Anda di halaman 1dari 123

Zanuriko NIM I 11106006 Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Tanjungpura Program Studi Pendidikan Dokter Pontianak

2011

Judul Penelitian
KARAKTERISTIK KASUS PASIEN PASCASEKSIO SESAREA DENGAN LAMA PERAWATAN LEBIH DARI LIMA HARI DI RSU DOKTER SOEDARSO PONTIANAK PERIODE 1 JANUARI31 DESEMBER 2009

Abstrak
Latar belakang: Pasien pascaseksio sesarea sebaiknya diperbolehkan pulang pada hari keempat atau kelima pascabedah jika tidak terdapat komplikasi selama masa puerperium. Tujuan: Mengetahui karakteristik kasus pasien pascaseksio sesarea dengan lama perawatan lebih dari lima hari di RSU Dokter Soedarso Pontianak periode 1 Januari31 Desember 2009. Metodologi: Penelitian deskriptif dengan pengumpulan data secara retrospektif dari rekam medis pasien. Hasil: Sampel yang didapatkan adalah 110 kasus. Kategori kasus dengan proporsi terbesar adalah lama perawatan 68 hari (75,4%); lebih rendah atau setingkat SMP/sederajat (76,4%); frekuensi ANC empat kali atau lebih (71,8%); nullipara (50,0%); indikasi seksio sesarea gawat janin (25,4%); seksio sesarea darurat (96,4%); shift kerja pagi dan sore (90,0%); insisi abdomen tipe longitudinal (52,7%); kadar Hb 6,68,1 gr/dl (27,3%); dan kategori ditemukan komplikasi (92,7%) dengan jenis terbesar adalah anemia pascabedah (72,7%). Rerata lama perawatan terpanjang didapatkan pada kategori kasus lebih rendah atau setingkat SMP/sederajat (7,85 2,52 hari); frekuensi ANC empat kali atau lebih (7,67 2,43 hari); nullipara (7,82 2,76 hari); seksio sesarea darurat (7,67 2,38 hari); shift kerja malam (8,18 2,36 hari); insisi abdomen tipe longitudinal (7,62 2,31 hari); dan kadar Hb 5,06,5 gr/dl (8,27 2,82 hari). Kesimpulan: Kategori kasus dengan proporsi terbesar adalah lama perawatan 68 hari; lebih rendah atau setingkat SMP/sederajat; frekuensi ANC empat kali atau lebih; nullipara; indikasi seksio sesarea gawat janin; seksio sesarea darurat; shift kerja pagi dan sore; insisi abdomen tipe longitudinal; kadar Hb 6,6 8,1 gr/dl; kategori ditemukan komplikasi dengan jenis terbesar anemia pascabedah. Rerata lama perawatan terpanjang didapatkan pada kategori kasus lebih rendah atau setingkat SMP/sederajat; frekuensi ANC empat kali atau lebih; nullipara; seksio sesarea darurat; shift kerja malam; insisi abdomen tipe longitudinal; dan kadar Hb 5,06,5 gr/dl. Kata Kunci : Pascaseksio sesarea, Lama perawatan lebih dari lima hari

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang
y

Angka kematian ibu (AKI) di Indonesia masih relatif tinggi:1,2,3


SDKI Tahun 2007= 228 per 100.000 kelahiran hidup. AKI di Kalbar tahun 2009 = 403 per 100.000 kelahiran hidup.

Diperlukan optimalisasi pelayanan kesehatan yang terpadu selama masa kehamilan, persalinan dan nifas. y Seksio sesarea juga perlu dioptimalkan.
y

Latar Belakang
y

Seorang pasien pascaseksio sesarea lebih aman bila diperbolehkan pulang pada hari keempat atau kelima pascabedah.8 Lama perawatan yang panjang bisa disebabkan adanya komplikasi pascabedah.8 Karakteristik kasus pasien dengan lama rawat inap lebih panjang berharga dalam upaya mengurangi morbiditas pascaseksio sesarea.

Latar Belakang
y

Penelitian di Medan tahun 2006:9


Lama perawatan: 68 hari (62,6%) Indikasi: disproporsi sefalopelfik (20,2%) Rencana operasi: darurat (86,9%) Insisi abdomen: Insisi longitudinal (66,7%) antibiotik setelah pembedahan (94,9%) Komplikasi: luka basah (48,5%)

Belum ada data dasar serupa di RSU Dokter Soedarso.

Rumusan masalah
Bagaimanakah karakteristik kasus pasien pascaseksio sesarea dengan lama perawatan lebih dari lima hari di RSU Dokter Soedarso Pontianak periode 1_Januari31 Desember 2009?

Tujuan
1.

Mengetahui distribusi proporsi kasus pasien pascaseksio sesarea dengan lama perawatan lebih dari lima hari di RSU Dokter Soedarso: y Lama perawatan y Tingkat pendidikan y Frekuensi Antenatal Care (ANC) y Status paritas y Indikasi seksio sesarea

Tujuan
1.

Mengetahui distribusi proporsi kasus pasien pascaseksio sesarea dengan lama perawatan lebih dari lima hari di RSU Dokter Soedarso: y Rencana seksio sesarea y Shift kerja y Jenis insisi abdomen y Kadar hemoglobin (Hb) y Komplikasi pascaseksio sesarea

Tujuan
2.

Mengetahui rerata lama perawatan pada kelompok kasus pasien pascaseksio sesarea dengan lama perawatan lebih dari lima hari di RSU Dokter Soedarso: y Tingkat pendidikan y Frekuensi ANC y Status paritas y Rencana seksio sesarea y Shift kerja y Jenis insisi abdomen y Kadar Hb

Manfaat
1. 2.

