Anda di halaman 1dari 26

TUGAS AKHIR SEMESTER MANAJEMEN LABORATORIUM HASIL OBSERVASI PADA LABORATORIUM KIMIA SMA NEGERI 02 PONTIANAK Dosen : Rody

PS, S.Pd Mahwar Q, M.Si

NAMA KELOMPOK 1. EMI RULYATI (091710204) 2. ISRAWATI HASIBUAN (091710567) 3. NIA TRIANA (091710430) 4. NUR ANISSA (091710240) 5. SRI MURTINI (091710230)

PRORGAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONTIANAK 2011

LAPORAN OBSERVASI LABORATORIUM DI SMAN 2 PONTIANAK BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Laboratorium adalah suatu tempat dimana percobaan dan penyelidikan dilakukan. Dalam pengertian sempit laboratorium sring diartikan sebagai tempat yang berupa gedung yang dibatasi oleh dinding dan atap yang didalamnya terdapat sejumlah alat dan bahan praktikum. Dalam pembelajaran biologi laboratorium dapat berupa ruang terbuka atau alam terbuka misalnya kebun botani. Namun dalam tulisan ini pengelolaan laboratorium hanya dibatasi pada laboratorium berupa ruang tertutup yang ada di sekolah menengah ke atas. Dalam pendidikan Sains kegiatan laboratorium merupakan bagian integral dari kegiatan belajar mengajar, khususnya kimia. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya peranan kegiatan laboratorium untuk mencapai tujuan pendidikan sains. Woolnough & Allsop (dalam Nuryani Rustaman, 1995), mengemukakan empat alasan mengenai pentingnya prktikum sains. Pertama, praktikum membangkitkan motivasi belajar sains. Belajar siswa dipengaruhi oeh motivasi siswa yang termotivasi untuk belajar akan bersunguh-sungguh dalam mempelajari sesuatu. Melalui kegiatan laboratorium, siswa diberi kesempatan untuk memnuhi dorongan rasa ingin tahu dan ingin bisa. Prinsip ini akan menunjang kegiatan praktikum dimana siswa menemukn pengetahuan melalui eksplorasinya terhadap alam. Kedua, praktikum

mengembangkan keterampilan dasar melakukan eksperimen. Melakukan eksperimen merupakan kegiatan yang banyak dilakukan oleh para ilmuwan. Dengan kegiatan prktikum siswa dilatih untuk mengembangkan keterampilan dasar melakukan eksperimen dengan melatih kemampuan mereka dalam mengobservasi dengan cermat, mengukur secara akurat dengan alat ukur yang sederhana atau lebih canggih, menggunakan dan menangani alat secara aman, merancang, melakukan dan menginterprestasikan eksperimen. Ketiga, praktikum menjadi wahana belajar pendekatan ilmiah. Banyak para pakar pendidikan sains menyakini bahwa cara yang terbaik untuk belajar pendekatan ilmiah adalah dengan menjadikan siswa sebagai scientis. Beberapa pakar pendidikan mempunyai pandangan yang berbeda terhadap kegiatan praktikum, sehingga melahirkan beberapa metode dan model praktikum, seperti misalnya : model praktikum induktif, verifiksi, inkuari.. Di dalam kegiatan praktikum

menurut pandangan ini siswa bagaikan seorang scientist yang sedang melakukan eksperimen, mereka dituntut untuk merumuskan masalah, merancang eksperimen, merakit alat, melakukan pengukuran secara cermat, menginterprestasi data perolehan, serta

mengkomunikasikannya melalui laporan yang harus dibuatnya. Keempat, praktikum menunjang materi pelajaran. Dari kegiatan tersebut dapat disimpulkan bahwa prktikum dapat menunjang pemahaman siswa terhadap materi pelajaran.

