Anda di halaman 1dari 6

INVENTARISASI KELELAWAR (CHIROPTERA) DI SEKITAR SUNGAI DAN HUTAN, KAMPUNG CITALAHAB, KAWASAN TAMAN NASIONAL GUNUNG HALIMUN, BOGOR,

JAWA BARAT
Hana Lestari (3415072016), Hane Citera Sagita (3415076902), Rini Syafitri (3415070181), , Sahar Al Izzah D. (3425070191), Stefani Smita (3415076918), Tri Wahyuni (3415070180)

ABSTRAK Studi tentang kelelawar dilakukan pada tanggal 18-21 Juni 2009 di sekitar kawasan Taman Nasional Gunung Halimun (TNGH) Tujuan dari penelitian adalah untuk menginventarisasi jenis-jenis kelelawar(Chiroptera) yang terdapat di Taman Nasional Gunung Halimun (TNGH). Metode yang digunakan dalam peneltian ini adalah metode deskriptif dengan teknik menggunakan jaring kabut (mistnet). Mistnet yang digunakan yaitu sebanyak 2 unit dengan spesifikasi panjang 6 m, lebar 2.5 m dan lebar mata jaring (mesh) 30-32mm. Pemasangan mistnet dilakukan selama 2 malam dengan total effort 60 meter malam. Dari hasil studi didapat Sdua jenis kelelawar dari sub ordo Megachiroptera, yaitu Cynopterus sp. dan Macroglossus sobrinus. Kata kunci: Taman Nasional Gunung Halimun(TNGH), kelelawar(Chiroptera), jaring kabut. ABSTRACT The study about bat was carried out in 18-21 June 2009 surround the area of Gunung Halimun National Park. The study was aimed to get the Inventory of the Chiropteran in Gunung Halimun National Park. The method which was used is descriptive analysis with mistnetting technique. The specification of two mistnets trap are 6 m for the length, 2,5 m for the width, and 30-32 mm for the mesh width. Mistnetting was held for two night with 60 meters night as the total effort. The study had collected two species from the same Megachiropteran sub order; they are Cynopterus sp. and Macroglossus sobrinus. Keywords : Gunung Halimun National Park(GHNP), bat(Chiropteran), mistnet. PENDAHULUAN Taman Nasional Gunung Halimun (TNGH) secara administratif dikelilingi oleh tiga wilayah pemerintahan daerah, yaitu sebagian besar di wilayah Kabupaten Bogor, dan sebagian kecil masuk ke wilayah Kabupaten Sukabumi dan Lebak. Kawasan ini diresmikan sebagai Taman Nasional pada tahun 1992, berdasarkan SK Menteri Kehutanan no. 282/Kpts-II/1992 tanggal 26 Pebruari 1992. Luas areal mencapai 40.000 ha yang tersebar dari mulai ketinggian 600 hingga 1927 m dpl (Suyanto et al, 1997). Kawasan ini memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. Berdasarkan catatan Tim Ekspedisi Gunung Halimun-Pelabuhan Ratu (2005), di kawasan ini bermukim setidaknya, 16 jenis katak, 12 jenis kadal, 9 jenis ular, 77 jenis kupu-kupu, 27 jenis burung, 244 jenis burung. 4 jenis primata, 55 jenis mamalia besar, dan 37 jenis mamalia kecil, yang beberapa di antaranya adalah kelelawar, yang tergolong dalam ordo Chiroptera Data lainnya mengenai keanekaragaman jenis kelelawar juga pernah dilaporkan Suyanto (2004) dalam jurnalnya mengenai Keanekaragaman Mamalia di kawasan Penyangga (Buffer Zone), TNGH. Dari hasil penelitian tersebut, tercatat bahwa dari 16 jenis

mamalia kecil hasil koleksi, 10 jenis di antaranya adalah kelelawar. Kelelawar adalah hewan yang cukup berperan dalam pengendalian keseimbangan ekosistem, antara lain sebagai penyerbuk bunga tumbuhan bernilai ekonomi (petai, durian, bakau, kapuk randu dll.) dan pemencar biji khususnya bagi tanaman tropis seperti jambu air, jambu biji, kenari, keluwih, sawo, namnaman, duwet, cendana dll. Kelelawar membantu pemencaran biji tanaman tersebut dengan cara memakan buah tersebut, mengunyah untuk mengambil airnya, lalu membuang ampas dan bijinya ke tanah. Dengan demikian, biji pohon tersebut menjadi bersih dan siap tumbuh di lokasi di mana kelelawar menjatuhkannya. Selain itu, beberapa jenis kelelawar juga berperansebagai pengendali populasi serangga. Berdasarkan informasi yang didapat, studi tentang identifikasi penelitian mengenai iInventarisasi kelelawar di TNGH merupakan satu hal yang penting dilaksanakan karena melihat dari fungsi dan perannya sebagai penyerbuk dan pemencar biji.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh data/informasi mengenai jenis kelelawar yang ada di sekitar kawasan sungai dan hutan di kampung Citalahab, Taman Nasional Gunung Halimun, Bogor. METODE

