Anda di halaman 1dari 21

FLU BABI

OLEH : SGD 5 Putu Hena Pramonia Cita Putu Rudi Mahardikaputra Luh Komang Ratna Pertiwi Dewa Ayu Pradnyani Prabawati Nyoman Agus Jagat Raya Made Maetri Pradnyayanthi Ni Wayan Sinta Wahyuni I Kadek Dwipayana Komang Yuliani Ni Made Dwi Kusumayanti Ayu Selly Fajarini (0902105009) (0902105023) (0902105024) (0902105042) (0902105043) (0902105058) (0902105059) (0902105075) (0902105076) (0902105082) (0902105093)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA

2011

KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN 1. Pengertian / definisi Flu babi adalah penyakit saluran pernafasan akut pada babi yang disebabkan oleh virus influensa tipe A. Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), secara umum penyakit ini mirip influenza dengan gejala demam, batuk, pilek, sesak nafas, nyeri tenggorokan, lesu, letih dan mungkin disertai mual, muntah dan diare. kasus flu babi yang terjadi pada manusia saat ini sudah bersifat pandemic (penyakit sudah tersebar ke mancanegara). Menurut situs Center for Control and Prefention (CDC) AS, normalnya virus flu babi hanya berjangkit pada babi dengan kematian rendah. Namun secara sporadic terjadi infeksi pada manusia. Varian baru ini dikenal dengan nama vrus H1N1 yang merupakan singkatan dari dua antigen utama virus yaitu hemagglutinin tipe 1 dan neuraminidase tipe 1. 2. Etiologi Penyebab flu babi adalah virus influenza tipe A subtype H1N1 dari familia orthomyxoviridae. Flu atau influenza ada 2 type : Type A : Menular pada unggas (ayam, itik, dan burung) serta babi Type B dan type C : Menular pada manusia Virus influenza tipe A yang termasuk family orthomyxoviridae, erat kaitannya dengan penyabab swine flu, equine flu, dan avian influenza (fowl plaque). Ukuran virus tersebut berdiameter 80120 nm. Selain influenza A, terdapat influenza B dan influenza C yang juga sudah dapat di isolasi dari babi. Sedangkan 2 tipe influenza pada manusia adalah tipe A dan B. kedua tipe ini diketahui sangat progresif dalam perubahan antigenic yang sangat dramatic sekali (antigenik shift). 3. Epidemiologi Penyebaran virus influensa dari babi ke babi dapat melalui kontak moncong babi, melalui udara atau droplet. Faktor cuaca dan stres akan mempercepat penularan. Virus tidak akan tahan lama di udara terbuka. Penyakit bisa saja bertahan lama pada babi breeder atau babi anakan. Penyebabnya adalah virus influensa tipe A, subtipe: H1N1 (H1N2, H3N1, H3N2).