1.2

Rumusan Masalah 1. Apakah pegertian laboratorium? 2. Apakah peranan dan fungsi laboratorium dalam pembelajaran sains ? 3. Bagaimanakah Fasilitas dalam laboratorium di SMA .N 2 PONTIANAK? 4. Bagaimanakah sarana dan prasarana dalam laboratorium di SMA N 2 PONTIANAK? 5. Bagaimanakah proses pelaksanaan praktikum dan laboratorium di SMA N 2 PONTIANAK? keselamatan kerja dalam

1.3

Tujuan 1. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apa sebenarnya laboratorium 2. Mengetahui peranan dan fungsi laboratorium di SMN 02 PONTIANAK ? 3. Mengetahui kelengkapan fasilitas standar sarana dan prasarana dalam laboratorium di SMAN 02 PONTIANAK 4. Mengetahui bagaimana proses dan pentingnya keselamatan kerja siswa dalam laboratorium 5. Mengetahui apakah laboratorium di SMAN 02 PONTIANAK sudah memenuhi standar yang telah ditetapkan oleh peraturan mentri pendidikan nasional No 24 tahun 2007 atau belum

1.4

Manfaat 1. Penelitian ini bermanfaat sebagai bahan pertimbangan untuk mengetahui betapa pentingnya laboratorium sebagai sarana pendukung dalam pembalajaran sains 2. Menyadari bahwa keselamatan kerja di dalam laboratorium sangat perlu diutamakan 3. Mengertii bahwa kelengkapan fasilitas baik alat maupun bahan sangat mempengaruhi dalam efektivitas belajar system praktikum di dalam laboratorium

BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Laboratorium Menurut Direktorat Pendidikan Menengah Umum (1995:7), Laboratorium adalah tempat melakukan percobaan dan penyelidikan. Tempat ini dapat merupakan suatu ruangan tertutup, kamar, atau ruangan terbuka, misalnya kebun. Dalam pengertian yang terbatas laboratorium ialah suatu ruangan yang tertutup tempat melakukan percobaan dan penyelidikan. Selain itu, menurut Widyarti (2005:1) Laboratorium adalah suatu ruangan tempat melakukan kegiatan praktek atau penelitian yang ditunjang oleh adanya seperangkat alat-alat Laboratorium serta adanya infrastruktur Laboratorium yang lengkap. Kemudian, menurut Wirjosoemarto dkk (2004:40) pada konteks proses belajar mengajar sains di sekolah-sekolah seringkali istilah Laboratorium diartikan dalam pengertian sempit yaitu suatu ruangan yang didalamnya terdapat sejumlah alat-alat dan bahan praktikum 2.2 Fungsi/Peranan Laboratorium Dalam Pembelajaran Menurut Wirjosoemarto dkk (2004: 44) fasilitas Laboratorium adalah sebagai berikut: laboratorium yang baik harus dilengkapi dengan berbagai fasilitas untuk memudahkan pemakaian laboratorium dalam melakukan aktivitasnya. Fasilitas tersebut ada yang berupa fasilitas umum dan fasilitas khusus. Fasilitas umum merupakan fasilitas yang dapat digunakan oleh semua pemakai Laboratorium contohnya penerangan, ventilasi, air, bak cuci (sinks), aliran listrik dan gas. Fasilitas khusus berupa peralatan dan mebelair, contohnya meja siswa/mahasiswa, meja guru/dosen, kursi, papan tulis, lemari alat, lemari bahan, ruang timbang, lemari asam, perlengkapan P3K, pemadam kebakaran dan lain-lain. Menurut Wicahyono (2003:30), untuk menentukan apakah suatu ruangan itu cocok atau tidak untuk dijadikan laboratorium, kita perlu memperhatikan beberapa hal seperti arah angin, dan arah datangnya cahaya. Apabila memungkinkan, ruangan Laboratorium sebaiknya terpisah dari bangunan ruangan kelas. Hal ini perlu untuk menghindari terganggunya proses belajar mengajar di kelas yang dekat dengan laboratorium akibat dari kegiatan yang berlangsung di laboratorium, baik suara atau bau yang ditimbulkan.

2.3 Standar Sarana dan Prasarana Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah (SMA/MA) A. SATUAN PENDIDIKAN

1. Satu SMA/MA memiliki minimum 3 rombongan belajar dan maksimum 27 rombongan belajar. 2. Satu SMA/MA dengan tiga rombongan belajar melayani maksimum 6000 jiwa. Untuk pelayanan penduduk lebih dari 6000 jiwa dapat dilakukan penambahan rombongan belajar di sekolah yang telah ada atau pembangunan SMA/MA baru.