3.

Membantu upaya mengurangi morbiditas pascaseksio sesarea. Menambah khasanah ilmu pengetahuan di bidang obstetri dan sebagai salah satu upaya menerapkan Tri Darma Perguruan Tinggi. Menambah pengetahuan dan wawasan mengenai morbiditas pascaseksio sesarea dengan lama perawatan lebih dari lima hari dan mengenai tata cara melakukan penelitian deskriptif retrospektif dengan baik dan benar.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Definisi Seksio Sesarea


Suatu pembedahan untuk melahirkan janin melalui insisi pada dinding abdomen (laparatomi) dan dinding uterus (histerektomi).8

Epidemiologi Seksio Sesarea


Angka seksio sesarea pada tahun 2004:10 Amerika Serikat (29%), Inggris (22%), Jerman (25% ) dan Australia (29%). y Survei South East Asia-Optimising Reproductive and Child Health in Developing countries (SEA-ORCHID):11 Rerata angka seksio sesarea tahun 2005 di empat negara di Asia Tenggara adalah 27 %.
y

Prosedur Seksio Sesarea

Klasifikasi Seksio Sesarea


Seksio sesarea diklasifikasikan menjadi:14 y Seksio sesarea transperitoneal profunda y Seksio sesarea klasik y Histerektomi sesarea y Seksio sesarea vaginal y Seksio sesarea ekstraperitoneal

Insisi Dinding Abdomen


Insisi dinding abdomen:14
Insisi Longitudinal Insisi Transversal menurut Pfannenstiel

Indikasi Seksio Sesarea


Keberhasilan suatu proses persalinan dipengaruhi oleh bekerjanya empat faktor, yaitu: passenger, pelvic, power dan placenta.14 y Survei SEA-ORCHID: 10 Indikasi utama seksio sesarea utama tahun 2005 di empat negara Asia Tenggara adalah seksio sesarea sebelumnya (7%), disproporsi sefalopelfik (6,3%), malpresentasi (4,7%) dan gawat janin (3,3%).
y

Perawatan Pascabedah
Diperlukan untuk mencegah timbulnya komplikasi pascaseksio sesarea.8,21,22 y Perawatan pascabedah terutama meliputi perawatan luka insisi, pengelolaan nyeri dan pemberian antibiotik. 21,22 y Pengelolaan pemberian cairan, diet, kateterisasi dan mobilisasi pasien juga menjadi fokus perhatian selama pasien menjalani perawatan. 21,22
y

Komplikasi
Komplikasi tersering pascaseksio sesarea:14,27 y Infeksi y Perdarahan masa nifas Penyebab perdarahan tersering:27
atonia uteri plasenta akreta ruptur uteri

Kerangka Teori

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

Desain Penelitian
y

Penelitian ini merupakan sebuah penelitian deskriptif observasional dengan pengumpulan data secara retrospektif.

Kerangka Konsep

Tempat Penelitian
y

Tempat pelaksanaan penelitian ini adalah RSU Dokter Soedarso Pontianak.

Jadwal Penelitian
Waktu Nov Desember Januari Februari 2010 2010 2011 2011 Minggu keMar 2011

Kegiatan

3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 Penyusunan proposal Periode_1: Pengumpulan data Periode_2: Analisis data dan pelaporan

Populasi Penelitian
Populasi target : Semua kasus pasien yang menjalani perawatan pascaseksio sesarea di RSU Dokter Soedarso Pontianak selama lebih dari lima hari.
y

Populasi Penelitian
Populasi Terjangkau : Semua kasus pasien yang menjalani perawatan pascaseksio sesarea di Instalasi Rawat Inap Dokter Soedarso Pontianak selama lebih dari lima hari dan tercatat di Bagian Rekam Medis RSU Dokter Soedarso Pontianak selama periode 1 Januari31 Desember 2009
y

Sampel
y

Seluruh populasi terjangkau dengan memperhatikan kriteria inklusi dan kriteria eksklusi.

Besar Sampel
Besar sampel ditentukan berdasarkan Tabel Krejcie-Morgan. y Besar sampel minimal yang diperlukan agar hasil penelitian representatif untuk populasi berjumlah 120 dengan tingkat signifikansi 0,05 adalah 92.31
y

Cara Pemilihan Sampel


Tidak berdasarkan peluang (nonprobability sampling). y Semua subyek yang memenuhi kriteria penelitian selama periode waktu penelitian akan diikutsertakan dalam penelitian ini (consecutive sampling).32, 33
y

Kriteria Inklusi
1.

Kasus pasien yang menjalani perawatan pascaseksio sesarea di Instalasi Rawat Inap RSU Dokter Soedarso Pontianak selama > 5 hari dan tercatat di Bagian Rekam Medis RSU Dokter Soedarso Pontianak selama periode 1_Januari31 Desember 2009, dan Kasus pasien yang menjalani seksio sesarea di RSU Dokter Soedarso Pontianak selama periode 1 Januari31 Desember 2009.

2.

Kriteria Eksklusi
1. 2.

3.

Kasus pasien dengan catatan rekam medis yang tidak dapat ditemukan, atau Kasus pasien dengan catatan rekam medis yang tidak memuat data lengkap mengenai variabel yang diteliti, atau Kasus pasien yang pulang atas permintaan sendiri atau keluarga sedangkan ia belum dinyatakan layak pulang oleh dokter yang merawatnya.

