikan Komisi PSE, Komisi Katekese/Liturgi/Kitab Suci, Komisi Pendidikan, Komisi KKI, Komisi Kepemudaan dan utusan-utusan dari Kevikepan. Proses perumusan tema dan bahan animasi APP 2009 dimulai pada bulan Agustus tahun 2008

lewat rapat-rapat. Sesuai dengan kesepakatan di bentuk 4 team untuk mempersiapkan bahan animasi APP 2009, yakni team untuk bahan animasi di Paroki, bahan untuk Bina Iman Anak/Semika, bahan untuk pertemuan Orang Muda Katolik (OMK) dan bahan untuk pendalaman iman di Sekolah-Sekolah. Setelah melewati beberapat tahap akhirnya bahan-bahan tersebut tersedia pada pertengahan Desember 2009. Komisi PSE/APP kemudian mengandakan bahan tersebut kemudian didistribusikan ke Paroki-Paroki, Kelompok dan Sekolah-Sekolah pada bulan Januari 2009. Bahan-bahan yang dikirim ke paroki-paroki adalah, Bahan Untuk Pertemuan Komunitas Basis, bahan untuk Pertemuan OMK, bahan untuk pertemuan Bina Iman Anak dan bahan untuk Pendalaman Iman di Sekolah-Sekolah serta poster-poster APP 2009. Selain ini Komisi KKI menyediakan satu VCD untuk Bina Iman Anak. Komisi APP Pleno memandang perlu untuk mensosialisasikan bahan tersebut. Komisi APP kemudian berkoordinasi dengan kevikepan-kevikepan untuk pelaksanaan pembekalan animator APP di tingkat paroki-paroki. Kegiatan pembekalan ini dilaksanakan di 4 kevikepan yakni Makassar, Luwu, Sulawesi Barat, Toraja. Sementara Kevikepan Sultra sudah mengadakan sosialisasi pada bulan Oktober 2008. Sesuai dengan rekomendasi dari rapat evaluasi APP tahun 2008, khusus untuk kevikepan Makassar diusulkan agar pembekalan animator APP ini diadakan untuk 2 atau 3 paroki berdekatan. Tujuannya adalah supaya utusan-utusan paroki lebih banyak sehingga dapat terjun langsung ke rukun-rukun atau wilayah. Kegiatan pembekalan di Kevikepan Makassar dimulai tanggal 19 Januari 2009 di Aula Katedral untuk Paroki Katedral dan Gotong-Gotong. Kegiatan ini diikuti oleh 65 orang. Selanjutnya kegiatan yang sama dilakukan pada tanggal 21 Januari untuk Paroki Mamajang dan Andalas di aula Paroki Mamajang. Peserta kegiatan ini berjumlah 32 orang. Kemudian pada tanggal 22 Januari 2009 kegiatan pembekalan animator APP diadakan untuk Paroki Kare, Tello dan Mandai di Baruga Kare. Kegiatan ini dihadiri 92 orang dengan peserta terbanyak dari Paroki Kare. Kegiatan animasi di tiga tempat ini difasilitasi bersama oleh P. Fredy Rante Taruk, Pr selaku Ketua Komisi PSE/APP dan P. Leo Sugiyono, MSC selaku Ketua Komisi Kateketik/Kitab Suci/Liturgi. Pembekalan untuk Paroki Sungguminasa diadakan pada tanggal 16 Februari 2009 diikuti 36 orang. Kegiatan di Sugguminasa ini difasilitasi oleh P. Leo Sugiyono, MSC. Paroki Mariso dan Parok Asisi mengadakan kegiatan pembekalan sendiri. Sementara itu Paroki Pare-Pare dan beberapa stasi Paroki Soppeng berkumpul di Pare-Pare pada tanggal 18 Februari 2009. Pembekalan dihadiri sekitar 100 orang dan difasilitasi oleh P. Fredy Rante Taruk, Pr. Kevikepan Luwu secara khusus mengadakan kegiatan pembekalan Animator APP dan aktivis PSE selama 2 hari, tanggal 6-7 Februari 2009. Kegiatan ini dihadiri oleh 102 orang yang berasal dari Paroki Padang Sappa, Palopo, Lamasi, Saluampak, Bone-Bone dan Mangkutana. Kegiatan ini juga difasilitasi oleh P. Fredy Rante Taruk, Pr dan P. Leo Sugiyono, MSC.

Sementara itu, Team APP Kevikepan Toraja yang dikoordinir P. Bartholomeus Pararak, Pr dan P. Mateus Patton, Pr mengadakan pembekalan untuk animator APP dari parokiparoki di Kevikepan Toraja pada tanggal 17 Februari 2009. Fasilitator utamanya adalah P. Stef Salenda Lebang, Pr bersama dengan anggoat team APP Kevikepan Toraja. Pembekalan untuk Kevikepan Sulawesi Barat diadakan di Mamuju pada tanggal 20-21 Februari 2009. Kegiatan ini dihadiri Paroki Mamuju, Messawa dan Baras. Selain membahas materi APP 2009, dalam pertemuan ini juga dibahas mengenai Perayaan Hari Pangan Sedunia dan Caritas Makassar. Kegiatan ini dipandu oleh P. Fredy Rante Taruk, Pr. Selain pembekalan untuk Paroki-paroki, Komisi APP juga mengadakan pembekalan untuk Guru-Guru Agama tingkat SD-SMP di wilayah Kevikepan Makassar. Kegiatan ini diadakan pada tanggal 17 Februari 2009, yang difasilitasi oleh Fr. Bonifasius, HHK dan Bapak Pablius Jurung. Demikianlah serangkaian kegiatan Animasi APP tahun 2009 yang diselenggarakan oleh Komisi APP Pleno. Komisi APP menghaturkan terima kasih kepada semua komisi terkait yang telah terlibat dalam kegiatan Animasi ini mulai dari persiapan bahan sampai pada kegiatan animasi. Juga kepada semua kevikepan dan paroki yang berkenan memberikan kesempatan dan tempat untuk kegiatan APP tahun 2009 ini. *** Penulis: P. Fredy Rante Taruk Pr, Komisi PSE/APP KAMS pukul 07.18 0 komentar

Agenda Bapa Uskup Maret-Mei 2009


Maret 2009 Tgl. Acara 01 Rapat SC Semlok Inkulturasi 03 Misa setahun meninggalnya P. Arie Maitimo 04 Pertemuan Laporan Lengkap Keuangan Munas IX UNINDO 09-10 Semlok Inkulturasi di IKAR Rantepao 14 Pertemuan silaturrahmi dengan YSI 16 Hari Imam 19 Pemberkatan Gedung Serba Guna SMP-SMU Rajawali 21 Misa Pelantikan Dewan Keuangan KAMS 24 Hari Imam 26-27 Seminar di Jakarta 31 Hari Imam April 2009 Tgl. Acara 02 Rekoleksi Imam dan Misa Pemberkatan Tiga Minyak Suci 07 Hari Imam 09 Kamis Putih. Pemilu Legislatif/DPD 10 Jumat Agung