B. LAHAN 1. Lahan untuk satuan pendidikan SMA/MA memenuhi ketentuan rasio minimum luas lahan terhadap peserta didik seperti tercantum pada Tabel 2.3.1 berikut ini:

Table Rasio Minimum Luas Lahan terhadap Peserta Didik

2. Untuk satuan pendidikan yang memiliki rombongan belajar dengan banyak peserta didik kurang dari kapasitas maksimum kelas, lahan juga memenuhi ketentuan luas minimum seperti tercantum pada Tabel 2.3.2 yaitu berikut ini:

3. Luas lahan yang dimaksud pada angka 1 dan 2 di atas adalah luas lahan yang dapat digunakan secara efektif untuk membangun prasarana sekolah berupa bangunan gedung dan tempat bermain/berolahraga. 4. Lahan terhindar dari potensi bahaya yang mengancam kesehatan dan

keselamatanjiwa, serta memiliki akses untuk penyelamatan dalam keadaan darurat. 5. Kemiringan lahan rata-rata kurang dari 15%, tidak berada di dalam garissempa dan sungai dan jalur kereta api. 6. Lahan terhindar dari gangguan-gangguan berikut. a. Pencemaran air, sesuai dengan PP RI No. 20 Tahun 1990 tentang Pengendalian Pencemaran Air. b. Kebisingan, sesuai dengan Kepmen Negara KLH nomor 94/MENKLH/1992 tcntang Baku Mutu Kebisingan. c. Pencemaran udara, sesuai dengan Kepmen Negara KLH Nomor 02/MEN KLH/1988 tentang Pedoman Penetapan Baku Mutu Lingkungan. 7. Lahan sesuai dengan peruntukan lokasi yang diatur dalam Peraturan Daerah tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota atau rencana lain yang lebih rinci dan mengikat, dan mendapat izin pemanfaatan tanah dari PemerintahDaerah setempat. 8. Lahan memiliki status hak atas tanah, dan/atau memiliki izin pemanfaatan dari pemegang hak atas tanah sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku untuk jangka waktu minimum 20 tahun.

C. BANGUNAN GEDUNG 1. Bangunan gedung untuk satuan pendidikan SMA/MA memenuhi ketentuan rasio minimum luas lantai terhadap peserta didik seperti tercantum pada Tabel

Table Rasio Minimum Luas Lantai Bangunan terhadap Peserta Didik

2. Untuk satuan pendidikan yang memiliki rombongan belajar dengan banyak peserta didik kurang dari kapasitas maksimum kelas, lantai bangunan juga memenuhi ketentuan luas minimum seperti tercantum pada Tabel berikut ini : Table Luas Minimum Lantai Bangunan

3. Bangunan gedung memenuhi ketentuan tata bangunan yang terdiri dari: a. koefisien dasar bangunan maksimum 30 %; b. koefisien lantai bangunan dan ketinggian maksimum bangunan gedung yang ditetapkan dalam Peraturan Daerah; c. jarak bebas bangunan gedung yang meliputi garis sempadan bangunan gedung dengan as jalan, tepi sungai, tepi pantai, jalan kereta api, dan/atau jaringan tegangan tinggi, jarak antara bangunan gedung dengan batas-batas persil, dan jarak antara as jalan dan pagar halaman yang ditetapkan dalam Peraturan Daerah. 4. Bangunan gedung memenuhi persyaratan keselamatan berikut. a. Memiliki struktur yang stabil dan kukuh sampai dengan kondisi pembebanan maksimum dalam mendukung beban muatan hidup dan beban muatan mati, serta untuk daerah/zona tertentu kemampuan untuk menahan gempa dan kekuatan alam lainnya. b. Dilengkapi sistem proteksi pasif dan/atau proteksi aktif untuk mencegah dan menanggulangi bahaya kebakaran dan petir.

5. Bangunan gedung memenuhi persyaratan kesehatan berikut. a. Mempunyai fasilitas secukupnya untuk ventilasi udara dan pencahayaan yang memadai. b. Memiliki sanitasi di dalam dan di luar bangunan gedung untuk memenuhi kebutuhan air bersih, pembuangan air kotor dan/atau air limbah, kotoran dan c. tempat sampah, serta penyaluran air hujan.

d. Bahan bangunan yang aman bagi kesehatan pengguna bangunan gedung dan tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan. 6. Bangunan gedung menyediakan fasilitas dan aksesibilitas yang mudah, aman, dan nyaman termasuk bagi penyandang cacat. 7. Bangunan gedung memenuhi persyaratan kenyamanan berikut. a. Bangunan gedung mampu meredam getaran dan kebisingan yang mengganggu kegiatan pembelajaran. b. Setiap ruangan memiliki temperatur dan kelembaban yang tidak melebihi kondisi di luar ruangan. c. Setiap ruangan dilengkapi dengan lampu penerangan.