Variabel Penelitian
1.

Lama perawatan:9
Enam sampai dengan delapan hari Sembilan sampai dengan sebelas hari Lebih dari sebelas hari

2.

Rerata lama perawatan

Variabel Penelitian
3.

Tingkat pendidikan:37
Lebih rendah atau setingkat SMP/sederajat:
x Tidak tamat SD x SD/sederajat x SMP/sederajat

Lebih tinggi dari SMP/sederajat:


x SMA/sederajat x Akademi atau perguruan tinggi

Variabel Penelitian
4.

Frekuensi ANC37
< 4 kali 4 kali

5.

Status paritas:8
Nullipara Primipara Multipara Grandemultipara

6.

Indikasi seksio sesarea

7.

Rencana seksio sesarea:19


Darurat Elektif

8.

Shift Kerja:38
Pagi dan sore Malam

Variabel Penelitian
y

Pengumpulan data dan Instrumen Penelitian


Data yang dikumpulkan pada penelitian ini berasal dari data sekunder yaitu rekam medis pasien. y Instrumen penelitian untuk pengumpulan data berupa lembar daftar pengecekan (check-list).
y

Pengolahan dan Penyajian Data


Tidak dilakukan analisis untuk mencari hubungan antarvariabel. y Data yang telah dikumpulkan diolah secara komputerisasi menggunakan perangkat lunak Statistical Product and Service Solutions (SPSS) 17.0 for Windows. y Data yang telah diolah disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi, diagram dan narasi.
y

Etika Penelitian
Peneliti meminta izin dari rumah sakit untuk pengambilan data. y Penelitian ini menekankan masalah etika yang meliputi anonymity dan confidentiality.41
y

BAB IVV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Alur Penelitian

Hasil Penelusuran Kasus

Karakteristik Subyek Penelitian

Karakteristik Subyek Penelitian

Rerata lama perawatan (7,61 2,36 hari)

Distribusi Proporsi

Penelitian Liza Novita tahun 2006 di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru: kategori 68 hari (62,6%)9
y

Pemberian antibiotik yang efektif untuk kasus infeksi ini dapat memperpendek lama perawatan karena komplikasi infeksi berpengaruh terhadap peningkatan signifikan lama perawatan inap di rumah sakit.14,16

y Penggunaan

antibiotik profilaksis telah menjadi standar pelayanan medis obstetri dan ginekologi di RSU Dokter Soedarso Pontianak sebagaimana menurut hasil survei SEA-ORCHID bahwa antibiotik profilaksis pada seksio sesarea telah diberikan secara menyeluruh di rumah sakit di Indonesia10

Distribusi Proporsi

Hal ini dapat disebabkan di antara pasien yang menjalani seksio sesarea di RSU Dokter Soedarso Pontianak, proporsi pasien dengan tingkat pendidikan tidak tamat SD/sederajat memang rendah

Hasil SDKI tahun 2007, wanita di Indonesia:1 46,0% wanita dalam umur reproduktif sedang menjalani atau telah menyelesaikan pendidikan menengah Kecenderungan paling kecil melahirkan dengan seksio sesarea adalah wanita dengan tingkat pendidikan tidak tamat SD/sederajat (2,37%)

Hasil SDKI Tahun 2007:1


wanita di Indonesia yang paling cenderung melahirkan dengan seksio sesarea adalah wanita dengan pendidikan tingkat menengah atas atau pendidikan yang lebih tinggi (13,1%)

Ezra Marisi Sinaga di RSUD Sidikalang pada tahun 2007: 35


SMA sejumlah 49,6%

Besarnya proporsi tingkat pendidikan lebih rendah dikarenakan:


rata-rata lama sekolah mayoritas perempuan di Kalimantan Barat pada tahun 2009 adalah 6,1 tahun atau setara dengan kelas satu SMP.2 tingkat pendidikan yang lebih rendah lebih berisiko untuk mengalami komplikasi sehingga lama perawatan lebih panjang.

Rerata Lama Perawatan

Pendidikan merupakan salah satu faktor demografi yang sangat berpengaruh terhadap kondisi kesehatan individu maupun masyarakat. 37 y Peningkatan tingkat pendidikan sejalan dengan peningkatan pendapatan dan sosioekonomi. Kelompok wanita yang mampu secara ekonomi menjadi lebih mudah dalam pemenuhan zat gizi dan mengakses pelayanan kesehatan. 37
y

Pengetahuan yang dipengaruhi tingkat pendidikan juga dapat menjadi salah satu faktor pencetus yang berperan penting dalam mempengaruhi keputusan seseorang untuk berperilaku sehat. y Hal-hal tersebut membuat wanita dengan tingkat pendidikan yang tinggi memiliki risiko komplikasi pascaseksio sesarea lebih rendah.19, 37
y

Distribusi Proporsi

Rerata Lama Perawatan

Tingginya proporsi kasus dengan frekuensi ANC yang lebih tinggi dapat dipengaruhi:
Persentase pasien yang menjalani seksio sesarea di RSU Dokter Soedarso Pontianak dengan frekuensi ANC empat kali atau lebih memang tinggi. Data Kemenkes RI: 85,45% ibu hamil di Indonesia dan 81,11% ibu hamil di Kalimantan Barat pada tahun 2009 telah mendapatkan ANC empat kali atau lebih.2