Identifikasi pertama kali pada tahun 1931. Kasus infeksi sudah dilaporkan pada pekerja di kandang babi di Eropa dan di Amerika Utara. Pada spesies babi memiliki kemampuan sangat menular dengan angka kesakitan tinggi dan angka kematian 1-4%. Insiden penyakit ini terjadi sepanjang tahun, puncaknya pada musim gugur dan dingin. Manusia dapat terkena penyakit influensa secara klinis dan menularkannya pada babi. Transmisi kepada babi yang dikandangkan atau hampir diruangan terbuka dapat melalui udara seperti pada kejadian di Perancis dan beberapa wabah penyakit di Inggris. Babi sebagai karier penyakit klasik di Denmark, Jepang, Italy dan kemungkinan Inggris telah dilaporkan. Kejadian luar biasa flu babi diketahui pernah terjadi di Amerika Utara & Selatan, Eropa (Inggris, Swedia, Italia) , Afrika (Kenya) dan beberapa daerah di Asia Timur (Cina dan Jepang) Flu babi pertama kali diidentifikasi di Indonesia pada 15 April 2009 dan dinyatakan pandemi: 11Juni 2009 denagn Case Fatality Rate, sampai dengan 11 Juni 2009 sebesar 0,5%. Gejala klinis yang terjadi sebagian besar ringan, yaitu demam (87-94%), Batuk (8792%), Sakit tenggorokan (48-82% ), Gangguan pencernaan (25%). Influenza A H1N1 di Provinsi Bali pertama kali diidentifikasi pada 12 Mei 2009, kasus pertama yang dirawat yang dicurigai influenza H1N1 adalah seseorang berkewarganegaraan Belanda. Dua minggu berikutnya warga negara Jepang, keduanya dinyatakan negatif H1N1 oleh Litbangkes. Hingga Tanggal 21 Juni 2009 diidentifikasi seorang warga negara Inggris, dan dinyatakan positif H1N1 dan tanggal 24 Juni 2009 Menkes menyatakan Indonesia Positif kasus H1N1 (kasus pertama di Indonesia). 4. Patofisiologi Pada penyakit influensa babi klasik, virus masuk melalui saluran pernafasan atas kemungkinan lewat udara. Virus menempel pada trachea dan bronchi dan berkembang secara cepat yaitu dari 2 jam dalam sel epithel bronchial hingga 24 jam pos infeksi. Hampir seluruh sel terinfeksi virus dan menimbulkan eksudat pada bronchiol. Infeksi dengan cepat menghilang pada hari ke 9 . Lesi akibat infeksi sekunder dapat terjadi pada paruparu karena aliran eksudat yang berlebihan dari bronkhi. Lesi ini akan hilang secara cepat tanpa meninggalkan adanya kerusakan.

Pembentukan eksudat pada bronchiol menyebabkan suplai oksigen menurun, paru-paru akan meningkatkan kerjanya sehingga menimbulkan sesak nafas. Karena suplai oksigen terganggu, orang yang terinfeksi akan mengalami hipoksia dan kesadaran juga dapat menurun. Selain itu, metabolisme tubuh pun dapat terganggu dalam pembentukan energi sehingga orang dengan flu ini akan cepat merasa lelah. Virus flu babi juga dapat masuk ke dalam saluran cerna yaitu lambung dan usus. Virus yang masuk ke dalam lambung akan meningkatkan produksi HCl yang dapat menimbulkan perasaan mual dan penurunan nafsu makan. Sedangkan virus yang masuk ke dalam usus akan meningkatkan kerja peristaltik, dengan demikian orang akan mengalami diare.

5. Klasifikasi Klasifikasi flu babi berdasarkan derajat keparahannya flu babi dibedakan menjadi yaitu: a) Ringan ILI (influenza like illness) Tidak Sesak Tidak nyeri dada Tidak ada pneumonia Tidak termasuk kelompok risiko tinggi (Asma, DM, PPOK, Obesitas, kurang Gizi, Penyakit kronis lainnya) Usia muda b) Sedang ILI (influenza like illness) dengan komorbid Sesak napas Pneumonia Usia tua Hamil Keluhan mengganggu: diare, muntah-muntah c) Berat Pneumonia luas Gagal napas

Sepsis Syok Kesadaran menurun ARDS Gagal multiorgan (Sudoyo, 2006) 6. Tanda dan Gejala a) Pada Manusia Manifestasi flu babi sama dengan influenza musiman. Klien datang dengan gejala penyakit respirasi akut, termasuk minimal 2 dari gejala berikut : - Demam, dapat hingga menggigil - Batuk - Nyeri tenggorokan - thSakit kepala - Rasa lemas dan letih - Diare dan muntah (mungkin dapat terjadi) Berdasarkan Center for Disease Control and Prevention (CDC), gejala flu babi pada manusia sama dengan influenza pada umumnya. Gejala meliputi demam, batuk, nyeri tenggorokan, body aches, sakit kepala, menggigil dan lemas/letih. Beberapa klien juga dilaporkan memiliki gejala diare dan muntah. Oleh karena gejala-gejala ini tidak spesifik untuk flu babi, diagnosis banding dari kemungkinan flu babi tidak hanya dari gejala namun juga kecenderungan tinggi flu babi tersebut berdasarkan riwayat klien saat ini. b) Pada Babi otot eritema pada kulit anoreksia apatis sangat lemah enggan bergerak atau bangun karena gangguan kekakuan otot dan nyeri