8. Bangunan gedung bertingkat memenuhi persyaratan berikut. a. Maksimum terdiri dari tiga lantai. b. Dilengkapi tangga yang mempertimbangkan kemudahan, keamanan, keselamatan, dan kesehatan pengguna. 9. Bangunan gedung dilengkapi sistem keamanan berikut. a. Peringatan bahaya bagi pengguna, pintu keluar darurat, dan jalur evakuasi jika terjadi bencana kebakaran dan/atau bencana lainnya. b. Akses evakuasi yang dapat dicapai dengan mudah dan dilengkapi penunjuk arah yang jelas. 10. Bangunan gedung dilengkapi instalasi listrik dengan daya minimum 1300 watt. 1. Pembangunan gedung atau ruang baru harus dirancang, dilaksanakan, dan diawasi secara profesional. 1. Kualitas bangunan gedung minimum permanen kelas B, sesuai dengan PP No. 19 Tahun 2005 Pasal 45, dan mengacu pada Standar PU. 13. Bangunan gedung sekolah baru dapat bertahan minimum 20 tahun. 14. Pemeliharaan bangunan gedung sekolah adalah sebagai berikut. a. Pemeliharaan ringan, meliputi pengecatan ulang, perbaikan sebagian daun

jendela/pintu, penutup lantai, penutup atap, plafon, instalasi air dan listrik, dilakukan minimum sekali dalam 5 tahun. b. Pemeliharaan berat, meliputi penggantian rangka atap, rangka plafon, rangka kayu, kusen, dan semua penutup atap, dilakukan minimum sekali dalam 20 tahun.

1. Bangunan gedung dilengkapi izin mendirikan bangunan dan izin penggunaan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Ruang Laboratorium Kimia a. Ruang laboratorium kimia berfungsi sebagai tempat berlangsungnya kegiatan pembelajaran kimia secara praktek yang memerlukan peralatan khusus. b. Ruang laboratorium kimia dapat menampung minimum satu rombongan belajar. c. Rasio minimum ruang laboratorium kimia 2,4 m2/peserta didik. Untuk rombongan belajar dengan peserta didik kurang dari 20 orang, luas minimum ruang laboratorium 48 m2 termasuk luas ruang penyimpanan dan persiapan 18 m2. Lebar ruang laboratorium kimia minimum 5 m. d. Ruang laboratorium kimia memiliki fasilitas yang memungkinkan pencahayaan memadai untuk membaca buku dan mengamati obyek percobaan. e. Ruang laboratorium kimia dilengkapi sarana sebagaimana tercantum pada Tabel 4.9 Tabel 4.9 Jenis, Rasio, dan Deskripsi Sarana Laboratorium Kimia

Manajemen Keselamatan Kerja Proses produksi dengan mengoperasikan berbagai peralatan pada umumnya tidak sama sekali terbebas dari resiko bahaya. Hal ini harus mejadikan perhatian dari pihak manajemen dan unit-unit teknis dan secara khusus bertanggungjawab terhadap keselamatan kerja. Dengan demikian keselamatan kerja akan merupakan bagian yang selalu dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan dan penetapan kebijakan sehingga upaya pencegahan kecelakaan dan penyakit akibat kerja telah dimulai seja perencanaan. Pada setiap perusahaan diharuskan berdiri Panitia Pembinaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (P2K3), berdasarkan pada undang-undang nomor 1 tahun 1970. Dengan pendekatan demikian, maka diharapkan manajemen perusahaan mengambil sikap nyata yang mencakup: 1. mengidentifikasi setiap proses dan peralatan pengendalian kerugian sebagai sumber resiko bahaya, 2. mengestimasi rencana program pengendalian kecelakaan dan penyakit akibat kerja, 3. menyusun rencana program pengendalian kecelakaan dan penyakit akibat kerja, 4. menyusun sistem komunikasi yang diperlukan, dan 5. menyiapkan sarana dan peralatan beserta personil yang terlaith dan profesional. Manajemen keselamatan kerja harus mampu mencari dan mengungkapkan kelemahan operasional yang memungkinkan terjadinya penyakit akibat kerja dan kecelakaan. Kebijaksanaan manajerial yang dijabarkan dalam pelaksanaan operasional dengan tingkat