Peningkatan kesadaran ibu hamil setelah tenaga kesehatan menjelaskan ada komplikasi atau risiko komplikasi pada kehamilan dan persalinannya.
Data (Tabel 13): sebagian besar kasus komplikasi pascaseksio sesarea (92,7%) yang dapat disebabkan oleh komplikasi selama masa kehamilan. Komplikasi pada masa kehamilan dapat meningkatkan risiko komplikasi pascabedah yang selanjutnya memperpanjang lama perawatan.19

Faktor kualitas ANC

Distribusi Proporsi

Data SDKI Tahun 2007 menunjukkan wanita di Indonesia yang cenderung melahirkan dengan seksio sesarea adalah nullipara (9,00%). Jumlah ibu yang menjalani seksio sesarea menurut survei tersebut menurun seiring peningkatan status paritas.1

Belum ada pengalaman melahirkan maka kemungkinan terjadinya komplikasi persalinan cukup besar sehingga wanita nullipara harus menjalani seksio sesarea. y Wanita nullipara berisiko 3,4 kali lebih besar menjalani persalinan seksio sesarea darurat daripada wanita multipara dan grandemultipara.37
y

Rerata Lama Perawatan

Ezra Marisi Sinaga di RSUD Sidikalang Medan tahun 2007 juga menemukan rerata lama perawatan nullipara lebih panjang dibanding status paritas yang lain.
secara deskriptif: kecenderungan lama perawatan berbanding terbalik dengan tingkatan status paritas secara analitik: tidak ada perbedaan bermakna lama perawatan berdasarkan status paritas.35

Indikasi Seksio Sesarea

Distribusi Proporsi

y Liza

Novita pada tahun 2006 di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru: 9 tiga kelompok indikasi terbesar
disproporsi sefalopelfik (20,2%), perdarahan antepartum (16,2%) kelainan letak janin (14,1%).

Gawat janin dapat disebabkan oleh adanya ruptur uteri, solusio plasenta, kompresi umbilikus dan penyakit ibu seperti hipertensi, anemia dan penyakit jantung. Penyakit-penyakit tersebut dapat memperburuk kesehatan ibu14,15 y Perdarahan yang bisa disebabkan oleh solusio plasenta, plasenta previa dan vasa previa ini berpengaruh pada kadar Hb prabedah dan pascabedah sehingga memerlukan transfusi darah14,15
y

Distribusi Proporsi

Liza Novita pada tahun 2006 di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru mendapatkan bahwa proporsi kasus terbesar adalah seksio sesarea darurat (86,9%).9

Hadar et al pada tahun 2010 pada kasuskasus dengan perawatan lebih panjang: proporsi kasus seksio sesarea darurat lebih besar dibanding seksio sesarea elektif (20,0% berbanding 9,0%).7

Jumlah kasus rujukan di bidang layanan obstetri dan ginekologi di RSU Dokter Soedarso Pontianak pada tahun 2009 yaitu sejumlah 75,50%. 42 y Status RSU Dokter Soedarso Pontianak: Peraturan Gubernur Kalbar No. 71 Tahun 2008 adalah rumah sakit pusat rujukan tertinggi se-Kalimantan Barat.42
y

Tingginya kasus seksio sesarea darurat juga dapat dipengaruhi oleh kurangnya kemampuan pasien atau keluarga untuk segera mendapatkan pelayanan kesehatan. y Tingkat sosioekonomi dan keterjangkauan fasilitas kesehatan merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan tersebut.37
y

Sebagian besar berstatus sosioekonomi rendah:


Proporsi status pembiayaan Jamkesmas dan Jamkesda (57,3%) dan biaya sendiri disertai SKTM (32,7%). Riskesdas Tahun 2007: Kalbar merupakan salah satu dari 17 provinsi yang persentase penduduknya menggunakan Askeskin dan SKTM untuk pelayanan rawat inap lebih dari persentase nasional (persentase nasional adalah 14,3%).45

Keterjangkauan fasilitas

Rerata Lama Perawatan

Sibuea pada tahun 2007 di Medan: persentase kelompok dengan komplikasi berat atau operasi ulangan, perdarahan dan mendapat transfusi darah secara bermakna terbanyak pada kelompok seksio sesarea darurat dibanding persalinan pervaginam dan seksio sesarea elektif.19 y Benson dan Pernoll: komplikasi pascabedah lebih banyak terjadi setelah seksio sesarea darurat (sekitar 25%) dibanding setelah seksio sesarea elektif (sekitar 5%).14
y

Seksio sesarea darurat meningkatkan risiko komplikasi pascabedah secara keseluruhan 45 kali lipat (4,7% berbanding 24,2%) dan risiko morbiditas infeksi 56 kali lipat (4,1% berbanding 22,6%).7 y Komplikasi infeksi pascaseksio sesarea merupakan penyebab penting morbiditas maternal yang berhubungan dengan peningkatan signifikan lama rawat inap di RS43,44
y

Distribusi Proporsi

Hadar et al pada tahun 2010: 32,0% kasus pasien menjalani pembedahan saat shift malam.7 y Rendahnya proporsi kasus dengan kategori shift malam tidak berarti shift pagi dan sore lebih berisiko mengalami komplikasi pascaseksio sesarea. y Bailit et al pada tahun 2006 dan Hadar et al pada tahun 2010 menemukan tidak ada perbedaan bermakna jumlah komplikasi pascaseksio sesarea antara shift kerja malam dan shift kerja lainnya.7, 38
y

Rerata Lama Perawatan

Shift malam memiliki sleep deprivation yang jauh lebih tinggi dibanding shift lain. y Sleep deprivation berpengaruh buruk pada performa tenaga kesehatan yang terlibat langsung dalam tindakan seksio sesarea termasuk operator bedah38 dan selanjutnya meningkatkan risiko komplikasi pada seksio sesarea darurat.14
y