demam sampai 41,8oC Batuk sangat sering terjadi apabila penyakit cukup hebat dibarengi dengan bersin dispneu diikuti kemerahan pada mata dan terlihat adanya cairan mata Beberapa babi akan terlihat depresi dan terhambat pertumbuhannya.

muntah eksudat lendir

7. Pemeriksaan Penunjang
a.

Umum Laboratorium: pemeriksaan darah rutin (Hb, leukosit, trombosit, hitung jenis Pemeriksaan apusan (aspirasi nasofaring atau bilasan/ aspirasi hidung) Kalau tidak bisa dengan cara di atas maka dengan kombinasi apusan hidung dan Pada pasien dengan intubasi dapat diambil secara aspirasi endotrakeal Pemeriksaan kimia darah: albumin, globulin, SGOT, SGPT, ureum, kreatinin, Pemeriksaan radiologik: PA dan lateral Pemerikaan CT-Scan toraks (bila diperlukan)
b. Khusus

leukosit), spesimen serum

orofaring

analisis gas darah

Pemeriksaan laboratorium virologi Untuk mendiagnosis konfirmasi influenza A (H1N1) dengan cara : Real time (RT) PCR Kultur virus Peningkatan 4 kali antibodi spesifik influenza A

8. Penatalaksanaan TERAPI ringan, sedang atau berat. 1) Pasien dengan ILI akan dievaluasi apakah termasuk kelompok dengan gejala klinis

2) Kelompok dengan gejala klinis ringan dipulangkan dengan diberi obat simptomatis dan KIE untuk waktu istirahat di rumah. 3) Kelompok gejala klinis sedang dirawat di ruang isolasi dan mendapat oseltamivir 2 x 75 mg. 4) Untuk kelompok dengan gejala klinis berat dirawat di ICU. 5) Pemeriksaan laboratorium sesuai jadwal yang sudah ditentukan. 6) Di ruang rawat inap : dilakukan evaluasi keadaan umum, kesadaran, tanda vital, pantau saturasi oksigen. 7) Terapi suportif. MEDIKAMENTOSA

Oseltamivir merupakan pro drug dari metabolit aktif Oseltamivir Karboksilat. Metabolit aktif ini merupakan penghambat selektif enzim neuramidase virus influenza yang glycoproteinnya ditemukan di permukaan virion. Oseltamivir karboksilat menghambat neuramidase influenza A dan B secara in vitro. Oseltamivir yang diberikan secara oral menghambat replikasi dan pathogenicity virus influenza A dan B secara in vivo pada binatang percobaan yang terinfeksi influenza yang sama bila terjadi pada manusia dengan pemberian dosis 75 mg dua kali sehari. INDIKASI menderita gejala influenza. Efikasi ditunjukkan jika terapi diberikan dalam 2 hari setelah timbul gejala. 2) Pencegahan influenza pada dewasa dan dewasa muda 13 tahun keatas setelah kontak dengan penderita influenza ketika influenza telah menyebar. 3) Tamiflu tidak dapat menggantikan vaksinasi influenza. DOSIS a) Dewasa dan dewasa muda 13 tahun ke atas: 75 mg oseltamivir 2 kali sehari selama 5 hari.

