Anda di halaman 1dari 37

Biodata EDI INDRIZAL

TTL Profesi KUALA ENOK, 12 Februari 1967 Dosen tetap Jurusan Antropologi FISIP Universitas Andalas Padang (1990 ). Korwil dan Peneliti pada Lembaga Survei Indonesia (LSI) Wilayah Riau-Sumbar-Jambi-Kepri (2003 ). Konsultan (Anthropologist) ICDP TNKS 1999-2001 Team Leader Province Based Monitoring PPK PNPM-MP Provinsi Sumatera Barat 2003-2007 dan PNPM LMP 2010 ... Associate Researcher pada Partnership for Governance Reform (2007-2009) Associate Researcher KPPOD (2008 ) Jl. Singgalang III / 19, Gn. Pangilun - PADANG Telp/Fax. 0751-445792, Mobile 08126622829 E-mail : lasp_lian@yahoo.com

Alamat

TOPIK SESSI INI


Review lingkup manajemen dan resolusi konflik. Asumsi teoritis manajemen dan resolusi konflik. Prinsip-Prinsip Dasar Penerapan Resolusi Konflik.

Konflik : Keniscayaan dalam Realitas Kehidupan Manusia


Manusia memiliki dimensi biologis, psikologis dan sosiologis yang unik. Dilahirkan sebagai laki-laki dan perempuan. Dilahirkan dalam sejarah dan tradisi cara hidup berbeda-beda. Memiliki nilai dan norma sosial yang menjadi acuan tindakan dan perilaku berbeda-beda.

KONFLIK Kilas Pengertiannya

Simon Fisher et. al.: Konflik adalah hubungan antara dua pihak atau lebih (individu atau kelompok) yang memiliki, atau yang merasa memiliki, sasaran yang tidak sejalan. Konflik pertanda adanya perbedaan atau benturan kepentingan.

KONFLIK Review Pengertiannya


Konflik merupakan salah satu perwujudan dari interaksi sosial yang bersifat disosiatif. Hartini dan Kartasapoetra (1992): Konflik merupakan cara pencapaian tujuan dengan melemahkan pihak lawan, tanpa menghiraukan norma dan nilai yang berlaku. Polak (1966): Konflik atau persengketaan bisa ditimbulkan dari persaingan (competition) yang diikuti dengan rasa emosi, rasa benci dan bahkan rasa marah, sehingga pihak-pihak yang bersangkutan ingin menyerang, melukai, merusak, atau memusnahkan pihak yang lain (aggresions).

KONFLIK Review Pengertiannya


Secara teoritis konflik berpotensi timbul dalam setiap interaksi sosial, tidak hanya disebabkan adanya perjuangan untuk bertahan hidup dengan keterbatasan ruang/sumber daya (struggle for limited spare/ resource), tetapi juga dikarenakan adanya insting agresif dan kompetitif yang dimiliki oleh manusia (innate instinct). (Soekanto, 1990) Konflik tidak semata-mata menyangkut kepentingan fisik, materialistik ataupun kebendaan, tetapi juga berkaitan dengan penghargaan. Aspek kedua ini (seperti martabat, harga diri, prestise, dll.) bahkan sering juga atau tidak jarang dapat menimbulkan konflik tidak langsung (indirect conflict atau false conflict).

TANPA KONFLIK

KONFLIK LATEN

KONFLIK DI PERMUKAAN

KONFLIK TERBUKA

BENTUK-BENTUK KONFLIK
keluhan kekecewaan keresahan protes demonstrasi tuntutan (klaim) perkelahian pengrusakan perang

INTENSITAS KONFLIK

Tiga Komponen Pokok KONFLIK


KEPENTINGA N EMOSI NILAI
1. KEPENTINGAN (INTRESTS) : baik yang bersifat subjektif maupun objektif. 2. EMOSI (EMOTIONAL) : perasaan kemarahan, kebencian, ketakutan, kecurigaan, kekecewaan, dll. 3. NILAI (VALUES) : sering sulit terukur namun tertanam dalam ide dan perasaan tentang tolak ukur benar dan salah dalam mengatur perilaku. (Condliffe, 1991)
Konflik antar kelompok lebih disebabkan oleh perasaan irasional dan kebutuhan-kebutuhan emosional anggota suatu kelompok dari pada disebabkan oleh kepentingan kebendaan antar kelompok yang berbeda (Freud, 1921; Taylor, 1987).

KONFLIK KEKERASAN
KEKERASAN adalah tindakan, perkataan, sikap, berbagai struktur atau sistem yang menyebabkan kerusakan secara fisik, mental, sosial atau lingkungan dan/atau menghalangi seseorang untuk meraih potensinya secara penuh.