Jenis Insisi Abdomen

Distribusi Proporsi

Liza Novita di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru: kasus insisi longitudinal lebih banyak dibanding insisi transversal menurut Pfannenstiel (66,7% berbanding 33,3%).9

Masa penyembuhan yang diperlukan oleh insisi transversal menurut Pfannenstiel lebih singkat dibanding insisi longitudinal. y Insisi longitudinal juga berisiko delapan kali lipat lebih tinggi kejadian dehisensi dan infeksi luka pascabedah dibanding insisi transversal (2,94% berbanding 00,37%).14,16
y

Kebutuhan untuk melakukan operasi dalam waktu yang lebih singkat karena indikasi terbanyak adalah gawat janin (25,5%) dan disproporsi sefalopelfik (18,2%) sehingga insisi longitudinal lebih dipilih. y Insisi transversal menurut Pfannenstiel lebih sulit melahirkan bayi yang besar, sulit memperluas lapangan operasi dan membutuhkan waktu yang lebih lama.14
y

Rerata Lama Perawatan

Insisi longitudinal memiliki risiko dehisensi dan infeksi pascabedah yang lebih tinggi dibanding insisi transversal menurut Pfannenstiel.14,16 y Infeksi pascabedah tersebut bertanggungjawab atas peningkatan signifikan lama perawatan yang lebih panjang.43,44
y

Distribusi Proporsi

SKMenkes RI No.736a/Menkes/XI/1989: batas anemia (kadar Hb sebesar 11,00 gr/dl) y Hasil penelitian berdasarkan batas tersebut menunjukkan pasien pada sebagian besar kasus menderita anemia (berdasarkan mean kadar Hb kasus 8,58 gr/dl dan lebih dari 70,9% kasus memiliki kadar Hb di bawah batas 11 gr/dl).2,37,45
y

Komplikasi pascabedah terbanyak yang muncul yaitu anemia pascabedah (72,7%). y Perdarahan antepartum sebagai indikasi seksio sesarea yang terbanyak kedua (20,0%), kehilangan darah selama operasi, komplikasi perdarahan masa nifas (5,5%) dan dehisensi luka insisi (8,2%) yang disertai perembesan darah menjadi penyebab rendahnya kadar Hb tersebut.
y

Hal ini didukung oleh besarnya proporsi kasus seksio sesarea darurat (96,4%) (Tabel 9) dimana Hadar et al pada tahun 2010 melaporkan penurunan kadar Hb > 3,00 gr/dl secara bermakna lebih banyak terjadi pada kasus seksio sesarea darurat.7 y Riskesdas Tahun 2007: Kalbar merupakan salah satu dari 17 provinsi dengan rata-rata kadar Hb pada wanita dewasa lebih rendah dari rata-rata nasional (rata-rata nasional 13,00 gr/dl) dan 24,5% ibu hamil di Indonesia menderita anemia.2,45
y

Rerata Lama Perawatan

Kadar Hb mencerminkan kemampuan transportasi oksigen ke seluruh tubuh yang turut berperan dalam proses perbaikan jaringan luka. y Vinaya pada tahun 2009 di RSUD Dokter Moewardi Surakarta: ada hubungan bermakna antara kadar Hb dengan penyembuhan luka pascaseksio sesarea. 23 y Kadar Hb yang rendah berisiko penyembuhan lebih lama dan terjadi infeksi sehingga membutuhkan lama perawatan yang lebih panjang.23,28
y

10

Distribusi Proporsi

Distribusi Proporsi

Liza Novita pada tahun 2006 di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru, empat komplikasi terbesar: infeksi luka insisi (48,5%), dehisensi luka insisi (18,2%), febris (16,2%) dan hematuri (9,1%).9 Perbedaan hasil dapat disebabkan adanya variasi pada populasi yang berbeda.

Tingginya anemia pascabedah dapat disebabkan indikasi perdarahan antepartum (20,0%), komplikasi perdarahan masa nifas (5,5%) dan kehilangan darah selama operasi di antara kasus. y Hal ini didukung oleh besarnya proporsi kasus seksio sesarea darurat (96,4%) dimana Hadar et al pada tahun 2010 melaporkan penurunan kadar Hb > 3,00_gr/dl secara bermakna lebih banyak terjadi pada kasus seksio sesarea darurat.7
y

Kasus infeksi luka insisi yang tinggi dapat terjadi pada: persalinan dengan ketuban pecah lama, ibu menderita anemia, hipertensi, obesitas, gizi buruk, dan adanya penyakit lain seperti diabetes melitus dan keadaan sosioekonomi yang rendah.7,14 y Penelitian ini tidak dapat menggambarkan adanya kondisi-kondisi tersebut di antara kasus, namun rendahnya sosioekonomi dan kadar Hb dapat berperan.
y

Sosioekonomi yang rendah: besarnya proporsi status pembiayaan Jamkesmas dan Jamkesda (57,3%) dan biaya sendiri disertai SKTM (32,7%) serta tingkat pendidikan lebih rendah atau setingkat SMP/sederajat (76,4%) yang didominasi SD/sederajat (51,8%). y Kemiskinan menjadi hambatan besar dalam pemenuhan kebutuhan terhadap makanan yang sehat sehingga dapat melemahkan daya tahan tubuh yang dapat berdampak pada kerentanan untuk terserang penyakit.
y

Rendahnya kadar Hb prabedah ditunjukkan oleh hasil Riskesdas Tahun 2007 yang menunjukkan Kalbar merupakan salah satu dari 17 provinsi dengan rerata kadar Hb pada wanita dewasa lebih rendah dari ratarata nasional (rata-rata nasional 13,00 gr/dl) dan 24,5% ibu hamil di Indonesia menderita anemia.2,45

Distribusi Proporsi

Waktu munculnya komplikasi dapat mempengaruhi panjang lama perawatan namun penelitian ini tidak dapat menggambarkan kapan komplikasi tersebut muncul. y Hadar et al pada tahun 2010 : sebagian besar komplikasi terjadi pada empat hari pertama pascabedah. 7
y

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
y

Berdasarkan lama perawatan:


Proporsi terbesar: 68 hari (75,5%) Proporsi terkecil : > 11 hari (6,4%).