segi manajemen yang sangat esensial bagi kelangsungan proses produksi dan keselamatan kerja yang mengarahkan pada partisipasi semua pihak dalam sistem manajemen dan organisasi, akan dapat menciptakan suasana kerja yang nyaman sebagai landasa kuat untuk kontinuitas usaha dan pengaman investasi dalam pembangunan. Hiperkes dan keselamatan kerja haruslah dipandang sebagai upaya teknis manajerial yang sangat besar fungsi dan peranannya dalam: 1. Mengamankan investasi. 2. Memelihara kelestarian dan kontinuitas usaha. 3. Mengembangkah potensi ekonomi. 4. Meningkatkan manfaat perangkat produksi. 5. Memelihara dan meningkatkan daya produktivitas kerja dari tenaga kerja. Mutu sumberdaya manusia ditingkatkan melaui tiga jalur dalam peningkatan mutu pengetahuan dan ketrampilan, yaitu: 1. jalur pendidikan formal, 2. jalur latihan kerja, dan 3. jalur pengalaman kerja. Peningkatan kualitas sumber daya manusia tersebut sangat penting bukan saja untuk meningkatkan kemampuan kerja secara teknis operasional, akan tetapi juga kemampuan kerja secara aman serta kemampuan menciptakan kondisi dan lingkungan kerja yang aman da n sehat. Simbol Bahaya di Laboraturium

Simbol bahaya digunakan untuk pelabelan bahan-bahan berbahaya menurut Peraturan tentang Bahan Berbahaya (Ordinance on Hazardeous Substances). Peraturan tentang Bahan Berbahaya (Ordinance on Hazardeous Substances) adalah suatu aturan untuk

melindungi/menjaga bahan-bahan berbahaya dan terutama terdiri dari bidang keselamatan kerja. Arah Peraturan tentang Bahan Berbahaya (Ordinance on Hazardeous Substances) untuk klasifikasi, pengepakan dan pelabelan bahan kimia adalah valid untuk semua bidang,

area dan aplikasi, dan tentu saja, juga untuk lingkungan, perlindungan konsumer dan kesehatan manusia. Istilah bahan berbahaya adalah nama umum dan menurut hukum bahan kimia (kemikalia) (Chemicals Law) 19/2 didefinisikan sebagai Bahan berbahaya atau formulasi menurut hukum kemikalia (Chemicals Law) 3a, Bahan, formulasi dan produk dapat membentuk atau melepaskan bahan atau formulasi berbahaya selama produksi atau penggunaan, Bahan, formulasi dan produk bersifat mudah meledak Berikut adalah beberapa definisi yang dapat digunakan untuk memahami tentang masalah hukum : Bahan/zat adalah unsur atau senyawa kimia bagaimana terjadinya di alam atau diproduksi dengan cara sintesis (misalnya asbes, bromin, etanol, timbal, dll) Formulasi adalah paduan, campuran atau larutan dari dua bahan atau lebih (misalnya cat, larutan formaldehid dll) Produk adalah bahan/zat atau formulasi yang diperoleh atau terbentuk selama proses produksi. Sifat-sifat ini lebik menentukan fungsi produk daripada komposisi kimianya Bahan berbahaya yang didefinisikan di atas memiliki satu sifat atau lebih yang ditandai dengan simbol-simbol bahaya Simbol bahaya adalah piktogram dengan tanda hitam pada latar belakang oranye, kategori bahaya untuk bahan dan formulasi ditandai dengan simbol bahaya, yang terbagi dalam Resiko kebakaran dan ledakan (sifat fisika-kimia) Resiko kesehatan (sifat toksikologi) atau Kombinasi dari keduanya. Berikut ini dijelaskan simbol-simbol bahaya termasuk notasi bahaya dan huruf kode (catatan: huruf kode bukan bagian dari simbol bahaya) Inflammable substances (bahan mudah terbakar) Bahan mudah terbakar terdiri dari sub-kelompok bahan peledak, bahan pengoksidasi, bahan amat sangat mudah terbakar (extremely flammable substances), dan bahan sangat mudah terbakar (highly flammable substances). Bahan dapat terbakar (flammable substances) juga termasuk kategori bahan mudah terbakar (inflammable substances) tetapi penggunaan simbol bahaya tidak diperlukan untuk bahan-bahan tersebut.

