MATA KULIAH : KALKULUS II

TUJUAN :
Mahasiswa diharapkan dapat memahami dan memiliki pengetahuan serta
kemampuan terhadap materi-materi kalkulus II yang meliputi: konsep
integral, teknik pengintegralan, aplikasi integral, serta penerapannya dalam
berbagai masalah yang berkaitan.
Mahasiswa diharapkan memliki kemampuan mengidentifikasi, menganalisa,
dan memecahkan persoalan dari Kalkulus II yaitu: konsep integral, teknik
pengintegralan, aplikasi integral, dengan metode pemahaman teorema dan
berlatih dengan soal-soal yang berkaitan, sehingga nantinya mahasiswa
dapat memahami dan menguasai materi ini, dan selanjutnya dapat
mengaplikasikan konsep-konsep yang diterimanya dalam situasi yang paling
sederhana.
POKOK BAHASAN :
1. INTEGRAL TAK TENTU FUNGSI ALJABAR
Pengantar dan cakupan materi kalkulus II, pengertian konsep integral tak
tentu, aturan integral tak tentu fungsi aljabar
2. INTEGRAL TAK TENTU FUNGSI TRIGONOMETRI
Aturan integral tak tentu fungsi trigonometri, pangkat ganjil, genap, dan
kombinasi ganjil, genap
3. INTEGRAL SUBSTITUSI FUNGSI TRIGONOMETRI
Aturan integral subsitusi dengan fungsi trigonometri
4. INTERGRAL TAK TENTU PARSIAL, INTEGRAL TAK TENTU
RASIONAL
Aturan integral tak tentu parsial, aturan integral tak tentu rasional
5. INTEGRAL TENTU
Konsep dan aturan integral tentu
PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Selamet Riadi, ST.
KALKULUS II 1
6. APLIKASI INTEGRAL TENTU
Mencari luas daerah bidang rata, mencari panjang busur, aturan mencari luas
permukaan benda putar, aturan mencari volume benda putar , memakai
metoda kulit tabung, aturan mencari volume benda putar , memakai metoda
cakram, memakai metoda cincin
7. DIFERENSIAL PARSIAL
Aturan mencari titik ekstrim dan titik pelana, Fungsi beberapa peubah
(varoiabel), Aturan mencari diferensial parsial suatu fungsi
8. INTEGRAL LIPAT
Aturan mencari integral lipat
PUSTAKA:
1. purcell,Edwin J., Kalkulus jilid I, Erlangga, Jakarta, 2003
2. Leithold, Louise, Kalkulus dan geometri analitis Jilid 2, Erlangga, Jakarta,
1986