Berdasarkan tingkat pendidikan:


Proporsi terbesar : SMP/sederajat (76,4%) Proporsi terkecil : > SMP/sederajat (23,6%).

Berdasarkan frekuensi ANC:


Proporsi terbesar : empat kali atau lebih (71,8%) Proporsi terkecil : kurang dari empat kali (28,2%)

Kesimpulan
y

Berdasarkan status paritas Proporsi terbesar : nullipara (50,0%) Proporsi terkecil : grandemultipara (4,5%). Berdasarkan indikasi seksio sesarea proporsi terbesar: gawat janin (25,5%) proporsi terkecil (0,9%): karsinoma serviks, kondiloma akuminata genital, HIV/AIDS dan anak mahal. Berdasarkan rencana seksio sesarea proporsi terbesar : seksio sesarea darurat (96,4%) proporsi terkecil: seksio sesarea elektif (3,6%).

Kesimpulan
y

Berdasarkan shift kerja


proporsi terbesar : shift pagi dan sore (90,0%) proporsi terkecil: shift malam (10,0%)

Berdasarkan jenis insisi abdomen:


proporsi terbesar: insisi longitudinal (52,7%) proporsi terkecil: insisi transversal menurut Pfannenstiel (47,3%).

Berdasarkan kadar Hb
proporsi terbesar:kadar Hb 6,68,1 gr/dl (27,3%) proporsi terkecil: kadar Hb13,014,5 gr/dl (1,8%).

Kesimpulan
y

Berdasarkan ada tidaknya komplikasi: proporsi terbesar: ditemukan komplikasi (92,7%) proporsi terkecil : tidak ditemukan komplikasi (7,3%). jenis komplikasi: proporsi terbesar : anemia pascabedah (72,7%) proporsi terkecil (0,9%): retensi ani, inkontinensia uri, ileus obstruktif dan tromboflebitis. Rerata lama perawatan berdasarkan tingkat pendidikan: terpanjang: SMP/sederajat (7,85 hari) Terpendek: > SMP/sederajat (6,85 hari).

Kesimpulan
y

Rerata lama perawatan berdasarkan frekuensi ANC: terpanjang : empat kali atau lebih (7,67 hari) terpendek : kurang dari empat kali (7,45 hari). Rerata lama perawatan berdasarkan status paritas Terpanjang: nullipara (7,82 hari) terpendek : grandemultipara (6,40 hari). Rerata lama perawatan berdasarkan rencana seksio sesarea : terpanjang : seksio sesarea darurat (7,67 hari) terpendek : seksio sesarea elektif (6,00 hari).

Kesimpulan
y

Rerata lama perawatan berdasarkan shift kerja


terpanjang : shift kerja malam (8,18 hari) terpendek: shift kerja pagi dan sore (7,55 hari).

Rerata lama perawatan berdasarkan jenis insisi abdomen


terpanjang : insisi longitudinal (7,62 hari) Terpendek: insisi transversal menurut Pfannenstiel (7,60 hari).

Rerata lama perawatan berdasarkan kadar Hb


Terpanjang: kadar Hb 5,06,5 gr % (8,27 hari) Terpendek: kadar Hb 13,014,5 gr % (6,00 hari).

Saran
Penelitian selanjutnya diharapkan bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara faktor-faktor risiko dengan kejadian komplikasi atau lama perawatan pascaseksio sesarea. y Penelitian selanjutnya diharapkan bertujuan untuk membuktikan perbedaan rerata lama perawatan pascaseksio sesarea secara analitik.
y

Angka Seksio Sesarea

Angka Seksio Sesarea


RSU Dokter Soedarso Pontianak tahun 2009 adalah 664 berbanding 1.502 total persalinan atau sebesar 44,2%. y Angka seksio sesarea khusus pasien dari Kotamadya Pontianak di RSU Dokter Soedarso Pontianak tahun 2009 adalah 301 berbanding 1.502 total persalinan atau sebesar 20,0%.
y

Terima Kasih atas atensi Anda

Daftar Pustaka
1.

