Anda di halaman 1dari 7

Amelia Rahmawaty IR - 170210080069 UTS Hukum Diplomatik dan Konsuler 1. a.

Hukum Diplomatik ->Secara tradisional, hukum diplomatic digunakan untuk merujuk pada norma-norma hukum internasional yang mengatur tentang kedudukan dan fungsi misi diplomatic yang dipertukarkan oleh negara-negara yang telah membina hubungan diplomatic. Namun kini telah meluas karena hukum diplomatic sekarang bukan sekedar mencakup hubungan diplomatic dan konsuler antar negara, akan tetapi juga meliputi keterwakilan negara dalam hubungannya dengan organisasi-organisasi internasional. ->maka, pada hakikatnya pengertian hukum diplomatic adalah ketentuan atau prinsip-prinsip hukum internasional yang mengatur hubungan diplomatic antar negara yang dilakukan atas dasar permufakatan bersama dan ketentuan atau prinsip-prinsip tersebut dituangkan dalam instrumentintrument hukum sebagai hasil dari kodifikasi hukum kebiasaan internasional dan pengembangan kemajuan hukum internasional. b. hubungan diplomatic adalah pembentukan suatu hubungan antar negara yang dilakukan oleh misi diplomatic yang permanen; dibentuk berdasarkan kesepakatan bersama, tindakan pemerintah yang secara resmi terkait dengan negosiasi dan hubungan lainnya antar negara. c. hubungan konsuler hubungan konsuler memiliki pengertian yang sama dengan hubungan diplomatic. Namun, memiliki cakupan yang berbeda. Hubungan konsuler tidak memasukkan bidang politik seperti halnya hubungan diplomatic. Cakupan dari hubungan konsuler hanya hubungan ekonomi, perniagaan, kebudayaan, dan kepentingan ilmiah. 2. kedudukan kepala negara dalam hubungan diplomatic 1. sebagai pelaku diplomatic: dalam hubungan diplomatic hanya ada dua pelaku yaitu kepala Negara dan menteri luar negeri sebagai pelaku kedua hubungan diplomatic. 2. Mengangkat duta dan konsul 3. wakil suatu negara sehingga kebal dan menerima keistimewaan karena dianggap tidak berada diwilayah negara penerima, tidak tunduk kepada hukum dan segala peraturan negara penerima. Namun, kepala negara hanya diberi kekebalan ketika menjalankan tugas negara dan dia harus memberi

pemberitahuan dulu, jika tidak kekebalan akan hilang, akan tetapi, apabula ada pemberitahuan yang menyetujui, maka kekebalan kembali dimiliki. 4. sebagai pengangkat dan pengakreditasi kepala misi diplomatic (berdasarkan pasal 14 Konvensi Wina 1961). 5. Dianggap sebagai penghormatan akan bangsanya, begitu juga dengan penghinaan atau perlakuan lainnya. 6. orang yang menunjuk dan menentukan siapa yang menjabat sebagai Menlu. 7. Pemberi kekebalan kepada Menlu. 8. Memiliki hak prerogative untuk menerima dan menjamin duta, menyatakan perang dan damai, dan membuat perjanjian. 3. Kedudukan menlu 1. Pelaku diplomatic. Orang kedua setelah kepala negara dalam melakukan hubungan internasional dengan negara lain. 2. Summit Conference: Pendamping presiden ketika mendapat kunjungan dan sebagai wakil jika kepala negara berhalangan hadir yang mana kemudian fungsi kenegaraan akan dijalankan oleh menlu. 3. mengepalai, mengorganisasikan kementerian luar negeri. 4. pintu saluran-saluran informasi (penghubung atau liason): seluruh hubungan dengan dunia luar harus disalurkan dan melalui menlu. 5. Memiliki perlakuan istimewa (privilege), tetapi sistem protokolernya berbeda dengan kepala negara. 6. Menurut Hukum Internasional: - menlu adalah kepala dari semua duta-duta, konsul, dan lainnya yang bertugas di luar negeri (seperti special mission). -berwewenang mengadakan hubungan secara langsung atau melalui wakilwakil diplomatic di luar negeri dengan negara lain untuk melakukan perundingan, perjanjian, atau tukar pikiran. -jika kepala negara menerima surat kepercayaan (credential), menlu harus menghadiri upacara tersebut. 4. A. kebiasaan mengirim Duta I. Awal Istilah Duta Pada zaman India Kuno telah dikenal ketentuan ketentuan atau kaidahkaidah yang mengatur hubungan antarraja ataupun kerajaan, di mana hukum bangsa-bangsa pada waktu itu telah mengenal istilah duta. II. Mulai dilakukannya kebiasaan mengirim Duta -Yunani mulai menempatkan beberapa duta besarnya dan dipercayakan kepada Raja Pataliputra, India.