11 Sabtu Suci 12 Paskah 14 Hari Imam 16 Rapat Dewan Konsultor 21 Hari Imam 28 Hari Imam Mei 2009 Tgl. Acara 05-07 Rapat Dewan Imam 09-10 Ziarah di Soppeng 13-15 Rapat Presidium KWI 16 Pertemuan dengan Pengurus PUKAT Jakarta 17 Paskah PUKAT Jakarta 19 Hari Imam 21 Krisma Paroki Andalas pkl. 08.45 24 Krisma Paroki Gotong-gotong pkl. 08.00 26 Hari Imam 31 Krisma di Katedral pkl. 08.30 pukul 07.16 0 komentar

Mutasi Personalia KAMS


1. P. Carolus Patampang Dilepaskan dari tugas sebagai Pastor Moderator Tim Kepemudaan (termasuk Ormas) Kevikepan Toraja dan asisten tetap di Paroki St. Theresia Rantepao. Penugasan sementara sebagai Pastor Bantu di Paroki Hati Yesus yang Maha Kudus Katedral Makassar. 2. P. Oktafianus Edy Kaniu Diangkat sebagai staf Seminar Menengah St. Petrus Claver Makassar. 3. Dewan Keuangan KAMS masa bakti 2009 - 2014: Ketua : P. Ernesto Amigleo CICM Wakil ketua : P. Willibrordus Welle Sekretaris : P. Yulis Malli Anggota : 1. John Theodore 2. Jinhard Kouwagam 3. Widartiningsih, SH 4. Kunradus Kampo pukul 07.10 0 komentar

Sayap CU Mengepak di Bumi Mekongga

Bumi Mekongga demikian orang menyebut Kabupaten Kolaka. Wilayah ini terletak tepat pada perbatasan Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Selatan. Letaknya persis di bagian selangkangan kaki Sulawesi Tenggara dan Selatan. Daerah yang selama ini dikenal sebagai penghasil kakao dan memiliki kekayaan alam yaitu nikel. PT Antam sudah agak lama mengeruk kekayaan alam bumi Mekongga ini. Dalam harian berita Kendari Pos, 30 September 2008 malah diberitakan bahwa di Kelurahan Ulunggolaka, Kecamatan Latambaga, tepatnya di lokasi obyek wisata permandian air panas, 15 km dari Kota Kolaka diketemukan emas. Sebelumnya memang sudah lama tersiar kabar tentang ditemukannya emas di Sahi Ite, Kab. Bombana. Di lokasi tersebut kini ratusan atau malah ribuan orang mengadu nasib. Alam bumi Mekongga memang menjanjikan sejuta harapan bagi masyarakatnya untuk hidup damai dan sejahtera. Tinggal keuletan dan kesabaran dalam menggali potensi alam. Sepertinya Tuhan telah memberikan segalanya bagi manusia. Tetapi di pihak lain ada bahaya masyarakat terbuai dan lupa diri dalam menata hidup jauh ke depan. Tanggal 20 Agustus 2008, patut dicatat dalam perjalanan sejarah Bumi Mekongga. Hari ini Credit Union terbang dan hinggap di bumi Mekongga. Kasih Mekongga, demikian nama yang dipilih oleh anggota awal yang berjumlah 106 orang, dengan total asset 600 juta rupiah. Kasih Mekongga berupa Kantor Managemen dari TP Kasih Mulia, Unaaha, CU Mekar Kasih, Makassar. Mekongga artinya burung raksasa yang menyelamatkan tiga suku di Sulawesi Selatan yaitu Suku Makassar, Bugis dan Toraja. Burung ini pula (Mekongga) yang digunakan Lakidende dalam perjalanannya menuju Pulau Padamaran untuk bertapa. Pemilihan nama ini sarat dengan makna yang bagi masyarakat Kolaka sudah lama hidup di tengah-tengah mereka. Ibaratnya, CU Mekar Kasih adalah burung mekongga yang terbang dari Sulawesi Selatan dan kini hinggap di bumi Anoa, Sulawesi Tenggara. Kasih Mekongga, nama Kantor Managemen CU Kolaka, semoga tidak hanya sekedar nama tetapi sungguh menjadi sarana penyelamat bagi penghuni bumi Mekongga. Dengan demikian seluruh pengurus dan anggota CU bersama-sama mewujudkan kehidupan yang damai dan sejahtera secara ekonomi di bumi Mekongga. Rintisan pendirian Credit Union di Kolaka melewati tahapan-tahapan yang pada awalnya agak meragukan. Kunjungan kami pertama di Dawi-Dawi bersama Rm. Fredy untuk sosialisasi hanya dihadiri belasan orang. Dengan kondisi yang seperti itu, kami berpikir terbentuknya Credit Union di bumi Mekongga hanya angan-angan belaka. Selanjutnya kunjungan kami kedua di Pomalaa (lokasi PT Antam) dan ketiga di Dawi-Dawi (untuk yang kedua kalinya), jumlah umat yang hadir sudah semakin banyak. Namun keraguan kami belum hilang. Tetapi di sisi lain Pastor Paroki, P. Piet Majina Pr, didukung anggota Depas, tetap bersemangat dan tekad yang kokoh untuk menghadirkan Credit Union di bumi Mekongga. Selamat datang CU di daerah penghasil kakao dan nikel, demikian kira-kira harapan P. Piet bersama anggota Depas waktu itu. Sebelum kami kembali ke Unaaha dan Rm. Fredy ke Makassar setelah sosialisasi CU yang ketiga, kami berpesan pada mereka kalau tidak mencapai anggota 101, Credit

Union di Kolaka bakalan tidak terbentuk. Berselang tiga bulan kemudian, berkat doa dan tekad membaja Pastor Paroki bersama umatnya, tanggal 20 Agustus 2008 lahirlah CU di bumi Mekongga. Dalam Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Vikep Sultra, P. Matheus Bakolu Pr, diresmikanlah Kantor Managemen (KM) Kasih Mekongga. Turut hadir, Ketua KomisY(PSE KAMS, Rm. Fredy Rante Taruk Pr sebagai Fasilitator; Yan Marcel, Wakil Ketua II CU Mekar Kasih, Makassar. Pada saat yang sama turut dilantik Pengurus Kantor Managemen, di mana sebagai penanggungjawabnya adalah Bartholomeus Katatong dan Nico Bara Sombolayuk sebagai Koordinator Tim Inti serta Martinus Wahyudi Eko Prasetyo sebagai staf. Kantor Manajemen Kasih Mekongga d/a. Solo Service Poros Kolaka Pomalaa Telp. 0405-310246 Tanam Kasih Tuai Sejahtera.*** Penulis: P. Linus Oge, Pr pukul 07.04 1 komentar

