HUBUNGAN ANTARA KEJADIAN PERSALINAN KURANG BULAN DENGAN PERIODONTITIS PADA IBU HAMIL

Dini Pusianawati, Sofie R. Krisnadi, Budi Handono, Gusriani Bagian Obstetri dan Ginekologi FK Unpad/RSHS Bandung ABSTRAK Persalinan kurang bulan yang merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas bayi masih sulit diturunkan karena banyaknya faktor risiko. Infeksi merupakan salah satu penyebab yang penting. Pada sekitar 40% dari seluruh persalinan kurang bulan, ditemukan invasi mikrobial dalam amnion, meskipun infeksi ini umumnya bersifat subklinis. Data penelitian yang memperlihatkan hubungan antara periodontitis sebagai salah satu penyebab infeksi subklinis dengan kejadian persalinan kurang bulan. masih memberikan hasil yang berbeda-beda. Penelitian ini merupakan penelitian potong lintang yang bertujuan melihat hubungan antara persalinan kurang bulan dengan kejadian periodontitis pada ibu hamil yang dibuktikan dengan adanya korioamnionitis secara histopatologis. Penelitian dilakukan di RS Hasan Sadikin dan jejaringnya selama bulan Juli – Oktober 2008. Uji kemaknaan untuk proporsi dengan chi kuadrat digunakan sebagai analisis statistik untuk melihat perbedaan antara kedua kelompok penelitian.Pengamatan dilakukan terhadap 30 pasien persalinan kurang bulan dan 30 persalinan cukup bulan. Periodontitis ditemukan lebih banyak pada kelompok persalinan kurang bulan dibandingkan pada kelompok persalinan cukup bulan yaitu 66,7% berbanding 36,7% dan secara statistik terdapat perbedaan yang bermakna p=0,021. Risiko periodontitis terhadap terjadinya persalinan kurang bulan adalah 3,45 (95%CI 1,06–11,59). Korioamnionitis lebih banyak didapatkan pada subjek dengan periodontitis dibandingkan dengan subjek tanpa periodontitis (67,6% berbanding 26,1%), dan secara statistik terdapat perbedaan yang bermakna, p=0,002 dengan odds ratio sebesar 5,90 (95%CI:1,63 – 22,44). Dari penelitian ini diambil simpulan bahwa terdapat hubungan bermakna antara kejadian periodontitis pada persalinan kurang bulan dibandingkan pada persalinan cukup bulan. Korioamnionitis lebih banyak didapatkan pada subjek dengan periodontitis dibandingkan dengan subjek tanpa periodontitis. Kata kunci: Periodontitis, persalinan kurang bulan, korioamnionitis

6% v. The studies that demonstrated the association between periodontitis.This study was a cross sectional study to investigate the association of the incidence of periodontitis in mothers with preterm birth and examined the choriomnionitis histopathologically.59).63 – 22.45 (95%CI 1. Chorioamnionitis was found more frequent in subjects with periodontitis compared with the subject without (67.7%. Intrauterine infection has emerged as a major cause of premature labor and delivery. and its satellite hospitals. 66.90 (95%CI:1.2 ASSOCIATION BETWEEN PRETERM BIRTH AND PERIODONTITIS IN PREGNANCY ABSTRACT Prematurity is the leading cause of perinatal morbidity and mortality worldwide.002. chorioamnionitis .s 26. In this study. statistically significant. and statistically significant.1%). It has been estimated that 40% of all preterm deliveries have microbial invasion of the amniotic cavity. The prevalence remains unchanged for the last decades due to complex risk factors.06–11.7% versus 36. Keywords: Periodontitis. The study was performed from July to October2008 at Hasan Sadikin hospital.44). This study shows that there is a significant association of the incidence of periodontitis in the preterm group compared with in the normoterm and chorioamnionitis was found more frequently in subjects with periodontitis compared with the subjects without. p=0. OR: 5. Periodontitis was found more frequently in the preterm group compared with that in the normoterm.021. We enrolled 30 subjects with preterm birth and 30 subjects with normoterm birth. although these infections are mostly subclinical. as one of subclinical infections and preterm birth remain controversial. preterm birth. the risk of the preterm birth due to peridontitis was 3. p=0.