-Adanya pertukaran utusan antara Maharaja Ashoka dengan pemerintah di Negara-negara lain, seperti Syria, Macedonia, Cyprus, dan juga Mesir. III. Perjanjian Westphalia -Perjanjian Westphalia merupakan awal dari hubungan diplomatic karena sejak saat itu perwakilan-perwakilan diplomatic (legate) bersifat permanen. -Mulai diadakannya pengangkatan utusan diplomatic, diikuti dengan pengiriman dan dipercayakannya mereka ke Negara lain. B. Perlakuan terhadap Duta Duta harus dihormati dan diberikan keistimewaan (seperti imunitas yang bersifat inviolability) seperti halnya memandang kepala Negara atau Negara. Ketentuan mengenai keistimewaan dan kekebalan duta ini didasari oleh hukum kebiasaan yang mana dahulunya duta dianggap sebagai orang suci yang perlu dilakukan dengan istimewa, kemudian hal tersebut berlanjut sampai saat ini dan disahkan dalam Konvensi Wina mengenai Hubungan Diplomatik. 6. Teori Eksteritorialitas diartikan sebagai kepanjangan secara semu (quasi extentio) dari yurisdiksi suatu Negara di wilayah yurisdiksi Negara lain. didasarkan atas teori ekstrateritorial dalam kaitannya dengan premises (sebidang tanah dimana berdiri gedung-gedung Perwakilan Diplomatik atau Konsuler) di suatu Negara. Lingkungan wilayah di dalam premises tersebut dianggap seakan-akan merupakan wilayah tambahan dari suatu Negara. tempat-tempat yang menurut hukum internasional diakui sebagai wilayah kekuasaan suatu negara meskipun tempat itu berada di wilayah negara lain. Di wilayah itu pengibaran bendera negara yang bersangkutan diperbolehkan. Hak kebebasan diplomat terhdap daerah perwakilannya termasuk: -halaman bangunan serta perlengkapannya seperti bendera -lambang negara,surat surat dan dokumen bebas sensor,dalam hal ini polisi dan aparat keamanan tidak boleh masuk tanpa ada ijin pihak perwakilan yang bersangkutan Penerapan: gedung perwakilan diplomatik itu dianggap berada di luar wilayah negara penerima, atau dianggap sebagai bagian dari wilayah negara pengirim. Sehingga, menurut teori ini, seorang pejabat diplomatik menerima kekebalan dan keistimewaan itu adalah karena ia dianggap tidak berada di wilayah negara penerima. Oleh karena itu maka dengan sendirinya ia tidak tunduk kepada hukum dan segala peraturan negara penerima. Seorang