CU Tebar Kasih Berdiri, Umat Baras Menyambut

Hari Minggu, 8 Maret 2009 menjadi hari yang penuh makna dan cahaya bagi umat Paroki St. Yusuf Pekerja Baras, karena pada hari itu dideklarasikan pendirian Tempat Pelayanan (TP) Tebar Kasih Credit Union (CU) Mekar Kasih. Dalam misa pendeklarasian CU TP Tebar Kasih Paroki St. Yusuf Pekerja Baras, Pastor Fredy Rante Taruk, Pr. sebagai selebran utama sekaligus sebagai Ketua Komisi PSE KAMS yang memfasilitasi Pendirian TP dari CU Mekar Kasih Makassar ini, menekankan bahwa TP Tebar Kasih diharapkan mampu menjadi alat untuk menyejahterahkan umat Paroki Baras dan masyarakat sekitar dalam wilayah Mamuju Utara, Sulawesi Barat. Pendeklarasian Pendirian TP Tebar Kasih ini sebenarnya telah jauh hari disiapkan oleh Dewan Pastoral Paroki St. Yusuf Pekerja Baras di bawah pimpinan Pastor Paroki Baras,

P. Kosmas Kopong Boro,Pr. dan Kapelan P.Vius Octavian,Pr. Persiapan ini telah berlangsung sejak tahun 2007 dan pada Rapat Pleno Rancangan Strategic Planning Depas 2008. Rencana pendirian ini kemudian ditindaklanjuti lewat sosialisasi CU secara massal dua kali di pusat paroki dan di setiap stasi pada setiap kunjungan periodik mingguan, dan akhirnya berpuncak pada lokakarya Strategic Planning Pendirian TP Tebar Kasih pada 58 Maret 2009. Lokakarya yang diadakan di pusat Paroki St. Yusuf Pekerja Baras ini diikuti oleh 256 orang dari 14 stasi dalam wilayah Paroki St. Yusuf Pekerja Baras. Banyak hal yang menjadi nilai positif dari hasil pendidikan nilai dan pencerahan selama sosialisasi CU selama ini. Hasil tersebut nampak dalam partisipasi seluruh umat menyukseskan lokakarya tersebut lewat terlibatnya semua umat menyumbangkan dana untuk konsumsi, menyiapkan tempat dan peralatan dan sarana lain yang dibutuhkan bahkan semua ibu-ibu dan bapak-bapak terlibat menyiapkan makanan bagi seluruh peserta yang hadir. Hadirnya TP Tebar Kasih memang telah menjadi cita-cita dan kerinduan umat di Paroki Baras karena umat merasa sungguh membutuhkan sebuah sarana yang dapat memajukan hidup mereka baik dalam hal ekonomi, pendidikan nilai, pendidikan penyadaran sampai pendidikan politik dan kecintaan pada lingkungan hidup yang harmonis. Fasilitator lokakarya pendirian TP Tebar Kasih adalah P. Fredy Rante Taruk, Pr dan Bapak Eduar Edy Susanto (Fasilitator CU Kalimantan) serta dibantu oleh Staf CU Mekar Kasih Elsa Brigitha Noviyanthi. Pastor Fredy banyak mengulas tentang makna hidup manusia dan memberikan motivasi untuk perbaikan ekonomi umat melalui pendidikan ala CU. Ketua PSE KAMS ini menantang umat Paroki Baras untuk tetap bertahan dengan penghasilan dari Sawit di tengah-tengah krisis ekonomi ini. Dalam rangka itu, umat dan masyarakat Baras harus mampu membuat perencanaan keuangan sekarang dan untuk masa depan, bahkan sampai rencana peremajaan sawit yang sekarang berumur di atas 10 tahun. Seluruh umat sangat antusias mengikuti pertemuan dan mengalami penyadaran akan pentingnya menata ekonomi keluarga. Sebagai wujud konkret, sejumlah besar umat mendaftarkan diri segera setelah pendirian Tempat Pelayanan Tebar Kasih tersebut. Dalam 3 hari lokakarya tersebut telah terdaftar 206 orang anggota dengan aset pertama Rp 1.275.195.000,-. Cita-cita dan impian untuk mandiri dan sejahtera dari umat Paroki St.Yusuf Pekerja Baras tentu juga menjadi impian semua orang. Kita berharap semua pihak menjadi lebih bertanggung jawab pada diri sendiri dan pada sesama lain, termasuk pada alam lingkungan. Oleh karenanya para pengurus yang terpilih untuk periode 2009-2011 yang terdiri dari: Dewan Pimpinan Ketua: Dominikus Dedu, Wakil ketua I: Kaitanus Malik, Wakil ketua II: Lorensius Hadum, Sekretaris: Yulius Palete Masiku, dan Bendahara: Yustina Ina Tulit. Badan Pengawas terdiri atas: Ketua: P. Kosmas Kopong Boro, Pr., Sekretaris Nicolaus Fahik, Anggota: Everistus Fridus Tafoen. Koordinator team Fasilitator Pendidikan Dasar adalah P. Vius Octavian,Pr. Para Pengurus diminta untuk sungguh serius menggeluti dan mengawal perjalanan TP Tebar Kasih ini sehingga kelak umat Baras sungguh sejahtera dalam hidup mereka, dan maju dalam segala hal.*** Penulis: P.Vius Octavian, Pr

pukul 06.58 0 komentar

Profil: Herman Djawa

Jangan salah mengira bahwa rekan kami ini adalah berasal dari Jawa. Sapaan akrab yang sering kami panggilkan kepada saudara kami ini adalah Om Herman Djawa. Tadinya kami mengira bahwa Herman Djawa ini berasal dari pulau Jawa, ternyata beliau berasal dari tanah Flores. Beliau juga sudah mengabdi di Keuskupan kita ini selama 10 tahun, namun sebelumnya beliau sudah bekerja selama 13 tahun di Kare bersama Ketua KKI pada waktu itu adalah Suster Wilhelmina Bhato CIJ dan kemudian bersama Suster Imanuella JMJ. Namun karena usianya yang sudah mencapai usia 55 tahun, umur yang sudah tidak muda lagi serta usia yang ditetapkan untuk masuk masa pensiun. Namun Om Herman masih akan bekerja pada Keuskupan sebagai tenaga honorer. Tugas utama Om adalah mengemudikan mobil di kantor Keuskupan, teristimewa Om Herman senantiasa mengantar Bapa Uskup ke mana saja, baik kunjungan pastoral ke daerah maupun acara pemerintahan. Om Herman ini senantiasa melaksanakan pekerjaannya dengan penuh rasa tanggung jawab, karena dia sadar bahwa yang diantar bukan orang biasa melainkan Pemimpin tertinggi Keuskupan Agung Makassar. Dan kadang-kadang Om Herman juga mengantar P. Frans Nipa, Sekretaris KAMS; P. Ernesto Amigleo, Vikjen KAMS bilamana mereka hendak ke luar daerah. Puji Tuhan para Pastor senantiasa merasa aman sepanjang jalan bersama Om Herman. Om Herman juga suka bercanda dan suka membantu kami jika membutuhkan pertolongannya. Dan atas kebersamaan dengannya selama berkarya pada Keuskupan yang kita cintai ini, kami mengucapkan banyak terima kasih! Kepada keluarga tak lupa kami juga mengucapkan banyak terima kasih. Tuhan memberkati. *** pukul 06.56 0 komentar

