Anda di halaman 1dari 49

KELOMPOK 4

AYU REZITA DEDIAL EKA PUTRA ARIFIN AZHARI HRP DINI FITRIA ANNUR AHMAD SAFI I ALFRENDI C B HST SADVENT M PURBA RAMA MIRANDA PASARIBU

08 0404 003 08 0404 007 08 0404 008 08 0404 014 08 0404 018 08 0404 020 08 0404 046 08 0404 061

ANALISA DAN PEMBAHASAN

URAIAN PEKERJAAN Dalam proyek pembangunan perumahan Belmont Residence Makassar, khususnya untuk 1 unit tipe 130/116, terdapat 12 (dua belas) kegiatan utama. Masing-masing bagian tersusun atas item pekerjaan yang lebih spesifik dari kegiatan utama tersebut. Adapun uraian pekerjaan tersebut seperti tersaji pada table 4.1 di bawah ini.

Tabel 4.1 Uraian dan Volume Pekerjaan untuk 1 unit rumah

(Sumber : Data Perusahaan)

Tabel 4.1 (Lanjutan) Uraian dan Volume Pekerjaan 1 unit rumah (Sumber : Data Perusahaan)

Tabel 4.1 (Lanjutan) Uraian dan Volume Pekerjaan 1 unti rumah (Sumber : Data Perusahaan)

Tabel 4.1 (Lanjutan) Uraian dan Volume Pekerjaan 1 unit rumah (Sumber : Data Perusahaan)

Tabel 4.1 (Lanjutan) Uraian dan Volume Pekerjaan 1 unit rumah (Sumber : Data Perusahaan)

PENJADWALAN PROYEK Pada proyek pembangunan perumahan Belmont Residence Makassar, time schedule yang digunakan adalah metode diagram batang (barchart) dan kurva S. Proyek ini dijadwalkan selesai dalam 180 hari. Data penjadwalan perusahaan yang diperoleh dari perusahaan merupakan penjadwalan untuk 1 unit rumah, tetapi dalam pelaksanaannya di lapangan, pembangunan dilakukan sekaligus untuk 3 unit rumah. Oleh karena itu, untuk melakukan analisa percepatan waktu pelaksanaan proyek, maka uraian pekerjaan yang ada dijadwalkan ulang dengan metode Network planning dan Critical Path Method (CPM).

Tabel 4.2 Time schedule normal dengan menggunakan barchart untuk 1 unit rumah (Sumber : Data Perusahaan)

Diagram Jaringan Kerja (Network Planning) Data-data perencanaan yang dibutuhkan untuk menyusun network planning tersaji dalam tabel 4.3 di bawah ini : Tabel 4.3 Uraian Pekerjaan, Durasi dan Logika Saling Ketergantungan untuk 3 unit rumah (Sumber : Hasil Analisa Data Perusahaan)

PERHITUNGAN CRASH PROGRAM


Untuk mempercepat waktu penyelesaian proyek, maka diadakan percepatan durasi kegiatan pada jalur-jalur kritis. Dalam mengadakan percepatan proyek, paling tidak ada beberapa cara, yaitu (Wulfram 2004:56) : 1. Dengan mengadakan shift pekerjaan 2. Menambah waktu kerja dengan tenaga kerja yang tersedia (kerja lembur) 3. Dengan menggunakan alat bantu yang lebih produktif 4. Menambah jumlah tenaga kerja sesuai dengan kebutuhan 5. Menggunakan material yang dapat lebih cepat pemasangannya 6. Menggunakan metode konstruksi lain yang lebih cepat

Pada penelitian ini, percepatan penyelesaian proyek adalah dengan menggunakan penambahan jam kerja / lembur. Rencana kerja yang akan dilakukan dalam mempercepat durasi sebuah pekerjaan dengan metode lembur adalah sebagai berikut : 1. Aktifitas normal memakai 8 jam kerja dan 1 jam istirahat (08.00 17.00), sedangkan kerja lembur dilakukan setelah waktu kerja normal selama 4 jam perhari (18.30 22.30). 2. Harga upah pekerja untuk kerja lembur diperhitungkan 1,5 kali upah sejam pada waktu kerja normal, dan untuk jam berikutnya sebesar 2 kali upah sejam waktu normal. 3. Produktifitas untuk kerja lembur diperhitungkan sebesar 60% dari produktifitas normal. Penurunan produktifitas ini disebabkan karena factor kelelahan, keterbatasan pandangan pada malam hari dan kondisi cuaca yang lebih dingin (Soeharto, 1997).