1) Terapi influenza (khususnya influenza A) pada anak usia satu tahun keatas yang

1) Terapi influenza.

b) anak di atas 1 tahun sampai 13 tahun dapat digunakan Tamiflu suspensi dua kali sehari selama 5 hari dengan dosis sesuai berat badan sebagai berikut: - 5 kg 30 mg - 15- 23 kg 45 mg, - > 23 kg sampai 40 kg 60 mg, - > 40 kg, dapat diberikan dosis dewasa 75 mg 2) Pencegahan influenza a) Dewasa dan dewasa muda 13 tahun keatas 75 mg sekali sehari selama 7 hari. Terapi diberikan sesegera mungkin setelah terpapar secara individual. b) Selama terjadi epidemi influenza: 75 mg sehari sampai dengan 6 minggu. c) Keamanan dan efektifitas oseltamivir pada anak usia dibawah 12 tahun belum dapat dibuktikan. 3) Pada gangguan fungsi hati tidak ada penyesuaian dosis 4) Pada gangguan fungsi ginjal Dosis terapi: - Penderita dengan creatinin clearens 10 - 30 ml/menit : 75 mg tiap 2 hari. - Tidak dianjurkan pada penderita dengan creatinin clearens 10 ml/menit dan pasien dialisa. Dosis pencegahan: - Pada creatinin clearens 10 30 ml/ menit: 75 mg tiap 2 hari atau 30 mg suspensi sekali sehari. - Tidak dianjurkan pada penderita dengan creatinin clearens 10 ml/menit dan pasien yang mengalami dialisa. 5) Manula tidak ada penyesuaian dosis kecuali jika ada kerusakan ginjal parah 9. Pencegahan 1. Jagalah kesehatan dengan pola makan yang seimbang, jika perlu dapat mengkonsumsi multi vitamin A, C, D, E, Zink dan suplemen imunomodulator (contoh: stimuno, imunos) untuk meningkatkan kekebalan tubuh. 2. Jagalah kebersihan diri dan lingkungan sekitar Cuci tangan menggunakan air mengalir dan sabun sesering mungkin, terutama setelah batuk, bersin dan memegang sarana umum.

3. Minimalkan kontak dengan orang sakit atau orang yang baru bepergian dari Negara terjangkit. Jika rencana pergi ke luar negri, cek kesehatan ke dokter (jika perlu anda dapat divaksinasi influenza, atas permintaan atau dilakukan tindakan khusus dengan pemberian obat.) 4. Etiket saat Batuk Pada saat batuk atau bersin gunakanlah tissue atau masker penutup mulut di tempelkan ke mulut atau hidung, dan jangan batuk atau bersin kea rah orang lain. o Bila ada gejala batuk dan bersin kenakanlah masker penutup mulut. o Bila waktu batuk dan bersin tutuplah mulut dengan tissue dan lain-lainnya. o Bila waktu batuk dan bersin jangan langsung berhadapan muka/wajah dengan orang-orang sekeliling anda. 5. Pencegahan juga dilakukan melalui sosialisasi intensif ke sejumlah puskesmas di Ibu Kota. Pengenalan flu babi sejak dini diharap akan meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap bentuk penularannya Masyarakat dianjurkan untuk melakukan pencegahan guna mengantisipasi penularan virus flu burung, yaitu dengan memperhatikan beberapa hal berikut : 1. Gunakan pelindung (Masker, kacamata renang, sarung tangan) setiap berhubungan dnegan bahan yang berasal dari saluran cerna unggas 2. Setiap hal yang berasal dari saluran cerna unggas seperti sekresi harus ditanam/dibakar supaya tidak menular kepada lingkungan sekitar 3. Cuci alat yang digunakan dalam peternakan dengan desinfektan 4. Kandang dan Sekresi unggas tidak boleh dikeluarkan dari lokasi peternakan 5. Memasak daging ayam dengan benar pada suhu 80 derajat dalam 1 menit dan membersihkan telur ayam serta dipanaskan pada suhu 64 derajat selama 5 menit. 6. Menjaga kebersihan lingkungan dan diri sendiri.

10. WOC

A.