KONFLIK sebagai Wujud, Cara dan Akibat


Sebagai WUJUD: Konflik merupakan kenyataan hidup. suatu perwujudan dari interaksi sosial yang bersifat disosiatif. Sebagai CARA: Konflik merupakan cara pencapaian tujuan dengan melemahkan pihak lawan, tanpa menghiraukan norma dan nilai yang berlaku. Hartini dan Kartasapoetra (1992) Sebagai AKIBAT: Konflik atau persengketaan bisa ditimbulkan dari persaingan (competition) yang diikuti dengan rasa emosi, rasa benci dan bahkan rasa marah, sehingga pihak-pihak yang bersangkutan ingin menyerang, melukai, merusak, atau memusnahkan pihak yang lain (aggresions). Polak (1966)

Waspada Konflik
Secara teoritis konflik berpotensi timbul dalam setiap interaksi sosial, tidak hanya disebabkan adanya perjuangan untuk bertahan hidup dengan keterbatasan ruang/sumber daya (struggle for limited spare/ resource), tetapi juga dikarenakan adanya insting agresif dan kompetitif yang dimiliki oleh manusia (innate instinct). (Soekanto, 1990) Konflik tidak semata-mata menyangkut kepentingan fisik, materialistik ataupun kebendaan, tetapi juga berkaitan dengan penghargaan. Aspek yang disebut terkahir ini (seperti martabat, harga diri, prestise, dll.) bahkan sering kali atau tidak jarang dapat menimbulkan konflik tidak langsung (indirect conflict atau false conflict).

Indonesia: salah satu negara berkonflik tinggi

Kompleksitas dan Multidimensional Konflik di Indonesia

Ras Etnik Agama Kedaerahan Kelas

Beberapa Pertanyaan Dasar

MENGAWALI KAJIAN RESOLUSI KONFLIK


Karena konflik tidak selalu dapat dipecahkan sehingga benar-benar berhenti (tuntas), maka jika kita ingin memecahkannya juga, tidakkah diperlukan cara dan proses pemecahannya secara bertahap??? Faktanya, tidak jarang konflik memerlukan penyelesaian secara bertahap. Pengalaman penyelesaian sebagian masalah juga sangat berharga sebagai pembelajaran.

Berbagai Pendekatan PEMECAHAN KONFLIK


MENINGKATNYA KEKERASAN

KONFLIK LATEN PENCEGAHAN KONFLIK PENYELESAIAN KONFLIK PENGELOLAAN KONFLIK RESOLUSI KONFLIK TRANSFORMASI KONFLIK

KONFLIK DI PERMUKAAN

KONFLIK TERBUKA

Berbagai Pendekatan MEMECAHKAN KONFLIK


Simon Fisher, et. al.:
1. PENCEGAHAN KONFLIK bertujuan untuk mencegah timbulnya konflik yang keras. 2. PENYELESAIAN KONFLIK bertujuan untuk mengakhiri perilaku kekerasan melalui suatu persetujuan perdamaian. 3. PENGELOLAAN KONFLIK bertujuan untuk membatasi dan menghindari kekerasan dengan mendorong perubahan perilaku yang positif bagi pihak-pihak yang terlibat. 4. RESOLUSI KONFLIK menangani sebab-sebab konflik dan berusaha membangun hubungan baru dan yang bisa tahan lama di antara kelompok-kelompok yang bersengketa/bertikai. 5. TRANSFORMASI KONFLIK mengatasi sumber-sumber konflik sosial dan politik yang lebih luas dan berusaha mengubah kekuatan negatif dari peperangan menjadi kekuatan sosial dan politik yang positif

Asumsi dasar manajemen dan resolusi konflik. Definisi dan tujuan penggunaan pendekatan, model dan metode resolusi konflik.

Pemahaman tentang

MANAJEMEN KONFLIK

Asumsi Teoritis MANAJEMEN KONFLIK


Apa asumsi teoritis manajemen konflik? Apa definisi manajemen konflik itu? Apa tujuan penerapannya

Asumsi Teoritis MANAJEMEN KONFLIK


Konflik dapat merupakan motivasi untuk suatu mufakat atau mencapai keseimbangan antar kekuatan yang ada dalam masyarakat (equilibrium). (Soekanto, 1990; Taylor dan Moghaddam, 1987) Bahkan secara internal, rasa permusuhan dengan kelompok lain (out group) dalam suatu masyarakat dapat merupakan upaya mempertahankan kohesi kelompok. Konflik memiliki potensi energi yang positif, karenanya pendekatan manajemen konflik menemukan relevansinya: konflik secara sadar dan terencana dikelola.

Definisi MANAJEMEN KONFLIK

Manajemen Konflik (conflict management) atau di beberapa literatur disebut juga Regulasi Konflik (conflict regulation) merupakan suatu pendekatan, model, metode, ataupun praktik, yang pada umumnya ditujukan untuk mengontrol atau mencegah dalam arti untuk mengurangi konflik (to reduce conflict), atau mempertahan konflik pada tingkatan terendah (to keep conflict at low levels), atau mengontrol konflik agar tidak berkembang dari satu tahap ke tahap lain yang lebih mendalam.

Definisi berdasarkan Tujuan

MANAJEMEN KONFLIK
Simon Fisher, et. al. (2003): PENGELOLAAN KONFLIK bertujuan untuk membatasi dan menghindari kekerasan dengan mendorong perubahan perilaku yang positif bagi pihak-pihak yang terlibat.