a. Lokasi dan Mistnetting


Penelitian mengenai inventarisasi kelelawar di sekitar kawasan TNGH dilaksanakan pada tanggal 18- 20 Juni 2009. Pemasangan mistnet dilakukan pada pukul 16.00 WIB hingga pukul 05.30 WIB keesokan harinya. Kelelawar ditangkap dengan menggunakan kabut (mistnet) yang terbuat dari untaian rangkap benang nilon tipis dengan ukuran 6 x 2.5 m yang memiliki mesh (lebar mata jaring) 30-32 mm. Dua unit jaring kabut digunakan secara bergantian di dua titik setiap satu hari penelitian. Jaring tersebut dipasang pada ketinggian 3 m. Berikut ini deskripsi habitat tempat pemasangan mistnet, yaitu

Deskripsi Terletak di belakang lokasi perkemahan. Lokasinya terbuka, Pintu hutan (PH) dan di sekitarnya terdapat pohon yang sedang berbunga. I Sungai Citalahab I Lokasinya di dekat perkemahan, tepiannya terbilang curam, (SC I) dan dikelilingi oleh pepohonan yang tinggi Lokasinya di tengah hutan, terdapat pohon tepus dan Hutan tengah (HT) Cyathea di sekitarnya. 2 Lokasinya di dekat jembatan sebelum perkemahan, Sungai Citalahab II daerahnya terbuka, di sekitarnya terdapat pohon pisang (SC II) yang sedang berbuah. Lokasinya di dekat jembatan sebelum perkemahan, Sungai Citalahab II 3 daerahnya terbuka, di sekitarnya terdapat pohon pisang (SCII) yang sedang berbuah. Tabel 1. Lokasi tempat pemasangan mistnet

Hari

Lokasi

b. Pengawetan identifikasi

spesimen

dan telinga (E), panjang tubuh (HB), lengan bawah sayap (FA), betis (Tb), panjang kaki belakang (HF) dan ekor (T) sebagai data untuk mengidentifikasi sementara jenis yang diperoleh, kelelawar lalu diberi label dan direndam dalam wadah berisi alkohol(etanol) 70%, kemudian dipacking. Selanjutnya jenis-jenis

Kelelawar yang tersangkut jaring kemudian dipindahkan ke dalam kantong blacu sebagai tempat sementara sebelum dibunuh. Dari kantong blacu, kelelawar selanjutnya dimatikan dengan menyuntikkannya dengan kloroform kemudian dilakukan pengamatan mengenai ciri umum dan pengukuran morfometri meliputi panjang

kelelawar yang didapat diidentifikasi ulang di Lab Bioogi UNJ. HASIL Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada tanggal 18-20 Juni 2009 diperoleh hasil, 2 jenis kelelawar (5 individu) yang termasuk dalam sub ordo Megachiroptera, yaitu 4 individu Cynopterus brachyotis dan 1 individu Macroglossus sobrinus. Berikut sebaran jenis kelelawar yang terdapat di sekitar kawasan sungai dan hutan di desa Citalahab Taman Nasional Gunung Halimum (TNGH), yaitu :

Tabel 2. Ukuran koleksi kelelawar dari kawasan sungai dan hutan di Desa Citalahab, TNGH, Bogor. No 1. 2. 3. 4. 5. Spesies Cynopterus brachyotis. Cynopterus brachyotis Cynopterus brachyotis Cynopterus brachyotis Macroglossus sobrinus Kode H1 H2 H3 H4 H5 Sex W (gr) 40 20 10 25 8,5 Morfometri (mm) E 14, 8 14, 9 12, 5 16, 5 12, 7 HB 66, 1 74, 9 53, 4 59, 7 41, 3 FA 59,1 68, 5 56, 1 65, 1 45, 0 Tb 23, 0 22, 7 20, 8 22, 1 18,3 HF 14,3 19, 3 12, 3 15, 1 10, 5 T 6,8 6,5 7,7 8,5 Lokasi PH SC I SC II HT SC II