Pada perhitungan percepatan waktu kegiatan, akan dicari waktu dipersingkat pada masing-masing kegiatan. Perhitungan dilakukan sebagai berikut:

Crash Duration
Untuk mempercepat waktu penyelesaian proyek, maka diadakan percepatan durasi kegiatan pada jalur-jalur kritis. Dalam mengadakan percepatan proyek, paling tidak ada beberapa cara, yaitu (Wulfram 2004:56) : 1. Dengan mengadakan shift pekerjaan 2. Menambah waktu kerja dengan tenaga kerja yang tersedia (kerja lembur) 3. Dengan menggunakan alat bantu yang lebih produktif 4. Menambah jumlah tenaga kerja sesuai dengan kebutuhan 5. Menggunakan material yang dapat lebih cepat pemasangannya 6. Menggunakan metode konstruksi lain yang lebih cepat

Pada penelitian ini, percepatan penyelesaian proyek adalah dengan menggunakan penambahan jam kerja / lembur. Rencana kerja yang akan dilakukan dalam mempercepat durasi sebuah pekerjaan dengan metode lembur adalah sebagai berikut : 1. Aktifitas normal memakai 8 jam kerja dan 1 jam istirahat (08.00 17.00), sedangkan kerja lembur dilakukan setelah waktu kerja normal selama 4 jam perhari (18.30 22.30). 2. Harga upah pekerja untuk kerja lembur diperhitungkan 1,5 kali upah sejam pada waktu kerja normal, dan untuk jam berikutnya sebesar 2 kali upah sejam waktu normal. 3. Produktifitas untuk kerja lembur diperhitungkan sebesar 60% dari produktifitas normal. Penurunan produktifitas ini disebabkan karena factor kelelahan, keterbatasan pandangan pada malam hari dan kondisi cuaca yang lebih dingin (Soeharto, 1997).

Pada perhitungan percepatan waktu kegiatan, akan dicari waktu dipersingkat pada masing-masing kegiatan. Perhitungan dilakukan sebagai berikut: Menentukan volume/bobot pekerjaan dan durasi normal

Menghitung produktivitas harian

Produktifitas Harian = Volume Pekerjaan Durasi Kegiatan

Produktifitas Harian Untuk Item Pekerjaan Galian Tanah (B.1) : Produktifitas Harian (B.1) = 160,62 = 12,3554 m3/hari 13 Produktifitas Harian Untuk Item Pekerjaan Pondasi (B.2) : Produktifitas Harian (B.2) = 122,61 = 5,1088 m3/hari 24 Produktifitas Harian untuk pekerjaan kritis lainnya disajikan dalam tabel 4.11.

Menghitung produktivitas perjam

Produktifitas Perjam = Prod. Harian 8 jam Produktivitas Perjam Untuk Item Pekerjaan Galian Tanah (B.1) : Produktifitas Perjam (B.1) = 12,3554 = 1,5444 m3/jam 8 Produktifitas Perjam Untuk Item Pekerjaan Pondasi (B.2) : Produktifitas Harian (B.2) = 5,1088 = 0,6386 m3/jam 8 Produktivitas Perjam untuk pekerjaan kritis lainnya disajikan dalam tabel 4.12.

Menghitung produktivitas kerja harian sesudah crash

Produktivitas kerja harian yang terjadi setelah diadakan crash program pada setiap kegiatan dengan anggapan bekerja 8 jam dalam sehari ditambah kerja lembur. Pada kerja lembur, semua pekerja mengikuti kerja lembur dan tidak ada penambahan tenaga kerja baik pada waktu kerja normal maupun pada waktu kerja lembur. Produktivitas Harian sedudah Crash = (8 Jam x Prod. Tiap Jam) + (4 jam x 0,6 x Prod. Tiap Jam) Produktivitas Harian sesudah Crash Untuk Item Pekerjaan Galian Tanah (B.1) : Prod. Harian sesudah Crash untuk Item Pekerjaan Galian Tanah (B.1) = (8 x 1,5444) + (4 x 0,6 x 1,5444) = 16,0620 m3/hari

Produktivitas Harian sesudah Crash Untuk Item Pekerjaan Pondasi (B.2) : Prod. Harian sesudah Crash untuk Item Pekerjaan Pondasi (B.2) = (8 x 0,6386) + (4 x 0,6 x 0,6386) = 6,6414 m3/hari Produktivitas Harian sesudah Crash Untuk pekerjaan kritis lainnya disajikan dalam tabel 4.10

Menghitung durasi kegiatan setelah diadakan crash program (Crash Duration)


Crash Duration = Volume Prod. Harian sesudah Crash

Durasi kegiatan setelah diadakan Crash Program Untuk Item Pekerjaan Galian Tanah (B.1) : Crash Duration (B.1) = 160,62 = 10 hari 16,0620 Durasi kegiatan setelah diadakan Crash Program Untuk Item Pekerjaan Pondasi (B.2) :

Crash Duration (B.2) = 122,61 = 18 hari 6,6414 Durasi kegiatan setelah diadakan Crash Program Untuk pekerjaan kritis lainnya disajikan dalam tabel 4.14. Beberapa kegiatan kritis yang tidak memungkinkan untuk diadakan crash seperti Pekerjaan Pembersihan (A.1), Pekerjaan Urugan Tanah dan Pasir 60 cm (E.1) dan Pekerjaan Finishing dan Pembersihan (L.1).