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Selamet Riadi, ST.
KALKULUS II 2
MODUL I
INTEGRAL TAK TENTU FUNGSI ALJABAR
Kalkulus adalah hasil perjuangan intelektual yang dramatik yang berlangsung
selama hampir dua ribu tahun, Menurut sejarah yang pertama kali menemukan ide
tentang integral adalah Archimides (287-212 sM), ia menggunakan ide itu untuk
menghitung luas daerah lingkaran ,luas daerah yang dibatasi parabola dan tali
busur. Kemudian dikuti oleh pemikir-pemikir penyumbang kalukulus lainnya , seperti
Issac Newton ( 1642-1716) penemu teorema dasar kalkulus , Gottfried Wilhelm
Leibniz (1646-1717) sang pencipta lambang-lambang diferensial dengan notasi
Leibniz, Gauss (1777-1855) penemu teorema dasar kalkulus, L’Hopila (1667-1704)
dengan metode penyelesaian limit tak tentu dengan turunan sekaligus sebagai
penulis buku tentang kalkulus yang pertama, George Friedrich Bernhard Rieman
dengan integral Riemannya yang memandang integral sebagai limit jumlah luas dan
masih banyak lagi tokoh-tokok lain .Pada intinya integral dapat ditafsirkan dalam
dua sudut pandang yaitu sebagai representasi geometri , integral sebagai limit
jumlah luas daerah dan integral sebagai operasi invers dari operasi turunan.
Perngertian Integral
Integral memiliki simbol
( ) ( ) dy y f atau dx x f
∫ ∫
, semua ini tergantung dari apa
yang kita cari. Integral disebut juga sebagai anti turunan. Hal ini disebabkan antara
turunan dan integral masih ada kaitan erat.
Operasi pendiferensialan adalah proses menentukan turunan dari suatu fungsi F’(x)
jika fungsi F(x) diketahui.
Menurut anda dapatkah fungsi F(x) ditentukan apabila fungsi F’(x) = f(x) diketahui ?
proses menentukan fungsi F(x) apabila F’(x) = f(x) diketahui merupakan invers dari
operasi pendeferensialan dan invers dari operasi pendiferensilan ini dinamakan
sebagai operasi pengintegralan
Untuk memahami hubungan antara operasi pengintegralan dengan operasi
pendiferensialan, tinjaulah :
Contoh 1.
Fungsi F(x) yang mempunyai turunan F’(x) = f(x) = 4x
3
. berbagai kemungkinan dari
bentuk fungsi F(x) dapat diperkirakan dengan menggunakan bantuan tabel
sebagaimana diperlihatkan pada tabel berikut.
PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Selamet Riadi, ST.
KALKULUS II 3
Pendiferensialan
F(x) F’(x) = f(x)
Pengintegralan
X
4
4x
3
X
4
+ 6 4x
3
X
4
+ 3 4x
3
X
4
– 4 4x
3
X
4
+ 10 4x
3
. .
. .
. .
X
2
+ C 4x
3
Catatan:
Proses pengerjaan dari kiri ke kanan merupakan operasi pendiferensialan,
sedangkan prosws pengerjaan dari kanan ke kiri merupakan operasi invers
pendiferensialan, yang dinamakan anti pendifensialan atau pengintegralan.
Sekarang kita dihadapkan pada pertanyaan penting. Apakah setiap anti turunan f(x)
= 4x
3
berbentuk F(x) = X
2
+ C ? Jawabannya adalah ya. Ini menurut salah satu
teorema turunan yang mengatakan bahwa dua fungsi dengan turunan sama hanya
berbeda dalam konstanta.
Kesimpulan kita adalah, jika suatu fungsi f mempunyai suatu antiturunan, fungsi itu
akan mempunyai keseluruhan keluarga dan setiap anggota dari keluarga ini dapat
diperolehdari salah satu diantara mereka dengan jalan menambahkan suatu
konstanta yang cocok. Keluarga fungsi ini kita namakan anti turunan umum dari f.
Notasi untuk Antiturunan
Notasi untuk antiturunan oleh beberapa penulis menggunakan Ax,
( ) C x x A
x
+ ·
3 2
3
1
tetapi notasi asal Leibniz ( ∫ ) makin lama makin populer, karenanya kita memilih
untuk mengikutinya. Ketimbang Ax Leibniz menggunakan lambang ∫ …dx. Ia
menuliskan
C x dx x + ·

3 2
3
1
Perhatikan bahwa
PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Selamet Riadi, ST.
KALKULUS II 4
( ) ( )
( ) ( ) C x f dx x f D
dan x f dx x f D
x
x
+ ·
·


Teorema A : Aturan pangkat
Jika r adalah sembarang bilangan rasional kecuali -1, maka
C
r
x
dx x
r
r
+
+
·
+

1
1
Bukti intuk mengembangkan suatu hasil berbentuk
( ) ( ) C x F dx x f + ·

Kita cukup menunjukkan
( ) [ ] ( ) x f C x F D
x
· +
Dalam kasus ini,
( )
r r
r
x
x x r
r
C
r
x
D · +
+
·
]
]
]

+
+
+
1
1
1
1
1
Kita akan membuat dua komentar mengenai Teorema A. Pertama, dimaksudkan
untuk mencakup kasus r = 0, yaitu:
C x dx f + ·

1
Kedua, karena tidak ada selang 1 yang dirinci, maka dipahami kesimpulan sahih
hanya untuk selang tempat x
r
terdedinisi. Secara khusus, kita harus mengecualikan
selang yang mengandung titik titik asal jika r < 0.
Dengan mengikuti leibniz, kita seingkali akan menggunakan istilah integral tak-
tentu sebagai ganti inti turunan. Anti diferensiasi juga berarti mengintegrasikan. Di
dalam lambang ( ) ∫

, dx x f disebut tanda integral dan f(x) disebut juga
integran. Jadi kita mengintegasikan integran dan karena itu mendapatkan integral
tak-tentu. Barangkali Leibniz menggunakan kata sifat tak-tentu sebagai pengingat
bahwa integrak tak-tentu selalu mencakup suatu konstanta sembarang.
Contoh:
Carilah antiturunan yang umum dari ( )
3 4
x x f ·
Penyelesaian
PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Selamet Riadi, ST.
KALKULUS II 5
C x
C
x
dx x
+ ·
+ ·