Catatan: E (Ear) = panjang telinga, dari pangkal sampai ujung daun telinga HB (Head-Body) = panjang badan dan kepala, dari anus sampai ujung hidung pada posisi terlentang lurus FA (First Arm) = panjang lengan bawah sayap, dari pangkal tulang hasta sampai ujung tulang hasta Tb (Tibia) = panjang betis, dari pangkal tulang betis sampai ujung tulang betis HF (Hind Feet) = panjang kaki belakang, dari ujung tumit sampai ujung jari terpanjang tanpa cakar T (Tail) = panjang ekor, dari pangkal sampai ujung ekor tanpa rambut atau dari anus ke ujung ekor tanpa rambut Secara umum ciriciri suku Pteropodidae antara lain mata besar, tidak memiliki tragus atau anti tragus pada telinganya, berperawakan menyerupai anjing, tonjolan geraham tumpul, jari sayap kedua umumnya bercakar, aktif pada maam hari, dan merupakan pemakan buah dan nektar. Cynopterus brachyotis memiliki ciri-ciri warna rambut keabu-abuan, pada beberapa spesies memiliki rambut coklat kemerahan di sekitar leher dan bahu sebagai penanda masa birahi. Ciri lainnya yaitu terdapat cakar pada jari sayap kedua, gigi seri atas dan bawah berjumlah empat buah, jarak antar gigi seri sebelah dalam tidak lebar, memiliki ekor, geraham atas berukuran sedang, moncong pendek, lengan bawah sayap berukuran 55-92 mm, serta memiliki hidung yang agak besar menyerupai tabung. Spesies lain yang kami temukan memiliki ciri-ciri warna rambut kecoklatan, lidah sangat panjang (dua kali panjang moncong) dan ramping, gigi seri atas dan bawah berjumlah empat buah, jarak antar gigi seri sebelah dalam sangat lebar, dan tidak berekor. Ciri lainnya yaitu memiliki telinga dengan panjang 1,3 cm, ukuran lengan bawah 4,7 cm, betis 1,2 cm, serta kaki

belakang 1,1 cm. Berdasarkan data-data tersebut, kami dapat menyimpulkan bahwa nama spesies individu ke-5 yang

kami temukan tersebut Macroglossus sobrinus.

ialah

PEMBAHASAN Suyanto (2001) melaporkan bahwa kelelawar pemakan buah (Megachiroptera) merupakan takson kunci dalam menjaga keseimbangan hutan tropik. Hasil penelitian menunjukan bahwa data kelelawar yang diperoleh dengan teknik penangkapan menggunakan jaring kabut (mistnet) di sekitar areal sungai dan hutan di lokasi perkemahan Desa Citalahab adalah sebanyak 2 spesies dari 5 individu yang tertangkap.

Tabel 3. Peranan kelelawar di kawasan sungai dan hutan di Desa Citalahab, TNGH, Bogor. No 1. 2. Jenis Cynopterus brachyotis Macroglossus sobrinus Nama Indonesia Codor krawar Cecadu pisang-besar Potensi Pemencar biji dan penyerbuk Penyerbuk

Sebagian besar jenis yang didapat didominasi oleh jenis Cynopterus brachyotis. Jenis Cynopterus brachyotis merupakan jenis kelelawar yang berperan sebagai penyerbuk dan pemencar biji. Kelelawar pemakan buah (frugivora) ini gemar mengkonsumsi buah beraroma kuat, seperti mangga, maupun buah apa saja yang ada di sekitar habitatnya. Umumnya C. brachyotis hanya mengambil sari buah yang dimakan lalu kemudian membuang biji dari daging buah yang telah dikunyah. Dengan cara itulah C. brachyotis membantu mendistribusikan tanaman secara alami. Berdasarkan jenis makanan dan cara makannya tersebut, maka dapat diketahui mengapa C. brachyotis mendominasi hasil penelitian, karena di sekitar lokasi pemasangan mistnet memang terdapat beberapa jenis tamanan yang sedang berbunga dan berbuah, antara lain Ficus sp. Dan Musa sp. Macroglossus sobrinus juga merupakan jenis yang berperan penting sebagai penyerbuk. Makanan M. sobrinus umumnya adalah serbuk sari dan nektar, khususnya pada bunga pisang. Dengan lidahnya yang panjang, ia mampu mengambil sari bunga dengan mudah. Nektar bunga pisang merupakan makanan utamanya, dan diketahui bahwa M. sobrinus dapat hidup hanya dari keberadaan dua-tiga pohon pisang liar. Karena intensitas perbungaan

pisang yang terbilang sering, maka otomatis makanan akan cukup untuk bertahun-tahun lamanya (Capizzo et al., 2009). Berdasarkan informasi tersebut, tak heran jika kami mendapatkan satu individu M. sobrinus karena di Sungai Citalahab II (SCII) yang menjadi lokasi penangkapan terdapat beberapa pohon pisang yang sedang berbunga dan matang. Jika hasil yang diperoleh dikaitkan dengan kondisi ekologis di areal pemasangan perangkap, hal tersebut dapat menunjukkan bahwa di lokasi plot tersebut banyak tersedia sumber pakan kelelawar, berupa buah-buahan, khususnya di sekitar sungai yang banyak terdapat pohon pisang yang sedang berbunga dan berbuah. Ketepatan pemilihan lokasi jebakan yang dekat dengan sumber pakan merupakan salah satu penyebab keberhasilan penangkapan kelelawar selain adanya faktor lain seperti estimasi bahwa lokasi tersebut adalah tempat pencarian sumber air bagi kelelawar (sungai) serta daerah lalu-lalang kelelawar yang baru keluar dari sarangnya (pintu hutan). Namun demikian, jumlah individu maupun spesies yang diperoleh relatif sedikit, hal tersebut disebabkan oleh waktu penelitian yang sangat terbatas, sehingga penentuan lokasi pemasangan perangkap yang lebih bervariasi untuk mendapatkan hasil yang lebih baik pun tidak dapat kami lakukan. Faktor cuaca