2 Persalinan kurang bulan masih merupakan masalah besar dalam upaya peningkatan kesehatan masyarakat.6-11 Dalam dua dekade terakhir peranan infeksi pada persalinan kurang bulan mendapat banyak perhatian dari para ahli. menyebabkan tindakan antisipasinya sulit dilakukan. dan tidak banyak berubah selama 10 tahun terakhir.3 PENDAHULUAN Persalinan kurang bulan (PKB) adalah persalinan yang terjadi pada usia kehamilan lebih dari 20 minggu sampai dengan kurang dari 37 minggu (259 hari) sejak hari pertama haid terakhir (HPHT).1. kelainan anatomi.2-6 Insidensi persalinan kurang bulan di seluruh dunia mencapai 5-10% dari seluruh persalinan normal. infeksi-infeksi lain yang fokusnya di luar uterus seperti shigellosis. Data penelitian menunjukkan 65% kasus persalinan kurang bulan disebabkan karena infeksi. Faktor-faktor risiko yang dapat menyebabkan terjadinya persalinan kurang bulan. Selain infeksi intrauterin dan korioamnionitis. hormonal.53% di provinsi Jambi sampai dengan 27. Sekitar 70% mortalitas dan hampir separuh dari morbiditas perinatal disebabkan karena persalinan kurang bulan. penyakit medis dan keadaan kehamilan. Profil Kesehatan Indonesia 2004 menyebutkan angka nasional kejadian persalinan kurang bulan adalah 13% dengan variasi mulai 8. yaitu antara lain faktor genetik. infeksi. Laporan Tahunan Bagian Obstetri dan Ginekologi RS Hasan Sadikin Bandung mencatat kejadian persalinan kurang bulan sebesar 18%. imunologi.51% di provinsi Sulawesi Tenggara. .1-7 Banyaknya faktor yang berperan pada kejadian persalinan kurang bulan. kebiasaan ibu serta faktor yang tidak dapat diterangkan (idiopatik)1.

Periodontitis telah diyakini berperan sebagai faktor risiko penyakit jantung.14 Beberapa penelitian menyebutkan bahwa 25-100% wanita hamil mengalami gingivitis. Periodontitis meningkatkan kadar mediator proinflammasi lokal maupun sistemik.21 Hasil penelitian ini diharapkan menjadi bahan pertimbangan untuk tubuh . sehingga mempengaruhi kemampuan memperbaiki dan menjaga jaringan gingiva.13 Perubahan hormonal pada kehamilan mempengaruhi kesehatan periodontal. vaginosis bakterial. Offenbacher dkk16 menyatakan bahwa wanita dengan periodontitis berisiko tujuh kali lebih besar mengalami persalinan kurang bulan. Gingivitis dapat berlanjut menjadi peridontitis. Beberapa penelitian lain juga menemukan hasil yang sama.14-17 Penelitian-penelitian tentang hubungan periodontitis dengan persalinan kurang bulan ternyata menemukan hasil yang berbeda-beda.4 infeksi traktus urinarius. Masalah lainnya adalah infeksi seringkali bersifat kronik dan tidak bergejala. trichomoniasis dan servisitis chlamydia juga diduga berhubungan dengan persalinan kurang bulan. diabetes dan diduga berperan pada tingginya kejadian persalinan kurang bulan. Periodontitis adalah infeksi kronik gram negatif pada jaringan pendukung gigi (jaringan periodontal atau periodontium). Hasil penelitian yang dilakukan Lopez dkk18 dan Jeffcoat dkk19 juga menemukan hal yang sama.20. Pada kehamilan peningkatan kadar progesteron dan estrogen mempengaruhi sistem imun dan produksi kolagen dalam gingiva.12 Meningkatnya koriamnionitis pada plasenta bayi kurang bulan dibandingkan dengan bayi cukup bulan telah dibuktikan dengan pemeriksaan histopatologi dengan ditemukannya sel polimorfonuklear (PMN) berlebih pada plasenta. Davenport dkk14 menyatakan bahwa penyakit periodontal tidak berhubungan dengan hasil luaran kehamilan.