Konsep Asuhan Keperawatan Tahap pengkajian terdiri dari tiga kegiatan, yaitu pengumpulan data, pengelompokkan data dan perumusan diagnosis keperawatan. (Lismidar, 1990) A. Pengumpulan Data Pengkajian secara umum yang dapat dilakukan pada pasien dengan flu babi adalah : 1) Identitas : Meliputi nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, alamat, pekerjaan, agama, suku bangsa, tanggal dan jam MRS, nomor register, diagnosa medis. 2) Keluhan utama : Biasanya keluhan utama klien dengan flu babi adalah demam, batuk dan sakit tenggorokan. 3) Riwayat penyakit sekarang : Menjelaskan riwayat penyakit yang dialami biasanya klien dengan flu babi seperti demam, batuk dan sakit tenggorokan, nyeri otot, sakit kepala, tidak nafsu makan. 4) 5) Riwayat penyakit dahulu : Riwayat Kesehatan Keluarga Adanya riwayat penyakit yang pernah diderita. Adanya penyakit serupa atau penyakit lain yang diderita oleh keluarga. Pengkajian Pola Fungsi Kesehatan

1. PENGKAJIAN

a. b. c. d. e.

Aktivitas/istirahat Makanan/Cairan Pola eliminasi Neurosensori Nyeri/Kenyamanan

Pemeriksaan Fisik 1. Keadaan umum GCS : Tanda vital : nadi, suhu tubuh, tekanan darah, dan pernafasan. a. Sistem kardiopulmonal Hidung berair (rhinorea), terdapat eksudat, oklusi/sumbatan, peningkatan RR, batuk,Takikardi, b. Sistem pencernaan Peristaltic usus meningkat, mual, muntah, penurunan nafsu makan c. Sistem muskoloskletal Nyeri otot dan tulang 2. NO. 1 DS: DO: > 380 C hangat Kulit pasieng tampak kemerahan Hipertermia Kulit pasien teraba Peningkatan suhu tubuh Suhu tubuh pasien: Pengeluaran mediator kimia Pasien mengeluh Inflamasi badannya panas Analisa data DATA ETIOLOGI Flu babi MASALAH KEPERAWATAN Hipertermia

Review of sistem :

DS: batuk pilek DO: gelisah Terdengar suara napas tambahan RR > 20 X/menit Pasien tampak Pasien mengeluh Pasien mengeluh

Flu babi Inflamasi Pengeluaran mediator kimia Eksudat

Bersihan jalan napas tidak efektif

Bersihan jalan napas tidak efektif Flu babi Nyeri akut

DS: 5 (0 10) DO: meringis BP: > 110/70 HR: > 100 x/menit RR: > 20 X/menit Pasien tampak Pasien mengatakan nyerinya hilang timbul. Pasien mengeluh nyeri pada sendinya. Pasien mengatakan nyeri dirasakan pada skala >

Inflamasi Pengeluaran mediator kimia Merangsang reseptor nyeri

Nyeri akut

120/80mmHg DS: mual Pasien mangatakan

Flu babi Pasien mengeluh Replikasi RNA pada tubuh hospes

Nausea

merasa asam di mulut DO mampu Pasien Pasien tampak Peningkatan produksi hanya Mual HCl tidak nafsu makan. menghabiskan Masuk ke saluran cerna

porsi makanannya

Nausea 5 DS: DO lemah. 6 Pasien tampak Keletihan Flu babi selalu mengenai Pasien bertanya tanya tentang penyakitnya Pasien mengatakan Kurang pengetahuan Kurang pengetahuan lebih banyak tidur DS: bertanya DO: Pasien Pasien tampak Pasien mengeluh Penurunan pembentukan energi Pasien mudah lemas cepat lemas Pasien mangatakan cepat mengantuk Flu babi Keletihan

penyakitnya dan kondisinya. takut dengan penyakitnya

3.