Profil: Paulus Parinding

Paulus Parinding adalah sosok yang orang yang mau bekerja keras. Beliau sudah mengabdi dan bekerja di lingkungan Keuskupan Agung Makassar selama 21 tahun. Namun karena kesehatannya terganggu (penyakit stroke berkepanjangan) maka rekan kami ini terpaksa pensiun dini, dengan maksud agar dia senantiasa mendapat perawatan dan perhatian dari segenap keluarganya sehingga dapat pulih kembali. Selama bekerja di Keuskupan, Paulus senantiasa memperlihatkan kemampuannya dan menjalankan tugasnya dengan setia dan penuh tanggung jawab. Dia juga suka membantu dan selalu siap membuka tangannya kepada siapapun yang membutuhkan bantuannya. Tugas-tugas yang dipercayakan kepadanya adalah: mengurus paspor para Pastor di kantor imigrasi, mengurus STNK dan SIM para Pastor serta mengantar surat-surat yang sering kita sebut ekspedisi. Mungkin kita melihat tugas-tugas ini sebagai perkara kecil, namun cara saudara kita ini melaksanakan dan menyelesaikan tugasnya itu sangat luar biasa Beliau tidak mengenal hujan atau teriknya panas matahari, namun dia senantiasa melaksanakan tugasnya dengan penuh suka cita. Di sela kesibukannya, Paulus juga suka bercanda dan bercerita lelucon dengan mimik yang lucu sehingga membuat temantemannya tertawa. Humomya membuat suasana kantor ceria, kondusif untuk bekerja lebih baik. Maka ketidakhadirannya di kantor sangat kami rasakan. Kami semua rekan kerjanya merasa sangat kehilangan seorang sosok teman yang selalu membuat suasana kantor menjadi cerah dan penuh rasa persaudaraan, teristimewa kami rekanmu Ida, Chris dan Rita. Doa kami, semoga Paulus cepat sembuh. Demikianlah sekilas mengenai rekan kami ini. Terima kasih atas pengabdian serta pengorbananmu kepada Keuskupan yang kita cintai ini, dan atas segala kerja sama yang baik. Dan terima kasih pula kepada Istri dan anakanak Bpk. Paulus. Misa Syukur sebagai tanda rasa persaudaraan kami telah dilaksanakan bersama di Kapel Keuskupan pada 23 Februari 2009 yang dipimpin oleh P. Ernesto Amigleo, CICM selaku Vikjen KAMS dan sesudahnya dilanjutkan dengan acara ramah tamah. Tuhan memberkati kita semua.*** pukul 06.50 0 komentar

Politik di Tengah Orang Muda Katolik


Keluarga Mahasiswa Katolik Kevikepan Makassar menggelar kegiatan Dialog Interaktif bertajuk Politik di Tengah Orang Muda Katolik. Kegiatan ini dilaksanakan pada 7 Februari 2009 di aula KAMS dengan menghadirkan dua narasumber: Romo Eddy Kristiyanto OFM, penulis buku Sakramen Politik: Mempertanggungjawabkan Memoria dan Bpk. Basuki Tjahaja Purnama, mantan Bupati Belitung Timur. Dialog dibuka dengan Kata Pengantar Vikep Makassar P. Jos van Rooy. Dalam sambutannya, Vikep menyambut baik terselenggaranya kegiatan ini yang disebutnya dapat menumbuhkan kesadaran berpolitik khususnya di kalangan orang muda Katolik di Kevikepan Makassar sebagai bentuk keterlibatan Gereja di tengah masyarakat. Rm. Eddy Kristiyanto OFM menyampaikan pandangannya mengenai Sakramen Politik dengan memaparkan situasi sosial masyarakat terkini di Indonesia, dan panggilan Gereja

untuk terlibat aktif dalam pembangunan masyarakat. Mengenai istilah Sakramen Politik, beliau menjelaskan: Sebelum penetapan oleh Konsili Trente (1545-1563), jumlah sakramen dalam Gereja Katolik Roma pernah jumlah sakramen mencapai duapuluhan, tetapi juga pernah "belasan". Akan tetapi, sejak Konsili Trente, Gereja Katolik Roma tidak lagi memperdebatkan jumlah sakramen. Tujuh saja. Menurut Rm. Eddy, bagi orang Kristen, terlibat dalam dunia politik itu merupakan rahmat istimewa, mengingat misteri inkarnasi' sendiri langsung berkaitan dengan hal tersebut. Bukankah suatu pencerahan bagi kegelapan dunia ini ketika Allah menjadi manusia, Ia rela menjadi salah seorang anggota masyarakat warga? Kekotoran dan kehirukpikukan dunia ini tidak menjadikan-Nya miris dan apatis, tetapi justru sebaliknya. Maka secara teologis keterlibatan para anggota Gereja dalam dunia politik mendapat dasar kokoh kuat pada misteri inkarnasi. Dengan membangun Rumah Sakit dan Sekolah-sekolah, sebetulnya Gereja pun sudah berpolitik dalam pengertian luas, kata pengajar di STF Driyarkara Jakarta ini. Ir. Basuki Tjahaja Purnama, MM, mantan Bupati Belitung Timur (ingat setting film Laskar Pelangi?) lebih banyak men-sharingkan pengalamannya dalam dunia politik serta keyakinan panggilan sebagai murid Kristus untuk terjun ke dalam dunia politik. Basuki merupakan etnis Tionghoa pertama yang menjadi Bupati Kabupaten Belitung Timur. Ahok, demikian ia biasa disapa, memang dikenal memiliki keinginan kuat dan kepedulian besar terhadap kesejahteraan rakyat. Ahok bercerita bahwa masuknya dia ke dunia politik didasari oleh pesan sang ayah (Zhong Kim Nam) yang pernah berkata Kamu cocoknya jadi pejabat. Karena pengusaha yang mau pikirkan rakyat banyak itu tidak mungkin. Ahok menemukan Sabda Tuhan yang menyentuh hatinya pada Mazmur 9:19 Sebab bukan untuk seterusnya orang miskin dilupakan, bukan untuk selamanya hilang harapan orang sengsara. Itulah yang mendorongnya masuk ke kancah politik praktis dan dijadikannya sebagai dasar pijakan. Pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Belitung Timur tahun 2005, Basuki berpasangan dengan Khairul Effendi, BSc ikut sebagai calon Bupati-Wakil Bupati Belitung Timur periode 2005-2010. Dengan mengantongi suara 37,13 persen pasangan ini terpilih menjadi Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Belitung Timur definitif pertama. Ketika menjadi wakil rakyat di DPRD Kabupaten Belitung Timur, Ahok dikenal sebagai seorang politisi yang bersih. Ia dan rekan satu partainya pernah mengembalikan sisa uang perjalanan dinas dari kunjungan kerja ke Malang-Jawa Timur. Pengembalian uang sisa perjalanan dinas ini bukan suatu hal yang dianggap baik dan wajar oleh rekan lainnya yang di DPRD, malah ia dimusuhi dan dikucilkan oleh rekan-rekan anggota DPRD lainnya.