menggunakan mikroskop cahaya oleh seorang dokter spesialis patologi anatomi untuk mencari tanda korioamnionitis yang ditunjukkan dengan adanya sel polimorfonuklear. Setelah persalinan. dan indeks kedalaman probing yang telah dimodifikasi. Pengukuran status periodontal dilakukan oleh peneliti setelah mendapat uji inter observer dari spesialis periodontologi menggunakan probe periodontal. subjek menggunakan obat-obat antibiotik. hidup. Kriteria eksklusi meliputi persalinan dengan induksi. Pemeriksaan histopatologi dilakukan dengan pewarnaan hematoxylin-eosin.5 kebijakan pemeriksaan gigi rutin dan penatalaksanaan kelainan yang didapatkan selama kehamilan sebagai salah satu upaya menurunkan angka kejadian persalinan kurang bulan. METODA PENELITIAN Merupakan penelitian cross sectional yang dilakukan di RS Hasan Sadikin dan jejaringnya pada bulan Juli . Periodontitis ditegakkan dengan penilaian indeks plak.Oktober 2008. Subjek penelitian adalah Ibu bersalin yang terbagi atas ibu bersalin kurang bulan dan ibu bersalin kurang bulan yang diambil secara berurutan sesuai masuknya penderita ke RS. secara klinis subjek mengalami keputihan dan ketuban pecah dini. janin tidak mengalami kelainan kongenital. secara klinis tidak ada penyakit infeksi akut pada ibu dan tidak didapatkan riwayat penyakit kronis. dilakukan pengambilan plasenta pada daerah yang mengandung tali pusat. Kriteria inklusi adalah persalinan dengan janin tunggal. indeks perdarahan gusi. . amnion dan korion kemudian dimasukkan ke dalam tabung berisi larutan formalin 10% untuk dilakukan pemeriksaan histopatologi.

Hasil analisis chi kuadrat perbedaan penyebaran pada kedua kelompok umur ini tidak terdapat perbedaan bermakna (p=0. Meskipun demikian perbedaan antara kedua kelompok tidak bermakna secara statistik (p=0. Pengolahan data dilakukan melalui bantuan perangkat lunak SPSS Ver.13. yaitu 4 orang pada kelompok persalinan cukup bulan dan 3 orang pada persalinan kurang bulan. 30 ibu dengan persalinan kurang bulan dan 30 ibu dengan persalinan cukup bulan sebagai kontrol. dibagi dalam 2 kelompok. Hasil signifikan ditentukan berdasarkan nilai p<0. jika ada nilai ekspektansi sel <5 untuk analisis multivariabel digunakan analisis regresi logistik ganda. Tabel 1 memperlihatkan bahwa umur kurang dari 21 tahun merupakan populasi terbanyak pada penelitian ini baik pada kelompok persalinan cukup bulan maupun kelompok persalinan kurang bulan yaitu masing-masing 15 dan 10 orang. Populasi primipara dan multipara merupakan jumlah paling banyak dan hampir berbanding seimbang pada kedua kedua kelompok. . HASIL PENELITIAN Dari 60 pasien yang didapatkan dengan sampling from consecutive admissions.334).914).6 Analisis Statistik Analisis statistik menggunakan uji chi kuadrat. Untuk menghitung besarnya risiko persalinan kurang bulan dari kejadian periodontitis dihitung besarnya odds ratio dan 95% confidence interval.05. Ditemukan sebagian kecil populasi dengan grande multipara.

0%) 13 (61.278).0%) 3 (42.0%) 0.0%) 8 (38. tetapi secara analisis statistik perbandingan antar dua kelompok penelitian tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna (p= 0.067 20 (43.7 Tabel 1. .0%) 13 (48.1%) 7 (50.0%) 4 (57.067).9%) 7 (50.1%) 3 ( 33.4%) Nilai p 0. Pada faktor penambahan berat badan terlihat bahwa populasi terbanyak pada kedua kelompok penelitian adalah subjek dengan kenaikan berat badan yang sesuai ataupun berlebih masing-masing yaitu 25 dan 20 orang.3%) 27 (52.9%) 0.9%) 13 (50.914 14 (51. Karakteristik Subjek Penelitian Karakteristik Rerata Umur Ibu < 21 tahun 21-35 tahun > 35 tahun Rerata Paritas Primipara Multipara Grande multipara Status Gizi Gizi kurang Normo/gizi lebih Kenaikan BB Sesuai/lebih Kurang Persalinan cukup bulan n=30 15 (60.278 6 (66.5%) 4 (28.334 Pada umumnya populasi penelitian adalah subjek dengan kelompok gizi normal ataupun lebih.7%) 24 (47.6%) Persalinan kurang bulan N=30 10 (40. tetapi penyebarannya secara statistik tidak ditemukan perbedaan bermakna (p=0.9%) 26 (56. masing-masing 27 orang pada kelompok persalinan cukup bulan dan 24 orang pada persalinan kurang bulan.5%) 10 (71.1%) 13 (50.1%) 0.