3 7
3 7
3 4
7
3
3 7
Perhatikan bahwa untuk mengintegrasikan suatu pangkat x kita perbesar pngkatnya
dengan 1 dan membaginya dengan pangkat yang baru.
Teorema B :
C x dx
C x dx x
+ ·
+ − ·


sin cos
cos sin
Bukti Cukup perhatikan bahwa
( ) x x D dan x x D
x x
cos sin sin cos · · −
Integral tak-tentu adalah Linear hal ini ditunjukkan pada teorema berikut:
Teorema C Integral tak-tentu adalah Operator Linear
Andaikan f dan g mempunyai antiturunan (integral tak-tentu) dan andaikan k suatu
konstanta. Maka:
( ) ( ) ( )
( ) ( ) ( ) [ ] ( ) ( )
( ) ( ) ( ) [ ] ( ) ( )
∫ ∫ ∫
∫ ∫ ∫
∫ ∫
− · −
+ · +
·
x g dx x f dx x g x f iii
akibatnya dan dx x g dx x f dx x g x f ii
dx x f k dx x kf i
;
Contoh:
Dengan menggunakan kelinearan ∫ , hitunglah
( )
( )
( ) , ` 1 )
, 14 3 )
, 4 3 )
2
2 3
2
dt t t c
du u u b
dx x x a



+
+ −
+
Penyelesaian;
PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Selamet Riadi, ST.
KALKULUS II 6
( ) ( ) ( )
( )
C x x
c x x
c
x
c
x
dx x dx x
dx x dx x dx x x a
+ + ·
+ + + ·

,
`

.
|
+ +

,
`

.
|
+ ·
+ ·
+ · +
∫ ∫
∫ ∫ ∫
2 3
2 1
2 3
2
2
1
3
2
2 2
2
4 3 2
2
4
3
3
4 3
4 3 4 3 )
Duan konstanta sebarang C1 dan C
2
muncul, tetapi dengan mudah
keduanya dapat digabung dalam suatu konstanta, C suatu hal yang
secara konsisten akan kita ikuti.
( )
C u u u
du du u du u du u u b
+ + − ·
+ − · + −
∫ ∫ ∫ ∫
14
2
3
3
2
1 14 3 14 3 )
2 2 5
2 3 2 3
C t
t
C
t t
dt t dt t
dt t t dt t
t
c
+ + − ·
+ +

·
+ ·
+ ·

,
`

.
|
+



∫ ∫
∫ ∫
2 3
2 3 1
2 1 2
2 1 2
2
3
2 1
2 3 1
) (
1
)
Aturan Pangkat yang Digeneralisir (Generalized Power Rule). Ingatlah kembali
aturan rantai yang diterapkan pada pangkat suatu fungsi. Jika u = g(x) adalah fungsi
yang dapat di diferensialkan dan r adalah suatu bilangan rasiona (r ≠ 1), maka
u D u
r
u
D
x
r
r
x
.
1
1
·
]
]
]

+
+
Atau dalam notasi fungsi,
( ) [ ]
( ) [ ] ( ) x g x g
r
x g
D
r
r
x
' .
1
1
·
]
]
]

+
+
Dari sini kita peroleh suatu aturan penting untuk integral tak-tentu.
PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Selamet Riadi, ST.
KALKULUS II 7
Teorema D Aturan pangkat yang digeneralisir
Andaikan g suatu fungsi terdefinisikan dan r r suatu bilangan rasionalyang bukan -1
maka
( ) [ ] ( )
( ) [ ]
C
r
x g
dx x g x g
r
r
+
+
·
+

1
'
1
Untuk menerapkan teorema D, kita harus mampu mengenali fungsi g dan g’ dalam
integran.
Contoh:
Hitunglah ( ) ( ) dx x x x

+ + 3 4 3
3
30
4
Penyelesaian:
Andaikan ( ) x x x g 3
4
+ · maka ( ) 3 4 '
3
+ · x x g . Jadi menurut teorema D,
( ) ( ) ( ) [ ] ( )
( ) [ ]
( )
C
x x
C
x g
dx x g x g dx x x x
+
+
·
+ · · + +
∫ ∫
31
3
31
' 3 4 3
30
4
31
30
3
30
4
Contoh di atas menunjukkan mengapa Leibniz menggunakan diferensial dx dalam
notasi ∫ …dx . jika kita tetapkan u = g(x), maka du = g’(x) dx. Kaena itu kesimpulan
dari teorema D,
1
1
1
≠ +
+
·
+

r C
r
u
dx u
r
r
Yaitu aturan pangkat yang biasa dengan u sebagai peubah. Jadi, aturan pangkat
yang digeneralisir hanyalah aturan pangkat biasa yang di terapkan pada fungsi.
Tetapi, dalam penerapannya, kita harus selalu yakin bahwa kita mempunyai du
bersama-sama dengan u’. Contoh berikut menggambarkan apa yang kita maksud.
PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Selamet Riadi, ST.
KALKULUS II 8
Contoh:
Hitunglah ( ) ( ) dx x x x

