Anda di halaman 1dari 12

Bab 5

Osiloskop
A. PENDAHULUAN
Pokok Bahasan :
Operasi Dasar CRO Kontrol siloskop Pengukuran Tegangan, frekuensi dan fasa Pengukuran Pulsa Gambar Lissajous

Tujuan Belajar :
Setelah mempelajari materi dalam bab ini, mahasiswa diharapkan mampu: Mahasiswa mampu menjelaskan tentang operasi dasar CRO Mahasiswa mampu menjelaskan tentang Kontrol siloskop Mahasiswa mampu menjelaskan tentang Pengukuran Tegangan, frekuensi dan fasa Mahasiswa mampu menjelaskan tentang Pengukuran Pulsa Mahasiswa mampu menjelaskan tentang Gambar Lissajous

B. PEMBAHASAN MATERI AJAR 5.1 Operasi Dasar CRO

Osiloskop sinar katoda (cathode ray oscilloscope, selanjutnya disebut CRO) adalah instrumen laboratorium yang sangat bermanfaat dan terandalkan yang digunakan untuk pengukuran dan analisa bentuk-bentuk gelombang dan gejala lain dalam rangkaian-rangkaian elektronik. Pada dasarnya CRO adalah alat pembuat grafik atau gambar (plotter) X-Y yang sangat cepat yang memperagakan sebuah sinyal masukan terhadap sinyal lain atau terhadap waktu. Pena ("stylus") plotter ini adalah sebuah bintik cahayayang bergerak melalui permukaan layar dalam memberi tanggapan terhadap tegangan-tegangan masukan. Dalam pemakaian CRO yang biasa, sumbu X atau masukan horisontal adalah tegangan tanjak (ramp voltage) linear yang dibangkitkan secara internal, atau basis waktu (time base) yang secara periodik menggerakkan bintik cahaya dari kiri ke kanun melalui permukaan layar. Tegangan yang akan diperiksa dimasukkan ke sumbu Y atau masukan vertikal CRO, menggerakkan bintik ke atas dan ke bawah sesuai dengan nib I sesaat tegangan masukan. Selanjutnya bintik tersebut

Bab 5 Osiloskop

menghasilkan jejak berkas gamImi pada layar yang menunjukkan variasi tegangan masukan sebagai fungsi dari waktu. Illlu tegangan masukan berulang dengan laju yang cukup cepat, gambar akan kelihatan srfm gai sebuah pola yang diam pada layar. Dengan demikian CRO melengkapi suatu mm pengamatan tegangan yang berubah terhadap waktu. Di samping tegangan, CRO dapat menyajikan gambaran visual dari berbagai ltw-mena dinamik melalui pemakaian transducer yang mengubah arus, tekanan, rcgim^m, temperatur, percepatan, dan banyak besaran fisis lainnya menjadi tegangan. CRO digunakan untuk menyelidiki bentuk gelombang, peristiwa transien itatt besaran lainnya yang berubah terhadap waktu dari frekuensi yang sangat rendah ke fre-kuensi yang sangat tinggi. Pencatatan kejadian ini dapat dilakukan oleh kamera khusus yang ditempelkan ke CRO guna penafsiran kuantitatif. Prinsip-prinsip pada mana CRO bekerja dibahas lebih lanjut dalam bab-bab berikut. Subsistem utama dari sebuah CRO untuk pemakaian umum ditunjukkan pada diagram balok yang disederhanakan pada Gambar 27. Terdiri dari: (a) Tabung sinar katoda (Cathode ray tube) atau CRT. (b) Penguat vertikal (vertical amplifier). (c) Saluran tunda (delay line). (d) Generator basis waktu (time base generator). (e) Penguat horisontal (horizontal amplifier). (f) Rangkaian pemicu (trigger circuit). (g) Sumber daya (power supply). Tabung sinar katoda atau CRT merupakan jantung osiloskop, dengan yang lainnya dari CRO terdiri dari rangkaian guna mengoperasikan CRT. Pada dasarnya, CRT meng-hasilkan suatu berkas elektron yang dipusatkan secara tajam dan dipercepat ke suatu ke-cepatan yang sangat tinggi. Berkas yang dipusatkan dan dipercepat ini bergerak dari sumbernya (senapan elektron, electron gun) ke depan CRT, di mana dia mejnbentur bahan fluoresensi yang melekat di permukaan CRT (layar) bagian dalam dengan energi yang cukup untuk membuat layar bercahaya dalam sebuah bintik kecil. Selagi merambat dari sumbernya ke layar, berkas elektron lewat di antara sepasang pelat defleksi vertikal dan sepasang pelat defleksi horisontal. Tegangan yang dimasukkan ke pelat defleksi vertikal dapat menggerakkan berkas elektron pada bidang vertikal sehingga bintik CRT bergerak ke atas dan ke bawah. Tegangan yang dimasukkan ke pelat defleksi horisontal dapat menggerakkan berkas pada bidang horisontal dan bintik CRT ini dari kiri ke kanan. Gerakangerakan ini saling tidak bergantungan satu sama lain sehingga bintik CRT dapat ditempatkan di setiap tempat pada layar dengan menghu-bungkan masukan tegangan vertikal dan horisontal yang sesuai secara bersamaan.