Crash Cost Pekerja

Crash cost pekerja adalah besarnya biaya/upah pekerja yang diperlukan untuk menyelesaikan kegiatan dengan kurun waktu dipercepat (crash duration), dalam penelitian ini percepatan durasi dilakukan dengan metode lembur. Rencana kerja dari perhitungan crash cost pekerja ini sama dengan rencana kerja pada perhitungan crash duration pekerjaan dengan metode penerapan jam lembur seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Upah pekerja dilapangan yang diterima sebesar upah pekerja dari daftar analisa dikurangi 10%, dan ini diketahui dari wawancara langsung dengan para mandor. Adapun perhitungan crash cost pekerja diuraikan sebagai berikut.

Menentukan Harga Satuan Upah Pekerja Adapun data harga satuan upah pekerja seperti diuraikan pada tabel 4.15 berikut.

BACK TO HOME

Menghitung Upah Kerja Perjam Normal Upah Keja Perjam Normal = Produktivitas Perjam x Harga Sat. Upah keja Upah Kerja Perjam Normal untuk Pekerjaan Galian Tanah (B.1) : Upah Kerja Perjam Normal = 1,5444 x Rp12.600,00 = Rp19.459,73 Upah Kerja Perjam Normal untuk Pekerjaan Pondasi (B.2): Upah Kerja Perjam Normal = 0,6386 X Rp35.045,00 = Rp86.238,89 Upah Kerja Perjam Normal Untuk pekerjaan kritis lainnya disajikan dalam tabel 4.16.

Menghitung Upah Kerja Lembur Biaya Lembur Pekerja untuk 1 Hari (4 jam) = (1,5 x Upah sejam Normal) + 3 (2 x Upah sejam Normal) Biaya Lembur Pekerja untuk Pekerjaan Galian Tanah (B.1) : Biaya Lembur Pekerja = 1,5 X Rp 19.459,73 + 3 ( 2 X Rp19.459,7 ) = Rp 29.189,60 + Rp 116.758,38 = Rp 145.947,98 Biaya Lembur Pekerja untuk Pekerjaan Pondasi (B.2) : Biaya Lembur Pekerja = 1,5 X Rp86.238,89 + 3 (2 X Rp86.238,89) = Rp 129.358,34 + Rp 517.433,36 = Rp 646.791,70

Biaya Lembur Pekerja Untuk pekerjaan kritis lainnya disajikan dalam tabel 4.17.

Menghitung Crash Cost Pekerja

Crash Cost Pekerja perhari untuk Pekerjaan Galian Tanah (B.1) : Crash Cost pekerja = ( 8 x Rp 19.459,73 )+ Rp 145.947,98 = Rp 155.677,85 + Rp 145.947,98 = Rp 301.625,83
Crash Cost Pekerja perhari untuk Pekerjaan Pondasi (B.2): Crash Cost pekerja = ( 8 x Rp 86.238,89 ) + Rp 646.791,70 = Rp 689.911,14 + Rp 646.791,70 = Rp 1.336.702,84

Crash Cost Pekerja perhari untuk pekerjaan kritis lainnya disajikan dalam tabel 4.18.

Crash Cost Total Crash Cost yang dimaksud adalah crash cost total dari sebuah aktifitas durasi pada kegiatan tersebut atau besarnya biaya/upah pekerja yang diperlukan untuk menyelesaikan kegiatan dengan kurun waktu dipercepat (crash duration). Perhitungan crash cost ini hanya dilakukan pada aktifitas kritis saja. Besarnya crash cost dapat dirumuskan sebagai berikut : Crash Cost Total = crash cost pekerja x crash duration Crash Cost Total Pekerja untuk Pekerjaan Galian Tanah (B.1) : Crash Cost Total = Rp 301.625,83 x 10,0 = Rp3.016.258,27 Crash Cost Total Pekerja untuk Pekerjaan Pondasi (B.2) : Crash Cost Total = Rp 1.336.702,84 x 18,0 = Rp24.060.651,14

Crash Cost Total Pekerja untuk pekerjaan kritis lainnya disajikan dalam tabel 4.19

DAFTAR PUSTAKA http://www.scribd.com/doc/44596414/Bab-IV-Analisa-DanPembahasan-Crash-Program Soeharto, Iman. Manajemen Proyek Jilid 1 dan 2. penerbit Erlangga. Ervianto, Wulfram I. Manajemen Proyek Konstruksi. Penerbit Andi. Ervianto, Wulfram I. Teori-Aplikasi Manajemen Proyek Konstruksi. Penerbit Andi.