Kedudukan Manajemen Konflik dalam Pendekatan Pemecahan Konflik


MENINGKATNYA KEKERASAN

KONFLIK LATEN PENCEGAHAN KONFLIK PENYELESAIAN KONFLIK PENGELOLAAN KONFLIK RESOLUSI KONFLIK TRANSFORMASI KONFLIK

KONFLIK DI PERMUKAAN

KONFLIK TERBUKA

Pemahaman tentang

RESOLUSI KONFLIK

Asumsi Teoritis MANAJEMEN KONFLIK


Apa asumsi teoritis resolusi konflik? Apa definisi resolusi konflik itu? Apa tujuan penerapannya?

Asumsi Teoritis RESOLUSI KONFLIK


Konflik sosial bersifat kompleks dan multidimensional (vertikal dan horizontal; intensifikasi dan ekstensifikasi). Faktanya, banyak konflik cenderung merugikan karena terus mengganggu dan menjurus destruktif. Menurut teori frustrasi-agresi antara lain disebutkan bahwa frustrasi sebagai refleksi ketidak-puasan akan mendorong kepada agresi. Jika penyebab frustrasi dipandang terlampau kuat, maka agresi biasanya ditujukan terhadap sasaran alternatif (alternative target). Bahkan ada juga agresi sebagai kebiasaan (habitual aggression). Konflik dapat menjadi faktor penghambat kemajuan, perbaikan sosial, pembangunan, dsb. yang cenderung bersifat negatif atau tidak diharapkan. Di sinilah relevansi penerapan pendekatan resolusi konflik

Definisi RESOLUSI KONFLIK


Resolusi Konflik (Conflict Resolution) dalam istilah lainnya ada yang menggunakan istilah Resolusi Sengketa atau Resolusi Sengketa/Pertikaian (Dispute Resolution)

Resolusi konflik adalah seluruh metode, praktek dan teknik, resmi atau tidak, melalui atau di luar pengadilan, yang digunakan untuk menyelesaikan persengketaan/pertikaian. (Scimecca (1993) dari the National Institute for Dispute Resolution, USA).

Definisi berdasarkan Praktik

RESOLUSI KONFLIK
Schellenberg (1996) membagi definisi resolusi konflik (conflict resolution) sebagai reduksi nyata dari suatu konflik melalui dua bagian, yakni:
Upaya atas kesadaran sendiri (self-conscious efforts) untuk mencapai kesepakatan atau persetujuan, atau bisa terjadi atas berbagai penyebab, spt.: perubahan lingkungan, pengaruh pihak ketiga, kemenangan untuk salah satu pihak, dsb. Upaya membangun kesadaran (conscious settlement) atas permasalahan pertikaian (issues in dispute).

Definisi berdasarkan Tujuan

RESOLUSI KONFLIK
Simon Fisher, et. al. (2003): RESOLUSI KONFLIK menangani sebab-sebab konflik dan berusaha membangun hubungan baru dan yang bisa tahan lama di antara kelompok-kelompok yang bersengketa/bertikai.

Beberapa Catatan & Diskusi

RESOLUSI KONFLIK
Ross (1993): Apabila kita hanya melihat penghentian sengketa sebagai kasus resolusi konflik yang berhasil, maka kita akan menolak berbagai pengalaman dalam penyelesaian konflik yang hanya menunjukkan keberhasilan penyelesaian sebagian masalah. Tidak semua konflik dapat dikelola dan diatasi secara sukses, dikarenakan perbedaanperbedaan antara pihak yang berkonflik dipengaruhi oleh intensitas konflik, sejarah hubungan pihak yang berkonflik, serta langkahlangkah pengelolaan dan resolusi konflik yang dilakukan.

Beberapa Catatan & Diskusi

RESOLUSI KONFLIK
Karena konflik sering bersifat kompleks dan multidimensional, maka memahami resolusi konflik sebagai suatu upaya menghentikan persengketaan adalah berlebihan. Faktanya, tidak jarang konflik memerlukan penyelesaian secara bertahap. Pengalaman penyelesaian sebagian masalah juga sangat berharga sebagai pembelajaran.

Kedudukan Pendekatan Resolusi Konflik dalam Pendekatan Pemecahan Konflik


MENINGKATNYA KEKERASAN

KONFLIK LATEN PENCEGAHAN KONFLIK PENYELESAIAN KONFLIK PENGELOLAAN KONFLIK RESOLUSI KONFLIK TRANSFORMASI KONFLIK

KONFLIK DI PERMUKAAN

KONFLIK TERBUKA

MK = Manajemen Konflik

RK = Resolusi Konflik

MK

TANPA KONFLIK

KONFLIK LATEN

MK

RK

KONFLIK DI PERMUKAAN

KONFLIK TERBUKA

Cloosing Question
Ciri-Ciri Definisi Asumsi & Prasyarat Tujuan Penerapan Manajemen Konflik
. .. ..

Resolusi Konflik
.. .. ..