72

Bab 5 Osiloskop

Gambar 27 Diagram blok dari sebuah osiloskop Bentuk gelombang sinyal yang akan diamati pada layar CRT dihubungkan ke masukan penguat vertikal (vertical amplifier). Penguatan ini disetel melalui pelemasan masukan (input attenuator) yang telah terkalibrasi, yang biasanya diberi tanda VOLTS/DIV. Keluaran dorong-tarik (push-pull) dari penguat dikembalikan ke pelat defleksi vertikal melalui yang disebut saluran tunda (delay line) dengan daya yang cukup untuk mengen-dalikan bintik CRT dalam arah vertikal. Generator basis waktu atau generator penyapu (sweep generator) membangkitkan sebuah gelombang gigi gergaji yang digunakan sebagai tegangan defleksi horisontal dalam CRT. Bagian gelombang gigi gergaji yang menuju positif adalah linear, dan laju kenaikan-nya disetel oleh suatu alat kokontrol di panel dengan yang diberi tanda TIME/DIV. Tegangan gigi gergaji ini dikembalikan ke penguat horisontal. Penguat ini berisi sebuah pembalik fasa (phase inverter) dan menghasilkan dua gelombang keluaran simultan yaitu gigi gergaji yang menuju positif (menaik) dan gigi gergaji yang menuju negatif (menu-run). Gigi gergaji yang menuju positif dimasukkan ke pelat defleksi horisontal CRT se-belah kanan dan gigi gergaji yang menuju negatif ke pelat defleksi sebelah kiri. Tegang-antegangan ini menyebabkan berkas elektron melejang (menyapu) sepanjang layar CRT dari kiri ke kanan, dalam satuan waktu yang dikokontrol oleh TIME/DIV. Pemasukan tegangan defleksi ke kedua pasangan pelat secara bersamaan menyebabkan bintik CRT meninggalkan bekas bayangan pada layar. Ini ditunjukkan pada Gambar 28, di mana sebuah tegangan gigi gergaji atau tegangan penyapu (sweep) dimasukkan ke

73

Bab 5 Osiloskop

Gambar 28. Bintik CRO menghasilkan jejak bayangan pada layar Pelat horisontal dan sinyal gelombang sinus ke pelat vertikal. Karena tegangan penyapu horisontal bertambah secara linear terhadap waktu, bintik CRT bergerak sepanjang layar pada suatu kecepatan yang konstan dari kiri ke kanan. Pada akhir penyapuan, bila tegangan gigi gergaji secara tiba-tiba turun dari harga maksimalnya ke nol, bintik CRT kembali dengan cepat ke posisi awalnya di bagian kiri layar dan tetap berada di sana sampai penyapuan baru dimulai. Bila sebuah sinyal masukan dimasukkan secara bersa-maan dengan tegangan penyapuan horisontal ke pelat defleksi vertikal, berkas elektron akan dipengaruhi oleh dua gaya, yaitu satu dalam bidang horisontal menggerakkan bintik CRT sepanjang layar pada suatu laju yang linear; dan satu dalam bidang vertikal yang menggerakkan bintik CRT ke atas dari ke bawah sesuai dengan besar dan polaritas sinyal masukan. Dengan demikian, gerak resultante dari berkas elektron menghasilkan peraga-an sinyal masukan vertikal pada CRT sebagai fungsi waktu. Jika sinyal masukan mempunyai sifat yang berulang, peragaan CRT yang stabil dapat dipertahankan dengan cara memulai setiap penyapuan horisontal di titik yang sama pada gelombang sinyal. Untuk mencapai ini, contoh gelombang masukan dikemba-likan ke rangkaian pemicu (trigger) yang akan menghasilkan sebuah pulsa pemicu di suatu titik yang dipilih pada gelombang masukan. Pulsa pemicu ini digunakan untuk menghidupkan generator basis waktu, yang pada gilirannya memulai penyapuan bintik CRT secara horisontal dari kiri ke kanan layar. Dalam hal yang lazim, transisi gelombang masukan yang terjadi mula-mula (leading-edge) digunakan untuk mengaktifkan generator pemicu agar menghasilkan pulsa pemicu dan memulai penyapuan. Kejadian ini berlangsung sampai suatu selang waktu tertentu (0,15 JUS), sehingga penyapuan tidak dimulai sampai setelah leading edge sinyal masukan dilewatkan. Ini selanjutnya mencegah peragaan leading edge gelombang pada layar. Mak-sud dari saluran tunda adalah memperlambat kedatangan gelombang masukan pada pelat defleksi vertikal sampai rangkaian pemicu dan rangkaian basis waktu telah mempunyai kesempatan untuk memulai penyapuan berkas. Saluran tunda ini menghasilkan keter-lambatan total sebesar
74