Oleh pimpinan dewan, melalui rapat internal di DPRD, ia tidak diperkenankan menjabat sebagai pimpinan dalam alat kelengkapan DPRD, baik itu komisi atau fraksi. Ahok di nobatkan sebagai Tokoh Anti Korupsi dari unsur penyelenggara Negara. Ahok dinilai berhasil menekan semangat korupsi pejabat pemerintah daerah. Ini ditandai dengan penyelenggaraan pelayanan kesehatan dan pendidikan gratis bagi masyarakat Belitung Timur. Ahok mengalihkan tunjangan bagi pejabat pemerintah untuk kepentingan rakyat. Kejujuran dan ketulusannya dalam mengabdikan diri untuk kesejahteraan rakyat dan Republik Indonesia juga menghantarkan Ahok menjadi salah seorang dari 10 tokoh yang mengubah Indonesia oleh Tempo. Kisah hidup dan perjalanan karir Ahok pun telah dibukukan dan diterbitkan oleh Gramedia berjudul: Tidak Selamanya Orang Miskin Dilupakan. Acara ini diisi dengan permainan band dan dialog peserta dengan nara sumber. Antusiasme peserta pada babak tanya-jawab ini menunjukkan rasa ingin tahu di kalangan orang muda Katolik terhadap mahluk asing bernama politik. P. John da Cunha selaku Pastor Mahasiswa mengatakan bahwa kegiatan Dialog Interatif ini baru merupakan awal dari serangkaian kegiatan Pendidikan Politik bagi Mahasiswa. Sebagai langkah awal, kegiatan yang digerakkan oleh KMK-KMK beberapa kampus di Kevikepan Makassar ini dapat dikatakan berjalan baik, lancar dan mendapat sambutan positif umat. *** Penulis: Toni pukul 06.15 0 komen

Hidup dan Kepausan Paus Yohanes Paulus II, Karol Josef Wojtyla (19202005)
Posted: Apr. 09, 2005 19:23:22 WIB

Foto file dari Paus Yohanes Paulus II memberkati peziarah dan pengunjung di Lapangan St. Peter dari balkon pusat Basilika St. Peter, pada hari Natal, 25 Desember 1993. Paus Yohanes Paulus II, Paus Polandia yang mengepalai Gereja Katolik Roma selama 26 tahun dan memainkan peranan kunci penting dalam kejatuhan komunisme di Europa, wafat 2 April 2005 dalam usia 84 tahun. Jutaan orang berkabung atas kematiannya. REUTERS/Vatican/Pool/FILE Jutaan orang menyaksikan pemakaman salah seorang pemimpin relijius yang paling berpengaruh dalam abad 20, dalam suatu proses pemakaman terbesar pada era ini. Pemakaman almarhum Paus Yohanes Paulus II, pemimpin 1,1 milyar umat Katolik Roma, Jumat, 8 April, disaksikan oleh sekitar 1 milyar pemirsa melalui layar televisi. Sekitar 80 pemimpin negara hadir, disertai para pemimpin relijius dunia dan tokoh-tokoh dunia. Hidup dan karisma Paus diakui tidak hanya oleh umat Kristiani, tetapi juga oleh masyarakat dunia, melampaui batas agama, suku, asal-usul, dan negara. Hidup dari Karol Josef Wojtyla, yang lebih dikenal sebagai Paus Yohanes Paulus II, menyatakan harapan dan kekuatan bagi banyak orang di seluruh dunia. Jutaan orang berkabung atas kepergiannya. Walaupun hidupnya tidak biasa dan bermomentum setelah naiknya ia ke tahta kepausan pada tahun 1978 pada usia 58 tahun, tahun-tahun yang memimpin kepada titik itu membantu untuk membentuk dia.

Dari awal yang sederhana dari kota di luar ibukota Polandia, Krakow, sampai kematian hampir seluruh anggota keluarganya pada usianya yang muda 20 tahun, sampai kepada penganiayaan dari Nazi Jerman yang datang di negara itu pada tahun 1940an dan hidup sebagai orang dewasa di negara komunis, awal-awal tahun kehidupan Karol Josef Wojtyla menyediakan latar belakang untuk membentuk seorang pria, yang bagi banyak orang, dinyatakan sebagai pemimpin moral dan Kristiani yang luar biasa. Persahabatan Masa Muda Karol Josef Wojtyla lahir di Wadowice, Polandia pada tanggal 18 Mei 1920. Ayahnya, Karol Wojtyla, (dibaca voy-TIH-wah) adalah mantan prajurit dan juga penjahit. Ibunya, Emilia Kaczorowska Wojtyla, adalah guru sekolah. Wadowice terletak sekitar 35 mil dari ibukota Krakow. Populasi pada saat itu terdiri dari 8.000 orang pengikut katolik dan 2.000 orang Yahudi. Dia tumbuh di apartemen dua lantai sederhana yang dimiliki oleh sebuah keluarga Yahudi. Salah satu teman masa kecilnya, seorang Yahudi, mengingat permainan sepakbola yang biasanya mereka mainkan. Pertandingan itu biasanya Katolik vs Yahudi. Kluger mengatakan Karol Wojtyla muda akan secara sukarela bermain untuk pihak Yahudi, bahkan di lapangan. Biasanya tidak ada cukup (anak) Yahudi, jadi seseorang harus bermain untuk pihak Yahudi, dan dia selalu sepertinya siap, ya kamu tahu,kata Kluger dalam suatu wawancara dengan CNN tahun 2003. Persahabatan itu dilanjutkan saat tahun 1993, ketika saat itu Klugerlah yang dipanggil Yohanes Paulus II untuk bertindak sebagai pengantara antar Israel dan Vatikan dalam negosiasi-negosiasi yang memimpin Vatikan untuk menghadiahkan Israel hubungan diplomatik formal, menurut New York Times. Kehilangan Masa Muda Pada masa muda, ia suka berenang di Sungai Skawa dan seorang pemain bola yang sering berhenti untuk berdoa dalamperjalanannya ke sekolah, menurut LA Times. Namun kematian saudara-saudaranya membuat kehidupannya berbeda dengan anak-anak lain. Sebelum ia lahir, kakak perempuannya meninggal. Pada tahun 1929, sebulan sebelum hari ulang tahunnya yang ke-9, ibunya wafat karena sakit jantung. Ia mengikuti Komuni Kudus pada bulan yang sama. Di usia 12 tahun, kakak laki-lakinya meninggal akibat demam. Karol kecil juga hampir tewas dua kali. Sekali karena tertabrak mobil dan kedua tertabrak truk tahun 1944.