8 Hubungan antara Persalinan kurang bulan dengan Periodontitis Hasil penelitian ini (tabel 2) memperlihatkan bahwa dari 30 kasus pada kelompok persalinan kurang bulan ditemukan sebanyak 20 kasus periodontitis (66.021).41 p = 0.06 – 11. dan didapatkan nilai odd’s ratio periodontitis terhadap kejadian PKB sebesar 3.3 19 63.45 kali dibandingkan dengan ibu yang tidak menderita periodontitis. Berdasarkan hasil uji chi kuadrat diperoleh adanya perbedaan bermakna antara kejadian periodontitis pada PKB dibandingkan dengan pada PCB (p=0.45 (1. Sedangkan pada kelompok persalinan cukup bulan (PCB). kejadian kasus periodontitis ternyata lebih rendah. yaitu hanya 11 kasus dari 30 subjek (36.7 33.3 Keterangan: x2 = 5. . Tabel 2 Kejadian Periodontitis pada Persalinan Kurang Bulan Periodontitis + Kelompok Persalinan Cukup Bulan Persalinan Kurang Bulan (n = 30 ) (n =30 ) n % N % 11 36.7%).7 20 10 66.45 (95% CI: 1.06 -11.7%).59) Untuk melihat seberapa besar kejadian persalinan kurang bulan dan hubungannya dengan adanya periodontitis pada maternal dilakukan perhitungan statistik.6) yang berarti bahwa pada penelitian ini risiko terjadinya PKB pada kasus periodontitis adalah 3.021 OR (95%CI) = 3.

Pada tabel karakteristik dasar subjek penelitian (tabel 1) juga dapat terlihat bahwa untuk kelompok umur ibu. dan secara statistik terdapat perbedaan yang bermakna. Pada penelitian ini didapatkan bahwa kejadian korioamnionitis lebih sering didapatkan pada subjek dengan periodontitis dibandingkan subjek tanpa periodontitis (25 berbanding 6). sehingga data tersebut dapat dibandingkan.90 (95%CI:1. Hasil analisis statistik menunjukkan nilai odds ratio sebesar 5.77 p = 0. Banyak literatur telah menjelaskan hubungan usia ibu dengan persalinan .90 (1.63 – 22.63 – 22. p=0. kejadian persalinan kurang bulan tertinggi terjadi pada rerata umur ibu 21-35 tahun (13 orang). Tabel 3 Kejadian Periodontitis dan Korioamnionitis Korioamnionitis Status periodontitis (+) n = 37 25 12 67. kemudian umur <21 tahun (10 orang) dan umur >35 tahun (7 orang).6 32.44) untuk risiko korioamnionitis pada subjek dengan periodontitis.05) antara kedua kelompok penelitian untuk semua faktor yang dianalisis.44) PEMBAHASAN Berdasarkan analisis statistik dengan menggunakan uji x2 (chi kuadrat) disimpulkan bahwa pada kedua kelompok penelitian tidak terdapat perbedaan bermakna (p>0.4 6 17 (-) n = 23 26.1 73.9 Periodontitis (+) Periodontitis (-) Keterangan: x2 = 9.9 Hubungan Periodontitis dengan Korioamnionitis Tabel 3 memperlihatkan hubungan antara periodontitis kronis dengan kejadian khorioamnionitis.002 OR (95%CI) : 5.002.