+ + 12 4 6
2
5
3
Penyelesaian:
Andaikan x x u 6
3
+ · maka ( )dx x du 6 3
2
+ · ,sehingga,
( ) ( ) du dx x dx x 2 6 3 2 12 6
2 2
· + · +
, dengan demikian
( ) ( )
( )
k
x x
c
u
c
u
du u
du u dx x x x
+
+
·
+ ·
]
]
]

+ ·
·
· + +


∫ ∫
3
6
2
3
6
2
2 12 4 6
5
3
6
6
5
5 2
5
3
PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Selamet Riadi, ST.
KALKULUS II 9

KALKULUS II 2 . 2003 2. Jakarta. Aturan mencari diferensial parsial suatu fungsi 8. purcell. mencari panjang busur. Fungsi beberapa peubah (varoiabel). Kalkulus dan geometri analitis Jilid 2. Louise. 1986 PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Selamet Riadi. Jakarta. aturan mencari volume benda putar . Kalkulus jilid I. ST. INTEGRAL LIPAT Aturan mencari integral lipat PUSTAKA: 1.Edwin J.. APLIKASI INTEGRAL TENTU Mencari luas daerah bidang rata. memakai metoda cakram.6. aturan mencari luas permukaan benda putar. Erlangga. memakai metoda cincin 7. DIFERENSIAL PARSIAL Aturan mencari titik ekstrim dan titik pelana. Leithold. Erlangga. aturan mencari volume benda putar . memakai metoda kulit tabung.

seperti Issac Newton ( 1642-1716) penemu teorema dasar kalkulus .luas daerah yang dibatasi parabola dan tali busur. Hal ini disebabkan antara turunan dan integral masih ada kaitan erat. L’Hopila (1667-1704) dengan metode penyelesaian limit tak tentu dengan turunan sekaligus sebagai penulis buku tentang kalkulus yang pertama. Menurut anda dapatkah fungsi F(x) ditentukan apabila fungsi F’(x) = f(x) diketahui ? proses menentukan fungsi F(x) apabila F’(x) = f(x) diketahui merupakan invers dari operasi pendeferensialan dan invers dari operasi pendiferensilan ini dinamakan sebagai operasi pengintegralan Untuk memahami hubungan antara operasi pengintegralan dengan operasi pendiferensialan. KALKULUS II 3 . Kemudian dikuti oleh pemikir-pemikir penyumbang kalukulus lainnya . Menurut sejarah yang pertama kali menemukan ide tentang integral adalah Archimides (287-212 sM). Integral disebut juga sebagai anti turunan. Gauss (1777-1855) penemu teorema dasar kalkulus. Operasi pendiferensialan adalah proses menentukan turunan dari suatu fungsi F’(x) jika fungsi F(x) diketahui. ST. George Friedrich Bernhard Rieman dengan integral Riemannya yang memandang integral sebagai limit jumlah luas dan masih banyak lagi tokoh-tokok lain .Pada intinya integral dapat ditafsirkan dalam dua sudut pandang yaitu sebagai representasi geometri .MODUL I INTEGRAL TAK TENTU FUNGSI ALJABAR Kalkulus adalah hasil perjuangan intelektual yang dramatik yang berlangsung selama hampir dua ribu tahun. PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Selamet Riadi. ia menggunakan ide itu untuk menghitung luas daerah lingkaran . integral sebagai limit jumlah luas daerah dan integral sebagai operasi invers dari operasi turunan. Gottfried Wilhelm Leibniz (1646-1717) sang pencipta lambang-lambang diferensial dengan notasi Leibniz. Fungsi F(x) yang mempunyai turunan F’(x) = f(x) = 4x3. berbagai kemungkinan dari bentuk fungsi F(x) dapat diperkirakan dengan menggunakan bantuan tabel sebagaimana diperlihatkan pada tabel berikut. tinjaulah : Contoh 1. Perngertian Integral Integral memiliki simbol ∫ f ( x ) dx atau ∫ f ( y ) dy . semua ini tergantung dari apa yang kita cari.