Bab 5 Osiloskop

sekitar 0,25 jus di dalam saluran defleksi vertikal; sehingga "leading-edge" gelombang dapat dilihat walaupun dia digunakan untuk memicu penyapuan. Sumber day a terdiri dari bagian tegangan tinggi untuk mengoperasikan CRT, dan tegangan rendah untuk mencatu (mensuplai) rangkaian elektronik osiloskop. Sumber-sumber daya ini adalah dari buatan yang biasa dan tidak memerlukan uraian selanjutnya.

5.2 Kokontrol Osiloskop

Gambar 29 Osiloskop single-beam, dual-trace Panel depan dan kokontrol-kokontrol pada osiloskop "single beam lal trace" (lihat gbr. 29). Bentuk gelombang yang diselidiki ditampilkan pada layar, yang mana dilindungi lempengan untuk mengkalibrasian yang terbuat dari plastik keras yang disebut Graticule. Graticule digunakan untuk mengukur amplitudo (pada bagian vertikal) dan periode waktu (pada bagian horisontal) dari berapa gelombang yang ditampilkan. Dibawah layar terdapat kontak power line on/off, sebuah kokontrol intensity untuk mengatur terang tidaknya gambar, sebuah kontrol focus untuk mendapatkan hasil tampilan berupa garis yang jelas, dan tombol beam finder untuk menggeser hasil gambar pada layar. Untuk fasilitas penampilan dua buah gelombang, terdapat perangkat tombol vertical yang berindikasi channel A dan 1annel B. Tujuan dari kontrol position adalah untuk memindah atau merubah setiap gelombang secara vertical ke atas atau ke bawah layar sehingga didapatkan posisi yang terbaik. Selektor Volt/div setiap kanal (channel) untuk mendapatkan ketelitian input. Kontak pemilihan redaman di "set" pada 1 V, jika sinyal dengan amplitudo peak-to-peak 1 V maka aka n m e n e m p a t i 1 b a g i a n pada layar graticule. Sebuah sinyal akan menemnpati 4 bagian d a r i l a y a r b i l a t e g a n g a n d e n g a n p e a k t o p e a k 4 V. Pengesetan Volt/Div akan benar bila knob vernier tengahnya pada posisi CAL (kalibrasi). kontrol vernier mengatur Volt/Div secara terus mcnerus, maka amplitudo gambar mungkin ditambah secara tersendiri . Di bawah kontak VOLTS/DIV pada kanal A dan B terdapat deretan kontak tombol, dan di bawahnya lagi terdapat terminal iput kabel koaksial. Di atas dua tombol tekan terdapat fasilitas iput tegangan ac dan dc. Suatu saat diperlukan
75

Bab 5 Osiloskop

gambar dari tegangan ac dan level dc yang ditampilkan bersaraa, Hal ini dapat capai dengan pengesetan tombol A : DC ke AC, dimana kapasitor kopling melewatkan kwantitas ac dan menahan dc. Tombol GND ground) yang sebaris dengan tombol AC-DC tidak dihubungkan kesinnyal input. Setiap lintasan di set pada posisi nol pada layar. Ketika tegangan input ditampilkan, level dc nya dapat diukur dengan mengacu pada posisi nol. Kontak AC-DC dan GND menjalankan dengan fungsi yang sama. Kontak VERTICAL DISPLAY A dan B digunakan untuk input kanal dan kanal B atau keduanya untuk ditampilkan pada layar. Tombol INV adalah membalikkan input di kanal B, dan tombol A + B menampilkan penambahan gelombang. Dengan melepaskan tombol A + B An B INV, tampilan gelombang akan berbeda pada tegangan input di kanal A dan B.