DIAGNOSA KEPERAWATAN Diagnosa berdasarkan prioritas:

1. Hipertermi berhubungan dengan penyakit (flu babi) ditandai dengan pasien mengeluh badannya panas, suhu tubuh pasien >380 C, kulit pasien teraba hangat dan kulit pasien tampak kemerahan. 2. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan eksudat ditandai dengan pasien mengeluh batuk, pasien mengeluh pilek, terdengar suara napas tambahan, RR > 20 X/menit dan pasien tampak gelisah. 3. Nyeri akut berhubungan dengan agen cegera fisik (inflamasi) ditandai dengan pasien mengeluh nyeri pada sendinya, pasien mengatakan nyeri dirasakan pada skala > 5 (0 10), pasien mengatakan nyerinya hilang timbul, pasien tampak meringis, BP: > 110/70 120/80mmHg, HR: > 100 x/menit dan RR: > 20 X/menit. 4. Nausea berhubungan dengan iritasi lambung (peningkatan produksi HCl) ditandai dengan pasien mengeluh mual, pasien mangatakan merasa asam di mulut, pasien tampak tidak nafsu makan dan pasien hanya mampu menghabiskan porsi makanannya. 5. Keletihan berhubungan dengan perubahan dalam metabolisme ditandai dengan klien melaporkan mudah lelah, kekurangan energi, ketidakmampuan mempertahankan rutinitas biasa, kelemahan otot. 6. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang pajanan informasi ditandai dengan klien tampak bertanya-tanya tentang penyakitnya, klien mengungkapkan tidak mengetahui mengenai penyebab, faktor risiko, komplikasi dan tindakan pencegahan penyakit. 7. Pola napas tidak efektif berhubungan dengan hiperventilasi ditandai dengan pasien mengeluh sesak napas, RR >20 X/menit, pasien tampak menggunakan otot bantu pernapasan. 8. Diare berhubungan dengan inflamasi ditandai dengan pasien mengeluh BAB > 3 X/hari dengan konsistensi cair, pasien mengeluh nyeri abdomen, bising usus hiperaktif. 9. Perfusi jaringan perifer tidak efektif berhubungan dengan pasien mengeluh lemas, kulit pasien terlihat pucat, CRT > 2 detik.

10. Resiko perfusi jaringan serebral berhubungan dengan penurunan suplai oksigen ke serebral 11. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara kebutuhan dan suplai oksigen ditandai dengan pasien melaporkan kelelahan, kelemahan, sesak, dan terjadi peningkatan nadi , RR dan tekanan darah saat beraktivitas. 12. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan ditandai dengan klien mengatakan cemas dan takut dengan penyakitnya, klien tampak gelisah. 13. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan dalam mencerna makanan (mual, muntah) ditandai dengan klien melaporkan penurunan nafsu makan, BB klien menurun, konjungtiva pucat. 14. Kekurangan Volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan aktif ditandai dengan diare terus menerus, konsistensi feses encer, Turgor kulit menurun, kering ,Nadi meningkat, TD menurun, dan peningkatan suhu tubuh 15. PK : Penurunan Kesadaran 16. Resiko berduka berhubungan dengan kematian orang terdekat 4. INTERVENSI 1. Dx. Kep : Hipertermi berhubungan dengan penyakit (flu babi) ditandai dengan pasien mengeluh badannya panas, suhu tubuh pasien >380 C, kulit pasien teraba hangat dan kulit pasien tampak kemerahan. Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama X 24 jam diharapkan diharapkan suhu tubuh pasien kembali normal dengan kriteria hasil: Suhu tubuh pasien normal ( 36,50 C 37,50 C) Kulit pasien tidak teraba hangat Kulit pasien tidak tampak kemerahan RASIONAL Untuk mengetahui perubahan suhu yang terjadi. Untuk mengetahui ada tidaknya tanda-tanda infeksi Kulit terlihat