Ketimbang Ax Leibniz menggunakan lambang ∫ …dx. yang dinamakan anti pendifensialan atau pengintegralan. sedangkan prosws pengerjaan dari kanan ke kiri merupakan operasi invers pendiferensialan. Keluarga fungsi ini kita namakan anti turunan umum dari f. karenanya kita memilih untuk mengikutinya. ST. 4x3 tetapi notasi asal Leibniz ( ∫ ) makin lama makin populer. Ini menurut salah satu teorema turunan yang mengatakan bahwa dua fungsi dengan turunan sama hanya berbeda dalam konstanta. . jika suatu fungsi f mempunyai suatu antiturunan. . X2 + C Catatan: Proses pengerjaan dari kiri ke kanan merupakan operasi pendiferensialan. fungsi itu akan mempunyai keseluruhan keluarga dan setiap anggota dari keluarga ini dapat diperolehdari salah satu diantara mereka dengan jalan menambahkan suatu konstanta yang cocok. Sekarang kita dihadapkan pada pertanyaan penting. Ax ( x 2 ) = 1 3 x +C 3 F’(x) = f(x) 4x3 4x3 4x3 4x3 4x3 . Notasi untuk Antiturunan Notasi untuk antiturunan oleh beberapa penulis menggunakan Ax.Pendiferensialan F(x) Pengintegralan X4 4 X +6 X4 + 3 X4 – 4 X4 + 10 . Apakah setiap anti turunan f(x) = 4x3 berbentuk F(x) = X2 + C ? Jawabannya adalah ya. . . KALKULUS II 4 . Ia menuliskan 1 3 x +C 3 ∫x Perhatikan bahwa 2 dx = PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Selamet Riadi. Kesimpulan kita adalah.

∫ disebut tanda integral dan f(x) disebut juga integran. dimaksudkan untuk mencakup kasus r = 0.D x ∫ f ( x ) dx = f ( x ) dan ∫D x f ( x ) dx = f ( x ) + C Teorema A : Aturan pangkat Jika r adalah sembarang bilangan rasional kecuali -1. kita harus mengecualikan selang yang mengandung titik titik asal jika r < 0. Dengan mengikuti leibniz. maka dipahami kesimpulan sahih hanya untuk selang tempat xr terdedinisi. Pertama. kita seingkali akan menggunakan istilah integral taktentu sebagai ganti inti turunan. ST. karena tidak ada selang 1 yang dirinci. KALKULUS II 5 .  x r +1  1 Dx  + C = ( r +1) x r = x r r +1  r +1 Kita akan membuat dua komentar mengenai Teorema A. Contoh: Carilah antiturunan yang umum dari f ( x ) = x 4 3 Penyelesaian PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Selamet Riadi. Barangkali Leibniz menggunakan kata sifat tak-tentu sebagai pengingat bahwa integrak tak-tentu selalu mencakup suatu konstanta sembarang. Di dalam lambang ∫ f ( x) dx . Anti diferensiasi juga berarti mengintegrasikan. yaitu: ∫ f 1 dx = x +C Kedua. Jadi kita mengintegasikan integran dan karena itu mendapatkan integral tak-tentu. maka x r +1 ∫ x dx = r +1 + C r Bukti intuk mengembangkan suatu hasil berbentuk ∫ f ( x) dx = F ( x ) + C Kita cukup menunjukkan Dx [ F ( x ) + C ] = f ( x ) Dalam kasus ini. Secara khusus.

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Selamet Riadi. KALKULUS II 6 . ST. + t d . Maka: (i ) (ii ) (iii ) ∫kf ( x ) dx = k ∫ f ( x ) dx ∫[ f ( x ) + g ( x )] dx = ∫ f ( x ) ∫[ f ( x ) − g ( x )] dx = ∫ f ( x ) dx + dx ∫g ( x) − ∫g ( x) dx . t + 4 x ) dx . hitunglah ∫(3x b) ∫(u c ) ∫(1` t a) 2 3 2 2 − 3u + 14 ) du . dan akibatnya Contoh: Dengan menggunakan kelinearan ∫ . ) Penyelesaian.∫x 4 3 dx = x7 3 +C 7 3 3 73 x +C 7 = Perhatikan bahwa untuk mengintegrasikan suatu pangkat x kita perbesar pngkatnya dengan 1 dan membaginya dengan pangkat yang baru. Teorema B : ∫sin ∫cos x d = −co x + C x s d = sin x + C x Bukti Cukup perhatikan bahwa Dx ( − cos x ) = sin x dan Dx sin x = cos x Integral tak-tentu adalah Linear hal ini ditunjukkan pada teorema berikut: Teorema C Integral tak-tentu adalah Operator Linear Andaikan f dan g mempunyai antiturunan (integral tak-tentu) dan andaikan k suatu konstanta.