5.3 Pengukuran Tegangan, Frekuensi dan Fasa


Amplitudo dari puncak ke puncak pada gelombang yang Lampilkan adalah sangat mudah diukur pada sebuah osiloskop. Gambar 30 menunjukkan dua buah gelombang sinus dengan perbedaan plitudo dan perioda waktu. Gelombang A, amplitudo dari puncak puncak adalah 4,6 bagian vertikal pada graticule, yang mana lombang B diukur sebesar 2 bagian vertikal antara puncak ke puncak. Sangatlah penting untuk mengecek knop tengah vernier pada LT/DIV pada posisi kalibrasi (CAD sebelum mengukur amplitudo lombang. Dengan kontrol VOLT/DIV pada 100 mV seperti yang gambarkan, tegangan puncak ke puncak setiap gelombang adalah Gelombang A : V = (4,6 bagian) x 100 raV = 460 mV. Gelombang B : V = (2 bagian) x 100 mV = 200 mV. Jika bentuk gelombang: seperti pada gambar 30 adalah output dari sebuah penguat, sebagai contoh, semua harus mempunyai komponen dc sebaik komponen ac yang digambarkan. Diperkirakan, dc level pada gelombang adalah 10 V, DC level akan menghasilkan simpangan pada : 10 V/100 mV = 100 bagian Jelasnya, gelombang yang akan disimpangkan hilang dari layar jika siloskop di kopel dc. Dengan kopel ac gelombang akan ada pada layar. Perioda waktu pada gelombang sinus dicari dengan menghitung waktu untuk satu putaran pada bagian horisontal dan penggandaan dengan pengesetan di kontrol TIME/DJV : T = (Bagian horisontal/putaran) x (TIME/DIV)

76

Bab 5 Osiloskop

Gambar 30. Pengukurtan tegangan puncak ke puncak dan periode waktu pada gelombang sinus frekuensi kemudian dihitung sebagai kebal ikan dari perioda waktu. di s i n i , sebelum melakukan pengukuran perioda waktu pada gelombang, perlunya pengecekan kembali knop vernier ditengahnya ada posisi kalibrasi (CAL). Perioda waktu dan frekuensi pada setiap gelombang di gambar 30 adalah :
gelombang A : T = (8,8 bag. x 0,5 ms = 2,2 ms 2 cycles f = 1 (2,2 ms ) = 455 Hz

gelombang B : T =

(8,8 bag. x 0,5 ms = 0,73 ms 6 cycles

f = 1

(0,73 ms ) =1,36 kHz

Perbedaan antara dua gelombang diukur dengan metoda seperti pada gambar 31, Setiap gelombang mempunyai perioda waktu 8 bagian horisontal, dan waktu antara permulaan s e t i a p putaran adalah 1,4 bagian. Satu putaran = 360 . kemudian 8 bagian = 360 1 bag = 360/8 = 45 o jadi perbedaan fasa adalah : = 1,4 div x (45 o /bag) = 63 o

77

Bab 5 Osiloskop

Gambar 31. Pengukuran perbedaan antara dua gelombang sinus

5.4 Pengukuran Pulsa


Dua gelombang pulsa ditampilkan pada gambar 32 . Gelombang bagian atas adalah 2 langkah mendahului, dimana yang bawah dapat diukur rise time (tr) dan fall tim (tf). Jika gelombang yang atas adalah input ke rangkaian, maka yang bawah adalah output, dalam hal ini terdapat waktu selang (delay time : td). Rise time dari pulsa adalah waktu untuk pulsa dari 10 % ke 90 % pada amplitudo pulsa. Demikian juga halnya dengan "fall time adalah waktu yang menunjukkan pulsa dari 90 % ke 10 % amplitudonya, Jika kontrol TIME/DTV pada 1 s, delay time, rise time dan fall time dari gambar 32 adalah :