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 HASIL PENELITIAN Hasil penelitian yang telah diperoleh selama obseravsi di SMA N 2 PONTIANAK disajikan pada tabel hasil penelitian berikut ini: Tabel Alat hasil penelitian pada LAB kimia SMA N 2 Pontianak Nama Alat Gelas Ukur 250 ml Gelas Ukur 100 ml Gelas Ukur 10 ml Gelas Ukur 1 liter Pipet Ukur 10 ml Pipet ukur 5 ml Pipet Volume 10 ml Pipa U Pipa Y Ph meter Kondensor Liebig Kondensor lurus Labu destilasi 500ml Labu destilasi 100ml Tabng Reaksi 30 ml Tutup Gabus kecil Tutup gabus besar Masker Sarung Tangan Buret Gelas Beaker 500 ml Gelas Beaker 200 ml Gelas Beaker 100 ml Gelas Beaker 50 ml Jumlah 2 buah 13 buah 12 buah 1 buah 10 buah 16 buah 8 buah 7 buah 16 buah 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah 12 buah 7 buah 3 kotak 2 kotak 16 buah 9 buah 4 buah 23 buah 8 buah Rak 8 Rak 3 Rak 2 Tempat Rak 1

Gelas Beaker 250 ml Gelas Beaker 1 liter Erlenmeyer 100 ml Erlenmeyer 125 ml Erlenmeyer 250 ml Erlenmeyer 500 ml Erlenmeyer 1 liter Plat tetes molymod structure Lumpang Besar Lumpang sedang Lumpang kecil Alu besar Alu kecil Krus Cawan porselen Pengayak sikat tabung besar sikat tabung kecil termometer 1000 C Termometer 1100C Tabung Reaksi Panjang Tabung Reaksi Pendek Tabung Reaksi kecil Tabung Reaksi besar Tabung Reaksi sangat kecil Pembakar spirtus Penjepit tabung kayu Penjepit tabung besi corong kaca Rak tabung reaksi Magnet batang

10 buah 1 buah 25 buah 22 buah 62 buah 1 buah 1 buah 27 buah 5 kotak 9 buah 1 buah 3 buah 5 buah 2 buah 8 buah 15 buah 11 buah 1 buah 8 buah 7 buah 14 buah 102 buah 12 buah 123 buah 2 buah 171 buah 19 buah 8 buah 12 buah 4 buah 12 buah 2 buah Rak 7 Rak 6 Rak 6 Rak 5 Rak 9 Rak 4

Sendok stainless Batang Pengaduk Panjang kawat nikrom spatula stainless spatula porselen Petridish Kaca Arloji kecil Kaca Arloji besar Labu Ukur 100 ml Labu Ukur 500 ml Labu Ukur 1 liter Kawat Kasa pipet tetes kecil Botol sempot Indikator universal kertas lakmus kaki tiga penjepit buret Neraca Ohaus

14 buah 15 buah 11 buah 3 buah 1 buah 154 buah 2 buah 50 buah 13 buah 2 buah 1 buah 17 buah 38 buah 3 buah Rak 8 Rak 9 Rak 7

12 buah 5 buah 7 buah

Tabel Alat hasil penelitian pada LAB kimia SMAN 02 Pontianak

Sodium Tartate Sodium fosfat Sodium Hidrogen Karbonat Sodium Hidroksida Sodium Oksalat Sodium Klorida Sodium Bromida Sodium Asetat Sodium Karbonat

3 2 4 2 2 2 1 1 2

Sodium Sitrat Sodium Sulfat Potasium Iodida Potasium bromoida Potasium ferrosianida Potasium permanganate Potasium hidroksida Potasium asetat Potasium klorida potasium dikromat potasium kromat Potasium tartate Ammonium ferrosulfat Ammonium sulfat Barium klorida Barium Hidroksida Besi klorida Magnesium klorida Asam sitrate asam kromat asam nitrat asam oksalat Alumunium sulfat Cupri sulfat Zink sulfat mangan sulfat Besi sulfat Besi (iii)oksida Cupri Oksida Asam asetat Asam salisilat Asam klorida