Statistics Indonesia and Macro International. Indonesia demographic and health survey 2007. Calverton: Statistics Indonesia and Macro International, 2008. Tersedia pada http://pdf.usaid.gov, diunduh pada tanggal 29 Agustus 2010. Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi Kementerian Kesehatan RI. Profil kesehatan Indonesia tahun 2009. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI, 2010. Tersedia pada_http://www.depkes.go.id, diunduh pada tanggal 7 Maret 2011. Dinas Kesehatan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat. Profil kesehatan Provinsi Kalimantan Barat tahun 2009. Pontianak: Dinas Kesehatan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, 2010. Tersedia pada http://www.dinkes.kalbar.go.id, diunduh pada tanggal 8 Oktober 2010. WHO-Indonesia. Indonesia progress report on the millenium development goals. Jakarta: WHOIndonesia, 2004.Tersedia pada http://www.undp.or.id, diunduh pada tanggal 29 Agustus 2010. Kolip P, Bchter R. Involvement of first-time mothers with different levels of education in the decision-making for their delivery by a planned caesarean section. Womens satisfaction with information given by gynaecologists and midwives. J Public Health 2009; 17:273280. Tersedia_pada_http://www.springerlink.com, diunduh pada tanggal 29 November 2010. Ahmad N, Mehboob R. A study of caesarean birth in a teaching hospital. Pakistan_J_Med_Res_2002;_41:_3._Tersedia_pada_http://www.pmrc.org.pk/caesarian.htm, diunduh pada tanggal 29 November 2010. Hadar E, Melamed N, Tzadikevitch-Geven K, Yogev Y. Timing and risk factors of maternal 41:17. complications of cesarean section. Arch Gynecol Obstet_2010; Tersedia_pada_http://www.springerlink.com, diunduh pada tanggal 29 November 2010.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

Daftar Pustaka
8.

Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, Hauth JC, Gilstrap LC, Wenstrom KD. Williams obstetrics. 22nd ed. San Fransisco:The McGraw-Hill Companies, 2007. Novita L. Tinjauan lama perawatan pasca seksio sesarea di Instalasi Rawat Inap Obstetri dan Ginekologi RSUD Arifin Achmad Pekanbaru periode 1 Januari31 Desember 2006. Riau: Universitas Riau, 2007. Skripsi. Tersedia pada http://www.garuda.dikti.go.id, diunduh pada tanggal 8 Desember 2010. Festin MR, Laopaiboon M, Pattanittum P, Ewens MR, Henderson-Smart DJ, Crowther CA. Caesarean section in four South East Asian countries: reasons for, rates, associated care practices and health outcomes. BMC Pregnancy and Childbirth 2009; 9:111. Tersedia pada http://www.springerlink.com, diunduh pada tanggal 6 Desember 2010. Ravindran J. Rising caesarean section rates in public hospitals in Malaysia 2006. Med J Malaysia 2008; 63: 434435.Tersedia pada http://www.e-mjm.org, diunduh pada tanggal 30 Agustus 2010. Mariana S. Sepuluh besar penyakit Ruang Nifas RSU Dokter Soedarso Pontianak tahun 2009. Pontianak: RSU Dokter Soedarso Pontianak, 2010. Angsar MD, Setjalilakusuma L. Seksio sesarea. Di dalam: Wiknjosastro H, Saifuddin AB, Rachimhadhi T, editor. Ilmu bedah kebidanan. Jakarta:Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, 2007. Pernoll ML. Kebidanan operatif. Di dalam: Benson RC, Pernoll ML, editor. Buku saku obstetri & ginekologi. Ed ke-9. Jakarta: EGC, 2009. Husodo L. Pembedahan dengan laparotomi. Di dalam:Winknjosastro H, editor. Ilmu kebidanan. Ed ke-3. Jakarta:Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, 2009. Bolla D, Schning A, Drack G, Hornung R.Technical aspects of the cesarean section. Gynecol Surg J 2010; 7:127132.Tersedia pada http://www.springerlink.com, diunduh pada tanggal 26 November 2010.

9.

10.

11.

12.

13.

14.

15.

16.

Daftar Pustaka
17.

Gardjito W. Pembedahan. Di dalam: Sjamsuhidayat R, Jong WD, editor. Buku ajar ilmu bedah. Ed ke-2. Jakarta: EGC, 2005. Nisenblat V, Barak S, Griness OB, Degani S, Ohel G, Gonen R. Maternal complications associated with multiple cesarean deliveries. Obstetrics & Gynecology 2006; 108: 2126. Tersedia pada http://journals.lww.com, diunduh pada tanggal 17 Desember 2010. Sibuea DH. Manajemen seksio sesarea emergensi; masalah dan tantangan. Disampaikan dalam pidato pengukuhan Jabatan Guru Besar Tetap dalam Bidang Ilmu Kebidanan dan Penyakit Kandungan pada Fakultas Kedokteran. Medan: Universitas Sumatera Utara, 2007. Tersedia pada http://www.usu.ac.id, diunduh pada tanggal 12 Juli 2010. Rahman MS, Gasem T, Al-Suleiman SA, Al-Jama FE, Burshaid S, Rahman J. Bladder injuries during cesarean section in a university hospital: a 25-year review. Arch Gynecol Obstet 2009; 279: 349352 Tersedia_pada_http://www.springerlink.com, diunduh pada tanggal 29 November 2010. Evans AT. Manual of Obstetrics. 7th Ed. Philadelphia: Lippincott William & Wilkins, 2007. Himatusujanah, Rahayuningsih FB. hubungan tingkat kepatuhan pelaksanaan protap perawatan luka dengan kejadian infeksi luka post sectio caesarea (SC) di Ruang Mawar I RSUD Dr. Moewardi Surakarta. Berita Ilmu Keperawatan, 2008; 1: 175180. Tersedia pada http://eprints.ums.ac.id, diunduh pada tanggal 5 September 2010. Boyle M. Pemulihan luka: Seri praktik kebidanan. Ed ke-1. Jakarta: EGC, 2009.

18.

19.

20.

21. 22.

23.

Daftar Pustaka
24.