Lebar pulsa (PW) periode waktu (T) pada gelombang yang atas pada gambar 31 adalah

Pengukuran lain yang penting dapat dibuat dan gelombang pulsa yang ditampilkan pada gambar 9.4 dalam keadaan slep rate. ini adalah sebagian dari penggunaan untuk pengoperasian amplifier, dan hubungannya ke frekuensi respon pada amplifier, definisi dari slew rate adalah bagaimana
78

Bab 5 Osiloskop

mempercepat output sebuah amplifier untuk merubah saat sinyal tipe pulsa digunakan pada input amplifier. Kecepatan perubahan diukur seperti p e r u b a h a n t e g a n g a n ) / waktu, b i a s a n y a d a l a m s a t u a n v o l t s / ^ s . s ehubungan Hcnan gelombang yang bawah pada gambar 32 , perubahan tegangan selama "rise time" adalah V = (2 bagian vertikal ) . dengan kontrol TIME/DIV pada 1 s. "rise time" 0,7 /us, seperti yang telah dihitung. Jika kontrol VOLT/DIV adalah 1 V, V = 2 V. kuantitasnya adalah :

Pengukuran banyaknya pulsa digambarkan pada gambar 33. sebuah gelombang pulsa dengan PW = 50 ms terlihat pada gambar 33. Daiam bab ini bagaimana gelombang di kopek ac , kerugian mungkin dapat dilihat dengan osiloskop seperti pada gambar 33(b). Ketika input osiloskop dirubah dari dc ke ac, 0,1 F

Gambar 32. Pengukuran amplitudo pulsa, lebar pulsa, rise time dan fall time Kapasitor kopling dipasang seri dengan terminal input, Kapasitor akan menerima dan melepaskan muatan (melalui input resistan 1 MO) selama lebar pulsa dan selama jarak waktu antara pulsa. Jadi tegangan input tidak selalu diliwatkan ke deflection amplifier, tipe dari kerugian terlihat pada gambar 3 3 ( b ) yang diklasifikasikan sebagai Kerugian pada frekuensi rendah. perkalian dari kapasitor kopling 0,1 /uF dan input resistan adalah sebagai berikut :

79

Bab 5 Osiloskop

Pada gambar 33 (a) dan (b), lebar pulsa adalah 50 ms, yang secara tepat adalah setengah dari phi. Ketika lebar pulsa (dan jarak antara pulsa) adalah sangat kecil disana tidak terlihat kerugiannya.

Gambar 33. Gelombang pulsa yang dikopel dc

5.5 Gambar Lissajous


Saat time base osiloskop tidak dihubungkan dan gelombang inus yang dipergunakan untuk kedua input horisontal dan ertikal. Hasil tarapilan tergantung pada hubungan antara dua elombang sinus. Sangat mudah menarapilkan gelombangnya pada saat rekuensiya sama. Garabar akan menjadi kompleks jika frekuensi erbeda. Gambar tersebut dinamakan gambar lissojous, Jika hanya satu input digunakan, garis vertikal atau garis orisontal seperti pada gambar 3 4 ( a ) Secara sempurna fasa elombang sinus dengan amplitudo tang sama menghasilkan garis dengan membentuk sudut 45 dari horisontal , seperti ditunjukkan ada gambar 34 (b). Ini akan diterangkan sebagai berikut. Kedua elombang dalam keadaan nol pada saat yang sama. Kemudian, disana uga tidak ada penyimpangan pada vertikal dan horisontal, dan lektron beam tepat ditengah layar [titik 1 dan 3 pada gambar 34(c)] Saat kedua gelombang amplitudonya positip maksimum, ihasilkan penyimpangan maksimum pada vertikal dan horisontal, uncak positip pada input vertikal dihasilkan positip maksimum ke atas) penyimpangan vertikal, dan puncak positip input orisontal dihasilkan penyimpangan disebelah kanan. Pada saat ini lectron beam di titik 2 pada gambar 34(c) Ketika gelombang i n n s di puncak negatip, penyimpangan vertikal maksiraum negatip, dan penyimpangan terjadi pada sisi horisontal sebelah kiri. Kondisi ini roenyebabkan elektron beam tepat di titik 4 pada gambar 34(c) Perubahan serentak level tegangan menyebabkan beam merobentuk suatu garis lurus antara titik 2 dan 4. Gambar 34(d) menunjukkan ketika gelombang tidak sefasa, garis akan membentuk sudut 135 . Dalam hal ini penyimpanganpositip maksimum terjadi
80