"Masa muda Paus bukan masa yang menyenangkan," kata Pastor Joseph Vandrisse dari Perancis. "Ia banyak merenungkan arti penderitaan," katanya. Sepeninggalan anggota keluarga yang lain, ia dibesarkan oleh ayahnya dan hidup sederhana di sebuah Spartan, apartemen satu kamar di belakang gereja. Lulus dari sekolah menengah tahun 1938, Lolek dan ayahnya pindah ke Krakow, tempat ia belajar sastra dan filsafat di Universitas Jagiellonian. Di sana ia bergabung dengan kelompok pembaca puisi dan kelompok diskusi sastra. "Ia seorang aktor hebat dan penyanyi berbakat," kata beberapa temannya. Ia selamat dari pendudukan Jerman dengan bekerja sebagai seorang pemotong batu pada tahun 1940. Pada Februari 1941, ayahnya yang merupakan penganut Katolik taat, meninggal dunia tanpa sempat terkabul keinginannya melihat anaknya mendedikasikan hidupnya untuk melayani Tuhan. Akademis yang Bersemangat, Menjanjikan Kenaikan 18 bulan berikutnya, Wojtyla mulai memenuhi harapan ayahnya dengan belajar di seminari bawah tanah di Krakow, sekaligus belajar teologi di universitas. Ia harus belajar sembunyi-sembunyi karena adanya larangan dari penguasa Jerman saat itu. Dia belajar sembari bekerja di sebuah pabrik hingga Agustus 1944. Namun, ketika tentara Jerman mulai menangkapi pemuda-pemuda Polandia, Wojtyla bersembunyi di rumah Uskup Krakow hingga perang berakhir. Ia ditahbiskan sebagai asisten pastor di Krakow tahun 1946. Tahun 1948 ia mendapatkan gelar doktor dalam etika. Pada tahun 1953, ia memperoleh gelar doktor dalam teologi dan mula mengar pada seminar gereja di Krakow. Dia juga menjadi seorang professor dan mengepalai departemen filsafat di Universitas Katolik di Lublin tahun 1954. Wojtyla naik secara pesat melalui hirarki gereja setelah ini, menjadi pembantu uskup pada tahun 1958 dan uskup pada tahun 1964. Pada tahun 1967, Paus Paulus VI menjadikan Wojtyla seorang kardinal. Ia menentang komunisme tetapi penunjukkannya disambut oleh pemerintah Plandia yang melihat Wojtyla sebagai keras tapi fleksible dan sebagai seorang reformator moderat, menurut CNN. Biografi saat itu menyebutkan Wojtyla sebagai musuh dari komunisme dan pemenang dalam hak asasi manusia, penginjil yang berkuasa dan intelektual yang rendah hati yang mampu mengalahkan Marxists dalam bahasa mereka sendiri.

Saat ditanya apakah dia takut akan larangan pejabat pemerintahan, Wojtyla membalas, Saya tidak takut akan mereka. Mereka yang takut akan saya, menurut CNN. Pada tahun-tahun yang mengikuti penunjukkannya sebagai kardinal, Wojtyla dikenal luas sebagai pribadi yang inteletual, administrator dan penggalang dana. Pada tahun 1978, setelah Yohanes Paulus I wafat secara tidak diduga 33 hari setelah menjadi Paus, para Kardinal di seluruh dunia berkumpul untuk memilih penggantinya. Ketika para kardinal tidak bisa menemukan kata sepakat setelah tujuh kali pemungutan suara, pada putaran voting ke delapan muncul nama Wojtyla. Ia terpilih. Menurut CNN, ia menerima hasil pemilihan itu dengan mata berkaca-kaca. Pada tanggal 16 Oktober 1978, ia ditahbiskan sebagai Paus. Ia menjadi paus termuda setelah lebih dari 120 tahun dan merupakan paus non Italia pertama setelah Adrian VI dari Belanda dipilih tahun 1522. Kepausan yang Karismatik Sebagai paus, Yohanes Paulus II menjadi seorang paus yang melakukan perjalan terbanyak ke luar negeri. Ia mengunjungi 125 negara dalam jangka waktu 26 tahun. Ia menarik jutaan masa. Ia juga berbicara multi bahasa, dapat berbicara dalam 8 bahasa. Yohanes Paulus II menyatakan karisma yang besar. Pengarang buku , The Making of Popes 1978, Andrew M. Greely menulis gaya paus hadir di tengah kerumunan, "Gerekannya, kehadirannya, senyumnya, keramahannya, sikapnya menyenangkan siapapun. ... Ia luar biasa di tengah-tengah kerumunan --- berjabatan tangan, tersenyum, berbincang, mencium bayi-bayi, menurut CNN. Saat dia kembali ke Polandia tahun 1997, LA Times melaporkan saat pemunculannya, kerumunan menjadi diam, beberapa orang jatuh berlutut dan menangis saat Yohanes Paulus berjalan menuju altar. Ia adalah paus yang bersemangat bahkan sebelum kesehatannya mulai menurun. Ia tampaknya tidak mampu untuk menyia-nyiakan satu menit. Saya tidak pernah melihatnya jatuh dalam kesedihan ataupun tegang, kata juru bicara kepausan, Joaquin Navarro-Valls suatu ketika. Bahkan pemimpin Kuba yang keras Fidel Castro, dikenal selalu mengenakan pakaian militer hijau zaitun, mengenakan pakaian resmi ketika Yohanes Paulus II mengunjungi negaranya pada tahun 1998. Mengikutsertakan Dunia Paus melibatkan dirinya sendiri dalam isu-isu luas, terutama dalam hak asasi manusia.