yang kurang mendukung serta minimnya intensitas waktu pengecekan mistnet juga menjadi kendala dalam perolehan hasil penelitian yang lebih baik. KESIMPULAN Jenis kelelawar (Chiroptera) yang terinventarisasi di areal sungai dan hutan sekitar perkemahan Kampung Citalahab, Bogor berjumlah 2 spesies dari 5 individu yang tertangkap, yaitu 4 individu Cynopterus brachyotis. dan satu individu Macroglossus sobrinus. Keberhasilan penangkapan kedua jenis kelelawar pemakan buah tersebut sangat erat kaitannya dengan kondisi ekologis di sekitar lokasi penelitian, sedangkan minimnya jumlah spesies yang diperoleh disebabkan oleh waktu penelitian yang terbatas, faktor cuaca, serta teknis penelitian yang kurang terorganisasi dengan baik. UCAPAN TERIMA KASIH Dalam pelaksanaan penelitian ini, kami memperoleh banyak sekali bantuan dari berbagai pihak, terutama dalam hal pemasangan jaring kabut (mistnet). Untuk itu, selain kepada Allah SWT serta kedua orang tua, kami juga mengucapkan terima kasih sebesarbesarnya kepada mentor dan asisten mentor, Kak Pandam Prasetyo dan Kak Juniarto Adiputra yang telah mengajarkan dan memberi arahan selama pra hingga pasca penelitian; kepada Kak Isnin Noer, Kak Mar Ali, Kak Adi Sutrisno, Insan Taufik, dan adik kami Agus; serta banyak pihak lainnya yang telah membantu menyukseskan penelitian ini yang tak dapat kami sebutkan satu persatu. Akhirnya, hanya rasa syukur yang dapat kami utarakan karena telah menyelesaikan penelitian ini dengan sebaik-baiknya. Semoga penelitian ini dapat memberikan pengalaman berharga serta manfaat bagi kita semua. Amin. DAFTAR PUSTAKA Capizzo, A., E. Etnyre and P. Myers. 2009. Macroglossus sobrinus (On-line), Animal Diversity Web.

http://animaldiversity.ummz.umich .edu/site/accounts/information/Ma croglossus_sobrinus.html. Telah diakses pada tanggal 2 Juni 2009 pukul 05 : 59 WIB. Dewey, T., K. Luzynski, E. Sluzas, M. Wallen and P. Myers. 2009. Pteropodidae (On-line), Animal Diversity Web. http://animaldiversity.ummz.umich.edu/site/acco unts/information/Pteropodidae.ht ml. Telah diakses pada tanggal 2 Juni pukul 06 : 02 WIB. Severson, K. 2002. Cynopterus brachyotis (On-line), Animal Diversity Web. http://animaldiversity.ummz.umich.edu/site/acco unts/information/Cynopterus_brac hyotis.html. Telah diakses pada tanggal 2 Juni pukul 05 : 53 WIB. Suyanto A dan G Semiadi. 2004. Keanekaragaman Mamalia di Daerah Sekitar Penyangga Taman Nasional Gunung Halimun, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Lebak. Berita Biologi. 7, 87-94. Suyanto A, M Yoneda, Maharadatunkamsi, MH Sinaga and Yusuf. 1997. The Inventory of Natural Resources in Gunung Halimun National Park. LIPI-JICA Bogor, 81-93. Suyanto A. 2002. Mamalia di Taman Nasional Gunung Halimun Jawa Barat. LIPI-JICA Bogor. Suyanto, A. 2001. LIPI-Seri Panduan Lapangan: Kelelawar di Indonesia. Bogor: Pusat Penelitian dan Pengembangan Biologi-LIPI. University of Michigan Museum of Zoology. 2008. Family Pteropodidae. http://www.animaldiversityweb.com telah diakses pada tanggal 3 Juni 2009 pukul 05.15 WIB. World Agroforestry Centre. 2005. Pedoman Lapangan Survey Cepat Keanekaragaman Hayati (Quick Biodiversity Survei). http://www.worldagroforestry.com/ san telah diakses pada tanggal 28 Mei 2009 pukul 23.30 WIB.