No. INTERVENSI 1 Monitor suhu minimal tiap 2 jam. 2 Monitor warna dan suhu kulit

3 4 5

Tingkatkan

intake

cairan

dan Dapat membantu mengganti cairan tubuh

nutrisi yang hilang Lakukan kompres hangat pada Dapat membantu mengurangi demam lipat paha dan aksila Kolaborasi pemberian antipiretik Digunakan untuk mengurangi demam dengan aksi sentral nya di hypothalamus. 2. Dx. Kep : Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan eksudat ditandai dengan pasien mengeluh batuk, pasien mengeluh pilek, terdengar suara napas tambahan, RR > 20 X/menit dan pasien tampak gelisah. Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama X 24 jam diharapkan diharapkan diharapkan jalan napas pasien paten dengan kriteria hasil: RR normal (16 20 X/menit) Pasien mampu mengeluarkan sekret Tidak terdengar suara napas tambahan. RASIONAL Untuk mengetahui adanya penurunan atau

1 2 3

INTERVENSI Auskultasi dada bagian anterior

tidaknya ventilasi dan bunyi napas tambahan. Anjurkan pasien untuk minum Untuk mengencerkan sputum. dengan air hangat Ajarkan teknik batuk efektif dan Napas napas dalam dalam memudahkan ekspansi

maksimal paru-paru dan teknik batuk efektif

dapat membantu pengeluaran sputum. Kolaborasi dengan berikan obat Untuk menurunkan spasme bronkus dengan sesuai indikasi: mukolitik, mobilisasi secret. ekspektoran dan bronkodilator 3. Dx. Kep : Nyeri akut berhubungan dengan agen cegera fisik (inflamasi) ditandai dengan pasien mengeluh nyeri pada sendinya, pasien mengatakan nyeri dirasakan pada skala > 5 (0 10), pasien mengatakan nyerinya hilang timbul, pasien tampak meringis, BP: > 110/70 120/80mmHg, HR: > 100 x/menit dan RR: > 20 X/menit.

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama X 24 jam diharapkan nyeri pasien terkontrol dengan kriteria hasil: Nyeri pasien berkurang TTV dalam batas normal (BP: 110/70 120/80 mmHg, HR 60 Pasien tidak tampak meringis. RASIONAL Untuk menentukan rencana yang tepat Untuk mengetahui perkembangan kondisi

100 X/menit, RR 16 20 X/menit)

1 2 3

INTERVENSI Kaji lokasi dan skala nyeri Monitoring TTV

pasien. Ajarkan teknik manajemen nyeri Untuk mengurangi nyeri dan mengalihkan non-farmakologis seperti relaksasi, perhatian pasien terhadap nyeri. guide imagery dll. Monitoring karakteristik nyeri Kolaborasi pemberian sesuai indikasi

4 5

perubahan Perubahan

dapat

mengindikasikan

komplikasi. anlgesik Membantu mengurangi nyeri

4. Dx Kep : Nausea berhubungan dengan iritasi lambung (akibat peningkatan produksi HCL) ditandai dengan klien melaporkan rasa mual, klien mengatakan nafsu makan klien menurun, klien hanya mampu menghabiskan porsi makannya. Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama X 24 jam diharapkan klien nausea klien teratasi dengan kriteria hasil : klien melaporkan mual berkurang klien melaporkan terjadi peningkatan nafsu makan

klien mampu menghabiskan porsi makannya. INTERVENSI RASIONAL 1. Monitor vital sign 1. Untuk 2. Berikan makan sedikit tapi sering klien

mengetahui

status/kondisi

2. Mempertahankan nutrisi agar tetap

3. Sajikan makanan dalam porsi hangat 4. Jauhkan dari benda-benda yang berbau tajam Kolaborasi Pemberian obat anti emetik

adekuat 3. Makanan hangat dapat mengurangi rasa mual dan meningkatkan nafsu makan 4. Benda-benda Kolaborasi Pemberian therapy untuk mengurangi mual berbau tajam dapat menimbulkan rasa mual