pejabat diplomatik itu dikuasai oleh hukum negara pengirim dan bukan hukum negara penerima. Kelemahan: 1. dianggap terlalu kaku dan diciptakan oleh kaum feodal eropa. 2. Tidak mungkin ada orang yang dapat berada di dua wilayah Negara sekaligus 3. Sulit untuk dilaksanakan 4. Kekebalannya bukan karena eksteritoriality, namun untuk dapat melaksanakan fungsi atau tujuan kenegaraan dengan baik (necessity). 7. Characteristic Teori ini meletakkan dasar pemberian kekebalan dan keistimewaan diplomatic itu pada sifat perwakilan seorang pejabat diplomatik, yakni bahwa seorang pejabat diplomatik itu adalah mewakili kepala negara atau negaranya. Penerapannya: diplomat dianggap cerminan dari kehadiran kekuasaan asing yang harus dihormati Negara lain sebagaimana Negara itu menghormati Negara aslinya. Maka, keberadaan pejabat diplomat sama halnya dengan kehadiran kepala Negara atau Negara aslinya sehingga perlu diberikan kekebalan dan hak istimewa. 8. Fungsional Menurut teori ini, kekebalan dan keistimewaan itu diberikan kepada seorang pejabat diplomatik adalah agar seorang pejabat diplomatik dapat melaksanakan tugasnya atau fungsinya dengan seluasluasnya dan sempurna. Penerapannya: diberikannya kekebalan yuridiksi dengan tujuan agar fungsi perwakilan diplomatic dapat dijalankan dengan baik. 9. Perbedaan Hukum diplomatic dan Konsuler. 1. Hukum Diplomatik fokus masalah politik antara negaranya dan Negara (bersifat politik), sedangkan hukum Konsuler fokus terhadap hal hal yang berhubungan dengan perekonomian antar negara dan negara tuan rumah (bersifat non politik). 2. Hukdip: mengatur terlaksananya kepentingan Negara dan rakyatnya di luar negeri, konsuler: mengatur perlindungan warga Negara di luar negeri. 3. Hukdip: mengurusi kepentingan Negara melalui hubungan tingkat pejabat pusat, konsuler: mengurusi kepentingan Negara melalui hubungan tingkat daerah

10. immunity (kekebalan) berarti kebal terhadap yuridiksi negara penerima, baik yuridiksi pidana maupun perdata atau sipil. Kekebalan dan keistimewaan diplomatic, menurut konv wina 1961 meliputi beberapa aspek penting: 1. kekebalan atas diri pribadi , yaitu mencakup: -hak mendapat perlindungan terhadap gangguan dari serangan atas kebebasan dan kehormatannya -keluarga seorang pejabat diplomatic -kebal terhadap alat kekuasaan Negara penerima -dari yurisdiksi sipil (perdata) dan criminal (pidana) -dari kewajiban menjadi sanksi 2. kantor perwakilan negara asing dan tempat kediaman wakil diplomatic, yaitu mencakup: -kekebalan gedung kedutaan, halaman -rumah kediaman yang ditandai dengan lambang bendera atau daerah ekstrateritorial. Bila ada penjahat atau pencari suaka politik masuk ke dalam kedutaan, maka ia dapat diserahkan atas permintaan pemerintah karena para diplomat tidak memiliki hak asylum, hak untuk memberi kesempatan kepada suatu negara untuk memberi kesempatan kepada warga negara asing untuk melarikan diri. 3. korespondensi; bahwa seorang pejabat diplomatik bebas untuk melakukan komunikasi yang dilakukan untuk tujuan-tujuan resmi dan tidak boleh dihalanghalangi oleh negara penerima melalui tindakan pemeriksaan atau penggeledahan. Kebebasan komunikasi ini bukan hanya berlaku dalam hubungan dengan negara pengirim tetapi juga dengan negara penerima dan juga dengan perwakilan diplomatik asing lainnya. Kekebalan ini mencakup: -dokumen -arsip -surat menyurat -termasuk kantor diplomatik dan sebagainya kebal dari pemeriksaan. Inviolability (tidak dapat diganggu gugat) berarti: 1.kebal terhadap alat-alat kekuasaan negara penerima dan kebal terhadap segala gangguan yang merugikan 2.tidak dapat ditangkap atau ditahan oleh alat perlengkapan negara penerima. Negara penerima mempunyai kewajiban untuk mengambil langkah-langkah demi menjaga serangan atas kehormatan pribadi pejabat diplomatik yang bersangkutan. Berbeda dengan immunity yang merupakan terhadap yuridiksi dari negara penerima, baik hukum pidana, perdata, maupun administratif.