22 Walaupun demikian beberapa literatur lain menyatakan bahwa paritas (jumlah persalinan) saja tidak berhubungan bermakna dengan persalinan kurang bulan kecuali jika digabungkan dengan faktor risiko lain. Creasy dkk menyatakan bahwa risiko terjadinya persalinan kurang bulan meningkat pada ibu dengan dua anak atau lebih dengan status sosial ekonomi . Hal ini menyebabkan menurunnya angka persalinan pada usia muda maupun pada usia lanjut dan secara tidak langsung maka kejadian persalinan kurang bulan pada kedua kelompok tersebut jauh berkurang. pendidikan dan kebiasaan hidup.10 kurang bulan. dalam arti bahwa persalinan kurang bulan paling sering terjadi pada usia 20-34 tahun. data statistik memperlihatkan bahwa banyak orang menunda kehamilan sebelum usia 20 tahun dan atau tidak lagi hamil pada usia lebih dari 35 tahun.4. kemudian multipara (13 orang) dan grandemultipara (3 orang). Creasy dkk menyatakan bahwa makin muda usia ibu maka makin besar risiko terjadinya persalinan kurang bulan.6 Pada penelitian ini kejadian persalinan kurang bulan paling sering ditemukan pada primipara (14 orang). Walaupun demikian. Hal ini sesuai dengan beberapa penelitian yang mengatakan bahwa persalinan kurang bulan lebih sering terjadi pada kehamilan pertama. Kejadian persalinan kurang bulan pada ibu-ibu usia muda ini dikatakan banyak berhubungan dengan status sosioekonomi. Data penelitian WHO juga memperlihatkan bahwa wanita dengan usia kurang dari 20 tahun dan lebih dari 35 tahun merupakan kelompok orang dengan risiko tinggi terjadinya persalinan kurang bulan. Kejadiannya akan berkurang dengan meningkatnya jumlah paritas sampai dengan paritas keempat. dalam dekade terakhir terjadi beberapa perubahan seiring dengan meningkatnya pengetahuan dan pendidikan pada wanita.

4. persalinan kurang bulan ternyata ditemukan lebih banyak ditemukan bahwa subjek dengan status gizi normal/lebih (24 orang) dibandingkan dengan ibu dengan gizi buruk (6 orang). Hasil ini berbeda dengan penelitian-penelitian yang telah membuktikan bahwa kenaikan berat badan selama kehamilan dan indeks massa tubuh (IMT) sebelum hamil yang rendah merupakan faktor risiko persalinan kurang bulan. Hal ini berbeda dengan literatur yang menyatakan bahwa gizi buruk pada ibu merupakan faktor risiko terjadinya persalinan kurang bulan. diabetes dan lain-lain. Hal ini dapat dijelaskan dengan bertambahnya faktor risiko lain pada seorang ibu dengan multipara. terutama bertambahnya usia. Ibu dengan IMT rendah (<19.11 rendah.6.1. Demikian juga dengan kenaikan berat badan ibu saat kehamilan juga berperan penting sebagai salah satu risiko persalinan kurang bulan.5kg/minggu akan mendapat risiko kejadian persalinan kurang bulan 3 kali lipat lebih . dan risiko penyakit-penyakit lain seperti hipertensi.8) dan kenaikan berat badan selama hamil <0. Dalam penelitiannya Creasy dkk bahkan menemukan bahwa kejadian persalinan kurang bulan justru lebih sering terjadi pada wanita multigravida.8 Walaupun demikian beberapa penelitian-penelitian pada tahun 1970an menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara pemberian tambahan kalori terhadap penurunan kejadian persalinan kurang bulan.5.2.5.5.52. Berkowitz dan Papiernik mendapatkan hubungan antara persalinan kurang bulan dengan kenaikan berat badan selama kehamilan yang rendah.8 Pada penelitian ini didapatkan bahwa kenaikan berat badan yang sesuai/lebih ternyata lebih tinggi kejadian persalinan kurang bulannya dibandingkan dengan kenaikan berat badan yang kurang (20 berbanding 10 orang). beban sosioekonomi.terutama untuk wanita yang tidak obesitas mempunyai risiko relatif antara 1.1.6.8 Pada karakteristik status gizi.

Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa kedua faktor.5-8 Hal ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa 25-50% kasus persalinan kurang bulan seringkali terjadi tanpa adanya faktor risiko yang signifikan atau ditemukan beberapa faktor risiko secara bersamaan.7% berbanding 36.8-26) yang kenaikan berat badan kehamilannnya juga rendah.45 berbanding 7 kali pada penelitian Offenbacher dkk.1.2. baik status gizi ibu (IMT) dan kenaikan berat badan selama kehamilan merupakan faktor yang berhubungan.7%) dan secara statistik mempunyai hubungan bermakna (p=0. Bila dibandingkan dengan ibu hamil dengan IMT normal dan kenaikan BB selama kehamilannya juga normal.4. Hasil ini sesuai dengan penelitian oleh Offenbacher dkk.021).16.16 . Alasan lain yang dapat menjelaskan mengapa pada penelitian ini mendapatkan hasil yang berbeda untuk faktor status gizi dan kenaikan berat badan saat kehamilan tersebut adalah bahwa persalinan kurang bulan sering kali disebabkan oleh beberapa faktor (multifaktor). maka risiko persalinan kurang bulannya meningkat menjadi 6 kali lipat lebih besar. tidak hanya oleh satu faktor tertentu sehingga faktor gizi baik saja atau kenaikan berat badan ibu saja tidak cukup menyatakan seseorang tidak berisiko terjadi persalinan kurang bulan. 3. Lopez dkk dan Jeffcoat dkk.18.19 Perhitungan risiko kejadian persalinan kurang bulan yang disebabkan periodontitis pada penelitian ini lebih rendah yaitu 3.4-6 Hubungan antara Persalinan Kurang Bulan dengan Periodontitis Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa periodontitis lebih sering ditemukan pada subjek persalinan kurang bulan dibandingkan dengan persalinan cukup bulan (66.12 besar dibandingkan dengan ibu dengan IMT normal (19.

Pemeriksaan gigi harus ditambahkan sebagai pemeriksaan rutin pada program pemeriksaan wanita hamil agar dapat mengurangi risiko kejadian persalinan kurang bulan .23 Gambaran histopatologi subjek dengan periodontitis memperlihatkan serbukan sel-sel limfosit dan atau sel polimorfonuklear yang menandakan adanya inflamasi pada jaringan korioamnion. 23-27 Pada penelitian ini. Romero dkk menyatakan bahwa setidaknya 40% dari seluruh persalinan kurang bulan terjadi pada ibu yang mempunyai infeksi intrauterin yang umumnya bersifat subklinis. hasil pengamatan histopatologi korioamnion pada subjek dengan periodontitis. juga memperlihatkan hasil yang sesuai dengan penelitianpenelitaian sebelumnya.15.22 Pada penelitian ini. Sebagai kesimpulan terdapat hubungan yang bermakna antara kejadian persalinan kurang bulan dengan periodontitis dan terdapat hubungan yang bermakna antara periodontitis dengan kejadian korioamnionitis pada ibu dengan persalinan kurang bulan. subjek dengan peridontitis kejadian korioamnionitis ditemukan lebih sering (25 berbanding 6 orang) sehingga berdasarkan analisis statistik risiko korioamnionitis pada subjek dengan periodontitis hampir 6 kali lipat jika dibandingkan dengan orang tanpa periodontitis.13 Hubungan Periodontitis dengan Korioamnionitis Infeksi intrauterin ataupun inflammasi intrauterin telah diketahui berhubungan dengan persalinan kurang bulan. Hal ini dapat langsung disebabkan bakteriemia dan ataupun akibat produk bakteri maupun akibat mediator inflamasi.16. Hal ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa infeksi sistemik dapat menimbulkan stimuli pada plasenta yang pada akhirnya dapat mencetuskan persalinan kurang bulan.

Mathews TJ. Copper RL. Gummer BA. System for predicting spontaneous preterm birth. Mengenal faktor risiko persalinan prematur sebagai upaya rasional menurunkan kejadian persalinan prematur. 11 Krisnadi SR.fi diunduh pada 6 tanggal 13 Februari 2008.D. 1993:p3-40.au diunduh pada tanggal 13 Februari 2008. 2001 Frances Glenn Mayson Symposium “Preterm labor: is the fetus trying to tell us 4 5 something?”. William Obstetrics 22th ed. Hauth JC. Rouse DJ. 2007. J.55(14):1-32. National Vital Statistics Reports. Infant mortality statistics from the 2004 period linked birth/infant death data set. London: McGraw-Hill. 2000. 8 9 Bandung. N Eng J Med. Stubblefield PG. Canberra. a clinical study on certain etiological and diagnostic factors. New York. causes prevention and management. 2008. 2nded. Davis RO. Raty MK. 2001. Obstet Gynecol. hal. Wenstrom K. 1991. Preterm birth. Liggings GC. J Obstet Gynaecol. http://herkules. Dalam Temu Ilmiah Perkembangan . Etiologies of preterm birth in an indigent population: is prevention of logical expectation?. Maternal periodontal disease as a fetal stressor. Krisnadi SR. Bloom SL. Chapel Hill. Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Ilmu Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. Winkler CL. MacDorman MF. 10 Tucker JM. Hauth J. Beck JD. 1998. Prevention of preterm birth.C. Clinical practice guidelines 7 care around preterm birth. Available at http://www.ausinfo.14 DAFTAR PUSTAKA 1 2 3 Cunningham FG.gov. Mc Graw Hill Inc.55(6):692-5. Leveno KJ. 1980. and the outcome of infants. 339(5): 313-20. 1-27 Creasy RK.oulu.77:343-7. The National Health and Medical Research (NHMRC) Council. Goldenberg RL. Pencegahan prematuritas masa kini. Offenbacher S.C. Preterm birth and preterm infant. Fuchs AR.2005: 855-73 Goldenberg RL. Gilstrap L. Fuchs F.