Keterlibatannya sebagai paus bukan anya untuk menyebarkan injil, untuk menyebarkan iman, tetapi juga untuk mentransformasi kepausan Roma menjadi juru bicara hak asasi manusia, kata Marco Politi, pengarang buku His Holiness, kepada CNN tahun 2003. Ia mengkritik diktator Alfred Stroessner di Paraguay, Agusto Pinochet di Chili dan Ferdinand Marcos di Filipina. Ia membantu mempercepat kejatuhan komunis dengan mendukung gerakan Solidaritas disana. Kunjungan Paus ke negara asalnya Polandia pada tahun 1979 menarik kerumunan yang kemudian bertekad merubah pemerintah mereka. Ini mempercepat kehatuhan Uni Soviet dan Sekutunya di Eropa Timur, menurut Associated Press. Ia juga mengkritik Barat saat kunjungan pertamanya ke Amerika Serikat, ia memperingatkan bangsa itu tentang bahaya dari paham materialisme, egoisme dan sekularisme. Ia juga yang mengusulkan penurunan standar hidup mereka dan berbagi kekayaan dengan dunia ketiga. Ia menegaskan paham materialisme bukanlah jawaban. " Dunia ini tidaklah mampu membuat orang bahagia," kata Yohanes Paulus. Ia memandang hubungan dengan Tuhan sebagai pengejaran yang utama dalam hidup. Ia berdoa sangat sering sehingga dikatakan ia membuat keputusan " pada lututnya," kata CNN. Suara untuk Konservatisme Religius, yang Sosial Tema yang terkemuka lain dalam masa jabatan kepausan Yohanes Paulus adalah cara pendiriannya yang konservatif atas isu sosial dan doktrin gereja. Ia absolute menolak total pengguguran dan kontrasepsi, yang mana banyak mengasingkan banyak Katolik. Ketika ia datang dalam kekuasaan dan ia telah dipilih, ia menyadari bahwa satu hal ia harus lebih dulu lakukan adalah untuk memugar kembali kejelasan ke ajaran Katholik. Dan ia mengatakan, ' OK, barangkali mereka tidak akan patuh, barangkali mereka tidak akan menerima, tetapi setidaknya mereka akan mengetahui apa yang gereja wakili," kata Wilton Wynn, pengarang dari "Keeper Of The Keys," dalam suatu wawancara dengan CNN. Paus suatu ketika berbicara dengan Time, " Adalah suatu kesalahan untuk mengaplikasikan prosedur demokratis Amerika ke (dalam) iman dan kebenaran." Ia menambahkan, " Kamu tidak bisa mengambil suatu voting tentang kebenaran." Paus adalah juga aktif dalam mendiamkan pandangan yang liberal di dalam Katolikisme. "Gereja tidak bisa menjadi suatu asosiasi dari free thinkers (pemikir bebas)," ia berkata di tahun 1981, menurut CNN

Ia juga dengan sepenuhnya menentang pengguguran dan euthanasia. Dalam suatu surat ia mengutuk " kultur dari kematian," ia berkata pengguguran itu " selalu mendasari suatu kekacauan moral sejak secara terbuka membunuh manusia yang tidak bersalah secara sengaja,' kata Paus, menurut CNN. Isu-isu sosial lain yang ia pertentangkan adalah pembuahan buatan, hubungan seksual di luar perkawinan, dan hubungan homoseksual- meski demikian ia menghimbau toleransi untuk homoseksual. Selama masa jabatannya, ia menolak untuk mentahbiskan wanita, berkata bahwa gereja harus mengikuti contoh dari Yesus yang hanya memilih pria sebagai rasul-rasulnya, menurut AP Ia juga menekankan kebutuhan akan alim ulama (Katolik) untuk melakukan selibat. Mengikuti Jalan Perdamaian Walaupun warisan Yohanes Paulus pastilah meliputi usaha-usahanya pada perdamaian dengan Kristiani yang lain, dan bahkan dialog-dialog antar agama, satu contoh dari pengertian pribadi Yohanes Paulus akan harapan untuk mengatur hal-hal menjadi benar kembali adalah pengampunan yang ia tunjukkan bagi orang yang mencoba untuk membunuh dia di tahun 1981. Pada 13 Mei tahun itu, selagi memasuki Lapangan St. Peter untuk bertemu dengan yang hadir, seorang penembang dari Turki yang bernama Mehmet Ali Agca menembak Sri Paus, hampir membunuh dia. Pada tahun yang sama, dua hari setelah Natal, paus pergi ke penjara di mana orang yang akan membunuhnya tinggal dan mengadakan suatu percakapan dengan dia. Keduanya berbicara pelan-pelan dan sekali-kali, Agca tertawa, menurut Time. Paus memaafkan dia. Paus mencari perdamaian dengan berbagai cabang dari Kekristenan, termasuk Kaum Orthodox timur dan gereja Anglikan. Akan tetapi, keputusan Gereja Inggris untuk mentahbiskan wanita di tahun 1992 dan keputusan Episkopal untuk memilih uskup gay yang terbuka pada tahun 2004 mungkin telah merintangi usaha-usaha itu. Paus juga menggapai Yahudi, di depan umum meminta pengampunan Tuhan untuk penyiksaan Yahudi oleh orang Katolik sepanjang waktu. Di tahun 1993, Vatikan menetapkan hubungan diplomatik formal dengan Israel. Mengunjungi Israel bulan Maret 2000 ia berdiri di Bethlehem, tempat kelahiran Yesus. Ia juga berdiri pada suatu tempat yang memperlihatkan sungai Galilea yang dikatakan bahwa Yesus mengajarkan Kotbah di Atas Bukit. Dari perjalanan ke Yerusalem, Time mengatakan ia menulis, " Untuk pergi dalam roh doa dari satu tempat ke lain, dari satu kota ke yang lain, membantu kita tidak hanya untuk menghidupi kehidupan kita sebagai suatu perjalanan."

Itu " juga memberi kita suatu perasaan tentang Tuhan yang telah mendahului kita dan memimpin kita mengenal jalan manusia, Tuhan yang tidak meremehkan kita dari tempat tinggi, tetapi yang menjadi rekan perjalanan kita.