1 2 5 1 3 1 1 1 3 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 1 1 2 2 2 1 3 1 1 1 1 1 1

Besi klorida Ferro sulfat Magnesium Sulfat Natrium sulfat Natrium bisulfit Barium sulfat Mangan (IV)oksida Alumunium klorida Tembaga (ii)klorida Mangan Oksida Kobalt klorida Cuka makan(asam setat 5%) buffer solution ph 1 Buffer solution ph 3 Buffer solution ph 4 Buffer soluton ph 7 Buffer solution ph 9 Buffer solution ph 11 Marble chips Metil orange Iodin Bromtimol blue Metil Red Iodin Crystal Phenolpthalein alpa naftol Metil blue propanol 5% KI 0,5 M Pereaksi molisch Pb(NO3) 0,1 M Zink metal

1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 6 2 3 3 1 1 1 4 1 1 1 3 2 1 1 1 1 1 1 1 1

Ammonium H2SO4 Metanol HCl Etanol Kloroform Sulfur Spirtus Formalin Asam asetat glacial Karbon Aktif Glukosa Gliserin Air aki Vaselin Biuret Fehling Kalium Hidrokida Fehling A Fehling B Pereaksi Millon

2 1 3 2 2 1 1 2 1 1 4 1 2 3 1 1 1 1 1 1 1

3.2

PEMBAHASAN

Laboratorium adalah suatu tempat dimana percobaan dan penelitian dilakukan. Dalam pengertian sempit laboratorium sering diartikan sebagai tempat yang berupa gedung yang dibatasi oleh dinding dan atap yang didalamnya terdapat sejumlah alat dan bahan praktikum. Dalam pendidikan Sains kegiatan laboratorium merupakan bagian integral dari kegiatan belajar mengajar, khususnya kimia. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya peranan kegiatan laboratorium untuk mencapai tujuan pendidikan sains. laboratorium yang baik harus dilengkapi dengan berbagai fasilitas untuk memudahkan pemakaian laboratorium dalam melakukan aktivitasnya. Fasilitas tersebut ada yang berupa fasilitas umum dan fasilitas khusus. Adapun fungsi dan peranan laboratorium khususnya

untuk pembelajaran kimia adalah tempat berlangsungnya kegiatan pembelajaran secara praktek yang menggunakan alat khusus yang tidak mungkin dibawa ke dalam ruangan kelas. Dari hasil observasi yang telah diperoleh dapat di ketahui bahwa laboratorium kimia di SMAN 02 PONTIANAK sudah memenuhi standar berdasarkan standar sarana dan

prasarana yang telah ditetapkan oleh peraturan mentri pendidikan nasional No 24 tahun 2007. Hal ini dapat dilihat dari kelengkapan fasilitas mulai dari alat-alat dan bahan-bahan yang di perlukan pada saat akan melakukan praktikum. Dalam laboratorium kimia di SMAN 02 PONTIANAK ini persediaan alat dan bahan sangat banyak, terutama untuk persediaan bahan terlalu berlebihan. Sehingga banyak bahan yang terbuang dengan siasia karena sudah tidak layak digunakan atau kadaluarsa. Dari segi ruangan laboratorium SMAN 02 PONTIANAK saat ini cukup memadai yaitu dengan luas sekitar 100 m2 untuk rombongan peserta didik kurang dari 40 orang, karena telah diketahui bahwa standar ruangan praktikum berdasarkan peraturan mentri pendidikan nasional No.24 tahun 2007 yaitu Rasio minimum ruang laboratorium kimia 2,4 m2/peserta didik. Untuk rombongan belajar dengan peserta didik kurang dari 20 orang, luas minimum ruang laboratorium 48 m2 termasuk luas ruang penyimpanan dan persiapan 18 m2. Lebar ruang laboratorium kimia minimum 5 m. Dalam laboratorium SMAN 02 PONTIANAK hanya ada 2 ruangan khusus yaitu ruang utama atau ruang praktikum dan satu ruangan yang digunakan sebagai ruang penyimpanan sekaligus ruang persiapan. Ruang praktikum terdiri dari 1 buah meja demonstrasi, dan 8 buah meja kerja siswa yaitu masing-masing meja di isi tujuh buah kursi untuk siswa melakukan praktikum. Selain itu dalam ruang praktikum terdapat 4 buah bak pencucian yang mana 2 buah tidak dapat digunakan karena sudah rusak. Adapun untuk ruang penyimpanan sekaligus ruang persiapan didalamnya terdapat 4 buah lemari yaitu lemari penyimpanan alat, lemari penyimpanan bahan, lemari asam yang sudah rusak, dan lemari persiapan. Laboratorium SMAN 02 PONTIANAK ini terletak di dekat pemukiman penduduk sehingga memiliki instlasi yang sangat memadai seperti air, dan listrik. Instlasi listrik di perlukan untuk mengoperasikan peralatan dan penerangan pada saat praktikum. Sehingga jalannya praktikum dapat dilakukan dengan baik. Berdasarkan standar sarana dan prasarana laboratorium SMAN 02 PONTIANAK telah memenuhi standar berdasarkan standar sarana dan prasarana yang telah ditetapkan oleh peraturan mentri pendidikan nasional No 24 tahun 2007. Namun kurangnya kesadaran dari lembaga sekolah yang tidak memperhatikan perawatan dan kebersihan laboratorium menyebabkan laboratorium tidak terawat dengan baik. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya debu dalam ruangan, banyak terdapat barang -