2003. JADA. Goldenberg RL. Cox S. et al. 1998. Frydman A. Joshipura KJ. Gillman MW. Carpenter MW. BMC Oral Health. 17 Pitiphat W. 96. 20 Mumghamba EG.15 Terkini dalam bidang Obstetri dan Ginekologi. 3:233-50. No.73:576-82.7(8):1-12. Rich-Edwards JW. 21 Wood S. Williams PL. Manji KP. Douglass CW. Contemporary Ob/Gyn. Periodontal disease .48:79-84. Smith PC. Pinar H. Gutierrez J. J Dent Res. O’Reilly PG. 13 Dexter SC.132:875-80. Is there a link between periodontal disease and preterm birth?. Obstet Gynecol. Vol. 172-7 14 Davenport ES. Eley B. Murad S. Maternal oral health status and preterm low birth weight at Muhimbili National Hospital. Hobbins JC. Needoba S. 2006. August 2000. Hogan JS. 2001. Potential pathogenic mechanisms of periodontitis associated with pregnancy complications. 12 Romero R. Meta-analysis of the relationship between asymptomatic bacteriuria and preterm delivery/low birth weight. Bracken M. Sirtori M. 77(5):821-5. Ann Periodontal. Tanzania: a case-control study. Malee MP. Periodontitis and plasma C-reactive protein during pregnancy. J Periodontol. 2007. Williams CE. Oyarzun E. 81(1):58-63. Sterne JA. 15 Boggess KA. Periodontal infection and preterm birth. J Dent Res. 1989. 2002. Maternal periodontal disease and preterm low birthweight: case-control study. 19 Jeffcoat MK. In Obstet Gynecol. Outcome of very low birth weight infants with histopathologic chorioamnionitis. 81(5):313-8. result of a prospective study. Higher risk of preterm birth and low birth weight in women with periodontal disease. Bandung. Cliver SP. 18 Lopez NJ. Brant R. Sivapathasundram V. Jared HL. 2. 2001. Geurs NC. Mazor. Reddy MS. 16 Offenbacher S. Hauth JC. Vohr BR. Curtis MA. 2002.

In Rosai & Ackerman’s Surgical Pathology. p. Krohn MA. Vol. BMC Pregnancy and Childbirth 2006.p38-9 27 Monnier AL. suppresses maternal interleukin-10 and enhances fetal growth restriction and resorption in mice.71(9):5156-62.81:941-8. Join-Lambert OF. St Louis. Smith MA. 23 Hiller SL. 2003.6(24):1-8. 1996. 9th ed. amniotic fluid infection.p2337-8 26 Redline RW.16 and spontaneous preterm birth: a case control study. 1993. 22 Lin D. Berche P. and chorioamnion infection. Chicago 2007. 663672. In Infection and Immunity. Mosby. Porphyromonas gingivalis infection during pregnancy increases maternal tumor necrosis factor alpha. Champagne C. No. In CAP’07 The Pathologists Meetings. Obstet Gynecol. AP103 Placental Pathology: Keeping it Simple and Focusing on What Matters. Beck J.ed. Offenbacher S. Eschenbach DA. Anderson’s Pathology 10th ed. Kayal L. Plasenta. Edinburgh. January 2006. Watts DH. Inf Immun. Witkin SS. Elter J. Jaubert J. Invasion of the Placenta during Murine Listeriosis. histologic chorioamnionitis. Lindes J. In Damjanov I. 2004 p 1750-1 25 Salatia CM. Kiviat NB. Popek EJ. 24 Rosai J. The Relationship of amniotic fluid cytokines and preterm delivery. 74. 1 . Female Reproductive System. Mosby Inc.