a) ∫ (3 x 2 + 4 x ) dx = ∫ (3 x 2 ) dx + = 3∫ x 2 dx ∫ ( 4 x ) dx + 4 ∫ x dx  x3   x2  = 3  3 + c1  + 4 2 + c 2         = x 3 + 2 x 2 + ( 3c1 + 4 2 ) = x3 + 2x2 + C Duan konstanta sebarang C1 dan C2 muncul. b) ∫(u 3 2 − 3u + 14 ) du = = ∫u 3 2 du − 3∫u du + 14 ∫1 du 2 52 3 2 u − u + 14 u + C 3 2 1 c) ∫  2 + t  t  dt  = = = ∫ (t ∫t −2 + t 1 2 ) dt dt + −2 ∫t 12 dt t −1 t3 2 + + C −1 32 1 2 + t3 2 + C t 3 = − Aturan Pangkat yang Digeneralisir (Generalized Power Rule). KALKULUS II 7 . g ' ( x )  r +1  Dari sini kita peroleh suatu aturan penting untuk integral tak-tentu. Jika u = g(x) adalah fungsi yang dapat di diferensialkan dan r adalah suatu bilangan rasiona (r ≠ 1). Ingatlah kembali aturan rantai yang diterapkan pada pangkat suatu fungsi. Dx u r +1  Atau dalam notasi fungsi. C suatu hal yang secara konsisten akan kita ikuti. [ g ( x ) ] r +1  r Dx   = [ g ( x ) ]. maka  u r +1  r Dx   = u . PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Selamet Riadi. tetapi dengan mudah keduanya dapat digabung dalam suatu konstanta. ST.

ST. aturan pangkat yang digeneralisir hanyalah aturan pangkat biasa yang di terapkan pada fungsi. jika kita tetapkan u = g(x). maka du = g’(x) dx. Tetapi. Kaena itu kesimpulan dari teorema D. Contoh berikut menggambarkan apa yang kita maksud. dalam penerapannya. KALKULUS II 8 . kita harus selalu yakin bahwa kita mempunyai du bersama-sama dengan u’. Jadi menurut teorema D.Teorema D Aturan pangkat yang digeneralisir Andaikan g suatu fungsi terdefinisikan dan r r suatu bilangan rasionalyang bukan -1 maka ∫ [ g ( x)] r g ' ( x ) dx = [ g ( x)] r +1 r +1 + C Untuk menerapkan teorema D. Jadi. kita harus mampu mengenali fungsi g dan g’ dalam integran. ∫u r dx = u r +1 +C r +1 r ≠1 Yaitu aturan pangkat yang biasa dengan u sebagai peubah. PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Selamet Riadi. ∫( x 4 + 3x ) 30 (4x 3 + 3) dx ∫(x 4 + 3x ) 30 (4x 3 + 3) dx = = ∫ [ g ( x)] 30 g ' ( x ) dx = 30 [ g ( x)] 31 31 + C (x 4 + 3x ) 31 + C Contoh di atas menunjukkan mengapa Leibniz menggunakan diferensial dx dalam notasi ∫ …dx . Contoh: Hitunglah Penyelesaian: Andaikan g ( x ) =x 4 + 3 x maka g ' ( x ) =4 x 3 + 3 .

ST. dengan demikian ∫(x 3 + 6 x ) ( 4 x 2 + 12 ) dx 5 = ∫ u 5 2 du = 2 ∫ u 5 du u 6  ∫  6 + c   6 u = + 2c 3 = = (x 3 + 6x) 3 5 +k PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB Selamet Riadi. (6 x 2 + 12 )dx =2 (3 x 2 + 6 )dx = 2 du . KALKULUS II 9 .Contoh: Hitunglah ∫( x 3 + 6 x ) ( 4 x 2 + 12 ) dx 5 Penyelesaian: Andaikan u = x 3 + 6 x maka du = (3 x 2 + 6 )dx .sehingga.