barang yang tidak perlu di ruangan praktikum seperti hiasan dinding yang tidak ada hubungannya dengan laboratorium di ruang praktikum. Di ruang penyimpanan berserakan bahan-bahan yang sudah kadaluarsa yang di biarkan di lantai, seharusnya bahan -bahan yang sudah kadaluarsa tersebut di simpan dalam lemari khusus atau tempat khusus pembuangan bahan-bahan kimia yang sudah kadaluarsa. Bila dibiarkan berserakan dapat membahayakan. Keselamatan kerja di laborotorium kimia SMAN 02 PONTIANAK kurang mendapatkan perhatian dari pihak sekolah karena tidak terdapat perlengkapan keselamatan kerja seperti alat pemadam kebakaran dan label bahan kimia berbahaya sehingga kemungkinan terjadinya kecelakaan tidak dapat dicegah dengan cepat. Dalam melakukan kegiatan di

laboratorium,harus disadari bahwa dalam setiap kegiatan praktikum berpotensi menimbulkan dampak lingkungan dan kebakaran sehingga penting sekali aspek keselamatan kerja dan kesehatan untuk diperhatikan .

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 KESIMPULAN

1. Laboratorium adalah suatu tempat dimana percobaan dan penelitian dilakukan. Dalam pengertian sempit laboratorium sering diartikan sebagai tempat yang berupa gedung yang dibatasi oleh dinding dan atap yang didalamnya terdapat sejumlah alat dan bahan praktikum. 2. fungsi dan peranan laboratorium SMAN 02 PONTIANAK khususnya untuk pembelajaran kimia adalah tempat berlangsungnya kegiatan pembelajaran secara praktek yang menggunakan alat khusus yang tidak mungkin dibawa ke dalam ruangan kelas. 3. Fasilitas sarana dan prasarana dalam laboratorium di SMAN 02 PONTIANAK dapat dikatakan lengkap. 4. Keselamatan kerja di laborotorium kimia SMAN 02 PONTIANAK kurang mendapatkan perhatian dari pihak sekolah. 6. laboratorium di SMAN 02 PONTIANAK sudah memenuhi standar yang telah ditetapkan oleh peraturan mentri pendidikan nasional No 24 tahun 2007.

2.5

SARAN
y

Pihak sekolah seharusnya lebih memperhatikan perawatan dan kebersihan laboratorium.

Laboratorium SMAN 2 PONTIANAK seharusnya menyediakan tempat khusus untuk bahan bahan yang sudah tidak terpakai lagi.

Menyediakan label bahan kimia yang berbahaya untuk mencegah terjadinya kecelakaan seperti keracunan.

Pihak sekolah harus lebih memperhatikan perlengkapan keselamatan kerja dan kesehatan praktikan

DAFTAR PUSTAKA Ariskunto,S. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Rineka Cipta. Jakarta Arsyad,A. 2007. Media Pembelajaran. Rajawali Pres. Jakarta Sumamur,P. K. 1981. Keselamatan Kerja dan Pencegahan Kecelakaan. Biena Higeena. Jakarta Saiful,B. 1991. Pengetahuan Pencegahan dan Pemadaman Kebakaran. Erlangga. Jakarta.