5. Dx Kep: Keletihan berhubungan dengan perubahan dalam metabolisme ditandai dengan klien melaporkan mudah lelah, kekurangan energi, ketidakmampuan mempertahankan rutinitas biasa, kelemahan otot. Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama X 24 jam diharapkan klien tidak mengalami keletihan dengan kriteria hasil : klien melaporkan tidak mudah lelah, klien melaporkan klien mampu mempertahankan rutinitas biasa RASIONAL Mandiri: 1. Pengetahuan klien mengenai penyebab keletihan, akan meningkatkan partisipasi klien dalam pengobatan 2. Atur kegiatan klien yang mudah dicapai. 2. Kegiatan yang mudah dicapai akan meningkatkan toleransi klien terhadap keletihan yang dialaminya. 3. Jelaskan keuntungan fisiologis dan psikologis olah raga pada klien. 3. Kegiatan fisik akan meningkatkan semangat klien untuk melawan keletihannya. 6. Dx. Kep : Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang pajanan informasi ditandai

tidak terjadi kelemahan otot. INTERVENSI Mandiri: 1. Jelaskan penyebab keletihan pada klien.

dengan Klien tampak bertanya-tanya tentang penyakitnya, Klien mengungkapkan tidak mengetahui mengenai penyebab, faktor risiko, komplikasi dan tindakan pencegahan penyakit. Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama X 24 jam diharapkan klien dapat mengetahui mengenai proses penyakit dengan kriteria hasil: Klien familiar dengan proses penyakit. Klien dapat mendiskripsikan faktor penyebab. Klien dapat mendiskripsikan faktor resiko. Klien dapat mendiskripsikan komplikasi. Klien dapat mendiskripsikan pencegahan.

INTERVENSI RASIONAL 1. Mengobservasi kesiapan klien untuk 1. Agar mengetahui mendengar informasi (mental, kemampuan untuk melihat, mendengar, kesiapan emosional, bahasa dan budaya). 2. Menentukan 3. Menjelaskan tingkat proses pengetahuan penyakit 2. Untuk mengetahui

keadaan

klien

dalam pemberian informasi.

pengetahuan

klien sebelumnya mengenai penyakit. (pengertian, penyebab, faktor resiko, komplikasi dan pencegahan). 4. Mendiskusikan komplikasi penyakit. 5. Anjurkan mencegah samping. 6. Diskusikan mengenai pilihan terapi atau peralatan 7. Menanyakan kembali pada klien atau pada pasien untuk efek atau tentang perubahan proses gaya hidup yang bisa untuk mencegah mengontrol

klien tentang penyakitnya. 3. Klien mengetahui mengenai proses penyakit (pengertian, penyebab, faktor resiko, komplikasi dan pencegahan). 4. Dengan gaya hidup yang baik dapat mengontrol proses penyakit dan mencegah komplikasi. 5. Dapat meminimalkan efek samping yang terjadi. 6. Dengan mendiskusikan hal tersebut dapat membuat terapi medikasi menjadi teratur. 7. Untuk klien mengevaluasi pemahaman setelah tentang penyakitnya

meminimalkan

mengenai informasi penyakit yang telah diinformasikan yang diberikan. untuk menilai pemahaman klien tentang penjelasan

diberikan informasi oleh perawat.

DAFTAR PUSTAKA Price, Sylvia Anderson, Lorraine McCarty Wilson. 2005. Patofisiologi : Konsep Klinis ProsesProses Penyakit. Jakarta : EGC Aru W. Sudoyo. 2006. Ilmu Penyakit Dalam Jilid III. Jakarta. Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Unoversitas Indonesia. Corwin, Ellizabetz. 2001. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta : EGC Doengoes. 1999. Perencanaan Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC http://beingmom.org/index.php/2006/12/08/penjelasan-imunisasi, di akses 14 juli 2011 http://www.infeksi.com/articles.php?lng=in&pg=15HI, di akses 14 juli 2011

http://www.klikpdpi.com/swine%20flu/penanganan%20flu%20babi/penanganan.htm