Hidup, Perjuangan dan Teladan Paus Yohanes Paulus II


27 10 2005

Narasumber: Pator Josef Kristianto, MSF dan Bapak Jimmy Yapianto; Host: Carolline Silka Wibowo dan Rocky Natio Pasaribu Rekan setia, seperti kita ketahui bersama bahwa almarhum Paus Yohanes Paulus II adalah salah satu sosok legendaris dunia. Beliau dikenal dengan perjuangannya melawan kekerasan atau peperangan. Sepanjang 26 tahun sebagai Paus, beliau telah menghasilkan banyak perubahan yang baik dan signifikan bagi umat Katolik sedunia dan muka bumi ini, yang sekarang kita nikmati sebagai warisan-warisannya. Silka: Bila kita kembali ke sejarah kepausan ini, siapa sebenarnya Paus yang pertama? Bisa ceritakan sedikit sejarah mengapa umat Katolik memiliki Paus? Romo:Paus pertama adalah Petrus. Petrus adalah kepala Para Rasul yang diangkat sebagai paus pertama oleh Yesus Kristus sendiri Silka: Baik, kembali ke sosok Paus Yohanes Paulus II, siapa sebenarnya beliau ini, Romo? Romo: Paus Yohanes Paulus II (nama asli: Karol Jzef Wojtya (dilafazkan sebagai: voi-TI-wa), lahir di Wadowice, Polandia pada tanggal 18 Mei 1920. sebagai seorang anak opsir pada Tentara Kekaisaran Habsburg Austria, yang juga bernama Karol Wojtya. Pada 1941, Karol sudah kehilangan ibunya, ayahnya dan kakak lelakinya. Masa kecilnya terpengaruh kontak intensif dengan komunitas Yahudi di Krakw, yang kala itu berkembang dan pengalaman buruk pendudukan Nazi. Semasa itu Karol bekerja di tambang batu dan pabrik kimia. Pada masa mudanya, Karol adalah seorang olahragawan, pemain sepakbola, pemain sandiwara, penulis sandiwara, dan menguasai bermacammacam bahasa. Ketika menjabat di kemudian hari, bahasa yang dikuasainya secara fasih adalah: Bahasa Polandia, Slovakia, Rusia, Italia, Perancis, Spanyol, Portugis, Jerman, dan Inggris, ditambah dengan pengetahuan akan Bahasa Latin Gerejawi.Nama panggilannya: Lolex Silka: Sejak kapan Karol Jzef Wojtya menjadi Pastor? Mengapa akhirnya dia memilih untuk menjadi Pastor? Romo: Karol Wojtya ditahbiskan sebagai pastor pada 1 November 1946 (usia 26 thn). Karol kala itu mengajar ilmu etika di Universitas Jagiellonian, Krakw dan kemudian di Universitas Katholik Lublin. Pada 1958 Karol diangkat menjadi uskup pembantu (auxiliary bishop (?)), Uskup Krakw dan empat tahun kemudian meneruskannya menjadi Uskup dengan gelar Vicar Capitular. Pada 30 Desember 1963, Paus Paulus VI mengangkatnya sebagai Uskup Agung (Archbishop (?)) Krakw. Sebagai uskup dan uskup agung, Wojtya ikut serta menghadiri Konsili Vatikan II, dan memberikan kontribusi pada dokumen-dokumen penting yang kelak menjadi Pernyataan tentang Kebebasan Beragama (Dignitatis Humanae) dan Konstitusi Pastoral tentang Gereja

dalam Dunia Modern (Gaudium et Spes), dua hasil utama Konsili, ditilik dari sudut pandang historis dan pengaruhnya. Rocky: Baik, masih dengan Romo Kris, bagaimana perjalanan karir Karol Wojtya di hierarki Gereja sampai akhirnya beliau terpilih menjadi Paus Yohanes Paulus II Romo: Pada 1967 Paus Paulus VI mengangkatnya menjadi Kardinal. Pada Agustus 1978, pada wafatnya Paus Paulus VI, Karol menghadiri konklaf Paus yang memilih Albino Luciani, Kardinal Venesia, sebagai Paus Yohanes Paulus I. Pada usia 65, Luciani bisa dikatakan masih muda sebagai Paus. Wojtya pada usia 58 masih bisa mengharapkan untuk menghadiri sebuah konklaf Paus lainnya sebelum mencapai usia 80 tahun (usia maksimal dalam mengikuti konklaf). Namun tidak dikira bahwa ternyata konklaf selanjutnya datang begitu cepat pada 28 September 1978, hanya 33 hari setelah menjabat, Paus Yohanes Paulus I wafat. Pada Oktober 1978 Wojtya kembali ke Vatikan untuk menghadiri konklaf kedua dalam waktu kurang dari dua bulan.Pada 16 Oktober 1978, pada usia 58, Wojtya meneruskan Paus Yohanes Paulus I. Pada pengumuman terpilihnya seorang Paus non-Italia dalam kurun waktu 455 tahun, banyak yang menyebutnya sebagai "sang pria dari negara yang jauh." Melihat usia, kewarganegaraan, dan kondisi kesehatan mantan olahragawan dan penulis skenario sandiwara ini, Karol memecahkan semua rekor Paus. Kelak Karol menjadi pemimpin Gereja Katholik Roma yang paling dominan dalam abad ke-20, melebihi Paus Paulus VI dalam perjalannya dan menurut beberapa orang bahkan melampaui kemampuan intelektual Paus Pius XII dan kharisma Paus Yohanes XXIII.Motto: M = Maria ; Totus Tuus = KepadaMu, ku abdikan segalanya Rocky: Romo, apa saja yang menjadi perjuangan Paus Yohanes Paulus II ini selama 26 thn kepemimpinannya? Romo: Paus Yohanes Paulus II diangkat pada usia 58 tahun pada tahun 1978. Dia adalah Paus non-Italia pertama sejak Paus Adrianus VI, yang menjabat untuk sesaat antara tahun 1522-1523. Dia memerangi komunisme, kapitalisme yang tak terkendali dan penindasan politik. Dia dengan tegas melawan aborsi dan membela pendekatan Gereja Katolik Roma yang lebih tradisional terhadap seksualitas manusia.Hari Perdamaian Sedunia = 1 JanuariPengampunan terhadap mereka yang mencelakakan dirinya = Mehmet Aqca (penembak Paus) Silka: Romo, bisa jelaskan sedikit, apa penyebab wafatnya Paus Yohanes Paulus II ini? Romo: Sang Paus telah didiagnosa dengan penyakit Parkinson sejak tahun 2001 sehingga pendengaran dan pergerakannya terbatas. Pada 31 Maret 2005, Paus terkena "demam tinggi yang disebabkan infeksi pada saluran uriner" namun tidak dibawa ke rumah sakit di Roma, karena keinginannya untuk meninggal di Vatikan. Pada hari yang sama, dia diberikan Sakramen Perminyakan oleh Gereja Katholik Roma, pertama kalinya sejak percobaan pembunuhan terhadapnya pada tahun 1981 oleh Mehmet Ali Aca, seorang ekstremis sayap kanan berwarganegara Turki dan berfaham fasisme.Keadaanya semakin memburuk hingga akhirnya dia meninggal pada 2 April pukul 19:37 UTC (03:37 WIB), pada usia 84 tahun. Sri Paus dimakamkan enam hari kemudian pada 8 April di Basilika St. Petrus.