Bab 5 Osiloskop

pada puncak positip dari input vertikal. Yang mana, pada saat ini input horisontal di puncak negatip, dan ini dihasilkan penyimpangan positip maksimum disisi kiri. Demikian pula, ketika input vertiical pada puncak negatip dan input horisontal pada puncak positip, negatip vertika] maksimum dan hasil penyimpangan maksimum pada sisi horisontal sebelah kanan. Penampilan lingkaran akan dihasilkan ketika perbedaan fasa 90 , antara input vertikal dengan input horisontal seperti pada gambar 34(e). Saat input vertikal nol dan horisontal di puncak negatip, terjadi penyimpangan vertikal nol dan horisontal maksimum disebelah kiri (titik 1). Saa input horisontal nol dan vertikal dipuncak positip, dihasilkan penyimpangan maksimum positip vertikal d i n penyimpangan horisontal nol (titik Z ) . Pada saat input vertikal nol dan input horisontal maksimum positip, penyimpangan beam pada sisi kanan horisontal maksimum dan penyimpangan vertikal nol (titik 3), Titik 4 pada monitor adalah hasil input horisontal nol dan input vertikal maksimura negatip. Titik yang mana beam membuat lingkaran secara kontinyu dan nenghasilkan tampilan lingkaran. Ketika perbedaan fasa antara input vertikal dan horisontal Lebih besar dari nol tetapi kurang dari 90 , akan menampilkan oentuk elip seperti pada gambar 34(f). Perbedaan fasa mendekati lol menghasilkan elip yang tajam. Kemiringan elip dengan arah yang berlawanan seperti pada gambar 34(g). Ini dihasilkan dari input vertikal dan horisontal dengan perbedaan fasa lebih dari 0o tetapi kurang dari 180o.

81

Bab 5 Osiloskop

C. RANGKUMAN
a. Subsistem utama dari sebuah CRO untuk pemakaian umum Terdiri dari: Tabung sinar katoda (Cathode ray tube) atau CRT. Penguat vertikal (vertical amplifier). Saluran tunda (delay line). Generator basis waktu (time base generator). Penguat horisontal (horizontal amplifier). Rangkaian pemicu (trigger circuit). Sumber daya (power supply). b. Graticule digunakan untuk mengukur amplitudo (pada bagian vertikal) dan periode waktu (pada bagian horisontal) dari berapa gelombang yang ditampilkan c. Intensity untuk mengatur terang tidaknya gambar d. Focus untuk mendapatkan hasil tampilan berupa garis yang jelas e. Beam finder untuk menggeser hasil gambar pada layar f. Selektor Volt/div setiap kanal (channel) untuk mendapatkan ketelitian input g. Kontak VERTICAL DISPLAY A dan B digunakan untuk input kanal dan kanal B atau keduanya untuk ditampilkan pada layar h. Tombol INV adalah membalikkan input di kanal B, dan tombol A + B menampilkan penambahan gelombang. Dengan melepaskan tombol A + B An B INV, tampilan gelombang akan berbeda pada tegangan input di kanal A dan B

D. LATIHAN SOAL
a. Sebuah CRO tipe laboratorium umumnya menggunakan sebuah cathode follower untuk menjalankan berkas CRT di dalam rangkaian CRT-nya. Terangkan fungsinya dan jelaskan opeasinya b. Ada berapa Subsistem utama dari sebuah CRO untuk pemakaian umum, jelaskan

E. KASUS
Sebuah gambar lisojous tertentu dihasilkan dengan memasukkan tegangan sinus ke terminal-terminal masukan vertikal dan horisontal sebuah CRO. Gambar ini membetuk lima garis singgung terhadap vertikal dan tiga terhadap horisontal. Tentukanlah frekuensi sinyal yang dihubungkan ke penguat vertikal jika frekuensi tegangantegangn masukan adalah 3 kHz.

F. SUMBER BELAJAR
Diktat Pengukuran Listrik 2 Instrumentasi Elektronik dan Pengukuran Tsuneo Furuya, et.al William David Cooper

82