11. keluarga diplomat juga memiliki kekebalan Sesuai dengan yang tertulis di Konvensi Wina 1961 mengenai hubungan diplomatic pasal 37 ayat 1, yaitu: Anggota-anggota keluarga agen diplomatik yang membentuk rumah tangganya, jika mereka ini bukan warga negara Negara penerima, mendapat hak-hak istimewa dan kekebalan hukum yang disebutkan di dalam Pasal 29 sampai 36. Ini berarti bahwa keluarga diplomat juga mendapat kekebalan hukum seperti: -tidak dapat diganggu gugat (inviolabel). Ia tidak dapat dipertanggungjawabkan dalam bentuk apapun dari penahanan atau penangkapan. -memiliki hak inviolable atas kediaman pribadi dan korespondensinya. - kebal dari yurisdiksi kriminil Negara penerima - Pembebasandaripajakagendiplomatik -Pembebasan dari bea cukai untuk misi diplomatik dan agen-agen dan keluarga mereka. Contoh kasus: Harris Sutresna ditangkap di flat Langford Close, Hackney, London, karena kedapatan memiliki narkoba kelas A. Jumlah narkoba cukup untuk mendakwanya sebagai pemasok narkoba. Namun semua tuduhan dibatalkan dan kasus ditutup karena ia seorang anak Dubes RI untuk Inggris, Nana Sutresna yang mana berarti ia memiliki kekebalan diplomatic. Keluarga Sutresna segera dipanggil pulang oleh pemerintah Indonesia tak lama setelah penangkapan tersebut. Analisis: Berdasarkan Konvensi Wina 1961, memang keluarga diplomatic juga mendapat kekebalan, Meski begitu, Inggris bisa mengajukan pencabutan kekebalan dalam kasus-kasus yang dinilai serius. Hal ini tidak diajukan oleh Kepolisian Inggris. Walaupun lolos dari penangkapan, konsekuensi dari kasus ini adalah pemulangan diplomat dan pencopotan jabatan sebagai seorang diplomat. 12. Berlakunya kekebalan diplomatic Kekebalan diplomatik dimulai sejak (menurut Oppenheimer-Lauterpact) : -Pemerintah negara penerima telah memberikan agreement pada sang calon dubes untuk diakreditasikan sebagai dubes di negara penerima. -Kedubes negara tersebut di negara pengirim telah memberikan visa diplomatic

-Kedatangan pertama dubes itu telah diberitahukan pertama kali pada kementrian luar negeri negara penerima. 13. masalah yang tidak termasuk dalam kekebalan diplomat: 1.Suatu perkara yang berhubungan dengan barang-barang tetap yang terletak di dalam wilayah Negara penerima, tanpa ia memegangnya itu untuk pihak Negara pengirim untuk tujuan-tujuan misi. 2.Suatu perkara yang berhubungan dengan suksesi di mana agen diplomatik termasuk sebagai eksekutor, administrator, ahli waris atau legate sebagai orang privat dan tidak untuk pihak Negara Pengirim. 3.Suatu perkara yang berhubungan dengan setiap kegiatan professional atau dagang yang dijalankan oleh agen diplomatik di dalam Negara penerima dan diluar fungsi resminya. 14. BERAKHIRNYA KEKEBALAN DIPLOMATIK Diplomat asing akan kehilangan kekebalan terhadap yurisdiksi, atau keleluasaan untuk menetap di negara penerima ketika tugas mereka dinyatakan telah berakhir. Namun Starke lebih menspesifikasikan secara detail kapan berakhirnya kekebalan diplomatic, yaitu: -Pemanggilan kembali dari negaranya. -Pemanggilan kembali atas permintaan negara penerima. -Penyerahan paspor pada wakil dan staf serta para keluarganya sang diplomat pada pecahnya perang kedua negara yang bersangkutan atau begitu selesainya tugas. -Berakhirnya surat kepercayaan yang diberikan dalam jangka waktu tertentu yang telah ditentukan dalam kepercayaan.