Saifuddin AB, Wiknjosastro GH, Affandi B, Waspodo D, editor. Buku panduan praktis pelayanan kesehatan maternal dan neonatal. Ed ke-1. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, 2006. Rizki MT. Kejadian retensi urine dan Infeksi Saluran Kemih pasca seksio sesarea dan operasi ginekologi dengan kateter menetap 24 jam dan tanpa kateter. Medan: Universitas Sumatera Utara, 2009. Tesis. Tersedia pada http://repository.usu.ac.id, diunduh pada tanggal 29 November 2010. Bariah K. Efektifitas mobilisasi dini terhadap penyembuhan pasien pasca seksio sesarea di RSUD Dr. Pirngadi Medan tahun 2010. Medan: Universitas Sumatera Utara, 2010. Skripsi. Tersedia pada http://repository.usu.ac.id, diunduh pada tanggal 29 November 2010. Callahan TL, Caughey AB, Heffner LJ. Blueprints obstetrics and gynecology. 3rd Ed. Massachusetts: Blackwell Publishing, 2004. Vinaya RE. Hubungan kadar hemoglobin dengan penyembuhan luka post sectio caesarea (SC) di Ruang Mawar I RSUD Dr. Moewardi Surakarta. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2009. Skripsi. Tersedia pada http://eprints.ums.ac.id, diunduh pada tanggal 16 September 2010. Departemen Kesehatan RI. Buku acuan asuhan persalinan normal, asuhan esensial persalinan. Ed ke-3 rev. Jakarta: Jaringan Nasional Pelatihan Klinik-Kesehatan Reproduksi (JNPK-KR), 2007. RCOG. WHO systematic review of maternal mortality and morbidity: the prevalence of uterine rupture. BJOG 2005; 112: 12211228. Tersedia pada http://www.who.int, diunduh pada tanggal 24 Juli 2010.

25.

26.

27.

28.

29.

30.

Daftar Pustaka
31.

Setiawan N. Penentuan ukuran sampel memakai Rumus Slovin dan Tabel KrejcieMorgan: telaah konsep dan aplikasinya. Bandung: Universitas Padjajaran, 2007. Tersedia pada http://pustaka.unpad.ac.id, diunduh pada tanggal 12 Agustus 2010. Castillo JJ. Non-probability sampling. 2009. Tersedia pada http://www.experimentresources.com, diunduh pada tanggal 11 Desember 2010. Sastroasmoro S. Kesalahan metodologis dalam penelitian kedokteran, dalam: Sastroasmoro S, Ismael S, editor. Dasar-dasar metodologi penelitian klinis. Ed ke-3. Jakarta: Sagung Seto, 2010. Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur. Definisi operasional standar pelayanan minimal bidang kesehatan di kabupaten/kota Propinsi Jawa Timur. Surabaya: Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur, 2004. Tersedia pada http://www.dinkesjatim.go.id, diunduh pada tanggal 28 Agustus 2010. Sinaga EM. Karakteristik ibu yang mengalami persalinan dengan seksio sesarea yang dirawat inap di Rumah Sakit Umum Daerah Sidikalang tahun 2007. Medan: Universitas Sumatera Utara, 2009. Skripsi. Tersedia pada http://repository.usu.ac.id, diunduh pada tanggal 4 November 2010. Notoatmodjo S. Metodologi penelitian kesehatan. Ed rev. Jakarta: Rhineka Cipta, 2003. Kusumawati Y. Faktor-faktor risiko yang berpengaruh terhadap persalinan dengan tindakan (studi kasus di RS dr. Moewardi Surakarta). Semarang: Universitas Diponegoro, 2006. Tesis. Tersedia pada http://eprints.undip.ac.id, diunduh pada tanggal 28 September 2010.

32.

33.

34.

35.

36. 37.

Daftar Pustaka
38.

Bailit JL, Landon MB, Thom E, Rouse DJ, Spong CY,Varner MW, et al. The MFMU cesarean registry: impact of time of day on cesarean complications. Am J Obstet Gynecol 2006; 195: 11321137. Tersedia pada http://www.ncbi.nlm.nih.gov, diunduh pada tanggal 23 Februari 2011. Machfoedz I. Statistik deskriptif dengan contoh-contoh kesehatan masyarakat. Ed rev. Yogyakarta: Fitramaya, 2006. Markam S, Laksman H, Ganiswara S. Kamus kedokteran. Ed ke-4. Jakarta: FKUI, 2004. Setiawan A, Saryono. Metode penelitian kebidanan DIII, DIV, S1 dan S2. Yogyakarta: Nuha medisa, 2010. RSU Dokter Soedarso. Laporan tahunan Rumah Sakit Umum Dokter Soedarso tahun 2009. Pontianak: RSU Dokter Soedarso, 2010. Yildirim G, Gungorduk K, Guven HZ, Aslan H, Celikkol , Sudolmus S, et al. When should we perform prophylactic antibiotics in elective cesarean cases? Arch Gynecol Obstet 2009; 280: 1318. Tersedia pada http://www.springerlink.com, diunduh pada tanggal 29 November 2010. Smaill F, Hofmeyr GJ. Antibiotic prophylaxis for cesarean section (review). Cochrane Database of Systematic Reviews 2002; 3: 161. Tersedia pada http://apps.who.int, diunduh pada tanggal 23 Juli 2010. The National Institute of Health Research and Development. Report on result of National Basic Health Research (Riskesdas) 2007. Jakarta: Ministry of Health Republic of Indonesia, 2008. Tersedia pada http://www.litbang.depkes.go.id, diunduh pada tanggal 16 Oktober 2010.

39.

40. 41.

42.

43.

44.

45.

Terima Kasih